Senin, 17 November 2014

PENDEKAR BLOON - Eps.16


PENDEKAR BLOON
Eps.16
RAHASIA PEDANG BERDARAH

SATU

Suro memeriksa denyut jantung gadis di de-

pannya. Ternyata sangat lemah sekali. Di perhatikan-

nya wajah Gadis yang pucat, ada darah yang masih

menetes di sela-sela bibirnya yang terbuka. Maling Je-

naka jelas terluka dalam cukup parah. Pukulan sayap

Elang Perak pada bagian punggung Gadis memang ti-

dak ringan. Masih beruntung ia memiliki tenaga dalam

yang tinggi. Kalau tidak ia pasti sudah menemui ajal-

nya. Pemuda baju biru garuk-garuk kepala lagi, tubuh

Maling Jenaka memang sangat dingin sekali.

"Pakaiannya sangat basah. Aku harus menya-

lurkan tenaga dalamku padanya. Sebaiknya kucopot

saja bajunya, tapi..." Pendekar Blo'on ragu. "Tidak pantas rasanya aku melihat auratnya. Jika orang lain

sempat melihat perbuatanku hanya akan menimbul-

kan fitnah"

Sebaliknya jika tidak cepat di tolong, tentu Mal-

ing Cerdik bisa mati kedinginan. Suro akhirnya menja-

di nekad, ia segera berkonsentrasi untuk menghilang-

kan fikiran yang berbau sahwat dalam dirinya. Setelah

itu kancing baju Gadis itu dibukanya satu-persatu.

Terlihatlah kulit yang halus mulus, dada yang mem-

bukit, putih tegak menantang.

Pemuda ini pejamkan matanya, kemudian tela-

pak tangan di tempelkan persis, di pertengahan dada

Gadis yang penuh daya pesona tersebut.

Tidak lama ada hawa hangat mengalir lewat je-

mari tangan Suro Blondo. Tubuh pemuda itu menggi-

gil, sebaliknya badan Gadis menggeletar, nafasnya ter-

sengal-sengal. Maling Jenaka merintih, tapi matanya

masih terpejam. Suro cepat angkat tangannya. Setelah





itu ia bermaksud mengancingkan pakaian Gadis, cela-

ka Maling Cerdik sudah terjaga. Melihat sebagian tu-

buhnya dalam keadaan telanjang dan Suro kelihatan-

nya yang telah menelanjanginya. Maka ditendangnya

pemuda itu tanpa bicara.

Suro yang telah kehilangan banyak tenaga

langsung terguling-guling. Gadis dengan terhuyung-

huyung langsung memburunya, rupanya ia dalam

keadaan kalap itu lupa bahwa pakaiannya dalam kea-

daan terbuka.

Wuus

Tendangan Maling Jenaka luput karena Suro

sudah melompat menjauh sambil menunjuk-nunjuk ke

dadanya.

"Kau... mengamuk boleh-boleh saja, tapi rapi-

kan dulu pakaianmu" teriak Suro.

Merah padam wajah si gadis, ia cepat memba-

likkan tubuhnya, setelah merapikan pakaiannya ia

kembali menyerang Pendekar Blo'on. Suro kalang ka-

but dan terus main mundur sambil memperingatkan.

"Jangan serang, kau masih terluka. Kau salah

paham"

"Aku harus mencungkil matamu, pemuda mata

keranjang. Kau pergunakan kesempatan selagi aku ti-

dak sadarkan diri" dengus Gadis.

Maling Jenaka rupanya merasa dipermalukan

oleh pemuda berambut hitam kemerahan ini, sehingga

sama sekali ia tidak menghiraukan peringatan Suro.

Tidak lama ia jatuh terduduk, dadanya sesak bukan

main. Gadis pegangi dadanya, nafasnya tersendat-

sendat memburu. Antara marah bercampur sakit. Ia

tetap bertahan agar jangan sampai tidak sadarkan diri,

agar pemuda sinting itu tidak lagi buka bajunya atau

malah menelanjangi dirinya. Begitu sangkanya.





Suro yang merasa tidak tega langsung meng-

hampiri. Gadis mendelik namun tidak berbuat apa-

apa, karena ia merasa yakin setiap gerakan apapun

yang dilakukannya hanya membuat lukanya semakin

bertambah parah.

"Sudah kukatakan jangan kau bergerak Kau

terluka, hampir mati malah. Jika aku tidak kerahkan

tenaga dalamku ke tubuhmu, aku tidak bisa bayang-

kan bagaimana nasibmu"

"Aku tahu, tapi mengapa harus membuka ba-

juku? Kau melihat apa yang tidak pantas kau ketahui"

dengus Gadis masih dalam keadaan marah.

"Bagaimana aku bisa melihatnya, sedangkan

mataku kututup, kok Kalau kau sendiri mau melihat

dadaku silakan" kata Suro. Gadis cemberut. "Siapa sudi?" "Kalau begitu ya sudah." kata Suro. Lalu ia mengambil dua buah obat berupa butiran bulat, satu

berwarna merah darah dan yang satunya lagi berwarna

hitam. "Kau makanlah ini, mudah-mudahan Gusti Al-

lah memberikan kesembuhan padamu"

Maling Jenaka terpaksa menuruti perintah mu-

rid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Beram-

but Api ini, walau pun di hatinya ada sedikit rasa curi-ga.

Suro memutar arah, sekarang berada di bela-

kang punggung Gadis. Setelah memberi aba-aba su-

paya Maling Jenaka tidak melakukan gerakan apapun.

Maka pemuda itu langsung menempelkan telapak tan-

gannya ke bagian tubuh si gadis.

Hawa panas kemudian menjalari sekujur tubuh

Maling Jenaka. Ia muntahkan darah kental. Sekujur

badannya sempat menggigil. Suro mandi keringat, wa-

jahnya sebentar berubah memerah, sebentar tampak





memucat.

Tidak lama kemudian Pendekar Mandau Jantan

sudah menarik tangannya kembali.

Ia langsung bersila untuk memulihkan tenaga.

Gadis kini merasa sakit di dadanya sudah jauh berku-

rang. Diam-diam ia merasa kagum juga setelah melihat

kenyataan bahwa Pendekar bertampang konyol itu ter-

nyata mempunyai tenaga dalam yang sangat sempurna

sekali. Suro buka matanya. "Bagaimana keadaanmu?"

tanya si pemuda sambil garuk-garuk kepala.

"Agak lumayan" sahut si gadis manja tetap

cemberut.

Pendekar Blo'on bangkit berdiri. Setelah itu ia

berkata. "Aku harus menjumpai Pangeran Demak Pati

dan gurumu. Setelah itu aku ingin menjumpai El

Maut. Kurasa Dewa Kubu tidak bisa di anggap main-

main Sedangkan kau sendiri terserah, mau ikut aku

atau tidak itu urusanmu"

"Huh, siapa mau ikut kau. Lama-lama aku bisa

gila, kau manusia sinting yang usil. Pemuda kurang

ajar dan lancang lagi" dengus Gadis. Suro geleng-

gelengkan kepala,

Tanpa menanggapi ucapan Maling Jenaka pe-

muda tampan berwajah ketolol-tololan itu melangkah

pergi. Ia berlari kencang menuju ke bukit Sembuang.

Di kejauhan Gadis masih sempat mendengar nyanyian

Suro yang tidak karu-karuan ujung pangkalnya. Hing-

ga suara itu akhirnya lenyap terbawa angin.

"Pemuda sinting Tapi... akh, mengapa aku jadi

memikirkannya?" Gadis menggerutu. Tanpa di sadari wajahnya berubah merah jengah. Maling Jenaka kemudian juga meninggalkan tepian telaga. Di kala itu

matahari sudah semakin condong di ufuk barat.





***



Kakek Rambut Merah dan puteri Saba mema-

suki gua di puncak bukit Sembuang. Di dalam gua su-

asana masih tetap tidak berubah, ada beberapa sosok

mayat yang mati dalam keadaan tergantung, mayat itu

semakin mengering seperti terjemur. padahal suasana

di dalam gua itu terasa lembab.

Puteri almarhum raja Jasa Raga ini ketakutan

rupanya, sehingga ia tidak berani jauh-jauh dari si ka-

kek yang memanggul tubuh El Maut. Seperti sama kita

ketahui, El Maut terluka parah setelah bentrok dengan

Dewa Kubu (Dalam Episode Api di bukit Sembuang).

"Aku tahu ada sebuah ruangan rahasia di

ujung gua ini" berkata kakek rambut merah yang tidak lain adalah Malaikat Berambut Api. "Untuk sampai ke sana tidak mudah. Banyak jebakan yang telah di

buat oleh El Maut. Kau harus mengikuti setiap lang-

kahku, jangan sampai keliru jika tidak ingin celaka"

pesan si kakek.

Puteri Saba mengangguk. Ia mengikuti kakek

Dewana, setiap lantai gua yang retak-retak di injak

oleh si kakek, maka di situ pula kaki sang putri mena-

pak. Mereka sampai di ujung gua yang semakin me-

nyempit. Malaikat Berambut Api mencari-cari. Ia sege-

ra menemukan alat rahasia yang berada di sebelah ki-

ri. Alat itu di putar-putarnya, lalu terdengar suara ber-gemuruh.

Batu di depan mereka bergeser. Maka terlihat-

lah sebuah ruangan lain yang serba indah. Ada sebuah

ranjang di ruangan itu, kakek Dewana sempat terpu-

kau melihat ruangan yang dihias seperti kamar pen-

gantin ini. Hatinya gelisah dan merasa tidak enak. El





Maut yang berada di atas bahunya segera diturunkan.

Setelah posisinya dalam keadaan menelungkup, Ma-

laikat Berambut Api segera berdiri. Dua telapak tangan

di arahkannya ke punggung El Maut. Dari jarak dua

tombak ia mengerahkan tenaga sakti untuk memus-

nahkan racun yang mengeram di tubuh si nenek. Cara

penyembuhan seperti ini memang jarang terjadi di

rimba persilatan. Bahkan tokoh-tokoh yang dapat me-

lakukannya bisa dihitung dengan jari.

Semakin tinggi si kakek mengerahkan tenaga

dalamnya, maka rambut orang tua ini yang berwarna

merah tampak seperti menyala. Puteri Saba satu-

satunya orang yang menyaksikan kejadian ini tampak

kaget di samping merasa takjub juga.

Tubuh El Maut tampak bergetar, terkadang te-

rangkat dan terbanting di lantai gua. Kemudian ter-

dengar suara erangan si nenek. Namun masih belum

menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Barulah Malai-

kat Berambut Api menempelkan telapak tangannya di

atas ubun-ubun. Lagi-lagi si kakek mengerahkan tena-

ga dalam. Hari ini Malaikat Berambut Api benar-benar

harus menguras tenaga untuk memusnahkan racun

yang mengendap di tubuh El Maut. Entah rahasia apa

yang terjadi antara mereka, sehingga Malaikat Beram-

but Api tampaknya sangat mengkhawatirkan kesela-

matan nenek berwajah rusak seperti tercakar harimau

ini.

Setelah hampir satu jam kakek Dewana beru-

saha keras menyembuhkan El Maut. Hasilnya segera

terlihat. Dari hidung dan mulut nenek itu keluar darah

berwarna hitam pekat dan menebar bau busuk. Pe-

rempuan renta itu membalikkan tubuhnya, matanya

yang merah sayu berkedip-kedip. Ia seperti heran me-

lihat keadaannya sendiri.





Mula-mula yang terlihat olehnya adalah puteri

Saba. Ketika ia memandang ke depan. Kening El Maut

berkerenyit, terlihat ada kemarahan sekaligus keben-

cian disana.

"Kau..." desisnya.

"Sabarlah Gayatri. Masa yang lalu biarkanlah

berlalu, lembaran hitam itu merupakan bagian hidup

yang harus di kubur. Jangan kau ingat, karena hal itu

hanya menyakitkan hati saja" Lirih suara kakek Dewana. Wajahnya tertunduk dalam. Ia jadi teringat pe-

ristiwa lima puluh tahun yang silam. Peristiwa itu me-

mang memalukan untuk dikenang, tapi itu bukan cu-

ma kesalahannya saja. Gayatri di masa mudanya ada-

lah seorang gadis cantik, ia masih terhitung adik se-

perguruan Malaikat Berambut Api. Guru mereka tokoh

misterius yang bergelar Si Bayang-Bayang. Selain me-

reka berdua masih ada saudara seperguruan paling

tua, dia adalah Angku Muda Pasak Langit berjuluk

Singa Gunung.

Di kala itu Dewana yang lebih tampan dari

Angku Muda Pasak Langit memang lebih dekat dengan

Gayatri. Mereka sangat akrab tidak ubahnya seperti

bersaudara kandung. Dewana sendiri memang selalu

berperasaan begitu, namun lain rupanya dengan Gaya-

tri. Gadis ini ternyata menyimpan benih-benih cinta

dan harapan pada Dewana. Ia bahkan menganggap

keakraban Dewana adalah sebuah tanda bahwa sebe-

narnya kakang seperguruannya itu mencintai dirinya

pula. Bukan cinta antara saudara seperguruan dengan

adik seperguruan. Melainkan cinta seorang pemuda

dengan seorang gadis. Di samping itu pula di luar se-

pengetahuan mereka berdua, ternyata saudara tua se-

perguruan mereka yaitu Singa Gunung diam-diam

mencintai Gayatri sejak lama. Namun betapa besar





pun hasrat cintanya pada Gayatri yang cantik, men-

gingat dirinya berwajah jelek, Angku Muda Pasak Lan-

git tidak berani berterus terang menyatakan cintanya

pada Gayatri. Untuk di ketahui selain berwajah jelek.

Angku Muda Pasak Langit juga mempunyai watak dan

perangai yang sangat buruk sekali. Ia bahkan pemuda

mata keranjang yang gemar mempermainkan perem-

puan. Tentu perbuatannya ini tidak diketahui oleh

gurunya, karena Angku Muda Pasak Langit melakukan

semua itu di luar lingkungan perguruan.

Demikianlah benih-benih cinta antara Gayatri

pada Dewana terus tumbuh dengan suburnya. Seba-

liknya cinta antara Singa Gunung pada Gayatri demi-

kian pula. Terkadang di luar sepengetahuan Dewana

dan Gayatri, Angku Muda selalu mengintai apa yang

dilakukan oleh Dewana dengan gadis yang di cintai

oleh Singa Gunung. Rasa cemburu semakin besar, ia

ingin memfitnah Dewana agar kedua orang ini dapat

dipisahkan. Namun tindak tanduk Dewana tidak satu

pun yang menyimpang dari kebenaran. Malah sikap-

nya sangat melindungi, tidak bedanya seperti antara

kakak dengan adik kandungnya sendiri.

Dengan begitu tahulah Angku Muda Pasak

Langit bahwa Dewana adik seperguruannya itu tidak

mencinta Gayatri sebagaimana sepasang kekasih. Sua-

tu saat ia pun nekad menjumpai Dewana. Beginilah

pembicaraan yang terjadi di waktu itu.

"Kakang Angku. Sama sekali aku tidak pernah

jatuh cinta pada adik Gayatri. Rasa sayang, rasa cinta, keakrabanku selama ini padanya tidak lebih karena

aku telah menganggapnya sebagai seorang adik. Kalau

kakang suka padanya, memperistri seorang adik se-

perguruan tidaklah salah. Sebaiknya kakang berterus





terang pada orang yang kakang cintai. Tapi ingat jan-

gan terlalu memaksakan kehendak. Jika adik Gayatri

ternyata tidak mau, kakang jangan menyakitinya.

Seandainya dia setuju, aku yang akan membicarakan

hal ini pada guru" janji Dewana.

"Tapi guru kita sekarang tidak mau diganggu,

ia sedang mencipta sebuah pedang ampuh dahsyat

luar biasa. Pedang itu konon pantang dipergunakan

untuk menghilangkan nyawa orang yang tidak bersa-

lah. Sekali hal itu terjadi, maka pedang itu hanya akan menebarkan bencana" jelas Angku Muda Pasak Langit.

"Mengenai apa yang diciptakan guru Bayang

Bayang tidak usah dipersoalkan. Sekarang selesaikan

dulu persoalan kakang, jika semuanya berjalan sesuai

dengan apa yang kakang harapkan. Kita dapat me-

nunggu guru selesai dengan pedang itu."

Gembira bukan main hati Angku Muda Pasak

Langit. Pada suatu kesempatan di dalam bulan pur-

nama Singa Gunung menjumpai Gayatri. Saat itu si

gadis sedang menunggu kehadiran Dewana. Melihat

kehadiran saudara tua seperguruannya, gadis ini ter-

kejut juga.

"Sengaja malam ini aku menjumpaimu, semata-

mata karena ingin berterus terang mengenai perasaan-

ku padamu selama ini. Adik Yatri, sesungguhnya aku

mencintaimu. Aku ingin menjadikan kau sebagai iste-

rimu. Jika cintaku kau terima, aku merasa orang yang

paling bahagia di dunia ini. Lalu aku berjanji akan

memperbaiki sifat-sifatku yang buruk padamu" jelas Angku Muda berterus terang. Tidak terkatakan betapa

paras Gayatri berubah. Untuk beberapa saat lamanya

ia tidak mampu berkata-kata. Sifat hidung belang sau-

dara tua seperguruannya ini sudah banyak ia ketahui.





Ia sendiri selama ini tidak pernah menaruh perasaan

apa-apa.

Jika ia berterus terang, Gayatri takut saudara

tuanya kecewa dan marah. Jika ia diam, tentu hal ini

juga membuatnya merasa serba salah. Namun mem-

biarkan orang lain berlarut-larut dalam harap bukan-

lah sifatnya, cukup lama juga ia terdiam.



***





DUA


Singa Gunung ternyata tidak sabar juga ketika

melihat Gayatri cuma tertegun. Ia terus mendesak,

hingga gadis itu berterus terang.

"Maaf, kakang. Aku bukan bermaksud menge-

cewakan perasaanmu. Namun terus terang saja aku ti-

dak mencintaimu. Aku sudah punya seseorang yang

nantinya dapat kuharapkan menjadi pendampingku

kelak" Kecewa. Tentu saja kecewa, begitulah yang di alami oleh Angku Muda Pasak Langit.

"Kau pasti mencintai Dewana. Sedangkan adik

Dewana sendiri pernah mengatakan padaku dia tidak

mencintaimu Jadi kau dan aku sama-sama menanam

harap. Namun harap itu tidak kesampaian juga." kata Singa Gunung disertai senyum kecut.

Gayatri berusaha menyembunyikan rasa kaget-

nya. Ia mana mau percaya begitu saja mendengar pen-

jelasan Singa Gunung. Sehingga di lain waktu gadis ini

menjumpai Dewana. Jawaban pemuda itu memang

sama seperti apa yang dikatakan oleh Singa Gunung.

Betapa kecewanya hati Gayatri tidak terlu-





kiskan. Berbulan-bulan ia mengurung diri di dalam

kamarnya. Sebaliknya lain lagi halnya dengan Angku

Muda Pasak Langit. Sejak ia menerima kenyataan yang

sangat menyakitkan itu tingkahnya semakin menjadi-

jadi. Setiap perempuan yang di jumpainya diperkosa.

Ia gentayangan mencari korban, secara diam-diam di

suatu saat ia membunuh Si Bayang-Bayang dengan

mempergunakan pedang Pemersatu yang baru dicipta-

kan oleh gurunya sendiri.

Pedang itu memang ditinggalkan menancap di

dada Si Bayang-Bayang. Kebetulan Gayatri muncul,

dengan jelas ia tahu siapa yang telah membunuh gu-

runya. Dalam pada itu Singa Gunung mengajaknya

bertarung. Dalam pertarungan sengit tanpa memper-

gunakan senjata. Singa Gunung berhasil merobohkan

Gayatri.

"Ha ha ha Rasa cinta menimbulkan kecewa,

aku tidak dapat merebut hatimu, biarkan hari ini ku-

rebut mahkotamu" teriak Angku Muda Pasak Bumi.

"Kau jahanam Kau pasti dikutuk oleh Guru"

geram Gayatri.

"Siapapun boleh mengutukku Aku tidak ambil

perduli" Singa Gunung tersenyum mengejek. Ia kemudian melucuti pakaian gadis cantik itu secara paksa.

Sehingga Gayatri dalam keadaan telanjang. Ia tentu ti-

dak dapat berbuat banyak. Karena dirinya dalam kea-

daan tertotok.

Singa Gunung dengan leluasa menciumi bibir si

gadis, dengan bebas pula ia mempermainkan dada si

gadis yang membusung kencang. Lidahnya bahkan

bermain-main di atas dada itu. Gayatri menjerit panik,

hal ini hanya membuat gejolak birahi Singa Gunung

berkobar-kobar.





