Jumat, 14 November 2014

Pendekar Bloon - Eps. 11, Utusan Akhirat

PENDEKAR BLOON
Eps.11
LIMA UTUSAN AKHIRAT


SATU

Banjir besar yang melanda hanya dalam

waktu beberapa jam saja sudah mulai surut. Ba-

nyak pula akibat yang di timbulkannya, puluhan

bahkan ratusan ekor ternak penduduk mati dan

hanyut. Korban manusia pun tidak sedikit.

Memang kalau di pikir sungguh hebat ben-

cana alam. Sudah hampir setahun musim kema-

rau. Banyak tumbuhan dan manusia yang mati,

sekali turun hujan maka manusia jadi korban.

Siapa yang salah, Malaikat atau karena alam

memang sudah bosan bersahabat dengan manu-

sia. Banjir berlalu, air kali Meruya tidak lagi

meluap. Di kanan kiri tanggul sungai tampak ri-

buan ekor kodok berderet-deret di sertai dengan

terdengarnya suara riuh kodok berbagai jenis.

Tampaknya binatang-binatang dua alam ini se-

dang berpesta pora dengan datangnya banjir dan

hujan. Suara-suara ribuan kodok seketika lenyap

ketika semak-semak di sepanjang sungai tersebut

tersibak. Yang muncul ternyata seorang laki-laki

berumur sekitar 55 tahun. Tubuhnya besar bu-

kan main, perutnya membusung seperti perut ga-

jah. Ia memakai baju mewah namun tidak ter-

kancing. Di bahu laki-laki berwajah bundar ini

tergeletak sosok tubuh berpakaian ala Ninja.

Tampaknya orang yang berada dalam pondon-





gannya tidak dapat bicara dan bergerak-gerak

akibat pengaruh totokan.

"He...he he... Habis dah semua harta ben-

daku tersapu banjir terkutuk. Biar semua habis,

aku tokh masih punya satu gudang harta lagi

yang tidak ludes dimakan tujuh turunan. Dan

gadis ini, he he he... Murid kakangku yang paling cantik. Sayang sudah di lamar dengan segerobak

emas malah kabur dan milih bermesra-mesraan

dengan bocah goblok itu. Dasar jodoh, sekarang

kudapatkan kembali Aku jadi tidak sabar nih..."

kata si gendut sambil leletkan lidah.

Dengan tidak sabar ia mencari-cari tempat

untuk melampiaskan niat terkutuknya. Akhirnya

ia melihat juga apa yang di inginkannya. Tidak

jauh dari pinggir sungai itu terdapat sebuah gu-

buk-gubukkan yang kelihatannya seperti tempat

mainan anak-anak. Gubuk tersebut roboh dan

atapnya bertumpuk. Ke sanalah, si gendut yang

tidak lain adalah si kikir hartawan Abdi Banda

langkahkan kakinya.

Gadis berpakaian hitam ini di rebahkannya

di atas tumpukan atap-atap yang berserakan. Da-

lam kesempatan itulah terdengar suara gaib ber-

bisik di telinganya.

"Hartawan, kau tunggu apa lagi? Inilah ke-

sempatanmu untuk mencicipi kehangatan gadis

yang kau damba. Kalau kau mau berumur pan-

jang dan harta bendamu tetap terjaga, maka kau

harus menuruti setiap langkah Sang Maha Sesat"

"Memang, aku tidak bisa memungkiri ba-





gaimana perasaanku, tapi aku masih harus me-

mastikan apakah tempat ini cukup aman?" sahut Abdi Banda. Karena hartawan itu sendiri yang

dapat mendengar suara Sang Maha Sesat maka

sepintas lalu hartawan itu seperti sedang bicara

dengan diri sendiri. Kalau orang tidak tahu pasti menganggap hartawan ini sudah sinting.

"Tempat ini cukup aman Kau dengar....

cukup aman.. Tidak ada yang melihatmu terke-

cuali kodok-kodok bodoh Nah kau tunggu apa la-

gi?" Sang Maha Sesat kembali mengisiki.

"He, he he he... Betul Anda memang betul.

Tapi tolong awasi daerah ini, aku ingin melaksa-

nakan tugasku." kata hartawan Abdi Banda.

Tidak terdengar jawaban apa-apa. Harta-

wan Abdi Banda dengan di warnai nafsu mengge-

bu-gebu mencopot penutup wajah Rana Unggul

alias Puspita Sari. Penutup kepala terbuka, maka

terlihatlah seraut wajah cantik yang sungguh

sangat menggoda.

"Ha ha ha... Kau tetap cantik, semakin ber-

tambah cantik malah" puji sang hartawan sambil mengelus-elus pipi si gadis yang halus mulus

Jika Puspita dapat bicara, tentu hartawan

itu sudah dimakinya. Atau jika saja ia dapat

menggerakkan tubuhnya, mungkin sang harta-

wan sudah dibuat babak belur. Sayang sekali ia

dalam keadaan tertotok, Datuk Alam Salindra

yang menotoknya. Agar lebih jelas (Dalam Episode

Sang Maha Sesat).

"Wajahnya saja sudah membuat darahku





memanas, coba kubuka bagian yang lain" pikir Abdi Banda.

Maka secara kurang ajar tangan hartawan

itu melepaskan kancing-kancing baju Puspita. Ti-

ga kancing terbuka, kedua bukit yang mulus ter-

sebut terlihat demikian menantang. Jemari tan-

gan hartawan kikir ini menyelinap di balik pa-

kaian Puspita, lalu meremas dada si gadis.

Wajah Puspita tampak merah padam. Ke-

marahannya berkobar-kobar, ia telah bertekad

akan membunuh hartawan gila itu jika dirinya se-

lamat. Jemari tangan itu terus bergerak liar men-

gusap dan meremas, bahkan hartawan sinting ini

kemudian menciumi kedua bukit itu silih bergan-

ti.

Bret Bret

Rupanya sang hartawan semakin keseta-

nan, ia tidak sabar dan mencabik pakaian hitam

Puspita. Gadis pemberani ini mencoba berontak,

sayang usahanya ini hanya sia-sia saja. Sementa-

ra keadaannya sendiri sudah setengah telanjang.

Hartawan Abdi Banda mulai menggeluti tubuh

mulus Puspita. Namun sebelum aib besar me-

nimpa diri Puspita, tiba-tiba dari balik atap terlihat gerakan-gerakan yang aneh. Hartawan me-

nyangka bahwa yang bergerak-gerak adalah Pus-

pita. Sehingga ia tertawa...

"A ha ha ha... Ternyata kau lebih berpen-

galaman dari istri-istriku. Belajar dimanakah?"

desisnya penuh semangat.

Braak





"Auuh...."

Hartawan Abdi Banda memekik kaget. Atap

jebol, si gendut terjengkang, sedangkan Puspita

terguling-guling dalam keadaan menelungkup.

Dari balik atap gubuk yang sudah rata dengan

tanah terdengar suara berkorokokan seperti suara

kodok. "Huaaa...."

Atap pun berserakan kemana-mana, ke-

mudian terlihat sosok tubuh berkulit kecoklatan.

Wajahnya hampir mirip dengan muka kodok, se-

kujur tubuhnya basah, perutnya gendut. Kaki

pendek, tangan pun pendek. Ia hanya memakai

cawat saja.

Memandang pada Puspita ia langsung tu-

tupi wajahnya, ketika tatapan matanya beralih

pada hartawan Abdi Banda. Maka kumisnya yang

cuma beberapa lembar itu bergerak-gerak. Ma-

tanya membulat lebar.

"Aku gendut, dia juga gendut Tapi yang sa-

tu ini benar-benar gendut sialan. Kau mau meng-

ganggu orang yang sedang tidur, kau mengganggu

kebiasaan raja. Bangsat betul, gila, sinting edan

Apa yang hendak kau lakukan padanya?" tanya si gendut pendek macam kodok ini tanpa ekspresi.

Hartawan Abdi Banda sama sekali tidak

mengenali siapa gendut pendek yang tidur bawah

atap gubuk roboh tersebut. Sehingga dengan see-

naknya dia membentak...

"Hei, kau gendut pendek muka kodok. Be-

rani betul kau mengganggu kesenangan orang





lain?" "Ee... perempuan itu apamu? Sudah kau telanjangi begitu apa mau kau paksa supaya

mandi?"

"Dia calon istriku, apapun yang kulakukan

padanya tidak seorang pun yang boleh mengha-

langi" dengus Abdi Banda.

"Hmm, baru calon isteri. Kulihat mukanya

dia sangat membencimu Kalau kubebaskan toto-

kannya bukan mustahil jika ia membunuhmu"

kata si gendut pendek muka kodok. Ia terdiam se-

jenak, mulutnya mendecap-decap. "Aku tau sekarang... kau pasti mau mengencinginya. Mengapa

kau mau kencing pada perempuan yang bukan is-

trimu? Mengapa tidak kencing pada sapi saja

atau kerbau saja, atau gajah yang paling besar?

Aku Raja Kodok benci pada laki-laki seperti itu.

Aku benci... benci dunia dan sampai ke akhe-

rat..." teriak Raja Kodok.

Entah karena sebab apa wajah si Raja Ko-

dok berubah kelam membesi. Tatapan matanya

pun berubah liar tidak terkendali. Di pinggiran

kali, di tempat-tempat tersembunyi di balik semak belukar terdengar suara ribuan kodok yang saling

bersahut-sahutan. Mereka kelihatannya marah

sebagaimana Sang Raja Kodok.

"Hei... siapa kau, mengapa kau marah? Bi-

arkan aku pergi meninggalkan tempat busuk

ini..." kata hartawan Abdi Banda begitu melihat gelagat yang tidak baik ini.

Raja Kodok tertawa mengekeh, namun sua-





ra tawanya seperti orang menangis bagaikan

orang yang menderita tekanan batin yang Maha

berat. "Sudah kukatakan aku Raja Kodok. Manusia gendut perut jelek, selain sorga. Kurasa di dunia ini tidak ada tempat yang tidak busuk. Dunia

memang sampah segala kebusukan. Dunia ini ti-

dak ada apa-apanya di bandingkan surga. Hatimu

juga sangat busuknya, isi otakmu hanya kebusu-

kan, isi hatimu busuk. Kau manusia palsu, aku

palsu, kesenangan dunia palsu, penderitaan ma-

nusia palsu, hidupmu, hidupku, hidup semua

mahluk di muka bumi ini palsu. Dunia penuh

dengan kebusukan dan kepalsuan. Hik hik hik

Yang aku tahu dan tidak palsu hanyalah Tuhan.

Oh... oh... Aku bosan melihat kepalsuan,

aku ingin jumpa denganNya aku ingin melihat

Sorga, surga abadi yang tidak palsu...."

Raja Kodok tiba-tiba menangis tersedu-

sedu. "Raja Setan Kalau kamu mau melihat sorga aku bersedia mengantarmu kesana. Tapi biar-

kan aku membawa gadis calon isteriku ke lain

tempat" kata Abdi Banda.

"Oh, kau mau menikmati kesenangan pal-

su. Silakan... bawalah cepat" bentak Raja Kodok.

Puspita yang semula berharap Raja Kodok

bisa menyelamatkannya dari aib yang memalu-

kan. Kini harapan itu musnah, ternyata Raja Ko-

dok tidak dapat dijadikan tempat bergantung di

saat dirinya terancam bahaya.





"Terima kasih atas pengertianmu" sahut hartawan Abdi Banda. Ia segera menghampiri tubuh setengah telanjang Puspita. Namun sebelum

ia berhasil menyentuh gadis itu. Selarik sinar

dingin melesat ke arahnya. Sinar itu langsung

menghantam tubuhnya. Hartawan Abdi Banda

menjerit kesakitan, tubuhnya sempat terhuyung,

namun tidak sampai terjatuh.

Hartawan itu mengusap dadanya yang ter-

kena sinar dari jari tangan lawannya.

"Itulah pengertian ku Jika kau tetap mem-

buru yang palsu, maka sebentar lagi aku akan

membutakan matamu Pernahkah kau bayangkan

betapa tidak enaknya hidup dalam kegelapan?"

Hartawan Abdi Banda sama sekali tidak

menyahut. Ia menggeram marah, Hartawan yang

selalu takut dengan datangnya kematian ini me-

nerjang Raja Kodok.

"Kok Krokok Kok... kok kung...."

Seenaknya Raja Kodok sudah menggelun-

dungkan tubuhnya. Serangan hartawan itu hanya

mengenai tempat kosong. Raja Kodok berguling-

guling kembali. Kakinya yang pendek menendang.

Des

Sang hartawan terguling-guling. Perutnya

yang besar luar biasa bergoyang-goyang. Raja Ko-

dok seperti sedang berhadapan dengan musuh

besarnya saja langsung menghantam kembali.

Sekali ini bagian wajah sang hartawan yang jadi

sasaran. Pada dasarnya hartawan ini memang

kurang pandai dalam hal ilmu silat. Sehingga wa-





lau ia sudah berusaha menghindar sedapat-

dapatnya, tetap saja kaki lawan mengenai mu-

kanya Des

"Akh..."

Abdi Banda jatuh terduduk. Dalam kesem-

patan itulah terdengar kisikan di telinga kirinya.

"Dia manusia pendendam, jika mau pan-

jang umur, sebaiknya kau tinggalkan tempat ini

secepatnya Aku akan melindungimu..." kata

Sang Maha Sesat.

Baru saja bisikan gaib tersebut lenyap. Ra-

ja Kodok sekarang sudah menyerangnya lagi den-

gan satu pukulan jarak jauh yang sangat berba-

haya sekali.

Secara aneh sinar biru dingin yang melun-

cur deras membelah udara itu membalik. Dan

hampir saja menghantam tubuhnya sendiri.

Braak...

Sinar biru menghantam pohon di belaka

Raja Kodok. Pohon tersebut roboh dengan bagian

batang berserabut. Ketika Raja Kodok meman-

dang ke arah musuhnya, maka hartawan Abdi

Banda sudah menghilang dari hadapannya.

Raja Kodok membanting-banting kakinya

berulangkali ia mengeluarkan suara kang-kung

kang-kung yang sangat aneh. Lalu di sekeliling

Raja Kodok bermunculan berbagai jenis kodok

yang sangat besar jumlahnya.

"Sahabat-sahabatku Kita mendapat saha-

bat baru. Diamlah kalian, jangan berisik lagi.





Orang gendut jelek itu sudah minggat, sekarang

sudah waktunya bagiku untuk membebaskan to-

tokannya"

Laki-laki yang tampangnya mirip kodok ini

langsung menghampiri Puspita. Diurutnya pung-

gung si gadis. Puspita dapat merasakan betapa

dinginnya tangan laki-laki bertelanjang dada ini.

Tidak lama. Puspita sudah dapat bergerak

dan bersuara. Pertama yang dilakukannya begitu

terbebas dari totokan adalah merapikan pakaian-

nya yang berantakan. Setelah itu ia menghadap

langsung pada Raja Kodok.

"Kau, aku bukan tidak tahu budi karena

telah selamatkan aku. Namun sangat kusesalkan

mengapa kau biarkan manusia setan itu melo-

loskan diri?" dengus si gadis marah.

"Aku tidak sempat mencegahnya. Betulkah

dia calon suamimu?"

"Apa? Suami? Manusia bangsat itu hanya

mengada-ada. Benci ku sedalam perut bumi. Dia

manusia keparat yang pantas di kirim ke neraka"

Raja Kodok menggelengkan kepala seperti

orang frustrasi. "Maafkan aku. Sama sekali aku tidak bermaksud melepaskannya, hanya aku terpaksa menghindar jika tidak ingin terkena puku-

lanku sendiri. Siapakah dia?"

"Jika kau mau tahu, itulah hartawan Abdi

Banda Mata yang agak sipit itu terbelalak lebar.

"Hartawan Abdi Banda? Mestinya aku membu-

nuhnya pulang pergi"





"Kau mengenalnya?" tanya Puspita ingin

tahu. Raja Kodok tundukkan kepala. Bibirnya

mendesis hingga terdengarlah suara kang-kung.

Bagian keningnya yang menonjol tampak berkerut

dalam. Lalu tangisnya pun meledak.

"Hu hu hu... Mestinya aku sudah bunuh

manusia bangsat itu Dia telah membuat sengsara

ibuku lahir batin" kata pemuda berbadan besar pendek ini lalu membanting-banting kakinya.

"Seharusnya aku potong lidahnya, cungkil ma-

tanya, potong dia punya kaki dan tangan dan di

potong dia punya aurat. Hu hu hu... Itu pun ti-

dak cukup, tubuhnya harus di kuliti, kemudian di

jemur di atas matahari. hu hu... Bukan emak sa-

lah mengandung, tapi mengapa kakek dan ne-

nekku terlalu gila harta milik hartawan itu...."

Puspita Sari terdiam, ia memperhatikan

Raja Kodok yang terus menangis sambil bergul-

ing-guling di atas tanah.





DUA


Lama kelamaan tangis Raja Kodok terhenti

sendiri. Tubuhnya yang senantiasa basah ber-

tambah basah. Barulah Puspita ajukan perta-

nyaan. "Apa yang membuatmu membenci harta-

wan Abdi Banda?"

Raja Kodok hentak-hentakkan kakinya, la-





lu kepala digeleng-gelengkan berulang-ulang sea-

kan ingin mengusir segala kepedihan dan pende-

ritaan hidup yang selama ini dialaminya.

"Aku terlahir dari rahim seorang ibu yang

frustasi. Kakek dan nenekku tinggal di desa Mun-

cang Bledek. Mereka kini sudah meninggal terse-

rang penyakit aneh. Ibuku bernama Ararini, ko-

non ia wanita yang cantik sekali. Sehingga pemu-

da desa dulu banyak yang jatuh cinta, diantara

mereka ada yang ingin melamar Ibu, tapi karena

pemuda itu anak orang miskin kakekku meno-

laknya. Padahal ibu sangat mencintainya juga.

Kata kakek manusia hidup tidak cukup hanya

dengan modal cinta. Kakek ingin punya menantu

orang kaya raya. Sehingga kecewalah pemuda

baik dan ahli agama itu. Sejak kakek menolak

lamarannya, pemuda kekasih menghilang dari de-

sa ini. Entah kemana pergi, konon ia menyebar

agama di mana-mana. Padahal pemuda itu sangat

baik sekali manusia lurus, dalam hidupnya tidak

pernah marah, tidak sombong, tidak iri, tidak

dendam dan tidak pernah berbuat maksiat..." ka-ta Raja Kodok.

Puspita tertegun mendengar ucapan Raja

Kodok, "Siapa nama pemuda yang mencintai

ibumu itu?"

"Kalau tidak salah, Wahyu Sakaning Gus-

ti," sahut Raja Kodok.

Puspita tercekat kaget. Ia sendiri bertemu

dengan Wahyu Sakaning Gusti yang tidak lain

adalah Pendekar Lugu. Jika orang yang dimaksud





adalah pemuda itu. Mengapa masih tetap awet

muda. Padahal sekarang Raja Kodok paling tidak

telah berumur dua puluh tahun. Sedangkan pe-

rawakan Pendekar Lugu sepantasnya ia baru be-

rumur dua puluh delapan tahun. Mungkinkah

Pendekar Lugu punya ilmu Awet Muda?

"Lalu apakah pemuda yang kau sebutkan

itu ayahmu?" tanya Puspita.

Raja Kodok menggelengkan kepala. "Wahyu

Sakaning Gusti bukan ayahku. Ia manusia suci

yang tidak pernah berbuat maksiat."

"Jadi..."

"Jadi ayahku adalah manusia bangsat ta-

di." geramnya. "Ia menjadikan ibuku tidak ubahnya pelacur. Setelah ia mendapatkan kehorma-

tannya, lalu ibu diperjual-belikan pada laki-laki hidung belang. Padahal ibuku sudah mengandung. Ibuku sangat menderita lahir dan batin.

Yang paling celaka adalah kakek dan nenekku. Ia

menikmati kemewahan di atas penderitaan anak-

nya. Duh... sesungguhnya kesenangan dan ke-

mewahan dunia ini cuma sedikit. Aku tidak men-

gerti mengapa kakekku begitu terlena. Sean-

dainya aku Malaikat penyiksa tentu aku akan

memasukkan hartawan serta kakek dan nenekku

ke neraka yang menyala-nyala..."

"Kau benci pada mereka?"

Raja Kodok tertawa, tapi tawanya seperti

orang yang menangis.

"Aku tidak benci pada mereka, aku benci

pada kelakuannya yang terlalu memuja dunia"





"Lalu sekarang kemana ibuku?" tanya Puspita. Tampak jelas wajah Raja Kodok semakin

sedih dan menderita saja.

"Ibuku mati bunuh diri setelah mengha-

nyutkan aku ke kali ini. Rupanya hidup ibuku

yang kecewa itu semakin bertambah kecewa saja

setelah melihat keadaanku yang sangat jelek be-

gini. Tuhan masih melindungiku. Bidadari Sungai

Ilir perempuan misterius itu membesarkan aku

bersama kodok-kodoknya di daerah ini. Ia juga

menurunkan jurus-jurus kodok yang sangat dah-

syat serta beberapa kesaktian lainnya. Tapi hing-

ga saat ini aku masih belum puas. Aku belum

menemukan diriku yang sebenarnya karena diha-

tiku masih ada dendam, amarah dan penasaran.

Aku ingin mencari paman Wahyu Sakaning Gusti,

aku ingin belajar berbagai hal tentang jalan yang lurus dan kebaikan. Agar kelak aku tidak tergolong salah satu dari sekian banyak penghuni ne-

raka." "Jadi kau ingin bertemu dengan Wahyu Sakaning Gusti?"

"Ya, sangat ingin sekali"

"Aku mungkin bisa mempertemukan kau

dengannya." janji Puspita.

Mata yang penuh kehampaan hidup dan

rasa frustrasi ini membulat lebar. Terlihat ada ke-gembiraan di sana.

"Benarkah?" tanyanya dengan mata berbi-

nar-binar.





