Rabu, 12 November 2014

Pendekar Bloon - Eps.3 Pemikat Iblis

PENDEKAR BLOON
Eps.3

PEMIKAT IBLIS

1

Gunung Galunggung hampir sepan-
jang masa menyemburkan lidah api
abadi. Hampir setiap saat penduduk di sekitarnya boleh 
dikata terancam mara-
bahaya. Letusan gunung hampir semua

orang tahu selalu mendatangkan malapetaka. Walaupun 
kesuburan tanahnya

memberi manfaat bagi kehidupan umat manusia.

Tidak jauh dari gunung Galunggung ini ada sebuah tempat 
yang

bernama Cilawu. Daerah ini merupakan sebuah daerah 
dataran rendah dan

berbukit-bukit. Meskipun daerah tersebut selalu tampak 
sunyi seakan tidak

berpenghuni. Bila dilihat dari dekat, maka setiap pagi selalu 
terdengar

suara bentakan-bentakan atau terkadang suara lengking 
tangis berkepanjangan.

Tidak jarang terdengar pula suara

beradunya dua senjata, terasa menya-

kitkan gendang-gendang telinga.

Melihat ke arah lembah gersang

dan berbatu cadas itu. Maka sege-ra terlihat seorang gadis 
berbaju

ungu dan berwajah angker sedang

bertarung mati-matian melawan seorang laki-laki tua muka
 tengkorak.

Rambutnya yang riap-riapan dibiarkan-

nya tergerai memanjang. Sementara

kakek berambut putih acak-acakan muka tengkorak, 
tampaknya juga tidak jauh





lebih baik dari gadis yang

di-

hadapinya.

"Kerahkan seluruh kepandaian

yang kau miliki" suara kakek wajah tengkorak menggema ke
 seluruh bibir

lembah, menggetarkan dinding-dinding

batu, juga menulikan telinga.

"Jangan hanya gembar-gembor

macam harimau ompong tua bangka Mari kita buktikan 
siapa yang paling kuat

di antara kita" bentak gadis baju ungu tidak kalah sengitnya.

Tidak dapat dihindari pertem-

puran seru pun terjadi. Masing-masing tampaknya sama-
sama mengandalkan
tangan kosong. Setiap serangan yang

mereka lancarkan selalu menimbulkan

angin bersiuran. Debu-debu mengepul di udara. Batu-batu 
berhamburan dan siap
menghantam tubuh lawannya. Lengah

sedikit, maka putuslah nyawa.

Pertempuran sengit itu semakin

lama semakin menghebat. Terlebih-lebih ketika kakek tua 
bertampang mengerikan
berbadan kurus kering itu lepaskan

salah satu pukulan yang paling

diandalkannya.

"Heaaa..." Tangan si kakek yang telah berubah menjadi biru 
tiba-tiba

saja dihantamkannya ke depan.

"Hmm. Hanya pukulan Racun Segala Bisa, siapa yang takut" 
Gadis baju ungu
menggeram hebat. Ia kerahkan

tenaga dalam yang dimilikinya ke





bagian tangan kiri kanan. Hanya dalam waktu sekedipan 
mata saja kedua

telapak tangannya juga telah berubah

menjadi biru. Tanpa menunggu ia

lontarkan kedua tangannya memapaki

pukulan beracun yang dilepaskan oleh

kakek muka tengkorak mata buta

sebelah.

"Huup"

"Shaa..."

Angin dingin mencucuk membekukan

darah saling menyambar dengan ganas.

Kemudian terjadi benturan yang sangat keras bukan alang 
kepalang.

"Duum Duum"

Dinding tebing yang selama

bertahun-tahun tidak pernah goyah

diterpa musim. Kini tampak longsor di sana-sini. Suara 
bergemuruh disertai

menyebarnya

bau menusuk berbaur

menjadi satu. Debu mengepul tinggi

membumbung ke angkasa. Bila beberapa

saat kemudian debu-debu yang

berterbangan itu mulai menipis. Maka daerah di sekitarnya 
menjadi porak

poranda. Pada dua buah sisi yang

berlawanan terlihat dua sosok tubuh

tergeletak tidak bergerak sama sekali.

Dari bibir mereka mengalirkan darah.

Tampak jelas baik gadis berbaju ungu

maupun si kakek muka tengkorak

menderita luka dalam yang sangat

parah. Namun anehnya tidak berselang

lama. Terdengar suara tawa si muka





tengkorak bergelak. Tawa itu semakin

lama semakin meninggi, hingga membuat daun-daun hijau di
 atas pohon

berguguran. Gadis berbaju ungu agaknya juga menyadari apa
 yang tengah

dilakukan oleh laki-laki renta di

depannya. Itulah salah satu cara

menyembuhkan luka dalam lewat

pengerahan suara tawa. Dan inilah

merupakan sebuah cara yang teramat

langka dan sangat jarang dimiliki oleh orang-orang rimba 
persilatan.

Sadar lawannya mengerahkan hawa

murni untuk menyembuhkan luka dalam

yang dideritanya. Maka gadis baju ungu juga ikut tertawa. 
Suara tawanya

melengking tinggi. Tubuhnya yang

ramping bahkan sampai terguncang-

guncang. Suara tawa saling tindih

menindih hingga menimbulkan guncangan hebat pada tanah
 tempat mereka berada.

Dari arah barat laut, tiba-tiba

saja angin kencang berhembus. Pohon-

pohon di sekeliling lembah dan bukit

bertumbangan. Dan langit pun seketika berubah mendung.
 Gadis baju ungu

terkesima, sebaliknya kakek renta muka tengkorak semakin 
memperhebat suara

tawanya.

"Ha ha ha... Hujan angin...

inilah waktu yang kutunggu-tunggu

sejak tujuh belas tahun yang lalu...

Hak kak kak...."

Gadis baju ungu terkesima.





Seraya jatuhkan diri dan berlutut di

depan kakek renta muka tengkorak.

"Guruku Tuan Muka Tengkorak Mata Api, apakah maksud
 ucapanmu?" tanya si
gadis. Ia seka darah yang membasahi

sudut-sudut bibirnya. Sementara luka

dalam yang dideritanya sudah tidak

terasa sakit lagi.

"Ha ha ha... Muridku Mustika

Jajar. Sejak masih bayi merah aku

sengaja mengambilmu untuk kujadikan

seorang murid tanpa tanding. Sekarang dan untuk masa yang
 akan datang kau

akan menjadi seorang ratu yang tidak

ada tanding. Kau bukan saja menjadi

tokoh yang tidak ada duanya, tapi juga karena kecantikanmu 
yang sungguh

menggiurkan, membuatmu mudah

menundukkan laki-laki manapun yang kau sukai."

Seandainya ia seorang gadis yang

dididik oleh seorang tokoh aliran

lurus. Tentu saja wajahnya berubah

merah karena mendapat sanjungan. Tapi karena pada 
dasarnya ia merupakan

hasil gemblengan tokoh Maha Sesat.

Mustika Jajar malah tertawa bergelak

dan leletkan lidah basahi bibir.

"Sekarang hapuslah coreng moreng di wajahmu, Mustika" 
perintah tegas kakek renta
muka tengkorak yang hanya mempunyai satu mata ini tegas.

"Hi hi hi... Jika kuhapus bedak batu penutup wajahku. Aku
 takut guru





tergiur olehku. Jika guru yang

kepincut padaku, kujamin aku pasti

tidak bersedia melayani keinginan

guru" Mustika Jajar tertawa genit.

Seraya lalu menghapus coreng moreng di wajahnya.

"Tidak perlu khawatir muridku.

Tidak nantinya pagar memakan tanaman.

Sejak kecil aku merawat dirimu.

Walaupun sekarang kau berpakaian rapi.

Sebagai gurumu tentu aku sudah tahu

lekuk liku tubuhmu" kata kakek muka tengkorak sambil 
tertawa-tawa,

Mata Mustika Jajar mengerling

nakal. Wajahnya yang sekarang tidak

tertutup pelapis apa-apa tampak cantik berseri-seri.

Matanya berbinar penuh keman-

jaan. Tapi di balik penampilannya yang nyata, tersimpan 
kekejaman melebihi

manusia biadab.

"Ha ha ha. Sekarang kau benar-

benar telah menjadi gadis yang sudah

sangat dewasa sekali, Tika. Wajahmu

cantik melebihi bidadari. Jika saja

aku masih muda, tentu saja aku tidak

akan melepaskanmu setelah berhasil

mendapatkan cintamu. Ha ha ha..."

"Ternyata guru dulunya mata

keranjang." Cibir si gadis.

"Lain dulu lain sekarang.

Sekarang adalah masa pembalasan di

mana kau harus mencari dan membunuh

seorang laki-laki yang berjuluk





'Malaikat Berambut Api'. Orang inilah yang dulu pernah 
mencungkil sebelah

mataku. Sudah menjadi tugasmu menja-

lankan perintahku. Selain itu kau juga berhak membunuh 
semua tokoh persilatan
aliran lurus. Pergunakanlah kecerdikan dan kecantikan yang
 kau miliki untuk

memperdaya setiap lawan. Jika lawan-

lawanmu merupakan tokoh yang sangat

sakti, kau pikatlah dengan kecantikan-mu Jika mereka 
benar-benar telah

bertekuk lutut di bawah kakimu.

Peralatlah dia untuk mencapai cita-

citamu."

"Tapi guru. Di mana aku harus

mencari musuh besar guru yang

mempunyai gelar 'Malaikat Berambut

Api' itu?"

Tua Tengkorak Mata Api terdiam

beberapa saat lamanya. Matanya yang

cuma sebelah itu memandang lurus ke

arah si gadis. Dan beberapa saat setelahnya suara tawa muka
 tengkorak

menggema kembali. Di tengah-tengah

suara tawanya yang tidak ubahnya bagai gaung suara 
harimau itu terdengar

ucapannya yang tajam menusuk.

"Di manapun adanya Malaikat

Berambut Api, kau harus mencarinya

Mustika Jajar Terakhir kudengar ia

mengasingkan diri di Pulau Seribu Satu Malam yang terletak
 di daerah selatan laut
Jawa...."

"Apakah

orang itu tidak





mempunyai murid, guru?"

"Mengenai murid aku sampai saat

ini tidak mengetahuinya. Tapi kelak

bila kau telah turun ke dunia ramai.

Tentu kau dapat mencari tahu"

"Baiklah guru. Kalau semua ini

memang sudah merupakan keinginan guru.

Maka sebagai murid yang ingin berbakti padamu, aku siap
 menjalankan segala

perintahmu..." ujar gadis cantik berbaju ungu.

"Bagus Sekarang kau duduklah di sini," ujar Tua Tengkorak 
Mata Api.

Mustika Jajar duduk di depan

kakek Muka Tengkorak. Seraya kemudian mengangkat kedua
 tangannya tinggi-tinggi. Setelah memberi isyarat pada

muridnya, lalu Mustika Jajar pun mengangkat kedua 
tangannya. Tangan mereka
saling menempel. Sebelum Mustika Jajar mengetahui apa 
yang akan diperbuat

oleh gurunya.

Tiba-tiba gadis ini merasakan

adanya satu sengatan yang sangat keras dan menimbulkan
 rasa dingin yang tidak
tertahankan mengalir melalui telapak

tangan gurunya. Mustika Jajar sempat

terkesima. Hanya saja sebagai gadis

yang sangat cerdik ia segera menge-

tahui bahwa gurunya sengaja memper-

besar hawa murni yang dimilikinya.

Tubuh murid dan guru tampak

sama-sama tergetar hebat. Asap tipis

mencuat dari bagian atas ubun-ubun si





kakek muka tengkorak; Sebaliknya tubuh Mustika Jajar 
sudah tampak bersimbah

keringat. Tidak sampai sepemakan

sirih. Tua Tengkorak Mata Api sudah

menarik tangannya yang melekat di

tangan muridnya.

Mustika Jajar, gadis berbaju

ungu dan memiliki kecantikan luar

biasa ini menarik nafas panjang. Kini ia merasa tubuhnya 
semakin menjadi

ringan. Bahkan ketika ia menggerak-

gerakkan tubuhnya. Semuanya terasa

lebih hebat dari waktu-waktu sebelum-

nya.

"Apa yang kau rasakan, muridku?"

tanya Muka Tengkorak. Sungguh pun saat itu ia sedang 
tersenyum. Tapi di mata
yang melihatnya senyumannya tidak

ubahnya bagai seringai yang mengeri-

kan.

"Aku merasa badanku berubah

seringan kapas" jelas gadis cantik berhati telenggas ini 
sejujurnya.

"Bagus... ha ha ha... bagus..."

kata Tua Tengkorak Mata Api. Seraya

meraba pinggangnya. Kemudian terlihatlah sebuah buntalan 
kecil warna hitam
tergenggam di tangannya.

Buntalan itu selanjutnya dibuka-

nya. Setelah buntalan terbuka sepe-

nuhnya. Maka terlihatlah sebuah

senjata yang sangat aneh bentuknya.

Senjata itu berbentuk bulat seperti

bulan sabit. Berwarna putih mengkilat

karena ketajamannya.

"Kau tahu cara mempergunakannya, muridku?" ,

Mustika Jajar menganggukkan

kepala.

"Coba bagaimana?"

"Sabit Bulan adalah senjata yang sangat aneh. Aku tentu saja
 dapat

mempergunakannya. Walaupun hanya

dengan menggenggamnya."

"Bagus Senjata ini sekarang

menjadi milikmu sepenuhnya," ujar kakek renta muka 
tengkorak. Seraya

menyerahkan senjata itu pada Mustika

Jajar.

"Pantaskah aku menerimanya,

guru?" tanya gadis itu agak ragu-ragu.

"Tentu saja pantas, karena

sebentar lagi kau sudah harus mening-

galkan lembah Cilawu ini."

Mustika Jajar memang tidak perlu

membantah lagi. Sungguhpun hatinya

merasa berat untuk meninggalkan orang yang telah merawat 
dan mendidiknya

selama ini. Namun akhirnya ia harus

berangkat memulai kehidupan lain yang sangat baru.


2


Cambuk di tangannya sesekali


melecut di udara disusul dengan suara jerit kesakitan salah 
seorang dari

sekian banyak orang-orang dari mereka

yang terbelenggu mata rantai. Tubuh

yang semula muda perkasa ini lambat

laun hanya tinggal kulit pembalut

tulang. Mereka kurang makan, kurang

tidur, kurang istirahat dan kurang

segala-galanya. Sepanjang hari mereka harus terus menerus 
bekerja menggali

sebuah terowongan, mengayak serpihan

tanah untuk mendapatkan biji-biji emas murni.

Tidak jauh dari pekerja-pekerja

paksa itu lebih dari sembilan laki-

laki bertubuh tegap berkepala botak

dan bertampang beringas terus

mengawasi pekerjaan mereka tanpa

mengenal belas kasihan sama sekali.

Jika para pekerja itu tampak

malas, maka cambuk berduri di tangan

para algojo itu ikut bicara. Tidak

heran jika tiap hari para pekerja itu ada saja yang mendapat 
celaka atau

mati. Mayat-mayat mereka biasanya

dibuang begitu saja tanpa ada seorang pun yang di antara 
para pekerja itu

yang berani mengurusnya.

Sebuah dataran rendah tidak jauh

dari tempat penggalian emas telah

ditentukan sebagai tempat pembuangan

jenazah. Tidak heran jika dalam

beberapa tahun saja Bumi Ayu telah

dipenuhi dengan tulang belulang yang

bertimbun bahkan mulai menggunung.

Bau di tempat itu tidak dapat

dilukiskan. Kenyataan ini tentu saja





sangat mengganggu pernafasan para

pekerja paksa yang banyak didatangkan dari daerah Bumi 
Ayu dan Cijulang.

Tapi siapa yang akan perduli? Tidak

ada seorang pun yang memperdulikan

nasib mereka. Kalau pun ada di antara para pekerja paksa
 yang berusaha

melarikan diri. Tidak seorang pun di antara mereka yang 
dapat menyelamatkan diri.
Mereka yang ketahuan oleh algojo segera dihabisi nyawanya. 
Kalaupun ada yang
selamat sampai ke kampung

halaman. Maka dalam waktu yang sangat singkat para algojo
 itu menyeret

mereka untuk menerima hukuman mati

atas pelarian nekad itu.

Siang panas terasa membuat

rengat batok kepala. Para pekerja

paksa itu seakan tidak mengenal rasa

letih, terus melaksanakan tugasnya.

Jika di antara para pekerja itu ada

yang malas. Maka para algojo dengan

kejamnya langsung mengayunkan

cambuknya.

Pada suasana seperti itu, di

kejauhan sana terdengar derap langkah suara kuda. 
Penunggangnya adalah dua

orang laki-laki berbaju serba hitam

bertampang tirus. Sedangkan kuda yang berada paling 
depan 
ditunggangi oleh

seorang laki-laki berpakaian

bangsawan. Semakin lama tiga ekor kuda tunggangan ini 
semakin dekat dengan

tempat tujuan.





Para algojo begitu mengetahui

siapa yang datang langsung menyongsong kehadiran mereka 
dengan sikap penuh

rasa hormat. Tidak sampai sepemakan

sirih. Sampailah rombongan penunggang kuda ini di lokasi 
penggalian emas

Bumi Ayu. Tiga ekor kuda tunggangan

berhenti dengan tiba-tiba. Dua orang

penunggangnya melompat turun, sedang-

kan laki-laki berpakaian bangsawan

tetap duduk di atas pelana kudanya.

Seraya memperhatikan para algojo itu

dengan tatapan sulit dimengerti.

"Bagaimana hasil kerja selama

satu purnama ini, Dasa Reksa?" tanya saudagar Bergola 
kepada kepala algojo

"Maafkan kami, Tuan. Pendapatan

biji-biji emas agak merosot. Semua ini dikarenakan semakin
 menipisnya jumlah
pekerja. Menurut hemat hamba, kita

merasa perlu menambah jumlah peker-

ja..." ujar laki-laki berbadan tegap itu berpendapat.

"Hmm.... Seharusnya tidak kau

bicarakan itu padaku. Kalian boleh

mencari tambahan tenaga kerja di mana saja. Kau bisa pergi
 ke Argopuro,

Ciamis atau Tungku Jajar." kata

saudagar Bergola ketus.

"Ba... baik... Tuan. Kami segera melaksanakannya dengan 
baik" kata kepala algojo
itu menyanggupi.

"Bagus Kalian memang harus

selalu mengabdi kepadaku" dengus





saudagar

Bergola Mungkur. Seraya

kemudian beralih ke arah Giwang Rana

dan Bajar Saketi. Yaitu kedua tangan

kanannya yang sedang mengambil emas

hasil para pekerja paksa itu.

Ada senyum sinis menghias di

bibir si laki-laki. Tidak lama ia

segera memeriksa emas di dalam

bungkusan yang diserahkan oleh kedua

tangan kanannya.

"Hasil bulan ini tampaknya

memang agak berkurang banyak, Dasa

Reksa. Kuingatkan padamu agar tidak

mempermainkan aku. Jika ternyata kau

menyembunyikan sebagian hasil

pencarian ini. Seumur hidup kau

dan kawan-kawanmu benar-benar akan

kubuat menyesal"

Rupanya ancaman saudagar Bergola

Mungkur bukan sekedar ancaman kosong

belaka. Karena ternyata Dasa Reksa

sang kepala algojo tampak sangat

ketakutan sekali.