Laki-laki buruk rupa ini kemudian menindih

gadis yang telah mengecewakannya. Merenggangkan

kedua pahanya yang mulus. Hingga terlaksanalah se-

buah kejadian terkutuk.

Setelah puas melampiaskan nafsunya, maka

Singa Gunung melampiaskan nafsu berikutnya. Sam-

pai ia kelelahan sendiri. Sebelum ia meninggalkan

Gayatri yang telah hancur segala-galanya. Ia mencakar

wajah cantik itu sehingga rusak mengerikan.

Sampai senja hari barulah apa yang menimpa

Gayatri dan guru mereka diketahui oleh Dewana yang

baru saja kembali dari suatu perjalanan rahasia. Ia

kaget melihat gurunya tertembus Pedang Pemersatu,

namun lebih terkejut lagi melihat keadaan Gayatri. Se-

telah totokan dibebaskan, Gayatri menceritakan segala

sesuatu yang terjadi padanya. Mendidih amarah De-

wana, keesokan harinya setelah menguburkan si

Bayang-Bayang Dewana melakukan pengejaran. Na-

mun kakang perguruan tertua yang bejad moralnya ini

tidak ditemukannya.

Ia kembali lagi ke Lembah Akherat dengan tan-

gan hampa. Namun sesampainya disana ia menjadi

semakin sedih, karena adik seperguruannya telah pula

meninggalkan lembah itu. Ia hanya menjumpai sebuah

pesan sebagai berikut yang ditulis di atas daun lontar.

Kakang Dewana,

Di ujung kehancuran itu ada kehancuran lain

yang membuatku patah tidak berguna lagi. Kekecewaan berakhir dengan kehancuran, betapa semua ini sangat menyakitkan. Wajahku telah rusak, kehormatan tidak

akan pernah kumiliki lagi. Direnggut dengan paksa oleh orang yang kubenci. Kakang dapat membayangkan be-ratnya penderitaanku, rusak kehormatan rusak pula





wajahku. Aku ingin mengasingkan diri sampai tiba

waktunya janji Gusti Allah padaku. Yaitu mati

Pedang Pemersatu yang telah merenggut nyawa

penciptanya. Menurut almarhum guru harus disingkir-

kan dari manusia. Pedang itu mengandung kutuk. Ia

akan menghancurkan tubuh setiap raga bernyawa. Be-

tapa mengerikan, tapi aku tidak bisa membiarkan pe-

dang itu tidak berguna sebelum membunuh Angku Mu-

da Pasak Langit dengan pedang ini pula.

Jangan kau cari aku

Gayatri

Begitulah mereka terpisahkan sekian lama.

Dewana sendiri kemudian pergi tidak tentu rimbanya.

Hingga kemudian ia menetap di Pulau Seribu Satu Ma-

lam. (Dalam Episode Neraka Gunung Bromo), disana ia

memperdalam ilmu kesaktian dan mengembangkan ju-

rus-jurus baru. Gayatri yang kemudian berjuluk El

Maut setelah tidak menemukan Singa Gunung akhir-

nya menetap di bukit Sembuang. Hingga akhirnya ia

mengambil seorang murid yang kemudian menjadi seo-

rang raja. Dia adalah almarhum raja Jasa Raga.

Kini setelah bertemu, tentu kerinduan di hati El

Maut tetap ada, namun mengingat peristiwa dulu.

Timbul kembali rasa sakit hatinya. Kakek Dewana

alias Malaikat Berambut Api sadar betul akan hal itu.

"Aku menyesal mengapa di hari senjaku kita

harus bertemu. Aku membencimu bahkan ingin mem-

bunuhmu Hidupku jadi sengsara karena penolakan-

mu. Mengapa kau tolong aku, mengapa tidak kau bi-

arkan saja diriku ini binasa? Aku sudah tidak punya

siapa-siapa lagi di dunia ini. Muridku Jasa Raga pun

telah mati..." kata EI Maut sedih

Sebaliknya puteri Saba jadi terkejut mendengar





kata-kata yang di ucapkan oleh El Maut. Ia tidak me-

nyangka nenek renta berwajah mengerikan itu adalah

guru almarhum ayahandanya.

"Putus asa hanya fikiran orang yang berhati pi-

cik, Gayatri. Setiap manusia yang hidup pasti punya

guna. Kita bukan dihadapkan dengan masa lalu. Per-

soalan yang kita hadapi sekarang adalah mencari pe-

dang yang telah dilarikan oleh orang yang tidak diken-

al"

Mata yang kemerahan itu membulat lebar. El

Maut kelihatannya tidak percaya dengan apa yang di

dengarnya.

"Kau jangan membohongiku" bentaknya sinis.

"Benar, nenek. Aku yang lihat seseorang men-

gambil pedang itu dari tanganmu dikala kau tidak sa-

darkan diri." jelas puteri Saba.

"Eeh, kau siapa pula?" bertanya El Maut den-

gan perasaan heran.

"Aku puteri Saba, anak almarhum Jasa Raga

muridmu" jelas si gadis.

Penjelasan gadis itu membuat El Maut teringat

pada pemuda lugu yang mengaku sebagai Pangeran

Demak Pati. Namun saat ini rasanya tidak ada gu-

nanya ia bercerita tentang Pendekar Kucar Kacir. Pe-

dang harus dicari, siapa pun yang mencurinya pasti

punya maksud-maksud yang tidak baik.

"Malaikat Berambut Api, kita sudah sama-sama

tahu bahwa pedang itu dulu sudah pernah menghirup

darah. Darah guru kita sendiri. Walau pun begitu aku

masih punya penangkal senjata itu yaitu Pusaka Pem-

bawa Rahmat. Aku akan mengejar pencuri Pedang Pe-

nebar Bencana. Aku tidak memintamu untuk mem-

bantuku. Karena aku merasa khawatir senjata itu

akan menghancurkan tubuhmu hingga menjadi debu"





"Ha ha ha... Aku sudah tua bangka Gayatri,

aku tidak takut mati Kita akhiri pertemuan sampai

disini. Selamat tinggal" kata Malaikat Berambut Api.

Berkata begitu ia menyambar puteri Saba, gadis ini di-

bawanya berlari meninggalkan gua.

El Maut sama sekali tidak mencegah, perte-

muan yang tidak di duga-duga dengan Dewana hanya

membuatnya bersedih hati. Ia kemudian menekan bi-

bir ranjang. Sebuah lubang empat persegi yang terda-

pat di dinding gua terbuka. Dari dalamnya terlihat ada

cahaya putih memancar, El Maut menjulurkan tan-

gannya. Kemudian terlihatlah sebuah pedang tanpa

sarung. Rupanya cahaya yang memancar tadi ber-

sumber dari pedang itu. Setelah menyelipkan senjata

itu di balik pakaiannya. Sinar putih lenyap. El Maut

berjalan meninggalkan ruangan itu. Sampai di luar gua

tubuhnya menghilang di kegelapan malam.

Dewa Petir alias Dewa Maling alias Dewa Copet

tampak duduk menekur di bawah pohon beringin pu-

tih. Tidak jauh disebelahnya tampak Pangeran Demak

Pati masih tidur mendengkur. Waktu itu hari masih

terlalu pagi, matahari pun bahkan belum lagi menam-

pakkan diri.

"Bangun Kita harus melanjutkan perjalanan"

kata Dewa petir. Pendekar Kucar Kacir menggeliat se-

bentar, namun tidur kembali.

"Pangeran geblek ini kalau sudah tidur seperti

sapi" Dewa Petir menggerutu. "Hei, bangun Sudah siang" Si kakek mengguncangkan tubuh Pangeran

Demak. Seketika ia terjaga, tapi kemudian tidur lagi.

Dewa Petir lama-kelamaan jadi kesal, apalagi

bila mengingat ia belum tahu apakah muridnya yang

dilarikan Elang Perak dalam keadaan selamat atau ma-

lah sebaliknya. Tanpa bicara apa-apa lagi, Dewa Petir





segera bangkit berdiri. Di tinggalkannya Pangeran De-

mak Pati seorang diri. Si kakek berbadan tambun ini

terus menelusuri sungai. Tidak sampai sepemakan si-

rih ia melangkah tiba-tiba ia melihat seorang kakek

tua berumur sekitar lima belas tahun lebih tua darinya

duduk uncang-uncang kaki di atas batu di tepi jalan

itu.

Karena Dewa Petir tidak punya urusan dengan

orang ini dan tidak merasa kenal pula. Maka bermak-

sud berlalu begitu saja. Namun tiba-tiba saja Dewa Pe-

tir merasa ada desiran halus. Sebagai orang yang telah

kenyang makan asam garam dunia persilatan. Ia cepat

menghindar, sinar hitam lewat tidak jauh darinya. Ke-

mudian terjadi ledakan dahsyat dua kali berturut-

turut. Daun semak-semak belukar disamping jalan

hangus dan mengepulkan asap hitam.

Dewa Petir membalikkan tubuhnya. Sehingga

kini ia dapat melihat wajah si kakek dengan jelas. Dia

seorang laki-laki bermuka hitam dan jelek rupanya.

"Kisanak ini siapa? Mengapa menyerangku? Ka-

lau merasa kurang pekerjaan lebih baik mencangkul di

sawah." geram Dewa Petir.

Si kakek angkat topi bambunya, kemudian ia

memperhatikan Dewa Petir dengan tatapan dingin.

"Aku Singa Gunung, kurasa namaku pun kau

belum pernah mendengarnya. Kau adalah calon per-

tama dari percobaanku. Aku ingin melihat bagaimana

kedahsyatan pedang Penebar Bencana."

Mendengar kakek bermuka hitam ini menyebut

pedang Penebar Bencana. Maka Dewa Petir tercekat.

Pedang itulah yang tengah dicari-carinya bersama

Pendekar Kucar Kacir, sungguh ia tidak menyangka

sekarang telah jatuh ke tangan orang yang tidak dike-





nalnya sama sekali.

"Senjata itu adalah simbol pemersatu, mengapa

kau mencurinya? Sekarang serahkan padaku untuk

kuberikan pada yang berhak" Permintaan Dewa Petir sama sekali tidak ditanggapi oleh kakek bertopi bambu. Malah ia tertawa terbahak-bahak.

"Kau tahu apa? Aku tahu pasti asal usul pe-

dang itu. Sebentar lagi aku akan melihat keampuhan

yang dijanjikan"

Maka tercekatlah kakek tambun ini, mengingat

Pedang Penebar Bencana merupakan senjata ampuh

yang belum ada tandingannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dewa Petir

segera mendahului melakukan penyerangan. Ternyata

kakek yang bergelar Singa Gunung ini bukan manusia

berkepandaian rendah. Hal ini terbukti, serangan De-

wa Petir yang cukup terarah itu meleset. Pukulannya

hanya mengenai angin. Dewa Petir sempat tercekat ju-

ga. Namun ia tidak putus asa, ia kembali melancarkan

serangan beruntun yang dikenal dengan jurus

'Menyibak Air menangkap Bayangan'. Salah satu kele-

bihan jurus ini terletak pada gerakan maupun seran-

gan yang tidak dapat ditebak arahnya.

Benar saja, di saat Singa Gunung berkelit

menghindari tinju kiri Dewa Petir, maka tangan ka-

nannya menghantam ke bagian iga Singa Gunung. Ka-

kek bertopi bambu mengeluh, tubuhnya terhuyung-

huyung. Sungguh hebat orang ini padahal serangan

Dewa Petir mengandung tenaga dalam tinggi. Singa

gunung mendengus sinis. Tiba-tiba ia menggeser lang-

kahnya ke samping kiri. Setelah itu kedua tangannya

terangkat tinggi-tinggi ke udara.

Tiga kali tangan berkuku runcing itu berputar-

putar, maka terlihatlah warna hitam pada setiap ja-





rinya. Singa Gunung mengibaskan kedua tangannya

ke depan. Sinar hitam bergulung-gulung melabrak De-

wa Petir. Si kakek tambun terpaksa bergerak mundur.

Lalu rangkapkan kedua tangannya di udara pula, se-

hingga terjadilah dentuman keras laksana suara petir.

Sinar pelangi bergulung-gulung menahan sinar

hitam yang terus meluncur di udara. Hingga akhirnya

terjadi benturan keras bukan alang-alang.

Buuumm

Gusraak

Dewa Petir terhempas ke belakang, tubuhnya

menghantam semak-semak. Singa Gunung yang sem-

pat terhuyung-huyung segera perbaiki posisinya. Lalu

lepaskan pukulan lagi. Dewa Petir berguling-guling

hindari serangan, dari arah samping ia lepaskan puku-

lan balasan.

Lagi-lagi terjadi ledakan keras laksana merobek

empat penjuru angin. Si kakek tambun merasa da-

danya sesak luar biasa. Pabila ia menarik nafas, maka

ada darah yang mengalir di sudut bibirnya. Hal ini su-

lit dipercaya. Kejadian ini sulit dipercaya, mengingat

Dewa Petir termasuk tokoh yang memiliki kepandaian

tinggi. Secepatnya ia mengerahkan seluruh tenaga da-

lam yang dimilikinya. Sekujur tubuhnya bergetar ke-

ras, dari siku hingga ke pergelangan tangannya men-

cuat sinar pelangi. Pabila Dewa Petir menggoyangkan

tangan-tangan itu maka hanya panas menyengat ber-

gerak cepat menyambar Singa Gunung. Kakek tua

menggeram lirih, kemudian tubuhnya melesat ke uda-

ra. Tidak urung kakinya masih tersambar sinar pelangi

yang melesat dari telapak tangan Dewa Petir.

Brees

"Akh..."





Singa Gunung menjerit tertahan, bila ia terja-

tuh di atas tanah, maka kakinya tampak melepuh.

Sumpah serapah berhamburan dari mulut si kakek.

"Kau benar-benar ingin mampus secepatnya di

tanganku" dengusnya dengan tatapan berapi-api.

Tiba-tiba ia mengambil pedang Penebar Benca-

na berikut warangkanya. Ternyata memang Singa Gu-

nung inilah yang telah mencuri pedang dari tangan El

Maut di saat nenek tua itu dalam keadaan tidak sa-

darkan diri.

Dewa Petir terkesiap melihat gelagat yang tidak

baik itu, ia bermaksud merampas pedang Pemersatu.

Sehingga secepat kilat ia melesat ke depan. Namun la-

wan ternyata tidak bodoh, ia cepat melompat mundur.

Serta merta pedang di cabut dari warangkanya. Sinar

merah hitam berkiblat begitu pedang tercabut dari sa-

rungnya.

Dewa Petir sudah tidak sempat lagi menghindar

karena jarak yang begitu dekat. Ia tutupi wajahnya,

namun apa yang terjadi kemudian begitu mengerikan.

Inilah bencana yang paling hebat yang tidak ada dua-

nya di rimba persilatan manapun. Sinar merah hitam

yang berpedar-pedar itu bukan saja membuat tubuh

Dewa Petir hangus menjadi arang, tapi juga pohon-

pohon disekitarnya ikut hangus dan meranggas ger-

sang. Kakek tambun itu jatuh tergelimpang, daging

dan tulang belulangnya yang menjadi arang segera be-

rantakan. Terkecuali bagian wajahnya yang sempat

tertutup tangan tadi.

Singa Gunung menggeram pendek, tersenyum

dalam kepuasan. Sebagaimana yang telah sama kita

ketahui, siapapun yang memegang senjata itu tidak

akan terpengaruh kharisma pedang tersebut.

"Guruku Bayang Bayang telah mati di tangan-





ku, ternyata kau menciptakan senjata ini tidaklah per-

cuma, apa yang kau katakan terbukti. Ha ha ha... Mu-

ridku Hantu Liang Lahat pasti sangat gembira menda-

pat oleh-oleh ini. Tapi aku harus mencari kesenangan

dulu di istana Pasundan Kudengar disana banyak ga-

dis-gadis cantik yang dapat kujadikan pemuas nafsu-

ku Ha ha ha..." Singa Gunung tertawa membahak.

Setelah sarungkan pedang itu ia kemudian meninggal-

kan mayat Dewa Petir yang telah menjadi arang.



***





TIGA


Pendekar Kucar Kacir tentu saja sempat men-

dengar suara ledakan-ledakan yang terjadi tadi. Na-

mun ketika ia mencari-cari, suara yang didengarnya

lenyap. Kemudian ia memutuskan untuk menelusuri

pinggiran sungai. Ia terkesiap melihat pohon-pohon

yang meranggas jadi arang bahkan masih mengepul-

kan asap hitam.

Dengan perasaan tidak enak ia mendekati dae-

rah terbakar seluas tujuh batang tombak itu. Kening-

nya berkerut.

"Mustahil ada orang yang membakar hutan.

Mengapa tidak terbakar seluruhnya? Eeh... apa itu?"

kata si pemuda setelah melihat benda hitam teronggok

seperti jasad manusia yang terbakar. "Ini orang yang mati terbakar? Siapa yang telah melakukannya?"

Pendekar Kucar Kacir memperhatikannya den-

gan seksama, ia melihat jemari tangan yang hangus

menutupi bagian wajahnya. Hanya sedikit saja wajah

orang yang hangus itu tersisa. Ketika tangan dising-





kapkan, Pangeran Demak terhuyung mundur, ma-

tanya membelalak, mulutnya terbuka, namun tidak

sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Sekujur tubuh-

nya merinding.

"De... Dewa Petir..." desisnya dengan suara tercekat. "Mengapa begini jadinya?" kata Pangeran Demak. Ia kemudian teringat tentang kehebatan pedang

Pemersatu, tanpa sadar ia pun menangis.

Belum juga tangisnya terhenti, tiba-tiba terden-

gar suara bentakan di belakangnya.

"Pangeran kerajaan Pasundan. Urusanmu ma-

sih banyak, mengapa kau jadi secengeng itu? Siapa

yang kau tangisi?" tanya suara tadi. Ketika Pangeran Demak menoleh ke belakang,

maka terlihat olehnya seorang gadis berpakaian hitam

dan sobek disana sini. Dia tidak lain adalah murid De-

wa Petir.

"Kau lihatlah sendiri. Aku telah datang terlam-

bat" Pemuda baju putih mengakui. Merasa penasaran si gadis mendekati. Keadaan mayat yang hangus sudah sulit dikenali. Namun bila melihat sisa wajahnya

yang sedikit utuh maka meraunglah Maling Jenaka.

"Guru... guruku Apa yang telah terjadi pa-

danya?" teriak Gadis di tengah isak tangisnya.

"Aku tidak tahu, seseorang telah membunuh-

nya dengan Pedang Penebar Bencana" sahut Pendekar Kucar Kacir.

"El Maut yang melakukannya?" tanya Gadis.

Tatapan matanya penuh selidik.

"Aku tidak dapat memastikannya. Mungkin pe-

dang di tangan El Maut telah jatuh ke tangan orang

lain. Bisa jadi ada pada Dewa Kubu. Lalu ia melaku-

kan pembalasan karena kita telah membunuh murid-

nya Pangeran Suprana" jelas si pemuda.





"Jahanam Aku tidak bisa menerima semua ini.

Aku harus menuntut balas merampas senjata celaka

itu" tegas Maling Jenaka.

"Kita tidak dapat melakukannya seorang diri.

Jika manusia seperti gurumu saja tidak dapat menga-

tasi kehebatan pedang itu, bagaimana dengan kita?"

Pendekar Kucar Kacir mencoba memberi pengertian.

"Kau takut mati, eh?" kata Maling Jenaka sinis.

"Aku sama sekali tidak takut. Tapi perjuangan

akan sia-sia jika tidak punya perhitungan yang ma-

tang. Oh ya, bagaimana kau selamat dari Elang Perak

celaka itu? Bagaimana dengan kawanku Suro?"

"Panjang ceritanya, sedangkan Pendekar edan

itu sekarang sedang pergi ke puncak bukit. Sebaiknya

kita kuburkan sisa-sisa jenazah guruku. Setelah itu ki-

ta pergi ke bukit itu?" tegas Gadis. Pangeran Demak mengangguk setuju.

Tidak lama lubang kubur sederhana yang tidak

seberapa dalam telah siap mereka gali. Gadis memberi

penghormatan yang terakhir pada gurunya. Cukup la-

ma juga ia tapakur seperti orang linglung. Hingga ke-

mudian Pangeran Demak membimbingnya untuk di-

ajak mendaki ke bukit Sembuang.





