PENDEKAR BLOON
Eps.21
TOKOH-TOKOH KEMBAR
SATU
Pelarian yang ia lakukan dari musuhnya
bukanlah lari karena ia merasa kalah. Apa yang
dilakukannya semata-mata karena hendak men-
gatur siasat terbaik untuk menghancurkan la-
wan-lawannya yang terdiri dari tokoh-tokoh ber-
kepandaian tinggi itu. Walau pun mereka bukan
semuanya terdiri dari tokoh-tokoh kelas satu. Seperti Datuk Nan Gadang Lapuih itu, ia mempu-
nyai kuda gaib yang dapat mengalahkan pemban-
tu-pembantunya dari alam kubur itu. Tokoh dari
Ngarai Sianok memang harus dilenyapkannya. Te-
tapi yang menjadi tujuan utama bagaimana ca-
ranya membunuh kedua manusia yang sangat di-
bencinya. Barata Surya dan Dewana adalah
orang-orang yang harus mendapat ganjaran se-
timpal. Selain mereka masih ada lagi Manusia To-
peng, Mata Iblis, Wayan Tandira dan termasuk
Dewi Kerudung Putih. Dua orang yang terakhir ini baginya tidak begitu merisaukan hati.
Perempuan berpakaian hijau itu memang
dibuat pusing juga. Kini sama sekali ia sudah tidak punya pembantu yang dapat diandalkan.
Pendekar Blo'on yang semula dapat diharapkan
untuk mewujudkan cita-citanya sekarang mung-
kin sudah dapat dibuat sadar oleh gurunya, Mus-
tika Jajar murid keponakannya tidak muncul-
muncul juga. Tetapi ia masih punya sesuatu yang
dapat diandalkannya. Itulah dia Batu Lahat Ba-
kutuk. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat
besar dengan batu itu.
"Hik hik hik Datuk Nan Gadang, Malaikat
Berambut Api, Barata Surya Rencana yang kuja-
lankan kali ini pasti akan membuat kalian semua
celaka Kalian akan menghadapi tokoh-tokoh
yang mempunyai kesaktian tidak lebih rendah da-
ri kalian" dengus Ratu Leak sinis. Seraya kemudian masuk ke sebuah celah batu sempit. Mele-
wati celah batu itu terdapat tanah yang luas yang seluruh permukaannya berlapis batu hitam. Ratu
Leak melangkahkan kakinya ke tengah-tengah
batu datar yang luas itu. Namun alangkah terke-
jutnya orang ini saat melihat seorang kakek tua berwajah tengkorak bermata merah seperti api.
Yang mengerikan dari orang ini wajahnya sama
sekali tidak terbalut kulit dan daging. Sementara di depannya tampak tergeletak seorang gadis berpakaian tipis tembus pandang dalam keadaan ti-
dak sadarkan diri. Gadis itu kelihatannya baru
saja mendapat pengobatan dari si kakek angker.
Setelah mengenali siapa kakek berwajah angker
ini, Ratu Leak langsung melangkah mendekati
sambil berseru: "Adik seperguruanku, Tua Tengkorak Mata Api? Syukur kau mau datang ke ta-
nah kutukan ini"
Yang ditanya tidak menjawab, sikapnya
acuh tak acuh. Hanya matanya saja yang hampir
memberojol keluar itu memandang sinis pada Ra-
tu Leak.
"Adik seperguruan. Mengapa kau pandangi
aku seperti itu. Apakah ada langkahku yang kau
anggap salah?" tanya Ratu Leak.
"Langkahmu tidak ada yang salah kakang
mbok. Yang membuatku tidak senang kau mem-
biarkan muridku hampir membeku karena terlu-
ka dalam di Sange ini Jika aku tidak datang
mungkin Mustika Jajar sudah mampus" sahut
Tua Tengkorak Mata Api. Agar lebih jelas siapa
adanya kakek tua berwajah tengkorak ini (dalam
episode Pemikat Iblis). "Padahal ia membantu, namun rasa sayang terhadap murid keponakan
kulihat tidak ada sama sekali"
"Adik seperguruan. Kau jangan salah sang-
ka, aku belum sempat mencarinya. Sebab renca-
naku yang pertama ternyata tidak membawa ha-
sil. Kau jangan marah" sergah Ratu Leak. Perempuan ini kemudian meraba urat nadi di bagian
leher Iblis Betina Dari Neraka. Melihat hal itu Tua Tengkorak Mata Api langsung menggumam.
"Keadaannya sudah semakin baik. Mung-
kin tidak lama lagi ia sadar. Kuharap jangan
ganggu dia dulu. Biarkan ia istirahat" tegas si kakek yang cuma punya sebelah mata tersebut
tegas. "Aku mengerti" Ratu Leak tersenyum.
"Bagaimana dengan musuh-musuhmu?"
Kakek mata merah mengalihkan perhatian.
Ratu Leak gelengkan kepala. "Tidak semu-
dah yang kubayangkan. Jumlah mereka kelewat
banyak di luar perhitunganku"
"Mengapa menjadi lemah dalam mewujud-
kan sebuah cita-cita? Malaikat Berambut Api
punya hutang besar padaku Aku sanggup meng-
hadapinya" dengus Tua Tengkorak Mata Api.
"Eeh... apakah Batu Lahat Bakutuk masih berada di tanganmu?"
Pelarian yang ia lakukan dari musuhnya
bukanlah lari karena ia merasa kalah. Apa yang
dilakukannya semata-mata karena hendak men-
gatur siasat terbaik untuk menghancurkan la-
wan-lawannya yang terdiri dari tokoh-tokoh ber-
kepandaian tinggi itu. Walau pun mereka bukan
semuanya terdiri dari tokoh-tokoh kelas satu. Seperti Datuk Nan Gadang Lapuih itu, ia mempu-
nyai kuda gaib yang dapat mengalahkan pemban-
tu-pembantunya dari alam kubur itu. Tokoh dari
Ngarai Sianok memang harus dilenyapkannya. Te-
tapi yang menjadi tujuan utama bagaimana ca-
ranya membunuh kedua manusia yang sangat di-
bencinya. Barata Surya dan Dewana adalah
orang-orang yang harus mendapat ganjaran se-
timpal. Selain mereka masih ada lagi Manusia To-
peng, Mata Iblis, Wayan Tandira dan termasuk
Dewi Kerudung Putih. Dua orang yang terakhir ini baginya tidak begitu merisaukan hati.
Perempuan berpakaian hijau itu memang
dibuat pusing juga. Kini sama sekali ia sudah tidak punya pembantu yang dapat diandalkan.
Pendekar Blo'on yang semula dapat diharapkan
untuk mewujudkan cita-citanya sekarang mung-
kin sudah dapat dibuat sadar oleh gurunya, Mus-
tika Jajar murid keponakannya tidak muncul-
muncul juga. Tetapi ia masih punya sesuatu yang
dapat diandalkannya. Itulah dia Batu Lahat Ba-
kutuk. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat
besar dengan batu itu.
"Hik hik hik Datuk Nan Gadang, Malaikat
Berambut Api, Barata Surya Rencana yang kuja-
lankan kali ini pasti akan membuat kalian semua
celaka Kalian akan menghadapi tokoh-tokoh
yang mempunyai kesaktian tidak lebih rendah da-
ri kalian" dengus Ratu Leak sinis. Seraya kemudian masuk ke sebuah celah batu sempit. Mele-
wati celah batu itu terdapat tanah yang luas yang seluruh permukaannya berlapis batu hitam. Ratu
Leak melangkahkan kakinya ke tengah-tengah
batu datar yang luas itu. Namun alangkah terke-
jutnya orang ini saat melihat seorang kakek tua berwajah tengkorak bermata merah seperti api.
Yang mengerikan dari orang ini wajahnya sama
sekali tidak terbalut kulit dan daging. Sementara di depannya tampak tergeletak seorang gadis berpakaian tipis tembus pandang dalam keadaan ti-
dak sadarkan diri. Gadis itu kelihatannya baru
saja mendapat pengobatan dari si kakek angker.
Setelah mengenali siapa kakek berwajah angker
ini, Ratu Leak langsung melangkah mendekati
sambil berseru: "Adik seperguruanku, Tua Tengkorak Mata Api? Syukur kau mau datang ke ta-
nah kutukan ini"
Yang ditanya tidak menjawab, sikapnya
acuh tak acuh. Hanya matanya saja yang hampir
memberojol keluar itu memandang sinis pada Ra-
tu Leak.
"Adik seperguruan. Mengapa kau pandangi
aku seperti itu. Apakah ada langkahku yang kau
anggap salah?" tanya Ratu Leak.
"Langkahmu tidak ada yang salah kakang
mbok. Yang membuatku tidak senang kau mem-
biarkan muridku hampir membeku karena terlu-
ka dalam di Sange ini Jika aku tidak datang
mungkin Mustika Jajar sudah mampus" sahut
Tua Tengkorak Mata Api. Agar lebih jelas siapa
adanya kakek tua berwajah tengkorak ini (dalam
episode Pemikat Iblis). "Padahal ia membantu, namun rasa sayang terhadap murid keponakan
kulihat tidak ada sama sekali"
"Adik seperguruan. Kau jangan salah sang-
ka, aku belum sempat mencarinya. Sebab renca-
naku yang pertama ternyata tidak membawa ha-
sil. Kau jangan marah" sergah Ratu Leak. Perempuan ini kemudian meraba urat nadi di bagian
leher Iblis Betina Dari Neraka. Melihat hal itu Tua Tengkorak Mata Api langsung menggumam.
"Keadaannya sudah semakin baik. Mung-
kin tidak lama lagi ia sadar. Kuharap jangan
ganggu dia dulu. Biarkan ia istirahat" tegas si kakek yang cuma punya sebelah mata tersebut
tegas. "Aku mengerti" Ratu Leak tersenyum.
"Bagaimana dengan musuh-musuhmu?"
Kakek mata merah mengalihkan perhatian.
Ratu Leak gelengkan kepala. "Tidak semu-
dah yang kubayangkan. Jumlah mereka kelewat
banyak di luar perhitunganku"
"Mengapa menjadi lemah dalam mewujud-
kan sebuah cita-cita? Malaikat Berambut Api
punya hutang besar padaku Aku sanggup meng-
hadapinya" dengus Tua Tengkorak Mata Api.
"Eeh... apakah Batu Lahat Bakutuk masih berada di tanganmu?"
"Masih."
"Ha ha ha Aku punya satu rencana besar
dengan batu itu. Jika rencana ini terwujud. Maka kita tidak perlu bercapai-capai badan menghadapi mereka. Kita dapat uncang-uncang kaki sambil
menyaksikan musuh-musuh kita bergelimpangan
tanpa nyawa"
Mendengar ucapan Tua Tengkorak Mata
Api, Ratu Leak jadi tertarik. "Apa rencanamu itu adik seperguruanku?"
Tua Tengkorak Mata Api membisikkan ren-
cananya di telinga Ratu Leak. Wajah perempuan
cantik itu berubah berseri-seri.
"Rencana yang bagus Aku juga semula
punya niat untuk melakukan hal itu. Tapi aku
merasa kekuatan sihirku semakin melemah saja
akhir-akhir ini Kurasa jika kita bekerja sama kita dapat mewujudkan impian yang mengejutkan dan
tidak pernah terduga-duga oleh musuh kita"
"Nanti tengah malam kita dapat melakukan
segala sesuatunya. Karena dulu kau telah menye-
lamatkan muridku dengan menyambung tangan
serta menyembuhkan luka di perut. Maka tidak
ada salahnya jika sebagai saudara seperguruan
kita saling membantu" kata Tua Tengkorak Mata Api. Ratu Leak merasa senang sekali mendapat
bantuan dari adik seperguruannya. Ia tahu sam-
pai di mana kehebatan Tua Tengkorak Mata Api.
Laki-laki itu bahkan mempunyai ilmu ajian
'Benteng Roh'. Sebuah ilmu sesat yang dapat
menghidupkan benda-benda mati atas bantuan
iblis. Tanpa itu pun rasanya Batu Lahat Bakutuk
dapat mereka manfaatkan untuk mewujudkan
impian mereka.
***
Di pagi hari udara di Lembah Nirwana te-
rasa dingin sekali. Di sisi lain aroma bunga-bunga yang tumbuh beraneka ragam menjanjikan suasana lain yang sangat romantis. Murid-murid
lembah yang terdiri dari gadis-gadis cantik di pagi itu tampak lebih sibuk dari hari-hari biasanya.
Seorang gadis berkulit putih bermata sipit sejak semalaman memang diperintahkan oleh gurunya
untuk menyediakan semua keperluan yang dibu-
tuhkan Pendekar Blo'on. Suro sesungguhnya me-
rasa beruntung berada di lembah itu. Betapa ti-
dak, Lembah Nirwana adalah sebuah tempat yang
indah dan sulit dicari tandingannya di dunia ini apalagi yang melayaninya seorang gadis yang terkadang secara diam-diam mencuri pandang pa-
danya. Kebahagiaan apalagi yang bisa menandingi
semua ini?
Sungguhpun begitu jauh di sudut hatinya,
ia menjadi bimbang juga memikirkan nasib Dewi
Kerudung Putih. Entah bagaimana keadaan gadis
itu di tangan Ratu Leak. Boleh jadi Ratu Leak telah membunuhnya. Padahal Dewi Kerudung Putih
dulu pernah menolongnya (dalam episode Bayang
Bayang Kematian). Jika Dewi Kerudung Putih
sampai tewas di tangan Ratu Leak. Suro Blondo
bersumpah akan melakukan pembalasan berlipat
ganda. Kini ia mondar mandir di dalam kamar
yang dijadikannya tempat tidur semalam.
"Runyam benar-benar runyam. Semuanya
serba memalukan Dalam keadaan tidak sadar
aku pasti telah bertarung dengan guruku. Mau
disimpan di mana mukaku ini? Tapi mengapa ka-
kek Dewana tidak mau menemuiku di sini? Di
mana dia gerangan? Wah kejadian ini benar-
benar memalukan" pikir Suro, lalu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Seraya berjalan mondar-mandir lagi, tapi tiba-tiba hentikan langkahnya ketika mendengar suara daun pintu berderit
terbuka. Yang datang ternyata gadis cantik ber-
mata sipit.
"Selamat pagi" sapa Bunga Seloka ramah.
"Selamat siang dikit Ee... kita belum kenalan, ya? Namaku Suro, kau siapa?" tanya Pendekar Blo'on ramah. Yang ditanya tersenyum malu-
malu, wajahnya bersemu merah sedikit.
"Aku Bunga Seloka Mengenai siapa dirimu
aku sudah mendengarnya dari guru Aku datang
ke sini bukan bercanda"
"Lalu??"
"Guru memerintahkanmu untuk menjum-
painya di taman belakang" jelas Bunga Seloka.
"Taman belakang dimana?"
"Aku akan tunjukkan arahnya padamu
Mari ikuti aku" Tanpa menunggu Bunga Seloka segera berbalik langkah. Sambil menggerutu Suro
mengikuti Bunga Seloka. Yang dimaksud dengan
taman belakang ternyata jaraknya cukup jauh ju-
ga. Di ujung tanaman bunga terdapat pohon-
pohon besar seperti di rimba raya. Disini Bunga
Seloka hentikan langkah dan membalik mengha-
dap Suro Blondo.
"Peraturan mengatakan aku hanya dibe-
narkan mengantar kamu sampai di sini saja. Te-
ruskanlah berjalan ke sana, nanti kau akan men-
dapat petunjuk guruku" tegas Bunga Seloka seraya menunjuk arah yang dimaksudkannya. Pe-
muda berpakaian biru memandang ke arah itu.
"Kau menyuruhku masuk ke dalam hu-
tan?" kata Suro. Ucapannya tidak mendapat
tanggapan apa-apa, merasa heran ia menoleh.
Ternyata Bunga Seloka telah menghilang dari
pandangan matanya. Ia geleng-geleng kepala.
"Orang-orang di sini rasanya memiliki keanehan, atau apa aku sendiri yang memang aneh?" pikir Suro. Seraya kemudian sambil bersiul-siul melangkah mendekati pohon kelapa dan pohon du-
rian yang sedang berbuah lebat.
"Asyiik betul durian ini buahnya besar-
besar Ada kelapanya lagi, kurasa sehabis makan
durian aku bisa menikmati air kelapa Eeh... ke-
betulan sekali ada yang di bawah" batin Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini lalu mendekati sebuah
durian yang paling besar. "Wiiih, sudah kuning.
Pastilah isinya enak..."
Tanpa pikir panjang lagi, Suro segera
membuka ujung buah durian tersebut dengan
kedua tangannya. Ternyata pekerjaan itu tidak
mudah, karena kulit buah itu alot bukan main.
Suro putar-putar buah durian besar itu. Pada
saat yang sama tidak jauh di sebelah kirinya Pendekar Mandau Jantan mendengar suara seseo-
rang yang sedang mengomel, entah ditujukan pa-
da siapa? Ketika Suro memperhatikan laki-laki
yang usianya sebaya dengannya. Ternyata pemu-
da itu pun sedang memegang buah durian, hanya
ukurannya agak lebih kecil.
"Ingin makan saja harus bersusah payah
Kedua tangan tidak dapat dipergunakan. Sedang-
kan manusia punya akal, mengapa durian ini ti-
dak di pukulkan di kepalaku saja" Bicara begitu sekonyong pemuda asing itu angkat durian dari
atas tanah lalu membenturkannya ke bagian ke-
pala. Suro picingkan matanya melihat kejadian
itu. Ia berfikir orang yang berani melakukan pe-
kerjaan gila-gilaan itu kalau bukan orang gila
pastilah punya sesuatu yang diandalkan.
Prook
Si konyol benar-benar dibuat kaget. Bukan
hanya durian masak itu saja yang pecah, tapi ke-
pala yang dijadikan tatakan oleh pemuda tidak
dikenal ikut pecah. Buah durian yang pecah ber-
hamburan bercampur dengan otak dan darah.
Anehnya pemuda itu sedikit pun tidak merasa ke-
sakitan. Ia malah menyeringai menjilati buah du-
rian bercampur cairan otaknya sambil cengenge-
san. Suro merasa perutnya menjadi mual, kepala
pusing dan mau muntah. Pemuda aneh yang ke-
palanya pecah dihantam durian sedikitpun tidak
bicara. Suro yang menutupi wajahnya dengan ke-
lima jari direnggangkan mengintip dari sela-sela jari. Sementara buah durian tadi sudah habis di-makan oleh pemuda ini.
"Kepalaku pecah, kepala yang pecah harus
dibenerin dulu" Orang ini bicara lagi. Kemudian kedua tangannya diletakkannya antara kuping
kanan dengan kuping kiri. Setelah itu tangan
menghantam kepala bertubi-tubi dengan tenaga
penuh. Plok Plak Plok
"Orang ini benar-benar tidak waras. Ka-
tanya mau membetulkan kepalanya yang pecah.
Tapi kok malah dipukul seperti orang menghan-
tam batu kali" pikir Suro terlolong-lolong saking bingungnya. Ia lebih kaget lagi ketika melihat bagaimana kepala yang hampir berantakan itu men-
jadi utuh kembali. Pemuda tidak dikenal kali ini sunggingkan senyum aneh ditujukan pada Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini malah mengkeret
ngeri. Kemudian tanpa bicara apa-apa ia lang-
sung meninggalkan Suro begitu saja. Sejarak tu-
juh batang tombak pemuda aneh itu langkahkan
kaki, tubuhnya mendadak saja raib dari pandan-
gan Suro. Pendekar Blo'on kedip-kedipkan ma-
tanya berulang-ulang. Apa yang dilihatnya tadi
benar-benar seperti kejadian dalam mimpi. Belum
hilang rasa kagetnya, tiba-tiba muncul pula seo-
rang pemuda lain berusia sebaya dengan pemuda
aneh yang datang pertama tadi. Pemuda ini bu-
kan menghampiri pohon durian dimana buahnya
yang masak bergeletakan di atas tanah. Orang ini menghampiri pohon kelapa yang berbuah lebat.
Mendongak ke atas seakan sedang menentukan
mana buahnya yang masih muda.
"Jika inginkan buahnya yang sedap, men-
gapa harus bersusah payah dengan memanjat-
nya? Cukup kulihat dari sini dan dia turun sendi-ri" kata si pemuda seakan ditujukan pada diri sendiri. Pemuda asing itu lalu kedipkan matanya
yang sebelah kiri persis orang kelilipan.
"Heh..." Lagi-lagi Pendekar Mandau Jantan dibuat tercengang ketika melihat betapa buah kepala yang dikedipi pemuda itu meluncur ke ba-
wah. Kelapa muda ini tidak langsung jatuh. Me-
lainkan tergantung-gantung di udara. Pemuda
bertelanjang dada gerakkan jari telunjuknya ke
atas dengan gerakan melubangi, seraya berkata.
"Kalau haus mengapa tidak minum?" Dan
sekonyong-konyong dari buah kelapa yang berlu-
bang dan tergantung di udara mengucur air kela-
pa. Si pemuda buka mulutnya. Suro memperhati-
kan kejadian ini dengan mulut melongo saking
takjubnya.
"Wah, kelapa muda kok ada ikannya" kata si pemuda. Seraya katubkan kedua bibirnya.
Tangan melambai dan kelapa muda itu meluncur
deras menghantam kepalanya. Nampaknya ia
sengaja mengadu kepala dengan kelapa muda
yang dipetiknya secara aneh.
Prak
Kelapa itu pecah berderak dan menggelind-
ing persis di depan Suro Blondo. Bagian yang pe-
cah terkuak.
Lagi-lagi si konyol dihadapkan pada suatu
pemandangan menakjubkan dan sulit dipercaya.
Di dalam batok kelapa muda terlihat dua ekor
ikan kecil sebesar jari telunjuk berwarna kuning seperti anak ikan mas.
"Orang ini punya kesaktian luar biasa. Ka-
lau bukan orang sinting, ia pasti sengaja pamer
kekuatan di depanku" pikir Pendekar Blo'on.
"Permainan seperti itu memang menarik, hanya lama kelamaan terasa membosankan. Lagipula
aku datang ke sini bukan untuk menonton segala
pertunjukan konyol. Si Bayang-Bayang memang-
gilku. Mengapa yang datang pemuda-pemuda
aneh yang pamer kebolehan?" Suro akhirnya
menjadi bosan, tiba-tiba ia bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan durian besar yang belum sempat
dibelahnya ia berjalan ke lain arah namun masih
di wilayah lembah Nirwana. Baru beberapa tindak
ia melangkah, di belakangnya terdengar seruan
seseorang.
"Hei pemuda baju hijau. Kalau kau ingin
makan durian mengapa kau tahan seleramu. Ka-
lau kau tidak becus membelahnya, jika tidak
sanggup aku bisa membantumu dan kau tinggal
makan saja"
Bila Suro memandang ke belakang, tahu-
lah ia pemuda aneh itu yang baru saja bicara. Melihat sikap orang itu yang terlalu meremehkan-
nya. Maka Pendekar Blo'on sambil mendengus te-
rus berlalu.
Ternyata pemuda tidak dikenal itu tidak
membiarkan si konyol pergi begitu saja. Ia me-
nendang buah durian besar yang ditinggalkan
oleh Suro. Buah durian berwarna kuning itu me-
layang nyaris menghantam belakang batok kepala
Pendekar Blo'on. Untung saja ia cepat menghin-
dar, jika tidak dirinya pasti sudah terjengkang.
Ternyata buah durian yang tidak berhasil meng-
hantam kepalanya itu berbalik dan menyambar
kembali dengan gerakan berputar menghantam
wajah Suro. Pemuda ini memaki, lalu dorongkan
kedua tangannya ke arah sasaran.
Wuuut Wuuut
Ser
Seakan memiliki mata saja, buah durian
itu membumbung ke atas dan bergerak turun
kembali serendah mungkin. Sekarang kaki Pen-
dekar Blo'on yang jadi sasaran. Dengan geram
Suro melompat sekaligus diiringi gerakan salto
yang sungguh sedap dipandang mata.
Kini buah durian mengambang diam di
udara. Suro memandang dengan mata mendelik
kepada pemuda yang tidak dikenalnya.
"Mengapa kau menyerangku?" bentak Suro dengan suara keras. Pemuda di depannya
hanya senyum-senyum.
DUA
Kemudian ia pandangi Pendekar Blo'on, ta-
tapan matanya seolah-olah ingin menembus lu-
buk hati pemuda itu.
"Bukankah kau menginginkan buah itu.
Kutawarkan padamu satu kebaikan, sayang kau
malah menolaknya" kata si pemuda seperti kece-wa. "Kau bukan memberi kebaikan, kulihat
kau sengaja mencari gara-gara" dengus Pendekar Blo'on tidak senang.
"Kau menuduh Fitnah busuk membuat
aku jadi marah Sekarang rasakanlah durian itu
akan mengemplang kepalamu" Usai bicara pe-
muda tidak dikenal gelengkan kepala. Tiba-tiba
saja durian yang terkatung-katung di udara me-
layang lagi dan menyerang Suro dengan kecepa-
tan berganda. Melihat ini Suro yang telah pulih
kembali dari kehilangan tenaga sakti ini (untuk lebih jelasnya dalam episode Perintah Dari Alam
Gaib) segera lepaskan pukulan 'Kera Sakti Meno-
lak Petir'. Selarik sinar putih menderu, akan tetapi durian yang mengemplang ke arah kepala itu
kini bergerak merendah lalu meluncur lagi meng-
hantam bagian selangkangan pemuda itu.
Dengan gerakan bagai seekor monyet yang
berjingkrak pemuda ini mengelak. Pukulan yang
dilepaskannya menghantam sebatang pohon yang
berada di belakangnya. Pohon berderak hancur
disertai kobaran api menyala. Pemuda rambut
kemerahan mendelik melihat pukulannya tidak
mengenai sasaran. Sementara pemuda yang tidak
dikenalnya itu sambil tersenyum-senyum meng-
gerakkan tangannya hingga durian yang berada di
bawah pengaruh tenaga dalamnya ini kembali
meluncur ke arah Suro.
"Hati-hatilah kau Pendekar berjurus ku-
nyuk. Salah-salah durian itu dapat mengelilipi
matamu"
Suro pencongkan mulutnya. "Sialan, kau
kira hanya kau sendiri yang dapat berbuat seperti itu?" dengusnya sinis. Tidak membuang-buang waktu, Suro angkat tangannya sejajar dengan telinga. Lalu....
"Huup..."
Krrtkh
Dua-duanya sekarang sama-sama menge-
rahkan tenaga dalam, sehingga terjadilah saling
dorong. Pemuda tidak dikenal masih bisa terse-
nyum-senyum. Melihat hal itu Suro jadi sewot.
Diam-diam ia melipat gandakan tenaga dalamnya.
Lawan tampak terkesiap. Kedua kakinya mulai
bergeser setindak demi setindak. Ketika ia menga-lirkan tenaga dalam kebagian tangannya. Dua-
duanya tampak bergetar hebat. Buah durian se-
sekali terdorong ke kanan dan dilain waktu terdorong ke kiri.
"Kau akan mendapat oleh-oleh Pendekar
Bodoh Hiya..." Pemuda tidak dikenal tiba-tiba mendorongkan kedua tangan dengan keras sekali.
Pruuk
Dan durian itupun terbelah. Apa yang ke-
luar dari buah durian tersebut bukanlah buahnya
yang berwarna kuning. Melainkan binatang sebe-
sar jari kelingking berwarna hijau.
"Burung hijau?" seru Suro. Ia berjalan lebih mendekat ke arah serpihan kulit durian ter-
sebut. "Ternyata bukan burung, tetapi belalang
Belalang congcorang" kata pemuda itu sambil gelengkan kepala seakan tidak percaya. "Bagaimana mungkin durian bisa berbuah belalang? Ini hal
"Ha ha ha Aku punya satu rencana besar
dengan batu itu. Jika rencana ini terwujud. Maka kita tidak perlu bercapai-capai badan menghadapi mereka. Kita dapat uncang-uncang kaki sambil
menyaksikan musuh-musuh kita bergelimpangan
tanpa nyawa"
Mendengar ucapan Tua Tengkorak Mata
Api, Ratu Leak jadi tertarik. "Apa rencanamu itu adik seperguruanku?"
Tua Tengkorak Mata Api membisikkan ren-
cananya di telinga Ratu Leak. Wajah perempuan
cantik itu berubah berseri-seri.
"Rencana yang bagus Aku juga semula
punya niat untuk melakukan hal itu. Tapi aku
merasa kekuatan sihirku semakin melemah saja
akhir-akhir ini Kurasa jika kita bekerja sama kita dapat mewujudkan impian yang mengejutkan dan
tidak pernah terduga-duga oleh musuh kita"
"Nanti tengah malam kita dapat melakukan
segala sesuatunya. Karena dulu kau telah menye-
lamatkan muridku dengan menyambung tangan
serta menyembuhkan luka di perut. Maka tidak
ada salahnya jika sebagai saudara seperguruan
kita saling membantu" kata Tua Tengkorak Mata Api. Ratu Leak merasa senang sekali mendapat
bantuan dari adik seperguruannya. Ia tahu sam-
pai di mana kehebatan Tua Tengkorak Mata Api.
Laki-laki itu bahkan mempunyai ilmu ajian
'Benteng Roh'. Sebuah ilmu sesat yang dapat
menghidupkan benda-benda mati atas bantuan
iblis. Tanpa itu pun rasanya Batu Lahat Bakutuk
dapat mereka manfaatkan untuk mewujudkan
impian mereka.
***
Di pagi hari udara di Lembah Nirwana te-
rasa dingin sekali. Di sisi lain aroma bunga-bunga yang tumbuh beraneka ragam menjanjikan suasana lain yang sangat romantis. Murid-murid
lembah yang terdiri dari gadis-gadis cantik di pagi itu tampak lebih sibuk dari hari-hari biasanya.
Seorang gadis berkulit putih bermata sipit sejak semalaman memang diperintahkan oleh gurunya
untuk menyediakan semua keperluan yang dibu-
tuhkan Pendekar Blo'on. Suro sesungguhnya me-
rasa beruntung berada di lembah itu. Betapa ti-
dak, Lembah Nirwana adalah sebuah tempat yang
indah dan sulit dicari tandingannya di dunia ini apalagi yang melayaninya seorang gadis yang terkadang secara diam-diam mencuri pandang pa-
danya. Kebahagiaan apalagi yang bisa menandingi
semua ini?
Sungguhpun begitu jauh di sudut hatinya,
ia menjadi bimbang juga memikirkan nasib Dewi
Kerudung Putih. Entah bagaimana keadaan gadis
itu di tangan Ratu Leak. Boleh jadi Ratu Leak telah membunuhnya. Padahal Dewi Kerudung Putih
dulu pernah menolongnya (dalam episode Bayang
Bayang Kematian). Jika Dewi Kerudung Putih
sampai tewas di tangan Ratu Leak. Suro Blondo
bersumpah akan melakukan pembalasan berlipat
ganda. Kini ia mondar mandir di dalam kamar
yang dijadikannya tempat tidur semalam.
"Runyam benar-benar runyam. Semuanya
serba memalukan Dalam keadaan tidak sadar
aku pasti telah bertarung dengan guruku. Mau
disimpan di mana mukaku ini? Tapi mengapa ka-
kek Dewana tidak mau menemuiku di sini? Di
mana dia gerangan? Wah kejadian ini benar-
benar memalukan" pikir Suro, lalu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Seraya berjalan mondar-mandir lagi, tapi tiba-tiba hentikan langkahnya ketika mendengar suara daun pintu berderit
terbuka. Yang datang ternyata gadis cantik ber-
mata sipit.
"Selamat pagi" sapa Bunga Seloka ramah.
"Selamat siang dikit Ee... kita belum kenalan, ya? Namaku Suro, kau siapa?" tanya Pendekar Blo'on ramah. Yang ditanya tersenyum malu-
malu, wajahnya bersemu merah sedikit.
"Aku Bunga Seloka Mengenai siapa dirimu
aku sudah mendengarnya dari guru Aku datang
ke sini bukan bercanda"
"Lalu??"
"Guru memerintahkanmu untuk menjum-
painya di taman belakang" jelas Bunga Seloka.
"Taman belakang dimana?"
"Aku akan tunjukkan arahnya padamu
Mari ikuti aku" Tanpa menunggu Bunga Seloka segera berbalik langkah. Sambil menggerutu Suro
mengikuti Bunga Seloka. Yang dimaksud dengan
taman belakang ternyata jaraknya cukup jauh ju-
ga. Di ujung tanaman bunga terdapat pohon-
pohon besar seperti di rimba raya. Disini Bunga
Seloka hentikan langkah dan membalik mengha-
dap Suro Blondo.
"Peraturan mengatakan aku hanya dibe-
narkan mengantar kamu sampai di sini saja. Te-
ruskanlah berjalan ke sana, nanti kau akan men-
dapat petunjuk guruku" tegas Bunga Seloka seraya menunjuk arah yang dimaksudkannya. Pe-
muda berpakaian biru memandang ke arah itu.
"Kau menyuruhku masuk ke dalam hu-
tan?" kata Suro. Ucapannya tidak mendapat
tanggapan apa-apa, merasa heran ia menoleh.
Ternyata Bunga Seloka telah menghilang dari
pandangan matanya. Ia geleng-geleng kepala.
"Orang-orang di sini rasanya memiliki keanehan, atau apa aku sendiri yang memang aneh?" pikir Suro. Seraya kemudian sambil bersiul-siul melangkah mendekati pohon kelapa dan pohon du-
rian yang sedang berbuah lebat.
"Asyiik betul durian ini buahnya besar-
besar Ada kelapanya lagi, kurasa sehabis makan
durian aku bisa menikmati air kelapa Eeh... ke-
betulan sekali ada yang di bawah" batin Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini lalu mendekati sebuah
durian yang paling besar. "Wiiih, sudah kuning.
Pastilah isinya enak..."
Tanpa pikir panjang lagi, Suro segera
membuka ujung buah durian tersebut dengan
kedua tangannya. Ternyata pekerjaan itu tidak
mudah, karena kulit buah itu alot bukan main.
Suro putar-putar buah durian besar itu. Pada
saat yang sama tidak jauh di sebelah kirinya Pendekar Mandau Jantan mendengar suara seseo-
rang yang sedang mengomel, entah ditujukan pa-
da siapa? Ketika Suro memperhatikan laki-laki
yang usianya sebaya dengannya. Ternyata pemu-
da itu pun sedang memegang buah durian, hanya
ukurannya agak lebih kecil.
"Ingin makan saja harus bersusah payah
Kedua tangan tidak dapat dipergunakan. Sedang-
kan manusia punya akal, mengapa durian ini ti-
dak di pukulkan di kepalaku saja" Bicara begitu sekonyong pemuda asing itu angkat durian dari
atas tanah lalu membenturkannya ke bagian ke-
pala. Suro picingkan matanya melihat kejadian
itu. Ia berfikir orang yang berani melakukan pe-
kerjaan gila-gilaan itu kalau bukan orang gila
pastilah punya sesuatu yang diandalkan.
Prook
Si konyol benar-benar dibuat kaget. Bukan
hanya durian masak itu saja yang pecah, tapi ke-
pala yang dijadikan tatakan oleh pemuda tidak
dikenal ikut pecah. Buah durian yang pecah ber-
hamburan bercampur dengan otak dan darah.
Anehnya pemuda itu sedikit pun tidak merasa ke-
sakitan. Ia malah menyeringai menjilati buah du-
rian bercampur cairan otaknya sambil cengenge-
san. Suro merasa perutnya menjadi mual, kepala
pusing dan mau muntah. Pemuda aneh yang ke-
palanya pecah dihantam durian sedikitpun tidak
bicara. Suro yang menutupi wajahnya dengan ke-
lima jari direnggangkan mengintip dari sela-sela jari. Sementara buah durian tadi sudah habis di-makan oleh pemuda ini.
"Kepalaku pecah, kepala yang pecah harus
dibenerin dulu" Orang ini bicara lagi. Kemudian kedua tangannya diletakkannya antara kuping
kanan dengan kuping kiri. Setelah itu tangan
menghantam kepala bertubi-tubi dengan tenaga
penuh. Plok Plak Plok
"Orang ini benar-benar tidak waras. Ka-
tanya mau membetulkan kepalanya yang pecah.
Tapi kok malah dipukul seperti orang menghan-
tam batu kali" pikir Suro terlolong-lolong saking bingungnya. Ia lebih kaget lagi ketika melihat bagaimana kepala yang hampir berantakan itu men-
jadi utuh kembali. Pemuda tidak dikenal kali ini sunggingkan senyum aneh ditujukan pada Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini malah mengkeret
ngeri. Kemudian tanpa bicara apa-apa ia lang-
sung meninggalkan Suro begitu saja. Sejarak tu-
juh batang tombak pemuda aneh itu langkahkan
kaki, tubuhnya mendadak saja raib dari pandan-
gan Suro. Pendekar Blo'on kedip-kedipkan ma-
tanya berulang-ulang. Apa yang dilihatnya tadi
benar-benar seperti kejadian dalam mimpi. Belum
hilang rasa kagetnya, tiba-tiba muncul pula seo-
rang pemuda lain berusia sebaya dengan pemuda
aneh yang datang pertama tadi. Pemuda ini bu-
kan menghampiri pohon durian dimana buahnya
yang masak bergeletakan di atas tanah. Orang ini menghampiri pohon kelapa yang berbuah lebat.
Mendongak ke atas seakan sedang menentukan
mana buahnya yang masih muda.
"Jika inginkan buahnya yang sedap, men-
gapa harus bersusah payah dengan memanjat-
nya? Cukup kulihat dari sini dan dia turun sendi-ri" kata si pemuda seakan ditujukan pada diri sendiri. Pemuda asing itu lalu kedipkan matanya
yang sebelah kiri persis orang kelilipan.
"Heh..." Lagi-lagi Pendekar Mandau Jantan dibuat tercengang ketika melihat betapa buah kepala yang dikedipi pemuda itu meluncur ke ba-
wah. Kelapa muda ini tidak langsung jatuh. Me-
lainkan tergantung-gantung di udara. Pemuda
bertelanjang dada gerakkan jari telunjuknya ke
atas dengan gerakan melubangi, seraya berkata.
"Kalau haus mengapa tidak minum?" Dan
sekonyong-konyong dari buah kelapa yang berlu-
bang dan tergantung di udara mengucur air kela-
pa. Si pemuda buka mulutnya. Suro memperhati-
kan kejadian ini dengan mulut melongo saking
takjubnya.
"Wah, kelapa muda kok ada ikannya" kata si pemuda. Seraya katubkan kedua bibirnya.
Tangan melambai dan kelapa muda itu meluncur
deras menghantam kepalanya. Nampaknya ia
sengaja mengadu kepala dengan kelapa muda
yang dipetiknya secara aneh.
Prak
Kelapa itu pecah berderak dan menggelind-
ing persis di depan Suro Blondo. Bagian yang pe-
cah terkuak.
Lagi-lagi si konyol dihadapkan pada suatu
pemandangan menakjubkan dan sulit dipercaya.
Di dalam batok kelapa muda terlihat dua ekor
ikan kecil sebesar jari telunjuk berwarna kuning seperti anak ikan mas.
"Orang ini punya kesaktian luar biasa. Ka-
lau bukan orang sinting, ia pasti sengaja pamer
kekuatan di depanku" pikir Pendekar Blo'on.
"Permainan seperti itu memang menarik, hanya lama kelamaan terasa membosankan. Lagipula
aku datang ke sini bukan untuk menonton segala
pertunjukan konyol. Si Bayang-Bayang memang-
gilku. Mengapa yang datang pemuda-pemuda
aneh yang pamer kebolehan?" Suro akhirnya
menjadi bosan, tiba-tiba ia bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan durian besar yang belum sempat
dibelahnya ia berjalan ke lain arah namun masih
di wilayah lembah Nirwana. Baru beberapa tindak
ia melangkah, di belakangnya terdengar seruan
seseorang.
"Hei pemuda baju hijau. Kalau kau ingin
makan durian mengapa kau tahan seleramu. Ka-
lau kau tidak becus membelahnya, jika tidak
sanggup aku bisa membantumu dan kau tinggal
makan saja"
Bila Suro memandang ke belakang, tahu-
lah ia pemuda aneh itu yang baru saja bicara. Melihat sikap orang itu yang terlalu meremehkan-
nya. Maka Pendekar Blo'on sambil mendengus te-
rus berlalu.
Ternyata pemuda tidak dikenal itu tidak
membiarkan si konyol pergi begitu saja. Ia me-
nendang buah durian besar yang ditinggalkan
oleh Suro. Buah durian berwarna kuning itu me-
layang nyaris menghantam belakang batok kepala
Pendekar Blo'on. Untung saja ia cepat menghin-
dar, jika tidak dirinya pasti sudah terjengkang.
Ternyata buah durian yang tidak berhasil meng-
hantam kepalanya itu berbalik dan menyambar
kembali dengan gerakan berputar menghantam
wajah Suro. Pemuda ini memaki, lalu dorongkan
kedua tangannya ke arah sasaran.
Wuuut Wuuut
Ser
Seakan memiliki mata saja, buah durian
itu membumbung ke atas dan bergerak turun
kembali serendah mungkin. Sekarang kaki Pen-
dekar Blo'on yang jadi sasaran. Dengan geram
Suro melompat sekaligus diiringi gerakan salto
yang sungguh sedap dipandang mata.
Kini buah durian mengambang diam di
udara. Suro memandang dengan mata mendelik
kepada pemuda yang tidak dikenalnya.
"Mengapa kau menyerangku?" bentak Suro dengan suara keras. Pemuda di depannya
hanya senyum-senyum.
DUA
Kemudian ia pandangi Pendekar Blo'on, ta-
tapan matanya seolah-olah ingin menembus lu-
buk hati pemuda itu.
"Bukankah kau menginginkan buah itu.
Kutawarkan padamu satu kebaikan, sayang kau
malah menolaknya" kata si pemuda seperti kece-wa. "Kau bukan memberi kebaikan, kulihat
kau sengaja mencari gara-gara" dengus Pendekar Blo'on tidak senang.
"Kau menuduh Fitnah busuk membuat
aku jadi marah Sekarang rasakanlah durian itu
akan mengemplang kepalamu" Usai bicara pe-
muda tidak dikenal gelengkan kepala. Tiba-tiba
saja durian yang terkatung-katung di udara me-
layang lagi dan menyerang Suro dengan kecepa-
tan berganda. Melihat ini Suro yang telah pulih
kembali dari kehilangan tenaga sakti ini (untuk lebih jelasnya dalam episode Perintah Dari Alam
Gaib) segera lepaskan pukulan 'Kera Sakti Meno-
lak Petir'. Selarik sinar putih menderu, akan tetapi durian yang mengemplang ke arah kepala itu
kini bergerak merendah lalu meluncur lagi meng-
hantam bagian selangkangan pemuda itu.
Dengan gerakan bagai seekor monyet yang
berjingkrak pemuda ini mengelak. Pukulan yang
dilepaskannya menghantam sebatang pohon yang
berada di belakangnya. Pohon berderak hancur
disertai kobaran api menyala. Pemuda rambut
kemerahan mendelik melihat pukulannya tidak
mengenai sasaran. Sementara pemuda yang tidak
dikenalnya itu sambil tersenyum-senyum meng-
gerakkan tangannya hingga durian yang berada di
bawah pengaruh tenaga dalamnya ini kembali
meluncur ke arah Suro.
"Hati-hatilah kau Pendekar berjurus ku-
nyuk. Salah-salah durian itu dapat mengelilipi
matamu"
Suro pencongkan mulutnya. "Sialan, kau
kira hanya kau sendiri yang dapat berbuat seperti itu?" dengusnya sinis. Tidak membuang-buang waktu, Suro angkat tangannya sejajar dengan telinga. Lalu....
"Huup..."
Krrtkh
Dua-duanya sekarang sama-sama menge-
rahkan tenaga dalam, sehingga terjadilah saling
dorong. Pemuda tidak dikenal masih bisa terse-
nyum-senyum. Melihat hal itu Suro jadi sewot.
Diam-diam ia melipat gandakan tenaga dalamnya.
Lawan tampak terkesiap. Kedua kakinya mulai
bergeser setindak demi setindak. Ketika ia menga-lirkan tenaga dalam kebagian tangannya. Dua-
duanya tampak bergetar hebat. Buah durian se-
sekali terdorong ke kanan dan dilain waktu terdorong ke kiri.
"Kau akan mendapat oleh-oleh Pendekar
Bodoh Hiya..." Pemuda tidak dikenal tiba-tiba mendorongkan kedua tangan dengan keras sekali.
Pruuk
Dan durian itupun terbelah. Apa yang ke-
luar dari buah durian tersebut bukanlah buahnya
yang berwarna kuning. Melainkan binatang sebe-
sar jari kelingking berwarna hijau.
"Burung hijau?" seru Suro. Ia berjalan lebih mendekat ke arah serpihan kulit durian ter-
sebut. "Ternyata bukan burung, tetapi belalang
Belalang congcorang" kata pemuda itu sambil gelengkan kepala seakan tidak percaya. "Bagaimana mungkin durian bisa berbuah belalang? Ini hal
yang
mustahil" Dalam keheranannya itu Suro segera menoleh ke arah pemuda tidak
dikenal. Te-
tapi alangkah kagetnya pemuda ini karena pemu-
da yang menyerangnya tadi sekarang sudah tidak
berada di tempat. "Aneh, kemana perginya orang itu. Mustahil secepat itu ia dapat menghilang?
Hantukah orang tadi?" Mendadak Suro merasa
tengkuknya menjadi dingin. Selagi ia terlolong
menyaksikan segala keganjilan yang terjadi. Pada waktu itu pula puluhan ekor belalang congcorang
berterbangan dan menyerang pemuda ini tanpa
ampun.
Suro mula-mula menganggap serangan itu
adalah suatu hal yang lumrah. Sehingga dengan
seenaknya ia menepis belalang-belalang itu. Akan tetapi alangkah kagetnya pemuda ini karena belalang itu menghindar. Terbang berputar-putar, lalu kedua tangannya yang panjang menyentik.
Stak
"Aih... Keparat betul..." maki Suro saat salah satu belalang itu menjentik bagian telinganya.
Tampak jelas bagian jentikkan berubah merah.
Sementara serangan belalang semakin menghe-
bat. Suro mengerahkan segenap kemampuannya
untuk mengusir belalang-belalang tersebut. Seka-
li-kali tangannya menyambar. Terkadang kakinya
menendang, aneh sungguh aneh. Belalang itu da-
pat menghindarinya.
Sebaliknya serangan-serangan balik yang
dilakukan para congcorang itu hampir sulit di-
hindari oleh Suro. Padahal pemuda itu telah
mempergunakan jurus Kacau Balau, satu-
satunya jurus menghindar pada tingkatan yang
paling tinggi.
Selagi Suro dibuat kalang kabut oleh se-
rangan congcorang yang cukup banyak itu. Maka
tanpa diduga-duga dari arah semak-semak mun-
cul seekor ular berwarna hijau sebesar lengan
orang dewasa dengan panjang hampir satu tom-
bak. Ular itu mendesis keras ketika melihat Pen-
dekar Blo'on. Secepat terbang ia meluncur dengan mulut terbuka siap mematuk kaki Pendekar ini.
Lagi-lagi terjadi keanehan. Saat melihat kehadiran ular hijau tersebut puluhan congcorang berbalik
arah dan kini menyerbu ular tersebut.
Maka terjadilah pertempuran sengit antar
binatang. Suro terkesima melihat kejadian ini.
Mendapat keroyokan sedemikian rupa, kiranya
ular hijau tidak tinggal diam. Ia mematuk kian
kemari, kepalanya meluncur dengan ganas dan
cepat menyerang belalang-belalang yang berada di depannya. Hebatnya tidak satu pun serangan ular
itu yang mencapai sasaran. Congcorang meng-
hindar dengan gerakan yang gesit atau membalas
serangan dengan tidak diduga-duga.
"Mereka ini seperti memamerkan jurus-
jurus baru padaku. Ular ini memiliki gerakan
yang sangat cepat dan berbahaya. Tetapi para
congcorang kelihatannya lebih cerdik dan cepat
berkelit. Ini adalah sebuah pemandangan sekali-
gus pelajaran sangat berguna Eeh, lihat Kaki
depan congcorang yang panjang lakukan gerakan
menggait dan menampar ke bagian mata. Yang di-
incarnya adalah bagian-bagian terlemah ular ini.
Aih... hiya... bagus Kena, ya... pukul begitu. Wa-lah mata ular mulai berdarah." seru Suro sambil jejingkrakan. "Wah... sekarang mereka menyerang bagian ekor. Ular mulai menari-nari kesakitan.
Dan yang satu itu...??" Suro mendelik sambil menahan nafas. Dilihatnya seekor congcorang nekad
memasuki mulut ular itu. Jika ular katupkan mu-
lutnya pastilah tamat sang congcorang yang ma-
lang. Namun ternyata hanya sepersekian detik sa-
ja congcorang itu berada dalam mulut ular hijau.
Sebelum binatang yang sangat berbisa itu menga-
tupkan mulutnya, congcorang telah keluar kem-
bali. Ular hijau mendesis panjang, lidahnya terjulur dan tampak tercabik-cabik disana sini. Darah menetes-netes, ternyata congcorang telah melukai
bagian dalam ular berbisa tersebut. Marah ber-
campur sakit berbaur menjadi satu. Ular tersebut menggelepar sambil meliukkan kepalanya.
Dari bagian lain congcorang terus melaku-
kan penyerangan secara beruntun. Tampak jelas
binatang itu mulai terdesak. Sementara congco-
rang yang lain mulai memusatkan penyerangan
ke bagian mata. Mendapat serangan bertubi-tubi
seperti itu, tampaknya ular hijau menjadi panik.
Apalagi saat itu salah satu mata ular tersebut sudah mulai berdarah. Suro memperhatikan semua
yang terjadi dengan penuh rasa takjub. Sementa-
ra ular hijau itu akhirnya melarikan diri ke semak-semak yang berada tidak begitu jauh dari si-
tu. Belalang congcorang yang jumlahnya cukup
banyak tersebut terbang melambung tinggi ke
angkasa. Semakin lama semakin meninggi, hing-
ga akhirnya hilang dari pandangan mata.
Suro gelengkan kepala beberapa kali. Ia
memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tetapi
Si Bayang-Bayang tidak muncul juga.
"Orang itu aneh, dia yang memintaku ke
sini, tapi malah dia yang tidak mau menemuiku"
pikir Suro dalam hati.
"Kau datang, ha ha ha... Terimalah pe-
nyambutanku" sebuah suara disertai tawa tiba-tiba saja mengiang di telinga Pendekar Blo'on.
Orang ini langsung menoleh ke arah datangnya
suara. Ternyata tidak ada orang lain, kini yang
terlihat adalah sebuah pemandangan lain yang
mengancam jiwa Suro. Ketika itu terlihat batu se-
besar-besar kerbau meluncur deras ke arahnya.
"Muslihat edan apalagi ini namanya
Hiih..." Secepat kilat Pendekar Mandau Jantan melompat ke udara, selagi tubuhnya masih mengambang di udara ia lepaskan pukulan berisi te-
naga dalam tinggi ke arah batu-batu tersebut.
Wuuuk
Wuut Wuuut
Byar Byar
Batu-batu itu berantakan menjadi serpi-
han-serpihan kecil. Tetapi yang datang kemudian
lebih dari tiga buah. Suro leletkan lidah seraya la-lu lepaskan pukulan beruntun ke arah batu-batu
tersebut. Dua diantaranya dapat dihancurkan.
