Senin, 17 November 2014

PENDEKAR BLOON - Eps.17

Eps.17
PERSEKUTUAN ORANG-ORANG SAKTI

1
Sudah sejak ratusan tahun yang silam

bangunan itu berdiri. Dibangun di atas sebuah

bukit. Di sekeliling bukit itu gersang, tidak satu pun pepohonan tumbuh di sana. Entah siapa

yang mendirikan bangunan tersebut tidak seo-

rang pun yang tahu. Ada yang mengatakan konon

bangunan megah dengan empat sisi yang menju-

lang ke langit itu dibangun oleh seorang tokoh

sakti bergelar Ratu Keindahan hanya dalam tem-

po setengah malam. Jika ini merupakan kenya-

taan. Tidak terbayangkan betapa tingginya kesak-

tian yang dimiliki oleh wanita sakti tersebut. Be-

tapa tidak? Salah satu tiang penyangga bagi ber-

dirinya bangunan itu saja besarnya sepelukan la-

ki-laki dewasa. Sedangkan jumlah tiang yang ada

seluruhnya dua puluh buah. Sepuluh berwarna

putih dan sepuluh berwarna hitam. Setiap tiang

berseling antara putih dan hitam. Apa tujuan di-

dirikannya bangunan itu oleh wanita sakti terse-

but tidak ada yang tahu. Bangunan megah terle-

tak di bukit gersang tersebut memang penuh te-

ka-teki bagi orang yang punya pikiran luas. Selain itu, tidak jauh dari bukit gersang ini. Terdapat

bangunan lain yang lebih besar, walaupun letak-

nya di bukit yang lebih tinggi, namun bentuknya

unik. Bagian depan bangunan condong ke kiri,

seakan ingin menjangkau bangunan megah yang

berada di bukit gersang di sebelahnya. Jumlah

tiang-tiangnya juga dua puluh. Hanya sisinya ber-

jumlah lima. Bangunan tersebut mengalami kere-

takan di sana sini. Konon yang menciptakan ban-

gunan ini adalah seorang tokoh sakti pula. Bukan

wanita, melainkan seorang laki-laki yang gagah

perkasa.

Apa maksud yang tersembunyi dibalik ber-

dirinya kedua bangunan tersebut tidak seorang

pun yang tahu. Demikianlah bangunan itu berdiri

selama ratusan tahun tanpa ada yang mengusik-

nya. Sampai pada suatu masa muncul seorang

gadis gagu di daerah Imogiri. Gadis itu cantik se-

kali kulitnya kuning langsat berpakaian hijau se-

perti zambrut. Kemunculan gadis ini tidak akan

mengundang perhatian orang, jika ia tidak menu-

lis syair di sembarang tempat yang dilewatinya.

Terkadang ia menulis syair-syairnya di atas daun

yang menghijau, atau di kulit-kulit kayu dan ti-

dak jarang di pintu-pintu warung.

Sayang gadis gagu dan penyair ini seperti

manusia misterius. Ia muncul di sembarang tem-

pat. Di pasar-pasar, warung, keramaian atau

tempat yang sunyi. Ia pergi tanpa meninggalkan

bekas. Namun apa yang ditulisnya satu purnama

kemudian menimbulkan kegemparan dan men-

gundang rasa ingin tahu berbagai kalangan. Bah-

kan lama-kelamaan bermunculanlah tokoh-tokoh

sakti dari berbagai daerah di tanah Jawa.

Mereka berusaha memecahkan teka-teki

yang terdapat dalam syair si gadis gagu. Namun

tidak satu pun di antara mereka yang dapat me-





mahami arti dari setiap baris kalimat yang mere-

ka jumpai dalam syair-syair itu. Kenyataan ini

menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut. Men-

jadi bahan diskusi baik pagi maupun petang.

Siang itu seorang laki-laki tua tampak me-

masuki kota Imogiri. Tubuhnya besar luar biasa.

Berpakaian putih dan bercelana putih kedodoran.

Sehingga sesekali ia terpaksa menarik celananya

agar tidak sampai melorot ke bawah. Telanjang.

Orang ini memikul buntalan besar, seperti orang

yang mengungsi karena diusir mertuanya. Bunta-

lan putih, kumal, dekil sebagaimana penampilan

kakek berjenggot putih itu sendiri. Melewati se-

buah warung, ia melihat ada sekelompok orang

sedang berkerumun. Rasa penasaran membuat-

nya datang menghampiri. Matanya berkedip-kedip

ketika dilihatnya orang-orang ternyata hanya

memperhatikan dan membaca syair-syair yang

tertulis di kulit pohon Trembesi (Ambon).

"Jidad orang-orang ini berkerat-kerut se-

perti sedang memecahkan kode buntut saja.

Hanya sepuluh baris kalimat yang dibuat orang

gila," gumamnya dalam hati. "Eeeh... cara meng-gurat kulit kayu itu boleh juga. Dia pasti punya

tenaga dalam yang cukup lumayan" Si kakek berambut putih ini memperhatikan tulisan itu den-

gan seksama. Lalu membacanya.

Aku sering bertanya, siapa aku, buat apa

aku dilahirkan

mengapa aku hidup di dunia?





Aku sudah lupa janjiku ketika berada di

alam Rahim

Aku bertanya pada matahari, bintang dan

bulan Pada pohon, pada angin, pada air, dan pa-da seluruh makhluk yang punya nyawa dan jiwa

Mereka diam membisu, tanya ku berlalu....

Seperti diriku yang gagu

Lalu kudengar bisikan kalbu, datanglah ke

bukit Keangkuhan

Kening si kakek mengerenyit. Celananya

yang kedodoran melorot dan ia terpaksa tarik ce-

lananya hingga lewat di atas pusernya.

"Yang membuat syair ini rupanya orang ga-

gu. Mengapa harus datang ke bukit Keangkuhan?

Ada apa rupanya di sana" pikir si kakek. Si kakek lalu menggamit salah seorang laki-laki yang

berada di sebelahnya.

"Saudara, bukit Keangkuhan itu di mana?"

tanya kakek berpenampilan seperti orang sinting

ini. Orang itu memperhatikan si rambut putih,

ada perasaan ngeri membayang di matanya.

"Sebaiknya Kisanak jangan ke sana. Bukit

Keangkuhan adalah Bukit Keramat. Sudah bera-

tus-ratus tahun tidak seorang pun berani datang

ke sana. Tempat itu mengandung kutuk. Siapa

datang tidak akan pernah kembali ke dunia fana

ini" jelasnya penuh ketakutan. Si kakek tarik celananya yang melorot. Sesungguhnya setiap tari-

kan napasnya selalu membuat celananya turun





melulu. Tampaknya ia sangat penasaran sekali.

"Memangnya di sana ada jin tukang makan

manusia. Wah lucu juga ini, coba saudara perha-

tikan. Bukankah syair-syair itu menarik. Orang

bertanya asal-usul, untuk apa ia terlahir ke du-

nia. Wah, saudara. Hal ini bukan main-main. Aku

harus kasih keterangan pada orang gagu itu agar

dia tahu dan tidak membawa pertanyaannya di

liang kubur" kata si kakek.

"Kisanak, sebaiknya ja..." Orang ini terpaksa telan ucapannya karena orang yang diajak-

nya bicara sudah minggat dari hadapannya. Laki-

laki itu gelengkan kepala sekaligus takjub.

"Gila Sekarang sudah mulai bermunculan

orang-orang sakti" gumamnya dalam hati.





* * *



Bukit Keangkuhan jaraknya sekitar seten-

gah hari lagi dari tempat kedua orang ini berada.

Tampaknya kedua laki-laki berpakaian hitam

dengan kancing terbuka ini datang dari sebuah

tempat yang cukup jauh. Yang terasa aneh dari

keduanya adalah di sekeliling pinggang mereka

terdapat buli-buli arak yang jumlahnya tidak ku-

rang dari tiga puluh buah. Arak yang mereka ba-

wa adalah arak yang paling keras. Seandainya sa-

ja arak itu dituangkan ke atas rumput-rumput

menghijau, dapat dipastikan rumput jadi kering

dan terbakar. Laki-laki jangkung dan laki-laki

pendek itu di rimba persilatan dikenal dengan ju-





lukan Iblis Pemabukan dan Setan Arak. Tidak

seorang pun yang tahu siapa nama asli mereka.

Sekarang mereka duduk di bawah pohon

yang sangat rindang. Sambil duduk mereka me-

neguk arak yang diambil dari pinggang masing-

masing. Mata orang-orang ini senantiasa merah

seperti mata orang yang tidak pernah tidur.

"Apa jadinya dengan rimba persilatan jika

iblis dan setan seperti kita muncul? Kita telah ter-tipu hanya karena syair butut si gagu Gluk

Gluk Gluk Hmm... sedap betul rasanya arak ini"

kata Iblis Pemabukan meracau tidak karuan.

"Siapa tahu di bukit Keangkuhan kita da-

pat peruntungan disana, Kakang. Kalau di dalam

bangunan itu terdapat kitab, kitab kita ambil, jika harta, harta pula kita ambil. Jika perempuan cantik..." Setan Arak si gendut pendek terdiam sejenak seakan berpikir. Lalu ia bicara seperti ditujukan pada diri sendiri.

"Aku lebih suka dalam dua bangunan itu

terdapat arak. Arak lezat yang tersimpan ratusan

tahun. Perempuan bagiku bukan kenikmatan.

Araklah yang nikmat"

"Aku juga begitu, tapi jangan kita meren-

dahkan perempuan. Walaupun ia kelihatannya

lemah, tapi mulutnya mampu menelan laki-laki

sebesar apapun..." sahut Iblis Pemabukan. Kemudian mereka berdua tertawa terkekeh-kekeh.

Mereka meneguk araknya lagi, sehingga terdengar

suara sendawa saling bersahut-sahutan.

"Lihat, Kakang, gunung sudah mulai mir-





ing, nah pohon-pohon mulai berlarian saling ke-

jar. Eh, kita juga berputar-putar, Kakang" kata Setan Arak sambil tersenyum-senyum.

"Edan kau Itu tandanya kau sudah mulai

mabuk lagi, sinikan buli-bulimu..." kata Iblis Pemabukan. Tanpa kata-kata ia langsung meneguk

arak yang direbutnya, lalu....

Gluk Gluk Gluk

"Hmmm, sedap betul" desah Iblis Pemabu-

kan, seraya tepuk-tepuk perutnya yang gembung.

Lama mereka dalam keadaan seperti itu,

sampai kemudian muncul sesosok tubuh berpa-

kaian hitam di hadapan kedua orang ini.

"Weh, ada orang, Setan Arak Siapa dia,

coba kau tanya? Jika ia menginginkan arak kita

sebaiknya kau usir cepat sebelum kesabaranku

habis" dengus Iblis Pemabukan.

"Hmm, aku mencium bau busuk. Aku sen-

diri tidak suka bau-bauan seperti ini. Biar aku

berdiri dulu" kata Setan Arak, seraya meneguk araknya. Kemudian ia menghampiri laki-laki berpakaian hitam itu.

Langkahnya terhuyung-huyung seperti

orang mau jatuh.

"Kau siapa?" tanya Setan Arak.

Laki-laki bermuka bopeng-bopeng dan ber-

tampang angker ini memandang penuh sinis.

"Aku si Perusak Raga. Ingin bertanya apa-

kah kalian yang menulis syair-syair di atas daun,

di kulit kayu, di atas batu dan di sembarang tem-

pat" tanya laki-laki muka bopeng tersebut dingin.





"Ha ha ha... Kau Perusak Raga, pantasan

mukamu bopeng seperti jeruk purut. Ketahuilah,

kami bukan orang yang menulis syair-syair itu.

Sekarang kami malah ingin datang ke bukit

Keangkuhan." sahut Setan Arak.

"Kau dan kawanmu hendak pergi ke sana?

Huh sedangkan jalanmu saja tidak lempang.

Hanya aku yang boleh ke sana" kata Si Perusak Raga. "Jadi...?" gumam Iblis Pemabukan tidak jelas. "Jadi kalian berdua harus kubunuh" dengus Si Perusak Raga.

Mendengar ucapan laki-laki berpakaian hi-

tam tersebut, kedua laki-laki pemabukan ini ter-

gelak-gelak.

"Kau ini sedang bicara atau melawak. Ke-

pandaian apa yang kau miliki sehingga berani

menantang kami?" ejek Setan Arak.

"Inilah kepandaian yang ingin kalian lihat"

teriak Si Perusak Raga.

Tiba-tiba saja ia jentikan tangannya ke

arah Setan Arak dan Iblis Pemabukan. Dari tem-

pat duduknya ia melompat dengan langkah ter-

huyung-huyung. Terlihat sinar hitam berkelebat,

hawa panas menebar seperti memanggang kulit

mereka. Iblis Pemabukan tertawa bekakakan, bi-

birnya mengatup rapat, mulut mengembung. Ke-

mudian ia menyemburkan cairan arak dari mu-

lutnya ke arah sinar yang hampir menghantam

tubuhnya.





Cuh Cuh

Zzzzzst...

Buumm

"Heh..."

Dua-duanya terdorong mundur. Tampak

asap putih mengepul di udara. Si Perusak Raga

agak terkesiap juga melihat kenyataan ini. Lalu

secara tidak terduga tubuhnya melesat ke depan.

Kaki kanannya yang setengah ditekuk itu meng-

hantam perut Iblis Pemabukan. Sebelum tendan-

gan itu mengena pada sasaran dari samping Se-

tan Arak menyerang dengan tendangan kaki pula.

Bletok

Si Perusak Raga menjerit kesakitan, Setan

Arak berteriak keras. Ia berjingkrak-jingkrak ka-

rena menahan sakit yang luar biasa sekali. Beta-

pa pun ia tadi mengerahkan tenaga dalam yang

dimilikinya. Hingga beradunya tulang kering mas-

ing-masing lawan sakitnya sampai ke ubun-ubun.

Si Perusak Raga menggeram penuh ama-

rah, jemari tangannya bersilangan. Lalu laksana

terbang ia menerjang kembali dengan serangkaian

serangan beruntun yang tidak ada putus-

putusnya. Angin menderu, debu beterbangan.

Baik Iblis Pemabukan maupun Setan Arak den-

gan terhuyung-huyung menghindari sergapan la-

wannya. Sekarang mereka benar-benar menge-

rahkan jurus-jurus mabuknya. Gerakan meng-

hindar maupun serangan balasan yang dilakukan

dua bersaudara pemabukan ini sudah tidak tera-

tur, namun Si Perusak Raga berulang kali hampir





terkecoh.

Laki-laki bermuka bopeng ini tiba-tiba me-

lompat mundur ia kerahkan tenaga dalamnya ke

bagian tangan, sehingga tangan itu dalam waktu

yang sangat singkat telah berubah hitam legam.

"Pukulan Inti Raga" desis Iblis Pemabukan dengan mata menyipit. "Setan Arak, hati-hati.

Orang gila mulai mengeluarkan pukulan sak-

tinya" kata laki-laki jangkung ini memperin-

gatkan.

"Ha ha ha... Kau lihat, Kakang. Pohon-

pohon masih berputar, mereka seperti orang bin-

gung. Kenapa kita tidak layani dia dengan ini sa-

ja" teriak Setan Arak membalas peringatan saudaranya. Tiba-tiba saja Setan Arak acungkan tin-

junya di udara. Tinju itu digerak-gerakkan ke

udara. Apa yang dilakukan Setan Arak diikuti

oleh saudaranya. Begitu tinju itu diayunkan ke

depan. Maka selarik sinar putih menghampar,

menimbulkan suara deru dan bergulung-gulung.

Suasana di sekelilingnya sontak menjadi panas.

Sedangkan pada waktu itu pula Si Perusak Raga

telah lebih dahulu melepaskan pukulan Inti Raga.

Terdengar pula gaung suara seperti badai. Tidak

heran, karena masing-masing lawan adalah to-

koh-tokoh sakti dan termasuk sudah memiliki

kepandaian rata-rata di atas sempurna. Maka di

tengah-tengah suara ribut yang saling tindih me-

nindih dan menyakitkan telinga itu terjadi leda-

kan keras menggeledek. Terlihat ada bunga api

berpijar seperti lintasan kilat. Tiga sosok tubuh





terlempar dan tampak terguling-guling. Perusak

Raga memuntahkan darah segar. Setan Arak dan

Iblis Pemabukan pegangi mulutnya yang mengu-

curkan darah. Walaupun mereka sama-sama

menderita luka dalam yang cukup parah. Dua

saudara pemabukan ini berdiri dan langsung ter-

tawa-tawa seperti orang gila.

Gluk Gluk Gluk

Lagi-lagi Setan Arak dan Iblis Pemabukan

meneguk araknya. Arak membasahi tenggorokan

dan membuat tubuh mereka terasa hangat. Peru-

sak Raga bangkit berdiri dengan wajah berubah

kelam membesi.

"Aku tidak akan pernah puas sebelum

memukul remuk batok kepala mereka" kata Pe-

rusak Raga dalam hati. Kemudian ia mengelua-

rkan senjata andalannya berupa bola rantai baja

berduri. Keunikan senjata ini antara lain pada se-

tiap bagian sisi bola tersebut bila ditekan dapat

mengeluarkan kabut beracun. Racun ganas yang

sangat mematikan sekali.





2


Melihat apa yang hendak dilakukan oleh

lawannya Setan Arak langsung berseru ditujukan

pada saudaranya Iblis Pemabukan.

"Apa jawabmu apabila dia bermaksud

mengadu jiwa dengan kita?"

"Adalah bodoh jika sesama golongan sendi-





ri saling membunuh. Bukankah lebih baik jika ki-

ta bekerja sama Perusak Raga? Kami adalah

orang yang penasaran dan ingin tahu ada rahasia

apa yang terkandung dalam bangunan-bangunan

di bukit Keangkuhan Apakah kau masih ingin

saling ngotot dan unjuk gigi pada kami?" tanya Iblis Pemabukan ketus.

Laki-laki berbaju hitam itu terdiam. Me-

mang kalau dipikir kedua lawannya itu mempu-

nyai kepandaian seimbang dengannya. Konon

semburan araknya saja dapat melubangi lempen-

gan baja setebal apapun. Dan sejak mereka terli-

bat pertempuran sengit tadi, tampaknya lawan

belum mempergunakan senjata maut dari minu-

man keras tersebut. Walaupun ia sendiri merasa

yakin dengan kehebatan senjata yang dimilikinya.

Kalau dipikir bukankah lebih baik mereka bekerja

sama? Nanti jika keadaan di sana menguntung-

kan bukankah mereka dapat dibunuh secara li-

cik. Berpikir sampai ke sini, Perusak Raga lang-

sung menyimpan senjatanya kembali.

"Bagus, kiranya kau dapat menerima apa

yang kami tawarkan" ujar Setan Arak, seraya

menarik napas lega.

"Apakah kau mau minum arak kami, so-

bat? Hitung-hitung sebagai tanda persahabatan

kita." Iblis Pemabukan menawarkan sambil me-

nyodorkan buli-buli tuaknya pada Si Perusak Ra-

ga. Tapi tokoh aneh yang satu ini menolaknya.

"Jelaskan padaku apa yang kalian ketahui

tentang Penyair Gagu?" tanya Si Perusak Raga.





Iblis Pemabukan dan Setan Arak berpandangan.

Setan Arak melangkah maju.

"Oh mengenai Penyair itu kami pun sama

butanya dengan engkau. Tapi menurutku ia pasti

tahu banyak tentang bukit Keangkuhan. Terbukti

ia menulis syair-syair itu dan apa yang dikata-

kannya berada tidak jauh lagi dari sini. Cuma

kami tidak tahu arti sepuluh mengalahkan sepu-

luh. Satu mengalahkan sembilan" ujar Iblis Pemabuk. Bibir Perusak Raga menggerimit, kening-

nya yang menghitam tampak berkerenyit dalam.

"Itu sebuah misteri. Kurasa ada sesuatu

yang berguna di dalam bangunan itu. Ada hal

yang kurasakan agak janggal dalam syair-syair

itu?" gumam Perusak Raga.

"Apa?" tanya Setan Arak dan Iblis Pemabukan hampir bersamaan.

"Apa hubungannya wanita penyair gagu itu

dengan dua bangunan yang berada di atas bukit

Keangkuhan?"

"Hal ini baru dapat kita cari jawabannya bi-

la kita sudah sampai ke sana" sahut Setan Arak.

"Nah sekarang setelah kita berserikat tung-

gu apa lagi" ujar Perusak Raga seakan tidak sabar. "Betul, kita adalah orang-orang bersekutu.

Mari segera berangkat" timpal Iblis Pemabukan.

Maka berangkatlah ketiga tokoh-tokoh sakti itu

menuju bukit Keangkuhan yang jaraknya tidak

jauh lagi dari tempat mereka berada.





* * *



Pemuda bertampang tolol kekanak-

kanakan itu baru saja mengenakan bajunya. Ia

mengangkat beberapa ekor ikan jurung besar

yang baru didapatnya ketika mandi tadi. Ikan itu

megap-megap karena tidak bisa bernapas. Si pe-

muda baju biru ini garuk-garuk kepala sambil

memperhatikannya.

