Selasa, 11 November 2014

PENDEKAR BLOON - Eps.2 Bayang-bayang Kematian

PENDEKAR BLOON
Episode.2
BAYANG-BAYANG KEMATIAN

Oleh : D. AFFANDY

1
Berdirinya sebuah singgasana kecil di gunung Bromo
dengan sepak terjangnya yang ganas tanpa pandan bulu, 
telah menarik perhatian seoran tokoh sesat dari daerah 
Ponorogo.
seorang laki-laki memakai baju hitam ikat kepala warna 
hitam. Tubuhnyatinggi semampai berotot Rambut, kumis 
jambang dan jenggo berwarna hitam.
Walaupun umurnya sudah mencapai hampir enam puluh 
tahun.
Tapi ia kelihatan masih gagah, langkahnya tegap.
Wajahnya yang angker hampir

tanpa senyum, karena memang sepanjang

hidupnya ia tidak pernah tersenyum.

Adapun tujuan laki-laki ini

adalah ingin bergabung dengan penguasa

gunung Bromo. Yang kabarnya merupakan

tokoh-tokoh aliran hitam yang sangat

kuat di samping memiliki jago-jago

bayangan sekaligus pengawal-pengawal

dalam jumlah tidak terbatas.

Sudah empat hari Warok Batiroso

melakukan perjalanan bersama gemblak-

nya (Gemblak istri yang terdiri dari

kaum sejenis). Bila sang gemblak ini

letih, tidak segan-segan

Warok

menggendongnya. Ia sangat sayang pada

Gemblak ini karena wajahnya yang

sangat tampan disamping memiliki

ilmu silat tinggi.

"Hari sudah siang. Kurasa gunung

Bromo tidak jauh lagi dari sini,

istriku. Aku jadi ingin cepat-cepat

sampai ke sana"

"Jangan terlalu berambisi, Kakang

Warok. Lihatlah ke langit, Undan milik

kita masih jauh tertinggal di

belakang. Kakang lari laksana terbang,

tidak tahu siang tidak perduli malam"

"Undan (Sejenis burung bangau

berbulu hitam, tapi besar bukan main) kita itu semakin tua semakin lamban.

Terkadang aku malas membawanya serta.

Tapi binatang itu selalu ngotot dan

mau ikut juga ke mana aku pergi"

Warok Batiroso mengomel. Dalam

hidupnya sang Undan merupakan makhluk

kedua yang sangat dia sayangi setelah

Gemblaknya sendiri. Sekaligus binatang

ini merupakan pengawal setianya.

"Jangan terlalu tergesa-gesa.

Tidak akan lari gunung dikejar. Ada

baiknya jika kita istirahat dulu"

Kening Warok Batiroso mengerut

dalam ia melirik pada sang Gemblak

bernama Panaran itu. Kemudian seraya

anggukkan kepala tanda setuju, Warok

Batiroso mengambil buli-buli tuaknya.

Kemudian menikmatinya seteguk demi

seteguk. Sang Warok kemudian menyo-

dorkan daging panggang yang mereka

bekal sejak dari Ponorogo beberapa

hari yang lalu.

Sedang mereka istirahat melepas

lelah, di atas mereka tiba-tiba

terdengar suara menggemuruh seperti

angin puting beliung.

Tanpa melihat sekalipun tentu

sang Warok sudah tahu bahwa suara itu

timbul akibat kepakan sayap sang

Undan. Hanya anehnya kali ini binatang

yang sangat besar itu menguik keras.

Suaranya berisik memekakkan gendang-

gendang telinga.

Ini adalah sebuah kebiasaan

sebagai isyarat bahwa di tempat itu

ada orang lain selain mereka berdua.

Warok Batiroso tiba-tiba mendongak ke

langit.

"Turunlah kekasihku. Jika penda-

tang bermaksud baik tentu ia tunjukkan

diri. Kalau cari penyakit, tuanmu ini

tidak

segan-segan mengirimnya ke

neraka"

"Ngiiiiikkh..."

Sang Undan memperdengarkan suara

menguik keras. Sayapnya dikepak-

kepakkan hingga menimbulkan deru angin

yang sangat keras.

Dalam pada itu di balik kerim-

bunan pohon terlihat seorang gadis

cantik dengan tahi lalat di dagu dan

berbaju kuning gading melompat keluar.

Dan hanya beberapa kali lompatan saja

gadis itu telah berada di depan Warok

Batiroso.

Laki-laki berbadan tegap ini

memandang kehadiran si gadis dengan

tatapan tidak suka. Ketika ia bicara,





suaranya serak sember.

"Katakan apa maumu? Mengapa

mengintip orang yang sedang melepas

lelah?"

Gadis berbaju kuning gading yang

tidak lain adalah Dewi Bulan ini

tersenyum. Seraya memandang Panaran

sekejap, setelah itu menoleh ke arah

Undan yang terus berputar-putar liar

di udara.

"Aku bukan mau mengintipmu,

Kisanak Aku sedang pergi menuju ke

suatu tempat tidak jauh lagi dari

sini. Jadi teruskanlah istirahatmu,

aku akan meneruskan perjalananku"

Dewi Bulan baru saja hendak

melanjutkan perjalanannya ketika di

belakangnya terdengar suara membentak.

"Berhenti..."

Mau tidak mau gadis ini hentikan

langkahnya tapi tidak menoleh ke

belakang.

"Kalau ingin bicara, bicaralah,

aku tidak punya banyak waktu"

"Gadis sombong Kau hendak ke

mama, katakan tujuanmu Bukankah

tempat terdekat dari sini adalah

gunung Bromo? Apakah kau mau ke sana?"

"Pertanyaanmu banyak sekali. Mana

yang harus kujawab?"

"Jangan banyak mulut Katakanlah

ke mana tujuanmu"

"Aku mau ke gunung Bromo. Apakah

itu sudah cukup?"

"Lagakmu tengil seperti bayi

kebesaran upil Aku tahu kau pasti

minta ingin bergabung dengan penguasa

gunung Bromo. Hak hak hak Tujuan kita

sama. Jika kita punya nasib baik,

tentu kelak kita bisa bersahabat"

Maka tertawalah Dewi Bulan

mendengar ucapan si baju hitam.

"Siapakah namamu, Kisanak?"

"Mengapa kau tanya nama? Aku

Warok Batiroso dari Ponorogo."

"Warok sama dengan jagoan jika

menyimpang dari kodratnya. Terus

terang, Kisanak. Aku pergi ke gunung

Bromo justru untuk menagih hutang nyawa pada para iblis yang bercokol di

sana. Jadi tujuan kita jelas jauh

berbeda"

Warok Batiroso terkesiap men-

dengar ucapan Dewi Bulan. Sebaliknya

Undan yang terus terbang berputar-

putar di atas Dewi Bulan mencuik

keras. Kepakan sayapnya pang keras

saja membuat pakaian Dewi Bulan

berkibar-kibar. Dan muka gadis itu

terasa perih bukan main.

"Hmm, kita punya tujuan berbeda.

Jauh dari tanah kelahiran aku telah

berjanji untuk menghambakan diri pada

mereka. Walaupun mereka belum menerima

kehadiranku. Adalah pahala besar jika

aku membunuhmu untuk mereka" geram

sang Warok.

Dalam pada itu sang gemblak pun menimpali pula. "Bagus, bunuh saja,

Kakang. Jika tidak dibunuh sekarang

nanti pun jadi penyakit bagi kita"

"Heee... kau. Manusia salah

kaprah yang menyalahi kodratnya. Cap

lonceng lawan cap lonceng. Jangan ikut

campur jika tidak ingin mampus"

damprat Dewi Bulan sengit,

Disindir begitu Panaran rupanya

tidak terima. Ia bangkit berdiri lalu

cabut keris pendek berwarna hitam dari

balik bajunya. Sebelum laki-laki ini

bertindak, Warok Batiroso mencegah.

"Jangan buang-buang keringat

istriku Untuk membunuh bocah tengil

ini, paman Undan sudah cukup mewakili

kita."

Warok Batiroso tiba-tiba menjen-

tikkan tangannya. Undan yang berputar-

putar di atasnya menguik keras.

Tubuhnya berputar-putar melayang ren-

dah. Isyarat yang diberikan oleh sang

majikan itu rupanya sangat dimengerti oleh

sang Undan sebagai isyarat

membunuh.

Bukan main cepatnya gerakan

burung besar ini. Dalam waktu yang

singkat sekali ia sudah menyambar

dengan paruh terbuka ke arah Dewi

Bulan.

Gadis ini terkesiap. Sambaran

angin yang sedemikian keras itu saja

sudah membuatnya tergontai-gontai.

Ia terpaksa melompat sambil





berguling-guling. Dewi Bulan selamat

dari patukan paruh sang Undan yang

panjang dan runcing. Tapi kepakan

sayapnya

membuat dada sang dara

seperti terhimpit batu gunung.

Dewi Bulan tiba-tiba saja mem-

bentak keras. Ia hantamkan dua

tinjunya ke depan. Seleret sinar biru

melesat dari telapak tangannya. Sinar

yang disertai deru angin ini panas

bukan main. Tapi seperti sudali

mengerti

bahaya yang mengancamnya

saja, Undan ini kepakkan sayapnya yang

lebar. Hingga pukulan yang dilepaskan

oleh Dewi Bulan buyar, mental dan

sebagian

lagi

berbalik

nyaris

menghantam diri sendiri.

Gadis itu berguling-guling.

“Bumm Bumm"

"Kurang ajar" gerutunya dalam

hati.

Dewi bangkit berdiri. Kali ini ia

mencabut pedang pendek dari ping-

gangnya. Pedang danda ini diputarnya

sedemikian rupa hingga menimhulkan

suara menderu-deru dingin sekali.

Di tangannya pedang kembar itu

seakan berubah menjadi banyak. Warok

Batiroso tergelak-gelak. Namun kagum

juga melihat permainan pedang si gadis

yang begitu cepat dan berbahaya itu.

Jika saja hanya orang yang mempunyai

kepandaian biasa yang melihat

permainan pedang Dewi tentu mereka





tidak dapat membedakan yang mana

bayangan dan yang mana aslinya. Tapi

karena Warok Batiroso tertokol berke-

pandaian tinggi dan sangat terkenal di

daerahnya. Jadi permainan serta jurus-

jurus pedang Dewi hanya berupa

gerakan-gerakan yang sangat menga-

gumkan.

"Bunuh" Teriak Warok Batiroso

pada Undan yang terus berputar mencari

kelemahan jurus pedang 'Kupu-Kupu

Menari Di Atas Bunga Matahari'

tersebut.

"Keeek Kreeekkh"

Undan itu memekik keras mengge-

tarkan dada Dewi. Sayapnya kembali

mengepak

membelah udara memedihkan

mata.

Dewi mengerahkan tenaga dalanmya

untuk melindungi sekujur tubuhnya dari

hantaman sayap sang burung. Tidak lama

kemudian ia menggenjot tubuhnya,

hingga sekejap saja tubuhnya telah

melayang di udara. Karena burung itu

terbang rendah, begitu pedang pendek

di tangan Dewi berkiblat, maka angin

menderu disertai sinar putih berkiblat

menebas.

Namun Undan itu telah mengangkat

sayapnya sehingga tebasan pedang Dewi

luput. Gadis itu tidak mau ambil

resiko. Ia alihkan pedang ke tangan

kiri. Lain tangannya menghentak ke

atas. Pada saat burung itu melayang,





pukulan Gempa Merbabu menghantam.

"Brass"

"Kreaaakkh"

Tubuh sang Undan terguncang. Dewi

melesat turun dan menjejakkan kedua

kakinya di tanah dengan mulus sekali.

Undan tersebut agaknya menjadi marah

sebagaimana pemiliknya. Ia terbang

tinggi,

hingga bentuknya berubah

mengecil. Hanya dalam sekedipan mata,

binatang yang sudah sangat terlatih

itu menukik turun. Bukan main gerakan

burung besar ini. Sampai-sampai ham-

pir tidak terlihat kasat mata karena

cepatnya.

Dewi begitu merasakan sambaran

angin langsung melompat ke samping.

Tapi kepakan sayap burung yang seakan

menendang tidak sempat dihindarinya.

Braak

"Glebuk"

Dewi jatuh terguling-guling. Ia

merasa dada dan punggungnya seperti

remuk. Warok Batiroso melihat ini

terlonjak girang dan semakin

bersemangat.

"Bunuh dengan perahumu" perin-

tahnya.

"Kreaakk..."

Sang Undan menyahuti dengan

pekikan keras. Ia tidak lagi berputar.

Melainkan terbang serendah-rendahnya

sambil mematuk dahsyat ke arah batok

kepala Dewi.





Gadis ini pasti akan kehilangan

kepalanya jika pada saat yang sangat

kritis itu tidak melesat sebuah benda

berwarna hitam panjang menderu kencang

ke arah paruh sang burung.

Begitu kencangnya hingga Undan

itu sendiri tidak sempat melihat

bahaya ini.

"Taak"

"Kreaakkkk..."

Sang Undan menjerit keras ketika

benda hitam menghantam ujung paruhnya.

Patukannya gagal, selain itu ia

golang-golengkan kepalanya karena

didera rasa sakit bukan kepalang.

Terbangnya menjadi oleng, lalu

membumbung tinggi semakin bertambah

tinggi hingga lenyap dari pandangan

mata.





2


Kejut hati Warok Batiroso bukan


kepalang. Seseorang yang bisa me-

nyerang burung perkasanya itu tentu

merupakan

mereka yang mempunyai

kepandaian tinggi. Tapi ketika ia

melihat ke samping kiri, orang yang

berdiri di situ sambil cengar-eongir

bertolak pinggang hanya seorang pemuda

berambut hitam kemerahan bertampang

tolol. Sungguh pun ia harus mengakui

bahwa pemuda itu lebih tampan dari

Gemblaknya sendiri.





"Tidak ada hujan tidak ada angin.

Hanya orang gila yang cari penyakit

kalau berani mencampuri urusan orang

lain" bentak Warok Batiroso.

"Karena gadis baju kuning itu

kawanku. Masak aku harus melotot saja

melihat dia kehilangan kepala?"

"Hmm, rupanya kau kawannya?"

Suro Blondo garuk-garuk kepala,

lain memandang pada Dewi Bulan yang

melotol, kepadanya.

"Bagus, kurasa tujuanmu tidak

jauh beda dengan tujuan gadis ini.

Sebutkan namamu dan apa gelarmu?"

"Gelar tidak perlu, namaku Suro

Blondo" kata Pendekar Blo'on.

"Heh... Rupanya kau yang dika-

barkan sebagai anak ajaib yang

terlahir pada malam satu Asyuro

delapan belas tahun yang lalu?

Kebetulan sekali aku ingin tahu apa

kehebatan yang tersimpan di balik nama

dan kelahiran yang menggemparkan

dulu" geram Warok Batiroso hampir

tidak dapat menahan tawanya.

"Ha ha ha Yang membuat gempar

adalah tikus-tikus sesat sepertimu.

Mereka kemaruk ingin punya murid

sepertiku. Heh... apakah kau tidak

kasihan membawa-bawa istrimu yang

bunting itu?"

Merasa disindir begitu rupa, baik

Warok Batiroso dan Panaran jadi sangat

tersinggung sekali.





"Keparat"

Warok Batiroso hendak mengemplang

kepala Suro. Tapi pemuda ini mena-

hannya

"Tunggu?"

"Apa lagi?"

"Bertarung dengan manusia ajaib

seperti ku ada waktu dan batasnya.

Kalau waktu yang sudah sama-sama kita

sepakati telah berakhir. Artinya kau

kalah jika tidak mampu merobohkan

aku. Sebaliknya jika kau memang aku

bersedia menjadi kacungmu"

"Kalau aku kalah?"

"Kalau kalah kau harus menyem-

bahku tujuh kali setelah itu segera

merat dari hadapanku"

"Ha ha ha" Warok Batiroso

tergelak. Ia yakin dengan kemam-

puannya. Pemuda di depannya walau tadi

sempat ia lihat kehebatannya pasti

tidak sampai lima jurus ia akan

menjadi pecundang. Apalagi mengingat

wajah pemuda itu tampan. Paling tidak

jika ia dapat mengalahkannya, selain

Warok punya kacung pemuda itu dapat

pula dijadikan selirnya.

"Bagaimana, apakah kau setuju?"

tanya Pendekar Blo'on.

"Setuju. Berapa jurus kau

tawarkan?"

"Sepuluh," jawab Suro Blondo.

"Aku menawar lima."

Pendekar Blo'on menyeringai,





kemudian tertawa sambil pencongkan

mulutnya. "Kau menawar paling sedikit, jangan menyesal nanti kalau juraganmu

ini harus mengemplang kepalamu pulang

pergi, Warok..."

"Banyak mulut"

"Tuuing..."

Warok mengemplang mulut si

pemuda. Tapi Suro sudah tarik mulutnya

ke belakang. Lalu ia geser langkahnya

ke samping kiri. Tinjunya menghantam

dada sang warok. Laki-laki ini menepis

dengan gerakan ringan tapi tangan

dialiri tenaga dalam tinggi. Suro tak

mau mengambil resiko. Lalu putar

tangan ke samping. Tendangan kaki

kanan menghantam perut.

Warok Batiroso terkejut sekali.

Ia melompat ke belakang. Justru pada

saat si pemuda hantamkan lagi

tangannya ke dada lawan.

Tendangan dapat dihindari, tapi

tinju lawannya menghantam telak dada

sang Warok.

Karena hantaman itu cukup keras,

Warok biar pun badannya besar tetap

saja terhuyung ke belakang. Merah

wajahnya menerima kenyataan ini. Ia

kertakkan rahangnya, lalu tangan kanan

diputar cepat. Inilah jurus 'Kalinding

Bencana'. Sebuah jurus andalan yang

sangat diyakini kehebatannya.

Serasa tangan lawan semakin lama

semakin bertambah cepat. Hingga tangan





,yang berputar dan menimbulkan

gelombang angin menderu-deru ini

semakin lama seakan berubah menjadi

banyak.

Pendekar Blo’on telah kerahkan

jurus 'Kera Putih Memilah Kutu' Salah

satu jurus konyol warisan gurunya

Penghulu Siluman Kera Putih.

Seketika tubuh si pemuda

terhuyung-huyung. Tangan kirinya tidak

henti menggaruk sana-sini. Sedangkan

tangan kanan moncecar mata sang Warok.

Kaki si pemuda terus bergerak lincah.

Terkadang posisinya setengah berjong-

kok sambil melompat-lompat. Tapi

begitu serangan lawan semakin meng-

hebat, ia berguling-guling sambil

menunjuk-nunjuk ke langit.

Bibir si pemuda berkomat-kamit.

Terkadang keluar suara mendesis atau

ngak ngik nguk seperti suara seekor

monyet yang ribut. Lalu dalam keadaan

tetap berguling-guling itu ia mele-

paskan tendangan beruntun menyapu kaki

sang Warok.

Serangan-serangan gencar yang

dilakukan oleh Warok Batiroso selalu

luput. Sebaliknya serangan baiik yang

dilakukan oleh lawannya nyaris meng-

hantam tempat-tempat yang berbahaya.

Tidak ayal lagi, Warok Batiroso jadi

uring-uringan.

Sementara itu Dewi Bulan juga

rupanya tidak tinggal diam. Ia





melabrak Panaran gemblak sang Warok

dengan serangan-serangan yang sangat

ganas. Panaran yang sempat melihat

Dewi Bulan sempat kucar kacir mendapat

serangan sang Undan sama sekali tidak

menyangka. Kini gadis itu berubah

menjadi hebat tanpa mempergunakan sen-

jata. Kini secara pelan ia menyadari

bahwa gadis ini mempunyai jurus-jurus

yang sangat berbahaya bila tidak

mendapat serangan dari udara.

