Episode 4
BETINA DARI NERAKA
1
1
Matahari senja menapaki kaki bukit.
Suasana di sekitar Malaya terasa sepi seperti berada di daerah kuburan. Dalam suasana senja yang sedemikian mencekam itu. Tiba-tiba dari arah utara terdengar derap langkah suara kaki kuda. Semakin lama langkah kuda yang dipacu dengan tergesa-gesa itu semakin bertambah mendekati sebuah sungai. Sampai kemudian terlihat salah seorang penunggang kuda memakai ikat kepala warna hitam, berbaju hitam dan
kuda yang ditungganginya
berwarna hitam pula. Laki-laki ini bertampang sangat angker, wajahnya di penuhi jambang dan bawuk lebat. Badannya tegap berisi pertanda bahwa ia memiliki tenaga yang sangat besar. Sungguh sangat jauh berbeda dengan kuda yang ditungganginya, karena kuda tersebut berbadan kurus macam keledai peot. Melihat keadaan kuda kurus kering itu; tentulah ia baru dipacu dari sebuah tempat yang sangat jauh. Terbukti badan kuda itu
berkeringat, lidahnya menjulur seperti anjing sedangkan dari hidung dan mulutnya keluar busa berwarna putih.
Sampai di pinggir sungai yang sudah berubah gelap itu. Tiba-tiba penunggang kuda tersebut menghentikan tunggangannya.
Ia melompat turun tanpa menghiraukan
benda semacam karung yang terus
menggelantung di punggung kudanya.
Sebentar ia celingak-celinguk memperhatikan suasana di sekelilingnya.
Kemudian ia menuruni
pinggiran sungai. Sebuah kantong dikeluarkannya
dari balik bajunya yang
dekil. Dari dalam kantong hitam dikeluarkannya
serbuk. Serbuk itu ia
tebarkan ke dalam sungai. Hanya dalam waktu
singkat terlihat adanya
gejolak di dalam sungai tersebut. Jika saja suasana
dalam keadaan terang
benderang. Tentu segera terlihat bahwa ikan-ikan
yang hidup dalam sungai
tersebut terkapar mati. Jelas serbuk yang baru di
tebarkannya merupakan serbuk racun yang sangat ganas. Laki-laki itu tampak puas sekali.
"Hanya dalam waktu yang singkat. Ha ha ha... Hanya dalam waktu yang
tebarkannya merupakan serbuk racun yang sangat ganas. Laki-laki itu tampak puas sekali.
"Hanya dalam waktu yang singkat. Ha ha ha... Hanya dalam waktu yang
singkat orang-orang di
seantero Jawa Barat ini pasti pada mampus semua" Laki-laki itu kemudian
memasukkan kantong bubuk racun ke balik
pakaiannya kembali.
Sebentar ia berjalan mendekati kudanya, karung di
atas kuda diturunkan. Lalu
dengan
seenaknya karung itu ditendangnya hingga masuk ke pinggir sungai.
seenaknya karung itu ditendangnya hingga masuk ke pinggir sungai.
Karena terganjal batu, maka
karung tersebut tidak langsung masuk ke air
melainkan tertahan.
"Di dunia ini memang tempat
bernaungnya para iblis. Tidak heran jika
orang seperti Pematung Kelana mampus di tangan iblis pula. Para iblis kini
"Di dunia ini memang tempat
bernaungnya para iblis. Tidak heran jika
orang seperti Pematung Kelana mampus di tangan iblis pula. Para iblis kini
mempunyai urusan dan
rencana besar.
Bagaimana caranya membuat seluruh manusia di permukaan bumi ini
Bagaimana caranya membuat seluruh manusia di permukaan bumi ini
menjadi penganut
iblis..."
Pengikat karung disentakkan oleh
orang bertampang angker ini. Begitu karung terbuka. Maka tercium bau
Pengikat karung disentakkan oleh
orang bertampang angker ini. Begitu karung terbuka. Maka tercium bau
busuk yang sangat menusuk.
Bau busuk tersebut sedemikian menyengat.
Hingga membuat seseorang yang memperhatikan
tingkah penunggang
kuda kurus terpaksa menutup
hidung dan mulut.
Ia menyeka keningnya yang ber-
keringat. Buah durian yang dimakannya kini ia letakkan di samping tempat
Ia menyeka keningnya yang ber-
keringat. Buah durian yang dimakannya kini ia letakkan di samping tempat
duduknya pada cabang yang
sama.
"Apa yang dilakukan lutung angker itu? Ia membekal makanan yang
"Apa yang dilakukan lutung angker itu? Ia membekal makanan yang
busuknya seperti bangkai
manusia. Ketika ia bicara pelan tadi aku
mendengar ia ada
menyebut-nyebut tentang Pematung Kelana Pematung
Kelana yang mana yang
dimaksudkan monyet itu? Apakah pematungnya
para iblis? Atau malah
Pematung Kelana yang kujumpai di bukit Watu
Cadas beberapa purnama yang
lalu?" Si pemuda garuk-garuk kepalanya.
Dalam kegelapan itu tatapan matanya yang setajam mata elang terus
Dalam kegelapan itu tatapan matanya yang setajam mata elang terus
memperhatikan laki-laki
berbadan tegap yang disebutnya dengan 'Monyet
Lutung'.
"Pematung Kelana? Kurasa pematung sepertimu sudah tidak ada lagi di
"Pematung Kelana? Kurasa pematung sepertimu sudah tidak ada lagi di
antara orang-orang yang
segolongan denganmu.
Kini kau memang pantas menjadi bangkai menemani ikan-ikan yang sudah
Kini kau memang pantas menjadi bangkai menemani ikan-ikan yang sudah
mati itu"
Kembali terdengar suara serak si
laki-laki. Tentu saja pemuda berbaju biru berambut kemerah-merahan ini
Kembali terdengar suara serak si
laki-laki. Tentu saja pemuda berbaju biru berambut kemerah-merahan ini
terkejut sekali mendengar
ucapan orang yang berada di bawahnya.
Dugaannya tentang Pematung
Kelana ternyata meleset. Jadi orang yang
telah membusuk di dalam
karung itu bukan Pematung Kelana aliran sesat?
Weeh...
bagaimana aku ini? Kuingat-ingat, ia merupakan seniman aneh dan
bagaimana aku ini? Kuingat-ingat, ia merupakan seniman aneh dan
memiliki kesaktian yang
luar biasa. Berarti orang yang telah membunuh
Pematung Kelana merupakan
lutung hitam di bawah sana yang
kesaktiannya di atas luar
biasa pula.
"Aih... keparat betul..." Pemuda berambut kemerah-merahan ini membatin
"Aih... keparat betul..." Pemuda berambut kemerah-merahan ini membatin
dihati.
Dua suing kulit durian disambarnya.
Laksana kilat ia menyambitkannya ke arah laki-laki berbaju hitam yang
Dua suing kulit durian disambarnya.
Laksana kilat ia menyambitkannya ke arah laki-laki berbaju hitam yang
sudah bersiap-siap
melemparkan mayat Pematung Kelana ke dalam sungai.
Bletak
Buuk
Dengan keras kulit durian itu
menghantam kepala dan punggung si laki-laki. Sungguh pun yang
Bletak
Buuk
Dengan keras kulit durian itu
menghantam kepala dan punggung si laki-laki. Sungguh pun yang
dilemparkannya hanya kulit
durian, namun membawa akibat
yang cukup fatal.
Kulit durian itu
sebagian menancap di punggung penunggang kuda kurus, sedangkan satu di antaranya menghantam keningnya.
"Wuah... setan alas Kunyuk mana yang telah begini lancang main-main
yang cukup fatal.
Kulit durian itu
sebagian menancap di punggung penunggang kuda kurus, sedangkan satu di antaranya menghantam keningnya.
"Wuah... setan alas Kunyuk mana yang telah begini lancang main-main
dengan Sugriwa
Kertopati" Laki-laki baju hitam yang berdiri di bawah
pohon yang diduduki di
pemuda menggeram marah.
Suasana kemudian berubah hening.
"Bangsat Kunyuk yang di atas pohon, sebaiknya cepat kau perkenalkan diri.
Suasana kemudian berubah hening.
"Bangsat Kunyuk yang di atas pohon, sebaiknya cepat kau perkenalkan diri.
Kau merupakan kawan kami
atau hanya seekor monyet yang ingin cepat-
cepat mampus?"
"Ha ha ha... Kebetulan aku masih mempunyai derajat yang lebih tinggi bila
"Ha ha ha... Kebetulan aku masih mempunyai derajat yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan monyet
lutung seperti mu Kalau melihat bawaanmu,
tentu kau lutung kesasar
dan sesat. Sedangkan aku orang baik-baik yang
sangat benci dalam hal
racun meracun" jawab pemuda baju biru yang tidak
lain adalah Suro Blondo
alias Pendekar Blo'on. Sugriwa Kertopati tentu
saja kaget bukan main
mendengar semua
apa yang dilakukannya telah
diketahui oleh orang lain. Sehingga ia sempat terdiam untuk beberapa saat
apa yang dilakukannya telah
diketahui oleh orang lain. Sehingga ia sempat terdiam untuk beberapa saat
lamanya.
Dicabutnya kulit durian yang
membenam di bagian kening dan punggungnya. Dengan gerakan ringan
Dicabutnya kulit durian yang
membenam di bagian kening dan punggungnya. Dengan gerakan ringan
dan asal-asalan ia
melemparkannya ke arah
kegelapan pohon.
Wuut Wuut
"Aduh..." Suro Blondo mengeluh.
Padahal sambitan yang dilakukan oleh lawannya sama sekali tidak
kegelapan pohon.
Wuut Wuut
"Aduh..." Suro Blondo mengeluh.
Padahal sambitan yang dilakukan oleh lawannya sama sekali tidak
mencapai sasaran.
"Keparat Aku tahu kau mengejekku
Cepat kau turun atau aku akan membuatmu tidak berkutik di pohon itu?"
"Seharusnya kau malu, karena kau ternyata tidak becus apa-apa. Tapi
"Keparat Aku tahu kau mengejekku
Cepat kau turun atau aku akan membuatmu tidak berkutik di pohon itu?"
"Seharusnya kau malu, karena kau ternyata tidak becus apa-apa. Tapi
kurasa semakin lama aku
semakin bosan bermain-main dengan lutung
jelek sepertimu Aku
tanya... harap kau jawab secepatnya..."
tegas Pendekar Blo'on.
"Huh..."
"Benarkah mayat yang baru hendak kau buang itu mayat Pematung
tegas Pendekar Blo'on.
"Huh..."
"Benarkah mayat yang baru hendak kau buang itu mayat Pematung
Kelana?"
"Apa perdulimu?" dengus Sugriwa Kertopati.
"Tentu saja aku sangat perduli.
Karena Pematung Kelana masih merupakan kenalan dekatku dan orang
"Apa perdulimu?" dengus Sugriwa Kertopati.
"Tentu saja aku sangat perduli.
Karena Pematung Kelana masih merupakan kenalan dekatku dan orang
yang sangat
kuhormati." Sugriwa Kertopati sama sekali tidak menjawab.
Tiba-tiba ia merangkapkan
tangannya ke depan dada. Secepat tangan
hitam berbulu itu bergerak,
maka secepat itu pula ia mengibaskannya ke
atas pohon.
Wus
Seleret sinar berwarna kemerah-
merahan menderu dan menghantam cabang
pohon yang diduduki oleh Suro Blondo.
Pemuda ini kaget bukan main begitu merasakan sengatan hawa dingin
Wus
Seleret sinar berwarna kemerah-
merahan menderu dan menghantam cabang
pohon yang diduduki oleh Suro Blondo.
Pemuda ini kaget bukan main begitu merasakan sengatan hawa dingin
mencucuk menghantam
pantatnya. Ia melompat ke pohon lain, lalu
melepaskan pukulan 'Kera
Sakti Menolak Petir' untuk menghadang
pukulan berikut yang
dilepaskan oleh Sugriwa Kertopati. Suasana berubah
terang laksana kilatan
cahaya petir. Sugriwa Kertopati paling sempat
melihat wajah si pemuda
melalui cahaya yang terpancar dari pukulan
lawannya ini. Pemuda
bertampang tolol berambut hitam kemerah-
merahan.
Rasa-rasanya ia pernah mendengar ciri-ciri seperti dari ketua mereka.
* * * *
Sugriwa Kertopati rasanya sudah
tidak dapat berpikir lebih jauh lagi.
Karena sinar putih berkilauan laksana perak tersebut langsung melabrak ke
Rasa-rasanya ia pernah mendengar ciri-ciri seperti dari ketua mereka.
* * * *
Sugriwa Kertopati rasanya sudah
tidak dapat berpikir lebih jauh lagi.
Karena sinar putih berkilauan laksana perak tersebut langsung melabrak ke
arahnya.
Wuut
Seketika ia mengibaskan tangannya
memapaki serangan itu. Cahaya merah berhawa dingin menderu.
Wuut
Seketika ia mengibaskan tangannya
memapaki serangan itu. Cahaya merah berhawa dingin menderu.
Kemudian terdengar suara
ledakan dahsyat meng-
getarkan.
"Edan" Suro Blondo menggerutu sambil basahi bibirnya. Ia kemudian
getarkan.
"Edan" Suro Blondo menggerutu sambil basahi bibirnya. Ia kemudian
melompat dari cabang pohon
dan
menginjakkan kedua kakinya di atas sebongkah batu tidak jauh dari tempat
menginjakkan kedua kakinya di atas sebongkah batu tidak jauh dari tempat
Sugriwa berdiri. "Manusia muka kunyuk
bertampang iblis ini boleh juga.
Tapi kurasa aku tidak perlu
mengulur waktu.
Sungai ini sudah tercemar, aku harus bisa paling tidak menangkapnya.
Sungai ini sudah tercemar, aku harus bisa paling tidak menangkapnya.
Setelah itu segera
kuumumkan pada semua penduduk agar tidak memakai
air sungai ini untuk
kepentingan memasak" batinnya.
"Siapakah kau?"
"Hmm, aku adalah aku. Bukan kau, bukan bapakmu dan juga bukan
"Siapakah kau?"
"Hmm, aku adalah aku. Bukan kau, bukan bapakmu dan juga bukan
kakekmu
Lekas kau berlutut di depanku. Aku mau menangkap kau punya badan dan
Lekas kau berlutut di depanku. Aku mau menangkap kau punya badan dan
mengumumkan pada
orang-orang bahwa kau telah meracuni sungai ini"
Suro Blondo menggelengkan
kepala sambil menyeka keringat yang
mengucur di keningnya.
Sugriwa Kertopati tertawa membahak.
Tawa itu jelas disertai pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi. Suro
Sugriwa Kertopati tertawa membahak.
Tawa itu jelas disertai pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi. Suro
Blondo dapat merasakan
getaran itu. Tapi ia malah menyeringai seperti
kuda terinjak duri.
"Bicaramu boleh juga, bocah
bertampang tolol. Kau kira dengan
kepandaian picisan yang kau miliki kau dapat melawanku? Cobalah
"Bicaramu boleh juga, bocah
bertampang tolol. Kau kira dengan
kepandaian picisan yang kau miliki kau dapat melawanku? Cobalah
berkaca apakah kau pantas
mengalahkan aku"
"Air yang biasa kupergunakan untuk berkaca telah kau racuni. Mana
"Air yang biasa kupergunakan untuk berkaca telah kau racuni. Mana
mungkin
aku dapat melakukannya. Menyerah sajalah kau padaku..."
"Bangsat rendah Tidak ada yang dapat memerintah anggota iblis, apalagi
aku dapat melakukannya. Menyerah sajalah kau padaku..."
"Bangsat rendah Tidak ada yang dapat memerintah anggota iblis, apalagi
hanya monyet tolol
sepertimu?" bentak Sugriwa. Tiba-tiba saja ia
menerjang ke depan.
Tinjunya melayang mengarah pada bagian mata kiri
Suro. Sedangkan kaki
melakukan serangan tipuan kilat. Tindakan yang
dilakukan oleh lawannya ini
benar-benar tidak pernah terduga oleh
pemuda berambut hitam
kemerahan ini.
"Gila betul" gerutunya. Ia melompat ke samping kanan selamatkan
"Gila betul" gerutunya. Ia melompat ke samping kanan selamatkan
wajahnya. Namun tendangan
Sugriwa sempat menghantam tulang
keringnya.
Duuk
"Kampret sialan" maki si pemuda terpincang-pincang.
Melihat lawannya dalam keadaan
begitu rupa. Tiba-tiba ia menyerang kembali. Jurus yang digunakannya
Duuk
"Kampret sialan" maki si pemuda terpincang-pincang.
Melihat lawannya dalam keadaan
begitu rupa. Tiba-tiba ia menyerang kembali. Jurus yang digunakannya
juga bukan merupakan jurus
sembarangan. Ia mengerahkan jurus 'Tapak
Neraka Dunia'
dalam upaya nya mengakhiri perlawanan Suro Blondo.
Pemuda berbaju biru ini tentu tidak mau bersikap gegabah lagi. Begitu kaki
dalam upaya nya mengakhiri perlawanan Suro Blondo.
Pemuda berbaju biru ini tentu tidak mau bersikap gegabah lagi. Begitu kaki
kirinya bergeser ke
belakang. Maka Suro pergunakan jurus 'Kera Putih
Memilah Kutu'
"Huup..."
Wuut Wuut
"Iih..."
Suro Blondo terus berkelit dengan
gerakan-gerakan lincah, lucu dan konyol.
Sesekali ia bahkan melompat-lompat sambil menggaruk-garuk
"Huup..."
Wuut Wuut
"Iih..."
Suro Blondo terus berkelit dengan
gerakan-gerakan lincah, lucu dan konyol.
Sesekali ia bahkan melompat-lompat sambil menggaruk-garuk
punggungnya. Namun setiap
serangan yang dilakukan oleh
Sugriwa
selalu mengenai sasaran kosong. Sugriwa dalam kegelapan itu sempat
Sugriwa
selalu mengenai sasaran kosong. Sugriwa dalam kegelapan itu sempat
terkejut. Sama sekali ia tidak menyangka kalau
pemuda tampan
bertampang tolol itu dapat
menghindari
setiap serangan yang
dilakukannya.
"Manusia geblek.." dengus Sugriwa.
Tiba-tiba saja ia merentangkan kedua tangannya. "Inti Hati Yang Satu" jerit
menghindari
setiap serangan yang
dilakukannya.
"Manusia geblek.." dengus Sugriwa.
Tiba-tiba saja ia merentangkan kedua tangannya. "Inti Hati Yang Satu" jerit
Sugriwa.
Laksana kilat ia menerjang ke
depan, tapi kali ini ia tidak menyerang secara langsung. Melainkan
Laksana kilat ia menerjang ke
depan, tapi kali ini ia tidak menyerang secara langsung. Melainkan
mengitari tubuh Suro dari
segala penjuru arah.
Lalu...,
Deb Deb
Tangan kanan dan tangan
kiri
menggebrak secara beruntun ke arah empat jalan kematian. Pendekar
Lalu...,
Deb Deb
Tangan kanan dan tangan
kiri
menggebrak secara beruntun ke arah empat jalan kematian. Pendekar
Blo'on tercekat juga
merasakan sambaran-sambaran angin yang begitu
menghebat. Satu hantaman
keras menderu ke bagian tulang rusuknya.
Pemuda ini tampak sekali tidak sempat menghindari serangan ini.
Pemuda ini tampak sekali tidak sempat menghindari serangan ini.
Sehingga ia terpaksa
menangkisnya dengan siku
kirinya. Benturan tidak dapat dihindari lagi.
Duuk
"Hukh..."
"Beeh..."
Dua-duanya terkejut sekali. Sugriwa bahkan sempat terhuyung-huyung.
kirinya. Benturan tidak dapat dihindari lagi.
Duuk
"Hukh..."
"Beeh..."
Dua-duanya terkejut sekali. Sugriwa bahkan sempat terhuyung-huyung.
Sedangkan Suro Blondo
meringis sambil memegangi sikunya yang
membengkak merah.
"Ternyata kau memiliki kebolehan juga, kunyuk"
"Hhmm...." Suro Blondo menggumam tidak jelas.
Dalam keadaan begitu rupa, pemuda
berambut hitam kemerahan ini merobah jurus Silatnya dengan jurus
"Ternyata kau memiliki kebolehan juga, kunyuk"
"Hhmm...." Suro Blondo menggumam tidak jelas.
Dalam keadaan begitu rupa, pemuda
berambut hitam kemerahan ini merobah jurus Silatnya dengan jurus
'Serigala Melolong Kera
Sakti Kipaskan Ekor'. Ini merupakan jurus yang
lebih konyol lagi, yang
kelihatannya dilakukan secara asal-asalan. Namun
membawa pengaruh yang sangat berat bagi
lawannya. Sugriwa terkesiap
ketika di atas lima belas jurus kemudian ia
mulai mendapatkan tekanan-
tekanan yang hebat dan
dapat mem-
bahayakan pertahanannya. Ia berusaha mengerahkan jurus lain yang
bahayakan pertahanannya. Ia berusaha mengerahkan jurus lain yang
dimilikinya untuk melakukan
serangan balik. Tapi sekali lagi ia dipaksa
menghadapi
kenyataan yang sangat mengesalkan.
Semakin hebat dia berusaha mendesak lawannya, maka semakin gigih pula
kenyataan yang sangat mengesalkan.
Semakin hebat dia berusaha mendesak lawannya, maka semakin gigih pula
Suro Blondo melakukan serangan balik.
Celakanya sungguh pun gerakan yang dilakukan oleh lawan seperti gerakan
Celakanya sungguh pun gerakan yang dilakukan oleh lawan seperti gerakan
monyet melompat dan berayun. Tapi lawan yang
bertarung sambil tertawa
dan melolong ini sulit
dijinakkan. Buuk
"Huakgh..."
Sekali waktu tinju kiri Pendekar
Blo'on mendarat di dada Sugriwa. Laki-laki berkulit hitam legam ini jatuh
"Huakgh..."
Sekali waktu tinju kiri Pendekar
Blo'on mendarat di dada Sugriwa. Laki-laki berkulit hitam legam ini jatuh
terpelanting. Sudut-sudut
bibirnya mengalirkan darah.
Anehnya ia sudah dapat bangkit
kembali hanya dalam waktu beberapa detik saja. Ia bahkan sekarang telah
Anehnya ia sudah dapat bangkit
kembali hanya dalam waktu beberapa detik saja. Ia bahkan sekarang telah
mencabut senjatanya yang
berupa sepasang roda baja yang memiliki ujung
runcing seperti mata tombak
pada setiap sisinya.
Cring...
Senjata kembar bulat bentuknya dan bergerigi ini sempat memijarkan api
Cring...
Senjata kembar bulat bentuknya dan bergerigi ini sempat memijarkan api
ketika Sugriwa mengadunya
antara yang satu dengan lain.
"Kali ini kau tidak mungkin dapat luput dari kematian, bocah tolol Tapi
"Kali ini kau tidak mungkin dapat luput dari kematian, bocah tolol Tapi
sebelum kau mampus di tanganku,
maukah kau menyebutkan siapa
namamu agar nanti dapat
kutuliskan di atas nisanmu?"
Sugriwa Kertopati. Suro Blondo tersenyum, karena yakin senyumnya tidak
Sugriwa Kertopati. Suro Blondo tersenyum, karena yakin senyumnya tidak
mungkin terlihat oleh
lawannya. Maka pemuda ini tertawa.
"Malaikat sudah tahu namaku. Kurasa hanya pada iblis saja aku pantas
berahasia. Karenanya, kau sajalah yang sebutkan nama. Karena ucapanmu
"Malaikat sudah tahu namaku. Kurasa hanya pada iblis saja aku pantas
berahasia. Karenanya, kau sajalah yang sebutkan nama. Karena ucapanmu
itu bisa saja berbalik menghantam dirimu"
"Bangsat" sambil menggeram, Sugriwa menggerakkan kedua tangannya ke depan.
Zing Siing
Kedua senjata berbentuk roda itu
melesat ke arah Suro Blondo. Bukan main cepat dan berbahaya serangan
"Bangsat" sambil menggeram, Sugriwa menggerakkan kedua tangannya ke depan.
Zing Siing
Kedua senjata berbentuk roda itu
melesat ke arah Suro Blondo. Bukan main cepat dan berbahaya serangan
yang dilakukan oleh
Sugriwa. Pendekar Blo'on tentu saja tidak ingin mati
konyol. Ia mempergunakan
jurus khusus menghindar yang diberi nama
'Seribu Kera Sakti Mengecoh
Harimau'. Di samping itu ia juga
mengerahkan ilmu
mengentengi tubuh 'Kilat Bayangan'. Cepat sekali
pemuda berambut merah ini
berkelebat lenyap. Serangan-serangan yang
dilakukan oleh Sugriwa
luput. Namun senjata yang dapat kembali pada
pemilik dengan sendirinya
ini terus bergerak mengejar kemana pun ia
berusaha menghindar.
Suro Blondo sadar betul ia tidak
mungkin berkelit seperti itu selama-lamanya. Karena bagaimana pun lama
Suro Blondo sadar betul ia tidak
mungkin berkelit seperti itu selama-lamanya. Karena bagaimana pun lama
kelamaan tenaganya terkuras
habis. Maka ia segera menyalurkan tenaga
dalamnya ke bagian telapak
tangannya. Masih dalam keadaan bergerak
menghindar tubuhnya
bergetar keras. Kedua tangannya bahkan telah berwarna merah redup. Satu
kesempatan ia menjejakkan kakinya, begitu kaki menyentuh tanah. Suro
bergetar keras. Kedua tangannya bahkan telah berwarna merah redup. Satu
kesempatan ia menjejakkan kakinya, begitu kaki menyentuh tanah. Suro
Blondo
menghentakkan kedua tangannya ke arah senjata lawan yang tengah
menghentakkan kedua tangannya ke arah senjata lawan yang tengah
melaju deras mencari
sasaran. Wuut
Angin kencang disertai hawa panas
meluruk ke arah senjata Sugriwa. Kemudian terdengar suara ledakan keras
Angin kencang disertai hawa panas
meluruk ke arah senjata Sugriwa. Kemudian terdengar suara ledakan keras
berdenting bagaikan suara bertemunya dua benda
keras.
Trang
Senjata roda bergerigi milik
Sugriwa membalik terdorong pukulan
'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar'
yang melesat dari telapak tangan si pemuda. Sugriwa tentu saja tidak mau
Trang
Senjata roda bergerigi milik
Sugriwa membalik terdorong pukulan
'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar'
yang melesat dari telapak tangan si pemuda. Sugriwa tentu saja tidak mau
mengambil resiko dengan
cara menangkap senjata yang hendak
mencelakakan dirinya sendiri
itu. Ia cepat merunduk sambil terus
berguling-gulingan. Satu
senjatanya dapat ia hindari. Tapi senjata yang
lainnya dengan cepat telah
menghantam batok kepalanya. Sugriwa
Kertopati menjerit keras,
tapi sudah tidak mampu angkat kepalanya yang
rengkah. Tubuhnya
menggelepar, kepalanya golang-goleng.
