PENDEKAR BLOON
Eps.9
ANAK LANGIT & PENDEKAR LUGU
SATU
Bila bumi telah diguncangkan dengan gun-
cangan yang Maha dahsyat. Bila gunung-gunung
hancur lebur menjadi debu. Bila bumi mengelua-
rkan beban berat yang dikandungnya. Bila pe-
rempuan hamil melahirkan dengan paksa sebe-
lum waktunya. Bila seorang ayah meninggalkan
anak dan istrinya. Bila perempuan menyusui me-
ninggalkan bayi yang disusuinya. Bila orang mati dibangkitkan dari kuburnya, bila laut meluap dan bintang gemintang bertabrakan. Maka di hari itu
bagi manusia tidak ada lagi tempat berlindung,
tertutup pula baginya pintu tobat. Di hari itu harta benda tidak menolong, cinta manusia, kekasih
manusia lari meninggalkannya dan mereka Maha
sibuk dengan urusan masing-masing. Maka nik-
mat Tuhanmu yang manakah yang tidak kau
syukuri? Kebanyakan manusia menjadi sombong,
kebanyakan manusia itu lupa dan silau oleh ke-
senangan dunia yang cuma sedikit. Manusia ber-
lomba-lomba mengumpulkan harta benda dan
anak-anak. Padahal mereka hidup di dunia ini ti-
dak akan lama, harta benda yang dikumpulkan-
nya itu kelak akan ditinggalkannya pula Maka
nikmat Tuhan-mu manakah yang kau syukuri?"
Suara tanpa ujud itu menyentak di tengah-
tengah gemuruh suara hujan deras. Lalu terden-
gar rentetan suara petir menggelegar. Di awali
dengan cahaya kilat yang menerangi suasana di
sekelilingnya. Hujan deras tercurah lagi. Demi-
kianlah hal seperti ini terus berlangsung selama tiga hari dua malam.
Sebagian rumah-rumah penduduk di kota
kerajaan Ujung Dunia terendam. Bahkan ribuan
diantaranya terseret arus. Hewan ternak banyak
yang mati. Ratusan nyawa melayang dan mati
tenggelam. Sungguh ini merupakan azab yang
sangat mengerikan. Mungkin Tuhan marah meli-
hat manusia melakukan dosa di mana-mana, du-
nia ini sudah semakin kotor bertimbun dosa dan
kesalahan, keangkuhan, kekikiran, kelicikan, ke-
serakahan anak-anak manusia.
Dalam suasana seperti itu, tidak seorang
penduduk di kota Ujung Dunia itu yang keluar
meninggalkan rumahnya atau sengaja memisah-
kan diri dari keluarganya. Kebanyakan diantara
mereka memilih bertahan di dalam rumah bersa-
ma keluarga atau anak-anaknya, walaupun keti-
ka itu sebagian rumah mereka telah terendam air.
Kerajaan Ujung Dunia sendiri, yaitu kera-
jaan yang besar dari seluruh kerajaan yang besar dan pernah ada di kolong langit ini tidak tenggelam karena letaknya yang berada di atas gunung.
Sementara itu jauh dari keramaian kota te-
patnya di sebuah tempat peribadatan berbentuk
surau tampak seorang laki-laki muda berpakaian
putih dan memakai sarung kedodoran duduk ter-
pekur seorang diri. Hampir sepanjang waktu pe-
muda ini tampak berkemak-kemik memanjatkan
do'a dan memuji kebesaran Tuhan. Ia tidak per-
nah lepas dari air suci dan boleh dikata sangat jarang meninggalkan tempat peribadatan. Rumah di
dekat surau itu memang cukup banyak, jumlah
penduduknya juga padat. Namun akhir-akhir ini
mereka sangat jarang sekali beribadah. Mereka
kelewat sibuk atau sengaja menyibukkan diri un-
tuk berbagai macam kepentingan dunia.
Mereka saling berlomba mengumpulkan
harta, atau bekerja membanting tulang untuk
memenuhi kehidupan sehari-hari yang kian hari
semakin sulit didapat. Sementara harga kebutu-
han pokok kian melambung tinggi nyaris tidak
terjangkau.
Melihat kenyataan ini pemuda baju putih
yang dikenal dengan nama Wahyu Sakaning Gus-
ti hanya dapat mengurut dada. Dia sesungguhnya
merasa kasihan pada para penduduk itu. Mereka
telah tertipu mentah-mentah oleh kehidupan du-
nia dan melupakan kehidupan sesudah mati.
Pemuda gagah berwajah lugu ini tiba-tiba
saja menengadahkan wajahnya ketika petir sea-
kan menghantam puncak surau. Bibirnya yang
selalu basah dengan asma Tuhan itu menggeri-
mit. Traat
Glar Glaar
"Ya Tuhan... Pertanda apakah ini? Jauh-
kan aku dan mereka dari azabmu yang pedih.
Kembalikanlah kesadaran mereka pada fitrahnya
sebagai manusia. Jangan kau masukkan aku da-
lam golongan hambamu yang melampaui batas.
Aku takut kelak kami akan menjadi orang serugi-
ruginya" batin pemuda itu.
Wahyu Sakaning Gusti tiba-tiba bangkit
berdiri. Ia melangkah ke teras Surau. Memandang
ke luar hanya kegelapan saja yang terlihat. Di kejauhan pelita dari rumah-rumah penduduk berke-
lap-kelip bagaikan cahaya kunang-kunang yang
redup. Wahyu Sakaning Gusti alias Pendekar Lu-
gu tengadahkan wajahnya ke langit. Hujan masih
lagi menetes, angin masih juga bertiup, hawa dingin menampar-nampar wajah si lugu.
Traat
Sekali lagi kilat menyambar. Suasana be-
rubah terang benderang. Namun sungguh meng-
herankan, suasana terang itu seakan tidak ada
habis-habisnya. Wahyu Sakaning Gusti kembali
tengadahkan wajahnya ke langit. Astaga Pemuda
ini pun terperangah. Dari angkasa sana seakan
ada cahaya terang benderang yang meluncur de-
ras seperti Meteor. Cahaya itu sangat menyilau-
kan dan membutakan mata.
"Ya Tuhan... jangan kau turunkan bencana
pada kami" kata si pemuda seperti orang yang sedang memanjatkan doa.
Cahaya terang benderang berwarna putih
dan berpedar-pedar itu terus meluncur ke bawah
sejajar dengan atap surau. Sampai-sampai Wahyu
Sakaning Gusti menyangka benda bercahaya itu
akan menghantam hancur tempat ibadahnya.
Tidak disangka kira-kira tiga batang tom-
bak lagi cahaya berpedar itu menghantam surau.
Cahaya tiba-tiba berhenti mendadak. Pendekar
Lugu tidak tahan melihat kehadiran cahaya ter-
sebut karena begitu silaunya. Kemudian terden-
gar suara halus, nyaring mengejutkan....
"Wahai jiwa yang tenang. Aku datang dari
sebuah tempat yang sangat jauh. Sebuah tempat
bila seandainya pun seorang manusia mampu
menempuhnya, tubuh orang itu akan hancur. Bi-
la aku berjalan, maka langkahku lebih cepat dari perjalanan suara menempuh udara. Bila aku berlari maka kecepatanku berpuluh-puluh kali lipat
kecepatan cahaya. Aku datang karena ketegu-
hanmu. Aku menjumpaimu, karena kesabaran
mu, karena kepasrahan mu menghadapi manusia
yang semakin murka dan lupa diri. Wahai jiwa
yang tidak pernah marah. Wahai jiwa yang selalu
patuh pada perintah Tuhan, wahai jiwa yang ti-
dak takabur, tidak sombong, tidak kikir, tidak iri, tidak tamak, tidak pernah membongkar aib dan
kebusukan orang lain," kata suara itu dengan tenang namun menyejukkan.
Pendekar Lugu langsung terduduk lemas,
sekujur tubuhnya menggigil dilanda kecemasan
dan ketakutan. Lalu ia menangis, tangisnya
membuat tubuh si pemuda terguncang. Dadanya
menjadi sesak, seakan ia merasa kematian sudah
hampir menjemputnya. Cahaya berpedar-pedar
itu kemudian menyambung, suaranya membuat
ujudnya yang dalam bentuk cahaya bergetar.
"Malam ini adalah malam kepercayaan. Kau men-
dapat tugas yang sangat berat. Berat namun mu-
lia, mulia jika kau dapat melaksanakannya den-
gan baik..."
"Si... siapakah kau...?" tanya Pendekar Lu-gu. Suaranya terbata-bata karena ketakutan
itu masih melanda jiwanya.
"Aku hanya penyampai. Lebih baik kau
panggil aku sebagai 'Anak Langit'. Sekali lagi ku tegaskan padamu, aku anak langiiit... Hanya ini saja yang perlu kau ketahui sepanjang hidup."
sahut suara dalam cahaya itu.
Wahyu Sakaning Gusti tampak berkomat-
kamit. Sekujur tubuhnya telah basah bermandi
keringat. Padahal ketika itu udara sedemikian
dinginnya dan hujan kembali turun dengan de-
rasnya.
"Tugas apa yang harus kukerjakan?" tanya Pendekar Lugu alias Pendekar Penyampai, suaranya pelan namun jelas. Cahaya yang berpedar
itu kembali bergetar.
"Sebelum apa yang kusampaikan engkau
terima. Aku ingin bertanya terlebih dulu."
"Apa yang ingin kau tanyakan, ya Anak
Langit?"
"Pertama takutkah kau pada raja yang ke-
jam?" "Tidak" tegas Pendekar Lugu.
"Takutkah kau pada pembesar, prajurit ke-
rajaan, tokoh-tokoh sakti dalam rimba persilatan, tukang sihir, tukang teluh, dukun?"
"Tidak Selama aku berada di jalan yang
benar." kata Wahyu Sakaning Gusti.
"Siapakah musuh yang paling kau takuti
dan patut kau perangi?"
"Nafsuku"
"Jawabanmu berada dalam posisi yang te-
pat." puji Anak Langit. "Ketahuilah di dunia ini banyak orang dikejar-kejar rasa takut. Kecuali
manusia yang dekat dan selalu berpasrah diri pa-
da Tuhan. Orang kaya takut jatuh miskin, orang
melarat takut tidak makan. Orang berpangkat ta-
kut kehilangan pangkatnya. Takut dalam arti
yang luas adalah takut kehilangan yang muluk-
muluk di dunia ini." jelas Anak Langit.
"Adapun yang paling kejam tindakan ma-
nusia adalah memfitnah, membunuh, orang tua,
paman, kakek, kakak menodai darahnya sendiri.
Atau seorang ibu membuang atau membunuh da-
rah dagingnya sendiri. Atau seorang ibu mem-
buang atau membunuh darah dagingnya sendiri.
Menurutmu apakah sudah tidak rusak perilaku
manusia sekarang ini?"
"Rusak sekali, dan aku merasa sangat pri-
hatin. Aku jadi takut"
"Takut pada siapa?"
"Pada Tuhanku"
"Sekarang aku percaya. Ada pun tugas
yang harus kau pikul ada dua. Pertama carilah
hartawan yang paling kaya di dunia ini. Tidak
perlu aku terangkan, nanti kau akan tahu keta-
makan dan kekejamannya. Sedangkan yang ke-
dua kau carilah raja yang paling kejam di kolong langit ini. Untuk membantu tugasmu agar berhasil dengan baik, maka kau harus mencari seorang
pemuda ganteng berpakaian biru, memakai ikat
kepala biru belang-belang kuning, tampangnya
ketolol-tololan. Ia dikenal dengan julukan lain
Pendekar Mandau Jantan alias si bocah Ajaib.
Mengenai gelar sesungguhnya kau nanti boleh
tanya pada yang bersangkutan. Dia punya kesak-
tian yang dapat diandalkan. Namun dalam masa-
lah keteguhan hati terus-terang saja kurang." jelas Anak Langit.
"Apakah aku sendiri tidak boleh mencari
hartawan dan raja itu?" tanya Pendekar Lugu.
"Pekerjaan ini tidak mudah. Kau memikul
beban yang sangat berat. Karena sebelum sampai
ke tujuan utama kau akan menghadapi rintangan
yang tidak sedikit. Pemuda itu punya berbagai
kesaktian yang dapat kau ajak bekerja sama"
"Aku terima tugas ini. Apa pun yang akan
terjadi pada diriku, sesungguhnya nyawaku ku-
pasrahkan pada Tuhan" kata Pendekar Lugu tu-lus. "Wahyu Sakaning Gusti. Serukanlah pada hartawan kaya itu untuk menghentikan kemaksiatan. Hentikan jual beli kehormatan perem-
puan. Hentikan perjudian, hentikan pemadatan
dan hentikan pembuangan harta. Jika tiga kali la-ranganmu tidak dihiraukan. Maka sudah menjadi
tugas si Bocah Ajaib untuk membantumu. Demi-
kian juga dengan raja Lalim Durjana. Kekejaman-
nya sudah melampaui batas, tindakannya sewe-
nang-wenang. Berilah peringatan padanya. Jika
dia tetap membangkang, maka sudah menjadi tu-
gasmu dan tugas Suro Blondo untuk menghenti-
kan raja itu dengan cara yang keras" tegas Si Anak Langit.
"Aku akan selalu mengingat pesanmu, ma-
lam ini juga aku segera mencari pemuda itu." jawab Pendekar Lugu.
"Berhati-hatilah, berpikir dengan kesaba-
ran sebelum bertindak. Jika orang lain berkata
kasar padamu jangan kau balas. Bersikaplah di-
am daripada bicara tidak berguna. Sesungguhnya
Tuhan-mu menyukai orang-orang yang sabar. Se-
lamat tinggal Wahai Jiwa yang tenang. Di lain
waktu aku akan datang kepadamu" kata sosok berujud cahaya tersebut. Cahaya tersebut kemudian melesat ke langit. Semakin lama bergerak
semakin bertambah jauh sampai akhirnya hanya
terlihat titik putih yang teramat kecil, lalu menghilang dari pandangan mata.
DUA
Lima ekor kuda dipacu dengan kecepatan
tinggi. Kelima binatang tunggangan berbulu hitam tersebut berlari seperti dikejar-kejar setan. Pe-nunggangnya adalah lima orang laki-laki berba-
dan gemuk memakai pakaian serba hitam. Wajah
mereka angker, jenggot, cambang serta kumisnya
tumbuh subur tidak terawat dengan baik. Yang
mengerikan dari kelima laki-laki penunggang ku-
da itu semuanya picak bagian mata kirinya. Tidak hanya picak saja, tampaknya mereka sengaja
mencungkil matanya beberapa tahun yang lalu.
Sehingga terlihatlah sebuah rongga mata yang le-
bar dan berwarna kemerah-merahan.
Memasuki sebuah kota yang cukup besar.
Kelima penunggang kuda ini bukan mengurangi
kecepatan kuda mereka. Melainkan terus mem-
bedal kuda-kuda tersebut bagai orang kesurupan.
Orang-orang yang berada di jalan cepat menying-
kir dan seperti orang yang ketakutan.
Tidak lama kemudian mereka membelok ke
sebuah gang lalu berhenti di sebuah bangunan
mewah seperti sebuah penginapan. Kelima laki-
laki bertampang angker turun dari kuda masing-
masing. Dua orang laki-laki yang agaknya pekerja di situ menyambut mereka dengan hormat dan
membawa kuda itu ke tempat biasa untuk ditam-
batkan.
Dengan langkah tegap mereka menuju ke
pintu depan. Seorang perempuan bertubuh ge-
muk, gembrot mirip gentong datang menghampiri.
Sementara di dalam ruangan itu tampak belasan
gadis-gadis belia berwajah cantik dan memakai
pakaian mini duduk dengan genitnya.
"Anak-anak, masuklah kalian ke dalam"
perintah si wanita gemuk.
"Jangan semuanya masuk. Tinggalkan em-
pat orang untuk melayani kami" bentak salah seorang diantaranya.
Lima belas gadis-gadis cantik berdada me-
nantang dan berpaha mulus masuk. Sedangkan
empat diantaranya terpaksa menunggu. Empat
laki-laki menghampiri ke empat gadis yang me-
nunggunya. Mereka langsung memeluk, mere-
mas-remas bagian yang menonjol, atau tangan
mereka menggerayang ke tempat-tempat menonjol
yang lainnya. Dan sesungguhnya wanita itu me-
miliki banyak tonjolan dan tanjakan yang menye-
nangkan laki-laki keparat seperti empat mata pi-
cak ini.
"Tuan datang terlalu cepat dari waktu bi-
asanya Tentu saja setoran untuk bulan ini belum terkumpul sebagaimana mestinya" kata Wanita gembrot macam gentong ini manja.
"Kami selalu datang pada waktunya. Har-
tawan Abdi Banda memberi perintah pada kami
agar hasil dari daerah kemaksiatan ini dikumpul-
kan sebelum masa waktu yang ditentukan da-
tang. Kami hanya menjalankan perintah, tidak le-
bih dan tidak kurang" dengus laki-laki bertubuh paling tinggi dibandingkan yang lain-lainnya
"Baiklah, saya akan pergunakan uang saya
dulu untuk menutupi sejumlah. kekurangan yang
ada" kata Suntarini.
Perempuan itu kemudian menghilang di
dalam kamarnya. Ketua mata picak memperhati-
kan kawan-kawannya. Astaga Ternyata mereka
sedang berbuat mesum di ruangan itu tanpa ma-
lu-malu dilihat lainnya. Sungguh mereka tidak
bedanya dengan binatang yang tidak punya piki-
ran dan rasa malu. Sebaliknya ketua mata picak
ini kelihatannya menganggap kejadian itu biasa-
biasa saja.
"Ayo kawan-kawan, teruskan kalian bala-
pan. Akh... masa kalah dengan gadis-gadis ini..."
kata Rahjendra sambil tergelak-gelak.
Lalu terdengar suara lenguh kenikmatan
disana-sini. Rahjendra sudah tidak menghiraukan
apa yang dilakukan mereka. Mata yang cuma se-
belah itu membuat lebar ketika melihat kepingan
uang emas yang dibawa oleh Suntarini.
"Apakah cuma sekantung ini?" tanya Rahjendra. "Ya, sekantung ini. Bukankah biasanya se-gini juga jumlahnya?"
"Ah iya, aku sampai lupa? Rahjendra ke-
mudian menjulurkan tangannya ke dada Suntari-
ni. Sebentar saja dengan seenaknya ia membelai-
belai bukit si gembrot yang lembek kedodoran.
"Aih, tuan nakal sekali," desahnya sambil mengedipkan matanya.
"Kenakalanku padamu tidak setiap aku da-
tang kemari. Lain kali jika aku datang lagi kau
harus melayani aku luar dalam" kata ketua mata picak sambil terkekeh.
"Hik hik hik... Tentu saja jangan khawa-
tir" janji Suntarini.
Laki-laki itu memasukkan kantung ke ba-
lik bajunya. Ia memberi isyarat pada kawan-
kawannya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Ingat jika terjadi hal-hal yang tidak diin-ginkan di tempat ini sebaiknya laporkan pada
hartawan Abdi Banda. Tidak ada yang boleh ber-
buat onar di rumah surga ini. Sebagai orang ke-
percayaan kau harus menjaga kepercayaan yang
diberikan oleh hartawan padamu"
"Baiklah tuan" sahut Suntarini.
Si gembrot mengantar orang-orang keper-
cayaan hartawan Abdi Banda sampai ke halaman
depan. Kelima mata picak ini meninggalkan ru-
mah pelacuran itu untuk kemudian memungut
keuntungan-keuntungan lain di tempat perjudian
dan pemadatan.
