PENDEKAR BLOON
Eps.21
PERINTAH DARI ALAM GAIB
SATU
Di dalam Pura kosong Ratu Leak baru saja
menutupkan pintu kamar darurat yang baru saja
selesai dibuatnya. Saat itu suasana dalam kea-
daan hujan lebat. Udara di luar Pura terasa dingin menggigit. Melirik ke tengah-tengah ruangan terlihat sesosok tubuh terbaring menelentang di atas
Batu putih seperti marmar. Wanita cantik yang telah berumur kurang lebih enam puluh tahun itu
memperhatikan gadis cantik berkerudung putih
dengan sorot mata yang terasa aneh. Sekejap ke-
mudian ia mendekati gadis yang dalam keadaan
tidak sadarkan diri tersebut. Tangannya bergerak hendak menjangkau bagian dada Dewi Kerudung
Putih yang padat membusung. Namun kemudian
ia urungkan niatnya. Sebagai gantinya ia menelan ludah. Sesungging senyum menghias dibibirnya.
"Kau sudah berada di tanganku. Jika kau
punya hubungan asmara dengan Pendekar bodoh
itu. Lebih baik kau buang jauh-jauh mimpi indah
mu Kau menjadi milikku, kau akan menjadi ba-
gian dari malam-malam yang dingin ini Hik hik
hik" Ratu Leak membungkukkan tubuhnya. Se-
raya mencium lembut pipi Dewi Kerudung Putih.
Ciuman itu kemudian beralih ke bibir. Tetapi tiba-tiba saja ia jauhkan wajahnya dari wajah si gadis.
Gemuruh suara hujan mengalahkan segala-
galanya, namun tidak kuasa melenyapkan keresa-
han hati Ratu Leak yang muncul dengan tiba-tiba.
Perempuan itu kemudian menghampiri batu
bulat pipih yang terletak tidak begitu jauh dari bagian kepala si gadis. Ia duduk disana dengan posi-si bersila. Lalu kedua matanya terpejam. Sambil
memejamkan matanya Ratu Leak keluarkan teng-
korak kepala bayi. Bagian kedua rongga mata ter-
sebut terdapat dua buah benda bulat sebesar te-
lur. Sedangkan pada bagian ubun-ubun tengkorak
bayi itu ditancapi dua buah bambu berwarna kun-
ing. Di bagian telinga yang bolong terdapat manik-manik berwarna hitam merah dan menimbulkan
suara bergemerincing menyeramkan bila tertiup
angin. Tidak lama setelah tengkorak kepala bayi
berumur ratusan tahun itu berada di atas kedua
belah tangan dalam pangkuannya. Maka bibir
yang kemerahan itupun berkemak-kemik.
"Bssst Suwe... Hulll Ngun... bangun. Kit...
bangkit Aku Ratu Leak ratu dari segala ratu-ratu yang dihormati dalam kegelapan, dalam angan, dalam tidur. Dalam diri manusia yang lalai, yang sedang melamun, yang putus asa dan dalam setiap
jiwa yang kosong. Ratu adalah aku, penguasamu
adalah aku. Wahai jiwa yang mati penasaran, wa-
hai arwah yang mati sesat, duhai roh yang berpaling dari Tuhan dan dekat pada setan. Dan kubur
yang ada di seluruh jagad. Terbukalah, pintu-
pintumu, bangkitkan semua penghuni yang pena-
saran. Semuanya patuh padaku, semuanya..."
desis Ratu Leak.
Gelegar petir kembali menggema di udara,
hembusan angin semakin menggila. Lalu sayup-
sayup di kejauhan terdengar suara aneh seperti
suara orang melolong dalam sakit yang amat san-
gat. Ada pula seperti suara tenggorokan yang ter-potong. Bahkan terdengar lolongan anjing yang
menyeramkan sekali. Bersama dengan hembusan
angin itu muncul satu demi satu kabut putih me-
nyerupai sosok manusia. Sosok-sosok bergen-
tayangan ini bergerak lambat mengelilingi Ratu
Leak. "Berkumpullah? Pendekar bodoh itu menjadi patuh padaku bukan karena pengaruh sihirku
atau mantra-mantra sakti yang biasa. Tapi karena ia telah meminum dari cangkir tengkorak Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa. Sekarang aku ingin men-
getahui bagaimana hasil kerja pemuda itu? Apa-
kah dia telah berhasil membereskan kedua gu-
runya?" desis Ratu Leak. Sosok-sosok mengerikan yang berasal dari kabut tersebut tiba-tiba acungkan kedua tangannya ke arah tengkorak bayi yang
berada dalam pangkuan Ratu Leak. Terlihat sinar
merah melesat dari setiap ujung jemari yang tidak terbungkus daging itu.
Ratu Leak sempat tergetar menahan cahaya
yang menghujani ke bagian mata tengkorak bayi
tersebut. Sekejap kemudian ia membuka matanya.
Memandang lurus ke arah mata tengkorak yang
terisi benda bulat seperti telur itu sesuatu yang aneh terlihat di sana.
Kedua mata itu tidak ubahnya seperti cer-
min yang menggambarkan sebuah daerah sunyi
tidak berpenghuni.
"Aku ingin melihat dimana Pendekar Blo'on
berada, bukan pemandangan alam seperti yang
kau tunjukkan" dengus perempuan itu. Seraya menggerakkan kedua tangannya.
Blap
Perubahan pada bagian mata tengkorak ter-
jadi. Kini pada kedua bagian benda tersebut terlihat pemandangan lain di mana seorang pemuda
berbaju biru sedang dipanggul oleh seorang laki-
laki berpakaian hitam. Ratu Leak kerutkan ke-
ningnya.
"Celaka mengapa begini?" kata Ratu Leak.
"Rasanya aku pernah melihat orang yang satu itu?
Ia berlari seperti dikejar-kejar setan, siapa yang mengejarnya?" Ratu Leak kembali menggerakkan tangannya di atas rongga mata tengkorak tersebut.
Di dalam Pura kosong Ratu Leak baru saja
menutupkan pintu kamar darurat yang baru saja
selesai dibuatnya. Saat itu suasana dalam kea-
daan hujan lebat. Udara di luar Pura terasa dingin menggigit. Melirik ke tengah-tengah ruangan terlihat sesosok tubuh terbaring menelentang di atas
Batu putih seperti marmar. Wanita cantik yang telah berumur kurang lebih enam puluh tahun itu
memperhatikan gadis cantik berkerudung putih
dengan sorot mata yang terasa aneh. Sekejap ke-
mudian ia mendekati gadis yang dalam keadaan
tidak sadarkan diri tersebut. Tangannya bergerak hendak menjangkau bagian dada Dewi Kerudung
Putih yang padat membusung. Namun kemudian
ia urungkan niatnya. Sebagai gantinya ia menelan ludah. Sesungging senyum menghias dibibirnya.
"Kau sudah berada di tanganku. Jika kau
punya hubungan asmara dengan Pendekar bodoh
itu. Lebih baik kau buang jauh-jauh mimpi indah
mu Kau menjadi milikku, kau akan menjadi ba-
gian dari malam-malam yang dingin ini Hik hik
hik" Ratu Leak membungkukkan tubuhnya. Se-
raya mencium lembut pipi Dewi Kerudung Putih.
Ciuman itu kemudian beralih ke bibir. Tetapi tiba-tiba saja ia jauhkan wajahnya dari wajah si gadis.
Gemuruh suara hujan mengalahkan segala-
galanya, namun tidak kuasa melenyapkan keresa-
han hati Ratu Leak yang muncul dengan tiba-tiba.
Perempuan itu kemudian menghampiri batu
bulat pipih yang terletak tidak begitu jauh dari bagian kepala si gadis. Ia duduk disana dengan posi-si bersila. Lalu kedua matanya terpejam. Sambil
memejamkan matanya Ratu Leak keluarkan teng-
korak kepala bayi. Bagian kedua rongga mata ter-
sebut terdapat dua buah benda bulat sebesar te-
lur. Sedangkan pada bagian ubun-ubun tengkorak
bayi itu ditancapi dua buah bambu berwarna kun-
ing. Di bagian telinga yang bolong terdapat manik-manik berwarna hitam merah dan menimbulkan
suara bergemerincing menyeramkan bila tertiup
angin. Tidak lama setelah tengkorak kepala bayi
berumur ratusan tahun itu berada di atas kedua
belah tangan dalam pangkuannya. Maka bibir
yang kemerahan itupun berkemak-kemik.
"Bssst Suwe... Hulll Ngun... bangun. Kit...
bangkit Aku Ratu Leak ratu dari segala ratu-ratu yang dihormati dalam kegelapan, dalam angan, dalam tidur. Dalam diri manusia yang lalai, yang sedang melamun, yang putus asa dan dalam setiap
jiwa yang kosong. Ratu adalah aku, penguasamu
adalah aku. Wahai jiwa yang mati penasaran, wa-
hai arwah yang mati sesat, duhai roh yang berpaling dari Tuhan dan dekat pada setan. Dan kubur
yang ada di seluruh jagad. Terbukalah, pintu-
pintumu, bangkitkan semua penghuni yang pena-
saran. Semuanya patuh padaku, semuanya..."
desis Ratu Leak.
Gelegar petir kembali menggema di udara,
hembusan angin semakin menggila. Lalu sayup-
sayup di kejauhan terdengar suara aneh seperti
suara orang melolong dalam sakit yang amat san-
gat. Ada pula seperti suara tenggorokan yang ter-potong. Bahkan terdengar lolongan anjing yang
menyeramkan sekali. Bersama dengan hembusan
angin itu muncul satu demi satu kabut putih me-
nyerupai sosok manusia. Sosok-sosok bergen-
tayangan ini bergerak lambat mengelilingi Ratu
Leak. "Berkumpullah? Pendekar bodoh itu menjadi patuh padaku bukan karena pengaruh sihirku
atau mantra-mantra sakti yang biasa. Tapi karena ia telah meminum dari cangkir tengkorak Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa. Sekarang aku ingin men-
getahui bagaimana hasil kerja pemuda itu? Apa-
kah dia telah berhasil membereskan kedua gu-
runya?" desis Ratu Leak. Sosok-sosok mengerikan yang berasal dari kabut tersebut tiba-tiba acungkan kedua tangannya ke arah tengkorak bayi yang
berada dalam pangkuan Ratu Leak. Terlihat sinar
merah melesat dari setiap ujung jemari yang tidak terbungkus daging itu.
Ratu Leak sempat tergetar menahan cahaya
yang menghujani ke bagian mata tengkorak bayi
tersebut. Sekejap kemudian ia membuka matanya.
Memandang lurus ke arah mata tengkorak yang
terisi benda bulat seperti telur itu sesuatu yang aneh terlihat di sana.
Kedua mata itu tidak ubahnya seperti cer-
min yang menggambarkan sebuah daerah sunyi
tidak berpenghuni.
"Aku ingin melihat dimana Pendekar Blo'on
berada, bukan pemandangan alam seperti yang
kau tunjukkan" dengus perempuan itu. Seraya menggerakkan kedua tangannya.
Blap
Perubahan pada bagian mata tengkorak ter-
jadi. Kini pada kedua bagian benda tersebut terlihat pemandangan lain di mana seorang pemuda
berbaju biru sedang dipanggul oleh seorang laki-
laki berpakaian hitam. Ratu Leak kerutkan ke-
ningnya.
"Celaka mengapa begini?" kata Ratu Leak.
"Rasanya aku pernah melihat orang yang satu itu?
Ia berlari seperti dikejar-kejar setan, siapa yang mengejarnya?" Ratu Leak kembali menggerakkan tangannya di atas rongga mata tengkorak tersebut.
Sekarang
ia melihat ada dua sosok bayangan men-
gejar laki-laki yang telah melarikan Pendekar
Blo'on tersebut. "Bangsat-bangsat itu mengapa sekarang malah masih segar bugar Ini menyimpang
dari semua rencanaku Aku harus mencari cara
lain. Bukannya aku Ratu Leak jika aku tidak
sanggup mengatasi persoalan ini sampai tuntas"
dengus perempuan cantik itu. Seraya kemudian
menganggukkan kepala. Tatapan matanya beralih
pada sosok-sosok yang berada di sekelilingnya. La-lu.... "Kalian semuanya dengar" Suara Ratu Leak terdengar lantang dan jelas. "Aku perintahkan pa-da semua makhluk penghuni kegelapan yang
mendengar seruanku agar menyerang semua mu-
suh-musuhku Bunuh mereka semua jangan ada
tersisa seorang pun" kata si cantik. Suaranya menggaung jauh hingga ke pedalaman tanah
Sange. Lalu makhluk-makhluk yang tercipta dari
kabut itu rangkapkan kedua tangan di atas kepa-
la. Tubuhnya membungkuk, seketika itu juga me-
reka yang jumlahnya mencapai ratusan itu berge-
rak meninggalkan ruangan. Beberapa saat sete-
lahnya, suasana di dalam ruangan berubah sunyi.
Kini hanya tinggal Ratu Leak dan Dewi Kerudung
Putih saja yang berada di ruangan itu.
"Murid keponananku hingga sekarang be-
lum kembali, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya yang seharusnya sudah menyusul ke sini
pun tidak muncul." dengus Ratu Leak. Seraya kembali menggerakkan kedua tangannya diatas
rongga mata tengkorak bayi. Sesuai dengan kein-
ginan hatinya, apa yang ingin dilihat oleh Ratu
Leak perlahan muncul di permukaan benda putih
seperti telur itu. Ia jadi tercekat ketika melihat sosok tubuh tergeletak. Sosok hitam besar itu jelas dikenalinya. Dia tidak lain adalah Sang Pelucut
Segala Ilmu Segala Daya.
"Bangsat Siapa yang dapat melakukannya?
Lalu kemana Mustika Jajar murid keponakanku
itu?" desis Ratu Leak gusar juga bercampur rasa kaget. "Tidak mengapa. Walau pun orang-orang yang membantuku tewas di tangan mereka, niatku
untuk membunuh Dewana dan Barata Surya ma-
sih belum luntur. Mereka harus mati. Karena se-
lain dengan kekuatan sihir dan ilmu Leakku, aku
juga masih memiliki Batu Lahat Bakutuk rajanya
batu-batu Hik hik hik" Wanita itu tertawa terkikik-kikik. Seraya menyimpan tengkorak bayi di dalam kantung berwarna hitam. Kemudian ia keluarkan kantung kulit ular yang terdapat di ping-
gangnya. Dari dalam kantung kulit tersebut ia
mengambil sebuah benda berbentuk nisan dengan
panjang tidak lebih satu jengkal, lebar lima jari dan tebal dua jari. Benda berbentuk nisan itu memiliki empat warna yaitu, merah kuning putih dan hitam. Ratu Leak mengecup batu tersebut tidak
ubahnya seperti ciuman pada kekasihnya.
"Batu Lahat Bakutuk, raja dari segala raja-
raja batu. Kita memang berjodoh Kita adalah dua kekuatan besar yang tidak mungkin dapat dikalahkan oleh siapapun. Bersama-sama kita akan
menghancurkan mereka" Serentak dengan terdengarnya kata-kata itu maka terdengar suara men-
dengung yang sangat panjang sekali. Tiba-tiba empat larik sinar memancar dari batu sakti tersebut.
Serentak dengan itu pula Dewi Kerudung Putih
tersadar dari pingsannya.
Sinar yang memancar dari Batu Lahat Ba-
kutuk semakin lama semakin membesar dan
membubung tinggi. Dari dalamnya menebar bau
harum bercampur hawa dingin menusuk penci-
uman. Bukan hanya itu saja, baik Ratu Leak yang
telah memiliki tenaga dalam tinggi maupun Dewi
Kerudung Putih merasakan ada sesuatu yang tera-
sa begitu lain menyentuh jiwa mereka yang paling dalam. Tegasnya mereka menderita rangsangan
hebat. Rangsangan yang bukan saja membang-
kitkan gairah nafsu mereka seperti layaknya seo-
rang wanita merindukan kekasihnya. Tapi juga
gairah itu menuntut penyaluran nafsu hewani.
Merah padam wajah Dewi Kerudung Putih. Seku-
jur tubuhnya meremang berdiri. Ratu Leak pun
hampir dalam keadaan yang sama. Ia mandi ke-
ringat menahan gejolak hasrat jiwanya. Di lain
waktu seiring dengan perubahan udara yang mulai
memanas. Maka gejolak birahi dalam diri masing-masing melenyap, kini berganti pula dengan ama-
rah tanpa sebab, dendam kesumat dan keinginan
untuk membunuh sesama tanpa alasan-alasan
yang jelas. Hal seperti itu terjadi lebih besar lagi dalam diri Dewi Kerudung Putih mengingat tenaga
dalam yang dimilikinya tidak setinggi yang dimiliki oleh Ratu Leak. Namun selagi mereka didera oleh
perasaan-perasaan seperti itu tiba-tiba saja terjadi letupan-letupan keras di atas Batu Lahat Bakutuk yang seakan dikobari api itu. Keinginan untuk
membunuh lenyap seketika setelah letupan yang
terdengar tadi.
Empat sinar yang tadi sempat mengobarkan
api tampak mulai mengecil. Ratu Leak berdecak
kagum. Ia masukkan kembali batu sakti itu ke da-
lam kantong kulit. Dewi Kerudung Putih yang me-
lihat batu penyebab malapetaka itu hendak men-
gatakan sesuatu. Sayang tidak sepatah katapun
yang keluar dari bibirnya. Ternyata Ratu Leak telah menotok urat bicaranya.
***
Gemuruh suara hujan masih terus mendera
tiada henti. Namun hal ini agaknya tidak memba-
wa pengaruh apa-apa bagi laki-laki baju putih ber-selempang putih ini. Ia terus memacu kuda tersebut mendekati Pura. Kira-kira seratus tombak lagi ia sampai di depan Pura. Tiba-tiba ia melihat sebuah pemandangan yang ganjil tapi menyeram-
kan. Bahkan Si Putih Kaki Langit angkat kedua
kaki depan setinggi-tingginya. Jika penunggang
kuda putih yang tidak lain adalah Datuk Nan Ga-
dang Paluih bukan orang yang berpengalaman da-
lam hal menunggang kuda. Dapat dipastikan ia
terpelanting dari atas kudanya.
"Hieeeikh..."
Kuda meringkik keras, sekujur bulu ditu-
buhnya tegak berdiri. Datuk Nan Gadang Paluih
mengelus tengkuk Putih Kaki Langit.
"Tenanglah, aku dapat merasakan keresa-
hanmu karena mereka kukira bukan manusia se-
pertiku Mari kita lihat apa yang mereka inginkan"
berkata laki-laki itu, sedangkan tatapan matanya memandang lurus ke arah sosok-sosok bergentayangan yang sekarang sudah mengepung Datuk
Nan Gadang Paluih.
Sosok-sosok yang terbangkitkan dari kubur
itu memperhatikan Datuk dan kudanya dengan ta-
tapan redup penuh penderitaan. Salah seorang di-
antaranya yang pada bagian dadanya tercabik-
cabik melangkah mendekat. Kemudian ia bicara
dengan suara serak dan berat.
"Kami mencium kau memusuhi Ratu Leak
Kami telah berjanji untuk patuh pada Ratu. Untuk itu kau harus mati di tangan kami"
"Kalian hanya penghalang percuma Apa
yang kalian lakukan akan sia-sia Menyingkir atau aku akan mengembalikan kalian ke alam kubur"
dengus Datuk Nan Gadang Paluih tajam.
"Groakh Bunuh" teriak sosok yang bicara tadi. "Bunuh" sahut yang lain-lainnya.
Melihat mereka bergerak hendak menge-
royok Datuk Nan Gadang Paluih tidak tinggal di-
am. Ia langsung lepaskan Angkin Pelebur Petaka.
Angkin diputarnya, setiap senjata sakti itu menghantam sosok-sosok yang berjalan dengan kaki
mengambang di atas tanah itu. Maka terdengar
suara ledakan disertai jeritan kesakitan dari lawan-lawannya.
Datuk Nan Gadang Paluih terus memutar-
mutar senjata di tangan. Tetapi tampaknya mak-
hluk-makhluk alam kubur ini tidak mengenal rasa
jera. Bila mereka terjatuh dan terluka secepatnya mereka bangkit berdiri. Lalu lakukan serangan lagi tiada henti-hentinya.
"Kalau begini, naga-naganya aku hanya
menguras tenaga percuma Arwah-arwah gen-
tayangan ini perlu diberi pelajaran" batin Datuk Nan Gadang Paluih. Sementara itu lawan-lawannya telah berlompatan mundur. Datuk Nan
Gadang segera menyadari bahwa makhluk-
makhluk alam kubur ini hendak melakukan sesu-
atu yang tidak wajar.
Diawali dengan jeritan di sana-sini, maka
kepala mereka bergerak-gerak. Lalu terlihat bagian leher mereka terputus. Kepala mereka terus ber-goyang-goyang bagaikan seekor ular berusaha
mencari jalan keluar karena terjepit batu. Dan...