"Sebenarnya aku sudah kelaparan nih. Ta-

pi setelah melihat mata ikan ini kok jadi tidak te-ga Baiknya aku lepaskan saja." pikir si konyol.

Ternyata ia ragu-ragu. "Lepas jangan ya? Jangan apa dilepas?"

Krukuk

"Heh, cacing dalam perutku mengatakan

supaya jangan dilepas." kata Suro. "Tapi bagaimana jika bapak emak ikan ini mencari anaknya?

Bapak ikan pasti sedih Weleh masa bodo Mau

makan saja pakai ragu-ragu segala"

Plok Plok

Dan tiga ekor ikan jurung itu dihem-

paskannya di atas batu. Ikan menggelepar dan

mati. Suro segera membuat api dari ranting-

ranting kering yang dikumpulkannya. Tidak lama

kemudian terciumlah bau harum daging pang-

gang yang lezat.

Suro Blondo murid Penghulu Siluman Kera

Putih dan Malaikat Berambut Api ini mulailah si-

buk menggerogoti ikan panggang tersebut. Sedang

asyik-asyiknya ia menikmati santapannya. Tiba-





tiba telinganya yang sudah sangat terlatih itu me-

nangkap ada suara langkah-langkah kaki mende-

kati ke arahnya. Tanpa membuang waktu lagi Su-

ro melompat ke atas dahan pohon. Sayang ia

hanya dapat menyambar salah satu ikan pang-

gang, sedangkan sisanya tertinggal di pinggir pe-

rapian. "Wiih, ikan ini padahal gurih. Sayang aku cuma sempat membawanya satu. Kalau sedang

makan enak begini rasanya mertua lewat pun ti-

dak kelihatan. Goblok, siapa mertuaku? Satu-

satunya gadis yang aku suka hanya Putri Kilat

Bayangan. Entah di mana dia" ujar si konyol seperti orang berbisik-bisik seperti orang kurang

waras. "Rasanya lebih baik aku turun mengambil ikan itu" katanya memutuskan. Namun belum

sempat ia melakukan sesuatu, tiba-tiba ia melihat

seorang gadis berkulit kuning langsat berwajah

ayu berpakaian hijau. Suro berdecak kagum me-

lihat kecantikan gadis itu. "Untung dia datang bukan pada waktu aku lagi mandi. Kalau sampai

ketahuan, weleh-weleh, aku bisa sial empat puluh

hari" desah Suro.

Lalu Suro memperhatikan gadis itu agak

lama. Ternyata gadis baju hijau tertarik melihat

ikan bakar yang terletak di pinggir perapian ter-

sebut. Setelah celingak-celinguk memperhatikan

sekelilingnya. Ikan bakar milik Pendekar Blo'on

dimakannya tanpa rasa curiga, sikapnya santai.

Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang





tipis kemerahan.

"Enak saja ikanku diambil. Mana boleh be-

gitu?" gumam Suro dalam hati. Ia garuk kepala lagi. Tiba-tiba saja melompat turun.

"Hei... ikanku..." tegas Suro cemberut.

Sepontan gadis baju hijau melengak dan

langsung melompat mundur ketika melihat keha-

diran pemuda berambut hitam kemerahan ini. Se-

jenak lamanya ia memperhatikan Pendekar

Blo'on. Lalu sisa ikan di tangannya ia buang.

"Eii, jangan dibuang mubazir" kata Suro.

Pemuda itu memungut sisa ikan yang dibuang

gadis baju hijau. Ketika Suro bangkit berdiri ia

melongo. Gadis berbaju hijau sudah menghilang

dari hadapannya.

Namun ada sesuatu yang membuatnya me-

rasa aneh. Ia melihat bendera terbuat dari kain

putih. Bendera tersebut diikatkan pada ranting

kayu, pangkal ranting menancap di tanah.

"Bendera putih? He he he... Seperti orang

kalah perang aja" ujar Suro sambil menghampiri.

Merasa penasaran ia langsung mencabut ranting

kayu tersebut.

"Ugkh..."

Dan pemuda ini terbelalak kaget. Ranting

kayu itu tidak dapat dicabut dengan tenaga ka-

sar. Keningnya mengerenyit. Jika gadis baju hijau

itu dapat melakukan hal seperti ini pasti ia memi-

liki tenaga dalam yang sudah sempurna sekali.

"Trondolo Ini sih bukan main-main" gu-

mam si pemuda. Seraya garuk-garuk kepala. Se-





karang ia mengerahkan tenaga dalamnya.

"Huup"

Broll

"Wadoow..."

Begitu kerasnya ia mencabut sampai mem-

buatnya jatuh terduduk, sialnya lagi pantatnya

terhempas di atas batu runcing. Pemuda berbaju

biru ini meringis kesakitan. Ia usap-usap pantat-

nya. "Untung bukan pedangku yang kena. Kalau sampai itu yang tertusuk batu, jika anu yang tertusuk. Bisa-bisa masa depanku jadi suram" geru-tunya sambil nyengir. Bendera putih yang tergu-

lung dibukanya. Mata pemuda konyol ini membu-

lat lebar. Di bolak-baliknya bendera tersebut, mu-

lutnya termonyong-monyong. Tulisan itu cukup

indah, tapi Suro yang sudah diajar tulis baca dan

berhitung oleh kedua gurunya dulu masih sulit

membaca tulisan tersebut. Kening Suro berkerat-

kerut lagi, eeh, kemudian monyong lagi.

"Sialan, ini tulisannya kok susah amat di-

bacanya" desahnya. Ia garuk-garuk kepala. Sesungguhnya bahasa pada tulisan itu sebagaimana

bahasa umum, namun rupanya gadis tadi adalah

seorang ahli hias tulisan, sehingga arti huruf yang samar-samar membuat kepala Suro puyeng. Setelah memperhatikannya agak lama dan lebih teliti

barulah Suro menyeringai kegirangan.

"Ini syair yang bagus Isinya kok aneh,

ya...?" batin Suro dalam hati. Sebentar saja pemuda ini sudah menelitinya baris demi baris ka-





limat yang tertulis pada bendera putih itu.

Manusia dilahirkan berjodoh

Laki-laki dengan perempuan

Bumi berdampingan dengan langit,

Namun tidak pernah menyatu

Siapa yang menjunjung langit?

Siapa yang memegang bumi?

Manusia banyak belajar agar jangan bodoh

Ternyata semakin belajar semakin bodoh

Tambah ilmu tambah bodoh

Tambah pintar tambah goblok

Sesungguhnya manusia itu teramat bodoh-

nya sangat tololnya, semakin gobloknya

Sedikit kepandaian manusia mengatakan

dirinya sakti

Kemudian terlahir keangkuhan, satu ingin

memiliki, satunya lagi ketakutan, akan ditem-

patkan dimana bila ia mati

Luh Jingga ingin jodoh

Ia menciptakan kemegahan dalam waktu

semalam

Tapi kemegahan itu miring, karena hatinya

condong pada wanita

Rata Keindahan, Dara Nirmala

Ia tidak ingin jodoh

Hatinya eondong pada maut

Orang-orang sakti

Orang-orang sakti

Kemegahanmu berdiam di bukit Keangku-

han





Suro seka keringatnya, ia leletkan lidah.

Hanya sedikit saja makna dari baris-baris kata

yang tertulis di atas kain putih itu. Kemudian ia

ingat ketika lewat di daerah Imogiri beberapa hari yang lalu. Ia juga banyak melihat syair-syair yang selalu dikerumuni orang. Syair yang konon ditulis

oleh seorang penyair wanita. Penyair Gagu Suro

sekarang tepuk-tepuk keningnya.

"Kurasa gadis itu tadi penyair gagu yang

dimaksud oleh orang-orang di Imogiri. Tololnya

aku mengapa tidak kukejar? Padahal aku bisa

bertanya padanya apa yang terjadi di bukit

Keangkuhan? Aneh, dia sendiri punya hubungan

apa dengan Ratu Keindahan?" Pendekar Blo'on

golang-golengkan kepala pertanda bingung.

"Apapun yang terjadi di sana bukankah le-

bih baik jika aku mengetahuinya" pikir Pendekar Mandau Jantan. Pemuda berambut kemerahan

ini selanjutnya berlari meninggalkan tepian sun-

gai. Dikejauhan terdengar suara sayup-sayup, se-

perti memaki dirinya sendiri.

Tololnya aku, begonya Suro Punya ilmu la-

ri Kilat Bayangan, kok malah berlari seperti mo-

nyet-monyet terbirit-birit"

Wueees

Brebet

Setelah mengarahkan ilmu lari Kilat

Bayangan, tubuh si pemuda berkelebat-kelebat di

antara pohon-pohon yang dilaluinya. Jika saja

ada orang yang mengetahui perjalanan pendekar





konyol itu, pastilah mereka terkagum-kagum.





* * *



Aripati Ujudana termasuk salah seorang

tokoh kondang, sakti, serakah di daerah gunung

Ceremai. Ia bergelar Si Muka Setan. Bukan kare-

na wajahnya yang buruk. Wajah laki-laki itu cu-

kup tampan, sisa-sisa ketampanannya itu masih

ada walaupun kini umurnya sudah mencapai

hampir 60 tahun. Ia menjadi manusia yang paling

ditakuti di daerah gunung Ceremai, karena selain

kesaktiannya yang tidak terukur, ia memiliki sen-

jata ampuh yang terkenal dengan nama Petala

Langit. Senjata itu berupa roda-roda terbang yang

apabila melayang di udara dapat berubah jadi ba-

nyak bagaikan bintang bertaburan.

Munculnya Penyair Gagu telah menimbul-

kan heboh dan kegemparan di mana-mana. Sam-

pai-sampai kabar itu tersebar di daerah Ceremai.

Aripati Ujudana sebagai pentolan gunung Ceremai

dan telah pula mengasingkan diri, terdorong oleh

rasa keingintahuan akhirnya meninggalkan pen-

gasingan. Pagi itu ketika kabut menyelimuti bukit

Keangkuhan ia sudah sampai di sana. Ia tercen-

gang melihat kedua bangunan megah yang letak-

nya berdampingan tersebut. Antara kedua ban-

gunan itu ia melihat batu besar di atas tanah. Ba-

tu tersebut berbentuk aurat laki-laki lengkap

dengan buah jambunya. Ujung batu yang berben-

tuk aurat itu menghadap ke arah bangunan indah





yang memiliki empat sisi pada bagian atapnya.

Aripati Ujudana atau Si Muka Setan adalah orang

yang paling jarang tertawa dalam hidupnya. Na-

mun kali ini tawanya meledak, ia tertawa seperti

orang kurang waras. Perutnya terguncang air ma-

tanya bercucuran akibat tawanya yang tiada hen-

ti.

Ternyata batu berbentuk aurat itu mem-

punyai suatu kekuatan gaib yang dapat mempen-

garuhi jiwa orang yang melihatnya. Seperti Aripati Ujudana ini. Si Muka Setan sama sekali tidak

menyadari bahwa dirinya telah terpengaruh ke-

kuatan gaib dari apa yang dilihatnya. Sementara

dari bangunan di sebelah barat, yaitu bangunan

yang condong dimana setiap tiang penyangganya

retak di sana sini seperti mau ambruk. Ada satu

kekuatan yang kemudian menggerakkan Si Muka

Setan. Laki-laki berambut panjang ini sambil ter-

tawa-tawa memasuki bangunan yang condong

tersebut. Pintunya yang tertutup langsung mem-

buka secara aneh, Si Muka Setan masuk melalui

pintu itu. Setelah ia berada di ruangan dalam,

pintu menutup kembali. Aripati Ujudana tercen-

gang-cengang melihat keindahan yang terdapat di

bagian dalam bangunan tersebut. Pada setiap

dindingnya terdapat gambar seorang perempuan

cantik luar biasa. Lukisannya memang sungguh

indah. Rasanya tidak seorang pelukis pun di du-

nia ini yang mampu melukis wanita sesempurna

itu.





3


Aripati Ujudana tidak berhenti sampai di

situ saja. Tubuh serta langkah kakinya seperti

tertarik untuk memeriksa ruangan demi ruangan

bangunan yang luas dan memanjang ke belakang

tersebut. Sementara itu suara tawa terus terden-

gar, tidak pernah berhenti hingga membuat sua-

ranya serak sekali. Sampai di sebuah ruangan

lain ia tertegun. Di sana ia melihat sebuah luki-

san lain yang langsung menempel pada dinding.

Lukisan seorang gadis yang sama dalam bentuk

samar sementara ada seorang laki-laki yang se-

dang melambaikan tangannya seakan ingin

menggapai gadis itu. Di belakang si laki-laki yang tidak jelas wajahnya itu terlihat seorang gadis pu-la memakai baju putih. Wajahnya hampir sama

dengan wajah gadis yang satunya lagi. Cuma yang

di belakang laki-laki itu tampak cemberut. Berbe-

da dengan perempuan yang satunya lagi yang

seakan berlari menjauhi si laki-laki. Sedangkan

yang di belakang laki-laki seakan mengejarnya.

Aripati Ujudana semakin keras tawanya

melihat lukisan tersebut. Padahal tidak ada sesu-

atu yang lucu. Demikianlah sambil tertawa-tawa

seperti orang gila itu terus bergerak ke arah ruangan lainnya. Hingga ia melihat tumpukan batu-

batu jambrut serta mutiara yang bertebaran di

atas lantai. Si Muka Setan bermaksud mengambil

barang-barang berharga itu. Ia berpikir jika ia da-





pat membawa barang-barang itu keluar, ia pasti

akan menjadi orang paling kaya. Namun baru sa-

ja jemari tangannya hendak menyentuh salah sa-

tu dari mutiara dan batu jambrut tersebut ada si-

nar putih menyambar tangannya.

Sinar itu membuat tangannya melepuh,

Aripati Ujudana menjerit keras. Ia memandang ke

arah datangnya sinar tadi. Ternyata tidak ada

siapapun di belakangnya. Aripati memaki, ta-

wanya terhenti. Lalu terdengar suara seseorang

yang seakan datang dari ruangan lainnya.

"Jangan kau sentuh barang yang bukan

milikmu Kau telah memasuki bangunan tandin-

gan yang kuciptakan dalam waktu semalam. Be-

rarti kau tidak dapat keluar dari tempat ini sela-

manya. Kau harus bersekutu denganku" kata sebuah suara.

"Mana bisa, aku Si Muka Setan tidak dapat

bekerja sama dan bersekutu dengan siapapun"

bantah Aripati.

"Setiap pintu terkunci, tidak pernah terbu-

ka tanpa seizinku. Kau tidak mungkin dapat me-

nembusnya tanpa bantuanku. Walau kau mem-

punyai kesaktian setinggi gunung"

"Siapa kau? Tunjukkanlah wajahmu dan

datang kepadaku"

"Datanglah kau kemari Kau segera melihat

siapa aku yang sebenarnya" sahut suara itu.

Seumur hidupnya Aripati tidak pernah diperintah

orang lain. Biasanya dialah yang memberi perin-

tah. Itu sebabnya ia tetap bertahan pada tempat-





nya. Namun tanpa disangka-sangka seakan ada

kekuatan gaib yang menyeretnya. Aripati bergerak

diluar kehendak hatinya. Ia tetap berusaha berta-

han, tapi malah ia tersungkur bahkan seperti ada

suatu kekuatan yang menyeretnya. Jika saja to-

koh berkepandaian tinggi seperti Aripati ini tidak berdaya melawan kekuatan gaib tersebut, dapat

dibayangkan betapa kesaktian orang yang bicara

tadi. Gluduk

Aripati terguling-guling di sebuah ruangan

yang sangat luas. Pada setiap bagian dinding ter-

dapat gambar-gambar laki-laki yang sedang me-

nangis. Gambar laki-laki itu sama persis dengan

lukisan yang di depan tadi. Aripati bangkit berdiri dengan perasaan terheran-heran. Ketika ia

layangkan pandangan matanya. Di tengah-tengah

ruangan, tepatnya di atas batu pualam putih ber-

bentuk empat persegi duduk seorang laki-laki.

Pakaiannya hancur lapuk dimakan waktu, Aripati

tidak dapat melihat wajah orang ini karena posi-

sinya memunggungi. Laki-laki itu mengelilingi ba-

tu tersebut, bergerak ke depan untuk melihat wa-

jah orang yang rambutnya menjuntai ke lantai.

Dan Si Muka Setan pun terkesiap, dari ke-

dua mata orang ini ternyata mengucur air mata

yang tidak kunjung henti. Sungguh pun kedua

kelopak matanya dalam keadaan terpejam, na-

mun air mata yang keluar tidak pernah berku-

rang. Apa yang membuat laki-laki ini menangis





sepanjang masa, itulah yang membuat Aripati

terheran-heran.

"Ternyata aku hanya melihat seorang laki-

laki cengeng. Huh... aku harus keluar dari tempat

ini untuk memeriksa bangunan yang di sebelah

timur" dengus Si Muka Setan. Mendengar kata-

kata Aripati. Sosok yang duduk di atas batu tam-

pak bergetar. Matanya membuka seketika. Me
mandang pada Aripati dengan sorot tajam menge-

rikan. "Kau anak manusia, kutahu namamu, ge-

larmu, bapak moyangmu, umurmu dan sampai

dimana kesaktianmu Kau telah memasuki ban-

gunan megah yang kuciptakan semalam. Berada

di sini berarti kau tidak akan keluar, kau harus

bersekutu denganku. Manusia sakti yang tidak

ada duanya. Kau tidak boleh pergi ke bangunan

yang terletak di sebelah timur itu. Karena di sana tinggal manusia suci, wanita yang dulu sangat

aku cintai. Namun ternyata ia lebih cinta pada

kematiannya Laki-laki sepertiku punya banyak

kekurangan dan kelebihan. Manusia diberi sepu-

luh akal, sembilan untuk laki-laki, satu untuk pe-

rempuan. Manusia diberi sepuluh nafsu, satu un-

tuk laki-laki, sembilan untuk perempuan. Tapi

sembilan nafsu yang dimiliki wanita tertutup oleh

rasa malu. Tahukah kau bahwa aku terjebak da-

lam cinta Ini yang mengalahkan sembilan akal

yang kumiliki. Aku runtuh oleh satu nafsu yang

ada padaku. Aku teramat sangat mencintainya,

tapi ia tidak mencintaiku. Ia teramat sibuk memi-





kirkan kematiannya, karena sesungguhnya ia cin-

ta pada mati. Sementara itu ada perempuan lain

yang mencintaiku, tapi aku tidak suka padanya.

Nah perempuan itulah yang menjadi musuhku

dan musuhnya" kata si kakek tua. Kemudian ia mengulang-ulangi ucapannya.

"Ia perempuan suci, jangan kau pergi ke

sana Aku tidak suka melanggar janji Aku tidak

suka" kata orang ini.

"Siapa kau? Mengapa begitu lemahnya kau

menjadi manusia?" sentak Si Muka Setan. Kakek tua itu mengangkat wajahnya dan memandang ke

langit. Air mata semakin deras menetes memba-

sahi pipi. Walaupun memang tangisnya tidak

pernah terdengar.

"Aku Lu Jingga, bergelar Datuk Tinggi Raja

Di Angin. Kau mungkin pernah mendengar na-

maku, atau mungkin tidak bukanlah soalan..."

Aripati langsung memotong. "Aku pernah

mendengar kakekku dulu bercerita ada seorang

tokoh sakti yang memiliki umur ratusan tahun.

Orang itu bisa menciptakan gedung-gedung me-

gah hanya dalam waktu semalaman. Konon ia di-

bantu oleh masyarakat Jin untuk mewujudkan

sesuatu. Jika benar kau Datuk Tinggi Raja Di An-

gin. Aku ingin tahu berapa umurku sekarang dan

dapatkah kau menciptakan apa yang kau bangun

ini dalam bentuk yang sangat kecil sebagai ti-

ruannya?"

Datuk Tinggi Raja Di Angin memperhatikan

Si Muka Setan. Kemudian terdengar suaranya





seakan berseru dan ditujukan pada makhluk-

makhluk yang tidak terlihat.

"Ada anak manusia yang memintaku agar

membuat duplikat bangunan ini. Wahai anak bu-

ahku yang berada di alam gaib. Adakan segera

dalam waktu sekedipan mata" kata Lu Jingga.

Aripati melotot memperhatikan kemungkinan

yang terjadi. Namun ia tidak kuat menentang ma-

ta hingga membuat matanya berkedip. Tahu-tahu

di depan kakek rambut putih bersenjata roda ber-

gerigi ini telah tercipta sebuah bangunan yang

sama persis dengan bangunan besar tersebut.

"Ternyata kau benar Kau Datuk Tinggi Ra-

ja Di Angin. Tapi mengapa kau mengurung diri

seperti ini dan dalam keadaan selalu menangis

pula?" bertanya Si Muka Setan. Lu Jingga seka air matanya, seraya menarik nafas dalam-dalam.

Ekspresi wajahnya sulit dibaca. Setelah itu ia bi-

cara dengan perasaan segan.

"Panjang ceritanya Ini sebenarnya adalah

suatu rahasia yang memalukan. Tapi jika kau in-

gin tahu, sebagai orang yang pertama datang ke

sini. Aku ingin kau mendengarnya baik-baik." ka-ta Datuk Tinggi Raja Di Angin. Kemudian ia sege-

ra menuturkan segala sesuatunya secara jelas.