***



Umurnya sekitar kurang lebih tiga puluh lima

tahun. Ia bertelanjang dada. Rambut pendek berdiri

tegak seperti bola berduri. Wajahnya pucat agak ke-

kuning-kuningan. Dilihat sekilas lalu ia tidak ubahnya

seperti hantu yang bergentayangan. Oleh gurunya

Angku Muda Pasak Langit ia di beri gelar Hantu Liang

Lahat. Dulunya Singa Gunung menemukan seorang

pemuda remaja berumur sekitar lima belas tahun di





sebuah lubang pemakaman. Pemuda aneh berwajah

pucat seperti tidak berdarah itu sedang mengorek-

ngorek kubur dan mencari bangkai. Bangkai yang su-

dah membusuk sekitar tujuh hari itu dimakannya. Ti-

dak jelas asal usul pemuda ini. Ia berkeliaran dari satu kubur ke kubur lainnya hanya ingin mendapatkan

bangkai yang masih baru. Sesungguhnya pemuda itu

sudah memiliki tanda-tanda kesaktian alamiah namun

sesat. Ia liar seperti singa, itulah sebabnya ketika Ang-ku Muda Pasak Langit berhasil mengalahkannya seca-

ra licik, ia langsung mengangkat pemuda aneh berke-

saktian tinggi ini menjadi muridnya.

Dalam didikannya, Hantu Liang Lahat semakin

bertambah sesat dan ganas. Korbannya tetap mayat

manusia yang telah membusuk. Ia sama sekali tidak

memiliki nafsu atau gairah terhadap lawan jenisnya.

Selama bertahun-tahun Hantu Liang Lahat tinggal di

Lembah Berpulang bersama gurunya. Sampai kemu-

dian Singa Gunung mengajaknya keluar untuk satu

urusan di bukit Sembuang.

Kini ia terpaksa berjalan sendiri setelah diting-

galkan oleh gurunya. Dalam keadaan panas terik. Ia

sibuk mencari kubur-kubur baru. Sayang sampai se-

jauh itu ia belum mendapatkan bangkai yang menjadi

santapannya.

"Sekali ini guru membohongiku lagi. Katanya di

bukit Sembuang banyak bangkai berserakan. Mana

buktinya? Perutku sudah lapar begini aku belum men-

dapatkan makanan barang secuil pun." Pemuda berku-

lit seperti mayat mendengus, matanya berputar-putar

liar mencari. Sampai kemudian ia melihat suara beri-

sik tidak jauh di samping semak-semak belukar. Han-

tu Liang Lahat mendekati. Setelah dekat matanya yang

kuning seperti mata mayat berkedip-kedip.





"Kaaak"

Ternyata yang dilihatnya adalah seekor burung

Elang raksasa berbulu putih keperak-perakan. Burung

itu mengibas-ngibaskan kepalanya, seakan ada sesua-

tu yang membuatnya kesakitan. Sebagaimana yang te-

lah kita ketahui Elang Perak telah terkecoh oleh ulah

Pendekar Blo'on (untuk jelasnya dalam Episode Api Di

Puncak Sembuang). Melihat kehadiran Hantu Liang

Lahat, Elang Perak berubah beringas. Agaknya ia men-

jadi curiga pada siapapun, rasa sakit yang dideritanya

membuat Elang Perak menjadi liar.

"Hmm, burung besar. Belum pernah aku meli-

hat burung sebesar ini. Kalau aku suka dagingnya,

pasti tidak akan habis kumakan. Tapi jika aku menge-

tahui apa yang dirasakannya, kurasa ia bisa menjadi

tunggangan yang bagus untukku" pikir Hantu Liang

Lahat. Ia semakin mendekati burung tersebut. Namun

baru beberapa tombak, Elang Perak memperlihatkan

reaksi marah.

"Kaaak..."

Elang Perak mengangkat sayapnya tinggi-tinggi.

Bersamaan dengan itu Hantu Liang Lahat membentak.

"Jangan serang aku bermaksud menolongmu

Lihatlah mataku"

Seakan mengerti apa yang dikatakan oleh pe-

muda berwajah mayat ini Elang Perak langsung me-

mandang tajam ke mata si pemuda. Terlihat ada sinar

kuning berkiblat. Elang Perak tiba-tiba menggeram li-

rih, kepala ditundukkan dan sayapnya pun diturun-

kan. Hantu Liang Lahat tersenyum aneh.

Hanya dengan beberapa kali lompatan Hantu

Liang Lahat telah sampai di samping Elang Perak. Na-

mun binatang ini tingginya bukan main, sehingga ia

memberi isyarat agar binatang itu menurunkan kepa-





lanya yang terus dikibarkan. "Apa yang membuatmu

kesakitan?"

"Hiiii..." Elang Perak memekik keras sambil

menggerak-gerakkan kepalanya.

Hantu Liang Lahat melihat telinga burung rak-

sasa itu meneteskan darah. Maka ia pun segera meme-

riksa, ternyata di dalam liang telinga burung tersebut

terdapat seekor jengkerik hitam.

"Ini pastilah perbuatan usil manusia. Aku akan

mengeluarkan jengkerik itu. Jika sudah berhasil bawa

aku mencari orang yang menyakitimu, tapi kau juga

harus membantuku mencari bangkai untuk kumakan

hari ini. Aku sudah sangat lapar, kau dengar?"

"Kaak"

Hantu Liang Lahat tanpa kesulitan berhasil

mengeluarkan jengkerik tersebut. Binatang kecil itu di-

remasnya hingga hancur. Lalu dielusnya kepala Elang

Perak. "Bawa aku terbang mencari makananku" kata Hantu Liang Lahat sambil melompat ke atas punggung

Elang Perak.

Sekejap saja Elang Perak telah mengudara, ia

terbang berputar-putar menuju bukit Sembuang.

Elang itu membawa Hantu Liang Lahat ke daerah di-

mana mayat-mayat prajurit bergelimpangan di sana.

Dengan rakus dan sambil tertawa-tawa, Hantu Liang

Lahat berpesta pora di atas mayat-mayat prajurit yang

telah membusuk.





***



Setelah melihat bekas terjadi pertempuran di

sebelah utara Bukit Sembuang, Suro merasa yakin ada

sesuatu yang tidak beres telah terjadi dengan El Maut.





Kini ia merasa bingung di saat melihat kenyataan bu-

kit itu dalam keadaan sunyi.

Pendekar Blo'on berlari-lari menuruni bukit, ia

terus berlari hingga jauh meninggalkan bukit yang

sempat menimbulkan kegegeran tersebut. Karena tetap

tidak menjumpai siapapun. Akhirnya si geblek meman-

jat pohon sampai hampir ke pucuknya. Dari atas ke-

tinggian pohon ia memperhatikan keadaan di sekeli-

lingnya. Suro garuk-garuk kepala, kesal, bingung men-

jadi satu, lalu di aduk-aduk. Hingga membuat Suro

semakin bertambah konyol.

"Orang-orang Kemana kalian semuanya? Apa

sudah pada tergusur ke liang kubur Hoi... jawablah

suaraku?" teriak Suro disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, hingga membuat binatang-binatang hutan

lari menjauh terbirit-birit. Suro seka keringat di ke-

ningnya, Lalu garuk-garuk kepala lagi. Suro bergerak

turun lagi, gerakannya cepat seperti tupai. Di perten-

gahan pohon ia berhenti. Lalu ia duduk di salah satu

cabang sambil uncang-uncang kaki membuang keke-

salannya.

Ke bukit aku turut,

Ke gunung kau terkentut-kentut

Tidak terhitung nyawa melayang

Hanya karena berebut pedang

Pendekar Kucar Kacir Pangeran linglung

Gurunya mati terbunuh.

Aku lihat roh-roh bergentayangan

Tidak diterima bumi, terusir dari langit.

Hei... orang-orang....

Orang orang kaya, orang berpangkat

Orang susah, orang tertindas, orang tergusur

Orang yang tinggal di kolong jembatan, sampai





laler ijo. Mari kita lihat orang berebut pedang, berebut pangkat, berebut kerakusan, hingga tubuh mereka ter-sungkur terbungkus kafan

Lalu,

Di sini aku bingung

Linglung, ha ha ha...



Suro tiba-tiba tekap bibirnya. Ia sudah terlan-

jur bicara sembarangan. Ini karena kebiasaan buruk-

nya yang telat mikir, walau sesungguhnya ia berotak

cerdik. Baru saja si konyol bermaksud turun ke ba-

wah. Tiba-tiba ia melihat dua bayangan berkelebat ce-

pat. Yang berpakaian merah menggandeng tangan ga-

dis berpakaian putih. Melihat cara yang dilakukan

orang berbaju merah Suro jadi geli sendiri. Tingkah si

kakek seperti meminggit anak saja.

Barulah setelah kedua orang ini semakin ber-

tambah dekat, Pendekar Mandau Jantan kedip-

kedipkan matanya seakan tidak percaya.

"Lho, itu kan kakekku? Ngapain dia kemari?

Apa puteri Saba pacarnya. Kalau betul, ini keterlaluan

namanya, sudah tua bangka masa' masih juga paca-

ran. Gandeng-gandengan seperti kereta kuda, aku

sendiri yang muda belum pernah begitu" kata Suro

dengan mulut terpencong.

Si konyol diam mendekam di atas pohon. Kebe-

tulan Malaikat Berambut Api hentikan larinya. Di atas

pohon Suro terpaksa menahan nafas.

"Sialan, mengapa tiba-tiba saja aku jadi ingin

kentut?" gerutu Suro.

Puteri Saba dan Malaikat Berambut Api yang

berdiri tidak jauh di bawah pohon tampak terlibat





pembicaraan. Setelah itu terdengar sindiran yang

membuat kuping si konyol berubah memerah.

"Manusia kurang ajar adalah yang tidak tahu

peradatan. Bertingkah seperti monyet kurapan pakai

ngumpet (sembunyi) di atas pohon. Di Gunung Maha-

meru kulihat banyak monyet siluman ingin jadi manu-

sia. Ini ada anak manusia ingin menjadi monyet. Kalau

tidak waras, tentu dia sudah gila Turun monyet ber-

wajah tolol, atau aku akan menyeretmu"

"Wah, guru edan. Aku dikatai monyet, padahal

dia sendiri pelihara berewok. Mungkin mau jadi mo-

nyet juga" gerutu Suro Blondo.

Sambil melorot turun Suro menggerutu dalam

hati. Ia langsung cengengesan setelah berhadapan

dengan guru sekaligus kakeknya sendiri.

"Bocah gendeng Begitu rupanya Penghulu Si-

luman Kera Putih mendidikmu Bertemu denganku

tingkahmu malah seperti orang kurang waras" bentak kakek Dewana.

Suro langsung sadar bahwa orang tua yang sa-

tu ini tidak kena diajak main-main. Jika ia marah Suro

bisa celaka.

Suro bersikap serius, sungguh tingkahnya ti-

dak di buat-buat. Ia jatuhkan diri berlutut sambil ber-

kata. "Terima hormatku, kakek, guruku juga. Sudah lama kita tidak bertemu aku rindu sekali. Sebaiknya

kita salaman dulu, setelah itu baru ngobrol tentang

puteri yang telah menjadi pacarmu Salaman, guru.

Uhh... aku sudah kangen sekali" kata Suro. Habis berlutut ia bangkit, lalu menghampiri si kakek dengan

mata setengah terpejam. Agaknya Malaikat Berambut

Api adalah orang yang paling disegani oleh Suro, se-

hingga memandangnya pun ia tidak berani.





Ia terus berjalan, tapi arahnya salah sehingga

yang didatanginya malah puteri Saba. Setelah sala-

man, karena rindunya ia memeluk puteri Saba yang di

anggap gurunya sendiri. Suro tiba-tiba terkesiap dan

cepat melangkah mundur.

"Guru... Sejak kapan dadamu ada benjolannya

Baumu harum, padahal dulu kau bau apek sekali

dan..." "Diam" Kakek Dewana membentak marah. Ji-dat Suro didorong pakai jari telunjuk. Bukan dorongan

biasa tentu saja, hingga membuat Suro jatuh terdu-

duk. "Buka matamu anak tolol, sampai kapan kau

akan pelihara ketololanmu?"

Pendekar Blo'on buka matanya. Ternyata orang

yang disalam dan dipeluknya tadi adalah puteri saba.

Herannya gadis cantik pewaris tahta kerajaan Pasun-

dan itu tidak marah, hanya wajahnya saja tampak ber-

ubah.





EMPAT


“Hayo jawab sampai kapan kau pelihara ketolo-

lanmu?” bentak Malaikat Berambut Api mengulangi

pertanyaannya. Suro cengar cengir. “Cengengesan lagi,

biar kutampar kau punya mulut”

Suro langsung dekap mulutnya. “Guru tidak

usah marah-marah.” Kata Suro bersikap sungguh-

sungguh. “Aku tidak pernah memelihara ketololan,

Cuma si tolol saja yang selalu ikut kemana aku pergi.

Guru, kalau boleh aku bertanya, bagaimana guru yang

sudah tua pacaran dengan puteri raja? Aku yakin ma-

sa kecil guru tidak bahagia”





“Diam Anak setan, kuberi kau kebebasan un-

tuk mencari pengalaman di rimba persilatan. Ternyata

kau bukan dapat pengalaman, tapi malah gilamu se-

makin menjadi-jadi. Rupanya kau tidak melihat bahwa

urusan semakin bertambah gawat?” Melihat mata Ma-

laikat Berambut Api yang melotot. Suro tundukkan

kepala. “Lalu apa yang harus kuperbuat, guru. Aku

sendiri hampir mampus dihajar Elang Perak pulang

pergi. Aku maklum, guru sampai menyusulku kemari

dan meninggalkan pulau Seribu Satu Malam, tentu ka-

rena menganggap persoalan gawat.” Kata Suro.

“Betul, ternyata otakmu encer juga. Persoalan

pedang menjadi runyam karena kau berurusan dengan

tokoh-tokoh yang punya kepandaian setingkat den-

ganku. Kini pedang itu tidak lagi di tangan El Maut”

jelas kakek Dewana. Beliau kemudian menceritakan

apa yang telah terjadi. Suro mendengar penjelasan gu-

runya dengan bersungguh-sungguh. Hanya matanya

saja yang berkedap-kedip seperti kelilipan. Setelah

mendengar penjelasan gurunya Suro ajukan perta-

nyaan. “Jadi apakah mungkin saudara guru tertua

yang mencuri pedang itu?”

“Kemungkinan itu ada. Sekarang cobalah ka-

lian kembali ke kota raja. Jaga puteri Saba baik-baik.

Aku akan menyelidik ke daerah sekitar pesisir pulau

Jawa ini. Jika kau bertemu dengan orang tua yang

bernama Dewa Kubu. Sebaiknya kau berhati-hati, dia

manusia setengah roh yang licik.”

“Guru, perintahmu akan kukerjakan. Aku gem-

bira pergi dengan puteri Saba. Terima kasih atas ke-

percayaan yang kau berikan padaku” kata Suro ke-

mudian ia menjura hormat.





“Hati-hati Suro, jika sampai puteri raja kau

buat bunting Aku benar-benar akan membunuhmu”

pesan Malaikat Berambut Api.

Suro membungkukkan tubuhnya lagi. Sampai

ia merasakan tepukan seseorang di punggungnya. Ce-

pat-cepat ia berdiri. Puteri Saba tersenyum penuh wi-

bawa. “Kakekmu sudah pergi, kau menungging seperti

ayam mau bertelur. Sungguh watakmu seperti bumi

dengan langit bila di bandingkan dengan gurumu” ka-

ta sang puteri.

“Aku takut dengan tua bangka berambut merah

tadi.” Jelas Suro tanpa malu-malu. Bicaranya yang

ceplas-ceplos menyebut gurunya dengan ‘tua bangka’

merupakan suatu tanda, bahwa sikap Suro memang

tidak di buat-buat.

“Sebaiknya cepat kita tinggalkan tempat ini.

Sebentar lagi hari sudah semakin gelap.” Ujar puteri

Saba. Suro tidak segera menjawab. Namun kemudian

anggukkan kepala. Kedua muda mudi ini kemudian

melanjutkan perjalanan ke kota raja.

Hari sebentar saja menjadi malam, langit men-

dung. Angin bertiup kencang. Kegelapan semakin ber-

tambah pekat. Ada beberapa batang pohon yang ber-

tumbangan di sekitar jalan setapak yang mereka lalui.

Hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya.

“Kita harus mencari tempat berteduh” berkata

Pendekar Blo’on di tengah-tengah gemuruh suara hu-

jan.

“Di rimba belantara seperti ini. Mana ada pon-

dok, sebaiknya kita berteduh di bawah pohon besar

itu?” usul puteri Saba. Sementara itu pakaiannya su-

dah mulai basah kuyup.





Suro terdiam untuk beberapa saat lamanya, di

perhatikannya puteri Saba yang sudah mulai menggigil

kedinginan. Agaknya gadis ini tidak pernah mengalami

kesengsaraan selama ini. Hingga Suro merasa kasihan.

Murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Be-

rambut Api celingukan. Hingga akhirnya ia melihat se-

buah pondok buruk yang agaknya telah lama diting-

galkan oleh penghuninya. Suro merasa yakin pondok

itu pastilah milik para pemburu untuk tempat tinggal

sementara semasa waktu berburu.

“Puteri, kulihat tidak jauh dari sini ada sebuah

pondok. Mari kita ke sana, hujan ini cukup lama. Kau

bisa sakit”

Puteri Saba ragu-ragu. Ia percaya dengan keju-

juran Suro, mustahil pemuda itu berbuat macam-

macam. Ia sendiri tidak dapat memungkiri perasaan

hatinya yang mulai tertarik pada Suro.

Yang ia khawatirkan bagaimana jika pondok

buruk itu adalah jebakan yang di buat oleh seseorang?

“Ayolah, puteri. Hujan semakin menggila, lebih

gila jika kita tetap bertahan disini” desak Pendekar

Blo’on. Karena pemuda berambut hitam kemerah-

merahan itu terus mendesak. Puteri Saba akhirnya

mengalah. Mereka berlari-lari menghampiri pondok.

Pintu pondok yang tertutup didorong oleh Suro. Sete-

lah memeriksa keadaan di dalam pondok yang gelap,

maka Pendekar Mandau Jantan mempersilakan puteri

Saba menaiki tangga

Suro menyalakan pelita kecil yang tergantung

di dinding, minyaknya yang berasal dari kelapa me-

mang tinggal sedikit, tetapi cukuplah untuk sementara

waktu. Setelah itu Suro duduk di pinggir pintu. Ia

tenggelam dalam lamunannya. Tiba-tiba terlintas,





bayangan ketika ia berada di reruntuhan kuil. Di saat

itu muncul Dewa Petir, kemudian muncul pula Gadis

alias Maling Jenaka. Gadis yang mencemo’ohnya den-

gan mencuri senjata milik Suro. Meskipun hanya

mempermainkan, namun Suro sempat kelabakan juga,

(untuk lebih jelasnya dalam Episode Api Di Puncak

Sembuang). Suro tiba-tiba usap wajahnya. Udara din-

gin terasa sangat menggigit. Kemudian ia sandarkan

tubuhnya, teringat olehnya sosok wajah yang demikian

cantik, gerakannya cepat seperti kilat. Dialah puteri Kilat Bayangan, gadis yang diam-diam di cintainya tapi

Suro sepertinya sadar bahwa gadis itu seperti tidak

menaruh cinta padanya. Suro memang konyol, namun

sebagai manusia bukan berarti ia tidak pernah sedih.

Sedih bila cintanya ditolak, atau kecewa bila pera-

saannya tidak bersambut (Dalam Episode Jodoh Di

Gunung Kendeng). Padahal memang banyak juga ga-

dis-gadis yang mencintainya. Seperti Dewi Bulan mi-

salnya, atau Dewi Kerudung Putih yang misterius (da-

lam Episode Bayang Bayang Kematian). Dan atau Dewi

Arimbi yang juga mengharap cintanya (Episode Mem-

buru Manusia Setan). Terlalu banyak nama ‘Dewi’

hingga membuatnya pusing. Wanita adalah sosok yang

misterius dan sulit di duga, mereka punya sembilan

puluh sembilan kenikmatan namun mempunyai rasa

malu yang lebih tinggi dari laki-laki. Walau pun terka-

dang ada juga yang bikin malu keluarga Suro garuk-

garuk kepala. Lalu bengong lagi seperti ayam pikun.

“Suro…” Sebuah suara yang begitu merdu

memanggilnya.

Suro menoleh, serentak lamunannya buyar se-

ketika. Dilihatnya puteri Saba duduk meringkuk di po-

jok ruangan dengan tubuh menggigil.

“Ada apa, puteri?” tanya Suro, seraya datang





menghampiri. Setelah meraba kening sang puteri, ter-

nyata tubuh gadis cantik itu panas. “Kau sakit?”