Dalam waktu singkat pertempuran

sudah berubah menjadi seru. Sebaliknya

Panaran sudah mencabut keris kecil

lekuk tiga begitu mendapat tekanan

dari lawannya. Keris berwarna hitam

mengandung racun keji ini menderu-deru

menimbulkan sinar hitam dan menebar

bau amis. Pertanda bahwa senjata

lawannya mengandung racun yang sangat

keji.

"Aku tidak mungkin bertangan

kosong terus menghadapi senjatanya

yang mengandung racun itu," pikir Dewi Bulan.

"Sriing Sring"

"Heaaa..."

Dewi Bulan membentak keras,

tubuhnya melesat ke depan. Sedangkan

pedang kembar pendek yang baru

dicabutnya menusuk ke arah leher lawan

sedangkan satunya lagi menebar ke

perut Panaran.

Mendapat serangan dahsyat dalam





waktu bersamaan ini sempat terkesiap

juga. Namun laksana kilat ia

membanting tubuhnya ke samping kiri

lalu lepaskan tendangan ke pergelangan

tangan lawannya.

"Duuk"

"Eeeh..."

Walau pedang di tangan kanan

sempat tergetar dan pergelangan yang

kena tendangan terasa remuk. Tapi

pedang di tangan kirinya terus melaju

mengancam dada Panaran. Laki-laki ini

mengegoskan tubuhnya. Tidak urung....

"Reeek..."

"Uuh..."

Panaran mengeluh pendek. Bahunya

yang kena sambar ujung pedang Dewi

robek. Selir sang Warok menggerung

marah. Lalu bangkit berdiri, tanpa

menghiraukan luka yang dideritanya ia

menyerang kembali dengan serangan-

serangan yang lebih gencar.

Dewi Bulan tidak mau kalah. Ia

kerahkan jurus pedang 'Walet Menyambar

Buih'. Salah satu jurus terhebat

dengan fungsi menggempur dan bertahan.

"Wukk Wukk"

Kilatan sinar pedang itu



memedihkan mata Panaran. Sinar hitam

yang memancar dari keris Panaran

seakan terdorong dan meredup. Hanya

dalam kejapan mata saja Panaran telah

terkurung. Di lain saat

kerisnya

membentur pedang di tangan Dewi Keris





mustika itu terpental. Di saat itulah

Pedang di tangan Dewi menempel di

dadanya. Kalau Dewi Bulan mau, tentu

jiwa Panaran sudah tidak dapat

diselamatkan lagi.

"Aku mengaku kalah" desisnya

dengan muka pucat ketakutan.

"Lain kali jika bertemu dengan

kau. Kepalamu akan kupenggal" dengus Dewi Bulan sambil memasukkan pedang ke

rangkanya.

Sementara itu pertarungan antara

Warok Batiroso dan Pendekar Blo'on

sudah mencapai puncaknya. Sang Warok

yang menjanjikan waktu selama lima

jurus kini telah melewatinya sampai

empat puluh jurus. Rupanya ia tetap

penasaran juga. Karena sejak tadi ia

hanya mampu membuat lawan jatuh

tunggang langgang dan muntah darah.

Sebaliknya Suro Blondo dengan

mengandalkan jurus-jurus yang kocak

dan konyol berulang kali menghantam

sang Warok hingga membuat laki-laki

ini menderita luka dalam cukup serius.

Tokoh dari Ponorogo ini rupanya

tidak mau menyerah begitu saja. Kini

sambil menyeringai kesakitan ia

keluarkan golok panjang besar, tipis

tajam mirip golok milik tukang jagal.

"Bocah Kuakui jurus-jurus

silatmu yang aneh dan dahsyat itu.

Tapi aku tidak mungkin membatalkan

niatku untuk bergabung dengan penguasa





gunung Bromo sebelum menjajal

kehebatan golokku ini"

"Ha ha ha Aku bosan tawar

menawar denganmu, kurasa kau tidak

akan tepat janji lagi. Mau pergunakan

Undanmu yang sudah terluka untuk

mengerokku silakan. Mau pergunakan

seribu senjata masa bodoh"

"Kau terlalu memandang enteng

padaku Hiyaa..."

"Aku selalu memandangmu berat dan

tinggi Warok Weiit... hampir saja

ambrol bakul nasiku..." jerit si

pemuda sambil melompat ke belakang

selamatkan perutnya dari hantaman

golok besar lawannya.

"Wik Wik Wik"

"Ngung Ngung Ngung"

"Eiit Hampir saja..."

Suro Blondo bersalto ke udara

ketika golok di tangan Warok Batiroso

membabatkan goloknya terarah ke bagian

kakinya. Masih dalam keadaan berjum-

palitan di udara tanpa diduga-duga

sang Warok mengejarnya. Tentu sangat

sulit bagi Suro untuk menghindarkan

diri dari bahaya. Sehingga ia



mencabut senjata andalannya berupa

Mandau Jantan berwarna hitam dari

balik pakaiannya. Senjata dengan empat

sisi

lubang miring pada bagian

tengahnya dan mempunyai ujung ganda

ini menderu membelah udara. Seketika

terdengar suara rintih tangis yang





menyayat hati. Suara rintihan itu

berubah menjadi jeritan yang menya-

kitkan gendang-gendang telinga ketika

si pemuda menyalurkan tenaga dalamnya

ke gagang Mandau Jantan tersebut.

Warok Batiroso terkesiap, dadanya

bergetar dan langsung terasa sesak. Ia

berusaha mengerahkan tenaga dalamnya

untuk menghilangkan pengaruh aneh yang

memancar dari senjata lawan. Tapi

hingga sejauh itu ia tidak mampu juga

melakukannya.

Warok kiblatkan senjatanya,

terjadi benturan hingga menimbulkan

bunga api.

"Raap"

"Traak Traak"

Benturan keras itu membuat

maaing-masing lawan terpental jauh.

Warok

Batirono

jatuh

terduduk.

Sedangkan Suro Blondo masih mampu

menjejakkan kakinya dengan baik di

atas tanah.

Ketika Warok Batiroso melihat ke

arah goloknya maka terkejutlah tokoh

dari Ponorogo ini. Golok mustika di

tangannya telah terbabat putus menjadi

dua. Wajahnya berubah pucat, sadarlah

ia kalau pemuda itu mau sejak tadi

bukan saja goloknya yang buntung

menjadi dua, tapi juga kepalanya bisa

copot dari badannya.

Ketika ia memandang ke arah si

pemuda, maka terlihatlah dengan jelas





bahwa pemuda itu baru saja memasukkan

senjatanya yang berbrentuk

dan

mengeluarkan suara aneh tersebut ke

dalam sarungnya.

Pendekar Blo'on seka keningnya.

"Apakah kau masih tetap penasaran

juga, Warok?"

"Hmm, kalau tidak melihatnya

sendiri mana aku bisa percaya. Kau

masih muda tapi sudah mempunyai

kepandaian beragam. Ternyata kau me-

mang bukan pemuda lemah. Kepandaianmu

mustahil dapat kuimbangi walau aku

belajar lima belas tahun lagi. Aku

mengaku kalah padamu, sesuai janjiku

aku membatalkan niatku untuk bergabung

dengan penguasa gunung Bromo. Di

mataku, kau pantas menyandang gelar

Pendekar Blo'on...."

"Ha ha ha... Untuk menerima

julukan yang sama, berarti aku harus

memotong kambing lagi. Apa pun yang

kau katakan, kuharap kau tidak

melupakan janjimu..."

"Oh tentu saja tidak" Warok

Batiroso tiba-tiba menjatuhkan diri

dan berlutut sebanyak tujuh kali.

Ketika sang Warok bangkit kembali,

seraya berkata: "Jika kau menjambangi Ponorogo dan dapat kesulitan. Kau

cukup menyebut namaku dan orang tidak

ada yang berani mengganggumu"

"Hmm, aku berterima kasih sekali.

Semoga kau panjang umur, Ki. Banyak





rejeki, enteng jodoh, panjang rambut,

panjang kumis dan panjang pula kau

punya..." ujar Suro Blondo sambil

garuk-garuk kepalanya.

Sesungguhnya Warok Batiroso

mendongkol juga mendengar ueapan si

pemuda yang dianggapnya setengah

miring ini. Tapi mau apa, dia sudah

kalah dan harus tahu diri dengan

angkat kaki.

Tanpa menunggu jadi bahan olokan

selanjutnya, Warok Batiroso langsung

pergi dengan menggendong Panaran di

pundaknya.

Pendekar Blo'on memandangi keper-

gian Warok Batiroso sambil tersenyum-

senyum.

"Dunia ini benar-benar sudah tua

apa manusianya yang semakin edan.

Perempuan tidak kalah banyaknya. Kok

kawin batangan lawan batangan? Seperti

orang main Toya saja. Ha ha ha...

gila... gila bukan main-main..."

Pemuda itu tertawa-tawa seperti orang

miring.

Namun bila ia teringat

sesuatu, maka Suro Blondo celingukan.

"Aku kecolongan. Gadis baju

kuning itu. Ahh...." Si pemuda tepuk

keningnya berulang-ulang "Siapa

namanya? Dewi... Dewi Bulan bintang.

Dewi Dewa atau Dewi Saritem. Ah… Dewi

Bundar, Dewi Bulan... Ke mana dia

pergi?"

Pendekar

Blo'on memperhatikan





suasana sekelilingnya. Tapi di tempat

itu sepi seperti kuburan

"Aku yakin Dewi telah pergi ke

gunung Bromo. Kupanya ia tidak mau

kuikuti. Padahal aku punya urusan

hampir sama. Dia pergi ke sarang macan

sendirian. Bagaimana jika terjadi

sesuatu yang tidak diinginkan. Hmm,

hatiku mengapa berdebar-debar begini.

Adik bukan, ibu bukan... mengapa aku

mengkhawatirkan keselamatannya?"

Suro Blondo mondar-mandir di

tempat itu, setelah berpikir agak lama

ia kemudian mengambil kesimpulan.

"Sebaiknya aku susul dia. Siapa

tahu dia benar-benar dalam kesulitan,"

pikir Suro Blondo.

Pemuda ini kemudian berlari-lari

m-ninggalkan daerah berbukit itu

dengan mempergunakan ilmu lari cepat

Kilat Bayangan. Sehingga dalam waktu

singkat ia telah hilang dari pandangan

mata.





3


Pada sebuah lereng sebelah timur


gunung Bromo terdapat sebuah bangunan

megah berwarna biru. Bangunan itu

selain menjulang tinggi dengan

beberapa menara pengawas di atasnya

juga cukup luas. Sehingga dilihat

sepintas lalu mirip dengan sebuah

istana kerajaan. Pada setiap menara





yang berjumlah delapan buah ini

terdapat pengawal paling sedikit tiga

orang bersenjata panah, yang sewaktu-

waktu siap dibidikkan. Karena bangunan

itu dikelilingi sebuah benteng tinggi,

mustahil orang dapat memasukinya

terkecuali dari pintu gerbang depan

yang menghadap ke lereng gunung.

Waktu itu hari telah menjelang

malam ketika sosok bayangan berpakaian

serba kuning mengendap-endap di luar

benteng. Melihat gerakannya yang

sangat hati-hati, jelas bayangan ini

sengaja

menghindari

bentrok

dengan

regu pemanah yang bertugas di menara

pengawas.

Setelah memastikan dalam keadaan

aman.

Tidak lama setelah

itu ia

menggenjot tubuhnya malompati tembok

benteng setinggi hampir dua setengah

tombak itu. Gerakannya enteng seringan

kapas. Menandakan bahwa orang ini

mempunyai ilmu meringankan tubuh yang

sudah cukup sempurna. Setelah dua

kakinya menjejak tembok, ia mengawasi

suasana di dalam benteng. Ternyata

keadaan di sana dalam keadaan lengang.

Kalau pun ada pengawal, mereka sedang

duduk-duduk minum tuak keras. Bahkan

ada pula diantara mereka yang sedang

main

kartu. Merasa keadaan dalam

suasana aman-aman saja, maka bayangan

kuning yang ternyata merupakan seorang

gadis cantik ini melayang turun. Sama





seperti pertama tadi, kini gerakannya

pun ringan tidak menimbulkan suara.

Tapi tanpa diduga-duga, begitu

kedua kakinya menjejak ke tanah, dua

orang laki-laki berbadan tambun dan

bertelanjang dada langsung menghan-

tamnya dengan jotosan.

"Pengacau goblok ingin cari

penyakit" dengus salah seorang

diantara mereka. Suaranya serak

seperti dicekik setan.

Dengan gesit sekali gadis baju

kuning yang ternyata Dewi Bulan ini

menggeser wajahnya ke samping hingga

pukulan itu luput. Tapi lawan yang

satunya lagi sudah mencabut senjatanya

berupa kaitan berbentuk bengkok namun

dua sisinya memiliki ketajaman luar

biasa.

Hingga sejauh ini Dewi Bulan

melayani mereka dengan jurus-jurus

tangan kosong. Sementara itu terdengar

suara teriakan-teriakan orang yang

terlibat pertarungan. Maka para

pengawal lainnya berhamburan menda-

tangi. Mereka segera mengurung Dewi

Bulan dengan sikap waspada. Menghadapi

dua orang berbadan tambun ini, semakin

lama Dewi Bulan kehilangan kesabaran.

Apalagi mengingat senjata mereka yang

berbentuk aneh itu berulang kali

nyaris membuat robek badannya.

"Triing"

"Wiing"





"Hiyaa..."

Sekali bergebrak ia langsung

mengerahkan jurus 'Mentari Redup Di

Kaki Bukit'. Ini adalah salah satu

jurus yang sangat diandalkannya.

Rupanya Dewi tidak ingin membuang-

buang waktu, mengingat musuh yang

dihadapi terlalu banyak jumlahnya.

Sebaliknya dua lawan yang

berbadan tambun ini begitu bernafsu

untuk meringkus Dewi. Karena sudah

menjadi peraturan di situ siapa yang

dapat meringkus lawan dalam keadaan

hidup akan mendapat hadiah yang cukup

besar. Kedua laki-laki itu secara

berbareng langsung menggempur sambil

babatkan senjata unik di tangannya.

Dengan pedang kembar di tangan,

Dewi menangkis. Terdengar suara

berdentang dua kali berturut-turut.

Bunga api sampai memijar. Ini

merupakan tanda masing-masing lawan

mereka sama-sama mengerahkan tenaga

dalamnya. Dewi sendiri tangannya

terasa linu, pedang hampir terlepas.

Ia maju dan langsung menyeruak dengan

mengerahkan serangan yang sangat

mematikan.

Salah satu dari lawan berusaha

menghalau serangannya. Tapi ia tidak

sempat lagi babatkan senjatanya karena

senjata Dewi meluncur deras membeset

lehernya.

"Jres"





"Wuaakkh..."

Jeritannya terputus bersama

putusnya pangkal tenggorokan. Darah

menyembur, si tambun memegangi leher-

nya yang hampir putus. Melihat ini

kawannya menjadi kalap. Ia menyerang

secara membabi buta. Kenyataan ini

tentu saja menguntungkan Dewi. Semen-

tara yang satunya meregang ajal,

sedangkan yang ini bagaikan banteng

terluka terus mendesak lawannya.

Bukan main gesit gerakan Dewi

Bulan. Dengan lincah ia menghindari

setiap serangan yang datang.

Karena serangan-serangannya sela-

lu mengenai sasaran kosong, laki-laki

tinggi besar ini menggembor marah.

Dengan kedua tangannya ia ayunkan

senjata berbentuk kaitan itu.

"Wuuk Wuuk"

Dewi berkelit sambil merundukkan

kepala. Tangan kiri menghantam ke

depan. Pedangnya hanya menyambar

angin. Karena lawan sudah menarik

tubuhnya ke belakang. Tidak kalah

cepat pedang di tangan kanan Dewi

menyusul dan begitulah seterusnya.

"Traaang"

Pedang itu membentur senjata si

tambun, hingga untuk yang kesekian

kalinya tubuh mereka sama-sama

tergetar. Jika si tambun mundur

sebaliknya Dewi merangsak maju.

Laki-laki berbadan besar ini





terkesiap. Ia sudah tidak dapat lagi

selamatkan diri ketika pedang pendek

di tangan Dewi Bulan menembus dadanya.

"Bleess"

"Raaaakh"

Karena pedang tersebut diputarnya

sedemikian rupa. Maka ketika dicabut,

perabotan dalam perut si tambun ikut

terbetot keluar. Laki-laki itu melo-

tot, lidahnya menjulur-julur keluar.

Tubuhnya terhuyung-huyung dan ambruk

ke tanah dengan jiwa melayang.

Kematian

si tambun membuat

pengawal-pengawal

lainnya semakin

rapat mengurung Dewi bahkan mulai

mencabut senjatanya masing-masing.

Pada saat itu pula menyambar angin

yang begitu lembutnya. Dewi baru

menyadarinya ketika sebuah tangan

menyapu dadanya.

"Eeh..." Dewi terkesiap dan

lontarkan makian. Karena secara kurang

ajar bayangan yang bergerak laksana

kilat tadi meremas buah dadanya. Tapi

ia jadi terkejut karena ternyata

selain tidak mampu bersuara, Dewi juga

tidak dapat menggerakkan tubuhnya.

Nyatalah sudah bahwa ia ditotok oleh

lawannya dengan cara yang sangat aneh

sekaligus kurang ajar.

"Ha ha ha... Tamu yang tidak

diundang ternyata seorang perempuan

cantik dan menawan sekali. Hari ini

aku Ki Rambe Edan dan kawan-kawan





benar-benar ketiban rejeki yang sangat

istimewa"

Dewi memandang laki-laki tua

bertampang angker yang berdiri tidak

jauh di depannya dengan mata tidak

berkesip sedikit pun. Melihat betapa

hormatnya para pengawal yang berada di

sekitar situ, jelas sudah bahwa laki-

laki berhidung besar ini merupakan

salah seorang pemimpin di situ. Inilah

pembunuh orang tuanya. Betapa marahnya

dia, tapi dalam keadaan tertotok

begitu rupa, mustahil ia dapat berbuat

banyak. Bisa-bisa keselamatannya

sendiri pun dalam keadaan terancam.

Tanpa sadar wajah si gadis berubah

merah padam. Ia terlalu gegabah

memasuki benteng istana yang dibangun

atas cucuran darah dan keringat rakyat

ini. Seharusnya ia bicara dulu dengan

pemuda konyol yang telah menolongnya

dari amukan Undan Warok Batiroso. Jadi

bukan meninggalkannya begitu saja.

Kini ia benar-benar berada dalam

kesulitan yang sangat besar. Apalagi

mengingat kawan-kawan Ki Rambe Edan

telah berkumpul di situ. Dan semuanya

merupakan orang yang telah menyebabkan

kematian orang tuanya.

"Gadis secantik bidadari ini

rasanya jarang kita temui di sini. Ia

datang menyerahkan

diri, Kakang.

Alangkah baiknya jika kita mulai

segala-galanya untuk menemani pesta





tuak wangi" kata yang berperut bundar sambil usap-usap perutnya.

"Kurasa dia masih benar-benar

tulen. Kakang Rambe... kami mendapat

jatah sisanya setelah Kakang pun

rasanya sangat terima kasih sekali"

ujar yang bermuka bengis sambil lalu

membelai-belai wajah Dewi Bulan

"Manusia sesat

haram jadah.

