Senin, 17 November 2014

PENDEKAR BLOON - Eps,21


PENDEKAR BLOON
Eps.21
TOKOH-TOKOH KEMBAR
SATU
Pelarian yang ia lakukan dari musuhnya

bukanlah lari karena ia merasa kalah. Apa yang

dilakukannya semata-mata karena hendak men-

gatur siasat terbaik untuk menghancurkan la-

wan-lawannya yang terdiri dari tokoh-tokoh ber-

kepandaian tinggi itu. Walau pun mereka bukan

semuanya terdiri dari tokoh-tokoh kelas satu. Seperti Datuk Nan Gadang Lapuih itu, ia mempu-

nyai kuda gaib yang dapat mengalahkan pemban-

tu-pembantunya dari alam kubur itu. Tokoh dari

Ngarai Sianok memang harus dilenyapkannya. Te-

tapi yang menjadi tujuan utama bagaimana ca-

ranya membunuh kedua manusia yang sangat di-

bencinya. Barata Surya dan Dewana adalah

orang-orang yang harus mendapat ganjaran se-

timpal. Selain mereka masih ada lagi Manusia To-

peng, Mata Iblis, Wayan Tandira dan termasuk

Dewi Kerudung Putih. Dua orang yang terakhir ini baginya tidak begitu merisaukan hati.

Perempuan berpakaian hijau itu memang

dibuat pusing juga. Kini sama sekali ia sudah tidak punya pembantu yang dapat diandalkan.

Pendekar Blo'on yang semula dapat diharapkan

untuk mewujudkan cita-citanya sekarang mung-

kin sudah dapat dibuat sadar oleh gurunya, Mus-

tika Jajar murid keponakannya tidak muncul-

muncul juga. Tetapi ia masih punya sesuatu yang

dapat diandalkannya. Itulah dia Batu Lahat Ba-

kutuk. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat

besar dengan batu itu.

"Hik hik hik Datuk Nan Gadang, Malaikat

Berambut Api, Barata Surya Rencana yang kuja-

lankan kali ini pasti akan membuat kalian semua

celaka Kalian akan menghadapi tokoh-tokoh

yang mempunyai kesaktian tidak lebih rendah da-

ri kalian" dengus Ratu Leak sinis. Seraya kemudian masuk ke sebuah celah batu sempit. Mele-

wati celah batu itu terdapat tanah yang luas yang seluruh permukaannya berlapis batu hitam. Ratu

Leak melangkahkan kakinya ke tengah-tengah

batu datar yang luas itu. Namun alangkah terke-

jutnya orang ini saat melihat seorang kakek tua berwajah tengkorak bermata merah seperti api.

Yang mengerikan dari orang ini wajahnya sama

sekali tidak terbalut kulit dan daging. Sementara di depannya tampak tergeletak seorang gadis berpakaian tipis tembus pandang dalam keadaan ti-

dak sadarkan diri. Gadis itu kelihatannya baru

saja mendapat pengobatan dari si kakek angker.

Setelah mengenali siapa kakek berwajah angker

ini, Ratu Leak langsung melangkah mendekati

sambil berseru: "Adik seperguruanku, Tua Tengkorak Mata Api? Syukur kau mau datang ke ta-

nah kutukan ini"

Yang ditanya tidak menjawab, sikapnya

acuh tak acuh. Hanya matanya saja yang hampir

memberojol keluar itu memandang sinis pada Ra-

tu Leak.

"Adik seperguruan. Mengapa kau pandangi

aku seperti itu. Apakah ada langkahku yang kau

anggap salah?" tanya Ratu Leak.

"Langkahmu tidak ada yang salah kakang

mbok. Yang membuatku tidak senang kau mem-

biarkan muridku hampir membeku karena terlu-

ka dalam di Sange ini Jika aku tidak datang

mungkin Mustika Jajar sudah mampus" sahut

Tua Tengkorak Mata Api. Agar lebih jelas siapa

adanya kakek tua berwajah tengkorak ini (dalam

episode Pemikat Iblis). "Padahal ia membantu, namun rasa sayang terhadap murid keponakan

kulihat tidak ada sama sekali"

"Adik seperguruan. Kau jangan salah sang-

ka, aku belum sempat mencarinya. Sebab renca-

naku yang pertama ternyata tidak membawa ha-

sil. Kau jangan marah" sergah Ratu Leak. Perempuan ini kemudian meraba urat nadi di bagian

leher Iblis Betina Dari Neraka. Melihat hal itu Tua Tengkorak Mata Api langsung menggumam.

"Keadaannya sudah semakin baik. Mung-

kin tidak lama lagi ia sadar. Kuharap jangan

ganggu dia dulu. Biarkan ia istirahat" tegas si kakek yang cuma punya sebelah mata tersebut

tegas. "Aku mengerti" Ratu Leak tersenyum.

"Bagaimana dengan musuh-musuhmu?"

Kakek mata merah mengalihkan perhatian.

Ratu Leak gelengkan kepala. "Tidak semu-

dah yang kubayangkan. Jumlah mereka kelewat

banyak di luar perhitunganku"

"Mengapa menjadi lemah dalam mewujud-

kan sebuah cita-cita? Malaikat Berambut Api

punya hutang besar padaku Aku sanggup meng-

hadapinya" dengus Tua Tengkorak Mata Api.

"Eeh... apakah Batu Lahat Bakutuk masih berada di tanganmu?"
"Masih."

"Ha ha ha Aku punya satu rencana besar

dengan batu itu. Jika rencana ini terwujud. Maka kita tidak perlu bercapai-capai badan menghadapi mereka. Kita dapat uncang-uncang kaki sambil

menyaksikan musuh-musuh kita bergelimpangan

tanpa nyawa"

Mendengar ucapan Tua Tengkorak Mata

Api, Ratu Leak jadi tertarik. "Apa rencanamu itu adik seperguruanku?"

Tua Tengkorak Mata Api membisikkan ren-

cananya di telinga Ratu Leak. Wajah perempuan

cantik itu berubah berseri-seri.

"Rencana yang bagus Aku juga semula

punya niat untuk melakukan hal itu. Tapi aku

merasa kekuatan sihirku semakin melemah saja

akhir-akhir ini Kurasa jika kita bekerja sama kita dapat mewujudkan impian yang mengejutkan dan

tidak pernah terduga-duga oleh musuh kita"

"Nanti tengah malam kita dapat melakukan

segala sesuatunya. Karena dulu kau telah menye-

lamatkan muridku dengan menyambung tangan

serta menyembuhkan luka di perut. Maka tidak

ada salahnya jika sebagai saudara seperguruan

kita saling membantu" kata Tua Tengkorak Mata Api. Ratu Leak merasa senang sekali mendapat

bantuan dari adik seperguruannya. Ia tahu sam-

pai di mana kehebatan Tua Tengkorak Mata Api.

Laki-laki itu bahkan mempunyai ilmu ajian

'Benteng Roh'. Sebuah ilmu sesat yang dapat

menghidupkan benda-benda mati atas bantuan

iblis. Tanpa itu pun rasanya Batu Lahat Bakutuk

dapat mereka manfaatkan untuk mewujudkan

impian mereka.

***

Di pagi hari udara di Lembah Nirwana te-

rasa dingin sekali. Di sisi lain aroma bunga-bunga yang tumbuh beraneka ragam menjanjikan suasana lain yang sangat romantis. Murid-murid

lembah yang terdiri dari gadis-gadis cantik di pagi itu tampak lebih sibuk dari hari-hari biasanya.

Seorang gadis berkulit putih bermata sipit sejak semalaman memang diperintahkan oleh gurunya

untuk menyediakan semua keperluan yang dibu-

tuhkan Pendekar Blo'on. Suro sesungguhnya me-

rasa beruntung berada di lembah itu. Betapa ti-

dak, Lembah Nirwana adalah sebuah tempat yang

indah dan sulit dicari tandingannya di dunia ini apalagi yang melayaninya seorang gadis yang terkadang secara diam-diam mencuri pandang pa-

danya. Kebahagiaan apalagi yang bisa menandingi

semua ini?

Sungguhpun begitu jauh di sudut hatinya,

ia menjadi bimbang juga memikirkan nasib Dewi

Kerudung Putih. Entah bagaimana keadaan gadis

itu di tangan Ratu Leak. Boleh jadi Ratu Leak telah membunuhnya. Padahal Dewi Kerudung Putih

dulu pernah menolongnya (dalam episode Bayang

Bayang Kematian). Jika Dewi Kerudung Putih

sampai tewas di tangan Ratu Leak. Suro Blondo

bersumpah akan melakukan pembalasan berlipat

ganda. Kini ia mondar mandir di dalam kamar

yang dijadikannya tempat tidur semalam.

"Runyam benar-benar runyam. Semuanya

serba memalukan Dalam keadaan tidak sadar

aku pasti telah bertarung dengan guruku. Mau

disimpan di mana mukaku ini? Tapi mengapa ka-

kek Dewana tidak mau menemuiku di sini? Di

mana dia gerangan? Wah kejadian ini benar-

benar memalukan" pikir Suro, lalu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Seraya berjalan mondar-mandir lagi, tapi tiba-tiba hentikan langkahnya ketika mendengar suara daun pintu berderit

terbuka. Yang datang ternyata gadis cantik ber-

mata sipit.

"Selamat pagi" sapa Bunga Seloka ramah.

"Selamat siang dikit Ee... kita belum kenalan, ya? Namaku Suro, kau siapa?" tanya Pendekar Blo'on ramah. Yang ditanya tersenyum malu-

malu, wajahnya bersemu merah sedikit.

"Aku Bunga Seloka Mengenai siapa dirimu

aku sudah mendengarnya dari guru Aku datang

ke sini bukan bercanda"

"Lalu??"

"Guru memerintahkanmu untuk menjum-

painya di taman belakang" jelas Bunga Seloka.

"Taman belakang dimana?"

"Aku akan tunjukkan arahnya padamu

Mari ikuti aku" Tanpa menunggu Bunga Seloka segera berbalik langkah. Sambil menggerutu Suro

mengikuti Bunga Seloka. Yang dimaksud dengan

taman belakang ternyata jaraknya cukup jauh ju-

ga. Di ujung tanaman bunga terdapat pohon-

pohon besar seperti di rimba raya. Disini Bunga

Seloka hentikan langkah dan membalik mengha-

dap Suro Blondo.

"Peraturan mengatakan aku hanya dibe-

narkan mengantar kamu sampai di sini saja. Te-

ruskanlah berjalan ke sana, nanti kau akan men-

dapat petunjuk guruku" tegas Bunga Seloka seraya menunjuk arah yang dimaksudkannya. Pe-

muda berpakaian biru memandang ke arah itu.

"Kau menyuruhku masuk ke dalam hu-

tan?" kata Suro. Ucapannya tidak mendapat

tanggapan apa-apa, merasa heran ia menoleh.

Ternyata Bunga Seloka telah menghilang dari

pandangan matanya. Ia geleng-geleng kepala.

"Orang-orang di sini rasanya memiliki keanehan, atau apa aku sendiri yang memang aneh?" pikir Suro. Seraya kemudian sambil bersiul-siul melangkah mendekati pohon kelapa dan pohon du-

rian yang sedang berbuah lebat.

"Asyiik betul durian ini buahnya besar-

besar Ada kelapanya lagi, kurasa sehabis makan

durian aku bisa menikmati air kelapa Eeh... ke-

betulan sekali ada yang di bawah" batin Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini lalu mendekati sebuah

durian yang paling besar. "Wiiih, sudah kuning.

Pastilah isinya enak..."

Tanpa pikir panjang lagi, Suro segera

membuka ujung buah durian tersebut dengan

kedua tangannya. Ternyata pekerjaan itu tidak

mudah, karena kulit buah itu alot bukan main.

Suro putar-putar buah durian besar itu. Pada

saat yang sama tidak jauh di sebelah kirinya Pendekar Mandau Jantan mendengar suara seseo-

rang yang sedang mengomel, entah ditujukan pa-

da siapa? Ketika Suro memperhatikan laki-laki

yang usianya sebaya dengannya. Ternyata pemu-

da itu pun sedang memegang buah durian, hanya

ukurannya agak lebih kecil.

"Ingin makan saja harus bersusah payah

Kedua tangan tidak dapat dipergunakan. Sedang-

kan manusia punya akal, mengapa durian ini ti-

dak di pukulkan di kepalaku saja" Bicara begitu sekonyong pemuda asing itu angkat durian dari

atas tanah lalu membenturkannya ke bagian ke-

pala. Suro picingkan matanya melihat kejadian

itu. Ia berfikir orang yang berani melakukan pe-

kerjaan gila-gilaan itu kalau bukan orang gila

pastilah punya sesuatu yang diandalkan.

Prook

Si konyol benar-benar dibuat kaget. Bukan

hanya durian masak itu saja yang pecah, tapi ke-

pala yang dijadikan tatakan oleh pemuda tidak

dikenal ikut pecah. Buah durian yang pecah ber-

hamburan bercampur dengan otak dan darah.

Anehnya pemuda itu sedikit pun tidak merasa ke-

sakitan. Ia malah menyeringai menjilati buah du-

rian bercampur cairan otaknya sambil cengenge-

san. Suro merasa perutnya menjadi mual, kepala

pusing dan mau muntah. Pemuda aneh yang ke-

palanya pecah dihantam durian sedikitpun tidak

bicara. Suro yang menutupi wajahnya dengan ke-

lima jari direnggangkan mengintip dari sela-sela jari. Sementara buah durian tadi sudah habis di-makan oleh pemuda ini.

"Kepalaku pecah, kepala yang pecah harus

dibenerin dulu" Orang ini bicara lagi. Kemudian kedua tangannya diletakkannya antara kuping

kanan dengan kuping kiri. Setelah itu tangan

menghantam kepala bertubi-tubi dengan tenaga

penuh. Plok Plak Plok

"Orang ini benar-benar tidak waras. Ka-

tanya mau membetulkan kepalanya yang pecah.

Tapi kok malah dipukul seperti orang menghan-

tam batu kali" pikir Suro terlolong-lolong saking bingungnya. Ia lebih kaget lagi ketika melihat bagaimana kepala yang hampir berantakan itu men-

jadi utuh kembali. Pemuda tidak dikenal kali ini sunggingkan senyum aneh ditujukan pada Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini malah mengkeret

ngeri. Kemudian tanpa bicara apa-apa ia lang-

sung meninggalkan Suro begitu saja. Sejarak tu-

juh batang tombak pemuda aneh itu langkahkan

kaki, tubuhnya mendadak saja raib dari pandan-

gan Suro. Pendekar Blo'on kedip-kedipkan ma-

tanya berulang-ulang. Apa yang dilihatnya tadi

benar-benar seperti kejadian dalam mimpi. Belum

hilang rasa kagetnya, tiba-tiba muncul pula seo-

rang pemuda lain berusia sebaya dengan pemuda

aneh yang datang pertama tadi. Pemuda ini bu-

kan menghampiri pohon durian dimana buahnya

yang masak bergeletakan di atas tanah. Orang ini menghampiri pohon kelapa yang berbuah lebat.

Mendongak ke atas seakan sedang menentukan

mana buahnya yang masih muda.

"Jika inginkan buahnya yang sedap, men-

gapa harus bersusah payah dengan memanjat-

nya? Cukup kulihat dari sini dan dia turun sendi-ri" kata si pemuda seakan ditujukan pada diri sendiri. Pemuda asing itu lalu kedipkan matanya

yang sebelah kiri persis orang kelilipan.

"Heh..." Lagi-lagi Pendekar Mandau Jantan dibuat tercengang ketika melihat betapa buah kepala yang dikedipi pemuda itu meluncur ke ba-

wah. Kelapa muda ini tidak langsung jatuh. Me-

lainkan tergantung-gantung di udara. Pemuda

bertelanjang dada gerakkan jari telunjuknya ke

atas dengan gerakan melubangi, seraya berkata.

"Kalau haus mengapa tidak minum?" Dan

sekonyong-konyong dari buah kelapa yang berlu-

bang dan tergantung di udara mengucur air kela-

pa. Si pemuda buka mulutnya. Suro memperhati-

kan kejadian ini dengan mulut melongo saking

takjubnya.

"Wah, kelapa muda kok ada ikannya" kata si pemuda. Seraya katubkan kedua bibirnya.

Tangan melambai dan kelapa muda itu meluncur

deras menghantam kepalanya. Nampaknya ia

sengaja mengadu kepala dengan kelapa muda

yang dipetiknya secara aneh.

Prak

Kelapa itu pecah berderak dan menggelind-

ing persis di depan Suro Blondo. Bagian yang pe-

cah terkuak.

Lagi-lagi si konyol dihadapkan pada suatu

pemandangan menakjubkan dan sulit dipercaya.

Di dalam batok kelapa muda terlihat dua ekor

ikan kecil sebesar jari telunjuk berwarna kuning seperti anak ikan mas.

"Orang ini punya kesaktian luar biasa. Ka-

lau bukan orang sinting, ia pasti sengaja pamer

kekuatan di depanku" pikir Pendekar Blo'on.

"Permainan seperti itu memang menarik, hanya lama kelamaan terasa membosankan. Lagipula

aku datang ke sini bukan untuk menonton segala

pertunjukan konyol. Si Bayang-Bayang memang-

gilku. Mengapa yang datang pemuda-pemuda

aneh yang pamer kebolehan?" Suro akhirnya

menjadi bosan, tiba-tiba ia bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan durian besar yang belum sempat

dibelahnya ia berjalan ke lain arah namun masih

di wilayah lembah Nirwana. Baru beberapa tindak

ia melangkah, di belakangnya terdengar seruan

seseorang.

"Hei pemuda baju hijau. Kalau kau ingin

makan durian mengapa kau tahan seleramu. Ka-

lau kau tidak becus membelahnya, jika tidak

sanggup aku bisa membantumu dan kau tinggal

makan saja"

Bila Suro memandang ke belakang, tahu-

lah ia pemuda aneh itu yang baru saja bicara. Melihat sikap orang itu yang terlalu meremehkan-

nya. Maka Pendekar Blo'on sambil mendengus te-

rus berlalu.

Ternyata pemuda tidak dikenal itu tidak

membiarkan si konyol pergi begitu saja. Ia me-

nendang buah durian besar yang ditinggalkan

oleh Suro. Buah durian berwarna kuning itu me-

layang nyaris menghantam belakang batok kepala

Pendekar Blo'on. Untung saja ia cepat menghin-

dar, jika tidak dirinya pasti sudah terjengkang.

Ternyata buah durian yang tidak berhasil meng-

hantam kepalanya itu berbalik dan menyambar

kembali dengan gerakan berputar menghantam

wajah Suro. Pemuda ini memaki, lalu dorongkan

kedua tangannya ke arah sasaran.

Wuuut Wuuut

Ser

Seakan memiliki mata saja, buah durian

itu membumbung ke atas dan bergerak turun

kembali serendah mungkin. Sekarang kaki Pen-

dekar Blo'on yang jadi sasaran. Dengan geram

Suro melompat sekaligus diiringi gerakan salto

yang sungguh sedap dipandang mata.

Kini buah durian mengambang diam di

udara. Suro memandang dengan mata mendelik

kepada pemuda yang tidak dikenalnya.

"Mengapa kau menyerangku?" bentak Suro dengan suara keras. Pemuda di depannya

hanya senyum-senyum.

DUA

Kemudian ia pandangi Pendekar Blo'on, ta-

tapan matanya seolah-olah ingin menembus lu-

buk hati pemuda itu.

"Bukankah kau menginginkan buah itu.

Kutawarkan padamu satu kebaikan, sayang kau

malah menolaknya" kata si pemuda seperti kece-wa. "Kau bukan memberi kebaikan, kulihat

kau sengaja mencari gara-gara" dengus Pendekar Blo'on tidak senang.

"Kau menuduh Fitnah busuk membuat

aku jadi marah Sekarang rasakanlah durian itu

akan mengemplang kepalamu" Usai bicara pe-

muda tidak dikenal gelengkan kepala. Tiba-tiba

saja durian yang terkatung-katung di udara me-

layang lagi dan menyerang Suro dengan kecepa-

tan berganda. Melihat ini Suro yang telah pulih

kembali dari kehilangan tenaga sakti ini (untuk lebih jelasnya dalam episode Perintah Dari Alam

Gaib) segera lepaskan pukulan 'Kera Sakti Meno-

lak Petir'. Selarik sinar putih menderu, akan tetapi durian yang mengemplang ke arah kepala itu

kini bergerak merendah lalu meluncur lagi meng-

hantam bagian selangkangan pemuda itu.

Dengan gerakan bagai seekor monyet yang

berjingkrak pemuda ini mengelak. Pukulan yang

dilepaskannya menghantam sebatang pohon yang

berada di belakangnya. Pohon berderak hancur

disertai kobaran api menyala. Pemuda rambut

kemerahan mendelik melihat pukulannya tidak

mengenai sasaran. Sementara pemuda yang tidak

dikenalnya itu sambil tersenyum-senyum meng-

gerakkan tangannya hingga durian yang berada di

bawah pengaruh tenaga dalamnya ini kembali

meluncur ke arah Suro.

"Hati-hatilah kau Pendekar berjurus ku-

nyuk. Salah-salah durian itu dapat mengelilipi

matamu"

Suro pencongkan mulutnya. "Sialan, kau

kira hanya kau sendiri yang dapat berbuat seperti itu?" dengusnya sinis. Tidak membuang-buang waktu, Suro angkat tangannya sejajar dengan telinga. Lalu....

"Huup..."

Krrtkh

Dua-duanya sekarang sama-sama menge-

rahkan tenaga dalam, sehingga terjadilah saling

dorong. Pemuda tidak dikenal masih bisa terse-

nyum-senyum. Melihat hal itu Suro jadi sewot.

Diam-diam ia melipat gandakan tenaga dalamnya.

Lawan tampak terkesiap. Kedua kakinya mulai

bergeser setindak demi setindak. Ketika ia menga-lirkan tenaga dalam kebagian tangannya. Dua-

duanya tampak bergetar hebat. Buah durian se-

sekali terdorong ke kanan dan dilain waktu terdorong ke kiri.

"Kau akan mendapat oleh-oleh Pendekar

Bodoh Hiya..." Pemuda tidak dikenal tiba-tiba mendorongkan kedua tangan dengan keras sekali.

Pruuk

Dan durian itupun terbelah. Apa yang ke-

luar dari buah durian tersebut bukanlah buahnya

yang berwarna kuning. Melainkan binatang sebe-

sar jari kelingking berwarna hijau.

"Burung hijau?" seru Suro. Ia berjalan lebih mendekat ke arah serpihan kulit durian ter-

sebut. "Ternyata bukan burung, tetapi belalang

Belalang congcorang" kata pemuda itu sambil gelengkan kepala seakan tidak percaya. "Bagaimana mungkin durian bisa berbuah belalang? Ini hal
yang mustahil" Dalam keheranannya itu Suro segera menoleh ke arah pemuda tidak dikenal. Te-

tapi alangkah kagetnya pemuda ini karena pemu-

da yang menyerangnya tadi sekarang sudah tidak

berada di tempat. "Aneh, kemana perginya orang itu. Mustahil secepat itu ia dapat menghilang?

Hantukah orang tadi?" Mendadak Suro merasa

tengkuknya menjadi dingin. Selagi ia terlolong

menyaksikan segala keganjilan yang terjadi. Pada waktu itu pula puluhan ekor belalang congcorang

berterbangan dan menyerang pemuda ini tanpa

ampun.

Suro mula-mula menganggap serangan itu

adalah suatu hal yang lumrah. Sehingga dengan

seenaknya ia menepis belalang-belalang itu. Akan tetapi alangkah kagetnya pemuda ini karena belalang itu menghindar. Terbang berputar-putar, lalu kedua tangannya yang panjang menyentik.

Stak

"Aih... Keparat betul..." maki Suro saat salah satu belalang itu menjentik bagian telinganya.

Tampak jelas bagian jentikkan berubah merah.

Sementara serangan belalang semakin menghe-

bat. Suro mengerahkan segenap kemampuannya

untuk mengusir belalang-belalang tersebut. Seka-

li-kali tangannya menyambar. Terkadang kakinya

menendang, aneh sungguh aneh. Belalang itu da-

pat menghindarinya.

Sebaliknya serangan-serangan balik yang

dilakukan para congcorang itu hampir sulit di-

hindari oleh Suro. Padahal pemuda itu telah

mempergunakan jurus Kacau Balau, satu-

satunya jurus menghindar pada tingkatan yang

paling tinggi.

Selagi Suro dibuat kalang kabut oleh se-

rangan congcorang yang cukup banyak itu. Maka

tanpa diduga-duga dari arah semak-semak mun-

cul seekor ular berwarna hijau sebesar lengan

orang dewasa dengan panjang hampir satu tom-

bak. Ular itu mendesis keras ketika melihat Pen-

dekar Blo'on. Secepat terbang ia meluncur dengan mulut terbuka siap mematuk kaki Pendekar ini.

Lagi-lagi terjadi keanehan. Saat melihat kehadiran ular hijau tersebut puluhan congcorang berbalik

arah dan kini menyerbu ular tersebut.

Maka terjadilah pertempuran sengit antar

binatang. Suro terkesima melihat kejadian ini.

Mendapat keroyokan sedemikian rupa, kiranya

ular hijau tidak tinggal diam. Ia mematuk kian

kemari, kepalanya meluncur dengan ganas dan

cepat menyerang belalang-belalang yang berada di depannya. Hebatnya tidak satu pun serangan ular

itu yang mencapai sasaran. Congcorang meng-

hindar dengan gerakan yang gesit atau membalas

serangan dengan tidak diduga-duga.

"Mereka ini seperti memamerkan jurus-

jurus baru padaku. Ular ini memiliki gerakan

yang sangat cepat dan berbahaya. Tetapi para

congcorang kelihatannya lebih cerdik dan cepat

berkelit. Ini adalah sebuah pemandangan sekali-

gus pelajaran sangat berguna Eeh, lihat Kaki

depan congcorang yang panjang lakukan gerakan

menggait dan menampar ke bagian mata. Yang di-

incarnya adalah bagian-bagian terlemah ular ini.