“Mungkin, tubuhku dingin sekali.” Sang puteri

mengeluh.

“Maafkan aku, boleh kupijit tengkukmu, kurasa

ada jalan darah yang tidak lancar”

Gadis itu terdiam, ragu-ragu. Namun kemudian

anggukkan kepala. Suro memijit bagian-bagian pem-

buluh darah besar. Ia kemudian melepaskan pakaian-

nya yang sudah mulai mengering tertiup angin.

Ia menyelimuti tubuh puteri Saba. Tidak lama

Suro sudah tidur menelentang di depan pintu. Sesung-

guhnya ia tidak tidur, karena malam ini ia harus ber-

jaga-jaga dari segala kemungkinan. Si gadis merasa

terharu atas kebaikan Pendekar Blo’on. Ia mem-

bayangkan andai saja ia mendapat pendamping sesa-

bar dan selembut pemuda itu. Betapa hidup ini menja-

di lebih indah, lebih menarik dan ia tidak perlu

mengkhawatirkan keselamatan kerajaan dan rakyat-

nya. Keadaan semakin bertambah sunyi, hujan tidak

lagi turun sederas tadi. Sekarang hanya tinggal rintik-

rintik saja. Puteri Saba yang takut akan kegelapan se-

gera merebahkan tubuhnya di samping Suro. Namun

ia merasa gelisah. Kini semakin dekat ia dengan Suro

hati puteri Saba kian gelisah. Akhirnya ia bangkit du-

duk melirik ke arah Suro dengan malu-malu. Andai sa-

ja mereka berada di istana, pasti puteri telah menyeli-

muti Suro pula. Atau jika ia tidak merasa malu pada

diri sendiri, pemuda itu sudah di ciumnya. Namun

mengingat betapa rendahnya bila ia lakukan semua

itu. Puteri Saba jadi urung. Ia kemudian tertidur di

samping Pendekar Blo’on memeluk mimpi dalam kege-

lisahan yang panjang.





Keesokan paginya kedua muda mudi itu tersen-

tak kaget begitu mendengar suara bentakan di depan

pintu pondok. Begitu nyenyaknya tidur mereka, hingga

Suro sendiri tidak mengetahui ada seseorang berwajah

pucat seperti mayat mendatangi pondok yang mereka

tempati.

Suro Blondo julurkan kepala, kemudian meli-

hat keluar. Semakin jelaslah orang yang membentak

mereka tadi. Dia adalah seorang pemuda berambut lu-

rus tegak berdiri. Wajahnya sepucat mayat, mata pe-

muda itu berwarna kuning seperti mata mayat.

Pendekar Blo’on kerutkan keningnya sambil

berfikir siapa gerangan pemuda berwajah dingin ini.

Suro sekali lompat langsung berada di depan pemuda

muka mayat. Ia berkeliling berjalan mengitari orang

asing ini seperti layaknya seorang juragan sapi yang

sedang menaksir barang yang hendak dibelinya. Se-

dangkan puteri Saba kelihatan cemas menunggu di da-

lam pondok. Ia yakin orang yang baru datang itu pasti-

lah bukan orang baik-baik.

“Saudara siapa kira-kira, ya?” tanya Suro ber-

lagak seperti orang pikun.

Hantu Liang Lahat mengguman tidak jelas.

“Baunya busuk begini apa dia belum mandi.”

Kata berambut kemerahan sambil menyampirkan baju

yang belum sempat dipakai seenaknya di atas bahu.

“Kau dengarkan baik-baik. Aku Hantu Liang

Lahat, aku suka memakan daging manusia yang su-

dah busuk. Aku datang kemari ingin bertanya, apakah

Kota Raja masih jauh lagi dari sini? Dan kau siapa?”

suara Hantu Liang Lahat satu-satu, suaranya serak

seperti ada tulang menyumbat tenggorokannya.

“Hantu Liang Lahat.’” Suro manggut-manggut

sambil meneliti kaki si pemuda. Ternyata kaki orang





ini menyentuh tanah. Jadi hanya gelarnya saja Hantu

Liang Lahat, bukan hantu sungguhan. “Hantu, apakah

saudaramu hantu juga? Bagaimana hantu bisa kesa-

sar ke kota? Aku dengar hantu di kota-kota sudah ter-

gusur, bahkan rumahnya sudah dikencingi nenek-

nenek. Mungkin kau keliru”

“Manusia tidak tahu gelagat Segera akan kau

rasakan apa yang terjadi padamu” dengus Hantu

Liang Lahat. Seraya bersuit keras, kemudian terdengar

suara sahutan di angkasa. Angin menderu, yang da-

tang ternyata Elang Perak burung raksasa. “Saha-

batku, katakan padaku apakah ini kunyuknya yang te-

lah memasukkan jangkerik ke dalam telingamu?”

tanya Hantu Liang Lahat ditujukan pada Elang Perak.

Burung raksasa itu menyahuti dengan pekikan

panjang menggeledek.

“Hhh, ternyata burung itu mengatakan kau

yang telah menyakiti dirinya. Aku mewakilinya untuk

membunuhmu” Si pemuda muka mayat menggeram

pendek. Suro sempat tercengang, tidak menyangka

ternyata Elang Perak yang telah ia perdaya masih ber-

tahan hidup.

“Jangan terburu nafsu, kau tidak mengenalku.

Lagipula kau tidak mengenal bahasa burung. Apa buk-

tinya aku telah mengganggu binatang itu, Hantu?”

tanya Suro. Hantu Liang Lahat mendengus.

Tiada terduga ia kirimkan satu jotosan keras,

kemudian ia juga hantamkan kakinya ke bagian perut

si pemuda. Suro cepat sekali miringkan tubuhnya lalu

tangannya menangkis serangan beruntun tersebut.

Duuk Duuk

“Haeh…” Pendekar Blo’on memekik kaget. Ia

seperti membentur batu es saja, dingin dan atos bukan

main. Sedangkan kaki Hantu Liang Lahat melesat





membeset udara. Suro terpaksa berjingkrak-jingkrak

sambil leletkan lidah terdengar suara siulannya yang

tidak menentu. Lagi-lagi ia berkelit lalu bersalto seperti monyet melompat ke belakang dengan kaki di atas. Serangan ini juga luput.

Hantu Liang Lahat menggerung, ia menerjang

lalu terlihatlah betapa tubuhnya laksana terbang. Ber-

putar-putar di udara dengan indahnya, saat berat tu-

buhnya meluncur ke bawah, kakinya menyambar den-

gan dahsyat ke bagian kepala Suro Si konyol lindungi

kepalanya, lalu melompat dengan tubuh setengah ber-

jongkok, karena serangan itu terus menggebahnya.

Maka pemuda ini terpaksa berguling selamatkan diri.

Secepatnya Pendekar Mandau jantan bangkit

berdiri, mulutnya termonyong-monyong tanda keseri-

usannya menghadapi lawan.

“Pemuda ini benar-benar hantu, gerakannya

cepat seperti setan. Rasanya kalau aku dapat mengha-

jarnya, baru puas hatiku jika sudah ku konsentrasi-

dannya yang bau itu” maki Pendekar Blo’on dalam ha-

ti.

Ternyata Hantu Liang Lahat tidak mengenal

basa basi. Ia segera membangun serangan kembali

dengan kekuatan berlipat-lipat. Sambaran angin se-

rangannya saja sudah membuat kulit Suro seperti di-

tusuk-tusuk jarum. Tidak ayal, ia lipat gandakan tena-

ga dalam ke sekujur tubuhnya. Didahului dengan ter-

dengarnya suara teriakan-teriakan seperti suara mo-

nyet. Seiring dengan suara teriakannya, Suro menge-

luarkan jurus aneh ‘Serigala Melolong Kera Sakti Ki-

baskan Ekor’. Nama jurusnya memang terkesan lucu,

sesuai dengan penciptanya yang ugal-ugalan. Namun

ketika Suro berkelebat, maka segera terlihat kedahsya-

tan yang terkandung dalam setiap gerakan yang dila-





kukannya. Angin mendesir-desir, pasir berterbangan,

lalu terdengar suara lolongan di sana sini hingga

membuat konsentrasi Hantu Liang Lahat sempat ka-

cau juga. Namun manakala ia mengeluarkan bentakan

keras, tahu-tahu tubuhnya melayang sedangkan tinju

menderu mengancam tenggorokan Suro. Pemuda ini

selamatkan lehernya agar tidak hancur terkena tinju

lawan. Namun kemudian tinju itu membuka, hingga

melesatlah lima larik sinar menebar bau busuk dan

menghantam dada Pendekar Blo’on.

Tes Tes Brak

Suro terpelanting keras, seakan ada tenaga

raksasa yang mendorongnya. Lima sinar menembus

kulitnya hingga mengucurkan darah. Melihat darah,

Hantu Liang Lahat semakin beringas, sementara Elang

Perak terus berputar-putar di atas mereka.

Hantu Liang Lahat kini hantamkan pukulan ja-

rak jauh. Ada sinar biru berkiblat secepat kilat, lalu

hawa dingin menghampar. Puteri Saba yang berada di

dalam pondok saja sempat menggigil tubuhnya terkena

pengaruh pukulan pemuda muka mayat.

Suro sadar betul lawan bermaksud merenggut

lepas nyawanya. Ia tentu tidak mau konyol untuk yang

kedua kalinya. Siap-siap ia lepaskan pukulan ‘Ratapan

Pembangkit Sukma’. Sebelum pukulan lawan yang di

kenal dengan nama ‘Mengorek Kubur Menjemur Mayat’

meluluhlantahkan tubuh Pendekar Blo’on. Dengan ge-

rakan asal-asalan ia dorong kedua tangannya ke de-

pan. Angin kencang putih laksana hamparan salju

menderu. Lalu keduanya saling bersambut di udara.

Terdengarlah suara dentuman laksana merobek langit

menghancurkan gendang-gendang telinga. Pengaruh

ledakan itu saja membuat pondok runtuh, dari dalam-





nya terlihat berkelebat sosok tubuh serba putih yang

tidak lain adalah puteri Saba. Melihat ini Elang Perak

bermaksud menyerangnya, namun karena si gadis ber-

lindung di bawah beringin putih yang rindang, gerakan

Elang Perak jadi terhalang.





***





LIMA


Suro Blondo tergontai-gontai, wajahnya tampak

pucat. Nafas pemuda itu menyesak seperti ada bagian

jalan darah yang tidak normal. Hantu Liang Lahat

yang kepalanya sempat nyungsep ke tanah segera

bangkit berdiri. Kepala yang pusing di geleng-

gelengkan, bibirnya meneteskan darah berwarna agak

hitam dan busuknya bukan main. Ia seka darah,

memperhatikannya sebentar, lalu terdengar tawanya

yang rawan mendirikan bulu roma.

"Iblis ini tidak mengenal rasa sakit sedikitpun,

semakin terluka ia malah tertawa seperti orang gila

Weh, kalau aku tidak menggunakan siasat bukan

mustahil tujuh hari mendatang aku disantapnya" batin Suro sambil garuk-garuk kepala.

"Anak muda bertampang konyol, kau punya

mainan boleh juga Ingin kulihat apa yang bisa kau la-

kukan setelah ini. Apa mau melompat-lompat terus se-

perti monyet atau kau memang monyet yang baru

menjadi manusia?" ejek pemuda muka mayat.

Di ejek begitu panas juga hati Suro, namun ia

tidak mudah terpancing kemarahan lawan, karena

memang begitulah wataknya. Sebaliknya sambil bersi-

kap waspada ia menimpali.





"Hantu kesasar bermulut besar, kepandaianmu

baru seujung kuku, gelarmu menakutkan. Wajahmu

jelek seperti pantat nenek-nenek, buktikan kau punya

bicara jangan cuma sesumbar Atau berlututlah kau

pada tuanmu ini, mudah-mudahan juraganmu men-

gampuni jiwamu yang busuk"

Hantu Liang Lahat adalah manusia berangasan

yang pantang dihina atau diremehkan oleh orang lain.

Mendengar kata-kata Suro alisnya bergerak-gerak. La-

lu ia mengerahkan jurus dahsyat 'Merobek Bangkai Di

Malam Gulita'. Pemuda ini sekali sentakan tangannya

ke depan, sekali ditarik ke belakang lalu gerakan se-

lanjutnya seperti mengoyak-ngoyak. Terdengar pula je-

ritan Hantu Liang Lahat yang menyentak penuh tena-

ga. Kelanjutannya ia berputar membelakangi lawan la-

lu bersalto dengan gerakan terbalik.

Hanya sepersekian detik saja tangannya telah

merobek perut Suro. Beruntung pemuda ini lindungi

perutnya dengan tenaga dalam, hingga pakaiannya sa-

ja yang tercabik. Serangan susulan lebih dahsyat lagi.

Sebelum serangan itu merobek dadanya, ia sudah per-

gunakan jurus khusus menghindar yang dikenal den-

gan nama 'Kacau Balau'. Jurus ciptaan Malaikat Be-

rambut Api ini benar-benar ampuh. Meskipun gerakan

dan langkah-langkah kaki Suro terkesan kacau dan

asal-asalan. Namun tidak satupun serangan Hantu

Liang Lahat yang mengenai sasaran.

Rupanya pemuda muka mayat jadi penasaran,

ia kembali berbalik. Di kala itu Suro sudah cabut sen-

jata andalannya. Ketika senjata itu berkiblat di udara, mula-mula terdengar suara mendengung, Suro memi-ringkan Mandau di tangan, lalu terdengar suara ring-

kik kuda. Ketika senjata itu diputar dan diputar lagi

dengan gerakan berubah-ubah, maka terdengarlah su-





ara rintihan tangis dan tawa. Suara rintihan dan tawa

terus terdengar tiada henti. Hantu Liang Lahat bersu-

rut langkah, memandang pada Suro dengan perasaan

heran bercampur marah.

Namun ia kemudian menerobos pertahanan la-

wan dengan cara berguling-guling dan tendangkan ka-

kinya. Suro melompat tinggi, lalu berjumpalitan. Na-

mun sekarang datang pula jotosan lawan yang menge-

luarkan deru angin panas berpijar. Serangan itu tidak

dihindari oleh Pendekar Blo'on, ia malah hantamkan

Mandau di tangannya. Kaget Hantu Liang Lahat bukan

alang-alang. Ia menarik balik tangannya, sayang gera-

kan yang dilakukan Hantu Liang Lahat kalah cepat.

Sehingga mata Mandau yang tajam itu menebas putus

tangan pemuda muka mayat.

"Akhhh..."

Untuk pertama kalinya Hantu Liang Lahat

menjerit kesakitan. Buntungan tangan menggelepar di

atas tanah, lalu diam. Setelah menotok jalan darah.

Pemuda muka mayat bangkit berdiri. Dalam keadaan

marah seperti itu tampangnya berubah mengerikan.

Suro berteriak dengan mulut terpencong.

"Hantu buntung sebaiknya kau menyerah"

"Bangsat Tidak ada kata menyerah dalam hi-

dupku" maki Hantu Liang Lahat. Tiba-tiba ia pukulkan tangan kirinya ke depan, Suro sadar betul lawan

bermaksud mengadu jiwa dengannya. Sehingga ia pun

terpaksa melepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'.

Wuut Wuut

Sinar merah hitam berkiblat, terdengar suara

jeritan di sana sini. Suara itu, seakan datang dari alam para roh penghuni neraka. Kemudian terjadilah dentuman menggeledek.

Blaamm





"Huaagrrrrk..."

Hantu Liang Lahat terpelanting roboh, tubuh-

nya yang hampir gosong berkelojotan, lalu terdiam un-

tuk selama-lamanya. Suro tergontai-gontai. Dari bibir-

nya terdengar nyanyian sumbang. Di angkasa sana

Elang Perak memekik seakan merasa kehilangan. Tapi

dia juga tidak melakukan serangan. Entah apa yang

terjadi pada burung itu. Sang raksasa berputar-putar

dan membubung tinggi. Selanjutnya meluncur ke arah

kerajaan Pasundan.

Kalau pun ada orang yang sangat kagum meli-

hat pertempuran yang sengit tadi puteri Saba-lah

orangnya. Ia semakin jatuh hati pada pemuda tampan

bertampang ketolol-tololan ini. Dihampirinya Suro, ma-

tanya berbinar-binar memandang dengan tatapan pe-

nuh arti.

"Kau bisa mengalahkan manusia itu. Sungguh

aku tidak menyangka kau memiliki kepandaian tinggi."

puji puteri Saba.

Suro cuma cengengesan. Setelah diam sebentar

kemudian berkata.

"Kerajaan masih jauh lagi dari sini Kalau aku

menggandeng tanganmu apa tidak marah?" Goda Pen-

dekar Blo'on. Wajah puteri Saba memerah sekejap. Li-

rikan mata si gadis sudah merupakan satu isyarat bagi

Suro bahwa puteri Saba tidak menolak. Digandengnya

puteri Saba, lalu Pendekar Blo'on membawanya berlari

secepat terbang. Dikejauhan terdengar suara siulan

panjang tidak menentu. Suasana kembali sepi seakan

tidak pernah terjadi apa-apa di tempat itu.





***



Pabila kakek bertopi caping bambu masuk ke





dalam warung di pinggir jalan utama kota raja. Maka

para pelanggan warung tampak menunjukkan rasa ti-

dak senangnya. Namun kakek bercaping bambu yang

tidak lain adalah Angku Muda Pasak Langit ini bersi-

kap acuh-acuh saja. Selain para pelanggan biasa, ter-

nyata di dalam warung tersebut terdapat tiga orang

prajurit, yang kelihatannya baru saja selesai membica-

rakan masa depan kerajaan yang suram.

"Siapa merasa pemilik warung ini, harap me-

layaniku." dingin suara si kakek. Sikapnya acuh, tidak memandang muka pada orang lain. Seorang laki-laki

muda datang menghampiri.

"Kisanak mau pesan apa?" tanyanya ragu-ragu.

Melihat penampilan orang tua yang sombong ini ra-

sanya ia memang tidak punya uang.

"Semua pundi-pundi arak bawa kemari. Sepu-

luh ekor ayam kalau ada seorang gadis untuk mene-

mani agar makanku jadi lahap" kata Singa Gunung

seenaknya.

Pemilik warung tercengang. "Gadis tidak ada,

kisanak. Dua pesanan lainnya segera saya sediakan."

jawab laki-laki muda itu. Seraya cepat-cepat berbalik

ke belakang. Namun baru beberapa langkah terdengar

bentakan salah seorang prajurit yang berbadan tegap

tinggi. "Jangan kau layani permintaannya. Biarkan tikus jembel itu mengais tulang Belulang ayam di tong

sampah. Turut perintahku atau kau akan mendapat

hukuman berat" Ancam pengawal.

Singa Gunung angkat topi capingnya, hingga

wajahnya yang angker itu terlihat jelas oleh semua

orang yang berada di dalam ruangan. Sikapnya tetap

acuh. "Pulanglah kau menetek pada ibumu. Kau baru





saja menjadi anjing penjaga, lagakmu sudah seperti

dedengkot iblis" dengus Angku Muda Pasak Langit.

Diejek begitu rupa di depan orang banyak, ten-

tu pengawal ini merasa pamornya langsung turun be-

berapa tingkat.

"Mulutmu keterlaluan tua bangka busuk Ra-

sakanlah tombakku" teriak si tinggi tegak. Ia langsung menusukkan tombaknya ke pinggang si kakek. Semua

orang dapat memastikan sekali tusuk matilah kakek

berbaju hitam ini. Tanpa disangka-sangka Singa Gu-

nung berpaling, lalu menghembuskan nafasnya kuat-

kuat. "Akh..."

Pengawal ini menjerit kesakitan, ia tidak mam-

pu bergerak karena sekujur tubuhnya ternyata telah

ditotok. Dua orang kawannya tercengang, bagaimana

kakek tua itu dapat melakukan totokan hanya dengan

menghembuskan nafas saja. Suatu kejadian langka

dan jarang ditemui. Mereka langsung ciut nyalinya.

Namun dengan membiarkan kawan mereka dalam

keadaan seperti itu adalah sesuatu yang sangat mema-

lukan. Serentak dua orang lainnya cabut pedang. Ang-

ku Muda Pasak Langit menjadi marah melihat kenya-

taan ini. Ia bangkit berdiri, bukan untuk memberi pe-

lajaran. Namun cabut pedang berikut rangkanya.

"Silakan kalian bersombong-sombong di neraka

sana. Makan kubatalkan dan aku harus secepat

mungkin ke istana"

"Jangan mimpi" teriak pengawal tadi sambil

bacokkan pedang di tangan. Hanya sedikit berkelit, lu-

putlah serangan itu. Angku Muda Pasak Langit tiba-

tiba saja cabut pedang Penebar Bencana.