Tapi yang dua lagi meskipun terkena pukulan ti-
dak juga hancur. Malah sekarang batu terangkat
seakan ada kekuatan yang mengangkatnya. Batu
bergerak melayang menghantam kepala Pendekar
konyol. Pemuda ini dengan cepat berkelit ke
samping, kemudian gerakkan tangannya siap le-
paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-
sinar' Wuuesss
Sinar biru redup bersemu merah langsung
melabrak batu tersebut. Hanya sedikit lagi batu
tersentuh pukulan Suro. Secara aneh batu itu te-
rangkat lebih ke atas. Pukulan Suro menghantam
pohon besar di belakangnya. Pohon itu hancur
terbakar. Tanpa perduli lagi ia melepaskan puku-
lan susulan.
Wuuuk
tapi alangkah kagetnya pemuda ini karena pemu-
da yang menyerangnya tadi sekarang sudah tidak
berada di tempat. "Aneh, kemana perginya orang itu. Mustahil secepat itu ia dapat menghilang?
Hantukah orang tadi?" Mendadak Suro merasa
tengkuknya menjadi dingin. Selagi ia terlolong
menyaksikan segala keganjilan yang terjadi. Pada waktu itu pula puluhan ekor belalang congcorang
berterbangan dan menyerang pemuda ini tanpa
ampun.
Suro mula-mula menganggap serangan itu
adalah suatu hal yang lumrah. Sehingga dengan
seenaknya ia menepis belalang-belalang itu. Akan tetapi alangkah kagetnya pemuda ini karena belalang itu menghindar. Terbang berputar-putar, lalu kedua tangannya yang panjang menyentik.
Stak
"Aih... Keparat betul..." maki Suro saat salah satu belalang itu menjentik bagian telinganya.
Tampak jelas bagian jentikkan berubah merah.
Sementara serangan belalang semakin menghe-
bat. Suro mengerahkan segenap kemampuannya
untuk mengusir belalang-belalang tersebut. Seka-
li-kali tangannya menyambar. Terkadang kakinya
menendang, aneh sungguh aneh. Belalang itu da-
pat menghindarinya.
Sebaliknya serangan-serangan balik yang
dilakukan para congcorang itu hampir sulit di-
hindari oleh Suro. Padahal pemuda itu telah
mempergunakan jurus Kacau Balau, satu-
satunya jurus menghindar pada tingkatan yang
paling tinggi.
Selagi Suro dibuat kalang kabut oleh se-
rangan congcorang yang cukup banyak itu. Maka
tanpa diduga-duga dari arah semak-semak mun-
cul seekor ular berwarna hijau sebesar lengan
orang dewasa dengan panjang hampir satu tom-
bak. Ular itu mendesis keras ketika melihat Pen-
dekar Blo'on. Secepat terbang ia meluncur dengan mulut terbuka siap mematuk kaki Pendekar ini.
Lagi-lagi terjadi keanehan. Saat melihat kehadiran ular hijau tersebut puluhan congcorang berbalik
arah dan kini menyerbu ular tersebut.
Maka terjadilah pertempuran sengit antar
binatang. Suro terkesima melihat kejadian ini.
Mendapat keroyokan sedemikian rupa, kiranya
ular hijau tidak tinggal diam. Ia mematuk kian
kemari, kepalanya meluncur dengan ganas dan
cepat menyerang belalang-belalang yang berada di depannya. Hebatnya tidak satu pun serangan ular
itu yang mencapai sasaran. Congcorang meng-
hindar dengan gerakan yang gesit atau membalas
serangan dengan tidak diduga-duga.
"Mereka ini seperti memamerkan jurus-
jurus baru padaku. Ular ini memiliki gerakan
yang sangat cepat dan berbahaya. Tetapi para
congcorang kelihatannya lebih cerdik dan cepat
berkelit. Ini adalah sebuah pemandangan sekali-
gus pelajaran sangat berguna Eeh, lihat Kaki
depan congcorang yang panjang lakukan gerakan
menggait dan menampar ke bagian mata. Yang di-
incarnya adalah bagian-bagian terlemah ular ini.
Aih... hiya... bagus Kena, ya... pukul begitu. Wa-lah mata ular mulai berdarah." seru Suro sambil jejingkrakan. "Wah... sekarang mereka menyerang bagian ekor. Ular mulai menari-nari kesakitan.
Dan yang satu itu...??" Suro mendelik sambil menahan nafas. Dilihatnya seekor congcorang nekad
memasuki mulut ular itu. Jika ular katupkan mu-
lutnya pastilah tamat sang congcorang yang ma-
lang. Namun ternyata hanya sepersekian detik sa-
ja congcorang itu berada dalam mulut ular hijau.
Sebelum binatang yang sangat berbisa itu menga-
tupkan mulutnya, congcorang telah keluar kem-
bali. Ular hijau mendesis panjang, lidahnya terjulur dan tampak tercabik-cabik disana sini. Darah menetes-netes, ternyata congcorang telah melukai
bagian dalam ular berbisa tersebut. Marah ber-
campur sakit berbaur menjadi satu. Ular tersebut menggelepar sambil meliukkan kepalanya.
Dari bagian lain congcorang terus melaku-
kan penyerangan secara beruntun. Tampak jelas
binatang itu mulai terdesak. Sementara congco-
rang yang lain mulai memusatkan penyerangan
ke bagian mata. Mendapat serangan bertubi-tubi
seperti itu, tampaknya ular hijau menjadi panik.
Apalagi saat itu salah satu mata ular tersebut sudah mulai berdarah. Suro memperhatikan semua
yang terjadi dengan penuh rasa takjub. Sementa-
ra ular hijau itu akhirnya melarikan diri ke semak-semak yang berada tidak begitu jauh dari si-
tu. Belalang congcorang yang jumlahnya cukup
banyak tersebut terbang melambung tinggi ke
angkasa. Semakin lama semakin meninggi, hing-
ga akhirnya hilang dari pandangan mata.
Suro gelengkan kepala beberapa kali. Ia
memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tetapi
Si Bayang-Bayang tidak muncul juga.
"Orang itu aneh, dia yang memintaku ke
sini, tapi malah dia yang tidak mau menemuiku"
pikir Suro dalam hati.
"Kau datang, ha ha ha... Terimalah pe-
nyambutanku" sebuah suara disertai tawa tiba-tiba saja mengiang di telinga Pendekar Blo'on.
Orang ini langsung menoleh ke arah datangnya
suara. Ternyata tidak ada orang lain, kini yang
terlihat adalah sebuah pemandangan lain yang
mengancam jiwa Suro. Ketika itu terlihat batu se-
besar-besar kerbau meluncur deras ke arahnya.
"Muslihat edan apalagi ini namanya
Hiih..." Secepat kilat Pendekar Mandau Jantan melompat ke udara, selagi tubuhnya masih mengambang di udara ia lepaskan pukulan berisi te-
naga dalam tinggi ke arah batu-batu tersebut.
Wuuuk
Wuut Wuuut
Byar Byar
Batu-batu itu berantakan menjadi serpi-
han-serpihan kecil. Tetapi yang datang kemudian
lebih dari tiga buah. Suro leletkan lidah seraya la-lu lepaskan pukulan beruntun ke arah batu-batu
tersebut. Dua diantaranya dapat dihancurkan.
Tapi yang dua lagi meskipun terkena pukulan ti-
dak juga hancur. Malah sekarang batu terangkat
seakan ada kekuatan yang mengangkatnya. Batu
bergerak melayang menghantam kepala Pendekar
konyol. Pemuda ini dengan cepat berkelit ke
samping, kemudian gerakkan tangannya siap le-
paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-
sinar' Wuuesss
Sinar biru redup bersemu merah langsung
melabrak batu tersebut. Hanya sedikit lagi batu
tersentuh pukulan Suro. Secara aneh batu itu te-
rangkat lebih ke atas. Pukulan Suro menghantam
pohon besar di belakangnya. Pohon itu hancur
terbakar. Tanpa perduli lagi ia melepaskan puku-
lan susulan.
Wuuuk
Buuum
Pyaar
Batu-batu besar itupun hancur secara be-
runtun. Suro cepat tarik kedua tangannya sambil
menghela nafas.
"Pukulan yang kau miliki boleh juga. Tetapi itu belum cukup untuk menghadapi muslihat ke-jahatan dunia yang luas ini" Lagi-lagi terdengar sebuah suara mengiang di telinganya.
"Kakek Bayang Bayang? Apakah kau akan
terus berbicara seperti setan gentayangan. Eng-
kau menahanku dengan suatu maksud yang ti-
dak kumengerti, engkau menyuruhku agar men-
jumpaimu dengan muslihat. Kau katakan hendak
menyampaikan sebuah rahasia besar Pabila aku
datang memenuhi panggilanmu, kau hadapkan
aku dengan teka tekimu yang sulit kumengerti
Aku heran dengan semua yang kau perlihatkan
padaku, atau apakah karena memang diriku ini
yang bodoh?" kata Suro sambil terbengong-
bengong.
"Suro, kau memang bodoh. Jika tidak ma-
na mungkin Ratu Leak berhasil memperdayaimu.
Selain itu sifatmu juga agak mata keranjang, itu sifat buruk seorang laki-laki Yang lebih penting dari semua itu telah kuperlihatkan padamu sifat-sifat umum manusia?" kata Si Bayang Bayang.
Tidak lama kemudian tanpa disadari oleh Pende-
kar Blo'on di belakangnya muncul seorang kakek
tua berpakaian hitam. Tubuh kurus kering, tu-
lang belulangnya bertonjolan. Sedangkan tatapan
matanya tajam menusuk. Adalah sebuah kejutan
jika orang seperti Pendekar Blo'on yang memiliki kesaktian dan indera pendengaran tajam tidak
dapat mengetahui kehadiran orang ini.
"Berbaliklah kau Tidak sepantasnya me-
munggungi orang tua bangka sepertiku"
"Eeh..." Cepat sekali Suro membalikkan badannya. Ternyata di belakangnya tampak seorang kakek tua renta bertubuh kurus kering ba-
gaikan hanya tinggal kulit pembalut tulang saja.
Tatapan mata kakek ini tampak mencorong tajam.
"Aku kembali ingin bertanya, sifat-sifat manusia mana yang telah kau perlihatkan padaku wahai
kakek kurus?" tanya Pendekar Blo'on setelah merasa yakin betul bahwa yang datang adalah Si
Bayang-Bayang alias Tangan Biru.
"Bicara dengan kedua gurumu kau boleh
mencla-mencle (bercanda). Tetapi dengan aku kau
jangan sekali-kali bercanda. Salah-salah aku bisa membunuhmu" dengus laki-laki renta di depan Suro. "Apakah aku harus menghormat padamu, kakek kurus Lalu bicara sambil tundukkan kepala?" sahut Suro sambil garuk-garuk kepala. Bibirnya tampak menyunggingkan senyum. Rupanya
Si Tangan Biru memang tidak mau diajak bercan-
da. Tiba-tiba ia tunjukkan salah satu kehebatan
yang dimilikinya. Si kakek gerakkan kepalanya
perlahan saja. Mendadak Suro merasa ada se-
buah kekuatan yang tidak terlihat telah membetot bibir dan kedua matanya. Pemuda ini tersungkur ke depan.
Bruuk
"Waduh..."
Sambil mengerang kesakitan Pendekar
Blo'on segera bangkit. Baru saja berdiri sebuah tendangan keras menghantam dadanya. Untung
pemuda itu cepat menghindar.
Wuuut
Semula Suro merasa dapat menghindari
tendangan Si Tangan Biru. Tetapi pada kenya-
taannya pinggang pemuda itu masih kena dihan-
tam kaki lawan. Untuk kedua kalinya Pendekar
Blo'on jatuh tersungkur. Dalam hati ia bertanya-
tanya. Sungguh kakek tua yang ujudnya hanya
bagai bayang-bayang ini mempunyai berbagai
keanehan. Ia tidak tahu seberapa tinggi kesaktian yang dimilikinya. Satu hal yang mengherankan-nya, mengapa ia masih kena dihajar lawan. Pa-
dahal pemuda itu telah berusaha mengelakkan-
nya sedapat yang ia mampu.
"Suro Blondo" Tangan Biru tiba-tiba saja menghentikan gerakan tubuhnya sekaligus berseru. "Sekarang kau harus menyerangku dengan
mempergunakan seluruh jurus-jurus silat yang
kau miliki" perintah si kakek.
"Mengapa harus menyerangmu? Sedang-
kan engkau adalah orang yang telah menolongku.
Mana aku berani, sedangkan di antara kita tidak
ada persoalan apa-apa" jawab si pemuda.
"Kau berani membantah perintahku? Pa-
dahal gurumu sudah menyetujui hal ini?"
Suro melengak kaget. Jelas ia tidak percaya
bahwa gurunya membenarkan penyerangan ter-
hadap orang yang telah memberikan pertolongan
padanya. Kalau bukan gurunya yang gila, tentu
kakek yang berada di depannya inilah yang telah
sinting.
"Bagaimana aku dapat melakukannya?
Dunia akan mentertawaiku bila aku sampai me-
nyerangmu. Aku bisa dianggap sebagai orang gila
yang tidak tahu budi" bantah Pendekar Blo'on sambil bersungut-sungut.
"Biarkan mereka menganggapmu sebagai
orang gila yang tidak tahu membalas guna. Perin-
tahku padamu adalah untuk menyerangku sece-
patnya jika kau benar-benar manusia yang tahu
berterima kasih" dengus Si Bayang-Bayang.
Penegasan si kakek itu jelas-jelas membuat
Suro Blondo tercengang-cengang. Bagaimana se-
buah penyerangan dianggap sebagai rasa terima
kasih Suro mulai berpikir mungkin saja kakek
renta itu memang orang sinting yang lebih gila
dari gurunya Penghulu Siluman Kera Putih.
"Rasanya daripada dia murka padaku. Ku-
rasa tidak ada salahnya jika aku layani permin-
taannya. Tetapi..." Suro ragu-ragu sejenak. Melihat tubuh kurus kering kerontang itu ia jadi tidak tega. "Aku takut pukulanku membuat tulang belulangnya remuk. Mana kecil-kecil begitu?" batin Suro. Kakek renta yang berdiri di depannya tersenyum penuh kearifan. Seakan ia mengetahui
apa yang ada di dalam benak pemuda itu.
"Sesuatu yang kelihatannya lemah, jangan
kau pandang rendah, Pendekar Bodoh Pandan-
gan matamu terkadang menipu, cepat kau laku-
kan?" desak Si Bayang-Bayang membuat Pende-
kar Blo'on semakin tidak mengerti.
"Orang tua, kau terlalu memaksaku Jika
terjadi apa-apa denganmu janganlah kau salah-
kan aku" kata Suro, suaranya pelan namun jelas.
"Ha ha ha... Perlu kau ingat adalah dua
pemuda yang menjumpaimu pertama tadi. Aku
telah memberikan dua perlambang kepadamu.
Yang pertama keangkuhan dan kebijaksanaan.
Dan kau juga harus ingat tentang ular dan con-
gcorang"
Pendekar Blo'on merasa semakin tidak
mengerti saja dengan maksud kata-kata Si Tan-
gan Biru. Walau pun begitu ia tetap anggukkan
kepala. "Hati-hati orang tua?" kata pemuda itu seakan seperti ucapan seorang guru kepada muridnya. Yang diajak bicara hanya tersenyum. Suro mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan penyerangan. Tetapi kelihatannya ia begitu
sungkan untuk menghadapi kakek tua renta ini.
Sehingga untuk yang kesekian kalinya Si Tangan
Biru memperingatkan.
"Serang aku dengan segenap kemampuan
yang kau miliki"
"Baik Hia..."
Pendekar Blo'on tiba-tiba membentak garang, sedangkan tubuhnya langsung melesat ke
arah kakek renta tersebut. Melihat serangan yang cepat itu Si Bayang Bayang geser kakinya, kemudian kaki kanan diangkatnya tinggi-tinggi. Dilihat sepintas lalu kakek tua itu seperti sedang melakukan gerakan yang sangat mirip dengan congcorang.
TIGA
Masing-masing jemari tangannya tersusun
lancip. Lalu dengan cepat tangan-tangannya
menggait ke depan. Suro terperangah, jika Si
Tangan biru ini mau mencelakainya, tentu sejak
tadi ia sudah terpelanting.
"Huh, seranganmu lembek seperti serangan
banci Hayo kerahkan jurus-jurusmu yang paling
hebat" perintah Si Tangan Biru masih tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"Serangan yang kulakukan tadi mengapa
tidak bisa menyentuh tubuhnya? Aku sendiri
hampir dibuat konyol jika ia mau Huh... aku ti-
dak boleh main-main. Mulai sekarang harus ku-
kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'" batin Suro di hati. Berpikir sampai ke situ sekejap kemudian pemuda ini mulai membangun serangan
kembali.
Zeeb Jeb Jeb
Wuuk Wuuk
"Hiyaaa..."
Sekonyong-konyong Suro melangkah dengan gerakan seperti tersaruk-saruk. Sedangkan
tangannya tidak henti menggaruk sana sini sam-
bil menjambret ke kanan atau ke kiri. Tidak ja-
rang tangan itu menghantam ke depan. Serangan
yang dilakukan Suro sangat cepat luar biasa.
Namun hingga sejauh itu Si Tangan Biru dengan
mudah selalu dapat menghindar, Pendekar Blo'on
benar-benar dibuat penasaran berat. Ia terus me-
rubah taktik serangan dari jurus yang satu ke jurus yang lainnya. Sampai pada akhirnya Suro
Blondo mengerahkan jurus terdahsyat 'Neraka
Pembasmi Iblis'.
Kali ini Si Bayang Bayang agak terkesiap.
Lalu terdengar seruannya. "Pendekar Bodoh Serangan yang ini kulihat baru ada bobotnya. Hayo, serang, pukul Dan begini caranya..." Si Tangan Biru lalu sentakkan tangan ke depan dengan jari
masih merapat satu sama lain.
Melihat serangan balik yang tidak disang-
ka-sangka ini, Pendekar Blo'on segera bersalto ke belakang. Walau pun pemuda ini sudah melakukan gerakan yang dianggapnya sangat cepat seka-
li. Akan tetapi ia masih merasa ada angin dingin mendesir menghantam bagian perutnya.
Cuus
Jluugkh...
Walaupun dapat menjejakkan kedua ka-
kinya, namun tubuhnya agak goyah. Pemuda itu
terkesiap, ia terperangah ketika melihat ke bagian perutnya. Ternyata bajunya ada yang bolong di
dua tempat. Lubang itu seakan-akan terkena api.
Padahal jika lebih diteliti, sebenarnya lubang-
lubang itu tercipta akibat hantaman lima jari Si Tangan Biru yang disatukan.
"Dia menyerangku dengan jurus Congco-
rang Jika kakek kurus kering ini mau tentu isi
perut dan isi dadaku sudah berbusaian Hiih...
mengerikan sekali" pikir Pendekar Blo'on. Tanpa sadar tiba-tiba saja pemuda ini melompat mundur. "Sudah kau lihat, Suro Tidak satupun seranganmu yang ganas itu dapat menyentuhku
Kenyataan pahit yang kau hadapi ini bukan be-
rarti gurumu salah menurunkan jurus-jurus an-
dalan Apa yang kau perlihatkan padaku, semua-
nya sudah sangat bagus, namun semua itu tidak
cukup untuk menghadapi Ratu Leak dan salah
satu sahabat lamaku Iblis Terlaknat Hantu Ma-
lam" ujar Si Tangan Biru ketus.
"Ia mengatakan Iblis Terlaknat sahabatnya,
tetapi mengapa tampaknya dia seperti menyim-
pan permusuhan?" kata Suro dalam hati. "Yang terpenting bagaimana caranya menghadapi Ratu
Leak. Manusia jahanam yang satu itu nyaris
membuat aku celaka dan pula berniat membunuh
guruku"
"Ada yang kau pikirkan, Suro?" tanya Si Tangan Biru. Seraya duduk di atas sehelai rumput hijau. Lagi-lagi Suro dibuat tercengang. Kare-na rumput yang diduduki si kakek sama sekali ti-
dak patah apalagi tumbang. Seakan tubuh Tan-
gan Biru tidak mempunyai bobot sama sekali.
"Beberapa hal yang ingin kutanyakan pa-
damu orang tua mulia?" ujar Suro, seraya menggaruk-garuk kepalanya. "Ratu Leak telah membuat kesusahan bagi berbagai pihak. Kutuknya
terhadap penduduk negeri Sange hingga saat ini
belum berakhir. Menurutmu apakah aku tidak
sanggup menghadapi perempuan itu?"
Si Tangan biru manusia yang ujudnya
hanya seperti bayang-bayang ini tersenyum.
"Ratu Leak mustahil dapat dihadapi oleh
tokoh sakti manapun. Gurumu Penghulu Siluman
Kera Putih aku jamin tidak dapat mengalahkan-
nya jika hanya mengandalkan segala kesaktian
yang dimilikinya. Entah jika kakekmu Malaikat
Berambut Api. Ratu Leak sebenarnya bukan ma-
nusia super tanpa kelemahan. Semua kesaktian
yang dimiliki manusia mempunyai titik kelema-
hannya. Tetapi untuk menjatuhkan Ratu Leak
agar tidak menimbulkan banyak korban. Kita ha-
rus mengetahui di mana titik kelemahannya. Apa-
lagi mengingat Batu Lahat Bakutuk hingga saat
ini masih berada di tangannya. Dia bisa berbuat
apa saja berkat bantuan benda terlaknat itu"
"Batu Lahat Bakutuk kudengar milik Da-
tuk Nan Gadang Paluih, apakah benar begitu
keadaan yang sebenarnya?" tanya Suro serius.
"Ya... Di tanah Jawa ini tidak ada batu se-
perti itu. Batu Lahat Bakutuk memang milik Da-
tuk Nan Gadang Paluih. Saat ini pun firasatku
mengatakan batu tersebut telah menunjukkan
kharismanya." jelas Si Tangan Biru.
"Lalu siapa yang dapat menghentikan Ratu
Leak?" "Yang dapat menghentikannya tentu kau.
Tetapi kau harus menguasai jurus-jurus Congco-
rang terlebih dahulu"
"Hal itu akan memakan waktu yang lama?"
tegas Pendekar Blo'on seakan tidak sabar lagi.
Si Bayang-Bayang gelengkan kepalanya te-
gas. "Tidak, jika kau berlatih serius mungkin hanya beberapa pekan saja kau sudah dapat
menguasainya" jelas Si Tangan Biru.
"Lalu jika aku telah dapat menguasai ju-
rus-jurus itu. Apakah berarti aku juga harus
menghadapi Iblis Terlaknat Hantu Malam?"
"Ha ha ha..." Si Tangan Biru tertawa membahak, namun kemudian katubkan bibirnya yang
tertutup kumis tipis berwarna putih. "Tampangmu bodoh, ternyata otakmu cukup cerdik juga.
Memang di suatu saat kelak kau mau tidak mau,
suka tidak suka akan bertemu dengan Iblis Ter-
laknat Hantu Malam."
"Apakah dia musuhmu?" tanya Suro den-
gan tatapan penuh selidik.
"Iblis Terlaknat Hantu Malam dulunya ada-
lah sahabatku Tetapi beberapa tahun belakangan
ini ia bersekutu dengan Manusia Laba-Laba" Si Tangan Biru hentikan ucapannya sejenak. Wajahnya mendadak berubah murung dan sungguh
tidak sedap dipandang. "Yang memutuskan per-sahabatan kami bukan saja karena ia pengen se-
kutu dengan Manusia Laba-Laba, lebih kurang
ajar lagi ia bermaksud mengambil muridku Bunga
Bidadari menjadi isterinya"
"Kalau kakek tidak suka Iblis Terlaknat
menjadi menantu berarti Iblis Terlaknat bukan
manusia baik-baik"
"Kau betul. Selain itu ia juga sudah tua,
umurnya bahkan lebih tua dariku" jelas Si Tangan biru. Kening Suro berkerut dalam, usia kakek di depannya konon hampir tiga ratus lima puluh
tahun. Berarti umur Iblis Terlaknat mungkin
mencapai empat ratus tahun.
"Mengapa kakek tidak mau menghadapinya
langsung? Bukankah kakek paling tidak sudah
mengetahui sampai dimana kehebatan orang itu?"
desak Suro ingin tahu.
"Pendekar Bodoh, aku suka lagak bicaramu
yang ceplas ceplos. Apa yang kau katakan itu
memang benar. Tetapi ada satu rahasia lagi yang
belum bisa kukatakan padamu hingga saat ini.
Yang harus kau ingat, mulai besok kau harus
mempelajari jurus-jurus Congcorang sebagai per-
siapan guna menghadapi Ratu Leak" tegas Si Tangan Biru.
"Huh, siapa sudi menjadi muridmu Jika
aku ingin tambah ilmu tambah pengalaman, ten-
tu aku harus minta pendapat kakekku Malaikat
Berambut Api" dengus si pemuda.
"Bocah goblok Apa kau anggap kakekmu
yang banyak pacar dimasa mudanya itu adalah
satu-satunya manusia yang paling sakti di dunia
ini?" cibir Si Bayang Bayang.
Jika bukan tua renta ini yang bicara begi-
tu, seandainya saja Suro belum tahu kehebatan
yang dimiliki oleh Si Tangan Biru. Tentu kakek
tua ini sudah di dampratnya.
"Sekali lagi kakek bicara begitu aku akan
minggat dari sini" ancam Suro Blondo.
"Hemm, ancaman bagiku tidak berguna.
Kau mau belajar denganku, bukan berarti kau
harus mengangkatku jadi gurumu Aku bukan
gurumu, aku hanya orang yang mau mendidikmu
menjadi manusia lebih berguna dan punya ke-
pandaian lebih berbobot Ackh... sudahlah Nanti sore kau harus mempelajari jurus-jurus Congcorang yang telah kau ketahui kehebatannya Seka-
rang kembalilah ke pondok Jika kau membutuh-
kan sesuatu, muridku Bunga Seloka pasti mau
menyediakannya"
Suro garuk-garuk kepala sambil nyengir
ketika diingatkan tentang Bunga Seloka. Si cantik berkulit putih bermata sipit.
"Kurasa aku memang betah tinggal di sini,
apalagi mengingat murid-muridmu cantik-cantik,
kek? Ha ha ha Kurasa muridmu yang bernama
Bunga Bidadari memiliki wajah secantik bidada-
ri"
"Jangan kau berani kurang ajar pada me-
reka jika tidak ingin kubuat mampus" ancam Si Tangan Biru. Suro menanggapi ucapan Si Bayang
Bayang dengan tawa terkekeh-kekeh.
"Jangan khawatir, kek. Aku mana berani
bertindak kurang ajar, apalagi berbuat macam-
macam. Sedangkan satu macam saja aku tidak
berani, terkecuali mereka sendiri yang mau, tentu saja aku tidak punya kuasa menolak rejeki bukan?" sahut Pendekar Blo'on. Seraya tanpa
menghiraukan Si Tangan Biru yang melotot pa-
danya segera berlalu meninggalkan tempat per-
temuan.
***
Manusia Topeng dan Mata Iblis duduk
mencangkung menunggu kedatangan Penghulu
Siluman Kera Putih yang telah sama kita ketahui
pergi ke Lembah Nirwana (dalam episode Perintah
Dari Alam Gaib). Setelah di tunggu-tunggu sekitar lama, ternyata Barata Surya tidak muncul juga.
Dalam pada itu tiba-tiba saja Manusia Topeng
melihat sebuah anak panah meluncur deras ke
bagian punggung Mata Iblis yang duduk di de-
pannya. Laksana kilat Manusia Topeng mendo-
rong Mata Iblis, hingga membuat kakek bodoh itu
terguling-guling sambil memaki. Manusia Topeng
tidak perduli. Tangan kanan digerakkan ke atas
dan.... "Haaap"
Teeep
Anak panah tersebut kena disambar oleh
Manusia Topeng. Mata Iblis yang hampir memaki
lagi terpaksa katupkan bibirnya ketika melihat
anak panah berada di tangan Manusia Topeng.
"Pembokong tengik Siapa setannya yang
berani macam-macam pada kita?" dengus Mata
Iblis. Seraya langsung memandang ke arah da-
tangnya anak panah tadi. Di saat itu ia melihat
semak belukar di belakang mereka bergerak-
gerak. Tanpa menunggu lagi, Mata Iblis langsung
kedipkan matanya. Dua larik sinar merah lang-
sung meluncur menghantam semak-semak yang
bergoyang.
Buum Buum
Tidak ada reaksi apa-apa. Sepi, Mata Iblis
ternyata tidak puas. Sekali ia berkelebat, di lain waktu ia telah berada di semak-semak yang berantakan terhantam sinar matanya. Mata Iblis
langsung melakukan penelitian, setelah berputar-
putar di tempat itu sejauh lima batang tombak.
Ternyata ia tidak melihat siapapun di sana.
"Sial Pengecut itu melarikan diri" gerutu si kakek buta. Namun tiba-tiba saja ia kerutkan keningnya. Jika seseorang yang membokongnya da-
pat pergi secepat itu. Tentu ia bukan manusia
sembarangan? Karena tidak menemukan apa
yang dicarinya. Sambil bersungut-sungut ia kem-
bali menemui Manusia Topeng. Ternyata kakek
itu sambil uncang-uncang kaki sudah membolak-
balik pesan yang terselip di bagian ujung anak
panah. "Apa yang kau baca, sahabatku?" tanya Mata Iblis seakan matanya yang buta itu awas
seperti mata manusia normal.
"Kau dengarlah pesan gila ini?" ujar Manusia Topeng. Dengan teliti kakek yang tidak pernah menanggalkan topengnya ini mulai membaca
dengan suara cukup keras.
Para tua bangka gila
Kalian berdua adalah manusia-manusia
busuk yang selalu berkedok dengan topeng kebaikan. Tidak dinyana ternyata kalian adalah kaki tangan Ratu Leak Kalian manusia rendah, aku menantang kalian untuk bertarung sampai di antara kita ada yang mampus Atau kalian adalah manusia pengecut yang tidak punya nyali?
Tertanda Malaikat Berambut Api
Manusia Topeng terdiam untuk sesaat la-
manya. Wajah di balik topeng itu tampak mene-
gang, kedua bibirnya mengatup rapat. Mata Iblis
yang berdiri di depannya dapat merasakan hawa
amarah dalam diri sahabat barunya itu.
"Apa bunyi pesan itu, sahabatku??" tanya Mata Iblis tidak sabar.
"Malaikat Berambut Api" Manusia Topeng mendesis. Kata-katanya seakan ditujukan pada
dirinya sendiri. "Malaikat Pencatat ada menyebut tentang orang yang satu ini. Dia tidak lain adalah gurunya Pendekar Blo'on. Mengapa ia begitu berani melempar fitnah keji pada kita? Padahal di-
antara kita dan dia tidak pernah terjadi silang
sengketa apapun?"
"Sahabat, kau belum mengatakan pesan
apa yang diberikannya pada kita"
"Dia menuduh kita telah bersekutu dengan
Ratu Leak. Dia juga menantang kita bertarung se-
cara jantan. Huh... apa pendapatmu?" tanya Manusia Topeng. Mata Iblis rasanya memang pernah
mendengar nama besar tokoh yang tinggal di Pu-
lau Seribu Satu Malam itu. Konon selain sakti ia terkenal arif, tetapi mengapa sekarang malah berani melakukan tuduhan membabi buta? Musta-
hil tokoh yang memiliki pengalaman luas mau
bertindak segegabah itu.
"Kita harus menyelidik dulu. Jangan-
jangan bukan dia yang membuat pesan itu?" ujar Mata Iblis.
"Weh apalagi yang harus diragukan? Bisa
jadi ia telah termakan hasutan dari orang lain.
Bukankah muridnya hampir celaka di tangan pe-
rempuan bangsat itu?"
"Sahabatku Manusia Topeng Aku merasa
sekarang sedang terjadi adu domba di dunia per-
silatan. Jangan-jangan Ratu Leak sedang menga-
tur siasat untuk memecah belah golongan putih
agar dengan mudah ia dapat berbuat apa saja
terhadap orang orang yang tidak disenangi. Huk
huk huk... Malangnya nasibku jika tidak sempat
membalas dendam lama. Untuk lebih jelasnya
masalah apa yang terjadi antara Mata Iblis den-
gan Ratu Leak (dalam episode Perintah Dari Alam
Gaib). Manusia Topeng anggukkan kepala. "Ucapanmu ada benarnya juga. Baiklah, sekarang kita
harus menyelidik. Jika betul ucapanmu maka Ra-
tu Leak tetap menjadi incaran pertama kita. Tapi jika ternyata Malaikat Berambut Api yang menantang dan memfitnahku, aku akan menempurnya
sampai salah seorang diantara kita ada yang ma-
ti" dengus Manusia Topeng.
"Baiknya sekarang kita berangkat, kurasa
ia menunggu kita tidak jauh dari sini" ajak Mata Iblis sudah tidak sabar.
Manusia Topeng langsung menyetujui,
akan tetapi ia hentikan langkah lagi ketika teringat Penghulu Siluman Kera Putih yang pergi ke
Lembah Nirwana belum kembali.
"Tunggu" sera Manusia Topeng.
"Ada apa lagi?" tanya Mata Iblis, seraya langsung menghentikan langkahnya.
"Barata Surya belum lagi muncul, mengapa
kita meninggalkannya?"
"Huh, Barata Surya juga gurunya Pendekar
Blo'on. Jika kita tunjukkan surat ini padanya dan mengatakan niat kita, bukan mustahil dia memi-hak pada Malaikat Berambut Api. Aku tidak suka
hal ini terjadi, lebih baik secepatnya kita berangkat. Jangan ditunda-tunda lagi"
"Baiklah, jika kau sudah berkata begitu,
aku setuju saja, ha ha ha..." sambut Manusia Topeng sambil tertawa-tawa.
EMPAT
Belum lama Manusia Topeng dan Mata Ib-
lis meninggalkan tepian Lembah Nirwana itu.
Muncul seorang kakek tua berpakaian merah be-
rambut merah. Di sebelahnya tampak seorang
gadis cantik luar biasa berpakaian putih beram-
but di sanggul. Mereka berhenti tepat di mana
Manusia Topeng dan Mata Iblis melepas lelah.
"Bunga Bidadari, sekarang sudah sampai
di Lembah Nirwana. Aku cuma bisa mengantarmu
di sini saja. Sampaikan pesan salamku pada gu-
rumu" kata kakek rambut merah yang tiada lain adalah Malaikat Berambut Api.
Si cantik angkat wajahnya, matanya yang
indah berbulu lentik pandangi kakek rambut me-
rah tersebut "Mengapa? Sebaiknya kakek pulang bersamaku untuk menjumpai guru Si Tangan Bi-ru. Ia pasti merasa senang bertemu denganmu.
Lagipula muridmu berada di sana, apakah kakek
tidak ingin melihatnya?" ujar si gadis.
"Jika keadaan tidak mendesak sekali, se-
benarnya aku ingin melihat bagaimana perkem-
bangan dan keadaan murid cucuku. Tetapi aku
harus mencari titik terang siapa sebenarnya Ratu Leak sehingga mati-matian berusaha mencelakai
kami melalui tangan cucuku Suro Blondo"
"Kalau pun begitu bukankah lebih baik ka-
kek tunggu dulu kawan kakek yang satunya lagi.
Kukira ia masih berada di lembah"
"Kawan yang mana? Orang tua penuh bulu
yang seperti siluman monyet itukah yang kau
maksudkan?" tanya Dewana.
"Ya... orang itu"
"Ha ha ha... Tingkahnya membuat aku
terkadang muak padanya. Ah, sudahlah aku tidak
bisa menunggu lagi karena waktuku sangat sem-
pit. Aku titip senjata milik cucuku ini. Jika kau sampai di Lembah itu, sampaikan senjata ini pa-da Suro" pesan kakek tua tersebut. Seraya menyerahkan Mandau berikut rangkanya pada Bun-
ga Bidadari. Gadis itu menerimanya dan langsung
menyelipkan senjata itu di belakang pinggangnya.
"Baiklah, sekarang aku pergi dulu" kata Malaikat Berambut Api. Belum lagi Bunga Bidadari sempat menanggapi. Tiba-tiba saja si kakek
memungut sesuatu tidak jauh dari tempat ia ber-
diri. Orang tua ini tanpa menghiraukan Bunga
langsung membaca lipatan kulit yang ternyata be-
risi pesan tersebut. Wajah Malaikat Berambut Api mendadak saja berubah tegang.
"Celaka Ini benar-benar fitnah yang keji
Hoh... mereka harus diberi penjelasan jika tidak ingin terjadi bencana besar" desisnya. Seraya kemudian meninggalkan Bunga Bidadari yang
terbengong-bengong tidak mengerti.
"Apa yang telah terjadi?" batin Bunga. "Aku tidak sempat bertanya apa isi pesan yang ditemu-kannya secara tidak sengaja itu"
Selagi Bunga Bidadari sedang dilanda kebimbangan itu. Tiba-tiba pula muncul seorang
kakek tua berpakaian putih berambut serta ber-
cambang dan jenggot berwarna putih.
"Sudah kucari kemana-mana, aku tidak
menemukan mereka-mereka itu Tadinya Manusia
Topeng menunggu di sini, kok sekarang pergi en-
tah kemana" Barata Surya mengomel sendiri. Tetapi kemudian wajahnya tampak menjadi cerah
ketika dilihatnya ada seorang gadis yang tidak ia kenal memperhatikan dirinya. Barata Surya datang menghampiri.
"Bocah ayu, apakah kau melihat ada seo-
rang kakek berambut merah disini?" tanya Barata Surya. "Kakek siapa?"
"Aku Penghulu Siluman, anu... gurunya
Pendekar Blo'on..." jelas si kakek sambil tersenyum-senyum.
"Oh begitu. Memang aku tadi bersama ka-
kek Dewana, tetapi sekarang ia telah pergi. Tam-
paknya ia sangat tergesa-gesa setelah menemu-
kan sebuah pesan yang aku tidak tahu apa bu-
nyinya" kata Bunga Bidadari.
"Hmm begitu, ya...?" Barata Surya tampak berpikir-pikir. "Kurasa ada sesuatu yang sangat penting. Aku pun tidak mungkin berdiam diri.
Bocah ayu terima kasih atas keteranganmu, sete-
lah mendengar penjelasanmu aku jadi mengerti
bahwa kau pasti muridnya Si Tangan Biru Jika
kau kembali ke Lembah sampaikan salamku pada
gurumu dan tolong kau awasi muridku yang rada-rada miring itu" Setelah berkata begitu Barata Surya langsung berkelebat pergi meninggalkan
Bunga Bidadari. Rupanya Barata Surya merasa-
kan adanya suatu firasat yang tidak baik. Sehing-ga ia cepat menyusul kakek Dewana.
***
Gadis berkerudung putih itu tokh akhirnya
merasa kelelahan setelah mencari kian kemari.
Kini ia duduk di atas pohon batu berdaun rin-
dang. Untuk diketahui sampai saat itu seluruh
daerah Sange masih belum terbebas dari penga-
ruh kutukan Ratu Leak.
Sudah sekian lama ia mencari-cari Pende-
kar Blo'on, tetapi hingga sekarang ia tidak tahu bagaimana dan di mana pemuda itu berada. Apakah Suro masih ditawan oleh Ratu Leak? Cela-
kanya Ratu Leak sendiri sangat sulit ditemukan-
nya. "Rasanya daripada Suro yang celaka, masih lebih baik aku saja. Ini semua gara-gara aku"
batin Dewi Kerudung Putih seakan menyesali diri.
Lalu ia termenung-menung seakan sedang beru-
saha memecahkan masalah yang tengah dihada-
pinya. Rasanya memang sulit untuk melacak di
mana Suro atau Ratu Leak berada. Tiba-tiba sa-
ja.... Krosak
"Eeh..." Dewi Kerudung Putih tersentak kaget. Reflek ia memandang ke arah suara mencurigakan tadi. Dari tempat ia duduk memang
agak leluasa untuk memantau keadaan di ba-
wahnya. Ternyata yang datang di tempat itu tidak lain adalah seorang kakek tua berambut merah.
Ia sendiri memang belum pernah melihat atau
bertemu dengan orang ini. Tetapi melihat caranya berlari tadi, pastilah ia memiliki kepandaian tinggi.
Belum begitu lama kakek rambut merah
berada di situ. Tiba-tiba saja dari arah yang sama muncul dua orang laki-laki, yang satu bertubuh
pendek memakai topeng. Dewi mengenal kakek
ini, sedangkan yang satunya lagi yang berbadan
tegap tinggi berkulit hitam dan buta, si gadis sa-ma sekali tidak mengenalnya. Begitu mereka sal-
ing berhadapan, kakek yang dikenalnya sebagai
Manusia Topeng langsung mendamprat. Namun
belum sempat ia bicara, Mata Iblis sudah menda-
hului. "Kau tinggalkan pesan pada kami Aku tidak mengerti mengapa manusia sepertimu begitu
tega menuduh kami telah bersekutu dengan Ratu
Leak?" dengus si kakek tampak tidak senang.
"Hei, kau orang tua buta. Apa maksud bi-
caramu?" tanya kakek rambut merah sinis.
Manusia Topeng maju selangkah. Ia mem-
perhatikan kakek di depannya seakan ingin me-
mastikan agar tidak salah bicara. Ternyata ciri-
ciri kakek ini sama seperti yang dikatakan Malaikat Pencatat.
"Bukankah kau orangnya yang bernama
Dewana?" tanya Manusia Topeng menyebut langsung nama Malaikat Berambut Api. Dari tempat
persembunyiannya, Dewi melihat betapa kakek
rambut merah seakan kurang menanggapi, sea-
kan orang merasa asing dengan nama itu.
"Aku Malaikat Berambut Api" sahut kakek rambut merah.
"Rambut Api atau Dewana bagi kami sama
saja. Kau mengatakan kami bersekutu dengan
Ratu Leak, padahal kau mungkin mengetahui
bahwa kami ini adalah orang-orang dari golongan
lurus" Mata Iblis ikut bicara.
"Kenyataannya mengatakan begitu, kalian
adalah para sekutu Ratu Leak" sahut Malaikat Berambut Api sambil tersenyum mengejek.
Manusia Topeng kerutkan keningnya. Dulu
ia mendengar Dewana adalah manusia sakti dan
termasuk salah satu tokoh yang disegani dan se-
lalu menjaga ucapannya dari kata-kata yang tidak berguna. Kenyataannya sekarang mengapa ia bersikap jor-joran seperti itu?
"Bicaramu sangat keterlaluan sekali, sobat
Aku Manusia Topeng, umurku barangkali hampir
tiga kali lipat usiamu Kalaulah benar tuduhanmu itu, tolong kau tunjukkan pada kami bukti-bukti
sebagai tanda kebenaran dari semua tuduhan-
mu" kata Manusia Topeng.
"Untuk menunjukkan bukti sebenarnya
bukan sesuatu yang sulit. Tetapi apa gunanya.
Bagiku dari pada bersusah payah mengumpulkan
bukti, lebih baik menempur kalian sampai mati"
dengus kakek yang mengaku sebagai Malaikat
Berambut Api tersebut.
Jawabannya ini tentu membuat Mata Iblis
menjadi marah besar. Ia hampir saja menerjang
Malaikat Berambut Api jika tidak cepat-cepat di
cegah oleh Manusia Topeng.
"Jangan halang-halangi aku" dengus Mata Iblis. "Jangan gegabah Kau lihatlah" kata Manusia Topeng melalui ilmu mengirimkan suara.
Pyaar
Batu-batu besar itupun hancur secara be-
runtun. Suro cepat tarik kedua tangannya sambil
menghela nafas.
"Pukulan yang kau miliki boleh juga. Tetapi itu belum cukup untuk menghadapi muslihat ke-jahatan dunia yang luas ini" Lagi-lagi terdengar sebuah suara mengiang di telinganya.
"Kakek Bayang Bayang? Apakah kau akan
terus berbicara seperti setan gentayangan. Eng-
kau menahanku dengan suatu maksud yang ti-
dak kumengerti, engkau menyuruhku agar men-
jumpaimu dengan muslihat. Kau katakan hendak
menyampaikan sebuah rahasia besar Pabila aku
datang memenuhi panggilanmu, kau hadapkan
aku dengan teka tekimu yang sulit kumengerti
Aku heran dengan semua yang kau perlihatkan
padaku, atau apakah karena memang diriku ini
yang bodoh?" kata Suro sambil terbengong-
bengong.
"Suro, kau memang bodoh. Jika tidak ma-
na mungkin Ratu Leak berhasil memperdayaimu.
Selain itu sifatmu juga agak mata keranjang, itu sifat buruk seorang laki-laki Yang lebih penting dari semua itu telah kuperlihatkan padamu sifat-sifat umum manusia?" kata Si Bayang Bayang.
Tidak lama kemudian tanpa disadari oleh Pende-
kar Blo'on di belakangnya muncul seorang kakek
tua berpakaian hitam. Tubuh kurus kering, tu-
lang belulangnya bertonjolan. Sedangkan tatapan
matanya tajam menusuk. Adalah sebuah kejutan
jika orang seperti Pendekar Blo'on yang memiliki kesaktian dan indera pendengaran tajam tidak
dapat mengetahui kehadiran orang ini.
"Berbaliklah kau Tidak sepantasnya me-
munggungi orang tua bangka sepertiku"
"Eeh..." Cepat sekali Suro membalikkan badannya. Ternyata di belakangnya tampak seorang kakek tua renta bertubuh kurus kering ba-
gaikan hanya tinggal kulit pembalut tulang saja.
Tatapan mata kakek ini tampak mencorong tajam.
"Aku kembali ingin bertanya, sifat-sifat manusia mana yang telah kau perlihatkan padaku wahai
kakek kurus?" tanya Pendekar Blo'on setelah merasa yakin betul bahwa yang datang adalah Si
Bayang-Bayang alias Tangan Biru.
"Bicara dengan kedua gurumu kau boleh
mencla-mencle (bercanda). Tetapi dengan aku kau
jangan sekali-kali bercanda. Salah-salah aku bisa membunuhmu" dengus laki-laki renta di depan Suro. "Apakah aku harus menghormat padamu, kakek kurus Lalu bicara sambil tundukkan kepala?" sahut Suro sambil garuk-garuk kepala. Bibirnya tampak menyunggingkan senyum. Rupanya
Si Tangan Biru memang tidak mau diajak bercan-
da. Tiba-tiba ia tunjukkan salah satu kehebatan
yang dimilikinya. Si kakek gerakkan kepalanya
perlahan saja. Mendadak Suro merasa ada se-
buah kekuatan yang tidak terlihat telah membetot bibir dan kedua matanya. Pemuda ini tersungkur ke depan.
Bruuk
"Waduh..."
Sambil mengerang kesakitan Pendekar
Blo'on segera bangkit. Baru saja berdiri sebuah tendangan keras menghantam dadanya. Untung
pemuda itu cepat menghindar.
Wuuut
Semula Suro merasa dapat menghindari
tendangan Si Tangan Biru. Tetapi pada kenya-
taannya pinggang pemuda itu masih kena dihan-
tam kaki lawan. Untuk kedua kalinya Pendekar
Blo'on jatuh tersungkur. Dalam hati ia bertanya-
tanya. Sungguh kakek tua yang ujudnya hanya
bagai bayang-bayang ini mempunyai berbagai
keanehan. Ia tidak tahu seberapa tinggi kesaktian yang dimilikinya. Satu hal yang mengherankan-nya, mengapa ia masih kena dihajar lawan. Pa-
dahal pemuda itu telah berusaha mengelakkan-
nya sedapat yang ia mampu.
"Suro Blondo" Tangan Biru tiba-tiba saja menghentikan gerakan tubuhnya sekaligus berseru. "Sekarang kau harus menyerangku dengan
mempergunakan seluruh jurus-jurus silat yang
kau miliki" perintah si kakek.
"Mengapa harus menyerangmu? Sedang-
kan engkau adalah orang yang telah menolongku.
Mana aku berani, sedangkan di antara kita tidak
ada persoalan apa-apa" jawab si pemuda.
"Kau berani membantah perintahku? Pa-
dahal gurumu sudah menyetujui hal ini?"
Suro melengak kaget. Jelas ia tidak percaya
bahwa gurunya membenarkan penyerangan ter-
hadap orang yang telah memberikan pertolongan
padanya. Kalau bukan gurunya yang gila, tentu
kakek yang berada di depannya inilah yang telah
sinting.
"Bagaimana aku dapat melakukannya?
Dunia akan mentertawaiku bila aku sampai me-
nyerangmu. Aku bisa dianggap sebagai orang gila
yang tidak tahu budi" bantah Pendekar Blo'on sambil bersungut-sungut.
"Biarkan mereka menganggapmu sebagai
orang gila yang tidak tahu membalas guna. Perin-
tahku padamu adalah untuk menyerangku sece-
patnya jika kau benar-benar manusia yang tahu
berterima kasih" dengus Si Bayang-Bayang.
Penegasan si kakek itu jelas-jelas membuat
Suro Blondo tercengang-cengang. Bagaimana se-
buah penyerangan dianggap sebagai rasa terima
kasih Suro mulai berpikir mungkin saja kakek
renta itu memang orang sinting yang lebih gila
dari gurunya Penghulu Siluman Kera Putih.
"Rasanya daripada dia murka padaku. Ku-
rasa tidak ada salahnya jika aku layani permin-
taannya. Tetapi..." Suro ragu-ragu sejenak. Melihat tubuh kurus kering kerontang itu ia jadi tidak tega. "Aku takut pukulanku membuat tulang belulangnya remuk. Mana kecil-kecil begitu?" batin Suro. Kakek renta yang berdiri di depannya tersenyum penuh kearifan. Seakan ia mengetahui
apa yang ada di dalam benak pemuda itu.
"Sesuatu yang kelihatannya lemah, jangan
kau pandang rendah, Pendekar Bodoh Pandan-
gan matamu terkadang menipu, cepat kau laku-
kan?" desak Si Bayang-Bayang membuat Pende-
kar Blo'on semakin tidak mengerti.
"Orang tua, kau terlalu memaksaku Jika
terjadi apa-apa denganmu janganlah kau salah-
kan aku" kata Suro, suaranya pelan namun jelas.
"Ha ha ha... Perlu kau ingat adalah dua
pemuda yang menjumpaimu pertama tadi. Aku
telah memberikan dua perlambang kepadamu.
Yang pertama keangkuhan dan kebijaksanaan.
Dan kau juga harus ingat tentang ular dan con-
gcorang"
Pendekar Blo'on merasa semakin tidak
mengerti saja dengan maksud kata-kata Si Tan-
gan Biru. Walau pun begitu ia tetap anggukkan
kepala. "Hati-hati orang tua?" kata pemuda itu seakan seperti ucapan seorang guru kepada muridnya. Yang diajak bicara hanya tersenyum. Suro mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan penyerangan. Tetapi kelihatannya ia begitu
sungkan untuk menghadapi kakek tua renta ini.
Sehingga untuk yang kesekian kalinya Si Tangan
Biru memperingatkan.
"Serang aku dengan segenap kemampuan
yang kau miliki"
"Baik Hia..."
Pendekar Blo'on tiba-tiba membentak garang, sedangkan tubuhnya langsung melesat ke
arah kakek renta tersebut. Melihat serangan yang cepat itu Si Bayang Bayang geser kakinya, kemudian kaki kanan diangkatnya tinggi-tinggi. Dilihat sepintas lalu kakek tua itu seperti sedang melakukan gerakan yang sangat mirip dengan congcorang.
TIGA
Masing-masing jemari tangannya tersusun
lancip. Lalu dengan cepat tangan-tangannya
menggait ke depan. Suro terperangah, jika Si
Tangan biru ini mau mencelakainya, tentu sejak
tadi ia sudah terpelanting.
"Huh, seranganmu lembek seperti serangan
banci Hayo kerahkan jurus-jurusmu yang paling
hebat" perintah Si Tangan Biru masih tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"Serangan yang kulakukan tadi mengapa
tidak bisa menyentuh tubuhnya? Aku sendiri
hampir dibuat konyol jika ia mau Huh... aku ti-
dak boleh main-main. Mulai sekarang harus ku-
kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'" batin Suro di hati. Berpikir sampai ke situ sekejap kemudian pemuda ini mulai membangun serangan
kembali.