Brool
gejar laki-laki yang telah melarikan Pendekar
Blo'on tersebut. "Bangsat-bangsat itu mengapa sekarang malah masih segar bugar Ini menyimpang
dari semua rencanaku Aku harus mencari cara
lain. Bukannya aku Ratu Leak jika aku tidak
sanggup mengatasi persoalan ini sampai tuntas"
dengus perempuan cantik itu. Seraya kemudian
menganggukkan kepala. Tatapan matanya beralih
pada sosok-sosok yang berada di sekelilingnya. La-lu.... "Kalian semuanya dengar" Suara Ratu Leak terdengar lantang dan jelas. "Aku perintahkan pa-da semua makhluk penghuni kegelapan yang
mendengar seruanku agar menyerang semua mu-
suh-musuhku Bunuh mereka semua jangan ada
tersisa seorang pun" kata si cantik. Suaranya menggaung jauh hingga ke pedalaman tanah
Sange. Lalu makhluk-makhluk yang tercipta dari
kabut itu rangkapkan kedua tangan di atas kepa-
la. Tubuhnya membungkuk, seketika itu juga me-
reka yang jumlahnya mencapai ratusan itu berge-
rak meninggalkan ruangan. Beberapa saat sete-
lahnya, suasana di dalam ruangan berubah sunyi.
Kini hanya tinggal Ratu Leak dan Dewi Kerudung
Putih saja yang berada di ruangan itu.
"Murid keponananku hingga sekarang be-
lum kembali, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya yang seharusnya sudah menyusul ke sini
pun tidak muncul." dengus Ratu Leak. Seraya kembali menggerakkan kedua tangannya diatas
rongga mata tengkorak bayi. Sesuai dengan kein-
ginan hatinya, apa yang ingin dilihat oleh Ratu
Leak perlahan muncul di permukaan benda putih
seperti telur itu. Ia jadi tercekat ketika melihat sosok tubuh tergeletak. Sosok hitam besar itu jelas dikenalinya. Dia tidak lain adalah Sang Pelucut
Segala Ilmu Segala Daya.
"Bangsat Siapa yang dapat melakukannya?
Lalu kemana Mustika Jajar murid keponakanku
itu?" desis Ratu Leak gusar juga bercampur rasa kaget. "Tidak mengapa. Walau pun orang-orang yang membantuku tewas di tangan mereka, niatku
untuk membunuh Dewana dan Barata Surya ma-
sih belum luntur. Mereka harus mati. Karena se-
lain dengan kekuatan sihir dan ilmu Leakku, aku
juga masih memiliki Batu Lahat Bakutuk rajanya
batu-batu Hik hik hik" Wanita itu tertawa terkikik-kikik. Seraya menyimpan tengkorak bayi di dalam kantung berwarna hitam. Kemudian ia keluarkan kantung kulit ular yang terdapat di ping-
gangnya. Dari dalam kantung kulit tersebut ia
mengambil sebuah benda berbentuk nisan dengan
panjang tidak lebih satu jengkal, lebar lima jari dan tebal dua jari. Benda berbentuk nisan itu memiliki empat warna yaitu, merah kuning putih dan hitam. Ratu Leak mengecup batu tersebut tidak
ubahnya seperti ciuman pada kekasihnya.
"Batu Lahat Bakutuk, raja dari segala raja-
raja batu. Kita memang berjodoh Kita adalah dua kekuatan besar yang tidak mungkin dapat dikalahkan oleh siapapun. Bersama-sama kita akan
menghancurkan mereka" Serentak dengan terdengarnya kata-kata itu maka terdengar suara men-
dengung yang sangat panjang sekali. Tiba-tiba empat larik sinar memancar dari batu sakti tersebut.
Serentak dengan itu pula Dewi Kerudung Putih
tersadar dari pingsannya.
Sinar yang memancar dari Batu Lahat Ba-
kutuk semakin lama semakin membesar dan
membubung tinggi. Dari dalamnya menebar bau
harum bercampur hawa dingin menusuk penci-
uman. Bukan hanya itu saja, baik Ratu Leak yang
telah memiliki tenaga dalam tinggi maupun Dewi
Kerudung Putih merasakan ada sesuatu yang tera-
sa begitu lain menyentuh jiwa mereka yang paling dalam. Tegasnya mereka menderita rangsangan
hebat. Rangsangan yang bukan saja membang-
kitkan gairah nafsu mereka seperti layaknya seo-
rang wanita merindukan kekasihnya. Tapi juga
gairah itu menuntut penyaluran nafsu hewani.
Merah padam wajah Dewi Kerudung Putih. Seku-
jur tubuhnya meremang berdiri. Ratu Leak pun
hampir dalam keadaan yang sama. Ia mandi ke-
ringat menahan gejolak hasrat jiwanya. Di lain
waktu seiring dengan perubahan udara yang mulai
memanas. Maka gejolak birahi dalam diri masing-masing melenyap, kini berganti pula dengan ama-
rah tanpa sebab, dendam kesumat dan keinginan
untuk membunuh sesama tanpa alasan-alasan
yang jelas. Hal seperti itu terjadi lebih besar lagi dalam diri Dewi Kerudung Putih mengingat tenaga
dalam yang dimilikinya tidak setinggi yang dimiliki oleh Ratu Leak. Namun selagi mereka didera oleh
perasaan-perasaan seperti itu tiba-tiba saja terjadi letupan-letupan keras di atas Batu Lahat Bakutuk yang seakan dikobari api itu. Keinginan untuk
membunuh lenyap seketika setelah letupan yang
terdengar tadi.
Empat sinar yang tadi sempat mengobarkan
api tampak mulai mengecil. Ratu Leak berdecak
kagum. Ia masukkan kembali batu sakti itu ke da-
lam kantong kulit. Dewi Kerudung Putih yang me-
lihat batu penyebab malapetaka itu hendak men-
gatakan sesuatu. Sayang tidak sepatah katapun
yang keluar dari bibirnya. Ternyata Ratu Leak telah menotok urat bicaranya.
***
Gemuruh suara hujan masih terus mendera
tiada henti. Namun hal ini agaknya tidak memba-
wa pengaruh apa-apa bagi laki-laki baju putih ber-selempang putih ini. Ia terus memacu kuda tersebut mendekati Pura. Kira-kira seratus tombak lagi ia sampai di depan Pura. Tiba-tiba ia melihat sebuah pemandangan yang ganjil tapi menyeram-
kan. Bahkan Si Putih Kaki Langit angkat kedua
kaki depan setinggi-tingginya. Jika penunggang
kuda putih yang tidak lain adalah Datuk Nan Ga-
dang Paluih bukan orang yang berpengalaman da-
lam hal menunggang kuda. Dapat dipastikan ia
terpelanting dari atas kudanya.
"Hieeeikh..."
Kuda meringkik keras, sekujur bulu ditu-
buhnya tegak berdiri. Datuk Nan Gadang Paluih
mengelus tengkuk Putih Kaki Langit.
"Tenanglah, aku dapat merasakan keresa-
hanmu karena mereka kukira bukan manusia se-
pertiku Mari kita lihat apa yang mereka inginkan"
berkata laki-laki itu, sedangkan tatapan matanya memandang lurus ke arah sosok-sosok bergentayangan yang sekarang sudah mengepung Datuk
Nan Gadang Paluih.
Sosok-sosok yang terbangkitkan dari kubur
itu memperhatikan Datuk dan kudanya dengan ta-
tapan redup penuh penderitaan. Salah seorang di-
antaranya yang pada bagian dadanya tercabik-
cabik melangkah mendekat. Kemudian ia bicara
dengan suara serak dan berat.
"Kami mencium kau memusuhi Ratu Leak
Kami telah berjanji untuk patuh pada Ratu. Untuk itu kau harus mati di tangan kami"
"Kalian hanya penghalang percuma Apa
yang kalian lakukan akan sia-sia Menyingkir atau aku akan mengembalikan kalian ke alam kubur"
dengus Datuk Nan Gadang Paluih tajam.
"Groakh Bunuh" teriak sosok yang bicara tadi. "Bunuh" sahut yang lain-lainnya.
Melihat mereka bergerak hendak menge-
royok Datuk Nan Gadang Paluih tidak tinggal di-
am. Ia langsung lepaskan Angkin Pelebur Petaka.
Angkin diputarnya, setiap senjata sakti itu menghantam sosok-sosok yang berjalan dengan kaki
mengambang di atas tanah itu. Maka terdengar
suara ledakan disertai jeritan kesakitan dari lawan-lawannya.
Datuk Nan Gadang Paluih terus memutar-
mutar senjata di tangan. Tetapi tampaknya mak-
hluk-makhluk alam kubur ini tidak mengenal rasa
jera. Bila mereka terjatuh dan terluka secepatnya mereka bangkit berdiri. Lalu lakukan serangan lagi tiada henti-hentinya.
"Kalau begini, naga-naganya aku hanya
menguras tenaga percuma Arwah-arwah gen-
tayangan ini perlu diberi pelajaran" batin Datuk Nan Gadang Paluih. Sementara itu lawan-lawannya telah berlompatan mundur. Datuk Nan
Gadang segera menyadari bahwa makhluk-
makhluk alam kubur ini hendak melakukan sesu-
atu yang tidak wajar.
Diawali dengan jeritan di sana-sini, maka
kepala mereka bergerak-gerak. Lalu terlihat bagian leher mereka terputus. Kepala mereka terus ber-goyang-goyang bagaikan seekor ular berusaha
mencari jalan keluar karena terjepit batu. Dan...
Brool
"Ilmu
Leak...??" desis Datuk Nan Gadang saat melihat kepala orang-orang itu
tercabut. Bukan hanya bagian kepala dan sebatas leher saja.
Melainkan seluruh isi perut, termasuk lambung
dan usus-ususnya ikut tercabut dan melayang di
udara. Datuk Nan Gadang segera merasakan
adanya bau busuk yang menyengat. Perutnya
mual dan ingin muntah. Ia tutup pernafasannya,
sedangkan diwaktu itu kepala tanpa badan itu su-
dah bergentayangan menyerang Datuk Nan Ga-
dang Paluih dengan mulut terbuka. Puluhan kepa-
la yang menukik tajam itu secara tiba-tiba meluncur ke bawah. Datuk Nan Gadang putar Angkin
Pelebur Petaka secepat kilat. Angin disertai hawa panas menderu. Beberapa potongan kepala dengan
lambung dan usus menjuntai itu sempat terpelant-
ing. Tapi mereka tidak sampai jatuh ke tanah.
Namun dari bagian lain tidak kalah hebat-
nya datang serangan dari kawan-kawan makhluk
alam kubur tersebut. Dua diantaranya bahkan
berhasil menyusup ke bagian ketiak dan dada Da-
tuk Nan Gadang dan menggigitnya.
Crap
"Uhk"
Laki-laki itu mengeluh panjang. Tapi cepat
kibaskan tangannya dan menghantam secara be-
runtun.
Des
Prak Praak
Potongan kepala berikut usus-ususnya ber-
taburan di atas tanah. Sayang kawan-kawan yang
lain begitu melihat kawannya tercampak dan ke-
mudian menghilang menjadi asap semakin ber-
tambah beringas. Kini mereka melancarkan seran-
gan secara bersamaan.
Wuut
Melihat kenyataan ini Datuk dari Andalas
cepat putar tangannya untuk melindungi diri dari ancaman potongan-potongan kepala yang siap
menghunjam dengan taring-taringnya yang mema-
tikan. Sekejap saja kedua tangan sang Datuk telah berwarna putih memancarkan cahaya berkilau-kilauan. Ternyata laki-laki setengah baya ini hendak melepaskan pukulan 'Cahaya', salah satu pu-
kulan dahsyat yang sulit dicari tandingannya.
Wus Wuus
Tidak menunggu lebih lama lagi Datuk Nan
Gadang hentakkan tangannya ke delapan penjuru
arah. Sinar putih kemilau memancarkan hawa pa-
nas luar biasa menderu dahsyat dan ganas. Kepa-
la-kepala yang menyerang sang Datuk segera me-
rasakan adanya hawa panas menghanguskan ini.
Mereka yang masih sempat selamatkan diri segera
menghindar. Sedangkan yang tidak sempat lang-
sung menjerit ketika sinar putih itu menghantam
usus dan kepala mereka.
Buuum Buuum
"Akh..."
Terdengar suara jeritan di sana sini. Poton-
gan-potongan kepala lenyap dan berubah menjadi
asap. Sisa-sisanya langsung kembali menghampiri
badannya. Dan mereka ini pun melarikan diri di
tengah-tengah derasnya curah hujan. Datuk Nan
Gadang menarik nafas lega. Seraya menepuk ku-
danya sambil berkata....
"Putih Kaki Langit Sebentar lagi kita sam-
pai, ayo hampiri Pura itu"
Kuda putih tersebut meringkik lirih. Kemu-
dian segera berlari menuju Pura yang sudah tidak seberapa jauh di depan mereka.
DUA
Dewi Kerudung Putih belalakkan mata le-
bar-lebar ketika Ratu Leak menyusupkan tangan
kiri ke belahan dadanya. Ia menjerit, meronta dan memaki. Namun suara dan gerakannya hanya sia-sia saja karena dirinya dalam keadaan tertotok.
Sementara tangan-tangan Ratu Leak semakin ber-
tambah kurang ajar saja, meremas dan membelai-
belai dada si gadis yang membusung liat dan ke-
nyal. "Hik Hik Hik" Ratu Leak tertawa terkikik-kikik. "Ternyata kau masih perawan. Beruntung orang sepertiku Pendekar bodoh itu telah menge-cewakanku. Tetapi kurasa kau tidak akan menge-
cewakan aku lagi Aku ingin melihat kebagusan
tubuhmu" Baru selesai ia bicara, Ratu Leak tiba-tiba saja mengeluarkan sebilah pisau tipis, pisau itu kemudian diletakkannya di balik pakaian dalam bagian dada.
Crek Rek Rek
Dewi Kerudung Putih tersentak kaget, wa-
jahnya memerah menahan amarah dan malu. Se-
baliknya Ratu Leak begitu melihat pakaian si gadis tercabik-cabik leletkan lidah.
"Ah, terus-terang aku belum pernah melihat
tubuh yang sebagus ini Tubuhmu benar-benar
lambang kesempurnaan seorang perempuan Aku
menyukainya... hik hik hik Tapi aku akan mem-
buatmu benar-benar dalam keadaan seperti bayi"
desis Ratu Leak. Sebelum hal itu dilakukannya ia mengusap bagian leher Dewi Kerudung Putih se-hingga urat bicara di gadis terbebas dari pengaruh totokan.
"Bangsat Perempuan rendah lepaskan
aku" teriak Dewi Kerudung Putih begitu dirinya terbebas dari pengaruh totokan Ratu Leak. Orang
yang dimakinya hanya tertawa ganda. "Kau manusia yang menyalahi kodrat, kau terkutuk di bumi
dan di langit"
"Kau belum tahu siapa aku, gadis cantik.
Aku bisa berbuat atas dirimu sebagaimana laki-
laki memperlakukan dan bersenang-senang den-
gan wanita" dengus Ratu Leak. Seraya kemudian langsung meninggalkan pakaian bawah Dewi Kerudung Putih. Sehingga terlihatlah pahanya yang putih mulus dan kencang. Melihat ke bagian pinggul si gadis, Ratu Leak telan ludah. Matanya melotot seperti hendak melompat keluar.
"Betina jahanam yang berjuluk Ratu Leak
Jika kau mempermalukan aku lebih jauh lagi, aku
bersumpah akan membunuhmu" maki Dewi Ke-
rudung Putih gusar.
"Hal itu tidak akan terjadi. Nanti setelah
aku dalam keadaan sepertimu, kau baru mengerti
bahwa di dunia ini benar-benar penuh dengan
keanehan-keanehan" sahut Ratu Leak. Seraya kemudian menghampiri Dewi Kerudung Putih, Sehingga jarak diantara mereka kini hanya tinggal
dua jengkal saja. Sambil tertawa-tawa seperti
orang yang kurang waras Ratu Leak membuka pa-
kaiannya. Sayang baru saja pakaian luarnya yang
terbuka. Terdengar suara bentakan disertai han-
curnya pintu ruangan. Jika Ratu Leak tidak cepat berguling ke samping selamatkan diri. Niscaya tubuhnya hancur terkena sisa-sisa pukulan yang
kemudian terus melabrak dinding di belakangnya.
Tentu pula serangan itu adalah pukulan dahsyat
yang tidak dapat dianggap enteng. Setelah hilang rasa kaget di hati Ratu Leak, secepatnya ia bangkit berdiri. "Bangsat betul Setan mana di Sange ini yang berani coba-coba melawanku" maki Ratu Leak. Seraya cepat memandang ke arah pintu yang
porak poranda di bantam pukulan gelap. Mata pe-
rempuan itu menyipit ketika melihat sosok aneh
yang seperti dikenalnya telah berdiri di sana dengan tatapan dingin penuh dendam. Satu hal yang
terasa ganjil bahkan boleh dibilang langka. Sekujur tubuh laki-laki itu hingga sebatas leher terbalut akar-akaran berwarna hitam. Bahkan kedua
tangannya dalam keadaan terbungkus akar pula.
Meskipun Ratu Leak sempat dibuat keder juga.
Namun pada akhirnya ia membentak.
"Melihat tampangmu rasanya seperti pernah
aku kenali Tapi setelah melihat keadaanmu yang
Melainkan seluruh isi perut, termasuk lambung
dan usus-ususnya ikut tercabut dan melayang di
udara. Datuk Nan Gadang segera merasakan
adanya bau busuk yang menyengat. Perutnya
mual dan ingin muntah. Ia tutup pernafasannya,
sedangkan diwaktu itu kepala tanpa badan itu su-
dah bergentayangan menyerang Datuk Nan Ga-
dang Paluih dengan mulut terbuka. Puluhan kepa-
la yang menukik tajam itu secara tiba-tiba meluncur ke bawah. Datuk Nan Gadang putar Angkin
Pelebur Petaka secepat kilat. Angin disertai hawa panas menderu. Beberapa potongan kepala dengan
lambung dan usus menjuntai itu sempat terpelant-
ing. Tapi mereka tidak sampai jatuh ke tanah.
Namun dari bagian lain tidak kalah hebat-
nya datang serangan dari kawan-kawan makhluk
alam kubur tersebut. Dua diantaranya bahkan
berhasil menyusup ke bagian ketiak dan dada Da-
tuk Nan Gadang dan menggigitnya.
Crap
"Uhk"
Laki-laki itu mengeluh panjang. Tapi cepat
kibaskan tangannya dan menghantam secara be-
runtun.
Des
Prak Praak
Potongan kepala berikut usus-ususnya ber-
taburan di atas tanah. Sayang kawan-kawan yang
lain begitu melihat kawannya tercampak dan ke-
mudian menghilang menjadi asap semakin ber-
tambah beringas. Kini mereka melancarkan seran-
gan secara bersamaan.
Wuut
Melihat kenyataan ini Datuk dari Andalas
cepat putar tangannya untuk melindungi diri dari ancaman potongan-potongan kepala yang siap
menghunjam dengan taring-taringnya yang mema-
tikan. Sekejap saja kedua tangan sang Datuk telah berwarna putih memancarkan cahaya berkilau-kilauan. Ternyata laki-laki setengah baya ini hendak melepaskan pukulan 'Cahaya', salah satu pu-
kulan dahsyat yang sulit dicari tandingannya.
Wus Wuus
Tidak menunggu lebih lama lagi Datuk Nan
Gadang hentakkan tangannya ke delapan penjuru
arah. Sinar putih kemilau memancarkan hawa pa-
nas luar biasa menderu dahsyat dan ganas. Kepa-
la-kepala yang menyerang sang Datuk segera me-
rasakan adanya hawa panas menghanguskan ini.
Mereka yang masih sempat selamatkan diri segera
menghindar. Sedangkan yang tidak sempat lang-
sung menjerit ketika sinar putih itu menghantam
usus dan kepala mereka.
Buuum Buuum
"Akh..."
Terdengar suara jeritan di sana sini. Poton-
gan-potongan kepala lenyap dan berubah menjadi
asap. Sisa-sisanya langsung kembali menghampiri
badannya. Dan mereka ini pun melarikan diri di
tengah-tengah derasnya curah hujan. Datuk Nan
Gadang menarik nafas lega. Seraya menepuk ku-
danya sambil berkata....
"Putih Kaki Langit Sebentar lagi kita sam-
pai, ayo hampiri Pura itu"
Kuda putih tersebut meringkik lirih. Kemu-
dian segera berlari menuju Pura yang sudah tidak seberapa jauh di depan mereka.
DUA
Dewi Kerudung Putih belalakkan mata le-
bar-lebar ketika Ratu Leak menyusupkan tangan
kiri ke belahan dadanya. Ia menjerit, meronta dan memaki. Namun suara dan gerakannya hanya sia-sia saja karena dirinya dalam keadaan tertotok.
