PENDEKAR BLOON
Eps.3
PEMIKAT IBLIS
1
Gunung Galunggung
hampir sepan-
jang masa
menyemburkan lidah api
abadi. Hampir
setiap saat penduduk di sekitarnya boleh
dikata terancam mara-
bahaya. Letusan
gunung hampir semua
orang tahu selalu mendatangkan malapetaka. Walaupun
orang tahu selalu mendatangkan malapetaka. Walaupun
kesuburan tanahnya
memberi manfaat bagi kehidupan umat manusia.
Tidak jauh dari gunung Galunggung ini ada sebuah tempat
memberi manfaat bagi kehidupan umat manusia.
Tidak jauh dari gunung Galunggung ini ada sebuah tempat
yang
bernama Cilawu. Daerah ini merupakan sebuah daerah
bernama Cilawu. Daerah ini merupakan sebuah daerah
dataran rendah dan
berbukit-bukit. Meskipun daerah tersebut selalu tampak
berbukit-bukit. Meskipun daerah tersebut selalu tampak
sunyi seakan tidak
berpenghuni. Bila dilihat dari dekat, maka setiap pagi selalu
berpenghuni. Bila dilihat dari dekat, maka setiap pagi selalu
terdengar
suara bentakan-bentakan atau terkadang suara lengking
suara bentakan-bentakan atau terkadang suara lengking
tangis berkepanjangan.
Tidak jarang terdengar pula suara
beradunya dua senjata, terasa menya-
kitkan gendang-gendang telinga.
Melihat ke arah lembah gersang
dan berbatu cadas itu. Maka sege-ra terlihat seorang gadis
Tidak jarang terdengar pula suara
beradunya dua senjata, terasa menya-
kitkan gendang-gendang telinga.
Melihat ke arah lembah gersang
dan berbatu cadas itu. Maka sege-ra terlihat seorang gadis
berbaju
ungu dan berwajah angker sedang
bertarung mati-matian melawan seorang laki-laki tua muka
ungu dan berwajah angker sedang
bertarung mati-matian melawan seorang laki-laki tua muka
tengkorak.
Rambutnya yang riap-riapan dibiarkan-
nya tergerai memanjang. Sementara
kakek berambut putih acak-acakan muka tengkorak,
Rambutnya yang riap-riapan dibiarkan-
nya tergerai memanjang. Sementara
kakek berambut putih acak-acakan muka tengkorak,
tampaknya juga tidak jauh
lebih baik dari gadis yang
di-
hadapinya.
"Kerahkan seluruh kepandaian
yang kau miliki" suara kakek wajah tengkorak menggema ke
lebih baik dari gadis yang
di-
hadapinya.
"Kerahkan seluruh kepandaian
yang kau miliki" suara kakek wajah tengkorak menggema ke
seluruh bibir
lembah, menggetarkan dinding-dinding
batu, juga menulikan telinga.
"Jangan hanya gembar-gembor
macam harimau ompong tua bangka Mari kita buktikan
lembah, menggetarkan dinding-dinding
batu, juga menulikan telinga.
"Jangan hanya gembar-gembor
macam harimau ompong tua bangka Mari kita buktikan
siapa yang paling kuat
di antara kita" bentak gadis baju ungu tidak kalah sengitnya.
Tidak dapat dihindari pertem-
puran seru pun terjadi. Masing-masing tampaknya sama-
di antara kita" bentak gadis baju ungu tidak kalah sengitnya.
Tidak dapat dihindari pertem-
puran seru pun terjadi. Masing-masing tampaknya sama-
sama mengandalkan
tangan kosong.
Setiap serangan yang
mereka lancarkan selalu menimbulkan
angin bersiuran. Debu-debu mengepul di udara. Batu-batu
mereka lancarkan selalu menimbulkan
angin bersiuran. Debu-debu mengepul di udara. Batu-batu
berhamburan dan siap
menghantam tubuh
lawannya. Lengah
sedikit, maka putuslah nyawa.
Pertempuran sengit itu semakin
lama semakin menghebat. Terlebih-lebih ketika kakek tua
sedikit, maka putuslah nyawa.
Pertempuran sengit itu semakin
lama semakin menghebat. Terlebih-lebih ketika kakek tua
bertampang mengerikan
berbadan kurus
kering itu lepaskan
salah satu pukulan yang paling
diandalkannya.
"Heaaa..." Tangan si kakek yang telah berubah menjadi biru
salah satu pukulan yang paling
diandalkannya.
"Heaaa..." Tangan si kakek yang telah berubah menjadi biru
tiba-tiba
saja dihantamkannya ke depan.
"Hmm. Hanya pukulan Racun Segala Bisa, siapa yang takut"
saja dihantamkannya ke depan.
"Hmm. Hanya pukulan Racun Segala Bisa, siapa yang takut"
Gadis baju
ungu
menggeram hebat. Ia
kerahkan
tenaga dalam yang dimilikinya ke
bagian tangan kiri kanan. Hanya dalam waktu sekedipan
tenaga dalam yang dimilikinya ke
bagian tangan kiri kanan. Hanya dalam waktu sekedipan
mata saja kedua
telapak tangannya juga telah berubah
menjadi biru. Tanpa menunggu ia
lontarkan kedua tangannya memapaki
pukulan beracun yang dilepaskan oleh
kakek muka tengkorak mata buta
sebelah.
"Huup"
"Shaa..."
Angin dingin mencucuk membekukan
darah saling menyambar dengan ganas.
Kemudian terjadi benturan yang sangat keras bukan alang
telapak tangannya juga telah berubah
menjadi biru. Tanpa menunggu ia
lontarkan kedua tangannya memapaki
pukulan beracun yang dilepaskan oleh
kakek muka tengkorak mata buta
sebelah.
"Huup"
"Shaa..."
Angin dingin mencucuk membekukan
darah saling menyambar dengan ganas.
Kemudian terjadi benturan yang sangat keras bukan alang
kepalang.
"Duum Duum"
Dinding tebing yang selama
bertahun-tahun tidak pernah goyah
diterpa musim. Kini tampak longsor di sana-sini. Suara
"Duum Duum"
Dinding tebing yang selama
bertahun-tahun tidak pernah goyah
diterpa musim. Kini tampak longsor di sana-sini. Suara
bergemuruh disertai
menyebarnya
bau menusuk berbaur
menjadi satu. Debu mengepul tinggi
membumbung ke angkasa. Bila beberapa
saat kemudian debu-debu yang
berterbangan itu mulai menipis. Maka daerah di sekitarnya
menyebarnya
bau menusuk berbaur
menjadi satu. Debu mengepul tinggi
membumbung ke angkasa. Bila beberapa
saat kemudian debu-debu yang
berterbangan itu mulai menipis. Maka daerah di sekitarnya
menjadi porak
poranda. Pada dua buah sisi yang
berlawanan terlihat dua sosok tubuh
tergeletak tidak bergerak sama sekali.
Dari bibir mereka mengalirkan darah.
Tampak jelas baik gadis berbaju ungu
maupun si kakek muka tengkorak
menderita luka dalam yang sangat
parah. Namun anehnya tidak berselang
lama. Terdengar suara tawa si muka
tengkorak bergelak. Tawa itu semakin
lama semakin meninggi, hingga membuat daun-daun hijau di
poranda. Pada dua buah sisi yang
berlawanan terlihat dua sosok tubuh
tergeletak tidak bergerak sama sekali.
Dari bibir mereka mengalirkan darah.
Tampak jelas baik gadis berbaju ungu
maupun si kakek muka tengkorak
menderita luka dalam yang sangat
parah. Namun anehnya tidak berselang
lama. Terdengar suara tawa si muka
tengkorak bergelak. Tawa itu semakin
lama semakin meninggi, hingga membuat daun-daun hijau di
atas pohon
berguguran. Gadis berbaju ungu agaknya juga menyadari apa
berguguran. Gadis berbaju ungu agaknya juga menyadari apa
yang tengah
dilakukan oleh laki-laki renta di
depannya. Itulah salah satu cara
menyembuhkan luka dalam lewat
pengerahan suara tawa. Dan inilah
merupakan sebuah cara yang teramat
langka dan sangat jarang dimiliki oleh orang-orang rimba
dilakukan oleh laki-laki renta di
depannya. Itulah salah satu cara
menyembuhkan luka dalam lewat
pengerahan suara tawa. Dan inilah
merupakan sebuah cara yang teramat
langka dan sangat jarang dimiliki oleh orang-orang rimba
persilatan.
Sadar lawannya mengerahkan hawa
murni untuk menyembuhkan luka dalam
yang dideritanya. Maka gadis baju ungu juga ikut tertawa.
Sadar lawannya mengerahkan hawa
murni untuk menyembuhkan luka dalam
yang dideritanya. Maka gadis baju ungu juga ikut tertawa.
Suara tawanya
melengking tinggi. Tubuhnya yang
ramping bahkan sampai terguncang-
guncang. Suara tawa saling tindih
menindih hingga menimbulkan guncangan hebat pada tanah
melengking tinggi. Tubuhnya yang
ramping bahkan sampai terguncang-
guncang. Suara tawa saling tindih
menindih hingga menimbulkan guncangan hebat pada tanah
tempat mereka berada.
Dari arah barat laut, tiba-tiba
saja angin kencang berhembus. Pohon-
pohon di sekeliling lembah dan bukit
bertumbangan. Dan langit pun seketika berubah mendung.
Dari arah barat laut, tiba-tiba
saja angin kencang berhembus. Pohon-
pohon di sekeliling lembah dan bukit
bertumbangan. Dan langit pun seketika berubah mendung.
Gadis baju ungu
terkesima, sebaliknya kakek renta muka tengkorak semakin
terkesima, sebaliknya kakek renta muka tengkorak semakin
memperhebat suara
tawanya.
"Ha ha ha... Hujan angin...
inilah waktu yang kutunggu-tunggu
sejak tujuh belas tahun yang lalu...
Hak kak kak...."
Gadis baju ungu terkesima.
Seraya jatuhkan diri dan berlutut di
depan kakek renta muka tengkorak.
"Guruku Tuan Muka Tengkorak Mata Api, apakah maksud
tawanya.
"Ha ha ha... Hujan angin...
inilah waktu yang kutunggu-tunggu
sejak tujuh belas tahun yang lalu...
Hak kak kak...."
Gadis baju ungu terkesima.
Seraya jatuhkan diri dan berlutut di
depan kakek renta muka tengkorak.
"Guruku Tuan Muka Tengkorak Mata Api, apakah maksud
ucapanmu?" tanya
si
gadis. Ia seka
darah yang membasahi
sudut-sudut bibirnya. Sementara luka
dalam yang dideritanya sudah tidak
terasa sakit lagi.
"Ha ha ha... Muridku Mustika
Jajar. Sejak masih bayi merah aku
sengaja mengambilmu untuk kujadikan
seorang murid tanpa tanding. Sekarang dan untuk masa yang
sudut-sudut bibirnya. Sementara luka
dalam yang dideritanya sudah tidak
terasa sakit lagi.
"Ha ha ha... Muridku Mustika
Jajar. Sejak masih bayi merah aku
sengaja mengambilmu untuk kujadikan
seorang murid tanpa tanding. Sekarang dan untuk masa yang
akan datang kau
akan menjadi seorang ratu yang tidak
ada tanding. Kau bukan saja menjadi
tokoh yang tidak ada duanya, tapi juga karena kecantikanmu
akan menjadi seorang ratu yang tidak
ada tanding. Kau bukan saja menjadi
tokoh yang tidak ada duanya, tapi juga karena kecantikanmu
yang sungguh
menggiurkan, membuatmu mudah
menundukkan laki-laki manapun yang kau sukai."
Seandainya ia seorang gadis yang
dididik oleh seorang tokoh aliran
lurus. Tentu saja wajahnya berubah
merah karena mendapat sanjungan. Tapi karena pada
menggiurkan, membuatmu mudah
menundukkan laki-laki manapun yang kau sukai."
Seandainya ia seorang gadis yang
dididik oleh seorang tokoh aliran
lurus. Tentu saja wajahnya berubah
merah karena mendapat sanjungan. Tapi karena pada
dasarnya ia merupakan
hasil gemblengan tokoh Maha Sesat.
Mustika Jajar malah tertawa bergelak
dan leletkan lidah basahi bibir.
"Sekarang hapuslah coreng moreng di wajahmu, Mustika"
hasil gemblengan tokoh Maha Sesat.
Mustika Jajar malah tertawa bergelak
dan leletkan lidah basahi bibir.
"Sekarang hapuslah coreng moreng di wajahmu, Mustika"
perintah tegas
kakek renta
muka tengkorak yang
hanya mempunyai satu mata ini tegas.
"Hi hi hi... Jika kuhapus bedak batu penutup wajahku. Aku
"Hi hi hi... Jika kuhapus bedak batu penutup wajahku. Aku
takut guru
tergiur olehku. Jika guru yang
kepincut padaku, kujamin aku pasti
tidak bersedia melayani keinginan
guru" Mustika Jajar tertawa genit.
Seraya lalu menghapus coreng moreng di wajahnya.
"Tidak perlu khawatir muridku.
Tidak nantinya pagar memakan tanaman.
Sejak kecil aku merawat dirimu.
Walaupun sekarang kau berpakaian rapi.
Sebagai gurumu tentu aku sudah tahu
lekuk liku tubuhmu" kata kakek muka tengkorak sambil
tergiur olehku. Jika guru yang
kepincut padaku, kujamin aku pasti
tidak bersedia melayani keinginan
guru" Mustika Jajar tertawa genit.
Seraya lalu menghapus coreng moreng di wajahnya.
"Tidak perlu khawatir muridku.
Tidak nantinya pagar memakan tanaman.
Sejak kecil aku merawat dirimu.
Walaupun sekarang kau berpakaian rapi.
Sebagai gurumu tentu aku sudah tahu
lekuk liku tubuhmu" kata kakek muka tengkorak sambil
tertawa-tawa,
Mata Mustika Jajar mengerling
nakal. Wajahnya yang sekarang tidak
tertutup pelapis apa-apa tampak cantik berseri-seri.
Matanya berbinar penuh keman-
jaan. Tapi di balik penampilannya yang nyata, tersimpan
Mata Mustika Jajar mengerling
nakal. Wajahnya yang sekarang tidak
tertutup pelapis apa-apa tampak cantik berseri-seri.
Matanya berbinar penuh keman-
jaan. Tapi di balik penampilannya yang nyata, tersimpan
kekejaman melebihi
manusia biadab.
"Ha ha ha. Sekarang kau benar-
benar telah menjadi gadis yang sudah
sangat dewasa sekali, Tika. Wajahmu
cantik melebihi bidadari. Jika saja
aku masih muda, tentu saja aku tidak
akan melepaskanmu setelah berhasil
mendapatkan cintamu. Ha ha ha..."
"Ternyata guru dulunya mata
keranjang." Cibir si gadis.
"Lain dulu lain sekarang.
Sekarang adalah masa pembalasan di
mana kau harus mencari dan membunuh
seorang laki-laki yang berjuluk
'Malaikat Berambut Api'. Orang inilah yang dulu pernah
manusia biadab.
"Ha ha ha. Sekarang kau benar-
benar telah menjadi gadis yang sudah
sangat dewasa sekali, Tika. Wajahmu
cantik melebihi bidadari. Jika saja
aku masih muda, tentu saja aku tidak
akan melepaskanmu setelah berhasil
mendapatkan cintamu. Ha ha ha..."
"Ternyata guru dulunya mata
keranjang." Cibir si gadis.
"Lain dulu lain sekarang.
Sekarang adalah masa pembalasan di
mana kau harus mencari dan membunuh
seorang laki-laki yang berjuluk
'Malaikat Berambut Api'. Orang inilah yang dulu pernah
mencungkil sebelah
mataku. Sudah menjadi tugasmu menja-
lankan perintahku. Selain itu kau juga berhak membunuh
mataku. Sudah menjadi tugasmu menja-
lankan perintahku. Selain itu kau juga berhak membunuh
semua tokoh persilatan
aliran lurus.
Pergunakanlah kecerdikan dan kecantikan yang
kau miliki untuk
memperdaya setiap lawan. Jika lawan-
lawanmu merupakan tokoh yang sangat
sakti, kau pikatlah dengan kecantikan-mu Jika mereka
memperdaya setiap lawan. Jika lawan-
lawanmu merupakan tokoh yang sangat
sakti, kau pikatlah dengan kecantikan-mu Jika mereka
benar-benar telah
bertekuk lutut di bawah kakimu.
Peralatlah dia untuk mencapai cita-
citamu."
"Tapi guru. Di mana aku harus
mencari musuh besar guru yang
mempunyai gelar 'Malaikat Berambut
Api' itu?"
Tua Tengkorak Mata Api terdiam
beberapa saat lamanya. Matanya yang
cuma sebelah itu memandang lurus ke
arah si gadis. Dan beberapa saat setelahnya suara tawa muka
bertekuk lutut di bawah kakimu.
Peralatlah dia untuk mencapai cita-
citamu."
"Tapi guru. Di mana aku harus
mencari musuh besar guru yang
mempunyai gelar 'Malaikat Berambut
Api' itu?"
Tua Tengkorak Mata Api terdiam
beberapa saat lamanya. Matanya yang
cuma sebelah itu memandang lurus ke
arah si gadis. Dan beberapa saat setelahnya suara tawa muka
tengkorak
menggema kembali. Di tengah-tengah
suara tawanya yang tidak ubahnya bagai gaung suara
menggema kembali. Di tengah-tengah
suara tawanya yang tidak ubahnya bagai gaung suara
harimau itu terdengar
ucapannya yang tajam menusuk.
"Di manapun adanya Malaikat
Berambut Api, kau harus mencarinya
Mustika Jajar Terakhir kudengar ia
mengasingkan diri di Pulau Seribu Satu Malam yang terletak
ucapannya yang tajam menusuk.
"Di manapun adanya Malaikat
Berambut Api, kau harus mencarinya
Mustika Jajar Terakhir kudengar ia
mengasingkan diri di Pulau Seribu Satu Malam yang terletak
di daerah selatan
laut
Jawa...."
"Apakah
orang itu tidak
mempunyai murid, guru?"
"Mengenai murid aku sampai saat
ini tidak mengetahuinya. Tapi kelak
bila kau telah turun ke dunia ramai.
Tentu kau dapat mencari tahu"
"Baiklah guru. Kalau semua ini
memang sudah merupakan keinginan guru.
Maka sebagai murid yang ingin berbakti padamu, aku siap
"Apakah
orang itu tidak
mempunyai murid, guru?"
"Mengenai murid aku sampai saat
ini tidak mengetahuinya. Tapi kelak
bila kau telah turun ke dunia ramai.
Tentu kau dapat mencari tahu"
"Baiklah guru. Kalau semua ini
memang sudah merupakan keinginan guru.
Maka sebagai murid yang ingin berbakti padamu, aku siap
menjalankan segala
perintahmu..." ujar gadis cantik berbaju ungu.
"Bagus Sekarang kau duduklah di sini," ujar Tua Tengkorak
perintahmu..." ujar gadis cantik berbaju ungu.
"Bagus Sekarang kau duduklah di sini," ujar Tua Tengkorak
Mata Api.
Mustika Jajar duduk di depan
kakek Muka Tengkorak. Seraya kemudian mengangkat kedua
Mustika Jajar duduk di depan
kakek Muka Tengkorak. Seraya kemudian mengangkat kedua
tangannya tinggi-tinggi.
Setelah memberi isyarat pada
muridnya, lalu Mustika Jajar pun mengangkat kedua
muridnya, lalu Mustika Jajar pun mengangkat kedua
tangannya. Tangan mereka
saling menempel.
Sebelum Mustika Jajar mengetahui apa
yang akan diperbuat
oleh gurunya.
Tiba-tiba gadis ini merasakan
adanya satu sengatan yang sangat keras dan menimbulkan
oleh gurunya.
Tiba-tiba gadis ini merasakan
adanya satu sengatan yang sangat keras dan menimbulkan
rasa dingin yang tidak
tertahankan
mengalir melalui telapak
tangan gurunya. Mustika Jajar sempat
terkesima. Hanya saja sebagai gadis
yang sangat cerdik ia segera menge-
tahui bahwa gurunya sengaja memper-
besar hawa murni yang dimilikinya.
Tubuh murid dan guru tampak
sama-sama tergetar hebat. Asap tipis
mencuat dari bagian atas ubun-ubun si
kakek muka tengkorak; Sebaliknya tubuh Mustika Jajar
tangan gurunya. Mustika Jajar sempat
terkesima. Hanya saja sebagai gadis
yang sangat cerdik ia segera menge-
tahui bahwa gurunya sengaja memper-
besar hawa murni yang dimilikinya.
Tubuh murid dan guru tampak
sama-sama tergetar hebat. Asap tipis
mencuat dari bagian atas ubun-ubun si
kakek muka tengkorak; Sebaliknya tubuh Mustika Jajar
sudah tampak bersimbah
keringat. Tidak sampai sepemakan
sirih. Tua Tengkorak Mata Api sudah
menarik tangannya yang melekat di
tangan muridnya.
Mustika Jajar, gadis berbaju
ungu dan memiliki kecantikan luar
biasa ini menarik nafas panjang. Kini ia merasa tubuhnya
keringat. Tidak sampai sepemakan
sirih. Tua Tengkorak Mata Api sudah
menarik tangannya yang melekat di
tangan muridnya.
Mustika Jajar, gadis berbaju
ungu dan memiliki kecantikan luar
biasa ini menarik nafas panjang. Kini ia merasa tubuhnya
semakin menjadi
ringan. Bahkan ketika ia menggerak-
gerakkan tubuhnya. Semuanya terasa
lebih hebat dari waktu-waktu sebelum-
nya.
"Apa yang kau rasakan, muridku?"
tanya Muka Tengkorak. Sungguh pun saat itu ia sedang
ringan. Bahkan ketika ia menggerak-
gerakkan tubuhnya. Semuanya terasa
lebih hebat dari waktu-waktu sebelum-
nya.
"Apa yang kau rasakan, muridku?"
tanya Muka Tengkorak. Sungguh pun saat itu ia sedang
tersenyum. Tapi di mata
yang melihatnya
senyumannya tidak
ubahnya bagai seringai yang mengeri-
kan.
"Aku merasa badanku berubah
seringan kapas" jelas gadis cantik berhati telenggas ini
ubahnya bagai seringai yang mengeri-
kan.
"Aku merasa badanku berubah
seringan kapas" jelas gadis cantik berhati telenggas ini
sejujurnya.
"Bagus... ha ha ha... bagus..."
kata Tua Tengkorak Mata Api. Seraya
meraba pinggangnya. Kemudian terlihatlah sebuah buntalan
"Bagus... ha ha ha... bagus..."
kata Tua Tengkorak Mata Api. Seraya
meraba pinggangnya. Kemudian terlihatlah sebuah buntalan
kecil warna hitam
tergenggam di
tangannya.
Buntalan itu selanjutnya dibuka-
nya. Setelah buntalan terbuka sepe-
nuhnya. Maka terlihatlah sebuah
senjata yang sangat aneh bentuknya.
Senjata itu berbentuk bulat seperti
bulan sabit. Berwarna putih mengkilat
karena ketajamannya.
"Kau tahu cara mempergunakannya, muridku?" ,
Mustika Jajar menganggukkan
kepala.
"Coba bagaimana?"
"Sabit Bulan adalah senjata yang sangat aneh. Aku tentu saja
Buntalan itu selanjutnya dibuka-
nya. Setelah buntalan terbuka sepe-
nuhnya. Maka terlihatlah sebuah
senjata yang sangat aneh bentuknya.
Senjata itu berbentuk bulat seperti
bulan sabit. Berwarna putih mengkilat
karena ketajamannya.
"Kau tahu cara mempergunakannya, muridku?" ,
Mustika Jajar menganggukkan
kepala.
"Coba bagaimana?"
"Sabit Bulan adalah senjata yang sangat aneh. Aku tentu saja
dapat
mempergunakannya. Walaupun hanya
dengan menggenggamnya."
"Bagus Senjata ini sekarang
menjadi milikmu sepenuhnya," ujar kakek renta muka
mempergunakannya. Walaupun hanya
dengan menggenggamnya."
"Bagus Senjata ini sekarang
menjadi milikmu sepenuhnya," ujar kakek renta muka
tengkorak. Seraya
menyerahkan senjata itu pada Mustika
Jajar.
"Pantaskah aku menerimanya,
guru?" tanya gadis itu agak ragu-ragu.
"Tentu saja pantas, karena
sebentar lagi kau sudah harus mening-
galkan lembah Cilawu ini."
Mustika Jajar memang tidak perlu
membantah lagi. Sungguhpun hatinya
merasa berat untuk meninggalkan orang yang telah merawat
menyerahkan senjata itu pada Mustika
Jajar.
"Pantaskah aku menerimanya,
guru?" tanya gadis itu agak ragu-ragu.
"Tentu saja pantas, karena
sebentar lagi kau sudah harus mening-
galkan lembah Cilawu ini."
Mustika Jajar memang tidak perlu
membantah lagi. Sungguhpun hatinya
merasa berat untuk meninggalkan orang yang telah merawat
dan mendidiknya
selama ini. Namun akhirnya ia harus
berangkat memulai kehidupan lain yang sangat baru.
2
Cambuk di tangannya sesekali
melecut di udara disusul dengan suara jerit kesakitan salah
selama ini. Namun akhirnya ia harus
berangkat memulai kehidupan lain yang sangat baru.
2
Cambuk di tangannya sesekali
melecut di udara disusul dengan suara jerit kesakitan salah
seorang dari
sekian banyak orang-orang dari mereka
yang terbelenggu mata rantai. Tubuh
yang semula muda perkasa ini lambat
laun hanya tinggal kulit pembalut
tulang. Mereka kurang makan, kurang
tidur, kurang istirahat dan kurang
segala-galanya. Sepanjang hari mereka harus terus menerus
sekian banyak orang-orang dari mereka
yang terbelenggu mata rantai. Tubuh
yang semula muda perkasa ini lambat
laun hanya tinggal kulit pembalut
tulang. Mereka kurang makan, kurang
tidur, kurang istirahat dan kurang
segala-galanya. Sepanjang hari mereka harus terus menerus
bekerja menggali
sebuah terowongan, mengayak serpihan
tanah untuk mendapatkan biji-biji emas murni.
Tidak jauh dari pekerja-pekerja
paksa itu lebih dari sembilan laki-
laki bertubuh tegap berkepala botak
dan bertampang beringas terus
mengawasi pekerjaan mereka tanpa
mengenal belas kasihan sama sekali.
Jika para pekerja itu tampak
malas, maka cambuk berduri di tangan
para algojo itu ikut bicara. Tidak
heran jika tiap hari para pekerja itu ada saja yang mendapat
sebuah terowongan, mengayak serpihan
tanah untuk mendapatkan biji-biji emas murni.
Tidak jauh dari pekerja-pekerja
paksa itu lebih dari sembilan laki-
laki bertubuh tegap berkepala botak
dan bertampang beringas terus
mengawasi pekerjaan mereka tanpa
mengenal belas kasihan sama sekali.
Jika para pekerja itu tampak
malas, maka cambuk berduri di tangan
para algojo itu ikut bicara. Tidak
heran jika tiap hari para pekerja itu ada saja yang mendapat
celaka atau
mati. Mayat-mayat mereka biasanya
dibuang begitu saja tanpa ada seorang pun yang di antara
mati. Mayat-mayat mereka biasanya
dibuang begitu saja tanpa ada seorang pun yang di antara
para pekerja itu
yang berani mengurusnya.
Sebuah dataran rendah tidak jauh
dari tempat penggalian emas telah
ditentukan sebagai tempat pembuangan
jenazah. Tidak heran jika dalam
beberapa tahun saja Bumi Ayu telah
dipenuhi dengan tulang belulang yang
bertimbun bahkan mulai menggunung.
Bau di tempat itu tidak dapat
dilukiskan. Kenyataan ini tentu saja
sangat mengganggu pernafasan para
pekerja paksa yang banyak didatangkan dari daerah Bumi
yang berani mengurusnya.
Sebuah dataran rendah tidak jauh
dari tempat penggalian emas telah
ditentukan sebagai tempat pembuangan
jenazah. Tidak heran jika dalam
beberapa tahun saja Bumi Ayu telah
dipenuhi dengan tulang belulang yang
bertimbun bahkan mulai menggunung.
Bau di tempat itu tidak dapat
dilukiskan. Kenyataan ini tentu saja
sangat mengganggu pernafasan para
pekerja paksa yang banyak didatangkan dari daerah Bumi
Ayu dan Cijulang.
Tapi siapa yang akan perduli? Tidak
ada seorang pun yang memperdulikan
nasib mereka. Kalau pun ada di antara para pekerja paksa
Tapi siapa yang akan perduli? Tidak
ada seorang pun yang memperdulikan
nasib mereka. Kalau pun ada di antara para pekerja paksa
yang berusaha
melarikan diri. Tidak seorang pun di antara mereka yang
melarikan diri. Tidak seorang pun di antara mereka yang
dapat menyelamatkan
diri.
Mereka yang
ketahuan oleh algojo segera dihabisi nyawanya.
Kalaupun ada yang
selamat sampai ke
kampung
halaman. Maka dalam waktu yang sangat singkat para algojo
halaman. Maka dalam waktu yang sangat singkat para algojo
itu menyeret
mereka untuk menerima hukuman mati
atas pelarian nekad itu.
Siang panas terasa membuat
rengat batok kepala. Para pekerja
paksa itu seakan tidak mengenal rasa
letih, terus melaksanakan tugasnya.
Jika di antara para pekerja itu ada
yang malas. Maka para algojo dengan
kejamnya langsung mengayunkan
cambuknya.
Pada suasana seperti itu, di
kejauhan sana terdengar derap langkah suara kuda.
mereka untuk menerima hukuman mati
atas pelarian nekad itu.
Siang panas terasa membuat
rengat batok kepala. Para pekerja
paksa itu seakan tidak mengenal rasa
letih, terus melaksanakan tugasnya.
Jika di antara para pekerja itu ada
yang malas. Maka para algojo dengan
kejamnya langsung mengayunkan
cambuknya.
Pada suasana seperti itu, di
kejauhan sana terdengar derap langkah suara kuda.
Penunggangnya adalah dua
orang laki-laki berbaju serba hitam
bertampang tirus. Sedangkan kuda yang berada paling
orang laki-laki berbaju serba hitam
bertampang tirus. Sedangkan kuda yang berada paling
depan
ditunggangi oleh
seorang laki-laki berpakaian
bangsawan. Semakin lama tiga ekor kuda tunggangan ini
seorang laki-laki berpakaian
bangsawan. Semakin lama tiga ekor kuda tunggangan ini
semakin dekat dengan
tempat tujuan.
Para algojo begitu mengetahui
siapa yang datang langsung menyongsong kehadiran mereka
tempat tujuan.
Para algojo begitu mengetahui
siapa yang datang langsung menyongsong kehadiran mereka
dengan sikap penuh
rasa hormat. Tidak sampai sepemakan
sirih. Sampailah rombongan penunggang kuda ini di lokasi
rasa hormat. Tidak sampai sepemakan
sirih. Sampailah rombongan penunggang kuda ini di lokasi
penggalian emas
Bumi Ayu. Tiga ekor kuda tunggangan
berhenti dengan tiba-tiba. Dua orang
penunggangnya melompat turun, sedang-
kan laki-laki berpakaian bangsawan
tetap duduk di atas pelana kudanya.
Seraya memperhatikan para algojo itu
dengan tatapan sulit dimengerti.
"Bagaimana hasil kerja selama
satu purnama ini, Dasa Reksa?" tanya saudagar Bergola
Bumi Ayu. Tiga ekor kuda tunggangan
berhenti dengan tiba-tiba. Dua orang
penunggangnya melompat turun, sedang-
kan laki-laki berpakaian bangsawan
tetap duduk di atas pelana kudanya.
Seraya memperhatikan para algojo itu
dengan tatapan sulit dimengerti.
"Bagaimana hasil kerja selama
satu purnama ini, Dasa Reksa?" tanya saudagar Bergola
kepada kepala algojo
"Maafkan kami, Tuan. Pendapatan
biji-biji emas agak merosot. Semua ini dikarenakan semakin
"Maafkan kami, Tuan. Pendapatan
biji-biji emas agak merosot. Semua ini dikarenakan semakin
menipisnya jumlah
pekerja. Menurut
hemat hamba, kita
merasa perlu menambah jumlah peker-
ja..." ujar laki-laki berbadan tegap itu berpendapat.
"Hmm.... Seharusnya tidak kau
bicarakan itu padaku. Kalian boleh
mencari tambahan tenaga kerja di mana saja. Kau bisa pergi
merasa perlu menambah jumlah peker-
ja..." ujar laki-laki berbadan tegap itu berpendapat.
"Hmm.... Seharusnya tidak kau
bicarakan itu padaku. Kalian boleh
mencari tambahan tenaga kerja di mana saja. Kau bisa pergi
ke Argopuro,
Ciamis atau Tungku Jajar." kata
saudagar Bergola ketus.
"Ba... baik... Tuan. Kami segera melaksanakannya dengan
Ciamis atau Tungku Jajar." kata
saudagar Bergola ketus.
"Ba... baik... Tuan. Kami segera melaksanakannya dengan
baik" kata
kepala algojo
itu menyanggupi.
"Bagus Kalian memang harus
selalu mengabdi kepadaku" dengus
saudagar
Bergola Mungkur. Seraya
kemudian beralih ke arah Giwang Rana
dan Bajar Saketi. Yaitu kedua tangan
kanannya yang sedang mengambil emas
hasil para pekerja paksa itu.
Ada senyum sinis menghias di
bibir si laki-laki. Tidak lama ia
segera memeriksa emas di dalam
bungkusan yang diserahkan oleh kedua
tangan kanannya.
"Hasil bulan ini tampaknya
memang agak berkurang banyak, Dasa
Reksa. Kuingatkan padamu agar tidak
mempermainkan aku. Jika ternyata kau
menyembunyikan sebagian hasil
pencarian ini. Seumur hidup kau
dan kawan-kawanmu benar-benar akan
kubuat menyesal"
Rupanya ancaman saudagar Bergola
Mungkur bukan sekedar ancaman kosong
belaka. Karena ternyata Dasa Reksa
sang kepala algojo tampak sangat
ketakutan sekali.
"Saya mana mungkin berani
mempermainkan Tuan. Selama ini saya
sudah berusaha jujur kepada Tuan. Cuma karena
"Bagus Kalian memang harus
selalu mengabdi kepadaku" dengus
saudagar
Bergola Mungkur. Seraya
kemudian beralih ke arah Giwang Rana
dan Bajar Saketi. Yaitu kedua tangan
kanannya yang sedang mengambil emas
hasil para pekerja paksa itu.
Ada senyum sinis menghias di
bibir si laki-laki. Tidak lama ia
segera memeriksa emas di dalam
bungkusan yang diserahkan oleh kedua
tangan kanannya.