***
Pemuda baju biru itu celingak-celinguk
memperhatikan keramaian kota di senja hari. Ko-
ta Cagar Tirta sejak lama memang dikenal sebagai kota kemaksiatan. Penduduk setempat tidak berani mencegah praktek-praktek terkutuk ini. Ka-
rena pemilik rumah pramusyarat itu tidak lain
adalah hartawan Abdi Banda.
Siapa yang tidak kenal dengan hartawan
Abdi Banda, manusia kaya raya di dunia yang
kunci gudang harta bendanya saja tidak dapat di-
tarik oleh dua ekor kuda yang kuat-kuat.
Sementara itu pemuda berwajah ketolol-
tololan ini tiada henti menggaruk kepalanya.
Pembangunan kota yang sedemikian pesat mem-
buatnya terkagum-kagum.
"Hebat juga daerah ini. Gedungnya megah-
megah, penduduknya hemm... terutama para ga-
dis itu. Jalannya megal-megol, pinggulnya wah...
hanya membuat kepalaku mumet (pusing)." batin si pemuda berambut hitam kemerahan.
"Hieekh..."
Kuda kurus kering yang ditunggangi oleh
Suro Blondo tiba-tiba saja ngadat tidak mau ja-
lan. "Kuda goblok ini taik sama kentutnya saja yang besar. Tenaga tidak ada. Mana tulang-tulangnya bertonjolan? Kuda kurus begini kalau
dijual tukang loak pun nggak bakalan sudi. Me-
nyesal aku mengambilnya di pinggir jalan. Dasar
goblok... blok-blok..." dengus si pemuda.
Disebut dirinya goblok, seakan mengerti
kuda tersebut tiba-tiba saja berlari cepat laksana terbang. Suro Blondo terkesiap dan hampir saja
terjatuh. Kuda terus berlari tidak tentu arah. Terkadang menabrak tukang jual makanan dan
buah-buahan di pinggir jalan.
"Hei berhenti, gobloook..." teriak Suro Blondo. Ternyata ucapan itu hanya membuat lari
kuda semakin menggila. Suro jadi bingung, cela-
kanya apa saja yang berada di depan kuda terse-
but ditabraknya. Hingga pemilik barang-barang
dagangan menjadi berang dan mengejar Suro
Blondo si anak ajaib.
"Waduh mengapa jadi begini" desis Suro si bocah Ajaib kalang kabut. "Wah kalau begini te-
rus semua orang bisa memukuliku. Hanya kuda
pinter saja yang tidak membuat susah majikan.
Pinter... ter...ter..."
Cieeet...
Secara mendadak kuda itu berhenti saat
Pendekar Blo'on menyebut kata pintar. Suro me-
longo, kini ia baru mengerti kuda itu rupanya
punya panggilan yang konyol. Kalau dibilang gob-
lok ia marah dan langsung berlari sekencang-
kencangnya. Sedangkan kalau dikata pintar lang-
sung berhenti.
"Ah siapa sebenarnya majikanmu. Tuanmu
pastilah orang konyol dunia akherat. Sekarang lebih baik kita berbalik. Aku perlu mencari sebuah penginapan untuk melewatkan malam ini."
Tklak-tkluk tklik tklok
Demikianlah dengan malasnya kuda itu
mengikuti perintah si Bocah Ajaib Suro Blondo.
Setelah mencari-cari sampailah pemuda baju biru
ini di depan sebuah tempat yang sangat mewah
mirip dengan penginapan. Banyak laki-laki keluar
- masuk dalam bangunan itu.
Seorang laki-laki tukang urus kuda meng-
hampiri Pendekar Blo'on. Kuda langsung dibawa
oleh laki-laki itu untuk ditambatkan di tempat
yang telah tersedia.
"Hei... mau dibawa kemana kuda kurus
itu?" tanya Suro Blondo.
"Ditambatkan, tuan"
"Oh..." Suro manggut-manggut. Si Bocah Ajaib segera bergegas memasuki pintu depan.
Sampai di dalam bangunan itu ia melongo seperti
orang bego. Banyak perempuan cantik di situ.
Mereka masih muda-muda, para laki-laki hidung
belang pun tidak kalah banyaknya. Diantara me-
reka ada yang sedang berpelukan atau bercumbu
tanpa rasa malu dan tak jarang pula yang sedang
berbincang-bincang sambil minum arak.
"Tempat macam apa ini? Apa mereka sua-
mi istri?" Suro garuk-garuk kepala. "Kurasa inilah yang namanya sorga dunia neraka akherat. Oh...
kalau begitu aku salah alamat. Lebih baik aku keluar saja" pikir si pemuda.
Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya
dan hendak berlalu dari situ. Namun terlambat,
dua orang gadis cantik berkulit putih dan mema-
kai pakaian merangsang telah menggandeng tan-
gannya kiri kanan.
"Aih tuan yang gagah. Mengapa buru-buru
pergi? Kau adalah orang yang paling gagah dari
sekian laki-laki hidung belang disini. Marilah ikuti kami" kata salah seorang diantara mereka sambil tersenyum genit. Lalu temannya menimpali. "Kami tidak akan mengecewakan mu"
"Hei, apa-apaan ini. Aku cari penginapan.
Bukan mencari perempuan" kilah Suro bingung.
"Hi hi hi... Menginap disini dapat tidur
dengan nyenyak dan kepuasan sekaligus"
"Jangan.... Aku tidak punya uang..." kata si konyol.
Kedua gadis jalang itu saling berpandan-
gan. "Bagaimana Melur?" tanya yang disamping
kiri Si Bocah Ajaib.
"Tidak apa-apa. Untuk pemuda setampan.
dia aku bersedia menyerahkan diriku sepenuhnya
tanpa dipungut bayaran sedikit pun." sahut Melur. "Aku pun setuju" sahut gadis yang berbadan jangkung.
Takut menarik perhatian orang-orang yang
berada di dalam ruangan itu. Akhirnya Pendekar
Blo'on hanya menurut saja. Kedua gadis cantik
tersebut membawa pendekar Blo'on memasuki
sebuah ruangan. Sebuah kamar mewah dengan
tempat tidur berwarna merah jingga.
"Duduklah kekasih kami"
Suro Blondo menurut. Namun tiba-tiba ia
terperangah kaget ketika kedua gadis itu mele-
paskan seluruh pakaian yang melekat di tubuh
mereka. Dalam keadaan polos begitu salah seo-
rang diantaranya langsung berdiri di depan Suro.
"Hutan rimbanya begitu lebat, bukitnya
menjulang ke langit" pikir si pemuda seperti orang yang sedang menyanyi.
"Marilah kekasih. Malam ini kita habiskan
untuk menikmati sorga dunia" tantang salah seorang dari gadis itu. Sebelum dada yang menonjol
itu menghimpit wajah si pemuda. Suro tiba-tiba
saja melompat.
"Jangan kalian dekati aku" dengus Pendekar Blo'on. Walau pun ia bersikap serius, namun
tetap saja mimiknya terkesan konyol.
"Hei... ada apa? Kami mau memberi ke-
nikmatan padamu mengapa sekarang menolak?"
tanya Melur.
"Kalian bertingkah seperti hewan saja. Dan
jelek-jelek gini aku masih manusia" tegas si pemuda. "Kau... mengapa kau malah menolak? Malam ini kami menyerahkan tubuh kami dengan
suka hati untuk seorang pemuda segagah eng-
kau. Kalau kau mengecewakan kami, maka akan
kami panggil tukang pukul" ancam gadis jangkung. Tanpa di duga-duga Si Anak Ajaib melom-
pat lagi ke pintu. Karena pintu dalam keadaan
terkunci maka ia terpaksa mendobraknya. Daun
pintu hancur berkeping-keping. Kedua gadis itu
berteriak keras.
"Tangkap orang itu. Ia tidak membayar..."
"Bayar apa? Lha wong aku tidak berbuat
apa-apa kok" dengus Pendekar Blo'on. Percuma saja ia membela diri karena laki-laki di ruangan itu telah mengepungnya. Dua algojo berbadan tegap kumis melintang maju serentak.
"Jangan berani kurang ajar kau bocah.
Siapa pun yang sudah bersenang-senang dengan
gadis disini harus bayar" teriak salah seorang algojo itu marah.
"Manusia congekan. Sudah kubilang aku
tidak berbuat apa-apa. Gadis-gadis itu hanya
memfitnah..." Suro Blondo membela diri.
Percuma saja ia berteriak. Dua orang algojo
menghantamkan tinjunya ke wajah Suro.
"Tampangmu yang tolol biar kami bikin ko-
nyol sekalian" dengus salah seorang algojo dengan beringasnya.
Suro melompat ke samping, lalu menangkis
dengan sikunya. Gerakannya cepat dan sangat
kacau sekali. Tiba-tiba saja....
Duuk
"Hek..."
Algojo berbadan gemuk pendek menjerit
tertahan. Kawannya yang berbadan gemuk tinggi
jadi marah. Ia menendang pendekar Blo'on tepat
pada bagian buah jambunya. Buah jambu dilin-
dungi pemiliknya dengan mempergunakan sebe-
lah tangan. Suro melompat di atas meja sambil
berjingkrakan seperti seekor monyet. Dari bibir-
nya terdengar suara ngak-ngik nguk seperti suara monyet. Lalu....
Jtak
Tangan si pemuda menghantam jidad la-
wan. Kening algojo itu benjol sebesar telur angsa.
"Kunyuk keparat" maki algojo pendek.
Tangannya mencengkeram rambut si pe-
muda. Suro menarik wajahnya ke belakang. Lalu
ia melompat-lompat, mengelak kian kemari den-
gan gerakan gesit seperti seekor kera. Inilah jurus
‘Kera Putih Memilah Kutu’. Salah satu jurus yang dimiliki oleh si pemuda.
Set
Serangan si pendek lolos menghantam an-
gin. Algojo jangkung semakin tidak sabar. Mereka mengepung Suro dari dua arah, lalu menerjang ke
depan dalam waktu bersamaan. Rupanya Si Anak
Ajaib meloloskan diri dari bawah. Tanpa dapat di tahan-tahan lagi mereka pun saling bertabrakan.
Bletak
"Wadaww..."
"Goblok mengapa kau malah menabrakku"
maki algojo pendek.
"Sial Dia nyeplos dari bawah bego" bantah sijangkung.
Saat mereka sedang saling berbantahan
itulah Pendekar Blo'on melompat ke udara. Lalu
tangannya kanan kiri menyambar ke bagian teng-
kuk kedua lawannya.
Tuuk Tuuk
"Hekh..."
Kedua laki-laki tukang pukul itu merasa
sekujur tubuhnya menjadi kaku. Suro tertawa
sambil mengekeh.
"Kalian benar-benar telah menjadi patung
sementara yang tidak lucu. Eeh... ada lagi ru-
panya. Perempuan macam gentong ini apakah tu-
kang pukul juga?" batin Suro Blondo.
Ternyata perempuan gembrot itu meng-
hampiri Pendekar Blo'on. Suro menunggu dengan
perasaan was-was.
***
TIGA
"Hhm, siapakah kau ini, pemuda tampan
bertampang tolol? Kau datang membuat kegadu-
han disini. Jelaskan tujuanmu jika tidak ingin
mencari susah" bentak si gembrot yang tidak lain adalah pengurus rumah pelacuran itu sekaligus
orang kepercayaan hartawan Abdi Banda.
Pendekar Blo'on seka keningnya yang ber-
keringat. "Aku.... Suro Blondo. Aku kemalaman di sini dan cari penginapan. Ternyata aku salah masuk. Jadi aku terpaksa keluar, tapi kedua gadis
itu telanjang lalu mengajakku ini dan itu. Aku tidak mau, eeh... mereka malah menuduhku yang
tidak-tidak"
"Benar begitu, Melur?" tanya Suntarini ditujukan pada kedua gadis yang sekarang telah
berdiri di ambang pintu. Ternyata kedua gadis itu sangat patuh pada majikannya.
"Benar, bu" jawab salah seorang diantaranya dengan ketakutan.
Jadi kalian berbohong?" dengus Suntarini
berang.
"Maafkan kami. Terus-terang kami merasa
tertarik pada pemuda itu. Tapi ternyata dia
menghina dengan menolak ajakan kami"
"Kenapa kau menolaknya, anak muda?"
"Karena aku hanya ingin tidur saja. Sudah-
lah, aku tidak mau berdebat. Sekarang mau pergi, dan jangan coba-coba halangi aku jika tidak ingin
kugebuk" tegas Pendekar Blo'on.
"Silakan kalau mau pergi" kata Suntarini.
Pendekar Blo'on pun akhirnya berlalu me-
ninggalkan tempat maksiat itu. Sementara itu
Suntarini diam-diam segera mengirimkan utusan
untuk menghubungi kaki tangan hartawan Abdi
Banda tentang kemunculan pemuda baju biru
tersebut.
Setelah keluar dari rumah mewah itu Pen-
dekar Blo'on terus menuju ke pinggiran kota.
Namun di sudut kota langkahnya terhenti setelah
melihat sebuah bangunan lain berwarna merah.
Yang membuat Suro terheran-heran karena di ba-
gian depan bangunan tersebut terdapat gambar-
gambar manusia dalam berbagai bentuk.
"Gambar itu seperti orang main topeng-
topengan kelihatannya kayak orang mabuk. Lalu
ada gambar bidadari cantik hampir telanjang.
Aku heran sekarang ini berada dimana, ya...?" pikir si pemuda, lalu menggaruk kepalanya seperti
orang linglung.
Karena merasa penasaran. Maka akhirnya
pemuda itu melangkahkan kakinya memasuki
bangunan tersebut. Sampai di dalam ia kaget ju-
ga. Dalam bangunan itu ternyata terdapat laki-
laki yang sedang menghisap sesuatu dari pipa.
Tercium bau khas yang selama ini belum pernah
dirasakan oleh Suro Blondo.
Para laki-laki itu seperti orang yang sedang
mabuk. Diantara mereka ada yang tertawa-tawa,
ada pula yang tersenyum-senyum tanpa mele-
paskan pipa panjangnya namun ada pula yang
menangis.
"Bapak, mengapa bapak tertawa seperti
orang gila? Yang bapak isap ini rokok apa racun?"
tanya si Anak Ajaib. Ia mengendus-endus. Cuping
hidungnya kembang kempis. Namun tiba-tiba sa-
ja sebuah tangan yang kokoh telah menariknya ke
belakang hingga membuat kakinya tergantung se-
tengah jengkal dari lantai yang terbuat dari batu marmar itu.
"Bicara dengan orang yang sedang menik-
mati sorga adalah sebuah pantangan disini" dengus orang berpakaian hitam memakai penutup
kepala warna hitam pula. Seluruh tubuh orang ini terbungkus pakaian hitam ringkas. Hanya sepa-sang matanya saja yang tidak tertutup. Suro yang memang belum pernah bertemu dengan orang seperti ini jadi kaget.
"Hei... lepaskan Kau hantu, setan atau
manusia?" tanya si pemuda.
"Aku Ninja Sakura. Ninjatsu yang membu-
nuh dengan seribu akal seribu cara" sahut orang ini.
Lalu tanpa bicara apa-apa lagi ia menyeret
Si Anak Ajaib menuju ke sebuah ruangan lain. Di
dalam ruangan itu tubuh si pemuda berambut
kemerah-merahan itu dilemparkan begitu saja.
Untung dirinya tidak dalam keadaan tertotok. Se-
hingga ia masih dapat berguling-gulingan dengan
baik. Dengan cepat Suro Blondo berdiri. Ternya-
ta lima orang laki-laki lainnya telah mengurung-
nya dengan ketat. Ninja yang menyeretnya tadi
memberi aba-aba membunuh pada kawan-
kawannya dengan bahasa yang tidak dimengerti
oleh Pendekar Blo'on.
"Haiik..."
Serentak kelima ninja hitam tadi maju ke
depan. Mereka menyerang dengan memperguna-
kan pedang kecil dan pendek yang biasa di per-
gunakan untuk Harakiri (Bunuh diri).
Bukan main cepatnya serangan itu. Se-
hingga hanya dalam waktu sekejab lima buah
ujung senjata telah siap merencah tubuh si pe-
muda. Pendekar Blo'on leletkan lidah. Tiba-tiba ia melompat ke udara. Namun begitu serangan lu-put, lima buah piauw meluncur deras ke arahnya.
Siing
Suro cepat pukulkan tangannya ke lima
arah, senjata rahasia tersebut rontok menimbul-
kan suara berdenting. Lalu terlihat pula lima
buah senjata berbentuk bintang empat persegi
meluncur deras ke arahnya.
"Haiiit..."
Zab Zab Zab
Suro melompat ke samping kiri, atau ter-
kadang melompat sambil berjongkok. Tangannya
menggaruk ke bagian tubuhnya. Sedangkan dari
mulutnya terdengar suara lolongan panjang se-
perti suara lolongan serigala. Inilah sebuah jurus
'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.
Set Set
Lima buah senjata kembali meluncur
membacok kepala, menusuk leher, menghantam
perut dan menyabet punggungnya. Serangan ke-
lima Ninja itu jelas sangat berbahaya.
Dengan cepat pemuda itu berguling-guling
membebaskan diri dari kepungan senjata. Seo-
rang lawan yang berada di sisi kirinya dihantam
dengan telapak kaki.
Duuk
Kraak
Lawan menjerit keras. Suro bangkit berdiri,
kemudian merebut senjata lawannya. Belum
sempat ia mempergunakan senjata yang dirasa-
kan sangat aneh itu. Empat serangan lain telah
mengejarnya. Suro tidak punya waktu. Ia angsur-
kan tubuh lawan dan segera menjadikannya ta-
meng. Cres Cres
Tidak ayal lagi tubuh Ninja malang itu
menjadi sasaran bacokan senjata kawannya sen-
diri. Empat Ninja hitam lainnya menggeram.
Yang jadi pimpinan memberi isyarat dengan gera-
kan tangan. Tiba-tiba saja mereka mencabut pe-
dang panjang di punggungnya. Senjata itu diputar dengan mempergunakan kedua tangan. Lalu serangan datang bertubi-tubi. Pendekar Blo'on jadi kalang kabut. Sambil melolong, menjerit atau
menangis ia terus menghindari serangan Ninja
itu. Walau pun gerakannya kacau, namun tidak
satu pun mata pedang mengenai sasaran.
Serentak Ninja-Ninja ini melompat mun-
dur. Yang jadi pimpinan maju ke depan, lalu men-
jura hormat. Ke empat Ninja menghilang. Yang
jadi pimpinan buka bicara.
"Siapa anda?"
Suro garuk-garuk kepala. Bibirnya me-
nyunggingkan senyum. "Aku tentu saja bukan setan hitam berkedok seperti kalian. Namaku Suro
Blondo"
"Suro San"
"Suro Blondo saja tidak memakai San..."
"San sama artinya tuan. Tuan Suro, kuli-
hat anda punya kepandaian hebat. Jika sudi ber-
gabung, tentu kita dapat bersama-sama menjaga
rumah madat ini. Hartawan Abdi Banda pasti
berkenan menerima anda sebagai pasukan kea-
manannya. Dan soal upah tidak usah khawatir"
"Kau sendiri yang memakai kedok ini sia-
pa?" "Aku dari Sakura, negeri jauh di seberang laut. Aku Ninja Sakura"
"Dimana itu Sakura?"
"Jauh dari sini."
"Apa disana sudah tidak ada pekerjaan un-
tuk orang seperti kalian?" tanya si Bocah Ajaib.
"Banyak. Tapi untuk yang berani mem-
bayar tertinggi, itulah tujuan kami„."
"Namamu?"
"Kenziro Nakasone."
