Rabu, 12 November 2014

endekar Bloon - Eps.4 Betina Dari Neraka

Episode 4
BETINA DARI NERAKA
1

Matahari senja menapaki kaki bukit.
Suasana di sekitar Malaya terasa sepi seperti berada di daerah kuburan. Dalam suasana senja yang sedemikian mencekam itu. Tiba-tiba dari arah utara terdengar derap langkah suara kaki kuda. Semakin lama langkah kuda yang dipacu dengan tergesa-gesa itu semakin bertambah mendekati sebuah sungai. Sampai kemudian terlihat salah seorang penunggang kuda memakai ikat kepala warna hitam, berbaju hitam dan

kuda yang ditungganginya

berwarna hitam pula. Laki-laki ini bertampang sangat angker, wajahnya di penuhi jambang dan bawuk lebat. Badannya tegap berisi pertanda bahwa ia memiliki tenaga yang sangat besar. Sungguh sangat jauh berbeda dengan kuda yang ditungganginya, karena kuda tersebut berbadan kurus macam keledai peot. Melihat keadaan kuda kurus kering itu; tentulah ia baru dipacu dari sebuah tempat yang sangat jauh. Terbukti badan kuda itu

berkeringat, lidahnya menjulur seperti anjing sedangkan dari hidung dan mulutnya keluar busa berwarna putih.

Sampai di pinggir sungai yang sudah berubah gelap itu. Tiba-tiba penunggang kuda tersebut menghentikan tunggangannya.

Ia melompat turun tanpa menghiraukan

benda semacam karung yang terus

menggelantung di punggung kudanya.

Sebentar ia celingak-celinguk memperhatikan suasana di sekelilingnya.
Kemudian ia menuruni pinggiran sungai. Sebuah kantong dikeluarkannya
dari balik bajunya yang dekil. Dari dalam kantong hitam dikeluarkannya
serbuk. Serbuk itu ia tebarkan ke dalam sungai. Hanya dalam waktu
singkat terlihat adanya gejolak di dalam sungai tersebut. Jika saja suasana
dalam keadaan terang benderang. Tentu segera terlihat bahwa ikan-ikan
yang hidup dalam sungai tersebut terkapar mati. Jelas serbuk yang baru di

tebarkannya merupakan serbuk racun yang sangat ganas. Laki-laki itu tampak puas sekali.

"Hanya dalam waktu yang singkat. Ha ha ha... Hanya dalam waktu yang
singkat orang-orang di seantero Jawa Barat ini pasti pada mampus semua" Laki-laki itu kemudian memasukkan kantong bubuk racun ke balik
pakaiannya kembali. Sebentar ia berjalan mendekati kudanya, karung di
atas kuda diturunkan. Lalu dengan

seenaknya karung itu ditendangnya hingga masuk ke pinggir sungai.
Karena terganjal batu, maka karung tersebut tidak langsung masuk ke air
melainkan tertahan.

"Di dunia ini memang tempat

bernaungnya para iblis. Tidak heran jika

orang seperti Pematung Kelana mampus di tangan iblis pula. Para iblis kini
mempunyai urusan dan rencana besar.

Bagaimana caranya membuat seluruh manusia di permukaan bumi ini
menjadi penganut iblis..."

Pengikat karung disentakkan oleh

orang bertampang angker ini. Begitu karung terbuka. Maka tercium bau
busuk yang sangat menusuk. Bau busuk tersebut sedemikian menyengat.
 Hingga membuat seseorang yang memperhatikan tingkah penunggang
kuda kurus terpaksa menutup hidung dan mulut.

Ia menyeka keningnya yang ber-

keringat. Buah durian yang dimakannya kini ia letakkan di samping tempat
duduknya pada cabang yang sama.

"Apa yang dilakukan lutung angker itu? Ia membekal makanan yang
busuknya seperti bangkai manusia. Ketika ia bicara pelan tadi aku
mendengar ia ada menyebut-nyebut tentang Pematung Kelana Pematung
Kelana yang mana yang dimaksudkan monyet itu? Apakah pematungnya
para iblis? Atau malah Pematung Kelana yang kujumpai di bukit Watu
Cadas beberapa purnama yang lalu?" Si pemuda garuk-garuk kepalanya.

Dalam kegelapan itu tatapan matanya yang setajam mata elang terus
memperhatikan laki-laki berbadan tegap yang disebutnya dengan 'Monyet
Lutung'.

"Pematung Kelana? Kurasa pematung sepertimu sudah tidak ada lagi di
antara orang-orang yang segolongan denganmu.

Kini kau memang pantas menjadi bangkai menemani ikan-ikan yang sudah
mati itu"

Kembali terdengar suara serak si

laki-laki. Tentu saja pemuda berbaju biru berambut kemerah-merahan ini
terkejut sekali mendengar ucapan orang yang berada di bawahnya.
Dugaannya tentang Pematung Kelana ternyata meleset. Jadi orang yang
telah membusuk di dalam karung itu bukan Pematung Kelana aliran sesat?
Weeh...

bagaimana aku ini? Kuingat-ingat, ia merupakan seniman aneh dan
memiliki kesaktian yang luar biasa. Berarti orang yang telah membunuh
Pematung Kelana merupakan lutung hitam di bawah sana yang
kesaktiannya di atas luar biasa pula.

"Aih... keparat betul..." Pemuda berambut kemerah-merahan ini membatin
dihati.

Dua suing kulit durian disambarnya.

Laksana kilat ia menyambitkannya ke arah laki-laki berbaju hitam yang
sudah bersiap-siap melemparkan mayat Pematung Kelana ke dalam sungai.

Bletak

Buuk

Dengan keras kulit durian itu

menghantam kepala dan punggung si laki-laki. Sungguh pun yang
dilemparkannya hanya kulit durian, namun membawa akibat

yang cukup fatal.

Kulit durian itu

sebagian menancap di punggung penunggang kuda kurus, sedangkan satu di antaranya menghantam keningnya.

"Wuah... setan alas Kunyuk mana yang telah begini lancang main-main
dengan Sugriwa Kertopati" Laki-laki baju hitam yang berdiri di bawah
pohon yang diduduki di pemuda menggeram marah.

Suasana kemudian berubah hening.

"Bangsat Kunyuk yang di atas pohon, sebaiknya cepat kau perkenalkan diri.
Kau merupakan kawan kami atau hanya seekor monyet yang ingin cepat-
cepat mampus?"

"Ha ha ha... Kebetulan aku masih mempunyai derajat yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan monyet lutung seperti mu Kalau melihat bawaanmu,
tentu kau lutung kesasar dan sesat. Sedangkan aku orang baik-baik yang
sangat benci dalam hal racun meracun" jawab pemuda baju biru yang tidak
lain adalah Suro Blondo alias Pendekar Blo'on. Sugriwa Kertopati tentu
saja kaget bukan main mendengar semua

apa yang dilakukannya telah

diketahui oleh orang lain. Sehingga ia sempat terdiam untuk beberapa saat
lamanya.

Dicabutnya kulit durian yang

membenam di bagian kening dan punggungnya. Dengan gerakan ringan
dan asal-asalan ia melemparkannya ke arah

kegelapan pohon.

Wuut Wuut

"Aduh..." Suro Blondo mengeluh.

Padahal sambitan yang dilakukan oleh lawannya sama sekali tidak
mencapai sasaran.

"Keparat Aku tahu kau mengejekku

Cepat kau turun atau aku akan membuatmu tidak berkutik di pohon itu?"

"Seharusnya kau malu, karena kau ternyata tidak becus apa-apa. Tapi
kurasa semakin lama aku semakin bosan bermain-main dengan lutung
jelek sepertimu Aku tanya... harap kau jawab secepatnya..."

tegas Pendekar Blo'on.

"Huh..."

"Benarkah mayat yang baru hendak kau buang itu mayat Pematung
Kelana?"

"Apa perdulimu?" dengus Sugriwa Kertopati.

"Tentu saja aku sangat perduli.

Karena Pematung Kelana masih merupakan kenalan dekatku dan orang
yang sangat kuhormati." Sugriwa Kertopati sama sekali tidak menjawab.
Tiba-tiba ia merangkapkan tangannya ke depan dada. Secepat tangan
hitam berbulu itu bergerak, maka secepat itu pula ia mengibaskannya ke
atas pohon.

Wus

Seleret sinar berwarna kemerah-

merahan menderu dan menghantam cabang

pohon yang diduduki oleh Suro Blondo.

Pemuda ini kaget bukan main begitu merasakan sengatan hawa dingin
mencucuk menghantam pantatnya. Ia melompat ke pohon lain, lalu
melepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir' untuk menghadang
pukulan berikut yang dilepaskan oleh Sugriwa Kertopati. Suasana berubah
terang laksana kilatan cahaya petir. Sugriwa Kertopati paling sempat
melihat wajah si pemuda melalui cahaya yang terpancar dari pukulan
lawannya ini. Pemuda bertampang tolol berambut hitam kemerah-
merahan.

Rasa-rasanya ia pernah mendengar ciri-ciri seperti dari ketua mereka.





* * * *



Sugriwa Kertopati rasanya sudah

tidak dapat berpikir lebih jauh lagi.

Karena sinar putih berkilauan laksana perak tersebut langsung melabrak ke
arahnya.

Wuut

Seketika ia mengibaskan tangannya

memapaki serangan itu. Cahaya merah berhawa dingin menderu.
Kemudian terdengar suara ledakan dahsyat meng-

getarkan.

"Edan" Suro Blondo menggerutu sambil basahi bibirnya. Ia kemudian
melompat dari cabang pohon dan

menginjakkan kedua kakinya di atas sebongkah batu tidak jauh dari tempat
 Sugriwa berdiri. "Manusia muka kunyuk bertampang iblis ini boleh juga.
Tapi kurasa aku tidak perlu mengulur waktu.

Sungai ini sudah tercemar, aku harus bisa paling tidak menangkapnya.
Setelah itu segera kuumumkan pada semua penduduk agar tidak memakai
air sungai ini untuk kepentingan memasak" batinnya.

"Siapakah kau?"

"Hmm, aku adalah aku. Bukan kau, bukan bapakmu dan juga bukan
kakekmu

Lekas kau berlutut di depanku. Aku mau menangkap kau punya badan dan
mengumumkan pada orang-orang bahwa kau telah meracuni sungai ini"
Suro Blondo menggelengkan kepala sambil menyeka keringat yang
mengucur di keningnya.

Sugriwa Kertopati tertawa membahak.

Tawa itu jelas disertai pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi. Suro
Blondo dapat merasakan getaran itu. Tapi ia malah menyeringai seperti
kuda terinjak duri.

"Bicaramu boleh juga, bocah

bertampang tolol. Kau kira dengan

kepandaian picisan yang kau miliki kau dapat melawanku? Cobalah
berkaca apakah kau pantas mengalahkan aku"

"Air yang biasa kupergunakan untuk berkaca telah kau racuni. Mana
mungkin

aku dapat melakukannya. Menyerah sajalah kau padaku..."

"Bangsat rendah Tidak ada yang dapat memerintah anggota iblis, apalagi
hanya monyet tolol sepertimu?" bentak Sugriwa. Tiba-tiba saja ia
menerjang ke depan. Tinjunya melayang mengarah pada bagian mata kiri
Suro. Sedangkan kaki melakukan serangan tipuan kilat. Tindakan yang
dilakukan oleh lawannya ini benar-benar tidak pernah terduga oleh
pemuda berambut hitam kemerahan ini.

"Gila betul" gerutunya. Ia melompat ke samping kanan selamatkan
wajahnya. Namun tendangan Sugriwa sempat menghantam tulang
keringnya.

Duuk

"Kampret sialan" maki si pemuda terpincang-pincang.

Melihat lawannya dalam keadaan

begitu rupa. Tiba-tiba ia menyerang kembali. Jurus yang digunakannya
juga bukan merupakan jurus sembarangan. Ia mengerahkan jurus 'Tapak
Neraka Dunia'

dalam upaya nya mengakhiri perlawanan Suro Blondo.

Pemuda berbaju biru ini tentu tidak mau bersikap gegabah lagi. Begitu kaki
kirinya bergeser ke belakang. Maka Suro pergunakan jurus 'Kera Putih
Memilah Kutu'

"Huup..."

Wuut Wuut

"Iih..."

Suro Blondo terus berkelit dengan

gerakan-gerakan lincah, lucu dan konyol.

Sesekali ia bahkan melompat-lompat sambil menggaruk-garuk
punggungnya. Namun setiap serangan yang dilakukan oleh

Sugriwa

selalu mengenai sasaran kosong. Sugriwa dalam kegelapan itu sempat
 terkejut. Sama sekali ia tidak menyangka kalau pemuda tampan
bertampang tolol itu dapat

menghindari

setiap serangan yang

dilakukannya.

"Manusia geblek.." dengus Sugriwa.

Tiba-tiba saja ia merentangkan kedua tangannya. "Inti Hati Yang Satu" jerit
Sugriwa.

Laksana kilat ia menerjang ke

depan, tapi kali ini ia tidak menyerang secara langsung. Melainkan
mengitari tubuh Suro dari segala penjuru arah.

Lalu...,

Deb Deb

Tangan kanan dan tangan

kiri

menggebrak secara beruntun ke arah empat jalan kematian. Pendekar
Blo'on tercekat juga merasakan sambaran-sambaran angin yang begitu
menghebat. Satu hantaman keras menderu ke bagian tulang rusuknya.

Pemuda ini tampak sekali tidak sempat menghindari serangan ini.
Sehingga ia terpaksa menangkisnya dengan siku

kirinya. Benturan tidak dapat dihindari lagi.

Duuk

"Hukh..."

"Beeh..."

Dua-duanya terkejut sekali. Sugriwa bahkan sempat terhuyung-huyung.
Sedangkan Suro Blondo meringis sambil memegangi sikunya yang
membengkak merah.

"Ternyata kau memiliki kebolehan juga, kunyuk"

"Hhmm...." Suro Blondo menggumam tidak jelas.

Dalam keadaan begitu rupa, pemuda

berambut hitam kemerahan ini merobah jurus Silatnya dengan jurus
'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'. Ini merupakan jurus yang
lebih konyol lagi, yang kelihatannya dilakukan secara asal-asalan. Namun
 membawa pengaruh yang sangat berat bagi lawannya. Sugriwa terkesiap
 ketika di atas lima belas jurus kemudian ia mulai mendapatkan tekanan-
tekanan yang hebat dan dapat mem-

bahayakan pertahanannya. Ia berusaha mengerahkan jurus lain yang
dimilikinya untuk melakukan serangan balik. Tapi sekali lagi ia dipaksa
menghadapi

kenyataan yang sangat mengesalkan.

Semakin hebat dia berusaha mendesak lawannya, maka semakin gigih pula
 Suro Blondo melakukan serangan balik.

Celakanya sungguh pun gerakan yang dilakukan oleh lawan seperti gerakan
 monyet melompat dan berayun. Tapi lawan yang bertarung sambil tertawa
dan melolong ini sulit dijinakkan. Buuk

"Huakgh..."

Sekali waktu tinju kiri Pendekar

Blo'on mendarat di dada Sugriwa. Laki-laki berkulit hitam legam ini jatuh
terpelanting. Sudut-sudut bibirnya mengalirkan darah.

Anehnya ia sudah dapat bangkit

kembali hanya dalam waktu beberapa detik saja. Ia bahkan sekarang telah
mencabut senjatanya yang berupa sepasang roda baja yang memiliki ujung
runcing seperti mata tombak pada setiap sisinya.

Cring...

Senjata kembar bulat bentuknya dan bergerigi ini sempat memijarkan api
ketika Sugriwa mengadunya antara yang satu dengan lain.

"Kali ini kau tidak mungkin dapat luput dari kematian, bocah tolol Tapi
sebelum kau mampus di tanganku, maukah kau menyebutkan siapa
namamu agar nanti dapat kutuliskan di atas nisanmu?"

Sugriwa Kertopati. Suro Blondo tersenyum, karena yakin senyumnya tidak
mungkin terlihat oleh lawannya. Maka pemuda ini tertawa.

"Malaikat sudah tahu namaku. Kurasa hanya pada iblis saja aku pantas

berahasia. Karenanya, kau sajalah yang sebutkan nama. Karena ucapanmu
 itu bisa saja berbalik menghantam dirimu"

"Bangsat" sambil menggeram, Sugriwa menggerakkan kedua tangannya ke depan.

Zing Siing

Kedua senjata berbentuk roda itu

melesat ke arah Suro Blondo. Bukan main cepat dan berbahaya serangan
yang dilakukan oleh Sugriwa. Pendekar Blo'on tentu saja tidak ingin mati
konyol. Ia mempergunakan jurus khusus menghindar yang diberi nama
'Seribu Kera Sakti Mengecoh Harimau'. Di samping itu ia juga
mengerahkan ilmu mengentengi tubuh 'Kilat Bayangan'. Cepat sekali
pemuda berambut merah ini berkelebat lenyap. Serangan-serangan yang
dilakukan oleh Sugriwa luput. Namun senjata yang dapat kembali pada
pemilik dengan sendirinya ini terus bergerak mengejar kemana pun ia
berusaha menghindar.