Sekitar dua ratus tahun yang lalu, ada seo-

rang pemuda memiliki kepandaian sangat tinggi.

Ia mempelajari ilmu silat dan berbagai kesaktian

dari satu negeri ke negeri lainnya. Sampai kemu-

dian kesaktiannya setara dengan para dewa. Na-

mun ia tetap berpetualang, hingga sampailah ia di





Lembah Silau Dunia. Di lembah itu tinggal dua

orang kakak beradik, dua-duanya berwajah can-

tik bagai bidadari. Yang paling tua bernama Dara

Nirmala sedangkan adiknya bernama Dara Alindi.

Pemuda itu jatuh cinta pada Dara Nirmala dalam

pandangan pertama. Cinta sejati, sebaliknya adik

gadis itu yang bernama Dara Alindi jatuh cinta

pada pemuda itu. Tentu saja dia tidak menangga-

pi, karena cintanya hanya untuk Dara Nirmala.

Gadis suci yang selama hidupnya memikirkan ha-

ri kematiannya. Dara Nirmala selalu bertanya-

tanya bila ia mati nanti masuk surga atau nera-

ka? Sehingga ia tidak pernah menghiraukan cinta

pemuda itu. Walaupun pemuda itu telah duduk

bersimpuh di dekat pemujaan sang gadis selama

bertahun-tahun.

Sebaliknya gadis yang bernama Dara Alindi

selalu datang menggoda dan merayunya. Gadis

ini juga punya kesaktian yang tidak terukur. Pe-

muda itu ternyata tetap teguh pada pendiriannya.

Ia menunggu Dara Nirmala, hingga pakaiannya

lapuk dimakan panas dan hujan. Dara Nirmala

tersentuh juga hatinya, ia menjumpai pemuda itu

sehingga terjadilah pembicaraan yang cukup pan-

jang. "Wahai pemuda gagah, apa perlumu me-

nungguku? Padahal kau telah mengetahui pendi-

rianku. Keputusanku tidak berubah Kau manu-

sia sakti, aku juga wanita sakti. Apa yang kau

bayangkan tentang diriku, sama artinya kau me-

lakukan sesuatu sebagaimana yang ada dalam





hatimu. Perkataan hatimu ataupun perkataan

mulutmu selalu didengar oleh Gusti Allah. Manu-

sia sakti seperti kita kata-katanya manjur, uca-

pan hatinya terkabul. Tidakkah kau berpikir

bahwa itu akan membahayakan dirimu dan diri-

ku. Kalau kau suka mengapa kau tidak mau ber-

dampingan dengan adikku, ia mencintaimu" kata Dara Nirmala dengan kata-kata yang sangat halus

dan merdu.

"Cinta tidak dapat dibantah, kata hati jeri-

tan jiwa tidak dapat kudustai. Cintaku hanya un-

tukmu"

"Kau tetap ngotot. Bicaramu dan apa yang

kuucapkan terkabul. Tidakkah kau takut?"

"Cinta sejati tidak mengenal rasa takut"

sahut si pemuda.

"Baiklah Aku akan mempertimbangkan

pertanyaanmu Sebagai orang yang tidak berdus-

ta. Aku akan mengajukan dua pertanyaan pada-

mu, jika kau dapat menjawabnya. Aku bersedia

menjadi isterimu Jika kau tidak mampu menja-

wabnya, maka sebaiknya kau pergi dari sini"

"Syaratmu aku penuhi, sekarang tanyalah

apa yang ingin kau tanyakan"

"Karena aku kurang suka tinggal di dunia

ini. Pertanyaanku pertama bila aku mati dan di-

kubur. Apakah di alam kubur aku mendapat sik-

sa atau tidak?"

"Itu persoalan gaib, hanya Gusti Allah yang

dapat menjawabnya" jawab si pemuda dengan jujur. "Apa pertanyaan yang kedua?"





"Pertanyaanku yang terakhir. Setelah aku

mati apakah aku masuk surga atau neraka?"

"Itu juga urusan Tuhan, aku tidak bisa

menjawabnya" kata si pemuda.

"Kalau begitu pergilah cepat Jangan kau

duduk di depan pintu tempat aku memuja kebe-

saran-Nya"

"Berilah aku tangguh hingga besok. Pagi-

pagi sekali aku pasti meninggalkan tempat ini"

Dara Nirmala sama sekali tidak menyahut,

ia menutup pintu rapat-rapat, sedangkan pemuda

sakti itu tetap duduk di situ menunggu datangnya

pagi. Malamnya baik Dara Nirmala maupun si

pemuda sama-sama bermimpi melakukan hu-

bungan suami isteri. Dara Nirmala merasa sea-

kan-akan dirinya menjadi hamil akibat mimpi itu.

Sebagai orang suci yang sakti, mimpi bukan

hanya sekedar mimpi karena bisa berubah men-

jadi sebuah kenyataan.

Terdorong oleh perasaan bingung dan rasa

bersalah yang sangat mendalam. Malam itu juga

Dara Nirmala yang merasa dirinya telah ternoda

meninggalkan tempat pemujaannya. Kejadian ini

diketahui oleh si pemuda. Ia pun menyusul, ke-

jar-kejaran pun terjadi di sepanjang pulau Jawa.

Hingga dua-duanya merasa letih dan Dara Nirma-

la tersusul setelah berada di puncak bukit yang

terletak di sebelah barat daya Imogiri.

Di sini perdebatan sengit terjadi.

"Kau terlalu keras kepala Kau pasti mem-





bayangkan sedang melakukan hubungan cinta

denganku" tuduh Dara Nirmala sambil menangis.

"Bayangan itu hanya terlintas sepintas sa-

ja" Si pemuda mengakui.

"Tidakkah kau ingat bahwa apa yang kau

bayangkan sering menjadi kenyataan? Aku benci

pada manusia lemah sepertimu Kau punya sem-

bilan akal, namun kesembilan akalmu tidak

mampu mengendalikan nafsumu yang cuma satu.

Aku punya sembilan nafsu, tapi sembilan nafsu-

ku dapat dikendalikan oleh akalku yang cuma sa-

tu Akibat mimpi itu telah membuatku ternoda.

Kini aku hamil, memalukan sungguh memalu-

kan" teriak Dara Nirmala.

"Tapi bukankah kau dan aku hanya ber-

mimpi saja?"

"Kau manusia bodoh, orang sakti tolol.

Mimpi adalah lebih berbahaya dari kenyataan.

Bertaubatlah kau, jangan ganggu aku Kelak anak

ini akan terlahir. Malam nanti akan kuciptakan

sebuah gedung tempat tinggalku dan mengurung

diri" tegas Dara Nirmala.

"Aku bersedia bertanggungjawab atas se-

mua yang terjadi" kata si pemuda yang tidak lain adalah Lu Jingga.

"Tidak Sebaiknya bertaubatlah kau mulai

hari ini. Dan ciptakan sebuah gedung untuk pen-

gasinganmu jika kau punya kemampuan" tan-

tang si gadis.

"Aku dapat melakukannya. Bukit ini ku-

namakan bukit Keangkuhan. Sebagai rasa penye-





salanku aku akan menangisi segala apa yang ter-

jadi pada dirimu"

"Itu lebih baik, dan jangan kau ganggu aku

lagi. Seandainya hal itu kau lakukan, jalan terak-

hir aku terpaksa membunuhmu" ancam Dara

Nirmala.

Benar saja malamnya dengan kesaktian

yang dimiliki masing-masing mereka membangun

sebuah gedung. Hanya para Jin yang membantu

Dara Nirmala lebih banyak dan lebih cepat. Se-

dangkan Jin yang berada di bawah pimpinan Lu

Jingga jumlahnya terbatas. Hingga kokok ayam

terdengar dua bangunan telah berdiri. Bangunan

milik si pemuda tidak sempurna betul, bahkan

miring ke arah bangunan Dara Nirmala. Beberapa

tiangnya retak-retak. Konon ada salah satu Jin

yang iseng dan meletakkan batu berbentuk aurat

laki-laki. Dan mengandung kekuatan gaib yang

dapat mempengaruhi orang lain. Siangnya ban-

gunan itu jadi sunyi, Dara Nirmala maupun Lu

Jingga sudah tidak terlihat lagi.

Di luar kesadaran mereka, rupanya Dara

Alindi yang tertinggal di Lembah Silau Dunia

menjadi marah dan menyimpan dendam terlebih-

lebih pada Lu Jingga alias Datuk Raja Di Angin, ia telah bertekad untuk melakukan pembalasan terhadap saudara dan pemuda yang telah mem-

buatnya sakit hati tersebut.

"Tidak disangka, Kak Nirmala minggat ber-

sama Lu Jingga Katanya tidak suka, tapi kulihat

dalam mimpiku Dara Nirmala bunting malah





Orang munafik Kalian berdua nanti akan mera-

sakan pembalasan yang setimpal" geramnya pe-

nuh rasa dendam yang menyala-nyala. Untuk di-

ketahui, mereka ini punya ajian yang membuat

diri mereka tetap awet muda walaupun usia su-

dah melewati ratusan tahun. Terlebih-lebih Dara

Nirmala dan Dara Alindi ini. Sejak saat itu Dara

Alindi yang merasa dikhianati kakaknya mulai

melakukan persiapan-persiapan yang cukup ma-

tang. Ia bahkan terus memperdalam kesaktian

yang dimilikinya. Beberapa tahun kemudian ia

mulai bergentayangan mencari kakaknya juga

pemuda yang telah membuatnya kecewa.

"Aku sudah bercerita banyak, apakah kau

sudah memahaminya?" tanya Datuk Raja Di An-

gin kemudian. Si Muka Setan anggukkan kepala

dengan perasaan takjub.

"Kesaktian yang dimiliki oleh orang dulu

sangat luar biasa sekali. Bagaimana dengan

anakmu dari hasil hubungan dalam mimpi itu?"

tanya Aripati ingin tahu.

"Kurasa sekarang ia sudah dewasa. Aku ti-

dak pernah keluar meninggalkan gedung ini. Itu

sudah menjadi kesepakatan. Anakku mungkin di-

asuh oleh para Jin. Untuk itu kuminta padamu

Jangan kau pergi ke bangunan di sebelah timur

itu setelah datang ke gedung ini, apa yang kau la-

kukan dapat menimbulkan fitnah. Sebab aku me-

rasa yakin cepat atau lambat Dara Alindi pasti

datang ke sini untuk menghancurkan aku atau

kakaknya sebagai pelampiasan rasa sakit hati





yang dialaminya"

"Baiklah, aku turuti permintaanmu, mulai

saat ini aku bersedia bersekutu denganmu" tegas Aripati Ujudana.





4


Si tua berpakaian putih dan membawa-

bawa buntalan seperti orang yang mau pindah te-

rus mendekam di semak-semak kering yang terle-

tak tidak jauh dari bukit Keangkuhan. Ia sudah

melihat paling tidak tiga orang laki-laki dan ke-

marinnya lagi seorang laki-laki bersenjata roda

bergerigi.

"Sudah dua hari aku mendekam di tempat

ini. Tapi tidak satu pun di antara mereka yang be-

rangkat ke sana kembali. Seingatku kalau tidak

salah orang bersenjata roda masuk ke dalam ge-

dung condong yang terletak di sebelah barat itu.

Kemudian orang itu tertawa seperti orang gila

Sebenarnya apa yang membuatnya tertawa? Dan

tiga laki-laki lainnya menuju gedung yang megah

tersebut. Dua di antara mereka jalannya seperti

mau jatuh Itu pasti Iblis Pemabukan dan Setan

Arak, yang satunya aku tidak kenal. Setelah ma-

suk, mereka pun kulihat tidak pernah keluar.

Eeh... apa mereka menemukan harta karun, ya?

Atau mungkin di dalam gedung mewah itu ber-

diam gadis-gadis cantik Aku sih tidak ngiler, aku cuma ingin tahu rahasia di balik syair-syair si ga-





gu. Gadis misterius itu sebenarnya siapa?" kata si kakek. Ia bangkit berdiri, kemudian tarik celananya yang selalu melorot ke bawah bila ia mena-

rik nafas.

Kakek rambut putih ini kemudian me-

nyandarkan punggungnya di bawah sebatang po-

hon kering. Melihat ke atas pohon yang gersang ia

jadi bosan sendiri.

"Aneh, pohon di sini tidak ada yang tum-

buh. Benar kata orang-orang di Imogiri bahwa

daerah ini merupakan daerah keramat dan ang-

ker" Si kakek mengomel lagi. Orang ini julurkan kepala lagi, memandang ke arah kedua bangunan

tersebut terasa sepi-sepi saja. Selagi ia sibuk

memperhatikan gedung-gedung itu. Tanpa dis-

adarinya seseorang telah berdiri di situ. Jika seorang tokoh seperti Dewa Sinting yang punya se-

gudang ilmu saja tidak dapat mengetahui kehadi-

ran orang itu, dapat dibayangkan betapa ting-

ginya tingkat kepandaian pendatang yang tidak

diundang ini.

"Apa kerjamu di sini Apakah kau tamu sa-

lah satu dari pemilik gedung mewah itu? Mengapa

tidak cepat masuk?" tegur orang itu, suaranya dingin menusuk.

"Edan, ada orang datang aku sampai tidak

tahu Jika ia membawa maksud tidak baik tentu

sejak tadi aku sudah mampus" maki Dewa Sint-

ing ditujukan pada dirinya sendiri. Cepat ia me-

noleh, terlihat olehnya seorang laki-laki setinggi satu setengah batang tombak. Orang ini memiliki





empat wajah. Masing-masing wajah mempunyai

empat mulut. Matanya berjumlah delapan, hi-

dungnya sumplung.

Kepala cuma satu, tapi besarnya bukan

main. Hampir tujuh kali kepala orang biasa.

Hanya badannya yang tinggi itu kurus kering, bila

mulutnya yang satu membuka, maka mulut

yang lainnya ikut membuka pula.

"Aku bukan tamu dari pemilik gedung itu.

Di sini aku cuma melihat-lihat saja. Aku tertarik

dengan kata-kata yang terdapat dalam syair si

wanita gagu Engkau sendiri siapa orang aneh,

apa maksud tujuanmu datang ke tempat ini?"

tanya Dewa Sinting.

"Apa perlumu bertanya apa tujuanku. Yang

boleh kau ketahui, aku si Empat Wajah, namaku

Trigada." jelas laki-laki berkepala besar berwajah empat tersebut disusul dengan tawa tergelak-gelak. "Heh..." Dewa Sinting melengak kaget.

"Bukankah kau makhluk tanpa pendirian?" sahut Dewa Sinting sambil melangkah mundur. Terus

terang ia sendiri memang baru sekali ini bertemu

dengan Trigada, namun dari apa yang didengar-

nya selama puluhan tahun lalu. Laki-laki di de-

pannya adalah makhluk yang tidak punya pendi-

rian dan terkadang dapat melakukan pembunu-

han tanpa diduga-duga.

"Kau kelihatannya kaget Adakah sesuatu

yang kau ketahui tentang diriku ini?" tanya Si Empat Wajah delapan biji matanya tampak melo-





tot. Dewa Sinting gelengkan kepala.

"Hmm, ketahuilah di dalam gedung itu ada

kekasihku. Mungkin saat ini ia sudah berada di

sana. Aku ini makhluk paling cepat cemburu Aku

tidak ingin melihat ia berdua-duaan dengan orang

lain" tegas Trigada.

"Apakah kekasihmu itu seperti dirimu?"

Si Empat Wajah menggeleng.

"Tidak Dia manusia seperti golonganmu,

wajahnya cantik. Aku bersedia membantunya

mengatasi persoalan yang membuatnya susah.

Untuk itulah ia bersedia menjadi kekasihku Apa-

kah kau melihatnya lewat di sekitar sini?"

"Sama sekali aku tidak melihat siapa-siapa.

Kurasa di dalam bangunan itu ada setannya, se-

hingga ketika aku berdiri di sini, tengkukku me-

rinding" kata Dewa Sinting setengah bergurau.

"Akulah setan Kau jangan bicara semba-

rangan. Bagaimanapun aku harus segera ke sana.

Untuk keterangan yang kau berikan, inilah oleh-

oleh untukmu..." kata Trigada. Kemudian sambil melangkah lebar-lebar ia kibaskan tangannya.

Dari jemari tangan tersebut menderu gelombang

hawa panas luar biasa. Dewa Sinting jungkir balik

selamatkan diri. Tidak urung serangan mendadak

itu membuat hangus buntalan di punggungnya.

Dewa Sinting memaki-maki sambil padam-

kan api. Ia memandang ke arah perginya Si Em-

pat Wajah. Namun orang itu sudah tidak keliha-

tan lagi.

"Duh sialan Keparat tidak tahu rasa terima





kasih. Seharusnya aku kejar dia dan buat perhi-

tungan Tapi..." Dewa Sinting meragu dan tarik celananya yang melorot.

"Aku belum pernah bentrok dengan mak-

hluk bermulut empat itu. Kudengar dulu ia memi-

liki kesaktian luar biasa. Sebaiknya aku tunggu

lagi di sini. Suasana pasti bakal ramai. Tapi aku

haus, tidak ada air terkecuali kali yang di bela-

kang sana." pikir Dewa Sinting. Baru saja ia hendak melakukan sesuatu, terdengar suara di bela-

kangnya.

Gluk Gluk Gluk

Cepat sekali Dewa Sinting menoleh. Ter-

nyata tidak jauh di belakangnya tampak seorang

pemuda berpakaian biru berambut hitam keme-

rahan sedang meneguk air dari dalam kendi. Ter-

bit selera dahaga Dewa Sinting, jakunnya turun

naik. Si pemuda bersikap acuh tak acuh. Ia ma-

lah memamerkan kendinya dan menuangkan isi

kendi sambil garuk-garuk kepala.

"Hmm, enak betul. Tidak ada yang lebih

berharga di tempat segersang ini terkecuali air.

Apalagi yang kubawa mengandung rasa madu,

gula, berbau sedikit arak dan bermacam-macam

lagi rasa yang tidak ada duanya" kata si pemuda yang tidak lain adalah Suro Blondo.

"Betulkah apa yang kau katakan?" sahut

Dewa Sinting, seraya menelan ludah sambil tarik

celananya yang melorot.

"Hmm, luar biasa enaknya" Suro meneguk

air dalam kendinya.





"Heh, apakah kau tidak mendengar kata-

kataku?" bentak Dewa Sinting. Kakek tua ini melompat ke depan sambil berusaha merampas ken-

di di tangan Suro. Si konyol bersikap acuh tak

acuh, ketika tangan Dewa Sinting hampir berhasil

menjangkau kendi di tangan Suro. Pemuda ini

meliukkan tubuhnya dengan gerakan seperti see-

kor monyet menari.

Wuees

"Heh..."

Terperanjatlah Dewa Sinting. Sama sekali

ia tidak menyangka pemuda ini dapat menghinda-

ri serangannya. Penasaran ia melompat lagi, kali

ini tangannya menampar wajah Suro sedangkan

kaki menendang ke bagian pantat pemuda itu.

Serangan itu memang cukup berbahaya, selain

sangat cepat sekali. Suro berjingkrak mundur.

Ketika tangan dan kaki Dewa Sinting hampir

menjangkau sasaran. Suro melompat sambil

jungkir balik seperti monyet yang sedang main

sirkus. "Sialan Berikan kendi itu padaku Apa kau memilih mampus" bentak Dewa, Sinting sewot. Suro termonyong-monyong. "Kau hendak

merampok atau minta, kakek gendut Kalau min-

ta silakan ambil sendiri, jika mau merampok

sampai botak ubanan kau tidak bakalan menda-

patkan kendi ini Ha ha ha..."

"Kurang ajar Kau hendak mempermainkan

aku" teriak Dewa Sinting marah.





Dewa Sinting mulai mengerahkan jurus-

jurus mautnya. Sesuai dengan julukannya yang

sinting. Ketika ia hendak melancarkan serangan-

nya, si kakek menari-nari sambil berputar-putar.

Setelah itu sambil tarik celananya ia berteriak keras. Tubuhnya yang besar itu tiba-tiba saja mele-

sat ke arah Suro. Si konyol kerahkan jurus 'Kera

Putih Memilah Kutu'. Bertarunglah kedua orang

ini seperti orang gila tidak karuan juntrungnya.

Yang satu berusaha selamatkan kendi sambil ber-

jingkrak, berjongkok atau berguling-guling. Se-

dangkan yang satunya lagi melakukan serangan

sambil menari-nari. Tarian Dewa Sinting berubah

menjadi serangan-serangan yang sangat dahsyat.

Suro kalang kabut. Namun tidak berlang-

sung lama, segera pemuda ini lipat gandakan te-

naga dalamnya. Sekarang ia sudah mengerahkan

jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.

Bet

Deb Bet

Tanpa berubah dari gerakan dan langkah

monyet. Tiba-tiba saja Suro Blondo tampak berke-

lebat lenyap dari pandangan Dewa Sinting. Tubuh

pemuda ini seakan menjadi banyak dan bergerak

cepat mengelilingi Dewa Sinting. Berulang kali

Sure menerobos pertahanan lawan sambil laku-

kan serangan bertubi-tubi.