"Wah namamu aneh amat. Berarti kau
orang asing Aku tidak tertarik tawaranmu Pu-
lang ke negerimu atau aku akan memotong li-
dahmu" tegas Suro Blondo dengan sikap serius, namun mimiknya tetap konyol.
"Di kasih tawaran baik untuk hidup enak
tidak mau" dengus Kenziro Nakasone.
Di luar dugaan tiba-tiba saja ia membung-
kukkan tubuhnya dalam-dalam layaknya seperti
orang yang menghormat pada tamunya. Namun
begitu Suro Blondo lengah. Maka dari balik pa-
kaian hitam Kenziro melesat dua buah kaitan
yang sangat tajam.
Seet
"Wah kurang ajar. Manusia kapiran Baru
bisa menghormat saja sudah mau minta nyawa-
ku Heaaa..." teriak Si Anak Ajaib.
Ia bersalto ke udara, sehingga senjata gai-
tan bertali ini lewat di bawah kakinya. Tiada disangka-sangka dari bagian langit-langit ruangan
melesat sosok hitam lainnya. Sambil melayang di
udara ia membabatkan pedang di tangan. Walau
pun dalam keadaan kepepet, namun Suro masih
mampu mengibaskan pedang pendek rampasan.
Trang
Benturan pertama membuat Suro kehilan-
gan keseimbangan. Namun pada kesempatan itu
arah senjatanya yang sempat menyimpang di-
kembalikan ke arah semula.
Jhess
Bruuk
Pedang pendek menembus perut sang Nin-
ja. Suro Blondo terduduk namun segera bangkit
lagi. Ketika ia menoleh maka kepala Ninja-Ninja
itu telah menghilang dari pandangan mata.
"Gila Ninja itu kabur sebelum kalah dan
tanpa sebab." pikir Pendekar Blo'on terheran-heran. Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba lantai ruangan yang dipijaknya seperti amblas ke
bawah. Karena ruangan itu cukup luas, maka
sungguh sulit bagi si pemuda untuk mencari se-
lamat. Tubuhnya dengan cepat meluncur ke ba-
wah. Beruntung pada waktu itu tampak sosok
bayangan lain berkelebat menyambarnya. Suro
merasa tubuhnya melayang laksana terbang.
Bayangan hitam tadi terus menerobos langit-
langit ruangan. Tembus ke genteng, namun sete-
lah mereka berada di atas genteng beberapa orang Ninja telah mengepung mereka.
Orang yang telah menyelamatkan Suro
Blondo melemparkan sesuatu ke arah ketiga Nin-
ja tadi. Dar Dar Dar
Ketiga benda bulat berwarna hitam lang-
sung meledak ketika di tangkis oleh para Ninja
itu. Begitu asap menebar, maka para penyerang
bergelimpangan roboh dengan mata melotot dan
jiwa melayang. Beberapa orang Ninja yang mun-
cul kemudian langsung melakukan pengejaran.
Namun gerakan dan ilmu lari mereka kalah cepat
dibandingkan dengan sosok hitam yang memang-
gul Suro Blondo.
"Orang ini berlari secepat angin, bergerak
seperti Malaikat. Tapi mengapa dia terus berlari.
Padahal mereka tidak mungkin dapat menyusul."
Karena posisinya sejajar dengan bahu sang peno-
long. Maka si konyol ingin memastikan yang me-
nolongnya laki-laki atau perempuan. Tangan ki-
rinya pun pura-pura menyampir di bagian dada.
Belum lagi niat itu terlaksana, tangan penolong-
nya telah bergerak sepuluh kali lebih cepat.
Tuuk
Dan tangan si pemuda pun berubah kaku
karena tertotok. Terdengar suara dengus sosok
hitam tersebut. Sementara ia tidak mengurangi
kecepatan larinya.
Hingga pada akhirnya mereka sampai di
sebuah tebing yang sangat curam. Tubuh Si Bo-
cah Ajaib dilemparkan begitu saja.
Bruk
"Wadoui... kira-kira. Tanganku yang sebe-
lah tertotok. Main lempar seenaknya apa kau kira aku babi hutan?" protes Pendekar Blo'on bersun-gut-sungut.
Sosok berpakaian serba hitam yang ternya-
ta juga memakai pakaian seperti ninja hanya
mendengus. Malah ia menotok bagian tubuh lain-
nya disaat pemuda berambut hitam kemerah-
merahan itu lengah.
***
EMPAT
"Ahk... kurang ajar sekali." Maki Si Anak Ajaib dalam hati. Inilah salah satu sikapnya yang paling tidak ia sukai. Ia selalu lengah dan jarang memikirkan keselamatan diri sendiri.
Jika sekarang dirinya sudah dalam kea-
daan tertotok tersebut, bukan mustahil orang
yang telah melarikannya dari rumah madat itu
punya maksud ingin membunuhnya
Dalam keadaan terlentang itu ia segera me-
lihat orang yang telah menotoknya. Ternyata
orang ini malah duduk di bawah sebatang pohon.
"Kau diam disitu dan jangan lihat-lihat
kemari Aku bisa membunuhmu kapan pun aku
mau" tegas orang itu.
"Heh... suaramu kecil seperti perempuan.
Apakah anda seorang gadis yang sedang menya-
mar?" tanya Suro sambil menggelengkan kepa-
lanya. "Jangan bicara jika tidak kutanya" dengus orang berpakaian seperti Ninja sengit.
"Wah suaramu ketus, pasti kau seorang
perempuan" tebak si usil tanpa menghiraukan ucapan si gadis.
"Diam... apakah kau ingin cepat mati di-
tanganku?"
Jika saja tangannya tidak tertotok, mung-
kin pemuda ini sudah garuk-garuk kepalanya.
"Mati dengan cara bagaimana pun aku
mau, yang penting atas kehendak Tuhan. Tapi ji-
ka harus mati ditangan orang misterius seperti-
mu, tentu aku jadi penasaran. Aku belum melihat
wajahmu, rupamu, bibirmu mungkin jika kau
punya bibir..."
Plak
Belum sempat pemuda itu melanjutkan ka-
ta-katanya sebuah tamparan yang cukup keras
mendarat di pipinya.
"Aku tidak punya silang sengketa dengan-
mu, mengapa kau menamparku?" protes Pende-
kar Blo'on. Dalam otaknya yang cerdik ia segera
mendapatkan akal untuk membebaskan diri dari
pengaruh totokan tersebut.
Diam-diam ia pun mengerahkan tenaga da-
lamnya. Namun pemuda itu terkejut. Karena to-
tokan di tubuhnya bukan main hebatnya. Suro
mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimili-
kinya. Kali ini usahanya itu mendatangkan hasil.
Maka terbebaslah dia dari pengaruh toto-
kan. Namun ia tetap berpura-pura, menunggu
perkembangan berikutnya. Ternyata orang itu
menghampirinya. Setelah sampai di depan Pende-
kar Blo'on ia berjongkok.
"Kuperingatkan padamu jangan coba-coba
mencampuri urusan hartawan Abdi Banda. Dia
bisa membuat hidupmu tersiksa atau mati per-
cuma karena ketololanmu" tegas orang ini.
"Ehh... kau ini siapa? Apakah juga begun-
dalnya hartawan yang memperdagangkan barang-
barang haram itu?" pancing si Bocah Ajaib.
"Jangan sembarangan kau bicara. Aku
adalah orang yang tidak menyukai hartawan itu
memperdagangkan wanita, judi dan madat. Cuma
hartawan keparat itu terlalu tangguh karena se-
demikian banyak pengawal berkepandaian tinggi
yang menjaganya. Jangankan manusia, seekor
semut pun tidak bisa menyusup ke sana, apalagi
kau manusia lemah, tolol lagi"
Suro Blondo tersenyum. Orang yang belum
jelas identitasnya ini dan bersuara seperti wanita terlalu angkuh.
"Jadi itu alasanmu, sehingga engkau me-
musuhinya?"
"Bukan hanya itu saja. Hartawan Abdi
Banda selain kikir, pelit juga sewenang-wenang
terhadap rakyat miskin. Tidak sedikit orang yang mati percuma karena terlambat mengembalikan
hutang. Ia juga manusia yang paling rakus den-
gan kemewahan dunia."
"Kalau begitu, kau pasti seorang gadis yang sedang menyamar" tebak Pendekar Blo'on.
"Mau laki-laki, bencong atau wanita bukan
urusanmu. Kau tidak layak mengetahui siapa
aku. Yang jelas aku seorang laki-laki..."
"Heh..." Suro terlonjak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang telah me-
larikannya seorang laki-laki. "Lalu mengapa kau menotokku?"
"Untuk memastikan agar kau jangan pergi
diluar sepengetahuanku Tidak kusangka ternyata
kau hanya pemuda lemah yang cuma bisa melon-
cat-loncat seperti monyet"
"Kalau hanya cuma itu, sebaiknya aku per-
gi saja." kata Si Bocah Ajaib.
"Hi hi hi... Bagaimana kau bisa lari dariku, jika tubuhmu dalam keadaan tertotok? Aku Rana
Unggul tidak dapat kau tipu"
"Begitukah Rana Unggul? Lihatlah aku se-
karang sudah dapat berdiri." kata si pemuda.
Pendekar Blo'on tiba-tiba berdiri.
Kenyataan ini membuat Rana Unggul ter-
kesima. Bagaimana pemuda ini bisa melakukan-
nya? Pertanyaan itulah yang mula-mula muncul
dibenaknya.
"Kau.,. manusia tolol sepertimu bagaimana
bisa membebaskan totokan?" tanya Rana Unggul.
"Ha ha ha... Tentu saja kulakukan dengan
ketololanku" sahut si pemuda. Tanpa menunggu lebih lama lagi pemuda itu melarikan diri.
"Hei... tunggu..." cegah Rana Unggul.
Percuma saja ia berteriak memanggil, ka-
rena Suro Blondo telah menghilang dalam kegela-
pan malam.
Pendekar Blo'on terus berlari, hingga hari
menjelang pagi sampailah ia di sebuah tempat
yang sangat luas tanpa pepohonan.
"Daerah apa ini namanya?" pikir Suro. Se-luas-luasnya mata memandang hanya hamparan
batu kapur dan bukit gersang.
Dengan perasaan letih yang teramat san-
gat, pemuda ini melangkahkan kakinya menelu-
suri daerah tidak bertuan itu. Setelah seratus
tombak, langkahnya terhenti kembali.
Entah dari mana datangnya tahu-tahu di
depan pemuda itu telah berdiri seorang laki-laki memakai pakaian rapi berwarna putih. Laki-laki
ini masih sangat muda, mungkin umurnya baru
sekitar dua puluh lima tahun. Tampangnya lugu,
tarikan pada bibirnya cukup keras agaknya ia
seorang anak manusia yang sibuk dengan piki-
rannya.
"Salam sejahtera saudaraku Tidak ku-
sangka akhirnya Tuhan mempertemukan aku dan
engkau juga"
"Saudara, eh... aku merasa tidak punya
saudara." kata si pemuda sambil menyeka ke-
ningnya.
"Setiap manusia adalah bersaudara satu
dengan yang lainnya." Jelas pemuda yang pelihara jenggotnya itu.
"Oh begitu ya? Aku tidak tahu, selama ini
aku beranggapan orang satu puser baru saudara.
Ah, bicaramu enak sekali didengar aku jadi men-
gantuk..."
"Jangan tidur dulu. Banyak hal yang ingin
aku bicarakan dengan engkau wahai saudaraku"
cegah pemuda itu yang tiada lain adalah Pende-
kar Lugu.
"Aku mengantuk sekali. Sudah satu mala-
man aku tidak tidur, cari penginapan ternyata
rumah pelacuran, mencari lagi ketemu rumah
pemadatan. Lalu aku dikroyok Ninja, dibawa ka-
bur oleh Rana Unggul, laki-laki yang suaranya
seperti perempuan. Isi dunia ini neko-neko (ber-
macam-macam). Perempuan dikaruniai wajah
cantik, dada cantik, pinggul cantik malah menjual mulutnya yang dibawah puser. Lalu laki-laki suka lupa diri karena madat, arak. Mereka lalu mabuk... mabuk lagi... kemudian mabuk lagi Aku
jadi pusing..." keluh si pemuda, sikapnya serius, namun tampang konyolnya tidak menunjukkan
keseriusan.
"Apa yang kau lihat belum seberapa sauda-
raku. Di akhir jaman ini, ada bapak kandung
berbuat seperti binatang hina dengan menyetu-
buhi anak perempuannya sendiri. Selama berta-
hun-tahun malah. Belum lagi seorang paman
dengan keponakannya, seorang kakek dengan cu-
cunya. Belum ditambah laki-laki serong, isteri serong." "Itu pertanda apa, sobat. Apakah ini lam-bang kemajuan manusia?" tanya Suro.
"Bukan kemajuan, tapi kebobrokan moral.
Tipis Iman, ini suatu pertanda tidak lama lagi dunia ini akan jadi porak poranda."
"Aha... bicaramu seperti seorang pandai
agama. Siapakah engkau ini?" tanya si pemuda baju biru sambil golang-golengkan kepala.
"Aku anak manusia ciptaan Tuhan juga.
Sama seperti dirimu dan manusia-manusia lain.
Aku bukan ahli apa-apa. Hanya sekedar penyam-
bung lidah dan mengemban suatu tugas yang cu-
kup berat..."
Untuk pertama kalinya Si Bocah Ajaib
pandang wajah pemuda di depannya. Lagi-lagi
Suro tercekat, betapa sejuk tatapan mata pemuda
itu. Seakan tersimpan seribu satu kedamaian dis-
ana. "Apakah engkau punya nama, sobat?"
"Namaku Wahyu Sakaning Gusti." jawab
pemuda baju putih kalem.
"Heh, sebuah nama yang sangat agung."
desis Suro tercekat. "Kau pasti bukan manusia seperti aku,"
Pendekar Lugu tersenyum. "Aku tetap ma-
nusia sepertimu. Tidak ada kelebihan pada diri-
ku. Aku hanya sekedar penyampai. Bagaimana
pun aku memerlukan bantuanmu" kata Wahyu
Sakaning Gusti.
"Bantuan apa, aku tidak bisa apa-apa?"
sergah Suro.
"Tidak seorang pun yang tahu seberapa da-
lamnya sebuah telaga yang tenang. Bukankah
kau Pendekar Blo'on?"
"Aku Suro Blondo. Bagaimana kau bisa ta-
hu?" "Anak Langit telah mengatakan padaku"
sahut Pendekar Lugu.
Pendekar Blo'on menggelengkan kepala
sambil garuk-garuk rambutnya.
"Apa yang dapat kubantu?"
"Banyak sekali. Pertama adalah memberi
peringatan pada hartawan Abdi Banda. Setelah
itu memberi kesadaran pada raja Lalim Durjana"
tegas Pendekar Lugu.
"Weleh-weleh. Apa yang baru kau ucapkan
barusan adalah menyangkut persoalan sangat be-
sar dan urusan yang besar pula. Aku tahu harta-
wan Abdi Banda adalah orang yang telah mengi-
kuti jalan setan, langkah setan dan serba setan.
Rumah pelacuran, perjudian, pemadatan dan ma-
sih banyak lagi yang membuat aku bingung. Me-
reka terlalu kuat, mustahil kita dapat mengemba-
likan mereka ke jalan yang betul."
"Jika Tuhan menghendaki, hal semacam
itu tidak perlu dirisaukan." tegas Pendekar Lugu penuh keyakinan.
"Heh, jangan dipandang enteng. Hartawan
Abdi Banda punya sepasukan Ninja Sakura. Tan-
gan kanannya lima jagoan mata picak. Tidak ter-
hitung tokoh-tokoh bayaran yang tentu saja me-
miliki kepandaian tinggi" kata si pemuda was-was. "Aku hanya penyambung lidah, tiga kali peringatan telah cukup. Sedangkan kau adalah
pendampingku."
"Jika demikian, kita perlu bertemu dengan
hartawan itu?" ujar Pendekar Blo'on.
"Aku telah datang dua kali dalam mim-
pinya. Sekali lagi aku datang kepadanya. Jika ia tidak mau kembali ke jalan yang benar. Maka kelak hartawan Abdi Banda akan binasa tertimbun
harta dan kesenangan dunia lainnya"
"Aku kurang mengerti dengan ucapanmu"
sergah Suro sambil usap-usap keningnya. Saat
itu matahari sudah mulai meninggi. Angkasa tiba-
tiba seperti terbelah dengan terdengarnya suara
bergemuruh dahsyat.
"Dia datang lagi" kata Pendekar Lugu
sambil memandang ke langit.
"Siapa?"
"Anak Langit." sahut si pemuda.
"Mengapa aku tidak melihatnya?"
"Ujudnya tidak pernah kelihatan, ia dalam
bentuk cahaya. Seperti matahari itu, tapi lebih terang dari matahari" jelas Pendekar Lugu. Ternyata memang benar adanya, begitu Suro mencoba
memandang ke langit matanya menjadi silau. Ca-
haya itu tepat berada di atas kepala mereka.
"Kalian sudah saling bertemu. Maka sepa-
kat sudah sama kalian dapatkan. Sesungguhnya,
orang-orang sesat itu kalian beri peringatan atau tidak tetap sama tidak ada gunanya. Aku melihat
Abdi Banda mengerahkan sebagian besar kekua-
tannya. Aku melihat tukang sihir telah menafsir-
kan arti mimpi perjumpaannya denganmu, Pen-
dekar Lugu. Kebenaran yang kau sampaikan ma-
lah membuatnya murka. Satu kali peringatan lagi
sudah cukup bagimu, Wahyu Sakaning Gusti.
Tindakan selanjutnya tegakkanlah kebenaran.
Hanya itu saja yang perlu kusampaikan saat ini,
selamat tinggal..." kata Anak Langit.
Cahaya aneh itu kembali melesat menem-
bus langit. Suro termangu, heran sekaligus mera-
sa takjub.
LIMA
Empat orang penunggang kuda berbulu
putih itu terdiri dari empat orang gadis berpa-
kaian tipis memakai cadar. Tubuh mereka mene-
barkan bahu harum. Saat Pendekar Blo'on dan
Pendekar Lugu hendak meninggalkan padang
tandus tersebut. Maka diwaktu itu mereka mun-
cul. "Bagaimana perempuan-perempuan itu bi-sa menunggang kuda, saudaraku?" tanya Pendekar Lugu. Ia sendiri tidak berani memandang ke
arah mereka. Karena pakaian gadis-gadis itu yang tipis memperlihatkan bentuk tubuhnya dipenuhi
dengan tonjolan-tonjolan.
"Hei, mengapa harus menunduk? Peman-
dangan di depan kita indah sekali. Kurasa Harta-
wan itu mengirimkan gadis-gadis ini untuk kita,
Pendekar Lugu..." celetuk Suro Blondo sambil cengar-cengir.
"Jagalah bicaramu, karena rusak bicara-
mu, maka ikut rusak pula anggota tubuhmu yang
lain" tegas Pendekar Lugu tetap menundukkan kepala. "Jadi aku harus bicara apa?" Suro garuk-garuk kepala. "Orang-orang ini jelas utusan hartawan itu."
Belum sempat Pendekar Lugu menyahuti
ucapan Pendekar Blo'on, keempat gadis penung-
gang kuda itu telah berhenti di depan mereka. Sa-
lah seorang diantaranya langsung bertanya.
"Yang mana diantara kalian bernama
Wahyu Sakaning Gusti?" tanya gadis yang paling cantik. "Aku..."
"Yang bernama Suro Blondo?"
Pendekar Blo'on nyengir. "He he he...
Aku..," sahut si konyol.