Suro Blondo sadar betul ia tidak

mungkin berkelit seperti itu selama-lamanya. Karena bagaimana pun lama
kelamaan tenaganya terkuras habis. Maka ia segera menyalurkan tenaga
dalamnya ke bagian telapak tangannya. Masih dalam keadaan bergerak
menghindar tubuhnya

bergetar keras. Kedua tangannya bahkan telah berwarna merah redup. Satu

kesempatan ia menjejakkan kakinya, begitu kaki menyentuh tanah. Suro
Blondo

menghentakkan kedua tangannya ke arah senjata lawan yang tengah
melaju deras mencari sasaran. Wuut

Angin kencang disertai hawa panas

meluruk ke arah senjata Sugriwa. Kemudian terdengar suara ledakan keras
 berdenting bagaikan suara bertemunya dua benda keras.

Trang

Senjata roda bergerigi milik

Sugriwa membalik terdorong pukulan

'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar'

yang melesat dari telapak tangan si pemuda. Sugriwa tentu saja tidak mau
mengambil resiko dengan cara menangkap senjata yang hendak
mencelakakan dirinya sendiri itu. Ia cepat merunduk sambil terus
berguling-gulingan. Satu senjatanya dapat ia hindari. Tapi senjata yang
lainnya dengan cepat telah menghantam batok kepalanya. Sugriwa
Kertopati menjerit keras, tapi sudah tidak mampu angkat kepalanya yang
rengkah. Tubuhnya menggelepar, kepalanya golang-goleng.

Lalu diam membeku.

"Hh, sayang dia mati. Aku tidak bisa tanya siapa orang yang berdiri di
belakangnya. Apa yang harus kulakukan"

Pendekar Blo'on menepuk keningnya

berulang-ulang. "Monyet lutung itu cuma punya harta seekor kuda kurus
kering." Suro Blondo kemudian menghampiri kuda kurus yang tampak
gelisah tersebut. "Kuda semacammu begini apa yang diharap?

Tulangmu lebih banyak daripada dagingmu.

Kulitmu juga keriput, paling yang besar cuma kentut sama kotoranmu.
Lebih baik kau bawa majikanmu itu ke tempat asal"

kata Suro Blondo. Pemuda berwajah tampan bertampang seperti orang
tolol ini kemudian mengangkat mayat Sugriwa. Sama sekali ia tidak
menyentuh roda bergerigi yang membuat retak kepala pemiliknya sendiri.
Ditepuknya pantat kuda tiga kali. Bibirnya tersenyum lalu berkata:

"Kalau sudah sampai ke tempat tuanmu yang lain, katakan pada mereka
bahwa majikanmu mati bunuh diri..."

Kuda yang dalam keadaan ketakutan

itu meringkik keras, kemudian lari terbirit-birit dengan membawa mayat
 Sugriwa Kertopati di punggungnya.


2


Ruangan pertemuan itu sangat luas

sekali. Tiang-tiang penyangganya dibuat dari orang-orang yang telah mati.
Tentu mayat-mayat yang dijadikan tiang

penyangga tersebut berasal dari golongan putih. Keadaan mayat-mayat itu
sungguh menyedihkan sekali. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah
singgasana, di samping singgasana terdapat pula sebuah patung batu
marmar yang sangat indah.

Patung itu berujud perempuan berbaju transparan.

Di atas singgasana itu kini duduk

seorang perempuan berpakaian ketat warna ungu. Tanpa menghiraukan
orang-orang di sekitarnya. Tiada henti ia perhatikan patung laki-laki dan
patung perempuan di kanan kirinya. Sungguh pun patung

perempuan itu sangat cantik tidak

terkira. Tapi nampaknya ia menyukai patung laki-laki berbadan kekar
dengan otot-otot menonjol yang terdapat di samping kanannya. Lebih dari
lima orang tokoh kini berada di dalam ruangan itu.

Di antara mereka adalah Mustika Jajar (Dalam Episode Pemikat Iblis),
Damerta, Ki Alit. Kedua laki-laki ini berhasil dipengaruhi oleh Mustika
Jajar. Mereka berasal dari Samba. Kemudian Wiku Palawa, laki-laki
berumur tujuh puluh lima tahun,
berbadan bongkok bersenjata tongkat.

Kemudian seorang laki-laki berbaju kembang-kembang seperti banci.

Tidak lama setelah itu muncul pula seorang laki-laki tua berambut serba
putih, berjenggot panjang dan punya mata cuma satu. Mata itu senantiasa
berwarna kemerah-merahan, seperti orang yang terkena penyakit mata.
Ketika melihat kemunculan laki-laki mata satu yang dikenal dengan
julukan Tua Tengkorak Mata Api ini. Mustika Jajar yang duduk di atas
singgasana langsung menjura hormat.

"Silakan guru Maha Sesat mengambil tempat" pinta si gadis pelan.

Tua Tengkorak Mata Api dari lereng Cilawu ini langsung duduk di atas

singgasana lain yang disediakan khusus buatnya.

"Untuk mempersingkat waktu sebaiknya kita mulai saja pertemuan ini"

Mustika Jajar bangkit berdiri.

Semua mata memandang kepadanya. Termasuk juga Damerta dan Ki Alit.

"Kisanak sekalian dan juga guruku yang sangat kumuliakan. Hari ini aku
sengaja mengundang kalian ke tempat pertemuan Curing bencana, tentu
saja dengan maksud yang sangat baik. Aku ingin membuat sebuah
kekuasaan dan kerajaan yang sangat besar. Sebuah partai yang tidak
terhingga dan menguasai hajat hidup

semua golongan. Karena kulihat di wilayah barat ini tidak ada satu partai
pun yang menonjol, baik dari golongan hitam maupun putih. Maka inilah
kesempatan yang sangat baik bagi kita..." kata Mustika Jajar secara
panjang lebar.

"Tunggu dulu Di wilayah barat ini aku mendengar kehebatan seorang
pematung.

Katanya ia merupakan tokoh aliran lurus yang mempunyai kepandaian
hebat. Di samping itu dari daerah timur kudengar pula ada seorang
pendekar bertampang tolol yang memiliki kesaktian luar biasa dan aneh.
Setiap orang yang memiliki kesaktian tinggi dari golongan lain, aku
menganggap ia merupakan musuh yang harus diperhitungkan" kata
Damerta cemas.

Mustika Jajar tersenyum, seraya

mengelus-elus patung laki-laki di

sampingnya penuh kebanggaan.

"Para Kisanak, lihatlah patung ini

Ia merupakan lambing kesempurnaan dari seorang ahli seni. Hanya
Pematung Kelana yang dapat menciptakan patung seperti ini. Menurut
kehendak para iblis, patung ini dapat kita hidupkan sebagaimana halnya
manusia. Jika ia telah hidup, berarti dia menjadi andalan kita dimasa yang
akan datang. Menurut anda,

mungkinkah patung sebagus ini oleh pemiliknya diberikan pada kita?
Sedangkan saudagar Bergola Mungkur yang kaya raya

saja tidak bisa mendapatkannya? Padahal dia bersedia menukarnya dengan
tiga kantung uang emas."

Orang-orang yang hadir dalam

ruangan pertemuan saling diam. Tidak lama barulah salah seorang di
antara mereka bertanya.

"Tetua... bagaimana cara anda mendapatkannya? Apakah anda membujuk
Pematung Kelana?"

"Hi hi hi Tentu saja tidak

Pematung Kelana kubereskan dulu, setelah tubuhnya yang lapuk
kucampakkan ke jurang, kemudian kuambil patung ini.

Sekarang ini aku mendengar munculnya seorang pendekar..."

"Muridku, bicara terus terang dan langsung pada titik persoalan Aku tidak
betah duduk berlama-lama di sini." sergah Tua Tengkorak Mata Api tidak
sabar.

"Maafkan aku guru. Mengenai rencana muridmu ini tentu guru sudah
dengar.

Ambisiku terang dan jelas. Yaitu ingin mendirikan sebuah kerajaan dan
kekuasaan.

Sekaligus membuat perjanjian untuk menghidupkan patung ini untuk
kujadikan pengawalku kelak..."

"Rencanamu sangat gila...?" dengus laki-laki bermata satu ini tidak setuju.

"Mengapa gila guru? Bukankah guru punya Ajian Benteng Roh? Guru
pernah mengatakan padaku bahwa benda-benda mati

yang menyerupai sesuatu yang hidup dapat dihidupkan kembali
sebagaimana guru menurunkan ilmu silat padaku?"

Tua Tengkorak Mata Api terdiam.

Bagaimana pun ia sangat sayang pada muridnya. Karena sayangnya, dulu
segala keinginan si gadis selalu diturutinya.

Dan inilah kesalahan sekaligus

kelemahannya. Tapi untuk tidak

mengabulkan permintaan muridnya. Laki-laki bermata satu ini merasa
ragu.

"Semua apa yang kukatakan memang tidak dapat kupungkiri, tapi ingatlah

Aku bukanlah Tuhan. Tentu caraku sangat jauh bertentangan dengan
kehendakNYA.

Tentu saja kekuatan yang akan berperan dalam hal ini adalah kekuatan
iblis juga" kata Tua Tengkorak Mata Api.

"Aku tidak perduli kekuatan apa yang akan mengisinya. Yang jelas aku
ingin agar patung ini dapat hidup untuk mendampingiku" Mustika Jajar
rupanya tetap bersikeras juga.

"Hmm, begitukah?"

"Benar, guru."

"Watakmu memang keras sejak kecil.

Untuk menghidupkan patung itu diperlukan gadis paling tidak tujuh orang
yang masih suci. Apakah kau sanggup?"

"Hi hi hi Jangankan baru darah tujuh orang gadis suci. Seratus sekalipun
kalau memang itu saratnya akan kupenuhi.

Bukankah begitu, Wiku Palawa?" Mustika Jajar melirik ke arah Wiku Palawa. Laki-laki berjenggot panjang ini menganggukkan kepala.

"Sebagai anggota, tentu saja aku akan selalu memenuhi perintah tetua"

"Untuk mencari dan mengumpulkan gadis-gadis itu, aku juga mau

membantunya." ujar Damerta dan Ki Alit hampir bersamaan.

"Nah tunggu apa lagi, sekarang berangkatlah kalian" kata Mustika Jajar.

Tanpa menunggu lebih lama lagi

berangkatlah Damerta, Ki Alit dan Wiku Palawa.

Kini di ruangan itu hanya tinggal

Mustika Jajar, Tua Tengkorak Mata Api dan juga Pamali. Suasana di dalam
ruangan begitu hening. Dan Mustika Jajar baru saja ingin mengatakan
sesuatu ketika seekor kuda meringkik-ringkik di halaman Curing Bencana

"Kuda itu seperti kuda tunggangan milik Sugriwa? Ada apa dengannya?"
desis Mustika Jajar. Tua Tengkorak Mata Api seakan mengetahui apa yang
telah terjadi, sehingga iapun berkata.

"Orangmu yang bernama Sugriwa telah meninggal, Tika. Racun telah
berhasil ditebarkan ke sungai, begitu juga mayat Pematung Kelana telah
dicampakkan ke sungai. Tapi seseorang telah membunuhnya"

Mustika Jajar terkejut mendengar-

nya. Ia cepat-cepat berpaling ke arah Pamali. Tanpa diperintah, Pamali
langsung menyadari bahwa tetuanya menghendaki agar ia mengambil
jenazah Sugriwa. Laki-laki berusia empat puluhan ini menjura hormat,
kemudian pergi meninggalkan ruangan.

Hanya beberapa saat setelah itu, ia telah kembali sambil memanggul mayat
Sugriwa yang dalam keadaan sangat menyedihkan itu.

"Hem, benar-benar keji pembunuhnya

Aku yakin Sugriwa tewas bukan karena membunuh diri. Kepalanya pecah,
benaknya berhamburan. Apakah masih ada kemungkinan untuk
menghidupkannya, guru?"

Tua Tengkorak Mata Api menggeleng-

kan kepala.

"Keadaannya yang begini mengenas-kan, mustahil bagiku untuk
menghidupkannya. Terkecuali kau mau mengorbankan sesuatu yang
sangat besar"

"Apapun persyaratannya akan kulakukan. Aku kasihan padanya, roh
Sugriwa pasti tidak tenang di alam sana."

"Apakah kau mau mengorbankan

kehormatanmu?" desis Tua Tengkorak Mata Api berterus terang.

Mustika Jajar tentu saja tidak

menyangka kesuciannya yang harus di jadikan korban untuk
menghidupkan

Sugriwa. Sungguh pun ia tokoh sesat yang menghalalkan segala cara,
rupanya untuk menyerahkan yang satu itu ia tidak rela juga.

"Kalau itulah persyaratannya, aku tidak dapat menyanggupinya, guru"

"Itulah sebabnya, lebih baik

kuburkan saja Sugriwa. Kau dapat mengurus persoalan-persoalan lain
secepatnya"

Mau tidak mau Mustika Jajar

terpaksa menurut juga. Ia memerintahkan Pamali untuk membawa mayat
Sugriwa, kemudian menguburkannya di suatu tempat.


3


Bukan di daerah Bumi Ayu saja kematian akibat mempergunakan air
sungai terjadi. Bahkan para penduduk yang mempergunakan air sumur,
juga tidak ter-lepas dari bahaya racun yang mematikan.

Rupanya hanya dalam waktu singkat racun yang ditebarkan oleh Sugriwa
ke dalam sungai Cimacan telah meresap ke seluruh mata air tanah. Dalam
waktu yang singkat banyak penduduk di wilayah Jawa bagian barat tewas
secara sia-sia. Waktu itu sangat dikenal dengan istilah 'Kegebluk'.

Tinggallah Suro Blondo dengan

dibantu oleh beberapa pemuda, masyarakat bekerja mati-matian untuk
menyelamatkan orang-orang yang tidak berdosa. Tapi

tidak jarang ia juga mendapat perlakuan kasar bahkan dicaci maki oleh
penduduk pada setiap desa yang dilaluinya karena mereka menyangka
bahwa Suro Blondo-lah yang menjadi penyebab timbulnya wabah yang
sangat mematikan itu.

"Rasanya memang sulit menghadapi orang-orang bodoh Aku yang kasih
kabar agar mereka tidak minum air sungai. Aku pula yang mereka tuduh
telah meracuni sungai. Tapi..." Suro Blondo menggaruk-garuk rambutnya.
"Bagaimana mungkin racun itu dapat merembas sampai ke sumur?

Padahal jarak sumur-sumur mereka dengan sungai sangat jauh sekali."

Pemuda berambut hitam kemerahan ini tiba-tiba menghentikan
langkahnya. Angin kencang berhembus, mengibarkan anak-anak
rambutnya yang terikat pita biru belang-belang kuning. Pemuda
bertampang tolol ini tiba-tiba menutup hidungnya. Udara busuk
menyengat hingga membuat perutnya terasa mual.

"Angin ini berasal dari desa di depan sana. Kalau tidak salah itu adalah
desa Cirebon Apakah mungkin orang-orang di sana juga sudah pada mati?
Ah...

kasihan. Kalau orang tuanya yang mati, berarti anak kehilangan bapak dan
ibunya.

Sedangkan kalau gadis yang mati, kasihan sekali karena mereka belum
sempat kawin.

Bagaimana ini? Apakah aku harus mengurus

mayat-mayat atau mencari biang keroknya penebar racun?"

Pendekar Blo'on tiba-tiba saja

hentikan ucapannya. Ia melihat ada cahaya putih berkilauan tampak
melesat dari satu arah. Bila Suro menoleh ke arah asal cahaya tadi. Maka
jelas cahaya tersebut berasal dari gunung.

"Gunung apa itu? Mengapa gunung bisa mengeluarkan cahaya? Siang-
siang bolong begini, mana mungkin ada hantu berani tunjukkan muka
tunjukkan hidung."

Bumm Buum

Terdengar suara ledakan keras.

Pendekar Blo'on sempat merasakan tanah yang dipijaknya bergetar hebat.
Dan ia sadar betul ledakan itu berasal dari tempat jatuhnya sinar putih
laksana bola tadi.

"Apa ini Apa mungkin ada bintang yang jatuh dari langit? Sebaiknya aku
lihat. Siapa tahu ada petunjuk yang dapat kujadikan alat untuk
membongkar masalah yang sedang kuhadapi."

Karena jaraknya masih cukup jauh

juga. Maka mau tidak mau Suro terpaksa mengerahkan ilmu lari cepat Kilat

Bayangan untuk segera sampai ke tempat terjadinya ledakan tadi.

Hanya dalam waktu yang singkat Suro telah sampai di depan tempat
terjadinya ledakan tadi. Dengan jelas ia dapat

melihat sebuah lubang yang menganga.

Lubang itu masih mengepulkan asap

menyerupai kabut berwarna putih kemerah-merahan. Anehnya selain
sebuah lubang yang cukup besar, ia tidak melihat apa-apa lagi.

"Ternyata bukan petunjuk. Hanya sebuah lubang yang babi hutan pun
dapat membuatnya." Suro Blondo menggerutu. Lalu seka keringat yang
mengucur di dahinya.

Tanpa minat pemuda ini bermaksud

meninggalkan tempat. Namun langkahnya tertahan ketika melihat sesuatu
berwarna putih seperti salju. Sesuatu yang

dilihatnya pertama tampak bulat seperti trenggiling. Tapi lama kelamaan
mengembang sehingga terlihat bentuk kaki dan tangan yang sangat pendek
mirip bayi yang baru berumur satu tahun.