Zeeb Jeb Jeb
Wuuk Wuuk
"Hiyaaa..."
Sekonyong-konyong Suro melangkah dengan gerakan seperti tersaruk-saruk. Sedangkan
tangannya tidak henti menggaruk sana sini sam-
bil menjambret ke kanan atau ke kiri. Tidak ja-
rang tangan itu menghantam ke depan. Serangan
yang dilakukan Suro sangat cepat luar biasa.
Namun hingga sejauh itu Si Tangan Biru dengan
mudah selalu dapat menghindar, Pendekar Blo'on
benar-benar dibuat penasaran berat. Ia terus me-
rubah taktik serangan dari jurus yang satu ke jurus yang lainnya. Sampai pada akhirnya Suro
Blondo mengerahkan jurus terdahsyat 'Neraka
Pembasmi Iblis'.
Kali ini Si Bayang Bayang agak terkesiap.
Lalu terdengar seruannya. "Pendekar Bodoh Serangan yang ini kulihat baru ada bobotnya. Hayo, serang, pukul Dan begini caranya..." Si Tangan Biru lalu sentakkan tangan ke depan dengan jari
masih merapat satu sama lain.
Melihat serangan balik yang tidak disang-
ka-sangka ini, Pendekar Blo'on segera bersalto ke belakang. Walau pun pemuda ini sudah melakukan gerakan yang dianggapnya sangat cepat seka-
li. Akan tetapi ia masih merasa ada angin dingin mendesir menghantam bagian perutnya.
Cuus
Jluugkh...
Walaupun dapat menjejakkan kedua ka-
kinya, namun tubuhnya agak goyah. Pemuda itu
terkesiap, ia terperangah ketika melihat ke bagian perutnya. Ternyata bajunya ada yang bolong di
dua tempat. Lubang itu seakan-akan terkena api.
Padahal jika lebih diteliti, sebenarnya lubang-
lubang itu tercipta akibat hantaman lima jari Si Tangan Biru yang disatukan.
"Dia menyerangku dengan jurus Congco-
rang Jika kakek kurus kering ini mau tentu isi
perut dan isi dadaku sudah berbusaian Hiih...
mengerikan sekali" pikir Pendekar Blo'on. Tanpa sadar tiba-tiba saja pemuda ini melompat mundur. "Sudah kau lihat, Suro Tidak satupun seranganmu yang ganas itu dapat menyentuhku
Kenyataan pahit yang kau hadapi ini bukan be-
rarti gurumu salah menurunkan jurus-jurus an-
dalan Apa yang kau perlihatkan padaku, semua-
nya sudah sangat bagus, namun semua itu tidak
cukup untuk menghadapi Ratu Leak dan salah
satu sahabat lamaku Iblis Terlaknat Hantu Ma-
lam" ujar Si Tangan Biru ketus.
"Ia mengatakan Iblis Terlaknat sahabatnya,
tetapi mengapa tampaknya dia seperti menyim-
pan permusuhan?" kata Suro dalam hati. "Yang terpenting bagaimana caranya menghadapi Ratu
Leak. Manusia jahanam yang satu itu nyaris
membuat aku celaka dan pula berniat membunuh
guruku"
"Ada yang kau pikirkan, Suro?" tanya Si Tangan Biru. Seraya duduk di atas sehelai rumput hijau. Lagi-lagi Suro dibuat tercengang. Kare-na rumput yang diduduki si kakek sama sekali ti-
dak patah apalagi tumbang. Seakan tubuh Tan-
gan Biru tidak mempunyai bobot sama sekali.
"Beberapa hal yang ingin kutanyakan pa-
damu orang tua mulia?" ujar Suro, seraya menggaruk-garuk kepalanya. "Ratu Leak telah membuat kesusahan bagi berbagai pihak. Kutuknya
terhadap penduduk negeri Sange hingga saat ini
belum berakhir. Menurutmu apakah aku tidak
sanggup menghadapi perempuan itu?"
Si Tangan biru manusia yang ujudnya
hanya seperti bayang-bayang ini tersenyum.
"Ratu Leak mustahil dapat dihadapi oleh
tokoh sakti manapun. Gurumu Penghulu Siluman
Kera Putih aku jamin tidak dapat mengalahkan-
nya jika hanya mengandalkan segala kesaktian
yang dimilikinya. Entah jika kakekmu Malaikat
Berambut Api. Ratu Leak sebenarnya bukan ma-
nusia super tanpa kelemahan. Semua kesaktian
yang dimiliki manusia mempunyai titik kelema-
hannya. Tetapi untuk menjatuhkan Ratu Leak
agar tidak menimbulkan banyak korban. Kita ha-
rus mengetahui di mana titik kelemahannya. Apa-
lagi mengingat Batu Lahat Bakutuk hingga saat
ini masih berada di tangannya. Dia bisa berbuat
apa saja berkat bantuan benda terlaknat itu"
"Batu Lahat Bakutuk kudengar milik Da-
tuk Nan Gadang Paluih, apakah benar begitu
keadaan yang sebenarnya?" tanya Suro serius.
"Ya... Di tanah Jawa ini tidak ada batu se-
perti itu. Batu Lahat Bakutuk memang milik Da-
tuk Nan Gadang Paluih. Saat ini pun firasatku
mengatakan batu tersebut telah menunjukkan
kharismanya." jelas Si Tangan Biru.
"Lalu siapa yang dapat menghentikan Ratu
Leak?" "Yang dapat menghentikannya tentu kau.
Tetapi kau harus menguasai jurus-jurus Congco-
rang terlebih dahulu"
"Hal itu akan memakan waktu yang lama?"
tegas Pendekar Blo'on seakan tidak sabar lagi.
Si Bayang-Bayang gelengkan kepalanya te-
gas. "Tidak, jika kau berlatih serius mungkin hanya beberapa pekan saja kau sudah dapat
menguasainya" jelas Si Tangan Biru.
"Lalu jika aku telah dapat menguasai ju-
rus-jurus itu. Apakah berarti aku juga harus
menghadapi Iblis Terlaknat Hantu Malam?"
"Ha ha ha..." Si Tangan Biru tertawa membahak, namun kemudian katubkan bibirnya yang
tertutup kumis tipis berwarna putih. "Tampangmu bodoh, ternyata otakmu cukup cerdik juga.
Memang di suatu saat kelak kau mau tidak mau,
suka tidak suka akan bertemu dengan Iblis Ter-
laknat Hantu Malam."
"Apakah dia musuhmu?" tanya Suro den-
gan tatapan penuh selidik.
"Iblis Terlaknat Hantu Malam dulunya ada-
lah sahabatku Tetapi beberapa tahun belakangan
ini ia bersekutu dengan Manusia Laba-Laba" Si Tangan Biru hentikan ucapannya sejenak. Wajahnya mendadak berubah murung dan sungguh
tidak sedap dipandang. "Yang memutuskan per-sahabatan kami bukan saja karena ia pengen se-
kutu dengan Manusia Laba-Laba, lebih kurang
ajar lagi ia bermaksud mengambil muridku Bunga
Bidadari menjadi isterinya"
"Kalau kakek tidak suka Iblis Terlaknat
menjadi menantu berarti Iblis Terlaknat bukan
manusia baik-baik"
"Kau betul. Selain itu ia juga sudah tua,
umurnya bahkan lebih tua dariku" jelas Si Tangan biru. Kening Suro berkerut dalam, usia kakek di depannya konon hampir tiga ratus lima puluh
tahun. Berarti umur Iblis Terlaknat mungkin
mencapai empat ratus tahun.
"Mengapa kakek tidak mau menghadapinya
langsung? Bukankah kakek paling tidak sudah
mengetahui sampai dimana kehebatan orang itu?"
desak Suro ingin tahu.
"Pendekar Bodoh, aku suka lagak bicaramu
yang ceplas ceplos. Apa yang kau katakan itu
memang benar. Tetapi ada satu rahasia lagi yang
belum bisa kukatakan padamu hingga saat ini.
Yang harus kau ingat, mulai besok kau harus
mempelajari jurus-jurus Congcorang sebagai per-
siapan guna menghadapi Ratu Leak" tegas Si Tangan Biru.
"Huh, siapa sudi menjadi muridmu Jika
aku ingin tambah ilmu tambah pengalaman, ten-
tu aku harus minta pendapat kakekku Malaikat
Berambut Api" dengus si pemuda.
"Bocah goblok Apa kau anggap kakekmu
yang banyak pacar dimasa mudanya itu adalah
satu-satunya manusia yang paling sakti di dunia
ini?" cibir Si Bayang Bayang.
Jika bukan tua renta ini yang bicara begi-
tu, seandainya saja Suro belum tahu kehebatan
yang dimiliki oleh Si Tangan Biru. Tentu kakek
tua ini sudah di dampratnya.
"Sekali lagi kakek bicara begitu aku akan
minggat dari sini" ancam Suro Blondo.
"Hemm, ancaman bagiku tidak berguna.
Kau mau belajar denganku, bukan berarti kau
harus mengangkatku jadi gurumu Aku bukan
gurumu, aku hanya orang yang mau mendidikmu
menjadi manusia lebih berguna dan punya ke-
pandaian lebih berbobot Ackh... sudahlah Nanti sore kau harus mempelajari jurus-jurus Congcorang yang telah kau ketahui kehebatannya Seka-
rang kembalilah ke pondok Jika kau membutuh-
kan sesuatu, muridku Bunga Seloka pasti mau
menyediakannya"
Suro garuk-garuk kepala sambil nyengir
ketika diingatkan tentang Bunga Seloka. Si cantik berkulit putih bermata sipit.
"Kurasa aku memang betah tinggal di sini,
apalagi mengingat murid-muridmu cantik-cantik,
kek? Ha ha ha Kurasa muridmu yang bernama
Bunga Bidadari memiliki wajah secantik bidada-
ri"
"Jangan kau berani kurang ajar pada me-
reka jika tidak ingin kubuat mampus" ancam Si Tangan Biru. Suro menanggapi ucapan Si Bayang
Bayang dengan tawa terkekeh-kekeh.
"Jangan khawatir, kek. Aku mana berani
bertindak kurang ajar, apalagi berbuat macam-
macam. Sedangkan satu macam saja aku tidak
berani, terkecuali mereka sendiri yang mau, tentu saja aku tidak punya kuasa menolak rejeki bukan?" sahut Pendekar Blo'on. Seraya tanpa
menghiraukan Si Tangan Biru yang melotot pa-
danya segera berlalu meninggalkan tempat per-
temuan.
***
Manusia Topeng dan Mata Iblis duduk
mencangkung menunggu kedatangan Penghulu
Siluman Kera Putih yang telah sama kita ketahui
pergi ke Lembah Nirwana (dalam episode Perintah
Dari Alam Gaib). Setelah di tunggu-tunggu sekitar lama, ternyata Barata Surya tidak muncul juga.
Dalam pada itu tiba-tiba saja Manusia Topeng
melihat sebuah anak panah meluncur deras ke
bagian punggung Mata Iblis yang duduk di de-
pannya. Laksana kilat Manusia Topeng mendo-
rong Mata Iblis, hingga membuat kakek bodoh itu
terguling-guling sambil memaki. Manusia Topeng
tidak perduli. Tangan kanan digerakkan ke atas
dan.... "Haaap"
Teeep
Anak panah tersebut kena disambar oleh
Manusia Topeng. Mata Iblis yang hampir memaki
lagi terpaksa katupkan bibirnya ketika melihat
anak panah berada di tangan Manusia Topeng.
"Pembokong tengik Siapa setannya yang
berani macam-macam pada kita?" dengus Mata
Iblis. Seraya langsung memandang ke arah da-
tangnya anak panah tadi. Di saat itu ia melihat
semak belukar di belakang mereka bergerak-
gerak. Tanpa menunggu lagi, Mata Iblis langsung
kedipkan matanya. Dua larik sinar merah lang-
sung meluncur menghantam semak-semak yang
bergoyang.
Buum Buum
Tidak ada reaksi apa-apa. Sepi, Mata Iblis
ternyata tidak puas. Sekali ia berkelebat, di lain waktu ia telah berada di semak-semak yang berantakan terhantam sinar matanya. Mata Iblis
langsung melakukan penelitian, setelah berputar-
putar di tempat itu sejauh lima batang tombak.
Ternyata ia tidak melihat siapapun di sana.
"Sial Pengecut itu melarikan diri" gerutu si kakek buta. Namun tiba-tiba saja ia kerutkan keningnya. Jika seseorang yang membokongnya da-
pat pergi secepat itu. Tentu ia bukan manusia
sembarangan? Karena tidak menemukan apa
yang dicarinya. Sambil bersungut-sungut ia kem-
bali menemui Manusia Topeng. Ternyata kakek
itu sambil uncang-uncang kaki sudah membolak-
balik pesan yang terselip di bagian ujung anak
panah. "Apa yang kau baca, sahabatku?" tanya Mata Iblis seakan matanya yang buta itu awas
seperti mata manusia normal.
"Kau dengarlah pesan gila ini?" ujar Manusia Topeng. Dengan teliti kakek yang tidak pernah menanggalkan topengnya ini mulai membaca
dengan suara cukup keras.
Para tua bangka gila
Kalian berdua adalah manusia-manusia
busuk yang selalu berkedok dengan topeng kebaikan. Tidak dinyana ternyata kalian adalah kaki tangan Ratu Leak Kalian manusia rendah, aku menantang kalian untuk bertarung sampai di antara kita ada yang mampus Atau kalian adalah manusia pengecut yang tidak punya nyali?
Tertanda Malaikat Berambut Api
Manusia Topeng terdiam untuk sesaat la-
manya. Wajah di balik topeng itu tampak mene-
gang, kedua bibirnya mengatup rapat. Mata Iblis
yang berdiri di depannya dapat merasakan hawa
amarah dalam diri sahabat barunya itu.
"Apa bunyi pesan itu, sahabatku??" tanya Mata Iblis tidak sabar.
"Malaikat Berambut Api" Manusia Topeng mendesis. Kata-katanya seakan ditujukan pada
dirinya sendiri. "Malaikat Pencatat ada menyebut tentang orang yang satu ini. Dia tidak lain adalah gurunya Pendekar Blo'on. Mengapa ia begitu berani melempar fitnah keji pada kita? Padahal di-
antara kita dan dia tidak pernah terjadi silang
sengketa apapun?"
"Sahabat, kau belum mengatakan pesan
apa yang diberikannya pada kita"
"Dia menuduh kita telah bersekutu dengan
Ratu Leak. Dia juga menantang kita bertarung se-
cara jantan. Huh... apa pendapatmu?" tanya Manusia Topeng. Mata Iblis rasanya memang pernah
mendengar nama besar tokoh yang tinggal di Pu-
lau Seribu Satu Malam itu. Konon selain sakti ia terkenal arif, tetapi mengapa sekarang malah berani melakukan tuduhan membabi buta? Musta-
hil tokoh yang memiliki pengalaman luas mau
bertindak segegabah itu.
"Kita harus menyelidik dulu. Jangan-
jangan bukan dia yang membuat pesan itu?" ujar Mata Iblis.
"Weh apalagi yang harus diragukan? Bisa
jadi ia telah termakan hasutan dari orang lain.
Bukankah muridnya hampir celaka di tangan pe-
rempuan bangsat itu?"
"Sahabatku Manusia Topeng Aku merasa
sekarang sedang terjadi adu domba di dunia per-
silatan. Jangan-jangan Ratu Leak sedang menga-
tur siasat untuk memecah belah golongan putih
agar dengan mudah ia dapat berbuat apa saja
terhadap orang orang yang tidak disenangi. Huk
huk huk... Malangnya nasibku jika tidak sempat
membalas dendam lama. Untuk lebih jelasnya
masalah apa yang terjadi antara Mata Iblis den-
gan Ratu Leak (dalam episode Perintah Dari Alam
Gaib). Manusia Topeng anggukkan kepala. "Ucapanmu ada benarnya juga. Baiklah, sekarang kita
harus menyelidik. Jika betul ucapanmu maka Ra-
tu Leak tetap menjadi incaran pertama kita. Tapi jika ternyata Malaikat Berambut Api yang menantang dan memfitnahku, aku akan menempurnya
sampai salah seorang diantara kita ada yang ma-
ti" dengus Manusia Topeng.
"Baiknya sekarang kita berangkat, kurasa
ia menunggu kita tidak jauh dari sini" ajak Mata Iblis sudah tidak sabar.
Manusia Topeng langsung menyetujui,
akan tetapi ia hentikan langkah lagi ketika teringat Penghulu Siluman Kera Putih yang pergi ke
Lembah Nirwana belum kembali.
"Tunggu" sera Manusia Topeng.
"Ada apa lagi?" tanya Mata Iblis, seraya langsung menghentikan langkahnya.
"Barata Surya belum lagi muncul, mengapa
kita meninggalkannya?"
"Huh, Barata Surya juga gurunya Pendekar
Blo'on. Jika kita tunjukkan surat ini padanya dan mengatakan niat kita, bukan mustahil dia memi-hak pada Malaikat Berambut Api. Aku tidak suka
hal ini terjadi, lebih baik secepatnya kita berangkat. Jangan ditunda-tunda lagi"
"Baiklah, jika kau sudah berkata begitu,
aku setuju saja, ha ha ha..." sambut Manusia Topeng sambil tertawa-tawa.
EMPAT
Belum lama Manusia Topeng dan Mata Ib-
lis meninggalkan tepian Lembah Nirwana itu.
Muncul seorang kakek tua berpakaian merah be-
rambut merah. Di sebelahnya tampak seorang
gadis cantik luar biasa berpakaian putih beram-
but di sanggul. Mereka berhenti tepat di mana
Manusia Topeng dan Mata Iblis melepas lelah.
"Bunga Bidadari, sekarang sudah sampai
di Lembah Nirwana. Aku cuma bisa mengantarmu
di sini saja. Sampaikan pesan salamku pada gu-
rumu" kata kakek rambut merah yang tiada lain adalah Malaikat Berambut Api.
Si cantik angkat wajahnya, matanya yang
indah berbulu lentik pandangi kakek rambut me-
rah tersebut "Mengapa? Sebaiknya kakek pulang bersamaku untuk menjumpai guru Si Tangan Bi-ru. Ia pasti merasa senang bertemu denganmu.
Lagipula muridmu berada di sana, apakah kakek
tidak ingin melihatnya?" ujar si gadis.
"Jika keadaan tidak mendesak sekali, se-
benarnya aku ingin melihat bagaimana perkem-
bangan dan keadaan murid cucuku. Tetapi aku
harus mencari titik terang siapa sebenarnya Ratu Leak sehingga mati-matian berusaha mencelakai
kami melalui tangan cucuku Suro Blondo"
"Kalau pun begitu bukankah lebih baik ka-
kek tunggu dulu kawan kakek yang satunya lagi.
Kukira ia masih berada di lembah"
"Kawan yang mana? Orang tua penuh bulu
yang seperti siluman monyet itukah yang kau
maksudkan?" tanya Dewana.
"Ya... orang itu"
"Ha ha ha... Tingkahnya membuat aku
terkadang muak padanya. Ah, sudahlah aku tidak
bisa menunggu lagi karena waktuku sangat sem-
pit. Aku titip senjata milik cucuku ini. Jika kau sampai di Lembah itu, sampaikan senjata ini pa-da Suro" pesan kakek tua tersebut. Seraya menyerahkan Mandau berikut rangkanya pada Bun-
ga Bidadari. Gadis itu menerimanya dan langsung
menyelipkan senjata itu di belakang pinggangnya.
"Baiklah, sekarang aku pergi dulu" kata Malaikat Berambut Api. Belum lagi Bunga Bidadari sempat menanggapi. Tiba-tiba saja si kakek
memungut sesuatu tidak jauh dari tempat ia ber-
diri. Orang tua ini tanpa menghiraukan Bunga
langsung membaca lipatan kulit yang ternyata be-
risi pesan tersebut. Wajah Malaikat Berambut Api mendadak saja berubah tegang.
"Celaka Ini benar-benar fitnah yang keji
Hoh... mereka harus diberi penjelasan jika tidak ingin terjadi bencana besar" desisnya. Seraya kemudian meninggalkan Bunga Bidadari yang
terbengong-bengong tidak mengerti.
"Apa yang telah terjadi?" batin Bunga. "Aku tidak sempat bertanya apa isi pesan yang ditemu-kannya secara tidak sengaja itu"
Selagi Bunga Bidadari sedang dilanda kebimbangan itu. Tiba-tiba pula muncul seorang
kakek tua berpakaian putih berambut serta ber-
cambang dan jenggot berwarna putih.
"Sudah kucari kemana-mana, aku tidak
menemukan mereka-mereka itu Tadinya Manusia
Topeng menunggu di sini, kok sekarang pergi en-
tah kemana" Barata Surya mengomel sendiri. Tetapi kemudian wajahnya tampak menjadi cerah
ketika dilihatnya ada seorang gadis yang tidak ia kenal memperhatikan dirinya. Barata Surya datang menghampiri.
"Bocah ayu, apakah kau melihat ada seo-
rang kakek berambut merah disini?" tanya Barata Surya. "Kakek siapa?"
"Aku Penghulu Siluman, anu... gurunya
Pendekar Blo'on..." jelas si kakek sambil tersenyum-senyum.
"Oh begitu. Memang aku tadi bersama ka-
kek Dewana, tetapi sekarang ia telah pergi. Tam-
paknya ia sangat tergesa-gesa setelah menemu-
kan sebuah pesan yang aku tidak tahu apa bu-
nyinya" kata Bunga Bidadari.
"Hmm begitu, ya...?" Barata Surya tampak berpikir-pikir. "Kurasa ada sesuatu yang sangat penting. Aku pun tidak mungkin berdiam diri.
Bocah ayu terima kasih atas keteranganmu, sete-
lah mendengar penjelasanmu aku jadi mengerti
bahwa kau pasti muridnya Si Tangan Biru Jika
kau kembali ke Lembah sampaikan salamku pada
gurumu dan tolong kau awasi muridku yang rada-rada miring itu" Setelah berkata begitu Barata Surya langsung berkelebat pergi meninggalkan
Bunga Bidadari. Rupanya Barata Surya merasa-
kan adanya suatu firasat yang tidak baik. Sehing-ga ia cepat menyusul kakek Dewana.
***
Gadis berkerudung putih itu tokh akhirnya
merasa kelelahan setelah mencari kian kemari.
Kini ia duduk di atas pohon batu berdaun rin-
dang. Untuk diketahui sampai saat itu seluruh
daerah Sange masih belum terbebas dari penga-
ruh kutukan Ratu Leak.
Sudah sekian lama ia mencari-cari Pende-
kar Blo'on, tetapi hingga sekarang ia tidak tahu bagaimana dan di mana pemuda itu berada. Apakah Suro masih ditawan oleh Ratu Leak? Cela-
kanya Ratu Leak sendiri sangat sulit ditemukan-
nya. "Rasanya daripada Suro yang celaka, masih lebih baik aku saja. Ini semua gara-gara aku"
batin Dewi Kerudung Putih seakan menyesali diri.
Lalu ia termenung-menung seakan sedang beru-
saha memecahkan masalah yang tengah dihada-
pinya. Rasanya memang sulit untuk melacak di
mana Suro atau Ratu Leak berada. Tiba-tiba sa-
ja.... Krosak
"Eeh..." Dewi Kerudung Putih tersentak kaget. Reflek ia memandang ke arah suara mencurigakan tadi. Dari tempat ia duduk memang
agak leluasa untuk memantau keadaan di ba-
wahnya. Ternyata yang datang di tempat itu tidak lain adalah seorang kakek tua berambut merah.
Ia sendiri memang belum pernah melihat atau
bertemu dengan orang ini. Tetapi melihat caranya berlari tadi, pastilah ia memiliki kepandaian tinggi.
Belum begitu lama kakek rambut merah
berada di situ. Tiba-tiba saja dari arah yang sama muncul dua orang laki-laki, yang satu bertubuh
pendek memakai topeng. Dewi mengenal kakek
ini, sedangkan yang satunya lagi yang berbadan
tegap tinggi berkulit hitam dan buta, si gadis sa-ma sekali tidak mengenalnya. Begitu mereka sal-
ing berhadapan, kakek yang dikenalnya sebagai
Manusia Topeng langsung mendamprat. Namun
belum sempat ia bicara, Mata Iblis sudah menda-
hului. "Kau tinggalkan pesan pada kami Aku tidak mengerti mengapa manusia sepertimu begitu
tega menuduh kami telah bersekutu dengan Ratu
Leak?" dengus si kakek tampak tidak senang.
"Hei, kau orang tua buta. Apa maksud bi-
caramu?" tanya kakek rambut merah sinis.
Manusia Topeng maju selangkah. Ia mem-
perhatikan kakek di depannya seakan ingin me-
mastikan agar tidak salah bicara. Ternyata ciri-
ciri kakek ini sama seperti yang dikatakan Malaikat Pencatat.
"Bukankah kau orangnya yang bernama
Dewana?" tanya Manusia Topeng menyebut langsung nama Malaikat Berambut Api. Dari tempat
persembunyiannya, Dewi melihat betapa kakek
rambut merah seakan kurang menanggapi, sea-
kan orang merasa asing dengan nama itu.
"Aku Malaikat Berambut Api" sahut kakek rambut merah.
"Rambut Api atau Dewana bagi kami sama
saja. Kau mengatakan kami bersekutu dengan
Ratu Leak, padahal kau mungkin mengetahui
bahwa kami ini adalah orang-orang dari golongan
lurus" Mata Iblis ikut bicara.
"Kenyataannya mengatakan begitu, kalian
adalah para sekutu Ratu Leak" sahut Malaikat Berambut Api sambil tersenyum mengejek.
Manusia Topeng kerutkan keningnya. Dulu
ia mendengar Dewana adalah manusia sakti dan
termasuk salah satu tokoh yang disegani dan se-
lalu menjaga ucapannya dari kata-kata yang tidak berguna. Kenyataannya sekarang mengapa ia bersikap jor-joran seperti itu?
"Bicaramu sangat keterlaluan sekali, sobat
Aku Manusia Topeng, umurku barangkali hampir
tiga kali lipat usiamu Kalaulah benar tuduhanmu itu, tolong kau tunjukkan pada kami bukti-bukti
sebagai tanda kebenaran dari semua tuduhan-
mu" kata Manusia Topeng.
"Untuk menunjukkan bukti sebenarnya
bukan sesuatu yang sulit. Tetapi apa gunanya.
Bagiku dari pada bersusah payah mengumpulkan
bukti, lebih baik menempur kalian sampai mati"
dengus kakek yang mengaku sebagai Malaikat
Berambut Api tersebut.
Jawabannya ini tentu membuat Mata Iblis
menjadi marah besar. Ia hampir saja menerjang
Malaikat Berambut Api jika tidak cepat-cepat di
cegah oleh Manusia Topeng.
"Jangan halang-halangi aku" dengus Mata Iblis. "Jangan gegabah Kau lihatlah" kata Manusia Topeng melalui ilmu mengirimkan suara.
"Kau
lihatlah matanya, sama sekali mata itu tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai
orang yang
berbudi Caranya memperhatikan kita hampir
sama dengan cara-cara iblis Aku curiga jangan-
jangan ada apa-apanya di balik semua ini"
"Entahlah, mataku buta. Mana mungkin
aku bisa meneliti hingga sejauh itu" teriak Si Ma-ta Iblis. Tiba-tiba saja ia bicara dengan suara lan-tang. "Kau boleh bicara apa saja. Tapi ketahuilah, aku dan sahabat Manusia Topeng sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan Ratu Leak
Sebagai kebenaran atas ucapanku ini aku rela
bertarung sampai mati denganmu jika kau men-
ganggap dirimu orang yang benar" teriak Mata Iblis.
"Hhh, bicaramu lancang sekali. Majulah
kalian berdua" tantang laki-laki berbaju merah yang mengaku dirinya sebagai Malaikat Berambut
Api. "Sahabat Manusia Topeng tidak usah turun tangan, biarkan aku yang akan memberi pelajaran pada kurcaci tengik ini" sergah Mata Iblis.
Dan baru saja ia berhenti bicara, tiba-tiba saja Malaikat Berambut Api telah melepaskan pukulan
dahsyat ke arah Mata Iblis dan Manusia Topeng.
Cepat sekali Manusia Topeng gerakkan ketapel
Sakti di dadanya.
Wuuut
Buuum
Terdengar suara ledakan menggelegar. Ma-
laikat Berambut Api tampak terkesiap. Ia terdo-
rong mundur, tapi kemudian gelengkan kepala
dan kini menerjang ke depan sambil melancarkan
jurus-jurus andalannya. Maka terjadilah pertem-
puran sengit. Masing-masing lawan kelihatannya
memang ingin menjatuhkan musuhnya dalam
waktu yang singkat.
"Shaaa..."
Tinju Malaikat Berambut Api menderu. Se-
rangan itu jelas mengandung tenaga dalam tinggi
dan terarah tepat di bagian tenggorokan. Mata iblis walau pun tidak melihat tetapi dapat merasa-
kan serangan itu. Ia cepat merundukkan kepa-
lanya. Sedangkan tangan kanan cepat menangkis.
Malaikat Berambut Api tidak ingin melihat seran-
gannya sia-sia. Ia menarik serangan pertama, se-
bagai gantinya ia lepaskan serangan ke bagian
dada. Mata Iblis berputar, sikunya menghadang.
Gerakan cepat ini tidak dapat dihindari, sehingga terjadilah benturan keras.
Duuk
"Wuagkh..."
Demikian kerasnya benturan yang terjadi,
hingga membuat Mata Iblis terpelanting. Sambil
menggeram marah, orang ini bangkit lagi. Ru-
panya Mata Iblis gampang panasan. Sehingga be-
gitu berdiri ia langsung kerahkan tenaga sakti ke bagian matanya. Pabila matanya yang buta itu
berkedip, mata dua larik sinar putih menghantam
Malaikat Berambut Api.
"Hum, bukan main..." gerung lawannya.
Saat ia merasakan adanya sambaran hawa panas
memanggang tubuhnya. Malaikat Berambut Api
jatuhkan tubuhnya hingga rata dengan tanah.
Buuum
"Heh..."
Bukan hanya Malaikat Berambut Api saja
yang dibuat kaget. Tetapi Manusia Topeng dan
Dewi Kerudung Putih yang mengintai di atas po-
hon dibuat terperanjat. Pohon yang terkena sinar mata kakek buta ini bukan terbakar atau layu
daun-daunnya. Melainkan roboh seperti daun ta-
las yang terkena api.
"Aku harus melakukan sesuatu sebelum
orang-orang ini tahu siapa aku yang sebenarnya"
pikir Malaikat Berambut Api. Tiba-tiba saja ia melesat ke depan, sekarang ia lepaskan pukulan bertubi-tubi ke beberapa jalan darah utama di tubuh Mata Iblis. Kakek buta ini tentu saja tidak mau
dirinya menjadi sasaran serangan lawan yang ga-
nas dan mengandung hawa racun itu. Sehingga
sambil melompat mundur ia lepaskan tendangan
ke bagian selangkangan lawan.
Wuut
"Hait"
Malaikat Berambut Api miringkan tubuh-
nya. Tinjunya menderu dan tidak dapat dihindari
lagi Mata Iblis tersentak ke belakang ketika tinju lawan menggedor dadanya.
Mata Iblis terdorong mundur, walaupun ia
masih tetap berdiri tegak. Namun dari sudut-
sudut bibirnya meneteskan darah segar. Dilihat
dari kekuatan tenaga dalam, nampaknya memang
Malaikat Berambut Api memiliki tenaga dalam
beberapa tingkat lebih tinggi. Satu hal yang di-
anggap istimewa. Kakek berpakaian hitam ini
mempunyai kekuatan mata yang dapat mengirim-
kan hawa panas atau serangan berhawa dingin.
Selain itu masih ada satu lagi kelebihan lain yang tentu saja puncak dari segala kedahsyatan yang
ia miliki.
"Sekejap lagi kau akan segera mati di tan-
ganku, orang buta" teriak Malaikat Berambut Api. "Kau ingin membunuhku Ha ha ha..." ejek Mata Iblis disertai tawa bernada meremehkan.
"Jika kau benar-benar laki-laki sejati, kau pan-danglah mataku yang buta ini" serunya.
Bagi Malaikat Berambut Api tentu bukan
masalah jika hanya memandang mata orang buta.
Tokh menurut pikirannya mata itu selain dapat
melepaskan sinar maut tidak mempunyai keisti-
mewaan apa-apa lagi. Tanpa ragu-ragu iapun
memandang ke mata lawan dengan seksama. Apa
yang didapatinya benar-benar membuatnya ter-
cengang.
Malaikat Berambut Api tiba-tiba merasa-
kan seperti ada puluhan batang jarum menusuk-
nusuk ke dua bola matanya. Mata itu menjadi sa-
kit dan pedih. Ia mulai merasa pula kepalanya
seakan-akan membesar dan hendak meledak.
Rambut rambut di kepala seperti tercabut dengan
paksa. Siksaan yang sangat luar biasa ini sema-
kin menghebat. Urat-urat darah di wajah dan se-
luruh kepalanya tiba-tiba menyembul dan merasa
retak di sana sini. Malaikat Berambut Api ter-
huyung-huyung. Peredaran darahnya menjadi ka-
cau, ini rupanya yang membuat laki-laki ini men-
jadi panik.
"Akh... akkh..."
Kakek yang mengaku sebagai Malaikat Be-
rambut Api ini menjerit-jerit kesakitan. Seraya memegangi kepala untuk beberapa waktu lamanya. Sementara wajah orang ini mulai berubah
tidak karu-karuan. Untung dalam waktu yang kri-
tis itu terlintas dalam pikirannya terlintas dalam pikirannya untuk membebaskan diri dari pengaruh tatapan mata lawannya. Dengan kacau dan
kurang kosentrasi ia kerahkan tenaga dalamnya.
Lalu.... "Haaap"
Satu sentakan keras membuatnya terbebas
dari pengaruh tatapan lawan. Orang ini jatuh terduduk, mulutnya menyembur darah kental. Kepalanya langsung pusing dan seperti sudah tidak
utuh lagi. Ia mengambil sesuatu dari balik sa-
kunya lalu menelan benda berwarna merah itu.
Hanya beberapa detik kemudian ia sudah
bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan luka-luka
yang dideritanya. Malaikat Berambut Api le-
paskan pukulan secara membabi buta. Manusia
Topeng yang menyaksikan pertarungan itu pun
tidak luput menjadi sasaran. Tentu saja mudah
bagi Manusia Topeng menghindari pukulan-
pukulan yang ngawur ini. Mata Iblis pun bahkan
sambil menghindar lepaskan serangan dengan si-
nar matanya.
Sementara itu di atas pohon, Dewi Keru-
dung Putih mulai berfikir. Ia pernah mendengar
guru dari pemuda yang ia sukai salah seorang di-
antaranya adalah Malaikat Berambut Api. Sejauh
ini kakek yang menyebut dirinya Malaikat Beram-
but Api sama sekali tidak pernah memperguna-
kan jurus maupun pukulan yang pernah diper-
gunakan oleh Suro. Dewi curiga, jangan-jangan
kakek rambut merah itu adalah Malaikat Beram-
but Api gadungan?
LIMA
Berangkat dari keyakinan inilah maka Dewi
Kerudung Putih kemudian keluar dari tempat
persembunyiannya. Seraya berlari mendekati Ma-
nusia Topeng yang memang pernah dikenalnya.
"Orang tua, siapapun adanya engkau ini.
Kuperingatkan padamu bahwa lawan kakek mata
aneh itu bukanlah Malaikat Berambut Api yang
sebenarnya" tegas si gadis dengan suara perlahan. Sementara itu pertempuran terus berlanjut.
"Eeh, bagaimana kau bisa mengeta-
huinya?" tanya Manusia Topeng heran.
"Muridnya adalah kawanku, aku kenal
dengan beberapa jurus yang diwariskan Malaikat
Berambut Api. Sedangkan jurus yang diperguna-
kan oleh kakek rambut merah itu sama sekali ti-
dak punya kemiripan, jurus-jurusnya ngawur"
"Aku ingin mencegah, tapi jika Mata Iblis
memang suka bertarung. Lebih baik kita biarkan
saja dulu" sahut Manusia Topeng.
Dewi Kerudung Putih memang tidak dapat
memaksa, sebab ia belum tahu kakek rambut me-
rah ini berdiri di pihak mana. Satu hal yang
membuatnya heran, mengapa bisa muncul tokoh
kembar? Sementara itu di tengah-tengah pertem-
puran, Mata Iblis sudah mulai jatuh bangun ter-
kena hantaman lawannya. Walau pun begitu di
pihak lawannya juga mengalami akibat yang sa-
ma. Tetapi sosok yang mengaku sebagai Malaikat
Berambut Api ini nampaknya mempunyai daya
tahan yang sangat tinggi. Terbukti walau pun ia
menyemburkan darah dari mulutnya terhantam
pukulan Mata Iblis, tetapi ia sudah bangun kem-
bali. Sementara Mata Iblis sudah mulai kewala-
han. Manusia Topeng setelah dapat menjajaki
kemampuan kawan maupun lawannya segera
memberi isyarat pada Mata Iblis agar mundur.
Isyarat itu tentu tidak dapat dilihat oleh Mata Iblis karena matanya memang buta.
"Mata Iblis, menyingkirlah Kulihat kau su-
dah mpis-mpisan Biarlah aku yang menghada-
pinya" seru Manusia Topeng.
Demi menghormati Manusia Topeng dan
mengingat keadaan dirinya sendiri, Mata Iblis segera melompat mundur. Melihat hal ini Malaikat
Berambut Api tersenyum mengejek.
"Mengapa tidak kalian bertiga maju bersa-
ma-sama agar aku dengan mudah dapat mengi-
rim kalian ke neraka" dengus Malaikat Berambut Api. "Huh... aku tidak akan heran mengapa perempuan punya bisul Semua itu memang sudah
dari sananya sebelum nenekku terlahir ke dunia
ini. Yang memalukan mengapa wajahmu mirip
sekali dengan Malaikat Berambut Api? Sehingga
kau dan dia seperti dua orang bersaudara kem-
bar. Sekarang setelah melihatmu tidak memper-
gunakan jurus seperti yang dimiliki oleh Pendekar Bodoh, rasanya aku yakin engkaulah kembaran
yang palsu Setelah kuteliti-teliti, setelah kuamat-amati dan aku pelototi, hatiku mengatakan kau
pastilah kaki tangan Ratu Leak Kau fitnah kami
untuk menutupi keadaanmu yang sebenarnya
Bangsat betul..." maki Manusia Topeng.
"Kau tahu apa? Akulah Malaikat Berambut
Api?" dengus si kakek berambut merah ngotot.
"Seribu kali kau mengatakan dirimu Malai-
kat Berambut Api, kau tidak dapat menipuku Hu
hu hu..."
Malaikat Berambut Api merasa kedoknya
terbongkar. Ia tidak punya pilihan lain terkecuali membunuh semua orang yang ada di sini.
"Ha ha ha... Walau pun kau memakai to-
peng ternyata matamu memang awas Kau men-
gerti keadaan yang sebenarnya Tetapi itu percu-
ma, karena sekejap kau dan dua kawanmu itu
akan mati di tanganku"
Baru saja kakek rambut merah ini selesai
bicara, tiba-tiba saja ia angkat tangannya tinggi-tinggi. Tar Tar
Terdengar suara ledakan menggelegar di
angkasa. Tangan kakek berambut merah itu be-
rubah merah kehitam-hitaman. Semakin lama
tangan itu semakin membesar. Sementara ku-
kunya memanjang dan berwarna hitam pula.
Tangan tersebut selain bertambah panjang juga
terus membesar, sehingga seukuran dua kali le-
bih besar dari tubuh kakek itu sendiri.
Dewi Kerudung Putih dan Manusia Topeng
tercengang. Sedangkan Mata Iblis yang tidak da-
pat melihat berseru....
"Aku mencium bau iblis Sahabat Manusia
Topeng, dia mempergunakan Ilmu Kaki Roh Tan-
gan Maut"
"Ha ha ha... Aku pun baru saja hendak
mengatakan begitu, tapi ternyata kau yang buta
sudah melihatnya lebih dulu dariku" sahut laki-laki pendek yang tidak pernah menanggalkan to-
pengnya sambil tertawa-tawa.
Selagi Manusia Topeng tertawa-tawa, dua
tangan yang seukuran dua kali tubuh pemiliknya
ini meluncur dengan gerakan menangkap. Manu-
sia Topeng merasakan ada sesuatu yang me-
nyambar badannya. Ia menunggu, ketika merasa-
kan tangan-tangan yang membesar itu hendak
mencengkeramnya. Dengan cerdiknya Manusia
Topeng melompat sekaligus acungkan Ketapel
Sakti di dadanya. Dua leret sinar menyambar ke
arah dua tangan tersebut. Malaikat Berambut Api
hanya sempat menarik salah satu tangannya. Se-
dangkan tangan yang lain hanya dalam waktu se-
kejap sudah kena dihantam serangan lawan.
Tuuum
"Hraaakh..."
Malaikat Berambut Api menjerit kesakitan
sambil kibas-kibaskan tangannya yang melepuh.
Kenyataan yang dialaminya benar-benar mem-
buatnya murka. Tiba-tiba saja ia julurkan tan-
gannya lagi.
Wuut
Dengan ganas tangan itu menyambar, Ma-
nusia Topeng berkelit kemudian hantamkan ke-
dua sikunya ke bagian telapak tangan Malaikat
Berambut Api.
Des
Hantaman itu hanya membuat tangan yang
telah membesar itu bergetar saja. Kalang kabut
Manusia Topeng berguling-guling menghindari
cengkeram tangan lawannya. Selagi kakek pendek
ini dibuat sibuk tiba-tiba saja ada ledakan-
ledakan keras di bagian punggung Malaikat Be-
rambut Api. Kakek ini pun menjerit sambil meng-
geliat. Matanya melotot seperti melihat setan, dari mulutnya menyembur darah. Orang ini tiba-tiba
limbung dan jatuh terhempas nyaris menimpa
Manusia Topeng. Sesungguhnya apa yang terjadi?
Ketika terjadi pertempuran sengit tadi, ti-
ba-tiba saja muncul seekor kuda berbulu putih.
Di atas punggung kuda duduk seorang laki-laki
berpakaian putih berambut putih, di belakang la-
ki-laki itu membonceng seorang pemuda beram-
but gondrong yang di sekujur tubuhnya terbung-
kus akar-akaran. Orang berbaju putih itulah yang tadi melemparkan pisau berbendul peledak. Ketika pisau menancap di punggung kakek rambut
merah, maka bandulannya yang berwarna hitam
langsung meledak. Mulai dari bagian wajah, dada
dan perut kakek rambut merah memang utuh, te-
tapi bagian punggungnya berantakan.
Manusia Topeng cepat menoleh ke arah pa-
ra penunggang kuda. Ternyata mereka tidak lain
adalah Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan
Tandira.
"Aku terpaksa membunuhnya, orang tua
Dia memang bukan Malaikat Berambut Api yang
sebenarnya" kata Datuk Nan Gadang Paluih.
"Kau bagaimana bisa mengetahuinya?"
tanya Manusia Topeng.
"Lihatlah..." Sang Datuk tiba-tiba saja melompat dari atas punggung kudanya. Dengan te-
nang ia menghampiri sosok yang mengaku dirinya
sebagai Malaikat Berambut Api. Lalu ia mengitari mayat yang terbujur di depannya sebanyak tiga
kali, sedangkan tangannya dikibas-kibaskan se-
demikian rupa.
Sebuah keanehan terjadi, mayat si rambut
merah yang telah membeku itu tiba-tiba saja
mencair bagaikan lilin yang terkena api. Selain itu tercium pula bau busuk yang sedemikian menusuk. Daun-daun di sekitar mayat tampak hangus
terbakar. Manusia Topeng dan Dewi Kerudung
Putih terkejut. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Pa-
luih dan Wayan Tandira saling pandang.
"Katakan padaku apa yang terjadi, saha-
batku?" tanya Mata Iblis, caping hidungnya kembang kempis. Rupanya ia mengendus bau bangkai
juga. "Orang yang kita lawan tadi ternyata Malaikat Berambut Api palsu Seseorang jelas sedang menjalankan muslihatnya untuk mengacau atau
membunuh orang-orang jelek seperti kita" kata Manusia Topeng memberi komentar.
"Naluriku mengatakan ada penghianat di-
antara kita?" celetuk Datuk Nan Gadang Paluih.
"Sahabatku, siapa manusianya yang berani
menuduh sembarangan ini? Aku tidak mengenal-
nya. Tuduhan itu bisa membuatku jadi nekad dan
mengajaknya bertarung hingga mampus. Aku ti-
dak perduli andaipun ia memiliki kesaktian seba-
nyak buih di lautan, aku tidak perduli" teriak
Mata Iblis merasa tersinggung.
Manusia Topeng yang kocak berusaha me-
nyabarkan Mata Iblis. Seraya menepuk bahu Ma-
ta Iblis disertai ucapan.
"Keadaan sekarang benar-benar genting.
Munculnya Malaikat Berambut Api palsu sudah
merupakan suatu pertanda ada kekuatan yang
mampu menciptakan orang yang sama diantara
kita. Bukan mustahil, aku, engkau atau Datuk
Nan Gadang Paluih serta Dewi Kerudung Putih
sekarang sudah ada kembarannya"
"Artinya jika manusia seperti aku ada dua,
berarti kembar Yang satu asli dan satu lagi pal-su" ujar Mata Iblis. "Seseorang melakukan ini pasti dengan maksud membikin kacau persatuan
diantara golongan lurus"
"Satu yang mengherankan dan kuanggap
paling memalukan, begini banyak orang berke-
pandaian tinggi. Hanya menghadapi Ratu Leak
saja kita sudah hampir tidak berdaya dan terasa
bertele-tele." kata Dewi Kerudung Putih setengah mencemo'oh.
"Hik hik hik Memang sangat memalukan,
keterlaluan bahkan." celetuk Manusia Topeng.
"Firasatku mengatakan semua ini hasil perbuatan Ratu Leak. Aku menyarankan sebaiknya mulai
sekarang diantara kita jangan ada perpisahan
sampai kita menemukan Ratu Leak"
Datuk Nan Gadang Paluih anggukkan ke-
pala setuju. "Ide yang bagus Dengan begitu jika sampai muncul kembaran yang palsu kita tidak
akan terkecoh lagi dan gampang menyelesaikan
persoalan agar tidak salah turun tangan" kata kakek rambut putih berpakaian putih selempang
putih penuh dukungan.
"Kemudian apa yang harus kita lakukan?"
tanya Wayan Tandira.
"Mulai saat ini kita yang sudah berkumpul
disini pusatkan perhatian untuk mencari dimana
Ratu Leak bersembunyi" tegas Manusia Topeng.
Sekali lagi Datuk Nan Gadang Paluih anggukkan
kepala. "Aku setuju Sekarang kita tetap berkumpul. Hari sudah senja, tapi masih ada waktu bagi kita untuk melanjutkan perjalanan. Kulihat tadi
tidak jauh dari sini ada sungai. Kita bisa berke-mah disana dan bergantian jaga" usul Datuk Nan Gadang.
"Apakah yang lain-lainnya ada usul?"
tanya Mata Iblis. Karena tidak seorang pun ada
yang menanggapi, maka diambil kesimpulan
bahwa mereka semua telah setuju. Tidak lama se-
telah itu berangkatlah rombongan ini menuju ke
arah utara. Di luar sepengetahuan mereka, ki-
ranya ada sepasang mata yang terus mengawasi
gerak gerik mereka dengan tatapan curiga.
"Sekarang aku telah mengetahui duduk
persoalan yang sebenarnya. Bukan mustahil da-
lam rombongan itu ada pula yang palsu Kemba-
ran tokoh-tokoh yang tidak kukehendaki Aku ha-
rus terus memantau gerak-gerik mereka agar ti-
dak ada lagi nyawa yang terbuang percuma den-
gus bayangan di balik semak-semak itu. Kemu-
dian secara diam-diam ia terus mengikuti rom-
bongan Manusia Topeng dari jarak yang aman.
***
Lembah Nirwana yang dingin namun selalu
menebarkan bau wangi semerbak berbagai jenis
bunga-bungaan di pagi itu tidak sunyi sebagai-
mana hari-hari yang lalu. Di belakang perguruan
yang dipenuhi dengan berbagai peralatan latihan, seorang pemuda bertelanjang dada sudah dalam
keadaan basah bersimbah keringat. Hampir se-
panjang malam tadi ia tidak beristirahat, mengingat waktu latihan yang ditentukan baginya begitu sempit. Pemuda berambut kemerahan ini memang
tampak lelah. Tetapi kemampuan tenaga dalam
yang dimilikinya serta kehebatan sepuluh jari
yang ia satukan sudah memperlihatkan hasil
yang menggembirakan. Kini ia melatih pernafa-
sannya agar lebih baik lagi. Sekejap ia meman-
dang ke arah batu cadas yang terdapat di sam-
pingnya. Batu itu berlubang besar sungguh pun
di sana sini terdapat percikan darah. Pemuda ko-
cak yang tiada lain adalah Suro Blondo memper-
hatikan jari-jari tangannya yang bengkak dan pe-
cah-pecah di beberapa bagian. Bibirnya termo-
nyong-monyong.
"Hmm, kakek Tangan Biru tidak mau men-
gangkatku sebagai muridnya. Aku disuruhnya la-
tihan siang malam. Kalau begitu terus menerus
naga-naganya tanganku bisa hancur Sekarang
saja..." Suro perhatikan jari-jarinya lagi. "Rasanya aku bisa konyol atau jadi Pendekar tanpa
jari kalau begini terus-terusan. Huh... seumur hidup aku belum pernah mendapat latihan seperti
ini Satu hal yang segera dapat kurasakan, tu-
buhku menjadi semakin ringan" Suro lalu tersenyum. "Jika aku terus menerus berada di lembah ini, bukan mustahil lama kelamaan aku bisa terbang. Ha ha ha..." Pendekar Blo'on tepik keningnya. Seraya lalu naik di atas batu. Kedua kakinya dilipat, Suro pejamkan matanya rapat-rapat. Jemari tangan satu dengan yang lain dirapatkan.
Sayup-sayup mengiang petuah Si Tangan Biru.
"Jurus-jurus Congcorang inti utamanya
adalah Hentakan Kaki Congcorang jarak jauh. Ji-
ka serangan itu sudah mampu melubangi batu di
depanmu itu. Berarti kau hampir menguasai ju-
rus-jurus Congcorang Sepenuhnya"
Maka Pendekar Blo'on kini kerahkan tena-
ga dalamnya ke bagian jari-jari tangannya. Jari-
jari yang bengkak itu menggeletar.
"Huuup Shhaaa..."
Tiba-tiba Suro menghentakkan kedua tan-
gannya ke depan.
Wuut
Tampak lesatan sinar hijau selebar benar
meluncur deras ke arah batu. Lalu terdengar suara
Creep Clep
Wuuur
Batu cadas berlubang sebesar jari telunjuk.
Serpihan batu cadas meluncur turun. Pendekar
Blo'on membuka matanya dan memandang ke
arah batu yang telah menjadi sasaran serangan.
Wajah si konyol berseri-seri.
"Tidak percuma, walau tanganku babak be-
lur ternyata membuahkan hasil yang lumayan.
Cukup lumayan, he he he..." kata Suro sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala. Melihat hasil pesat yang didapatnya, Suro Blondo seakan tidak mengenal lelah terus saja berlatih.
"Berhentilah latihan, kebanyakan kau
menguras tenaga bisa mati berdiri" sebuah suara yang sangat merdu dan enak didengar memecah
keheningan suasana. Si konyol cepat memutar
tubuhnya ke belakang.