"Hasil bulan ini tampaknya
memang agak berkurang banyak, Dasa
Reksa. Kuingatkan padamu agar tidak
mempermainkan aku. Jika ternyata kau
menyembunyikan sebagian hasil
pencarian ini. Seumur hidup kau
dan kawan-kawanmu benar-benar akan
kubuat menyesal"
Rupanya ancaman saudagar Bergola
Mungkur bukan sekedar ancaman kosong
belaka. Karena ternyata Dasa Reksa
sang kepala algojo tampak sangat
ketakutan sekali.
"Saya mana mungkin berani
mempermainkan Tuan. Selama ini saya
sudah berusaha jujur kepada Tuan. Cuma karena
belakangan
para pekerja di sini
banyak yang kojor
menemui ajal. Itu
sebabnya tenaga di lapangan menjadi
sangat berkurang sekali."
"Aku percaya kata-katamu, Dasa
Reksa. Untuk itu kuperintahkan pada
kalian segera mencari tenaga tambahan.
Purnama mendatang hasil yang kalian
peroleh harus semakin bertambah
meningkat"
"Perintah segera kami laksa-
nakan, Tuan..." kata Dasa Reksa.
Saudagar Bergola Mungkur sama
sekali tidak menyahut. Malah setelah
memberi isyarat pada Giwang Rana dan
Banjar Saketi mereka memacu kuda-kuda tunggangan itu
sebabnya tenaga di lapangan menjadi
sangat berkurang sekali."
"Aku percaya kata-katamu, Dasa
Reksa. Untuk itu kuperintahkan pada
kalian segera mencari tenaga tambahan.
Purnama mendatang hasil yang kalian
peroleh harus semakin bertambah
meningkat"
"Perintah segera kami laksa-
nakan, Tuan..." kata Dasa Reksa.
Saudagar Bergola Mungkur sama
sekali tidak menyahut. Malah setelah
memberi isyarat pada Giwang Rana dan
Banjar Saketi mereka memacu kuda-kuda tunggangan itu
menuju daerah Cileles.
****
"Uhukk... Uhuuuuukk.. Wuaakh..
kupikir benda hitam panjang yang
bergelantungan itu sarang lebah. Tidak tahunya…" Pemuda
****
"Uhukk... Uhuuuuukk.. Wuaakh..
kupikir benda hitam panjang yang
bergelantungan itu sarang lebah. Tidak tahunya…" Pemuda
tampan berbaju
biru
muda memakai ikat
kepala warna biru
belang-belang kuning ini hentikan
ucapannya. Perutnya mual seperti
hendak muntah. Lalu tanpa tertahankan lagi.
"Hoeek... hoeek... Tuh kan,
muntah betul...”
desisnya. Seraya
lalu menyeringai dan garuk-garuk
belakang kepalanya. Sekali lagi ia
memperhatikan mayat-mayat yang ter-
gantung di pinggir jalan menuju kota
kecil Malaya. Mayat-mayat itu rata-
rata kepala menghadap ke bawah, kaki
terikat pada cabang pohon. Ribuan
lalat tampak mengerumuni. Sebagian di antara mereka telah
belang-belang kuning ini hentikan
ucapannya. Perutnya mual seperti
hendak muntah. Lalu tanpa tertahankan lagi.
"Hoeek... hoeek... Tuh kan,
muntah betul...”
desisnya. Seraya
lalu menyeringai dan garuk-garuk
belakang kepalanya. Sekali lagi ia
memperhatikan mayat-mayat yang ter-
gantung di pinggir jalan menuju kota
kecil Malaya. Mayat-mayat itu rata-
rata kepala menghadap ke bawah, kaki
terikat pada cabang pohon. Ribuan
lalat tampak mengerumuni. Sebagian di antara mereka telah
membusuk. Tapi
tidak jarang ada pula yang masih utuh.
Pemuda tampan yang tidak lain
adalah Pendekar Blo'on ini memper-
hatikan mayat-mayat itu dengan kening berkerut.
"Kulihat ada kematian di mana-
mana. Siapa mereka? Melihat luka-luka di tubuhnya rasanya mereka disayat-sayat
tidak jarang ada pula yang masih utuh.
Pemuda tampan yang tidak lain
adalah Pendekar Blo'on ini memper-
hatikan mayat-mayat itu dengan kening berkerut.
"Kulihat ada kematian di mana-
mana. Siapa mereka? Melihat luka-luka di tubuhnya rasanya mereka disayat-sayat
dengan senjata yang
teramat
tajam. Apakah mungkin mereka ini merupakan orang-orang
tajam. Apakah mungkin mereka ini merupakan orang-orang
dari rimba
persilatan? Rasanya..." Suro Blondo usap-usap keningnya
persilatan? Rasanya..." Suro Blondo usap-usap keningnya
yang berkeringat.
Ia
melihat sebuah
pedang pendek tergeletak di bawah salah
satu
mayat yang tergantung.. Namun sama
sekali ia tidak punya, keberanian apa-apa untuk
mayat yang tergantung.. Namun sama
sekali ia tidak punya, keberanian apa-apa untuk
memungutnya.
"Ini merupakan pekerjaan yang
sangat keji.... Siapa pun pelakunya.
Siapa pun orangnya. Pastilah merupakan seorang pembunuh
"Ini merupakan pekerjaan yang
sangat keji.... Siapa pun pelakunya.
Siapa pun orangnya. Pastilah merupakan seorang pembunuh
berdarah dingin."
Suro Blondo lagi-lagi terdiam. Sayup-
sayup ia mendengar suara jlenting
sesuatu di kejauhan sana. Pendekar
Blo'on berusaha mempertajam pendenga-
rannya. Suara denting seperti senjata sedang beradu
Suro Blondo lagi-lagi terdiam. Sayup-
sayup ia mendengar suara jlenting
sesuatu di kejauhan sana. Pendekar
Blo'on berusaha mempertajam pendenga-
rannya. Suara denting seperti senjata sedang beradu
terdengar semakin bertambah
jelas. Suro Blondo
penasaran.
Hingga kemudian ia memutuskan untuk
mendekati sumber suara.
"Hhh..." Dengan mengandalkan ilmu lari cepat Kilat
Hingga kemudian ia memutuskan untuk
mendekati sumber suara.
"Hhh..." Dengan mengandalkan ilmu lari cepat Kilat
Bayangan yang
sudah mencapai sempurna. Bergeraklah
Suro Blondo dengan kecepatan yang
sangat sulit diikuti kasat mata.
Tidak sampai sepemakan sirih,
sampailah pemuda itu di atas sebuah
dataran berbukit-bukit. Pemuda tampan bertampang tolol ini
sudah mencapai sempurna. Bergeraklah
Suro Blondo dengan kecepatan yang
sangat sulit diikuti kasat mata.
Tidak sampai sepemakan sirih,
sampailah pemuda itu di atas sebuah
dataran berbukit-bukit. Pemuda tampan bertampang tolol ini
tidak langsung
menghampiri seorang laki-laki tua
bertelanjang dada dan berambut riap-
riapan. Melainkan bersembunyi di
sebuah tempat yang agak terlindung.
Sambil menahan nafas ia terus
memperhatikan laki-laki bertelanjang
dada yang ternyata sedang membuat
patung ukiran terbuat dari batu cadas.
Anehnya, laki-laki ini hanya mempergunakan kuku-kuku
menghampiri seorang laki-laki tua
bertelanjang dada dan berambut riap-
riapan. Melainkan bersembunyi di
sebuah tempat yang agak terlindung.
Sambil menahan nafas ia terus
memperhatikan laki-laki bertelanjang
dada yang ternyata sedang membuat
patung ukiran terbuat dari batu cadas.
Anehnya, laki-laki ini hanya mempergunakan kuku-kuku
tangannya untuk
membentuk bagian-bagian tertentu badan patung. Suro
membentuk bagian-bagian tertentu badan patung. Suro
Blondo leletkan lidah dan
usap-usap
keningnya. Beberapa kali
terdengar decak kagum dari mulut si
pemuda.
"Cek. Ceek jika saja dia tidak
memiliki ilmu dan tenaga dalam yang
sudah mencapai tingkat sempurna. Tidak nantinya ia mampu
terdengar decak kagum dari mulut si
pemuda.
"Cek. Ceek jika saja dia tidak
memiliki ilmu dan tenaga dalam yang
sudah mencapai tingkat sempurna. Tidak nantinya ia mampu
menggores batu cadas
itu dengan ujung
jemarinya." gumam Suro Blondo. Mata
terbeliak lebar
terlebih-lebih setelah melihat betapa bagusnya patung yang
terlebih-lebih setelah melihat betapa bagusnya patung yang
dibuatnya.
"Melihat badannya yang reot
seperti rumah hendak roboh. Mustahil
rasanya ia mampu melakukan pekerjaan
yang memerlukan ketekunan dan tenaga
dalam yang tinggi. Dan hasil pahatan
itu juga sangat bagus sekali. Ia pasti seorang pengukir patung
"Melihat badannya yang reot
seperti rumah hendak roboh. Mustahil
rasanya ia mampu melakukan pekerjaan
yang memerlukan ketekunan dan tenaga
dalam yang tinggi. Dan hasil pahatan
itu juga sangat bagus sekali. Ia pasti seorang pengukir patung
yang sangat
terkenal. Tapi untuk apa patung
sebagus itu dibuatnya? Lagipula
bagaimana membawanya? Patung itu ingin dijualnyakah?"
kata Pendekar Blo'on
lagi. Kemudian ia
garuk-garuk belakang kepalanya yang tidak
gatal.
Pendekar Blo'on dengan perasaan
takjub yang tidak ada habis-habisnya
terus memperhatikan si pembuat patung yang tampak sibuk
Pendekar Blo'on dengan perasaan
takjub yang tidak ada habis-habisnya
terus memperhatikan si pembuat patung yang tampak sibuk
menyelesaikan wajah
patung yang hanya
tinggal menghalu-skannya saja. Dalam
keadaan seperti
itu, tiba-tiba saja Suro, Blondo
mendengar kakek pembuat patung bicara.
Tapi suaranya seperti orang yang
sedang menyanyi. Pemuda itu pasang
kuping dan gelang-gelengkan kepalanya.
Hidup delapan puluh tahun Badan
renta dimakan hari dan waktu. Menunggu si anak tunggal
itu, tiba-tiba saja Suro, Blondo
mendengar kakek pembuat patung bicara.
Tapi suaranya seperti orang yang
sedang menyanyi. Pemuda itu pasang
kuping dan gelang-gelengkan kepalanya.
Hidup delapan puluh tahun Badan
renta dimakan hari dan waktu. Menunggu si anak tunggal
datang, tuntut ilmu
ambil
kepandaian. Yang
ditunggu pendek umur pendek nafas.
Tinggallah si tua renta putus
karapan patah asa.
Hidup terlunta-lunta menunggu
pengganti.
Tetap menunggu tidak seorang pun yang datang, dasar sial
Tetap menunggu tidak seorang pun yang datang, dasar sial
tua renta tidak
berjodoh
Suro Blondo tercenung. Kakek tua
itu barusan mengucapkan kata-kata yang tidak
Suro Blondo tercenung. Kakek tua
itu barusan mengucapkan kata-kata yang tidak
dimengertinya sama sekali. Anak
tunggal? Siapakah
yang dimaksudkannya?
Apakah kakek pematung itu mempunyai
anak? Ataukah ia hanya seorang
pematung yang mempunyai otak tidak
waras?
Keheranan di hati pemuda berbaju
biru muda ini belum juga lenyap ketika dari arah utara
Apakah kakek pematung itu mempunyai
anak? Ataukah ia hanya seorang
pematung yang mempunyai otak tidak
waras?
Keheranan di hati pemuda berbaju
biru muda ini belum juga lenyap ketika dari arah utara
terdengar suara derap
langkah kuda yang
dipacu sedemikian
cepat menuju ke arah pematung
tersebut.
Si kakek tua bersikap acuh tak
acuh, ia tetap meneruskan pekerjaan-
nya. Dan kini ia mulai memoles badan
patung batu dengan sejenis pewarna
berwarna coklat tua.
Penunggang kereta kuda semakin
lama semakin mendekat ke arahnya.
Karena jalanan itu sempit. Maka ketika ketiga rombongan
cepat menuju ke arah pematung
tersebut.
Si kakek tua bersikap acuh tak
acuh, ia tetap meneruskan pekerjaan-
nya. Dan kini ia mulai memoles badan
patung batu dengan sejenis pewarna
berwarna coklat tua.
Penunggang kereta kuda semakin
lama semakin mendekat ke arahnya.
Karena jalanan itu sempit. Maka ketika ketiga rombongan
berkuda itu sampai di
depan si kakek.
Maka ketiga penumpang kuda langsung
memperlambat kuda
mereka. Salah seorang laki-laki di
depannya berpakaian bangsawan hampir
saja membentak, tapi begitu melihat
patung yang sedang diwarnai oleh si
kakek langsung katupkan mulut dan
telan ludah.
Raut wajahnya yang selalu
menyimpan ketamakan itu tampak berubah memerah.Wajah
mereka. Salah seorang laki-laki di
depannya berpakaian bangsawan hampir
saja membentak, tapi begitu melihat
patung yang sedang diwarnai oleh si
kakek langsung katupkan mulut dan
telan ludah.
Raut wajahnya yang selalu
menyimpan ketamakan itu tampak berubah memerah.Wajah
patung tampak
tampan.
Otot-otot tubuhnya bertonjolan, dada-
nya bidang. Bagian perutnya yang
menonjol tampak tegang dan berukuran
cukup besar. Dalam hati penunggang
kuda berpakaian bangsawan ini ber-
tanya-tanya, patung siapakah yang
dibuat oleh si kakek tua ini?
"Jalan di sini begitu lebar.
Kalau kalian mau lewat, silakan
saja" kata si kakek tanpa berpaling sedikitpun.
Pengawal laki-laki berpakaian
bangsawan hampir saja membentak gusar jika saja laki-laki
Otot-otot tubuhnya bertonjolan, dada-
nya bidang. Bagian perutnya yang
menonjol tampak tegang dan berukuran
cukup besar. Dalam hati penunggang
kuda berpakaian bangsawan ini ber-
tanya-tanya, patung siapakah yang
dibuat oleh si kakek tua ini?
"Jalan di sini begitu lebar.
Kalau kalian mau lewat, silakan
saja" kata si kakek tanpa berpaling sedikitpun.
Pengawal laki-laki berpakaian
bangsawan hampir saja membentak gusar jika saja laki-laki
di depannya tidak
cepat
memberi isyarat
agar pengawal
merangkap tangan kanan itu diam.
"Orang tua, siapakah kau ini?"
tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa
pernah mengalihkan perhatiannya pada
patung yang sedang diwarnai oleh si
kakek. Sama sekali si pematung tidak
menjawab, bahkan menoleh pun tidak.
Tapi saudagar Bergola Mungkur tetap
berusaha bersabar, walaupun di dalam
hatinya mencaci maki. Bagaimana tidak?
Ia adalah orang yang sangat disegani
di kota Malaya karena kekayaan dan
pengaruhnya yang besar terhadap
pembesar-pembesar Pariangan. Jika
hanya seorang pematung tidak mau
menjawab pertanyaannya, berlagak tuli seperti babu. Tentu
merangkap tangan kanan itu diam.
"Orang tua, siapakah kau ini?"
tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa
pernah mengalihkan perhatiannya pada
patung yang sedang diwarnai oleh si
kakek. Sama sekali si pematung tidak
menjawab, bahkan menoleh pun tidak.
Tapi saudagar Bergola Mungkur tetap
berusaha bersabar, walaupun di dalam
hatinya mencaci maki. Bagaimana tidak?
Ia adalah orang yang sangat disegani
di kota Malaya karena kekayaan dan
pengaruhnya yang besar terhadap
pembesar-pembesar Pariangan. Jika
hanya seorang pematung tidak mau
menjawab pertanyaannya, berlagak tuli seperti babu. Tentu
ia merupakan orang
yang sangat
istimewa atau paling tidak memiliki
keterampilan yang sangat
tinggi.
3
"Kakek tua Karyamu sungguh
bagus sekali. Aku menyukai patung yang sedang kau buat..."
tinggi.
3
"Kakek tua Karyamu sungguh
bagus sekali. Aku menyukai patung yang sedang kau buat..."
kata saudagar
Bergola
Mungkur mengulangi
ucapannya.
Tanpa menoleh pematung tua itu
menyahut "Sesuatu yang bagus belum tentu menyenangkan.
Tanpa menoleh pematung tua itu
menyahut "Sesuatu yang bagus belum tentu menyenangkan.
Sesuatu yang
disukai, belum tentu membawa kepuasan dan kebahagiaan."
"Jika aku ingin memilikinya,
apakah kau mau memberikannya padaku?"
tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa
mengerti apa arti ucapan si kakek.
Pematung tua gelengkan kepala-
nya.
"Bagaimana jika aku membelinya?"
tanya saudagar kaya itu penasaran.
"Patung ini kubuat bukan untuk
dijual atau kuberikan kepada siapa
pun. Jadi maafkan saja jika aku tidak dapat memenuhi
disukai, belum tentu membawa kepuasan dan kebahagiaan."
"Jika aku ingin memilikinya,
apakah kau mau memberikannya padaku?"
tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa
mengerti apa arti ucapan si kakek.
Pematung tua gelengkan kepala-
nya.
"Bagaimana jika aku membelinya?"
tanya saudagar kaya itu penasaran.
"Patung ini kubuat bukan untuk
dijual atau kuberikan kepada siapa
pun. Jadi maafkan saja jika aku tidak dapat memenuhi
permintaanmu,
Saudara"
ujar pematung tua tanpa pernah ber-
paling dari pekerjaannya.
"Bagaimana jika dua kan-
tung emas murni ini kita tukar dengan patung buatanmu,
ujar pematung tua tanpa pernah ber-
paling dari pekerjaannya.
"Bagaimana jika dua kan-
tung emas murni ini kita tukar dengan patung buatanmu,
orang tua?"
kata saudagar Bergola Mungkur. Seraya menggerakkan dua
kata saudagar Bergola Mungkur. Seraya menggerakkan dua
kantung emasnya
sehingga menimbulkan suara bergemerin-cingan. Giwang
sehingga menimbulkan suara bergemerin-cingan. Giwang
Rana dan Banjar Saketi
pelototkan matanya.Mereka
sama sekali tidak menyangka
majikannya menjadi
keranjingan setelah
melihat patung buatan
si kakek tua. Gilanya lagi dua kantung emas yang tidak
si kakek tua. Gilanya lagi dua kantung emas yang tidak
ternilai harganya
hendak ditukar dengan sebuah patung
batu. Walaupun memang patut diakui
patung itu memiliki kharisma yang
sangat hebat. Bukankah jika pematung
tua tidak menjualnya. Hanya dengan
memberi perintah pada mereka, ia dapat membereskan si
hendak ditukar dengan sebuah patung
batu. Walaupun memang patut diakui
patung itu memiliki kharisma yang
sangat hebat. Bukankah jika pematung
tua tidak menjualnya. Hanya dengan
memberi perintah pada mereka, ia dapat membereskan si
pematung untuk
kemudian memiliki
patung batu itu tanpa ada
yang berani menganggu?
"Apakah kau seorang saudagar?"
tanya si kakek dengan sikap acuh tak
acuh.
"Benar, Aku adalah saudagar yang paling kaya di kota
yang berani menganggu?
"Apakah kau seorang saudagar?"
tanya si kakek dengan sikap acuh tak
acuh.
"Benar, Aku adalah saudagar yang paling kaya di kota
Malaya. Jika kau
merasa dua kantung emas ini tidak
sepadan dengan patung buatanmu itu.
Aku dapat menyuruh orangku untuk
mengambil dua kantung emas lagi
sebagai tambahan."
Pematung tua kerutkan kening
geleng-gelengkan kepala berulang-
ulang.
"Sudah kukatakan dengan jumlah
emas berapapun harganya aku tidak akan menjualnya.
merasa dua kantung emas ini tidak
sepadan dengan patung buatanmu itu.
Aku dapat menyuruh orangku untuk
mengambil dua kantung emas lagi
sebagai tambahan."
Pematung tua kerutkan kening
geleng-gelengkan kepala berulang-
ulang.
"Sudah kukatakan dengan jumlah
emas berapapun harganya aku tidak akan menjualnya.
Patung ini adalah bagian
dari hidupku"
"Orang tua, kami harap kau tidak usah bertingkah di depan
dari hidupku"
"Orang tua, kami harap kau tidak usah bertingkah di depan
kami. Dua
kantung emas adalah jumlah yang tidak sedikit. Apakah kami
kantung emas adalah jumlah yang tidak sedikit. Apakah kami
harus memaksamu
untuk menyerahkan patung itu pada
majikanku?" bentak Giwang Rana. Dan rupanya laki-laki
untuk menyerahkan patung itu pada
majikanku?" bentak Giwang Rana. Dan rupanya laki-laki
bergiwang dan
bertampang
angker ini sudah
tidak dapat lagi mengendalikan akalnya.
Saudagar Bergola Mungkur sendiri
yang merasa telah kehabisan kata-kata untuk membujuk
Saudagar Bergola Mungkur sendiri
yang merasa telah kehabisan kata-kata untuk membujuk
pematung tua hanya
berdiam diri menunggu reaksi.
Untuk pertama kalinya pematung
tua palingkan wajahnya dan memandang
lekat-lekat ke arah Giwang Rana dan
Banjar Saketi. Ekspresi wajahnya tetap datar tidak
berdiam diri menunggu reaksi.
Untuk pertama kalinya pematung
tua palingkan wajahnya dan memandang
lekat-lekat ke arah Giwang Rana dan
Banjar Saketi. Ekspresi wajahnya tetap datar tidak
menunjukkan kemarahan
sedikitpun.
"Kalian menjadi kaya adalah
karena tenaga dan keringat darah
orang-orang yang tidak berdosa. Jika
kuterima tawaranmu, sama artinya aku melumuri hasil
sedikitpun.
"Kalian menjadi kaya adalah
karena tenaga dan keringat darah
orang-orang yang tidak berdosa. Jika
kuterima tawaranmu, sama artinya aku melumuri hasil
karyaku dengan darah
orang-orang yang terbunuh di goa
penambangan Bumi Ayu Aku pematung
kelana setiap saat selalu mendengar
suara jeritan arwah-arwah orang yang
mati sebelum waktunya. Berlalulah
kalian dari hadapanku Kehadiran
kalian hanya akan membuat udara di
sini menjadi pengap dan berbau dosa."
Bukan saja ketiga penunggang
kuda ini yang dibuat terkejut. Tapi
juga Pendekar Blo'on yang bersembunyi di atas bukit di balik
orang-orang yang terbunuh di goa
penambangan Bumi Ayu Aku pematung
kelana setiap saat selalu mendengar
suara jeritan arwah-arwah orang yang
mati sebelum waktunya. Berlalulah
kalian dari hadapanku Kehadiran
kalian hanya akan membuat udara di
sini menjadi pengap dan berbau dosa."
Bukan saja ketiga penunggang
kuda ini yang dibuat terkejut. Tapi
juga Pendekar Blo'on yang bersembunyi di atas bukit di balik
batu cadas
terkesima. Entah siapa laki-laki aneh itu? Namun sungguh mengherankan ia
mengenali sepak terjang penunggang
kuda yang ternyata merupakan seorang
saudagar kaya ini.
"Orang tua Kau benar-benar men-
cari penyakit telah berani mencampuri urusan kami" bentak
terkesima. Entah siapa laki-laki aneh itu? Namun sungguh mengherankan ia
mengenali sepak terjang penunggang
kuda yang ternyata merupakan seorang
saudagar kaya ini.
"Orang tua Kau benar-benar men-
cari penyakit telah berani mencampuri urusan kami" bentak
saudagar Bergola
Mungkur tiba-tiba.
Tanpa berpaling dari patung yang
sedang dipolesnya. Pematung Kelana
tersenyum dingin.
"Manusia yang memiliki jiwa
besar adalah orang yang berani
mengakui setiap kesalahannya. Tidak
perduli apakah kesalahan itu dibuat
oleh tua bangka sepertiku ini. Tapi
kebanyakan orang lupa, dan berusaha
mencari dalih dengan menyebar fitnah
untuk menutupi kesalahan sendiri.
Alangkah ruginya manusia semacam itu
kelak di kemudian hari"
"Keparat Aku tidak membutuhkan
khotbahmu" maki saudagar dari kota Malaya itu geram
Tanpa berpaling dari patung yang
sedang dipolesnya. Pematung Kelana
tersenyum dingin.
"Manusia yang memiliki jiwa
besar adalah orang yang berani
mengakui setiap kesalahannya. Tidak
perduli apakah kesalahan itu dibuat
oleh tua bangka sepertiku ini. Tapi
kebanyakan orang lupa, dan berusaha
mencari dalih dengan menyebar fitnah
untuk menutupi kesalahan sendiri.
Alangkah ruginya manusia semacam itu
kelak di kemudian hari"
"Keparat Aku tidak membutuhkan
khotbahmu" maki saudagar dari kota Malaya itu geram
bukan main.
"Aku adalah orang yang paling
tidak suka mendengar kata-kata yang
kotor Sebaiknya kalian menyingkirlah dari hadapanku"
"Aku adalah orang yang paling
tidak suka mendengar kata-kata yang
kotor Sebaiknya kalian menyingkirlah dari hadapanku"
perintah pematung
tua,
suaranya pelan
namun tegas.
"Bangsat hina Bunuh dia" perintah saudagar Bergola
"Bangsat hina Bunuh dia" perintah saudagar Bergola
Mungkur, lalu
memberi aba-
aba pada Banjar
Saketi dan Giwang Rana.
Serentak kedua laki-laki bertam-
pang beringas ini menggebrak kuda
tunggangannya. Kuda itu melabrak ke
Serentak kedua laki-laki bertam-
pang beringas ini menggebrak kuda
tunggangannya. Kuda itu melabrak ke
arah Pematung
Kelana yang tetap duduk ngejeplok di depan
patung. Lalu kaki
Giwang Rana dan Banjar Saketi meng-
hantam dada dan kepala Pematung
Kelana. Namun sebelum kedua kaki
lawannya mencapai sasaran. Dengan
gerakan yang sangat sulit diikuti
kasat mata. Pematung tua gerakkan
tangannya ke arah bagian selangkangan kaki kuda.
Dengan tidak terduga-duga, kuda-
kuda itu melonjak ke atas sambil
meringkik-ringkik kesakitan. Giwang
Rana dan Banjar Saketi yang tidak
menyangka akan mengalami nasib sial
langsung terpelanting dari punggung
kuda. Untung mereka rata-rata memiliki kepandaian yang
Giwang Rana dan Banjar Saketi meng-
hantam dada dan kepala Pematung
Kelana. Namun sebelum kedua kaki
lawannya mencapai sasaran. Dengan
gerakan yang sangat sulit diikuti
kasat mata. Pematung tua gerakkan
tangannya ke arah bagian selangkangan kaki kuda.
Dengan tidak terduga-duga, kuda-
kuda itu melonjak ke atas sambil
meringkik-ringkik kesakitan. Giwang
Rana dan Banjar Saketi yang tidak
menyangka akan mengalami nasib sial
langsung terpelanting dari punggung
kuda. Untung mereka rata-rata memiliki kepandaian yang
cukup tinggi. Sehingga
dalam keadaan yang
sangat terdesak itu mereka masih
sempat bersalto dan
menjejakkan kedua kakinya tidak jauh
dari pematung tua. Dua ekor kuda
tunggangan berlari kencang meninggal-
kan majikannya. Sementara Giwang Rana dan Banjar Saketi
menjejakkan kedua kakinya tidak jauh
dari pematung tua. Dua ekor kuda
tunggangan berlari kencang meninggal-
kan majikannya. Sementara Giwang Rana dan Banjar Saketi
menjadi marah bukan
main.
"Tua keparat Tidak ada jalan
bagimu terkecuali mati Sekarang kau
katakan pada kami kematian yang
bagaimana yang kau inginkan?" teriak Banjar Saketi.
"Kematian adalah urusan Tuhan
Pergilah sebelum darah kalian tercecer
membasahi tanah gersang yang sangat
suci ini"
"Juih..." Giwang Rana meludah.
"Sriing"
Dilain kesempatan laki-laki ber-
tampang pemberang ini telah menghunus senjatanya berupa
"Tua keparat Tidak ada jalan
bagimu terkecuali mati Sekarang kau
katakan pada kami kematian yang
bagaimana yang kau inginkan?" teriak Banjar Saketi.
"Kematian adalah urusan Tuhan
Pergilah sebelum darah kalian tercecer
membasahi tanah gersang yang sangat
suci ini"
"Juih..." Giwang Rana meludah.
"Sriing"
Dilain kesempatan laki-laki ber-
tampang pemberang ini telah menghunus senjatanya berupa
sebilah kapak berwarna
kuning mengkilat.
Sekali lirik
Pematung Kelana sudah dapat melihat
bahwa senjata di tangan lawan-lawannya mengandung racun
Pematung Kelana sudah dapat melihat
bahwa senjata di tangan lawan-lawannya mengandung racun
yang sangat keji.
Tapi dasar laki-laki aneh, sungguhpun lawan telah
Tapi dasar laki-laki aneh, sungguhpun lawan telah
menghunus senjata yang
sangat berbahaya. Namun ia tetap
bersikap tenang-tenang saja bahkan
tetap terpaku di tempatnya.
Merasa diremehkan, sambil meng-
geram aneh Giwang Rana dan Banjar
Saketi melompat ke depan, lalu
bacokkan senjata di tangannya membelah kepala Pematung
sangat berbahaya. Namun ia tetap
bersikap tenang-tenang saja bahkan
tetap terpaku di tempatnya.
Merasa diremehkan, sambil meng-
geram aneh Giwang Rana dan Banjar
Saketi melompat ke depan, lalu
bacokkan senjata di tangannya membelah kepala Pematung
Kelana, sedangkan
kampak lainnya menebas bagian ping-
gangnya. Angin dingin menderu menyer-
tai berkelebatnya kapak di tangan
lawannya. Serangan itu cepat bukan
main. Sehingga Pendekar Blo'on yang
melihat keadaan ini terpaksa menahan
nafas dan pentang mata lebar-lebar
"Heaaa..."
"Wuus"
"Aaaaakkkh..."
Tiba-tiba terdengar suara pekik
kesakitan. Dua sosok tubuh terpelan-
ting dengan arah berlawanan. Di dekat
patung, si kakek tua bangkit berdiri
sambil sunggingkan seringai aneh.
Entah bagaimana caranya dua kapak di
tangan masing-masing lawannya kini
telah berpindah tangan. Matanya yang
agak cekung memandang ke arah lawan-
lawannya yang sedang berusaha bangkit berdiri.
Wajah Giwang Rana dan Banjar
Saketi sebentar memerah sebentar
berubah pucat. Selama malang melintang di rimba persilatan
kampak lainnya menebas bagian ping-
gangnya. Angin dingin menderu menyer-
tai berkelebatnya kapak di tangan
lawannya. Serangan itu cepat bukan
main. Sehingga Pendekar Blo'on yang
melihat keadaan ini terpaksa menahan
nafas dan pentang mata lebar-lebar
"Heaaa..."
"Wuus"
"Aaaaakkkh..."
Tiba-tiba terdengar suara pekik
kesakitan. Dua sosok tubuh terpelan-
ting dengan arah berlawanan. Di dekat
patung, si kakek tua bangkit berdiri
sambil sunggingkan seringai aneh.
Entah bagaimana caranya dua kapak di
tangan masing-masing lawannya kini
telah berpindah tangan. Matanya yang
agak cekung memandang ke arah lawan-
lawannya yang sedang berusaha bangkit berdiri.
Wajah Giwang Rana dan Banjar
Saketi sebentar memerah sebentar
berubah pucat. Selama malang melintang di rimba persilatan
belum pernah
mereka mengalami nasib sial seperti
sekarang ini. Apalagi hanya dalam
gebrakan pertama saja mereka sudah
dibuat tidak berdaya
Namun untuk mundur, merupakan
satu pantangan bagi mereka. Apalagi
mengingat di tempat itu ada majikan
mereka. Sambil menelan ludah, tiba-
tiba saja tangan kanan saudagar
Bergola Mungkur mencabut keris ber-
lekuk tiga di bagian pinggang kiri.
Keris itu diputarnya sedemikian rupa, sehingga membentuk
mereka mengalami nasib sial seperti
sekarang ini. Apalagi hanya dalam
gebrakan pertama saja mereka sudah
dibuat tidak berdaya
Namun untuk mundur, merupakan
satu pantangan bagi mereka. Apalagi
mengingat di tempat itu ada majikan
mereka. Sambil menelan ludah, tiba-
tiba saja tangan kanan saudagar
Bergola Mungkur mencabut keris ber-
lekuk tiga di bagian pinggang kiri.
Keris itu diputarnya sedemikian rupa, sehingga membentuk
sebuah bayang-bayang
berwarna putih
berkilauan.
"Hap..."
"Mampuslah kau" teriak Banjar Saketi dan Giwang Rana hampir
bersamaan. Tubuh mereka melesat ke
depan laksana kilat. Keris di tangan
membabat dan menusuk ke arah sepuluh
jalan darah yang mematikan.
Tapi ternyata Pematung Kelana
adalah manusia serba bisa yang bukan
saja memiliki ilmu kepandaian mematung yang handal. Tapi
"Hap..."
"Mampuslah kau" teriak Banjar Saketi dan Giwang Rana hampir
bersamaan. Tubuh mereka melesat ke
depan laksana kilat. Keris di tangan
membabat dan menusuk ke arah sepuluh
jalan darah yang mematikan.
Tapi ternyata Pematung Kelana
adalah manusia serba bisa yang bukan
saja memiliki ilmu kepandaian mematung yang handal. Tapi
juga mempunyai simpanan
jurus-jurus silat yang sangat
mengagumkan.
Belum sempat senjata lawannya
menyentuh tubuhnya. Ia sudah melesat
ke udara. Senjata rampasan dilemparkannya dengan
Belum sempat senjata lawannya
menyentuh tubuhnya. Ia sudah melesat
ke udara. Senjata rampasan dilemparkannya dengan
kecepatan sangat sulit
diikuti kasat mata.
"Jiiing"
"Traang"
"Waarkhgh..." Giwang Rana dan Banjar Saketi menjerit
diikuti kasat mata.
"Jiiing"
"Traang"
"Waarkhgh..." Giwang Rana dan Banjar Saketi menjerit
setinggi
langit. Tubuh mereka mengejang kaku.
Kapak beracun yang dilemparkan oleh
pematung tua menghunjam di dada mereka dan langsung
langit. Tubuh mereka mengejang kaku.
Kapak beracun yang dilemparkan oleh
pematung tua menghunjam di dada mereka dan langsung
menembus di punggung.
Mata kanan saudagar Bergola Mungkur
terpentang lebar bagai melihat setan
perempuan telanjang.
Hanya sekejap saja tubuh mereka
berkelojotan, kemudian terdiam untuk
selama-lamanya. Kejut di hati saudagar kota Malaya itu
Mata kanan saudagar Bergola Mungkur
terpentang lebar bagai melihat setan
perempuan telanjang.