"Eeh... anak apa itu? Mana mungkin ada orang membuang anaknya di
tengah-tengah tanah tandus seperti ini? Walaupun menjelang akhir jaman
nanti memang banyak perempuan yang membuang anaknya karena tidak
punya bapak."

Suro Blondo merasa penasaran,

kemudian ia menghampiri sosok yang dilihatnya sangat aneh itu. Pemuda
berambut hitam kemerahan ini tentu saja tercengang begitu melihat sosok
serba putih seperti mayat itu ternyata bukan bayi dan juga bukan
trenggiling


"Gila betul Mau dikata orang, tapi badannya kecil macam orok satu tahun.
Mau kubilang bayi, tapi sudah punya jenggot, kumis dan rambutnya putih.
Aneh...

mengapa wajahnya memancarkan cahaya.

Bocah kecil tapi seperti bocah bangkotan?

Pantasnya malah orang yang sudah berumur delapan puluh tahun." Suro
Blondo menggaruk rambutnya berulang-ulang.

"Sial betul, tampangku saja sudah konyol. Tapi tampang kakek setengah
meter tidak sampai ini lebih konyol lagi. Ya ampun... di atas tolol masih ada
tolol. Ini benar-benar tiruanku yang konyol. Sontoloyo..."

Pendekar Blo'on hanya berdiri

mematung sambil memandangi wajah tolol yang menggeletak dengan mata
terpejam dua tombak di depannya. Pendekar muda

berwajah tampan tolol ini menggelengkan kepalanya. Tidak disangka-
sangka bocah berjenggot dan berkumis putih ini membuka matanya. Begitu
mata terbuka ia malah tertawa sekeras-kerasnya hingga membuat sakit
telinga si pemuda.

Suro Blondo menutup telinganya,

rupanya ia lupa. Padahal jika ia

mengerahkan tenaga dalamnya saja. Tentu pengaruh suara tawa itu dapat

ditangkalnya.

"Bocah tolol, Pendekar

Blo'on.

Ilmumu segudang, baru menghadapi aku saja

kau seperti melihat hantu jelek

telanjang" kata bocah seperti bayi, namun berkumis dan berjenggot putih
ini, lalu hentikan tawanya. Suro Blondo kaget bukan main. Ternyata suara
 bayi itu seperti suara orang tua. Selain itu ia juga heran bagaimana
mungkin orang ini dapat mengetahui namanya?

"Kau mengenalku, tapi alangkah kurang ajarnya kau karena memanggilku
dengan nama saja. Padahal umurmu paling baru satu tahun..."

"Hu hu hu Goblok juga kau. Umurku dengan umur kakekmu mungkin
sama. Aku sudah delapan puluh tahun, sedangkan kau baru dua puluhan..."

Suro Blondo terlolong-lolong men-

dengar pengakuan orang yang mempunyai tinggi badan tidak sampai
setengah meter tersebut. Pemuda itu akhirnya pun ikut tertawa. Ia geli
melihat kenyataan yang sungguh-sungguh berada diluar dugaannya.

"Ada bayi tapi sudah berkumis dan berjenggot. Berarti anda delapan puluh
tahun berada dalam kandungan orang tua.

Wah kasihan sekali"

"Tolol... justru aku sudah terlalu lama berada di dunia. Karena di dunia ini
masih ada orang yang memiliki tampang sepertiku, maka aku keluar dari
puncak Gunung Sembung untuk membantu kesu-litannya."

"Gila bayi ini... eh kakek ini...

lho bagaimana aku harus menyebut orang aneh macam tenggiling ini?"
batin Suro Blondo. Masih dalam keadaan telentang dan memakai cawat
saja bocah berjenggot itu berkata.

"Namaku Wiro Suryo dari Gunung Sembung Tenggiling Kedil sebutanku,
aku punya ajian Suket Sekilen dan ajian Pancar Cahaya. Hanya bocah
gendeng, kalau kau mau. Aku ikut kau, tapi kuharap kau memanggilku
kakek. Karena umurku jauh.

lebih tua dari umurmu. He he he..."

"Nggak bisa. Badanmu kecil seperti bayi setahun. Ha ha ha... mana
mungkin kau lebih tua dariku. Ha ha ha... jangan mengaku-ngaku. Lagi
pula siapa tahu kau, bapak moyangnya para tuyul"

Wiro Suryo yang menurut pengakuan-

nya telah berumur delapan puluh tahun itu bangkit berdiri. Ketika ia
berdiri tegak.

Maka tingginya hanya sebatas lutut Suro Blondo, sehingga membuat
tawanya semakin keras.

"Kampret kau... jangan menghinaku.

Di Gunung Sembung semua jin baik takluk padaku. Lagipula mana kau bisa
hentikan racun darah yang telah dibuang ke sungai oleh Sugriwa Cuma aku
yang bisa menutup semua mata air. Karena aku Tenggiling Kedil yang
sakti. Hu hu hu..."

"Aku tidak perduli siapa kau.

Bagiku kau tidak bedanya dengan bayi, makanya aku tidak mau
memanggilmu

kakek..."

"Goblok Jangan banyak mulut, nanti kau tahu siapa aku..."

"Apa perduliku. Mau setan, mau jin mau bocah bangkotan, kakek-kakek
atau anak tuyul. Ha ha ha... bagiku kau tetap bayi berjenggot yang terlalu
lama berada dalam kandungan"

"Ha ha ha..." Wiro Suryo tergelak-gelak. Kedua kakinya dilipat ke kepala
sehingga posisinya melingkar dan berubah bulat seperti tenggiling putih.

"Apakah kau bisa seperti aku ini?"

Suro Blondo tercekat.

"Hmm, benar-benar aneh manusia yang satu ini. Apakah dia manusia
sepertiku atau malah jin penunggu Gunung Sembung sana?" batin
Pendekar Blo'on.

"Ha ha ha... Benar-benar gila bukan? Aku hidup sampai tua tetap seperti bayi hanya menunggu bertemu dengan seorang sahabat sepertimu."

"Siapa sudi bersahabat dengan kau?"

"Ah... sudah kubilang kau harus memanggilku kakek Kalau tidak kau bakal
kubuat kelenger..."

"Aku tidak mau"

"Rasain kalau kau tetap ngotot"

tiba-tiba Tenggiling Kedil melentik ke arah Suro Blondo. Begitu cepatnya,

sehingga pemuda itu tidak sempat

mengelak. Dilain kejab Wiro Suryo telah merengkuh pinggang si pemuda
tidak jauh bedanya dengan tali pengikat pinggang.

Lebih mengejutkan lagi, Wiro Suryo berubah bentuk memipih seperti
angkin.

"Hiii... geli. Ha ha ha...

geli..." Suro Blondo melonjak-lonjak kegelian. Ia bahkan berusaha menarik
lepas Wiro Suryo yang bergelantungan di pinggangnya. Tapi kakek seperti
bayi itu benar-benar mirip tenggiling. Sehingga Suro Blondo tidak mampu
melepaskannya.

"Geli... wuakh... goblok. Jangan kau gelitiki perutku... wuah... geli...."

Suro Blondo menggeliat-geliat sambil berjingkrak-jingkrak dan berlari kian
kemari.

"Goblok. Urusanmu masih banyak, aku bisa menjadi penunjukmu" kata Wiro Suryo terus menggelantung di pinggang Pendekar Blo'on.

"Edan..." Suro Blondo menggerutu.

4


Perjalanan yang di tempuh oleh


Pendekar Blo'on Suro Blondo memang memakan waktu yang cukup lama.
Apalagi tempat persembunyian atau markas besar Mustika alias Iblis
Betina Dari Neraka masih belum jelas entah di mana. Pagi itu

udara dingin menyelimuti Daerah

Ketemanggungan

Batu Sari. Di halaman

rumah Tumenggung Bono Sastrojoyo penduduk setempat tampak sedang
berkumpul menunggu kehadiran pemimpinnya dengan perasaan harap-
harap cemas.

Tidak lama kemudian muncul seorang laki-laki berpakaian bangsawan dan
dikawal oleh dua orang laki-laki berbadan tegap memakai rompi hitam.
Tumenggung Bono Sostrojoyo memperhatikan penduduk yang berada di
halaman rumahnya dengan sorot mata menyelidik.

"Ada apa kalian pagi-pagi sekali datang kemari?" suara Tumenggung
mening-kahi suara-suara sumbang para laki-laki yang tampaknya tidak
puas atas sikap lemah pemimpinnya. Seorang laki-laki bertubuh bungkuk
mewakili tidak kurang tiga puluh kawannya tampak maju ke depan.

"Kami bukannya lancang, gusti Tumenggung. Cuma kami kurang puas atas
sikap Tumenggung yang kelihatannya masih tenang-tenang saja dengan
hilangnya tujuh gadis desa yang diculik oleh anggota Iblis Betina Dari
Neraka. Kami khawatir sikap ini hanya akan membuat perempuan iblis itu
semakin sewenang-wenang. Tidak ada yang ditakuti dan bukan mustahil
suatu saat akan semakin banyak penduduk terutama anak-anak gadis di
wilayah Katemenggungan ini akan menjadi korban"


"Ki Supit Kukira hanya kau orang yang memiliki ilmu kepandaian yang
lumayan di daerah kita ini. Mengapa kau tidak mau menghubungi orang-
orang yang memiliki kepandaian tinggi untuk mencari gadis-gadis yang
hilang itu?" tanya Tumenggung Sastrojoyo penuh teguran.

"Mana kami berani jika tidak ada perintah dari Tumenggung" jawab Ki
Supit.

Jalak Seta salah seorang pengawal

sekaligus orang kepercayaan Katemenggungan tiba-tiba saja maju ke
depan.

"Jangan sembarangan menuduh Kami di Katemenggungan telah
melakukan segala upaya untuk mencari anak-anak perawan kalian yang
hilang itu. Tapi apa mau dikata? Hingga sampai saat ini usaha kami belum
mendatangkan hasil. Kalau kalian mau bekerja sama, nanti sore kita dapat
bersama-sama mencari mereka yang hilang"

ujar Jalak Seta.

"Coba kalau hal ini dibicarakan sejak kemarin. Tentu kami tidak penasaran
dan terpaksa berkumpul di sini" kata Ki Supit.

"Benar..." kata kawan-kawannya mendukung ucapan Ki Supit.

"Sudahlah, kalian tidak usah cemas, persiapkan kuda dan segala peralatan
senjata yang kita butuhkan. Nanti sore kita bergerak melakukan
pencarian..."

kata Tumenggung Sastrojoyo.

"Hore... hidup Tumenggung...."

teriak para penduduk Batu Sari.

Para laki-laki yang dipimpin oleh

Ki Supit itu akhirnya membawa orang-orangnya kembali

ke rumahnya masing-

masing. Tentu saja mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti
sore.

Ketika hari menjelang senja, maka

berangkatlah tidak kurang dari tiga puluh orang penduduk di sertai
Tumenggung Sastrojoyo dan juga Jalak Seta. Mereka bersenjata lengkap
menyisir sepanjang tepian hutan di mana beberapa hari yang lalu mereka
melihat seorang laki-laki bertubuh bungkuk melarikan gadis-gadis dari
daerah Batu Sari.

Belum lama mereka berjalan. Tiba-

tiba saja mereka melihat seorang laki-laki keluar dari

dalam semak-semak

belukar. Ia memakai baju kembang-kembang.

Bagian keningnya menonjol, wajah laki-laki itu dipenuhi jambang dan
bawuk lebat. Tumenggung Sastrojoyo menghentikan kudanya diikuti oleh
orang-orang yang berada di belakangnya.

"Kalau tidak punya

keperluan.

Sebaiknya menyingkir dari hadapanku sekarang juga" dengus Tumenggung
itu dengan suara ketus.

"Ha ha ha... Kau tidak layak memberi perintah, Tumenggung Aku tahu

kalian punya tujuan. Tentu kalian ingin mencari Betina Dari Neraka
bukan? Apa yang ingin kau lakukan tidak semudah yang kau bayangkan.
Karena aku Menak Tandira akan menjadi penghalang bagi kalian"

"Hmm, rupanya kau anggota dan begundalnya betina iblis itu?"

"Belum, tapi aku calon anggota yang ingin bergabung" kata Menak Tandira
tegas.

"Biarkan kami yang memberi

pelajaran pada mereka, Tumenggung" pinta Ki Supit pula. Tumenggung
Sastrojoyo menganggukkan kepalanya. Begitu mendapat isyarat maka
belasan penduduk bersenjata golok dan tombak langsung menghambur
melakukan penyerangan.

Menak Tandira tertawa mengekeh. Ia melompat tinggi ke udara begitu
senjata-senjata itu berkelebat menghantam

tubuhnya. Ketika Menak Tandira meluncur lagi ke bawah. Maka Menak
Tandira menyambar salah satu senjata di tangan penyerangnya.

Bret Golok rampasan tersebut langsung

berkelebat menyambar ke segala arah.

Crak...Bret Bret

"Aaaa..." Terdengar pekik dan jerit kesakitan di sana-sini. Empat orang
penduduk biasa roboh dengan tubuh bermandikan darah.

Ternyata laki-laki berwajah angker ini memang mempunyai kepandaian
yang cukup tinggi. Terbukti hanya dalam beberapa jurus saja ia sudah
mampu merobohkan beberapa penduduk.

Melihat kenyataan ini Ki Supit

tidak tinggal diam. "Menyingkir semuanya..." teriak Ki Supit dengan suara
keras. Ia pun melompat ke depan. Tinju laki-laki itu menghantam iga
Menak Tandira. Dengan sigap lawan menghalaunya.

Wuus

Ki Supit dengan segera menarik

tangannya kembali untuk menghindari benturan yang terjadi. Lalu ia
lepaskan tendangan kaki ke punggung lawannya.

Wuuk

Duuk

Menak Tandira terhuyung,

punggungnya langsung nyeri seperti ada tulangnya yang patah. Ia
menggeram keras, lalu tiba-tiba saja ia menerkam Ki Supit dengan tangan
terkembang.

"Hiaa..."

Semua orang yang berada di situ

dapat melihat betapa jemari tangan Ki Supit berubah menghitam. Namun
kawan-kawannya tetap merasa yakin Ki Supit pasti dapat mengatasinya,
mengingat kakek tua berbadan agak bongkok ini juga memiliki kepandaian
yang cukup tinggi.

Ternyata dugaan mereka untuk

sementara benar adanya. Ketika kedua tangan lawannya hampir mencapai
sasaran.

Maka Ki Supit mencabut keris Ki Ronda Pamungkas.

Set

Wus

"Heh... gila...?" desis Menak Tandira sambil tarik balik serangan dan
berguling-guling selamatkan diri. Ki Supit terus memburu, lalu ia tikamkan
senjatanya bertubi-tubi. Kenyataan ini membuat Menak Tandira jadi
terdesak. Ia hanya dapat main mundur saja untuk kemudian membentak
garang.

"Haiit Aiyaaa..."

Satu jurus lain dimainkannya.

Tangannya mencakar kian kemari, sedangkan kedua kakinya bergerak
lincah dengan cepatnya.

"Graa Graa"

Jelas sekali kalau pada saat itu

Menak Tandira sedang mengerahkan jurus Macan Luwe. Salah satu jurus
ampuh yang dimilikinya.

"Haiiiik..."

Menak Tandira melompat laksana

terbang. Melihat serangan ganas ini Ki Ronda Pamungkas disodokkan ke
depan oleh Ki Supit. Senjata itu mendesing ketika membelah udara. Secara
aneh Menak Tandira menghindar ke samping dan dilain waktu ia

sudah berada di belakang Ki Supit. Dengan begitu tentu saja serangan Ki
Supit tidak mengenai sasarannya. Tahu-tahu dari belakangnya....

Duuk

Beeeeet

Sepuluh kuku jari Menak Tandira

menghunjam di tubuh lawannya. Ki Supit menjerit. Suaranya seakan
merobek langit.

Tubuhnya terhuyung ke depan tanpa pernah sempat lagi berbalik ke depan.
Tidak lama ia pun tersungkur roboh dan tewas

seketika dalam keadaan yang sangat mengerikan sekali.

Menak Tandira tertawa membahak.

Jalak Seta memandangi laki-laki itu dengan tatapan aneh. Namun ia tetap
tidak bergerak mengambil tindakan. Sementara itu kawan-kawan Ki Supit
sudah tidak sabar lagi. Mereka secara beramai-ramai dan tidak terkontrol
lagi langsung segera mengeroyok Menak Tandira. Pertempuran sengit pun
segera terjadi. Namun karena para penduduk ini pada dasarnya tidak
mempunyai kepandaian silat apa-apa. Maka hanya dalam waktu beberapa
jurus saja belasan laki-laki itu telah terkapar dalam keadaan menyedihkan.

Tumenggung Sastrojoyo dibuat

terkesiap. Sekarang hanya tinggal dia dan Jalak Seta saja. Tumenggung dan
 orang kepercayaannya saling berpandang-pandangan.

"Sebaiknya kau maju, Jalak Seta"

perintah sang Tumenggung.

Entah mengapa Jalak Seta malah

tertawa membahak. Sekejap tawanya yang menyeramkan itu terhenti.
Lalu...

"Sebagai pimpinan seharusnya gusti Tumenggung yang bertindak duluan
Nanti kalau sudah terdesak. Barulah saya yang maju"

Belum hilang rasa kaget di hati

sang Tumenggung. Laksana kilat Jalak Seta mencabut senjatanya dan
langsung

menghunjamkannya ke perut Tumenggung Sastrojoyo. Laki-laki bertubuh
jangkung ini sudah tidak sempat mengelak lagi.