"Astaga... Rasanya aku tadi malam tidak
bermimpi kejatuhan bintang kejatuhan bulan dan
kejatuhan durian. Ada makhluk secantik ini?" desis Pendekar kocak ini. Seraya mengusap-usap
matanya seakan tidak percaya dengan apa yang
dilihatnya. Gadis yang berdiri tiga tombak di depannya itu bukan Bunga Seloka. Bunga Seloka
sendiri sebenarnya sudah sangat cantik dengan
kulitnya yang putih dan matanya yang sipit. Tapi gadis baju putih yang satu ini kelewat cantik. Kecantikannya sulit dilukiskan dengan kata-kata,
bahkan kecantikannya mungkin setara dengan
bidadari. Aih, jantung Suro langsung deg-degkan.
Rasanya gimana gitu.
"Kau melihatku seperti memandang hantu,
apakah tampangku begitu mengerikan bagimu?"
kata si cantik bersuara merdu.
Suro walau pun sering berhadapan dengan
perempuan, namun kali ini jadi kelabakan. Kata-
kata yang telah disusunnya dengan rapi untuk
diucapkan malah jadi berantakan.
"Aku... ngg... anu... aku... anu... ku..."
Gadis yang tiada lain adalah Bunga Bida-
dari tertawa geli. Sederet giginya yang putih bagai mutiara tampak begitu indahnya.
"Memang anumu kenapa? Di gigit semut
atau sudah terbang?" celetuk Bunga Bidadari ter-sipu malu.
"He he he Anuku tidak apa-apa kok Aku...
rasanya belum pernah melihatmu selama berada
disini. Apakah kau juga termasuk salah satu mu-
rid Tangan Biru?" tanya Suro.
"Aku memang muridnya Murid tertua, dan
kalau tidak salah kau orangnya yang bernama
Suro Blondo?" tebak si gadis.
"Lho kok tahu?" sahut Suro agak kaget.
"Mengapa tidak tahu, selama dua hari aku
bersama kakekmu mencari bunga untuk me-
nyembuhkan penyakit ayanmu"
Si konyol semakin bertambah kaget saja.
"Malaikat Berambut Api? Lho dia kok tidak ikut kesini?"
Si gadis tidak langsung menjawab. Ia
menghampiri sebongkah batu putih lalu duduk di
atasnya dengan tenang.
ENAM
duduk tenang-tenang di atas batu
barulah Bunga Bidadari memandang ke arah Su-
ro penuh perhatian. Pikirnya pemuda di depannya
cukup ganteng juga, tetapi kesan tololnya itu
yang membikin geregetan orang yang meman-
dangnya.
"Kakekmu mana mungkin mau melihatmu.
Kau murid gila yang hampir saja membuat celaka
mereka" dengus si gadis. Caranya bicara yang ceplas-ceplos membuat Suro merasa cepat akrab.
Tidak seperti Bunga Seloka, yang terkesan malu
dalam bertutur kata.
"Kejadian itu sama sekali tidak kuingat. Ji-ka aku sadar, orang gila sekali pun mustahil tega membunuh gurunya sendiri Kurasa guruku marah, hingga ia tidak mau lagi menemuiku. Tapi..."
Suro terdiam, berjalan mondar-mandir di depan si gadis seperti orang bingung sambil garuk-garuk
kepala. "Aku punya rencana untuk minta maaf bi-la bertemu dengan mereka."
"Maaf saja tidak cukup" dengus Bunga Bidadari. "Lalu bagaimana, ah... sudahlah aku bung-ing, eeh bingung" Ucapan Suro seperti orang yang menyesali diri. Ia duduk termenung dengan
dua tangan menopang dagunya. Sementara itu
Bunga Bidadari segera mengeluarkan Mandau da-
ri balik punggungnya. Ia menimang-nimang senjata pusaka itu di depan Suro.
"Eeh... itu punyaku Kau telah mencurinya
ya?" Bunga Bidadari angkat wajahnya. Sepa-
sang matanya yang indah langsung melotot. "Jangan kau menuduhku sembarangan Walaupun
aku tidak mewarisi jurus Congcorang yang hebat
itu aku tidak membutuhkan segala macam senjata"
"Maaf kalau begitu Tetapi mengapa guru-
mu tidak mewariskan jurus itu padamu? Apakah
gurumu manusia pelit?"
"Kau terlalu cerewet seperti nenek-nenek
tua yang pikun. Jika saja aku lelaki sepertimu.
Tentu guru bersedia menurunkan jurus-jurus
maut itu padaku Jurus itu hanya boleh dimiliki
oleh laki-laki"
"Mengapa?"
"Entahlah, aku tidak tahu" sahut Bunga Seloka. "Ini tidak adil namanya. Masa aku orang luar di beri pelajaran jurus-jurus maut. Sedangkan kau sebagai muridnya diajari jurus lain. Kau tidak usah berkecil hati. Nanti jika aku bertemu dengan kakek kurus itu aku akan menanyakan
hal ini"
Bunga Bidadari tertawa dalam hati. Pemu-
da ini benar-benar seperti orang sinting. Bica-
ranya blak-blakan, polos terkesan apa adanya.
Hal ini yang disukai oleh si gadis. Tetapi ia tidak mungkin berlama-lama di tempat latihan itu. Jika
gurunya sampai tahu, ia bisa kena marah besar.
"Suro, aku datang ke sini semata-mata ka-
rena ingin menyampaikan pesan gurumu untuk
memberikan Mandau ini padamu"
"Dia menitipkan senjata itu padamu?"
"Iya, terimalah" Bunga Bidadari menyo-dorkan senjata di tangannya. Tiba-tiba Pendekar
Blo'on merasa waktu sedemikian sempitnya.
"Apakah engkau hendak buru-buru pergi?"
"Tentu Berlama-lama disini bisa membuat
guru jadi marah" jelas Bunga Bidadari.
Dengan perasaan tidak enak Suro terpaksa
menerima senjata itu. Tidak lama ia menyelipkan
Mandau Jantan di balik pinggangnya.
"Pendekar konyol..." kata Bunga Bidadari sesaat sebelum pergi. "Guruku mengatakan padaku tidak lama lagi ia berkenan menemuimu.
Kurasa ada masalah penting yang akan disam-
paikannya padamu"
Sehabis bicara begitu Bunga Bidadari lang-
sung meninggalkan Pendekar Blo'on. Baik Suro
maupun gadis cantik itu sama-sama tidak tahu
bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan
pertemuan mereka dengan tatapan mata cemburu.
Sepeninggalnya Bunga Bidadari, Pendekar
Mandau Jantan cuma dapat garuk-garuk kepala
melulu. Entah mengapa ia merasa jadi betah be-
rada di Lembah Nirwana. Mungkin karena murid-
murid Si Bayang-Bayang tidak ada yang jelek, en-
tahlah. Namun Suro menyadari bahwa persoalan
yang dihadapinya belum selesai. Bila ia teringat dengan hal yang satu ini rasanya Pendekar Blo'on ingin cepat-cepat meninggalkan lembah Nirwana
tersebut.
Selagi Suro Blondo terombang ambing pe-
rasaan yang tidak menentu. Tiba-tiba ia menden-
gar suara langkah kaki namun lebih halus keden-
garannya Pemuda itu cepat menoleh dan meman-
dang ke arah datangnya suara barusan. Ternyata
yang datang adalah Si Tangan Biru.
Pendekar Blo'on cepat-cepat membung-
kukkan badannya. Manusia setengah gaib itu
seakan tidak menghiraukan Suro langsung saja
duduk. "Waktumu sangat sempit, Suro. Jurus
Congcorang sudah pun kau kuasai. Hanya tinggal
pemantapannya saja. Mengenai masalah peman-
tapan dapat kau lakukan nanti setelah urusanmu
dengan Ratu Leak dapat kau selesaikan. Seka-
rang kau duduklah mendekat kemari" perintah Si Bayang-Bayang. Maka Pendekar Blo'on pun
menghampiri.
"Kau harus tahu, Ratu Leak itu kebal sen-
jata, bukan hanya kebal senjata saja. Tetapi ia ju-ga kebal pukulan, kau sudah tahu jurus Congco-
rang berintikan pemusnahan titik kelemahan ma-
nusia-manusia kebal. Kau ingat dari yang tiga
itu?" tanya si kakek kurus kering.
"Ingat kek"
"Apa saja?"
"Tiga titik kelemahan manusia kebal, pertama adalah pada bagian yang berlubang atau be-
rongga, sedangkan yang kedua adalah tempat-
tempat yang lunak. Dan sedangkan yang ketiga
adalah tempat-tempat yang keras"
"Itulah tiga rangkaian sekaligus inti jurus-jurus Congcorang. Serangan pada sasaran yang
tepat tidak akan membuang-buang tenaga. Ingat
jurus-jurus maut itu hanya dapat kau perguna-
kan untuk waktu-waktu yang sangat mendesak
dan kelewat memaksa. Kuturunkan ilmu langka
ini padamu, pertama-tama adalah demi kepentin-
ganmu untuk menghadapi Ratu Leak dan Batu
Lahat Bakutuk. Sedangkan yang kedua adalah
untuk kepentinganku"
"Apa yang dimaksud dengan kepentingan-
mu kek?"
"Aku pernah mengatakan padamu tentang
Iblis Terlaknat Hantu Malam, bukan?" tanya Si Tangan Biru.
"Betul itu kek"
"Dia sahabatku Sahabat yang menjadi
musuh Suatu saat kau harus mencarinya. Jika
kau manusia yang tahu membalas budi orang,
tentu kau tidak keberatan menjalankan perintah-
ku ini bukan?"
"Bukan... eeh, maksudku tidak, kek Tapi
bolehkah aku tahu bagaimana duduk persoalan
yang sebenarnya, kek. Sehingga sahabat bisa
menjadi musuh?" tanya Pendekar Blo'on. Sedapatnya ia berusaha agar tidak sampai tertawa ka-
rena geli teringat kata-katanya yang salah.
"Di dunia ini sahabat menjadi musuh bu-
kan sesuatu yang aneh. Kau telah mengetahui
sebagian kejadian itu. Di suatu saat kelak, bila aku mengutus murid tertuaku untuk menjumpaimu. Maka di sana kau akan mengetahui du-
duk persoalan yang sebenarnya. Saat ini yang
terpenting adalah bagaimana caranya agar kau
dapat menghadapi Ratu Leak"
"Bagaimana caranya, kek?"
"Tentu saja menempurnya hingga mampus
Yang terpenting jangan sampai ia memperguna-
kan kekuatan Batu Lahat Bakutuk. Sebab hal itu
dapat membahayakan keselamatan jiwa orang
banyak"
"Jadi hanya itu saja, kek?" tanya Suro Blondo. Si Bayang Bayang anggukkan kepalanya.
Ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi
terbungkus kain warna hitam. Benda persegi itu
sebesar atau lebar dua jari. Pada bagian sisi-
sisinya terdapat tali yang berwarna hitam pula.
"Ulurkan tanganmu" perintah Si Tangan Biru. Suro walau pun bingung angsurkan kedua
tangannya juga. "Satu saja tolol"
Pendekar Blo'on angsurkan tangannya
yang kiri. Tetapi Si Tangan biru memberi isyarat agar Suro memberikan tangannya yang kanan.
Sehingga sambil julurkan tangan kanannya ia
nyeletuk.
"Ini semacam jimat ya, kek? Aku pernah
dengar jimat pantang di bawa buang hajat. Ka-
tanya kesaktian yang terkandung dalam jimat itu
bisa hilang"
"Jangan banyak tanya, benda ini jangan
kau buang Jika kau sewaktu-waktu dalam kea-
daan terdesak benar kau cukup mengusapnya.
Mudah-mudahan Tuhan memberikan pertolon-
gannya padamu" jelas Si Bayang Bayang sambil mengikat benda hitam itu di lengan Suro.
"Bolehkah aku tahu isi bungkusan ini,
kek?" "Tidak boleh. Dia tidak bisa kau buka, dalam bungkusan gepeng ini tersimpan rahasia be-
sar tentang Lembah Nirwana, penghuninya juga
tentang sebuah kebesaran di masa silam. Jagalah
dia jangan sampai hilang, lindungi dia sebagai-
mana kau melindungi seorang kekasih yang san-
gat kau cintai. Berangkat dari sini merupakan
awal kemujuran dan kesialanmu Kutegaskan se-
kali lagi, benda yang melingkar di tangan kanan-
mu itu merupakan amanah Seseorang yang me-
nyia-nyiakan amanah sama dengan penghianat
Suatu saat bila terjadi suatu peristiwa besar di Teluk Hantu. Di saat itulah kau akan tahu betapa pentingnya jurus Congcorang dan juga apa yang
kupasang di lengan kananmu"
"Jadi sekarang bagaimana? Apakah aku
boleh meninggalkan tempat ini, kek? Rasanya aku
sudah tidak betah berlama-lama disini. Mengulur-
ulur waktu hanya membuat Ratu Leak panjang
umur saja"
"Sekarang kau belum boleh meninggalkan
Lembah ini. Tetapi nanti setelah lewat tengah ma-
lam kau sudah dapat pergi" tegas Si Tangan Biru.
Kakek itu kemudian bangkit berdiri. Seraya me-
langkah mundur sejauh tiga tindak, dan secara
aneh tiba-tiba saja sosoknya yang bagaikan
bayang bayang itu raib dari pandangan Pendekar
Blo'on. Pemuda itu tercengang, walau sudah be-
berapa kali Suro melihat kejadian yang aneh ini.
Namun kali ini Si Bayang-Bayang raib lebih cepat dari biasanya.
"Aku kurang yakin kakek itu manusia
sungguhan. Jangan-jangan yang kulihat hanya
rohnya saja" pikir Suro. Ia pun mengangkat ba-hu, seraya mengayunkan langkah menuju kamarnya.
***
Penghulu Siluman Kera Putih benar-benar
merasa kehilangan jejak Malaikat Berambut Api.
Menurut Bunga Bidadari orang tua aneh yang
sangat diseganinya itu baru saja meninggalkan
tepi Lembah Nirwana. Tetapi mengapa setelah ia
melakukan pengejaran cukup lama ia tidak ber-
hasil menyusulnya juga. Barata Surya menjadi
bimbang jangan-jangan ia salah arah. Kakek tua
ini berdiri di balik pohon cukup lama. Tiba-tiba saja di luar dugaan ia melihat sebuah bayangan
berkelebat lewat di sampingnya. Barata Surya jadi kaget karena orang yang dilihatnya sangat mirip
dengannya.
"Berhenti" teriaknya sambil menghadang
langkah orang itu. Serentak sosok berpakaian pu-
tih ini hentikan langkah. Tampak jelas orang ini pun tidak mampu menutupi keheranannya.
"Kau..."
Barata Surya terdiam, tatapan matanya
memandang lurus pada laki-laki seusia dengan-
nya. "Wajahmu, janggut, jambang kumis dan
pakaianmu mirip benar denganku Padahal di
dunia ini aku tidak mempunyai saudara kembar.
Kau meniru-niru diriku. Sehingga diantara kita
persis satu sama lain. Mungkin Suro pun akan
salah memilih mana gurunya jika kita berjalan
bersama-sama. Keadaan kita persis seperti pinang di belah pakai martir Siapa kau?" tanya Barata Surya curiga.
"Seharusnya aku yang bertanya siapa kau
ini? Mukamu dan mukaku seperti orang kembar
saja" jawab orang tua itu tidak kalah garangnya.
"Kurang ajar betul Seseorang pasti sengaja meriasmu begini rupa untuk membuat keonaran
dan kekacauan. Atau kau manusia ciptaan Batu
Lahat Bakutuk heh..."
"Kau mungkin manusianya suruhan Ratu
Leak Untuk manusia yang suka menipu dan me-
nyaru-nyaru seperti orang lain, aku harus mem-
bunuhmu Aku tidak ingin sampai terjadi engkau
yang jadi maling aku yang dikejar-kejar orang banyak" sergah sosok yang mirip dengan Barata Surya tidak kalah sengitnya.
Penghulu Siluman Kera Putih tiba-tiba saja
jadi kehilangan kata-kata. Ia memperhatikan laki-laki di depannya dengan perasaan jengkel ber-
campur geli. Jengkel karena ada orang yang me-
nyamar persis seperti dirinya. Geli, karena orang jelek seperti dia masih ada yang meniru. Dilihat sepintas lalu mereka tidak ubahnya seperti saudara kembar yang sedang bertengkar.
"Kau bukan diriku dan aku pasti bukan di-
rimu. Untuk membuktikan siapa Penghulu Silu-
man yang sebenarnya kita harus bertarung sam-
pai salah seorang diantara kita mampus Bagai-
mana pendapatmu?" tanya Barata Surya sewot.
Kembaran Barata Surya tertawa tergelak-
gelak. Ia tepuk-tepuk dadanya seperti seekor go-
rilla yang kembali membawa kemenangan dari pe-
rang. "Keinginanku memang sesuai dengan apa yang kau ucapkan itu. Kuharap takdir kematian
sesuai dengan perintah yang aku terima. Dengan
begitu aku dapat kembali untuk mengabarkan be-
rita kemenangan"
"Kata sepakat sudah kita dapat, tunggu
apa lagi jika ingin cepat sekarat?" teriak Barata Surya. Sebagai penghulunya para siluman diam-diam ia mulai mengerahkan tenaga gaibnya ke
bagian mata. Kini setelah berkedip beberapa kali ia dapat melihat kegelapan alam gaib. Sebuah
alam lelembut yang tidak dapat ditembus pengli-
hatan biasa.
Ketika Barata Surya memandang ke arah
Barata Surya kembar yang berdiri tegak di de-
pannya. Maka terlihatlah olehnya sosok makhluk
dengan wajah lebih dari setan. Jelas orang itu
bukan siluman, ia mengenal bagaimana rupa dan
ujud Siluman. Itulah sebabnya dia tersenyum.
"Mengapa kau hanya menunggu, bukankah
kau menghendaki nyawaku" cibir si kakek sambil usap-usap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu
lebat. "Aku yakin kau ingin meniru jurus-jurus simpananku, sehingga orang akan menyangka
kau adalah aku. Agaknya kau memang kebagian
sialnya, kau terlanjur bertemu dengan aku"
"Hem, mulutmu terlalu takabur" dengus kembaran Barata Surya. Tiba-tiba saja orang ini
melompat ke depan. Kakinya menyambar pung-
gung Penghulu Siluman Kera Putih. Gerakan la-
wan ini sempat terbaca oleh si kakek, tanpa
sungkan-sungkan lagi tinjunya menderu.
Plak......Kembaran Barata Surya sempat terhuyung.
Namun sama sekali ia tidak mengeluh terkecuali
menyeringai. Kemudian ia berteriak keras sambil
menyerang Penghulu Siluman dengan jurus aneh
tetapi sangat berbahaya. Barata Surya tertawa
terkekeh-kekeh.
"Sekarang sudah mulai terbukti, Barata
Surya yang asli mempunyai jurus-jurus monyet.
Sedangkan kau mempergunakan jurus anjing gila
kelaparan Ha ha ha..."
"Jahanam" geram kembaran Barata Surya.
Tangannya melesat melakukan tamparan ke wa-
jah dan kepala lawan. Kakek ini tundukkan kepala, dengan mempergunakan jurus 'Serigala Melo-
long Kera Sakti Kibaskan Ekor', Penghulu Silu-
man berkelit ke samping. Ia keluarkan lolongan
tiada henti, sementara lawan telah menghujani
pukulan bertubi-tubi. Salah satu pukulan menda-
rat tepat di dada Barata Surya, kakek lucu ini
mengeluh tertahan. Lawan terus memburunya
saat melihat si kakek seakan-akan melakukan ge-
rakan melarikan diri. Tiba-tiba saja Barata Surya berputar kakinya menendang ke belakang.
Duuk
"Ngekh"
Kembaran Barata Surya jatuh terpelanting.
Meskipun akibat tendangan tadi membuatnya ter-
luka. Namun ia masih sempat lepaskan pukulan
maut ke arah Penghulu Siluman Kera Putih yang
sekarang berbalik menyerangnya. Sinar merah
bergulung-gulung bagaikan gumpalan bara mela-
brak kakek tua tersebut. Secepatnya dan agak
gugup ia kibaskan tangannya. Sinar putih mele-
sat dari sela-sela jari tangan si kakek.
Buum....Gubrak
"Oh lala... aduh biyung..." jerit Penghulu Siluman. Ia usap-usap wajahnya yang panas bagaikan terbakar. Tanpa membuang-buang waktu
ia lipat gandakan tenaga dalamnya dan segera
disalurkan ke bagian tangan. Sementara itu den-
gan nekad lawannya telah menghujaninya dengan
pukulan-pukulan maut bertubi-tubi.
"Haiiit"
Tubuh kembaran Barata Surya tiba-tiba
melambung tinggi. Ia berputar-putar di udara se-
dangkan kakinya menyapu ke empat penjuru
arah. Serangan ini pertama-tama tampak seperti
biasa. Tetapi ketika serangan kaki itu semakin
merendah sesuai dengan gerakan menghindar si
kakek. Barata Surya dibuat pontang-panting. Ia
melempar tubuhnya sehingga rata dengan tanah.
Tetapi kaki lawan lebih cepat lagi menghajar
punggungnya.
Duuk
"Ekh..."
Bukan main kerasnya hantaman itu hingga
membuat Barata Surya menggeliat kesakitan. Ke-
tika ia berusaha bangun lagi, sebuah tendangan
menghantam dadanya. Sebelum tendangan itu
mendarat tepat pada sasaran. Maka si kakek ke-
rahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Hari-
mau'. Wuut Wuut
"He he he Tidak kena..." ejek Barata Surya. Tanpa terduga tangannya meluncur kebagian dagu lawan.
Des.
Kepala kembaran Barata Surya sempat
terdongak, tubuhnya terjajar dan laki-laki itu jatuh terduduk dengan kepala pusing bukan main.
TUJUH
Sekejap kepalanya nampak oleng ke kanan
ke kiri. Ia menggerung, justru dari mulutnya me-
nyembur darah kental kehitaman. Dengan lang-
kah terhuyung-huyung orang ini bangkit berdiri.
Tangan kanan dikepalnya sedangkan tangan kiri
terpentang lebar. Dua tangan diadu satu sama
lain. Traat
Tiba-tiba saja menyembur api dari bentu-
ran itu. Serangan jarak jauh ini bukanlah seran-
gan biasa. Namun Barata Surya malah tertawa
membahak.
"Jangan coba-coba bermain api, salah-
salah tubuhmu terbakar sendiri" teriaknya. Kakek rambut putih ini tiba-tiba saja angkat tan-
gannya siap melepaskan pukulan 'Matahari Rem-
bulan Tidak Bersinar' Sesaat setelah pengerahan
tenaga dalam tinggi, Barata Surya tampak meng-
geletar hebat. Selanjutnya ia melompat tinggi ke udara sambil dorongkan kedua tangannya. Sinar
biru bersemu merah meluncur deras menerjang
sinar merah yang bergulung-gulung menerpa di-
rinya. Wuuut
Tiba-tiba saja lidah api lawan membubung
tinggi seolah-olah menghindari bentrokan dengan
pukulan Barata Surya. Praktis serangan kakek
baju putih mengenai tempat kosong. Sedangkan
serangan yang dilakukan lawannya terus menge-
jar kemana pun kakek Penghulu ini menghindar.
"Celaka, mengapa bisa jadi begini?" desisnya dalam hati. Laksana kilat ia menjejakkan ka-
kinya di atas tanah. Lalu dorongkan kedua tan-
gannya lagi.
Wuus
Serangan tangkisan kedua ini kelihatannya
lebih kuat dari serangan yang pertama. Sehingga
terjadilah benturan keras bukan main. Ketika terjadi ledakan besar. Maka terlihat dua sosok tubuh sama terlempar sejauh dua batang tombak ke belakang. "Huuukh..."
Suara mereka tertahan-tahan. Penghulu
Siluman Kera Putih pegangi dadanya yang men-
denyut sakit. Kembaran Barata Surya seka darah
yang mengalir dari mulut dan hidungnya. Mata
orang ini nampak lebih merah seakan dibasahi
darah. Ia mencoba merangkak dan berdiri. Tetapi
sekujur tubuhnya yang sempat hangus termakan
pukulannya sendiri rasanya sakit semuanya. Se-
dangkan pada waktu itu Penghulu Siluman Kera
Putih sudah kembali menyerang dengan satu ten-
dangan menggeledek yang sangat berbahaya se-
kali. Mana mau kembaran Barata Surya ini mati
konyol. Ketika merasakan deru angin tendangan
yang begitu dingin, maka ia angkat sikunya.
Penghulu Siluman sama sekali tidak me-
nyangka adanya perlawanan ini. Ia terpaksa tarik tendangan untuk menghindari benturan hebat.
Sebagai gantinya tinju menghantam wajah lawan.
"Aih..."
Kembaran Barata Surya jadi gugup. Ia ti-
dak sempat lagi mengelakkan serangan ini. Aki-
batnya....
Prok
"Akh" Kembaran Barata Surya tutupi wajahnya yang hancur. Sungguh mengagumkan
daya tahan orang yang satu ini, sebab sungguh-
pun wajahnya remuk terhantam tinju lawannya
namun ia masih dapat bertahan. Kini malah
sambil menggerung marah ia melompat dengan
gerakan bagaikan tupai berpindah dari satu rant-
ing ke ranting lainnya. Delapan jari bermaksud
mencoblos perut Penghulu Siluman Kera Putih.
Kakek Barata Surya tidak tinggal diam, ia
pun angsurkan kedua tangannya sekaligus den-
gan gerakan mendorong.
Wuuk
Ada hawa panas dingin menyambar. Lagi-
lagi terjadi benturan hebat dan kembaran Barata
Surya jatuh terguling-guling. Penghulu Siluman
lakukan satu lompatan ke depan, lalu jatuhkan
diri dengan lutut menghantam telak punggung
lawannya. Deekh...."Kraaak..."...."Arrkh..." Kembaran Barata Surya menjerit keras.
Hentakan keras itu membuat tulang punggung
lawannya patah. Si kakek tidak berhenti hingga di
situ saja, kini sikunya menghantam batok kepala
orang itu.
Praak
Untuk kedua kalinya terdengar suara lo-
longan panjang. Sosok kembaran Barata Surya
menggelepar. Dari sekujur tubuhnya keluar asap
berwarna kehitaman. Asap yang menebar bau bu-
suk luar biasa. Benar seperti dugaannya, sosok
yang mengembari dirinya ternyata memang ma-
nusia jejadian.
Tidak berselang lama ujud kembaran Bara-
ta Surya pun sirna. Penghulu Siluman Kera Putih
sempat terkesima. Sekarang ia mulai menerka-
nerka siapa gerangan orang yang telah mencipta-
kan kembaran yang sangat mirip dengan dirinya
itu. "Di dunia ini tidak ada satu makhluk pun yang mampu menciptakan makhluk lainnya. Kalau pun itu terjadi, pasti ini semua hasil perbuatan Ratu Leak dengan bantuan benda yang dis-
ebut-sebut sebagai Batu Lahat Bakutuk. Hmm,
begitu penasarannya dia. Aku jadi ingin tahu sia-pa sesungguhnya perempuan yang bergelar Ratu
Leak tersebut" desis Penghulu Siluman tidak habis pikir.
Penghuni lereng gunung Mahameru ini se-
lanjutnya meneruskan perjalanannya kembali un-
tuk mencari Malaikat Berambut Api.
***
Malam itu di tepi muara sungai udara me-
mang terasa dingin menggigit. Sebuah tenda ber-
diri kokoh di depan onggokan api unggun yang
menyala-nyala. Manusia Topeng berada di dalam
tenda itu. Sedangkan Mata Iblis duduk diam di
bawah sebatang pohon mengkudu. Matanya yang
buta dalam keadaan terpejam. Orang tua ini en-
tah tertidur entah terjaga. Jauh ke samping, te-
patnya di depan api unggun Dewi Kerudung Putih
tampak masih menghangatkan diri. Udara yang
dingin memang terasa sangat menyiksa. Bukan
hanya itu saja, sejak sore tadi hati gadis ini memang tidak enak. Ada keresahan yang mengusik-
nya. Kegelisahan yang ia sendiri tidak tahu apa
penyebabnya. Gadis ini sebenarnya ingin tidur, di samping badannya terasa penat ia juga sudah
mengantuk. Namun bila melirik ke arah kuda, ia
menjadi was-was. Datuk Nan Gadang Paluih dan
Wayan Tandira masih belum muncul juga dari
sungai. Padahal mereka pamitan dengan Dewi
hanya sebentar saja. Mungkinkah orang mandi
bisa selama itu?
Dewi Kerudung Putih melirik ke arah kege-
lapan sungai. Ia tidak mendengar suara kecipak
air terkecuali desiran angin dan suara serangga.
Hanya sesekali terdengar suara burung hantu di
kejauhan.
"Malam ini suasananya terasa lain sekali"
kata Dewi dalam hati. "Perasaanku mengatakan sesuatu bakal terjadi di sini" pikirnya lagi. Kemudian si gadis merebahkan tubuhnya. Meman-
dang ke langit terlihat olehnya gugusan bintang
gemintang. Semuanya ini mengingatkan dirinya
akan Pendekar Blo'on, ia hanya dapat berdoa se-
moga pemuda yang disenanginya itu dalam kea-
daan baik-baik saja.
"Auh... aku mengantuk..." Dewi menga-
tupkan mulutnya. Ia sudah tidak ingin lagi memi-
kirkan kemana perginya Datuk Nan Gadang Pa-
luih dan Wayan Tandira. Lama kelamaan ma-
tanya pun terpejam.
Di luar sepengetahuan Dewi kiranya ada
dua pasang mata yang terus mengawasi. Dua pa-
sang mata itu memandang ke tenda atau ke arah
Mata Iblis yang duduk diam di bawah pohon.
"Tugas kita ini tidak boleh gagal Kita telah membunuh Malaikat Berambut Api palsu demi
kelancaran tugas dan jangan sampai terbongkar
siapa kita yang sebenarnya" bisik orang itu pada orang disebelahnya
"Tetapi mereka tidur dengan tempat terpi-
sah-pisah. Ini akan menyulitkan tugas kita" Yang diajak bicara seakan-akan mengeluh. "Ahk, kau ini mengapa begini bodoh? Membunuh Manusia
Topeng sudah menjadi tugasmu. Dua yang di luar
itu termasuk pekerjaan sulit, namun aku pasti
mampu melakukannya" kata orang pertama pe-
nuh keyakinan.
"Sekaranglah saatnya kita bergerak. Aku
harus membunuh Dewi terlebih dahulu Ayo-
lah..." Setelah mendapat aba-aba dari kawannya,
tanpa menunggu lebih lama lagi kedua orang ini
ke luar dari kegelapan. Yang memakai pakaian
putih berjalan mengendap-endap mendekati Dewi.
Sedangkan yang satunya lagi menyelinap ke bela-
kang tenda.
Sementara itu orang yang mendekati Dewi
Kerudung Putih kini sudah menghunus sebilah
pedang pendek berwarna putih mengkilap. Di luar
sepengetahuannya ada sepasang mata lain yang
terus mengawasi gerak-gerik mereka sejak tadi.
Laki-laki berpakaian putih yang menghunus pe-
dang itu sekarang dengan sinis angkat senjatanya tinggi-tinggi. Dewi yang tengah tertidur pulas kelihatannya memang tidak menyadari bahaya be-
sar yang mengancamnya. Tiba-tiba saja
Wuus
Senjata pun terayun terarah lurus ke ba-
gian jantung Dewi. Pada waktu yang sangat kritis itu. Tiba-tiba tiga buah benda berwarna hitam sebesar kelingking melesat ke arah tangan dan sen-
jata persis sejengkal lagi ujung senjata mencapai sasaran.
Tring Triing Tuuk
"Heh..."
Laki-laki berpakaian putih tampak kaget.
Senjata di tangan terpental dan jatuh di kegela-
pan. Selain itu tangannya pun sakit bukan main
seperti di tusuk-tusuk duri. Belum lagi ia sempat menoleh ke arah orang yang menyelamatkan De-wi, sebuah tendangan mendarat telak di pung-
gungnya. Orang ini tersungkur dengan wajah
mencium tanah. Suara ribut-ribut ini membuat
Dewi Kerudung Putih terjaga dari tidurnya. Ia kelihatan kaget sekali ketika melihat seorang laki-laki berpakaian serba merah telah berdiri tidak
jauh darinya.
"Bangunkan semua orang Ada tokoh-tokoh
palsu di sini" teriak kakek berambut merah. Di dalam tenda keributan lain terjadi. Manusia Topeng seperti sedang memaki-maki setelah terden-
gar suara bak bik buk beberapa kali. Lalu terlihat sosok tubuh terpental ke luar diiringi melesatnya sosok bayangan lain mengikuti orang yang terpelanting itu.
"Siapa kau?" tanya Dewi terheran-heran.
Lebih heran lagi ketika melihat laki-laki berpa-
kaian putih yang dikenalnya tersungkur.
"Aku Malaikat Rambut Api, nyawamu
hampir saja melayang di tangan orang itu andai
aku terlambat saja sedikit" jelas si kakek. Dewi Kerudung Putih terkesima. Bagaimana mungkin
Datuk Nan Gadang Paluih hendak mencelaka-
kannya? Sedangkan diantara mereka sudah sal-
ing kenal.
"Bohong" Datuk Nan Gadang Paluih bangkit membela diri. "Dialah yang hampir mencela-kanmu"
Dewi Kerudung Putih tentu saja semakin
bertambah bingung. Ia memandang ke arah sosok
yang baru terjatuh tadi. Ternyata Wayan Tandira
alias Si Manusia Akar.
"Manusia Topeng apa sesungguhnya yang
tengah terjadi?" tanya Dewi bingung. Manusia Topeng tidak segera menjawab. Ia memperhatikan
Malaikat Berambut Api seakan ingin meyakinkan
diri. "Entah ya,.. Bocah yang bernama Wayan Tandira ini hendak lepaskan pukulan yang me-matikan selagi aku tertidur. Menurutmu apakah
dia bermaksud mengurutku, sedangkan aku tidak
pernah memintanya"
"Ketahuilah oleh kalian. Aku telah mengi-
kuti kalian sejak setan yang mengaku-ngaku se-
bagai Datuk Nan Gadang Paluih ini membunuh
orang yang mirip denganku. Apa yang dilakukan-
nya itu hanyalah siasat untuk menutupi rahasia
siapa mereka yang sebenarnya" tegas Malaikat Berambut Api.
"Heh, ada apa ini ribut-ribut?" tanya Mata Iblis pula yang baru saja terjaga dari tidurnya.
"Orang rambut merah ini mengatakan Da-
tuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira, pal-
su Bocah ini mau membunuh aku, sedangkan
Datuk Nan Gadang hendak membunuh Dewi. Ba-
gaimana menurutmu?" tanya Manusia Topeng.
"Kalian salah sangka, kurasa kakek baju
merah inilah yang palsu dan hendak menipu ka-
lian" sergah Wayan Tandira membela diri.
"Ha ha ha Orang yang seperti aku satu te-
lah terbunuh Rasanya tidak mungkin Ratu Leak
menciptakan orang baru lagi dengan Batu Lahat
Bakutuknya Kalian mau percaya silahkan, tidak
juga tidak apa-apa" tegas kakek Dewana berang.
Lain lagi dengan Manusia Topeng. Orang ini se-
perti mendapat akal. Ia angguk-anggukkan kepala
sambil menghampiri Datuk Nan Gadang Paluih.
"Datuk Nan Gadang, aku percaya dengan
keteranganmu Beberapa waktu yang lalu kulihat
kudamu yang bernama Putih Kaki Langit dapat
berubah tinggi seperti hendak menggapai angka-
sa. Untuk membuktikan bahwa orang tua beram-
but merah itu mengada-ada, coba sekarang tolong
tunjukkan pada kami bagaimana caranya kau
dapat memerintah kuda alam gaib ini sehingga
tubuhnya menjadi besar dan tinggi" pinta Manusia Topeng. Wayan Tandira sepontan memandang
tajam pada Datuk Nan Gadang Paluih. Sang Da-
tuk kedipkan matanya, sehingga posisi mereka
sekarang saling memunggungi.
"Ternyata Datuk Nan Gadang Paluih tidak
dapat berbuat apa-apa dengan kudanya. Kini je-
laslah bagi kita siapa dia yang sebenarnya?" ujar Dewi Kerudung Putih.
"Hem, hajat belum terkabul tapi siapa diri
sudah ketahuan Wayan Tandira sesamaku, mari
kita membuka jalan darah" teriak Datuk Nan Gadang Paluih palsu ditujukan pada Wayan Tandira palsu pula.
"Mari, Datuk" sahut kembaran Wayan
Tandira. Tanpa banyak bicara lagi tiruan pemuda
yang sekujur tubuhnya terbalut akar-akaran ini
langsung melabrak Manusia Topeng yang berdiri
di depannya. Sedangkan Datuk Nan Gadang Pa-
luih palsu segera berhadapan dengan Malaikat
Berambut Api. Mata Iblis dan Dewi Kerudung Pu-
tih segera menyingkir ke tempat yang aman.
"Kalian berdua benar-benar orang yang ti-
dak berguna di depan kami. Terlebih-lebih kau
rambut merah? Ketua kami punya dendam se-
tinggi langit padamu" dengus kembaran Datuk Nan Gadang.
"Siapa ketuamu? Tentu Ratu Leak, bu-
kan?" celetuk Manusia Topeng yang ketika itu sedang bertarung dengan Kembaran Wayan Tandira
pemimpin negeri Sange.
"Kalian tahu apa?" Wayan Tandira yang menyahuti. Tiba-tiba saja pemuda berambut gondrong itu melesat ke depan sambil kirimkan joto-
san-jotosan ke beberapa bagian tubuh lawannya.
Untuk diketahui, Wayan Tandira yang sesung-
guhnya walau pun sekujur tubuhnya hingga se-
batas leher dibalut akar sakti. Tetapi kesaktiannya jauh di bawah Manusia Topeng. Dalam kea-
daan seperti sekarang ini pun walau Wayan ga-
dungan berusaha mendesak lawan. Tetap saja
Manusia Topeng bersikap santai-santai saja. Kelihatannya Wayan terpaksa harus menguras tena-
ga. Sekarang ia terus mendesak lawan sambil le-
paskan tendangan atau pun pukulan bertubi-
tubi. "Haiiit..."
Ketika melihat serangan lawan menderu.
Manusia Topeng melompat mundur sekaligus
berkelit menghindar. Kemudian tubuhnya melesat
ke udara, selagi ia meluncur dengan kepala
menghadap bawah, tangan Manusia Topeng
menghantam bahu kanan dan bahu kiri lawannya
secara bersamaan.
Bres
"Auukh..."
Kembaran Wayan Tandira menjerit histeris
dalam kesakitan yang teramat sangat. Bahu sebe-
lah kiri tampak miring, akar-akar yang membalut
tubuhnya berpatahan di sana-sini. Melihat kenya-
taan ini Manusia Topeng berkomentar:
"Jika kau Wayan Tandira yang asli, tentu
keadaanmu tidak babak belur seperti sekarang
ini. Paling tidak akar sakti dapat memancarkan
sinar yang dapat membuat lawanmu mati konyol"
"Manusia bertopeng, kau boleh saja bicara
tidak karuan juntrungnya. Tetapi sebelum itu te-
rimalah pukulanku" teriak kembaran Wayan. Seraya tiba-tiba berjumplitan sebanyak tiga kali, ketika ia berdiri tegak tidak jauh dari Manusia Topeng dengan tidak terduga-duga Wayan hantam-
kan pukulannya. Terlihat jelas sinar hitam meng-
hampar, Manusia Topeng segera dapat merasakan
betapa perutnya terasa panas. Kemudian terasa
ada gelombang angin dahsyat saling tindih me-
nindih. Manusia Topeng mencoba bertahan den-
gan posisi berdiri, namun ke dua tangan mendo-
rong ke depan.
"Huuuuap"
"Haaaa..."
Kembaran Wayan Tandira akhirnya terpe-
lanting juga. Laki-laki gondrong ini kelihatannya
menderita luka dalam yang tidak ringan. Sungguh
pun demikian ia mencoba bangkit kembali.
DELAPAN
Manusia Topeng yang sudah mengetahui
siapa adanya Wayan Tandira. Yang tidak lain ada-
lah kembaran yang diciptakan melalui Batu Lahat
Bakutuk oleh Ratu Leak, tidak memberi kesempa-
tan lebih banyak lagi. Ia melompat ke depan, disertai teriakan melengking tinggi ia pukulkan ke-
dua tangannya ke dada kembaran Wayan. Si gon-
drong mencoba berguling, tetapi gerakannya itu
hanya dapat bergeser sejengkal saja.
Praak
Tangan kanan Manusia Topeng menghan-
tam telak dada lawannya. Sehingga Wayan menje-
rit histeris. Lima buah tulang iganya remuk, da-
rah menyembur dari mulut kembaran Wayan
Tandiria. Laki-laki itu menggelepar, matanya me-
lotot. Dalam keadaan melotot seperti itulah ji-
wanya melayang.
Perlahan-lahan. Akar-akar yang membelit
Wayan Tandira palsu sirna begitu saja. Sosoknya
mengecil, semakin bertambah kecil disertai men-
gepulnya asap tipis berbau busuk luar biasa. Ke-
mudian tinggallah warna hitam sepanjang hampir
satu depa. Sedangkan mayat kembaran Wayan hi-
lang begitu saja.
"Sudah kukatakan semua ini adalah tipuan. Mengapa jadi manusia kena di bodohi?"
Yang bicara adalah Malaikat Berambut Api yang
saat itu sedang berusaha mendesak Datuk Nan
Gadang Paluih gadungan. Manusia Topeng men-
dengar kata-kata kakek Dewana ikut nyeletuk.
"Datuk Nan Gadang dapat memerintah ku-
da putihnya untuk menyerangmu Maka berhati-
hatilah orang rambut merah"
Malaikat Berambut Api yang tidak punya
tabiat konyol apalagi suka bercanda ini hanya
mendengus. Waktu itu lawan telah melepaskan
pukulan dahsyat dalam jarak yang sangat dekat
sekali. Wut
Malaikat Berambut Api spontan segera me-
rasakan adanya angin dingin laksana mata tom-
bak menusuk-nusuk sekujur tubuhnya. Diam-
diam ia kerahkan tenaga dalam untuk lindungi
diri. Sedangkan bagian tenaga lainnya segera ia
pindahkan ke tangan kanan.
"Heeph..."
Tangan Malaikat Berambut Api tampak
menggeletar. Kiranya ia telah siap memapaki se-
rangan lawan dengan pukulan 'Ratapan Pem-
bangkit Sukma'. Segera saja kedua tangannya be-
rubah memutih laksana salju. Ketika kakek
penghuni Pulau Seribu Satu Malam ini hentakkan
tangannya ke depan. Maka melesatlah sinar putih
bergulung-gulung bagaikan serangkaian pelangi.
Sinar merah hitam seakan-akan melabrak
sebuah dinding baja yang sangat tebal. Datuk
Nan Gadang palsu terpaksa melipat gandakan te-
naga dalamnya untuk meneruskan serangannya
yang tertahan sinar putih. Pipinya tampak meng-
gembung, wajah berubah merah sedang mata me-
lotot karena begitu gigihnya ia ingin menghancurkan lawannya.
"Hemm, boleh juga" gumam kakek Dewa-
na. Seraya tiba-tiba saja berteriak keras. Untuk kedua kalinya tangan lebih didorongkan ke depan. Tiba-tiba Datuk Nan Gadang merasa seperti
ada kekuatan yang Maha dahsyat memupus habis
serangan yang dilancarkannya bertubi-tubi. Tidak dapat dipertahankan lagi oleh Sang Datuk.
Duuum
Bersamaan dengan terdengarnya suara
benturan keras tadi, maka orang ini pun terpental jauh. Terlihat begitu banyak darah yang keluar
dari mulutnya. Sambil memegangi dadanya Datuk
Nan Gadang Paluih bangkit berdiri. Lalu tangan
kanan menunjuk lurus-lurus ke arah lawannya.
Detik itu juga dari ujung jari Datuk Nan
Gadang melesat selarik sinar hitam berbau sengit, pertanda ada racun jahat yang ikut melesat bersamaan dengan serangan tersebut.
Malaikat Berambut Api tidak tinggal diam.
Ia segera memutar tangannya membentuk perisai
diri untuk menghalau serangan lawan yang sudah
ia ketahui betapa berbahayanya. Angin pun men-
deru-deru menyertai gerakan tangan si kakek.
Untuk yang kedua kalinya sang Datuk merasa se-
rangannya terhalang pusaran angin lawan yang
tercipta lewat tangan yang berputar itu.
Tetapi setelah menggandakan tenaga da-
lamnya, maka sedikit demi sedikit serangan ter-
sebut mampu juga menerobos pertahanan lawan-
nya. Malaikat Berambut Api segera membuang
tubuhnya ke samping. Ia bergerak cepat ke depan
dengan berguling-guling. Setelah lawan berada
dalam jangkauannya, kakinya melibas.
Dees
"Ukh..."
Tidak ampun lagi tendangan itu membuat
kembaran Datuk Nan Gadang Paluih terpelanting
roboh. Begitu terjatuh Malaikat Berambut Api
langsung menerkam lawannya. Mereka pun ber-
guling-guling, ternyata Datuk Nan Gadang pun ti-
dak mau menyerah begitu saja. Sayang Malaikat
Berambut Api terlalu kuat baginya. Terbukti sekejap kemudian kakek berambut merah itu telah
berhasil memitingnya, sedangkan tangan yang
lain mencengkeram kepala sang Datuk.
"Siapa yang menyuruhmu?" geram Malai-
kat Berambut Api dengan perasaan kesal.
"Akh... aku tidak akan mengatakannya pa-
da siapapun" sahut Datuk Nan Gadang. Kakek Dewana menyentakkan kepala lawan lebih ke
atas, sehingga membuat orang ini menjadi sema-
kin tersiksa saja.
"Katakan padaku, siapa yang menyuruh-
mu?" "Jahanam, aku tidak akan bicara apapun"
Makian ini hanya membuat Malaikat Berambut Api semakin bertambah marah. Tidak te-
relakkan lagi, Malaikat Berambut Api akhirnya
memelintir kepala lawannya sehingga ...
Traak
Klekh
Kembaran Datuk Nan Gadang Paluih ini
sudah tidak kuasa lagi berteriak atau menjerit.
Lehernya patah, dan ia tewas seketika itu juga.
Sama halnya seperti Wayan Tandira palsu tadi,
kini sosok sang Datuk setelah binasa juga raib
begitu saja. Bahkan kuda putih yang menjadi
tunggangan kembaran Datuk Nan Gadang juga
raib. "Terlalu banyak Ratu Leak meniru tokoh-tokoh lurus. Jangan-jangan aku pun sudah diti-
runya habis-habisan Saudara Dewana, sungguh-
pun aku tidak meragukan kemampuan masing-
masing, namun alangkah baiknya jika mulai se-
karang kita saling bahu membahu untuk menge-
nyahkan manusia terlaknat Ratu Leak" ujar Manusia Topeng.
"Hmm, orang yang bicara di balik kedok-
nya. Aku tidak keberatan menerima usulmu itu.
Hanya aku tidak mau berleha-leha seperti kalian
dengan mendirikan tenda segala seperti orang
yang bersenang-senang. Malam ini juga kita ha-
rus melanjutkan perjalanan" kata Malaikat Berambut Api tegas.
"Baik, baiklah aku setuju-setuju saja. Ka-
lau aku sudah setuju, kurasa Dewi dan Mata Iblis mau saja ikut bersama kita"
"Ya, aku setuju" kata Mata Iblis dan Dewi Kerudung putih hampir bersamaan.
***
Ratu Leak tokh pada akhirnya harus men-
gakui, bahwa tokoh-tokoh kembar yang dicipta-
kannya tidak memperlihatkan hasil menggembi-
rakan dalam setiap pertempuran. Kenyataan ini
benar-benar membuatnya menjadi marah. Sore
itu di tempat tinggalnya yang baru ia memanggil
Tua Tengkorak Mata Api, yaitu laki-laki muka
tengkorak yang cuma mempunyai sebelah mata.
Orang ini masih terhitung adik seperguruannya
sendiri.
"Kenyataan mengatakan usahamu kali ini
pun tidak mendatangkan hasil, kakang mbok"
kata Tua Tengkorak Mata Api seakan sudah men-
getahui apa yang ingin disampaikan oleh Ratu
Leak. "Menurut pendapatmu bagaimana? Aku
sudah terlanjur melangkah jauh, mustahil ra-
sanya bagiku untuk mundur" kata perempuan
cantik tersebut. Wajahnya sama sekali tidak
memperlihatkan ekspresi apa-apa.
"Ha ha ha Kulihat tanda-tanda menciutnya
nyalimu kakang, mbok Aku Tua Tengkorak Mata
Api jika jadi kau tidak akan mundur. Musuh
utamamu Malaikat Berambut Api adalah musuh-
ku juga, sedangkan terhadap Penghulu Siluman
Kera Putih aku kurang mengenalnya. Akan tetapi
apa salahnya jika kita saling bahu membahu un-
tuk menghancurkan kedua orang itu? Muridku
Mustika Jajar pun dapat membantu kita" jelas kakek berwajah tanpa daging dan punya sebuah
mata merah yang seperti hendak memberojol ke-
luar tersebut.
"Kurasa bukan hanya Dewana dan Barata
Surya saja kendala yang akan menghalangi kita.
Masih ada Manusia Topeng, Datuk Nan Gadang
Paluih. Orang seberang yang Batu-nya telah ku
curi, selain itu masih ada pula Wayan Tandira
yang seluruh rakyatnya kukutuk"
"Hmm, kuakui keberanianmu. Yang kuhe-
rankan kemana pun engkau pergi kau selalu
membuat orang memusuhimu Keadaannya seka-
rang sudah sangat lain. Kita tidak dalam posisi di atas juga tidak dalam posisi terjepit. Untuk membantumu rasanya bukan sesuatu yang sulit. Te-
tapi aku harus minta pendapat muridku" ujar Tua Tengkorak Mata Api. Seraya kemudian memandang ke arah gadis cantik yang ketika itu
hanya duduk diam mendengarkan pembicaraan
dua tokoh ini.
"Uwa guru Mereka bukanlah orang-orang
sembarangan. Seperti Datuk Nan Gadang Paluih
itu aku sudah merasai seberapa dahsyat kesak-
tiannya Salah satu sikap uwa guru yang kurang
aku suka, uwa cuma mementingkan diri sendiri"
mendengar ucapan Mustika Jajar, wajah Ratu
Leak sempat memerah juga. Tetapi gadis mesum
yang pernah di gembleng di lembah Ciruyung itu
cepat menambahkan. "Walaupun begitu, demi
memandang muka pada guruku sendiri, aku ber-
sedia membantumu" tegas Mustika Jajar.
"Dengarlah, muridku sendiri pandai meni-
lai bagaimana pendirianmu kakang mbok Kau ti-
dak usah berkecil hati. Sekarang juga aku dan
muridku akan menghadang musuh-musuh kita"
"Mengapa kau tidak mau bersama-samaku
disini?" tanya Ratu Leak.
"Tidak Menghadapi orang-orang seperti
mereka mengapa harus main keroyok. Aku sendiri
berjanji akan membawakan kepala orang-orang
yang kau benci ke hadapanmu" janji Tua Tengkorak Mata Api.
"Bagus Atas dukunganmu itu aku mengu-
capkan terima kasih" ujar Ratu Leak penuh rasa bangga dalam hati. Tua Tengkorak Mata Api rasanya memang sudah tidak ingin menunggu lebih
lama lagi. Ia bersama Mustika Jajar alias Iblis Betina Dari Neraka segera meninggalkan Ratu Leak.