Dewa Sinting bersurut mundur. Dalam hati

diam-diam memaki di samping ia sendiri merasa

takjub. Jurus-jurus monyet Suro adalah jurus

langka yang seingatnya hanya dimiliki oleh Peng-





hulu Siluman Kera Putih. Ada hubungan apa pe-

muda bertampang ketololan ini dengan Penghulu

Siluman itu? Dan Dewa Sinting sudah tidak ber-

pikir lebih jauh. Posisinya kini bukan menyerang,

malah dia didesak mati-matian. Si kakek tidak

tinggal diam, ia tarik celananya lagi yang melorot sambil mempergunakan jurus lebih ampuh. Jurus itu dikenal dengan nama 'Menggapai Langit

Dilamun Rindu'.

"Hea..."

Tiba-tiba saja si kakek melesat ke udara.

Di udara ia melakukan tarian kilat. Lalu tubuh-

nya meliuk-liuk dan meluncur cepat ke bawah.

Tangan menghantam bahu lawan. Sedangkan ka-

ki menendang pinggang Suro. Pendekar Mandau

Jantan berkelit. Sayang gerakannya kalah cepat.

Bahu kirinya kena dihantam Dewa Sinting,

meskipun merasa sakit bukan main. Ia berbalik

hindari tendangan kaki. Tangan kanannya me-

nyambar asal-asalan.

Srosot

Plak

"Keekh..."

Tidak pelak lagi pemuda ini jatuh terduduk

pegangi kendi. Bibirnya mengucur darah. Walau-

pun ia merasa seperti hendak mampus dan ba-

hunya seakan remuk. Namun akhirnya tertawa-

tawa melihat Dewa Sinting seperti orang kebaka-

ran jenggot dan memaki-maki.

"Bangsat Berani-beraninya kau memper-

malukan aku Anak setan Pasti gurumu lebih se-





tan lagi" teriak Dewa Sinting. Ia tarik celananya yang sempat melorot sebatas lutut. Suro tertawa-tawa seperti orang kurang waras. Ia memukul-

mukulkan tangannya ke tanah. Kakinya bergerak-

gerak seperti anak kecil. Ia lupa dengan rasa sakit yang dideritanya.

"Ki, rupanya Tuhan adil Kalau rambut

yang di atas putih yang di bawah ikut memutih

juga. Kau sudah tua bangka, Ki. Sudah mendeka-

ti mampus mungkin, tapi kau memakai celana sa-

ja tidak becus"

"Bangsat Hii..."

Disertai kemarahan yang meluap-luap,

Dewa Sinting menerkam leher si konyol sambil

berusaha merampas kendi di tangannya. Suro

menggeser pantatnya. Sayang gerakan pemuda ini

kalah cepat. Hingga lehernya kena dicekik lawan

dan kendi sekarang jadi rebutan. Suro mendelik,

lehernya seperti dijerat kawat baja. Namun ia ma-

sih dapat memaki.

"Kau benar-benar sudah gila, Ki Kau hen-

dak memperkosaku, padahal kau tahu kita punya

sama. Apakah kau menantangku bermain tong-

kat?" "Anak setan Aku akan mengirimmu ke neraka" teriak Dewa Sinting tidak ubahnya seperti orang yang sedang bertarung dengan musuh be-buyutannya saja.

Buk

"Hukh..."

Dewa Sinting meninju perut Suro, pemuda





itu menjerit. Andai saja si konyol tidak lindungi

perutnya dengan tenaga dalam. Isi perutnya pasti

cerai berai. Sementara kendi hampir saja dapat

dirampas. Akal cerdik Suro dalam keadaan terde-

sak seperti itu timbul. Ia menggeser kakinya, den-

gan mempergunakan lutut ditendangnya selang-

kangan Dewa Sinting.

Brot

"Huagkh..."

Dewa Sinting terhempas ke belakang, jeri-

tannya seakan merobek langit. Perutnya mulas

bukan main. Ia pegangi anunya sambil berguling-

guling akibat menahan sakit yang sangat luar bi-

asa. Suro usap-usap lehernya yang masih me-

merah, kemudian terdengar suara tawanya terke-

keh-kekeh.

"Ha ha ha... Apes betul nasibmu hari ini,

Ki. Mimpi apa kau semalam? Pernahkah kau

bermimpi kejatuhan bintang, kejatuhan bulan,

kemudian kejatuhan durian? Katanya pertanda

baik, Ki."

Dewa Sinting sama sekali tidak menyahut.

Ia duduk mendekam seperti ayam mau nelor. Dia

urut-urut bagian itu. Tiba-tiba tangannya menye-

linap di balik celana. Setelah ia raba-raba ternya-ta yang bulat-bulatnya masih ada dan potongan

tebu yang cuma sejengkal pun masih ada, walau-

pun agak bengkak. Sebenarnya jika ia mau mem-

balas ulah pemuda berambut kemerahan itu, De-

wa Sinting mampu. Rasanya ia tidak bakalan





kalah, namun bila mengingat jurus-jurus yang

dipergunakan Suro. Ia khawatir pemuda itu ma-

sih punya hubungan tertentu dengan Penghulu

Siluman Kera Putih. Di samping pemuda ini juga

tampaknya dari kalangan baik-baik. Hanya wa-

taknya saja yang konyol terkesan seperti orang

kurang waras.

Si kakek tarik celananya setelah berdiri.

Memperhatikan Suro sejenak lamanya, kemudian

terdengar suaranya agak sinis.

"Punya hubungan apa kau dengan Penghu-

lu Siluman Kera Putih?"

Pendekar Mandau Jantan melengak kaget.

Matanya berkedap-kedip, seraya seka keringat

yang menetes di keningnya.

"Engkau hendak minum, Ki. Mintalah baik-

baik Air dalam kendi ini masih setengah dan

akan kuberikan padamu" kata Suro seakan tidak menghiraukan pertanyaan Dewa Sinting.

"Jawab pertanyaanku atau kau meminta

aku mengirimmu ke liang lahat?" bentak si kakek.

Pendekar Blo'on menggumam. Namun kemudian

bicara secara tegas.

"Penghulu Siluman Kera Putih yang seten-

gah edan itu guruku, Ki. Aku heran bagaimana

kau bisa mengetahui aku muridnya?" tanya Suro.

"Ha ha ha.... Melihat jurus-jurusmu, dan

setelah melihat keedananmu. Tentu saja du-

gaanku tidak melesat, ketahuilah aku Dewa Sint-

ing Datang ke sini berhubungan dengan syair-

syair yang menarik itu Lalu kau bocah goblok





untuk urusan apa kau datang ke bukit Keangku-

han ini?" bertanya Dewa Sinting sambil senyum.

"Salaman dulu, Ki. Kita punya tujuan yang

sama" jawab Suro, ia datang menghampiri den-

gan tangan terulur bermaksud salaman. Tapi De-

wa Sinting menepis tangannya. Tangan lain me-

nyambar dan kendi berisi air telah berpindah ke

tangan Dewa Sinting.

Gluk Gluk Gluk

Dengan nikmat Dewa Sinting meneguknya

hingga tuntas.

"Jangan kau habiskan" teriak Suro mencegah. Percuma saja ia berteriak. Kendi telah ko-

song. Kesudahannya si kakek memukulkan kendi

tersebut ke kepalanya hingga hancur berantakan.

Tidak lama terdengar suara tawa puas si kakek.





5


"Kalau sudah begini kau bisa apa. Untung

tidak kupecahkan kepalamu sebagai balasan atas

sikapmu yang kurang ajar karena telah membuat

bengkak adikku" hardik Dewa Sinting.

Suro terkekeh, "Apakah sudah kau periksa,

Ki. Barangkali adikmu terbang meninggalkanmu?

Bukankah tempat persembunyiannya yang me-

nyeramkan itu telah kuketahui" Seenaknya saja Pendekar Blo'on menyahuti

"Pemuda gila? Aku pernah mendengar si-





kapmu yang konyol, keedananmu dan juga keti-

dak warasan otakmu. Kuharap hari ini kau tidak

bicara seenak perutmu. Kau lihatlah kedua ban-

gunan itu" Dewa Sinting menunjuk ke arah bangunan. Suro memperhatikan dengan mulut ter-

monyong-monyong saking seriusnya.

"Memang ada apa dalam bangunan itu

orang tua sinting?" bertanya Suro tanpa menga-lihkan perhatiannya dari kedua bangunan terse-

but. "Sudah dua hari aku mendekam di sini

Aku sudah melihat ada empat orang yang masuk

ke dalam bangunan yang terletak di sebelah timur

itu dan satunya lagi masuk ke dalam bangunan

yang berada di sebelah barat Sampai sekarang

tidak seorang pun di antara mereka ada yang ke-

luar" "Siapa sebenarnya penghuni gedung itu?"

tanya Suro ingin tahu.

"Aku kurang tahu. Kurasa satu-satunya

orang yang bisa memberi jawaban adalah Penyair

Gagu itu"

"Hmm, aku pernah melihatnya, sekarang

pun aku sampai ke sini karena mengejarnya.

Sayang aku kehilangan jejak."

"Apakah kau sempat bicara dengannya?"

tanya Dewa Sinting.

"Aku belum sempat. Lagipula bagaimana

aku bisa bicara dengan orang gagu. Kau sendiri

apakah pernah bertemu dengan gadis baju hijau

itu?" Dewa Sinting menggeleng.





"Ada yang kurasakan menarik di sini. Kau

lihatlah tidak satu pun pohon dapat tumbuh di

sini." "Lalu apa yang akan kau lakukan? Menunggu sampai ubanan atau sampai mampus?

Kalau menurutku sebaiknya kita melakukan pe-

nyelidikan di sana. Apakah kau setuju, kakek

sinting?" tanya Suro merasa lebih cepat akrab dengan kakek tua yang celananya yang selalu melorot terus itu.

"Banyak kejadian aneh di sana, jangan-

jangan kita terjebak. Aku melihat seorang laki-

laki yang berada di gedung sebelah barat tertawa-

tawa seperti orang gila. Kurasa ia melihat sesuatu yang lucu, tapi yang kuherankan tawanya seperti

tidak wajar."

"Apakah tidak sebaiknya kita cari dulu ga-

dis baju hijau yang pernah ku lihat beberapa hari

yang lalu?" Suro mengajukan usul.

"Kau yakin dia berlari ke arah sini?"

"Yakin sekali" jawab Suro mantap.

"Tapi aku tidak melihatnya selain orang

yang kusebutkan tadi"

"Mungkin ada jalan rahasia lain yang aman

untuk mencapai gedung itu, Kek. Bagaimana jika

kita mulai mencarinya?"

Dewa Sinting terdiam dan tampak sedang

mempertimbangkan usul Pendekar Blo'on.

"Dua hari di sini selain cuma mendekam

aku memang tidak pernah pergi ke mana-mana.

Kalau aku menuruti keinginanmu berarti aku se-





tuju. Tapi aku kurang yakin apakah ada jalan lain

di sekitar sini."

"Jangan pakai dipikir dan dikira-kira. Ka-

lau kau tidak mau biarkan aku jalan sendiri" ka-ta Suro sewot.

"Ayolah, aku setuju-setuju saja" sahut

Dewa Sinting. Ia mengambil buntalan besar beri-

kut kayu yang menyanggahnya. Tidak lama ia su-

dah mengikuti Pendekar Blo'on yang berjalan ti-

dak jauh di depannya.

Gedung megah yang mempunyai tiang pe-

nyanggah sebanyak dua puluh buah itu bagian

dalamnya memang indah. Pada bagian dinding-

nya berhiaskan intan permata gemerlapan. Si Pe-

rusak Raga yang lebih dikenal dengan julukan

Sang Maut bersama Setan Arak dan Iblis Pema-

bukan begitu sampai di dalam langsung tercen-

gang. Iblis Pemabukan dan Setan Arak memun-

guti mutiara-mutiara yang melekat di dinding itu.

Namun barang-barang berharga tersebut tidak

lama dicampakkan oleh mereka kembali ketika

hidung mereka mengendus bau yang sangat khas,

bau arak wangi.

"Itu kesukaan kita, apakah kau mencium

baunya, Kakang?" bertanya Setan Arak dengan

mata belingsatan.

"Betul. Baunya dari ruangan ini Mari kita

cari" sahut Iblis Pemabukan.

Tanpa menghiraukan Si Perusak Raga yang

sibuk melakukan pemeriksaan. Setan Arak dan





Iblis Pemabukan menuju ke kamar sebelah. Den-

gan sekali dorong pintunya langsung terbuka. Me-

lihat kendi-kendi arak yang jumlahnya mencapai

puluhan, terbelalaklah mata kedua orang ini.

"Kita panen, kita panen Sungguh berun-

tung sekali kita. Pemilik gedung ini ternyata suka menyimpan minuman" kata Setan Arak. Ia mengambil salah satu kendi, dengan serakah ia me-

neguknya.

Gluk Gluk

"Ha ha ha... Enak Ini arak paten yang be-

lum pernah kita jumpai seumur hidup" Karena

penasaran Iblis Pemabukan. juga ikut-ikutan me-

neguk arak tersebut. Rasanya memang lain dari

pada yang lain, harumnya beda dari yang ada.

Jago-jago mabuk ini lama kelamaan mulai mera-

sakan kepalanya sakit mendenyut. Padahal yang

mereka minum baru satu kendi besar dan itu pun

berdua. Tidak terbayangkan betapa sangat keras-

nya arak itu. Dengan langkah terhuyung-huyung

kedua laki-laki bersaudara keluar dari kamar

dengan membawa masing-masing satu kendi

arak. Maksudnya mereka hendak menawarkan-

nya pada Si Perusak Raga. Namun sekutu mereka

tidak ada di tempat itu. Akhirnya sambil duduk

ngjelepok di lantai marmar mereka menikmati

arak keras itu berdua saja. Sementara itu Si Pe-

rusak Raga telah sampai di sebuah ruangan lain.
Ruangan indah penuh kejutan. Di tengah ruan-

gan tersebut terdapat sebuah ranjang tertutup ke-





lambu. Di atas ranjang terbaring seorang perem-

puan cantik berpakaian warna putih tipis me-

rangsang.

Perempuan ini kelihatannya seperti sedang

tidur, bibirnya menyunggingkan seulas senyum

yang menawan menggairahkan. Si Perusak Raga

menelan ludah. Tubuh padat wanita itu mem-

bayang di balik pakaiannya yang tipis tembus

pandang. Sepasang pahanya yang menjuntai,

buah dadanya yang menonjol bergerak-gerak

mendebarkan sesuai dengan tarikan nafasnya.

"Siapa dia? Sudah berapa lama berada di

sini Andai saja aku memilikinya? Aku akan pa-

tuh dengan setiap perintahnya" kata Si Perusak Raga dalam hati. Cukup mengejutkan memang,

karena begitu laki-laki berpakaian hitam ini sele-

sai bicara dalam hati. Tiba-tiba wanita itu meng-

geliat dan matanya langsung terbuka. Sepasang

matanya yang indah itu memandang tajam pada

Si Perusak Raga. Orang gemetaran, bukan karena

dilanda ketakutan. Melainkan karena dilanda gai-

rah yang berkobar-kobar dan nyaris tidak terben-

dung. "Betul apa yang kau katakan tadi?" bertanya si wanita seakan menuntut.

Si Perusak Raga kaget. Ia merasa tidak dan

belum bicara apa-apa terkecuali apa yang baru

saja diucapkannya dalam hati.

"Aku tidak tahu apa maksudmu" katanya

dengan suara bergetar.

Orang ini tersenyum, ia menyilangkan ka-





kinya yang mulus seenaknya. Sehingga dua

pangkal pahanya terlihat dengan jelas.

"Bukankah kau mengatakan dalam hatimu

bahwa kau ingin memiliki aku dan setelah itu kau

bersedia menuruti perintahku Hi hi hi..." Laki-laki itu telan ludah. Ia tidak mampu bicara, tapi

kepalanya mengangguk.

"Hmm, masih ada waktu" gumamnya en-

tah ditujukan pada siapa. "Kau boleh memiliki tubuhku sesuka hatimu. Setelah itu, kau harus

patuh pada perintahku sebagaimana Si Empat

Wajah" ujarnya.

"Siapa Si Empat Wajah?" tanya Si Perusak Raga. "Dia pembantuku, kekasihku" sahut si gadis tanpa merasa bersalah.

"Lalu siapa kau ini?"

"Hi hi hi... Aku pencipta gedung ini. Nah

sekarang kemarilah, kau harus mendekat padaku

jika ingin tahu betapa hangatnya pelukanku" katanya. Kelambu disingkapkan oleh tangan-tangan

mungil si gadis. Senyumnya merekah mendebar-

kan. Si Perusak Raga tanpa ragu-ragu segera

mendatangi. Sampai di depan si gadis. Seperti

seekor singa jantan yang kelaparan ia langsung

memeluk dan menjatuhkan ciuman bertubi-tubi.

Gadis itu menyambutnya dengan hangat.

"Cuma sebatas inikah? Bukankah kau

menginginkan diriku seutuhnya Nah tidak ingin-

kah kau melepaskan pakaianku ini?" desah si gadis sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.





Si Perusak Raga ragu-ragu, lalu ia berbisik. "Di luar kamar ini ada sekutuku. Bagaimana jika mereka mengetahui perbuatan kita?" katanya berbisik. Gadis itu tersenyum, senyum yang membuat

Si Perusak Raga menggelegak darahnya terbakar

birahi. "Mengapa takut Menurutku sekarang mereka sudah mabuk di ruangan depan. Mengang-

kat kepala pun mereka sudah tidak mampu. Bila

nanti mereka sadar, kawan-kawanmu itu sudah

patuh pada perintahku Ayo..." kata wanita misterius itu sambil mengedipkan matanya. Jemari

tangan yang gemetaran itu pun melepaskan pa-

kaian tipis si gadis. Di balik pakaian itu ternyata ia tidak mengenakan apa-apa lagi. Betapa ini merupakan sebuah pemandangan yang indah. Gadis

itu benar-benar menggairahkan dan penuh se-

mangat berkobar-kobar.

Maka terjadilah hubungan terkutuk. Si ga-

dis melayaninya dengan penuh semangat. Si Pe-

rusak Raga mengerang-ngerang dalam kenikma-

tan yang belum pernah didapatkannya dari gadis

mana pun yang pernah diajaknya tidur bersama.

Sehingga di ujung pendakian itu Si Perusak Raga

merasakan ada sesuatu yang berubah dalam di-

rinya. Ia terkapar, tubuhnya lemah lunglai seakan

tidak bertenaga. Gadis itu tersenyum, ia bangkit

berdiri dan sekarang mengenakan pakaian ring-

kas warna hitam.

"Kenakanlah pakaianmu Sekarang sudah

waktunya bagiku untuk membicarakan urusan





yang sebenarnya" ujar gadis misterius bersemangat. Laki-laki itu tanpa membantah segera menu-

ruti apa yang diperintahkan padanya. Ia mengiku-

ti wanita yang telah memberinya kepuasan menu-

ju ke ruangan di mana Setan Arak dan Iblis Pe-

mabukan terkapar dalam keadaan mabuk.

"Inikah kawan-kawanmu?"

"Ya..."

Gadis itu menuangkan cairan berwarna

putih dari dalam kendi ke wajah Setan Arak dan

Iblis Pemabukan. Keduanya tampak gelagapan

ketika mencium sesuatu yang keras menyengat.

"Eeh... eeh, apa ini Lho kita berada di ma-

na adik Setan Arak?" tanya Iblis Pemabukan

terkesan bingung. Ketika itu ia sudah duduk dan

memandang pada si gadis dengan penuh rasa

takjub sekaligus terheran-heran.

"Kurasa kita berada di sorga. Lihat ada bi-

dadari cantik He he he... Kita sudah sampai di

sorga" Setan Arak menjawab dengan ngawur.

"Kalian bukan di sorga, tapi dalam gedung

tempat kediamanku Aku yang berkuasa di sini"

"Kkk... kau siapa gadis cantik?" tanya Setan Arak sambil menelan ludah.

"Siapa aku tidak perlu kalian tahu. Satu

hal yang harus kalian lakukan sesuai dengan pe-

rintahku. Kalian harus mencari perempuan yang

bernama Dara Nirmala Perempuan itu harus ka-

lian bunuh Selain itu kalian juga harus meng-

hancurkan gedung yang di sebelah barat itu. Te-

mukan laki-laki yang bergelar Datuk Tinggi Raja





Di Angin. Orang itu harus kalian bunuh. Jika ka-

lian berhasil melakukannya. Maka kalian semua

di samping Si Empat Wajah berhak menjadi sua-

miku. Ketahuilah aku tidak pernah mengalami

ketuaan. Aku tetap awet muda selama ratusan

tahun. Nah kalian akan beruntung bila menda-

patkan aku. Siapa yang ingin minum arak, arak

telah kusediakan. Jadi kurang apa lagi?" Setan Arak dan Iblis Pemabukan saling berpandangan.

Sebenarnya hati kecil mereka tidak setuju tapi en-

tah mengapa jalan pikiran mereka seperti sudah

tidak dapat mengendalikan mulut.

"Bagaimana?"

"Kami mau menerima asal engkau paling

tidak bersedia menyebutkan siapa kau" tanya Setan Arak.