Hanya sekejap saja tubuh mereka
berkelojotan, kemudian terdiam untuk
selama-lamanya. Kejut di hati saudagar kota Malaya itu
bukan alang kepalang.
Di atas bukit Suro Blondo lelet-
kan lidah dan garuk-garuk kepalanya.
Sementara itu Pematung Kelana
kembali duduk ngejeblok dan meneruskan pekerjaannya
Di atas bukit Suro Blondo lelet-
kan lidah dan garuk-garuk kepalanya.
Sementara itu Pematung Kelana
kembali duduk ngejeblok dan meneruskan pekerjaannya
yang tertunda. Sikapnya
begitu tenang seakan tidak pernah
terjadi apa-apa di situ. Dari rasa
kecut, Saudagar Bergola Mungkur beru-
bah menjadi sangat marah sekali.
"Manusia hina dina keparat Kau
benar-benar tidak memandang muka sama sekali padaku
begitu tenang seakan tidak pernah
terjadi apa-apa di situ. Dari rasa
kecut, Saudagar Bergola Mungkur beru-
bah menjadi sangat marah sekali.
"Manusia hina dina keparat Kau
benar-benar tidak memandang muka sama sekali padaku
Kalau kau tidak punya
nyawa rangkap,
sebaiknya kau berlutut di depanku dan
serahkan patung marmer itu
secepatnya"
Bukan menjawab, pematung tua
malah terkentut-kentut. Lalu terdengar suara batuk-batuk
Bukan menjawab, pematung tua
malah terkentut-kentut. Lalu terdengar suara batuk-batuk
dari mulutnya yang
tertutup kumis memutih.
"Ah... lega rasanya. Punya perut harus bisa kentut, supaya
tertutup kumis memutih.
"Ah... lega rasanya. Punya perut harus bisa kentut, supaya
jangan sakit
pemburut
Eeh... kau barusan
bilang
apa?" tanya Pematung Kelana tanpa memalingkan muka
apa?" tanya Pematung Kelana tanpa memalingkan muka
sedikit pun.
"Bangsat hina Makan nih
pedangku..." teriak sang saudagar.
Tiba-tiba saja tubuhnya melesat
ke udara. Pedang di tangannya
mengeluarkan suara mendengung. Tapi
tiba-tiba saja dengan sikap acuh tak
acuh Pematung Kelana melibaskan
tangannya ke samping kanan. Angin
kencang laksana bara menderu-deru.
Angin kencang berhawa panas
menghanguskan itu melabrak Bergola
Mungkur hingga membuatnya jatuh
terjengkang.
"Akkh..."
"Bruuk..."
"Hhrrrk..."
Bergola Mungkur bangkit berdiri.
Sekujur tubuhnya bergetar hebat, tanda amarahnya sudah
"Bangsat hina Makan nih
pedangku..." teriak sang saudagar.
Tiba-tiba saja tubuhnya melesat
ke udara. Pedang di tangannya
mengeluarkan suara mendengung. Tapi
tiba-tiba saja dengan sikap acuh tak
acuh Pematung Kelana melibaskan
tangannya ke samping kanan. Angin
kencang laksana bara menderu-deru.
Angin kencang berhawa panas
menghanguskan itu melabrak Bergola
Mungkur hingga membuatnya jatuh
terjengkang.
"Akkh..."
"Bruuk..."
"Hhrrrk..."
Bergola Mungkur bangkit berdiri.
Sekujur tubuhnya bergetar hebat, tanda amarahnya sudah
memuncak sampai ke
ubun-ubun. Pendekar Blo'on yang
melihat kejadian itu bertepuk tangan.
Hanya saja tidak menimbulkan suara
sama sekali.
Sementara itu Bergola Mungkur
sudah menerjang kembali dengan
pengerahan tenaga dalam yang sangat
tinggi. Sejengkal lagi pedang berwarna putih mengkilat itu
ubun-ubun. Pendekar Blo'on yang
melihat kejadian itu bertepuk tangan.
Hanya saja tidak menimbulkan suara
sama sekali.
Sementara itu Bergola Mungkur
sudah menerjang kembali dengan
pengerahan tenaga dalam yang sangat
tinggi. Sejengkal lagi pedang berwarna putih mengkilat itu
hampir memutus
urat leher Pematung Kelana. Tiba-tiba si kakek
urat leher Pematung Kelana. Tiba-tiba si kakek
menggerakkan tangannya ke
bagian dada lawan. Gerakan yang
dilakukannya tampak begitu lambat.
Tapi akibatnya sungguh sangat luar
biasa sekali.
"Breet"
"Iiih..." Bergola Mungkur
terpekik kaget.
Baju saudagar kaya ini robek
besar bahkan seperti hangus terbakar.
Jika saja Pematung Kelana menghendaki, tentu sejak tadi
bagian dada lawan. Gerakan yang
dilakukannya tampak begitu lambat.
Tapi akibatnya sungguh sangat luar
biasa sekali.
"Breet"
"Iiih..." Bergola Mungkur
terpekik kaget.
Baju saudagar kaya ini robek
besar bahkan seperti hangus terbakar.
Jika saja Pematung Kelana menghendaki, tentu sejak tadi
nyawanya melayang.
Sekarang sambil melangkah ter-
huyung-huyung ia memperhatikan pema-
tung tua seakan tidak percaya dengan
kemampuan yang dimiliki oleh lawannya.
Tapi ia segera tahu gelagat. Kekayaannya menumpuk, siapa
Sekarang sambil melangkah ter-
huyung-huyung ia memperhatikan pema-
tung tua seakan tidak percaya dengan
kemampuan yang dimiliki oleh lawannya.
Tapi ia segera tahu gelagat. Kekayaannya menumpuk, siapa
sudi kehilangan
nyawa?
"Pergilah sebelum kesabaranku
benar-benar habis" Pematung Kelana menggeram.
"Bbb... baiklah, aku akan pergi.
Tapi kau tunggulah nanti pembalasan-
ku" kata Bergola Mungkur. Seraya cepat-cepat mendapatkan
nyawa?
"Pergilah sebelum kesabaranku
benar-benar habis" Pematung Kelana menggeram.
"Bbb... baiklah, aku akan pergi.
Tapi kau tunggulah nanti pembalasan-
ku" kata Bergola Mungkur. Seraya cepat-cepat mendapatkan
kudanya,
kemudian meninggalkan Pematung Kelana sambil memacu
kemudian meninggalkan Pematung Kelana sambil memacu
kudanya sekencang
mungkin. Dan ternyata kuda tunggangannya entah mengapa
mungkin. Dan ternyata kuda tunggangannya entah mengapa
sudah tidak dapat
berlari kencang lagi. Sepanjang
perjalanan terus terkencing-kencing
dan meringkik-ringkik tidak teratur.
4
Pematung Kelana menarik nafas
pendek. Ia kemudian duduk kembali di
depan patung batu marmer yang
berkilat-kilat terkena sinar matahari.
Suro Blondo usap-usap keningnya
yang berkeringat. Ia sekarang menjadi ragu apakah ia harus
berlari kencang lagi. Sepanjang
perjalanan terus terkencing-kencing
dan meringkik-ringkik tidak teratur.
4
Pematung Kelana menarik nafas
pendek. Ia kemudian duduk kembali di
depan patung batu marmer yang
berkilat-kilat terkena sinar matahari.
Suro Blondo usap-usap keningnya
yang berkeringat. Ia sekarang menjadi ragu apakah ia harus
menemui pematung tua
itu atau berlalu?
Tapi bila
mengingat bahwa dirinya tidak punya
urusan dan kepentingan apa-apa dengan laki-laki aneh ini.
mengingat bahwa dirinya tidak punya
urusan dan kepentingan apa-apa dengan laki-laki aneh ini.
Maka tidak lama
setelah itu ia pun memutuskan segera
berlalu. Namun baru beberapa langkah
ia meninggalkan tempat persembunyian-
nya, tiba-tiba sebuah suara
memanggilnya.
"Hei... pemuda bertampang geb-
lek Sejak tadi kau mengintip di situ, datang tidak permisi kini
setelah itu ia pun memutuskan segera
berlalu. Namun baru beberapa langkah
ia meninggalkan tempat persembunyian-
nya, tiba-tiba sebuah suara
memanggilnya.
"Hei... pemuda bertampang geb-
lek Sejak tadi kau mengintip di situ, datang tidak permisi kini
pergi tidak
memberi
salam. Kau
benar-benar manusia tolol yang tidak tahu
peradatan"
"Eeh...
mati
aku..." Suro
Blondo garuk-garuk punggung kepalanya.
Kemudian senyumnya yang jenaka pun
mengembang. "Bagaimana ini, kakek itu rupanya
"Eeh...
mati
aku..." Suro
Blondo garuk-garuk punggung kepalanya.
Kemudian senyumnya yang jenaka pun
mengembang. "Bagaimana ini, kakek itu rupanya
mengetahui kehadiranku.
Sungguh Walaupun sudah tua matanya
belum lamur. Sebaiknya aku hampiri
saja, ah..."
Sambil tersenyum-senyum, Suro
Blondo datang menghampiri. Sampai di
depan Pematung Kelana seraya menjura
hormat. Tubuhnya terbungkuk-bungkuk
hingga nyaris menyentuh tanah.
"Maafkan aku, kakek tua. Karena
datang tidak memberi salam dan ingin
pergi tapi ketahuan...."
"Bocah goblok Kapan aku kawin
dengan nenekmu? Seenaknya saja kau
memanggilku kakek?" Pematung Kelana bersungut-sungut.
Sungguh Walaupun sudah tua matanya
belum lamur. Sebaiknya aku hampiri
saja, ah..."
Sambil tersenyum-senyum, Suro
Blondo datang menghampiri. Sampai di
depan Pematung Kelana seraya menjura
hormat. Tubuhnya terbungkuk-bungkuk
hingga nyaris menyentuh tanah.
"Maafkan aku, kakek tua. Karena
datang tidak memberi salam dan ingin
pergi tapi ketahuan...."
"Bocah goblok Kapan aku kawin
dengan nenekmu? Seenaknya saja kau
memanggilku kakek?" Pematung Kelana bersungut-sungut.
Sebagaimana
kebiasaannya kali ini pun ia tidak
berpaling dari pekerjaannya.
"Lalu apakah aku harus memang-
gilmu, Mbah, Engkong, Buyut, orang tua keriputan, tua jelek
kebiasaannya kali ini pun ia tidak
berpaling dari pekerjaannya.
"Lalu apakah aku harus memang-
gilmu, Mbah, Engkong, Buyut, orang tua keriputan, tua jelek
atau manusia aneh
tukang ukir
batu?" kata Suro Blondo sambil menahan tawa.
Sedikitpun ekspresi wajah Pema-
tung Kelana tidak menunjukkan
perubahan sama sekali. Hanya wajahnya saja agak
Sedikitpun ekspresi wajah Pema-
tung Kelana tidak menunjukkan
perubahan sama sekali. Hanya wajahnya saja agak
dimiringkan. Sehingga
pandangan mereka
saling bertemu.
Suro Blondo alias Pendekar
Blo'on melangkah mundur, bibirnya
yang nyaris tersenyum kini terkatup
rapat. Betapa sorot mata laki-laki tua di depannya tampak
Suro Blondo alias Pendekar
Blo'on melangkah mundur, bibirnya
yang nyaris tersenyum kini terkatup
rapat. Betapa sorot mata laki-laki tua di depannya tampak
begitu berwibawa.
Si pemuda merasa tidak kuat berlama-
lama menatapnya. Ia kemudian beralih
ke arah patung. Pemuda ini lebih
terkesima lagi setelah melihat betapa bagusnya ukiran
Si pemuda merasa tidak kuat berlama-
lama menatapnya. Ia kemudian beralih
ke arah patung. Pemuda ini lebih
terkesima lagi setelah melihat betapa bagusnya ukiran
patung batu itu.
Dadanya bidang, otot-otot di tubuh
patung bersembulan melambangkan
seorang pemuda perkasa. Hanya pemuda
ini menjadi malu sendiri ketika
melihat ke bagian bawah perut patung.
Di sana ada daging yang
berlebih. Dan daging itu tampak tegang seukuran lengan
Dadanya bidang, otot-otot di tubuh
patung bersembulan melambangkan
seorang pemuda perkasa. Hanya pemuda
ini menjadi malu sendiri ketika
melihat ke bagian bawah perut patung.
Di sana ada daging yang
berlebih. Dan daging itu tampak tegang seukuran lengan
bayi, tegak terpancang
menghadap ke
langit.
"Walah Patung ini memang indah.
Tapi mengapa harus dibuat porno?" Suro Blondo nyengir,
"Walah Patung ini memang indah.
Tapi mengapa harus dibuat porno?" Suro Blondo nyengir,
lalu garuk-garuk
kepala.
"Bocah Kuminta hentikan oceha-
nmu, tutup mulutmu dan jangan
tersenyum macam orang gila di
depanku" bentak Pematung Kelana.
Tiba-tiba saja suara tawa Suro
Blondo meledak. Perutnya terguncang
karena berusaha menahan tawa.
"Diam..." bentakan menggelegar itu menghentikan tawa
kepala.
"Bocah Kuminta hentikan oceha-
nmu, tutup mulutmu dan jangan
tersenyum macam orang gila di
depanku" bentak Pematung Kelana.
Tiba-tiba saja suara tawa Suro
Blondo meledak. Perutnya terguncang
karena berusaha menahan tawa.
"Diam..." bentakan menggelegar itu menghentikan tawa
Pendekar Blo'on
seketika itu juga.
"Kau siapakah?"
"Namaku Suro Blondo, Kek" sahut Pendekar Blo'on.
"Apakah kau mempunyai gelar?"
"Gelarku... ah bagaimana,
ya..." Suro Blondo menggaruk belakang kepalanya berulang-ulang.
"Katakan saja kalau kau punya
gelar atau julukan" desak Pematung Kelana Bambil
"Kau siapakah?"
"Namaku Suro Blondo, Kek" sahut Pendekar Blo'on.
"Apakah kau mempunyai gelar?"
"Gelarku... ah bagaimana,
ya..." Suro Blondo menggaruk belakang kepalanya berulang-ulang.
"Katakan saja kalau kau punya
gelar atau julukan" desak Pematung Kelana Bambil
memperhatikan pemuda di
depannya dengan kening
berkerut.
"Aku Pendekar Blo'on..."
jawabnya polos.
"Pantas Tampangmu saja sudah
membuktikan bahwa kau seorang pemuda
tolol. Hmm... akhir-akhir ini aku
memang sering mendengar namamu Oh
ya... apakah kau mau jika patung ini
kuberikan padamu?"
Suro Blondo terperanjat.
Saudagar Bergola Mungkur saja
yang berniat membeli patung itu dengan dua kantung emas
"Aku Pendekar Blo'on..."
jawabnya polos.
"Pantas Tampangmu saja sudah
membuktikan bahwa kau seorang pemuda
tolol. Hmm... akhir-akhir ini aku
memang sering mendengar namamu Oh
ya... apakah kau mau jika patung ini
kuberikan padamu?"
Suro Blondo terperanjat.
Saudagar Bergola Mungkur saja
yang berniat membeli patung itu dengan dua kantung emas
ditampik oleh
Pematung Kelana. Mustahil sekarang
Suro Blondo dapat menerimanya. Lagi-
pula ia tidak berminat dengan segala
macam patung, sungguhpun karya
Pematung Kelana ini sungguh hebat dan mendekati
Pematung Kelana. Mustahil sekarang
Suro Blondo dapat menerimanya. Lagi-
pula ia tidak berminat dengan segala
macam patung, sungguhpun karya
Pematung Kelana ini sungguh hebat dan mendekati
sempurna tanpa cacat dan
kekurangan.
"Bagaimana?"
"Wah... saya tidak berminat
dengan patungmu, Kek." jawab si
pemuda, tegas.
"Mengapa? Apakah patung ini
tidak bagus, menurutmu?"
"Patung itu memang bagus. Tapi
aku mana berani terima pemberian yang sangat berharga
kekurangan.
"Bagaimana?"
"Wah... saya tidak berminat
dengan patungmu, Kek." jawab si
pemuda, tegas.
"Mengapa? Apakah patung ini
tidak bagus, menurutmu?"
"Patung itu memang bagus. Tapi
aku mana berani terima pemberian yang sangat berharga
ini." jawab si
pemuda polos.
"Hmm, ternyata walaupun tampang-
mu tolol, tapi kau merupakan seorang pemuda yang cukup
"Hmm, ternyata walaupun tampang-
mu tolol, tapi kau merupakan seorang pemuda yang cukup
cerdik. Rupanya kau tahu
bahwa setiap
keindahan yang kita lihat ternyata tidak selalu
menjanji-kan kebaikan.
Rupa cantik belum
tentu hati dan pribadinya cantik.
Tampang
tidak selalu mencerminkan hati. Jadi
kau benar-benar tidak mau menerima
pemberianku ini?"
Suro Blondo golang-golengkan
kepalanya.
"Apakah kau tidak menyesal, jika nanti aku memberikannya
tidak selalu mencerminkan hati. Jadi
kau benar-benar tidak mau menerima
pemberianku ini?"
Suro Blondo golang-golengkan
kepalanya.
"Apakah kau tidak menyesal, jika nanti aku memberikannya
kepada orang
lain?"
"Jika itu memang sudah kehendak-
mu, buat apa kusesalkan?"
"Kalau aku punya satu permintaan untukmu, apakah kau
lain?"
"Jika itu memang sudah kehendak-
mu, buat apa kusesalkan?"
"Kalau aku punya satu permintaan untukmu, apakah kau
mau
melaksanakannya?"
tanya Pematung
Kelana.
"Tergantung baik buruknya
permintaan itu. Jika kau suruh aku
mencuri, siapa sudi. Jika kau suruh
merampok tentu aku kapok. Jika permintaanmu baik dan
"Tergantung baik buruknya
permintaan itu. Jika kau suruh aku
mencuri, siapa sudi. Jika kau suruh
merampok tentu aku kapok. Jika permintaanmu baik dan
aku mampu
melakukannya, tentu dengan senang hati aku
melakukannya, tentu dengan senang hati aku
menjalankannya."
Pematung Kelana tersenyum, namun
hanya sesaat saja. Dilain waktu
sikapnya telah berubah serius. "Pergilah kau ke Bumi Ayu..."
"Heh.... Bumi Ayu?"
"Betul"
"Ada apa di sana?" tanya Suro Blondo tidak mengerti.
"Kau tidak layak bertanya"
"Sialan. Tua bangka ini sangat
angkuh sekali. Dia yang suruh pergi,
tapi tidak mau kasih tahu apa yang
harus kuperbuat di sana?" gerutu Pendekar Blo'on.
"Aku tidak akan pergi jika aku
tidak tahu apa yang harus kulakukan di sana..." kata
Pematung Kelana tersenyum, namun
hanya sesaat saja. Dilain waktu
sikapnya telah berubah serius. "Pergilah kau ke Bumi Ayu..."
"Heh.... Bumi Ayu?"
"Betul"
"Ada apa di sana?" tanya Suro Blondo tidak mengerti.
"Kau tidak layak bertanya"
"Sialan. Tua bangka ini sangat
angkuh sekali. Dia yang suruh pergi,
tapi tidak mau kasih tahu apa yang
harus kuperbuat di sana?" gerutu Pendekar Blo'on.
"Aku tidak akan pergi jika aku
tidak tahu apa yang harus kulakukan di sana..." kata
Pendekar Blo’on
akhirnya dengan perasaan jengkel.
"Ha ha ha... Kau rupanya curiga juga padaku. Perlu kau
akhirnya dengan perasaan jengkel.
"Ha ha ha... Kau rupanya curiga juga padaku. Perlu kau
ketahui, bahwa
saudagar
yang menawar
patungku tadi
merupakan orang kaya yang telah
memperalat orang lain untuk mengambil biji-biji emas di
merupakan orang kaya yang telah
memperalat orang lain untuk mengambil biji-biji emas di
Bumi Ayu Hampir
setiap hari banyak di antara mereka
yang menemui ajal secara menyedihkan.
Mayat mereka dicampakkan begitu saja, hingga tempat itu
setiap hari banyak di antara mereka
yang menemui ajal secara menyedihkan.
Mayat mereka dicampakkan begitu saja, hingga tempat itu
bertimbun bangkai.
Sudah menjadi tugasmu Suro, untuk
menghentikan mereka. Jika usahamu itu berhasil. Maka kau
Sudah menjadi tugasmu Suro, untuk
menghentikan mereka. Jika usahamu itu berhasil. Maka kau
juga harus
melenyapkan saudagar Bergola Mungkur.
Karena dia merupakan dalang dari semua penderitaan
melenyapkan saudagar Bergola Mungkur.
Karena dia merupakan dalang dari semua penderitaan
mereka."
"Mengapa tadi Kakek tidak
membunuhnya?"
"Hmm, aku memang sengaja memberi kesempatan untuk
"Mengapa tadi Kakek tidak
membunuhnya?"
"Hmm, aku memang sengaja memberi kesempatan untuk
memperbaiki sepak
terjangnya. Lagipula aku berpantang
membunuh."
"Tapi terhadap dua ekor anjing
jelek itu mengapa Kakek dapat
melakukannya...?"
"Itu karena kepepet, dan mereka
memang sengaja mencari mati"
Suro Blondo seka keningnya yang
berkeringat.
"Satu hal yang harus kau ingat
Jika kau telah berhasil menghentikan
mereka. Maka kau harus mencariku"
"Untuk apa?" tanya Pendekar Blo'on terheran-heran.
"Sekarang belum waktunya bagiku
untuk menjelaskannya padamu. Nanti
jika tugasmu telah kau selesaikan."
"Baiklah, sekarang aku mohon
diri." kata si pemuda. Pematung Kelana menganggukkan
terjangnya. Lagipula aku berpantang
membunuh."
"Tapi terhadap dua ekor anjing
jelek itu mengapa Kakek dapat
melakukannya...?"
"Itu karena kepepet, dan mereka
memang sengaja mencari mati"
Suro Blondo seka keningnya yang
berkeringat.
"Satu hal yang harus kau ingat
Jika kau telah berhasil menghentikan
mereka. Maka kau harus mencariku"
"Untuk apa?" tanya Pendekar Blo'on terheran-heran.
"Sekarang belum waktunya bagiku
untuk menjelaskannya padamu. Nanti
jika tugasmu telah kau selesaikan."
"Baiklah, sekarang aku mohon
diri." kata si pemuda. Pematung Kelana menganggukkan
kepala sambil
memandangi
kepergian Pendekar
Blo'on.
****
Dua pemuda penunggang kuda
berbulu hitam pekat itu tampak saling berlomba-lomba
****
Dua pemuda penunggang kuda
berbulu hitam pekat itu tampak saling berlomba-lomba
menuju ke daerah Bumi
Ayu. Melihat gelagat mereka yang dalam keadaan tergesa-
Ayu. Melihat gelagat mereka yang dalam keadaan tergesa-
gesa. Tampak jelas
bahwa mereka ini mengemban tugas yang cukup penting.
Siang malam mereka memacu kuda
tunggangan, seakan tidak mengenal
lelah sama sekali. Mereka baru
berhenti jika benar-benar merasa
lelah. Memang kalau dipikir-pikir
jarak yang mereka tempuh antara
Kuningan dan Bumi Ayu cukup jauh.
Sehingga dalam seminggu perjalanan
beberapa kali mereka terpaksa bermalam di hutan.
Matahari sudah mulai condong di
ufuk barat pada saat mereka memasuki
daerah Bumi Ayu. Yaitu sebuah tempat
terakhir yang menjadi sasaran
pengejaran mereka.
"Sebaiknya kita bermalam di sini saja, Kakang" kata salah
bahwa mereka ini mengemban tugas yang cukup penting.
Siang malam mereka memacu kuda
tunggangan, seakan tidak mengenal
lelah sama sekali. Mereka baru
berhenti jika benar-benar merasa
lelah. Memang kalau dipikir-pikir
jarak yang mereka tempuh antara
Kuningan dan Bumi Ayu cukup jauh.
Sehingga dalam seminggu perjalanan
beberapa kali mereka terpaksa bermalam di hutan.
Matahari sudah mulai condong di
ufuk barat pada saat mereka memasuki
daerah Bumi Ayu. Yaitu sebuah tempat
terakhir yang menjadi sasaran
pengejaran mereka.
"Sebaiknya kita bermalam di sini saja, Kakang" kata salah
seorang di
antara pemuda
itu. Pakaiannya
yang
berwarna putih telah kotor berselimut debu. Wajah pemuda
berwarna putih telah kotor berselimut debu. Wajah pemuda
itu juga sudah
tampak kelelahan sekali.
"Jarak kita dengan gua-gua
penggalian sudah sangat dekat sekali.
Aku yakin pemuda-pemuda dari Kuningan yang diculik para
tampak kelelahan sekali.
"Jarak kita dengan gua-gua
penggalian sudah sangat dekat sekali.
Aku yakin pemuda-pemuda dari Kuningan yang diculik para
algojo itu sampai
saat ini belum menjalani kerja paksa
Bagaimana kalau kita lanjutkan saja?"
"Kakang Sapala Kakang harus
ingat bahwa algojo yang menjaga
para pekerja paksa itu jumlahnya
tidak sedikit. Aku yakin mereka rata-
rata memiliki kepandaian yang sangat
tinggi. Kita membutuhkan waktu untuk
menghimpun tenaga yang terkuras selama dalam perjalanan.
saat ini belum menjalani kerja paksa
Bagaimana kalau kita lanjutkan saja?"
"Kakang Sapala Kakang harus
ingat bahwa algojo yang menjaga
para pekerja paksa itu jumlahnya
tidak sedikit. Aku yakin mereka rata-
rata memiliki kepandaian yang sangat
tinggi. Kita membutuhkan waktu untuk
menghimpun tenaga yang terkuras selama dalam perjalanan.
Kalau tidak ada aral
melintang besok
pagi kita dapat
melanjutkan perjalanan ini."
"Baiklah, Panji. Jika memang itu sudah maumu, kali ini aku
melanjutkan perjalanan ini."
"Baiklah, Panji. Jika memang itu sudah maumu, kali ini aku
dapat
menurutinya..."
Sapala dan Panji yang selama ini
dikenal sebagai Pendekar Kembar di
daerah Kuningan segera turun dari
punggung kudanya. Sebentar kemudian
mereka mulai mencari tempat yang cocok untuk melewatkan
menurutinya..."
Sapala dan Panji yang selama ini
dikenal sebagai Pendekar Kembar di
daerah Kuningan segera turun dari
punggung kudanya. Sebentar kemudian
mereka mulai mencari tempat yang cocok untuk melewatkan
malam.
"Hhuimm... adalah tolol, jika
laki-laki tidur dengan laki-laki. Jika tidak mempunyai
"Hhuimm... adalah tolol, jika
laki-laki tidur dengan laki-laki. Jika tidak mempunyai
kelainan jiwa,
pastilah orangnya sudah sinting"
Panji dan Sapala melengak kaget
ketika mendengar suara seorang
perempuan yang seakan datang dari
seluruh penjuru arah.
"Eeh... apakah kau mendengarnya, Panji?" tanya Sapala.
"Suara perempuan itu?"
"Ya...."
Sapala kemudian memandang ke
sekelilingnya. Aneh selain pohon-pohon besar ia tidak
pastilah orangnya sudah sinting"
Panji dan Sapala melengak kaget
ketika mendengar suara seorang
perempuan yang seakan datang dari
seluruh penjuru arah.
"Eeh... apakah kau mendengarnya, Panji?" tanya Sapala.
"Suara perempuan itu?"
"Ya...."
Sapala kemudian memandang ke
sekelilingnya. Aneh selain pohon-pohon besar ia tidak
melihat apa-apa di
situ.
"Lihat" Panji tiba-tiba menunjuk ke salah satu cabang pohon.
situ.
"Lihat" Panji tiba-tiba menunjuk ke salah satu cabang pohon.
Ketika Sapala
melihat ke arah itu.
Maka ia tersentak kaget.
Pada salah satu cabang pohon ia
melihat seorang gadis berbaju ungu.
Wajahnya cantik menggiurkan. Tubuhnya padat montok di
Maka ia tersentak kaget.
Pada salah satu cabang pohon ia
melihat seorang gadis berbaju ungu.
Wajahnya cantik menggiurkan. Tubuhnya padat montok di
balik pakaian yang
sangat tipis mencolok. Gadis itu
langsung tersenyum genit ke arah
mereka. Bibirnya sengaja dibasah-
basahkan dengan lidahnya.
"Mengapa kalian memandangku
seperti itu?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Mustika
sangat tipis mencolok. Gadis itu
langsung tersenyum genit ke arah
mereka. Bibirnya sengaja dibasah-
basahkan dengan lidahnya.
"Mengapa kalian memandangku
seperti itu?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Mustika
Jajar atau
terkenal dengan julukan 'Iblis Betina Dari Neraka'
Sapala dan Panji saling berpan-
dangan. Lalu dua-duanya memutar
langkah dan hendak berlalu meninggal-
kan Mustika Jajar yang masih tetap
duduk tenang di atas cabang pohon itu.
Namun baru saja tiga langkah,
tiba-tiba terasa adanya sambaran angin menerpa wajah
terkenal dengan julukan 'Iblis Betina Dari Neraka'
Sapala dan Panji saling berpan-
dangan. Lalu dua-duanya memutar
langkah dan hendak berlalu meninggal-
kan Mustika Jajar yang masih tetap
duduk tenang di atas cabang pohon itu.
Namun baru saja tiga langkah,
tiba-tiba terasa adanya sambaran angin menerpa wajah
mereka. Panji dan Sapala
bersurut dua
langkah ke belakang.
Sebagai pendekar muda, mereka langsung bersikap waspada
Sebagai pendekar muda, mereka langsung bersikap waspada
menjaga segala
kemungkinan. Tapi gadis berbaju ungu
yang sekarang berdiri menghadang di
depan mereka malah tersenyum memikat.
"Kalian salah sangka. Aku ber-
maksud menanyakan sesuatu pada
kalian" ujar si gadis. Seraya
membungkukkan kepala, sehingga memperlihatkan kedua
kemungkinan. Tapi gadis berbaju ungu
yang sekarang berdiri menghadang di
depan mereka malah tersenyum memikat.
"Kalian salah sangka. Aku ber-
maksud menanyakan sesuatu pada
kalian" ujar si gadis. Seraya
membungkukkan kepala, sehingga memperlihatkan kedua
payudaranya yang putih
mulus menyembul ke
luar.
"Siapa, Nisanak?" tanya Panji curiga. Mustika Jajar
"Siapa, Nisanak?" tanya Panji curiga. Mustika Jajar
tersenyum.
Betapa senyumannya menimbulkan gelora yang menyentak-
Betapa senyumannya menimbulkan gelora yang menyentak-
nyentak. Tapi hanya
dengan mengerahkan tenaga dalam, baik Panji maupun
dengan mengerahkan tenaga dalam, baik Panji maupun
Sapala dapat menghi-
langkan semua pengaruh itu.
5
"Aku adalah orang yang tersesat
dan ingin mencari jalan menuju daerah Malaya. Eeh...
langkan semua pengaruh itu.
5
"Aku adalah orang yang tersesat
dan ingin mencari jalan menuju daerah Malaya. Eeh...
apakah kalian
mengetahui arah yang hendak kutuju?"
tanya Mustika Jajar.
"Sebaiknya Nisanak menuju ke
arah timur" sahut Panji bersungguh-sungguh.
"Hmm, begitu. Kalau pulau Seribu Satu Malam apakah kalian
mengetahui arah yang hendak kutuju?"
tanya Mustika Jajar.
"Sebaiknya Nisanak menuju ke
arah timur" sahut Panji bersungguh-sungguh.
"Hmm, begitu. Kalau pulau Seribu Satu Malam apakah kalian
tahu di mana
letaknya?"
Sapala dan Panji menggelengkan
kepalanya.
"Maaf kami tidak tahu. Mendengar namanya saja baru kali
Sapala dan Panji menggelengkan
kepalanya.
"Maaf kami tidak tahu. Mendengar namanya saja baru kali
ini" ujar
Sapala.
"Sayang sekali kalian tidak
tahu. Oh ya kalian sendiri hendak
kemana, dua pemuda gagah?"
Panji dan Sapala saling
berpandangan. Salah seorang di antara mereka lalu
"Sayang sekali kalian tidak
tahu. Oh ya kalian sendiri hendak
kemana, dua pemuda gagah?"
Panji dan Sapala saling
berpandangan. Salah seorang di antara mereka lalu
menyahuti.
"Kami ingin pergi ke suatu
tempat"
"Aku tahu kalian pasti mengejar
para algojo yang menculik beberapa
puluh pemuda untuk dikerahkan menjadi tenaga pekerja
"Kami ingin pergi ke suatu
tempat"
"Aku tahu kalian pasti mengejar
para algojo yang menculik beberapa
puluh pemuda untuk dikerahkan menjadi tenaga pekerja
paksa, bukan?" Gadis
berbaju ungu tiba-tiba saja tertawa
mengekeh. Lalu pinggulnya digoyang-
goyangkan membentuk sebuah gerakan
yang sangat merangsang.
Sapala dan Panji terkejut bukan
main. Bagaimana mungkin gadis ber-
pakaian merangsang ini dapat
mengetahui rencana perjalanan mereka?
Apakah tadi dia sempat mencuri dengar apa yang mereka
mengekeh. Lalu pinggulnya digoyang-
goyangkan membentuk sebuah gerakan
yang sangat merangsang.
Sapala dan Panji terkejut bukan
main. Bagaimana mungkin gadis ber-
pakaian merangsang ini dapat
mengetahui rencana perjalanan mereka?
Apakah tadi dia sempat mencuri dengar apa yang mereka
bicarakan?
"Kuharap Nisanak tidak
mencampuri segala urusan kami" Sapala memperingatkan.
"Hi hi hi... Untuk apa mengejar para algojo itu? Apakah
"Kuharap Nisanak tidak
mencampuri segala urusan kami" Sapala memperingatkan.
"Hi hi hi... Untuk apa mengejar para algojo itu? Apakah
kalian tidak
tertarik melewatkan malam yang indah
bersamaku malam ini? Hik hik hik"
Dengan sengaja Mustika Jajar
melepas salah satu kancing bajunya,
sehingga sebagian payudaranya yang
kencang itu menyembul keluar. Sebagai pendekar golongan
tertarik melewatkan malam yang indah
bersamaku malam ini? Hik hik hik"
Dengan sengaja Mustika Jajar
melepas salah satu kancing bajunya,
sehingga sebagian payudaranya yang
kencang itu menyembul keluar. Sebagai pendekar golongan
lurus dan berhati
bersih, Sapala dan Panji cepat-cepat
palingkan muka ke arah lain dengan
wajah bersemu merah.
"Hah... kalian rupanya benar-
benar manusia banci. Baiklah, karena
kalian bermaksud pergi ke Bumi Ayu.
Tidak ada salahnya jika aku menjajal
sampai di mana kepandaian yang kalian miliki" Gadis
bersih, Sapala dan Panji cepat-cepat
palingkan muka ke arah lain dengan
wajah bersemu merah.