Badik kecil telah menembus perutnya.

Tidak lama Tumenggung Sastrojoyo

terjengkang dari kudanya. Jalak Seta kembali tertawa dengan suara dingin.

Tentu saja hal ini membuat kaget Menak Tandira. Masa' ada seorang
bawahan begitu tega membunuh majikannya sendiri?

"Tidak usah heran, sobat Jika kau benar-benar ingin bergabung dengan
tetua Betina Dari Neraka. Aku siap membantumu, karena aku adalah salah
seorang

anggotanya juga." kata Jalak Seta dengan bangga.

"Mengapa kau bunuh Tumenggung itu?

Bukankah dia atasanmu?" tanya Menak Tandira.

"Memang aku bawahannya. Tetapi aku sudah lama juga menjadi pengikut-
pengikut wanita cantik itu. Aku bahkan yang menculik gadis-gadis di Batu
Sari untuk keperluan membangkitkan Patung Perkasa.

Itu sebabnya aku harus membunuh

Tumenggung Sastrojoyo mengingat aku tidak ingin Tumenggung tahu di
pihak mana aku berdiri"

"Aku tidak menyangka kita orang sehaluan. Lalu... apakah engkau tahu di
mana tempat tinggal Betina Dari Neraka saat ini?" tanya Menak Tandira.

"Tentu saja aku tahu. Jika kau mau, sekarang juga aku dapat
mempertemukan kau dengan tetua"

"Hhm, aku merasa sekarang memang sudah waktunya untuk menemui
beliau. Aku sudah tidak sabar ingin bergabung dengan mereka"

Maka tanpa menunggu lebih lama lagi berangkatlah kedua sahabat yang
baru saja saling kenal ini. Di sepanjang perjalanan mereka terus
berbincang-bincang tentang kehebatan yang dimiliki oleh Mustika Jajar
dan gurunya. Tanpa mereka sadari bahwa sejak beberapa saat yang lalu ada
dua sosok bayangan yang terus mengikuti langkah mereka dalam jarak
yang tidak begitu jauh.

5


Hanya dalam waktu yang sedemikian


cepat bayangan yang terus mengikuti di belakangnya telah berada jauh ke
depan.

Itu pun Jalak Seta dan Menak Tandira tidak tahu kehadiran kedua orang
aneh ini.

"Sebaiknya kita berhenti dulu untuk beristirahat" kata Jalak Seta.

"Apakah tempat itu masih jauh dari sini?" tanya Menak Tandira sambil
menghentikan langkahnya.

"Cukup jauh juga, mungkin sekitar dua hari perjalanan." sahut Jalak Seta.

Mereka pun akhirnya beristirahat. Namun belum lama mereka duduk, tiba-
tiba saja terdengar suara gelak tawa yang

menyesakkan dada dan mengacaukan jalan darah.

Baik Jalak Seta maupun Menak

Tandira sama tersentak kaget. Suara tawa tiba-tiba saja lenyap dan
berganti dengan kesunyian yang mencekam. Kedua orang ini saling
berpandang-pandangan.

"Rupanya ada orang lain yang pingin mampus di sini, Jalak Seta Namun
betapa pengecutnya dia karena tidak mau

tunjukkan diri" menggeram Menak Tandira.

"Ha ha ha..." Suara tawa tiba-tiba terdengar kembali dan seakan datang
dari seluruh penjuru arah. "Kami bukan

pengecut, sesungguhnya kunyuk jelek seperti kalian tidak pantas melihat
kami.Karena kalian termasuk orang-orang licik apalagi jika sampai
membunuh Tumenggung yang jadi atasan sendiri hanya karena membantu
seorang iblis" kata suara tadi menimpali. Memerah kuping Jalak Seta
mendengarnya. Ia segera memandang ke arah datangnya suara yang
bersumber dari atas pohon. Ternyata di sana tidak ada apa-apa.

"Keluarlah jika kalian memang jantan" tantang Menak Tandira.

"Hak hak hak Blo'on kau ditantang supaya keluar dari tempat
persembunyian.

Tunggu apa lagi, apakah kau ingin jadi pengecut tidak mau tunjukkan
diri?"

"Ah, Tenggiling Kedil, bocah

bangkotan namun masih seperti bayi

Sebaiknya jangan kau gurui aku.

Lihatlah..." kata pemuda baju biru pakai ikat kepala biru belang-belang
kuning.

Pendekar Mandau Jantan ini kemudian melompat turun dari atas
kerimbunan pohon. Lalu...

Jliik

Ia menjejakkan kaki tanpa

menimbulkan suara sedikit pun juga. Wiro Suryo si bocah super kerdil
langsung melompat dari pinggang Pendekar Blo'on.

Tentu saja kehadiran kedua orang yang sama-sama aneh ini membuat
mereka terheran-heran. Yang satu adalah seorang pemuda tampan
bertampang ketolol-tololan, lagaknya cengar-cengir dan sambil garuk-
garuk kepala. Sedangkan yang satunya lagi adalah seorang laki-laki
berambut, kumis serta jenggot putih. Namun badannya pendek bukan
main. Tingginya bahkan tidak sampai setengah meter. Dilihat sekilas
keduanya memang seperti orang konyol.

"Hmm, orang-orang bertampang kacau seperti ini rupanya yang coba-coba
menghalangi niat kami" dengus Jalak Seta disertai sesungging senyum
mengejek.

"Ha ha ha... Dia meledekmu, Wiro Suryo. Apa tindakanmu terhadap orang
yang telah membunuh penduduk dan mengkhianati Tumenggung nya
sendiri? Coba apa?" tanya Pendekar Blo'on sambil menyeka keningnya.

"Pertama dia harus minum kencingku.

Sedangkan yang kedua dia harus jilat pantatku pulang pergi" kata si kakek
kerdil kocak.

"Kencingmu kalau tidak pahit pasti asin rasanya. Bagaimana kalau
pantatmu hitam dan bau? Ha ha ha...",

"Memang betul. Tapi dia harus berterima kasih. Karena aku termasuk orang terhormat di Gunung Sembung" sahut Tenggiling Kedil.

Baik Jalak Seta maupun Menak

Tandira sangat marah sekali. Tanpa bicara apa-apa lagi salah seorang di
antaranya

langsung menerjang Pendekar Blo'on.

Melihat lawannya menyerang dengan

bersemangat, maka Suro meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang lucu.

Ssst...

"We... kecele....'" ejek si pemuda urakan sambil tersenyum-senyum.

Jalak Seta tidak menanggapi. Ia

membalikkan tubuhnya lalu menghantam lagi dengan serangan bertubi-
tubi. Kenyataan ini tentu membuat Suro terpaksa

mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'.

Tubuhnya kemudian berubah jadi

lentur. Tangan mencakar ke berbagai penjuru arah. Namun tidak jarang ia
menggaruk kepala atau punggungnya atau terkadang melompat-lompat
seperti seekor monyet. Apa yang dilakukan oleh pemuda ini memang terasa
menggelikan dan membuat geli yang melihatnya. Malah Wiro Suryo sampai
tepuk tangan segala memberi semangat.

"Ayo, hantam Pukul monyet itu, nyit-nyit... nyit..."

Tentu saja setelah berulangkali

mengalami kegagalan Jalak Seta akhirnya menjadi kalap juga. Tiba-tiba
saja ia mencabut badik kecil yang dipergunakan untuk menghabisi jiwa
Tumenggung

Sastrojoyo.

"Awas Blo'on dia mau mencincangmu

dengan senjata itu" kata Tenggiling Kedil memperingatkan.

Jalak Seta kemudian dengan senjata terhunus menyerang empat jalan
darah di tubuh Suro Blondo. Melihat serangan yang datangnya bagai
gelombang air bah ini.

Suro terpaksa kerahkan jurus

Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor. Tubuh pemuda berambut
hitam

kemerahan ini akhirnya berkelebat lenyap hanya dalam waktu yang
sedemikian

singkat. Terdengar suara jeritan di sana-sini.

"Hiya..."

Senjata di tangan Jalak Seta

menderu membelah udara. Suro tiba-tiba berjongkok lalu melompat tinggi.
Sehingga serangan lawannya pun tidak mengenai sasarannya. Melihat
serangannya luput, maka Jalak Seta lepaskan tendangan bertubi-tubi. Suro
terus menghindar sambil berjingkrak-jingkrak. Rupanya serangan ini tidak
memenuhi sasaran sebagaimana yang diharapkan. Sehingga Jalak Seta
melompat ke depan sambil hantamkan lututnya.

"Heaa..."

Duuk

"Nggekk..."

Pendekar Blo'on jatuh terduduk.

Dadanya sesak sekali seperti orang yang

hampir putus nafasnya. Namun begitu pun ia masih dapat cengengesan.

"Hei, bocah geblek Baru segitu saja kau sudah kelenger. Tunjukkanlah
kejantananmu Mengapa segan-segan."

"Edan kowe. Kejantanan itu cuma untuk bini itu pun kalau sudah kawin
nanti. Jadi jangan macam-macam" sahut Pendekar Blo'on. Secepatnya
pemuda itu berdiri lagi. Lalu ketika ia melihat lawan melepaskan
pukulannya. Tidak mau kalah pemuda ini pun lepaskan pukulan

'Kera Sakti Menolak Petir'.

Segulung sinar hitam datang

menggebu-gebu. Setelah itu terdengar suara dentuman keras ketika Suro

mendorongkan kedua tangannya ke depan.

Bocah ajaib ini hanya terhuyung-huyung.

Jalak Seta sendiri selain tubuh menjadi biru terkena pukulannya yang membalik, juga langsung merasa kesulitan untuk bergerak.

Kali ini Pendekar Blo'on dengan

mimik serius, walau pun pada kenyataannya tetap kacau. Kali ini ia
melepaskan pukulan untuk mengakhiri perlawanan Jalak Seta. Pukulan
yang dilepaskannya adalah Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar;
Segelombang sinar redup melabrak

habis Jalak Seta. Laki-laki yang sudah terluka parah ini tidak lagi mampu
menghindar. Ia menjerit kesakitan

bersamaan melayangnya nyawa pembantu Iblis Betina Dari Neraka ini.

Melihat kejadian ini Menak Tandira menjadi kaget sekaligus marah sekali.
Ia melompat ke depan untuk melabrak Suro Blondo. Namun Tenggiling
Kedil mengha-dangnya.

"Eiit... biarkan kawanku beristirahat dulu. Mari kita main-main sebentar.

Jika kau tidak beruntung, tentu

secepatnya kau berangkat ke akherat He he he..." Wiro Suryo terkekeh-
kekeh.

"Manusia konyol keparat Aku akan mengirimmu ke neraka" teriak Menak
Tandira dengan marahnya.

"Boleh saja, tapi bagaimana jika Tuhan malah melemparku ke surga?" ejek
Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil sambil menghindar ke samping.

"Hii..."

Sebagai jawaban Tenggiling Kedil

lepaskan tendangan kaki ke bagian kepala lawan. Namun Suryo sudah
menggelinding dengan kaki dilipat ke kepala.

"Shaaa..."

"Wiih... hebat tapi kurang mantap"

ejek si kakek super pendek lalu kakinya tiba-tiba saja menendang pantat
Menak Tandira.

Buuk

"Aukh..."

Menak Tandira menjerit kesakitan.

Ia memegangi pantatnya yang pasti

langsung berubah membiru. Jalannya pun terpincang-pincang seperti
kerbau habis beranak.

"Keparat betul" geram Menak Tandira.

"Betul-betul keparat" Wiro Suryo menimpali. Secepatnya ia menghindar
ketika tendangan lawan menderu menghantam tengkuk si kakek.

Wuus

"Heh..."

Menak Tandira tersentak kaget

ketika melihat serangan yang sudah terarah pada sasaran ternyata meleset.
Ia rupanya masih belum sadar bahwa si kakek ketika itu telah
mengerahkan jurus Suket Sekilen yang mempunyai keunikan

tersendiri.

Lagi-lagi

dengan marahnya Menak

Tandira melakukan serangan ganas. Sekali ini ia mengerahkan jurus Macan
Luwe yang juga merupakan salah satu jurus yang menjadi andalannya.

"Graaa..." Menak Tandika berteriak seperti suara harimau.

"Panas" si kakek konyol menimpali.

Lawan yang sudah dilanda kemarahan ini sama sekali sudah tidak begitu

menghiraukannya. Tubuhnya tiba-tiba menyambar ke depan, sedangkan
kedua tangannya tertuju lurus ke bagian batok

kepala Tenggiling Kedil. Hanya sekejap saja kakek tua yang sama kocaknya
 dengan Pendekar Blo'on si bocah ajaib itu sudah bergerak ke samping.
Praktis serangan lawan-lawannya tidak mengenai sasaran.

Menak Tandira bukan main kagetnya.

Ia sama sekali tidak menyangka

serangannya akan gagal mengenai sasaran.

Padahal ia telah mengerahkan jurus yang menjadi andalannya. Kini dengan
rasa penasaran yang mendalam, Menak Tandira melangkah maju. Kedua
tangannya bergerak ke depan dan ke samping. Lalu ia

menghantam ke dada Wiro Suryo.

"Nah bocah kerdil. Dia mau memutus tenggorokanmu. Jika lehermu putus
kau bisa dibuatnya mampus" celetuk Suro Blondo sambil cengar-cengir.

"Kalau cuma hanya menonton lebih baik kau tutup mulut rapat-rapat.
Jangan pula kau kentut seperti suara burung perkutut di dalam karung
butut tidak bisa ribut-ribut" Tenggiling Kedil menimpali.

"Hraaa..."

Set

"Hampir saja..." dengus Wiro Suryo.

Lagi-lagi serangan lawan luput. Dan ternyata tokoh kawakan dari Gunung
Sembung ini memang bukan lawan Menak Tandira. Terbukti ketika
Tenggiling Kedil balas melakukan serangan. Ia langsung

saja terdesak dan hanya dapat mengelak seperti babi yang kehilangan nyali.

Menak Tandira akhirnya memutuskan

untuk melepaskan pukulan jarak jauhnya ke arah lawan. Sekejap saja ia
telah

mengalirkan tenaga dalamnya kebagian telapak tangannya.

"Hiya..."

Menak Tandira menghentakkan kedua

tangannya. Dari telapak tangan laki-laki itu meleset sinar kuning berhawa
dingin bukan main. Si Bocah Kerdil langsung melepaskan ajian Pancar
Cahaya. Salah satu pukulan pamungkas yang tidak ada tandingnya.

Sinar putih laksana perak

menghantam sinar kuning yang membuncah di udara.

Akibatnya Menak Tandira bukan saja terhantam pukulan sendiri yang
membalik.

Tapi juga terhantam aji Pancar Cahaya milik Wiro Suryo.

Buum Buum

"Waaakh..."

Menak Tandira menjerit keras,

ketika tubuhnya terhempas ke atas batu, maka jiwanya pun tidak tertolong
lagi.

Plok Plok

"Hebat. Ternyata tidak percuma walau pun tubuhmu pendek memalukan"
puji Pendekar Blo'on.

"Jangan menghina. Tugas masih

banyak atau kau mau memanggang mayat mereka?"

"Hhh, amit-amit"

Dan Pendekar Blo'on pun segera

berlalu meninggalkan mayat kedua lawan mereka.

"Hei... geblek. Tunggu... Aku mau minta gendong" teriak Tenggiling Kedil
sambil mengejar kawan barunya.

6


Pada bagian lain masih di


dalam bangunan Curing Bencana ada sebuah altar tempat melakukan
persembahan kepada pada iblis. Ruangan itu tidak begitu luas. Dengan
penerangan yang redup serta bau-bauan yang khas. Jelas sekali ada kesan
mejik yang mendalam. Di dalam ruangan itulah kini patung laki-laki
perkasa diletakkan. Sementara seorang perempuan bermuka coreng
moreng dan seorang laki-laki tua bermata satu sedang melakukan meditasi.
Di tengah-tengah altar terlihat tujuh orang gadis dalam keadaan terikat
kaki dan tangannya. Jelas sekali mereka dalam keadaan ketakutan, tidak
heran jika sejak tadi mereka terus berteriak-teriak seperti orang yang
kesurupan.

Murid dan guru kini berhadap-

hadapan. Di tengah-tengah mereka terdapat

sebuah pendupaan. Pendupaan itu terus mengepulkan asap tebal menebar
bau kemenyan yang sedemikian menusuk.

Sementara bibir mereka berkemak-kemik.



Patung Perkasa yang sangat

sempurna. Atas bantuan para iblis yang menghuni alam kegelapan, di
dalam hati dan juga yang menyatu dalam pembuluh darah manusia.
Hidupkanlah si perkasa untuk menjadi benteng utama muridku.


Tuntutanmu atas darah perawan akan kupenuhi. Benteng roh... hai
benteng roh... Titiskanlah satu roh ke dalam diri si perkasa Bangkit dan

bangkitlah...


Apa yang diucapkan oleh murid dan

guru ini benar-benar sangat berpengaruh.

Dinding ruangan bergetar hebat. Dari segala penjuru arah angin bertiup

kencang. Lalu.... Sebuah golok besar mirip golok penjagal babi yang
terletak di atas nampan tanah pun tiba-tiba melayang dan memenggal
putus kepala gadis-gadis yang dalam keadaan terikat itu. Darah
menyembur deras. Memancar bagaikan mata air. Darah itu bukan saja
membasahi lantai. Tapi juga sosok

patung laki-laki yang berada di tengah-tengah mereka.