"Hi hi hi... Aku adalah Ratu Keindahan"

kata si gadis seenaknya.

"Hmm, kalau begitu kau adalah orang yang

disebut-sebut oleh Si Penyair Gagu. Kalau begitu

aku bersedia membantu" kata Iblis Pemabukan.

"Bagus Hi hi hi..." Gadis yang mengaku sebagai Ratu Keindahan ini tertawa renyah. Gigi-giginya yang putih tampak berkilauan. Namun

tawanya terhenti ketika terdengar suara ketukan

pada pintu depan. Si Perusak Raga bermaksud

membukakan pintu tersebut. Namun gadis itu

memberi isyarat agar tetap duduk di tempatnya.

Ia sendiri kemudian yang membuka pintu. Saat

pintu terbuka tampaklah sosok tubuh kurus ting-

gi. Tingginya kurang lebih satu setengah tombak.





Kepalanya besar dan memiliki empat wajah. Setan

Arak, Iblis Pemabukan dan Si Perusak Raga ter-

sentak kaget dan sempat timbul perasaan ngeri di

hati mereka.

Si Empat Wajah langsung masuk dan me-

mandang penuh rasa cemburu pada ketiga laki-

laki itu.

"Siapa mereka?" tanyanya dengan perasaan tidak senang.

"Mereka adalah para sekutu kita yang siap

menghancurkan musuh-musuhku Kau tidak per-

lu cemburu kekasihku. Jika kalian semua berha-

sil menghancurkan musuh-musuhku, kalian

akan menjadi suamiku" kata si gadis.

"Apakah kau tidak yakin dengan kesak-

tianku?" tanya Si Empat Wajah tidak senang.

"Aku tentu saja merasa yakin. Tapi alang-

kah baiknya jika kita bersatu padu untuk mem-

peroleh suatu kemenangan?"

"Aku tidak suka diduakan" protes Trigada.

"Jangan takabur dan serakah. Orang yang

kita hadapi bukan manusia-manusia berkepan-

daian rendah. Mereka telah hidup selama ratusan

tahun. Dan kesaktiannya tidak dapat kulukiskan

dengan kata-kata" tegas si gadis. Si Empat Wajah terdiam. Walaupun begitu ia masih memandang

dengan rasa tidak senang pada Setan Arak, Iblis

Pemabukan dan Si Perusak Raga.

"Duduklah Sekarang aku ingin menje-

laskan rencana yang harus kita lakukan" ujar Ratu Keindahan. Empat Wajah langsung duduk.





"Katakanlah, tanganku sudah gatal ingin

menghancurkan manusia-manusia yang telah

membuatmu sakit hati" geram Trigada.

"Kurasa Dara Nirmala tinggal di gedung ini.

Cuma aku tidak tahu di ruangan yang mana. Aku

sudah lakukan pemeriksaan tapi tidak menemu-

kannya. Jadi mula-mula yang harus kita lakukan

adalah menghancurkan gedung miring yang bera-

da di sebelah barat itu. Aku yakin di antara mere-

ka sudah terikat suatu perjanjian untuk tidak sal-

ing mengganggu. Jika gedung hancur pasti ma-

nusia yang bernama Lu Jingga bergelar Datuk

Tinggi Raja Di Angin keluar dari tempat persem-

bunyiannya"

"Setelah itu bagaimana?" tanya Si Empat

Wajah. "Setelah itu, tentu Datuk Tinggi akan melabrak ke sini karena mengira Dara Nirmala telah

melanggar perjanjian"

"Bagaimana kau tahu mereka telah saling

berjanji membuat peraturan ini?" tanya Si Perusak Raga.

"Aku mendengar dan mengetahui isi hati

orang Hi hi hi..." ketus suara si gadis. Ia kemudian tertawa tergelak-gelak.





6





"Ratu Keindahan, dapatkah kau ceritakan

sedikit mengenai sebab musabab mengapa kau

menanam benih permusuhan pada kedua orang

itu?" tanya Si Perusak Raga. Wajah cantik meng-giurkan itu tampak berubah memerah. Ada ama-

rah yang berusaha dipendamnya.

"Hei kau, mengapa kau tanyakan hal-hal

yang membuatnya menjadi berduka? Kekasihku,

apakah orang seperti dia pantas menjadi salah

seorang dari suamimu?" protes Si Empat Wajah.

Ia tampak kurang senang sekali melihat Si Peru-

sak Raga, jika di situ tidak hadir orang yang san-

gat dicintainya. Tentu Si Perusak Raga sudah di-

bunuh oleh Trigada.

"Bersabarlah, sebagai orang yang berseku-

tu kita tidak boleh saling serang sesamanya sen-

diri. Dia tidak mengetahui persoalan yang sebe-

narnya. Kurasa tidak salah jika ia bertanya, tapi untuk kau ketahui wahai Perusak Raga. Saat ini

aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu. Nanti

saja jika urusan dengan musuh-musuh telah se-

lesai. Aku akan menceritakan mengapa aku me-

nyimpan dendam setinggi langit pada kedua

orang itu" tegas si gadis.

Ia terdiam, pikirannya kini menerawang

pada kejadian beberapa pekan yang lalu. Dalam

pengembaraannya setelah meninggalkan Lembah

Silau Dunia. Bertahun-tahun ia mencari orang-

orang yang sangat dibencinya. Hingga sampailah

ia di daerah yang bernama Seribu Teka Teki. Di





sini ia bertemu dengan manusia setengah mak-

hluk mengerikan bertubuh kurus tinggi berkepala

besar. Orang itu memiliki empat wajah, empat

mulut dan delapan mata. Waktu itu Si Empat Wa-

jah seperti binatang buas yang sedang mencabik-

cabik mangsanya. Orang yang menjadi santapan

sosok mengerikan ini tidak lain adalah anak-anak

berumur belasan tahun. Mereka anak-anak gadis

remaja yang malang.

Melihat kehadiran gadis cantik berambut

panjang ini. Si Empat Wajah langsung terpesona

dan jatuh hati. Ia tergila-gila pada pandangan

pertama. Namun si gadis mengajukan tiga syarat.

Syarat pertama Si Empat Wajah harus menghen-

tikan kebiasaannya dari memakan daging sesa-

manya. Sedangkan syarat kedua, ia harus dapat

mengalahkan gadis cantik itu atau paling tidak

seimbang. Sedangkan syarat ketiga ia harus

membantunya mencari dan membunuh musuh

besarnya.

Si Empat Wajah langsung menyanggupi. Ia

bersedia meninggalkan kebiasaan lamanya. Sete-

lah itu ia pun bertarung dengan gadis yang san-

gat dicintainya. Ternyata setelah terlibat pertem-

puran tidak kurang dari tiga hari, tidak ada yang

kalah dan tidak ada yang menang. Sementara itu

kabar mengenai munculnya Penyair Gagu terden-

gar pula oleh si gadis. Sehingga setelah mening-

galkan pesan untuk Si Empat Wajah agar menyu-

sulnya. Gadis itu berangkat ke Imogiri. Ia men-

jumpai banyak syair di sembarang tempat. Salah





satu syair itu dipecahkan rahasianya. Ia pun tahu

bahwa apa yang dimaksud dalam syair tersebut

tidak lain adalah tentang seseorang yang mem-

persoalkan hawa nafsu dan akal. Orang yang se-

lalu dilanda kegelisahan akan datangnya kema-

tian. Sehingga ia tidak menghiraukan tentang se-

gala sesuatu yang bersifat keduniawian. Tidak sa-

lah lagi inilah orang yang dicarinya selama berta-

hun-tahun.

"Mereka manusia-manusia munafik Ka-

tanya tidak peduli dengan segala macam cinta, ti-

dak tahunya bunting malah" geram si gadis. Ia pun pergi ke Bukit Keangkuhan. Bibirnya menyunggingkan senyum di kala melihat dua ban-

gunan megah yang ia tahu bagaimana cara mem-

buatnya. Ia pun masuk ke dalam gedung itu ber-

kat kesaktian yang dimiliki. Lalu beberapa hari

kemudian setelah ia mengatur siasat, muncullah

Si Perusak Raga, Setan Arak dan Iblis Pemabu-

kan. Apa yang dilakukannya tidak berlangsung

mulus. Karena gedung itu dijaga oleh para Jin.

Namun berkat kesaktiannya yang sungguh luar

biasa, ia mampu melumpuhkan penjaga-penjaga

dan membelenggunya dengan rantai Kebinasaan.

"Kalau Ratu Keindahan sudah bicara begi-

tu, aku tidak ingin mendesak" kata Si Perusak Raga. "Beritahukan apa yang harus kami kerja-kan?" "Nanti selepas senja kalian harus menghancurkan gedung yang di sebelah barat. Temu-

kan manusia yang bernama Lu Jingga dan seret





ke sini" tegas si gadis. "Aku sendiri akan mencari orang yang selama ini telah membuatku menderita lahir batin Ia pasti masih berada di dalam ge-

dung ini Ia tidak bisa menghindariku meskipun

bersembunyi di lubang semut"

Empat sekutu gadis berpakaian ringkas itu

telah sama setuju. Mereka kini hanya tinggal me-

nunggu datangnya waktu yang telah ditetapkan.





* * *



"Ha ha ha... Pemuda tolol, aku telah men-

dapatkannya Rupanya di sini. Lihatlah..." teriak Dewa Sinting sambil berjingkrak-jingkrak dan tarik celananya yang selalu melorot kedodoran. Su-

ro terdiam, memandang pada Dewa Sinting den-

gan kening berkerut-kerut.

"Apa yang telah kau dapatkan, kakek sint-

ing. Kegiranganmu seperti anak kecil. Kau terta-

wa-tawa seperti orang gila? Tidak sadarkah kau

kita berada di mana?" tegur Suro. Rupanya Pendekar Mandau Jantan ini merasa khawatir kalau-

kalau suara tawa Dewa Sinting didengar oleh

orang lain.

"Lihatlah ke sini" sahut Dewa Sinting masih dengan suara keras.

"Diamlah, nanti mulutmu ku jahit dengan

jarumku yang tumpul" dengus Suro dengan mu-

lut terpencong.

"Kau hendak menjahit mulutku dengan ja-

rum yang ada lubangnya Kau benar-benar pe-





muda edan yang tidak tahu peradatan" maki De-wa Sinting, suaranya lirih seperti burung emprit

kedinginan. Sama sekali murid si ugal-ugalan

Penghulu Siluman Kera Putih ini tidak menyahu-

ti. Ia mendekati Dewa Sinting. Setelah melihat ke

depan ternyata ada sebuah lubang besar tertutup

batu. Di atas batu tersebut bertuliskan beberapa

bait kata seperti ini....

Jalan ke liang kubur

Di Alam sunyi tiada berteman

Derita sesal tiada berkesudahan

Hidup di dunia dalam waktu lama

Hanya sia-sia, hanya sia-sia

Penantian yang panjang tiada berkesuda-

han Di atas bumi manusia menghamburkan ta-

wa Di perut bumi manusia menghamburkan

tangis Penyesalan, penyesalan....

Tangisku adalah penyesalan

Lalu lidahku kelu dalam tangis

Di sini, di liang kubur ini

Air mata kering

Lidahku kaku dalam tangis

Mulutku gagu, hanya hati yang bisa ber-

kata.... Di atas sana ada dua keangkuhan menya-lahi kodrat

Hidup beratus-ratus tahun





Dan mereka masih manusia juga

Suro golang-golengkan kepala. Dewa Sint-

ing memandang padanya dengan mata berkedap-

kedip. "Bagaimana menurutmu syair ini? Apakah ada orang mati di dalam sana?" tanya si kakek.

"Kau ini orang tua, rambutmu sudah uba-

nan, kulitmu keriput dan tulang belulangmu su-

dah rapuh. Mana ada orang mati bisa menulis?

Aku yakin penyair gagu bersembunyi di dalam,

atau mungkin ini memang tempat tinggalnya.

Syair ini sedih, mengingatkan aku akan mati. Ku-

rasa dulunya ia bisa bicara, karena banyak me-

nangis ia jadi gagu. Tapi apa yang membuatnya

sedih?" kata Pendekar Blo'on.

"Gadis itu cantik sekali, gadis secantik itu

rasanya tidak tega aku melihatnya bersedih. Ka-

lau saja ia menjadi seorang isteri siapa pun, jan-

gan dikuburin kalau masih ada nafasnya"

Plok

Suro terhuyung-huyung. "Ehh, apa kau

sudah gila? Mengapa kau menamparku?" protes Suro. "Kau ini semakin gila. Pengemis sekalipun mana tega menguburkan bininya selama masih

bernafas. Sudahlah, ayo kita geser batu ini" perintah Dewa Sinting.

Buuk

"Kurang ajar" maki Dewa Sinting sambil

berusaha bangun. Rupanya Suro telah menen-





dang pantatnya sebagai balasan tamparan tadi.

Ini sudah menjadi kebiasaan pemuda ini. Ia selalu

membalas perlakuan orang bila ia merasa tidak

bersalah. Tidak peduli siapa orangnya. Si kakek

sewot hendak membalas lagi. Tapi Pendekar

Blo'on angkat tangannya.

"Eiit... sekarang kedudukan satu-satu. Ka-

lau kau menyerangku, aku bersumpah akan me-

nempurmu sampai salah seorang di antara kita

ada yang mampus" ancam si konyol. Dewa Sint-

ing terdiam, ia tarik celananya. Tanpa bicara ia

segera menggeser batu tersebut. Tapi sampai

ngeden (setengah mati) ia berusaha menggeser

batu tersebut sedikit pun batu tidak bergeming.

Setiap Dewa Sinting berusaha menggeser batu

disertai pengerahan tenaga dalam, Suro termo-

nyong-monyong meledek.

"Kau ini manusia angkuh. Sampai keluar

taik ijo dari punggungmu, batu itu tidak mungkin

dapat bergerak. Sini biar kubantu" kata Suro Blondo merasa tidak tega.

"Pemuda gila, mengapa tidak dari tadi"

maki Dewa Sinting.

Pendekar Mandau Jantan hanya menyerin-

gai. Lalu ia segera membantu si kakek mendorong

batu tersebut. Begitu beratnya batu tersebut

sampai mata mereka melotot seperti orang yang

saling menantang. Barulah setelah Pendekar

Blo'on mengerahkan setengah dari tenaga dalam

yang dimilikinya batu tersebut dapat tergeser.

"Ayo masuk, tunggu apa lagi"





"Jangan sembarangan Biar aku yang di

depan" hardik Dewa Sinting yang menyangka dalam lorong itu terdapat jebakan yang mungkin sa-

ja dibuat oleh penghuninya.

Suro mengikuti Dewa Sinting tidak jauh di

belakangnya. Lorong ini termasuk panjang juga.

Sampai-sampai Dewa Sinting beranggapan pasti-

lah jalan rahasia itu berhubungan dengan gedung

megah yang terdapat di atas bukit. Jika benar,

berarti hanya orang yang memiliki kesaktian ting-

gi saja yang dapat membuatnya. Lalu siapa?

"Awas" Suro berteriak memberi peringatan.

Ia menyambar bahu Dewa Sinting hingga dua-

duanya rebah. Enam buah senjata rahasia ber-

bentuk anak panah mendesing di atas kepala me-

reka. "Kau di depan, tapi melamun Untung aku tadi sempat melihat, kalau tidak tubuhmu sudah

ditembus anak-anak panah itu" gerutu Suro lalu bangkit berdiri.

"Tapi ternyata aku tidak mati, bukan?" De-wa Sinting menyeringai, wajahnya sempat pucat

juga. "Biar aku yang di depan Kau kurang was-pada" "Bagus Kalau ada apa-apa kau mampus duluan" ejek si kakek. Dan Dewa Sinting tidak berusaha menghalanginya di saat Suro lewat di

sampingnya.

Tanpa bicara sepatah kata pun mereka me-

lanjutkan langkahnya. Mereka ternyata masih

terhalang jebakan-jebakan lain, hingga membuat





baik Suro maupun Dewa Sinting harus berhati-

hati. Ternyata lorong rahasia tersebut berliku-

liku. Hingga akhirnya mereka menemukan se-

buah pintu. Pada pintu terdapat tulisan berupa

syair. Selamat datang di gerbang nestapa

Di sini kubur abadi dari orang, yang telah

membuatku terlahir di dunia pana.

Ia berdiri dalam prinsip abadi.

Dalam satu harap, Surga....

Nestapaku, nestapa bumi

Hidupku, air, udara, api dan tanah

Sekarang aku berada dalam perutnya

Merintih dari hari ke hari

Dari orang yang kurindu namun tidak dapat

kusentuh

Kupandangi dia selalu dalam tidur

panjang abadi

Aku tinggal sendiri....

Menghirup udara dunia di antara

makhluk-makhluk yang angkuh menyombongkan

diri. Aku tidak tahan, hingga kutuliskan kata ha-ti

Akhirnya orang-orang sakti datang kemari

Bersekutu lupa diri....

Suro garuk-garuk rambutnya. Dewa Sint-

ing memperhatikan tulisan-tulisan itu lebih de-

kat. Kemudian ia mendorong pintu yang terbuat

dari lempengan batu. Pintu tidak bergeming.





"Kita telah mendatangi kuburan, kakek

sinting. Sebaiknya kita kembali saja" celetuk Pendekar Blo'on dengan perasaan resah.

"Tolol kowe. Coba kau renungi kalimat de-

mi kalimat itu. Di balik pintu ini pasti ada orang hidup yang menunggui orang mati Ayo bantu

aku" perintah Dewa Sinting. Suro akhirnya terpaksa menurut. Didorongnya pintu lempengan

batu itu bersama-sama. Sayang sedikit pun tidak

bergerak, padahal baik Suro maupun Dewa Sint-

ing sudah mengerahkan seluruh tenaga dalam

yang dimilikinya.

"Kalau begini caranya, sampai mencret pun

kita tidak bakal dapat masuk ke dalam." dengus Pendekar Blo'on sinis.

"Sebaiknya aku lepaskan pukulan dulu"

usul Dewa Sinting.

"Hei jangan, apa kau mau kita terkubur hi-

dup-hidup di sini? Sebaiknya aku hantam pintu

ini dengan senjataku" ujar Suro.

Lalu pemuda berambut hitam kemerahan

cabut senjatanya. Dewa Sinting terkesiap ketika

melihat senjata Suro yang sangat aneh bentuknya

dan memancarkan sinar hitam tersebut.

"Mandau?" desisnya. "Aku jarang sekali melihat senjata aneh seperti yang dimiliki oleh

pemuda konyol ini" Perlahan Suro mengerahkan tenaga dalam ke bagian hulu Mandau yang berbentuk seorang pertapa berkepala gundul ini. Si-

nar hitam berkelebat, terdengar suara ringkik su-

ara tangis dan suara tawa yang tidak ada putus-





putusnya dan silih berganti.

Byaar

Pintu batu hancur berkeping-keping.

Dewa Sinting berdecak kagum. Lalu terdengar se-

ruan penuh pujian.

"Senjata aneh, bisa meringkik, bisa menan-

gis bisa tertawa Sungguh kau pemuda sinting

dengan senjata yang penuh kegilaan pula Coba

lihat dulu" pinta si kakek. Suro menggelengkan kepala. "Dalam suasana seperti ini masihkah kau bertingkah seperti anak kecil? Bukankah lebih baik jika kita masuk ke dalam?" hardik cucu Malaikat Berambut Api.

"Tapi...?"

Si pemuda ajaib yang terlahir pada malam

satu Asyuro ini sama sekali tidak menanggapi,

untuk lebih jelasnya (Dalam episode Neraka Gu-

nung Bromo), ia segera masuk ke dalam melalui

pintu yang berantakan. Sesampainya di dalam

Suro tercengang, matanya melotot.

"Dewa Sinting Lihat kemari?" panggil si pemuda dengan suara pelan hampir tidak terdengar. Tergesa-gesa Dewa Sinting datang mengham-

piri.





7





Dewa Sinting memperhatikan dengan sek-

sama. Di tengah-tengah ruangan terdapat sosok

tubuh berpakaian putih terbujur di atas batu

marmar hitam. Wanita itu berwajah cantik, ada

senyum menghias di bibirnya yang mungil. Di

atas batu marmar lain berwarna putih, kelihatan

seorang gadis cantik berbaju hijau duduk berlutut

menghadap ke arah wanita yang terbaring. Yang

mengejutkan wajah keduanya, antara wanita yang

terbaring dengan gadis baju hijau sangat mirip

satu sama lain. Mereka tidak bedanya seperti pi-

nang dibelah dua.

"Siapa orang yang ditunggui oleh gadis

itu?" bertanya Suro Blondo dengan suara berbisik. "Kurasa itu kakaknya atau adiknya?" sahut Dewa Sinting.

"Kita sudah masuk tanpa diundang, kita

telah hancurkan pintu. Apakah pantas kita men-

gusiknya?"

"Kalau dia memang penyair itu. Sekaran-

glah waktunya bagi kita untuk menanyakan sega-

la sesuatu yang tidak kita ketahui" tegas Dewa Sinting. Suro angguk-anggukan kepala. Ia bergerak mendekati gadis baju hijau. Belum sempat ia

mengucapkan sepatah kata dan ketika tangannya

hendak menyentuh bahu si gadis. Sinar merah

menyambar ke arah lengan Pendekar Blo'on. Begi-

tu cepatnya sinar yang berasal dari wanita terbu-

jur itu menyambar, sehingga Suro tidak sempat

selamatkan tangannya.