"Saya mana mungkin berani

mempermainkan Tuan. Selama ini saya

sudah berusaha jujur kepada Tuan. Cuma karena 
belakangan 
para pekerja di sini
banyak yang kojor menemui ajal. Itu

sebabnya tenaga di lapangan menjadi

sangat berkurang sekali."

"Aku percaya kata-katamu, Dasa

Reksa. Untuk itu kuperintahkan pada

kalian segera mencari tenaga tambahan.

Purnama mendatang hasil yang kalian





peroleh harus semakin bertambah

meningkat"

"Perintah segera kami laksa-

nakan, Tuan..." kata Dasa Reksa.



Saudagar Bergola Mungkur sama

sekali tidak menyahut. Malah setelah

memberi isyarat pada Giwang Rana dan

Banjar Saketi mereka memacu kuda-kuda tunggangan itu 
menuju daerah Cileles.





****



"Uhukk... Uhuuuuukk.. Wuaakh..

kupikir benda hitam panjang yang

bergelantungan itu sarang lebah. Tidak tahunya…" Pemuda 
tampan berbaju biru
muda memakai ikat kepala warna biru

belang-belang kuning ini hentikan

ucapannya. Perutnya mual seperti

hendak muntah. Lalu tanpa tertahankan lagi.

"Hoeek... hoeek... Tuh kan,

muntah betul...”

desisnya. Seraya

lalu menyeringai dan garuk-garuk

belakang kepalanya. Sekali lagi ia

memperhatikan mayat-mayat yang ter-

gantung di pinggir jalan menuju kota

kecil Malaya. Mayat-mayat itu rata-

rata kepala menghadap ke bawah, kaki

terikat pada cabang pohon. Ribuan

lalat tampak mengerumuni. Sebagian di antara mereka telah 
membusuk. Tapi

tidak jarang ada pula yang masih utuh.

Pemuda tampan yang tidak lain





adalah Pendekar Blo'on ini memper-

hatikan mayat-mayat itu dengan kening berkerut.

"Kulihat ada kematian di mana-

mana. Siapa mereka? Melihat luka-luka di tubuhnya rasanya mereka disayat-sayat
dengan senjata yang teramat

tajam. Apakah mungkin mereka ini merupakan orang-orang 
dari rimba

persilatan? Rasanya..." Suro Blondo usap-usap keningnya 
yang berkeringat. Ia
melihat sebuah pedang pendek tergeletak di bawah salah 
satu

mayat yang tergantung.. Namun sama

sekali ia tidak punya, keberanian apa-apa untuk 
memungutnya.

"Ini merupakan pekerjaan yang

sangat keji.... Siapa pun pelakunya.

Siapa pun orangnya. Pastilah merupakan seorang pembunuh 
berdarah dingin."

Suro Blondo lagi-lagi terdiam. Sayup-

sayup ia mendengar suara jlenting

sesuatu di kejauhan sana. Pendekar

Blo'on berusaha mempertajam pendenga-

rannya. Suara denting seperti senjata sedang beradu 
terdengar semakin bertambah
jelas. Suro Blondo penasaran.

Hingga kemudian ia memutuskan untuk

mendekati sumber suara.

"Hhh..." Dengan mengandalkan ilmu lari cepat Kilat 
Bayangan yang

sudah mencapai sempurna. Bergeraklah

Suro Blondo dengan kecepatan yang

sangat sulit diikuti kasat mata.





Tidak sampai sepemakan sirih,

sampailah pemuda itu di atas sebuah

dataran berbukit-bukit. Pemuda tampan bertampang tolol ini
 tidak langsung

menghampiri seorang laki-laki tua

bertelanjang dada dan berambut riap-

riapan. Melainkan bersembunyi di

sebuah tempat yang agak terlindung.

Sambil menahan nafas ia terus

memperhatikan laki-laki bertelanjang

dada yang ternyata sedang membuat

patung ukiran terbuat dari batu cadas.

Anehnya, laki-laki ini hanya mempergunakan kuku-kuku 
tangannya untuk

membentuk bagian-bagian tertentu badan patung. Suro 
Blondo leletkan lidah dan
usap-usap keningnya. Beberapa kali

terdengar decak kagum dari mulut si

pemuda.

"Cek. Ceek jika saja dia tidak

memiliki ilmu dan tenaga dalam yang

sudah mencapai tingkat sempurna. Tidak nantinya ia mampu
 menggores batu cadas
itu dengan ujung jemarinya." gumam Suro Blondo. Mata 
terbeliak lebar

terlebih-lebih setelah melihat betapa bagusnya patung yang 
dibuatnya.

"Melihat badannya yang reot

seperti rumah hendak roboh. Mustahil

rasanya ia mampu melakukan pekerjaan

yang memerlukan ketekunan dan tenaga

dalam yang tinggi. Dan hasil pahatan

itu juga sangat bagus sekali. Ia pasti seorang pengukir patun
g
 yang sangat

terkenal. Tapi untuk apa patung

sebagus itu dibuatnya? Lagipula

bagaimana membawanya? Patung itu ingin dijualnyakah?" 
kata Pendekar Blo'on
lagi. Kemudian ia garuk-garuk belakang kepalanya yang tidak
 gatal.

Pendekar Blo'on dengan perasaan

takjub yang tidak ada habis-habisnya

terus memperhatikan si pembuat patung yang tampak sibuk 
menyelesaikan wajah
patung yang hanya tinggal menghalu-skannya saja. Dalam 
keadaan seperti

itu, tiba-tiba saja Suro, Blondo

mendengar kakek pembuat patung bicara.

Tapi suaranya seperti orang yang

sedang menyanyi. Pemuda itu pasang

kuping dan gelang-gelengkan kepalanya.



Hidup delapan puluh tahun Badan

renta dimakan hari dan waktu. Menunggu si anak tunggal 
datang, tuntut ilmu ambil
kepandaian. Yang ditunggu pendek umur pendek nafas. 
Tinggallah si tua renta putus
karapan patah asa. Hidup terlunta-lunta menunggu 
pengganti.

Tetap menunggu tidak seorang pun yang datang, dasar sial
 tua renta tidak berjodoh



Suro Blondo tercenung. Kakek tua

itu barusan mengucapkan kata-kata yang tidak 
dimengertinya sama sekali. Anak
tunggal? Siapakah yang dimaksudkannya?

Apakah kakek pematung itu mempunyai

anak? Ataukah ia hanya seorang

pematung yang mempunyai otak tidak

waras?

Keheranan di hati pemuda berbaju

biru muda ini belum juga lenyap ketika dari arah utara 
terdengar suara derap
langkah kuda yang dipacu sedemikian

cepat menuju ke arah pematung

tersebut.

Si kakek tua bersikap acuh tak

acuh, ia tetap meneruskan pekerjaan-

nya. Dan kini ia mulai memoles badan

patung batu dengan sejenis pewarna

berwarna coklat tua.

Penunggang kereta kuda semakin

lama semakin mendekat ke arahnya.

Karena jalanan itu sempit. Maka ketika ketiga rombongan 
berkuda itu sampai di
depan si kakek. Maka ketiga penumpang kuda langsung 
memperlambat kuda

mereka. Salah seorang laki-laki di

depannya berpakaian bangsawan hampir

saja membentak, tapi begitu melihat

patung yang sedang diwarnai oleh si

kakek langsung katupkan mulut dan

telan ludah.

Raut wajahnya yang selalu

menyimpan ketamakan itu tampak berubah memerah.
Wajah 
patung tampak
tampan.

Otot-otot tubuhnya bertonjolan, dada-

nya bidang. Bagian perutnya yang

menonjol tampak tegang dan berukuran

cukup besar. Dalam hati penunggang

kuda berpakaian bangsawan ini ber-





tanya-tanya, patung siapakah yang

dibuat oleh si kakek tua ini?

"Jalan di sini begitu lebar.

Kalau kalian mau lewat, silakan

saja" kata si kakek tanpa berpaling sedikitpun.

Pengawal laki-laki berpakaian

bangsawan hampir saja membentak gusar jika saja laki-laki 
di depannya tidak cepat
memberi isyarat agar pengawal

merangkap tangan kanan itu diam.

"Orang tua, siapakah kau ini?"

tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa

pernah mengalihkan perhatiannya pada

patung yang sedang diwarnai oleh si

kakek. Sama sekali si pematung tidak

menjawab, bahkan menoleh pun tidak.

Tapi saudagar Bergola Mungkur tetap

berusaha bersabar, walaupun di dalam

hatinya mencaci maki. Bagaimana tidak?

Ia adalah orang yang sangat disegani

di kota Malaya karena kekayaan dan

pengaruhnya yang besar terhadap

pembesar-pembesar Pariangan. Jika

hanya seorang pematung tidak mau

menjawab pertanyaannya, berlagak tuli seperti babu. Tentu
 ia merupakan orang
yang sangat istimewa atau paling tidak memiliki 
keterampilan yang sangat

tinggi.





3


"Kakek tua Karyamu sungguh


bagus sekali. Aku menyukai patung yang sedang kau buat..." 
kata saudagar Bergola
Mungkur mengulangi ucapannya.

Tanpa menoleh pematung tua itu

menyahut "Sesuatu yang bagus belum tentu menyenangkan. 
Sesuatu yang

disukai, belum tentu membawa kepuasan dan kebahagiaan."

"Jika aku ingin memilikinya,

apakah kau mau memberikannya padaku?"

tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa

mengerti apa arti ucapan si kakek.

Pematung tua gelengkan kepala-

nya.

"Bagaimana jika aku membelinya?"

tanya saudagar kaya itu penasaran.

"Patung ini kubuat bukan untuk

dijual atau kuberikan kepada siapa

pun. Jadi maafkan saja jika aku tidak dapat memenuhi 
permintaanmu, Saudara"

ujar pematung tua tanpa pernah ber-

paling dari pekerjaannya.

"Bagaimana jika dua kan-

tung emas murni ini kita tukar dengan patung buatanmu, 
orang tua?"

kata saudagar Bergola Mungkur. Seraya menggerakkan dua
 kantung emasnya

sehingga menimbulkan suara bergemerin-cingan. Giwang 
Rana dan Banjar Saketi
pelototkan matanya.Mereka sama sekali tidak menyangka 
majikannya menjadi
keranjingan setelah melihat patung buatan

si kakek tua. Gilanya lagi dua kantung emas yang tidak 
ternilai harganya

hendak ditukar dengan sebuah patung

batu. Walaupun memang patut diakui

patung itu memiliki kharisma yang

sangat hebat. Bukankah jika pematung

tua tidak menjualnya. Hanya dengan

memberi perintah pada mereka, ia dapat membereskan si 
pematung untuk
kemudian memiliki patung batu itu tanpa ada

yang berani menganggu?

"Apakah kau seorang saudagar?"

tanya si kakek dengan sikap acuh tak

acuh.

"Benar, Aku adalah saudagar yang paling kaya di kota 
Malaya. Jika kau

merasa dua kantung emas ini tidak

sepadan dengan patung buatanmu itu.

Aku dapat menyuruh orangku untuk

mengambil dua kantung emas lagi

sebagai tambahan."

Pematung tua kerutkan kening

geleng-gelengkan kepala berulang-

ulang.

"Sudah kukatakan dengan jumlah

emas berapapun harganya aku tidak akan menjualnya. 
Patung ini adalah bagian

dari hidupku"

"Orang tua, kami harap kau tidak usah bertingkah di depan 
kami. Dua

kantung emas adalah jumlah yang tidak sedikit. Apakah kami
 harus memaksamu





untuk menyerahkan patung itu pada

majikanku?" bentak Giwang Rana. Dan rupanya laki-laki
 bergiwang dan bertampang
angker ini sudah tidak dapat lagi mengendalikan akalnya.

Saudagar Bergola Mungkur sendiri

yang merasa telah kehabisan kata-kata untuk membujuk 
pematung tua hanya

berdiam diri menunggu reaksi.

Untuk pertama kalinya pematung

tua palingkan wajahnya dan memandang

lekat-lekat ke arah Giwang Rana dan

Banjar Saketi. Ekspresi wajahnya tetap datar tidak 
menunjukkan kemarahan

sedikitpun.

"Kalian menjadi kaya adalah

karena tenaga dan keringat darah

orang-orang yang tidak berdosa. Jika

kuterima tawaranmu, sama artinya aku melumuri hasil 
karyaku dengan darah

orang-orang yang terbunuh di goa

penambangan Bumi Ayu Aku pematung

kelana setiap saat selalu mendengar

suara jeritan arwah-arwah orang yang

mati sebelum waktunya. Berlalulah

kalian dari hadapanku Kehadiran

kalian hanya akan membuat udara di

sini menjadi pengap dan berbau dosa."

Bukan saja ketiga penunggang

kuda ini yang dibuat terkejut. Tapi

juga Pendekar Blo'on yang bersembunyi di atas bukit di balik 
batu cadas

terkesima. Entah siapa laki-laki aneh itu? Namun sungguh mengherankan ia

mengenali sepak terjang penunggang

kuda yang ternyata merupakan seorang

saudagar kaya ini.

"Orang tua Kau benar-benar men-

cari penyakit telah berani mencampuri urusan kami" bentak
 saudagar Bergola
Mungkur tiba-tiba.

Tanpa berpaling dari patung yang

sedang dipolesnya. Pematung Kelana

tersenyum dingin.

"Manusia yang memiliki jiwa

besar adalah orang yang berani

mengakui setiap kesalahannya. Tidak

perduli apakah kesalahan itu dibuat

oleh tua bangka sepertiku ini. Tapi

kebanyakan orang lupa, dan berusaha

mencari dalih dengan menyebar fitnah

untuk menutupi kesalahan sendiri.

Alangkah ruginya manusia semacam itu

kelak di kemudian hari"

"Keparat Aku tidak membutuhkan

khotbahmu" maki saudagar dari kota Malaya itu geram 
bukan main.

"Aku adalah orang yang paling

tidak suka mendengar kata-kata yang

kotor Sebaiknya kalian menyingkirlah dari hadapanku" 
perintah pematung tua,
suaranya pelan namun tegas.

"Bangsat hina Bunuh dia" perintah saudagar Bergola 
Mungkur, lalu memberi aba-
aba pada Banjar Saketi dan Giwang Rana.

Serentak kedua laki-laki bertam-

pang beringas ini menggebrak kuda

tunggangannya. Kuda itu melabrak ke

arah Pematung Kelana yang tetap duduk ngejeplok di depan 
patung. Lalu kaki

Giwang Rana dan Banjar Saketi meng-

hantam dada dan kepala Pematung

Kelana. Namun sebelum kedua kaki

lawannya mencapai sasaran. Dengan

gerakan yang sangat sulit diikuti

kasat mata. Pematung tua gerakkan

tangannya ke arah bagian selangkangan kaki kuda.

Dengan tidak terduga-duga, kuda-

kuda itu melonjak ke atas sambil

meringkik-ringkik kesakitan. Giwang

Rana dan Banjar Saketi yang tidak

menyangka akan mengalami nasib sial

langsung terpelanting dari punggung

kuda. Untung mereka rata-rata memiliki kepandaian yang 
cukup tinggi. Sehingga
dalam keadaan yang sangat terdesak itu mereka masih
 sempat bersalto dan

menjejakkan kedua kakinya tidak jauh

dari pematung tua. Dua ekor kuda

tunggangan berlari kencang meninggal-

kan majikannya. Sementara Giwang Rana dan Banjar Saketi 
menjadi marah bukan main.

"Tua keparat Tidak ada jalan

bagimu terkecuali mati Sekarang kau

katakan pada kami kematian yang

bagaimana yang kau inginkan?" teriak Banjar Saketi.

"Kematian adalah urusan Tuhan

Pergilah sebelum darah kalian tercecer

membasahi tanah gersang yang sangat

suci ini"

"Juih..." Giwang Rana meludah.

"Sriing"

Dilain kesempatan laki-laki ber-

tampang pemberang ini telah menghunus senjatanya berupa 
sebilah kapak berwarna
kuning mengkilat. Sekali lirik

Pematung Kelana sudah dapat melihat

bahwa senjata di tangan lawan-lawannya mengandung racun
 yang sangat keji.

Tapi dasar laki-laki aneh, sungguhpun lawan telah 
menghunus senjata yang

sangat berbahaya. Namun ia tetap

bersikap tenang-tenang saja bahkan

tetap terpaku di tempatnya.

Merasa diremehkan, sambil meng-

geram aneh Giwang Rana dan Banjar

Saketi melompat ke depan, lalu

bacokkan senjata di tangannya membelah kepala Pematung 
Kelana, sedangkan

kampak lainnya menebas bagian ping-

gangnya. Angin dingin menderu menyer-

tai berkelebatnya kapak di tangan

lawannya. Serangan itu cepat bukan

main. Sehingga Pendekar Blo'on yang

melihat keadaan ini terpaksa menahan

nafas dan pentang mata lebar-lebar

"Heaaa..."

"Wuus"

"Aaaaakkkh..."

Tiba-tiba terdengar suara pekik

kesakitan. Dua sosok tubuh terpelan-

ting dengan arah berlawanan. Di dekat

patung, si kakek tua bangkit berdiri

sambil sunggingkan seringai aneh.

Entah bagaimana caranya dua kapak di

tangan masing-masing lawannya kini

telah berpindah tangan. Matanya yang

agak cekung memandang ke arah lawan-

lawannya yang sedang berusaha bangkit berdiri.

Wajah Giwang Rana dan Banjar

Saketi sebentar memerah sebentar

berubah pucat. Selama malang melintang di rimba persilatan
belum pernah

mereka mengalami nasib sial seperti

sekarang ini. Apalagi hanya dalam

gebrakan pertama saja mereka sudah

dibuat tidak berdaya

Namun untuk mundur, merupakan

satu pantangan bagi mereka. Apalagi

mengingat di tempat itu ada majikan

mereka. Sambil menelan ludah, tiba-

tiba saja tangan kanan saudagar

Bergola Mungkur mencabut keris ber-

lekuk tiga di bagian pinggang kiri.

Keris itu diputarnya sedemikian rupa, sehingga membentuk
 sebuah bayang-bayang
berwarna putih berkilauan.

"Hap..."

"Mampuslah kau" teriak Banjar Saketi dan Giwang Rana hampir

bersamaan. Tubuh mereka melesat ke

depan laksana kilat. Keris di tangan

membabat dan menusuk ke arah sepuluh

jalan darah yang mematikan.

Tapi ternyata Pematung Kelana

adalah manusia serba bisa yang bukan

saja memiliki ilmu kepandaian mematung yang handal. Tapi 
juga mempunyai simpanan jurus-jurus silat yang sangat 
mengagumkan.

Belum sempat senjata lawannya

menyentuh tubuhnya. Ia sudah melesat

ke udara. Senjata rampasan dilemparkannya dengan 
kecepatan sangat sulit

diikuti kasat mata.

"Jiiing"

"Traang"

"Waarkhgh..." Giwang Rana dan Banjar Saketi menjerit 
setinggi





langit. Tubuh mereka mengejang kaku.

Kapak beracun yang dilemparkan oleh

pematung tua menghunjam di dada mereka dan langsung
 menembus di punggung.

Mata kanan saudagar Bergola Mungkur

terpentang lebar bagai melihat setan

perempuan telanjang.