"Hah... kalian rupanya benar-
benar manusia banci. Baiklah, karena
kalian bermaksud pergi ke Bumi Ayu.
Tidak ada salahnya jika aku menjajal
sampai di mana kepandaian yang kalian miliki" Gadis
berbaju ungu menutup
ucapannya dengan
satu serangan dahsyat yang tidak terduga
sama sekali.
"Hiyaaa..."
"Wuus"
Sapala dan Panji yang tidak
menyangka akan mendapat serangan yang sedemikian cepat
"Hiyaaa..."
"Wuus"
Sapala dan Panji yang tidak
menyangka akan mendapat serangan yang sedemikian cepat
ini langsung melompat
mundur. Serangan pertama luput,
namun mereka sempat merasakan sekujur tubuh
mereka
seperti ditusuk-tusuk ribuan
batang jarum. Sadar lawannya menghendaki nyawa mereka.
batang jarum. Sadar lawannya menghendaki nyawa mereka.
Maka tanpa
sungkan-sungkan lagi mereka mencabut pedang
yang miliki ketajaman pada kedua
sisinya.
"'Jurus Hati Suci'" teriak Panji memberi aba-aba. Pedang di
tangan kemudian diputar sedemikian
cepat. Angin menderu-deru. Hanya dalam waktu yang
yang miliki ketajaman pada kedua
sisinya.
"'Jurus Hati Suci'" teriak Panji memberi aba-aba. Pedang di
tangan kemudian diputar sedemikian
cepat. Angin menderu-deru. Hanya dalam waktu yang
teramat singkat senjata di
tangan mereka telah
berubah menjadi
gulungan sinar putih yang sangat
menyilaukan mata. Kehebatan jurus yang dimiliki oleh
gulungan sinar putih yang sangat
menyilaukan mata. Kehebatan jurus yang dimiliki oleh
mereka adalah kecepatan
dan
kekompakannya dalam
melancarkan
setiap serangan. Demikian juga yang
terlihat pada saat itu. Namun lawannya malah tertawa
setiap serangan. Demikian juga yang
terlihat pada saat itu. Namun lawannya malah tertawa
mengikik. Mustika Jajar
yang
dalam keadaan
terkurung sinar
senjata lawannya ini tampak melesat ke udara.
"Haap..."
"Shaaa..."
"Wuuss"
Segulung sinar hitam melesat
dari sekujur tubuh gadis berbaju ungu.
Sinar berhawa dingin menggidikkan itu menyapu lawan-
senjata lawannya ini tampak melesat ke udara.
"Haap..."
"Shaaa..."
"Wuuss"
Segulung sinar hitam melesat
dari sekujur tubuh gadis berbaju ungu.
Sinar berhawa dingin menggidikkan itu menyapu lawan-
lawannya dengan hanya
dalam tempo sekedipan mata saja.
Panji dan Sapala terdorong ke
belakang. Mereka merasa sulit mengge-
rakkan pedangnya. Bahkan tubuh mereka sendiri cepat
dalam tempo sekedipan mata saja.
Panji dan Sapala terdorong ke
belakang. Mereka merasa sulit mengge-
rakkan pedangnya. Bahkan tubuh mereka sendiri cepat
terdorong, sungguhpun
mereka berusaha bertahan. Bahkan telah mengerahkan
mereka berusaha bertahan. Bahkan telah mengerahkan
tenaga dalam untuk
menghalau pengaruh
serangan aneh itu, tetap saja terlempar.
"Aaakh..."
"Braak"
Sapala dan Panji jatuh terban-
ting. Celakanya mereka sama sekali
tidak mampu menggerakkan tubuhnya.
Adalah sungguh mengejutkan jika
pendekar seperti mereka berdua ini
dapat terkalahkan dengan mempergunakan ilmu menotok
"Aaakh..."
"Braak"
Sapala dan Panji jatuh terban-
ting. Celakanya mereka sama sekali
tidak mampu menggerakkan tubuhnya.
Adalah sungguh mengejutkan jika
pendekar seperti mereka berdua ini
dapat terkalahkan dengan mempergunakan ilmu menotok
jarak jauh.
Jika saja lawannya memang bukan
orang yang memiliki kepandaian yang
benar-benar sangat tinggi. Mustahil
mereka dapat dijatuhkan hanya dalam
waktu beberapa gebrakan saja.
"Bangsat pengecut Lepaskan
kami..." teriak Panji. Ia menjadi berang karena ternyata
Jika saja lawannya memang bukan
orang yang memiliki kepandaian yang
benar-benar sangat tinggi. Mustahil
mereka dapat dijatuhkan hanya dalam
waktu beberapa gebrakan saja.
"Bangsat pengecut Lepaskan
kami..." teriak Panji. Ia menjadi berang karena ternyata
lawannya telah
memperdayai mereka.
"Tidak ada gunanya kalian memaki Kalian telah menjadi
"Tidak ada gunanya kalian memaki Kalian telah menjadi
tawanan-
ku" dengus Mustika Jajar.
Gadis ini kemudian mengambil dua
utas dari kulit kayu waru. Sebuah
kecerdikan sekarang terlintas dalam
hatinya.
"Jika saudagar Bergola Mungkur
benar-benar merupakan orang yang kaya raya. Mengapa aku
ku" dengus Mustika Jajar.
Gadis ini kemudian mengambil dua
utas dari kulit kayu waru. Sebuah
kecerdikan sekarang terlintas dalam
hatinya.
"Jika saudagar Bergola Mungkur
benar-benar merupakan orang yang kaya raya. Mengapa aku
tidak memanfaatkan
kesempatan ini untuk menguasai harta-
nya? Mengenai musuh besar guruku aku
dapat mencarinya kemudian. Tapi aku
juga harus ingat harta juga tidak
kalah menariknya dengan musuh besar.
Kedua pemuda ini dapat kujadikan
jembatan untuk mendekati saudagar
itu"
Mustika Jajar tersenyum genit.
Seraya kemudian mendekati Sapala dan
Panji yang berhasil ditotoknya melalui pertarungan yang
kesempatan ini untuk menguasai harta-
nya? Mengenai musuh besar guruku aku
dapat mencarinya kemudian. Tapi aku
juga harus ingat harta juga tidak
kalah menariknya dengan musuh besar.
Kedua pemuda ini dapat kujadikan
jembatan untuk mendekati saudagar
itu"
Mustika Jajar tersenyum genit.
Seraya kemudian mendekati Sapala dan
Panji yang berhasil ditotoknya melalui pertarungan yang
sangat singkat itu.
"Kkk... kau mau apa?" tanya Panji gugup.
"Hik hik hik Kau tidak usah
takut. Aku tidak akan menggantung dan membunuh kalian
"Kkk... kau mau apa?" tanya Panji gugup.
"Hik hik hik Kau tidak usah
takut. Aku tidak akan menggantung dan membunuh kalian
seperti orang yang
tidak mau kasih keterangan di jalan
Paling tidak sampai di rumah saudagar Bergola Mungkur"
tidak mau kasih keterangan di jalan
Paling tidak sampai di rumah saudagar Bergola Mungkur"
dengus gadis itu.
Kemudian dengan cepat ia mengikat
tangan Panji dan Sapala.
"Perempuan iblis Mau kau bawa
kemana kami?" teriak Sapala.
"Tenang
saja. Karena kalian
bermaksud membebaskan para pekerja di Bumi Ayu. Maka
Kemudian dengan cepat ia mengikat
tangan Panji dan Sapala.
"Perempuan iblis Mau kau bawa
kemana kami?" teriak Sapala.
"Tenang
saja. Karena kalian
bermaksud membebaskan para pekerja di Bumi Ayu. Maka
sekarang aku mau
menyeret kalian kepada saudagar itu
untuk terima hukuman yang setimpal"
"Bangsat"
"Memakilah sepuasmu Aku memang
iblis dari neraka. Kalian tidak perlu gusar" ujar gadis baju
menyeret kalian kepada saudagar itu
untuk terima hukuman yang setimpal"
"Bangsat"
"Memakilah sepuasmu Aku memang
iblis dari neraka. Kalian tidak perlu gusar" ujar gadis baju
ungu. Seraya
lalu
melompat ke atas
punggung kuda
milik Sapala. Tali yang mengikat kaki kedua tawanannya
milik Sapala. Tali yang mengikat kaki kedua tawanannya
disentakkannya. Tidak
lama kemudian
melesatlah kuda tunggangan itu menyeret
Sapala dan Panji.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa si gadis.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa si gadis.
Sementara di belakangnya
terdengar jerit dan
lolong
kesakitan dari mulut kedua pemuda yang dalam keadaan
kesakitan dari mulut kedua pemuda yang dalam keadaan
tertotok itu.
****
"Jtar"
"Jtarr"
"Akkkh... ampun Pak... ampun
Tuan..." suara pekik tangis itu menggema meningkahi suara
****
"Jtar"
"Jtarr"
"Akkkh... ampun Pak... ampun
Tuan..." suara pekik tangis itu menggema meningkahi suara
lecutan
cambuk di tangan algojo. Beberapa
pemuda bertubuh tegap yang baru saja
didatangkan dari Kuningan tersungkur
dengan tubuh bersimbah darah.
"Di sini tidak ada kesempatan
hidup lebih lama lagi bagi seorang
pemalas Tugas kalian adalah
mengumpulkan biji-biji emas. Tidak
layak membantah apalagi membangkang
Cepat kerja" bentak kepala algojo itu, lalu cambuk di
cambuk di tangan algojo. Beberapa
pemuda bertubuh tegap yang baru saja
didatangkan dari Kuningan tersungkur
dengan tubuh bersimbah darah.
"Di sini tidak ada kesempatan
hidup lebih lama lagi bagi seorang
pemalas Tugas kalian adalah
mengumpulkan biji-biji emas. Tidak
layak membantah apalagi membangkang
Cepat kerja" bentak kepala algojo itu, lalu cambuk di
tangannya
diayunkannya tinggi-tinggi.
"Jtar jtaar…"
"Walah... walah Sakitt..."
teriak salah seorang yang tangannya
dirantai ini kesakitan. Kepala algojo dan kawan-kawannya
diayunkannya tinggi-tinggi.
"Jtar jtaar…"
"Walah... walah Sakitt..."
teriak salah seorang yang tangannya
dirantai ini kesakitan. Kepala algojo dan kawan-kawannya
tergelak-gelak.
Tampaknya semakin banyak darah yang
mengalir dari tubuh para pekerja paksa ini semakin
Tampaknya semakin banyak darah yang
mengalir dari tubuh para pekerja paksa ini semakin
membuat puas hati mereka.
Apa yang terjadi di tempat itu
tampaknya tidak lepas dari perhatian
seorang pemuda berbaju biru muda.
Pemuda berambut panjang sebahu dan
memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning ini
Apa yang terjadi di tempat itu
tampaknya tidak lepas dari perhatian
seorang pemuda berbaju biru muda.
Pemuda berambut panjang sebahu dan
memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning ini
menggeram marah.
Mulutnya pletat-pletot, kepala golang-goleng ke kiri dan
Mulutnya pletat-pletot, kepala golang-goleng ke kiri dan
kanan.
"Algojo kepala botak itu tampak-
nya bukan manusia, tapi setan berkedok yang selalu haus
"Algojo kepala botak itu tampak-
nya bukan manusia, tapi setan berkedok yang selalu haus
darah. Jika terus
kubiarkan, tingkah mereka jadi
kapiran" desisnya.
Dilain kesempatan pemuda ini
melangkah tenang menghampiri para
algojo yang selalu siap dalam keadaan waspada. Dasa Reksa
kubiarkan, tingkah mereka jadi
kapiran" desisnya.
Dilain kesempatan pemuda ini
melangkah tenang menghampiri para
algojo yang selalu siap dalam keadaan waspada. Dasa Reksa
Sebagai orang yang
mengepalai delapan
orang anak buahnya tentu saja menjadi
heran sekaligus
terkejut melihat kemunculan Suro
Blondo. Dalam waktu yang sangat
singkat, mereka langsung mengurung
Pendekar Blo'on.
Pemuda berbaju biru muda ini
garuk-garuk kepalanya. Mulutnya nye-
ngir begitu melihat ulah laki-laki
bertubuh tegap ini.
"Heh... hari ini kita dapat
tenaga tambahan lagi. Walaupun tampang kunyuk ini tolol.
terkejut melihat kemunculan Suro
Blondo. Dalam waktu yang sangat
singkat, mereka langsung mengurung
Pendekar Blo'on.
Pemuda berbaju biru muda ini
garuk-garuk kepalanya. Mulutnya nye-
ngir begitu melihat ulah laki-laki
bertubuh tegap ini.
"Heh... hari ini kita dapat
tenaga tambahan lagi. Walaupun tampang kunyuk ini tolol.
Tapi rasanya kita
dapat memanfaatkan tenaganya untuk
menggali emas dalam jumlah besar He
he he... mimpi apa aku semalam?"
"Aha... aku yakin semalam kau
telah bermimpi buruk Melihat badanmu yang lebih besar
dapat memanfaatkan tenaganya untuk
menggali emas dalam jumlah besar He
he he... mimpi apa aku semalam?"
"Aha... aku yakin semalam kau
telah bermimpi buruk Melihat badanmu yang lebih besar
dari kawan-kawanmu,
rasanya tidak salah penglihatanku,
kaulah orangnya yang bernama Dasa
Reksa? Apakah betul...?" tanya Suro Blondo. Walaupun
rasanya tidak salah penglihatanku,
kaulah orangnya yang bernama Dasa
Reksa? Apakah betul...?" tanya Suro Blondo. Walaupun
hatinya kesal bukan
main, tapi ia tetap tertawa-tawa.
Dasa Reksa sempat tersentak
kaget. Bagaimana mungkin pemuda ini
dapat mengetahui siapa namanya? Namun setelah mengingat
main, tapi ia tetap tertawa-tawa.
Dasa Reksa sempat tersentak
kaget. Bagaimana mungkin pemuda ini
dapat mengetahui siapa namanya? Namun setelah mengingat
sepak terjangnya,
maka ia merasa tidak tertutup
kemungkinan nama besarnya telah
dikenal di seluruh penjuru persilatan.
"Kalau kau sudah tahu siapa aku.
Bicaralah yang sopan dan sekarang
berlutut di depan majikanmu ini.
Setelah itu menyalak tiga kali"
perintah Dasa Reksa diikuti tawa anak buahnya.
"Oh... maafkan aku majikan. Sama sekali aku tidak melihat
maka ia merasa tidak tertutup
kemungkinan nama besarnya telah
dikenal di seluruh penjuru persilatan.
"Kalau kau sudah tahu siapa aku.
Bicaralah yang sopan dan sekarang
berlutut di depan majikanmu ini.
Setelah itu menyalak tiga kali"
perintah Dasa Reksa diikuti tawa anak buahnya.
"Oh... maafkan aku majikan. Sama sekali aku tidak melihat
tingginya
gunung di depanku. Tapi bolehkah aku
bertanya pada majikan yang terhormat?"
ucap Suro Blondo sambil membungkuk-
bungkukkan badannya.
"Bagus Rupanya kau tahu
bagaimana caranya menghargai orang
lain. Sekarang coba katakan apa yang
ingin kau tanyakan?" perintah Dasa Reksa, lalu tersenyum.
gunung di depanku. Tapi bolehkah aku
bertanya pada majikan yang terhormat?"
ucap Suro Blondo sambil membungkuk-
bungkukkan badannya.
"Bagus Rupanya kau tahu
bagaimana caranya menghargai orang
lain. Sekarang coba katakan apa yang
ingin kau tanyakan?" perintah Dasa Reksa, lalu tersenyum.
Sementara itu
satu dua orang algojo begitu melihat keramahtamahan
satu dua orang algojo begitu melihat keramahtamahan
atasannya terhadap
pemuda bertampang tolol yang tidak
dikenal itu langsung membubarkan diri.
"Yang ingin kutanyakan adalah
berapa harga setiap kepala gundul di
sini?"
Dasa Reksa pentang mata lebar-
lebar dengan kening berkerut. Sedang-
kan pemuda di depannya kini. tampak
berubah serius.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku sudah jelas, Tuan"
Suro Blondo mengusap keningnya.
"Kulihat di dataran rendah sebelah sana tulang dan bangkai
pemuda bertampang tolol yang tidak
dikenal itu langsung membubarkan diri.
"Yang ingin kutanyakan adalah
berapa harga setiap kepala gundul di
sini?"
Dasa Reksa pentang mata lebar-
lebar dengan kening berkerut. Sedang-
kan pemuda di depannya kini. tampak
berubah serius.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku sudah jelas, Tuan"
Suro Blondo mengusap keningnya.
"Kulihat di dataran rendah sebelah sana tulang dan bangkai
manusia
bertimbun. Kalau dihitung mungkin
jumlahnya lebih dari dua ratus biji,
eeh... orang maksudku Berarti sudah
dua ratus nyawa melayang menjadi
tumbal secara sia-sia. Dan semua itu
adalah hasil kejahatanmu dan orang-
orangmu. Kini aku datang menagih
hutang nyawa orang-orang yang tidak
berdosa. Apakah keterangan ini sudah cukup jelas bagimu?"
"Huh..., puih, pemuda edan dari
mana kau Berani-beraninya kau
mengungkit-ungkit segala persoalan
yang terjadi di sini? Apakah kau pikir kau mampu
bertimbun. Kalau dihitung mungkin
jumlahnya lebih dari dua ratus biji,
eeh... orang maksudku Berarti sudah
dua ratus nyawa melayang menjadi
tumbal secara sia-sia. Dan semua itu
adalah hasil kejahatanmu dan orang-
orangmu. Kini aku datang menagih
hutang nyawa orang-orang yang tidak
berdosa. Apakah keterangan ini sudah cukup jelas bagimu?"
"Huh..., puih, pemuda edan dari
mana kau Berani-beraninya kau
mengungkit-ungkit segala persoalan
yang terjadi di sini? Apakah kau pikir kau mampu
melakukannya?" bentak
Dasa
Reksa. Wajah sampai kepala botaknya
berubah merah padam.
"Pruuuh... ha ha ha ha... Dasa
Reksa. Sudah kukatakan aku datang
kemari ingin membebaskan orang-orang
di dalam gua penggalian emas. Tentu
saja sekalian mencopot kepala kalian
dari badan"
"Keparat Kau benar-benar tidak
tahu penyakit Hiaaa..." Disertai satu teriakan melengking
Reksa. Wajah sampai kepala botaknya
berubah merah padam.
"Pruuuh... ha ha ha ha... Dasa
Reksa. Sudah kukatakan aku datang
kemari ingin membebaskan orang-orang
di dalam gua penggalian emas. Tentu
saja sekalian mencopot kepala kalian
dari badan"
"Keparat Kau benar-benar tidak
tahu penyakit Hiaaa..." Disertai satu teriakan melengking
tinggi. Dasa
Reksa
melompat ke depan.
Tangannya
yang kokoh dan besar itu mencengkeram ke bagian leher. Ia
yang kokoh dan besar itu mencengkeram ke bagian leher. Ia
berpikir hanya
dengan sekali gebrak saja, tentu
kepala pemuda tampan bertampang tolol terpotes dari
dengan sekali gebrak saja, tentu
kepala pemuda tampan bertampang tolol terpotes dari
kepalanya.
Tapi ternyata dugaan Dasa Reksa
benar-benar meleset. Laksana kilat
Suro Blondo yang telah memperhitungkan segala sesuatunya
Tapi ternyata dugaan Dasa Reksa
benar-benar meleset. Laksana kilat
Suro Blondo yang telah memperhitungkan segala sesuatunya
ini berkelit ke
samping. Serangan itu hanya menyambar tempat kosong.
samping. Serangan itu hanya menyambar tempat kosong.
Karena saat menyerang
tadi Dasa Reksa mengerahkan tenaga
dalam yang cukup tinggi. Maka kini
setelah tidak mencapai sasarannya
membuat ia kehilangan keseimbangan.
Kesempatan itu dipergunakan oleh
Suro Blondo untuk membetot tubuh
lawannya. Dengan satu sentakan yang
sangat keras tubuh besar itu melayang dan tersungkur
tadi Dasa Reksa mengerahkan tenaga
dalam yang cukup tinggi. Maka kini
setelah tidak mencapai sasarannya
membuat ia kehilangan keseimbangan.
Kesempatan itu dipergunakan oleh
Suro Blondo untuk membetot tubuh
lawannya. Dengan satu sentakan yang
sangat keras tubuh besar itu melayang dan tersungkur
mencium tanah keras.
Dasa Reksa menggerung. Hidungnya
yang membentur tanah patah dua dan berubah lembam
Dasa Reksa menggerung. Hidungnya
yang membentur tanah patah dua dan berubah lembam
membiru. Sambil
meringis kesakitan ia bangkit berdiri.
Matanya merah beringas. Memandang
penuh kekejaman pada Suro Blondo. Yang dipandang malah
tersenyum sambil
garuk-garuk belakang kepalanya.
6
"Anak-anak Bunuh monyet ber-
tampang tolol itu" teriak Dasa Reksa pada anak buahnya
meringis kesakitan ia bangkit berdiri.
Matanya merah beringas. Memandang
penuh kekejaman pada Suro Blondo. Yang dipandang malah
tersenyum sambil
garuk-garuk belakang kepalanya.
6
"Anak-anak Bunuh monyet ber-
tampang tolol itu" teriak Dasa Reksa pada anak buahnya
yang ternyata telah
berkumpul kembali
mengurung Suro
Blondo. Perintah sang ketua disambut
oleh bunyi lecutan cambuk yang
meledak-ledak di udara.
Dalam waktu singkat delapan
mata cambuk berderu menyerang Pendekar Blo'on dari
Blondo. Perintah sang ketua disambut
oleh bunyi lecutan cambuk yang
meledak-ledak di udara.
Dalam waktu singkat delapan
mata cambuk berderu menyerang Pendekar Blo'on dari
delapan penjuru arah.
Pemuda ini terpaksa melompat ke udara.
Lalu kerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan
Pemuda ini terpaksa melompat ke udara.
Lalu kerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan
Ekor'.
Sekejap tubuh pemuda ini
sudah melompat-lompat atau terkadang
menari-nari membentuk gerakan-
gerakanya yang sangat aneh. Dilihat sepintas lalu gerakan
Sekejap tubuh pemuda ini
sudah melompat-lompat atau terkadang
menari-nari membentuk gerakan-
gerakanya yang sangat aneh. Dilihat sepintas lalu gerakan
yang dilakukan
Suro Blondo ini memang sangat mirip
dengan gerakan monyet yang melompat-
lompat di atas pohon. Namun sungguhpun demikian hingga
Suro Blondo ini memang sangat mirip
dengan gerakan monyet yang melompat-
lompat di atas pohon. Namun sungguhpun demikian hingga
sejauh itu tidak
satupun lidah cambuk yang dapat
menyentuh tubuhnya apalagi sampai melukainya.
"Gila betul Rupanya pemuda
bertampang tolol ini memiliki kepan-
daian yang dapat diandalkannya."
Membatin Dasa Reksa.
"Kerahkan jurus 'Seribu Bisa'"
sang pimpinan berteriak-teriak memberi aba-aba.
"Shaa..."
"Buut"
"Tar... tar..."
Jurus-jurus yang dimainkan oleh
para algojo itu secara serentak
berubah. Suara cambuk meledak-ledak
memekakkan gendang-gendang telinga.
Semakin lama cambuk di tangan lawannya tampak berubah menjadi banyak. Suro
Blondo leletkan lidah saat menyadari
posisinya dalam keadaan terdesak.
"Gila. Betul-betul gila Aku
harus mengerahkan jurus 'Seribu
Siluman Kera Putih Mengecoh Harimau"
batin Pendekar Blo'on dalam hati.
Namun sebelum ia sempat melak-
sanakan niatnya. Salah satu cambuk
lawan menghantam punggungnya. Baju
terkoyak lebar. Ada darah yang
mengalir di sepanjang luka guratan.
Suro Blondo tersungkur mencium tanah.
Saat itulah cambuk berduri bertubi-
tubi mendera tubuhnya. Dalam keadaan
tubuh remuk redam seperti itu. Ia
terus berguling-guling menghindari
mata cambuk berduri yang datang
mendera seakan tidak ada habis-
habisnya. Lalu....
"Haap..."
Suro Blondo bangkit berdiri lalu
melompat mundur sejauh tiga tombak.
Mulutnya menyeringai menahan sakit.
Darah bercucuran membasahi bajunya
yang hancur di beberapa bagian.
"Bunuh Jangan beri kesempatan
pada pemuda sinting itu meloloskan
diri" teriak Dasa Reksa sambil terus memperhatikan jalannya
satupun lidah cambuk yang dapat
menyentuh tubuhnya apalagi sampai melukainya.
"Gila betul Rupanya pemuda
bertampang tolol ini memiliki kepan-
daian yang dapat diandalkannya."
Membatin Dasa Reksa.
"Kerahkan jurus 'Seribu Bisa'"
sang pimpinan berteriak-teriak memberi aba-aba.
"Shaa..."
"Buut"
"Tar... tar..."
Jurus-jurus yang dimainkan oleh
para algojo itu secara serentak
berubah. Suara cambuk meledak-ledak
memekakkan gendang-gendang telinga.
Semakin lama cambuk di tangan lawannya tampak berubah menjadi banyak. Suro
Blondo leletkan lidah saat menyadari
posisinya dalam keadaan terdesak.
"Gila. Betul-betul gila Aku
harus mengerahkan jurus 'Seribu
Siluman Kera Putih Mengecoh Harimau"
batin Pendekar Blo'on dalam hati.
Namun sebelum ia sempat melak-
sanakan niatnya. Salah satu cambuk
lawan menghantam punggungnya. Baju
terkoyak lebar. Ada darah yang
mengalir di sepanjang luka guratan.
Suro Blondo tersungkur mencium tanah.
Saat itulah cambuk berduri bertubi-
tubi mendera tubuhnya. Dalam keadaan
tubuh remuk redam seperti itu. Ia
terus berguling-guling menghindari
mata cambuk berduri yang datang
mendera seakan tidak ada habis-
habisnya. Lalu....
"Haap..."
Suro Blondo bangkit berdiri lalu
melompat mundur sejauh tiga tombak.
Mulutnya menyeringai menahan sakit.
Darah bercucuran membasahi bajunya
yang hancur di beberapa bagian.
"Bunuh Jangan beri kesempatan
pada pemuda sinting itu meloloskan
diri" teriak Dasa Reksa sambil terus memperhatikan jalannya
pertempuran.
"Urusan jadi kapiran jika aku
sampai mati di tangan mereka" gerutu Suro Blondo.
Tiba-tiba saja ia merangkapkan
kedua tangannya ke depan dada.
Setengah dari seluruh tenaga yang
dimilikinya dikerahkannya ke bagian
tubuhnya. Lalu... diawali dengan satu langkah yang sangat
"Urusan jadi kapiran jika aku
sampai mati di tangan mereka" gerutu Suro Blondo.
Tiba-tiba saja ia merangkapkan
kedua tangannya ke depan dada.
Setengah dari seluruh tenaga yang
dimilikinya dikerahkannya ke bagian
tubuhnya. Lalu... diawali dengan satu langkah yang sangat
ganjil. Tubuhnya
tiba-tiba
bergerak cepat
laksana
kilat. Di tengah-tengah gerakan yang
sangat sulit diikuti kasat mata dan
membuat bingung lawannya itulah
terdengar suara aneh. Mula-mula
terdengar suara tawa meledak-ledak
bagaikan hendak mengguncang bumi. Tapi di saat lain
kilat. Di tengah-tengah gerakan yang
sangat sulit diikuti kasat mata dan
membuat bingung lawannya itulah
terdengar suara aneh. Mula-mula
terdengar suara tawa meledak-ledak
bagaikan hendak mengguncang bumi. Tapi di saat lain
terdengar pula suara
seperti orang yang sedang menangis.
Suara itu mendayu-dayu
mendirikan
bulu roma. Dan di dalam kesempatan
lainnya suara tangis lenyap berganti
dengan suara gajah. Rupanya dalam keadaan sedemikian
seperti orang yang sedang menangis.
Suara itu mendayu-dayu
mendirikan
bulu roma. Dan di dalam kesempatan
lainnya suara tangis lenyap berganti
dengan suara gajah. Rupanya dalam keadaan sedemikian
rupa, Pendekar
Blo'on disamping mengerahkan jurus
"Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.
Ia juga mengerahkan jurus 'Tawa Kera
Siluman'.
Kenyataan ini sempat membuat
terkesima lawan-lawannya. Namun mereka tidak mau
Blo'on disamping mengerahkan jurus
"Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.
Ia juga mengerahkan jurus 'Tawa Kera
Siluman'.
Kenyataan ini sempat membuat
terkesima lawan-lawannya. Namun mereka tidak mau
berdiam diri lebih lama
lagi. Laksana kilat cambuk berduri di tangan mereka melecut
lagi. Laksana kilat cambuk berduri di tangan mereka melecut
mengejar kemana
saja
bayangan Suro
Blondo menghindar.
Namun berulang kali mereka dibuat
kecewa ketika serangan mereka mencapai tempat kosong.
Namun berulang kali mereka dibuat
kecewa ketika serangan mereka mencapai tempat kosong.
Bahkan dengan gerakan-
gerakan yang sulit
diduga-duga Suro
Blondo mulai mempecundangi lawan-
lawannya. Satu demi satu lawan-
lawannya itu dibuat jatuh bangun. Hal ini semakin
Blondo mulai mempecundangi lawan-
lawannya. Satu demi satu lawan-
lawannya itu dibuat jatuh bangun. Hal ini semakin
memancing kemarahan Dasa
Reksa.
Ia pun mulai menerjunkan diri ke
medan pertempuran. Tidak pelak lagi,
Suro Blondo langsung mendapat
keroyokan sembilan jago-jago pembunuh yang memiliki
Reksa.
Ia pun mulai menerjunkan diri ke
medan pertempuran. Tidak pelak lagi,
Suro Blondo langsung mendapat
keroyokan sembilan jago-jago pembunuh yang memiliki
kemampuan tidak rendah.
Sungguh pun pemuda tampan
bertampang tolol ini mempunyai watak
yang konyol. Namun ia terdidik oleh
dua guru yang memiliki pengalaman dan kepandaian sangat
Sungguh pun pemuda tampan
bertampang tolol ini mempunyai watak
yang konyol. Namun ia terdidik oleh
dua guru yang memiliki pengalaman dan kepandaian sangat
tinggi. Sehingga ia
segera menyadari
bahwa saat itu
nyawanya benar-benar dalam kea-
daan terancam.
"Hiyaa..."
"Shaaa..."
Gerakan silat Pendekar Blo'on
dari cepat kini menjadi lambat.
Sebagian tenaga dalam yang dimilikinya kini dikerahkannya
nyawanya benar-benar dalam kea-
daan terancam.
"Hiyaa..."
"Shaaa..."
Gerakan silat Pendekar Blo'on
dari cepat kini menjadi lambat.
Sebagian tenaga dalam yang dimilikinya kini dikerahkannya
ke bagian telapak
tangannya. Sehingga dalam waktu yang
singkat telapak tangan itu menjadi
putih berkilauan. Pada kesempatan yang sama cambuk di
tangannya. Sehingga dalam waktu yang
singkat telapak tangan itu menjadi
putih berkilauan. Pada kesempatan yang sama cambuk di
tangan lawan-lawannya
mendera sekujur tubuhnya hingga
membuatnya jatuh tergulung-gulung dan babak belur.
"Bunuh" teriak Dasa Reksa
semakin bertambah beringas.
Serangan cambuk semakin menjadi-
jadi. Pakaian yang melekat di tubuh
Suro Blondo praktis tercabik-cabik.
Namun pemuda itu cepat bangkit ber-
diri. Cambuk di tangan lawan-lawannya menyambut dan
mendera sekujur tubuhnya hingga
membuatnya jatuh tergulung-gulung dan babak belur.
"Bunuh" teriak Dasa Reksa
semakin bertambah beringas.
Serangan cambuk semakin menjadi-
jadi. Pakaian yang melekat di tubuh
Suro Blondo praktis tercabik-cabik.
Namun pemuda itu cepat bangkit ber-
diri. Cambuk di tangan lawan-lawannya menyambut dan
melibat tubuhnya. Tarik
menarik pun
terjadi. Andai saja
Pendekar Blo'on bukan pemuda yang
telah kenyang makan gemblengan
gurunya. Mungkin saat itu tubuhnya
telah terpisah-pisah.
Suro Blondo menggeram penuh
amarah. Sama sekali ia sudah tidak
menghiraukan darah yang mengalir dari setiap luka yang
Pendekar Blo'on bukan pemuda yang
telah kenyang makan gemblengan
gurunya. Mungkin saat itu tubuhnya
telah terpisah-pisah.
Suro Blondo menggeram penuh
amarah. Sama sekali ia sudah tidak
menghiraukan darah yang mengalir dari setiap luka yang
terdapat di tubuhnya.
Dan dalam keadaan dilanda kemarahan
sedemikian rupa. Satu hal yang tidak
pernah disadari oleh lawan-lawannya
adalah bahwa, rambut Pendekar Blo'on
yang hitam kemerah-merahan itu
sekarang telah berubah merah
sepenuhnya,
"Heaaa..." Suro Blondo
berteriak melengking tinggi.
Empat
larik sinar putih menyilaukan ber-
kiblat melesat dari telapak tangannya.
Itulah salah satu pukulan yang bernama
'Kera Sakti Menolak Petir' yang
dilepaskan oleh Pendekar Blo'on.
Udara berubah menjadi panas
menyesakkan. Empat orang lawannya
terkesiap melihat datangnya gelombang sinar putih yang
Dan dalam keadaan dilanda kemarahan
sedemikian rupa. Satu hal yang tidak
pernah disadari oleh lawan-lawannya
adalah bahwa, rambut Pendekar Blo'on
yang hitam kemerah-merahan itu
sekarang telah berubah merah
sepenuhnya,
"Heaaa..." Suro Blondo
berteriak melengking tinggi.
Empat
larik sinar putih menyilaukan ber-
kiblat melesat dari telapak tangannya.
Itulah salah satu pukulan yang bernama
'Kera Sakti Menolak Petir' yang
dilepaskan oleh Pendekar Blo'on.
Udara berubah menjadi panas
menyesakkan. Empat orang lawannya
terkesiap melihat datangnya gelombang sinar putih yang
meluruk deras ke arah
mereka. Namun untuk
menyelamatkan diri tidak ada
kesempatan lagi bagi algojo-
algojo ini karena
pukulan itu langsung menghantam tubuh
mereka.
"Blaam Buum Buum"
"Wuaaakh..."
Empat sosok tubuh berpentalan
meregang ajal. Tubuh mereka berubah
hangus. Belum hilang rasa kejut di
hati kawan-kawannya, Suro Blondo telah melompat ke
"Blaam Buum Buum"
"Wuaaakh..."