Kalian semua akan merasakan pemba-

lasanku yang sangat pedih jika sampai

berbuat macam-macam padaku" maki Dewi Bulan. Tapi suaranya sama sekali tidak

terdengar.

Sementara itu Ki Rambe Edan sudah

memberi perintah.

"Bawa dia ke kamarku Aku ingin

melihat kebagusan tubuhnya yang halus

mulus ini"

Dengan senang hati, Baja Geni

memanggul Dewi Bulan memasuki istana

mereka. Sepanjang jalan menuju istana

itu tidak henti-hentinya tangan Baja

Geni menggerayang kian kemari. Dewi

Bulan yang keras hati ini hanya mampu

menyumpah-nyumpah dalam hati mengingat

ia tidak menggerakkan tubuhnya sama

sekali.

Di luar suasana berubah sunyi

kembali. Para pengawal pergi ke tempat

penjagaan masing-masing sambil membi-

carakan ketua dan pemimpin mereka yang

telah mendapatkan gadis cantik yang

tentu saja segera menjadi korban nafsu





bejad mereka.





4


Di balik rimbunan pohon yang


memayungi atap genteng bangunan besar

tersebut. Sepasang mata yang terus

mengawasi sejak tadi bukan tidak tahu

apa yang terjadi. Malah matanya sempat

melotot ketika Ki Rambe Edan secara

curang menotok Dewi Bulan dengan cara

meremas payudaranya. Tindakan kurang

ajar ini membuat pemilik sepasang mata

sempat garuk-garuk kepala. Dalam

suasana seperti itu mustahil ia turun

tangan, sungguh pun baginya keberadaan

para pengawal tersebut tidak masuk

dalam hitungan. Hanya kelihatannya ia

lebih bersikap hati-hati. Dan tidak

mau gegabah sebagaimana gadis itu.

Kini ia sedang mencari cara untuk

membebaskan Dewi Bulan. Memang patut

diakui sebagaimana yang pernah

dikatakan oleh gurunya, ciri-ciri Ki

Rambe Edan dan kawan-kawannya. Tidak

satu pun yang mirip dengan musuh-musuh

besar yang telah membuatnya yatim

piatu. Mereka buman opembunuh orang

tus si pemuda.

Tapi dulu, delapan belas tahun

yang lalu, tindakan Ki Rambe Edan dan

kawan-kawannya tidak kalah sadis

dengan yang dilakukan oleh pembunuh

kedua orang tuanya. Mereka mengum-





pulkan ibu-ibu yang hamil tua di

gunung Bromo ini juga. Kemudian mereka

membunuhinya secara semena-mena.

Termasuk kedua orang tua Dewi itu

sendiri.

"Belum sepantasnya Dewi Bulan

turun gunung. Kurasa gurunya orang

gendeng. Muridnya lebih sinting lagi.

Wataknya keras, keberaniannya segu-

nung. Cuma ia terlalu ceroboh." Si

pemuda seka keningnya yang berke-

ringat, padahal udara malam di gunung

Bromo dinginnya bukan main-main. Lalu

kejap kemudian ia garuk-garuk

kepalanya. "Aku harus dapat membebas-

kannya sebelum malapetaka besar

menimpa diri gadis itu. Eeh... mengapa

jantungku berdebar-debar. Aku seakan

tidak rela jika sampai terjadi apa-apa

dengannya. Padahal... tolol sekali.

Mengapa aku terlalu merisaukannya?"

Pemuda ini kemudian melompat ke

atap genteng bangunan. Suasana malam

hari yang gelap benar-benar telah

menolongnya dari penglihatan para

pengawal yang berjaga-jaga di menara

pengawas. Lalu dengan gerakan seringan

kapas ia terus mengendap-endap sambil

memasang telinganya.

Di tengah-tengah atap genteng ia

berhenti. Ia mendengar suara orang

bercakap-cakap sambil tertawa. Lalu...

"Gluk Gluk Gluk"

"Yang kudengar pasti bukan suara





kuda lagi minum atau orang lagi

kencing berdiri. Pasti para iblis

sedang menunggu giliran. Kurasa iblis

yang satunya tidak jauh dari ruangan

ini."

Si pemuda menggaruk lagi belakang

kepalanya. Ia melangkah lagi, bergeser

dari genteng yang satu ke genteng

lainnya. Lalu terdiam sekitar jarak

satu batang tombak dari tempat semula.

Dia berjongkok, lalu merapatkan

sebelah telinganya ke genteng. Mula-

mula Suro Blondo tidak mendengar apa-

apa. Tapi setelah memusatkan segala

perhatiannya ke satu arah yang dituju,

yaitu bagian dalam kamar, maka

mendengar suara desah nafas memburu

seorang laki-laki.

"Kebo gelo gajah budek, sapi

lanang kebo kampret Aku harus sampai

ke dalam sebelum iblis rambut lurus

bertindak lebih gila lagi" desis

pemuda itu sambil menggeser genteng

satu demi satu.

Sementara itu di dalam ruangan

kamar pribadinya, Ki Rambe Edan sudah

melucuti pakaian yang melekat di tubuh

Dewi Bulan. Kini gadis itu benar-benar

dalam keadaan telanjang. Dadanya yang

putih membusung tegak menantang segera

dipermainkan oleh laki-laki bertampang

angker ini. Diremasnya kedua bukit

yang tegak menantang ini, sementara

air liur sang iblis tidak hentinya





meleleh membasahi tenggorokannya. Mata

Ki Rambe Edan yang agak sipit membulat

lebar. Kini tangannya bertindak lebih

agresif lagi. Tangan itu meluncur

melalui perut Dewi yang mulus. Lalu

terus ke bawah dan mencopot penutup

terakhir badan Dewi sehingga gadis itu

benar-benar dalam keadaan polos tanpa

selembar benang pun.

Menyaksikan pemandangan ini nafsu

iblisnya terbangkitkan. Darahnya

memanas hingga ke ubun-ubun. Dengan

leluasa ia menggerayangi seluruh

keindahan tubuh yang dimiliki Dewi.

Ki Rambe Edan kemudian mencopot

pakaiannya sendiri, hingga membuatnya

seperti bayi. Dewi Bulan ketakutan

setengah mati, wajahnya pucat, ia

ingin berteriak tapi suaranya tidak

keluar. Ia meronta, tapi tubuhnya yang

dalam keadaan tertotok tidak dapat

digerakkan sama sekali. Sedemikian

besar ancaman ini sehingga ia sendiri

merasa lebih rela dipenggal kepalanya

daripada menanggung aib yang

memalukan.

Ki Rambe Edan mulai mencumbui si

gadis. Ia menjatuhkan ciuman bertubi-

tubi ke bagian mana saja yang

disukainya. Sementara itu Suro Blondo

sudah membuka langit-langit kamar. Ia

terkesiap melihat gadis yang selalu

dipikirkannya dalam keadaan begitu

rupa.





Dengan penuh kegeraman ia

mencabut senjata andalannya yaitu

sebuah mandau jantan berwarna hitam

dengan empat lubang miring di tengah-

tengahnya. Setelah itu Pendekar Blo'on

melayang turun dengan kecepatan dua

kali kecepatan biasa.

Senjata di tangannya diayunkan

sekeras-kerasnya ke arah leher Ki

Rambe Edan. Mandau menderu menimbulkan

suara seperti orang sedang menangis.

Mungkin suara inilah yang membuat Ki

Rambe Edan terkejut, hingga ia cepat

berpaling. Matanya terbelalak lebar

begitu melihat senjata lawannya hanya

seperempat jengkal saja dari batang

tenggorokannya. Ia tidak sempat lagi

berteriak memanggil kawannya, apalagi

menghindar dari senjata berbentuk aneh

itu.

"Jraak"

"Cuur Klokokk..."

Darah menyembur dari penggalan

kepala Ki Rambe Edan. Kepala yang

terputus dari badan itu jatuh

menggelundung dan di atas perut Dewi

Bulan. Sekujur tubuh si gadis bermandi

darah musuh bebuyutannya. Sementara

kepala tanpa badan ini terhuyung-

huyung, kemudian ambruk begitu saja

setelah kehabisan darah.

Dewi terbelalak melihat kejadian

mengerikan yang berlangsung sangat

singkat ini. Suro Blondo mendekati





pembaringan Dewi, ia ingin membebaskan

totokan si gadis, tapi ragu-ragu.

Karena totokan pengunci berada di

bagian bukit kembar Dewi Bulan.

Pemuda ini melihat Dewi melotot

kepadanya, ia tidak punya pilihan

lain, Maka tak

lama setelah itu

memejamkan matanya. Karena tidak

melihat ketika meraba, rabaannya tidak

tepat pada bagian yang tertotok, malah

yang terpegang bagian bukit yang

paling tinggi.

Suro menahan nafas, lalu...

"Bet Bet"

Satu sapuan agak keras

dilakukannya. Gadis ini menjerit dan

langsung bangkit berdiri. Setelah

membersihkan darah Ki Rambe Edan yang

membasahi tubuhnya, ia cepat menge-

nakan pakaiannya kembali. Rupanya si

pemuda berhasil membebaskannya. Pada

saat yang sama, Balung Raja dan Baja

Geni bukan tidak mendengar suara gaduh

di dalam kamar sahabat tertua mereka.

Tapi mereka menyangka Ki Rambe sedang

bergumul dengan gadis bertahi lalat di

dagu itu. Mereka baru tersentak kaget

ketika melihat pintu terbuka.

Sementara seorang pemuda berambut

hitam kemerahan telah berdiri di sana

sambil menenteng kepala Ki Rambe Edan.

Sedangkan di belakang pemuda itu

berdiri seorang gadis dengan muka

bercelemongan darah.





Belum hilang rasa terkejut

mereka, tiba-tiba Suro Blondo melem-

parkan potongan kepala Ki Rambe Edan

ke arah mereka. Potongan kepala d«ngan

mata membelalak dan lidah terjulur ini

jatuh persis di atas meja. Balung Raja

dan Baja Geni saling pandang, wajah

mereka pucat kehilangan darah. Hanya

sekejap mereka terkesima, di lain

waktu mereka mencabut senjata mereka

berupa kapak berujung tombak.

Sedangkan Baja Geni mencabut rantai

baja berujung pedang.

"Manusia rendah berhati iblis

Siapakah kau bocah bertampang tolol"

hardik Balung

Raja. Rahangnya

menggelembung pertanda amarahnya

benar-benar memuncak sampai ke ubun-

ubun.

"Manusia iblis berhati setan"

Suro membentak dengan tatapan mata

tidak kalah dinginnya. "Kau siapa

pula? Ha ha ha... Aku tahu kalian

telah membunuh kedua orang tua gadis

ini. Sekarang kalian bermaksud

menodainya secara keji Tahukah kalian

hutang kalian cukup banyak pada gadis

ini. Dan semua itu belum berikut

bunganya"

Kini Balung Raja dan Baja Geni

beralih pada Dewi Bulan yang juga

sedang dilanda kemarahan.

"Siapakah kau?" tanya Balung

Raja.





"Aku Orang tuaku kalian bina-

sakan delapan belas tahun lalu di

lereng gunung ini. Sedangkan kawanku

ini adalah yang kelahirannya ditunggu-

tunggu oleh tokoh-tokoh sesat semacam

kalian."

"Jadi kau putrinya perempuan bun-

ting yang telah kami bunuh dulu?

Berarti kau muridnya Gajah Gemuk dan

Gajah Krempeng?" desis Baja Geni

sambil tersenyum sinis.

"Dan kau, siapakah?" Balung Raja ikut bertanya.

"Hmm, kawanku sudah mengata-

kannya. Aku Suro Blondo" dengus si

pemuda dengan mimik serius.

"Jadi kaulah orangnya yang kini

sudah tumbuh besar. Bayi ajaib yang

digembar-gemborkan pertapa pantai

selatan itu ternyata setelah dewasa

tidak lebih hanya berupa seorang

pemuda bertampang tolol tidak ada

gunanya. Terlanjur kepalang basah,

hari ini peristiwa delapan belas tahun

yang lalu segera terbukti apakah benar

kau mempunyai kehebatan. Selain itu

karena dosa-dosamu telah membunuh

sahabat kami. Maka kini rasakanlah

pembalasanku"

"Plok Plok"

Dari luar para pengawal

menghambur ke dalam. Dewi Bulan lang-

sung menghadangnya. Untuk menghadapi

pengawal-pengawal yang jumlahnya men-





capai puluhan ini, Dewi Bulan langsung

mencabut senjatanya. Pedang itu

diputar sedemikian rupa. Maka ter-

dengarlah suara jeritan-jeritan kesa-

kitan. Satu demi satu pengawal itu

roboh bermandikan darah.

Suro Blondo tidak membuang-buang

waktu lagi. Ia kerahkan jurus 'Kera

Putih Memilah Kutu' dan jurus

"Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor' secara silih berganti.

Balung Raja dan Baja Geni putar

senjatanya yang berbentuk aneh ini.

rantai baja berujung pedang diputarnya

sedemikian rupa. Sebaliknya Balung

Raja dengan kapak berujung tombak

mencecar Suro dari arah samping kanan.

Dengan lincah sekali si pemuda

menghindari serangan senjata lawan

yang sangat cepat dan berbahaya ini.

Angin menderu-deru. Rambut si pemuda

berkibar-kibar terkena sambaran

senjata lawannya.

Tapi dengan gerakan yang aneh dan

kacau, Suro Blondo terus menghalau

atau menghindari setiap serangan yang

datang.

Tubuhnya

berjingkrak-jingkrak,

terkadang terhuyung ke kiri, di lain

saat condong ke kanan. Hebatnya setiap

serangan lawan selalu luput atau hanya

menyambar tempat-tempat kosong.

Sementara itu Dewi Bulan sudah

sampai di halaman depan. Sepanjang





lorong ruangan telah penuh dengan

mayat-mayat yang bergelimpangan.

Pemuda ini demi melihat gelagat yang

sangat baik segera lepaskan pukulan

'Kera Sakti Menolak Petir'.

Seleret sinar putih bergulung-

gulung menerjang Baja Geni dan Balung

Raja yang sedang menerjangnya. Sinar

yang memanca-kan hawa panas ini

menderu kencang lalu melabrak

lawannya.

"Bumm Buum"

"Uhk... keparat" maki Balung

Raja begitu pukulan lawan menyambar ke

arah mereka. Tapi karena melindungi

diri dengan senjata di tangan, akibat

yang timbul karena pukulan itu tidak

seberapa. Hanya bangunan itu saja yang

runtuh pada bagian atapnya.

Sebaliknya Pendekar Blo'on telah

melesat ke halaman.

"Kunyuk tolol gila Hendak lari

ke mana kau?" bentak Balung Raja

ketika melihat lawannya berkelebat

pergi. Tentu saja mereka tidak

membiarkan lawannya meloloskan diri

begitu saja. Mereka segera mengejar ke

depan. Ternyata setelah sampai di

halaman anak buah mereka sudah

bergelimpangan, tewas di tangan Dewi

Bulan.

Splak

"Gubrak Gubraak"

Rupanya ketika Suro sampai di





luar ia tidak langsung menuju halaman

melainkan berdiri di samping pintu.

Begitu melihat lawan-lawannya keluar

sambil berlari ia sodorkan kakinya.

Hingga membuat Baja Geni dan Balung

Raja jatuh terguling-guling. Mereka

bangkit berdiri, sambil meludah mulut

menggembor memuntahkan kemarahannya.

"Anak setan Aku tidak akan puaa

sebelum memakan daging dan menghirup

darahmu" Teriak Balung Raja.

"Bapak iblis.

Mulutmu berkoar

seperti kaleng rombeng. Ajal sudah di

depan mata tapi belum tobat juga"

"Wut"

"Wuuk Wuuk"

"Wiit... hampir saja putus si

ntong" kata Pendekar Blo'on memanasi.

Ia melompat. Ketika serangan lawannya

semakin menggila, maka ia berjingkrak-

jingkrak seperti anak kecil bermain

tali.

"Bangsat" Baja Geni menggerutu.

Kedua tangannya bertepuk satu sama

lain. Kemudian kedua tangan itu

digosok-gosokkannya.

Wajah Baja Geni menegang,

mulutnya komat-kamit. Dari telapak

tangannya mengepul kabut pipih

berwarna hitam. Kabut itu kemudian

menyebar ketika Baja Geni hentakkan

tangannya ke depan. Serangkum

gelombang berhawa dingin dengan bau

menyengat menderu dan menghantam Pen-





dekar Blo'on. Pemuda ini leletkan

lidah. Ia tidak menangkis atau

memapakinya, melainkan mengerahkan

jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh

Harimau'. Pada detik itu juga tubuhnya

terangkat ke udara dengan kecepatan

laksana kilat. Pukulan yang dilepaskan

Baja Geni menyambar sejengkal di bawah

kakinya, lalu menghantam tembok

bangunan

hingga hancur berkeping-

keping

Pukulan mengandung racun keji

yang dilepaskan oleh Baja Geni luput.

Ia penasaran dan melepaskan pukulan

susulan secara beruntun. Gerakan

menghindar yang dilakukan oleh si

pemuda semakin menggila. Tubuhnya

berkelebat lenyap hingga berubah

menjadi bayang-bayang yang sangat

banyak membingungkan. Dalam pada itu

Balung Raja yang menyerang dengan

rantai Baja berujung pedang tampak

kewalahan. Suro yang dalam keadaan

mengambang di udara ini melepaskan

tendangan beruntun ke arah wajah

lawannya.

"Dekk"

"Buk... Buuk Buk"

"Kraak"

Terdengar tulang leher patah

berderak. Balung Raja tidak sempat

lagi melolong. Tubuhnya langsung

terbanting dengan senjata masih di

tangan ia menggelepar sesaat, lalu





gerakannya semakin lemah dan hilang

sama sekali bersamaan dengan

melayangnya selembar nyawa

Balung

Raja.

"Kau benar-benar telah berubah

menjadi balung seratus hari di depan,"

desis si pemuda. Kini ia hanya tinggal

menghadapi seorang kawan lagi. Tiba-

tiba terdengar suara bentakan nyaring

penuh permintaan.

"Bangsat yang satu itu bagianku,

Suro" Berkata begitu sebuah bayangan berkelebat

sedemikian

cepatnya.

Bayangan menuju ke arah Baja Geni yang

sedang terpana menyaksikan kematian

sahabatnya. Lalu ketika Baja Geni

merasakan ada sambaran

angin

di

belakang, begitu menoleh sebuah pedang

pendek menghunjam punggungnya.

"Wuaakkh..."

Baja Geni terhuyung. Ia mendekap

ujung pedang yang tembus dari punggung

hingga mencuat ke depan dada. Tidak

sampai di situ saja, Dewi Bulan pun

kembali mengayunkan pedangnya. Pedang

itu dihantamkannya ke tubuh lawannya

secara berulang-ulang hingga membuat

kondisi lawannya yang telah kehilangan

nyawa dalam waktu singkat ini tidak

ubahnya seperti dicincang.

Melihat kekejaman ini Suro Blondo

langsung mendatangi. Sebuah tangan

yang kokoh menahan gerakan Dewi hingga

membuat gadis itu menoleh.





"Kau... mengapa kau lakukan...?"

"Bulan... eeh, Dewi... Baja Geni

telah meninggalkan dunia fana ini.

Apakah kau hendak memasak dagingnya?"

"Selain membunuh orang tuaku,

mereka juga hampir membuat aib yang

sangat besar atas diriku."

Suro golang-golengkan kepala.

"Memang betul..."