Zzzzts

"Akh..."

Suro menjerit sambil pegangi lengannya

yang melepuh. Jeritannya telah mengejutkan ga-

dis baju hijau, hingga serentak ia menoleh dan

memandang dengan penuh rasa kaget pada kedua

laki-laki ini. Ia menggerak-gerakkan tangannya.

Tapi Suro tidak mengerti apa arti isyarat tangan

tersebut. Hanya Dewa Sinting yang memperhati-

kan gerakan tangan si gadis, ia bicara pada Pen-

dekar Blo'on.

"Katanya, kita tidak boleh mendekat, kita

tidak boleh mengganggu" jelas si kakek. Ia memperhatikan bahasa isyarat si gadis. Lalu Dewa

Sinting menterjemahkan isyarat itu. "Yang terbaring itu adalah ibunya. Meninggal dua tahun yang

lalu. Ia Ratu Keindahan, orang yang mendirikan

gedung megah di atas" Dewa Sinting memperha-

tikan gerak tangan si gadis. "Dia mengakui dirinya penyair. Ia tidak bisa bicara Katanya, kalau kita orang baik-baik, ia minta tolong pada kita

untuk mengusir musuh-musuh ibunya dari da-

lam gedung. Tempat ini suci, ia minta bantuan ki-

ta sedapat apa yang kita lakukan"

"Kakek Sinting, coba tanyakan siapa mu-

suh ibunya?" seru Suro.

Si kakek menggerak-gerakkan tangannya

yang dijawab oleh si gadis dengan gerakan tangan

pula. "Musuh ibunya adalah adiknya sendiri,

namanya Dara Alindi Sekarang orang itu sedang





mencari-cari ibunya. Katanya bukan hanya Dara

Nirmala saja yang ia musuhi, tapi juga termasuk

laki-laki yang bernama Lu Jingga. Dia tokoh sakti

pendiri gedung miring yang terletak di sebelah ba-

rat" jelas si kakek sesuai isyarat dan gerakan tangan gadis baju hijau.

"Coba tanya apa yang membuat mereka

bermusuhan?"

Sesuai dengan keinginan Suro, maka Dewa

Sinting menanyakan perihal yang sebenarnya.

"Oh, sudahlah. Masalahnya menyangkut

persoalan cinta, cinta yang tidak terbalas. Lu

Jingga mencintai ibunya, ibu gadis ini tidak cinta karena selalu bingung memikirkan kematiannya.

Lalu adik ibu gadis ini mencintai pemuda itu. Ta-

pi pemuda itu sama sekali tidak menanggapinya.

Ia pun mengatakan bahwa usia ibunya sudah ra-

tusan tahun" jelas si kakek mengartikan gerakan-gerakan tangan gadis baju hijau. Suro go-

lang-golengkan kepala dan nyaris tidak dapat

menahan tawa.

"Dewa Sinting aku hampir tidak percaya,

jika tidak menyaksikannya sendiri. Wanita yang

terbaring di atas marmar hitam itu sangat muda.

Bahkan semula aku menyangka ia kembarannya

gadis ini. Jika gadis ini mengaku ibunya orang

suci, mengapa ia sampai punya anak?" tanya Su-ro dengan perasaan aneh.

"Suro, dia orang yang sangat sakti. Hidup-

nya tidak wajar karena kesaktiannya itu. Bahkan

gedung di atas sana menurut gadis ini diciptakan





dalam waktu satu malam. Yang membangunnya

adalah para Jin Jika orang sudah dapat meme-

rintah Jin, kesaktiannya sudah setara dengan pa-

ra Dewa. Gadis ini terlahir karena mimpi orang

tuanya yang telah melakukan hubungan suami

isteri dengan pemuda yang bernama Lu Jingga.

Banyak kejadian aneh di dunia ini yang sulit di-

jangkau akal dan susah diterima pikiran. Tapi ini

adalah kenyataan." jelas Dewa Sinting.

Pendekar Blo'on jadi merasa bodoh sambil

garuk-garuk kepala dalam kebimbangan. Semen-

tara gadis baju hijau yang bernama Andini mulai

bicara lagi dengan isyarat-isyaratnya.

"Katanya ia malu untuk menceritakan se-

mua kejadian di sini. Ia sendiri sejak terlahir tidak pernah disentuh oleh ibunya. Yang mengu-

rusnya adalah para Jin. Ia tidak pernah tersentuh

kasih sayang. Ia bertanya apakah dirinya anak

jadah?"

"Katakan saja ia gadis baik-baik dan tidak

perlu menyesali diri. Semua orang yang terlahir di dunia punya guna, paling tidak untuk dirinya

sendiri" kata Suro Blondo. Dewa Sinting me-

nyampaikan apa yang dikatakan oleh Suro pada

Andini. "Coba tanyakan mengapa dia menulis

syair-syair di setiap tempat yang dilaluinya?" De-wa Sinting menggerak-gerakkan jarinya.

"Katanya itu dilakukannya sebagai pelam-

piasan hatinya yang sepi. Karena ia tidak tahu

apa yang harus diperbuat, di samping ia ingin ta-





hu siapa bibinya yang sangat membenci ibunya

itu" "Kakek sinting sebaiknya kita ajak dia keluar dari sini" saran si konyol. Rupanya Andini melihat gerak bibir Suro, dan dengan cepat ia

menggelengkan kepala.

"Ternyata ia tidak mau. Mungkin karena

melihat tampangmu yang bodoh, sehingga ia ta-

kut ketularan" kali ini Dewa Sinting bicara disertai suara tawa bergelak.

"Kurang ajar Katakan padanya apakah ia

akan menunggui mayat ibunya sampai gedung di

atas sana dihancurkan oleh musuh-musuh

ibunya?" Dewa Sinting yang ternyata sangat memahami bahasa isyarat itu menggerak-gerakkan

tangannya. Andini melirik pada Suro, lirikan seki-

las tapi cukup membuat jantung pemuda seten-

gah mata keranjang ini berdebar keras.

"Tidak Ia menjawab tidak, nanti juga ia

akan keluar bila ibunya telah memberi izin" Suro garuk-garuk kepala. Ia mendelik pada Dewa Sinting menyangka kakek itu sengaja mempermain-

kan dirinya.

"Dewa Sinting, jangan kau kelabui aku ka-

rena tidak tahu bahasa isyaratnya. Mana mung-

kin orang yang sudah mati dapat bicara dan

memberi izin. Kalau otakmu sudah tidak betul

pasti jalan pikiranmu sesuai dengan julukanmu

Hay bicaralah yang betul. Waktu kita sudah san-

gat sempit sekali"

"Aku bicara sesuai apa yang dikatakannya.





Kalau kau tidak percaya tanyalah sendiri, hayo

tanya?" kata Dewa Sinting sambil bersungut-

sungut.

"Kau jangan ngeledek. Kau tahu aku tidak

bisa memahami bahasanya. Sekarang aku per-

caya. Kurasa orang sakti mati banyak punya ke-

lebihan. Terbukti tadi aku hampir hangus dihajar

sinar yang keluar dari ujung kaki jenazah ibu An-

dini. Sudahlah, sekarang kita keluar dari sini"

Pendekar Blo'on berbalik langkah hendak

menuju tempat semula. Tapi di belakangnya ter-

dengar suara....

"Bbb... buu... babu... auuu..." Ternyata yang barusan bicara adalah Andini. Suro terpaksa

menahan tawa agar tidak membuat gadis itu jadi

tersinggung. Dua-duanya berbalik.

"Kakek sinting dia menyebut-nyebut babu?

Apa maksudnya?"

"Babu mbahmu Ia mengatakan agar aku

tinggal di sini menghadapi segala kemungkinan

yang tidak disangka-sangka" jelas si kakek.

"Ha ha ha... Ternyata tua bangka seperti-

mu masih laku juga. Dia tidak sudi pada pemuda

sepertiku yang masih perjaka ting-ting dan tong-

tong Seleranya selera kelapa, Dewa Sinting. Be-

tapa kau manusia beruntung. Aku khawatir me-

nemani gadis secantik dia celanamu melorot te-

rus. Nah... lihat, celanamu bergerak-gerak,

mungkin ularnya sudah bangun kakek sinting"

ejek Suro. Suaranya lirih hingga si gagu tidak da-

pat mendengarnya.





"Bocah edan Otakmu selalu dipenuhi den-

gan pikiran-pikiran kotor. Aku tidak segila apa

yang kau bayangkan" maki Dewa Sinting kesal.

"Kalau pun kau menjadi orang gila siapa

yang mau peduli Ha ha ha..." Suro menimpali disertai tawa tergelak-gelak. Pemuda itu meninggalkan Dewa Sinting. Si kakek tidak henti-

hentinya menggerutu sambil menaikkan cela-

nanya yang selalu melorot turun.

Seperginya Pendekar Blo'on, Andini menga-

jak Dewa Sinting untuk memasuki lorong lain.

Tapi di belakangnya tiba-tiba saja terdengar suara memanggil.

"Tunggu dulu, dengar apa yang ingin kuka-

takan padamu Dewa Sinting" Si kakek kaget setengah mati dan keluarkan keringat dingin di se-

kujur tubuhnya. Apabila ia melihat ke arah semu-

la ternyata tidak ada siapa-siapa di situ terkecuali mayat ibu si Penyair Gagu. Jadi siapa yang barusan tadi? Ia memandangi Andini, gadis itu mem-

beri isyarat dengan gerakan-gerakan tangannya.

"Hmm, jadi yang bicara barusan adalah roh

ibu Andini? Apa yang ingin dikatakannya?" batin Dewa Sinting. Andini mendekati di mana jenazah

terbaring. Lalu suara gaib kembali terdengar den-

gan jelas seakan datang dari setiap penjuru ruan-

gan. "Dewa Sinting Andini adalah putriku yang terlahir karena hubungan dengan seorang laki-laki dalam mimpi. Di atas orang-orang sakti di

atas bumi ini, kamilah orangnya. Ucapan dan ka-





ta hati kami lebih tajam dari seribu mata pedang.

Manusia dikarunia akal dan nafsu, sepuluh akal

sepuluh nafsu. Itu hampir dapat kukalahkan jika

saja Lu Jingga alias Datuk Tinggi Raja Di Angin

tidak menggodaku. Aku tidak pernah berbuat nis-

ta, karena mimpi itulah Andini terlahir ke dunia

ini. Kejadian ini memang sulitnya diterima akal

waras manusia. Namun perlu kiranya kau keta-

hui, alam nyata dan alam gaib bagi kami hampir

tidak mempunyai dinding. Apa yang aku miliki di

atas manusia umum. Semuanya berlangsung an-

tara nyata dan gaib. Sekarang orang yang sangat

membenciku telah berada di gedung ini, dialah Dara
 Alindi. Ia masih terhitung adik kandungku

sendiri. Ia mendendam karena menyangka aku

orang yang ingkar dan merebut orang yang dicin-

tainya, yaitu Lu Jingga. Ia sangat sakti, kesak-

tiannya hampir sama dengan kesaktian yang ku-

miliki. Artinya anakku yang selama ini berada da-

lam didikan para Jin yang berada di bawah perin-

tahku tidak mungkin mampu mengatasinya. Kau

tidak perlu heran, karena aku akan merasuk da-

lam jiwa anakku untuk melindunginya sekaligus

menghadapi segala kemungkinan yang terjadi"

kata suara gaib tersebut.

"Lalu bagaimana dengan jasadmu?" tanya

Dewa Sinting.

"Jasadku tidak membutuhkan perlindun-

gan. Ia tidak akan hancur Aku telah berada di

alam gaib. Iringi anakku, karena aku akan mengi-

ringi kalian. Kau tidak perlu berhadapan dengan





Dara Alindi, karena dia bukan tandinganmu. Dia

lawanku dan lawan Lu Jingga. Aku tidak ingin ia

merusak gedung di sebelah barat itu. Karena aku

khawatir Datuk Tinggi Raja Di Angin menyangka

aku yang melakukannya. Padahal kami sudah te-

rikat perjanjian untuk tidak saling mengganggu.

Dia telah bertobat untuk menjauhi segala sesuatu

yang bersifat keduniawian"

"Baiklah, aku sanggupi permintaanmu. Se-

karang apa yang harus kulakukan?" tanya si kakek. "Berjalanlah kau, naiki anak tangga itu.

Karena dengan demikian kalian akan sampai ke

ruangan utama gedung ini. Mungkin di sana kau

akan bertemu dengan Dara Alindi, umurnya su-

dah ratusan tahun, namun ia tetap awet muda

seperti jenazah yang kau lihat"

"Baiklah, aku merasa senang karena eng-

kau mengawal kami, Ratu Keindahan" ujar Dewa Sinting. Si kakek memberi isyarat pada Andini

alias Si Penyair Gagu untuk mengikutinya. Si ga-

dis menurut disertai dengan anggukan kepala.





* * *



Apabila hari menjelang senja terbukalah

pintu gedung megah yang terdapat di atas bukit

sebelah timur itu. Keluar dari dalamnya Si Empat

Wajah, Setan Arak, Iblis Pemabukan dan Si Peru-

sak Raga. Mereka dengan dipimpin oleh Si Empat

Wajah langsung bergerak ke gedung yang terda-





pat di sebelah barat. Sesampainya di depan ge-

dung Si Empat Wajah langsung berteriak-teriak.

"Datuk Tinggi Raja Di Angin, keluarlah

Apakah kau sekarang ingin menjadi manusia

munafik yang sangat pengecut?"

Tidak terdengar suara sahutan apa-apa,

gema suara Si Empat Wajah lenyap ditelan lem-

bah. Menunggu bagi orang ini lama kelamaan

hanya menimbulkan kegeraman saja. Sehingga

untuk kedua kalinya Si Empat Wajah berteriak

lagi. "Hmm, kiranya kau lebih memilih aku

menghancurkan gedung ciptaanmu ini Lu Jing-

ga" desis sosok berbadan kurus berkepala besar tersebut. "Hancurkan gedung dengan pukulan-pukulan sakti" perintahnya pada Setan Arak, Iblis Pemabukan dan Si Perusak Raga.

Maka tanpa membuang-buang waktu lagi,

orang-orang ini segera melepaskan pukulan-

pukulan dahsyat ke arah gedung. Terdengar sua-

ra gelegar bagai petir di, sana sini. Namun pada

waktu itu dari dalam gedung terdengar suara ber-

gemuruh seperti air bah. Dari pintu dan jendela

yang tertutup bermunculan para Jin penjaga yang

melindungi bangunan. Terkecuali Si Empat Wa-

jah, orang lainnya langsung bersurut mundur dua

langkah. Makhluk-makhluk alam gaib tersebut

bertubuh tinggi bukan main. Wajah mereka ang-

ker, beberapa di antaranya ada yang memakai

anting di hidung atau di sebelah telinga. Jemari

tangan mereka lebih besar dari pisang ambon.





"Siapa kalian? Mengapa bikin keonaran di

sini?" bertanya salah satu dari Empat Jin penjaga. Si Empat Wajah melangkah maju tidak diikuti

oleh tiga sekutunya.

"Kau bertanya siapa kami Akulah orang-

nya yang akan menghancurkan gedung milik

tuanmu, dan memenggal kepalanya apabila dia

muncul di sini" sahut Si Empat Wajah.

"Kau setengah manusia setengah iblis

Dengan apa kau akan menghancurkan kami?"

"Ha ha ha... Mungkin di antara sekian ba-

nyak manusia, hanya aku yang mengetahui kele-

mahan makhluk seperti kalian Aku hancurkan

para Jin dengan pukulan 'Banas Pati'" kata Si Empat Wajah. Mendengar ucapan lawannya, Empat Jin itu langsung bersurut mundur dengan wa-

jah pucat seperti kehilangan cahaya.

"Bagaimana kau dapat mengetahui kele-

mahan kami?" bertanya Jin yang sosoknya agak lebih pendek.

"Ha ha ha... Bertanya jawab bukanlah ke-

mauan Si Empat Wajah, sekarang terimalah kebi-

nasaan kalian" teriak Si Empat Wajah. Lalu seraya putar-putar tangannya di atas kepala. Se-

hingga angin kencang panas luar biasa menderu-

deru. Hanya dalam waktu sekejap kedua tangan

Si Empat Wajah telah berubah merah laksana ba-

ra. Ketiga kawannya tercengang melihat kesaktian

yang dimiliki oleh sekutunya. Empat Jin tidak

tinggal diam, sebelum lawan benar-benar mele-

paskan pukulan Banas Pati yang sangat dahsyat





itu. Serentak mereka melakukan serangan dari

empat penjuru arah sekaligus.





8


Begitu mereka menghembuskan nafas dari


mulutnya, maka menghamburlah lidah api dari

masing-masing mulut itu. Api yang panas mem-

bakar itu menghantam ke arah Si Empat Wajah,

namun Trigada juga bertindak cepat, empat mu-

lutnya menyemburkan udara yang kemudian be-

rubah menjadi air yang sangat dingin. Api yang

keluar dari mulut empat Jin itu segera padam.

Empat Jin penjaga gedung serentak bersurut

mundur sambil keluarkan seruan kaget. Lalu Si

Empat Wajah hentakkan kedua tangannya ke

empat penjuru arah. Empat larik sinar, biru kun-

ing merah dan hitam menggebu-gebu meluruk de-

ras ke arah empat Jin penjaga. Tetapi para Jin ti-

dak bodoh, mereka menciptakan gelombang angin

puyuh yang berkekuatan dua kali kekuatan topan

yang paling dahsyat.

Si Perusak Raga berseru kaget dan hampir

terpelanting. Sedangkan Setan Arak dan Iblis Pe-

mabukan terseret-seret oleh badai angin puyuh

tersebut, walaupun mereka telah keluarkan tena-

ga dalam ke bagian kaki. Kedua orang ini tersan-

dar di batu besar yang terdapat di belakang me-

reka. Lalu terdengar suara ledakan beruntun

yang sangat dahsyat luar biasa. Si Empat Wajah





sempat tergetar tubuhnya, dadanya seakan re-

muk. Empat Jin penjaga gedung terguling-guling,

wajah mereka berubah menghitam. Mereka segera

bangkit berdiri. Namun sebelum mereka siap pa-

da posisi serangan berikutnya. Si Empat Wajah

sudah lepaskan pukulan dahsyat 'Banas Pati' ke

arah mereka. Gelombang panas melanda dengan

telak dan secepat kilat serangan ini menghantam

Jin-Jin itu. Dentuman keras terjadi disertai teriakan melengking direjam sakit yang luar biasa.

Keempat Jin hancur lebur menjadi asap. Di ke-

jauhan di angkasa sana terdengar suara jerit ber-

kepanjangan saling bersahut-sahutan.

Melihat ke empat lawannya sudah binasa,

Si Empat Wajah memberi isyarat pada sekutu-

sekutunya untuk menghancurkan gedung miring

tersebut. Maka orang-orang ini saling bahu mem-

bahu melepaskan pukulan-pukulan dahsyat ke

arah bangunan tersebut. Kiranya usaha itu tidak

mudah, ada beberapa tiang dan dindingnya yang

tidak dapat dihancurkan, terlebih-lebih bagian

tiang dan dinding yang berwarna putih. Bangu-

nan itu guncang seperti dilanda gempa. Hal ini

tentu dapat dirasakan oleh penghuninya. Di salah

satu ruangan di mana Aripati Ujudana alias Si

Muka Setan dan Datuk Tinggi Raja Di Angin tam-

pak saling berpandangan. Waktu itu seperti hari-

hari yang lalu Datuk Tinggi Raja Di Langit dalam

keadaan menangis.

"Aku merasakan terjadi gempa di sini, Da-

tuk?" berkata Si Muka Setan dengan perasaan





cemas. Lu Jingga seka air matanya, mata kakek

ini memandang ke langit-langit. Hidungnya yang

memerah kembang kempis. Seakan mengendus

sesuatu.

"Empat Jin pengawalku telah binasa. Siapa

yang melanggar sumpah untuk tidak saling

mengganggu? Ini bukan gempa, tapi perbuatan

orang-orang yang berusaha merusak gedung me-

gah ini. Gedung pengasingan tempat pelebur do-

sa." sahut Datuk Tinggi Raja Di Angin. "Muka Setan, sekutuku. Cobalah kau lihat keluar. Hancur-

kan siapa saja yang telah merusak gedung. Aku

akan menyusulmu tidak lama begitu kau berada

di luar sana" kata Datuk Tinggi Raja Di Angin.

"Aku akan menghancurkan siapa saja yang

bikin kerusakan di luar sana, sekutuku" sahut Si Muka Setan. Aripati Ujudana segera memanggul

senjata roda bergerigi yang dikenal dengan nama

Petala Langit. Dengan langkah tegap ia mening-

galkan ruangan itu. Pintu di bagian depan terbu-

ka dan kemudian menutup kembali dengan cepat.

Aripati Ujudana terkesiap melihat separoh ban-

gunan hancur dan pada bagian yang lain terbakar

dimakan api.

