Jumat, 14 November 2014

Pendekar Bloon - Eps.12, Perjalanan Ke Alam Baka

PENDEKAR BLOONEps.12PERJALANAN KE ALAM BAKA




1


Kuda berbulu putih tampak melesat melintas di

jalan berbatu. Di kanan kiri jalan itu yang kelihatan hanya 
kegersangan dan padang tandus saja. Panas terik seperti 
memanggang batok kepala, membuat otak

terasa mendidih. Kabut beracun menghampar di se-

panjang lembah itu. Sementara laki-laki yang duduk di atas 
kuda tunggangan itu tidak lain adalah seorang 
la-ki-laki berumur sekitar lima puluh lima tahun. Kumis-

nya putih sebagian, rambutnya pun demikian. Ia me-

makai baju selempang seperti seorang resi. Tampaknya

dia dalam keadaan tergesa-gesa.

Jalan itu rupanya membelok menuju ke tempat

yang lebih sulit dan dipenuhi dengan kabut dan lu-

bang-lubang mata air panas.

"Hiya Hiya..."

Laki-laki itu menggebah kuda tunggangannya,

terdengar suara ringkikan keras. Tidak lama kemudian

kuda itu pun tercebur ke dalam telaga beracun yang

menganga di depannya.

"Hieekk..."

Kuda terus meringkik keras memperdengarkan

suara seperti hewan yang sedang sekarat dan meminta

tolong pada majikannya. Tidak seorang pun mampu

menolongnya. Sedangkan penunggangnya sendiri keti-

ka itu terpaksa berjuang menepi untuk menyela-

matkan selembar nyawanya. Setelah bersusah payah,

laki-laki itu dapat juga naik ke daratan. Tetapi sesuatu yang sangat mengerikan terjadi pada dirinya. Ia melolong kesakitan. Tubuhnya menggelepar seperti

seekor ayam dipotong. Rupanya tubuh laki-laki malang

itu melepuh dan rusak di sana sini. Air telaga selain panas mendidih juga mengandung racun yang sangat





ganas. Rambut laki-laki ini rontok, kumisnya, jenggotnya dan
 semua bulu yang ada di tubuhnya rontok se-

perti tersiram air mendidih. Penderitaan laki-laki ini semakin bertambah menghebat, karena telaga air panas itu mengandung racun pula.

"Akh... taubat. Tuhan, mengapa begini buruk-

nya nasibku Cabut saja nyawaku, aku tidak dapat melaksanakan tugas yang diberikan oleh baginda"

rintihnya. Dia tidak lain adalah Patih Luragung, untuk lebih jelasnya mengapa Patih ini sampai tersesat di

Bukit Kematian (Dalam Episode Lima Utusan Akherat).

Tertatih-tatih laki-laki yang telah kehilangan seluruh rambut dan kulitnya ini berdiri. Keadaannya memang

sangat menyedihkan sekaligus mengerikan sekali. Wa-

laupun keadaannya sudah tidak memungkinkan un-

tuk mendaki ke puncak Bukit Kematian yang menju-

lang tinggi itu, Patih Luragung rupanya memaksakan

diri juga.

"Tugas ini harus kulakukan, walaupun dengan

sisa-sisa nyawaku" desis sang Patih mengerang sakit.

Sesungguhnya ia sudah tidak punya kemampuan apa-

apa lagi sejak ia bersama kudanya tercebur ke dalam

telaga air panas. Kulitnya yang mengelupas itu meru-

pakan siksaan tersendiri yang sungguh dahsyat. Na-

mun ketika mengingat keselamatan kerajaan yang

sangat terancam, maka Patih ini terpaksa melakukan

pendakian juga. Bila ada batu atau ranting pohon

mengenai dirinya, maka menjeritlah Patih Luragung

seperti prajurit perang yang ditembus pedang.

"Keadaanku sama seperti orang yang dikuliti

hidup-hidup. Sanggupkah aku mencapai puncak sa-

na?" bibir yang sudah kehilangan kumis itu menggeri-mit sakit. "Akh..." Patih Luragung tiba-tiba saja jatuh terguling, ia langsung tidak sadarkan diri. Angin men-desir, begitu sepinya Bukit Kematian atau lebih dikenal





dengan Bukit Setan ini. Sehingga suara sehalus apa-

pun tetap terdengar dengan jelas namun menyeram-

kan. Patih Luragung ternyata tidak sadarkan diri ka-

rena luka-luka melepuh di sekujur tubuhnya. Keadaan

ini berlangsung cukup lama juga. Setelah hampir dua

jam, maka dari atas Bukit Kematian terdengar suara

bergemuruh yang disertai dengan suara ledakan-

ledakan dahsyat. Angin pun berhembus kencang. De-

bu beterbangan, berputar-putar di udara lalu melesat

ke langit. Tidak lama setelah itu terdengar pula suara tawa bekakakan. Suara tawa serasa mengguncang

puncak bukit dan meruntuhkan daun-daun kering.

Sosok tubuh tampak berkelebat menuruni bu-

kit. Hanya dalam waktu sekedipan saja sosok tubuh

yang cuma memakai cawat ini telah berdiri di depan

Patih Luragung yang tidak sadarkan diri. Orang ini

ternyata berwajah sangat mengerikan, ia adalah mak-

hluk yang mengerikan di kolong langit ini, wajahnya

seburuk setan. Matanya cuma satu terletak di ten-

gah-tengah hidung. Mulutnya lebar, gigi-giginya yang

semerah darah tampak runcing tajam.

Melihat pada sosok tubuh Patih Luragung yang

mengelupas tawanya malah semakin menggema me-

menuhi seantero lembah. Dengan seenaknya tubuh

sang Patih ditentengnya. Di lain waktu ia telah bergerak kembali ke puncak bukit. Sungguh kedatangan

dan kepergiannya cepat laksana setan gentayangan.

Tidak lama suasana berubah sunyi kembali.

Patih Luragung yang dalam keadaan setengah

matang ini langsung dibaringkan di atas lantai dingin.

Kakek bermata satu ini melangkah menghampiri pera-

pian yang tidak pernah padam selama-lamanya. Di

atas perapian batu terdapat sebuah kwali tanah beru-

kuran besar berisi air mendidih. Melihat ke dalam





tungku tersebut senyum angkernya terkembang.

"Sebentar lagi aku akan pesta besar Ha ha

ha..." Tawa kakek bertampang iblis ini menggema. La-lu ia menghampiri Patih Luragung. Pakaian Patih ma-

lang ini dicopotnya, sehingga keadaan Patih jadi mem-

bugil. Pada saat si kakek berjanggut menjela sampai ke mata kaki ini melemparkan pakaian sang Patih. Terdengar suara bergemerincing.

"Eh, apalagi itu?" desisnya. Lalu dihampirinya benda terbuat dari logam itu. Benda berbentuk bulat

itu semerah darah. Si kakek terkejut. Matanya yang

mengerikan terbelalak, ia mengamati benda bulat itu

dengan teliti. Bibirnya yang lebar bersungut-sungut.

"Benda ini milik Sang Maha Sesat? Sungguh

tidak dapat kupercaya? Batal keinginanku untuk me-

nikmati daging rebus yang lezat, heh... jadi orang ini diutus oleh Sang Maha Sesat. Permainan apalagi ini?

Pasti ada masalah yang sangat besar sedang terjadi.

Tapi bagaimana bapak moyangnya iblis dan setan itu

mau mencampuri urusan manusia? Ha ha ha... aku

mengerti sekarang. Dia pasti sedang mencari pengikut

lagi dalam jumlah yang lebih besar. Ini sesuatu yang

sangat menarik. Aku akan ke sana Tapi orang malang

ini harus kubuat sadar dulu, nanti ku sembuhkan"

gumamnya sinis.

Siapa sesungguhnya kakek bermata satu bergi-

gi macam gergaji ini? Dia seperti sudah sama kita ke-

tahui (Dalam episode Lima Utusan Akherat). Dia tiada

lain adalah Pertapa Seribu Abad. Masih tergolong sa-

habat Sang Maha Sesat di bumi ini. Usianya sudah ra-

tusan tahun. Tapi belum juga mati, dalam umur yang

panjang itu dihabiskannya untuk bertapa. Kebiasaan-

nya sangat aneh yaitu memakan daging manusia se-

tiap seminggu sekali. Ia hanya meninggalkan tempat

pertapaannya apabila membutuhkan korban baru.





Setelah memperhatikan Patih Luragung cukup

lama, Pertapa Seribu Abad mengambil sepotong kayu

kecil berwarna merah darah. Ia mulai menyembuhkan

tubuh sang Patih hingga babak belur. Si Patih mengge-

liat, kemudian melolong-lolong kesakitan seperti seekor kerbau yang disembelih.

"Akh... hentikan, aku hendak kau apakan?"

"Diam?" Pertapa Seribu Abad membentak ge-

ram. "Bagaimana aku bisa diam? Kau hendak mem-

bunuhku rupanya?" tanya sang Patih terus melolong-lolong. "Kalau kau mau hidup memang beginilah cara menyembuhkanmu" dengus si kakek mengerikan. Patih Luragung menggeliat, menggelepar. Pemukulan itu

terus berlangsung hingga pada akhirnya terjadilah se-

suatu yang sangat sulit dipercaya. Sekujur tubuh sang Patih yang terkena pukulan timbul warna merah seperti darah. Warna merah itu selanjutnya menghilang.

Sehingga pada akhirnya tumbuhlah kulit-kulit ba-ru di sekujur tubuhnya. Keadaan Patih Luragung

kembali seperti sediakala. Hanya rambutnya saja yang

tidak dapat tumbuh kembali, kumisnya, jenggotnya ju-

ga tidak tumbuh.

Kejut hati Patih Luragung bukan alang kepa-

lang. Ia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya

dapat sembuh seperti sediakala. Hanya sang Patih ter-

paksa merelakan seluruh rambutnya yang tidak

mungkin tumbuh kembali lagi.

"Benar kau diperintahkan Sang Maha Sesat

kemari?" tanya Pertapa Seribu Abad.

"Benar, Ki Pertapa. Sang Maha Sesat mengha-

rap kehadiran Anda di kerajaan Ujung Dunia.

Akan ada peristiwa besar di sana." jelas Patih Luragung dengan wajah tertunduk.





"Kerajaan Ujung Dunia diperintah oleh Raja La-

lim Durjana, betul?" tanya Pertapa Seribu Abad.

"Betul."

"Dia raja paling kejam di dunia, betul?"

"Juga betul, Ki." sahut sang Patih.

"Putrinya cantik-cantik, selirnya banyak. Beliau punya sahabat keparat hartawan Abdi Banda, betul?"

"Benul juga, eeh... betul juga, Ki." jawab laki-laki ini sambil angguk-anggukkan kepala.

"Ha ha ha... Ketahuilah, sesungguhnya jika

cuma Lalim Durjana yang meminta bantuanku, tentu

aku menolak. Namun mengingat Sang Maha Sesat

adalah sahabatku. Dengan terpaksa aku meneri-

manya. Nah, sekarang kembalilah kepada rajamu..."

"Tapi...."

"Goblok. Aku tahu apa yang mau kau ucapkan.

Kau hendak mengatakan apakah aku menerima pang-

gilan ini atau tidak bukan? Ketahuilah, kecepatanmu

berlari sama dengan kecepatanku berjalan. Kecepatan-

ku berlari lebih cepat lagi dari hembusan topan. Jika kau memilih berjalan bersamaku, maka begitu sampai

di kerajaan nyawamu akan putus dan kau langsung

mampus. Pergi... Sebelum kesabaranku habis, Patih

tuyul gundul." bentak Pertapa Seribu Abad.

Bentakan suara sang Pertapa saja sudah mem-

buat tubuh Patih Luragung tersentak kemudian ter-

banting. Laki-laki setengah baya ini jadi ciut nyalinya.

Dengan cepat ia beringsut menjauh, lalu putar langkah dan mulai menuruni Bukit Kematian.

"Tolol, jangan lewat situ lagi, apa hendak cari

mampus"

"Jadi lewat mana...?" tanya Patih tanpa berani menoleh lagi.

"Ambil jalan yang di sebelah kiri"

Patih Luragung pun mengambil jalan di sebelah





kiri. Pertapa Seribu Abad memperhatikan kepergian-

nya dengan tatapan matanya yang cuma satu. Lalu

terdengar suara tawanya tergelak-gelak.





* * *



Laki-laki gendut pendek dan hanya memakai

cawat ini terus berlari sambil mengempit kepala Pan-

glima Arung Garda. Sesekali ia menoleh ke belakang.

Wajahnya yang mirip dengan muka kodok tampak ke-

takutan sekali. Bagaimana pun seumur hidupnya ia

baru sekali ini ia melihat ada orang yang telah kehilangan kepala, bahkan kepala itu ia sendiri yang memba-

wanya. Namun orang yang telah kehilangan kepala itu

masih bertahan hidup bahkan terns mengikutinya ke-

mana pun ia pergi.

"Gher... grok... grok..." Batang leher yang terputus, serta lubang tenggorokan yang tersumbat darah

kental itu terus mengeluarkan suara seakan meminta

pada Raja Kodok supaya mengembalikan kepalanya

yang terus dikempit sambil dibawa berlari.

"Celaka? Benar-benar celaka Panglima ini. Ke-

palanya sudah kubawa tapi ia masih mengejarku te-

rus. Hhh, bagaimana ini? Apakah kepala ini harus ku-

berikan? Tapi menurut Pendekar bertampang ketolol-

tololan itu aku harus membawa kepala ini ke kota raja.

Entah apa maksud tujuannya aku tidak tahu?" kata Raja Kodok dalam hati.

Pemuda yang sekujur tubuhnya selalu basah

seperti seekor kodok itu terus berlari dan berlari. Sementara kodok-kodok yang berada di dalam sumpitnya

mengeluarkan bunyian aneh seakan memberi seman-

gat pada Raja Kodok agar terus berlari.

"Gher... krok... krok kokok..." Tubuh tanpa kepala itu berkata (Kembalikan kepalaku, kepalaku itu





mau dibawa kemana? Kembalikan cepat orang jelek).

Mana Raja Kodok perduli. Malah larinya semakin ce-

pat, walaupun terkadang membuatnya menggelinding.

Panglima Arung Garda pun mengejar dengan pontang-

panting.

Setelah menempuh jarak sekian jauhnya. Maka

sampailah Raja Kodok di alun-alun istana. Di sana ia

melihat seorang pemuda memakai baju putih dan seo-

rang kakek tua berpakaian putih pula sedang me-

nyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan di ha-

laman. Begitu melihat kemunculan Raja Kodok, maka

pemuda baju putih tersentak kaget.

"Gusti Allah? Maha besar Engkau dengan sega-

la keanehan yang kau ciptakan. Kepala siapa yang di-

bawanya?" desisnya agak tertegun. Si kakek yang tidak lain adalah Malaikat Penderitaan lain lagi. Ketika melihat kehadiran Raja Kodok sambil mengempit kepala

Panglima di keteknya malah menangis....

"Oh... oh.... Gusti... Kulihat ada orang jelek membawa-bawa kepala tanpa badan membuat aku

menderita." katanya di tengah-tengah isak tangisnya.

Lalu muncul badan tanpa kepala menunjuk-nunjuk

Raja Kodok. Tangis Malaikat Penderitaan semakin

menghiba-hiba. "Ini lagi, yang ini lebih celaka. Sesungguhnya manusia itu sering memperbodoh diri sendiri.

Menuntut ilmu di jalan yang sesat, setan gurunya, iblis menjadi petunjuknya. Manusia tidak dapat melawan

kodrat, tidak bisa menentang takdir. Ilmumu yang me-

nahan rohmu terpisah dari ragamu. Orang paling jelek

muka kodok. Serahkan kepala itu padaku" perintah Malaikat. Penderitaan.

Raja Kodok menjadi ragu-ragu. Ia teringat pe-

san Pendekar Blo'on. Apa yang harus dilakukannya ki-

ni? Menyerahkan kepala Panglima Arung Garda pada

kakek yang suka menangis itu?





"Orang tua gagah cengeng. Bagaimana aku bisa

mempercayaimu? Sedangkan Pendekar rambut macam

rambut jagung meminta ku agar membawa kepala ini

kemari. Dia tidak pesan supaya aku menyerahkan ke-

pala ini padamu"

"Hu hu hu Orang yang kau maksudkan pasti-

lah Anak Ajaib itu? Si konyol yang punya senjata dapat merintih-rintih. Aku dan pemuda ini masih terhitung

sahabatnya. Serahkan kepala itu padaku?" Malaikat Penderitaan mengulangi perintahnya. Raja Kodok menjadi bingung. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Arung

Garda untuk merebut kepalanya kembali. Kepala terja-

tuh, begitu menggelinding di atas tanah matanya lang-

sung terbuka, mulutnya menyeringai lalu terdengar

suara tawanya yang menyeramkan. Raja Kodok menu-

bruk kepala tersebut. Namun sudah terlambat, sang

kepala telah melayang dan melekat pada potongan le-

hernya. Begitu Arung Garda mengusap-usap bekas lu-

ka itu maka leher dan kepalanya menyatu seperti se-

diakala.



***





2


Pemuda baju putih yang tidak lain adalah

Wahyu Sakaning Gusti alias Pendekar Lugu terkejut

melongo. Malaikat Penderitaan langsung melompat.

Gerakannya cepat seperti kilat. Di lain waktu ia sudah dapat menotok urat gerak di tubuh Panglima kejam ini.

Sehingga membuatnya tidak mampu bergeser ke ma-

na-mana.

"Ada yang ingin kau katakan, Panglima sebe-

lum Anak Langit datang menjumpai kita dalam rangka





membuka Surat Kedamaian Dunia?" tanya Malaikat

Penderitaan.

"Ada" sahut Arung Garda. "Kau adalah manusia paling pengecut. Kelak jika aku terbebas dari totokan ini satu hal yang ingin kulakukan adalah me-

menggal kepalamu" dengus laki-laki itu sengit.

"Hu hu hu... Aku sangat menderita sekali

mendengar ucapanmu. Tapi kau lebih menderita lagi

karena niatmu tidak akan tercapai"

"Huh, bagaimana kau tahu manusia busuk?"

"Tuhan Yang Maha Tahu. Ajal kematianku bu-

kan di tanganmu, ini menyangkut ketentuanNya. Agar

kau tahu aku kelak akan mati bila di dunia ini muncul manusia yang punya empat mata empat telinga empat

lubang hidung dua mulut. Aku memang sedih, aku

menderita. Tapi aku lebih menderita lagi jika tidak ma-ti-mati. Huk huk huk"

"Manusia edan" maki Panglima Arung Garda.

"Aku memang penuh keedanan, namun kegi-

laanku jauh dari angkara murka yang membuat aku

menderita, yang membuat orang lain tersakiti dan yang menyeret manusia dalam jurang penderitaan. Kau adalah seorang pemimpin. Apa nanti jawabmu dalam pen-

gadilan negeri akherat tentang apa yang kau pimpin?"

"Persetan" dengus Panglima Arung Garda.

"Ya, kau memang sahabat setan, kau salah sa-

tu pengikutnya. Itu sebabnya kau selalu menyebut-

nyebut makhluk terkutuk itu. Seret dia dan kumpul-

kan bersama si Raja Tega..."

Maka Raja Kodok tanpa bicara apa-apa lagi

langsung memanggul Arung Garda kemudian didu-

dukkan dekat seorang laki-laki berwajah angker yang

telah kehilangan dua tangan dan sebelah kaki. Untuk

lebih jelasnya apa yang telah terjadi dan menimpa diri tokoh dari Sampuran Harimau ini (Ikuti Episode Lima





Utusan Akherat). Panglima Arung Garda tentu kaget

setengah mati melihat Raja Tega dalam keadaan men-

genaskan. Laki-laki yang telah kehilangan tangan dan

kaki itu seakan kehilangan kewibawaannya lagi.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya

Arung Garda pelan.

"Bocah Setan berambut merah itu. Daripada

begini nasibku lebih baik aku mati saja. Sayang aku

tidak bisa melakukannya." Raja Tega menggeram.

"Begitu mudahnya manusia memilih mati. Bek-

al kebaikan apa yang sudah kau perbuat, Raja Tega?

