Rabu, 12 November 2014

Pendekar Bloon - Eps.6 Undangan Maut

Pendekar Bloon

Episode 6

UDANGAN MAUT


1

Gunung Merbabu selayang pandang hanya

berupa dataran tinggi menjulang ke langit. Di senja hari bagian lerengnya nampak sunyi. Sebelum

mencapai lereng gunung, di bagian lembahnya

terdapat sebuah telaga, dan dari pinggiran telaga itulah jalan satu-satunya untuk mencapai lereng ataupun puncak Merbabu. Hampir bisa dipasti-kan orang tidak berani datang ke tempat ini. Selain tempatnya sangat rawan. Daerah ini merupa-

kan tempat kediaman manusia aneh Gajah

Munding alias Gajah Gemuk dan Gajah Kerem-

peng. Pada masa itu tokoh-tokoh persilatan baik dari utara, selatan, timur dan barat begitu mena-ruh hormat dan takut kepada dua tokoh bersau-

dara ini karena ketinggian ilmu silatnya. Terhitung tokoh angkatan tua namun memiliki pera-

wakan awet muda itu hanya sekali turun gu-

nung. Yaitu ketika terjadinya geger di Gunung

Bromo pada saat menjelang kelahiran seorang

bayi ajaib alias Suro Blondo. Tapi itupun terjadi sekitar delapan belas tahun yang lalu. Setelah ke-gagalannya mendapatkan bayi ajaib tersebut, ma-

sih ditempat yang sama mereka membawa seo-

rang bayi perempuan yang akhirnya mereka ang-

kat menjadi murid dan mereka beri nama Dewi

Bulan. Kini gadis itu sudah dewasa dan telah turun gunung pula setelah mereka gembleng den-

gan berbagai ilmu olah kanuragan.





Jika dulu Gunung Merbabu selalu diwarnai

dengan suara-suara teriakan seorang gadis yang

sedang melatih ilmu silatnya. Maka kini Gunung

Merbabu berubah sunyi seperti kuburan.

Melihat ke lembah, tepatnya di pinggir tela-

ga. Tampak seorang laki-laki tua duduk menca-

kung. Laki-laki ini memakai baju dari anyaman

daun lontar. Begitu juga dengan topi capingnya.

Dandanannya kedodoran, kedua mata kecil seper-

ti mata ikan lele. Jika ia menarik kailnya ke per-mukaan air. Maka tercium bau busuk yang me-

nusuk. Karena umpan kail itu tidak lain merupa-

kan potongan-potongan tangan manusia yang

sengaja dibusukkan.

Satu dua makhluk panjang melata dari da-

lam air menggelepar dan mengeluarkan suara

mendesis-desis. Jelas yang memakan mata kail-

nya bukanlah ikan ataupun belut, melainkan

ular-ular berbisa yang sangat mematikan.

Ular-ular yang tertangkap mata kailnya itu,

langsung ia masukkan ke dalam kepis. Sebuah

tempat yang terbuat dari anyaman kulit rotan

berpenutup.

Sementara gerakan mata kailnya semakin

bertambah cepat. Setiap mata kail disentakkan,

maka yang terlihat hanyalah ular-ular berbisa

yang menggelepar kesakitan. Hampir dua jam ia

berbuat seperti itu sampai kemudian ia menarik

nafas lega.

"Kepis ini sudah penuh. Aku Datuk Mam-

bang Pitoka hanya dapat memberikan hadiah se-





perti ini pada Penghulu Iblis alias Datuk Raka Tendra. Duh seandainya aku masih muda, tentu

aku ikut tanding Pibu. Dengan begitu jika aku keluar sebagai pemenangnya. Maka aku berhak

mendapatkan Maya Swari sebagai isteriku yang

sah." kata Buto Terenggi alias Datuk Mambang Pitoka ini sambil mengelus-elus jenggotnya yang

hanya beberapa helai itu. "Maya Swari adalah lambang keagungan dari seluruh putri iblis yang cantik. Sayang kini usiaku sudah tidak muda lagi.

Datuk Raka Tendra dengan kebiasaannya yang

aneh tentu telah menyebar undangan. Jika ia

mengundang seluruh kalangan persilatan baik

yang hitam dan yang putih. Tentu ia mempunyai

tujuan yang lain sesekali. Putrinya Maya Swari

juga mempunyai keinginan yang aneh. Ia hanya

mau bersuamikan pemuda yang dapat mengalah-

kannya. Padahal adalah sangat berbahaya jika ia sampai mendapat suami dari golongan lurus. Ha

ha ha... Mungkin perlu aku memberi tahu so-

batku itu." Datuk Mambang Pitoka penguasa rimba kegelapan ini tiba-tiba saja menepuk kening-

nya. "Mengapa harus kuurus? Tokh sebagai sesama iblis kami punya urusan sendiri-sendiri."

Kakek tua bertampang angker ini bangkit

berdiri. Tidak lama ia membalikkan badan dan

baru saja hendak melangkah ketika ia mendengar

suara mendesir. Matanya yang kecil kemudian

mengerjap. Tapi ia tidak melihat siapa-siapa di sekitarnya selain dirinya sendiri.

"Aku ini iblis. Kalau ada setan yang beru-





saha menggodaku. Berarti geblek yang tidak me-

mandang muka pada golongannya sendiri." Datuk Mambang Pitoka menggumam seorang sendiri.

"Kau berani memasuki daerah orang lain

dan berani mencuri ular berkhasiat milik kami.

Kembalikan ular Kayangan milik kami"

Buto Terenggi terkesiap begitu mendengar

suara seseorang yang disampaikan melalui ilmu

menyusupkan suara tersebut. Cepat sekali ia

berpaling ke arah datangnya suara.

Pada saat itulah ia melihat dua orang laki-

laki hanya mengenakan koteka. Yang satu berba-

dan gemuk luar biasa sehingga mirip gajah bunt-

ing sedangkan yang satunya berbadan kurus ker-

ing macam jerangkong hidup. Anehnya walaupun

laki-laki gemuk itu mempunyai badan besar seka-

li. Tapi gerakannya cepat sedangkan langkahnya

ringan. Berbeda dengan yang berbadan kurus.

Langkah kakinya terasa begitu berat namun man-

tap. Mereka memakai senjata berbentuk gaitan.

Disambung dengan sebuah rantai memanjang ta-

pi hanya diselempangkan di bahu. Buto Terenggi

begitu melihat kehadiran dua tokoh ini agak terkesiap. Namun kemudian tawanya terdengar.

"Majikan Gunung Merbabu. Ah... sudah

lama sekali kita tidak bertemu. Terimalah hormat sesama sahabat" Buto Terenggi merangkap kedua tangannya ke depan dada kemudian mem-

bungkukkan kepala sebanyak tiga kali. Dua pen-

datang yang tidak lain adalah Gajah Gemuk alias Gajah Munding dan Gajah Kerempeng ini saling





pandang sesamanya. Melihat dandanan laki-laki

asing di depan mereka rupanya Gajah kurus

langsung mengenali.

Buto Terenggi adalah tokoh aliran sesat

yang sangat jarang sekali muncul di rimba persilatan. Sekali saja laki-laki yang sangat ahli dalam mempermainkan senjata toya ini muncul. Pastilah ada sebuah peristiwa yang sangat besar bakal terjadi. "Kami lihat sejak tadi kisanak mencang-kung di pinggir telaga tempat kami memelihara

ular Kayangan. Apakah yang anda perbuat?"

"Bukan ingin tapi aku telah mengambil

ular-ular Kayangan ini untuk seorang sahabat

hendak mencarikan jodoh buat anaknya. Apakah

saudara Gajah sudah mendapatkan undangan-

nya?" Gajah gemuk dan Gajah Kerempeng ber-

pandangan sejenak, kemudian sama menggeleng-

kan kepala.

"Belum"

"Kalau begitu anggaplah kedatanganku ini

mewakili keluarga besar Diraja Penghulu Iblis Ra-ka Tendra. Satu purnama mendatang datanglah

kalian ke gunung Pangrangko. Siapa tahu anda

merupakan orang yang beruntung mendapatkan

putri agung Maya Swari untuk menjadi pendamp-

ing di sini. Selamat tinggal..."

"Hei tunggu..." teriak Gajah Krempeng ketika melihat Buto Terenggi bermaksud meninggal-

kan mereka. Tetapi laki-laki berpakaian kedodo-

ran ini sama sekali tidak menghiraukannya. Se-





hingga membuat Gajah Gemuk melompat ke de-

pan menghadang langkah Buto Terenggi. Bukan

main cepatnya gerakan laki-laki dengan berat

hampir dua ratus kali ini. Sehingga dalam waktu sepersekian detik ia telah berada di depan Buto Terenggi. Buto Terenggi terkejut, tapi kemudian langsung tertawa membahak.

"Bukan main, sungguh aku tidak percaya

kehebatan sesepuh gunung Merbabu jika tidak

melihatnya sendiri hari ini"

"Mau percaya atau tidak bukan urusan. Ki-

sanak telah melakukan pencurian barang yang

sangat langka dan berharga. Kau hanya boleh

meninggalkan lereng Merbabu ini setelah men-

gembalikan ular-ular Khayangan milik kami"

"Wah... masalahnya akan jadi runyam jika

aku melayani gajah bunting dan gajah kurang

makan ini. Walaupun aku tidak merasa ragu

bahwa aku belum tentu kalah menghadapi mere-

ka. Apa yang harus aku lakukan?" batin Buto Terenggi. "Masalah kecil janganlah diperbesar. Aku mau membayar seratus ular Kayangan dengan seratus uang emas. Bagaimana? Apakah kalian se-

tuju?" "Kami tidak setuju. Ular Kayangan itu ber-telur selama seratus tahun sekali. Siapapun yang memakannya, akan menambah kekuatan tenaga

dalamnya menjadi sepuluh kali lipat. Dan kami

tidak pernah memperjual belikannya."

"Kalau tidak dijual dan dibeli. Jika begitu





aku memintanya dari kalian secara hormat hai

orang gagah" ujar Datuk Mambang Pitoka.

"Tidak bisa. Kembalikan barang itu" Gajah Krempeng bersikeras.

Merasa tidak punya jalan lain lagi. Datuk

Mambang Pitoka langsung mengebutkan ujung

jubahnya, sehingga terlihat lima sinar merah berbentuk bintang menderu ke arah kedua Gajah.

"Setan alas" Dua-duanya menggerung, dua tangan melambai ke arah senjata-senjata rahasia yang menyerang secara cepat ini.

Wuuk wuus

Tring Tring

Enam buah senjata rahasia dibuat terpe-

lanting. Bahkan dua diantaranya berbalik menye-

rang tuannya sendiri. Buto Terenggi adalah tokoh sesat berpengalaman bahkan ia mempunyai julu-kan Datuk Mambang Pitoka, karena dianggap

memiliki kepandaian setingkat dengan para

mambang (Makhluk alam gaib). Dengan tenang

sekali ia acungkan jari telunjuknya ke arah lain.

Sehingga senjata rahasia yang berbalik menye-

rangnya itu melenceng dari sasaran dan menan-

cap di batang pohon di belakangnya.

Hanya lima detik pohon itu berubah layu

dan daun-daunnya langsung berguguran. Gajah

Gemuk dan Gajah Krempeng sempat tercengang

dibuatnya. Namun sebagai orang yang sudah me-

lihat kehebatan setiap datuk. Tentu mereka tidak perlu merasa kagum.

"Datuk, kami akui kehebatan racun yang





terkandung dalam senjata rahasiamu itu. Tapi

kami bukan anak kecil yang dapat kau takut-

takuti. Jika kau tetap tidak mau mengembalikan

ular-ular Khayangan kami ke dalam telaga. Hari

ini kami bersumpah untuk mengikat permusuhan

kepadamu"

"Urusan ini ada baiknya kalau kita bicara-

kan di gunung Pangrangko satu purnama menda-

tang" Selesai dengan ucapannya. Tiba-tiba Datuk Mambang Pitoka menyambitkan sesuatu ke

arah Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng. Karena

terkejut dan tidak menyangka datangnya seran-

gan gelap ini. Maka Gajah Krempeng langsung

menyambutnya dengan satu tendangan yang cu-

kup keras. Sehingga membuat benda berbentuk

bulat macam bahan peledak itu mengeluarkan

bunyi mendesis yang disertai dengan menebarnya

asap tebal. Seketika itu juga suasana di sekeliling mereka berubah menjadi gelap berselimut kabut.

"Bangsat Iblis itu benar-benar mengecoh

kita." teriak Gajah Gemuk sambil membanting-banting kakinya. Sehingga membuat tanah yang

diinjaknya amblas sampai sebatas dengkul. Ke-

nyataan ini membuat Gajah Krempeng menggeru-

tu. "Seharusnya kita kejar setan itu kakang. Ular-ular berkhasiat milik kita yang telah ditangkap-nya tentu jumlahnya cukup banyak juga."

"Ya... kurasa tidak ada gunanya. Kalau

memang benar di gunung Pangrangko akan ada

pertemuan yang sangat besar. Mengapa kita tidak ke sana saja? Kita bisa melihat apa yang akan ter-





jadi disana sekalian mencari tahu bagaimana ka-

barnya murid kita Dewi Bulan sekarang? Apakah

ia telah berhasil menemukan pembunuh orang

tuanya atau belum."

"Tapi... bukankah kita sendiri punya pan-

tangan untuk membunuh? Apalagi sampai me-

ninggalkan gunung Merbabu ini?" Gajah Krempeng rupanya teringat akan sumpahnya.

"Sudahlah... lupakan masalah itu. Kita be-

rangkat sekarang...."

Nampaknya Gajah Krempeng memang me-

rasa tidak punya pilihan lain lagi. Ia terpaksa mengikuti keinginan kakang kandungnya sebagaimana yang terjadi ketika mereka hendak ke

gunung Bromo delapan belas yang lalu.





2


Hujan petir, angin menderu-deru. Goa Da-

rah yang terletak di kaki bukit gunung Gede ini untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun

terkena siram air hujan. Jika orang mengetahui

kejadian ini tentu mereka terheran-heran. Sebab Goa Darah mereka kenal mempunyai semacam

tabir gaib yang melindungi gua sepenuhnya ber-

warna merah darah ini dari hempasan air hujan

terpaan badai. Bahkan masyarakat Jawa bagian

barat merasa yakin sekali bahwa Goa Darah me-

nyimpan misteri gaib hingga saat ini.

Sementara itu dalam keadaan hujan angin





sedemikian rupa di mulut pintu Goa Darah terli-

hat sosok bayangan berpakaian putih berkulit hitam macam arang sedang meneliti bagian dalam

gua yang berwarna kemerah-merahan itu. Petir

menyambar, sehingga sekilas cahaya kuat yang

membersit tadi menerangi wajah hitam legam be-

rambut jarang. Wajah itu tidak ubahnya seperti

tengkorak hidup. Matanya mencorong seperti ma-

ta setan. Betapa mengerikan penampilannya, me-

lebihi buruknya setan penghuni kubur. Ia baru

saja melangkahkan kaki kanannya menuju ke ba-

gian ruangan tengah gua tersebut. Ketika cahaya merah dari dalam gua melabrak tubuhnya. Cahaya itu sedemikian dahsyat dan dingin membe-

kukan. Namun si pendatang rupanya telah bersi-

kap waspada. Sehingga ia melompat ke samping

kiri. Belum sempat ia menjejakkan kakinya. Dari bagian samping menyambar cahaya yang sama.

Tidak pelak lagi tubuhnya langsung tergontai-

gontai terkena sambaran cahaya merah yang me-

nyerangnya secara aneh ini.

Ia mengeluh pendek. Namun kemudian

mulutnya memaki menumpahkan kata-kata yang

sangat kotor sekali. Dengan cepat ia bangkit berdiri kemudian merapat ke dinding gua. Sementara matanya tidak pernah lepas dari sebuah benda

bersegi tiga yang terletak di tengah-tengah gua itu. Permata tersebut sejak tadi terus memancarkan cahaya berwarna putih kemilau. Tapi setiap

cahaya yang melesat meninggalkan permata itu

selalu berwarna merah. Dan cahaya dari prisma





permata persegi tiga itulah yang rupanya telah

menyerang perempuan macam tengkorak hidup

berkulit hitam macam arang. Sungguh ini meru-

pakan sebuah kejadian yang sangat langka. Dan

perempuan berkulit hitam ini juga bukan perem-

puan sembarangan.

Dia adalah tokoh aliran sesat dari daerah

kulon. Ia sangat ditakuti oleh golongan putih, dis-egani oleh golongan hitam karena memiliki jurus-jurus tongkat hitam yang sangat diandalkannya.

Sudah begitu banyak tokoh-tokoh tingkat tinggi yang tewas di ujung tongkatnya yang berkepala

harimau ini. Terlebih-lebih saat ia malang melintang di rimba persilatan tiga belas tahun yang la-lu.

Beberapa tahun belakangan ia dikabarkan

telah mengasingkan diri di daerah Labuhan. En-

tah mengapa hari ini ia sengaja muncul ke lereng gunung Gede. Yang jelas hingga sampai detik ini ia terus berusaha mendekati Prisma permata yang terjepit di tengah-tengah batu mirip meja altar tersebut. Sekali lagi ia berusaha menggapai batu Permata dengan mempergunakan tongkatnya. Keringat dingin mengucur di sekujur wajahnya yang menyerupai tengkorak, perlahan tongkat itu bergerak. Baru saja menyentuh salah satu sisi Pris-ma tiba-tiba kilat melesat dari Prisma itu dan

menghantam tongkat ditangan Setan Hitam.