"Ya, aku janji. Untuk itu ikutilah aku."

"Tunggu dulu. Aku harus membawa ka-

wan-kawanku, mereka bisa membantu jika aku

dalam kesulitan"

Sambil melonjak-lonjak kegirangan Raja

Kodok kembali menyusup ke balik atap gubuk ro-

boh. Ketika ia keluar lagi, maka di bahunya su-

dah menyandang sebuah keranjang bulat berisi

beraneka macam kodok yang belum pernah dili-

hat Puspita seumur hidupnya.

"Untuk apa itu?"

"Ha ha ha... Biasanya manusia memburu

kodok. Tapi kebalikannya kodok juga bisa mence-

lakakan manusia. Ketahuilah, kodok-kodok ini

sangat beracun. Air kencingnya dapat membuta-

kan mata. Jika kita dikeroyok orang tentu mereka

tidak akan tinggal diam"

Puspita terpaksa menahan senyumnya. Ra-

ja Kodok mengeluarkan suara aneh. Dari semak

belukar terdengar suara ribuan kodok lainnya

seakan mereka mengucapkan selamat jalan pada

pemuda berjuluk Raja Kodok itu. Maka berang-

katlah kedua orang yang baru saling mengenal ini

meninggalkan Kali Meruya.





***



Kerajaan Ujung Dunia adalah sebuah kera-

jaan yang sangat besar sekali. Disekeliling istana yang besar itu berdiri benteng yang cukup tinggi.

Di setiap sudut benteng terlihat para pengawal





bersenjata anak panah. Kerajaan ini dipimpin

oleh seorang raja Besar Lalim Durjana. Angkatan

perangnya cukup kuat, kerajaan ini juga terma-

suk kaya raya. Sayang kehidupan rakyatnya

sengsara dan serba dalam kemiskinan. Peninda-

san terjadi dimana-mana. Banyak pejabat tinggi

kerajaan yang melakukan korup dan pemerasan

secara terang-terangan maupun sembunyi-

sembunyi. Prajurit kerajaan pun demikian, terlebih-lebih yang bertugas dalam bidang keamanan.

Tidaklah mengherankan jika kemakmuran

hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Penin-dasan, kekerasan, pemerasan dan ancaman me-

mang sudah menjadi kebiasaan dan merupakan

santapan hidup bagi rakyat-rakyat yang sengsara.

Namun apalah artinya rakyat kecil yang tidak

punya kekuatan apa-apa. Mereka selalu takut

pada tentara kerajaan. Apalagi mereka bukan sa-

lah mengayomi kehidupan rakyatnya. Tidak ja-

rang diantaranya malah ada yang menjadi momok

bagi penduduk.

Kebiasaan raja Lalim Durjana selain aneh

juga terbilang sadis. Mereka yang tertangkap dan

tertuduh sebagai pelaku kejahatan biasanya lang-

sung dipancung tanpa menjalani proses pengadi-

lan. Kalau pun pengadilan dilakukan itu semata-

mata hanya kedok saja. Tidak jarang bahkan di-

antara penentang raja atau sekelompok orang

yang dicurigai sebagai pemberontak dilepaskan di

sebuah tempat terkurung tembok yang dikenal

dengan nama 'Ladang Perburuan'. Mereka yang





dilepas ini bukan dibiarkan hidup. Melainkan un-

tuk diburu oleh sepasukan pengawal bersenjata

anak panah dan pedang, untuk dijadikan sasaran

anak panah mereka atau pun dijadikan sasaran

berburu sekawanan harimau kelaparan yang dile-

pas di situ.

Biasanya sang raja yang menyaksikan

atraksi mengerikan ini tertawa-tawa dengan pera-

saan puas. Sungguh raja yang punya tiga isteri

dan empat puluh orang selir ini merupakan raja

yang paling kejam lagi tidak mengenal rasa pri

kemanusiaan.

Siang itu selepas menghadiri pembantaian

di 'Ladang Perburuan', raja Lalim Durjana berja-

lan-jalan keliling kota kerajaan Ujung Dunia. Dia yang didampingi langsung oleh Patih Luragung ini

duduk di atas sebuah kereta kuda yang sangat

mewah. Sikapnya jumawa dan terkesan angkuh.

Tidak jauh di depannya beberapa orang pengawal

berkepandaian tinggi terus melakukan pengawa-

lan ketat. Anak-anak kecil yang menonton iring-

iringan raja kebanyakan ditendang atau dipukul

oleh pengawal yang berada dibarisan depan.

Para orang tuanya tidak ada yang berani

keluar apalagi melihat iringan rombongan raja

tersebut. Sementara itu dari arah depan mereka

di jalan yang sama tampak seorang laki-laki ber-

badan gendut besar bukan main sedang memacu

kuda ke arah iring-iringan raja.

Kuda yang ditunggangi oleh si gendut keli-

hatannya sudah sangat kelelahan sekali, lidah





terjulur, tubuhnya telah basah oleh keringat bah-

kan jalannya pun sudah miring-miring seperti bi-

natang yang menderita sakit pinggang campur

encok. Melihat kehadiran orang yang tidak dikenal ini, beberapa orang pengawal langsung menyong-song ke depan. Senjata mereka terhunus siap

menyerang kelihatan sekali kalau pengawal-

pengawal ini sangat menjilat.

"Berhenti di situ, silahkan putar kuda dan

lewat jalan lain" Salah satu pengawal berwajah angker memberi perintah. Suaranya keras sengaja

mencari perhatian.

Kuda yang ditunggangi si gendut kontan

berhenti, kaki kuda tampak gemetaran pertanda

habis dipacu dari perjalanan yang sangat jauh.

"Saya hartawan Abdi Banda sahabat raja

Besar. Ingin bertemu dengan beliau untuk me-

nyampaikan sebuah persoalan yang besar..." kata si gendut kikir.

Pengawal yang membentaknya tadi meno-

leh ke belakang, ke arah kereta kuda dimana raja

Lalim Durjana berada di dalamnya. Kebetulan

sang raja tampakkan wajahnya julurkan kepala.

"Ada apa pengawal?" tanya laki-laki bertubuh tambun itu, suaranya serak dan berat me-

nyimpan angkara murka.

Seperti seekor anjing yang takut pada

tuannya, pengawal itu berlari-lari kecil meng-

hampiri kereta kuda. Ia membungkukkan kepala

dalam-dalam.





"Ampun paduka, ada orang gendut menga-

ku sebagai hartawan Abdi Banda. Dia ingin ber-

temu dengan paduka...."

Wajah raja Iblis Durjana berubah cerah.

"Perintahkan dia memutar kuda dan mengikuti

kita menuju istana"

"Baik Paduka"

Pengawal ini balik ke tempat semula, lalu

memberitahukan apa yang disampaikan rajanya.

Mereka akhirnya bersama-sama menuju ke ista-

na. Patih Luragung mengajak Abdi Banda men-

jumpai raja Lalim Durjana yang sudah masuk ke

istana kerajaan lebih awal.

Singgasana tempat pertemuan itu dijaga

ketat oleh para pengawal. Di tengah-tengah ruan-

gan terdapat kursi kebesaran, di atas kursi me-

wah itulah seorang laki-laki berkumis tebal ber-

wajah angker dan memakai mahkota duduk me-

nunggu.

Hartawan Abdi Banda langsung duduk

bersimpuh di depan raja kemudian memberi

penghormatan pada raja Ujung Dunia.

"Sobatku Apa kabar dan bagaimana Mage-

tan saat ini?" tanya sang Raja.

"Baginda, sahabat lama yang selalu dijun-

jung tinggi setiap titahnya. Keadaanku baik-baik

saja. Aku datang dengan membawa kabar buruk"

jawab Abdi Banda.

Kening sang raja langsung mengkerut.

"Kabar apa?"

"Kakangku Datuk Alam Salindra mungkin





saat ini sudah mangkat. Harta bendaku sebagian

berceceran di sepanjang jalan, rumah madat, ru-

mah pelacuran, rumah judi semuanya mus-

nah..." "Ini kabar paling buruk yang pernah ku-dengar darimu, sobatku Aku sedih mendengar-

nya. Namun aku yakin setiap akibat ada sebab-

nya, nah katakan apa yang menyebabkan kau

mengalami kejadian menyakitkan seperti itu?"

"Kejadian ini bermula dengan munculnya

seorang Pendekar muda berwajah tolol, kemudian

muncul pula seorang murid murtad calon isteriku

yang gagal. Lalu muncul Pendekar Lugu, Anak

Langit dan Malaikat Penderitaan pun tunjukkan

diri..." Raja Lalim Durjana tersentak kaget. "Mengenai Malaikat Penderitaan sedikit banyaknya aku

sudah dengar. Tidak ada yang tahu pasti siapa

namanya dan asal usulnya. Ia manusia setengah

gaib, yang aku tidak tahu adalah tentang Pende-

kar Lugu dan Anak Langit. Dapatkah kau terang-

kan padaku siapa mereka?" pinta raja Lalim Durjana. Kemudian secara terperinci hartawan Abdi

Banda menceritakan apa yang diketahuinya ter-

masuk juga kehadiran Pendekar Lugu dalam

mimpi-mimpinya.

"Lalu Anak Langit itu siapa?"

"Aku sendiri kurang tahu, paduka. Anak

Langit kurasa bukan manusia, bukan jin dan bu-

kan pula setan. Mungkin ia sejenis malaikat. Dia





penyampai kebenaran, kalau pun bukan Malaikat

mungkin makhluk yang tercipta dari cahaya."

"Sungguh sulit dipercaya. Kemudian Pen-

dekar yang kau sebutkan siapa?"

"Dia punya gelar Pendekar Blo'on, wajah-

nya ganteng tapi tampangnya goblok kekanak-

kanakan. Rambutnya hitam kemerahan, dia

punya senjata dapat merintih, menangis, mering-

kik bahkan tertawa. Kepandaiannya tidak dapat

diragukan lagi" jelas hartawan Abdi Banda.

"Paman Patih, apakah engkau tahu siapa

Pendekar yang disebutkan oleh hartawan ini?"

Sambil bertanya raja Lalim Durjana me-

mandang pada laki-laki tua berselempang merah

di sebelah kirinya.

"Ampun, gusti. Menurut hemat hamba,

pemuda yang dimaksudkan oleh tuan hartawan

memang pernah hamba dengar tentang kehebatan

sepak terjangnya. Bertemu langsung sih hamba

belum pernah, konon sekarang selain membabat

habis tokoh aliran hitam dia juga sedang mencari

pembunuh orang tuanya. Saran hamba sebaiknya

kita kirimkan pasukan untuk menangkapnya"

"Aku rasanya sangat setuju dengan gaga-

sanmu itu, paman." kata raja Lalim Durjana. Kemudian beliau berpaling pada hartawan kikir.

"Nah, jika kau merasa terancam, sebaiknya untuk sementara waktu tetaplah berada di kerajaan ini,

kau berada dalam lindunganku, sobatku gendut"

"Katakan juga pada raja ini, bahwa seka-

rang telah datang Lima Utusan Akherat di pantai





Selatan"

Sebuah suara yang tidak asing mengisiki

hartawan Abdi Banda. Itulah suara Sang Maha

Sesat. Maka kemudian hartawan itu mencerita-

kan tentang kemunculan Lima Utusan Akherat di

pantai Selatan sebagaimana yang dikatakan oleh

Sang Maha Sesat.

"Ha ha ha... Sobatku, terima kasih atas

peringatanmu. Aku pribadi kemarin telah men-

dengar laporan itu. Mungkin besok aku akan

mengirimkan pasukan ke sana." sahut raja.

"Sebenarnya apa maksud kedatangan

orang-orang asing itu, paduka?" tanya si hartawan harap-harap cemas.

Raja Lalim Durjana tersenyum sinis.

"Jika tidak ada berada, mana mungkin

tempat bersarang rendah. Tujuan mereka yang

sebenarnya segera kita ketahui begitu kita ring-

kus mereka"

Maka diam-diam legalah hati hartawan Ab-

di Banda. Semula ia merasa khawatir jangan-

jangan Lima Utusan Akherat mengincar kitabnya.

Kitab yang berisi surat petunjuk bagi manusia

yang ingin menempuh jalan lurus.

"Sobatku hartawan yang paling kaya di du-

nia. Sebaiknya kau istirahat dulu. Mengenai ke-

matian abang mu, jika benar Pendekar itu yang

membunuhnya dia pantas mendapat ganjaran

yang setimpal. Acara penangkapan segera dilaku-

kan. Pendekar Blo'on, Pendekar Lugu, Malaikat





Penderitaan juga gadis calon istrimu itu tentu dalam waktu tidak lama lagi akan mendapat huku-

man berat dari kerajaan"

"Paduka..."

"Hmm..." Raja Lalim Durjana menggumam

tidak jelas.

"Mengenai calon isteriku sebaiknya segala

urusan serahkan padaku. Aku punya cara terbaik

untuk menghukumnya" pinta sang hartawan.

"Ha ha ha... Itu persoalan mudah. Kau ti-

dak usah takut Sekarang biarkan paman Patih

mengantarmu untuk istirahat"

Baik hartawan maupun Patih Luragung se-

gera menjura penuh rasa hormat. Sekejap kemu-

dian mereka telah berlalu dari hadapan raja Lalim Durjana.





TIGA


Tenda-tenda yang dipasang dekat perahu


di tepi pantai selatan itu seluruhnya berjumlah

lima buah. Para penghuninya juga terdiri dari li-

ma golongan dan berasal dari lima daerah yang

terdapat di nusantara ini.

Penghuni tenda pertama yang terletak di

sebelah utara adalah utusan dari Indera Giri Hilir.

Anggota mereka cukup banyak juga, seluruhnya

hampir lima puluh orang. Pimpinan utusan itu

adalah Engku Bonang dan Bias Pati.

Sedangkan di tenda kedua mereka berasal





dari Teluk Nibung, pimpinan mereka bernama

Datuk Pala Seribu dan Manggar Kesuma, kedua

orang ini lebih dikenal dengan julukan Bayangan

Putih. Tenda ketiga berasal dari Kapuas Hulu,

pimpinan utama adalah Dendra dan Malai Be-

rung. Penghuni tenda keempat berasal dari

Ujung Kulon, pimpinan mereka Pati Ubudana dan

Kalingga Jati.

Yang terakhir di tenda kelima berasal dari

Madura. Rombongan ini dipimpin oleh Cak Bu-

lang Kumbang dan Kala Dirga.

Pada mulanya Lima Utusan Akhirat ini

memang tidak saling mengenal satu sama lain.

Sebagai tanda-tanda mereka ini adalah bendera

putih yang terdapat di haluan perahu.

Lalu apakah yang terjadi sehingga mereka

mendarat di pantai selatan? Marilah kita ikuti

pertemuan pimpinan masing-masing utusan yang

berlangsung tidak jauh dari perahu mereka.

Ada sepuluh orang duduk melingkar men-

gelilingi sebuah lilin yang menyala dengan segan.

Tiba-tiba bicara laki-laki berjenggot panjang me-

makai ikat kepala warna putih. Orang ini tidak

lain adalah Engku Bonang utusan dari Indera Giri

Hilir. "Saya, Engku Bonang dari Indera Giri, datang ke tanah Jawa ini semata-mata karena men-

dapat wangsit bahwa di daerah ini tersimpan se-

buah surat dalam kitab perdamaian dunia. Di sini





pula akan turun Anak Langit. Tetua dan ahli pe-

dang kami mengutus saya dan sahabat Bias Pati

ke sini. Sebagai tanda kebenaran yang sah, saya

membawa simbol bintang empat persegi." Engko Bonang kemudian mengeluarkan sebuah logam

berbentuk empat persegi. Simbol utusan ini ke-

mudian diletakkannya di atas pasir. Kemudian

orang yang duduk di sampingnya buka bicara.

Laki-laki ini berkulit hitam macam arang. Puser-

nya yang bodong kelihatan, ia memakai baju ala

kadarnya.

"Saya Datuk Pala Seribu dan kawan saya

ini Manggar Kesuma, kami dari Teluk Nibung. Se-

suai wangsit pula, kami datang kemari untuk me-

lihat kebenaran dan apa sesungguhnya rahasia

yang tersimpan dalam surat Kedamaian Dunia.

Kalau tidak boleh membawa surat itu pulang kami cukup puas jika sudah mengetahui isinya.

Semua tentu terpulang pada anak langit. Ini tan-

da utusan yang sah dan tidak diragukan kebena-

rannya..." Datuk Pala Seribu mengeluarkan logam berbentuk empat persegi. Manggar Kesuma

pun mengeluarkan benda yang sama kemudian

meletakkannya di atas pasir.

"Saya, Dendra..." Berkata laki-laki setengah baya berkumis tebal. Kawan saya, Malai Be-

rung, kami dari Kapuas Hulu. Datang ke sini den-

gan membawa urusan yang sama. Kitab Keda-

maian Dunia itu harus diketahui oleh seluruh

penduduk kolong langit ini, agar mereka tahu dan

tidak saling membunuh sesamanya dan tidak





berperang untuk menindas dan menjajah kehidu-

pan orang lain. Dendra pun kemudian mengelua-

rkan benda yang sama.

Setelah orang ketiga selesai bicara, kini gi-

liran laki-laki tua bermata agak kecil berkulit

kuning langsat.

"Kami dari Ujung Kulon, aku Pati Ubudana

dan Kalingga Jati kawanku. Kami diperintahkan

oleh ketua untuk mengetahui isi Surat Keda-

maian Dunia. Agar sesama kaum di rimba persila-

tan tidak saling perang lagi. Saya sedih melihat

orang-orang saling berbunuhan. Ini tanda dari

saya..."

Pati Ubudana meletakkan bintang empat

persegi tanda utusan ke tengah-tengah lingkaran.

"Saya datang dari sebuah daerah yang ti-

dak jauh dari sini, tepatnya dari Madura tak iye.

Nama saya Dunga, kedatangan kami semata-mata

bukan hanya ingin melihat isi Surat Kedamaian

Dunia, tapi juga ingin mendapat petunjuk dari

Anak Langit menuju jalan yang benar" jelas laki-laki bertubuh jangkung tersebut.

"Nah sekarang kita sudah saling mengeta-

hui bahwa kita adalah orang-orang yang memiliki

tujuan yang sama. Apa langkah yang harus kita

ambil?" tanya Engku Bonang.

Lima Utusan Akherat lainnya saling ter-

diam. Lama sekali suasana hening mencekam.

Lalu Datuk Pala Seribu ajukan pendapat.

"Daerah ini adalah tempat yang asing bagi

kita. Kudengar di daerah ini ada sebuah kerajaan





besar, namun kita tidak dapat minta petunjuk-

nya. Karena rajanya kejam dan selalu menanam

permusuhan serta rasa curiga pada siapa saja"

"Orang yang harus kita temui sesuai petun-

juk dari pimpinan kami adalah Pendekar Lugu.

Sedangkan orang itu sendiri kita tidak tahu bera-

da dimana" Pati Ubudana menimpali.

"Kalau begitu kita tidak boleh terpisah an-

tara satu utusan dengan utusan yang lain. Ku-

dengar pula di Jawa ini banyak tokoh-tokoh serta

ahli silat berkepandaian tinggi. Salah kita me-

langkah maka misi mulia ini bisa berantakan se-

luruhnya" Ujar Dunga.

"Sebaiknya mulai besok kita mencari surat

petunjuk Kedamaian Dunia. Usahakan hindari

bentrok dengan pihak kerajaan." pesan Kalingga Jati. "Kami setuju" jawab yang lainnya hampir bersamaan.

"Sekarang kita sudahi pertemuan ini. Be-

sok kita sudah harus melakukan perjalanan jauh

yang tidak terbatas" kata Engku Bonang

Maka setelah mereka selesai bermufakat

para pimpinan Lima Utusan Akherat kembali ke

tendanya masing-masing. Malam berlalu, di pan-

tai suara deburan ombak tetap terdengar hingga

pagi.





***



Pemuda baju putih dan pemuda baju biru





itu baru saja selesai melakukan sujud terakhir

sholat Asar. Kemudian setelah selesai berdo’a ke-

duanya keluar meninggalkan surau kecil di tepi

telaga. Suasana Surau yang lengang mengundang

tanya di hati pemuda berwajah ganteng namun

punya tampang ketolol-tololan ini.

Penduduk di sekitar Surau cukup banyak,

tapi mengapa Surau dibiarkan sepi bahkan lantai

Surau terlihat kotor berdebu seakan jarang dipa-

kai beribadah?

Hari sembilan bulan sembilan sudah terle-

wati beberapa pekan yang lalu. Suasana tetap ti-

dak berubah, matahari tetap terbit dari timur, tidak dari barat, utara maupun selatan. Satu hal

yang membuat hati pemuda baju biru gelisah

adalah tentang Puspita Sari. Sebagaimana dike-

tahui Puspita gadis berpakaian ala Ninja ini telah dilarikan oleh hartawan gemblung Abdi Banda.

(Untuk lebih jelasnya dalam episode Sang Maha

Sesat). Sedangkan waktu itu Suro Blondo Pende-

kar Mandau Jantan murid Penghulu Siluman Ke-

ra Putih dan murid Malaikat Berambut Api ini se-

dang terlibat pertempuran sengit dengan Datuk

Alam Salindra abang hartawan itu.

Si konyol tidak tahu bagaimana nasib gadis

jelita murid guru penuh keedanan Datuk Alam

Salindra. Hanya dia bisa berharap, moga tidak

terjadi apa-apa dengan Puspita. Kalau sampai ga-

dis malang itu diapa-apain oleh hartawan sinting

itu, tentu Suro tidak tinggal diam.

"Saudaraku, sejak tadi kau kuperhatikan





terus gorak-garuk kepala melulu. Sebenarnya ada

apa sih...?" bertanya Pendekar Lugu si pemuda baju putih berwajah polos tapa dosa.

Mulut Suro termonyong-monyong. Mimik-

nya berubah serius namun risau.