Apa kau pikir segala perbuatan baik buruk manusia

kelak tidak ditanya?" kata Malaikat Penderitaan yang rupanya mendengar keluh kesah Raja Tega.

Laki-laki paling sadis ini bungkam, hanya ma-

tanya saja memandang pada si kakek dengan melotot.

Rupanya ia sangat geram sekali. Malaikat Penderitaan

kemudian beralih pada Raja Kodok.

"Anak manusia. Siapakah engkau?"

"Aku... tidak punya nama yang pasti. Guruku

menyebutku Raja Kodok" jawab pemuda gendut pendek muka kodok.

"Siapa gurumu?"

"Guruku Bidadari Sungai Ilir."

Malaikat Penderitaan memandang ke langit.

"Aku pernah mendengar manusia misterius itu. Hem, lalu mengapa kau sampai ke sini, apa yang kau cari?"

"Aku ini punya dendam yang tidak terkira. Aku

mencari hartawan Abdi Banda. Orang yang telah

membuat aku terlahir ke dunia, orang yang juga mem-

buat ibuku sengsara dan bunuh diri" geram Raja Kodok. "Siapakah nama ibumu?" tanya Pendekar Lugu.

"Ararini." sahut Raja Kodok.

Sepontan paras pemuda baju putih berwajah





polos seakan tanpa dosa ini berubah memucat. Sekilas

membayang masa lalu dalam ingatannya.

"Benarkah ibumu telah bunuh diri?" tanya

Pendekar Lugu lagi.

"Benar."

"Semoga Tuhan mengampuni semua dosanya.

Jika nanti kau telah bertemu dengan hartawan Abdi

Banda, kau hendak kemana?"

"Aku mau mencari paman Wahyu Sakaning

Gusti. Konon ia adalah kekasih ibuku. Aku ingin minta maaf pada orang itu atas ketidak setiaan ibu dan juga minta maaf atas kesalahan kakekku."

"Ibumu tidak bersalah. Ia sekedar berbakti dan

menyenangkan hati orang tua. Kesalahan kakekmu

dapat dimaafkan, lalu apa keinginanmu yang lain?"

suara Pendekar Lugu biasa-biasa saja tanpa ekspresi

atau pun gejolak jiwa.

"Aku ingin berguru padanya. Menurut yang ku-

dengar paman Wahyu Sakaning Gusti tidak pernah

marah, tidak sombong, tidak iri, tidak dengki dan tidak suka mencela orang lain. Sedangkan aku adalah orang

yang masih penuh amarah, penuh dendam, dan penuh

kebencian. Bahkan pada diri sendiri pun aku benci."

"Nanti kau pasti akan bertemu dengan orang

yang kau cari. Sebagai tanda niat baikmu itu, apakah

kau mau membantu kami meringkus raja Lalim Dur-

jana dan kawan-kawannya yang bersembunyi di istana

ini?" "Tentu saja aku mau. Tapi aku harus tahu, siapakah kau dan siapa pula kakek yang selalu meren-

gek-rengek seperti anak kecil itu?" tanya Raja Kodok.

"Aku Pendekar Lugu. Sedangkan kawan kita

yang suka menangis itu adalah Malaikat Penderitaan."

jelas si pemuda.

Raja Kodok anggukkan kepala. "Lalu apakah





sekarang aku harus mulai mencari raja Lalim Durja-

na?" "Kau ikuti kami, memeriksa setiap lorong-lorong yang ada secara bersama-sama." tegas Pendekar Lugu. "Bagaimana dengan kedua setan pelayangan

ini?" Raja Kodok kelihatan ragu-ragu.

"Biarkan saja, mereka tidak dapat pergi kema-

na-mana" Malaikat Penderitaan yang menyahuti. Mereka bersama-sama memasuki istana yang besar itu.

Apa yang mereka lakukan ini terutama bagi Pendekar

Lugu dan Malaikat Penderitaan adalah untuk yang ke-

tiga kalinya setelah pencarian pertama dan kedua

mengalami kegagalan.





* * *



"Masih sakitkah lukamu?" tanya Pemuda baju

biru berambut hitam kemerah-merahan yang duduk di

samping si gadis. Sebagaimana telah sama kita ketahui gadis berbaju hitam ringkas ini terluka setelah berta-rung dengan Panglima Arung Garda.

"Kurasa sudah agak baikan sedikit. Luka-luka

ini cepat mengering. Aku merasa berhutang nyawa pa-

damu." sahut Puspita Sari alias Rana Unggul.

"Hust, aku tidak menghutangkan apa-apa, kok.

Yang punya nyawa kan Gusti Allah, bersukurlah kepa-

daNya?" kata murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api ini sambil membalut luka memanjang di bagian iga Puspita.

Puspita memandang cukup lama pada pemuda

bertampang ketolol-tololan ini. Semakin ia memandang

pada wajah tampan ketolol-tololan tersebut. Maka ha-

tinya pun semakin bertambah resah.

"Betulkanlah pakaianmu. Semakin lama aku





memandangmu, aku sih tahan-tahan saja. Tapi adikku

tentu tersiksa." ujar Suro Blondo tampak menahan senyum. "Siapa adikmu?"

"Adik kecilku yang selalu ikut kemana saja aku

pergi. Ha ha ha..."

"Pemuda gendeng Bicaramu selalu ngawur dan

nyerempet-nyerempet terus" gerutu Puspita bersungut-sungut. Seraya membenahi pakaiannya yang agak

berantakan. Wajahnya berubah kemerah-merahan.

"Yang nyerempet itu selalu membuat deg-

degan, penasaran sekaligus menegangkan." Sama sekali Puspita tidak menanggapi. Perlahan ia bangkit

berdiri. Sementara itu Utusan dari Kapuas, Madura

Indra Giri, telah selesai menguburkan mayat-mayat

anggota mereka. Mereka ini sebagaimana kita ketahui

tewas di tangan Panglima Arung Garda.

"Mari kita hampiri para utusan itu" kata Si Bocah Ajaib Suro Blondo. Si konyol membimbing Puspita

Sari, gadis itu menceritakan semua tujuan para Lima

Utusan Akherat pada si pemuda. Suro angguk-

anggukkan kepala. Kini ia semakin mengerti bahwa

sebenarnya para Utusan itu orang-orang baik yang pa-

tut didukung keinginannya.

"Mmm... sukurlah Nona dalam keadaan baik-

baik saja. Kami semua sudah cemas. Panglima iblis itu benar-benar setan. Ilmunya aneh, badan sudah kehilangan kepala masih bisa jalan-jalan. Benar-benar gila.

Aku hampir nggak percaya kalo tidak lihat sendiri" ka-ta Kalingga Jati penuh rasa takjub.

"Anda sekalian, sebaiknya sekarang kita pergi

ke Ujung Dunia."

"Pendekar, bagaimana pun kami harus mem-

bawa jenazah Manggar Kesuma, Bias dan Ubudana.

Karena walau cuma mayat mereka juga harus me-





nyaksikan apa yang ingin disampaikan oleh Anak Lan-

git." kata Kalingga Jati wakil dari Ujung Kulon yang telah kehilangan ketuanya, yaitu Ubudana.

Suro garuk-garuk kepala. "Mungkinkah orang

yang sudah menjadi mayat bisa menjadi saksi. Se-

dangkan lawan-lawan yang akan kita hadapi pun tidak

sedikit. Apakah mereka tidak merepotkan?" tanya Pendekar Mandau Jantan.

"Mayat pun bisa menjadi saksi." Dunga ikut bicara. "Guru kami mengatakan bahwa mayat pun bisa menjadi saksi. Karena roh mereka sebelum dikubur-kan jenazahnya tentu akan mengikuti kemana pun ja-

sad kasarnya dibawa pergi."

"Baiklah. Jika memang sudah begitu mau ka-

lian. Tapi hati-hatilah, siapa tahu mayat kawan-kawan kalian bisa ngompol atau memberaki kalian. Aku terus

terang saja tidak bisa tanggung jawab." kata si konyol.

"Bercanda sih bercanda. Tapi jangan keterla-

luan" Puspita mengingatkan.

Pendekar Blo'on langsung tutup mulutnya ra-

pat-rapat.





* * *



Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, te-

gang dan menyeramkan itu. Maka Patih Luragung

sampai pula di ujung jalan menuju kota raja. Suasana

setelah terjadi perang besar-besaran di kota raja me-

mang lengang sekali. Kini semua orang berubah me-

musuhi pihak kerajaan. Terlebih-lebih rakyat yang se-

lama ini hidupnya tertindas penuh penderitaan. Patih

Luragung pun tidak berani muncul secara terang-

terangan. Ia tidak ubahnya seperti seekor tikus. Yang mudah curiga terhadap sesuatu yang bergerak di sekitarnya.





"Aku tidak tahu apakah paduka sekarang ini

berada dalam keadaan aman atau malah sebaliknya.

Mudah-mudahan saja Malaikat Penderitaan tidak

mengetahui tempat persembunyiannya" kata Patih

yang sekarang telah berubah gundul ini penuh rasa

harap. Patih kemudian membelok di jalan kecil menu-

ju lorong rahasia yang menghubungkan ke tempat per-

sembunyian raja Lalim Durjana di bawah tanah. Be-

lum sempat Patih mencapai lorong utama. Tiba-tiba

saja ia merasa ada hembusan angin menerpa wajah-

nya. Laki-laki ini tersentak kaget. Memandang jauh ke depannya, terlihat kabut putih menghampar di depannya. Lalu terdengar suara seseorang....

"Patih, bagus kau telah melaksanakan tugas-

mu. Tapi kuingatkan padamu sebaiknya jangan kau

masuk ruangan rahasia. Musuh-musuh kita sudah

mulai berdatangan. Kita harus menjalankan sebuah

siasat yang baik. Mari ikuti aku"

"Siapa kau?" tanya Patih Luragung curiga.

"Aku sang Maha Sesat. Jangan banyak tanya-

tanya lagi. Ikutilah aku" perintah suara tadi.

Patih rupanya memang merasa tidak punya pi-

lihan lain lagi. Ia terpaksa mengikuti perintah Sang

Maha Sesat. Tidak lama kemudian mereka sudah

sampai di kamar-kamar peraduan putri raja.

"Salah satu kelemahan laki-laki adalah tidak

tahan menghadapi godaan perempuan cantik. Nah se-

karang kita coba, mudah-mudahan saja usaha ini

mendatangkan hasil." Sang Maha Sesat mengisiki.

"Nah sekarang kau bersiap-siaplah meringkus siapa saja yang masuk dalam jebakanku"

Meskipun belum mengerti benar apa yang akan

dilakukan makhluk alam gaib itu. Patih Luragung ke-

mudian bersembunyi di tempat yang aman. Sementara





kabut tadi sudah menyelinap memasuki kamar pera-

duan putri raja.

Pada waktu itulah terdengar suara langkah-

langkah mendekat ke arah kamar dimana kabut tipis

tadi menghilang. Rupanya orang yang datang ini tidak

lain adalah Si Raja Kodok. Sampai di depan pintu ia

tertegun. Suara-suara sumbang kodok dalam kepis

terdengar.

"Mengapa hatiku berdebar-debar. Apa mungkin

raja bersembunyi di sini?" pikirnya. Dengan agak ragu-ragu Raja Kodok mendorong pintu. Karena pintu da-

lam keadaan terkunci dari dalam. Maka ia mendo-

braknya dengan melepaskan pukulan dahsyat 'Kodok

Menyanyi Hujan Menggila'.

"Bumm"

Pintu kamar hancur berantakan. Raja Kodok

melompat ke dalamnya. Ia terkesiap. Di atas ranjang ia melihat Puspita dalam keadaan setengah telanjang.

Kaki dan tangannya dalam keadaan terikat.

"Tol... tolonglah aku..." rintih gadis itu.

"Siapa yang telah melakukan ini?" tanya Raja Kodok yang sudah datang menghampiri.

"Aku tidak tahu, aku dibokong. ia... ia hampir

saja memperkosaku" jawab Puspita, Raja Kodok langsung melepaskan tali-tali yang mengikat tangan serta

kaki Puspita. Begitu terbebas, gadis itu langsung me-

meluk Raja Kodok sehingga dadanya yang putih tidak

terbalut apa-apa menekan keras dada Raja Kodok.

"Aku berterima kasih sekali padamu, Raja Ko-

dok. Aku hampir saja mendapat malu besar." desah si gadis tanpa melepaskan pelukannya.

"Aku heran, kemana perginya orang yang telah

membuatmu malu?" tanya Raja Kodok.

"Di... dia langsung pergi begitu mendengar sua-

ra langkah-langkah orang kemari." Raja Kodok yang





setengah keheranan-heranan ini segera menjauhkan

dirinya dari Puspita. Ia baru saja hendak mengatakan

agar Puspita membenahi pakaiannya. Pada saat itulah

Puspita dengan gerakan cepat menutup hidung Raja

Kodok dengan telapak tangannya.

"Haaar..." Raja Kodok meronta.

Tapi usahanya ini sudah terlambat. Kabut tipis

beracun telah terhirup olehnya. Raja Kodok terhuyung, lalu ia tersungkur tidak sadarkan diri. Puspita, tersenyum, kemudian tertawa mengakak. Puspita palsu ini

kemudian memanggil Patih Luragung.



***





3


"Paman Patih, lihatlah kemari? Dia merupakan

bagianmu untuk mengamankannya. Setelah mereka

semua terkumpul, seret ke alun-alun untuk menerima

hukuman pancung" dengus Sang Maha Sesat yang ki-ni telah raib dari pandangan mata.

"Hmm, aku suka sekali melaksanakan tugas

ini" gumam Patih Luragung. Ia mengeluarkan segulung tali dari balik pakaiannya. Maka tidak lama ke-

mudian Raja Kodok pun sudah dalam keadaan terikat.

Kodok-kodok, dalam kepis memberontak melihat

tuannya mendapat perlakuan sedemikian rupa. Tentu

saja makhluk dua jenis alam ini tidak dapat keluar,

karena penutup kepis dalam keadaan terkunci. Patih

menyeret Raja Kodok untuk dibawanya ke tempat yang

aman. Sementara itu di ruangan lain, Pendekar Lugu

masih belum menemukan apa-apa. Tadi mereka me-

mang sepakat untuk berpencar, namun sekarang tim-





bul keragu-raguannya. Jangan-jangan jalan yang me-

reka tempuh malah membahayakan diri mereka. Pen-

dekar Lugu keluar dari kamar peraduan raja. Ia berge-

gas menuju ke kamar lainnya. Tiba-tiba saja ia melihat Raja Kodok dalam keadaan terikat terlentang di atas

lantai tidak sadarkan diri.

"Raja Kodok?" serunya kaget sekali.

Pendekar Lugu tanpa merasa curiga langsung

menghampiri. Setelah memeriksa keadaan Raja Kodok.

Maka semakin pucatlah wajahnya.

"Dia terkena racun jahat Sang Maha Sesat Ti-

dak kusangka dia masih berkeliaran di istana ini. Ba-

gaimana cara aku menyembuhkannya?" desis Pende-

kar Lugu cemas.

Baru saja Wahyu Sakaning Gusti hendak mem-

buka tali yang mengikat Raja Kodok. Pintu di bela-

kangnya menutup dengan suara keras. Cepat sekali

Pendekar Lugu menoleh ke belakang. Di saat itulah

angin kencang berhembus disertai menebarnya bau

wangi. Pendekar Lugu tiba-tiba saja terguling. Ia telah menghirup uap beracun yang sangat ganas. Nasibnya

tidak ubahnya dengan kejadian yang dialami oleh Raja

Kodok. Sosok Raja Kodok tadi menghilang, lalu terden-

gar suara tawa bekakakan penuh kemenangan.

"Sekarang hanya tinggal Malaikat Penderitaan

Orang satu ini sulit. Tentu dia tidak dapat ditipu, pa-dahal Surat Kedamaian Dunia itu harus dapat kuambil

agar isinya tidak dapat diketahui oleh orang-orang

yang ingin menempuh jalan yang lurus" kata Sang Maha Sesat. Kini muncul lagi Patih berkepala botak, ia pun melakukan tugasnya untuk yang kedua kalinya.

Sang Maha Sesat dalam gaibnya bergerak ke

arah lain. Jika Malaikat Penderitaan saat itu sudah

menemukan jalan menuju ke dalam ruangan rahasia.

Maka pada waktu bersamaan pula Suro Blondo dan





kawan-kawannya sudah sampai di gerbang istana.

"Di sini terasa sepi sekali" celetuk Dunga setelah memperhatikan situasi di sekeliling mereka.

"Sepi menghanyutkan." sahut Suro. Keningnya berkerut-kerut, mulutnya termonyong-monyong. "Lihat... bukankah dua ekor kunyuk itu yang hampir

membuat kita semua celaka? Eeh... ini yang aneh Ke-

pala Arung Garda kok menempel lagi, herannya lagi

dia dan Raja Tega seperti tidak berdaya. Coba kita lihat..." Kedelapan orang ini langsung mendatangi. Melihat kedatangan mereka Panglima Arung Garda melo-

tot, sedangkan Raja Tega meludahi muka Pendekar

Blo'on. "Sial Mestinya kau juga kehilangan gigi serta mulut. Ludahmu bau dosa. Kalau saja aku tidak malu

sudah kukencingi kau punya muka" gerutunya.

"Kau..." Suro menunjuk Arung Garda. "Bagaimana kepalamu yang sudah kucopot itu dapat me-

nyambung kembali?"

"Hh, tanyakan pada setan-setan di neraka"

dengus Panglima sinis. "Ingat Jika aku terbebas dari pengaruh totokan jahanam ini, kaulah yang paling pertama kukirim ke neraka" ancamnya. Suro menyeringai. Ia mendekat, lalu ditariknya dua helai kumis

Arung Garda.

"Akkh... bangsat sialan. Anak Setan..." maki Panglima telenggas ini sambil meringis-ringis kesakitan.

"Nah kucabut kumismu saja sudah kesakitan.

Bagaimana kau bisa dengan sesuka hati menyakiti

orang lain, membunuh manusia tanpa sebab. Apa kau

kira nyawa manusia milik nenek moyangmu?" dengus murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api dingin.





"Sudahlah, biarkan saja. Sebaiknya kita susul

kawan-kawan kita yang mungkin sedang berada di

dalam sana." sergah Puspita Sari.

"Kau dan para utusan ini boleh bersama-sama

memberitahukan kedatangan kita pada Malaikat Pen-

deritaan. Kurasa mereka sudah tidak sabar menunggu

kedatangan Anak Langit"

"Kau sendiri?"

"Biarkan aku tetap berada di sini menjaga sega-

la kemungkinan."

"Tuan Pendekar, menurutku keadaan di istana

ini sudah aman. Sebaiknya kita semua masuk saja ke

dalam." usul Dendra.

"Mana boleh begitu. Aku ragu raja Lalim Durja-

na minta bantuan sekutu-sekutunya. Jika kita semua

berada di dalam. Tentu kita tidak akan tahu jika se-

waktu-waktu musuh datang kemari"

"Dia benar." Yang bicara adalah Dunga. "Kita harus menjaga segala kemungkinan. Karena bukan

mustahil raja telah melarikan diri, untuk kemudian

kembali lagi ke sini dengan membawa bantuan."

Alasan yang dikatakan Dunga memupus kera-

gu-raguan di hati para utusan juga hati Puspita. Setelah para utusan memasuki istana, kini hanya tinggal

Suro saja yang berada di alun-alun istana. Ia mondar-

mandir sambil mengawasi tawanan. Namun bila orang-

orang ini memperhatikannya. Maka Pendekar Blo'on

cepat-cepat memalingkan perhatiannya ke arah lain.





* * *



Pada waktu itu terdengar suara tangis sayup-

sayup di kejauhan. Angin tidak berhembus, matahari

redup. Suasana sunyi seakan berada di sebuah daerah

tanpa kehidupan. Semakin jelas sosok yang menangis





itu. Maka semakin kuatlah suara tangisnya. Hati se-

tiap orang tercenung, jiwa terguncang. Raja Tega, Panglima Arung Garda tidak terkecuali Pendekar Blo'on

sendiri ikut terseret dalam tangis. Maka menangislah

mereka sejadi-jadinya. Keadaan mereka saat itu seperti orang yang sedang menyesali sesuatu. Terbayang dosa-dosa yang mereka perbuat di masa lalu.