Dewi memotong: "Tahukah kau

betapa sakitnya hatiku?"

"Betul. Paling tidak aku turut

merasakannya. Tapi tidak baik

menganiaya mayat. Dia sudah menjadi

bagian dari tanah...."

"Huh... jangan menggurui aku.

Pemuda sepertimu mana layak memberi

nasehat. Ah... gila...." Dewi

membanting-banting kakinya. "Kini

hanya tinggal kau yang belum mati."

"Mengapa kau menudingku begitu?"

"Karena... karena... karena kau

telah melihat tub..." Dewi Bulan

katupkan bibirnya. Wajahnya berubah

memerah. Ia teringat bagaimana pemuda

tampan bertampang tolol ini meraba-

raba dadanya untuk membebaskan

pengaruh totokan Ki Rambe Edan.

Sebaliknya Pendekar Blo'on hanya

garuk-garuk kepala sambil tersenyum

tertahan.

"Dibandingkan Ki Rambe Edan,

dosaku tidak kelewat besar, Dewi. Dia

sudah lihat semua. Sedangkan aku





tidak. Lagipula aku telah membantumu

dan membebaskanmu dari aib maha besar.

Kalau kau bunuh aku hari ini sama

artinya aku tidak sempat mencari para

pembunuh orang tuaku. Bagaimana kalau

arwah mereka gentayangan dan mengejar-

ngejar gadis secantikmu?"

"Pemuda ceriwis. Aku tahu telah

barhutang nyawa padamu, kelak aku akan

membayarnya."

"Tidak usah dibayar, cukup kau

mengingatnya saja. Kurasa urusanmu di

sini telah selesai. Sedangkan

persoalan

yang harus

kuselesaikan

sangat banyak sekali. Aku harus pergi

sekarang..."

Suro Blondo putar tubuhnya,

ketika baru beberapa tombak ia

melangkah Dewi Bulan yang mulai

menyukai pemuda konyol ini

memanggilnya.

"Hei... tunggu..." cegah Dewi

Bulan.

"Ada apa lagi?" tanya si pemuda.

"Kau hendak ke mana?"

Suro garuk-garuk kepalanya.

"Aku mau cari musuh yang telah

membunuh orang tuaku. Mungkin ke

Pasuruan, Bukit Arjuna, Gunung

Sumbing, Gunung Grumpung bisa jadi ke

bukit kembar Ha ha ha..." kata Suro Blondo tanpa menoleh-noleh lagi sambil

berlalu.

"Dasar edan" gerutu Dewi Bulan





seraya pandangi kepergian si pemuda

yang telah menarik perhatiannya itu.

Dan ketika pemuda itu lenyap dari

pandangan matanya, ia merasakan adja

sesuatu yang hilang dalam dirinya.

"Tuhan ya... Tuhan... mungkinkah

aku dapat bertemu dengan dia di suatu

saat nanti?" kata si gadis resah.





5


Di pantai Karang Bolong ada


sebuah

bukit-bukit kapur menjulang

tinggi ke ungkasa. Tidak jauh dari

bukit kapur lersebut terdapat pula

sebuah bukit karang yang cukup tinggi.

Untuk mencapai tempat ini orang harus

menyeberangi laut karena letaknya

memang agak ke tengah laut. Bukit

karang ini selain sangat berbahaya

juga licin sekali karena pada

permukaannya ditumbuhi lumut-lumut

laut yang telah berusia ratusan tahun.

Siang itu setelah membatalkan niatnya

pergi ke Pasuruan, pemuda berbaju biru

berambut hitam kemerahan memakai ikat

kepala warna biru belang-belang kuning

ini pergi ke Karang Bolong. Ini semua

dilakukannya karena menurut keterangan

yang didapatnya di jalanan bahwa

manusia Katai bersaudara tinggal di

pantai Karang Bolong. Keterangan ini

memang sulit dipegang kebenarannya,





karena mungkin

saja katai yang

dimaksud bukan katai yang telah

membunuh kedua orang tuanya. Karena di

kolong langit ini banyak manusia

berbadan cebol, jangkung, kurus, gemuk

dan kurus kering macam orang cacingan

juga cukup banyak.

Setengah hari setelah menyelusuri

pantai laut Jawa. Kira-kira sekitar

jam tiga sore, pemuda baju biru yang

tidak lain adalah Pendekar Blo'on ini

sampai juga di tempat tujuan. Ia

mencari-cari, kemudian terlihat

olehnya sebuah bukit karang menjulang

seperti kerucut. Suro Blondo garuk-

garuk belakang kepalanya.

"Sarang setan tempatnya memang

selalu sulit dijangkau," gerutu si

pemuda. "Di sini tidak ada perahu yang lewat, tempat ini juga lebih sepi dari

kuburan. Bukit karang itu agak jauh

dari pantai ini. Bukan aku tidak

sanggup berenang ke sana. Tapi

dinginnya ini alamak. Lagipula konon

banyak hiu-hiu ganas berkeliaran di

sekitar sini. Apa caraku...?" Suro

Blondo seka keringat yang mengalir di

keningnya. Matanya mencari-cari hingga

kemudian ia tersurut mundur. Matanya

memandang tajam pada sebuah papan kayu

peringatan dengan pesan-pesan meng-

gidikkan tertulis di atasnya.



Pantai Karang Bolong siapa datang





nyawa tidak tertolong,

Bukit Karang Hantu, siapa

mendekat tinggal tulang belulang

Terkecuali para sekutu dan para

sahabat ikan hiu

Jangan oba mendekar terkecuali

punya jiwa seikat...



"Hmm, sebuah peringatan yang

cukup

Mengenaskan? Hanya dedemit

neraka yang punya kerja. Dari jauh aku

datang untuk mempertaruhkan nyawa,

untuk apa aku harus pulang sia-sia"

dengus Pendekar Blo'on.

Pemuda ini kemudian mencari

potongan kayu untuk menyeberangi selat

kecil itu. Tapi sebelum usahanya

tercapai, tiba-tiba terdengar suara

seseorang bersenandung. Menilik sua-

ranya yang kecil dan merdu sudah jelas

pemiliknya paling tidak adalah seorang

perempuan. Suro cepat menoleh ke arah

datangnya suara. Tiba-tiba ia melihat

sebuah perahu kecil meluncur cepat ke

arahnya. Di atas perahu tampak seorang

gadis cantik memakai kerudung serba

putih. Ketika angin bertiup ke arah si

pemuda, maka tercium bau badannya yang

harum seperti bunga cempaka.

Pendekar Blo'on melongo ketika

melihat perahu kecil itu mendadak

berhenti. Seperti ada kekuatan yang

menahannya dari bawah perahu.

"Anak muda nan tampan. Aku tahu





kau mau menuju ke bukit karang itu.

Aku jadi kasihan padamu, kulihat belum

pernah ada yang selamat kembali bila

sudah sampai ke sana. Daripada kau

mengantar nyawa percuma, alangkah

baiknya jika kau ikut denganku..."

"Siapa Nisanak ini? Aku punya

tujuan dan tidak seorang pun yang

dapat menghentikannya terkecuali

maut," kata si pemuda pelan.

"Hi hi hi Dendam di hatimu

dendam berkarat, sampai kiamat dunia

akhirat.... Sebaik-baiknya manusia

adalah dia yang suka mengukur kemam-

puan diri sendiri" Gadis berkerudung di dalam perahu tertawa membahak. Suro

Blondo kerutkan kening. Ia berpikir

bagaimana mungkin perempuan dalam

perahu tahu apa yang diinginkannya.

"Nisanak belum menjawab per-

tanyaanku. Katakan terus terang atau

aku harus meninggalkanmu"

"Mengapa harus tergesa-gesa jika

hanya ingin mengantar nyawa? Aku gadis

tanpa nama, hidup, makan dan tidurku

di atas air. Kalau hanya untuk urusan

orang yang mau buang

nyawa,

aku

bersedia mengantarmu sampai ke bukit

itu. Tapi dengan satu syarat"

"Hi hi hi. Sudah kuduga, pemuda

tampan bertampang tolol sepertimu mana

punya banyak uang. Bagaimana kalau kau

membayar dengan kepalamu?"

Suro Blondo garuk-garuk kepa-





lanya. "Kau sangat keterlaluan sekali.

Tidak tahukah kau bahwa aku cuma punya

satu kepala?"

"Hi hi hi Kalau tidak mau aku

akan aegera pergi"

Tanpa menunggu lagi gadis

berkerudung putih dan berpakaian serba

putih memutar perahunya. Di lain kejap

ia telah bergerak menjauh, kemudian

hilang di tikungan teluk.

"Heh... kalau hanya menggoda,

untuk apa tunjukkan diri? Menolong

orang dengan meminta imbalan jiwa

adalah perbuatan tercela." Suro Blondo bersungut-sungut. Ia memutar badannya,

lalu mengambil sepotong kayu kering

yang tergeletak tidak jauh dari

kakinya.

Kayu itu kemudian dilemparkannya

ke dalam air. Setelah itu tubuhnya

melayang, kaki menjejak ke atas

potongan kayu tersebut. Hanya dalam

waktu sangat singkat ia telah meluncur

ke tengah selat dengan sangat cepat

sekali. Namun pemuda ini kemudian

menjadi tergagap ketika melihat

puluhan sirip ikan menjembul ke atas

permukaan air. Ikan-ikan haus darah

ini mengitari si pemuda.

"Mati aku. Binatang-binatang ini

bukan main banyaknya. Aku harus cepat

sampai ke sana kalau tidak ingin mati

konyol" pikir si pemuda.

Dengan tetap menjaga keseimbangan





tubuhnya, Suro menggenjot kakinya

hingga potongan kayu yang diper-

gunakannya untuk menyeberang melesat

laksana anak panah. Tapi tiba-tiba di

depan pemuda itu menyembul badan ikan

tersebut. Suro tidak sempat lagi

mengurangi kecepatannya. Tidak ayal

lagi tubuhnya terbanting. Suro Blondo

tenggelam, air laut yang sangat jernih

lagi dalam membuat ia dapat melihat

puluhan ekor ikan mengejarnya. Sambil

berenang menghindar Suro cabut

senjatanya.

Dengan mempergunakan

senjata andalan ini ia menyongsong

kedatangan ikan-ikan buas yang

menyerangnya.

Sementara gadis berpakaian serba

putih yang tadi sempat menghilang di

balik cekungan teluk telah muncul di

tempat itu dengan maksud menolong.

Ketika ia sampai, pemuda lugu yang

hendak ditolongnya telah lenyap dari

permukaan air. Ia terkesiap ketika

melihat air laut tiba-tiba berwarna

merah. Kemudian terlihat pula gejolak

air di sana sini.

"Celaka, bocah itu telah dimangsa

ikan-ikan hiu

di sini" desisnya

dengan mata membelalak lebar.

Air laut semakin bergolak, warna

merah semakin menyebar dan berwarna

pekat. Di dalam air Suro Blondo telah

membunuh lebih dari dua puluh ekor

ikan hiu besar dan ikan-ikan yang





telah terbunuh itu dimangsa oleh

kawanannya sendiri. Rupanya bau darah

itulah yang membuat hiu-hiu lain yang

kelaparan tidak dapat membedakan kawan

sendiri. Melihat hiu-hiu lain berebut

mangsa, maka kesempatan ini diper-

gunakan oleh Suro Blondo untuk

berenang di bawah air mendekati pulau

karang yang hendak ditujunya.

Sebentar saja ia sudah sampai ke

pinggir bukit karang. "Puah... hampir meledak paru-paruku karena menahan

nafas," keluh Suro Blondo. Ia melirik ke tengah-tengah teluk. Dilihat gadis

baju putih kerudung putih duduk

terbengong-bengong di atas perahunya.

Suro Blondo lambaikan tangannya.

"Maaf, ikan-ikanmu rupanya semakin

tidak sabar, sehingga kawaaannya

sendiri dimangsanya..."

Si gadis bermaksud mengejar, tapi

ia mengurungkan niatnya. Seakan ia

ragu mendekati bukit karang tersebut.

Suro Blondo sambil cengar-cengir

tidak perduli lagi pada gadis di atas

perahu tersebut. Ia mulai mendaki

bukit karang yang terjal dan cukup

licin tersebut.

"Edan... sudah sampai di tengah

melorot lagi. Apakah mungkin tidak ada

jalan lain untuk sampai ke tempat yang

mirip dengan cekungan gua di atas

itu?"

Si pemuda mendongakkan kepalanya





ke atas. Bersamaan dengan itu ia

melihat ada sosok tubuh melayang dan

kemudian jatuh terhempas di

sampingnya. Apa yang dilihatnya adalah

sosok telanjang perempuan. Sekujur

tubuhnya berlumuran darah, leher

patah, mata melotot dan lidahnya

terjulur.

"Perempuan malang ini mustahil

jatuh dari langit. Mengapa tidak

sempat kudengar jeritannya," desis

Suro sambil goleng-golengkan

kepalanya.

"Pastilah ini perbuatan iblis-

iblis berhati sapi. Aku harus bisa

sampai ke atas sana tanpa

sepengetahuan mereka. Dengan begitu

aku bisa terhindar dari bahaya..."

Si pemuda kemudian merayap lagi,

kali ini ia menemukan jalan yang agak

lebih baik dari pada lereng terjal

yang coba didakinya tadi.

Sedikit demi sedikit ia mendaki.

Tapi gerakannya terhenti lagi ketika

melihat tiga ekor

ular berbisa

menghadangnya. Ular-ular itu angkat

kepala tinggi-tinggi. Mulutnya terbu-

ka, lidahnya yang bercabang terjulur.

Ketika makhluk-makhluk melata itu

mendesis, maka tercium bau amis bisa

yang membuat mual pernafasan.

Suro Blondo yang pernah digodok

dalam sumur kawah bisa dihuni ular-

ular merah oleh gurunya, hanya





tersenyum sambil garuk-garuk kepala.

"Malang benar nasibmu, Nak.

Rupanya kau diperintahkan oleh tuanmu

untuk menghadang aku Nih gigit-

lah..." Suro Blondo dengan sengaja

angsurkan tangannya. Tiga ekor ular

berwarna belang, kuning hitam ini

serentak menyerbu dan mematuki tangan

Suro Blondo.

Tangan si pemuda berdarah, air

mukanya seketika berubah menghitam.

Rupanya kekebalan di dalam tubuhnya

mulai bekerja bertarung melawan bisa

dari ular-ular yang menggigitnya.

Kulit tubuhnya yang hitam secara

berangsur-angsur kembali ke warna

semula.

Si pemuda lagi-lagi menyeringai.

"Kurasa sudah puas kalian

menggigitku" dengus Suro Blondo,

sekejap kemudian ditangkapnya ketiga

ekor ular sebesar jempol kaki ini

setelah itu badan ular digigitnya satu

demi satu.

Ular-ular ini meronta, tapi

rontaannya semakin melemah ketika

tulang belakangnya putus menjadi dua.

"Puih..." Suro menyemburkan

ludah bercampur darah ular. Selan-

jutnya ia merayap dan merayap lagi.

Tidak sampai sepemakan sirih,

sampailah pemuda ini di depan sebuah

cekungan mirip gua. Pada dataran yang

rata ia melihat sebuah pedang, pakaian





dan juga tulang belulang lainnya.

"Mayat tadi perempuan. Pakaian

ini juga pakaian perempuan. Gua besar

itu seperti tertutup batu. Alangkah

baiknya jika aku mencoba membukanya."

Suro Blondo kemudian mendekati pintu

gua yang tertutup batu. Sekejap

kemudian ia mendorong pintu batu

karang ini. Tapi jangankan bergerak,

bergeming pun tidak.

Si pemuda mengerahkan tenaga

dalamnya ke bagian telapak tangan.

Setelah itu ia mendorong lagi.

"Uuph..."

Kali ini secara perlahan pintu

batu terkuak sedikit. Suro mendo-

rongnya lagi. Semakin lama pintu pun

terbuka semakin lebar. Pendekar Blo’on

tercengang begitu melihat ke dalamnya.

Ruangan gua itu memancarkan

cahaya

biru

kehijauan yang entah

datang dari mana. Lantai gua juga

dalam keadaan bersih. Ketika melihat

ke arah kiri, di sana ada sebuah

altar. Di atas altar mirip dipan ini

tergeletak sosok tubuh perempuan pula

dalam

keadaan setengah telanjang.

Perempuan ini sangat sulit dikenali

karena seluruh wajahnya yang menghadap

ke langit-langit gua tertutup kain

berwarna merah.

Suro Blondo menyelinap masuk dan

bersembunyi di salah satu sudut yang

gelap. Ketika terdengar suara langkah-





langkah kaki, maka ia menundukkan

badannya serendah mungkin sehingga ia

terhindar dari penglihatan orang lain,





6


Mula-mula yang dilihatnya adalah


kemunculan seorang laki-laki berbadan

pendek, cebol, wajahnya pucat keku-

ning-kuningan. Kumisnya cuma beberapa

gelintir saja sedangkan alis matanya

berwarna putih. Ia memakai celana

pendek sebatas dengkul, bajunya hanya

berupa selempang berwarna hitam. Di

pinggang katai Muka pucat ini

menggelantung sebuah ruyung berwarna

perak.

Katai itu berjalan mendekati

perempuan setengah telanjang di atas

altar. Rupanya ia tidak menyadari

kehadiran Suro di situ, sedangkan

pemuda itu sendiri langsung tergetar

tubuhnya saat melihat katai muka

pucat. Inilah salah satu orang yang

telah membunuh kedua orang tuaku, mana

yang muka merah? pikir Suro Blondo.

Manusia katai ini setelah sampai

di atas altar langsung menyingkap

pakaian bawah gadis yang kepala serta

wajahnya terbungkus

kain merah.

Setelah membuka pakaiannya sendiri, ia

melakukan perbuatan yang sangat ter-

kutuk atas diri si malang. Badannya





yang kecil menghempas-hempas di atas

tubuh si gadis. Tahulah Suro Blondo

apa yang telah dilakukan oleh Katai

Muka Mayat ini tarhadap gadis di atas

altar.

Wajah Pendekar Blo'on berubah

kelam mambesi. Ia meninggalkan

kegelapan sudut gua. Tangannya melam-

bai pelan. Angin nenderu dari telapak

tangannya, melesat dengan cepat

menghantam Katai Muka Mayat. Laki-laki

berbadan kerdil ini langsung jatuh

terpelanting. Rasa kejut di hatinya

bukan alang kepalang. Kalaulah Suro

mau membokong, tentu Katai Muka Mayat

telah tergelimpang menjadi bangkai

atau paling tidak menderita luka dalam

cukup parah. Tapi pemuda berambut

hitam kemerahan bertampang tolol ini

walau mempunyai dendam sedalam lautan

terhadap orang-orang yang telah

membunuh ayah ibunya, ia tidak mau

bertindak gegabah dan kesalahan

tangan.

Katai Muka Mayat bangkit berdiri.

Wajahnya jelas tidak dapat menyembu-

nyikan rasa terkejutnya tatkala

melihat kehadiran seorang pemuda asing

di ruangan itu. Ia jadi teringat pada

pintu gua yang ditutupnya. Tidak

setiap orang mampu membukanya terke-

cuali mereka yang memiliki tenaga

dalam tinggi.

"Hhm, kau begitu berani menye-





berangi selat dan menyusup ke tempat

tinggal iblis. Siapa namamu?" Katai

Muka Mayat menggeram.

Suro Blondo garuk-garuk kepala.

"Ha ha ha... Bicara ya bicara... tapi urusi dulu senjata kramat berikut buah

jambu milikmu. Gondal-gandil seperti

itu apakah kau mau pamer kelebatan

hutan rimbanya?"