Lalu diam membeku.
"Hh, sayang dia mati. Aku tidak bisa tanya siapa orang yang berdiri di
Lalu diam membeku.
"Hh, sayang dia mati. Aku tidak bisa tanya siapa orang yang berdiri di
belakangnya. Apa yang harus
kulakukan"
Pendekar Blo'on menepuk keningnya
berulang-ulang. "Monyet lutung itu cuma punya harta seekor kuda kurus
Pendekar Blo'on menepuk keningnya
berulang-ulang. "Monyet lutung itu cuma punya harta seekor kuda kurus
kering." Suro Blondo
kemudian menghampiri kuda kurus yang tampak
gelisah tersebut.
"Kuda semacammu begini apa yang diharap?
Tulangmu lebih banyak daripada dagingmu.
Kulitmu juga keriput, paling yang besar cuma kentut sama kotoranmu.
Tulangmu lebih banyak daripada dagingmu.
Kulitmu juga keriput, paling yang besar cuma kentut sama kotoranmu.
Lebih baik kau bawa
majikanmu itu ke tempat asal"
kata Suro Blondo. Pemuda berwajah tampan bertampang seperti orang
kata Suro Blondo. Pemuda berwajah tampan bertampang seperti orang
tolol ini kemudian
mengangkat mayat Sugriwa. Sama sekali ia tidak
menyentuh roda bergerigi
yang membuat retak kepala pemiliknya sendiri.
Ditepuknya pantat kuda tiga
kali. Bibirnya tersenyum lalu berkata:
"Kalau sudah sampai ke tempat tuanmu yang lain, katakan pada mereka
"Kalau sudah sampai ke tempat tuanmu yang lain, katakan pada mereka
bahwa majikanmu mati bunuh
diri..."
Kuda yang dalam keadaan ketakutan
itu meringkik keras, kemudian lari terbirit-birit dengan membawa mayat
Kuda yang dalam keadaan ketakutan
itu meringkik keras, kemudian lari terbirit-birit dengan membawa mayat
Sugriwa Kertopati di punggungnya.
2
Ruangan pertemuan itu sangat luas
sekali. Tiang-tiang penyangganya dibuat dari orang-orang yang telah mati.
2
Ruangan pertemuan itu sangat luas
sekali. Tiang-tiang penyangganya dibuat dari orang-orang yang telah mati.
Tentu mayat-mayat yang
dijadikan tiang
penyangga tersebut berasal dari golongan putih. Keadaan mayat-mayat itu
penyangga tersebut berasal dari golongan putih. Keadaan mayat-mayat itu
sungguh menyedihkan sekali.
Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah
singgasana, di samping
singgasana terdapat pula sebuah patung batu
marmar yang sangat indah.
Patung itu berujud perempuan berbaju transparan.
Di atas singgasana itu kini duduk
seorang perempuan berpakaian ketat warna ungu. Tanpa menghiraukan
Patung itu berujud perempuan berbaju transparan.
Di atas singgasana itu kini duduk
seorang perempuan berpakaian ketat warna ungu. Tanpa menghiraukan
orang-orang di sekitarnya.
Tiada henti ia perhatikan patung laki-laki dan
patung perempuan di kanan
kirinya. Sungguh pun patung
perempuan itu sangat cantik tidak
terkira. Tapi nampaknya ia menyukai patung laki-laki berbadan kekar
perempuan itu sangat cantik tidak
terkira. Tapi nampaknya ia menyukai patung laki-laki berbadan kekar
dengan otot-otot menonjol
yang terdapat di samping kanannya. Lebih dari
lima orang tokoh kini
berada di dalam ruangan itu.
Di antara mereka adalah Mustika Jajar (Dalam Episode Pemikat Iblis),
Di antara mereka adalah Mustika Jajar (Dalam Episode Pemikat Iblis),
Damerta, Ki Alit. Kedua
laki-laki ini berhasil dipengaruhi oleh Mustika
Jajar. Mereka berasal dari
Samba. Kemudian Wiku Palawa, laki-laki
berumur tujuh puluh lima
tahun,
berbadan bongkok bersenjata
tongkat.
Kemudian seorang laki-laki berbaju kembang-kembang seperti banci.
Tidak lama setelah itu muncul pula seorang laki-laki tua berambut serba
Kemudian seorang laki-laki berbaju kembang-kembang seperti banci.
Tidak lama setelah itu muncul pula seorang laki-laki tua berambut serba
putih, berjenggot panjang
dan punya mata cuma satu. Mata itu senantiasa
berwarna kemerah-merahan,
seperti orang yang terkena penyakit mata.
Ketika melihat kemunculan
laki-laki mata satu yang dikenal dengan
julukan Tua Tengkorak Mata
Api ini. Mustika Jajar yang duduk di atas
singgasana langsung menjura
hormat.
"Silakan guru Maha Sesat mengambil tempat" pinta si gadis pelan.
Tua Tengkorak Mata Api dari lereng Cilawu ini langsung duduk di atas
singgasana lain yang disediakan khusus buatnya.
"Untuk mempersingkat waktu sebaiknya kita mulai saja pertemuan ini"
Mustika Jajar bangkit berdiri.
Semua mata memandang kepadanya. Termasuk juga Damerta dan Ki Alit.
"Kisanak sekalian dan juga guruku yang sangat kumuliakan. Hari ini aku
"Silakan guru Maha Sesat mengambil tempat" pinta si gadis pelan.
Tua Tengkorak Mata Api dari lereng Cilawu ini langsung duduk di atas
singgasana lain yang disediakan khusus buatnya.
"Untuk mempersingkat waktu sebaiknya kita mulai saja pertemuan ini"
Mustika Jajar bangkit berdiri.
Semua mata memandang kepadanya. Termasuk juga Damerta dan Ki Alit.
"Kisanak sekalian dan juga guruku yang sangat kumuliakan. Hari ini aku
sengaja mengundang kalian
ke tempat pertemuan Curing bencana, tentu
saja dengan maksud yang
sangat baik. Aku ingin membuat sebuah
kekuasaan dan kerajaan yang
sangat besar. Sebuah partai yang tidak
terhingga dan menguasai
hajat hidup
semua golongan. Karena kulihat di wilayah barat ini tidak ada satu partai
semua golongan. Karena kulihat di wilayah barat ini tidak ada satu partai
pun yang menonjol, baik
dari golongan hitam maupun putih. Maka inilah
kesempatan yang sangat baik
bagi kita..." kata Mustika Jajar secara
panjang lebar.
"Tunggu dulu Di wilayah barat ini aku mendengar kehebatan seorang
"Tunggu dulu Di wilayah barat ini aku mendengar kehebatan seorang
pematung.
Katanya ia merupakan tokoh aliran lurus yang mempunyai kepandaian
Katanya ia merupakan tokoh aliran lurus yang mempunyai kepandaian
hebat. Di samping itu dari
daerah timur kudengar pula ada seorang
pendekar bertampang tolol
yang memiliki kesaktian luar biasa dan aneh.
Setiap orang yang memiliki
kesaktian tinggi dari golongan lain, aku
menganggap ia merupakan
musuh yang harus diperhitungkan" kata
Damerta cemas.
Mustika Jajar tersenyum, seraya
mengelus-elus patung laki-laki di
sampingnya penuh kebanggaan.
"Para Kisanak, lihatlah patung ini
Ia merupakan lambing kesempurnaan dari seorang ahli seni. Hanya
Mustika Jajar tersenyum, seraya
mengelus-elus patung laki-laki di
sampingnya penuh kebanggaan.
"Para Kisanak, lihatlah patung ini
Ia merupakan lambing kesempurnaan dari seorang ahli seni. Hanya
Pematung Kelana yang dapat
menciptakan patung seperti ini. Menurut
kehendak para iblis, patung
ini dapat kita hidupkan sebagaimana halnya
manusia. Jika ia telah
hidup, berarti dia menjadi andalan kita dimasa yang
akan datang. Menurut anda,
mungkinkah patung sebagus ini oleh pemiliknya diberikan pada kita?
mungkinkah patung sebagus ini oleh pemiliknya diberikan pada kita?
Sedangkan saudagar Bergola
Mungkur yang kaya raya
saja tidak bisa mendapatkannya? Padahal dia bersedia menukarnya dengan
saja tidak bisa mendapatkannya? Padahal dia bersedia menukarnya dengan
tiga kantung uang
emas."
Orang-orang yang hadir dalam
ruangan pertemuan saling diam. Tidak lama barulah salah seorang di
Orang-orang yang hadir dalam
ruangan pertemuan saling diam. Tidak lama barulah salah seorang di
antara mereka bertanya.
"Tetua... bagaimana cara anda mendapatkannya? Apakah anda membujuk
"Tetua... bagaimana cara anda mendapatkannya? Apakah anda membujuk
Pematung Kelana?"
"Hi hi hi Tentu saja tidak
Pematung Kelana kubereskan dulu, setelah tubuhnya yang lapuk
"Hi hi hi Tentu saja tidak
Pematung Kelana kubereskan dulu, setelah tubuhnya yang lapuk
kucampakkan ke jurang,
kemudian kuambil patung ini.
Sekarang ini aku mendengar munculnya seorang pendekar..."
"Muridku, bicara terus terang dan langsung pada titik persoalan Aku tidak
Sekarang ini aku mendengar munculnya seorang pendekar..."
"Muridku, bicara terus terang dan langsung pada titik persoalan Aku tidak
betah duduk berlama-lama di
sini." sergah Tua Tengkorak Mata Api tidak
sabar.
"Maafkan aku guru. Mengenai rencana muridmu ini tentu guru sudah
"Maafkan aku guru. Mengenai rencana muridmu ini tentu guru sudah
dengar.
Ambisiku terang dan jelas. Yaitu ingin mendirikan sebuah kerajaan dan
Ambisiku terang dan jelas. Yaitu ingin mendirikan sebuah kerajaan dan
kekuasaan.
Sekaligus membuat perjanjian untuk menghidupkan patung ini untuk
Sekaligus membuat perjanjian untuk menghidupkan patung ini untuk
kujadikan pengawalku
kelak..."
"Rencanamu sangat gila...?" dengus laki-laki bermata satu ini tidak setuju.
"Mengapa gila guru? Bukankah guru punya Ajian Benteng Roh? Guru
"Rencanamu sangat gila...?" dengus laki-laki bermata satu ini tidak setuju.
"Mengapa gila guru? Bukankah guru punya Ajian Benteng Roh? Guru
pernah mengatakan padaku
bahwa benda-benda mati
yang menyerupai sesuatu yang hidup dapat dihidupkan kembali
yang menyerupai sesuatu yang hidup dapat dihidupkan kembali
sebagaimana guru menurunkan
ilmu silat padaku?"
Tua Tengkorak Mata Api terdiam.
Bagaimana pun ia sangat sayang pada muridnya. Karena sayangnya, dulu
Tua Tengkorak Mata Api terdiam.
Bagaimana pun ia sangat sayang pada muridnya. Karena sayangnya, dulu
segala keinginan si gadis
selalu diturutinya.
Dan inilah kesalahan sekaligus
kelemahannya. Tapi untuk tidak
mengabulkan permintaan muridnya. Laki-laki bermata satu ini merasa
Dan inilah kesalahan sekaligus
kelemahannya. Tapi untuk tidak
mengabulkan permintaan muridnya. Laki-laki bermata satu ini merasa
ragu.
"Semua apa yang kukatakan memang tidak dapat kupungkiri, tapi ingatlah
Aku bukanlah Tuhan. Tentu caraku sangat jauh bertentangan dengan
"Semua apa yang kukatakan memang tidak dapat kupungkiri, tapi ingatlah
Aku bukanlah Tuhan. Tentu caraku sangat jauh bertentangan dengan
kehendakNYA.
Tentu saja kekuatan yang akan berperan dalam hal ini adalah kekuatan
Tentu saja kekuatan yang akan berperan dalam hal ini adalah kekuatan
iblis juga" kata Tua
Tengkorak Mata Api.
"Aku tidak perduli kekuatan apa yang akan mengisinya. Yang jelas aku
"Aku tidak perduli kekuatan apa yang akan mengisinya. Yang jelas aku
ingin agar patung ini dapat
hidup untuk mendampingiku" Mustika Jajar
rupanya tetap bersikeras
juga.
"Hmm, begitukah?"
"Benar, guru."
"Watakmu memang keras sejak kecil.
Untuk menghidupkan patung itu diperlukan gadis paling tidak tujuh orang
"Hmm, begitukah?"
"Benar, guru."
"Watakmu memang keras sejak kecil.
Untuk menghidupkan patung itu diperlukan gadis paling tidak tujuh orang
yang masih suci. Apakah kau
sanggup?"
"Hi hi hi Jangankan baru darah tujuh orang gadis suci. Seratus sekalipun
"Hi hi hi Jangankan baru darah tujuh orang gadis suci. Seratus sekalipun
kalau memang itu saratnya
akan kupenuhi.
Bukankah begitu, Wiku Palawa?" Mustika Jajar melirik ke arah Wiku Palawa. Laki-laki berjenggot panjang ini menganggukkan kepala.
"Sebagai anggota, tentu saja aku akan selalu memenuhi perintah tetua"
"Untuk mencari dan mengumpulkan gadis-gadis itu, aku juga mau
membantunya." ujar Damerta dan Ki Alit hampir bersamaan.
"Nah tunggu apa lagi, sekarang berangkatlah kalian" kata Mustika Jajar.
Tanpa menunggu lebih lama lagi
berangkatlah Damerta, Ki Alit dan Wiku Palawa.
Kini di ruangan itu hanya tinggal
Mustika Jajar, Tua Tengkorak Mata Api dan juga Pamali. Suasana di dalam
Bukankah begitu, Wiku Palawa?" Mustika Jajar melirik ke arah Wiku Palawa. Laki-laki berjenggot panjang ini menganggukkan kepala.
"Sebagai anggota, tentu saja aku akan selalu memenuhi perintah tetua"
"Untuk mencari dan mengumpulkan gadis-gadis itu, aku juga mau
membantunya." ujar Damerta dan Ki Alit hampir bersamaan.
"Nah tunggu apa lagi, sekarang berangkatlah kalian" kata Mustika Jajar.
Tanpa menunggu lebih lama lagi
berangkatlah Damerta, Ki Alit dan Wiku Palawa.
Kini di ruangan itu hanya tinggal
Mustika Jajar, Tua Tengkorak Mata Api dan juga Pamali. Suasana di dalam
ruangan begitu hening. Dan
Mustika Jajar baru saja ingin mengatakan
sesuatu ketika seekor kuda
meringkik-ringkik di halaman Curing Bencana
"Kuda itu seperti kuda tunggangan milik Sugriwa? Ada apa dengannya?"
"Kuda itu seperti kuda tunggangan milik Sugriwa? Ada apa dengannya?"
desis Mustika Jajar. Tua
Tengkorak Mata Api seakan mengetahui apa yang
telah terjadi, sehingga
iapun berkata.
"Orangmu yang bernama Sugriwa telah meninggal, Tika. Racun telah
"Orangmu yang bernama Sugriwa telah meninggal, Tika. Racun telah
berhasil ditebarkan ke
sungai, begitu juga mayat Pematung Kelana telah
dicampakkan ke sungai. Tapi
seseorang telah membunuhnya"
Mustika Jajar terkejut mendengar-
nya. Ia cepat-cepat berpaling ke arah Pamali. Tanpa diperintah, Pamali
Mustika Jajar terkejut mendengar-
nya. Ia cepat-cepat berpaling ke arah Pamali. Tanpa diperintah, Pamali
langsung menyadari bahwa
tetuanya menghendaki agar ia mengambil
jenazah Sugriwa. Laki-laki
berusia empat puluhan ini menjura hormat,
kemudian pergi meninggalkan
ruangan.
Hanya beberapa saat setelah itu, ia telah kembali sambil memanggul mayat
Hanya beberapa saat setelah itu, ia telah kembali sambil memanggul mayat
Sugriwa yang dalam keadaan
sangat menyedihkan itu.
"Hem, benar-benar keji pembunuhnya
Aku yakin Sugriwa tewas bukan karena membunuh diri. Kepalanya pecah,
"Hem, benar-benar keji pembunuhnya
Aku yakin Sugriwa tewas bukan karena membunuh diri. Kepalanya pecah,
benaknya berhamburan.
Apakah masih ada kemungkinan untuk
menghidupkannya,
guru?"
Tua Tengkorak Mata Api menggeleng-
kan kepala.
"Keadaannya yang begini mengenas-kan, mustahil bagiku untuk
Tua Tengkorak Mata Api menggeleng-
kan kepala.
"Keadaannya yang begini mengenas-kan, mustahil bagiku untuk
menghidupkannya. Terkecuali
kau mau mengorbankan sesuatu yang
sangat besar"
"Apapun persyaratannya akan kulakukan. Aku kasihan padanya, roh
"Apapun persyaratannya akan kulakukan. Aku kasihan padanya, roh
Sugriwa pasti tidak tenang
di alam sana."
"Apakah kau mau mengorbankan
kehormatanmu?" desis Tua Tengkorak Mata Api berterus terang.
Mustika Jajar tentu saja tidak
menyangka kesuciannya yang harus di jadikan korban untuk
"Apakah kau mau mengorbankan
kehormatanmu?" desis Tua Tengkorak Mata Api berterus terang.
Mustika Jajar tentu saja tidak
menyangka kesuciannya yang harus di jadikan korban untuk
menghidupkan
Sugriwa. Sungguh pun ia tokoh sesat yang menghalalkan segala cara,
Sugriwa. Sungguh pun ia tokoh sesat yang menghalalkan segala cara,
rupanya untuk menyerahkan
yang satu itu ia tidak rela juga.
"Kalau itulah persyaratannya, aku tidak dapat menyanggupinya, guru"
"Itulah sebabnya, lebih baik
kuburkan saja Sugriwa. Kau dapat mengurus persoalan-persoalan lain
"Kalau itulah persyaratannya, aku tidak dapat menyanggupinya, guru"
"Itulah sebabnya, lebih baik
kuburkan saja Sugriwa. Kau dapat mengurus persoalan-persoalan lain
secepatnya"
Mau tidak mau Mustika Jajar
terpaksa menurut juga. Ia memerintahkan Pamali untuk membawa mayat
Mau tidak mau Mustika Jajar
terpaksa menurut juga. Ia memerintahkan Pamali untuk membawa mayat
Sugriwa, kemudian menguburkannya
di suatu tempat.
3
Bukan di daerah Bumi Ayu saja kematian akibat mempergunakan air
3
Bukan di daerah Bumi Ayu saja kematian akibat mempergunakan air
sungai terjadi. Bahkan para
penduduk yang mempergunakan air sumur,
juga tidak ter-lepas dari
bahaya racun yang mematikan.
Rupanya hanya dalam waktu singkat racun yang ditebarkan oleh Sugriwa
Rupanya hanya dalam waktu singkat racun yang ditebarkan oleh Sugriwa
ke dalam sungai Cimacan
telah meresap ke seluruh mata air tanah. Dalam
waktu yang singkat banyak
penduduk di wilayah Jawa bagian barat tewas
secara sia-sia. Waktu itu
sangat dikenal dengan istilah 'Kegebluk'.
Tinggallah Suro Blondo dengan
dibantu oleh beberapa pemuda, masyarakat bekerja mati-matian untuk
Tinggallah Suro Blondo dengan
dibantu oleh beberapa pemuda, masyarakat bekerja mati-matian untuk
menyelamatkan orang-orang
yang tidak berdosa. Tapi
tidak jarang ia juga mendapat perlakuan kasar bahkan dicaci maki oleh
tidak jarang ia juga mendapat perlakuan kasar bahkan dicaci maki oleh
penduduk pada setiap desa
yang dilaluinya karena mereka menyangka
bahwa Suro Blondo-lah yang
menjadi penyebab timbulnya wabah yang
sangat mematikan itu.
"Rasanya memang sulit menghadapi orang-orang bodoh Aku yang kasih
"Rasanya memang sulit menghadapi orang-orang bodoh Aku yang kasih
kabar agar mereka tidak
minum air sungai. Aku pula yang mereka tuduh
telah meracuni sungai.
Tapi..." Suro Blondo menggaruk-garuk rambutnya.
"Bagaimana mungkin
racun itu dapat merembas sampai ke sumur?
Padahal jarak sumur-sumur mereka dengan sungai sangat jauh sekali."
Pemuda berambut hitam kemerahan ini tiba-tiba menghentikan
Padahal jarak sumur-sumur mereka dengan sungai sangat jauh sekali."
Pemuda berambut hitam kemerahan ini tiba-tiba menghentikan
langkahnya. Angin kencang
berhembus, mengibarkan anak-anak
rambutnya yang terikat pita
biru belang-belang kuning. Pemuda
bertampang tolol ini
tiba-tiba menutup hidungnya. Udara busuk
menyengat hingga membuat
perutnya terasa mual.
"Angin ini berasal dari desa di depan sana. Kalau tidak salah itu adalah
"Angin ini berasal dari desa di depan sana. Kalau tidak salah itu adalah
desa Cirebon Apakah mungkin
orang-orang di sana juga sudah pada mati?
Ah...
kasihan. Kalau orang tuanya yang mati, berarti anak kehilangan bapak dan
kasihan. Kalau orang tuanya yang mati, berarti anak kehilangan bapak dan
ibunya.
Sedangkan kalau gadis yang mati, kasihan sekali karena mereka belum
Sedangkan kalau gadis yang mati, kasihan sekali karena mereka belum
sempat kawin.
Bagaimana ini? Apakah aku harus mengurus
mayat-mayat atau mencari biang keroknya penebar racun?"
Pendekar Blo'on tiba-tiba saja
hentikan ucapannya. Ia melihat ada cahaya putih berkilauan tampak
Bagaimana ini? Apakah aku harus mengurus
mayat-mayat atau mencari biang keroknya penebar racun?"
Pendekar Blo'on tiba-tiba saja
hentikan ucapannya. Ia melihat ada cahaya putih berkilauan tampak
melesat dari satu arah.
Bila Suro menoleh ke arah asal cahaya tadi. Maka
jelas cahaya tersebut
berasal dari gunung.
"Gunung apa itu? Mengapa gunung bisa mengeluarkan cahaya? Siang-
"Gunung apa itu? Mengapa gunung bisa mengeluarkan cahaya? Siang-
siang bolong begini, mana
mungkin ada hantu berani tunjukkan muka
tunjukkan hidung."
Bumm Buum
Terdengar suara ledakan keras.
Pendekar Blo'on sempat merasakan tanah yang dipijaknya bergetar hebat.
Bumm Buum
Terdengar suara ledakan keras.
Pendekar Blo'on sempat merasakan tanah yang dipijaknya bergetar hebat.
Dan ia sadar betul ledakan
itu berasal dari tempat jatuhnya sinar putih
laksana bola tadi.
"Apa ini Apa mungkin ada bintang yang jatuh dari langit? Sebaiknya aku
"Apa ini Apa mungkin ada bintang yang jatuh dari langit? Sebaiknya aku
lihat. Siapa tahu ada
petunjuk yang dapat kujadikan alat untuk
membongkar masalah yang
sedang kuhadapi."
Karena jaraknya masih cukup jauh
juga. Maka mau tidak mau Suro terpaksa mengerahkan ilmu lari cepat Kilat
Bayangan untuk segera sampai ke tempat terjadinya ledakan tadi.
Hanya dalam waktu yang singkat Suro telah sampai di depan tempat
Karena jaraknya masih cukup jauh
juga. Maka mau tidak mau Suro terpaksa mengerahkan ilmu lari cepat Kilat
Bayangan untuk segera sampai ke tempat terjadinya ledakan tadi.
Hanya dalam waktu yang singkat Suro telah sampai di depan tempat
terjadinya ledakan tadi.
Dengan jelas ia dapat
melihat sebuah lubang yang menganga.
Lubang itu masih mengepulkan asap
menyerupai kabut berwarna putih kemerah-merahan. Anehnya selain
melihat sebuah lubang yang menganga.
Lubang itu masih mengepulkan asap
menyerupai kabut berwarna putih kemerah-merahan. Anehnya selain
sebuah lubang yang cukup
besar, ia tidak melihat apa-apa lagi.
"Ternyata bukan petunjuk. Hanya sebuah lubang yang babi hutan pun
"Ternyata bukan petunjuk. Hanya sebuah lubang yang babi hutan pun
dapat membuatnya."
Suro Blondo menggerutu. Lalu seka keringat yang
mengucur di dahinya.
Tanpa minat pemuda ini bermaksud
meninggalkan tempat. Namun langkahnya tertahan ketika melihat sesuatu
Tanpa minat pemuda ini bermaksud
meninggalkan tempat. Namun langkahnya tertahan ketika melihat sesuatu
berwarna putih seperti
salju. Sesuatu yang
dilihatnya pertama tampak bulat seperti trenggiling. Tapi lama kelamaan
dilihatnya pertama tampak bulat seperti trenggiling. Tapi lama kelamaan
mengembang sehingga
terlihat bentuk kaki dan tangan yang sangat pendek
mirip bayi yang baru
berumur satu tahun.
"Eeh... anak apa itu? Mana mungkin ada orang membuang anaknya di
"Eeh... anak apa itu? Mana mungkin ada orang membuang anaknya di
tengah-tengah tanah tandus
seperti ini? Walaupun menjelang akhir jaman
nanti memang banyak
perempuan yang membuang anaknya karena tidak
punya bapak."
Suro Blondo merasa penasaran,
kemudian ia menghampiri sosok yang dilihatnya sangat aneh itu. Pemuda
Suro Blondo merasa penasaran,
kemudian ia menghampiri sosok yang dilihatnya sangat aneh itu. Pemuda
berambut hitam kemerahan
ini tentu saja tercengang begitu melihat sosok
serba putih seperti mayat
itu ternyata bukan bayi dan juga bukan
trenggiling
"Gila betul Mau dikata orang, tapi badannya kecil macam orok satu tahun.
"Gila betul Mau dikata orang, tapi badannya kecil macam orok satu tahun.
Mau kubilang bayi, tapi
sudah punya jenggot, kumis dan rambutnya putih.
Aneh...
mengapa wajahnya memancarkan cahaya.
Bocah kecil tapi seperti bocah bangkotan?
Pantasnya malah orang yang sudah berumur delapan puluh tahun." Suro
mengapa wajahnya memancarkan cahaya.
Bocah kecil tapi seperti bocah bangkotan?
Pantasnya malah orang yang sudah berumur delapan puluh tahun." Suro
Blondo menggaruk rambutnya
berulang-ulang.
"Sial betul, tampangku saja sudah konyol. Tapi tampang kakek setengah
"Sial betul, tampangku saja sudah konyol. Tapi tampang kakek setengah
meter tidak sampai ini
lebih konyol lagi. Ya ampun... di atas tolol masih ada
tolol. Ini benar-benar
tiruanku yang konyol. Sontoloyo..."