Seer





"Haaaaah..."

Seluruh orang yang berada di dalam warung

langsung menjerit histeris ketika melihat sinar hitam

memijar dari pedang di tangan Singa Gunung. Mereka

bergelimpangan roboh, warung terbakar. Sosok bayan-

gan berkelebat keluar disertai tawa bekakakan. Mereka

semua tewas dalam keadaan hangus sebelum api yang

membakar warung menjilat tubuh mereka.

Demikian dahsyatnya kharisma Pedang Pene-

bar Bencana, hingga pancaran cahayanya saja mem-

buat rumah dan benda-benda di sekitarnya terbakar,

apalagi manusia yang tubuhnya terdiri atas darah dan

daging. Demikianlah dengan congkaknya Singa Gu-

nung di sepanjang perjalanan menebar maut men-

gumbar bencana. Sampai di kerajaan Pasundan, pra-

jurit-prajurit penjaga pun mengalami nasib serupa

yang demikian tragis. Hingga tanpa kesulitan apa-apa

ia berhasil masuk ke istana.

Angku Muda Pasak Langit bukan main girang-

nya melihat gadis-gadis yang sangat banyak di setiap

kamar kaputren.

"Ha ha ha... Mimpi apa aku semalam Begini

banyak gadis yang dapat memenuhi seleraku" katanya sambil tergelak-gelak.

Para gadis-gadis itu sebagian ada yang ketaku-

tan melihat kehadiran si kakek. Sedangkan sebagian

lainnya yang selalu haus kepuasan, tentu mereka

mendambakan kepuasan dari laki-laki mana pun. Ti-

dak perduli apakah ia seorang raja, bangsawan, rakyat

biasa, prajurit bahkan gembel kudisan sekalipun. De-

mikianlah jika nafsu sudah menguasai jiwa manusia

rendah. Jiwa manusia yang tidak mengenai rasa takut

siksa Tuhannya.





Lain halnya dengan Sri Asih, Kumala dan bebe-

rapa orang lainnya yang memang sudah mendamba-

kan kebebasan sejak mereka bertemu dengan Pende-

kar Blo'on (dalam Episode Api Di Puncak Sembuang).

Mereka sejak saat itu sudah bertekad untuk member-

sihkan diri tidak mau melayani laki-laki manapun.

Penghuni istana Sorga Dunia yang diciptakan Pange-

ran Suprana ini rupanya sudah insyaf.

Tidak heran bila untuk menghindari kemaksia-

tan, Kumala dan Sri Asih mengurung diri di ruangan

rahasia.

Sekarang mereka jadi cemas melihat kemuncu-

lan Singa Gunung. Apalagi Kumala mendengar laporan

salah seorang sahabatnya yang dipercaya, bahwa Ang-

ku Muda Pasak Langit mempunyai senjata yang dapat

membuat tubuh seseorang menjadi hangus.

Sisa-sisa prajurit yang mengawal istana hampir

tewas seluruhnya dengan keadaan yang sungguh me-

nyedihkan. Bukan mustahil, suatu saat Singa Gunung

mengetahui tempat persembunyian mereka. Padahal

mereka sadar betul, diantara sekian banyak gadis-

gadis yang berada di istana itu bukankah mereka ber-

dua yang paling cantik, yang paling mulus yang paling

montok dan yang paling... segalanya.

Mereka rasanya lebih baik mati jika harus me-

layani tua bangka yang berjuluk singa gunung yang

sebaya dengan kakek mereka sendiri. Kalau pun hati

mereka ditanya satu persatu. Baik Kumala maupun Sri

Asih. Tentu mereka memilih Pendekar Blo'on, pemuda

konyol yang rambutnya beda dari kebanyakan orang.

Pemuda itu tampan, walau pun lagaknya seperti orang

tolol. Jujur saja mereka akui, kalau pun mereka ber-

dua dimadu tentu mau. Tetapi apakah Suro Blondo,

Pendekar geblek setengah sinting itu ya mau seperti





mereka?

"Kita harus melarikan diri dari istana ini. Meli-

hat gelagatnya kurasa Pangeran Suprana, Tuhan ke-

senangan dunia sudah mati" suara Sri Asih gadis yang usianya dua tahun lebih tua dari Kumala memecah

keheningan.

"Huh, jika dia benar-benar Tuhan, mana

mungkin dia mampus Aku sendiri takut suatu saat

tua bangka bau tanah itu mengetahui keberadaan ki-

ta" Kumala menanggapi.

"Memang kalau dipikir-pikir, kita ini tidak

ubahnya seperti kambing ya...? Selalu digilir laki-laki tanpa suatu ikatan apapun. Bagaimana Gusti Allah tidak murka?"

"Malah lebih rendah dari binatang. Terkadang

kita tertawa-tawa dalam dosa. Sekarang aku merasa ji-

jik jika harus berbuat seperti itu" kata Kumala pula.

"Hidup kita bergelimang dosa. Kita harus lari

dari istana ini atau mati jika dipaksa melakukan per-

buatan seperti itu" tekad Sri Asih.

"Apa tidak sebaiknya kita menunggu kedatan-

gan Pendekar itu? Bukankah dia telah berjanji untuk

membebaskan kita semua dari neraka ini?" ucap Ku-

mala seakan mengingatkan. Sri Asih terdiam, kening-

nya berkerut tajam.

"Terlalu lama, aku juga khawatir telah terjadi

sesuatu yang tidak diingini dengannya. Sekarang un-

tuk menyelamatkan diri sebaiknya kita harus berani

mengambil keputusan"

"Baik Kurasa nanti malam adalah waktu yang

tepat untuk meninggalkan istana ini. Jangan kau bica-

rakan rencana kita pada orang lain." pesan Kumala.

"Bagaimana jika kawan-kawan kita mengeta-

hui? Apa tidak sebaiknya kita bawa saja mereka seka-





lian?" "Jangan bodoh Usaha ini tidak mudah, hanya dengan kita berdua saja mungkin sudah sulit untuk

menyelinap keluar" Sri Asih mengangguk-anggukan

kepala tanda mengerti.

"Kalau mereka bertanya, kita janjikan saja pada

mereka bahwa kita akan mencari pertolongan di luaran

sana. Kemudian kita kembali lagi ke sini untuk mem-

bebaskan mereka" jelas Kumala secara lebih terperinci.

"Ya, mudah-mudahan Gusti Allah memberikan

pertolongannya pada kita Sekarang persiapkanlah se-

gala sesuatu yang kita perlukan. Nanti setelah lewat

tengah malam, kita bisa melaksanakan rencana kita."

kata Sri Asih menutup pembicaraan.



***





ENAM


Kakek berpakaian kulit harimau yang sebagian

rambutnya menutupi wajahnya ini memang telah be-

rubah seperti orang linglung. Apalagi setelah ia mene-

mukan mayat muridnya, Pangeran Suprana. Dua

orang yang sangat disayanginya di dunia ini telah ter-

bunuh. Pertama Sang Bala dan yang kedua Iblis Pe-

runtuh Mahkota. Pedih hati Dewa Kubu tidak terkira-

kan. Semua ini gara-gara mencari Pedang Penebar

Bencana. Sementara itu nasib Elang Perak binatang

raksasa itu masih belum ia ketahui.

Kepada siapa ia harus menuntut balas? Kepada

kakek berambut merah itu? Ilmunya tinggi, jika pun

sekali lagi ia berhadapan dengan Malaikat Berambut





Api. Belum tentu ia dapat memenangkan pertarungan.

Kakek rambut merah itu sakti bukan main. El Maut

mungkin saja telah mati terkena pukulannya.

"Hmm, selama langit masih biru. Selama mata-

hari masih terbit dari ufuk timur. Aku harus menemu-

kan cara untuk membalas. Elang Perak harus kute-

mukan." pikir Dewa Kubu.

Di atas batu si kakek duduk bersila, matanya

terpejam. Rupanya ia sedang mencoba melakukan se-

medi. Dalam semedinya ia mengucapkan kata-kata

yang tidak jelas. Beberapa detik lamanya, wajahnya

yang kusut dan semakin angker berubah cerah.

"Ternyata kau masih hidup Elang Perak Da-

tanglah kemari, kita harus bersama-sama menghan-

curkan musuh-musuh keparat itu Sahabatmu Pange-

ran Suprana boleh mati, muridku Sang Bala boleh ter-

bunuh. Namun puncak penyatuan kita berdua harus

dapat membuktikan bahwa di dunia ini tidak boleh

ada orang yang mengalahkan kita." kata Dewa Kubu

seorang diri. Tingkahnya memang telah berubah deras-

tis seperti orang yang kurang waras. Namun ternyata

dia bukan sakit ingatan. Sebab melalui pemanggilan

batin yang dilakukannya tadi. Tidak lama kemudian di

angkasa lepas terlihat sebuah bayangan raksasa me-

layang-layang. Lalu terdengar suaranya yang keras

menyakitkan telinga.

"Hiiiii..."

"Elang Perak, turunlah" perintah Dewa Kubu.

Seraya membuka matanya kembali.

"Kak..."

Dari ketinggian Elang Perak meluncur turun.

Setelah itu ia menjejakkan cakar-cakarnya yang tajam

tidak jauh di depan Dewa Kubu. Daun-daun berter-

bangan oleh kepakan sayapnya.





"Kak Kek... Kak,.."

Elang Perak terus mengeluarkan suara aneh.

Seakan ia mengadukan kejadian yang menimpa dirinya

juga diri Pangeran Suprana. Kepala burung di elus-

elus oleh Dewa Kubu.

"Aku telah mengetahui kejadian yang menimpa

Pangeran Suprana." kata Dewa Kubu sambil memper-

hatikan burung elang itu. "Akh, ternyata seseorang telah menjahilimu dengan memasukkan jangkerik ke da-

lam kuping?" Begitulah, setiap isyarat gerakan Elang Perak diketahui artinya dengan pasti oleh Dewa Kubu.

"Heh, apa? Seorang pemuda bertampang tolol

yang telah melakukannya? Mengapa tidak kau han-

curkan saja wajahnya atau kau rusak wajahnya biar

konyol?" tanya Dewa Kubu sambil terus memperhati-

kan gerakan Elang Perak.

"Apa? Pemuda itu cerdik? Kau ini bagaimana?

Kalau tolol ya tetap tolol Elang Perak Laporanmu nge-

lantur Akh... sudahlah, pusing aku mendengarnya."

sergah Dewa Kubu.

Elang Perak kemudian terdiam, Dewa Kubu

adalah manusia setengah roh paling dihormatinya.

Jika antara binatang raksasa ini bersatu den-

gan Dewa Kubu. Maka terjalinlah sebuah kekuatan

yang teramat dahsyat.

"Kita tidak usah berpisah lagi setelah ini. Aku

yakin kita berdua mampu menghadapi cecunguk-

cecunguk yang telah mempecundangimu. Sekarang

sebaiknya kita pergi dari sini" Berkata begitu Dewa Kubu bergerak, tubuhnya terangkat mengambang seperti tanpa bobot. Di lain waktu Dewa Kubu telah be-

rada di atas punggung Elang Perak.

Burung itu kepakkan sayapnya, membubung

tinggi di udara. Hingga akhirnya menghilang dari pan-





dangan.





***

"Sekarang kita sudah berada di luar tembok is-

tanamu Lalu apa yang kita lakukan?" tanya gadis baju hitam yang baru saja melakukan penyelidikan ke dalam kerajaan Pasundan. Pemuda baju putih terdiam.

Seakan ia sedang memikirkan cara terbaik untuk me-

lakukan sesuatu.

"Hasil penyelidikanmu bagaimana? Apakah kau

lihat masih banyak pengawal disana?" tanya pemuda

baju putih yang tidak lain adalah Pendekar Kucar Ka-

cir.

Gadis berpakaian hitam menggeleng. Kemudian

di tegaskan dengan ucapannya.

"Tidak satu pun Di halaman depan kulihat

pemandangan yang mengerikan. Banyak mayat-mayat

menjadi arang dan debu. Kurasa orang yang telah

membunuh guruku ada disini. Dia tidak lain mungkin

laki-laki tua bangka itu, hiiih..."

"Siapa yang kau maksudkan?" tanya Pangeran

Demak Pati.

Jika saja tidak dalam keadaan malam hari, ten-

tu pemuda polos dan kocak ini dapat melihat betapa

wajah si gadis alias Maling Jenaka berubah merah pa-

dam. "Siapa sih? Kok malah bengong, lagi mikir aku ya..." celetuk Pendekar Kucar Kacir. Ia telah mengetahui banyak sifat Gadis selama dalam perjalanan.

Meskipun terkesan manja = Mandi Jarang, namun

menyenangkan. Pendekar Kucar Kacir diam-diam ja-

tuh cinta pada pandangan ketiga. Mengingat sebelum-

nya mereka pernah bertemu di dalam gua di puncak

Bukit Sembuang.





"Kau tahu nggak apa yang ingin kukatakan ini

sangat memalukan dan merendahkan derajat perem-

puan" tegas Gadis tersipu-sipu.

"Katakan saja. Kalau merasa rendah biarkan

aku yang meninggikannya. Lagipula di sini cuma kita

berdua. Aku pandai menyimpan rahasia dan tempat

rahasia punyaku cuma satu"

"Kau bicara apa? Kutampar nanti mulutmu"

dengus si gadis merasa tersinggung.

"Hust, jangan sembarangan. Aku pangeran ta-

hu" "Mau pangeran kek, mau raja setan kek. Apa kau kira aku perduli Persoalanmu saja belum tuntas,

masih bisa-bisanya kau bercanda?" Suara Maling Je-

naka tajam menusuk.

Seakan teringat dengan keadaannya kembali.

Sikap Pendekar Kucar Kacir yang tidak kalah kocaknya

dengan Suro Blondo berubah serius kembali.

"Coba sekarang kau jelaskan apa yang terjadi di

dalam istana. Aku siap mendengarnya"

"Di istanamu sangat banyak perempuan-

perempuan cantik. Jumlahnya mungkin lebih empat

puluh orang..."

"Itu pekerjaan si keparat Pangeran Suprana"

"Mereka seperti pelacur"

"Nah itulah sorga yang di gembar-gemborkan

Iblis Peruntuh Mahkota" celetuk Pendekar Kucar Kacir. "Lalu apa lagi?"

Gadis menarik nafas dalam-dalam seakan se-

gan untuk bicara lagi.

"Terus... terus... bagaimana?" desak si pemuda.

"Di sebuah ruangan kulihat delapan orang wa-

nita sedang melayani seorang kakek tua, mereka da-

lam keadaan te..." Gadis tutup mulutnya merasa ma-





lu.

"Terlanjur maksudmu?"

"Telanjang, bego?" desis Maling Jenaka. "Itulah tua bangka yang sedang main kapal-kapalan. Tapi..."

Pangeran Demak gelengkan kepala ke kiri, lalu sekali

lagi ke kanan. "Tapi siapa kakek itu? Mungkin masa kecilnya tidak bahagia?"

"Tolol, mereka sedang bermaksiat" maki Maling Jenaka merasa dongkol.

"Ya, ya... maksiat Itu budaya peninggalan

Kumbang Pemikat. Kurasa kakek itulah yang telah

mencuri pedang dari tangan El Maut. Kita harus mere-

butnya"

"Huh, apa kau kira semudah itu? Pedang itu ti-

dak pernah jauh dari tempat dia berada. Kita harus

menunggu kesempatan terbaik." ujar Gadis.

"Ya, walau kesempatan itu datangnya sampai

lima puluh tahun lagi. Tua bangka itu akan mati den-

gan sendirinya jika sampai lima puluh tahun. Apalagi

jika ia terus main kapal-kapalan siang dan malam"

kata Pendekar Kucar Kacir polos.

"Kau sama edannya dengan Suro Blondo. Bica-

ramu nyerempet-nyerempet terus" Gadis menggerutu

kesal. "Aku dan monyet gondrong rambut merah itu

memang seperti saudara kembar saja. Dia suka mem-

bicarakan tentang bukit dan hutan rimbanya, tapi aku

tidak sependapat dengan dia. Ahh... sudahlah, menga-

pa kita bicara tentang kunyuk cacingan itu?" sergah Pendekar Kucar Kacir seakan merasa tersaingi.

Gadis alias Maling Jenaka alias Maling Cerdik

sebenarnya punya suatu siasat untuk merampas pe-

dang itu. Namun rencananya itu mengandung bahaya

besar yang menyangkut harga diri dan kehormatan.





Resikonya jika sampai gagal, ia bisa kehilangan mah-

kotanya seumur hidup. Itu sebabnya ia tidak mau bi-

cara apa-apa lagi. Mungkin nanti jika ia bertemu den-

gan Pendekar Blo'on, ia akan utarakan siasat yang

mungkin dapat dijalankan. Rasanya Gadis lebih per-

caya dengan kemampuan Pendekar Blo'on ketimbang

Pendekar Kucar Kacir ini.

"Haruskah kita berdiri di sini sampai pagi, atau

sampai tua dan lumutan?" Suara Pendekar Kucar Ka-

cir memecah kebisuan di antara mereka berdua.

Gadis tidak menanggapi. Perhatian tertuju pada

satu arah di mana di sebelah utara benteng istana

tampak dua sosok bayangan sedang berusaha melewa-

ti tembok.

"Lihat Siapa itu?" seru Maling Jenaka. Cepat Pangeran Demak memandang ke arah dimaksud. Ternyata memang ada dua sosok berpakaian ringkas ber-

tubuh ramping sedang berusaha menuruni tembok is-

tana. Melihat caranya, jelas sekali kedua perempuan

itu tidak memiliki kepandaian apapun.

"Merekakan perempuan, bagaimana kalau

sampai tersangkut? Sebaiknya kita datangi mereka"

tegas Pendekar Kucar Kacir.

Tanpa bicara, Gadis mendekati kedua wanita

yang baru saja berhasil melewati tembok benteng.

Melihat kehadiran pemuda dan gadis yang ti-

dak dikenal. Kedua perempuan tadi jadi ketakutan.

Mereka hampir saja berteriak jika Pendekar Kucar Ka-

cir dan Maling Jenaka tidak cepat membungkam mu-

lutnya. "Ssst Jangan berisik Aku orang baik-baik, sedangkan pemuda itu adalah Pangeran Demak Pati. Ka-

takan siapa kalian??" tanya Gadis.

Seraya menarik tangannya, hingga kedua gadis





berpinggul besar itu dapat menarik nafas lega di samp-

ing hati mereka juga jadi gembira. Sebab mengenai

Pangeran Demak Pati mereka sedikit banyaknya sudah

tahu. Dialah pewaris tahta kerajaan yang sah.

"Jangan bunuh kami, aku Kumala, sedangkan

kawanku ini Sri Asih. Kami bermaksud menghindari

tua bangka busuk itu. Kami sudah tobat dan ingin

menjadi orang baik-baik." jelas Kumala suaranya me-melas bahkan seperti orang yang hendak menangis.

"Kalian pasti bekas anunya Pangeran Demak

Pati, eeeh... maksudku anunya Pangeran Demak Pati

membekas di anunya..."

Plok

Pendekar Kucar terjajar. Kiranya yang menam-

parnya tadi adalah Gadis.

"Dasar Pangeran goblok Bicara saja tidak be-

cus, belepotan seperti anak kecil" dengus Maling Jenaka. "Ingat kalau kalian berbohong, nyawa kalian tidak ada yang menjamin" ancam Maling Cerdik di tu-

jukan pada kedua gadis itu.

Sri Asih dan Kumala saking takutnya sampai

berlutut memeluk lutut Gadis.

"Percayalah, kami ingin meninggalkan neraka

ini. Sejak bertemu dengan seorang pemuda ganteng

berwajah tolol. Kata-katanya membuat kami sadar

bahwa jalan yang kami lalui benar-benar penuh lum-

pur berkubang nista" lirih suara Sri Asih.

Sebaliknya Gadis tampak terkesiap mendengar

mereka menyebut ciri-ciri Pendekar Blo'on. Pangeran

Demak yang kumat gendengnya langsung nyeletuk.

"Jalan yang kalian lalui memang melelahkan,

penuh liku, belokan serta bukit-bukit. Kalau sekarang

hendak tobat, ya sudah Sekarang pergi sana" Dengan penuh rasa gembira kedua gadis itu bermaksud me-





ninggalkan Gadis dan Pendekar Kucar Kacir. Namun

Maling Jenaka menahannya.

"Tunggu dulu"

Langkah keduanya tertahan, hampir bersa-

maan mereka menoleh.

"Ada apa, Nisanak?"