Empat sosok tubuh berpentalan
meregang ajal. Tubuh mereka berubah
hangus. Belum hilang rasa kejut di
hati kawan-kawannya, Suro Blondo telah melompat ke
belakang sehingga membuat
cambuk yang
membelit tubuhnya
terlepas. Tidak tanggung-tanggung. Ia kali ini melepas
terlepas. Tidak tanggung-tanggung. Ia kali ini melepas
pukulan 'Matahari Dan
Rembulan Tidak
Bersinar'.
Sinar redup bersemu merah
bercampur dengan warna biru datang
menggebu-gebu. Dun algojo lainnya kini menjadi korban.
Sinar redup bersemu merah
bercampur dengan warna biru datang
menggebu-gebu. Dun algojo lainnya kini menjadi korban.
Tidak sempat menjerit
apalagi melolong. Tubuh mereka tiba-tiba terhempas
ke
depan. Wajah mereka
berubah pucat kebiru-biruan. Darah
kental menyembur tiada henti dari
mulut kedua algojo itu. Laksana mau
terbang semangat Dasa Reksa melihat
kejadian tragis yang sangat singkat
ini. Namun kematian tetap kematian.
Kenyataan yang dilihatnya tidak
membuat nyalinya lumer, apalagi lari
terbirit-birit meninggalkan pertem-
puran. Dengan dibantu dua orang
kawannya ia kembali merangsak ke
depan. Suro Blondo menyeringai seakan mengejek.
Menghadapi lawan yang sudah
banyak berkurang, malah ia semakin
berhati-hati. Selanjutnya ia
mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih
Mengecoh Harimau'. Gerakan laksana
kilat ini disusul dengan tendangan
maupun jotosan beruntun ke bagian-
bagian tubuh lawannya. Namun aneh...
kali ini setiap pukulannya dapat
dihindari oleh lawan. Ketika mereka
balas menyerang dengan mempergunakan
jurus 'Gaung Halimun' Maka serangan
balik itu juga lebih berbahaya dari
serangan dahsyat yang dilakukan oleh
Suro Blondo.
"Buuuk Buuuk"
"Setan atas" maki pemuda itu jatuh bangun
berubah pucat kebiru-biruan. Darah
kental menyembur tiada henti dari
mulut kedua algojo itu. Laksana mau
terbang semangat Dasa Reksa melihat
kejadian tragis yang sangat singkat
ini. Namun kematian tetap kematian.
Kenyataan yang dilihatnya tidak
membuat nyalinya lumer, apalagi lari
terbirit-birit meninggalkan pertem-
puran. Dengan dibantu dua orang
kawannya ia kembali merangsak ke
depan. Suro Blondo menyeringai seakan mengejek.
Menghadapi lawan yang sudah
banyak berkurang, malah ia semakin
berhati-hati. Selanjutnya ia
mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih
Mengecoh Harimau'. Gerakan laksana
kilat ini disusul dengan tendangan
maupun jotosan beruntun ke bagian-
bagian tubuh lawannya. Namun aneh...
kali ini setiap pukulannya dapat
dihindari oleh lawan. Ketika mereka
balas menyerang dengan mempergunakan
jurus 'Gaung Halimun' Maka serangan
balik itu juga lebih berbahaya dari
serangan dahsyat yang dilakukan oleh
Suro Blondo.
"Buuuk Buuuk"
"Setan atas" maki pemuda itu jatuh bangun
mempertahankan diri.
"Ayo kerahkan semua kepandaian
yang kau miliki pemuda tolol" teriak Dasa Reksa dan kawan-
"Ayo kerahkan semua kepandaian
yang kau miliki pemuda tolol" teriak Dasa Reksa dan kawan-
kawannya semakin
bersemangat.
"Kalian meminta aku memberi"
sahut Suro Blondo, Ia langsung meraba gagang mandau jantan di balik
pakaiannya.
"Wuuus"
Sinar hitam tiba-tiba saja
berkiblat. Salah seorang algojo yang
berada begitu dekat dengannya menjerit roboh sambil
bersemangat.
"Kalian meminta aku memberi"
sahut Suro Blondo, Ia langsung meraba gagang mandau jantan di balik
pakaiannya.
"Wuuus"
Sinar hitam tiba-tiba saja
berkiblat. Salah seorang algojo yang
berada begitu dekat dengannya menjerit roboh sambil
memegangi perutnya yang
membusai. Di tengah-tengah berkiblat-
nya sinar hitam tersebut tiba-tiba
terdengar pula suara raungan aneh.
Suara raungan kemudian berubah menjadi siulan tidak
membusai. Di tengah-tengah berkiblat-
nya sinar hitam tersebut tiba-tiba
terdengar pula suara raungan aneh.
Suara raungan kemudian berubah menjadi siulan tidak
teratur. Bahkan terus
berubah seperti suara ringkik kuda
jantan.
Suara yang tidak teratur dan
sesungguhnya keluar dari empat lubang miring yang terdapat
berubah seperti suara ringkik kuda
jantan.
Suara yang tidak teratur dan
sesungguhnya keluar dari empat lubang miring yang terdapat
di tengah
cekungan pipih di tengah-tengah mandau ini benar-benar
cekungan pipih di tengah-tengah mandau ini benar-benar
mengacaukan gerakan
silat Dasa Reksa dan salah seorang
anak buahnya.
Serangan-serangan yang mereka
lancarkan pun mulai membabi buta.
Namun sampai sejauh itu tetap saja
sangat berbahaya bagi Suro Blondo.
Bahkan satu tendangan menggeledek
berisi tenaga dalam penuh menghantam
punggung
Suro Blondo. Untuk yang
kesekian kalinya pemuda itu tersungkur roboh. Namun
silat Dasa Reksa dan salah seorang
anak buahnya.
Serangan-serangan yang mereka
lancarkan pun mulai membabi buta.
Namun sampai sejauh itu tetap saja
sangat berbahaya bagi Suro Blondo.
Bahkan satu tendangan menggeledek
berisi tenaga dalam penuh menghantam
punggung
Suro Blondo. Untuk yang
kesekian kalinya pemuda itu tersungkur roboh. Namun
senjata sakti mandau
jantan masih tergenggam erat di
tangannya. Sekilas Dasa Reksa sempat
melihat Senjata berbentuk aneh ini.
Sungguhpun
hatinya
berubah kecut.
Namun ia tetap mengayunkan cambuknya
untuk merampas mandau sakti di tangan lawan.
Ayunan cambuk mengarah pada
bagian tangan Suro Blondo sempat
dirasakan oleh si pemuda. Sehingga ia menggerakkan senjata
jantan masih tergenggam erat di
tangannya. Sekilas Dasa Reksa sempat
melihat Senjata berbentuk aneh ini.
Sungguhpun
hatinya
berubah kecut.
Namun ia tetap mengayunkan cambuknya
untuk merampas mandau sakti di tangan lawan.
Ayunan cambuk mengarah pada
bagian tangan Suro Blondo sempat
dirasakan oleh si pemuda. Sehingga ia menggerakkan senjata
ke arah datangnya
cambuk yang menderu
ke arahnya.
"Prass"
"Tees"
Cambuk
baja di tangan lawan
terbabat putus menjadi beberapa
bagian. Kesempatan itu tidak disia-
siakan oleh Suro Blondo. Seraya
melompat ke depan sambil menusukkan
senjata di tangannya ke bagian perut
Dasa Reksa.
Kepala algojo ini berkelit ke
samping kiri dengan jalan menggeser
langkahnya sebanyak dua tindak. Sera-
ngan Suro Blondo luput. Tapi senjata
itu kemudian ia belokkan
dan
menghantam tulang iga Dasa Reksa.
Bukan main cepatnya serangan
Pendekar Blo'on, sehingga lawan tidak sempat melihat
"Prass"
"Tees"
Cambuk
baja di tangan lawan
terbabat putus menjadi beberapa
bagian. Kesempatan itu tidak disia-
siakan oleh Suro Blondo. Seraya
melompat ke depan sambil menusukkan
senjata di tangannya ke bagian perut
Dasa Reksa.
Kepala algojo ini berkelit ke
samping kiri dengan jalan menggeser
langkahnya sebanyak dua tindak. Sera-
ngan Suro Blondo luput. Tapi senjata
itu kemudian ia belokkan
dan
menghantam tulang iga Dasa Reksa.
Bukan main cepatnya serangan
Pendekar Blo'on, sehingga lawan tidak sempat melihat
berkiblatnya senjata si
pemuda. Tahu-tahu
saja dadanya kena
dihantam.
"Craak Craaaak..."
"Wuaaakkk"
Suara teriakan Dasa Reksa
laksana merobek langit. Tubuhnya
terguling, setelah empat tulang rusuknya terbabat putus
dihantam.
"Craak Craaaak..."
"Wuaaakkk"
Suara teriakan Dasa Reksa
laksana merobek langit. Tubuhnya
terguling, setelah empat tulang rusuknya terbabat putus
senjata milik Suro
Blondo. Laki-laki itu berkelojotan
sebentar untuk kemudian terdiam
selama-lamanya. Mati
Suro Blondo bersiul nyaring. Ia
memperhatikan algojo yang cuma tinggal satu-satunya ini. Ia
sebentar untuk kemudian terdiam
selama-lamanya. Mati
Suro Blondo bersiul nyaring. Ia
memperhatikan algojo yang cuma tinggal satu-satunya ini. Ia
menggerakkan
tangannya, seraya memberi isyarat pada algojo yang sudah
tangannya, seraya memberi isyarat pada algojo yang sudah
lumer nyalinya ini
untuk maju menyerangnya. Namun algojo itu malah
untuk maju menyerangnya. Namun algojo itu malah
melangkah mundur bersiap-
siap langkah
seribu.
"Kau mau kabur kemana?" desis Suro Blondo. Pemuda ini
"Kau mau kabur kemana?" desis Suro Blondo. Pemuda ini
tampaknya
sengaja membiarkan algojo tersebut
melarikan diri. Namun begitu sang
algojo membalikkan badan dan ambil
langkah dua ribu. Suro Blondo memungut sebuah batu
sengaja membiarkan algojo tersebut
melarikan diri. Namun begitu sang
algojo membalikkan badan dan ambil
langkah dua ribu. Suro Blondo memungut sebuah batu
sebesar kepalan tangan.
Batu itu kemudian disambitkannya ke
bagian punggung laki-laki berkepala
botak tepat mengenai sasaran.
"Pluuuk"
"Wadooow..."
Sang algojo menjerit tertahan.
Tubuhnya terguling roboh tanpa mampu
bangkit kembali. Sungguhpun ia
berusaha mengerahkan segenap tenaga
dalam yang dimilikinya. Namun tetap
saja ia tidak mampu membebaskan diri
dari totokan.
"Ternyata kau hanya seorang
pengecut yang takut mati Tapi hukuman segera kau terima
Batu itu kemudian disambitkannya ke
bagian punggung laki-laki berkepala
botak tepat mengenai sasaran.
"Pluuuk"
"Wadooow..."
Sang algojo menjerit tertahan.
Tubuhnya terguling roboh tanpa mampu
bangkit kembali. Sungguhpun ia
berusaha mengerahkan segenap tenaga
dalam yang dimilikinya. Namun tetap
saja ia tidak mampu membebaskan diri
dari totokan.
"Ternyata kau hanya seorang
pengecut yang takut mati Tapi hukuman segera kau terima
dari para pekerja
itu begitu aku membebaskan rantai baja yang membelenggu
itu begitu aku membebaskan rantai baja yang membelenggu
tubuh mereka" kata
pemuda itu, lalu usap-usap
keningnya.
"Tunggu, tolong lepaskan aku
Aku berjanji mengabdi padamu jika kau mau menyelamatkan
"Tunggu, tolong lepaskan aku
Aku berjanji mengabdi padamu jika kau mau menyelamatkan
aku dari amarah
mereka" kata algojo itu penuh per-mohonan. Suro Blondo
mereka" kata algojo itu penuh per-mohonan. Suro Blondo
malah melangkah
pergi
sambil berkata:
"Manusia memang selalu begitu.
Jika nyawa sudah di tenggorokan baru
merengek-rengek minta ampun dan tobat.
Huh... dasar kecoa kudisan" desis Suro Blondo.
Tidak lama kemudian Pendekar
Blo'on melepaskan rantai yang
membelenggu tangan para pekerja itu.
Setelah dirinya merasa terbebas, maka para pekerja itu
"Manusia memang selalu begitu.
Jika nyawa sudah di tenggorokan baru
merengek-rengek minta ampun dan tobat.
Huh... dasar kecoa kudisan" desis Suro Blondo.
Tidak lama kemudian Pendekar
Blo'on melepaskan rantai yang
membelenggu tangan para pekerja itu.
Setelah dirinya merasa terbebas, maka para pekerja itu
beramai-ramai
meninggalkan gua
penggalian.
Saat mereka melihat salah satu
algojo masih dalam keadaan tertotok.
Dengan penuh amarah mereka mencincang tubuh algojo
Saat mereka melihat salah satu
algojo masih dalam keadaan tertotok.
Dengan penuh amarah mereka mencincang tubuh algojo
malang yang selama ini
menyiksa mereka di lingkungan kerja
paksa.
Di kejauhan lamat-lamat Suro
Blondo yang telah meninggalkan Bumi
Ayu mendengar suara jerit kesakitan
dari mulut sang algojo yang sedang
menerima hukuman rimba. Pendekar
Blo'on bergidik seram, lalu golang-
golengkan kepalanya berulang-ulang.
7
menyiksa mereka di lingkungan kerja
paksa.
Di kejauhan lamat-lamat Suro
Blondo yang telah meninggalkan Bumi
Ayu mendengar suara jerit kesakitan
dari mulut sang algojo yang sedang
menerima hukuman rimba. Pendekar
Blo'on bergidik seram, lalu golang-
golengkan kepalanya berulang-ulang.
7
Sekujur tubuh kedua
pemuda itu
telah babak belur. Kulitnya terbeset-
beset. Bagian wajahnya terkelupas,
darah menetes-netes bercampur debu
jalanan. Keadaan mereka benar-benar
berada antara sadar dan tiada. Kuda
terus berlari kencang. Penunggangnya
gadis berbaju ungu terus menggebraknya bagai kesetanan.
telah babak belur. Kulitnya terbeset-
beset. Bagian wajahnya terkelupas,
darah menetes-netes bercampur debu
jalanan. Keadaan mereka benar-benar
berada antara sadar dan tiada. Kuda
terus berlari kencang. Penunggangnya
gadis berbaju ungu terus menggebraknya bagai kesetanan.
Setelah memasuki kota
Malaya, gadis ini
memperlambat
kecepatan kudanya. Bagi Mustika Jajar tidak sulit
kecepatan kudanya. Bagi Mustika Jajar tidak sulit
menemukan tempat kediaman
saudagar Bergola Mungkur yang kaya
raya itu. Ia memiliki rumah yang
paling besar dan yang paling mewah di tengah-tengah kota
raya itu. Ia memiliki rumah yang
paling besar dan yang paling mewah di tengah-tengah kota
tersebut.
Mustika Jajar memasuki alun-
alun, lalu berbelok ke arah halaman
yang cukup luas. Para begundal
saudagar Bergola Mungkur langsung
mengurungnya begitu melihat kehadiran gadis berbaju ungu
Mustika Jajar memasuki alun-
alun, lalu berbelok ke arah halaman
yang cukup luas. Para begundal
saudagar Bergola Mungkur langsung
mengurungnya begitu melihat kehadiran gadis berbaju ungu
ini. Sebaliknya
Mustika Jajar dengan angkuh membentak.
"Menyingkir kalian Aku datang
kemari untuk menyerahkan dua perusuh
pada majikanmu"
Serentak mereka memandang pada
dua tawanan yang pada bagian tangan
dan kakinya terikat kuat. Sementara
wajah mereka sudah tidak dapat
dikenali karena luka-lukanya yang
cukup parah.
"Siapakah mereka?" tanya kepala pengawal merasa curiga.
"Jangan banyak tanya Panggil
majikanmu, hanya padanya aku dapat
menjelaskan siapa tawanan ini." dengus Mustika Jajar sengit.
"Tidak bisa" kata pengawal itu kurang senang.
"Kalau begitu kau memang pantas
mati" Mustika Jajar menggeram. Ia angkat tangannya tinggi-
Mustika Jajar dengan angkuh membentak.
"Menyingkir kalian Aku datang
kemari untuk menyerahkan dua perusuh
pada majikanmu"
Serentak mereka memandang pada
dua tawanan yang pada bagian tangan
dan kakinya terikat kuat. Sementara
wajah mereka sudah tidak dapat
dikenali karena luka-lukanya yang
cukup parah.
"Siapakah mereka?" tanya kepala pengawal merasa curiga.
"Jangan banyak tanya Panggil
majikanmu, hanya padanya aku dapat
menjelaskan siapa tawanan ini." dengus Mustika Jajar sengit.
"Tidak bisa" kata pengawal itu kurang senang.
"Kalau begitu kau memang pantas
mati" Mustika Jajar menggeram. Ia angkat tangannya tinggi-
tinggi. Pada
saat itulah ia mendengar suara serak
seseorang.
"Tahan..."
Gadis baju ungu menurunkan
tangannya, ia menoleh ke arah suara
itu. Kini ia melihat seorang laki-laki berpakaian mewah
saat itulah ia mendengar suara serak
seseorang.
"Tahan..."
Gadis baju ungu menurunkan
tangannya, ia menoleh ke arah suara
itu. Kini ia melihat seorang laki-laki berpakaian mewah
datang menghampiri.
Laki-laki itu berumur kurang lebih
lima puluh tahun. Kumisnya tebal
terpelihara rapi. Sekali lihat saja si gadis sudah dapat melihat
Laki-laki itu berumur kurang lebih
lima puluh tahun. Kumisnya tebal
terpelihara rapi. Sekali lihat saja si gadis sudah dapat melihat
inilah
orangnya saudagar yang ingin
ditemuinya itu. Serta merta Mustika
Jajar mengangguk penuh rasa hormat.
Kemudian, senyum genitnya pun
mengembang.
"Kalau tidak salah aku sedang
berhadapan dengan saudagar Bergola
Mungkur yang kaya raya."
Laki-laki berbaju hijau bersulam
benang emas ini menganggukkan kepala.
Tenggorokannya turun naik setelah
melihat kecantikan gadis yang duduk di atas punggung kuda
orangnya saudagar yang ingin
ditemuinya itu. Serta merta Mustika
Jajar mengangguk penuh rasa hormat.
Kemudian, senyum genitnya pun
mengembang.
"Kalau tidak salah aku sedang
berhadapan dengan saudagar Bergola
Mungkur yang kaya raya."
Laki-laki berbaju hijau bersulam
benang emas ini menganggukkan kepala.
Tenggorokannya turun naik setelah
melihat kecantikan gadis yang duduk di atas punggung kuda
tersebut.
"Dugaanmu memang benar" sahut saudagar. "Ada gerangan
"Dugaanmu memang benar" sahut saudagar. "Ada gerangan
apakah kau
menemuiku?"
tanya tuan rumah. Matanya yang jalang
merayapi sekujur tubuh si
gadis yang terbalut
pakaian serba ungu yang ketat dan
tembus pandang.
Sebaliknya Mustika Jajar malah
menggerak-gerakkan tubuhnya, hingga
membuat gelora birahi si saudagar
terbangkitkan.
"Aku sengaja mencarimu untuk
menyerahkan dua ekor kunyuk yang
hendak menghancurkan ladang emasmu di Bumi Ayu.
Sebaliknya Mustika Jajar malah
menggerak-gerakkan tubuhnya, hingga
membuat gelora birahi si saudagar
terbangkitkan.
"Aku sengaja mencarimu untuk
menyerahkan dua ekor kunyuk yang
hendak menghancurkan ladang emasmu di Bumi Ayu.
Kuharap kau suka memberi
upah lelah atas jerih payah ini" kata gadis itu sambil
upah lelah atas jerih payah ini" kata gadis itu sambil
mengedipkan
matanya.
Sementara belasan pengawal yang
sempat mengurung gadis berbaju ungu,
kini telah membubarkan diri dan
kembali berjaga-jaga di tempatnya
masing-masing.
Bergola Mungkur telan ludah
basahi bibir. Sungguhpun ia telah
mempunyai tiga orang istri dan anak
yang sudah dewasa. Namun sebagai laki-laki mata keranjang.
Sementara belasan pengawal yang
sempat mengurung gadis berbaju ungu,
kini telah membubarkan diri dan
kembali berjaga-jaga di tempatnya
masing-masing.
Bergola Mungkur telan ludah
basahi bibir. Sungguhpun ia telah
mempunyai tiga orang istri dan anak
yang sudah dewasa. Namun sebagai laki-laki mata keranjang.
Tentu saja ia
tidak menyia-nyiakan kesempatan
melihat gadis secantik Mustika Jajar.
Apalagi tampaknya gadis berpakaian
tipis itu memang memberi angin kepadanya.
"Mengenai hadiah kau tidak usah
khawatir Kau meminta pasti aku akan
memberikannya padamu dalam jumlah yang tidak kau duga.
tidak menyia-nyiakan kesempatan
melihat gadis secantik Mustika Jajar.
Apalagi tampaknya gadis berpakaian
tipis itu memang memberi angin kepadanya.
"Mengenai hadiah kau tidak usah
khawatir Kau meminta pasti aku akan
memberikannya padamu dalam jumlah yang tidak kau duga.
Tapi aku mau tahu
siapa dua pemuda yang kau seret itu?"
"Hik hik hik... Mereka
menamakan dirinya sebagai Pendekar
dari Kuningan. Beberapa hari yang lalu algojomu menculik
siapa dua pemuda yang kau seret itu?"
"Hik hik hik... Mereka
menamakan dirinya sebagai Pendekar
dari Kuningan. Beberapa hari yang lalu algojomu menculik
pemuda-pemuda daerah
itu. Itu sebabnya
mereka sengaja
datang ke Bumi Ayu untuk mengambil
kembali pemuda-pemuda yang diculik
oleh anak buahmu."
"Puah... kepandaian hanya seu-
jung kuku. Mereka benar-benar mencari penyakit bila
datang ke Bumi Ayu untuk mengambil
kembali pemuda-pemuda yang diculik
oleh anak buahmu."
"Puah... kepandaian hanya seu-
jung kuku. Mereka benar-benar mencari penyakit bila
bermaksud merusak
pencarian orang lain. Jika kau memang berada di pihakku.
pencarian orang lain. Jika kau memang berada di pihakku.
Kuharap sekarang
juga kau mau membunuhnya"
Sebagai Iblis Betina Dari
Neraka, tentu saja Mustika Jajar
dengan senang melakukan tugas yang
diberikan oleh saudagar Bergola
Mungkur.
"Jika aku telah membawanya
kemari. Membunuh manusia-manusia
seperti kecoa ini bukan merupakan
pekerjaan yang sulit" Mustika Jajar kemudian melompat dari
juga kau mau membunuhnya"
Sebagai Iblis Betina Dari
Neraka, tentu saja Mustika Jajar
dengan senang melakukan tugas yang
diberikan oleh saudagar Bergola
Mungkur.
"Jika aku telah membawanya
kemari. Membunuh manusia-manusia
seperti kecoa ini bukan merupakan
pekerjaan yang sulit" Mustika Jajar kemudian melompat dari
atas punggung
kudanya. Setelah itu ia mendekati
Sapala dan Panji. Dengan mengandalkan tiga perempat dari
kudanya. Setelah itu ia mendekati
Sapala dan Panji. Dengan mengandalkan tiga perempat dari
seluruh tenaga
dalam yang dimilikinya tangan
Mustika Jajar tiba-tiba menghantam dua kali.
"Praak"
"Praak"
Darah bercampur otak muncrat
dari bagian kepala Panji dan Sapala
yang terkena hantaman tangan si gadis.
Tewaslah keduanya seketika tanpa
sempat menyadari apa yang terjadi pada dirinya.
Mustika Jajar bangkit berdiri.
Seraya membalikkan tubuhnya dan
menghadap langsung pada Bergola
Mungkur. "Bagaimana apakah kau puas?"
"Ha ha ha... Tentu saja aku
merasa senang. Kau memang pantas
menjadi salah seorang tangan kananku
menggantikan dua orang lainnya yang
telah mati"
"Bukan saja hanya menjadi tangan kanan, aku dapat
dalam yang dimilikinya tangan
Mustika Jajar tiba-tiba menghantam dua kali.
"Praak"
"Praak"
Darah bercampur otak muncrat
dari bagian kepala Panji dan Sapala
yang terkena hantaman tangan si gadis.
Tewaslah keduanya seketika tanpa
sempat menyadari apa yang terjadi pada dirinya.
Mustika Jajar bangkit berdiri.
Seraya membalikkan tubuhnya dan
menghadap langsung pada Bergola
Mungkur. "Bagaimana apakah kau puas?"
"Ha ha ha... Tentu saja aku
merasa senang. Kau memang pantas
menjadi salah seorang tangan kananku
menggantikan dua orang lainnya yang
telah mati"
"Bukan saja hanya menjadi tangan kanan, aku dapat
memberimu kebahagiaan
yang tidak pernah diberikan
oleh orang lain"
Bergola Mungkur telan ludah.
Matanya belingsatan memandangi Mustika Jajar seakan
oleh orang lain"
Bergola Mungkur telan ludah.
Matanya belingsatan memandangi Mustika Jajar seakan
tidak pernah mengenal
rasa bosan.
"Mari... kita rayakan kemenangan dan pertemuan yang tidak
rasa bosan.
"Mari... kita rayakan kemenangan dan pertemuan yang tidak
disangka-sangka
ini..." kata laki-laki
berkumis tebal tersebut sambil ter-
senyum-senyum.
Iblis Betina Dari Neraka
memasuki sebuah ruangan yang cukup
luas. Di dalam ruangan itu telah
terhidang berbagai jenis makanan yang lezat-lezat. Di
berkumis tebal tersebut sambil ter-
senyum-senyum.
Iblis Betina Dari Neraka
memasuki sebuah ruangan yang cukup
luas. Di dalam ruangan itu telah
terhidang berbagai jenis makanan yang lezat-lezat. Di
samping itu tersedia pula
beberapa guci arak yang harum
baunya.
"Hmm, rumah ini sangat mewah
sekali" kata gadis itu sambil
menuangkan kendi arak pada sebuah
cawan yang cukup cantik.
"Kalau kau suka, eeh... siapa
namamu...?"
"Panggil saja Mustika." kata gadis itu, lalu meneguk araknya.
"Ah... namamu secantik dan
seindah orangnya," Bergola Mungkur memuji.
"Kalau kau merasa namaku cocok.
Mudah-mudahan saja kita selalu cocok
dalam banyak hal," Mustika Jajar mengedipkan matanya
baunya.
"Hmm, rumah ini sangat mewah
sekali" kata gadis itu sambil
menuangkan kendi arak pada sebuah
cawan yang cukup cantik.
"Kalau kau suka, eeh... siapa
namamu...?"
"Panggil saja Mustika." kata gadis itu, lalu meneguk araknya.
"Ah... namamu secantik dan
seindah orangnya," Bergola Mungkur memuji.
"Kalau kau merasa namaku cocok.
Mudah-mudahan saja kita selalu cocok
dalam banyak hal," Mustika Jajar mengedipkan matanya
. Sehingga membuat
jantung si saudagar
berdetak keras dan klepek-klepek. Seraya
kemudian
berpindah tempat duduk. Begitu dekat
dengan si gadis, ia langsung dapat
merasakan bau harum tubuh Mustika
Jajar.
Mustika Jajar meneguk araknya
kembali. Wajahnya yang cantik mulai
berubah kemerah-merahan. Tatapan
matanya juga berubah sayu. Tidak lama kemudian tanpa
berpindah tempat duduk. Begitu dekat
dengan si gadis, ia langsung dapat
merasakan bau harum tubuh Mustika
Jajar.
Mustika Jajar meneguk araknya
kembali. Wajahnya yang cantik mulai
berubah kemerah-merahan. Tatapan
matanya juga berubah sayu. Tidak lama kemudian tanpa
mengenal malu, gadis
berbaju ungu ini menyandarkan
kepalanya di bahu sang saudagar. Laki-laki itu tentu saja
berbaju ungu ini menyandarkan
kepalanya di bahu sang saudagar. Laki-laki itu tentu saja
tidak menampik, ia
seperti mendapat durian runtuh.
Tangannya dengan berani bahkan mulai
menggerayangi dada si gadis.
"Untuk sentuhan-sentuhan yang
kau berikan, kau harus membayarnya
dengan sekantung emas" desah gadis tersebut seperti orang
seperti mendapat durian runtuh.
Tangannya dengan berani bahkan mulai
menggerayangi dada si gadis.
"Untuk sentuhan-sentuhan yang
kau berikan, kau harus membayarnya
dengan sekantung emas" desah gadis tersebut seperti orang
mengigau.
"Eeee... jangan khawatir. Aku
bahkan akan memberimu lima kantung
emas bila kau mau memenuhi permintaan-ku..." ucap
"Eeee... jangan khawatir. Aku
bahkan akan memberimu lima kantung
emas bila kau mau memenuhi permintaan-ku..." ucap
Bergola Mungkur dengan
suara bergetar.
Mata Mustika Jajar yang sete-
ngah terpejam itu terbuka lebar. Namun ia masih belum juga
Mata Mustika Jajar yang sete-
ngah terpejam itu terbuka lebar. Namun ia masih belum juga
menarik kepalanya
dari bahu sang
saudagar.
"Apakah syaratmu? Apakah kau bermaksud mengajakku
"Apakah syaratmu? Apakah kau bermaksud mengajakku
bersenang-se-
nang?" tanya Iblis Betina Dari Neraka tersenyum sinis.
nang?" tanya Iblis Betina Dari Neraka tersenyum sinis.
Baginya lima
kantung emas bukan jumlah yang sedikit.
Namun untuk memberikan kesuciannya
pada laki-laki tua semacam saudagar
Bergola Mungkur, tentu saja ia harus
berpikir seribu kali. Kalau sekedar
pegang-pegang saja tidak apalah.
Batinnya.
"Bagiku bersenang-senang jika
kau mau, jika tidak mau tak akan
kumemaksa." ujar laki-laki di
sampingnya. Rupanya saudagar Bergola
sadar, bahwa gadis ini tidak dapat
dibuat main-main. Terlebih-lebih
setelah melihat kehebatannya di
halaman tadi. Namun jika ia dapat
memanfaatkan tenaganya. Tentu kedudu-
kannya sebagai orang kaya tidak akan
terusik oleh orang lain.
"Lalu apa permintanmu yang
lain?" tanya si gadis.
Ia tetap membiarkan dadanya
digerayangi oleh lawan bicaranya.
Hanya sesekali saja rintihannya
terdengar. Terlebih-lebih bila remasan tangan Bergola
Namun untuk memberikan kesuciannya
pada laki-laki tua semacam saudagar
Bergola Mungkur, tentu saja ia harus
berpikir seribu kali. Kalau sekedar
pegang-pegang saja tidak apalah.
Batinnya.
"Bagiku bersenang-senang jika
kau mau, jika tidak mau tak akan
kumemaksa." ujar laki-laki di
sampingnya. Rupanya saudagar Bergola
sadar, bahwa gadis ini tidak dapat
dibuat main-main. Terlebih-lebih
setelah melihat kehebatannya di
halaman tadi. Namun jika ia dapat
memanfaatkan tenaganya. Tentu kedudu-
kannya sebagai orang kaya tidak akan
terusik oleh orang lain.
"Lalu apa permintanmu yang
lain?" tanya si gadis.
Ia tetap membiarkan dadanya
digerayangi oleh lawan bicaranya.
Hanya sesekali saja rintihannya
terdengar. Terlebih-lebih bila remasan tangan Bergola
Mungkur terasa lebih
keras. Karena saudagar itu tidak
kunjung menjawab. Akhirnya ia
menyentakkan tangan si laki-laki dari dadanya yang setengah
keras. Karena saudagar itu tidak
kunjung menjawab. Akhirnya ia
menyentakkan tangan si laki-laki dari dadanya yang setengah
terbuka.
"Katakan apa permintaanmu, agar aku bisa mendapatkan
"Katakan apa permintaanmu, agar aku bisa mendapatkan
lima kantung emas
darimu?" desah
Iblis Betina Dari Neraka serius.
Sebelum menjawab, Bergola Mung-
kur meneguk araknya.
"Jika kau dapat mengambil patung marmar yang indah dari
Sebelum menjawab, Bergola Mung-
kur meneguk araknya.
"Jika kau dapat mengambil patung marmar yang indah dari
tangan Pematung
Kelana dan
menyerahkannya padaku. Lima kantung emas
siap menunggu sebagai
imbalan..." kata sang saudagar.
Kemudian dengan singkat ia
menceritakan apa yang pernah terjadi
pada dirinya dan nasib tragis yang
menimpa anak buahnya. Dengan seksama, Iblis Betina Dari
imbalan..." kata sang saudagar.
Kemudian dengan singkat ia
menceritakan apa yang pernah terjadi
pada dirinya dan nasib tragis yang
menimpa anak buahnya. Dengan seksama, Iblis Betina Dari
Neraka ini
mendengarkannya.
"Dua kantung emas bukan sedikit
Adalah sangat sombong jika Pematung
Kelana menolak tawaranmu, bahkan malah meminta nyawa
mendengarkannya.
"Dua kantung emas bukan sedikit
Adalah sangat sombong jika Pematung
Kelana menolak tawaranmu, bahkan malah meminta nyawa
dua tangan kananmu"
timpal si gadis setelah selesai
mendengar penjelasan sang saudagar.
"Memang Pematung Kelana manusia
congkak Bukan itu saja, ia malah
menghinaku. Jika kau berhasil merampas patung marmar
timpal si gadis setelah selesai
mendengar penjelasan sang saudagar.
"Memang Pematung Kelana manusia
congkak Bukan itu saja, ia malah
menghinaku. Jika kau berhasil merampas patung marmar
berikut nyawa pematung
tua itu. Maka aku akan menambah satu
kantung emas lagi"
"Hik hik hik... Kuterima
tawaranmu. Aku ingin berangkat
secepatnya" Mustika Jajar bangkit berdiri. Tapi Bergola
tua itu. Maka aku akan menambah satu
kantung emas lagi"
"Hik hik hik... Kuterima
tawaranmu. Aku ingin berangkat
secepatnya" Mustika Jajar bangkit berdiri. Tapi Bergola
Mungkur cepat
mencegah.
"Tunggu Sebaiknya kau menginap
dulu di sini barang semalam, kau habis menempuh
mencegah.
"Tunggu Sebaiknya kau menginap
dulu di sini barang semalam, kau habis menempuh
perjalanan yang sangat jauh.
Tentu kau sangat lelah."
"Tidak usah khawatir. Aku tahu
keinginanmu, mungkin di suatu saat aku dapat
Tentu kau sangat lelah."
"Tidak usah khawatir. Aku tahu
keinginanmu, mungkin di suatu saat aku dapat
memperlihatkan keindahan tubuhku
di depanmu. Tapi
kau tidak mungkin
dapat memilikinya di luar batas
memegang dan menyentuh. Terkecuali aku dengan suka rela
dapat memilikinya di luar batas
memegang dan menyentuh. Terkecuali aku dengan suka rela
mau melakukannya"
kata si gadis sambil tersenyum genit.