"Sobat Pendekar Lugu, kau ini Pendekar

goblok Kerjamu cuma memikirkan bagaimana

memperbaiki dan mengajak manusia lain menuju

jalan yang lurus. Kerjamu cuma kerat-kerutkan

jidad dan mengingatkan manusia agar jangan

menyembah harta, menyembah kedudukan, me-

nyembah bini cantik atau menyembah dunia ini.

Kau tahu nggak? Aku ini pusing... kawan kita

Puspita diculik oleh hartawan gendeng itu. Aku

takut keselamatannya, hartawan itu punya pe-

dang. Pedang itu bisa membuat Puspita masuk

angin. Aku tidak suka melihat hartawan menga-

cak-acak sawah orang. Kalau sawahnya sendiri

mau dipacul mundur, dipacul terbalik atau dipa-

cul sambil duduk mana aku perduli Ak... pelaku

pusiing..." kata Pendekar Blo'on

Pendekar Lugu tersenyum

"Kau seperti kambing kebakaran jenggot.

Memang Puspita itu pacarmu Mengapa kau begi-

tu khawatir?" Suro garuk-garuk rambutnya sambil nyengir. "Pacar sih belum, lah wong dia nggak pernah ngomong gitu kok." sahut Suro seadanya saja. "Kau suka padanya?" tanya Pendekar Lugu tanpa ekspresi apa-apa.

"Entahlah, aku suka pada setiap perem-





puan. Tapi terus terang aku belum pernah berte-

mu dengan gadis yang sesuai dengan keinginan-

ku." jawab pemuda berambut hitam kemerah-

merahan ini dengan mulut termonyong-monyong.

Pendekar Lugu yang kurang suka bicara

soal perempuan ini tersenyum simpul. Ia sendiri

tidak ingin mengingat yang namanya makhluk

wanita, sebab pengalaman pada wanita begitu

pahit menyakitkan.

"Gadis macam apa yang kau idam-

idamkan?" pancing Pendekar Lugu.

Si konyol tertawa. "Aku ingin punya seo-

rang kekasih yang baik hatinya. Penuh perhatian

dan keibuan. Selain itu dia juga harus takut pada Tuhan dan dapat menerima aku apa adanya"

"Hmm, tampangmu tolol begitu punya

keinginan yang muluk-muluk. Kan susah jaman

sekarang cari perempuan seperti itu. Kalau pun

ada bisa di hitung dengan jari." kata Pendekar Lugu. Si konyol Pendekar Blo'on melirik lawan bi-caranya. Sekilas ia melihat ada kesuraman di wa-

jahnya.

"Eeh... kulihat kau sedih. Apakah kau

punya masa lalu yang sepahit empedu?"

"Ha ha ha... Setiap orang punya masa lalu,

masa laluku sendiri sudah lama kulupakan." tegas Pendekar Lugu sambil menggelengkan kepala.

"Sebaiknya kita kembali pada titik persoalan."

"Persoalan kita kan pergi ke kota raja

Ujung Dunia. Kupikir hartawan Abdi Banda ber-





sembunyi di sana. Kalau kita sudah sampai, kita

bisa sekalian melihat kekejaman raja Lalim Dur-

jana." kata si Bocah Ajaib pula.

"Dua persoalan besar sebagaimana yang

dikatakan oleh Anak Langit kurasa bukan hanya

menyangkut hartawan dan raja itu saja. Belakan-

gan ia datang padaku bahwa bahaya yang kita

hadapi juga datang dari Sang Maha Sesat. Lalu...

surat dalam kitab Kedamaian Dunia juga perlu ki-

ta tahu isinya."

"Mengenai kitab itu, sekarang bukan lagi

tersimpan dalam gudang harta milik Abdi Banda.

Seorang kakek mengaku dirinya sebagai Malaikat

Penderitaan telah mengambil kitab itu. Waktu itu

aku ingin tahu isinya, tapi kakek yang selalu se-

dih itu katanya tidak punya hak membuka surat

yang tersimpan dalam kitab"

"Surat itu sebenarnya merupakan ancaman

bagi Sang Maha Sesat. Bagaimana bentuk anca-

man itu bagi Maha Sesat, tentu hanya Anak Lan-

git yang tahu. Aku tidak punya hak mengeta-

huinya, menurut hematku pula Malaikat Penderi-

taan pasti punya wangsit untuk menyelamatkan

Surat Kedamaian Dunia tersebut."

"Jadi apakah kita harus menembus ben-

teng istana? Kerajaan Ujung Dunia punya ratusan

prajurit tangguh. Bagaimana kita bisa kesana?"

"Dua tugas yang diberikan oleh Anak Lan-

git padaku dan padamu tidak dapat ditunda-

tunda. Raja Lalim Durjana harus digulingkan un-

tuk menghentikan kekejamannya. Hartawan Abdi





Banda juga tidak dapat kita biarkan begitu saja

karena kehadirannya hanya merusak martabat

kaum perempuan"

Suro garuk-garuk kepala. "Kita yang cuma

berdua ini harus menghancurkan sebuah kekua-

saan besar. Kalau kau tidak bermimpi, tentu

kowe sudah gendeng Pendekar Lugu?" dengus

Suro sengit.

"Anak Langit pasti akan datang membantu,

Malaikat Penderitaan juga. Bagiku lawan yang

paling berbahaya bukan prajurit tentara kerajaan, melainkan Sang Maha Sesat."

Suro Blondo tercenung, mulutnya melongo.

Lalu ia teringat tentang beberapa muda mudi

yang mati kering. Ketika ia berada di Magetan

bersama Puspita Sari. Bukan itu saja, sebagai

anak ajaib ia juga pernah mencium bau wangi

bunga stanggi, bunga kuburan. Di Magetan ia

mencium bau bunga iblis itu, begitu juga ketika

berada di kuil bobrok.

"Mungkinkah Sang Maha Sesat melakukan

pembunuhan?" tanya Suro.

"Ya, mungkin sekali. Untuk kesenangannya

atau sekedar berhura-hura untuk menakut-

nakuti. Itu merupakan suatu pertanda kehadi-

rannya"

"Menurutmu apakah Sang Maha Sesat

punya racun Bunga Asmara?" tanya si konyol ter-bodoh. "Hmm, betul. Ia bahkan punya racun apa saja yang sangat berguna untuk menjerumuskan





manusia ke jalan yang salah. Suatu saat ia bisa

saja menjelma sebagai manusia. Musuh besar

makhluk yang tercipta dari api itu adalah manu-

sia yang selalu patuh pada TuhanNya, ia paling

benci pada manusia seperti aku..." jelas Pendekar Lugu alias Wahyu Sakaning Gusti. Pemuda yang

dapat merubah dirinya menjelma jadi anak kecil,

kakek-kakek dan gadis cantik itu tampak sangat

serius sekali kini.

"Oh gitu. Apa ini ada hubungannya karena

terlalu seringnya kau keluar masuk Surau?"

tanya Suro heran.

Pendekar Lugu, pemuda yang wajahnya po-

los seperti bayi ini tersenyum.

"Tololmu kau pelihara terus, bagaimana

kau bisa pintar saudaraku. Keluar masuk Surau

itu bukan suatu bukti, walaupun mendekati bakti

pada Tuhan. Tapi Tuhan tidak menilai wajah atau

kecantikan seseorang. Yang dinilai niat dan isi

hatinya. Hampir sebagian manusia di dunia ini

memakai topeng. Jika topeng ditanggalkan maka

terlihatlah isi hatinya. Tidak sedikit manusia jadi penjilat seperti anjing, tidak sedikit pula manusia memberi karena berharap imbalan atau memberi

sekedar ingin dipuji orang lain. Aku benci pada

orang yang punya hati berserabut seperti biji ke-

dondong. Tapi aku lebih benci lagi pada manusia

yang bermuka dua. Aku benci pada orang kaya

sombong, tapi aku lebih benci lagi pada orang

kere sombong. Aku tidak suka pada orang yang

keras hatinya, namun aku lebih benci lagi pada





orang marah namun tidak ada habis-habisnya.

Segala sesuatu yang ku benci sebaliknya sangat

disukai oleh Sang Maha Sesat. Pahamkah kau

saudaraku?"

"Ya... ya... paham sedikit-sedikit. Sebaik-

nya memang sedikit, kalau kebanyakan kepalaku

malah puyeng..."

"Saudaraku, kau memang Pendekar tolol,

tampangmu geblek, namun bagaimana pun aku

tetap membutuhkan bantuanmu. Sekarang se-

baiknya kita teruskan perjalanan ke kota raja

Ujung Dunia" Pendekar Lugu berkata sambil

mempercepat langkahnya.

"Tunggu sobatku Pendekar Goblok Kau li-

hatlah ada mayat-mayat tanpa kepala disini

Ihh... mengerikan sekali..." desis Suro. Seraya tutup hidungnya karena mayat-mayat yang terdiri

dari kaum laki-laki dan perempuan itu sudah

mulai membusuk.

Pendekar Lugu hentikan langkah, baru

memeriksa satu dua mayat ia sudah bersurut

mundur sedangkan bibirnya berkomat-kamit se-

perti orang yang sedang mohon keampunan Gusti

Allah. "Sungguh biadab perbuatan orang itu. Mereka membunuh tanpa sebab-sebab yang jelas."

geram Wahyu Sakaning Gusti.

"Apa ini bukan hasil perbuatan Sang Maha

Sesat?" tanya si konyol dengan kening berkerut-kerut. "Aku tidak yakin. Sang Maha Sesat adalah





kakek moyangnya iblis dan setan. Dia tidak per-

nah membunuh dengan cara seperti ini. Ini ada-

lah perbuatan manusia yang nyata. Sebaiknya ki-

ta susul orang sadis itu" tegas Pendekar Lugu dan wajahnya yang polos itu tampak jelas dilanda

kedukaan.





EMPAT


Panglima Arung Garda bisa diibaratkan se-

bagai tombak dan benteng bagi jayanya kerajaan

Ujung Dunia. Ia manusia sakti yang mempunyai

kekebalan terhadap berbagai jenis senjata. Ia juga ahli dalam hal siasat perang. Laki-laki jangkung

berkumis tipis bertampang dingin ini bahkan di-

juluki dengan julukan 'Kuda Perang Pedang Ter-

bang'. Jika senjata telah berada ditangannya, ma-

ka senjata itu tidak akan berhenti sebelum semua

lawan-lawannya binasa.

Panglima perang Arung Garda memang fi-

gur panglima yang penuh kejutan. Ia mengabdi

pada raja Lalim Durjana kurang lebih hampir dua

puluh tahun. Berkat kepandaian dan kesaktian,

semula panglima ini yang hanya sebagai prajurit

tempur biasa dengan mudah naik menjadi perwi-

ra, sampai kemudian diangkat menjadi panglima

perang. Ia punya kesaktian setara dengan Patih

Luragung. Hanya kekurangan Patih, beliau tidak

memiliki ilmu kebal senjata.

Pagi itu setelah mendapat kabar dari petu-





gas pengintai, maka berangkatlah Panglima Arung

Garda bersama prajurit-prajurit pilihan yang se-

luruhnya berjumlah hampir lima puluh orang.

Namun Panglima ini sangat kecewa sekali karena

ketika sampai di pantai Selatan yang mereka

jumpai hanya lima buah perahu besar dan lima

buah tenda darurat kosong.

"Sial... Mereka telah pergi, aku tetap ber-

keyakinan mereka masih berada di tanah Jawa

ini. Kalau begitu, sebaiknya bakar kapal-kapal

yang berlabuh di pantai itu..." perintahnya pada semua prajurit berkuda yang menyertainya.

Lima puluh orang prajurit yang rata-rata

berwajah bengis langsung melaksanakan perintah

Arung Garda. Hanya dalam waktu tidak sampai

setengah jam, lima buah kapal besar milik Lima

Utusan Akherat terbakar musnah. Panglima haus

hiburan ini tertawa senang.

"Sekarang kita kejar mereka Tugas apapun

yang mereka bawa dari daerahnya kita harus ta-

hu" tegas laki-laki itu.

Maka tidak lama terdengar suara derap

langkah kuda meninggalkan pantai selatan. Be-

lum jauh rombongan panglima Arung Garda me-

ninggalkan pantai selatan. Tiba-tiba dari sebuah

pohon yang rindang mendesing sebuah tanda

berwarna putih mengkilat. Bentuknya bulat se-

perti topi waja, setiap sisinya bergerigi tajam.

Benda bulat menyerupai topi dan bertali

panjang ini langsung menghantam leher pengawal

yang berada di bagian depan.





Pengawal malang tadi tidak sempat menje-

rit. Tahu-tahu kepalanya menggelinding diterabas

senjata aneh bergerigi itu. Tubuh tanpa kepala

yang berada di atas kuda langsung tersungkur.

Kejadian memang berlangsung sangat cepat. Ti-

dak sampai sepersekian detik, terdengar suara je-

ritan pengawal lagi. Hingga hanya dalam waktu

yang sangat singkat sekali lima orang pengawal

telah menjadi mayat tanpa kepala.

"Berlindung" teriak Panglima Arung Garda.

Ia sendiri menggebah kudanya menyusul ke de-

pan. Melihat korban bergeletakan tanpa kepala,

maka terkejutlah panglima Arung Garda. Ia meli-

hat ke arah rimbunan pohon di mana senjata

berbentuk aneh tadi berasal. Namun matanya

terhalang kelebatan daun-daun, sehingga ia tidak

dapat melihat siapa yang sembunyi di balik ke-

rimbunan pohon tersebut.

Dengan geram panglima ini lepaskan puku-

lan saktinya ke arah pohon. Segulung angin ken-

cang disertai berkiblatnya sinar merah biru mele-

sat cepat ke arah sasaran. Terjadi ledakan meng-

gelegar.

Sebagian cabang pohon hancur berderak,

daun-daunnya langsung kering seperti terbakar.

Setelah menunggu sebentar ternyata tidak

ada reaksi apa-apa. Dari balik pohon yang gundul

sebagian tetap sunyi seakan tidak ada tanda-

tanda kehidupan disana.

"Bangsat Jika manusia tunjukkan muka,





kalau iblis sebaiknya perlu diketahui bahwa aku

Panglima Arung Garda tidak pernah merasa takut

pada siapapun" bentak laki-laki berkumis tipis itu. Sedangkan kudanya meringkik-ringkik gelisah. "Ha ha ha... Lagakmu keren amat, Panglima" sebuah suara yang tidak kalah dinginnya menyahuti. "Kudengar kerajaan Ujung Dunia adalah kerajaan besar. Banyak orang-orang sakti

berhimpun dan mencari rejeki di sana. Kenyataan

yang kulihat pengawal-pengawalmu lindungi ke-

pala saja tidak mampu..."

"Setan Tunjukkan diri perkenalkan nama,

aku tidak suka menunda waktu..." bentak Panglima Arung Garda.

"Ha ha ha Kau meminta aku memenuhi.

Lihatlah baik-baik siapa aku" seru suara tadi Maka daun di pucuk pohon itu tersibak,

dari dalamnya melesat sosok tubuh berpakaian

jingga. Ia jungkir balik, melakukan atraksi dengan gerakan-gerakan seperti pemain sirkus. Kemudian tubuhnya meluncur deras ke bawah.

Tep

Bila kedua kakinya menjejak ke tanah,

maka tidak terdengar suara sedikit pun. Ternyata

adalah seorang laki-laki memakai baju ungu, se-

buah pedang membelintang di punggungnya.

Umur baru sekitar 55 tahun. Wajahnya yang din-

gin tidak terlihat jelas karena tertutup topi lebar terbuat dari anyaman daun kirai (rumbia).

Mata Panglima menyipit, kumis tipisnya





bergerak-gerak. Bibirnya terkatup rapat. Setelah

meneliti dengan seksama, ternyata Panglima me-

mang merasa tidak mengenal laki-laki sadis ini.

Melihat kebolehan yang telah diperlihatkan tadi,

tentu orang ini agaknya bukan manusia semba-

rangan. Panglima ini pun langsung mengatur sia-

sat. "Kisanak, dapatkah anda katakan apa tujuan anda membunuh prajuritku?"

"Hik hik hik Membunuh atau terbunuh

bukankah sesuatu yang lumrah dalam hidup ini.

Jika aku mau membunuh manusia, apakah aku

harus mencari apa salahnya? Bagiku membunuh

orang adalah satu kesenangan, satu hiburan me-

narik. Aku suka melihat darah, aku senang pula

melihat senjataku menari-nari di atas bangkai

atau kepala orang lain" dingin suara laki-laki berpakaian ungu ini.

"Dapatkah anda mengatakan asal usul,

atau mungkin gelar jika punya?" tanya Panglima Arung Garda. Diam-diam hatinya mendongkol

bukan main. "Si angkuh ini belum ku tahu kehebatannya, tapi jika ternyata ia tidak berguna dan cuma besar mulut dia akan tahu rasa nanti" ancam benteng kerajaan ini dalam hati.

Laki-laki setengah tua bertopi rumbia

kembali tertawa. Suara tawanya melengking me-

nyakitkan telinga. Sehingga empat puluh lima

orang prajurit jadi kaget dan tutupi telinganya.

"Aku datang dari seberang lautan, asalku

Sampuran Harimau. Asahan nama tempatku. Aku





Si Raja Tega, nah jelaskah bagimu keteranganku

ini Panglima?" dengus Raja Tega dingin.

Panglima Arung Garda tersentak kaget. To-

koh dari Andalas yang satu ini tentu dia pernah

mendengarnya. Ia manusia sesat yang selalu haus

darah dan yang paling tega di kolong langit. To-

koh ini konon sangat hebat dalam permainan pe-

dangnya

"Raja Tega? Mengapa kau membunuh pra-

jurit-prajurit ku?" tegur Panglima Arung Garda merasa tidak senang.

"Ha ha ha" Raja Tega tertawa dingin." Aku membunuh sesuka hatiku. Jika aku mau, kau

pun bisa kubunuh Cuma aku tidak mau mela-

kukannya karena aku punya kepentingan dengan

raja Lalim Durjana. Aku ingin menjadi anggota

kalian asal saja rajamu itu bersedia membayar ku

dengan mahal..." kata laki-laki berwajah sangat dingin itu sinis.

"Hmm, begitu Untuk menjadi pasukan ter-

kuat tidak mudah, apalagi kau minta bayaran

tinggi. Aku secara terbuka tidak keberatan mene-

rimamu Tapi aku harus mengujimu" tegas Panglima Arung Garda, dalam hati ia geram bukan

main melihat keangkuhan si Raja Tega.

"Ha ha ha... Dengan cara apa engkau ingin

menguji ku, Panglima? Apakah melalui permai-

nan senjata atau adu kesaktian?" Tantang Si Raja Tega. "Aku mau saja kau uji, tapi serahkan dulu sekantung emas sebagai tanda jadi"

"Permintaanmu kukabulkan" sahut Pan-





glima Arung Garda semakin dongkol saja.

Ia mengeluarkan sekantung emas kemu-

dian dilemparkannya pada Si Raja Tega. Laki-laki

bertopi daun kirai ini menimang-nimang emas di

tangannya. Serta leletkan lidah, setelah emas disimpan di balik bajunya, Raja Tega memandang lu-

rus ke depan.

"Bersiap-siaplah Panglima, mata pedangku

tidak punya peradatan" ujar laki-laki itu.

Sriiing

"Hiyaaa..."

Panglima Arung Garda tidak sempat lagi

melihat bagaimana bentuk pedang lawannya. Ka-

rena senjata maut itu langsung berputar, mende-

ru dahsyat menimbulkan angin bergulung-

gulung Hanya sekejap manusia yang paling tega

di dunia ini memutar-mutar senjata di depan

Panglima perang kerajaan Ujung Dunia. Ketika ia

mengeluarkan jurus andalan 'Deru Sampuran

Harimau', maka tubuh laki-laki itu tiba-tiba saja melesat ke depan. Pedang di tangannya meluncur

dengan kecepatan dua kali kecepatan suara.

"Huup..."

Secepat kilat Panglima Arung Garda me-

lompat ke udara hindari serangan. Namun sece-

pat apa pun ia bergerak, pedang di tangan Raja

Tega tahu-tahu terasa menyambar di atas kepala.

Wees

Ketika Panglima ini menapakkan kakinya

di atas tanah, maka ia telah kehilangan topinya,

sedang kuda tunggangannya terbabat putus men-





jadi enam bagian.

Panglima Arung Garda belalakkan ma-

tanya. Ia sendiri adalah ahli dalam memperguna-

kan pedang dan dikenal sangat cepat pula. Tapi

laki-laki yang berjuluk Raja Tega ini lebih hebat lagi. Merasa penasaran ia cabut senjata. Wajah

laki-laki itu kelam membesi.

Ia berjingkrak-jingkrak, sehingga baju be-

sinya mengeluarkan suara bergemerincingan.

"Permainan pedangmu boleh juga, mari ki-

ta main-main sebentar" dengus Panglima perang kerajaan Ujung Dunia

"Ha ha ha Silakan, berapa jurus pun eng-

kau mau aku akan melayaninya" tantang Si Raja Tega, manusia yang tidak pernah mengenal peradatan sama sekali.

"Lihat pedang" teriak Panglima memberi peringatan.

Belum hilang gema suaranya, tiba-tiba saja

Panglima sudah menerjang ke depan. Senjata di

tangannya bergulung-gulung berusaha menem-

bus sepuluh jalan darah di tubuh lawannya.

Tring Tring Tring

Berulang kali terjadi benturan hebat, hing-

ga terlihatlah bunga api berpijar. Tubuh kedua

orang yang sedang bertarung ini berubah lenyap.

Yang terlihat hanya bayang-bayang ungu dan hi-

tam. Tampaknya Panglima Arung Garda sedang

berusaha mendesak musuhnya dengan cara

mempersempit ruang geraknya.

Dalam kenyataan yang sesungguhnya se-





lama beberapa jurus Raja Tega tampak terdesak.