Aih... hiya... bagus Kena, ya... pukul begitu. Wa-lah mata ular mulai berdarah." seru Suro sambil jejingkrakan. "Wah... sekarang mereka menyerang bagian ekor. Ular mulai menari-nari kesakitan.

Dan yang satu itu...??" Suro mendelik sambil menahan nafas. Dilihatnya seekor congcorang nekad

memasuki mulut ular itu. Jika ular katupkan mu-

lutnya pastilah tamat sang congcorang yang ma-

lang. Namun ternyata hanya sepersekian detik sa-

ja congcorang itu berada dalam mulut ular hijau.

Sebelum binatang yang sangat berbisa itu menga-

tupkan mulutnya, congcorang telah keluar kem-

bali. Ular hijau mendesis panjang, lidahnya terjulur dan tampak tercabik-cabik disana sini. Darah menetes-netes, ternyata congcorang telah melukai

bagian dalam ular berbisa tersebut. Marah ber-

campur sakit berbaur menjadi satu. Ular tersebut menggelepar sambil meliukkan kepalanya.

Dari bagian lain congcorang terus melaku-

kan penyerangan secara beruntun. Tampak jelas

binatang itu mulai terdesak. Sementara congco-

rang yang lain mulai memusatkan penyerangan

ke bagian mata. Mendapat serangan bertubi-tubi

seperti itu, tampaknya ular hijau menjadi panik.

Apalagi saat itu salah satu mata ular tersebut sudah mulai berdarah. Suro memperhatikan semua

yang terjadi dengan penuh rasa takjub. Sementa-

ra ular hijau itu akhirnya melarikan diri ke semak-semak yang berada tidak begitu jauh dari si-

tu. Belalang congcorang yang jumlahnya cukup

banyak tersebut terbang melambung tinggi ke

angkasa. Semakin lama semakin meninggi, hing-

ga akhirnya hilang dari pandangan mata.

Suro gelengkan kepala beberapa kali. Ia

memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tetapi

Si Bayang-Bayang tidak muncul juga.

"Orang itu aneh, dia yang memintaku ke

sini, tapi malah dia yang tidak mau menemuiku"

pikir Suro dalam hati.

"Kau datang, ha ha ha... Terimalah pe-

nyambutanku" sebuah suara disertai tawa tiba-tiba saja mengiang di telinga Pendekar Blo'on.

Orang ini langsung menoleh ke arah datangnya

suara. Ternyata tidak ada orang lain, kini yang

terlihat adalah sebuah pemandangan lain yang

mengancam jiwa Suro. Ketika itu terlihat batu se-

besar-besar kerbau meluncur deras ke arahnya.

"Muslihat edan apalagi ini namanya

Hiih..." Secepat kilat Pendekar Mandau Jantan melompat ke udara, selagi tubuhnya masih mengambang di udara ia lepaskan pukulan berisi te-

naga dalam tinggi ke arah batu-batu tersebut.

Wuuuk

Wuut Wuuut

Byar Byar

Batu-batu itu berantakan menjadi serpi-

han-serpihan kecil. Tetapi yang datang kemudian

lebih dari tiga buah. Suro leletkan lidah seraya la-lu lepaskan pukulan beruntun ke arah batu-batu

tersebut. Dua diantaranya dapat dihancurkan.

Tapi yang dua lagi meskipun terkena pukulan ti-

dak juga hancur. Malah sekarang batu terangkat

seakan ada kekuatan yang mengangkatnya. Batu

bergerak melayang menghantam kepala Pendekar

konyol. Pemuda ini dengan cepat berkelit ke

samping, kemudian gerakkan tangannya siap le-

paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-

sinar' Wuuesss

Sinar biru redup bersemu merah langsung

melabrak batu tersebut. Hanya sedikit lagi batu

tersentuh pukulan Suro. Secara aneh batu itu te-

rangkat lebih ke atas. Pukulan Suro menghantam

pohon besar di belakangnya. Pohon itu hancur

terbakar. Tanpa perduli lagi ia melepaskan puku-

lan susulan.

Wuuuk
Buuum

Pyaar

Batu-batu besar itupun hancur secara be-

runtun. Suro cepat tarik kedua tangannya sambil

menghela nafas.

"Pukulan yang kau miliki boleh juga. Tetapi itu belum cukup untuk menghadapi muslihat ke-jahatan dunia yang luas ini" Lagi-lagi terdengar sebuah suara mengiang di telinganya.

"Kakek Bayang Bayang? Apakah kau akan

terus berbicara seperti setan gentayangan. Eng-

kau menahanku dengan suatu maksud yang ti-

dak kumengerti, engkau menyuruhku agar men-

jumpaimu dengan muslihat. Kau katakan hendak

menyampaikan sebuah rahasia besar Pabila aku

datang memenuhi panggilanmu, kau hadapkan

aku dengan teka tekimu yang sulit kumengerti

Aku heran dengan semua yang kau perlihatkan

padaku, atau apakah karena memang diriku ini

yang bodoh?" kata Suro sambil terbengong-

bengong.

"Suro, kau memang bodoh. Jika tidak ma-

na mungkin Ratu Leak berhasil memperdayaimu.

Selain itu sifatmu juga agak mata keranjang, itu sifat buruk seorang laki-laki Yang lebih penting dari semua itu telah kuperlihatkan padamu sifat-sifat umum manusia?" kata Si Bayang Bayang.

Tidak lama kemudian tanpa disadari oleh Pende-

kar Blo'on di belakangnya muncul seorang kakek

tua berpakaian hitam. Tubuh kurus kering, tu-

lang belulangnya bertonjolan. Sedangkan tatapan

matanya tajam menusuk. Adalah sebuah kejutan

jika orang seperti Pendekar Blo'on yang memiliki kesaktian dan indera pendengaran tajam tidak

dapat mengetahui kehadiran orang ini.

"Berbaliklah kau Tidak sepantasnya me-

munggungi orang tua bangka sepertiku"

"Eeh..." Cepat sekali Suro membalikkan badannya. Ternyata di belakangnya tampak seorang kakek tua renta bertubuh kurus kering ba-

gaikan hanya tinggal kulit pembalut tulang saja.

Tatapan mata kakek ini tampak mencorong tajam.

"Aku kembali ingin bertanya, sifat-sifat manusia mana yang telah kau perlihatkan padaku wahai

kakek kurus?" tanya Pendekar Blo'on setelah merasa yakin betul bahwa yang datang adalah Si

Bayang-Bayang alias Tangan Biru.

"Bicara dengan kedua gurumu kau boleh

mencla-mencle (bercanda). Tetapi dengan aku kau

jangan sekali-kali bercanda. Salah-salah aku bisa membunuhmu" dengus laki-laki renta di depan Suro. "Apakah aku harus menghormat padamu, kakek kurus Lalu bicara sambil tundukkan kepala?" sahut Suro sambil garuk-garuk kepala. Bibirnya tampak menyunggingkan senyum. Rupanya

Si Tangan Biru memang tidak mau diajak bercan-

da. Tiba-tiba ia tunjukkan salah satu kehebatan

yang dimilikinya. Si kakek gerakkan kepalanya

perlahan saja. Mendadak Suro merasa ada se-

buah kekuatan yang tidak terlihat telah membetot bibir dan kedua matanya. Pemuda ini tersungkur ke depan.

Bruuk

"Waduh..."

Sambil mengerang kesakitan Pendekar

Blo'on segera bangkit. Baru saja berdiri sebuah tendangan keras menghantam dadanya. Untung

pemuda itu cepat menghindar.

Wuuut

Semula Suro merasa dapat menghindari

tendangan Si Tangan Biru. Tetapi pada kenya-

taannya pinggang pemuda itu masih kena dihan-

tam kaki lawan. Untuk kedua kalinya Pendekar

Blo'on jatuh tersungkur. Dalam hati ia bertanya-

tanya. Sungguh kakek tua yang ujudnya hanya

bagai bayang-bayang ini mempunyai berbagai

keanehan. Ia tidak tahu seberapa tinggi kesaktian yang dimilikinya. Satu hal yang mengherankan-nya, mengapa ia masih kena dihajar lawan. Pa-

dahal pemuda itu telah berusaha mengelakkan-

nya sedapat yang ia mampu.

"Suro Blondo" Tangan Biru tiba-tiba saja menghentikan gerakan tubuhnya sekaligus berseru. "Sekarang kau harus menyerangku dengan

mempergunakan seluruh jurus-jurus silat yang

kau miliki" perintah si kakek.

"Mengapa harus menyerangmu? Sedang-

kan engkau adalah orang yang telah menolongku.

Mana aku berani, sedangkan di antara kita tidak

ada persoalan apa-apa" jawab si pemuda.

"Kau berani membantah perintahku? Pa-

dahal gurumu sudah menyetujui hal ini?"

Suro melengak kaget. Jelas ia tidak percaya

bahwa gurunya membenarkan penyerangan ter-

hadap orang yang telah memberikan pertolongan

padanya. Kalau bukan gurunya yang gila, tentu

kakek yang berada di depannya inilah yang telah

sinting.

"Bagaimana aku dapat melakukannya?

Dunia akan mentertawaiku bila aku sampai me-

nyerangmu. Aku bisa dianggap sebagai orang gila

yang tidak tahu budi" bantah Pendekar Blo'on sambil bersungut-sungut.

"Biarkan mereka menganggapmu sebagai

orang gila yang tidak tahu membalas guna. Perin-

tahku padamu adalah untuk menyerangku sece-

patnya jika kau benar-benar manusia yang tahu

berterima kasih" dengus Si Bayang-Bayang.

Penegasan si kakek itu jelas-jelas membuat

Suro Blondo tercengang-cengang. Bagaimana se-

buah penyerangan dianggap sebagai rasa terima

kasih Suro mulai berpikir mungkin saja kakek

renta itu memang orang sinting yang lebih gila

dari gurunya Penghulu Siluman Kera Putih.

"Rasanya daripada dia murka padaku. Ku-

rasa tidak ada salahnya jika aku layani permin-

taannya. Tetapi..." Suro ragu-ragu sejenak. Melihat tubuh kurus kering kerontang itu ia jadi tidak tega. "Aku takut pukulanku membuat tulang belulangnya remuk. Mana kecil-kecil begitu?" batin Suro. Kakek renta yang berdiri di depannya tersenyum penuh kearifan. Seakan ia mengetahui

apa yang ada di dalam benak pemuda itu.

"Sesuatu yang kelihatannya lemah, jangan

kau pandang rendah, Pendekar Bodoh Pandan-

gan matamu terkadang menipu, cepat kau laku-

kan?" desak Si Bayang-Bayang membuat Pende-

kar Blo'on semakin tidak mengerti.

"Orang tua, kau terlalu memaksaku Jika

terjadi apa-apa denganmu janganlah kau salah-

kan aku" kata Suro, suaranya pelan namun jelas.

"Ha ha ha... Perlu kau ingat adalah dua

pemuda yang menjumpaimu pertama tadi. Aku

telah memberikan dua perlambang kepadamu.

Yang pertama keangkuhan dan kebijaksanaan.

Dan kau juga harus ingat tentang ular dan con-

gcorang"

Pendekar Blo'on merasa semakin tidak

mengerti saja dengan maksud kata-kata Si Tan-

gan Biru. Walau pun begitu ia tetap anggukkan

kepala. "Hati-hati orang tua?" kata pemuda itu seakan seperti ucapan seorang guru kepada muridnya. Yang diajak bicara hanya tersenyum. Suro mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan penyerangan. Tetapi kelihatannya ia begitu

sungkan untuk menghadapi kakek tua renta ini.

Sehingga untuk yang kesekian kalinya Si Tangan

Biru memperingatkan.

"Serang aku dengan segenap kemampuan

yang kau miliki"

"Baik Hia..."

Pendekar Blo'on tiba-tiba membentak garang, sedangkan tubuhnya langsung melesat ke

arah kakek renta tersebut. Melihat serangan yang cepat itu Si Bayang Bayang geser kakinya, kemudian kaki kanan diangkatnya tinggi-tinggi. Dilihat sepintas lalu kakek tua itu seperti sedang melakukan gerakan yang sangat mirip dengan congcorang.

TIGA

Masing-masing jemari tangannya tersusun


lancip. Lalu dengan cepat tangan-tangannya

menggait ke depan. Suro terperangah, jika Si

Tangan biru ini mau mencelakainya, tentu sejak

tadi ia sudah terpelanting.

"Huh,
seranganmu lembek seperti serangan

banci Hayo kerahkan jurus-jurusmu yang paling

hebat" perintah Si Tangan Biru masih tetap tidak bergeming dari tempatnya.

"Serangan yang kulakukan tadi mengapa

tidak bisa menyentuh tubuhnya? Aku sendiri

hampir dibuat konyol jika ia mau Huh... aku ti-

dak boleh main-main. Mulai sekarang harus ku-

kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'" batin Suro di hati. Berpikir sampai ke situ sekejap kemudian pemuda ini mulai membangun serangan

kembali.

Zeeb Jeb Jeb

Wuuk Wuuk

"Hiyaaa..."

Sekonyong-konyong Suro melangkah dengan gerakan seperti tersaruk-saruk. Sedangkan

tangannya tidak henti menggaruk sana sini sam-

bil menjambret ke kanan atau ke kiri. Tidak ja-

rang tangan itu menghantam ke depan. Serangan

yang dilakukan Suro sangat cepat luar biasa.

Namun hingga sejauh itu Si Tangan Biru dengan

mudah selalu dapat menghindar, Pendekar Blo'on

benar-benar dibuat penasaran berat. Ia terus me-

rubah taktik serangan dari jurus yang satu ke jurus yang lainnya. Sampai pada akhirnya Suro

Blondo mengerahkan jurus terdahsyat 'Neraka

Pembasmi Iblis'.

Kali ini Si Bayang Bayang agak terkesiap.

Lalu terdengar seruannya. "Pendekar Bodoh Serangan yang ini kulihat baru ada bobotnya. Hayo, serang, pukul Dan begini caranya..." Si Tangan Biru lalu sentakkan tangan ke depan dengan jari

masih merapat satu sama lain.

Melihat serangan balik yang tidak disang-

ka-sangka ini, Pendekar Blo'on segera bersalto ke belakang. Walau pun pemuda ini sudah melakukan gerakan yang dianggapnya sangat cepat seka-

li. Akan tetapi ia masih merasa ada angin dingin mendesir menghantam bagian perutnya.

Cuus

Jluugkh...

Walaupun dapat menjejakkan kedua ka-

kinya, namun tubuhnya agak goyah. Pemuda itu

terkesiap, ia terperangah ketika melihat ke bagian perutnya. Ternyata bajunya ada yang bolong di

dua tempat. Lubang itu seakan-akan terkena api.

Padahal jika lebih diteliti, sebenarnya lubang-

lubang itu tercipta akibat hantaman lima jari Si Tangan Biru yang disatukan.

"Dia menyerangku dengan jurus Congco-

rang Jika kakek kurus kering ini mau tentu isi

perut dan isi dadaku sudah berbusaian Hiih...

mengerikan sekali" pikir Pendekar Blo'on. Tanpa sadar tiba-tiba saja pemuda ini melompat mundur. "Sudah kau lihat, Suro Tidak satupun seranganmu yang ganas itu dapat menyentuhku

Kenyataan pahit yang kau hadapi ini bukan be-

rarti gurumu salah menurunkan jurus-jurus an-

dalan Apa yang kau perlihatkan padaku, semua-

nya sudah sangat bagus, namun semua itu tidak

cukup untuk menghadapi Ratu Leak dan salah

satu sahabat lamaku Iblis Terlaknat Hantu Ma-

lam" ujar Si Tangan Biru ketus.

"Ia mengatakan Iblis Terlaknat sahabatnya,

tetapi mengapa tampaknya dia seperti menyim-

pan permusuhan?" kata Suro dalam hati. "Yang terpenting bagaimana caranya menghadapi Ratu

Leak. Manusia jahanam yang satu itu nyaris

membuat aku celaka dan pula berniat membunuh

guruku"

"Ada yang kau pikirkan, Suro?" tanya Si Tangan Biru. Seraya duduk di atas sehelai rumput hijau. Lagi-lagi Suro dibuat tercengang. Kare-na rumput yang diduduki si kakek sama sekali ti-

dak patah apalagi tumbang. Seakan tubuh Tan-

gan Biru tidak mempunyai bobot sama sekali.

"Beberapa hal yang ingin kutanyakan pa-

damu orang tua mulia?" ujar Suro, seraya menggaruk-garuk kepalanya. "Ratu Leak telah membuat kesusahan bagi berbagai pihak. Kutuknya

terhadap penduduk negeri Sange hingga saat ini

belum berakhir. Menurutmu apakah aku tidak

sanggup menghadapi perempuan itu?"

Si Tangan biru manusia yang ujudnya

hanya seperti bayang-bayang ini tersenyum.

"Ratu Leak mustahil dapat dihadapi oleh

tokoh sakti manapun. Gurumu Penghulu Siluman

Kera Putih aku jamin tidak dapat mengalahkan-

nya jika hanya mengandalkan segala kesaktian

yang dimilikinya. Entah jika kakekmu Malaikat

Berambut Api. Ratu Leak sebenarnya bukan ma-

nusia super tanpa kelemahan. Semua kesaktian

yang dimiliki manusia mempunyai titik kelema-

hannya. Tetapi untuk menjatuhkan Ratu Leak

agar tidak menimbulkan banyak korban. Kita ha-

rus mengetahui di mana titik kelemahannya. Apa-

lagi mengingat Batu Lahat Bakutuk hingga saat

ini masih berada di tangannya. Dia bisa berbuat

apa saja berkat bantuan benda terlaknat itu"

"Batu Lahat Bakutuk kudengar milik Da-

tuk Nan Gadang Paluih, apakah benar begitu

keadaan yang sebenarnya?" tanya Suro serius.

"Ya... Di tanah Jawa ini tidak ada batu se-

perti itu. Batu Lahat Bakutuk memang milik Da-

tuk Nan Gadang Paluih. Saat ini pun firasatku

mengatakan batu tersebut telah menunjukkan

kharismanya." jelas Si Tangan Biru.

"Lalu siapa yang dapat menghentikan Ratu

Leak?" "Yang dapat menghentikannya tentu kau.

Tetapi kau harus menguasai jurus-jurus Congco-

rang terlebih dahulu"

"Hal itu akan memakan waktu yang lama?"

tegas Pendekar Blo'on seakan tidak sabar lagi.

Si Bayang-Bayang gelengkan kepalanya te-

gas. "Tidak, jika kau berlatih serius mungkin hanya beberapa pekan saja kau sudah dapat

menguasainya" jelas Si Tangan Biru.

"Lalu jika aku telah dapat menguasai ju-

rus-jurus itu. Apakah berarti aku juga harus

menghadapi Iblis Terlaknat Hantu Malam?"

"Ha ha ha..." Si Tangan Biru tertawa membahak, namun kemudian katubkan bibirnya yang

tertutup kumis tipis berwarna putih. "Tampangmu bodoh, ternyata otakmu cukup cerdik juga.

Memang di suatu saat kelak kau mau tidak mau,

suka tidak suka akan bertemu dengan Iblis Ter-

laknat Hantu Malam."

"Apakah dia musuhmu?" tanya Suro den-

gan tatapan penuh selidik.

"Iblis Terlaknat Hantu Malam dulunya ada-

lah sahabatku Tetapi beberapa tahun belakangan

ini ia bersekutu dengan Manusia Laba-Laba" Si Tangan Biru hentikan ucapannya sejenak. Wajahnya mendadak berubah murung dan sungguh

tidak sedap dipandang. "Yang memutuskan per-sahabatan kami bukan saja karena ia pengen se-

kutu dengan Manusia Laba-Laba, lebih kurang

ajar lagi ia bermaksud mengambil muridku Bunga

Bidadari menjadi isterinya"

"Kalau kakek tidak suka Iblis Terlaknat

menjadi menantu berarti Iblis Terlaknat bukan

manusia baik-baik"

"Kau betul. Selain itu ia juga sudah tua,

umurnya bahkan lebih tua dariku" jelas Si Tangan biru. Kening Suro berkerut dalam, usia kakek di depannya konon hampir tiga ratus lima puluh

tahun. Berarti umur Iblis Terlaknat mungkin

mencapai empat ratus tahun.

"Mengapa kakek tidak mau menghadapinya

langsung? Bukankah kakek paling tidak sudah

mengetahui sampai dimana kehebatan orang itu?"

desak Suro ingin tahu.

"Pendekar Bodoh, aku suka lagak bicaramu

yang ceplas ceplos. Apa yang kau katakan itu

memang benar. Tetapi ada satu rahasia lagi yang

belum bisa kukatakan padamu hingga saat ini.

Yang harus kau ingat, mulai besok kau harus

mempelajari jurus-jurus Congcorang sebagai per-

siapan guna menghadapi Ratu Leak" tegas Si Tangan Biru.

"Huh, siapa sudi menjadi muridmu Jika

aku ingin tambah ilmu tambah pengalaman, ten-

tu aku harus minta pendapat kakekku Malaikat

Berambut Api" dengus si pemuda.

"Bocah goblok Apa kau anggap kakekmu

yang banyak pacar dimasa mudanya itu adalah

satu-satunya manusia yang paling sakti di dunia

ini?" cibir Si Bayang Bayang.

Jika bukan tua renta ini yang bicara begi-

tu, seandainya saja Suro belum tahu kehebatan

yang dimiliki oleh Si Tangan Biru. Tentu kakek

tua ini sudah di dampratnya.

"Sekali lagi kakek bicara begitu aku akan

minggat dari sini" ancam Suro Blondo.

"Hemm, ancaman bagiku tidak berguna.

Kau mau belajar denganku, bukan berarti kau

harus mengangkatku jadi gurumu Aku bukan

gurumu, aku hanya orang yang mau mendidikmu

menjadi manusia lebih berguna dan punya ke-

pandaian lebih berbobot Ackh... sudahlah Nanti sore kau harus mempelajari jurus-jurus Congcorang yang telah kau ketahui kehebatannya Seka-

rang kembalilah ke pondok Jika kau membutuh-

kan sesuatu, muridku Bunga Seloka pasti mau

menyediakannya"

Suro garuk-garuk kepala sambil nyengir

ketika diingatkan tentang Bunga Seloka. Si cantik berkulit putih bermata sipit.

"Kurasa aku memang betah tinggal di sini,

apalagi mengingat murid-muridmu cantik-cantik,

kek? Ha ha ha Kurasa muridmu yang bernama

Bunga Bidadari memiliki wajah secantik bidada-

ri"

"Jangan kau berani kurang ajar pada me-

reka jika tidak ingin kubuat mampus" ancam Si Tangan Biru. Suro menanggapi ucapan Si Bayang

Bayang dengan tawa terkekeh-kekeh.

"Jangan khawatir, kek. Aku mana berani

bertindak kurang ajar, apalagi berbuat macam-

macam. Sedangkan satu macam saja aku tidak

berani, terkecuali mereka sendiri yang mau, tentu saja aku tidak punya kuasa menolak rejeki bukan?" sahut Pendekar Blo'on. Seraya tanpa

menghiraukan Si Tangan Biru yang melotot pa-

danya segera berlalu meninggalkan tempat per-

temuan.





***
Manusia Topeng dan Mata Iblis duduk

mencangkung menunggu kedatangan Penghulu

Siluman Kera Putih yang telah sama kita ketahui

pergi ke Lembah Nirwana (dalam episode Perintah

Dari Alam Gaib). Setelah di tunggu-tunggu sekitar lama, ternyata Barata Surya tidak muncul juga.

Dalam pada itu tiba-tiba saja Manusia Topeng

melihat sebuah anak panah meluncur deras ke

bagian punggung Mata Iblis yang duduk di de-

pannya. Laksana kilat Manusia Topeng mendo-

rong Mata Iblis, hingga membuat kakek bodoh itu

terguling-guling sambil memaki. Manusia Topeng

tidak perduli. Tangan kanan digerakkan ke atas

dan.... "Haaap"

Teeep

Anak panah tersebut kena disambar oleh

Manusia Topeng. Mata Iblis yang hampir memaki

lagi terpaksa katupkan bibirnya ketika melihat

anak panah berada di tangan Manusia Topeng.

"Pembokong tengik Siapa setannya yang

berani macam-macam pada kita?" dengus Mata

Iblis. Seraya langsung memandang ke arah da-

tangnya anak panah tadi. Di saat itu ia melihat

semak belukar di belakang mereka bergerak-

gerak. Tanpa menunggu lagi, Mata Iblis langsung

kedipkan matanya. Dua larik sinar merah lang-

sung meluncur menghantam semak-semak yang

bergoyang.

Buum Buum

Tidak ada reaksi apa-apa. Sepi, Mata Iblis

ternyata tidak puas. Sekali ia berkelebat, di lain waktu ia telah berada di semak-semak yang berantakan terhantam sinar matanya. Mata Iblis

langsung melakukan penelitian, setelah berputar-

putar di tempat itu sejauh lima batang tombak.

Ternyata ia tidak melihat siapapun di sana.

"Sial Pengecut itu melarikan diri" gerutu si kakek buta. Namun tiba-tiba saja ia kerutkan keningnya. Jika seseorang yang membokongnya da-

pat pergi secepat itu. Tentu ia bukan manusia

sembarangan? Karena tidak menemukan apa

yang dicarinya. Sambil bersungut-sungut ia kem-

bali menemui Manusia Topeng. Ternyata kakek

itu sambil uncang-uncang kaki sudah membolak-

balik pesan yang terselip di bagian ujung anak

panah. "Apa yang kau baca, sahabatku?" tanya Mata Iblis seakan matanya yang buta itu awas

seperti mata manusia normal.

"Kau dengarlah pesan gila ini?" ujar Manusia Topeng. Dengan teliti kakek yang tidak pernah menanggalkan topengnya ini mulai membaca

dengan suara cukup keras.

Para tua bangka gila

Kalian berdua adalah manusia-manusia

busuk yang selalu berkedok dengan topeng kebaikan. Tidak dinyana ternyata kalian adalah kaki tangan Ratu Leak Kalian manusia rendah, aku menantang kalian untuk bertarung sampai di antara kita ada yang mampus Atau kalian adalah manusia pengecut yang tidak punya nyali?