Sementara tangan-tangan Ratu Leak semakin ber-
tambah kurang ajar saja, meremas dan membelai-
belai dada si gadis yang membusung liat dan ke-
nyal. "Hik Hik Hik" Ratu Leak tertawa terkikik-kikik. "Ternyata kau masih perawan. Beruntung orang sepertiku Pendekar bodoh itu telah menge-cewakanku. Tetapi kurasa kau tidak akan menge-
cewakan aku lagi Aku ingin melihat kebagusan
tubuhmu" Baru selesai ia bicara, Ratu Leak tiba-tiba saja mengeluarkan sebilah pisau tipis, pisau itu kemudian diletakkannya di balik pakaian dalam bagian dada.
Crek Rek Rek
Dewi Kerudung Putih tersentak kaget, wa-
jahnya memerah menahan amarah dan malu. Se-
baliknya Ratu Leak begitu melihat pakaian si gadis tercabik-cabik leletkan lidah.
"Ah, terus-terang aku belum pernah melihat
tubuh yang sebagus ini Tubuhmu benar-benar
lambang kesempurnaan seorang perempuan Aku
menyukainya... hik hik hik Tapi aku akan mem-
buatmu benar-benar dalam keadaan seperti bayi"
desis Ratu Leak. Sebelum hal itu dilakukannya ia mengusap bagian leher Dewi Kerudung Putih se-hingga urat bicara di gadis terbebas dari pengaruh totokan.
"Bangsat Perempuan rendah lepaskan
aku" teriak Dewi Kerudung Putih begitu dirinya terbebas dari pengaruh totokan Ratu Leak. Orang
yang dimakinya hanya tertawa ganda. "Kau manusia yang menyalahi kodrat, kau terkutuk di bumi
dan di langit"
"Kau belum tahu siapa aku, gadis cantik.
Aku bisa berbuat atas dirimu sebagaimana laki-
laki memperlakukan dan bersenang-senang den-
gan wanita" dengus Ratu Leak. Seraya kemudian langsung meninggalkan pakaian bawah Dewi Kerudung Putih. Sehingga terlihatlah pahanya yang putih mulus dan kencang. Melihat ke bagian pinggul si gadis, Ratu Leak telan ludah. Matanya melotot seperti hendak melompat keluar.
"Betina jahanam yang berjuluk Ratu Leak
Jika kau mempermalukan aku lebih jauh lagi, aku
bersumpah akan membunuhmu" maki Dewi Ke-
rudung Putih gusar.
"Hal itu tidak akan terjadi. Nanti setelah
aku dalam keadaan sepertimu, kau baru mengerti
bahwa di dunia ini benar-benar penuh dengan
keanehan-keanehan" sahut Ratu Leak. Seraya kemudian menghampiri Dewi Kerudung Putih, Sehingga jarak diantara mereka kini hanya tinggal
dua jengkal saja. Sambil tertawa-tawa seperti
orang yang kurang waras Ratu Leak membuka pa-
kaiannya. Sayang baru saja pakaian luarnya yang
terbuka. Terdengar suara bentakan disertai han-
curnya pintu ruangan. Jika Ratu Leak tidak cepat berguling ke samping selamatkan diri. Niscaya tubuhnya hancur terkena sisa-sisa pukulan yang
kemudian terus melabrak dinding di belakangnya.
Tentu pula serangan itu adalah pukulan dahsyat
yang tidak dapat dianggap enteng. Setelah hilang rasa kaget di hati Ratu Leak, secepatnya ia bangkit berdiri. "Bangsat betul Setan mana di Sange ini yang berani coba-coba melawanku" maki Ratu Leak. Seraya cepat memandang ke arah pintu yang
porak poranda di bantam pukulan gelap. Mata pe-
rempuan itu menyipit ketika melihat sosok aneh
yang seperti dikenalnya telah berdiri di sana dengan tatapan dingin penuh dendam. Satu hal yang
terasa ganjil bahkan boleh dibilang langka. Sekujur tubuh laki-laki itu hingga sebatas leher terbalut akar-akaran berwarna hitam. Bahkan kedua
tangannya dalam keadaan terbungkus akar pula.
Meskipun Ratu Leak sempat dibuat keder juga.
Namun pada akhirnya ia membentak.
"Melihat tampangmu rasanya seperti pernah
aku kenali Tapi setelah melihat keadaanmu yang
terbungkus
akar aneh. Aku teringat dengan orang-
orang gila yang bertaburan di kolong langit ini
Siapa kau...?" tanya Ratu Leak, suaranya melengking pertanda ia mencoba menahan kemarahannya.
Yang ditanya tidak segera menyahut, me-
lainkan memandang pada Dewi Kerudung Putih
dengan wajah merah. Kemudian berpaling pada
Ratu Leak dengan mata menyiratkan kemarahan.
"Kau perempuan, tetapi tindakanmu sung-
guh memalukan, keji dan dikutuk Sang Hyang Wi-
di. Mengingat kejahatanmu, rasanya sudah sepan-
tasnya hari ini aku mengakhiri segala petualan-
ganmu" dengus si laki-laki yang tidak lain adalah kepala negeri Sange, Wayan Tandira.
"Perempuan atau bukan, semuanya adalah
urusanku. Hei kunyuk, kau belum menjawab per-
tanyaanku" bentak Ratu Leak.
Wayan Tandira menggeram, inilah manusia
yang telah menyengsarakannya selama hampir tiga
puluh tahun. Bukan hanya dirinya saja yang ter-
siksa, hampir seluruh rakyatnya juga sengsara karena dikutuk menjadi batu oleh Ratu Leak.
"Urusanmu adalah kesengsaraan bagi kami,
Ratu Leak keparat Jika kau ingin tahu siapa aku
Cobalah kau ingat siapa orang-orangnya yang kau
kubur hidup-hidup tiga puluh tahun yang lalu di
tengah-tengah ruang bukit Kembar Tiga Terlak-
nat?" teriak Wayan Tandira tidak kalah kerasnya.
Ratu Leak sempat terkesiap, keningnya ber-
kerut dalam. Kejadian tiga puluh tahun yang silam di Bukit Kembar Tiga terlaknat (untuk lebih jelasnya dalam episode Batu Lahat Bakutuk) itu sudah hampir terlupakan olehnya. Jika hari ini tidak ada manusia akar itu yang mengingatkannya, tentu ia
melupakan kejadian tersebut.
"Hmm... rasanya aku pernah melakukan
kesenangan di Bukit Kembar Tiga Terlaknat. Kese-
nangan itu berupa pemendaman diri seorang pe-
mimpin negeri yang tidak mempunyai kebecusan
apa-apa berikut anak buahnya Lalu kau ini
apanya orang-orang yang kutanam itu? Sauda-
ranya, atau arwahnya yang gentayangan?" tanya Ratu Leak dengan sikap meremehkan sekali.
Wayan berjalan lebih mendekat lagi. "Aku
bukan saudara orang-orang itu, bukan juga arwah
yang penasaran" sahut Wayan. Seraya jentikkan tangannya, dari luar terdengar suara burung ga-gak. Mengertilah Ratu Leak siapa laki-laki itu dan mengapa pula arwah-arwah yang telah dibang-kitkannya tidak menyerang Wayan Tandira.
"Oho, rupanya kau pemimpin negeri Sange
Sungguh mengagumkan jika kau dapat bertahan
hidup hingga saat ini dan juga kelebihan baru berupa akar-akar yang mungkin tidak berguna Se-
karang apa maumu?" tantang Ratu Leak sinis.
Wayan Tandira tersenyum mencibir. "Mauku tidak lain hanyalah memenggal kepala busukmu. Karena hanya dengan itu masyarakatku bisa terbebas
dari kutukanmu" dengus Wayan Tandira.
"Hik hik hik Dengan apa kau hendak
menghadapi aku?" ejek Ratu Leak sengit.
"Tentu saja dengan kedua tanganku ini"
"Percuma Percayalah usahamu itu hanya
akan sia-sia saja" kata Ratu Leak penuh keyaki-
nan diri. Tiba-tiba orang ini angkat tangannya, lalu tangan yang lain memegang tengkorak. Tengkorak
itu diguncang-guncangkannya. Angin berdesir.
Wayan merasa ada sebuah kekuatan menerpa wa-
jahnya. "Kutukku... kutukku. Terkutuklah manusia akar yang berdiri di hadapanku itu menjadi ba-tu" teriak Ratu Leak.
"Pemimpin negeri" Dewi Kerudung Putih ti-ba-tiba berteriak memperingatkan. "Hati-hati, ku-tuknya mulai berjalan"
Peringatan itu memang cukup beralasan.
Wayan Tandira langsung dapat merasakan ada
udara dingin menembus batok kepalanya. Tetapi
pemuda ini malah tertawa ganda sambil usap
akar-akaran yang ada di dadanya. Sinar hitam se-
perti lintasan kilat melesat dan melabrak Ratu
Leak. Kutuk yang tengah berjalan itu langsung
musnah. Malah Ratu Leak sendiri sempat terjajar.
Ia seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Ratu Leak kembali gerakkan tengkorak di tangan
kanannya dengan satu sentakan kuat. Wayan ten-
tu tidak tinggal diam, ia kerahkan sepertiga dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Lagi-lagi terjadi satu keanehan. Seluruh akar-akar yang melibat tubuhnya mulai ujung kaki hingga sebatas
leher juga bagian tangannya memancarkan sinar
hitam hingga seluruh tubuhnya lenyap tertelan sinar hitam tersebut. Ratu Leak keluarkan seruan
tertahan. Terlebih-lebih ketika melihat gelombang sinar hitam melesat ke arahnya. Sambil melompat
mundur Ratu Leak hantamkan tangan kiri dan co-
ba selamatkan tengkorak bayi sumber kutukan di
tangan kanannya.
Wuut
Seleret sinar merah melesat ke arah gelom-
bang sinar hitam tersebut. Terjadi letupan kecil.
Dan ternyata pukulan yang dilepaskan Ratu Leak
musnah dilanda gelombang sinar yang memancar
dari akar-akar di tubuh Wayan. Sinar hitam itu terus melabrak tengkorak ditangan Ratu Leak. Ia sekuat tenaga hendak menyelamatkannya. Tetapi
sebagian sinar tersebut masih menyerempet ba-
gian pelipis tengkorak tersebut.
Krak
Tengkorak itu retak. Perempuan cantik ter-
sebut berseru kaget. Ia memandang ke arah
Wayan Tandira dengan sorot mata tajam dan pe-
nuh rasa tidak percaya. Secepatnya Ratu Leak ma-
sukkan kembali tengkorak itu.
"Percuma kau gunakan kutukmu, Ratu
Leak. Sekarang sedang musim hujan, dan kutuk-
mu tidak berlaku Berikan Batu Lahat Bakutuk,
batu yang menjadi penyebab sumber bencana itu"
perintah Wayan Tandira.
Sebagai jawaban Ratu Leak mendengus si-
nis sambil hantamkan pukulan 'Tusukan Jari
Penghantar Maut'. Angin kencang disertai hawa
dingin beracun bergulung-gulung. Menyadari ba-
haya serangan ini Wayan Tandira tutup pernafa-
sannya dan segera mengusap akar-akar yang be-
rada di bagian perut serta dadanya.
Wuust
Kembali sinar hitam meluncur kemudian
membentur sinar merah di tengah jalan. Terjadi
ledakan keras, Wayan terhempas ke dinding di be-
lakangnya. Ratu Leak sempat tergontai-gontai.
Ternyata benturan itu tidak menimbulkan luka ba-
rang sedikit pun bagi Wayan Tandira. Hal ini berkat akar-akar sakti yang melindungi dirinya. Teta-pi Ratu Leak yang cerdik mulai berpikir untuk
menghajar bagian kepala lawan yang tidak berpe-
lindung apa-apa. Untuk itu tanpa membuang-
buang waktu lagi, Ratu Leak segera pergunakan
jurus 'Tusukan Jari Penghantar Maut' yang ampuh
itu. "Hiyaa..."
Orang ini berteriak keras. Tubuhnya tiba-
tiba melesat ke depan. Wayan langsung menangkis
dengan siku kanannya. Tetapi Ratu Leak sudah
melambung lebih ke atas lagi. Lalu secepat kilat tangannya melesat menghantam leher.
Wuuss
Wayan terkesiap, untung ia masih sempat
merundukkan kepala. Walau pun begitu kulitnya
yang terserempet kuku Ratu Leak serta rambut
Wayan sempat terbabat putus.
Dapat dibayangkan betapa berbahayanya
andai kuku lawan tadi menghantam tenggorokan-
nya yang tidak terlindung akar-akar sakti tersebut.
Pemimpin negeri Sange segera melompat mundur
ke belakang dengan perasaan geram.
"Setan satu ini pandai menipu, dulu juga
aku bisa dicelakainya karena tipu muslihatnya
Kali ini jangan harap hal itu terjadi lagi" desis Wayan Tandira di dalam hati.
Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam ke
bagian tangan dan kakinya. Lalu sebelah kakinya
diangkat. Kedua tangannya direntangkan, sedang-
kan seluruh jemarinya yang terbalut akar-akar halus menguncup. Melihat ini Ratu Leak mengguman
pelan. "Hmm, jurus 'Kepakan Burung Gagak
Membelah Malam' memang jurus baru yang boleh
kau banggakan. Tapi sebelum itu kau rasakanlah
pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Jiwa'" teriak Ratu Leak. Tiba-tiba secepat kilat ia hantamkan kedua tangannya tegak lurus ke arah Wayan.
Tetapi lawan ternyata sudah sampai di depan hi-
dungnya. Gerakan memukul yang dilakukan Ratu
Leak berubah jadi gerakan menangkis.
Dukkk
Splak
Keduanya sempat terhuyung, Ratu Leak
maju lagi ke depan sambil lepaskan tendangan
menggeledek. Merasakan adanya sambaran angin
yang cukup keras. Maka Wayan Tandira tekuk lu-
tutnya. Ratu Leak sudah tidak sempat menarik
pulang tendangannya.
Bletak
"Aukh... Akh..."
Ratu Leak menjerit keras sambil melompat
terpincang-pincang. Kakinya yang membentur
akar-akaran di bagian lutut Wayan langsung
membiru, bengkak dan rasa seperti putus. Hal ini benar-benar diluar dugaannya sama sekali. Sebab
ia telah mengaliri kakinya dengan tenaga dalam.
Tapi ternyata akar-akar aneh itu sungguh me-
nyimpan suatu kekuatan yang luar biasa.
"Ratu Leak manusia paling jahanam Kupe-
ringatkan sekali lagi padamu untuk menyerahkan
tengkorak sarana kutukan dan Batu Lahat Baku-
tuk padaku" teriak Wayan. Peringatan ini hanya membuat Ratu Leak menjadi murka. Ia meludah.
"Ilmu sedikit sering membuat orang besar
kepala Wayan Tandira manusia keparat Jika kau
terbungkus akar-akar keparat itu sekujur tubuh-
mu Aku Ratu Leak tidak kehabisan akal dan cara
untuk membuatmu mampus Jangan kau besar
kepala? Karena aku yakin mulai dari bagian leher hingga sampai ke ujung rambut di kepalamu tidak
kebal apa-apa Hea..." Sambil berteriak keras. Ra-tu Leak tiba-tiba saja lepaskan pukulan 'Liang
Hantu Penebus Kutuk'. Angin api menyambar ga-
nas ke arah Wayan Tandira. Laki-laki gondrong ini kerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya
untuk membangkitkan kekuatan yang terkandung
dalam akar-akar sakti itu.
"Huuuuu..."
Tiba-tiba saja terdengar suara gaung pan-
jang. Angin api yang dikirim Ratu Leak bagaikan
air bah melindas apa saja yang terdapat di depannya. Dari pihak Wayan Tandira yang siap menya-
bung nyawa melesat sinar hitam disertai hawa
dingin bukan alang kepalang. Dua kekuatan yang
memiliki dua sifat beda ini saling tindih menindih.
Dalam hal ini yang tersiksa justru Dewi Kerudung Putih yang dalam keadaan nyaris telanjang bulat.
Ia sama sekali tidak kuasa mengerahkan tenaga
dalam untuk melindungi diri dari pengaruh dua
kekuatan antara panas dan dingin tersebut. Aki-
batnya tubuhnya seperti terpanggang, atau dilain waktu terasa sangat dingin menusuk. Dewi menge-rang kesakitan. Demikian hebatnya siksaan yang
harus diterimanya ini, hingga membuat gadis ini
terkulai tidak sadarkan diri.
Sementara itu Angin Api dan Angin Es yang
bersumber dari masing-masing lawan terus saling
himpit dan saling dorong. Wayan Tandira terus
menerus lipat gandakan tenaga dalamnya. Hingga
akar-akar sakti itu tiada henti memancarkan sinar bergulung-gulung saling tumpang tindih. Ratu
Leak mulai terdorong, tapi sebentar kemudian bi-
bir Ratu Leak yang merah merekah keluarkan si-
ulan panjang yang tidak menentu. Di kejauhan
terdengar suara sayup-sayup yang seakan datang
dari dalam kubur dan juga jurang neraka.
"Kami akan membantu"
Bersamaan dengan terdengarnya suara tadi.
Tiba-tiba Wayan merasa ada sesuatu yang me-
nyambar dan turut mendorong dari arah lawan.
Akibatnya....Breees
"Wuuukh"
Tidak ampun lagi Wayan Tandira terlempar
dan terhantam sebagian angin api milik lawannya.
Bagian rambut dan juga sebagian wajah pemimpin
Sange ini sempat terjilat api. Bagian badan malah sempat terbakar. Tapi bagian-bagian yang terbalut akar sakti itu tidak mengalami luka sedikitpun.
Sebenarnya keadaannya tidaklah begitu parah an-
dai bukan bagian kepalanya terlebih dulu yang
membentur dinding.
Wayan Tandira sang pemimpin Sange men-
gerang. Ia ingin bangkit, akan tetapi pandangan
matanya berkunang-kunang, kepalanya yang ben-
jut sakit mendenyut dan seperti dikemplangi palu.
Kini suara tawa kemenangan Ratu Leak pun ba-
ginya sudah tidak beda dengan suara jeritan hantu di neraka.
"Kau tidak dapat membuktikan ucapanmu
Malah kini kau harus mampus di tanganku Sung-
guh menggenaskan jalan hidupmu. Sudah sengsa-
ra seumur-umur, kini harus mati secara tersiksa"
dengus Ratu Leak. Perempuan itu kemudian men-
gangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Matanya
sama sekali tidak berkesip, sedangkan kedua tan-
gan Ratu Leak mula-mula memancarkan sinar me-
rah, sinar merah lalu berubah memutih, setelah
itu berubah pula menjadi hitam legam. Tidak salah lagi, betina jahat ini sudah siap melepaskan pukulan 'Sabda Orang-Orang Dalam Kutukan'.
Tampaknya nyawa pemimpin negeri Sange
itu benar-benar seperti telur di ujung tanduk. Dalam keadaan setengah kelenger begitu mana
mungkin Wayan dapat menjaga keselamatan di-
rinya. Apalagi ketika itu Ratu Leak mengincar bagian kepala Wayan.
"Mampuslah kau hari ini, pemimpin konyol
Hiyaaa..." Ratu Leak dorongkan kedua tangannya ke bagian kepala Wayan Tandira. Agaknya kepala
itu sekejap lagi langsung hancur. Namun ternyata dalam keadaan yang sangat kritis itu melesat sosok serba putih menyambar tubuh Wayan dan
membuangnya ke tempat yang aman.
Pukulan 'Sabda Orang-Orang Dalam Kutu-
kan' menghantam dinding Pura hingga hancur
menjadi serpihan debu yang berterbangan. Ada se-
ruan kaget di samping kanan Ratu Leak. Lalu ter-
dengar pula suara tawa, suara tawa lenyap dan
berganti dengan caci maki seseorang.
TIGA
Pabila Ratu Leak memandang ke arah sosok
yang telah menyelamatkan Wayan Tandira. Maka
di sana telah berdiri seorang laki-laki jangkung berpakaian putih selempang putih. Kejut hati Ratu Leak bukan alang kepalang.
Sementara itu Datuk Nan Gadang Paluih
memandang pada Wayan sambil membatin. "Se-
panjang jalan ia menumpang di kudaku. Turun
sebentar meninggalkan aku dengan alasan ingin
kencing, tidak tahunya ia minggat ke sini sendiri untuk menghadapi musuh bebuyutannya. Dasar
serakah"
"Berani lancang kau mengganggu urusan
orang lain Tampangmu rasanya sudah pernah
kukenal" bentak Ratu Leak.
"Memang, kau tentu saja mengenalku. Ka-
rena kau bangsat pencurinya Sekarang cepat kau
kembalikan Batu Lahat Bakutuk padaku Atau
aku akan mencincang tubuhmu hingga tidak ber-
bentuk lagi??" teriak Datuk Nan Gadang Paluih tidak kalah kerasnya.
Ratu Leak tertawa-tertawa terkikik-kikik.