***
Duuk Duuuk
"Hea..."
"Kuat-kuatlah kau berpegangan" teriak kakek berpakaian putih berselempang putih pada
laki-laki gondrong di belakangnya. Orang yang
membonceng di punggung belakang kuda tung-
gangannya mempererat pelukan pada pelana ku-
da. Saat itu kuda putih yang di kenal dengan na-
ma Si Putih Kaki Langit terus melesat dengan ke-
cepatan laksana kilat.
"Menurutmu masih luaskah daerahmu
ini?" "Sange cukup luas, Datuk Kita hanya tinggal menelusuri daerah-daerah pinggiran pantai.
Aku yakin Ratu Leak masih mendekam di negeri
kami ini"
"Bagaimana kau bisa merasa yakin, anak
ketek Apa kau punya semacam penciuman yang
dapat mengetahui dimana Ratu Leak bersem-
bunyi" "Aku bukan anjing pelacak, Datuk Kesim-pulanku ini berdasarkan kenyataan bahwa hingga
saat ini penduduk negeri masih juga belum terbe-
bas dari pengaruh sihir perempuan itu"
"Baiklah, mudah-mudahan kita segera me-
nemukan apa yang kita cari" ujar laki-laki berpakaian putih selempang putih yang tidak lain ada-
lah Datuk Nan Gadang Paluih yang sesungguh-
nya. Mereka ini terus menjelajah daerah-daerah
yang mereka curigai sebagai tempat persembu-
nyian Ratu Leak.
Sementara itu pada saat yang sama di lain
tempat namun masih di daerah Sange juga, Ma-
nusia Topeng, Mata Iblis, Dewi Kerudung Putih
dan Malaikat Berambut Api sudah sampai di dae-
rah berbukit-bukit di bagian timur negeri itu. Lalu mereka melewati dataran rendah yang kering kerontang. Saat rombongan ini mendaki ke arah bukit. Tiba-tiba saja Malaikat Berambut Api ber-
teriak memberi peringatan.
"Aku mendengar suara nafas beberapa
orang di atas sana Aku juga mendengar suara
benda-benda berat bergeser Hendaknya berhati-
hatilah, kurasa maut telah menghadang kita..."
Belum lagi ucapan kakek Dewana ini terhenti, da-
ri atas bukit yang baru hendak mereka daki me-
luncur beberapa buah batu besar menerjang me-
reka. "Gila jahanam, pekerjaan siapa ini?" dengus Mata Iblis. Kakek bermata buta ini bukannya
malah lari menyelamatkan diri atau turun kemba-
li ke lembah melainkan terus berlari ke atas bukit seakan seperti orang gila yang menyongsong
maut. "Ini pekerjaan orang-orang iseng yang hendak merampas nyawa kita" Manusia Topeng me-nimpali. Ia dengan ilmu meringankan tubuhnya
melompat ke sana ke mari dengan indahnya. Se-
dangkan Mata Iblis gerakkan tangannya yang
memakai sarung Sutra Kencana itu ke samping
kanan dan kiri dengan posisi menyibak. Sehingga
batu-batu besar yang seharusnya menghantam
dirinya meleset dari sasaran.
Apa yang dilakukan oleh Mata Iblis adalah
sesuatu yang sangat mengagumkan karena tidak
sembarangan orang dengan mudah dapat me-
nyingkirkan batu yang tengah meluncur itu
hanya dengan sebelah tangan. Mata Iblis terus
berlari ke atas, hingga tidak lama sampailah ia di
berbudi Caranya memperhatikan kita hampir
sama dengan cara-cara iblis Aku curiga jangan-
jangan ada apa-apanya di balik semua ini"
"Entahlah, mataku buta. Mana mungkin
aku bisa meneliti hingga sejauh itu" teriak Si Ma-ta Iblis. Tiba-tiba saja ia bicara dengan suara lan-tang. "Kau boleh bicara apa saja. Tapi ketahuilah, aku dan sahabat Manusia Topeng sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan Ratu Leak
Sebagai kebenaran atas ucapanku ini aku rela
bertarung sampai mati denganmu jika kau men-
ganggap dirimu orang yang benar" teriak Mata Iblis.
"Hhh, bicaramu lancang sekali. Majulah
kalian berdua" tantang laki-laki berbaju merah yang mengaku dirinya sebagai Malaikat Berambut
Api. "Sahabat Manusia Topeng tidak usah turun tangan, biarkan aku yang akan memberi pelajaran pada kurcaci tengik ini" sergah Mata Iblis.
Dan baru saja ia berhenti bicara, tiba-tiba saja Malaikat Berambut Api telah melepaskan pukulan
dahsyat ke arah Mata Iblis dan Manusia Topeng.
Cepat sekali Manusia Topeng gerakkan ketapel
Sakti di dadanya.
Wuuut
Buuum
Terdengar suara ledakan menggelegar. Ma-
laikat Berambut Api tampak terkesiap. Ia terdo-
rong mundur, tapi kemudian gelengkan kepala
dan kini menerjang ke depan sambil melancarkan
jurus-jurus andalannya. Maka terjadilah pertem-
puran sengit. Masing-masing lawan kelihatannya
memang ingin menjatuhkan musuhnya dalam
waktu yang singkat.
"Shaaa..."
Tinju Malaikat Berambut Api menderu. Se-
rangan itu jelas mengandung tenaga dalam tinggi
dan terarah tepat di bagian tenggorokan. Mata iblis walau pun tidak melihat tetapi dapat merasa-
kan serangan itu. Ia cepat merundukkan kepa-
lanya. Sedangkan tangan kanan cepat menangkis.
Malaikat Berambut Api tidak ingin melihat seran-
gannya sia-sia. Ia menarik serangan pertama, se-
bagai gantinya ia lepaskan serangan ke bagian
dada. Mata Iblis berputar, sikunya menghadang.
Gerakan cepat ini tidak dapat dihindari, sehingga terjadilah benturan keras.
Duuk
"Wuagkh..."
Demikian kerasnya benturan yang terjadi,
hingga membuat Mata Iblis terpelanting. Sambil
menggeram marah, orang ini bangkit lagi. Ru-
panya Mata Iblis gampang panasan. Sehingga be-
gitu berdiri ia langsung kerahkan tenaga sakti ke bagian matanya. Pabila matanya yang buta itu
berkedip, mata dua larik sinar putih menghantam
Malaikat Berambut Api.
"Hum, bukan main..." gerung lawannya.
Saat ia merasakan adanya sambaran hawa panas
memanggang tubuhnya. Malaikat Berambut Api
jatuhkan tubuhnya hingga rata dengan tanah.
Buuum
"Heh..."
Bukan hanya Malaikat Berambut Api saja
yang dibuat kaget. Tetapi Manusia Topeng dan
Dewi Kerudung Putih yang mengintai di atas po-
hon dibuat terperanjat. Pohon yang terkena sinar mata kakek buta ini bukan terbakar atau layu
daun-daunnya. Melainkan roboh seperti daun ta-
las yang terkena api.
"Aku harus melakukan sesuatu sebelum
orang-orang ini tahu siapa aku yang sebenarnya"
pikir Malaikat Berambut Api. Tiba-tiba saja ia melesat ke depan, sekarang ia lepaskan pukulan bertubi-tubi ke beberapa jalan darah utama di tubuh Mata Iblis. Kakek buta ini tentu saja tidak mau
dirinya menjadi sasaran serangan lawan yang ga-
nas dan mengandung hawa racun itu. Sehingga
sambil melompat mundur ia lepaskan tendangan
ke bagian selangkangan lawan.
Wuut
"Hait"
Malaikat Berambut Api miringkan tubuh-
nya. Tinjunya menderu dan tidak dapat dihindari
lagi Mata Iblis tersentak ke belakang ketika tinju lawan menggedor dadanya.
Mata Iblis terdorong mundur, walaupun ia
masih tetap berdiri tegak. Namun dari sudut-
sudut bibirnya meneteskan darah segar. Dilihat
dari kekuatan tenaga dalam, nampaknya memang
Malaikat Berambut Api memiliki tenaga dalam
beberapa tingkat lebih tinggi. Satu hal yang di-
anggap istimewa. Kakek berpakaian hitam ini
mempunyai kekuatan mata yang dapat mengirim-
kan hawa panas atau serangan berhawa dingin.
Selain itu masih ada satu lagi kelebihan lain yang tentu saja puncak dari segala kedahsyatan yang
ia miliki.
"Sekejap lagi kau akan segera mati di tan-
ganku, orang buta" teriak Malaikat Berambut Api. "Kau ingin membunuhku Ha ha ha..." ejek Mata Iblis disertai tawa bernada meremehkan.
"Jika kau benar-benar laki-laki sejati, kau pan-danglah mataku yang buta ini" serunya.
Bagi Malaikat Berambut Api tentu bukan
masalah jika hanya memandang mata orang buta.
Tokh menurut pikirannya mata itu selain dapat
melepaskan sinar maut tidak mempunyai keisti-
mewaan apa-apa lagi. Tanpa ragu-ragu iapun
memandang ke mata lawan dengan seksama. Apa
yang didapatinya benar-benar membuatnya ter-
cengang.
Malaikat Berambut Api tiba-tiba merasa-
kan seperti ada puluhan batang jarum menusuk-
nusuk ke dua bola matanya. Mata itu menjadi sa-
kit dan pedih. Ia mulai merasa pula kepalanya
seakan-akan membesar dan hendak meledak.
Rambut rambut di kepala seperti tercabut dengan
paksa. Siksaan yang sangat luar biasa ini sema-
kin menghebat. Urat-urat darah di wajah dan se-
luruh kepalanya tiba-tiba menyembul dan merasa
retak di sana sini. Malaikat Berambut Api ter-
huyung-huyung. Peredaran darahnya menjadi ka-
cau, ini rupanya yang membuat laki-laki ini men-
jadi panik.
"Akh... akkh..."
Kakek yang mengaku sebagai Malaikat Be-
rambut Api ini menjerit-jerit kesakitan. Seraya memegangi kepala untuk beberapa waktu lamanya. Sementara wajah orang ini mulai berubah
tidak karu-karuan. Untung dalam waktu yang kri-
tis itu terlintas dalam pikirannya terlintas dalam pikirannya untuk membebaskan diri dari pengaruh tatapan mata lawannya. Dengan kacau dan
kurang kosentrasi ia kerahkan tenaga dalamnya.
Lalu.... "Haaap"
Satu sentakan keras membuatnya terbebas
dari pengaruh tatapan lawan. Orang ini jatuh terduduk, mulutnya menyembur darah kental. Kepalanya langsung pusing dan seperti sudah tidak
utuh lagi. Ia mengambil sesuatu dari balik sa-
kunya lalu menelan benda berwarna merah itu.
Hanya beberapa detik kemudian ia sudah
bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan luka-luka
yang dideritanya. Malaikat Berambut Api le-
paskan pukulan secara membabi buta. Manusia
Topeng yang menyaksikan pertarungan itu pun
tidak luput menjadi sasaran. Tentu saja mudah
bagi Manusia Topeng menghindari pukulan-
pukulan yang ngawur ini. Mata Iblis pun bahkan
sambil menghindar lepaskan serangan dengan si-
nar matanya.
Sementara itu di atas pohon, Dewi Keru-
dung Putih mulai berfikir. Ia pernah mendengar
guru dari pemuda yang ia sukai salah seorang di-
antaranya adalah Malaikat Berambut Api. Sejauh
ini kakek yang menyebut dirinya Malaikat Beram-
but Api sama sekali tidak pernah memperguna-
kan jurus maupun pukulan yang pernah diper-
gunakan oleh Suro. Dewi curiga, jangan-jangan
kakek rambut merah itu adalah Malaikat Beram-
but Api gadungan?
LIMA
Berangkat dari keyakinan inilah maka Dewi
Kerudung Putih kemudian keluar dari tempat
persembunyiannya. Seraya berlari mendekati Ma-
nusia Topeng yang memang pernah dikenalnya.
"Orang tua, siapapun adanya engkau ini.
Kuperingatkan padamu bahwa lawan kakek mata
aneh itu bukanlah Malaikat Berambut Api yang
sebenarnya" tegas si gadis dengan suara perlahan. Sementara itu pertempuran terus berlanjut.
"Eeh, bagaimana kau bisa mengeta-
huinya?" tanya Manusia Topeng heran.
"Muridnya adalah kawanku, aku kenal
dengan beberapa jurus yang diwariskan Malaikat
Berambut Api. Sedangkan jurus yang diperguna-
kan oleh kakek rambut merah itu sama sekali ti-
dak punya kemiripan, jurus-jurusnya ngawur"
"Aku ingin mencegah, tapi jika Mata Iblis
memang suka bertarung. Lebih baik kita biarkan
saja dulu" sahut Manusia Topeng.
Dewi Kerudung Putih memang tidak dapat
memaksa, sebab ia belum tahu kakek rambut me-
rah ini berdiri di pihak mana. Satu hal yang
membuatnya heran, mengapa bisa muncul tokoh
kembar? Sementara itu di tengah-tengah pertem-
puran, Mata Iblis sudah mulai jatuh bangun ter-
kena hantaman lawannya. Walau pun begitu di
pihak lawannya juga mengalami akibat yang sa-
ma. Tetapi sosok yang mengaku sebagai Malaikat
Berambut Api ini nampaknya mempunyai daya
tahan yang sangat tinggi. Terbukti walau pun ia
menyemburkan darah dari mulutnya terhantam
pukulan Mata Iblis, tetapi ia sudah bangun kem-
bali. Sementara Mata Iblis sudah mulai kewala-
han. Manusia Topeng setelah dapat menjajaki
kemampuan kawan maupun lawannya segera
memberi isyarat pada Mata Iblis agar mundur.
Isyarat itu tentu tidak dapat dilihat oleh Mata Iblis karena matanya memang buta.
"Mata Iblis, menyingkirlah Kulihat kau su-
dah mpis-mpisan Biarlah aku yang menghada-
pinya" seru Manusia Topeng.
Demi menghormati Manusia Topeng dan
mengingat keadaan dirinya sendiri, Mata Iblis segera melompat mundur. Melihat hal ini Malaikat
Berambut Api tersenyum mengejek.
"Mengapa tidak kalian bertiga maju bersa-
ma-sama agar aku dengan mudah dapat mengi-
rim kalian ke neraka" dengus Malaikat Berambut Api. "Huh... aku tidak akan heran mengapa perempuan punya bisul Semua itu memang sudah
dari sananya sebelum nenekku terlahir ke dunia
ini. Yang memalukan mengapa wajahmu mirip
sekali dengan Malaikat Berambut Api? Sehingga
kau dan dia seperti dua orang bersaudara kem-
bar. Sekarang setelah melihatmu tidak memper-
gunakan jurus seperti yang dimiliki oleh Pendekar Bodoh, rasanya aku yakin engkaulah kembaran
yang palsu Setelah kuteliti-teliti, setelah kuamat-amati dan aku pelototi, hatiku mengatakan kau
pastilah kaki tangan Ratu Leak Kau fitnah kami
untuk menutupi keadaanmu yang sebenarnya
Bangsat betul..." maki Manusia Topeng.
"Kau tahu apa? Akulah Malaikat Berambut
Api?" dengus si kakek berambut merah ngotot.
"Seribu kali kau mengatakan dirimu Malai-
kat Berambut Api, kau tidak dapat menipuku Hu
hu hu..."
Malaikat Berambut Api merasa kedoknya
terbongkar. Ia tidak punya pilihan lain terkecuali membunuh semua orang yang ada di sini.
"Ha ha ha... Walau pun kau memakai to-
peng ternyata matamu memang awas Kau men-
gerti keadaan yang sebenarnya Tetapi itu percu-
ma, karena sekejap kau dan dua kawanmu itu
akan mati di tanganku"
Baru saja kakek rambut merah ini selesai
bicara, tiba-tiba saja ia angkat tangannya tinggi-tinggi. Tar Tar
Terdengar suara ledakan menggelegar di
angkasa. Tangan kakek berambut merah itu be-
rubah merah kehitam-hitaman. Semakin lama
tangan itu semakin membesar. Sementara ku-
kunya memanjang dan berwarna hitam pula.
Tangan tersebut selain bertambah panjang juga
terus membesar, sehingga seukuran dua kali le-
bih besar dari tubuh kakek itu sendiri.
Dewi Kerudung Putih dan Manusia Topeng
tercengang. Sedangkan Mata Iblis yang tidak da-
pat melihat berseru....
"Aku mencium bau iblis Sahabat Manusia
Topeng, dia mempergunakan Ilmu Kaki Roh Tan-
gan Maut"
"Ha ha ha... Aku pun baru saja hendak
mengatakan begitu, tapi ternyata kau yang buta
sudah melihatnya lebih dulu dariku" sahut laki-laki pendek yang tidak pernah menanggalkan to-
pengnya sambil tertawa-tawa.
Selagi Manusia Topeng tertawa-tawa, dua
tangan yang seukuran dua kali tubuh pemiliknya
ini meluncur dengan gerakan menangkap. Manu-
sia Topeng merasakan ada sesuatu yang me-
nyambar badannya. Ia menunggu, ketika merasa-
kan tangan-tangan yang membesar itu hendak
mencengkeramnya. Dengan cerdiknya Manusia
Topeng melompat sekaligus acungkan Ketapel
Sakti di dadanya. Dua leret sinar menyambar ke
arah dua tangan tersebut. Malaikat Berambut Api
hanya sempat menarik salah satu tangannya. Se-
dangkan tangan yang lain hanya dalam waktu se-
kejap sudah kena dihantam serangan lawan.
Tuuum
"Hraaakh..."
Malaikat Berambut Api menjerit kesakitan
sambil kibas-kibaskan tangannya yang melepuh.
Kenyataan yang dialaminya benar-benar mem-
buatnya murka. Tiba-tiba saja ia julurkan tan-
gannya lagi.
Wuut
Dengan ganas tangan itu menyambar, Ma-
nusia Topeng berkelit kemudian hantamkan ke-
dua sikunya ke bagian telapak tangan Malaikat
Berambut Api.
Des
Hantaman itu hanya membuat tangan yang
telah membesar itu bergetar saja. Kalang kabut
Manusia Topeng berguling-guling menghindari
cengkeram tangan lawannya. Selagi kakek pendek
ini dibuat sibuk tiba-tiba saja ada ledakan-
ledakan keras di bagian punggung Malaikat Be-
rambut Api. Kakek ini pun menjerit sambil meng-
geliat. Matanya melotot seperti melihat setan, dari mulutnya menyembur darah. Orang ini tiba-tiba
limbung dan jatuh terhempas nyaris menimpa
Manusia Topeng. Sesungguhnya apa yang terjadi?
Ketika terjadi pertempuran sengit tadi, ti-
ba-tiba saja muncul seekor kuda berbulu putih.
Di atas punggung kuda duduk seorang laki-laki
berpakaian putih berambut putih, di belakang la-
ki-laki itu membonceng seorang pemuda beram-
but gondrong yang di sekujur tubuhnya terbung-
kus akar-akaran. Orang berbaju putih itulah yang tadi melemparkan pisau berbendul peledak. Ketika pisau menancap di punggung kakek rambut
merah, maka bandulannya yang berwarna hitam
langsung meledak. Mulai dari bagian wajah, dada
dan perut kakek rambut merah memang utuh, te-
tapi bagian punggungnya berantakan.
Manusia Topeng cepat menoleh ke arah pa-
ra penunggang kuda. Ternyata mereka tidak lain
adalah Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan
Tandira.
"Aku terpaksa membunuhnya, orang tua
Dia memang bukan Malaikat Berambut Api yang
sebenarnya" kata Datuk Nan Gadang Paluih.
"Kau bagaimana bisa mengetahuinya?"
tanya Manusia Topeng.
"Lihatlah..." Sang Datuk tiba-tiba saja melompat dari atas punggung kudanya. Dengan te-
nang ia menghampiri sosok yang mengaku dirinya
sebagai Malaikat Berambut Api. Lalu ia mengitari mayat yang terbujur di depannya sebanyak tiga
kali, sedangkan tangannya dikibas-kibaskan se-
demikian rupa.
Sebuah keanehan terjadi, mayat si rambut
merah yang telah membeku itu tiba-tiba saja
mencair bagaikan lilin yang terkena api. Selain itu tercium pula bau busuk yang sedemikian menusuk. Daun-daun di sekitar mayat tampak hangus
terbakar. Manusia Topeng dan Dewi Kerudung
Putih terkejut. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Pa-
luih dan Wayan Tandira saling pandang.
"Katakan padaku apa yang terjadi, saha-
batku?" tanya Mata Iblis, caping hidungnya kembang kempis. Rupanya ia mengendus bau bangkai
juga. "Orang yang kita lawan tadi ternyata Malaikat Berambut Api palsu Seseorang jelas sedang menjalankan muslihatnya untuk mengacau atau
membunuh orang-orang jelek seperti kita" kata Manusia Topeng memberi komentar.
"Naluriku mengatakan ada penghianat di-
antara kita?" celetuk Datuk Nan Gadang Paluih.
"Sahabatku, siapa manusianya yang berani
menuduh sembarangan ini? Aku tidak mengenal-
nya. Tuduhan itu bisa membuatku jadi nekad dan
mengajaknya bertarung hingga mampus. Aku ti-
dak perduli andaipun ia memiliki kesaktian seba-
nyak buih di lautan, aku tidak perduli" teriak
Mata Iblis merasa tersinggung.
Manusia Topeng yang kocak berusaha me-
nyabarkan Mata Iblis. Seraya menepuk bahu Ma-
ta Iblis disertai ucapan.
"Keadaan sekarang benar-benar genting.
Munculnya Malaikat Berambut Api palsu sudah
merupakan suatu pertanda ada kekuatan yang
mampu menciptakan orang yang sama diantara
kita. Bukan mustahil, aku, engkau atau Datuk
Nan Gadang Paluih serta Dewi Kerudung Putih
sekarang sudah ada kembarannya"
"Artinya jika manusia seperti aku ada dua,
berarti kembar Yang satu asli dan satu lagi pal-su" ujar Mata Iblis. "Seseorang melakukan ini pasti dengan maksud membikin kacau persatuan
diantara golongan lurus"
"Satu yang mengherankan dan kuanggap
paling memalukan, begini banyak orang berke-
pandaian tinggi. Hanya menghadapi Ratu Leak
saja kita sudah hampir tidak berdaya dan terasa
bertele-tele." kata Dewi Kerudung Putih setengah mencemo'oh.
"Hik hik hik Memang sangat memalukan,
keterlaluan bahkan." celetuk Manusia Topeng.
"Firasatku mengatakan semua ini hasil perbuatan Ratu Leak. Aku menyarankan sebaiknya mulai
sekarang diantara kita jangan ada perpisahan
sampai kita menemukan Ratu Leak"
Datuk Nan Gadang Paluih anggukkan ke-
pala setuju. "Ide yang bagus Dengan begitu jika sampai muncul kembaran yang palsu kita tidak
akan terkecoh lagi dan gampang menyelesaikan
persoalan agar tidak salah turun tangan" kata kakek rambut putih berpakaian putih selempang
putih penuh dukungan.
"Kemudian apa yang harus kita lakukan?"
tanya Wayan Tandira.
"Mulai saat ini kita yang sudah berkumpul
disini pusatkan perhatian untuk mencari dimana
Ratu Leak bersembunyi" tegas Manusia Topeng.
Sekali lagi Datuk Nan Gadang Paluih anggukkan
kepala. "Aku setuju Sekarang kita tetap berkumpul. Hari sudah senja, tapi masih ada waktu bagi kita untuk melanjutkan perjalanan. Kulihat tadi
tidak jauh dari sini ada sungai. Kita bisa berke-mah disana dan bergantian jaga" usul Datuk Nan Gadang.
"Apakah yang lain-lainnya ada usul?"
tanya Mata Iblis. Karena tidak seorang pun ada
yang menanggapi, maka diambil kesimpulan
bahwa mereka semua telah setuju. Tidak lama se-
telah itu berangkatlah rombongan ini menuju ke
arah utara. Di luar sepengetahuan mereka, ki-
ranya ada sepasang mata yang terus mengawasi
gerak gerik mereka dengan tatapan curiga.
"Sekarang aku telah mengetahui duduk
persoalan yang sebenarnya. Bukan mustahil da-
lam rombongan itu ada pula yang palsu Kemba-
ran tokoh-tokoh yang tidak kukehendaki Aku ha-
rus terus memantau gerak-gerik mereka agar ti-
dak ada lagi nyawa yang terbuang percuma den-
gus bayangan di balik semak-semak itu. Kemu-
dian secara diam-diam ia terus mengikuti rom-
bongan Manusia Topeng dari jarak yang aman.
***
Lembah Nirwana yang dingin namun selalu
menebarkan bau wangi semerbak berbagai jenis
bunga-bungaan di pagi itu tidak sunyi sebagai-
mana hari-hari yang lalu. Di belakang perguruan
yang dipenuhi dengan berbagai peralatan latihan, seorang pemuda bertelanjang dada sudah dalam
keadaan basah bersimbah keringat. Hampir se-
panjang malam tadi ia tidak beristirahat, mengingat waktu latihan yang ditentukan baginya begitu sempit. Pemuda berambut kemerahan ini memang
tampak lelah. Tetapi kemampuan tenaga dalam
yang dimilikinya serta kehebatan sepuluh jari
yang ia satukan sudah memperlihatkan hasil
yang menggembirakan. Kini ia melatih pernafa-
sannya agar lebih baik lagi. Sekejap ia meman-
dang ke arah batu cadas yang terdapat di sam-
pingnya. Batu itu berlubang besar sungguh pun
di sana sini terdapat percikan darah. Pemuda ko-
cak yang tiada lain adalah Suro Blondo memper-
hatikan jari-jari tangannya yang bengkak dan pe-
cah-pecah di beberapa bagian. Bibirnya termo-
nyong-monyong.
"Hmm, kakek Tangan Biru tidak mau men-
gangkatku sebagai muridnya. Aku disuruhnya la-
tihan siang malam. Kalau begitu terus menerus
naga-naganya tanganku bisa hancur Sekarang
saja..." Suro perhatikan jari-jarinya lagi. "Rasanya aku bisa konyol atau jadi Pendekar tanpa
jari kalau begini terus-terusan. Huh... seumur hidup aku belum pernah mendapat latihan seperti
ini Satu hal yang segera dapat kurasakan, tu-
buhku menjadi semakin ringan" Suro lalu tersenyum. "Jika aku terus menerus berada di lembah ini, bukan mustahil lama kelamaan aku bisa terbang. Ha ha ha..." Pendekar Blo'on tepik keningnya. Seraya lalu naik di atas batu. Kedua kakinya dilipat, Suro pejamkan matanya rapat-rapat. Jemari tangan satu dengan yang lain dirapatkan.
Sayup-sayup mengiang petuah Si Tangan Biru.
"Jurus-jurus Congcorang inti utamanya
adalah Hentakan Kaki Congcorang jarak jauh. Ji-
ka serangan itu sudah mampu melubangi batu di
depanmu itu. Berarti kau hampir menguasai ju-
rus-jurus Congcorang Sepenuhnya"
Maka Pendekar Blo'on kini kerahkan tena-
ga dalamnya ke bagian jari-jari tangannya. Jari-
jari yang bengkak itu menggeletar.
"Huuup Shhaaa..."
Tiba-tiba Suro menghentakkan kedua tan-
gannya ke depan.
Wuut
Tampak lesatan sinar hijau selebar benar
meluncur deras ke arah batu. Lalu terdengar suara
Creep Clep
Wuuur
Batu cadas berlubang sebesar jari telunjuk.
Serpihan batu cadas meluncur turun. Pendekar
Blo'on membuka matanya dan memandang ke
arah batu yang telah menjadi sasaran serangan.
Wajah si konyol berseri-seri.
"Tidak percuma, walau tanganku babak be-
lur ternyata membuahkan hasil yang lumayan.
Cukup lumayan, he he he..." kata Suro sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala. Melihat hasil pesat yang didapatnya, Suro Blondo seakan tidak mengenal lelah terus saja berlatih.
"Berhentilah latihan, kebanyakan kau
menguras tenaga bisa mati berdiri" sebuah suara yang sangat merdu dan enak didengar memecah
keheningan suasana. Si konyol cepat memutar
tubuhnya ke belakang.
"Astaga... Rasanya aku tadi malam tidak
bermimpi kejatuhan bintang kejatuhan bulan dan
kejatuhan durian. Ada makhluk secantik ini?" desis Pendekar kocak ini. Seraya mengusap-usap
matanya seakan tidak percaya dengan apa yang
dilihatnya. Gadis yang berdiri tiga tombak di depannya itu bukan Bunga Seloka. Bunga Seloka
sendiri sebenarnya sudah sangat cantik dengan
kulitnya yang putih dan matanya yang sipit. Tapi gadis baju putih yang satu ini kelewat cantik. Kecantikannya sulit dilukiskan dengan kata-kata,
bahkan kecantikannya mungkin setara dengan
bidadari. Aih, jantung Suro langsung deg-degkan.
Rasanya gimana gitu.
"Kau melihatku seperti memandang hantu,
apakah tampangku begitu mengerikan bagimu?"
kata si cantik bersuara merdu.
Suro walau pun sering berhadapan dengan
perempuan, namun kali ini jadi kelabakan. Kata-
kata yang telah disusunnya dengan rapi untuk
diucapkan malah jadi berantakan.
"Aku... ngg... anu... aku... anu... ku..."
Gadis yang tiada lain adalah Bunga Bida-
dari tertawa geli. Sederet giginya yang putih bagai mutiara tampak begitu indahnya.
"Memang anumu kenapa? Di gigit semut
atau sudah terbang?" celetuk Bunga Bidadari ter-sipu malu.
"He he he Anuku tidak apa-apa kok Aku...
rasanya belum pernah melihatmu selama berada
disini. Apakah kau juga termasuk salah satu mu-
rid Tangan Biru?" tanya Suro.
"Aku memang muridnya Murid tertua, dan
kalau tidak salah kau orangnya yang bernama
Suro Blondo?" tebak si gadis.
"Lho kok tahu?" sahut Suro agak kaget.
"Mengapa tidak tahu, selama dua hari aku
bersama kakekmu mencari bunga untuk me-
nyembuhkan penyakit ayanmu"
Si konyol semakin bertambah kaget saja.
"Malaikat Berambut Api? Lho dia kok tidak ikut kesini?"
Si gadis tidak langsung menjawab. Ia
menghampiri sebongkah batu putih lalu duduk di
atasnya dengan tenang.
ENAM
duduk tenang-tenang di atas batu
barulah Bunga Bidadari memandang ke arah Su-
ro penuh perhatian. Pikirnya pemuda di depannya
cukup ganteng juga, tetapi kesan tololnya itu
yang membikin geregetan orang yang meman-
dangnya.
"Kakekmu mana mungkin mau melihatmu.
Kau murid gila yang hampir saja membuat celaka
mereka" dengus si gadis. Caranya bicara yang ceplas-ceplos membuat Suro merasa cepat akrab.
Tidak seperti Bunga Seloka, yang terkesan malu
dalam bertutur kata.
"Kejadian itu sama sekali tidak kuingat. Ji-ka aku sadar, orang gila sekali pun mustahil tega membunuh gurunya sendiri Kurasa guruku marah, hingga ia tidak mau lagi menemuiku. Tapi..."
Suro terdiam, berjalan mondar-mandir di depan si gadis seperti orang bingung sambil garuk-garuk
kepala. "Aku punya rencana untuk minta maaf bi-la bertemu dengan mereka."
"Maaf saja tidak cukup" dengus Bunga Bidadari. "Lalu bagaimana, ah... sudahlah aku bung-ing, eeh bingung" Ucapan Suro seperti orang yang menyesali diri. Ia duduk termenung dengan
dua tangan menopang dagunya. Sementara itu
Bunga Bidadari segera mengeluarkan Mandau da-
ri balik punggungnya. Ia menimang-nimang senjata pusaka itu di depan Suro.
"Eeh... itu punyaku Kau telah mencurinya
ya?" Bunga Bidadari angkat wajahnya. Sepa-
sang matanya yang indah langsung melotot. "Jangan kau menuduhku sembarangan Walaupun
aku tidak mewarisi jurus Congcorang yang hebat
itu aku tidak membutuhkan segala macam senjata"
"Maaf kalau begitu Tetapi mengapa guru-
mu tidak mewariskan jurus itu padamu? Apakah
gurumu manusia pelit?"
"Kau terlalu cerewet seperti nenek-nenek
tua yang pikun. Jika saja aku lelaki sepertimu.
Tentu guru bersedia menurunkan jurus-jurus
maut itu padaku Jurus itu hanya boleh dimiliki
oleh laki-laki"
"Mengapa?"
"Entahlah, aku tidak tahu" sahut Bunga Seloka. "Ini tidak adil namanya. Masa aku orang luar di beri pelajaran jurus-jurus maut. Sedangkan kau sebagai muridnya diajari jurus lain. Kau tidak usah berkecil hati. Nanti jika aku bertemu dengan kakek kurus itu aku akan menanyakan
hal ini"
Bunga Bidadari tertawa dalam hati. Pemu-
da ini benar-benar seperti orang sinting. Bica-
ranya blak-blakan, polos terkesan apa adanya.
Hal ini yang disukai oleh si gadis. Tetapi ia tidak mungkin berlama-lama di tempat latihan itu. Jika
gurunya sampai tahu, ia bisa kena marah besar.
"Suro, aku datang ke sini semata-mata ka-
rena ingin menyampaikan pesan gurumu untuk
memberikan Mandau ini padamu"
"Dia menitipkan senjata itu padamu?"
"Iya, terimalah" Bunga Bidadari menyo-dorkan senjata di tangannya. Tiba-tiba Pendekar
Blo'on merasa waktu sedemikian sempitnya.
"Apakah engkau hendak buru-buru pergi?"
"Tentu Berlama-lama disini bisa membuat
guru jadi marah" jelas Bunga Bidadari.
Dengan perasaan tidak enak Suro terpaksa
menerima senjata itu. Tidak lama ia menyelipkan
Mandau Jantan di balik pinggangnya.
"Pendekar konyol..." kata Bunga Bidadari sesaat sebelum pergi. "Guruku mengatakan padaku tidak lama lagi ia berkenan menemuimu.
Kurasa ada masalah penting yang akan disam-
paikannya padamu"
Sehabis bicara begitu Bunga Bidadari lang-
sung meninggalkan Pendekar Blo'on. Baik Suro
maupun gadis cantik itu sama-sama tidak tahu
bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan
pertemuan mereka dengan tatapan mata cemburu.
Sepeninggalnya Bunga Bidadari, Pendekar
Mandau Jantan cuma dapat garuk-garuk kepala
melulu. Entah mengapa ia merasa jadi betah be-
rada di Lembah Nirwana. Mungkin karena murid-
murid Si Bayang-Bayang tidak ada yang jelek, en-
tahlah. Namun Suro menyadari bahwa persoalan
yang dihadapinya belum selesai. Bila ia teringat dengan hal yang satu ini rasanya Pendekar Blo'on ingin cepat-cepat meninggalkan lembah Nirwana
tersebut.
Selagi Suro Blondo terombang ambing pe-
rasaan yang tidak menentu. Tiba-tiba ia menden-
gar suara langkah kaki namun lebih halus keden-
garannya Pemuda itu cepat menoleh dan meman-
dang ke arah datangnya suara barusan. Ternyata
yang datang adalah Si Tangan Biru.
Pendekar Blo'on cepat-cepat membung-
kukkan badannya. Manusia setengah gaib itu
seakan tidak menghiraukan Suro langsung saja
duduk. "Waktumu sangat sempit, Suro. Jurus
Congcorang sudah pun kau kuasai. Hanya tinggal
pemantapannya saja. Mengenai masalah peman-
tapan dapat kau lakukan nanti setelah urusanmu
dengan Ratu Leak dapat kau selesaikan. Seka-
rang kau duduklah mendekat kemari" perintah Si Bayang-Bayang. Maka Pendekar Blo'on pun
menghampiri.
"Kau harus tahu, Ratu Leak itu kebal sen-
jata, bukan hanya kebal senjata saja. Tetapi ia ju-ga kebal pukulan, kau sudah tahu jurus Congco-
rang berintikan pemusnahan titik kelemahan ma-
nusia-manusia kebal. Kau ingat dari yang tiga
itu?" tanya si kakek kurus kering.
"Ingat kek"
"Apa saja?"
"Tiga titik kelemahan manusia kebal, pertama adalah pada bagian yang berlubang atau be-
rongga, sedangkan yang kedua adalah tempat-
tempat yang lunak. Dan sedangkan yang ketiga
adalah tempat-tempat yang keras"
"Itulah tiga rangkaian sekaligus inti jurus-jurus Congcorang. Serangan pada sasaran yang
tepat tidak akan membuang-buang tenaga. Ingat
jurus-jurus maut itu hanya dapat kau perguna-
kan untuk waktu-waktu yang sangat mendesak
dan kelewat memaksa. Kuturunkan ilmu langka
ini padamu, pertama-tama adalah demi kepentin-
ganmu untuk menghadapi Ratu Leak dan Batu
Lahat Bakutuk. Sedangkan yang kedua adalah
untuk kepentinganku"
"Apa yang dimaksud dengan kepentingan-
mu kek?"
"Aku pernah mengatakan padamu tentang
Iblis Terlaknat Hantu Malam, bukan?" tanya Si Tangan Biru.
"Betul itu kek"
"Dia sahabatku Sahabat yang menjadi
musuh Suatu saat kau harus mencarinya. Jika
kau manusia yang tahu membalas budi orang,
tentu kau tidak keberatan menjalankan perintah-
ku ini bukan?"
"Bukan... eeh, maksudku tidak, kek Tapi
bolehkah aku tahu bagaimana duduk persoalan
yang sebenarnya, kek. Sehingga sahabat bisa
menjadi musuh?" tanya Pendekar Blo'on. Sedapatnya ia berusaha agar tidak sampai tertawa ka-
rena geli teringat kata-katanya yang salah.
"Di dunia ini sahabat menjadi musuh bu-
kan sesuatu yang aneh. Kau telah mengetahui
sebagian kejadian itu. Di suatu saat kelak, bila aku mengutus murid tertuaku untuk menjumpaimu. Maka di sana kau akan mengetahui du-
duk persoalan yang sebenarnya. Saat ini yang
terpenting adalah bagaimana caranya agar kau
dapat menghadapi Ratu Leak"
"Bagaimana caranya, kek?"
"Tentu saja menempurnya hingga mampus
Yang terpenting jangan sampai ia memperguna-
kan kekuatan Batu Lahat Bakutuk. Sebab hal itu
dapat membahayakan keselamatan jiwa orang
banyak"
"Jadi hanya itu saja, kek?" tanya Suro Blondo. Si Bayang Bayang anggukkan kepalanya.
Ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi
terbungkus kain warna hitam. Benda persegi itu
sebesar atau lebar dua jari. Pada bagian sisi-
sisinya terdapat tali yang berwarna hitam pula.
"Ulurkan tanganmu" perintah Si Tangan Biru. Suro walau pun bingung angsurkan kedua
tangannya juga. "Satu saja tolol"
Pendekar Blo'on angsurkan tangannya
yang kiri. Tetapi Si Tangan biru memberi isyarat agar Suro memberikan tangannya yang kanan.
Sehingga sambil julurkan tangan kanannya ia
nyeletuk.
"Ini semacam jimat ya, kek? Aku pernah
dengar jimat pantang di bawa buang hajat. Ka-
tanya kesaktian yang terkandung dalam jimat itu
bisa hilang"
"Jangan banyak tanya, benda ini jangan
kau buang Jika kau sewaktu-waktu dalam kea-
daan terdesak benar kau cukup mengusapnya.
Mudah-mudahan Tuhan memberikan pertolon-
gannya padamu" jelas Si Bayang Bayang sambil mengikat benda hitam itu di lengan Suro.
"Bolehkah aku tahu isi bungkusan ini,
kek?" "Tidak boleh. Dia tidak bisa kau buka, dalam bungkusan gepeng ini tersimpan rahasia be-
sar tentang Lembah Nirwana, penghuninya juga
tentang sebuah kebesaran di masa silam. Jagalah
dia jangan sampai hilang, lindungi dia sebagai-
mana kau melindungi seorang kekasih yang san-
gat kau cintai. Berangkat dari sini merupakan
awal kemujuran dan kesialanmu Kutegaskan se-
kali lagi, benda yang melingkar di tangan kanan-
mu itu merupakan amanah Seseorang yang me-
nyia-nyiakan amanah sama dengan penghianat
Suatu saat bila terjadi suatu peristiwa besar di Teluk Hantu. Di saat itulah kau akan tahu betapa pentingnya jurus Congcorang dan juga apa yang
kupasang di lengan kananmu"
"Jadi sekarang bagaimana? Apakah aku
boleh meninggalkan tempat ini, kek? Rasanya aku
sudah tidak betah berlama-lama disini. Mengulur-
ulur waktu hanya membuat Ratu Leak panjang
umur saja"
"Sekarang kau belum boleh meninggalkan
Lembah ini. Tetapi nanti setelah lewat tengah ma-
lam kau sudah dapat pergi" tegas Si Tangan Biru.
Kakek itu kemudian bangkit berdiri. Seraya me-
langkah mundur sejauh tiga tindak, dan secara
aneh tiba-tiba saja sosoknya yang bagaikan
bayang bayang itu raib dari pandangan Pendekar
Blo'on. Pemuda itu tercengang, walau sudah be-
berapa kali Suro melihat kejadian yang aneh ini.
Namun kali ini Si Bayang-Bayang raib lebih cepat dari biasanya.
"Aku kurang yakin kakek itu manusia
sungguhan. Jangan-jangan yang kulihat hanya
rohnya saja" pikir Suro. Ia pun mengangkat ba-hu, seraya mengayunkan langkah menuju kamarnya.
***
Penghulu Siluman Kera Putih benar-benar
merasa kehilangan jejak Malaikat Berambut Api.
Menurut Bunga Bidadari orang tua aneh yang
sangat diseganinya itu baru saja meninggalkan
tepi Lembah Nirwana. Tetapi mengapa setelah ia
melakukan pengejaran cukup lama ia tidak ber-
hasil menyusulnya juga. Barata Surya menjadi
bimbang jangan-jangan ia salah arah. Kakek tua
ini berdiri di balik pohon cukup lama. Tiba-tiba saja di luar dugaan ia melihat sebuah bayangan
berkelebat lewat di sampingnya. Barata Surya jadi kaget karena orang yang dilihatnya sangat mirip
dengannya.
"Berhenti" teriaknya sambil menghadang
langkah orang itu. Serentak sosok berpakaian pu-
tih ini hentikan langkah. Tampak jelas orang ini pun tidak mampu menutupi keheranannya.
"Kau..."
Barata Surya terdiam, tatapan matanya
memandang lurus pada laki-laki seusia dengan-
nya. "Wajahmu, janggut, jambang kumis dan
pakaianmu mirip benar denganku Padahal di
dunia ini aku tidak mempunyai saudara kembar.
Kau meniru-niru diriku. Sehingga diantara kita
persis satu sama lain. Mungkin Suro pun akan
salah memilih mana gurunya jika kita berjalan
bersama-sama. Keadaan kita persis seperti pinang di belah pakai martir Siapa kau?" tanya Barata Surya curiga.
"Seharusnya aku yang bertanya siapa kau
ini? Mukamu dan mukaku seperti orang kembar
saja" jawab orang tua itu tidak kalah garangnya.
"Kurang ajar betul Seseorang pasti sengaja meriasmu begini rupa untuk membuat keonaran
dan kekacauan. Atau kau manusia ciptaan Batu
Lahat Bakutuk heh..."
"Kau mungkin manusianya suruhan Ratu
Leak Untuk manusia yang suka menipu dan me-
nyaru-nyaru seperti orang lain, aku harus mem-
bunuhmu Aku tidak ingin sampai terjadi engkau
yang jadi maling aku yang dikejar-kejar orang banyak" sergah sosok yang mirip dengan Barata Surya tidak kalah sengitnya.
Penghulu Siluman Kera Putih tiba-tiba saja
jadi kehilangan kata-kata. Ia memperhatikan laki-laki di depannya dengan perasaan jengkel ber-
campur geli. Jengkel karena ada orang yang me-
nyamar persis seperti dirinya. Geli, karena orang jelek seperti dia masih ada yang meniru. Dilihat sepintas lalu mereka tidak ubahnya seperti saudara kembar yang sedang bertengkar.
"Kau bukan diriku dan aku pasti bukan di-
rimu. Untuk membuktikan siapa Penghulu Silu-
man yang sebenarnya kita harus bertarung sam-
pai salah seorang diantara kita mampus Bagai-
mana pendapatmu?" tanya Barata Surya sewot.
Kembaran Barata Surya tertawa tergelak-
gelak. Ia tepuk-tepuk dadanya seperti seekor go-
rilla yang kembali membawa kemenangan dari pe-
rang. "Keinginanku memang sesuai dengan apa yang kau ucapkan itu. Kuharap takdir kematian
sesuai dengan perintah yang aku terima. Dengan
begitu aku dapat kembali untuk mengabarkan be-
rita kemenangan"
"Kata sepakat sudah kita dapat, tunggu
apa lagi jika ingin cepat sekarat?" teriak Barata Surya. Sebagai penghulunya para siluman diam-diam ia mulai mengerahkan tenaga gaibnya ke
bagian mata. Kini setelah berkedip beberapa kali ia dapat melihat kegelapan alam gaib. Sebuah
alam lelembut yang tidak dapat ditembus pengli-
hatan biasa.
Ketika Barata Surya memandang ke arah
Barata Surya kembar yang berdiri tegak di de-
pannya. Maka terlihatlah olehnya sosok makhluk
dengan wajah lebih dari setan. Jelas orang itu
bukan siluman, ia mengenal bagaimana rupa dan
ujud Siluman. Itulah sebabnya dia tersenyum.
"Mengapa kau hanya menunggu, bukankah
kau menghendaki nyawaku" cibir si kakek sambil usap-usap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu
lebat. "Aku yakin kau ingin meniru jurus-jurus simpananku, sehingga orang akan menyangka
kau adalah aku. Agaknya kau memang kebagian
sialnya, kau terlanjur bertemu dengan aku"
"Hem, mulutmu terlalu takabur" dengus kembaran Barata Surya. Tiba-tiba saja orang ini
melompat ke depan. Kakinya menyambar pung-
gung Penghulu Siluman Kera Putih. Gerakan la-
wan ini sempat terbaca oleh si kakek, tanpa
sungkan-sungkan lagi tinjunya menderu.
Plak......Kembaran Barata Surya sempat terhuyung.
Namun sama sekali ia tidak mengeluh terkecuali
menyeringai. Kemudian ia berteriak keras sambil
menyerang Penghulu Siluman dengan jurus aneh
tetapi sangat berbahaya. Barata Surya tertawa
terkekeh-kekeh.
"Sekarang sudah mulai terbukti, Barata
Surya yang asli mempunyai jurus-jurus monyet.
Sedangkan kau mempergunakan jurus anjing gila
kelaparan Ha ha ha..."
"Jahanam" geram kembaran Barata Surya.
Tangannya melesat melakukan tamparan ke wa-
jah dan kepala lawan. Kakek ini tundukkan kepala, dengan mempergunakan jurus 'Serigala Melo-
long Kera Sakti Kibaskan Ekor', Penghulu Silu-
man berkelit ke samping. Ia keluarkan lolongan
tiada henti, sementara lawan telah menghujani
pukulan bertubi-tubi. Salah satu pukulan menda-
rat tepat di dada Barata Surya, kakek lucu ini
mengeluh tertahan. Lawan terus memburunya
saat melihat si kakek seakan-akan melakukan ge-
rakan melarikan diri. Tiba-tiba saja Barata Surya berputar kakinya menendang ke belakang.
Duuk
"Ngekh"
Kembaran Barata Surya jatuh terpelanting.
Meskipun akibat tendangan tadi membuatnya ter-
luka. Namun ia masih sempat lepaskan pukulan
maut ke arah Penghulu Siluman Kera Putih yang
sekarang berbalik menyerangnya. Sinar merah
bergulung-gulung bagaikan gumpalan bara mela-
brak kakek tua tersebut. Secepatnya dan agak
gugup ia kibaskan tangannya. Sinar putih mele-
sat dari sela-sela jari tangan si kakek.
Buum....Gubrak
"Oh lala... aduh biyung..." jerit Penghulu Siluman. Ia usap-usap wajahnya yang panas bagaikan terbakar. Tanpa membuang-buang waktu
ia lipat gandakan tenaga dalamnya dan segera
disalurkan ke bagian tangan. Sementara itu den-
gan nekad lawannya telah menghujaninya dengan
pukulan-pukulan maut bertubi-tubi.
"Haiiit"
Tubuh kembaran Barata Surya tiba-tiba
melambung tinggi. Ia berputar-putar di udara se-
dangkan kakinya menyapu ke empat penjuru
arah. Serangan ini pertama-tama tampak seperti
biasa. Tetapi ketika serangan kaki itu semakin
merendah sesuai dengan gerakan menghindar si
kakek. Barata Surya dibuat pontang-panting. Ia
melempar tubuhnya sehingga rata dengan tanah.
Tetapi kaki lawan lebih cepat lagi menghajar
punggungnya.
Duuk
"Ekh..."
Bukan main kerasnya hantaman itu hingga
membuat Barata Surya menggeliat kesakitan. Ke-
tika ia berusaha bangun lagi, sebuah tendangan
menghantam dadanya. Sebelum tendangan itu
mendarat tepat pada sasaran. Maka si kakek ke-
rahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Hari-
mau'. Wuut Wuut
"He he he Tidak kena..." ejek Barata Surya. Tanpa terduga tangannya meluncur kebagian dagu lawan.
Des.
Kepala kembaran Barata Surya sempat
terdongak, tubuhnya terjajar dan laki-laki itu jatuh terduduk dengan kepala pusing bukan main.
TUJUH
Sekejap kepalanya nampak oleng ke kanan
ke kiri. Ia menggerung, justru dari mulutnya me-
nyembur darah kental kehitaman. Dengan lang-
kah terhuyung-huyung orang ini bangkit berdiri.
Tangan kanan dikepalnya sedangkan tangan kiri
terpentang lebar. Dua tangan diadu satu sama
lain. Traat
Tiba-tiba saja menyembur api dari bentu-
ran itu. Serangan jarak jauh ini bukanlah seran-
gan biasa. Namun Barata Surya malah tertawa
membahak.
"Jangan coba-coba bermain api, salah-
salah tubuhmu terbakar sendiri" teriaknya. Kakek rambut putih ini tiba-tiba saja angkat tan-
gannya siap melepaskan pukulan 'Matahari Rem-
bulan Tidak Bersinar' Sesaat setelah pengerahan
tenaga dalam tinggi, Barata Surya tampak meng-
geletar hebat. Selanjutnya ia melompat tinggi ke udara sambil dorongkan kedua tangannya. Sinar
biru bersemu merah meluncur deras menerjang
sinar merah yang bergulung-gulung menerpa di-
rinya. Wuuut
Tiba-tiba saja lidah api lawan membubung
tinggi seolah-olah menghindari bentrokan dengan
pukulan Barata Surya. Praktis serangan kakek
baju putih mengenai tempat kosong. Sedangkan
serangan yang dilakukan lawannya terus menge-
jar kemana pun kakek Penghulu ini menghindar.
"Celaka, mengapa bisa jadi begini?" desisnya dalam hati. Laksana kilat ia menjejakkan ka-
kinya di atas tanah. Lalu dorongkan kedua tan-
gannya lagi.
Wuus
Serangan tangkisan kedua ini kelihatannya
lebih kuat dari serangan yang pertama. Sehingga
terjadilah benturan keras bukan main. Ketika terjadi ledakan besar. Maka terlihat dua sosok tubuh sama terlempar sejauh dua batang tombak ke belakang. "Huuukh..."