"Uuh..."

Tangan yang kurus kering itu bergetar ke-

ras, hawa dingin menusuk menyengat bagian je-





marinya. Untung ia memiliki tenaga dalam yang

sudah mencapai tarap diatas sempurna. Sehingga

senjata yang sangat diandalkannya itu tidak sampai terlepas dari tangannya.

"Gelo betul. Apa yang kudengar selama ini

ternyata bukan omong kosong belaka. Terlanjur

aku mendapat undangan merah. Aku harus

memperlihatkan sesuatu yang sangat luar biasa

di depan Diraja Penghulu Iblis. Dan Prisma gaib kini telah berada di depan mata. Aku harus segera mengambilnya." Setelah berkata begitu, dengan segenap kecerdikan yang dimilikinya ia melepaskan baju putihnya. Di balik baju ia tidak memakai apa-apa, sehingga terlihatlah buah da-

danya yang peot menggelantung seperti karung

basah. Baju itu kemudian dilemparkannya ke arah Kristal dengan pengerahan tenaga dalam yang

tinggi. Spontan cahaya merah menyambar. Baju

yang dilemparkan oleh Setan Hitam alias Nya-

nyuk Pingitan langsung disambar oleh cahaya

merah. Hingga membuat baju tersebut terbakar.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Setan Hitam. Seraya langsung melompat dan berguling-

guling. Di lain kejap ia sudah menyambar Kristal Permata tersebut.

Sedetik kemudian di tengah-tengah hujan

yang membadai terdengar suara menggemuruh

yang begitu dahsyat. Nyanyuk Pingitan tercekat.

Sementara ia terpaksa memasukkan Prisma Kris-

tal yang telah dicurinya ke dalam kantong kulit





yang telah dipersiapkannya.

"Oh... mengapa jadi begini? Apakah karena

kekuatan gua ini tergantung pada Prisma Kristal yang baru saja kuambil?" Setan Hitam menggumam dalam hati. Tokh ia sudah tidak sempat

berpikir lebih jauh lagi. Karena pada saat itu langit-langit gua mulai runtuh. Batu-batu berjatu-

han. Sementara altar tempat bersemayamnya

Prisma Kristal tadi mulai menunjukkan keretakan disana-sini.

Krraaaak....

Setan Hitam laksana kilat melompat keluar

dari dalam gua. Pada saat yang sama pula ter-

dengar suara dahsyat menggelegar.

Bumm Buum

Gua runtuh. Setan Hitam tercengang keti-

ka melihat sinar merah menerangi reruntuhan

gua. Sinar merah itu seperti muncul dari dalam

bumi. "Aku tidak mau mengambil resiko. Aku harus meninggalkan tempat ini segera"

Belum selesai dengan ucapannya ia telah

melesat pergi sambil membawa Prisma Permata

Sakti curian.

Tidak sampai sepuluh menit setelah Nya-

nyuk Pingitan meninggalkan Gua Darah. Dari re-

runtuhan gua yang memancarkan cahaya merah

menyala bagaikan lava gunung ini muncul tangan

berwarna kemerah-merahan. Batu-batu yang be-

rasal dari reruntuhan gua berpelantingan.

"Hoaaarkh... Hraaaakk..."





Brol Bool

Muncullah sosok tubuh. Tingginya menca-

pai lima meter. Sekujur badannya yang berwarna

merah bagaikan darah ditumbuhi bulu-bulu le-

bat. Bukan main besarnya makhluk ini. Yang cu-

kup mengherankan, kepala manusia berbulu ini

berujud kepala harimau. Mempunyai dua pasang

taring yang panjang. Matanya mencorong bagai-

kan mata binatang malam.

"Gila... siapa orangnya yang berani mencuri Kristal Sakti milikku. Siapa orangnya yang telah membuat hancur istanaku. Kristal diambil. Dunia benar-benar hendak kiamat. Seluruh Jawa ini bi-sa tenggelam menjadi lumpur api." Serak dan berat suara manusia merah ini. Matanya yang liar

itu memandang ke sekelilingnya. Dan hidungnya

mulai mengendus-endus. Tiba-tiba ia tertawa, ta-pi dalam tawanya mengandung kesedihan. Gu-

nung Gede bergetar hebat karena pengaruh suara

tawanya itu. Sementara goa Darah kini telah be-

rubah menjadi lautan lumpur panas yang mengo-

barkan api menyala-nyala. Panas yang ditimbul-

kannya menyebar ke seluruh tempat-tempat yang

berdekatan dengan bekas Goa Darah tersebut.

Sehingga mengundang ketakutan siapa saja.

"Benar-benar keterlaluan. Benda penjaga

keseimbangan bumi telah diambil oleh orang pin-

tar tapi bodoh. Aku tidak melihat orangnya, tapi melihat baunya. Aku harus mencarinya... harus..." Dengan langkah-langkah kakinya yang be-





rat menggetarkan setiap jengkal tanah yang dipi-jaknya. Ia melangkah menuju arah matahari ter-

bit. Hanya malam hari saja ia berjalan. Pada siang hari ia tidur disembarang tempat yang tersembunyi dari perhatian orang.

Siapakah Manusia Merah dengan tinggi li-

ma meter ini? Sekitar dua abad yang silam. Seo-

rang Kyai Sakti mandraguna yang tinggal di gu-

nung Jati sering melakukan perjalanan ke daerah Banten. Dalam perjalanan yang berulang itu, ter-kadang ia singgah di tempat-tempat tertentu se-

belum mencapai tempat tujuan. Karena beliau

masih begitu muda dan belum punya istri pula.

Di daerah Jampang kulon kebetulan ia kenal seo-

rang gadis bernama Restu Abadi. Gadis cantik ini anak seorang bajingan besar bernama Malim

Kuswara. Cinta diantara mereka ternyata ber-

sambut. Setelah dua tahun mereka menjalin hu-

bungan. Akhirnya mereka menikah. Ketika Restu

Abadi hamil, maka terjadi banyak keanehan. Se-

tiap malam istri Kyai Tapa ini sering menggerunggerung seperti harimau. Suatu malam Kyai Tapa

bermimpi bahwa anak yang akan terlahir dari ra-

him istrinya ini akan terlahir dengan dua rupa.

Yaitu kepala harimau sedangkan badan seperti

manusia biasa cuma ditumbuhi bulu.

Dengan kesaktiannya yang sangat tinggi,

sang Kyai mulai menyelidiki keanehan kehamilan

yang terjadi pada isterinya. Akhirnya diketahui, rupanya sebelum malam pertama. Ada raja Jin

yang datang kepada Restu Abadi, dan menggau-





linya sebagaimana layaknya suami isteri. Dalam

hal ini, Kyai tidak dapat menyalahkan istrinya.

Karena Raja Jin itu telah menyaru sebagai diri

sang Kyai. Dengan tekunnya ia meminta pada

sang khalik agar dipertemukan dengan Raja Jin

yang dia anggap telah mencoreng harga dirinya.

Dalam pertempuran yang berlangsung se-

lama seratus hari tidak ada henti itu. Ternyata tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.

Mereka akhirnya sama-sama mengangkat ikrar

agar tidak bermusuhan lagi. Sebagai imbalannya.

Bila anak itu terlahir kelak ia harus ditempatkan di dalam sebuah gua yang tidak pernah didatangi manusia. Sedangkan istrinya harus rela dibuang

ke pulau Andalas.

Raja Jin ternyata setuju. Sungguhpun Res-

tu Abadi yang merasa tidak bersalah tidak menye-tujuinya. Demikian juga halnya dengan Malim

Kuswara ayah kandung Restu Abadi. Pertempu-

ran antara anak menantu dengan mertua ini ti-

dak dapat dihindari lagi. Tapi karena begitu tingginya ilmu kesaktian yang dimiliki oleh Kyai Tapa.

Malim Kuswara tewas di tangan menantunya. Be-

gitu anak mereka terlahir, maka pergilah Restu

Abadi meninggalkan Jampang Kulon dengan

membawa luka hati dan dendam membara. Ia ti-

dak lagi menghiraukan anaknya yang terlahir

dengan keadaan yang sangat mengguncangkan

hatinya itu.

Kyai Tapa sendiri setelah membawa anak

Jin itu ke Goa Darah langsung mengasingkan diri





ke Gunung jati. Tidak ada yang tahu, anak Jin

alias manusia Merah yang diberi nama Soma Sa-

sra ini selalu memberontak dan menimbulkan

guncangan di sekitar pulau Jawa. Khususnya di

daerah Jawa Barat. Raja Jin diam-diam meletak-

kan sebuah Kristal Permata di tengah-tengah al-

tar untuk meredam gerakan sang anak yang se-

tengah manusia dan setengah binatang ini. Tapi

siapa sangka hari ini setelah dua ratus tahun

mendekam di dasar perut bumi Prisma Permata

itu ada yang mengambilnya. Karena memang ti-

dak ada yang tahu bagaimana tabiat dan sepak

terjang Manusia Merah ini. Alangkah baiknya jika kita ikuti sepak terjang Soma Sasra selanjutnya.

Benarkah dia hanya ingin mencari Kristal sakti

miliknya itu atau punya maksud lain setelah ia

terbebas dari penjara perut bumi selama ratusan tahun. Pada saat yang sama, sebuah perahu kecil meluncur menyeberangi selat Sunda. Pemandan-gan senja yang remang-remang dengan latar bela-

kang gunung Krakatau yang terus mengepulkan

asap, merupakan keindahan tersendiri bagi yang

melihatnya. Tapi bila melihat ke arah orang yang sedang meluncur kencang dengan perahunya ini

sangat jauh bertolak belakang. Wajah laki-laki ini hanya sebagian saja yang tertutup kulit. Sedangkan bagian lainnya tertutup daging busuk berna-

nah. Matanya juga hanya sebelah, sedangkan ma-

ta kirinya membentuk lubang yang sangat dalam.

Sesekali bibirnya yang rusak bopeng-





bopeng dan hampir tanggal ini menyunggingkan

seulas senyum. Namun senyum itu malah sede-

mikian menyeramkan.

"Jauh sudah jalan kutempuh. Akhirnya

aku menjadi bosan. Ha ha ha... Letih nian aku

mencari akhirnya aku diam sendiri. Ha ha ha...

Undangan merah undangan maut. Tanah Jawa

lama tidak kudatangi, masihkah kini para iblis

ingat pada Alang Sitepu. Mudah-mudahan Bung-

kuk Lima tetap di kenang. Aku akan datang...

ya... datang atas undang merah..."

Alang Sitepu alias Bungkuk Lima berdiri di

atas perahunya yang terus meluncur kencang.

Tokoh hitam yang kondang karena ilmu sihirnya

ini kemudian tertawa-tawa.

"Gunung Sibayak telah jauh di belakang

sana. Gunung Pangrangko kini menjadi tujuan.

Ha ha ha... apa kabar orang Jawa?"

Wajah yang sangat mengerikan dengan ma-

ta yang cuma tinggal sebelah ini memandang ke

satu arah. Kini Labuhan telah terlihat olehnya. Ia pun menyeringai, kemudian tertawa. Gemuruh

suara tawanya menggema diantara deburan om-

bak yang kian menggila.





3


Gadis berbaju kuning gading memakai ikat

kepala warna putih ini tiba-tiba hentikan lang-

kah. Wajahnya yang cantik rupawan dengan tahi





lalat di dagu tampak tertutup oleh anak-anak

rambutnya. Ia sibakkan anak rambut yang terge-

rai diwajahnya. Setelah itu ia melangkah lagi. Pa-da saat berjalan seperti itulah ia teringat dengan orang-orang yang telah membunuh ayah dan

ibunya. Balung Raja, Braja Musti dan Baja Geni

semuanya sudah mati. Hanya Ki Rambe Edan sa-

ja yang luput dari kematian. Teringat akan mu-

suh-musuh besarnya yang sudah mampus. Ter-

bayang pula oleh si gadis seorang pemuda. Pemu-

da tampan berambut kemerah-merahan namun

bertampang tolol. Dialah Suro Blondo,

Entah mengapa akhir-akhir ini ia selalu te-

ringat pada pemuda itu. Bahkan setiap tidur ia

sering bermimpi bertemu dengan Suro Blondo. Ke

mana perginya pemuda yang dikaguminya ini ia

tidak tahu. Mungkin ia masih memburu musuh

besarnya yang hingga sampai detik ini Suro Blon-do tidak tahu dimana rimbanya.

"Angin oh angin. Mengapa hatiku selalu

bergetar? Matahari-matahari, dimana dia geran-

gan?" Dewi Bulan gadis rupawan ini menggumam dalam hati. Tiba-tiba saja wajahnya berubah memerah. Ia menjadi malu pada dirinya sendiri. Bukankah ketika bersama Suro Blondo dulu tidak

pernah mengatakan bahwa ia mencintai dirinya?

Mengapa kini ia seperti orang yang kasmaran sa-

ja?

Dengan wajah masih tetap memerah, Dewi

Bulan tiba-tiba memutar langkah dan bermaksud

meninggalkan Cisarua. Tapi gerakannya segera





tertahan ketika ia mendengar suara nyanyian seseorang. Oh, ternyata bukan nyanyian. Tapi

orang yang sedang melantunkan bait-bait syair.

Dengan seksama Dewi Bulan mulai mencari-cari,

kemudian terlihatlah olehnya seorang perempuan

cantik berumur sekitar tiga puluh tahun. Bajunya berwarna kembang-kembang. Namun tipis, sehingga lekuk lengkung tubuhnya yang menggiur-

kan itu terlihat dengan jelas.

Bibir si perempuan yang kemerahan selalu

menyunggingkan senyum sedih. Di tanah Jawa

tidak seorang pun yang kenal dengan dirinya terkecuali hanya tokoh-tokoh tertentu saja.

Karena sesungguhnya ia berasal dari tanah

seberang. Di tanah Andalas orang mengenalnya

sebagai Ratu Penyair Tujuh Bayangan. Ahli dalam penyamaran sedangkan ilmu kepandaiannya sangat sulit diukur.

Dewi Bulan dengan seksama memperhati-

kan perempuan yang berdiri membelakanginya itu

untuk beberapa saat lamanya. Kemudian ia men-

dengar suaranya yang begitu merdu menggetar-

kan hati.

Tidak kering dilanda panas, tidak lekang dilanda hujan. Jawa dan Sumatera hanya dipisahkan oleh sebuah selat. Dua golongan terjebak dalam tradisi, kemunafikan dan angkara murka. Undangan merah yang disebar para setan telah ku-dapatkan. Undangan maut untuk para iblis. Di Gunung Pangrangko huru hara akan berlangsung.





Sayang pengantin yang diharap hanyalah iblis busuk yang menipu mata. Orang-orang sakti datang sendiri. Jodoh yang diharap ternyata hanya seorang pemuda bertampang tolol. Maya Swari putri cantik. Kecantikannya melebihi putri-putri raja.

Dasar celaka... hik... hik... hikk... Malang benar gadis yang mencinta.

Dewi Bulan terkejut sekali mendengar ka-

ta-kata yang terlontar dari bibir si perempuan.

Entah mengapa jantungnya berdetak lebih ken-

cang lagi. Seingatnya pemuda bertampang tolol

hanyalah pendekar Blo'on seorang. Apakah

mungkin Suro Blondo yang dimaksudkan oleh pe-

rempuan itu. Atau ada pemuda tolol lainnya? Tapi siapa yang dimaksudkannya dengan gadis yang

mencinta? Adakah dirinya? Kalau memang benar

berarti perempuan berbaju kembang-kembang itu

tahu segala. Sudah menjadi adat Dewi Bulan. Ia

serba ingin tahu, wataknya keras dan tidak mau

mengalah. Tapi bila ia sudah merasa jatuh cinta kepada seseorang, maka ia akan mempertaruh-kan nyawanya demi orang yang sangat dikasihi.

Kini rasa penasaran itu telah membuatnya

melompat ke depan menghampiri perempuan baju

kembang-kembang. Sungguhpun gerakan Dewi

Bulan begitu pelan bahkan kehadirannya tidak

menimbulkan suara sedikit pun. Namun perem-

puan itu cepat membalikkan badannya. Ketika

melihat kehadiran orang lain disitu, perempuan

baju kembang-kembang ini mengerutkan kening-





nya. Tatapan matanya yang mempesona penuh

rasa curiga.

"Siapakah kau bocah cantik?" tanya perempuan baju kembang-kembang.

Dewi Bulan malah cemberut.

"Seharusnya akulah yang bertanya siapa,

Nisanak Karena orang yang berpakaian seperti-

mu tidak lain hanyalah sebangsanya memedi atau

perempuan murahan. Sebagaimana syair-syair

yang Nisanak ucapkan barusan tadi" Entah mengapa Dewi Bulan merasa tidak dapat mengendali-

kan kata-katanya. Apa yang diucapkannya me-

luncur begitu saja tanpa terpikirkan sebelumnya.