Tertanda Malaikat Berambut Api

Manusia Topeng terdiam untuk sesaat la-

manya. Wajah di balik topeng itu tampak mene-

gang, kedua bibirnya mengatup rapat. Mata Iblis

yang berdiri di depannya dapat merasakan hawa

amarah dalam diri sahabat barunya itu.

"Apa bunyi pesan itu, sahabatku??" tanya Mata Iblis tidak sabar.

"Malaikat Berambut Api" Manusia Topeng mendesis. Kata-katanya seakan ditujukan pada

dirinya sendiri. "Malaikat Pencatat ada menyebut tentang orang yang satu ini. Dia tidak lain adalah gurunya Pendekar Blo'on. Mengapa ia begitu berani melempar fitnah keji pada kita? Padahal di-

antara kita dan dia tidak pernah terjadi silang

sengketa apapun?"

"Sahabat, kau belum mengatakan pesan

apa yang diberikannya pada kita"

"Dia menuduh kita telah bersekutu dengan

Ratu Leak. Dia juga menantang kita bertarung se-

cara jantan. Huh... apa pendapatmu?" tanya Manusia Topeng. Mata Iblis rasanya memang pernah

mendengar nama besar tokoh yang tinggal di Pu-

lau Seribu Satu Malam itu. Konon selain sakti ia terkenal arif, tetapi mengapa sekarang malah berani melakukan tuduhan membabi buta? Musta-

hil tokoh yang memiliki pengalaman luas mau

bertindak segegabah itu.

"Kita harus menyelidik dulu. Jangan-

jangan bukan dia yang membuat pesan itu?" ujar Mata Iblis.

"Weh apalagi yang harus diragukan? Bisa

jadi ia telah termakan hasutan dari orang lain.

Bukankah muridnya hampir celaka di tangan pe-

rempuan bangsat itu?"

"Sahabatku Manusia Topeng Aku merasa

sekarang sedang terjadi adu domba di dunia per-

silatan. Jangan-jangan Ratu Leak sedang menga-

tur siasat untuk memecah belah golongan putih

agar dengan mudah ia dapat berbuat apa saja

terhadap orang orang yang tidak disenangi. Huk

huk huk... Malangnya nasibku jika tidak sempat

membalas dendam lama. Untuk lebih jelasnya

masalah apa yang terjadi antara Mata Iblis den-

gan Ratu Leak (dalam episode Perintah Dari Alam

Gaib). Manusia Topeng anggukkan kepala. "Ucapanmu ada benarnya juga. Baiklah, sekarang kita

harus menyelidik. Jika betul ucapanmu maka Ra-

tu Leak tetap menjadi incaran pertama kita. Tapi jika ternyata Malaikat Berambut Api yang menantang dan memfitnahku, aku akan menempurnya

sampai salah seorang diantara kita ada yang ma-

ti" dengus Manusia Topeng.

"Baiknya sekarang kita berangkat, kurasa

ia menunggu kita tidak jauh dari sini" ajak Mata Iblis sudah tidak sabar.

Manusia Topeng langsung menyetujui,

akan tetapi ia hentikan langkah lagi ketika teringat Penghulu Siluman Kera Putih yang pergi ke

Lembah Nirwana belum kembali.

"Tunggu" sera Manusia Topeng.

"Ada apa lagi?" tanya Mata Iblis, seraya langsung menghentikan langkahnya.

"Barata Surya belum lagi muncul, mengapa

kita meninggalkannya?"

"Huh, Barata Surya juga gurunya Pendekar

Blo'on. Jika kita tunjukkan surat ini padanya dan mengatakan niat kita, bukan mustahil dia memi-hak pada Malaikat Berambut Api. Aku tidak suka

hal ini terjadi, lebih baik secepatnya kita berangkat. Jangan ditunda-tunda lagi"

"Baiklah, jika kau sudah berkata begitu,

aku setuju saja, ha ha ha..." sambut Manusia Topeng sambil tertawa-tawa.

EMPAT

Belum lama Manusia Topeng dan Mata Ib-

lis meninggalkan tepian Lembah Nirwana itu.

Muncul seorang kakek tua berpakaian merah be-

rambut merah. Di sebelahnya tampak seorang

gadis cantik luar biasa berpakaian putih beram-

but di sanggul. Mereka berhenti tepat di mana

Manusia Topeng dan Mata Iblis melepas lelah.

"Bunga Bidadari, sekarang sudah sampai

di Lembah Nirwana. Aku cuma bisa mengantarmu

di sini saja. Sampaikan pesan salamku pada gu-

rumu" kata kakek rambut merah yang tiada lain adalah Malaikat Berambut Api.

Si cantik angkat wajahnya, matanya yang

indah berbulu lentik pandangi kakek rambut me-

rah tersebut "Mengapa? Sebaiknya kakek pulang bersamaku untuk menjumpai guru Si Tangan Bi-ru. Ia pasti merasa senang bertemu denganmu.

Lagipula muridmu berada di sana, apakah kakek

tidak ingin melihatnya?" ujar si gadis.

"Jika keadaan tidak mendesak sekali, se-

benarnya aku ingin melihat bagaimana perkem-

bangan dan keadaan murid cucuku. Tetapi aku

harus mencari titik terang siapa sebenarnya Ratu Leak sehingga mati-matian berusaha mencelakai

kami melalui tangan cucuku Suro Blondo"

"Kalau pun begitu bukankah lebih baik ka-

kek tunggu dulu kawan kakek yang satunya lagi.

Kukira ia masih berada di lembah"

"Kawan yang mana? Orang tua penuh bulu

yang seperti siluman monyet itukah yang kau

maksudkan?" tanya Dewana.

"Ya... orang itu"

"Ha ha ha... Tingkahnya membuat aku

terkadang muak padanya. Ah, sudahlah aku tidak

bisa menunggu lagi karena waktuku sangat sem-

pit. Aku titip senjata milik cucuku ini. Jika kau sampai di Lembah itu, sampaikan senjata ini pa-da Suro" pesan kakek tua tersebut. Seraya menyerahkan Mandau berikut rangkanya pada Bun-

ga Bidadari. Gadis itu menerimanya dan langsung

menyelipkan senjata itu di belakang pinggangnya.

"Baiklah, sekarang aku pergi dulu" kata Malaikat Berambut Api. Belum lagi Bunga Bidadari sempat menanggapi. Tiba-tiba saja si kakek

memungut sesuatu tidak jauh dari tempat ia ber-

diri. Orang tua ini tanpa menghiraukan Bunga

langsung membaca lipatan kulit yang ternyata be-

risi pesan tersebut. Wajah Malaikat Berambut Api mendadak saja berubah tegang.

"Celaka Ini benar-benar fitnah yang keji

Hoh... mereka harus diberi penjelasan jika tidak ingin terjadi bencana besar" desisnya. Seraya kemudian meninggalkan Bunga Bidadari yang

terbengong-bengong tidak mengerti.

"Apa yang telah terjadi?" batin Bunga. "Aku tidak sempat bertanya apa isi pesan yang ditemu-kannya secara tidak sengaja itu"

Selagi Bunga Bidadari sedang dilanda kebimbangan itu. Tiba-tiba pula muncul seorang

kakek tua berpakaian putih berambut serta ber-

cambang dan jenggot berwarna putih.

"Sudah kucari kemana-mana, aku tidak

menemukan mereka-mereka itu Tadinya Manusia

Topeng menunggu di sini, kok sekarang pergi en-

tah kemana" Barata Surya mengomel sendiri. Tetapi kemudian wajahnya tampak menjadi cerah

ketika dilihatnya ada seorang gadis yang tidak ia kenal memperhatikan dirinya. Barata Surya datang menghampiri.

"Bocah ayu, apakah kau melihat ada seo-

rang kakek berambut merah disini?" tanya Barata Surya. "Kakek siapa?"

"Aku Penghulu Siluman, anu... gurunya

Pendekar Blo'on..." jelas si kakek sambil tersenyum-senyum.

"Oh begitu. Memang aku tadi bersama ka-

kek Dewana, tetapi sekarang ia telah pergi. Tam-

paknya ia sangat tergesa-gesa setelah menemu-

kan sebuah pesan yang aku tidak tahu apa bu-

nyinya" kata Bunga Bidadari.

"Hmm begitu, ya...?" Barata Surya tampak berpikir-pikir. "Kurasa ada sesuatu yang sangat penting. Aku pun tidak mungkin berdiam diri.

Bocah ayu terima kasih atas keteranganmu, sete-

lah mendengar penjelasanmu aku jadi mengerti

bahwa kau pasti muridnya Si Tangan Biru Jika

kau kembali ke Lembah sampaikan salamku pada

gurumu dan tolong kau awasi muridku yang rada-rada miring itu" Setelah berkata begitu Barata Surya langsung berkelebat pergi meninggalkan

Bunga Bidadari. Rupanya Barata Surya merasa-

kan adanya suatu firasat yang tidak baik. Sehing-ga ia cepat menyusul kakek Dewana.

***

Gadis berkerudung putih itu tokh akhirnya

merasa kelelahan setelah mencari kian kemari.

Kini ia duduk di atas pohon batu berdaun rin-

dang. Untuk diketahui sampai saat itu seluruh

daerah Sange masih belum terbebas dari penga-

ruh kutukan Ratu Leak.

Sudah sekian lama ia mencari-cari Pende-

kar Blo'on, tetapi hingga sekarang ia tidak tahu bagaimana dan di mana pemuda itu berada. Apakah Suro masih ditawan oleh Ratu Leak? Cela-

kanya Ratu Leak sendiri sangat sulit ditemukan-

nya. "Rasanya daripada Suro yang celaka, masih lebih baik aku saja. Ini semua gara-gara aku"

batin Dewi Kerudung Putih seakan menyesali diri.

Lalu ia termenung-menung seakan sedang beru-

saha memecahkan masalah yang tengah dihada-

pinya. Rasanya memang sulit untuk melacak di

mana Suro atau Ratu Leak berada. Tiba-tiba sa-

ja.... Krosak

"Eeh..." Dewi Kerudung Putih tersentak kaget. Reflek ia memandang ke arah suara mencurigakan tadi. Dari tempat ia duduk memang

agak leluasa untuk memantau keadaan di ba-

wahnya. Ternyata yang datang di tempat itu tidak lain adalah seorang kakek tua berambut merah.

Ia sendiri memang belum pernah melihat atau

bertemu dengan orang ini. Tetapi melihat caranya berlari tadi, pastilah ia memiliki kepandaian tinggi.

Belum begitu lama kakek rambut merah

berada di situ. Tiba-tiba saja dari arah yang sama muncul dua orang laki-laki, yang satu bertubuh

pendek memakai topeng. Dewi mengenal kakek

ini, sedangkan yang satunya lagi yang berbadan

tegap tinggi berkulit hitam dan buta, si gadis sa-ma sekali tidak mengenalnya. Begitu mereka sal-

ing berhadapan, kakek yang dikenalnya sebagai

Manusia Topeng langsung mendamprat. Namun

belum sempat ia bicara, Mata Iblis sudah menda-

hului. "Kau tinggalkan pesan pada kami Aku tidak mengerti mengapa manusia sepertimu begitu

tega menuduh kami telah bersekutu dengan Ratu

Leak?" dengus si kakek tampak tidak senang.

"Hei, kau orang tua buta. Apa maksud bi-

caramu?" tanya kakek rambut merah sinis.

Manusia Topeng maju selangkah. Ia mem-

perhatikan kakek di depannya seakan ingin me-

mastikan agar tidak salah bicara. Ternyata ciri-

ciri kakek ini sama seperti yang dikatakan Malaikat Pencatat.

"Bukankah kau orangnya yang bernama

Dewana?" tanya Manusia Topeng menyebut langsung nama Malaikat Berambut Api. Dari tempat

persembunyiannya, Dewi melihat betapa kakek

rambut merah seakan kurang menanggapi, sea-

kan orang merasa asing dengan nama itu.

"Aku Malaikat Berambut Api" sahut kakek rambut merah.

"Rambut Api atau Dewana bagi kami sama

saja. Kau mengatakan kami bersekutu dengan

Ratu Leak, padahal kau mungkin mengetahui

bahwa kami ini adalah orang-orang dari golongan

lurus" Mata Iblis ikut bicara.

"Kenyataannya mengatakan begitu, kalian

adalah para sekutu Ratu Leak" sahut Malaikat Berambut Api sambil tersenyum mengejek.

Manusia Topeng kerutkan keningnya. Dulu

ia mendengar Dewana adalah manusia sakti dan

termasuk salah satu tokoh yang disegani dan se-

lalu menjaga ucapannya dari kata-kata yang tidak berguna. Kenyataannya sekarang mengapa ia bersikap jor-joran seperti itu?

"Bicaramu sangat keterlaluan sekali, sobat

Aku Manusia Topeng, umurku barangkali hampir

tiga kali lipat usiamu Kalaulah benar tuduhanmu itu, tolong kau tunjukkan pada kami bukti-bukti

sebagai tanda kebenaran dari semua tuduhan-

mu" kata Manusia Topeng.

"Untuk menunjukkan bukti sebenarnya

bukan sesuatu yang sulit. Tetapi apa gunanya.

Bagiku dari pada bersusah payah mengumpulkan

bukti, lebih baik menempur kalian sampai mati"

dengus kakek yang mengaku sebagai Malaikat

Berambut Api tersebut.

Jawabannya ini tentu membuat Mata Iblis

menjadi marah besar. Ia hampir saja menerjang

Malaikat Berambut Api jika tidak cepat-cepat di

cegah oleh Manusia Topeng.

"Jangan halang-halangi aku" dengus Mata Iblis. "Jangan gegabah Kau lihatlah" kata Manusia Topeng melalui ilmu mengirimkan suara.
"Kau lihatlah matanya, sama sekali mata itu tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai orang yang

berbudi Caranya memperhatikan kita hampir

sama dengan cara-cara iblis Aku curiga jangan-

jangan ada apa-apanya di balik semua ini"

"Entahlah, mataku buta. Mana mungkin

aku bisa meneliti hingga sejauh itu" teriak Si Ma-ta Iblis. Tiba-tiba saja ia bicara dengan suara lan-tang. "Kau boleh bicara apa saja. Tapi ketahuilah, aku dan sahabat Manusia Topeng sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan Ratu Leak

Sebagai kebenaran atas ucapanku ini aku rela

bertarung sampai mati denganmu jika kau men-

ganggap dirimu orang yang benar" teriak Mata Iblis.

"Hhh, bicaramu lancang sekali. Majulah

kalian berdua" tantang laki-laki berbaju merah yang mengaku dirinya sebagai Malaikat Berambut

Api. "Sahabat Manusia Topeng tidak usah turun tangan, biarkan aku yang akan memberi pelajaran pada kurcaci tengik ini" sergah Mata Iblis.

Dan baru saja ia berhenti bicara, tiba-tiba saja Malaikat Berambut Api telah melepaskan pukulan

dahsyat ke arah Mata Iblis dan Manusia Topeng.

Cepat sekali Manusia Topeng gerakkan ketapel

Sakti di dadanya.

Wuuut

Buuum

Terdengar suara ledakan menggelegar. Ma-

laikat Berambut Api tampak terkesiap. Ia terdo-

rong mundur, tapi kemudian gelengkan kepala

dan kini menerjang ke depan sambil melancarkan

jurus-jurus andalannya. Maka terjadilah pertem-

puran sengit. Masing-masing lawan kelihatannya

memang ingin menjatuhkan musuhnya dalam

waktu yang singkat.

"Shaaa..."

Tinju Malaikat Berambut Api menderu. Se-

rangan itu jelas mengandung tenaga dalam tinggi

dan terarah tepat di bagian tenggorokan. Mata iblis walau pun tidak melihat tetapi dapat merasa-

kan serangan itu. Ia cepat merundukkan kepa-

lanya. Sedangkan tangan kanan cepat menangkis.

Malaikat Berambut Api tidak ingin melihat seran-

gannya sia-sia. Ia menarik serangan pertama, se-

bagai gantinya ia lepaskan serangan ke bagian

dada. Mata Iblis berputar, sikunya menghadang.

Gerakan cepat ini tidak dapat dihindari, sehingga terjadilah benturan keras.

Duuk

"Wuagkh..."

Demikian kerasnya benturan yang terjadi,

hingga membuat Mata Iblis terpelanting. Sambil

menggeram marah, orang ini bangkit lagi. Ru-

panya Mata Iblis gampang panasan. Sehingga be-

gitu berdiri ia langsung kerahkan tenaga sakti ke bagian matanya. Pabila matanya yang buta itu

berkedip, mata dua larik sinar putih menghantam

Malaikat Berambut Api.

"Hum, bukan main..." gerung lawannya.

Saat ia merasakan adanya sambaran hawa panas

memanggang tubuhnya. Malaikat Berambut Api

jatuhkan tubuhnya hingga rata dengan tanah.

Buuum

"Heh..."

Bukan hanya Malaikat Berambut Api saja

yang dibuat kaget. Tetapi Manusia Topeng dan

Dewi Kerudung Putih yang mengintai di atas po-

hon dibuat terperanjat. Pohon yang terkena sinar mata kakek buta ini bukan terbakar atau layu

daun-daunnya. Melainkan roboh seperti daun ta-

las yang terkena api.

"Aku harus melakukan sesuatu sebelum

orang-orang ini tahu siapa aku yang sebenarnya"

pikir Malaikat Berambut Api. Tiba-tiba saja ia melesat ke depan, sekarang ia lepaskan pukulan bertubi-tubi ke beberapa jalan darah utama di tubuh Mata Iblis. Kakek buta ini tentu saja tidak mau

dirinya menjadi sasaran serangan lawan yang ga-

nas dan mengandung hawa racun itu. Sehingga

sambil melompat mundur ia lepaskan tendangan

ke bagian selangkangan lawan.

Wuut

"Hait"

Malaikat Berambut Api miringkan tubuh-

nya. Tinjunya menderu dan tidak dapat dihindari

lagi Mata Iblis tersentak ke belakang ketika tinju lawan menggedor dadanya.

Mata Iblis terdorong mundur, walaupun ia

masih tetap berdiri tegak. Namun dari sudut-

sudut bibirnya meneteskan darah segar. Dilihat

dari kekuatan tenaga dalam, nampaknya memang

Malaikat Berambut Api memiliki tenaga dalam

beberapa tingkat lebih tinggi. Satu hal yang di-

anggap istimewa. Kakek berpakaian hitam ini

mempunyai kekuatan mata yang dapat mengirim-

kan hawa panas atau serangan berhawa dingin.

Selain itu masih ada satu lagi kelebihan lain yang tentu saja puncak dari segala kedahsyatan yang

ia miliki.

"Sekejap lagi kau akan segera mati di tan-

ganku, orang buta" teriak Malaikat Berambut Api. "Kau ingin membunuhku Ha ha ha..." ejek Mata Iblis disertai tawa bernada meremehkan.

"Jika kau benar-benar laki-laki sejati, kau pan-danglah mataku yang buta ini" serunya.

Bagi Malaikat Berambut Api tentu bukan

masalah jika hanya memandang mata orang buta.

Tokh menurut pikirannya mata itu selain dapat

melepaskan sinar maut tidak mempunyai keisti-

mewaan apa-apa lagi. Tanpa ragu-ragu iapun

memandang ke mata lawan dengan seksama. Apa

yang didapatinya benar-benar membuatnya ter-

cengang.

Malaikat Berambut Api tiba-tiba merasa-

kan seperti ada puluhan batang jarum menusuk-

nusuk ke dua bola matanya. Mata itu menjadi sa-

kit dan pedih. Ia mulai merasa pula kepalanya

seakan-akan membesar dan hendak meledak.

Rambut rambut di kepala seperti tercabut dengan

paksa. Siksaan yang sangat luar biasa ini sema-

kin menghebat. Urat-urat darah di wajah dan se-

luruh kepalanya tiba-tiba menyembul dan merasa

retak di sana sini. Malaikat Berambut Api ter-

huyung-huyung. Peredaran darahnya menjadi ka-

cau, ini rupanya yang membuat laki-laki ini men-

jadi panik.

"Akh... akkh..."

Kakek yang mengaku sebagai Malaikat Be-

rambut Api ini menjerit-jerit kesakitan. Seraya memegangi kepala untuk beberapa waktu lamanya. Sementara wajah orang ini mulai berubah

tidak karu-karuan. Untung dalam waktu yang kri-

tis itu terlintas dalam pikirannya terlintas dalam pikirannya untuk membebaskan diri dari pengaruh tatapan mata lawannya. Dengan kacau dan

kurang kosentrasi ia kerahkan tenaga dalamnya.

Lalu.... "Haaap"

Satu sentakan keras membuatnya terbebas

dari pengaruh tatapan lawan. Orang ini jatuh terduduk, mulutnya menyembur darah kental. Kepalanya langsung pusing dan seperti sudah tidak

utuh lagi. Ia mengambil sesuatu dari balik sa-

kunya lalu menelan benda berwarna merah itu.

Hanya beberapa detik kemudian ia sudah

bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan luka-luka

yang dideritanya. Malaikat Berambut Api le-

paskan pukulan secara membabi buta. Manusia

Topeng yang menyaksikan pertarungan itu pun

tidak luput menjadi sasaran. Tentu saja mudah

bagi Manusia Topeng menghindari pukulan-

pukulan yang ngawur ini. Mata Iblis pun bahkan

sambil menghindar lepaskan serangan dengan si-

nar matanya.

Sementara itu di atas pohon, Dewi Keru-

dung Putih mulai berfikir. Ia pernah mendengar

guru dari pemuda yang ia sukai salah seorang di-

antaranya adalah Malaikat Berambut Api. Sejauh

ini kakek yang menyebut dirinya Malaikat Beram-

but Api sama sekali tidak pernah memperguna-

kan jurus maupun pukulan yang pernah diper-

gunakan oleh Suro. Dewi curiga, jangan-jangan

kakek rambut merah itu adalah Malaikat Beram-

but Api gadungan?

LIMA

Berangkat dari keyakinan inilah maka Dewi

Kerudung Putih kemudian keluar dari tempat

persembunyiannya. Seraya berlari mendekati Ma-

nusia Topeng yang memang pernah dikenalnya.

"Orang tua, siapapun adanya engkau ini.

Kuperingatkan padamu bahwa lawan kakek mata

aneh itu bukanlah Malaikat Berambut Api yang

sebenarnya" tegas si gadis dengan suara perlahan. Sementara itu pertempuran terus berlanjut.

"Eeh, bagaimana kau bisa mengeta-

huinya?" tanya Manusia Topeng heran.

"Muridnya adalah kawanku, aku kenal

dengan beberapa jurus yang diwariskan Malaikat

Berambut Api. Sedangkan jurus yang diperguna-

kan oleh kakek rambut merah itu sama sekali ti-

dak punya kemiripan, jurus-jurusnya ngawur"

"Aku ingin mencegah, tapi jika Mata Iblis

memang suka bertarung. Lebih baik kita biarkan

saja dulu" sahut Manusia Topeng.

Dewi Kerudung Putih memang tidak dapat

memaksa, sebab ia belum tahu kakek rambut me-

rah ini berdiri di pihak mana. Satu hal yang

membuatnya heran, mengapa bisa muncul tokoh

kembar? Sementara itu di tengah-tengah pertem-

puran, Mata Iblis sudah mulai jatuh bangun ter-

kena hantaman lawannya. Walau pun begitu di

pihak lawannya juga mengalami akibat yang sa-

ma. Tetapi sosok yang mengaku sebagai Malaikat

Berambut Api ini nampaknya mempunyai daya

tahan yang sangat tinggi. Terbukti walau pun ia

menyemburkan darah dari mulutnya terhantam

pukulan Mata Iblis, tetapi ia sudah bangun kem-

bali. Sementara Mata Iblis sudah mulai kewala-

han. Manusia Topeng setelah dapat menjajaki

kemampuan kawan maupun lawannya segera

memberi isyarat pada Mata Iblis agar mundur.

Isyarat itu tentu tidak dapat dilihat oleh Mata Iblis karena matanya memang buta.

"Mata Iblis, menyingkirlah Kulihat kau su-

dah mpis-mpisan Biarlah aku yang menghada-

pinya" seru Manusia Topeng.

Demi menghormati Manusia Topeng dan

mengingat keadaan dirinya sendiri, Mata Iblis segera melompat mundur. Melihat hal ini Malaikat

Berambut Api tersenyum mengejek.

"Mengapa tidak kalian bertiga maju bersa-

ma-sama agar aku dengan mudah dapat mengi-

rim kalian ke neraka" dengus Malaikat Berambut Api. "Huh... aku tidak akan heran mengapa perempuan punya bisul Semua itu memang sudah

dari sananya sebelum nenekku terlahir ke dunia

ini. Yang memalukan mengapa wajahmu mirip

sekali dengan Malaikat Berambut Api? Sehingga

kau dan dia seperti dua orang bersaudara kem-

bar. Sekarang setelah melihatmu tidak memper-

gunakan jurus seperti yang dimiliki oleh Pendekar Bodoh, rasanya aku yakin engkaulah kembaran

yang palsu Setelah kuteliti-teliti, setelah kuamat-amati dan aku pelototi, hatiku mengatakan kau

pastilah kaki tangan Ratu Leak Kau fitnah kami

untuk menutupi keadaanmu yang sebenarnya

Bangsat betul..." maki Manusia Topeng.

"Kau tahu apa? Akulah Malaikat Berambut

Api?" dengus si kakek berambut merah ngotot.

"Seribu kali kau mengatakan dirimu Malai-

kat Berambut Api, kau tidak dapat menipuku Hu

hu hu..."

Malaikat Berambut Api merasa kedoknya

terbongkar. Ia tidak punya pilihan lain
terkecuali membunuh semua orang yang ada di sini.