Pendekar Blo'on hanya berdiri
mematung sambil memandangi wajah tolol yang menggeletak dengan mata
Pendekar Blo'on hanya berdiri
mematung sambil memandangi wajah tolol yang menggeletak dengan mata
terpejam dua tombak di
depannya. Pendekar muda
berwajah tampan tolol ini menggelengkan kepalanya. Tidak disangka-
berwajah tampan tolol ini menggelengkan kepalanya. Tidak disangka-
sangka bocah berjenggot dan
berkumis putih ini membuka matanya. Begitu
mata terbuka ia malah
tertawa sekeras-kerasnya hingga membuat sakit
telinga si pemuda.
Suro Blondo menutup telinganya,
rupanya ia lupa. Padahal jika ia
mengerahkan tenaga dalamnya saja. Tentu pengaruh suara tawa itu dapat
ditangkalnya.
"Bocah tolol, Pendekar
Blo'on.
Ilmumu segudang, baru menghadapi aku saja
kau seperti melihat hantu jelek
telanjang" kata bocah seperti bayi, namun berkumis dan berjenggot putih
Suro Blondo menutup telinganya,
rupanya ia lupa. Padahal jika ia
mengerahkan tenaga dalamnya saja. Tentu pengaruh suara tawa itu dapat
ditangkalnya.
"Bocah tolol, Pendekar
Blo'on.
Ilmumu segudang, baru menghadapi aku saja
kau seperti melihat hantu jelek
telanjang" kata bocah seperti bayi, namun berkumis dan berjenggot putih
ini, lalu hentikan tawanya.
Suro Blondo kaget bukan main. Ternyata suara
bayi itu seperti suara orang tua. Selain itu
ia juga heran bagaimana
mungkin orang ini dapat
mengetahui namanya?
"Kau mengenalku, tapi alangkah kurang ajarnya kau karena memanggilku
"Kau mengenalku, tapi alangkah kurang ajarnya kau karena memanggilku
dengan nama saja. Padahal
umurmu paling baru satu tahun..."
"Hu hu hu Goblok juga kau. Umurku dengan umur kakekmu mungkin
"Hu hu hu Goblok juga kau. Umurku dengan umur kakekmu mungkin
sama. Aku sudah delapan
puluh tahun, sedangkan kau baru dua puluhan..."
Suro Blondo terlolong-lolong men-
dengar pengakuan orang yang mempunyai tinggi badan tidak sampai
Suro Blondo terlolong-lolong men-
dengar pengakuan orang yang mempunyai tinggi badan tidak sampai
setengah meter tersebut.
Pemuda itu akhirnya pun ikut tertawa. Ia geli
melihat kenyataan yang
sungguh-sungguh berada diluar dugaannya.
"Ada bayi tapi sudah berkumis dan berjenggot. Berarti anda delapan puluh
"Ada bayi tapi sudah berkumis dan berjenggot. Berarti anda delapan puluh
tahun berada dalam
kandungan orang tua.
Wah kasihan sekali"
"Tolol... justru aku sudah terlalu lama berada di dunia. Karena di dunia ini
Wah kasihan sekali"
"Tolol... justru aku sudah terlalu lama berada di dunia. Karena di dunia ini
masih ada orang yang
memiliki tampang sepertiku, maka aku keluar dari
puncak Gunung Sembung untuk
membantu kesu-litannya."
"Gila bayi ini... eh kakek ini...
lho bagaimana aku harus menyebut orang aneh macam tenggiling ini?"
"Gila bayi ini... eh kakek ini...
lho bagaimana aku harus menyebut orang aneh macam tenggiling ini?"
batin Suro Blondo. Masih
dalam keadaan telentang dan memakai cawat
saja bocah berjenggot itu
berkata.
"Namaku Wiro Suryo dari Gunung Sembung Tenggiling Kedil sebutanku,
"Namaku Wiro Suryo dari Gunung Sembung Tenggiling Kedil sebutanku,
aku punya ajian Suket
Sekilen dan ajian Pancar Cahaya. Hanya bocah
gendeng, kalau kau mau. Aku
ikut kau, tapi kuharap kau memanggilku
kakek. Karena umurku jauh.
lebih tua dari umurmu. He he he..."
"Nggak bisa. Badanmu kecil seperti bayi setahun. Ha ha ha... mana
lebih tua dari umurmu. He he he..."
"Nggak bisa. Badanmu kecil seperti bayi setahun. Ha ha ha... mana
mungkin kau lebih tua
dariku. Ha ha ha... jangan mengaku-ngaku. Lagi
pula siapa tahu kau, bapak
moyangnya para tuyul"
Wiro Suryo yang menurut pengakuan-
nya telah berumur delapan puluh tahun itu bangkit berdiri. Ketika ia
Wiro Suryo yang menurut pengakuan-
nya telah berumur delapan puluh tahun itu bangkit berdiri. Ketika ia
berdiri tegak.
Maka tingginya hanya sebatas lutut Suro Blondo, sehingga membuat
Maka tingginya hanya sebatas lutut Suro Blondo, sehingga membuat
tawanya semakin keras.
"Kampret kau... jangan menghinaku.
Di Gunung Sembung semua jin baik takluk padaku. Lagipula mana kau bisa
"Kampret kau... jangan menghinaku.
Di Gunung Sembung semua jin baik takluk padaku. Lagipula mana kau bisa
hentikan racun darah yang
telah dibuang ke sungai oleh Sugriwa Cuma aku
yang bisa menutup semua
mata air. Karena aku Tenggiling Kedil yang
sakti. Hu hu hu..."
"Aku tidak perduli siapa kau.
Bagiku kau tidak bedanya dengan bayi, makanya aku tidak mau
"Aku tidak perduli siapa kau.
Bagiku kau tidak bedanya dengan bayi, makanya aku tidak mau
memanggilmu
kakek..."
"Goblok Jangan banyak mulut, nanti kau tahu siapa aku..."
"Apa perduliku. Mau setan, mau jin mau bocah bangkotan, kakek-kakek
kakek..."
"Goblok Jangan banyak mulut, nanti kau tahu siapa aku..."
"Apa perduliku. Mau setan, mau jin mau bocah bangkotan, kakek-kakek
atau anak tuyul. Ha ha
ha... bagiku kau tetap bayi berjenggot yang terlalu
lama berada dalam
kandungan"
"Ha ha ha..." Wiro Suryo tergelak-gelak. Kedua kakinya dilipat ke kepala
"Ha ha ha..." Wiro Suryo tergelak-gelak. Kedua kakinya dilipat ke kepala
sehingga posisinya
melingkar dan berubah bulat seperti tenggiling putih.
"Apakah kau bisa seperti aku ini?"
Suro Blondo tercekat.
"Hmm, benar-benar aneh manusia yang satu ini. Apakah dia manusia
"Apakah kau bisa seperti aku ini?"
Suro Blondo tercekat.
"Hmm, benar-benar aneh manusia yang satu ini. Apakah dia manusia
sepertiku atau malah jin
penunggu Gunung Sembung sana?" batin
Pendekar Blo'on.
"Ha ha ha... Benar-benar gila bukan? Aku hidup sampai tua tetap seperti bayi hanya menunggu bertemu dengan seorang sahabat sepertimu."
"Siapa sudi bersahabat dengan kau?"
"Ah... sudah kubilang kau harus memanggilku kakek Kalau tidak kau bakal
"Ha ha ha... Benar-benar gila bukan? Aku hidup sampai tua tetap seperti bayi hanya menunggu bertemu dengan seorang sahabat sepertimu."
"Siapa sudi bersahabat dengan kau?"
"Ah... sudah kubilang kau harus memanggilku kakek Kalau tidak kau bakal
kubuat kelenger..."
"Aku tidak mau"
"Rasain kalau kau tetap ngotot"
tiba-tiba Tenggiling Kedil melentik ke arah Suro Blondo. Begitu cepatnya,
sehingga pemuda itu tidak sempat
mengelak. Dilain kejab Wiro Suryo telah merengkuh pinggang si pemuda
"Aku tidak mau"
"Rasain kalau kau tetap ngotot"
tiba-tiba Tenggiling Kedil melentik ke arah Suro Blondo. Begitu cepatnya,
sehingga pemuda itu tidak sempat
mengelak. Dilain kejab Wiro Suryo telah merengkuh pinggang si pemuda
tidak jauh bedanya dengan
tali pengikat pinggang.
Lebih mengejutkan lagi, Wiro Suryo berubah bentuk memipih seperti
Lebih mengejutkan lagi, Wiro Suryo berubah bentuk memipih seperti
angkin.
"Hiii... geli. Ha ha ha...
geli..." Suro Blondo melonjak-lonjak kegelian. Ia bahkan berusaha menarik
"Hiii... geli. Ha ha ha...
geli..." Suro Blondo melonjak-lonjak kegelian. Ia bahkan berusaha menarik
lepas Wiro Suryo yang
bergelantungan di pinggangnya. Tapi kakek seperti
bayi itu benar-benar mirip
tenggiling. Sehingga Suro Blondo tidak mampu
melepaskannya.
"Geli... wuakh... goblok. Jangan kau gelitiki perutku... wuah... geli...."
Suro Blondo menggeliat-geliat sambil berjingkrak-jingkrak dan berlari kian
"Geli... wuakh... goblok. Jangan kau gelitiki perutku... wuah... geli...."
Suro Blondo menggeliat-geliat sambil berjingkrak-jingkrak dan berlari kian
kemari.
"Goblok. Urusanmu masih banyak, aku bisa menjadi penunjukmu" kata Wiro Suryo terus menggelantung di pinggang Pendekar Blo'on.
"Edan..." Suro Blondo menggerutu.
4
Perjalanan yang di tempuh oleh
Pendekar Blo'on Suro Blondo memang memakan waktu yang cukup lama.
"Goblok. Urusanmu masih banyak, aku bisa menjadi penunjukmu" kata Wiro Suryo terus menggelantung di pinggang Pendekar Blo'on.
"Edan..." Suro Blondo menggerutu.
4
Perjalanan yang di tempuh oleh
Pendekar Blo'on Suro Blondo memang memakan waktu yang cukup lama.
Apalagi tempat
persembunyian atau markas besar Mustika alias Iblis
Betina Dari Neraka masih belum
jelas entah di mana. Pagi itu
udara dingin menyelimuti Daerah
Ketemanggungan
Batu Sari. Di halaman
rumah Tumenggung Bono Sastrojoyo penduduk setempat tampak sedang
udara dingin menyelimuti Daerah
Ketemanggungan
Batu Sari. Di halaman
rumah Tumenggung Bono Sastrojoyo penduduk setempat tampak sedang
berkumpul menunggu
kehadiran pemimpinnya dengan perasaan harap-
harap cemas.
Tidak lama kemudian muncul seorang laki-laki berpakaian bangsawan dan
Tidak lama kemudian muncul seorang laki-laki berpakaian bangsawan dan
dikawal oleh dua orang
laki-laki berbadan tegap memakai rompi hitam.
Tumenggung Bono Sostrojoyo
memperhatikan penduduk yang berada di
halaman rumahnya dengan
sorot mata menyelidik.
"Ada apa kalian pagi-pagi sekali datang kemari?" suara Tumenggung
"Ada apa kalian pagi-pagi sekali datang kemari?" suara Tumenggung
mening-kahi suara-suara
sumbang para laki-laki yang tampaknya tidak
puas atas sikap lemah
pemimpinnya. Seorang laki-laki bertubuh bungkuk
mewakili tidak kurang tiga
puluh kawannya tampak maju ke depan.
"Kami bukannya lancang, gusti Tumenggung. Cuma kami kurang puas atas
"Kami bukannya lancang, gusti Tumenggung. Cuma kami kurang puas atas
sikap Tumenggung yang
kelihatannya masih tenang-tenang saja dengan
hilangnya tujuh gadis desa
yang diculik oleh anggota Iblis Betina Dari
Neraka. Kami khawatir sikap
ini hanya akan membuat perempuan iblis itu
semakin sewenang-wenang.
Tidak ada yang ditakuti dan bukan mustahil
suatu saat akan semakin
banyak penduduk terutama anak-anak gadis di
wilayah Katemenggungan ini
akan menjadi korban"
"Ki Supit Kukira hanya kau orang yang memiliki ilmu kepandaian yang
"Ki Supit Kukira hanya kau orang yang memiliki ilmu kepandaian yang
lumayan di daerah kita ini.
Mengapa kau tidak mau menghubungi orang-
orang yang memiliki
kepandaian tinggi untuk mencari gadis-gadis yang
hilang itu?" tanya
Tumenggung Sastrojoyo penuh teguran.
"Mana kami berani jika tidak ada perintah dari Tumenggung" jawab Ki
"Mana kami berani jika tidak ada perintah dari Tumenggung" jawab Ki
Supit.
Jalak Seta salah seorang pengawal
sekaligus orang kepercayaan Katemenggungan tiba-tiba saja maju ke
Jalak Seta salah seorang pengawal
sekaligus orang kepercayaan Katemenggungan tiba-tiba saja maju ke
depan.
"Jangan sembarangan menuduh Kami di Katemenggungan telah
"Jangan sembarangan menuduh Kami di Katemenggungan telah
melakukan segala upaya
untuk mencari anak-anak perawan kalian yang
hilang itu. Tapi apa mau
dikata? Hingga sampai saat ini usaha kami belum
mendatangkan hasil. Kalau
kalian mau bekerja sama, nanti sore kita dapat
bersama-sama mencari mereka
yang hilang"
ujar Jalak Seta.
"Coba kalau hal ini dibicarakan sejak kemarin. Tentu kami tidak penasaran
ujar Jalak Seta.
"Coba kalau hal ini dibicarakan sejak kemarin. Tentu kami tidak penasaran
dan terpaksa berkumpul di
sini" kata Ki Supit.
"Benar..." kata kawan-kawannya mendukung ucapan Ki Supit.
"Sudahlah, kalian tidak usah cemas, persiapkan kuda dan segala peralatan
"Benar..." kata kawan-kawannya mendukung ucapan Ki Supit.
"Sudahlah, kalian tidak usah cemas, persiapkan kuda dan segala peralatan
senjata yang kita butuhkan.
Nanti sore kita bergerak melakukan
pencarian..."
kata Tumenggung Sastrojoyo.
"Hore... hidup Tumenggung...."
teriak para penduduk Batu Sari.
Para laki-laki yang dipimpin oleh
Ki Supit itu akhirnya membawa orang-orangnya kembali
ke rumahnya masing-
masing. Tentu saja mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti
kata Tumenggung Sastrojoyo.
"Hore... hidup Tumenggung...."
teriak para penduduk Batu Sari.
Para laki-laki yang dipimpin oleh
Ki Supit itu akhirnya membawa orang-orangnya kembali
ke rumahnya masing-
masing. Tentu saja mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti
sore.
Ketika hari menjelang senja, maka
berangkatlah tidak kurang dari tiga puluh orang penduduk di sertai
Ketika hari menjelang senja, maka
berangkatlah tidak kurang dari tiga puluh orang penduduk di sertai
Tumenggung Sastrojoyo dan
juga Jalak Seta. Mereka bersenjata lengkap
menyisir sepanjang tepian
hutan di mana beberapa hari yang lalu mereka
melihat seorang laki-laki
bertubuh bungkuk melarikan gadis-gadis dari
daerah Batu Sari.
Belum lama mereka berjalan. Tiba-
tiba saja mereka melihat seorang laki-laki keluar dari
dalam semak-semak
belukar. Ia memakai baju kembang-kembang.
Bagian keningnya menonjol, wajah laki-laki itu dipenuhi jambang dan
Belum lama mereka berjalan. Tiba-
tiba saja mereka melihat seorang laki-laki keluar dari
dalam semak-semak
belukar. Ia memakai baju kembang-kembang.
Bagian keningnya menonjol, wajah laki-laki itu dipenuhi jambang dan
bawuk lebat. Tumenggung
Sastrojoyo menghentikan kudanya diikuti oleh
orang-orang yang berada di
belakangnya.
"Kalau tidak punya
keperluan.
Sebaiknya menyingkir dari hadapanku sekarang juga" dengus Tumenggung
"Kalau tidak punya
keperluan.
Sebaiknya menyingkir dari hadapanku sekarang juga" dengus Tumenggung
itu dengan suara ketus.
"Ha ha ha... Kau tidak layak memberi perintah, Tumenggung Aku tahu
kalian punya tujuan. Tentu kalian ingin mencari Betina Dari Neraka
"Ha ha ha... Kau tidak layak memberi perintah, Tumenggung Aku tahu
kalian punya tujuan. Tentu kalian ingin mencari Betina Dari Neraka
bukan? Apa yang ingin kau
lakukan tidak semudah yang kau bayangkan.
Karena aku Menak Tandira
akan menjadi penghalang bagi kalian"
"Hmm, rupanya kau anggota dan begundalnya betina iblis itu?"
"Belum, tapi aku calon anggota yang ingin bergabung" kata Menak Tandira
"Hmm, rupanya kau anggota dan begundalnya betina iblis itu?"
"Belum, tapi aku calon anggota yang ingin bergabung" kata Menak Tandira
tegas.
"Biarkan kami yang memberi
pelajaran pada mereka, Tumenggung" pinta Ki Supit pula. Tumenggung
"Biarkan kami yang memberi
pelajaran pada mereka, Tumenggung" pinta Ki Supit pula. Tumenggung
Sastrojoyo menganggukkan
kepalanya. Begitu mendapat isyarat maka
belasan penduduk bersenjata
golok dan tombak langsung menghambur
melakukan penyerangan.
Menak Tandira tertawa mengekeh. Ia melompat tinggi ke udara begitu
Menak Tandira tertawa mengekeh. Ia melompat tinggi ke udara begitu
senjata-senjata itu
berkelebat menghantam
tubuhnya. Ketika Menak Tandira meluncur lagi ke bawah. Maka Menak
tubuhnya. Ketika Menak Tandira meluncur lagi ke bawah. Maka Menak
Tandira menyambar salah
satu senjata di tangan penyerangnya.
Bret Golok rampasan tersebut langsung
berkelebat menyambar ke segala arah.
Crak...Bret Bret
"Aaaa..." Terdengar pekik dan jerit kesakitan di sana-sini. Empat orang
Bret Golok rampasan tersebut langsung
berkelebat menyambar ke segala arah.
Crak...Bret Bret
"Aaaa..." Terdengar pekik dan jerit kesakitan di sana-sini. Empat orang
penduduk biasa roboh dengan
tubuh bermandikan darah.
Ternyata laki-laki berwajah angker ini memang mempunyai kepandaian
Ternyata laki-laki berwajah angker ini memang mempunyai kepandaian
yang cukup tinggi. Terbukti
hanya dalam beberapa jurus saja ia sudah
mampu merobohkan beberapa
penduduk.
Melihat kenyataan ini Ki Supit
tidak tinggal diam. "Menyingkir semuanya..." teriak Ki Supit dengan suara
Melihat kenyataan ini Ki Supit
tidak tinggal diam. "Menyingkir semuanya..." teriak Ki Supit dengan suara
keras. Ia pun melompat ke
depan. Tinju laki-laki itu menghantam iga
Menak Tandira. Dengan sigap
lawan menghalaunya.
Wuus
Ki Supit dengan segera menarik
tangannya kembali untuk menghindari benturan yang terjadi. Lalu ia
Wuus
Ki Supit dengan segera menarik
tangannya kembali untuk menghindari benturan yang terjadi. Lalu ia
lepaskan tendangan kaki ke
punggung lawannya.
Wuuk
Duuk
Menak Tandira terhuyung,
punggungnya langsung nyeri seperti ada tulangnya yang patah. Ia
Wuuk
Duuk
Menak Tandira terhuyung,
punggungnya langsung nyeri seperti ada tulangnya yang patah. Ia
menggeram keras, lalu
tiba-tiba saja ia menerkam Ki Supit dengan tangan
terkembang.
"Hiaa..."
Semua orang yang berada di situ
dapat melihat betapa jemari tangan Ki Supit berubah menghitam. Namun
"Hiaa..."
Semua orang yang berada di situ
dapat melihat betapa jemari tangan Ki Supit berubah menghitam. Namun
kawan-kawannya tetap merasa
yakin Ki Supit pasti dapat mengatasinya,
mengingat kakek tua
berbadan agak bongkok ini juga memiliki kepandaian
yang cukup tinggi.
Ternyata dugaan mereka untuk
sementara benar adanya. Ketika kedua tangan lawannya hampir mencapai
Ternyata dugaan mereka untuk
sementara benar adanya. Ketika kedua tangan lawannya hampir mencapai
sasaran.
Maka Ki Supit mencabut keris Ki Ronda Pamungkas.
Set
Wus
"Heh... gila...?" desis Menak Tandira sambil tarik balik serangan dan
Maka Ki Supit mencabut keris Ki Ronda Pamungkas.
Set
Wus
"Heh... gila...?" desis Menak Tandira sambil tarik balik serangan dan
berguling-guling selamatkan
diri. Ki Supit terus memburu, lalu ia tikamkan
senjatanya bertubi-tubi.
Kenyataan ini membuat Menak Tandira jadi
terdesak. Ia hanya dapat
main mundur saja untuk kemudian membentak
garang.
"Haiit Aiyaaa..."
Satu jurus lain dimainkannya.
Tangannya mencakar kian kemari, sedangkan kedua kakinya bergerak
"Haiit Aiyaaa..."
Satu jurus lain dimainkannya.
Tangannya mencakar kian kemari, sedangkan kedua kakinya bergerak
lincah dengan cepatnya.
"Graa Graa"
Jelas sekali kalau pada saat itu
Menak Tandira sedang mengerahkan jurus Macan Luwe. Salah satu jurus
"Graa Graa"
Jelas sekali kalau pada saat itu
Menak Tandira sedang mengerahkan jurus Macan Luwe. Salah satu jurus
ampuh yang dimilikinya.
"Haiiiik..."
Menak Tandira melompat laksana
terbang. Melihat serangan ganas ini Ki Ronda Pamungkas disodokkan ke
"Haiiiik..."
Menak Tandira melompat laksana
terbang. Melihat serangan ganas ini Ki Ronda Pamungkas disodokkan ke
depan oleh Ki Supit.
Senjata itu mendesing ketika membelah udara. Secara
aneh Menak Tandira
menghindar ke samping dan dilain waktu ia
sudah berada di belakang Ki Supit. Dengan begitu tentu saja serangan Ki
sudah berada di belakang Ki Supit. Dengan begitu tentu saja serangan Ki
Supit tidak mengenai
sasarannya. Tahu-tahu dari belakangnya....
Duuk
Beeeeet
Sepuluh kuku jari Menak Tandira
menghunjam di tubuh lawannya. Ki Supit menjerit. Suaranya seakan
Duuk
Beeeeet
Sepuluh kuku jari Menak Tandira
menghunjam di tubuh lawannya. Ki Supit menjerit. Suaranya seakan
merobek langit.
Tubuhnya terhuyung ke depan tanpa pernah sempat lagi berbalik ke depan.
Tubuhnya terhuyung ke depan tanpa pernah sempat lagi berbalik ke depan.
Tidak lama ia pun
tersungkur roboh dan tewas
seketika dalam keadaan yang sangat mengerikan sekali.
Menak Tandira tertawa membahak.
Jalak Seta memandangi laki-laki itu dengan tatapan aneh. Namun ia tetap
seketika dalam keadaan yang sangat mengerikan sekali.
Menak Tandira tertawa membahak.
Jalak Seta memandangi laki-laki itu dengan tatapan aneh. Namun ia tetap
tidak bergerak mengambil
tindakan. Sementara itu kawan-kawan Ki Supit
sudah tidak sabar lagi.
Mereka secara beramai-ramai dan tidak terkontrol
lagi langsung segera
mengeroyok Menak Tandira. Pertempuran sengit pun
segera terjadi. Namun
karena para penduduk ini pada dasarnya tidak
mempunyai kepandaian silat
apa-apa. Maka hanya dalam waktu beberapa
jurus saja belasan
laki-laki itu telah terkapar dalam keadaan menyedihkan.
Tumenggung Sastrojoyo dibuat
terkesiap. Sekarang hanya tinggal dia dan Jalak Seta saja. Tumenggung dan
Tumenggung Sastrojoyo dibuat
terkesiap. Sekarang hanya tinggal dia dan Jalak Seta saja. Tumenggung dan
orang kepercayaannya saling berpandang-pandangan.
"Sebaiknya kau maju, Jalak Seta"
perintah sang Tumenggung.
Entah mengapa Jalak Seta malah
tertawa membahak. Sekejap tawanya yang menyeramkan itu terhenti.
"Sebaiknya kau maju, Jalak Seta"
perintah sang Tumenggung.
Entah mengapa Jalak Seta malah
tertawa membahak. Sekejap tawanya yang menyeramkan itu terhenti.
Lalu...
"Sebagai pimpinan seharusnya gusti Tumenggung yang bertindak duluan
"Sebagai pimpinan seharusnya gusti Tumenggung yang bertindak duluan
Nanti kalau sudah terdesak.
Barulah saya yang maju"
Belum hilang rasa kaget di hati
sang Tumenggung. Laksana kilat Jalak Seta mencabut senjatanya dan
Belum hilang rasa kaget di hati
sang Tumenggung. Laksana kilat Jalak Seta mencabut senjatanya dan
langsung
menghunjamkannya ke perut Tumenggung Sastrojoyo. Laki-laki bertubuh
menghunjamkannya ke perut Tumenggung Sastrojoyo. Laki-laki bertubuh
jangkung ini sudah tidak
sempat mengelak lagi.
Badik kecil telah menembus perutnya.
Tidak lama Tumenggung Sastrojoyo
terjengkang dari kudanya. Jalak Seta kembali tertawa dengan suara dingin.
Tentu saja hal ini membuat kaget Menak Tandira. Masa' ada seorang
Badik kecil telah menembus perutnya.
Tidak lama Tumenggung Sastrojoyo
terjengkang dari kudanya. Jalak Seta kembali tertawa dengan suara dingin.
Tentu saja hal ini membuat kaget Menak Tandira. Masa' ada seorang
bawahan begitu tega
membunuh majikannya sendiri?
"Tidak usah heran, sobat Jika kau benar-benar ingin bergabung dengan
"Tidak usah heran, sobat Jika kau benar-benar ingin bergabung dengan
tetua Betina Dari Neraka.
Aku siap membantumu, karena aku adalah salah
seorang
anggotanya juga." kata Jalak Seta dengan bangga.
"Mengapa kau bunuh Tumenggung itu?
Bukankah dia atasanmu?" tanya Menak Tandira.
"Memang aku bawahannya. Tetapi aku sudah lama juga menjadi pengikut-
anggotanya juga." kata Jalak Seta dengan bangga.
"Mengapa kau bunuh Tumenggung itu?
Bukankah dia atasanmu?" tanya Menak Tandira.
"Memang aku bawahannya. Tetapi aku sudah lama juga menjadi pengikut-
pengikut wanita cantik itu.