"Kalian dari dalam sana, apakah di istana ma-

sih ada prajurit?"

"Sama sekali tidak Singa Gunung telah meng-

habisi mereka. Dia juga menghancurkan kawan-kawan

kami dengan sinar pedangnya. Tolonglah mereka"

pinta Kumala penuh permohonan.

"Hmm, begitu? Pergilah. Mudah-mudahan ka-

wan-kawan kalian dapat diselamatkan" janji Maling Jenaka. Dengan penuh rasa terima kasih yang dalam,

Kumala dan Sri Asih segera berlalu dari hadapan ke-

dua muda mudi itu.





***



Kita ikuti Sri Asih dan Kumala yang terus berja-

lan di kegelapan malam. Mereka memang dalam kea-

daan tergesa-gesa dan ingin segera sampai di kampung

halaman masing-masing yang tidak jauh dari kota raja.

Sri Asih sendiri anak seorang kepala Desa, sedangkan

Kumala puteri saudagar yang berhasil diculik oleh

Pangeran Suprana beberapa purnama yang lalu.

Setelah jauh meninggalkan kerajaan Pasunda.

Ternyata mereka tersesat jalan. Berhubung hari masih

malam, mereka memutuskan untuk menetap di situ.

Namun baru saja mereka menyandarkan kepala di ba-

tang pohon, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat. La-

lu secepat kilat...





Tek Tek

"Ufss..."

Sri Asih maupun Kumala langsung terkulai.

Sekujur tubuh mereka kaku tidak dapat digerakkan

lagi. Sadarlah kedua gadis ini bahwa seseorang telah

menotoknya. Belum juga hilang kaget di hati mereka,

tiba-tiba terdengar suara tawa bekakakan.

"Ha ha ha.... Elang Perak Malam ini kau harus

menutup mata Aku dapat santapan lezat sebagai pe-

nawar rasa dukaku atas tewasnya kedua murid-murid

tercinta." kata sebuah suara.

"Kak..."

Elang Perak menyahuti dari puncak batang po-

hon. Suaranya jelas gelisah.

"Si-a-pa kau....'" tanya Kumala yang sudah dalam keadaan tidak berdaya.

"Ha ha ha.... Usah kau tanya siapa aku,

bayangkan saja apa yang akan kuberikan pada kalian"

sahut Dewa Kubu.

Tokoh dari tanah Andalas ini mulai meraba-

raba dada Kumala dan Sri Asih silih berganti. Kedua

gadis itu menjerit-jerit ketakutan sambil mencaci maki.

Tapi setelah Dewa Kubu meremas dada mereka,

maka keduanya langsung terdiam. Inilah suatu toto-

kan yang aneh yang sulit dipunahkan.

"Hmm, kalian adalah bagian dari perjalananku.

Tidak perlu merasa takut ha ha ha..." tawa iblis Dewa Kubu kembali menggema.

Bret Bret

Dengan kasar pakaian Kumala dan Sri Asih di-

cabik-cabiknya. Sehingga kedua gadis itu dalam kea-

daan membugil. Sinar bulan yang temeraman menyi-

nari mereka. Dewa Kubu merasa darahnya menggele-

gak. Ia sibuk meraba atau menjatuhkan ciuman-





ciuman kasar pada kedua gadis itu.

Mula-mula yang mendapat giliran adalah Sri

Asih. Sebentar saja gadis itu sudah terdorong maju

mundur seiring dengan gerakan Dewa Kubu. Pucat wa-

jah Kumala, diam-diam ia menggigit lidahnya hingga

putus. Rupanya ia memilih mati daripada harus men-

gotori diri dengan melayani nafsu setan Dewa Kubu.

Keadaan itu segera diketahui Dewa Kubu, se-

mentara Elang Perak mulai memekik gelisah. Apa yang

dilakukan oleh Kumala rupanya diikuti oleh Sri Asih.

Gadis itu pun akhirnya tewas membunuh diri.



***





TUJUH


"Sialan, aku lagi tanggung sudah terlanjur din-

gin. Benar perempuan-perempuan tidak berguna" ma-

ki Dewa Kubu. Maka di tendangnya mayat Sri Asih dan

Kumala hingga terpelanting. Kepala mereka remuk,

yang satu terhempas batu yang satunya lagi menabrak

pohon. Kakek tua yang cuma mengenakan baju kulit

harimau ini bangkit berdiri. Ia mencari-cari celananya.

Ternyata celana satu-satunya hilang. Atau mungkin ia

salah meletakkan celana itu.

Dari balik kegelapan di bawah pohon tiba-tiba

saja terdengar suara seseorang nyeletuk.

"Apanya yang terlanjur dingin, tua bangka? Ka-

lau sudah dingin dan tanggung mengapa tidak dite-

ruskan saja? Lihatlah betapa memalukan dirimu itu.

Burung perkututmu yang sudah karatan itu siap ter-

bang meninggalkan tubuhmu Bulan di atas sana pun

malu, Elang Perak burung kesayanganmu malu. Aku





disini malu, tunggu apa lagi? Mengapa tidak kau pakai

celanamu Apakah kau sudah siap mati dalam kea-

daan seperti itu? Tulang belulangmu sudah rapuh,

Dewa Kubu jika dugaanku ini tidak salah. Kulitmu su-

dah keriput. Hari mudamu sudah berlalu, batang

usiamu semakin tinggi. Kau diberi umur panjang oleh

Gusti Allah, betapa memalukan jika seluruh waktumu

kau pergunakan untuk bermaksiat. Jika bumi ini bisa

berkata, pasti dia sudah menjerit karena menanggung

beban orang-orang berdosa Kau terlahir dalam kea-

daan suci Dewa Kubu, apakah kau ingin pulang

menghadap Tuhanmu dalam keadaan bergelimang do-

sa?" Meremang kuduk Dewa Kubu mendengar uca-

pan orang di balik kegelapan itu.

"Siapa kau? Jika merasa mencuri celana cepat

kembalikan" bentak Dewa Kubu sambil tutupi aurat-

nya. "Ini celanamu" sahut orang itu.

Sebuah benda melayang. Ternyata memang ce-

lana Dewa Kubu. Setelah dipakai rupanya celana tadi

sebelum dikembalikan telah di potong-potong olah

orang itu. Sehingga celana itu hanya dapat menutupi

aurat. Ini merupakan suatu penghinaan besar.

"Cepat katakan siapa kau Atau kau akan me-

rasakan kematian yang menyakitkan" ancam Dewa

Kubu berang.

"Bicaramu masih lantang Malaikat Berambut

Api mengatakan kau manusia licik Tapi aku murid

penghulu Siluman Nah, jika kau ingin bermain sulap

di depanku, sekaranglah waktunya kau mulai"

"Jahanam" Dewa Kubu membentak garang.

Tubuh manusia setengah roh itu tiba-tiba men-

gambang tidak menjejak tanah. Ketika si kakek be-





rambut riap-riapan ini mengangkat tangannya. Dari

pertengahan telapak tangan terlihat ada sinar merah

melesat.

Buuum

Kegelapan di bawah pohon terang seketika dis-

ertai dentuman keras. Tidak ada reaksi, malah kemu-

dian terdengar suara tawa yang seakan datang dari de-

lapan penjuru arah. Dewa Kubu tokoh kawakan, ia se-

gera tahu bahwa lawan mempergunakan ilmu memin-

dahkan suara.

Setelah menggelengkan kepala beberapa kali. Ia

akhirnya tahu dimana posisi lawannya. Sekali lagi ia

lepaskan pukulan ke samping kirinya. Kali ini sinar bi-

ru tampak melesat. Orang di balik kegelapan yang ti-

dak lain adalah Suro Blondo keluarkan siulan sum-

bang. Sebelum sinar maut itu melumatkan tubuhnya.

Suro sudah jungkir balik dan, melayang ke arah Dewa

Kubu. Blam

Lagi-lagi pukulan mengenai tempat kosong. Se-

dangkan Suro telah berada di belakang lawan dan ka-

kinya menghantam dengan telak.

Dess

"Heh"

Suro terperanjat ketika melihat Dewa Kubu

hanya bergetar saja. Sedangkan tubuhnya tetap men-

gambang dua jengkal di atas permukaan tanah. Si ka-

kek berpakaian kulit harimau tiba-tiba saja berbalik,

tangannya meluncur ke depan. Serangan itu dihindari

oleh Suro, seraya kerahkan jurus 'Seribu Kera Putih

Mengecoh Harimau'. Sekejap Suro Blondo telah lenyap

dari pandangan mata. Tubuhnya berubah menjadi

bayang-bayang yang terus mengelilingi Dewa Kubu

sambil lepaskan serangan bertubi-tubi. Namun tokoh





dari Andalas itu malah tertawa terkekeh-kekeh. Ia san-

gat berpengalaman. Walau pun dalam pandangannya

gerakan Suro itu sangat cepat bukan main. Namun ia

masih dapat melancarkan serangan dengan tepat.

Rambutnya yang telah berubah kaku itu mengibas ke

bagian wajah Pendekar Mandau Jantan.

Prat

"Uss... Manusia edan ini tidak kena di tipu,

malah aku hampir tertipu pulang pergi" gerutu murid Penghulu Siluman Kera Putih itu sambil bersalto ke

belakang. Serangan dahsyat itu dapat di hindari, he-

batnya lagi tubuh yang mengambang itu terus berge-

rak. Kakinya melesat dan....

Dekk

"Hekh..."

Suro jatuh terduduk dengan wajah pucat. Da-

danya mendenyut, nafasnya seperti hendak putus. Ma-

ta si konyol melotot

Ia geleng-gelengkan kepalanya sambil menggu-

mam tidak jelas. Dewa Kubu tidak menyia-nyiakan ke-

sempatan lagi. Ia segera melepaskan pukulan 'Merobek

Raga Meruntuhkan Sukma'. Rupanya ia sangat men-

dendam pada Malaikat Berambut Api. Sehingga kini

Suro yang dijadikan pelampiasannya, Puteri Saba yang

memang diperintahkan bersembunyi tidak jauh dari

tempat itu mulai khawatir. Ia sadar betul Dewa Kubu

bukan lawan sembarangan. Bahkan El Maut saja

hampir tewas di tangan kakek sakti itu. Suro tidak

menunggu serangan lawan itu sampai menghantam di-

rinya. Ia juga tidak melepaskan pukulan balasan. Me-

lainkan bersalto dengan gerakan yang indah. Deru ha-

wa panas melabrak kakinya, kaki cepat di angkat

sambil diusap-usap. Selanjutnya ia membanting tu-

buhnya dan terus berguling-guling.





Buum

"Ayah, ada orang gila mengamuk" pekik Suro

kalang kabut.

Pukulan-pukulan gencar terus menghujani

Pendekar Blo'on. Selincah-lincahnya pemuda itu

menghindar, tidak urung salah satunya menghantam

Suro juga. Tidak telak memang, tapi cukup membuat

Suro terjajar dan memuntahkan darah segar. Ter-

huyung-huyung pemuda ini bangkit berdiri, Dewa Ku-

bu sendiri merasa kagum dengan daya tahan yang di-

miliki oleh lawannya.

Si konyol geleng-gelengkan kepala seperti orang

prustrasi, bibirnya berpencong, ia garuk-garuk ram-

butnya, bingung. Dewa Kubu ternyata hebat. Kini ia

memutuskan untuk menggabungkan jurus 'Tawa Kera

Siluman' dengan jurus 'Kacau Balau'. Melihat gerakan-

gerakan Suro yang mulai ngelantur, kacau tidak tera-

tur bahkan disertai tawa di sana-sini. Dewa Kubu

menduga lawan pasti sudah terganggu ingatannya.

Apalagi ia tadi sempat me lihat kepala Suro sempat

membentur akar pohon.

"Ha ha ha... Gurumu sendiri belum tentu da-

pat mengalahkan aku Apa lagi bocah ingusan ma-

cammu" ejek Dewa Kubu penuh percaya diri.

Pendekar Blo'on tersenyum sinis dilanda kege-

raman, sekali kepala mendongak ke langit, meman-

dang ke bawah dan terus jelalatan. Satu hal yang tidak

disadari oleh Dewa Kubu. Bahwa ketika itu rambut

yang hitam kemerahan itu kini telah berubah merah

sepenuhnya seperti menyala.

"Keseriusan membuat aku gila, kegilaan mem-

buat aku tertawa. Anak kecil bodoh, masih ada hara-

pan untuk belajar. Tua bangka berubah pikun lebih

baik mampus saja" kata si pemuda seenaknya. "Tua





bangka sesat setengah roh. Malaikat Rambut Api lam-

bang keseriusan, sedangkan Penghulu Siluman ugal-

ugalan. Adakah kegilaan bisa menyatu dengan keseri-

usan? Engkau manusia pertama yang akan menjadi

batu ujianku" teriak Suro. Lalu terdengar suara tawanya di tengah-tengah gerakannya yang semakin

menghebat dan terkesan serampangan. Tawanya se-

makin lama semakin melengking menghancurkan kon-

sentrasi lawannya. Dewa Kubu katupkan bibirnya, te-

naga dalam dikerahkan untuk menghilangkan penga-

ruh suara tawa itu. Elang Perak sendiri semakin resah

dari telinga binatang itu mengucurkan darah. Puteri

Saba jatuh pingsan demi mendengar suara tawa Suro.

Itu adalah pertarungan antara hidup dan mati

Suro Blondo yang pertama kalinya selama melanglang

buana. Kemudian terdengar siulan disertai nyanyian

sumbang menyindir.

Blo'on itu bodoh, tolol itu aku

Orang cerdik mengapa licik?

Orang kaya mengapa serakah?

Orang sakti mengapa hilang pekerti

Orang susah mengapa gelisah

Orang sengsara mengapa merana

Aku melintas di depan orang-orang

Mereka yang hilang ingatan

Yang hilang kehormatan

Yang hilang rasa malu

Yang diperkosa haknya sebagai manusia

Lalu aku menjerit dalam kebodohanku,
Kemudian aku bertanya pantaskah aku menga-

ku sebagai anak manusia yang beradab?

"Kunyuk sinting Heaa..." Dewa Kubu memben-





tak garang. Serangkaian serangan beruntun dile-

paskannya.

Wees

Anehnya serangan yang dilancarkan kali ini ti-

dak mengenai sasaran. Dewa Kubu terperangah, pena-

saran ia lepaskan tendangan ke bagian perut lawan-

nya. Suro tampak terhuyung, gerakannya gerubak-

gerubuk tokh apa yang dilakukan lawannya luput lagi.

Merasa panas hati Dewa Kubu menggabung-

gabungkan jurus-jurus terdahsyat yang dimilikinya.

Sementara tawa Suro semakin menggila, Elang

Perak tidak kuat bertahan di situ dan langsung mele-

sat terbang entah kemana.

"Hibah..."

Dewa Kubu membentak keras. Tubuhnya me-

layang ke depan. Kini segala terasa berubah, Suro me-

rasa gerakan yang dilakukannya seperti mendapat ha-

langan di sana-sini. Walaupun merasa keadaan kini

mulai berbalik, ia hantamkan tinjunya secara berun-

tun. Serangan itu berulangkali mengena namun Dewa

Kubu seperti tidak merasakannya. Malah balasan yang

dilakukan Dewa Kubu kemudian membuat pemuda

terjengkang.

"Eehk, mati aku..."

Suro megap-megap sambil pegangi dadanya.

Banyak sekali darah kental yang tersembur dari mu-

lutnya. Dewa Kubu terkekeh-kekeh, tanpa memberi

kesempatan pada lawannya bangkit berdiri. Dewa Ku-

bu kembangkan tangannya sekali lompat ia sudah

hampir dapat mencengkeram leher si konyol. Di saat

itulah ia menghentakkan tangannya dan lepaskan ju-

rus 'Neraka Pembasmi Iblis'. Demikian dekat jarak an-

tara Dewa Kubu dengan Suro, hingga sinar merah itu

tidak sempat dihindari lagi oleh Dewa Kubu.





Duuum

"Akh..."

Dewa Kubu menjerit tertahan, tubuhnya terdo-

rong mundur. Jelas sudah bahwa tokoh dari Andalas

ini terluka cukup parah. Ia sendiri merasa sangat he-

ran melihat kenyataan ini. Ia seperti lemah dan kehi-

langan tenaga. Dicobanya mengerahkan tenaga dalam,

tapi dadanya malah mendenyut sakit dan panas bukan

main. "Pemuda gila itu, apa yang telah dilakukannya padaku?" desis Dewa Kubu merasa ketemu batunya.

"Heh he he... Mau kita teruskan sampai salah

seorang di antara kita ada yang mampus, Dewa Ku-

bu?" gertak Suro. Padahal ia sendiri sudah menderita kesakitan yang luar biasa.

Dewa Kubu sedikitpun tidak menyahut, untuk

pertama kali dalam hidupnya ia merasa jerih. Tanpa

menunggu Suro berbuat lebih lanjut ia langsung ngacir

dari hadapan Pendekar Blo'on.

"Hekh... a-ku sendiri hampir tidak tahan, kok.

Dan rasanya sudah tidak kuat berdiri" kata si konyol sambil menyeringai kesakitan. Dan ternyata ia jatuh

terduduk sambil pegangi dadanya yang sakit. Suro te-

lan tiga butir pel berwarna hitam. Setelah itu Suro ti-

dak sadarkan diri.

Lain halnya lagi dengan puteri Saba, gadis itu

kini sudah mulai sadar kembali. Ketika tidak melihat

Pendekar Blo'on ia mulai khawatir jangan-jangan pe-

muda itu telah tewas di tangan Dewa Kubu. Tergesa-

gesa puteri Saba mencarinya di sekitar bekas pertem-

puran yang porak poranda. Ia melihat Pendekar Blo'on

terkapar dengan kepala nyungsep di rerumputan.

"Suro?" pekiknya cemas. Di tubruknya Pende-

kar Blo'on. Ternyata sekujur tubuhnya sudah sangat





dingin sekali. "Jangan mati. Suro, jangan kau tinggalkan aku" tangis sang puteri. Ia memangku kepala Su-ro di atas kedua pahanya. Wajah si konyol di tepuk-

tepuknya, namun betapa wajah itu semakin dingin.

Ada darah yang mengalir di sela- sela bibirnya. Darah

itu langsung dibersihkan dengan punggung tangan pu-

teri yang cantik itu. Kepala Pendekar Mandau Jantan

didekap dan dipelukinya seakan ia tidak rela kehilan-

gan pemuda itu.

"Hu hu hu... jangan mati Suro. Apa pun akan

kulakukan asal kau dapat hidup kembali Tuhaaaan...

jangan kau ambil nyawanya?" jerit puteri Saba. Ini merupakan suatu tanda betapa puteri Saba teramat

sangat mencintainya.

Gadis itu terus memeluk kepala si konyol, se-

hingga tanpa disadari dadanya tentu menekan pipi Su-

ro Blondo. Sang puteri memeriksa denyut nadi Pende-

kar Blo'on, ternyata denyut nadi di pergelangan tan-

gannya ada lagi. Sang puteri merasa lega, namun ma-

sih khawatir juga.

"Suro, sadarlah... Jangan kau mati sekarang?

Nanti saja kalau sudah tuaan dikit Suro..." pekiknya.

Terdengar suara rintihan si pemuda, ternyata

tadi ia memang pingsan berat. Kini setelah menyadari

dirinya di peluki puteri Saba, si konyol yang sempat

membuka mata, sekarang pejamkan mata lagi. Meski-

pun merasakan sakit luar biasa, sebenarnya hatinya

geli juga senang.

"A-d-u-h... di mana aku ini? Apakah aku sudah

meninggalkan dunia?" rintih si konyol setengah dibuat-buat. "Tidak Oh, sukurlah kau masih hidup. Saking girangnya puteri Saba memeluk kepala Pendekar

Blo'on dengan eratnya.





"Tumit-ku... eeh, tubuhku dingin sekali A-ku

seperti mandi di kolam es Darahku membeku, seli-

mut..." kata si pemuda seperti orang mengigau. Puteri Saba kebingungan.

"Tidak ada selimut..."

"Aku mungkin segera mati."

"Tidak Jangan" pekik sang puteri.

"Peluk aku Aku takut sekali" desis Suro.

Ternyata puteri Saba benar-benar memeluknya.

"Cium aku, aku segera mati" kata si konyol pu-la.

Tanpa ragu-ragu dan sedikit gemetaran puteri

Saba menciumnya. Bukan di kening atau di pipi, me-

lainkan langsung di bibir.

"Jangan tinggalkan orang yang hendak mati.

Peluklah aku sambil di cium puteri. Karena Malaikat

malu mengambil nyawa orang yang sedang berci-

uman," lanjut Suro ngaco

Anehnya puteri Saba tidak menyadari bahwa

apa yang dikatakan Suro sungguh tidak masuk akal.