"Aih..." Katai Muka Mayat

langsung mendekap bawah pusarnya. Ia

mengenakan pakaian seadanya. Tidak

lupa ia juga mengambil ruyung yang

tergeletak di bawah kaki telanjang si

gadis.

Wajah laki-laki itu semakin

bertambah pucat. Tiba-tiba saja ia

membentak berang: "Cepat katakan siapa kau yang sebenarnya, kunyuk bertampang

tolol"

"Dengar anjing gladak" dengus

Suro Blondo tidak kalah sengitnya.

"Aku Suro Blondo, putra Sepasang

Pendekar Golok Terbang dari gunung

Bromo. Apakah kau ingat peristiwa

delapan belas tahun yang lalu? Hah...

mana kembaranmu yang bermuka merah?"

Katai

Muka Mayat terkesiap,

matanya yang kecil molotot. Tanpa

sadar ia bahkan sampai bersurut

mundur. Bibirnya mendesis…..

"Kau bocah ajaib itu? Rambutmu

kemerahan, tapi tampangmu tidak

meyakinkan. Apakah kau punya tompel di





punggung?" tanya Katai Muka Mayat

seakan menyelidik.

"Sekarang tidak ada waktu lagi

untuk bertanya jawab, manusia cebol

Apakah aku punya tompel di punggung,

di kening, hidung atau di kumis. Itu

bukan persoalan. Jika

kau merasa

berhutang, maka hari ini aku datang

untuk menagih hutang-hutangmu"

"Hu hu hu..." Katai Muka Mayat

tertawa. Suaranya jelek seperti burung

hantu yang menderita mejan. "Secara

jujur aku memang ikut membunuh Satria

Purba dan Dewi Rini orang tuamu. Aku

dan kakangku dan yang satunya lagi

tidak perlu kusebutkan karena aku

sangat menghormatinya. Tapi mengingat

tampangmu yang begitu, aku yakin

ramalan pertapa itu hanya bualan saja.

Hu hu hu... aku dan saudaraku memang

ingin mencarimu. Membunuh pohon harus

sampai ke akar-akarnya. Tidak disangka

kau datang sendiri mengantarkan

nyawa... Hu hu hu..."

Katai Muka Mayat tiba-tiba

melompat ke depan sambil lambaikan

tangannya, tiga leret sinar berwarna

keperakan datang menggebu-gebu. Suro

sadar betul bahwa lawannya telah

menyambitkan senjata rahasia ke

arahnya sehingga dengan gerakan kacau

ia menghindarinya. Serangan senjata

rahasia itu lewat setengah jengkal di

atas kepalanya.





"Crap Crap Crap"

"Bukan main..." desis si pemuda.

Ia berpaling ke belakangnya. Ternyata

senjata rahasia berbentuk empat per-

segi itu menancap dalam pada dinding

karang yang cukup atos tersebut. Katai

Muka Mayat gelengkan kepala melihat

pemuda berbaju biru ini dapat

menghindari serangannya.

"Kau punya kebolehan juga ru-

panya. Sayang kau berada di dalam

wilayah kekuasaanku. Hanya orang yang

punya nyawa rangkap saja dapat keluar

dari tempat ini hidup-hidup"

"Jangan kelewat percaya diri,

Iblis tergencet bumi. Lihat sera-

ngan..." Suro membentak keras.

Suaranya menimbulkan gema hingga

membuat dinding gua karang tergetar.

"Hu hu hu Shaaa..."

Katai Muka Mayat melompat ke

udara.

Serangan Suro luput dan

menghantam altar di depannya. Altar

hancur, tubuh perempuan telanjang

tergontai di udara dan jatuh lagi di

atas hancuran batu-batu altar.

Dari atas menderu selaksa angin

memerihkan kulit Suro Blondo. Pemuda

ini melompat mundur sejauh dua batang

tombak.

"Blaar"

Lagi-lagi gua karang tergetar.

Pukulan yang dilepaskan oleh Katai

Muka Mayat luput. Di tengah ruangan





gua terlihat sebuah lubang besar

akibat pukulan si Katai yang luput

sasaran tadi.

"Zeb Zeb Dep"

Kaki si katai direntang, tangan-

nya diputar cepat. Terdengar suara

angin menderu-deru ketika manusia

katai ini menggerakkan tangannya.

"Badai Topan Menggempur

Karang..." teriak si Katai menyebut

nama jurus yang dimainkannya.

"Serigala Melolong Kera Sakti

Kibaskan Ekor..." jerit Suro Blondo

tidak mau kalah.

Jika Katai Muka Mayat gerakan-

gerakan silatnya sangat teratur

sekali, maka sebaliknya dengan Suro

Blondo. Gerakan yang dilakukannya

tidak pernah beraturan dan terkesan

konyol. Namun hingga sejauh itu ia

dapat menghindari serangan lawan

dengan sangat baik sekali.

Pemuda ini kemudian bergerak

cepat, pada saat lawan semakin

meningkatkan serangannya. Di lain saat

ia melakukan serangan balik yang tidak

kalah hebatnya.

"Hiyaa..."

"Deb"

"Wuus"

Dengan mengerahkan setengah dari

tenaga dalam yang dimilikinya, Katai

Muka Mayat lepaskan tendangan mengge-

ledek ke perut Suro Blondo. Pemuda ini





geser langkahnya ke samping. Tangannya

menangkis sambil lepaskan tinjunya ke

wajah lawan.

"Dhaak"

"Buuk..."

"Wiih..." Suro Blondo mengeluh.

Tangannya yang dipergunakan menangkis

terasa kesemutan. Katai Muka Mayat

terhuyung ke belakang sambil



terpincang-pincang.

Ia menggeram marah, dilihatnya

bayangan lawan semakin lama semakin

bertambah banyak. Ia menyerang lagi

sambil kerutkan kening. Sejauh itu

serangan-serangan yang dilakukannya

selalu mengenai sasaran kosong.

Dengan gusar ia melompat mundur,

tangannya yang pendek diangkat ke

atas

kepala. Tangan itu digosok-

gosokkan antara satu dengan yang

lainnya. Kemudian.

"Plak Plak"

Saatkedua tangannya saling ber-

sambut, maka terdengar suara ledakan-

ledakan menggelegar. Suro terkesiap

ketika sepuluh larik sinar mengejar ke

arahnya. Pemuda berambut kemerahan ini

mencoba memapakinya

dengan pukulan

'Matahari Rembulan Tidak Bersinar'.

Mendadak suasana di sekelilingnya

menjadi sirap. Tangan si pemuda yang

melintang di depan dada bergetar

hebat. Pukulan 'Monyongsong Kabut

Tenggelam Dalam Kegelapan' yang





terdiri dari sepuluh laret sinar

berwarna biru ini seakan tersendat-

sendat. Bukan langsung menghantam

tubuh si pemuda melainkan berputar-

putar mengelilinginya.

Ketika Suro Blondo menggerakkan

kedua tangannya dengan gerak membu-

barkan, maka terdengar sepuluh kali

suara ledakan beruntun. Katai Muka

Mayat jatuh terguling-guling dan

menghantam dinding gua. Sebaliknya,

Suro Blondo jatuh terjengkang. Dari

sudut-sudut bibirnya menetes darah

kental berwarna hitam. Ia cepat

mengerahkan hawa murninya untuk

menyembuhkan luka dalam yang ia

derita. Katai Muka Mayat walau juga

sempat merasa dadanya seperti hendak

remuk, namun secepatnya ia bangkit

berdiri.

"Pemuda ini tidak bisa dianggap

main-main. Kakang Muka Merah tidak ada

di tempat saat ini. Kalau dia ada

tentu untuk membunuhnya bukanlah

sesuatu yang sulit. Kini aku harus

mengerahkan seluruh kemampuanku untuk

menghabisi riwayat anak ajaib ini..."

bathin Katai Muka Mayat.

Selagi lawan dalam keadaan

lengah, Katai Muka Mayat kembali

menyerangnya. Kali ini ia mempe-

rgunakan ruyung peraknya yang

berjumlah dua buah itu.

Suro Blondo menyeringai, ketika





dua ruyung maut yang dapat mengembang

dan menguncup itu menyerangnya. Suro

Blondo menghindarinya sambil berjing-

krak-jingkrak. Terkadang badannya

condong ke depan, lalu miring ke kiri

dan ke kanan. Di lain saat ia

berjongkok, lalu mencecar kaki

lawannya, hingga membuat si Katai

melompat mundur tarik balik serangan.

Tokoh sesat dari sclatan ini

kembangkan ruyung di tangan kiri,

sedangkan yang di tangan kanan

dibiarkannya tetap menguncup. Ruyung

yang terkembang ini dibiarkan

sedemikian rupa, kemudian diputar

hingga menimbulkan deru suara angin

yang

sangat

menyakitkan

gendang-

gendang telinga.

"Ziing"

"Wuut Wuut"

Ruyung yang terkembang menerabas

dada

Suro sedangkan

yang

tetap

menguncup menusuk ke bagian dada.

Salah satu serangan ganas ini memang

dapat dihindari Pendekar Blo'on. Tapi

serangan lainnya tidak sempat

dielakkannya

walaupun

ia

telah

melakukan gerak serta langkah yang

aneh-aneh.

"Bret"

"Eph..." Pemuda ini mendekap

bahunya yang sempat robek dari bagian

baju sampai ke dagingnya. Darah

mengucur. Ia cepat totok urat darahnya





hingga darah yang mengalir cepat

terhenti.

Mata si pemuda berkedap-kedip.

Mulutnya pletat pletot, kemudian kaki

depan ditekuk. Tangan ditepuknya ke

bagian lutut, sedangkan yang kiri

diangkat sejajar dengan bahu. Pemuda

berambut kemerahan ini rupanya tidak

ingin menghadapi serangan senjata

lawan dengan mempergunakan Mandau

Jantan yang selalu memperdengarkan

suara rintihan tangis itu, melainkan

dengan mempergunakan pukulan pamungkas

kedua warisan dari kakek merangkap

gurunya Malaikat Berambut Api.

Rambutnya yang hitam kemerah-

merahan itu secara perlahan berubah

merah membara sepenuhnya sehingga

dilihat sepintas seperti lidah api

yang berumbai-umbai. Jelas si pemuda

telah mengerahkan tenaga dalam

sepenuhnya. Inilah pukulan 'Neraka

Hari Terakhir'. Sebuah pukulan maha

dahsyat yang tidak ada duanya di

kolong langit ini.

Ketika Pendekar Blo'on dorongkan

kedua tangannya ke depan, maka

terdengar suara angin menderu-deru.

Lalu terdengar pula suara jeritan di

mana-mana. Jerit ketakutan yang seakan

datang dari alam roh dan alam kubur.

Jeritan ini sungguh membuat merinding

bulu kuduk yang mendengarnya, termasuk

juga Katai Muka Mayat. Selain itu ia





terkesiap melihat rambut lawannya

seperti dikobari api.

Melihat bahaya yang mengancamnya,

Katai Muka Mayat mengembangkan ruyung

lainnya. Sinar merah hitam menggebu-

gebu. Lalu pukulan maut ini menghantam

ruyung di tangan Katai Muka Mayat.

"Bum Bum"

"Praak"

Benturan itu membuat ruyung di

tangan Katai Muka Mayat hancur

berkeping-keping. Katai

Muka

Mayat

terhempas melabrak dinding goa karang.

Ia bangkit berdiri. Terlihat dengan

jelas darah mengucur dari hidung dan

mulutnya. Namun ternyata ia memiliki

daya tahan yang sangat

hebat.

Secepatnya ia bangkit berdiri. Suara

jeritan mengerikan lenyap, tapi

sebentar kemudian terdengar suara

jeritan lagi.

Kali ini Katai Muka Mayat tidak

tinggal diam. Kehebatan yang dimiliki

pemuda bertampang tolol ini benar-

benar telah membuka matanya. Tidak

pelak lagi bersamaan waktunya dengan

saat pemuda itu lepaskan pukulannya

yang sangat mengerikan itu. Ia juga

lepaskan pukulan 'Menyongsong Kabut

Tenggelam Dalam Kegelapan' tingkat

paling tinggi.

Keadaan di dalam ruangan gua

seperti hendak kiamat saja layaknya.

Berleret-leret sinar saling menghantam





dengan suara yang memekakkan gendang-

gendang telinga.

"Glar Duaamm..."

"Broll..."

"Wuaaakkkhh..."

Suro Blondo tergontai-gontai lalu

terjatuh terjajar menimpa tubuh

perempuan telanjang yang sudah mere-

gang ajal terkena sambaran pukulannya

tadi. Dinding gua jebol, sosok tubuh

terlempar keluar disertai suara

jeritan menggidikkan. Sosok tubuh si

Kate melayang-layang dan terjatuh ke

dalam laut.

Tidak ada seorang pun yang tahu

apakah Katai Muka Mayat ini masih

hidup apa sudah mati. Sambil mengatur

nafasnya yang memburu, Suro Blondo

mengedarkan matanya ke segenap ruangan

gua yang nyaris runtuh dan retak di

sana-sini.

"Eeh... aku telah duduk di atas

mayat perempuan ini," desis pemuda itu sambil bangkit berdiri. Ia melongok ke

arah dinding gua yang berlubang besar,

ia sadar dari sinilah tubuh si katai

terlempar. Ia melirik ke bawah. Masih

terlihat riak-riak air laut di mana

lawannya jatuh tadi. Demikian

tingginya puncak bukit ini sehingga

membuat tengkuk Suro meremang.

"Aku harus memeriksa ruangan

lainnya. Siapa tahu Katai Muka Merah

bersembunyi di dalam sana."





Melihat kondisi gua yang sangat

membahayakan, Suro Blondo cepat

memeriksa sisa-sisa ruangan

yang

berada dalam gua itu. Tapi ia tidak

melihat orang yang dicarinya selain

perempuan-perempuan telanjang yang

sudah tidak bernyawa lagi.

Pendekar Blo'on palingkan muka ke

arah lain dengan muka merah jengah.

"Manusia cebol itu rupanya punya

kegemaran mengumpulkan perempuan. Huh

sayang sekali aku tidak tahu di mana

Katai Merah. Dan si kampret itu siapa

bisa jamin itu siapa bisa jamin kalau

dia mampus terkena pukulanku atau

dimangsa hiu," gerutunya sambil garuk-garuk kepala.

Suro

Blondo kemudian cepat

berlari kaluar dari gua karang itu

ketika ia mendengar suara bergemuruh.

Dinding-dinding gua berjatuhan, baru

saja Suro sampai di mulut pintu gua.

Gua tersebut benar-benar runtuh

menimbulkan suara menggemuruh seperti

diguncang gempa.

"Hampir... hampir saja mampus.

Kalau mati di atas perempuan mungkin

enak. Tapi kalau tertimbun batu apa

enaknya...?"

Suro Blondo nyengir kuda. Ia

memandang ke jalan semula. Melalui

jalan itu pula ia harus turun. Diam-

diam hatinya heran juga ketika melihat

sosok serba putih berdiri di sana





dengan jarak sekitar seratus tombak.





7


Pendekar Blo'on turun lagi.


Setelah jarak mereka semakin bertambah

dekat, maka terlihatlah dengan jelas

bahwa gadis berbaju putih itu tidak

lain adalah dia yang berada di dalam

perahu tadi. Suro Blondo tidak begitu

menghiraukannya. Tapi langkahnya jadi

terhenti ketika melihat si gadis

menghadang langkahnya.

"Aku tidak punya banyak waktu

Kuharap kau mau menyingkir Nisanak"

kata Suro Blondo ketus. Rupanya ia

ingat gadis berkerudung ini begitu

jual mahal ketika ia minta tolong

untuk menyeberangkannya ke bukit

karang ini.

"Hi hi hi Begitu tergesakah kau?

Dan kau telah membunuh orang itu?"

bertanya si gadis sambil tersenyum

malu.

Suro menatap tajam pada lawan

bicara-nya. "Kau siapa? Mengapa selalu berusaha mencari tahu apa urusanku?"

"Aku… hi hi hi Kebetulan adalah

orang yang tidak suka melihat laki-

laki memaksakan kehendaknya pada

perempuan," kata si gadis. "Sedangkan siapa aku kau tidak usah tahu. Cukup

kau panggil Kerudung Putih"





"Kerudung Putih, boleh jadi

Malaikat, hantu pocong, kuntilanak,

dan sejenis peri panunggu laut. Aku

ingin bertanya padamu, kerudung... eh

putih... Apakah kau melihat Katai

Muka Mayat terjun tadi?"

"Hmm, kebetulan aku tidak meli-

hatnya. Yang kulihat adalah runtuhnya

gua karang di atas sana. Aku takut kau

tertimbun. Kalau sampai mati, alangkah

baiknya jika mayatmu kuumpankan pada

hiu-hiu yang kelaparan itu"

"Aku ingin pergi sekarang. Tolong

minggir, tuanmu mau lewat"

"Cih sombong sekali kau. Kau

pasti ingin mencari Katai Muka Merah?"

Suro Blondo melengak terkejut.

"Kau... bagaimana kau tahu?" tanya Suro Blondo terheran-heran.

"Hi hi hi Itu adalah persoalan

yang sangat mudah. Jika kau bermusuhan

dengan Katai Muka Mayat, berarti kau

bermusuhan pula dengan abangnya,"

jelas si Kerudung Putih.

Cuping hidung si pemuda langsung

kembang-kempis ketika mengendus bau

harum tubuh si gadis.

"Apakah kau tahu di mana kira-

kira Katai Muka Merah ini berada...?"

"Hmm... aku bukan mata-mata.

Katai Muka Merah adalah manusia angin-

anginan. Terkadang ia berada di timur,

barat, utara, atau selatan. Atau boleh

jadi dia berada di dasar lautan. Ia





tidak pernah menetap seperti Katai

Muka Mayat yang doyan perempuan itu.

Boleh jadi sekarang ini ia tinggal di

Muara Kali Condong di daerah Pasuruan

bersama muridnya nan cantik jelita.

Apakah kau mau ke sana?"

"Ha ha ha Kebetulan sekali,

sekali jalan dua ekor biang penyakit

dapat kubekuk" desis Suro Blondo.

"Siapakah yang kau maksudkan?"

tanya si Kerudung Putih terheran-

heran.

Tatapan mata si gadis yang bening

memandang tajam pada Pendekar Blo'on.

Tatapan mata yang mengandung makna

begitu dalam. Sehingga membuat Suro

Blondo tidak kuat memandangnya

berlama-lama.

"Menurut guruku, orang yang telah

membunuh kedua orang tuaku adalah

kedua manusia katai itu. Selain itu

masih ada satu lagi. Yaitu Kala Demit.

Dan menurut kabar yang kudengar pula.

Kala Demit tinggal di daerah Pasuruan

juga," jelas Pendekar Blo'on.

Suro Blondo tiba-tiba menghen-

tikan ucapannya ketika melihat gadis

berkerudung putih memandang ke arah

lain.

"Sakitkah kau?" tanya Pendekar

Blo'on.

Si Kerudung Putih menggelengkan

kepalanya.

"Banyak yang kupikirkan akhir-





akhir Ini," kata gadis cantik itu

kemudian.

Ia tidak berani memandang pada

Pendekar Blo'on. Seperti ada sesuatu

yang meresahkan hatinya.

"Kalau boleh tahu, kurasa aku

bersedia menjadi pendengar yang baik

sebelum melanjutkan perjalanan."

"Aku tidak bisa mengatakannya."