"Menurut ahli sihir hartawan Abdi Banda,
kalianlah orang yang bakal menyusahkan maji-
kan kami. Sekarang kami mengemban tugas un-
tuk menangkap kalian"
"Ha ha ha... Sobatku, mereka mau me-
nangkap kita. Apakah kau mau?"
"Suro Blondo. Tidak ada yang punya kuasa
atas jiwa kita terkecuali Tuhan" sahut Pendekar Lugu. Sekejab pemuda ini menoleh pada gadis-gadis berpakaian tipis itu. "Lebih baik kalian kembali dan beritakan pada hartawan kikir itu
agar kembali ke jalan yang benar." tegas Pendekar Lugu. "Jangan berkotbah di depan kami. Kami bekerja sesuai dengan perintah" dengus keempat gadis berpakaian tipis kembang-kembang ini. Serentak mereka melompat dari punggung kudanya
masing-masing.
Dua orang berusaha menotok Wahyu Sa-
kaning Gusti sedangkan yang dua lagi berusaha
meringkus Pendekar Blo'on. Ternyata Pendekar
Lugu ini dengan cepat mengelak. Lalu melompat
di atas cabang pohon.
"Saudara Suro. Aku tidak berkenan berha-
dapan dengan perempuan. Lebih baik kau urus
mereka" kata pemuda itu.
"Wah itu tidak adil namanya. Masa' engkau
yang memberi peringatan aku yang harus meng-
hadapi bahaya" dengus Pendekar Blo'on sambil menghindari serangan yang dilakukan oleh lawannya.
"Jangan biarkan mereka meloloskan diri"
teriak gadis bertubuh jangkung.
Dua gadis lainnya segera mengejar Pende-
kar Lugu. Namun pemuda berjenggot itu telah le-
nyap dari pandangan mata. Kini hanya tinggal
Pendekar Blo'on saja yang terpaksa menghadapi
serangan ke empat gadis cantik itu. Suro melom-
pat ke samping ketika serangan lawan menghan-
tam dadanya. Tapi dari bagian belakang menderu
tendangan yang cukup keras. Suro jadi kalang
kabut. Ia jungkir balik, lalu melompat lagi ke udara. "Hiyaa..."
Dua orang gadis cantik mengejarnya. Seka-
li jambret maka yang kena dijambret malah cela-
na Suro Blondo. Celana itu melorot sampai seba-
tas pantat.
"Wei... kurang ajar. Gadis-gadis mesum.
Kalian telah bikin aku malu, maka balasannya
juga harus setimpal." dengus si pemuda.
Suro tarik balik celananya. Sementara ga-
dis tadi sempat dibuat merah wajahnya. Rupanya
ia tidak sengaja melakukan itu. Dengan demikian
dia lengah. Suro dengan cepat melompat ke de-
pan, tangannya lalu menyambar.
Breet Bret
Dengan satu sentakan keras, maka pa-
kaian lawan yang tipis itu terlepas semuanya.
Pendekar Lugu langsung pontang panting meng-
hindari pemandangan yang menyolok itu.
"Auuw..."
Kedua gadis itu menjerit karena malunya.
Mereka menutupi bagian auratnya yang terbuka
menantang.
"Weleh-weleh... Ada hutan lebat, bukit
kembar. Apakah kita harus sama-sama menye-
rang tanpa pakai senjata?" tanya si konyol.
Dua orang kawan gadis-gadis itu tentu ti-
dak tinggal diam. Mereka segera mencabut senja-
tanya. "Pemuda gendeng Kau telah membikin ma-lu besar pada kawan-kawan kami. Untuk itu kau
harus menyerahkan nyawamu" ancam gadis yang jadi pimpinan mereka.
"Kemaluan kawanmu memang besar-besar.
Pasti majikanmu menyukai yang seperti itu. Ma-
salah nyawa itu urusan Tuhan Aiih..."
Belum sempat Suro melanjutkan kata-
katanya, dua mata pedang telah membabat mu-
lutnya. Suro terpaksa melompat lagi, lalu usap-
usap mulut yang hampir tertebas pedang.
"Mereka ini benar-benar minta nyawaku.
Kalau mulutku tadi kena aku pasti tidak punya
mulut. Padahal cuma mulut perempuan yang le-
bih dari satu. Gelo betul..." gerutu pemuda berambut kemerah-merahan ini dalam hati.
Siing
Senjata lawan kembali menderu dan
menghantam batok belakang kepalanya si pemu-
da. Secepat kilat pemuda itu menundukkan kepa-
la, lalu ia melompat-lompat atau terkadang ber-
jingkrakan.
"Nguk Nguk"
Gerakan tangan si pemuda menggaruk ke
depan, menendang ke samping sambil menggaruk
tubuhnya. Berulang kali tebasan pedang menge-
nai tempat kosong. Kedua gadis itu terus merang-
sak, sementara dua kawannya sedang sibuk
membenahi pakaiannya.
"Manusia kunyuk Apa bisamu cuma me-
lompat dan menghindar?" dengus si jangkung.
"Hiyaa..."
Terdengar suara teriakan dari belakang
Pendekar Blo'on. Pemuda ini terpaksa berguling-
guling, karena pada saat itu dua ujung pedang
meluncur ke dada dan lehernya. Tidak urung ten-
dangan keras menyambar punggungnya.
Buuk
"Hekk..."
Pemuda ini menggeliat kesakitan. Namun
ia masih dapat tersenyum walau pun bibirnya
meneteskan darah. Sementara lawannya tadi te-
lah menginjaknya tepat pemuda itu dalam kea-
daan telentang. Dengan cepat Suro menangkap
kaki yang mulus itu.
"Wah kau tidak memakai celana dalam ru-
panya" gerutu si konyol. Secepatnya ia memban-tingkan tubuh si gadis, lalu totokan yang cukup
kuat menghantam punggung si gadis.
"Oh..."
Gadis itu mengeluh. Pemuda berambut hi-
tam kemerahan ini sudah tidak dapat berdiam le-
bih lama.
Set
Wuuk
"Aih... gelo betul..." celetuknya. Ia melihat senjata lawannya dari dua arah sekaligus. Pemuda ini segera mundur, lalu mengerahkan jurus
'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.
Disertai teriakan keras tubuh pemuda itu
berkelebat lenyap, hingga tidak lama kemudian
yang terlihat adalah bayangan biru belaka. Ketiga lawannya tentu menjadi kaget dan dibuat bingung. Karena begitu cepatnya gerakan Suro Blon-
do ini, hingga membuat serangan lawan-lawannya
mengenai sasaran kosong.
Suro terus maju ke depan. Tiba-tiba ia me-
lompat tinggi ke udara. Saat tubuhnya meluncur
ke bawah, maka tangannya meluncur ke dua arah
sekaligus.
Tuk Tuk
"Akh..."
Dua orang lawan kena ditotok. Tubuh me-
reka kaku dengan gerakan seperti orang bersilat.
Si Bocah Ajaib ini jadi geli dan ingin tertawa. Namun pada waktu yang bersamaan yang jadi pim-
pinan menusukkan pedangnya ke arah si pemu-
da. Suro Blondo jadi terkesiap dan langsung geser langkahnya. Ternyata dia kalah cepat, sehingga...
Bret.
"Aduh..."
Pemuda ini menjerit tertahan. Walaupun
punggungnya ketika itu mengucurkan darah Suro
tidak perduli. Ia terus berputar-putar, lalu ka-
kinya menendang keras perut lawannya. Pimpi-
nan dari gadis-gadis itu mengibaskan pedangnya
untuk memapas kaki lawannya. Tapi Suro geser
kakinya. Kaki terus meluncur dan menghantam
puser si gadis agak di bawah.
Dess
"Aaaa..."
Gadis baju kembang-kembang terpelanting
roboh. Ia muntah darah, dalam keadaan seperti
itu ia mencoba bangkit berdiri. Namun ter-
huyung-huyung dan jatuh lagi.
Suro memungut sebuah pedang, lalu me-
nempelkannya di tenggorokan gadis itu.
"Sekarang tiba giliranmu. Kau mau mati
atau kembali ke jalan yang benar" kata si pemuda sambil seka keningnya.
"Ja... jangan bunuh aku. Kami memilih
mengabdi padamu. Hartawan Abdi Banda sudah
sangat tua. Sedangkan kau masih muda dan
tampan. Kami tentu mau disuruh apa saja"
"Bagaimana kawan-kawanmu?"
"Tentu mereka lebih senang lagi bersama-
mu..."
Suro tepuk keningnya. Kepala pemuda itu
langsung pusing. "Gila kalau ke empat gadis cantik ini semuanya mengabdi padaku mana tahan"
pikir si pemuda. Si konyol lalu bertanya. "Kalau kalian kusuruh memijit tubuhku apakah mau?"
"Wah, mau sekali. Disuruh mijit luar dalam
sampai bagian yang paling dalam pun kami mau
saja." sahut gadis itu.
Suro menghampiri gadis yang terluka ter-
sebut. "Aku mau menyembuhkan kau. Buka mu-
lutmu"
Tanpa curiga si gadis membuka mulutnya.
Suro memasukkan obat pulung berwarna hitam
pemberian gurunya Malaikat Berambut Api. Obat
itu pahit rasanya.
"Kau memberiku apa?"
"Obat?"
"Kok bentuknya bulat seperti itu?"
"Cerewet ah, mungkin taik kambing atau
kotoran sapi. Jangan banyak tanya. Yang penting
kau bisa sembuh." dengus si pemuda pencongkan mulutnya. Tidak berapa lama gadis yang bernama
Seruni itu mulai dapat merasakan pengaruh mu-
jarab obat tersebut.
Suro menghampiri tiga gadis lainnya yang
dalam keadaan tertotok. Lalu dia membebaskan
totokan bekas lawannya. Begitu terbebas dari to-
tokan mereka langsung berlutut.
"Hei... apa-apaan kalian? Aku bukan maji-
kanmu" cegah Suro Blondo bingung. Namun
keempat gadis itu tampaknya tidak perduli lagi
dan tetap ngotot ingin mengabdi pada si pemuda.
"Bagaimana pun anda telah memaafkan
kesalahan kami dan memberi kesempatan pada
kami untuk tobat. Kami, aku, Seruni, Seroja, Sentini dan Sri Sedap ingin mengabdikan jiwa raga
kami padamu"
"Wah, kalau bicara soal mengabdi sebaik-
nya kalian mengabdi pada Tuhan. Ah... namamu
kok aneh amat. Sri Sedap, kayak penyedap ma-
kanan saja. Apa ada bagian tubuhmu yang se-
dap" "Ada... ada kalau tuan mau. Aku bersedia memberikannya pada tuan kapan saja..." jawab Sri Sedap tanpa ragu.
Suro garuk-garuk kepala dan sempat me-
merah wajahnya. Di saat itulah terdengar suara
sayup-sayup....
"Pendekar Blo'on. Lidahmu bisa menjeru-
muskan dirimu ke jurang neraka. Hati-hatilah
kau bicara Mereka itu lemah Iman. Jika mereka
kau suruh telanjang sekali pun pasti mau. Tapi
Tuhanmu murka, sebaiknya kau membimbing
mereka ke jalan yang benar" kata suara itu yang tidak lain adalah suara Pendekar Lugu yang me-nunggunya di kejauhan.
"Jangan takut, sobat. Aku hanya mengajak
mereka bercanda" Jawab Pendekar Mandau Jantan ini disertai senyum.
Pemuda tampan berwajah ketolol-tololan
ini mengajak ke empat gadis itu menuju kota Tir-
ta Maya.
ENAM
Tirta Maya tidak pernah sepi dari waktu ke
waktu. Suasana semakin bertambah ramai apabi-
la malam hari. Banyak kalangan bangsawan men-
cari hiburan di kota ini. Diantara mereka ada
yang menghabiskan uang di meja judi. Ada pula
yang bersenang-senang di rumah pemadatan atau
pelacuran. Semua tempat ini seperti telah dis-
ebutkan adalah milik hartawan Abdi Banda.
Sore itu seorang gadis cantik berambut
panjang terurai memasuki rumah pelacuran yang
tidak pernah sepi pengunjung itu. Kehadiran ga-
dis berpakaian hitam ringkas ini tentu menarik
perhatian tetamu laki-laki yang sedang tawar me-
nawar dengan perempuan-perempuan pelacur itu.
Tidak kurang si gembrot Suntarini, yaitu perem-
puan kepercayaan sang hartawan merasa heran.
Ia menyangka tentu gadis ini ingin menawarkan
diri untuk menjadi gadis penghibur. Hal ini tidaklah mengherankan karena sangat banyak gadis-
gadis dari daerah miskin yang berbuat seperti itu demi menyambung hidup dirinya atau keluarganya. Namun gadis ini sangat lain, ia lebih cantik. Pinggulnya sedang buah dadanya membayang
kencang di balik pakaiannya yang ketat. Mungkin
anak orang punya atau paling tidak dia gadis ter-pelajar. Tatapan matanya membuat para laki-laki
langsung klepek-klepek.
"Ada yang dapat kami bantu, Nisanak"
tanya Suntarini menyambut kehadiran gadis itu
dengan senyum ramah berbau maksiat. "Atau
mau bekerja disini? Ditanggung penghasilan be-
sar, pekerjaan hanya uncang-uncang kaki dan
melayani tamu yang datang"
"Kurasa hanya kau yang dapat membantu-
ku keluar dari kesulitan" kata gadis itu setengah berbisik.
Sementara itu beberapa laki-laki terus
memandangnya dengan mata melotot. Tatapan
mata mereka diwarnai dengan nafsu rendah. Sun-
tarini sendiri langsung tersenyum. Gadis ini pasti akan menawarkan diri. Terbayang dalam benaknya keuntungan besar yang akan diraihnya. Seo-
rang gadis yang masih suci tentu dia dapat me-
nawarkan pada langganan dengan harga tertinggi.
Paling sedikit seratus keping uang emas.
"Apakah kau membutuhkan uang Nisa-
nak..." "Namaku Puspita Sari."
"Nama yang bagus secantik orangnya."
Suntarini menimpali.
"Betul aku membutuhkan uang..." sahut Puspita Sari.
"Berapa?"
"Tiga ratus keping emas"
Mata Suntarini membulat lebar. "Itu adalah
jumlah yang cukup besar. Tapi kalau kau mau
bekerja disini seperti gadis-gadis itu tentu uang yang kau butuhkan ada. Bagaimana?"
Gadis cantik itu tersenyum sinis, namun
tetap menganggukkan kepala.
"Tunggu sebentar disini" Suntarini meninggalkannya. Ia tampak bicara dengan seorang
laki-laki berbadan gemuk berperut besar. Laki-
laki yang sudah bau tanah mengangguk-
anggukkan kepala, lalu mengeluarkan uang dan
diberikannya pada Suntarini.
"Nah sekarang kau sudah menjadi milik
Kinanjar. Jangan khawatir, dia orang kaya. Dia
punya ratusan ekor sapi dan ratusan ternak lain-
nya. Ikuti dia ke kamar. Nanti bagianmu dapat
kau ambil" pesan Suntarini. Kinanjar tanpa ma-lu-malu langsung menggandeng lengan Puspita
Sari. Puspita diajak memasuki sebuah kamar.
Sesampainya di dalam kamar laki-laki gemuk itu
langsung mencengkeram dada si gadis. Namun
diluar dugaan gadis itu mencabut sesuatu ber-
warna putih mengkilat lalu menusukkannya ke
perut Kinanjar.
Laki-laki malang itu tidak sempat lagi men-
jerit karena mulutnya dibekap oleh Puspita. Ia
berkelojotan di atas tempat tidur, darah mengu-
cur deras membasahi sprei. Tidak lama kemudian
laki-laki itu tewas sebelum dapat mencicipi apa-
apa. Pintu ditendang, hingga terbukalah dengan
lebar. Sosok tubuh besar yang sudah tidak ber-
nyawa lagi melayang dari dalamnya. Lalu meng-
hantam meja tempat dimana Suntarini sedang
menghitung laba.
Braak
Mayat Kinanjar yang melotot jatuh di ba-
wah kaki Suntarini. Suasana di ruangan itu pun
menjadi panik, ribut dan gadis-gadis penghibur
berhamburan keluar saking takutnya.
Para tamu laki-laki tetap berada di tempat
walaupun hati mereka diliputi dengan rasa gentar juga. Dua orang tukang pukul langsung meng-hambur menyerang Puspita Sari. Tangan si gadis
dikibaskan ke arah mereka. Dua buah benda
berwarna putih seperti perak melesat dengan ke-
cepatan laksana terbang.
Algojo-algojo itu tidak sempat lagi menge-
lak. Dua buat mata pisau beracun menembus
leher sedangkan yang satunya lagi menghantam
jantung.
Orang-orang ini langsung ambruk dan ti-
dak berkutik lagi. Tubuh Puspita Sari lalu me-
layang, bukan main cepat gerakannya. Di lain
waktu ia sudah mencengkeram rambut Suntarini.
"Kau telah membuat rendah martabat
kaummu sendiri. Perempuan-perempuan itu se-
karang tidak ubahnya seperti sampah busuk yang
tidak berguna. Semua ini hanya demi kepentin-
gan hartawan dan kepentinganmu sendiri. Kau
hanya tinggal mengatakan, kematian bagaimana
yang kau dambakan?" dengus Puspita Sari, gadis yang tidak jelas asal usulnya ini geram.
"Ja... jangan... kau ambillah uang ini se-
muanya asalkan jangan kau bunuh aku Nisanak"
ucap Suntarini menghiba-hiba.
"Uang busuk dari hasil yang menjijikkan.
Sekarang kau harus memakan kepingan-
kepingan uang ini sampai habis" perintah si gadis, dingin.
"Bbb... baik..."
Karena takut dibunuh dan mengalami na-
sib sial seperti kedua algojo itu, maka Suntarini terpaksa memakan uang tersebut.
Baru dua keping uang emas yang dima-
kannya mata sudah melotot seperti melihat setan.
Suntarini terpaksa minum air. Namun mata uang
tetap nyangkut di tenggorokan.
"Nah seperti itulah yang dirasakan oleh
orang lain. Sekarang makan lagi" perintah Puspita.
Dengan tubuh menggigil ketakutan Sunta-
rini kembali telan dua keping emas, hingga ma-
tanya melotot.
"Auu... uuuk... uuh...".
Perempuan gembrot itu tersengal-sengal
karena begitu sulitnya bernafas.
"Siksaan ini belum seberapa, nanti di nera-
ka kau akan tahu akibatnya...." dengus Puspita.
Dengan keras ia memukul punggung leher
Suntarini, hingga empat mata uang melompat da-
ri mulutnya. Namun karena sedemikian kerasnya
pukulan itu hingga membuat Suntarini tergeletak.
Tubuhnya mengejang, lalu terdiam untuk selama-
lamanya.
Puspita langsung menyambar puluhan pe-
lita yang terdapat di situ. Minyak ditumpahkan.
Hanya dalam waktu yang sangat singkat rumah
pelacuran itupun dikobari api.
Api semakin lama semakin bertambah
membesar dan terus melahap rumah kemaksia-
tan ini. Gadis-gadis penghibur yang tidak sempat menyelamatkan diri terbakar hidup-hidup.
Puspita berkelebat keluar. Dalam pada itu
dari arah belakangnya terdengar suara derap
langkah kuda yang dipacu dengan tergesa-gesa.
Ternyata mereka adalah lima laki-laki gemuk ma-
ta picak.
"Siapa yang telah membakar salah satu
kekayaan hartawan Abdi Banda?" tanya Rahjendra yang jadi pimpinan.
Walau pun di bagian halaman depan itu
banyak laki-laki hidung belang yang menyaksikan
kejadian tersebut. Tidak seorang pun yang berani angkat bicara. Padahal ketika itu Puspita masih
berada di antara mereka.