Raja Tega yang ikut terseret dalam tangis me-

nyedihkan itu kini meraung. Tidak ubahnya seperti

orang yang kehilangan kekasih yang sangat dicin-

tainya. Pendekar Blo'on kerahkan tenaga dalam untuk

menghilangkan pengaruh tangis yang menyedihkan

itu. Namun ia sama sekali tidak berdaya melakukan-

nya. Ia duduk bersila, lalu pejamkan matanya. Diko-

songkannya hati, jiwa dan pikirannya. Sementara

mulutnya terus termonyong-monyong.

Sekejap entah darimana datangnya. Di atas

tembok istana telah duduk seorang laki-laki tua me-

makai kupluk putih. Di tangannya memegang tasbih.

Wajahnya tertunduk, jenggot panjang dan ia terus me-

nangis tiada henti.

"Huuuuuu... hu hu hu... Kudengar keluh ma-

tahari, ia memancarkan cahaya penerang bumi yang

sia-sia, karena begitu banyak manusia lalai menyem-

bah TuhanNya Kudengar pula jeritan bumi, begitu be-

ratnya ia mengemban beban manusia-manusia berge-

limang dosa. Matahari diperbudak manusia, bumi diin-

jak-injak orang-orang kotor. Seandainya kalian tahu

pasti apa yang aku ketahui. Tidak ada kesempatan ba-

gi kalian untuk tertawa dan menyia-nyiakan umur. Ka-

lian lebih banyak menangis daripada tertawa. Hidup

delapan puluh lima tahun, hatiku selalu risau memi-

kirkan dosa-dosaku sendiri dan dosa orang lain. Ada-

kah manusia pernah berpikir untuk apa dia hidup,

buat apa dia dilahirkan? Apakah hanya untuk mengu-





rusi perut, memperturutkan hawa nafsu atau menjadi

budak setan? Hu hu hu... Sekali-kali tidak demikian, jika kau mau berpikir. Manusia dilahirkan untuk berbakti pada Gusti Allah. Aku kasihan... manusia keba-

nyakan lalai karena disibukkan mengurusi harta ben-

da dan mengumpulkan anak-anak. Harta yang kau

kumpulkan dengan susah payah itu kelak akan kau

tinggalkan, orang-orang yang kau cintai itu kelak akan meninggalkanmu dan kau akan dilupakannya. Jika

aku sudah terbujur menyatu dengan tanah bekal apa-

kah yang aku bawa? Adakah harta benda dan anak-

anakku dapat menolongku dan menyelamatkan diriku

dari sebuah azab yang pedih. Duh, betapa yang na-

manya manusia itu sangat sombong sekali, terlalu

membanggakan diri karena keberhasilannya, kedudu-

kannya, kekayaannya, kecantikannya dan mereka ke-

banyakan sangat mencintai dunia. Janganlah begitu,

nanti engkau akan tahu pasti. Jangan begitu kelak

engkau akan menyesal, penyesalan yang sama sekali

tidak berguna. Aku sibuk, aku sedih melihat kalian

mengejar gemerlapnya dunia. Aku lebih sedih lagi me-

lihat dua alat pembunuh yang kini tidak berdaya. Oh,

aku lebih suka merenung, perenunganku membuat

aku menangis, tangisku karena penyesalan. Bukan

untuk persoalan dunia yang penuh dengan kebusukan

ini, tapi menyangkut urusanku dan urusan semua

orang setelah mati. Hu hu hu..."

Si kakek yang kedua matanya memerah dan

bengkak-bengkak ini terus saja menangis. Raja Tega

masih juga menangis, Arung Garda mulai dapat men-

guasai diri. Sedangkan Suro sudah berdiri dan tidak

lagi menangis. Memandang ke atas tembok, ia melihat

si kakek berjanggut panjang terus tundukkan kepala

sambil menangis. Melihat ke bagian tangan, tasbih be-

sar itu terus berputar lambat namun pasti.





"Kisanak, siapakah Anda yang suka menangis?"

tanya Pendekar Mandau Jantan sambil menyeka sisa

air mata di pipinya.

"Hu hu hu, aku sibuk memikirkan dosa-

dosaku. Aku bingung dimana kelak aku ditempatkan?

Apakah di sorga atau neraka? Aku lupa siapa diriku

sendiri. Kudengar orang menyebutku sebagai 'Makhluk

Sibuk', kudengar pula orang menyebutku 'Si Perenung

Dosa'. Aku tidak perduli siapa aku, aku hanya perduli pada perbuatan baik burukku..."

Suro tercengang, mulut melongo. Ia cepat tutup

mulutnya dengan satu jari tangan. Ia jadi teringat pesan gurunya Malaikat Berambut Api ketika ia berada

di puncak Mahameru dulu.

"Suro, di dunia ini ada seorang manusia yang

tidak sempat memikirkan urusan dan kemewahan du-

nia karena terlalu sibuknya ia memikirkan dosa sendiri dan dosa orang lain. Ia tidak mau usilan, ia selalu me-lerai setiap ada pertikaian. Ia menangisi kesalahannya di tempat sepi. Ia tidak pernah lupa mengingat Gusti

Allah. Orang itu adalah Si Perenung Dosa atau Mak-

hluk Sibuk. Kepadanya dapat kau tanyakan apa arti

dan hakekat hidup manusia yang sebenarnya. Lalu

ada lagi manusia sejati yang selalu memikirkan bagai-

mana kiranya manusia bisa selamat dari murka Tu-

hanNya. Dia adalah Wahyu Sakaning Gusti. Sedang-

kan Malaikat Penderitaan. Dia tergolong manusia se-

tengah Malaikat. Ujudnya antara ada dan tiada, tapi

juga dapat menjadi nyata. Masih banyak lagi golongan

lurus yang hidupnya hanya ingin mengajak orang lain

berbuat baik agar manusia tidak tersesat di dunia

dan akherat. Justru orang-orang yang kusebutkan ini,

kurang disukai oleh masyarakatnya. Keberadaannya

bahkan dimusuhi, dicaci dan dihina. Namun sedikit

pun mereka tidak membalas perlakuan buruk itu.





Orang-orang inilah sesungguhnya manusia yang be-

runtung..."

Teringat akan pesan-pesan gurunya, tiba-tiba

saja Suro berlutut. Kakek di atas tembok semakin ke-

ras tangisnya.

"Aku bukanlah apa-apa, mengapa kau meng-

hormat padaku? Mengapa engkau tidak menghormati

dirimu sendiri, Bocah Ajaib?" Ucapan Perenung Dosa ini membuat Pendekar Blo'on terkesima. Lalu ia bangkit lagi. Memandang ke atas tembok matanya berkaca-

kaca. "Perenung Dosa, ketahuilah bahwa aku adalah manusia hina yang punya begitu banyak kesalahan.

Dosa-dosaku tidak terhitung banyaknya. Hutangku ju-

ga banyak, hutang air, hutang makanan, hutang uda-

ra, hutang segala kenikmatan hidup yang aku nikmati.

Aku hutang, penglihatan, hutang penciuman, hutang

pendengaran, hutang nyawa dan anuku juga berhu-

tang pada Gusti Allah, sudilah kiranya kau memberi

petunjuk padaku yang goblok ini" kata Suro masih dengan merapatkan kedua tangannya.

Jika bukan Makhluk Sibuk yang mendengar

ucapan si pemuda, tentu sudah tertawa mendengar-

nya. "Apa yang kau sebutkan itu dalam arti yang luas. Semua itu cukup kau panjatkan dengan rasa

syukur yang mendalam pada Tuhanmu. Ketahuilah

sebaik-baiknya manusia adalah orang yang selalu me-

rasa dirinya punya banyak kesalahan dan dosa. Den-

gan demikian berarti ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak, berpikir, menentukan langkah. Seburuk-buruknya manusia adalah orang yang selalu mengang-

gap dirinya yang paling baik dan yang paling benar.

Sedangkan orang lain dianggapnya salah semua. Hal-

hal seperti yang kusebutkan ini hanya menimbulkan





keangkuhan. Jika kau berbuat kebaikan anggap saja

seperti kau membuang hajat, jangan kau ingat-ingat

apa warnanya, bagaimana bentuknya, bulat, gepeng,

atau encer. Jika kesalahan yang kau lakukan, sebaik-

nya kau sesalilah, dan berjanji dalam hati agar tidak membuat kesalahan lagi. Hu hu hu..."

"Aku pun... hu hu hu... Kalau boleh tahu da-

rimanakah asal-usulmu, Kek? Aku ingin tahu sesung-

guhnya tugas apa yang harus kulakukan dalam hidup

ini?" kata Suro Blondo.

"Tugas manusia adalah berbuat kebaikan seba-

nyak-banyaknya. Mengenai asal usulku adalah dari

lembah Penantian. Tempat itu jauhnya tujuh puluh

tahun perjalanan kaki." sahut Makhluk Sibuk. Suro geleng-gelengkan kepala.

"Jauh amat, Kek." gumam Suro sambil garuk-

garuk kepala.

"Jika Gusti Allah menghendaki kelak kau akan

sampai ke sana."

"Okh... oh..."

"Bocah Ajaib, kau kedatangan tamu Huk huk

huk..." Baru selesai Makhluk Sibuk bicara. Tiba-tiba di depan Suro berkelebat sosok bayangan. Ketika Pendekar Mandau Jantan ini memandang ke depannya maka

di situ sejarak dua tombak telah berdiri seorang kakek berbadan semampai, punya satu mata di tengah-tengah kening dan bergigi runcing macam gergaji. Ka-

kek berambut putih hanya memakai cawat ini tertawa

ngakak. Giginya yang merah berlumur darah yang su-

dah mengering terlihat sangat mengerikan.

"Jauh Bukit Kematian ku tinggalkan, aku da-

tang memenuhi panggilan sobatku Sang Maha Sesat.

Ternyata di sini sepi-sepi saja, tidak ada penyambutan.

Terkecuali seorang pemuda tolol dan tua bangka mo-





nyet yang duduk di tembok tanpa peradatan" dengus Pertapa Seribu Abad.

Belum sempat Suro menyahuti, Makhluk Sibuk

yang duduk sambil menangis di atas tembok menya-

huti.... "Manusia yang paling konyol di dunia adalah Bocah Ajaib dan gurunya. Manusia yang gemar membunuh tanpa perasaan adalah Si Raja Tega, hu hu

hu... manusia yang menyamai iblis di dunia ini adalah orang bermata satu bergigi gergaji dan doyan daging

saudaranya sendiri. Dialah orang paling jelek, bertingkah laku seperti iblis yang selalu meresahkan dan

menjerumuskan manusia dalam kesengsaraan. Aku

sedih melihat dosa-dosanya tujuh langit tembus. Huk

huk huk..."

"Bangsat Aku tahu siapa dirimu, kau terlalu

sibuk memikirkan dosa-dosamu, itu sebabnya kau di-

juluki Perenung Dosa. Lihatlah dosa-dosa orang lain

yang begitu banyaknya. Urusilah mereka jangan kau

campuri kepentinganku" kata Pertapa Seribu Abad.

Rupanya kakek aneh ini sudah kenal dengan Makhluk

Sibuk yang konon dengan petuah-petuahnya membuat

orang menangis tiada henti. Jika Perenung Dosa sudah

menangis, kabarnya binatang dan makhluk hidup

lainnya juga terhanyut dalam tangisnya.

"Hu hu hu... Aku selalu heran manusia ber-

buat dosa masih bisa tertawa. Tetapi aku lebih heran

lagi Pertapa sepertimu, manusia yang kejahatannya

melebihi setan dipanjangkan umurnya Hu hu hu...

aku suka merenung bahkan aku tidak pernah berhenti

dari perenungan" sahut Makhluk Sibuk di tengah-

tengah isak tangisnya yang semakin menggila.



***





4


Wajah Pertapa Seribu Abad berubah kelam

membesi. Mata tunggalnya yang bulat besar kelihatan

memerah. Semakin lama semakin bertambah merah

laksana darah. Tiba-tiba dia berteriak keras, suara teriakan disusul dengan melesatnya sinar merah meng-

hantam ke arah tembok. Sosok Mahkluk Sibuk lenyap

dari pandangan mata. Sinar merah menghamparkan

panas luar biasa melabrak tembok benteng.

"Buuuumm"

Terdengar suara berdebum, tembok hancur

menjadi kepingan debu dan batu-batu kecil, tidak ter-

lukiskan bagaimana seandainya serangan itu menge-

nai manusia. Di bagian lain terdengar suara tangis ter-sendat-sendat. Tidak lama Pertapa Seribu Abad me-

mandang ke arah itu. Ternyata Perenung Dosa telah

duduk di sana sambil menyeka air matanya.

"Hmm, lebih tenang lagi kau merenung di da-

lam kubur. Aku akan mengirimmu ke sana dengan bo-

cah tolol ini" dengus mata satu.

Tidak lama Pertapa Seribu Abad mengedipkan

matanya ke arah Suro Blondo. Dua larik sinar merah

menerjang Si Bocah Ajaib dengan kecepatan luar bi-

asa. Suro tertawa bekakakan.

"Orang gila" Suro menggerutu. "Kau kira aku ini perempuan pake main kedip mata segala. Kalau

pun aku perempuan mana aku mau dengan manusia

jelak sepertimu" Pendekar Blo'on melompat sejauh dua tombak selamatkan diri. Pukulan memang menghantam tempat kosong, tetapi hawa pukulan membuat

kulitnya seperti hangus.

Suro leletkan lidah, mulutnya termonyong-

monyong. Tiba-tiba saja pemuda itu menerjang ke de-





pan. Karena serangan pemuda konyol itu sangat cepat

datangnya dan ia sudah mempergunakan jurus 'Tawa

Kera Siluman'. Tidak ada kesempatan lagi bagi Pertapa Seribu Abad lepaskan pukulan atau mengedipkan ma-ta.

Ia menyambut serangan itu dengan tangan

terkembang merobek dada, kaki kakek mata satu

pun menghantam ke arah perut Suro. Pemuda itu

menghindar ke samping, sedangkan tangannya me-

nangkis.

"Dhaak..."

"Heps..."

Pemuda ini jatuh terduduk. Tangannya beng-

kak membiru, dari bibirnya sempat terdengar suara

tawa bekakakan. Pertapa Seribu Abad terus mencecar-

nya dengan serangan-serangan dahsyat. Pemuda itu

kalang kabut dan berguling-guling menghindari.

Hingga kemudian terdesaklah pemuda ini. Tiba-

tiba ia bangkit berdiri dan dengan cepat tubuhnya berkelebat lenyap dari pandangan lawannya. Sementara

itu suara tawa terus terdengar di sekeliling Pertapa Seribu Abad. Suara tawa itu bagi tokoh berkepandaian

tinggi ini terasa cukup mengganggu juga. Tiba-tiba saja ia berteriak keras. Tinjunya secepat kilat menghantam wajah Suro. Suro merunduk, ketika kaki menyapu ke

arah pinggang Pendekar Blo'on melompat. Si kakek

mengejar, tapi Suro sudah menjatuhkan tubuhnya. La-

lu dengan bertumpu pada punggungnya, Suro lancar-

kan satu tendangan menggeledek.

"Duuk"

"Ueh..."

Kaki menggedor pinggang, tapi malah Suro

yang kaget dan meringis kesakitan.

Tubuh lawannya keras bukan main, terpin-

cang-pincang Pendekar Blo'on bangkit berdiri.





Di saat itulah lawan menyerangnya dengan pu-

kulan yang sulit terelakan. Si Bocah Ajaib tarik kepalanya ke belakang, perutnya agak ke depan, gerakan-

nya ini terkesan lucu, sebab begitu pukulan beralih ke perut. Maka kepalanya yang menyentak ke depan be-radu dengan kepala lawannya.

"Bletak"

"Waduh..." Suro menggerutu, dengan cepat ia mundur sambil usap-usap keningnya yang benjol. Ee...

ternyata jidat lawannya juga benjol kok. Pertapa Seribu Abad selain geram juga kagum karena dengan gerakan

yang serudak seruduk seperti monyet mabuk ternyata

lawan masih mampu menghindar dari serangan-

serangan yang cukup ganas.

"Sungguh bocah ini tidak pernah kusangka

punya kepandaian yang hebat. Gerakannya penuh

dengan keajaiban. Aku telah tertipu dengan penampi-

lannya yang seperti orang goblok tidak punya kepan-

daian apa-apa." gerutu kakek mata tunggal dalam hati.

"Iblis Edan ini tidak boleh dikasih hati. Aku takut dia minta kepalaku Aku harus punya satu cara

untuk menghancurkan tubuhnya yang atos itu." pikir Suro Blondo.

Belum lagi Suro sempat mengambil keputusan

yang tepat. Pertapa Seribu Abad sudah menghentak-

kan kedua tangannya masing-masing ke kiri dan ke

kanan. Ketika kedua tangannya disilangkan ke depan

dada. Berubahlah paras Makhluk Sibuk.

'"Sirna Raga?" desisnya. Lalu tangisnya semakin bertambah keras. "Itu adalah pukulan sekaligus jurus yang paling keji"

Pendekar Blo'on untuk beberapa saat lamanya

terkesiap. "Kurasa inilah jurus yang mematikan bagiku Tangannya merah seperti bara, bau amis ini meru-

pakan tanda di kedua tangannya terkandung racun





yang Maha ganas. Aku tidak mungkin bentrok badan

dengannya" pikir si konyol. Begitu seriusnya ia menghadapi serangan ganas itu, sampai-sampai di luar ke-

sadarannya mulutnya sudah pletat pletot.

"Heaaa... Hancur..." teriak Pertapa Seribu Ab-ad.

'"Neraka Hari Terakhir' Hyaa..." teriak Pendekar Blo'on.

Tubuh si kakek mata tunggal yang sudah mele-

sat kencang ke arahnya ini seakan tertahan-tahan di

udara ketika ia melihat sinar merah kehitam-hitaman

menyerbu ke arahnya. Sementara itu si kakek juga he-

ran mendengar suara jeritan-jeritan aneh di sekelilingnya. Jeritan itu seakan datang dari makhluk-makhluk

penghuni neraka. Melihat tidak ada kesempatan ba-

ginya untuk menyelamatkan diri. Sambil memaki ia

pergunakan kedua tangannya untuk melindungi tu-

buhnya. Maka dari sikap menyerang sekarang tangan-

nya diputar hebat.

"Buuuum"

Pertapa Seribu Abad menjerit tertahan. Ia jatuh

terduduk, nafasnya megap-megap, dadanya sakit se-

perti tertusuk ribuan barang jarum. Wajah laki-laki itu pucat. Memandang pada murid Penghulu Siluman Ke-ra Putih sekaligus murid Malaikat Berambut Api. Pe-

muda itu tampak lebih konyol lagi. Rambutnya awut-

awutan, bibirnya meneteskan darah, baju bagian de-

pannya sobek. Ia tidak dapat lagi tersenyum, melain-

kan meringis kesakitan.

Suro segera atur jalan nafas, kerahkan tenaga

dalam untuk menyembuhkan luka yang dideritanya.

Dalam hati ia kaget juga 'Pukulan Neraka Hari Terak-

hir' adalah sebuah pukulan pada tingkatan paling

tinggi dan merupakan warisan kakek Dewana. Per-

tapa Seribu Abad bukan saja dapat menangkis seran-





gan maut itu, tapi ia masih bertahan hidup. Suro be-

lum pernah melihat lawan dapat bertahan seperti ini.

Selagi Suro masih memejamkan mata, Pertapa Seribu

Abad menyerbu ke arahnya. Tangannya cepat terayun

menghantam batok kepala Suro. Pemuda ini memang

sempat rasakan adanya sambaran angin, tapi untuk

bergerak mustahil baginya. Karena konsentrasi masih

berpusat pada bagian dada dalam usaha menyembuh-

kan luka. Kalau pun ia paksakan diri, akibatnya dapat membuat tubuhnya lumpuh.

Pada saat yang sangat kritis itu, berkelebat so-

sok bayangan, kemudian terdengar pergelangan tan-

gan seperti patah berderak.

"Aaa..."

Pertapa Seribu Abad menjerit kesakitan. Tidak

jauh darinya berdiri Makhluk Sibuk.