"Kalau begitu tidak apa. Aku juga

tidak mau memaksa. Aku sendiri kalau

dipaksa juga tidak mau," tegas Suro

Blondo sambil menggaruk kepalanya.

"Se... sebenarnya entah mengapa

sejak pertama aku melihatmu tadi, aku

tidak sampai hati jika sampai terjadi

apa-apa denganmu. Kala Demit menurut

kabar yang kudengar punya kepandaian

segudang. Pukulan yang dimilikinya

juga dahsyat Selama ini belum pernah

kulihat seorang pun yang

dapat

mengalahkannya," jelas si Kerudung

Putih.

"Ha ha ha..." Suro Blondo

tertawa membahak. Kemudian seka

keningnya yang berkeringat. "Roh ayah dan ibuku tidak dapat tenang di alam

kubur sana jika aku tidak dapat

membalaskan kematian mereka. Aku tidak

perduli apakah Kala Demit atau Katai

Muka Merah punya kepandaian sebanyak

buih di lautan ataupun tujuh lapis

langit tembus. Sejak aku turun dari

Semeru, aku telah bertekad untuk





mencari mereka," tegas Pendekar

Blo'on.

"Aku... sudah terlanjur simpati

dan ingin bersahabat denganmu."

"Aku suka bersahabat dengan siapa

saja, tapi jangan coba-coba mencampuri

urusanku"

Si Kerudung Putih menganggukkan

kepala.

"Aku sama sekali tidak bermaksud

mencampuri urusanmu," tegas gadis itu.

"Kalau begitu, maaf. Sekarang aku

harus pergi"

Kerudung

Putih

tidak

dapat

berkata apa-apa, ketika Suro berlalu.

Namun...

"Tunggu..."

Suro Blondo tidak memperdulikan

teriakan gadis itu. Ia terus berlari.

Namun gadis Kerudung Putih terus

mengejarnya sehingga Pendekar Blo’on

terpaksa hentikan larinya dan memutar

badannya menghadap gadis itu kembali.

"Ada apa? Apakah kau ingin men-

jadi penunjuk jalan bagiku?"

"Eeh... kalau kau mau. Kau dapat

mempergunakan salah satu perahu yang

terdapat di bawah sana," kata si gadis dengan muka bersemu merah.

"Wah... sekarang kau baik sekali.

Terima kasih sekali," jawab Pendekar

Blo'on, "Apakah aku harus membayar-

nya?"

Gadis Berkerudung Putih mengge-





lengkan kepalanya pelan.

Benar saja, ketika pemuda

berambut hitam kemerahan ini sampai di

pinggir pantai bukit karang,

dilihatnya ada dua perahu berukuran

sama tertambat di situ.

"Dia begitu baik. Tapi aku tidak

tahu maksud baiknya. Siapa dia? Mudah-

mudahan saja ia bukan anak kuntilanak

atau penunggu teluk ini," bathin si

pemuda.

Suro melepaskan salah

satu

perahu. Dengan mempergunakan perahu

tersebut, Pendekar Blo'on menyeberangi

selat yang cukup lebar. Sementara

gadis Berkerudung Putih berdiri

mematung di tempatnya. Wajahnya yang

cantik berubah sendu. Sekarang ia

menjadi ragu apakah ia harus mengikuti

pemuda polos yang telah menyita

perhatiannya dalam satu hari ini atau

membiarkannya tewas di tangan Kala

Demit?

Rasanya ia tidak sampai hati

melihat Suro Blondo tewas di tangan

tokoh sesat yang kabarnya punya

kepandaian tinggi tersebut. Padahal

menurut kabar, Kala Demit adalah tokoh

yang tidak ada duanya di kolong langit

ini.

"Aku harus mencegahnya untuk

menghindari hal-hal yang tidak

diingini terjadi padanya," bathin si

Kerudung Putih.





Dewi Kerudung Putih kemudian

menuruni bukit karang. Tidak lama ia

telah mendayung perahunya menyusul

Pendekar Blo'on.

Sepanjang perjalanannya menuju

Pasuruan ia menjadi ragu-ragu. Entah

mengapa ia merasa suka pada pemuda

berambut kemerah-merahan ini. Padahal

selama ini ia merasa belum pernah

jatuh hati pada pemuda tampan mana

pun. Tetapi yang satu ini terasa lain

dari yang ada. Ia ingat betul ketika

mencuri pandang pada si pemuda.

Jantungnya berdetak lebih cepat,

hatinya gelisah tidak menentu. Tatapan

Pendekar Blo'on begitu polos dan

menggetarkan.

Tidak biasanya si Kerudung Putih

yang biasanya dapat bersikap tegas itu

kini menjadi gadis yang seperti

kehilangan keberanian. Keragua-raguan

it uterus mengiringi perjalanannya

menuju ke Pasuruan.





***



Muara Kali Condong ternyata

sangat jauh lagi dari Pasuruan. Pemuda

baju

biru muda ini merasa perlu

menangsal perutnya sebelum sampai ke

tempat tujuan. Tapi di sepanjang jalan

yang dilaluinya sangat jarang sekali

warung penjual makanan. Kalupun ada

itu pun sudah penuh sesak oleh





pengunjung.

"Kalau begitu aku harus mencari

warung lain. Tapi... eh, sebaiknya aku

bertanya pada orang di depan itu.

Siapa tahu mereka dapat memberiku

petunjuk di mana kira-kira Kala Demit

berada." Setelah memikir sampai ke

situ akhirnya ia menemui seorang laki-

laki yang kebetulan lewat di depannya.

"Ki... apakah Aki kenal dengan

Kala Demit?"

Si laki-laki miringkan wajahnya.

Telinga digerak-gerakkan. "Apa... di

sini memang daerah yang ramai. Kalau

mau jual atau beli ayam di ujung pasar

sana." Laki-laki itu berlalu. Pendekar Blo'on geleng-gelengkan kepala.

"Orang itu mungkin tuli. Orang

bertanya Kala Demit, dia malah bicara

soal ayam Dasar edan..." Si pemuda

menggerutu, lalu berjalan lagi. Tidak

lama ia bertemu lagi dengan seorang

pemuda. Pemuda itu bibirnya agak

sumbing. Suro Blondo lambaikan tangan

dan bertanya lagi: "Saudara... apakah saudara tahu di mana tempat tinggal

Kala Demit?"

Pemuda itu memandang ke arah Suro

Blondo, menelitinya sebentar sambil

berkata: "Hohala hertanya henhang Hala Hemit? Holang haik hihu hinggal hihak

hauh haii hini."

Mendengar jawaban si pemuda

sumbing Suro Blondo jadi garuk-garuk





kepala karena tidak mengerti.

"Apa sih maksudnya?"

Si pemuda sumbing jadi jengkel

melihat pemuda konyol di depannya.

Lalu ia rapatkan bibirnya yang

sumbing. Ia bicara dekat sekali dengan

telinga Suro Blondo. Dengan merapatkan

bibir suaranya semakin jelas.

"Saudara bertanya tentang Kala

Demit? Orang baik itu tinggal tidak

jauh dari sini, tolol"

Pemuda sumbing segera berlalu.

Suro Blondo hampir-hampir tidak dapat

menahan tawanya. Karena perjelasan itu

dianggapnya kurang cukup, maka ia

menghampiri seseorang anak kecil yang

sedang bermain di halaman.

"Dik Di mana ya Kala Demit

tinggal?"

Bocah berusia sekitar sebelas

tahun itu memandang pada si pemuda,

lalu senyumnya mengembang.

"Dari sini abang terus

saja,

setelah itu belok ke kiri, setelah ke

kiri terus belok ke kanan, lalu ke

kiri lagi, kemudian ke kanan. Sampai

di ujung jembatan bambu abang terus

saja, lalu belok ke kiri, lalu ke

kanan. Jika abang melihat patok-patok

kuburan, nah dari situ sudah terlihat

rumahnya."

Suro Blondo garuk-garuk rambutnya

yang tidak gatal. Kepalanya menjadi

pusing setelah mendengar keterangan si





bocah.

"Sial betul Di dunia ini namanya

belokan memang cuma ada dua. Kalau

tidak ke kiri ya ke kanan. Akh...

bodohnya aku. Mengapa kena dikerjai

oleh bocah ingusan?"

Suro menggerutu sendiri, tanpa

mau bertanya-tanya lagi. Akhirnya ia

memutuskan untuk menelusuri jalan

sebagaimana yang dikatakan oleh si

bocah. Langkahnya cepat, mulutnya

berkomat-kamit menghitung banyaknya

tikungan yang telah dilaluinya "Kiri-

kanan. Hem, kiri lagi. Kiri-kanan.

Weleh-weleh banyak sekali tikungan di

sini. Berarti bocah itu tidak bohong,

ia jujur. Untungnya aku bertemu dengan

anak lugu. Hmm, sekarang kanan... ha

ha ha... kiri lagi... dan... kalau

tidak salah itulah jembatan bambu yang

dimaksudkannya. Tapi mengapa tidak

kulihat patok-patok kuburan? Jangan-

jangan anak itu membohongiku. Ah...

bohong apa bukan ya... bukan apa

bohong ya... bukan bohong" kata si

pemuda sambil berjingkrak ketika

melihat sebuah tempat pemakaman yang

luas terbentang di seberang jembatan

sungai.

Suro Blondo bergegas menyeberang.

Tapi di depan mulut jembatan,

langkahnya tertahan ketika melihat

sebuah papan peringatan. Bertulis....





Sudi jembatan gila

Jika datang mengusung mayat,

berarti selamat

Jika tiba membawa niat baik,

berarti manusia cerdik

Andai datang membawa dendam dan

amarah berarti celaka...



"Omong kosong" Suro Blondo

tersenyum mencibir. "Pasti semua ini perbuatan Kala Demit. Betapa sok

tahunya manusia busuk yang satu itu.

Aku, Suro Blondo datang ingin menuntut

balas. Hei….. jembatan gila, sinting,

miring. Coba tunjukkan kebolehan

gilamu"

Baru selesai ia berucap, maka

pemuda ini mulai menyeberangi jembatan

bambu yang lebarnya tidak lebih dari

satu meter ini. Di bawahnya lebih

kurang sepuluh tombak sebuah jeram

berbatu dan deras airnya menanti

tubuhnya. Pendek kata tarpeleset

sedikit saja nyawa tidak akan ter-

tolong. Dengan gerakan ringan Pendekar

Blo'on mulai menyeberang. Tapi entah

mengapa tiba-tiba saja jembatan ter-

sebut bergetar. Getaran itu disertai

guncangan keras, hingga membuat si

pemuda nyaris terlempar dari atas

jembatan.

"Benar Sudi Jembatan edan... Ee,

bagaimana ini? Bambu-bambu ini terus

bergerak seperti ada yang mengayunnya,





Kalau begitu aku harus merangkak di

atasnya...."

Suro Blondo akhirnya terpaksa

merangkak dengan kedua kaki dan

tangannya. Sesekali ia harus ber-

pelukan erat pada batang bambu untuk

menjaga keseimbangan tubuhnya.

Jika semula gerakannya lambat,

semakin lama dan semakin ke tengah

semakin dipercepatnya. Sampai akhirnya

ia benar benar sampai ke seberang

dengan selamat.

"Puuuuh..." Si pemuda menghem-

buskan nafasnya dalam-dalam. "Jembatan gila si Sudi tidak bisa dianggap main-main"

Pemuda berambut kemerahan ber-

tampang tolol berwajah tampan ini

memandang ke sekelilingnya,

Di ujung tanah pemakaman itu ia

melihat sebuah rumah sederhana berdiri

tegak dengan tenangnya. Selain rumah

yang satu itu, memang tidak ada rumah-

rumah penduduk lainnya.

"Kala Demit memang manusia

cerdik. Ia memilih tempat tinggal

dekat kuburan agar aku tidak susah-

susah menguburkannya"





***





8


Merasa tujuannya hampir sampai,


Suro

Blondo mengayunkan langkahnya

lagi. Setelah melewati jalan setapak,

ia terpaksa mengambil jalan pintas

dengan melewati tengah-tengah kuburan.

Pada saat ia berjalan itulah,

Suro merasa ada sesuatu yang tidak

beres. Tanah yang dipijaknya bergerak-

gerak seperti hidup. Permukaan tanah

bergelombang. Ketika Pendekar Blo'on

menghentikan langkahnya, maka permu-

kaan tanah yang ikut bergerak-gerak

tadi ikut berhenti pula.

"Acara edan apa lagi ini yang

dipersembahkan oleh Kala Demit? Aku

tidak yakin ada dedemit yang mengikuti

aku melalui bawah tanah. Atau memang

ada siluman yang dapat melakukannya?"

bathin Suro Blondo.

Ia memandang ke sekelilingnya

yang sepi, lalu memandang ke langit

yang sunyi Suro tiba-tiba merasa

berada dalam keterasingan waktu.





Dan hidup di dunia ini seperti

seorang diri.

"Suro Hati dan pikiranmu

sesungguhnya adalah satu. Jika kau

merasa hidup ini sepi. Sesungguhnya

itu hanya permainan dan suasana hati.

Lingkunganmu adalah duniamu. Kau hadir

di dunia ini bersama empat saudaramu.

Suatu saat kau kembali lagi pada Sang





Pencipta, juga sendiri. Jika kau

berada di kuburan, maka ingat-ingatlah

mati. Karena kematian itu pasti akan

datang pada setiap orang. Tidak

perduli apakah dia orang berpangkat,

hartawan, atau gembel sekali pun.

Tidak seorang pun yang dapat menunda-

nunda kematiannya, walau barang

sedetik pun. Musuh yang paling hebat

datang dari diri sendiri, yaitu dari

hawa nafsumu. Kebanyakan manusia jadi

celaka dan tidak berguna karena

terlalu menuruti hawa nafsu"

Wejangan-wejangan yang pernah

diberikan oleh gurunya kini seakan

mengiang kembali di dalam gendang-

gendang telinganya.

"Di sana kubur di sini kubur, di

tengah-tengah aku berdiri. Aku hanya

orang yang ingin berbakti pada orang

tua. Hawa amarahku tidak kelihatan,

namun Kala Demit harus kucari" pikir Pendekar Blo'on.

Setelah menimbang baik buruknya,

Suro

Blondo bermaksud

meneruskan

langkahnya lagi. Namun langkah kakinya

terhenti seketika saat melihat ada

papan peringatan tidak jauh dari

tempat ia berdiri.



Saudara sampai di kuburan Mayat

Hidup

Teruskan langkah berarti celaka

Lupahanlah masa lalu, karena





setiap manusia,

Tidak pernah luput dari khilaf

dan dosa

Lebih baik kita berdamai saja....



Suro tersenyum mencibir, lalu

pencongkan mulutnya. "Mana bisa Kalau orang tuaku dapat hidup kembali dengan

hanya sejuta kata penyesalan dan maaf.

Tentu setiap orang sudi memberi maaf.

Hutang darah bayar darah, hutang pati

bayar pati. Hutang ubi harus dibayar

dengan talas. Hutang mati harus

dibalas. Kala Demit Begini pengecut-

nyakah kau.... Tunjukanlah dirimu agar

kau dapat melihat bocah yang kau cari-

cari dulu kini telah menyerahkan diri

datang sendiri" teriak Pendekar

Blo'on.

Sejenak adalah hening. Sepi

begitu menyentak, hingga setiap

tarikan nafas Suro Blondo terdengar

dengan jelas.

Hingga sejauh itu tidak terdengar

suara apa-apa. Suro Blondo mulai

mencari-cari. Namun apa yang

diharapkannya tidak muncul-muncul juga

hingga membuatnya jadi kesal.

"Baiklah... kalau kau tidak mau

menemuiku. Aku akan menyeretmu keluar

dari pondok bututmu itu, Kala Demit''

teriak si pemuda dengan suara lebih

lantang lagi.

"Gleerrr..."





Bukan jawaban yang didapatnya,

tapi suara menggemuruh yang disertai

retaknya permukaan tanah. Pada retakan

tanah itu terlihat gerakan aneh seakan

ada sebuah kekuatan yang meronta-ronta

dari dalamnya.

Suro Blondo terkesiap. Memandang

berkeliling, pemandangan yang sama

terlihat dengan jelas. Lalu....

Diawali dengan suara ringkikan

panjang, maka menyembullah sosok

kepala dalam jumlah yang sangat

banyak. Lalu sosok tubuh menggeliat

keluar.

Wajah mereka sangat menyeramkan,

karena wajah itu rusak dan berlendir.

Hidung sumplung, kedua mata membentuk

rongga besar. Tercium pula bau busuk

menusuk penciuman. Hingga membuat si

pemuda berjalan mundur sambil menahan

napas agar tidak muntah.

"Mayat hidup? Mungkinkah semua

ini perbuatan Kala Demit? Begitu

pengecutnya dia..." desis Suro

Blondo.

Tidak sampai sepemakan sirih,

pemuda berambut hitam kemerahan ini

telah dikepung dari segala penjuru

arah.

"Edan..."

"Groaaaakh..."

"Crep Craap"

"Hiyaaa..."

Suro lentingkan

tubuhnya. Hingga kedua kakinya yang





terpegang oleh mayat-mayat hidup dapat

terlepas.

"Groaakh..."

Baru saja Suro menjejakkan

kakinya di atas tanah, mayat-mayat

gentayangan ini telah menyergapnya

kembali.

Begitu kompaknya serangan mereka,

sehingga membuat Suro jadi kerepotan.

Ia melompat lagi ke udara. Ia segera

mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah

Kutu'

Tangan pemuda itu bergerak

dengan lincahnya, sementara kaki

terkadang menendang atau meliuk-liuk

menghindari sergapan lawan-lawannya

yang terdiri dari mayat-mayat yang

serba menjijikkan ini.

"Groakkk..."

"Upts..."

Begitu ganasnya serangan-serangan

mayat hidup ini hingga membuat Suro

Blondo semakin bertambah repot saja.

"Heyaa..."

"Duk Duk"

"Gubrak"

Suro Blondo jatuh terguling-

guling. Belum sempat ia berdiri, kaki

mayat hidup yang berselumut lendir

menendangnya berulang-ulang. Hingga

membuatnya terhempas kian kemari.

"Sesuatu yang mengacaukan ter-

kadang banyak menolong dirimu"

Dalam keadaan muntah darah

seperti itu, Suro seperti mendengar





petuah kakek merangkap gurunya, yaitu

Malaikat Berambut Api.

"Hraa..."

Pendekar Blo'on melompat menjauh.

Setelah berdiri sepenuhnya, tanpa

menghiraukan darah yang meleleh di

bibirnya, ia putar langkah, mulut

dimonyong-monyongkan, lalu gerakan

yang dilakukannya kemudian adalah

sesuatu yang sangat kacau. Inilah

jurus 'Kacau Balau'. Sebuah jurus

pamungkas kedua yang dilandasi dengan

gerakan aneh dan sangat kacau dan

jelas sangat bertentangan dengan

jurus-jurus silat.

Betapa tidak, terkadang tubuh si

pemuda terhuyung ke depan seperti

orang yang hendak terjengkang. Di lain

saat miring ke kiri, oleng ke kanan.

Kaki setengah diangkat seperti orang

yang terpeleset kulit pisang.

Namun betapa pun hebatnya sera-

ngan mayat-mayat hidup ini, tidak satu

pun serangan mereka mengenai sasaran.

Sebaliknya, begitu Suro melakukan

serangan balik dengan cara yang aneh

dan sulit diikuti kasat mata, maka

lawan-lawannya nampak berpelantingan

terkena jotosan maupun tendangan

kakinya.