Hanya sekejap saja tubuh mereka

berkelojotan, kemudian terdiam untuk

selama-lamanya. Kejut di hati saudagar kota Malaya itu 
bukan alang kepalang.

Di atas bukit Suro Blondo lelet-

kan lidah dan garuk-garuk kepalanya.

Sementara itu Pematung Kelana

kembali duduk ngejeblok dan meneruskan pekerjaannya
 yang tertunda. Sikapnya

begitu tenang seakan tidak pernah

terjadi apa-apa di situ. Dari rasa

kecut, Saudagar Bergola Mungkur beru-

bah menjadi sangat marah sekali.

"Manusia hina dina keparat Kau

benar-benar tidak memandang muka sama sekali padaku 
Kalau kau tidak punya
nyawa rangkap, sebaiknya kau berlutut di depanku dan 
serahkan patung marmer itu
secepatnya"

Bukan menjawab, pematung tua

malah terkentut-kentut. Lalu terdengar suara batuk-batuk 
dari mulutnya yang

tertutup kumis memutih.

"Ah... lega rasanya. Punya perut harus bisa kentut, supaya
 jangan sakit pemburut
Eeh... kau barusan bilang

apa?" tanya Pematung Kelana tanpa memalingkan muka 
sedikit pun.

"Bangsat hina Makan nih

pedangku..." teriak sang saudagar.

Tiba-tiba saja tubuhnya melesat

ke udara. Pedang di tangannya

mengeluarkan suara mendengung. Tapi

tiba-tiba saja dengan sikap acuh tak

acuh Pematung Kelana melibaskan

tangannya ke samping kanan. Angin

kencang laksana bara menderu-deru.

Angin kencang berhawa panas

menghanguskan itu melabrak Bergola

Mungkur hingga membuatnya jatuh

terjengkang.

"Akkh..."

"Bruuk..."

"Hhrrrk..."

Bergola Mungkur bangkit berdiri.

Sekujur tubuhnya bergetar hebat, tanda amarahnya sudah 
memuncak sampai ke





ubun-ubun. Pendekar Blo'on yang

melihat kejadian itu bertepuk tangan.

Hanya saja tidak menimbulkan suara

sama sekali.

Sementara itu Bergola Mungkur

sudah menerjang kembali dengan

pengerahan tenaga dalam yang sangat

tinggi. Sejengkal lagi pedang berwarna putih mengkilat itu
 hampir memutus

urat leher Pematung Kelana. Tiba-tiba si kakek 
menggerakkan tangannya ke

bagian dada lawan. Gerakan yang

dilakukannya tampak begitu lambat.

Tapi akibatnya sungguh sangat luar

biasa sekali.

"Breet"

"Iiih..." Bergola Mungkur

terpekik kaget.

Baju saudagar kaya ini robek

besar bahkan seperti hangus terbakar.

Jika saja Pematung Kelana menghendaki, tentu sejak tadi 
nyawanya melayang.

Sekarang sambil melangkah ter-

huyung-huyung ia memperhatikan pema-

tung tua seakan tidak percaya dengan

kemampuan yang dimiliki oleh lawannya.

Tapi ia segera tahu gelagat. Kekayaannya menumpuk, siapa
 sudi kehilangan

nyawa?

"Pergilah sebelum kesabaranku

benar-benar habis" Pematung Kelana menggeram.

"Bbb... baiklah, aku akan pergi.

Tapi kau tunggulah nanti pembalasan-

ku" kata Bergola Mungkur. Seraya cepat-cepat mendapatkan
 kudanya,

kemudian meninggalkan Pematung Kelana sambil memacu 
kudanya sekencang

mungkin. Dan ternyata kuda tunggangannya entah mengapa
 sudah tidak dapat

berlari kencang lagi. Sepanjang

perjalanan terus terkencing-kencing

dan meringkik-ringkik tidak teratur.


4


Pematung Kelana menarik nafas


pendek. Ia kemudian duduk kembali di

depan patung batu marmer yang

berkilat-kilat terkena sinar matahari.

Suro Blondo usap-usap keningnya

yang berkeringat. Ia sekarang menjadi ragu apakah ia harus 
menemui pematung tua
itu atau berlalu? Tapi bila

mengingat bahwa dirinya tidak punya

urusan dan kepentingan apa-apa dengan laki-laki aneh ini. 
Maka tidak lama

setelah itu ia pun memutuskan segera

berlalu. Namun baru beberapa langkah

ia meninggalkan tempat persembunyian-

nya, tiba-tiba sebuah suara

memanggilnya.

"Hei... pemuda bertampang geb-

lek Sejak tadi kau mengintip di situ, datang tidak permisi kini
 pergi tidak memberi
salam. Kau benar-benar manusia tolol yang tidak tahu 
peradatan"





"Eeh...

mati

aku..." Suro

Blondo garuk-garuk punggung kepalanya.

Kemudian senyumnya yang jenaka pun

mengembang. "Bagaimana ini, kakek itu rupanya 
mengetahui kehadiranku.

Sungguh Walaupun sudah tua matanya

belum lamur. Sebaiknya aku hampiri

saja, ah..."

Sambil tersenyum-senyum, Suro

Blondo datang menghampiri. Sampai di

depan Pematung Kelana seraya menjura

hormat. Tubuhnya terbungkuk-bungkuk

hingga nyaris menyentuh tanah.

"Maafkan aku, kakek tua. Karena

datang tidak memberi salam dan ingin

pergi tapi ketahuan...."

"Bocah goblok Kapan aku kawin

dengan nenekmu? Seenaknya saja kau

memanggilku kakek?" Pematung Kelana bersungut-sungut. 
Sebagaimana

kebiasaannya kali ini pun ia tidak

berpaling dari pekerjaannya.

"Lalu apakah aku harus memang-

gilmu, Mbah, Engkong, Buyut, orang tua keriputan, tua jelek 
atau manusia aneh
tukang ukir batu?" kata Suro Blondo sambil menahan tawa.

Sedikitpun ekspresi wajah Pema-

tung Kelana tidak menunjukkan

perubahan sama sekali. Hanya wajahnya saja agak 
dimiringkan. Sehingga
pandangan mereka saling bertemu.

Suro Blondo alias Pendekar

Blo'on melangkah mundur, bibirnya

yang nyaris tersenyum kini terkatup

rapat. Betapa sorot mata laki-laki tua di depannya tampak 
begitu berwibawa.

Si pemuda merasa tidak kuat berlama-

lama menatapnya. Ia kemudian beralih

ke arah patung. Pemuda ini lebih

terkesima lagi setelah melihat betapa bagusnya ukiran 
patung batu itu.

Dadanya bidang, otot-otot di tubuh

patung bersembulan melambangkan

seorang pemuda perkasa. Hanya pemuda

ini menjadi malu sendiri ketika

melihat ke bagian bawah perut patung.

Di sana ada daging yang

berlebih. Dan daging itu tampak tegang seukuran lengan 
bayi, tegak terpancang
menghadap ke langit.

"Walah Patung ini memang indah.

Tapi mengapa harus dibuat porno?" Suro Blondo nyengir, 
lalu garuk-garuk

kepala.

"Bocah Kuminta hentikan oceha-

nmu, tutup mulutmu dan jangan

tersenyum macam orang gila di

depanku" bentak Pematung Kelana.

Tiba-tiba saja suara tawa Suro

Blondo meledak. Perutnya terguncang

karena berusaha menahan tawa.

"Diam..." bentakan menggelegar itu menghentikan tawa 
Pendekar Blo'on seketika itu juga.

"Kau siapakah?"

"Namaku Suro Blondo, Kek" sahut Pendekar Blo'on.

"Apakah kau mempunyai gelar?"

"Gelarku... ah bagaimana,

ya..." Suro Blondo menggaruk belakang kepalanya berulang-ulang.

"Katakan saja kalau kau punya

gelar atau julukan" desak Pematung Kelana Bambil 
memperhatikan pemuda di depannya dengan kening 
berkerut.

"Aku Pendekar Blo'on..."

jawabnya polos.

"Pantas Tampangmu saja sudah

membuktikan bahwa kau seorang pemuda

tolol. Hmm... akhir-akhir ini aku

memang sering mendengar namamu Oh

ya... apakah kau mau jika patung ini

kuberikan padamu?"

Suro Blondo terperanjat.

Saudagar Bergola Mungkur saja

yang berniat membeli patung itu dengan dua kantung emas 
ditampik oleh

Pematung Kelana. Mustahil sekarang

Suro Blondo dapat menerimanya. Lagi-

pula ia tidak berminat dengan segala

macam patung, sungguhpun karya

Pematung Kelana ini sungguh hebat dan mendekati 
sempurna tanpa cacat dan

kekurangan.

"Bagaimana?"

"Wah... saya tidak berminat

dengan patungmu, Kek." jawab si

pemuda, tegas.

"Mengapa? Apakah patung ini

tidak bagus, menurutmu?"

"Patung itu memang bagus. Tapi

aku mana berani terima pemberian yang sangat berharga 
ini." jawab si pemuda polos.

"Hmm, ternyata walaupun tampang-

mu tolol, tapi kau merupakan seorang pemuda yang cukup
 cerdik. Rupanya kau tahu
bahwa setiap keindahan yang kita lihat ternyata tidak selalu
 menjanji-kan kebaikan.
Rupa cantik belum tentu hati dan pribadinya cantik. 
Tampang

tidak selalu mencerminkan hati. Jadi

kau benar-benar tidak mau menerima

pemberianku ini?"

Suro Blondo golang-golengkan

kepalanya.

"Apakah kau tidak menyesal, jika nanti aku memberikannya 
kepada orang

lain?"

"Jika itu memang sudah kehendak-

mu, buat apa kusesalkan?"

"Kalau aku punya satu permintaan untukmu, apakah kau 
mau melaksanakannya?"
tanya Pematung Kelana.

"Tergantung baik buruknya

permintaan itu. Jika kau suruh aku

mencuri, siapa sudi. Jika kau suruh

merampok tentu aku kapok. Jika permintaanmu baik dan 
aku mampu

melakukannya, tentu dengan senang hati aku 
menjalankannya."

Pematung Kelana tersenyum, namun

hanya sesaat saja. Dilain waktu

sikapnya telah berubah serius. "Pergilah kau ke Bumi Ayu..."





"Heh.... Bumi Ayu?"

"Betul"

"Ada apa di sana?" tanya Suro Blondo tidak mengerti.

"Kau tidak layak bertanya"

"Sialan. Tua bangka ini sangat

angkuh sekali. Dia yang suruh pergi,

tapi tidak mau kasih tahu apa yang

harus kuperbuat di sana?" gerutu Pendekar Blo'on.

"Aku tidak akan pergi jika aku

tidak tahu apa yang harus kulakukan di sana..." kata
 Pendekar Blo’on

akhirnya dengan perasaan jengkel.

"Ha ha ha... Kau rupanya curiga juga padaku. Perlu kau 
ketahui, bahwa saudagar
yang menawar patungku tadi

merupakan orang kaya yang telah

memperalat orang lain untuk mengambil biji-biji emas di 
Bumi Ayu Hampir

setiap hari banyak di antara mereka

yang menemui ajal secara menyedihkan.

Mayat mereka dicampakkan begitu saja, hingga tempat itu 
bertimbun bangkai.

Sudah menjadi tugasmu Suro, untuk

menghentikan mereka. Jika usahamu itu berhasil. Maka kau
 juga harus

melenyapkan saudagar Bergola Mungkur.

Karena dia merupakan dalang dari semua penderitaan
 mereka."

"Mengapa tadi Kakek tidak

membunuhnya?"

"Hmm, aku memang sengaja memberi kesempatan untuk
 memperbaiki sepak

terjangnya. Lagipula aku berpantang

membunuh."

"Tapi terhadap dua ekor anjing

jelek itu mengapa Kakek dapat

melakukannya...?"

"Itu karena kepepet, dan mereka

memang sengaja mencari mati"

Suro Blondo seka keningnya yang

berkeringat.

"Satu hal yang harus kau ingat

Jika kau telah berhasil menghentikan

mereka. Maka kau harus mencariku"

"Untuk apa?" tanya Pendekar Blo'on terheran-heran.

"Sekarang belum waktunya bagiku

untuk menjelaskannya padamu. Nanti

jika tugasmu telah kau selesaikan."

"Baiklah, sekarang aku mohon

diri." kata si pemuda. Pematung Kelana menganggukkan
 kepala sambil memandangi
kepergian Pendekar Blo'on.


****

Dua pemuda penunggang kuda

berbulu hitam pekat itu tampak saling berlomba-lomba 
menuju ke daerah Bumi

Ayu. Melihat gelagat mereka yang dalam keadaan tergesa-
gesa. Tampak jelas

bahwa mereka ini mengemban tugas yang cukup penting.

Siang malam mereka memacu kuda

tunggangan, seakan tidak mengenal

lelah sama sekali. Mereka baru

berhenti jika benar-benar merasa

lelah. Memang kalau dipikir-pikir

jarak yang mereka tempuh antara

Kuningan dan Bumi Ayu cukup jauh.

Sehingga dalam seminggu perjalanan

beberapa kali mereka terpaksa bermalam di hutan.

Matahari sudah mulai condong di

ufuk barat pada saat mereka memasuki

daerah Bumi Ayu. Yaitu sebuah tempat

terakhir yang menjadi sasaran

pengejaran mereka.

"Sebaiknya kita bermalam di sini saja, Kakang" kata salah 
seorang di antara pemuda
itu. Pakaiannya yang

berwarna putih telah kotor berselimut debu. Wajah pemuda
 itu juga sudah

tampak kelelahan sekali.

"Jarak kita dengan gua-gua

penggalian sudah sangat dekat sekali.

Aku yakin pemuda-pemuda dari Kuningan yang diculik para
 algojo itu sampai

saat ini belum menjalani kerja paksa

Bagaimana kalau kita lanjutkan saja?"

"Kakang Sapala Kakang harus

ingat bahwa algojo yang menjaga

para pekerja paksa itu jumlahnya

tidak sedikit. Aku yakin mereka rata-

rata memiliki kepandaian yang sangat

tinggi. Kita membutuhkan waktu untuk

menghimpun tenaga yang terkuras selama dalam perjalanan.
 Kalau tidak ada aral
melintang besok pagi kita dapat

melanjutkan perjalanan ini."





"Baiklah, Panji. Jika memang itu sudah maumu, kali ini aku 
dapat

menurutinya..."

Sapala dan Panji yang selama ini

dikenal sebagai Pendekar Kembar di

daerah Kuningan segera turun dari

punggung kudanya. Sebentar kemudian

mereka mulai mencari tempat yang cocok untuk melewatkan
 malam.

"Hhuimm... adalah tolol, jika

laki-laki tidur dengan laki-laki. Jika tidak mempunyai 
kelainan jiwa,

pastilah orangnya sudah sinting"

Panji dan Sapala melengak kaget

ketika mendengar suara seorang

perempuan yang seakan datang dari

seluruh penjuru arah.

"Eeh... apakah kau mendengarnya, Panji?" tanya Sapala.

"Suara perempuan itu?"

"Ya...."

Sapala kemudian memandang ke

sekelilingnya. Aneh selain pohon-pohon besar ia tidak 
melihat apa-apa di

situ.

"Lihat" Panji tiba-tiba menunjuk ke salah satu cabang pohon.

Ketika Sapala melihat ke arah itu.

Maka ia tersentak kaget.

Pada salah satu cabang pohon ia

melihat seorang gadis berbaju ungu.

Wajahnya cantik menggiurkan. Tubuhnya padat montok di 
balik pakaian yang

sangat tipis mencolok. Gadis itu

langsung tersenyum genit ke arah

mereka. Bibirnya sengaja dibasah-

basahkan dengan lidahnya.

"Mengapa kalian memandangku

seperti itu?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Mustika 
Jajar atau

terkenal dengan julukan 'Iblis Betina Dari Neraka'

Sapala dan Panji saling berpan-

dangan. Lalu dua-duanya memutar

langkah dan hendak berlalu meninggal-

kan Mustika Jajar yang masih tetap

duduk tenang di atas cabang pohon itu.

Namun baru saja tiga langkah,

tiba-tiba terasa adanya sambaran angin menerpa wajah 
mereka. Panji dan Sapala
bersurut dua langkah ke belakang.

Sebagai pendekar muda, mereka langsung bersikap waspada
 menjaga segala

kemungkinan. Tapi gadis berbaju ungu

yang sekarang berdiri menghadang di

depan mereka malah tersenyum memikat.

"Kalian salah sangka. Aku ber-

maksud menanyakan sesuatu pada

kalian" ujar si gadis. Seraya

membungkukkan kepala, sehingga memperlihatkan kedua 
payudaranya yang putih
mulus menyembul ke luar.

"Siapa, Nisanak?" tanya Panji curiga. Mustika Jajar 
tersenyum.

Betapa senyumannya menimbulkan gelora yang menyentak-
nyentak. Tapi hanya

dengan mengerahkan tenaga dalam, baik Panji maupun 
Sapala dapat menghi-

langkan semua pengaruh itu.


5


"Aku adalah orang yang tersesat


dan ingin mencari jalan menuju daerah Malaya. Eeh... 
apakah kalian

mengetahui arah yang hendak kutuju?"

tanya Mustika Jajar.

"Sebaiknya Nisanak menuju ke

arah timur" sahut Panji bersungguh-sungguh.

"Hmm, begitu. Kalau pulau Seribu Satu Malam apakah kalian
 tahu di mana letaknya?"

Sapala dan Panji menggelengkan

kepalanya.

"Maaf kami tidak tahu. Mendengar namanya saja baru kali 
ini" ujar Sapala.

"Sayang sekali kalian tidak

tahu. Oh ya kalian sendiri hendak

kemana, dua pemuda gagah?"

Panji dan Sapala saling

berpandangan. Salah seorang di antara mereka lalu 
menyahuti.

"Kami ingin pergi ke suatu

tempat"

"Aku tahu kalian pasti mengejar

para algojo yang menculik beberapa

puluh pemuda untuk dikerahkan menjadi tenaga pekerja 
paksa, bukan?" Gadis berbaju ungu tiba-tiba saja tertawa

mengekeh. Lalu pinggulnya digoyang-

goyangkan membentuk sebuah gerakan

yang sangat merangsang.

Sapala dan Panji terkejut bukan

main. Bagaimana mungkin gadis ber-

pakaian merangsang ini dapat

mengetahui rencana perjalanan mereka?

Apakah tadi dia sempat mencuri dengar apa yang mereka 
bicarakan?

"Kuharap Nisanak tidak

mencampuri segala urusan kami" Sapala memperingatkan.

"Hi hi hi... Untuk apa mengejar para algojo itu? Apakah 
kalian tidak

tertarik melewatkan malam yang indah

bersamaku malam ini? Hik hik hik"

Dengan sengaja Mustika Jajar

melepas salah satu kancing bajunya,

sehingga sebagian payudaranya yang

kencang itu menyembul keluar. Sebagai pendekar golongan
 lurus dan berhati

bersih, Sapala dan Panji cepat-cepat

palingkan muka ke arah lain dengan

wajah bersemu merah.

"Hah... kalian rupanya benar-

benar manusia banci. Baiklah, karena

kalian bermaksud pergi ke Bumi Ayu.