"Dengan apa kau akan membunuhku Aku sama
sekali tidak melihat kemungkinan jalan hidup ba-
gimu selama Batu Lahat Bakutuk ada di tangan-
ku" ejek Ratu Leak.
"Benda itu hanya menimbulkan malapetaka
bila berada di tangan orang-orang sepertimu Ce-
pat serahkan budak ketek"
Rasanya percuma saja Datuk Nan Gadang
Paluih memberi peringatan. Orang seperti Ratu
Leak mana kena digertak.
"Datuk Nan Gadang Paluih Jika dulu aku
mencuri Batu Lahat Bakutuk yang mengandung
berbagai keanehan dan kesaktian ini. Apa salah-
nya jika hari ini aku mencuri nyawamu? Hi hi
hi..." "Kesalahanmu sudah bertumpuk. Malaikat sudah bosan menghitung dosamu. Tidak ada pilihan dan jalan lain bagiku terkecuali menempurmu
demi Batu Lahat Bakutuk" teriak Datuk Nan Gadang Paluih. Laki-laki ini tampaknya memang su-
dah hilang kesabarannya.
Tanpa menghiraukan Wayan Tandira yang
mulai sadar dari pingsannya. Tanpa memperduli-
kan Dewi Kerudung Putih yang dalam keadaan se-
tengah telanjang. Datuk Nan Gadang Paluih lang-
sung rangkapkan kedua tangannya. Detik itu juga
terlihat ada selarik sinar melesat ke arah Ratu
Leak. Perempuan itu langsung melompat meng-
hindar ketika merasakan sapuan angin panas me-
landa dirinya.
"Wuus
Buuuum
Serangan Datuk Nan Gadang menghantam
dinding belakang Pura. Dinding itu hancur. Batu-
batunya menjadi serpihan debu. Itulah salah satu pukulan dahsyat yang oleh pemiliknya diberi nama
'Mengungkit Gunung Membalik Bukit'. Ratu Leak
leletkan lidah. Wajah perempuan itu sempat me-
mucat. Ia pernah mendengar kehebatan salah satu
tokoh dari Andalas ini. Dulu sama sekali ia belum pernah berhadapan dengannya mengingat setelah
mencuri Batu Lahat Bakutuk ia langsung melari-
kan diri. Namun Ratu Leak adalah manusia yang
penuh dengan rasa percaya diri. Apa lagi mengin-
gat kini Batu Lahat Bakutuk ada di tangannya.
"Pukulanmu boleh juga, rambut putih" ejek Ratu Leak. Sekejap kemudian Ratu Leak sudah
melesat ke depan dan lepaskan tendangan berun-
tun sementara kedua tangannya yang berkuku
panjang itu mencengkeram wajah Datuk Nan Ga-
dang. Kedua serangan yang dilancarkan oleh Ratu
Leak sama berbahaya. Datuk Nan Gadang tidak
mundur ke belakang atau melompat ke samping,
melainkan melesat ke udara sedangkan tinjunya
menghantam bahu.
Wuut
Melihat dirinya terancam, Ratu Leak gerak-
kan tangannya yang mencengkeram menjadi gera-
kan menangkis. Benturan, tidak dapat dihindari
lagi. Ratu Leak sempat terhuyung-huyung. Se-
dangkan lawannya hanya tergetar saja, walau pa-
tut diakui tangan yang membentur tangan lawan
tadi terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk. Ini merupakan pertanda bahwa tenaga dalam Datuk Nan
Gadang Paluih berada beberapa tingkat di atas lawannya.
Melihat kenyataan ini Ratu Leak tidak ting-
gal diam. Ia menyerang lawannya dengan jarak
yang cukup dekat sekali. Tubuhnya berkelebat
laksana walet menyambar-nyambar di atas air. La-
lu serangkaian jotosan dilancarkannya. Angin
menderu. Lawan cepat menundukkan kepala, se-
hingga serangan itu lolos di atas kepala. Begitu serangan Ratu Leak luput, tangan lawan menyambar
ke arah pinggang dimana Batu Lahat Bakutuk di-
perkirakan berada disitu. Ratu Leak tidak bodoh, ia liukkan pinggulnya. Lalu dengan jurus 'Tusukan Jari Penghantar Maut' ia menyodok tenggorokan
lawan. Jika penglihatan Datuk Nan Gadang tidak
jeli, dapat dipastikan tenggorokan laki-laki itu bolong. Datuk Nan Gadang berguling-guling. Dalam
kesempatan itu ia lepaskan pukulan 'Di Balik Ku-
bur Mayat-Mayat Merintih'. Sesaat setelah Datuk
Nan
Gadang dorongkan kedua tangannya. Maka men-
deru hawa panas luar biasa ke arah lawan. Jarak
di antara mereka sangat dekat sekali. Sehingga Ra-tu Leak tidak sempat lagi selamatkan diri.
Blaar
Ratu Leak menjerit keras, tubuhnya terpe-
lanting dan menghantam dinding di belakangnya.
Tampak jelas ia menderita luka dalam, walau tidak parah tapi cukup mengganggu kosentrasinya.
Sementara itu Wayan Tandira sudah me-
langkah mendekati Dewi Kerudung Putih untuk
membebaskan totokan di tubuhnya. Sebelumnya
laki-laki gondrong ini membetulkan pakaian si gadis yang anak-acakan. Begitu dirinya terbebas De-wi langsung menjerit.
"Aku harus membunuhnya"
Wayan menahan bahu di gadis sambil se-
raya berkata. "Jangan kau usik Datuk Nan Gadang. Urusannya dengan Ratu Leak adalah per-
soalan besar yang tidak dapat dianggap main-
main" "Aku juga telah dibuatnya malu Aku bahkan meragukan ia seorang perempuan sejati" teriak Dewi Kerudung Putih marah.
"Maksudmu?" desis Wayan Tandira tidak
mengerti.
"Kita baru saja mengetahui kelaminnya pe-
rempuan atau laki-laki jika aku telah berhasil
membunuhnya" sahut si gadis sengit.
"Hal itu sudah kulakukan. Hasilnya seperti
yang kau lihat. Aku hampir mampus ditangannya.
Kau atau aku bukan tandingannya Lagipula apa
nanti kata orang-orang aliran sesat jika kita men-geroyok Ratu Leak?"
Sadar akan kebenaran kata-kata yang di-
ucapkan Wayan Tandira. Dewi Kerudung Putih
terpaksa telan kembali kemarahannya bulat-bulat.
Mereka segera menyingkir ke tempat yang aman.
Sementara itu pertempuran sengit antara
Datuk Nan Gadang Paluih dan Ratu Leak sudah
mencapai puncaknya. Datuk Nan Gadang bebera-
pa kali sempat dihajar oleh Ratu Leak dengan
mempergunakan tengkorak bayinya. Tetapi lawan
juga berhasil mencidrai Ratu Leak dengan Angkin
Sakti Pelebur Petaka.
Dalam pertempuran yang telah berlangsung
hampir enam puluh lima jurus itu. Ratu Leak tiba-tiba bersuit keras.
"Hang..."
Terdengar suara sahutan di kejauhan Lalu
Datuk Nan Gadang Paluih tiba-tiba merasakan ada
hawa dingin mendorongnya dengan keras hingga
membuat pernafasannya jadi sesak dan jalan da-
rah di tubuhnya jadi kacau.
"Dasar iblis Kau mengerahkan pembantu-
pembantumu dari alam gaib" teriak tokoh dari Andalas ini sambil terhuyung-huyung. Kemudian
laki-laki itu berteriak keras entah ditujukan pada siapa. "Jangan cuma menonton, sesuatu yang tidak terlihat adalah bagianmu"
Dari luar terdengar ringkikan keras. Dind-
ing-dinding ruangan bergetar, terguncang, lalu
hancur di sana sini. Dari balik kegelapan hujan
muncul kuda putih dengan tinggi tidak terkirakan.
Kuda itu berputar-putar mengelilingi Datuk Nan
Gadang. Sementara moncongnya membuka, bila
moncong kuda mengatup kembali maka terdengar
jerit kesakitan. Ternyata Si Putih Kaki Langit kuda alam gaib itu sedang bertarung dengan makhluk-makhluk dari alam lelembut yang mencoba mem-
bantu Ratu Leak.
Tentu saja dengan kehadiran Si Putih Kaki
Langit yang dapat membesar dan meninggi diluar
kelaziman kuda-kuda pada umumnya membuat
pertempuran antara Ratu Leak dan lawannya ter-
henti. Satu demi satu makhluk-makhluk alam
gaib itu dibantai oleh Si Putih Kaki Langit. Kesempatan ini dipergunakan oleh Ratu Leak untuk me-
larikan diri.
"Lihat" seru Dewi Kerudung Putih.
Sebaliknya Wayan Tandira tanpa bicara
langsung lepaskan pukulan 'Cambuk Neraka' saat
melihat lawan melesat meninggalkan kalangan
pertempuran. Ratu Leak tertawa mengikik dan ki-
baskan tangannya ke belakang.
Buuum
Terjadi ledakan, Wayan sempat terdorong
mundur dan nyaris terhantam pukulannya sendiri
yang membalik. Serentak dengan perginya Ratu
Leak, maka sisa-sisa makhluk alam gaib pun ikut
melarikan diri pula.
"Cukup Putih Kaki Langit Percuma saja,
bangsat itu sudah pergi" seru Datuk Nan Gadang Paluih. Putih Kaki Langit meringkik keras, seakan-akan ia menjadi marah pula melihat musuh tuan-
nya melarikan diri.
"Bagaimana Datuk" tanya Wayan yang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Hmm, seberapa luas Tanah Sange ini?"
tanya Datuk Nan Gadang Paluih pula dengan
jengkel.
"Tidak seberapa luas, Datuk" jawab si gondrong. "Kalau pun Sange seluas laut dan seluas daratan. Ratu Leak tidak akan pernah lolos untuk
yang ketiga kalinya dari tanganku"
"Aku berharap penderitaan rakyatku segera
berakhir. Apa saranmu?" tanya si gondrong.
"Ratu Leak tidak akan keluar dari Sange ini dalam keadaan hidup Sekarang kita kejar dia" perintah Datuk Nan Gadang Paluih. Seraya menoleh
ke arah Si Putih Kaki Langit yang kini sudah kembali ke dalam ujud kuda biasa. Bila Datuk berpaling pada Dewi Kerudung Putih. Maka gadis itu su-
dah tidak ada lagi ditempatkan. "Kemana dia?"
"Mungkin dia malu bersama kita Sebaiknya
tidak terjadi sesuatu yang lebih memalukan lagi
padanya" sahut Wayan.
"Anak dara memang begitu Tapi bila ia su-
dah menjadi seorang etek (bibik). Mengeluarkan
kedua teteknya di depan umum pun dia tidak
akan malu-malu lagi" ucap Datuk Nan Gadang Paluih. "Manusia akar, kuharap jangan bertindak bodoh lagi. Dengan berpura-pura kencing tidak tahunya kau hampir mampus di tangan si keparat
Ratu Leak"
"Tidak-tidak lagi, Datuk" jawab Wayan sambil tersenyum. Keduanya kemudian melompat
ke atas punggung Putih Kaki Langit. Dengan sekali hela, kuda pun melesat laksana kilat.
***
Lembah itu ditumbuhi dengan bunga-bunga
liar yang menebarkan bau harum semerbak. Wa-
lau pun hanya bunga-bunga liar yang tumbuh
subur di sana. Akan tetapi cukup indah dipandang mata. Pada musim-musim dingin seperti sekarang
ini banyak kumbang dan kupu-kupu bersayap in-
dah hadir disana untuk menghirup sari dan ma-
dunya. Begitu indah dan harumnya tempat itu
hingga banyak orang yang menamakannya dengan
Lembah Nirwana. Nirwana itu sendiri bisa ber-
makna surga atau keindahan. Tidak jelas siapa
yang mendiami lembah itu, namun pada saat bu-
lan purnama penuh selalu terdengar suara orang
bersenandung. Suaranya terdengar begitu merdu
diselingi suara kecapi yang mendayu-dayu. Pulu-
han tahun silam ada juga beberapa orang dari
rimba persilatan yang tergolong punya keberanian tinggi menyelidiki lembah tersebut. Namun tidak
seorang pun di antara mereka ada yang kembali ke dunia ramai.
Padahal menurut seorang pengembala, ia
pernah melihat puteri-puteri cantik berpakaian
kuning sedang berjalan-jalan memetik bunga. Pen-
gembala tersebut entah karena sebab apa tidak
lama kemudian menderita sakit gila. Itulah sebabnya Lembah Nirwana menjadi daerah terlarang
dan konon dihuni oleh para Peri dan bidadari si-
luman. Tidak seorang pun yang dapat membukti-
kannya. Yang jelas ketika itu dalam jarak yang
agak jauh dari Lembah tampak seorang laki-laki
sedang memanggul sosok tubuh berpakaian serba
biru. Kakek berwajah hitam ini tampaknya baru
saja melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Orang ini sambil terus memanggul pemuda baju
biru tampak menyeka keringat yang meleleh mem-
basahi wajahnya. Sampai di bawah sebatang po-
hon yang besar ia letakkan bawaannya. Seraya
menelentangkan Suro Blondo yang dalam keadaan
tertotok di atas rumput liar. Untuk lebih jelasnya apa yang terjadi pada Pendekar Blo'on sebelumnya (dalam episode Nagari Batas Ajal). Suro yang dalam keadaan tertotok itu cuma dapat melotot me-
nyaksikan apa yang akan dilakukan oleh kakek
berambut riap-riapan ini. Hanya itu yang dapat dilakukannya, karena jalan suara Pendekar Blo'on
pun dalam keadaan tertotok. Untuk diketahui
waktu itu Suro yang berhasil ditundukkan oleh
Ratu Leak dengan cangkir Tengkorak Pelumpuh
akal Pelemah Jiwa. Telah diperalat oleh perem-
puan itu untuk membunuh kedua gurunya sendi-
ri. Dalam perkelahian yang sengit, Suro yang telah memperoleh bekal ilmu kesaktian dari Ratu Leak
ternyata dapat dikalahkan oleh Malaikat Berambut Api dan tertotok pula, meskipun kakeknya dapat
dilukai. Dalam keadaan seperti itulah muncul ka-
kek baju hitam berambut awut-awutan ini dan
langsung melarikannya.
"Aku ingin melihat tiga tanda-tanda di tu-
buhnya Bersusah payah aku melarikan bocah ini
dari kedua gurunya. Aku tidak ingin gagal" batin tokoh aneh ini. Seraya segera melepaskan pakaian Suro, hingga pemuda itu nyaris telanjang. Hawa
kemarahan membuncah di dalam dada Pendekar
Blo'on. Karena pemuda itu dalam keadaan terto-
tok, maka si kakek tidak menghiraukannya.
"Hmm, rambutnya berwarna kemerah-
merahan. Satu pertanda bila ia sampai pada pun-
cak pengerahan tenaga dalam rambut ini akan
berwarna merah seperti bara. Kulitnya juga ber-
warna putih. Tapi aku harus tahu apakah di tu-
buhnya terdapat tompel?" batin si kakek. Seraya membalikkan tubuh Suro, melihat ke bagian
punggung. Maka terkejutlah kakek berambut
awut-awutan ini. Di punggung Suro terdapat se-
buah tompel besar berwarna hitam. "Dia benar-benar pemuda ajaib itu? Tetapi di mana letak kea-jaibannya? Tompel ini adalah bawaan sejak lahir, ia merupakan kekuatan alami yang dapat menolak
sihir, teluh dan racun. Tapi mengapa ia dalam
keadaan begini?" desis si kakek. Ia segera memeriksa bagian pelupuk mata Pendekar Blo'on. Me-
mandang ke bagian bola mata yang hitam sekejap,
lalu tubuhnya tergetar hebat.
"Pantasan Sungguh aku baru mengerti. Ke-
kuatan alami yang dimilikinya mustahil mampu
melenyapkan racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa
Inilah sebabnya ia bermaksud membunuh gu-
runya sendiri. Pastilah ini perbuatan si terkutuk Ratu Leak Racun itu belum ada pemunahnya di
kolong langit ini Ratu Leak sendiri aku yakin tidak punya obat penawar racun itu. Sungguh perbuatan yang keji, dia punya dua pilihan licik. Pertama jika rencana pertama gagal, berarti rencana kedua berjalan dengan mulus. Bagaimana menghilang-kan racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa yang
mengeram di tubuhnya? Kurasa sulit juga men-
gembalikan kesadaran dan ingatan-ingatannya
yang dulu Aku harus membawa pemuda ini ke
tempat tinggalku Lembah Nirwana..." kakek berbaju hitam itu akhirnya memutuskan. Ia segera
memanggul Pendekar Mandau Jantan kembali.
Kemudian secepat angin ia bergerak menuju Lem-
bah Nirwana yang terletak tidak begitu jauh da-
rinya.
***
Hanya beberapa menit saja kakek aneh
yang melarikan Pendekar Blo'on itu berlalu. Mun-
cullah dua sosok bayangan. Yang satu berpakaian
serba putih sedangkan yang satunya lagi berpa-
kaian merah berambut merah. Mereka tidak lain
adalah Malaikat Berambut Api dan Penghulu Si-
luman Kera Putih. Kedua kakek tua ini tiba-tiba
hentikan langkahnya.
"Tadi aku sempat melihat ia berhenti di si-
ni" seru Barata Surya alias Penghulu Siluman Ke-ra Putih.
Dewana atau yang lebih dikenal dengan ge-
lar Malaikat Berambut Api tidak segera menjawab.
Ia berjalan mondar-mandir di depan Penghulu Si-
luman Kera Putih, sementara cuping hidungnya
kembang kempis seakan mengendus sesuatu.
"Kau tahu siapa orang yang telah melarikan
murid kita tadi?" tanya kakek Dewana. Sorot mata kakek rambut merah ini tampak tajam berwibawa
juga menyimpan kedongkolan yang sangat.
"Jarang sekali ada tokoh yang memiliki ilmu lari lebih cepat dariku. Aku tidak dapat menduga
siapa dia" jawab Penghulu Siluman Kera Putih tanpa ragu-ragu.
"Kita berdiri tidak jauh dari Lembah Nirwa-
na. Kau ciumlah bau harum yang semerbak ini.
Lembah itu konon tidak bertuan. Tapi kira-kiranya aku sudah tahu. Siapa orangnya yang dapat berlari melebihi kecepatan suara dan berjalan di atas kecepatan angin" ujar Malaikat Berambut Api.
Wajah si kakek langsung berubah muram.
"Si Bayang Bayang Itukah yang saudara
maksudkan" seru Barata Surya dengan mata
mendelik.
EMPAT
Wajah di depan Barata Surya semakin ber-
tambah muram bahkan terkesan sedih. Seraya ge-
lengkan kepala berulang-ulang.
"Nama itu tidak ubahnya sebuah legenda
yang dipercayai oleh masyarakat banyak. Apakah
Si Bayang Bayang alias si Tangan Biru memang
ada?" tanya Barata Surya.
"Sudah tua begini aku sesungguhnya ma-
lu... aku malu... Segala yang kumiliki tidak bertambah, berkurang malah. Orang tua hanya ama-
rah dan pikunnya saja yang bertambah. Si Bayang
Bayang memiliki ilmu yang tidak dapat dijajaki.
Dia setengah manusia dan setengah gaib Satu
yang merisaukan hatiku, apa maksud dan tujuan-
nya menculik murid kita? Padahal anak itu seka-
rang telah kehilangan segala-galanya? Yang lebih
menyedihkan lagi ada kekuatan lain yang menge-
ram dalam dirinya. Kita seharusnya mengenyah-
kan kekuatan asing itu Tapi bagaimana hal itu
dapat kita lakukan? Suro tidak berada bersama ki-ta" keluh Malaikat Berambut Api.
"Ya... ini memang merisaukan aku juga.
Bertemu dengan Si Bayang Bayang aku sendiri be-
lum pernah. Apakah manusia setengah gaib itu
benar-benar ada, atau hanya kabar angin saja.
Alangkah memalukan jika kita cuma berpangku
tangan. Menurutmu, saudara. Apakah tidak lebih
baik kita mencari bocah konyol itu di lembah tersebut??"
"Aku dengar batas lembah dijaga ketat oleh
murid-murid Si Bayang Bayang. Selain itu Lembah
Nirwana terlindung tabir gaib berlapis-lapis. Terkecuali sebangsanya Siluman, manusia seperti aku
tidak mungkin menembusnya" jelas Malaikat Berambut Api. Yang dalam hal kesaktian memiliki
derajat tiga atau empat tingkat di atas Penghulu Siluman Kera Putih.
"Lalu..." tanya Barata Surya sambil ketuk-ketuk keningnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Bodoh Mengapa menunda-nunda waktu
lagi. Bukankah lebih baik jika kau menyelidik ke dalam lembah itu?" dengus Malaikat Berambut Api. Si kakek rambut putih tertawa geli dalam hati.