Wajah Bergola berubah memerah.
Tapi hanya sebentar saja, dilain saat ia telah berubah seperti
kata si gadis sambil tersenyum genit.
Wajah Bergola berubah memerah.
Tapi hanya sebentar saja, dilain saat ia telah berubah seperti
biasa
kembali.
"Baiklah kalau itu maumu Hadiah emas untukmu telah
kembali.
"Baiklah kalau itu maumu Hadiah emas untukmu telah
menunggu di sini,
jika telah berhasil memboyong patung
mar-mar itu ke sini" Bergola Mungkur mengingatkan.
Iblis Betina tersenyum. Seraya
melambaikan tangan lalu menghilang
dari pandangan sang saudagar.
Di halaman depan Bergola Mungkur
masih sempat mendengar suara langkah
kuda bergerak menjauhi rumahnya yang
megah.
"Andai saja aku dapat memiliki
tubuhnya" Sang saudagar berangan-angan. "Tentu bukan
jika telah berhasil memboyong patung
mar-mar itu ke sini" Bergola Mungkur mengingatkan.
Iblis Betina tersenyum. Seraya
melambaikan tangan lalu menghilang
dari pandangan sang saudagar.
Di halaman depan Bergola Mungkur
masih sempat mendengar suara langkah
kuda bergerak menjauhi rumahnya yang
megah.
"Andai saja aku dapat memiliki
tubuhnya" Sang saudagar berangan-angan. "Tentu bukan
perlindungan
saja yang
kudapat dari gadis
itu. Tapi juga kehangatan dari gadis yang
masih muda-muda"
Bergola Mungkur
menelan ludah.
Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa
pahit.
8
Laki-laki tua bertelanjang dada
dan berambut putih ini berjalan
mondar-mandir mengelilingi patung yang baru selesai
Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa
pahit.
8
Laki-laki tua bertelanjang dada
dan berambut putih ini berjalan
mondar-mandir mengelilingi patung yang baru selesai
diwarnainya. Memang patut
diakui, setelah patung itu
diwarnai,
hasilnya semakin bertambah sempurna.
Inilah satu-satunya patung yang paling bagus di antara
hasilnya semakin bertambah sempurna.
Inilah satu-satunya patung yang paling bagus di antara
sekian banyak patung
yang pernah dibuatnya. Memandangi
wajah patung lebih lama, tiba-tiba
saja wajah Pematung Kelana berubah
muram.
"Tidak kusangka kau pergi
secepat itu, anakku Kini aku hanya
sendiri. Hidup bersama bayang-bayang
mimpi yang tidak bertepi. Mimpi buruk selalu datang dan
yang pernah dibuatnya. Memandangi
wajah patung lebih lama, tiba-tiba
saja wajah Pematung Kelana berubah
muram.
"Tidak kusangka kau pergi
secepat itu, anakku Kini aku hanya
sendiri. Hidup bersama bayang-bayang
mimpi yang tidak bertepi. Mimpi buruk selalu datang dan
pergi. Hal ini
sangat menyiksaku, menyiksa sangat
dalam." Tanpa disadarinya air mata Pematung Kelana
sangat menyiksaku, menyiksa sangat
dalam." Tanpa disadarinya air mata Pematung Kelana
menetes. Suaranya
kemudian berubah serak. "Jika aku pergi, satu rahasia yang
kemudian berubah serak. "Jika aku pergi, satu rahasia yang
sangat besar
terkandung
dalam dirimu. Aku
selalu
berdoa sepanjang siang dan malam. Jika aku tidak dapat
berdoa sepanjang siang dan malam. Jika aku tidak dapat
menemanimu lebih lama,
semoga ada orang
baik berhati jujur
dapat menyingkap tabir misteri yang
sengaja kupendam dalam dirimu..."
desis si kakek tua sambil
menengadahkan wajahnya ke langit.
Sedang Pematung Kelana bicara
seorang diri seperti itu, sayup-sayup di kejauhan terdengar
dapat menyingkap tabir misteri yang
sengaja kupendam dalam dirimu..."
desis si kakek tua sambil
menengadahkan wajahnya ke langit.
Sedang Pematung Kelana bicara
seorang diri seperti itu, sayup-sayup di kejauhan terdengar
suara langkah
kuda. Semakin lama suara derap kaki
kuda semakin bertambah cepat dan
bertambah jelas.
"Inilah pertanda yang paling
tidak baik dalam hidupku" membatin si kakek tua dalam hati.
Benar saja, tidak lama kemudian
seekor kuda tunggangan berhenti tepat di depan Pematung
kuda. Semakin lama suara derap kaki
kuda semakin bertambah cepat dan
bertambah jelas.
"Inilah pertanda yang paling
tidak baik dalam hidupku" membatin si kakek tua dalam hati.
Benar saja, tidak lama kemudian
seekor kuda tunggangan berhenti tepat di depan Pematung
Kelana. Duduk di
atasnya seorang gadis berbaju ungu
tembus pandang. Gadis ini terbelalak
kaget begitu melihat betapa indahnya
patung dan keperkasaan pada bagian
bawah perutnya. Mustika Jajar sempat
bergetar tubuhnya. Darahnya berdesir,
jantungnya berdetak lebih kencang.
Terus terang ia mengakui bahwa patung itu bentuknya
atasnya seorang gadis berbaju ungu
tembus pandang. Gadis ini terbelalak
kaget begitu melihat betapa indahnya
patung dan keperkasaan pada bagian
bawah perutnya. Mustika Jajar sempat
bergetar tubuhnya. Darahnya berdesir,
jantungnya berdetak lebih kencang.
Terus terang ia mengakui bahwa patung itu bentuknya
sangat sempurna dari
pribadi seorang laki-laki jantan yang perkasa. Apalagi setelah
pribadi seorang laki-laki jantan yang perkasa. Apalagi setelah
melihat
tampangnya yang gagah dan ganteng.
Jika semula ia berniat menukar patung itu dengan enam
tampangnya yang gagah dan ganteng.
Jika semula ia berniat menukar patung itu dengan enam
kantung emas murni.
Maka kini setelah melihat patung itu
ia malah berubah ingin memiliki patung itu untuk selama-
Maka kini setelah melihat patung itu
ia malah berubah ingin memiliki patung itu untuk selama-
lamanya.
"Pak Tua. Benarkah anda yang
berjuluk Pematung Kelana?" tanya Mustika Jajar berusaha
"Pak Tua. Benarkah anda yang
berjuluk Pematung Kelana?" tanya Mustika Jajar berusaha
ramah meskipun
suaranya sempat
bergetar menahan
keinginan yang meledak-ledak setelah
melihat keperkasaan patung tersebut.
"Bertanya membawa satu maksud
jahat atau baik?" tanya Pematung Kelana acuh tak acuh.
"Hhh... orang ini benar-benar
sombong sebagaimana yang dikatakan
oleh saudagar mata keranjang itu"
batin Iblis Betina Dari Neraka.
"Maksudku tergantung bagaimana
penyambutanmu, Pematung Kelana? Hik
hik hik..." Mustika Jajar terkikik.
Ia mengerling genit pada si kakek.
"Hmmm, setiap orang memang punya maksud-maksud
keinginan yang meledak-ledak setelah
melihat keperkasaan patung tersebut.
"Bertanya membawa satu maksud
jahat atau baik?" tanya Pematung Kelana acuh tak acuh.
"Hhh... orang ini benar-benar
sombong sebagaimana yang dikatakan
oleh saudagar mata keranjang itu"
batin Iblis Betina Dari Neraka.
"Maksudku tergantung bagaimana
penyambutanmu, Pematung Kelana? Hik
hik hik..." Mustika Jajar terkikik.
Ia mengerling genit pada si kakek.
"Hmmm, setiap orang memang punya maksud-maksud
tertentu datang kemari.
Melihat penampilanmu hatiku mengatakan kau membawa
Melihat penampilanmu hatiku mengatakan kau membawa
maksud yang bukan saja
buruk tapi juga
keji Pergilah Aku
tidak punya waktu untuk melayanimu."
"Bagaimana kalau kau tukar
patung itu denganku?"
"Maksudmu?"
"Patung bagus itu kau berikan
padaku. Sebagai balas jasa aku
menyerahkan diriku padamu untuk bebe-
rapa waktu" Mustika Jajar tersenyum genit. Ia bahkan
tidak punya waktu untuk melayanimu."
"Bagaimana kalau kau tukar
patung itu denganku?"
"Maksudmu?"
"Patung bagus itu kau berikan
padaku. Sebagai balas jasa aku
menyerahkan diriku padamu untuk bebe-
rapa waktu" Mustika Jajar tersenyum genit. Ia bahkan
sengaja menggaruk
dadanya, sehingga salah satu kancing
bajunya terbuka dan memperlihatkan
buah dadanya yang membusung padat,
putih berkilat-kilat.
Pematung Kelana cepat-cepat
memalingkan wajahnya ke arah lain.
Gelora amarahnya terbangkitkan.
"Perempuan rendah Aku adalah
manusia renta yang tidak dapat kau
perdaya. Sungguhpun kau telanjang di
depanku, harga patung ini lebih mahal dari kemolekan
dadanya, sehingga salah satu kancing
bajunya terbuka dan memperlihatkan
buah dadanya yang membusung padat,
putih berkilat-kilat.
Pematung Kelana cepat-cepat
memalingkan wajahnya ke arah lain.
Gelora amarahnya terbangkitkan.
"Perempuan rendah Aku adalah
manusia renta yang tidak dapat kau
perdaya. Sungguhpun kau telanjang di
depanku, harga patung ini lebih mahal dari kemolekan
tubuhmu"
"Ah... terlanjur aku datang.
Terus terang aku mau meminta patung
itu" Mustika Jajar tanpa malu-malu berterus terang.
"Hhh... patung ini kubuat bukan
untuk kujual atau kuberikan pada orang lain. Dia adalah
"Ah... terlanjur aku datang.
Terus terang aku mau meminta patung
itu" Mustika Jajar tanpa malu-malu berterus terang.
"Hhh... patung ini kubuat bukan
untuk kujual atau kuberikan pada orang lain. Dia adalah
tiruan sosok anakku.
Karena dia anakku, maka aku akan
mempertahankannya walaupun nyawa
sebagai taruhannya"
Mata Iblis Betina Dari Neraka
terbelalak lebar. Jika patungnya saja sedemikian perkasa dan
Karena dia anakku, maka aku akan
mempertahankannya walaupun nyawa
sebagai taruhannya"
Mata Iblis Betina Dari Neraka
terbelalak lebar. Jika patungnya saja sedemikian perkasa dan
jantan apalagi
orang
yang sesungguhnya.
"Di mana anakmu itu, orang tua?"
tanya gadis berbaju ungu.
"Dia sudah tiada"
"Ah... sayang betul Kalau
begitu sekarang kau harus menyerahkan patung ukiranmu
"Di mana anakmu itu, orang tua?"
tanya gadis berbaju ungu.
"Dia sudah tiada"
"Ah... sayang betul Kalau
begitu sekarang kau harus menyerahkan patung ukiranmu
itu padaku" tegas si
gadis
sambil berkacak
pinggang.
"Sudah kubilang aku tidak akan
memberikannya pada siapapun. Apakah
kau tidak mendengar kata-kataku"
dengus Pematung Kelana dengan perasaan muak.
"Rupanya aku harus merampas
nyawamu baru kau mau menyerahkan
patung itu kepadaku"
"Demi keselamatan patung ini
dari manusia sepertimu, aku rela
berkorban apa saja" dengus Pematung Kelana merasa
"Sudah kubilang aku tidak akan
memberikannya pada siapapun. Apakah
kau tidak mendengar kata-kataku"
dengus Pematung Kelana dengan perasaan muak.
"Rupanya aku harus merampas
nyawamu baru kau mau menyerahkan
patung itu kepadaku"
"Demi keselamatan patung ini
dari manusia sepertimu, aku rela
berkorban apa saja" dengus Pematung Kelana merasa
tersinggung.
"Banyak mulut Hiyaaa..."
Secara licik Mustika Jajar menghantam punggung si kakek
"Banyak mulut Hiyaaa..."
Secara licik Mustika Jajar menghantam punggung si kakek
dengan pengerahan
tenaga dalam penuh. Namun Pematung
Kelana begitu merasakan sambaran angin pukulan langsung
tenaga dalam penuh. Namun Pematung
Kelana begitu merasakan sambaran angin pukulan langsung
melompat ke samping
kiri. Lalu kibaskan tangan kirinya.
"Duuuk"
"Uuuuh…" Mustika Jajar tersentak. Tangannya terasa seperti
kiri. Lalu kibaskan tangan kirinya.
"Duuuk"
"Uuuuh…" Mustika Jajar tersentak. Tangannya terasa seperti
menghantam
dinding
karang. Tangan itu
berwarna merah dan nyeri pada bagian
jemarinya. Ia terhuyung-huyung sejauh tiga tindak.
berwarna merah dan nyeri pada bagian
jemarinya. Ia terhuyung-huyung sejauh tiga tindak.
Sebaliknya Pematung
Kelana juga terkejut. Tangan kirinya
seperti ditusuk-tusuk ribuan batang
jarum. Lebih celaka lagi tangan itu
berubah dingin. Sebagai orang yang
telah berpengalaman dan malang
melintang di sepanjang pesisir pulau
Jawa. Ia sadar betul bahwa lawannya
memiliki tenaga dalam yang mengandung racun keji. Cuma
Kelana juga terkejut. Tangan kirinya
seperti ditusuk-tusuk ribuan batang
jarum. Lebih celaka lagi tangan itu
berubah dingin. Sebagai orang yang
telah berpengalaman dan malang
melintang di sepanjang pesisir pulau
Jawa. Ia sadar betul bahwa lawannya
memiliki tenaga dalam yang mengandung racun keji. Cuma
yang membuatnya
terheran-heran adalah mengenai tenaga dalam yang dimiliki
terheran-heran adalah mengenai tenaga dalam yang dimiliki
Meski masih berusia muda, tapi tenaga dalamnya sudah
mencapai tingkat
sempurna.
"Sebentar lagi kakek tua Seben-
tar lagi Iblis Betina Dari Neraka akan mengirimmu ke
sempurna.
"Sebentar lagi kakek tua Seben-
tar lagi Iblis Betina Dari Neraka akan mengirimmu ke
Neraka" dengus
Mustika Jajar.
Seraya kemudian mementang kedua
tangannya
lebar-lebar.
Selanjutnya
kedua tangan itu dilintangkannya ke
depan dada.
Tangan
itu
kemudian
berubah menghitam. Dengan satu gerakan yang sangat
Seraya kemudian mementang kedua
tangannya
lebar-lebar.
Selanjutnya
kedua tangan itu dilintangkannya ke
depan dada.
Tangan
itu
kemudian
berubah menghitam. Dengan satu gerakan yang sangat
menantang, ia membuka
jurus 'Prahara Bumi', yaitu salah satu jurus iblis langka yang pernah
dipelajarinya dari 'Tua Tengkorak Mata Api'
Dengan mempergunakan jurus yang
sangat berbahaya dan penuh tipu-tipu
ini, Mustika Jajar menyerang lawannya.
Setiap serangan yang dilakukannya
menimbulkan angin bersiuran. Pematung Kelana merasakan
jurus 'Prahara Bumi', yaitu salah satu jurus iblis langka yang pernah
dipelajarinya dari 'Tua Tengkorak Mata Api'
Dengan mempergunakan jurus yang
sangat berbahaya dan penuh tipu-tipu
ini, Mustika Jajar menyerang lawannya.
Setiap serangan yang dilakukannya
menimbulkan angin bersiuran. Pematung Kelana merasakan
pernafasannya menjadi
sesak. Namun sebagai tokoh
angkatan
tua yang sangat berpengalaman. Ia
langsung mengetahui siapa pemilik
jurus sesat yang sangat berbahaya itu.
"Ada hubungan apa kau dengan Tua Tengkorak Mata Api"
tua yang sangat berpengalaman. Ia
langsung mengetahui siapa pemilik
jurus sesat yang sangat berbahaya itu.
"Ada hubungan apa kau dengan Tua Tengkorak Mata Api"
hardik Pematung
Kelana
sambil menghindari
tendangan
kilat yang dilancarkan oleh lawannya.
"Kau tidak layak bertanya"
dengus Mustika Jajar. Diam-diam
hatinya terkejut juga setelah menge-
tahui ternyata lawannya kenal siapa
gurunya.
"Huup Heaaa... Jika kau
muridnya Tua Tengkorak Mata Api.
Berarti aku sudah dapat memperkirakan siapa kau yang
kilat yang dilancarkan oleh lawannya.
"Kau tidak layak bertanya"
dengus Mustika Jajar. Diam-diam
hatinya terkejut juga setelah menge-
tahui ternyata lawannya kenal siapa
gurunya.
"Huup Heaaa... Jika kau
muridnya Tua Tengkorak Mata Api.
Berarti aku sudah dapat memperkirakan siapa kau yang
sebenarnya. Rasanya
tidak salah jika aku turun tangan
kejam kepadamu" Pematung Kelana menggeram.
"Bagus Aku sendiri memang
menghendaki nyawamu" sinis suara Mustika Jajar.
"Shaa..." Tubuh Pematung Kelana melesat ke depan. Ia
tidak salah jika aku turun tangan
kejam kepadamu" Pematung Kelana menggeram.
"Bagus Aku sendiri memang
menghendaki nyawamu" sinis suara Mustika Jajar.
"Shaa..." Tubuh Pematung Kelana melesat ke depan. Ia
mengerahkan
jurus
'Bayang-bayang Sukma'. Inilah salah
satu jurus andalan yang dimiliki oleh si kakek tua. Sadar
bahwa lawannya
merupakan murid seorang iblis. Tidak
tanggung-tanggung ia mengerahkan
segenap kemampuan yang ada
Sebaliknya walaupun masih muda,
Iblis Betina Dari Neraka ini memang
mewarisi kepandaian tinggi dari
gurunya. Jadi sungguhpun lawan mempu-
nyai pengalaman jauh lebih matang.
Namun ia masih tetap dapat mengimbangi setiap serangan
merupakan murid seorang iblis. Tidak
tanggung-tanggung ia mengerahkan
segenap kemampuan yang ada
Sebaliknya walaupun masih muda,
Iblis Betina Dari Neraka ini memang
mewarisi kepandaian tinggi dari
gurunya. Jadi sungguhpun lawan mempu-
nyai pengalaman jauh lebih matang.
Namun ia masih tetap dapat mengimbangi setiap serangan
yang datang.
"'Tujuh Angkara Murka'" jerit Mustika Jajar. Ia kemudian
"'Tujuh Angkara Murka'" jerit Mustika Jajar. Ia kemudian
hantamkan
tangannya yang telah berubah hitam itu menyongsong
tangannya yang telah berubah hitam itu menyongsong
serangan lawannya. Melihat
sinar hitam datang
menggebu-gebu ke
arahnya, maka Pematung Kelana
membanting tubuhnya ke samping kiri
Lalu lepaskan pukulan 'Geger Bumi'.
Sinar hitam dan merah datang
bergulung-gulung bagaikan badai topan prahara. Udara di
arahnya, maka Pematung Kelana
membanting tubuhnya ke samping kiri
Lalu lepaskan pukulan 'Geger Bumi'.
Sinar hitam dan merah datang
bergulung-gulung bagaikan badai topan prahara. Udara di
sekitarnya berubah
menjadi dingin dan panas. Lalu dua
pukulan yang dilepaskan oleh masing-
masing lawannya ini saling bertemu di udara.
"Buummm..."
"Braak Braaak"
Dua-duanya
jatuh
terpelanting,
Hampir bersamaan mereka bangkit
kembali. Ledakan dahsyat itu membawa
akibat runtuhnya dinding tebing.
Bahkan longsorannya menimbun badan
patung. Pematung Kelana menyeringai.
Wajahnya berubah pucat. Sebaliknya
Mustika Jajar malah tersenyum.
Sekarang ia menyerang lagi dengan
gerakan-gerakan yang lebih cepat dan
gencar. Namun Pematung Kelana yang
telah bergerak lebih awal dapat
menghantam perut gadis itu hingga
membuatnya jatuh terjengkang dan
muntahkan darah segar.
Anehnya gadis itu malah tertawa-
tawa. Rupanya itulah satu-satunya cara untuk
menjadi dingin dan panas. Lalu dua
pukulan yang dilepaskan oleh masing-
masing lawannya ini saling bertemu di udara.
"Buummm..."
"Braak Braaak"
Dua-duanya
jatuh
terpelanting,
Hampir bersamaan mereka bangkit
kembali. Ledakan dahsyat itu membawa
akibat runtuhnya dinding tebing.
Bahkan longsorannya menimbun badan
patung. Pematung Kelana menyeringai.
Wajahnya berubah pucat. Sebaliknya
Mustika Jajar malah tersenyum.
Sekarang ia menyerang lagi dengan
gerakan-gerakan yang lebih cepat dan
gencar. Namun Pematung Kelana yang
telah bergerak lebih awal dapat
menghantam perut gadis itu hingga
membuatnya jatuh terjengkang dan
muntahkan darah segar.
Anehnya gadis itu malah tertawa-
tawa. Rupanya itulah satu-satunya cara untuk
menyembuhkan luka dalam yang
dideritanya. Tidak lama kemudian ia
bangkit berdiri.
"Kau telah melukaiku, berarti
semua yang kau lakukan hanya memper-
cepat kematianmu sendiri" Mustika Jajar menggeram marah
dideritanya. Tidak lama kemudian ia
bangkit berdiri.
"Kau telah melukaiku, berarti
semua yang kau lakukan hanya memper-
cepat kematianmu sendiri" Mustika Jajar menggeram marah
sambil seka
darah yang menetes di sudut-sudut
bibirnya.
"Deb"
"Beet"
"Heyaaa..." Jemari tangan si gadis tiba-tiba saja terentang
darah yang menetes di sudut-sudut
bibirnya.
"Deb"
"Beet"
"Heyaaa..." Jemari tangan si gadis tiba-tiba saja terentang
lebar.
Begitu jemari tangan terkembang. Maka terjadilah
Begitu jemari tangan terkembang. Maka terjadilah
perubahan warna. Jika
semula jemari tangan itu berwarna
keputihan, maka sekarang telah berubah menjadi merah
semula jemari tangan itu berwarna
keputihan, maka sekarang telah berubah menjadi merah
laksana darah.
Pematung Kelana terkesiap sete-
lah melihat perubahan yang terjadi
pada bagian tangan lawannya. Mulutnya mendesis 'Pukulan
Pematung Kelana terkesiap sete-
lah melihat perubahan yang terjadi
pada bagian tangan lawannya. Mulutnya mendesis 'Pukulan
Jari Getih'.
Tidak ada kesempatan baginya
untuk berpikir lebih jauh. Pukulan
Jari Getih sebagaimana yang diketahuinya merupakan satu
Tidak ada kesempatan baginya
untuk berpikir lebih jauh. Pukulan
Jari Getih sebagaimana yang diketahuinya merupakan satu
pukulan ampuh
beracun yang sangat mematikan.
Siapapun yang terkena pukulan itu
tidak ada yang dapat menjamin
keselamatan nyawanya
Merasa tidak ada pilihan lain
lagi. Maka ia mengerahkan tenaga
dalamnya ke bagian telapak tangan.
Tubuhnya tiba-tiba saja bergetar
hebat. Kedua telapak tangannya berubah kuning berpedar-
beracun yang sangat mematikan.
Siapapun yang terkena pukulan itu
tidak ada yang dapat menjamin
keselamatan nyawanya
Merasa tidak ada pilihan lain
lagi. Maka ia mengerahkan tenaga
dalamnya ke bagian telapak tangan.
Tubuhnya tiba-tiba saja bergetar
hebat. Kedua telapak tangannya berubah kuning berpedar-
pedar. Inilah salah
satu pukulan simpanan yang bernama
'Geger Bumi'. Sungguhpun laki-laki ini tidak dapat
satu pukulan simpanan yang bernama
'Geger Bumi'. Sungguhpun laki-laki ini tidak dapat
memastikan apakah dia
sanggup mengatasinya, Namun sebelum
segala sesuatunya terjadi. Pematung
Kelana telah menghentakkan tangannya
ke depan. Hanya beberapa saat
setelahnya, lawannya pun melakukan hal yang sama.
"Blaam Blaaam…"
Dua letusan dahsyat memporak
porandakan suasana di situ. Satu
bayangan terlempar ke arah jurang,
sedang yang satunya lagi tergontai-
gontai dan jatuh terhempas tidak jauh dari longsoran tanah
sanggup mengatasinya, Namun sebelum
segala sesuatunya terjadi. Pematung
Kelana telah menghentakkan tangannya
ke depan. Hanya beberapa saat
setelahnya, lawannya pun melakukan hal yang sama.
"Blaam Blaaam…"
Dua letusan dahsyat memporak
porandakan suasana di situ. Satu
bayangan terlempar ke arah jurang,
sedang yang satunya lagi tergontai-
gontai dan jatuh terhempas tidak jauh dari longsoran tanah
yang menimbun
patung ciptaan Pematung Kelana. Dari
arah jurang, sayup-sayup terdengar
suara jerit seseorang. Itulah suara si kakek pematung.
Sementara itu Mustika Jajar
sendiri telah bangkit berdiri. Dari
mulutnya darah semakin banyak yang
keluar. Barulah setelah menelan
beberapa butir pel berwarna hitam dan merah. Darah
patung ciptaan Pematung Kelana. Dari
arah jurang, sayup-sayup terdengar
suara jerit seseorang. Itulah suara si kakek pematung.
Sementara itu Mustika Jajar
sendiri telah bangkit berdiri. Dari
mulutnya darah semakin banyak yang
keluar. Barulah setelah menelan
beberapa butir pel berwarna hitam dan merah. Darah
langsung berhenti.
"Gila betul orang itu. Selain
seorang pematung, ternyata ia
mempunyai kepandaian yang tidak
rendah. Syukur ia terpelanting ke
jurang. Aku tidak tahu apakah ia dalam keadaan hidup atau
"Gila betul orang itu. Selain
seorang pematung, ternyata ia
mempunyai kepandaian yang tidak
rendah. Syukur ia terpelanting ke
jurang. Aku tidak tahu apakah ia dalam keadaan hidup atau
mati" desis
Iblis Betina
Dari Neraka sambil
menyeringai.
Tidak lama kemudian ia sudah
memindahkan longsoran tanah yang
menimbun patung pemuda gagah. Entah
mengapa semakin dekat tubuhnya dengan patung tersebut,
Tidak lama kemudian ia sudah
memindahkan longsoran tanah yang
menimbun patung pemuda gagah. Entah
mengapa semakin dekat tubuhnya dengan patung tersebut,
jantungnya berdetak
semakin kencang.
"Hhhm, ini dia Oh sungguh
merupakan patung yang sangat perkasa.
Seandainya saja ia hidup. Ingin
rasanya aku menidurinya sepanjang
malam. Hik hik hik..."
Dielus-elusnya patung tersebut.
Tidak lama kemudian setelah longsoran tanah yang
semakin kencang.
"Hhhm, ini dia Oh sungguh
merupakan patung yang sangat perkasa.
Seandainya saja ia hidup. Ingin
rasanya aku menidurinya sepanjang
malam. Hik hik hik..."
Dielus-elusnya patung tersebut.
Tidak lama kemudian setelah longsoran tanah yang
menimbunnya habis. Mustika
Jajar seperti orang
kesurupan langsung memeluk badan
patung yang kekar tidak
ubahnya seperti
sedang memperlakukan
orang yang sangat disayanginya.
"Aku menyukaimu. Tidak mungkin
rasanya aku menukarmu dengan enam
kantung emas. Aku akan selalu meminta pada para iblis, agar
orang yang sangat disayanginya.
"Aku menyukaimu. Tidak mungkin
rasanya aku menukarmu dengan enam
kantung emas. Aku akan selalu meminta pada para iblis, agar
suatu saat kau
dapat hidup sebagai manusia. Manusia
perkasa yang dapat memenuhi setiap
keinginanku..." Lagi-lagi Mustika Jajar seperti orang
dapat hidup sebagai manusia. Manusia
perkasa yang dapat memenuhi setiap
keinginanku..." Lagi-lagi Mustika Jajar seperti orang
kesurupan langsung
memeluk
patung itu.
Kemudian ia
mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada
bibir patung.
"Aku mau membawamu ke suatu
tempat Di sana aku akan minta
petunjuk dari para iblis untuk
membangkitkanmu"
Gadis berbaju ungu ini kemudian
berusaha mengangkat patung tersebut.
Tapi ternyata patung itu beratnya
bukan main. Sehingga Mustika Jajar
terpaksa mengerahkan tenaga dalam
untuk meletakkan patung itu di
punggung kuda.
"Kraaakkk"
Kuda yang diharapkannya dapat
membawa patung, ternyata tidak kuat
menahan berat patung. Bahkan terdengar suara berderak
mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada
bibir patung.
"Aku mau membawamu ke suatu
tempat Di sana aku akan minta
petunjuk dari para iblis untuk
membangkitkanmu"
Gadis berbaju ungu ini kemudian
berusaha mengangkat patung tersebut.
Tapi ternyata patung itu beratnya
bukan main. Sehingga Mustika Jajar
terpaksa mengerahkan tenaga dalam
untuk meletakkan patung itu di
punggung kuda.
"Kraaakkk"
Kuda yang diharapkannya dapat
membawa patung, ternyata tidak kuat
menahan berat patung. Bahkan terdengar suara berderak
patah pada bagian
tulang punggungnya.
"Upp... tidak kusangka patung
ini berat sekali. Sebaiknya biar aku
sendiri yang memanggulnya" Mustika Jajar memutuskan.
Dengan sekuat tenaga patung batu
mar-mar seberat kati itu dipanggulnya.
Bahkan beberapa saat kemudian ia sudah berlari-lari, seakan
tulang punggungnya.
"Upp... tidak kusangka patung
ini berat sekali. Sebaiknya biar aku
sendiri yang memanggulnya" Mustika Jajar memutuskan.
Dengan sekuat tenaga patung batu
mar-mar seberat kati itu dipanggulnya.
Bahkan beberapa saat kemudian ia sudah berlari-lari, seakan
beban berat yang
dipikulnya tidak
dirasakan sama sekali oleh si gadis.
9
Laki-laki itu terus melangkahkan
kakinya yang pincang. Sesekali ia
mendongak ke langit. Lalu berjalan
lagi seperti orang yang sedang dalam
keadaan tergesa-gesa. Lalu ketika
berada di atas dataran bukit tiba-tiba ia hentikan
9
Laki-laki itu terus melangkahkan
kakinya yang pincang. Sesekali ia
mendongak ke langit. Lalu berjalan
lagi seperti orang yang sedang dalam
keadaan tergesa-gesa. Lalu ketika
berada di atas dataran bukit tiba-tiba ia hentikan
langkahnya. Sekali lagi ia
memandang ke
langit.
"Aduh biuuung... panasnya dunia
hanya asap api neraka. Di sana panas
di sini panas. Mati... kematian ada
dimana-mana. Aduh biung... mengapa aku terlahir ke dunia
"Aduh biuuung... panasnya dunia
hanya asap api neraka. Di sana panas
di sini panas. Mati... kematian ada
dimana-mana. Aduh biung... mengapa aku terlahir ke dunia
yang sengsara..."
kata kakek berkumis, berjenggot serta berambut putih itu
kata kakek berkumis, berjenggot serta berambut putih itu
seperti menyesali
sesuatu.
Lalu ia melangkah lagi, tongkat
butut di tangannya ia acungkan ke
depan. Lalu tampak selarik sinar biru melesat dari ujungnya.
sesuatu.
Lalu ia melangkah lagi, tongkat
butut di tangannya ia acungkan ke
depan. Lalu tampak selarik sinar biru melesat dari ujungnya.
Sinar biru
tersebut menghantam sulur akar pohon
rambat.
"Tes Tes"
Sulur-sulur pun putus, dari
putusan sulur menetes air yang sangat bening. Si kakek
tersebut menghantam sulur akar pohon
rambat.
"Tes Tes"
Sulur-sulur pun putus, dari
putusan sulur menetes air yang sangat bening. Si kakek
berkaki kecil sebelah
itu
menampung air
tersebut dan,
"Gluk Gluuk"
"Ah... lega rasanya, kelegaan
yang membuat aku menyesal, menangis
dan... hu hu hu... penyesalanku tidak kunjung berkesudahan.
"Gluk Gluuk"
"Ah... lega rasanya, kelegaan
yang membuat aku menyesal, menangis
dan... hu hu hu... penyesalanku tidak kunjung berkesudahan.
Kulihat kematian
membuat aku
menyesal. Kulihat
kemarahan, aku menyesal, kulihat
penderitaan orang kecil aku menyesal.
Kulihat penghuni dunia celaka ini aku menyesal Hidupku
kemarahan, aku menyesal, kulihat
penderitaan orang kecil aku menyesal.
Kulihat penghuni dunia celaka ini aku menyesal Hidupku
dalam penyesalan
nafasku dalam penyesalan. Lahirnya
Iblis Betina Dari Neraka membuat aku
teramat menyesalkannya" dengus si kakek. Lalu ketok-
nafasku dalam penyesalan. Lahirnya
Iblis Betina Dari Neraka membuat aku
teramat menyesalkannya" dengus si kakek. Lalu ketok-
ketokkan tongkat di
tangannya di atas
batu.
Sehingga terdengarlah suara
berdenting menyakitkan telinga. Si kakek memakai ikat
Sehingga terdengarlah suara
berdenting menyakitkan telinga. Si kakek memakai ikat
kepala warna darah ini
langkahkan kakinya
lagi. Tetapi
secara tiba-tiba ia melihat sosok
bayangan biru berkelebat di depannya.
Tampak bayangan biru tersebut tengah
mengerahkan ilmu lari cepatnya yang
bukan main-main. Tetapi hebatnya lagi begitu si kakek
secara tiba-tiba ia melihat sosok
bayangan biru berkelebat di depannya.
Tampak bayangan biru tersebut tengah
mengerahkan ilmu lari cepatnya yang
bukan main-main. Tetapi hebatnya lagi begitu si kakek
membentak....
"Kembali..."
Secara aneh dan benar-benar
sulit dipercaya, bayangan biru tadi
bergerak mundur seperti ditarik. Dan
kekuatan itu terus membetotnya ke
belakang. Dan....
"Buuk"
Tubuh pemuda itu menabrak si
kakek yang berdiri di belakangnya. Si pemuda bertampang
"Kembali..."
Secara aneh dan benar-benar
sulit dipercaya, bayangan biru tadi
bergerak mundur seperti ditarik. Dan
kekuatan itu terus membetotnya ke
belakang. Dan....
"Buuk"
Tubuh pemuda itu menabrak si
kakek yang berdiri di belakangnya. Si pemuda bertampang
ketolol-tololan
menjadi kaget sendiri. Ia menyadari
ada seseorang yang telah mengerjainya dengan hanya
menjadi kaget sendiri. Ia menyadari
ada seseorang yang telah mengerjainya dengan hanya
membentak secara aneh.