"Aku datang memenuhi undangan merah

Datuk Nan Gadang Paluih abangku. Ngarai Sia-

nok tempat tinggalku. Wahai Dara, mengapa kau

menjadi marah. Kulihat matamu memancarkan

gejolak hasrat cinta. Katakanlah padaku Ratu penyair Tujuh Bayangan..."

Dewi Bulan tentu saja terkesiap mendengar

ucapan perempuan baju kembang-kembang ini.

Sama sekali ia tidak menyangka bahwa perem-

puan itu tidak lain adalah Ratu Penyair Tujuh

Bayangan. Jelas ia berasal dari Sumatera. Seba-

gaimana yang pernah dikatakan oleh gurunya du-

lu. Bahwa di negeri seberang itu ada beberapa tokoh sakti yang benar-benar sangat ditakuti bahkan mempunyai kepandaian selaksa ilmu. Dian-

tara mereka adalah, Ratu Penyair Tujuh Bayan-

gan, Datuk Nan Gadang Paluih, setelah itu Datuk Panglima Kumbang, dan juga Datuk Alang Sitepu.





Laki-laki yang disebutkan terakhir ini merupakan seorang ahli sihir kenamaan yang sangat ditakuti oleh golongan sesat dan golongan lurus. Masih

ada satu lagi tokoh yang tidak dapat dianggap

remeh. Dialah si Dewa Kudu dari Indera Giri Hilir.

Cuma tokoh yang satu ini konon hanya tinggal le-genda saja. Bahkan kabarnya sudah meninggal

sekitar lima belas tahun yang lalu. Tapi kuburannya tidak seorangpun yang dapat menyamban-

ginya. Sekarang Dewi Bulan berhadapan dengan

salah satu tokoh dari tanah seberang. Namun me-

lihat penampilannya, rupanya gadis ini tidak percaya bahwa Ratu Penyair Tujuh Bayangan ini me-

rupakan tokoh kosen sebagaimana yang pernah

diceritakan oleh gurunya. Apalagi bila melihat perempuan ini masih sangat muda sekali.

Tapi untuk membuat persoalan bukanlah

kebiasaannya. Lagipula diantara mereka baru kali ini bertemu. Rasanya tidak pantas jika ia mencari-cari perkara hanya karena ingin mengetahui

kehebatan orang lain.

"Ternyata anda Ratu Penyair Tujuh Bayan-

gan. Datang memenuhi undangan merah? Siapa-

kah yang mengundangmu?"

"Hik hik hik Tahukah kau dimana gunung

Pangrangko, anak baik?" tanya Ratu Penyair Tujuh Bayangan tanpa menghiraukan pertanyaan

Dewi Bulan. Sehingga membuat gadis berwatak

keras ini merasa diabaikan.

"Kalaupun aku tahu, tidak nantinya aku





tunjukkan padamu" dengusnya kesal bukan

main. "Ratu Penyair Tujuh Bayangan tidak bisa ditolak, anak manis Di puncak Pangrangko akan

terjadi peristiwa besar. Jawa ini bisa menjadi lautan lumpur api seluruhnya jika prisma Permata

tidak dapat dikembalikan ke asalnya."

"Siapa percaya dengan bualan seorang pe-

nyair?" Sikap yang sungguh meremehkan ini

membuat Ratu Penyair Tujuh Bayangan menjadi

dongkol.

"Aku tahu kau ingin mengujiku. Tapi baik-

lah jika kau tidak mau bekerja sama secara baik-baik denganku. Aku akan mengajarimu untuk

bersikap baik pada orang tua sepertiku. Lima jurus kuberikan padamu. Jika kau kalah maka kau

harus menuruti apa yang aku mau"

Dewi Bulan tentu saja tertawa lebar. Ba-

gaimanapun ia seorang murid dua tokoh sakti.

Ilmu kepandaiannya sudah hampir mencapai ta-

rap sempurna. Bagaimana mungkin Ratu Penyair

Tujuh Bayangan dapat memastikan lamanya se-

buah pertarungan?

"Kau terlalu sombong, Ratu Penyair. Se-

baiknya selalulah kau ingat bahwa diatas langit selalu masih ada langit lagi"

"Hik-hik-hik Jangan keburu marah. Uru-

sanku di puncak Pangrangko tidak bisa ditunda.

Sekarang lihat serangan..."

Ratu Penyair Tujuh Bayangan tiba-tiba





menyambar ranting kayu yang tergeletak tidak

jauh di bawah kakinya. Ranting kayu kering yang semula kaku itu kini berubah melemas bagaikan

rambut. Ketika ranting itu dikebutkan menuju delapan penjuru jalan darah. Maka angin pun ber-

gelung-gelung melabrak Dewi Bulan.

Gadis ini terkesiap dibuatnya, ia segera da-

pat mengetahui hanya orang yang memiliki tena-

ga dalam diatas sempurna saja yang mampu me-

lakukannya. Sementara itu Dewi Bulan terpaksa

melompat ke belakang untuk menyelamatkan diri

dari totokan lawannya. Tapi baru saja ia menje-

jakkan kakinya diatas tanah. Ranting kayu yang

kini telah berubah keras seperti asalnya telah me-luruk deras ke arah urat besar pada bagian pe-

rutnya. Hanya dengan mengandalkan jurus

'Kupu-kupu Menari di Atas Bunga' saja ia masih

mampu menghindari serangan lawannya.

"Keluarkan senjata yang kau punya" perintah Ratu Penyair Tujuh Bayangan sambil berge-

rak lagi.

Dewi Bulan merasa nafasnya semakin me-

nyesak, sedangkan jantungnya seolah-olah ber-

henti berdenyut. Apalagi ketika Gatri Kencana ini memutar ranting ditangannya melebihi kecepatan

titiran. Tidak ayal lagi Dewi Bulan terdorong

mundur. Kini sadarlah gadis berwatak keras itu

bahwa apa yang dikatakan oleh gurunya Gajah

Gemuk dan Gajah Kurus bukan hanya sekedar

omong kosong belaka.

Sebaliknya pada saat tengah berfikir dan





sambil menghindari serangan lawannya ini. Dewi

Bulan dikejutkan lagi oleh suara Ratu Penyair Tujuh Bayangan yang seakan datang dari delapan

penjuru arah.

"Melihat jurus-jurus silatmu. Rasanya ti-

dak salah jika kau sesungguhnya murid dua Ga-

jah di tanah Jawa"

"Huh, bagaimana kau tahu?"

"Hik-hik-hik Aku adalah penyair yang da-

pat membaca isi kepala orang. Gerakan tubuhmu

adalah duplikat gerakan Gajah Kurus dan Gajah

Gemuk. Apakah kau mau mungkir?"

Sebagai jawabannya Dewi Bulan langsung

mencabut pedang pendek yang terselip di ping-

gangnya.

Sing

Wuut Wuut

Pedang itu berputar sedemikian cepat. Ter-

dengar suara menderu-deru. Di tangan Dewi Bu-

lan pedang andalan itu seakan berubah menjadi

banyak. Menusuk membabat bahkan menyodok

ke arah empat jalan darah. Rupanya ketika ia

Dewi telah mengerahkan jurus 'Tarian Sang Wa-

let'. Salah satu jurus ciptaan bersama kedua gurunya. Untuk beberapa jurus Gatri Kencana tam-

pak terdesak mundur. Namun hanya beberapa

saat saja, begitu ia telah melihat jurus-jurus lawannya. Maka ia bergerak maju menerobos per-

tahanan Dewi dengan serangan ranting ditangan-

nya yang dapat melentur seperti oyot kayu dan





dapat berubah kaku seperti baja. Cepat bukan

main serangan itu. Hingga tahu-tahu salah satu

ujung ranting sudah berada di depan hidung De-

wi. Gadis ini tentu saja tidak menghendaki hi-

dungnya hancur. Ia menangkis sambil melompat

mundur.

Traang

Dewi Bulan terkejut, tangannya terasa sa-

kit bagai ditusuk ribuan batang jarum. Tidak disangka kesempatan yang singkat itu dipergunakan

oleh lawannya.

Tutts...

Gadis bertahi lalat di dagu ini mengeluh

tanpa mampu menggerakan tubuhnya lagi. Sa-

darlah ia bahwa Ratu Penyair Tujuh Bayangan ini telah menotoknya.

"Bagaimanapun kau kalah pengalaman dan

umur bila dibandingkan aku. Empat jurus kau te-

lah takluk, sekarang antar aku ke puncak Pan-

grangko"

"Kau telah bertindak curang. Kalau guruku

tahu, kau pasti hanya tinggal nama saja" maki Dewi Bulan tanpa mampu menggerakan tubuhnya ketika Gatri Kencana memanggulnya.

"Gurumu datang gurumu kugebuk mam-

pus Jangan pamer guru di depanku" dengusnya.

Sekali berkelebat, maka Dewi Bulan merasakan

tubuhnya dibawa lari laksana terbang.





4





Di lereng gunung Pangrangko ada sebuah

puri bertingkat yang cukup tinggi. Di belakang

puri itu ada sebuah bangunan lainnya. Bangunan

besar dikelilingi tembok tinggi ini pada hari-hari sebelumnya terasa sepi. Hanya para penghuninya

saja yang keluar masuk melaksanakan tugasnya

masing-masing. Diluar kedua bangunan ini ada

sebuah panggung yang tampaknya baru saja di-

persiapkan. Panggung yang cukup luas ini dihiasi dengan bermacam-macam janur. Tidak jauh dari

panggung tersusun kursi-kursi terbuat dari ba-

han jati. Adapula sebuah podium lainnya. Dis-

amping podium terdapat dua buah kursi mempe-

lai yang dihiasi dengan beraneka bunga-bungaan.

Rupanya akan ada pesta besar-besaran

disini. Terbukti dengan mulai hadirnya para ta-

mu-tamu undangan. Setiap tamu selalu menun-

jukkan undangan yang diberikan untuk para un-

dangan sekitar satu purnama yang lalu. Jadi ti-

dak sembarang orang dapat menghadiri pesta ter-

sebut. Tanpa undangan merah yang dibuat oleh

tuan rumah. Maka orang itu tidak dapat mengi-

kuti acara pibu. Dan siapapun yang dapat menga-

lahkan putri Maya Swari dalam acara unjuk kebo-

lehan itu. Maka dialah yang akan menjadi sua-

minya. Kini para undangan itu mulai memenuhi

bangku-bangku yang kosong. Sementara itu dida-

lam sebuah ruangan besar di dalam bangunan

yang terletak dibelakang puri tampak seorang la-





ki-laki berpakaian seperti seorang raja dan bertampang bengis sedang menerima kehadiran dua

orang tamu. Tamu pertama adalah laki-laki tua

pembawa kepis berpakaian anyaman daun lontar

sedangkan capingnya terbuat dari daun lontar

pula. Sedangkan tamu yang kedua adalah seo-

rang nenek renta berkulit hitam bermuka bopeng.

Kulitnya tipis, sehingga dilihat sepintas lalu

hanya berupa jerangkong hidup. Tatapan mata

perempuan ini mencorong, rambutnya jarang dan

ada beberapa tusuk kundai dari perak yang lang-

sung menancap di batok kepalanya. Agaknya ke-

dua tamu ini merupakan sahabat terdekat tuan

rumah. Terbukti laki-laki bengis berpakaian

bangsawan ini menerima mereka secara khusus

pula. "Sudah lama kita tidak bertemu Datuk Mambang Pitoka dan Nyanyuk Pingitan. Setelah

dua puluh tahun, bagaimana kabar anda seka-

lian?" Tuan rumah yang tidak lain adalah Raka Tendra berjuluk Penghulu Iblis ini memulai pembicaraan dengan suaranya yang serak berat se-

perti dicekik setan. Buto Terenggi angkat wajahnya. Setan Hitam alias Nyanyuk Pingitan tertawa mengikik,

"Sebagaimana yang Datuk lihat, kami da-

lam keadaan sehat dan semakin berisi." kata Nyanyuk Pingitan kemudian. "Dua puluh tahun yang lalu putrimu masih orok. Tidak disangka ki-ni telah dewasa dan cantik. Selain itu tentu ia





mewarisi semua ilmu yang kau miliki Datuk?"

Buto Terenggi menimpali "Diraja Penghulu

Iblis pasti memberikan yang terbaik untuk pu-

trinya. Apalagi Maya Swari adalah anak tunggal.

Ha ha ha..."

"Dengan kehadiran sahabat berdua. Aku

Diraja Penghulu Iblis dengan rendah hati tentu

berharap agar Anda membantu keamanan disini

kalau terjadi sesuatu yang tidak kita ingini dalam acara Pibu nanti."

"Ah... Diraja terlalu berlebihan. Kami tentu saja membantu tanpa diminta sekalipun. Tapi

menurutku, siapa orangnya yang berani mengu-

sik ketenteraman anda, terkecuali orang-orang

yang ingin cepat mampus?"

"Lagipula kepandaian kami manalah ada

apa-apanya bila dibandingkan Ahda Diraja Peng-

hulu Iblis. Untuk itu demi kehormatan persaha-

batan kita. Hanya dapat membawakan oleh-oleh

ular Kayangan untuk acara penentuan pilihan

suami bagi putri Anda." Datuk Mambang Pitoka kemudian menurunkan anyaman rotan yang berbentuk kepis di mana didalam kepis itu penuh

berisi ular-ular Kayangan yang terus mendesis-

desis. "Hmm, ular Kayangan ini kudengar punya khasiat yang sungguh sangat luar biasa. Ia dapat melipat gandakan tenaga dalam seseorang dalam

waktu hanya beberapa jam saja. Selain itu darahnya membuat kita tetap awet muda. Sungguh ini

merupakan suatu pemberian yang tidak ternilai





harganya."

"Anda terlalu berlebihan, Sahabat. Aku

hanya dapat berpartisipasi. Menurutku sebelum

acara dimulai sore nanti. Bukankah lebih baik ji-ka ular-ular itu diolah secepatnya. Dengan begitu para tamu undangan dapat merasakan khasiat-nya." kata Datuk Mambang Pitoka.

"Betul. Aku setuju." sahut Raka Tendra. Ia kemudian bertepuk tangan. Seorang pengawal

masuk ke dalam ruangan dan mengambil kepis

berisi ular-ular itu.

Sementara Nyanyuk Pingitan kini telah

mengeluarkan sebuah tabung bambu yang sudah

tua dan kusam. Di dalam tabung bambu itu ter-

dapat ratusan ekor lebah beracun. Yang tentu sa-ja sudah sangat terlatih dengan baik. Ia kemudian menyerahkannya pada Diraja Penghulu Iblis. Seraya berkata: "Aku tidak dapat memberikan kado barang-barang berkhasiat selain mainan yang tidak ada guna ini. Terimalah Diraja..."

Raka Tendra tercenung dengan alis berke-

rut dalam. "Ah... sahabat terlalu merendah. Ta-won merah siapa yang tidak kenal. Bisanya san-

gat mematikan. Dikolong langit ini hanya Anda

saja yang memilikinya. Pemberian ini merupakan

satu kehormatan pula yang tidak mungkin terlu-

pakan."

Tokoh golongan sesat itu kemudian terta-

wa-tawa. Rupanya mereka selalu cocok dalam

berbagai hal.

Pada saat yang sama di jalan utama pada





penerima tamu undangan yang terdiri dari murid-

murid Raka Tendra sendiri semakin sibuk me-

layani para tamu yang datang. Sampai menjelang

tengah hari pemeriksaan berjalan dengan cukup

lancar. Tapi tidak lama kemudian ketika muncul

seorang pemuda berambut kemerahan berwajah

tampan namun berkesan tolol kekanak-kanakan.

Maka suasanapun berubah menjadi lain.

"Mana bendera undangan merah yang se-

harusnya kau bawa hari ini?" tanya petugas penerima tamu pada pemuda berbaju biru ini dengan

mata melotot. Pendekar Blo'on nyengir kuda, lalu garuk-garuk kepalanya. Akal cerdiknya segera

berjalan. Karena ia memang tidak pernah diun-

dang oleh siapapun. Tentu ia tidak dapat menun-

jukkan bendera merah yang dimaksudkan. Sebab

apa yang dilakukannya saat ini adalah mencari

musuh besar yang telah membunuh kedua orang

tuanya. Tapi ketika di tengah jalan ia melihat banyak orang yang menuju ke gunung Pangrangko

ini, mau tidak mau ia menjadi heran ada apakah

gerangan? Dan ia jadi ingin mengetahuinya.

"Undangan itu hilang ketika aku sedang

mandi di kali. Maafkan aku kawan."

"Jika kau tidak dapat menjaga keselamatan

undangan itu. Berarti kau tidak dapat menjaga

kehormatan penghulu kami. Bagaimana mungkin

manusia sepertimu dipandang muka oleh ketua

dan raja kami" dengus sang penerima tamu. Sedangkan kawan si penerima tamu sedikitpun ti-

dak menghiraukan Suro Blondo. Ia malah sibuk





memeriksa identitas tamu-tamu yang lainnya.

Kesempatan lengah yang cuma sekejap ini

langsung dimanfaatkan oleh Suro Blondo. Dita-

riknya penerima tamu itu ke tempat yang aman.

Seraya kemudian berbisik.