"Perenung Dosa, mengapa kau campuri urusan

orang lain?" bentak kakek Pertapa. Ia mengurut-urut tangannya. Secara aneh tangan itu menyambung dan

utuh kembali seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

"Huk hu hu hu... Mencampuri urusan orang

lain hanya menambah dosa bagiku Tapi aku akan le-

bih berdosa lagi jika melihat pembunuhan terjadi di

hadapanku, sementara aku hanya bersikap masa bo-

doh" "Bangsat Rupanya kau mau minta bagian mati duluan" geram Pertapa Seribu Abad.

"Untuk apa aku sibuk-sibuk mengurusi amarah

setan. Aku sudah kelewat sibuk memikirkan dosaku

dan dosa umat. Huk huk huk..," Makhluk Sibuk tiba-tiba melompat. Sekali berkelebat ia sudah berada di

atas genteng, nongkrong di sana sambil menangis.

Walaupun Pertapa Seribu Abad bermaksud

mengejarnya, namun di depannya telah menghadang

Pendekar Blo'on. Pemuda itu seka keningnya yang ber-





keringat bercampur debu.

"Punya hubungan apa kau dengan Malaikat Be-

rambut Api?" tanya si kakek.

"Perlu apa kau bertanya? Ingin mengulur waktu

atau mau mengulur jalan menuju akherat? Ha ha

ha..." dengus Pendekar Mandau Jantan.

"Huh, jangan bermimpi bocah konyol. Dan jan-

gan pula kau kira gurumu manusia yang paling hebat"

teriak Pertapa Seribu Abad. Tiba-tiba saja secara cu-

rang dan cepat ia mengedipkan matanya. Sinar me-

rah menyambar, Suro berusaha menghindar dengan

cara seperti monyet bergelantungan berpindah tempat.

Ternyata gerakannya yang cepat itu masih kalah cepat

dengan gerakan lawannya. Serangan itu menyambar

selangkangannya. Suro menjerit dan berguling-guling

untuk memadamkan api. Kedua pahanya kiri kanan

melepuh. Ia segera memeriksa. Mulutnya termonyong-

monyong.

Untung cuma pahanya saja yang melepuh,

adiknya Suro yang sedang tidur tidak apa-apa.

"Bangsat betul kau. Sasaran lain masih ba-

nyak, kau malah memilih pusaka milik perempuan

Aku benar-benar tidak terima lahir batin." maki Suro.

"Set"

Pendekar Blo'on cabut senjata ampuh Mandau

Jantan di balik pakaiannya. Sinar hitam berkeredep

menyilaukan mata. Ketika Suro mengalirkan tenaga

dalam ke bagian senjata itu, maka semakin menghi-

tamlah Mandau Jantan di tangannya.

"Inilah senjata maut yang menghebohkan itu"

batin Pertapa Seribu Abad. Tiba-tiba saja ia membeset lengannya dengan mempergunakan ujung jemari tangannya. Sesuatu yang sangat mengerikan dan sulit di-

percaya terlihat. Si kakek mengambil benda putih kecil sepanjang siku. Senjata itu tersimpan di bawah kulit di





dalam daging tangan Pertapa Seribu Abad. Di atas gen-

teng tangis Makhluk Sibuk semakin menjadi-jadi. Se-

mentara Suro yang sempat tercengang leletkan lidah-

nya. Kemudian ia menggerakkan senjata di tangannya.

Sinar hitam bergulung-gulung disertai dengan terden-

garnya suara meringkik, menangis dan suara tawa.

Suara yang aneh-aneh itu jelas berasal dari empat

buah lubang miring yang terdapat di cekungan pipih

yang terdapat di tengah-tengah mandau.

Walaupun sahabat Sang Maha Sesat ini sempat

kaget juga. Namun ia segera putar pedang tipis pendek yang dikenal dengan nama 'Perenggut Jiwa Penghancur Sukma'. Inilah pertempuran yang paling sengit pe-

nuh bahaya yang pernah dihadapi oleh Pendekar Ko-

nyol Suro Blondo. Sebab ketika itu masing-masing pi-

hak telah mengerahkan segenap kesaktian dan jurus-

jurus yang mereka miliki.

Sinar hitam dan sinar merah saling mendesak,

mengurung atau terkadang menerobos pertahanan

lawannya. Suro secara silih berganti merubah jurus-jurus serangannya. Kini ia bahkan mempergunakan

jurus 'Kacau Balau', untuk menghindari tusukan dan

sabetan senjata lawan. Pemuda ini terhuyung kian

kemari, gerakannya tidak beraturan sulit ditebak,

bahkan Pertapa Seribu Abad sendiri sampai sejauh

itu tidak dapat memecahkan jurus lawan yang penuh

dengan bermacam-macam keanehan. Pertapa Seribu

Abad melompat mundur seperti frustrasi, sebaliknya

Suro melompat maju. Lalu tusukkan senjata ke lam-

bung si kakek. Orang ini menepisnya dengan memper-

gunakan senjata.

Tring...

Dua-duanya terhuyung ke belakang. Pucat wa-

jah Suro, tapi lawannya lebih pucat lagi. Benturan tadi membuat Suro merasa tangannya panas seperti terba-





kar. Sampai-sampai Suro membolang-balingkan senja-

tanya untuk menghilangkan hawa panas yang menye-

rang tangannya.

Kesempatan yang sekejap itu tidak disia-siakan

Pertapa Seribu Abad. Ia menerjang ke depan sambil

tusukkan pedang 'Perenggut Jiwa Penghancur Sukma'.

Terdengar suara mendesing menyakitkan telinga. Suro

berkelit ke samping selamatkan diri. Tangannya te-

rangkat, lalu diayunkannya Mandau Jantan menera-

bas pangkal lengan si kakek.

"Hiiiiiik Huuuuu Ha ha ha..."

Seiring dengan terdengarnya suara mandau

yang aneh-aneh itu. Maka....

"Traas"

"Auuuukh..."

Pertapa Seribu Abad menjerit kesakitan. Poton-

gan tangan berikut pedangnya terjatuh. Pedang diten-

dang oleh si konyol sesuka hatinya. Senjata itu melesat ke udara. Tapi begitu sampai di angkasa terdengar suara ledakan yang sungguh dahsyat sekali.

Keanehan lagi-lagi terjadi pada lawannya. Si

kakek mata tunggal ini tiba-tiba menjerit seperti orang yang urat-urat di sekujur tubuhnya dicabuti. Suro ter-lolong-lolong, terlebih-lebih ketika melihat Pertapa Seribu Abad ambruk seperti orang lumpuh kehilangan

tenaga dan kekuatan.

"Huk huk huk Aku manusia paling sibuk,

kau pendekar tolol tidak perlu sibuk memikirkan apa

yang terjadi pada Pertapa Seribu Abad. Ketahuilah,

bahwa pedang Perenggut Jiwa Penghancur Sukma me-

rupakan sumber kekuatannya. Ia juga sumber kesak-

tian orang itu, kau telah menendangnya secara tidak

sengaja. Kau tolol tapi pintar. Jika pedang itu terpisah sepuluh tombak dari tuannya, maka seperti yang kau

saksikan itulah yang terjadi padanya." Makhluk Sibuk





mengisiki.

"Oh begitu. Ha ha ha... Jadi setan jelek itu ada kelemahannya. Nah sekarang aku harus buat perhi-tungan padanya" Dengan penuh kegeraman Suro

menghampiri. Mandau Jantan ditimang-timangnya.

"Hancur pakaianku harus diganti dengan kulitmu. Aku juga ingin mencabuti gigimu yang jelek itu. Kemudian

matamu yang menyalahi kodrat dan tidak pada tem-

patnya harus kupindahkan ke sebelah kiri. Nah apa

usulmu Pertapa Seribu Abad" tanya Suro, cengar cengir namun serius.

"Bangsat Kalau kau mau membunuhku. bu-

nuh saja. Tidak perlu kau menyiksaku' dengus si ka-

kek. Ia mengedipkan matanya. Namun tidak menim-

bulkan reaksi apa-apa. Ia benar-benar telah kehilan-

gan kesaktiannya.

"Mati bagimu terlalu enak, kau harus merasa-

kan penderitaan yang menyakitkan. Nah sekarang

akan ku mulai dari gigimu, matamu tentu saja yang te-

rakhir kali mendapat giliran, agar mata yang cuma sa-

tu itu dapat melihat Mandau ini melakukan tugasnya"

kata Suro, lalu tersenyum sinis. Pada waktu itu pula ia mendengar suara bisikan.

"Apa nanti kata orang kau seorang Pendekar.

Tapi menyakiti dan menganiaya orang yang sudah ti-

dak berdaya. Bukankah itu merupakan tindakan yang

sangat pengecut?" Suro memandang ke atas genteng.

Makhluk Sibuk alias Perenung Dosa sudah tidak terli-

hat lagi. Tapi Suro konyol tetap merasa yakin yang

mengisiki barusan pastilah Perenung Dosa.

"Buah... Kalau saja aku tidak takut disebut

pengecut. Sekarang kau pasti telah merasakan pemba-

lasanku. Nanti setelah kawan-kawanmu kukumpulkan

di sini. Kalian bersama-sama akan menuju ke Alam

Baka" kata Suro. Pemuda bertampang konyol ini lalu





menghampiri Pertapa Seribu Abad. Lalu tiba-tiba saja

ia meremas tongkat milik si kakek. Tiba-tiba orang ini merasakan sekujur tubuhnya menjadi kaku. Ia hendak

memaki karena sikap si pemuda yang konyol itu. Tapi

suaranya tidak terdengar. Si Bocah Ajaib kemudian

tertawa tergelak-gelak menuju ke istana. Lalu terden-

gar suaranya....

"Totokan pada tongkat membuat orang tidak

dapat bergerak dan bicara. Lebih dari itu ia tidak

mungkin bisa kurang ajar pada wanita selama lima ta-

hun Sungguh manusia tidak berguna jika sudah lum-

puh segala-galanya..."

"Manusia edan keparat" maki Pertapa Seribu Abad tanpa mampu berbuat apa-apa.



***





5


Malaikat Penderitaan menelusuri Lorong Raha-


sia di belakang istana. Dalam kesempatan itu pula ia

melihat ada seorang laki-laki menghadang di depan

kakek itu. Malaikat Penderitaan memandang ke depan.

Kedua matanya menyipit seakan ingin menyelidik.

"Aku Malaikat Penderitaan, sebaiknya orang di

depan menyingkir Aku tidak mau cari perkara cari

urusan." gumam si kakek pelan suara.

"Aku memang sengaja menunggu kedatangan-

mu ke sini. Ternyata kau datang juga. Nah... sekarang serahkanlah kitab yang kau bawa. Surat Kedamaian

Dunia isinya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Dia harus dimusnahkan dari muka bumi ini"

Malaikat Penderitaan tertawa, namun tawanya

seperti orang yang sedang menangis.





"Hak hak hak. Mendengar permintaanmu

hanya membuat aku menderita. Kau tidak punya hak

apa-apa atas surat yang kubawa. Menyingkirlah" tegas kakek bermuram durja itu sinis.

Laki-laki di depannya tarik salah satu kakinya

ke belakang. Tampaknya ia telah siap melakukan se-

suatu. "Malaikat Penderitaan." dengus laki-laki misterius di depannya sengit. "Engkau, aku atau siapa saja sekarang ini tidak jauh bedanya dengan orang yang

sedang melakukan perjalanan ke alam baka. Surat

Kedamaian Dunia paling tidak harus kuketahui apa

isinya, jika kau ingin terselamat dari perjalanan itu.

Tetapi jika kau tidak menuruti kehendakku. Maka se-

sungguhnya perjalanan yang kau tempuh begitu sulit

mendaki dan penuh onak duri"

"Huh huh huh.... Hidupku sepenuhnya kugan-

tungkan pada Gusti Allah. Jika hari ini Ia memanggil-

ku untuk kembali, maka sedikit pun tiada berat bagi-

ku. Aku menerima semua yang terjadi dan yang sudah

menjadi garisku dengan ikhlas. Namun jika kau me-

minta sesuatu yang menjadi tanggung jawabku, maka

aku akan mempertahankannya hingga titik darah yang

terakhir" tegas Malaikat Penderitaan.

"Lebih baik kau ingkari, di sini hanya aku dan

kau saja, tidak ada siapa-siapa yang melihat. Jika kau penuhi keinginanku ini, maka sepuluh puteri raja yang cantik-cantik menjadi milikmu, kau juga berhak men-duduki tahta kerajaan menggantikan raja Lalim Durja-

na. Aku juga akan mengupayakan agar seluruh harta

benda peninggalan hartawan Abdi Banda menjadi mi-

likmu" bujuk laki-laki misterius.

"Huh, lezatnya kenikmatan dunia memang se-

mua orang ingin memiliki. Tapi ketahuilah, kau me-

minta pada orang yang salah, waktu yang kurang te-





pat. Wahai Sang Maha Sesat, jika kau berikan apa

yang kau janjikan itu pada orang yang mencintai kehi-

dupan dunia, mungkin mereka tidak akan menolak.

Malah mereka terus merasa kekurangan. Namun bagi-

ku dunia ini tidak ada apa-apanya. Sungguh pun kau

persembahkan bintang di tangan kiriku dan seribu bi-

dadari cantik di sebelah kananku Kau tidak dapat

mengelabuhi aku. Pergilah, sebelum kesabaranku ha-

bis" bentak Malaikat Penderitaan.

Sang Maha Sesat yang menyamar menjadi seo-

rang laki-laki tidak dikenal itu terkejut sendiri. Ia selalu kehilangan cara untuk menghadapi Malaikat Pende-

ritaan, tokoh pikir, berilmu dan juga mengetahui sesuatu di balik kejadian. Baginya lebih baik menghadapi

dan menggoda sejuta manusia yang bodoh dan punya

pengetahuan dan ilmu kesaktian terbatas, walaupun

sepanjang pagi dan malam berbakti pada TuhanNya.

"Meminta dengan cara baik-baik kau tidak

memberi. Kukira tidak ada salahnya jika sekarang aku

harus merampas kitab berisi surat Maha penting itu

Lihatlah..."

Si kakek memandang ke depan. Terlihat oleh-

nya rambut laki-laki itu berubah menjadi ribuan ekor

ular berbisa. Ketika laki-laki jelmaan Sang Maha Sesat ini menyentakkan kepalanya ke belakang. Dua puluh

ekor ular besar meluncur deras meninggalkan kepala

laki-laki itu. Ular-ular tersebut langsung menyerang si kakek dengan mulut ternganga siap memagut.

Malaikat Penderitaan lepaskan baju putihnya,

bibirnya mendesis. Baju diputar dengan cepat. Yang

keluar dari baju itu bukan saja hanya angin kencang

menderu-deru, tapi juga sepuluh sinar api berbentuk

memanjang berukuran lebih besar dan bergerak cepat

memangsa ular-ular jejadian tersebut.

"Tub Tub Tub"





"Ssst"

"Byaar"

Dua puluh ekor ular besar berbisa ber-

warna hitam lenyap ditelan sepuluh lidah api yang

bentuknya menyerupai ular besar. Malaikat Penderi-

taan menyerbu ke depan. Baju saktinya ia kebutkan ke

arah Sang Maha Sesat. Laki-laki itu melompat mun-

dur, namun masih sempat terdengar suara raungan-

nya. Tiba-tiba sambil terhuyung-huyung ia membu-

ka mulutnya lebar-lebar. Mata Sang Maha Sesat seka-

rang telah berubah merah seperti bara. Itulah ujud asli mata setan. Kemudian dari mulut yang terbuka itu terlihat ada ular besar yang meluncur keluar. Ular itu

bergerak meluncur ke arah si kakek. Panjang ular jejadian itu tidak kurang dari dua batang tombak. Ular itu kemudian membelit si kakek. Kali ini kakek berjenggot putih itu kelihatan agak kewalahan. Ia berusaha membebaskan diri dari belitan ular yang semakin menye-

sakkan pernafasannya.

"Haaaaaa..."

Malaikat Penderitaan melolong panjang. Dari

bagian kepala hingga sekujur tubuhnya tiba-tiba beru-

bah mengecil dan licin berselimut lendir. Karena peru-bahan itu terjadi secara tiba-tiba, praktis ia dapat

membebaskan diri dari belitan ular tersebut.

Begitu dirinya terbebas dari ular milik Sang

Maha Sesat, maka bajunya langsung dikibaskan.

"Braak"

Terjadi keanehan, ular tadi terpental dan tu-

buhnya terpotong menjadi dua. Namun begitu menyen-

tuh tanah, ular jejadian itu pun lenyap tidak mening-

galkan bekas.

"Maha Sesat yang selalu memperdaya manusia,

menipu manusia, menjerumuskan, menyesatkan den-





gan berbagai macam cara. Apalagi yang akan kau la-

kukan untuk mencapai keinginanmu?"

"Inilah dia....'"

Maha Sesat tiba-tiba saja mengangkat kedua

tangannya ke udara. Tangan itu lalu diputar-putarnya.

Maka tidak lama kemudian menyemburlah lidah api

yang dalam waktu singkat telah membesar dan mela-

hap tubuh Malaikat Penderitaan.

Kakek berjanggut panjang berkemak-kemik.

Wajahnya tertunduk sedangkan kedua tangannya ten-

gadah. Tiba-tiba di dalam lorong itu entah dari mana

datangnya berhembuslah angin dingin bercampur air.

Angin kencang itu menyapu habis sekaligus mema-

damkan api yang diciptakan oleh Sang Maha Sesat.

Laki-laki penjelmaan bapak moyang setan ini terkejut.

Dua kali ia bermaksud membuat hangus lawannya.

Namun kelihatannya apa yang dilakukannya tidak

mendatangkan hasil sebagaimana yang diharapkan-

nya. Malaikat Penderitaan begitu terbebas langsung

lepaskan pukulan 'Mengusir Iblis Merenggut Amal'.

Kedua tangan si kakek yang didorongkannya ke depan

itu tampak memutih. Sinar putih laksana cahaya na-

mun menyejukkan itu spontan melabrak lawannya

Sang Maha Sesat menghindar. Akan tetapi sinar putih

terus mengejarnya kemana pun lawan menghindar.

Hingga kemudian satu sentuhan lembut menghantam

tubuh jelmaan Sang Maha Sesat. Laki-laki itu menjerit keras. Ujudnya menjadi gumpalan kabut tipis. Malaikat Penderitaan segera dapat merasakan adanya bau

wangi bunga mayat. Jeritan Sang Maha Sesat terus

terdengar, semakin lama semakin menjauh. Lalu

sayup-sayup terdengar suaranya penuh ancaman...

"Malaikat Penderitaan Aku boleh kalah hari ini

karena keteguhanmu. Tapi aku akan terus berusaha





menggoda anak cucu manusia, memperdaya mereka

hingga di hari kiamat nanti mereka menjadi pengikut-

pengikut dan temanku di neraka. Ha ha ha..."

"Oh... aku menderita mendengar ancamanmu,

apa yang menjadi hakmu tetap hakmu, tapi apa yang

menjadi hak Gusti Allah akan tetap kembali kepa-

daNya" sahut Malaikat Penderitaan. Akhirnya sambil berkeluh kesah tentang penderitaannya ia terus menelusuri ruangan rahasia yang ternyata cukup luas ba-

gaikan istana kedua.





* * *



Mayat Bias Pati, Manggar Kesuma dan Ubuda-

na masih terus dibawa-bawa oleh Lima Utusan Akhe-

rat. Padahal ketika itu mereka sudah jauh berada di

dalam kerajaan yang telah ditinggalkan oleh rajanya.

"Kita tidak menemukan apa-apa di sini. Apa

mungkin Surat Kedamaian berada di tangan Malaikat

Penderitaan?" tanya Malai Berung.

"Hal itu tidak dapat dibantah lagi. Aku ikut

mendengarkannya ketika Malaikat Penderitaan bicara

pada Suro Blondo." kata Puspita.

"Mungkinkah Anak Langit sudi datang ke sini.

Sedangkan aku pernah mendengar di sinilah tempat

kerusakan tingkah laku manusia?" tanya Kalingga Ja-ti.

"Sesuatu yang baik terkadang bisa saja datang

di tempat-tempat yang buruk sekali pun. Walaupun

tempat itu yang paling kotor di dunia" jawab Dunga.