"Kau mencari orang yang membakar ge-
dung ini?" tanya Puspita sambil menghampiri.
"Betul Siapa pun kunyuknya harus digan-
jar setimpal" dengus Rahjendra.
"Aku yang telah membakarnya" sahut
Puspita tanpa merasa gentar sedikit pun.
Rahjendra menjadi marah bukan kepalang.
Ia langsung menyerbu ke arah gadis berpakaian
hitam ketat tersebut. Namun si gadis tiba-tiba
melenting ke atas tembok. Dalam sekejapan saja
tubuhnya lenyap. Rahjendra alias Setan Kebina-
saan bermaksud mengejar. Namun belum sempat
ia melompat, di atas tembok telah berdiri seorang laki-laki berpakaian serba putih berjanggut panjang. "Siapa kau? Apakah kawannya gadis liar tadi?" bentak Rahjendra sengit.
Si pemuda yang tidak lain adalah Pendekar
Lugu tersenyum. "Aku tidak mengenalnya. Aku hanya penyambung lidah, untuk itu tinggalkan
hartawan Abdi Banda dan kembalilah ke jalan
yang benar" kata Wahyu Sakaning Gusti.
"Bangsat kapiran Kau bicara pada orang
yang salah dan waktu yang salah pula. Hiaa..."
teriak Rahjendra. Ia langsung menghunus sang-
kur kembarnya dan menikam dada lawannya se-
cara bertubi-tubi. Serangan yang dilakukan oleh
Setan Kebinasaan ini cepat bukan main. Namun
ternyata Pendekar Lugu sambil melipat tangan di
dada hanya menghindari tusukan yang bertubi-
tubi itu.
Walaupun pun gerakannya lambat sekali
dan satu-satu, tapi anehnya tidak satu senjata
pun yang mengenai sasaran.
Rahjendra katupkan gerahamnya rapat-
rapat. Lalu ia menerjang kembali ke depan. Seka-
rang ia telah mengerahkan jurus 'Setan Mahra-
kayangan'. Serangan yang dilakukan Rahjendra
tampak berubah aneh. Sangkur itu menusuk,
menikam, atau terkadang meliuk-liuk di udara
untuk kemudian secepatnya meluncur deras ke
arah sasaran.
Wuus
Wahyu Sakaning Gusti miringkan tubuh-
nya ke samping kanan. Lalu secepatnya ia berpu-
tar. Inilah jurus 'Manusia Krisis Iman' Gerakan-
nya bebas tidak beraturan, langkahnya ter-
huyung-huyung seperti orang mabuk. Terkadang
ia menepuk kening sendiri seperti orang pusing.
Wuuuk
Dua kali serangan sangkur tidak mengenai
sasaran. Rahjendra melotot seakan tidak percaya.
Lawan yang satu ini sedikit tidak membalas atau
menangkis, namun serangannya selalu kandas di
tengah jalan.
TUJUH
Dalam keadaan seperti itulah terdengar
suara bergelak dari kejauhan. Suara itu berubah-
ubah seperti lolongan tangis, amarah kera, atau
teriakan melengking. Kelima mata picak terke-
siap. Di lain waktu di atas tembok bangunan yang sebagian telah terbakar berdiri seorang pemuda
tampan berambut hitam kemerah-merahan. Pe-
muda itu bertampang ketolol-tololan.
"Pendekar Lugu, bertempur melawan iblis
hanya loncat sana loncat sini. Apa mau jadi mo-
nyet? Mata picak itu tidak perlu di kasih hati. Mereka lebih suka menjadi anjing peliharaan daripa-da mendekatkan diri pada yang menciptakannya
Ha ha ha..." kata Pendekar Blo'on sambil tertawa bergelak.
Rahjendra alias Setan Kebinasaan merasa
kupingnya seperti disengat kalajengking. Ia
acungkan senjatanya, lalu membentak garang....
"Kunyuk bertampang bego. Siapa pula kau
ini? Apakah kau yang diramalkan oleh ahli nujum
Julgafarah dan Nukman Java sebagai orang yang
akan membuat susah hidup hartawan kami" bentak Rahbasa saudara seperguruan Rahjendra.
"Hak hak hak... Yang membuat susah hi-
dup si kikir, si congkak, si angkuh, si sombong
itu adalah dirinya sendiri. Aku adalah aku. Aku
bukan anjing seperti kalian. Karena aku lebih
tinggi dari kalian, maka sebaiknya menyalaklah
tiga kali. Setelah itu segera minggat dari sini kalau tidak mau susah Ha ha ha..."
Rahjendra tentu beranggapan pemuda ini
telah miring otaknya. Bagaimana bocah bertam-
pang geblek seperti itu sangat dikhawatirkan oleh para ahli nujum? Kepandaian apa yang dia
punya?
"Bocah gila, sebaiknya kau jangan peten-
tang-petenteng pentang bacot. Turunlah Akan
kurencah kau punya wajah biar konyol sekalian"
teriak Rahseta si mata picak paling bungsu.
"Kalian orang-orang yang melampaui batas.
Kalian telah tertipu oleh kepalsuan dunia men-
tah-mentah. Kuingatkan sekali lagi segera kemba-
li ke jalan yang betul" Pendekar Lugu menengahi.
"Percuma kau bicara sobat Orang-orang
seperti mereka telah terkunci mata hatinya. Kau
beri peringatan atau tidak sama saja" sahut Pendekar Blo'on menimpali.
Lima tokoh dari bagian utara tanah Jawa
ini menggerung marah. Serentak Rahbasa, Rahja-
la, Rahyuyu dan Rahseta melompat dari kudanya
masing-masing. Mereka melemparkan dua buah
golok pendek ke arah Suro Blondo. Pemuda ini
jadi kalang kabut, ia melompat-lompat di atas
tembok. Sekali Suro berputar, dua batang golok
berhasil disentil bagian gagangnya. Senjata-
senjata itu tiba-tiba membalik kembali meluncur
ke arah pemiliknya dengan kecepatan berlipat
ganda.
Swieet Swieet
Melihat golok meluncur dengan sangat ce-
pat sekali. Keempat laki-laki mata picak itu langsung melompat menghindar. Golok terus melun-
cur dan menancap di tanah.
Si Bocah Ajaib melompat turun, sekarang
sedikit banyaknya dia percaya bahwa pemuda ini
mempunyai kepandaian juga.
"Pendekar Lugu apakah kau mau ambil ba-
gian juga, sobatku?" tanya si pemuda sambil cengengesan.
"Aku berpantang membunuh. Aku hanya
manusia penyambung lidah Begitupun jika ter-
paksa aku juga turun tangan" sahut Pendekar Lugu. Yang dimaksudkan turun tangan bukan
untuk menghilangkan nyawa orang lain sebalik-
nya hanya sekedar membuat lawan tidak berdaya.
"Bunuh kedua pemuda pangkal bencana
itu" teriak Rahjendra memberi aba-aba pada kawan-kawannya.
Rayuyu dan Rahseta mengurung Pendekar
Lugu lalu menyerangnya. Sedangkan Rahjendra
yang menganggap bahwa pemuda berambut hi-
tam kemerahan ini lebih berbahaya segera men-
geroyok Si Bocah Ajaib.
"Wah, kalian rupanya sebangsanya iblis
pengecut yang hanya bisa main kroyokan.
Heiit..." Si Bocah Ajaib tidak sempat melanjutkan ucapannya.
Tinju lawan sudah menghajar ke mulut si
pemuda. Suro mundur ke belakang, mulutnya
termonyong-monyong, sedangkan keningnya ber-
kerut dalam. Dari samping menderu dua seran-
gan lainnya. Suro menangkis dengan sikunya.
Sehingga terjadi benturan keras. Suro terhuyung
dan sikunya mendenyut-denyut. Sedangkan Rah-
jala sendiri jatuh terduduk. Sementara dari depan Rahjendra sudah menusukkan sangkurnya dengan sangat cepat sekali.
"Gila, dari pada perut di tembus sangkur
mending aku ke belakang" gumam di pemuda.
Seraya segera menggeser langkahnya. Dari bela-
kang tiba-tiba tendangan Rahbasa menghantam
pantatnya.
Gubrak
Suro terguling-guling. Ia menyeringai kesa-
kitan, namun segera melompat berdiri.
"Heaaa..."
Pemuda ini tiba-tiba melompat ke depan,
tangannya mencakar, lalu berjongkok, kakinya
menendang, sesekali garuk kepala. Dengan lincah
dan gesit ia menghantam dengan serangkaian
pukulan yang tidak ada putus-putusnya. Inilah
jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan
Ekor' "Huuu... nguk... nguung..."
Lalu terdengar suara tawa yang berganti
dengan tangis, lalu berganti lagi dengan suara
isak tertahan. Gerakan Suro ketika itu benar-
benar sangat kacau. Tidak satu pun serangan ke-
tiga lawannya mengenai sasaran yang diha-
rapkan. Walau pun ketika itu mereka sudah
mempergunakan jurus 'Matahari Tenggelam'.
"Ciaaa..."
Rahjendra menjadi kalap. Ia melompat lagi
ke depan. Seraya tusukkan senjatanya ke dada
dan perut Si Bocah Ajaib. Pemuda ini bergerak ke belakang Rabasa. Tubuh si picak ini dicengke-ramnya. Lalu kawan yang sudah dalam kekua-
saannya ini disodorkan ke arah senjata lawannya.
Brees
"Wuaaakh..."
Rabasa menggeliat, isi perutnya berbusaian
keluar disertai menyemburnya darah dari luka
mengerikan itu. Rahjendra jadi terkesiap melihat kawannya roboh oleh senjatanya sendiri.
"Kunyuk keparat Heaa... "
Laki-laki itu dengan marahnya langsung
menyambitkan dua sangkur di tangannya. Suro
tersenyum, otaknya yang cerdik langsung dapat
akal. Ia merangkak, lalu disambarnya kaki lawan, diangkat lalu diputar membentuk perisai diri.
Wet Wuuk
Rahjala berusaha membebaskan diri, na-
mun semakin ia meronta maka semakin bertam-
bah cepat pula si konyol memutar dirinya. Se-
hingga....
Zeb Ceb
Lalu terdengarlah suara jeritan menusuk
kalbu. Untuk kedua kalinya Rahjendra telah
membunuh saudara seperguruannya sendiri tan-
pa sengaja.
Kita tinggalkan dulu Si Bocah Ajaib yang
sedang bertarung dengan Rahjendra. Sementara
itu Pendekar Lugu tampak begitu sibuk mengha-
dapi hujan serangan yang begitu bertubi-tubi. Sebenarnya jika si pemuda berjanggut ini mau tu-
run tangan kejam, sejak tadi Rahyuyu dan Rahse-
ta sudah berhasil dikalahkannya. Namun karena
ia berpantang membunuh, apa yang dilakukan-
nya hanya mengelak dan menghindar.
Melihat lawan hanya menghindari seran-
gan-serangan mereka. Maka mereka semakin
mengganas. Sangkur kembar di tangan mereka
berkelebat menyambar-nyambar.
Sinar putih menyilaukan mata mengurung
pemuda berjenggot itu. Tiba-tiba ia melompat ke
udara. Trang Ting
Senjata mereka saling membentur dengan
senjata kawan sendiri. Di saat mereka kehilangan sasaran seperti itu, tiba-tiba saja dari atas tempat melesat bayangan hitam memakai kedok hitam
seperti Ninja.
Bayangan tadi menyambitkan dua buah pi-
sau berwarna putih mengkilat. Rahyuyu dan Rah-
seta langsung menangkis serangan gelap itu.
Tring Tring
"Pembokong tengik" maki Rahyuyu.
"Huh, setiap iblis harus mati" sahut sosok berkedok itu sambil menerjang ke depan. Dan....
Dhaak
"Akh..."
Rahyuyu terpelanting. Ia merangkak bang-
kit lagi, tapi orang berpakaian Ninja itu telah menyambitkan pisau ke arahnya.
Set Jlep
"Hekgh..."
Rahyuyu tersungkur lagi dengan jantung
tertembus pisau. Rahseta terkejut sekali. Dengan marahnya ia menerjang ke depan. Namun lawannya sudah menghindar ke samping. Lalu secepat
kilat tangannya menyambut....
Tap
Tangan lawan berhasil ditangkapnya. Lalu
tangannya yang lain bergerak lebih cepat lagi.
Kraak
"Auuuuuh..."
Rahseta melolong seperti anjing kepentung
alu. Tangannya patah. Orang berpakaian Ninja itu kelihatannya tidak memberi kesempatan lebih
lama lagi. Ia kali ini mencabut senjata berbentuk aneh. Kecil, tipis dan berkilat-kilat karena keta-jamannya.
Satu sentakan keras dilakukannya, senjata
itu meluncur deras ke depan. Rahseta main mun-
dur, sedang senjatanya berkiblat.
Traak
Dua buah sangkur langsung mental di
udara. Pedang kecil yang dapat dilipat itu terus meluncur tanpa dapat dihindari lagi.
Crees
Rahseta mendekap lukanya, ketika senjata
ditarik oleh orang berkedok, maka isi perutnya
berbusaian keluar. Laki-laki mata picak ini ter-
sungkur, menggelepar sejenak lalu diam untuk
selama-lamanya.
Sementara orang berpakaian ninja meng-
hampiri Pendekar Lugu. Sedangkan Pendekar
Blo'on ketika itu dengan lawannya sudah sama-
sama melepaskan pukulan yang menjadi anda-
lannya.
"'Ratapan Pembangkit Sukma' Hiaa..."
Pemuda bertambang konyol ini tiba-tiba dorong-
kan kedua tangannya ke arah sinar hitam yang
meluncur deras ke arahnya.
Angin kencang laksana salju disertai hawa
dingin membekukan melesat secepat kilat.
Udara sontak berubah, yang dingin meng-
gulung yang panas. Lalu terjadi letupan.
Bluup
Buum
Tanah berlubang, debu dan batu kerikil
berpelantingan ke udara. Rahjendra terguling-
guling. Suro Blondo sendiri mendekap dadanya
yang sesak bukan main-main.
"Heh... Bagaimana Rana Unggul bisa mun-
cul disini" kata pemuda itu sambil mengurut lehernya. Tingkahnya itu tidak beda dengan orang
yang sedang tersedak.
"Awas, saudaraku" teriak Pendekar Lugu.
Suro berpaling ke belakang, dilihatnya
Rahjendra yang sudah setengah mati itu meng-
hunus senjata sambil menyerbu ke arahnya.
"Sialan orang budek mata pecak ini, mau
mati saja pakai ngajak-ngajak orang lain" gerutu si pemuda, ia pun langsung berkelit.
Senjata lolos, sedangkan kakinya meng-
hantam dada lawannya dengan tenaga yang kuat.
Kraak
Rahjendra hanya dapat mengeluh tertahan.
Tubuhnya terbungkuk-bungkuk sebentar, lalu
ambruk untuk selama-lamanya.
Si Bocah Ajaib menggumam tidak jelas,
kemudian ia menghampiri Pendekar Lugu dan
Rana Unggul. Rana Unggul memperhatikan si
pemuda dengan sorot matanya yang terasa lain
menggetarkan hati.
"Aku merasa dia bukan seorang laki-laki.
Tatapan mata dibalik pakaian hitam yang mem-
bungkus seluruh tubuhnya terasa seperti apa...
ya..." pikir Suro.
"Manusia tolol Meskipun bego kau punya
kepandaian yang cukup lumayan. Padahal kalau
kau mau sejak tadi pimpinan manusia picak itu
dapat kau robohkan." tegas Rana Unggul.
"Wah... aku lupa sih..." Suro menepuk keningnya.
"Kau tidak boleh pergi dengan Pendekar
Lugu. Otakmu cerdas, namun kau selalu telat
berpikir. Untuk itu kau urus saja gadis-gadis bekas anak buahnya hartawan itu. Selamat jumpa
di rumah madat..."
"Hei... sobatku..." cegah Pendekar Mandau Jantan setengah berteriak. Namun tanpa bicara
apa-apa Pendekar Lugu telah mengikuti Rana Un-
ggul. "Entah apa yang telah mereka bicarakan.
Kok Pendekar yang punya pantangan membunuh
itu jadi nurut, ya...? Atau ia mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui? Ah... memikir sampai
budek sekali pun aku tetap tidak tahu apa yang
mereka bicarakan" gerutu Pendekar Blo'on.
Seraya pergi lagi untuk menghampiri ke
empat gadis yang ditinggalkannya di tepi telaga.
DELAPAN
Wanita hamil sembilan bulan perutnya
memang besar. Tapi lebih besar lagi perut laki-
laki yang sekarang duduk di kerajaan hartanya.
Tubuhnya besar dengan berat sekitar seratus li-
ma puluh kati. Kulitnya berlemak, dan keningnya
berminyak. Ia hampir tidak pernah berhenti ma-
kan. Di kanan kiri laki-laki setengah baya itu duduk bersimpuh gadis-gadis cantik dengan pa-
kaian tipis. Mereka adalah pelayan laki-laki itu dalam segala hal.
"Kalian semua harap menyingkir dari sini"
perintah hartawan Abdi Banda pada para gadis
yang mendampinginya.
Dengan patuh mereka meninggalkan ruan-
gan mewah yang dihiasi dengan perak dan perma-
ta.
Setelah para gadis ini meninggalkan ruan-
gan itu. Maka muncul tiga orang laki-laki. Yang
dua sudah berusia lanjut, sedangkan yang sa-
tunya lagi berumur sekitar lima puluh tahun. Me-
reka adalah ahli nujum Julgafarah dan Nukman
Jaya serta Kala Menek. Orang yang disebut te-
rakhir bertampang angker nyaris tanpa senyum.
Ia mempunyai kesaktian tiada terukur, sangat
disegani baik oleh kawan maupun lawan.
Ketika sampai di dalam ruangan orang-
orang ini langsung mencari tempat duduk di de-
pan sang hartawan.
"Apa yang dapat kami lakukan, tuan?"
tanya Julgafarah buka suara.
Hartawan kaya raya ini tidak langsung
menjawab, ia usap-usap perutnya yang tidak ter-
tutup baju sama sekali. Karena tiada pakaian
yang muat oleh badannya terkecuali pakaian yang
belum dijahit.
"Aku gelisah, adalah kalian semua tahu
bagaimana gelisahnya aku?" dengus Abdi Banda.
"Dalam hidupku aku sulit sekali tidur, aku takut harta bendaku dicuri orang, aku takut terjadi ke-bakaran, dan aku takut mati. Semua ketakutan
itu membuat aku tidak tenang. Harta bendaku ini
dapat untuk membeli dunia dan seisinya. Aku ti-
dak ingin mati karena harta-harta itu."
"Tuan tidak perlu segelisah itu. Kami se-
muanya senantiasa setia mengabdi pada tuan.
Orang-orang itu tidak mungkin berani datang ke
sini. Mereka tidak setangguh yang tuan bayang-
kan" hibur ahli nujum Nukman Jaya.
"Tapi aku selalu gelisah. Coba kalian
bayangkan sudah berapa hari picak bersaudara
pergi. Hingga sekarang masih belum ada kabar
beritanya. Aku khawatir mereka kalah atau bina-
sa. Sekarang ini aku ingin kalian menyimpan
kunci-kunci gudang harta di tempat yang aman.
Setelah itu kerahkan seluruh pasukan Ninja kita
untuk membunuh Pendekar Lugu dan Pendekar
Blo'on."
"Kunci harta sudah tadi pagi ditarik oleh
sebuah kereta kuda menuju tempat yang aman.