Dewana menurutnya adalah orang yang mahal se-
nyum. Sikapnya selalu serius, tatapan matanya
berwibawa. Itu mungkin yang membuat tokoh-
tokoh lain baik dari aliran hitam maupun putih
menjadi segan kepadanya. Lain lagi dengan dirinya
yang ugal-ugalan.
"Baiklah, aku mohon saudara mau melin-
dungiku bila sesuatu yang tidak diingini terjadi"
pesan Penghulu Siluman Kera Putih setengah ber-
gurau. "Buat apa?" sahut Dewana. "Aku muak melihat tampangmu, aku tidak akan sedih bila kau
mampus di lembah itu" dengus Malaikat Rambut Api. Barata Surya hanya termonyong-monyong
sebentar. Tiba-tiba ia pejamkan matanya. Sedang-
kan bibir kakek berpakaian putih itu tampak ber-
kemak-kemik.
Pyaaar
Sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi pada
kakek siluman kera itu. Tubuhnya tiba-tiba raib
dan berubah menjadi cahaya putih berpedar-
pedar. Cahaya itu kemudian melesat ke arah lem-
bah. Sampai di perbatasan lembah, cahaya putih
itu seakan membentur sebuah tembok hingga
membuatnya membalik. Melesat ke depan lagi,
kemudian membalik lagi. Malaikat Berambut Api
kerutkan keningnya. Sekarang ia baru percaya
bahwa Lembah Nirwana memang dilindungi oleh
tabir gaib sebagaimana pernah diceritakan oleh tokoh-tokoh rimba persilatan di masa lampau. Ca-
haya putih itu kemudian bergerak mundur dalam
jarak sejauh dua batang tombak. Tidak lama ca-
haya itu bergerak melesat ke depan dengan kece-
patan yang sungguh luar biasa.
Brang
Prak Prak
Terjadi ledakan disertai dengan terdengar-
nya sesuatu yang pecah. Sinar putih lenyap. Ma-
laikat Berambut Api merasa yakin Barata Surya
sudah mampu menembus tabir gaib yang pertama.
Tapi apa yang terjadi kemudian di tengah-tengah
alam lembah yang terbungkus tabir gaib itu?
Cahaya putih yang merupakan penjelmaan
Penghulu Siluman Kera Putih menjumpai kesuli-
tan lain. Di tengah-tengah alam lembah itu ternya-ta ia mendapati tabir lain yang lebih kuat dan kokoh. Penghulu Siluman Kera Putih mencoba
menghancurkan tabir gaib kedua. Tetapi walau
pun ia telah mengerahkan lebih dari setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya. Ia tidak kuasa
memporak-porandakan tabir gaib kedua.
Ini merupakan suatu pertanda bahwa sia-
papun yang menciptakan tabir gaib yang berlapis-
lapis itu pastilah memiliki ilmu sakti lain yang tidak dimiliki oleh Penghulu Siluman Kera Putih.
Cahaya putih itu pun akhirnya hanya berputar-
putar di luar tabir gaib kedua.
"Aku harus mempergunakan ilmu
'Menyusup Cahaya'" pikir Penghulu Siluman Kera Putih yang dalam keadaan terbungkus sinar tersebut. Dengan cepat sekali ia memusatkan kosentra-
si pada bagian matanya.
Tweeeeng
Walau ia terhalang oleh tabir gaib, tapi tata-
pan matanya mampu menembus ke dasar lembah.
Ternyata selain tabir kedua, masih ada lagi tabir ketiga, keempat dan ke tujuh. Bukan main, jika Si Bayang Bayang memang benar ada. Beliau pasti
merupakan tokoh sakti yang memiliki kepandaian
di atas sempurna.
"Ini benar-benar sangat luar biasa. Di atas langit masih ada langit Padahal di atas atap ru-mahku sudah tidak ada lagi atap yang lain." desis Barata Surya. "Apa kata Malaikat Berambut Api ji-ka ia melihat kejadian yang aneh ini? Aku melihat sebuah bangunan sederhana di tengah-tengah
lembah itu. Dan yang di sebelah sana itu, eh... ada gadis-gadis cantik yang sedang mandi telanjang"
Sosok yang terbungkus cahaya putih itu kedip-
kedipkan matanya. "Bukan itu yang kumaksud-
kan. Aku harus tahu apakah bocah konyol itu ada
di lembah ini" Penghulu Siluman Kera Putih kembali memusatkan perhatiannya dalam pengerahan
ilmu 'Menyusup Cahaya'. "Oho... itu dia Suro terbaring di atas ranjang bodol Kaki dan tangannya dalam keadaan terikat. Siapa yang mengikatnya?"
Barata Surya mencari-cari. "Hhh... aku melihat orang tua, tapi tubuhnya tidak begitu jelas Ia seperti bayang-bayang. Inikah orangnya yang berju-
luk Si Bayang Bayang? Apa yang akan dilakukan-
nya terhadap Suro? Eeeh... ia memegang pedang
Gila... Awas jika dia sampai berani membunuh
Suro Aku akan mengerahkan seluruh siluman un-
tuk mencincang tubuhnya" geram Barata Surya bimbang. Cahaya putih itu kemudian mondar-mandir di luar dinding tabir kedua. Karena merasa penasaran sekali. Ia kembali mengerahkan ilmu
'Menyusup Cahaya' untuk melihat kejadian selan-
jutnya. Kakek tua berambut putih tiba-tiba saja
belalakkan matanya lebar-lebar. Ia usap wajahnya
yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ketika bicara getaran suaranya jelas tidak kuasa menutupi rasa
kejut di hatinya.
"Mengapa di bawah lapisan-lapisan tabir ini tiba-tiba saja diselimuti kabut tebal? Ilmu
'Menembus Cahaya' yang kumiliki seakan tidak
berguna dan tidak dapat lagi menembus rumah di
tengah lembah. Apa yang akan dilakukan oleh ka-
kek tua yang ujudnya seperti bayang-bayang itu?"
desis Barata Surya. "Aku harus menghajar tabir celaka ini dengan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar" Dan cahaya putih itu melesat mundur. Ada pijaran-pijaran aneh memancar dari ca-
haya itu hingga sinarnya menjadi terang bende-
rang. Namun sebelum kakek sakti itu sempat me-
lepaskan pukulan dahsyat yang dimilikinya tiba-
tiba terdengar suara bisikan gaib sayup-sayup di kejauhan.
"Sudah berani kau menghancurkan tabir
gaib pertama. Sekarang kau hendak berani-
beranian menghancurkan tabir gaib yang kedua
Cobalah jika kau ingin celaka"
"Setan" maki Barata Surya dengan bibir cemberut. "Jangan berani-berani menakuti aku.
Aku datang ke sini hendak menjemput murid kami
yang telah kau culik" tegas si kakek.
"Jangan banyak bicara Aku bukan mencu-
liknya, cuma meminjam untuk beberapa waktu
lamanya. Ada oleh-oleh yang akan kuhadiahkan
padanya Cuma sayang..." Suara dalam gaib itu tidak melanjutkan ucapannya. Penghulu Siluman
Kera Putih jadi gelisah.
"Ada apa rupanya? Yang aku tahu muridku
itu sekarang sedang dikuasai pengaruh Ratu Leak, ia juga kehilangan kesaktiannya Kami akan berusaha membuatnya sadar. Untuk itu berikan Suro
padaku secepatnya" perintah Barata Surya setengah memaksa.
"Ha ha ha... Penghulu Siluman Kera Putih
Tidak kuragukan kehebatanmu dan ketinggian il-
mu Malaikat Berambut Api. Tapi perlu kau tahu,
Racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa yang ada da-
lam tubuh muridmu sukar dicari obatnya Aku se-
karang sedang memerintahkan kedua muridku
untuk mencari Bunga Arum Dalu..."
"Bunga Arum Dalu??" seru Barata Surya
kaget. "Bukankah bunga itu dijaga oleh Ular Kepala Empat? Dan letaknya pun sulit dijangkau ma-
nusia." "Memang Bahkan akan selalu ada korban bila bunga itu diambil. Biasanya orang yang berani mengambil itulah yang akan jadi korban sebagai
salah satu isyarat penebusan" jelas suara bisikan tersebut.
"Siapa yang merelakan nyawanya demi me-
nolong muridku?" tanya Barata Surya.
"Salah seorang muridku setelah melihat
keadaan pemuda ajaib ini"
"Seseorang bersedia merelakan nyawanya
demi kesembuhan orang lain yang baru dikenal-
nya?" desis Penghulu Siluman Kera Putih seakan tidak percaya.
"Berjuang demi keselamatan orang lain se-
mentara orang yang harus ditolong itu baktinya
dibutuhkan oleh manusia banyak, bukanlah sesu-
atu yang buruk. Mereka rela, karena kebaikan itu sangat disukai Tuhan"
"Biarkan aku yang mencari bunga itu" pinta Barata Surya merasa terharu.
"Tidak Muridku akan menjadi kecewa ka-
rena pengalihan tugas. Lagipula kau harus menca-
ri Tanduk Sakti yang sekarang berada di tangan
Mata Iblis"
"Tanduk sakti apa?" tanya Barata Surya.
"Manusia setengah makhluk bertanduk di
dunia ini hanya Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya. Sekarang apakah kau bisa mengerti siapa
kira-kira yang telah mencelakai dan melucuti ilmu muridmu?" tanya suara gaib itu. Penghulu Siluman Kera Putih menggeram marah. "Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Tapi kudengar ia berada di kawah perut bumi. Siapa yang membangkitkan-nya?" tanya kakek rambut putih terheran-heran.
"Seseorang yang menamakan dirinya Ratu
Leak" "Dia lagi Aku sama sekali tidak mengenalnya, entah mengapa ia begitu memusuhi kami.
Bahkan dia bermaksud membunuh kami melalui
tangan Suro. Bukan itu saja, tega-teganya mem-
buat ling-lung muridku" dengus Barata Surya.
"Kukira diantara kalian ada persoalan ter-
tentu yang membuatnya sakit hati. Sudahlah itu
adalah persoalan nanti. Sekarang yang terpenting pergilah ke arah tenggara. Tanduk itu ada disana"
jelas suara dalam gaib itu.
"Tunggu dulu" serga si kakek sambil garuk-garuk kepala.
"Apa lagi?"
"Aku tidak kenal Ratu Leak. Tapi mengapa
ia begitu sangat membenciku?"
"Tidak mungkin ia memusuhimu tanpa se-
bab Sudahlah, jangan tunda-tunda lagi. Pergilah sekarang atau aku tidak akan pernah mengembalikan muridmu?"
"Jangan macam-macam, aku bisa mengo-
brak-abrik tempat ini dengan bantuan seluruh si-
luman. Tidak perduli siapa pun kau orangnya"
ancam Penghulu Siluman Kera Putih.
"Ha ha ha Dalam keadaan seperti ini kau
masih mau bercanda juga? Benar-benar kau ma-
nusia sinting" desis suara dari balik tabir gaib tersebut disertai tawa.
Barata Surya merasa harus mengabari Ma-
laikat Berambut Api. Untuk itu ia segera bergerak keluar melalui pecahan tabir yang telah dihancur-kan pertama tadi. Sampai di luar Dewana ternyata masih menunggu di tempat semula.
"Bagaimana Penghulu para siluman? Apa-
kah kau sudah menemukan murid kita? Mengapa
terlalu lama sekali?" tanya penghuni pulau Seribu Satu Malam ini bertubi-tubi.
Cahaya putih yang berpedar-pedar itu ke-
mudian tampak mengembang. Lalu terjadi kehan-
curan di sana-sini sekaligus memercikkan bunga
api di udara. Hanya sekali kakek Dewana berke-
dip. Kini Penghulu Siluman Kera Putih sudah be-
rada di depannya.
"Murid kita dalam keadaan gaswat... eh,
gawat maksudku Aku tidak berjumpa langsung
dengannya...."
Kakek Dewana langsung membentak. "Ba-
gaimana kau tahu keadaan Suro dalam bahaya
sedangkan kau tidak menjumpainya. Apakah kau
sudah gila, Barata Surya?"
"Begini, aku tidak dapat menembus tabir
gaib yang dibuat oleh penghuni lembah itu. Terlalu atos dan terlalu kuat, kesaktian yang kumiliki tidak mampu menembusnya"
"Itu menandakan ketidak becusanmu seba-
gai tua bangka yang mau mampus" sahut Malaikat Berambut Api.
"Bukan begitu. Kalau aku mau berfikir pasti ada jalan. Tapi apa gunanya? Lagipula kulihat Si Bayang Bayang punya tujuan baik terhadap murid
kita. Terbukti ia mengerahkan dua muridnya un-
tuk mencari Bunga Arum Dalu demi mengembali-
kan kesadaran Suro" jelas Penghulu Siluman Kera Putih. "Itu sama artinya dengan penghinaan. Apa yang terjadi menunjukkan ketidak becusan kita
sebagai gurunya. Apakah ini menurutmu tidak
memalukan?" dengus Malaikat Berambut Api.
"Biarkanlah memalukan sedikit asalkan ti-
dak malu-maluin. Ha ha ha..."
"Dasar tua bangka sinting" maki kakek Dewana.
Penghulu Siluman Kera Putih terkesan ku-
rang begitu perduli. Ia juga tidak merasa sakit hati mendengar makian Malaikat Berambut Api. Lagi-
pula siapa yang berani terhadap kakek yang satu
ini? Barata Surya sendiri merasa sungkan pa-
danya. "Lalu sekarang apa yang hendak kau lakukan?" "Aku disuruh mengambil tanduk sakti milik Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya." sahut Barata Surya.
Malaikat Berambut Api tidak usah dije-
laskan pun sudah mengerti. Pastilah ilmu serta
kesaktian yang dimiliki oleh Pendekar Blo'on su-
dah berhasil dirampas oleh makhluk itu. Dan se-
karang kesaktian itu tersimpan dalam tanduk.
"Jadi kau akan berhadapan dengan Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya itu?" tanya kakek Dewana dengan mata mendelik.
"Tidak" jawab Barata Surya. "Menurut Si Bayang-Bayang, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya telah mati. Mungkin tewas di tangan Mata Iblis aku tidak menanyakannya. Yang jelas tanduk
makhluk itu sekarang berada di tangan Mata Ib-
lis" "Mata Iblis?" seru Malaikat Berambut Api seakan kaget. "Dia manusia bodoh tapi punya ketinggian ilmu yang sukar dijajaki. Kekuatan ma-
tanya bisa menghancurkan batu karang, membuat
hancur tubuh manusia, membuat pecah pembu-
luh darah yang membuat berantakan otakmu Un-
tuk apa ia mengambil tanduk Sang Pelucut Segala
Ilmu Segala Daya?"
"Aku tidak tahu"
"Manusia yang satu itu tidak dapat diang-
gap main-main. Sesuatu yang telah berada di tan-
gannya mustahil bisa pindah ke tangan orang lain.
Terkecuali kau mampu membujuknya atau me-
nempurnya hingga mati"
"Aku tidak perduli Jika murid-murid Si
Bayang-Bayang saja rela mengorbankan nyawa
demi menolong Suro yang belum pernah mereka
kenal sebelumnya. Mengapa aku harus takut?"
"Keberanianmu patut kupuji. Tapi ingat,
kau musti berhati-hati Barata Surya Dia manusia sakti yang ilmunya hampir setara denganmu"
"Apakah saudara tidak ikut denganku?"
Malaikat Berambut Api untuk pertama ka-
linya tersenyum. Ketika senyumnya lenyap. Ter-
dengar suaranya yang penuh wibawa. "Adalah sesuatu yang memalukan jika aku menyertaimu
Aku tidak ingin ada korban di pihak murid Si
Bayang Bayang. Walau pun manusia setengah gaib
itu saat ini tidak mau menjumpai aku. Tidak ada
salahnya jika aku membantu murid-muridnya un-
tuk menghadapi Ular Berkepala Empat. Aku tidak
ingin dua diantara muridnya menjadi korban demi
memenuhi persyaratan mendapatkan Bunga Arum
Dalu" Maka legalah hati Penghulu Siluman Kera Putih mendengar jawaban kakek Suro Blondo itu.
Ia kemudian menjura hormat dengan merang-
kapkan kedua tangannya dan sedikit membung-
kukkan kepala.
"Sekarang aku mohon diri" kata Barata Surya. Kakek Dewana anggukkan kepala. Sekejap
kemudian Penghulu Siluman Kera Putih sudah le-
nyap dari pandangan Malaikat Berambut Api.
"Aku pun tidak perlu berlama-lama di sini.
Mudah-mudahan aku masih bisa menyusul mu-
rid-murid Si Bayang Bayang" batin si kakek berambut merah. Seraya kemudian dengan menge-
rahkan ilmu lari cepat Kilat Bayangan segera me-
ninggalkan tepian lembah Nirwana.
LIMA
Sekitar dua puluh tahun yang lalu di bukit
Pembantaian atau yang lebih dikenal dengan nama
Bukit Kegelapan Abadi hampir setiap hari terden-
gar suara tangis yang memilukan. Suara tangis itu hanya malam hari saja tidak terdengar. Keesokan
harinya apabila matahari telah menampakkan diri
di upuk-upuk timur, maka suara tangis kembali
terdengar. Begitulah yang terjadi hampir sepanjang waktu. Bukit ini hampir tertutup kabut seutuhnya, baik di musim kemarau atau pun di musim hujan.
Bila dilihat dari dekat ternyata orang yang selalu menangis itu tidak lain adalah laki-laki berpakaian merah. Di depan laki-laki itu terbaring kaku sosok perempuan tua yang tidak lain adalah kekasihnya
sendiri. Ternyata perempuan tua itu sudah lama
meninggal, bahkan mungkin sudah sekitar lima
belas tahun yang silam. Bertahun-tahun ia me-
nangis jenazah orang yang dikasihinya. Sehingga
kebutaan matanya pun semakin menjadi-jadi.
"Aku tidak pernah lagi merasakan lapar se-
telah kematianmu, Elang Maut Tapi mengapa
maut tetap tidak pernah mengembalikan nyawa-
mu Aku tidak pernah mengenal rupa dunia sejak
aku terlahir ke dunia ini. Pertemuanku denganmu
dulu adalah sebuah karunia Tuhan yang teramat
besar bagiku. Walau pun pertemuan kita sudah
cukup umur. Namun kita sama-sama saling men-
gasihi. Aku tidak mau melihatmu menjadi tulang
belulang seperti di luar sana. Mengapa sekarang
kau tidak mau menjawab pertanyaanku, Elang
Maut? Apakah engkau malu pada arwah-arwah
Pendekar Salindra yang tewas terbantai di sini
Maut Satu Kaki Seribu itukah yang menyebabkan
kematianmu? Kurasakan tubuhmu tidak menga-
lami luka. Aku pun tidak mencium adanya luka
beracun. Jika pembantai para Pendekar Salindra
itulah yang menyebabkan kematianmu, mengapa
ia tidak muncul ke sini lagi? Padahal akulah yang telah menemukan Sarung Tangan Sutra Kencana"
kata kakek baju merah yang apabila malam hari
suka memakai baju warna hitam itu dengan sedih.
Demikianlah kejadian dan kebiasaannya itu
terus berlanjut. Sampai pada suatu saat muncul
Ratu Leak. Perempuan cantik itu memperkenalkan
diri dan berusaha menghibur Satya Gama alias
Mata Iblis. Setabah-tabahnya laki-laki walau pada mulanya tetap teguh memegang pendiriannya.
Tokh luluh juga, Mata Iblis bahkan mulai tertarik mendengar tutur kata Ratu Leak yang lembut dan
mirip dengan mendiang istrinya.
Ternyata kehadiran Ratu Leak menyimpan
maksud-maksud tertentu. Ia mengincar sarung
tangan Sutra Kencana yang konon memiliki kesak-
tian serta kebal terhadap berbagai jenis racun, tahan api dan tahan senjata tajam manapun.
Untuk membujuk Mata Iblis, Ratu Leak
sengaja berpura-pura menyerahkan tubuhnya
yang mulus itu pada Mata Iblis. Sebagai imbalan
atas semua itu Ratu Leak secara halus meminta
pada Satya Gama agar memberikan sarung tangan
Sutra Kencana. Ternyata Satya Gama menolaknya.
Di luar dugaan Ratu Leak yang sudah merasa di-
kecewakan itu membetot putus kejantanan Mata
Iblis. Dalam keadaan terluka seperti itulah terjadi pertempuran sengit antara Ratu Leak dan Satya
Gama. Waktu itu Ratu Leak sempat terluka, walau
Mata Iblis menderita luka dalam yang cukup pa-
rah. Sebelum Ratu Leak pergi, ia masih sempat
bicara dengan suaranya yang lantang namun mer-
du.
"Satya Gama manusia ceroboh Barangmu
ini tidak akan kukembalikan, malah akan kujemur
untuk dijadikan pajangan. Kau tidak akan memili-
ki barang lagi terkecuali nanti di suatu saat kelak kau bisa mendapatkan tanduk sakti yang tumbuh
di atas kepala Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya" dengus perempuan itu.