Ia hanya mampu menangkis tanpa mampu mela-

kukan serangan balik. Raja Tega bergumam, lalu

melompat dari sinar pedang yang bergulung-

gulung. Selanjutnya disertai bentakan keras ia

melompat ke udara.

"'Gemuruh Sampuran Harimau' Hiya..."

Raja Tega tiba-tiba saja melakukan gera-

kan yang sungguh sulit dilakukan oleh tokoh silat lain umumnya. Tubuhnya berputar di udara, sedangkan kepala menghadap bawah. Pedang di

tangannya menusuk, membabat secara menyi-

lang. Lalu....

Trak Trak

Punggung dan kepala Panglima itu terhan-

tam senjata milik Raja Tega. Panglima Arung Gar-

da terhuyung-huyung. Jika saja ia tidak kebal

senjata, tentu kepalanya sudah terbelah. Diam-

diam ia terkejut. Raja Tega meskipun dalam per-

janjian hanya bersikap diuji, namun ternyata ia

hampir saja mencelakainya. Ternyata laki-laki

bertopi kirai ini punya kegilaan membunuh yang

menggebu-gebu.

"Cukup..." teriak Panglima tiba-tiba begitu melihat Raja Tega hendak melakukan serangan

kembali.

Traak

Secepat kilat Raja Tega memasukkan sen-

jatanya ke dalam rangkanya kembali. Kini mata

Panglima Arung Garda berbinar.

"Aku percaya kehebatan jurus-jurus pe-





dangmu. Gilanya kau mau membunuhku Nah

sekarang kau kuterima sebagai pendamping ku

untuk mengurus masalah-masalah besar" kata

Panglima.

"Engkau kebal senjata, Panglima. Aku suka

hal itu. Karena kerajaan telah membayar ku. Ma-

ka sekarang tentu aku harus melaksanakan ke-

wajibanku. Nah tugas apa yang harus kukerja-

kan?" Panglima Arung Garda putar-putar kumisnya yang membelintang. Keningnya berkerut da-

lam "Sekarang ini aku sedang mencari lima

rombongan asing yang datang memasuki wilayah

kerajaan Ujung Dunia. Apakah kau melihatnya?"

tanya Sang Panglima.

"Aku memang sempat melihat mereka. Ke-

marin mereka lewat di sini dalam rombongan cu-

kup besar juga Jumlah mereka hampir dua ratus

orang dan aku sempat mencuri dengar pembica-

raan mereka. Nah kalau panglima menginginkan-

nya tentu aku dapat menyusul mereka."

"Apa yang mereka bicarakan?" Selidik

Arung Garda.

"Katanya mereka hendak mencari Pendekar

Lugu dan menemui Anak Langit. Mereka juga ada

menyebut-nyebut tentang Surat 'Kedamaian Du-

nia'." jawab Si Raja Tega.

Panglima terdiam, ia tidak tahu surat apa

yang dimaksud.

"Pernahkah kau tahu mereka mencari su-





rat apa?"

"Kalau tidak salah surat yang tersimpan

dalam kitab tipis Kedamaian Dunia."

"Jadi Pendekar Lugu yang menyimpan su-

rat itu?"

"Kurang tahu pasti. Saya hanya melihat be-

tapa pentingnya surat tersebut mengingat begitu

seriusnya mereka bicara"

Panglima Arung membuang pandangan

matanya jauh-jauh ke depan. Jumlah anggota

utusan itu tergolong besar. Bukan mustahil me-

reka juga punya maksud menyerbu ke istana.

Tindakan ini tidak boleh terjadi, bagaimana pun

sebagai Panglima perang ia harus melindungi apa

yang menjadi tanggung jawabnya.

"Sebaiknya kita susul mereka saja" tegas Panglima tersebut.

Seorang prajurit mengantar dua ekor kuda,

satu untuk Panglima mereka sedangkan yang sa-

tunya lagi untuk Arung Garda. Orang yang baru

tergabung dalam pasukan itu.

Maka tidak lama kemudian berangkatlah

rombongan pasukan berkuda itu menyusul Lima

Utusan Akherat.

Sementara Lima Utusan Akherat saat itu

telah sampai di sebuah kota kecil Kemusuk. Ang-

gota yang terdiri dari berbagai daerah ini sedang melepas lelah. Sebagian diantara mereka ada

yang cari keterangan. Namun orang-orang ini se-

lain pimpinannya tidak mengetahui bahasa se-

tempat. Sehingga tidak jarang diantara penduduk





dengan para Utusan ini terjadi perdebatan sengit.

"Orang-orang biasa tidak mungkin tahu di

mana Pendekar lugu. Sebaiknya untuk mencari

seorang Pendekar, kita harus menghubungi

orang-orang persilatan golongan lurus" berkata pimpinan utusan dari Kapuas Hulu.

"Kita sendiri pendatang disini. Kita tidak

tahu yang mana golongan lurus dan golongan se-

sat." Sela Bias Pati wakil utusan dari Indera Giri.

"Segalanya memang terasa sulit, kita tidak

dapat membedakan mana kawan dan mana la-

wan" ujar Dunga, tokoh dari Madura.

Sedang mereka terlibat pembicaraan seper-

ti itu, tiba-tiba saja mereka mendengar derap sua-ra langkah kuda dalam jumlah cukup besar. Se-

makin lama suara langkah kuda semakin ber-

tambah jelas, hingga akhirnya terlihat sepasukan

prajurit kerajaan yang dipimpin oleh seorang

Panglima dan laki-laki berpakaian biasa.





LIMA


Rombongan berkuda itu berhenti tepat di

depan anggota Lima Utusan Akherat sebagai pen-

datang, tentu mereka bersikap ramah. Bahkan

kepala utusan Teluk Nibung, Datuk Pala menyapa

mereka dengan sikap penuh rasa hormat dan per-

saudaraan.

"Merupakan satu kehormatan, karena kami

bertemu dengan pasukan kerajaan pelindung ke-





tenteraman rakyat."

Panglima Arung Garda merengut, ia meng-

gebrakkan kudanya ke depan.

"Kalian siapa dan ada keperluan apa men-

ginjak tanah leluhur kami?" sentaknya dengan tatapan penuh rasa curiga.

"Kami Lima Utusan Akherat datang ke dae-

rah tuan bukan untuk mencari permusuhan, ka-

mi semata-mata ingin mencari persaudaraan se-

banyak-banyaknya." kata Dunga dengan logat

bahasa daerahnya yang kental. "Terus-terang agar Panglima tidak curiga, kami sebenarnya ingin

mencari Pendekar Lugu dan Anak Langit. Kami

melihat tanda-tanda untuk mencapai kedamaian

manusia di dunia. Dan tanda-tanda itu ada di

daerah tuan Panglima..."

"Ha ha ha... Kalian kira Pendekar Lugu

dan Anak Langit itu siapa? Mereka adalah orang-

orang buruan kerajaan sejak mereka memporak-

porandakan harta kekayaan hartawan Abdi Ban-

da. Jika kalian mengaku sebagai orang yang ingin

minta kejelasan tentang isi kitab Kedamaian Du-

nia. Maka ketahuilah bahwa kalian sesungguhnya

berpihak pada musuh kerajaan. Secara tidak

langsung kalian adalah musuh kami..." Panglima Arung Ganda mendengus sinis.

"Kami tidak cari permusuhan jauh-jauh

meninggalkan daerah kami. Kami juga merasa ti-

dak yakin orang yang ingin kami temui pembawa

angkara murka" potong Dunga tiba-tiba.

Mata panglima Arung Garda yang dingin





semakin bertambah dingin, sebaliknya Raja Tega

lebih dingin lagi.

"Sebaiknya kalian menyerahlah pada kami

untuk diadili. Jika kalian membangkang sungguh

kalian benar-benar menempuh jalan yang paling

sulit Kalian tidak bisa lari, kapal kalian sudah kami bakar"

"Ya, Allah, betapa kejamnya manusia ini"

desis Manggar Kesuma.

"Ya Tuhan, sungguh tidak kami sangka"

Utusan dari Kapuas Hulu dan Teluk Nibu meng-

gumam serentak.

"Semprul Tingkah laku mereka seperti Se-

rigala gila. Kapal-kapal kami mereka bakar..." se-ru Malai Berung pula.

"Pengawal Ringkus mereka hidup atau ma-

ti..." teriak Panglima Arung Garda disertai tawa tergelak-gelak.

Para pengawal yang selalu haus darah ini

mana mau membuang kesempatan lebih lama.

Mereka dengan masih tetap menunggang kuda

langsung menerjang anggota Lima Utusan Akhe-

rat dengan pedang terhunus.

Menghadapi serangan yang tidak pernah

mereka perkirakan ini, tentu saja Lima Utusan

Akherat tidak tinggal diam. Mereka pun cabut

senjata masing-masing untuk membela diri.

"Bagus Ternyata kalian bersenjata Dengan

begitu jelas bagi kami bahwa kalian adalah orang-

orang yang bermaksud merongrong kewibawaan

kerajaan kami"





"Tuan Panglima, sungguh tuduhanmu itu

merupakan sebuah fitnah yang paling keji" bantah Engku Bonang.

Percuma saja mereka membantah, suara

mereka hilang sia-sia. Yang terdengar adalah jerit kematian di sana-sini, serta denting beradunya

senjata tajam dari Lima Utusan Akherat dan pa-

sukan pihak kerajaan.

Di kedua belah pihak memang sudah mulai

jatuh korban. Tampaknya prajurit-prajurit kera-

jaan itu punya kemampuan hebat dalam mem-

pergunakan senjata. Sebaliknya demikian juga

halnya dengan anggota Lima Utusan Akherat. Ka-

rena begitu besarnya anggota Lima Utusan Akhe-

rat ini, maka dalam waktu singkat empat puluh

lima prajurit bergelimpangan.

Melihat kenyataan ini, mendidihlah amarah

Panglima Arung Garda. Ia segera memberi isyarat

pada si Raja Tega. Laki-laki bertopi daun kirai itu langsung meloloskan senjata maut berupa topi

bergerigi. Kehebatan senjata maut itu tidak perlu diragukan lagi, terlebih-lebih panglima memang

sudah pernah menyaksikannya.

Siing

Melesatlah senjata berwarna putih itu. Se-

kejap saja terdengar suara jerit dimana-mana. Se-

tiap topi maut itu disentakkan, maka kepala ang-

gota utusan menggelinding. Suara mendesing-

desing terus terdengar sebagai isyarat maut

Anggota Lima Utusan Akherat menjadi je-

rih, sebaliknya Dunga yang paling tidak sabar ini





segera memberi isyarat pada anggotanya untuk

menyingkir. Di sebuah tempat yang agak jauh

mereka mulai memasang pelontar peledak untuk

menghentikan keganasan Si Raja Tega.

"Sobat-sobatku, menepilah Kita datang

jauh-jauh ke sini bukan untuk membuang nyawa

percuma. Sebaliknya jika ada musuh menyerang

mengapa kita harus menolak?" dengus Dunga

sengit. Engku Bonang, Bias Pati, Datuk Pala Seri-

bu, Manggar Kesuma, Dendra, Malai Berung, Pati

Ubudana dan Kalingga Jati segera menyingkir.

Sementara anak buah mereka lari tunggang lang-

gang menyelamatkan diri.

Raja Tega yang tidak tahu kehebatan sen-

jata peledak itu tertawa mengekeh sambil jilati 
darah yang menempel di topi mautnya. Dalam

pada itulah berapa buah benda bulat melesat ke

arah mereka dan langsung meledak sekelilingnya.

Buum

Dar Dor Dar

Ledakan-ledakan yang terjadi menggun-

cangkan bumi. Panglima Arung Garda terlempar

dari kudanya. Sedangkan kuda tersebut hancur

berkeping-keping. Untung tubuh Panglima ini

kebal, sehingga badannya tidak hancur cerai be-

rai.

Raja Tega yang dibuat kalang kabut. Tu-

buhnya tidak kebal bahan peledak. Sehingga ia

sibuk menghindar kian kemari. Sampai kemudian

ia berlari menjauh sambil menahan geram.





"Panglima, kemari" teriak Raja Tega sambil leletkan lidah.

Panglima Arung Garda sambil memaki-

maki segera menghampiri Raja Tega. Nafasnya

mpis-mpisan, wajahnya sedikit pucat berselimut

debu. "Bangsat Mereka punya senjata aneh yang belum pernah kulihat seumur hidupku Kita harus melapor pada raja tentang bahaya ini" tegas Arung Garda.

"Hmm, begitu. Aku kurang setuju. Kau su-

dah membayar ku, sebagai orang bayaran tentu

aku punya seribu cara untuk menghancurkan

senjata peledak itu..." geram Raja Tega.

"Tidak usah ngotot, kita harus membicara-

kan hal ini pada raja. Jika nanti kata sepakat sudah didapat, kita bisa mengerahkan seluruh pra-

jurit yang ada untuk membinasakan mereka" ka-ta Panglima perang kerajaan Ujung Dunia.

Setelah berfikir sejenak, ternyata keputu-

san Panglima dapat diterima oleh Raja Tega.

Maka kemudian dengan mempergunakan

kuda yang masih selamat, berangkatlah kedua

orang itu menuju kota kerajaan. Begitu terge-

sanya mereka, hingga kuda itu dipacu laju ku-

rang laju. Lari kuda pun seperti seekor anjing

yang terbirit-birit.





***



Setelah Panglima Arung Garda dan Raja





Tega pergi. Maka rapat kilatpun dilakukan oleh

para pimpinan Lima Utusan Akherat Mereka ru-

panya menjadi cemas setelah bentrok dengan

panglima tadi.

"Urusan kita bisa jadi menyimpang karena

peristiwa berdarah tadi. Panglima itu pasti kem-

bali ke kerajaan Bala tentara segera datang ke-

mari. Dan kita telah melakukan kesalahan besar"

ujar Bias Pati.

"Kesalahan apa?" sergah Dunga. "Kita wajib membela diri. Kejadian-kejadian ini sudah ku-

duga, untuk itu sebelum berangkat aku telah

mempersiapkan segala sesuatunya."

"Kau membawa-bawa peralatan perang

termaju, hal itu hanya menimbulkan dugaan-

dugaan yang tidak baik bagi daerah yang kita da-

tangi" kata Dendra agak tegang.

"Menurutku berangkat ke suatu tempat

tanpa perbekalan yang cukup, kita bisa mati sia-

sia. Orang mana mau perduli dengan tujuan baik

kita. Coba kalau aku tadi tidak mempergunakan

bahan peledak. Apakah kalian pikir senjata maut

milik pembunuh berdarah dingin tadi tidak

menghabiskan anggota kita. Kalian lihat betapa

kejamnya orang itu" sahut Dunga membela diri.

"Hmm... kata kawan kita memang benar.

Kita tidak perlu tarik urat leher sambil plotot-

plototan. Sesama sendiri harus banyak sabar, ka-

lau nasib buruk menimpa kita, namanya suratan

nasib," kata Pati Ubudana.

"Sekarang kita kembali ke tujuan semula"





Bias Pati menengahi. "Kita lanjutkan saja perjalanan. Isi surat Kedamaian Dunia harus kita keta-

hui, Pendekar Lugu harus ditemukan, sementara

kita juga berharap dapat bertemu dengan Anak

Langit"

Tiada bantahan lagi, kata sepakat dengan

tujuan semula tampaknya sudah mereka temu-

kan. Maka para pimpinan utusan ini bangkit ber-

diri. Selagi mereka belum menentukan arah mana

yang akan mereka tempuh. Tiba-tiba terdengar

seruan terkejut tidak jauh di depannya.

"Ya Gusti Allah, apa yang terjadi disini

Mayat-mayat ini sungguh menyedihkan Huk huk

huk. Ada yang tubuhnya hancur, ada pula yang

kepalanya tanggal."

Para Utusan ini serentak memandang ke

arah datangnya suara. Saat itu anggota mereka

hanya tinggal sekitar dua ratus orang saja.

Ternyata lebih kurang sepuluh batang

tombak dari mereka telah berdiri seorang pemuda

bertampang aneh seperti kodok, memakai cawat,

perut bundar tubuh pendek. Di sampingnya seo-

rang gadis memakai baju hitam ketat berwajah

cantik mendampingi. Perbedaan antara gadis

dengan pemuda membawa keranjang di pung-

gungnya itu memang seperti langit dengan bumi.

Yang satu jelita berkulit putih, sedangkan sa-

tunya jelek pendek berkulit hitam. Mereka berdua

tidak lain adalah Raja Kodok dan Puspita Sari.

Raja Kodok melompati mayat-mayat itu,

sedangkan Puspita mengikuti tidak jauh di bela-





kangnya.

"Kalian ini siapa Kisanak-Kisanak?" tanya Raja Kodok terheran-heran.

Pimpinan para utusan ini menjura hormat

pada pemuda pendek jelek berkulit hitam. Lalu

salah seorang diantaranya mewakili....

"Kami 'Lima Utusan Akherat"

"Lima Utusan Akherat"

"Ya..."

"Kalian orang asing?" tanya Raja Kodok, matanya yang bulat berputar-putar seperti mata

boneka.

"Ya..." sahut Dunga.

"Lalu mayat-mayat itu? Kulihat ada juga

mayat prajurit kerajaan. Apa sebenarnya yang te-

lah terjadi disini?" tanya Puspita pula.

Kemudian Dunga menceritakan duduk

persoalan yang sebenarnya, juga tentang tujuan

mereka datang ke tanah Jawa.

Puspita kaget sekali mendengar penuturan

Dunga. Ia tidak menyangka masalah Surat Keda-

maian Dunia yang tersimpan dalam kitab kecil itu

di ketahui oleh orang lain.

"Sungguh sulit kupercaya" desis Puspita.

"Kami diutus oleh para pemuka agama, tu-

gas kami bukan untuk mengambil kitab itu dari

tangan yang berhak, kami hanya ingin mengeta-

hui isinya saja"

"Mungkin anda dapat membantu kami me-

nemukan Pendekar Lugu agar kami dapat mena-

nyakan duduk pangkal yang sebenarnya" pinta





Dendra penuh harap.

"Orang-orang ini baru pertama bertemu den-ganku. Mungkinkah aku memberitahukan pada

mereka bahwa aku kenal dengan Pendekar Lugu?"

memikir Puspita. "Tapi kelihatannya mereka orang baik-baik."

"Bagaimana, apakah anda bersedia mem-

bantu?" Dendra mengulangi pertanyaannya.

"Baiklah, aku sekarang tidak meragukan

kejujuran kalian. Aku memang mengenal Pende-

kar Lugu, bahkan Raja Kodok juga mencarinya.

Dan saat ini aku tidak tahu dia berada dimana,

kupikir ia dan Pendekar Blo'on sedang menuju ke

kerajaan Ujung Dunia. Akan ada keramaian di

sana. Itu pun kalau mereka selamat di tangan

Datuk Alam Salindra."

"Apa maksudmu?"

"Panjang ceritanya, yang perlu kalian tahu.

Ketika ku tinggalkan Pendekar Lugu menemui ke-

sulitan besar. Tapi kawanku Suro Blondo datang

membantu, mudah-mudahan saja mereka sela-

mat" jelas Puspita.

"Untuk keperluan apa mereka datang ke

Kerajaan Ujung Dunia? Bukankah di sana tempat

kediaman raja yang Zalim?" bertanya Manggar

Kesuma dengan perasaan tidak mengerti.

"Akan terjadi peristiwa besar disana, dima-

na kitab berisi surat Kedamaian Dunia di buka,

Anak Langit hadir begitu juga Sang Maha Sesat

yang tidak suka adanya kitab itu."





Pimpinan para utusan itu saling pandang

sesamanya.

"Urusan semakin kacau Kerajaan telah

mencap kita sebagai pendatang yang telah mela-

kukan kejahatan. Lalu apa pendapat kalian?"

tanya Dunga ditujukan pada ketua Empat Utusan

lainnya.

"Langkah jauh sudah kita tempuh. Anak

Langit memilih tempat itu tentu juga karena ia ingin melihat berjalannya hukum bagi sang raja

dan hartawan yang disebut-sebut oleh Panglima

tadi" "Apakah nona dapat mengantar kami?"

"Hi hi hi Kebetulan kami sendiri memang

tengah menuju ke sana. Jika kalian mau sebaik-

nya kita berangkat bersama-sama"

Lima Utusan Akherat langsung setuju. Se-

mentara Raja Kodok berbisik pada Puspita.

"Aku tidak suka melihat manusia macam

dodol itu. Badannya gemuk seperti badanku"

Orang yang dimaksudkan Raja Kodok tidak

lain adalah Kalingga, utusan dari Ujung Kulon.

"Hussst, jangan menghina orang lain. Se-

panjang dia tidak punya maksud jahat, bukankah

dia makhluk Tuhan juga." sahut Puspita sambil berbisik pula.

"Aku sendiri sudah benci pada badan sen-

diri. Ditambah kehadirannya jadi kebencian ku

berlipat-lipat. Aku jadi tidak enak, nih. Kalau

orang macam dodol itu nanti berguru pada Pen-

dekar Lugu, aku pasti tidak tinggal diam. Aku ti-





dak suka ada orang lain meniru-niru badanku,

seperti hartawan keparat itu misalnya..."

"Sudahlah, jangan membesar-besarkan

masalah kecil. Sekarang sebaiknya kita ikuti me-

reka, bukankah semakin banyak kawan, kita ti-

dak terlalu repot menghadapi tentara kerajaan

berikut para pembesarnya?"

Raja Kodok katupkan bibirnya yang agak

dower rapat-rapat, ia menganggukkan kepala

"Saudara semua." kata Puspita lantang.

"Sebaiknya kita berangkat sekarang. Ingat, jika tujuan kalian ingin bertemu dengan Pendekar Lu-gu maka apa pun yang menghadang di depan ki-

ta, kita harus bahu membahu mengatasinya"

"Beres" sahut para Lima Utusan Akherat.

Tidak lama kemudian berangkatlah para

utusan ini dipimpin oleh Puspita dan Raja Kodok.