Tidak ada salahnya jika aku menjajal

sampai di mana kepandaian yang kalian miliki" Gadis 
berbaju ungu menutup
ucapannya dengan satu serangan dahsyat yang tidak terduga 
sama sekali.

"Hiyaaa..."

"Wuus"

Sapala dan Panji yang tidak

menyangka akan mendapat serangan yang sedemikian cepat 
ini langsung melompat mundur. Serangan pertama luput, 
namun mereka sempat merasakan sekujur tubuh mereka 
seperti ditusuk-tusuk ribuan

batang jarum. Sadar lawannya menghendaki nyawa mereka. 
Maka tanpa sungkan-sungkan lagi mereka mencabut pedang

yang miliki ketajaman pada kedua

sisinya.

"'Jurus Hati Suci'" teriak Panji memberi aba-aba. Pedang di

tangan kemudian diputar sedemikian

cepat. Angin menderu-deru. Hanya dalam waktu yang
 teramat singkat senjata di
tangan mereka telah berubah menjadi

gulungan sinar putih yang sangat

menyilaukan mata. Kehebatan jurus yang dimiliki oleh 
mereka adalah kecepatan dan
kekompakannya dalam melancarkan

setiap serangan. Demikian juga yang

terlihat pada saat itu. Namun lawannya malah tertawa 
mengikik. Mustika Jajar yang
dalam keadaan terkurung sinar

senjata lawannya ini tampak melesat ke udara.

"Haap..."

"Shaaa..."

"Wuuss"

Segulung sinar hitam melesat

dari sekujur tubuh gadis berbaju ungu.

Sinar berhawa dingin menggidikkan itu menyapu lawan-
lawannya dengan hanya

dalam tempo sekedipan mata saja.

Panji dan Sapala terdorong ke

belakang. Mereka merasa sulit mengge-

rakkan pedangnya. Bahkan tubuh mereka sendiri cepat 
terdorong, sungguhpun

mereka berusaha bertahan. Bahkan telah mengerahkan 
tenaga dalam untuk
menghalau pengaruh serangan aneh itu, tetap saja terlempar.

"Aaakh..."

"Braak"

Sapala dan Panji jatuh terban-

ting. Celakanya mereka sama sekali

tidak mampu menggerakkan tubuhnya.

Adalah sungguh mengejutkan jika

pendekar seperti mereka berdua ini

dapat terkalahkan dengan mempergunakan ilmu menotok
 jarak jauh.

Jika saja lawannya memang bukan

orang yang memiliki kepandaian yang

benar-benar sangat tinggi. Mustahil

mereka dapat dijatuhkan hanya dalam

waktu beberapa gebrakan saja.

"Bangsat pengecut Lepaskan

kami..." teriak Panji. Ia menjadi berang karena ternyata 
lawannya telah
memperdayai mereka.

"Tidak ada gunanya kalian memaki Kalian telah menjadi 
tawanan-

ku" dengus Mustika Jajar.

Gadis ini kemudian mengambil dua

utas dari kulit kayu waru. Sebuah

kecerdikan sekarang terlintas dalam

hatinya.

"Jika saudagar Bergola Mungkur

benar-benar merupakan orang yang kaya raya. Mengapa aku
 tidak memanfaatkan

kesempatan ini untuk menguasai harta-

nya? Mengenai musuh besar guruku aku

dapat mencarinya kemudian. Tapi aku

juga harus ingat harta juga tidak

kalah menariknya dengan musuh besar.

Kedua pemuda ini dapat kujadikan

jembatan untuk mendekati saudagar

itu"

Mustika Jajar tersenyum genit.

Seraya kemudian mendekati Sapala dan

Panji yang berhasil ditotoknya melalui pertarungan yang 
sangat singkat itu.

"Kkk... kau mau apa?" tanya Panji gugup.

"Hik hik hik Kau tidak usah

takut. Aku tidak akan menggantung dan membunuh kalian 
seperti orang yang

tidak mau kasih keterangan di jalan

Paling tidak sampai di rumah saudagar Bergola Mungkur" 
dengus gadis itu.

Kemudian dengan cepat ia mengikat

tangan Panji dan Sapala.

"Perempuan iblis Mau kau bawa

kemana kami?" teriak Sapala.

"Tenang

saja. Karena kalian

bermaksud membebaskan para pekerja di Bumi Ayu. Maka 
sekarang aku mau

menyeret kalian kepada saudagar itu

untuk terima hukuman yang setimpal"

"Bangsat"

"Memakilah sepuasmu Aku memang





iblis dari neraka. Kalian tidak perlu gusar" ujar gadis baju 
ungu. Seraya lalu
melompat ke atas punggung kuda

milik Sapala. Tali yang mengikat kaki kedua tawanannya 
disentakkannya. Tidak
lama kemudian melesatlah kuda tunggangan itu menyeret 
Sapala dan Panji.

Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa si gadis. 
Sementara di belakangnya
terdengar jerit dan lolong

kesakitan dari mulut kedua pemuda yang dalam keadaan 
tertotok itu.

****
"Jtar"

"Jtarr"

"Akkkh... ampun Pak... ampun

Tuan..." suara pekik tangis itu menggema meningkahi suara
 lecutan

cambuk di tangan algojo. Beberapa

pemuda bertubuh tegap yang baru saja

didatangkan dari Kuningan tersungkur

dengan tubuh bersimbah darah.

"Di sini tidak ada kesempatan

hidup lebih lama lagi bagi seorang

pemalas Tugas kalian adalah

mengumpulkan biji-biji emas. Tidak

layak membantah apalagi membangkang

Cepat kerja" bentak kepala algojo itu, lalu cambuk di
 tangannya

diayunkannya tinggi-tinggi.

"Jtar jtaar…"

"Walah... walah Sakitt..."

teriak salah seorang yang tangannya

dirantai ini kesakitan. Kepala algojo dan kawan-kawannya 
tergelak-gelak.

Tampaknya semakin banyak darah yang

mengalir dari tubuh para pekerja paksa ini semakin 
membuat puas hati mereka.

Apa yang terjadi di tempat itu

tampaknya tidak lepas dari perhatian

seorang pemuda berbaju biru muda.

Pemuda berambut panjang sebahu dan

memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning ini 
menggeram marah.

Mulutnya pletat-pletot, kepala golang-goleng ke kiri dan 
kanan.

"Algojo kepala botak itu tampak-

nya bukan manusia, tapi setan berkedok yang selalu haus 
darah. Jika terus

kubiarkan, tingkah mereka jadi

kapiran" desisnya.

Dilain kesempatan pemuda ini

melangkah tenang menghampiri para

algojo yang selalu siap dalam keadaan waspada. Dasa Reksa 
Sebagai orang yang
mengepalai delapan orang anak buahnya tentu saja menjadi
 heran sekaligus

terkejut melihat kemunculan Suro

Blondo. Dalam waktu yang sangat

singkat, mereka langsung mengurung

Pendekar Blo'on.

Pemuda berbaju biru muda ini

garuk-garuk kepalanya. Mulutnya nye-

ngir begitu melihat ulah laki-laki

bertubuh tegap ini.

"Heh... hari ini kita dapat





tenaga tambahan lagi. Walaupun tampang kunyuk ini tolol. 
Tapi rasanya kita

dapat memanfaatkan tenaganya untuk

menggali emas dalam jumlah besar He

he he... mimpi apa aku semalam?"

"Aha... aku yakin semalam kau

telah bermimpi buruk Melihat badanmu yang lebih besar 
dari kawan-kawanmu,

rasanya tidak salah penglihatanku,

kaulah orangnya yang bernama Dasa

Reksa? Apakah betul...?" tanya Suro Blondo. Walaupun 
hatinya kesal bukan

main, tapi ia tetap tertawa-tawa.

Dasa Reksa sempat tersentak

kaget. Bagaimana mungkin pemuda ini

dapat mengetahui siapa namanya? Namun setelah mengingat
 sepak terjangnya,

maka ia merasa tidak tertutup

kemungkinan nama besarnya telah

dikenal di seluruh penjuru persilatan.

"Kalau kau sudah tahu siapa aku.

Bicaralah yang sopan dan sekarang

berlutut di depan majikanmu ini.

Setelah itu menyalak tiga kali"

perintah Dasa Reksa diikuti tawa anak buahnya.

"Oh... maafkan aku majikan. Sama sekali aku tidak melihat
 tingginya

gunung di depanku. Tapi bolehkah aku

bertanya pada majikan yang terhormat?"

ucap Suro Blondo sambil membungkuk-

bungkukkan badannya.

"Bagus Rupanya kau tahu

bagaimana caranya menghargai orang

lain. Sekarang coba katakan apa yang

ingin kau tanyakan?" perintah Dasa Reksa, lalu tersenyum. 
Sementara itu

satu dua orang algojo begitu melihat keramahtamahan 
atasannya terhadap

pemuda bertampang tolol yang tidak

dikenal itu langsung membubarkan diri.

"Yang ingin kutanyakan adalah

berapa harga setiap kepala gundul di

sini?"

Dasa Reksa pentang mata lebar-

lebar dengan kening berkerut. Sedang-

kan pemuda di depannya kini. tampak

berubah serius.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku sudah jelas, Tuan"

Suro Blondo mengusap keningnya.





"Kulihat di dataran rendah sebelah sana tulang dan bangkai 
manusia

bertimbun. Kalau dihitung mungkin

jumlahnya lebih dari dua ratus biji,

eeh... orang maksudku Berarti sudah

dua ratus nyawa melayang menjadi

tumbal secara sia-sia. Dan semua itu

adalah hasil kejahatanmu dan orang-

orangmu. Kini aku datang menagih

hutang nyawa orang-orang yang tidak

berdosa. Apakah keterangan ini sudah cukup jelas bagimu?"

"Huh..., puih, pemuda edan dari

mana kau Berani-beraninya kau

mengungkit-ungkit segala persoalan

yang terjadi di sini? Apakah kau pikir kau mampu 
melakukannya?" bentak Dasa

Reksa. Wajah sampai kepala botaknya

berubah merah padam.

"Pruuuh... ha ha ha ha... Dasa

Reksa. Sudah kukatakan aku datang

kemari ingin membebaskan orang-orang

di dalam gua penggalian emas. Tentu

saja sekalian mencopot kepala kalian

dari badan"

"Keparat Kau benar-benar tidak

tahu penyakit Hiaaa..." Disertai satu teriakan melengking 
tinggi. Dasa Reksa
melompat ke depan. Tangannya

yang kokoh dan besar itu mencengkeram ke bagian leher. Ia 
berpikir hanya

dengan sekali gebrak saja, tentu

kepala pemuda tampan bertampang tolol terpotes dari 
kepalanya.

Tapi ternyata dugaan Dasa Reksa

benar-benar meleset. Laksana kilat

Suro Blondo yang telah memperhitungkan segala sesuatunya
 ini berkelit ke

samping. Serangan itu hanya menyambar tempat kosong. 
Karena saat menyerang

tadi Dasa Reksa mengerahkan tenaga

dalam yang cukup tinggi. Maka kini

setelah tidak mencapai sasarannya

membuat ia kehilangan keseimbangan.

Kesempatan itu dipergunakan oleh

Suro Blondo untuk membetot tubuh

lawannya. Dengan satu sentakan yang

sangat keras tubuh besar itu melayang dan tersungkur 
mencium tanah keras.

Dasa Reksa menggerung. Hidungnya

yang membentur tanah patah dua dan berubah lembam 
membiru. Sambil

meringis kesakitan ia bangkit berdiri.

Matanya merah beringas. Memandang

penuh kekejaman pada Suro Blondo. Yang dipandang malah

tersenyum sambil

garuk-garuk belakang kepalanya.


6


"Anak-anak Bunuh monyet ber-

tampang tolol itu" teriak Dasa Reksa pada anak buahnya 
yang ternyata telah
berkumpul kembali mengurung Suro

Blondo. Perintah sang ketua disambut

oleh bunyi lecutan cambuk yang

meledak-ledak di udara.

Dalam waktu singkat delapan

mata cambuk berderu menyerang Pendekar Blo'on dari 
delapan penjuru arah.

Pemuda ini terpaksa melompat ke udara.

Lalu kerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan
 Ekor'.

Sekejap tubuh pemuda ini

sudah melompat-lompat atau terkadang

menari-nari membentuk gerakan-

gerakanya yang sangat aneh. Dilihat sepintas lalu gerakan 
yang dilakukan

Suro Blondo ini memang sangat mirip

dengan gerakan monyet yang melompat-

lompat di atas pohon. Namun sungguhpun demikian hingga 
sejauh itu tidak

satupun lidah cambuk yang dapat

menyentuh tubuhnya apalagi sampai melukainya.

"Gila betul Rupanya pemuda

bertampang tolol ini memiliki kepan-

daian yang dapat diandalkannya."

Membatin Dasa Reksa.

"Kerahkan jurus 'Seribu Bisa'"

sang pimpinan berteriak-teriak memberi aba-aba.

"Shaa..."

"Buut"

"Tar... tar..."

Jurus-jurus yang dimainkan oleh

para algojo itu secara serentak

berubah. Suara cambuk meledak-ledak

memekakkan gendang-gendang telinga.

Semakin lama cambuk di tangan lawannya tampak berubah menjadi banyak. Suro

Blondo leletkan lidah saat menyadari

posisinya dalam keadaan terdesak.

"Gila. Betul-betul gila Aku

harus mengerahkan jurus 'Seribu

Siluman Kera Putih Mengecoh Harimau"

batin Pendekar Blo'on dalam hati.

Namun sebelum ia sempat melak-

sanakan niatnya. Salah satu cambuk

lawan menghantam punggungnya. Baju

terkoyak lebar. Ada darah yang

mengalir di sepanjang luka guratan.

Suro Blondo tersungkur mencium tanah.

Saat itulah cambuk berduri bertubi-

tubi mendera tubuhnya. Dalam keadaan

tubuh remuk redam seperti itu. Ia

terus berguling-guling menghindari

mata cambuk berduri yang datang

mendera seakan tidak ada habis-

habisnya. Lalu....

"Haap..."

Suro Blondo bangkit berdiri lalu

melompat mundur sejauh tiga tombak.

Mulutnya menyeringai menahan sakit.

Darah bercucuran membasahi bajunya

yang hancur di beberapa bagian.

"Bunuh Jangan beri kesempatan

pada pemuda sinting itu meloloskan

diri" teriak Dasa Reksa sambil terus memperhatikan jalannya
 pertempuran.

"Urusan jadi kapiran jika aku

sampai mati di tangan mereka" gerutu Suro Blondo.

Tiba-tiba saja ia merangkapkan

kedua tangannya ke depan dada.

Setengah dari seluruh tenaga yang

dimilikinya dikerahkannya ke bagian

tubuhnya. Lalu... diawali dengan satu langkah yang sangat
 ganjil. Tubuhnya tiba-tiba
bergerak cepat laksana

kilat. Di tengah-tengah gerakan yang

sangat sulit diikuti kasat mata dan

membuat bingung lawannya itulah

terdengar suara aneh. Mula-mula

terdengar suara tawa meledak-ledak

bagaikan hendak mengguncang bumi. Tapi di saat lain 
terdengar pula suara

seperti orang yang sedang menangis.

Suara itu mendayu-dayu

mendirikan

bulu roma. Dan di dalam kesempatan

lainnya suara tangis lenyap berganti

dengan suara gajah. Rupanya dalam keadaan sedemikian 
rupa, Pendekar

Blo'on disamping mengerahkan jurus

"Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.

Ia juga mengerahkan jurus 'Tawa Kera

Siluman'.

Kenyataan ini sempat membuat

terkesima lawan-lawannya. Namun mereka tidak mau 
berdiam diri lebih lama

lagi. Laksana kilat cambuk berduri di tangan mereka melecut
 mengejar kemana saja
bayangan Suro Blondo menghindar.

Namun berulang kali mereka dibuat

kecewa ketika serangan mereka mencapai tempat kosong. 
Bahkan dengan gerakan-
gerakan yang sulit diduga-duga Suro

Blondo mulai mempecundangi lawan-

lawannya. Satu demi satu lawan-

lawannya itu dibuat jatuh bangun. Hal ini semakin 
memancing kemarahan Dasa

Reksa.

Ia pun mulai menerjunkan diri ke

medan pertempuran. Tidak pelak lagi,

Suro Blondo langsung mendapat

keroyokan sembilan jago-jago pembunuh yang memiliki 
kemampuan tidak rendah.

Sungguh pun pemuda tampan

bertampang tolol ini mempunyai watak

yang konyol. Namun ia terdidik oleh

dua guru yang memiliki pengalaman dan kepandaian sangat
 tinggi. Sehingga ia
segera menyadari bahwa saat itu

nyawanya benar-benar dalam kea-

daan terancam.

"Hiyaa..."

"Shaaa..."

Gerakan silat Pendekar Blo'on

dari cepat kini menjadi lambat.

Sebagian tenaga dalam yang dimilikinya kini dikerahkannya 
ke bagian telapak

tangannya. Sehingga dalam waktu yang

singkat telapak tangan itu menjadi

putih berkilauan. Pada kesempatan yang sama cambuk di 
tangan lawan-lawannya

mendera sekujur tubuhnya hingga

membuatnya jatuh tergulung-gulung dan babak belur.

"Bunuh" teriak Dasa Reksa

semakin bertambah beringas.

Serangan cambuk semakin menjadi-

jadi. Pakaian yang melekat di tubuh

Suro Blondo praktis tercabik-cabik.

Namun pemuda itu cepat bangkit ber-

diri. Cambuk di tangan lawan-lawannya menyambut dan 
melibat tubuhnya. Tarik
menarik pun terjadi. Andai saja

Pendekar Blo'on bukan pemuda yang

telah kenyang makan gemblengan

gurunya. Mungkin saat itu tubuhnya

telah terpisah-pisah.

Suro Blondo menggeram penuh

amarah. Sama sekali ia sudah tidak

menghiraukan darah yang mengalir dari setiap luka yang 
terdapat di tubuhnya.

Dan dalam keadaan dilanda kemarahan

sedemikian rupa. Satu hal yang tidak

pernah disadari oleh lawan-lawannya

adalah bahwa, rambut Pendekar Blo'on

yang hitam kemerah-merahan itu





sekarang telah berubah merah

sepenuhnya,

"Heaaa..." Suro Blondo

berteriak melengking tinggi.

Empat

larik sinar putih menyilaukan ber-

kiblat melesat dari telapak tangannya.

Itulah salah satu pukulan yang bernama

'Kera Sakti Menolak Petir' yang

dilepaskan oleh Pendekar Blo'on.

Udara berubah menjadi panas

menyesakkan. Empat orang lawannya

terkesiap melihat datangnya gelombang sinar putih yang
 meluruk deras ke arah
mereka. Namun untuk menyelamatkan diri tidak ada 
kesempatan lagi bagi algojo-
algojo ini karena pukulan itu langsung menghantam tubuh 
mereka.

"Blaam Buum Buum"

"Wuaaakh..."

Empat sosok tubuh berpentalan

meregang ajal. Tubuh mereka berubah

hangus. Belum hilang rasa kejut di

hati kawan-kawannya, Suro Blondo telah melompat ke 
belakang sehingga membuat
cambuk yang membelit tubuhnya

terlepas. Tidak tanggung-tanggung. Ia kali ini melepas 
pukulan 'Matahari Dan
Rembulan Tidak Bersinar'.