"Tenanglah, aku sahabat baik putri Maya

Swari. Jika kau melarangku masuk ke ruangan

tamu. Tentu ia akan mencari-cari aku. Bagaima-

na kalau kita berdamai saja. Aku bisa meminta-

kan bagimu dua keping emas untuk kebaikanmu

itu." Penerima tamu tentu saja terkejut mendengar keterus terangan si pemuda. Padahal yang sesungguhnya Suro Blondo sendiri mendengar

Maya Swari dari orang-orang yang dijumpainya di jalan. "Benarkah kau kawannya?" tanya penerima tamu ragu-ragu.

"Tentu saja. Apakah kau perlu kupanggil-

kan puteri. Tapi jika dia sampai marah. Harap resiko ditanggung sendiri."

Rupanya penerima tamu yang masih terhi-

tung murid Diraja Penghulu Iblis begitu takluk

pada anak gurunya. Sehingga tanpa banyak kata

lagi ia segera menyuruh pendekar Blo'on berlalu.

"Jangan kau cerita pada siapapun karena

kau tidak membawa bendera undangan. Diraja

Penghulu Iblis bisa menghukumku."

"Jangan takut, kalau ada apa-apa tentu

Maya Swari akan membelamu." pemuda ini me-

nyeringai. Sambil bersiul-siul ia melangkah pergi.

Ketika Pendekar Blo'on sampai di bagian





penerima tamu terakhir dilihatnya semua kursi

yang tersedia telah penuh terisi. Kalaupun ada

kursi yang kosong letaknya jauh dari panggung

laga dan juga panggung kehormatan. Karena ter-

dorong oleh rasa keingin tahuannya. Maka Pe-

muda ini terpaksa duduk di tempat terpisah de-

kat beberapa ekor kuda yang ditambatkan dan

juga dikelilingi ayam.

"Ha ha ha... Duduk dengan kuda lebih

baik daripada dengan para iblis bertampang ma-

can. Eeh... ada pula yang gundul seperti tuyul

dan ada pula yang jelek seperti hantu. Ha ha ha...

masa bodoh. Menunggu acara dimulai aku jadi

mengantuk nih" kata pemuda itu. Ia bersandar di batang pohon di mana bangku yang didudukinya

berada. Tapi aneh ia tidak dapat memejamkan

matanya. Apalagi ketika melihat para tamu sema-

kin banyak saja jumlahnya.

Setengah jam kemudian Suro Blondo meli-

hat seorang gadis berpakaian pengantin berwajah cantik luar biasa menuju singgasana pelaminan

yang terletak di samping podium. Pemuda ini

mementang matanya lebar-lebar. Ia memang ha-

rus mengakui bahwa gadis itu cantik luar biasa.

Tidak seperti tampang para tamu undangan, ka-

laupun ada yang perempuan tetap saja jelek me-

nakutkan.

"Luar binasa... eh, luar biasa. Gadis itukah yang ingin menjadi pengantin? Tapi sungguh

aneh, pengantin pria masih belum ketahuan siapa orangnya. Sekarang ia sudah memakai gaun pen-





gantin. Apakah dengan pakaian itu ia akan bertarung dengan orang-orang gagah untuk menentu-

kan siapa yang dapat mengalahkannya?"

Suro Blondo garuk-garuk kepala. Ia terus

memandang ke arah gadis cantik bergaun pen-

gantin kini mulai duduk di pelaminan tunggal.

Melihat kecantikan gadis itu, tiba-tiba saja ia teringat pada Dewi Bulan. Ia tidak tahu entah ke-

mana gadis itu sekarang. Sejak pertemuan terak-

hir mereka (Dalam Episode Hianat Empat Datuk).

Konon Dewi Bulan ingin menyambangi gurunya di

gunung Merbabu.

Lamunan pemuda ini seketika buyar saat

ia melihat seorang laki-laki berpakaian bangsa-

wan menuju ke podium yang terletak disebelah

pelaminan tunggal. Dibelakang laki-laki itu me-

nyertai pula seorang laki-laki dan perempuan

yang rupanya sengaja mengawalnya.

Acara di tempat yang terbuka itu kemudian

dimulai. Seluruh hadirin yang kebanyakan terdiri dari tokoh-tokoh golongan sesat terdiam.

"Saudara-saudara" Diraja Penghulu Iblis membuka ucapannya. "Hari ini saya sengaja

mengundang saudara-saudara kemari. Pertama-

tama adalah untuk bertatap muka dan saling

mengenal secara lebih dekat lagi. Sedangkan yang kedua adalah untuk menentukan siapa yang paling pantas untuk menjadi calon pendamping pu-

triku. Inilah peraturan yang ditetapkan oleh putriku sendiri. Itu sebabnya saya meminta saudara dari setiap perguruan membawa murid terbaik-





nya. Siapa tahu ia mempunyai keberuntungan

berjodoh dengan murid sekaligus putri tunggalku.

Putriku tidak menghendaki harta benda, tapi ia ingin punya suami yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari kepandaian yang dimiliki-nya.

Sambil mengikuti acara tanding untuk menentu-

kan siapa yang pantas menjadi pendamping pu-

triku. Sebaiknya nikmati hidangan yang telah

kami sediakan" Diraja Penghulu Iblis meninggalkan podium, seraya menghampiri putrinya yang

duduk lengkap dengan pakaian pengantin. Mere-

ka kemudian terlibat pembicaraan serius.

Maya Swari meninggalkan pelaminan. Se-

kejap ia menghilang di ruangan ganti setelah itu muncul lagi lengkap dengan pakaian ringkas berwarna biru pula.

Ia melompat keatas panggung kayu dengan

gerakan yang sangat ringan sekali. Sementara itu seorang pembawa acara mulai membacakan tata

cara dan aturan main di atas panggung. Para ha-

dirin berdecak kagum melihat kecantikan sang

dara. Bahkan diantara mereka ada yang bertepuk

tangan segala. Suasana yang hiruk pikuk itu terhenti begitu tata cara permainan dibacakan.

"Peserta dinyatakan kalah, bila jatuh sam-

pai ke luar arena. Sedangkan putri Maya Swari

dinyatakan kalah bila peserta dapat menotoknya.

Peserta diperkenankan memakai senjatanya mas-

ing-masing. Pertandingan ini digelar selama dua hari. Siapapun punya kesempatan untuk menco-ba. Terkecuali mereka yang telah berumur diatas





tiga puluh tahun. Sekian..."

Pembawa acara melompat turun dari pang-

gung. Posisinya digantikan oleh seorang pemuda

berkepala gundul, mukanya bopeng-bopeng me-

nakutkan. Hidungnya bengkok seperti paruh bu-

rung kakaktua dan badannya tegap berisi. Sebe-

lum bicara ia membungkuk hormat pada hadirin

dan pada Maya Swari.

"Aku murid pertama perguruan Alam ku-

bur. Bagus Indrajit namaku. Semoga Anda berke-

nan main-main denganku barang sejurus dua ju-

rus" Maya Swari tersenyum, namun hatinya mendongkol karena lawan yang dihadapinya

mempunyai tampang begitu buruk. Dalam hati ia

bertekad ingin secepatnya menjatuhkan laki-laki itu. "Silahkan saudara"

Dengan tenangnya Maya Swari memperha-

tikan setiap gerakan Bagus Indrajit. Dimatanya

pemuda ini ternyata memang memiliki tenaga

yang cukup besar, gerakannya lincah dan setiap

serangan yang dilancarkannya terarah pada ba-

gian-bagian yang sangat berbahaya. Tidak salah

ketika itu si pemuda telah mempergunakan jurus

'Semilir Senja Dalam Sepi'. Ini merupakan jurus tingkat kedua yang pernah diajarkan oleh gurunya Bageng Jaliteng. Rupanya ia sadar bahwa

Maya Swari merupakan anak seorang tokoh besar

rimba persilatan. Sehingga ia tidak mau mere-

mehkan lawannya. Sebaliknya Maya Swari sendiri





hanya dengan mengandalkan ilmu mengentengi

tubuh yang sudah mencapai tarap sempurna

tampak berkelebat menghindari setiap serangan

yang datang tidak ubahnya seperti burung walet

yang menghindari tetesan air hujan. Hanya dalam waktu singkat lima jurus telah terlewati. Keringat telah membasahi sekujur tubuh Bagus Indrajit.

Namun sampai sejauh itu ia belum berhasil men-

jatuhkan lawannya. Jangankan menjatuhkan,

menyentuh salah satu pakaian lawan saja ia tidak mampu.

Suara-suara sumbang mulai terdengar.

Maya Swari semakin lama semakin cepat dalam

menghindar. Disatu kesempatan dengan diawali

teriakan melengking tinggi. Gadis cantik ini me-nerjang ke depan. Tendangan kilat dilakukannya

disusul dengan pukulan beruntun. Tendangan itu

dapat dihindari oleh Bagus Indrajit. Bahkan pu-

kulan yang dilepaskan oleh Maya dapat dielak-

kannya. Tapi ketika Maya meneruskannya dengan

tendangan susulan. Pemuda ini jadi terdesak.

Wuuk

Buuk Buuk

"Wuaakh..." Bagus Indrajit terpelanting dan jatuh ke bawah panggung tanpa mampu

mempertahankan diri. Seketika terdengarlah ge-

muruh suara hadirin mengeluk-elukan Maya

Swari. Dalam pada itu dari bawah panggung me-

lesat seorang pemuda berompi cokelat. Wajahnya

cukup lumayan. Sebagaimana yang dilakukan la-





wan terdahulu, kini pemuda berompi cokelat in-

ipun menjura hormat setelah itu tanpa basa basi langsung menyerang dengan mempergunakan sepasang pedang pendek. Keadaan tentu semakin

bertambah seru, sedangkan Suro Blondo yang

menyaksikan pertandingan itu hanya geleng-

geleng kepala.

Sejenak mari kita tinggalkan pertarungan

diatas panggung itu. Kita lihat apa yang terjadi di jalan utama menuju tempat keramaian itu.





5


"Berhenti..." salah seorang petugas penerima undangan tiba-tiba membentak garang. La-

ki-laki gemuk luar biasa dan laki-laki kurus

nggak ketulungan terpaksa menghentikan lang-

kahnya. Dengan cepat dua orang penerima tamu

yang bertugas digerbang utama datang meng-

hampiri.

"Tunjukkan bendera undangan pada kami"

kata salah seorang diantaranya. Gajah Gemuk

dan Gajah Kurus saling pandang. Lalu dua-dua

tersenyum.

"Undangan itu terpaksa kami buang kare-

na ada orang-orang tertentu yang menghendaki

nyawa kami. Bukankah begitu adik Gajah Ku-

rus?" Gajah Gemuk kemudian memberi isyarat pada adiknya. Dengan gerakan cepat dan tidak

terduga-duga, tiba-tiba Gajah Kurus menotok





urat gerak di tubuh penerima tamu sehingga

membuat kedua pemuda itu menjadi kaku tidak

mampu bergerak-gerak lagi.

"Ha ha ha..."Begini lebih baik bagi kalian"

kata Gajah Gemuk. "Bagaimana Adikku?"

"Kalau sudah tidak ada aral melintang, se-

baiknya kita naik ke gunung Pangrangko seka-

rang juga." desah Gajah Kurus.

"Mari..."

Kedua tokoh aliran lurus ini kemudian me-

lanjutkan perjalanannya. Karena jalan yang akan mereka lewati selalu dijaga ketat oleh anak buah Diraja Penghulu Iblis. Maka Gajah Gemuk dan

Gajah Kurus terpaksa bekerja keras merobohkan

orang-orang itu tanpa membunuhnya.

Ternyata mereka berhasil menyusup juga.

Karena mereka ini bukan termasuk orang-orang

yang diundang. Mau tak mau mereka terpaksa

menyaksikan adu ketangkasan itu dari sebuah

tempat bersembunyi tidak jauh dari panggung.

"Banyak juga orang-orang yang datang un-

tuk mengikuti acara pemilihan calon suami ini,

Kakang."

"Diraja Iblis memang mempunyai seorang

putri yang aneh. Kalau cuma untuk menentukan

siapa suaminya. Mengapa harus orang yang me-

miliki kepandaian silat tinggi dan dapat menga-

lahkannya. Tokh diatas ranjang nanti ia tetap

akan kalah dan selalu berada di bawah. Kurasa

faktor yang terpenting bukan itu adikku. Siapa

tahu ia punya niat untuk mengumpulkan seluruh





orang-orang persilatan agar sudi bergabung den-

gan mereka."

"Bagaimana Kakang bisa beranggapan se-

perti itu?" tanya Gajah Kurus sambil terus memantau pertarungan yang sedang berlangsung di-

atas panggung antara Maya Swari dengan seorang

pemuda berbaju putih bersenjata kampak.

"Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya

hati para iblis siapa yang tahu?"

Gajah Kurus menganggukkan kepala.

"Urusan kita kemari hanyalah untuk men-

gambil ular Kayangan yang telah dicuri oleh Buto Terenggi. Apakah kita akan mencampuri urusan

Raka Tendra?"

"Tergantung. Kalau ini menyangkut urusan

rimba persilatan dan mengancam kaum golongan

putih. Masa' kita hanya menjadi penonton saja.

Coba sekarang perhatikan ke bawah pohon itu"

"Ya... aku sudah melihatnya. Seorang pe-

muda berambut hitam kemerahan berbaju biru

itu kan?"

"Betul. Ia bukan bergabung sebagaimana

undangan lainnya, dia malah berkumpul dengan

kuda. Tampangnya tolol kekanak-kanakan, apa-

kah kau tidak tertarik untuk mengetahuinya apa

sesungguhnya yang ia cari di tempat ini...?"

"Tampangnya tolol begitu, apakah dia bu-

kan anggota para iblis?" Gajah Kurus tampak me-ragu. "Hmm, tatapan matanya begitu lain. Aku yakin dia bukan undangan Diraja Penghulu Iblis.





Tapi sebaiknya kita lihat apa yang akan dilaku-

kannya." Gajah Kurus mengangguk setuju.

Sementara itu diatas panggung Pibu, kini

Maya Swari telah berhadapan dengan seorang

pemuda lain bertelanjang dadanya. Badannya ke-

kar berotot. Kulitnya hitam legam macam pantat kuali. Ia menjura hormat sebelum memperkenal-kan diri.

"Nisanak. Aku Pito Lukito ingin minta pe-

tunjukmu"

"Katakan dari mana asal usulmu"

"Aku dari tanah seberang, tidak punya

guru..."

"Hmm, majulah"

"Heaaa..."

Diawali dengan suara bentakan keras

menggelegar, Pito Lukito yang sudah melihat ke-

handalan lawannya ini langsung melancarkan se-

rangan-serangan yang mematikan. Sungguhpun

pemuda ini mengaku tidak pernah berguru, tapi

serangan-serangan yang dilancarkannya cukup

dahsyat dan terarah. Maya Swari menyadari ke-

nyataan ini. Tanpa mengenal rasa lelah setelah

menjatuhkan sepuluh lawan terdahulu kini ia be-

rusaha merangsak dan menembus pertahanan

lawannya.

Perlu diketahui ketika mengalahkan sepu-

luh lawannya tadi. Tidak seorangpun yang mam-

pu menyentuh badannya. Kini dengan senjatanya

berbentuk sebuah celurit ia merangsa dengan ga-

nasnya. Angin serangan menderu-deru. Sung-





guhpun begitu dengan kecepatan sulit diikuti kasat mata, Maya Swari masih sempat menghajar

perut Pito Lukito dengan satu tendangan keras.

Deek

Wees

Pito Lukito terjajar tapi tidak sampai keluar

dari kalangan pertempuran. Tepuk sorai hadirin

terdengar. Tapi hanya sesaat, karena mereka se-

gera melihat bahwa pita biru pengikat rambut

Maya Swari kena ditebas putus. Gadis itu sempat ciut nyalinya. Buru-buru ia merapikan rambutnya yang tergerai.

"Bukan main" Raka Tendra, Buto Terenggi dan Nyanyuk Pingitan berseru memuji.

Dalam pada itu Maya Swari telah bergerak

lagi. Tubuhnya mencelat ke depan jemari tangan

terkembang mencengkeram batok kepala. Se-

dangkan kaki menendang kearah lambung.

Gerakan ini dikenal dengan jurus

'Memagut Bisa Mencabut Kepala'. Tidak semba-

rang orang dapat menghindar dari kematian jika

tidak berpengalaman benar dalam menghindar.

"Huup Heaa..."

Pito Lukito rupanya sadar benar akan hal

ini. Ia miringkan setengah badannya, celurit ia goyang ke kiri dan menghantam ke kanan. Rupanya serangan dahsyat ini hanya tipuan saja.

Ketika Pito Lukito membalasnya dengan tipuan

pula. Ia malah tertipu mentah-mentah. Benar

lambungnya dapat diselamatkan. Tapi kepalanya

yang gondrong berhasil dicengkeram oleh Maya





Swari. Dengan kekuatannya yang tidak terduga-

duga diputarnya Pito Lukito dengan kaki terayun di udara. Dalam keadaan berputar seperti itu ia hadiahkan satu pukulan ke bagian tengkuk.

Dhakk...

"Waaakh..."