ENAM


Kereta kuda bermuatan penuh tampak ber-

lari kencang. Di depan kereta duduk seorang laki-

laki tua baju putih berambut serba putih. Wajah-

nya sedih dan berselimut debu-debu jalanan.

"Harta tidak berguna" Si kakek menggeru-tu. "Lebih baik nanti ku taburkan di kerajaan.

Masa' orang yang sedang perang tidak tergiur,

mustahil sekali. Menghadapi pasukan besar ha-

rus pakai akal pakai cara, agar tidak rugi. Hi hi hi... aku sedih. Malaikat Penderitaan sedih, se-





mua sedih terkecuali setan-setan gentayangan ti-

dak pernah sedih" kata si kakek sambil menggebah kuda penghela kereta.

Orang yang duduk di atas kereta kuda ini

tidak lain adalah Malaikat Penderitaan menarik

nafas dalam-dalam. Semula laki-laki ini memang

bermaksud langsung menuju ke kota Ujung Du-

nia, ia tinggalkan Suro dan Puspita yang saat itu berada di dalam gudang harta. Namun di tengah

perjalanan terlintas satu akal dibenaknya. Jika

harta itu dipergunakan untuk memancing perha-

tian seandainya terjadi pertempuran nanti. Tentu

para prajurit yang rakus itu akan terpecah perha-

tiannya.

Maka tanpa menunggu lagi Malaikat Pen-

deritaan langsung berbalik. Ia mengambil sebuah

kereta kuda kemudian membawanya ke hutan la-

rangan. Sayang ketika ia sampai disana, ia tidak

melihat Pendekar Konyol dan kawannya. Seba-

nyak-banyaknya harta benda tadi dibawanya, wa-

laupun tetap tidak terangkut keseluruhannya.

Tidak lama kemudian berangkatlah Malai-

kat Penderitaan meninggalkan hutan Larangan.

Kurang lebih setengah hari melakukan per-

jalanan, di sebuah tempat yang cukup sepi Malai-

kat Penderitaan terpaksa hentikan kereta ku-

danya. Keningnya berkerut, ia melihat seorang

wanita muda berpakaian minim sekali tergeletak

di tengah jalan dalam keadaan sekarat.

Yang membuat Malaikat Penderitaan curiga

dari kejauhan tadi ia tidak melihat siapa-siapa di





situ. Padahal jalan lurus, apapun yang berada di

depannya pasti terlihat dengan jelas.

Walau pun demikian Malaikat Penderita

terpaksa turun dari kudanya ketika melihat pe-

rempuan berpakaian merangsang melambaikan

tangannya.

"Tu... tuan... Tolonglah beri aku sedikit air.

Aku sangat haus dan lapar sekali" rintihnya dengan suara memelas.

Si kakek mengambil air, kemudian membe-

rikannya pada si gadis. Setelah minum air terse-

but tidak disangka-sangka ia bangun, dan lang-

sung merangkul Malaikat Penderitaan. Tentu saja

kakek bermata awas ini langsung menepisnya dan

melompat menjauh.

"Tuan..." desahnya dengan tatapan ma-

tanya yang sayu. "Saya tidak mengharap balasan apa-apa, semua ini saya lakukan demi membalas

kebaikan tuan yang telah memberi ku air kehidu-

pan." "Aku tidak meminta balasan apa-apa. Ber-terima kasihlah pada Tuhan" seru si kakek.

Baru disebut kata 'Tuhan', maka gadis itu

tampak belalakkan matanya. Ada yang berubah

lewat tatapan matanya, sorot mata itu penuh ke-

bencian. Tidak lama terciumlah bau Bunga

Mayat, bau bunga stanggi, bau kemenyan yang

sedemikian menusuk.

Malaikat Penderitaan tiba-tiba bicara den-

gan suaranya yang menyentak.

"Kau... kau pasti Sang Maha Sesat Terak-





hir naluri ku mengatakan kau telah mempenga-

ruhi hartawan Abdi Banda. Kau janjikan ia tidak

akan pernah mengalami kematian, padahal sia-

papun tidak dapat membantah bahwa setiap

makhluk yang bernyawa pasti bakal mengalami

kematian Hu hu hu..." kakek itu itu tertawa, namun suara tawanya seperti orang menangis,

sedih menghiba-hiba.

"Hi hi hi... Bagus kalau kau mengetahui

siapa aku makhluk antara ada dan tiada. Hidup-

mu terombang ambing dalam ketidak pastian.

Kau tentu sangat gelisah pada manusia yang se-

makin lupa menyembah Tuhannya. Mereka lebih

cenderung menempuh jalan yang salah seperti ja-

lanku. Ini merupakan suatu bukti secara tidak

sadar bahwa sesuatu yang menyesatkan, sesuatu

jalan yang membuat manusia terjerumus ke ne-

raka sangat disukai oleh manusia. Nah... aku ti-

dak banyak cingcong, serahkan surat Kedamaian

Dunia padaku Cepat serahkan..." perintah Sang Maha Sesat yang telah menjelma menjadi gadis

cantik berpakaian merangsang itu tegas.

"Kakek moyangnya iblis, biangnya setan

Sesungguhnya kau adalah makhluk yang terlak-

nat karena kesombonganmu dulu. Surat Keda-

maian Dunia hanya Anak Langit yang berhak

membukanya dan memberitakan isinya pada se-

tiap manusia. Meskipun sekarang kitab berisi su-

rat itu ada padaku. Namun aku tidak akan mem-

berikannya pada siapapun meskipun jasad ka-

sarku menjadi taruhannya" tegas Malaikat Pen-





deritaan.

"Hmm, begitu? Aku jadi ingin tahu apakah

kau mampu mempertahankannya?" dengus Sang

Maha Sesat tidak kalah sinisnya.

Sebagaimana telah kita ketahui, Sang Ma-

ha Sesat mengiringi hartawan Abdi Banda sampai

ke istana raja Ujung Dunia. Setelah berada disana rupanya hartawan itu gelisah tentang keselamatan kitab yang dulu diambilnya dari seorang Kyai

Akbar Abadi di tempat pengasingannya. Untuk itu

ia minta tolong pada Sang Maha Sesat untuk

mengambil barang yang Maha penting tersebut.

Sebagai makhluk yang tercipta dari api, tentu ia

dapat bergerak cepat. Tidak sampai sekedipan

mata, maka sampailah Sang Maha Sesat digu-

dang penyimpanan harta di hutan larangan. Tapi

apa yang dicarinya telah hilang. Ia jadi curiga, ketika ia kembali maka terlihatlah iringan kereta

kuda yang dihela oleh seorang kakek tua. Dengan

kekuatannya yang dahsyat ia dapat mengetahui

bahwa barang yang dicari-carinya ada pada si ka-

kek yang tidak lain adalah Malaikat Penderitaan.

Maka menjelmalah dia sebagai seorang gadis pen-

gembara yang kelaparan.

Kini gadis cantik berpakaian merangsang

itu sudah menggerak-gerakkan tangannya ke

udara. Maka sekejap saja telah tercipta kabut

yang kemudian berubah menjadi algojo-algojo

pembunuh yang sangat kejam.

"Bunuh dia Bunuh... bunuh... bunuh" perintah Sang Maha Sesat.





Sepuluh orang algojo yang tercipta dari

asap menyerang Malaikat Penderitaan. Walau pun

algojo-algojo ini menyerang tanpa memperguna-

kan senjata, namun setiap serangan mereka me-

nebarkan asap tipis. Asap inilah yang sangat ber-

bahaya karena mengandung racun yang dapat

melumpuhkan orang.

Malaikat Penderitaan tentu tidak mau me-

layani serangan algojo-algojo ciptaan ini dari jarak dekat. Ia melompat mundur ke belakang. Tokoh

sakti ini kemudian putar-putar tangannya di atas

kepala. Bibirnya berkomat-kamit. Terdengar sua-

ranya di sela-sela isak tangisnya, suara antara

doa dan penyesalan....

Demi Zat yang jiwa seluruh makhluk berada

dalam genggamanNya

Sesungguhnya aku ini adalah orang yang

sangat kejam pada diri sendiri....

Jangan Kau jadikan diriku di antara golon-

gan orang-orang yang merugi

Jadikan diriku dari salah satu orang yang

Kau tunjuki jalan lurus, bukan jalan yang

menyesatkan....

Palingkan aku dari godaan makhluk yang

Maha terkutuk ini....

Engkau Maha perkasa lagi Maha Gagah,

bagiMu tempat aku minta pertolongan....

Maka enyahkanlah dia dari jalan yang ku-

tempuh...

"Hiya..."





Malaikat Penderitaan tiba-tiba hentakkan

kedua tangannya ke sepuluh penjuru arah. Ada

angin dingin menderu, antara rasa ada dan tiada

namun pasti.

Angin bersiut, cahaya putih menerabas

hanya berupa lintasan kilat, sekejap namun bera-

kibat sangat fatal. Dentuman keras terdengar, su-

ara jeritan-jeritan dalam kegaiban terdengar pula.

Sepuluh algojo yang tercipta dari kabut lenyap.

Kini yang tertinggal hanya Sang Maha Sesat beru-

jud seorang gadis cantik berpakaian tipis mem-

bayang auratnya.

"Hmm, ternyata kau boleh juga, Malaikat

Penderitaan. Kali ini kau benar-benar akan ku-

buat menderita" dengus si gadis.

Sepuluh jari terkembang, dari setiap ujung

jemari tangan itu meluncurlah lidah api menye-

rang Malaikat Penderitaan. Kakek tua berpakaian

putih berambut putih pejamkan matanya.

"Gusti Allah Sesungguhnya aku lemah.

Engkau yang menciptakan api dan Engkau Maha

Berkehendak, aku berlindung padamu dari tipu

daya makhluk ini..." desis si kakek seperti orang yang berdoa.

Sepuluh lidah api menghantam tubuh Ma-

laikat Penderitaan. Keanehan terjadi. Tubuh Ma-

laikat Penderitaan memancarkan cahaya putih

berpedar-pedar. Tapi sedikit pun api itu tidak

membakar tubuh si kakek. Bahkan pakaian yang

melekat di tubuhnya tetap utuh.

Di lain waktu Malaikat Penderitaan meng-





guncangkan kepalanya. Lalu sepuluh lidah api

kembali berbalik menyerang Sang Maha Sesat.

Gadis jelita itu menghindar dengan gerakan lak-

sana kilat. Sembilan lidah api dapat dielakkan-

nya. Lidah api itu terus meluncur kemudian

menghantam bukit di belakangnya.

Buuum

Ledakan keras membuat bukit berlubang

besar seperti kawah gunung. Jika manusia yang

terkena serangan itu tubuhnya pasti berkeping-

keping. Satu lagi lidah api ditepisnya sehingga

padam dan tidak menimbulkan bekas sama seka-

li.

"Bangsat Hiya..." teriak Sang Maha Sesat Murka. Tiba-tiba saja tubuhnya melesat ke depan.

Di saat itulah Malaikat Penderitaan berputar-

putar. Tubuhnya bagaikan angin puyuh yang siap

memporak-porandakan apa saja yang dilaluinya.

Kemudian seleret sinar putih menggulung tubuh

si gadis.

Terdengar nafas terengah-engah. Namun

keanehan terjadi, tubuh si gadis berubah besar

dan semakin tinggi. Bertambah tinggi menjulang

ke langit ujudnya juga berubah menjadi sosok

mengerikan. Makhluk yang tercipta dari api itu

kemudian memberontak dari kungkungan sinar

putih yang membelenggunya dengan ketat. Apa

yang dilakukannya tidak sia-sia, ia pun terlepas.

Ujudnya melayang di angkasa. Inilah ujud yang

paling buruk mengerikan yang sangat jarang lihat





oleh manusia.

Lalu terdengar suara tawa Sang Maha Se-

sat seakan merobek langit, meruntuhkan hampa-

ran gunung-gunung di sekitarnya.

"Hi hi hi Ha ha ha... Malaikat Penderitaan, engkau orang yang tidak pernah berpaling dari

Gusti Allah. Kau hebat walau pun aku belum bisa

dikatakan kalah. Perlu kau catat, aku akan

menggoda semua manusia sepanjang jaman. Aku

akan goda mereka sampai nyawa di tenggorokan,

mereka kelak akan menjadi pengikut-pengikut ku

di neraka Ingat, aku akan hadir dalam berbagai

rupa berbagai persoalan" Sang Maha Sesat kembali tertawa. Sosok mengerikan itu kemudian be-

rubah menjadi kabut. Kabut itu secara perlahan

mulai lenyap hingga akhirnya hilang sama sekali.

Malaikat Penderitaan terduduk lesu. Lalu

ia menangis tersedu-sedu. Tubuhnya terguncang

dan tangisnya semakin lama semakin bertambah

keras. Di sela-sela isak tangisnya itu terdengarlah suaranya yang terbata-bata seakan bicara pada

dirinya sendiri.

"Ya Gusti Allah, jika manusia tahu sebu-

ruk-buruknya wajah. Itulah wajah bapak

moyangnya setan. Tapi mengapa manusia memi-

lih jadi pengikutnya? Padahal sudah jelas neraka

adalah tempat kembali seburuk-buruknya Oh...

moga saja surat yang kubawa ini mengandung

hikmah kebenaran"

Malaikat Penderitaan usap matanya bebe-





rapa kali. Kemudian ia menghampiri kereta ku-

danya. Tidak lama ia pun sudah meneruskan per-

jalanannya menuju kota raja Ujung Dunia.





***



Balairung pertemuan itu sekarang menjadi

tempat tertumpahnya kemarahan seorang raja

yang kejam. Wajah-wajah yang penuh takut, ke-

pala-kepala yang patuh itu tertunduk dalam

"Aku tidak suka melihat orang asing jual

lagak didaerah orang lain. Ini merupakan penghi-

naan besar yang tidak dapat dimaafkan" kata ra-ja Lalim Durjana di depan pembesar, pejabat

tinggi, panglima dan patih kerajaan. Nada sua-

ranya meninggi pertanda amarahnya sudah me-

muncak.

Sejurus ia berpaling pada Panglima Arung

Garda. Lalu....

"Panglima Persiapkan sebagian armada pe-

rang kita. Mereka tidak perlu dikasih hidup,

musnahkan mereka semua dan bawa kepala pim-

pinan Lima Utusan Akherat kehadapanku"

"Perintah kami laksanakan paduka." sahut Panglima Arung Garda mantap.

"Kau, orang yang baru bergabung dengan

kami Kau punya julukan keren amat. Aku ingin

melihat kebolehan mu, untuk itu kau tetap bera-

da di istana ini. Aku takut sewaktu-waktu orang

yang tidak kita harapkan menyerbu kemari..."

kata Lalim Durjana ditujukan pada Raja Tega





"Ha ha ha... Paduka tidak usah ragukan

kemampuan saya. Saya akan mengatasi persoa-

lan disini sebagaimana yang paduka harapkan"

jawab Raja Tega.

Sang raja anggukan kepala. "Sekarang kau

berangkat, Panglima..." perintah baginda seakan tidak sabar.

Tidak lama kemudian berangkatlah Pan-

glima Arung Garda memimpin tidak kurang tiga

ratus tentara kerajaan bersenjata lengkap. Mere-

ka memang tampak seperti tergesa-gesa sekali.

Sementara itu masih di ujung jalan besar kotaraja Ujung Dunia, tampak dua orang pemuda yang sa-tu berpakaian biru dan berbaju putih sedang ber-

jalan melenggang.

Pemuda baju putih bertampang lugu seper-

ti bayi tanpa dosa. Sedangkan yang baju biru ti-

dak lain adalah si konyol. Lagaknya celingak-

celinguk sambil garuk-garuk kepala. Terkadang ia

nyengir sendiri dengan mulut termonyong-

monyong.

Rupanya ia merasa heran juga melihat su-

asana kota yang lengang dan tidak terlihat kesi-

bukan sebagaimana mestinya kota-kota besar.

"Sobatku Kita ini sedang berada di kubu-

ran atau dimana?" tanya Si Bocah Ajaib sambil menyeka keningnya.

Pendekar Lugu menoleh, memandang he-

ran pada si geblek di sampingnya yang selalu

membuat geli di sepanjang perjalanan.

"Apa maksudmu, saudaraku?" bertanya





Wahyu Sakaning Gusti.

"Kota besar kok sepi begini? Apa penghuni

kota pada tidur, atau mereka memang tidak bera-

ni keluar?"

"Wah mana aku tahu. Kurasa banyak

penghuni kota ini yang pindah tempat. Karena

mereka bukan keong tentu saja rumahnya diting-

galkan"

"Entah mengapa perasaanku tidak enak.

Aku seperti diawasi oleh berpasang-pasang mata

yang sangat misterius" kata Suro dengan mulut monyong-monyong.

"Segala sesuatu yang meragukan, sebaik-

nya kau hilangkan dari hatimu" Pendekar Lugu menasehati.

"Menghilangkan bagaimana? Apa hatiku

musti dicopot?"

"Tolol kau pelihara. Kalau hatimu dicopot

tentu kau tidak lagi punya perasaan dan cinta"

sahut Pendekar Lugu seadanya.

"Cinta itu artinya kan Cium itu nanti tau akibatnya' , wah padahal itu-nya yang sangat menyenangkan. Ha ha ha..."

"Pendekar goblok, kau harus selalu ingat

pada siapa kau bicara?" tegas Pendekar Lugu.

Suro bersungut-sungut dan katupkan bi-

birnya rapat-rapat. Mereka terus melangkahkan

kakinya menelusuri jalan besar berbatu halus

tersebut

Namun mendadak Suro Blondo hentikan

langkahnya. Telinganya yang sudah sangat terla-





tih itu mendengar suara langkah kuda yang dipa-

cu cepat ke arah mereka.

"Aku mendengar ada kuda menuju kemari.

Sebaiknya kita bersembunyi" usul si konyol.

"Tapi aku tidak melihat apa-apa?"

"Tentu saja tidak kau lihat, Sobatku. Di

depan itu kan tikungan jalan"

"Coba kita tunggu saja" Pendekar Lugu

bersikeras.

"Walah kau ini kok bandel sekali. Mari..."

Suro terpaksa menjewer telinga Pendekar Lugu

hingga pemuda itu mengikuti kemana pun Pen-

dekar Blo'on bergerak.

Kalau bukan Pendekar Blo'on murid Peng-

hulu Siluman Kera Putih dan cucu sekaligus mu-

rid Malaikat Berambut Api yang memperlakukan-

nya begitu, pasti Suro sudah ditendangnya. Ia

maklum, pemuda berambut hitam kemerahan ini

bocah ngeblek, sinting dan penuh keedanan.

Ternyata tidak lama kemudian dari tempat

bersembunyian di balik tembok rumah penduduk

mereka melihat serombongan besar pasukan pe-

rang menuju keluar kota. Wahyu Sakaning Gusti

saling berpandangan dengan Pendekar Blo'on.


TUJUH


"Menurutmu mereka mau kemana, sauda-

raku?" tanya Pendekar Lugu.

Suro menggerutu dengan mulut terpencong





"Tentu saja perang, masa mau pergi kondangan,"

dengus Suro dengan mata mendelik.

"Galak amat?"

"Habisnya kau Pendekar Goblok sih"

"Iya sama, kau juga Pendekar gendeng"

balas Pendekar Lugu.

Selagi mereka sedang berpikir untuk me-

nentukan langkah selanjutnya. Tiba-tiba saja di

balik tembok menyeruak tiga ekor anjing dan

memburu ke arah mereka berdua.

"Weih gila... Dia mau menggigit kita..." desis Pendekar Lugu yang pantang bersentuhan

dengan anjing. Pemuda ini langsung berlari tung-

gang langgang, kini Suro yang jadi sasaran. Tidak sempat berpikir lagi si konyol pun lari terbirit-birit. Kawanan anjing tadi terus mengejar, eeh,

Suro baru ingat bahwa ia punya ajian Kilat

Bayangan.

Bet

Sekelebatan saja tubuhnya pun lenyap. Ke-

tiga ekor anjing yang menyerang jadi melongo.

"Bangsat betul Dasar binatang, ketahuan

orang masih hidup sudah diminta tulangnya" gerutu Suro Blondo sambil garuk-garuk kepala.

Kedua orang ini kemudian mendekati tem-

bok istana yang cukup tinggi. Di setiap sudut

tembok terdapat menara, di atas menara itulah

terlihat pengawal-pengawal bersenjata lengkap

tampak bersiap siaga.

"Benteng istana ini tingginya bukan main.

Kita sama saja dengan dua ekor tikus yang ma-





suk perangkap. Dua katak mau melawan lembu"

kata Suro sambil mondar-mandir di depan Pen-

dekar Lugu.

"Tapi sebagian pasukan pergi dari istana.

Bagaimana jika kita menyusup ke dalam?" tanya Pendekar Lugu.

"Sebagian pasukan pasti bertahan dalam

benteng. Namun apa pun yang terjadi kita harus

tangkap raja dan hartawan Abdi Banda. Gendut

jelek itu harus mempertanggung jawabkan perbu-

atannya terhadap Puspita. Aku juga sudah ber-

janji di depan mayat isterinya akan mentatto dada Abdi Banda dengan tongkat yang paling besar di

dunia He he he..." Suro terkekeh-kekeh.

"Tongkat?" gumam Pendekar Lugu dengan

kening berkerut.

"Iya, itu lho senjata maut yang dapat mem-

besar dan mengempis" sahut si konyol sambil nyengir.

Pendekar Lugu geleng-gelengkan kepala

sambil mengurut dada.

"Dari pada bicara nggak karuan, sebaiknya

kita bergerak sekarang?"

"Hmm, aku mendukungmu, kuharap kali

ini kau tidak menjadi beban bagiku..."

Wahyu Sakaning Gusti diam saja. Benteng

setinggi empat batang tombak ini ia lewati. Kedua pemuda ini di lain waktu sudah berada di dalam

tembok benteng.

Ternyata seperti yang mereka duga, di da-

lam benteng itu banyak prajurit-prajurit bersenja-





ta lengkap. Mereka menyelinap, belum apa-apa

sudah ketahuan.