Sinar redup bersemu merah

bercampur dengan warna biru datang

menggebu-gebu. Dun algojo lainnya kini menjadi korban. 
Tidak sempat menjerit
 apalagi melolong. Tubuh mereka tiba-tiba terhempas ke 
depan. Wajah mereka

berubah pucat kebiru-biruan. Darah

kental menyembur tiada henti dari

mulut kedua algojo itu. Laksana mau

terbang semangat Dasa Reksa melihat

kejadian tragis yang sangat singkat

ini. Namun kematian tetap kematian.

Kenyataan yang dilihatnya tidak

membuat nyalinya lumer, apalagi lari

terbirit-birit meninggalkan pertem-

puran. Dengan dibantu dua orang

kawannya ia kembali merangsak ke

depan. Suro Blondo menyeringai seakan mengejek.

Menghadapi lawan yang sudah

banyak berkurang, malah ia semakin

berhati-hati. Selanjutnya ia

mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih

Mengecoh Harimau'. Gerakan laksana

kilat ini disusul dengan tendangan

maupun jotosan beruntun ke bagian-

bagian tubuh lawannya. Namun aneh...

kali ini setiap pukulannya dapat

dihindari oleh lawan. Ketika mereka

balas menyerang dengan mempergunakan

jurus 'Gaung Halimun' Maka serangan

balik itu juga lebih berbahaya dari

serangan dahsyat yang dilakukan oleh

Suro Blondo.

"Buuuk Buuuk"

"Setan atas" maki pemuda itu jatuh bangun 
mempertahankan diri.

"Ayo kerahkan semua kepandaian

yang kau miliki pemuda tolol" teriak Dasa Reksa dan kawan-
kawannya semakin

bersemangat.

"Kalian meminta aku memberi"

sahut Suro Blondo, Ia langsung meraba gagang mandau jantan di balik

pakaiannya.

"Wuuus"

Sinar hitam tiba-tiba saja

berkiblat. Salah seorang algojo yang

berada begitu dekat dengannya menjerit roboh sambil 
memegangi perutnya yang

membusai. Di tengah-tengah berkiblat-

nya sinar hitam tersebut tiba-tiba

terdengar pula suara raungan aneh.

Suara raungan kemudian berubah menjadi siulan tidak 
teratur. Bahkan terus

berubah seperti suara ringkik kuda

jantan.

Suara yang tidak teratur dan

sesungguhnya keluar dari empat lubang miring yang terdapat
 di tengah

cekungan pipih di tengah-tengah mandau ini benar-benar 
mengacaukan gerakan

silat Dasa Reksa dan salah seorang

anak buahnya.

Serangan-serangan yang mereka

lancarkan pun mulai membabi buta.

Namun sampai sejauh itu tetap saja

sangat berbahaya bagi Suro Blondo.

Bahkan satu tendangan menggeledek

berisi tenaga dalam penuh menghantam

punggung

Suro Blondo. Untuk yang

kesekian kalinya pemuda itu tersungkur roboh. Namun 
senjata sakti mandau

jantan masih tergenggam erat di





tangannya. Sekilas Dasa Reksa sempat

melihat Senjata berbentuk aneh ini.

Sungguhpun

hatinya

berubah kecut.

Namun ia tetap mengayunkan cambuknya

untuk merampas mandau sakti di tangan lawan.

Ayunan cambuk mengarah pada

bagian tangan Suro Blondo sempat

dirasakan oleh si pemuda. Sehingga ia menggerakkan senjata
 ke arah datangnya
cambuk yang menderu ke arahnya.

"Prass"

"Tees"

Cambuk

baja di tangan lawan

terbabat putus menjadi beberapa

bagian. Kesempatan itu tidak disia-

siakan oleh Suro Blondo. Seraya

melompat ke depan sambil menusukkan

senjata di tangannya ke bagian perut

Dasa Reksa.

Kepala algojo ini berkelit ke

samping kiri dengan jalan menggeser

langkahnya sebanyak dua tindak. Sera-

ngan Suro Blondo luput. Tapi senjata

itu kemudian ia belokkan

dan

menghantam tulang iga Dasa Reksa.

Bukan main cepatnya serangan

Pendekar Blo'on, sehingga lawan tidak sempat melihat 
berkiblatnya senjata si
pemuda. Tahu-tahu saja dadanya kena

dihantam.

"Craak Craaaak..."

"Wuaaakkk"

Suara teriakan Dasa Reksa

laksana merobek langit. Tubuhnya

terguling, setelah empat tulang rusuknya terbabat putus 
senjata milik Suro Blondo. Laki-laki itu berkelojotan

sebentar untuk kemudian terdiam

selama-lamanya. Mati

Suro Blondo bersiul nyaring. Ia

memperhatikan algojo yang cuma tinggal satu-satunya ini. Ia
 menggerakkan

tangannya, seraya memberi isyarat pada algojo yang sudah 
lumer nyalinya ini

untuk maju menyerangnya. Namun algojo itu malah 
melangkah mundur bersiap-
siap langkah seribu.

"Kau mau kabur kemana?" desis Suro Blondo. Pemuda ini 
tampaknya

sengaja membiarkan algojo tersebut

melarikan diri. Namun begitu sang

algojo membalikkan badan dan ambil

langkah dua ribu. Suro Blondo memungut sebuah batu 
sebesar kepalan tangan.

Batu itu kemudian disambitkannya ke

bagian punggung laki-laki berkepala

botak tepat mengenai sasaran.

"Pluuuk"

"Wadooow..."

Sang algojo menjerit tertahan.

Tubuhnya terguling roboh tanpa mampu

bangkit kembali. Sungguhpun ia

berusaha mengerahkan segenap tenaga

dalam yang dimilikinya. Namun tetap

saja ia tidak mampu membebaskan diri

dari totokan.

"Ternyata kau hanya seorang

pengecut yang takut mati Tapi hukuman segera kau terima
 dari para pekerja

itu begitu aku membebaskan rantai baja yang membelenggu 
tubuh mereka" kata
pemuda itu, lalu usap-usap keningnya.

"Tunggu, tolong lepaskan aku

Aku berjanji mengabdi padamu jika kau mau menyelamatkan
 aku dari amarah

mereka" kata algojo itu penuh per-mohonan. Suro Blondo 
malah melangkah pergi
sambil berkata:

"Manusia memang selalu begitu.

Jika nyawa sudah di tenggorokan baru

merengek-rengek minta ampun dan tobat.

Huh... dasar kecoa kudisan" desis Suro Blondo.

Tidak lama kemudian Pendekar

Blo'on melepaskan rantai yang

membelenggu tangan para pekerja itu.

Setelah dirinya merasa terbebas, maka para pekerja itu 
beramai-ramai
meninggalkan gua penggalian.

Saat mereka melihat salah satu

algojo masih dalam keadaan tertotok.

Dengan penuh amarah mereka mencincang tubuh algojo
 malang yang selama ini

menyiksa mereka di lingkungan kerja

paksa.

Di kejauhan lamat-lamat Suro

Blondo yang telah meninggalkan Bumi

Ayu mendengar suara jerit kesakitan

dari mulut sang algojo yang sedang

menerima hukuman rimba. Pendekar

Blo'on bergidik seram, lalu golang-

golengkan kepalanya berulang-ulang.

7

Sekujur tubuh kedua pemuda itu


telah babak belur. Kulitnya terbeset-

beset. Bagian wajahnya terkelupas,

darah menetes-netes bercampur debu

jalanan. Keadaan mereka benar-benar

berada antara sadar dan tiada. Kuda

terus berlari kencang. Penunggangnya

gadis berbaju ungu terus menggebraknya bagai kesetanan.
 Setelah memasuki kota
Malaya, gadis ini memperlambat

kecepatan kudanya. Bagi Mustika Jajar tidak sulit 
menemukan tempat kediaman
 saudagar Bergola Mungkur yang kaya

raya itu. Ia memiliki rumah yang

paling besar dan yang paling mewah di tengah-tengah kota 
tersebut.

Mustika Jajar memasuki alun-

alun, lalu berbelok ke arah halaman

yang cukup luas. Para begundal

saudagar Bergola Mungkur langsung

mengurungnya begitu melihat kehadiran gadis berbaju ungu 
ini. Sebaliknya

Mustika Jajar dengan angkuh membentak.

"Menyingkir kalian Aku datang

kemari untuk menyerahkan dua perusuh

pada majikanmu"

Serentak mereka memandang pada

dua tawanan yang pada bagian tangan

dan kakinya terikat kuat. Sementara

wajah mereka sudah tidak dapat

dikenali karena luka-lukanya yang

cukup parah.

"Siapakah mereka?" tanya kepala pengawal merasa curiga.

"Jangan banyak tanya Panggil

majikanmu, hanya padanya aku dapat

menjelaskan siapa tawanan ini." dengus Mustika Jajar sengit.

"Tidak bisa" kata pengawal itu kurang senang.

"Kalau begitu kau memang pantas

mati" Mustika Jajar menggeram. Ia angkat tangannya tinggi-
tinggi. Pada

saat itulah ia mendengar suara serak

seseorang.

"Tahan..."

Gadis baju ungu menurunkan

tangannya, ia menoleh ke arah suara

itu. Kini ia melihat seorang laki-laki berpakaian mewah
 datang menghampiri.

Laki-laki itu berumur kurang lebih

lima puluh tahun. Kumisnya tebal

terpelihara rapi. Sekali lihat saja si gadis sudah dapat melihat
 inilah

orangnya saudagar yang ingin

ditemuinya itu. Serta merta Mustika

Jajar mengangguk penuh rasa hormat.

Kemudian, senyum genitnya pun

mengembang.

"Kalau tidak salah aku sedang

berhadapan dengan saudagar Bergola

Mungkur yang kaya raya."

Laki-laki berbaju hijau bersulam

benang emas ini menganggukkan kepala.

Tenggorokannya turun naik setelah

melihat kecantikan gadis yang duduk di atas punggung kuda 
tersebut.

"Dugaanmu memang benar" sahut saudagar. "Ada gerangan 
apakah kau
menemuiku?" tanya tuan rumah. Matanya yang jalang 
merayapi sekujur tubuh si
gadis yang terbalut pakaian serba ungu yang ketat dan 
tembus pandang.

Sebaliknya Mustika Jajar malah

menggerak-gerakkan tubuhnya, hingga

membuat gelora birahi si saudagar

terbangkitkan.

"Aku sengaja mencarimu untuk

menyerahkan dua ekor kunyuk yang

hendak menghancurkan ladang emasmu di Bumi Ayu. 
Kuharap kau suka memberi

upah lelah atas jerih payah ini" kata gadis itu sambil 
mengedipkan matanya.

Sementara belasan pengawal yang

sempat mengurung gadis berbaju ungu,

kini telah membubarkan diri dan

kembali berjaga-jaga di tempatnya

masing-masing.

Bergola Mungkur telan ludah

basahi bibir. Sungguhpun ia telah

mempunyai tiga orang istri dan anak

yang sudah dewasa. Namun sebagai laki-laki mata keranjang.
 Tentu saja ia

tidak menyia-nyiakan kesempatan

melihat gadis secantik Mustika Jajar.

Apalagi tampaknya gadis berpakaian

tipis itu memang memberi angin kepadanya.

"Mengenai hadiah kau tidak usah

khawatir Kau meminta pasti aku akan

memberikannya padamu dalam jumlah yang tidak kau duga. 
Tapi aku mau tahu

siapa dua pemuda yang kau seret itu?"

"Hik hik hik... Mereka

menamakan dirinya sebagai Pendekar

dari Kuningan. Beberapa hari yang lalu algojomu menculik
 pemuda-pemuda daerah
itu. Itu sebabnya mereka sengaja

datang ke Bumi Ayu untuk mengambil

kembali pemuda-pemuda yang diculik

oleh anak buahmu."

"Puah... kepandaian hanya seu-

jung kuku. Mereka benar-benar mencari penyakit bila 
bermaksud merusak

pencarian orang lain. Jika kau memang berada di pihakku. 
Kuharap sekarang

juga kau mau membunuhnya"

Sebagai Iblis Betina Dari

Neraka, tentu saja Mustika Jajar

dengan senang melakukan tugas yang

diberikan oleh saudagar Bergola

Mungkur.

"Jika aku telah membawanya

kemari. Membunuh manusia-manusia

seperti kecoa ini bukan merupakan

pekerjaan yang sulit" Mustika Jajar kemudian melompat dari
 atas punggung

kudanya. Setelah itu ia mendekati

Sapala dan Panji. Dengan mengandalkan tiga perempat dari
 seluruh tenaga

dalam yang dimilikinya tangan





Mustika Jajar tiba-tiba menghantam dua kali.

"Praak"

"Praak"

Darah bercampur otak muncrat

dari bagian kepala Panji dan Sapala

yang terkena hantaman tangan si gadis.

Tewaslah keduanya seketika tanpa

sempat menyadari apa yang terjadi pada dirinya.

Mustika Jajar bangkit berdiri.

Seraya membalikkan tubuhnya dan

menghadap langsung pada Bergola

Mungkur. "Bagaimana apakah kau puas?"

"Ha ha ha... Tentu saja aku

merasa senang. Kau memang pantas

menjadi salah seorang tangan kananku

menggantikan dua orang lainnya yang

telah mati"

"Bukan saja hanya menjadi tangan kanan, aku dapat 
memberimu kebahagiaan yang tidak pernah diberikan

oleh orang lain"

Bergola Mungkur telan ludah.

Matanya belingsatan memandangi Mustika Jajar seakan 
tidak pernah mengenal

rasa bosan.

"Mari... kita rayakan kemenangan dan pertemuan yang tidak 
disangka-sangka ini..." kata laki-laki

berkumis tebal tersebut sambil ter-

senyum-senyum.

Iblis Betina Dari Neraka

memasuki sebuah ruangan yang cukup

luas. Di dalam ruangan itu telah

terhidang berbagai jenis makanan yang lezat-lezat. Di 
samping itu tersedia pula beberapa guci arak yang harum

baunya.

"Hmm, rumah ini sangat mewah

sekali" kata gadis itu sambil

menuangkan kendi arak pada sebuah

cawan yang cukup cantik.

"Kalau kau suka, eeh... siapa

namamu...?"

"Panggil saja Mustika." kata gadis itu, lalu meneguk araknya.

"Ah... namamu secantik dan

seindah orangnya," Bergola Mungkur memuji.

"Kalau kau merasa namaku cocok.

Mudah-mudahan saja kita selalu cocok

dalam banyak hal," Mustika Jajar mengedipkan matanya
. Sehingga membuat
jantung si saudagar berdetak keras dan klepek-klepek. Seraya 
kemudian

berpindah tempat duduk. Begitu dekat

dengan si gadis, ia langsung dapat

merasakan bau harum tubuh Mustika

Jajar.

Mustika Jajar meneguk araknya

kembali. Wajahnya yang cantik mulai

berubah kemerah-merahan. Tatapan

matanya juga berubah sayu. Tidak lama kemudian tanpa 
mengenal malu, gadis

berbaju ungu ini menyandarkan

kepalanya di bahu sang saudagar. Laki-laki itu tentu saja 
tidak menampik, ia

seperti mendapat durian runtuh.

Tangannya dengan berani bahkan mulai

menggerayangi dada si gadis.

"Untuk sentuhan-sentuhan yang

kau berikan, kau harus membayarnya

dengan sekantung emas" desah gadis tersebut seperti orang 
mengigau.

"Eeee... jangan khawatir. Aku

bahkan akan memberimu lima kantung

emas bila kau mau memenuhi permintaan-ku..." ucap 
Bergola Mungkur dengan
suara bergetar.

Mata Mustika Jajar yang sete-

ngah terpejam itu terbuka lebar. Namun ia masih belum juga
 menarik kepalanya
dari bahu sang saudagar.

"Apakah syaratmu? Apakah kau bermaksud mengajakku 
bersenang-se-

nang?" tanya Iblis Betina Dari Neraka tersenyum sinis. 
Baginya lima kantung emas bukan jumlah yang sedikit.

Namun untuk memberikan kesuciannya

pada laki-laki tua semacam saudagar

Bergola Mungkur, tentu saja ia harus

berpikir seribu kali. Kalau sekedar

pegang-pegang saja tidak apalah.

Batinnya.

"Bagiku bersenang-senang jika

kau mau, jika tidak mau tak akan

kumemaksa." ujar laki-laki di

sampingnya. Rupanya saudagar Bergola

sadar, bahwa gadis ini tidak dapat

dibuat main-main. Terlebih-lebih

setelah melihat kehebatannya di

halaman tadi. Namun jika ia dapat

memanfaatkan tenaganya. Tentu kedudu-

kannya sebagai orang kaya tidak akan

terusik oleh orang lain.

"Lalu apa permintanmu yang

lain?" tanya si gadis.

Ia tetap membiarkan dadanya

digerayangi oleh lawan bicaranya.

Hanya sesekali saja rintihannya

terdengar. Terlebih-lebih bila remasan tangan Bergola 
Mungkur terasa lebih

keras. Karena saudagar itu tidak

kunjung menjawab. Akhirnya ia

menyentakkan tangan si laki-laki dari dadanya yang setengah
 terbuka.

"Katakan apa permintaanmu, agar aku bisa mendapatkan
 lima kantung emas
darimu?" desah Iblis Betina Dari Neraka serius.

Sebelum menjawab, Bergola Mung-

kur meneguk araknya.

"Jika kau dapat mengambil patung marmar yang indah dari
 tangan Pematung
Kelana dan menyerahkannya padaku. Lima kantung emas 
siap menunggu sebagai

imbalan..." kata sang saudagar.

Kemudian dengan singkat ia

menceritakan apa yang pernah terjadi

pada dirinya dan nasib tragis yang

menimpa anak buahnya. Dengan seksama, Iblis Betina Dari 
Neraka ini

mendengarkannya.

"Dua kantung emas bukan sedikit

Adalah sangat sombong jika Pematung

Kelana menolak tawaranmu, bahkan malah meminta nyawa
 dua tangan kananmu"

timpal si gadis setelah selesai

mendengar penjelasan sang saudagar.

"Memang Pematung Kelana manusia

congkak Bukan itu saja, ia malah

menghinaku. Jika kau berhasil merampas patung marmar 
berikut nyawa pematung

tua itu. Maka aku akan menambah satu

kantung emas lagi"

"Hik hik hik... Kuterima

tawaranmu. Aku ingin berangkat

secepatnya" Mustika Jajar bangkit berdiri. Tapi Bergola
 Mungkur cepat

mencegah.

"Tunggu Sebaiknya kau menginap

dulu di sini barang semalam, kau habis menempuh 
perjalanan yang sangat jauh.

Tentu kau sangat lelah."

"Tidak usah khawatir. Aku tahu

keinginanmu, mungkin di suatu saat aku dapat 
memperlihatkan keindahan tubuhku
di depanmu. Tapi kau tidak mungkin

dapat memilikinya di luar batas

memegang dan menyentuh. Terkecuali aku dengan suka rela
 mau melakukannya"

kata si gadis sambil tersenyum genit.

Wajah Bergola berubah memerah.

Tapi hanya sebentar saja, dilain saat ia telah berubah seperti 
biasa

kembali.

"Baiklah kalau itu maumu Hadiah emas untukmu telah
 menunggu di sini,

jika telah berhasil memboyong patung

mar-mar itu ke sini" Bergola Mungkur mengingatkan.