Aku bahkan yang menculik gadis-gadis di Batu
Sari untuk keperluan
membangkitkan Patung Perkasa.
Itu sebabnya aku harus membunuh
Tumenggung Sastrojoyo mengingat aku tidak ingin Tumenggung tahu di
Itu sebabnya aku harus membunuh
Tumenggung Sastrojoyo mengingat aku tidak ingin Tumenggung tahu di
pihak mana aku
berdiri"
"Aku tidak menyangka kita orang sehaluan. Lalu... apakah engkau tahu di
"Aku tidak menyangka kita orang sehaluan. Lalu... apakah engkau tahu di
mana tempat tinggal Betina
Dari Neraka saat ini?" tanya Menak Tandira.
"Tentu saja aku tahu. Jika kau mau, sekarang juga aku dapat
"Tentu saja aku tahu. Jika kau mau, sekarang juga aku dapat
mempertemukan kau dengan
tetua"
"Hhm, aku merasa sekarang memang sudah waktunya untuk menemui
"Hhm, aku merasa sekarang memang sudah waktunya untuk menemui
beliau. Aku sudah tidak
sabar ingin bergabung dengan mereka"
Maka tanpa menunggu lebih lama lagi berangkatlah kedua sahabat yang
Maka tanpa menunggu lebih lama lagi berangkatlah kedua sahabat yang
baru saja saling kenal ini.
Di sepanjang perjalanan mereka terus
berbincang-bincang tentang
kehebatan yang dimiliki oleh Mustika Jajar
dan gurunya. Tanpa mereka
sadari bahwa sejak beberapa saat yang lalu ada
dua sosok bayangan yang
terus mengikuti langkah mereka dalam jarak
yang tidak begitu jauh.
5
Hanya dalam waktu yang sedemikian
cepat bayangan yang terus mengikuti di belakangnya telah berada jauh ke
5
Hanya dalam waktu yang sedemikian
cepat bayangan yang terus mengikuti di belakangnya telah berada jauh ke
depan.
Itu pun Jalak Seta dan Menak Tandira tidak tahu kehadiran kedua orang
Itu pun Jalak Seta dan Menak Tandira tidak tahu kehadiran kedua orang
aneh ini.
"Sebaiknya kita berhenti dulu untuk beristirahat" kata Jalak Seta.
"Apakah tempat itu masih jauh dari sini?" tanya Menak Tandira sambil
"Sebaiknya kita berhenti dulu untuk beristirahat" kata Jalak Seta.
"Apakah tempat itu masih jauh dari sini?" tanya Menak Tandira sambil
menghentikan langkahnya.
"Cukup jauh juga, mungkin sekitar dua hari perjalanan." sahut Jalak Seta.
Mereka pun akhirnya beristirahat. Namun belum lama mereka duduk, tiba-
"Cukup jauh juga, mungkin sekitar dua hari perjalanan." sahut Jalak Seta.
Mereka pun akhirnya beristirahat. Namun belum lama mereka duduk, tiba-
tiba saja terdengar suara
gelak tawa yang
menyesakkan dada dan mengacaukan jalan darah.
Baik Jalak Seta maupun Menak
Tandira sama tersentak kaget. Suara tawa tiba-tiba saja lenyap dan
menyesakkan dada dan mengacaukan jalan darah.
Baik Jalak Seta maupun Menak
Tandira sama tersentak kaget. Suara tawa tiba-tiba saja lenyap dan
berganti dengan kesunyian
yang mencekam. Kedua orang ini saling
berpandang-pandangan.
"Rupanya ada orang lain yang pingin mampus di sini, Jalak Seta Namun
"Rupanya ada orang lain yang pingin mampus di sini, Jalak Seta Namun
betapa pengecutnya dia
karena tidak mau
tunjukkan diri" menggeram Menak Tandira.
"Ha ha ha..." Suara tawa tiba-tiba terdengar kembali dan seakan datang
tunjukkan diri" menggeram Menak Tandira.
"Ha ha ha..." Suara tawa tiba-tiba terdengar kembali dan seakan datang
dari seluruh penjuru arah.
"Kami bukan
pengecut, sesungguhnya kunyuk jelek seperti kalian tidak pantas melihat
pengecut, sesungguhnya kunyuk jelek seperti kalian tidak pantas melihat
kami.Karena kalian termasuk
orang-orang licik apalagi jika sampai
membunuh Tumenggung yang
jadi atasan sendiri hanya karena membantu
seorang iblis" kata
suara tadi menimpali. Memerah kuping Jalak Seta
mendengarnya. Ia segera
memandang ke arah datangnya suara yang
bersumber dari atas pohon.
Ternyata di sana tidak ada apa-apa.
"Keluarlah jika kalian memang jantan" tantang Menak Tandira.
"Hak hak hak Blo'on kau ditantang supaya keluar dari tempat
"Keluarlah jika kalian memang jantan" tantang Menak Tandira.
"Hak hak hak Blo'on kau ditantang supaya keluar dari tempat
persembunyian.
Tunggu apa lagi, apakah kau ingin jadi pengecut tidak mau tunjukkan
Tunggu apa lagi, apakah kau ingin jadi pengecut tidak mau tunjukkan
diri?"
"Ah, Tenggiling Kedil, bocah
bangkotan namun masih seperti bayi
Sebaiknya jangan kau gurui aku.
Lihatlah..." kata pemuda baju biru pakai ikat kepala biru belang-belang
"Ah, Tenggiling Kedil, bocah
bangkotan namun masih seperti bayi
Sebaiknya jangan kau gurui aku.
Lihatlah..." kata pemuda baju biru pakai ikat kepala biru belang-belang
kuning.
Pendekar Mandau Jantan ini kemudian melompat turun dari atas
Pendekar Mandau Jantan ini kemudian melompat turun dari atas
kerimbunan pohon. Lalu...
Jliik
Ia menjejakkan kaki tanpa
menimbulkan suara sedikit pun juga. Wiro Suryo si bocah super kerdil
Jliik
Ia menjejakkan kaki tanpa
menimbulkan suara sedikit pun juga. Wiro Suryo si bocah super kerdil
langsung melompat dari
pinggang Pendekar Blo'on.
Tentu saja kehadiran kedua orang yang sama-sama aneh ini membuat
Tentu saja kehadiran kedua orang yang sama-sama aneh ini membuat
mereka terheran-heran. Yang
satu adalah seorang pemuda tampan
bertampang ketolol-tololan,
lagaknya cengar-cengir dan sambil garuk-
garuk kepala. Sedangkan
yang satunya lagi adalah seorang laki-laki
berambut, kumis serta
jenggot putih. Namun badannya pendek bukan
main. Tingginya bahkan
tidak sampai setengah meter. Dilihat sekilas
keduanya memang seperti
orang konyol.
"Hmm, orang-orang bertampang kacau seperti ini rupanya yang coba-coba
"Hmm, orang-orang bertampang kacau seperti ini rupanya yang coba-coba
menghalangi niat kami"
dengus Jalak Seta disertai sesungging senyum
mengejek.
"Ha ha ha... Dia meledekmu, Wiro Suryo. Apa tindakanmu terhadap orang
"Ha ha ha... Dia meledekmu, Wiro Suryo. Apa tindakanmu terhadap orang
yang telah membunuh
penduduk dan mengkhianati Tumenggung nya
sendiri? Coba apa?"
tanya Pendekar Blo'on sambil menyeka keningnya.
"Pertama dia harus minum kencingku.
Sedangkan yang kedua dia harus jilat pantatku pulang pergi" kata si kakek
"Pertama dia harus minum kencingku.
Sedangkan yang kedua dia harus jilat pantatku pulang pergi" kata si kakek
kerdil kocak.
"Kencingmu kalau tidak pahit pasti asin rasanya. Bagaimana kalau
"Kencingmu kalau tidak pahit pasti asin rasanya. Bagaimana kalau
pantatmu hitam dan bau? Ha
ha ha...",
"Memang betul. Tapi dia harus berterima kasih. Karena aku termasuk orang terhormat di Gunung Sembung" sahut Tenggiling Kedil.
Baik Jalak Seta maupun Menak
Tandira sangat marah sekali. Tanpa bicara apa-apa lagi salah seorang di
"Memang betul. Tapi dia harus berterima kasih. Karena aku termasuk orang terhormat di Gunung Sembung" sahut Tenggiling Kedil.
Baik Jalak Seta maupun Menak
Tandira sangat marah sekali. Tanpa bicara apa-apa lagi salah seorang di
antaranya
langsung menerjang Pendekar Blo'on.
Melihat lawannya menyerang dengan
bersemangat, maka Suro meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang lucu.
Ssst...
"We... kecele....'" ejek si pemuda urakan sambil tersenyum-senyum.
Jalak Seta tidak menanggapi. Ia
membalikkan tubuhnya lalu menghantam lagi dengan serangan bertubi-
langsung menerjang Pendekar Blo'on.
Melihat lawannya menyerang dengan
bersemangat, maka Suro meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang lucu.
Ssst...
"We... kecele....'" ejek si pemuda urakan sambil tersenyum-senyum.
Jalak Seta tidak menanggapi. Ia
membalikkan tubuhnya lalu menghantam lagi dengan serangan bertubi-
tubi. Kenyataan ini tentu
membuat Suro terpaksa
mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'.
Tubuhnya kemudian berubah jadi
lentur. Tangan mencakar ke berbagai penjuru arah. Namun tidak jarang ia
mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'.
Tubuhnya kemudian berubah jadi
lentur. Tangan mencakar ke berbagai penjuru arah. Namun tidak jarang ia
menggaruk kepala atau
punggungnya atau terkadang melompat-lompat
seperti seekor monyet. Apa
yang dilakukan oleh pemuda ini memang terasa
menggelikan dan membuat
geli yang melihatnya. Malah Wiro Suryo sampai
tepuk tangan segala memberi
semangat.
"Ayo, hantam Pukul monyet itu, nyit-nyit... nyit..."
Tentu saja setelah berulangkali
mengalami kegagalan Jalak Seta akhirnya menjadi kalap juga. Tiba-tiba
"Ayo, hantam Pukul monyet itu, nyit-nyit... nyit..."
Tentu saja setelah berulangkali
mengalami kegagalan Jalak Seta akhirnya menjadi kalap juga. Tiba-tiba
saja ia mencabut badik
kecil yang dipergunakan untuk menghabisi jiwa
Tumenggung
Sastrojoyo.
"Awas Blo'on dia mau mencincangmu
dengan senjata itu" kata Tenggiling Kedil memperingatkan.
Jalak Seta kemudian dengan senjata terhunus menyerang empat jalan
Sastrojoyo.
"Awas Blo'on dia mau mencincangmu
dengan senjata itu" kata Tenggiling Kedil memperingatkan.
Jalak Seta kemudian dengan senjata terhunus menyerang empat jalan
darah di tubuh Suro Blondo.
Melihat serangan yang datangnya bagai
gelombang air bah ini.
Suro terpaksa kerahkan jurus
Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor. Tubuh pemuda berambut
Suro terpaksa kerahkan jurus
Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor. Tubuh pemuda berambut
hitam
kemerahan ini akhirnya berkelebat lenyap hanya dalam waktu yang
kemerahan ini akhirnya berkelebat lenyap hanya dalam waktu yang
sedemikian
singkat. Terdengar suara jeritan di sana-sini.
"Hiya..."
Senjata di tangan Jalak Seta
menderu membelah udara. Suro tiba-tiba berjongkok lalu melompat tinggi.
singkat. Terdengar suara jeritan di sana-sini.
"Hiya..."
Senjata di tangan Jalak Seta
menderu membelah udara. Suro tiba-tiba berjongkok lalu melompat tinggi.
Sehingga serangan lawannya
pun tidak mengenai sasarannya. Melihat
serangannya luput, maka
Jalak Seta lepaskan tendangan bertubi-tubi. Suro
terus menghindar sambil
berjingkrak-jingkrak. Rupanya serangan ini tidak
memenuhi sasaran
sebagaimana yang diharapkan. Sehingga Jalak Seta
melompat ke depan sambil
hantamkan lututnya.
"Heaa..."
Duuk
"Nggekk..."
Pendekar Blo'on jatuh terduduk.
Dadanya sesak sekali seperti orang yang
hampir putus nafasnya. Namun begitu pun ia masih dapat cengengesan.
"Hei, bocah geblek Baru segitu saja kau sudah kelenger. Tunjukkanlah
"Heaa..."
Duuk
"Nggekk..."
Pendekar Blo'on jatuh terduduk.
Dadanya sesak sekali seperti orang yang
hampir putus nafasnya. Namun begitu pun ia masih dapat cengengesan.
"Hei, bocah geblek Baru segitu saja kau sudah kelenger. Tunjukkanlah
kejantananmu Mengapa
segan-segan."
"Edan kowe. Kejantanan itu cuma untuk bini itu pun kalau sudah kawin
"Edan kowe. Kejantanan itu cuma untuk bini itu pun kalau sudah kawin
nanti. Jadi jangan
macam-macam" sahut Pendekar Blo'on. Secepatnya
pemuda itu berdiri lagi.
Lalu ketika ia melihat lawan melepaskan
pukulannya. Tidak mau kalah
pemuda ini pun lepaskan pukulan
'Kera Sakti Menolak Petir'.
Segulung sinar hitam datang
menggebu-gebu. Setelah itu terdengar suara dentuman keras ketika Suro
mendorongkan kedua tangannya ke depan.
Bocah ajaib ini hanya terhuyung-huyung.
Jalak Seta sendiri selain tubuh menjadi biru terkena pukulannya yang membalik, juga langsung merasa kesulitan untuk bergerak.
Kali ini Pendekar Blo'on dengan
mimik serius, walau pun pada kenyataannya tetap kacau. Kali ini ia
'Kera Sakti Menolak Petir'.
Segulung sinar hitam datang
menggebu-gebu. Setelah itu terdengar suara dentuman keras ketika Suro
mendorongkan kedua tangannya ke depan.
Bocah ajaib ini hanya terhuyung-huyung.
Jalak Seta sendiri selain tubuh menjadi biru terkena pukulannya yang membalik, juga langsung merasa kesulitan untuk bergerak.
Kali ini Pendekar Blo'on dengan
mimik serius, walau pun pada kenyataannya tetap kacau. Kali ini ia
melepaskan pukulan untuk
mengakhiri perlawanan Jalak Seta. Pukulan
yang dilepaskannya adalah
Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar;
Segelombang sinar redup
melabrak
habis Jalak Seta. Laki-laki yang sudah terluka parah ini tidak lagi mampu
habis Jalak Seta. Laki-laki yang sudah terluka parah ini tidak lagi mampu
menghindar. Ia menjerit
kesakitan
bersamaan melayangnya nyawa pembantu Iblis Betina Dari Neraka ini.
Melihat kejadian ini Menak Tandira menjadi kaget sekaligus marah sekali.
bersamaan melayangnya nyawa pembantu Iblis Betina Dari Neraka ini.
Melihat kejadian ini Menak Tandira menjadi kaget sekaligus marah sekali.
Ia melompat ke depan untuk
melabrak Suro Blondo. Namun Tenggiling
Kedil mengha-dangnya.
"Eiit... biarkan kawanku beristirahat dulu. Mari kita main-main sebentar.
Jika kau tidak beruntung, tentu
secepatnya kau berangkat ke akherat He he he..." Wiro Suryo terkekeh-
"Eiit... biarkan kawanku beristirahat dulu. Mari kita main-main sebentar.
Jika kau tidak beruntung, tentu
secepatnya kau berangkat ke akherat He he he..." Wiro Suryo terkekeh-
kekeh.
"Manusia konyol keparat Aku akan mengirimmu ke neraka" teriak Menak
"Manusia konyol keparat Aku akan mengirimmu ke neraka" teriak Menak
Tandira dengan marahnya.
"Boleh saja, tapi bagaimana jika Tuhan malah melemparku ke surga?" ejek
"Boleh saja, tapi bagaimana jika Tuhan malah melemparku ke surga?" ejek
Wiro Suryo alias Tenggiling
Kedil sambil menghindar ke samping.
"Hii..."
Sebagai jawaban Tenggiling Kedil
lepaskan tendangan kaki ke bagian kepala lawan. Namun Suryo sudah
"Hii..."
Sebagai jawaban Tenggiling Kedil
lepaskan tendangan kaki ke bagian kepala lawan. Namun Suryo sudah
menggelinding dengan kaki
dilipat ke kepala.
"Shaaa..."
"Wiih... hebat tapi kurang mantap"
ejek si kakek super pendek lalu kakinya tiba-tiba saja menendang pantat
"Shaaa..."
"Wiih... hebat tapi kurang mantap"
ejek si kakek super pendek lalu kakinya tiba-tiba saja menendang pantat
Menak Tandira.
Buuk
"Aukh..."
Menak Tandira menjerit kesakitan.
Ia memegangi pantatnya yang pasti
langsung berubah membiru. Jalannya pun terpincang-pincang seperti
Buuk
"Aukh..."
Menak Tandira menjerit kesakitan.
Ia memegangi pantatnya yang pasti
langsung berubah membiru. Jalannya pun terpincang-pincang seperti
kerbau habis beranak.
"Keparat betul" geram Menak Tandira.
"Betul-betul keparat" Wiro Suryo menimpali. Secepatnya ia menghindar
"Keparat betul" geram Menak Tandira.
"Betul-betul keparat" Wiro Suryo menimpali. Secepatnya ia menghindar
ketika tendangan lawan
menderu menghantam tengkuk si kakek.
Wuus
"Heh..."
Menak Tandira tersentak kaget
ketika melihat serangan yang sudah terarah pada sasaran ternyata meleset.
Wuus
"Heh..."
Menak Tandira tersentak kaget
ketika melihat serangan yang sudah terarah pada sasaran ternyata meleset.
Ia rupanya masih belum
sadar bahwa si kakek ketika itu telah
mengerahkan jurus Suket
Sekilen yang mempunyai keunikan
tersendiri.
Lagi-lagi
dengan marahnya Menak
Tandira melakukan serangan ganas. Sekali ini ia mengerahkan jurus Macan
tersendiri.
Lagi-lagi
dengan marahnya Menak
Tandira melakukan serangan ganas. Sekali ini ia mengerahkan jurus Macan
Luwe yang juga merupakan
salah satu jurus yang menjadi andalannya.
"Graaa..." Menak Tandika berteriak seperti suara harimau.
"Panas" si kakek konyol menimpali.
Lawan yang sudah dilanda kemarahan ini sama sekali sudah tidak begitu
menghiraukannya. Tubuhnya tiba-tiba menyambar ke depan, sedangkan
"Graaa..." Menak Tandika berteriak seperti suara harimau.
"Panas" si kakek konyol menimpali.
Lawan yang sudah dilanda kemarahan ini sama sekali sudah tidak begitu
menghiraukannya. Tubuhnya tiba-tiba menyambar ke depan, sedangkan
kedua tangannya tertuju
lurus ke bagian batok
kepala Tenggiling Kedil. Hanya sekejap saja kakek tua yang sama kocaknya
kepala Tenggiling Kedil. Hanya sekejap saja kakek tua yang sama kocaknya
dengan Pendekar Blo'on si bocah ajaib itu
sudah bergerak ke samping.
Praktis serangan
lawan-lawannya tidak mengenai sasaran.
Menak Tandira bukan main kagetnya.
Ia sama sekali tidak menyangka
serangannya akan gagal mengenai sasaran.
Padahal ia telah mengerahkan jurus yang menjadi andalannya. Kini dengan
Menak Tandira bukan main kagetnya.
Ia sama sekali tidak menyangka
serangannya akan gagal mengenai sasaran.
Padahal ia telah mengerahkan jurus yang menjadi andalannya. Kini dengan
rasa penasaran yang
mendalam, Menak Tandira melangkah maju. Kedua
tangannya bergerak ke depan
dan ke samping. Lalu ia
menghantam ke dada Wiro Suryo.
"Nah bocah kerdil. Dia mau memutus tenggorokanmu. Jika lehermu putus
menghantam ke dada Wiro Suryo.
"Nah bocah kerdil. Dia mau memutus tenggorokanmu. Jika lehermu putus
kau bisa dibuatnya
mampus" celetuk Suro Blondo sambil cengar-cengir.
"Kalau cuma hanya menonton lebih baik kau tutup mulut rapat-rapat.
"Kalau cuma hanya menonton lebih baik kau tutup mulut rapat-rapat.
Jangan pula kau kentut
seperti suara burung perkutut di dalam karung
butut tidak bisa
ribut-ribut" Tenggiling Kedil menimpali.
"Hraaa..."
Set
"Hampir saja..." dengus Wiro Suryo.
Lagi-lagi serangan lawan luput. Dan ternyata tokoh kawakan dari Gunung
"Hraaa..."
Set
"Hampir saja..." dengus Wiro Suryo.
Lagi-lagi serangan lawan luput. Dan ternyata tokoh kawakan dari Gunung
Sembung ini memang bukan
lawan Menak Tandira. Terbukti ketika
Tenggiling Kedil balas
melakukan serangan. Ia langsung
saja terdesak dan hanya dapat mengelak seperti babi yang kehilangan nyali.
Menak Tandira akhirnya memutuskan
untuk melepaskan pukulan jarak jauhnya ke arah lawan. Sekejap saja ia
saja terdesak dan hanya dapat mengelak seperti babi yang kehilangan nyali.
Menak Tandira akhirnya memutuskan
untuk melepaskan pukulan jarak jauhnya ke arah lawan. Sekejap saja ia
telah
mengalirkan tenaga dalamnya kebagian telapak tangannya.
"Hiya..."
Menak Tandira menghentakkan kedua
tangannya. Dari telapak tangan laki-laki itu meleset sinar kuning berhawa
mengalirkan tenaga dalamnya kebagian telapak tangannya.
"Hiya..."
Menak Tandira menghentakkan kedua
tangannya. Dari telapak tangan laki-laki itu meleset sinar kuning berhawa
dingin bukan main. Si Bocah
Kerdil langsung melepaskan ajian Pancar
Cahaya. Salah satu pukulan
pamungkas yang tidak ada tandingnya.
Sinar putih laksana perak
menghantam sinar kuning yang membuncah di udara.
Akibatnya Menak Tandira bukan saja terhantam pukulan sendiri yang
Sinar putih laksana perak
menghantam sinar kuning yang membuncah di udara.
Akibatnya Menak Tandira bukan saja terhantam pukulan sendiri yang
membalik.
Tapi juga terhantam aji Pancar Cahaya milik Wiro Suryo.
Buum Buum
"Waaakh..."
Menak Tandira menjerit keras,
ketika tubuhnya terhempas ke atas batu, maka jiwanya pun tidak tertolong
Tapi juga terhantam aji Pancar Cahaya milik Wiro Suryo.
Buum Buum
"Waaakh..."
Menak Tandira menjerit keras,
ketika tubuhnya terhempas ke atas batu, maka jiwanya pun tidak tertolong
lagi.
Plok Plok
"Hebat. Ternyata tidak percuma walau pun tubuhmu pendek memalukan"
Plok Plok
"Hebat. Ternyata tidak percuma walau pun tubuhmu pendek memalukan"
puji Pendekar Blo'on.
"Jangan menghina. Tugas masih
banyak atau kau mau memanggang mayat mereka?"
"Hhh, amit-amit"
Dan Pendekar Blo'on pun segera
berlalu meninggalkan mayat kedua lawan mereka.
"Hei... geblek. Tunggu... Aku mau minta gendong" teriak Tenggiling Kedil
"Jangan menghina. Tugas masih
banyak atau kau mau memanggang mayat mereka?"
"Hhh, amit-amit"
Dan Pendekar Blo'on pun segera
berlalu meninggalkan mayat kedua lawan mereka.
"Hei... geblek. Tunggu... Aku mau minta gendong" teriak Tenggiling Kedil
sambil mengejar kawan
barunya.
6
Pada bagian lain masih di
dalam bangunan Curing Bencana ada sebuah altar tempat melakukan
6
Pada bagian lain masih di
dalam bangunan Curing Bencana ada sebuah altar tempat melakukan
persembahan kepada pada
iblis. Ruangan itu tidak begitu luas. Dengan
penerangan yang redup serta
bau-bauan yang khas. Jelas sekali ada kesan
mejik yang mendalam. Di
dalam ruangan itulah kini patung laki-laki
perkasa diletakkan.
Sementara seorang perempuan bermuka coreng
moreng dan seorang
laki-laki tua bermata satu sedang melakukan meditasi.
Di tengah-tengah altar
terlihat tujuh orang gadis dalam keadaan terikat
kaki dan tangannya. Jelas
sekali mereka dalam keadaan ketakutan, tidak
heran jika sejak tadi
mereka terus berteriak-teriak seperti orang yang
kesurupan.
Murid dan guru kini berhadap-
hadapan. Di tengah-tengah mereka terdapat
sebuah pendupaan. Pendupaan itu terus mengepulkan asap tebal menebar
Murid dan guru kini berhadap-
hadapan. Di tengah-tengah mereka terdapat
sebuah pendupaan. Pendupaan itu terus mengepulkan asap tebal menebar
bau kemenyan yang
sedemikian menusuk.
Sementara bibir mereka berkemak-kemik.
Patung Perkasa yang sangat
sempurna. Atas bantuan para iblis yang menghuni alam kegelapan, di
Sementara bibir mereka berkemak-kemik.
Patung Perkasa yang sangat
sempurna. Atas bantuan para iblis yang menghuni alam kegelapan, di
dalam hati dan juga yang
menyatu dalam pembuluh darah manusia.
Hidupkanlah si perkasa
untuk menjadi benteng utama muridku.
Tuntutanmu atas darah perawan akan kupenuhi. Benteng roh... hai
benteng roh... Titiskanlah
satu roh ke dalam diri si perkasa Bangkit dan
bangkitlah...
Apa yang diucapkan oleh murid dan
guru ini benar-benar sangat berpengaruh.
Dinding ruangan bergetar hebat. Dari segala penjuru arah angin bertiup
kencang. Lalu.... Sebuah golok besar mirip golok penjagal babi yang
bangkitlah...
Apa yang diucapkan oleh murid dan
guru ini benar-benar sangat berpengaruh.
Dinding ruangan bergetar hebat. Dari segala penjuru arah angin bertiup
kencang. Lalu.... Sebuah golok besar mirip golok penjagal babi yang
terletak di atas nampan
tanah pun tiba-tiba melayang dan memenggal
putus kepala gadis-gadis
yang dalam keadaan terikat itu. Darah
menyembur deras. Memancar
bagaikan mata air. Darah itu bukan saja
membasahi lantai. Tapi juga
sosok
patung laki-laki yang berada di tengah-tengah mereka.
Segalanya kemudian berproses. Mula-mula patung itu mengalami
patung laki-laki yang berada di tengah-tengah mereka.
Segalanya kemudian berproses. Mula-mula patung itu mengalami
perubahan pada bentuk
kulitnya. Kulit yang berwarna putih itu berubah
menjadi
kecoklatan-coklatan. Lalu matanya yang terpejam mengerjab,
tangan, kaki dan
bagian-bagian tubuh lainnya bergerak-gerak.