Sekarang hanya tinggal menunggu perintah se-
lanjutnya" ujar Kala Menek.
"Bagus sekali kalau begitu. Sekarang aku
ingin mencari orang-orang itu. Segala harta yang aku sukai, harus dibawa serta. Juga gadis-gadis
yang aku cintai jangan satu pun yang ditinggal-
kan" tegas hartawan Abdi Banda.
"Tapi perjalanan ini menempuh bahaya,
tuan. Kita belum tahu apakah Pasukan Ninja Sa-
kura mampu menghadapi kedua pemuda itu atau
tidak. Menurut para Telik Sandi. Ada orang lain
lagi berpakaian seperti Ninja berada di pihak mereka" "Kala Menak Jumlah kita sangat banyak.
Mengapa menjadi tidak mampu hanya mengatasi
para kroco begitu? Mana aku bisa tenang jika aku tidak melihat dengan kepala mata sendiri kematian mereka?" dengus Abdi Banda.
"Tapi kita membutuhkan orang upahan un-
tuk memindahkan harta-harta itu ke dalam kere-
ta kuda."
"Upahnya bayar saja nanti setelah kita pu-
lang dari sana." potong sang hartawan.
"Orang-orang itu tidak mau melakukannya,
tuan. Karena gaji mereka dua bulan yang lalu sa-
ja belum dibayar" jelas Nukman Jaya.
"Sebagai ahli nujum, sebagai tukang sihir
kepercayaanku. Apakah kau sekarang sudah ti-
dak mampu melakukan apa-apa lagi? Kau bisa
melakukan apa saja yang membuat hati mereka
takut" "Baiklah tuan. Nanti sore segala-galanya dapat kita jalankan dengan sesuai rencana."
Kedua ahli nujum itu kemudian mening-
galkan tuannya. Kini yang ada di situ hanya tinggal Kala Menak.
"Apa yang harus saya lakukan, tuan?"
tanya si gadis.
"Kau lakukanlah pembersihan besar-
besaran. Siapa saja yang mencurigakan harus di-
bunuh" kata hartawan kikir itu dengan tegas.
"Perintah segera dilaksanakan." sahut Kala Menak.
Kala Menak lalu membungkukkan badan-
nya, sampai-sampai keningnya menyentuh per-
madani demi memberi penghormatan pada har-
tawan Abdi Banda. Setelah itu si gadis ini me-
langkah pergi.
Abdi Banda tersenyum. Kala Menak adalah
orang yang paling diandalkannya. Sekarang dia
pasti sedang melakukan pembantaian terhadap
orang-orang yang membangkang mau pun yang
dianggap mencurigakan. Karena arti pembersihan
itu sendiri tidak lain adalah Pembantaian.
"Hartaku harus kekal abadi. Hidupku ha-
rus kekal, kesenangan ini tidak boleh berlalu, karena di sinilah sorgaku. Disinilah duniaku dalam gelimang harta benda yang tidak ada habis-habisnya"
Hartawan Abdi Banda tiba-tiba saja terge-
lak-gelak. Ia duduk di kursi kebesarannya sambil uncang-uncang kaki.
***
Suro duduk termenung di tepi telaga itu. Di
depannya api unggun sudah mulai padam. Se-
hingga yang tertinggal hanya baranya saja. Suro
Blondo mengambil lima ekor burung belibis yang
telah berhasil ditangkap Seruni dan kawan-
kawannya. Kelima ekor belibis hutan yang telah
dibersihkan itu langsung dipanggangnya di atas
bara merah menyala.
Sementara itu Seruni, Seroja dan Sentini
tengah asyik berenang di tengah telaga berair sejuk. Hanya Sri Sedap saja yang saat itu menema-
ni Pendekar Blo'on. Sesekali gadis ini mencuri
pandang ke arah Si Bocah Ajaib.
Ada rasa kagum dalam hatinya. Pemuda
itu sangat tampan, walau pun wajahnya ketolol-
tololan dan terkesan kekanak-kanakan. Tiada ra-
sa bosan memandangnya. Tidak seperti ketika
berhadapan dengan hartawan Abdi Banda. Ber-
hadapan dengan tua bangka gendut itu sekali
pandang saja langsung kenyang.
Selama ini untung dia dapat memperta-
hankan kehormatannya. Hingga sampai detik ini
dirinya tetap utuh. Mungkin hanya Sentini dan
Seroja saja yang sudah terpedaya.
"Wuih, baunya sedap sekali" kata si pemuda, tanpa sadar ia menelan ludah.
Sri Sedap tersentak dari lamunannya.
"Tuan bilang apa? Sedap?" tanya Sri Sedap.
"Ya... betul, memang sedap baunya. Berun-
tung kau punya nama Sri Sedap Aih bagus seka-
li... ha ha ha..." Suro lalu ketawa.
"Tuan..."
"Jangan kau panggil tuan. Panggil saja
namaku" kata Suro.
"Bagaimana aku harus memanggil, apakah
boleh kupanggil kakang?" Sri Sedap mengerling manja. Dalam pada itu ketiga saudara-saudara Sri Sedap sudah menepi. Tampaknya mereka sudah
menganggap Suro seperti saudara sendiri atau le-
bih dekat dari itu. Sehingga mereka pun tidak
punya rasa malu walau pun harus memperli-
hatkan auratnya, atau memang mungkin mereka
punya maksud-maksud lain, untuk menggoda si
konyol. "Berpakaianlah kalian dengan betul Jangan perlihatkan segala sesuatu yang bersipat me-
nonjol atau yang ada tonjolannya pada laki-laki.
Aku sih kuat saja. Tapi adikku yang di bawah ini bisa berontak" tegas si pemuda sambil menundukkan kepala.
"Hi hi hi... Mengapa takut? Kami adalah
para abdi-abdimu. Tentu kami tidak merasa takut
harus memberikan sesuatu yang kami miliki jika
kakang Suro membutuhkannya" tentang Seruni.
"Bicara jangan ngeres-ngeres. Persoalan
yang kita hadapi sangat besar. Bagaimana kalian
bisa menggodaku?"
"Kakang tidak pernah bersenang-senang
dengan perempuan, ya...?" tanya Seroja gadis berkulit hitam manis sambil mengenakan pakaiannya kembali. Pendekar Blo'on menggeleng-
kan kepala.
"Makanya jangan malu-malu kucing." Sentini menimpali.
Si konyol mati kutu. Menghadapi godaan
empat gadis kalau tidak tabah bisa kebobolan.
Suro garuk-garuk kepalannya.
"Janganlah kalian seperti barang dagan-
gan. Yang dipegang-pegang oleh pembeli sampai
lecek namun ditinggalkan begitu saja. Segala pe-
rabotan yang kalian miliki sebaiknya hanya untuk dipersembahkan pada suami kalian" tegas si bocah ajaib. Walau pun Suro sudah bersikap serius
tetap saja tampangnya semakin konyol.
"Kalau pada pacar bagaimana, kakang?"
tanya Sri Sedap.
"Pacar belum pasti menjadi suami. Jika
main pasrah-pasrahan nanti kalian menyesal
sendiri" sahut si pemuda.
"Bagaimana jika dengan majikan" Seroja menimpali.
"Kalau majikan yang kurang ajar anunya
saja yang dipotong. Kalau dua-duanya kurang
ajar sebaiknya mampus saja." dengus Suro. "Sudahlah aku bosan membicarakan bukit-bukit dan
hutan rimba. Sebaiknya kalian makan saja pang-
gang burung ini." Si Bocah Ajaib kemudian mem-bagi-bagikan burung panggang itu pada keempat
gadis berpakaian tipis tersebut.
Mereka pun kemudian saling diam dan
mulai makan panggang burung belibis tersebut.
Suro seperti orang rakus saja, sampai ke tulang-
tulang burung pun dimakannya. Apa yang dila-
kukannya ini membuat geli gadis-gadis yang
mengelilinginya. Tapi Suro bersikap cuek (acuh)
saja.
Selesai makan panggang burung Pendekar
Blo'on merebahkan tubuhnya di tempat yang
memang telah mereka persiapkan sejak sore.
"Kalian tidur di sebelah sana" perintah Su-ro Blondo.
"Takut kakang. Sebaiknya kita bergabung
saja" rengek Seruni.
"Wah bagaimana sih kalian ini?" tanya Su-ro termonyong-monyong.
"Mana kami berani jauh darimu, Kakang
Suro. Nanti ada hantu" kata Sri Sedap.
"Sesuka-suka kalianlah" Suro Blondo
mengalah.
Akhirnya mereka tidur berdempet-
dempetan. Suro kebetulan berada di tengah-
tengah mereka. Pemuda ini jadi gelisah, ia jadi ingat dengan Dewi Bulan serta gadis misterius ber-
kerudung putih itu.
"Seandainya Dewi berada disini, tentu aku
sudah di dampratnya pulang pergi..." batin si pemuda. "Pendekar Lugu, anak Langit. Dia orang suci yang aneh. Bertarung tidak pernah membalas. Sedangkan Anak Langit siapa sesungguhnya
orang itu? Kehadirannya dalam ujud cahaya.
Apakah dia Malaikat atau roh suci? Jaman seka-
rang tidak ada manusia suci, manusia menjadi
bangga kalau sudah berbuat dosa. Mengapa uru-
san jadi kapiran begini? Tampang hartawan Abdi
Banda sendiri belum pernah aku lihat, jelekkah
dia? Apa seperti kodok atau seperti lutung?"
Si Bocah Ajaib memandang kanan kirinya.
Terasa hembusan nafas Seruni dan Sri Sedap
yang berada di kanan kirinya. Nafas mereka tera-
tur pertanda sudah tidur. Tapi kedua gadis ini
menghadang ke arahnya. Sehingga wajah mereka
menyentuh pipinya.
Hati si pemuda dag dig dug juga, karena
payudara mereka yang kenyal menempel di len-
gannya.
"Wah... gadis-gadis ini ada-ada saja. Se-
baiknya aku pindah di tempat yang aman saja,
ah..." kata si pemuda dalam hati. Baru saja ia hendak beranjak, eeh... Sri Sedap menggeliat.
Tangannya menimpa pusaka Si Bocah Ajaib. En-
tah sengaja atau tidak. Yang jelas jemari tangan si gadis tetap betah berada disitu.
"Gelo, leh. Nimpa kok di sini, bagian lain
kek..." Suro dengan cepat menggeser tangan Sri Sedap, baru saja tangan gadis di samping kirinya tergeser. Ee... tangan Seruni menimpa bagian
yang itu pula.
Si Bocah Ajaib geleng-geleng kepala.
"Gila betul.... Kalau si kecil terjaga aku
mana berani jamin sepak terjangnya. Huh... ada-
ada saja..." Suro akhirnya menggeser tangan Seruni pula. Dua gadis menggeliat lagi, semakin
edan mereka malah memeluk si pemuda dengan
ketatnya.
***
SEMBILAN
Darah si pemuda mulai berdesir dengan
cepat. Ia memejamkan matanya untuk mengusir
pengaruh pikiran-pikiran yang kotor. Belum lama
matanya terpejam, tiba-tiba saja ia mengendus
bau busuk menyengat disertai suara gesekan
daun yang sangat halus. Jika telinga Pendekar
konyol ini tidak terlatih, tentu ia tidak dapat
mengetahui kehadiran orang lain di tempat itu.
"Hei... kalian bangun semua. Ada orang da-
tang kemari" kata si pemuda dengan berbisik.
Sesungguhnya ke empat gadis-gadis itu memiliki
kepandaian yang rata-rata cukup lumayan. Begi-
tu Si Bocah Ajaib ini membangunkannya maka
mereka segera terjaga.
"Tapi tidak ada orang selain kita?" desis Seruni berbisik pula.
"Kurasa ada monyet bau mengintai kita.
Sebaiknya kalian cari selamat dan tinggalkan
tempat ini secepatnya" Suro memberi usul.
"Tidak" tegas Sri Sedap. "Kami sudah me-mutuskan untuk mengabdikan sisa hidup kami
pada Kakang Suro."
"Jangan tolol. Masa depan kalian masih
panjang. Kalian bisa mengabdikan diri pada Tu-
han." "Kakang sendiri?" Sentini ragu-ragu.
"Jangan kau pikirkan hidupku"
"Mana boleh begitu? Apa pun yang terjadi
kami tetap bertahan disini bersamamu"
Tekad mereka rupanya tidak ada yang ge-
peng, sudah bulat semua. Suro Blondo mana
mungkin ngotot dengan memaksa mereka pergi.
"Ha ha ha... Seorang pemuda punya tam-
pang konyol menjadi rebutan empat orang gadis.
Kalau dia mau berarti loyo pulang pergi. Kalau
menolak sungguh dia pemuda yang bodoh dan
aku si Cambuk Akherat pasti tidak menolak..."
kata sebuah suara dari balik kegelapan pohon.
"Manusia busuk, jangan lagi kau berani
kurang ajar pada kami. Kami tidak serendah yang
kau bayangkan" sahut Seruni, ketus suaranya.
Dar Dar
Terdengar suara menggeledek disertai ber-
pijarnya bunga api dalam kegelapan malam. Ru-
panya orang dibalik kegelapan melecutkan cam-
buknya. Melihat kehebatan senjata itu pastilah
orangnya bukan tokoh sembarangan.
Tidak lama muncul sosok tubuh dari balik
kegelapan. Astaga Ternyata orang ini hanya me-
miliki sebelah kaki dan sebelah tangan. Tam-
pangnya angker, kepala lonjong, keningnya me-
nonjol. Ia sama sekali tidak memakai pakaian terkecuali yang menutupi bagian auratnya saja.
Rambut laki-laki itu kusut masai, hidung berlu-
bang besar, sehingga terlihatlah lidahnya yang
kasar seperti ditumbuhi bulu.
"Kalian masih muda semuanya. Sayang
masih begini muda harus menjadi calon bang-
kai?" dengus Cambuk Akherat.
Laki-laki sebelah tangan sebelah kaki ini
lalu melangkah lebih dekat lagi ke arah gadis-
gadis itu. Mereka bergerak mundur dengan sikap
waspada.
"Ha ha ha... Mengapa takut? Untuk kalian
para gadis cantik, kematian kalian dapat kutun-
da, sedangkan pemuda geblek ini harus cepat-
cepat dikirim ke neraka" dengus Cambuk Akherat. "Kau mau seenaknya saja main kirim. Ya kalau Tuhan menerima, kalau tidak kau sendiri
bisa celaka. Aku ingin tahu mengapa kadal serba
buntung sepertimu punya ambisi untuk mengi-
rimkan ke neraka, apa salahku?" tanya Si Bocah Ajaib. "Hmm, perlu kau tahu sebelum mampus.
Aku ini masih sahabatnya hartawan Abdi Banda.
Cambuk Akherat berasal dari Lembah Tak Ber-
tuan. Nah karena aku tahu betapa resahnya dia
saat ini, maka setelah bertahun-tahun tidak ber-
jumpa sekarang aku ingin menghadiahkan kepa-
lamu untuknya. Dia pasti sangat gembira, karena
menurut para ahli nujumnya kau adalah orang
yang bakal membuat dia celaka"
"Ha ha ha... Ambisimu kelewat besar juga.
Sayang kau tidak bertanya padaku apakah kepa-
laku yang cuma satu ingin kuserahkan padamu
atau tidak Aku malah khawatir salah-salah kepa-
la burungmu yang akan kupenggal" dengus si pemuda sambil cengengesan.
"Pemuda gendeng Mampuslah kau,
heaaa..."
Cambuk Akherat ternyata sangat ganas se-
kali. Sekali gebrak tubuhnya sudah melompat ke
depan. Dia menghantam dengan tinju tangannya,
karena memang tangan itulah yang masih utuh.
Angin dingin menderu, Suro merasa wajahnya se-
perti ditusuki ratusan batang jarum.
Melihat gelagat betapa tangguhnya Cam-
buk Akherat, Si Bocah Ajaib langsung memper-
gunakan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Ha-
rimau' Wuees
Sebentar saja tubuh si pemuda telah ber-
kelebat lenyap. Tinju Cambuk Akherat menghan-
tam angin. Namun ia cepat memutar tubuh sam-
bil mendengus. Segera dikerahkannya jurus
'Memanah Kehampaan Hidup'.
"Hiaaa..."
Cambuk Akherat berteriak keras. Ia me-
nerkam ke depan. Tangannya yang cuma sebelah
itu bergerak laksana angin dan mengikuti kemana
saja lawan menghindar. Tampak jelas mereka be-
nar-benar tangguh. Suro dengan nekad lepaskan
tendangan kaki. Lalu....
Set
Kakinya meluncur, Cambuk Akherat me-
lompat setinggi setengah tombak. Setelah itu tangannya cepat terjulur dan....
Srek
Pakaian Suro berikut kulit dadanya menge-
lupas. Ada darah yang menetes, namun Suro ma-
sih sempat meringis. Tangan lawan kembali me-
nyambar ke wajahnya. Pendekar Blo'on menang-
kis. Bleduk
Pemuda ini langsung terjengkang. Pung-
gung tangannya tampak merah. Cambuk akherat
sendiri terhuyung-huyung.
"Hh, kau ternyata cukup berisi juga" dengus laki-laki sebelah kaki sebelah tangan itu. Di-am-diam ia terkejut juga dan tidak menyangka
pemuda bertampang ketolol-tololan ini mempu-
nyai tenaga dalam yang tinggi.
Selagi Pendekar Blo'on belum sempat ber-
diri, tiba-tiba ia melepaskan pukulan 'Penghuni
Kegelapan'.
Ketika laki-laki ini mendorongkan kedua
tangannya ke depan. Maka terlihatlah sinar te-
rang benderang menyilaukan mata meluncur de-
ras menerjang Pendekar Blo'on.
Wuut
Tubuh si pemuda tiba-tiba saja melompat
tinggi ke udara. Serangan lawan lewat di bawah
kakinya. Pukulan terus meluncur menghantam
pohon besar di belakangnya. Pohon hancur dan
tumbang. Lalu di sana-sini terdengar suara tawa
seperti kera. Itulah jurus Tawa Kera Siluman. Suara tawa ini disertai berkelebatnya tubuh Suro di atas kepala lawannya. Lalu kakinya menendang.
Blaak......"Uts..." Cambuk Akherat merasakan kepalanya se-
perti dihantam palu godam. Sakit dan terus men-
denyut seperti mau pecah. Suro leletkan lidah,
kakinya terpincang-pincang. Kepala Cambuk Ak-
herat ternyata keras seperti batu
"Benar-benar edan" maki Suro dalam hati
"Huh, bangsat betul kau" maki Cambuk
Akherat. Kali ini ia lipatkan gandakan tenaga dalamnya. Lalu tangannya kembali dikibaskan ke
arah lawannya.
Segulung angin kencang disertai menebar-
nya hawa panas laksana memanggang tubuh Su-
ro Blondo. Pemuda ini terkesiap dan leletkan li-
dah. Dia pun akhirnya tidak tinggal diam. Ma-
tanya melotot, mulutnya termonyong-monyong.
Rupanya ketika itu si pemuda tengah mengerah-
kan tenaga dalamnya ke arah bagian tangannya.
"Matahari Rembulan Tidak Bersinar
Hiyaaa..." teriak si konyol. Telapak tangannya yang telah berubah kusam dan mengepulkan
asap tipis dihentakkannya ke depan. Selarik sinar redup berwarna biru semu merah menderu dengan cepatnya.
Dua tenaga sakti itu saling susul menyu-
sul. Kemudian terjadilah sebuah ledakan yang
bukan saja membuat orang-orang di sekitarnya
jatuh tunggang langgang, namun juga membuat
masing-masing lawan terpelanting sejauh tiga ba-
tang tombak.