Sebenarnya apa yang dikatakan Ratu Leak
hanya bahan olok-olok saja. Namun oleh Satya
Gama ditanggapi secara serius.
"Kkk... kau... kau manusia bangsat pulang
pergi Kembalikan anuku" teriak Satya Gama. Ia berusaha mengejar Ratu Leak. Tetapi karena luka
yang dideritanya cukup parah akhirnya ia jatuh
lagi. Sayup-sayup ia mendengar....
"Anumu tidak akan pernah kembali. Jika
kau menemukan tanduk sakti itu dan mengo-
leskannya dibekas bagian anumu. Ada kemungki-
nan barang yang baru akan tumbuh lagi" Setelah berkata begitu Ratu Leak akhirnya meninggalkan
bukit Pembantaian.
Berhari-hari Satya Gama berusaha memu-
lihkan kesehatannya. Setelah luka dalam yang di-
deritanya benar-benar sembuh. Mulai saat itu ia
semakin rajin melatih kedua matanya. Lama kela-
maan kedua matanya itu dapat mengeluarkan ca-
haya menyala bahkan melepaskan sinar maut bagi
lawan-lawannya. Jika pada malam hari ia melatih
matanya, maka pada siang hari ia menangis di de-
pan jenazah isterinya.
"Isteriku, maafkanlah aku. Rohmu pasti me-
lihat, jenazahmu pasti menyaksikan. Gara-gara
aku menghianatimu, aku kehilangan anuku wahai
isteriku. Lebih celaka dan memalukan lagi katanya anuku hendak dijemur dan dijadikan pajangan
oleh Ratu Leak. Aku maluuuu... jika anuku yang
ada tutupnya itu sampai ditunjukkan ke orang
lain. Dunia bisa mentertawaiku" desah Satya Ga-ma di tengah-tengah isak tangisnya. Tiba-tiba saja wajahnya menegang. Matanya yang memutih berputar-putar. "Isteriku, aku harus membalas rasa malu ini pada Ratu Leak. Tapi sebelum itu aku harus mencari tanduk sakti yang tumbuh di atas ke-
pala Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya Tan-
duk itu katanya bisa menumbuhkan anuku yang
telah dibetotnya" tegas Mata Iblis. Dan apa yang
dilakukan oleh Mata Iblis untuk hari-hari selan-
jutnya adalah melatih matanya yang buta itu hing-ga menjadi sebuah senjata yang dahsyat dan ber-
bahaya.
Suatu ketika Mata Iblis mendengar kabar
terjadi keanehan-keanehan di tanah Sange dari
seorang pelaut yang konon melihat seekor kuda
menyeberang laut. Bagi Mata Iblis apa yang didengarnya itu merupakan sebuah kejadian yang san-
gat langka dan jarang sekali terjadi. Mana mung-
kin ada kuda yang tingginya sampai menjulang
tinggi ke langit? Apalagi dapat menyeberangi lautan. Merasa penasaran akhirnya Mata Iblis be-
rangkat ke Sange juga. Sampai di sana ia menjadi kaget karena tidak ada satupun manusia yang di-jumpainya. Barulah setelah dua hari, ia bertemu
dengan Manusia Topeng.
Kini Mata Iblis tokoh yang tidak punya pen-
dirian tetap itu berhenti di antara dua bukit batu.
Tanduk sakti di tangan diperhatikannya
dengan seksama. Seperti telah sama kita ketahui
tanduk sakti itu dirampasnya dari tangan Manusia Topeng yang telah mengalahkan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Untuk lebih jelasnya (da-
lam episode Nagari Batas Ajal).
"Aku buta mana mungkin kuketahui ba-
gaimana rupa dan warna tanduk sakti ini" gerutu Mata Iblis. "Aku harus mencari tempat terlindung untuk menumbuhkan kembali anuku yang dirampas Ratu Leak Mudah-mudahan Ratu keparat itu
tidak membobongiku Tidak punya anu rasanya
kurang srek. Jalanku jadi tidak seimbang dan ke-
pala mau nyungsep saja. Kurasa karena tidak ada
pemberat di bagian bawah. Ahk, celaka sekali jadi laki-laki Apalagi jika anuku tidak bisa tumbuh la-gi selama-lamanya" Mata Iblis menggumam lirih.
Ia kemudian pasang pendengaran baik-baik. Sete-
lah memastikan tidak ada orang lain disekitar
tempat itu akhirnya ia pun melompat di balik batu setinggi dirinya. Celana hitamnya langsung ia tarik ke bawah. Ia raba-raba bagian bawah perutnya
yang ditumbuhi hutan lebat. Matanya yang buta
berkedip-kedip.
"Keadaannya subur sekali, cuma bagian
agak lebih ke bawah licin. Untung tidak ada lu-
mutnya, padahal aku sudah tidak pernah mandi
lagi sejak kematian isteriku." batin Mata Iblis sambil senyum. "Tapi tanduk sakti ini panas bukan main, Manusia Topeng saja tidak sanggup meme-gangnya. Tangan orang jelek itu hangus malah.
Kalau bagian pangkalnya kuoleskan ke bekas
anuku apa tidak gosong?" Mata iblis jadi ragu-ragu sejenak. Ia lalu raba bagian pangkal tanduk. Ternyata bagian ujung pangkal tidak panas. Dengan
hati-hati Mata Iblis mengoleskan pangkal tanduk
sakti tersebut ke bagian bekas anunya.
Sret Sret
Setelah diolesi dengan pangkal tanduk yang
agak licin bercampur sumsum, Mata Iblis me-
nunggu sejenak. Kira-kira dua menit kemudian ia
mengolesi lagi bagian anunya. Ia menunggu sambil merasakan adanya perubahan. Setelah itu ia raba
bagian bekas anunya.
"Celaka? Mengapa tidak mau tumbuh ju-
ga?" desis si kakek setengah pikun ini dengan heran. Seraya kemudian menggosokkan pangkal
tanduk sakti berulang-ulang. Namun sampai begi-
tu lama tidak ada perubahan yang terjadi. "Ratu Leak telah membohongiku Apa aku harus memasang tanduk ini di bekas bagian anuku? Hu hu hu
Sungguh memalukan sekali. Aku maluuuu... ba-
gaimana kata orang-orang Anunya manusia mana
ada yang runcing seperti tanduk" Saking gelisah-nya Mata Iblis kembali mengoles-oleskan pangkal
tanduk ke bagian anunya. Karena perubahan yang
diharap tidak kunjung datang juga. Maka rasa pu-
tus asa dan malu membuatnya marah.
"Ini adalah pemborosan waktu yang sia-sia"
maki Mata Iblis setengah berteriak. Ia mondar-
mandir dalam bingungnya, hingga ia pun lupa
bahwa celananya belum ditariknya ke atas. Dalam
keadaan seperti itulah tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Kucari kemana-mana, tidak tahunya kau
ngumpet (sembunyi) di sini Ha ha ha"
"Kau..." desis Mata Iblis. Saking kagetnya ia semakin lupa untuk menutup auratnya yang tidak
beranu lagi.
"Ya... aku, Mata Iblis Ha ha ha Keadaanmu sungguh menggelikan sekali. Lucu... lucu... Ternyata kau tidak memiliki barang, Mata Iblis Terbang kemana kau punya burung? Sekarang kau
masih mau akal-akalan dengan memasang tanduk
itu di bekas anumu? Kalau kau bukan orang gila,
tentu kau orang sinting Tanduk mana bisa dis-
amakan dengan anu Ah, apakah kau hendak ka-
win lagi? Eling, umurmu sudah bau kubur, tulang
belulangmu sudah mau hancur. Lagipula kalau
kau kawin binimu bisa mampus diseruduk tan-
duk. Mata Iblis, pergunakan akal sehat jika kau
masih punya akal Tanduk sakti itu menyimpan
kesaktian Pendekar Blo'on, Dewi Kerudung Putih
dan Si Buta Mata Kejora Tega-teganya kau mema-
sangnya di tempat bekas anumu Apa kau kira
tanduk itu anunya isterimu?" bentak orang yang baru datang yang tidak lain adalah Manusia Topeng. Hanya sekejap saja Mata iblis tampak terkejut. Beberapa saat kemudian ia menggeram sinis.
"Bangsat Tidak henti-hentinya kau meng-
gangguku. Untuk apa kau menyusul kemari, apa-
kah ingin mempermalukan aku?" bentak Mata Iblis marah. "Kau sudah malu karena kehilangan anumu, mana aku tega mempermalukanmu dua kali
Coba kau katakan padaku siapa yang telah mem-
buat kau kehilangan barangmu?" tanya Manusia Topeng. Dan wajah di balik topeng tampak berusaha menahan senyumnya.
Mata Iblis terdiam cukup lama. Ia kelihatan raguragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Hingga
Manusia Topeng menengadahkan wajahnya yang
tertutup topeng itu ke langit. Lalu ia bicara seperti orang yang sedang bersyair.
Manusia adalah tempatnya salah
Banyak orang berlagak lurus walau pun ta-
hu dirinya bersalah
Manusia bersandiwara dengan sesamanya
Orang-orang menutupi kekurangannya den-
gan topeng
Mengapa topeng tidak ditanggalkan
Apa yang terjadi pada manusia terkadang
karena salahnya sendiri
Baik dan buruk datangnya dari Sang Takdir
Lalu takdir punya siapa?
Alam adalah tempat berguru tempat ber-
tanya Apa yang menjadi keresahan hati karena terlalu banyak bicara menduga-duga
Keinginan terkadang selalu tidak sesuai
dengan kenyataan
Itu tandanya manusia adalah makhluk yang
lemah Mata Iblis
Sesuatu yang pergi tidak mungkin kembali
Sesuatu yang hilang jangan cari pengganti
Salahnya langkahmu tidak perlu disesali
Apalagi sampai membunuh diri
Mata Iblis sempat tertegun mendengar kata-
kata yang diucapkan Manusia Topeng. Tiba-tiba
saja Mata Iblis menangis tersedu-sedu.
"Diriku ini memang bodoh Sudah hampir
tua bangka masih kena dikadali Apakah manusia
sepertiku ini masih layak hidup?"
"Tentu saja kau masih sangat layak untuk
hidup. Orang sudah pikun yang giginya sudah ha-
bis semua, yang jalannya bungkuk seperti udang
kering saja masih boleh hidup. Kehidupan ini terus
berjalan sampai takdir dan kematian datang men-
jemput. Tapi jika kau mau tahu hidup ini sebenarnya ada dua"
"Apa maksudmu?" tanya Mata Iblis.
"Maksudku tidak berguna dan hidup tidak
punya guna sama sekali Seperti kau, kupikir hi-
dupmu tidak berguna"
"Apa? Kau berani mengatakan hidup tidak
berguna? Apakah karena aku telah kehilangan
anuku" tanya Mata Iblis marah.
"Bukan, bukan karena kau kehilangan
anumu Yang kumaksud dengan hidup berguna
adalah bila hidup seseorang itu dipenuhi dengan kebajikan, sering menjaga lidahnya dari perkataan-perkataan yang tidak perlu. Suka menolong
orang yang benar-benar membutuhkan pertolon-
gan dan penuh rasa cinta terhadap sesama manu-
sia dan sesama makhluk Tuhan..."
"Kalau hidup yang tidak berguna bagaimana
menurutmu?" potong Mata Iblis kelihatan mulai tertarik.
"Hidup yang tidak berguna bila seseorang
terlalu mementingkan diri sendiri, tamak, som-
bong, pelit dan besar kepala. Di dalam hatinya tidak terdapat jiwa kasih sayang, ia cenderung
membuat kerusakan dimana-mana. Orang seperti
ini benar-benar tidak disukai Tuhan"
"Berarti hidupku memang tidak berguna."
ucap Mata Iblis seakan putus asa. "Aku terlalu mementingkan diri sendiri, pelit dan terkadang ada rasa sombong sedikit terhadap apa yang kumiliki
Sekarang aku tidak punya anu, harapanku untuk
hidup kecil sekali Rasanya hari ini kau akan menjadi saksi atas kematian yang kuperbuat sendiri"
kata laki-laki berambut gondrong ini.
"Mata Iblis Sebelum kau mati dengarkanlah
kata-kataku" cegah Manusia Topeng. "Jika kebai-kanmu masih sedikit, mengapa kau tidak mena-
nam kebaikan di usiamu yang senja. Kau bisa me-
nolong orang lain, kau bisa membantu orang-
orang yang lemah. Lagipula membunuh diri terma-
suk perbuatan yang dibenci Tuhan" Mata Iblis melotot. "Mengapa dibenci? Aku membunuh diriku sendiri, bukan orang lain" seru kakek buta ini sambil melotot.
"Kalau kau kutanya siapa yang mencipta-
kan dirimu?" tanya Manusia Topeng. Ia hampir tidak dapat menahan tawa melihat kebodohan ka-
kek sakti itu.
"Yang menciptakan aku? Kalau tidak salah
bapak sama emakku yang sudah almarhum" ja-
wab Mata Iblis.
"Yang menciptakan kau adalah Tuhan yang
telah menciptakan alam ini Almarhum ayah dan
ibumu itu hanya main kapal-kapalan saja. Tidak
lebih Demikian juga yang menciptakan roh adalah Tuhan. Kalau semuanya merupakan pemberian
Tuhan, manusia mana yang berhak menyakiti diri
sendiri?"
"Oh, jadi membunuh diri pun tidak boleh?
Lalu apa yang dapat kukerjakan?"
"Bukankah kau telah kehilangan anumu?"
tanya Manusia Topeng. Mata Iblis anggukkan ke-
pala. "Sesuatu tidak akan hilang terkecuali ada seseorang yang mengambilnya. Sesuatu yang hilang berarti berpindah tempat Kau tentu saja masih dapat menuntut balas pada orang yang telah
mengambil anumu itu?"
Wajah mata Iblis nampak menegang. "Orang
yang membuatku sengsara adalah Ratu Leak. Be-
nar katamu aku harus menuntut balas" dengus Mata Iblis. "Kau begini baik padaku, siapakah kau yang sebenarnya Manusia Topeng?" tanya Mata Iblis penuh rasa terima kasih.
"Ha ha ha... Aku masih manusia juga."
"Aku ingin menjadi muridmu" kata Mata Iblis, tiba-tiba ia menjatuhkan diri dan berlutut.
"Weit, jangan" Manusia Topeng buru-buru mencegah dan menarik Mata Iblis hingga berdiri
kembali.
"Mengapa kau menolak? Apakah karena
aku manusia hina?"
"Jangan suka berburuk sangka Aku tidak
mau menjadi gurumu karena kulihat ilmumu su-
dah tinggi, kita sudah sama-sama tua. Yang diatas dan di bawah sudah sama-sama beruban Lagipula
tidak ada ilmu yang harus kau korek dariku"
Mendengar ucapan Manusia Topeng, untuk
pertama kalinya Mata Iblis tertawa terbahak-
bahak. "Bagaimana kalau kita bersahabat? Sahabat yang baik tentunya"
"Aku setuju" sahut Manusia Topeng. "Kalau kau sudah berikrar aku ini sahabatmu tentu kau
setuju membantuku bukan?" pancing Manusia
Topeng cerdik.
"Membantu sahabat yang kesusahan tentu
tidak ada salahnya Katakanlah, jika aku mampu
tentu akan kubantu" sahut Mata Iblis masih dengan tertawa-tawa.
ENAM
"Seperti kukatakan dalam tanduk sakti itu
tersimpan kesaktian Pendekar Blo'on, Dewi Keru-
dung Putih dan juga Si Buta Mata Kejora Aku
sendiri tidak mampu memegang tanduk itu karena
aku tidak memiliki sarung 'Sutra Kencana'. Untuk mempererat persahabatan kita, kuharap kau mau
membawakan Tanduk itu menjumpai Pendekar
Blo'on."
"Aku sering mendengar kau menyebut Pen-
dekar Blo'on. Siapakah orang yang kau maksud-
kan itu?" tanya Mata Iblis ingin tahu.
"Pendekar Blo'on adalah seorang pemuda
gagah, rambutnya merah seperti rambut jagung.
Orangnya kocak dan konyol, agak telat mikir sedikit, mendekati goblok tapi cerdik. Kalau sedang
bertarung tingkahnya seperti monyet bunting yang hendak melahirkan"
"Ha ha ha Kau ini ada-ada saja sahabatku
Tapi kurasa aku menyukai pemuda seperti itu Ka-
sihan sekali dia. Siapa yang telah membuatnya begitu menderita?" tanya Mata Iblis.
"Yang membuatnya menderita adalah orang
yang telah mencopoti perabotanmu juga" jelas Manusia Topeng.
"Ratu Leak" desis Mata Iblis dengan mata mendelik. Selalu saja timbul kemarahannya bila
seseorang menyebut nama yang sangat dibencinya
itu. "Lagi-lagi perempuan keparat itu bikin susah orang lain. Rasanya Pendekar Blo'on hampir memiliki penderitaan yang sama denganku. Kami sena-
sib, aku tidak ragu menyerahkan tanduk ini pa-
danya" tegas kakek tua itu mantap. Lega rasanya hati Manusia Topeng mendengar ucapan Mata Iblis. Tapi di sudut hatinya ia pun merasa ragu, karena ia tidak tahu dimana Pendekar Malang itu
saat ini berada.
"Tunggu apa lagi, mari kita berangkat" desak Mata Iblis terkesan tidak sabaran.
Belum sempat Manusia Topeng menyahut.
Tiba-tiba terasa ada sambaran angin yang cukup
keras. Lalu terdengar seruan seseorang....
"Tunggu"
Manusia Topeng dan Mata Iblis langsung
menoleh ke arah datangnya suara. Tidak jauh di
hadapan mereka tampak berdiri seorang kakek tua
berbadan tegap berpakaian putih, berjambang ser-
ta berambut serta putih. Kumisnya yang menutup
kedua bibir orang ini pun berwarna putih.
Manusia Topeng memperhatikan kakek di
depannya dengan kening berkerut dan mata seten-
gah terpejam. Mata Iblis yang berdiri di samping Manusia Topeng langsung maju beberapa langkah
ke depan.
"Kau siapa lagi, orang tua Apakah anak
buah Ratu Leak atau kaki tangannya? Percayalah
padaku lekas kau menyingkir atau aku dan saha-
batku ini akan membunuhmu" ancam Mata Iblis serius. Yang dibentak sunggingkan seulas senyum.
Melihat mata hitam yang putih seluruhnya. Ia me-
rasa yakin inilah orangnya yang berjuluk Mata Iblis. Orang itu memegang tanduk. Jadi sudah jelas tanduk sakti itu yang dimaksudkan oleh Si Bayang Bayang.
"Mata Iblis dan sahabatnya yang memakai
topeng seperti orang gila Dan yang gila cuma Manusia Topeng saja Kalian hendak kemana?" tanya si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih.
"Sahabat Manusia Topeng, setan ini sudah
mengataimu seperti orang gila sekarang malah
bertanya kita hendak ke mana? Apakah menurut-
mu kita pantas menjawab pertanyaan tua bangka
bertampang kunyuk ini?" teriak Mata Iblis dengan perasaan tidak senang. Mata Iblis melangkah ma-ju, ia hendak lepaskan pukulan maut, tapi Manu-
sia Topeng sudah mencegahnya.
"Sabar, tunggu dulu" seru kakek yang tidak pernah meninggalkan ketapel dan kompeng itu.
"Naga-naganya aku seperti mengenalnya.
Yieaaah... tidak salah Di dunia ini tua bangka
yang mempunyai tampang seperti kunyuk cuma
dia seorang. Penghulu Siluman Kera Putih, benar-
kah dugaanku ini?" tanya Manusia Topeng.
Yang ditanya tersenyum masam. "Memang
aku orangnya. Ah... Manusia Topeng Setelah se-
kian lama kau tidak menampakkan diri sekarang
kau muncul masih dengan memakai topeng pula.
Sungguh kau manusia palsu yang pemalu" cibir Penghulu Siluman Kera Putih sambil tertawa.
"Apakah kau mengenalnya, sahabat Manu-
sia Topeng? Katakan terus terang, mataku sudah
gatal untuk menghajarnya"
"Ha ha ha Aku kenal padanya, jangan kau
hajar Jika dia mati sulit dicari pengganti. Lebih baik kita tanya apa keperluannya menjumpai kita"
Tanpa menunggu lebih lama Barata Surya
segera menjawab: "Aku sedang bingung memikirkan nasib muridku yang seperti harimau kehilan-
gan taringnya. Kulihat Mata Iblis memegang tan-
duk sakti Perlu kalian ketahui di dalam tanduk
itu tersimpan kesaktian muridku Pendekar Blo'on.
Sekarang aku meminta pada kalian agar ikut den-
ganku ke Lembah Nirwana" jelas Barata Surya.
Mata Iblis dan Manusia Topeng saling pan-
dang. "Untuk apa?" tanya Mata Iblis curiga. "Tanduk ini akan kami bawa untuk seseorang yang
bergelar Pendekar Blo'on juga Kau jangan coba-
coba menipu kami" bentak si kakek buta.