"Aku tidak melihat Raja Kodok. Aku khawatir

terjadi sesuatu yang tidak diingini padanya" kata Puspita. "Kurasa ia sudah sampai di sini. Coba sekarang kita sebaiknya mencari tahu dimana dia?" usul Den-





dra.

Maka Puspita Sari dan Lima Utusan segera ber-

gegas memeriksa setiap ruangan yang ada. Pada waktu

itu pula pintu di belakang mereka tertutup dengan

hempasan yang sangat keras.

"Blaam"

"Celaka Kita terjebak" desis Engku Bonang.

Kemudian terdengar suara tergelak-gelak. Me-

reka yang masuk ke dalam perangkap itu pun saling

berpandangan.

"Setiap orang yang datang adalah tamu, tamu

harus dimuliakan. Tapi jika tamu tidak tahu perada-

tan, maka kecelakaan besar baginya Ha ha ha..."

"Siapa kau?" bentak Puspita Sari.

"Aku adalah orang yang dipercaya menjalankan

tugas di sini Nasib kalian tidak berbeda dengan nasib Pendekar Lugu dan Raja Kodok Sekarang lihatlah ke-cerdikanku" dengus sebuah suara.

Kemudian secara tidak terduga-duga dari setiap

penjuru sudut menerobos asap berwarna putih kebiru-

biruan. Asap yang menebarkan bau wangi namun

mengandung racun keji itu memang tidak terlihat nya-

ta. Akan tetapi keberadaannya sungguh sangat mem-

bahayakan"

"Aku mencium bau yang sangat wangi. Eh...

ekh...." Datuk Paja tidak dapat melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba saja ia tersungkur. Hidung

dan mulutnya mengucurkan darah. Kawan-kawan

utusan dari Kapuas ini segera menyadari apa yang

tengah terjadi.

"Tutup pernafasan kalian" Dunga berteriak

memberi peringatan.

Segala-galanya memang sudah terlambat. Lima

orang laki-laki tersungkur tidak sadarkan diri. Puspita yang memang sudah bersiaga sejak semula tidak sem-





pat mengalami kejadian yang sangat mengerikan itu.

Akan tetapi ia merasa kepalanya sakit mendenyut, ma-

tanya berkunang-kunang. Ketika pintu terbuka. Puspi-

ta masih sempat melihat seorang laki-laki kepala botak tanpa kumis tanpa jenggot tanpa alis menyeringai padanya. "Ha ha ha... Betapa beruntungnya aku hari ini.

Aku tidak pernah menyangka begitu lemahnya musuh-

musuh kerajaan. Lebih menguntungkan lagi karena di

antara musuh-musuh yang pantas kubinasakan, ter-

dapat pula seorang gadis cantik Ha ha ha... Tunggu-

lah, sayang..." kata si botak yang tidak lain adalah Patih Luragung.

Laki-laki itu kemudian mengeluarkan segulung

besar tali. Mulailah ia mendekati lawan-lawannya yang sudah tidak sadarkan diri. Puspita tentu saja tidak

tinggal diam, walaupun ketika itu sakit di kepalanya

semakin mendera.

"Hei... jangan coba-coba menyentuh mereka"

teriak Puspita.

Dengan terhuyung-huyung ia menerjang. Tapi

gerakannya kacau, karena kesadarannya mulai berku-

rang. Dengan mudah sekali Patih Luragung menghin-

dari serangan Puspita. Gadis itu berbalik, lalu le-

paskan tendangan ke perut sang Patih. Serangan ini

kurang terarah, karena keseimbangan gadis itu berku-

rang. "Ha ha ha Dalam keadaanmu seperti ini, tidak ada yang lebih baik bagimu terkecuali melayaniku di

tempat tidur. Tunggulah... nanti kita akan bersenang-

senang. Tapi kawan-kawanmu harus dibereskan dulu

Kurasa mereka siap menjalani hukuman pancung di

alun-alun." Seru Luragung.

Lalu tubuhnya bergerak dengan cepat, ia ber-

maksud menotok Puspita.. Seandainya gadis ini dalam





keadaan normal, tentu Patih Luragung bisa dibuat ke-

teter. Sungguh pun begitu si gadis masih mampu ber-

kelit. Sangat disayangkan kesadarannya semakin ba-

nyak berkurang karena pengaruh racun pemberian

Sang Maha Sesat yang dipergunakan oleh Patih Lura-

gung. Tidak lama kemudian gadis itu pun terjungkal

dan tidak sadarkan diri.

"Hhm, akhirnya kau roboh juga tanpa aku ha-

rus bersusah payah menotokmu" desis sang Patih.

"Sang Maha Sesat memang hebat, Racun Pelumpuh

Kekuatan ternyata memang ampuh. Sekarang aku ha-

rus mengikat orang-orang yang sangat bodoh ini." dengus si botak.

Akhirnya satu demi satu para Lima Utusan Ak-

herat itu diikatnya. Patih agak heran ketika melihat

ada tiga mayat dengan luka-luka yang sungguh men-

gerikan sekali.

"Aku heran, mengapa orang-orang ini memba-

wa-bawa mayat kawannya? Inikah yang dikatakan oleh

Panglima Arung Garda sebagai Lima Utusan Akherat.

Mayat busuk begini sebaiknya ku bakar nanti di ten-

gah alun-alun. Sekarang aku harus mengusung mere-

ka ke halaman istana" pikir sang Patih.

Setelah, Engku Bonang, Datuk Pala, Dendra,

Malai, Kalingga dan Dunga diikatnya. Maka ia pun mu-

lai menggusung orang-orang ini ke halaman depan.

Sampai di sana Patih menjadi kaget ketika melihat ada tiga orang laki-laki dalam keadaan tidak berdaya. Dua diantaranya ia kenal dengan baik.

"Apa yang terjadi padamu, Panglima?" tanya Patih Luragung. Setelah meletakkan tawanan dengan ca-

ra melemparkannya. Patih langsung menghampiri

Panglima Arung Garda.

"Malaikat Penderitaan yang telah memperlaku-

kan aku begini Tolong bebaskan totokanku" pinta





Panglima.

"Bb... baik..."

Dengan cepat Patih mengurut bagian yang kena

totok. Tapi sama sekali ia tidak mampu berbuat ba-

nyak. "Aku tidak bisa membebaskan totokan keparat ini, Panglima"

Panglima Arung Garda mengeluh putus asa.

"Mungkin ini sudah nasibku Kerjakanlah apa yang menjadi tugasmu, selamatkan raja dari tangan Pendekar Blo'on dan Malaikat Penderitaan. Kau juga harus

berhati-hati, karena belum lama tadi muncul Perenung

Dosa" pesan Panglima.

Patih Luragung anggukkan kepala. Seraya me-

noleh dan memandang penuh kengerian pada Raja Te-

ga.

"Siapa yang membuntungi tangan dan kaki-

mu?" Raja Tega menggeram. "Pendekar Goblok Suro Blondo Dendamku padanya sedalam lautan..."

"Eeh..." Patih Luragung lebih kaget lagi ketika melihat Pertapa Seribu Abad. "Apa yang terjadi pada Anda, Kakek pertapa?" tanya si botak lagi dengan kening berkerut



***





6


"Ha ha ha... Apa yang terjadi pada diriku ada-

lah karena kesalahanku sendiri. Bukan kesalahan sia-

pa-siapa. Bocah goblok itu mana bisa mengalahkan

aku jika senjataku secara tidak sengaja ditendangnya

ke langit. Itulah sumber kekuatanku sekaligus kele-





mahanku Kupesankan padamu agar berhati-hati. Ka-

lau kau dapat melakukannya, ringkuslah dia, sebelum

kau diringkusnya" pesan Pertapa Seribu Abad.

"Apakah dia masuk ke dalam istana?" tanya Patih Luragung curiga.

"Ya. Mungkin dia mencari raja Lalim Durjana

dan hartawan itu" tegas si mata satu.

"Baiklah, berhubung tugas masih banyak. Aku

mohon diri. Di dalam sana masih ada empat tawanan

lagi yang harus kukeluarkan" Tanpa menunggu jawaban Pertapa Seribu Abad. Patih Luragung segera me-

ninggalkannya.

Setelah keluar masuk memanggul para utusan

yang tidak sadarkan diri. Sekarang tibalah gilirannya menghadapi Puspita. Ia tersenyum melihat Puspita

yang dalam keadaan menelentang. Lalu dielusnya pipi

si gadis. Elusan dan rabaan itu beralih ke leher, kemudian berpindah ke dada si gadis. Patih Luragung

menelan ludah basahi bibir. Jantungnya berdetak ke-

ras.

"Ini benar-benar nasib baikku. Semuanya ma-

sih serba asli tidak seperti isteriku yang sudah kendor kedodoran. Untung benar-benar untung..." serunya disertai tawa bergelak seperti orang gila.

"Mestinya kubawa ke ranjang, hitung-hitung

seperti seorang pengantin. Tapi mana aku sabar...

akh;.." gumam Patih Luragung. Jemari tangan yang gemetaran itu kemudian melepaskan kancing baju

Puspita. Sehingga terpampanglah pemandangan yang

mempesona nafsu iblisnya. Patih telan ludah lagi, telan ludah lagi. Bisul kembar yang menonjol itu lalu dibe-lainya dengan lembut. Rupanya ia merasa penasaran.

Sehingga ia bermaksud melihat bagian lainnya sebe-

lum akhirnya memutuskan untuk memenuhi selera

binatangnya. Baru saja tangannya menyentuh celana





panjang hitam Puspita. Pada waktu bersamaan mele-

sat sebuah benda kecil menghantam tangannya.

"Bletak"

"Aukkh.... Sakiit..." teriaknya sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang benjol membiru. Kelabakan

dan merasa terganggu ia bangkit berdiri. Memandang

ke belakangnya tidak ada siapa-siapa terkecuali pintu besar yang dalam keadaan terbuka. Patih bangkit bermaksud menutup pintu, namun sebelum langkahnya

sampai ke sana, pintu menutup dengan sendirinya.

"Eeh... apakah setan yang menggangguku?" pikirnya. "Mungkin Sang Maha Sesat yang suka usil."

"Blak"

Patih lebih kaget lagi karena secara tidak ter-

duga pintu terbuka kembali dengan sendirinya. Patih

Luragung tiba-tiba saja tertawa.

"Maha Sesat, jangan kau bercanda. Apakah kau

merasa iri jika aku bersenang-senang dengan gadis

ini?" tanyanya sambil tersenyum. Sebagai jawabannya terdengar suara dari seluruh penjuru arah.

"Tidak ada yang melarangmu bersenang-

senang, Patih. Tapi kau juga harus ingat, kalau mau

mencangkul cangkullah ladang sendiri. Itu ladang bu-

kan hakmu, meskipun belum ada yang punya harus

dijaga kebersihan dan kelestariannya. Kalau ladang itu kau cangkul, berarti nanti penggarap yang asli cuma

kebagian sisa, kebagian ampas. Padahal cangkulan

pertama itu paling berkesan bagi seorang suami" jawab suara itu.

Patih tersentak kaget, mustahil Sang Maha Se-

sat mencegahnya berbuat maksiat. Karena pekerjaan

seperti itu merupakan sesuatu yang sangat dis-

ukainya.

"Maha Sesat, mengapa kau melarangku? Bu-

kankah setiap pengikutmu cenderung melakukan ke-





salahan dan menjauhi perintah Gusti Allah" protes Patih Luragung.

"Sang Maha Sesat itu bapak moyangnya setan,

sedangkan aku masih turunan manusia. Punya mata,

punya hidung, punya telinga, punya satu mulut. Kita

punya juga sama, tapi tidak ceroboh seperti kamu. Ka-

lau kebutuhanmu mendesak, bukankah masih banyak

perempuan telanjang di luar sana?"

Meskipun mulai dongkol dan curiga, Patih Lu-

ragung masih bertanya juga....

"Siapa yang kau maksudkan?"

"Kambing, kerbau, ayam dan lain-lain. Kurasa

itulah pasangan yang paling cocok bagimu sesuai den-

gan selera nafsu rendahmu. Ha ha ha..."

"Bangsat Siapa kau?" teriak Patih Luragung berubah merah padam wajahnya.

"Ha ha ha... Patih jahanam Kau membuat ga-

dis itu setengah malu. Kau elus pipinya, hukumannya

tangan harus dipotong, kau pegang-pegang dadanya

imbalannya anumu harus dipotong. Nah, kau harus

memilih mana dulu yang harus kupotong?"

"Manusia bangsat Tunjukkan dirimu, jangan

sembunyi seperti banci..." dengus sang Patih.

"Jika pangeranmu ini sudah keluar tunjukkan

diri. Maka kau harus merangkak di depanku, kemu-

dian garuklah rambutmu sepuluh kali seperti seekor

monyet"

Patih Luragung menggumam tidak jelas. Ber-

samaan dengan itu di depan pintu muncul seorang

pemuda berbaju biru, rambut hitam kemerah-

merahan. Wajahnya tampan, namun terkesan tolol ke-

kanak-kanakan. Pemuda itu tersenyum, sambil se-

nyum ia garuk-garuk kepala. Patih Luragung yang se-

mula kaget, kini setelah melihat tampang si pemuda

langsung tertawa tergelak-gelak.





"Ha ha ha Kau rupanya, aku tidak menyangka

kau iri hati melihat aku mau bersenang-senang den-

gan gadis itu. Jika kau mau, tentu kita bisa bergantian setelah aku nanti"

Suro Blondo berubah serius. Mulutnya termo-

nyong-monyong. "Sorgamu-nerakaku, dan juga neraka kawanku itu. Akh... kau sudah melihatnya. Karena

kau sudah melihat apa yang bukan menjadi hakmu,

untuk kesalahan ini kau harus menyerahkan kedua

matamu" desis Pendekar Mandau Jantan alias Bocah Ajaib. Mata Patih Luragung membulat lebar. Sekarang

baru mengerti rupanya inilah pendekar yang dimak-

sudkan oleh Panglima Arung Garda. Berarti gadis itu

adalah murid Datuk Alam Salindra, sekaligus calon is-

teri hartawan Abdi Banda. Untuk lebih jelasnya (Dalam Episode Sang Maha Sesat).

"Bagus? Ternyata aku tidak usah bersusah

payah meringkus dua kunyuk buronan yang selama ini

merugikan hartawan Abdi Banda dan juga pihak kera-

jaan." kata Patih Luragung.

Tiba-tiba saja laki-laki berkepala gundul ini

mengambil sebuah benda berbentuk bulat. Salah satu

ujungnya langsung ditekan. Sehingga keluarlah asap

tebal yang didahului dengan letupan kecil. Namun Su-

ro yang sudah mengetahui muslihat ini dan sempat

pula melihat kejadian yang menimpa para utusan su-

dah tutup pernafasannya.

Mulut Suro menggembung, lalu....

"Puuuuh..."

Maka asap beracun yang membuat orang tidak

sadarkan diri dalam waktu yang lama berbalik menye-

rang Patih Luragung. Ternyata Patih ini sudah punya

penangkalnya. Sehingga walau asap itu menyerang di-

rinya tidak mengakibatkan apa-apa.





"Ha ha ha... Kau dapat bertahan dengan racun

itu, Patih? Aku tahu racun yang dapat melumpuhkan

kekuatan itu berasal dari Sang Maha Sesat. Aneh...

aku tidak mencium bau bunga mayat. Kemanakah

perginya Sang Maha Sesat? Aku yakin dia sudah jadi

pecundang, bukan? Malaikat Penderitaan pasti telah

mengusirnya. Apa sekarang jawabmu untuk memper-

tanggung jawabkan semua ini?"

"Huh, untuk menghadapi Pendekar goblok se-

pertimu apa yang harus kutakutkan? Majulah aku

akan membuatmu mati penasaran. Kau tidak akan

mendapatkan gadismu itu. Jika nanti kau sudah se-

tengah mampus, aku akan memperkosanya di depan

hidung dan matamu" tegas Patih Luragung disertai sesungging senyum sinis.

"Begitu, Patih? Lagakmu kren amat. Ingin kuli-

hat apakah ucapanmu itu benar-benar terbukti, atau

kau hanya sebangsanya anjing yang cuma dapat

menggonggong tapi tidak bisa menggigit karena terlalu tua dan giginya ompong semua. Ha ha ha..."

"Anak setan Heaa..."

"Setan gundul Ufs..." sahut Pendekar Blo'on menyambut serangan Patih Luragung. Pemuda berambut hitam kemerah-merahan ini langsung dorongkan

kedua tangannya ke depan. Sedangkan kepalanya me-

runduk. Ketika tangannya hampir membentur dengan

tangan lawannya. Maka Suro langsung tarik tangannya

dan menggeser langkah ke samping. Kaki kanannya

sedikit diangkat menggaet kaki lawannya.

"Bruuk"

Patih Luragung tersungkur mencium lantai

mar-mar. Hidungnya mengucurkan darah. Sambil

menggeram marah Patih bangkit berdiri. Tanpa meng-

hiraukan darah yang menetes, ia berbalik menerkam

lawannya dengan satu lompatan yang sangat cepat se-





kali. Ketika itu Suro sudah berjingkrak-jingkrak seperti tingkah seekor monyet. Terkadang ia bahkan melompat-lompat, lalu tangannya mencakar-cakar atau ter-

kadang menggaruk tubuhnya sendiri.

"Nguk Nguk"

Melihat jurus-jurus lawan yang tidak ubahnya

seperti gerakan-gerakan kunyuk ini. Patih Luragung

jadi kesal saja. Ia pun akhirnya semakin memperhebat

serangan dan mempercepat gerakan pula. Setiap gera-

kan yang dilakukan Patih Luragung mengeluarkan de-

sir angin dingin dan panas silih berganti. Rupanya inilah jurus "Membalik Bumi Merubah Langit' salah satu dari kesekian banyak jurus-jurus simpanan yang dimilikinya. Tiba-tiba saja tinju Patih Luragung meluncur cepat menghantam dada Suro. Pemuda itu terkesiap,

ia terguling-guling selamatkan diri. Ternyata serangan itu cuma tipuan, karena begitu lawan berguling-guling, mendadak saja Patih lepaskan tendangan beruntun

yang lebih dahsyat. Suro jadi kalang kabut. Si konyol segera berjumpalitan. Ketika ia melakukan gerakan

kedua. Tepat pula kaki lawannya terangkat. Tidak am-

pun lagi....

"Dess"

"Ehekgh..."

Pendekar Blo'on menjerit keras, tubuhnya sam-

pai terputar-putar karena sedemikian kerasnya ten-

dangan. Akan tetapi murid Penghulu Siluman Kera Pu-

tih sekaligus Malaikat Berambut Api ini cepat men-

gambil tindakan. Tiba-tiba saja ia melompat ke depan.

Ketika lawan menghadang dengan pukulan jarak jauh.

Suro malah berputar mengelilingi lawannya. Sementa-

ra itu dari bibirnya terdengar suara lolongan panjang menghiba-hiba atau terkadang suara tawa bekakakan.

"Edan Pemuda ini punya apa? Aku sama sekali





tidak dapat menyentuh apalagi mendekatinya?" batin Patih Luragung dalam kagetnya. Memang tidaklah

mengherankan bila Patih kerajaan ini dibuat terkejut.

Karena rupanya Suro ketika itu sudah menggabung-

kan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kobaskan

Ekor' dan 'Tawa Kera Siluman'. Akibatnya tentu sangat terasa bagi Patih Luragung.

Namun sebagai orang yang sudah kenyang ma-

kan asam garam di dalam pertempuran. Tentu Patih

tidak mudah terkecoh. Tiba-tiba saja ia menggebrak ke depan. Serangkaian serangan gencar dilakukannya,

ternyata Suro bukannya mundur. Melainkan menyam-

but serangan itu dengan tidak kalah sengitnya. Patih

kerajaan lepaskan tendangan menggeledek, si konyol

coba menyambutnya.

Duuk

"Walah... keparat betul tuyul gundul ini..." ma-ki si pemuda. Ia terhuyung-huyung ke belakang. Tan-

gan pemuda itu tampak memerah, setelah diusap-usap

tangan tersebut tampak berubah biasa kembali, hanya

warna merah saja yang belum hilang sepenuhnya.