Suro menekan dadanya yang seperti mau
meledak dan mendenyut sakit. Lalu ia seka darah
yang menetes disudut-sudut bibirnya. Keempat
gadis yang menyaksikan pertempuran sengit itu
jadi khawatir.
"Hm, bukan main. Bukan main-main Kad-
al buntung ini ternyata memang mau minta nya-
waku" geram si konyol.
"Huh, boleh juga kau" dengus Cambuk
Akherat.
Sreet Jdar Jdar
Ternyata Cambuk Akherat melepaskan
senjata andalannya yang bergerigi. Senjata maut berwarna merah itu langsung meledak-ledak
mengeluarkan bunga api ketika dilecutkan di
udara. "Awas kakang Suro" Seruni berteriak men-gingatkan.
"Ha ha ha... Idola kalian sebentar lagi kupenggal kepalanya. Tidak usah dirisaukan. Aku
dapat menggantikan posisinya untuk kalian" sahut Cambuk Akherat disertai tawa bergelak.
"Manusia setan Iblis laknat" maki Sri Sedap. "Kau yang paling galak, pasti kau yang paling hebat nanti bila berada di tempat tidur" desis laki-laki hidung sumplung ini sambil leletkan lidah. Jdar
Cambuk melecut di udara, sebentar saja
Suro terkurung oleh serangan-serangan senjata
ampuh yang mematikan itu. Suro melompat sana,
mengelak kesini, atau terkadang ia berjingkrak-
jingkrak seperti anak kecil yang sedang bermain
tali. Tapi ketika cambuk itu diputar ke atas dan disentakkan ke samping. Maka tidak ayal lagi
cambuk itu menghantam dadanya.
Braak
"Wadow..."
Suro terjengkang. Dadanya babak belur
dan dagingnya berserabut. Senjata itu kembali
melecut, Suro berguling-guling. Ke empat gadis
yang menyaksikan kejadian itu langsung menyer-
bu ke depan. Mereka menghunus senjata dan
langsung menyerang Cambuk Akherat.
"Huh, rupanya kalian memilih mati dari
pada bersenang-senang denganku..." teriak Cambuk Akherat.
Maka ia pun mengerahkan cambuk apinya
ke arah gadis-gadis itu.
Breet
Triing
Senjata itu terpental, Seruni tidak dapat
menjaga keseimbangannya.
Ctar Bret
"Aaa..."
Sebagian tubuh Seruni hancur. Ia terhem-
pas dekat Suro, gadis itu merintih. Suro segera
mendukungnya, tampaknya sudah tidak ada ha-
rapan hidup lagi bagi gadis itu.
"Suro, ternyata aku tidak dapat memban-
tumu... huk... ajalku segera tiba..." kata Seruni dengan suara lirih.
"Seharusnya kalian tidak turun tangan"
Suro menyesalkan.
"Ekh... Suro aku tidak tega melihat kau da-
lam keadaan begitu... Peluk aku, Suro..."
Maka Pendekar Blo'on pun memeluk Seru-
ni. Gadis itu tersenyum manis bibirnya tampak
pucat. "Cium aku, Suro..."
Maka Pendekar Blo'on pun menciumnya.
Betapa dingin bibir Seruni, gadis itu kemudian
terkulai.
"Heh, dia mati..." desis pemuda itu terke-sima. Seroja, Sentini dan Sri Sedap langsung
menghampiri kakaknya. Sementara Pendekar
Blo'on bangkit berdiri. Mulutnya termonyong-
monyong, lalu ia mencabut senjata andalannya
pusaka Mandau Jantan yang di tengah-tengahnya
terdapat empat lubang miring. Senjata berwarna
hitam itu segera diputarnya dengan sentakan ser-
ta gerakan yang aneh.
"Aku akan mengadu jiwa denganmu" den-
gus si pemuda.
Sekejap saja ia sudah menerjang ke arah
Cambuk Akherat. Laki-laki bertangan tunggal
berkaki tunggal ini segera mengibaskan cambuk-
nya ke arah si pemuda.
Si Bocah Ajaib langsung melompat, man-
dau di tangannya mengeluarkan suara ringkikan
panjang, lalu dari lubang itu pula terdengar suara tangis berkepanjangan. Cambuk Akherat terkesiap. Cambuk terus meluncur, Mandau Jantan di
tangan si pemuda berkelebat.
Tar
Teng
Cambuk pusaka itu terbabat putus, senja-
ta di tangan si pemuda terus meluncur ke arah
dada lawan. Namun Cambuk Akherat dengan ter-
kejut segera melompat ke belakang.
Suro memburunya, lawannya berkelit, lalu
sisa-sisa cambuk menghantam punggungnya. Si
Bocah Ajaib menjerit sambil terguling-guling.
Punggungnya robek besar. Darah semakin banyak
saja yang menetes keluar.
Si Konyol melompat berdiri walau pun tu-
buhnya sempat terhuyung-huyung juga.
"Ha ha ha... Ajalmu sudah hampir tiba
Bersiap-siaplah kau" teriak si Cambuk Akherat.
Sekali lompat ia telah berada di depan Su-
ro. Lalu cambuknya diayunkannya lagi. Namun
Suro sudah menghindar lewat selangkangan la-
wan dengan cara merangkak.
Daak
Dengan keras sekali kaki kanannya me-
nendang pinggang Si Cambuk Akherat.
Bruuk
Laki-laki berwajah angker ini tersungkur,
hidungnya tertutup debu. Yang lebih celaka lagi
buah jambunya tergencet batu, sakitnya sampai
naik ke perut.
Si Konyol dengan cemberut melompat lalu
menginjak-injak tubuh Cambuk Akherat. Tidak
disangka tangan lawannya menghantam.
Duuk
"Wadaw..."
Suro tersungkur pula, posisinya di samp-
ing lawan. Ia menoleh, dan Mandau di tangannya
melayang ke arah leher. Cambuk Akherat tidak
sempat lagi menangkis.
Crok
"Akh..."
Tulang leher lawannya putus, darah men-
gucur dari luka itu. Tubuh Si Cambuk Akherat
berkelejotan sebentar lalu terdiam untuk selama-
lamanya.
Pemuda itu usap rambutnya, dipandan-
ginya mayat lawannya untuk beberapa saat la-
manya. Kemudian ia menghampiri Sri Sedap dan
saudara-saudaranya yang baru saja selesai men-
guburkan mayat Seruni.
"Aku menyesalkan kejadian ini. Sebaiknya
kalian tidak usah ikut aku lagi. Begitu banyak
bahaya yang akan aku hadapi" tegas Suro.
"Semua ini sudah takdir, tidak perlu dis-
esalkan. Tapi kami tetap ingin ikut dengan Ka-
kang" kata Sri Sedap.
"Kubilang jangan"
"Kalau tidak boleh tidak mengapa." ujar Seroja mengalah. Tapi diam-diam ketika Pendekar
Blo'on pergi mereka terus menguntit di belakang-
nya.
***
SEPULUH
Membunuh sambil tertawa itulah kebia-
saan Kala Menak. Kini ia melakukan pembersihan
di jalan-jalan yang bakal dilalui oleh hartawan
Abdi Banda. Setiap orang yang dianggapnya men-
curigakan pasti dibunuhnya. Sehingga sangat ba-
nyaklah penduduk dan masyarakat biasa yang ti-
dak berdosa menjadi korban. Kala Menak dengan
kuda hitamnya memang tidak ubahnya seperti ib-
lis pencabut nyawa, ia bergerak laksana setan.
Orang-orang yang melihat kehadirannya langsung
lari terbirit-birit menyelamatkan diri.
Semua ini tentu saja dilihat oleh seorang
pemuda berbaju putih berjenggot kambing. Dialah
si Pendekar Lugu. Tampak jelas wajahnya yang
polos itu menunjukkan rasa keprihatinan yang
mendalam. Tidak lama pemuda ini melipat tan-
gannya di depan dada. Lalu tubuhnya bergerak
mengambang di udara. Hanya dalam beberapa ke-
lebatan saja ia telah berubah ujudnya menjadi
seorang kakek renta berpakaian compang-
camping. Inilah sejenis ilmu langka bernama
'Merobah Ujud Malih Rupa'. Pada masa itu sangat
jarang sekali orang yang memiliki ilmu seperti ini.
Hanya orang yang hatinya jauh dari dengki, ke-
sombongan dan rasa iri yang dapat mengamal-
kannya.
Kakek tua ini duduk di pinggir jalan. Wak-
tu ia musim kemarau, sehingga debu dan angin
berterbangan di jalan itu. Wajah si kakek yang
kotor berselimut debu.
Kala Menak yang sibuk membantai orang
di kanan kiri jalan itu sambil tertawa-tawa terus memacu kudanya. Semakin lama ia semakin dekat dengan kakek itu. Kuda hitam tunggangan
Kala Menak tiba-tiba saja meringkik keras dan
angkat kaki depan tinggi-tinggi.
"Hieeekh... Hehheh..."
"Macan angin, mengapa berhenti Tabrak
saja tua rongsokan itu biar merat ke akherat se-
kalian" dengus Kala Menak.
Ia memaksa kudanya agar segera bergerak
kembali, namun kuda tersebut tetap ngadat.
"Membunuh sambil tertawa Kelak manusia
seperti itu akan diseret ke neraka sambil menan-
gis Jika hati telah dikuasai hawa nafsu dan se-
tan. Maka amarahnya melebihi iblis" kata si kakek. "Heh..." Kala Menak tersentak kaget. Tidak ada orang lain disitu terkecuali dia dan si kakek.
Berarti ucapan tadi benar-benar ditujukan buat
dirinya.
"Kau menyindirku? Siapakah kau ini?"
bentak Kala Menak berang.
Si kakek angkat wajahnya, sehingga terli-
hatlah wajah polosnya tanpa dosa.
"Aku masih hamba Tuhan juga. Aku tidak
menyindir siapa-siapa? Manusia membunuh ma-
nusia tanpa alasan yang jelas, tanpa pernah ber-
tobat dia jelas masuk neraka"
"Kurang ajar. Sekali lagi katakan padaku
siapa kau?" hardik Kala Menak.
"Aku, Sira Sakaning Bumi Tugasku mem-
beri peringatan pada siapa saja yang ingin kemba-li ke jalan yang benar." sahut si kakek.
"Apa yang sedang kulakukan adalah tang-
gung jawabku pada hartawan Abdi Banda. Tugas
ini harus kulaksanakan dengan baik"
"Hartawan kikir itu bukan penentu hidup
manusia lain, karena dia masih manusia juga.
Mengapa kau cabut nyawa orang lain, sedangkan
membuat nyawa nyamuk kau sendiri tidak mam-
pu?" tegur Sira Sakaning Bumi.
Kala Menak sesungguhnya geram juga,
namun ia masih tetap berusaha menahan kema-
rahannya.
"Kau tidak usah memberi ceramah di de-
panku Hartawan selalu curiga bila bepergian.
Untuk itu aku mengadakan pembersihan sebelum
beliau mengadakan perjalanan panjangnya" jelas si gadis.
"Rasa takut yang berlebihan dalam dirinya
karena dia sengaja menjauhkan diri dari Tuhan.
Ia takut kehilangan harta, ia takut jadi susah, ia takut mati. Padahal kematian itu akan datang
pada setiap makhluk yang bernyawa" kata si kakek. "Buaaah... tua bangka gombal Mampuslah engkau..." teriak Kala Menak. Rupanya ia sudah tidak sabar lagi. Pedang besar di tangannya yang berlumuran darah kering langsung dikibaskan ke
kepala Sira Sakaning Bumi. Namun senjata itu
hanya menyambar angin karena yang menjadi sa-
saran senjatanya telah melompat ke tempat yang
aman. Kala Menak membedal kudanya, kuda
memburu ke arah lawannya. Sekali lagi si kakek
melompat ke udara. Lalu bersalto dan kakinya
menjejak punggung Kala Menak.
Orang ini kalau tidak kuat berpegangan
pada kendali kuda dapat dipastikan tercampak
dari atas kudanya. Ia pun menggeram marah. Ti-
ba-tiba saja Kala Menak melompat meninggalkan
punggung kudanya. Sambil berguling-guling pe-
dangnya membacok ke arah kaki lawannya. Kare-
na senjata itu berat sekali. Ketika dikibaskan,
maka senjata itu mengeluarkan suara deru angin.
Sira Sakaning Bumi melompat, lalu tubuhnya
berputar sedangkan kaki melepaskan tendangan
ke bagian wajah lawannya. Untunglah Kala Me-
nak adalah pembunuh yang berpengalaman. Se-
hingga dengan cepat ia menangkis.
Duuk
"Eps..."
Kerasnya benturan membuat tubuh Kala
Menak tergetar. Tangannya jadi linu. Belum sem-
pat ia bangkit berdiri, lawan telah menyerangnya kembali.
Kala Menak tidak diam, sambil bergerak
mundur ke belakang ia pergunakan jurus pedang
'Merambah Hutan Menembus Bukit'. Dengan ce-
pat pedang yang sangat berat itu mengurung si
kakek. Lalu di lain waktu senjata meluncur tiada terkendali ke perut lawannya. Kelihatannya Sira
Sakaning Bumi alias Wahyu Sakaning Gusti tidak
menghindari serangan dahsyat itu. Ia malah bu-
sungkan perutnya dan....
Blees
Ujung pedang seakan menembus perut la-
wannya. Si kakek tersenyum bijaksana. Tidak ada
darah yang menetes, padahal sudah separuh sen-
jata itu amblas kedalam perut Sira Sakaning Bu-
mi. Kenyataan ini betapa sangat mengejutkan.
Bertahun-tahun Kala Menak menjadi pembunuh
sadis dan bertahun-tahun pula ia mengabdi pada
hartawan Abdi Banda, belum pernah ia menemui
musuh seaneh-aneh sekarang ini.
Saking cemasnya Kala Menak menarik sen-
jatanya. Astaga Senjata yang ditariknya itu berubah menjadi panjang. Semakin ia bergerak mun-
dur menarik pedangnya sendiri, maka pedang
yang ditarik dari perut lawan semakin bertambah
panjang seakan tidak ada habis-habisnya
"Edan... tua bangka ini punya ilmu apa?"
pikir Kala Menak.
Ia ternyata masih berusaha menarik senja-
ta itu. Walau pun kini pedang itu telah ditarik sejauh sepuluh batang tembok, namun ujung senja-
ta yang membenam di tubuh Sira Sakaning Bumi
tetap tidak kelihatan. Kakek tua itu kemudian
mengusap perutnya.
Braak
Kala Menak terguling-guling. Pedang itu
secara aneh kembali ke bentuk alisnya. Pucat wa-
jah Kala Menak. Jika kakek itu mau tentu dia su-
dah mampus sejak tadi.
"Jangan kau sia-siakan waktu hidupmu.
Aku tidak punya hak mencabut nyawa orang lain.
Pergilah kau dari hadapanku Masih ada waktu
bagimu untuk bertobat. Tapi jika sekali lagi kulihat kau berbuat keonaran, maka tidak seorang
pun yang dapat menjamin keselamatanmu" tegas Sira Sakaning Bumi.
Lumer sudah nyali Kala Menak. Hilang ke-
bengisannya, hilang keganasannya. Ia kemudian
melompat ke punggung kudanya. Kuda dipacu
cepat tanpa menoleh-noleh lagi. Pendekar Lugu
yang kini menjelma menjadi seorang kakek tua ini tersenyum. Kemudian ia meninggalkan tempat itu
menuju rumah Pemadatan.
***
Sosok berpakaian hitam dan memakai ke-
dok itu terus berjalan di atas genteng. Ia mengendap-endap atau sesekali berhenti dan merunduk-
kan tubuhnya bila melihat penjaga kebetulan le-
wat di dekatnya. Sementara itu di sudut lain terlihat pula sosok lainnya sedang bergerak ke arah yang sama. Orang berpakaian hitam ala Ninja ini
terkejut melihat kehadiran sosok lain yang juga
mengenakan pakaian seperti dirinya.
"Apakah orang itu Ninja Sakura? Kalau be-
nar mengapa dia tidak menyergapku?" batin so-
sok berpakaian hitam yang tiada lain adalah Rana Unggul.
"Ee... orang itu malah menuju jalan satu
satunya ke ruangan utama. Sungguh tolol sekali.
Padahal para Ninja itu bersembunyi di situ Mus-
tahil kehadirannya tidak diketahui oleh mereka.
Dasar goblok... benar-benar nekad dia" gerutu Rana Unggul.
Kemudian ia terus mengikuti sosok hitam
di depannya sekalian ingin tahu apa yang akan
dilakukannya. Baru beberapa langkah ia melihat
dua orang Ninja tergeletak dengan dada berlu-
bang. Ia menuruni anak tangga menuju lantai
utama. "Hmm, ternyata dia punya tujuan yang sa-ma dengan aku. Ada Ninja lagi yang mati disini"
kata Rana Unggul.
Rana Unggul merapatkan tubuhnya ke
tembok ketika mendengar suara bentak-bentakan
yang sangat sulit dimengerti maknanya. Ternyata
sosok yang menyelinap pertama tadi dalam kea-
daan terkurung rapat.
SEBELAS
"Manusia tolol Berani-beraninya dia ma-
suk dari situ Sekarang terjebak, apa yang bisa
diperbuatnya untuk menyelamatkan diri dari ma-
nusia Ninja itu?" maki Rana Unggul kesal.
Sementara orang yang memakai pakaian
ringkas tadi ternyata telah membuka seluruh pa-
kaian luarnya. Maka terlihatlah seorang pemuda
berambut hitam kemerahan berpakaian warna bi-
ru. Lagak pemuda itu cengengesan. Rana Unggul
tentu saja kaget bukan main.
"Wah si tolol itu lagi." gerutu Rana Unggul.
Sementara itu Pendekar Blo'on telah terke-
pung rapat. Kali ini jumlah pasukan Ninja itu
memang cukup besar. Diantara mereka ada yang
mempergunakan toya, pedang, trisula maupun
pedang. Senjata-senjata itu langsung menghujani
Suro. Sebagaimana diketahui gerakan-gerakan
yang dilakukan oleh para Ninja Sakura ini dikenal sangat kompak dan serentak. Tentu saja Suro tidak dapat bersikap main-main lagi. Ia memper-
gunakan jurus 'Kacau Balau' salah satu jurus wa-
risan Malaikat Berambut Api yang masih terhi-
tung kakek dan gurunya sendiri.
Maka tidak dapat disangkal bila kemudian
gerakan-gerakan tubuh si pemuda berubah total
menjadi kacau. Langkah-langkah pemuda ini
tampak serampangan dan terkesan asal-asalan.
Langkah-langkah pemuda ini tampak serampan-
gan dan terkesan asal-asalan. Namun sungguh
hebat, sepuluh pasukan Ninja yang mengerubuti
tidak seorang pun yang mampu menusukkan sen-
jatanya. Berulang kali Si Bocah Ajaib berhasil lolos dari kepungan lawan. Rana Unggul kaget, ti-
dak pernah terlintas dalam benaknya kalau pe-
muda bertampang ketolol-tololan ini ternyata
memiliki ilmu silat tinggi dan jurus-jurus yang
mengagumkan.
"Pantasan dia berhasil membebaskan toto-
kanku tempo hari" kata Rana Unggul yang merasa tertipu mentah-mentah.
"Hiaa..."
Si konyol tiba-tiba saja merebut salah satu
toya di tangan lawannya. Ia terus melompat ke
udara dengan gerakan terkesan kacau. Tubuhnya
bahkan sempat berputar-putar. Toya itu selanjut-
nya diputar-putar, lalu menderu.