Iblis Betina tersenyum. Seraya

melambaikan tangan lalu menghilang

dari pandangan sang saudagar.

Di halaman depan Bergola Mungkur

masih sempat mendengar suara langkah

kuda bergerak menjauhi rumahnya yang

megah.

"Andai saja aku dapat memiliki

tubuhnya" Sang saudagar berangan-angan. "Tentu bukan 
perlindungan saja yang
kudapat dari gadis itu. Tapi juga kehangatan dari gadis yang 
masih muda-muda"
Bergola Mungkur menelan ludah.

Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa

pahit.


8


Laki-laki tua bertelanjang dada

dan berambut putih ini berjalan

mondar-mandir mengelilingi patung yang baru selesai 
diwarnainya. Memang patut diakui, setelah patung itu 
diwarnai,

hasilnya semakin bertambah sempurna.

Inilah satu-satunya patung yang paling bagus di antara 
sekian banyak patung

yang pernah dibuatnya. Memandangi

wajah patung lebih lama, tiba-tiba

saja wajah Pematung Kelana berubah

muram.

"Tidak kusangka kau pergi

secepat itu, anakku Kini aku hanya

sendiri. Hidup bersama bayang-bayang

mimpi yang tidak bertepi. Mimpi buruk selalu datang dan 
pergi. Hal ini

sangat menyiksaku, menyiksa sangat

dalam." Tanpa disadarinya air mata Pematung Kelana
 menetes. Suaranya

kemudian berubah serak. "Jika aku pergi, satu rahasia yang 
sangat besar terkandung
dalam dirimu. Aku selalu

berdoa sepanjang siang dan malam. Jika aku tidak dapat 
menemanimu lebih lama,
semoga ada orang baik berhati jujur

dapat menyingkap tabir misteri yang

sengaja kupendam dalam dirimu..."

desis si kakek tua sambil

menengadahkan wajahnya ke langit.

Sedang Pematung Kelana bicara

seorang diri seperti itu, sayup-sayup di kejauhan terdengar 
suara langkah

kuda. Semakin lama suara derap kaki

kuda semakin bertambah cepat dan

bertambah jelas.

"Inilah pertanda yang paling

tidak baik dalam hidupku" membatin si kakek tua dalam hati.

Benar saja, tidak lama kemudian

seekor kuda tunggangan berhenti tepat di depan Pematung 
Kelana. Duduk di

atasnya seorang gadis berbaju ungu

tembus pandang. Gadis ini terbelalak

kaget begitu melihat betapa indahnya

patung dan keperkasaan pada bagian

bawah perutnya. Mustika Jajar sempat

bergetar tubuhnya. Darahnya berdesir,

jantungnya berdetak lebih kencang.

Terus terang ia mengakui bahwa patung itu bentuknya 
sangat sempurna dari

pribadi seorang laki-laki jantan yang perkasa. Apalagi setelah
 melihat

tampangnya yang gagah dan ganteng.

Jika semula ia berniat menukar patung itu dengan enam 
kantung emas murni.

Maka kini setelah melihat patung itu

ia malah berubah ingin memiliki patung itu untuk selama-
lamanya.

"Pak Tua. Benarkah anda yang

berjuluk Pematung Kelana?" tanya Mustika Jajar berusaha
 ramah meskipun
suaranya sempat bergetar menahan

keinginan yang meledak-ledak setelah

melihat keperkasaan patung tersebut.

"Bertanya membawa satu maksud

jahat atau baik?" tanya Pematung Kelana acuh tak acuh.

"Hhh... orang ini benar-benar

sombong sebagaimana yang dikatakan

oleh saudagar mata keranjang itu"

batin Iblis Betina Dari Neraka.

"Maksudku tergantung bagaimana

penyambutanmu, Pematung Kelana? Hik

hik hik..." Mustika Jajar terkikik.

Ia mengerling genit pada si kakek.

"Hmmm, setiap orang memang punya maksud-maksud 
tertentu datang kemari.

Melihat penampilanmu hatiku mengatakan kau membawa
 maksud yang bukan saja
buruk tapi juga keji Pergilah Aku

tidak punya waktu untuk melayanimu."

"Bagaimana kalau kau tukar

patung itu denganku?"

"Maksudmu?"

"Patung bagus itu kau berikan

padaku. Sebagai balas jasa aku

menyerahkan diriku padamu untuk bebe-

rapa waktu" Mustika Jajar tersenyum genit. Ia bahkan 
sengaja menggaruk

dadanya, sehingga salah satu kancing

bajunya terbuka dan memperlihatkan

buah dadanya yang membusung padat,

putih berkilat-kilat.

Pematung Kelana cepat-cepat

memalingkan wajahnya ke arah lain.

Gelora amarahnya terbangkitkan.

"Perempuan rendah Aku adalah

manusia renta yang tidak dapat kau

perdaya. Sungguhpun kau telanjang di

depanku, harga patung ini lebih mahal dari kemolekan 
tubuhmu"

"Ah... terlanjur aku datang.

Terus terang aku mau meminta patung

itu" Mustika Jajar tanpa malu-malu berterus terang.

"Hhh... patung ini kubuat bukan

untuk kujual atau kuberikan pada orang lain. Dia adalah 
tiruan sosok anakku.

Karena dia anakku, maka aku akan

mempertahankannya walaupun nyawa

sebagai taruhannya"

Mata Iblis Betina Dari Neraka

terbelalak lebar. Jika patungnya saja sedemikian perkasa dan
 jantan apalagi orang
yang sesungguhnya.

"Di mana anakmu itu, orang tua?"

tanya gadis berbaju ungu.

"Dia sudah tiada"

"Ah... sayang betul Kalau

begitu sekarang kau harus menyerahkan patung ukiranmu
 itu padaku" tegas si gadis
sambil berkacak pinggang.

"Sudah kubilang aku tidak akan

memberikannya pada siapapun. Apakah

kau tidak mendengar kata-kataku"

dengus Pematung Kelana dengan perasaan muak.

"Rupanya aku harus merampas

nyawamu baru kau mau menyerahkan

patung itu kepadaku"

"Demi keselamatan patung ini

dari manusia sepertimu, aku rela

berkorban apa saja" dengus Pematung Kelana merasa 
tersinggung.

"Banyak mulut Hiyaaa..."

Secara licik Mustika Jajar menghantam punggung si kakek 
dengan pengerahan

tenaga dalam penuh. Namun Pematung

Kelana begitu merasakan sambaran angin pukulan langsung 
melompat ke samping

kiri. Lalu kibaskan tangan kirinya.

"Duuuk"

"Uuuuh…" Mustika Jajar tersentak. Tangannya terasa seperti
 menghantam dinding
karang. Tangan itu

berwarna merah dan nyeri pada bagian

jemarinya. Ia terhuyung-huyung sejauh tiga tindak. 
Sebaliknya Pematung

Kelana juga terkejut. Tangan kirinya

seperti ditusuk-tusuk ribuan batang

jarum. Lebih celaka lagi tangan itu

berubah dingin. Sebagai orang yang

telah berpengalaman dan malang

melintang di sepanjang pesisir pulau

Jawa. Ia sadar betul bahwa lawannya

memiliki tenaga dalam yang mengandung racun keji. Cuma 
yang membuatnya

terheran-heran adalah mengenai tenaga dalam yang dimiliki 

Meski masih berusia muda, tapi tenaga dalamnya sudah 
mencapai tingkat

sempurna.

"Sebentar lagi kakek tua Seben-

tar lagi Iblis Betina Dari Neraka akan mengirimmu ke 
Neraka" dengus Mustika Jajar.

Seraya kemudian mementang kedua

tangannya

lebar-lebar.

Selanjutnya

kedua tangan itu dilintangkannya ke

depan dada.

Tangan

itu

kemudian

berubah menghitam. Dengan satu gerakan yang sangat 
menantang, ia membuka

jurus 'Prahara Bumi', yaitu salah satu jurus iblis langka yang pernah

dipelajarinya dari 'Tua Tengkorak Mata Api'

Dengan mempergunakan jurus yang

sangat berbahaya dan penuh tipu-tipu

ini, Mustika Jajar menyerang lawannya.

Setiap serangan yang dilakukannya

menimbulkan angin bersiuran. Pematung Kelana merasakan 
pernafasannya menjadi sesak. Namun sebagai tokoh 
angkatan

tua yang sangat berpengalaman. Ia

langsung mengetahui siapa pemilik

jurus sesat yang sangat berbahaya itu.

"Ada hubungan apa kau dengan Tua Tengkorak Mata Api"
 hardik Pematung Kelana
sambil menghindari tendangan

kilat yang dilancarkan oleh lawannya.

"Kau tidak layak bertanya"

dengus Mustika Jajar. Diam-diam

hatinya terkejut juga setelah menge-

tahui ternyata lawannya kenal siapa

gurunya.

"Huup Heaaa... Jika kau

muridnya Tua Tengkorak Mata Api.

Berarti aku sudah dapat memperkirakan siapa kau yang 
sebenarnya. Rasanya

tidak salah jika aku turun tangan

kejam kepadamu" Pematung Kelana menggeram.

"Bagus Aku sendiri memang

menghendaki nyawamu" sinis suara Mustika Jajar.

"Shaa..." Tubuh Pematung Kelana melesat ke depan. Ia 
mengerahkan jurus

'Bayang-bayang Sukma'. Inilah salah

satu jurus andalan yang dimiliki oleh si kakek tua. Sadar 
bahwa lawannya

merupakan murid seorang iblis. Tidak

tanggung-tanggung ia mengerahkan

segenap kemampuan yang ada

Sebaliknya walaupun masih muda,

Iblis Betina Dari Neraka ini memang

mewarisi kepandaian tinggi dari

gurunya. Jadi sungguhpun lawan mempu-





nyai pengalaman jauh lebih matang.

Namun ia masih tetap dapat mengimbangi setiap serangan 
yang datang.

"'Tujuh Angkara Murka'" jerit Mustika Jajar. Ia kemudian
 hantamkan

tangannya yang telah berubah hitam itu menyongsong 
serangan lawannya. Melihat
sinar hitam datang menggebu-gebu ke

arahnya, maka Pematung Kelana

membanting tubuhnya ke samping kiri

Lalu lepaskan pukulan 'Geger Bumi'.

Sinar hitam dan merah datang

bergulung-gulung bagaikan badai topan prahara. Udara di 
sekitarnya berubah

menjadi dingin dan panas. Lalu dua

pukulan yang dilepaskan oleh masing-

masing lawannya ini saling bertemu di udara.

"Buummm..."

"Braak Braaak"

Dua-duanya

jatuh

terpelanting,

Hampir bersamaan mereka bangkit

kembali. Ledakan dahsyat itu membawa

akibat runtuhnya dinding tebing.

Bahkan longsorannya menimbun badan

patung. Pematung Kelana menyeringai.

Wajahnya berubah pucat. Sebaliknya

Mustika Jajar malah tersenyum.

Sekarang ia menyerang lagi dengan

gerakan-gerakan yang lebih cepat dan

gencar. Namun Pematung Kelana yang

telah bergerak lebih awal dapat

menghantam perut gadis itu hingga

membuatnya jatuh terjengkang dan

muntahkan darah segar.

Anehnya gadis itu malah tertawa-

tawa. Rupanya itulah satu-satunya cara untuk 
menyembuhkan luka dalam yang

dideritanya. Tidak lama kemudian ia

bangkit berdiri.

"Kau telah melukaiku, berarti

semua yang kau lakukan hanya memper-

cepat kematianmu sendiri" Mustika Jajar menggeram marah 
sambil seka

darah yang menetes di sudut-sudut

bibirnya.

"Deb"

"Beet"

"Heyaaa..." Jemari tangan si gadis tiba-tiba saja terentang
 lebar.

Begitu jemari tangan terkembang. Maka terjadilah 
perubahan warna. Jika

semula jemari tangan itu berwarna

keputihan, maka sekarang telah berubah menjadi merah 
laksana darah.

Pematung Kelana terkesiap sete-

lah melihat perubahan yang terjadi

pada bagian tangan lawannya. Mulutnya mendesis 'Pukulan
 Jari Getih'.

Tidak ada kesempatan baginya

untuk berpikir lebih jauh. Pukulan

Jari Getih sebagaimana yang diketahuinya merupakan satu 
pukulan ampuh

beracun yang sangat mematikan.

Siapapun yang terkena pukulan itu

tidak ada yang dapat menjamin

keselamatan nyawanya

Merasa tidak ada pilihan lain

lagi. Maka ia mengerahkan tenaga

dalamnya ke bagian telapak tangan.

Tubuhnya tiba-tiba saja bergetar

hebat. Kedua telapak tangannya berubah kuning berpedar-
pedar. Inilah salah

satu pukulan simpanan yang bernama

'Geger Bumi'. Sungguhpun laki-laki ini tidak dapat 
memastikan apakah dia

sanggup mengatasinya, Namun sebelum

segala sesuatunya terjadi. Pematung

Kelana telah menghentakkan tangannya

ke depan. Hanya beberapa saat

setelahnya, lawannya pun melakukan hal yang sama.

"Blaam Blaaam…"

Dua letusan dahsyat memporak

porandakan suasana di situ. Satu

bayangan terlempar ke arah jurang,

sedang yang satunya lagi tergontai-

gontai dan jatuh terhempas tidak jauh dari longsoran tanah 
yang menimbun

patung ciptaan Pematung Kelana. Dari

arah jurang, sayup-sayup terdengar

suara jerit seseorang. Itulah suara si kakek pematung.

Sementara itu Mustika Jajar

sendiri telah bangkit berdiri. Dari

mulutnya darah semakin banyak yang

keluar. Barulah setelah menelan

beberapa butir pel berwarna hitam dan merah. Darah 
langsung berhenti.

"Gila betul orang itu. Selain

seorang pematung, ternyata ia

mempunyai kepandaian yang tidak

rendah. Syukur ia terpelanting ke

jurang. Aku tidak tahu apakah ia dalam keadaan hidup atau 
mati" desis Iblis Betina
Dari Neraka sambil menyeringai.

Tidak lama kemudian ia sudah

memindahkan longsoran tanah yang

menimbun patung pemuda gagah. Entah

mengapa semakin dekat tubuhnya dengan patung tersebut, 
jantungnya berdetak

semakin kencang.

"Hhhm, ini dia Oh sungguh

merupakan patung yang sangat perkasa.

Seandainya saja ia hidup. Ingin

rasanya aku menidurinya sepanjang

malam. Hik hik hik..."

Dielus-elusnya patung tersebut.

Tidak lama kemudian setelah longsoran tanah yang 
menimbunnya habis. Mustika
Jajar seperti orang kesurupan langsung memeluk badan 
patung yang kekar tidak
ubahnya seperti sedang memperlakukan

orang yang sangat disayanginya.

"Aku menyukaimu. Tidak mungkin

rasanya aku menukarmu dengan enam

kantung emas. Aku akan selalu meminta pada para iblis, agar
 suatu saat kau

dapat hidup sebagai manusia. Manusia

perkasa yang dapat memenuhi setiap

keinginanku..." Lagi-lagi Mustika Jajar seperti orang 
kesurupan langsung memeluk
patung itu. Kemudian ia

mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada

bibir patung.

"Aku mau membawamu ke suatu

tempat Di sana aku akan minta

petunjuk dari para iblis untuk

membangkitkanmu"

Gadis berbaju ungu ini kemudian

berusaha mengangkat patung tersebut.

Tapi ternyata patung itu beratnya

bukan main. Sehingga Mustika Jajar

terpaksa mengerahkan tenaga dalam

untuk meletakkan patung itu di

punggung kuda.

"Kraaakkk"

Kuda yang diharapkannya dapat

membawa patung, ternyata tidak kuat

menahan berat patung. Bahkan terdengar suara berderak 
patah pada bagian

tulang punggungnya.

"Upp... tidak kusangka patung

ini berat sekali. Sebaiknya biar aku

sendiri yang memanggulnya" Mustika Jajar memutuskan.

Dengan sekuat tenaga patung batu

mar-mar seberat kati itu dipanggulnya.

Bahkan beberapa saat kemudian ia sudah berlari-lari, seakan 
beban berat yang
dipikulnya tidak dirasakan sama sekali oleh si gadis.


9


Laki-laki itu terus melangkahkan


kakinya yang pincang. Sesekali ia

mendongak ke langit. Lalu berjalan

lagi seperti orang yang sedang dalam

keadaan tergesa-gesa. Lalu ketika

berada di atas dataran bukit tiba-tiba ia hentikan 
langkahnya. Sekali lagi ia
memandang ke langit.

"Aduh biuuung... panasnya dunia

hanya asap api neraka. Di sana panas

di sini panas. Mati... kematian ada

dimana-mana. Aduh biung... mengapa aku terlahir ke dunia 
yang sengsara..."

kata kakek berkumis, berjenggot serta berambut putih itu 
seperti menyesali

sesuatu.

Lalu ia melangkah lagi, tongkat

butut di tangannya ia acungkan ke

depan. Lalu tampak selarik sinar biru melesat dari ujungnya.
 Sinar biru

tersebut menghantam sulur akar pohon

rambat.

"Tes Tes"

Sulur-sulur pun putus, dari

putusan sulur menetes air yang sangat bening. Si kakek 
berkaki kecil sebelah itu
menampung air tersebut dan,

"Gluk Gluuk"

"Ah... lega rasanya, kelegaan

yang membuat aku menyesal, menangis

dan... hu hu hu... penyesalanku tidak kunjung berkesudahan. 
Kulihat kematian
membuat aku menyesal. Kulihat

kemarahan, aku menyesal, kulihat

penderitaan orang kecil aku menyesal.

Kulihat penghuni dunia celaka ini aku menyesal Hidupku 
dalam penyesalan

nafasku dalam penyesalan. Lahirnya

Iblis Betina Dari Neraka membuat aku

teramat menyesalkannya" dengus si kakek. Lalu ketok-
ketokkan tongkat di
tangannya di atas batu.

Sehingga terdengarlah suara

berdenting menyakitkan telinga. Si kakek memakai ikat 
kepala warna darah ini
langkahkan kakinya lagi. Tetapi

secara tiba-tiba ia melihat sosok

bayangan biru berkelebat di depannya.

Tampak bayangan biru tersebut tengah

mengerahkan ilmu lari cepatnya yang

bukan main-main. Tetapi hebatnya lagi begitu si kakek 
membentak....

"Kembali..."

Secara aneh dan benar-benar

sulit dipercaya, bayangan biru tadi

bergerak mundur seperti ditarik. Dan

kekuatan itu terus membetotnya ke

belakang. Dan....

"Buuk"

Tubuh pemuda itu menabrak si

kakek yang berdiri di belakangnya. Si pemuda bertampang 
ketolol-tololan

menjadi kaget sendiri. Ia menyadari

ada seseorang yang telah mengerjainya dengan hanya 
membentak secara aneh.

Tetapi mengapa ia yang sedang berlari bisa tertarik ke 
belakang?

"Bocah gendeng Punya mata tapi

tidak melihat, ah..." Si kakek

hentikan ucapannya begitu melihat

pemuda berambut hitam kemerah-merahan itu berpaling ke 
arahnya. "Kulihat





wajahmu aku jadi menyesal. Di dunia

ini ada orang seperti engkau...

sungguh aku menyesal. Tapi aku sungguh menyesalkan

mengapa

ibumu

melahirkanmu...?"