"Lihat..." kata Mustika Jajar tidak dapat menyembunyikan rasa
takjubnya. Tua Tengkorak Mata Api membuka matanya. Ia menoleh ke
"Lihat..." kata Mustika Jajar tidak dapat menyembunyikan rasa
takjubnya. Tua Tengkorak Mata Api membuka matanya. Ia menoleh ke
arah patung yang telah
dihidupkannya.
"Tugasku telah selesai, Tika
Sekarang sudah waktunya bagiku untuk meninggalkan tempat ini dan
"Tugasku telah selesai, Tika
Sekarang sudah waktunya bagiku untuk meninggalkan tempat ini dan
kembali ke Cilawu"
kata laki-laki berwajah tengkorak itu.
"Mengapa begitu tergesa-gesa, guru?" tanya Mustika Jajar seakan merasa
"Mengapa begitu tergesa-gesa, guru?" tanya Mustika Jajar seakan merasa
tidak rela melihat
kepergian gurunya.
"Waktuku sangat sempit sekali.
Sejak dulu aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku ingin
"Waktuku sangat sempit sekali.
Sejak dulu aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku ingin
menciptakan ilmu-ilmu yang
baru. Setelah aku pergi, kau tentu saja dapat
menjajal si Perkasa yang
telah hidup sebagaimana halnya kau. Semoga kau
senang berkawan
dengannya" Tua Tengkorak Mata Api bangkit berdiri.
Tidak lama kemudian ia
memandang ke arah patung yang telah hidup itu.
"Mulai saat ini kau harus mengabdi kepada muridku, Perkasa..." katanya
"Mulai saat ini kau harus mengabdi kepada muridku, Perkasa..." katanya
ditujukan pada patung
bernyawa tersebut.
Si Perkasa menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang kaku. Tatapan
Si Perkasa menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang kaku. Tatapan
matanya yang dingin
memandang tajam pada Tua Tengkorak Mata Api.
"Selamat tinggal Mustika Jajar..."
"Guru?"
Terlambat. Tua Tengkorak Mata Api
telah menghilang dari pandangan mata Mustika Jajar. Gadis itu hanya
"Selamat tinggal Mustika Jajar..."
"Guru?"
Terlambat. Tua Tengkorak Mata Api
telah menghilang dari pandangan mata Mustika Jajar. Gadis itu hanya
dapat menggelengkan
kepalanya berulang-ulang.
"Perkasa Coba kau tunjukkan
kehebatan yang kau miliki" perintah Mustika Jajar beberapa saat kemudian
"Perkasa Coba kau tunjukkan
kehebatan yang kau miliki" perintah Mustika Jajar beberapa saat kemudian
dengan penuh manja.
"Apakah aku harus menghancurkan bangunan ini, tetua?" tanya Perkasa.
Suaranya terdengar begitu serak dan berat.
"Oh... jangan Di luar bangunan ini banyak terdapat batu-batu besar yang
"Apakah aku harus menghancurkan bangunan ini, tetua?" tanya Perkasa.
Suaranya terdengar begitu serak dan berat.
"Oh... jangan Di luar bangunan ini banyak terdapat batu-batu besar yang
dapat kau pergunakan bahan
uji cobamu"
"Sebaiknya kita ke sana, Tetua"
Dengan disertai Perkasa, Mustika
Jajar meninggalkan ruangan itu. Tidak lama sampailah mereka di halaman
"Sebaiknya kita ke sana, Tetua"
Dengan disertai Perkasa, Mustika
Jajar meninggalkan ruangan itu. Tidak lama sampailah mereka di halaman
luas.
"Kau tinggal memilih, mana yang ingin kau hancurkan lebih dulu, yang
"Kau tinggal memilih, mana yang ingin kau hancurkan lebih dulu, yang
besar atau yang
kecil..."
"Aku memilih yang besar"
Ki Alit, Damerta dan Wiku Palawa
ikut menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Perkasa. Sementara laki-
"Aku memilih yang besar"
Ki Alit, Damerta dan Wiku Palawa
ikut menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Perkasa. Sementara laki-
laki yang hanya memakai
cawat ini mulai
menggerakkan tangan-tangannya. Hanya dalam waktu yang sangat singkat,
menggerakkan tangan-tangannya. Hanya dalam waktu yang sangat singkat,
tubuh Perkasa telah
mengeluarkan cahaya
kemerah-merahan seperti bara. Suasana di sekitarnya berubah panas.
kemerah-merahan seperti bara. Suasana di sekitarnya berubah panas.
Hingga membuat Mustika Jajar dan
begundal-begundalnya terkesiap kaget.
"Hiaa..."
Terdengar suara teriakan
menggeledek. Lalu kedua tangan Perkasa dihentakkannya ke depan
Wuut Wuut
Wuus
Tiga bola api melesat dari telapak tangan Perkasa. Kemudian dari
"Hiaa..."
Terdengar suara teriakan
menggeledek. Lalu kedua tangan Perkasa dihentakkannya ke depan
Wuut Wuut
Wuus
Tiga bola api melesat dari telapak tangan Perkasa. Kemudian dari
mulutnya yang terbuka
melesat pula bola api yang sama. Melesat keenam
sasaran sekaligus.
Ini merupakan sebuah kenyataan yang sangat langka.
Buum Buum
Ledakan-ledakan dahsyat terjadi
berturut-turut hingga membuat suasana seperti mau kiamat saja layaknya.
Ini merupakan sebuah kenyataan yang sangat langka.
Buum Buum
Ledakan-ledakan dahsyat terjadi
berturut-turut hingga membuat suasana seperti mau kiamat saja layaknya.
Batu-batu sebesar kerbau
yang terkena pukulan Perkasa hancur berkeping-
keping menjadi serpihan
debu. Suasana di sekeliling mereka menjadi gelap
gulita. Damerta, Ki Alit
bahkan sempat terpelanting akibat terpengaruh
getaran yang ditimbulkan
oleh pukulan itu. Sedangkan Wiku Palawa
tergetar tubuhnya. Ia
mempergunakan
tongkatnya untuk tetap bertahan. Mustika Jajar sendiri terpaksa
tongkatnya untuk tetap bertahan. Mustika Jajar sendiri terpaksa
mengerahkan tenaga dalamnya
agar tidak sampai terjatuh.
Perkasa terus mengumbar pukulan-
pukulan dahsyat yang dimilikinya, hingga membuat batu-batu menjadi
Perkasa terus mengumbar pukulan-
pukulan dahsyat yang dimilikinya, hingga membuat batu-batu menjadi
porak poranda.
Ledakan-ledakan terus terdengar. Bola api berpijar menghantam sasaran
Ledakan-ledakan terus terdengar. Bola api berpijar menghantam sasaran
apa saja yang dikehendaki
oleh si Perkasa.
"Cukup Cukup Perkasa..." kata Mustika Jajar.
"Kalau tetua mengatakan sudah cukup, maka aku segera menyudahinya"
sahut Perkasa dalam kegelapan akibat debu-debu yang berterbangan.
"Cukup Cukup Perkasa..." kata Mustika Jajar.
"Kalau tetua mengatakan sudah cukup, maka aku segera menyudahinya"
sahut Perkasa dalam kegelapan akibat debu-debu yang berterbangan.
Benar saja, Perkasa
menghentikan pukulan-pukulan dahsyat yang
dimilikinya. Suasana
kemudian berubah seperti biasa kembali.
Cuma kali ini pemandangan disekeliling mereka benar-benar tidak enak
kemudian berubah seperti biasa kembali.
Cuma kali ini pemandangan disekeliling mereka benar-benar tidak enak
dilihat mata.
Pecahan-pecahan batu bertebaran di mana-mana. Sementara
bila Mustika Jajar
memandang ke arah Perkasa. Jelas sekali terlihat bahwa
laki-laki yang hanya
memakai cawat ini sama sekali tidak mengalami
kelelahan.
"Kau benar-benar sangat Perkasa sesuai nama yang diberikan guru
kepadamu." puji Mustika Jajar bangga.
"Aku tercipta dari api. Karena itu adalah kekuatan sekaligus asal-usulku.
Untuk kepentingan orang-orang yang
mengabdi pada para iblis. Tidak salah rasanya jika penghulu kegelapan
"Kau benar-benar sangat Perkasa sesuai nama yang diberikan guru
kepadamu." puji Mustika Jajar bangga.
"Aku tercipta dari api. Karena itu adalah kekuatan sekaligus asal-usulku.
Untuk kepentingan orang-orang yang
mengabdi pada para iblis. Tidak salah rasanya jika penghulu kegelapan
memberikan yang terbaik
pada tetua." jawab si perkasa kalem.
"Penghulu kegelapan?" tanya Wiku Palawa tercengang.
"Penghulu kegelapan adalah rajanya dari seluruh para iblis dan setan."
"Penghulu kegelapan?" tanya Wiku Palawa tercengang.
"Penghulu kegelapan adalah rajanya dari seluruh para iblis dan setan."
jelas Mustika Jajar yang
memang sudah banyak tahu tentang hal ini.
"Benar... memang dari sanalah asalku Sekarang aku ini bertanya tetua?
Tugas apakah yang harus kukerjakan?"
"Tugasmu tidak sulit Untuk pertama kau mengawalku di mana saja aku pergi.
Sedangkan untuk meneruskan pekerjaan Sugriwa yang tewas di tangan
"Benar... memang dari sanalah asalku Sekarang aku ini bertanya tetua?
Tugas apakah yang harus kukerjakan?"
"Tugasmu tidak sulit Untuk pertama kau mengawalku di mana saja aku pergi.
Sedangkan untuk meneruskan pekerjaan Sugriwa yang tewas di tangan
seseorang kuserahkan pada
Damerta dan juga uwa Wiku Palawa. Di
samping bunuh siapa saja
yang mencoba merintangi gerakan kita. Aku
yakin mungkin dalam waktu
tidak sampai satu purnama, kita telah berhasil
menguasai rimba persilatan di tanah Jawa ini."
"Jika orang-orang itu telah mati semua, kita dapat membuat generasi baru.
Yaitu generasinya para iblis" ujar Wiku Palawa.
"Benar... dan sebaiknya kalian berangkat sekarang untuk menyapu bersih
menguasai rimba persilatan di tanah Jawa ini."
"Jika orang-orang itu telah mati semua, kita dapat membuat generasi baru.
Yaitu generasinya para iblis" ujar Wiku Palawa.
"Benar... dan sebaiknya kalian berangkat sekarang untuk menyapu bersih
golongan-golongan yang
tidak pernah sejalan dengan kita" kata Mustika
Jajar.
Tidak lama kemudian berangkatlah Damerta dan juga Wiku Palawa. Di
Tidak lama kemudian berangkatlah Damerta dan juga Wiku Palawa. Di
tengah jalan mereka
berpisah. Damerta dan Ki Alit bergabung menjadi satu
kelompok. Sedangkan Wiku
Palawa melakukan perjalanan seorang diri
menuju ke arah timur.
7
Pamali merasa puas dengan hasil
kerjanya. Ikan-ikan di sungai Citarum menggelepar mati. Itu pertanda
7
Pamali merasa puas dengan hasil
kerjanya. Ikan-ikan di sungai Citarum menggelepar mati. Itu pertanda
racun Sangkaning Hurip
telah bekerja sebagaimana yang diharapkannya.
Ia menarik nafas panjang.
Senyumnya mengembang.
"Sugriwa telah mengerjakan sebagian rencana dengan baik. Kematian
"Sugriwa telah mengerjakan sebagian rencana dengan baik. Kematian
menyebar di mana-mana. Siapa
yang mampu menghalangi sepak
terjangnya para iblis.
Sebagaimana dalam perjanjian para iblis. Setiap
anggota mempunyai tugas
untuk menghancurkan seluruh umat manusia di
kolong langit ini. Dan
tentu saja sebentar lagi di daerah sungai Citarum ini
kematian akan menjemput
setiap makhluk-makhluk yang bernyawa"
"Perbuatan seperti itu memang hanya merupakan perbuatan seorang iblis
"Perbuatan seperti itu memang hanya merupakan perbuatan seorang iblis
Mudah-mudahan kau menjadi
petunjukku agar aku dapat menjumpai siapa
saja yang berdiri di belakangmu, manusia
biadab"
"Eeh..." Pamali jelas-jelas terkejut sekali karena tidak menyangka ada
"Eeh..." Pamali jelas-jelas terkejut sekali karena tidak menyangka ada
orang lain yang mengetahui
perbuatannya.
Ia cepat sekali memutar tubuhnya ke arah datangnya suara. Tapi kemudian ia
tersenyum ketika melihat orang yang baru saja bicara tadi tidak lain hanya
Ia cepat sekali memutar tubuhnya ke arah datangnya suara. Tapi kemudian ia
tersenyum ketika melihat orang yang baru saja bicara tadi tidak lain hanya
seorang pemuda bertampang
tolol berambut hitam kemerah-merahan.
Hanya ada satu hal yang
membuatnya heran. Di bagian pinggang pemuda
itu menggelantung tali ikat
seperti ujud seorang laki-laki.
"Kau... siapa kau yang sebenarnya?
Cepat pergi dari hadapanku atau kau ingin agar aku membunuhmu?"
"Kau... siapa kau yang sebenarnya?
Cepat pergi dari hadapanku atau kau ingin agar aku membunuhmu?"
bentak Pamali dengan
garang. Laki-laki berbaju hitam bersenjata pedang
dan lipan-lipan berbisa ini
maju dua tindak ke depan si pemuda.
Suro Blondo seka jidatnya. Lalu
menggaruk-garuk rambutnya yang hitam kemerah-merahan.
"Ini juga salah satu dari iblis itu? Kau pantas memberinya pelajaran kalau
Suro Blondo seka jidatnya. Lalu
menggaruk-garuk rambutnya yang hitam kemerah-merahan.
"Ini juga salah satu dari iblis itu? Kau pantas memberinya pelajaran kalau
perlu membunuhnya sekalian
Tapi kau harus berhati-hati" Wiro Suryo
yang dapat merubah tubuhnya
menjadi pipih dan tetap menggelantung di
pinggang Suro Blondo tidak
bedanya dengan ikat pinggang ini memberi
peringatan.
"Beres" sahut Suro Blondo. Pamali yang tidak sadar bahwa saat itu
"Beres" sahut Suro Blondo. Pamali yang tidak sadar bahwa saat itu
Pendekar Blo'on sedang
bicara dengan bayi
bangkotan itu tentu saja merasa heran
mendengar ucapan si pemuda bertampang tolol yang cukup keras.
"Keparat Cepat katakan siapa kau?
Jangan hanya bilang beres-beres saja"
bentaknya garang.
"Bagaimana Tenggiling Kedil? Apakah aku harus menjawabnya?"
"Katakan saja, begok. Mengapa harus tanya aku? Lama kelamaan ia bisa
menganggapmu seperti orang gila. Karena dia memang tidak dapat
bangkotan itu tentu saja merasa heran
mendengar ucapan si pemuda bertampang tolol yang cukup keras.
"Keparat Cepat katakan siapa kau?
Jangan hanya bilang beres-beres saja"
bentaknya garang.
"Bagaimana Tenggiling Kedil? Apakah aku harus menjawabnya?"
"Katakan saja, begok. Mengapa harus tanya aku? Lama kelamaan ia bisa
menganggapmu seperti orang gila. Karena dia memang tidak dapat
melihatku"
"Goblok Kau juga sama tololnya seperti aku" maki Suro Blondo. Pamali
"Goblok Kau juga sama tololnya seperti aku" maki Suro Blondo. Pamali
tentu saja menganggap
pemuda berambut hitam kemerahan itu
menghinanya sehingga
membuatnya semakin bertambah marah.
"Rupanya kau benar-benar membuat hilang kesabaranku Sekarang
"Rupanya kau benar-benar membuat hilang kesabaranku Sekarang
rasakanlah tinjuku
ini"
Belum selesai dengan ucapannya,
Pamali telah menghantam dada Suro Blondo.
Pemuda ini yang memang telah bersikap waspada sejak dari tadi segera
Belum selesai dengan ucapannya,
Pamali telah menghantam dada Suro Blondo.
Pemuda ini yang memang telah bersikap waspada sejak dari tadi segera
berkelit menghindar sambil
berjingkrak-jingkrak seperti seekor monyet
yang baru saja mendapatkan
anaknya. Hantaman tinju yang menggeledek
itu luput dari sasarannya.
Kenyataan ini sudah cukup untuk membuka mata Pamali. Ia terkejut,
Kenyataan ini sudah cukup untuk membuka mata Pamali. Ia terkejut,
'Kepalan Naga Merah'
sebagaimana yang diyakininya selama ini bukan
merupakan pukulan yang
dapat dianggap enteng, karena selain
mengandung tenaga dalam tinggi, juga mengandung racun yang sangat
ganas. Daya hancurnya
setara dengan bisa kelabang-kelabang merah yang
menjadi senjata rahasianya
"Rupanya kau mempunyai kepandaian juga, eeh...? Tapi di hadapanku kau
"Rupanya kau mempunyai kepandaian juga, eeh...? Tapi di hadapanku kau
tidak dapat bertingkah
lebih jauh lagi. Kau akan mati di tanganku" Pamali
menggeram marah.
Deb Bet
"Huyaa"
Sambil berteriak nyaring, Pamali
memutar tubuhnya setengah lingkaran.
Setelah itu ia melompat ke depan sambil melancarkan serangan-serangan
Deb Bet
"Huyaa"
Sambil berteriak nyaring, Pamali
memutar tubuhnya setengah lingkaran.
Setelah itu ia melompat ke depan sambil melancarkan serangan-serangan
keras mematikan.
"Kerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'..." Wiro
"Kerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'..." Wiro
Suryo memberi aba-aba.
Pendekar Blo'on sempat terkejut juga mendengar
ucapan Tenggiling Kedil.
Karena sama sekali ia tidak menyangka bahwa
sahabat yang baru dikenal
dan wajahnya selalu memancarkan cahaya putih
berkilau ini dapat
mengetahui jurus-jurus yang dimilikinya. Sungguh pun
demikian, ia merasa tidak
punya
kesempatan untuk berfikir lebih jauh lagi.
"Hait Heaaa..."
"Nguk..."
Dengan lenturnya Suro Blondo bergerak menghindari serangan-serangan
kesempatan untuk berfikir lebih jauh lagi.
"Hait Heaaa..."
"Nguk..."
Dengan lenturnya Suro Blondo bergerak menghindari serangan-serangan
ganas yang datang bertubi-tubi. Sesekali ia
terhuyung sambil menggaruk-
garuk badannya, lalu
melompat-lompat. Sungguh pun gerakan-gerakan
yang dilakukannya tidak jauh
bedanya dengan gerakan monyet.
Tapi hingga sampai sejauh itu lawan masih belum dapat menjatuhkannya.
"Keparat, kunyuk hina..."
"Jangan hanya ngebacot Nih makan tinjuku"
Tapi hingga sampai sejauh itu lawan masih belum dapat menjatuhkannya.
"Keparat, kunyuk hina..."
"Jangan hanya ngebacot Nih makan tinjuku"
Buuk Jrot
Dengan gerakan yang sangat sulit
diikuti kasat mata. Suro Blondo berhasil menghantam hidung Pamali
Dengan gerakan yang sangat sulit
diikuti kasat mata. Suro Blondo berhasil menghantam hidung Pamali
hingga
mengucurkan darah. Lawan menggeram penuh kemarahan. Laksana kilat
mengucurkan darah. Lawan menggeram penuh kemarahan. Laksana kilat
ia melakukan serangan
balik.
"Huup..."
Duuk Duuk
"Wuagkh..."
Suro Blondo sempat terhuyung-
huyung begitu jemari tangan lawannya menyodok dada. Tapi ternyata
"Huup..."
Duuk Duuk
"Wuagkh..."
Suro Blondo sempat terhuyung-
huyung begitu jemari tangan lawannya menyodok dada. Tapi ternyata
jemari tangan Pamali yang mengandung racun itu
tidak membawa akibat
apa-apa bagi Suro, sehingga
membuat lawannya jadi bertambah kaget saja.
Tidak heran, karena ketika
digembleng oleh gurunya Penghulu Siluman
Kera Putih di Gunung
Mahameru. Suro Blondo memang digodok di dalam
sumur beracun yang di
dalamnya juga berkeliaran
ular merah dalam jumlah yang tidak terhitung. Itu sebabnya ia kebal
ular merah dalam jumlah yang tidak terhitung. Itu sebabnya ia kebal
terhadap semua jenis racun.
Jika Pamali sempat tercengang-
cengang melihat lawan dalam keadaan segar bugar.
Sebaliknya Wiro Suryo yang memiliki tinggi badan tidak sampai setengah
Jika Pamali sempat tercengang-
cengang melihat lawan dalam keadaan segar bugar.
Sebaliknya Wiro Suryo yang memiliki tinggi badan tidak sampai setengah
meter itu malah tidur
mendengkur sambil
bergelayutan di pinggang Suro Blondo.
"Ha ha ha... keluarkan apa aja yang kau miliki Jika kau sudah kubekuk.
bergelayutan di pinggang Suro Blondo.
"Ha ha ha... keluarkan apa aja yang kau miliki Jika kau sudah kubekuk.
Tidak ada jalan lain bagimu
untuk menyelamatkan diri terkecuali
menunjukkan di mana tempat
tinggal tetuamu" Melihat lagak Suro Blondo
yang petantang-petenteng.
Pamali semakin bertambah berang.
"Makanlah nih."
Pamali tiba-tiba merogoh sesuatu
dari balik bajunya. Begitu tangannya dihantamkan ke arah lawannya. Maka
Pamali semakin bertambah berang.
"Makanlah nih."
Pamali tiba-tiba merogoh sesuatu
dari balik bajunya. Begitu tangannya dihantamkan ke arah lawannya. Maka
enam buah benda berwarna
merah dan cukup panjang melesat ke arah si
pemuda. Pemuda tampan
bertampang tolol ini masih sempat melihat
bahwa lawannya menyambitkan
kelabang-kelabang berbisa ke arahnya. Ia
tidak tinggal diam. Dengan
cepat ia melepaskan pukulan 'Ratapan
Pembangkit Sukma'. Inilah
salah satu pukulan yang diwariskan oleh kakek
merangkap gurunya, yaitu
Malaikat Berambut Api, manusia sakti berwatak
aneh yang tinggal di pulau
Seribu Satu Malam. Angin kencang laksana badai topan menderu,
Seribu Satu Malam. Angin kencang laksana badai topan menderu,
menggulung apa saja yang
dilaluinya. Bersamaan dengan
menderunya gelombang angin kencang tersebut terlihat sinar putih laksana
menderunya gelombang angin kencang tersebut terlihat sinar putih laksana
salju. Udara dingin terasa
sedemikian mencucuk. Lalu.... Terdengar enam
kali dentuman menggelegar
berturut-turut.
Senjata rahasia yang disambitkan Pamali hancur berkeping-keping. Lebih
Senjata rahasia yang disambitkan Pamali hancur berkeping-keping. Lebih
dari itu kaki tangan Iblis
Betina Dari Neraka ini sempat
terpelanting. Dari mulut dan
hidungnya menyembur darah kental. Sekujur badan Pamali berubah
terpelanting. Dari mulut dan
hidungnya menyembur darah kental. Sekujur badan Pamali berubah
memutih setengah membeku.
Pamali merasa tubuhnya seperti dibenamkan
di lautan es. Lebih celaka
lagi ia tidak dapat menggerakkan
badannya, sungguh pun ia telah
mengerahkan hawa murni untuk melenyapkan pengaruh dingin yang bersumber dari pukulan yang dilepaskan oleh Suro Blondo.
"Bangsat pengecut" Pamali memaki.
Sementara itu Suro Blondo hanya
cengar-cengir. Seraya berjalan mendekati lawannya yang dalam keadaan
badannya, sungguh pun ia telah
mengerahkan hawa murni untuk melenyapkan pengaruh dingin yang bersumber dari pukulan yang dilepaskan oleh Suro Blondo.
"Bangsat pengecut" Pamali memaki.
Sementara itu Suro Blondo hanya
cengar-cengir. Seraya berjalan mendekati lawannya yang dalam keadaan
kepayahan itu.
"Bagaimana Wiro Suryo Apakah kita harus membunuhnya atau mengajak
"Bagaimana Wiro Suryo Apakah kita harus membunuhnya atau mengajak
dia menemui atasannya?"
"Jika kau tidak mau disebut sebagai pendekar pengecut Sebaiknya kau
"Jika kau tidak mau disebut sebagai pendekar pengecut Sebaiknya kau
biarkan hidup saja. Kita
dapat memanfaatkannya
untuk kita jadikan penunjuk jalan. Kalau kau setuju, tentu saja nasibnya
untuk kita jadikan penunjuk jalan. Kalau kau setuju, tentu saja nasibnya
akan lebih baik..."
sahut Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil lalu tertawa
membahak.
"Sialan kau bayi bangkotan. Kau bukan membantuku, tapi malah menjadi
"Sialan kau bayi bangkotan. Kau bukan membantuku, tapi malah menjadi
bebanku"
"Ah... jangan begitu sobat Hidup delapan puluh tahun aku sudah lebih
"Ah... jangan begitu sobat Hidup delapan puluh tahun aku sudah lebih
berjalan. Apa salahnya
sekarang aku menumpang di pinggangmu, tokh
beratku seperti kapas Ha ha ha..."
"Gila betul..."
Pamali sungguh pun dalam keadaan
setengah sadar masih sempat mendengar ucapan si pemuda yang
"Gila betul..."
Pamali sungguh pun dalam keadaan
setengah sadar masih sempat mendengar ucapan si pemuda yang
tampaknya seperti sedang
bicara dengan seseorang. Tapi ia sama sekali
tidak melihat siapa orang
yang diajak bicara oleh pemuda yang telah
menjatuhkannya. Sehingga
dalam hati ia berkata.
"Pemuda bertampang tolol berambut hitam kemerahan ini mempunyai
"Pemuda bertampang tolol berambut hitam kemerahan ini mempunyai
ilmu tinggi. Inikah
orangnya yang dikatakan tetua sebagai Pendekar Blo'on.
Tapi... mengapa ia bicara seorang diri?
Kurasa ia pemuda sinting."
"Jangan cuma menggerutu. Sekarang sudah waktunya bagimu untuk
Tapi... mengapa ia bicara seorang diri?
Kurasa ia pemuda sinting."
"Jangan cuma menggerutu. Sekarang sudah waktunya bagimu untuk
membawaku kepada
tetuamu" Sungguh pun Pendekar Blo'on bicara
dengan serius. Tapi
tampangnya tetap saja lucu sehingga
membuat lawannya tetap bertahan.
"Tidak seorang pun yang dapat memaksaku, Aku tidak mau menunjukkan
tampangnya tetap saja lucu sehingga
membuat lawannya tetap bertahan.