"Hei berhenti..." teriak salah seorang pengawal. "Tuh kan... kubilang apa, ketahuan juga akhirnya..." kata Si Bocah Ajaib. Mereka sama sekali tidak bergerak, namun Suro tetap dalam

posisi semula. Tiga orang pengawal dengan senja-

ta terhunus tergesa-gesa menghampiri. Di saat

mereka berada dalam jarak satu tombak ketika

itulah Pendekar Mandau Jantan ini berbalik dan

lepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir".

Sinar putih menderu, lalu menghantam ke-

tiga prajurit itu. Mereka menjerit keras dan terhempas. Melihat kawan-kawannya tersungkur ro-

boh maka yang lain-lainnya pun datang menye-

rang. "Sobat Lugu, kita sikat mereka Inilah pesta liar yang sangat aku tunggu-tunggu dan..."

Suara Suro terhenti ketika sebuah mata

tombak menyodok mulutnya. Sedangkan dua

lainnya mengarah perut serta dada, dari bela-

kangnya menderu pula dua buah pedang siap me-

robek punggungnya.

"Hmm, prajurit-prajurit ini memang pantas

digebuk mampus Heaa..."

Suro Blondo melompat ke udara, ia kerah-

kan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu', sebentar sa-

ja begitu kakinya menjejak ke tanah Suro sudah

melompat, kemudian ia berjingkrak, melompat,

berjongkok sambil garuk-garuk kepala atau ke-





dua tangannya mencakar-cakar.

Mulut pemuda itu pletat pletot, tiba-tiba

saja ia melompat, tangannya menghantam ke tiga

arah sekaligus.

Buk

"Akh..."

Tiga orang prajurit menjerit keras, mulut-

nya menyembur darah. Tapi yang datang semakin

bertambah banyak. Suro tentu tidak ingin dirinya

menjadi sasaran hujan senjata. Ia pun semakin

memperhebat gerakannya.

"Nguk Nguk... Nyiet... Nyiet..."

Gerakan menghindar yang dilakukan Si

Bocah Ajaib memang tampak lucu terkadang

terkesan asal-asalan saja, tidak jarang bahkan ia jungkir balik seperti orang yang sedang main sirkus. Namun sehebat-hebatnya serangan para pra-

jurit itu, namun tidak satu pun senjata lawan

mengenai sasarannya.

"Pendekar Lugu, aku bosan melihatmu ma-

sih tetap memberi hati pada prajurit setan itu.

Mengapa menghindar terus, bunuh mereka" te-

riak Suro.

Pemuda baju biru ini akhirnya memu-

tuskan untuk mengambil tindakan yang sangat

tepat. Tiba-tiba ia melepaskan pukulan 'Matahari

dan Rembulan Tidak Bersinar'.

"Haiyaa..."

Jeritan Suro disertai dengan melesatnya

sinar redup berwarna biru ke delapan penjuru

arah sekaligus. Kemudian pukulan itu secara te-





lak menghantam prajurit-prajurit yang menge-

royoknya. Puluhan prajurit berpelantingan roboh.

Mayat mereka tumpang tindih, kalau pun ada

yang setengah mati terkena pukulan Suro, maka

nyawa mereka akhirnya putus juga karena di-

himpit kawannya yang sudah mati.

Kelihatannya pemuda berambut hitam ke-

merahan ini terus mengumbar pukulan mautnya

sehingga lawan-lawannya tidak berani menge-

royok dalam jarak yang sangat dekat. Dalam pada

itulah terdengar suara teriakan.

"Panah..."

Maka hujan panah pun bertubi-tubi meng-

hantam tubuh Pendekar Blo'on dan Pendekar Lu-

gu. Pemuda ini sambil melompat-lompat menco-

pot bajunya. Baju itu kemudian dikebutkan dan

diputar-putar sehingga menderulah angin yang

membuat panah-panah itu berbalik ke arah pemi-

liknya. Maka prajurit-prajurit yang di atas menara pun berjatuhan. Suasana tiba-tiba saja berubah

kacau. Prajurit-prajurit yang mengeroyok Pende-

kar Blo'on dan Pendekar Lugu berhamburan ke

arah lain.

"Emas... emas... hujan emas..." seru prajurit-prajurit itu. Mereka berserabutan mengambil

emas-emas berharga itu. Sehingga mereka sudah

tidak menghiraukan lagi adanya dua lawan di si-

tu. Pendekar Lugu yang tidak pernah membunuh

ini langsung menotok dengan gerakan yang cepat.

Sehingga sebentar saja puluhan prajurit sudah





dibuat kaku. Nasib prajurit ini masih tergolong

untung, karena Pendekar Lugu hanya menotok-

nya tanpa membunuh. Lain lagi yang dilakukan

oleh Suro Blondo, begitu prajurit-prajurit berebut emas yang bertebaran bagaikan hujan, ia langsung memungut salah satu pedang yang tergele-

tak dekat kakinya. Dengan punggung pedangnya

yang tebal itu, maka digetoknya setiap kepala prajurit yang seakan lupa daratan dalam memungut

emas. Prajurit-prajurit itu ada yang bergelimpan-

gan, ada pula yang tersungkur. Tidak jarang pula

yang kelenger atau mampus dikemplang pung-

gung pedang di tangan Suro.

Hampir enam puluh orang prajurit dibuat

tidak berdaya. Tiba-tiba di atas tembok terdengar suara tawa tapi seperti orang yang menangis.

"Prajurit-prajurit itu masih banyak lagi

jumlahnya Lihatlah, mereka terpedaya oleh kese-

nangan dunia yang cuma sedikit" berkata kakek berambut putih, Malaikat Penderitaan

Melihat kehadiran Malaikat Penderitaan.

Maka meledaklah tawa si konyol.

"Ha ha ha... Kat... Malaikat... kau datang

tepat waktu Aku senang kau ke sini. Yang mem-

buat aku kurang senang, mengapa kau curi harta

benda milik hartawan gemblung ini. Apakah per-

buatanmu bukan salah satu dosa?"

"Aku hanya mengambil, bukan untuk ke-

pentinganku. Tapi untuk kepentingan menegak-

kan keadilan. Ini suatu contoh, betapa lemahnya





manusia itu. Baru melihat harta mereka, mening-

galkan pertempuran, sungguh mereka termasuk

dalam golongan orang-orang yang berpaling hu

hu... Aku sedih."

"Hei, kakek yang tertawa tapi seperti me-

nangis. Menangis tapi seperti tertawa. Apakah

anda ingin membantu kami Sungguh aku meng-

harapkan bantuanmu. Pendekar Lugu sama seka-

li tidak membantu, sebab dia selalu kasihan pada

musuh..."

Suara si konyol terputus, sementara ratu-

san prajurit lainnya telah mengurung mereka

dengan rapat. Maka datanglah para pentolan is-

tana. Mereka itu tidak lain adalah Patih Lura-

gung, Raja Tega, Raja Lalim Durjana dan tidak

ketinggalan si takut mati hartawan Abdi Banda.

Melihat Suro dan Wahyu Sakaning Gusti

hartawan Abdi Banda langsung berseru....

"Paduka, itulah kunyuknya yang telah

menghancurkan kekayaanku, dia juga yang telah

membunuh kakangku"

"Hmm, dia pasti akan mendapat ganjaran

yang setimpal dari kita" desis Lalim Durjana.

Pendekar Blo'on memandang tajam pada

sang hartawan, mulutnya peletat-pletot pertanda

amarahnya sudah memuncak pula. Walau sikap-

nya sangat serius, tetap saja tidak dapat mengha-

pus kesan konyol di wajahnya.

"Hartawan Abdi Banda, hartawan penuh

keedanan, kegilaan, kesintingan dan lain-lain.

Dosamu tujuh langit tembus. Kau kemanakan





Puspita? Awas, kalau dia sudah tidak utuh lagi,

apalagi sampai lecet Huh... kekuasaan harta mu

hampir berakhir, begitu juga kekuasaan raja La-

lim Durjana. Nah, sekarang tunjuk tangan siapa

yang mau mati duluan?" kata Suro. Ucapan Pendekar Blo'on yang apa adanya ini membuat Pen-

dekar Lugu terpaksa menahan geli.

Tiada jawaban apa-apa, raja Lalim Durjana

menggerakkan kepala memberi isyarat. Raja Tega

maju ke depan. Ia memandang sinis pada Suro

yang berdiri tolak pinggang.

"Kau Suro Blondo? Kau Pendekar Blo'on,

pantas sekali tampangmu memang tidak meya-

kinkan. Manusia sepertimu hanya membuat aku

muak, hari ini aku Raja Tega dari Sampuran Ha-

rimau akan membuatmu menjadi sate"

"Baik, perkenalkan dulu kau punya gelar,

atau namamu sekaligus nama ayahmu" ujar Su-

ro.

"Mengapa kau tanya nama ayahku?"

"Ha ha ha... Raja Tega, pulan bin pulan,

nama ayahmu sangat perlu agar Malaikat tidak

salah catat kau keturunan setan mana"

Raja Tega menggembor marah. Ia kelua-

rkan topi maut bergerigi yang telah memupus ra-

tusan kepala. Topi itu mendesing membelah uda-

ra. Bocah Ajaib yang sudah memperhitungkan se-

gala sesuatunya segera menghindar, selanjutnya

ia melompat kian kemari seperti anak kecil yang

sedang bermain tali. Atau terkadang terhuyung-

huyung seperti monyet mabuk terasi, dari bibir-





nya terdengar suara ngak-ngik nguk. Tidak jarang

ia melakukan gerakan seperti gerakan monyet

yang sedang bergelayutan. Di saat itulah....

Zing

Secara aneh topi bergerigi yang dapat dita-

rik kembali ke arah pemiliknya ini membalik. Se-

mua orang dapat memastikan kali ini si konyol

bakal celaka. Karena senjata itu bergerak sepuluh kali kecepatan biasa. Kucar-kacir si konyol sambil pencongkan mulutnya jatuhkan diri, lalu ia berguling-guling menjauh. Ketika ia bangkit berdiri

senjata sudah menderu lagi menerabas perutnya.

Suro terpaksa bersalto, namun senjata itu

terus bergerak mengejarnya. Pemuda ini memaki-

maki dalam hati. Kemudian ia pergunakan jurus

'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Sekejap,

Raja Tega dibuat tertegun dan keluarkan keringat

dingin. Sadarlah ia bahwa pemuda berambut hi-

tam kemerahan ini tidak dapat dianggap enteng.

Apalagi kini tubuh pemuda itu telah bergerak le-

nyap berubah menjadi bayang-bayang. Lalu terli-

hat bayangan biru menyeruduk ke arahnya. Raja

Tega menyingkir, namun kaki lawan menendang-

nya dengan telak.

"Hek"

Raja Tega terbungkuk-bungkuk, sakit yang

dirasakannya memang cukup hebat, namun lebih

hebat lagi rasa malu yang dideritanya. Ia pun

menggeram dahsyat. Topi mautnya digantung di

bagian punggung, selanjutnya ia menyerang den-

gan jurus-jurus tangan kosong yang sungguh he-





bat. Sementara itu diluar dugaan dari luar ben-

teng ratusan penduduk yang sudah tertekan se-

lama ini juga menerobos masuk ke benteng den-

gan berbagai senjata di tangan. Mereka langsung

berhadapan dengan para prajurit kerajaan yang

juga tidak kalah banyaknya.

Hanya dalam waktu singkat berkecamuk-

lah perang besar di tempat ini. Jerit pekik kesakitan mewarnai denting beradunya senjata tajam.

Pendekar Lugu juga tidak kalah sibuknya. Ia te-

rus bergerak menghindari serangan prajurit-

prajurit yang menyerangnya. Setiap ada kesempa-

tan, maka ia melumpuhkan lawan-lawan yang di-

hadapinya dengan cara menotoknya.

Malaikat Penderitaan sampai sejauh itu be-

lum turun tangan. Malah ia terus menangis ter-

sedu-sedu di atas tembok benteng. Sedangkan

Patih Luragung sampai sejauh itu masih juga be-

lum turun tangan. Mereka terus menyaksikan

pertempuran antara Pendekar konyol dengan Raja

Tega. Dalam pada itu Sang Maha Sesat makhluk

alam gaib mendekati Hartawan Abdi Banda.

"Mengapa kau tunggu di sini hartawan Se-

baiknya kau tinggalkan tempat ini dan pergi ber-

sembunyi di ruangan rahasia bersama putri serta

selir-selir kerajaan yang cantik-cantik"

"Aku takut pada baginda?" desis Abdi Ban-da

"Mengapa harus takut, katakan saja pa-





danya bahwa kau tidak kuat melihat darah..."

Hartawan yang selalu takut mati ini me-

nyeringai, ia kemudian berbisik-bisik di telinga

Raja Lalim Durjana.

Raja yang paling kejam di kolong langit itu

mengangguk-anggukkan kepala sementara perha-

tiannya tetap tertuju pada pertempuran. Harta-

wan Abdi Banda kemudian meninggalkan tempat

itu. Ia bergegas menuju ruangan lain yang tentu

saja atas petunjuk dan bimbingan Sang Maha Se-

sat. Hartawan ini sama sekali tidak tahu bahwa

ulah Sang Maha Sesat ini semata-mata untuk

mengadu domba agar terjadi perselisihan besar.

"Aku takut tindakanku ini ketahuan? Kau

sendiri telah gagal mengambil surat dalam kitab

yang kusimpan di gedung harta"

"Tidak usah kau ragukan masalah surat,

sekarang berada di tangan Malaikat Penderitaan.

Monyetnya sudah ada disini, aku pasti punya ke-

sempatan untuk mengambilnya. Kerjakan saja

apa yang menjadi kesukaan mu..."

Hartawan Abdi Banda terkekeh senang. Ia

terus berlari-lari menuju ruangan rahasia utama

yang terletak di bagian belakang kerajaan. Sang

Maha Sesat kembali ke depan,

Pertempuran antara Suro Blondo dan Raja

Tega berlangsung semakin seru. Pemuda beram-

but hitam kemerah-merahan ini selain terluka ke-

lihatannya sudah mulai terdesak. Ia sekarang te-

lah mengerahkan jurus 'Tawa Kera Siluman', pe-





muda ini sambil menyerang mulai tertawa-tawa.

Suara tawanya sedemikian keras menyakitkan te-

linga. Raja Tega sempat terhuyung. Konsentra-

sinya terganggu, namun setelah ia mengeluarkan

jurus 'Prisai Naga Di Balik Sampuran Harimau',

sambil membentak keras ia menerjang kembali.

Kali ini keduanya memang tampak ingin mengadu

tenaga dalam.





DELAPAN


Bayangan biru bergerak dari arah utara,

dari selatan terlihat bayangan hitam. Masing-

masing tangan lawannya menderu ke depan,

hingga benturan pun tidak dapat dielakkan lagi....

Bruk

"Wuakh..."

Dua-duanya sambil menjerit keras sama

terpental kembali ke belakang. Darah tampak

menyembur ke udara. Pendekar Lugu yang hanya

tinggal menghadapi beberapa orang lawan ini

tampak tegang dan merisaukan keselamatan Pen-

dekar Mandau Jantan ini. Sementara Malaikat

Penderitaan masih belum mengambil tindakan

apa-apa, malah tangisnya semakin keras. Tadi

sempat kelihatan darah Suro dan darah Raja Tega

menyembur ke udara. Si Konyol jatuh terduduk

sambil meringis kesakitan. Ia melirik ke atas tembok. "Kakek tua Malaikat Penderitaan Begitu





tololnyakah kau, Kat? Aku sudah hampir mam-

pus kau masih juga enak-enakkan menangis?"

bentak Si Bocah Ajaib.

"Hu hu hu... Kulihat darah, kulihat mayat

bergelimpangan membuat aku semakin menderi-

ta. Aku sangat menderita sekali karena melihat

manusia saling berbunuh-bunuhan" sahut Ma-

laikat Penderitaan masih terus menggerung-

gerung di atas tembok.

"Samber geledek Kau benar-benar sobat

yang tidak berguna" maki Si Bocah Ajaib. Mulutnya sampai termonyong-monyong saking kesal-

nya. Tokh Suro tidak punya waktu lagi men-

gumbar kemarahannya, Raja Tega telah mengelu-

arkan jurus paling ampuh, hingga membuatnya

dijuluki Iblis Pembawa Bencana. Itulah Jurus

'Memupus Nyawa Memenggal Kepala'.

Sring

Pedang di punggungnya keluar dari rangka,

pedang tersebut selain sangat tajam juga besar

bukan main, namun tipis. Ketika senjata itu ber-

kiblat. Maka Suro mulai lakukan langkah-

langkah gila, tidak salah memang ketika itu si

konyol sudah mengerahkan jurus 'Kacau Balau'

warisan kakek gurunya Malaikat Berambut Api.

Pemuda ini memang tampak serius sekali,

gerakannya sungguh kacau tidak ketulungan. Se-

tiap langkahnya membingungkan lawannya. Bah-

kan ketika pedang lawannya bergulung-gulung

mengurung dirinya, dari setiap celah sambaran





pedang ia selalu dapat meloloskan diri.

"Pendekar goblok ini memang bukan main-

main kehebatannya Gerakannya sungguh ajaib

dan penuh teka-teki" geram Raja Tega dalam ha-ti.

Tiba-tiba ia putar pedangnya, lalu senjata

meluncur, Suro geser kakinya dan di angkat agak

tinggi. Eeh... nggak dinyana pedang membalik

arah kini membacok lehernya. Suro selamatkan

leher, lalu melompat dengan terhuyung-huyung

seperti orang mau jatuh.

Di saat itu tanpa disadari oleh lawan, ram-

but si pemuda yang kemerah-merahan ini mulai

berubah memerah seperti api. Ini merupakan

suatu tanda bahwa murid si konyol setengah sint-

ing Penghulu Siluman Kera Putih sudah menge-

rahkan tenaga intinya yang tingkatannya terpaut

satu tingkat di atas tenaga dalam

"Heaa..."

Raja Tega melesat ke depan, Suro putar

langkah, maksudnya hendak lepaskan tendangan.

Ee... senjata lawan hampir membeset anunya.

Untuk selamatkan anunya Suro dengan lincah

terpaksa berputar lagi. Kini bagian pantatnya

yang jadi sasaran....

Brebet

"Bangsat sialan Lawan keparat. Kau hen-

dak telanjangi aku" maki Suro. Wajah konyolnya semakin bertambah konyol. Raja Tega menyeringai. "Kali ini baru pantatmu yang keserempet





sedikit, sebentar lagi pasti kepalamu yang kubuat menggelinding" dengus Raja Tega sambil tergelak-gelak.

Tidak memberi kesempatan, tiba-tiba Suro

lepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma',

salah satu pukulan dahsyat yang tingkatannya di

bawah pukulan 'Neraka Hari Terakhir'.

Segulung angin kencang menghampar si-

nar putih bagaikan salju menderu-deru. Raja Te-

ga terkesiap dan belalakkan mata. Ia menangkis

dengan pedangnya.

Braang

Sungguh celaka, pedang ditangan nyaris

terpental sedangkan gelombang angin kencang

laksana badai topan tadi terus melabraknya tan-

pa ampun.

"Buaam..."

Tubuh Raja Tega menabrak tembok ben-

teng, tembok hancur Raja Tega sendiri megap-

megap macam ikan kekeringan. Ia kerahkan te-

naga dalam untuk melancarkan jalan darahnya

yang seakan membeku dan tersendat-sendat, ma-

tanya mendelik seperti melihat setan.

Di sudut lain Raja Lalim Durjana berbisik-

bisik pada Patih Luragung diam-diam mereka

menyelinap pergi. Memang sudah hampir tidak

ada lagi yang mereka harapkan. Setelah prajurit

terbantai oleh amukan dan amarah rakyat. Raja

Lalim Durjana ternyata memilih menyelamatkan

diri. Sementara itu Raja Tega sudah bangkit





berdiri, nafasnya masih mpis-mpisan.

"Malaikat Penderitaan" kata Pendekar

Blo'on sambil pegangi pantatnya yang sobek, se-

dangkan darah sudah mengering di sudut-sudut

bibirnya. 'Di atas tega masih ada tega lagi sehing-ga ia menyandang gelar Si Raja Tega', hilang rasa kemanusiaannya, dan yang pasti ia tega berbuat

apa saja. Aku akan menghukumnya..."

"Eiit, Suro, jangaaan...?" cegah Malaikat Penderitaan.

Seruan si kakek terlambat. Yang terdengar

saat itu hanyalah suara ringkik kuda, jeritan tawa dan tangis di sertai berkelebatnya cahaya hitam

di tangan Si Bocah Ajaib.

Tes Tes Tes

"Auuuu..."

Di lain waktu Raja Tega telah kehilangan

dua tangan dan satu kakinya. Ketika Suro hen-

dak menghantam kepala Raja Tega, maka Malai-

kat Penderitaan gerakkan tangannya, sinar putih

melesat dan menahan gerakan tangan Suro di

udara. Suro terkejut, ia menggerakkan tangan-

nya, namun tangan si pemuda seperti tertotok

Pluk

Tahu-tahu Malaikat Penderitaan sudah

berdiri di samping Pendekar Blo'on. Ia tanpa bica-ra menotok urat besar di kedua tangan dan sebe-

lah kaki Raja Tega yang buntung.

Laki-laki sadis ini tetap saja menjerit-jerit

kesakitan. Malaikat Penderitaan berdiri lagi dan

mengambil senjata ampuh di tangan Suro Blondo.





"Sungguh senjata yang sangat berbahaya

sekali" guman si kakek, ia lalu mengurut pangkal lengan Suro hingga membuat Pendekar Blo'on

dapat bergerak lagi. Begitu terbebas Si Bocah

Ajaib langsung memaki.

"Kakek goblok Apa-apaan kau ini? Bukan

membantu malah aku yang ditotok Sinikan sen-

jataku...?" pinta Suro sambil merengut.