"Ha ha ha... Walau pun kau memakai to-

peng ternyata matamu memang awas Kau men-

gerti keadaan yang sebenarnya Tetapi itu percu-

ma, karena sekejap kau dan dua kawanmu itu

akan mati di tanganku"

Baru saja kakek rambut merah ini selesai

bicara, tiba-tiba saja ia angkat tangannya tinggi-tinggi. Tar Tar

Terdengar suara ledakan menggelegar di

angkasa. Tangan kakek berambut merah itu be-

rubah merah kehitam-hitaman. Semakin lama

tangan itu semakin membesar. Sementara ku-

kunya memanjang dan berwarna hitam pula.

Tangan tersebut selain bertambah panjang juga

terus membesar, sehingga seukuran dua kali le-

bih besar dari tubuh kakek itu sendiri.

Dewi Kerudung Putih dan Manusia Topeng

tercengang. Sedangkan Mata Iblis yang tidak da-

pat melihat berseru....

"Aku mencium bau iblis Sahabat Manusia

Topeng, dia mempergunakan Ilmu Kaki Roh Tan-

gan Maut"

"Ha ha ha... Aku pun baru saja hendak

mengatakan begitu, tapi ternyata kau yang buta

sudah melihatnya lebih dulu dariku" sahut laki-laki pendek yang tidak pernah menanggalkan to-

pengnya sambil tertawa-tawa.

Selagi Manusia Topeng tertawa-tawa, dua

tangan yang seukuran dua kali tubuh pemiliknya

ini meluncur dengan gerakan menangkap. Manu-

sia Topeng merasakan ada sesuatu yang me-

nyambar badannya. Ia menunggu, ketika merasa-

kan tangan-tangan yang membesar itu hendak

mencengkeramnya. Dengan cerdiknya Manusia

Topeng melompat sekaligus acungkan Ketapel

Sakti di dadanya. Dua leret sinar menyambar ke

arah dua tangan tersebut. Malaikat Berambut Api

hanya sempat menarik salah satu tangannya. Se-

dangkan tangan yang lain hanya dalam waktu se-

kejap sudah kena dihantam serangan lawan.

Tuuum

"Hraaakh..."

Malaikat Berambut Api menjerit kesakitan

sambil kibas-kibaskan tangannya yang melepuh.

Kenyataan yang dialaminya benar-benar mem-

buatnya murka. Tiba-tiba saja ia julurkan tan-

gannya lagi.

Wuut

Dengan ganas tangan itu menyambar, Ma-

nusia Topeng berkelit kemudian hantamkan ke-

dua sikunya ke bagian telapak tangan Malaikat

Berambut Api.

Des

Hantaman itu hanya membuat tangan yang

telah membesar itu bergetar saja. Kalang kabut

Manusia Topeng berguling-guling menghindari

cengkeram tangan lawannya. Selagi kakek pendek

ini dibuat sibuk tiba-tiba saja ada ledakan-

ledakan keras di bagian punggung Malaikat Be-

rambut Api. Kakek ini pun menjerit sambil meng-

geliat. Matanya melotot seperti melihat setan, dari mulutnya menyembur darah. Orang ini tiba-tiba

limbung dan jatuh terhempas nyaris menimpa

Manusia Topeng. Sesungguhnya apa yang terjadi?

Ketika terjadi pertempuran sengit tadi, ti-

ba-tiba saja muncul seekor kuda berbulu putih.

Di atas punggung kuda duduk seorang laki-laki

berpakaian putih berambut putih, di belakang la-

ki-laki itu membonceng seorang pemuda beram-

but gondrong yang di sekujur tubuhnya terbung-

kus akar-akaran. Orang berbaju putih itulah yang tadi melemparkan pisau berbendul peledak. Ketika pisau menancap di punggung kakek rambut

merah, maka bandulannya yang berwarna hitam

langsung meledak. Mulai dari bagian wajah, dada

dan perut kakek rambut merah memang utuh, te-

tapi bagian punggungnya berantakan.

Manusia Topeng cepat menoleh ke arah pa-

ra penunggang kuda. Ternyata mereka tidak lain

adalah Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan

Tandira.

"Aku terpaksa membunuhnya, orang tua

Dia memang bukan Malaikat Berambut Api yang

sebenarnya" kata Datuk Nan Gadang Paluih.

"Kau bagaimana bisa mengetahuinya?"

tanya Manusia Topeng.

"Lihatlah..." Sang Datuk tiba-tiba saja melompat dari atas punggung kudanya. Dengan te-

nang ia menghampiri sosok yang mengaku dirinya

sebagai Malaikat Berambut Api. Lalu ia mengitari mayat yang terbujur di depannya sebanyak tiga

kali, sedangkan tangannya dikibas-kibaskan se-

demikian rupa.

Sebuah keanehan terjadi, mayat si rambut

merah yang telah membeku itu tiba-tiba saja

mencair bagaikan lilin yang terkena api. Selain itu tercium pula bau busuk yang sedemikian menusuk. Daun-daun di sekitar mayat tampak hangus

terbakar. Manusia Topeng dan Dewi Kerudung

Putih terkejut. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Pa-

luih dan Wayan Tandira saling pandang.

"Katakan padaku apa yang terjadi, saha-

batku?" tanya Mata Iblis, caping hidungnya kembang kempis. Rupanya ia mengendus bau bangkai

juga. "Orang yang kita lawan tadi ternyata Malaikat Berambut Api palsu Seseorang jelas sedang menjalankan muslihatnya untuk mengacau atau

membunuh orang-orang jelek seperti kita" kata Manusia Topeng memberi komentar.

"Naluriku mengatakan ada penghianat di-

antara kita?" celetuk Datuk Nan Gadang Paluih.

"Sahabatku, siapa manusianya yang berani

menuduh sembarangan ini? Aku tidak mengenal-

nya. Tuduhan itu bisa membuatku jadi nekad dan

mengajaknya bertarung hingga mampus. Aku ti-

dak perduli andaipun ia memiliki kesaktian seba-

nyak buih di lautan, aku tidak perduli" teriak

Mata Iblis merasa tersinggung.

Manusia Topeng yang kocak berusaha me-

nyabarkan Mata Iblis. Seraya menepuk bahu Ma-

ta Iblis disertai ucapan.

"Keadaan sekarang benar-benar genting.

Munculnya Malaikat Berambut Api palsu sudah

merupakan suatu pertanda ada kekuatan yang

mampu menciptakan orang yang sama diantara

kita. Bukan mustahil, aku, engkau atau Datuk

Nan Gadang Paluih serta Dewi Kerudung Putih

sekarang sudah ada kembarannya"

"Artinya jika manusia seperti aku ada dua,

berarti kembar Yang satu asli dan satu lagi pal-su" ujar Mata Iblis. "Seseorang melakukan ini pasti dengan maksud membikin kacau persatuan

diantara golongan lurus"

"Satu yang mengherankan dan kuanggap

paling memalukan, begini banyak orang berke-

pandaian tinggi. Hanya menghadapi Ratu Leak

saja kita sudah hampir tidak berdaya dan terasa

bertele-tele." kata Dewi Kerudung Putih setengah mencemo'oh.

"Hik hik hik Memang sangat memalukan,

keterlaluan bahkan." celetuk Manusia Topeng.

"Firasatku mengatakan semua ini hasil perbuatan Ratu Leak. Aku menyarankan sebaiknya mulai

sekarang diantara kita jangan ada perpisahan

sampai kita menemukan Ratu Leak"

Datuk Nan Gadang Paluih anggukkan ke-

pala setuju. "Ide yang bagus Dengan begitu jika sampai muncul kembaran yang palsu kita tidak
akan terkecoh lagi dan gampang menyelesaikan

persoalan agar tidak salah turun tangan" kata kakek rambut putih berpakaian putih selempang

putih penuh dukungan.

"Kemudian apa yang harus kita lakukan?"

tanya Wayan Tandira.

"Mulai saat ini kita yang sudah berkumpul

disini pusatkan perhatian untuk mencari dimana

Ratu Leak bersembunyi" tegas Manusia Topeng.

Sekali lagi Datuk Nan Gadang Paluih anggukkan

kepala. "Aku setuju Sekarang kita tetap berkumpul. Hari sudah senja, tapi masih ada waktu bagi kita untuk melanjutkan perjalanan. Kulihat tadi

tidak jauh dari sini ada sungai. Kita bisa berke-mah disana dan bergantian jaga" usul Datuk Nan Gadang.

"Apakah yang lain-lainnya ada usul?"

tanya Mata Iblis. Karena tidak seorang pun ada

yang menanggapi, maka diambil kesimpulan

bahwa mereka semua telah setuju. Tidak lama se-

telah itu berangkatlah rombongan ini menuju ke

arah utara. Di luar sepengetahuan mereka, ki-

ranya ada sepasang mata yang terus mengawasi

gerak gerik mereka dengan tatapan curiga.

"Sekarang aku telah mengetahui duduk

persoalan yang sebenarnya. Bukan mustahil da-

lam rombongan itu ada pula yang palsu Kemba-

ran tokoh-tokoh yang tidak kukehendaki Aku ha-

rus terus memantau gerak-gerik mereka agar ti-

dak ada lagi nyawa yang terbuang percuma den-

gus bayangan di balik semak-semak itu. Kemu-

dian secara diam-diam ia terus mengikuti rom-

bongan Manusia Topeng dari jarak yang aman.

***

Lembah Nirwana yang dingin namun selalu

menebarkan bau wangi semerbak berbagai jenis

bunga-bungaan di pagi itu tidak sunyi sebagai-

mana hari-hari yang lalu. Di belakang perguruan

yang dipenuhi dengan berbagai peralatan latihan, seorang pemuda bertelanjang dada sudah dalam

keadaan basah bersimbah keringat. Hampir se-

panjang malam tadi ia tidak beristirahat, mengingat waktu latihan yang ditentukan baginya begitu sempit. Pemuda berambut kemerahan ini memang

tampak lelah. Tetapi kemampuan tenaga dalam

yang dimilikinya serta kehebatan sepuluh jari

yang ia satukan sudah memperlihatkan hasil

yang menggembirakan. Kini ia melatih pernafa-

sannya agar lebih baik lagi. Sekejap ia meman-

dang ke arah batu cadas yang terdapat di sam-

pingnya. Batu itu berlubang besar sungguh pun

di sana sini terdapat percikan darah. Pemuda ko-

cak yang tiada lain adalah Suro Blondo memper-

hatikan jari-jari tangannya yang bengkak dan pe-

cah-pecah di beberapa bagian. Bibirnya termo-

nyong-monyong.

"Hmm, kakek Tangan Biru tidak mau men-

gangkatku sebagai muridnya. Aku disuruhnya la-

tihan siang malam. Kalau begitu terus menerus

naga-naganya tanganku bisa hancur Sekarang

saja..." Suro perhatikan jari-jarinya lagi. "Rasanya aku bisa konyol atau jadi Pendekar tanpa

jari kalau begini terus-terusan. Huh... seumur hidup aku belum pernah mendapat latihan seperti

ini Satu hal yang segera dapat kurasakan, tu-

buhku menjadi semakin ringan" Suro lalu tersenyum. "Jika aku terus menerus berada di lembah ini, bukan mustahil lama kelamaan aku bisa terbang. Ha ha ha..." Pendekar Blo'on tepik keningnya. Seraya lalu naik di atas batu. Kedua kakinya dilipat, Suro pejamkan matanya rapat-rapat. Jemari tangan satu dengan yang lain dirapatkan.

Sayup-sayup mengiang petuah Si Tangan Biru.

"Jurus-jurus Congcorang inti utamanya

adalah Hentakan Kaki Congcorang jarak jauh. Ji-

ka serangan itu sudah mampu melubangi batu di

depanmu itu. Berarti kau hampir menguasai ju-

rus-jurus Congcorang Sepenuhnya"

Maka Pendekar Blo'on kini kerahkan tena-

ga dalamnya ke bagian jari-jari tangannya. Jari-

jari yang bengkak itu menggeletar.

"Huuup Shhaaa..."

Tiba-tiba Suro menghentakkan kedua tan-

gannya ke depan.

Wuut

Tampak lesatan sinar hijau selebar benar

meluncur deras ke arah batu. Lalu terdengar suara

Creep Clep

Wuuur

Batu cadas berlubang sebesar jari telunjuk.

Serpihan batu cadas meluncur turun. Pendekar

Blo'on membuka matanya dan memandang ke

arah batu yang telah menjadi sasaran serangan.

Wajah si konyol berseri-seri.

"Tidak percuma, walau tanganku babak be-

lur ternyata membuahkan hasil yang lumayan.

Cukup lumayan, he he he..." kata Suro sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala. Melihat hasil pesat yang didapatnya, Suro Blondo seakan tidak mengenal lelah terus saja berlatih.

"Berhentilah latihan, kebanyakan kau

menguras tenaga bisa mati berdiri" sebuah suara yang sangat merdu dan enak didengar memecah

keheningan suasana. Si konyol cepat memutar

tubuhnya ke belakang.

"Astaga... Rasanya aku tadi malam tidak

bermimpi kejatuhan bintang kejatuhan bulan dan

kejatuhan durian. Ada makhluk secantik ini?" desis Pendekar kocak ini. Seraya mengusap-usap

matanya seakan tidak percaya dengan apa yang

dilihatnya. Gadis yang berdiri tiga tombak di depannya itu bukan Bunga Seloka. Bunga Seloka

sendiri sebenarnya sudah sangat cantik dengan

kulitnya yang putih dan matanya yang sipit. Tapi gadis baju putih yang satu ini kelewat cantik. Kecantikannya sulit dilukiskan dengan kata-kata,

bahkan kecantikannya mungkin setara dengan

bidadari. Aih, jantung Suro langsung deg-degkan.

Rasanya gimana gitu.

"Kau melihatku seperti memandang hantu,

apakah tampangku begitu mengerikan bagimu?"

kata si cantik bersuara merdu.

Suro walau pun sering berhadapan dengan

perempuan, namun kali ini jadi kelabakan. Kata-

kata yang telah disusunnya dengan rapi untuk

diucapkan malah jadi berantakan.

"Aku... ngg... anu... aku... anu... ku..."

Gadis yang tiada lain adalah Bunga Bida-

dari tertawa geli. Sederet giginya yang putih bagai mutiara tampak begitu indahnya.

"Memang anumu kenapa? Di gigit semut

atau sudah terbang?" celetuk Bunga Bidadari ter-sipu malu.

"He he he Anuku tidak apa-apa kok Aku...

rasanya belum pernah melihatmu selama berada

disini. Apakah kau juga termasuk salah satu mu-

rid Tangan Biru?" tanya Suro.

"Aku memang muridnya Murid tertua, dan

kalau tidak salah kau orangnya yang bernama

Suro Blondo?" tebak si gadis.

"Lho kok tahu?" sahut Suro agak kaget.

"Mengapa tidak tahu, selama dua hari aku

bersama kakekmu mencari bunga untuk me-

nyembuhkan penyakit ayanmu"

Si konyol semakin bertambah kaget saja.

"Malaikat Berambut Api? Lho dia kok tidak ikut kesini?"

Si gadis tidak langsung menjawab. Ia

menghampiri sebongkah batu putih lalu duduk di

atasnya dengan tenang.
ENAM

duduk tenang-tenang di atas batu

barulah Bunga Bidadari memandang ke arah Su-

ro penuh perhatian. Pikirnya pemuda di depannya

cukup ganteng juga, tetapi kesan tololnya itu

yang membikin geregetan orang yang meman-

dangnya.

"Kakekmu mana mungkin mau melihatmu.

Kau murid gila yang hampir saja membuat celaka

mereka" dengus si gadis. Caranya bicara yang ceplas-ceplos membuat Suro merasa cepat akrab.

Tidak seperti Bunga Seloka, yang terkesan malu

dalam bertutur kata.

"Kejadian itu sama sekali tidak kuingat. Ji-ka aku sadar, orang gila sekali pun mustahil tega membunuh gurunya sendiri Kurasa guruku marah, hingga ia tidak mau lagi menemuiku. Tapi..."

Suro terdiam, berjalan mondar-mandir di depan si gadis seperti orang bingung sambil garuk-garuk

kepala. "Aku punya rencana untuk minta maaf bi-la bertemu dengan mereka."

"Maaf saja tidak cukup" dengus Bunga Bidadari. "Lalu bagaimana, ah... sudahlah aku bung-ing, eeh bingung" Ucapan Suro seperti orang yang menyesali diri. Ia duduk termenung dengan

dua tangan menopang dagunya. Sementara itu

Bunga Bidadari segera mengeluarkan Mandau da-

ri balik punggungnya. Ia menimang-nimang senjata pusaka itu di depan Suro.

"Eeh... itu punyaku Kau telah mencurinya

ya?" Bunga Bidadari angkat wajahnya. Sepa-

sang matanya yang indah langsung melotot. "Jangan kau menuduhku sembarangan Walaupun

aku tidak mewarisi jurus Congcorang yang hebat

itu aku tidak membutuhkan segala macam senjata"

"Maaf kalau begitu Tetapi mengapa guru-

mu tidak mewariskan jurus itu padamu? Apakah

gurumu manusia pelit?"

"Kau terlalu cerewet seperti nenek-nenek

tua yang pikun. Jika saja aku lelaki sepertimu.

Tentu guru bersedia menurunkan jurus-jurus

maut itu padaku Jurus itu hanya boleh dimiliki

oleh laki-laki"

"Mengapa?"

"Entahlah, aku tidak tahu" sahut Bunga Seloka. "Ini tidak adil namanya. Masa aku orang luar di beri pelajaran jurus-jurus maut. Sedangkan kau sebagai muridnya diajari jurus lain. Kau tidak usah berkecil hati. Nanti jika aku bertemu dengan kakek kurus itu aku akan menanyakan

hal ini"

Bunga Bidadari tertawa dalam hati. Pemu-

da ini benar-benar seperti orang sinting. Bica-

ranya blak-blakan, polos terkesan apa adanya.

Hal ini yang disukai oleh si gadis. Tetapi ia tidak mungkin berlama-lama di tempat latihan itu. Jika

gurunya sampai tahu, ia bisa kena marah besar.

"Suro, aku datang ke sini semata-mata ka-

rena ingin menyampaikan pesan gurumu untuk

memberikan Mandau ini padamu"

"Dia menitipkan senjata itu padamu?"

"Iya, terimalah" Bunga Bidadari menyo-dorkan senjata di tangannya. Tiba-tiba Pendekar

Blo'on merasa waktu sedemikian sempitnya.

"Apakah engkau hendak buru-buru pergi?"

"Tentu Berlama-lama disini bisa membuat

guru jadi marah" jelas Bunga Bidadari.

Dengan perasaan tidak enak Suro terpaksa

menerima senjata itu. Tidak lama ia menyelipkan

Mandau Jantan di balik pinggangnya.

"Pendekar konyol..." kata Bunga Bidadari sesaat sebelum pergi. "Guruku mengatakan padaku tidak lama lagi ia berkenan menemuimu.

Kurasa ada masalah penting yang akan disam-

paikannya padamu"

Sehabis bicara begitu Bunga Bidadari lang-

sung meninggalkan Pendekar Blo'on. Baik Suro

maupun gadis cantik itu sama-sama tidak tahu

bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan

pertemuan mereka dengan tatapan mata cemburu.

Sepeninggalnya Bunga Bidadari, Pendekar

Mandau Jantan cuma dapat garuk-garuk kepala

melulu. Entah mengapa ia merasa jadi betah be-

rada di Lembah Nirwana. Mungkin karena murid-

murid Si Bayang-Bayang tidak ada yang jelek, en-

tahlah. Namun Suro menyadari bahwa persoalan

yang dihadapinya belum selesai. Bila ia teringat dengan hal yang satu ini rasanya Pendekar Blo'on ingin cepat-cepat meninggalkan lembah Nirwana

tersebut.

Selagi Suro Blondo terombang ambing pe-

rasaan yang tidak menentu. Tiba-tiba ia menden-

gar suara langkah kaki namun lebih halus keden-

garannya Pemuda itu cepat menoleh dan meman-

dang ke arah datangnya suara barusan. Ternyata

yang datang adalah Si Tangan Biru.

Pendekar Blo'on cepat-cepat membung-

kukkan badannya. Manusia setengah gaib itu

seakan tidak menghiraukan Suro langsung saja

duduk. "Waktumu sangat sempit, Suro. Jurus

Congcorang sudah pun kau kuasai. Hanya tinggal

pemantapannya saja. Mengenai masalah peman-

tapan dapat kau lakukan nanti setelah urusanmu

dengan Ratu Leak dapat kau selesaikan. Seka-

rang kau duduklah mendekat kemari" perintah Si Bayang-Bayang. Maka Pendekar Blo'on pun

menghampiri.

"Kau harus tahu, Ratu Leak itu kebal sen-

jata, bukan hanya kebal senjata saja. Tetapi ia ju-ga kebal pukulan, kau sudah tahu jurus Congco-

rang berintikan pemusnahan titik kelemahan ma-

nusia-manusia kebal. Kau ingat dari yang tiga

itu?" tanya si kakek kurus kering.

"Ingat kek"

"Apa saja?"

"Tiga titik kelemahan manusia kebal, pertama adalah pada bagian yang berlubang atau be-

rongga, sedangkan yang kedua adalah tempat-

tempat yang lunak. Dan sedangkan yang ketiga

adalah tempat-tempat yang keras"

"Itulah tiga rangkaian sekaligus inti jurus-jurus Congcorang. Serangan pada sasaran yang

tepat tidak akan membuang-buang tenaga. Ingat

jurus-jurus maut itu hanya dapat kau perguna-

kan untuk waktu-waktu yang sangat mendesak

dan kelewat memaksa. Kuturunkan ilmu langka

ini padamu, pertama-tama adalah demi kepentin-

ganmu untuk menghadapi Ratu Leak dan Batu

Lahat Bakutuk. Sedangkan yang kedua adalah

untuk kepentinganku"

"Apa yang dimaksud dengan kepentingan-

mu kek?"

"Aku pernah mengatakan padamu tentang

Iblis Terlaknat Hantu Malam, bukan?" tanya Si Tangan Biru.

"Betul itu kek"

"Dia sahabatku Sahabat yang menjadi

musuh Suatu saat kau harus mencarinya. Jika

kau manusia yang tahu membalas budi orang,

tentu kau tidak keberatan menjalankan perintah-

ku ini bukan?"

"Bukan... eeh, maksudku tidak, kek Tapi

bolehkah aku tahu bagaimana duduk persoalan

yang sebenarnya, kek. Sehingga sahabat bisa

menjadi musuh?" tanya Pendekar Blo'on. Sedapatnya ia berusaha agar tidak sampai tertawa ka-

rena geli teringat kata-katanya yang salah.

"Di dunia ini sahabat menjadi musuh bu-

kan sesuatu yang aneh. Kau telah mengetahui

sebagian kejadian itu. Di suatu saat kelak, bila aku mengutus murid tertuaku untuk menjumpaimu. Maka di sana kau akan mengetahui du-

duk persoalan yang sebenarnya. Saat ini yang

terpenting adalah bagaimana caranya agar kau

dapat menghadapi Ratu Leak"

"Bagaimana caranya, kek?"

"Tentu saja menempurnya hingga mampus

Yang terpenting jangan sampai ia memperguna-

kan kekuatan Batu Lahat Bakutuk. Sebab hal itu

dapat membahayakan keselamatan jiwa orang

banyak"

"Jadi hanya itu saja, kek?" tanya Suro Blondo. Si Bayang Bayang anggukkan kepalanya.

Ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi

terbungkus kain warna hitam. Benda persegi itu

sebesar atau lebar dua jari. Pada bagian sisi-

sisinya terdapat tali yang berwarna hitam pula.

"Ulurkan tanganmu" perintah Si Tangan Biru. Suro walau pun bingung angsurkan kedua

tangannya juga. "Satu saja tolol"

Pendekar Blo'on angsurkan tangannya

yang kiri. Tetapi Si Tangan biru memberi isyarat agar Suro memberikan tangannya yang kanan.

Sehingga sambil julurkan tangan kanannya ia

nyeletuk.

"Ini semacam jimat ya, kek? Aku pernah

dengar jimat pantang di bawa buang hajat. Ka-

tanya kesaktian yang terkandung dalam jimat itu

bisa hilang"

"Jangan banyak tanya, benda ini jangan

kau buang Jika kau sewaktu-waktu dalam kea-

daan terdesak benar kau cukup mengusapnya.

Mudah-mudahan Tuhan memberikan pertolon-

gannya padamu" jelas Si Bayang Bayang sambil mengikat benda hitam itu di lengan Suro.

"Bolehkah aku tahu isi bungkusan ini,

kek?" "Tidak boleh. Dia tidak bisa kau buka, dalam bungkusan gepeng ini tersimpan rahasia be-

sar tentang Lembah Nirwana, penghuninya juga

tentang sebuah kebesaran di masa silam. Jagalah

dia jangan sampai hilang, lindungi dia sebagai-

mana kau melindungi seorang kekasih yang san-

gat kau cintai. Berangkat dari sini merupakan

awal kemujuran dan kesialanmu Kutegaskan se-

kali lagi, benda yang melingkar di tangan kanan-

mu itu merupakan amanah Seseorang yang me-

nyia-nyiakan amanah sama dengan penghianat

Suatu saat bila terjadi suatu peristiwa besar di Teluk Hantu. Di saat itulah kau akan tahu betapa pentingnya jurus Congcorang dan juga apa yang

kupasang di lengan kananmu"

"Jadi sekarang bagaimana? Apakah aku

boleh meninggalkan tempat ini, kek? Rasanya aku

sudah tidak betah berlama-lama disini. Mengulur-

ulur waktu hanya membuat Ratu Leak panjang

umur saja"

"Sekarang kau belum boleh meninggalkan

Lembah ini. Tetapi nanti setelah lewat tengah ma-

lam kau sudah dapat pergi" tegas Si Tangan Biru.

Kakek itu kemudian bangkit berdiri. Seraya me-

langkah mundur sejauh tiga tindak, dan secara

aneh tiba-tiba saja sosoknya yang bagaikan

bayang bayang itu raib dari pandangan Pendekar

Blo'on. Pemuda itu tercengang, walau sudah be-

berapa kali Suro melihat kejadian yang aneh ini.

Namun kali ini Si Bayang-Bayang raib lebih cepat dari biasanya.