Wuuk
Laksana kilat Toya mengemplang kepala
dua orang Ninja yang berada persis di bawahnya.
Orang-orang itu mengeluh dan tersungkur.
Tiga buah benda persegi empat melayang
ke arah Suro. Pemuda ini tersenyum mengejek.
Dengan mempergunakan toya itu ia menangkis.
Clep Clep Clep
Senjata rahasia berbentuk bintang ini me-
nancap di toya itu. Toya kemudian dilemparkan
dan menghantam lutut salah seorang Ninja yang
ketika itu memburu ke arahnya. Orang itu ter-
sungkur, kawan-kawannya cepat datang mem-
bantu. Suro kalang kabut menghadapi hujan sen-
jata yang seakan tidak ada habis-habisnya ini. Ia pun melompat menjauh mengambil jarak. Dikerahkannya tenaga ke bagian telapak tangan.
"'Kera Sakti Menolak Petir' Heaa..." Suro dengan mulut termonyong-monyong mendorongkan kedua tangannya ke lima arah sekaligus. Li-
ma larik sinar putih melesat dari telapak tangannya. Para Ninja itu memutar senjatanya masing-
masing untuk melindungi diri.
Blarr...
"Auk..."
Lima orang lawan terpelanting roboh ketika
sinar putih menghantam tubuh mereka.
"Mampus-mampus dah..." dengus si pe-
muda. Namun lawan terus berdatangan. Sehingga
tidak ada waktu sedikit pun bagi Suro untuk ber-
leha-leha.
"Jika aku tidak membuka jalan darah Se-
bentar lagi tenagaku terkuras habis. Dan ini bisa membuatku semakin konyol" pikir Suro Blondo.
Diawali dengan satu bentakan keras, pe-
muda itu segera pergunakan jurus Serigala Melo-
long Kera Sakti Kibaskan Ekor.
Maka terdengarlah suara lolong, tawa serta
tangis pemuda itu. Sementara tubuhnya bergerak
cepat memporak porandakan serangan-serangan
yang dilakukan oleh para Ninja tersebut.
Dua orang lawannya menyerbu ke depan,
Suro tidak mundur lagi. Melainkan menyambut
serangan itu sambil mengayunkan kakinya den-
gan lincah.
Wuut
Lalu ia mengibaskan tangannya ke arah
lawan-lawannya. Jelas sekali saat itu Suro mele-
paskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir', salah sa-
tu pukulan yang paling dahsyat dari seluruh pu-
kulan sakti yang dimilikinya. Terdengar suara jeritan dimana-mana, seakan makhluk-makhluk
gaib menyingkir ketakutan. Sinar merah dan hi-
tam menggebu-gebu, sehingga hawa panasnya sa-
ja mampu membuat hangus orang-orang di seki-
tarnya. Lalu terjadilah ledakan-ledakan dahsyat.
Puluhan sosok tubuh terlempar dalam keadaan
matang. Tidak satu pun dari Ninja-Ninja itu yang selamat. Rana Unggul sendiri terpaksa mengerahkan tenaga dalam untuk menghindari penga-
ruh siksaan panas yang melesat dari telapak tan-
gan si konyol. Untuk pertama kalinya Rana Un-
ggul pentang matanya lebar-lebar.
"Pemuda konyol itu benar-benar tidak ter-
duga-duga." desisnya penuh rasa takjub.
Sebagian pukulan Suro yang sempat me-
lenceng membakar tiang-tiang penyangga rumah
pemadatan. Suro segera kembali menuju ke jalan
pertama tadi dia datang, sedangkan Rana Unggul
sudah bergerak mendahului. Ia terus melompat
dari atas bangunan. Sampai di suatu tempat yang
aman Rana Unggul menunggu. Namun dari balik
semak belukar muncul sesosok tubuh berpakaian
hitam lainnya.
"Kau... menyamar sebagai kami tidak ta-
hunya musuh..." kata pimpinan Ninja, suaranya menggeram.
"Kau siapa?" tanya Rana Unggul.
"Aku pimpinan Ninja Sakura. Namaku
Kenziro Nakasone." sahut laki-laki bermata sipit
itu sinis.
"Hmm, rupanya kau orangnya yang telah
menjadi begundal di rumah madat itu? Jauh-jauh
meninggalkan negeri sendiri, ternyata hanya un-
tuk bikin onar di negeri leluhur orang lain" dengus Rana Unggul sinis.
"Kau telah membikin rusak apa yang men-
jadi tanggung jawab kami. Karena itu kau harus
tanggungkan akibatnya." kata Pimpinan Ninja Sakura ini marah.
Begitu Kenziro Nakasone menggerakkan ja-
ri tangannya. Maka sepuluh jarum beracun mele-
sat cepat menuju sepuluh jalan kematian. Rana
Unggul mendengus. Lalu tarik shal dan menge-
butkan shal tersebut hingga jarum-jarum beracun
tadi rontok di atas tanah.
Ketua Ninja ini lalu menyambitkan senjata
rahasia berbentuk bintang persegi empat. Empat
buah benda berwarna putih menyilaukan melesat.
Kali ini Rana Unggul gerakkan tangannya me-
nyampok.
Tes Tes Tes
Tiga senjata rahasia runtuh, satu dianta-
ranya terjepit di antara tangan Rana. Laki-laki
bersuara seperti perempuan ini menyambitkan
senjata itu ke arah pemiliknya.
Beruntung Kenziro cepat melompat, jika ti-
dak perutnya pasti kena tembus senjata raha-
sianya sendiri.
Dalam kesempatan itu Si Bocah Ajaib Suro
Blondo sudah sampai di situ. Ia tepuk tangan
sambil berjingkrakan seperti orang gendeng.
"Rana Unggul Waktu jangan dibuang-
buang, Tinja... eh, Ninja hitam itu adalah kepa-
lanya tikus-tikus yang sudah kubuat mampus di
sarangnya tadi. Tangkap dia, kalau sudah ter-
tangkap aku pengin lihat apakah anunya pakai
helm atau sarung"
"Pemuda edan Tidak perlu menggurui
aku" dengus Rana Unggul.
Ketika itu pertempuran memang sudah
berlangsung seru-serunya. Kenziro Nakasone su-
dah mencabut pedang panjangnya. Senjata itu
membabat dan menusuk ke arah sasaran dengan
ganasnya.
Namun pemuda misterius Rana Unggul ke-
lihatannya memiliki kepandaian yang sangat ting-
gi. Terbukti walau pun lawannya telah memper-
gunakan senjata, masih belum terlihat tanda-
tanda dirinya terdesak.
Gerakan Rana Unggul memang seperti wa-
let saja, begitu cepat dan lincah seperti gadis cantik yang menari-nari. Semakin lama Kenziro se-
makin bersemangat. Pedangnya membacok ke ba-
gian kepala, menebas ke arah leher atau menu-
suk ke ulu hati. Semua itu berlangsung sangat
cepat. "Haiik"
Kenziro melompat lagi. Kemudian ia laku-
kan babatan menyilang. Rana Unggul menggeser
langkahnya. Ketika serangan senjata lewat di
sampingnya maka ia segera menghantam dengan tinjunya.
Duuk....."Hekh..."
Kenziro merasa dadanya menyesak dan
sempat membuatnya terhuyung-huyung. Tiba-
tiba ia melompat dan....
Des.....Kini gantian Rana Unggul yang tercampak.
Suro yang menyaksikan pertarungan sengit itu
tampak semakin bersemangat.
"Walah... baru segitu kau sudah hampir
loyo, Rana. Hantam saja keteknya kalau nggak
bolanya. Tikus berkedok itu kurasa tidak ada
apa-apanya. Kalau mereka main keroyokan baru
seimbang" ledek si konyol sambil garuk-garuk kepala. Rana Unggul sesungguhnya kesal mendengar ocehan si usil. Namun ia tidak punya waktu
melayani pemuda itu bicara. Belum lagi ia siap
dengan posisinya, Kenziro sudah melabraknya la-
gi. Kali ini disertai dengan lemparan senjata rahasia. Mendapat dua serangan yang datang seca-
ra bersamaan itu Rana Unggul terpaksa bergul-
ing-guling.
Huk Huuk Huk
Pedang terus mencecar Rana Unggul, se-
hingga laki-laki berpakaian seperti Ninja ini terpaksa terus berguling-guling. Dalam keadaan
berguling-guling ia pun cabut senjatanya.
Cring
Sring Sring Traang
Terjadi benturan yang cukup keras. Karena
pedang milik Rana Unggul kecil dan tipis, maka
membuat laki-laki itu tergetar. Sekali lagi bentro-kan senjata tidak dapat dihindari.
Tring
Rana Unggul terdorong lagi. Namun sece-
pat kilat ia melompat, saat tubuhnya melayang di udara seperti itulah ia mengibaskan senjata di
tangannya. Kenziro rupanya merasa ada samba-
ran angin yang cukup keras. Ia pun segera me-
nundukkan tubuhnya serendah mungkin.
Wuut
Serangan Rana Unggul menghantam angin.
Tangan Kenziro menyodok perutnya.
Buuk
"Ngek"
Rana Unggul mendekap perutnya. Suro ter-
tawa mengekeh. Ia seka keningnya, lalu....
"Walah baru segitu saja kau sudah dibuat-
nya mules. Ayo desak terus jangan kalah seman-
gat" teriak Suro memberi semangat.
Semakin panas saja kuping Rana Unggul.
Lalu ia melompat ke belakang, pedang diangkat-
nya tinggi-tinggi ke udara. Lalu disertai teriakan melengking tinggi ia menerjang ke depan. Gerakan ini dikenal dengan jurus 'Menepis Ombak
Mendulang Intan'. Pedang tipis itu terus melun-
cur. Pabila lawan menangkisnya, maka senjata di
tangan Rana Unggul membelok, lalu mengancam
perut Kenziro. Pimpinan Ninja ini terkesiap. Ia
melompat lagi untuk selamatkan perutnya. Na-
mun gerakannya itu sangat terlambat, sehingga...
Breet
"Akh..."
Kenziro menjerit kesakitan. Dalam kesem-
patan itu ia masih berusaha menangkis.
Traang
Kenziro tergetar, ia meringis kesakitan. Pe-
dang di tangan Rana Unggul kembali meluncur
dan terus menerabas ke dada Kenziro.
"Hekh..."
Kenziro melotot. Ia terhuyung-huyung, ke-
tika Rana Unggul mencabut senjatanya, maka la-
ki-laki ini tersungkur. Ia pun tewas seketika itu juga. Suro bertepuk tangan, tepuk-tepuk jidadnya lalu tepuk pula pantatnya.
DUA BELAS
"Bocah Gelo... mengapa kau tepuk semua
yang kau punya? Apakah sudah gila..." dengus Rana Unggul. Diam-diam ia memperhatikan pemuda berambut hitam kemerah-merahan itu
"Ach... mengapa begini. Dia sangat lain dalam pandanganku" Rana Unggul mengeluh.
"Jika kau tidak suka melihat aku menepuk
semua yang aku punya, apakah kau mau jika aku
menepuk kau punya? Ha ha ha..." kata Pendekar Blo'on sambil tertawa.
"Kau jangan kurang ajar. Aku benci meli-
hat kesintinganmu"
"Benci atau suka? Aku tidak bisa jamin
apakah kau benar-benar seorang laki-laki. Tu-
buhmu ramping, kulit halus dan bau tubuhmu,
hmm... harum..." Si Bocah Ajaib mengendus-
endus.
"Diam..." bentak Rana Unggul sambil melotot. Suro mengatupkan mulutnya sambil ter-
monyong-monyong.
"Mengapa kau cengar cengir seperti monyet
begitu? Apa yang lucu?"
Suro menggaruk rambutnya. "Anu... sebe-
narnya ada yang ingin kutanyakan padamu. Wak-
tu kita menghadapi mata picak bukankah Pende-
kar Lugu pergi bersamamu? Sekarang kemana
dia?" "Oh, mengenai Penyambung Lidah itu sesungguhnya aku pun kurang tahu. Ia memisah-
kan diri ketika aku menuju kesini. Katanya ia
mau menjumpai hartawan Abdi Banda." sahut
Rana Unggul. Suara laki-laki itu tidak seketus ta-di.
"Aku pikir dia mau minta sebagian harta
hartawan itu untuk bagi-bagikan padamu dan
padaku. Wah... senangnya jadi orang kaya.... Pa-
dahal aku belum pernah kaya, lho..."
"Manusia geblek sepertimu mana bisa
kaya. Lagi pula untuk apa segala macam ke-
kayaan hartawan itu? Dia memperolehnya dari
cucuran keringat dan darah orang lain." sergah Rana Unggul.
"Betul sekali. Sebagian harta Abdi Banda
bahkan ada yang bisa berdesah-desah... ha ha
ha..." "Lho, kok..." Rana Unggul terheran-heran.
"Tentu saja, kalau harta itu diperolehnya
dari pelacur tentu ada yang mendesah-desah,
megal megol, esak-esek dan... wah pokoknya
puyeng"
"Bocah edan Apakah kau sudah tidak bisa
bicara betul?" bentak Rana Unggul.
Diam-diam ia semakin suka pada Suro ka-
rena kekonyolannya selain juga tampan.
"Jaman sekarang semakin susah saja jadi
orang benar. Kata orang yang haram saja sulit.
Dapat kau bayangkan apa nggak gila tuli...?"
"Oh, jadi kau mau mengikuti gilanya du-
nia?" ejek Rana Unggul.
"Tidak. Dunia nggak pernah gila Justeru
manusianya-lah yang sudah nggak karuan. Ma-
nusia sudah banyak yang edan, banyak yang gila.
Gila harta, gila kedudukan, gila perempuan dan
gila segala..." kata Suro sambil golang-goleng kepala. "Semakin lama bicaramu semakin ngaco.
Urusan belum lagi beres, mengapa kita harus ber-
leha-leha. Sekarang sebaiknya kita pergi dari sini.
Besok kita bisa meneruskan perjalanan menuju
ke singgasana hartawan Abdi Banda"
"Lalu sekarang kita kemana?" tanya Si Bo-
cah Ajaib.
"Cari tempat tidur, tolol"
"Wah, kalau tidur apakah kita harus ber-
sama-sama?" pancing Suro.
Wajah di balik topeng hitam itu berubah
memerah. Kalau saja Suro tahu hal ini? Sayang
Pendekar Blo'on tidak pernah tahu.
"Jangan lagi kau berani bicara sembaran-
gan. Aku bisa membunuhmu" ancam Rana Un-
ggul. "Weleh, galak amat sih? Aku kan cuma bicara tidur saja kau langsung marah. Kita kan sa-
ma-sama laki-laki."
"Sudahlah, aku bisa jadi gendeng menden-
gar ocehan" dengus pemuda bertubuh ramping tersebut.
Kemudian ia berbalik langkah berlari-lari
meninggalkan Suro Blondo. Suro golang-geleng
kepala lalu segera mengejar Rana Unggul.
***
Laki-laki itu belum tergolong tua, usianya
baru sekitar empat puluh lima tahun. Wajahnya
tidak begitu tampan, pakaiannya rapi bermotip
kembang-kembang. Ia memakai topi berwarna
kembang-kembang pula. Ia sesungguhnya terma-
suk tokoh sakti yang sangat jarang berkeliaran di rimba persilatan. Di daerah Jawa bagian tengah
ia dikenal dengan julukan Malaikat Penderitaan.
Mengenai asal usul dan nama asli tokoh yang
nyentrik ini tidak seorang pun yang tahu.
Kesaktian yang dimilikinya tidak terukur,
ia bahkan sangat mahir dalam memainkan golok.
Tiga buah golok sekaligus terkadang diperguna-
kannya untuk menghadapi lawannya.
Orang ini sesampainya di atas sebuah bu-
kit langsung menghentikan langkahnya. Ia me-
mandang ke depan, lalu wajahnya berubah mu-
rung. Semakin jauh memandang maka keningnya
berkerut dalam.
"Berburu ke padang dasar, dapat rusa be-
lang kakinya. Akh.... mengapa segila ini. Apa yang harus kusesali? Aku berjalan dalam kegilaanku,
aku melangkah dalam kegilaanku, mereka terta-
wa dalam kegilaannya. Jika mereka sedih itu le-
bih baik dari aku yang gila Tidak ada yang lebih senang dalam dunia ini terkecuali aku, tiada yang lebih sedih terkecuali aku. Sepanjang langkah-langkah ini menapak, apa yang telah kuperbuat?
Kebaikan atau keburukan. Hidupku penuh pen-
deritaan, bukan kesenangan yang aku ucapkan.
Hik hik hik,.." Malaikat Penderitaan menangis se-sunggukan. Tubuhnya terguncang, nafasnya ter-
sendat-sendat. Sampai pada akhirnya ia menen-
gadahkan wajahnya ke langit. Lalu ia menunduk
seperti orang ketakutan.
"Kulihat ke langit, ternyata Tuhan Murka.
Siapakah yang perduli? Tidak seorang pun yang
perduli. Manusia menjadi bangga jika dirinya su-
dah menjadi sombong, iri, dengki, tamak dan ki-
kir. Aku sedih melihatnya. Karena semua itu
pangkal bencana, pangkal penderitaannya di ak-
herat. Oh betapa malangnya, diriku Malaikat...
bukan yang tercipta dari cahaya tapi Malaikat
hanya julukan. Malaikat Penderitaan..." kata la-ki-laki itu. "Aku meninggalkan tempat pengasin-ganku karena urusan besar. Kehadiran sang Ma-
ha Sesat juga termasuk urusan yang tidak dapat
dianggap main-main. Lalu siapakah yang menco-
ba mempermainkan hidup ini? Tuhan murka,
langit murka, bumi murka, angin murka dan se-
mua yang ada di bumi ini menjadi murka karena
ulah manusia" dengus Malaikat Penderitaan
hanya sekejap kemudian Malaikat Penderitaan
sudah berlalu meninggalkan puncak bukit itu.
Belum lama Malaikat Penderitaan pergi, di
puncak bukit Penantian muncul tokoh lainnya. Ia
seorang wanita berusia sekitar tujuh puluh ta-
hun. Orang ini memakai anting pada dua lubang
hidungnya. Di keningnya juga terpasang anting,
kupingnya, bibirnya. Dan mungkin di setiap ang-
gota tubuhnya yang berlubang terpasang anting.
Perempuan renta ini berpakaian kumuh,
rambutnya jarang dan sudah berwarna putih se-
muanya. Di lihat sepintas lalu, nenek renta ini
seperti orang yang tidak pernah mandi selama
berbulan-bulan.
"Hik hik hik... Hartawan Abdi Banda. Akan
banyak darah yang berceceran karena kekayaan-
nya. Aku akan dapatkan semua itu, urusan be-
sar. Persoalan tidak main-main. Banyak orang-
orang punya ilmu berada di sana. Hu hu hu...
Sebaiknya aku pergi kesana sekarang" kata perempuan itu yang tiada lain adalah Ratu Alam
Kubur. Perempuan renta itu kemudian me lan-
jutkan perjalanannya kembali menuju ke singga-
sana milik hartawan Abdi Banda.
Urusan memang semakin runyam, tokoh-
tokoh sakti rimba persilatan banyak yang ber-
munculan dan tentu juga cari keuntungan. Ke-
mudian hadir pula sang Maha Sesat yang menipu
manusia dengan berbagai cara. Siapa sesungguh-
nya Rana Unggul. Malaikat Penderitaan, Ratu
Alam Kubur? Benarkah urusan hanya sekedar
harta? Atau ada persoalan lain yang lebih mena-
rik dari semua itu? Nantikan kelanjutannya
TAMAT
1 komentar:
Silahkan Tingggalkan Komentar di halaman ini...!!
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...