"Di dunia ini orang yang bergelar Pendekar
Blo'on cuma muridku saja. Mengapa kau masih
meragukannya, Mata Iblis?"
"Aku tergantung bagaimana pendapat Ma-
nusia Topeng. Jika di kolong langit ini Pendekar Blo'on memang cuma itu, tentu aku bersedia ikut
denganmu. Karena tujuan kami pun ingin men-
gembalikan kesaktian Pendekar Bodoh yang kena
dikadali oleh Ratu Leak"
Mata Iblis memandang pada Manusia To-
peng seakan menunggu pendapat orang itu.
"Aku ingin bertanya bagaimana muridmu
bisa sampai ke Lembah Nirwana? Bukankah tem-
pat itu diselimuti tabir gaib berlapis-lapis...?"
Barata Surya sempat kaget juga melihat ke-
nyataan Manusia Topeng ternyata mengetahui se-
luk beluk daerah itu.
"Yang membawa muridku kesana adalah Si
Bayang Bayang"
"Si Bayang Bayang? Benarkah manusia se-
tengah gaib itu masih ada?" tanya Manusia Topeng kaget. "Begitulah kenyataannya"
"Maksudmu Si Bayang Bayang menculik
muridmu?"
"Bukan menculik cuma di pinjam sebentar"
"Dan manusia seperti Si Bayang Bayang ti-
dak sanggup menyembuhkan muridmu? Padahal
nama besarnya sudah sangat lama aku dengar"
"Kurasa ia mampu mengembalikan kesada-
ran dan memunahkan racun yang mengeram di
tubuh muridku, persoalannya cuma tinggal waktu
saja". tegas Penghulu Siluman Kera Putih.
"Hmm..." Mata Iblis mengguman tidak jelas.
"Ayolah sebaiknya sekarang juga kita berangkat"
perintah Manusia Topeng. Mata Iblis dan Barata
Surya sama anggukkan kepala. Sekejap saja tubuh
mereka berkelebat lenyap dari pandangan mata.
Mereka kelihatannya sama-sama mengerahkan il-
mu lari cepat yang mereka miliki. Hingga gerakan mereka sekilas bagai gerakan setan bergentayangan.
***
"Masih jauh lagikah tempat itu dari sini,
kakak" tanya gadis berpakaian ungu itu sambil menyeka keningnya yang basah karena keringat.
Gadis baju putih yang berlari cepat di depannya
menoleh ke belakang sebentar tanpa mengurangi
kecepatan larinya.
"Ada apa adik kecil?" sahut gadis baju putih yang pada sangkul rambutnya berhiaskan anggrek
kala putih.
"Aku sudah mulai letih"
"Apakah kau ingin istirahat? Tebing Akherat tidak begitu jauh lagi dari sini. Menurut Guru, kita mesti mencapai tempat itu sebelum matahari ter-benam. Ular Kepala Empat akan lebih ganas bila
malam hari"
"Tapi aku sudah sangat letih sekali, kakak"
keluh gadis berkulit putih bermata sipit ini dengan rengekan manja. Gadis di depannya dan tampak
lebih dewasa dan tidak kalah cantiknya terpaksa
hentikan langkah. Ia melihat adik seperguruannya sudah terduduk sambil memegangi lututnya.
"Adikku Bunga Seloka Untuk pertama ka-
linya kita meninggalkan Lembah Nirwana. Sebe-
narnya belum waktunya kau meninggalkan Lem-
bah. Tapi kau tetap ngotot hendak ikut juga Tidak biasanya kau bertindak seperti ini"
"Kakak, bukankah pemuda itu patut kita
selamatkan?" jawab gadis bermata sipit yang ber-nama Bunga Seloka itu merdu.
"Memang Menolong orang lain yang dalam
kesusahan sudah menjadi kewajiban semua peng-
huni Lembah Nirwana. Tapi benarkah karena ala-
san itu kau ikut melakukan perjalanan bersama
aku?" Bunga Seloka tundukkan wajahnya yang kemerahan. "Kakak, engkau jahat sekali. Menuduh orang yang bukan-bukan..." Bunga Seloka jadi cemberut.
"Hi hi hi Kukira engkau sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pemuda itu. Ingat adik, umurmu belum pun genap delapan belas
tahun" kata gadis baju putih yang lebih akrab dengan panggilan Bunga Bidadari. Dialah gadis
paling cantik diantara gadis-gadis yang berada di Lembah Nirwana. Seraya berpura-pura memandang ke jurusan lain. Sedangkan wajah Bunga Se-
loka semakin bertambah merah seperti tomat ma-
tang. "Kau jahat Aih, kakak Tidak bolehkah seseorang jatuh cinta?"
"Tentu saja boleh. Tapi kau belum wak-
tunya" "Aku mengerti. Yang tidak dapat kumengerti bagaimanakah rasanya jatuh cinta itu?"
"Hi hi hi Kau bertanya terlalu jauh. Lebih baik kita teruskan perjalanan kita" ajak Bunga Bidadari. Bunga Seloka gelengkan kepala. Adik seperguruannya yang satu ini memang teramat man-
ja. Walau terkadang ia tegas dalam pendirian. Sikapnya lemah lembut dan penyabar, tidak heran
jika saudara-saudara seperguruan yang lain me-
nyukainya.
"Aku tidak akan ikut kakak jika kakak tidak mau menerangkan padaku bagaimana rasanya jatuh cinta" kata Bunga Seloka sambil bersungut-sungut. Bunga Bidadari tersenyum-senyum. Ia
sendiri merasa belum pernah jatuh cinta dengan
laki-laki mana pun. Jika Bunga Seloka bertanya
tentang yang satu itu tentu sulit bagi gadis ini untuk menjawabnya. Sehingga jawaban Bunga Bida-
dari itu pun jadi ngawur.
"Rasanya jatuh cinta itu, hmmm... Kepala
sakit berdenyut, hati gatal-gatal gitu. Lalu kalau perasaan cinta semakin menjadi-jadi, mulailah rasanya ingin berak-berak dan kencing melulu Hi hi hi..." "Ihh... kakak jahat sekali. Masa' rasanya jatuh cinta seperti itu?" Bunga Seloka mendelik sambil cemberut.
"Akh... aku tidak tahu yang sebenarnya.
Sudahlah, sekarang lebih baik kita teruskan perjalanan ini" ajak Bunga Bidadari.
Tanpa berkata apa-apa, Bunga Seloka sege-
ra mengikuti kakak seperguruannya yang telah
berlari mendahuluinya.
Kira-kira sepemakan sirih, maka sampailah
kedua gadis yang cantik-cantik ini di tebing Bukit Petir. Tebing itu sebenarnya lebih dikenal dengan nama Tebing Akherat. Suatu tempat yang memiliki
kedalaman lebih dari dua ratus batang tombak.
Sulitnya di tebing itulah Bunga Arum Dalu tum-
buh. Sementara di samping tumbuhnya bunga
terdapat sebuah lubang gelap yang besar. Di da-
lam lubang gelap itu terdapat dua bintik sinar
kuning menyala. Dan penghuninya adalah Ular
Berkepala Empat.
"Tempat ini mengerikan sekali, aku men-
cium bau amis yang begitu menusuk Dan jurang
itu... hmmm... rasanya gemuruh angin tiada henti-hentinya menampar bibir tebing" desis Bunga Seloka dan matanya yang sipit itu semakin menyipit.
Sedikit pun Bunga Bidadari tidak menjawab. Den-
gan hati-hati ia mendekati bibir tebing. Tengkuknya tiba-tiba meremang berdiri.
"Ini adalah tantangan pertama yang cukup
berat bagi kita Kita tidak mungkin dapat menuru-ni tebing maut itu" kata Bunga Bidadari.
"Bukankah kita ada membawa Tali Alas Pi-
tu?" tanya Bunga Seloka. Tali alas pitu panjangnya tidak lebih dari tiga tombak. Tapi ia dapat mulur (memanjang) dan punya kelenturan yang luar biasa. "Dua ratus tombak ke bawah mungkin bisa kita jangkau dengan tali ini. Tapi tali Alas Pitu tidak dapat menahan pagutan gigi Ular Berkepala
Empat" jelas si cantik Bidadari.
"Nggiiiiingkh..."
"Suara apa itu, kakak?" tanya Bunga Seloka saking kagetnya.
Bunga Bidadari memandang tegang. "Itulah
suara Ular Berkepala Empat Tampaknya ia sudah
mengendus kehadiran manusia di sini"
Baru saja Bunga Bidadari selesai bicara, ti-
ba-tiba saja tanah yang mereka pijak bergetar hebat seperti dilanda gempa.
"Celaka" Bunga Seloka belalakkan mata
dan wajahnya jelas-jelas tidak dapat menyembu-
nyikan perasaan paniknya. Dalam suasana seperti
itu justru Bunga Bidadari terkesan lebih tenang
dan dewasa. "Tebing bukit ini rasanya mau runtuh. Bagaimana, kakak?" tanya Bunga Seloka bingung.
"Tenang saja, Ular Kepala Empat tidak
mungkin meninggalkan sarangnya. Getaran yang
terjadi ini akibat gerakan ular itu"
"Apakah kita turun ke bawah sekarang?"
tanya Bunga Seloka.
"Tidak ada yang harus ditunggu Kematian
demi tugas bagiku lebih mulia daripada kembali ke Lembah Nirwana dengan membawa malu besar"
tegas gadis bersanggul itu mantap. Melihat ke-
sungguhan kakak seperguruannya, Bunga Seloka
jadi lebih serius.
"Aku siap membantumu, kakak" Bunga Bidadari anggukkan kepala. Ia melepas tali Alas Pitu sepanjang tiga tombak. Tali itu kemudian di-ikatkannya pada sebatang pohon jambu batu yang
terdapat tidak begitu jauh dari bibir tebing.
"Bunga Seloka, kau berjaga-jaga di dekat ta-li ini. Aku khawatir jika ada sesuatu yang tidak dingin mengganggu pekerjaan kita" pesan Bunga Bidadari.
"Kakak, mana mungkin aku hanya berdiam
diri di sini, sementara kakak di bawah sana ber-
juang menempuh bahaya Bukankah lebih baik
aku menyertaimu?"
"Jangan jadi orang bodoh Jika kita berdua
berada di bawah, bagaimana nanti kalau muncul
orang jahat dan memutuskan tali ini. Kita berdua bisa celaka"
"Betul juga Baiklah aku akan menjaga dis-
ini. Aku akan menarikmu ke atas bila ada bahaya
yang mengancammu"
Bunga Bidadari acungkan jempolnya. Lalu
ia memegang ujung Tali Alas Pitu. Setelah itu ia keluarkan senjata aneh yang berbentuk gaitan tetapi memiliki ketajaman pada kedua sisinya.
"Kau siap?"
"Yaaa..." jawab Bunga Seloka mantap.
Wuuut
Wiiiing
Dan melayanglah tubuh Bunga Bidadari
melampaui bibir tebing. Ketika Bunga Bidadari
hampir mencapai Bunga Arum Dalu yang melekat
erat di pertengahan tebing. Dari dalam lubang setinggi orang dewasa menggerung suara Ular Kepala Empat. Dari dalam lubang itu sekonyong-konyong
menyembur uap putih berbau amis. Bunga Bida-
dari sadar betul uap yang menyembur keluar dari
dalam lubang tidak lain adalah racun yang disem-
burkan oleh ular pemangsa manusia ini. Sehingga
ia tutup pernafasannya, lalu senjata gaitan di tangan langsung ia putar hingga menimbulkan suara
deru yang membuat bising telinga.
Racun yang menyatu dalam uap beracun
itu bubar. Di atas tebing terjadi gerakan seperti gempa. Ternyata ular itu sekarang sudah mengeluarkan kepalanya ke depan mulut lubang. Lidah-
nya yang bercabang tiga dan berwarna biru terung bergerak-gerak liar seakan hendak melibat.
Bunga Bidadari langsung hantamkan gaitan
panjang di tangannya. Seperti manusia saja, Ular Kepala Empat mengelak dengan menarik kepalanya ke atas.
"Hmm, aku hanya melihat satu kepala, Tiga
kepala ular ini entah dimana?" desis Bunga Bidadari. Ia merasa kecut juga melihat betapa besarnya ular yang harus dihadapinya. Tetapi, dia bukanlah gadis lemah yang mudah menyerah dalam menghadapi situasi berbahaya seperti sekarang. Melihat serangan pertamanya luput, Bunga Bidadari tiba-tiba saja berayun-ayun di atas tali, kemudian
jungkir balik dengan gerakan yang manis. Ular
Kepala Empat menyambar punggungnya.
Wuuut
Dengan meminjam kelenturan tali yang di-
pegangnya, tubuh gadis ini melesat lebih ke atas.
Sehingga serangan itu luput dan Bunga Bidadari
menghantam mata makhluk melata itu dengan
mempergunakan gaitannya. Serangan kilat ini be-
nar-benar tidak pernah disangka oleh Ular Kepala Empat. Mata kirinya kena ditambus gaitan Bunga.
Tidak terkirakan betapa marahnya makhluk mela-
ta itu. Sekejap tubuh serta kepalanya masuk ke
dalam lubang. Kesempatan ini tidak disia-siakan
oleh Bunga. Ia meluncur deras dengan mempergu-
nakan ayunan tali dan....
"Haaap..."
Breellh
"Tarik" pekik Bunga Bidadari ditujukan pa-da adik seperguruannya. Dengan cepat dan cemas
sekali Bunga Seloka menarik Tali Alas Pitu. Ter-
nyata Bunga Arum Dalu telah berhasil diambil
oleh gadis rupawan ini.
"Kau berhasil kakak?" seru Bunga Seloka kelihatan gembira sekali.
"Bunga Putih inilah yang dibutuhkannya"
sahut Bunga Bidadari. Dalam hati gadis ini ia
menjadi bimbang. "Semudah itukah aku menak-
lukkan Ular Kepala Empat? Padahal sudah sekian
banyak nyawa yang melayang begitu saja di mulut
ular itu? Apakah dia sebangsa siluman??" batin-nya. Sambil berpikir Bunga Bidadari menggu-
lung Tali Alas Pitu yang dapat melentur tidak bedanya dengan karet itu. Ia tidak tahu kalau sejak tadi secara diam-diam Bunga Seloka memperhati-kannya.
"Kakak, mengapa sejak kau berhasil men-
gambil Bunga Arum Dalu itu kelihatannya kau ti-
dak gembira?"
"Seloka" tegasnya serius. "Tidakkah menurutmu aneh, Bunga Arum Dalu adalah bunga
langka yang hanya berbunga seratus tahun sekali.
Menurut guru kita, Bunga ini dijaga oleh Ular Kepala Empat. Dibawah sana aku melihat ular kepa-
la tunggal. Bagaimana aku tidak heran jika aku
merasa mudah mengalahkan Ular itu. Ini sulit
kumengerti"
"Mengapa hal itu merisaukan hatimu Kita
sudah mendapatkannya Mengapa sekarang kita
tidak membawa bunga ini ke Lembah Nirwana se-
cepatnya?" usul Bunga Seloka.
"Penunggu bunga ini konon kudengar me-
minta korban bila ada seseorang mengambilnya.
Aku yang telah mengambil, aku harus bertang-
gung jawab"
"Bertanggung jawab pada siapa?" tanya
Bunga Seloka.
"Aku merasakan ada perubahan di bawah
kita Mustahil aku dapat melarikan diri daripa-
danya" "Jangan bodoh Ayo lari" Bunga Seloka tanpa perduli lagi langsung menarik lengan Bunga Bidadari. Di saat mereka sedang sibuk begitu ru-pa. Tiba-tiba terjadi ledakan-ledakan keras di sisi Tebing Akherat. Tanah pun runtuh di sana sini.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan Bun-
ga Bidadari segera berlari bersama Bunga Seloka
menjauhi bibir tebing. Dan hanya beberapa saat
saja setelah kepergian mereka, bibir tebing runtuh.
"Kakak..." pekik Bunga Seloka di saat tubuhnya terhempas kian kemari. Bidadari berusaha
bersikap tabah. Dengan mengandalkan ilmu me-
ringankan tubuhnya ia melompat kian kemari,
hingga tubuhnya tidak sampai terhempas.
"Kiamat, kakak" seru Bunga Seloka dengan wajah pucat dan tubuh dibasahi keringat dingin.
"Ini bukan kiamat Sesuatu yang sangat he-
bat sedang terjadi" jawab Bunga Bidadari. Untuk membesarkan hati adik seperguruannya, gadis ini tersenyum.
"Ha ha ha... Hemm, kelancangan biasanya
membawa malapetaka Anak-anak kurcaci yang
cantik Kalian benar-benar berani mati mengusik satu-satunya bunga langka di sini" kata sebuah
suara di tengah-tengah gemuruhnya suara tebing
yang runtuh.
TUJUH
Bunga Bidadari hentikan langkah. Melihat
kakak seperguruannya berhenti mau tidak mau
Bunga Seloka berhenti pula. Bidadari cepat mengi-tarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Saat itu ia tidak melihat apa-apa. Gemuruh suara tebing
yang runtuh semakin menggila. Hingga suasana
menjadi hingar bingar menyeramkan.
"Sebaiknya tinggalkan tempat ini, Seloka"
seru Bunga Bidadari dengan teriakan keras. Tam-
pak Bunga Seloka jadi bingung.
"Kakak sendiri bagaimana? Bukankah se-
baiknya kita tinggalkan tempat ini bersama-
sama?" "Kuakui betapa besarnya rasa sayangmu padaku Tapi kuharap kau mau menyelamatkan
bunga itu demi kepentingan Pendekar rambut me-
rah Cepatlah sebelum terlambat" perintah Bunga Bidadari setengah membentak.
"Tidak Kita datang kesini bersama-sama,
apa-pun resikonya harus kita tanggung bersama"
bantah Bunga Seloka tetap bersikeras.
"Kau terlalu keras kepala atau memang in-
gin mengingkari perintah guru" teriak Bunga Bidadari. Melihat cara saudara seperguruannya bica-ra, sadarlah Bunga Seloka bahwa Bunga Bidadari
tidak suka dibantah. Dengan berat hati gadis ber-
kulit putih bermata sipit ini terpaksa meninggalkan Bunga Bidadari. Ia berlari secepat terbang,
dan memang patut diakui semua murid-murid
Lembah Nirwana memang memiliki ilmu lari yang
sulit dicari tandingannya.
Namun sebelum Bunga Seloka benar-benar
lenyap dari pandangan mata. Dari arah samping
kiri menderu angin kencang disertai hawa dingin
luar biasa. Angin itu menghantam si gadis. Hingga sambarannya saja membuat Bunga Seloka terhuyung-huyung. Melihat hal ini Bunga Bidadari tidak tinggal diam. Ia dorongkan kedua tangannya
ke arah serangan gelap yang hampir mencelakai
adiknya.
Wuut Wuut
Buuum
"Aikh..."
Murid tertua Lembah Nirwana ini sempat
terhuyung ke belakang dua langkah. Ia pegangi
dadanya yang mendenyut sakit. Bunga Bidadari
merasa ada sesuatu yang sangat dingin dan gatal
sekali menusuk-nusuk tenggorokannya. Bunga Se-
loka memang terbebas dari ancaman maut. Akan
tetapi sekarang di depan gadis itu berdiri sesosok tubuh yang panjang luar biasa. Apa yang dilihat
Bunga Bidadari tidak lain adalah seekor ular hi-
tam. Yang mengerikan dari makhluk ini, badannya
berbentuk ular, tiga kepalanya juga kepala ular.
Hanya satu kepala yang lain saja yang berbentuk
kepala manusia biasa.
Tiga kepala yang berbentuk ular mulutnya
terbuka lebar dengan lidah bercabang. Taring-
taringnya meranggas buas siap mencabik-cabik
tubuh yang halus itu. Satu kepala pada bagian
matanya tampak terluka dan meneteskan darah.
Bunga Bidadari ingat betul, mata itu terluka kare-na senjata gaitannya. Sedangkan bagian kepala
yang tegak lurus sejajar dengan badannya meru-
pakan manusia, tetapi tampangnya angker, kulit
hitam. Diam menatap Bunga Bidadari dalam gelo-
ra buas ingin cepat melahapnya.
"Kau lihat hasil perbuatanmu?" dengus Ular Kepala Empat. Suaranya dingin menusuk membuat sekujur tubuh si gadis meremang berdiri.
"Rasanya tidak kau katakan pun aku sudah
mengerti" sahut Bunga Bidadari dengan suara bergetar.
"Hemm, Tebing Akherat yang menjadi tem-
pat tinggalku porak poranda. Bunga Arum Dalu ti-
dak mungkin pernah tumbuh lagi setelah bunga
berikut pohonnya kau cabut Sekarang kau harus
kujadikan tumbal untuk penangkal perutku Aku
harus membuat rumah baru, untuk itu dibutuh-
kan tenaga berganda. Jika ternyata dirimu masih
perawan suci, berarti aku juga mendapat kesak-
tian baru. Dan mungkin setahun lagi aku baru
membutuhkan korban baru"
"Hi hi hi Ha ha ha..." Bunga Bidadari tertawa nyaring. Kini wajahnya tidak memperlihatkan rasa takut sedikit pun juga.