"Tidak seorang pun yang dapat memaksaku, Aku tidak mau menunjukkan
tempat kediaman
tetuaku"
"Kurang ajar Dalam keadaan hampir mati membeku, rupanya kau tetap
"Kurang ajar Dalam keadaan hampir mati membeku, rupanya kau tetap
keras kepala juga, ehh...?
Jika kau tetap menolak, maka aku akan
memotong kuping dan
hidungmu Bagaimana apakah kau masih tetap
membangkang?" gertak
si pemuda.
"Jangankan baru kuping dan hidung.
Sungguh pun aku harus mempertaruhkan leherku aku tidak takut"
"Bagaimana ini Tenggiling Kedil. Ia tetap membangkang Apakah kau mau
"Jangankan baru kuping dan hidung.
Sungguh pun aku harus mempertaruhkan leherku aku tidak takut"
"Bagaimana ini Tenggiling Kedil. Ia tetap membangkang Apakah kau mau
telinga dan hidungnya orang
jelek ini?" tanya Pendekar Blo'on melalui ilmu
menyusupkan suara.
"Siapa sudi" dengus Wiro Suryo melalui ilmu menyusupkan suara juga.
"Telinganya congekan, sedangkan hidungnya banyak upilnya. Kalau kau
"Siapa sudi" dengus Wiro Suryo melalui ilmu menyusupkan suara juga.
"Telinganya congekan, sedangkan hidungnya banyak upilnya. Kalau kau
suka yang asin-asin dan
yang pahit sebaiknya kau saja yang makan"
"Gila kau Aku lebih suka memenggal kepalanya untuk kuhadiahkan pada
"Gila kau Aku lebih suka memenggal kepalanya untuk kuhadiahkan pada
tetua orang ini."
"Kalau begitu lakukanlah, kurasa Mandau milikmu sudah saatnya keluar
"Kalau begitu lakukanlah, kurasa Mandau milikmu sudah saatnya keluar
dari rangkanya"
Tenggiling Kedil yang dapat membentuk badannya
menjadi bulat macam tenggiling
mendukung.
Pendekar Blo'on kembali menghadap
ke arah Pamali. Ia memegang gagang mandau berbentuk seperti patung
Pendekar Blo'on kembali menghadap
ke arah Pamali. Ia memegang gagang mandau berbentuk seperti patung
pertapa itu di balik
bajunya. Tidak lama kemudian ia berkata pelan, namun
pasti.
"Jadi kau tetap tidak mau merubah pendirianmu?"
"Tidak"
Singg
Terdengar suara mendengung ketika
Pendekar Blo'on mencabut senjatanya yang berbentuk aneh dan
"Jadi kau tetap tidak mau merubah pendirianmu?"
"Tidak"
Singg
Terdengar suara mendengung ketika
Pendekar Blo'on mencabut senjatanya yang berbentuk aneh dan
mempunyai lubang pipih pada
bagian tengahnya ini. Senjata berwarna
hitam ini
mempunyai ujung
runcing ganda. Dan dapat mengeluarkan berbagai jenis suara bila
mempunyai ujung
runcing ganda. Dan dapat mengeluarkan berbagai jenis suara bila
pemiliknya mengerahkan
tenaga dalam pada senjata itu. Pamali hanya
dapat membelalakkan matanya
ketika senjata maut itu
menghantam batang lehernya.
Hiiiiiik...
Crees Dheel
Kepala Pamali menggelinding, batang lehernya yang terputus
menghantam batang lehernya.
Hiiiiiik...
Crees Dheel
Kepala Pamali menggelinding, batang lehernya yang terputus
menyemburkan darah segar.
Kepala itu ditenteng oleh Suro Blondo.
"Tampangmu geblek, tapi kau sadis juga" Wiro Suryo mengomentari.
"Hhh, jika kebaikan tidak mampu mengatasi dalam menegakkan
kebenaran.
Terkadang kita juga perlu ketegasan.
Sudahlah, sebaiknya kau merat dari pinggangku" kata si pemuda
Terkadang kita juga perlu ketegasan.
Sudahlah, sebaiknya kau merat dari pinggangku" kata si pemuda
mengungkit-ungkit persoalan
Wiro Suryo yang terus mengikutinya.
"Jangan cerewet Ha ha ha... Pada saatnya nanti aku akan pergi dengan
"Jangan cerewet Ha ha ha... Pada saatnya nanti aku akan pergi dengan
sendirinya"
Sambil menenteng kepala Pamali.
Suro Blondo mengayunkan langkahnya menelusuri padang ilalang yang
Sambil menenteng kepala Pamali.
Suro Blondo mengayunkan langkahnya menelusuri padang ilalang yang
cukup luas.
8
Damerta dan Ki Alit tiba-tiba
tersentak kaget ketika melihat ada potongan kepala melayang ke arahnya.
Mereka lebih terkejut lagi setelah diperiksa ternyata potongan kepala itu
8
Damerta dan Ki Alit tiba-tiba
tersentak kaget ketika melihat ada potongan kepala melayang ke arahnya.
Mereka lebih terkejut lagi setelah diperiksa ternyata potongan kepala itu
tidak lain merupakan potongan
kepala kawan mereka sendiri.
"Pamali? Apa yang telah terjadi dengannya?" desis Ki Alit dengan perasaan
"Pamali? Apa yang telah terjadi dengannya?" desis Ki Alit dengan perasaan
kecut bercampur rasa geram.
Damerta lain lagi, karena kepala itu bagian
wajahnya menghadap ke
arahnya. Di samping itu mata Pamali melotot dan
lidahnya terjulur.
Tentu saja ia cepat melangkah mundur, lalu memalingkan wajahnya ke
Tentu saja ia cepat melangkah mundur, lalu memalingkan wajahnya ke
arah lain.
"Siapa pun yang telah membunuhnya tentu dia memiliki kepandaian yang
"Siapa pun yang telah membunuhnya tentu dia memiliki kepandaian yang
sangat tinggi" desis
Damerta kemudian.
"Apa yang harus kita lakukan? Tugas
kita belum beres, apakah salah seorang dari kita harus melaporkan
"Apa yang harus kita lakukan? Tugas
kita belum beres, apakah salah seorang dari kita harus melaporkan
kejadian ini kepada
tetua?"
Damerta terdiam, keningnya berkerut dalam. Ia sendiri merasa heran.
Damerta terdiam, keningnya berkerut dalam. Ia sendiri merasa heran.
Karena seingatnya Pamali,
tokoh sesat dari tenggara ini selain memiliki
kelabang beracun juga mempunyai
ilmu pedang yang sangat tinggi. Jurus
Inti Pamungkas adalah salah
satu yang sangat
diandalkannya. Jika seseorang mampu membunuhnya. Tentu orang itu
diandalkannya. Jika seseorang mampu membunuhnya. Tentu orang itu
memiliki kepandaian jauh di
atas Pamali.
"Huh, hanya orang yang sudah bosan hidup saja yang begini gegabah
membunuhnya..."
Belum sempat Ki Alit meneruskan
kata-katanya. Dari atas bukit di sebelah kanan mereka tiba-tiba saja
"Huh, hanya orang yang sudah bosan hidup saja yang begini gegabah
membunuhnya..."
Belum sempat Ki Alit meneruskan
kata-katanya. Dari atas bukit di sebelah kanan mereka tiba-tiba saja
menggelinding batu-batu
besar disertai gelak suara seseorang.
"Sahabatku Tenggiling Kedil
Lihatlah para iblis yang pada
kebingungan. Melihat kawannya mati mereka hanya dapat sesumbar,
"Sahabatku Tenggiling Kedil
Lihatlah para iblis yang pada
kebingungan. Melihat kawannya mati mereka hanya dapat sesumbar,
bingung-bingung sambil menggaruk kepala. Jika
mereka merupakan kaum
yang berfikir. Tentu saat
ini mereka sudah harus menggali lubang untuk
kubur kawannya dan kubur
mereka sendiri"
"Lha dalah... sialnya nasibmu dan nasibku, Pendekar Blo'on. Setiap
"Lha dalah... sialnya nasibmu dan nasibku, Pendekar Blo'on. Setiap
bertemu dengan para iblis
kita hanya mendapatkan cecurutnya. Biangnya
iblis belum juga kita
dapatkan. Apakah kita harus
menggebuknya sampai mampus?"
Lalu terdengar suara tawa ha-ha-he-he. Sementara mereka yang berada di
menggebuknya sampai mampus?"
Lalu terdengar suara tawa ha-ha-he-he. Sementara mereka yang berada di
bawah bukit sibuk
selamatkan diri dari
terjangan batu-batu yang dijatuhkan oleh Suro Blondo. Maka Wiro Suryo,
terjangan batu-batu yang dijatuhkan oleh Suro Blondo. Maka Wiro Suryo,
bayi bangkotan yang selalu
menggandul di pinggang Suro Blondo
melompat dan berdiri di
samping pemuda berambut kemerahan itu.
Tinggi badannya yang tidak sampai setengah meter itu memang selalu
mengundang tawa bagi Suro Blondo. Karena pada dasarnya mereka
Tinggi badannya yang tidak sampai setengah meter itu memang selalu
mengundang tawa bagi Suro Blondo. Karena pada dasarnya mereka
memang sama-sama konyol.
Tidak heran jika mereka kelihatan begitu
cocok antara satu dengan
yang lainnya.
"Manusia kurang ajar yang di atas bukit Apa keinginan kalian sehingga
"Manusia kurang ajar yang di atas bukit Apa keinginan kalian sehingga
menyerang kami begini
rupa?" bentak Ki Alit setelah selamat dari
timpahan batu-batu.
Pendekar Blo'on tidak langsung menjawab, melainkan
menoleh ke arah laki-laki
super pendek yang berdiri di
sebelahnya sambil garuk-garuk kepala.
"Mereka bertanya apa keinginanmu, Tenggiling Kedil Hayo coba terangkan
sebelahnya sambil garuk-garuk kepala.
"Mereka bertanya apa keinginanmu, Tenggiling Kedil Hayo coba terangkan
apa yang kau inginkan dari
mereka?"
"Goblok Aku ini hanya penonton, kau yang punya urusan dengan mereka.
Kalau kau melihat sekian ribu jiwa tewas akibat ulah mereka, apakah
"Goblok Aku ini hanya penonton, kau yang punya urusan dengan mereka.
Kalau kau melihat sekian ribu jiwa tewas akibat ulah mereka, apakah
menurutmu nyawa mereka
sudah setimpal untuk
membayar hutang-hutang nyawa mereka?"
"Untuk membayar bunganya saja belum cukup. Tapi alangkah baiknya kita
membayar hutang-hutang nyawa mereka?"
"Untuk membayar bunganya saja belum cukup. Tapi alangkah baiknya kita
ajak bicara dulu mereka
sambil minum air sungai beracun" kata Suro
Blondo lugu.
"Sinting... Kepada musuh tidak perlu diajak bicara. Mereka dapat
melicikimu. Lebih baik aku yang
mendatangi mereka dulu setelah itu kau baru menyusul..."
Belum sempat Suro Blondo mengatakan sesuatu, Wiro Suryo alias
"Sinting... Kepada musuh tidak perlu diajak bicara. Mereka dapat
melicikimu. Lebih baik aku yang
mendatangi mereka dulu setelah itu kau baru menyusul..."
Belum sempat Suro Blondo mengatakan sesuatu, Wiro Suryo alias
Tenggiling Kedil itu telah
melipat badannya dalam posisi sedemikian rupa.
Tubuh Wiro Suryo benar-benar berubah bulat
macam buah jeruk. Seperti
seekor tenggiling ia
menggelinding menuruni bukit.
Damerta dan Ki Alit tentu saja
terkejut karena menyangka ada batu-batu lagi yang sengaja dilemparkan
Damerta dan Ki Alit tentu saja
terkejut karena menyangka ada batu-batu lagi yang sengaja dilemparkan
oleh si pemuda di atas
bukit sana. Untuk itu keduanya langsung memasang
kuda-kuda untuk
mempertahankan diri dari serangan.
"Gila... benda bulat ini bagaimana mungkin dapat menyerang begini rupa?"
batin Damerta sambil menghindari Wiro Suryo yang telah melipat
"Gila... benda bulat ini bagaimana mungkin dapat menyerang begini rupa?"
batin Damerta sambil menghindari Wiro Suryo yang telah melipat
badannya hingga berubah
bulat sedemikian rupa.
"Hei..."
Ki Alit berkelit menghindar saat
Wiro Suryo menerjangnya. Tapi apa yang dilakukannya masih kalah cepat
"Hei..."
Ki Alit berkelit menghindar saat
Wiro Suryo menerjangnya. Tapi apa yang dilakukannya masih kalah cepat
dengan gerakan Wiro Suryo.
Tidak ayal lagi.
Buuk
"Heekgh..."
Ki Alit terhuyung-huyung. Kini
Tenggiling Kedil berbalik menyerang Damerta. Laki-laki ini sempat
Buuk
"Heekgh..."
Ki Alit terhuyung-huyung. Kini
Tenggiling Kedil berbalik menyerang Damerta. Laki-laki ini sempat
terkejut beberapa saat
tadi. Karena ia melihat benda bulat yang bagaikan
jeruk itu menghantam Ki
Alit dengan mempergunakan tangannya yang
cukup pendek.
Duk Duuk
"Hiya..."
"Ha ha ha..."
Dalam keadaan sulit bernafas, tiba-tiba Damerta melihat seorang pemuda
Duk Duuk
"Hiya..."
"Ha ha ha..."
Dalam keadaan sulit bernafas, tiba-tiba Damerta melihat seorang pemuda
bertampang tolol telah
berdiri di
belakang mereka sambil berkacak pinggang.
"Kau... manusia super kerdil...
Kita telah tertipu oleh orang-orang yang tolol" maki Ki Alit setelah melihat
belakang mereka sambil berkacak pinggang.
"Kau... manusia super kerdil...
Kita telah tertipu oleh orang-orang yang tolol" maki Ki Alit setelah melihat
benda yang menyerangnya
tadi ternyata merupakan laki-laki berbadan
tidak sampai satu meter,
berjenggot serta berkumis putih. Yang membuat
mereka sempat
terkesima adalah karena wajah orang aneh di depan mereka memancarkan
terkesima adalah karena wajah orang aneh di depan mereka memancarkan
cahaya berwarna putih
laksana perak. Silih berganti mereka memandang
ke arah Suro Blondo dan
Wiro Suryo. Tiba-tiba mereka
tertawa geli melihat wajah Wiro Suryo dan Suro Blondo. Wajah pemuda
tertawa geli melihat wajah Wiro Suryo dan Suro Blondo. Wajah pemuda
berambut kemerahan di
depannya, sungguh pun tampan, namun terkesan
seperti orang tolol.
Sedangkan bila melihat ke arah laki-laki super pendek
dengan tinggi tidak lebih
dari anak berumur satu tahun, lebih parah lagi.
Hanya yang tua ini sungguh
pun tampangnya seperti orang bego namun
memancarkan cahaya yang
menak-jubkan.
"Orang-orang goblok darimanakah kalian? Kalian tidak ubahnya seperti
"Orang-orang goblok darimanakah kalian? Kalian tidak ubahnya seperti
badut. Jadi karena melihat
tampang kalian yang begini lucu, kami sungguh
pun telah kalian serang
masih ada kesempatan bagi kalian untuk hidup
lebih lama" kata Damerta
sambil tertawa lebar. Lain halnya dengan Ki Alit
yang agaknya lebih teliti
dan mengingat pesan tetua mereka. Kakek tua
yang mempunyai badan super
pendek memang sama sekali tidak
dikenalnya. Tapi pemuda
bertampang tolol berambut hitam kemerah-
merahan dan berbaju biru
ini mana bisa dia lupa.
"Ciri-ciri yang disebutkan oleh Mustika Jajar sama persis dengan ciri-ciri
"Ciri-ciri yang disebutkan oleh Mustika Jajar sama persis dengan ciri-ciri
yang dimiliki pemuda
ini." Sehingga dengan cepat ia memotong.
"Tidak bisa Yang kerdil boleh saja merat dari hadapan kami. Tapi kau
"Tidak bisa Yang kerdil boleh saja merat dari hadapan kami. Tapi kau
pemuda berambut merah...
Kau harus tinggal di
sini dan menyerahkan diri dengan
sukarela" tegas Ki Alit serius sekali.
"Bagaimana ini, Tenggiling Kedil?
Ternyata mereka lebih suka padamu dari pada denganmu" kata Suro
sini dan menyerahkan diri dengan
sukarela" tegas Ki Alit serius sekali.
"Bagaimana ini, Tenggiling Kedil?
Ternyata mereka lebih suka padamu dari pada denganmu" kata Suro
Blondo melalui ilmu
mengirimkan suara. Tapi kepada Damerta dan Ki Alit
kata-katanya berubah tegas
dan penuh ancaman.
"Rupanya kita mempunyai tujuan yang sama. Kau memintaku dan aku
"Rupanya kita mempunyai tujuan yang sama. Kau memintaku dan aku
sesungguhnya memang
menginginkan nyawa kalian"
"Apakah kau manusianya yang bernama Suro Blondo dengan gelar
"Apakah kau manusianya yang bernama Suro Blondo dengan gelar
Pendekar
Blo'on?" tanya Ki Alit ingin memastikan dugaannya.
"Benar Akulah orangnya." sahut si pemuda.
"Bagus... tidak bersusah payah rupanya kami mencarimu. Tidak kami kira
Blo'on?" tanya Ki Alit ingin memastikan dugaannya.
"Benar Akulah orangnya." sahut si pemuda.
"Bagus... tidak bersusah payah rupanya kami mencarimu. Tidak kami kira
kau datang menyerahkan diri
dengan sukarela." kata Damerta. Laki-laki
yang sangat dikenal dengan
jurus-jurus tangan kosongnya ini langsung
bergerak mengurung
buruannya dari arah kanan. Suro Blondo tetap
tenang. Malah ia sempat
tersenyum, kemudian menyeka keringat yang
mengalir di keningnya.
"Melihat kalian telah mengenalku, dan aku belum mengenai kalian pada
"Melihat kalian telah mengenalku, dan aku belum mengenai kalian pada
waktu sebelumnya. Tentulah
orang yang berdiri di belakang kalian
merupakan Iblis Betina Dari
Neraka, bukan?"
Sungguh pun Suro Blondo hanya
bersifat menduga-duga saja, tapi melihat calon lawannya sempat berubah
Sungguh pun Suro Blondo hanya
bersifat menduga-duga saja, tapi melihat calon lawannya sempat berubah
air mukanya. Maka kini
Pendekar Blo'on sudah dapat memastikan bahwa
dugaannya itu benar.
"Kau tidak perlu tahu siapa tetua kami. Sekarang kau tinggal memilih
"Kau tidak perlu tahu siapa tetua kami. Sekarang kau tinggal memilih
apakah ingin menyerah
secara baik-baik atau memilih jalan kekerasan?"
kata Ki Alit.
Seraya lalu mencabut senjatanya yang berbentuk aneh. Melengkung seperti
Seraya lalu mencabut senjatanya yang berbentuk aneh. Melengkung seperti
bulan sabit. Namun
mempunyai ujung pengait bagaikan mata tombak.
"Tampaknya di antara kita memang sama-sama menghendaki kekerasan."
"Tampaknya di antara kita memang sama-sama menghendaki kekerasan."
dengus Suro Blondo. Ia
kemudian berpaling ke arah Wiro Suryo, tapi
rupanya laki-laki bangkotan
berbadan super kerdil ini telah menyerang
Damerta dengan mengandalkan
jurus-jurus Tenggiling Kedilnya.
"Ha ha ha... Cocok bukan, kita berhadapan satu lawan satu" kata Ki Alit
"Ha ha ha... Cocok bukan, kita berhadapan satu lawan satu" kata Ki Alit
tetap menganggap remeh
lawannya.
Tidak perlu berkata lagi, Suro
Blondo langsung menyerang lawannya dengan mengandalkan jurus 'Kera
Tidak perlu berkata lagi, Suro
Blondo langsung menyerang lawannya dengan mengandalkan jurus 'Kera
Putih Memilah Kutu'. Ki
Alit langsung tersenyum
mengejek melihat jurus konyol yang dimainkan oleh si pemuda. Ia dapat
mengejek melihat jurus konyol yang dimainkan oleh si pemuda. Ia dapat
memastikan tidak sampai
tujuh jurus tentu pemuda berambut hitam
kemerahan itu dapat dirobohkannya.
Apalagi ia sekarang memegang
senjata andalannya.
* * * *
Untuk itu ketika ia membuka
serangannya, Ki Alit langsung mengerahkan
'Memanah Rembulan Bintang Berguguran'.
Senjata berbentuk bulan sabit di
tangannya dan memiliki sisi lain yang sangat runcing lagi tajam menyodok
* * * *
Untuk itu ketika ia membuka
serangannya, Ki Alit langsung mengerahkan
'Memanah Rembulan Bintang Berguguran'.
Senjata berbentuk bulan sabit di
tangannya dan memiliki sisi lain yang sangat runcing lagi tajam menyodok
sekaligus membabat perut
Suro Blondo.
Dengan gerakan yang sangat indah bagaikan monyet yang sedang bersalto.
Dengan gerakan yang sangat indah bagaikan monyet yang sedang bersalto.
Pendekar Blo'on berkelit
menghindar.
Wuuk
Serangan luput. Ki Alit kembali
menghantamkan senjatanya sekaligus melepaskan satu tendangan telak ke
Wuuk
Serangan luput. Ki Alit kembali
menghantamkan senjatanya sekaligus melepaskan satu tendangan telak ke
dagu lawannya.
"Hait Hampir ambrol perutku"
desis Suro sambil melakukan serangkaian liukan indah. Dua kali serangan
"Hait Hampir ambrol perutku"
desis Suro sambil melakukan serangkaian liukan indah. Dua kali serangan
gencarnya menemui sasaran
kosong. Sudah cukup membuka mata Ki Alit
bahwa lawannya benar-benar
tidak dapat dianggap sepele.
Ia pun membuka jurus baru 'Menumpas Badai Topan'. Ini merupakan
Ia pun membuka jurus baru 'Menumpas Badai Topan'. Ini merupakan
salah satu jurus terhebat
yang dimiliki oleh Ki Alit.
Rupanya ia benar-benar menyadari bahwa lawannya tidak dapat dianggap
Rupanya ia benar-benar menyadari bahwa lawannya tidak dapat dianggap
main-main. Hanya dalam
waktu sepuluh jurus di depan, serangan-
serangan Ki Alit berubah
cepat dan sangat mematikan sekali. Di mata Suro
senjata lawannya tampak
berubah menjadi banyak. Ia tentu saja tidak mau
bertindak ayal-ayalan lagi.
Apalagi orang yang dihadapinya merupakan
kaki tangan musuh
bebuyutannya. Kini ia mempergunakan jurus Seribu
Kera Putih Mengecoh
Harimau.
Diiringi dengan suara teriakan melengking tinggi. Suro Blondo berkelebat
Diiringi dengan suara teriakan melengking tinggi. Suro Blondo berkelebat
lenyap.
Dalam penglihatan Ki Alit tubuh lawannya berubah menjadi tidak
Dalam penglihatan Ki Alit tubuh lawannya berubah menjadi tidak
terhitung. Kemana pun ia
berusaha membabatkan senjatanya.
Tetap saja tidak mencapai sasaran. Ki Alit semakin marah, kedua
Tetap saja tidak mencapai sasaran. Ki Alit semakin marah, kedua
rahangnya bergemeletukan.
Sedangkan bibirnya terkatup rapat.
Menghadapi kenyataan
sedemikian rupa, tangan kirinya melepaskan
pukulan secara beruntun ke
arah lawannya.
Seleret sinar hitam melesat dan
menghantam setiap bayangan lawannya yang bergerak cepat bagaikan
Seleret sinar hitam melesat dan
menghantam setiap bayangan lawannya yang bergerak cepat bagaikan
setan.
Buum
Salah satu pukulan di antara sekian banyak pukulan yang dilepaskannya
menghantam Suro Blondo. Hingga membuat pemuda itu jatuh terjengkang.
Buum
Salah satu pukulan di antara sekian banyak pukulan yang dilepaskannya
menghantam Suro Blondo. Hingga membuat pemuda itu jatuh terjengkang.
Sudut-sudut bibir Suro
Blondo mengalirkan darah.
Sebelum ia sempat berdiri sepenuhnya.
Lawan telah menghunuskan senjatanya ke bagian perut pemuda itu. Ia
Sebelum ia sempat berdiri sepenuhnya.
Lawan telah menghunuskan senjatanya ke bagian perut pemuda itu. Ia
terkesiap
namun cepat membuang tubuhnya ke kiri sambil lepaskan satu tendangan
namun cepat membuang tubuhnya ke kiri sambil lepaskan satu tendangan
telak ke arah kaki Ki Alit.
Tidak menyangka lawannya yang dalam keadaan
terjepit itu masih dapat
melepaskan serangan balasan.
Sedapat-dapatnya Ki Alit menghindar. Tapi gerakannya kalah cepat.
Buuk
"Aaaa..." Ki Alit terpincang-pincang, rasa sakit akibat tendangan Suro
Sedapat-dapatnya Ki Alit menghindar. Tapi gerakannya kalah cepat.
Buuk
"Aaaa..." Ki Alit terpincang-pincang, rasa sakit akibat tendangan Suro
Blondo terasa sampai ke
otaknya.
Suro Blondo bangkit berdiri. Masih dalam keadaan terhuyung-huyung
Suro Blondo bangkit berdiri. Masih dalam keadaan terhuyung-huyung
senjata lawannya kembali
menderu, menusuk ke bagian iganya. Suro
melompat ke samping, tapi
lawan masih sempat menghantam
punggungnya. Sungguh pun
Pendekar Blo'on dapat menghindari serangan
senjata yang sangat mirip
dengan pengait serta gancu itu.
Untuk yang kesekian kalinya, Suro
terpelanting lagi. Punggungnya yang terkena pukulan lawannya terasa
Untuk yang kesekian kalinya, Suro
terpelanting lagi. Punggungnya yang terkena pukulan lawannya terasa
panas seperti terbakar.
Sementara dari
hidungnya mengalir darah kental. Jelas sekali pemuda ini menderita luka dalam,
"Goblok Mengapa kau biarkan dirimu menjadi bulan-bulanan lawan
hidungnya mengalir darah kental. Jelas sekali pemuda ini menderita luka dalam,
"Goblok Mengapa kau biarkan dirimu menjadi bulan-bulanan lawan
Kerahkan kepandaian yang
kau miliki" terdengar suara seperti lebah
mendengung di
telinganya. Dan suara itu jelas suara Wiro Suryo.
"Enak saja kau bicara Karena kau mempergunakan ajian 'Suket Sekilen',
telinganya. Dan suara itu jelas suara Wiro Suryo.
"Enak saja kau bicara Karena kau mempergunakan ajian 'Suket Sekilen',
makanya dapat mempecundangi
lawanmu tanpa lawan tahu posisimu di
mana. Sedangkan aku mana
bisa menghilang seperti setan, tolol?" Suro
Blondo balas memaki. Tapi
kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh
manusia super kerdil itu
memang ada benarnya. Pendekar Blo'on segera
bersiap-siap melepaskan
pukulan 'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar'.