Segalanya kemudian berproses. Mula-mula patung itu mengalami
perubahan pada bentuk kulitnya. Kulit yang berwarna putih itu berubah
menjadi kecoklatan-coklatan. Lalu matanya yang terpejam mengerjab,
tangan, kaki dan bagian-bagian tubuh lainnya bergerak-gerak.

"Lihat..." kata Mustika Jajar tidak dapat menyembunyikan rasa

takjubnya. Tua Tengkorak Mata Api membuka matanya. Ia menoleh ke
arah patung yang telah dihidupkannya.

"Tugasku telah selesai, Tika

Sekarang sudah waktunya bagiku untuk meninggalkan tempat ini dan
kembali ke Cilawu" kata laki-laki berwajah tengkorak itu.

"Mengapa begitu tergesa-gesa, guru?" tanya Mustika Jajar seakan merasa
tidak rela melihat kepergian gurunya.

"Waktuku sangat sempit sekali.

Sejak dulu aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku ingin
menciptakan ilmu-ilmu yang baru. Setelah aku pergi, kau tentu saja dapat
menjajal si Perkasa yang telah hidup sebagaimana halnya kau. Semoga kau
senang berkawan dengannya" Tua Tengkorak Mata Api bangkit berdiri.
Tidak lama kemudian ia memandang ke arah patung yang telah hidup itu.

"Mulai saat ini kau harus mengabdi kepada muridku, Perkasa..." katanya
ditujukan pada patung bernyawa tersebut.

Si Perkasa menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang kaku. Tatapan
matanya yang dingin memandang tajam pada Tua Tengkorak Mata Api.

"Selamat tinggal Mustika Jajar..."

"Guru?"

Terlambat. Tua Tengkorak Mata Api

telah menghilang dari pandangan mata Mustika Jajar. Gadis itu hanya
dapat menggelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Perkasa Coba kau tunjukkan

kehebatan yang kau miliki" perintah Mustika Jajar beberapa saat kemudian
dengan penuh manja.

"Apakah aku harus menghancurkan bangunan ini, tetua?" tanya Perkasa.

Suaranya terdengar begitu serak dan berat.

"Oh... jangan Di luar bangunan ini banyak terdapat batu-batu besar yang
dapat kau pergunakan bahan uji cobamu"

"Sebaiknya kita ke sana, Tetua"

Dengan disertai Perkasa, Mustika

Jajar meninggalkan ruangan itu. Tidak lama sampailah mereka di halaman
luas.

"Kau tinggal memilih, mana yang ingin kau hancurkan lebih dulu, yang
besar atau yang kecil..."

"Aku memilih yang besar"

Ki Alit, Damerta dan Wiku Palawa

ikut menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Perkasa. Sementara laki-
laki yang hanya memakai cawat ini mulai

menggerakkan tangan-tangannya. Hanya dalam waktu yang sangat singkat,
tubuh Perkasa telah mengeluarkan cahaya

kemerah-merahan seperti bara. Suasana di sekitarnya berubah panas.
 Hingga membuat Mustika Jajar dan begundal-begundalnya terkesiap kaget.

"Hiaa..."

Terdengar suara teriakan

menggeledek. Lalu kedua tangan Perkasa dihentakkannya ke depan

Wuut Wuut

Wuus

Tiga bola api melesat dari telapak tangan Perkasa. Kemudian dari
mulutnya yang terbuka melesat pula bola api yang sama. Melesat keenam
sasaran sekaligus.

Ini merupakan sebuah kenyataan yang sangat langka.

Buum Buum

Ledakan-ledakan dahsyat terjadi

berturut-turut hingga membuat suasana seperti mau kiamat saja layaknya.
Batu-batu sebesar kerbau yang terkena pukulan Perkasa hancur berkeping-
keping menjadi serpihan debu. Suasana di sekeliling mereka menjadi gelap
gulita. Damerta, Ki Alit bahkan sempat terpelanting akibat terpengaruh
getaran yang ditimbulkan oleh pukulan itu. Sedangkan Wiku Palawa
tergetar tubuhnya. Ia mempergunakan

tongkatnya untuk tetap bertahan. Mustika Jajar sendiri terpaksa
mengerahkan tenaga dalamnya agar tidak sampai terjatuh.

Perkasa terus mengumbar pukulan-

pukulan dahsyat yang dimilikinya, hingga membuat batu-batu menjadi
porak poranda.

Ledakan-ledakan terus terdengar. Bola api berpijar menghantam sasaran
apa saja yang dikehendaki oleh si Perkasa.

"Cukup Cukup Perkasa..." kata Mustika Jajar.

"Kalau tetua mengatakan sudah cukup, maka aku segera menyudahinya"

sahut Perkasa dalam kegelapan akibat debu-debu yang berterbangan.
Benar saja, Perkasa menghentikan pukulan-pukulan dahsyat yang
dimilikinya. Suasana

kemudian berubah seperti biasa kembali.

Cuma kali ini pemandangan disekeliling mereka benar-benar tidak enak
dilihat mata. Pecahan-pecahan batu bertebaran di mana-mana. Sementara
bila Mustika Jajar memandang ke arah Perkasa. Jelas sekali terlihat bahwa
laki-laki yang hanya memakai cawat ini sama sekali tidak mengalami
kelelahan.

"Kau benar-benar sangat Perkasa sesuai nama yang diberikan guru

kepadamu." puji Mustika Jajar bangga.

"Aku tercipta dari api. Karena itu adalah kekuatan sekaligus asal-usulku.

Untuk kepentingan orang-orang yang

mengabdi pada para iblis. Tidak salah rasanya jika penghulu kegelapan
memberikan yang terbaik pada tetua." jawab si perkasa kalem.

"Penghulu kegelapan?" tanya Wiku Palawa tercengang.

"Penghulu kegelapan adalah rajanya dari seluruh para iblis dan setan."
jelas Mustika Jajar yang memang sudah banyak tahu tentang hal ini.

"Benar... memang dari sanalah asalku Sekarang aku ini bertanya tetua?

Tugas apakah yang harus kukerjakan?"

"Tugasmu tidak sulit Untuk pertama kau mengawalku di mana saja aku pergi.

Sedangkan untuk meneruskan pekerjaan Sugriwa yang tewas di tangan
seseorang kuserahkan pada Damerta dan juga uwa Wiku Palawa. Di
samping bunuh siapa saja yang mencoba merintangi gerakan kita. Aku
yakin mungkin dalam waktu tidak sampai satu purnama, kita telah berhasil

menguasai rimba persilatan di tanah Jawa ini."

"Jika orang-orang itu telah mati semua, kita dapat membuat generasi baru.

Yaitu generasinya para iblis" ujar Wiku Palawa.

"Benar... dan sebaiknya kalian berangkat sekarang untuk menyapu bersih
golongan-golongan yang tidak pernah sejalan dengan kita" kata Mustika
Jajar.

Tidak lama kemudian berangkatlah Damerta dan juga Wiku Palawa. Di
tengah jalan mereka berpisah. Damerta dan Ki Alit bergabung menjadi satu
kelompok. Sedangkan Wiku Palawa melakukan perjalanan seorang diri
menuju ke arah timur.

7


Pamali merasa puas dengan hasil


kerjanya. Ikan-ikan di sungai Citarum menggelepar mati. Itu pertanda
racun Sangkaning Hurip telah bekerja sebagaimana yang diharapkannya.
Ia menarik nafas panjang. Senyumnya mengembang.

"Sugriwa telah mengerjakan sebagian rencana dengan baik. Kematian
menyebar di mana-mana. Siapa yang mampu menghalangi sepak
terjangnya para iblis. Sebagaimana dalam perjanjian para iblis. Setiap
anggota mempunyai tugas untuk menghancurkan seluruh umat manusia di
kolong langit ini. Dan tentu saja sebentar lagi di daerah sungai Citarum ini
kematian akan menjemput setiap makhluk-makhluk yang bernyawa"

"Perbuatan seperti itu memang hanya merupakan perbuatan seorang iblis
Mudah-mudahan kau menjadi petunjukku agar aku dapat menjumpai siapa
 saja yang berdiri di belakangmu, manusia biadab"

"Eeh..." Pamali jelas-jelas terkejut sekali karena tidak menyangka ada
orang lain yang mengetahui perbuatannya.

Ia cepat sekali memutar tubuhnya ke arah datangnya suara. Tapi kemudian ia

tersenyum ketika melihat orang yang baru saja bicara tadi tidak lain hanya
seorang pemuda bertampang tolol berambut hitam kemerah-merahan.
Hanya ada satu hal yang membuatnya heran. Di bagian pinggang pemuda
itu menggelantung tali ikat seperti ujud seorang laki-laki.

"Kau... siapa kau yang sebenarnya?

Cepat pergi dari hadapanku atau kau ingin agar aku membunuhmu?"
bentak Pamali dengan garang. Laki-laki berbaju hitam bersenjata pedang
dan lipan-lipan berbisa ini maju dua tindak ke depan si pemuda.

Suro Blondo seka jidatnya. Lalu

menggaruk-garuk rambutnya yang hitam kemerah-merahan.

"Ini juga salah satu dari iblis itu? Kau pantas memberinya pelajaran kalau
perlu membunuhnya sekalian Tapi kau harus berhati-hati" Wiro Suryo
yang dapat merubah tubuhnya menjadi pipih dan tetap menggelantung di
pinggang Suro Blondo tidak bedanya dengan ikat pinggang ini memberi
peringatan.

"Beres" sahut Suro Blondo. Pamali yang tidak sadar bahwa saat itu
Pendekar Blo'on sedang bicara dengan bayi

bangkotan itu tentu saja merasa heran





mendengar ucapan si pemuda bertampang tolol yang cukup keras.

"Keparat Cepat katakan siapa kau?

Jangan hanya bilang beres-beres saja"

bentaknya garang.

"Bagaimana Tenggiling Kedil? Apakah aku harus menjawabnya?"

"Katakan saja, begok. Mengapa harus tanya aku? Lama kelamaan ia bisa

menganggapmu seperti orang gila. Karena dia memang tidak dapat
melihatku"

"Goblok Kau juga sama tololnya seperti aku" maki Suro Blondo. Pamali
tentu saja menganggap pemuda berambut hitam kemerahan itu
menghinanya sehingga membuatnya semakin bertambah marah.

"Rupanya kau benar-benar membuat hilang kesabaranku Sekarang
rasakanlah tinjuku ini"

Belum selesai dengan ucapannya,

Pamali telah menghantam dada Suro Blondo.

Pemuda ini yang memang telah bersikap waspada sejak dari tadi segera
berkelit menghindar sambil berjingkrak-jingkrak seperti seekor monyet
yang baru saja mendapatkan anaknya. Hantaman tinju yang menggeledek
itu luput dari sasarannya.

Kenyataan ini sudah cukup untuk membuka mata Pamali. Ia terkejut,
'Kepalan Naga Merah' sebagaimana yang diyakininya selama ini bukan
merupakan pukulan yang dapat dianggap enteng, karena selain


mengandung tenaga dalam tinggi, juga mengandung racun yang sangat
ganas. Daya hancurnya setara dengan bisa kelabang-kelabang merah yang
menjadi senjata rahasianya

"Rupanya kau mempunyai kepandaian juga, eeh...? Tapi di hadapanku kau
tidak dapat bertingkah lebih jauh lagi. Kau akan mati di tanganku" Pamali
menggeram marah.

Deb Bet

"Huyaa"

Sambil berteriak nyaring, Pamali

memutar tubuhnya setengah lingkaran.

Setelah itu ia melompat ke depan sambil melancarkan serangan-serangan
keras mematikan.

"Kerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'..." Wiro
Suryo memberi aba-aba. Pendekar Blo'on sempat terkejut juga mendengar
ucapan Tenggiling Kedil. Karena sama sekali ia tidak menyangka bahwa
sahabat yang baru dikenal dan wajahnya selalu memancarkan cahaya putih
berkilau ini dapat mengetahui jurus-jurus yang dimilikinya. Sungguh pun
demikian, ia merasa tidak punya

kesempatan untuk berfikir lebih jauh lagi.

"Hait Heaaa..."

"Nguk..."

Dengan lenturnya Suro Blondo bergerak menghindari serangan-serangan
 ganas yang datang bertubi-tubi. Sesekali ia terhuyung sambil menggaruk-
garuk badannya, lalu melompat-lompat. Sungguh pun gerakan-gerakan
yang dilakukannya tidak jauh bedanya dengan gerakan monyet.

Tapi hingga sampai sejauh itu lawan masih belum dapat menjatuhkannya.

"Keparat, kunyuk hina..."

"Jangan hanya ngebacot Nih makan tinjuku"
Buuk Jrot

Dengan gerakan yang sangat sulit

diikuti kasat mata. Suro Blondo berhasil menghantam hidung Pamali
hingga

mengucurkan darah. Lawan menggeram penuh kemarahan. Laksana kilat
ia melakukan serangan balik.

"Huup..."

Duuk Duuk

"Wuagkh..."

Suro Blondo sempat terhuyung-

huyung begitu jemari tangan lawannya menyodok dada. Tapi ternyata
 jemari tangan Pamali yang mengandung racun itu tidak membawa akibat
apa-apa bagi Suro, sehingga membuat lawannya jadi bertambah kaget saja.
Tidak heran, karena ketika digembleng oleh gurunya Penghulu Siluman
Kera Putih di Gunung Mahameru. Suro Blondo memang digodok di dalam
sumur beracun yang di dalamnya juga berkeliaran

ular merah dalam jumlah yang tidak terhitung. Itu sebabnya ia kebal
terhadap semua jenis racun.

Jika Pamali sempat tercengang-

cengang melihat lawan dalam keadaan segar bugar.

Sebaliknya Wiro Suryo yang memiliki tinggi badan tidak sampai setengah
meter itu malah tidur mendengkur sambil

bergelayutan di pinggang Suro Blondo.

"Ha ha ha... keluarkan apa aja yang kau miliki Jika kau sudah kubekuk.
Tidak ada jalan lain bagimu untuk menyelamatkan diri terkecuali
menunjukkan di mana tempat tinggal tetuamu" Melihat lagak Suro Blondo
yang petantang-petenteng.

Pamali semakin bertambah berang.

"Makanlah nih."

Pamali tiba-tiba merogoh sesuatu

dari balik bajunya. Begitu tangannya dihantamkan ke arah lawannya. Maka
enam buah benda berwarna merah dan cukup panjang melesat ke arah si
pemuda. Pemuda tampan bertampang tolol ini masih sempat melihat
bahwa lawannya menyambitkan kelabang-kelabang berbisa ke arahnya. Ia
tidak tinggal diam. Dengan cepat ia melepaskan pukulan 'Ratapan
Pembangkit Sukma'. Inilah salah satu pukulan yang diwariskan oleh kakek
merangkap gurunya, yaitu Malaikat Berambut Api, manusia sakti berwatak
aneh yang tinggal di pulau

Seribu Satu Malam. Angin kencang laksana badai topan menderu,
menggulung apa saja yang dilaluinya. Bersamaan dengan

menderunya gelombang angin kencang tersebut terlihat sinar putih laksana
salju. Udara dingin terasa sedemikian mencucuk. Lalu.... Terdengar enam
kali dentuman menggelegar berturut-turut.

Senjata rahasia yang disambitkan Pamali hancur berkeping-keping. Lebih
dari itu kaki tangan Iblis Betina Dari Neraka ini sempat

terpelanting. Dari mulut dan

hidungnya menyembur darah kental. Sekujur badan Pamali berubah
memutih setengah membeku. Pamali merasa tubuhnya seperti dibenamkan
di lautan es. Lebih celaka lagi ia tidak dapat menggerakkan

badannya, sungguh pun ia telah

mengerahkan hawa murni untuk melenyapkan pengaruh dingin yang bersumber dari pukulan yang dilepaskan oleh Suro Blondo.

"Bangsat pengecut" Pamali memaki.

Sementara itu Suro Blondo hanya

cengar-cengir. Seraya berjalan mendekati lawannya yang dalam keadaan
kepayahan itu.

"Bagaimana Wiro Suryo Apakah kita harus membunuhnya atau mengajak
dia menemui atasannya?"

"Jika kau tidak mau disebut sebagai pendekar pengecut Sebaiknya kau
biarkan hidup saja. Kita dapat memanfaatkannya

untuk kita jadikan penunjuk jalan. Kalau kau setuju, tentu saja nasibnya
akan lebih baik..." sahut Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil lalu tertawa
membahak.

"Sialan kau bayi bangkotan. Kau bukan membantuku, tapi malah menjadi
bebanku"

"Ah... jangan begitu sobat Hidup delapan puluh tahun aku sudah lebih
berjalan. Apa salahnya sekarang aku menumpang di pinggangmu, tokh
 beratku seperti kapas Ha ha ha..."

"Gila betul..."

Pamali sungguh pun dalam keadaan

setengah sadar masih sempat mendengar ucapan si pemuda yang
tampaknya seperti sedang bicara dengan seseorang. Tapi ia sama sekali
tidak melihat siapa orang yang diajak bicara oleh pemuda yang telah
menjatuhkannya. Sehingga dalam hati ia berkata.