"Aku sedih jika kau membunuhnya, bu-

kankah apa yang kau lakukan telah membuatnya

menderita. Biarkan dia tetap hidup, kelak ia akan tahu betapa sulitnya Berjalan Ke alam Baka"

"Lebih baik kau bunuh saja aku, bocah

rambut hitam kemerah-merahan. Hidup dalam

keadaan begini rupa, hanya membuat aku men-

derita dan menyesal sepanjang sisa usia. Kau bu-

nuhlah aku, bunuh..." pinta Raja Tega meratap menghiba-hiba.

Suro merebut senjatanya, diacung-

acungkannya sebentar. Namun kemudian secara

tidak terduga-duga dimasukkannya ke dalam

rangkanya.

"Kalau kupikir-pikir betul juga bicaramu

Baginya terlalu enak mati Lebih baik kita biarkan dia hidup dulu Nah... sekarang lebih baik kakek

urusi penduduk itu. Aku ragu jangan-jangan ter-

jadi apa-apa dengan Puspita."

"Ah..." Suro tepuk keningnya berulang-

ulang. Kuncinya pada hartawan itu "Eeh... raja Lalim Durjana dan patihnya juga telah minggat?

Mestinya kakek dan Pendekar Lugu tidak mem-





biarkannya melarikan diri" tegur Suro.

"Dia tidak akan pergi kemana-mana, mere-

ka pasti masih berada di sekitar istana juga..."

kata Malaikat Penderitaan.

"Tugasmu, Kat mencari mereka. Aku curiga

jangan-jangan bala tentara tadi sedang mencari

orang-orang kita Biar kususul mereka" kata Su-ro Blondo.

Kemudian pemuda ini tanpa menunggu le-

bih lama segera meninggalkan Malaikat Penderi-

taan dan Pendekar Lugu.

Si kakek segera menghampiri para pendu-

duk yang tampak mulai tidak sabar menyerbu

masuk ke istana.

"Saudara-saudara semua. Kalian lebih baik

menahan diri Urusan raja dan keluarganya ada

di tangan kami." Seru si kakek.

"Mana bisa begitu, raja keparat itu harus

dihadapkan pada kami karena telah membuat

kami menderita lahir batin" salah seorang dari penduduk itu bicara mewakili kawan-kawannya

"Betul Lalim Durjana telah membuat keru-

sakan besar di muka bumi ini" kata yang lain lainnya hampir serentak.

"Nah bertindak mengikut amarah hanya

akan merugikan diri sendiri. Sebaiknya kalian pu-

langlah, serahkan urusan ini pada kami" tegas Malaikat Penderitaan.

Manalah orang-orang kalap ini mau men-

gerti saran si kakek. Mereka tetap bersikeras in-

gin menyerbu ke dalam istana.





"Tidak bisa Amarah ini harus dilam-

piaskan" kata wakil mereka.

"Hmm, kalau kalian bersikeras tidak men-

gapa, tapi kalian harus melewati ini..."

Malaikat Penderitaan kemudian mengge-

rakkan tangannya. Maka menghamparlah api di

depan mereka. Orang-orang ini terkejut, lalu ter-

surut mundur.

"Siapa yang berani melewati api ini silah-

kan masuk dan berbuat sekehendak hatinya."

ujar si kakek.

Orang-orang ini terdiam, kemudian berba-

lik langkah dan meninggalkan alun-alun kerajaan

yang dipenuhi mayat dan darah.

"Pendekar Lugu." desah Malaikat Penderitaan. "Sebaiknya kita periksa ke dalam istana.

Sementara kita biarkan saja Si Raja Tega disini"

"Bagaimana jika dia melarikan diri?"

"Kakinya buntung, tangannya juga. Kalau

dia nekat melarikan diri tentu dia akan kehabisan darah." Pendekar Lugu anggukkan kepala, selanjutnya mereka melangkahkan kakinya memasuki

istana.





***



Hartawan Abdi Banda memang manusia

bangsat yang selalu memuja kesenangan dunia.

Setelah memasuki ruangan rahasia yang ternyata

dilengkapi dengan berbagai jenis keperluan seha-





ri-hari, ia menyikat apa saja. Makanan yang

enak-enak dan juga arak wangi yang menjadi ke-

sukaannya.

"Arak dan makanan ada, hanya wanita

yang tidak ada" pikir sang hartawan.

Ia tertawa terkekeh-kekeh. Pada saat me-

nyantap ayam panggang dilihatnya ada seorang

pelayan datang menghampiri.

"Tuan, makanan ini untuk putri dan selir-

selir baginda" kata pelayan menegur.

"Ha ha ha... Aku lapar, keadaan di luar

sana sangat menegangkan. Tapi kalau tidak boleh

tidak apa-apa. Oh ya... dimanakah puteri dan ra-

tu bersembunyi?"

"Di dalam kamar di ruangan rahasia ini,"

sahut dayang berbadan gembrot ini sambil terse-

nyum. Tanpa bicara apa-apa Hartawan Abdi Ban-

da berlalu dari meja hidangan. Ia melihat-lihat

suasana di sekelilingnya. Ternyata di dalam ruan-

gan rahasia itu cukup luas juga, tidak bedanya

dengan istana kedua. Banyak kamar di kanan kiri

lorong, semakin ia berjalan ke dalam lorong yang

remang-remang itu, maka semakin banyak pula

kamar yang dijumpainya.

"Hmm, kamar begini banyak. Aku tidak ta-

hu di mana selir dan putri raja berada...?" guman sang hartawan.

Sang hartawan meneruskan perjalanannya

kembali, sampai di ujung lorong tiba-tiba saja ia melihat seorang gadis cantik berpakaian mewah





berjalan ke arahnya.

"Tuan puteri, dimanakah aku dapat beristi-

rahat" tanya hartawan yang menyangka bahwa

gadis berkulit hitam manis tersebut adalah putrid raja. "Hi hi hi... Aku bukan putri raja, tuan hartawan. Aku adalah selirnya yang paling muda.

Baru dua bulan aku diangkat menjadi selirnya"

Abdi Banda berdecak kagum, gadis ini can-

tik sekali, sayang sudah menjadi selir raja.

"Namamu siapa?"

"Aku selir Seriti, eh... kalau tuan mau. Aku bisa menunjukkan kamar yang bagus untuk

tuan" kata Seriti.

"Berjalan di lorong begini bersama selir raja apakah tidak menimbulkan kecurigaan orang

lain?" pancing si gendut.

"Tidak mengapa, hampir semua selir-selir

disini pernah melakukan penyelewengan..." kata selir genit ini sambil mengedip-ngedipkan matanya. Ibarat gayung bersambut, maka hartawan

ini pun segera mengikuti selir Seriti. Mereka me-

masuki sebuah kamar yang cukup mewah tidak

ubahnya seperti berada di sebuah penginapan

yang mahal.

"Disini tuan dapat beristirahat" kata Selir Seriti sambil menutupkan pintu kamar sekaligus

menguncinya.

"Eh, jangan..." seru hartawan berpura-

pura kaget.





"Hi hi hi... Apakah perempuan makhluk

yang menakutkan bagimu?" cibir selir hitam manis ini. "Tidak juga, malah terkadang perempuan menyenangkan, di lain saat menyebalkan, di lain

waktu menjengkelkan dan membuat frustrasi"

"Tentu aku tergolong yang pertama tuan

sebutkan Suasana disini sangat dingin, bukan?

Tapi aku punya minuman jahe hangat yang dapat

membuat tuan bersemangat"

Tanpa kata-kata lagi Seriti segera men-

gambil minuman di dalam kendi antik dan menu-

angkannya di atas sebuah cawan.

"Minumlah, tuan..." Seriti menyodorkan cawan tersebut, Abdi Banda menerimanya dengan

gembira. Tanpa merasa curiga apa-apa sang har-

tawan langsung meneguk air jahe itu hingga tun-

tas. Ada hawa hangat menjalar turun dari tenggo-

rokan, lalu ke bagian lambung. Tidak sampai lima

menit, hartawan ini merasakan sekujur tubuhnya

menjadi hangat. Namun dalam waktu bersamaan

pula ia merasakan sesuatu yang sangat lain seka-

li. Di matanya senyum selir raja sedemikian me-

mikat dan membuat jantung hartawan berdetak

lebih keras lagi.

"Bagaimana tuan, apakah tuan merasa ti-

dak ingin lagi?" Hartawan Abdi Banda menjawab dengan gelengan kepala.

"Tuan pasti punya tenaga simpanan, kalau

boleh minta tolong pijitilah saya..." rengek Seriti.

Laki-laki berperut bundar macam kuali





tengkurap ini terkekeh-kekeh.

"Memijit perempuan cantik sepertimu, jan-

gankan baru satu orang, sepuluh orang pun aku

sanggup" kata sang hartawan.

"Kalau begitu tuan punya tenaga yang san-

gat besar" puji sang selir. Ia merebahkan tubuhnya, mata hartawan yang selalu penuh keedanan

ini berbinar liar saat melihat pinggul selir Seriti.

Tanpa berkata apa-apa lagi si gendut jelek

mulai memijat si genit. Saat itu hartawan Abdi

Banda sudah terasa kepalanya sakit berdenyut-

denyut.





SEMBILAN


Pijit memijit itu pun terus berlangsung. Se-

riti memejamkan matanya. Semakin lama pijitan

sang hartawan semakin bertambah ngawur saja.

Gilanya lagi selir Seriti malah membimbing tan-

gan hartawan tersebut ke bagian mana yang dia

sukai. "Seriti... kau..." Sang hartawan menggeram lirih. Selir Seriti tersenyum menggoda, mereka

akhirnya bercumbu. Maka terjadilah perbuatan

yang sangat terkutuk itu. Dinding-dinding ruan-

gan menjadi saksi atas perbuatan mereka. Tubuh

mereka bermandi keringat.

Setengah jam kemudian suasana pun

sunyi. Di sepanjang lorong terdengar suara lang-





kan tergesa-gesa. Ternyata yang datang adalah

raja Lalim Durjana, Patih Luragung di kawal oleh

beberapa Punggawa tinggi kerajaan.

"Celaka, pasti baginda yang datang" desis hartawan Abdi Banda. Seraya dengan tergesa-gesa mengenakan pakaiannya kembali. Demikian

juga halnya dengan Selir Seriti.

Rupanya setelah berada di dalam ruangan

rahasia, baginda langsung mengadakan pemerik-

saan. Mula-mula ia menjumpai permaisuri dan

putri-putrinya, kemudian ia memeriksa kamar se-

lir-selirnya.

"Cepatlah sembunyi di bawah kolong

tuan?" perintah selir Seriti. Dengan gugup, Abdi Banda langsung menyelinap di bawah kolong ranjang. Bersamaan itu pula pintu diketuk oleh se-

seorang di luar. Seriti dengan tergesa-gesa mem-

buka pintu.

"Baginda..."

"Hmm, apakah kau melihat sahabatku har-

tawan Abdi Banda?" tanya raja Lalim Durjana

agak curiga.

"Tidak, paduka." jawab Seriti disertai gelengan kepala.

"Ya sudah. Tutup pintu, jangan biarkan

siapapun masuk ke kamarmu" perintah sang ra-ja.

Raja kerajaan Ujung Dunia dan Patih Lu-

ragung berlalu. Rupanya mereka memeriksa tem-

pat lain masih di sekitar ruangan rahasia yang





luas. "Aku harus meninggalkan kamarmu Jika kita berdua ketahuan raja, kurasa tidak ada maaf

lagi. Kita akan dipancung. Betapa sangat menye-

dihkan sekali" kata Abdi Banda yang baru saja keluar dari bawah kolong.

Selir Seriti membukakan pintu, setelah pin-

tu terbuka maka si gendut jelek ini langsung me-

nyelinap keluar.

"Aman..." pikirnya.

Ia pun kemudian berpura-pura sebagai

orang yang baru memasuki ruangan rahasia itu.

Namun tiba-tiba saja terdengar suara bentakan

keras tidak jauh di sampingnya. Yang membentak

barusan tidak lain adalah raja Lalim Durja sendi-

ri.... "Darimana saja kau sahabatku, hartawan Abdi Banda?" tanya sang raja disertai senyum mengejek.

"Ak... aku baru saja sampai ke tempat ini.

Ternyata tidak mudah menemukan ruang bawah

tanah ini" kata hartawan gendut, suaranya terbata-bata seperti orang gugup.

"Begitu?" Raja zalim ini mendekatinya.

"Benar."

"Tapi kulihat badanmu berkeringat, bibir-

mu menyisakan senyum kenikmatan. Kau bicara

dusta pada sahabatmu, sekaligus raja yang ber-

kuasa yang seharusnya kau junjung tinggi. Apa-

kah kau tidak menodai ranjang tidur orang lain,

Abdi Banda?"





"He he he Paduka bergurau, tentu saja

aku tidak berani kurang ajar dengan perbuatan-

perbuatan yang menghina raja, paduka jangan

bercanda?" ujar Abdi Banda mulai gelisah.

"Apakah kau lihat aku sedang bercanda,

hartawan. Persoalan di luar sana begitu rumit,

membingungkan antara hidup dan mati. Ternyata

kau berkhianat padaku" dengus Lalim Durjana.

Ia kemudian berpaling pada Patih Luragung. "Patih seret perempuan jalang itu kemari"

"Baik, paduka." Dan Patih Luragung den-

gan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar. Tidak

lama la sudah keluar lagi sambil menyeret Selir

Seriti. Perempuan itu berlutut di kaki sang raja, lalu menangis tersedu-sedu.

"Ampunilah hamba yang hina ini, paduka.

Ampuni..." tangisnya meratap menghiba-hiba.

"Kau ingat, bukan sekali saja kau menco-

reng mukaku ini dengan sesuatu yang teramat

kotor. Kau menjatuhkan wibawa dan martabatku

dengan bersenang-senang dengan laki-laki lain.

Tidak ada hukuman yang setimpal terkecuali di-

pancung kepalamu"

"Baginda..." seru Selir Seriti.

Sring

Percuma selir malang itu minta ampun. Ke-

tika senjata di tangan sang raja berkiblat, maka

menggelindinglah kepala selir tersebut. Darah

menyembur membasahi lantai lorong. Sang raja

menyeringai dingin. Lalu tiba-tiba ia berbalik pa-





da hartawan Abdi Banda.

"Kepadamu kuberi kesempatan pilih antara

memotong auratmu atau kau memilih mati di

tanganku?"

"Baginda" Sang hartawan tercengang.

"Cepat kau potong auratmu sendiri"

"Bb... baiklah..."

Dengan perasaan cemas luar biasa, maka

hartawan ini langsung memotong auratnya. Na-

mun sebelum hal itu benar-benar terlaksana

Dari arah lain menyambar sinar putih. Pi-

sau kecil yang baru diterima oleh hartawan itu

dari sang raja langsung tercampak. Sinar putih

berubah menjadi kemerahan-merahan, hingga

akhirnya berubah pula menjadi merah seperti ba-

ra api. Kemudian terdengar suara....

"Jangan coba-coba ganggu hartawan Abdi

Banda, ia berada dalam lindunganku. Siapapun

berada dalam lindunganku harus patuh padaku"

Raja Lalim Durjana dan Patih Luragung

tersentak kaget. Mereka bahkan bersurut mundur

dua langkah. Memandang ke atas langit-langit lo-

rong maka terlihatlah sinar merah laksana bara.

Panas menghanguskan, sampai suasana dingin di

ruangan rahasia itu tiba-tiba berubah panas.

"Kau siapa?" tanya Lalim Durjana.

"Akulah Sang Maha Sesat raja di raja yang

menguasai alam kegelapan. Untuk itu jangan kau

sakiti orang yang berada dalam lindunganku"

"Tapi dia telah..."

"Ha ha ha Sesungguhnya kalian sama sa-





ja, mengapa harus saling menyakiti dan saling

bunuh? Lupakanlah masalah yang tidak seberapa

besar itu. Kalian lebih baik bahu membahu mela-

wan Anak Langit, Pendekar Lugu, Malaikat Pen-

deritaan yang saat ini sedang mencari-cari ka-

lian." "Huh, itu persoalanku, orang luar tidak boleh turut campur" dengus Lalim Durjana.

"Secerdik-cerdiknya kau, bagaimana pun

masih membutuhkan aku. Kalian tidak dapat

berdiri sendiri atau bekerja sendiri. Semuanya tetap membutuhkan uluran tanganku" kata suara gaib tersebut pelan namun menggetarkan.

"Boleh, aku akan mempertimbangkan

usulmu. Namun aku harus memotong dia punya

yang ngawur itu" Selesai bicara raja Lalim Durjana langsung menyerbu ke depan. Namun sebelum

ia menyentuh hartawan Abdi Banda sinar merah

tadi sudah melabraknya. Tahu-tahu sang Raja

sudah jatuh terhempas. Dengan geram raja Lalim

Durjana bangkit kembali. Ia melabrak lagi ke de-

pan. Pisaunya meluncur deras ke selangkangan

sang hartawan. Namun untuk yang kedua ka-

linya....

Tes

"Wuak"

Kali ini sang raja tercampak cukup jauh

juga. Punggungnya sampai menabrak tembok

pembatas lorong. Dengan susah payah sang raja

bangkit, Patih Luragung mendekatinya.

"Sebaiknya yang mulia pertimbangkan usul





Sang Maha Sesat. Kita harus tahu dulu rencana

apa yang dijalankannya." Saran Patih Luragung.

"Hmm, hartawan bangsat itu telah mem-

buat aku malu besar, masa' aku tidak membalas"

gerutu sang raja.

"Masih banyak persoalan yang lebih besar

dari pada apa yang dilakukan oleh hartawan gila

itu. Bahkan keselamatan kerajaan saat ini tengah

terancam, kita tidak boleh berpangku tangan atau

lengah hanya karena masalah yang kecil"

Agaknya usul Patih Luragung dapat diteri-

ma oleh sang raja. Terbukti tidak lama setelah itu beliau langsung terdiam. Patih Luragung merasa

lega melihat perubahan ini.

"Bagaimana raja Lalim Durjana? Apakah

menerima usulku?" Suara Sang Maha Sesat

menghentak kembali.

"Sebelum menerima usulmu, maka aku in-

gin mengajukan pertanyaan padamu bahkan ka-

lau mungkin pada bekas sobatku hartawan Abdi

Banda" ucapnya sang raja.

"Apa pertanyaanmu?"

Raja Lalim Durjana menarik nafas dalam-

dalam. "Panglima ku mengatakan ada Lima Utusan Akherat datang diwilayah kekuasaanku ini.

Mereka konon mencari surat Kedamaian Dunia

yang saat ini entah berada di tangan siapa. Nah

apakah isi surat itu dan apakah Lima Utusan Ak-

herat merupakan ancaman besar bagi kekua-

saanku?"

Hartawan Abdi Banda katubkan bibirnya





rapat-rapat. Ia merasa was-was kalau-kalau apa

yang menjadi rahasianya diceritakan pada raja la-

lim Durjana oleh Sang Maha Sesat.

"Mengenai kitab itu aku sendiri tidak tahu

apa isinya. Namun yang jelas Lima Utusan tentu

saja merupakan ancaman besar bagimu Untuk

itu kusarankan sebaiknya perintahkan Patihmu

untuk pergi ke Bukit Kematian. Di sana ia dapat

menjumpai Pertapa Seribu Abad. Katakan pa-

danya aku Sang Maha Sesat yang menyuruh Pa-

tihmu menjumpainya. Minta pertolongannya. Ka-

rena hanya dia yang dapat membantuku dalam

menghadapi musuh-musuhmu kelak. Cepatlah

jangan kau ragukan lagi..." perintah Sang Maha Sesat. "Bukit Kematian?" Raja Lalim Durjana belalakkan matanya, terlihat pula kekhawatiran di

matanya. "Bukit Kematian sama dengan bukit Setan, tempat paling terkutuk dan merupakan ne-

raka dunia. Belum pernah ada orang yang berani

datang ke sana kalau memang tidak ingin cari

mampus Apa katamu nanti menghadapi tuntutan

ku jika sampai terjadi apa-apa dengan Putihku?"

tanya Sang raja.

"Aku berani memerintah, tentu aku punya

tanda. Inilah tanda yang harus dibawa oleh Pa-

tihmu..."

Cahaya merah laksana bara itu kemudian

bergetar, dari bagian tengahnya melesat sebuah

benda terbuat dari logam yang juga berwarna me-

rah. Benda tadi terjatuh di atas lantai. Patih Lu-





ragung mengambilnya, memperhatikan logam

berbentuk aneh dan berbau busuk itu sekejap

kemudian memasukkannya ke dalam saku.

"Jadi aku harus berangkat?" tanya Patih Laragung ragu-ragu.

"Ya... kau memang harus berangkat seka-

rang. Sebaiknya kau lewat lorong rahasia. Di ba-

gian istana sekarang Malaikat Penderitaan dan

Pendekar Lugu sedang mencari-cari kalian" Sang Maha Sesat mengingatkan.

"Itulah musuh yang kutunggu-tunggu

Mengapa kami harus bertahan di sini? Pendekar

Lugu orang yang kucari-cari" Raja Lalim Durjana tidak sabar.

"Tidak? Kau atau patihmu bukanlah apa-

apa jika harus berhadapan dengan Anak Langit

atau Malaikat Penderitaan. Kalian harus tahu,

aku sendiri tanpa bantuan pertapa Seribu Abad

juga tidak akan berdaya menghadapi Anak Langit.

Hanya Iblis Seribu Akal itu saja yang dapat kua-

jak bekerja sama menghancurkan si teguh hati,

dan makhluk tanpa nafsu Bersabarlah kalian di

sini. Persoalan tidak ringan, inilah saat bagi manusia untuk melakukan perjalanan ke alam baka

Nah, tunggu apa lagi, berangkatlah paman Patih

menuju Bukit Kematian" kata Sang Maha Sesat.

"Berangkatlah, paman. Kuharap kau ber-

hati-hati, jangan sampai terjadi sesuatu yang ti-

dak diingini padamu" pesan Lalim Durjana.