Tetapi mengapa ia yang sedang berlari bisa tertarik ke
Tetapi mengapa ia yang sedang berlari bisa tertarik ke
belakang?
"Bocah gendeng Punya mata tapi
tidak melihat, ah..." Si kakek
hentikan ucapannya begitu melihat
pemuda berambut hitam kemerah-merahan itu berpaling ke
"Bocah gendeng Punya mata tapi
tidak melihat, ah..." Si kakek
hentikan ucapannya begitu melihat
pemuda berambut hitam kemerah-merahan itu berpaling ke
arahnya. "Kulihat
wajahmu aku jadi menyesal. Di dunia
ini ada orang seperti engkau...
sungguh aku menyesal. Tapi aku sungguh menyesalkan
mengapa
ibumu
melahirkanmu...?"
Pemuda berbaju biru memakai ikat
kepala biru belang-belang kuning ini
garuk-garuk kepala. Satu lagi orang
gila ia temui, bukan gila tapi aneh
dan sangat hebat.
"Orang tua siapa kau Berani
benar kau mengganggu perjalanan orang lain. Bisa-bisa
wajahmu aku jadi menyesal. Di dunia
ini ada orang seperti engkau...
sungguh aku menyesal. Tapi aku sungguh menyesalkan
mengapa
ibumu
melahirkanmu...?"
Pemuda berbaju biru memakai ikat
kepala biru belang-belang kuning ini
garuk-garuk kepala. Satu lagi orang
gila ia temui, bukan gila tapi aneh
dan sangat hebat.
"Orang tua siapa kau Berani
benar kau mengganggu perjalanan orang lain. Bisa-bisa
kukemplang kepalamu"
dengus Suro Blondo.
"Ha ha ha... Ada bocah yang
tidak hormat pada orang tuanya. Ada
kakek yang tega berbuat mesum pada
bocah kecil, ada mayat dipotong-potong seperti hewan.
dengus Suro Blondo.
"Ha ha ha... Ada bocah yang
tidak hormat pada orang tuanya. Ada
kakek yang tega berbuat mesum pada
bocah kecil, ada mayat dipotong-potong seperti hewan.
Tahukah kau bahwa semua
itu membuat aku
menyesal? Oh dunia ini sudah teramat
tuanya. Hah... manusia
ini sudah parah bejatnya. Lalu siapa yang masih waras,
ini sudah parah bejatnya. Lalu siapa yang masih waras,
apakah kau bocah
gila?" tanya si kakek bersikap acuh tak acuh.
Pendekar Blo'on pencongkan
mulutnya. Ia golang-golengkan kepala
seperti orang bingung.
"Orang tua ini sebenarnya
menderita penyakit apa? Gilanya sudah teramat parah. Dia
gila?" tanya si kakek bersikap acuh tak acuh.
Pendekar Blo'on pencongkan
mulutnya. Ia golang-golengkan kepala
seperti orang bingung.
"Orang tua ini sebenarnya
menderita penyakit apa? Gilanya sudah teramat parah. Dia
bukan saja sinting,
tapi
miring. Namun
melihat caranya
menarikku tadi, kurasa dia mempunyai
kepandaian yang sangat tinggi
sekali..." pikir Suro Blondo.
"Kau bicara apa bocah tolol? Aku bisa melihat pikiranmu,
menarikku tadi, kurasa dia mempunyai
kepandaian yang sangat tinggi
sekali..." pikir Suro Blondo.
"Kau bicara apa bocah tolol? Aku bisa melihat pikiranmu,
aku dapat
mendengar suara hatimu, sungguh semua ini sangat
mendengar suara hatimu, sungguh semua ini sangat
kusesalkan" dengus si
kakek
sambil
ketok-ketokkan tongkatnya di atas batu.
"Kakek penyesal, siapakah engkau yang sesungguhnya.
"Kakek penyesal, siapakah engkau yang sesungguhnya.
Urusanku dengan
saudagar Bergola Mungkur sudah tidak
dapat ditunda-tunda lagi" tegas si pemuda.
"Ha ha ha... Aku Datuk Sage
Manyasal Hiduik. Si renta yang selalu menyesali segala
saudagar Bergola Mungkur sudah tidak
dapat ditunda-tunda lagi" tegas si pemuda.
"Ha ha ha... Aku Datuk Sage
Manyasal Hiduik. Si renta yang selalu menyesali segala
sesuatu di dunia ini,
orang
yang menyesalkan
terjadinya
angkara murka di bumi, sepanjang abad, sepanjang hidup
angkara murka di bumi, sepanjang abad, sepanjang hidup
sampai dunia ini
menjelang kiamat pun aku menyesal"
"Datuk Sage Manyasal Hiduik. Apa yang kau sesalkan, setiap
menjelang kiamat pun aku menyesal"
"Datuk Sage Manyasal Hiduik. Apa yang kau sesalkan, setiap
manusia
punya urusan sendiri-sendiri. Biarkan saja..." kata Suro
punya urusan sendiri-sendiri. Biarkan saja..." kata Suro
seenaknya. Datuk
Sage Manyasal Hiduik kedip-kedipkan
matanya yang mulai lamur. Bicara
pemuda tampan bertampang ketolol-
tololan itu memang ceplas-ceplos. Dan ia tahu siapa pemuda
matanya yang mulai lamur. Bicara
pemuda tampan bertampang ketolol-
tololan itu memang ceplas-ceplos. Dan ia tahu siapa pemuda
itu.
"Kau pemuda tolol, pantas
menyandang gelar Pendekar Blo'on.
Gurumu Penghulu Siluman Kera Putih,
duh menyesalnya aku. Kakekmu Malaikat Berambut Api,
"Kau pemuda tolol, pantas
menyandang gelar Pendekar Blo'on.
Gurumu Penghulu Siluman Kera Putih,
duh menyesalnya aku. Kakekmu Malaikat Berambut Api,
manusia sakti
mandraguna, tinggal di Pulau Seribu
Satu Malam, banyak musuh, punya banyak kekasih, tapi
mandraguna, tinggal di Pulau Seribu
Satu Malam, banyak musuh, punya banyak kekasih, tapi
tidak pernah kawin-kawin.
Oh... menyesalnya
aku..." kata si kakek.
Kata-kata yang diucapkannya itu
jelas membuat Pendekar Blo'on jadi
terkejut. Ia sama sekali tidak
menyangka bahwa kakek aneh ini
mengenali siapa dirinya dan juga
gurunya. Bahkan sampai masa lalu
gurunya sendiri. Padahal Malaikat
Berambut Api tidak pernah cerita apa-
apa tentang peribadinya pada Suro
Blondo.
"Bagaimana Datuk bisa mengenal
mereka?"
"Aku menyesal mengenal kedua
gurumu, aku menyesal mengenal dirimu
dan aku menyesal bakal melihat darah"
kata Datuk Sage Manyasal Hiduik.
Wajah kakek tua berkaki kecil
ini berubah muram. Lalu ia ketuk-
ketukkan tongkat bututnya ke tanah.
Tanah sekeras cadas itu berlubang dan dari lubang akibat
Kata-kata yang diucapkannya itu
jelas membuat Pendekar Blo'on jadi
terkejut. Ia sama sekali tidak
menyangka bahwa kakek aneh ini
mengenali siapa dirinya dan juga
gurunya. Bahkan sampai masa lalu
gurunya sendiri. Padahal Malaikat
Berambut Api tidak pernah cerita apa-
apa tentang peribadinya pada Suro
Blondo.
"Bagaimana Datuk bisa mengenal
mereka?"
"Aku menyesal mengenal kedua
gurumu, aku menyesal mengenal dirimu
dan aku menyesal bakal melihat darah"
kata Datuk Sage Manyasal Hiduik.
Wajah kakek tua berkaki kecil
ini berubah muram. Lalu ia ketuk-
ketukkan tongkat bututnya ke tanah.
Tanah sekeras cadas itu berlubang dan dari lubang akibat
tusukan tongkat
menebarkan bau busuk menusuk hidung.
"Darahnya siapa yang kau
sesalkan Datuk? Apakah darahmu sendiri darahku atau
menebarkan bau busuk menusuk hidung.
"Darahnya siapa yang kau
sesalkan Datuk? Apakah darahmu sendiri darahku atau
darah monyet?" tanya
Suro
sambil cengengesan.
"Hidupmu berkubang darah, bukan
kunyuk sepertimu yang akan menjadi
bangkai. Aku menyesal karena bukan
darahku pula yang tercecer. Darah
orang-orang serakah. Aku sedih karena berpantang
"Hidupmu berkubang darah, bukan
kunyuk sepertimu yang akan menjadi
bangkai. Aku menyesal karena bukan
darahku pula yang tercecer. Darah
orang-orang serakah. Aku sedih karena berpantang
membunuh, aku menyesal
datang ke tanah Jawa ini."
"Memang engkau dari mana Datuk?
Apakah dari dalam kuburan, dasar bumi atau dikirim dari
datang ke tanah Jawa ini."
"Memang engkau dari mana Datuk?
Apakah dari dalam kuburan, dasar bumi atau dikirim dari
neraka?"
Wajah sang Datuk berubah kelam
membesi. Matanya berkedip-kedip, lalu ia memandang ke
Wajah sang Datuk berubah kelam
membesi. Matanya berkedip-kedip, lalu ia memandang ke
langit.
"Bicaramu sudah keterlaluan,
bocah gendeng. Sayang aku tidak punya urusan denganmu.
"Bicaramu sudah keterlaluan,
bocah gendeng. Sayang aku tidak punya urusan denganmu.
Seorang anak ingusan
tidak layang tanpa
asal-usul. Satu hal yang harus kusesalkan,
aku harus tahu
seberapa hebat
kekuatan yang kau
punya, seberapa banyak ilmu yang kau
miliki" kata sang Datuk.
Tiba-tiba saja Datuk Sage
Manyasal Hiduik hentakkan kaki
kanannya yang kecil di atas tanah.
Segulung angin kencang menderu, Suro
Blondo tiba-tiba saja terpelanting
tunggang-langgang. Pendekar Blo'on
terkejut bukan main-main. Seorang Tua renta seperti Datuk
punya, seberapa banyak ilmu yang kau
miliki" kata sang Datuk.
Tiba-tiba saja Datuk Sage
Manyasal Hiduik hentakkan kaki
kanannya yang kecil di atas tanah.
Segulung angin kencang menderu, Suro
Blondo tiba-tiba saja terpelanting
tunggang-langgang. Pendekar Blo'on
terkejut bukan main-main. Seorang Tua renta seperti Datuk
Sage Manyasal
Hiduik dapat menjatuhkannya hanya
dengan menjejakkan kaki di atas tanah.
Satu hal yang sangat sulit dipercaya.
Ia bangkit berdiri, dengan
sangat berhati-hati ia segera
mengerahkan tenaga dalam ke bagian
kakinya.
"Mengapa kau menyerangku Datuk?
Apakah kau sudah edan?" dengus Suro
sambil garuk-garuk kepala.
"Kusesalkan karena aku tidak
bisa memberikan jawaban kedua. Tetapi untuk lebih jelas
Hiduik dapat menjatuhkannya hanya
dengan menjejakkan kaki di atas tanah.
Satu hal yang sangat sulit dipercaya.
Ia bangkit berdiri, dengan
sangat berhati-hati ia segera
mengerahkan tenaga dalam ke bagian
kakinya.
"Mengapa kau menyerangku Datuk?
Apakah kau sudah edan?" dengus Suro
sambil garuk-garuk kepala.
"Kusesalkan karena aku tidak
bisa memberikan jawaban kedua. Tetapi untuk lebih jelas
sebaik-baiknyalah
kau menjaga diri" Baru selesai bicara Datuk Sage Manyasal
kau menjaga diri" Baru selesai bicara Datuk Sage Manyasal
Hiduik tampak
gembungkan pipinya. Lalu tiba-tiba
saja ia menghembuskan nafasnya.
"Puuuih..."
"Wuus"
Segulung angin topan menderu
menerjang Suro Blondo. Pemuda berambut hitam kemerah-
gembungkan pipinya. Lalu tiba-tiba
saja ia menghembuskan nafasnya.
"Puuuih..."
"Wuus"
Segulung angin topan menderu
menerjang Suro Blondo. Pemuda berambut hitam kemerah-
merahan ini tidak
tinggal diam. Ia segera mengerahkan
jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti
Kibaskan Ekor'. Pemuda ini kemudian melompat ke samping
tinggal diam. Ia segera mengerahkan
jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti
Kibaskan Ekor'. Pemuda ini kemudian melompat ke samping
sejauh satu batang
tombak. Tubuhnya
meliuk-liuk sambil
sesekali menggaruk kepala. Lalu
berjongkok dan melompat-lompat,
sedangkan tangannya menghantam ke
depan dan mulut mengeluarkan suara
seperti lolongan serigala kelaparan
yang seakan datang dari seluruh
penjuru arah.
"Buumm"
Hembusan Datuk Sage Manyasal
Hiduik menghantam sebatang pohon yang terdapat di
sesekali menggaruk kepala. Lalu
berjongkok dan melompat-lompat,
sedangkan tangannya menghantam ke
depan dan mulut mengeluarkan suara
seperti lolongan serigala kelaparan
yang seakan datang dari seluruh
penjuru arah.
"Buumm"
Hembusan Datuk Sage Manyasal
Hiduik menghantam sebatang pohon yang terdapat di
belakang Suro. Pohon
mengeluarkan suara berderak dan roboh.
Jika Pendekar Blo'on tidak cepat-cepat menghindar tentu ia
mengeluarkan suara berderak dan roboh.
Jika Pendekar Blo'on tidak cepat-cepat menghindar tentu ia
tertimpa
pohon-pohon.
"Ha ha ha... Jurus gila, sudah
kuduga gurumu mempunyai jurus itu.
Menyesal aku harus menyerangmu hingga aku tahu seberapa
"Ha ha ha... Jurus gila, sudah
kuduga gurumu mempunyai jurus itu.
Menyesal aku harus menyerangmu hingga aku tahu seberapa
hebat murid dari dua
orang guru"
kata Datuk Sage.
"Aku juga menyesal melihat ulah
gilamu Datuk. Tapi aku tidak akan
menyesal kau terus memaksaku bertindak kasar" dengus
"Aku juga menyesal melihat ulah
gilamu Datuk. Tapi aku tidak akan
menyesal kau terus memaksaku bertindak kasar" dengus
Pendekar Blo'on
jengkel.
"Heaa..."
Datuk Sage Manyasal Hiduik sama
sekali tidak menghiraukan ucapan Suro.
Ia menulikan telinga dan kini
menyerang Pendekar Blo'on dengan
tongkat butut di tangannya. Sekali
sang Datuk mengibaskan tongkatnya.
Maka terlihat tongkat tersebut berubah menjadi banyak,
jengkel.
"Heaa..."
Datuk Sage Manyasal Hiduik sama
sekali tidak menghiraukan ucapan Suro.
Ia menulikan telinga dan kini
menyerang Pendekar Blo'on dengan
tongkat butut di tangannya. Sekali
sang Datuk mengibaskan tongkatnya.
Maka terlihat tongkat tersebut berubah menjadi banyak,
tongkat butut
meliuk-liuk
bagaikan seekor
ular cobra yang sedang memburu
mangsanya. Suro dibuat pontang-
panting, beberapa
kali tongkat lawan menyodok ketiak, dada,
ulu hati dan juga mata
si pemuda. Pemuda
ini
mencoba menangkis serangan itu dengan telapak tangannya.
mencoba menangkis serangan itu dengan telapak tangannya.
Maka benturan tidak
dapat dihindari
lagi.
"Taaak"
"Wadow... edan..." maki si pemuda.
Tangannya tadi seperti lumpuh
dan sakitnya bukan main. Padahal
Pendekar Blo'on telah mengerahkan
tenaga dalam ke bagian telapak tangan.
Kini ia melompat mundur. Lawan
terus mengejarnya, Pendekar bertampang ketolol-tololan ini segera mempergunakan
"Taaak"
"Wadow... edan..." maki si pemuda.
Tangannya tadi seperti lumpuh
dan sakitnya bukan main. Padahal
Pendekar Blo'on telah mengerahkan
tenaga dalam ke bagian telapak tangan.
Kini ia melompat mundur. Lawan
terus mengejarnya, Pendekar bertampang ketolol-tololan ini segera mempergunakan
jurus 'Kacau Balau'
untuk
menghalau setiap serangan yang
melabraknya.
Gerakan pemuda itu sekarang
benar-benar sudah tidak teratur lagi.
Terkadang tubuhnya terhuyung ke kanan dan ke samping
menghalau setiap serangan yang
melabraknya.
Gerakan pemuda itu sekarang
benar-benar sudah tidak teratur lagi.
Terkadang tubuhnya terhuyung ke kanan dan ke samping
kiri, atau bergerak
seperti menubruk ke depan. Ketika
tongkat lawannya menyambar menusuk
dada ia cepat menarik tubuhnya ke
belakang seperti orang yang terpeleset kulit pisang. Lalu kaki
seperti menubruk ke depan. Ketika
tongkat lawannya menyambar menusuk
dada ia cepat menarik tubuhnya ke
belakang seperti orang yang terpeleset kulit pisang. Lalu kaki
depannya
menendang ke bagian perut sang Datuk.
Lawan menepisnya dengan tangan
kiri Suro menarik kakinya sedangkan
tangan melayang mengemplang kepala
sang Datuk.
"Plok"
"Heh…"
Sang Datuk memang sempat
terhuyung-huyung terkena pukulan si
pemuda. Namun Pendekar Blo'on sendiri dibuat kaget.
menendang ke bagian perut sang Datuk.
Lawan menepisnya dengan tangan
kiri Suro menarik kakinya sedangkan
tangan melayang mengemplang kepala
sang Datuk.
"Plok"
"Heh…"
Sang Datuk memang sempat
terhuyung-huyung terkena pukulan si
pemuda. Namun Pendekar Blo'on sendiri dibuat kaget.
Bagaimana tidak, ia
seperti menghantam batu saja.
Tangannya sendiri sakit bukan main.
"Ha ha ha... Aku sedih karena
tubuhku keras seperti batu. Aku
menyesal lantaran kau kesakitan"
Suro pencongkan mulutnya,
"Datuk Penyesal, apakah kau tidak menyesal melihat orang
seperti menghantam batu saja.
Tangannya sendiri sakit bukan main.
"Ha ha ha... Aku sedih karena
tubuhku keras seperti batu. Aku
menyesal lantaran kau kesakitan"
Suro pencongkan mulutnya,
"Datuk Penyesal, apakah kau tidak menyesal melihat orang
lain yang tidak
bersalah
kesakitan?"
tanya si pemuda.
"Penyesalanku sudah mendarah
daging, berurat berakar seperti pohon kehampaan. Kau
"Penyesalanku sudah mendarah
daging, berurat berakar seperti pohon kehampaan. Kau
kesakitan aku menyesal,
tetapi aku akan
lebih menyesal lagi
setelah nanti melihat darah. Darah
orang tamak, orang serakah, para
pejabat kerajaan yang korup, dan juga pembesar yang
setelah nanti melihat darah. Darah
orang tamak, orang serakah, para
pejabat kerajaan yang korup, dan juga pembesar yang
menyeleweng. Semua itu
kusesalkan" kata Datuk Sage Manyasal Hiduik.
"Bicaramu semakin ngaco tidak
karuan. Bicara soal penyesalan tapi
kau malah menyerangku seperti orang
mabuk. Kau menyerang maka aku pun
harus balas menyerang supaya adil"
dengus Pendekar Blo'on.
Tiba-tiba saja pemuda tampan
bertampang ketolol-tololan itu
menerjang Datuk Sage. Namun sang Datuk menyambutnya
kusesalkan" kata Datuk Sage Manyasal Hiduik.
"Bicaramu semakin ngaco tidak
karuan. Bicara soal penyesalan tapi
kau malah menyerangku seperti orang
mabuk. Kau menyerang maka aku pun
harus balas menyerang supaya adil"
dengus Pendekar Blo'on.
Tiba-tiba saja pemuda tampan
bertampang ketolol-tololan itu
menerjang Datuk Sage. Namun sang Datuk menyambutnya
dengan tusukan tingkat
ke tubuh Pendekar
Blo'on. Masih dalam
keadaan mengambang di udara Suro
berjumplitan ke belakang. Begitu ia
menjejakkan kedua kakinya di atas
tanah. Maka pemuda ini lepaskan
pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'
"Huuuh..."
Pemuda itu secepat kilat
mendorongkan kedua tangannya ke depan.
Seleret sinar putih melesat bagaikan
anak panah melayang dari busurnya.
"Aku menyesal karena engkau
keluarkan pukulan. Aku menyesal karena terpaksa gunakan
keadaan mengambang di udara Suro
berjumplitan ke belakang. Begitu ia
menjejakkan kedua kakinya di atas
tanah. Maka pemuda ini lepaskan
pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'
"Huuuh..."
Pemuda itu secepat kilat
mendorongkan kedua tangannya ke depan.
Seleret sinar putih melesat bagaikan
anak panah melayang dari busurnya.
"Aku menyesal karena engkau
keluarkan pukulan. Aku menyesal karena terpaksa gunakan
tongkat bututku"
kata Datuk Sage Manyasal Hiduik. Tiba-tiba saja....
"Wuut Wuut"
"Byar"
Pukulan yang dilepaskan Pendekar
Blo'on buyar seketika terkena sabetan tongkat lawan yang
kata Datuk Sage Manyasal Hiduik. Tiba-tiba saja....
"Wuut Wuut"
"Byar"
Pukulan yang dilepaskan Pendekar
Blo'on buyar seketika terkena sabetan tongkat lawan yang
menimbulkan angin
kencang bagaikan badai. Suro Blondo
terhuyung-huyung, namun secepatnya ia memperbaiki
kencang bagaikan badai. Suro Blondo
terhuyung-huyung, namun secepatnya ia memperbaiki
posisinya. Dalam kesempatan
itu Datuk Sage telah membalas
serangan si pemuda dengan mengayunkan tongkat di tangan.
Pemuda itu
mengelak, namun gerakannya kalah cepat dengan tongkat
serangan si pemuda dengan mengayunkan tongkat di tangan.
Pemuda itu
mengelak, namun gerakannya kalah cepat dengan tongkat
lawannya. Maka....
"Buuk"
"Aduh emaak.... Kakek kaki
kurus ini benar-benar edan." pikir Suro sambil usap-usap
"Buuk"
"Aduh emaak.... Kakek kaki
kurus ini benar-benar edan." pikir Suro sambil usap-usap
dadanya yang
mendengut sakit. Setelah diusap-usap, malah dari bibir si
mendengut sakit. Setelah diusap-usap, malah dari bibir si
pemuda tampak
meleleh darah segar.
"Kau terluka? Aku sedih
melihatmu terluka, ha ha ha..." Datuk Sage tertawa sumbang.
"Sekarang aku terluka, sebentar
lagi aku sedih melihatmu mati makan
ulah sendiri" dengus Suro.
Tiba-tiba saja Pendekar Blo'on
melompat ke udara. Kedua tangannya
dihentakkan ke arah Datuk Sage
Manyasal Hiduik.
"'Ratapan Pembangkit Sukma'
Hiaaa..." teriak Pendekar Blo'on.
Angin kencang bagaikan topan
bergulung-gulung. Tampak adanya kabut putih bagaikan
meleleh darah segar.
"Kau terluka? Aku sedih
melihatmu terluka, ha ha ha..." Datuk Sage tertawa sumbang.
"Sekarang aku terluka, sebentar
lagi aku sedih melihatmu mati makan
ulah sendiri" dengus Suro.
Tiba-tiba saja Pendekar Blo'on
melompat ke udara. Kedua tangannya
dihentakkan ke arah Datuk Sage
Manyasal Hiduik.
"'Ratapan Pembangkit Sukma'
Hiaaa..." teriak Pendekar Blo'on.
Angin kencang bagaikan topan
bergulung-gulung. Tampak adanya kabut putih bagaikan
salju menderu ke arah
Datuk Sage Manyasal Hiduik. Gelombang angin kencang itu
Datuk Sage Manyasal Hiduik. Gelombang angin kencang itu
menebarkan hawa
dingin mencucuk ke sumsum tulang.
Datuk Sage Manyasal Hiduik tersentak
kaget. Sama sekali ia tidak mengira
pemuda tampan berwajah ketolol-tololan ini telah mewarisi
dingin mencucuk ke sumsum tulang.
Datuk Sage Manyasal Hiduik tersentak
kaget. Sama sekali ia tidak mengira
pemuda tampan berwajah ketolol-tololan ini telah mewarisi
pukulan dashyat
'Ratapan Pembangkit Sukma' warisan
manusia sakti Malaikat Berambut Api.
Maka tanpa membuang-buang waktu
lagi ia kibaskan tongkatnya yang telah teraliri tenaga dalam
'Ratapan Pembangkit Sukma' warisan
manusia sakti Malaikat Berambut Api.
Maka tanpa membuang-buang waktu
lagi ia kibaskan tongkatnya yang telah teraliri tenaga dalam
"Wut Wut"
Dari ujung tongkat melesat dua
larik sinar biru menebar hawa panas
menyambut gelombang angin topan yang
melesat dari telapak tangan lawannya.
Benturan keras tidak dapat dihindarkan lagi....
"Bum Buum"
Ledakan-ledakan keras disertai
dengan memijarnya bunga api.
"Aaaakh... celakanya neraka
dunia jika kau mempergunakan pukulan
itu..." desis Datuk Sage Manyasal Hiduik.
Tubuh kakek tua ini terhuyung-
huyung. Ujung tongkatnya patah, celana sebatas betis
terkoyak. Suro Blondo
jatuh terduduk, dadanya sesak bukan
main. Sedangkan kedua kakinya sampai
amblas ke tanah sedalam lutut.
"Bukan main-main. Tidak menyesal aku bertemu denganmu,
jatuh terduduk, dadanya sesak bukan
main. Sedangkan kedua kakinya sampai
amblas ke tanah sedalam lutut.
"Bukan main-main. Tidak menyesal aku bertemu denganmu,
anak muda. Yang aku
sesalkan celanaku
robek. Ah...
rasanya kau pantas menghadapi orang
yang telah membunuh orang penting.
Carilah dia, aku tidak akan menyesal
dia mati di tanganmu" kata Datuk Sage.
Suro Blondo menarik kakinya yang
sempat terbenam, dalam hati ia dongkol juga melihat kakek
rasanya kau pantas menghadapi orang
yang telah membunuh orang penting.
Carilah dia, aku tidak akan menyesal
dia mati di tanganmu" kata Datuk Sage.
Suro Blondo menarik kakinya yang
sempat terbenam, dalam hati ia dongkol juga melihat kakek
aneh ini.
"Setelah membuatku hampir babak
belur, kini kau menyuruhku pergi.
Tidak mengapa. Tapi kuharap kau mau
menyebutkan siapa dirimu yang
sebenarnya. Dan Datuk hendak pergi
kemana?" tanya Suro sambil garuk-garuk kepalanya. Datuk
"Setelah membuatku hampir babak
belur, kini kau menyuruhku pergi.
Tidak mengapa. Tapi kuharap kau mau
menyebutkan siapa dirimu yang
sebenarnya. Dan Datuk hendak pergi
kemana?" tanya Suro sambil garuk-garuk kepalanya. Datuk
Sage Manyasal
Hiduik
mendongak ke
langit. Wajahnya yang
selalu muram tampak berubah semakin
bertambah rawan dan menyimpan banyak
kesedihan.
"Aku Rana Gingging, punya nama.
Bertanya pada gurumu, mereka akan beri penjelasan.
selalu muram tampak berubah semakin
bertambah rawan dan menyimpan banyak
kesedihan.
"Aku Rana Gingging, punya nama.
Bertanya pada gurumu, mereka akan beri penjelasan.
Urusanku sangat besar, di
sebuah kerajaan
besar, menghadapi
hutang lama yang sangat besar. Semua
orang mempertaruhkan nyawa di sana.
Hik hik hik Tapi aku tidak menyesal
anak muda. Nanti bila panjang umur,
panjang nafas, panjang langkah. Kita
bertemu di sebuah tempat besar bernama Bukit Keadilan. Di
hutang lama yang sangat besar. Semua
orang mempertaruhkan nyawa di sana.
Hik hik hik Tapi aku tidak menyesal
anak muda. Nanti bila panjang umur,
panjang nafas, panjang langkah. Kita
bertemu di sebuah tempat besar bernama Bukit Keadilan. Di
sana, aku, kau,
mereka dan sebagian tokoh di rimba
persilatan akan bertemu dengan
Malaikat Keadilan. Malaikat Bayangan
yang menjadi penentu besar kecilnya
dosa seseorang. Pada waktu itu setiap wajah tertunduk.
mereka dan sebagian tokoh di rimba
persilatan akan bertemu dengan
Malaikat Keadilan. Malaikat Bayangan
yang menjadi penentu besar kecilnya
dosa seseorang. Pada waktu itu setiap wajah tertunduk.
Merasa malu pada
dirinya sendiri, iblis pun akan malu, setan malu, hantu malu,
dirinya sendiri, iblis pun akan malu, setan malu, hantu malu,
perempuan
cantik malu, laki-laki malu,
terkecuali mereka yang tidak punya
kemaluan tidak punya rasa malu." jelas Datuk Sage Manyasal
cantik malu, laki-laki malu,
terkecuali mereka yang tidak punya
kemaluan tidak punya rasa malu." jelas Datuk Sage Manyasal
Hiduik.
Pendekar Blo'on tampak kaget
mendengar penjelasan Sang Datuk yang
tidak beda dengan seorang peramal itu.
"Kapankan waktu yang kau katakan itu tiba, Datuk?" tanya
Pendekar Blo'on tampak kaget
mendengar penjelasan Sang Datuk yang
tidak beda dengan seorang peramal itu.
"Kapankan waktu yang kau katakan itu tiba, Datuk?" tanya
Suro ingin
tahu. Datuk
Sage Manyasal
Hiduik tiba-tiba saja gelengkan kepala sambil
menepuk keningnya.
"Aku menyesal telah membocorkan
rahasia besar ini padamu. Ah...
bagaimana ini?"
"Aku bukan orang jahat, Datuk.
Mengapa kau harus khawatir?" kata Pendekar Blo'on.
"Setiap orang punya bakat jadi
orang jahat. Setiap orang punya dosa
kecil. Terlanjur aku bicara, urusan
besar
itu akan datang menjelang
kehancuran dunia, masalah besar akan
menimpa manusia, dimana kemanusiaan
sudah tidak dihargai oleh manusia itu sendiri. Dimana rasa
menepuk keningnya.
"Aku menyesal telah membocorkan
rahasia besar ini padamu. Ah...
bagaimana ini?"
"Aku bukan orang jahat, Datuk.
Mengapa kau harus khawatir?" kata Pendekar Blo'on.
"Setiap orang punya bakat jadi
orang jahat. Setiap orang punya dosa
kecil. Terlanjur aku bicara, urusan
besar
itu akan datang menjelang
kehancuran dunia, masalah besar akan
menimpa manusia, dimana kemanusiaan
sudah tidak dihargai oleh manusia itu sendiri. Dimana rasa
malu hilang,
keadilan tinggal tertulis di daun
lontar. Dan manusia memakan sesamanya sendiri. Itulah
keadilan tinggal tertulis di daun
lontar. Dan manusia memakan sesamanya sendiri. Itulah
neraka dunia di ujung
rimba persilatan.
Ah... aku menyesal
telah banyak bicara. Anak muda, padamu kutitipkan pesan
telah banyak bicara. Anak muda, padamu kutitipkan pesan
tegakkanlah kebenaran.
Semakin berpegang
kau pada akar
kebenaran, maka semua orang akan
memusuhimu"
"Mengapa begitu, Datuk?".
"Aku
menyesal tidak dapat
mengatakannya. Tapi carilah jawaban
sendiri. Kau pasti akan menemukannya.
Sudahlah, aku harus pergi..." kata Datuk Sage Manyasal
kebenaran, maka semua orang akan
memusuhimu"
"Mengapa begitu, Datuk?".
"Aku
menyesal tidak dapat
mengatakannya. Tapi carilah jawaban
sendiri. Kau pasti akan menemukannya.
Sudahlah, aku harus pergi..." kata Datuk Sage Manyasal
Hiduik. Sekejap
saja Datuk ini berkelebat, maka
tubuhnya langsung menghilang dari
penglihatan Pendekar Blo'on. Pemuda
itu melongo sambil gelengkan kepala
berulang-ulang.
"Banyak sekali orang aneh di
rimba persilatan ini. Dunia ini
rupanya benar-benar mempunyai banyak
keanehan. Akh... bisa gendeng aku
memikirkannya..."
pikir
Pendekar
Blo’on sambil melanjutkan perjalanan-
nya kembali.
10
Mustika Jajar terus memanggul
patung mar-mar di bahunya. Sesekali ia berhenti, beberapa
saja Datuk ini berkelebat, maka
tubuhnya langsung menghilang dari
penglihatan Pendekar Blo'on. Pemuda
itu melongo sambil gelengkan kepala
berulang-ulang.
"Banyak sekali orang aneh di
rimba persilatan ini. Dunia ini
rupanya benar-benar mempunyai banyak
keanehan. Akh... bisa gendeng aku
memikirkannya..."
pikir
Pendekar
Blo’on sambil melanjutkan perjalanan-
nya kembali.
10
Mustika Jajar terus memanggul
patung mar-mar di bahunya. Sesekali ia berhenti, beberapa
saat lamanya ia
memperhatikan suasana di sekeliling-
nya. Merasa perjalanan dalam keadaan
aman-aman saja, maka Iblis Betina Dari Neraka ini
memperhatikan suasana di sekeliling-
nya. Merasa perjalanan dalam keadaan
aman-aman saja, maka Iblis Betina Dari Neraka ini
melanjutkan perjalanannya
kembali. Ketika ia menuruni lereng
bukit tiba-tiba terdengar derap
langkah kuda dari arah depannya.
Gadis cantik berpakaian tembus
pandang ini memandang ke depan sekilas saja. Kemudian
kembali. Ketika ia menuruni lereng
bukit tiba-tiba terdengar derap
langkah kuda dari arah depannya.
Gadis cantik berpakaian tembus
pandang ini memandang ke depan sekilas saja. Kemudian
meludah dan lanjutkan
perjalanannya kembali.
"Berhenti" bentak sebuah suara.
Yang membentak barusan adalah
salah seorang dari dua penunggang kuda memakai baju
perjalanannya kembali.
"Berhenti" bentak sebuah suara.
Yang membentak barusan adalah
salah seorang dari dua penunggang kuda memakai baju
warna kuning. Tampang
mereka tidak ramah, wajahnya ditumbuhi dengan cambang
mereka tidak ramah, wajahnya ditumbuhi dengan cambang
bawuk lebat tidak
terurus. Di bagian pinggang kedua
laki-laki tergantung sebuah pedang
pendek berwarna kuning.