"Pemuda bertampang tolol berambut hitam kemerahan ini mempunyai
ilmu tinggi. Inikah orangnya yang dikatakan tetua sebagai Pendekar Blo'on.

Tapi... mengapa ia bicara seorang diri?

Kurasa ia pemuda sinting."

"Jangan cuma menggerutu. Sekarang sudah waktunya bagimu untuk
membawaku kepada tetuamu" Sungguh pun Pendekar Blo'on bicara
dengan serius. Tapi

tampangnya tetap saja lucu sehingga

membuat lawannya tetap bertahan.

"Tidak seorang pun yang dapat memaksaku, Aku tidak mau menunjukkan
tempat kediaman tetuaku"

"Kurang ajar Dalam keadaan hampir mati membeku, rupanya kau tetap
keras kepala juga, ehh...? Jika kau tetap menolak, maka aku akan
memotong kuping dan hidungmu Bagaimana apakah kau masih tetap
membangkang?" gertak si pemuda.

"Jangankan baru kuping dan hidung.

Sungguh pun aku harus mempertaruhkan leherku aku tidak takut"

"Bagaimana ini Tenggiling Kedil. Ia tetap membangkang Apakah kau mau
telinga dan hidungnya orang jelek ini?" tanya Pendekar Blo'on melalui ilmu
menyusupkan suara.

"Siapa sudi" dengus Wiro Suryo melalui ilmu menyusupkan suara juga.

"Telinganya congekan, sedangkan hidungnya banyak upilnya. Kalau kau
suka yang asin-asin dan yang pahit sebaiknya kau saja yang makan"

"Gila kau Aku lebih suka memenggal kepalanya untuk kuhadiahkan pada
tetua orang ini."

"Kalau begitu lakukanlah, kurasa Mandau milikmu sudah saatnya keluar
dari rangkanya" Tenggiling Kedil yang dapat membentuk badannya
menjadi bulat macam tenggiling mendukung.

Pendekar Blo'on kembali menghadap

ke arah Pamali. Ia memegang gagang mandau berbentuk seperti patung
pertapa itu di balik bajunya. Tidak lama kemudian ia berkata pelan, namun
pasti.

"Jadi kau tetap tidak mau merubah pendirianmu?"

"Tidak"

Singg

Terdengar suara mendengung ketika

Pendekar Blo'on mencabut senjatanya yang berbentuk aneh dan
mempunyai lubang pipih pada bagian tengahnya ini. Senjata berwarna
hitam ini

mempunyai ujung

runcing ganda. Dan dapat mengeluarkan berbagai jenis suara bila
pemiliknya mengerahkan tenaga dalam pada senjata itu. Pamali hanya
dapat membelalakkan matanya ketika senjata maut itu

menghantam batang lehernya.

Hiiiiiik...

Crees Dheel

Kepala Pamali menggelinding, batang lehernya yang terputus
menyemburkan darah segar. Kepala itu ditenteng oleh Suro Blondo.


"Tampangmu geblek, tapi kau sadis juga" Wiro Suryo mengomentari.

"Hhh, jika kebaikan tidak mampu mengatasi dalam menegakkan
kebenaran.

Terkadang kita juga perlu ketegasan.

Sudahlah, sebaiknya kau merat dari pinggangku" kata si pemuda
mengungkit-ungkit persoalan Wiro Suryo yang terus mengikutinya.

"Jangan cerewet Ha ha ha... Pada saatnya nanti aku akan pergi dengan
sendirinya"

Sambil menenteng kepala Pamali.

Suro Blondo mengayunkan langkahnya menelusuri padang ilalang yang
cukup luas.

8


Damerta dan Ki Alit tiba-tiba


tersentak kaget ketika melihat ada potongan kepala melayang ke arahnya.

Mereka lebih terkejut lagi setelah diperiksa ternyata potongan kepala itu
tidak lain merupakan potongan kepala kawan mereka sendiri.

"Pamali? Apa yang telah terjadi dengannya?" desis Ki Alit dengan perasaan
kecut bercampur rasa geram. Damerta lain lagi, karena kepala itu bagian
wajahnya menghadap ke arahnya. Di samping itu mata Pamali melotot dan
lidahnya terjulur.

Tentu saja ia cepat melangkah mundur, lalu memalingkan wajahnya ke
arah lain.

"Siapa pun yang telah membunuhnya tentu dia memiliki kepandaian yang
sangat tinggi" desis Damerta kemudian.

"Apa yang harus kita lakukan? Tugas


kita belum beres, apakah salah seorang dari kita harus melaporkan
kejadian ini kepada tetua?"

Damerta terdiam, keningnya berkerut dalam. Ia sendiri merasa heran.
Karena seingatnya Pamali, tokoh sesat dari tenggara ini selain memiliki
kelabang beracun juga mempunyai ilmu pedang yang sangat tinggi. Jurus
Inti Pamungkas adalah salah satu yang sangat

diandalkannya. Jika seseorang mampu membunuhnya. Tentu orang itu
memiliki kepandaian jauh di atas Pamali.

"Huh, hanya orang yang sudah bosan hidup saja yang begini gegabah

membunuhnya..."

Belum sempat Ki Alit meneruskan

kata-katanya. Dari atas bukit di sebelah kanan mereka tiba-tiba saja
menggelinding batu-batu besar disertai gelak suara seseorang.

"Sahabatku Tenggiling Kedil

Lihatlah para iblis yang pada

kebingungan. Melihat kawannya mati mereka hanya dapat sesumbar,
 bingung-bingung sambil menggaruk kepala. Jika mereka merupakan kaum
yang berfikir. Tentu saat ini mereka sudah harus menggali lubang untuk
kubur kawannya dan kubur mereka sendiri"

"Lha dalah... sialnya nasibmu dan nasibku, Pendekar Blo'on. Setiap
bertemu dengan para iblis kita hanya mendapatkan cecurutnya. Biangnya
iblis belum juga kita dapatkan. Apakah kita harus

menggebuknya sampai mampus?"

Lalu terdengar suara tawa ha-ha-he-he. Sementara mereka yang berada di
bawah bukit sibuk selamatkan diri dari

terjangan batu-batu yang dijatuhkan oleh Suro Blondo. Maka Wiro Suryo,
bayi bangkotan yang selalu menggandul di pinggang Suro Blondo
melompat dan berdiri di samping pemuda berambut kemerahan itu.

Tinggi badannya yang tidak sampai setengah meter itu memang selalu

mengundang tawa bagi Suro Blondo. Karena pada dasarnya mereka
memang sama-sama konyol. Tidak heran jika mereka kelihatan begitu
cocok antara satu dengan yang lainnya.

"Manusia kurang ajar yang di atas bukit Apa keinginan kalian sehingga
menyerang kami begini rupa?" bentak Ki Alit setelah selamat dari
timpahan batu-batu. Pendekar Blo'on tidak langsung menjawab, melainkan
menoleh ke arah laki-laki super pendek yang berdiri di

sebelahnya sambil garuk-garuk kepala.

"Mereka bertanya apa keinginanmu, Tenggiling Kedil Hayo coba terangkan
apa yang kau inginkan dari mereka?"

"Goblok Aku ini hanya penonton, kau yang punya urusan dengan mereka.

Kalau kau melihat sekian ribu jiwa tewas akibat ulah mereka, apakah
menurutmu nyawa mereka sudah setimpal untuk

membayar hutang-hutang nyawa mereka?"

"Untuk membayar bunganya saja belum cukup. Tapi alangkah baiknya kita
ajak bicara dulu mereka sambil minum air sungai beracun" kata Suro
Blondo lugu.

"Sinting... Kepada musuh tidak perlu diajak bicara. Mereka dapat

melicikimu. Lebih baik aku yang

mendatangi mereka dulu setelah itu kau baru menyusul..."

Belum sempat Suro Blondo mengatakan sesuatu, Wiro Suryo alias
Tenggiling Kedil itu telah melipat badannya dalam posisi sedemikian rupa.
 Tubuh Wiro Suryo benar-benar berubah bulat macam buah jeruk. Seperti
seekor tenggiling ia menggelinding menuruni bukit.

Damerta dan Ki Alit tentu saja

terkejut karena menyangka ada batu-batu lagi yang sengaja dilemparkan
oleh si pemuda di atas bukit sana. Untuk itu keduanya langsung memasang
kuda-kuda untuk mempertahankan diri dari serangan.

"Gila... benda bulat ini bagaimana mungkin dapat menyerang begini rupa?"

batin Damerta sambil menghindari Wiro Suryo yang telah melipat
badannya hingga berubah bulat sedemikian rupa.

"Hei..."





Ki Alit berkelit menghindar saat

Wiro Suryo menerjangnya. Tapi apa yang dilakukannya masih kalah cepat
dengan gerakan Wiro Suryo. Tidak ayal lagi.

Buuk

"Heekgh..."

Ki Alit terhuyung-huyung. Kini

Tenggiling Kedil berbalik menyerang Damerta. Laki-laki ini sempat
terkejut beberapa saat tadi. Karena ia melihat benda bulat yang bagaikan
jeruk itu menghantam Ki Alit dengan mempergunakan tangannya yang
cukup pendek.

Duk Duuk

"Hiya..."

"Ha ha ha..."

Dalam keadaan sulit bernafas, tiba-tiba Damerta melihat seorang pemuda
bertampang tolol telah berdiri di

belakang mereka sambil berkacak pinggang.

"Kau... manusia super kerdil...

Kita telah tertipu oleh orang-orang yang tolol" maki Ki Alit setelah melihat
benda yang menyerangnya tadi ternyata merupakan laki-laki berbadan
tidak sampai satu meter, berjenggot serta berkumis putih. Yang membuat
mereka sempat

terkesima adalah karena wajah orang aneh di depan mereka memancarkan
cahaya berwarna putih laksana perak. Silih berganti mereka memandang
ke arah Suro Blondo dan Wiro Suryo. Tiba-tiba mereka





tertawa geli melihat wajah Wiro Suryo dan Suro Blondo. Wajah pemuda
berambut kemerahan di depannya, sungguh pun tampan, namun terkesan
seperti orang tolol. Sedangkan bila melihat ke arah laki-laki super pendek
dengan tinggi tidak lebih dari anak berumur satu tahun, lebih parah lagi.
Hanya yang tua ini sungguh pun tampangnya seperti orang bego namun
memancarkan cahaya yang menak-jubkan.

"Orang-orang goblok darimanakah kalian? Kalian tidak ubahnya seperti
badut. Jadi karena melihat tampang kalian yang begini lucu, kami sungguh
pun telah kalian serang masih ada kesempatan bagi kalian untuk hidup
lebih lama" kata Damerta sambil tertawa lebar. Lain halnya dengan Ki Alit
yang agaknya lebih teliti dan mengingat pesan tetua mereka. Kakek tua
yang mempunyai badan super pendek memang sama sekali tidak
dikenalnya. Tapi pemuda bertampang tolol berambut hitam kemerah-
merahan dan berbaju biru ini mana bisa dia lupa.

"Ciri-ciri yang disebutkan oleh Mustika Jajar sama persis dengan ciri-ciri
yang dimiliki pemuda ini." Sehingga dengan cepat ia memotong.

"Tidak bisa Yang kerdil boleh saja merat dari hadapan kami. Tapi kau
pemuda berambut merah... Kau harus tinggal di





sini dan menyerahkan diri dengan

sukarela" tegas Ki Alit serius sekali.

"Bagaimana ini, Tenggiling Kedil?

Ternyata mereka lebih suka padamu dari pada denganmu" kata Suro
Blondo melalui ilmu mengirimkan suara. Tapi kepada Damerta dan Ki Alit
kata-katanya berubah tegas dan penuh ancaman.

"Rupanya kita mempunyai tujuan yang sama. Kau memintaku dan aku
sesungguhnya memang menginginkan nyawa kalian"

"Apakah kau manusianya yang bernama Suro Blondo dengan gelar
Pendekar

Blo'on?" tanya Ki Alit ingin memastikan dugaannya.

"Benar Akulah orangnya." sahut si pemuda.

"Bagus... tidak bersusah payah rupanya kami mencarimu. Tidak kami kira
kau datang menyerahkan diri dengan sukarela." kata Damerta. Laki-laki
yang sangat dikenal dengan jurus-jurus tangan kosongnya ini langsung
bergerak mengurung buruannya dari arah kanan. Suro Blondo tetap
tenang. Malah ia sempat tersenyum, kemudian menyeka keringat yang
mengalir di keningnya.

"Melihat kalian telah mengenalku, dan aku belum mengenai kalian pada
waktu sebelumnya. Tentulah orang yang berdiri di belakang kalian
merupakan Iblis Betina Dari Neraka, bukan?"





Sungguh pun Suro Blondo hanya

bersifat menduga-duga saja, tapi melihat calon lawannya sempat berubah
air mukanya. Maka kini Pendekar Blo'on sudah dapat memastikan bahwa
dugaannya itu benar.

"Kau tidak perlu tahu siapa tetua kami. Sekarang kau tinggal memilih
apakah ingin menyerah secara baik-baik atau memilih jalan kekerasan?"
kata Ki Alit.

Seraya lalu mencabut senjatanya yang berbentuk aneh. Melengkung seperti
bulan sabit. Namun mempunyai ujung pengait bagaikan mata tombak.

"Tampaknya di antara kita memang sama-sama menghendaki kekerasan."
dengus Suro Blondo. Ia kemudian berpaling ke arah Wiro Suryo, tapi
rupanya laki-laki bangkotan berbadan super kerdil ini telah menyerang
Damerta dengan mengandalkan jurus-jurus Tenggiling Kedilnya.

"Ha ha ha... Cocok bukan, kita berhadapan satu lawan satu" kata Ki Alit
tetap menganggap remeh lawannya.

Tidak perlu berkata lagi, Suro

Blondo langsung menyerang lawannya dengan mengandalkan jurus 'Kera
Putih Memilah Kutu'. Ki Alit langsung tersenyum

mengejek melihat jurus konyol yang dimainkan oleh si pemuda. Ia dapat
memastikan tidak sampai tujuh jurus tentu pemuda berambut hitam
kemerahan itu dapat dirobohkannya. Apalagi ia sekarang memegang
senjata andalannya.





* * * *



Untuk itu ketika ia membuka

serangannya, Ki Alit langsung mengerahkan

'Memanah Rembulan Bintang Berguguran'.

Senjata berbentuk bulan sabit di

tangannya dan memiliki sisi lain yang sangat runcing lagi tajam menyodok
sekaligus membabat perut Suro Blondo.

Dengan gerakan yang sangat indah bagaikan monyet yang sedang bersalto.
Pendekar Blo'on berkelit menghindar.

Wuuk

Serangan luput. Ki Alit kembali

menghantamkan senjatanya sekaligus melepaskan satu tendangan telak ke
dagu lawannya.

"Hait Hampir ambrol perutku"

desis Suro sambil melakukan serangkaian liukan indah. Dua kali serangan
gencarnya menemui sasaran kosong. Sudah cukup membuka mata Ki Alit
bahwa lawannya benar-benar tidak dapat dianggap sepele.

Ia pun membuka jurus baru 'Menumpas Badai Topan'. Ini merupakan
salah satu jurus terhebat yang dimiliki oleh Ki Alit.

Rupanya ia benar-benar menyadari bahwa lawannya tidak dapat dianggap
main-main. Hanya dalam waktu sepuluh jurus di depan, serangan-
serangan Ki Alit berubah cepat dan sangat mematikan sekali. Di mata Suro
senjata lawannya tampak berubah menjadi banyak. Ia tentu saja tidak mau
bertindak ayal-ayalan lagi. Apalagi orang yang dihadapinya merupakan
kaki tangan musuh bebuyutannya. Kini ia mempergunakan jurus Seribu
Kera Putih Mengecoh Harimau.

Diiringi dengan suara teriakan melengking tinggi. Suro Blondo berkelebat
lenyap.

Dalam penglihatan Ki Alit tubuh lawannya berubah menjadi tidak
terhitung. Kemana pun ia berusaha membabatkan senjatanya.

Tetap saja tidak mencapai sasaran. Ki Alit semakin marah, kedua
rahangnya bergemeletukan. Sedangkan bibirnya terkatup rapat.
Menghadapi kenyataan sedemikian rupa, tangan kirinya melepaskan
pukulan secara beruntun ke arah lawannya.

Seleret sinar hitam melesat dan

menghantam setiap bayangan lawannya yang bergerak cepat bagaikan
setan.

Buum

Salah satu pukulan di antara sekian banyak pukulan yang dilepaskannya

menghantam Suro Blondo. Hingga membuat pemuda itu jatuh terjengkang.
Sudut-sudut bibir Suro Blondo mengalirkan darah.

Sebelum ia sempat berdiri sepenuhnya.

Lawan telah menghunuskan senjatanya ke bagian perut pemuda itu. Ia
terkesiap





namun cepat membuang tubuhnya ke kiri sambil lepaskan satu tendangan
telak ke arah kaki Ki Alit. Tidak menyangka lawannya yang dalam keadaan
terjepit itu masih dapat melepaskan serangan balasan.

Sedapat-dapatnya Ki Alit menghindar. Tapi gerakannya kalah cepat.

Buuk

"Aaaa..." Ki Alit terpincang-pincang, rasa sakit akibat tendangan Suro
Blondo terasa sampai ke otaknya.