Mulut Pito Lukito menyembur darah. den-

gan keadaan setengah mampus tubuhnya dilem-

parkan keluar panggung. Pemuda ini jatuh terguling-guling dibawah panggung dalam keadaan se-

karat. Seruan memuji terdengar. Dalam pada itu

terdengar suara seseorang yang begitu lantang.

"Putri Diraja memang hebat. Sayang tidak

ada lawan yang tangguh. Semua cap lonceng dis-

ini jadi pecundang, huh sungguh memalukan"

ucapan bernada mengejek ini tentu mengundang

perhatian setiap orang. Tidak terkecuali tuan rumah Diraja Penghulu Iblis.

Mereka segera mencari-cari asal datangnya

suara. Maka terlihatlah oleh mereka seorang pe-

muda berbaju biru duduk ongkang-ongkang di-

bawah pohon sambil mengelus-elus pantat kuda.

Buto Terenggi berbisik pada Raka Tendra.

"Bocah tolol itulah yang tadi bicara"

"Sebaiknya suruh dia maju ke panggung"

balas Raka Tendra sambil menganggukkan kepa-

la.

Buto Terenggi maju menghampiri Suro

Blondo. Di tempat persembunyiannya Gajah Ge-

muk berbisik pada Gajah Kurus.

"Bocah itu lancang sekali mulutnya. Tidak





tahukah dia sedang berada di sarang macan yang

sedang berpesta?"

"Kita lihat apakah dia punya kepandaian?"

Gajah Kurus menimpali.

Sementara Buto Terenggi telah datang

menghampiri.

"Kau yang bicara tadi, bocah?"

Suro Blondo garuk-garuk kepala.

"Apakah kau merasa punya kemampuan

sehingga berani menghina orang lain...?"

"Aku tidak tahu. Kulihat putri itu hebat

bukan main. Tapi apa gunanya membuat pang-

gung lawakan yang tidak lucu, kalau orang yang

bermain diatasnya hanya orang-orang seperti ba-

dut" kata pendekar Blo'on sambil tersenyum-senyum.

Merah wajah Buto Terenggi seketika. Ra-

hangnya terkatup rapat. Ia pun kemudian meng-

geram marah.

"Jika kau merasa punya kebiasaan menga-

pa tidak cepat naik keatas panggung?" bentaknya berang.

"Aku baru akan melakukannya" ujar si pemuda.

Karena merasa tidak sabar. Datuk Mam-

bang Pitoka langsung menyentakkan tangan pen-

dekar Blo'on. Tubuh si pemuda ini langsung me-

layang hingga membuatnya jatuh terduduk diatas

panggung. Semua orang berdecak kagum melihat

besarnya tenaga yang dimiliki oleh Buto Terenggi.

Tapi mereka segera maklum setelah mengetahui





siapa orangnya.

"Lihatlah, orang yang mencuri ular-ular ki-ta ada disitu. Apakah kita gebuk sekarang?"

"Jangan adik Kurus. Kita harus melihat si-

tuasi, naluriku mengatakan akan terjadi huru ha-ra disini." kata Gajah Gemuk di tempat persembunyiannya.

Sementara itu Ratu Penyair Tujuh Bayan-

gan juga sudah berada di tempat keramaian.

Hanya ia yang datang bersama Dewi Bulan senga-

ja bersembunyi diatas pohon. Sungguhpun ia da-

tang dengan membawa undangan, tapi kecuri-

gaannya mulai timbul ketika melihat para petugas penerima tamu tewas dalam keadaan tertotok.

Kecurigaan Ratu Penyair Tujuh Bayangan sema-

kin bertambah kuat melihat orang-orang yang te-

was itu pertama tentunya dalam keadaan terto-

tok, baru sejam kemudian dibunuh. Jelas antara

si penotok dengan si pembunuh merupakan orang

yang berlainan.

Kini diatas pohon itu Ratu Penyair dan De-

wi Bulan yang tertotok urat gerak dan suaranya

dapat menyaksikan ke tengah-tengah panggung

tanpa ada seorangpun yang melihat mereka. Dewi

Bulan yang tidak mampu bicara itu tentu saja

terkesiap melihat Suro Blondo terlempar ke atas panggung. Sungguhpun ia melihat orang lain

yang melemparkannya. Artinya tetap sama saja,

jika pendekar Blo'on yang memenangkan pertan-

dingan ini ia berhak memperistri Maya Swari.

Tanpa terasa jantung Dewi Bulan berdetak ken-





cang dan wajahnya pun bersemu merah.

Dibelakangnya Ratu Penyair Tujuh Bayan-

gan yang melihat kejadian ini hanya tersenyum-

senyum saja.

"Pemuda itu meskipun tampangnya tolol

kekanak-kanakan, ganteng bukan?" sindirnya kemudian. Untung Dewi Bulan tidak dapat bicara, kalau tidak ia pasti sudah menyemburnya dengan

caci maki.

Diatas panggung Suro Blondo dengan ter-

pincang-pincang sudah bangkit berdiri. Sesung-

guhnya ia tidak kekurangan sesuatu apa. Ketika

ia dilemparkan tadi ia bahkan telah mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi badannya dari

pengaruh benturan. Tapi karena kini ia berada di tengah-tengah orang-orang berkepandaian tinggi

dan terdiri dari para tokoh sesat pula. Mau tidak mau ia mengambil sikap seperti orang yang tidak punya kepandaian sama sekali.

"Bicaramu selangit, seakan kau mempu-

nyai kesaktian segudang." dengus Maya Swari.

Rupanya setelah melihat ketampanan si pemuda

yang sangat lain dari lainnya, gadis ini merasa tertarik juga.

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mela-

wanmu, Nisanak" kata si pemuda, lalu menyeka keringat yang mengalir dikeningnya.

"Huh... siapa sudi memaafkan kau. Terlan-

jur kau naik kepanggung ini. Kau mau tidak mau, suka tidak suka harus menerima gebukanku" ka-ta Maya Swari. Dan entah mengapa kini ia punya





perhatian khusus pada pemuda berambut hitam

kemerah-merahan ini.





6


"Baiklah. Kuterima gebukanmu tapi jangan

kuat-kuat" Pendekar Blo'on menyeringai. Ini membuat Maya Swari menjadi mangkal. Cepat ia

menggeser langkahnya kesamping kiri. Kaki de-

pan ditekuk, sementara tangan terkembang di

depan dada. Jelas sekali Raka Tendra mengetahui bahwa putrinya mengerahkan salah satu jurus

yang sangat berbahaya. Padahal pemuda itu

sungguhpun anaknya mempergunakan jurus bi-

asa belum tentu lawan dapat menghindarinya.

Raka Tendra segera dapat mengambil kesimpulan

bahwa anaknya memang bermaksud menghabisi

lawannya.

"Yeaa..."

Maya Swari melompat ke depan. Tangan-

nya terkembang menghantam ke dada. Cepat bu-

kan main gerakan ini sehingga orangpun dapat

membayangkan dengan sekali pukul pemuda be-

rambut hitam kemerahan ini roboh dan paling ti-

dak terluka dalam cukup parah.

"Jangan kelewat kejam..." desis Suro Blondo lalu pencongkan mulutnya. Setelah itu ia me-

lompat ke samping. Ia pergunakan jurus Kera pu-

tih Memilah Kutu. Gerakan menghindar yang di-

lakukannya terkesan asal jadi dan sembarangan.





Tubuhnya terhuyung ke depan, ketika hantaman

tangan lawan datang ia tarik ke kiri, lalu ter-

huyung pula ke kanan. Sedangkan kaki dengan

lincahnya melompat-lompat lalu....

Wuus

Satu liukan indah dilakukannya. Sehingga

serangan beruntun Maya Swari mengenai sasaran

kosong. Para hadirin terlebih-lebih Raka Tendra tertegun. Jurus serta serangan anaknya itu terkenal cepat dan tidak pernah meleset. Tapi aneh, jika kali ini lawan dengan gerakan yang kacau

dapat menghindari serangan itu.

Maya Swari kertakan rahangnya. Tangan

kiri diputarnya, lalu tangan kanan menghantam

ke bagian wajah lawan sedang kaki menendang ke

arah perut. Ini merupakan gerakan yang sulit dilakukan oleh orang lain secara sempurna. Seke-

jap ia melompat lalu lepaskan tendangan dan pu-

kulan secara beruntun. Sambil berjingkrak-

jingkrak Suro Blondo terpaksa melompat ke bela-

kang dan terus ke belakang. Orang memperkira-

kan sebentar lagi pemuda bertampang tolol keka-

nak-kanakan ini pasti jatuh dari panggung. Tapi siapa sangka begitu sampai di ujung panggung ia bersalto sebanyak tiga kali. Bahkan ia masih

sempat pula melakukan serangan balasan.

Bet?

Tangannya melayang mencakar ubun-ubun

lawan. Maya Swari terpaksa berguling-guling se-

lamatkan kepala.

"Ha ha ha..." Pendekar Blo'on tertawa nga-





kak. "Hati-hati, Nisanak"

"Jangan bangga Heyaa..." Maya Swari sambil berteriak melompat berdiri tangannya

menghantam lutut si pemuda. Karena serangan

itu bertubi-tubi dan penuh variasi. Suro Blondo kali ini terpaksa melompat lagi, tangan menghantam kiri kanan dan depan. Ia berjongkok dan se-

perti seekor monyet berjingkrak-jingkrak ia me-

layani serangan lawannya.

Yang aneh dari serangan balasan yang di-

lakukan kali ini adalah setiap menyerang dari

mulutnya keluar suara raungan seperti suara hi-

ruk pikuk monyet di hutan. Suara ini membawa

pengaruh tidak ringan, karena gerakan silat serta konsentrasi lawan jadi terpecah-pecah.

"Hiiik" Maya Swari rupanya segera menyadari apa yang harus dilakukannya untuk menghi-

langkan pengaruh suara pendekar Blo'on. Sehing-

ga ia berteriak keras sekali. Pertarungan itu semakin lama berlangsung semakin seru. Semua

pihak berdecak kagum. Termasuk juga orang-

orang yang bersembunyi di balik pohon maupun

yang diatas pohon.

"Anak
itu tampangnya tolol dan kekanak-

kanakan. Tapi siapa sangka ia mempunyai ilmu

silat yang sangat langka." komentar Buto Terenggi seakan memuji.

"Aku seperti pernah mengenal jurus-jurus

aneh seperti itu. Tapi aku lupa kapan dan dima-

na." Raka Tendra menimpali.

"Tenaga dalamnya berada diatas tenaga da-





lam Maya Swari" Nyanyuk Pingitan buka suara.

"Sayang kita tidak tahu dia berasal dari golongan mana"

"Kita lihat dulu apakah ia mampu mengha-

dapi ilmu pedang putriku. Jika dia lolos dari kematian. Nanti kita dapat bertanya darimana asal pemuda itu."

Sementara itu Gajah Gemuk dan Gajah

Kurus juga sedang berembuk dan membicarakan

Pendekar Blo'on.

"Kurasa di kolong langit ini hanya Penghu-

lu Siluman Kera Putih Batara Surya saja yang

memiliki ilmu kera semacam ini. Tapi apakah kau yakin dia muridnya Batara Surya?"

"Aku kurang tahu, Kakang. Menurut apa

yang kudengar Batara Surya tidak pernah me-

mungut seorang murid pun. Ia lebih suka ber-

kumpul dengan monyet-monyet siluman kaum-

nya." "Tapi... ah, ini lebih gila lagi. Lihatlah jurus yang dimainkannya itu. Lima puluh tahun yang

lalu aku seperti pernah melihat jurus yang sangat kacau sebagaimana yang dimainkan oleh pemuda

itu. Tidak Jurus ini lebih dahsyat dari jurus-

jurus kera putih." Bantahnya sendiri.

"Kacau balau? Bukankah jurus itu hanya

dimiliki oleh Malaikat Berambut Api?"

Gajah Gemuk manggut-manggut. "Benar...

aku baru ingat jurus yang sekarang dimainkan

oleh pemuda itu sama persis dengan jurus Kacau

Balau ciptaan Malaikat Berambut Api. Tapi apa





hubungannya? Apakah dia muridnya? Konon Ma-

laikat Berambut Api manusia sakti mandraguna

itu tinggal di Pulau Seribu Satu Malam dan tidak punya seorang murid pun."

"Ya... dan gadis itu walaupun kini bersenja-ta pedang mungkin tidak sampai lima jurus di-

muka segera menjadi pecundang" kata Gajah Gemuk menimpali.

Apa yang dikatakan oleh Gajah Kurus me-

mang bukan hanya sekedar bualan saja. Sung-

guhpun Maya Swari telah menggerakkan jurus

pedang yang paling sangat diandalkannya. Hingga sejauh itu ia masih belum dapat menciderai lawannya. Jangankan melukainya, sedangkan me-

robek pakaian si pemuda saja ia tidak mampu.

Ketika Suro Blondo melancarkan serangan

balik dengan perpaduan dua jurus, yaitu jurus

Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau dan Jurus

Kacau Balau. Maka Maya Swari segera terdesak.

Gadis cantik ini semakin memperhebat gerakan

pedangnya dan juga melipat gandakan tenaga da-

lamnya. Sejauh itu ia masih belum mampu me-

nembus pertahanan lawannya. Bahkan setiap se-

rangan-serangan yang dilancarkannya selalu ter-

tahan. Permainan pedangnya terbatas dan selalu

membalik nyaris mengenai diri sendiri.

Diatas pohon Dewi Bulan yang turut me-

nyaksikan pertempuran itu diam-diam mulai ce-

mas. Ia bukan mengkhawatirkan keselamatan

pemuda itu, tapi jauh di lubuk hatinya jika Pendekar Blo'on dapat memenangkan pertandingan





ini berarti dia akan menjadi suami Maya Swari.

Siapa yang tidak sedih melihat pemuda yang di-

cintainya secara diam-diam menjadi suami orang

lain. Secara kebetulan itupun tengah dipikirkan oleh Suro Blondo. Kalau dia mau tentu sejak tadi Maya Swari dapat dijatuhkannya. Tapi konsek-wensinya ia harus menjadi suami Maya Swari.

Padahal inilah yang tidak dikehendakinya. Bukan karena Maya Swari jelek rupa. Dibandingkan De-wi Bulan, Kecantikan Maya Swari tidak ubahnya

bagai pinang di belah kampak. Artinya sama-

sama cantik dan menawan. Mengingat Maya Swa-

ri merupakan putri dari tokoh sesat, hal ini tidak sejalan dengan jalan hidup yang ditempuhnya.

Lagipula ia masih harus mencari musuh besar

orang tuanya yang hingga kini belum ketahuan

dimana rimbanya.

Sekarang ia harus mencari jalan lain, pal-

ing tidak ia harus mengalah. Tapi jika itu dilakukannya, ia pasti mati ditangan si gadis yang begitu ganas. Dalam keadaan bingung begitu rupa,

serangan-serangan Maya Swari semakin bertam-

bah gencar kembali. Tokh sebagai orang berpen-

galaman Diraja Penghulu Iblis, Buto Terenggi dan Nyanyuk Pingitan sudah dapat mengetahui bahwa

pemuda berambut hitam kemerahan itu kini sen-

gaja mengalah. Dalam arti sebenarnya ia sudah

memenangkan pertarungan sejak beberapa jurus

tadi. Apapun alasannya, pemuda itu sudah pan-

tas menjadi pendamping Maya Swari sebagaimana

isyarat gadis itu kepada ayahnya.





Celakalah bagi Suro Blondo karena usa-

hanya ini tidak mendatangkan hasil. Ketika Diraja Penghulu Iblis bertepuk tangan dan angkat bendera putih. Maka Maya Swari melompat mundur.

Tidak lama penguasa gunung Pangrangko ini me-

lompat ke atas panggung, memandang untuk be-

berapa saat lamanya, lalu tersenyum ditujukan

pada Maya Swari anaknya.

"Sesungguhnya kau telah kalah, Anakku.

Pemuda ini pantas menjadi pendampingmu. Ba-

gaimana apakah kau mau mungkir?" pertanyaan ini membuat wajah Maya Swari yang putih susu

berubah memerah seperti tomat masak. Ia sendiri harus mengakui bahwa Suro Blondo memang hebat, kalau dia mau mungkin sejak tadi ia sudah

menjadi pecundang. Dihatinya ia beranggapan

bahwa pemuda berambut hitam kemerahan itu

sengaja mengalah karena takut kepada orang tu-

anya. Kini setelah ayahnya naik ke atas panggung maka semakin bertambah jelaslah persoalannya.

"Siapakah namamu, anak muda?" tanya

Raka Tendra dengan suara keras.

Suro Blondo menjadi bingung sebentar, la-

lu garuk-garuk kepala. Mungkinkah ia harus ber-

terus terang? Sedangkan ia berhadapan dengan

orang-orang yang tidak satu golongan.

"Jika keadaan sangat memaksamu untuk

berdusta karena kau merasa ragu menilai kebai-

kan orang lain. Berbohongpun tidak akan ada sa-

lahnya" kata-kata yang pernah diucapkan oleh gurunya seakan mengiang kembali di telinganya.





"Mengapa kau diam?"

Pertanyaan ini membuat si pemuda tersen-

tak kaget.