Ia melakukan apa yang diminta Suro, dipeluk sambil

dicium. Tiba-tiba Suro menyambut pelukan pewaris ke-

rajaan Pasundan ini. Ia tertawa terkikik-kikik.

"Suro, kau...?" Puteri Saba merasa dirinya sudah di tipu.

Pendekar Blo'on tidak menghiraukannya. Ia

malah melumat bibir sang puteri yang merah merekah

dan sangat alami.

"Kau nakal sekali, Suro..." desis gadis cantik itu dengan nafas terengah-engah. Tokh ia tidak berusaha melepaskan diri dari pelukan Pendekar Blo'on. Ia

malah membalas pagutan Suro, bibir mereka saling

melumat dalam gejolak jiwa muda yang kian memanas.





Baik puteri Saba maupun Pendekar Blo'on sudah

hampir lupa siapa diri mereka masing-masing. Ciuman

si konyol berpindah ke pangkal leher puteri Saba yang

jenjang. Gadis ini mulai terbakar gairah yang memba-

ra. Dua kancing baju puteri Saba terlepas. Terlihatlah

bukit-bukit yang membusung, putih, indah dan me-

nantang. Murid Penghulu Siluman Kera Putih, menyu-

supkan wajahnya di celah kedua bukit yang menebar

bau harum itu, kecupan-kecupan yang lembut di ja-

tuhkan Suro di kedua bukit yang indah. Puteri Saba

semakin terbakar gairah sehingga semakin jelas suara

desis dan tarikan nafasnya yang tersengal. Tubuh sang

puteri menggeliat, matanya setengah terpejam, bibir-

nya merekah. Tampaknya ia menuntut Suro berbuat

lebih jauh lagi. Ia siap menyerahkan diri sepenuh jiwa

dan raganya. Namun Suro tiba-tiba memaki, wajahnya

menjauh. Lalu tangannya menepak-nepak keningnya.

"Bego, tolol, bodoh, goblok Kita hampir gila,

hampir... hampir gila-gilaan..." kata Pendekar Blo'on.

Seakan tersadar puteri Saba bangkit duduk

dan cepat mengancingkan bajunya yang terbuka. Pute-

ri Saba sempat melihat ada bekas merah di dadanya.

Gadis cantik itu tersipu malu, wajahnya bersemu me-

rah. Ia tundukkan kepala. Malu.

Hampir saja setan berhasil memperdaya mere-

ka.

"Maafkan aku, puteri. Maafkan..."

Puteri Saba sama sekali tidak menyahut, wa-

jahnya semakin dalam tertunduk.

Tidak ada yang dapat disalahkan dalam hal ini.

Ia sendiri terseret dalam gelora cintanya pada Suro.

Cinta yang sudah tidak mampu ia sembunyikan lagi.

Kedua muda mudi itu saling terdiam. Lamaaaa

sekali





***





DELAPAN


Pendekar Kucar Kacir duduk gelisah, waktu itu

mereka sudah menyingkir cukup jauh juga dari istana.

Maling Jenaka sendiri sudah tidak sabar jika harus

menunggu lebih lama lagi. Apalagi Pangeran kocak ini

terkadang mencuri-curi pandang kepadanya.

Sebenarnya ia mengakui, Pangeran Demak Pati

cukup tampan juga, penampilannya sama sekali tidak

menunjukkan bahwa ia adalah putera mahkota. Ia se-

derhana dan bersahaja. Meskipun ada juga rasa suka

dalam hatinya. Rasanya ia lebih cenderung berat den-

gan si konyol Pendekar Blo'on.

Sayang sampai sekarang ia tidak tahu dimana

pemuda itu.

Terkadang ia merasa khawatir juga dengan ke-

selamatan pemuda berambut hitam kemerahan itu.

Namun ia lebih cemas lagi jika Suro bersama seorang

gadis. Seperti puteri Saba misalnya. Walau pun harus

di akui bahwa kecantikan Gadis tidak kalah bila di-

bandingkan dengan dirinya.

"Apa yang kau pikirkan, Maling, eh.... Gadis?

Kulihat keningnya berkerut seperti orang sakit perut

dan semburut. Apakah perlu diurut?" celetuk Pangeran Demak Pati.

"Bisamu hanya bercanda saja Pendekar Kucar

Kacir Hidupmu seperti tanpa, masalah dan beban, pa-

dahal persoalanmu belum lagi selesai" dengus Gadis, seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Masalahku memang rumit, kalau kupikirkan





kepalaku sakit. Rambut bisa rontok botak ubanan? La-

lu aku harus bagaimana?" sahut Pangeran Demak ter-

bodoh. "Setiap hari kerjamu hanya membesarkan taik mata melulu. Kau punya pikiran, tentu bisa kau pergunakan untuk cari jalan keluar, Pangeran sepertimu

pantasnya mati saja"

"Jangan kau menghinaku, jelek-jelek begini aku

Pangeran"

"Pangeran atau bukan kau sama saja tidak ada

gunanya. Pantasan Pangeran Suprana yang telah

mampus itu dapat memperdayamu, rasanya monyet

dungu pun bisa memperdayamu" ejek Gadis.

"Kau jangan keterlaluan. Pangeran Suprana itu

licik, otaknya kotor. Tapi sekarang ia sudah mampus

juga. Mengapa kau seperti tidak suka padaku. Ada apa

rupanya?"

"Aku cuma tidak suka pada tabiatmu yang ma-

sa bodoh, tidak perduli. Sudahlah, bosan aku berdebat

denganmu"

"Sukur, aku juga bosan kok." sahut Pendekar

Kucar Kacir seenaknya. Maling Jenaka duduk lagi ti-

dak jauh dari hadapan si pemuda. Tiba-tiba ia men-

dengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.

"Ssst Ada orang kemari" Lirih suara Gadis. Ia memberi isyarat agar Pangeran Demak tidak bicara

apa-apa. Malah Maling Jenaka berniat untuk sem-

bunyi namun terlambat. Dua sosok tubuh telah sam-

pai di depan mereka. Melihat siapa yang datang Maling

Jenaka gembira, tapi bila melihat gadis yang menyertai

pemuda baju hijau itu bibirnya cemberut. Cemburu

"Ah tidak kusangka, kalian enak-enakan paca-

ran di sini" celetuk pemuda baju biru alias Suro Blondo.





Maling Jenaka mendelik.

"Bicara kau sekali lagi kutampar mulutmu" ketus suara Gadis.

"Mengapa kalian lama sekali?" tanya Pendekar

Kucar Kacir. "Kau pacaran dengan adikku, ya?"

Puteri Saba hanya terdiam. Suro cengengesan

sambil garuk-garuk kepala.

"Jangan suka curiga, biasanya maling memang

selalu teriak maling. Padahal melihat caramu meman-

dang kau tidak dapat mungkir sebenarnya kau kan ja-

tuh cinta pada Maling Jenaka?" sahut Suro.

Wajah Gadis berubah merah seperti kepiting

rebus. Tiba-tiba ia melompat dan...

Plak

Ditamparnya Suro hingga membuatnya ter-

huyung-huyung. Pemuda itu mendelik. Tanpa disang-

ka-sangka...

Plook

"He he he Kedudukan harus sama, satu-satu."

kata Pendekar Blo'on sambil usap-usap pipinya.

"Kau berani lancang menuduhku begitu?"

"Gadis Aku bicara sungguhan, tidak percaya

tanya saja pada Pendekar pontang-panting itu?"

Gadis semakin marah.

"Benar kau jatuh cinta padaku?" tanya Maling

Jenaka alias Maling Cerdik.

Malu-malu Pangeran Demak Pati mengangguk.

"Entah mengapa aku jatuh cinta padamu Tadi

malam aku mimpi kejatuhan bintang, lalu kejatuhan

bulan, kemudian kejatuhan duren"

Suro langsung menanggapi. "Kalau begitu

mampuslah, kau" kata Suro. Gadis tidak dapat ber-

buat apa-apa mendengar kenyataan ini.

"Sudah... sudah... Mengapa kalian justru





memperdebatkan yang tidak perlu" Puteri Saba yang sedari tadi diam saja segera menengahi. Di sini jelas

tanda-tanda kepemimpinannya lebih menonjol di ban-

dingkan kakandanya. "Sekarang kanda harus jelaskan pada kami bagaimana keadaan istana saat ini?"

"Lebih baik kau tanyakan saja pada Gadis Dia

yang lakukan penyelidikan" ujar Pangeran Demak Pa-ti.

"Bagaimana saudari?"

Maling Cerdik tanpa menunggu lagi segera

menjelaskan apa yang dilihatnya. Pendekar Blo'on dan

puteri Saba mendengarkan penjelasan Gadis dengan

bersungguh-sungguh.

"Bagaimana menurutmu, Suro?" tanya puteri

Saba setelah mengetahui segala sesuatunya. Perlu di-

ketahui sejak kejadian malam tadi, puteri cantik ini

memang selalu menundukkan kepala bila bicara den-

gan Pendekar Blo'on.

"Aku punya satu cara, ini pun kalau kalian

mau melakukannya Aku tidak memaksa" ujar Suro.

"Bagaimana jika salah seorang diantara kalian masuk ke istana berpura-pura sebagai perempuan yang bersedia tidur dengan Singa Gunung atau lebih baik lagi

berpura-pura sebagai gadis yang membutuhkan per-

lindungan?" usul Suro. "Dengan begitu kita punya kesempatan menunggu di bawah kolong atau bersem-

bunyi di kamar yang selalu dipergunakan oleh Singa

Gunung untuk bersenang-senang"

"Usul itu sangat berbahaya, tapi terus terang

aku sendiri semula juga punya rencana begitu." sahut Gadis sependapat.

"Persoalannya sekarang adalah siapa yang akan

menyelinap ke sana. Jika aku, besar kemungkinan

Singa Gunung sudah mengenalku" kata sang puteri.





"Aku bisa melakukannya, tapi rasanya mau di-

taruh dimana mukaku ini?" kata Gadis tersipu-sipu

"Kalau begitu aku bersedia menyimpan muka-

mu untuk sementara" celetuk Suro Blondo.

"Konyol Jangan kau bergurau lagi" dengus Puteri Saba.

"Rasanya tidak ada jalan lain. Kita harus mela-

kukan apa saja yang dapat kita lakukan"

"Jadi kau mau?" Pangeran Demak Pati belalak-

kan mata seakan tidak percaya dengan apa yang di-

dengarnya. "Bagaimana jika aku saja yang menyamar

sebagai perempuan?" Pemuda baju putih itu menawar-

kan diri.

"Kau ini bagaimana? Apakah mau mampus?

Kau kan punya tebu dan jambu kakek itu juga punya

tebu. Kalau sampai ketahuan kau nggak bakal menjadi

orang Kau pikir enak jadi cacing tanah?" kata Suro Blondo. Semua langsung terdiam. Maling Jenaka sendiri jadi ragu-ragu. Namun bukankah dia punya banyak

keahlian?

"Tidak usah gelisah. Rencana itu tidak perlu ki-

ta jalankan Aku punya rencana lain" ujar Gadis.

Secara terperinci kemudian ia membeberkan

rencana yang sangat mungkin untuk dikerjakan. Ren-

cana itu memang masuk akal, mengingat Gadis adalah

seorang maling juga copet yang sangat lihai.

"Kami setuju Kami bertiga akan melindungimu

jika sampai terjadi apa-apa yang tidak diingini" kata yang lain-lainnya sependapat.

"Nanti bila keadaan sudah gelap kita mulai me-

nyelinap. Istana bagiku tidak asing, karena aku me-

mang mengetahui seluk beluknya" kata Pangeran De-

mak.





Demikianlah rencana itu telah sama mereka

sepakati. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu sa-

ja.



***



Matahari baru saja tenggelam di kaki bukit.

Keempat muda mudi itu kini telah bersiap-siap me-

lompati tembok istana. Tidak seorang pun di antara

mereka yang berani buka suara. Keadaan saat itu be-

nar-benar sangat mencekam sekali.

Baru saja mereka hendak bergerak. Terlihat

bayangan merah berkelebat ke arah orang-orang ini.

Gerakannya cepat luar biasa. Hingga beberapa saat sa-

ja ia telah berdiri di depan Pangeran Demak Pati. Lalu

terdengar suara seruan tertahan Suro Blondo.

"Guru..."

Ternyata yang datang memang Malaikat Be-

rambut Api. Si kakek rambut merah hanya menggu-

man tidak jelas. Puteri Saba, Pendekar Blo'on menjura

hormat dan segera diikuti oleh Gadis dan Pendekar

Kucar Kacir.

"Tidak usah memakai segala macam peradatan

Kalian hendak kemana?" tanya Malaikat Rambut Api.

"Orang yang melarikan pedang ada di dalam is-

tana, guru. Ia sedang bersenang-senang dengan wani-

ta-wanita bekas kekasih Pangeran Suprana. Kami baru

saja hendak menyusup kesana. Tujuan kami tentu me-

rampas pedang itu di saat dia lengah" jelas Pendekar Mandau Jantan.

"Tindakan itu memang patut dipuji. Cuma ada

yang kalian tidak tahu. Pedang Penebar Bencana ada-

lah Pedang Berdarah. Ia punya rahasia tertentu yang

harus kalian ketahui. Senjata itu punya pasangan lain

Pusaka Pembawa Rahmat. Dulu almarhum guruku Si





Bayang Bayang mengatakan telah menciptakan pasan-

gannya. Pusaka Pembawa Rahmat aku tidak tahu be-

rada di mana. Sedangkan Angku Muda Pasak Langit

itu sendiri kesaktiannya sangat tinggi. Jika Pusaka

Pembawa Rahmat ada di sini, tentu kilauan sinarnya

dapat memupus sinar pedang Penebar Bencana. Den-

gan begitu ia tidak akan dapat membuat orang-orang

di sekelilingnya celaka. Kita tidak bisa menunggu da-

tangnya sebuah keajaiban. Kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan muda. Aku akan melindungi usaha

kalian. Cara lain masih ada, andai pedang itu dapat

kalian rebut. Maka sepasang dari kalian harus meme-

gang rangka Pedang. Jangan kalian sempat bercerai

berai, karena hal itu dapat membuat kalian menjadi

debu." "Aku berpasangan dengan siapa guru? Apakah harus berpasangan dengan Pangeran goblok ini?"

tanya Suro.

"Laki-laki dengan laki-laki bukan pasangan.

Laki-laki pasangannya adalah perempuan. Jika pedang

telah berada di tangan kalian. Urusan Singa Gunung

adalah bagianku. Tugas kalian hanya memegang pe-

dang itu secara berpasangan." jelas kakek Dewana.

"Usul guru. Apakah pedang itu berat? Hingga

harus berpasangan? Bukankah lebih enak di pegang

sendiri?" ujar Suro.

"Kalian berempat tidak tahu betapa tingginya

ilmu yang dimiliki oleh kakang seperguruanku itu. Ji-

ka ia berhasil merampas pedang itu dari tanganmu.

Maka semua akan binasa. Sedangkan jika kalian ber-

dua berhasil memegang rangkanya saja. Walau pun

pedang itu sendiri dapat di rampas oleh Singa Gunung.

Cahayanya tidak dapat menghancurkan kita. Apa yang

aku katakan ini adalah segala kemungkinan yang bak-





al terjadi. Dalam hal ini aku lebih mempercayakan kau

bergabung dengan gadis baju hitam. Aku melihat dia

punya keahlian mencuri."

"Kalau begitu mari berangkat" kata Pangeran

Demak Pati.

Mereka berlima segera melompati benteng ista-

na. Dapat dibayangkan betapa tingginya kesaktian

Angku Muda Pasak Langit. Sampai-sampai Malaikat

Berambut Api yang sakti mandraguna saja khawatir

dengan keselamatan mereka.

Orang-orang ini kemudian menyelinap dari satu

ruangan ke ruangan yang lain. Mereka sempat berte-

mu dengan beberapa orang gadis yang dalam keadaan

ketakutan. Namun ketika melihat di antara mereka

ada Pendekar Blo'on, maka legalah hati gadis-gadis ini.

"Setan tua itu berada di mana?" tanya Suro pa-da salah seorang diantaranya.

"Dia ada di kamar lain sedang bersenang-

senang. Tapi tidak lama lagi ia pasti ke sini untuk

mengajak kami begini begitu" sahut gadis itu malu-malu. "Nah, kita hanya tinggal menunggu Sebaiknya kita bersembunyi. Biar Suro dan Gadis yang menyelinap di bawah kolong" kata kakek Dewana. "Kalian bersikaplah seperti biasa, kami akan menolong kalian

juga" kata Malaikat Berambut Api di tujukan pada gadis-gadis penghibur tersebut.

Setelah melihat gadis-gadis itu menganggukkan

kepala. Maka Malaikat Berambut Api segera menyeli-

nap pergi dengan di ikuti oleh Puteri Saba dan Pende-

kar Kucar Kacir.

Suro dan Maling Jenaka menyelinap ke bawah

kolong. Lama juga mereka menunggu. Akhirnya pintu

terbuka. Dari bawah kolong Suro dapat melihat keha-





diran seorang kakek tua berwajah angker. Wajahnya

ditumbuhi jambang dan bewok lebat dan sudah me-

mutih. Maling Jenaka keluarkan keringat dingin. Se-

dangkan Pendekar Blo'on menggerutu dalam hati.

"Orang ini sudah tua bangka. Bahkan mungkin

Malaikat maut sudah hampir menjemputnya. Heran-

nya aku dia lebih senang bermain becek."

Tidak lama Angku Muda Pasak Langit sudah,

merangkul salah seorang perempuan dari empat gadis

yang berada di dalam kamar.

"Mari kita bersenang-senang, gadis-gadisku"

kata si kakek. Bersamaan dengan itu pakaian-pakaian

si gadis berjatuhan. Tubuh mereka telanjang seperti

bayi. Lalu terdengar suara derit di atas ranjang. Sebe-

lum perbuatan maksiat itu berlangsung, Angku Muda

Pasak Langit meletakkan Pedang Penebar Bencana di

pinggir ranjang dan tidak jauh darinya.

Selanjutnya terdengarlah desah dan rintihan-

rintihan berbau kemaksiatan. Suro memberi isyarat

pada Maling Jenaka untuk segera bertindak. Sedikit

demi sedikit mereka bergeser. Ketika tangan Suro

menggapai, yang terpegang justru paha salah seorang

gadis yang dalam keadaan polos. Untung gadis itu ti-

dak menjerit. Suro memaki dalam hati.

"Tangan sial, kau kusuruh mencari pedang.

Bukan meraba paha gadis murahan"

Akhirnya ia berada di luar ranjang. Posisinya

dalam keadaan menelentang. Dua gadis yang berada di

bibir ranjang tentu terlihat olehnya. Wajah Suro me-

merah, matanya mencari-cari, hingga ia melihat pe-

dang itu. Cepat sekali diambilnya senjata maut itu.

Dengan sangat hati-hati sekali ia menyelinap

keluar bersama Maling Jenaka. Sampai di luar kamar,





sesuai pesan Malaikat Berambut Api pedang itu dipe-

ganginya bersama Gadis.

"Kita harus membawa pedang ini" bisik Suro.

Ia berjalan ke bagian ruangan depan. Tapi Maling Je-

naka memilih ke belakang. Sehingga terjadilah saling

tarik-tarikan.

"Kau ini bagaimana, kita ke depan..."

"Aku bilang ke belakang" sahut Maling Jenaka.

Beda pendapat ini hampir membuat mereka berteng-

kar. Untung Malaikat berambut Api muncul.

"Mengapa kalian berdebat. Cepat kalian ber-

sembunyi ke belakang. Jangan sampai salah seorang

dari kalian melepaskan pedang itu. Kalau kalian letih

Pangeran Demak dan adiknya bisa menggantikan ka-

lian" pesan Malaikat Rambut Api.

"Kakek sendiri hendak kemana?" tanya Suro

sebelum pergi.

"Bukan urusanmu Aku dan Angku Muda Pa-

sak Langit punya urusan yang harus segera diselesai-

kan" sahut si kakek.

Keempat muda mudi itu segera menghilang dari

pandangan Malaikat Berambut Api. Si kakek bergegas

menghampiri pintu.





***





SEMBILAN


Braaaak

Pintu didobrak dan hancur. Gadis-gadis yang

berada di atas ranjang memekik ketakutan sambil me-

nutupi auratnya masing-masing dengan apa saja yang

berhasil mereka raih. Singa Gunung saking kagetnya





melompat berdiri sambil raih pedang. Ternyata pedang

telah lenyap. Pucat wajahnya ketika melihat kenyataan

Pedang Penebar Bencana sudah tidak ada lagi disitu.