Melihat kawannya bergelimpangan,

maka yang lainnya menyerang dengan

kecepatan dan kekuatan berlipat ganda.

Sebaliknya mayat-mayat hidup yang





sempat terhempas ini bangkit pula

kembali. Sehingga tekanan serangan

lawan semakin bertambah berat saja.

"Gila... Mayat-mayat ini

digerakkan oleh satu kekuatan. Aku

harus melepaskan pukulan 'Ratapan

Pembangkit Sukma'," desis Suro Blondo.

"Huup"

Pemuda ini menarik tangannya yang

membentang lurus ke depan. Setelah itu

ia kerahkan tenaga dalam yang

dimilikinya. Sekejap kedua tangannya

bergetar, sedangkan sekujur tubuhnya

hanya dalam waktu singkat telah

dibasahi keringat.

"Hyaaa..."

"Wuuk Wuuk Wuuk"

Angin kencang disertai hawa

dingin menderu ke delapan penjuru

arah. Gelombang angin bercampur salju

putih ini kemudian menghantam mayat-

mayat gentayangan itu dengan telak.

"Bumm Buum Buum"

"Groaaaakh..."

Jerit menggidikkan terdengar.

Jasad rusak busuk mengerikan berpelan-

tingan roboh. Mereka berubah beku,

tapi yang terhindar dari pukulan

dahsyat si pemuda, lepaskan pukulan

yang tidak kalah dahsyatnya dari

pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'.

Kenyataan ini membuat Pendekar

Blo'on terkesiap. Dengan cepat ia

lepaskan pukulan yang sama lagi.





"Glar Glaar"

Ledakan-ledakan yang keras dan

memekakkan gendang telinga terdengar.

Pemakaman umum jadi porak poranda.

Suro Blondo jatuh terguling-guling.

Nyata kalau ia menderita luka dalam

yang cukup serius. Terbukti darah

mengalir tidak ada henti dari sudut

bibirnya.

Ia langsung menelan dua butir pel

berwarna hitam. Tidak lama darah

terhenti.

Terhuyung-huyung pemuda ini

bangkit berdiri.

Mulutnya

peletat-

peletot, suatu pertanda amarahnya

sudah sampai ke ubun-ubun.

“Jika aku tidak pergunakan sen-

jata Kurasa sebentar lagi jiwaku

melayang,"

bathinnya.

Kemudian ia

mencabut mandau di balik pakaiannya.

Lalu terdengar suara tawanya memba-

hana. "Mandau Jantan Jika benar kau penjelmaan dari seorang pertapa sakti

patah hati. Tunjukkanlah kehebatanmu

Aku

membunuh mayat hidup yang

menyalahi aturan. Tempat mereka adalah

di liang kubur Hiyaaa..."

"Hiiiii..."

Begitu mandau jantan di tangan

Suro Blondo berkiblat. Maka empat

lubang miring yang terdapat di tengah-

tengah mandau tersebut mengeluarkan

suara jeritan tangis.

Sinar hitam menderu-deru disertai





bersiurnya udara dingin luar biasa.

Laksana kilat senjata maut ini

menerabas.

"Crass Tas Ctas Ctaas"

"Grooook..."

Mayat-mayat hidup itu pun

berpelantingan terkena tebasan senjata

milik Pendekar Blo'on.

Di luar sepengetahuan si pemuda.

Kiranya ada sepasang mata indah dan

bening memperhatikan sepak terjangnya.

Ia sempat mengkirik ketika melihat

senjata di tangan pemuda itu membuat

mayat-mayat hidup yang tentunya telah

dibangkitkan oleh Kala Demit menjadi

tidak berarti sama sekali.

Tapi lama kelamaan ia tidak tega

juga melihat pemuda ini mengamuk

membabi buta. Sebab ia tahu persis

bahwa mayat-mayat itu tidak mungkin

dihentikan meskipun mereka

telah

kehilangan kepala, tangan maupun

kakinya.

Tidak lama kemudian ia pun keluar

dari tempat persembunyiannya.

"Rebah..."

Terdengar suara teriakan gadis

berkerudung putih ini. Maka tanpa

disangka-sangka oleh Suro Blondo,

mayat-mayat yang menyerang Pendekar

Blo'on pun berjatuhan dan kembali ke

asalnya.

Jasad mereka dalam waktu singkat

telah berubah membusuk. Suro ter-





kesiap. Ia memandang ke arah datangnya

suara.

"Kau... Rupanya kau mengikuti

aku, Kerudung Putih" dengus Suro

Blondo. "Pasti semua ini adalah

permainanmu"

"Justru kau salah Aku hanya tahu

bagaimana caranya menjatuhkan mereka,

bukan membangkitkannya," bantah si

gadis tegas.

"Lalu apa tujuanmu mengikuti aku

kemari?"

"Aku hanya mengkhawatirkan kese-

lamatanmu" jawab Dewi Kerudung Putih

dengan malu-malu.

Suro merasa serba salah.

“Kau tidak punya sangkut paut

apa-apa denganku. Jika aku mati engkau

pun tidak akan rugi."

“Tetapi aku tidak mau melihat kau

mati,"

"Kalau begitu coba kau katakan di

mana Kala Demit dan Katai Muka Merah

Aku tidak melihat dia ada di rumah

itu," ujar si pemuda.

"Aku tidak mampu memastikannya.

Mungkin beliau sedang melakukan

perjalanan ke Madura. Biasanya sangat

lama dan entah kapan dia pulang ke

sini lagi"

Kening Suro berkerut tajam. "Kau

ada hubungan apa dengan Kala Demit?"

Dewi Kerudung Putih menggelengkan

kepala.





"Mengapa waktu itu kau

menghalangi aku?" tanya Pendekar

Blo'on tanpa berani memandang ke mata

si gadis yang menyimpan seribu macam

teka-teki itu.

Dewi Kerudung Putih tampaknya

ingin mengatakan sesuatu. Tetapi

bibirnya seperti terkunci. Hanya

tatapan matanya yang terasa begitu

aneh, bahkan kemudian wajah gadis

berkulit bersih dengan bulu-bulu halus

di pipinya tampak kemerah-merahan.

"Engkau tidak mengerti bagaimana

perasaanku saat pertama kali melihatmu

di teluk," jerit Dewi Kerudung Putih.

Selanjutnya tanpa bicara apa-apa

lagi ia segera berkelebat pergi.

Begitu cepat gerakannya, sehingga

dalam waktu singkat Dewi Kerudung

Putih telah lenyap dari pandangan mata

si pemuda.

"Dia begitu aneh, tatapan matanya

juga aneh. Matanya terasa lembut

bening dan sejuk. Dan caranya

memandang yang malu-malu. Sepertinya

ia kagum padaku. Ah... ada-ada saja,"

dengus Pendekar Blo'on seraya kemudian

geleng-geleng kepala.

Ia merasa

pikirannya menjadi kalut. Kala Demit

adalah musuh besarnya, demikian juga

dengan Katai Muka Merah. Tetapi gadis

yang berjuluk Dewi Kerudung Putih itu

mengapa selalu membayangi dan

mengkhawatirkan keselamatannya?





"Jika seorang gadis menaruh

perhatian besar padamu. Bisa jadi ia

sedang jatuh cinta."

Kata-kata yang pernah diucapkan

oleh Penghulu Siluman Kera Putih

seakan mengiang kembali di telinganya.

Suro tersenyum masam. Dua gadis

cantik paling tidak telah menyita

perhatian dan waktunya. Walau itu

hanya sedikit.

Yang satu agak terbuka. Sedangkan

yang satunya lagi sangat misterius.

Pemuda bertampang ketolol-tololan seka

keringat di wajahnya, sambil

menggeleng-gelengkan kepala ia me-

langkah pergi.

Suro Blondo sama sekali tidak

menyadari bahwa sejak meninggalkan

teluk di pantai laut Selatan, ada

bayangan-bayangan lain yang terus

mengikutinya dari tempat yang cukup

aman.

Gerakan bayangan-bayangan terse-

but sangat cepat seperti setan.

Terkadang mereka mengikuti dari jarak

yang sangat dekat. Tetapi tidak jarang

bayangan-bayangan itu menghilang,

kemudian muncul bayangan baru meng-

gantikan posisi yang pertama.

"Bagaimana pun aku harus pergi ke

Madura. Kurasa gadis kerudung putih

tidak berdusta. Ha ha ha... Kuda

budek sapi nungging. Ke mana pun

kalian bersembunyi aku tetap akan





mengejar kalian" seru Pendekar Blo'on seperti orang sinting.





9


Laki-laki itu berbadan tegap


tinggi, perutnya bundar, kulit hitam

seperti arang. Wajahnya angker dan

tampak ditumbuhi cambang serta jenggot

lebar berwarna putih. Rambutnya yang

jarang juga tampak telah memutih. Bila

tersenyum giginya yang cuma tinggal

beberapa buah terlihat jelas. Gigi-

gigi itu berwarna hitam.

Di dalam ruangan sempit bangunan

batu, ia tampak mondar-mandir seperti

ada sesuatu yang sangat mengusik

pikirannya. Mulutnya tidak henti-henti

mengunyah. Ketika ia meludah, maka

ludahnya tampak berwarna merah.

Di Rimba persilatan kakek tua

yang suka makan sirih ini dikenal

dengan julukan 'Datuk Hitam Gadang

Dibumi'. Beberapa tahun yang lalu ia

baru saja meninggalkan tanah Andalas.

Kejahatannya yang menggunung membuat

ia

dimusuhi oleh tokoh-tokoh

persilatan tanah Andalas. Ia bukan

saja tokoh hitam sesat yang selalu

membuat

onar

dan beberapa kali

melakukan pemberontakan tarhadap Rajo

Mangku Alam. Tetapi perbuatannya yang

selalu

menculik gadis-gadis demi





kesempurnaan ilmunya telah membuat

penduduk di tanah barat menjadi

khawatir sekaligus murka.

Rajo Mangku Alam bahkan

menyediakan dua kantung emas bagi yang

dapat manangkap Datuk Hitam Gadang

Dibumi hidup atau mati. Tidak heran

jika akhirnya ia meninggalkan tanah

Andalas dan kini gantayangan di tanah

Jawa.

Satu hal yang menguntungkannya.

Di tanah Jawa ini ia mempunyai dua

orang sahabat baik. Katai Muka Mayat

dan Katai Muka Merah adalah kawan-

kawan yang bersedia memberi tumpangan

hidup dengan segala fasilitasnya.

Walaupun begitu, kebiasaan Datuk Hitam

Gadang Dibumi dalam menculik anak-anak

perawan terus berlanjut. Apalagi

mengingat sekarang di tanah Jawa ini

ia mempunyai anak buah yang selalu

patuh menjalankan perintahnya.

Kini ia menjadi sangat resah,

karena sudah dua hari anak buahnya

yang bernama Lohgender atau yang lebih

dikenal dengan julukan Setan Merah

Mata Jereng belum juga kembali dari

perjalanannya. Padahal keinginannya

untuk mencicipi kehangatan tubuh

wanita sudah semakin menggebu-gebu.

"Setan alas. Menunggu... menunggu

dan terus begitu sepanjang hari. Lama

kelamaan membuat aku bosan. Setan

Merah Mata Jereng, kalau sampai tidak





mendapatkan gadis malam ini, hukumanmu

akan semakin bertambah berat..."

geram si Datuk sambil membanting-

bantingkan kakinya. Bangunan batu kali

bergetar hebat ketika kaki Datuk Hitam

Gadang Dibumi menghantam lantai batu.

Tanpa menghiraukan getaran yang

terjadi, laki-laki bertelanjang dada

itu berjalan mondar-mandir mengitari

ruangan. Tetapi langkahnya terhenti

dengan tiba-tiba. Rupanya ia mendengar

sesuatu yang mencurigakan di luar

sana. Setelah menunggu beberapa saat

lamanya, kemudian terdengar suara

ketukan pada daun pintu yang sudah

tua.

"Trotok Tok Tok"

"Siapa?" bentak Datuk Hitam

Gadang Dibumi.

"Aku yang datang Datuk. Harap

membuka pintu, santapan yang kubawa

ini kurasa sangat sesuai dengan

seleramu" terdengar sebuah jawaban.

Suara orang di luar serak, seakan

ada kodok di dalam tenggorokannya.

Kakek berambut putih bertampang

bengis segera menghampiri

pintu.

Setelah pintu dibuka maka di depan

pintu tersebut berdiri seorang laki-

laki bermuka merah, sedangkan matanya

yang menjorok ke dalam rongga tampak

jereng. Di bahu laki-laki berumur

sekitar lima puluh tahun tersebut

tersampir

tubuh

seorang wanita.





Melihat keadaannya yang lemah lunglai,

tampaknya gadis memakai kain kebaya

itu dalam keadaan tertotok baik urat

gerak maupun suaranya.

"Bawa ke kamarku" perintah Datuk Hitam Gadang Dibumi sambil leletkan

lidah basahi bibir.

Laki-laki muka merah segera

melakukan perintah atasannya. Setelah

meletakkan tubuh gadis malang tersebut

di atas tempat tidur yang terbuat dari

batu pula, maka Setan Merah Mata

Jereng keluar kembali. Ia duduk di

ruangan depan sambil mengeluarkan

sebuah bumbung kecil berwarna hitam

dari balik pakaiannya. Isi bambu

diintipnya, sehingga terlihat sepasang

Yuyu (sejenis kepiting kecil air

tawar). Yuyu-yuyu itu dikeluarkannya.

"Apa itu?" tanya Datuk Hitam

Gadang Dibumi.

"Sepasang Yuyu, Datuk" sahut

Setan Merah Mata Jereng ketakutan dan

tampak berusaha melindungi binatang

mainannya.

"Aku bosan melihat yuyumu.

Rupanya kutugaskan selama dua hari kau

mencari yuyu dulu baru kemudian

mencari gadis yang aku inginkan?"

"Tidak Datuk Kutemukan mainan

kesayanganku ini di tengah jalan."

"Bagaimana kalau yuyumu kubunuh?"

Setan Merah Mata Jereng ter-

kesiap. Dua hari yang lalu Datuk itu





juga membunuh yuyu-yuyu

miliknya.

Padahal mainan itu sangat ia senangi

dunia akhirat.

"Jangan... kumohon Datuk jangan

membunuhnya. Yuyu ini adalah belahan

hatiku. Jika Datuk membunuhnya, oh...

aku bisa sangat sedih sekali" ucap

Setan Merah Mata Jereng.

"Baiklah, aku tidak akan mem-

buatmu kecewa. Tetapi kuharap selama

aku bersenang-senang, kau main di luar

sana"

"Bbb... baik, Datuk. Terima kasih

karena kau tidak menyakiti binatang

kesayanganku" ucap si laki-laki muka merah. Setelah itu Setan Merah Muka

Jereng segera meninggalkan ruangan

tersebut. Datuk Hitam Gadang Dibumi

tersenyum sinis, lalu ia melangkah

menuju kamarnya.

Sebentar saja Datuk Hitam Gadang

Dibumi telah berada di dalam kamarnya

sendiri. Matanya yang bengis memandang

tajam pada calon korbannya.

"Tubuh ramping, dada padat dan

pinggulmu Ha ha ha..." Si Datuk tertawa membahak. Sejenak ia terdiam,

tangannya dangan liar meraba-raba dada

si gadis yang terasa padat

dan

kenyal. Gadis malang tersebut tentu

saja tidak dapat mencegah kekurang

ajaran si Datuk apalagi berteriak,

karena sekujur tubuhnya dalam keadaan

tertotok.





"Tidak perlu merasa takut Sayang.

Kita akan bersenang-senang. Aku akan

memberimu sebuah pengalaman yang belum

pernah kau dapatkan selama ini" kata laki-laki tua itu.

Kemudian Datuk Hitam Gadang

Dibumi duduk di samping gadis itu. Ia

mendaratkan ciuman bertubi-tubi di

bibir si gadis. Gadis malang berkulit

kuning langsat tersebut tampak

menitikkan air mata. Wajahnya berubah

pucat ketakutan.

Datuk Hitam Gadang Dibumi sama

sekali tidak menghiraukan semua ini.

Malah sekarang ciumannya turun ke

bagian leher si gadis yang jenjang.

Lalu secara kasar....

"Bret Bret"

Jemari tangannya yang kokoh

mencabik habis pakaian yang membalut

tubuh gadis itu. Sehingga gadis malang

tadi sekarang sudah tidak berpenutup

sama sekali.

Mata sang Datuk berubah jalang

macam singa kelaparan. Tangannya

Bemakin kurang ajar Baja. Menggerayang

dan meremas-remas dada si gadis dengan

kasar. Tidak berselang beberapa lama

bahkan tangannya meluncur ke bawah

perut dan bermain-main di sana.

Air mata gadis itu semakin deras

menetes. Sementara Datuk Gadang Dibumi

mulai melepaskan pakaiannya sendiri.

Sebentar saja ia telah berada di atas





tubuh si gadis. Kemudian ia melakukan

gerakan-gerakan yang teratur. Gadis

tersebut menyeringai kesakitan ketika

kejantanan Datuk Hitam Gadang Dibumi

memasuki dirinya dengan paksa.

Gerakan laki-laki tua itu semakin

lama semakin menggila, menghempas-

hempas dengan hebatnya. Hingga akhir-

nya tubuh tuanya melengkung disertai

teriakan lirih penuh kenikmatan.

Kemudian ia terkapar dengan senyum

puas mengambang di bibirnya.

Tidak terbayangkan betapa hebat-

nya penderitaan si gadis. Hatinya

jelas-jelas terguncang. Andaikan saja

dia tidak dalam keadaan tertotok dapat

dipastikan gadis itu telah membunuh

diri.

"Ha ha ha… Hebat... kau gadis

yang

masih suci

Karena itu aku

mengampuni jiwamu. Jika saja kau sudah

tidak asli lagi. Tentu kau sudah

kubunuh..." ucap Datuk Hitam Gadang Dibumi sambil mengenakan pakaiannya

kembali.

"Tok Tok Tok"

Baru

saja sang Datuk selesai

berpakaian, pintu sudah ada yang

mengetuknya.

"Bangsat apa lagi yang berani

mengganggu

ketenanganku" dengusnya

geram.

Kemudian ia menghampiri pintu dan

membukanya. Ia menjadi jengkel, karena





yang mengetuk pintu tidak lain adalah

Setan Merah Mata Jereng.

"Ada apa lagi? Apakah kau tidak

tahu bagaimana kebiasaanku?" bentak si tua bengis marah.

"Maaf, Datuk. Di luar ada orang

terluka parah ingin bertemu denganmu"

lapor Setan Merah Mata Jereng

ketakutan.

"Kalau sudah terluka parah

biarkan saja mampus. Bukankah kau juga

bisa mempercepat kematiannya?"

"Tet... tetapi ia mengaku sebagai

kawan Datuk sendiri," ujar Si Jereng.

Kemudian ia menjelaskan ciri-ciri

orang yang dilihatnya. Wajah sang

Datuk seketika berubah.

Tanpa bicara apa-apa ia segera

bergegas keluar dari dalam bangunan

tersebut. Ternyata di depan pintu

tampak seorang laki-laki bermuka pucat

seperti kain kafan dalam keadaan

lemah. Di tubuh laki-laki bertubuh

pendek ini terdapat beberapa luka yang

sudah mulai membusuk.

"Katai Muka Mayat, sahabatku...?"

seru Datuk Hitam Gadang Dibumi dengan

terkejut.

Ia segera memapah sahabatnya itu

untuk dibawa masuk ke dalam. Setelah

berada di dalam ruangan, maka Setan

Merah Mata Jereng merebahkannya di

atas tempat tidur sederhana terbuat

dari marmar.