Sementara itu pertarungan antara
Wiro Suryo dengan Damerta memang
berlangsung tidak seimbang. Diawal jurus-jurus pertama Damerta memang
Sementara itu pertarungan antara
Wiro Suryo dengan Damerta memang
berlangsung tidak seimbang. Diawal jurus-jurus pertama Damerta memang
dapat mendesak bahkan
menghajar lawannya sampai tunggang langgang.
Keadaan itu tentu saja
membuat Damerta menjadi senang bukan main
mempermainkan bocah
bangkotan berbadan pendek ini. Namun menjelang
pertarungan berlangsung
duapuluh jurus.
Keadaan benar-benar sangat berubah.
Terlebih-lebih setelah Wiro Suryo
mempergunakan ajian 'Suket Sekilen'. Maka terkadang tubuh Wiro Suryo
Keadaan benar-benar sangat berubah.
Terlebih-lebih setelah Wiro Suryo
mempergunakan ajian 'Suket Sekilen'. Maka terkadang tubuh Wiro Suryo
lenyap dari penglihatan
Damerta. Dalam keadaan sedemikian rupa tentu
saja Wiro Suryo yang tidak
kalah konyolnya dengan Suro Blondo langsung
menelanjangi Damerta.
Karena lawan memang tidak terlihat maka sulit bagi Damerta untuk
Karena lawan memang tidak terlihat maka sulit bagi Damerta untuk
menentukan di mana posisi
lawannya. Sementara
tindakan Wiro Suryo semakin kurang ajar saja.
Disentilnya ketimun milik lawan,
hingga membuat Damerta melonjak-lonjak kesakitan seperti monyet kebakaran ekor.
Dilain saat Wiro Suryo menampar pipi lawannya kanan kiri hingga
tindakan Wiro Suryo semakin kurang ajar saja.
Disentilnya ketimun milik lawan,
hingga membuat Damerta melonjak-lonjak kesakitan seperti monyet kebakaran ekor.
Dilain saat Wiro Suryo menampar pipi lawannya kanan kiri hingga
membuat Damerta keliengan.
Maka mengamuklah Damerta seperti orang
gila. Pukulan-pukulan maut
dilepaskannya secara seram-pangan. Hingga
membuat suasana di
sekeliling mereka menjadi porak poranda.
Karena lawannya yang dapat menghilang itu tidak ditemukan juga. Maka ia
sekeliling mereka menjadi porak poranda.
Karena lawannya yang dapat menghilang itu tidak ditemukan juga. Maka ia
sekarang ikut menyerang
Pendekar Blo'on.
"Hei... Wiro Suryo. Sekarang kau malah membiarkan lawanmu yang
"Hei... Wiro Suryo. Sekarang kau malah membiarkan lawanmu yang
telanjang itu berkeliaran
menyerangku. Apakah kau tidak sanggup
mengamankannya?"
gerutu Suro Blondo berbisik.
"Wah... tenang sobat. Tampaknya ia sangat frustasi karena tidak berhasil
"Wah... tenang sobat. Tampaknya ia sangat frustasi karena tidak berhasil
mendapatkan aku. Lihatlah
aku
istirahatkan dia..." kata Tenggiling Kedil.
Dan benar saja, dalam beberapa saat kemudian tubuh Damerta dalam
istirahatkan dia..." kata Tenggiling Kedil.
Dan benar saja, dalam beberapa saat kemudian tubuh Damerta dalam
keadaan kejang kaku karena
ditotok oleh Wiro Suryo.
"Bagaimana, hebat nggak" Bocah bangkotan yang sudah memperlihatkan
"Bagaimana, hebat nggak" Bocah bangkotan yang sudah memperlihatkan
diri kembali itu tersenyum.
Suro Blondo
menggerutu. Pada saat ia sedang
menghadapi tekanan-tekanan berat dari lawannya,
masih juga Wiro Suryo
memperoloknya.
"Hiya Jebol perutmu, anak tolol"
Wuus
Luput lagi. Suro melompat setinggi pinggang lalu menendang dagu
menggerutu. Pada saat ia sedang
menghadapi tekanan-tekanan berat dari lawannya,
masih juga Wiro Suryo
memperoloknya.
"Hiya Jebol perutmu, anak tolol"
Wuus
Luput lagi. Suro melompat setinggi pinggang lalu menendang dagu
lawannya dengan telak.
Thaak
Bruuk
Ki Alit terjengkang ke belakang.
Sama sekali ia tidak mengeluh. Malah dengan cepat ia telah bangkit
Thaak
Bruuk
Ki Alit terjengkang ke belakang.
Sama sekali ia tidak mengeluh. Malah dengan cepat ia telah bangkit
kembali.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Suro Blondo untuk melepaskan pukulan
Kesempatan ini dipergunakan oleh Suro Blondo untuk melepaskan pukulan
'Matahari dan Rembulan Tidak
Bersinar' untuk yang kedua kalinya.
"Heaaa..."
Weer Weer
"Uuts..."
Dalam kesempatan yang sama untuk
melindungi dirinya dari ancaman sinar redup bersemu biru yang melesat
"Heaaa..."
Weer Weer
"Uuts..."
Dalam kesempatan yang sama untuk
melindungi dirinya dari ancaman sinar redup bersemu biru yang melesat
dari telapak tangan Suro
Blondo ini. Ki Alit juga melepaskan pukulan 'Wisa
Biru'.
Sebagaimana namanya, maka dari setiap ujung jemari Ki Alit melesat lima
Sebagaimana namanya, maka dari setiap ujung jemari Ki Alit melesat lima
larik sinar berhawa panas
menggidikkan. Dua pukulan
sakti saling menyongsong dan
akhirnya bertemu di udara.
Blaar Blaar
Badan Suro Blondo tergetar keras,
sedangkan Ki Alit sendiri sempat
terdorong mundur. Wiro Suryo jatuh tunggang langgang dan Damerta
sakti saling menyongsong dan
akhirnya bertemu di udara.
Blaar Blaar
Badan Suro Blondo tergetar keras,
sedangkan Ki Alit sendiri sempat
terdorong mundur. Wiro Suryo jatuh tunggang langgang dan Damerta
melolong keras terkena
sambaran pukulan yang dilepaskan oleh kawan dan
lawannya. Laki-laki itu
jatuh terduduk.
"Edan..." Wiro Suryo yang baru dapat berdiri memaki. Sementara Pendekar
"Edan..." Wiro Suryo yang baru dapat berdiri memaki. Sementara Pendekar
Blo'on sendiri telah
melepaskan pukulan susulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'.
Inilah salah satu pukulan hebat yang diwariskan oleh kakek gurunya
Inilah salah satu pukulan hebat yang diwariskan oleh kakek gurunya
'Malaikat Berambut Api'.
Angin kencang laksana topan menderu disertai
menebarnya hawa panas bukan
kepalang. Ki Alit terkesiap, lalu memutar
senjata di tangan sambil
melepaskan pukulan untuk mencegah
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan-nya. Tapi celaka, pukulan yang
dilepaskannya membalik dan menghantam diri sendiri. Belum lagi
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan-nya. Tapi celaka, pukulan yang
dilepaskannya membalik dan menghantam diri sendiri. Belum lagi
ditambah dengan pukulan 'Ratapan
Pembangkit Sukma' yang terus
menderu tidak terbendung.
Pada akhirnya pukulan itu menghantam telak
tubuhnya.
Maka terdengarlah dua jeritan
sekaligus, bukan hanya Ki Alit saja yang tewas seketika terkena pukulan
Maka terdengarlah dua jeritan
sekaligus, bukan hanya Ki Alit saja yang tewas seketika terkena pukulan
tersebut, Damerta yang
terkena sambaran pukulan lawannya juga tewas.
Hanya saja keadaan Damerta
tidak begitu mengerikan
dibandingkan mayat Ki Alit.
"Weii... edan kau Suro Seharusnya kau tidak membunuhnya. Musuhku tadi
dibandingkan mayat Ki Alit.
"Weii... edan kau Suro Seharusnya kau tidak membunuhnya. Musuhku tadi
pasti mau menunjukkan di
mana markas tetuanya"
"Semestinya kau membiarkan Damerta berdiri mematung di dekat ajang
pertempuran. Lagi pula aku sudah dapat meraba dimana kira-kira Mustika
"Semestinya kau membiarkan Damerta berdiri mematung di dekat ajang
pertempuran. Lagi pula aku sudah dapat meraba dimana kira-kira Mustika
Jajar berada" sahut
Suro Blondo.
"Kau yakin dia yang telah melakukan semua ini?"
"Aku hanya menduga, tapi semoga ada kebenarannya"
"Mari kita berangkat"
Lagi-lagi Wiro Suryo melompat dan
bergelantungan di pinggang si pemuda hingga membuat Suro Blondo
"Kau yakin dia yang telah melakukan semua ini?"
"Aku hanya menduga, tapi semoga ada kebenarannya"
"Mari kita berangkat"
Lagi-lagi Wiro Suryo melompat dan
bergelantungan di pinggang si pemuda hingga membuat Suro Blondo
menjadi marah
"Jika urusan ini selesai. Kuharap kau tidak merepotkan aku lagi. Aku muak
"Jika urusan ini selesai. Kuharap kau tidak merepotkan aku lagi. Aku muak
melihat benalu
sepertimu"
"Ha ha ha..."
Wiro Suryo hanya tertawa mengekeh.
9
Perjalanan menuju ke tempat
kediaman gembong iblis ternyata tidak semudah yang dibayangkan oleh
"Ha ha ha..."
Wiro Suryo hanya tertawa mengekeh.
9
Perjalanan menuju ke tempat
kediaman gembong iblis ternyata tidak semudah yang dibayangkan oleh
Suro Blondo. Karena selain
harus naik turun bukit. Juga terlalu banyak
jebakan yang sewaktu-waktu
dapat mencelakakan dirinya.
Dalam keadaan harus selalu siap waspada
ini. Wiro Suryo berulang kali malah mengejek Pendekar Blo'on. Dan tentu
Dalam keadaan harus selalu siap waspada
ini. Wiro Suryo berulang kali malah mengejek Pendekar Blo'on. Dan tentu
saja dengan
banyolan-banyolannya yang lucu.
"Pendekar sepertimu, alangkah semakin bodohnya jika sampai termakan
"Pendekar sepertimu, alangkah semakin bodohnya jika sampai termakan
oleh tipuan yang dibuat oleh iblis itu"
"Diamlah benalu. Kalau tidak mau diam, kau akan kucampakkan ke jurang
"Diamlah benalu. Kalau tidak mau diam, kau akan kucampakkan ke jurang
sana. Eeh... sekarang di sebelah mana lagi
kira-kira Iblis Betina Dari
Neraka memasang
perangkap?"
"Kalau matamu tidak bisa mencari.
Lebih baik kau pergunakan hidungmu untuk mengendus-ngendus seperti
"Kalau matamu tidak bisa mencari.
Lebih baik kau pergunakan hidungmu untuk mengendus-ngendus seperti
anjing.
Kemudian menyalak tiga kali dan semuanya akan beres Ha ha ha..." kata
Kemudian menyalak tiga kali dan semuanya akan beres Ha ha ha..." kata
Wiro Suryo.
"Berhentilah kau bercanda bayi bangkotan. Jika aku salah langkah, kaupun
"Berhentilah kau bercanda bayi bangkotan. Jika aku salah langkah, kaupun
ikut mati." dengus
Suro Blondo sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Sementara itu, Wiku Palawa yang
pergi menuju arah timur sampai di tengah perjalanan rupanya perasaannya
Sementara itu, Wiku Palawa yang
pergi menuju arah timur sampai di tengah perjalanan rupanya perasaannya
tidak enak. Ia seperti
punya pirasat ada sesuatu yang tidak beres telah
terjadi pada
kawan-kawannya. Sebagai tokoh angkatan tua yang sudah
sangat
berpengalaman. Biasanya pirasatnya itu selalu menjadi kenyataan. Untuk
berpengalaman. Biasanya pirasatnya itu selalu menjadi kenyataan. Untuk
itu, tanpa membuang-buang
waktu lagi. Ia segera berbalik langkah
kemudian berlari cepat
menuju Curing Bencana. Dugaannya ternyata
benar, karena ketika ia
hampir mencapai bangunan yang menjadi markas
sekaligus tempat tinggal
tetuanya. Ia melihat seorang pemuda berambut
hitam kemerah-merahan
menyelinap di balik taman di luar tembok. Hanya
ia agak heran karena pemuda
itu seperti sedang
bercakap-cakap dengan seseorang. Padahal ia hanya melihat hanya
bercakap-cakap dengan seseorang. Padahal ia hanya melihat hanya
pemuda itu saja tanpa
disertai oleh orang lain.
"Mungkin dia orang yang tidak waras. Tapi siapa pun yang telah masuk ke
"Mungkin dia orang yang tidak waras. Tapi siapa pun yang telah masuk ke
daerah ini, apalagi telah
berani memasuki daerah bangunan Curing
Bencana. Ia pantas diseret
untuk mempertanggungjawabkan semua
perbuatannya."
Berbekal dengan keyakinannya, Wiku Palawa langsung mencegat langkah
Berbekal dengan keyakinannya, Wiku Palawa langsung mencegat langkah
Pendekar Blo'on.
Sraaak
Hanya dengan mengandalkan gerakan
yang cukup cepat. Dalam waktu sekejap Wiku Palawa telah berada di
Sraaak
Hanya dengan mengandalkan gerakan
yang cukup cepat. Dalam waktu sekejap Wiku Palawa telah berada di
hadapan Suro Blondo.
Pendekar Blo'on sempat terkejut juga. Lalu berbisik:
"Nampaknya kita
mengalami gangguan. Jalan kita tidak mulus, lihat ada
keledai gundul di
depan"
"Dia bukan tuyul, bukan pula
pendeta atau biksu dari vihara. Pastilah
dia kawannya para iblis. Jangan banyak tanya, sikat saja" kata Wiro Suryo
"Dia bukan tuyul, bukan pula
pendeta atau biksu dari vihara. Pastilah
dia kawannya para iblis. Jangan banyak tanya, sikat saja" kata Wiro Suryo
memberi semangat.
"Siapakah kau kisanak?" tanya Wiku Palawa,
"Kau dengar, Tenggiling Kedil. Dia bertanya padaku, apakah aku tidak usah
"Siapakah kau kisanak?" tanya Wiku Palawa,
"Kau dengar, Tenggiling Kedil. Dia bertanya padaku, apakah aku tidak usah
menjawabnya?" Suro
Blondo lalu menyeka keningnya.
"Sudah kubilang sikat saja Kalau perlu kasih satu jawaban saja sudah
"Sudah kubilang sikat saja Kalau perlu kasih satu jawaban saja sudah
cukup"
"Ditanya malah cengengesan. Apakah kau orang gila?"
"Kawanku bilang aku cuma bisa kasih satu jawaban saja. Aku datang
"Ditanya malah cengengesan. Apakah kau orang gila?"
"Kawanku bilang aku cuma bisa kasih satu jawaban saja. Aku datang
kemari untuk mencari biang
penyebar racun sekaligus membunuhnya" kata
Suro Blondo.
"Kaukah yang berjuluk Pendekar Blo'on?" pancing Wiku Palawa lebih jauh.
Sebagaimana yang dikatakan oleh
Wiro Suryo tadi. Maka Pendekar Blo'on tanpa berkata apa-apa lagi
"Kaukah yang berjuluk Pendekar Blo'on?" pancing Wiku Palawa lebih jauh.
Sebagaimana yang dikatakan oleh
Wiro Suryo tadi. Maka Pendekar Blo'on tanpa berkata apa-apa lagi
langsung menyerang Wiku
Palawa.
"Hati-hati kau. Manusia gundul yang satu ini termasuk salah satu pentolan
"Hati-hati kau. Manusia gundul yang satu ini termasuk salah satu pentolan
di Curing Bencana."
Wiro Suryo mengingatkan.
Tidak tanggung-tanggung. Suro
Blondo langsung mengerahkan jurus Tawa Kera Siluman. Wiku Palawa
Tidak tanggung-tanggung. Suro
Blondo langsung mengerahkan jurus Tawa Kera Siluman. Wiku Palawa
yang semula menganggap
remeh lawannya jadi terkejut.
Terlebih-lebih setelah mendapatkan
kenyataan sambil melakukan serangan-serangan dahsyat lawan
Terlebih-lebih setelah mendapatkan
kenyataan sambil melakukan serangan-serangan dahsyat lawan
mengeluarkan suara tawa
yang benar-benar sangat mengganggu
konsentrasi dan gerakan
silatnya. Lebih aneh lagi, suara tawa itu terkadang
berubah menjadi suara
tangis, atau bahkan suara ringkik kuda.
Sebagai tokoh angkatan tua yang
sudah sangat berpengalaman. Wiku Palawa langsung menutup indera
Sebagai tokoh angkatan tua yang
sudah sangat berpengalaman. Wiku Palawa langsung menutup indera
pendengarannya.
Namun ia terkesiap juga. Karena sungguh pun Wiku Palawa telah
Namun ia terkesiap juga. Karena sungguh pun Wiku Palawa telah
mengerahkan tenaga dalam
untuk menghilangkan pengaruh suara tawa
lainnya. Tetap saja suara
tawa dan tangis Pendekar Blo'on terdengar olehnya.
"Heiit Edaan..." Wiku Palawa membentak garang. Ia kemudian menerjang
"Heiit Edaan..." Wiku Palawa membentak garang. Ia kemudian menerjang
ke depan. Satu tonjokan
menderu disertai dengan melesatnya kaki kanan
sang Wiku ke bagian lambung
Suro Blondo. Dengan gerakan lincah dan
sangat manis. Pemuda ini
berkelit dan bersalto ke belakang.
"Hiaa..."
Serangan awal luput, tapi Wiku
Palawa yang mempunyai pengalaman luas dalam rimba persilatan tidak
"Hiaa..."
Serangan awal luput, tapi Wiku
Palawa yang mempunyai pengalaman luas dalam rimba persilatan tidak
diam sampai di situ saja.
Ia pun menerjang kembali.
Kali ini tubuhnya melentik ke udara.
Kakinya menyapu ke bagian kepala Suro Blondo. Gerakan yang
Kali ini tubuhnya melentik ke udara.
Kakinya menyapu ke bagian kepala Suro Blondo. Gerakan yang
dilakukannya cepat bukan
main. Dan Suro Blondo dengan cepat
membungkukkan tubuhnya.
Tapi tidak
disangka hal itu cuma tipuan belaka.
Begitu Pendekar Blo'on merunduk, tinju Wiku Palawa menghantam
disangka hal itu cuma tipuan belaka.
Begitu Pendekar Blo'on merunduk, tinju Wiku Palawa menghantam
punggung pendekar berambut
hitam kemerahan ini.
"Haaakgh..."
Suro tersungkur mencium tanah.
Kepalanya sakit berkunang-kunang.
Sementara punggungnya seperti tertindih batu gunung. Sudut-sudut bibir
"Haaakgh..."
Suro tersungkur mencium tanah.
Kepalanya sakit berkunang-kunang.
Sementara punggungnya seperti tertindih batu gunung. Sudut-sudut bibir
Suro Blondo mengalirkan
darah. Pemuda ini tidak dapat bangkit
secepatnya. Padahal pada
saat itu Wiku Palawa yang merasa berada di atas
angin telah menghunuskan
tongkatnya yang berujung runcing ke bagian
perut lawannya.
"Kecurangan inilah yang tidak aku suka" dengus Wiro Suryo yang sejak
"Kecurangan inilah yang tidak aku suka" dengus Wiro Suryo yang sejak
awal pertempuran tadi terus
menggelantung di pinggang Suro. Badannya
yang pendek dan elastis itu
melentik dan menghantam wajah Wiku Palawa.
Bukan main kerasnya
tendangan sekaligus pukulan yang
dilepaskan oleh Wiro Suryo. Sehingga membuat sebagian wajah laki-laki
tendangan sekaligus pukulan yang
dilepaskan oleh Wiro Suryo. Sehingga membuat sebagian wajah laki-laki
tua itu hancur. Ia jatuh
terpelanting. Namun tongkat mautnya masih tetap tergenggam di tangannya
"Aaaa..." Wiku Palawa menjerit-jerit sambil menekap mukanya yang
berlumuran darah.
"Bangun anak geblek" desis Wiro Suryo sambil menepuk pundak Pendekar
"Aaaa..." Wiku Palawa menjerit-jerit sambil menekap mukanya yang
berlumuran darah.
"Bangun anak geblek" desis Wiro Suryo sambil menepuk pundak Pendekar
Blo'on.
"Eeh... kau telah membantuku..."
kata Suro, lalu meringis sambil mengelus-elus bahunya.
"Bukan hanya membantu, tapi juga menolongmu dari kelicikan-kelicikan
"Eeh... kau telah membantuku..."
kata Suro, lalu meringis sambil mengelus-elus bahunya.
"Bukan hanya membantu, tapi juga menolongmu dari kelicikan-kelicikan
para iblis" gerutu
bocah bangkotan berkumis serta berjenggot putih itu.
Sementara Wiku Palawa sudah bangkit berdiri. Kini ia selain marah juga
Sementara Wiku Palawa sudah bangkit berdiri. Kini ia selain marah juga
merasa heran. Karena di
depannya telah berdiri dua orang laki-laki. Laki-
laki berbadan super pendek
yang satunya ini membuat Wiku Palawa
terkejut. Seingatnya tadi
ia hanya menghadapi satu lawan. Mengapa kini
ada dua? Selain itu
sama-sama bertampang tolol lagi.
"Siapakah kalian?"
"Tidak cukup waktu bagiku untuk menerangkan siapa kami yang
"Siapakah kalian?"
"Tidak cukup waktu bagiku untuk menerangkan siapa kami yang
sesungguhnya.
Bersiap-siaplah untuk mati" dengus Wiro Suryo. "Kemudian ia berpaling
Bersiap-siaplah untuk mati" dengus Wiro Suryo. "Kemudian ia berpaling
pada Pendekar Blo'on.
"Kau segera satroni musuh bebuyutanmu. Tapi kau
harus ingat, dalam
penglihatanku musuhmu itu kini selain mempunyai
pengawal luar biasa sakti
juga mempunyai kemajuan pesat dengan ilmu-
ilmu barunya"
"Baiklah, hati-hati, Tenggiling Kedil Jangan pula badanmu yang kerdil
"Baiklah, hati-hati, Tenggiling Kedil Jangan pula badanmu yang kerdil
sampai tercincang tongkat
bututnya"
Sambil tertawa-tawa Suro Blondo
langsung melompati pagar. Sementara Wiro Suryo yang mempunyai ajian
Sambil tertawa-tawa Suro Blondo
langsung melompati pagar. Sementara Wiro Suryo yang mempunyai ajian
Suket Sekilen dan Pancar
Wajah ini sudah berhadapan dengan lawannya.
"Jadi kau benar-benar tidak mau mengatakan siapa kau yang
"Jadi kau benar-benar tidak mau mengatakan siapa kau yang
sesungguhnya?"
tanya Wiku Palawa.
"Sebagai musuh Bertarung ya...
bertarung. Jika kita bertanya jawab, berarti kita adalah sahabat. Tapi jika
tanya Wiku Palawa.
"Sebagai musuh Bertarung ya...
bertarung. Jika kita bertanya jawab, berarti kita adalah sahabat. Tapi jika
kau tetap penasaran, akulah
Wiro Suryo dari Gunung Sembung"
Bagaikan mendengar petir di tengah hari bolong, Wiku Palawa belalakkan
Bagaikan mendengar petir di tengah hari bolong, Wiku Palawa belalakkan
matanya. Sungguh pun ia
belum pernah bertemu dengan tokoh aneh yang
konon memiliki kesaktian
tinggi ini. Tapi ia sering mendengar tentang
adanya manusia kerdil yang
selalu muncul dalam rimba persilatan dalam
sepuluh tahun sekali.
"Jadi kau..." bergetar suara Wiku Palawa sehingga ia tidak mampu
melanjutkan kata-katanya.
"Ya... aku kenapa... sekarang apakah kau sudah siap untuk kukirim ke
"Jadi kau..." bergetar suara Wiku Palawa sehingga ia tidak mampu
melanjutkan kata-katanya.
"Ya... aku kenapa... sekarang apakah kau sudah siap untuk kukirim ke
neraka..?" Wiro Suryo
tertawa membahak.
Tiba-tiba ia melipat badannya. Lalu menggelundung menyerang Wiku
Tiba-tiba ia melipat badannya. Lalu menggelundung menyerang Wiku
Palawa.
"Tenggiling Kedil" untuk yang kedua kalinya Wiku Palawa dibuat
terkejut. Tapi ia segera mengibaskan
tongkatnya dengan mengerahkan tenaga dalam tinggi. Tongkat menderu,
"Tenggiling Kedil" untuk yang kedua kalinya Wiku Palawa dibuat
terkejut. Tapi ia segera mengibaskan
tongkatnya dengan mengerahkan tenaga dalam tinggi. Tongkat menderu,
seakan mempunyai seribu
mata, Wiro Suryo
menghindar. Bentuk tubuh Wiro Suryo yang seperti bola tersebut memang
menghindar. Bentuk tubuh Wiro Suryo yang seperti bola tersebut memang
sangat menyulitkan
lawannya. Apalagi ia dapat bergerak lincah
menggelundung kian kemari.
Tentu saja apa yang dilakukan
lawannya sangat menyulitkan Wiku Palawa.
Kalau pun ia berhasil menggebuk Wiro Suryo yang terus bergerak dan
Tentu saja apa yang dilakukan
lawannya sangat menyulitkan Wiku Palawa.
Kalau pun ia berhasil menggebuk Wiro Suryo yang terus bergerak dan
menghantam perut Wiku
Palawa. Namun tampaknya hantaman
tongkatnya tidak berakibat
apa-apa bagi Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil.
Bahkan ia malah
tertawa-tawa seperti orang yang kegelian.
"Ha ha ha... kau memang iblis yang baik Badanku sudah berhari-hari terasa pegal. Sukur kau dengan sukarela mau mengurutku. Ha ha ha..."
Memerah wajah Wiku Palawa, panas pula hatinya. Tiba-tiba ia melompat
"Ha ha ha... kau memang iblis yang baik Badanku sudah berhari-hari terasa pegal. Sukur kau dengan sukarela mau mengurutku. Ha ha ha..."
Memerah wajah Wiku Palawa, panas pula hatinya. Tiba-tiba ia melompat
mundur, kemudian
mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak
tangannya.
Hanya dalam waktu sekejap kedua tangannya itu telah berubah menghitam
Hanya dalam waktu sekejap kedua tangannya itu telah berubah menghitam
laksana arang. Terlihat
kabut tipis berwarna hitam keluar dari ujung jemari
Wiku Palawa, selain itu tercium pula bau
busuknya bangkai. Ketika itu
laki-laki berkepala
setengah botak itu memang
tengah mengerahkan pukulan 'Banyu Getih'.