"Aku kurang yakin kakek itu manusia

sungguhan. Jangan-jangan yang kulihat hanya

rohnya saja" pikir Suro. Ia pun mengangkat ba-hu, seraya mengayunkan langkah menuju kamarnya.

***

Penghulu Siluman Kera Putih benar-benar

merasa kehilangan jejak Malaikat Berambut Api.

Menurut Bunga Bidadari orang tua aneh yang

sangat diseganinya itu baru saja meninggalkan

tepi Lembah Nirwana. Tetapi mengapa setelah ia

melakukan pengejaran cukup lama ia tidak ber-

hasil menyusulnya juga. Barata Surya menjadi

bimbang jangan-jangan ia salah arah. Kakek tua

ini berdiri di balik pohon cukup lama. Tiba-tiba saja di luar dugaan ia melihat sebuah bayangan

berkelebat lewat di sampingnya. Barata Surya jadi kaget karena orang yang dilihatnya sangat mirip

dengannya.

"Berhenti" teriaknya sambil menghadang

langkah orang itu. Serentak sosok berpakaian pu-

tih ini hentikan langkah. Tampak jelas orang ini pun tidak mampu menutupi keheranannya.

"Kau..."

Barata Surya terdiam, tatapan matanya

memandang lurus pada laki-laki seusia dengan-

nya. "Wajahmu, janggut, jambang kumis dan

pakaianmu mirip benar denganku Padahal di

dunia ini aku tidak mempunyai saudara kembar.

Kau meniru-niru diriku. Sehingga diantara kita

persis satu sama lain. Mungkin Suro pun akan

salah memilih mana gurunya jika kita berjalan

bersama-sama. Keadaan kita persis seperti pinang di belah pakai martir Siapa kau?" tanya Barata Surya curiga.

"Seharusnya aku yang bertanya siapa kau

ini? Mukamu dan mukaku seperti orang kembar

saja" jawab orang tua itu tidak kalah garangnya.

"Kurang ajar betul Seseorang pasti sengaja meriasmu begini rupa untuk membuat keonaran

dan kekacauan. Atau kau manusia ciptaan Batu

Lahat Bakutuk heh..."

"Kau mungkin manusianya suruhan Ratu

Leak Untuk manusia yang suka menipu dan me-

nyaru-nyaru seperti orang lain, aku harus mem-

bunuhmu Aku tidak ingin sampai terjadi engkau

yang jadi maling aku yang dikejar-kejar orang banyak" sergah sosok yang mirip dengan Barata Surya tidak kalah sengitnya.

Penghulu Siluman Kera Putih tiba-tiba saja

jadi kehilangan kata-kata. Ia memperhatikan laki-laki di depannya dengan perasaan jengkel ber-

campur geli. Jengkel karena ada orang yang me-

nyamar persis seperti dirinya. Geli, karena orang jelek seperti dia masih ada yang meniru. Dilihat sepintas lalu mereka tidak ubahnya seperti saudara kembar yang sedang bertengkar.

"Kau bukan diriku dan aku pasti bukan di-

rimu. Untuk membuktikan siapa Penghulu Silu-

man yang sebenarnya kita harus bertarung sam-

pai salah seorang diantara kita mampus Bagai-

mana pendapatmu?" tanya Barata Surya sewot.

Kembaran Barata Surya tertawa tergelak-

gelak. Ia tepuk-tepuk dadanya seperti seekor go-

rilla yang kembali membawa kemenangan dari pe-

rang. "Keinginanku memang sesuai dengan apa yang kau ucapkan itu. Kuharap takdir kematian

sesuai dengan perintah yang aku terima. Dengan

begitu aku dapat kembali untuk mengabarkan be-

rita kemenangan"

"Kata sepakat sudah kita dapat, tunggu

apa lagi jika ingin cepat sekarat?" teriak Barata Surya. Sebagai penghulunya para siluman diam-diam ia mulai mengerahkan tenaga gaibnya ke

bagian mata. Kini setelah berkedip beberapa kali ia dapat melihat kegelapan alam gaib. Sebuah

alam lelembut yang tidak dapat ditembus pengli-

hatan biasa.

Ketika Barata Surya memandang ke arah

Barata Surya kembar yang berdiri tegak di de-

pannya. Maka terlihatlah olehnya sosok makhluk

dengan wajah lebih dari setan. Jelas orang itu

bukan siluman, ia mengenal bagaimana rupa dan

ujud Siluman. Itulah sebabnya dia tersenyum.

"Mengapa kau hanya menunggu, bukankah

kau menghendaki nyawaku" cibir si kakek sambil usap-usap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu

lebat. "Aku yakin kau ingin meniru jurus-jurus simpananku, sehingga orang akan menyangka

kau adalah aku. Agaknya kau memang kebagian

sialnya, kau terlanjur bertemu dengan aku"

"Hem, mulutmu terlalu takabur" dengus kembaran Barata Surya. Tiba-tiba saja orang ini

melompat ke depan. Kakinya menyambar pung-

gung Penghulu Siluman Kera Putih. Gerakan la-

wan ini sempat terbaca oleh si kakek, tanpa

sungkan-sungkan lagi tinjunya menderu.

Plak......Kembaran Barata Surya sempat terhuyung.

Namun sama sekali ia tidak mengeluh terkecuali

menyeringai. Kemudian ia berteriak keras sambil

menyerang Penghulu Siluman dengan jurus aneh

tetapi sangat berbahaya. Barata Surya tertawa

terkekeh-kekeh.

"Sekarang sudah mulai terbukti, Barata

Surya yang asli mempunyai jurus-jurus monyet.

Sedangkan kau mempergunakan jurus anjing gila

kelaparan Ha ha ha..."

"Jahanam" geram kembaran Barata Surya.

Tangannya melesat melakukan tamparan ke wa-

jah dan kepala lawan. Kakek ini tundukkan kepala, dengan mempergunakan jurus 'Serigala Melo-

long Kera Sakti Kibaskan Ekor', Penghulu Silu-

man berkelit ke samping. Ia keluarkan lolongan

tiada henti, sementara lawan telah menghujani

pukulan bertubi-tubi. Salah satu pukulan menda-

rat tepat di dada Barata Surya, kakek lucu ini

mengeluh tertahan. Lawan terus memburunya

saat melihat si kakek seakan-akan melakukan ge-

rakan melarikan diri. Tiba-tiba saja Barata Surya berputar kakinya menendang ke belakang.

Duuk

"Ngekh"

Kembaran Barata Surya jatuh terpelanting.

Meskipun akibat tendangan tadi membuatnya ter-

luka. Namun ia masih sempat lepaskan pukulan

maut ke arah Penghulu Siluman Kera Putih yang

sekarang berbalik menyerangnya. Sinar merah

bergulung-gulung bagaikan gumpalan bara mela-

brak kakek tua tersebut. Secepatnya dan agak

gugup ia kibaskan tangannya. Sinar putih mele-

sat dari sela-sela jari tangan si kakek.

Buum....Gubrak

"Oh lala... aduh biyung..." jerit Penghulu Siluman. Ia usap-usap wajahnya yang panas bagaikan terbakar. Tanpa membuang-buang waktu

ia lipat gandakan tenaga dalamnya dan segera

disalurkan ke bagian tangan. Sementara itu den-

gan nekad lawannya telah menghujaninya dengan

pukulan-pukulan maut bertubi-tubi.

"Haiiit"

Tubuh kembaran Barata Surya tiba-tiba

melambung tinggi. Ia berputar-putar di udara se-

dangkan kakinya menyapu ke empat penjuru

arah. Serangan ini pertama-tama tampak seperti

biasa. Tetapi ketika serangan kaki itu semakin

merendah sesuai dengan gerakan menghindar si

kakek. Barata Surya dibuat pontang-panting. Ia

melempar tubuhnya sehingga rata dengan tanah.

Tetapi kaki lawan lebih cepat lagi menghajar

punggungnya.

Duuk

"Ekh..."

Bukan main kerasnya hantaman itu hingga

membuat Barata Surya menggeliat kesakitan. Ke-

tika ia berusaha bangun lagi, sebuah tendangan

menghantam dadanya. Sebelum tendangan itu

mendarat tepat pada sasaran. Maka si kakek ke-

rahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Hari-

mau'. Wuut Wuut

"He he he Tidak kena..." ejek Barata Surya. Tanpa terduga tangannya meluncur kebagian dagu lawan.

Des.

Kepala kembaran Barata Surya sempat

terdongak, tubuhnya terjajar dan laki-laki itu jatuh terduduk dengan kepala pusing bukan main.

TUJUH

Sekejap kepalanya nampak oleng ke kanan

ke kiri. Ia menggerung, justru dari mulutnya me-

nyembur darah kental kehitaman. Dengan lang-

kah terhuyung-huyung orang ini bangkit berdiri.

Tangan kanan dikepalnya sedangkan tangan kiri

terpentang lebar. Dua tangan diadu satu sama

lain. Traat

Tiba-tiba saja menyembur api dari bentu-

ran itu. Serangan jarak jauh ini bukanlah seran-

gan biasa. Namun Barata Surya malah tertawa

membahak.

"Jangan coba-coba bermain api, salah-

salah tubuhmu terbakar sendiri" teriaknya. Kakek rambut putih ini tiba-tiba saja angkat tan-

gannya siap melepaskan pukulan 'Matahari Rem-

bulan Tidak Bersinar' Sesaat setelah pengerahan

tenaga dalam tinggi, Barata Surya tampak meng-

geletar hebat. Selanjutnya ia melompat tinggi ke udara sambil dorongkan kedua tangannya. Sinar

biru bersemu merah meluncur deras menerjang

sinar merah yang bergulung-gulung menerpa di-

rinya. Wuuut

Tiba-tiba saja lidah api lawan membubung

tinggi seolah-olah menghindari bentrokan dengan

pukulan Barata Surya. Praktis serangan kakek

baju putih mengenai tempat kosong. Sedangkan

serangan yang dilakukan lawannya terus menge-

jar kemana pun kakek Penghulu ini menghindar.

"Celaka, mengapa bisa jadi begini?" desisnya dalam hati. Laksana kilat ia menjejakkan ka-

kinya di atas tanah. Lalu dorongkan kedua tan-

gannya lagi.

Wuus

Serangan tangkisan kedua ini kelihatannya

lebih kuat dari serangan yang pertama. Sehingga

terjadilah benturan keras bukan main. Ketika terjadi ledakan besar. Maka terlihat dua sosok tubuh sama terlempar sejauh dua batang tombak ke belakang. "Huuukh..."

Suara mereka tertahan-tahan. Penghulu

Siluman Kera Putih pegangi dadanya yang men-

denyut sakit. Kembaran Barata Surya seka darah

yang mengalir dari mulut dan hidungnya. Mata

orang ini nampak lebih merah seakan dibasahi

darah. Ia mencoba merangkak dan berdiri. Tetapi

sekujur tubuhnya yang sempat hangus termakan

pukulannya sendiri rasanya sakit semuanya. Se-

dangkan pada waktu itu Penghulu Siluman Kera

Putih sudah kembali menyerang dengan satu ten-

dangan menggeledek yang sangat berbahaya se-

kali. Mana mau kembaran Barata Surya ini mati

konyol. Ketika merasakan deru angin tendangan

yang begitu dingin, maka ia angkat sikunya.

Penghulu Siluman sama sekali tidak me-

nyangka adanya perlawanan ini. Ia terpaksa tarik tendangan untuk menghindari benturan hebat.

Sebagai gantinya tinju menghantam wajah lawan.

"Aih..."

Kembaran Barata Surya jadi gugup. Ia ti-

dak sempat lagi mengelakkan serangan ini. Aki-

batnya....

Prok

"Akh" Kembaran Barata Surya tutupi wajahnya yang hancur. Sungguh mengagumkan

daya tahan orang yang satu ini, sebab sungguh-

pun wajahnya remuk terhantam tinju lawannya

namun ia masih dapat bertahan. Kini malah

sambil menggerung marah ia melompat dengan

gerakan bagaikan tupai berpindah dari satu rant-

ing ke ranting lainnya. Delapan jari bermaksud

mencoblos perut Penghulu Siluman Kera Putih.

Kakek Barata Surya tidak tinggal diam, ia

pun angsurkan kedua tangannya sekaligus den-

gan gerakan mendorong.

Wuuk

Ada hawa panas dingin menyambar. Lagi-

lagi terjadi benturan hebat dan kembaran Barata

Surya jatuh terguling-guling. Penghulu Siluman

lakukan satu lompatan ke depan, lalu jatuhkan

diri dengan lutut menghantam telak punggung

lawannya. Deekh...."Kraaak..."...."Arrkh..." Kembaran Barata
Surya menjerit keras.

Hentakan keras itu membuat tulang punggung

lawannya patah. Si kakek tidak berhenti hingga di

situ saja, kini sikunya menghantam batok kepala

orang itu.

Praak

Untuk kedua kalinya terdengar suara lo-

longan panjang. Sosok kembaran Barata Surya

menggelepar. Dari sekujur tubuhnya keluar asap

berwarna kehitaman. Asap yang menebar bau bu-

suk luar biasa. Benar seperti dugaannya, sosok

yang mengembari dirinya ternyata memang ma-

nusia jejadian.

Tidak berselang lama ujud kembaran Bara-

ta Surya pun sirna. Penghulu Siluman Kera Putih

sempat terkesima. Sekarang ia mulai menerka-

nerka siapa gerangan orang yang telah mencipta-

kan kembaran yang sangat mirip dengan dirinya

itu. "Di dunia ini tidak ada satu makhluk pun yang mampu menciptakan makhluk lainnya. Kalau pun itu terjadi, pasti ini semua hasil perbuatan Ratu Leak dengan bantuan benda yang dis-

ebut-sebut sebagai Batu Lahat Bakutuk. Hmm,

begitu penasarannya dia. Aku jadi ingin tahu sia-pa sesungguhnya perempuan yang bergelar Ratu

Leak tersebut" desis Penghulu Siluman tidak habis pikir.

Penghuni lereng gunung Mahameru ini se-

lanjutnya meneruskan perjalanannya kembali un-

tuk mencari Malaikat Berambut Api.

***

Malam itu di tepi muara sungai udara me-

mang terasa dingin menggigit. Sebuah tenda ber-

diri kokoh di depan onggokan api unggun yang

menyala-nyala. Manusia Topeng berada di dalam

tenda itu. Sedangkan Mata Iblis duduk diam di

bawah sebatang pohon mengkudu. Matanya yang

buta dalam keadaan terpejam. Orang tua ini en-

tah tertidur entah terjaga. Jauh ke samping, te-

patnya di depan api unggun Dewi Kerudung Putih

tampak masih menghangatkan diri. Udara yang

dingin memang terasa sangat menyiksa. Bukan

hanya itu saja, sejak sore tadi hati gadis ini memang tidak enak. Ada keresahan yang mengusik-

nya. Kegelisahan yang ia sendiri tidak tahu apa

penyebabnya. Gadis ini sebenarnya ingin tidur, di samping badannya terasa penat ia juga sudah

mengantuk. Namun bila melirik ke arah kuda, ia

menjadi was-was. Datuk Nan Gadang Paluih dan

Wayan Tandira masih belum muncul juga dari

sungai. Padahal mereka pamitan dengan Dewi

hanya sebentar saja. Mungkinkah orang mandi

bisa selama itu?

Dewi Kerudung Putih melirik ke arah kege-

lapan sungai. Ia tidak mendengar suara kecipak

air terkecuali desiran angin dan suara serangga.

Hanya sesekali terdengar suara burung hantu di

kejauhan.

"Malam ini suasananya terasa lain sekali"

kata Dewi dalam hati. "Perasaanku mengatakan sesuatu bakal terjadi di sini" pikirnya lagi. Kemudian si gadis merebahkan tubuhnya. Meman-

dang ke langit terlihat olehnya gugusan bintang

gemintang. Semuanya ini mengingatkan dirinya

akan Pendekar Blo'on, ia hanya dapat berdoa se-

moga pemuda yang disenanginya itu dalam kea-

daan baik-baik saja.

"Auh... aku mengantuk..." Dewi menga-

tupkan mulutnya. Ia sudah tidak ingin lagi memi-

kirkan kemana perginya Datuk Nan Gadang Pa-

luih dan Wayan Tandira. Lama kelamaan ma-

tanya pun terpejam.

Di luar sepengetahuan Dewi kiranya ada

dua pasang mata yang terus mengawasi. Dua pa-

sang mata itu memandang ke tenda atau ke arah

Mata Iblis yang duduk diam di bawah pohon.

"Tugas kita ini tidak boleh gagal Kita telah membunuh Malaikat Berambut Api palsu demi

kelancaran tugas dan jangan sampai terbongkar

siapa kita yang sebenarnya" bisik orang itu pada orang disebelahnya

"Tetapi mereka tidur dengan tempat terpi-

sah-pisah. Ini akan menyulitkan tugas kita" Yang diajak bicara seakan-akan mengeluh. "Ahk, kau ini mengapa begini bodoh? Membunuh Manusia

Topeng sudah menjadi tugasmu. Dua yang di luar

itu termasuk pekerjaan sulit, namun aku pasti

mampu melakukannya" kata orang pertama pe-

nuh keyakinan.

"Sekaranglah saatnya kita bergerak. Aku

harus membunuh Dewi terlebih dahulu Ayo-

lah..." Setelah mendapat aba-aba dari kawannya,

tanpa menunggu lebih lama lagi kedua orang ini

ke luar dari kegelapan. Yang memakai pakaian

putih berjalan mengendap-endap mendekati Dewi.

Sedangkan yang satunya lagi menyelinap ke bela-

kang tenda.

Sementara itu orang yang mendekati Dewi

Kerudung Putih kini sudah menghunus sebilah

pedang pendek berwarna putih mengkilap. Di luar

sepengetahuannya ada sepasang mata lain yang

terus mengawasi gerak-gerik mereka sejak tadi.

Laki-laki berpakaian putih yang menghunus pe-

dang itu sekarang dengan sinis angkat senjatanya tinggi-tinggi. Dewi yang tengah tertidur pulas kelihatannya memang tidak menyadari bahaya be-

sar yang mengancamnya. Tiba-tiba saja

Wuus

Senjata pun terayun terarah lurus ke ba-

gian jantung Dewi. Pada waktu yang sangat kritis itu. Tiba-tiba tiga buah benda berwarna hitam sebesar kelingking melesat ke arah tangan dan sen-

jata persis sejengkal lagi ujung senjata mencapai sasaran.

Tring Triing Tuuk

"Heh..."

Laki-laki berpakaian putih tampak kaget.

Senjata di tangan terpental dan jatuh di kegela-

pan. Selain itu tangannya pun sakit bukan main

seperti di tusuk-tusuk duri. Belum lagi ia sempat menoleh ke arah orang yang menyelamatkan De-wi, sebuah tendangan mendarat telak di pung-

gungnya. Orang ini tersungkur dengan wajah

mencium tanah. Suara ribut-ribut ini membuat

Dewi Kerudung Putih terjaga dari tidurnya. Ia kelihatan kaget sekali ketika melihat seorang laki-laki berpakaian serba merah telah berdiri tidak

jauh darinya.

"Bangunkan semua orang Ada tokoh-tokoh

palsu di sini" teriak kakek berambut merah. Di dalam tenda keributan lain terjadi. Manusia Topeng seperti sedang memaki-maki setelah terden-

gar suara bak bik buk beberapa kali. Lalu terlihat sosok tubuh terpental ke luar diiringi melesatnya sosok bayangan lain mengikuti orang yang terpelanting itu.

"Siapa kau?" tanya Dewi terheran-heran.

Lebih heran lagi ketika melihat laki-laki berpa-

kaian putih yang dikenalnya tersungkur.

"Aku Malaikat Rambut Api, nyawamu

hampir saja melayang di tangan orang itu andai

aku terlambat saja sedikit" jelas si kakek. Dewi Kerudung Putih terkesima. Bagaimana mungkin

Datuk Nan Gadang Paluih hendak mencelaka-

kannya? Sedangkan diantara mereka sudah sal-

ing kenal.

"Bohong" Datuk Nan Gadang Paluih bangkit membela diri. "Dialah yang hampir mencela-kanmu"

Dewi Kerudung Putih tentu saja semakin

bertambah bingung. Ia memandang ke arah sosok

yang baru terjatuh tadi. Ternyata Wayan Tandira

alias Si Manusia Akar.

"Manusia Topeng apa sesungguhnya yang

tengah terjadi?" tanya Dewi bingung. Manusia Topeng tidak segera menjawab. Ia memperhatikan

Malaikat Berambut Api seakan ingin meyakinkan

diri. "Entah ya,.. Bocah yang bernama Wayan Tandira ini hendak lepaskan pukulan yang me-matikan selagi aku tertidur. Menurutmu apakah

dia bermaksud mengurutku, sedangkan aku tidak

pernah memintanya"

"Ketahuilah oleh kalian. Aku telah mengi-

kuti kalian sejak setan yang mengaku-ngaku se-

bagai Datuk Nan Gadang Paluih ini membunuh

orang yang mirip denganku. Apa yang dilakukan-

nya itu hanyalah siasat untuk menutupi rahasia

siapa mereka yang sebenarnya" tegas Malaikat Berambut Api.

"Heh, ada apa ini ribut-ribut?" tanya Mata Iblis pula yang baru saja terjaga dari tidurnya.

"Orang rambut merah ini mengatakan Da-

tuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira, pal-

su Bocah ini mau membunuh aku, sedangkan

Datuk Nan Gadang hendak membunuh Dewi. Ba-

gaimana menurutmu?" tanya Manusia Topeng.

"Kalian salah sangka, kurasa kakek baju

merah inilah yang palsu dan hendak menipu ka-

lian" sergah Wayan Tandira membela diri.

"Ha ha ha Orang yang seperti aku satu te-

lah terbunuh Rasanya tidak mungkin Ratu Leak

menciptakan orang baru lagi dengan Batu Lahat

Bakutuknya Kalian mau percaya silahkan, tidak

juga tidak apa-apa" tegas kakek Dewana berang.

Lain lagi dengan Manusia Topeng. Orang ini se-

perti mendapat akal. Ia angguk-anggukkan kepala

sambil menghampiri Datuk Nan Gadang Paluih.

"Datuk Nan Gadang, aku percaya dengan

keteranganmu Beberapa waktu yang lalu kulihat

kudamu yang bernama Putih Kaki Langit dapat

berubah tinggi seperti hendak menggapai angka-

sa. Untuk membuktikan bahwa orang tua beram-

but merah itu mengada-ada, coba sekarang tolong

tunjukkan pada kami bagaimana caranya kau

dapat memerintah kuda alam gaib ini sehingga

tubuhnya menjadi besar dan tinggi" pinta Manusia Topeng. Wayan Tandira sepontan memandang

tajam pada Datuk Nan Gadang Paluih. Sang Da-

tuk kedipkan matanya, sehingga posisi mereka

sekarang saling memunggungi.

"Ternyata Datuk Nan Gadang Paluih tidak

dapat berbuat apa-apa dengan kudanya. Kini je-

laslah bagi kita siapa dia yang sebenarnya?" ujar Dewi Kerudung Putih.

"Hem, hajat belum terkabul tapi siapa diri

sudah ketahuan Wayan Tandira sesamaku, mari

kita membuka jalan darah" teriak Datuk Nan Gadang Paluih palsu ditujukan pada Wayan Tandira palsu pula.

"Mari, Datuk" sahut kembaran Wayan

Tandira. Tanpa banyak bicara lagi tiruan pemuda

yang sekujur tubuhnya terbalut akar-akaran ini

langsung melabrak Manusia Topeng yang berdiri

di depannya. Sedangkan Datuk Nan Gadang Pa-

luih palsu segera berhadapan dengan Malaikat

Berambut Api. Mata Iblis dan Dewi Kerudung Pu-

tih segera menyingkir ke tempat yang aman.

"Kalian berdua benar-benar orang yang ti-

dak berguna di depan kami. Terlebih-lebih kau

rambut merah? Ketua kami punya dendam se-

tinggi langit padamu" dengus kembaran Datuk Nan Gadang.

"Siapa ketuamu? Tentu Ratu Leak, bu-

kan?" celetuk Manusia Topeng yang ketika itu sedang bertarung dengan Kembaran Wayan Tandira

pemimpin negeri Sange.

"Kalian tahu apa?" Wayan Tandira yang menyahuti. Tiba-tiba saja pemuda berambut gondrong itu melesat ke depan sambil kirimkan joto-

san-jotosan ke beberapa bagian tubuh lawannya.

Untuk diketahui, Wayan Tandira yang sesung-

guhnya walau pun sekujur tubuhnya hingga se-

batas leher dibalut akar sakti. Tetapi kesaktiannya jauh di bawah Manusia Topeng. Dalam kea-

daan seperti sekarang ini pun walau Wayan ga-

dungan berusaha mendesak lawan. Tetap saja

Manusia Topeng bersikap santai-santai saja. Kelihatannya Wayan terpaksa harus menguras tena-

ga. Sekarang ia terus mendesak lawan sambil le-

paskan tendangan atau pun pukulan bertubi-

tubi. "Haiiit..."

Ketika melihat serangan lawan menderu.

Manusia Topeng melompat mundur sekaligus

berkelit menghindar. Kemudian tubuhnya melesat

ke udara, selagi ia meluncur dengan kepala

menghadap bawah, tangan Manusia Topeng

menghantam bahu kanan dan bahu kiri lawannya

secara bersamaan.

Bres

"Auukh..."

Kembaran Wayan Tandira menjerit histeris

dalam kesakitan yang teramat sangat. Bahu sebe-

lah kiri tampak miring, akar-akar yang membalut

tubuhnya berpatahan di sana-sini. Melihat kenya-

taan ini Manusia Topeng berkomentar:

"Jika kau Wayan Tandira yang asli, tentu

keadaanmu tidak babak belur seperti sekarang

ini. Paling tidak akar sakti dapat memancarkan

sinar yang dapat membuat lawanmu mati konyol"

"Manusia bertopeng, kau boleh saja bicara

tidak karuan juntrungnya. Tetapi sebelum itu te-

rimalah pukulanku" teriak kembaran Wayan. Seraya tiba-tiba berjumplitan sebanyak tiga kali, ketika ia berdiri tegak tidak jauh dari Manusia Topeng dengan tidak terduga-duga Wayan hantam-

kan pukulannya. Terlihat jelas sinar hitam meng-

hampar, Manusia Topeng segera dapat merasakan

betapa perutnya terasa panas. Kemudian terasa

ada gelombang angin dahsyat saling tindih me-

nindih. Manusia Topeng mencoba bertahan den-

gan posisi berdiri, namun ke dua tangan mendo-

rong ke depan.