Patih Luragung memandang ke depannya den-

gan tatapan seakan tidak percaya. "Bocah ini bisa selamat dari tendangan 'Lintas Bisa'?" pikirnya sambil menggelengkan kepala tidak habis mengerti. Laki-laki

berkepala gundul itu tiba-tiba saja mencabut senjata

mautnya berbentuk cakar. Ketika senjata itu dis-

usupkan disela-sela jarinya. Maka lima buah cakar

berbentuk mata pisau ini siap mencabik-cabik tubuh

Suro. "Krtk Krtk"

"Anak setan. Jika kau punya senjata yang da-

pat kau andalkan. Sebaiknya kau pergunakan. Dalam

dua jurus di depan, nyawamu pasti tidak akan sela-

mat."





Suro sadar betul bahwa ucapan lawannya bu-

kan gertakan kosong belaka. Ia tersenyum sinis sambil garuk-garuk kepala. Ia lalu acungkan tinjunya, dengan tinju terkepal ia setengah berlari dan menyerang ke

depan. Patih Luragung mengibaskan lima buah cakar

berbentuk seperti mata pisau yang cukup tajam sekali

menyambut serangan Si Bocah Ajaib.

Suro menarik tangannya. Cakar melesat mem-

beset tempat kosong. Pada waktu bersamaan tangan

kiri Suro menerobos pertahanan lawannya.

"Braak"

Patih Luragung terguling-guling, kepalanya

menghantam dinding. Pukulan tadi cukup keras juga

sehingga membuat tulang rusuk Patih patah berderak.

Ia bangkit, tapi malah darah yang menyembur dari

mulutnya. Suro sambil menyeringai termonyong-

monyong cabut senjatanya. Melihat ke senjata Pende-

kar Blo'on yang sangat aneh bentuknya membuat Pa-

tih jadi keder juga, walaupun memang tidak sempat

kehilangan nyali seluruhnya. Suro menggerakkan

Mandau Jantan di tangannya.

"Ngiiik"

Lalu digerakkannya lagi ke samping dengan ca-

ra berbeda dengan yang pertama.

"Huuu hu hu..."

Setelah si konyol menggerakkan lagi ke atas.

"Haaa haha..."

"Nah, sudah kau dengar bagaimana irama sen-

jataku ini. Sebelum aku meminta tangan dan matamu,

perlu ku jelaskan padamu tiga arti suara senjata ini.

Suara ringkik kuda sama artinya dengan penderitaan

hidup manusia. Sedangkan suara tawa, itulah kejaha-

tan dan kesenangan manusia. Sedangkan Suara tan-

gis. Itulah pertanggung jawaban manusia dihari yang

paling menentukan yaitu hari pembalasan" kata Suro.





"Pemuda keparat Kau hanya pandai berkhot-

bah?" maki Patih Luragung.

"Oh, kau rupanya tidak percaya dengan da-

tangnya hari kiamat. Sekarang aku dapat menunjuk-

kan salah satu contoh kecil Hiyaa..." Pemuda ini tiba-tiba saja berteriak keras. Lalu pemuda ini menerjang

ke arah lawannya. Sedangkan Mandau Jantan di tan-

gannya meluncur....

"Trak"

Senjata itu tertahan cakar di tangan Patih. Tapi

Suro terus menggerakkan tangannya yang bebas ke

mata lawannya. Apa yang dilakukannya ini tidak ber-

langsung mulus. Karena tangan kiri Patih menahannya

pula. Maka dalam keadaan saling tindih ini terjadilah dorong-mendorong. Masing-masing lawan kelihatannya

memang berusaha menyerang atau bertahan. Suro me-

lotot, sedangkan Patih Luragung tegang berusaha se-

lamatkan matanya. Mandau terus ditekan, tapi lima

cakar di jari Patih menahan. Apa yang sedang berlang-

sung ini memang terkesan lucu menggelikan tapi juga

menegangkan.



***





7


Pendekar Blo'on lipat gandakan tenaga dalam-

nya. Mandau ditekannya, sedangkan tangan kiri terus

terarah ke mata Patih Luragung. Sampai akhirnya Su-

ro membuat gerakan ringan tapi berbahaya. Mandau di

tangannya bergerak.

"Traak"

"Cress"

"Aaak..."





Patih menjerit kesakitan. Cakar mautnya han-

cur, tangan putus mengucurkan darah. Bersamaan

dengan itu pula Patih Luragung tidak dapat memper-

tahankan matanya. Dua jari tangan Pendekar Blo'on

menghunjam di kedua matanya.

"Protk"

Maka berteriaklah Patih Luragung seperti orang

gila. Kedua matanya melesak dan hancur. Darah se-

makin bertambah banyak. Laki-laki ini memang benar-

benar mengalami penderitaan yang teramat sangat. Ia

kemudian berdiri, lalu lari sekencangnya sambil men-

dekap kedua belah matanya yang mengucurkan darah.

Karena matanya sudah tidak dapat melihat lagi, maka

berulang kali ia jatuh bangun- menabrak dinding. Se-

tiap jatuh bangun lagi lalu lari demikianlah yang terjadi seterusnya,

Murid Malaikat Berambut Api masukkan kem-

bali senjata ke dalam rangkanya. Ia mendekati Puspita dengan mata terpejam. Lalu setelah berjongkok di

sampingnya dibenahinya pakaian si gadis yang sempat

berantakan. Karena matanya tertutup, terkadang ia

menyenggol dua daging yang menonjol itu.

"Bangsat itu mudah-mudahan saja mendapat

ganjaran yang setimpal" gerutu Pendekar Blo'on.

Setelah pakaian Puspita rapi, maka Suro mem-

buka matanya. Lalu ia meraba denyut nadi di perge-

langan tangannya.

"Heh, jantungnya lemah sekali. Racunnya cu-

kup kuat, dia perlu pertolongan secepatnya." Karena Puspita masih belum sadar, maka Suro jadi bingung.

Lalu garuk-garuk kepalanya

"Gila? Kalau kutempelkan tangan ini ke da-

danya, nanti dia kira aku kurang ajar dan bermaksud

macam-macam. Padahal aku harus menyalurkan tena-

ga dalamku." kata Suro.





Lama juga ia termenung memikirkan jalan ter-

baik. Sampai kemudian bibirnya yang cemberut itu

tersenyum. Tanpa bicara apa-apa, Suro menelung-

kupkan badan si gadis. Kemudian kedua tangannya

pun menempel ketat di punggung Puspita. Suro bersi-

la, lalu pejamkan matanya. Wajah yang penuh keko-

nyolan tersebut tampak tegang. Sebentar saja tubuh-

nya telah basah oleh keringat dan bergetar. Perlahan

namun pasti. Dari ubun-ubun Pendekar kocak ini

membersit kabut tipis. Ternyata bukan dari ubun-

ubun saja kabut tipis keluar, tapi dari lubang hidung dan mulutnya keluar kabut yang sama.

Ini merupakan suatu tanda bahwa Pemuda

Ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro ini sedang mengerahkan seluruh hawa murni yang dimilikinya.

Tubuh Puspita yang dingin mulai menghangat, hawa

hangat ini terus menjalar ke sekujur tubuhnya. Pori-

pori Puspita berubah merah, lalu dari setiap pori-pori yang muncul ke permukaan itu keluar darah kental

berwarna kehitam-kehitaman.

Pendekar Blo'on lalu menarik tangannya kem-

bali saat terdengar suara rintihan si gadis. Lalu ia ber-semedhi untuk menghimpun kekuatan kembali. Perla-

han Suro membuka matanya. Sedangkan gadis berpa-

kaian hitam ini sudah duduk, namun tubuhnya masih

terasa lemas.

"Kau...?" Puspita terkejut melihat Suro telah berada di sampingnya. Lebih terkejut lagi ketika tidak melihat kelima laki-laki utusan lima benua sudah tidak ada lagi di situ.

"Kemana mereka?"

"Mereka siapa?" tanya Suro Blondo.

"Para utusan itu bersama-sama aku di sini. La-

lu seseorang menjebak kami" jelas Puspita Sari. Kemudian secara singkat Puspita menceritakan saat-saat





terakhir memasuki jebakan.

"Tidak perlu kau risaukan. Mereka sedang me-

nunggu hukum pancung dari Patih Luragung." tegas Suro. Lalu sambil garuk-garuk kepala ia melanjutkan

ucapannya. "Tapi Patih yang hampir menodaimu itu entah becus menjalankan hukum pancung atau tidak."

"Apa maksudmu? Berterus teranglah..." desak gadis itu rupanya penasaran.

"Lha wong tangannya sudah kupotong. Sedang-

kan matanya sudah kubutakan. Aku takut malah ia

memancung burungnya sendiri."

"Jadi... dia hampir kurang ajar padaku?" desisnya dengan mata terbelalak lebar.

"Huh, kesalahanmu selalu kurang waspada,

kau kelenger melulu. Bagian atas sih sudah diacak-

diacak oleh Patih gundul tadi. Cuma bagian bukit-

bukitnya saja. Sedangkan bagian hutan dan rimbanya

aku jamin belum Ha ha ha..." Suro tertawa bergelak.

"Plak Plaak"

"Aduh..."

Pendekar Blo'on jatuh terguling-guling. Se-

dangkan Puspita berdiri bertolak pinggang. Mata men-

delik memandang Suro dengan tatapan tidak suka.

"Kau..." Suro terperangah.

"Ya, aku terpaksa menampar mulutmu yang

kurang ajar. Aku tidak suka mendengar ucapanmu,

kau tahu?" ketus suara Puspita.

Suro menyeka bibirnya yang berdarah. Ia me-

ringis kesakitan. Baru saja ia hendak buka mulut, satu tamparan menghantam hidungnya.

"Kau, mengapa kau menamparku" Suro mem-

protes. "Aku tidak suka mendengar kata-katamu yang kotor" Pendekar Blo'on masih dapat tersenyum meskipun senyumnya terkesan dipaksakan.





"Kau rupanya lebih suka dibuka dan diraba-

raba oleh orang biadab dari pada sekedar kata-kataku

yang kurang berkenan?"

"Sungguh aku ingin membunuh mereka, tapi

kuharap kau suka menjaga mulut dalam setiap kata-

katamu"

Suro Blondo tiba-tiba saja terkekeh. "Perem-

puan bagiku adalah makhluk misterius, ceriwis dan

menggemaskan. Sekali lagi kau berani menampar aku.

Aku bersumpah pasti akan membalasmu dengan se-

buah ciuman yang tidak akan pernah kulepaskan"

"Dasar pemuda gendeng" dengus si gadis, wajahnya berubah memerah. "Ke mana mereka?"

"Di halaman depan. Pergilah ke kamar yang su-

dah kubuka. Di sana Pendekar Lugu dan Raja Kodok

masih dalam keadaan pingsan. Mereka sudah berusa-

ha kutolong. Dan kurasa sekarang mereka sudah sa-

dar" Pendekar Blo'on lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke ruangan lain tanpa menoleh-noleh lagi.

"Kau mau kemana?"

"Tentu saja menjauh darimu, aku bosan kau

gampari (gaploki) terus menerus. Bisa-bisa mulutku

jontor dan mancung ke depan jika urusan gila ini selesai" sahut Si Bocah Ajaib sayup-sayup di kejauhan.

Puspita alias Rana Unggul tercenung menden-

gar kata-kata pemuda itu. Ia menyesal mengapa ia tu-

run tangan kasar terhadap pemuda yang telah menye-

lamatkan kehormatannya berulang kali. Padahal seca-

ra tidak sadar sekarang ia mencintai pemuda itu. Dia

selalu berbuat salah, sedangkan pemuda itu sama se-

kali belum pernah menyakitinya. Tingkahnya yang ko-

nyol itu memang sudah menjadi sifatnya. Sifat yang

dibawanya sejak lahir, mungkin. Tanpa pernah dibuat-

buat. "Oh, mudah-mudahan ia tidak merasa sakit ha-





ti atas perlakuanku" rintih hati kecil Puspita. Kemudian dengan perasaan tidak menentu ia meninggalkan

ruangan megah tersebut untuk menuju ke ruangan

lain dimana Raja Kodok dan Pendekar Lugu berada.





* * *



"Patihku tidak pernah kembali ke sini?" kata laki-laki memakai mahkota kebesaran ditujukan pada

seorang laki-laki bertubuh besar perut besar yang kini menjadi siterunya karena telah berani berzina dengan

salah seorang selirnya yang bernama Seriti. Si gendut kikir yang tiada lain hartawan Abdi Banda beringsut

menjauh.

"Paduka, Sang Maha Sesat adalah makhluk

yang dapat dipercaya. Ia tidak mungkin memungkiri

janjinya."

"Hartawan keparat Apa yang dikatakannya pa-

damu diantara kebenaran-kebenaran yang dia

ucapkan?" Setengah sinis raja Lalim Durjana bertanya.

"Di... dia dapat menjaga keselamatan harta

bendaku. Dia juga membuat aku panjang umur karena

aku telah mematuhi saran dan perintahnya"

Lalim Durjana kerutkan keningnya, seraya

mondar-mandir di depan sang hartawan yang kini be-

rubah menjadi seorang pesakitan.

"Dia berkata begitu padamu? Apakah kau su-

dah melihat harta bendamu masih utuh di tempat-

nya?" "Aku belum melihatnya, baginda."

"Apakah kau juga ingin tahu bahwa kau pan-

jang umur jika aku memenggal kepalamu?" dengus

laki-laki itu sengit.

"Paduka, mengapa tuan berkata begitu?" tanya Abdi Banda ketakutan.





"Ha ha ha Bukan aku bernama Lalim Durjana

jika aku bukan seorang raja yang kejam dan penuh

kedurjanaan. Ingat-ingatlah, aku tidak pernah melu-

pakan kesalahanmu, apalagi kesalahan itu menyang-

kut kehormatan dan harga diriku. Kau telah mengin-

jak-injak martabatku, Abdi Banda. Setiap kesalahan

yang diperbuat oleh seseorang, aku tidak dapat lagi

membedakan seorang kawan atau lawan. Nah, seka-

rang kepada siapa kau mau minta perlindungan selain

kepadaku?"

"Oh jangan. Aku janji tidak akan mengulangi

kesalahan yang sama" Hartawan Abdi Banda meratap.

"Mintalah perlindungan pada Sang Maha Se-

satmu, aku punya firasat dia sekarang sudah mening-

galkanmu" Hartawan Abdi Banda menangis, mengge-

rung sambil memanggil-manggil Sang Maha Sesat.

Sementara itu Lalim Durjana sudah mengelua-

rkan sebuah pisau tipis yang berkilat-kilat karena ke-tajamannya.

"Sekarang bukalah celanamu, punya kau harus

dipotong untuk menebus kesalahanmu" tegas Raja

Ujung Dunia.

"Paduka??" Abdi Banda keluarkan seruan ka-

get.

"Buka kataku" perintah Lalim Durjana setengah membentak.

Dalam takutnya itu Abdi Banda ragu-ragu. Ra-

sanya kali ini memang tidak ada yang menyelamatkan

atau membelanya lagi. Tubuh laki-laki gendut ini tam-

pak menggigil. Terlintas dalam pikirannya, jika ia kehilangan pusaka yang sangat berharga, berarti hidup ini rasanya sangat hampa sekali. Setiap ada gadis cantik

ia nanti cuma bisa gigit jari. Atau cuma dapat telan ludah tanpa, ia tahu bagaimana lagi nikmatnya sorga

dunia.





Baginya lebih baik kehilangan semua harta

bendanya dari pada harus kehilangan tongkat pusaka.

Atau kehilangan seribu surat Maha penting yang ter-

simpan di gudang harta.

"Baginda jangan sakiti aku. Sebagai gantinya

aku rela menyerahkan seluruh harta serta Surat Ke-

damaian Dunia yang tersimpan di gudang hutan la-

rangan. Percayalah baginda, asalkan jangan punya

aku satu-satunya itu kau minta dengan paksa" Suara hartawan kaya itu memelas sekali.

"Puah, ngomong apa kau? Aku tidak butuh har-

tamu, aku juga tidak membutuhkan segala macam su-

rat. Kau harus jalani hukuman untuk menegakkan

kewibawaanku" Raja Lalim Durjana tetap pada kepu-tusannya.

Abdi Banda semakin kecut. Dia berdoa, tapi

doa itu ditujukan pada siapa? Selama hidupnya ia ti-

dak pernah mengenal Tuhan, ia tidak pernah me-

nyembah atau melaksanakan perintahnya. Ia sering

berhura-hura dan bangga dengan hartanya. Tuhan

pasti membencinya, Tuhan pasti mentertawainya.

"Berdoa pada setan, sedangkan Sang Maha Sesat yang menjadi panutannya tidak muncul. Keputusan terakhir ia pun berdoa pada setan....

"Oh setan, cegahlah orang ini. Aku tidak mau

kehilangan apa yang aku punya. Perempuan bagiku

adalah hidangan, mana mungkin aku menyantap hi-

dangan hanya dengan melihat-lihat saja langsung ke-

nyang. Aku juga takut mati, kalau yang satu dicabut-

nya, mungkin aku akan mati. Jangan... kumohon ga-

galkan usaha raja kejam ini..." rintihnya dalam hati.

"Ha ha ha... Selesaikah kau berdoa, Abdi Ban-

da? Ketahuilah, Tuhan pasti akan mencampakkan

doamu ke tong sampah. Waktu senangmu saja kau ti-

dak pernah bersyukur dan berdoa. Ketahuilah, doamu





tidak ubahnya bualan busuk Sekarang buka" teriak Lalim Durjana

"Paduka" desis si gendut. Ia beringsut mundur ketika melihat raja Lalim Durjana bergerak mendekat

ke arahnya.

"Jika kau tidak turut perintah, maka kedua ke-

palamu akan kupisahkan dari badanmu" dengus sang raja penuh ancaman.

Karena merasa terdesak dan tidak punya pili-

han lain. Maka hartawan Abdi Banda akhirnya menjadi

nekad. Ia sadar Lalim Durjana punya kesaktian jauh

lebih tinggi dibandingkan dirinya. Namun rupanya har-

tawan ini menganut pepatah berbuat lebih baik dari

pada tidak sama sekali.

"Di sini hanya tinggal kita berdua saja, Paduka.

Aku punya keagungan kau punya kekuasaan. Jika kau

terus memaksaku. Maka salah satu dari dua kebesa-

ran itu akan ada yang runtuh. Sekarang tinggal terse-

rah kau, memilih damai atau cari permusuhan"

Maka tertawalah raja Lalim Durjana mendengar

ucapan sang hartawan.

"Kau tidak ubahnya dengan katak yang mau

melawan lembu. Harapanmu itu hanya akan sia-sia

saja, Abdi Banda Kau pasti pecundang dan mati di

tanganku" dengus Lalim Durjana sengit sekaligus semakin bertambah marah.

"Aku tidak pernah mati, aku tidak akan mati

selamanya sesuai petunjuk Sang Maha Sesat. Ha ha

ha..." Sambil tersenyum sinis, tiba-tiba saja Lalim Durjana menusukkan pisau kecil di tangannya. Gerakannya cepat, namun Abdi Banda yang sudah nekad

itu berkelit selamatkan perutnya lalu tangannya

menghantam pergelangan tangan lawan.

"Plak"

Lalim Durjana terhuyung, pisau di tangannya





terlepas. Sesungguhnya hartawan itu hanya memper-

gunakan tenaga kasar saja. Karena tenaganya kelewat

besar. Raja yang kurus ini nyaris jatuh. Ia menggeram, secepat kilat Lalim Durjana melompat. Kakinya menyapu dan meluncur deras ke perut sang hartawan. Si

gendut menangkisnya, raja Ujung Dunia menarik balik

kakinya, serangan kaki digantikan pukulan tangan kiri kanan. Dengan gerakan yang lamban si gendut coba

menangkisnya. Namun terlambat....

"Brak"

"Akh..."

"Buum"

Abdi Banda jatuh berdebum. Hidungnya han-

cur, tulang iganya retak, dan ia tidak dapat bangkit

kembali. Raja Lalim Durjana menyeringai. Ia mencabut

pedang pendek, sekali melompat ia sudah membuat

celana hartawan itu robek. Lalu....