Pemuda berbaju biru memakai ikat

kepala biru belang-belang kuning ini

garuk-garuk kepala. Satu lagi orang

gila ia temui, bukan gila tapi aneh

dan sangat hebat.

"Orang tua siapa kau Berani

benar kau mengganggu perjalanan orang lain. Bisa-bisa
 kukemplang kepalamu"

dengus Suro Blondo.

"Ha ha ha... Ada bocah yang

tidak hormat pada orang tuanya. Ada

kakek yang tega berbuat mesum pada

bocah kecil, ada mayat dipotong-potong seperti hewan. 
Tahukah kau bahwa semua
itu membuat aku menyesal? Oh dunia ini sudah teramat 
tuanya. Hah... manusia

ini sudah parah bejatnya. Lalu siapa yang masih waras, 
apakah kau bocah

gila?" tanya si kakek bersikap acuh tak acuh.

Pendekar Blo'on pencongkan

mulutnya. Ia golang-golengkan kepala

seperti orang bingung.

"Orang tua ini sebenarnya

menderita penyakit apa? Gilanya sudah teramat parah. Dia 
bukan saja sinting, tapi
miring. Namun melihat caranya

menarikku tadi, kurasa dia mempunyai

kepandaian yang sangat tinggi

sekali..." pikir Suro Blondo.

"Kau bicara apa bocah tolol? Aku bisa melihat pikiranmu, 
aku dapat

mendengar suara hatimu, sungguh semua ini sangat 
kusesalkan" dengus si kakek
sambil ketok-ketokkan tongkatnya di atas batu.

"Kakek penyesal, siapakah engkau yang sesungguhnya. 
Urusanku dengan

saudagar Bergola Mungkur sudah tidak

dapat ditunda-tunda lagi" tegas si pemuda.

"Ha ha ha... Aku Datuk Sage

Manyasal Hiduik. Si renta yang selalu menyesali segala 
sesuatu di dunia ini, orang
yang menyesalkan terjadinya

angkara murka di bumi, sepanjang abad, sepanjang hidup 
sampai dunia ini

menjelang kiamat pun aku menyesal"

"Datuk Sage Manyasal Hiduik. Apa yang kau sesalkan, setiap 
manusia

punya urusan sendiri-sendiri. Biarkan saja..." kata Suro 
seenaknya. Datuk Sage Manyasal Hiduik kedip-kedipkan

matanya yang mulai lamur. Bicara

pemuda tampan bertampang ketolol-

tololan itu memang ceplas-ceplos. Dan ia tahu siapa pemuda
 itu.

"Kau pemuda tolol, pantas

menyandang gelar Pendekar Blo'on.

Gurumu Penghulu Siluman Kera Putih,

duh menyesalnya aku. Kakekmu Malaikat Berambut Api, 
manusia sakti

mandraguna, tinggal di Pulau Seribu





Satu Malam, banyak musuh, punya banyak kekasih, tapi 
tidak pernah kawin-kawin.
Oh... menyesalnya aku..." kata si kakek.

Kata-kata yang diucapkannya itu

jelas membuat Pendekar Blo'on jadi

terkejut. Ia sama sekali tidak

menyangka bahwa kakek aneh ini

mengenali siapa dirinya dan juga

gurunya. Bahkan sampai masa lalu

gurunya sendiri. Padahal Malaikat

Berambut Api tidak pernah cerita apa-

apa tentang peribadinya pada Suro

Blondo.

"Bagaimana Datuk bisa mengenal

mereka?"

"Aku menyesal mengenal kedua

gurumu, aku menyesal mengenal dirimu

dan aku menyesal bakal melihat darah"

kata Datuk Sage Manyasal Hiduik.

Wajah kakek tua berkaki kecil

ini berubah muram. Lalu ia ketuk-

ketukkan tongkat bututnya ke tanah.

Tanah sekeras cadas itu berlubang dan dari lubang akibat 
tusukan tongkat

menebarkan bau busuk menusuk hidung.

"Darahnya siapa yang kau

sesalkan Datuk? Apakah darahmu sendiri darahku atau 
darah monyet?" tanya Suro
sambil cengengesan.

"Hidupmu berkubang darah, bukan

kunyuk sepertimu yang akan menjadi

bangkai. Aku menyesal karena bukan

darahku pula yang tercecer. Darah

orang-orang serakah. Aku sedih karena berpantang 
membunuh, aku menyesal

datang ke tanah Jawa ini."

"Memang engkau dari mana Datuk?

Apakah dari dalam kuburan, dasar bumi atau dikirim dari 
neraka?"

Wajah sang Datuk berubah kelam

membesi. Matanya berkedip-kedip, lalu ia memandang ke 
langit.

"Bicaramu sudah keterlaluan,

bocah gendeng. Sayang aku tidak punya urusan denganmu. 
Seorang anak ingusan
tidak layang tanpa asal-usul. Satu hal yang harus kusesalkan,
 aku harus tahu
seberapa hebat kekuatan yang kau

punya, seberapa banyak ilmu yang kau

miliki" kata sang Datuk.

Tiba-tiba saja Datuk Sage

Manyasal Hiduik hentakkan kaki

kanannya yang kecil di atas tanah.

Segulung angin kencang menderu, Suro

Blondo tiba-tiba saja terpelanting

tunggang-langgang. Pendekar Blo'on

terkejut bukan main-main. Seorang Tua renta seperti Datuk 
Sage Manyasal

Hiduik dapat menjatuhkannya hanya

dengan menjejakkan kaki di atas tanah.

Satu hal yang sangat sulit dipercaya.

Ia bangkit berdiri, dengan

sangat berhati-hati ia segera

mengerahkan tenaga dalam ke bagian

kakinya.

"Mengapa kau menyerangku Datuk?

Apakah kau sudah edan?" dengus Suro

sambil garuk-garuk kepala.

"Kusesalkan karena aku tidak

bisa memberikan jawaban kedua. Tetapi untuk lebih jelas 
sebaik-baiknyalah

kau menjaga diri" Baru selesai bicara Datuk Sage Manyasal 
Hiduik tampak

gembungkan pipinya. Lalu tiba-tiba

saja ia menghembuskan nafasnya.

"Puuuih..."

"Wuus"

Segulung angin topan menderu

menerjang Suro Blondo. Pemuda berambut hitam kemerah-
merahan ini tidak

tinggal diam. Ia segera mengerahkan

jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti

Kibaskan Ekor'. Pemuda ini kemudian melompat ke samping
 sejauh satu batang
tombak. Tubuhnya meliuk-liuk sambil

sesekali menggaruk kepala. Lalu

berjongkok dan melompat-lompat,

sedangkan tangannya menghantam ke

depan dan mulut mengeluarkan suara

seperti lolongan serigala kelaparan

yang seakan datang dari seluruh

penjuru arah.

"Buumm"

Hembusan Datuk Sage Manyasal

Hiduik menghantam sebatang pohon yang terdapat di 
belakang Suro. Pohon

mengeluarkan suara berderak dan roboh.

Jika Pendekar Blo'on tidak cepat-cepat menghindar tentu ia 
tertimpa pohon-pohon.

"Ha ha ha... Jurus gila, sudah





kuduga gurumu mempunyai jurus itu.

Menyesal aku harus menyerangmu hingga aku tahu seberapa
 hebat murid dari dua
orang guru" kata Datuk Sage.

"Aku juga menyesal melihat ulah

gilamu Datuk. Tapi aku tidak akan

menyesal kau terus memaksaku bertindak kasar" dengus 
Pendekar Blo'on

jengkel.

"Heaa..."

Datuk Sage Manyasal Hiduik sama

sekali tidak menghiraukan ucapan Suro.

Ia menulikan telinga dan kini

menyerang Pendekar Blo'on dengan

tongkat butut di tangannya. Sekali

sang Datuk mengibaskan tongkatnya.

Maka terlihat tongkat tersebut berubah menjadi banyak, 
tongkat butut meliuk-liuk
bagaikan seekor ular cobra yang sedang memburu 
mangsanya. Suro dibuat pontang-
panting, beberapa kali tongkat lawan menyodok ketiak, dada,
 ulu hati dan juga mata
si pemuda. Pemuda ini

mencoba menangkis serangan itu dengan telapak tangannya. 
Maka benturan tidak
dapat dihindari lagi.

"Taaak"

"Wadow... edan..." maki si pemuda.

Tangannya tadi seperti lumpuh

dan sakitnya bukan main. Padahal

Pendekar Blo'on telah mengerahkan

tenaga dalam ke bagian telapak tangan.

Kini ia melompat mundur. Lawan

terus mengejarnya, Pendekar bertampang ketolol-tololan ini segera mempergunakan
jurus 'Kacau Balau' untuk

menghalau setiap serangan yang

melabraknya.

Gerakan pemuda itu sekarang

benar-benar sudah tidak teratur lagi.

Terkadang tubuhnya terhuyung ke kanan dan ke samping 
kiri, atau bergerak

seperti menubruk ke depan. Ketika

tongkat lawannya menyambar menusuk

dada ia cepat menarik tubuhnya ke

belakang seperti orang yang terpeleset kulit pisang. Lalu kaki 
depannya

menendang ke bagian perut sang Datuk.

Lawan menepisnya dengan tangan

kiri Suro menarik kakinya sedangkan

tangan melayang mengemplang kepala

sang Datuk.

"Plok"

"Heh…"

Sang Datuk memang sempat

terhuyung-huyung terkena pukulan si

pemuda. Namun Pendekar Blo'on sendiri dibuat kaget. 
Bagaimana tidak, ia

seperti menghantam batu saja.

Tangannya sendiri sakit bukan main.

"Ha ha ha... Aku sedih karena

tubuhku keras seperti batu. Aku

menyesal lantaran kau kesakitan"

Suro pencongkan mulutnya,

"Datuk Penyesal, apakah kau tidak menyesal melihat orang 
lain yang tidak bersalah
kesakitan?" tanya si pemuda.





"Penyesalanku sudah mendarah

daging, berurat berakar seperti pohon kehampaan. Kau 
kesakitan aku menyesal,
tetapi aku akan lebih menyesal lagi

setelah nanti melihat darah. Darah

orang tamak, orang serakah, para

pejabat kerajaan yang korup, dan juga pembesar yang 
menyeleweng. Semua itu

kusesalkan" kata Datuk Sage Manyasal Hiduik.

"Bicaramu semakin ngaco tidak

karuan. Bicara soal penyesalan tapi

kau malah menyerangku seperti orang

mabuk. Kau menyerang maka aku pun

harus balas menyerang supaya adil"

dengus Pendekar Blo'on.

Tiba-tiba saja pemuda tampan

bertampang ketolol-tololan itu

menerjang Datuk Sage. Namun sang Datuk menyambutnya 
dengan tusukan tingkat
ke tubuh Pendekar Blo'on. Masih dalam

keadaan mengambang di udara Suro

berjumplitan ke belakang. Begitu ia

menjejakkan kedua kakinya di atas

tanah. Maka pemuda ini lepaskan

pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'

"Huuuh..."

Pemuda itu secepat kilat

mendorongkan kedua tangannya ke depan.

Seleret sinar putih melesat bagaikan

anak panah melayang dari busurnya.

"Aku menyesal karena engkau

keluarkan pukulan. Aku menyesal karena terpaksa gunakan 
tongkat bututku"

kata Datuk Sage Manyasal Hiduik. Tiba-tiba saja....

"Wuut Wuut"

"Byar"

Pukulan yang dilepaskan Pendekar

Blo'on buyar seketika terkena sabetan tongkat lawan yang 
menimbulkan angin

kencang bagaikan badai. Suro Blondo

terhuyung-huyung, namun secepatnya ia memperbaiki 
posisinya. Dalam kesempatan itu Datuk Sage telah membalas

serangan si pemuda dengan mengayunkan tongkat di tangan.

Pemuda itu

mengelak, namun gerakannya kalah cepat dengan tongkat 
lawannya. Maka....

"Buuk"

"Aduh emaak.... Kakek kaki

kurus ini benar-benar edan." pikir Suro sambil usap-usap 
dadanya yang

mendengut sakit. Setelah diusap-usap, malah dari bibir si 
pemuda tampak

meleleh darah segar.

"Kau terluka? Aku sedih

melihatmu terluka, ha ha ha..." Datuk Sage tertawa sumbang.

"Sekarang aku terluka, sebentar

lagi aku sedih melihatmu mati makan

ulah sendiri" dengus Suro.

Tiba-tiba saja Pendekar Blo'on

melompat ke udara. Kedua tangannya

dihentakkan ke arah Datuk Sage

Manyasal Hiduik.

"'Ratapan Pembangkit Sukma'

Hiaaa..." teriak Pendekar Blo'on.

Angin kencang bagaikan topan

bergulung-gulung. Tampak adanya kabut putih bagaikan 
salju menderu ke arah

Datuk Sage Manyasal Hiduik. Gelombang angin kencang itu
 menebarkan hawa

dingin mencucuk ke sumsum tulang.

Datuk Sage Manyasal Hiduik tersentak

kaget. Sama sekali ia tidak mengira

pemuda tampan berwajah ketolol-tololan ini telah mewarisi 
pukulan dashyat

'Ratapan Pembangkit Sukma' warisan

manusia sakti Malaikat Berambut Api.

Maka tanpa membuang-buang waktu

lagi ia kibaskan tongkatnya yang telah teraliri tenaga dalam 

"Wut Wut"

Dari ujung tongkat melesat dua

larik sinar biru menebar hawa panas

menyambut gelombang angin topan yang

melesat dari telapak tangan lawannya.

Benturan keras tidak dapat dihindarkan lagi....

"Bum Buum"

Ledakan-ledakan keras disertai

dengan memijarnya bunga api.

"Aaaakh... celakanya neraka

dunia jika kau mempergunakan pukulan

itu..." desis Datuk Sage Manyasal Hiduik.

Tubuh kakek tua ini terhuyung-

huyung. Ujung tongkatnya patah, celana sebatas betis 
terkoyak. Suro Blondo

jatuh terduduk, dadanya sesak bukan

main. Sedangkan kedua kakinya sampai

amblas ke tanah sedalam lutut.

"Bukan main-main. Tidak menyesal aku bertemu denganmu, 
anak muda. Yang aku
sesalkan celanaku robek. Ah...

rasanya kau pantas menghadapi orang

yang telah membunuh orang penting.

Carilah dia, aku tidak akan menyesal

dia mati di tanganmu" kata Datuk Sage.

Suro Blondo menarik kakinya yang

sempat terbenam, dalam hati ia dongkol juga melihat kakek 
aneh ini.

"Setelah membuatku hampir babak

belur, kini kau menyuruhku pergi.

Tidak mengapa. Tapi kuharap kau mau

menyebutkan siapa dirimu yang

sebenarnya. Dan Datuk hendak pergi

kemana?" tanya Suro sambil garuk-garuk kepalanya. Datuk 
Sage Manyasal Hiduik
mendongak ke langit. Wajahnya yang

selalu muram tampak berubah semakin

bertambah rawan dan menyimpan banyak

kesedihan.

"Aku Rana Gingging, punya nama.

Bertanya pada gurumu, mereka akan beri penjelasan. 
Urusanku sangat besar, di
sebuah kerajaan besar, menghadapi

hutang lama yang sangat besar. Semua

orang mempertaruhkan nyawa di sana.

Hik hik hik Tapi aku tidak menyesal

anak muda. Nanti bila panjang umur,

panjang nafas, panjang langkah. Kita

bertemu di sebuah tempat besar bernama Bukit Keadilan. Di 
sana, aku, kau,

mereka dan sebagian tokoh di rimba

persilatan akan bertemu dengan

Malaikat Keadilan. Malaikat Bayangan

yang menjadi penentu besar kecilnya

dosa seseorang. Pada waktu itu setiap wajah tertunduk. 
Merasa malu pada

dirinya sendiri, iblis pun akan malu, setan malu, hantu malu,
 perempuan

cantik malu, laki-laki malu,

terkecuali mereka yang tidak punya

kemaluan tidak punya rasa malu." jelas Datuk Sage Manyasal
 Hiduik.

Pendekar Blo'on tampak kaget

mendengar penjelasan Sang Datuk yang

tidak beda dengan seorang peramal itu.

"Kapankan waktu yang kau katakan itu tiba, Datuk?" tanya 
Suro ingin tahu. Datuk
Sage Manyasal Hiduik tiba-tiba saja gelengkan kepala sambil

menepuk keningnya.

"Aku menyesal telah membocorkan

rahasia besar ini padamu. Ah...

bagaimana ini?"

"Aku bukan orang jahat, Datuk.

Mengapa kau harus khawatir?" kata Pendekar Blo'on.

"Setiap orang punya bakat jadi

orang jahat. Setiap orang punya dosa

kecil. Terlanjur aku bicara, urusan

besar

itu akan datang menjelang

kehancuran dunia, masalah besar akan

menimpa manusia, dimana kemanusiaan

sudah tidak dihargai oleh manusia itu sendiri. Dimana rasa 
malu hilang,

keadilan tinggal tertulis di daun

lontar. Dan manusia memakan sesamanya sendiri. Itulah 
neraka dunia di ujung
rimba persilatan. Ah... aku menyesal

telah banyak bicara. Anak muda, padamu kutitipkan pesan 
tegakkanlah kebenaran.
Semakin berpegang kau pada akar

kebenaran, maka semua orang akan

memusuhimu"

"Mengapa begitu, Datuk?".

"Aku

menyesal tidak dapat

mengatakannya. Tapi carilah jawaban

sendiri. Kau pasti akan menemukannya.

Sudahlah, aku harus pergi..." kata Datuk Sage Manyasal 
Hiduik. Sekejap

saja Datuk ini berkelebat, maka

tubuhnya langsung menghilang dari

penglihatan Pendekar Blo'on. Pemuda

itu melongo sambil gelengkan kepala

berulang-ulang.

"Banyak sekali orang aneh di

rimba persilatan ini. Dunia ini

rupanya benar-benar mempunyai banyak

keanehan. Akh... bisa gendeng aku

memikirkannya..."

pikir

Pendekar

Blo’on sambil melanjutkan perjalanan-

nya kembali.


10


Mustika Jajar terus memanggul

patung mar-mar di bahunya. Sesekali ia berhenti, beberapa
 saat lamanya ia

memperhatikan suasana di sekeliling-

nya. Merasa perjalanan dalam keadaan

aman-aman saja, maka Iblis Betina Dari Neraka ini 
melanjutkan perjalanannya

kembali. Ketika ia menuruni lereng

bukit tiba-tiba terdengar derap

langkah kuda dari arah depannya.

Gadis cantik berpakaian tembus

pandang ini memandang ke depan sekilas saja. Kemudian 
meludah dan lanjutkan

perjalanannya kembali.

"Berhenti" bentak sebuah suara.

Yang membentak barusan adalah

salah seorang dari dua penunggang kuda memakai baju 
warna kuning. Tampang

mereka tidak ramah, wajahnya ditumbuhi dengan cambang 
bawuk lebat tidak

terurus. Di bagian pinggang kedua

laki-laki tergantung sebuah pedang

pendek berwarna kuning.

Muatika Jajar turunkan patung

besar dari bahunya. Ketika melihat

kedua laki-laki berbaju kuning itu ia kembali meludah. 
Sementara kedua laki-laki
penunggang kuda berbulu coklat

tampak leletkan lidah basahi bibir.