Suro Blondo bangkit berdiri. Masih dalam keadaan terhuyung-huyung
senjata lawannya kembali menderu, menusuk ke bagian iganya. Suro
melompat ke samping, tapi lawan masih sempat menghantam
punggungnya. Sungguh pun Pendekar Blo'on dapat menghindari serangan
senjata yang sangat mirip dengan pengait serta gancu itu.

Untuk yang kesekian kalinya, Suro

terpelanting lagi. Punggungnya yang terkena pukulan lawannya terasa
panas seperti terbakar. Sementara dari

hidungnya mengalir darah kental. Jelas sekali pemuda ini menderita luka dalam,

"Goblok Mengapa kau biarkan dirimu menjadi bulan-bulanan lawan
Kerahkan kepandaian yang kau miliki" terdengar suara seperti lebah
mendengung di

telinganya. Dan suara itu jelas suara Wiro Suryo.





"Enak saja kau bicara Karena kau mempergunakan ajian 'Suket Sekilen',
makanya dapat mempecundangi lawanmu tanpa lawan tahu posisimu di
mana. Sedangkan aku mana bisa menghilang seperti setan, tolol?" Suro
Blondo balas memaki. Tapi kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh
manusia super kerdil itu memang ada benarnya. Pendekar Blo'on segera
bersiap-siap melepaskan pukulan 'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar'.

Sementara itu pertarungan antara

Wiro Suryo dengan Damerta memang

berlangsung tidak seimbang. Diawal jurus-jurus pertama Damerta memang
dapat mendesak bahkan menghajar lawannya sampai tunggang langgang.
Keadaan itu tentu saja membuat Damerta menjadi senang bukan main
mempermainkan bocah bangkotan berbadan pendek ini. Namun menjelang
pertarungan berlangsung duapuluh jurus.

Keadaan benar-benar sangat berubah.

Terlebih-lebih setelah Wiro Suryo

mempergunakan ajian 'Suket Sekilen'. Maka terkadang tubuh Wiro Suryo
lenyap dari penglihatan Damerta. Dalam keadaan sedemikian rupa tentu
saja Wiro Suryo yang tidak kalah konyolnya dengan Suro Blondo langsung
menelanjangi Damerta.

Karena lawan memang tidak terlihat maka sulit bagi Damerta untuk
menentukan di mana posisi lawannya. Sementara

tindakan Wiro Suryo semakin kurang ajar saja.

Disentilnya ketimun milik lawan,

hingga membuat Damerta melonjak-lonjak kesakitan seperti monyet kebakaran ekor.

Dilain saat Wiro Suryo menampar pipi lawannya kanan kiri hingga
membuat Damerta keliengan. Maka mengamuklah Damerta seperti orang
gila. Pukulan-pukulan maut dilepaskannya secara seram-pangan. Hingga
membuat suasana di

sekeliling mereka menjadi porak poranda.

Karena lawannya yang dapat menghilang itu tidak ditemukan juga. Maka ia
sekarang ikut menyerang Pendekar Blo'on.

"Hei... Wiro Suryo. Sekarang kau malah membiarkan lawanmu yang
telanjang itu berkeliaran menyerangku. Apakah kau tidak sanggup
mengamankannya?" gerutu Suro Blondo berbisik.

"Wah... tenang sobat. Tampaknya ia sangat frustasi karena tidak berhasil
mendapatkan aku. Lihatlah aku

istirahatkan dia..." kata Tenggiling Kedil.

Dan benar saja, dalam beberapa saat kemudian tubuh Damerta dalam
keadaan kejang kaku karena ditotok oleh Wiro Suryo.

"Bagaimana, hebat nggak" Bocah bangkotan yang sudah memperlihatkan
diri kembali itu tersenyum. Suro Blondo

menggerutu. Pada saat ia sedang

menghadapi tekanan-tekanan berat dari lawannya,

masih juga Wiro Suryo

memperoloknya.

"Hiya Jebol perutmu, anak tolol"

Wuus

Luput lagi. Suro melompat setinggi pinggang lalu menendang dagu
lawannya dengan telak.

Thaak

Bruuk

Ki Alit terjengkang ke belakang.

Sama sekali ia tidak mengeluh. Malah dengan cepat ia telah bangkit
kembali.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Suro Blondo untuk melepaskan pukulan
'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar' untuk yang kedua kalinya.

"Heaaa..."

Weer Weer

"Uuts..."

Dalam kesempatan yang sama untuk

melindungi dirinya dari ancaman sinar redup bersemu biru yang melesat
dari telapak tangan Suro Blondo ini. Ki Alit juga melepaskan pukulan 'Wisa
Biru'.

Sebagaimana namanya, maka dari setiap ujung jemari Ki Alit melesat lima
larik sinar berhawa panas menggidikkan. Dua pukulan

sakti saling menyongsong dan

akhirnya bertemu di udara.

Blaar Blaar

Badan Suro Blondo tergetar keras,

sedangkan Ki Alit sendiri sempat

terdorong mundur. Wiro Suryo jatuh tunggang langgang dan Damerta
melolong keras terkena sambaran pukulan yang dilepaskan oleh kawan dan
lawannya. Laki-laki itu jatuh terduduk.

"Edan..." Wiro Suryo yang baru dapat berdiri memaki. Sementara Pendekar
Blo'on sendiri telah melepaskan pukulan susulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'.

Inilah salah satu pukulan hebat yang diwariskan oleh kakek gurunya
'Malaikat Berambut Api'. Angin kencang laksana topan menderu disertai
menebarnya hawa panas bukan kepalang. Ki Alit terkesiap, lalu memutar
senjata di tangan sambil melepaskan pukulan untuk mencegah

terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan-nya. Tapi celaka, pukulan yang

dilepaskannya membalik dan menghantam diri sendiri. Belum lagi
ditambah dengan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma' yang terus
menderu tidak terbendung. Pada akhirnya pukulan itu menghantam telak
tubuhnya.

Maka terdengarlah dua jeritan

sekaligus, bukan hanya Ki Alit saja yang tewas seketika terkena pukulan
tersebut, Damerta yang terkena sambaran pukulan lawannya juga tewas.
Hanya saja keadaan Damerta tidak begitu mengerikan

dibandingkan mayat Ki Alit.

"Weii... edan kau Suro Seharusnya kau tidak membunuhnya. Musuhku tadi
pasti mau menunjukkan di mana markas tetuanya"

"Semestinya kau membiarkan Damerta berdiri mematung di dekat ajang

pertempuran. Lagi pula aku sudah dapat meraba dimana kira-kira Mustika
Jajar berada" sahut Suro Blondo.

"Kau yakin dia yang telah melakukan semua ini?"

"Aku hanya menduga, tapi semoga ada kebenarannya"

"Mari kita berangkat"

Lagi-lagi Wiro Suryo melompat dan

bergelantungan di pinggang si pemuda hingga membuat Suro Blondo
menjadi marah

"Jika urusan ini selesai. Kuharap kau tidak merepotkan aku lagi. Aku muak
melihat benalu sepertimu"

"Ha ha ha..."

Wiro Suryo hanya tertawa mengekeh.

9


Perjalanan menuju ke tempat


kediaman gembong iblis ternyata tidak semudah yang dibayangkan oleh
Suro Blondo. Karena selain harus naik turun bukit. Juga terlalu banyak
jebakan yang sewaktu-waktu dapat mencelakakan dirinya.

Dalam keadaan harus selalu siap waspada

ini. Wiro Suryo berulang kali malah mengejek Pendekar Blo'on. Dan tentu
saja dengan banyolan-banyolannya yang lucu.

"Pendekar sepertimu, alangkah semakin bodohnya jika sampai termakan
 oleh tipuan yang dibuat oleh iblis itu"

"Diamlah benalu. Kalau tidak mau diam, kau akan kucampakkan ke jurang
 sana. Eeh... sekarang di sebelah mana lagi kira-kira Iblis Betina Dari
Neraka memasang perangkap?"

"Kalau matamu tidak bisa mencari.

Lebih baik kau pergunakan hidungmu untuk mengendus-ngendus seperti
anjing.

Kemudian menyalak tiga kali dan semuanya akan beres Ha ha ha..." kata
Wiro Suryo.

"Berhentilah kau bercanda bayi bangkotan. Jika aku salah langkah, kaupun
ikut mati." dengus Suro Blondo sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Sementara itu, Wiku Palawa yang

pergi menuju arah timur sampai di tengah perjalanan rupanya perasaannya
tidak enak. Ia seperti punya pirasat ada sesuatu yang tidak beres telah
terjadi pada kawan-kawannya. Sebagai tokoh angkatan tua yang sudah
sangat

berpengalaman. Biasanya pirasatnya itu selalu menjadi kenyataan. Untuk
itu, tanpa membuang-buang waktu lagi. Ia segera berbalik langkah
kemudian berlari cepat menuju Curing Bencana. Dugaannya ternyata
benar, karena ketika ia hampir mencapai bangunan yang menjadi markas
sekaligus tempat tinggal tetuanya. Ia melihat seorang pemuda berambut
hitam kemerah-merahan menyelinap di balik taman di luar tembok. Hanya
ia agak heran karena pemuda itu seperti sedang

bercakap-cakap dengan seseorang. Padahal ia hanya melihat hanya
pemuda itu saja tanpa disertai oleh orang lain.

"Mungkin dia orang yang tidak waras. Tapi siapa pun yang telah masuk ke
daerah ini, apalagi telah berani memasuki daerah bangunan Curing
Bencana. Ia pantas diseret untuk mempertanggungjawabkan semua
perbuatannya."

Berbekal dengan keyakinannya, Wiku Palawa langsung mencegat langkah
Pendekar Blo'on.

Sraaak

Hanya dengan mengandalkan gerakan

yang cukup cepat. Dalam waktu sekejap Wiku Palawa telah berada di
hadapan Suro Blondo. Pendekar Blo'on sempat terkejut juga. Lalu berbisik:
"Nampaknya kita mengalami gangguan. Jalan kita tidak mulus, lihat ada
keledai gundul di depan"

"Dia bukan tuyul, bukan pula

pendeta atau biksu dari vihara. Pastilah

dia kawannya para iblis. Jangan banyak tanya, sikat saja" kata Wiro Suryo
memberi semangat.

"Siapakah kau kisanak?" tanya Wiku Palawa,

"Kau dengar, Tenggiling Kedil. Dia bertanya padaku, apakah aku tidak usah
menjawabnya?" Suro Blondo lalu menyeka keningnya.

"Sudah kubilang sikat saja Kalau perlu kasih satu jawaban saja sudah
cukup"

"Ditanya malah cengengesan. Apakah kau orang gila?"

"Kawanku bilang aku cuma bisa kasih satu jawaban saja. Aku datang
kemari untuk mencari biang penyebar racun sekaligus membunuhnya" kata
Suro Blondo.

"Kaukah yang berjuluk Pendekar Blo'on?" pancing Wiku Palawa lebih jauh.

Sebagaimana yang dikatakan oleh

Wiro Suryo tadi. Maka Pendekar Blo'on tanpa berkata apa-apa lagi
langsung menyerang Wiku Palawa.

"Hati-hati kau. Manusia gundul yang satu ini termasuk salah satu pentolan
di Curing Bencana." Wiro Suryo mengingatkan.

Tidak tanggung-tanggung. Suro

Blondo langsung mengerahkan jurus Tawa Kera Siluman. Wiku Palawa
yang semula menganggap remeh lawannya jadi terkejut.

Terlebih-lebih setelah mendapatkan

kenyataan sambil melakukan serangan-serangan dahsyat lawan
mengeluarkan suara tawa yang benar-benar sangat mengganggu
konsentrasi dan gerakan silatnya. Lebih aneh lagi, suara tawa itu terkadang
berubah menjadi suara tangis, atau bahkan suara ringkik kuda.

Sebagai tokoh angkatan tua yang

sudah sangat berpengalaman. Wiku Palawa langsung menutup indera
pendengarannya.

Namun ia terkesiap juga. Karena sungguh pun Wiku Palawa telah
mengerahkan tenaga dalam untuk menghilangkan pengaruh suara tawa
lainnya. Tetap saja suara tawa dan tangis Pendekar Blo'on terdengar olehnya.

"Heiit Edaan..." Wiku Palawa membentak garang. Ia kemudian menerjang
ke depan. Satu tonjokan menderu disertai dengan melesatnya kaki kanan
sang Wiku ke bagian lambung Suro Blondo. Dengan gerakan lincah dan
sangat manis. Pemuda ini berkelit dan bersalto ke belakang.

"Hiaa..."

Serangan awal luput, tapi Wiku

Palawa yang mempunyai pengalaman luas dalam rimba persilatan tidak
diam sampai di situ saja. Ia pun menerjang kembali.

Kali ini tubuhnya melentik ke udara.

Kakinya menyapu ke bagian kepala Suro Blondo. Gerakan yang
dilakukannya cepat bukan main. Dan Suro Blondo dengan cepat
membungkukkan tubuhnya. Tapi tidak





disangka hal itu cuma tipuan belaka.

Begitu Pendekar Blo'on merunduk, tinju Wiku Palawa menghantam
punggung pendekar berambut hitam kemerahan ini.

"Haaakgh..."

Suro tersungkur mencium tanah.

Kepalanya sakit berkunang-kunang.

Sementara punggungnya seperti tertindih batu gunung. Sudut-sudut bibir
Suro Blondo mengalirkan darah. Pemuda ini tidak dapat bangkit
secepatnya. Padahal pada saat itu Wiku Palawa yang merasa berada di atas
angin telah menghunuskan tongkatnya yang berujung runcing ke bagian
perut lawannya.

"Kecurangan inilah yang tidak aku suka" dengus Wiro Suryo yang sejak
awal pertempuran tadi terus menggelantung di pinggang Suro. Badannya
yang pendek dan elastis itu melentik dan menghantam wajah Wiku Palawa.
 Bukan main kerasnya

tendangan sekaligus pukulan yang

dilepaskan oleh Wiro Suryo. Sehingga membuat sebagian wajah laki-laki
tua itu hancur. Ia jatuh terpelanting. Namun tongkat mautnya masih tetap tergenggam di tangannya

"Aaaa..." Wiku Palawa menjerit-jerit sambil menekap mukanya yang

berlumuran darah.

"Bangun anak geblek" desis Wiro Suryo sambil menepuk pundak Pendekar
Blo'on.

"Eeh... kau telah membantuku..."

kata Suro, lalu meringis sambil mengelus-elus bahunya.

"Bukan hanya membantu, tapi juga menolongmu dari kelicikan-kelicikan
para iblis" gerutu bocah bangkotan berkumis serta berjenggot putih itu.

Sementara Wiku Palawa sudah bangkit berdiri. Kini ia selain marah juga
merasa heran. Karena di depannya telah berdiri dua orang laki-laki. Laki-
laki berbadan super pendek yang satunya ini membuat Wiku Palawa
terkejut. Seingatnya tadi ia hanya menghadapi satu lawan. Mengapa kini
ada dua? Selain itu sama-sama bertampang tolol lagi.

"Siapakah kalian?"

"Tidak cukup waktu bagiku untuk menerangkan siapa kami yang
sesungguhnya.

Bersiap-siaplah untuk mati" dengus Wiro Suryo. "Kemudian ia berpaling
pada Pendekar Blo'on. "Kau segera satroni musuh bebuyutanmu. Tapi kau
harus ingat, dalam penglihatanku musuhmu itu kini selain mempunyai
pengawal luar biasa sakti juga mempunyai kemajuan pesat dengan ilmu-
ilmu barunya"

"Baiklah, hati-hati, Tenggiling Kedil Jangan pula badanmu yang kerdil
sampai tercincang tongkat bututnya"

Sambil tertawa-tawa Suro Blondo

langsung melompati pagar. Sementara Wiro Suryo yang mempunyai ajian
Suket Sekilen dan Pancar Wajah ini sudah berhadapan dengan lawannya.

"Jadi kau benar-benar tidak mau mengatakan siapa kau yang
sesungguhnya?"

tanya Wiku Palawa.

"Sebagai musuh Bertarung ya...

bertarung. Jika kita bertanya jawab, berarti kita adalah sahabat. Tapi jika
kau tetap penasaran, akulah Wiro Suryo dari Gunung Sembung"

Bagaikan mendengar petir di tengah hari bolong, Wiku Palawa belalakkan
matanya. Sungguh pun ia belum pernah bertemu dengan tokoh aneh yang
konon memiliki kesaktian tinggi ini. Tapi ia sering mendengar tentang
adanya manusia kerdil yang selalu muncul dalam rimba persilatan dalam
sepuluh tahun sekali.

"Jadi kau..." bergetar suara Wiku Palawa sehingga ia tidak mampu

melanjutkan kata-katanya.

"Ya... aku kenapa... sekarang apakah kau sudah siap untuk kukirim ke
neraka..?" Wiro Suryo tertawa membahak.

Tiba-tiba ia melipat badannya. Lalu menggelundung menyerang Wiku
Palawa.

"Tenggiling Kedil" untuk yang kedua kalinya Wiku Palawa dibuat

terkejut. Tapi ia segera mengibaskan

tongkatnya dengan mengerahkan tenaga dalam tinggi. Tongkat menderu,
seakan mempunyai seribu mata, Wiro Suryo

menghindar. Bentuk tubuh Wiro Suryo yang seperti bola tersebut memang
sangat menyulitkan lawannya. Apalagi ia dapat bergerak lincah
menggelundung kian kemari.

Tentu saja apa yang dilakukan

lawannya sangat menyulitkan Wiku Palawa.