Inilah salah satu pukulan yang sangat diandalkannya.
Wiro Suryo yang mempunyai banyak
keanehan dan ilmu simpanan yang cukup dahsyat tentu saja dapat
tengah mengerahkan pukulan 'Banyu Getih'.
Inilah salah satu pukulan yang sangat diandalkannya.
Wiro Suryo yang mempunyai banyak
keanehan dan ilmu simpanan yang cukup dahsyat tentu saja dapat
membaca bahkan mengetahui
jenis pukulan yang dimiliki oleh laki-laki itu.
Dengan cepat ia bangkit
berdiri merobah posisi. Mulutnya berkomat-kamit.
Jelas ia sedang merapal
mantra-mantra ajian 'Suket Sekilen'.
"Hiyaa..." Wiku Palawa
menghentakkan kedua tangannya ke arah Wiro Suryo. Kakek berusia
"Hiyaa..." Wiku Palawa
menghentakkan kedua tangannya ke arah Wiro Suryo. Kakek berusia
delapan puluh tahun ini
tertawa membahak. Kemudian....
Plaas
Bumm
Bersamaan waktunya dengan datangnya pukulan lawan, maka saat itu juga
Tenggiling Kedil lenyap dari pandangan mata Wiku Palawa. Pukulan yang
Plaas
Bumm
Bersamaan waktunya dengan datangnya pukulan lawan, maka saat itu juga
Tenggiling Kedil lenyap dari pandangan mata Wiku Palawa. Pukulan yang
dilepaskan Wiku Palawa
menghantam sasaran kosong.
Sementara itu, Wiro Suryo yang sudah tidak terlihat lagi oleh lawannya
menghantam ke depan.
Buk
Kraak Kraak
"Wuaaakh..."
Wiku Palawa menjerit kesakitan.
Kedua tulang kakinya patah. Ia jatuh terduduk. Tapi hantaman terus
Sementara itu, Wiro Suryo yang sudah tidak terlihat lagi oleh lawannya
menghantam ke depan.
Buk
Kraak Kraak
"Wuaaakh..."
Wiku Palawa menjerit kesakitan.
Kedua tulang kakinya patah. Ia jatuh terduduk. Tapi hantaman terus
mendera wajahnya.
Praak
"Uaaakh... bangsat pengecut..."
maki Wiku Palawa sambil mendekap tulang pelipisnya yang hancur.
"Setiap iblis selalu licik dan pengecut. Apa salahnya kalau sekarang aku
Praak
"Uaaakh... bangsat pengecut..."
maki Wiku Palawa sambil mendekap tulang pelipisnya yang hancur.
"Setiap iblis selalu licik dan pengecut. Apa salahnya kalau sekarang aku
terpaksa bertindak curang
pula? Lagipula kau bukan lawanku, Wiku
Palawa. Kalau pun umurmu
bertambah seratus tahun lagi. Kau tetap tidak
dapat melawanku. Karena aku
sendiri setengah manusia setengah jin"
kata Wiro Suryo yang kini telah
memperlihatkan diri lagi.
"Kalau kau masih mau tobat,
sebaiknya kau merat dari sini. Tapi kalau tetap membangkang juga. Maka
kata Wiro Suryo yang kini telah
memperlihatkan diri lagi.
"Kalau kau masih mau tobat,
sebaiknya kau merat dari sini. Tapi kalau tetap membangkang juga. Maka
tempat yang sebaik-baiknya
bagimu adalah di neraka jahanam"
Wiku Palawa tidak dapat menjawab.
Akibat luka-luka yang dideritanya itu ia tidak sadarkan diri.
"Tidur memang lebih baik bagimu
Huh ha ha ha... Suro Blondo Apakah kau sudah menemukan Betina Dari
Wiku Palawa tidak dapat menjawab.
Akibat luka-luka yang dideritanya itu ia tidak sadarkan diri.
"Tidur memang lebih baik bagimu
Huh ha ha ha... Suro Blondo Apakah kau sudah menemukan Betina Dari
Neraka?"
10
Suro Blondo dan Wiro Suryo memasuki sebuah bangunan yang dikenal
10
Suro Blondo dan Wiro Suryo memasuki sebuah bangunan yang dikenal
dengan sebutan Curing
Bencana. Namun ruangan itu terasa sepi. Seakan
perempuan yang mereka
cari-cari menghilang begitu saja bagaikan
ditelan bumi.
"Apakah ini bukan jebakan, sobatku Tenggiling Kedil?" kata Suro Blondo
ditelan bumi.
"Apakah ini bukan jebakan, sobatku Tenggiling Kedil?" kata Suro Blondo
khawatir.
"Kalau jebakan. Artinya kita sudah mulai masuk dalam perangkap. Tapi
sebaiknya tak usah bersedih. Orang yang menjebak kita perempuan. Siapa
"Kalau jebakan. Artinya kita sudah mulai masuk dalam perangkap. Tapi
sebaiknya tak usah bersedih. Orang yang menjebak kita perempuan. Siapa
tahu ia berkenan denganmu
dan mengangkatnya menjadi pendampingnya.
Bukankah kau juga yang
enak?" kata Wiro Suryo sambil tertawa-tawa.
"Jangan bicara sembarangan. Dalam keadaan seperti ini rasanya tidak ada
"Jangan bicara sembarangan. Dalam keadaan seperti ini rasanya tidak ada
waktu bagi kita untuk
bercanda" sahut Pendekar Blo'on.
"Tenanglah, selama aku bersamamu.
Kau tidak akan kesepian. Sebaiknya kita menuju ruangan yang terletak di
"Tenanglah, selama aku bersamamu.
Kau tidak akan kesepian. Sebaiknya kita menuju ruangan yang terletak di
sebelah kiri itu?"
kata Wiro Suryo.
Sesuai dengan yang dikatakan oleh
Tenggiling Kedil. Maka Suro Blondo belok ke kiri. Mereka sampai di
Sesuai dengan yang dikatakan oleh
Tenggiling Kedil. Maka Suro Blondo belok ke kiri. Mereka sampai di
sebuah ruangan-ruangan
lainnya. Di dalam kamar itu terdapat sebuah
ranjang seperti ranjang
pengantin. Namun baik Wiro Suryo maupun Suro
Blondo tetap tidak
menemukan apa yang dicari-carinya.
"Lihatlah, Suro. Kau telah
disediakan sebuah ranjang untuk malam pertama..." kelakar Tenggiling
"Lihatlah, Suro. Kau telah
disediakan sebuah ranjang untuk malam pertama..." kelakar Tenggiling
Kedil.
Pendekar Blo'on kerutkan keningnya.
Ia tidak tahu arti ucapan manusia super pendek yang terus mengikutinya
Pendekar Blo'on kerutkan keningnya.
Ia tidak tahu arti ucapan manusia super pendek yang terus mengikutinya
kemana pun ia pergi.
"Apa itu malam pertama?" tanya Suro lugu.
"Tololnya kau ini. Di malam pertama itu kau akan disuguhi makanan yang
sangat istimewa di mana kau
belum mendapatkannya pada waktu-waktu
sebelumnya. Makanan itu
sangat enak, matamu pasti terpejam karena
begitu enaknya Ha ha
ha..."
"Aku sering mendapat makanan yang enak. Jadi tidak usah mengolokku.
"Aku sering mendapat makanan yang enak. Jadi tidak usah mengolokku.
Kau jangan bercanda terus,
kita bisa mati di sini berdua..."
"Tapi makanan yang satu ini lain, Suro..."
"Diam Gila kau" dengus Pendekar Blo'on tidak suka.
Tenggiling Kedil akhirnya terdiam.
Mereka terus melakukan pencarian. Sampai akhirnya menemukan sebuah
"Tapi makanan yang satu ini lain, Suro..."
"Diam Gila kau" dengus Pendekar Blo'on tidak suka.
Tenggiling Kedil akhirnya terdiam.
Mereka terus melakukan pencarian. Sampai akhirnya menemukan sebuah
lorong menuju bawah tanah.
"Mungkinkah jahanam itu bersembunyi di bawah sana?" tanya Wiro Suryo.
Pendekar Blo'on garuk-garuk
kepalanya. Ia sendiri tidak tahu apakah Betina Dari Neraka bersembunyi di
"Mungkinkah jahanam itu bersembunyi di bawah sana?" tanya Wiro Suryo.
Pendekar Blo'on garuk-garuk
kepalanya. Ia sendiri tidak tahu apakah Betina Dari Neraka bersembunyi di
ruangan bawah tanah atau
tidak. Yang jelas mereka harus menemukan
perempuan sesat itu
bagaimana pun caranya. Maka tanpa ragu-ragu lagi
Suro Blondo bersama Wiro
Suryo
menuruni anak tangga yang menghubungkan ke ruangan bawah. Baru
menuruni anak tangga yang menghubungkan ke ruangan bawah. Baru
beberapa langkah ia
mengayunkan kakinya.
Tanpa diduga-duga pintu di bela-
kangnya tertutup.
Brak
"Heh..."
Suro Blondo terkejut sekali. Ia
kembali berbalik dan berusaha mendorong pintu batu tersebut. Namun
Tanpa diduga-duga pintu di bela-
kangnya tertutup.
Brak
"Heh..."
Suro Blondo terkejut sekali. Ia
kembali berbalik dan berusaha mendorong pintu batu tersebut. Namun
sedikit pun pintu tersebut
tidak bergeming.
"Edan Apa yang harus kita lakukan sekarang" gerutu Suro Blondo sambil
"Edan Apa yang harus kita lakukan sekarang" gerutu Suro Blondo sambil
menggaruk kepalanya.
"Rasanya pintu ini memang tidak mudah untuk dihancurkan. Sebaiknya
"Rasanya pintu ini memang tidak mudah untuk dihancurkan. Sebaiknya
kita teliti dulu ada apa di
sini. Baru
kemudian kita cari jalan keluarnya dari sini" kata Wiro Suryo.
"Orang ini benar-benar licik. Kita kena dikerjainya?"
"Berhentilah mengumpat. Dia bukan licik, tapi cerdik. Kurasa lebih baik
kemudian kita cari jalan keluarnya dari sini" kata Wiro Suryo.
"Orang ini benar-benar licik. Kita kena dikerjainya?"
"Berhentilah mengumpat. Dia bukan licik, tapi cerdik. Kurasa lebih baik
kita ke sana sekarang juga"
Sambil bersungut-sungut, Suro
Blondo mengikuti apa yang dikatakan oleh si kerdil. Kira-kira dua batang
Sambil bersungut-sungut, Suro
Blondo mengikuti apa yang dikatakan oleh si kerdil. Kira-kira dua batang
tombak mereka melangkah.
Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis.
"Kita memang telah dipersiapkan untuk terkubur di sini hidup-hidup" maki
"Kita memang telah dipersiapkan untuk terkubur di sini hidup-hidup" maki
Pendekar Blo'on.
"Semua ini gara-gara
kau, Tenggiling Kedil. Ternyata bukan tubuhmu saja yang pendek. Tapi
kau, Tenggiling Kedil. Ternyata bukan tubuhmu saja yang pendek. Tapi
otakmu tidak dapat
dipergunakan berfikir dengan baik"
"Jangan marah-marah. Apa salahku?"
"Apa salahmu? Bukankah kau yang menyuruhku belok ke kiri dan juga
"Jangan marah-marah. Apa salahku?"
"Apa salahmu? Bukankah kau yang menyuruhku belok ke kiri dan juga
masuk ke bawah sini?"
"Kalau itu bukan aku yang salah.
Dasar nasib kita saja yang apek" sahut Wiro Suryo seenaknya.
Pendekar Blo'on tidak sempat lagi
menanggapi ucapan sobat tuanya yang terus bergelantungan di pinggang
"Kalau itu bukan aku yang salah.
Dasar nasib kita saja yang apek" sahut Wiro Suryo seenaknya.
Pendekar Blo'on tidak sempat lagi
menanggapi ucapan sobat tuanya yang terus bergelantungan di pinggang
Suro Blondo.
Karena ia terpaksa menghindari serangan ular-ular itu dengan cara
Karena ia terpaksa menghindari serangan ular-ular itu dengan cara
melompat-lompat seperti
seekor monyet yang sedang menari-nari.
Ternyata ular-ular yang dihadapinya sangat ganas sekali. Sehingga
Ternyata ular-ular yang dihadapinya sangat ganas sekali. Sehingga
Pendekar Blo'on kehilangan
kesabarannya.
"Hiyaa..."
Tuk Tuuk
Zzssst
Dengan mempergunakan jari
tangannya. Suro Blondo segera menyambut serangan ular-ular berbisa
"Hiyaa..."
Tuk Tuuk
Zzssst
Dengan mempergunakan jari
tangannya. Suro Blondo segera menyambut serangan ular-ular berbisa
tersebut.
Beberapa diantara binatang melata
itu dibuat hancur kepalanya. Ada pula yang digigitnya hingga putus
Beberapa diantara binatang melata
itu dibuat hancur kepalanya. Ada pula yang digigitnya hingga putus
menjadi dua.
Pendekar Blo'on Sendiri tidak luput dari patukan ular-ular tersebut. Tapi
Pendekar Blo'on Sendiri tidak luput dari patukan ular-ular tersebut. Tapi
bisa ular-ular itu tidak
berakibat apa-apa karena Suro Blondo memang kebal terhadap segala macam gigitan
ular.
Tidak lama sebagian dari ular-ular yang selamat melarikan
diri. Satu kesalahan dilakukan oleh Pendekar Blo'on.
Ia memburu ular-ular itu. Wiro Suryo tiba-tiba berteriak.
"Awas..."
Peringatan Tenggiling Kedil
terlambat. Jeruji besi di belakang Suro Blondo melorot turun dan menutup
Tidak lama sebagian dari ular-ular yang selamat melarikan
diri. Satu kesalahan dilakukan oleh Pendekar Blo'on.
Ia memburu ular-ular itu. Wiro Suryo tiba-tiba berteriak.
"Awas..."
Peringatan Tenggiling Kedil
terlambat. Jeruji besi di belakang Suro Blondo melorot turun dan menutup
jalan keluar bagi mereka berdua.
"Kurang ajar Kita terperangkap"
desis Pendekar Blo'on kaget.
"Seperti yang kukatakan. Iblis itu ternyata lebih cerdik dari kau."
Jawab Tenggiling Kedil
"Apakah kau sendiri menganggap dirimu cerdik?" cibir pemuda berambut
"Kurang ajar Kita terperangkap"
desis Pendekar Blo'on kaget.
"Seperti yang kukatakan. Iblis itu ternyata lebih cerdik dari kau."
Jawab Tenggiling Kedil
"Apakah kau sendiri menganggap dirimu cerdik?" cibir pemuda berambut
hitam kemerahan ini tidak
mau kalah.
"Tentu aku lebih pandai dari kau"
sahut Wiro Suryo Seenaknya.
Pendekar Blo'on jadi mendongkol
dibuatnya. Ia tidak bicara apa-apa lagi.
Melainkan segera berusaha menghancurkan jeruji yang telah membuat
"Tentu aku lebih pandai dari kau"
sahut Wiro Suryo Seenaknya.
Pendekar Blo'on jadi mendongkol
dibuatnya. Ia tidak bicara apa-apa lagi.
Melainkan segera berusaha menghancurkan jeruji yang telah membuat
mereka terkurung. Karena
jeruji tersebut tidak dapat dibukanya. Suro Blondo terpaksa melepaskan pukulan
'Kera Sakti Menolak Petir'.
"Heaaa..."
Wut Wut...Der...Jeruji itu sama sekali tidak
bergeming. Malah langit-langit ruangan bawah tanah menunjukkan tanda-
"Heaaa..."
Wut Wut...Der...Jeruji itu sama sekali tidak
bergeming. Malah langit-langit ruangan bawah tanah menunjukkan tanda-
tanda akan runtuh.
"Jangan kau teruskan lagi, Suro"
cegah Wiro Suryo setelah melihat keadaan yang cukup gawat itu.
"Kenapa rupanya?" tanya Pendekar Blo'on tidak mengerti.
"Ruangan ini bisa runtuh jika kau terus melepaskan pukulanmu. Jika itu
"Jangan kau teruskan lagi, Suro"
cegah Wiro Suryo setelah melihat keadaan yang cukup gawat itu.
"Kenapa rupanya?" tanya Pendekar Blo'on tidak mengerti.
"Ruangan ini bisa runtuh jika kau terus melepaskan pukulanmu. Jika itu
terjadi, maka kita terkubur
hidup-hidup di sini. Pernahkah kau bayangkan
betapa enaknya meregang
ajal dalam keadaan sehat seperti kita-kita ini?"
"Kau jangan mengolokku, kerdil berjenggot. Kita dalam keadaan kesulitan.
Tapi kau masih bisa tertawa."
"Ho ho ho... Haruskah aku menangis dalam keadaan panik seperti
"Kau jangan mengolokku, kerdil berjenggot. Kita dalam keadaan kesulitan.
Tapi kau masih bisa tertawa."
"Ho ho ho... Haruskah aku menangis dalam keadaan panik seperti
sekarang?
Atau aku harus tertawa dalam keadaan senang? Gila betul"
"Ya... kau betul-betul gila. Satu purnama lagi aku bersamamu. Aku bisa
Atau aku harus tertawa dalam keadaan senang? Gila betul"
"Ya... kau betul-betul gila. Satu purnama lagi aku bersamamu. Aku bisa
ketularan penyakit
gendengmu"
"Sebelum bertemu aku saja kau memang sudah edan. Apalagi sekarang.
Paling juga tambahnya sedikit saja"
Suro Blondo baru saja ingin
mengatakan sesuatu. Namun ia terpaksa menelan ucapannya kembali saat
"Sebelum bertemu aku saja kau memang sudah edan. Apalagi sekarang.
Paling juga tambahnya sedikit saja"
Suro Blondo baru saja ingin
mengatakan sesuatu. Namun ia terpaksa menelan ucapannya kembali saat
mendengar suara tawa
panjang seseorang. Suara tersebut menggetarkan
lantai ruangan.
Bahkan kemudian lantai runtuh. Maka terperosoklah Suro Blondo ke dalamnya.
Tetapi sebelum Pendekar Blo'on dan Wiro Suryo benar-benar tercebur ke
Bahkan kemudian lantai runtuh. Maka terperosoklah Suro Blondo ke dalamnya.
Tetapi sebelum Pendekar Blo'on dan Wiro Suryo benar-benar tercebur ke
dalamnya ia berusaha
mengerahkan segenap kemampuannya untuk tidak
terjatuh di dalamnya. Usaha
yang dilakukannya ini hanya sia-sia saja.
Karena ia tidak mungkin terus mengembang di udara.
Byuur
"Gila Ah... apa yang menggigitku ini...?" tanya Pendekar Blo'on pada Wiro
Karena ia tidak mungkin terus mengembang di udara.
Byuur
"Gila Ah... apa yang menggigitku ini...?" tanya Pendekar Blo'on pada Wiro
Suryo.
"Melihat bau dan licinnya. Kurasa kita telah terperangkap ke dalam kolam
"Melihat bau dan licinnya. Kurasa kita telah terperangkap ke dalam kolam
lintah" sahut Wiro
Suryo sambil berusaha mengusir makhluk-makhluk
kecil panjang itu dengan
cara mengibaskan tangannya.
"Gila betul. Kita bisa kehabisan darah. Anehnya bangsat itu mampu
meruntuhkan lantai ruangan ini hanya dengan tertawa."
"Kau yang tolol. Tentu dia sudah menggerakkan peralatan rahasianya yang
"Gila betul. Kita bisa kehabisan darah. Anehnya bangsat itu mampu
meruntuhkan lantai ruangan ini hanya dengan tertawa."
"Kau yang tolol. Tentu dia sudah menggerakkan peralatan rahasianya yang
telah dipersiapkannya untuk
menyambut kehadiran kita"
"Ha ha ha... Kalian berdua seperti tikus masuk ke dalam perangkap. Kalian
segera mati kehabisan darah. Kalaupun bisa selamat. Kalian tetap tidak
"Ha ha ha... Kalian berdua seperti tikus masuk ke dalam perangkap. Kalian
segera mati kehabisan darah. Kalaupun bisa selamat. Kalian tetap tidak
bisa keluar dari situ
Tunggulah seminggu lagi Pendekar Blo'on. Kau pasti
akan mendapat hukuman
dariku" kata sebuah suara.
"Bangsat pengecut" maki Suro Blondo geram.
"Hik hik hik..."
Suara tawa segera lenyap dan
berganti dengan kesibukan Wiro Suryo dan Pendekar Blo'on untuk
"Bangsat pengecut" maki Suro Blondo geram.
"Hik hik hik..."
Suara tawa segera lenyap dan
berganti dengan kesibukan Wiro Suryo dan Pendekar Blo'on untuk
membebaskan diri mereka.
* * * *
Perkasa duduk santai di tengah-
tengah ranjang. Sementara Mustika Jajar tampak mondar-mandir di dalam
* * * *
Perkasa duduk santai di tengah-
tengah ranjang. Sementara Mustika Jajar tampak mondar-mandir di dalam
ruangan itu. Ia seperti
memikirkan suatu cara untuk membunuh lawan-
lawannya yang sudah masuk
dalam perangkap.
"Apa yang junjungan pikirkan? Tetua seharusnya tidak usah memikirkan
"Apa yang junjungan pikirkan? Tetua seharusnya tidak usah memikirkan
yang rumit-rumit. Karena
hal itu hanya membuat wajah tetua menjadi
keriput." kata
Perkasa, laki-laki sakti yang berasal dari patung ciptaan
Pematung Kelana.
"Kau memang pandai mengambil hati, Perkasa. Kau orang yang kukagumi.
Sekarang ambilkan tuak keras untukku
Malam ini kita rayakan kemenangan kita"
kata Betina Dari Neraka.
"Apa pun perintahmu. Aku selalu menurutinya gadis cantik" sahut Perkasa.
Laki-laki bertubuh tegap tinggi dan hanya memakai koteka ini berlalu
meninggalkan majikannya. Mustika Jajar memperhatikan kepergiannya
"Kau memang pandai mengambil hati, Perkasa. Kau orang yang kukagumi.
Sekarang ambilkan tuak keras untukku
Malam ini kita rayakan kemenangan kita"
kata Betina Dari Neraka.
"Apa pun perintahmu. Aku selalu menurutinya gadis cantik" sahut Perkasa.
Laki-laki bertubuh tegap tinggi dan hanya memakai koteka ini berlalu
meninggalkan majikannya. Mustika Jajar memperhatikan kepergiannya
dengan tatapan penuh arti.
Tidak lama kemudian Perkasa telah
datang kembali sambil membawa dua kendi tuak keras. Ia langsung
Tidak lama kemudian Perkasa telah
datang kembali sambil membawa dua kendi tuak keras. Ia langsung
memberikannya pada Mustika
Jajar.
"Kau mau mengawalku?" Betina Dari Neraka menawarkan.
Perkasa tentu saja tidak menolak.
Ia menerima tuak itu lalu meneguk isi kendi yang diberikan padanya
"Kau mau mengawalku?" Betina Dari Neraka menawarkan.
Perkasa tentu saja tidak menolak.
Ia menerima tuak itu lalu meneguk isi kendi yang diberikan padanya
hingga tuntas.
"Malam ini kita merasakan segala-galanya, Perkasa. Kita dapat berbagi
"Malam ini kita merasakan segala-galanya, Perkasa. Kita dapat berbagi
cinta. Cintaku yang membara
selama beberapa purnama ini." kata gadis
cantik berpakaian ketat
warna ungu ini sambil meneguk araknya.
"Kemarilah, kekasihku" Mustika Jajar yang ketika itu duduk di pinggir
"Kemarilah, kekasihku" Mustika Jajar yang ketika itu duduk di pinggir
ranjang melambaikan
tangannya. Perkasa tentu saja tidak menampik.
Apalagi ia berasal dari
kekuatan iblis.
"Berilah kehangatan yang kudambakan kepadaku" desis Mustika sambil
"Berilah kehangatan yang kudambakan kepadaku" desis Mustika sambil
memeluk Perkasa. Matanya
setengah redup. Bibirnya yang tipis terbuka
mengundang gairah.
"Dengan senang hati aku akan
memenuhi permintaanmu, tetua. Kau pasti tidak akan kecewa. Karena aku
"Dengan senang hati aku akan
memenuhi permintaanmu, tetua. Kau pasti tidak akan kecewa. Karena aku
dapat membuatmu puas di
dalam sorga dunia"
kata Perkasa.
Tangan Mustika Jajar menggerayang
kemana-mana. Sebaliknya Perkasa mulai melepaskan pakaian gadis cantik
kata Perkasa.
Tangan Mustika Jajar menggerayang
kemana-mana. Sebaliknya Perkasa mulai melepaskan pakaian gadis cantik
itu satu persatu. Sehingga
dalam waktu sekejap tubuh mulus Mustika Jajar
sudah berada dalam keadaan
telanjang dan menantang sekali untuk
dijamah. Perkasa melumat
habis bibir Mustika, tangannya yang kokoh
meremas dada Mustika yang
telah berubah mengeras. Dua insan yang
berlainan jenis ini memang
sudah sama-sama lupa daratan.
Sampai pada akhirnya mereka saling menyatu. Mustika Jajar mengenang
Sampai pada akhirnya mereka saling menyatu. Mustika Jajar mengenang
penuh rasa nikmat. Ia
memeluk dengan erat tubuh Perkasa yang bidang.
"Oh... aahh... Perkasa. Ka... kau jangan hentikan..." desis Mustika Jajar.
Pelita di dalam ruangan itu bergoyang-goyang ditiup angin. Bahkan setelah
"Oh... aahh... Perkasa. Ka... kau jangan hentikan..." desis Mustika Jajar.
Pelita di dalam ruangan itu bergoyang-goyang ditiup angin. Bahkan setelah
itu tampak redup hingga
akhirnya padam. Suara erangan di dalam kamar
semakin mendayu-dayu.
Terlebih-lebih ketika sesuatu memasuki diri
Mustika Jajar. Ia menjerit
keras. Bukan jerit kesakitan. Melainkan jerit
penuh rasa nikmat yang
tidak terkira. Selanjutnya suasana dalam ruangan
itu berubah sepi. Hanya
sesekali
saja terdengar desah nafas lega dan kata-kata manja seorang perempuan.
saja terdengar desah nafas lega dan kata-kata manja seorang perempuan.
Memang tidak dapat
dipungkiri, setelah kejadian itu. Maka kejadian-
kejadian yang sama terus
terulang.
Lalu bagaimanakah nasib Pendekar
Blo'on. Dapatkah mereka menyelamatkan diri? Hukuman apa yang akan
Lalu bagaimanakah nasib Pendekar
Blo'on. Dapatkah mereka menyelamatkan diri? Hukuman apa yang akan
dijatuhkan Betina Dari
Neraka pada Suro Blondo?
Kisah ini masih berlanjut.
Kisah ini masih berlanjut.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...