Suara mereka tertahan-tahan. Penghulu
Siluman Kera Putih pegangi dadanya yang men-
denyut sakit. Kembaran Barata Surya seka darah
yang mengalir dari mulut dan hidungnya. Mata
orang ini nampak lebih merah seakan dibasahi
darah. Ia mencoba merangkak dan berdiri. Tetapi
sekujur tubuhnya yang sempat hangus termakan
pukulannya sendiri rasanya sakit semuanya. Se-
dangkan pada waktu itu Penghulu Siluman Kera
Putih sudah kembali menyerang dengan satu ten-
dangan menggeledek yang sangat berbahaya se-
kali. Mana mau kembaran Barata Surya ini mati
konyol. Ketika merasakan deru angin tendangan
yang begitu dingin, maka ia angkat sikunya.
Penghulu Siluman sama sekali tidak me-
nyangka adanya perlawanan ini. Ia terpaksa tarik tendangan untuk menghindari benturan hebat.
Sebagai gantinya tinju menghantam wajah lawan.
"Aih..."
Kembaran Barata Surya jadi gugup. Ia ti-
dak sempat lagi mengelakkan serangan ini. Aki-
batnya....
Prok
"Akh" Kembaran Barata Surya tutupi wajahnya yang hancur. Sungguh mengagumkan
daya tahan orang yang satu ini, sebab sungguh-
pun wajahnya remuk terhantam tinju lawannya
namun ia masih dapat bertahan. Kini malah
sambil menggerung marah ia melompat dengan
gerakan bagaikan tupai berpindah dari satu rant-
ing ke ranting lainnya. Delapan jari bermaksud
mencoblos perut Penghulu Siluman Kera Putih.
Kakek Barata Surya tidak tinggal diam, ia
pun angsurkan kedua tangannya sekaligus den-
gan gerakan mendorong.
Wuuk
Ada hawa panas dingin menyambar. Lagi-
lagi terjadi benturan hebat dan kembaran Barata
Surya jatuh terguling-guling. Penghulu Siluman
lakukan satu lompatan ke depan, lalu jatuhkan
diri dengan lutut menghantam telak punggung
lawannya. Deekh...."Kraaak..."...."Arrkh..." Kembaran Barata Surya menjerit keras.
Hentakan keras itu membuat tulang punggung
lawannya patah. Si kakek tidak berhenti hingga di
situ saja, kini sikunya menghantam batok kepala
orang itu.
Praak
Untuk kedua kalinya terdengar suara lo-
longan panjang. Sosok kembaran Barata Surya
menggelepar. Dari sekujur tubuhnya keluar asap
berwarna kehitaman. Asap yang menebar bau bu-
suk luar biasa. Benar seperti dugaannya, sosok
yang mengembari dirinya ternyata memang ma-
nusia jejadian.
Tidak berselang lama ujud kembaran Bara-
ta Surya pun sirna. Penghulu Siluman Kera Putih
sempat terkesima. Sekarang ia mulai menerka-
nerka siapa gerangan orang yang telah mencipta-
kan kembaran yang sangat mirip dengan dirinya
itu. "Di dunia ini tidak ada satu makhluk pun yang mampu menciptakan makhluk lainnya. Kalau pun itu terjadi, pasti ini semua hasil perbuatan Ratu Leak dengan bantuan benda yang dis-
ebut-sebut sebagai Batu Lahat Bakutuk. Hmm,
begitu penasarannya dia. Aku jadi ingin tahu sia-pa sesungguhnya perempuan yang bergelar Ratu
Leak tersebut" desis Penghulu Siluman tidak habis pikir.
Penghuni lereng gunung Mahameru ini se-
lanjutnya meneruskan perjalanannya kembali un-
tuk mencari Malaikat Berambut Api.
***
Malam itu di tepi muara sungai udara me-
mang terasa dingin menggigit. Sebuah tenda ber-
diri kokoh di depan onggokan api unggun yang
menyala-nyala. Manusia Topeng berada di dalam
tenda itu. Sedangkan Mata Iblis duduk diam di
bawah sebatang pohon mengkudu. Matanya yang
buta dalam keadaan terpejam. Orang tua ini en-
tah tertidur entah terjaga. Jauh ke samping, te-
patnya di depan api unggun Dewi Kerudung Putih
tampak masih menghangatkan diri. Udara yang
dingin memang terasa sangat menyiksa. Bukan
hanya itu saja, sejak sore tadi hati gadis ini memang tidak enak. Ada keresahan yang mengusik-
nya. Kegelisahan yang ia sendiri tidak tahu apa
penyebabnya. Gadis ini sebenarnya ingin tidur, di samping badannya terasa penat ia juga sudah
mengantuk. Namun bila melirik ke arah kuda, ia
menjadi was-was. Datuk Nan Gadang Paluih dan
Wayan Tandira masih belum muncul juga dari
sungai. Padahal mereka pamitan dengan Dewi
hanya sebentar saja. Mungkinkah orang mandi
bisa selama itu?
Dewi Kerudung Putih melirik ke arah kege-
lapan sungai. Ia tidak mendengar suara kecipak
air terkecuali desiran angin dan suara serangga.
Hanya sesekali terdengar suara burung hantu di
kejauhan.
"Malam ini suasananya terasa lain sekali"
kata Dewi dalam hati. "Perasaanku mengatakan sesuatu bakal terjadi di sini" pikirnya lagi. Kemudian si gadis merebahkan tubuhnya. Meman-
dang ke langit terlihat olehnya gugusan bintang
gemintang. Semuanya ini mengingatkan dirinya
akan Pendekar Blo'on, ia hanya dapat berdoa se-
moga pemuda yang disenanginya itu dalam kea-
daan baik-baik saja.
"Auh... aku mengantuk..." Dewi menga-
tupkan mulutnya. Ia sudah tidak ingin lagi memi-
kirkan kemana perginya Datuk Nan Gadang Pa-
luih dan Wayan Tandira. Lama kelamaan ma-
tanya pun terpejam.
Di luar sepengetahuan Dewi kiranya ada
dua pasang mata yang terus mengawasi. Dua pa-
sang mata itu memandang ke tenda atau ke arah
Mata Iblis yang duduk diam di bawah pohon.
"Tugas kita ini tidak boleh gagal Kita telah membunuh Malaikat Berambut Api palsu demi
kelancaran tugas dan jangan sampai terbongkar
siapa kita yang sebenarnya" bisik orang itu pada orang disebelahnya
"Tetapi mereka tidur dengan tempat terpi-
sah-pisah. Ini akan menyulitkan tugas kita" Yang diajak bicara seakan-akan mengeluh. "Ahk, kau ini mengapa begini bodoh? Membunuh Manusia
Topeng sudah menjadi tugasmu. Dua yang di luar
itu termasuk pekerjaan sulit, namun aku pasti
mampu melakukannya" kata orang pertama pe-
nuh keyakinan.
"Sekaranglah saatnya kita bergerak. Aku
harus membunuh Dewi terlebih dahulu Ayo-
lah..." Setelah mendapat aba-aba dari kawannya,
tanpa menunggu lebih lama lagi kedua orang ini
ke luar dari kegelapan. Yang memakai pakaian
putih berjalan mengendap-endap mendekati Dewi.
Sedangkan yang satunya lagi menyelinap ke bela-
kang tenda.
Sementara itu orang yang mendekati Dewi
Kerudung Putih kini sudah menghunus sebilah
pedang pendek berwarna putih mengkilap. Di luar
sepengetahuannya ada sepasang mata lain yang
terus mengawasi gerak-gerik mereka sejak tadi.
Laki-laki berpakaian putih yang menghunus pe-
dang itu sekarang dengan sinis angkat senjatanya tinggi-tinggi. Dewi yang tengah tertidur pulas kelihatannya memang tidak menyadari bahaya be-
sar yang mengancamnya. Tiba-tiba saja
Wuus
Senjata pun terayun terarah lurus ke ba-
gian jantung Dewi. Pada waktu yang sangat kritis itu. Tiba-tiba tiga buah benda berwarna hitam sebesar kelingking melesat ke arah tangan dan sen-
jata persis sejengkal lagi ujung senjata mencapai sasaran.
Tring Triing Tuuk
"Heh..."
Laki-laki berpakaian putih tampak kaget.
Senjata di tangan terpental dan jatuh di kegela-
pan. Selain itu tangannya pun sakit bukan main
seperti di tusuk-tusuk duri. Belum lagi ia sempat menoleh ke arah orang yang menyelamatkan De-wi, sebuah tendangan mendarat telak di pung-
gungnya. Orang ini tersungkur dengan wajah
mencium tanah. Suara ribut-ribut ini membuat
Dewi Kerudung Putih terjaga dari tidurnya. Ia kelihatan kaget sekali ketika melihat seorang laki-laki berpakaian serba merah telah berdiri tidak
jauh darinya.
"Bangunkan semua orang Ada tokoh-tokoh
palsu di sini" teriak kakek berambut merah. Di dalam tenda keributan lain terjadi. Manusia Topeng seperti sedang memaki-maki setelah terden-
gar suara bak bik buk beberapa kali. Lalu terlihat sosok tubuh terpental ke luar diiringi melesatnya sosok bayangan lain mengikuti orang yang terpelanting itu.
"Siapa kau?" tanya Dewi terheran-heran.
Lebih heran lagi ketika melihat laki-laki berpa-
kaian putih yang dikenalnya tersungkur.
"Aku Malaikat Rambut Api, nyawamu
hampir saja melayang di tangan orang itu andai
aku terlambat saja sedikit" jelas si kakek. Dewi Kerudung Putih terkesima. Bagaimana mungkin
Datuk Nan Gadang Paluih hendak mencelaka-
kannya? Sedangkan diantara mereka sudah sal-
ing kenal.
"Bohong" Datuk Nan Gadang Paluih bangkit membela diri. "Dialah yang hampir mencela-kanmu"
Dewi Kerudung Putih tentu saja semakin
bertambah bingung. Ia memandang ke arah sosok
yang baru terjatuh tadi. Ternyata Wayan Tandira
alias Si Manusia Akar.
"Manusia Topeng apa sesungguhnya yang
tengah terjadi?" tanya Dewi bingung. Manusia Topeng tidak segera menjawab. Ia memperhatikan
Malaikat Berambut Api seakan ingin meyakinkan
diri. "Entah ya,.. Bocah yang bernama Wayan Tandira ini hendak lepaskan pukulan yang me-matikan selagi aku tertidur. Menurutmu apakah
dia bermaksud mengurutku, sedangkan aku tidak
pernah memintanya"
"Ketahuilah oleh kalian. Aku telah mengi-
kuti kalian sejak setan yang mengaku-ngaku se-
bagai Datuk Nan Gadang Paluih ini membunuh
orang yang mirip denganku. Apa yang dilakukan-
nya itu hanyalah siasat untuk menutupi rahasia
siapa mereka yang sebenarnya" tegas Malaikat Berambut Api.
"Heh, ada apa ini ribut-ribut?" tanya Mata Iblis pula yang baru saja terjaga dari tidurnya.
"Orang rambut merah ini mengatakan Da-
tuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira, pal-
su Bocah ini mau membunuh aku, sedangkan
Datuk Nan Gadang hendak membunuh Dewi. Ba-
gaimana menurutmu?" tanya Manusia Topeng.
"Kalian salah sangka, kurasa kakek baju
merah inilah yang palsu dan hendak menipu ka-
lian" sergah Wayan Tandira membela diri.
"Ha ha ha Orang yang seperti aku satu te-
lah terbunuh Rasanya tidak mungkin Ratu Leak
menciptakan orang baru lagi dengan Batu Lahat
Bakutuknya Kalian mau percaya silahkan, tidak
juga tidak apa-apa" tegas kakek Dewana berang.
Lain lagi dengan Manusia Topeng. Orang ini se-
perti mendapat akal. Ia angguk-anggukkan kepala
sambil menghampiri Datuk Nan Gadang Paluih.
"Datuk Nan Gadang, aku percaya dengan
keteranganmu Beberapa waktu yang lalu kulihat
kudamu yang bernama Putih Kaki Langit dapat
berubah tinggi seperti hendak menggapai angka-
sa. Untuk membuktikan bahwa orang tua beram-
but merah itu mengada-ada, coba sekarang tolong
tunjukkan pada kami bagaimana caranya kau
dapat memerintah kuda alam gaib ini sehingga
tubuhnya menjadi besar dan tinggi" pinta Manusia Topeng. Wayan Tandira sepontan memandang
tajam pada Datuk Nan Gadang Paluih. Sang Da-
tuk kedipkan matanya, sehingga posisi mereka
sekarang saling memunggungi.
"Ternyata Datuk Nan Gadang Paluih tidak
dapat berbuat apa-apa dengan kudanya. Kini je-
laslah bagi kita siapa dia yang sebenarnya?" ujar Dewi Kerudung Putih.
"Hem, hajat belum terkabul tapi siapa diri
sudah ketahuan Wayan Tandira sesamaku, mari
kita membuka jalan darah" teriak Datuk Nan Gadang Paluih palsu ditujukan pada Wayan Tandira palsu pula.
"Mari, Datuk" sahut kembaran Wayan
Tandira. Tanpa banyak bicara lagi tiruan pemuda
yang sekujur tubuhnya terbalut akar-akaran ini
langsung melabrak Manusia Topeng yang berdiri
di depannya. Sedangkan Datuk Nan Gadang Pa-
luih palsu segera berhadapan dengan Malaikat
Berambut Api. Mata Iblis dan Dewi Kerudung Pu-
tih segera menyingkir ke tempat yang aman.
"Kalian berdua benar-benar orang yang ti-
dak berguna di depan kami. Terlebih-lebih kau
rambut merah? Ketua kami punya dendam se-
tinggi langit padamu" dengus kembaran Datuk Nan Gadang.
"Siapa ketuamu? Tentu Ratu Leak, bu-
kan?" celetuk Manusia Topeng yang ketika itu sedang bertarung dengan Kembaran Wayan Tandira
pemimpin negeri Sange.
"Kalian tahu apa?" Wayan Tandira yang menyahuti. Tiba-tiba saja pemuda berambut gondrong itu melesat ke depan sambil kirimkan joto-
san-jotosan ke beberapa bagian tubuh lawannya.
Untuk diketahui, Wayan Tandira yang sesung-
guhnya walau pun sekujur tubuhnya hingga se-
batas leher dibalut akar sakti. Tetapi kesaktiannya jauh di bawah Manusia Topeng. Dalam kea-
daan seperti sekarang ini pun walau Wayan ga-
dungan berusaha mendesak lawan. Tetap saja
Manusia Topeng bersikap santai-santai saja. Kelihatannya Wayan terpaksa harus menguras tena-
ga. Sekarang ia terus mendesak lawan sambil le-
paskan tendangan atau pun pukulan bertubi-
tubi. "Haiiit..."
Ketika melihat serangan lawan menderu.
Manusia Topeng melompat mundur sekaligus
berkelit menghindar. Kemudian tubuhnya melesat
ke udara, selagi ia meluncur dengan kepala
menghadap bawah, tangan Manusia Topeng
menghantam bahu kanan dan bahu kiri lawannya
secara bersamaan.
Bres
"Auukh..."
Kembaran Wayan Tandira menjerit histeris
dalam kesakitan yang teramat sangat. Bahu sebe-
lah kiri tampak miring, akar-akar yang membalut
tubuhnya berpatahan di sana-sini. Melihat kenya-
taan ini Manusia Topeng berkomentar:
"Jika kau Wayan Tandira yang asli, tentu
keadaanmu tidak babak belur seperti sekarang
ini. Paling tidak akar sakti dapat memancarkan
sinar yang dapat membuat lawanmu mati konyol"
"Manusia bertopeng, kau boleh saja bicara
tidak karuan juntrungnya. Tetapi sebelum itu te-
rimalah pukulanku" teriak kembaran Wayan. Seraya tiba-tiba berjumplitan sebanyak tiga kali, ketika ia berdiri tegak tidak jauh dari Manusia Topeng dengan tidak terduga-duga Wayan hantam-
kan pukulannya. Terlihat jelas sinar hitam meng-
hampar, Manusia Topeng segera dapat merasakan
betapa perutnya terasa panas. Kemudian terasa
ada gelombang angin dahsyat saling tindih me-
nindih. Manusia Topeng mencoba bertahan den-
gan posisi berdiri, namun ke dua tangan mendo-
rong ke depan.
"Huuuuap"
"Haaaa..."
Kembaran Wayan Tandira akhirnya terpe-
lanting juga. Laki-laki gondrong ini kelihatannya
menderita luka dalam yang tidak ringan. Sungguh
pun demikian ia mencoba bangkit kembali.
DELAPAN
Manusia Topeng yang sudah mengetahui
siapa adanya Wayan Tandira. Yang tidak lain ada-
lah kembaran yang diciptakan melalui Batu Lahat
Bakutuk oleh Ratu Leak, tidak memberi kesempa-
tan lebih banyak lagi. Ia melompat ke depan, disertai teriakan melengking tinggi ia pukulkan ke-
dua tangannya ke dada kembaran Wayan. Si gon-
drong mencoba berguling, tetapi gerakannya itu
hanya dapat bergeser sejengkal saja.
Praak
Tangan kanan Manusia Topeng menghan-
tam telak dada lawannya. Sehingga Wayan menje-
rit histeris. Lima buah tulang iganya remuk, da-
rah menyembur dari mulut kembaran Wayan
Tandiria. Laki-laki itu menggelepar, matanya me-
lotot. Dalam keadaan melotot seperti itulah ji-
wanya melayang.
Perlahan-lahan. Akar-akar yang membelit
Wayan Tandira palsu sirna begitu saja. Sosoknya
mengecil, semakin bertambah kecil disertai men-
gepulnya asap tipis berbau busuk luar biasa. Ke-
mudian tinggallah warna hitam sepanjang hampir
satu depa. Sedangkan mayat kembaran Wayan hi-
lang begitu saja.
"Sudah kukatakan semua ini adalah tipuan. Mengapa jadi manusia kena di bodohi?"
Yang bicara adalah Malaikat Berambut Api yang
saat itu sedang berusaha mendesak Datuk Nan
Gadang Paluih gadungan. Manusia Topeng men-
dengar kata-kata kakek Dewana ikut nyeletuk.
"Datuk Nan Gadang dapat memerintah ku-
da putihnya untuk menyerangmu Maka berhati-
hatilah orang rambut merah"
Malaikat Berambut Api yang tidak punya
tabiat konyol apalagi suka bercanda ini hanya
mendengus. Waktu itu lawan telah melepaskan
pukulan dahsyat dalam jarak yang sangat dekat
sekali. Wut
Malaikat Berambut Api spontan segera me-
rasakan adanya angin dingin laksana mata tom-
bak menusuk-nusuk sekujur tubuhnya. Diam-
diam ia kerahkan tenaga dalam untuk lindungi
diri. Sedangkan bagian tenaga lainnya segera ia
pindahkan ke tangan kanan.
"Heeph..."
Tangan Malaikat Berambut Api tampak
menggeletar. Kiranya ia telah siap memapaki se-
rangan lawan dengan pukulan 'Ratapan Pem-
bangkit Sukma'. Segera saja kedua tangannya be-
rubah memutih laksana salju. Ketika kakek
penghuni Pulau Seribu Satu Malam ini hentakkan
tangannya ke depan. Maka melesatlah sinar putih
bergulung-gulung bagaikan serangkaian pelangi.
Sinar merah hitam seakan-akan melabrak
sebuah dinding baja yang sangat tebal. Datuk
Nan Gadang palsu terpaksa melipat gandakan te-
naga dalamnya untuk meneruskan serangannya
yang tertahan sinar putih. Pipinya tampak meng-
gembung, wajah berubah merah sedang mata me-
lotot karena begitu gigihnya ia ingin menghancurkan lawannya.
"Hemm, boleh juga" gumam kakek Dewa-
na. Seraya tiba-tiba saja berteriak keras. Untuk kedua kalinya tangan lebih didorongkan ke depan. Tiba-tiba Datuk Nan Gadang merasa seperti
ada kekuatan yang Maha dahsyat memupus habis
serangan yang dilancarkannya bertubi-tubi. Tidak dapat dipertahankan lagi oleh Sang Datuk.
Duuum
Bersamaan dengan terdengarnya suara
benturan keras tadi, maka orang ini pun terpental jauh. Terlihat begitu banyak darah yang keluar
dari mulutnya. Sambil memegangi dadanya Datuk
Nan Gadang Paluih bangkit berdiri. Lalu tangan
kanan menunjuk lurus-lurus ke arah lawannya.
Detik itu juga dari ujung jari Datuk Nan
Gadang melesat selarik sinar hitam berbau sengit, pertanda ada racun jahat yang ikut melesat bersamaan dengan serangan tersebut.
Malaikat Berambut Api tidak tinggal diam.
Ia segera memutar tangannya membentuk perisai
diri untuk menghalau serangan lawan yang sudah
ia ketahui betapa berbahayanya. Angin pun men-
deru-deru menyertai gerakan tangan si kakek.
Untuk yang kedua kalinya sang Datuk merasa se-
rangannya terhalang pusaran angin lawan yang
tercipta lewat tangan yang berputar itu.
Tetapi setelah menggandakan tenaga da-
lamnya, maka sedikit demi sedikit serangan ter-
sebut mampu juga menerobos pertahanan lawan-
nya. Malaikat Berambut Api segera membuang
tubuhnya ke samping. Ia bergerak cepat ke depan
dengan berguling-guling. Setelah lawan berada
dalam jangkauannya, kakinya melibas.
Dees
"Ukh..."
Tidak ampun lagi tendangan itu membuat
kembaran Datuk Nan Gadang Paluih terpelanting
roboh. Begitu terjatuh Malaikat Berambut Api
langsung menerkam lawannya. Mereka pun ber-
guling-guling, ternyata Datuk Nan Gadang pun ti-
dak mau menyerah begitu saja. Sayang Malaikat
Berambut Api terlalu kuat baginya. Terbukti sekejap kemudian kakek berambut merah itu telah
berhasil memitingnya, sedangkan tangan yang
lain mencengkeram kepala sang Datuk.
"Siapa yang menyuruhmu?" geram Malai-
kat Berambut Api dengan perasaan kesal.
"Akh... aku tidak akan mengatakannya pa-
da siapapun" sahut Datuk Nan Gadang. Kakek Dewana menyentakkan kepala lawan lebih ke
atas, sehingga membuat orang ini menjadi sema-
kin tersiksa saja.
"Katakan padaku, siapa yang menyuruh-
mu?" "Jahanam, aku tidak akan bicara apapun"
Makian ini hanya membuat Malaikat Berambut Api semakin bertambah marah. Tidak te-
relakkan lagi, Malaikat Berambut Api akhirnya
memelintir kepala lawannya sehingga ...
Traak
Klekh
Kembaran Datuk Nan Gadang Paluih ini
sudah tidak kuasa lagi berteriak atau menjerit.
Lehernya patah, dan ia tewas seketika itu juga.
Sama halnya seperti Wayan Tandira palsu tadi,
kini sosok sang Datuk setelah binasa juga raib
begitu saja. Bahkan kuda putih yang menjadi
tunggangan kembaran Datuk Nan Gadang juga
raib. "Terlalu banyak Ratu Leak meniru tokoh-tokoh lurus. Jangan-jangan aku pun sudah diti-
runya habis-habisan Saudara Dewana, sungguh-
pun aku tidak meragukan kemampuan masing-
masing, namun alangkah baiknya jika mulai se-
karang kita saling bahu membahu untuk menge-
nyahkan manusia terlaknat Ratu Leak" ujar Manusia Topeng.
"Hmm, orang yang bicara di balik kedok-
nya. Aku tidak keberatan menerima usulmu itu.
Hanya aku tidak mau berleha-leha seperti kalian
dengan mendirikan tenda segala seperti orang
yang bersenang-senang. Malam ini juga kita ha-
rus melanjutkan perjalanan" kata Malaikat Berambut Api tegas.
"Baik, baiklah aku setuju-setuju saja. Ka-
lau aku sudah setuju, kurasa Dewi dan Mata Iblis mau saja ikut bersama kita"
"Ya, aku setuju" kata Mata Iblis dan Dewi Kerudung putih hampir bersamaan.
***
Ratu Leak tokh pada akhirnya harus men-
gakui, bahwa tokoh-tokoh kembar yang dicipta-
kannya tidak memperlihatkan hasil menggembi-
rakan dalam setiap pertempuran. Kenyataan ini
benar-benar membuatnya menjadi marah. Sore
itu di tempat tinggalnya yang baru ia memanggil
Tua Tengkorak Mata Api, yaitu laki-laki muka
tengkorak yang cuma mempunyai sebelah mata.
Orang ini masih terhitung adik seperguruannya
sendiri.
"Kenyataan mengatakan usahamu kali ini
pun tidak mendatangkan hasil, kakang mbok"
kata Tua Tengkorak Mata Api seakan sudah men-
getahui apa yang ingin disampaikan oleh Ratu
Leak. "Menurut pendapatmu bagaimana? Aku
sudah terlanjur melangkah jauh, mustahil ra-
sanya bagiku untuk mundur" kata perempuan
cantik tersebut. Wajahnya sama sekali tidak
memperlihatkan ekspresi apa-apa.
"Ha ha ha Kulihat tanda-tanda menciutnya
nyalimu kakang, mbok Aku Tua Tengkorak Mata
Api jika jadi kau tidak akan mundur. Musuh
utamamu Malaikat Berambut Api adalah musuh-
ku juga, sedangkan terhadap Penghulu Siluman
Kera Putih aku kurang mengenalnya. Akan tetapi
apa salahnya jika kita saling bahu membahu un-
tuk menghancurkan kedua orang itu? Muridku
Mustika Jajar pun dapat membantu kita" jelas kakek berwajah tanpa daging dan punya sebuah
mata merah yang seperti hendak memberojol ke-
luar tersebut.
"Kurasa bukan hanya Dewana dan Barata
Surya saja kendala yang akan menghalangi kita.
Masih ada Manusia Topeng, Datuk Nan Gadang
Paluih. Orang seberang yang Batu-nya telah ku
curi, selain itu masih ada pula Wayan Tandira
yang seluruh rakyatnya kukutuk"
"Hmm, kuakui keberanianmu. Yang kuhe-
rankan kemana pun engkau pergi kau selalu
membuat orang memusuhimu Keadaannya seka-
rang sudah sangat lain. Kita tidak dalam posisi di atas juga tidak dalam posisi terjepit. Untuk membantumu rasanya bukan sesuatu yang sulit. Te-
tapi aku harus minta pendapat muridku" ujar Tua Tengkorak Mata Api. Seraya kemudian memandang ke arah gadis cantik yang ketika itu
hanya duduk diam mendengarkan pembicaraan
dua tokoh ini.
"Uwa guru Mereka bukanlah orang-orang
sembarangan. Seperti Datuk Nan Gadang Paluih
itu aku sudah merasai seberapa dahsyat kesak-
tiannya Salah satu sikap uwa guru yang kurang
aku suka, uwa cuma mementingkan diri sendiri"
mendengar ucapan Mustika Jajar, wajah Ratu
Leak sempat memerah juga. Tetapi gadis mesum
yang pernah di gembleng di lembah Ciruyung itu
cepat menambahkan. "Walaupun begitu, demi
memandang muka pada guruku sendiri, aku ber-
sedia membantumu" tegas Mustika Jajar.
"Dengarlah, muridku sendiri pandai meni-
lai bagaimana pendirianmu kakang mbok Kau ti-
dak usah berkecil hati. Sekarang juga aku dan
muridku akan menghadang musuh-musuh kita"
"Mengapa kau tidak mau bersama-samaku
disini?" tanya Ratu Leak.
"Tidak Menghadapi orang-orang seperti
mereka mengapa harus main keroyok. Aku sendiri
berjanji akan membawakan kepala orang-orang
yang kau benci ke hadapanmu" janji Tua Tengkorak Mata Api.
"Bagus Atas dukunganmu itu aku mengu-
capkan terima kasih" ujar Ratu Leak penuh rasa bangga dalam hati. Tua Tengkorak Mata Api rasanya memang sudah tidak ingin menunggu lebih
lama lagi. Ia bersama Mustika Jajar alias Iblis Betina Dari Neraka segera meninggalkan Ratu Leak.
***
Duuk Duuuk
"Hea..."
"Kuat-kuatlah kau berpegangan" teriak kakek berpakaian putih berselempang putih pada
laki-laki gondrong di belakangnya. Orang yang
membonceng di punggung belakang kuda tung-
gangannya mempererat pelukan pada pelana ku-
da. Saat itu kuda putih yang di kenal dengan na-
ma Si Putih Kaki Langit terus melesat dengan ke-
cepatan laksana kilat.
"Menurutmu masih luaskah daerahmu
ini?" "Sange cukup luas, Datuk Kita hanya tinggal menelusuri daerah-daerah pinggiran pantai.
Aku yakin Ratu Leak masih mendekam di negeri
kami ini"
"Bagaimana kau bisa merasa yakin, anak
ketek Apa kau punya semacam penciuman yang
dapat mengetahui dimana Ratu Leak bersem-
bunyi" "Aku bukan anjing pelacak, Datuk Kesim-pulanku ini berdasarkan kenyataan bahwa hingga
saat ini penduduk negeri masih juga belum terbe-
bas dari pengaruh sihir perempuan itu"
"Baiklah, mudah-mudahan kita segera me-
nemukan apa yang kita cari" ujar laki-laki berpakaian putih selempang putih yang tidak lain ada-
lah Datuk Nan Gadang Paluih yang sesungguh-
nya. Mereka ini terus menjelajah daerah-daerah
yang mereka curigai sebagai tempat persembu-
nyian Ratu Leak.
Sementara itu pada saat yang sama di lain
tempat namun masih di daerah Sange juga, Ma-
nusia Topeng, Mata Iblis, Dewi Kerudung Putih
dan Malaikat Berambut Api sudah sampai di dae-
rah berbukit-bukit di bagian timur negeri itu. Lalu mereka melewati dataran rendah yang kering kerontang. Saat rombongan ini mendaki ke arah bukit. Tiba-tiba saja Malaikat Berambut Api ber-
teriak memberi peringatan.
"Aku mendengar suara nafas beberapa
orang di atas sana Aku juga mendengar suara
benda-benda berat bergeser Hendaknya berhati-
hatilah, kurasa maut telah menghadang kita..."
Belum lagi ucapan kakek Dewana ini terhenti, da-
ri atas bukit yang baru hendak mereka daki me-
luncur beberapa buah batu besar menerjang me-
reka. "Gila jahanam, pekerjaan siapa ini?" dengus Mata Iblis. Kakek bermata buta ini bukannya
malah lari menyelamatkan diri atau turun kemba-
li ke lembah melainkan terus berlari ke atas bukit seakan seperti orang gila yang menyongsong
maut. "Ini pekerjaan orang-orang iseng yang hendak merampas nyawa kita" Manusia Topeng me-nimpali. Ia dengan ilmu meringankan tubuhnya
melompat ke sana ke mari dengan indahnya. Se-
dangkan Mata Iblis gerakkan tangannya yang
memakai sarung Sutra Kencana itu ke samping
kanan dan kiri dengan posisi menyibak. Sehingga
batu-batu besar yang seharusnya menghantam
dirinya meleset dari sasaran.
Apa yang dilakukan oleh Mata Iblis adalah
sesuatu yang sangat mengagumkan karena tidak
sembarangan orang dengan mudah dapat me-
nyingkirkan batu yang tengah meluncur itu
hanya dengan sebelah tangan. Mata Iblis terus
berlari ke atas, hingga tidak lama sampailah ia di
atas
bukit tersebut. Sungguh pun ia tidak dapat
melihat tetapi Mata Iblis dapat merasakan di atas bukit paling tidak berdiri dua orang yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Cepatlah ke sini semuanya?" teriak Mata Iblis dengan suara keras menggelegar. Orang-orang yang berada di bawah segera naik. Malaikat Berambut Api, Manusia Topeng dan Dewi Kerudung hanya dalam waktu sebentar saja sudah be-
rada di atas bukit itu. Mereka segera mengetahui ternyata disana telah menunggu seorang kakek
tua berwajah tanpa terbalut daging, matanya cu-
ma sebelah dari berwarna merah menyala. Tidak
jauh dari samping kakek itu tampak seorang ga-
dis cantik berpakaian hijau. Dari cara gadis itu memandang kelihatan jelas bahwa ia sangat memandang remeh tokoh-tokoh dari golongan lurus
ini. Satu hal yang membuat Malaikat Berambut
Api terheran-heran, ia melihat kakek berwajah
tanpa daging ini begitu memandangnya langsung
tidak pernah mengalihkan perhatian dari dirinya.
"Malaikat Berambut Api manusia jahanam
Masih ingatkah kau kepadaku atau kau malah ti-
dak mengingatku sama sekali?" teriak Tua Tengkorak Mata Api Demikian marahnya ia sampai-
sampai tidak menghiraukan orang-orang yang
menyertai kakek ini.
Dewana alias Malaikat Berambut Api ter-
diam cukup lama dengan alis berkerut. Ia seperti lupa-lupa ingat dengan orang beralis agak berdiri
dan berumbai-umbai ini. Atau mungkin ia pernah
bertemu pada suatu waktu dimasa silamnya yang
kurang begitu menggembirakan?
"Dewana? Kurasa otakmu belum tumpul.
Saat itu empat puluh tahun yang lalu. Kita bertarung di Sungai Kuning. Aku hampir membunuhmu dengan pukulan 'Pelebur Raga'. Tetapi celaka, kau mempergunakan tipu muslihatmu dengan jurus 'Neraka Pembasmi Iblis' serta pukulan
'Neraka Hari Terakhir'. Kekalahan itu bukan se-
suatu yang aneh, Dewana. Yang membuatku me-
rasa terhina, kau hancurkan wajahku, kau cung-
kil pula mataku yang kiri di saat aku dalam kea-
daan antara hidup dan mati. Kau manusia penge-
cut Dewana? Ini adalah hari yang menentukan
bagimu. Kutidak pernah khawatir sungguh pun
kau membawa seribu kawan" teriak Tua Tengkorak Mata Api penuh rasa permusuhan.
Sekarang mengertilah Malaikat Berambut
Api duduk persoalan yang sebenarnya. Orang ini
tidak lain adalah Darpakala atau Si Racun Kun-
ing. Manusia sesat dari Sungai Kuning yang dulu
pernah membunuh kekasih Dewana yang perta-
ma. Sumtirah saudara seguru Dewana, ia cantik,
manja, sayangnya suka bersahabat dengan orang-
orang golongan putih dan hitam. Sumtirah alias
Satriavi adalah kekasih Dewana di masa mereka
masih sama-sama muda. Mereka sama-sama
mencinta, sehingga suatu saat kelak mereka akan
mengukuhkan hubungan cinta mereka ke jenjang
perkawinan. Tetapi apa yang kemudian terjadi.
Satriavi hamil, kehamilan itu terjadi akibat sahabat Satriavi, yaitu Darpakala telah membiusnya.
Pemuda aliran sesat ini menodai Satriavi berulang kali dalam keadaan gadis itu tidak sadarkan diri.
Sadar akan aib yang menimpa dirinya. Maka sete-
lah meninggalkan pesan Satriavi membunuh diri.
Dewana tentu menjadi marah pada Darpakala. Ia
mencari manusia sesat itu ke Sungai Kuning,
hingga terjadilah pertarungan antara hidup dan
mati. Perlu diketahui waktu itu Darpakala diban-
tu oleh buaya-buaya kuning yang sangat ganas.
Sehingga jika bukan karena ketinggian ilmu yang
dimiliki Dewana, niscaya ia tewas di tangan Dar-
pakala.
SEMBILAN
Teringat akan segala sesuatu yang terjadi
di masa lalu. Malaikat Berambut Api tiba-tiba merasa hatinya seperti di iris-iris sembilu. Perlahan ia memandang tajam ke arah kakek bermuka
tanpa berbalut daging dengan tatapan dingin me-
nusuk. Manusia topeng, Mata Iblis dan Dewi Keru-
dung Putih yang tidak tahu duduk persoalan di-
antara mereka berdua hanya diam saja.
"Darpakala, Racun Kuning atau siapa saja
julukanmu. Aku tidak perduli, aku merasa kau
dulu telah menghina diriku. Apa yang menimpa
dirimu kuanggap sebagai suatu pelajaran pahit
sekaligus berharga bagi dirimu, tidak tahunya ha-timu malah menjadi penasaran. Kau bukan me-
nyadari apa yang telah kau lakukan, tidak ta-
hunya malah semakin bertambah sesat" dengus Malaikat Berambut Api.
"Saudara" seru Manusia Topeng. "Mengapa mengulur-ulur waktu? Sebaiknya serahkan masalah ini padaku, biar aku yang tua bangka ini ingin merasakan betapa banyak kesaktian yang dimilikinya sehingga ia bermulut besar seperti ini"
"Tidak Aku merasa berterima kasih atas
perhatian kalian. Persoalanku dengan Tua Teng-
korak Mata Api adalah persoalan yang sangat pri-
badi sekali. Untuk itu kuminta pada kalian agar
jangan turut campur. Menurutku sebaiknya sau-
dara semua tidak usah menunggu lebih lama.
Mencari Ratu Leak dan mengambil Batu Lahat
Bakutuk lebih cepat adalah lebih baik" kata Malaikat Berambut Api.
"Tidak bisa, bangsat cebol yang memakai
topeng itu adalah bagianku" Mustika Jajar tiba-tiba saja melangkah maju.
Setelah memperhatikan sekejap, Manusia
Topeng segera mengenali. "Ha ha ha Perempuan cantik, tapi berhati busuk. Jika kau mau berpikir dua kali tentu kau tidak akan gegabah ingin men-jajalku? Menurut hematku lebih baik kau mem-
bantu gurumu dari segala kemungkinan yang da-
pat membuat matanya yang cuma satu-satunya
itu mbrojol keluar. Kau pasti bukan lawanku Te-
tapi jika kau tetap memaksaku, biarkan kawan-
kawan kami Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih
melanjutkan perjalanan" Manusia Topeng ajukan isyarat. Mustika Jajar tampak keberatan. Namun
Tua Tengkorak Mata Api memberi isyarat agar
Mustika membiarkan kedua orang itu lewat.
Maka dibiarkan saja Dewi Kerudung Putih
dan Mata Iblis berlalu. Setelah kedua orang ini
lewat. Maka Tua Tengkorak Mata Api yang sudah
merasa yakin benar Ratu Leak pasti akan mem-
bunuh Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih ia
kembali berbalik ke arah musuh yang sangat di
bencinya.
"Dewana, untuk kau ketahui agar tidak
mampus penasaran. Beberapa tahun yang lewat
muridmu yang Bodoh itu hampir membuat celaka
muridku. Untuk itu biarlah hari ini aku menagih
hutang-hutang itu berikut bunga-bunganya"
"Setan mata sebelah, bagaimana dengan
aku?" celetuk Manusia Topeng. "Apa aku harus jadi penonton bersama muridmu?"
"Mustika, bunuh tua setan yang memakai
topeng itu?" perintah Tua Tengkorak Mata Api.
Untuk melakukan perintah gurunya bukanlah se-
suatu yang mudah. Rasanya Manusia Topeng
mempunyai tingkat kepandaian lebih tinggi di-
bandingkan dengan Datuk Nan Gadang Paluih.
Jelas dalam hal ini ia tidak boleh hanya mengan-
dalkan jurus-jurus serta pukulan yang diwa-
riskan oleh uwa gurunya saja. Bagaimana pun ia
harus mempergunakan jurus serta pukulan wari-
san gurunya sendiri.
"Guru aku berjanji bukan hanya akan
membunuhnya saja. Tetapi aku juga akan mem-
beset-beset yang menutupi wajahnya. Agar kita
semuanya tahu siapa dia yang sebenarnya" sahut Iblis Betina Dari Neraka. Tiba-tiba gadis cantik yang sudah bukan perawan lagi ini melesat ke
depan. Tangan kanan menghantam ke bagian da-
da, sedangkan kaki meluncur deras ke bagian pe-
rut lawannya. Serangan yang dilancarkan oleh
gadis itu bukan serangan biasa. Karena ia telah
melepaskan pukulan 'Segala Racun Segala Bisa'.
Tampak jelas kaki dan tangan Mustika Ja-
jar telah berubah menghitam. Dan deru angin
yang ditimbulkannya pun jelas menebar hawa
busuk yang dingin bukan main.
Wuuut
Sebagai tokoh yang berpengalaman Manu-
sia Topeng sadar betul dengan bahaya ini. Se-
hingga ia berkelit, serangan Mustika baik tendangan kaki maupun tendangan tangan dua-duanya
luput. Dalam hati ia sempat tercekat juga. Selagi serangannya nyeplos begitu saja, Manusia Topeng
cepat melompat mundur ke belakang. Kemudian
punggung tangannya melibas.
Buuuk Braak
Terhantam pukulan Manusia Topeng, Mus-
tika nyaris terpelanting. Syukur ia mempunyai
ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Sehingga dengan cepat ia dapat memperbaiki posisi dan
siap menyerang kembali.
"Hmm, kali ini aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja" geram Mustika
melihat tetapi Mata Iblis dapat merasakan di atas bukit paling tidak berdiri dua orang yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Cepatlah ke sini semuanya?" teriak Mata Iblis dengan suara keras menggelegar. Orang-orang yang berada di bawah segera naik. Malaikat Berambut Api, Manusia Topeng dan Dewi Kerudung hanya dalam waktu sebentar saja sudah be-
rada di atas bukit itu. Mereka segera mengetahui ternyata disana telah menunggu seorang kakek
tua berwajah tanpa terbalut daging, matanya cu-
ma sebelah dari berwarna merah menyala. Tidak
jauh dari samping kakek itu tampak seorang ga-
dis cantik berpakaian hijau. Dari cara gadis itu memandang kelihatan jelas bahwa ia sangat memandang remeh tokoh-tokoh dari golongan lurus
ini. Satu hal yang membuat Malaikat Berambut
Api terheran-heran, ia melihat kakek berwajah
tanpa daging ini begitu memandangnya langsung
tidak pernah mengalihkan perhatian dari dirinya.
"Malaikat Berambut Api manusia jahanam
Masih ingatkah kau kepadaku atau kau malah ti-
dak mengingatku sama sekali?" teriak Tua Tengkorak Mata Api Demikian marahnya ia sampai-
sampai tidak menghiraukan orang-orang yang
menyertai kakek ini.
Dewana alias Malaikat Berambut Api ter-
diam cukup lama dengan alis berkerut. Ia seperti lupa-lupa ingat dengan orang beralis agak berdiri
dan berumbai-umbai ini. Atau mungkin ia pernah
bertemu pada suatu waktu dimasa silamnya yang
kurang begitu menggembirakan?
"Dewana? Kurasa otakmu belum tumpul.
Saat itu empat puluh tahun yang lalu. Kita bertarung di Sungai Kuning. Aku hampir membunuhmu dengan pukulan 'Pelebur Raga'. Tetapi celaka, kau mempergunakan tipu muslihatmu dengan jurus 'Neraka Pembasmi Iblis' serta pukulan
'Neraka Hari Terakhir'. Kekalahan itu bukan se-
suatu yang aneh, Dewana. Yang membuatku me-
rasa terhina, kau hancurkan wajahku, kau cung-
kil pula mataku yang kiri di saat aku dalam kea-
daan antara hidup dan mati. Kau manusia penge-
cut Dewana? Ini adalah hari yang menentukan
bagimu. Kutidak pernah khawatir sungguh pun
kau membawa seribu kawan" teriak Tua Tengkorak Mata Api penuh rasa permusuhan.
Sekarang mengertilah Malaikat Berambut
Api duduk persoalan yang sebenarnya. Orang ini
tidak lain adalah Darpakala atau Si Racun Kun-
ing. Manusia sesat dari Sungai Kuning yang dulu
pernah membunuh kekasih Dewana yang perta-
ma. Sumtirah saudara seguru Dewana, ia cantik,
manja, sayangnya suka bersahabat dengan orang-
orang golongan putih dan hitam. Sumtirah alias
Satriavi adalah kekasih Dewana di masa mereka
masih sama-sama muda. Mereka sama-sama
mencinta, sehingga suatu saat kelak mereka akan
mengukuhkan hubungan cinta mereka ke jenjang
perkawinan. Tetapi apa yang kemudian terjadi.
Satriavi hamil, kehamilan itu terjadi akibat sahabat Satriavi, yaitu Darpakala telah membiusnya.
Pemuda aliran sesat ini menodai Satriavi berulang kali dalam keadaan gadis itu tidak sadarkan diri.
Sadar akan aib yang menimpa dirinya. Maka sete-
lah meninggalkan pesan Satriavi membunuh diri.
Dewana tentu menjadi marah pada Darpakala. Ia
mencari manusia sesat itu ke Sungai Kuning,
hingga terjadilah pertarungan antara hidup dan
mati. Perlu diketahui waktu itu Darpakala diban-
tu oleh buaya-buaya kuning yang sangat ganas.
Sehingga jika bukan karena ketinggian ilmu yang
dimiliki Dewana, niscaya ia tewas di tangan Dar-
pakala.
SEMBILAN
Teringat akan segala sesuatu yang terjadi
di masa lalu. Malaikat Berambut Api tiba-tiba merasa hatinya seperti di iris-iris sembilu. Perlahan ia memandang tajam ke arah kakek bermuka
tanpa berbalut daging dengan tatapan dingin me-
nusuk. Manusia topeng, Mata Iblis dan Dewi Keru-
dung Putih yang tidak tahu duduk persoalan di-
antara mereka berdua hanya diam saja.
"Darpakala, Racun Kuning atau siapa saja
julukanmu. Aku tidak perduli, aku merasa kau
dulu telah menghina diriku. Apa yang menimpa
dirimu kuanggap sebagai suatu pelajaran pahit
sekaligus berharga bagi dirimu, tidak tahunya ha-timu malah menjadi penasaran. Kau bukan me-
nyadari apa yang telah kau lakukan, tidak ta-
hunya malah semakin bertambah sesat" dengus Malaikat Berambut Api.
"Saudara" seru Manusia Topeng. "Mengapa mengulur-ulur waktu? Sebaiknya serahkan masalah ini padaku, biar aku yang tua bangka ini ingin merasakan betapa banyak kesaktian yang dimilikinya sehingga ia bermulut besar seperti ini"
"Tidak Aku merasa berterima kasih atas
perhatian kalian. Persoalanku dengan Tua Teng-
korak Mata Api adalah persoalan yang sangat pri-
badi sekali. Untuk itu kuminta pada kalian agar
jangan turut campur. Menurutku sebaiknya sau-
dara semua tidak usah menunggu lebih lama.
Mencari Ratu Leak dan mengambil Batu Lahat
Bakutuk lebih cepat adalah lebih baik" kata Malaikat Berambut Api.
"Tidak bisa, bangsat cebol yang memakai
topeng itu adalah bagianku" Mustika Jajar tiba-tiba saja melangkah maju.
Setelah memperhatikan sekejap, Manusia
Topeng segera mengenali. "Ha ha ha Perempuan cantik, tapi berhati busuk. Jika kau mau berpikir dua kali tentu kau tidak akan gegabah ingin men-jajalku? Menurut hematku lebih baik kau mem-
bantu gurumu dari segala kemungkinan yang da-
pat membuat matanya yang cuma satu-satunya
itu mbrojol keluar. Kau pasti bukan lawanku Te-
tapi jika kau tetap memaksaku, biarkan kawan-
kawan kami Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih
melanjutkan perjalanan" Manusia Topeng ajukan isyarat. Mustika Jajar tampak keberatan. Namun
Tua Tengkorak Mata Api memberi isyarat agar
Mustika membiarkan kedua orang itu lewat.
Maka dibiarkan saja Dewi Kerudung Putih
dan Mata Iblis berlalu. Setelah kedua orang ini
lewat. Maka Tua Tengkorak Mata Api yang sudah
merasa yakin benar Ratu Leak pasti akan mem-
bunuh Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih ia
kembali berbalik ke arah musuh yang sangat di
bencinya.
"Dewana, untuk kau ketahui agar tidak
mampus penasaran. Beberapa tahun yang lewat
muridmu yang Bodoh itu hampir membuat celaka
muridku. Untuk itu biarlah hari ini aku menagih
hutang-hutang itu berikut bunga-bunganya"
"Setan mata sebelah, bagaimana dengan
aku?" celetuk Manusia Topeng. "Apa aku harus jadi penonton bersama muridmu?"
"Mustika, bunuh tua setan yang memakai
topeng itu?" perintah Tua Tengkorak Mata Api.
Untuk melakukan perintah gurunya bukanlah se-
suatu yang mudah. Rasanya Manusia Topeng
mempunyai tingkat kepandaian lebih tinggi di-
bandingkan dengan Datuk Nan Gadang Paluih.
Jelas dalam hal ini ia tidak boleh hanya mengan-
dalkan jurus-jurus serta pukulan yang diwa-
riskan oleh uwa gurunya saja. Bagaimana pun ia
harus mempergunakan jurus serta pukulan wari-
san gurunya sendiri.
"Guru aku berjanji bukan hanya akan
membunuhnya saja. Tetapi aku juga akan mem-
beset-beset yang menutupi wajahnya. Agar kita
semuanya tahu siapa dia yang sebenarnya" sahut Iblis Betina Dari Neraka. Tiba-tiba gadis cantik yang sudah bukan perawan lagi ini melesat ke
depan. Tangan kanan menghantam ke bagian da-
da, sedangkan kaki meluncur deras ke bagian pe-
rut lawannya. Serangan yang dilancarkan oleh
gadis itu bukan serangan biasa. Karena ia telah
melepaskan pukulan 'Segala Racun Segala Bisa'.
Tampak jelas kaki dan tangan Mustika Ja-
jar telah berubah menghitam. Dan deru angin
yang ditimbulkannya pun jelas menebar hawa
busuk yang dingin bukan main.
Wuuut
Sebagai tokoh yang berpengalaman Manu-
sia Topeng sadar betul dengan bahaya ini. Se-
hingga ia berkelit, serangan Mustika baik tendangan kaki maupun tendangan tangan dua-duanya
luput. Dalam hati ia sempat tercekat juga. Selagi serangannya nyeplos begitu saja, Manusia Topeng
cepat melompat mundur ke belakang. Kemudian
punggung tangannya melibas.
Buuuk Braak
Terhantam pukulan Manusia Topeng, Mus-
tika nyaris terpelanting. Syukur ia mempunyai
ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Sehingga dengan cepat ia dapat memperbaiki posisi dan
siap menyerang kembali.
"Hmm, kali ini aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja" geram Mustika
Jajar
marah.
Manusia Topeng hanya tersenyum.
Sekarang ia tidak menunggu lagi lawan membangun serangan, tiba-tiba saja laki-laki
pendek ini melompat ke udara. Kakinya menyapu
ke bagian kepala lawan.
Set Set
"Heh..."
Sekarang Manusia Topeng yang di buat ka-
get bukan alang kepalang. Ia tadi merasa yakin
serangannya mencapai sasaran. Tetapi dengan
gerakan yang aneh lawan telah dapat menghinda-
rinya. Manusia Topeng memperhatikan gerakan
Mustika. Lalu terdengar seruan kaget.
"Langkah Langkah Sesat??" desisnya.
"Hi hi hi... Bagus sekali ternyata kau telah mengetahui jurus-jurus mautku bangsat bertopeng. Sekarang rasakanlah ini Heaa..." Suara si gadis melengking tinggi. Secepat kilat tubuhnya
mengambang di udara, lalu ia meliuk-liuk disertai putaran aneh di udara. Setiap jari-jari tangan
Mustika bergerak, maka lima jalan darah lawan
dalam keadaan terancam. Manusia Topeng mera-
sa ada tekanan yang menghebat dan mengurung
setiap gerakannya.