Laki-laki separoh baya ini menjura hormat.

Tidak lama kemudian ia sudah meninggalkan lo-





rong itu. Raja Lalim Durjana yang masih me-

nyimpan kekesalan pada hartawan Abdi Banda

segera berlalu begitu saja. Dalam hati diam-diam

akan mengadakan pembalasan yang setimpal atas

perbuatan sang hartawan terhadap selirnya. Har-

tawan itu sendiri tentu tidak merasa gentar walau pun ia telah membuat kesalahan yang cukup besar. Karena bagaimanapun Sang Maha Sesat selalu melindunginya.

***

"Lebih baik kalian menyerah kepada kami

Kalian semuanya sudah terkepung" perintah

Panglima Arung Garda lantang.

Rupanya ketika itu Lima Utusan Akherat

dan juga Puspita serta Raja Kodok sedang mele-

wati sebuah lembah dan dua bukit yang mengapit

jalan yang mereka lalui.

Kagetlah para pimpinan Lima Utusan meli-

hat kehadiran bala tentara kerajaan yang jumlah-

nya satu setengah kali lipat jumlah mereka. Tidak lama terdengar suara terompet perang di antara

kedua bukit tersebut.

Kemudian bermunculanlah ratusan praju-

rit bersenjata lengkap dan siap tempur pula. Pus-

pita yang berada paling depan saling pandang

dengan Raja Kodok.

"Bagaimana pendapatmu, Raja Kodok Apa

kita ikut bergabung dengan para utusan ini un-

tuk menghadapi prajurit dan Panglima itu?"





"Krokok Kung Kata sepakat sudah kita

dengar sejak awal perjumpaan dengan mereka.

Mereka pun kelihatannya orang-orang baik untuk

apa kita menjadi pengecut dengan melarikan diri

dari pertempuran Sikat saja" jawab Raja Kodok, sedikit pun wajahnya yang hampir menyerupai

kodok tidak membayangkan kegelisahan.

"Jumlah mereka sangat banyak, kita harus

meletakkan pelontar peledak ini agak jauh agar

jangan sampai dapat dirampas oleh mereka Jika

kita terdesak, maka kita dapat mempergunakan

senjata maut ini untuk menolong diri sendiri"

Dunga tiba-tiba menyela.

"Tapi jumlah peledak itu sangat terbatas"

Dendra salah satu pimpinan Kapuas Hulu ikut

bicara. "Saudara Dunga sebaiknya bersiap siaga

Biarkan kami dari Empat Utusan berikut anggota

yang turun tangan, tentu di bantu nona Puspita

dan saudara Kung (maksudnya Raja Kodok)

"Baik" kata laki-laki berambut merah ini.

Lalu dengan cepat mereka menyingkir ke tempat

yang tidak terjangkau lawan. Sementara itu dari

atas bukit sudah terdengar teriakan Panglima

Arung Garda kembali.

"Tidak ada tempat bagi kalian mencari se-

lamat. Jalan satu-satunya adalah menyerah pada

kami secara baik-baik"

Puspita mendengus. "Bicaramu keren amat

Panglima Jika kau punya kemampuan mengapa

sekarang tidak turun kemari?" ejek si gadis jelita.

"Hei... kau, bukankah kau yang telah





memporak-porandakan tempat usaha hartawan

Abdi Banda? Kau juga termasuk orang yang ter-

daftar dalam buronan kerajaan. Nah menyerah-

lah" "Betul Aku dan Pendekar Blo'on yang telah menghancurkannya. Nah kau sekarang mau

apa?" dengus Puspita Sari.

"Serang dan bunuh mereka..." teriak Panglima Arung Garda.

Lima belas perwira tinggi langsung me-

mimpin prajurit-prajurit kerajaan yang berjumlah

tidak kurang dari tiga ratus orang ini. Suara ge-

gap gempita pun mewarnai tempat itu. Inilah per-

tempuran dalam jumlah besar yang sungguh

mengerikan akibatnya. Dari kedua belah pihak ti-

dak lama kemudian mulai jatuh korban. Pekik

kesakitan, jerit kematian serta beradunya senjata tajam datang silih berganti seakan tidak ada putus-putusnya.

Engku Bonang, Datuk Pala Seribu serta

Malaikat Berung dan Dendra berhadapan dengan

lima belas orang perwira yang rata-rata memiliki

kepandaian hebat dalam mempergunakan pe-

dang. Tokoh dari Ujung Kulon, Utusan dari Teluk

Nibung, Indera giri dan Kapuas tampak pula me-

nyerang panglima Arung Garda.

Sedangkan Raja Kodok dan Puspita ketika

itu membaur dengan anggota Lima Utusan Akhi-

rat





SEPULUH


Raja Kodok dengan jurus-jurus kodoknya


yang terkenal aneh mulai mendesak prajurit-

prajurit itu. Hujan senjata yang menderanya,

memaksa laki-laki gemuk pendek ini menggelind-

ing kian kemari. Sedangkan Puspita melihat se-

rangan prajurit yang bertubi-tubi tidak mau ambil resiko. Ia langsung cabut pedang tipis dari ping-gangnya. Dengan mempergunakan senjata itu

mengamuklah dia bagaikan singa betina yang ter-

luka. Sementara itu Manggar Kesuma, Bias Pati

dan Ubudana yang sedang menghadapi Panglima

Arung Garda tampak berusaha mendesak lawan-

nya. Manggar Kesuma bahkan sudah mencabut

pedangnya yang berbentuk sangat aneh itu. Bias

Pati dan Ubudana sudah mengambil ular cobra

yang dikenal sebagai satu-satunya senjata ampuh

yang mereka miliki.

Panglima Arung Garda sebagai manusia

yang kebal senjata, sekarang tampak terkesiap

melihat serangan Ubudana dan Bias Pati. Seba-

liknya ia malah tidak menghiraukan serangan

Manggar Kesuma meskipun serangan itu ganas

dan cukup dahsyat sekali. Namun Arung Garda

yakin sekali dengan kekebalan tubuhnya. Seba-

liknya yang perlu diwaspadai adalah serangan

dua ekor raja cobra yang terus mematuk-matuk

ke arah dirinya.





Tokoh paling sakti di kerajaan Ujung Dunia

ini sambil melompat mundur langsung cabut pe-

dangnya. Di saat pedangnya menderu, dari bela-

kang senjata Manggar Kesuma membacoknya. Se-

rangan itu sengaja tidak dihindari lagi oleh Arung Garda, sebaliknya ia terus memutar senjatanya

untuk lindungi diri dari pagutan ular yang bagian ekornya dipegang oleh kedua lawannya.

Crakk

"Heh..."

Manggar Kesuma terhuyung mundur. Rasa

kagetnya bukan kepalang, ia sama sekali tidak

menyangka lawannya kebal senjata. Merasa pe-

nasaran ia menusukkan senjatanya lagi.

Cep

" Gila..." desisnya.

Belum hilang rasa kaget di hati Manggar

Kesuma ini, tiba-tiba Arung Garda yang sedang

sibuk menghadapi serangan dua ekor ular itu

berbalik dengan kecepatan laksana kilat kakinya

melayang. Manggar Kesuma tidak lagi sempat

menghindar. Telak sekali tendangan Panglima

Arung Garda menghantam perutnya.

Laki-laki berjenggot panjang utusan penca-

ri Surat Kedamaian Dunia ini terpelanting. Darah

menyembur dari mulutnya. Di saat itu salah satu

ular lawan hampir saja mematuk lengannya. He-

batnya ia masih sempat melompat kemudian ki-

baskan senjata di tangannya. Ubudana tarik

ularnya kembali, serangan balik lawan juga luput.

Dari samping meluncur ular milik Bias Pati.





Arung Garda dengan mengandalkan jurus 'Iblis

Merubah Bayangan' langsung melompat ke udara.

Dengan posisi tubuh melayang di udara ia ki-

baskan pedang tipisnya.

Tes

Maka putuslah ular di tangan Bias Pati

terhantam pedang milik lawannya. Tidak sampai

di situ saja rupanya tindakan panglima sakti ini.

Setelah menjejakkan kakinya di atas tanah ia me-

lakukan gerakan berputar setengah lingkaran.

Tanpa diduga-duga pedangnya menghantam ke-

pala Bias Pati. Laki-laki berkulit hitam legam ini menghindar dengan cara meliukkan tubuhnya.

Tapi serangan lawan datangnya lebih cepat.

Cesss

"Akh..."

Menjeritlah Bias Pati ketika pedang lawan

membelah tubuhnya. Ubudana terkesima, tapi te-

tap melakukan serangan lebih gencar lagi. Dia

memaki-maki dengan kata-kata yang membuat

marah lawannya. Manggar Kesuma yang melihat

kejadian itu langsung bangkit berdiri. Walau pun

ia menderita luka dalam yang tidak ringan.

Sementara itu tokoh dari Ujung Kulon juga

dari Hilir tampaknya dalam posisi yang mengun-

tungkan. Satu demi satu perwira-perwira kera-

jaan yang mengeroyoknya berguguran di ujung

senjata mereka. Walau pun memang tidak dapat

dipungkiri Engku Bonang dan Kalingga Jati sem-

pat terluka di sekujur tubuhnya akibat terkena

tendangan maupun sabetan senjata lawannya.





Puspita dan Raja Kodok yang memang bu-

kan lawan prajurit-prajurit itu terus mengganas, puluhan nyawa telah melayang di tangan mereka,

Raja Kodok bahkan tidak mau bersusah payah, ia

dengan enaknya melepaskan kodok-kodok bera-

cunnya ke arah prajurit-prajurit yang menye-

rangnya.

Bila kodok melompat ke arah wajah praju-

rit, maka terdengarlah suara jeritan mereka.

Orang-orang kelabakan, kiranya kodok-kodok be-

racun itu mengencingi mata mereka, hingga seke-

tika mata pun menjadi buta. Tentu saja prajurit

yang buta semakin ngawur dalam bertempur, ti-

dak jarang mereka membabat teman sendiri atau

bahkan menjadi sasaran senjata kawannya.

Melihat hal ini Raja Kodok berjingkrak

sambil bergoyang-goyang seperti orang menari.

"Bagus kawan-kawanku, kencingi saja me-

reka Kalau sudah buta mereka saling berbunu-

han seperti orang gila" kata Raja Kodok sambil menghindari serangan-serangan yang menghujani

dirinya.

Hanya dalam tempo satu jam, suasana di

lembah memang berubah menjadi pemandangan

yang sangat mengerikan. Darah mengalir menga-

nak sungai, mayat-mayat bergelimpangan di ke-

dua belah pihak. Namun yang terbanyak adalah

di pihak Lima Utusan Akherat. Karena para ang-

gota utusan ini tingkat kepandaiannya hanya bi-

asa-biasa saja, walau pun yang menjadi pimpinan

mereka punya kepandaian tinggi juga.

Dunga yang sudah siap memasang alat pe-

lontar peledak memang tidak mampu menutupi

rasa cemasnya. Sebab seluruh anggota utusan

hanya tinggal bersisa beberapa gelintir saja. Ia ingin melepaskan peledak, namun khawatir terkena

kawan sendiri.

Sementara prajurit kerajaan ketika itu

hanya tertinggal sekitar seratus orang lagi.

Panglima Arung Garda ketika itu sudah

melumpuhkan Ubudana setelah membabat putus

menjadi tiga bagian ular Cobra yang menjadi an-

dalannya. Kini ia berbalik menyerang Manggar

Kesuma. Laki-laki berjenggot panjang yang sudah

terluka ini hanya dapat menghindar dan menang-

kis menghadapi serangan Arung Garda yang tam-

pak semakin menggila ini.

"Ha ha ha... Sebentar lagi segera kau rasa-

kan betapa enaknya mati di tanganku, orang as-

ing" teriak laki-laki sadis ini.

"Aih..."

Manggar Kesuma melompat ke samping,

tusukkan pedangnya ke perut lawan. Tusukan

pedang tidak dielakkan oleh Arung Garda. Namun

sama seperti tadi senjata tidak dapat menembus

tubuh lawannya. Manggar Kesuma frustrasi, ia

melompat lagi ke samping, namun sebelum ka-

kinya menjejak ke tanah, ujung senjata lawan su-

dah menembus dadanya.

"Akk..."

Tokoh Teluk Nibung terjengkang sambil

mendekap dadanya. Ketika pedang disentakkan

oleh lawan, maka di saat itulah nyawanya me-

layang. Panglima Arung Garda tertawa menye-

ramkan. Sejenak ia putar pandangan, lalu tubuh-

nya melesat seperti terbang ke arah Puspita dan

Raja Kodok.

"Kini giliran kalian berdua yang harus me-

nebus dosa besar karena telah berani membuat

onar dan kerusuhan" geram Panglima sadis ini,

"Krok Kerusuhan kepalamu benjol, Pan-

glima Dari dulu kerajaan Ujung Dunia terkenal

kebobrokan moral dan tindakan rajanya yang

sangat kejam. Lebih gilanya lagi, manusia diburu

seperti binatang untuk kepuasan hati sang raja.

Mestinya aku marah, orang-orang marah. Kok

malah terbalik kau yang marah-marah" dengus Raja Kodok.

"Kau panglima bangsat yang katanya kebal

senjata itu" kata Puspita. menimpali.

"Hmm..." Panglima Arung Garda menggu-

man tidak jelas.

"Kekejamanmu telah melampaui batas,

Panglima Heaa..." Puspita berteriak keras. Ia menerjang, pedangnya meluncur deras menusuk

perut. Namun dengan gesit Panglima sudah me-

nangkisnya, sehingga terjadi benturan yang san-

gat keras sekali.

Traang

Puspita terdorong mundur, telapak tan-

gannya langsung lecet. Ini jelas merupakan per-

tanda bahwa tenaga dalam Panglima itu jauh be-

rada di atas tenaga dalam yang dimiliki oleh sang

dara. Pada waktu mereka terlibat pertarungan

sengit, ketika Dendra, Engku Bonang, Datuk Pala

dan Malai Berung baru selesai mengakhiri per-

tempuran dengan perwira-perwira kerajaan. Di

waktu itu pula terdengar suara ledakan-ledakan

keras menghujani sisa-sisa prajurit kerajaan yang baru saja memenangkan pertempuran melawan

anggota utusan.

Di tengah-tengah ledakan itulah pertempu-

ran sengit antara Puspita, yang dibantu Raja Ko-

dok melawan Panglima kerajaan Ujung Dunia ber-

langsung.

Tidak perduli lembah terguncang akibat

pengaruh ledakan tersebut. Mereka tampaknya

memang sudah siap menyabung nyawa

Sementara itu di atas bukit pemuda berba-

ju biru yang baru saja sampai ini terus mengawa-

si ke arah lembah. Ada rasa cemas membayang di

wajahnya yang ketolol-tololan, walau pun tampak

juga kelegaan disana.

Dentuman-dentuman keras terus berlang-

sung sampai-sampai Suro yang berada di atas

bukit dan masih duduk di punggung kudanya

terguncang dan nyaris terbanting. Pemuda itu se-

benarnya bingung, ia tidak tahu siapa orang-

orang yang mempergunakan bahan peledak itu,

mengapa Puspita malah bergabung dengan orang-

orang ini. Maka kemudian ia tepuk keningnya

"Bukankah waktu itu Malaikat Penderitaan

ada menyebut-nyebut Lima Utusan Akherat Me-





nurut kakek itu mereka bukan orang jahat, pan-

tas saja jika Puspita bergabung dengan mereka."

Suro mengurut dada. "Syukurlah Puspita selamat, mungkin orang pendek jelek macam kodok

membawa sumpit itu yang menolongnya? Ekh...

kelihatannya walau pun mereka telah mengeroyok

Panglima Arung Garda, tapi mereta seperti terde-

sak. Sebaiknya aku kesana untuk menjaga segala

kemungkinan yang tidak di ingini" pikir Pendekar Blo'on. Murid Penghulu Siluman Kera Putih dan

Malaikat Berambut Api ini kemudian berlari-lari

menuruni bukit. Waktu itu suara ledakan sudah

tidak terdengar lagi.

Setelah Suro benar-benar dekat, maka dili-

hatnya Puspita memang sudah semakin terdesak.

Bahkan Raja Kodok yang dikenal punya jurus-

jurus simpanan yang sangat aneh ini pun seakan

kehabisan akal untuk menghadapi Panglima

Arung Garda.

"Kali ini tidak ada jalan meloloskan diri ba-gi kalian" dengus Arung Garda. Laki-laki itu mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi, ketika

senjata itu digerakkan dengan pengerahan tenaga

dalam yang sangat tinggi, maka terlihatlah sinar

pelangi bertebaran bagaikan kunang-kunang di

udara. Sing

Puspita yang berada paling dekat dengan

lawannya langsung tutupi matanya. Justru ke-

sempatan ini dipergunakan oleh Arung Garda.

"Hiya..."

Pedang Panglima itu meluncur. Suro me-

lompat mendorong tubuh Puspita. Tidak urung

tubuhnya terkena ujung pedang lawannya. Gadis

itu menjerit. Dekat lambungnya robek besar, Pan-

glima itu kembali berbalik. Namun begitu senjata

berkiblat dengan maksud mengakhiri perlawanan

Puspita, sinar hitam berkiblat di tangan Suro

Blondo. Lalu terdengar suara ringkikan panjang,

suara tawa, suara tangis sambung menyambung.

Traang

Panglima Arung Garda tersentak, pedang-

nya buntung menjadi tiga bagian. Suro Si Bocah

Ajaib langsung mengayunkan Mandau di tangan-

nya. Secepat-cepatnya Panglima menghindar,

namun gerakan senjata Si Bocah Ajaib ini lebih

cepat lagi. Mandau Jantan tersebut menebas pu-

tus kepala Arung Garda. Jeritan terdengar, kepala tidak sampai menggelinding, cepat sekali Suro

sudah menangkapnya. Kemudian dilemparkannya

pada Raja Kodok sambil berseru...

"Larikan kepalanya ke kota Raja, sobat je-

lek muka kodok"

Seperti orang bego, Raja Kodok menurut

pula. Pemuda berbadan pendek dan selalu basah

itu terus berlari sambil mengempit kepala Arung

Garda. Hebatnya, tubuh tanpa kepala dan berlu-

muran darah ini tetap bertahan. Ia malah berba-

lik dan mengejar Raja Kodok yang telah membawa

lari kepalanya.


"Krak... kok... kok, kakkok... (Kembalilah

kepalaku... kembalikan kepalaku...)" Begitulah kira-kira Arung Garda yang sedang mengejar Raja

Kodok ini jika saja ia bisa bicara. Pemandangan

ini sekilas memang tampak lucu sekaligus menge-

rikan. Betapa tidak, Arung Garda yang sudah ter-

babat putus kepalanya dan kini sedang dilarikan

Raja Kodok melakukan pengejaran tanpa henti.

"Ilmu gila Wong sudah nggak ada kepa-

lanya kok bisa lari, benar-benar Edan..." gerutu Suro Blondo.

Pemuda itu garuk-garuk kepala ketika utu-

san Indera Giri, utusan dari Kapuas dan Teluk

Nibung datang menghampiri.

"Kalian siapa?" tanya Suro.

"Kami Lima Utusan Akherat" sahut Dendra mewakili kawan-kawannya.

"Ternyata saudara sangat hebat sekali

Kami sudah hampir kehilangan akal menghadapi

panglima itu?" kata Engku Bonang.

"Walah ada orang begini rupa, tidak perlu

puji-pujian dan tepuk tangan segala, bukankah

begitu?" sahut Suro sambil garuk-garuk kepala.

"Kami ingin mencari..."

Suro cepat menggelengkan kepala. "Jangan

bicarakan masalah itu dulu. Lebih baik kalian to-

long kawan-kawan anda yang perlu ditolong. Nan-

ti kita bisa saling kenalan, dan membicarakan

kepentingan tuan atau pun kepentingan kami.

Sobatku ini terluka, aku perlu merawatnya" ujar Pendekar Blo'on. Sisa-sisa Lima Utusan ini segera

menghampiri kawan-kawannya yang tewas mau-

pun yang terluka. Sedangkan Suro sudah berada

di samping Puspita.

"Aih... bagaimana keadaanmu Rana Un-

ggul, eeh... Puspita. Lukamu kelihatannya cukup

parah juga. Aku harus mengobatinya..."

"Aduh... rasanya sangat perih sekali, Suro.

Mungkin ini sudah nasibku. Akh... uuu..."

"Jangan... jangan kau mati, nanti aku tidak

punya gadis secantikmu" sergah Suro, serius.

Puspita meringis kesakitan. Darah semakin

banyak yang menetes. Suro memeriksa luka-luka

itu. Ternyata cukup parah juga.

Ditotoknya urat darah dekat ketiak Puspi-

ta. Kemudian murid Penghulu Siluman Kera Pu-

tih dan Malaikat Rambut Api mengeluarkan obat

pulung. Setelah dihancurkan, maka serbuknya

ditaburkan di atas luka memanjang itu. Puspita

menjerit-jerit kesakitan.

"Kk... kau apakah kau mau membunuh-

ku?" "Hust, gadis secantikmu masa tega aku membunuhmu, orang-orang yang punya isteri jelek saja jangan dikubur dulu kalau belum mati"

kata Suro sambil nyengir.

"Suro... aku harus bangun, pakaianku ber-

lumuran darah Aku sudah tidak betah mema-

kainya..." kata si gadis, matanya mengerling penuh arti.

"Boleh tapi jangan disini, nanti dilihat oleh orang-orang itu. Bukannya malu. Sayang badan-

mu yang bagus itu kalau dilihat mereka..." kata Suro sambil nyengir.

"Dasar edaaan..."

"Ha ha ha... Suro memang penuh keeda-

nan, tapi aku takut adikku malah lebih edan lagi.

Adik buta, tidak punya mata"

Mendengar kelakar si konyol yang rada- rada miring itu, Puspita terpaksa menahan senyum.



TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...