Muatika Jajar turunkan patung
besar dari bahunya. Ketika melihat
kedua laki-laki berbaju kuning itu ia kembali meludah.
terurus. Di bagian pinggang kedua
laki-laki tergantung sebuah pedang
pendek berwarna kuning.
Muatika Jajar turunkan patung
besar dari bahunya. Ketika melihat
kedua laki-laki berbaju kuning itu ia kembali meludah.
Sementara kedua
laki-laki
penunggang kuda
berbulu coklat
tampak leletkan lidah basahi bibir.
Seorang gadis cantik berwajah
jelita ada di pinggir hutan seorang
diri. Pakaiannya yang tembus pandang
menimbulkan gairah yang begitu
menggebu.
"Sudah hampir setahun ini kita
tidak pernah bertemu dengan perempuan.
Rupanya hari ini kita mendapat rezeki yang sangat besar.
tampak leletkan lidah basahi bibir.
Seorang gadis cantik berwajah
jelita ada di pinggir hutan seorang
diri. Pakaiannya yang tembus pandang
menimbulkan gairah yang begitu
menggebu.
"Sudah hampir setahun ini kita
tidak pernah bertemu dengan perempuan.
Rupanya hari ini kita mendapat rezeki yang sangat besar.
Lihatlah dari
bayangannya saja tampak bukit-bukit
yang indah. Seandainya bisa kuraih,
hemm..."
"Benar Kakang... selama ini yang kita lihat monyet betina,
bayangannya saja tampak bukit-bukit
yang indah. Seandainya bisa kuraih,
hemm..."
"Benar Kakang... selama ini yang kita lihat monyet betina,
gajah
betina, beruang betina. Dan yang
betul-betul perempuan baru yang ini
saja Kakang.'" kata yang berbadan pendek menyahuti.
"Kalau kau kebagian sisaku apa
mau, Adikku?"
"Ha ha ha.... Sisanya juga enak Kakang. Aku mau saja walau
betina, beruang betina. Dan yang
betul-betul perempuan baru yang ini
saja Kakang.'" kata yang berbadan pendek menyahuti.
"Kalau kau kebagian sisaku apa
mau, Adikku?"
"Ha ha ha.... Sisanya juga enak Kakang. Aku mau saja walau
sisamu yang ke
sepuluh kalinya"
Wajah Mustika Jajar seketika
tampak berubah memerah. Ia tahu benar arah pembicaraan
Wajah Mustika Jajar seketika
tampak berubah memerah. Ia tahu benar arah pembicaraan
kedua laki-laki
berbaju kuning tersebut. Tetapi di
lain waktu wajah gadis itu tersenyum
memikat. Malah ia usap-usap dadanya
yang tampak membusung. Sehingga
membuat kedua laki-laki ini jadi
belingsatan.
"Kalian siapa?" tanya Iblis Betina Dari Neraka.
"Ha ha ha... Ternyata kau
adalah seorang gadis yang sangat
ramah. Kami berdua adalah Iblis Kuning yang menguasai
berbaju kuning tersebut. Tetapi di
lain waktu wajah gadis itu tersenyum
memikat. Malah ia usap-usap dadanya
yang tampak membusung. Sehingga
membuat kedua laki-laki ini jadi
belingsatan.
"Kalian siapa?" tanya Iblis Betina Dari Neraka.
"Ha ha ha... Ternyata kau
adalah seorang gadis yang sangat
ramah. Kami berdua adalah Iblis Kuning yang menguasai
daerah ini. Tentu kau
tidak keberatan bila kami mengajakmu
bergabung. Jangan khawatir, hidupmu
pasti terjamin, karena kami mempunyai harta yang sangat
tidak keberatan bila kami mengajakmu
bergabung. Jangan khawatir, hidupmu
pasti terjamin, karena kami mempunyai harta yang sangat
besar jumlahnya."
kata yang berbadan pendek, lalu
memelintir kumisnya yang tebal.
Mustika Jajar tersenyum, setiap
senyumnya membuat jantung kedua laki-
laki itu berdetak kencang.
"Hi hi hi... Begitu? Apakah aku harus menjadi isteri kalian
kata yang berbadan pendek, lalu
memelintir kumisnya yang tebal.
Mustika Jajar tersenyum, setiap
senyumnya membuat jantung kedua laki-
laki itu berdetak kencang.
"Hi hi hi... Begitu? Apakah aku harus menjadi isteri kalian
atau hanya
sekedar
sebagai pemuas
nafsu?" tantang si gadis,
"Tentu saja menjadi isteri
kami?" sahut yang jangkung
Ia melangkah mendekati si gadis.
"Kalau aku harus memilih, maka
aku hanya bisa menjadi isteri salah
seorang dari kalian. Selain itu kalian juga harus bertarung,
"Tentu saja menjadi isteri
kami?" sahut yang jangkung
Ia melangkah mendekati si gadis.
"Kalau aku harus memilih, maka
aku hanya bisa menjadi isteri salah
seorang dari kalian. Selain itu kalian juga harus bertarung,
siapa yang
keluar sebagai pemenangnya. Maka orang itulah yang berhak
mendapatkan
tubuhku"
Kedua Iblis Kuning saling
pandang. Rasanya mustahil mereka
saling serang sesama mereka sendiri.
Sebab mereka masih punya hubungan
darah.
"Kami tidak bisa memenuhi
permintaanmu" sergah yang berbadan pendek.
"Mengapa? Sarat untuk mendapat-
kan diriku hanyalah dengan bertarung
antara kau dan kawanmu itu. Kalau
tidak siapa sudi? Sebab aku tidak tahu siapa yang paling
tubuhku"
Kedua Iblis Kuning saling
pandang. Rasanya mustahil mereka
saling serang sesama mereka sendiri.
Sebab mereka masih punya hubungan
darah.
"Kami tidak bisa memenuhi
permintaanmu" sergah yang berbadan pendek.
"Mengapa? Sarat untuk mendapat-
kan diriku hanyalah dengan bertarung
antara kau dan kawanmu itu. Kalau
tidak siapa sudi? Sebab aku tidak tahu siapa yang paling
hebat di antara
kalian jika telah berada di atas
ranjang..."
"Kami tidak mau."
"Kalau kalian tidak mau ber-
tarung aku pun tidak sudi menjadi
isteri kalian" dengus Mustika Jajar.
"Kau boleh tidak mau, tapi
patung bagus itu harus kau serahkan
pada kami..." tegas si jangkung.
"Hik hik hik... Patung ini
tidak akan kuberikan pada siapa pun.
Saudagar Bergola Mungkur hendak
menukar patung ini dengan tiga kantung emas. Itu pun tidak
kalian jika telah berada di atas
ranjang..."
"Kami tidak mau."
"Kalau kalian tidak mau ber-
tarung aku pun tidak sudi menjadi
isteri kalian" dengus Mustika Jajar.
"Kau boleh tidak mau, tapi
patung bagus itu harus kau serahkan
pada kami..." tegas si jangkung.
"Hik hik hik... Patung ini
tidak akan kuberikan pada siapa pun.
Saudagar Bergola Mungkur hendak
menukar patung ini dengan tiga kantung emas. Itu pun tidak
kuberikan.
Apalagi cuma kalian yang memintanya.
Tentu kalian hanya akan membuang nyawa secara sia-sia"
Kedua Iblis Kuning tampak marah
sekali melihat gadis di depan mereka
terlalu memandang rendah. Yang
berbadan pendek tiba-tiba saja
melompat ke depan. Tangannya ter-
pentang meluncur ke arah dada.
Tujuannya adalah meremas bukit kembar milik si gadis yang
Apalagi cuma kalian yang memintanya.
Tentu kalian hanya akan membuang nyawa secara sia-sia"
Kedua Iblis Kuning tampak marah
sekali melihat gadis di depan mereka
terlalu memandang rendah. Yang
berbadan pendek tiba-tiba saja
melompat ke depan. Tangannya ter-
pentang meluncur ke arah dada.
Tujuannya adalah meremas bukit kembar milik si gadis yang
tegak menantang
itu. Akan tetapi tiba-tiba saja
"Tes"
"Aaaa..."
Iblis Pendek menjerit keras.
Tubuhnya terpelanting, ketika ia
melihat ke bagian tangannya. Maka
tangan tersebut telah bengkak membiru.
Mustika Jajar tergelak-gelak.
"Kepandaian baru seujung kuku,
berani lancang main remas milik orang lain. Majulah kalian
itu. Akan tetapi tiba-tiba saja
"Tes"
"Aaaa..."
Iblis Pendek menjerit keras.
Tubuhnya terpelanting, ketika ia
melihat ke bagian tangannya. Maka
tangan tersebut telah bengkak membiru.
Mustika Jajar tergelak-gelak.
"Kepandaian baru seujung kuku,
berani lancang main remas milik orang lain. Majulah kalian
berdua, aku tidak
punya
banyak waktu untuk
mengirim
kalian ke neraka."
Yang berbadan jangkung melompat
ke depan, iblis berbadan pendek
bangkit berdiri. Lalu keduanya secara bersamaan melakukan penyerangan ke
arah lawannya. Serangan yang mereka
lakukan tidak main-main lagi, bahkan
di saat itu kedua Iblis Kuning telah
mengerahkan jurus 'Mengusir Kabut
Dalam Badai'. Ini merupakan jurus
andalan yang mereka miliki. Begitu
tubuh dan tangan mereka berkiblat,
maka terasa adanya sambaran angin yang sangat keras
kalian ke neraka."
Yang berbadan jangkung melompat
ke depan, iblis berbadan pendek
bangkit berdiri. Lalu keduanya secara bersamaan melakukan penyerangan ke
arah lawannya. Serangan yang mereka
lakukan tidak main-main lagi, bahkan
di saat itu kedua Iblis Kuning telah
mengerahkan jurus 'Mengusir Kabut
Dalam Badai'. Ini merupakan jurus
andalan yang mereka miliki. Begitu
tubuh dan tangan mereka berkiblat,
maka terasa adanya sambaran angin yang sangat keras
menampar wajah sang
gadis. Mustika Jajar cepat menundukkan kepala. Laksana
gadis. Mustika Jajar cepat menundukkan kepala. Laksana
kilat masih dalam
keadaan tertunduk itu ia melepaskan
tendangan berputar.
"Duk Duk"
"Hegkh..."
Kedua Iblis Kuning terhuyung ke
belakang. Dada mereka yang kena
tendangan itu langsung berubah
membiru.
"Hek... keparat kau iblis
betina..." desis salah seorang di antara mereka. Lalu....
"Sring Sring"
Mereka langsung mencabut pedang
pendek yang tergantung di pinggang.
Setelah itu laksana kesetanan mereka
memutar pedang di tangan dengan
kekuatan berlipat ganda.
"Wut"
Begitu tubuh mereka menerjang ke
arah si gadis. Maka pedang di tangan
mereka menusuk enam jalan kematian
lawannya. Mustika Jajar tidak menjadi keder dibuatnya. Ia menggeser langkahnya ke
keadaan tertunduk itu ia melepaskan
tendangan berputar.
"Duk Duk"
"Hegkh..."
Kedua Iblis Kuning terhuyung ke
belakang. Dada mereka yang kena
tendangan itu langsung berubah
membiru.
"Hek... keparat kau iblis
betina..." desis salah seorang di antara mereka. Lalu....
"Sring Sring"
Mereka langsung mencabut pedang
pendek yang tergantung di pinggang.
Setelah itu laksana kesetanan mereka
memutar pedang di tangan dengan
kekuatan berlipat ganda.
"Wut"
Begitu tubuh mereka menerjang ke
arah si gadis. Maka pedang di tangan
mereka menusuk enam jalan kematian
lawannya. Mustika Jajar tidak menjadi keder dibuatnya. Ia menggeser langkahnya ke
belakang sebanyak
dua langkah.
Setelah itu tangannya menghantam ke
arah lawan-lawannya dengan kecepatan
sulit diikuti mata.
"Wusss"
Dua larik sinar membeset udara.
Merasakan adanya hawa dingin
menderu ke arah mereka. Maka dua Iblis Kuning terpaksa
Setelah itu tangannya menghantam ke
arah lawan-lawannya dengan kecepatan
sulit diikuti mata.
"Wusss"
Dua larik sinar membeset udara.
Merasakan adanya hawa dingin
menderu ke arah mereka. Maka dua Iblis Kuning terpaksa
menarik serangan dan
memutar senjata untuk melindungi diri.
Namun pukulan yang dilepaskan
oleh Mustika Jajar tadi seakan tidak
dapat mereka patahkan. Malah tubuh
mereka seperti didorong oleh sebuah
kekuatan yang sangat dashyat. Dua
Iblis Kuning kertakkan rahang, lalu
melipat gandakan tenaga dalam ke arah pedang. Akhirnya....
"Buuummm"
"Auugkh…"
Kedua laki-laki tersebut men-
jerit tertahan. Tubuh mereka ter-
guling-guling. Wajah mereka berubah
pucat seperti mayat. Dengan bersusah
payah kedua iblis ini mencoba bangkit berdiri. Sementara
memutar senjata untuk melindungi diri.
Namun pukulan yang dilepaskan
oleh Mustika Jajar tadi seakan tidak
dapat mereka patahkan. Malah tubuh
mereka seperti didorong oleh sebuah
kekuatan yang sangat dashyat. Dua
Iblis Kuning kertakkan rahang, lalu
melipat gandakan tenaga dalam ke arah pedang. Akhirnya....
"Buuummm"
"Auugkh…"
Kedua laki-laki tersebut men-
jerit tertahan. Tubuh mereka ter-
guling-guling. Wajah mereka berubah
pucat seperti mayat. Dengan bersusah
payah kedua iblis ini mencoba bangkit berdiri. Sementara
lawan mereka tertawa
mengikik sambil
bertolak
pinggang.
"Hegkh..."
Begitu mereka dapat berdiri.
Maka darah langsung menyembur dari
hidung dan mulut mereka. Jelas sudah
mereka menderita keracunan yang sangat parah.
"Racun Naga Biru belum seberapa.
Tapi kalian segera berangkat ke
akherat bila aku melepaskan pukulan
yang ini..." dengus si gadis.
Begitu tubuhnya berkelebat, maka
Mustika Jajar kerahkan tenaga dalamnya ke bagian tangan.
pinggang.
"Hegkh..."
Begitu mereka dapat berdiri.
Maka darah langsung menyembur dari
hidung dan mulut mereka. Jelas sudah
mereka menderita keracunan yang sangat parah.
"Racun Naga Biru belum seberapa.
Tapi kalian segera berangkat ke
akherat bila aku melepaskan pukulan
yang ini..." dengus si gadis.
Begitu tubuhnya berkelebat, maka
Mustika Jajar kerahkan tenaga dalamnya ke bagian tangan.
Kedua telapak tangan
sampai ke siku yang
berwarna putih
tadi sekarang telah berubah menjadi
merah semerah darah. Kedua Iblis
Kuning segera menyadari apa yang bakal terjadi pada
tadi sekarang telah berubah menjadi
merah semerah darah. Kedua Iblis
Kuning segera menyadari apa yang bakal terjadi pada
mereka. Mereka bersiap-siap
hendak kabur, namun
lawan rupanya melihat gelagat ini.
Sehingga dengan
cepat ia mengibaskan kedua tangannya
ke depan.
"Wuut..,"
Sepuluh leret sinar merah
menebar bau bangkai melesat bagaikan
kilat. Dua Iblis Kuning mencoba
menangkis dengan memutar senjata di
tangan. Tetapi tampaknya pertahanan
yang mereka lakukan tidak memiliki
arti sama sekali. Terbukti serangan
Mustika Jajar mampu menerobos
pertahanan lawannya.
"Glaar Glaar"
"Aaaaakgh..."
Ledakan dashyat disertai dengan
terdengarnya suara jeritan yang saling susul menyusul. Dua
cepat ia mengibaskan kedua tangannya
ke depan.
"Wuut..,"
Sepuluh leret sinar merah
menebar bau bangkai melesat bagaikan
kilat. Dua Iblis Kuning mencoba
menangkis dengan memutar senjata di
tangan. Tetapi tampaknya pertahanan
yang mereka lakukan tidak memiliki
arti sama sekali. Terbukti serangan
Mustika Jajar mampu menerobos
pertahanan lawannya.
"Glaar Glaar"
"Aaaaakgh..."
Ledakan dashyat disertai dengan
terdengarnya suara jeritan yang saling susul menyusul. Dua
sosok tubuh
terlempar, ketika Iblis Kuning terbanting ke tanah. Maka
terlempar, ketika Iblis Kuning terbanting ke tanah. Maka
tubuh mereka telah
mengeriput hancur
dalam waktu yang
sangat cepat sekali.
"Hik hik hik... Kalian belumlah pantas menyandang gelar
sangat cepat sekali.
"Hik hik hik... Kalian belumlah pantas menyandang gelar
iblis.
Kepandaian hanya seupil sudah berani
bertindak usil" dengus si gadis.
Sambil
tersenyum sinis ia
meninggalkan dua korbannya. Lalu ia
mendekati patung perkasa, setelah itu ia memanggulnya
Kepandaian hanya seupil sudah berani
bertindak usil" dengus si gadis.
Sambil
tersenyum sinis ia
meninggalkan dua korbannya. Lalu ia
mendekati patung perkasa, setelah itu ia memanggulnya
kembali dan berjalan
pelan tanpa menoleh-noleh lagi.
11
Halaman luas yang dimasuki Suro
Blondo tampak tenang dan sepi-sepi
saja. Pemuda berbaju biru muda itu
terus melangkahkan kakinya mendekati
pintu utama, hingga kemudian terdengar suara bentakan
pelan tanpa menoleh-noleh lagi.
11
Halaman luas yang dimasuki Suro
Blondo tampak tenang dan sepi-sepi
saja. Pemuda berbaju biru muda itu
terus melangkahkan kakinya mendekati
pintu utama, hingga kemudian terdengar suara bentakan
disertai berkelebatnya
beberapa sosok
tubuh mengurung pemuda itu. Tanpa
bertanya-tanya lagi, para
pengawal yang jumlahnya tidak kurang
dari delapan orang langsung menyerang dengan pedang
pengawal yang jumlahnya tidak kurang
dari delapan orang langsung menyerang dengan pedang
terhunus di tangan.
"Walah Mau bertemu dengan
saudagar kaya, anjing-anjing penjaga-
nya malah mengeroyokku Baiklah kalian akan kubuat loyo..."
"Walah Mau bertemu dengan
saudagar kaya, anjing-anjing penjaga-
nya malah mengeroyokku Baiklah kalian akan kubuat loyo..."
dengus Pendekar
Blo'on. Seraya garuk-garuk punggung
kepala. Lalu menyambut serangan gencar lawan-lawannya
Blo'on. Seraya garuk-garuk punggung
kepala. Lalu menyambut serangan gencar lawan-lawannya
dengan mempergunakan
jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'.
Inilah salah satu jurus menghindar dan menyerang yang
jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'.
Inilah salah satu jurus menghindar dan menyerang yang
teramat konyol dan
lucu. Mula-mula pemuda ini ber-
jingkrak, kemudian melompat-lompat di lain saat menyerang
lucu. Mula-mula pemuda ini ber-
jingkrak, kemudian melompat-lompat di lain saat menyerang
sambil mengibaskan
tangannya
berulang-ulang. Sungguh pun gerakan kilat itu
seperti orang
menggaruk. Namun lawan terdepan yang
terkena hantaman tangannya langsung
terpental, berguling-guling disertai
suara jerit kesakitan.
Melihat kawannya dengan dikerjai
oleh pemuda bertampang tolol ini. Maka yang lain-lainnya
menggaruk. Namun lawan terdepan yang
terkena hantaman tangannya langsung
terpental, berguling-guling disertai
suara jerit kesakitan.
Melihat kawannya dengan dikerjai
oleh pemuda bertampang tolol ini. Maka yang lain-lainnya
menjadi sangat marah
sekali.
Serangan-serangan yang dilancarkan oleh mereka semakin lama
semakin bertambah hebat. Pedang
menderu-deru menghantam sepuluh jalan kematian. Suro
semakin bertambah hebat. Pedang
menderu-deru menghantam sepuluh jalan kematian. Suro
Blondo terpaksa memi-
ringkan tubuhnya
atau terkadang
melesat ke udara. Ketika tubuhnya
meluruk deras ke bawah. Maka kaki
kanannya menghantam kepala lawannya
dengan keras.
"Praaak..."
"Akkkhgggk..." dua pengawal menjerit keras. Tubuh mereka
tersungkur dengan kepala remuk menyembur darah. Kepala
melesat ke udara. Ketika tubuhnya
meluruk deras ke bawah. Maka kaki
kanannya menghantam kepala lawannya
dengan keras.
"Praaak..."
"Akkkhgggk..." dua pengawal menjerit keras. Tubuh mereka
tersungkur dengan kepala remuk menyembur darah. Kepala
pengawal tersentak
kaget, sama sekali ia tidak menyangka
kalau pemuda bertampang tolol itu
memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Lebih mengherankan lagi ketika
menyadari bahwa sampai sejauh itu
pedang di tangannya tidak dapat
menyentuh tubuh si pemuda. Merasa
tidak ada pilihan lain, kepala
pengawal segera mengerahkan jurus
'Menyibak Bukit Menghantam Demit'.
"Hiyaaa..." Kepala pengawal sambil berteriak melengking
kaget, sama sekali ia tidak menyangka
kalau pemuda bertampang tolol itu
memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Lebih mengherankan lagi ketika
menyadari bahwa sampai sejauh itu
pedang di tangannya tidak dapat
menyentuh tubuh si pemuda. Merasa
tidak ada pilihan lain, kepala
pengawal segera mengerahkan jurus
'Menyibak Bukit Menghantam Demit'.
"Hiyaaa..." Kepala pengawal sambil berteriak melengking
tinggi
segera memutar pedang di tangannya. Di lain waktu ia
segera memutar pedang di tangannya. Di lain waktu ia
menerjang ke depan, lalu
menusukkan ujung
pedang ke lambung
Suro Blondo. Pemuda itu menarik
tubuhnya ke belakang. Namun dari arah belakangnya mata
Suro Blondo. Pemuda itu menarik
tubuhnya ke belakang. Namun dari arah belakangnya mata
pedang lawannya
membabat pula.
"Tep Weleh... edaaan..." Si pemuda menggerutu. Selanjutnya
membabat pula.
"Tep Weleh... edaaan..." Si pemuda menggerutu. Selanjutnya
meng-hantamkan
tangannya kedua
arah
sekaligus. Sinar putih berkilauan
melesat dan menghantam kepala pengawal dan kawannya.
sekaligus. Sinar putih berkilauan
melesat dan menghantam kepala pengawal dan kawannya.
Itulah pukulan 'Kera
Sakti Menolak Petir' yang dimilikinya.
Terdengar satu ledakan dahsyat.
Bersamaan dengan itu terdengar pula
suara jerit lawannya. Kepala pengawal dan satu lainnya
terkapar di tanah
dengan mulut menyemburkan darah dan
jiwa melayang.
"Hhmm... sekarang tinggal
kalian Cepat pilih, antara mati atau memanggil juraganmu
dengan mulut menyemburkan darah dan
jiwa melayang.
"Hhmm... sekarang tinggal
kalian Cepat pilih, antara mati atau memanggil juraganmu
untuk menghadapi
aku" Empat orang pengawal saling pandang sesamanya.
aku" Empat orang pengawal saling pandang sesamanya.
Mereka sama-sama
berpikir jika kepala pengawal saja
tewas di tangan pemuda itu, apalagi
sekarang mereka hanya tinggal berempat saja. Namun
berpikir jika kepala pengawal saja
tewas di tangan pemuda itu, apalagi
sekarang mereka hanya tinggal berempat saja. Namun
sebelum mereka sempat
memutuskan apa-apa. Pintu utama tiba-
tiba saja terbuka. Seorang laki-laki
berpakaian mewah muncul dan melangkah menghampiri
memutuskan apa-apa. Pintu utama tiba-
tiba saja terbuka. Seorang laki-laki
berpakaian mewah muncul dan melangkah menghampiri
pemuda berambut hitam
kemerahan ini. Wajahnya jelas-jelas
tidak dapat menyembunyikan rasa
kejutnya ketika melihat empat orang
pengawalnya tergeletak tanpa nyawa.
Saudagar Bergola Mungkur
memperhatikan pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya
kemerahan ini. Wajahnya jelas-jelas
tidak dapat menyembunyikan rasa
kejutnya ketika melihat empat orang
pengawalnya tergeletak tanpa nyawa.
Saudagar Bergola Mungkur
memperhatikan pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya
ini sejurus lawannya.
"Kau siapa?" tanya sang
saudagar, suaranya bergetar berusaha
menahan amarah.
Suro Blondo tersenyum, lalu
usap-usap keningnya.
"Aku Pendekar Blo'on Sengaja
datang menemuimu untuk menagih hutang-hutangmu yang
bertumpuk"
"Ha ha ha... Bicaramu ngaco
belo. Manusia tolol sepertimu telah
menghutangkan apa kepadaku yang kaya
raya, heh..." hardik Bergola Mungkur, berang.
"Kau memang kaya, tapi hasil
kekayaanmu adalah hasil cucuran
keringat darah orang-orang yang mati
sengsara di Bumi Ayu." dengus
Pendekar Blo'on serius.
Saudagar itu terdiam. Wajahnya
berubah memerah. Ia merasa yakin dapat mengatasi pemuda
"Ha ha ha... Bicaramu ngaco
belo. Manusia tolol sepertimu telah
menghutangkan apa kepadaku yang kaya
raya, heh..." hardik Bergola Mungkur, berang.
"Kau memang kaya, tapi hasil
kekayaanmu adalah hasil cucuran
keringat darah orang-orang yang mati
sengsara di Bumi Ayu." dengus
Pendekar Blo'on serius.
Saudagar itu terdiam. Wajahnya
berubah memerah. Ia merasa yakin dapat mengatasi pemuda
yang mengaku
berjuluk Pendekar
Blo'on ini. Untuk itu ia pun berkata
dengan angkuhnya.
"Kau pendekar Gila Lebih baik
kau angkat kaki dari hadapanku sebelum aku benar-benar
"Kau pendekar Gila Lebih baik
kau angkat kaki dari hadapanku sebelum aku benar-benar
memenggal kepalamu"
"Justru aku jauh-jauh datang
kemari ingin meminta nyawamu. Kalau
kau tidak percaya tanyakan saja pada
semua algojomu yang sudah menunggu di pintu nereka" kata
"Justru aku jauh-jauh datang
kemari ingin meminta nyawamu. Kalau
kau tidak percaya tanyakan saja pada
semua algojomu yang sudah menunggu di pintu nereka" kata
pemuda itu lalu
tertawa
gelak-gelak. Saudagar Bergola Mungkur terkesiap.
Sama sekali ia
tidak menyangka kalau pemuda tampan
bertampang tolol itu telah
membinasakan orang-orang
kepercayaannya.
"Keparat Kau benar-benar
membuatku marah"
"Sret"
Laki-laki berkumis tebal ini
kemudian mencabut pedangnya.
"Jika kau sudah marah, mengapa
tidak menyerang?" Suro Blondo
tersenyum mengejek. Tingkah dan ucapan Pendekar Blo'on
tidak menyangka kalau pemuda tampan
bertampang tolol itu telah
membinasakan orang-orang
kepercayaannya.
"Keparat Kau benar-benar
membuatku marah"
"Sret"
Laki-laki berkumis tebal ini
kemudian mencabut pedangnya.
"Jika kau sudah marah, mengapa
tidak menyerang?" Suro Blondo
tersenyum mengejek. Tingkah dan ucapan Pendekar Blo'on
tentu saja membuat
lawannya semakin mendongkol. Sambil
membentak garang, Bergola Mungkur
tiba-tiba saja mengibaskan pedangnya
membelah dada si pemuda. Dengan gesit pemuda ini
lawannya semakin mendongkol. Sambil
membentak garang, Bergola Mungkur
tiba-tiba saja mengibaskan pedangnya
membelah dada si pemuda. Dengan gesit pemuda ini
langsung menghindar.
Selanjutnya ia memapak serangan
itu dengan gerakan yang serba aneh dan lucu-lucu. Namun
Selanjutnya ia memapak serangan
itu dengan gerakan yang serba aneh dan lucu-lucu. Namun
dibalik kekonyolan
jurus-jurus yang dimainkannya. Terkandung sebuah
jurus-jurus yang dimainkannya. Terkandung sebuah
kedashyatan yang tidak
dapat diduga-duga. Saudagar Bergola
Mungkur sendiri sempat terkesima.
Berulang kali ia membangun serangan.
Namun hingga sampai sejauh itu, setiap serangannya selalu
dapat diduga-duga. Saudagar Bergola
Mungkur sendiri sempat terkesima.
Berulang kali ia membangun serangan.
Namun hingga sampai sejauh itu, setiap serangannya selalu
menemui tempat
kosong. Padahal ia telah mengerahkan
jurus 'Sayap Kupu-Kupu Membelah Kuntum Bunga'.
"Shaa..."
"Des Des"
Satu gerakan tipuan dilakukan
oleh laki-laki setengah baya ini. Suro Blondo berusaha
kosong. Padahal ia telah mengerahkan
jurus 'Sayap Kupu-Kupu Membelah Kuntum Bunga'.
"Shaa..."
"Des Des"
Satu gerakan tipuan dilakukan
oleh laki-laki setengah baya ini. Suro Blondo berusaha
berkelit. Namun dua
pukulan yang tidak diduga-duga
menghantam dada dan punggungnya.
Pemuda berambut hitam kemerahan ini
terhuyung-huyung. Dadanya terasa sesak hingga
pukulan yang tidak diduga-duga
menghantam dada dan punggungnya.
Pemuda berambut hitam kemerahan ini
terhuyung-huyung. Dadanya terasa sesak hingga
membuatnya sulit bernafas.
Belum sempat ia memperbaiki
posisinya. Mata pedang lawannya
menderu dan jika tidak cepat ia
menarik badannya ke belakang. Pasti
pedang lawannya telah menjebol
perutnya.
"Heh... dia sangat cepat sekali
dalam memainkan jurus-jurus pedangnya.
Sebaiknya
aku
mengerahkan
jurus
'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'"
batinnya dalam hati.
"Huuup..."
"Deep"
"Beet"
Benar saja dugaan si pemuda
begitu tubuhnya berkelebat cepat.
Pedang di tangan lawan terus memburu.
Suro Blondo tiba-tiba berbalik, lalu hantamkan tangannya ke
Belum sempat ia memperbaiki
posisinya. Mata pedang lawannya
menderu dan jika tidak cepat ia
menarik badannya ke belakang. Pasti
pedang lawannya telah menjebol
perutnya.
"Heh... dia sangat cepat sekali
dalam memainkan jurus-jurus pedangnya.
Sebaiknya
aku
mengerahkan
jurus
'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'"
batinnya dalam hati.
"Huuup..."
"Deep"
"Beet"
Benar saja dugaan si pemuda
begitu tubuhnya berkelebat cepat.
Pedang di tangan lawan terus memburu.
Suro Blondo tiba-tiba berbalik, lalu hantamkan tangannya ke
bagian perge-langan
tangan Bergola
Mungkur. Sungguh pun gerakan yang
dilakukan oleh pemuda itu
terasa cepat
sekali. Namun lawan rupanya berlaku sangat
cerdik. Jika
semula ia melakukan tusukan, maka kini berbalik membabat
semula ia melakukan tusukan, maka kini berbalik membabat
kaki Suro Blondo.
Ia balas menyerang dan....
"Des"
"Aaakkkh..."
Pendekar Blo'on menyeringai.
Tubuhnya jatuh terguling-guling.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bergola Mungkur
Ia balas menyerang dan....
"Des"
"Aaakkkh..."
Pendekar Blo'on menyeringai.
Tubuhnya jatuh terguling-guling.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bergola Mungkur
yang telah dikuasai
oleh nafsu membunuh. Ia memburu sambil menghujamkan
oleh nafsu membunuh. Ia memburu sambil menghujamkan
pedangnya berturut-
turut.
Suro Blondo terus berguling-
guling kalang kabut. Satu kesempatan
ia yang telah mengerahkan tenaga
dalamnya segera menghantam ke depan.
"Wuuus"
Sinar merah hitam menderu dari
telapak tangannya. Itulah pukulan
'Neraka Hari Terakhir'. Salah satu
pukulan pamungkas yang sangat sulit
dicari tandingannya. Bergola Mungkur
sama sekali tidak menyangka akan
mendapat serangan sedemikian rupa.
Dalam jarak yang begitu dekat mustahil ia dapat
Suro Blondo terus berguling-
guling kalang kabut. Satu kesempatan
ia yang telah mengerahkan tenaga
dalamnya segera menghantam ke depan.
"Wuuus"
Sinar merah hitam menderu dari
telapak tangannya. Itulah pukulan
'Neraka Hari Terakhir'. Salah satu
pukulan pamungkas yang sangat sulit
dicari tandingannya. Bergola Mungkur
sama sekali tidak menyangka akan
mendapat serangan sedemikian rupa.
Dalam jarak yang begitu dekat mustahil ia dapat
menghindarinya. Tidak pelak
ia pun memutar pedangnya untuk
melindungi diri. Namun gerakannya
kalah cepat dengan pukulan yang dilepaskan Suro Blondo.
ia pun memutar pedangnya untuk
melindungi diri. Namun gerakannya
kalah cepat dengan pukulan yang dilepaskan Suro Blondo.
Sehingga tidak pelak
lagi
pukulan 'Neraka
Hari
Terakhir' dengan telak memanggang
tubuhnya. Suara ledakan dahsyat
disertai dengan suara jeritan Bergola Mungkur. Tubuhnya
Terakhir' dengan telak memanggang
tubuhnya. Suara ledakan dahsyat
disertai dengan suara jeritan Bergola Mungkur. Tubuhnya
terbanting ke tanah
dalam
keadaan hangus
seperti arang.
Sedang pedang yang dipergunakan oleh
Bergola Mungkur meleleh dan tergeletak tidak jauh dari
Sedang pedang yang dipergunakan oleh
Bergola Mungkur meleleh dan tergeletak tidak jauh dari
mayat pemiliknya.
"Hemm... saudagar ini kaya raya, tapi ia mati tidak membawa
"Hemm... saudagar ini kaya raya, tapi ia mati tidak membawa
hartanya.
Lagipula orang mati mana doyan harta, tidak jajan dan tidak
Lagipula orang mati mana doyan harta, tidak jajan dan tidak
pula membutuhkan
kemewahan dunia.
Biarkah rakyat yang
memiliki harta itu." batin Pendekar Blo'on lalu garuk-garuk
memiliki harta itu." batin Pendekar Blo'on lalu garuk-garuk
kepalanya
Hari telah menjelang senja saat
Pendekar Blo'on si bocah ajaib
beranjak pergi meninggalkan mayat-
mayat yang bergeletakan.
Hari telah menjelang senja saat
Pendekar Blo'on si bocah ajaib
beranjak pergi meninggalkan mayat-
mayat yang bergeletakan.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...