"Hia... Cha,cha..."
Tiba-tiba Manusia Topeng jungkir balik,
kaki menghadap ke atas kepala menghadap ke
bawah. Ia bertumpu dengan kedua tangannya.
Kemudian ketika serangan lawan terus mende-
ranya secara bertubi-tubi. Maka Manusia Topeng
gerakkan kakinya dalam posisi menggunting.
Clak
"Aih..."
Gadis itu sempat keluarkan seruan terta-
han ketika kaki lawan hampir saja memotong pu-
tus kedua tangannya sekaligus. Tiba-tiba saja ia berguling-guling. Lalu kakinya menendang dengan cepat dan telak sekali.
Duuuk
"Wuakh..." Manusia Topeng menjerit keras. Tubuhnya sempat terlempar dan nyangsang
di atas dahan yang rimbun. Selagi Manusia To-
peng dalam keadaan seperti itu Mustika Jajar le-
paskan pukulan ke arahnya. Untung Manusia
Topeng cepat menyingkir. Jika tidak tubuhnya
pasti hangus terhantam serangan lawan yang
mengandung hawa panas bukan main tersebut.
Untuk sementara waktu kita tinggalkan
dulu Manusia Topeng dan Mustika yang masih te-
rus terlihat pertempuran sengit. Pada waktu ber-
samaan pula Malaikat Berambut Api juga sedang
terlibat pertempuran sengit dengan musuh be-
buyutannya, yaitu Tua Tengkorak Mata Api. Dua
tokoh aliran hitam dan putih yang sudah lama
menyimpan dendam berkarat ini tampaknya su-
dah mulai mengumbar jurus-jurus ataupun pu-
kulan mautnya.
"Hiaaa..."
Tua Tengkorak Mata Api tiba-tiba saja me-
lompat mundur. Kedua tangannya segera digosok-
gosokkan satu dengan yang lainnya. Sebentar saja kedua tangan kakek berwajah macam tengko-
rak ini telah berwarna menghitam keseluruhan-
nya. "Dewana... Hari ini kau tidak akan lolos dari kematianmu" dengus Tua Tengkorak Mata Api dengan marahnya.
"Pukulan Segala Racun Segala Bisa sejak
dulu kau memang sudah memilikinya. Tetapi
sangat disayangkan kulihat tidak ada perkem-
bangan yang berarti. Ternyata kau hanya seorang
pembual bermulut besar" sahut Malaikat Berambut Api tidak kalah sinisnya.
Mendengar ucapan lawan yang sangat me-
remehkan dirinya, jelas saja Tua Tengkorak Mata
Api jadi bertambah berang. Tanpa bicara apa-apa
lagi ia lepaskan pukulan maut yang memang te-
lah dipersiapkannya.
Penghuni pulau Seribu Satu Malam ini se-
gera dapat merasakan adanya hawa dingin menu-
suk menerpa dirinya. Dadanya langsung sesak,
tenggorokan seperti di tusuk-tusuk jarum panas.
"Heep"
Malaikat Rambut Api diam-diam kerahkan
tenaga sakti untuk mengusir pengaruh serangan
lawan ini.
"Heh..."
Kakek ini tersentak kaget, wajahnya sedikit
memucat. Ternyata walau pun ia telah mengerah-
kan hawa sakti untuk mengusir serangan lawan
ini. Ia masih merasakan gelombang serangan be-
rupa hawa panas yang mendera tiada putus-putusnya.
"Kunyuk keparat ini ternyata banyak mem-
punyai kemajuan Aku tidak mungkin menghin-
dar terus" pikir si kakek rambut merah. Lalu ia kepalkan kedua tangannya hingga membentuk
tinju. Krrtttkkh
Ada suara berkeretekan ketika masing-
masing jari tangan si kakek menangkup bersatu
padu antara satu dengan yang lainnya.
"Hiiih..."
Sambil melompat ke depan, laksana kilat
tangannya meluncur. Tua Tengkorak Mata Api
sama sekali tidak menduga adanya serangan
mendadak ini. Ia angkat kakinya sedangkan kepa-
la dan badan ditarik ke belakang.
Des...Des
Baik kakek Dewana maupun Tua Tengko-
rak sama-sama terkena pukulan. Dua-duanya
terhuyung beberapa tindak ke belakang. Tetapi
laksana kilat kakek Dewana sambil memperguna-
kan jurus 'Kacau Balau', sudah membangun se-
rangan lagi. Tentu saja serangan-serangan yang
dilancarkan oleh Malaikat Berambut Api merupa-
kan serangan yang sangat berbahaya di samping
mengandung tenaga dalam tinggi. Sebaliknya
Darpakala yang memang dilamun dendam tidak
terlihat keder mendapat hujan serangan bertubi-
tubi. Bagaikan singa gurun, Darpakala alias Racun Kuning dan lebih di kenal dengan julukan
Tua Tengkorak Mata Api dapat menghindari hu-
jan serangan lawannya. Sebaliknya serangan ba-
lasan yang dilakukan oleh Darpakala juga dapat
dihindari oleh Malaikat Berambut Api.
Kenyataan yang dihadapinya ini benar-
benar membuatnya menjadi marah. Tiba-tiba saja
ia jatuhkan diri ke tanah dengan posisi mene-
lungkup. Kedua tangannya mengembang dan
langsung dipukulkan ke bumi.
Hanya beberapa saat saja setelah tangan
Tua Tengkorak Mata Api menjejak ke tanah. Maka
kedua tangan itu tiba-tiba saja memancarkan ca-
haya berwarna pelangi.
"Pukulan Pelebur Raga?? Hmm rupanya
bajingan ini telah berhasil mengamalkan pukulan
sesat yang dulu pernah menghebohkan" desis Malaikat Berambut Api. Walaupun ia sempat terkesiap, tetapi dengan cepat ia usap dadanya. Se-
telah itu bersiap-siap pula dengan pukulan
'Ratapan Pembangkit Sukma'.
"Dewana, jika hari ini kau tidak mampus
dengan pukulan Pelebur Raga. Biarlah untuk ma-
sa selanjutnya aku mengasingkan diri di Lembah
Wadal (tumbal). Ini adalah satu-satunya pukulan
maut yang kurancang khusus untuk membu-
nuhmu di samping ada satu pukulan lagi yang
kuberi nama Tiga Gerhana Penghantar Maut
Malaikat Berambut Api sama sekali tidak
menyahut. Mata kakek ini setengah terpejam.
Otot-otot tubuhnya yang kekar bersembulan. Ke-
ringat sebesar-besar kacang kedelai bercucuran
membasahi seluruh tubuhnya. Pabila Tua Teng-
korak Mata Api memandang ke arah lawannya
untuk yang terakhir kali. Maka ia sempat tercekat juga. Seluruh rambut di kepala si kakek yang
berwarna merah tampak seakan-akan menyala.
Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.
Tetapi apalah artinya bagi Tua Tengkorak Mata
Api yang sudah dilamun marah.
"Hiaaa..."
Diawali dengan teriakan melengking tinggi.
Tua Tengkorak melesat ke depan sedangkan tan-
gannya di dorong dengan kecepatan penuh. Ter-
dengar suara bergemuruh bagaikan deru angin
yang tidak ada putus-putusnya. Lalu sinar pelan-
gi itu sontak memanjang menjadi sesuatu yang
menggiriskan. Lesatan sinar pelangi itu ke arah
lawan saja sudah membuat si kakek Dewana yang
mempunyai tenaga dalam tinggi sudah mulai ter-
seret-seret. Pohon-pohon tercabut sampai ke
akar-akarnya. Manusia Topeng yang hampir ber-
hasil mengalahkan lawannya sempat tergontai-
gontai, ia keluarkan suara pekikan berulangkali.
Malaikat Berambut Api sadar betul ini merupakan
ujian yang paling berat bagi dirinya.
Bet...Zeeb Zeeb
Malaikat Berambut Api sekonyong-konyong
dorongkan kedua tangannya ke depan. Apa yang
dilakukan oleh si kakek bukanlah sesuatu yang
mudah. Karena serangan yang dilakukannya sea-
kan terhalang sebuah tembok baja berlapis-lapis.
Malah sekarang tubuhnya terus terdorong sedikit
demi sedikit.
Deg Deg
Malaikat Berambut Api lipat gandakan te-
naga dalamnya. Setelah itu ia hantamkan kedua
tangannya ke arah serangan lawan tersebut. Apa
yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang san-
gat luar biasa. Dari telapak tangan kakek Dewana tiba-tiba saja menderu segulung sinar putih laksana salju. Terjadilah saling dorong untuk bebe-
rapa saat lamanya. Dua-duanya saling ngotot. La-
lu.... Buum
Akhirnya terjadilah ledakan dahsyat. Dua
sosok tubuh sama-sama terpelanting sedangkan
di bagian lain. Terlihat Mustika Jajar jatuh terduduk dengan mata melotot. Manusia Topeng lagi-
lagi nyangkut di atas pohon tinggi.
Wajah Malaikat Berambut Api tampak pu-
cat laksana kain kapan. Ia mencoba menarik na-
fas, tetapi dadanya malah sakit bukan main. Bila memandang ke arah Tua Tengkorak Mata Api.
Kakek yang wajahnya tidak terbalut daging ini
mandi darah. Ternyata ia mengalami goncangan
bagian dalam yang sangat hebat. Keadaannya
saat itu antara sadar dan tiada. Mustika Jajar
tentu sangat mengkhawatirkan keselamatan gu-
runya. Mengingat lawan ketika itu sudah bangkit
berdiri dan kini telah siap melepaskan pukulan
Neraka Hari Terakhir.
"Celaka guruku" desisnya. Mustika ingin menolong gurunya. Tetapi hal itu sangat sulit dilakukannya. Benturan tenaga sakti tadi telah
mempengaruhinya. Padahal ia mempunyai tingkat
tenaga dalam yang tidak bisa dianggap remeh.
Mungkin jika orang biasa yang terkena pengaruh
pukulan tadi, orang itu tewas seketika.
"Tua Tengkorak Mata Api Aku menjunjung
tinggi tata krama pertarungan rimba persilatan.
Tetapi khusus buatmu merupakan pengecualian.
Kau tidak ubahnya seperti seekor ular berbisa
yang mencari pemukul. Jika hari ini aku tidak
dapat melenyapkanmu, biarlah aku mati dengan
kaki menjunjung langit dan kepala menjunjung
bumi Heaaa..." Malaikat Berambut Api. Memutar-mutar kedua tangan di atas kepala. Kini ia telah siap dengan pukulan 'Kidung Maut' salah satu ilmu ciptaannya yang baru dan belum pernah di-turunkan pada cucu sekaligus muridnya Suro
Blondo.
"Heaaa..."
Wuung
Terdengar suara gaung yang seakan datang
dari perut bumi. Lalu terlihat sinar merah hitam melesat ke arah Tua Tengkorak. Kakek berwajah
tanpa daging ini mustahil dapat menghindar dari
lawannya, karena ia tidak kuasa menyelamatkan
diri. Bahkan menggeser punggungnya saja ia ti-
dak mampu.
Tidak pelak lagi serangan lawan pun
menghantam dirinya. Tua Tengkorak Mata Api
mencelat, tubuhnya kemudian terkapar. Orang
tua yang mempunyai ilmu Iblis Pembangkit Roh
ini tewas seketika dengan keadaan hangus. Mus-
tika Jajar tentu saja menjerit histeris melihat gurunya kena di bantai lawan. Ia tiba-tiba saja berlari sambil melepaskan pukulan ke arah Malaikat
Berambut Api. Melihat betapa berbahaya seran-
gan lawan, maka si kakek segera membuang di-
rinya ke tempat yang aman. Sehingga pukulan
yang dilakukan lawan mengenai tempat kosong.
Akan tetapi betapa kagetnya kakek Dewana
ketika ia bangkit berdiri, gadis yang menyerang-
nya tadi serta mayat Darpakala sudah tidak ada
lagi di situ. Bila memandang ke atas pohon, Ma-
nusia Topeng masih tetap menyerang sang di sa-
na.
"Lebih baik kubiarkan dia dalam keadaan
seperti itu Aku harus mencari tahu siapa Ratu
Leak dan di mana dia bersembunyi" batin Malaikat Berambut Api.
SEPULUH
Jliiigkh
Pemuda berbaju biru tiba-tiba melompat
turun dari atas pohon. Ia gelengkan kepala dan
usap-usap matanya seakan tidak percaya dengan
penglihatannya sendiri.
"Aku tidak tidur makanya tidak bermimpi,
tidak juga mabuk tapi mengapa penglihatanku
jadi begini. Orang ini jelas-jelas mirip dengan aku, bajunya, rambut juga wajahnya. Cuma lebih tolol
sedikit Rasanya aku tidak punya saudara kem-
bar. Tetapi dia mengapa mirip benar dengan diri-
ku?" batin pemuda baju biru alias Suro Blondo.
Pendekar Blo'on lalu melangkah lebih
mendekat lagi. Lalu pemuda baju biru yang entah
datang dari mana itu melangkah pula ke arahnya.
Mereka saling pandang-pandangan. Bila Suro ter-
senyum, maka pemuda di depannya juga ikut ter-
senyum. Pendekar Mandau Jantan garuk-garuk
kepala, eeh pemuda yang sungguh mirip dengan
dirinya itu juga ikut garuk-garuk kepala.
Sedemikian penasarannya pemuda ini,
hingga jari telunjuknya mendorong jidat orang
itu. Ternyata pemuda berbaju biru yang segala-
galanya mirip dengan dirinya ikut mendorong pu-
la.
"Ha ha ha... Tidak mabuk mengapa pen-
glihatanku jadi lucu?" seru Suro semakin bertambah besar saja rasa heran dihatinya. Pemuda
tampan bertampang tolol itu juga ikut tertawa.
"Kalau tidak mabuk, berarti kita memang
sudah jadi gila" celetuk pemuda itu pula.
"Kau siapa? Mengapa wajahmu mirip benar
dengan aku?" tanya si konyol, sekarang ekspresi wajahnya benar-benar serius.
"Kau yang siapa?"
"Kunyuk betul, kau yang meniru aku Pa-
dahal aku tidak punya saudara kembar di dunia
ini. Apakah kau setan?" tanya Suro lagi.
"Kaulah yang setan" maki pemuda di depannya sinis.
Suro garuk-garuk kepala. Bingung, pena-
saran bercampur kesal sedikit. "Kau hendak kemana?" tanya Pendekar Blo'on.
"Mencarimu" sahut pemuda itu singkat.
Sepasang mata Suro yang jenaka berputar
liar "Mencariku? Apakah ada seseorang yang menyuruhmu?"
"Benar."
"Untuk apa?" desak Pendekar Mandau Jantan semakin tidak sabar.
"Membunuhmu, ya... kurasa aku datang
untuk membunuhmu. Karena memang itulah tu-
gas yang diberikan padaku"
Suro Blondo tiba-tiba saja tertawa tergelak-
gelak. Melihat Suro tertawa, maka orang di de-
pannya ikut tertawa bekakakan.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Kurasa itu tidak penting kau ketahui,
Pendekar Blo'on" sinis suara pemuda itu.
"Apakah kau Pendekar Blo'on juga?" pancing Suro
Lawan anggukkan kepala. Saking kagetnya
Suro sampai melangkah mundur. Keningnya ber-
kerut dalam, rasanya apa yang ia lihat memang
tidak masuk akal. Ada orang segala-galanya mirip benar. dengan dirinya. Kalau pun ia sedang menyamar, mengapa bisa persis betul? Kenyataan
ini hampir tidak dapat diterima akal sehatnya,
begitu ia tidak percayanya sampai-sampai ia
mencubit lengannya sendiri. Ternyata memang te-
rasa sakit, berarti Suro tidak sedang mimpi.
"Entah aku yang tolol atau engkau yang
sudah gila Kalau kau benar-benar sebagai Pen-
dekar Blo'on apakah senjata andalanmu yang
akan kau pergunakan untuk membunuhku??"
Tanpa bicara pemuda yang mirip Suro ke-
luarkan senjata. Suro langsung cengengesan keti-
ka pemuda itu keluarkan sebuah clurit berwarna
hitam. "Hmm, ternyata perabotan yang kau bawa bengkok. Sedangkan Pendekar Blo'on sejati punya
senjata lurus, ada lubang spesialnya. Senjata
bengkok begitu bisa salah tusuk salah sasaran"
ejek Pendekar ini ketus. "Apakah kau punya senjata yang lain?"
Yang ditanya langsung buka celana dan
tunjukkan apa yang dia miliki. Tawa Suro Blondo
semakin menjadi-jadi.
"Wah lebat betul. Rupanya kau punya tidak
pernah di cukur, lagipula mengapa hitam keriput
dan bulukan begitu?"
"Ha ha ha... Jadi apa yang kau maksud
dengan senjataku yang lain?" tanya pemuda itu sama tololnya.
Di samping geli, Suro lama-kelamaan jadi
sewot juga. Tiba-tiba ia meninju wajah lawannya.
Plaak
Pemuda itu terdorong mundur, lalu usap
keningnya yang benjol sebesar telur puyu. Tidak
disangka-sangka pemuda itu lakukan serangan
kilat. Tinjunya yang meluncur tidak sempat di-
elakkan lagi oleh Suro yang lengah.
Took
Pendekar Blo'on meringis. Bila ia mengu-
sap keningnya, maka terdapat benjolan sebesar
telur angsa.
"Sontoloyo, manusia sompret Berani betul
kau berbuat kurang ajar padaku"
"Itu belum seberapa sebab sebentar lagi
aku akan membunuhmu" sahut lawannya sinis.
"Gila betul. Jangan kau cuma pentang ba-
cot lekas buktikan jika kau ingin membunuhku"
tantang Pendekar Mandau Jantan tanpa sung-
kan-sungkan lagi.
"Ha ha ha Aku gembira sekali, ternyata
kau memang menghendaki mati. Maka kau lihat-
lah serangan" teriak pemuda tersebut.
Dengan kecepatan sulit di duga-duga, tiba-
tiba saja lawan sudah mengayunkan celuritnya ke
wajah Suro. Pemuda ini langsung berkelit dengan
jurus 'Kacau Balau'. Ternyata serangan pertama
hanya tipuan saja, karena ketika Suro mengelak
celurit tiba-tiba menyimpang dan berbelok mene-
rabas perut. Pendekar Blo'on terpaksa berjumpli-
tan sambil memaki.
"Rupanya kau punya keedanan dan tipu
menipu pula. Heaaa..." Pemuda ini membentak garang. Ia tetap mempergunakan jurus menghindar 'Kacau Balau'. Namun di samping itu ia juga
mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh
Harimau'. Lawannya yaitu pemuda bertampang
dan berpakaian seperti dirinya tidak tinggal diam.
Ia juga membalas serangan Suro dengan tidak ka-
lah dahsyatnya, tetapi bukan menggunakan ju-
rus-jurus seperti yang dimainkan oleh pemuda
itu. Sungguh pun demikian serangan-serangan
yang dilancarkannya tetap berbahaya dan men-
gandung tipu-tipu. Tiba-tiba saja Pendekar Blo'on melancarkan tendangan berputar. Lawan segera
dapat merasakan adanya desiran angin kencang
menerpa ke bagian pinggang. Pemuda baju biru
langsung melompat ke udara. Dalam keadaan me-
lesat ia lepaskan tendangan beruntun. Suro jadi
kaget, ia hanya mampu menghindari beberapa
tendangan, tetapi ketika kaki lawan terus berpu-
tar-putar di atas kepalanya, Suro sudah tidak kuasa lagi selamatkan diri.
Des
"Ukh..."
Pendekar Blo'on tekad kepalanya yang se-
perti hendak pecah. Bumi dirasakannya berputar
lebih cepat. Selagi ia belum sempat berdiri karena menikmati sakit yang bukan kepalang. Lawan telah nekad menyerangnya dengan pukulan jarak
jauh. "Oh... aku bisa mati konyol kalau begini?"
desis Pendekar Blo'on. Belum lagi ia sempat ber-
diri. Tiba-tiba ia kerahkan tenaga dalamnya ke
bagian kedua tangannya. Samar-samar Suro me-
lihat cahaya merah kehitam-hitaman melesat ke
arahnya. Tanpa membuang-buang waktu pemuda
ini langsung lepaskan pukulan 'Kera Sakti Meno-
lak Petir'.
Wuut Wuuut
Seer
Seketika terasa adanya sambaran hawa
dingin mencucuk hidung dari telapak tangan Su-
ro yang terkembang. Lalu di tengah jalan terjadilah benturan keras bukan main. Baik Suro mau-
pun pemuda yang sungguh mirip dengan dirinya
itu sama-sama terpelanting roboh. Selagi Pende-
kar Blo'on masih berusaha melancarkan jalan da-
rah yang tersendat, lawan telah menerjang lagi
sambil mengayunkan celurit di tangannya.
Wuut
"Aiiih..."
Dengan terpaksa pemuda ini berguling-
guling. Tetapi lawan setelah melihat serangannya tidak mencapai sasaran langsung berbalik, dan
kini menyerang lagi dengan bacokan maupun tu-
sukan yang semakin berbahaya.
"Hiyaa..."
Celurit tiba-tiba melesat di bagian bahu
Suro. Pemuda ini kerahkan jurus 'Kacau Balau',
satu-satunya jurus khusus menghindar yang ia
miliki. Wuuus
Liukan-liukan serampangan yang dilaku-
kan Pendekar Blo'on benar-benar membuatnya
dapat membebaskan diri dari maut selama bebe-
rapa kali. Lawan ternyata tidak putus asa. Ka-
kinya mendadak saja meluncur dan...
Buuk
"Huuk"
Pendekar Blo'on jatuh terguling-guling. Da-
lam keadaan sedemikian itu ia masih sempat le-
paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-
sinar' ke arah lawan.
Zzzzttss
Tidak terelakkan lagi lawannya yang begitu
bernafsu memburu Suro tidak sempat menghin-
dar lagi. Di saat ledakan keras terjadi, maka lawan Suro terpelanting roboh. Tetapi anehnya se-
rangan maut itu tidak membawa akibat apa-apa.
Malah seperti orang linglung lawan bangkit lagi.
Ia garuk-garuk kepala sebagaimana tingkah Pen-
dekar Blo'on juga.
"Kau lihatlah aku ndak apa-apa" ejek pemuda itu. Sekarang Pendekar Blo'on yang dibuat
bingung. Melihat lawan bertolak pinggang lagi,
maka si konyol langsung lepaskan pukulan
'Ratapan Pembangkit Sukma'. Sekonyong-
konyong ia melompat ke udara lalu hentakkan
kedua tangannya ke arah lawan. Angin kencang
di sertai badai salju menderu dahsyat ke arah lawan. Dan kelihatannya pemuda itu sama sekali
tidak berminat menghindari pukulan ganas tersebut. Buuum
Dengan telak pukulan tersebut menghan-
tam lawan. Untuk yang kedua kalinya lawan ter-
jajar. Namun sebagaimana tadi ia tidak menderita apalagi sampai terluka terkena pukulan Suro. Sikonyol gelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Ini tidak boleh terjadi. Aku harus mencoba sampai dimana kehebatan jurus Congcorang wa-risan kakek Bayang Bayang" batin Pendekar
Blo'on. "Kau bingung? Ha ha ha... Orang yang sudah hendak mati memang suka bingung. Tetapi
percayalah, kematian dengan di penggal leher ti-
dak begitu sakit. Menurut yang kudengar rasanya
seperti di gigit semut dan ada gatal-gatalnya sedikit" ejek lawannya. Lalu seraya membolang baling celurit hitam di tangan.
"Hmm, kau boleh jadi kebal. Kekebalan ada
tiga, yang lunak yang keras dan berlubang salah
satu diantaranya merupakan titik kelemahan
yang tidak dapat ditawar-tawar" teriak Pendekar Blo'on, suaranya melengking tinggi.
"Heaa..."
Pemuda itu tiba-tiba saja angkat kaki ka-
nannya, jari-jari tangan kanan kiri kemudian saling merapat. Seterusnya bergerak mengait ke de-
pan atau mencatuk bagaikan tangan-tangan
cengcorang yang hendak menggapai daun. Suro
pun berjingkrak kian kemari.
"Uuuuuu..."
Bibir pemuda itu termonyong-monyong.
Tap Tap
Zuup Zuup
Wuuk
Senjata lawan membabat, Suro ber-
jingkrak. Lalu tangannya yang saling merapat me-
luncur ke arah tenggorokan. Lawan terpaksa lin-
dungi tenggorokannya. Angin mendesir. Sekedi-
pan mata tangan Suro telah beralih ke sasaran
lain. Crok Corok
"Heekh..."
Hantaman itu membuat lawannya ter-
huyung ke belakang. Suro melompat maju dan
kembali tangannya mendera berulang-ulang.
Cos Cos
Craak
"Akkkh..."
Tiba-tiba saja terdengar jeritan lawannya
saat kedua matanya terkena hantaman Suro. Da-
lam keadaan utuh kedua mata lawan keluar. Rupanya di situlah titik kelemahan lawannya.
Suro terus mencecar bagian lainnya. Kini
yang menjadi sasaran jemari tangannya adalah
bagian dada dan perutnya. Karena menderita luka
yang sedemikian mengerikan, maka lawan sudah
tidak dapat menguasai dirinya lagi. Untuk yang
kesekian kalinya dadanya di buat berlubang,
bahkan bukan itu saja. Sambil meliuk-liuk ia
hantam perut lawannya.
Jros Jros
Perut itupun berlubang, ususnya berbua-
saian. Lawan menjerit setinggi langit. Dalam keadaan mandi darah tubuhnya terhempas, berkelo-
jotan beberapa saat lamanya. Kemudian sosok itu
menghitam disertai menebarnya kabut putih
hingga akhirnya lenyap dari pandangan mata.
"Ternyata ia manusia jejadian. Siapa yang
telah melakukannya? Kurasa Batu Lahat Bakutuk
itulah yang menjadi sumbernya" pikir Suro. "Ra-tu Leak, tunggulah, kau akan merasakan apa
yang dulu pernah kuderita"
Dan Pendekar Blo'on akhirnya berkelebat
pergi meninggalkan daerah yang sepi itu.
SEBELAS
"Aku dapat merasakan di sinilah manusia
keparat itu bersembunyi Rasanya aku sudah ti-
dak sabar lagi untuk membuat perhitungan den-
gannya" geram pemuda gondrong yang sekujur tubuhnya terbungkus akar-akar berwarna hitam.
Yang diajak bicara adalah laki-laki berpa-
kaian putih selempang putih yang tidak lain ada-
lah Datuk Nan Gadang Paluih.
"Tenanglah, ini masih merupakan daerah
kekuasaanmu Sebagaimana dugaanmu aku pun
merasa ia pasti bersembunyi di celah batu itu
Tunggu apa lagi, panggillah dia keluar untuk
menjumpai kita" kata Datuk Nan Gadang.
Wayan Tandira baru saja hendak berteriak,
tiba-tiba di atas batu yang menjulang tinggi terlihat sosok berpakaian hijau berdiri tegak dengan
tatapan sinis.
"Kalian muncul lagi? Rupanya kalian tidak
jera dan terus mengejarku ke mana saja aku per-
gi" kata perempuan itu yang tidak lain adalah Ratu Leak.
"Aku mana mungkin meninggalkan Sange
selama Batu Lahat Bakutuk berada di tanganmu"
sahut Datuk Nan Gadang Paluih.
"Dan kau...?" Pertanyaan Ratu Leak ditujukan pada Wayan Tandira.
"Hmm... keparat Kau berpura-pura tidak
tahu. Kesalahanmu segudang, belum lagi masya-
rakatku yang kau kutuk menjadi patung batu. Ti-
dak ada hukuman yang setimpal dengan kesala-
han yang kau perbuat terkecuali membunuhmu
secara perlahan-lahan" sahut Wayan demikian sinisnya.
"Bagus Simpanlah mimpi-mimpi kalian
itu. Aku sendiri sudah punya rencana bagaimana
caranya untuk mengakhiri pengejaran kalian.
Sayang tokoh-tokoh kembaran yang kuciptakan
banyak yang tewas sia-sia. Tetapi kalian lihatlah ini" seru Ratu Leak. Tiba-tiba ia memutar tengkorak kepala bayi di atas kepalanya.
Glerr
Dari kepala tengkorak bayi melesat sinar
warna warni yang terasa menyilaukan mata.
"Datuk, perempuan jahanam itu menge-
rahkan kutuk buat kita" teriak Wayan Tandira.
Datuk Nan Gadang Paluih tertawa membahak
mendengar peringatan Wayan.
Selanjutnya tokoh dari Andalas ini cabut
senjata mautnya yang sudah tidak asing lagi. Yai-tu Angkin Pelebur Petaka. Senjata di kibaskan ke arah sinar-sinar kutukan yang menerjang ke
arahnya tersebut. Terjadilah benturan-benturan
dahsyat di udara. Wayan Tandira sendiri terpaksa mengerahkan pukulan Belenggu Neraka di saat
dirinya mendapat serangan sinar kutukan itu. Sa-
tu hal yang patut diketahui, andai sinar kutukan itu sampai mengenai diri Wayan. Dirinya dapat
berubah menjadi patung seketika.
Melihat serangan pertamanya gagal, Ratu
Leak menggembor marah. Masih tetap berdiri di
atas batu runcing ia lepaskan pukulan 'Neraka
Perut Bumi'. Ratu Leak membagi serangannya ke
dua arah sekaligus.
Untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi Da-
tuk Nan Gadang kebutkan Angkin Pelebur Petaka.
Sedangkan Wayan sekarang tidak memperli-
hatkan reaksi sama sekali kecuali mengerahkan
tenaga dalam ke sekujur tubuhnya. Sehingga ke-
tika serangan lawan menghantam tubuhnya, ma-
ka dari akar-akar itu memijar cahaya hitam.
Buuum...Ledakan yang terjadi akibat bertemunya
dua tenaga sakti membuat Wayan jatuh terdu-
duk. Ratu Leak melompat dari atas batu untuk
menyelamatkan diri dari pukulannya yang mem-
balik akibat di halau Angkin Pelebur Petaka di
tangan Datuk Nan Gadang.
Orang ini memaki, tetapi juga harus ber-
juang keras menghindari serangan gencar yang
dilakukan oleh Datuk Nan Gadang berserta
Wayan. Ratu Leak tiba-tiba menerkam ke arah
Wayan, sedangkan kaki kiri menerabas ke dada
Datuk Nan Gadang.
Melihat serangan ini Wayan segera melam-
bung tinggi ke udara. Sambil berkelit ia menghantam dagu lawannya. Gerakan pemimpin negeri
Sange ini rupanya telah dapat dibaca oleh lawan-
nya. Ratu Leak kibaskan tengkorak bayi di tan-
gannya sehingga membentur dada Wayan.
Buuuk
"Haaakh..."
Kraak....Wayan menjerit tertahan, bukan hanya
akar-akar itu saja yang terhantam hancur oleh
tengkorak bayi tersebut. Tetapi pukulan telak itu membuat Dada pemuda itu patah. Darah menyembur dari mulut si gondrong, sementara Ratu
Leak telah melepaskan tendangan beruntun ke
arah bagian yang sama. Datuk Nan Gadang tidak
tinggal diam. Ia segera melesat ke depan untuk
selamatkan Wayan Tandira. Angkin di tangan
langsung dilecutkan.
Seer....Ratu Leak sambil memaki terpaksa tarik
serangan, kini ia melompat ke kiri untuk sela-
matkan diri dari hantaman angkin maut itu. Ter-
nyata Datuk Nan Gadang tidak tinggal diam hing-
ga di sini saja. Tangan kirinya dengan cepat
menghantam pinggang lawan.
"Ait..."
Dees
Walaupun Ratu Leak telah berusaha
menghindar sedapat mungkin. Tetapi pinggangnya kena di hajar oleh lawannya. Tubuh orang ini sempat berputar karena demikian kerasnya serangan Datuk Nan Gadang itu. Ratu Leak kemu-
dian tergelimpang. Tampak jelas pada sudut-
sudut bibirnya meneteskan darah. Datuk Nan
Gadang terus mengejarnya sambil berkata...
"Cepat kau serahkan Batu Lahat yang telah
kau curi itu"
Ratu Leak tersenyum sinis. Sebagai jawa-
bannya ia lepaskan pukulan 'Pemusnah Raga
Penghancur Jiwa'. Tentu saja sekarang Datuk
Nan Gadang yang di buat pontang-panting. Ia ter-
paksa berguling-guling hingga pukulan itu hanya
beberapa jengkal lewat di atas punggungnya.
Wuut
Belum lagi sempat Datuk berdiri ia le-
paskan pukulan pula ke arah Ratu Leak. Perem-
puan ini tidak sempat menyadari apa yang dila-
kukan lawan, karena saat itu ia telah melompat
ke arah Wayan yang terluka parah dan langsung
menghajar pemuda itu dengan tinjunya.
Praak
"Akhh..."
Serpihan otak bercampur darah berham-
buran menyertai terdengarnya jeritan Wayan
Tandira. Datuk Nan Gadang terperangah melihat
apa yang terjadi. Sangat disesalkan ia terlambat menolong pemuda itu walaupun pukulan yang ia
lepaskan pada akhirnya membuat Ratu Leak ter-
pelanting dengan menderita luka dalam yang cu-
kup serius. Datuk Nan Gadang dalam kesempa-
tan itu cepat menghampiri Wayan. Tetapi pemuda
itu ternyata telah tewas dalam keadaan yang san-
gat mengerikan.
"Datuk keparat Jangan kau sebut aku Ra-
tu Leak jika hari ini kau tidak binasa di tangan-ku" teriak perempuan itu tiba-tiba. Sekejap kemudian Ratu Leak mengeluarkan batu berwarna
warni dan berbentuk empat persegi. Datuk Nan
Gadang memperhatikan benda tersebut. Tidak as-
ing lagi itulah Batu Lahat Bakutuk yang telah
menjadi pangkal bencana selama ini.
"Apa yang hendak dilakukan oleh perem-
puan jahanam itu?" pikir Datuk Nan Gadang.
Ternyata Ratu Leak menggosok-gosok ke
empat sisi Batu Lahat Bakutuk tersebut. Setelah
di gosok-gosokan, maka keluarlah empat larik ca-
haya yang terasa panas bukan main.
Melihat ke arah Ratu Leak, Datuk Nan Ga-
dang merasa tidak kuasa memandang ke arah itu
lebih lama. Matanya terasa sakit mendenyut pa-
nas dan mengeluarkan air. Yang lebih mengerikan
lagi Datuk Nan Gadang Paluih merasa kepalanya
sakit bukan main. Orang ini jatuh terduduk, ka-
rena begitu silau matanya sudah tidak dapat me-
lihat apa-apa lagi terkecuali warna-warna putih
disana sini.
Bukan main dahsyat kharisma batu terse-
but, pohon-pohon di sekitarnya langsung layu.
Batu-batu sebesar kerbau langsung menjadi ser-
buk halus. Kuda Datuk Nan Gadang meringkik
keras. Dikala Ratu Leak secara pengecut hendak
membokong pemilik batu yang asli. Maka terden-
gar suara ringkikan panjang. Ada kaki sebesar
dua kali pohon kelapa melangkah mendekati Da-
tuk Nan Gadang.
Kemudian terlihat sebuah kepala besar me-
runduk, mulutnya terbuka. Tahu-tahu Datuk Nan
Gadang sudah terangkat tinggi-tinggi, sehingga
selamatlah ia dari bencana yang mengancamnya.
Ternyata yang menyelamatkan penghuni Ngarai
Sianok ini tidak lain dan tidak bukan adalah si
Putih Kaki Langit.
Ratu Leak memaki-maki, cahaya di sekeli-
lingnya masih menghampar putih, karena Batuk
Lahat Bakutuk masih memancarkan sinar pelan-
gi. Dalam pada itu terlihat ada sebuah bayangan
putih berkelebat. Tidak jauh dari hadapan Ratu
Leak, berdiri tegak seorang kakek tua berjenggot putih. Cambangnya yang lebat hampir menutupi
sebagian wajahnya. Ia memandang Ratu Leak
dengan mata disipitkan. Sungguh pun silau ca-
haya membuat matanya menjadi sakit, akan teta-
pi paling tidak ia sudah dapat mengenali siapa
orang yang memegang Batu maut tersebut.
"Pamungkur Walikandi Sungguh perbua-
tanmu teramat sesatnya Ternyata Ratu Leak ti-
dak lain adalah dirimu sendiri. Apakah katamu
jika dunia mengetahui keadaanmu yang sebenar-
nya?" seru si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih.
Mendengar suara dan melihat siapa yang
datang, bukan main marahnya Ratu Leak. Keben-
ciannya yang selama ini selalu disimpannya da-
lam hati sekarang berkobar-kobar kembali.
"Barata Surya keparat Rupanya muridmu
tidak berhasil membunuhmu Kau jangan banyak
bicara, kekalahanku yang dulu sekarang tidak
mungkin terulang lagi Aku akan membunuhmu
dengan Batu Lahat Bakutuk ini" teriak Ratu Leak panas bukan main.
"Pamungkur Walikandi Selama sekian ta-
hun ternyata kau masih belum tobat juga? Aku
mana mungkin menikah denganmu, karena aku
cap pedang dan kau pun cap pedang juga. Kau
laki-laki sakit Ratu Leak? Jiwamu sakit dan pikiranmu juga sakit. Kau hendak menyalahi kodrat
Tuhan??" kata Barata Surya yang kiranya mengenali Ratu Leak yang sebenarnya.
"Manusia jahanam Jangan kau berkotbah
di depanku Seandainya Dewana ada bersamamu,
ia pun pantas mati di tanganku" teriak Ratu Leak semakin bertambah kalap.
"Ho ho ho... Rupanya Malaikat Berambut
Api dulu hampir terpedaya juga olehmu Malang
sungguh, kehadiranmu hanya membuat berbagai
kerusakan saja di muka bumi. Kau laki-laki seja-
ti, tetapi mengapa ingin jadi perempuan?" seru Penghuni Siluman Kera Putih.
Wajah di balik cahaya Batu Lahat Bakutuk
itu tampak menegang. Ia kembali menggosok-
gosok Batu Lahat di tangannya, sehingga batu
tersebut memancarkan cahaya lebih terang lagi.
Sinar terang itu membuat Barata Surya merasa
tubuhnya seperti di panggang matahari. Ia pun
terpaksa lindungi matanya dari pengaruh cahaya
yang dapat membutakan mata tersebut.
Wuus
Ternyata Penghulu Siluman Kera Putih
hanya dalam waktu singkat telah terkepung oleh
sinar warna warni yang menyilaukan itu. Barata
Surya tiba-tiba lepaskan pukulan ke arah sinar-
sinar yang semakin menyusut dan seakan hendak
menjerat dirinya.
Wuuut
Buuum
"Hek..."
Ternyata pukulan yang dilakukan oleh si
kakek tidak mengakibatkan apa-apa. Sinar yang
bentuknya seperti lingkaran-lingkaran itu tidak
mampu di hancurkan oleh pukulan si kakek. Ba-
rata Surya merasa sekujur tubuhnya seperti
mendidih. Tiba-tiba si kakek melompat ke udara.
Dengan demikian ia terbebas dari lingkaran sinar maut itu. Kini setelah terbebas ia lepaskan pukulan lagi ke arah Ratu Leak. Selarik sinar mengge-bu-gebu dan meluncur deras ke arah Ratu Leak.
Namun sebelum serangan berhasil menyentuh
lawan. Lagi-lagi dari Batu Lahat Bakutuk melun-
cur sinar putih dengan kekuatan empat sampai
lima kali lebih besar
Sekarang Barata Surya malah yang menja-
di terancam. Kakek ini segera berguling-guling.
Sayang sinar yang melesat dari Batu Lahat Baku-
tuk terus mengikutinya. Sehingga....
Buuuum,,,,Tidak terelakkan lagi luncuran sinar itu
pun menghantam telak Barata Surya. Penghulu
Siluman Kera Putih mengeluh tinggi. Ia jatuh terhempas, dadanya seperti hendak meledak. Ia
menjadi kaget ketika tidak dapat menggerakkan
sekujur tubuhnya. Dalam kesempatan itu pula
Ratu Leak pusatkan seluruh cahaya yang me-
mancar dari batu tersebut ke arah Barata Surya.
Penghulu Siluman Kera Putih benar-benar teran-
cam keselamatannya saat itu. Pada detik-detik
yang kritis itu muncul dua sosok bayangan yang
bergerak langsung ke arah Ratu Leak dengan
maksud merampas batu. Namun sebelum niat
mereka terlaksana, tiba-tiba pijaran Batu Lahat
Bakutuk menghantam ke dua-duanya.
Tidak ampun lagi orang-orang yang hendak
menyelamatkan Barata Surya terbanting sejauh
dua tombak. Yang satu ke kiri dan yang lainnya
ke kanan Ternyata mereka tidak lain adalah Mata
Iblis dan Dewi Kerudung Putih. Di antara kedua-
nya Dewi Kerudung Putihlah yang menderita luka
paling serius. Sebab seperti telah sama kita ketahui, kekuatan gadis ini tersedot ke dalam tanduk Sakti Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya.
"Kalian semua benar-benar menghendaki
kematian dariku" pekik Ratu Leak setelah melihat siapa orang orang yang bermaksud merampas
batu di tangannya Mata Iblis tanpa bicara apa-
apa segera kerahkan kekuatan matanya. Sejurus
kesudahannya meluncur dua larik sinar merah ke
arah Ratu Leak. Tetapi apa yang kemudian terja-
di. Ketika Ratu Leak menggerakkan batu sebagai
tameng maka serangan Mata Iblis membalik den-
gan kecepatan berlipat ganda dan panas berganda
pula. Mata Iblis tidak sempat lagi menghindar
karena sedemikian cepat datangnya sinar terse-
but. Tidak ampun lagi tubuhnya pun terhantam
serangannya sendiri yang berbalik. Kakek ini
menggerung keras. Ia jelas menderita luka bakar
yang tidak ringan.
"Hik hik hik... Sudah kukatakan pada ka-
lian. Hari ini terlalu banyak orang-orang dari golongan lurus yang harus mati di Sange ini" desis Ratu Leak sinis.
Selanjutnya Ratu Leak yang merasa berada
di atas puncak kemenangan ini segera angkat Ba-
tu Lahat Bakutuk di atas kepalanya. Inilah detik-detik yang paling mendebarkan dari seluruh per-
tempuran itu. Semua orang menjerit kesakitan
manakala api yang bersumber dari Batu Lahat
Bakutuk melesat kian kemari menyambar apa sa-
ja yang terdapat di sekitarnya.
Datuk Nan Gadang Paluih melihat adanya
bahaya itu. Ia dengan masih rebah di atas pung-
gung kudanya segera berteriak memberi aba-aba
pada orang-orang dari golongan lurus.
"Menyingkirlah kalian Tidak seorang pun
yang dapat menyelamatkan diri dari kobaran api
kutukan"
Kecuali Barata Surya yang memang tidak
takut mati. Mata Iblis dan Dewi segera menyingkir sedapat yang mereka lakukan. Tampaknya sekejap lagi tubuh Barata Surya benar-benar hangus.
Masih beruntung dalam saat-saat yang mene-
gangkan itu tampak berkelebat bayangan biru.
Bayangan biru gerakkan tangannya, dari lengan
tampak melesat sinar hitam yang terasa dingin
bukan main. Sinar itu langsung melabrak kedua
tangan Ratu Leak. Dan...
Teees
"Aaaah..."
Ratu Leak menjerit kesakitan, Batu Lahat
Bakutuk di tangannya langsung tercampak ke
udara. Melihat hal ini Datuk Nan Gadang tanpa
menghiraukan sakit yang dideritanya segera me-
nyambar batu tersebut. Ratu Leak menggerung
keras melihat kenyataan Batu Lahat sudah tidak
berada di tangannya lagi.
Cepat ia menoleh, ternyata sinar hitam tadi
melesat dari tangan Suro yang terdapat sebuah
benda hitam kecil. berbentuk empat persegi.
"Pemuda jahanam Lihatlah apa yang telah
kau lakukan ini Kau harus terima kematianmu"
teriak Ratu Leak setelah mengetahui siapa orang-
nya yang telah menggagalkan rencananya itu.
"Ratu Leak manusia sundelan Cukup su-
dah kau bikin sengsara orang. Hati ini rasanya
sudah kau tipu mentah-mentah Mustahil aku
berdiam diri melihat guruku hampir kau buat ma-
ti" seru Suro.
"Tolol bangsat Rasakanlah..." teriak Ratu
Leak Sekonyong-konyong tangannya terjulur dan
menjambak rambut Suro. Sedangkan tangan lain
yang memegang tengkorak bayi menghantam ke
bagian punggung.
Dua serangan sekaligus yang datang dalam
waktu bersamaan membuat Suro jadi kalang ka-
but. Ia pun demi menyelamatkan diri terpaksa ke-
luarkan jurus 'Kacau Balau'. Gerakan-gerakan
yang tidak beraturan segera terlihat. Ratu Leak
gagal menjambak rambut Suro, tetapi bagian
punggung pemuda itu kena digetok senjata maut
lawannya.
"Ukkkh..."
Saking sakitnya Suro sampai berputar-
putar. Ratu Leak semakin bersemangat saja un-
tuk menghabisi lawan. Ia tiba-tiba hentakkan ke-
dua tangannya siap lepaskan pukulan 'Liang
Hantu Penebus Kutuk'.
Begitu laki-laki yang menyamar sebagai pe-
rempuan ini dorong lagi kedua tangannya. Tidak
ayal terdengar suara gelegar di sana sini. Suro
terpelanting kian kemari. Hantaman yang disertai hawa panas tersebut membuat pakaian Suro tercabik-cabik.
"Bangsat..." maki Pendekar Blo'on. Lalu ia membalas serangan lawan dengan melepaskan
pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Ratu Leak segera melompat ke udara. Tetapi kakinya masih kena
disambar serangan lawan. Pukulan pamungkas
yang dimiliki oleh Suro ini sama sekali tidak dapat membuat lawannya roboh terkecuali hanya
terluka sedikit saja.
Sementara itu Datuk Nan Gadang, Barata
Surya, Mata Iblis sebenarnya ingin membantu
Pendekar Blo'on yang kelihatannya dalam kea-
daan keteter. Namun mereka tidak berani mela-
kukannya karena takut dianggap pengecut. Da-
lam kesempatan itu, Suro telah berdiri tegak dengan wajah sedikit pucat dan tubuh dibasahi ke-
ringat dingin.
"Seandainya aku pergunakan Mandau,
mungkin aku dapat membunuhnya. Tetapi aku
lebih tertarik mempergunakan jurus-jurus
'Congcorang'..." batin Suro.
Dan benar saja, sejurus kemudian pemuda
ini sudah melompat ke depan. Jari-jari tangannya menyatu rapat. Bergerak liar menggait, mencucuk
ke beberapa bagian di tubuh lawan.
Ratu Leak sempat terkesiap melihat tangan
Suro meluncur menyambar tenggorokannya. Ia
kibaskan tengkorak bayi di tangan. Serangan ini
tidak dihindari Suro melainkan disambutnya.
Clok Clook
Tengkorak kepala bayi itupun berlubang di
beberapa bagian. Ratu Leak terkejut setengah ma-
ti. Ia hampir tidak mempercayai pemandangannya
sendiri. Selagi ia dalam keadaan kaget seperti itu, Suro menghantam tengkorak kepala bayi itu lagi.
Prak
Senjata andalan Ratu Leak hancur. Laki-
laki yang suka menyaru seperti perempuan ini
menjerit marah. Bersamaan dengan hancurnya
perantara kutukan itu. Maka pengaruh kutukan
pun hilang raib, sehingga terlihat ada tanda-
tanda kehidupan di sana sini.
Ratu Leak tidak dapat tinggal diam. Ia pun
lepaskan pukulan ke arah lawan. Sayang Suro
sudah melompat tinggi ke udara. Tiba-tiba tu-
buhnya meluncur deras ke bawah. Bukan main
cepatnya serangan ini, tahu-tahu jemari tangan si konyol sudah menembus ubun-ubun Ratu Leak.
Ratu Leak alias Pamungkur Walikandi
menjerit tertahan, matanya melotot. Suro me-
nyentakkan tangannya kembali. Ratu Leak meng-
gelegar di atas tanah dan tidak mampu bangkit
lagi. Di balik batu sepasang mata yang sedari
tadi mengawasi jalannya pertempuran tampak le-
ga. Diam-diam ia pergi meninggalkan Suro, murid
sekaligus cucu kandungnya. Di bagian lain Ma-
nusia Topeng setelah melihat kematian Ratu Leak
juga pergi ke jurusan lain.
Kini hanya tinggal Datuk Nan Gadang Pa-
luih, Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih saja
yang masih berada di situ.
"Guruku, ke mana guruku...?" tanya Suro ketika tidak melihat Barata Surya berada disitu.
Datuk Nan Gadang Paluih yang baru saja melucu-
ti seluruh pakaian Ratu Leak langsung menyahuti.
"Ha ha ha... Kurasa gurumu merasa malu,
sebab ternyata manusia yang berjuluk Ratu Leak
itu seorang laki-laki seperti dia"
Suro kaget, dia pun menoleh ke arah mayat
Ratu Leak. Maka tawanya pun meledak.
"Pendekar Bodoh, jangan cuma tertawa.
Berikan tanduk Sakti yang kau bawa. Bukankah
seluruh kekuatan Dewi Kerudung Putih tertahan
disitu?"
"Tanduk sakti yang mana, kakek buta?
Tanduk yang runcing atau tanduk milik Sang Pe-
lucut Segala Daya?" sahut Suro. Diam-diam ia melirik ke arah Dewi. Gadis itu tersenyum malu-malu. "Pemuda ceriwis, berikan tanduk Sang Pelucut Segala Ilmu..." dengus Dewi Kerudung Putih. Diam-diam ia merasa gembira juga melihat
Suro dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu
apapun.
Suro menyerahkan tanduk yang tersimpan
di balik punggungnya. Tanduk itu langsung dibe-
rikan pada Dewi.
"Hati-hati Dewi, jangan sampai kau salah
memasukkan tanduk ini. Salah-salah tenaga sak-
timu malah nyasar kemana-mana?" kata Suro
sambil garuk-garuk kepala.
"Anak kanciang Bicaramu ngaco, tapi aku
senang padamu. Lebih girang lagi hatiku karena
Batu Lahat Bakutuk telah kembali lagi padaku"
Datuk Nan Gadang putar kudanya. Sebelum pergi
ia masih sempat mendengar ejekan Suro.
"Datuk babuntuik, jangan sampai batumu
bikin celako lagi. Aku bisa mengutukmu tidak da-
pat jodoh seumur hiduik..."
"Anak kanciang, lagak bana bicaramu..."
dengus Datuk Nan Gadang Paluih, seraya tanpa
menoleh-noleh lagi langsung membedal kudanya
Manusia Topeng hanya tersenyum.
Sekarang ia tidak menunggu lagi lawan membangun serangan, tiba-tiba saja laki-laki
pendek ini melompat ke udara. Kakinya menyapu
ke bagian kepala lawan.
Set Set
"Heh..."
Sekarang Manusia Topeng yang di buat ka-
get bukan alang kepalang. Ia tadi merasa yakin
serangannya mencapai sasaran. Tetapi dengan
gerakan yang aneh lawan telah dapat menghinda-
rinya. Manusia Topeng memperhatikan gerakan
Mustika. Lalu terdengar seruan kaget.
"Langkah Langkah Sesat??" desisnya.
"Hi hi hi... Bagus sekali ternyata kau telah mengetahui jurus-jurus mautku bangsat bertopeng. Sekarang rasakanlah ini Heaa..." Suara si gadis melengking tinggi. Secepat kilat tubuhnya
mengambang di udara, lalu ia meliuk-liuk disertai putaran aneh di udara. Setiap jari-jari tangan
Mustika bergerak, maka lima jalan darah lawan
dalam keadaan terancam. Manusia Topeng mera-
sa ada tekanan yang menghebat dan mengurung
setiap gerakannya.