Si Muka Setan yang memiliki ajian Sabdan-

ing Geni itu berjalan melalui api yang menyala.

Aneh memang karena seujung rambutnya pun ti-

dak ada terbakar, pakaiannya pun tetap utuh.

Melihat ada orang keluar dari kobaran api terse-

but Si Empat Wajah terkesiap. Setan Arak, Iblis

Pemabukan dan Si Perusak Raga sempat melom-





pat mundur.

"Inikah orangnya?" berseru Si Perusak Ra-ga. Seruannya ditujukan pada Si Empat Wajah.

"Huh, aku sendiri tidak tahu yang bagai-

mana rupanya kunyuk bergelar Datuk Tinggi Raja

Di Angin itu. Siapa pun yang keluar dari bangu-

nan itu harus kita binasakan"

"Baik, kalau begitu biar kami bertiga yang

menyelesaikan orang ini" kata Setan Arak.

"Tidak Sebaiknya kita maju satu-satu

menjajal kehebatannya" bantah Si Perusak Raga.

Orang ini melompat ke depan.

Memperhatikan Si Muka Setan yang dia

sangka sebagai Datuk Tinggi Raja Di Angin. "Kau orangnya yang mendirikan bangunan ini. Huh,

kau manusia munafik yang membuat calon isteri-

ku menderita lahir batin" dengus orang ini sinis.

"Bicaramu ngelantur Apa yang dapat kau

andalkan?" hardik Si Muka Setan.

"Kesaktianku untuk mengantar kematian-

mu" teriak Si Perusak Raga. Selesai dengan ucapannya. Si Perusak Raga melesat ke depan kirim-

kan jotosan berkekuatan lima tenaga kuda. Angin

bersiut dan menderu, sambarannya saja mem-

buat kulit terasa seperti dibeset-beset. Si Muka

Setan orang yang selalu nekad dan tidak takut

mati ini sama sekali tidak menghindar. Pukulan

langsung dipapaknya. Sehingga terjadilah bentu-

ran keras.

Buungg...

"Akh..."





"Ukh"

Dua-duanya terdorong mundur. Tangan Si

Perusak Raga menggembung merah. Si Muka Se-

tan usap-usap sikunya yang kesemutan, namun

sama sekali ia tidak berusaha mundur. Sekarang

ia membalas serangan Si Perusak Raga.

Wut Wut

Si Perusak Raga berkelit. Secepat kilat ber-

balik dan terangkat ke atas.

Plak

"Heh..."

Perusak Raga lagi-lagi terjajar. Dadanya

kini mendenyut sakit dan kaki yang berbenturan

dengan kaki lawan seakan remuk. Untuk pertama

kalinya ia melompat mundur. Tenaga dalam dike-

rahkannya ke arah dua belah tangan. Orang ini

kiranya nekad melepaskan pukulan 'Inti Raga'

Tangan yang memerah itu kemudian dikibaskan.

Segulung angin panas disertai pijaran bunga api

melabrak Si Muka Setan. Laki-laki ini sama sekali

tidak menghindar namun lindungi tubuhnya den-

gan tenaga dalam tinggi. Praktis pukulan tersebut

menghantam tubuhnya dengan telak. Terdengar

suara ledakan yang sangat dahsyat hingga mem-

buat sisa bangunan berguncang. Si Muka Setan

ternyata hanya terdorong mundur, ia tertawa ter-

gelak-gelak. Setan Arak dan Iblis Pemabukan sal-

ing berbisik. Sedangkan Si Empat Wajah keliha-

tan acuh dan terus menghancurkan sisa bangu-

nan yang ada.

"Rasanya ia kebal terhadap pukulan Kura-





sa matanya nanti dapat kita hancurkan dengan

arak kita"

Sementara itu tidak jauh dari pertempu-

ran, di balik batu tampak bersembunyi seseorang.

Sekarang ia sudah melihat siapa sebenarnya yang

mula-mula membuat keonaran di bangunan ter-

sebut. Ia telah memutuskan untuk membantu

Muka Setan bila laki-laki itu terdesak.

"Hanya begitu sajakah hebatnya pukulan

yang kau miliki? Kalian telah berkomplot dengan

Ratu Keindahan dalam menghancurkan gedung

ini. Perjanjian telah dilanggar. Sekutuku menga-

takan agar aku menghancurkan kalian" dengus

Si Muka Setan.

"Bah, jadi kau hanya cecunguknya saja.

Mana Datuk Tinggi Raja Di Angin? Apakah dia

sudah berubah menjadi pengecut tidak berani

tunjukkan diri?" ejek Si Perusak Raga yang diam-diam merasa kaget juga melihat kesaktian yang

dimiliki oleh lawannya.

"Hiyaa..."

Perusak Raga sambil berteriak keras cabut

kapak besarnya. Kapak bermata satu itu bergerak

cepat terarah ke bagian kepala Si Muka Setan.

Namun laki-laki berbaju hitam ini tidak tinggal

diam. Ia segera lepaskan senjata roda bergerigi Si Petala Langit. Begitu senjata mendesing di udara,

ia membelah menjadi tiga bagian. Tiga-tiganya

melabrak Si Perusak Raga. Lawan terkesiap

menghadapi senjata aneh. Ia terpaksa bersalto ke

belakang, sambil kibaskan kampaknya untuk





menangkis senjata maut tersebut.

Tring

Sebuah roda maut berbalik dan hampir

melibas pemiliknya. Namun duanya lagi terus

mengejar Si Perusak Raga. Mati-matian orang ini

jungkir balik sedangkan kampaknya menghantam

ke segala penjuru disertai suara mendengung-

dengung.

Tring

Satu roda maut mental berbalik menghan-

tam mata kampak Perusak Raga. Tapi yang sa-

tunya lagi sudah menerabas pinggangnya.

Treces

"Augkh"

Perusak Raga menjerit keras. Petala Langit

sudah kembali pada Si Muka Setan. Ujudnya

menjadi tunggal lagi. Terhuyung-huyung Perusak

Raga bangkit berdiri sambil mendekap luka di ba-

gian sisi kiri perutnya. Melihat kawannya dalam

keadaan terluka, maka Setan Arak dan Iblis Pe-

mabukan menjadi cemas dan mulai bertindak.

Dalam pada itu terdengar seruan keras dari Tri-

gada. "Manusia tolol, hanya menghadapi kunyuk bersenjata roda saja tidak becus. Keroyok dan

bunuh dia" perintahnya.

"Bagus Majulah kalian semua" tantang Si Muka Setan begitu mendengar ucapan Empat Wajah. "Mari kita gebuk setan keparat itu sampai menjadi serbuk, kakang" teriak Setan Arak ditu-





jukan pada Iblis Pemabukan

Tanpa bicara lagi Iblis Pemabukan lang-

sung melancarkan serangan-serangan dahsyat

dengan mengerahkan jurus-jurus mabuk yang

dimilikinya. Ternyata menghadapi kedua lawan

yang baru menerjunkan diri ke medan pertempu-

ran ini jauh lebih sulit dibandingkan ketika

menghadapi Si Perusak Raga tadi. Apalagi Si Mu-

ka Setan sekarang mendapat tekanan dari tiga

arah sekaligus. Muka Setan melompat keluar dari

kalangan pertempuran. Dalam pada itu ia sudah

melepaskan Petala Langit. Kini roda bergerigi ini

membagi pada tiga sasaran. Satu mengarah pada

Perusak Raga, satu ke arah Setan Arak dan yang

satunya lagi menghantam Iblis Pemabukan.

Serangan roda terbang menjadi tidak ba-

nyak berarti bagi kedua pemabuk ini. Karena

dengan gerakan-gerakan terhuyung maupun li-

ukan-liukan tubuh mereka roda bergerigi tidak

dapat menyentuh lawannya. Terkecuali yang sa-

tunya lagi langsung menghantam dada Si Perusak

Raga hingga tembus ke jantung. Tewaslah orang

ini dihantam Petala Langit. Namun pada kesem-

patan itu pula bahaya lain mengancam Si Muka

Setan. Semburan arak lawan-lawannya yang sela-

lu mengarah ke bagian matanya membuat ia tidak

leluasa melakukan serangan balasan. Serangan

roda bergerigi menjadi tidak terarah dan berulang

kali nyaris menghantam dirinya sendiri.

"Heaaa..."

Setan Arak menerobos ke depan, lawan be-





rusaha mundur akan tetapi dari arah samping

menghantam cairan arak yang disemburkan Iblis

Pemabukan ke bagian matanya. Si Muka Setan

berjumpalitan. Sebagian arah menghantam tu-

buhnya, hingga membuat pakaian laki-laki ini

hancur.

Kini sudah tampak jelas Si Muka Setan

terdesak hebat. Setan Arak tidak menyia-nyiakan

kesempatan. Arak kembali berhamburan dari mu-

lutnya dan....

Cuh

"Akkh..."

Tidak terelakkan lagi mata kiri lawan han-

cur. Muka Setan menjerit-jerit sambil mendekap

matanya yang menyemburkan darah.

"Bunuh" teriak Iblis Pemabukan.

Maka Setan Arak menghantamkan buli-

bulinya ke kepala lawannya. Kalang kabut Muka

Setan lindungi kepala disamping harus lindungi

matanya yang hanya tinggal sebelah agar tidak

mengalami kebutaan total. Namun pada detik-

detik yang sekritis itu, terlihat bayangan biru berkelebat. Kaki orang ini menghantam lengan Setan

Arak. Setan Arak menjerit dan jatuh terpelanting,

buli-buli di tangan hancur. Sedangkan lengannya

sendiri seraya remuk seperti dihantam pentungan

besi. Baik Iblis Pemabukan yang sempat mundur,

maupun Setan Arak dengan mata melotot dapat

melihat seorang pemuda berpakaian biru beram-

but hitam kemerahan tampak bertolak pinggang

tidak jauh di depan mereka dengan mulut termo-





nyong-monyong.

Sedangkan Si Muka Setan begitu melihat

ada orang yang telah menolongnya langsung am-

bil senjata dan melarikan diri dari pertempuran.

"Begitu beraninya kau mencampuri urusan

kami Siapakah kau ini kunyuk tolol?" bentak Iblis Pemabukan. Ia jelas merasa kesal, karena la-

wan yang sudah berada di ambang maut telah

melarikan diri karena campur tangan si pemuda.

Suro garuk-garuk kepala. "Sudah kalian tahu aku ini hanya kunyuk tolol. Mengapa kalian masih

bertanya-tanya? Apakah kalian bapak para mo-

nyet yang merasa kehilangan anaknya? Yang jelas

aku bukan anak para monyet mabuk yang bikin

keonaran di sini" ejek Suro seenaknya.

"Sebutkan apa gelarmu, agar malaikat ti-

dak lupa mencacat namamu di akherat nanti"

maki Setan Arak. Seraya langsung berdiri.

"Ha ha ha... Gelarku monyet brewok tu-

kang mabuk. Malaikat pasti tidak salah catat, ka-

rena neraka sudah mengabarkan aku bahwa

kalian berdua adalah calon penghuni abadi di sana" kata Pendekar Blo'on. Melihat lagak si pemuda yang seperti orang sinting, rasanya ia tidak

punya kepandaian apa-apa. Tapi mengingat Setan

Arak dapat dijatuhkannya. Bukan mustahil ia

punya kelebihan dibalik wajahnya yang tolol itu.



"Adik Setan Arak Mari kita rencah tubuh

pemuda edan ini dengan arak kita" seru Iblis Pemabukan.





"Hu hu hu... Aku paling suka berhadapan

dengan manusia gila seperti dia" sahut Setan Arak. Dua lawan sama-sama menerjang ke arah

Suro. Satu lancarkan jotosan ke arah leher dan

mulut, sedangkan yang satunya lagi lepaskan

tendangan menggeledek ke arah perut dan sa-

puan pada bagian kaki.

"Ala emak, para setan mabuk sudah mulai

mengamuk" pekik Suro dan ia langsung jatuhkan diri. Tendangan maupun jotosan tidak mengena

pada sasaran yang diinginkan. Tapi kedua lawan

pemabuk ini cukup cerdik. Mereka pun berguling-

guling, tangan mencakar atau siku menghantam

tubuh Suro. Dalam keadaan berguling-guling ini

Suro memang mendapat serangan dari dua arah

sekaligus. Hal ini membuatnya cukup repot juga.

Dengan cepat ia melompat bangkit, sambil ber-

jingkrak-jingkrak ia menginjak-injak tubuh la-

wannya yang masih belum punya kesempatan

berdiri. Tapi injakan selalu meleset, bahkan ka-

kinya secepat kilat dapat dihantam oleh Iblis Pe-

mabukan hingga membuatnya terpelanting roboh.

"Wadoooh, orang mabuk ini memang sudah

pada edan semuanya" maki Pendekar Blo'on. Ia cepat jungkir balik, ketika kedua kakinya membentuk kuda-kuda di atas tanah. Mulailah ia me-

lakukan gerakan-gerakan yang sangat aneh hing-

ga membuat lawan-lawannya terheran-heran. Mu-

lutnya termonyong-monyong, terdengar suara

ngak ngik nguk tidak ubahnya seperti suara see-





kor monyet. Kakinya bergerak dengan gesit seper-

ti kaki monyet yang sedang menari-nari, tangan-

nya menggaruk ke sana sini. Itulah jurus 'Kera

Putih Memilah Kutu' yang dipadukan dengan ju-

rus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.

"Jurus Siluman Kera Putih?" sentak Setan Arak yang rupanya cepat dapat memahami apa

yang dilakukan oleh pemuda rambut kemerahan

tersebut.

"Hiaa..."

Setan Arak yang sedikit banyaknya pernah

mendengar kehebatan jurus-jurus ini segera te-

guk araknya. Tiba-tiba saja ia sudah melompat ke

depan, serangan rangkaian bertubi-tubi dilaku-

kannya.

Plak Plak Plak

Hantaman buli-buli arak maupun sodokan

lututnya membentur tangan si pemuda. Suro

mundur, terdengar suara lolongannya. Suara lo-

longan yang kemudian disertai gerakan si konyol

yang terkesan serampangan dan tidak mengenal

aturan silat sama sekali.

Nguk Nguk Nguk

"Hia..."

Tiba-tiba saja Suro jungkir balik, kepala di

bawah kaki menendang perut lawan. Gerakan ini

terkesan asal-asalan, sebelah tangannya didorong

ke arah paha lawan. Melihat angin bergulung-

gulung, Setan Arak menangkis, tapi tendangan

kaki ternyata lebih dulu menghantam perutnya.

"Hegkkkh..."





Setan Arak terjengkang, dari samping me-

nyambar serangan. Dan tahu-tahu Iblis Pemabu-

kan telah mengemplang kepalanya. Suro menge-

luh, ia terhuyung-huyung dan miring-miring se-

perti ayam sakit ayan. Selagi langkahnya goyah

dan pandangan matanya berkunang-kunang. Tin-

ju Iblis Pemabukan sudah menghantam dadanya.

Dieegkh...

"Uhuk Hoek-hoekh... Setan betul Bang-

sat..." maki si pemuda sambil pegangi dadanya.

Setelah diurut-urut keluar darah dari sudut-

sudut bibirnya.

Setan Arak yang sudah berdiri bersama Ib-

lis Pemabukan langsung menyerang Pendekar

Blo'on dengan semburan araknya. Untunglah Su-

ro bertindak gesit sambil menggelindingkan tu-

buhnya. Setiap batu yang terkena semburan arak

berlubang mengepulkan asap, rumput kena sem-

bur, rumput langsung terbakar. Bukan main-

main memang Suro sendiri tidak sanggup mem-

bayangkan bagaimana batok kepalanya yang ter-

kena semburan arak tersebut. Pasti langsung bo-

long menembus otaknya.

Pontang-panting pemuda ini selamatkan

diri. Tapi lawan-lawannya ini benar-benar para

pemabuk yang sudah penuh keedanan. Hingga

Pendekar Blo'on bolak-balik hampir mati konyol.

"Setan sompret Huuh... huuh... huu,

heaa..." Pemuda baju hijau melontarkan kata-

kata yang tidak jelas. Lalu terdengar suara ta-

wanya yang bekakakan. Tubuhnya berkelebat le-





nyap. Rupanya ia saking gusarnya sudah menge-

rahkan jurus 'Tawa Kera Siluman'. Kemudian se-

cara cepat ia menyusup ke arah pertahanan la-

wan. Pukulan beruntun dilakukannya.

Buk Buk

Pruh

Meskipun sempat terbanting terkena haja-

ran Suro yang telak itu, tapi Iblis Pemabukan ma-

sih dapat semburkan araknya. Semburan arak di-

tangkis oleh Suro, sehingga membuat bajunya

terbakar sebagian. Kulitnya melepuh dadanya me-

lepuh dan pusernya juga ikut melepuh. Suro

hampir-hampir mati konyol. Hilang kesabaran-

nya, maka ia lepaskan pukulan 'Ratapan Pem-

bangkit Sukma'. Suro angkat tangannya tinggi-

tinggi kedua lengannya hanya dalam waktu seke-

jap telah berubah memutih laksana salju. Setan

Arak dan Iblis Pemabukan sadar betul dengan

bahaya yang mengancam jiwa mereka. Sehingga

ia pun lepaskan pukulan 'Nyanyian Setan Mabuk

Di Tengah Malam'.

Dua-duanya dalam waktu bersamaan hen-

takkan kedua tangannya ke arah lawan. Tapi Su-

ro sudah mendahuluinya. Detik itu juga meluncur

segulung sinar putih disertai angin menderu-

deru. Sinar kuning meluncur pula memapak se-

rangan Pendekar Blo'on. Terjadi pertemuan dua

serangan sakti di udara. Lalu....

Buum Buum

"Aukh..."

Tiga suara jeritan terdengar berturut-turut.





Masing-masing lawan sudah terlempar sejauh tiga

tombak. Tampaknya Setan Arak dan Iblis Pema-

bukan hanya menderita luka ringan. Sedangkan

Pendekar Blo'on megap-megap. Kepalanya benjut

terhantam akar pohon.

"Sekarang tibalah saatnya bagimu untuk

berjalan-jalan ke neraka" teriak Iblis Pemabukan.

Tanpa berpikir lebih lama lagi tubuhnya melesat.

Kakinya menginjak kepala Suro. Pemuda ini me-

nyeringai, tapi tangannya mencabut Mandau Jan-

tan dengan cepat.

"Hiiiiik Huuuuu Haaaaaa..."

"Awas, kakang" teriak Setan Arak ketika melihat lawan mencabut senjata. Peringatan ini

sudah terlambat. Senjata yang dapat meringkik,

merintih dan tertawa itu berkelebat dan....

Craas

Tenggorokan Iblis Pemabukan terputus. Ia

jatuh tersungkur di samping Suro. Melihat sauda-

ranya roboh, seperti setan gila Setan Arak mener-

kam Pendekar Blo'on. Namun Mandau di tangan

Suro menembus perutnya. Laki-laki ini menjerit,

roboh menimpa Pendekar Blo'on. Pendekar Blo'on

sentakkan senjatanya.

Sesaat ia mengitarkan pandangan matanya

berkeliling. Ketika itu ia melihat bangunan sudah

rata menjadi tanah. Dari reruntuhan bangunan

muncul seorang laki-laki tua dalam keadaan me-

nangis. Sedangkan tidak jauh darinya Si Empat

Wajah sudah menunggunya dengan perasaan

gembira. Suro yang dalam keadaan terluka ini ku-





rang menghiraukan perdebatan sengit yang terja-

di di antara mereka. Ia pejamkan matanya setelah

menelan tiga pil berwarna-warni. Dikerahkannya

tenaga dalam untuk menghilangkan luka-luka

yang ia derita. Lama sekali murid Penghulu Silu-

man Kera Putih dan Malaikat Berambut Api ini

memejamkan matanya. Tubuhnya pun mandi ke-

ringat. Saat mana ia membuka matanya kembali.

Maka kakek yang keluar dari reruntuhan bangu-

nan tadi dengan sosok tinggi kurus berkepala be-

sar dan punya wajah empat sudah saling berha-

dap-hadapan.

"Dara Nirmala tidak kusangka berani me-

langgar perjanjian. Kau datang ke sini tentu atas

suruhannya, bukan?" tanya si kakek yang tidak lain adalah Lu Jingga atau yang lebih kesohor

dengan julukan Datuk Tinggi Raja Di Angin. Si

Empat Wajah tertawa membahak. Karena empat

mulutnya tertawa semuanya maka terdengarlah

suara rentetan yang menggelegar bagai halilintar.





9


Suro sendiri terpaksa lindungi telinga agar

tidak terpengaruh tawa Si Empat Wajah. Tawa ti-

ba-tiba terhenti Suro masih duduk bersila di tem-

patnya sambil bengong.

"Kau salah tua bangka, Lu Jingga Kurasa

kau masih ingat dengan Dara Alindi bukan? Nah

gadis itu yang menyuruhku untuk memenggal





kepalamu..." sahut laki-laki bertubuh kurus cek-ing berkepala besar tersebut sambil gelengkan

kepala. Air mata yang mengalir dari kelopak mata

Datuk Tinggi Raja Di Angin mendadak berhenti

dengan sendirinya. Ia memang sempat terkejut,

hanya rasa kagetnya tidak sempat terlihat oleh

lawannya. Ia kemudian bicara dengan suara din-

gin. "Jadi di mana perempuan itu sekarang?"