"Na.. namaku, namaku Pangeran Lin-

glung." jawab si pemuda sekenanya. Raka Tendra kerutkan kening sedangkan Maya Swari sebagaimana tamu lainnya ikut tertawa. Dibalik tempat

persembunyiannya Gajah Gemuk bicara

"Bocah itu ternyata hanya orang gendeng

yang memiliki kepandaian tinggi."

"Tenanglah, kita lihat saja apa yang akan

terjadi" Gajah Kurus Krempeng menimpali.

Pembicaraan diatas panggung terus ber-

langsung.

"Apakah kau tidak berdusta?"

"Tidak."

"Siapa gurumu?" tanya Raka Tendra dengan sorot mata penuh selidik.

Suro Blondo nyengir lagi. "Aku tidak per-

nah berguru. Aku hanya melihat gerak gambar di-

tebing batu lalu kutiru."

"Benarkah begitu?"

"Ya..."

"Apa pekerjaanmu?"

"Sejak jadi yatim piatu aku menggembala

kuda milik orang kaya di Banyuwangi. Karena

kuda-kuda itu beranak terus, aku kewalahan dan

lari hingga ke sini...." Jawaban Suro Blondo yang tenang itu membuat Raka Tendra harus percaya,

walau dihatinya curiga. Sebaliknya para undan-

gan tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawa-





ban yang sangat polos itu.

"Tahukah kau bahwa kau memenangkan

pertandingan ini?"

Suro Blondo menggeleng.

"Kau menang, berarti kau berhak menjadi

pendamping putriku. Kurasa Maya Swari setuju

bukankah begitu?" Raka Tendra menoleh pada putrinya. Maya Swari menundukkan kepala malu-malu, padahal memang setuju.

"Tapi... ee... bagaimana ini..."

"Menolak pinangan iblis berarti mati. Tidak sadarkah kau bahwa ini merupakan satu kehormatan bagimu" ketus sekali suara Diraja Penghulu Iblis.

Sementara di atas pohon Dewi Bulan yang

dalam keadaan tertotok dan terus didampingi oleh Ratu Penyair Tujuh Bayangan segera palingkan

mukanya ke arah lain. Tapi satu permintaan Suro Blondo yang diajukan kepada Raka Tendra paling

tidak membuat hatinya lega.

"Kehormatan itu dapat kuterima. tapi aku

punya satu syarat. Jika syaratku diterima tentu bukan halangan bagiku untuk menjadi suami putri yang cantik ini."

"Apakah syaratmu?"

"Karena aku seorang Pangeran, walaupun

hanya Pangeran Linglung. Aku punya pembantu

paling setia. Kelak dia akan datang sendiri bila melihat majikannya ada disini."

"Ha ha ha... Jangankan hanya satu ka-

cung, sepuluh kacung pun jika kau punya tidak





mengapa kalau kau mau membawanya kemari."

"Terimakasih-terimakasih..."

"Jadi kau telah setuju untuk menjadi man-

tuku?" Pendekar Blo'on tersenyum-senyum, lalu anggukan kepala. Melihat ini tentu Maya Swari gi-rang bukan main. Sebaliknya Gajah Gemuk dan

Gajah Krempeng memaki-maki.

"Anak tolol Kepandaian tinggi. tapi mau

menjadi menantu iblis. Dasar edan"

"Tenanglah Adik Krempeng. Kurasa ia

punya tujuan tertentu. Kita lihat saja." kata Gajah Gemuk.

Di atas panggung Raka Tendra mulai men-

gumumkan pertunangan Maya Swari dengan

Pendekar Blo'on yang mengaku sebagai Pangeran

Linglung. Sementara itu Buto Terenggi dan Nya-

nyuk pingitan sedang berbincang-bincang dengan

seorang tamu yang baru saja datang. Tamu itu

memiliki badan agak bungkuk, matanya cuma

sebelah, wajahnya mengerikan karena membusuk

disana sini. Melihat cara Buto Terenggi yang bermata kecil seperti ikan lele itu menghormat. Jelas tamu yang datang bukan tamu sembarangan. Dia

tidak lain Si Bungkuk Lima alias Datuk Alang Sitepu dari gunung Sibayak.

"Maaf, kami terlambat menyambut tamu

yang datang dari jauh. Silakan mengambil tempat Raja Penyihir. Sebentar lagi pesta besar segera di-adakan" Nyanyuk Pingitan mempersilahkan manusia bungkuk bau bangkai ini mengambil tem-





pat tidak jauh dari panggung.

"Hmm, Inikah orangnya yang akan menjadi

mantu Raka Tendra?" tanya Datuk Alang Sitepu sambil tersenyum. Tapi senyumnya itu dimata

orang lain tidak ubahnya seperti seringai mena-

kutkan. Dan bibir itu sendiri seperti hendak tanggal ketika ia sedang bicara.

"Benar Datuk Alang." yang menjawab adalah Buto Terenggi.

"Hanya seseorang badut mengapa harus di-

jadikan mantu...?" Datuk Alang yang sangat dikenal di pulau Jawa karena ilmu sihirnya yang

hebat-hebat, meludahkan air sirihnya ke tanah.

Rumput yang terkena air ludah laki-laki ini langsung hangus menebar asap berbau busuk sekali.

"Lagi pula pemuda itu belum mampu menotok calon pengantin perempuan. Mengapa adu kepan-

daian dihentikan?" Datuk Alang Sitepu protes.

"Pemuda itu mungkin takut melakukan-

nya, Datuk. Mungkin pula ini caranya dalam

menghormati calon istrinya. Ia tidak mau mem-

permalukan calon isteri di depan orang banyak."

Pembicaraan antar tokoh ini terus berlang-

sung. Sementara Maya Swari dan Suro Blondo te-

lah digiring meninggalkan panggung untuk dirias di kamar pengantin.





7


Pada saat yang sama Satu Penyair Tujuh





Bayangan sudah melepaskan totokan pada bagian

jalan suara Dewi Bulan. Begitu terbebas dari totokan gadis ini langsung bicara.

"Sebenarnya aku sudah memenuhi keingi-

nanmu. Sekarang bebaskan aku Pemuda itu per-

lu ditolong. Aku tidak suka ia kawin dengan anak iblis" semburnya.

Ratu Penyair Tujuh Bayangan tersenyum.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kulihat tatapan matamu dan kau menyukainya. Tapi

jangan khawatir aku pasti akan membantumu.

Kini niatku telah berubah setelah melihat Raja

Penyihir ada disini. Kurasa ada yang tidak beres bakal terjadi"

Dewi Bulan terkejut bukan main menden-

gar Ratu Penyair Tujuh Bayangan menyebut-

nyebut tentang ahli sihir.

"Nisanak, siapakah kau sesungguhnya.

Kau berdiri dipihak mana?"

"Di tengah-tengah. Iblis juga sahabatku,

walau tidak jarang aku juga berkawan dengan

orang-orang lurus. Tapi jangan takut. Aku paling tidak bisa melihat kekejian." desah Ratu Penyair.

"Kudengar tadi pemuda itu menyebut ten-

tang kacung. Kalau kau bisa menyamar, sebaik-

nya menyamarlah sebagai kacung. Sementara aku

sendiri akan menyelidik apa yang tersembunyi dibalik undangan merah ini"

Tees Tees

Ratu Penyair Tujuh Bayangan membe-

baskan totokan Dewi Bulan. Sebelum berkelebat





pergi ia masih sempat berpesan.

"Hati-hati kau bertindak. Sekali langkahmu tercium oleh mereka. Maka setiap jengkal tanah

disini akan mendapat pengawasan yang sangat

ketat dari anggota mereka"

Dewi Bulan yang semula merasa curiga

atas kehadiran Ratu Penyair Tujuh Bayangan, ki-

ni hanya menganggukkan kepala. Secara diam-

diam ia meninggalkan pohon yang mereka jadikan

tempat bersembunyi sejak tadi.

Sementara itu sepasang mempelai telah

disandingkan. Dandanan Pendekar Blo'on sangat

lucu sekali. Tidak jauh dari kursi pengantin, para hadirin kini sedang berpesta pora. Tidak lupa ular Kayangan yang telah dimasak dengan cara khusus disajikan. Bau arak wangi dan aneka roma

berbagai jenis makanan berbaur menjadi satu.

Kenyataan ini membuat Gajah Gemuk merasa

menjadi lapar seketika.

"Kita harus ikut mencicipi hidangan itu sekaligus menyelidik apakah ular-ular berkhasiat

milik kita telah menjadi hidangan ini"

"Jangan..." cegah Gajah Krempeng. "Aku seperti mencium bau sesuatu yang sangat khas.

Kurasa inilah yang dinamakan Racun Pelumpuh

akal." "Apa?" Gajah Gemuk belalakkan mata.

"Racun Pelumpuh Akal? Aku tahu kini. Bukankah racun itu gunanya untuk menghilangkan akal sehat seseorang. Siapakah yang memakannya ia

akan menjadi patuh pada orang yang mengua-





sainya. Tapi untuk apa Diraja Penghulu Iblis melakukannya?"

"Kurasa ada rencana besar dibalik semua

ini. Jika orang-orang itu telah keracunan, tentu mereka tidak ubahnya seperti orang bodoh. Mereka akan menjadi penurut dan melakukan semua

perintah orang yang telah meracunnya. Dan ku-

rasa ini ada hubungannnya dengan ular Khayan-

gan milik kita yang dicuri oleh Buto Terenggi. Jika ular-ular itu sekarang telah diolah dan dihidang-kan, bukankah para undangan yang telah terkena

racun akan memiliki tenaga cukup besar untuk

membantu Diraja Penghulu Iblis. Tenaga mereka

yang berlipat ganda itu akan sangat berguna se-

kali. Tidak ada orang yang dapat menghentikan

mereka..."

Gajah Krempeng bergidik seram.

"Aku hampir tidak percaya mereka punya

rencana besar. Rencana apa?" desis Gajah Gemuk. "Itu gunanya jika kita mau menyelidik. Sebelum kita pergi apakah kau melihat ada bayan-

gan berkelebat dari atas pohon tadi?"

"Aku tidak melihatnya, perhatianku selalu

tertuju pada pemuda itu."

"Sudahlah, sekarang sudah waktunya kita

bergerak"

Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng kemu-

dian keluar dari tempat persembunyiannya. Ke-

mudian dengan mengendap-endap mereka mulai

mengitari bangunan besar itu dari belakang.





Tepat seperti yang dikatakan oleh Gajah

Krempeng. Para undangan yang terdiri dari tokoh-tokoh aliran hitam ini setelah menyantap hidan-

gan tampak berubah lain. Tatapan mereka tam-

pak kosong, sementara keringat terus bercucuran di kening dan tubuh mereka. Anehnya tidak seorangpun diantara mereka yang berani bicara. Saat itu hari sudah berubah senja. Matahari hanya

tinggal bayang-bayang merah yang menyeruak di

celah-celah dedaunan.

Suro Blondo yang duduk di samping Maya

Swari tentu saja merasa heran sekali melihat perubahan ini. Cuma ia tidak mau menanyakan pa-

da Maya Swari. Saat malam tiba, pengantin ma-

suk ke dalam kamar mereka. Sementara para un-

dangan sekarang malah bertindak menjadi pen-

gawal di luar bangunan yang cukup besar itu.

Kenyataan ini memang sangat mengherankan.

Bagaimana mungkin orang-orang yang mempu-

nyai kepandaian tinggi ini bisa takluk bahkan kini seperti telah berubah menjadi para abdi yang paling setia pada Diraja Penghulu Iblis.

Hanya orang-orang yang mempunyai otak

cerdas saja yang tahu, bahwa Diraja Penghulu Iblis telah mempergunakan cara yang paling halus

untuk membuat tokoh-tokoh golongan menjadi

tunduk padanya. Itulah kunci dari kehebatan

'Racun Pelumpuh Akal'. Melihat gelagat yang ti-

dak menguntungkan ini mulai bertindak dengan

sangat hati-hati. Sedikit banyak ia menjadi lega juga ketika melihat seorang pengawal merangkap





murid Diraja Penghulu Iblis mengantar seorang laki-laki berkumis tipis dengan tahi lalat di dagu ke kamarnya. Walaupun sebenarnya Suro Blondo

merasa kaget atas kemunculan Dewi Bulan yang

tidak disangka-sangka ini. Tapi ia telah bertekad untuk membicarakan masalah yang sedang dihadapinya. Ia lalu tertawa melihat sang kacung ini yang sempat mendelik padanya.

"Ah.... Maya... inilah kacung yang kumak-

sudkan itu. Dia sangat setia dan jujur. Aku mau saat ini ia mendampingi aku"

"Aku tentu saja tidak keberatan, Kakang

Pangeran..." Maya Swari memperhatikan kacung yang berkumis tipis dan berpakaian kedodoran

ini. "Siapa namamu?"

"Margonda, Gusti Putri."

"Margonda nama yang cukup bagus. Tolong

sediakan hidangan buat kami malam ini, Margon-

da" kata Maya Swari lembut. Dan sebenarnya walaupun ia anak dedengkotnya para iblis Maya

Swari sebenarnya berhati lembut, polos dan pe-

nuh pengertian.

"Baik, segera hamba kerjakan." Margonda alias Dewi Bulan berlalu meninggalkan ruangan

pengantin itu dengan dikawal oleh seorang pen-

gawal bersenjata tombak. Pengawalan ini sesung-

guhnya membuat Margonda tidak dapat bergerak

dengan leluasa. Apalagi sebelumnya ia telah mendapat kisikan dari Ratu Penyair Tujuh Bayangan

bahwa semua makanan disitu telah dibubuhi Ra-

cun Pelemah Akal. Apapun alasannya yang jelas





tuan rumah punya maksud-maksud yang tidak

baik. Ketika ia sampai di dapur tidak tahunya hidangan itu untuk pengantin telah disediakan. Ja-di Margonda hanya tinggal membawanya seka-

rang. Hidangan ini jelas tidak boleh dimakan oleh Suro Blondo kalau ingin dirinya selamat. Tapi bagaimana membuang nya dan menggantikannya

dengan hidangan lain. Sedangkan pengawal itu

terus mengawasi gerak geriknya.

Bagi Dewi Bulan alias Margonda sebenar-

nya tidak sulit untuk merobohkan seorang pen-

gawal. Tapi setiap sudut selalu dijaga oleh orang-orang tertentu. Jika ia nekad membungkam pen-

gawal yang terus mengikutinya. Bukan mustahil

penyamarannya akan terbongkar. Dalam keadaan

bingung seperti itu tiba-tiba Dewi Bulan teringat sesuatu. Ia menyelipkan sepotong ubi di tengah-tengah nampan tanah. Di tengah-tengah poton-

gan ubi rebus itu ia susupkan dua butir pil berwarna putih. Dua obat mujarab pemberian gu-

runya ini bukan sembarang obat. Karena diambil

dari bisa ular merah dicampur ramuan lain.

Fungsinya akan melumpuhkan pengaruh racun

lainnya didalam tubuh seseorang setelah itu racun ular merah itu setelah bekerja tidak akan

membahayakan keselamatan jiwa yang mema-

kannya.

Tidak lama kemudian ia telah sampai kem-

bali di kamar pengantin. Maya Swari tentu saja

terheran-heran ketika melihat Suro Blondo me-

nyambar potongan ubi itu lalu memakannya den-





gan lahap.

"Aih... Kakang, mengapa makan ubi. Bu-

kankah hidangan lainnya cukup lezat?" tegurnya.

"Biasanya sebelum makan yang enak-enak

kacungku ini memang kuminta menyediakan se-

potong ubi. Kalau tidak manalah makanku la-

hap" Maya Swari yang sesungguhnya benar-

benar sangat mencintai Suro Blondo sejak pan-

dangan pertama langsung tersenyum. Dengan di-

bantu oleh Margonda ia meletakkan hidangan itu

diatas meja kecil. Sikap Maya Swari yang begitu manja membuat Dewi Bulan selalu menundukkan

kepala. Hidangan telah tersedia Margonda meninggalkan ruangan pengantin. Ketika Suro Blondo

hendak mencicipi salah satu hidangan. Tiba-tiba Maya Swari mencegahnya.

"Kakang sebaiknya makanan ini kita bu-

buhkan penyedap khusus." desah gadis itu. Tapi diam-diam keningnya berkerut. Dalam aroma hidangan dia seperti mencium bau Racun Pelemah

Akal. Siapa yang telah membubuhkannya? Sung-

guhpun ia kebal terhadap racun itu. Tapi bagai-

mana jika racun yang berbau harum sebagai

aroma masakan ini termakan oleh suaminya? Un-

tuk menghindari kecurigaan Suro Blondo ia ber-

pura-pura untuk membubuhkan penyedap khu-

sus. Padahal ia ingin membubuhkan penangkal

racun itu agar Suro Blondo terhindar dari bahaya.

Maya Swari menjadi curiga pada ayahnya. Jan-





gan-jangan sang ayah sengaja meracuni Suro

Blondo. Tapi apa tujuannya?

Sementara itu Suro Blondo sudah menco-

mot salah satu masakan dan memakannya sebe-

lum Maya Swari membubuhkan penyedap seba-

gaimana yang dikatakannya tadi.

"Kakang mengapa dimakan?" tanya Maya

Swari dengan terkejut.

"Bukankah hidangan ini khusus disedia-

kan buatku?"