Seorang gadis cantik berwajah

jelita ada di pinggir hutan seorang

diri. Pakaiannya yang tembus pandang

menimbulkan gairah yang begitu

menggebu.

"Sudah hampir setahun ini kita

tidak pernah bertemu dengan perempuan.

Rupanya hari ini kita mendapat rezeki yang sangat besar.
 Lihatlah dari

bayangannya saja tampak bukit-bukit

yang indah. Seandainya bisa kuraih,

hemm..."

"Benar Kakang... selama ini yang kita lihat monyet betina, 
gajah

betina, beruang betina. Dan yang

betul-betul perempuan baru yang ini

saja Kakang.'" kata yang berbadan pendek menyahuti.

"Kalau kau kebagian sisaku apa

mau, Adikku?"

"Ha ha ha.... Sisanya juga enak Kakang. Aku mau saja walau 
sisamu yang ke sepuluh kalinya"

Wajah Mustika Jajar seketika

tampak berubah memerah. Ia tahu benar arah pembicaraan
 kedua laki-laki

berbaju kuning tersebut. Tetapi di

lain waktu wajah gadis itu tersenyum

memikat. Malah ia usap-usap dadanya

yang tampak membusung. Sehingga

membuat kedua laki-laki ini jadi

belingsatan.

"Kalian siapa?" tanya Iblis Betina Dari Neraka.

"Ha ha ha... Ternyata kau

adalah seorang gadis yang sangat

ramah. Kami berdua adalah Iblis Kuning yang menguasai 
daerah ini. Tentu kau

tidak keberatan bila kami mengajakmu

bergabung. Jangan khawatir, hidupmu

pasti terjamin, karena kami mempunyai harta yang sangat 
besar jumlahnya."

kata yang berbadan pendek, lalu

memelintir kumisnya yang tebal.

Mustika Jajar tersenyum, setiap

senyumnya membuat jantung kedua laki-

laki itu berdetak kencang.

"Hi hi hi... Begitu? Apakah aku harus menjadi isteri kalian 
atau hanya sekedar
sebagai pemuas nafsu?" tantang si gadis,

"Tentu saja menjadi isteri

kami?" sahut yang jangkung

Ia melangkah mendekati si gadis.

"Kalau aku harus memilih, maka

aku hanya bisa menjadi isteri salah

seorang dari kalian. Selain itu kalian juga harus bertarung, 
siapa yang

keluar sebagai pemenangnya. Maka orang itulah yang berhak
 mendapatkan

tubuhku"

Kedua Iblis Kuning saling

pandang. Rasanya mustahil mereka

saling serang sesama mereka sendiri.

Sebab mereka masih punya hubungan

darah.

"Kami tidak bisa memenuhi

permintaanmu" sergah yang berbadan pendek.

"Mengapa? Sarat untuk mendapat-

kan diriku hanyalah dengan bertarung

antara kau dan kawanmu itu. Kalau

tidak siapa sudi? Sebab aku tidak tahu siapa yang paling
 hebat di antara

kalian jika telah berada di atas

ranjang..."

"Kami tidak mau."

"Kalau kalian tidak mau ber-

tarung aku pun tidak sudi menjadi

isteri kalian" dengus Mustika Jajar.

"Kau boleh tidak mau, tapi

patung bagus itu harus kau serahkan

pada kami..." tegas si jangkung.

"Hik hik hik... Patung ini

tidak akan kuberikan pada siapa pun.

Saudagar Bergola Mungkur hendak

menukar patung ini dengan tiga kantung emas. Itu pun tidak
 kuberikan.

Apalagi cuma kalian yang memintanya.

Tentu kalian hanya akan membuang nyawa secara sia-sia"

Kedua Iblis Kuning tampak marah

sekali melihat gadis di depan mereka

terlalu memandang rendah. Yang

berbadan pendek tiba-tiba saja

melompat ke depan. Tangannya ter-

pentang meluncur ke arah dada.

Tujuannya adalah meremas bukit kembar milik si gadis yang
 tegak menantang

itu. Akan tetapi tiba-tiba saja

"Tes"

"Aaaa..."

Iblis Pendek menjerit keras.

Tubuhnya terpelanting, ketika ia

melihat ke bagian tangannya. Maka

tangan tersebut telah bengkak membiru.

Mustika Jajar tergelak-gelak.

"Kepandaian baru seujung kuku,

berani lancang main remas milik orang lain. Majulah kalian 
berdua, aku tidak punya
banyak waktu untuk mengirim


kalian ke neraka."

Yang berbadan jangkung melompat

ke depan, iblis berbadan pendek

bangkit berdiri. Lalu keduanya secara bersamaan melakukan penyerangan ke

arah lawannya. Serangan yang mereka

lakukan tidak main-main lagi, bahkan

di saat itu kedua Iblis Kuning telah

mengerahkan jurus 'Mengusir Kabut

Dalam Badai'. Ini merupakan jurus

andalan yang mereka miliki. Begitu

tubuh dan tangan mereka berkiblat,

maka terasa adanya sambaran angin yang sangat keras 
menampar wajah sang

gadis. Mustika Jajar cepat menundukkan kepala. Laksana 
kilat masih dalam

keadaan tertunduk itu ia melepaskan

tendangan berputar.

"Duk Duk"

"Hegkh..."

Kedua Iblis Kuning terhuyung ke

belakang. Dada mereka yang kena

tendangan itu langsung berubah

membiru.

"Hek... keparat kau iblis

betina..." desis salah seorang di antara mereka. Lalu....

"Sring Sring"

Mereka langsung mencabut pedang

pendek yang tergantung di pinggang.

Setelah itu laksana kesetanan mereka

memutar pedang di tangan dengan

kekuatan berlipat ganda.

"Wut"

Begitu tubuh mereka menerjang ke

arah si gadis. Maka pedang di tangan

mereka menusuk enam jalan kematian

lawannya. Mustika Jajar tidak menjadi keder dibuatnya. Ia menggeser langkahnya ke
belakang sebanyak dua langkah.

Setelah itu tangannya menghantam ke

arah lawan-lawannya dengan kecepatan

sulit diikuti mata.

"Wusss"

Dua larik sinar membeset udara.

Merasakan adanya hawa dingin

menderu ke arah mereka. Maka dua Iblis Kuning terpaksa 
menarik serangan dan

memutar senjata untuk melindungi diri.

Namun pukulan yang dilepaskan

oleh Mustika Jajar tadi seakan tidak

dapat mereka patahkan. Malah tubuh

mereka seperti didorong oleh sebuah

kekuatan yang sangat dashyat. Dua

Iblis Kuning kertakkan rahang, lalu

melipat gandakan tenaga dalam ke arah pedang. Akhirnya....

"Buuummm"

"Auugkh…"

Kedua laki-laki tersebut men-

jerit tertahan. Tubuh mereka ter-

guling-guling. Wajah mereka berubah

pucat seperti mayat. Dengan bersusah

payah kedua iblis ini mencoba bangkit berdiri. Sementara 
lawan mereka tertawa
mengikik sambil bertolak

pinggang.

"Hegkh..."

Begitu mereka dapat berdiri.

Maka darah langsung menyembur dari

hidung dan mulut mereka. Jelas sudah

mereka menderita keracunan yang sangat parah.

"Racun Naga Biru belum seberapa.

Tapi kalian segera berangkat ke

akherat bila aku melepaskan pukulan

yang ini..." dengus si gadis.

Begitu tubuhnya berkelebat, maka

Mustika Jajar kerahkan tenaga dalamnya ke bagian tangan. 
Kedua telapak tangan
sampai ke siku yang berwarna putih

tadi sekarang telah berubah menjadi

merah semerah darah. Kedua Iblis


Kuning segera menyadari apa yang bakal terjadi pada 
mereka. Mereka bersiap-siap
hendak kabur, namun lawan rupanya melihat gelagat ini.
 Sehingga dengan

cepat ia mengibaskan kedua tangannya

ke depan.

"Wuut..,"

Sepuluh leret sinar merah

menebar bau bangkai melesat bagaikan

kilat. Dua Iblis Kuning mencoba

menangkis dengan memutar senjata di

tangan. Tetapi tampaknya pertahanan

yang mereka lakukan tidak memiliki

arti sama sekali. Terbukti serangan

Mustika Jajar mampu menerobos

pertahanan lawannya.

"Glaar Glaar"

"Aaaaakgh..."

Ledakan dashyat disertai dengan

terdengarnya suara jeritan yang saling susul menyusul. Dua 
sosok tubuh

terlempar, ketika Iblis Kuning terbanting ke tanah. Maka 
tubuh mereka telah
mengeriput hancur dalam waktu yang

sangat cepat sekali.

"Hik hik hik... Kalian belumlah pantas menyandang gelar 
iblis.

Kepandaian hanya seupil sudah berani

bertindak usil" dengus si gadis.

Sambil

tersenyum sinis ia

meninggalkan dua korbannya. Lalu ia

mendekati patung perkasa, setelah itu ia memanggulnya 
kembali dan berjalan

pelan tanpa menoleh-noleh lagi.


11


Halaman luas yang dimasuki Suro


Blondo tampak tenang dan sepi-sepi

saja. Pemuda berbaju biru muda itu

terus melangkahkan kakinya mendekati

pintu utama, hingga kemudian terdengar suara bentakan 
disertai berkelebatnya
beberapa sosok tubuh mengurung pemuda itu. Tanpa 
bertanya-tanya lagi, para

pengawal yang jumlahnya tidak kurang

dari delapan orang langsung menyerang dengan pedang 
terhunus di tangan.

"Walah Mau bertemu dengan

saudagar kaya, anjing-anjing penjaga-

nya malah mengeroyokku Baiklah kalian akan kubuat loyo..." 
dengus Pendekar

Blo'on. Seraya garuk-garuk punggung

kepala. Lalu menyambut serangan gencar lawan-lawannya 
dengan mempergunakan

jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'.

Inilah salah satu jurus menghindar dan menyerang yang 
teramat konyol dan

lucu. Mula-mula pemuda ini ber-

jingkrak, kemudian melompat-lompat di lain saat menyerang
 sambil mengibaskan
tangannya berulang-ulang. Sungguh pun gerakan kilat itu 
seperti orang

menggaruk. Namun lawan terdepan yang

terkena hantaman tangannya langsung

terpental, berguling-guling disertai

suara jerit kesakitan.

Melihat kawannya dengan dikerjai

oleh pemuda bertampang tolol ini. Maka yang lain-lainnya 
menjadi sangat marah
sekali. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh mereka semakin lama

semakin bertambah hebat. Pedang

menderu-deru menghantam sepuluh jalan kematian. Suro 
Blondo terpaksa memi-
ringkan tubuhnya atau terkadang

melesat ke udara. Ketika tubuhnya

meluruk deras ke bawah. Maka kaki

kanannya menghantam kepala lawannya

dengan keras.

"Praaak..."

"Akkkhgggk..." dua pengawal menjerit keras. Tubuh mereka

tersungkur dengan kepala remuk menyembur darah. Kepala 
pengawal tersentak

kaget, sama sekali ia tidak menyangka

kalau pemuda bertampang tolol itu

memiliki kepandaian yang tidak rendah.

Lebih mengherankan lagi ketika

menyadari bahwa sampai sejauh itu

pedang di tangannya tidak dapat

menyentuh tubuh si pemuda. Merasa

tidak ada pilihan lain, kepala

pengawal segera mengerahkan jurus

'Menyibak Bukit Menghantam Demit'.

"Hiyaaa..." Kepala pengawal sambil berteriak melengking 
tinggi

segera memutar pedang di tangannya. Di lain waktu ia 
menerjang ke depan, lalu
menusukkan ujung pedang ke lambung

Suro Blondo. Pemuda itu menarik

tubuhnya ke belakang. Namun dari arah belakangnya mata 
pedang lawannya

membabat pula.

"Tep Weleh... edaaan..." Si pemuda menggerutu. Selanjutnya 
meng-hantamkan
tangannya kedua arah

sekaligus. Sinar putih berkilauan


melesat dan menghantam kepala pengawal dan kawannya. 
Itulah pukulan 'Kera

Sakti Menolak Petir' yang dimilikinya.

Terdengar satu ledakan dahsyat.

Bersamaan dengan itu terdengar pula

suara jerit lawannya. Kepala pengawal dan satu lainnya 
terkapar di tanah

dengan mulut menyemburkan darah dan

jiwa melayang.

"Hhmm... sekarang tinggal

kalian Cepat pilih, antara mati atau memanggil juraganmu 
untuk menghadapi

aku" Empat orang pengawal saling pandang sesamanya. 
Mereka sama-sama

berpikir jika kepala pengawal saja

tewas di tangan pemuda itu, apalagi

sekarang mereka hanya tinggal berempat saja. Namun 
sebelum mereka sempat

memutuskan apa-apa. Pintu utama tiba-

tiba saja terbuka. Seorang laki-laki

berpakaian mewah muncul dan melangkah menghampiri 
pemuda berambut hitam

kemerahan ini. Wajahnya jelas-jelas

tidak dapat menyembunyikan rasa

kejutnya ketika melihat empat orang

pengawalnya tergeletak tanpa nyawa.

Saudagar Bergola Mungkur

memperhatikan pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya 
ini sejurus lawannya.

"Kau siapa?" tanya sang

saudagar, suaranya bergetar berusaha

menahan amarah.

Suro Blondo tersenyum, lalu

usap-usap keningnya.

"Aku Pendekar Blo'on Sengaja

datang menemuimu untuk menagih hutang-hutangmu yang 
bertumpuk"

"Ha ha ha... Bicaramu ngaco

belo. Manusia tolol sepertimu telah

menghutangkan apa kepadaku yang kaya

raya, heh..." hardik Bergola Mungkur, berang.

"Kau memang kaya, tapi hasil

kekayaanmu adalah hasil cucuran

keringat darah orang-orang yang mati

sengsara di Bumi Ayu." dengus





Pendekar Blo'on serius.

Saudagar itu terdiam. Wajahnya

berubah memerah. Ia merasa yakin dapat mengatasi pemuda 
yang mengaku
berjuluk Pendekar Blo'on ini. Untuk itu ia pun berkata 
dengan angkuhnya.

"Kau pendekar Gila Lebih baik

kau angkat kaki dari hadapanku sebelum aku benar-benar 
memenggal kepalamu"

"Justru aku jauh-jauh datang

kemari ingin meminta nyawamu. Kalau

kau tidak percaya tanyakan saja pada

semua algojomu yang sudah menunggu di pintu nereka" kata
pemuda itu lalu
tertawa gelak-gelak. Saudagar Bergola Mungkur terkesiap.
 Sama sekali ia

tidak menyangka kalau pemuda tampan

bertampang tolol itu telah

membinasakan orang-orang

kepercayaannya.

"Keparat Kau benar-benar

membuatku marah"

"Sret"

Laki-laki berkumis tebal ini

kemudian mencabut pedangnya.

"Jika kau sudah marah, mengapa

tidak menyerang?" Suro Blondo

tersenyum mengejek. Tingkah dan ucapan Pendekar Blo'on 
tentu saja membuat

lawannya semakin mendongkol. Sambil

membentak garang, Bergola Mungkur

tiba-tiba saja mengibaskan pedangnya

membelah dada si pemuda. Dengan gesit pemuda ini 
langsung menghindar.





Selanjutnya ia memapak serangan

itu dengan gerakan yang serba aneh dan lucu-lucu. Namun 
dibalik kekonyolan

jurus-jurus yang dimainkannya. Terkandung sebuah 
kedashyatan yang tidak

dapat diduga-duga. Saudagar Bergola

Mungkur sendiri sempat terkesima.

Berulang kali ia membangun serangan.

Namun hingga sampai sejauh itu, setiap serangannya selalu 
menemui tempat

kosong. Padahal ia telah mengerahkan

jurus 'Sayap Kupu-Kupu Membelah Kuntum Bunga'.

"Shaa..."

"Des Des"

Satu gerakan tipuan dilakukan

oleh laki-laki setengah baya ini. Suro Blondo berusaha 
berkelit. Namun dua

pukulan yang tidak diduga-duga

menghantam dada dan punggungnya.

Pemuda berambut hitam kemerahan ini

terhuyung-huyung. Dadanya terasa sesak hingga 
membuatnya sulit bernafas.

Belum sempat ia memperbaiki

posisinya. Mata pedang lawannya

menderu dan jika tidak cepat ia

menarik badannya ke belakang. Pasti

pedang lawannya telah menjebol

perutnya.

"Heh... dia sangat cepat sekali

dalam memainkan jurus-jurus pedangnya.

Sebaiknya

aku

mengerahkan

jurus

'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'"

batinnya dalam hati.

"Huuup..."

"Deep"

"Beet"

Benar saja dugaan si pemuda

begitu tubuhnya berkelebat cepat.

Pedang di tangan lawan terus memburu.

Suro Blondo tiba-tiba berbalik, lalu hantamkan tangannya ke
 bagian perge-langan
tangan Bergola Mungkur. Sungguh pun gerakan yang 
dilakukan oleh pemuda itu
terasa cepat sekali. Namun lawan rupanya berlaku sangat 
cerdik. Jika

semula ia melakukan tusukan, maka kini berbalik membabat 
kaki Suro Blondo.

Ia balas menyerang dan....

"Des"

"Aaakkkh..."

Pendekar Blo'on menyeringai.

Tubuhnya jatuh terguling-guling.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bergola Mungkur 
yang telah dikuasai

oleh nafsu membunuh. Ia memburu sambil menghujamkan 
pedangnya berturut-
turut.

Suro Blondo terus berguling-

guling kalang kabut. Satu kesempatan

ia yang telah mengerahkan tenaga

dalamnya segera menghantam ke depan.

"Wuuus"

Sinar merah hitam menderu dari

telapak tangannya. Itulah pukulan

'Neraka Hari Terakhir'. Salah satu

pukulan pamungkas yang sangat sulit

dicari tandingannya. Bergola Mungkur

sama sekali tidak menyangka akan

mendapat serangan sedemikian rupa.

Dalam jarak yang begitu dekat mustahil ia dapat 
menghindarinya. Tidak pelak

ia pun memutar pedangnya untuk

melindungi diri. Namun gerakannya

kalah cepat dengan pukulan yang dilepaskan Suro Blondo. 
Sehingga tidak pelak lagi
pukulan 'Neraka Hari

Terakhir' dengan telak memanggang

tubuhnya. Suara ledakan dahsyat

disertai dengan suara jeritan Bergola Mungkur. Tubuhnya 
terbanting ke tanah dalam
keadaan hangus seperti arang.

Sedang pedang yang dipergunakan oleh

Bergola Mungkur meleleh dan tergeletak tidak jauh dari 
mayat pemiliknya.

"Hemm... saudagar ini kaya raya, tapi ia mati tidak membawa
 hartanya.

Lagipula orang mati mana doyan harta, tidak jajan dan tidak 
pula membutuhkan
kemewahan dunia. Biarkah rakyat yang

memiliki harta itu." batin Pendekar Blo'on lalu garuk-garuk 
kepalanya

Hari telah menjelang senja saat

Pendekar Blo'on si bocah ajaib

beranjak pergi meninggalkan mayat-

mayat yang bergeletakan.


TAMAT


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...