"Huuuuap"

"Haaaa..."

Kembaran Wayan Tandira akhirnya terpe-

lanting juga. Laki-laki gondrong ini kelihatannya

menderita luka dalam yang tidak ringan. Sungguh

pun demikian ia mencoba bangkit kembali.

DELAPAN

Manusia Topeng yang sudah mengetahui

siapa adanya Wayan Tandira. Yang tidak lain ada-

lah kembaran yang diciptakan melalui Batu Lahat

Bakutuk oleh Ratu Leak, tidak memberi kesempa-

tan lebih banyak lagi. Ia melompat ke depan, disertai teriakan melengking tinggi ia pukulkan ke-

dua tangannya ke dada kembaran Wayan. Si gon-

drong mencoba berguling, tetapi gerakannya itu

hanya dapat bergeser sejengkal saja.

Praak

Tangan kanan Manusia Topeng menghan-

tam telak dada lawannya. Sehingga Wayan menje-

rit histeris. Lima buah tulang iganya remuk, da-

rah menyembur dari mulut kembaran Wayan

Tandiria. Laki-laki itu menggelepar, matanya me-

lotot. Dalam keadaan melotot seperti itulah ji-

wanya melayang.

Perlahan-lahan. Akar-akar yang membelit

Wayan Tandira palsu sirna begitu saja. Sosoknya

mengecil, semakin bertambah kecil disertai men-

gepulnya asap tipis berbau busuk luar biasa. Ke-

mudian tinggallah warna hitam sepanjang hampir

satu depa. Sedangkan mayat kembaran Wayan hi-

lang begitu saja.

"Sudah kukatakan semua ini adalah tipuan. Mengapa jadi manusia kena di bodohi?"

Yang bicara adalah Malaikat Berambut Api yang

saat itu sedang berusaha mendesak Datuk Nan

Gadang Paluih gadungan. Manusia Topeng men-

dengar kata-kata kakek Dewana ikut nyeletuk.

"Datuk Nan Gadang dapat memerintah ku-

da putihnya untuk menyerangmu Maka berhati-

hatilah orang rambut merah"

Malaikat Berambut Api yang tidak punya

tabiat konyol apalagi suka bercanda ini hanya

mendengus. Waktu itu lawan telah melepaskan

pukulan dahsyat dalam jarak yang sangat dekat

sekali. Wut

Malaikat Berambut Api spontan segera me-

rasakan adanya angin dingin laksana mata tom-

bak menusuk-nusuk sekujur tubuhnya. Diam-

diam ia kerahkan tenaga dalam untuk lindungi

diri. Sedangkan bagian tenaga lainnya segera ia

pindahkan ke tangan kanan.

"Heeph..."

Tangan Malaikat Berambut Api tampak

menggeletar. Kiranya ia telah siap memapaki se-

rangan lawan dengan pukulan 'Ratapan Pem-

bangkit Sukma'. Segera saja kedua tangannya be-

rubah memutih laksana salju. Ketika kakek

penghuni Pulau Seribu Satu Malam ini hentakkan

tangannya ke depan. Maka melesatlah sinar putih

bergulung-gulung bagaikan serangkaian pelangi.

Sinar merah hitam seakan-akan melabrak

sebuah dinding baja yang sangat tebal. Datuk

Nan Gadang palsu terpaksa melipat gandakan te-

naga dalamnya untuk meneruskan serangannya

yang tertahan sinar putih. Pipinya tampak meng-

gembung, wajah berubah merah sedang mata me-

lotot karena begitu gigihnya ia ingin menghancurkan lawannya.

"Hemm, boleh juga" gumam kakek Dewa-

na. Seraya tiba-tiba saja berteriak keras. Untuk kedua kalinya tangan lebih didorongkan ke depan. Tiba-tiba Datuk Nan Gadang merasa seperti

ada kekuatan yang Maha dahsyat memupus habis

serangan yang dilancarkannya bertubi-tubi. Tidak dapat dipertahankan lagi oleh Sang Datuk.

Duuum

Bersamaan dengan terdengarnya suara

benturan keras tadi, maka orang ini pun terpental jauh. Terlihat begitu banyak darah yang keluar

dari mulutnya. Sambil memegangi dadanya Datuk

Nan Gadang Paluih bangkit berdiri. Lalu tangan

kanan menunjuk lurus-lurus ke arah lawannya.

Detik itu juga dari ujung jari Datuk Nan

Gadang melesat selarik sinar hitam berbau sengit, pertanda ada racun jahat yang ikut melesat bersamaan dengan serangan tersebut.

Malaikat Berambut Api tidak tinggal diam.

Ia segera memutar tangannya membentuk perisai

diri untuk menghalau serangan lawan yang sudah

ia ketahui betapa berbahayanya. Angin pun men-

deru-deru menyertai gerakan tangan si kakek.

Untuk yang kedua kalinya sang Datuk merasa se-

rangannya terhalang pusaran angin lawan yang

tercipta lewat tangan yang berputar itu.

Tetapi setelah menggandakan tenaga da-

lamnya, maka sedikit demi sedikit serangan ter-

sebut mampu juga menerobos pertahanan lawan-

nya. Malaikat Berambut Api segera membuang

tubuhnya ke samping. Ia bergerak cepat ke depan

dengan berguling-guling. Setelah lawan berada

dalam jangkauannya, kakinya melibas.

Dees

"Ukh..."

Tidak ampun lagi tendangan itu membuat

kembaran Datuk Nan Gadang Paluih terpelanting

roboh. Begitu terjatuh Malaikat Berambut Api

langsung menerkam lawannya. Mereka pun ber-

guling-guling, ternyata Datuk Nan Gadang pun ti-

dak mau menyerah begitu saja. Sayang Malaikat

Berambut Api terlalu kuat baginya. Terbukti sekejap kemudian kakek berambut merah itu telah

berhasil memitingnya, sedangkan tangan yang

lain mencengkeram kepala sang Datuk.

"Siapa yang menyuruhmu?" geram Malai-

kat Berambut Api dengan perasaan kesal.

"Akh... aku tidak akan mengatakannya pa-

da siapapun" sahut Datuk Nan Gadang. Kakek Dewana menyentakkan kepala lawan lebih ke

atas, sehingga membuat orang ini menjadi sema-

kin tersiksa saja.

"Katakan padaku, siapa yang menyuruh-

mu?" "Jahanam, aku tidak akan bicara apapun"

Makian ini hanya membuat Malaikat Berambut Api semakin bertambah marah. Tidak te-

relakkan lagi, Malaikat Berambut Api akhirnya

memelintir kepala lawannya sehingga ...

Traak

Klekh

Kembaran Datuk Nan Gadang Paluih ini

sudah tidak kuasa lagi berteriak atau menjerit.

Lehernya patah, dan ia tewas seketika itu juga.

Sama halnya seperti Wayan Tandira palsu tadi,

kini sosok sang Datuk setelah binasa juga raib

begitu saja. Bahkan kuda putih yang menjadi

tunggangan kembaran Datuk Nan Gadang juga

raib. "Terlalu banyak Ratu Leak meniru tokoh-tokoh lurus. Jangan-jangan aku pun sudah diti-

runya habis-habisan Saudara Dewana, sungguh-

pun aku tidak meragukan kemampuan masing-

masing, namun alangkah baiknya jika mulai se-

karang kita saling bahu membahu untuk menge-

nyahkan manusia terlaknat Ratu Leak" ujar Manusia Topeng.

"Hmm, orang yang bicara di balik kedok-

nya. Aku tidak keberatan menerima usulmu itu.

Hanya aku tidak mau berleha-leha seperti kalian

dengan mendirikan tenda segala seperti orang

yang bersenang-senang. Malam ini juga kita ha-

rus melanjutkan perjalanan" kata Malaikat Berambut Api tegas.

"Baik, baiklah aku setuju-setuju saja. Ka-

lau aku sudah setuju, kurasa Dewi dan Mata Iblis mau saja ikut bersama kita"

"Ya, aku setuju" kata Mata Iblis dan Dewi Kerudung putih hampir bersamaan.

***
Ratu Leak tokh pada akhirnya harus men-

gakui, bahwa tokoh-tokoh kembar yang dicipta-

kannya tidak memperlihatkan hasil menggembi-

rakan dalam setiap pertempuran. Kenyataan ini

benar-benar membuatnya menjadi marah. Sore

itu di tempat tinggalnya yang baru ia memanggil

Tua Tengkorak Mata Api, yaitu laki-laki muka

tengkorak yang cuma mempunyai sebelah mata.

Orang ini masih terhitung adik seperguruannya

sendiri.

"Kenyataan mengatakan usahamu kali ini

pun tidak mendatangkan hasil, kakang mbok"

kata Tua Tengkorak Mata Api seakan sudah men-

getahui apa yang ingin disampaikan oleh Ratu

Leak. "Menurut pendapatmu bagaimana? Aku

sudah terlanjur melangkah jauh, mustahil ra-

sanya bagiku untuk mundur" kata perempuan

cantik tersebut. Wajahnya sama sekali tidak

memperlihatkan ekspresi apa-apa.

"Ha ha ha Kulihat tanda-tanda menciutnya

nyalimu kakang, mbok Aku Tua Tengkorak Mata

Api jika jadi kau tidak akan mundur. Musuh

utamamu Malaikat Berambut Api adalah musuh-

ku juga, sedangkan terhadap Penghulu Siluman

Kera Putih aku kurang mengenalnya. Akan tetapi

apa salahnya jika kita saling bahu membahu un-

tuk menghancurkan kedua orang itu? Muridku

Mustika Jajar pun dapat membantu kita" jelas kakek berwajah tanpa daging dan punya sebuah

mata merah yang seperti hendak memberojol ke-

luar tersebut.

"Kurasa bukan hanya Dewana dan Barata

Surya saja kendala yang akan menghalangi kita.

Masih ada Manusia Topeng, Datuk Nan Gadang

Paluih. Orang seberang yang Batu-nya telah ku

curi, selain itu masih ada pula Wayan Tandira

yang seluruh rakyatnya kukutuk"

"Hmm, kuakui keberanianmu. Yang kuhe-

rankan kemana pun engkau pergi kau selalu

membuat orang memusuhimu Keadaannya seka-

rang sudah sangat lain. Kita tidak dalam posisi di atas juga tidak dalam posisi terjepit. Untuk membantumu rasanya bukan sesuatu yang sulit. Te-

tapi aku harus minta pendapat muridku" ujar Tua Tengkorak Mata Api. Seraya kemudian memandang ke arah gadis cantik yang ketika itu

hanya duduk diam mendengarkan pembicaraan

dua tokoh ini.

"Uwa guru Mereka bukanlah orang-orang

sembarangan. Seperti Datuk Nan Gadang Paluih

itu aku sudah merasai seberapa dahsyat kesak-

tiannya Salah satu sikap uwa guru yang kurang

aku suka, uwa cuma mementingkan diri sendiri"

mendengar ucapan Mustika Jajar, wajah Ratu

Leak sempat memerah juga. Tetapi gadis mesum

yang pernah di gembleng di lembah Ciruyung itu

cepat menambahkan. "Walaupun begitu, demi

memandang muka pada guruku sendiri, aku ber-

sedia membantumu" tegas Mustika Jajar.

"Dengarlah, muridku sendiri pandai meni-

lai bagaimana pendirianmu kakang mbok Kau ti-

dak usah berkecil hati. Sekarang juga aku dan

muridku akan menghadang musuh-musuh kita"

"Mengapa kau tidak mau bersama-samaku

disini?" tanya Ratu Leak.

"Tidak Menghadapi orang-orang seperti

mereka mengapa harus main keroyok. Aku sendiri

berjanji akan membawakan kepala orang-orang

yang kau benci ke hadapanmu" janji Tua Tengkorak Mata Api.

"Bagus Atas dukunganmu itu aku mengu-

capkan terima kasih" ujar Ratu Leak penuh rasa bangga dalam hati. Tua Tengkorak Mata Api rasanya memang sudah tidak ingin menunggu lebih

lama lagi. Ia bersama Mustika Jajar alias Iblis Betina Dari Neraka segera meninggalkan Ratu Leak.

***
Duuk Duuuk

"Hea..."

"Kuat-kuatlah kau berpegangan" teriak kakek berpakaian putih berselempang putih pada

laki-laki gondrong di belakangnya. Orang yang

membonceng di punggung belakang kuda tung-

gangannya mempererat pelukan pada pelana ku-

da. Saat itu kuda putih yang di kenal dengan na-

ma Si Putih Kaki Langit terus melesat dengan ke-

cepatan laksana kilat.

"Menurutmu masih luaskah daerahmu

ini?" "Sange cukup luas, Datuk Kita hanya tinggal menelusuri daerah-daerah pinggiran pantai.

Aku yakin Ratu Leak masih mendekam di negeri

kami ini"

"Bagaimana kau bisa merasa yakin, anak

ketek Apa kau punya semacam penciuman yang

dapat mengetahui dimana Ratu Leak bersem-

bunyi" "Aku bukan anjing pelacak, Datuk Kesim-pulanku ini berdasarkan kenyataan bahwa hingga

saat ini penduduk negeri masih juga belum terbe-

bas dari pengaruh sihir perempuan itu"

"Baiklah, mudah-mudahan kita segera me-

nemukan apa yang kita cari" ujar laki-laki berpakaian putih selempang putih yang tidak lain ada-

lah Datuk Nan Gadang Paluih yang sesungguh-

nya. Mereka ini terus menjelajah daerah-daerah

yang mereka curigai sebagai tempat persembu-

nyian Ratu Leak.

Sementara itu pada saat yang sama di lain

tempat namun masih di daerah Sange juga, Ma-

nusia Topeng, Mata Iblis, Dewi Kerudung Putih

dan Malaikat Berambut Api sudah sampai di dae-

rah berbukit-bukit di bagian timur negeri itu. Lalu mereka melewati dataran rendah yang kering kerontang. Saat rombongan ini mendaki ke arah bukit. Tiba-tiba saja Malaikat Berambut Api ber-

teriak memberi peringatan.

"Aku mendengar suara nafas beberapa

orang di atas sana Aku juga mendengar suara

benda-benda berat bergeser Hendaknya berhati-

hatilah, kurasa maut telah menghadang kita..."

Belum lagi ucapan kakek Dewana ini terhenti, da-

ri atas bukit yang baru hendak mereka daki me-

luncur beberapa buah batu besar menerjang me-

reka. "Gila jahanam, pekerjaan siapa ini?" dengus Mata Iblis. Kakek bermata buta ini bukannya

malah lari menyelamatkan diri atau turun kemba-

li ke lembah melainkan terus berlari ke atas bukit seakan seperti orang gila yang menyongsong

maut. "Ini pekerjaan orang-orang iseng yang hendak merampas nyawa kita" Manusia Topeng me-nimpali. Ia dengan ilmu meringankan tubuhnya

melompat ke sana ke mari dengan indahnya. Se-

dangkan Mata Iblis gerakkan tangannya yang

memakai sarung Sutra Kencana itu ke samping

kanan dan kiri dengan posisi menyibak. Sehingga

batu-batu besar yang seharusnya menghantam

dirinya meleset dari sasaran.

Apa yang dilakukan oleh Mata Iblis adalah

sesuatu yang sangat mengagumkan karena tidak

sembarangan orang dengan mudah dapat me-

nyingkirkan batu yang tengah meluncur itu

hanya dengan sebelah tangan. Mata Iblis terus

berlari ke atas, hingga tidak lama sampailah ia di

atas bukit tersebut. Sungguh pun ia tidak dapat

melihat tetapi Mata Iblis dapat merasakan di atas bukit paling tidak berdiri dua orang yang tidak dikenalnya sama sekali.

"Cepatlah ke sini semuanya?" teriak Mata Iblis dengan suara keras menggelegar. Orang-orang yang berada di bawah segera naik. Malaikat Berambut Api, Manusia Topeng dan Dewi Kerudung hanya dalam waktu sebentar saja sudah be-

rada di atas bukit itu. Mereka segera mengetahui ternyata disana telah menunggu seorang kakek

tua berwajah tanpa terbalut daging, matanya cu-

ma sebelah dari berwarna merah menyala. Tidak

jauh dari samping kakek itu tampak seorang ga-

dis cantik berpakaian hijau. Dari cara gadis itu memandang kelihatan jelas bahwa ia sangat memandang remeh tokoh-tokoh dari golongan lurus

ini. Satu hal yang membuat Malaikat Berambut

Api terheran-heran, ia melihat kakek berwajah

tanpa daging ini begitu memandangnya langsung

tidak pernah mengalihkan perhatian dari dirinya.

"Malaikat Berambut Api manusia jahanam

Masih ingatkah kau kepadaku atau kau malah ti-

dak mengingatku sama sekali?" teriak Tua Tengkorak Mata Api Demikian marahnya ia sampai-

sampai tidak menghiraukan orang-orang yang

menyertai kakek ini.

Dewana alias Malaikat Berambut Api ter-

diam cukup lama dengan alis berkerut. Ia seperti lupa-lupa ingat dengan orang beralis agak berdiri
dan berumbai-umbai ini. Atau mungkin ia pernah

bertemu pada suatu waktu dimasa silamnya yang

kurang begitu menggembirakan?

"Dewana? Kurasa otakmu belum tumpul.

Saat itu empat puluh tahun yang lalu. Kita bertarung di Sungai Kuning. Aku hampir membunuhmu dengan pukulan 'Pelebur Raga'. Tetapi celaka, kau mempergunakan tipu muslihatmu dengan jurus 'Neraka Pembasmi Iblis' serta pukulan

'Neraka Hari Terakhir'. Kekalahan itu bukan se-

suatu yang aneh, Dewana. Yang membuatku me-

rasa terhina, kau hancurkan wajahku, kau cung-

kil pula mataku yang kiri di saat aku dalam kea-

daan antara hidup dan mati. Kau manusia penge-

cut Dewana? Ini adalah hari yang menentukan

bagimu. Kutidak pernah khawatir sungguh pun

kau membawa seribu kawan" teriak Tua Tengkorak Mata Api penuh rasa permusuhan.

Sekarang mengertilah Malaikat Berambut

Api duduk persoalan yang sebenarnya. Orang ini

tidak lain adalah Darpakala atau Si Racun Kun-

ing. Manusia sesat dari Sungai Kuning yang dulu

pernah membunuh kekasih Dewana yang perta-

ma. Sumtirah saudara seguru Dewana, ia cantik,

manja, sayangnya suka bersahabat dengan orang-

orang golongan putih dan hitam. Sumtirah alias

Satriavi adalah kekasih Dewana di masa mereka

masih sama-sama muda. Mereka sama-sama

mencinta, sehingga suatu saat kelak mereka akan

mengukuhkan hubungan cinta mereka ke jenjang

perkawinan. Tetapi apa yang kemudian terjadi.

Satriavi hamil, kehamilan itu terjadi akibat sahabat Satriavi, yaitu Darpakala telah membiusnya.

Pemuda aliran sesat ini menodai Satriavi berulang kali dalam keadaan gadis itu tidak sadarkan diri.

Sadar akan aib yang menimpa dirinya. Maka sete-

lah meninggalkan pesan Satriavi membunuh diri.

Dewana tentu menjadi marah pada Darpakala. Ia

mencari manusia sesat itu ke Sungai Kuning,

hingga terjadilah pertarungan antara hidup dan

mati. Perlu diketahui waktu itu Darpakala diban-

tu oleh buaya-buaya kuning yang sangat ganas.

Sehingga jika bukan karena ketinggian ilmu yang

dimiliki Dewana, niscaya ia tewas di tangan Dar-

pakala.

SEMBILAN

Teringat akan segala sesuatu yang terjadi

di masa lalu. Malaikat Berambut Api tiba-tiba merasa hatinya seperti di iris-iris sembilu. Perlahan ia memandang tajam ke arah kakek bermuka

tanpa berbalut daging dengan tatapan dingin me-

nusuk. Manusia topeng, Mata Iblis dan Dewi Keru-

dung Putih yang tidak tahu duduk persoalan di-

antara mereka berdua hanya diam saja.

"Darpakala, Racun Kuning atau siapa saja

julukanmu. Aku tidak perduli, aku merasa kau

dulu telah menghina diriku. Apa yang menimpa

dirimu kuanggap sebagai suatu pelajaran pahit

sekaligus berharga bagi dirimu, tidak tahunya ha-timu malah menjadi penasaran. Kau bukan me-

nyadari apa yang telah kau lakukan, tidak ta-

hunya malah semakin bertambah sesat" dengus Malaikat Berambut Api.

"Saudara" seru Manusia Topeng. "Mengapa mengulur-ulur waktu? Sebaiknya serahkan masalah ini padaku, biar aku yang tua bangka ini ingin merasakan betapa banyak kesaktian yang dimilikinya sehingga ia bermulut besar seperti ini"

"Tidak Aku merasa berterima kasih atas

perhatian kalian. Persoalanku dengan Tua Teng-

korak Mata Api adalah persoalan yang sangat pri-

badi sekali. Untuk itu kuminta pada kalian agar

jangan turut campur. Menurutku sebaiknya sau-

dara semua tidak usah menunggu lebih lama.

Mencari Ratu Leak dan mengambil Batu Lahat

Bakutuk lebih cepat adalah lebih baik" kata Malaikat Berambut Api.

"Tidak bisa, bangsat cebol yang memakai

topeng itu adalah bagianku" Mustika Jajar tiba-tiba saja melangkah maju.

Setelah memperhatikan sekejap, Manusia

Topeng segera mengenali. "Ha ha ha Perempuan cantik, tapi berhati busuk. Jika kau mau berpikir dua kali tentu kau tidak akan gegabah ingin men-jajalku? Menurut hematku lebih baik kau mem-

bantu gurumu dari segala kemungkinan yang da-

pat membuat matanya yang cuma satu-satunya

itu mbrojol keluar. Kau pasti bukan lawanku Te-

tapi jika kau tetap memaksaku, biarkan kawan-

kawan kami Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih

melanjutkan perjalanan" Manusia Topeng ajukan isyarat. Mustika Jajar tampak keberatan. Namun

Tua Tengkorak Mata Api memberi isyarat agar

Mustika membiarkan kedua orang itu lewat.

Maka dibiarkan saja Dewi Kerudung Putih

dan Mata Iblis berlalu. Setelah kedua orang ini

lewat. Maka Tua Tengkorak Mata Api yang sudah

merasa yakin benar Ratu Leak pasti akan mem-

bunuh Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih ia

kembali berbalik ke arah musuh yang sangat di

bencinya.

"Dewana, untuk kau ketahui agar tidak

mampus penasaran. Beberapa tahun yang lewat

muridmu yang Bodoh itu hampir membuat celaka

muridku. Untuk itu biarlah hari ini aku menagih

hutang-hutang itu berikut bunga-bunganya"

"Setan mata sebelah, bagaimana dengan

aku?" celetuk Manusia Topeng. "Apa aku harus jadi penonton bersama muridmu?"

"Mustika, bunuh tua setan yang memakai

topeng itu?" perintah Tua Tengkorak Mata Api.

Untuk melakukan perintah gurunya bukanlah se-

suatu yang mudah. Rasanya Manusia Topeng

mempunyai tingkat kepandaian lebih tinggi di-

bandingkan dengan Datuk Nan Gadang Paluih.

Jelas dalam hal ini ia tidak boleh hanya mengan-

dalkan jurus-jurus serta pukulan yang diwa-

riskan oleh uwa gurunya saja. Bagaimana pun ia

harus mempergunakan jurus serta pukulan wari-

san gurunya sendiri.

"Guru aku berjanji bukan hanya akan

membunuhnya saja. Tetapi aku juga akan mem-

beset-beset yang menutupi wajahnya. Agar kita

semuanya tahu siapa dia yang sebenarnya" sahut Iblis Betina Dari Neraka. Tiba-tiba gadis cantik yang sudah bukan perawan lagi ini melesat ke

depan. Tangan kanan menghantam ke bagian da-

da, sedangkan kaki meluncur deras ke bagian pe-

rut lawannya. Serangan yang dilancarkan oleh

gadis itu bukan serangan biasa. Karena ia telah

melepaskan pukulan 'Segala Racun Segala Bisa'.

Tampak jelas kaki dan tangan Mustika Ja-

jar telah berubah menghitam. Dan deru angin

yang ditimbulkannya pun jelas menebar hawa

busuk yang dingin bukan main.

Wuuut

Sebagai tokoh yang berpengalaman Manu-

sia Topeng sadar betul dengan bahaya ini. Se-

hingga ia berkelit, serangan Mustika baik tendangan kaki maupun tendangan tangan dua-duanya

luput. Dalam hati ia sempat tercekat juga. Selagi serangannya nyeplos begitu saja, Manusia Topeng

cepat melompat mundur ke belakang. Kemudian

punggung tangannya melibas.

Buuuk Braak

Terhantam pukulan Manusia Topeng, Mus-

tika nyaris terpelanting. Syukur ia mempunyai

ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Sehingga dengan cepat ia dapat memperbaiki posisi dan

siap menyerang kembali.

"Hmm, kali ini aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja" geram Mustika
Jajar marah.

Manusia Topeng hanya tersenyum.

Sekarang ia tidak menunggu lagi lawan membangun serangan, tiba-tiba saja laki-laki

pendek ini melompat ke udara. Kakinya menyapu

ke bagian kepala lawan.

Set Set

"Heh..."

Sekarang Manusia Topeng yang di buat ka-

get bukan alang kepalang. Ia tadi merasa yakin

serangannya mencapai sasaran. Tetapi dengan

gerakan yang aneh lawan telah dapat menghinda-

rinya. Manusia Topeng memperhatikan gerakan

Mustika. Lalu terdengar seruan kaget.