Mendengar ucapan Suro Blondo, gadis itu

jadi kehilangan kata-kata. Mereka pun makan

bersama-sama. Tentu saja setelah Maya Swari

membubuhkan menyedap berwarna merah di da-

lam botol. Selesai makan Maya Swari tidak lang-

sung tidur. Ia pamitan untuk bicara dengan

ayahnya sebentar. Ini kesempatan baik Dewi Bu-

lan untuk bicara dengan Suro Blondo.

"Aku benci melihat kau berdekatan dengan

gadis itu. Walaupun aku tahu kau hanya berpu-

ra-pura menjadi suaminya. Kesempatan itu tidak

akan kau dapatkan bila kau tidak makan obat di-

dalam ubi tadi. Tahukah kau bahwa hidangan ini

telah dibubuhi Racun Pelemah Akal?"

"Aku sudah tahu, tapi tidak tahu nama dan

jenis racunnya. Reaksi obat yang kau berikan sudah kurasakan sejak tadi. Bagaimana kau bisa

sampai kemari. Dan apa sesungguhnya rencana

Diraja Penghulu Iblis?"

"Yang tidak penting jangan ditanya dulu.

Yang jelas seseorang telah membawaku kemari





dan sekarang sedang menyelidik. Kurasa Diraja

Penghulu Iblis dan kawan-kawannya punya ren-

cana besar dan keji. Kuharap kau tidak tidur

dengan anak gadis itu malam ini"

"Kau cemburu?" tanya si pemuda sambil cengengesan.

Dewi Bulan merengut. "Jangan banyak

omong. Kau mempunyai kepandaian lebih tinggi

dariku. Sebaiknya kau mulai menyelidik sebagai-

mana yang dilakukan oleh kawanku"

"Kalau begitu kau harus menyamar menja-

di aku sedangkan aku menggantikanmu"

"Bagaimana dengan rambutku? Apakah

kau dapat menirunya?"

Dewi Bulan membuka penutup kepalanya.

Rambutnya yang tergerai dan berwarna hitam ki-

ni telah berwarna kemerah-merahan. Rupanya

sebelum masuk ke dalam ruangan pengantin ia

telah mewarnai rambutnya dengan sejenis daun

yang ditumbuk halus

Tanpa bicara lagi ia langsung merias wajah

Pendekar Blo'on. Cara kerjanya cekatan sekali.

Karena sesungguhnya Dewi Bulan sangat ahli da-

lam menyamar. Hanya sebentar Suro Blondo te-

lah berganti rupa seperti Morganda sang pelayan.

Sedangkan Dewi Bulan sendiri segera bertukar

pakaian dengan si pemuda. Karena pakaiannya

berlapis-lapis, tentu auratnya tidak terlihat. Tidak sampai sepuluh menit Dewi Bulan telah berubah

seperti Suro Blondo pemuda ini berdecak kagum

atas keahlian yang dimiliki oleh Dewi Bulan.





"Bukan main. Kau hebat. sayang kini aku

harus menjadi seorang kacung"

"Jangan cerewet" kata Dewi Bulan ketus.

"Sekarang bukan saatnya bersenda gurau. Sekali terbongkar, maka celakalah kita semua"

Dewi Bulan yang telah menyaru sebagai

Suro Blondo ini segera menyuruh Pendekar Blo'on yang telah bertukar menjadi Morganda sang kacung keluar meninggalkan kamar. Ia sendiri ke-

mudian enak-enakan merebahkan tubuhnya yang

terasa penat diatas kasur empuk.

"Sialan. Balas dendam dia rupanya. Aku

hampir saja mendapatkan yang enak diatas enak.

Nggak tahunya sekarang harus menjadi kacung"

Pemuda ini hampir saja menggaruk rambutnya.

Namun ketika ia teringat sedang berada dalam

penyamaran. Maka keinginannya itu diurungkan.

Tidak lama setelah melewati beberapa kamar yang cukup banyak jumlahnya. Secara mengendap-endap ia menembus kegelapan malam yang pekat.

Di sebuah ruangan pribadi, Maya Swari

rupanya pada saat yang bersamaan sedang ber-

debat dengan ayahnya. Gadis pengantin baru ini

memandang tajam pada sang ayah yang tampak

duduk tenang-tenang.

"Ayah... aku tidak menyangka ayah begini

tega" Maya Swari terisak. "Pangeran Linglung siapapun dia adalah pemuda pilihanku. Mengapa

ayah memberinya racun Penghilang Ingatan?"

"Tokh bukan kau yang ayah racuni. Ayah

hanya ingin membuat semua orang patuh dan





tunduk pada ayah, terkecuali tiga tokoh yang sedang menunggu di ruangan pertemuan."

"Apa tujuan Ayah yang sebenarnya?" tanya Maya Swari heran.

"Ayah belum dapat mengatakannya,

meskipun pada anaknya sendiri. Yang jelas Ayah

curiga pada Pangeran Linglung."

"Apa yang Ayah curigai? Ia begitu lugu, polos dan bersahaja."

"Dunia ini penuh dengan tipu-tipu Anakku.

Kau tidak tahu karena kau belum matang benar.

Kalau ada apa-apa, sebaiknya bicarakan saja be-

sok. Ayah harus menjumpai mereka sebelum ke-

sempatan besar ini hilang" Raka Tendra bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan kemarahan Maya

Swari ia meninggalkan sang anak termenung sen-

dirian. Di dalam ruangan pertemuan pembicaraan

mulai berlangsung. Buto Terenggi, Nyanyuk Pingitan dan Datuk Alang Sitepu dan Raka Tendra

berkumpul membentuk lingkaran.

"Jadi Prisma Permata itu telah dida-

patkan?" Yang bertanya adalah laki-laki hancur sebelah bermata satu.

"Sudah. Aku yang telah mencurinya dari

Goa Darah" jawab Nyanyuk Pingitan membang-gakan diri. "Goa Darah yang sangat ditakuti itu ternyata tidak ada apa-apanya. Kuakui memang

Prisma Permata yang konon mengandung kekua-

tan magis itu sempat merepotkan aku. Tapi ke-

nyataannya kau dapat mengatasinya."





"Kurasa gua itu sekarang sudah hancur.

Bukankah begitu, Nyanyuk Pingitan?" tanya Buto Terenggi was-was.

"Ya... gua itu telah hancur karena kekua-

tan yang menjaganya sudah kuambil. Dengan

Prisma Permata di tangan kita, siapa lagi yang tidak tunduk pada kita? Kita dapat mendirikan se-

buah kerajaan besar setelah kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Hik hik hik"

"Sungguhpun begitu masih ada bahaya lain

yang mengancam kita. Kita tidak boleh lengah"

kata Raka Tendra.

"Apa itu?" Nyanyuk Pingitan dan Datuk Alang Sitepu bertanya.

"Menurut yang kudengar. Konon Prisma

Kristal Permata itu sebenarnya adalah sebuah

kunci yang menentukan kebebasan setengah

anak manusia dan setengah anak jin. Dengan di-

bukanya Prisma Permata itu. Berarti Soma Sastra si Manusia Merah terbebas dari hukuman Kyai

Tapa. Tidak seorangpun tahu bagaimana perangai

manusia setengah jin itu. Karena selama ini ia

memang tidak pernah muncul. Dan lagipula, jika

Goa Darah hancur. Pulau Jawa ini terancam

tenggelam dalam bahkan menjadi lautan lumpur

api. Ini adalah sebuah sumpah yang pernah ditu-

turkan oleh nenek moyangku dulu"

"Tidak usah khawatir Diraja Penghulu Iblis.

Semua yang Anda dengar hanyalah dongeng. Jika

kerajaan telah kita bangun, siapa yang tidak tunduk pada kita?" desis Datuk Alang Sitepu. "Kau





punya Racun Pelemah Akal. percobaanmu terha-

dap para undangan saja telah terbukti. Jadi apa lagi yang kau risaukan. Seratus datang seratus

tunduk dan patuh di bawah perintah. Kita semua

punya keahlian masing-masing. Jadi apa yang di-

takutkan?"

"Memang. Untuk lebih meyakinkan lagi.

Kurasa tidak ada salahnya sekarang ini Nyanyuk

Pingitan menunjukkan Prisma Kristal yang telah Anda curi dari Goa Darah itu"

"Jangan" Datuk Alang Sitepu mencegah.

"Jika Prisma Permata itu sampai keluar dari kantung kulit beruang milik Nyanyuk Pingitan. Kekuatannya akan menyerang orang-orang disekeli-

lingnya. Terkecuali aku yang memegangnya."

Apa yang dikatakan oleh Datuk Alang itu

memang tidak dipungkiri oleh Nyanyuk Pingitan.

Sehingga tanpa merasa curiga lagi ia menyerah-

kannya pada raja Penyihir. Mata Datuk Alang

yang cuma sebelah itu terpejam, ia kemudian

membaca mantra hitam yang dimilikinya. Setelah

itu dengan tangan-tangan yang bergetar ia men-

geluarkan Prisma Kristal dari kantung kulit be-

ruang. Begitu Prisma Kristal dikeluarkan. Maka

terpancarlah cahaya merah. Ini merupakan kea-

nehan tersendiri. Karena sebetulnya Prisma Per-

mata itu berwarna putih kemilau.

"Hanya sebentar aku dapat menahannya.

Apakah semua yang hadir disini telah puas meli-

hatnya?"





"Cukuplah, Datuk" kata Raka Tendra.

Datuk Alang Sitepu memasukkan kembali

Prisma Permata itu ke dalam kantungnya. Mereka

baru saja hendak melanjutkan pembicaraan keti-

ka secara tiba-tiba terdengar suara jerit kematian diluar gedung itu.





8


Tapi entah karena apa, atau mungkin pula

karena pengaruh kekuatan Prisma Kristal itu. Mereka yang berada di dalam ruangan pertemuan itu sama sekali tidak bergerak. Malah terus melanjutkan pembicaraan. Dua bayangan yang ikut

mengintip pembicaraan mereka berkelebat menu-

ju arah yang berlawanan. Yang satu ke belakang

yang satunya lagi ke depan. Selain itu masih ada lagi dua bayangan lainnya yang bergerak ke arah bagian depan bangunan.

Apakah sesungguhnya yang telah terjadi?

Entah darimana datangnya sosok serba merah

dengan tinggi lima meter dan hanya memakai ko-

teka ini muncul begitu saja. Begitu datang ia

langsung membantai orang-orang yang bertugas

jaga malam. Kakinya menendang, tangan mence-

keram siapa saja yang terdekat dengannya.

Bila telah berada dalam genggamannya,

maka pengawal Diraja Penghulu Iblis ini langsung dibantingnya. Korban mulai berjatuhan. Pasukan





pemanah yang berada di atas bangunan tidak

tinggal diam. Mereka melepaskan anak-anak pa-

nah kearah manusia merah ini. Tapi sungguh

sayang sekali. Manusia merah ini ternyata kebal terhadap semua jenis senjata. Suro Blondo yang

telah menyamar sebagai Margonda melihat keja-

dian ini dengan mata melotot.

"Betul-betul edan. Apakah dia juga iblis da-ri neraka? Tapi mengapa malah membunuh

orang-orang Diraja Penghulu Iblis?"

Di sudut lain Gajah Gemuk dan Gajah

Krempeng juga sama tercekat. Tapi sebagai tokoh angkatan tua mereka langsung teringat sesuatu.

"Manusia merah itu bukankah anak raja

jin yang menitis di rahim istri Kyai Tapa?"

"Kau tidak salah Kakang. Ternyata kabar

yang pernah kita dengar dulu bukan dongengan

anak-anak. Pasti ada sesuatu yang terjadi sehing-ga ia terbebas dari penjara Gua Darah."

"Bagaimana? Apakah kita tinggalkan tem-

pat ini?"

"Tidak bisa Apakah Kakang tidak dengar

rencana gila para tokoh sesat itu? Kita harus

menghentikan mereka"

"Bagaimana dengan manusia merah?"

"Kita tidak tahu dia berada dipihak mana.

Tapi aku yakin dia datang kemari untuk men-

gambil Kristal Permata itu."

"Apakah kita harus turun sekarang?"

"Jangan" cegah Gajah Krempeng. Walaupun Kakang punya badan tidak kalah besar den-





gan manusia merah. Tapi tingginya Kakang kalah.

Lebih baik kita pancing agar Raka Tendra dan

kawan-kawannya keluar."

Belum sempat kedua manusia Gajah ini

bergerak. Tiba-tiba terdengar suara teriakan

menggelegar. Angkasa bagai terbelah. Kegelapan

malam berubah terang benderang karena dari

mulut manusia merah menyembur lidah api pada

saat ia bicara.

"Siapa yang merasa telah mencuri Perisma

Permata harap segera menyerahkan diri kepada-

ku He... anak-anak setan apakah kalian tidak

mendengar seruanku?"

Jangankan orang yang bisa mendengar,

orang tuli sekalipun bila mendengar gelegar suara manusia merah itu pasti akan terkejut.

Karena tidak seorangpun ada yang menja-

wab pertanyaannya. Manusia merah Soma Sastra

langsung mengamuk. Para undangan yang seka-

rang berada dalam posisi menjadi pengawal lang-

sung bergerak mengeroyok manusia merah dari

empat penjuru arah. Tentu saja serangan mereka

cukup berarti dan berbahaya sekali karena orang-orang ini terdiri dari tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian tinggi dan tentu saja mempunyai

pengalaman dalam bertarung pula.

Anak Jin ini bukan sembarangan. Selain

mempunyai kekebalan tubuh yang sangat luar bi-

asa. Juga setiap bacokan lawan hanya menim-

bulkan pyaran bunga api.

"Serang terus jangan beri kesempatan bagi





si raksasa ini hidup"

Teriakan-teriakan seperti itu terus terden-

gar di tengah-tengah suara denting senjata yang tidak ada habis-habisnya.

Tapi apa yang mereka lakukan hanya sia-

sia saja karena tubuh Manusia Merah alotnya

bukan main. Di lain pihak Manusia Merah ini se-

lain menginjak-injak para pengeroyoknya juga

menendang dan melempar. Mereka yang dibant-

ing langsung mati tanpa mampu bangkit lagi. Ada yang lehernya patah, tulang iganya remuk dan

ada juga yang isi perutnya hancur. Lebih celaka lagi, manusia merah Soma Sastra ini hanya

memporak porandakan lawan-lawannya tapi juga

mulai membakar bangunan besar milik Diraja

Penghulu Iblis. Hanya dalam waktu singkat tem-

pat itu menjadi lautan api. Sebenarnya kemana-

kah perginya Diraja Penghulu Iblis dan kawan-

kawannya? Marilah kita lihat di ruangan perte-

muan. Ketika terjadi keributan di luar. Rupanya Nyanyuk Pingitan dipersilahkan untuk melihatnya. Sedangkan tiga tokoh perencana lainnya te-

tap melanjutkan pembicaraan didalam ruangan

pertemuan.

Sampai di depan pintu Nyanyuk Pingitan

melihat mayat-mayat bergelimpangan. Sementara

mereka yang masih bertahan hidup adalah para

undangan yang kini telah menghambakan diri se-

cara sukarela karena pengaruh Racun Pelemah

Akal. Sungguh khasiat Ular Kayangan benar-





benar terbukti dengan berlipatnya tenaga yang

mereka miliki, sungguhpun mereka ini mendesak

sosok tinggi besar berwarna merah dengan tinggi lima meter ini bagaikan banteng. Tetap saja
mereka tidak berdaya untuk menjatuhkan Soma Sa-

stra. Setelah mengetahui siapa manusia merah

itu. Maka Nyanyuk Pingitan perempuan kering

seperti mayat hidup ini langsung melaporkan ke-

jadian ini pada kawan-kawannya.

Disini Datuk Alang Sitepu punya peranan.

Mereka mengambil keputusan kilat untuk menye-

lamatkan Prisma Permata dan bangunan milik Di-

raja Penghulu Iblis dari kehancuran.

"Hanya dengan selubung tipuan pandang,

kurasa Soma Sastra untuk sementara dapat ter-

kecoh. Kita harus menciptakan bangunan tiruan

dan para pengawal tiruan pula. Sementara sing-

gasanamu yang asli berada dalam lingkup tabir

gelap yang kuciptakan."

"Apakah anak raja Jin itu tidak mengetahui tipuanmu?" Diraja Penghulu Iblis ragu-ragu.

"Dia tidak akan tahu. Paling tidak untuk

sementara waktu. Kita berempat, mari kita ga-

bungkan seluruh kekuatan kita untuk mencipta-

kan sebuah kehendak" kata Datuk Alang Sitepu merasa yakin.

Laki-laki tua berwajah rusak ini kemudian

meletakkan Prisma Permata dibawah telapak tan-

gannya. Secara teratur telapak tangan Diraja

Penghulu Iblis, Nyanyuk Pingitan dan juga Buto





Terenggi saling tindih menindih. Ketika mereka

mengerahkan tenaga dalamnya sementara Raja

Penyihir membaca mantra-mantra. Maka terjadi-

lah perubahan yang begitu halus dan tidak terlihat oleh kasat mata. Gedung tiruan yang sama

persis, tercipta. Sedangkan gedung yang aslinya terselubung kabut kegelapan. Gajah Gemuk dan

Gajah Krempeng tidak merasakan perubahan ini.