Ia raih pakaiannya. Dengan tergesa-gesa ia memakai

pakaian itu.

Sedangkan gadis-gadis yang menemaninya se-

gera berhamburan keluar kamar tanpa sempat mema-

kai pakaiannya.

Malaikat Berambut Api memperhatikan bekas

saudara seperguruannya ini dengan sorot mata tajam,

dingin menusuk.

"Jahanam, akhirnya kita bertemu juga" dengus Singa Gunung sinis.

"Dulu kita berpisah dalam keadaan memalu-

kan, dan kini kita bertemu dalam keadaan memalukan

pula. Angku Muda Pasak Langit Jika ada orang yang

paling biadab di kolong langit ini, kaulah orangnya.

Dulu kau bunuh guru kita, kemudian kau rusak ke-

hormatan adik sendiri, kau rusak pula wajahnya. Se-

hingga sepanjang sisa-sisa hidupnya ia menderita. Ke-

jahatanmu melebihi iblis, kebiadapanmu melebihi se-

tan Kau curi pedang Penebar Bencana, lalu kau reng-

gut nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Dalam

umurmu yang hampir di ujung batas kehidupanmu.

Kau sama sekali tidak pernah menunjukkan tanda-

tanda ingin bertobat"

"Cukup" Singa Gunung berang. "Dewana Jalan hidup kita sejak dulu memang berbeda, seperti

bumi dengan langit. Tuhan memberimu wajah tampan.

Sedangkan aku si buruk rupa, perjalanan nasib dan

cintaku juga tidak beruntung, penuh kesialan, malah

Sudah adilkah Tuhan memperlakukan aku seperti itu?

Kenyataan yang aku terima telah membuatku marah.

Apa artinya hidup ini jika penuh kesialan?"





Kakek Dewana tersenyum. Senyum pahit yang

melukiskan kesedihan hati juga kemarahan.

"Kau mempersoalkan sesuatu yang tidak abadi.

Hidupmu penuh kebencian, yang akhirnya hanya

mengundang angkara murka Singa Gunung, ku tahu

setinggi apa kesaktianmu. Namun kebenaran menga-

takan agar aku jangan bersurut menuntut balas atas

kematian guru dan juga atas perbuatanmu pada Gaya-

tri" ujar Malaikat Rambut Api dingin.

"Ha ha ha.... Aku tahu kau pasti menyuruh

muridmu mencuri pedang maut itu selagi aku lengah.

Bukan hanya kau saja yang punya murid." kata Singa Gunung penuh rasa bangga.

Namun sebelum ia berkata lebih jauh Malaikat

berambut Api sudah memotong.

"Muridmu yang bergelar Hantu Liang Lahat su-

dah mati di tangan muridku Sekarang tanpa Pedang

Penebar Bencana, kita akan mengadu kesaktian hing-

ga salah seorang diantara kita ada yang mati." dingin suara si kakek rambut merah.

"Keparat bermulut besar Kau lihatlah ini" teriak Angku Muda Pasak Langit.

Tiba-tiba saja Singa Gunung acungkan telun-

juknya ke arah tembok kamar. Tidak terlihat apa pun

melesat dari tangan Singa Gunung. Tiba-tiba pula

dinding tembok berlubang.

Mata kakek Dewana menyipit. Mulutnya meng-

gembung, lalu meniup. Tidak ada hembusan angin

yang keluar dari celah-celah bibirnya. Namun...

Brool...

Dinding di belakang Singa Gunung runtuh.

Sehingga terlihatlah halaman samping istana

melalui bagian besar dinding yang hancur.

"Itu adalah jalan keluar, Angku Muda Pasak





Langit Disana adalah kesempatan antara kau dan aku

untuk hidup atau mati" kata si kakek.

"Itu adalah yang kutunggu. Setelah sekian lama

terpisah, sekarang ada saat yang paling menentukan.

Sesungguhnya siapa yang paling pantas hidup di per-

mukaan bumi ini" sambut Singa Gunung.

Kemudian tanpa bicara apa-apa, Singa Gunung

keluar melalui dinding yang hancur itu. Malaikat Be-

rambut Api segera menyusulnya.

Di halaman samping istana yang hanya dite-

rangi oleh cahaya terang bulan purnama mereka saling

berhadap-hadapan.

"Huh..."

Singa Gunung mendengus. Ketika ia hantam-

kan tangannya ke tanah, terdengar dentuman keras.

Tanah berlubang besar.

"Disini kuburmu" teriak Angku Muda Pasak

Langit. Tidak mau kalah, kakek Dewana juga hantam-

kan tangannya. Sinar merah menghantam tanah di

sampingnya. Lagi-lagi terdengar ledakan dahsyat. Ta-

nah itu berlubang cukup dalam.

"Telah kusediakan pula kubur untukmu" den-

gus Malaikat Berambut Api. Manusia-manusia sakti

itu memang saling unjuk kesaktiannya masing-masing.

Jika Suro menyaksikan hal ini, pasti ia tercengang-

cengang karena takjubnya.

Tiba-tiba saja dua-duanya saling membentak.

Dua sosok tubuh melayang sama-sama mendekati.

Angin dingin berkesir. Lalu terjadi benturan hebat di

saat kedua tangan saling beradu.

Duung

Singa Gunung berjumplitan seperti terdorong

ke belakang. Kakek Dewana bersalto beberapa kali.





Kemudian menjejakkan kakinya tanpa kekurangan su-

atu apapun.

Singa Gunung kaget juga, bekas adik sepergu-

ruannya ternyata tidak menderita apa-apa. Padahal

tadi ia hantamkan pukulan Tangan Waja.

"Sebentar lagi segera kau lihat kematianmu"

teriak Singa Gunung. Ia segera putar-putar tangannya,

kedua tangan itu sebentar saja telah berubah semerah

bara. "'Ajian Sungsang Jiwa'" desis Malaikat Berambut Api. Tidak ada kemungkinan lain yang dapat me-

nandingi ajian yang membinasakan itu. Ia segera per-

gunakan jurus 'Neraka Pembasmi Iblis'. Salah satu ju-

rus dahsyat yang diciptakannya puluhan tahun silam.

Singa Gunung hentakkan kedua tangannya ke

arah lawan, Malaikat Berambut Api berteriak tinggi,

tubuhnya melesat secepat kilat. Seakan ia menyong-

song sinar maut yang membinasakan itu.

Kakek Dewana merasa tubuhnya seperti ter-

panggang api. Namun ia terus menerobos sinar tadi.

Lalu tangannya menghantam dada Singa Gunung.

Duuuk

Singa Gunung tergontai-gontai, tawanya malah

meledak. Malaikat Berambut Api hantamkan lututnya

ke perut lawan.

Dess

Bruuuuk

Tendangan itu mampu mendorong lawan bebe-

rapa langkah ke belakang. Hebatnya Singa Gunung

seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Padahal

Malaikat Berambut Api sudah mengerahkan setengah

dari tenaga dalam yang dimilikinya.

Singa Gunung membalas dalam pertempuran





jarak dekat. Dua kali tinjunya mendarat di wajah be-

kas adik seperguruannya. Malaikat Berambut Api, jan-

gankan roboh, bergeming pun tidak.

Akhirnya mereka pun mulai menyerang dengan

mengerahkan jurus-jurus andalan masing-masing. Se-

tiap serangan atau gerakan apapun selalu menimbul-

kan badai angin yang menggila menderu-deru.

Inilah pertarungan antara hidup dan mati to-

koh-tokoh tingkat atas yang benar-benar jarang terjadi

di rimba persilatan. Udara di sekeliling mereka pun

menjadi redup dipenuhi debu dan pasir yang berter-

bangan.

Setiap bentakan adalah gelegar suara yang me-

nulikan telinga. Pertarungan itu berlangsung cepat,

hingga dalam waktu singkat saja sudah melewati pu-

luhan jurus.

Waktu berlalu, berganti dengan pagi. Baik ka-

kek Dewana maupun Singa Gunung sama sudah men-

gerahkan segenap kemampuan yang mereka miliki.

Sebagian istana Pasundan porak poranda.

Sementara Suro dan Gadis yang sudah letih

memegang pedang mulai kasak-kusuk.

"Aku mengkhawatirkan keselamatan kakekku

Mereka bertarung hampir semalam suntuk. Aku pun

sudah letih menunggu, letih pula memegang pedang"

ujar Suro.

"Biar aku yang menggantikannya dengan kanda

Pangeran." kata puteri Saba.

"Peganglah, aku ingin melihat apa yang terjadi

di depan sana" Pendekar Blo'on segera menyerahkan pedang itu ke tangan Pendekar Kucar Kacir dan adiknya. Suro segera melompat ke depan.

"Sebaiknya kita ikuti dia" usul Pendekar Kucar Kacir.





"Jangan, hal itu sangat berbahaya." cegah Pute-ri Saba. "Kita disini hanya berdua, Maling Jenaka sudah menyusul ke sana" kata si pemuda tetap ngotot.

Puteri Saba akhirnya mengalah dan mengikuti

kemauan Pangeran Demak. Mereka berjalan beririn-

gan. Sampai di depan, Suro melihat pakaian gurunya

sudah tercabik-cabik. Sedangkan Singa Gunung sendi-

ri tampaknya sudah terluka. Mereka sudah sama-

sama letih,

Sebenarnya Pendekar Blo'on ingin terjun ke ka-

langan pertempuran. Namun ia tidak berani melaku-

kannya. Bukankah bila orang-orang gagah sedang ber-

tarung tidak boleh main keroyok seperti tokoh-tokoh

aliran sesat? Sekarang Suro hanya menunggu dan

menjaga segala kemungkinan. Ia kaget melihat Maling

Jenaka menyusulnya. Dan lebih kaget lagi ketika meli-

hat Puteri Saba dan Pangeran Demak menyusul pula.

Ini sempat di lihat oleh Singa Gunung. Kakek

tua yang dapat mengambil suatu benda dari jarak jauh

ini tiba-tiba menyentakkan tangannya. Pedang Penebar

bencana melayang ke arahnya dalam keadaan telan-

jang. Herannya pedang maut itu tidak memancarkan

sinar. Mungkin seperti kata kakek Dewana, bila rangka

pedang dipegang oleh sepasang insan berlainan jenis.

Maka senjata itu kehilangan kharismanya. Singa Gu-

nung tahu persis rahasia ini. Jadi caranya untuk

menghancurkan lawan, adalah membunuh terlebih

dahulu pemuda dan gadis yang memegang rangka pe-

dang itu.

Malaikat Berambut Api kaget melihat Pedang

Pemersatu sekarang telah berada di tangan Singa Gu-

nung. Suro, Maling Jenaka, puteri Saba dan Pendekar

Kucar Kacir juga tidak kalah kagetnya melihat pedang





bisa tercabut dari warangkanya, lalu melayang ke arah

musuh. Wajah mereka berubah pucat ketakutan.

"Kalian goblok dan tolol semua. Sudah kukata-

kan jangan menyusul kemari, sekarang akibat dari ke-

bodohan kalian bisa lihat sendiri" teriak si kakek gu-sar. "Jangan lepaskan rangka pedang itu" katanya memberi peringatan.

"Ha ha ha... Jika kubunuh mereka yang me-

megang rangka pedang ini. Berarti senjata ini akan

memancarkan cahaya lagi. Dan kalian yang ada disini

akan hangus semua" kata Singa Gunung.

Dengan cepat tubuhnya melesat, bukan menye-

rang Malaikat Berambut Api dengan pedang tersebut.

Ia bergerak ke arah puteri Saba dan Pangeran Demak.

Pendekar Blo'on cabut mandau dan merintangi ke de-

pan. Malaikat Berambut Api sadar betul apa yang akan

dilakukan oleh Singa Gunung. Ia ingin melakukan tin-

dakan penyelamatan, tapi jaraknya sangat jauh sekali.

Begitu pula ia masih memburu.

"Menyingkir pemuda tolol Atau... Hiya..."

Pedang Penebar Bencana meluncur terus ke pe-

rut Suro. Namun pemuda ini segera melompat ke

samping sambil menangkis dengan mandaunya.

Traang

Api memijar dari kedua senjata yang sempat

beradu tadi. Suro berguling-guling. Tangannya lang-

sung melepuh sedangkan mandau hampir saja terle-

pas. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Singa Gu-

nung, ia berbalik dan hantamkan pedang ke tangan

puteri Saba dan Pangeran Demak.

Hanya setengah jengkal lagi senjata maut itu

membabat putus kedua muda-mudi itu. Tiba-tiba ter-

lihat sinar putih berkelebat, sinar itu menangkis.

Trek





Singa Gunung menjerit, tubuhnya terpental.

Sinar putih yang ternyata memancar dari pedang te-

lanjang di tangan seorang nenek berwajah rusak telah

mendorongnya. Jadi bukan tenaga si nenek yang

membuatnya terjengkang. Nenek baju hitam berdiri

membelakangi Puteri Saba siap melindungi.

"Jangan salah seorang pun diantara kalian

yang lepaskan rangka pedang itu." kata El Maut men-gisiki. Sekarang perhatiannya beralih pada Singa Gu-

nung. Tua bangka yang membuatnya menderita lahir

dan batin.

"Pedang Pusaka Pembawa Rahmat..." desis

Singa Gunung kaget.

Ia sadar betul, meskipun ia memegang Pedang

Penebar Bencana, tanpa warangkanya posisi Singa

Gunung semakin lemah. Apalagi kini El Maut meme-

gang pedang Pembawa Rahmat yang merupakan senja-

ta pamungkas yang dapat menandingi pedang Penebar

Bencana. Dengan nekad ia bangkit berdiri. Dengan

senjata itu ia menyerang secara membabi buta. Malai-

kat Berambut Api sadar betul bagaimana pun El Maut

masih kalah dalam hal tenaga dalam dengan Singa

Gunung. Untuk itu ia tidak tinggal diam. Kakek ini le-

paskan ikat pinggangnya yang berwarna merah.

Mendapat serangan dari dua musuh bebuyutan

ini. Singa Gunung meskipun bersenjata pedang terde-

sak juga.

"Manusia-manusia pengecut. Kalian mengaku

sebagai golongan dan orang-orang terhormat. Memalu-

kan sekali ternyata kalian hanya bisa main keroyokan"

ejeknya.

"Jangan banyak bicara Kau harus mampus,

kau harus mampus" teriak El Maut sambil memba-





cokkan senjatanya.

Sinar putih berkelebat-kelebat. Sekejap saja

Singa Gunung telah terkurung sinar pusaka pembawa

rahmat. Singa Gunung hanya dapat menangkis tanpa

mampu membalas serangan yang dilakukan oleh dua

tokoh sakti ini. Kakek Dewana hantamkan ikat ping-

gang ke punggung lawan. Singa Gunung menangkis...

Traang

Dua-duanya terhuyung. Kesempatan ini diper-

gunakan oleh El Maut. Ia kibaskan senjata di tangan-

nya. Tees

"Akhhk..."

Darah menyembur, tangan Singa Gunung yang

memegang pedang terbabat putus. Ia sambil menjerit

kesakitan coba memungut pedang yang jatuh bersama

potongan tangan kanannya. El Maut sudah tidak

memberinya kesempatan.

Craas

Tangan kiri Singa Gunung putus lagi. Malaikat

Berambut Api segera memungut pedang Penebar Ben-

cana dan menyarungkannya ke dalam warangka yang

di ambilnya dari tangan kedua muda mudi itu.

Singa Gunung menjerit-jerit. El Maut dengan

penuh dendam membabat kaki orang yang dibencinya.

"Ini hadiah untukmu karena merampas kehor-

matanku Sedangkan yang ini pembalasan untuk

guru" teriaknya. Sekejap saja Singa Gunung telah kehilangan kedua kaki dan tangannya. Ia melolong-lolong

dalam keputus asaan dan rasa sakit yang mendera.

"Bunuh saja aku, bunuh" jeritnya.

"Aku memang akan membunuhmu Untuk wa-

jahku yang kau rusak, kepalamu gantinya"

Pusaka Pembawa Rahmat melayang lagi dan...





Crees

Kepala Singa Gunung menggelinding. Tubuh

tanpa tangan, tanpa kepala dan tanpa kaki menggele-

par. Kemudian diam. El Maut bermaksud mencincang-

nya. Tapi sebuah tangan mencegahnya.

"Jangan kau lakukan kekejian itu Gayatri. Dia

sudah mati" kata kakek Dewana dengan suara serak

menahan haru.

"Mengapa guru main keroyok?" tanya Suro me-

rasa tidak suka.

"Suro, persoalan kami dengan Singa Gunung

siapapun tidak boleh mencampuri. Ini termasuk uru-

san besar. Engkau sendiri takkan mampu menghadapi

uwa gurumu." jawab si kakek.

"Pemuda tolol itu muridmu?" tanya El Maut.

"Ia bahkan cucuku" sahut si kakek.

"Dan nenek adalah bibi guruku Meskipun ber-

saudara jauh, kalau di hitung-hitung puteri Saba ma-

sih kerabat juga." kata Suro sambil nyengir.

"Aku juga, Suro" kata Pangeran Demak tidak

mau kalah.

"Entahlah, jika harus mengakui, aku masih pi-

kir-pikir. Masalahnya kau Pangeran goblok sih"

"Kau sendiri tolol"

"Kalian sama saja" Gadis menimpali.

"Gayatri. Lupakanlah masa lalumu Berhubung

raja Jasa Raga adalah muridmu. Alangkah lebih baik

kau urus putra putrinya. Mereka memerlukan bimbin-

ganmu. Bantu mereka, dan kalau Gadis mau rasanya

ia pantas berjodoh dengan Pangeran Demak Pati agar

pemuda ini tidak mengembara melulu." kata si kakek sambil melirik ke arah Gadis. Maling Jenaka tersipu-sipu. "Aku, guru...?" tanya si konyol sambil nyengir.





"Kau, boleh-boleh saja. Nanti setelah lebaran

monyet" ucap si kakek sambil berkelebat pergi.

"Kau dengan adikku saja, bagaimana?" tawar

Pendekar Kucar Kacir.

Suro garuk-garuk kepala.

"Iya, nanti. Kata guru setelah lebaran monyet"

Waktu itu Gadis berbisik-bisik pada nenek El Maut,

"Lebaran monyet tidak pernah ada. Kau dikada-

li gurumu" kata Pendekar Kucar Kacir. Seraya menyerahkan mahkota kerajaan pada adiknya.

"Ha ha ha... Entahlah, aku bingung" Suro menyahuti. Ia segera berkelebat pergi. Puteri Saba merasa Suro sempat menempelkan telunjuknya di bibir sang

puteri. Gadis itu meraba bibirnya, ia merasa ada sesu-

atu yang hilang dari hatinya. Ini membuatnya sedih.

"Suro, tungguu..." Gadis mengejar ke arah

menghilangnya pemuda itu. Pangeran Demak jadi

khawatir.

"Maling Jenaka Akh... nenek, bagaimana ini.

Mengapa Gadis yang kucintai malah menyusul monyet

gondrong itu?" katanya kecewa.

El Maut untuk pertama kalinya tersenyum.

"Hust, diamlah. Tadi ia sudah berbisik padaku.

Mungkin dia mau menerimamu sebagai suaminya. Ta-

pi ia harus bicara dengan Suro dulu" kata El Maut.

Pangeran Demak Pati kegirangan. Sedangkan

puteri Saba hanya diam. Tatapan matanya sendu me-

mandang ke arah perginya Suro.

Dua purnama kemudian pesta pernikahan an-

tara Pangeran Demak Pati dengan Gadis berlangsung.

El Maut yang merestui hubungan mereka. Pedang Pe-

nebar Bencana diserahkan pada puteri Saba oleh El

Maut. Sedangkan pedang Pembawa Rahmat dipercaya-

kan pada Pangeran Demak. Kedua kakak beradik ini





membangun kerajaan dengan dibantu Gadis. Dalam

pimpinan puteri Saba, kejayaan kerajaan dapat pulih

sebagaimana dulu ketika ayah mereka masih hidup.

Hal ini juga tidak luput dari bantuan nenek El Maut.

Puteri Saba ternyata memang tidak dapat me-

lupakan Suro, pemuda yang pernah memberi sentuhan

indah padanya. Dalam kesendiriannya, puteri me-

manggil seorang ahli lukis untuk membuat gambar Su-

ro Blondo. Begitu dalam cintanya, hingga gambar pe-

muda itu dipajang di kamar pribadinya. Akankah puteri Saba yang jelita, baik hati dan lembut itu bertemu dengan Pendekar Blo'on? Hanya waktu yang akan menjawabnya.


TAMAT


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...