"Langkah Langkah Sesat??" desisnya.

"Hi hi hi... Bagus sekali ternyata kau telah mengetahui jurus-jurus mautku bangsat bertopeng. Sekarang rasakanlah ini Heaa..." Suara si gadis melengking tinggi. Secepat kilat tubuhnya

mengambang di udara, lalu ia meliuk-liuk disertai putaran aneh di udara. Setiap jari-jari tangan

Mustika bergerak, maka lima jalan darah lawan

dalam keadaan terancam. Manusia Topeng mera-

sa ada tekanan yang menghebat dan mengurung

setiap gerakannya.

"Hia... Cha,cha..."

Tiba-tiba Manusia Topeng jungkir balik,

kaki menghadap ke atas kepala menghadap ke

bawah. Ia bertumpu dengan kedua tangannya.

Kemudian ketika serangan lawan terus mende-

ranya secara bertubi-tubi. Maka Manusia Topeng

gerakkan kakinya dalam posisi menggunting.

Clak

"Aih..."

Gadis itu sempat keluarkan seruan terta-

han ketika kaki lawan hampir saja memotong pu-

tus kedua tangannya sekaligus. Tiba-tiba saja ia berguling-guling. Lalu kakinya menendang dengan cepat dan telak sekali.

Duuuk

"Wuakh..." Manusia Topeng menjerit keras. Tubuhnya sempat terlempar dan nyangsang

di atas dahan yang rimbun. Selagi Manusia To-

peng dalam keadaan seperti itu Mustika Jajar le-

paskan pukulan ke arahnya. Untung Manusia

Topeng cepat menyingkir. Jika tidak tubuhnya

pasti hangus terhantam serangan lawan yang

mengandung hawa panas bukan main tersebut.

Untuk sementara waktu kita tinggalkan

dulu Manusia Topeng dan Mustika yang masih te-

rus terlihat pertempuran sengit. Pada waktu ber-

samaan pula Malaikat Berambut Api juga sedang

terlibat pertempuran sengit dengan musuh be-

buyutannya, yaitu Tua Tengkorak Mata Api. Dua

tokoh aliran hitam dan putih yang sudah lama

menyimpan dendam berkarat ini tampaknya su-

dah mulai mengumbar jurus-jurus ataupun pu-

kulan mautnya.

"Hiaaa..."

Tua Tengkorak Mata Api tiba-tiba saja me-

lompat mundur. Kedua tangannya segera digosok-

gosokkan satu dengan yang lainnya. Sebentar saja kedua tangan kakek berwajah macam tengko-

rak ini telah berwarna menghitam keseluruhan-

nya. "Dewana... Hari ini kau tidak akan lolos dari kematianmu" dengus Tua Tengkorak Mata Api dengan marahnya.

"Pukulan Segala Racun Segala Bisa sejak

dulu kau memang sudah memilikinya. Tetapi

sangat disayangkan kulihat tidak ada perkem-

bangan yang berarti. Ternyata kau hanya seorang

pembual bermulut besar" sahut Malaikat Berambut Api tidak kalah sinisnya.

Mendengar ucapan lawan yang sangat me-

remehkan dirinya, jelas saja Tua Tengkorak Mata

Api jadi bertambah berang. Tanpa bicara apa-apa

lagi ia lepaskan pukulan maut yang memang te-

lah dipersiapkannya.

Penghuni pulau Seribu Satu Malam ini se-

gera dapat merasakan adanya hawa dingin menu-

suk menerpa dirinya. Dadanya langsung sesak,

tenggorokan seperti di tusuk-tusuk jarum panas.

"Heep"

Malaikat Rambut Api diam-diam kerahkan

tenaga sakti untuk mengusir pengaruh serangan

lawan ini.

"Heh..."

Kakek ini tersentak kaget, wajahnya sedikit

memucat. Ternyata walau pun ia telah mengerah-

kan hawa sakti untuk mengusir serangan lawan

ini. Ia masih merasakan gelombang serangan be-

rupa hawa panas yang mendera tiada putus-putusnya.

"Kunyuk keparat ini ternyata banyak mem-

punyai kemajuan Aku tidak mungkin menghin-

dar terus" pikir si kakek rambut merah. Lalu ia kepalkan kedua tangannya hingga membentuk

tinju. Krrtttkkh

Ada suara berkeretekan ketika masing-

masing jari tangan si kakek menangkup bersatu

padu antara satu dengan yang lainnya.

"Hiiih..."

Sambil melompat ke depan, laksana kilat

tangannya meluncur. Tua Tengkorak Mata Api

sama sekali tidak menduga adanya serangan

mendadak ini. Ia angkat kakinya sedangkan kepa-

la dan badan ditarik ke belakang.

Des...Des

Baik kakek Dewana maupun Tua Tengko-

rak sama-sama terkena pukulan. Dua-duanya

terhuyung beberapa tindak ke belakang. Tetapi

laksana kilat kakek Dewana sambil memperguna-

kan jurus 'Kacau Balau', sudah membangun se-

rangan lagi. Tentu saja serangan-serangan yang

dilancarkan oleh Malaikat Berambut Api merupa-

kan serangan yang sangat berbahaya di samping

mengandung tenaga dalam tinggi. Sebaliknya

Darpakala yang memang dilamun dendam tidak

terlihat keder mendapat hujan serangan bertubi-

tubi. Bagaikan singa gurun, Darpakala alias Racun Kuning dan lebih di kenal dengan julukan

Tua Tengkorak Mata Api dapat menghindari hu-

jan serangan lawannya. Sebaliknya serangan ba-

lasan yang dilakukan oleh Darpakala juga dapat

dihindari oleh Malaikat Berambut Api.

Kenyataan yang dihadapinya ini benar-

benar membuatnya menjadi marah. Tiba-tiba saja

ia jatuhkan diri ke tanah dengan posisi mene-

lungkup. Kedua tangannya mengembang dan

langsung dipukulkan ke bumi.

Hanya beberapa saat saja setelah tangan

Tua Tengkorak Mata Api menjejak ke tanah. Maka

kedua tangan itu tiba-tiba saja memancarkan ca-

haya berwarna pelangi.

"Pukulan Pelebur Raga?? Hmm rupanya

bajingan ini telah berhasil mengamalkan pukulan

sesat yang dulu pernah menghebohkan" desis Malaikat Berambut Api. Walaupun ia sempat terkesiap, tetapi dengan cepat ia usap dadanya. Se-

telah itu bersiap-siap pula dengan pukulan

'Ratapan Pembangkit Sukma'.

"Dewana, jika hari ini kau tidak mampus

dengan pukulan Pelebur Raga. Biarlah untuk ma-

sa selanjutnya aku mengasingkan diri di Lembah

Wadal (tumbal). Ini adalah satu-satunya pukulan

maut yang kurancang khusus untuk membu-

nuhmu di samping ada satu pukulan lagi yang

kuberi nama Tiga Gerhana Penghantar Maut

Malaikat Berambut Api sama sekali tidak

menyahut. Mata kakek ini setengah terpejam.

Otot-otot tubuhnya yang kekar bersembulan. Ke-

ringat sebesar-besar kacang kedelai bercucuran

membasahi seluruh tubuhnya. Pabila Tua Teng-

korak Mata Api memandang ke arah lawannya

untuk yang terakhir kali. Maka ia sempat tercekat juga. Seluruh rambut di kepala si kakek yang

berwarna merah tampak seakan-akan menyala.

Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.

Tetapi apalah artinya bagi Tua Tengkorak Mata

Api yang sudah dilamun marah.

"Hiaaa..."

Diawali dengan teriakan melengking tinggi.

Tua Tengkorak melesat ke depan sedangkan tan-

gannya di dorong dengan kecepatan penuh. Ter-

dengar suara bergemuruh bagaikan deru angin

yang tidak ada putus-putusnya. Lalu sinar pelan-

gi itu sontak memanjang menjadi sesuatu yang

menggiriskan. Lesatan sinar pelangi itu ke arah

lawan saja sudah membuat si kakek Dewana yang

mempunyai tenaga dalam tinggi sudah mulai ter-

seret-seret. Pohon-pohon tercabut sampai ke

akar-akarnya. Manusia Topeng yang hampir ber-

hasil mengalahkan lawannya sempat tergontai-

gontai, ia keluarkan suara pekikan berulangkali.

Malaikat Berambut Api sadar betul ini merupakan

ujian yang paling berat bagi dirinya.

Bet...Zeeb Zeeb

Malaikat Berambut Api sekonyong-konyong

dorongkan kedua tangannya ke depan. Apa yang

dilakukan oleh si kakek bukanlah sesuatu yang

mudah. Karena serangan yang dilakukannya sea-

kan terhalang sebuah tembok baja berlapis-lapis.

Malah sekarang tubuhnya terus terdorong sedikit

demi sedikit.

Deg Deg

Malaikat Berambut Api lipat gandakan te-

naga dalamnya. Setelah itu ia hantamkan kedua

tangannya ke arah serangan lawan tersebut. Apa

yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang san-

gat luar biasa. Dari telapak tangan kakek Dewana tiba-tiba saja menderu segulung sinar putih laksana salju. Terjadilah saling dorong untuk bebe-

rapa saat lamanya. Dua-duanya saling ngotot. La-

lu.... Buum

Akhirnya terjadilah ledakan dahsyat. Dua

sosok tubuh sama-sama terpelanting sedangkan

di bagian lain. Terlihat Mustika Jajar jatuh terduduk dengan mata melotot. Manusia Topeng lagi-

lagi nyangkut di atas pohon tinggi.

Wajah Malaikat Berambut Api tampak pu-

cat laksana kain kapan. Ia mencoba menarik na-

fas, tetapi dadanya malah sakit bukan main. Bila memandang ke arah Tua Tengkorak Mata Api.

Kakek yang wajahnya tidak terbalut daging ini

mandi darah. Ternyata ia mengalami goncangan

bagian dalam yang sangat hebat. Keadaannya

saat itu antara sadar dan tiada. Mustika Jajar

tentu sangat mengkhawatirkan keselamatan gu-

runya. Mengingat lawan ketika itu sudah bangkit

berdiri dan kini telah siap melepaskan pukulan

Neraka Hari Terakhir.

"Celaka guruku" desisnya. Mustika ingin menolong gurunya. Tetapi hal itu sangat sulit dilakukannya. Benturan tenaga sakti tadi telah

mempengaruhinya. Padahal ia mempunyai tingkat

tenaga dalam yang tidak bisa dianggap remeh.

Mungkin jika orang biasa yang terkena pengaruh

pukulan tadi, orang itu tewas seketika.

"Tua Tengkorak Mata Api Aku menjunjung

tinggi tata krama pertarungan rimba persilatan.

Tetapi khusus buatmu merupakan pengecualian.

Kau tidak ubahnya seperti seekor ular berbisa

yang mencari pemukul. Jika hari ini aku tidak

dapat melenyapkanmu, biarlah aku mati dengan

kaki menjunjung langit dan kepala menjunjung

bumi Heaaa..." Malaikat Berambut Api. Memutar-mutar kedua tangan di atas kepala. Kini ia telah siap dengan pukulan 'Kidung Maut' salah satu ilmu ciptaannya yang baru dan belum pernah di-turunkan pada cucu sekaligus muridnya Suro

Blondo.

"Heaaa..."

Wuung

Terdengar suara gaung yang seakan datang

dari perut bumi. Lalu terlihat sinar merah hitam melesat ke arah Tua Tengkorak. Kakek berwajah

tanpa daging ini mustahil dapat menghindar dari

lawannya, karena ia tidak kuasa menyelamatkan

diri. Bahkan menggeser punggungnya saja ia ti-

dak mampu.

Tidak pelak lagi serangan lawan pun

menghantam dirinya. Tua Tengkorak Mata Api

mencelat, tubuhnya kemudian terkapar. Orang

tua yang mempunyai ilmu Iblis Pembangkit Roh

ini tewas seketika dengan keadaan hangus. Mus-

tika Jajar tentu saja menjerit histeris melihat gurunya kena di bantai lawan. Ia tiba-tiba saja berlari sambil melepaskan pukulan ke arah Malaikat

Berambut Api. Melihat betapa berbahaya seran-

gan lawan, maka si kakek segera membuang di-

rinya ke tempat yang aman. Sehingga pukulan

yang dilakukan lawan mengenai tempat kosong.

Akan tetapi betapa kagetnya kakek Dewana

ketika ia bangkit berdiri, gadis yang menyerang-

nya tadi serta mayat Darpakala sudah tidak ada

lagi di situ. Bila memandang ke atas pohon, Ma-

nusia Topeng masih tetap menyerang sang di sa-

na.

"Lebih baik kubiarkan dia dalam keadaan

seperti itu Aku harus mencari tahu siapa Ratu

Leak dan di mana dia bersembunyi" batin Malaikat Berambut Api.

SEPULUH

Jliiigkh

Pemuda berbaju biru tiba-tiba melompat

turun dari atas pohon. Ia gelengkan kepala dan

usap-usap matanya seakan tidak percaya dengan

penglihatannya sendiri.

"Aku tidak tidur makanya tidak bermimpi,

tidak juga mabuk tapi mengapa penglihatanku





jadi begini. Orang ini jelas-jelas mirip dengan aku, bajunya, rambut juga wajahnya. Cuma lebih tolol

sedikit Rasanya aku tidak punya saudara kem-

bar. Tetapi dia mengapa mirip benar dengan diri-

ku?" batin pemuda baju biru alias Suro Blondo.

Pendekar Blo'on lalu melangkah lebih

mendekat lagi. Lalu pemuda baju biru yang entah

datang dari mana itu melangkah pula ke arahnya.

Mereka saling pandang-pandangan. Bila Suro ter-

senyum, maka pemuda di depannya juga ikut ter-

senyum. Pendekar Mandau Jantan garuk-garuk

kepala, eeh pemuda yang sungguh mirip dengan

dirinya itu juga ikut garuk-garuk kepala.

Sedemikian penasarannya pemuda ini,

hingga jari telunjuknya mendorong jidat orang

itu. Ternyata pemuda berbaju biru yang segala-

galanya mirip dengan dirinya ikut mendorong pu-

la.

"Ha ha ha... Tidak mabuk mengapa pen-

glihatanku jadi lucu?" seru Suro semakin bertambah besar saja rasa heran dihatinya. Pemuda

tampan bertampang tolol itu juga ikut tertawa.

"Kalau tidak mabuk, berarti kita memang

sudah jadi gila" celetuk pemuda itu pula.

"Kau siapa? Mengapa wajahmu mirip benar

dengan aku?" tanya si konyol, sekarang ekspresi wajahnya benar-benar serius.

"Kau yang siapa?"

"Kunyuk betul, kau yang meniru aku Pa-

dahal aku tidak punya saudara kembar di dunia

ini. Apakah kau setan?" tanya Suro lagi.

"Kaulah yang setan" maki pemuda di depannya sinis.

Suro garuk-garuk kepala. Bingung, pena-

saran bercampur kesal sedikit. "Kau hendak kemana?" tanya Pendekar Blo'on.

"Mencarimu" sahut pemuda itu singkat.

Sepasang mata Suro yang jenaka berputar

liar "Mencariku? Apakah ada seseorang yang menyuruhmu?"

"Benar."

"Untuk apa?" desak Pendekar Mandau Jantan semakin tidak sabar.

"Membunuhmu, ya... kurasa aku datang

untuk membunuhmu. Karena memang itulah tu-

gas yang diberikan padaku"

Suro Blondo tiba-tiba saja tertawa tergelak-

gelak. Melihat Suro tertawa, maka orang di de-

pannya ikut tertawa bekakakan.

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Kurasa itu tidak penting kau ketahui,

Pendekar Blo'on" sinis suara pemuda itu.

"Apakah kau Pendekar Blo'on juga?" pancing Suro

Lawan anggukkan kepala. Saking kagetnya

Suro sampai melangkah mundur. Keningnya ber-

kerut dalam, rasanya apa yang ia lihat memang

tidak masuk akal. Ada orang segala-galanya mirip benar. dengan dirinya. Kalau pun ia sedang menyamar, mengapa bisa persis betul? Kenyataan

ini hampir tidak dapat diterima akal sehatnya,

begitu ia tidak percayanya sampai-sampai ia

mencubit lengannya sendiri. Ternyata memang te-

rasa sakit, berarti Suro tidak sedang mimpi.

"Entah aku yang tolol atau engkau yang

sudah gila Kalau kau benar-benar sebagai Pen-

dekar Blo'on apakah senjata andalanmu yang

akan kau pergunakan untuk membunuhku??"

Tanpa bicara pemuda yang mirip Suro ke-

luarkan senjata. Suro langsung cengengesan keti-

ka pemuda itu keluarkan sebuah clurit berwarna

hitam. "Hmm, ternyata perabotan yang kau bawa bengkok. Sedangkan Pendekar Blo'on sejati punya

senjata lurus, ada lubang spesialnya. Senjata

bengkok begitu bisa salah tusuk salah sasaran"

ejek Pendekar ini ketus. "Apakah kau punya senjata yang lain?"

Yang ditanya langsung buka celana dan

tunjukkan apa yang dia miliki. Tawa Suro Blondo

semakin menjadi-jadi.

"Wah lebat betul. Rupanya kau punya tidak

pernah di cukur, lagipula mengapa hitam keriput

dan bulukan begitu?"

"Ha ha ha... Jadi apa yang kau maksud

dengan senjataku yang lain?" tanya pemuda itu sama tololnya.

Di samping geli, Suro lama-kelamaan jadi

sewot juga. Tiba-tiba ia meninju wajah lawannya.

Plaak

Pemuda itu terdorong mundur, lalu usap

keningnya yang benjol sebesar telur puyu. Tidak

disangka-sangka pemuda itu lakukan serangan

kilat. Tinjunya yang meluncur tidak sempat di-

elakkan lagi oleh Suro yang lengah.

Took

Pendekar Blo'on meringis. Bila ia mengu-

sap keningnya, maka terdapat benjolan sebesar

telur angsa.

"Sontoloyo, manusia sompret Berani betul

kau berbuat kurang ajar padaku"

"Itu belum seberapa sebab sebentar lagi

aku akan membunuhmu" sahut lawannya sinis.

"Gila betul. Jangan kau cuma pentang ba-

cot lekas buktikan jika kau ingin membunuhku"

tantang Pendekar Mandau Jantan tanpa sung-

kan-sungkan lagi.

"Ha ha ha Aku gembira sekali, ternyata

kau memang menghendaki mati. Maka kau lihat-

lah serangan" teriak pemuda tersebut.

Dengan kecepatan sulit di duga-duga, tiba-

tiba saja lawan sudah mengayunkan celuritnya ke

wajah Suro. Pemuda ini langsung berkelit dengan

jurus 'Kacau Balau'. Ternyata serangan pertama

hanya tipuan saja, karena ketika Suro mengelak

celurit tiba-tiba menyimpang dan berbelok mene-

rabas perut. Pendekar Blo'on terpaksa berjumpli-

tan sambil memaki.

"Rupanya kau punya keedanan dan tipu

menipu pula. Heaaa..." Pemuda ini membentak garang. Ia tetap mempergunakan jurus menghindar 'Kacau Balau'. Namun di samping itu ia juga

mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh

Harimau'. Lawannya yaitu pemuda bertampang

dan berpakaian seperti dirinya tidak tinggal diam.

Ia juga membalas serangan Suro dengan tidak ka-

lah dahsyatnya, tetapi bukan menggunakan ju-

rus-jurus seperti yang dimainkan oleh pemuda

itu. Sungguh pun demikian serangan-serangan

yang dilancarkannya tetap berbahaya dan men-

gandung tipu-tipu. Tiba-tiba saja Pendekar Blo'on melancarkan tendangan berputar. Lawan segera

dapat merasakan adanya desiran angin kencang

menerpa ke bagian pinggang. Pemuda baju biru

langsung melompat ke udara. Dalam keadaan me-

lesat ia lepaskan tendangan beruntun. Suro jadi

kaget, ia hanya mampu menghindari beberapa

tendangan, tetapi ketika kaki lawan terus berpu-

tar-putar di atas kepalanya, Suro sudah tidak kuasa lagi selamatkan diri.

Des

"Ukh..."

Pendekar Blo'on tekad kepalanya yang se-

perti hendak pecah. Bumi dirasakannya berputar

lebih cepat. Selagi ia belum sempat berdiri karena menikmati sakit yang bukan kepalang. Lawan telah nekad menyerangnya dengan pukulan jarak

jauh. "Oh... aku bisa mati konyol kalau begini?"

desis Pendekar Blo'on. Belum lagi ia sempat ber-

diri. Tiba-tiba ia kerahkan tenaga dalamnya ke

bagian kedua tangannya. Samar-samar Suro me-

lihat cahaya merah kehitam-hitaman melesat ke

arahnya. Tanpa membuang-buang waktu pemuda

ini langsung lepaskan pukulan 'Kera Sakti Meno-

lak Petir'.

Wuut Wuuut

Seer

Seketika terasa adanya sambaran hawa

dingin mencucuk hidung dari telapak tangan Su-

ro yang terkembang. Lalu di tengah jalan terjadilah benturan keras bukan main. Baik Suro mau-

pun pemuda yang sungguh mirip dengan dirinya

itu sama-sama terpelanting roboh. Selagi Pende-

kar Blo'on masih berusaha melancarkan jalan da-

rah yang tersendat, lawan telah menerjang lagi

sambil mengayunkan celurit di tangannya.

Wuut

"Aiiih..."

Dengan terpaksa pemuda ini berguling-

guling. Tetapi lawan setelah melihat serangannya tidak mencapai sasaran langsung berbalik, dan

kini menyerang lagi dengan bacokan maupun tu-

sukan yang semakin berbahaya.

"Hiyaa..."

Celurit tiba-tiba melesat di bagian bahu

Suro. Pemuda ini kerahkan jurus 'Kacau Balau',

satu-satunya jurus khusus menghindar yang ia

miliki. Wuuus

Liukan-liukan serampangan yang dilaku-

kan Pendekar Blo'on benar-benar membuatnya

dapat membebaskan diri dari maut selama bebe-

rapa kali. Lawan ternyata tidak putus asa. Ka-

kinya mendadak saja meluncur dan...

Buuk

"Huuk"

Pendekar Blo'on jatuh terguling-guling. Da-

lam keadaan sedemikian itu ia masih sempat le-

paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-

sinar' ke arah lawan.

Zzzzttss

Tidak terelakkan lagi lawannya yang begitu

bernafsu memburu Suro tidak sempat menghin-

dar lagi. Di saat ledakan keras terjadi, maka lawan Suro terpelanting roboh. Tetapi anehnya se-

rangan maut itu tidak membawa akibat apa-apa.

Malah seperti orang linglung lawan bangkit lagi.

Ia garuk-garuk kepala sebagaimana tingkah Pen-

dekar Blo'on juga.

"Kau lihatlah aku ndak apa-apa" ejek pemuda itu. Sekarang Pendekar Blo'on yang dibuat

bingung. Melihat lawan bertolak pinggang lagi,

maka si konyol langsung lepaskan pukulan

'Ratapan Pembangkit Sukma'. Sekonyong-

konyong ia melompat ke udara lalu hentakkan

kedua tangannya ke arah lawan. Angin kencang

di sertai badai salju menderu dahsyat ke arah lawan. Dan kelihatannya pemuda itu sama sekali

tidak berminat menghindari pukulan ganas tersebut. Buuum

Dengan telak pukulan tersebut menghan-

tam lawan. Untuk yang kedua kalinya lawan ter-

jajar. Namun sebagaimana tadi ia tidak menderita apalagi sampai terluka terkena pukulan Suro. Sikonyol gelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Ini tidak boleh terjadi. Aku harus mencoba sampai dimana kehebatan jurus Congcorang wa-risan kakek Bayang Bayang" batin Pendekar

Blo'on. "Kau bingung? Ha ha ha... Orang yang sudah hendak mati memang suka bingung. Tetapi

percayalah, kematian dengan di penggal leher ti-

dak begitu sakit. Menurut yang kudengar rasanya

seperti di gigit semut dan ada gatal-gatalnya sedikit" ejek lawannya. Lalu seraya membolang baling celurit hitam di tangan.

"Hmm, kau boleh jadi kebal. Kekebalan ada

tiga, yang lunak yang keras dan berlubang salah

satu diantaranya merupakan titik kelemahan

yang tidak dapat ditawar-tawar" teriak Pendekar Blo'on, suaranya melengking tinggi.

"Heaa..."

Pemuda itu tiba-tiba saja angkat kaki ka-

nannya, jari-jari tangan kanan kiri kemudian saling merapat. Seterusnya bergerak mengait ke de-

pan atau mencatuk bagaikan tangan-tangan

cengcorang yang hendak menggapai daun. Suro

pun berjingkrak kian kemari.

"Uuuuuu..."

Bibir pemuda itu termonyong-monyong.

Tap Tap

Zuup Zuup

Wuuk

Senjata lawan membabat, Suro ber-

jingkrak. Lalu tangannya yang saling merapat me-

luncur ke arah tenggorokan. Lawan terpaksa lin-

dungi tenggorokannya. Angin mendesir. Sekedi-

pan mata tangan Suro telah beralih ke sasaran

lain. Crok Corok

"Heekh..."

Hantaman itu membuat lawannya ter-

huyung ke belakang. Suro melompat maju dan

kembali tangannya mendera berulang-ulang.

Cos Cos

Craak

"Akkkh..."

Tiba-tiba saja terdengar jeritan lawannya

saat kedua matanya terkena hantaman Suro. Da-

lam keadaan utuh kedua mata lawan keluar. Rupanya di situlah titik kelemahan lawannya.

Suro terus mencecar bagian lainnya. Kini

yang menjadi sasaran jemari tangannya adalah

bagian dada dan perutnya. Karena menderita luka

yang sedemikian mengerikan, maka lawan sudah

tidak dapat menguasai dirinya lagi. Untuk yang

kesekian kalinya dadanya di buat berlubang,

bahkan bukan itu saja. Sambil meliuk-liuk ia

hantam perut lawannya.