Dapat dibayangkan jika tokoh-tokoh ber-

kepandaian tinggi seperti mereka sempat terke-

coh. Tentu kekuatan sihir di bantu dengan kekuatan Prisma Permata itu sangat hebat sekali. Sebaliknya manusia merah pun begitu juga. Hanya

Pendekar Blo'on saja yang sempat merasakan pe-

rubahan mendadak ini.

Mengapa hanya Suro Blondo saja yang da-

pat merasakan perubahan ini? Sebagaimana kita

ketahui, anak ajaib ini terlahir pada malam satu Suro. Dalam hitungan hari dan bulan, malam sa-tu Asyuro adalah malam tertinggi dari sekian ba-nyaknya hari. Satu Asyuro malam keramat yang

penuh berkah dan keajaiban. Salah satu keajai-

ban itu ia tidak mempan sirep dan segala sesua-tu yang berbau sihir. Tapi akibat matanya yang tidak dapat ditipu itu, kini ia terheran-heran sendiri. Hatinya bertanya-tanya, siapakah yang telah menciptakan bangunan tiruan itu. Mengapa

manusia merah yang sedang mengamuk membabi

buta itu tidak mengetahuinya? Pertanyaan-

pertanyaan ini tentu saja tidak terjawabkan jika ia tidak mendengar suara seseorang seperti men-





gingatkannya.

"Pengantin baru Aku tahu kau hanya me-

nyamar, sekarang kau berubah menjadi kacung

pula. Sedangkan pacarmu menjadi dirimu dan ti-

dur di kamar pengantin menggantikan dirimu.

Aku adalah orang yang berdiri dipihakmu. Untuk

itu kau harus dengar ucapanku yang tidak per-

nah kuulang ini."

Jelas orang yang bicara itu siapapun

adanya adalah orang yang memiliki tenaga dalam

tinggi dan mempunyai ilmu mengirimkan suara

pula. "Apa yang kau lihat barusan adalah permainan sihir. Datuk Alang Sitepu penyihir kelas satu. Belum lagi di bantu oleh Nyanyuk Pingitan, Buto Terenggi dan juga Diraja Penghulu Iblis

orang tua Maya Swari. Sungguhpun Maya Swari

cinta padamu, dan kau tentunya tidak berminat

kawin dengannya. Kau dan tokoh-tokoh aliran lu-

rus harus bahu membahu menghancurkan Raja

penyihir bersama kawan-kawannya. Memang

agak sulit, apalagi Prisma Kristal Permata yang menjadi kunci keseimbangan tanah Jawa ini telah jatuh di tangan mereka. Kedudukan mereka akan

menjadi kuat. Kau harus dapat mempengaruhi

Manusia Merah itu agar dapat kau tarik di pi-

hakmu. Perlu kau tahu manusia merah itu mem-

punyai pendirian yang tidak menentu. Ia mudah

terpengaruh meski oleh musuh besarnya sekali-

pun." "Apakah Prisma Permata itu miliknya?" potong Suro Blondo tiba-tiba.





"Prisma permata itu sesungguhnya kunci

pintu tempat dipenjarakan di Goa Darah. Kau ti-

dak usah tanya siapa yang telah memenjarakan-

nya. Yang jelas kini Goa Darah tempat bernaung-

nya selama satu abad telah hancur. Lumpur pa-

nas di mana-mana. Tanah yang keras pun akan

menjadi leleh. Dan gara-garanya karena Prisma

itu juga."

"Tapi... apa dayaku. Yang ku tahu disini

aku hanya bersama Dewi Bulan. Kalau kulihat

Manusia Merah itu saja rasanya aku akan repot

menaklukannya belum lagi menghadapi Raja Pe-

nyihir, Datuk Mambang Pitoka, Nyanyuk Pingitan

dan juga Diraja Penghulu Iblis?"

"Jangan takut, gurunya Dewi Bulan juga

ada disini."

"Apa maksudmu?"

"Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng tidak

jauh dari sini. Aku sudah memberitahukan hal ini pada mereka. Kalau manusia merah sudah dapat

kujatuhkan, tentu kalian tinggal menyeretnya di tempat yang aman dan membujuknya?"

"Bagaimana dengan Dewi Bulan Aku takut

penyamarannya terbongkar dan dia akan menda-

pat kesulitan" ujar Pendekar Blo'on sambil garuk-garuk kepalanya.

"Ah... rupanya kau selalu mengkhawatir-

kan pacarmu, kau tidak perlu merisaukannya.

Lagipula aku akan selalu memantau keadaan di

sini. Yang terpenting kalian bertiga harus dapat meyakinkan bahwa kau berada di pihak manusia





merah."

"Ah, Manusia Merah macam apakah dia?"

"Jangan garuk-garuk melulu macam mo-

nyet. Sudah kubilang ia anak Raja Jin yang ma-

lang. Nah... sekarang bersiap-siaplah kau untuk menyeretnya ke tempat yang aman"

Bisikan yang didengar oleh Pendekar Blo'on

tiba-tiba lenyap. Angin kencang disertai bau harum semerbak bergerak cepat ke arah manusia

merah yang sedang membantai anak buah Diraja

Penghulu Iblis. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang Suro Blondo.

"Edan... benar-benar edan Angin wangi

malah membuatku mengantuk" Karena merasa

yakin rasa kantuk itu diciptakan oleh seseorang yang sempat mengirimkan pesan padanya tadi.

Maka Suro Blondo segera mengerahkan hawa

murninya untuk menghilangkan rasa kantuk

yang menyerangnya.

Kini tatapan matanya tertuju pada Manu-

sia Merah itu. Dengan jelas ia dapat melihat sisa-sisa anak buah Diraja Penghulu Iblis bergelim-

pangan. Terakhir Manusia Merah yang tergelim-

pang dengan disertai suara berdebum. Suro Blon-

do langsung meninggalkan tempat persembu-

nyiannya. Satu dua lawan Manusia Merah yang

masih berusaha bertahan dihajarnya hingga

tunggang langgang. Begitu sampai ia tercengang.

"Ya ampun, Manusia Merah ini besarnya

tidak ketulungan. Bagaimana aku bisa mengang-

katnya?" pikir Pendekar Blo'on.





Si bocah Ajaib yang terlahir pada malam

satu Asyuro ini mengangkat tubuh Manusia Me-

rah. "Hekh..."

Sampai mata si konyol mendelik, sedikit-

pun tubuh Manusia Merah ini tidak bergeming.

Mulut si pemuda termonyong-monyong, ia menge-

lilingi tubuh raksasa tersebut sambil menggelengkan kepala terus.

"Orang ini besarnya seperti tiga ekor gajah yang lagi bunting. Kalau pun kukeluarkan tenaga dalam seluruhnya sampai aku mencret mana

mungkin aku dapat mengangkatnya?"

Suro berjongkok dan termenung dengan

dagu menopang di kedua tangannya. Ia tidak ha-

bis pikir bagaimana caranya menyeret orang ini.

"Sekarang ia dalam keadaan pulas karena pengaruh pembius. Tentu tidurnya tidak akan lama.

Sebaiknya aku tarik tangannya" pikir Suro.

Maka ia pun memegang lengan Manusia

Merah yang hampir sebesar pahanya. Tenaga da-

lam dikerahkan, niat segera dilaksanakan. Na-

mun hasilnya tetap seperti tadi.

"Gila betul" Suro Blondo menggerutu, lalu garuk-garuk kepalanya.

Pendekar Blo'on memutar lagi, lalu kali ini

bagian kaki yang ditariknya. Dasar Suro Pendekar geblek, kalau tangannya saja tidak dapat diseret apalagi kakinya.

"Goblok, tolol, bego dll. Bagaimana mung-

kin aku dapat mengangkat manusia macam ikan





paus ini?" gerutu Pendekar Blo'on. Ia mendekati kepala Manusia Merah, menarik kuping dan hidungnya namun tetap tidak membuat Manusia

Merah terjaga.

"Mana katanya guru Dewi Bulan akan

membantuku? Apakah orang tadi cuma membo-

hongiku?"

Selagi Pendekar Blo'on tercenung seperti

itulah, tiba-tiba saja terdengar suara, maka Pendekar Blo'on malah tercengang pula.

"Anak perempuan orang. Dalam keadaan

seperti ini tidak cukup waktu bagi kita. Cepat

bantu kami menyeretnya ke tempat yang aman.

Cepatlah, sebelum pengaruh Sirep Ratu Penyair

Tujuh Bayangan punah"

"Walah, aku sudah menyeretnya tadi, tapi

tubuhnya berat bukan main. Bagaimana kalau ki-

ta bangunkan saja"

"Goblok betul Kalau dia bangun nanti

mengamuk lagi. Apakah kau becus menghada-

pinya?"

"Tentu saja kita bersama-sama. Tapi aku

merasa yakin dia bakal menjadi sahabatku..." ka-ta Suro sambil nyengir.

"Hei... jangan cengengesan..." teriak si gemuk macam raksasa.

"Ssst... kalau bicara jangan keras-keras,

nanti orang ini bangun" desis si Kerempeng.

"Habis bocah ini goblok banget" kata si gemuk bersungut-sungut.

Suro walaupun cengengesan tapi tidak bi-





cara apa-apa. Manusia dengan berat lebih dari

dua ratus kati itu cemberut.

"Benar-benar gila Makan apa manusia

yang satu ini? Ia hampir sama besar dengan Ma-

nusia Merah, cuma kalah tinggi saja." batin Pendekar Blo'on terkagum-kagum.

Dengan mengerahkan tenaga biasa mana

mereka kuat mengangkat Manusia Merah. Mereka

terpaksa mengerahkan tenaga dalam untuk

menggotong Manusia Merah itu untuk dipindah-

kan ke tempat yang aman.





9


Maya Swari masuk ke kamar pengantinnya

lagi. Di lihatnya Suro Blondo alias Pangeran Linglung tidur di atas ranjang. Sampai sejauh itu

Maya Swari tidak tahu bahwa suaminya telah di

gantikan oleh Dewi Bulan alias pelayan Margon-

da.

"Kakang Pangeran Linglung, apakah kau

sudah tidur?" tanya si gadis bermanja-manja.

"Uaah... aku penat sekali. Habis makan,

habis minum langsung mengantuk..." sahut Pangeran linglung si Dewi Bulan.

Maya merebahkan tubuhnya di samping

Pangeran Linglung palsu. Di pandanginya pemu-

da bertampang ketolol-tololan itu. Tiba-tiba ia mengecup bibir Pangeran Linglung dengan sepenuh gejolak hasrat cinta yang menggebu-gebu.





Pangeran Linglung ini tentu memerah wajahnya.

Tapi dalam hati geli juga.

"Gadis tolol, kalau kau tahu bahwa aku

punya dua mulut juga, punya dua bukit. Tentu

tidak begini jadinya?" gerutu Dewi Bulan.

"Kakang...?" Maya Swari memeluk Pangeran Linglung. Untung tangannya melingkar di ba-

gian perut gadis yang tengah menyamar tersebut.

Coba kalau di bagian dada, Wah celaka...

"Ada apa?"

"Kakang, aku jadi teringat ketika kakang

mengatakan pernah jadi tukang mengurus kuda.

Mengapa mau-maunya kakang bekerja seperti

itu?" tanya Maya dan nafasnya yang harum me-nyapu wajah Pangeran Linglung palsu

"Mencari pekerjaan itu sulit. Banyak ka-

langan berpendidikan tinggi saja menganggur

sampai sekarang. Aku hanya yatim piatu..." kata Pangeran Linglung ngawur. "Tidak sekolah terkecuali hanya tulis baca dan berhitung. Sedangkan kau anak orang kaya, segala kebutuhanmu ter-cukupi, tentu kau tidak pernah merasakan ba-

gaimana pahitnya penderitaan"

"Aku kasihan melihat nasibmu Kakang, co-

ba kalau kita bertemu sejak kecil, tentu kehidu-panmu tidak jelek-jelek amat"

"Goblok, kalau kau tahu siapa aku. Kau

tentu akan mengamuk membabi buta bahkan

mungkin membunuhku" maki Dewi Bulan dalam hati. "Ya, nasib orang sendiri-sendiri. Manusia





hidup punya cobaan yang berbeda-beda. Kalau

semua orang jadi kaya, tentu tidak ada yang

miskin, kalau semua jadi raja siapa rakyatnya?"

jawab Pangeran Linglung.

"Ahk, ternyata kau pandai juga Kakang"

puji Maya.

Tiba-tiba ia menggeliatkan tubuhnya. Ge-

rakannya sangat menarik, dadanya yang kenyal

tampak menantang. Dewi tidak dapat mem-

bayangkan bagaimana jika si konyol itu yang be-

rada di samping Maya.

"Kakang, ah..," Mata Maya setengah terpejam. Sebagai gadis yang sudah dewasa dan cu-

kup matang. Tentu Dewi mengerti apa yang diin-

ginkan oleh Maya. Walau pun ia belum punya

pengalaman sama sekali. Nalurinyalah yang men-

gatakan begitu.

Untuk tidak menimbulkan kecurigaan

Maya, maka meskipun dengan rasa jijik Pangeran

Linglung mendekap-dekap dan membelai.

"Kakang, rupanya kau belum punya penga-

laman sama sekali dalam bercinta,

ya...?" "Wah, belum tuh." kata pengantin laki-laki tersipu.

"Bohong Biasanya laki-laki suka menipu.

Terkadang mereka belum menikah, tapi pengala-

mannya dengan perempuan bermacam-macam.

Apakah Kakang mau mungkir?"

"Itu laki-laki lain. Laki-laki iseng hidung





belang-belang. Mereka memang suka jajan. Lalu

terkena penyakit kotor, nah nanti kalau keturu-

nan rusak, anak yang disalahkan, Tuhan yang

diomeli. Padahal buah setiap pohon selalu jatuh tidak jauh dari batangnya."

"Aih, Kakang... ternyata walaupun tam-

pangmu bego Kakang sangat pintar sekali" puji Maya. Tiba-tiba ia mencium bibir Pangeran Linglung palsu. Mula-mula Dewi hanya diam saja.

Namun karena kemudian ia mengingat penyama-

rannya agar tidak terbongkar. Maka Dewi dengan

terpaksa membalas ciuman Maya. Nafas putri ib-

lis ini mulai tersengal-sengal. Lampu di dalam

ruangan dipadamkannya.

"Jangan dimatikan, aku tidak bisa tidur,

takut hantu" protes Dewi Bulan si Pangeran Linglung palsu.

"Kakang penakut" Maya Swari menggerutu namun penuh kemanjaan.

Ia memeluk Pangeran Linglung, bibirnya

yang kemerah-merahan mendesis dan merengek.

Dengan terpaksa Pangeran Linglung menyeli-

napkan tangannya di dada Maya. Gadis itu merin-

tih ketika jemari tangan sang Pangeran membelai lembut dadanya. Tanpa malu-malu gadis Maya

melepaskan kancing-kancing kemejanya. Sehing-

ga dada Maya yang putih itu tersembul dari balik pakaiannya. Ternyata Maya memang mengingin-kan suasana sebagaimana yang terjadi pada pen-

gantin baru umumnya.





Dewi Bulan kelabakan, bagaimana mung-

kin hal itu dapat terjadi. Sedangkan antara di-

rinya dengan Maya sama saja. Tidak dapat di

bayangkan Dewi bagaimana seandainya Pangeran

Linglung yang berada di samping Maya. Tentu se-

tabah-tabahnya laki-laki akan bobol juga ben-

dungan Maya. Duh, Cemburunya Dewi Bulan.

Untunglah Pangeran Linglung ini punya

otak yang cerdik. Sehingga dengan caranya yang

tentu saja rahasia ia dapat memuaskan Maya

Swari. Malam pengantin pun terasa hangat meng-

gebu-gebu. Suasana di luar genting dan kamar

pengantin berubah sunyi. Waktu berlalu seba-

gaimana hari-hari sebelumnya.

Keesokan harinya ketika Maya terjaga tan-

pa busana. Dilihatnya Pangeran Linglung masih

mendengkur di sampingnya. Pakaiannya rapi se-

bagaimana pakaian orang yang baru saja pulang

dari pesta. Maya melihat dirinya sendiri. Sprei yang berwarna putih itu masih tetap bersih. Tidak ada noda-noda darah disitu. Maya pun tidak merasakan sakit pada bagian bawah perutnya. Maya

tiba-tiba merasa ada sesuatu yang ganjil tidak sebagaimana mestinya. Padahal waktu menikah ia

masih suci, gadis ting ting. Lalu siapa yang salah?

Diam-diam Maya jadi curiga, kecurigaannya itu

tetap ia pendam. Ia harus menyelidik siapa se-

sungguhnya Pangeran Linglung? Setelah menge-

nakan pakaiannya kembali yang berantakan, ma-

ka Maya segera bergegas ke kamar mandi. Ia sen-

gaja tidak mau membangunkan suaminya.


Apa yang bakal terjadi? Terbongkarkah pe-

nyamaran Dewi Bulan? Bagaimana jika Manusia

Merah tersadar. Mampukah Suro dan guru Dewi

Bulan mempertahankan diri? Ketegangan sema-

kin memuncak, keserakahan, ambisi dan nafsu

jelek manusia menimbulkan angkara murka. Ba-

gaimana nasib si konyol ini?


TAMAT



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...