"Apa yang terjadi denganmu?"

tanya kakek berbadan tinggi jangkung

berkulit gelap ingin tahu.

"Akkh... seseorang. Bocah ajaib

itu memukulku dengan pukulan yang

sungguh dahsyat. Ia datang untuk

menuntut balas atas kematian orang

tuanya dua puluh tahun yang lalu,"

jelas Katai Muka Mayat.

"Siapa?" desak sang Datuk.

Sementara itu Setan Merah Mata

Jereng telah kembali lagi menemui

ketuanya dengan membawa obat-obatan

yang dibutuhkan.

"Waktu peristiwa menggemparkan

terjadi, kau mungkin belum berada di

sini..." ujar

laki-laki berbadan

kerdil itu. Kemudian sacara singkat ia

menceritakan segala sesuatunya di masa

silam dengan jelas.

"Hmm, geger bayi ajaib yang

terlahir pada malam satu Asyuro itu

ketika berada di Andalas aku memang

pernah mendengar. Tapi kala itu aku

hanya menganggapnya hanya

sebagai

kabar burung. Ternyata pemuda itu

benar-benar ada?" dengus Datuk Hitam Gadang Dibumi. "Rupanya tempat

tinggalmu di pantai Selatan telah

diketahuiuya? Kalau begitu alangkah

lebih baik jika kau tinggal di sini

bersama aku. Kita mempunyai kesenangan

yang sama. Kurasa kita mempunyai

kecocokan satu sama lain."





"Aku hanya akan membuat kau

repot. Kurasa jika luka dalam ini

telah sembuh, mungkin aku akan segera

kembali ke teluk lagi. Saat ini kurasa

pemuda itu mengira aku sudah mati.

Karena waktu itu aku terlempar ke

laut..."

"Sobatku, Katai. Aku bisa sampai

ke tanah Jawa ini karena jasa baikmu

dan juga saudara seperguruanmu. Apa

salahnya jika sebagai sahabat kita

saling tolong menolong?" ujar Datuk

Hitam Gadang Dibumi serius.

"Kutekankan padamu, aku tidak

ingin menyusahkan engkau. Lagipula

jika bocah ajaib itu sampai tahu aku

berada di sini, maka aku tidak dapat

menyangkal dia juga akan memusuhimu"

kata Katai Muka Mayat khawatir.

"Ha ha ha... Apakah bocah itu

begitu hebat di matamu, sehingga

engkau menjadi takut? Aku juga jelas

tidak berpangku tangan, jika dia

datang tentu dia menjadi bagianku"

Datuk Hitam Gadang Dibumi

selanjutnya memerintahkan Setan Merah

Mata Jereng untuk tetap berjaga-jaga

di depan.

Katai Muka Mayat sendiri

menyadari kali ini luka-luka yang

dideritanya cukup parah. Bahkan ia

telah berusaha menyembuhkan luka

dalamnya. Namun sampai sejauh itu

tidak juga berhasil.





"Baiklah kuterima tawaranmu itu."

Katai Muka Mayat akhirnya memberi

keputusan.

Datuk Hitam Gadang Dibumi tentu

saja merasa senang mendengarnya.





10


Hampir sepekan pemuda berambut


hitam kemerah-merahan ini melakukan

perjalanan. Tetapi perjalanannya ke

Madura tidak membuahkan hasil apa-apa.

Katai Muka Merah seakan hilang raib

ditelan bumi. Semua ini membuat

hatinya menjadi penasaran. Mungkinkah

Katai Muka Merah pergi ke tempat lain,

atau Dewi Kerudung Putih sengaja

berbohong padanya. Namun kalau

dipikirkan lagi apa untungnya?

Dengan kecewa akhirnya Suro

kembali ke tanah Jawa. Di sepanjang

perjalanan ia tidak henti-hentinya

menggerutu.

"Dia berani membohongi aku. Kalau

ketemu lagi akan kupotong lidahnya.

Oh, bukan hanya lidahnya saja, tapi

tangan dan kaki juga harus

kupotong..." pikir Pendekar Blo'on

sambil garuk-garuk kepala.

Kini ia memasuki sebuah daerah

yang sangat tandus di mana tidak

terdapat rumah-rumah penduduk di situ.

Dalam suasana panas terik seperti itu

ia terus mengayunkan langkahnya. Tidak





sampai sepemakan sirih si

pemuda

berjalan, tiba-tiba saja langkahnya

terhenti.

"Bau

busuk ini,

seperti

bau

bangkai manusia," kata Suro.

Ia kemudian mengendus-endus,

sehingga hidungnya kembang kempis

seperti binatang buas yang sedang

mengintai mangsanya.

"Bau ini datangnya dari arah

selatan. Hmm, betul dari arah sini"

Suro mengikuti sumber bau tersebut.

Hingga kemudian terlihatlah olehnya

sebuah pemandangan yang sungguh

menyedihkan. Banyak mayat-mayat ber-

geletakan di situ, mereka semuanya

terdiri dari para wanita dan tidak

mengenakan pakaian sama sekali. Mayat-

mayat tersebut di antaranya telah

menjadi tulang belulang. Tapi ada juga

yang masih kelihatan baru.

"Mereka kelihatannya bukan mati

secara wajar. Pasti seseorang telah

memperkosanya. Kemudian setelah tidak

dibutuhkan dibunuh

dengan cara

mencekiknya. Dunia ini benar-benar

sudah edan... keterlaluan..." geram si pemuda

Kemudian ia memperhatikan keadaan

di sekelilingnya. Ia menjadi hean.

Para wanita itu didatangkan dari mana?

Pendekar Blo'on kembali mengedarkan

matanya. Dan tiba-tiba

saja ia

tersenyum sinis ketika melihat sebuah





bangunan batu tampak bertengger di

lereng bukit.

"Kurasa iblis bercokol di dalam

bangunan itu, aku harus melihatnya.

Barangkali Katai Muka Merah ber-

sembunyi di sana."

Memikir sampai ke situ, Suro

akhirnya bergegas menghampiri bangunan

batu yang jaraknya hanya sekitar tujuh

puluh lima batang tombak dari tempat

dia berada.

Setelah dekat dengan bangunan

tersebut, Pendekar Blo'on menghentikan

langkahnya dengan tiba-tiba. Dadanya

menjadi sesak, di depan bangunan Suro

Blondo melihat ada seorang laki-laki

bermuka merah. Semula ia menyangka

laki-laki itu adalah musuh besar yang

tengah dicari-carinya. Namun setelah

melihat bahwa orang itu berbadan

tinggi semampai, maka ia menjadi ragu,

walau begitu ia tetap mengayunkan

langkahnya mendekati.

"Hei... kau berhenti di situ..."

teriak laki-laki bermuka merah pada

Pendekar Blo'on.

Orang yang membentak tadi sejenak

tampak sibuk memasukkan sesuatu ke

dalam bumbung bambu kecil. Selanjutnya

dengan tergesa-gesa segera mendatangi.

"Kau siapa?" tanya si muka merah curiga.

"Kau sendiri siapa? Apakah kau

yang berjuluk Katai Muka Merah?"





bentak Suro Blondo.

"Bukan. Aku Setan Merah Mata

Jereng. Cobalah kau lihat mataku,

benar-benar juling, bukan?"

Suro sebenarnya merasa geli juga

melihat cara laki-laki di depannya

bicara seperti orang melawak. Namun

karena urusannya sangat mendesak, maka

ia langsung bicara pada titik

persoalan.

"Siapa yang bersembunyi di dalam

rumah itu?"

"Perlu apa kau tanya?" dengus

Setan Merah Mata Jereng ketus.

"Aku mencari seseorang berbadan

pendek. Namanya Katai Muka Merah. Aku

rasa dia bersembunyi di dalam bangunan

itu, makanya aku harus masuk ke sana"

tegas Suro Blondo.

"Kau boleh masuk, tetapi setelah

meninggalkan kepalamu di sini" sahut Setan Merah Mata Jereng.

Tanpa basa-basi lagi laki-laki

berkulit kemerah-merahan ini langsung

bersiap siaga

membangun serangan.

Namun sebelum tubuhnya melesat kea rah

Suro, terdengar suara bentakan dari

aah bangunan…
"Tunggu dulu..."

Gerakan Setan Merah Mata Jereng

berhenti seketika. Dari depan pintu

tampak

sebuah

bayangan berkelebat.

Hanya dalam waktu sekejap saja di

depan Pendekar Blo'on telah berdiri





seorang laki-laki bertelanjang baju

Laki-laki tua tersebut berwajah

angker. Tatapan matanya seolah-olah

ingin menembus

batok kepala Suro

Blondo.

"Siapa kau?" dengus laki-laki

berkulit gelap tidak ramah.

"Aku Suro Blondo"

"Hmm, kau si bocah ajaib dari

gunung lliomo? Ha ha ha... Tampangmu

yang ketolol-tololan membuat kau tidak

pantas menyandang gelar si bocah

ajaib. Dan kau rupanya yang telah

membuat sahabatku Katai Muka Mayat

terluka parah?"

Pendekar Blo'on terkejut sekali

mendengar ucapan orang berkulit hitam

tersebut.

Semula ia menyangka Katai Muka

Mayat yang tercebur ke dalam laut itu telah binasa.

"Huh, rupanya bangsat pendek itu

masih hidup. Dan tentunya sekarang

berada dalam lindunganmu.



Kuperintahkan padamu agar

segera

menyerahkan setan yang telah membunuh

orang tuaku. Kalau tidak kau akan

menyesal" tegas Suro Blondo sengit.

"Ha ha ha... Kepada orang lain

kau mungkin bisa main gertak. Tapi

sekarang kau berhadapan dengan Datuk

Hitam Gadang Dibumi Dan perlu kau

tahu, Katai Muka Mayat dan Katai Muka

Merah adalah sahabatku. Jika kau





mengusiknya walau seujung rambut pun

maka nyawamu tidak ada yang menjamin

keselamatannya," tegas si kakek.

"Lagak bicaramu seperti Malaikat

pencabut nyawa. Kau melindungi musuh

besarku. Maka kau

rasakanlah

akibatnya" teriak Suro Blondo.

Tanpa basa-basi lagi Suro

langsung menerjang Datuk Hitam Gadang

Dibumi. Tetapi gerakannya itu segera

dihalang-halangi oleh Setan Merah Mata

Juling. Akibatnya laki-laki bermata

jereng inilah yang menjadi sasaran

serangan Pendekar Blo'on.

Anak buah Datuk Hitam Gadang

Dibumi ternyata mempunyai kepandaian

yang sangat mengagumkan. Ia langsung

berkelit ke samping

kiri ketika

melihat serangan lawan menghantam

mukanya. Setelah itu tanpa terduga-

duga pula ia melancarkan serangan

balik dengan melepaskan tendangan ke

selangkangan lawan.

Pendekar Blo'on langsung melompat

mundur sambil menepiskan tangannya ke

bagian kaki kanan. Benturan tenaga

dalam tidak dapat dihindari.

"Duuk"

"Heh..."

Pendekar Blo'on dan Setan Mata

Jereng

sama-sama terkejut. Pemuda

memakai ikat kepala berwarna biru

belang-belang kuning ini kemudian

mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah





Kutu'. Setelah itu ia kembali

menerjang lawannya.

Gerakan Suro yang tampak kacau

seperti seekor monyet yang sedang

menggaruk-garuk kepalanya ini benar-

benar membuat repot lawannya. Apalagi

terkadang dalam keadaan berjongkok ia

masih dapat

melepaskan

serangan-

serangan yang cukup berbahaya.

"Huup..."

Setan Merah Mata Jereng tiba-tiba

saja melompat ke udara. Ia segera

mengerahkan jurus 'Menari Di Dalam

Bayang-Bayang'. Jurus ini adalah salah

satu jurus andalan yang dimiliki oleh

Setan Merah MataJereng.

Hanya beberapa saat saja



setelah ia mempergunakan jurus

andalannya ini, maka tiba-tiba tubuh-

nya lenyap hanya tinggal bayang-bayang

saja. Suro terkesiap. Serangan-

serangan lawannya membuat setiap

gerakan pemuda itu seperti menemui

jalan buntu. Apalagi mengingat sera-

ngan Si Jereng cepatnya bukan main.

Suro Blondo serta merta melompat

ke samping. Namun pada waktu bersamaan

lawannya melepaskan tendangan beruntun

ke bagian perut. Tampaknya walau telah

berusaha menghindar serangan lawan

datang begitu cepat. Sehingga....

"Buuk"

Tanpa ampun lagi, Pendekar Blo'on

jatuh terjengkang. Tampak jelas darah





menetes dari sudut-sudut bibirnya.

Pemuda itu kemudian bangkit kembali.

Melihat Setan Merah Mata Jereng terus

menyerangnya, maka si pemuda segera

mengerahkan jurus 'Serigala Melolong

Kera Sakti Kipaskan Ekor'.

Detik-detik selanjutnya gerakan

si pemuda tampak lebih cepat. Langkah

kakinya tidak beraturan, terkadang

tubuhnya meliuk-liuk, atau melompat ke

samping kanan dan ke kiri. Di lain

waktu sambil mengeluarkan suara

lolongan panjang, kaki kirinya

menghantam lawannya.

Setan Merah Mata Jereng tampaknya

menjadi gugup. Tendangan kaki Suro

yang keras dan mengandung tenaga dalam

tinggi

membuat orang

ini jatuh

terpelanting. Ada

benjolan besar

akibat tendangan itu. Namun ia segera

bangkit berdiri dan secara tidak

terduga-duga ia mengibaskan kedua

tangannya ke arah Suro.

"Wuut"

Sakejap saja tampak seleret sinar

meluncur deras ke arah si pemuda. Dan

sebelum serangan yang menebar hawa

panas itu menghantam tubuhnya, maka

Suro melepaskan pukulan 'Kera Putih

Menolak Petir'. Segulung sinar putih

menderu ke arah lesatan sinar yang

keluar dari telapak tangan lawannya.

Udara di sekitar tempat itu tiba-tiba

saja berubah menjadi panas luar biasa.





Setelah itu benturan keras tidak dapat

dihindari lagi....

"Glaar"

"Aaakh..."

Setan Merah Mata Jereng memekik

keras. Tubuhnya terlempar cukup jauh.

Sedangkan Suro Blondo tampak tergetar

saja, meskipun luka dalam yang

dideritanya cukup berbahaya juga.

Hebatnya lawan sudah bangkit

kembali. Kali ini ia segera melepaskan

pukulan 'Bayang Bayang Setan'.

Begitu tangannya berkiblat, maka

angin kencang bergulung-gulung menye-

rang Suro. Pemuda yang telah

mempersiapkan tenaga dalam ke bagian

telapak tangan ini tidak mau menunggu

lebih lama.

'"Matahari Rembulan Tidak Ber-

sinar' Heaaa..." teriak Suro.

Laksana kilat tangannya dido-

rongkan ke depan. Maka untuk yang

kedua kalinya terjadi benturan yang

sangat dahsyat.

"Buuum"

Tanah

terguncang keras. Setan

Merah Mata Jereng terkapar di atas

batu. Sedangkan kaki Suro melesat

sedalam tumit. Ketika pemuda itu

mencoba menarik kakinya yang sempat

terbenam di dalam tanah, maka pada

saat itulah Datuk Hitam Gadang Dibumi

membokongnya dari belakang. Suro

berusaha menghindari bokongan ter-





sebut. Tetapi kaki kanannya susah

dicabut dari himpitan tanah. Sehingga

tidak dapat dihindari lagi...

"Duuk"

"Aaakh..."

Jeritan keras disertai

menyemburnya darah dari mulut Suro

Blondo yang terbuka. Tubuhnya

tersungkur, jelas sekali kalau pemuda

ini menderita luka dalam yang

cukup serius.

"Ha ha ha... Cuma segitukah

kehebatanmu, bocah gila?'' desis Datuk Hitam Gadang Dibumi sambil bertolak

pinggang

Suro masih sempat mendengar semua

itu. Kecurangan yang dilakukan oleh

lawannya benar-benar membuatnya marah.

Secara

diam-diam ia mempersiapkan

pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Akibat

pengerahan tenaga dalam ini tentu

membuat Suro menjadi semakin tersiksa.

Tetapi dia sudah tidak perduli lagi.

Ketika Datuk Hitam Gadang

Dibumi

menghampirinya. Di saat itu laksana

kilat ia berbalik sambil menghantamkan

pukulan ke arah lawannya. Semula Datuk

Hitam Gadang Dibumi yang menyangka

bahwa lawan masih dapat bertahan.

Lebih tidak menduga lagi pemuda itu

mampu melepaskan pukulan dahsyat ke

arahnya. Karena jarak di antara mereka

teramat dekat, maka Datuk Hitam Gadang

Dibumi tidak sempat menghindar lagi.





Pukulan yang mengandung hawa

panas menghanguskan itu pun menghantam

tubuhnya.

"Buummm"

Datuk Hitam Gadang Dibumi

menjerit keras. Sontak tubuhnya

terpelanting. Sebagian wajah laki-laki

itu hangus. Suro sendiri akibat

pengerahan tenaga tadi membuat luka

yang dideritanya menjadi bertambah

parah. Akhirnya ia tidak sadarkan

diri. Ketika pemuda ini terjaga, maka

hari sudah menjadi malam. Ia merasa

heran karena saat itu ia tidak berada

di tempat terbuka. Melainkan di dalam

sebuah pondok.

"Di mana manusia laknat yang

telah membokongku" desisnya.

Suro segera bangun, dan ia merasa

tubuhnya menjadi ringan. Ia yakin

pasti ada orang yang telah

menolongnya. Ternyata dugaannya benar.

"Kau sudah sadar?" kata sebuah

suara merdu.

Pendekar Blo'on memandang ke arah

datangnya suara. Ternyata di samping-

nya telah duduk seorang gadis cantik

memakai kerudung putih.

"Kau..."

"Aku menemukan tubuhmu tergeletak

di padang tandus."

"Ke mana Datuk keparat itu?"

"Ketika aku datang, aku tidak

melihatnya, terkecuali mayat seorang





laki-laki yang menyerangsang di atas

batu."

"Kau gadis aneh, kau menipuku."

"Apa yang kutipu?" tanya Dewi

Kerudung Putih heran.

"Aku pergi ke Madura, Katai Muka

Merah tidak berada di sana"

“Mungkin aku salah kasih

keterangan,

maafkanlah,'' ujar si

gadis sambil menundukkan kepala

“Siapakah yang sebenarnya kau

ini?" tanya si pemuda heran.

"Luka-lukamu belum sembuh benar.

Nanti pada suatu saat kau akan

mengetahuinya juga."

“Katakan siapa kau?" kata

Pendekar Blo'on bersikeras.

"Aku adalah orang yang ingin

selalu dekat dengan dirimu" sahut

Dewi Kerudung Putih. Ia langsung

menempelkan jari tangannya ke bibir si

pemuda ketika melihat pemuda itu ingin

bicara lagi.

"Istirahat... hanya itu yang

kuminta darimu..." ujar si gadis

sambil merebahkan Suro Blondo di alas

balai-balai.

Karena sadar dirinya masih belum

pulih benar, maka pemuda berambut

hitam kemerahan ini terpaksa menurut

juga, walaupun hatinya menggerutu.

Gadis di depannya begitu baik,

misterius dan ia tidak tahu apa yang

terkandung dalam hatinya. Suro pada

akhirnya hanya mampu menggaruk-garuk

kepalanya saja.




TAMAT




0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...