Kalau pun ia berhasil menggebuk Wiro Suryo yang terus bergerak dan
menghantam perut Wiku Palawa. Namun tampaknya hantaman
tongkatnya tidak berakibat apa-apa bagi Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil.
Bahkan ia malah tertawa-tawa seperti orang yang kegelian.

"Ha ha ha... kau memang iblis yang baik Badanku sudah berhari-hari terasa pegal. Sukur kau dengan sukarela mau mengurutku. Ha ha ha..."

Memerah wajah Wiku Palawa, panas pula hatinya. Tiba-tiba ia melompat
mundur, kemudian mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak
tangannya.

Hanya dalam waktu sekejap kedua tangannya itu telah berubah menghitam
laksana arang. Terlihat kabut tipis berwarna hitam keluar dari ujung jemari
 Wiku Palawa, selain itu tercium pula bau busuknya bangkai. Ketika itu
laki-laki berkepala setengah botak itu memang

tengah mengerahkan pukulan 'Banyu Getih'.

Inilah salah satu pukulan yang sangat diandalkannya.

Wiro Suryo yang mempunyai banyak

keanehan dan ilmu simpanan yang cukup dahsyat tentu saja dapat
membaca bahkan mengetahui jenis pukulan yang dimiliki oleh laki-laki itu.
Dengan cepat ia bangkit berdiri merobah posisi. Mulutnya berkomat-kamit.
Jelas ia sedang merapal mantra-mantra ajian 'Suket Sekilen'.

"Hiyaa..." Wiku Palawa

menghentakkan kedua tangannya ke arah Wiro Suryo. Kakek berusia
delapan puluh tahun ini tertawa membahak. Kemudian....

Plaas

Bumm

Bersamaan waktunya dengan datangnya pukulan lawan, maka saat itu juga

Tenggiling Kedil lenyap dari pandangan mata Wiku Palawa. Pukulan yang
dilepaskan Wiku Palawa menghantam sasaran kosong.

Sementara itu, Wiro Suryo yang sudah tidak terlihat lagi oleh lawannya

menghantam ke depan.

Buk

Kraak Kraak

"Wuaaakh..."

Wiku Palawa menjerit kesakitan.

Kedua tulang kakinya patah. Ia jatuh terduduk. Tapi hantaman terus
mendera wajahnya.

Praak

"Uaaakh... bangsat pengecut..."

maki Wiku Palawa sambil mendekap tulang pelipisnya yang hancur.

"Setiap iblis selalu licik dan pengecut. Apa salahnya kalau sekarang aku
terpaksa bertindak curang pula? Lagipula kau bukan lawanku, Wiku
Palawa. Kalau pun umurmu bertambah seratus tahun lagi. Kau tetap tidak
dapat melawanku. Karena aku sendiri setengah manusia setengah jin"

kata Wiro Suryo yang kini telah

memperlihatkan diri lagi.

"Kalau kau masih mau tobat,

sebaiknya kau merat dari sini. Tapi kalau tetap membangkang juga. Maka
tempat yang sebaik-baiknya bagimu adalah di neraka jahanam"

Wiku Palawa tidak dapat menjawab.

Akibat luka-luka yang dideritanya itu ia tidak sadarkan diri.

"Tidur memang lebih baik bagimu

Huh ha ha ha... Suro Blondo Apakah kau sudah menemukan Betina Dari
Neraka?"

10


Suro Blondo dan Wiro Suryo memasuki sebuah bangunan yang dikenal
dengan sebutan Curing Bencana. Namun ruangan itu terasa sepi. Seakan
perempuan yang mereka cari-cari menghilang begitu saja bagaikan

ditelan bumi.

"Apakah ini bukan jebakan, sobatku Tenggiling Kedil?" kata Suro Blondo
khawatir.

"Kalau jebakan. Artinya kita sudah mulai masuk dalam perangkap. Tapi

sebaiknya tak usah bersedih. Orang yang menjebak kita perempuan. Siapa
tahu ia berkenan denganmu dan mengangkatnya menjadi pendampingnya.
Bukankah kau juga yang enak?" kata Wiro Suryo sambil tertawa-tawa.

"Jangan bicara sembarangan. Dalam keadaan seperti ini rasanya tidak ada
waktu bagi kita untuk bercanda" sahut Pendekar Blo'on.

"Tenanglah, selama aku bersamamu.

Kau tidak akan kesepian. Sebaiknya kita menuju ruangan yang terletak di
sebelah kiri itu?" kata Wiro Suryo.

Sesuai dengan yang dikatakan oleh

Tenggiling Kedil. Maka Suro Blondo belok ke kiri. Mereka sampai di
sebuah ruangan-ruangan lainnya. Di dalam kamar itu terdapat sebuah
ranjang seperti ranjang pengantin. Namun baik Wiro Suryo maupun Suro
Blondo tetap tidak menemukan apa yang dicari-carinya.

"Lihatlah, Suro. Kau telah

disediakan sebuah ranjang untuk malam pertama..." kelakar Tenggiling
Kedil.

Pendekar Blo'on kerutkan keningnya.

Ia tidak tahu arti ucapan manusia super pendek yang terus mengikutinya
kemana pun ia pergi.


"Apa itu malam pertama?" tanya Suro lugu.

"Tololnya kau ini. Di malam pertama itu kau akan disuguhi makanan yang
sangat istimewa di mana kau belum mendapatkannya pada waktu-waktu
sebelumnya. Makanan itu sangat enak, matamu pasti terpejam karena
begitu enaknya Ha ha ha..."

"Aku sering mendapat makanan yang enak. Jadi tidak usah mengolokku.
Kau jangan bercanda terus, kita bisa mati di sini berdua..."

"Tapi makanan yang satu ini lain, Suro..."

"Diam Gila kau" dengus Pendekar Blo'on tidak suka.

Tenggiling Kedil akhirnya terdiam.

Mereka terus melakukan pencarian. Sampai akhirnya menemukan sebuah
lorong menuju bawah tanah.

"Mungkinkah jahanam itu bersembunyi di bawah sana?" tanya Wiro Suryo.

Pendekar Blo'on garuk-garuk

kepalanya. Ia sendiri tidak tahu apakah Betina Dari Neraka bersembunyi di
ruangan bawah tanah atau tidak. Yang jelas mereka harus menemukan
perempuan sesat itu bagaimana pun caranya. Maka tanpa ragu-ragu lagi
Suro Blondo bersama Wiro Suryo

menuruni anak tangga yang menghubungkan ke ruangan bawah. Baru
beberapa langkah ia mengayunkan kakinya.

Tanpa diduga-duga pintu di bela-

kangnya tertutup.

Brak

"Heh..."

Suro Blondo terkejut sekali. Ia

kembali berbalik dan berusaha mendorong pintu batu tersebut. Namun
sedikit pun pintu tersebut tidak bergeming.

"Edan Apa yang harus kita lakukan sekarang" gerutu Suro Blondo sambil
menggaruk kepalanya.

"Rasanya pintu ini memang tidak mudah untuk dihancurkan. Sebaiknya
kita teliti dulu ada apa di sini. Baru

kemudian kita cari jalan keluarnya dari sini" kata Wiro Suryo.

"Orang ini benar-benar licik. Kita kena dikerjainya?"

"Berhentilah mengumpat. Dia bukan licik, tapi cerdik. Kurasa lebih baik
kita ke sana sekarang juga"

Sambil bersungut-sungut, Suro

Blondo mengikuti apa yang dikatakan oleh si kerdil. Kira-kira dua batang
tombak mereka melangkah. Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis.

"Kita memang telah dipersiapkan untuk terkubur di sini hidup-hidup" maki
Pendekar Blo'on. "Semua ini gara-gara

kau, Tenggiling Kedil. Ternyata bukan tubuhmu saja yang pendek. Tapi
otakmu tidak dapat dipergunakan berfikir dengan baik"

"Jangan marah-marah. Apa salahku?"

"Apa salahmu? Bukankah kau yang menyuruhku belok ke kiri dan juga
masuk ke bawah sini?"

"Kalau itu bukan aku yang salah.

Dasar nasib kita saja yang apek" sahut Wiro Suryo seenaknya.

Pendekar Blo'on tidak sempat lagi

menanggapi ucapan sobat tuanya yang terus bergelantungan di pinggang
Suro Blondo.

Karena ia terpaksa menghindari serangan ular-ular itu dengan cara
melompat-lompat seperti seekor monyet yang sedang menari-nari.

Ternyata ular-ular yang dihadapinya sangat ganas sekali. Sehingga
Pendekar Blo'on kehilangan kesabarannya.

"Hiyaa..."

Tuk Tuuk

Zzssst

Dengan mempergunakan jari

tangannya. Suro Blondo segera menyambut serangan ular-ular berbisa
tersebut.

Beberapa diantara binatang melata

itu dibuat hancur kepalanya. Ada pula yang digigitnya hingga putus
menjadi dua.

Pendekar Blo'on Sendiri tidak luput dari patukan ular-ular tersebut. Tapi
bisa ular-ular itu tidak berakibat apa-apa karena Suro Blondo memang kebal terhadap segala macam gigitan ular.

Tidak lama sebagian dari ular-ular yang selamat melarikan

diri. Satu kesalahan dilakukan oleh Pendekar Blo'on.

Ia memburu ular-ular itu. Wiro Suryo tiba-tiba berteriak.

"Awas..."

Peringatan Tenggiling Kedil

terlambat. Jeruji besi di belakang Suro Blondo melorot turun dan menutup
 jalan keluar bagi mereka berdua.

"Kurang ajar Kita terperangkap"

desis Pendekar Blo'on kaget.

"Seperti yang kukatakan. Iblis itu ternyata lebih cerdik dari kau."

Jawab Tenggiling Kedil

"Apakah kau sendiri menganggap dirimu cerdik?" cibir pemuda berambut
hitam kemerahan ini tidak mau kalah.

"Tentu aku lebih pandai dari kau"

sahut Wiro Suryo Seenaknya.

Pendekar Blo'on jadi mendongkol

dibuatnya. Ia tidak bicara apa-apa lagi.

Melainkan segera berusaha menghancurkan jeruji yang telah membuat
mereka terkurung. Karena jeruji tersebut tidak dapat dibukanya. Suro Blondo terpaksa melepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'.

"Heaaa..."

Wut Wut...Der...Jeruji itu sama sekali tidak

bergeming. Malah langit-langit ruangan bawah tanah menunjukkan tanda-
tanda akan runtuh.

"Jangan kau teruskan lagi, Suro"

cegah Wiro Suryo setelah melihat keadaan yang cukup gawat itu.

"Kenapa rupanya?" tanya Pendekar Blo'on tidak mengerti.

"Ruangan ini bisa runtuh jika kau terus melepaskan pukulanmu. Jika itu
terjadi, maka kita terkubur hidup-hidup di sini. Pernahkah kau bayangkan
betapa enaknya meregang ajal dalam keadaan sehat seperti kita-kita ini?"

"Kau jangan mengolokku, kerdil berjenggot. Kita dalam keadaan kesulitan.

Tapi kau masih bisa tertawa."

"Ho ho ho... Haruskah aku menangis dalam keadaan panik seperti
sekarang?

Atau aku harus tertawa dalam keadaan senang? Gila betul"

"Ya... kau betul-betul gila. Satu purnama lagi aku bersamamu. Aku bisa
ketularan penyakit gendengmu"

"Sebelum bertemu aku saja kau memang sudah edan. Apalagi sekarang.

Paling juga tambahnya sedikit saja"

Suro Blondo baru saja ingin

mengatakan sesuatu. Namun ia terpaksa menelan ucapannya kembali saat
mendengar suara tawa panjang seseorang. Suara tersebut menggetarkan
lantai ruangan.

Bahkan kemudian lantai runtuh. Maka terperosoklah Suro Blondo ke dalamnya.

Tetapi sebelum Pendekar Blo'on dan Wiro Suryo benar-benar tercebur ke
dalamnya ia berusaha mengerahkan segenap kemampuannya untuk tidak
terjatuh di dalamnya. Usaha yang dilakukannya ini hanya sia-sia saja.

Karena ia tidak mungkin terus mengembang di udara.

Byuur

"Gila Ah... apa yang menggigitku ini...?" tanya Pendekar Blo'on pada Wiro
Suryo.

"Melihat bau dan licinnya. Kurasa kita telah terperangkap ke dalam kolam
lintah" sahut Wiro Suryo sambil berusaha mengusir makhluk-makhluk
kecil panjang itu dengan cara mengibaskan tangannya.

"Gila betul. Kita bisa kehabisan darah. Anehnya bangsat itu mampu

meruntuhkan lantai ruangan ini hanya dengan tertawa."

"Kau yang tolol. Tentu dia sudah menggerakkan peralatan rahasianya yang
telah dipersiapkannya untuk menyambut kehadiran kita"

"Ha ha ha... Kalian berdua seperti tikus masuk ke dalam perangkap. Kalian

segera mati kehabisan darah. Kalaupun bisa selamat. Kalian tetap tidak
bisa keluar dari situ Tunggulah seminggu lagi Pendekar Blo'on. Kau pasti
akan mendapat hukuman dariku" kata sebuah suara.

"Bangsat pengecut" maki Suro Blondo geram.

"Hik hik hik..."

Suara tawa segera lenyap dan

berganti dengan kesibukan Wiro Suryo dan Pendekar Blo'on untuk
membebaskan diri mereka.

* * * *

Perkasa duduk santai di tengah-

tengah ranjang. Sementara Mustika Jajar tampak mondar-mandir di dalam
ruangan itu. Ia seperti memikirkan suatu cara untuk membunuh lawan-
lawannya yang sudah masuk dalam perangkap.

"Apa yang junjungan pikirkan? Tetua seharusnya tidak usah memikirkan
yang rumit-rumit. Karena hal itu hanya membuat wajah tetua menjadi
keriput." kata Perkasa, laki-laki sakti yang berasal dari patung ciptaan
Pematung Kelana.

"Kau memang pandai mengambil hati, Perkasa. Kau orang yang kukagumi.

Sekarang ambilkan tuak keras untukku

Malam ini kita rayakan kemenangan kita"

kata Betina Dari Neraka.

"Apa pun perintahmu. Aku selalu menurutinya gadis cantik" sahut Perkasa.

Laki-laki bertubuh tegap tinggi dan hanya memakai koteka ini berlalu

meninggalkan majikannya. Mustika Jajar memperhatikan kepergiannya
dengan tatapan penuh arti.

Tidak lama kemudian Perkasa telah

datang kembali sambil membawa dua kendi tuak keras. Ia langsung
memberikannya pada Mustika Jajar.

"Kau mau mengawalku?" Betina Dari Neraka menawarkan.

Perkasa tentu saja tidak menolak.

Ia menerima tuak itu lalu meneguk isi kendi yang diberikan padanya
hingga tuntas.

"Malam ini kita merasakan segala-galanya, Perkasa. Kita dapat berbagi
cinta. Cintaku yang membara selama beberapa purnama ini." kata gadis
cantik berpakaian ketat warna ungu ini sambil meneguk araknya.

"Kemarilah, kekasihku" Mustika Jajar yang ketika itu duduk di pinggir
ranjang melambaikan tangannya. Perkasa tentu saja tidak menampik.
Apalagi ia berasal dari kekuatan iblis.

"Berilah kehangatan yang kudambakan kepadaku" desis Mustika sambil
memeluk Perkasa. Matanya setengah redup. Bibirnya yang tipis terbuka
mengundang gairah.

"Dengan senang hati aku akan

memenuhi permintaanmu, tetua. Kau pasti tidak akan kecewa. Karena aku
dapat membuatmu puas di dalam sorga dunia"

kata Perkasa.

Tangan Mustika Jajar menggerayang

kemana-mana. Sebaliknya Perkasa mulai melepaskan pakaian gadis cantik
itu satu persatu. Sehingga dalam waktu sekejap tubuh mulus Mustika Jajar
sudah berada dalam keadaan telanjang dan menantang sekali untuk
dijamah. Perkasa melumat habis bibir Mustika, tangannya yang kokoh
meremas dada Mustika yang telah berubah mengeras. Dua insan yang
berlainan jenis ini memang sudah sama-sama lupa daratan.

Sampai pada akhirnya mereka saling menyatu. Mustika Jajar mengenang
penuh rasa nikmat. Ia memeluk dengan erat tubuh Perkasa yang bidang.

"Oh... aahh... Perkasa. Ka... kau jangan hentikan..." desis Mustika Jajar.

Pelita di dalam ruangan itu bergoyang-goyang ditiup angin. Bahkan setelah
itu tampak redup hingga akhirnya padam. Suara erangan di dalam kamar
semakin mendayu-dayu. Terlebih-lebih ketika sesuatu memasuki diri
Mustika Jajar. Ia menjerit keras. Bukan jerit kesakitan. Melainkan jerit
penuh rasa nikmat yang tidak terkira. Selanjutnya suasana dalam ruangan
itu berubah sepi. Hanya sesekali

saja terdengar desah nafas lega dan kata-kata manja seorang perempuan.
Memang tidak dapat dipungkiri, setelah kejadian itu. Maka kejadian-
kejadian yang sama terus terulang.

Lalu bagaimanakah nasib Pendekar

Blo'on. Dapatkah mereka menyelamatkan diri? Hukuman apa yang akan
dijatuhkan Betina Dari Neraka pada Suro Blondo?

Kisah ini masih berlanjut.

TAMAT



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...