Jros Jros

Perut itupun berlubang, ususnya berbua-

saian. Lawan menjerit setinggi langit. Dalam keadaan mandi darah tubuhnya terhempas, berkelo-

jotan beberapa saat lamanya. Kemudian sosok itu

menghitam disertai menebarnya kabut putih

hingga akhirnya lenyap dari pandangan mata.

"Ternyata ia manusia jejadian. Siapa yang

telah melakukannya? Kurasa Batu Lahat Bakutuk

itulah yang menjadi sumbernya" pikir Suro. "Ra-tu Leak, tunggulah, kau akan merasakan apa

yang dulu pernah kuderita"

Dan Pendekar Blo'on akhirnya berkelebat

pergi meninggalkan daerah yang sepi itu.

SEBELAS
"Aku dapat merasakan di sinilah manusia

keparat itu bersembunyi Rasanya aku sudah ti-

dak sabar lagi untuk membuat perhitungan den-

gannya" geram pemuda gondrong yang sekujur tubuhnya terbungkus akar-akar berwarna hitam.

Yang diajak bicara adalah laki-laki berpa-

kaian putih selempang putih yang tidak lain ada-

lah Datuk Nan Gadang Paluih.

"Tenanglah, ini masih merupakan daerah

kekuasaanmu Sebagaimana dugaanmu aku pun

merasa ia pasti bersembunyi di celah batu itu

Tunggu apa lagi, panggillah dia keluar untuk

menjumpai kita" kata Datuk Nan Gadang.

Wayan Tandira baru saja hendak berteriak,

tiba-tiba di atas batu yang menjulang tinggi terlihat sosok berpakaian hijau berdiri tegak dengan

tatapan sinis.

"Kalian muncul lagi? Rupanya kalian tidak

jera dan terus mengejarku ke mana saja aku per-

gi" kata perempuan itu yang tidak lain adalah Ratu Leak.

"Aku mana mungkin meninggalkan Sange

selama Batu Lahat Bakutuk berada di tanganmu"

sahut Datuk Nan Gadang Paluih.

"Dan kau...?" Pertanyaan Ratu Leak ditujukan pada Wayan Tandira.

"Hmm... keparat Kau berpura-pura tidak

tahu. Kesalahanmu segudang, belum lagi masya-

rakatku yang kau kutuk menjadi patung batu. Ti-

dak ada hukuman yang setimpal dengan kesala-

han yang kau perbuat terkecuali membunuhmu

secara perlahan-lahan" sahut Wayan demikian sinisnya.

"Bagus Simpanlah mimpi-mimpi kalian

itu. Aku sendiri sudah punya rencana bagaimana

caranya untuk mengakhiri pengejaran kalian.

Sayang tokoh-tokoh kembaran yang kuciptakan

banyak yang tewas sia-sia. Tetapi kalian lihatlah ini" seru Ratu Leak. Tiba-tiba ia memutar tengkorak kepala bayi di atas kepalanya.

Glerr

Dari kepala tengkorak bayi melesat sinar

warna warni yang terasa menyilaukan mata.

"Datuk, perempuan jahanam itu menge-

rahkan kutuk buat kita" teriak Wayan Tandira.

Datuk Nan Gadang Paluih tertawa membahak

mendengar peringatan Wayan.

Selanjutnya tokoh dari Andalas ini cabut

senjata mautnya yang sudah tidak asing lagi. Yai-tu Angkin Pelebur Petaka. Senjata di kibaskan ke arah sinar-sinar kutukan yang menerjang ke

arahnya tersebut. Terjadilah benturan-benturan

dahsyat di udara. Wayan Tandira sendiri terpaksa mengerahkan pukulan Belenggu Neraka di saat

dirinya mendapat serangan sinar kutukan itu. Sa-

tu hal yang patut diketahui, andai sinar kutukan itu sampai mengenai diri Wayan. Dirinya dapat

berubah menjadi patung seketika.
Melihat serangan pertamanya gagal, Ratu

Leak menggembor marah. Masih tetap berdiri di

atas batu runcing ia lepaskan pukulan 'Neraka

Perut Bumi'. Ratu Leak membagi serangannya ke

dua arah sekaligus.

Untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi Da-

tuk Nan Gadang kebutkan Angkin Pelebur Petaka.

Sedangkan Wayan sekarang tidak memperli-

hatkan reaksi sama sekali kecuali mengerahkan

tenaga dalam ke sekujur tubuhnya. Sehingga ke-

tika serangan lawan menghantam tubuhnya, ma-

ka dari akar-akar itu memijar cahaya hitam.

Buuum...Ledakan yang terjadi akibat bertemunya

dua tenaga sakti membuat Wayan jatuh terdu-

duk. Ratu Leak melompat dari atas batu untuk

menyelamatkan diri dari pukulannya yang mem-

balik akibat di halau Angkin Pelebur Petaka di

tangan Datuk Nan Gadang.

Orang ini memaki, tetapi juga harus ber-

juang keras menghindari serangan gencar yang

dilakukan oleh Datuk Nan Gadang berserta

Wayan. Ratu Leak tiba-tiba menerkam ke arah

Wayan, sedangkan kaki kiri menerabas ke dada

Datuk Nan Gadang.

Melihat serangan ini Wayan segera melam-

bung tinggi ke udara. Sambil berkelit ia menghantam dagu lawannya. Gerakan pemimpin negeri

Sange ini rupanya telah dapat dibaca oleh lawan-

nya. Ratu Leak kibaskan tengkorak bayi di tan-

gannya sehingga membentur dada Wayan.

Buuuk

"Haaakh..."

Kraak....Wayan menjerit tertahan, bukan hanya

akar-akar itu saja yang terhantam hancur oleh

tengkorak bayi tersebut. Tetapi pukulan telak itu membuat Dada pemuda itu patah. Darah menyembur dari mulut si gondrong, sementara Ratu

Leak telah melepaskan tendangan beruntun ke

arah bagian yang sama. Datuk Nan Gadang tidak

tinggal diam. Ia segera melesat ke depan untuk

selamatkan Wayan Tandira. Angkin di tangan

langsung dilecutkan.

Seer....Ratu Leak sambil memaki terpaksa tarik

serangan, kini ia melompat ke kiri untuk sela-

matkan diri dari hantaman angkin maut itu. Ter-

nyata Datuk Nan Gadang tidak tinggal diam hing-

ga di sini saja. Tangan kirinya dengan cepat

menghantam pinggang lawan.

"Ait..."

Dees

Walaupun Ratu Leak telah berusaha

menghindar sedapat mungkin. Tetapi pinggangnya kena di hajar oleh lawannya. Tubuh orang ini sempat berputar karena demikian kerasnya serangan Datuk Nan Gadang itu. Ratu Leak kemu-

dian tergelimpang. Tampak jelas pada sudut-

sudut bibirnya meneteskan darah. Datuk Nan

Gadang terus mengejarnya sambil berkata...

"Cepat kau serahkan Batu Lahat yang telah

kau curi itu"

Ratu Leak tersenyum sinis. Sebagai jawa-

bannya ia lepaskan pukulan 'Pemusnah Raga

Penghancur Jiwa'. Tentu saja sekarang Datuk

Nan Gadang yang di buat pontang-panting. Ia ter-

paksa berguling-guling hingga pukulan itu hanya

beberapa jengkal lewat di atas punggungnya.

Wuut

Belum lagi sempat Datuk berdiri ia le-

paskan pukulan pula ke arah Ratu Leak. Perem-

puan ini tidak sempat menyadari apa yang dila-

kukan lawan, karena saat itu ia telah melompat

ke arah Wayan yang terluka parah dan langsung

menghajar pemuda itu dengan tinjunya.

Praak

"Akhh..."

Serpihan otak bercampur darah berham-

buran menyertai terdengarnya jeritan Wayan

Tandira. Datuk Nan Gadang terperangah melihat

apa yang terjadi. Sangat disesalkan ia terlambat menolong pemuda itu walaupun pukulan yang ia

lepaskan pada akhirnya membuat Ratu Leak ter-

pelanting dengan menderita luka dalam yang cu-

kup serius. Datuk Nan Gadang dalam kesempa-

tan itu cepat menghampiri Wayan. Tetapi pemuda

itu ternyata telah tewas dalam keadaan yang san-

gat mengerikan.

"Datuk keparat Jangan kau sebut aku Ra-

tu Leak jika hari ini kau tidak binasa di tangan-ku" teriak perempuan itu tiba-tiba. Sekejap kemudian Ratu Leak mengeluarkan batu berwarna

warni dan berbentuk empat persegi. Datuk Nan

Gadang memperhatikan benda tersebut. Tidak as-

ing lagi itulah Batu Lahat Bakutuk yang telah

menjadi pangkal bencana selama ini.

"Apa yang hendak dilakukan oleh perem-

puan jahanam itu?" pikir Datuk Nan Gadang.

Ternyata Ratu Leak menggosok-gosok ke

empat sisi Batu Lahat Bakutuk tersebut. Setelah

di gosok-gosokan, maka keluarlah empat larik ca-

haya yang terasa panas bukan main.

Melihat ke arah Ratu Leak, Datuk Nan Ga-

dang merasa tidak kuasa memandang ke arah itu

lebih lama. Matanya terasa sakit mendenyut pa-

nas dan mengeluarkan air. Yang lebih mengerikan

lagi Datuk Nan Gadang Paluih merasa kepalanya

sakit bukan main. Orang ini jatuh terduduk, ka-

rena begitu silau matanya sudah tidak dapat me-

lihat apa-apa lagi terkecuali warna-warna putih

disana sini.

Bukan main dahsyat kharisma batu terse-

but, pohon-pohon di sekitarnya langsung layu.

Batu-batu sebesar kerbau langsung menjadi ser-

buk halus. Kuda Datuk Nan Gadang meringkik

keras. Dikala Ratu Leak secara pengecut hendak
membokong pemilik batu yang asli. Maka terden-

gar suara ringkikan panjang. Ada kaki sebesar

dua kali pohon kelapa melangkah mendekati Da-

tuk Nan Gadang.

Kemudian terlihat sebuah kepala besar me-

runduk, mulutnya terbuka. Tahu-tahu Datuk Nan

Gadang sudah terangkat tinggi-tinggi, sehingga

selamatlah ia dari bencana yang mengancamnya.

Ternyata yang menyelamatkan penghuni Ngarai

Sianok ini tidak lain dan tidak bukan adalah si

Putih Kaki Langit.

Ratu Leak memaki-maki, cahaya di sekeli-

lingnya masih menghampar putih, karena Batuk

Lahat Bakutuk masih memancarkan sinar pelan-

gi. Dalam pada itu terlihat ada sebuah bayangan

putih berkelebat. Tidak jauh dari hadapan Ratu

Leak, berdiri tegak seorang kakek tua berjenggot putih. Cambangnya yang lebat hampir menutupi

sebagian wajahnya. Ia memandang Ratu Leak

dengan mata disipitkan. Sungguh pun silau ca-

haya membuat matanya menjadi sakit, akan teta-

pi paling tidak ia sudah dapat mengenali siapa

orang yang memegang Batu maut tersebut.

"Pamungkur Walikandi Sungguh perbua-

tanmu teramat sesatnya Ternyata Ratu Leak ti-

dak lain adalah dirimu sendiri. Apakah katamu

jika dunia mengetahui keadaanmu yang sebenar-

nya?" seru si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih.

Mendengar suara dan melihat siapa yang

datang, bukan main marahnya Ratu Leak. Keben-

ciannya yang selama ini selalu disimpannya da-

lam hati sekarang berkobar-kobar kembali.

"Barata Surya keparat Rupanya muridmu

tidak berhasil membunuhmu Kau jangan banyak

bicara, kekalahanku yang dulu sekarang tidak

mungkin terulang lagi Aku akan membunuhmu

dengan Batu Lahat Bakutuk ini" teriak Ratu Leak panas bukan main.

"Pamungkur Walikandi Selama sekian ta-

hun ternyata kau masih belum tobat juga? Aku

mana mungkin menikah denganmu, karena aku

cap pedang dan kau pun cap pedang juga. Kau

laki-laki sakit Ratu Leak? Jiwamu sakit dan pikiranmu juga sakit. Kau hendak menyalahi kodrat

Tuhan??" kata Barata Surya yang kiranya mengenali Ratu Leak yang sebenarnya.

"Manusia jahanam Jangan kau berkotbah

di depanku Seandainya Dewana ada bersamamu,

ia pun pantas mati di tanganku" teriak Ratu Leak semakin bertambah kalap.

"Ho ho ho... Rupanya Malaikat Berambut

Api dulu hampir terpedaya juga olehmu Malang

sungguh, kehadiranmu hanya membuat berbagai


kerusakan saja di muka bumi. Kau laki-laki seja-

ti, tetapi mengapa ingin jadi perempuan?" seru Penghuni Siluman Kera Putih.

Wajah di balik cahaya Batu Lahat Bakutuk

itu tampak menegang. Ia kembali menggosok-

gosok Batu Lahat di tangannya, sehingga batu

tersebut memancarkan cahaya lebih terang lagi.

Sinar terang itu membuat Barata Surya merasa

tubuhnya seperti di panggang matahari. Ia pun

terpaksa lindungi matanya dari pengaruh cahaya

yang dapat membutakan mata tersebut.

Wuus

Ternyata Penghulu Siluman Kera Putih

hanya dalam waktu singkat telah terkepung oleh

sinar warna warni yang menyilaukan itu. Barata

Surya tiba-tiba lepaskan pukulan ke arah sinar-

sinar yang semakin menyusut dan seakan hendak

menjerat dirinya.

Wuuut

Buuum

"Hek..."

Ternyata pukulan yang dilakukan oleh si

kakek tidak mengakibatkan apa-apa. Sinar yang

bentuknya seperti lingkaran-lingkaran itu tidak

mampu di hancurkan oleh pukulan si kakek. Ba-

rata Surya merasa sekujur tubuhnya seperti

mendidih. Tiba-tiba si kakek melompat ke udara.

Dengan demikian ia terbebas dari lingkaran sinar maut itu. Kini setelah terbebas ia lepaskan pukulan lagi ke arah Ratu Leak. Selarik sinar mengge-bu-gebu dan meluncur deras ke arah Ratu Leak.

Namun sebelum serangan berhasil menyentuh

lawan. Lagi-lagi dari Batu Lahat Bakutuk melun-

cur sinar putih dengan kekuatan empat sampai

lima kali lebih besar

Sekarang Barata Surya malah yang menja-

di terancam. Kakek ini segera berguling-guling.

Sayang sinar yang melesat dari Batu Lahat Baku-

tuk terus mengikutinya. Sehingga....

Buuuum,,,,Tidak terelakkan lagi luncuran sinar itu

pun menghantam telak Barata Surya. Penghulu

Siluman Kera Putih mengeluh tinggi. Ia jatuh terhempas, dadanya seperti hendak meledak. Ia

menjadi kaget ketika tidak dapat menggerakkan

sekujur tubuhnya. Dalam kesempatan itu pula

Ratu Leak pusatkan seluruh cahaya yang me-

mancar dari batu tersebut ke arah Barata Surya.

Penghulu Siluman Kera Putih benar-benar teran-

cam keselamatannya saat itu. Pada detik-detik

yang kritis itu muncul dua sosok bayangan yang

bergerak langsung ke arah Ratu Leak dengan

maksud merampas batu. Namun sebelum niat

mereka terlaksana, tiba-tiba pijaran Batu Lahat

Bakutuk menghantam ke dua-duanya.

Tidak ampun lagi orang-orang yang hendak

menyelamatkan Barata Surya terbanting sejauh

dua tombak. Yang satu ke kiri dan yang lainnya

ke kanan Ternyata mereka tidak lain adalah Mata

Iblis dan Dewi Kerudung Putih. Di antara kedua-

nya Dewi Kerudung Putihlah yang menderita luka

paling serius. Sebab seperti telah sama kita ketahui, kekuatan gadis ini tersedot ke dalam tanduk Sakti Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya.

"Kalian semua benar-benar menghendaki

kematian dariku" pekik Ratu Leak setelah melihat siapa orang orang yang bermaksud merampas

batu di tangannya Mata Iblis tanpa bicara apa-

apa segera kerahkan kekuatan matanya. Sejurus

kesudahannya meluncur dua larik sinar merah ke

arah Ratu Leak. Tetapi apa yang kemudian terja-

di. Ketika Ratu Leak menggerakkan batu sebagai

tameng maka serangan Mata Iblis membalik den-

gan kecepatan berlipat ganda dan panas berganda

pula. Mata Iblis tidak sempat lagi menghindar

karena sedemikian cepat datangnya sinar terse-

but. Tidak ampun lagi tubuhnya pun terhantam

serangannya sendiri yang berbalik. Kakek ini

menggerung keras. Ia jelas menderita luka bakar

yang tidak ringan.

"Hik hik hik... Sudah kukatakan pada ka-

lian. Hari ini terlalu banyak orang-orang dari golongan lurus yang harus mati di Sange ini" desis Ratu Leak sinis.

Selanjutnya Ratu Leak yang merasa berada

di atas puncak kemenangan ini segera angkat Ba-

tu Lahat Bakutuk di atas kepalanya. Inilah detik-detik yang paling mendebarkan dari seluruh per-

tempuran itu. Semua orang menjerit kesakitan

manakala api yang bersumber dari Batu Lahat

Bakutuk melesat kian kemari menyambar apa sa-

ja yang terdapat di sekitarnya.

Datuk Nan Gadang Paluih melihat adanya

bahaya itu. Ia dengan masih rebah di atas pung-

gung kudanya segera berteriak memberi aba-aba

pada orang-orang dari golongan lurus.

"Menyingkirlah kalian Tidak seorang pun

yang dapat menyelamatkan diri dari kobaran api

kutukan"

Kecuali Barata Surya yang memang tidak
takut mati. Mata Iblis dan Dewi segera menyingkir sedapat yang mereka lakukan. Tampaknya sekejap lagi tubuh Barata Surya benar-benar hangus.

Masih beruntung dalam saat-saat yang mene-

gangkan itu tampak berkelebat bayangan biru.

Bayangan biru gerakkan tangannya, dari lengan

tampak melesat sinar hitam yang terasa dingin

bukan main. Sinar itu langsung melabrak kedua

tangan Ratu Leak. Dan...

Teees

"Aaaah..."

Ratu Leak menjerit kesakitan, Batu Lahat

Bakutuk di tangannya langsung tercampak ke

udara. Melihat hal ini Datuk Nan Gadang tanpa

menghiraukan sakit yang dideritanya segera me-

nyambar batu tersebut. Ratu Leak menggerung

keras melihat kenyataan Batu Lahat sudah tidak

berada di tangannya lagi.

Cepat ia menoleh, ternyata sinar hitam tadi

melesat dari tangan Suro yang terdapat sebuah

benda hitam kecil. berbentuk empat persegi.

"Pemuda jahanam Lihatlah apa yang telah

kau lakukan ini Kau harus terima kematianmu"
teriak Ratu Leak setelah mengetahui siapa orang-

nya yang telah menggagalkan rencananya itu.

"Ratu Leak manusia sundelan Cukup su-

dah kau bikin sengsara orang. Hati ini rasanya

sudah kau tipu mentah-mentah Mustahil aku

berdiam diri melihat guruku hampir kau buat ma-

ti" seru Suro.

"Tolol bangsat Rasakanlah..." teriak Ratu

Leak Sekonyong-konyong tangannya terjulur dan

menjambak rambut Suro. Sedangkan tangan lain

yang memegang tengkorak bayi menghantam ke

bagian punggung.

Dua serangan sekaligus yang datang dalam

waktu bersamaan membuat Suro jadi kalang ka-

but. Ia pun demi menyelamatkan diri terpaksa ke-

luarkan jurus 'Kacau Balau'. Gerakan-gerakan

yang tidak beraturan segera terlihat. Ratu Leak

gagal menjambak rambut Suro, tetapi bagian

punggung pemuda itu kena digetok senjata maut

lawannya.

"Ukkkh..."

Saking sakitnya Suro sampai berputar-

putar. Ratu Leak semakin bersemangat saja un-

tuk menghabisi lawan. Ia tiba-tiba hentakkan ke-

dua tangannya siap lepaskan pukulan 'Liang

Hantu Penebus Kutuk'.

Begitu laki-laki yang menyamar sebagai pe-

rempuan ini dorong lagi kedua tangannya. Tidak

ayal terdengar suara gelegar di sana sini. Suro

terpelanting kian kemari. Hantaman yang disertai hawa panas tersebut membuat pakaian Suro tercabik-cabik.

"Bangsat..." maki Pendekar Blo'on. Lalu ia membalas serangan lawan dengan melepaskan

pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Ratu Leak segera melompat ke udara. Tetapi kakinya masih kena

disambar serangan lawan. Pukulan pamungkas

yang dimiliki oleh Suro ini sama sekali tidak dapat membuat lawannya roboh terkecuali hanya





terluka sedikit saja.

Sementara itu Datuk Nan Gadang, Barata

Surya, Mata Iblis sebenarnya ingin membantu

Pendekar Blo'on yang kelihatannya dalam kea-

daan keteter. Namun mereka tidak berani mela-

kukannya karena takut dianggap pengecut. Da-

lam kesempatan itu, Suro telah berdiri tegak dengan wajah sedikit pucat dan tubuh dibasahi ke-

ringat dingin.

"Seandainya aku pergunakan Mandau,

mungkin aku dapat membunuhnya. Tetapi aku

lebih tertarik mempergunakan jurus-jurus

'Congcorang'..." batin Suro.

Dan benar saja, sejurus kemudian pemuda

ini sudah melompat ke depan. Jari-jari tangannya menyatu rapat. Bergerak liar menggait, mencucuk

ke beberapa bagian di tubuh lawan.

Ratu Leak sempat terkesiap melihat tangan

Suro meluncur menyambar tenggorokannya. Ia

kibaskan tengkorak bayi di tangan. Serangan ini

tidak dihindari Suro melainkan disambutnya.

Clok Clook

Tengkorak kepala bayi itupun berlubang di

beberapa bagian. Ratu Leak terkejut setengah ma-

ti. Ia hampir tidak mempercayai pemandangannya

sendiri. Selagi ia dalam keadaan kaget seperti itu, Suro menghantam tengkorak kepala bayi itu lagi.

Prak

Senjata andalan Ratu Leak hancur. Laki-

laki yang suka menyaru seperti perempuan ini

menjerit marah. Bersamaan dengan hancurnya

perantara kutukan itu. Maka pengaruh kutukan

pun hilang raib, sehingga terlihat ada tanda-

tanda kehidupan di sana sini.

Ratu Leak tidak dapat tinggal diam. Ia pun

lepaskan pukulan ke arah lawan. Sayang Suro

sudah melompat tinggi ke udara. Tiba-tiba tu-

buhnya meluncur deras ke bawah. Bukan main

cepatnya serangan ini, tahu-tahu jemari tangan si konyol sudah menembus ubun-ubun Ratu Leak.

Ratu Leak alias Pamungkur Walikandi

menjerit tertahan, matanya melotot. Suro me-

nyentakkan tangannya kembali. Ratu Leak meng-

gelegar di atas tanah dan tidak mampu bangkit

lagi. Di balik batu sepasang mata yang sedari

tadi mengawasi jalannya pertempuran tampak le-

ga. Diam-diam ia pergi meninggalkan Suro, murid

sekaligus cucu kandungnya. Di bagian lain Ma-

nusia Topeng setelah melihat kematian Ratu Leak

juga pergi ke jurusan lain.

Kini hanya tinggal Datuk Nan Gadang Pa-

luih, Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih saja

yang masih berada di situ.

"Guruku, ke mana guruku...?" tanya Suro ketika tidak melihat Barata Surya berada disitu.

Datuk Nan Gadang Paluih yang baru saja melucu-

ti seluruh pakaian Ratu Leak langsung menyahuti.

"Ha ha ha... Kurasa gurumu merasa malu,

sebab ternyata manusia yang berjuluk Ratu Leak

itu seorang laki-laki seperti dia"

Suro kaget, dia pun menoleh ke arah mayat

Ratu Leak. Maka tawanya pun meledak.

"Pendekar Bodoh, jangan cuma tertawa.

Berikan tanduk Sakti yang kau bawa. Bukankah

seluruh kekuatan Dewi Kerudung Putih tertahan

disitu?"

"Tanduk sakti yang mana, kakek buta?

Tanduk yang runcing atau tanduk milik Sang Pe-

lucut Segala Daya?" sahut Suro. Diam-diam ia melirik ke arah Dewi. Gadis itu tersenyum malu-malu. "Pemuda ceriwis, berikan tanduk Sang Pelucut Segala Ilmu..." dengus Dewi Kerudung Putih. Diam-diam ia merasa gembira juga melihat

Suro dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu

apapun.

Suro menyerahkan tanduk yang tersimpan

di balik punggungnya. Tanduk itu langsung dibe-

rikan pada Dewi.

"Hati-hati Dewi, jangan sampai kau salah

memasukkan tanduk ini. Salah-salah tenaga sak-

timu malah nyasar kemana-mana?" kata Suro

sambil garuk-garuk kepala.

"Anak kanciang Bicaramu ngaco, tapi aku

senang padamu. Lebih girang lagi hatiku karena

Batu Lahat Bakutuk telah kembali lagi padaku"

Datuk Nan Gadang putar kudanya. Sebelum pergi

ia masih sempat mendengar ejekan Suro.

"Datuk babuntuik, jangan sampai batumu

bikin celako lagi. Aku bisa mengutukmu tidak da-

pat jodoh seumur hiduik..."

"Anak kanciang, lagak bana bicaramu..."

dengus Datuk Nan Gadang Paluih, seraya tanpa

menoleh-noleh lagi langsung membedal kudanya
meninggalkan Sange yang mulai ramai kembali

dengan lenyapnya kutukan Ratu Leak

Suro hanya cengar-cengir. Ketika ia melihat

ke arah Dewi dan Mata Iblis, ternyata kedua

orang itu juga telah raib dari tempatnya masing-masing.

"Dewi-dewi... ternyata kau lebih tertarik

dengan tua bangka mata buta" gerutu Suro

Blondo sambil melangkah pergi.

TAMAT



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...