"Cres"

Sekali lagi pedang itu berkelebat, maka putus-

lah milik hartawan itu. Abdi Banda meraung keras

sambil pegangi sisa anunya yang mengucurkan darah.

Abdi Banda totok urat nadi besar, darah terhenti, na-

mun rasa sakit itu tidak tertahankan. Begitu hebatnya ia menahan rasa sakit sampai diluar kesadarannya ia

terkencing-kencing. Air yang mengalir keluar itu hanya membuat sang hartawan semakin menderita. Lalim

Durjana tersenyum puas.



***





8


Belum sempat ia menyarungkan pedang kecil-

nya yang berlumuran darah. Pintu kamar besar itu





berderak terbuka. Seorang kakek tua berpakaian putih

berjenggot putih masuk tanpa basa-basi. Raja Lalim

Durjana tersentak kaget. Ia memandang pada kakek di

depannya penuh rasa curiga. Kesempatan ini dipergu-

nakan oleh Abdi Banda untuk membetulkan pakaian-

nya yang dipenuhi darah. Lalim Durjana menyilangkan

senjatanya di depan dada. Senyumnya sinis, kumisnya

bergerak-gerak. Seakan kumis itu punya nyawa.

"Siapakah kau orang tua? Datang dengan

membawa maksud buruk atau baik? Jika buruk se-

baiknya cepat angkat kaki tinggalkan ruangan rahasia

ini. Jika maksudmu baik sejalan dengan keinginanku,

ketahuilah aku punya puteri cantik-cantik, kau berhak mendapatkan salah seorang diantaranya" Raja Lalim Durjana diam-diam lancarkan siasat jalankan taktik.

"Huk huk huk..." Kakek baju putih alias Malaikat Penderitaan tertawa, tapi tawanya seperti orang menangis. "Kemewahan dunia ini di mata Gusti Allah tidak lebih besar dari sebelah sayap nyamuk. Aku benar-benar menderita mendengar tawaranmu. Namun

aku lebih menderita lagi melihat cara dan jalan hidup yang kau tempuh Ketahui pula olehmu, hari ini Anak

Langit akan membuka sedikit rahasia dari sekian ba-

nyak rahasia besar Gusti Allah. Nanti kau akan me-

nyaksikannya, kau bahkan akan menjalaninya sebagai

bukti dan contoh bagi orang-orang yang datang setelah kita" "Kau bicara apa, orang tua? Sungguh kata-katamu sulit ku mengerti?" Membentak Raja Lalim Durjana.

"Aku bicara tentang keadilan. Aku bicara ten-

tang kekejamanmu, aku juga bicara tentang kerakusan

orang gendut itu akan harta Kalian dengar, kerakusan dan kekejaman"

"Puah Manusia busuk tidak tahu diuntung.





Engkaukah yang berjuluk Malaikat Penderitaan?"

tanya Lalim Durjana sinis.

"Aahk... aku menderita mendengar ucapanmu.

Kata dan tebakanmu tidak ada yang salah. Yang patut

kusesalkan adalah perbuatanmu. Maka sekarang ini

sebaiknya kau menyerah"

Wajah Lalim Durjana berubah menegang, apa-

bila ia menarik nafas, maka desah nafasnya memburu.

Pertanda ia berusaha meredam gejolak kemarahannya.

"Tidak perlu berdebat, Kat Sebaiknya ringkus

saja dulu kutu busuk yang bikin onar dipermukaan

bumi itu. Atau kau merasa tidak sanggup? Kalau tidak

becus, aku juga bisa meringkus mereka" Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang menimpali. Malaikat Penderitaan maklum siapa yang datang. Tapi Lalim Durjana

dan hartawan Abdi Banda sama memandang ke arah

pintu. Di depan pintu berdiri seorang pemuda rambut

hitam kemerahan pakai ikat kepala biru belang-belang

kuning. Lagaknya cengar-cengir seperti pemuda ku-

rang waras. Ia bertolak pinggang kedua tangannya

menyentuh ketiak. Sehingga membuat geli yang meli-

hatnya. Melihat kemunculan pemuda tampan bertam-

pang ketolol-tololan, maka hartawan Abdi Banda

bangkit berdiri, bahkan Lalim Durjana yang memang

sudah pernah melihat pemuda ini ketika bentrok den-

gan Raja Tega di halaman istana langsung melompat

ke depan. Untuk lebih jelasnya(Dalam episode Lima

Utusan Akherat).

Lalim Durjana melotot, melihat laki-laki jang-

kung itu melotot, maka Suro pun ikut melotot pula.

Sehingga beberapa saat lamanya mereka saling pelotot-

pelototan.

"Haes, lama-lama pegal mataku" Suro ke-

dipkan matanya. "Kalau dipikir-pikir sebaiknya kau





dan si gendut jelek yang telah kehilangan tongkat itu menyerah saja. Percuma kalian melawan, kau dengar

tidak? Bukankah begitu, Kat?" Suro menoleh pada si kakek seakan minta dukungan.

"Anak setan Kau berada di wilayah kekua-

saanku, masih juga kau berani jual lagak?" Lalim Durjana mendengus geram, lalu katupkan mulutnya ra-

pat-rapat.

"Kekuasaan kepalamu peang? Ha ha ha... Bi-

cara apa kau raja jelek bau apek? Terhadap dirimu

sendiri saja kau tidak punya kuasa." Pendekar Blo'on tersenyum mencibir.

"Heaa..."

Lalim Durjana tiba-tiba saja kirimkan pukulan

ke arah Suro. Pemuda ini dengan mulut termonyong-

monyong langsung melompat dan berlindung di bela-

kang Malaikat Penderitaan. Pukulan Lalim Durjana

praktis menghantam tembok di belakangnya. Tembok

hancur, sebagian kamar runtuh hingga tanah menim-

buni ruangan itu.

"Kat, sekarang giliranmu Dia sudah mulai gila,

rupanya raja gendeng ini hendak mengubur kita hi-

dup-hidup di sini. Ayolah maju, tunggu apa lagi?" desak Si Bocah Ajaib serius.

"Pendekar geblek Menyingkirlah kau dari sini."

bentak Malaikat Penderitaan. Kalau pun Pendekar

Blo'on menyingkir, maka ia duduk sambil uncang-

uncang kaki di atas kursi mewah yang terletak di su-

dut ruangan. Rupanya sekarang raja Lalim Durjana te-

lah mencabut senjatanya. Satu tikaman telak dilaku-

kannya. Hartawan Abdi Banda tutup mata ketika meli-

hat berkelebatnya senjata itu. Sedangkan Malaikat

Penderitaan hanya sedikit saja menggeser kakinya. La-

lu tangannya menyambar ujung senjata lawannya.

"Plak"





"Heh"

Senjata itu melesat ke atas dan tidak mengenai

sasarannya. Dengan penuh rasa geram Lalim Durjana

memutar senjata, setelah beberapa kali berkelebat-

kelebat di udara. Kemudian disertai teriakan keras ia melompat sambil babatkan senjatanya ke bahu si kakek. Sama sekali Malaikat Penderitaan tidak menghin-

dar. Telak sekali senjata mengenai sasarannya.

"Craak"

Lalim Durjana menjadi terkejut karena senja-

tanya seakan hanya menghantam batu cadas yang bu-

kan main-main kerasnya. Ia periksa senjatanya. Ter-

nyata senjata itu mengalami kerusakan. Kini ia menu-

sukkan senjata ke perut lawannya, ternyata si kakek

sama sekali tidak menghindar. Malah ia seakan mem-

berikan perutnya untuk ditusuk.

"Jheees"

Sebagian senjata Lalim Durjana menembus ke

perut Malaikat Penderitaan. Ia tertawa, tawa khas se-

perti orang yang menangis sedih menghiba-hiba. Pe-

nuh kejut Lalim Durjana menarik senjatanya lagi dari

perut lawan.

Astaga Senjata itu seakan berubah panjang

dan tidak ada habis-habisnya meskipun sang raja su-

dah bergerak sampai di depan pintu.

Melihat kejadian ini Suro garuk-garuk kepala

sambil bertepuk tangan. Ia bahkan berjingkrak-

jingkrak sehingga membuat kursi bergoyang-goyang

dengan keras.

"Hebat Ha ha ha.... Ternyata kau juga pandai

main sulap, Kat. Menyesal jika kau tidak mau menga-

jari aku. Hebat... Ha ha ha Raja gelo itu bisa frustrasi melihat ulahmu, Kat" celetuk Suro tiada henti bertepuk tangan.

Malaikat Penderitaan sama sekali tidak me-





nanggapi ucapan si konyol. Ia kemudian memegang

badan pedang, senjata itu diketuk-ketuknya tiga kali.

Tiba-tiba saja pedang milik Lalim Durjana memendek.

Laki-laki itu pun tersentak dan ikut terbawa senja-

tanya. Ketika ia telah berada satu meter di depan Ma-

laikat Penderitaan. Maka kakek berjenggot putih ini

menjatuhkan totokan bertubi-tubi.

"Tak Tik Tuuk"

"Aaaaa..."

Lalim Durjana menjerit kesakitan, ia menggele-

par, meliuk bahkan membanting-banting badannya.

Ini merupakan sebuah siksaan yang sangat dahsyat

melebihi sakitnya tertusuk seribu mata pedang. Begitu menderita Lalim Durjana sampai ia terkencing-kencing.

Si kakek menggumam tidak jelas dan mencam-

pakkan senjata lawannya. Melihat kejadian itu, harta-

wan Abdi Banda bermaksud melarikan diri. Tapi Suro

sudah menghadangnya.

"Eit... mau kemana kau gajah bunting Ini ba-

gianmu" desis Si Bocah Ajaib. Lalu ia menotok Abdi Banda, sehingga tubuh hartawan itu berubah kaku tidak dapat digerakkan. Sementara itu raja Lalim Durja-

na terus berguling-guling sambil menjerit histeris.

"Apa yang kakek lakukan padanya?" tanya Suro kemudian.

"Dia harus merasakan penderitaan orang lain,

begitulah rasanya. Nah, sekarang kau uruslah gendut

kikir itu." perintah si kakek. Sekejap kemudian tubuhnya sudah berkelebat sambil menenteng raja Lalim

Durjana

"Betul-betul hebat orang itu. Aku tidak tahu

seberapa banyak kesaktian aneh yang dia miliki" kata Pendekar Blo'on dalam hati. Lalu ia memandang tajam

pada hartawan Abdi Banda, sementara itu keluarga ra-





ja, termasuk ratu dan puterinya sudah datang ke

ruangan itu. Rupanya mereka kaget ketika mendengar

jeritan sang raja. Kenyataannya Si Bocah Ajaib tidak

begitu perduli, perhatiannya tetap tertuju pada hartawan Abdi Banda. Lalu terlihatlah senyumnya yang si-

nis disertai kata-kata yang cukup pedas....

"Ketika tempat-tempat maksiat, perjudian dan

rumah madat kau dirikan. Itulah awal sebuah jiwa

menjadi budak nafsu. Kau kotori bumi ini dengan ke-

maksiatan, dengan tawamu dan tawa orang-orang ber-

bau mesum. Hidupmu terangkat di atas tumpukan

dan gelimang dosa. Dari desah dan erangan nafas ber-

lendir. Mata dan hatimu, jiwa dan pikiranmu terkunci

mati. Lalu Sang Maha Sesat berdiri di atas segala, kemudian bermunculanlah orang-orang dalam kemuna-

fikan, kau ambil pengawal-pengawal dari barisan setan yang terlaknat. Jalan hidupmu menyalahi kodrat, betapa sia-sia hidup sepanjang usiamu. Itulah persoalan pertama yang perlu kusampaikan padamu." kata Suro serius. "Persoalan yang kedua adalah, kau telah menghimpun segala kebusukan dunia, kedengkiannya, kei-

riannya, kesombongan dan fitnahnya. Semua kau

kumpulkan dalam sebuah singgasana harta yang pal-

su. Diantara sekian banyak wanita yang kau zinahi

atas nama isteri. Ada satu kebiadapan yang kau per-

buat. Kau tatto tubuh si gadis malang. Dadanya, au-

ratnya dan tempat-tempat terlarang untuk menyem-

bunyikan sebuah peta tempat penyimpanan surat ke-

benaran. Kau memberi hanya mengharap imbalan, kau

menyembah setan dan nafsumu sendiri. Aku si bodoh

Pendekar Blo'on, telah bersumpah di depan mayat pe-

rempuan itu. Akan mentatto tubuhmu dengan gambar

tongkat yang paling besar di dunia. Itulah simbol ke-

perkasaanmu yang kau puja-puja sampai mati"

Maka pucatlah wajah hartawan Abdi Banda





demi mendengar ucapan Si Bocah Ajaib yang secara ti-

ba-tiba seperti orang yang sedang berpetuah itu. Ke-

luarga raja termasuk permaisuri dan putri-putrinya

tercengang. Suro memberi isyarat pada mereka

untuk segera menyingkir.

"Ini bukan urusan kalian, menjauhlah jika in-

gin selamat" perintah murid Penghulu Siluman Kera Putih. Maka tanpa berani membantah lagi keluarga

kerajaan yang tidak ikut ambil bagian dalam masalah besar itu langsung menyingkir. Suro mengeluarkan

Mandau Jantan di tangannya. Lalu secepat kilat Man-

dau itu berkelebat di atas dada Abdi Banda. Laki-laki berperut besar seperti kuali besar tertelungkup menjerit setinggi langit. Hanya dalam waktu singkat dari pu-sar Abdi Banda sampai ke dada terukirlah sebuah

tongkat besar memakai topi waja.

"Apa yang menjadi janjiku telah kulaksanakan.

Semoga arwah isterimu dapat tenang di alam sana"

desis Pendekar Blo'on. Tidak lama ia pun membe-

baskan totokan, setelah totokan terbebas maka Suro

Blondo memerintahkan hartawan Abdi Banda berjalan

menuju alun-alun.





* * *



Halaman istana yang luas itu kini secara aneh

telah berubah menjadi sebuah tempat yang terasa as-

ing serba putih. Semua orang termasuk di dalamnya,

Pertapa Seribu Abad, Raja Tega, Arung Garda dan Pa-

tih Luragung jadi terkejut. Mereka seakan telah dipindahkan dari satu alam ke alam lainnya.

Yang membuat para tokoh sesat ini menjadi ka-

get, karena di tengah-tengah hamparan alam yang ser-

ba putih namun panas seperti membakar itu. Terdapat

pula sebuah menara yang seakan menjulang ke langit.





Semula kejadian yang berlangsung singkat ini diawali

dengan gelegar suara petir yang sambung menyam-

bung tiada henti. Kemudian mata mereka menjadi si-

lau pada waktu sinar putih melesat seakan datang dari langit. Lalu terlihat sinar putih lainnya yang lebih terang, berpedar-pedar seperti cahaya bintang kejora.

Malaikat Penderitaan yang muncul kemudian

bersama Lalim Durjana juga tidak kalah kagetnya. Ia

langsung memuji kebesaran Gusti Allah atas segala

keajaiban yang terjadi. Laki-laki tua ini memandang ke langit. Ia melihat sebuah cahaya besar bersinar menyilaukan mata. Sinar yang apabila mata terlalu lama

memandangnya dapat menjadi buta. Raja Lalim Dur-

jana menggigil ketakutan, memandang ke tengah-

tengah halaman yang telah berubah menjadi sebuah

daerah yang teramat asing itu terdapat. Dua menara

yang satu berwarna putih berkilauan yang lainnya

berwarna hitam pekat.

Di sanalah menunggu Pendekar Lugu, Raja Ko-

dok, Puspita. Dan juga para Utusan Akherat. Menung-

gu kabar yang selama ini mereka harap kedatangannya

dengan perasaan takut, gembira, juga cemas. Tidak

lama kemudian muncul Suro Blondo bersama harta-

wan Abdi Banda yang sudah dibuat tidak berkutik.

Melihat kejadian yang serba aneh ini si pemuda ter-

cengang.

"Weleh-weleh... orang-orang, kita berada dima-

na sekarang? Apakah kita sudah mati. Apakah kita be-

rada di alam baka? Wah... bagaimana ini aku belum

bertobat, belum juga kawin. Malaikat, Kat... kita bera-da dimana?" tanya si konyol, saking bingungnya pemuda itu tidak henti-hentinya menggaruk kepala.

Pendekar Lugu menyahuti. "Saudaraku, kini

sudah saatnya Anak Langit berkenan memberi kabar

kepada kita. Memberi petunjuk, agar setiap jiwa dapat





merenunginya. Kalian lihatlah, Lima Utusan Akherat

sudah sadar dengan sendirinya atas kehendak Tuhan.

Lihat ke langit"

Suro memandang ke langit. Tapi tidak ada ke-

mampuan bagi matanya untuk menentang cahaya pu-

tih berpedar-pedar itu.

"Itukah Anak Langit?"

"Ya..." Malaikat Penderitaan menyahuti.

Murid Malaikat Berambut Api baru saja hendak

mengatakan sesuatu. Tiba-tiba saja cahaya putih ber-

gerak turun lebih rendah lagi. Lalu terdengar suara

guntur menggelegar. Cahaya tadi mengalami peruba-

han yang sangat aneh dan membentuk ujud seperti

seorang manusia biasa. Tapi tingginya tidak terkirakan bahkan menjulang tinggi ke langit. Kedua kaki orang

ini tidak menyentuh tanah, melainkan mengambang

menakjubkan. Ia memakai pakaian serba putih. Tela-

pak kakinya besar dan terompanya pun sangat besar

sekali. Ketika ia mengulurkan tangannya ke arah Ma-

laikat Penderitaan. Maka kitab berisi Surat Kedamaian Dunia melesat dari balik pakaian si kakek berpindah

ke tangannya. Kitab surat itu disentuhkannya ke dada.

Bibir Anak Langit tersenyum betapa senyumannya

penuh kedamaian. Entah mengapa para tokoh sesat

sebaliknya malah menjadi sangat ketakutan sekali.



***





9


Anak Langit mengangkat tangannya. Semua

orang yang berada di situ jatuh terduduk. Sekujur tu-

buh mereka menjadi lemas, penglihatan menjadi gon-

cang dan hati pun ikut terguncang.





"Aku adalah makhluk yang masih ciptaan Gusti

Allah juga. Aku datang dari alam gaib, alam yang pe-

nuh dengan kebaikan dan lagi dilimpahi rahmat Ka-

lian tidak mampu menembus alam itu dengan pengli-

hatan kalian. Tapi ketahuilah, bahwa setiap gerak-

gerik, langkah dan perbuatan manusia ada yang men-

gawasinya."

"Anak Langit? Bolehkah aku tahu siapa diri-

mu?" tanya Pendekar Blo'on serius.

"Aku adalah makhluk yang tidak pernah ber-

paling dari Tuhanku walau barang sekejap. Hanya itu

saja yang perlu kau ketahui, hai anak manusia Seka-

rang aku ingin mengatakan sesuatu yang juga pernah

dikatakan pada orang-orang sebelum kalian. Ingat Hi-

dup manusia itu sifatnya hanya sebentar saja. Waktu

hidup manusia di dunia sangat sempit sekali bagi

orang-orang yang mau berpikir. Maka beruntunglah

orang-orang yang berbuat kebaikan di bumi ini, saling mengasihi dan berlomba-lomba dalam mengerjakan

kebaikan. Mereka tidak pernah lalai mengerjakan ke-

wajiban apa yang telah menjadi kewajibannya. Setiap

manusia kelak akan mempertanggung-jawabkan per-

buatannya di hari pembalasan. Hari dimana yang se-

tiap jiwa tidak punya penolong. Ayah tidak dapat me-

wakili anaknya, anak tidak dapat mewakili ibunya. Ka-

rena semua orang sibuk dengan urusan masing-

masing. Ini adalah contoh yang sangat kecil. Nah sekarang aku ingin bertanya pada Pendekar Lugu. Apakah

yang kau banggakan dalam hidupmu, hai anak manu-

sia?" Semua mata yang hadir kini tertuju pada Wahyu Sakaning Gusti. Pemuda itu tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Tangisnya begitu memilukan, sehingga baik

golongan lurus maupun golongan sesat ikut-ikutan

menangis.