"Dia tentu saja mencari saudaranya yang

sangat dibencinya dalam gedung megah itu. Kau

mampus di tanganku, sedangkan Dara Alindi

akan membunuh orang yang sangat kau gila-gilai

itu" ejek Si Empat Wajah. Suro mendengarkan

perdebatan itu sambil garuk-garuk kepala.

"Aku semakin jelas sekarang. Kiranya per-

soalan yang mereka ributkan cuma persoalan

asmara." gerutu Suro merasa tidak betah. Dalam kesempatan itu terdengar suara Datuk Tinggi Ra-ja Di Angin menggerung keras.

"Sembilan akalku dulu memang pernah ka-

lah dan dijadikan pecundang oleh satu nafsuku.

Tapi sekarang semuanya sudah tidak bersebab.

Aku sudah tidak menghiraukan apa yang terjadi

dan yang akan terjadi pada dunia dan isinya. Ke-

tahuilah Dara Alindi itu jika tidak punya ilmu

awet muda dia sudah menjadi nenek-nenek renta

seperti diriku. Aku sekarang tahu dia tentu me-

nawarkan tubuhnya padamu, bukan?" dengus Lu

Jingga. "Lalu kepandaian apa yang kau miliki un-





tuk menghadapi aku? Sedangkan jika Dara Alindi

saja yang menghadapi langsung, ia belum tentu

dapat mengalahkan aku" kata si kakek bersungguh-sungguh.

"Hmm, bangsat sombong Aku Empat Wa-

jah, akan kupatahkan lehermu dengan kedua

tanganku ini" teriak Trigada.

Hanya dalam tempo yang teramat singkat,

kedua orang ini sudah saling lancarkan serangan.

Gerakan mereka sangat cepat luar biasa, sehingga

jika hanya ahli-ahli silat berkepandaian biasa-

biasa saja tentu akan menjadi pusing melihat per-

tempuran yang berlangsung sangat cepat ini.

Bentakan disertai hantaman keras silih berganti.

Inilah pertemuan dua tokoh sakti yang memiliki

kepandaian luar biasa. Si Empat Wajah sang

Makhluk Tanpa Pendirian mulai melancarkan ju-

rus-jurusnya yang paling hebat. Sehingga setiap

gerakan tubuhnya mengeluarkan deru angin dah-

syat yang disertai beterbangannya batu dan pasir.

Dalam sebuah kesempatan ia menghantam tulang

rusuk lawan dengan pukulan 'Perempuk Raga Bi-

nasa Jiwa'. Dan tangan yang telah berubah

menghitam tersebut meluncur. Datuk Tinggi me-

nepis dengan lima jari tangannya.

Dess

"Hukh..."

Si Empat Wajah malah terdorong mundur,

padahal Datuk Tinggi Raja Di Angin belum men-

gerahkan tenaga seutuhnya. Dari sini saja sudah

jelas kakek ini tampaknya memang bukan lawan





Si Empat Wajah. Setelah mengetahui kedudukan

yang sebenarnya, maka Suro segera meninggal-

kan tempat itu untuk mencari Dewa Sinting dan

Andini yang telah berada di dalam gedung di se-

belah timur. Sementara kedua orang yang diting-

galkan Pendekar Blo'on terus bertarung, bahkan

Si Empat Wajah sendiri sudah mulai melepaskan

pukulan 'Empat Bintang Saling Bertubrukan'.

Spontan kedua tangan Trigada menjadi biru me-

mancarkan sinar kemilau.

Dibarengi dengan lesatan tubuhnya ke de-

pan. Ia dorong kedua tangannya. Sinar biru mele-

sat dari telapak tangan Si Empat Wajah saling

susul dan berantai. Manusia sakti setara dengan

Dewa ini tekuk kaki kirinya ke depan, lalu ia do-

rongkan pula kedua tangannya ke depan. Do-

rongan itu tidak menimbulkan akibat apa-apa. Ini

menandakan tenaga sakti si Kakek sudah jatuh

berada di atas sempurna. Tahu-tahu terjadi den-

tuman, tiga sinar lain berbalik dan menghantam

Si Empat Wajah. Jika laki-laki berkepala besar ti-

dak cepat membanting tubuhnya ke samping, ia

dapat dipastikan hangus dilanda pukulunnya

sendiri. Sambil memaki, Empat Wajah masih

sempat berpikir bahwa serangannya tadi seakan

menghantam dinding gaib yang begitu halus tapi

punya daya pantul tiga kali dari kekuatan seran-

gannya.

"Keluarkan seluruh kepandaianmu, manu-

sia Empat Wajah. Tegas kukatakan kalau pun

kau belajar seratus tahun lagi, kesaktianmu be-





lum bisa dikatakan seimbang dengan yang kumi-

liki" kata Datuk Tinggi.

Merasa diremehkan, Si Empat Wajah men-

jadi gusar. Empat mulutnya membuka. Empat

buah lidah terjulur panjang dikobari api. Lidah

itu mengejar Lu Jingga. Justru ini yang ditunggu-

tunggu si kakek. Saat dua lidah membelit tubuh-

nya. Ia lenyapkan hawa panas itu dengan penge-

rahan tenaga dalam. Dan jemari tangannya yang

berkuku runcing, menerabas.

Tes Tes

Dua lidah terpotong. Si Empat Wajah me-

raung, darah mengucur. Ia berjingkrak-jingkrak

kesakitan. Dua lidah lainnya masuk ke dalam

mulutnya. Empat Wajah dalam kepanikannya

menjadi nekad. Ia menerjang lawan pada jarak

yang sangat dekat. Datuk Tinggi Raja Di Angin

berkelit, serangan itu lewat di sampingnya. Kaki

si kakek terangkat...

Set

Gubrak

Empat Wajah tersungkur, dengan segera

Lu Jingga menghampiri, tidak disangka-sangka

lawan berbalik dan menerkamnya. Sehingga ter-

jadilah saling cekik. Datuk Tinggi Raja Di Angin

kerahkan seluruh tenaga sakti yang dimilikinya

ke dua belah tangannya. Tubuhnya bergetar ke-

ras. Empat Wajah mulai merasa kepitan yang

membuat tenggorokannya serasa putus. Ia beron-

tak, setelah mengerahkan seluruh kemampuan-

nya ternyata ia tidak mampu melepaskan cekikan

si kakek, malah cekikannya pada leher lawan

semakin mengendor.

Kreek

Terdengar suara tulang leher berderak pa-

tah. Si Empat Wajah sudah tidak mampu lagi

menjerit. Lima kuku Lu Jingga berkelebat, kemu-

dian menancap di tenggorokan lawan. Ketika ka-

kek itu menyentakkan tangannya maka batang

tenggorokan lawan itu terbetot keluar. Si Empat

Wajah langsung dihempaskannya. Orang ini tidak

dapat berkutik lagi. Datuk Tinggi Raja Di Angin

menyeka air mata, pandangannya beralih pada

gedung di sebelah timur. Ada sesuatu yang me-

nyentak-nyentak hatinya, hingga membuat laki-

laki tua ini menjadi sedih.

"Mungkin ini sudah takdir. Apa pun yang

terjadi aku harus masuk ke gedung itu. Aku ingin

melihat anakku dari hubungan mimpi terkutuk

itu. Aku ingin menyampaikan permintaan maaf pada Dara Nirmala" batin si kakek.


"Sial, kemana perginya Dara Nirmala Aku

tidak yakin ia
meninggalkan gedung ini. Ia adalah

orang yang paling tidak suka berkeliaran dan ber-

jumpa dengan orang-orang yang bertebaran di

permukaan bumi. Hampir semua kamar telah ku-

periksa. Aneh, sama sekali aku tidak mene-

muinya?" desis gadis berpakaian ringkas yang

umur sesungguhnya hampir tiga ratus tahun ini

dengan perasaan kesal. Ia berjalan mondar-

mandir dan melakukan pemeriksaan di sana sini.

Tiba-tiba gadis ini hentikan langkah.

"Kurasa ada ruangan rahasia di sini" pikir si gadis yang tidak lain adalah Dara Alindi. Belum sempat ia menentukan langkah selanjutnya, tiba-tiba saja pintu di ruangan sebelah berderit terbu-

ka, muncul seorang kakek gendut membawa bun-

talan di punggungnya disertai seorang gadis can-

tik yang disangka oleh Dara Alindi adalah Dara

Nirmala karena wajahnya yang mirip betul

"Kucari kemana-mana ternyata kau baru

keluar dari tempat persembunyianmu, perem-

puan ingkar" dengusnya langsung melompat ke

depan. Dewa Sinting yang sudah mengetahui du-

duk persoalan yang sebenarnya dari roh Ratu

Keindahan langsung menjawab.

"Dia bukan perempuan yang kau sangka-

kan Saudaramu sudah meninggal, sedangkan ini

putrinya" jelas si kakek.

Meledaklah suara tawa Dara Alindi. "Hi hi

hi... Jadi dia sudah mampus Anak jadah ini pu-

trinya. Huh, tidak kulihat di mana bapaknya Ba-

giku tetap saja. Dia harus kubunuh"

Andini menggerakkan tangannya memberi

isyarat pada Dewa Sinting. Maka tahulah si gadis

bahwa Andini tidak bisa bicara alias gagu. Kenya-

taan ini menjadi bahan tertawaannya.

"Benar-benar anak yang malang Sudah

terlahir dari hubungan mimpi terkutuk, gagu pu-

la Hmm, kepalang basah, tidak dapat kubunuh

ibunya. Jika aku dapat membunuh anaknya me-

rupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagiku..."

"A... au... aaah..." Si Penyair Gagu coba bicara, namun hanya Dewa Sinting saja yang dapat

mengetahui arti isyaratnya itu. Sehingga ia pun

bicara ditujukan pada Dara Alindi.

"Menurutnya dendammu membabi buta.

Pikiranmu picik, kau pantas menjadi santapan

cacing tanah"

"Begitu kata gadis gagu itu Kita buktikan

siapa yang tersungkur mampus di sini lebih du-

lu" dengus Dara Alindi dengan rahang bergemele-tukan. Gadis berumur ratusan tahun ini tiba-tiba

hantamkan kedua tangannya ke arah si gadis dan

kakek gendut. Serangan ini cepat luar biasa, dan

dikenal dengan nama 'Merampas Sukma Cam-

pakkan Raga Darah'. Si kakek hendak sela-

matkan si gadis. Namun serangan lawannya lebih

awal menghantam.

Buuk Buuk

Andini sempat tersungkur dengan kepala

menghantam tembok. Dewa Sinting terjengkang.

Ternyata tenaga dalam lawan jauh lebih tinggi da-

ri tenaga dalam yang dimiliki oleh si kakek mau-

pun Andini.

Dewa Sinting lepaskan toya yang selalu di-

pergunakan untuk membawa buntalan. Sambil

menggerung marah ia lancarkan serangan bala-

san. Toya menderu-deru menimbulkan gelombang

angin kencang yang saling tindih menindih. Dari

samping kiri Andini sudah bergebrak pula. Meng-

hadapi serangan yang tidak dapat dipandang en-

teng ini Dara Alindi kelihatan masih tenang-

tenang saja. Tubuh gadis dari Lembah Silau Du-

nia ini mencelat ke langit-langit. Serangan toya si kakek nyaris menggebuk kepala Andini. Dewa

Sinting membelokkan toyanya, kemudian dis-

odorkannya ke langit-langit. Ternyata lawannya

cukup cerdik. Toya disambarnya, melalui toya itu

ia meluncur turun, kemudian kakinya menen-

dang. Dhaak

Dewa Sinting menjerit dan terguling-guling.

Ia dalam keadaan terluka masih sempat lepaskan

pukulan. Namun Dara Alindi berkelit dan puku-

lan Dewa Sinting menghantam tembok. Hancur-

lah tembok tersebut. Melihat Dewa Sinting dalam

keadaan terdesak, Andini tidak tinggal diam.

Tubuhnya tiba-tiba saja melesat. Jemari

tangannya mencakar wajah yang cantik itu dan

kakinya menendang.

Sambil memaki lawan selamatkan wajah-

nya, namun kaki Andini menghantamkan tepat di

dada kiri lawan. Dara Alindi terhuyung-huyung,

hanya sampai sebatas itu tidak sempat terluka.

Dengan penuh kegeraman ia lepaskan pukulan

'Seribu Bala Lembah Silau Dunia'. Ini adalah se-

rangan yang paling mematikan yang pengaruh si-

narnya saja sudah membuat Dewa Sinting menje-

rit kesakitan. Si gadis jelas dalam keadaan teran-

cam, pada detik-detik yang sangat kritis itu ada

kabut tipis berujud sosok perempuan menyapu ke

arah ubun-ubun Andini. Tubuh si gadis sempat

tergetar, roh Dara Nirmala kiranya sudah mera-

suk dalam diri putrinya. Tanpa membuang-buang

waktu lagi Andini yang telah dirasuki roh ibunya

langsung hantamkan tangannya ke depan. Se-

hingga terjadilah ledakan yang membuat sebagian

bangunan runtuh. Dua tiang hancur, sebagian re-

runtuhannya menimpa Dewa Sinting. Hingga si

kakek teriak tertolong-tolong.

"Kau turunkan pukulan paling keji pada

putriku Aku bisa mengantarmu ke alam barzah"

Arwah Dara Nirmala yang merasuk dalam diri pu-

trinya bicara.

"Hmm, rupanya kau mendampingi anak-

mu Kau akan mengalami dua kali kematian beri-

kut anakmu Kau manusia munafik, munafik..."

teriak Dara Alindi semakin bertambah kalap.

"Tuduhanmu tidak beralasan Cemburumu

membabi buta hingga membuat langkahmu se-

makin bertambah sesat saja Hia..." Sang Roh yang berada dalam diri Andini tiba-tiba melesat

ke depan. Kemudian tangan si gadis yang dirasu-

ki arwah ibunya berubah-rubah warnanya dari

merah, hitam, kuning dan biru. Dara Alindi tidak

berusaha mengelak, malah ia memapak. Hingga

kedua tangannya melekat pada telapak tangan

Andini. Dua tenaga sakti saling berusaha menin-

dih, mendorong dan himpit menghimpit. Tampak-

lah sudah waktunya mereka sama-sama mengadu

jiwa. Dewa Sinting tidak berani mengambil kepu-

tusan apa-apa. Tubuh Andini yang dirasuki ar-

wah ibunya mulai bergetar dan keluarkan kerin-

gat dingin. Demikian pula dengan lawan, sudut-

sudut bibir Dara Alindi meneteskan darah. Dari

hidung Andini mengucur darah pula. Suasana

semakin bertambah tegang. Kini telinga Dara

Alindi dan juga hidungnya tampak meneteskan

darah. Nafasnya mulai tersendat-sendat. Dalam

keadaan yang sangat gawat antara hidup dan ma-

ti. Sosok bayangan berkelebat, lalu terdengar sua-

ra.... Plak Plak

"Wuaaakh..."

Baik Dara Alindi maupun Andini yang di-

kendalikan arwah sang ibu sama-sama terjeng-

kang dengan darah berbusaian dari mulut mas-

ing-masing. Sebaliknya bayangan biru setelah

terpental menabrak tembok, tampak meringkuk

sambil pegangi dadanya.

"Bocah gendeng Kau benar-benar mencari

mampus" seru Dewa Sinting yang melihat Suro

Blondo juga dalam keadaan terluka akibat beru-

saha memisah orang yang sedang mengaduh ke-

saktian tadi.

"To-lo-ng dia..." perintah Suro setengah merintih. Ia terbungkuk-bungkuk, tapi tidak bisa

berdiri tegak, ia merasa isi dalamnya mengisut

termasuk usus-ususnya.

Dewa Sinting tidak tinggal diam, melihat

Dara Alindi dalam keadaan tidak berdaya ia han-

tamkan toyanya ke bagian kepala. Sejengkal lagi

toya sampai pada sasaran. Dara Alindi menghan-


tam ke depan. Tentu saja Dewa Sinting tidak

sempat menghindar. Akibatnya....

"Akhckh..."

Kakek itu mengeluh dan roboh tidak sa-

darkan diri dengan luka berat yang ia derita. An-

dini bangkit berdiri, detik itu juga ia lepaskan pukulan 'Seribu Bala Lembah Silau Dunia', Dara

Alindi coba bangkit, sebelum ia sempat menghin-

dar pukulan lawan telah menghantam tubuhnya.

Terjadi suara ledakan tiga kali berturut-turut,

terdengar suara jeritan menyayat, Dara Alindi

membentur tembok. Kepalanya retak, sebagian

tubuhnya hangus. Dalam keadaan begitu pun ia

masih hidup. Suro yang berada di sampingnya le-

paskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Sinar hi-

tam merah bergulung-gulung menyapu tubuh la-

wannya. Lolongan panjang menggidikkan menyer-

tai tercabutnya nyawa Dara Alindi. Suro bangkit

berdiri, memandang ke samping kiri Andini tam-

pak tersenyum, senyum manis walaupun wajah-

nya pucat.

"Kau Andini atau arwah ibunya?" tanya Su-ro bingung.

"Aku ibunya Tapi aku segera meninggal-

kan anakku, terima kasih atas bantuanmu dan

bantuan kawanmu Ada orang datang, aku harus

pergi" kata arwah ibu Andini. Tubuh gadis itu bergetar, dari ubun-ubunnya tampak kabut

membentuk sosok tubuh wanita melesat ke uda-

ra. Andini tergagap-gagap seakan bingung, ia bi-

cara dengan isyarat tangannya. Namun Suro go-

lang-golengkan kepala.

"Aku nggak ngarti Akh.... Dewa Sinting

pun pakai klenger segala" gerutu Suro. Ia menghampiri si kakek. Kemudian ditekan-tekannya

nadi besar di tubuh si kakek. Karena tidak sadar juga, Suro terpaksa masukkan tangannya di balik baju. Setelah itu tangannya ditempelkan ke

hidung Dewa Sinting. Orang tua ini langsung ber-

sin-bersin.

"Tua gila Kau diketeki dulu baru mau sa-

dar" kata Suro sambil tertawa. Dewa Sinting merintih-rintih. Lalu memaki....

"Kau dan gurumu sama saja gilanya, tidak

mengenal adat dan kurang ajar" maki si kakek. Ia seka hidupnya yang bau ketiak Suro.

"Dara Alindi?"

Tiba-tiba terdengar suara seruan. Ketiga

orang ini sama menoleh. Yang datang ternyata

kakek tua. Orang ini melangkah dengan air mata

bercucuran. Suro yang sudah mengenali Datuk

Tinggi Raja Di Angin segera berkata.

"Dia bukan Dara Alindi, gadis ini anaknya,

Andini namanya. Dia putrimu, orang tua..."

"Anakku" seru si kakek, ia memeluk An-

dini. Ayah dan anak saling bertangisan.

"Datuk Tinggi Raja Di Angin, putrimu tidak

bisa bicara Sedangkan isterimu sudah meninggal

dan ada di ruang bawah" jelas Dewa Sinting.

"Semua ini salahku, semua ini karena ke-

saktian, cintaku cinta bisu, asmara gagu. Satu

nafsuku telah mengalahkan sembilan akalku. Apa

yang kuperbuat telah membuatnya menderita.

Dia anak yang terlahir dari hubungan mimpi. Ka-

lian telah membantu kami, jangan usik perte-

muan ini. Kami telah menetapkan untuk meng-

habiskan masa hidup di Lembah Silau Dunia"

kata Datuk Tinggi Raja Di Angin terisak-isak.

"Mari kita pergi kakek sinting Aku tidak

mau ikut terharu dan ikut-ikutan menangis Me-

reka orang yang sudah banyak menderita, mende-

rita karena ilmunya" ujar Pendekar Blo'on.

"Aku juga tidak ingin sedih. Melihat tam-

pangmu saja sudah menyedihkan. Ayolah..." katanya Dewa Sinting menyahuti. Keduanya lalu ke-

luar meninggalkan bangunan yang hampir runtuh

seluruhnya. Suro sempat nyengir melihat Andini

Si Penyair Gagu mengedipkan matanya yang in-

dah. Tangannya melambai seakan tidak rela di-

tinggalkan. Sampai di luar gedung mereka saling

berpandangan.

"Orang tua gila, kau hendak kemana?"

tanya Suro.

"Pergi kemana? Baru sekarang aku teringat

hendak pergi kemana? Kurasa aku pergi kemana

saja. Oh ya, kalau ketemu gurumu sampaikan sa-

lamku padanya dua ikat." Ternyata Dewa Sinting bicara seorang diri, karena yang diajaknya bicara

sudah lenyap dari sampingnya. Di kejauhan

sayup-sayup terdengar suara.

"Orang sinting itu sama dengan gila, miring

otaknya. Aku tidak suka berkawan dengan orang

gila, apalagi sudah tua dan bau tanah. Mendingan

aku sendiri agar tidak ikut menjadi gila Ha ha

ha..." kata Suro.

"Bocah goblok Pendekar Bodoh, kapan-kapan aku akan mencarimu" gerutu Dewa Sinting sambil melangkah pergi.

TAMAT







0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...