"Hia... Cha,cha..."
Tiba-tiba Manusia Topeng jungkir balik,
kaki menghadap ke atas kepala menghadap ke
bawah. Ia bertumpu dengan kedua tangannya.
Kemudian ketika serangan lawan terus mende-
ranya secara bertubi-tubi. Maka Manusia Topeng
gerakkan kakinya dalam posisi menggunting.
Clak
"Aih..."
Gadis itu sempat keluarkan seruan terta-
han ketika kaki lawan hampir saja memotong pu-
tus kedua tangannya sekaligus. Tiba-tiba saja ia berguling-guling. Lalu kakinya menendang dengan cepat dan telak sekali.
Duuuk
"Wuakh..." Manusia Topeng menjerit keras. Tubuhnya sempat terlempar dan nyangsang
di atas dahan yang rimbun. Selagi Manusia To-
peng dalam keadaan seperti itu Mustika Jajar le-
paskan pukulan ke arahnya. Untung Manusia
Topeng cepat menyingkir. Jika tidak tubuhnya
pasti hangus terhantam serangan lawan yang
mengandung hawa panas bukan main tersebut.
Untuk sementara waktu kita tinggalkan
dulu Manusia Topeng dan Mustika yang masih te-
rus terlihat pertempuran sengit. Pada waktu ber-
samaan pula Malaikat Berambut Api juga sedang
terlibat pertempuran sengit dengan musuh be-
buyutannya, yaitu Tua Tengkorak Mata Api. Dua
tokoh aliran hitam dan putih yang sudah lama
menyimpan dendam berkarat ini tampaknya su-
dah mulai mengumbar jurus-jurus ataupun pu-
kulan mautnya.
"Hiaaa..."
Tua Tengkorak Mata Api tiba-tiba saja me-
lompat mundur. Kedua tangannya segera digosok-
gosokkan satu dengan yang lainnya. Sebentar saja kedua tangan kakek berwajah macam tengko-
rak ini telah berwarna menghitam keseluruhan-
nya. "Dewana... Hari ini kau tidak akan lolos dari kematianmu" dengus Tua Tengkorak Mata Api dengan marahnya.
"Pukulan Segala Racun Segala Bisa sejak
dulu kau memang sudah memilikinya. Tetapi
sangat disayangkan kulihat tidak ada perkem-
bangan yang berarti. Ternyata kau hanya seorang
pembual bermulut besar" sahut Malaikat Berambut Api tidak kalah sinisnya.
Mendengar ucapan lawan yang sangat me-
remehkan dirinya, jelas saja Tua Tengkorak Mata
Api jadi bertambah berang. Tanpa bicara apa-apa
lagi ia lepaskan pukulan maut yang memang te-
lah dipersiapkannya.
Penghuni pulau Seribu Satu Malam ini se-
gera dapat merasakan adanya hawa dingin menu-
suk menerpa dirinya. Dadanya langsung sesak,
tenggorokan seperti di tusuk-tusuk jarum panas.
"Heep"
Malaikat Rambut Api diam-diam kerahkan
tenaga sakti untuk mengusir pengaruh serangan
lawan ini.
"Heh..."
Kakek ini tersentak kaget, wajahnya sedikit
memucat. Ternyata walau pun ia telah mengerah-
kan hawa sakti untuk mengusir serangan lawan
ini. Ia masih merasakan gelombang serangan be-
rupa hawa panas yang mendera tiada putus-putusnya.
"Kunyuk keparat ini ternyata banyak mem-
punyai kemajuan Aku tidak mungkin menghin-
dar terus" pikir si kakek rambut merah. Lalu ia kepalkan kedua tangannya hingga membentuk
tinju. Krrtttkkh
Ada suara berkeretekan ketika masing-
masing jari tangan si kakek menangkup bersatu
padu antara satu dengan yang lainnya.
"Hiiih..."
Sambil melompat ke depan, laksana kilat
tangannya meluncur. Tua Tengkorak Mata Api
sama sekali tidak menduga adanya serangan
mendadak ini. Ia angkat kakinya sedangkan kepa-
la dan badan ditarik ke belakang.
Des...Des
Baik kakek Dewana maupun Tua Tengko-
rak sama-sama terkena pukulan. Dua-duanya
terhuyung beberapa tindak ke belakang. Tetapi
laksana kilat kakek Dewana sambil memperguna-
kan jurus 'Kacau Balau', sudah membangun se-
rangan lagi. Tentu saja serangan-serangan yang
dilancarkan oleh Malaikat Berambut Api merupa-
kan serangan yang sangat berbahaya di samping
mengandung tenaga dalam tinggi. Sebaliknya
Darpakala yang memang dilamun dendam tidak
terlihat keder mendapat hujan serangan bertubi-
tubi. Bagaikan singa gurun, Darpakala alias Racun Kuning dan lebih di kenal dengan julukan
Tua Tengkorak Mata Api dapat menghindari hu-
jan serangan lawannya. Sebaliknya serangan ba-
lasan yang dilakukan oleh Darpakala juga dapat
dihindari oleh Malaikat Berambut Api.
Kenyataan yang dihadapinya ini benar-
benar membuatnya menjadi marah. Tiba-tiba saja
ia jatuhkan diri ke tanah dengan posisi mene-
lungkup. Kedua tangannya mengembang dan
langsung dipukulkan ke bumi.
Hanya beberapa saat saja setelah tangan
Tua Tengkorak Mata Api menjejak ke tanah. Maka
kedua tangan itu tiba-tiba saja memancarkan ca-
haya berwarna pelangi.
"Pukulan Pelebur Raga?? Hmm rupanya
bajingan ini telah berhasil mengamalkan pukulan
sesat yang dulu pernah menghebohkan" desis Malaikat Berambut Api. Walaupun ia sempat terkesiap, tetapi dengan cepat ia usap dadanya. Se-
telah itu bersiap-siap pula dengan pukulan
'Ratapan Pembangkit Sukma'.
"Dewana, jika hari ini kau tidak mampus
dengan pukulan Pelebur Raga. Biarlah untuk ma-
sa selanjutnya aku mengasingkan diri di Lembah
Wadal (tumbal). Ini adalah satu-satunya pukulan
maut yang kurancang khusus untuk membu-
nuhmu di samping ada satu pukulan lagi yang
kuberi nama Tiga Gerhana Penghantar Maut
Malaikat Berambut Api sama sekali tidak
menyahut. Mata kakek ini setengah terpejam.
Otot-otot tubuhnya yang kekar bersembulan. Ke-
ringat sebesar-besar kacang kedelai bercucuran
membasahi seluruh tubuhnya. Pabila Tua Teng-
korak Mata Api memandang ke arah lawannya
untuk yang terakhir kali. Maka ia sempat tercekat juga. Seluruh rambut di kepala si kakek yang
berwarna merah tampak seakan-akan menyala.
Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.
Tetapi apalah artinya bagi Tua Tengkorak Mata
Api yang sudah dilamun marah.
"Hiaaa..."
Diawali dengan teriakan melengking tinggi.
Tua Tengkorak melesat ke depan sedangkan tan-
gannya di dorong dengan kecepatan penuh. Ter-
dengar suara bergemuruh bagaikan deru angin
yang tidak ada putus-putusnya. Lalu sinar pelan-
gi itu sontak memanjang menjadi sesuatu yang
menggiriskan. Lesatan sinar pelangi itu ke arah
lawan saja sudah membuat si kakek Dewana yang
mempunyai tenaga dalam tinggi sudah mulai ter-
seret-seret. Pohon-pohon tercabut sampai ke
akar-akarnya. Manusia Topeng yang hampir ber-
hasil mengalahkan lawannya sempat tergontai-
gontai, ia keluarkan suara pekikan berulangkali.
Malaikat Berambut Api sadar betul ini merupakan
ujian yang paling berat bagi dirinya.
Bet...Zeeb Zeeb
Malaikat Berambut Api sekonyong-konyong
dorongkan kedua tangannya ke depan. Apa yang
dilakukan oleh si kakek bukanlah sesuatu yang
mudah. Karena serangan yang dilakukannya sea-
kan terhalang sebuah tembok baja berlapis-lapis.
Malah sekarang tubuhnya terus terdorong sedikit
demi sedikit.
Deg Deg
Malaikat Berambut Api lipat gandakan te-
naga dalamnya. Setelah itu ia hantamkan kedua
tangannya ke arah serangan lawan tersebut. Apa
yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang san-
gat luar biasa. Dari telapak tangan kakek Dewana tiba-tiba saja menderu segulung sinar putih laksana salju. Terjadilah saling dorong untuk bebe-
rapa saat lamanya. Dua-duanya saling ngotot. La-
lu.... Buum
Akhirnya terjadilah ledakan dahsyat. Dua
sosok tubuh sama-sama terpelanting sedangkan
di bagian lain. Terlihat Mustika Jajar jatuh terduduk dengan mata melotot. Manusia Topeng lagi-
lagi nyangkut di atas pohon tinggi.
Wajah Malaikat Berambut Api tampak pu-
cat laksana kain kapan. Ia mencoba menarik na-
fas, tetapi dadanya malah sakit bukan main. Bila memandang ke arah Tua Tengkorak Mata Api.
Kakek yang wajahnya tidak terbalut daging ini
mandi darah. Ternyata ia mengalami goncangan
bagian dalam yang sangat hebat. Keadaannya
saat itu antara sadar dan tiada. Mustika Jajar
tentu sangat mengkhawatirkan keselamatan gu-
runya. Mengingat lawan ketika itu sudah bangkit
berdiri dan kini telah siap melepaskan pukulan
Neraka Hari Terakhir.
"Celaka guruku" desisnya. Mustika ingin menolong gurunya. Tetapi hal itu sangat sulit dilakukannya. Benturan tenaga sakti tadi telah
mempengaruhinya. Padahal ia mempunyai tingkat
tenaga dalam yang tidak bisa dianggap remeh.
Mungkin jika orang biasa yang terkena pengaruh
pukulan tadi, orang itu tewas seketika.
"Tua Tengkorak Mata Api Aku menjunjung
tinggi tata krama pertarungan rimba persilatan.
Tetapi khusus buatmu merupakan pengecualian.
Kau tidak ubahnya seperti seekor ular berbisa
yang mencari pemukul. Jika hari ini aku tidak
dapat melenyapkanmu, biarlah aku mati dengan
kaki menjunjung langit dan kepala menjunjung
bumi Heaaa..." Malaikat Berambut Api. Memutar-mutar kedua tangan di atas kepala. Kini ia telah siap dengan pukulan 'Kidung Maut' salah satu ilmu ciptaannya yang baru dan belum pernah di-turunkan pada cucu sekaligus muridnya Suro
Blondo.
"Heaaa..."
Wuung
Terdengar suara gaung yang seakan datang
dari perut bumi. Lalu terlihat sinar merah hitam melesat ke arah Tua Tengkorak. Kakek berwajah
tanpa daging ini mustahil dapat menghindar dari
lawannya, karena ia tidak kuasa menyelamatkan
diri. Bahkan menggeser punggungnya saja ia ti-
dak mampu.
Tidak pelak lagi serangan lawan pun
menghantam dirinya. Tua Tengkorak Mata Api
mencelat, tubuhnya kemudian terkapar. Orang
tua yang mempunyai ilmu Iblis Pembangkit Roh
ini tewas seketika dengan keadaan hangus. Mus-
tika Jajar tentu saja menjerit histeris melihat gurunya kena di bantai lawan. Ia tiba-tiba saja berlari sambil melepaskan pukulan ke arah Malaikat
Berambut Api. Melihat betapa berbahaya seran-
gan lawan, maka si kakek segera membuang di-
rinya ke tempat yang aman. Sehingga pukulan
yang dilakukan lawan mengenai tempat kosong.
Akan tetapi betapa kagetnya kakek Dewana
ketika ia bangkit berdiri, gadis yang menyerang-
nya tadi serta mayat Darpakala sudah tidak ada
lagi di situ. Bila memandang ke atas pohon, Ma-
nusia Topeng masih tetap menyerang sang di sa-
na.
"Lebih baik kubiarkan dia dalam keadaan
seperti itu Aku harus mencari tahu siapa Ratu
Leak dan di mana dia bersembunyi" batin Malaikat Berambut Api.
SEPULUH
Jliiigkh
Pemuda berbaju biru tiba-tiba melompat
turun dari atas pohon. Ia gelengkan kepala dan
usap-usap matanya seakan tidak percaya dengan
penglihatannya sendiri.
"Aku tidak tidur makanya tidak bermimpi,
tidak juga mabuk tapi mengapa penglihatanku
jadi begini. Orang ini jelas-jelas mirip dengan aku, bajunya, rambut juga wajahnya. Cuma lebih tolol
sedikit Rasanya aku tidak punya saudara kem-
bar. Tetapi dia mengapa mirip benar dengan diri-
ku?" batin pemuda baju biru alias Suro Blondo.
Pendekar Blo'on lalu melangkah lebih
mendekat lagi. Lalu pemuda baju biru yang entah
datang dari mana itu melangkah pula ke arahnya.
Mereka saling pandang-pandangan. Bila Suro ter-
senyum, maka pemuda di depannya juga ikut ter-
senyum. Pendekar Mandau Jantan garuk-garuk
kepala, eeh pemuda yang sungguh mirip dengan
dirinya itu juga ikut garuk-garuk kepala.
Sedemikian penasarannya pemuda ini,
hingga jari telunjuknya mendorong jidat orang
itu. Ternyata pemuda berbaju biru yang segala-
galanya mirip dengan dirinya ikut mendorong pu-
la.
"Ha ha ha... Tidak mabuk mengapa pen-
glihatanku jadi lucu?" seru Suro semakin bertambah besar saja rasa heran dihatinya. Pemuda
tampan bertampang tolol itu juga ikut tertawa.
"Kalau tidak mabuk, berarti kita memang
sudah jadi gila" celetuk pemuda itu pula.
"Kau siapa? Mengapa wajahmu mirip benar
dengan aku?" tanya si konyol, sekarang ekspresi wajahnya benar-benar serius.
"Kau yang siapa?"
"Kunyuk betul, kau yang meniru aku Pa-
dahal aku tidak punya saudara kembar di dunia
ini. Apakah kau setan?" tanya Suro lagi.
"Kaulah yang setan" maki pemuda di depannya sinis.
Suro garuk-garuk kepala. Bingung, pena-
saran bercampur kesal sedikit. "Kau hendak kemana?" tanya Pendekar Blo'on.
"Mencarimu" sahut pemuda itu singkat.
Sepasang mata Suro yang jenaka berputar
liar "Mencariku? Apakah ada seseorang yang menyuruhmu?"
"Benar."
"Untuk apa?" desak Pendekar Mandau Jantan semakin tidak sabar.
"Membunuhmu, ya... kurasa aku datang
untuk membunuhmu. Karena memang itulah tu-
gas yang diberikan padaku"
Suro Blondo tiba-tiba saja tertawa tergelak-
gelak. Melihat Suro tertawa, maka orang di de-
pannya ikut tertawa bekakakan.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Kurasa itu tidak penting kau ketahui,
Pendekar Blo'on" sinis suara pemuda itu.
"Apakah kau Pendekar Blo'on juga?" pancing Suro
Lawan anggukkan kepala. Saking kagetnya
Suro sampai melangkah mundur. Keningnya ber-
kerut dalam, rasanya apa yang ia lihat memang
tidak masuk akal. Ada orang segala-galanya mirip benar. dengan dirinya. Kalau pun ia sedang menyamar, mengapa bisa persis betul? Kenyataan
ini hampir tidak dapat diterima akal sehatnya,
begitu ia tidak percayanya sampai-sampai ia
mencubit lengannya sendiri. Ternyata memang te-
rasa sakit, berarti Suro tidak sedang mimpi.
"Entah aku yang tolol atau engkau yang
sudah gila Kalau kau benar-benar sebagai Pen-
dekar Blo'on apakah senjata andalanmu yang
akan kau pergunakan untuk membunuhku??"
Tanpa bicara pemuda yang mirip Suro ke-
luarkan senjata. Suro langsung cengengesan keti-
ka pemuda itu keluarkan sebuah clurit berwarna
hitam. "Hmm, ternyata perabotan yang kau bawa bengkok. Sedangkan Pendekar Blo'on sejati punya
senjata lurus, ada lubang spesialnya. Senjata
bengkok begitu bisa salah tusuk salah sasaran"
ejek Pendekar ini ketus. "Apakah kau punya senjata yang lain?"
Yang ditanya langsung buka celana dan
tunjukkan apa yang dia miliki. Tawa Suro Blondo
semakin menjadi-jadi.
"Wah lebat betul. Rupanya kau punya tidak
pernah di cukur, lagipula mengapa hitam keriput
dan bulukan begitu?"
"Ha ha ha... Jadi apa yang kau maksud
dengan senjataku yang lain?" tanya pemuda itu sama tololnya.
Di samping geli, Suro lama-kelamaan jadi
sewot juga. Tiba-tiba ia meninju wajah lawannya.
Plaak
Pemuda itu terdorong mundur, lalu usap
keningnya yang benjol sebesar telur puyu. Tidak
disangka-sangka pemuda itu lakukan serangan
kilat. Tinjunya yang meluncur tidak sempat di-
elakkan lagi oleh Suro yang lengah.
Took
Pendekar Blo'on meringis. Bila ia mengu-
sap keningnya, maka terdapat benjolan sebesar
telur angsa.
"Sontoloyo, manusia sompret Berani betul
kau berbuat kurang ajar padaku"
"Itu belum seberapa sebab sebentar lagi
aku akan membunuhmu" sahut lawannya sinis.
"Gila betul. Jangan kau cuma pentang ba-
cot lekas buktikan jika kau ingin membunuhku"
tantang Pendekar Mandau Jantan tanpa sung-
kan-sungkan lagi.
"Ha ha ha Aku gembira sekali, ternyata
kau memang menghendaki mati. Maka kau lihat-
lah serangan" teriak pemuda tersebut.
Dengan kecepatan sulit di duga-duga, tiba-
tiba saja lawan sudah mengayunkan celuritnya ke
wajah Suro. Pemuda ini langsung berkelit dengan
jurus 'Kacau Balau'. Ternyata serangan pertama
hanya tipuan saja, karena ketika Suro mengelak
celurit tiba-tiba menyimpang dan berbelok mene-
rabas perut. Pendekar Blo'on terpaksa berjumpli-
tan sambil memaki.
"Rupanya kau punya keedanan dan tipu
menipu pula. Heaaa..." Pemuda ini membentak garang. Ia tetap mempergunakan jurus menghindar 'Kacau Balau'. Namun di samping itu ia juga
mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh
Harimau'. Lawannya yaitu pemuda bertampang
dan berpakaian seperti dirinya tidak tinggal diam.
Ia juga membalas serangan Suro dengan tidak ka-
lah dahsyatnya, tetapi bukan menggunakan ju-
rus-jurus seperti yang dimainkan oleh pemuda
itu. Sungguh pun demikian serangan-serangan
yang dilancarkannya tetap berbahaya dan men-
gandung tipu-tipu. Tiba-tiba saja Pendekar Blo'on melancarkan tendangan berputar. Lawan segera
dapat merasakan adanya desiran angin kencang
menerpa ke bagian pinggang. Pemuda baju biru
langsung melompat ke udara. Dalam keadaan me-
lesat ia lepaskan tendangan beruntun. Suro jadi
kaget, ia hanya mampu menghindari beberapa
tendangan, tetapi ketika kaki lawan terus berpu-
tar-putar di atas kepalanya, Suro sudah tidak kuasa lagi selamatkan diri.
Des
"Ukh..."
Pendekar Blo'on tekad kepalanya yang se-
perti hendak pecah. Bumi dirasakannya berputar
lebih cepat. Selagi ia belum sempat berdiri karena menikmati sakit yang bukan kepalang. Lawan telah nekad menyerangnya dengan pukulan jarak
jauh. "Oh... aku bisa mati konyol kalau begini?"
desis Pendekar Blo'on. Belum lagi ia sempat ber-
diri. Tiba-tiba ia kerahkan tenaga dalamnya ke
bagian kedua tangannya. Samar-samar Suro me-
lihat cahaya merah kehitam-hitaman melesat ke
arahnya. Tanpa membuang-buang waktu pemuda
ini langsung lepaskan pukulan 'Kera Sakti Meno-
lak Petir'.
Wuut Wuuut
Seer
Seketika terasa adanya sambaran hawa
dingin mencucuk hidung dari telapak tangan Su-
ro yang terkembang. Lalu di tengah jalan terjadilah benturan keras bukan main. Baik Suro mau-
pun pemuda yang sungguh mirip dengan dirinya
itu sama-sama terpelanting roboh. Selagi Pende-
kar Blo'on masih berusaha melancarkan jalan da-
rah yang tersendat, lawan telah menerjang lagi
sambil mengayunkan celurit di tangannya.
Wuut
"Aiiih..."
Dengan terpaksa pemuda ini berguling-
guling. Tetapi lawan setelah melihat serangannya tidak mencapai sasaran langsung berbalik, dan
kini menyerang lagi dengan bacokan maupun tu-
sukan yang semakin berbahaya.
"Hiyaa..."
Celurit tiba-tiba melesat di bagian bahu
Suro. Pemuda ini kerahkan jurus 'Kacau Balau',
satu-satunya jurus khusus menghindar yang ia
miliki. Wuuus
Liukan-liukan serampangan yang dilaku-
kan Pendekar Blo'on benar-benar membuatnya
dapat membebaskan diri dari maut selama bebe-
rapa kali. Lawan ternyata tidak putus asa. Ka-
kinya mendadak saja meluncur dan...
Buuk
"Huuk"
Pendekar Blo'on jatuh terguling-guling. Da-
lam keadaan sedemikian itu ia masih sempat le-
paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-
sinar' ke arah lawan.
Zzzzttss
Tidak terelakkan lagi lawannya yang begitu
bernafsu memburu Suro tidak sempat menghin-
dar lagi. Di saat ledakan keras terjadi, maka lawan Suro terpelanting roboh. Tetapi anehnya se-
rangan maut itu tidak membawa akibat apa-apa.
Malah seperti orang linglung lawan bangkit lagi.
Ia garuk-garuk kepala sebagaimana tingkah Pen-
dekar Blo'on juga.
"Kau lihatlah aku ndak apa-apa" ejek pemuda itu. Sekarang Pendekar Blo'on yang dibuat
bingung. Melihat lawan bertolak pinggang lagi,
maka si konyol langsung lepaskan pukulan
'Ratapan Pembangkit Sukma'. Sekonyong-
konyong ia melompat ke udara lalu hentakkan
kedua tangannya ke arah lawan. Angin kencang
di sertai badai salju menderu dahsyat ke arah lawan. Dan kelihatannya pemuda itu sama sekali
tidak berminat menghindari pukulan ganas tersebut. Buuum
Dengan telak pukulan tersebut menghan-
tam lawan. Untuk yang kedua kalinya lawan ter-
jajar. Namun sebagaimana tadi ia tidak menderita apalagi sampai terluka terkena pukulan Suro. Sikonyol gelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Ini tidak boleh terjadi. Aku harus mencoba sampai dimana kehebatan jurus Congcorang wa-risan kakek Bayang Bayang" batin Pendekar
Blo'on. "Kau bingung? Ha ha ha... Orang yang sudah hendak mati memang suka bingung. Tetapi
percayalah, kematian dengan di penggal leher ti-
dak begitu sakit. Menurut yang kudengar rasanya
seperti di gigit semut dan ada gatal-gatalnya sedikit" ejek lawannya. Lalu seraya membolang baling celurit hitam di tangan.
"Hmm, kau boleh jadi kebal. Kekebalan ada
tiga, yang lunak yang keras dan berlubang salah
satu diantaranya merupakan titik kelemahan
yang tidak dapat ditawar-tawar" teriak Pendekar Blo'on, suaranya melengking tinggi.
"Heaa..."
Pemuda itu tiba-tiba saja angkat kaki ka-
nannya, jari-jari tangan kanan kiri kemudian saling merapat. Seterusnya bergerak mengait ke de-
pan atau mencatuk bagaikan tangan-tangan
cengcorang yang hendak menggapai daun. Suro
pun berjingkrak kian kemari.
"Uuuuuu..."
Bibir pemuda itu termonyong-monyong.
Tap Tap
Zuup Zuup
Wuuk
Senjata lawan membabat, Suro ber-
jingkrak. Lalu tangannya yang saling merapat me-
luncur ke arah tenggorokan. Lawan terpaksa lin-
dungi tenggorokannya. Angin mendesir. Sekedi-
pan mata tangan Suro telah beralih ke sasaran
lain. Crok Corok
"Heekh..."
Hantaman itu membuat lawannya ter-
huyung ke belakang. Suro melompat maju dan
kembali tangannya mendera berulang-ulang.
Cos Cos
Craak
"Akkkh..."
Tiba-tiba saja terdengar jeritan lawannya
saat kedua matanya terkena hantaman Suro. Da-
lam keadaan utuh kedua mata lawan keluar. Rupanya di situlah titik kelemahan lawannya.
Suro terus mencecar bagian lainnya. Kini
yang menjadi sasaran jemari tangannya adalah
bagian dada dan perutnya. Karena menderita luka
yang sedemikian mengerikan, maka lawan sudah
tidak dapat menguasai dirinya lagi. Untuk yang
kesekian kalinya dadanya di buat berlubang,
bahkan bukan itu saja. Sambil meliuk-liuk ia
hantam perut lawannya.
Jros Jros
Perut itupun berlubang, ususnya berbua-
saian. Lawan menjerit setinggi langit. Dalam keadaan mandi darah tubuhnya terhempas, berkelo-
jotan beberapa saat lamanya. Kemudian sosok itu
menghitam disertai menebarnya kabut putih
hingga akhirnya lenyap dari pandangan mata.
"Ternyata ia manusia jejadian. Siapa yang
telah melakukannya? Kurasa Batu Lahat Bakutuk
itulah yang menjadi sumbernya" pikir Suro. "Ra-tu Leak, tunggulah, kau akan merasakan apa
yang dulu pernah kuderita"
Dan Pendekar Blo'on akhirnya berkelebat
pergi meninggalkan daerah yang sepi itu.
SEBELAS
"Aku dapat merasakan di sinilah manusia
keparat itu bersembunyi Rasanya aku sudah ti-
dak sabar lagi untuk membuat perhitungan den-
gannya" geram pemuda gondrong yang sekujur tubuhnya terbungkus akar-akar berwarna hitam.
Yang diajak bicara adalah laki-laki berpa-
kaian putih selempang putih yang tidak lain ada-
lah Datuk Nan Gadang Paluih.
"Tenanglah, ini masih merupakan daerah
kekuasaanmu Sebagaimana dugaanmu aku pun
merasa ia pasti bersembunyi di celah batu itu
Tunggu apa lagi, panggillah dia keluar untuk
menjumpai kita" kata Datuk Nan Gadang.
Wayan Tandira baru saja hendak berteriak,
tiba-tiba di atas batu yang menjulang tinggi terlihat sosok berpakaian hijau berdiri tegak dengan
tatapan sinis.
"Kalian muncul lagi? Rupanya kalian tidak
jera dan terus mengejarku ke mana saja aku per-
gi" kata perempuan itu yang tidak lain adalah Ratu Leak.
"Aku mana mungkin meninggalkan Sange
selama Batu Lahat Bakutuk berada di tanganmu"
sahut Datuk Nan Gadang Paluih.
"Dan kau...?" Pertanyaan Ratu Leak ditujukan pada Wayan Tandira.
"Hmm... keparat Kau berpura-pura tidak
tahu. Kesalahanmu segudang, belum lagi masya-
rakatku yang kau kutuk menjadi patung batu. Ti-
dak ada hukuman yang setimpal dengan kesala-
han yang kau perbuat terkecuali membunuhmu
secara perlahan-lahan" sahut Wayan demikian sinisnya.
"Bagus Simpanlah mimpi-mimpi kalian
itu. Aku sendiri sudah punya rencana bagaimana
caranya untuk mengakhiri pengejaran kalian.
Sayang tokoh-tokoh kembaran yang kuciptakan
banyak yang tewas sia-sia. Tetapi kalian lihatlah ini" seru Ratu Leak. Tiba-tiba ia memutar tengkorak kepala bayi di atas kepalanya.
Glerr
Dari kepala tengkorak bayi melesat sinar
warna warni yang terasa menyilaukan mata.
"Datuk, perempuan jahanam itu menge-
rahkan kutuk buat kita" teriak Wayan Tandira.
Datuk Nan Gadang Paluih tertawa membahak
mendengar peringatan Wayan.
Selanjutnya tokoh dari Andalas ini cabut
senjata mautnya yang sudah tidak asing lagi. Yai-tu Angkin Pelebur Petaka. Senjata di kibaskan ke arah sinar-sinar kutukan yang menerjang ke
arahnya tersebut. Terjadilah benturan-benturan
dahsyat di udara. Wayan Tandira sendiri terpaksa mengerahkan pukulan Belenggu Neraka di saat
dirinya mendapat serangan sinar kutukan itu. Sa-
tu hal yang patut diketahui, andai sinar kutukan itu sampai mengenai diri Wayan. Dirinya dapat
berubah menjadi patung seketika.
Melihat serangan pertamanya gagal, Ratu
Leak menggembor marah. Masih tetap berdiri di
atas batu runcing ia lepaskan pukulan 'Neraka
Perut Bumi'. Ratu Leak membagi serangannya ke
dua arah sekaligus.
Untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi Da-
tuk Nan Gadang kebutkan Angkin Pelebur Petaka.
Sedangkan Wayan sekarang tidak memperli-
hatkan reaksi sama sekali kecuali mengerahkan
tenaga dalam ke sekujur tubuhnya. Sehingga ke-
tika serangan lawan menghantam tubuhnya, ma-
ka dari akar-akar itu memijar cahaya hitam.
Buuum...Ledakan yang terjadi akibat bertemunya
dua tenaga sakti membuat Wayan jatuh terdu-
duk. Ratu Leak melompat dari atas batu untuk
menyelamatkan diri dari pukulannya yang mem-
balik akibat di halau Angkin Pelebur Petaka di
tangan Datuk Nan Gadang.
Orang ini memaki, tetapi juga harus ber-
juang keras menghindari serangan gencar yang
dilakukan oleh Datuk Nan Gadang berserta
Wayan. Ratu Leak tiba-tiba menerkam ke arah
Wayan, sedangkan kaki kiri menerabas ke dada
Datuk Nan Gadang.
Melihat serangan ini Wayan segera melam-
bung tinggi ke udara. Sambil berkelit ia menghantam dagu lawannya. Gerakan pemimpin negeri
Sange ini rupanya telah dapat dibaca oleh lawan-
nya. Ratu Leak kibaskan tengkorak bayi di tan-
gannya sehingga membentur dada Wayan.
Buuuk
"Haaakh..."
Kraak....Wayan menjerit tertahan, bukan hanya
akar-akar itu saja yang terhantam hancur oleh
tengkorak bayi tersebut. Tetapi pukulan telak itu membuat Dada pemuda itu patah. Darah menyembur dari mulut si gondrong, sementara Ratu
Leak telah melepaskan tendangan beruntun ke
arah bagian yang sama. Datuk Nan Gadang tidak
tinggal diam. Ia segera melesat ke depan untuk
selamatkan Wayan Tandira. Angkin di tangan
langsung dilecutkan.
Seer....Ratu Leak sambil memaki terpaksa tarik
serangan, kini ia melompat ke kiri untuk sela-
matkan diri dari hantaman angkin maut itu. Ter-
nyata Datuk Nan Gadang tidak tinggal diam hing-
ga di sini saja. Tangan kirinya dengan cepat
menghantam pinggang lawan.
"Ait..."
Dees
Walaupun Ratu Leak telah berusaha
menghindar sedapat mungkin. Tetapi pinggangnya kena di hajar oleh lawannya. Tubuh orang ini sempat berputar karena demikian kerasnya serangan Datuk Nan Gadang itu. Ratu Leak kemu-
dian tergelimpang. Tampak jelas pada sudut-
sudut bibirnya meneteskan darah. Datuk Nan
Gadang terus mengejarnya sambil berkata...
"Cepat kau serahkan Batu Lahat yang telah
kau curi itu"
Ratu Leak tersenyum sinis. Sebagai jawa-
bannya ia lepaskan pukulan 'Pemusnah Raga
Penghancur Jiwa'. Tentu saja sekarang Datuk
Nan Gadang yang di buat pontang-panting. Ia ter-
paksa berguling-guling hingga pukulan itu hanya
beberapa jengkal lewat di atas punggungnya.
Wuut
Belum lagi sempat Datuk berdiri ia le-
paskan pukulan pula ke arah Ratu Leak. Perem-
puan ini tidak sempat menyadari apa yang dila-
kukan lawan, karena saat itu ia telah melompat
ke arah Wayan yang terluka parah dan langsung
menghajar pemuda itu dengan tinjunya.
Praak
"Akhh..."
Serpihan otak bercampur darah berham-
buran menyertai terdengarnya jeritan Wayan
Tandira. Datuk Nan Gadang terperangah melihat
apa yang terjadi. Sangat disesalkan ia terlambat menolong pemuda itu walaupun pukulan yang ia
lepaskan pada akhirnya membuat Ratu Leak ter-
pelanting dengan menderita luka dalam yang cu-
kup serius. Datuk Nan Gadang dalam kesempa-
tan itu cepat menghampiri Wayan. Tetapi pemuda
itu ternyata telah tewas dalam keadaan yang san-
gat mengerikan.
"Datuk keparat Jangan kau sebut aku Ra-
tu Leak jika hari ini kau tidak binasa di tangan-ku" teriak perempuan itu tiba-tiba. Sekejap kemudian Ratu Leak mengeluarkan batu berwarna
warni dan berbentuk empat persegi. Datuk Nan
Gadang memperhatikan benda tersebut. Tidak as-
ing lagi itulah Batu Lahat Bakutuk yang telah
menjadi pangkal bencana selama ini.
"Apa yang hendak dilakukan oleh perem-
puan jahanam itu?" pikir Datuk Nan Gadang.
Ternyata Ratu Leak menggosok-gosok ke
empat sisi Batu Lahat Bakutuk tersebut. Setelah
di gosok-gosokan, maka keluarlah empat larik ca-
haya yang terasa panas bukan main.
Melihat ke arah Ratu Leak, Datuk Nan Ga-
dang merasa tidak kuasa memandang ke arah itu
lebih lama. Matanya terasa sakit mendenyut pa-
nas dan mengeluarkan air. Yang lebih mengerikan
lagi Datuk Nan Gadang Paluih merasa kepalanya
sakit bukan main. Orang ini jatuh terduduk, ka-
rena begitu silau matanya sudah tidak dapat me-
lihat apa-apa lagi terkecuali warna-warna putih
disana sini.
Bukan main dahsyat kharisma batu terse-
but, pohon-pohon di sekitarnya langsung layu.
Batu-batu sebesar kerbau langsung menjadi ser-
buk halus. Kuda Datuk Nan Gadang meringkik
keras. Dikala Ratu Leak secara pengecut hendak
membokong pemilik batu yang asli. Maka terden-
gar suara ringkikan panjang. Ada kaki sebesar
dua kali pohon kelapa melangkah mendekati Da-
tuk Nan Gadang.
Kemudian terlihat sebuah kepala besar me-
runduk, mulutnya terbuka. Tahu-tahu Datuk Nan
Gadang sudah terangkat tinggi-tinggi, sehingga
selamatlah ia dari bencana yang mengancamnya.
Ternyata yang menyelamatkan penghuni Ngarai
Sianok ini tidak lain dan tidak bukan adalah si
Putih Kaki Langit.
Ratu Leak memaki-maki, cahaya di sekeli-
lingnya masih menghampar putih, karena Batuk
Lahat Bakutuk masih memancarkan sinar pelan-
gi. Dalam pada itu terlihat ada sebuah bayangan
putih berkelebat. Tidak jauh dari hadapan Ratu
Leak, berdiri tegak seorang kakek tua berjenggot putih. Cambangnya yang lebat hampir menutupi
sebagian wajahnya. Ia memandang Ratu Leak
dengan mata disipitkan. Sungguh pun silau ca-
haya membuat matanya menjadi sakit, akan teta-
pi paling tidak ia sudah dapat mengenali siapa
orang yang memegang Batu maut tersebut.
"Pamungkur Walikandi Sungguh perbua-
tanmu teramat sesatnya Ternyata Ratu Leak ti-
dak lain adalah dirimu sendiri. Apakah katamu
jika dunia mengetahui keadaanmu yang sebenar-
nya?" seru si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih.
Mendengar suara dan melihat siapa yang
datang, bukan main marahnya Ratu Leak. Keben-
ciannya yang selama ini selalu disimpannya da-
lam hati sekarang berkobar-kobar kembali.
"Barata Surya keparat Rupanya muridmu
tidak berhasil membunuhmu Kau jangan banyak
bicara, kekalahanku yang dulu sekarang tidak
mungkin terulang lagi Aku akan membunuhmu
dengan Batu Lahat Bakutuk ini" teriak Ratu Leak panas bukan main.
"Pamungkur Walikandi Selama sekian ta-
hun ternyata kau masih belum tobat juga? Aku
mana mungkin menikah denganmu, karena aku
cap pedang dan kau pun cap pedang juga. Kau
laki-laki sakit Ratu Leak? Jiwamu sakit dan pikiranmu juga sakit. Kau hendak menyalahi kodrat
Tuhan??" kata Barata Surya yang kiranya mengenali Ratu Leak yang sebenarnya.
"Manusia jahanam Jangan kau berkotbah
di depanku Seandainya Dewana ada bersamamu,
ia pun pantas mati di tanganku" teriak Ratu Leak semakin bertambah kalap.
"Ho ho ho... Rupanya Malaikat Berambut
Api dulu hampir terpedaya juga olehmu Malang
sungguh, kehadiranmu hanya membuat berbagai
kerusakan saja di muka bumi. Kau laki-laki seja-
ti, tetapi mengapa ingin jadi perempuan?" seru Penghuni Siluman Kera Putih.
Wajah di balik cahaya Batu Lahat Bakutuk
itu tampak menegang. Ia kembali menggosok-
gosok Batu Lahat di tangannya, sehingga batu
tersebut memancarkan cahaya lebih terang lagi.
Sinar terang itu membuat Barata Surya merasa
tubuhnya seperti di panggang matahari. Ia pun
terpaksa lindungi matanya dari pengaruh cahaya
yang dapat membutakan mata tersebut.
Wuus
Ternyata Penghulu Siluman Kera Putih
hanya dalam waktu singkat telah terkepung oleh
sinar warna warni yang menyilaukan itu. Barata
Surya tiba-tiba lepaskan pukulan ke arah sinar-
sinar yang semakin menyusut dan seakan hendak
menjerat dirinya.
Wuuut
Buuum
"Hek..."
Ternyata pukulan yang dilakukan oleh si
kakek tidak mengakibatkan apa-apa. Sinar yang
bentuknya seperti lingkaran-lingkaran itu tidak
mampu di hancurkan oleh pukulan si kakek. Ba-
rata Surya merasa sekujur tubuhnya seperti
mendidih. Tiba-tiba si kakek melompat ke udara.
Dengan demikian ia terbebas dari lingkaran sinar maut itu. Kini setelah terbebas ia lepaskan pukulan lagi ke arah Ratu Leak. Selarik sinar mengge-bu-gebu dan meluncur deras ke arah Ratu Leak.
Namun sebelum serangan berhasil menyentuh
lawan. Lagi-lagi dari Batu Lahat Bakutuk melun-
cur sinar putih dengan kekuatan empat sampai
lima kali lebih besar
Sekarang Barata Surya malah yang menja-
di terancam. Kakek ini segera berguling-guling.
Sayang sinar yang melesat dari Batu Lahat Baku-
tuk terus mengikutinya. Sehingga....
Buuuum,,,,Tidak terelakkan lagi luncuran sinar itu
pun menghantam telak Barata Surya. Penghulu
Siluman Kera Putih mengeluh tinggi. Ia jatuh terhempas, dadanya seperti hendak meledak. Ia
menjadi kaget ketika tidak dapat menggerakkan
sekujur tubuhnya. Dalam kesempatan itu pula
Ratu Leak pusatkan seluruh cahaya yang me-
mancar dari batu tersebut ke arah Barata Surya.
Penghulu Siluman Kera Putih benar-benar teran-
cam keselamatannya saat itu. Pada detik-detik
yang kritis itu muncul dua sosok bayangan yang
bergerak langsung ke arah Ratu Leak dengan
maksud merampas batu. Namun sebelum niat
mereka terlaksana, tiba-tiba pijaran Batu Lahat
Bakutuk menghantam ke dua-duanya.
Tidak ampun lagi orang-orang yang hendak
menyelamatkan Barata Surya terbanting sejauh
dua tombak. Yang satu ke kiri dan yang lainnya
ke kanan Ternyata mereka tidak lain adalah Mata
Iblis dan Dewi Kerudung Putih. Di antara kedua-
nya Dewi Kerudung Putihlah yang menderita luka
paling serius. Sebab seperti telah sama kita ketahui, kekuatan gadis ini tersedot ke dalam tanduk Sakti Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya.
"Kalian semua benar-benar menghendaki
kematian dariku" pekik Ratu Leak setelah melihat siapa orang orang yang bermaksud merampas
batu di tangannya Mata Iblis tanpa bicara apa-
apa segera kerahkan kekuatan matanya. Sejurus
kesudahannya meluncur dua larik sinar merah ke
arah Ratu Leak. Tetapi apa yang kemudian terja-
di. Ketika Ratu Leak menggerakkan batu sebagai
tameng maka serangan Mata Iblis membalik den-
gan kecepatan berlipat ganda dan panas berganda
pula. Mata Iblis tidak sempat lagi menghindar
karena sedemikian cepat datangnya sinar terse-
but. Tidak ampun lagi tubuhnya pun terhantam
serangannya sendiri yang berbalik. Kakek ini
menggerung keras. Ia jelas menderita luka bakar
yang tidak ringan.
"Hik hik hik... Sudah kukatakan pada ka-
lian. Hari ini terlalu banyak orang-orang dari golongan lurus yang harus mati di Sange ini" desis Ratu Leak sinis.
Selanjutnya Ratu Leak yang merasa berada
di atas puncak kemenangan ini segera angkat Ba-
tu Lahat Bakutuk di atas kepalanya. Inilah detik-detik yang paling mendebarkan dari seluruh per-
tempuran itu. Semua orang menjerit kesakitan
manakala api yang bersumber dari Batu Lahat
Bakutuk melesat kian kemari menyambar apa sa-
ja yang terdapat di sekitarnya.
Datuk Nan Gadang Paluih melihat adanya
bahaya itu. Ia dengan masih rebah di atas pung-
gung kudanya segera berteriak memberi aba-aba
pada orang-orang dari golongan lurus.
"Menyingkirlah kalian Tidak seorang pun
yang dapat menyelamatkan diri dari kobaran api
kutukan"
Kecuali Barata Surya yang memang tidak
takut mati. Mata Iblis dan Dewi segera menyingkir sedapat yang mereka lakukan. Tampaknya sekejap lagi tubuh Barata Surya benar-benar hangus.
Masih beruntung dalam saat-saat yang mene-
gangkan itu tampak berkelebat bayangan biru.
Bayangan biru gerakkan tangannya, dari lengan
tampak melesat sinar hitam yang terasa dingin
bukan main. Sinar itu langsung melabrak kedua
tangan Ratu Leak. Dan...
Teees
"Aaaah..."
Ratu Leak menjerit kesakitan, Batu Lahat
Bakutuk di tangannya langsung tercampak ke
udara. Melihat hal ini Datuk Nan Gadang tanpa
menghiraukan sakit yang dideritanya segera me-
nyambar batu tersebut. Ratu Leak menggerung
keras melihat kenyataan Batu Lahat sudah tidak
berada di tangannya lagi.
Cepat ia menoleh, ternyata sinar hitam tadi
melesat dari tangan Suro yang terdapat sebuah
benda hitam kecil. berbentuk empat persegi.
"Pemuda jahanam Lihatlah apa yang telah
kau lakukan ini Kau harus terima kematianmu"
teriak Ratu Leak setelah mengetahui siapa orang-
nya yang telah menggagalkan rencananya itu.
"Ratu Leak manusia sundelan Cukup su-
dah kau bikin sengsara orang. Hati ini rasanya
sudah kau tipu mentah-mentah Mustahil aku
berdiam diri melihat guruku hampir kau buat ma-
ti" seru Suro.
"Tolol bangsat Rasakanlah..." teriak Ratu
Leak Sekonyong-konyong tangannya terjulur dan
menjambak rambut Suro. Sedangkan tangan lain
yang memegang tengkorak bayi menghantam ke
bagian punggung.
Dua serangan sekaligus yang datang dalam
waktu bersamaan membuat Suro jadi kalang ka-
but. Ia pun demi menyelamatkan diri terpaksa ke-
luarkan jurus 'Kacau Balau'. Gerakan-gerakan
yang tidak beraturan segera terlihat. Ratu Leak
gagal menjambak rambut Suro, tetapi bagian
punggung pemuda itu kena digetok senjata maut
lawannya.
"Ukkkh..."
Saking sakitnya Suro sampai berputar-
putar. Ratu Leak semakin bersemangat saja un-
tuk menghabisi lawan. Ia tiba-tiba hentakkan ke-
dua tangannya siap lepaskan pukulan 'Liang
Hantu Penebus Kutuk'.
Begitu laki-laki yang menyamar sebagai pe-
rempuan ini dorong lagi kedua tangannya. Tidak
ayal terdengar suara gelegar di sana sini. Suro
terpelanting kian kemari. Hantaman yang disertai hawa panas tersebut membuat pakaian Suro tercabik-cabik.
"Bangsat..." maki Pendekar Blo'on. Lalu ia membalas serangan lawan dengan melepaskan
pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Ratu Leak segera melompat ke udara. Tetapi kakinya masih kena
disambar serangan lawan. Pukulan pamungkas
yang dimiliki oleh Suro ini sama sekali tidak dapat membuat lawannya roboh terkecuali hanya
terluka sedikit saja.
Sementara itu Datuk Nan Gadang, Barata
Surya, Mata Iblis sebenarnya ingin membantu
Pendekar Blo'on yang kelihatannya dalam kea-
daan keteter. Namun mereka tidak berani mela-
kukannya karena takut dianggap pengecut. Da-
lam kesempatan itu, Suro telah berdiri tegak dengan wajah sedikit pucat dan tubuh dibasahi ke-
ringat dingin.
"Seandainya aku pergunakan Mandau,
mungkin aku dapat membunuhnya. Tetapi aku
lebih tertarik mempergunakan jurus-jurus
'Congcorang'..." batin Suro.
Dan benar saja, sejurus kemudian pemuda
ini sudah melompat ke depan. Jari-jari tangannya menyatu rapat. Bergerak liar menggait, mencucuk
ke beberapa bagian di tubuh lawan.
Ratu Leak sempat terkesiap melihat tangan
Suro meluncur menyambar tenggorokannya. Ia
kibaskan tengkorak bayi di tangan. Serangan ini
tidak dihindari Suro melainkan disambutnya.
Clok Clook
Tengkorak kepala bayi itupun berlubang di
beberapa bagian. Ratu Leak terkejut setengah ma-
ti. Ia hampir tidak mempercayai pemandangannya
sendiri. Selagi ia dalam keadaan kaget seperti itu, Suro menghantam tengkorak kepala bayi itu lagi.
Prak
Senjata andalan Ratu Leak hancur. Laki-
laki yang suka menyaru seperti perempuan ini
menjerit marah. Bersamaan dengan hancurnya
perantara kutukan itu. Maka pengaruh kutukan
pun hilang raib, sehingga terlihat ada tanda-
tanda kehidupan di sana sini.
Ratu Leak tidak dapat tinggal diam. Ia pun
lepaskan pukulan ke arah lawan. Sayang Suro
sudah melompat tinggi ke udara. Tiba-tiba tu-
buhnya meluncur deras ke bawah. Bukan main
cepatnya serangan ini, tahu-tahu jemari tangan si konyol sudah menembus ubun-ubun Ratu Leak.
Ratu Leak alias Pamungkur Walikandi
menjerit tertahan, matanya melotot. Suro me-
nyentakkan tangannya kembali. Ratu Leak meng-
gelegar di atas tanah dan tidak mampu bangkit
lagi. Di balik batu sepasang mata yang sedari
tadi mengawasi jalannya pertempuran tampak le-
ga. Diam-diam ia pergi meninggalkan Suro, murid
sekaligus cucu kandungnya. Di bagian lain Ma-
nusia Topeng setelah melihat kematian Ratu Leak
juga pergi ke jurusan lain.
Kini hanya tinggal Datuk Nan Gadang Pa-
luih, Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih saja
yang masih berada di situ.
"Guruku, ke mana guruku...?" tanya Suro ketika tidak melihat Barata Surya berada disitu.
Datuk Nan Gadang Paluih yang baru saja melucu-
ti seluruh pakaian Ratu Leak langsung menyahuti.
"Ha ha ha... Kurasa gurumu merasa malu,
sebab ternyata manusia yang berjuluk Ratu Leak
itu seorang laki-laki seperti dia"
Suro kaget, dia pun menoleh ke arah mayat
Ratu Leak. Maka tawanya pun meledak.
"Pendekar Bodoh, jangan cuma tertawa.
Berikan tanduk Sakti yang kau bawa. Bukankah
seluruh kekuatan Dewi Kerudung Putih tertahan
disitu?"
"Tanduk sakti yang mana, kakek buta?
Tanduk yang runcing atau tanduk milik Sang Pe-
lucut Segala Daya?" sahut Suro. Diam-diam ia melirik ke arah Dewi. Gadis itu tersenyum malu-malu. "Pemuda ceriwis, berikan tanduk Sang Pelucut Segala Ilmu..." dengus Dewi Kerudung Putih. Diam-diam ia merasa gembira juga melihat
Suro dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu
apapun.
Suro menyerahkan tanduk yang tersimpan
di balik punggungnya. Tanduk itu langsung dibe-
rikan pada Dewi.
"Hati-hati Dewi, jangan sampai kau salah
memasukkan tanduk ini. Salah-salah tenaga sak-
timu malah nyasar kemana-mana?" kata Suro
sambil garuk-garuk kepala.
"Anak kanciang Bicaramu ngaco, tapi aku
senang padamu. Lebih girang lagi hatiku karena
Batu Lahat Bakutuk telah kembali lagi padaku"
Datuk Nan Gadang putar kudanya. Sebelum pergi
ia masih sempat mendengar ejekan Suro.
"Datuk babuntuik, jangan sampai batumu
bikin celako lagi. Aku bisa mengutukmu tidak da-
pat jodoh seumur hiduik..."
"Anak kanciang, lagak bana bicaramu..."
dengus Datuk Nan Gadang Paluih, seraya tanpa
menoleh-noleh lagi langsung membedal kudanya
meninggalkan
Sange yang mulai ramai kembali
dengan lenyapnya kutukan Ratu Leak
Suro hanya cengar-cengir. Ketika ia melihat
ke arah Dewi dan Mata Iblis, ternyata kedua
orang itu juga telah raib dari tempatnya masing-masing.
"Dewi-dewi... ternyata kau lebih tertarik
dengan tua bangka mata buta" gerutu Suro
Blondo sambil melangkah pergi.
dengan lenyapnya kutukan Ratu Leak
Suro hanya cengar-cengir. Ketika ia melihat
ke arah Dewi dan Mata Iblis, ternyata kedua
orang itu juga telah raib dari tempatnya masing-masing.
"Dewi-dewi... ternyata kau lebih tertarik
dengan tua bangka mata buta" gerutu Suro
Blondo sambil melangkah pergi.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...