"Sesungguhnya tidak ada yang aku banggakan





dalam hidupku. Aku adalah seorang pengelana yang

menunggu datangnya ajal tiba. Aku tidak memiliki

apa-apa, terkecuali kebaikan dan mengajak semua

orang berbuat baik dan berbakti pada Tuhannya.

Sungguh Ridhonya sangat ku dambakan, melebihi du-

nia dan seisinya..." kata Pendekar Lugu di tengah-tengah sedu sedannya.

"Pendekar Lugu, aku melihat sebuah kese-

suaian antara ucapan dan isi hatimu. Gusti Allah Pen-

cipta seluruh makhluk meridhoimu. Wahai jiwa yang

tenang. Jiwa yang tidak pernah marah, tidak dengki,

tidak iri, tidak sombong, tidak takabur dan jiwa yang tidak pernah menyakiti sesama. Teruskanlah lang-kahmu dalam keteguhan yang tidak pernah berpaling

dari Tuhanmu. Kelak kau akan mendapatkan kebaha-

giaan yang tidak terhingga dari Tuhanmu." kata Anak Langit disertai senyum.

Raja Kodok yang berada di samping Puspita

tersentak kaget. Inilah orang yang aku cari. Pikirnya.

Ia ingin mengatakan keinginannya untuk menjadi mu-

rid Pendekar Lugu. Namun mulutnya seperti terkunci.

Anak Langit beralih pada Pendekar Blo'on. Lalu ada

senyum menghias di bibirnya.

"Suro Blondo bocah yang terlahir pada malam

satu Asyuro. Bagimu telah banyak diberi kelebihan.

Antara lain dibalik ketololanmu tersimpan kecerdikan.

Teruskanlah usahamu dalam menegakkan kebenaran:

Satu sifat jelekmu terlalu mata keranjang. Kurangi dan hilangkanlah itu. Sebab matamu adalah kemaksiatan,

telingamu, otakmu, hatimu, dan juga tangan serta ka-

kimu. Usahamu masih jauh dari sempurna, langkah-

mu masih panjang. Berusahalah memperbaiki diri,

jangan takabur dan sombong. Nah sekarang apa

usulmu?" Suro seka keningnya yang bermandikan keringat, lalu garuk-garuk kepala





"Anu... aku berada di tengah jalan membin-

gungkan. Jika aku tidak membunuh ya aku yang ter-

bunuh. Bagaimana ini, jika aku mati, aku ini masuk

neraka atau sorga...?"

"Untuk menegakkan sebuah kebenaran, terka-

dang kau harus pergunakan senjata. Menurut catatan,

kebaikan dan kesalahanmu masih kacau. Untuk itu

perbanyaklah membenahi diri, jangan suka iseng. Se-

moga Gusti Allah memberikan yang terbaik di sisimu.

Dia yang menentukan kau berada dimana sesuai amal

dan kebaikanmu"

"Tap..."

"Berjumpa denganku waktunya singkat sekali.

Waktumu habis, sekarang giliran Raja Kodok" kata Anak Langit. Raja Kodok, dalam ketakutannya langsung tunjuk tangan.

"Anak manusia, kulihat hatimu penuh dendam.

Dendam dan amarah pada masa lalu yang sesungguh-

nya sebuah kenyataan. Jangan sesali diri dan kea-

daanmu. Jangan pula kau sesali mengapa kau terlahir

ke dunia ini. Semua itu sudah digariskan oleh Tuhan

padamu. Tidak usah berkeluh kesah lagi. Tidak perlu

meratapi nasib, gantilah kemarahanmu dengan sabar,

ganti dendammu dengan sifat welas asih. Jangan kau

kutuki dirimu sendiri, karena hal itu hanya akan

membuat Gusti Allah marah. Perjalanan hidupmu ma-

sih panjang. Sampai suatu ketika nanti ajal pasti da-

tang menjemputmu. Belajarlah lebih banyak pada

Wahyu Sakaning Gusti. Sebab ia adalah sebaik-

baiknya manusia yang patut kau ikuti. Lalu sekarang

apa usulmu?" tanya Anak Langit.

"Rasanya setelah mendengar pernyataanmu ti-

dak ada lagi yang aku usulkan. Kerisauanku selama

ini telah terjawab. Wajahku begini buruk, aku ingin

mengimbangi keburukanku dengan kebaikan. Dulu





aku begitu bernafsu untuk membalas dendam pada

hartawan itu. Tetapi sekarang terserah bagaimana ke-

putusanmu. Karena aku tidak punya hak lagi atas jiwa

orang lain"

"Hartawan itu sudah berada dalam ketentuan

Tuhan. Jangan kau risaukan. Nah bagaimana dengan

kau Malaikat Penderitaan?" Si Kakek tiba-tiba menjerit. Tangisnya meledak, ia bersujud sedangkan seku-

jur tubuhnya terguncang keras.

"Anak Langit, makhluk suci dalam kebenaran

yang penuh rahmat tidak pernah ingkar. Hidup ini

adalah sebuah penantian yang sangat panjang. Terka-

dang aku merasa lelah menjalaninya. Aku merasa hi-

dup ini adalah ujian dan cobaan demi cobaan. Aku

menangis di tempat yang sepi melihat tingkah laku

manusia. Aku melihat kecelakaan besar dari apa yang

mereka buat sendiri. Aku melihat kekikiran manusia

apabila dia berpunya. Aku mendengar rengekan mere-

ka bila dirinya ditimpa kesusahan. Kalau boleh aku

meminta, bukalah pintu hati seluruh penghuni bumi

ini untuk menuju ke jalan kebaikan. Jadikanlah mere-

ka saling kasih mengasihi antara sesamanya." pinta si kakek sambil tersedu-sedu.

"Malaikat Penderitaan, Gusti Allah Maha Tahu,

Ia memberi petunjuk pada orang-orang yang dikehen-

dakinya, dan menyesatkan orang-orang yang dikehen-

dakinya pula. Barang siapa yang hatinya condong pada

segala macam kepentingan dunia, ia adalah budak

nafsu dan pengabdi setan. Jangan hal-hal semacam ini

membuat hatimu gelisah dan sedih. Kelak setiap orang

akan mendapat balasan sesuai dengan perbuatannya.

Lalu apa pertanyaan yang lain?" Malaikat Penderitaan menggelengkan kepala, lalu menangis lagi dan terus

menangis.

"Anak manusia yang bernama Puspita Sari. Kau





punya tujuan ingin membalas dendam seperti Raja

Kodok. Abdi Banda memang termasuk manusia yang

melampaui batas. Kau tidak perlu melakukannya da-

lam hari yang berbahagia ini. Karena kalian akan sa-

ma-sama menyaksikan apa yang bakal terjadi pada di-

rinya. Kau termasuk beruntung, dididik oleh guru yang sesat, tapi kau menemukan jalan terbaik. Untuk masa

yang akan datang, jangan lagi kau menyamar sebagai

laki-laki. Sebab Tuhan marah melihat perempuan ber-

prilaku seperti laki-laki dan laki-laki berprilaku seperti perempuan. Nah sekarang apa katamu?"

"Tidak ada lagi yang ingin kutanyakan. Semua-

nya sudah sangat jelas" sahut Puspita dengan kepala tertunduk. Setelah itu perhatian Anak Langit beralih

pada Lima Utusan Akherat baik yang masih hidup

maupun yang sudah menjadi mayat.

"Kalian datang dari tempat-tempat yang sangat

jauh. Kalian menanti dalam waktu yang cukup lama

setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang

sekali. Sebelum aku bicara terakhir kali pada tokoh-

tokoh yang membuat keonaran di muka bumi ini. Tiba-

lah bagiku untuk membuka isi Surat Kedamaian Du-

nia." kata Anak Langit. Surat itu lalu diambilnya dari kitab tipis sebagai tempat penyimpanannya selama ini.

Begitu surat dibuka, maka terpancarlah cahaya putih

yang sangat terang benderang. Ada pun isi Surat Ke-

damaian Dunia seperti ini....

Anak manusia terlahir ke dunia membawa dua

sifat

Sifat yang baik dan yang buruk

Terserah manusia itu sifat yang mana yang

akan disuburkannya

Sesungguhnya nafsu dan setan saling berdam-

pingan,





Sedangkan hati berdekatan dengan kalbu sifat

luhur.

Antara nafsu dan keluhuran budi tidaklah ber-

jauhan

Terserah manusia, mana yang mau diikuti

Jika keluhuran budi, berarti manusia telah me-

nempuh jalan yang lurus lagi baik

Jika nafsu yang menjadi pegangannya

Maka ia akan tersesat jauh dan menjadi pengi-

kut setan.

Dunia dan seisinya ini sesungguhnya tempat

segala kebusukan, kepalsuan, sandiwara dan

tidak ada apa-apanya.

Ada pun yang lebih baik dari segala-galanya

adalah disisi Zat yang menciptakan manusia.

Maka patuhilah perintahNya dan tinggalkan

yang dilarangNya.



Sampai disini Anak Langit menghentikan pem-

bacaannya. Ia memperhatikan orang-orang di sekeli-

lingnya. Wajah-wajah yang tertunduk, tidak punya

daya dan kekuatan apa pun. Mereka tidak mampu bi-

cara, tidak dapat menunjukkan keangkuhannya. Anak

Langit kemudian kembali pada surat putih yang ber-

pedar-pedar memancarkan cahaya.



Isi penting surat ini untuk diketahui

Bahwa diantara seratus rahmat Gusti Allah

Cuma satu yang diturunkan di atas dunia ini

Satu rahmat inilah yang dibagi-bagi pada, se-

luruh makhluk yang hidup bertebaran di mu-

ka bumi.

Sehingga terlihat nyata antara serigala dengan

anaknya saling mengasihi.

Sembilan puluh sembilan rahmat tertahan di





langit untuk kepentingan seluruh manusia ke-

lak.

Hal yang sedemikian ini terdapat dalam perka-

taanNya sejak manusia pertama diciptakan di

permukaan bumi ini.



Anak Langit selesai sudah membaca Surat Ke-

damaian Dunia yang menjadi rebutan itu.

Ia melipat surat itu kembali dan memasukkan-

nya ke dalam kitab tipis tempat penyimpanan.

"Dengarlah kalian semuanya. Aku tegaskan pa-

da kalian untuk saling hormat menghormati, saling

welas asih, saling mengajak untuk berbuat kebaikan.

Jangan pula saling menyakiti sesamanya, jangan sal-

ing hasut, saling hina, saling dengki, iri, tamak, saling membunuh. Jangan pula durhaka pula pada Zat yang

menciptakanmu, jangan durhaka pada orang tua, isteri

jangan durhaka pada suami, atau yang muda durhaka

pada yang tua. Jangan kalian tunggu jasad sampai

terbujur baru ingat berbuat kebaikan. Hidup ini singkat, waktu sangat berguna. Aku juga adalah makhluk

yang diciptakanNya. Sama sekali aku tidak berkotbah

pada kalian. Sebaik-baiknya manusia adalah yang

menganggap dirinya bodoh dari pada orang bodoh

mengaku pintar. Seburuk-buruknya manusia adalah

yang menganggap dirinya paling benar." kata Anak Langit. "Makhluk yang tercipta dari cahaya itu rupanya menyindirku" pikir Pendekar Blo'on sambil seka air matanya.

"Para Lima Utusan Akherat. Kalian semua

sudah mendengar isi Surat Kedamaian Dunia. Meski-

pun kawan-kawan kalian sudah tiada, tapi sekarang

ini arwah-arwah mereka juga hadir di sini ikut men-

dengarkan apa yang aku kabarkan pada kalian. Sam-





paikanlah pada guru kalian, masing-masing setelah

kembali ke asal kalian kelak, tanpa ada yang kalian

kurangi atau tambahi dari apa yang kalian dengar hari ini" "Kami semua akan menyampaikan berita gembira ini. Tidak dapat kami lukiskan betapa gembiranya hati kami bahwa sesungguhnya wangsit yang diterima

oleh guru kami adalah sebuah kenyataan" kata Dunga mewakili kawan-kawannya.

"Sekarang tibalah giliran bagi para tokoh sesat."

desah Anak Langit. Wajahnya yang penuh kearifan dan

cinta kasih ini tiba-tiba saja berubah bengis. "Anak manusia yang bernama Abdi Banda? Menurut penglihatan dan dari catatan yang tidak dapat dibantah. Se-

panjang usiamu hanya kau pergunakan untuk me-

numpuk harta yang tidak berguna. Kau mendapatkan-

nya dari gelimang kemaksiatan dan kau pergunakan

untuk kemaksiatan pula. Betapa celakanya kau hidup

di dunia, hidup hampir enam puluh tahun tidak sedi-

kit pun kulihat kebaikanmu. Tempat, yang paling kek-

al bagimu adalah neraka Jahanam. Nah sekarang sen-

tuhlah dua menara itu, Yang putih adalah menara ke-

beruntungan bagi orang-orang yang berbuat baik. Se-

dangkan yang hitam adalah seburuk-buruknya mena-

ra karena kejahatan. Cepat lakukan..." perintah Anak Langit. Hartawan Abdi Banda terkesima, ia jelas tidak mau melakukannya. Karena ia tahu pasti apa yang

bakal terjadi padanya. Tapi sungguh celaka kedua ka-

kinya bergerak dengan sendirinya tanpa mampu dice-

gah. Wajah hartawan itu sepucat kain kapan, tubuh-

nya menggigil. Dan saat itu ia benar-benar memaki

dan menyumpahi kakinya karena terus berjalan ke

arah menara tanpa dapat dicegah. Bukan ke menara

putih, tapi ke menara hitam.





"Duhai celakalah aku..." jerit hartawan Abdi Banda ketika tangannya melekat pada menara yang

bentuknya empat persegi, panjang menjulang ke langit.

Sang hartawan menjerit tubuhnya terbakar, pada saat

itu ia melihat seluruh hartanya berdatangan ke arah-

nya dan berubah menjadi api yang membakar dirinya.

Maka tewaslah hartawan Abdi Banda. Yang lain-

lainnya terperangah. Tokoh-tokoh golongan lurus me-

nangis tersedu-sedu.

"Jangan kalian heran, ajal hartawan itu me-

mang sudah sampai hari ini." ujar Anak Langit ditujukan pada tokoh-tokoh golongan lurus. "Nah sekarang tiba pula giliran anak manusia yang bernama Arung

Garda dan Raja Tega. Sepanjang hidup kalian hampir

tidak pernah berbuat kebaikan. Kalian menghilangkan

jiwa-jiwa orang lain yang sesungguhnya milik Gusti Allah. Pilihlah salah satu dari menara itu. Jika memang kebaikan kalian banyak tentu kalian akan memilih

menara kebaikan, menara putih. Hari ini kalian tidak

akan bisa bicara"

Baik Raja Tega maupun Arung Garda menangis

keras, tangisan itu berubah menjadi lolongan mengeri-

kan mendirikan bulu roma. Maka tanpa dapat diken-

dalikan lagi sesuai kehendak hati dan perintah otak,

kaki mereka pun melangkah. Tapi langkah mereka bu-

kan menuju ke menara putih, melainkan menuju ke

menara hitam.

"Ya Tuhan, beri aku tangguh untuk menghada-

pi siksaan ini. Aku ingin bertobat" rintih hati Arung Garda dan Raja Tega.

Dalam pada itu terdengarlah suara Anak Lan-

git. "Sungguh taubat tidak akan berguna bila ajal sudah di tenggorokan. Tidak ada yang dapat menghenti-

kan dan menangguhkan walau barang sedetik"

Tangan Arung Garda dan Raja Tega terulur, be-





gitu menyentuh, maka menggelegarlah suara petir

menghantam tubuh mereka. Jeritan terputus. Tubuh

mereka cerai berai menjadi serpihan daging yang han-

gus berbau busuk bukan kepalang. Lalim Durjana dan

Pertapa Seribu Abad terkesima, bagaimana pun Raja

Tega telah kehilangan kedua tangan sebelah kaki. Da-

lam keadaan ia sendiri tidak punya kuasa untuk berdi-

ri. Namun pada waktu mendengar perintah Anak Lan-

git ia langsung berdiri, bahkan sisa tangannya yang

buntung menyentuh menara hitam tersebut.

"Sekarang adalah bagian Lalim Durjana dan

Pertapa Seribu Abad. Ketahuilah, selama ini kalian telah bersekutu dengan Sang Maha Sesat. Di sini dalam

pertemuan ini makhluk terlaknat itu memang belum

terima ganjaran. Ganjaran baru diterimanya setelah

bumi dan langit tergulung, gunung-gunung dihancur-

kan dan manusia beterbangan tanpa guna. Dia adalah

makhluk yang durhaka pada Zat yang menciptakan-

nya. Kau Lalim Durjana selama hidupmu terlalu men-

dewa-dewakan kekuasaan, sedangkan Pertapa Seribu

Abad selain memakan daging sesamanya, juga penuh

kebiadapan. Sekarang bangkitlah, kalian punya hak

untuk menghampiri menara manapun yang kalian su-

kai. Sama seperti yang lainnya, sekarang pula ajal kalian" "Apakah ajalku tidak dapat ditangguhkan?"

"Pertapa Seribu Abad, aku tidak punya kuasa

apa-apa untuk memberi tangguh kematianmu. Semua

ini adalah ketetapan Tuhan yang tidak dapat dirobah.

Sekarang jalan..." perintah Anak Langit.

Secara aneh Pertapa Seribu Abad yang lumpuh

itu berdiri, Lalim Durjana juga ikut berdiri. Lalu dengan menundukkan kepala mereka berjalan ke arah

menara putih. Tapi sungguh aneh, kaki mereka mem-

belok ke menara yang hitam. Sungguh pun mereka





memaksakannya untuk menuju ke menara yang putih,

tetap saja mereka menuju ke menara yang hitam. Tan-

gan mereka pun terulur dan menggapai.

"Bumm"

"Aaaa..."

Menjeritlah kedua tokoh ini ketika tubuh mere-

ka tersengat cahaya hitam yang keluar dari menara

itu. Dua-duanya terpelanting, lalu roboh dalam kea-

daan hangus, dada pecah dan isi kepala meleleh.

"Itulah balasan bagi orang-orang yang lalai dan

melampaui batas. Sepeninggalku ini, akan timbul lagi

kesesatan dan angkara murka di bumi ini... Teruskan-

lah sebar kebaikan di muka bumi, musuh-musuh ka-

lian akan semakin tangguh, bahkan menyaru seperti

kalian. Kitab berisi surat ini akan kubawa. Nah sela-

mat tinggal..." kata Anak Langit. Ketika Anak Langit berubah ujudnya menjadi cahaya, maka cahaya itu

kemudian melesat ke angkasa. Suasana di sekitarnya

berubah sebagaimana sediakala. Dua menara lenyap,

hamparan putih juga hilang. Yang terlihat hanya

mayat-mayat para tokoh sesat yang bergelimpangan

dalam keadaan menyedihkan.

Malaikat Penderitaan juga menghilang, Pende-

kar Lugu dan Raja Kodok telah pergi tanpa sepengeta-

huan Suro Blondo. Menyusul sisa-sisa Lima Utusan

Akherat. Yang tertinggal hanya Puspita Sari dan Patih Luragung, kakek buta itu menangisi diri sendiri.

"Aku tidak diadili, tapi sisa-sisa hidupku dalam kegelapan seperti ini. Oh, sungguh merupakan penderitaan yang sangat pedih melebihi tertusuk seribu pe-

dang" rintih sang Patih.

"Puspita, lebih baik kita tinggalkan orang buta

maling ini. Aku takut dia iri melihat kita bermesra-

mesraan" kata Pendekar Blo'on.

"Pendekar geblek, contoh mengerikan saja be-





lum lama terjadi. Kini kau berani pegang-pegang tan-

ganku" dengus Puspita Sari.

"Walah, aku tidak pernah kesusu (Tergesa-gesa)

kok jika memegangmu Paling yang wajar-wajar saja

tapi asyiiik..."

"Orang sinting" cibir si gadis dengan wajah me-rona merah.

Suro tergelak-gelak, lalu tawanya menghilang di

kejauhan. Puspita pun seakan tidak rela kehilangan

sehingga ia mengejar. Angin dingin berhembus. Kera-

jaan Ujung Dunia berubah menjadi sepi. Hanya isak

tangis Patih Luragung sesekali terdengar dalam penyesalan.



TAMAT



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...