"Kau tertawa. Apakah berarti kau sudah
siap menjadi tumbalku?" tanya bagian kepala ular yang berbentuk wajah mengerikan sosok manusia.
"Aku datang jauh dari Lembah Nirwana.
Mencari bunga demi menolong orang lain. Adalah
perbuatan bodoh jika aku rela mati tanpa ada
usaha menyelamatkan diri Jawabku sudah jelas,
mungkin aku baru bisa masuk ke perutmu bila di-
riku sudah menjadi bangkai" sahut Bunga Bidadari tegas. Jawaban ini hanya membuat Ular Ke-
pala Empat menjadi marah.
"Kau gadis lancang, tidak tahu betapa ting-
ginya Mahameru Kesalahan sudah begitu nyata,
tapi kau tetap mencari dalih dan keras kepala
Hiiing..." Ular Kepala Empat menjerit. Suaranya menyempitkan pembulu darah dan menulikan telinga. Sekali ia meliukkan tubuhnya, maka tiga
buah lidahnya yang berjabang menyambar laksana
mata pedang yang begitu ganas serta mengelua-
rkan suara angin bersiut.
"Binatang menjijikkan" dengus Bunga Bidadari sambil melompat menghindar. Cepat bukan
main gerakan gadis ini, namun sebelum kedua ka-
kinya menginjak tanah. Binatang sebesar dua kali pohon kelapa ini sudah menghantam kembali dengan kepalanya yang lain. Bunga terpaksa melom-
pat lagi, ia putar gaitan panjang di tangan. Makhluk ini terus bergerak memburu dan kelihatan-
nya sudah tidak lagi menghiraukan ketajaman
senjata lawan.
"Kau tidak mungkin lolos" geram Ular Kepala Empat. Sekonyong-konyong lidahnya terjulur
memanjang dengan gerakan melipat. Jika tidak
cepat membantingkan tubuhnya dan diteruskan
dengan berguling-guling. Niscaya Bunga Bidadari
sudah tersambar jilatan makhluk mengerikan itu.
Lidah bercabang itu terus terjulur, melihat
bahaya ini Bunga Bidadari kibaskan gaitannya.
Claang
"Heh, lidah ular dibacok kok bunyinya,
clang?" batin si gadis. Secepatnya ia jungkir balik.
Kemudian ia memainkan jurus-jurus Lembah Nir-
wana yang dikenal mempunyai banyak keanehan
ini.
"Hiiiing Hiiigkh"
Ular Kepala Empat tiba-tiba dorongkan tiga
kepalanya ke depan sekaligus. Dalam pada itu
Bunga Bidadari demi melihat lawan kebal senjata
langsung buang gaitannya. Sebagai gantinya ia lepaskan pukulan 'Badai Langit'.
Wuuuut
Ada semacam kabut melesat dari pori-pori
Bunga Bidadari. Kabut itu langsung bergulung-
gulung menghantam habis sosok besar di depan
Bunga Bidadari. Gadis itu merasa yakin benar se-
rangan ini mampu paling tidak melukai lawannya.
Tetapi kenyataannya setelah badai kabut itu le-
nyap, Ular Kepala Empat masih tegak kokoh sete-
gar karang.
"Ha ha ha Dengan apa kau hendak menga-
kaliku? Aku adalah makhluk yang kebal senjata
kebal pukulan. Jika kau punya seribu senjata se-
ribu pukulan, cepat kau keluarkan sebelum kebu-
ru kasib" teriak Ular Kepala Empat dengan suara lantang menggeledek.
Bunga Bidadari tidak menyahut. Kedua
tangannya lurus di bentang persis di bagian atas kepalanya. Tubuh si gadis bergetar, bibirnya yang
mungil kemerahan tanpa polesan berkemak-
kemik. Ketika kedua tangannya merangkap sejajar
dengan ubun-ubun. Maka tubuh Bunga Bidadari
berubah mengembar menjadi banyak. Rupanya
Bunga Bidadari telah mempergunakan ilmu langka
"Barisan Bidadari Berangkat Ke Bumi'. Ular Kepala Empat sekejap tampak terkesiap juga. Tapi beberapa saat setelah itu, tiga kepalanya sudah kemba-li menyerang dengan patukan-patukan ganas bu-
kan main.
Dalam hal ini ternyata Ular Kepala Empat
tidak dapat lagi membedakan mana Bunga Bida-
dari yang asli dengan yang palsu. Bila Bunga Bi-
dadari yang palsu kena dipatuknya, maka seran-
gan Ular Kepala Empat langsung nyeplos meng-
hantam angin. Sedangkan pukulan-pukulan dah-
syat terus menghujani sekujur tubuhnya. Betapa-
pun kerasnya tubuh Ular Kepala Empat. Tetapi se-
rangan yang bertubi-tubi itu membuat bagian da-
lamnya terluka juga. Ia pun menggeliat, kini seluruh tubuhnya meninggalkan sarang. Sehingga be-
kas yang ditinggalkannya membentuk sebuah lu-
bang besar yang tidak diketahui dalamnya.
"Hiiiing"
Ular Kepala Empat lagi-lagi memekik keras.
Empat kepala sama tertegak. Sebagian tubuhnya
berdiri. Lalu diluar dugaan Bunga Bidadari Ular
itu menyemburkan bisanya yang ganas.
"Pruuskh..."
Kalang kabut si gadis berusaha selamatkan
diri dari hujan bisa. Memang ia selamat dari han-taman cairan bisa yang berwarna putih itu. Tetapi
sayang dalam keadaan yang terdesak itu ia lupa
menutup jalan nafasnya. Sehingga sebagian kecil
kabut bisa terhirup olehnya.
"Hukh Celaka" pekik Bunga Bidadari. Mu-la-mula ia merasakan kepalanya jadi sakit mende-
nyut. Langkahnya limbung dan tidak teratur, perut dirasakannya sangat mual sekali. Bunga Bidadari
tidak dapat bertahan. Ia jatuh tidak sadarkan diri.
"Hemm, sudah kubilang. Tidak ada manusia
mana pun yang mampu menentangku Kau sangat
cantik, kukira sebelum kujadikan tumbal alangkah baiknya jika aku mencicipi kehangatan tubuhmu"
desis Ular Kepala Empat. Kepalanya yang tegak itu kemudian merendah. Lidahnya terjulur dengan
maksud merengkuh. Sedangkan ekornya tampak
dikibas-kibaskan.
Bunga Bidadari benar-benar berada dalam
bahaya besar. Sesaat lagi lidah Ular Kepala Empat menggapai pinggang Bunga. Saat itu pula tampak
melesat sinar kuning yang disertai berkelebatnya bayangan merah. Sinar kuning itu langsung
menghunjam ke bagian ujung lidah. Lidah tersebut putus hingga terdengarlah suara jeritan panjang
mengerikan. Kepala Ular Kepala Empat tertegak,
darah menetes-netes dari bagian lidah yang terputus itu. Ketika ia memandang lurus ke depan den-
gan kemarahan berkobar-kobar. Maka tidak jauh
dari sisi si gadis yang nyaris menjadi mangsanya berdiri tegak sosok kakek tua berpakaian dan berambut serba merah. Tatapan kakek ini penuh wi-
bawa. Ditangan kirinya tergenggam sepotong bam-
bu runcing berwarna kuning. Ular Kepala Empat
langsung dapat menduga bambu itu tadilah yang
telah melukainya. Melihat bambu tersebut nyali
Ular Kepala Empat langsung menciut. Akan tetapi
rasa penasarannya membuat kemarahan makhluk
melata ini tidak dapat dipadamkan.
"Kau ada hubungan apa dengan gadis ini,
orang tua? Sehingga kau begitu lancang mencam-
puri urusan orang lain?" bentak Ular Kepala Empat. Suaranya tidak lagi segarang tadi. Namun
jelas menyimpan dendam.
"Hubunganku dengannya adalah rasa ke-
manusiaan antar sesama manusia. Tindakanmu
sudah melampaui batas. Aku Malaikat Berambut
Api akan membunuhmu jika kau tetap bersikeras
hendak menjadikannya sebagai tumbal" tegas kakek Dewana penuh ancaman.
"Huh, kau lihatlah Tebing Akherat Tempat
ini merupakan tempat tinggalku selama puluhan
tahun. Bunga Arum Dalu akar-akarnya merupa-
kan kunci sekaligus benteng keruntuhan Tebing
Akherat. Bunga Arum Dalu sekarang telah dilari-
kan oleh adik seperguruannya. Adalah suatu tra-
disi, siapa yang berani memetik Bunga Arum Dalu, sebagai tebusannya ia harus mengorbankan nyawa
dan raganya sebagai ganti" kata Ular Kepala Empat. "Ha ha ha Jika kau menginginkan tumbal, silakan kau ambil tubuhku yang tua dan lapuk ini.
Tapi sebelum itu kita harus bertarung sampai sa-
lah seorang diantara kita ada yang mampus" kata kakek Dewana. Ular Kepala Empat kembali melirik
ke arah bambu kuning yang dipegang lawannya.
Malaikat Berambut Api bukan tidak menyadari
benda yang dipegangnya itu merupakan sumber
kelemahannya. Bambu itu terbukti dapat memu-
tus lidahnya. Kekebalan yang ia miliki menjadi tidak berarti karena bambu celaka itu.
"Aku pantang dihina Apapun keinginanmu
akan kulayani. Huuuk" Ular Kepala Empat tiba-tiba julurkan kepalanya ke depan. Kepala yang lain menyerang dari samping kiri dan kanan. Serangan
itu termasuk cepat di samping sangat berbahaya
sekali. Kakek Dewana tampak tenang-tenang saja,
namun hanya sepersekian detik lagi salah satu
moncong binatang melata ini menelan dirinya.
Bambu kuning ditangan langsung dikibaskan den-
gan posisi mendatar.
Wuuut
Bet Bet
Ssssst
Ular Kepala Empat terpaksa tarik ketiga ke-
palanya secara serentak. Terdengar desisan pan-
jang. Kemudian kepala itu terhuyung-huyung. Di-
luar dugaan bagian ekor Ular Kepala Empat men-
gibas. Buuung
"Haiiit..."
Kibasan itu membuat tumbang sepuluh ba-
tang pohon. Malaikat Berambut Api melompat
tinggi, setelah itu tubuhnya menukik ke bawah.
Bambu kuning di tangan langsung dihantamkan-
nya ke bagian ekor yang melecut bagaikan cambuk
raksasa itu.
Wuuut
Cepat sekali Ular Kepala Empat menarik ba-
lik ekornya, bagian kepala kemudian menyambar
ganas ke dada si kakek, sementara kepala yang
lain mematuk bagian leher dan perutnya. Malaikat Berambut Api putar tongkat bambu di tangan dengan kecepatan bagai titiran. Pada waktu itu juga ia pergunakan jurus 'Kacau Balau'. Gerakan yang tidak teratur dan terkesan asal-asalan segera terlihat. Ular Kepala Empat yang semula mengira ka-
kek tua itu tidak becus ilmu silat sekarang dibuat terperangah. Tidak satu pun dari sekian banyak
serangan-serangannya yang ganas itu mengenai
sasaran yang diharapkan. Malah kini lawan tam-
pak berusaha terus mendesaknya. Gempuran he-
bat segera dilakukan oleh masing-masing lawan-
nya. Suara pekik dan jerit menggeledek mewarnai
pertempuran sengit itu. Berulangkali Ular Kepala Empat hampir berhasil mencelakai lawan. Sayang
gerakannya selalu terhalang bambu kuning yang
sangat ditakutinya itu.
DELAPAN
"Aku harus punya satu cara, agar bambu
celaka itu tidak sampai mengenai tubuhku" batin Ular Kepala Empat sinis. Kini ia berdiri dengan
bertumpu pada pertengahan tubuhnya. Setelah itu
ia berputar, praktis kepala dan bagian ekornya sekarang mengibas kian kemari. Malaikat Berambut
Api tiba-tiba merasakan tubuhnya terdorong ke
belakang. Ia memperkuat kuda-kudanya. Sedang-
kan tangan kiri lepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'.
Wuuuk
Mula-mula terdengar suara gaung disertai
jeritan di sana-sini. Sinar merah hitam melesat
menyertai suara-suara aneh tersebut. Udara di sekelilingnya berubah panas bukan kepalang. Untuk
pertama kalinya Ular Kepala Empat merasa ada
tenaga dorong yang hampir memusnahkan seran-
gannya. Ia lipat gandakan tenaga dalam. Udara
panas dan dingin saling dorong tumpang tindih.
Wajah kakek Dewana menegang dan benturan ti-
dak dapat dihindari lagi.
Duuum
Ledakan keras itu membuat Malaikat Ram-
but Api terpental, tubuhnya jungkir balik namun
dapat berdiri lagi dengan kedua kakinya. Si kakek memijit dadanya yang mendenyut. Bila ia memandang ke depan, dilihatnya Ular Kepala Empat ma-
sih tertegak sedangkan salah satu moncongnya
meluncur deras mengincar bagian ubun-ubun si
kakek. "Hem..."" Malaikat Rambut Api mengguman pendek. Ia berpura-pura terkejut. Di luar dugaan ujung bambu di tangan menerobos persis di bagian bawah moncong ular tersebut.
Crook
"Haiiiing"
Ular Kepala Empat menguik keras. Darah
mengucur dari bagian luka yang tertusuk bambu.
Tiga kepala lainnya meronta memperlihatkan ke-
marahannya. Lalu sekonyong-konyong dari mulut-
nya menyembur bisa. Malaikat Berambut Api lang-
sung bergerak menjauh sambil selamatkan Bunga
Bidadari dari semburan bisa. Bila bisa Ular Kepala Empat jatuh di atas rerumputan yang menghijau.
Maka rumput-rumput itu langsung layu lalu ke-
mudian hangus.
"Dia benar-benar sangat berbahaya sekali"
batin Malaikat Berambut Api. "Aku harus bertindak lebih cepat"
Selesai ia bicara dengan diri sendiri, disertai
dengan jeritan melengking tinggi. Kakek Dewana
tampak melesat ke udara. Tongkat bambu kuning
segera ditusukkannya ke bagian kepala lawan se-
cara beruntun sambil melompat kian kemari.
Jrooos
"Hiiiikng"
Ular Kepala Empat meraung keras. Dua ke-
palanya dapat ditembus senjata lawan hingga jebol sampai ke otak-otaknya. Makhluk mengerikan ini
tampak membabi buta karena didera kemarahan
dan rasa sakit yang bukan kepalang. Sementara
darah semakin banyak yang mengucur keluar,
menjadikan Ular Kepala Empat kehilangan banyak
tenaga. "Ular Kepala Empat Akui kekalahanmu biar aku sudahi serangan" teriak Malaikat Berambut Api merasa iba.
"Belum pernah makhluk sebangsa kami
menyerah pada manusia. Perlawanan sampai titik
darah penghabisan jauh lebih baik daripada pergi berkalang malu" sahut Ular Kepala Empat. Dua
kepalanya yang tertusuk bambu tampak terkulai.
Yang satunya lagi sudah tidak dapat melihat kare-na matanya kena dicelakai oleh Bunga Bidadari.
Hanya kepala yang berbentuk kepala manusia saja
yang masih utuh. Secepat kilat ekornya yang besar bagaikan pecut raksasa melibaskan Malaikat Berambut Api.
Dess
"Hukh"
Orang tua dari Pulau Seribu Satu Malam itu
sempat tersentak ke belakang. Malaikat Berambut
Api tarik nafas dalam-dalam. Tanpa diduga-duga
ia bersalto, kedua tangannya memegang erat bam-
bu kuning tersebut. Satu loncatan tinggi dilaku-
kannya. Dengan tenaga penuh ia tusukkan senjata
itu. Ular Kepala Empat tidak sempat lagi menghindar untuk selamatkan diri. Akibatnya bambu kun-
ing itu menembus punggung hingga ke bagian sisi
perutnya.
Ia menggelepar disertai raungan menukik
telinga. Ekornya dikibas-kibaskan. Gerakan ular
besar itu kemudian melemah.
"Kkk... kau..." Hanya itu kata-kata yang te-rucap dari mulut Ular Kepala Empat. Matanya me-
redup lalu kepala terkulai mengikuti ambruknya
badan binatang itu.
Malaikat Berambut Api langsung meng-
hampiri Bunga Bidadari. Setelah meneliti keadaan gadis itu tahulah ia bahwa racun yang mengidap
di tubuh si gadis belum sampai menjalar ke bagian jantung.
Kakek itu segera mengeluarkan dua buah
obat pemunah racun kemudian memasukkan obat
itu ke mulut Bunga Bidadari. Setelah melakukan
pemijatan di beberapa tempat, kira-kira sepenanakan nasi lamanya Bunga Bidadari mulai sadarkan
diri. "Di manakah aku?" Bunga Bidadari menggeram lirih. Ia kedip-kedipkan matanya yang indah itu. "Kau berada di tempat yang aman"
"Siapakah anda?" tanya si gadis. Rupanya ia kaget juga melihat ada orang lain berdiri tidak jauh darinya.
"Aku Dewana, gurunya pemuda yang hen-
dak ditolong oleh Si Bayang Bayang" jelas Malaikat Berambut Api.
"Oh..." Gadis cantik jelita itu menarik na-pas lega. "Ular itu menyerangku" kata si gadis mengadukan perihal yang dialaminya.
"Ular itukah yang kau maksud??" Kakek
Dewana menunjuk ke arah bangkai ular yang ter-
geletak tidak jauh dari mereka.
"Siapa yang melakukannya?"
"Aku"
"Kalau begitu aku sedang berhadapan den-
gan tokoh berkepandaian tinggi?" puji Bunga Bidadari penuh rasa takjub.
"Tidak juga. Menghadapi sesuatu bila kita
tahu titik kelemahannya akan mempermudah pe-
kerjaan kita" tegas si kakek. "Sebaiknya kita ke Lembah Nirwana secepatnya Tapi kalau kau masih merasa belum kuat berjalan aku akan mendu-
kungmu"
"Kukira aku sudah sanggup berjalan sendi-
ri" Bunga Bidadari kemudian bangkit berdiri.
"Ayolah, kita tidak perlu membuang-buang waktu"
Bunga Bidadari melangkah mendahului Malaikat
Berambut Api. Sementara kakek berambut merah
itu mengikuti tidak jauh di belakangnya.
***
Tubuh kaku Suro Blondo dibaringkan di
atas dipan kayu yang telah berumur ratusan ta-
hun. Karena urat bicaranya telah terbebas dari totokan, maka ia bebas bicara apa saja.
"Ratu Leak Ternyata aku tidak sanggup me-
lenyapkan musuh besarmu. Utusan macam apa
diriku ini. Huk huk huk Aku terpaksa menangis,
sedih bukan karena tubuhku dalam keadaan terto-
tok. Aku menangis karena merasa percuma menja-
lani hidup dan percuma juga sebagai laki-laki
Apakah orang sepertiku ini masih pantas hidup
Uhk... hidup yang menyedihkan" kata Pendekar Blo'on yang masih berada di bawah pengaruh Ratu
Leak sedih.
Sosok tua renta yang terlihat hanya seperti
baying-bayang sama sekali tidak menanggapi. Ia
malah menghampiri pintu saat didengarnya suara
ketukan pada pintu depan.
Ketika pintu terbuka muncul seorang gadis
bermata sipit yang tidak lain adalah Bunga Seloka.
Gadis ini langsung membungkukkan badannya.
"Guru, aku datang dengan membawa kabar baik dan kabar buruk" lapor Bunga Seloka.
Si tua angguk-anggukkan kepala. "Kabar
apa yang kau bawa wahai muridku yang bungsu?
Katakanlah segera"
"Bunga Arum Dalu berhasil diambil oleh
kakak Bunga Bidadari. Aku diperintahkannya
membawa bunga ini pada guru. Tetapi..." kata-kata Bunga Seloka tiba-tiba terhenti. Air mata ber-linangan dan isak tangisnya pun terdengar.
"Katakanlah, segala sesuatu yang menimpa
manusia harus selalu kau ingat adalah merupakan
kehendak yang Maha Kuasa" desak Si Bayang-
Bayang alias Tangan Biru.
"Kakak... kakak Bunga Bidadari terpaksa
menghadapi Ular Kepala Empat seorang diri" lapor Bunga Seloka. "Untuk kesalahan ini aku bersedia dihukum berat guru"
Sosok yang berdiri tegak dan merupakan
bayangan yang samar-samar ini elus jenggot pan-
jangnya. "Kau pulang dengan membawa Bunga
Arum Dalu karena menuruti perintah kakak se-
perguruan. Itu adalah tindakan yang cukup terpu-
ji. Tidak ada hukuman apapun yang patut kuja-
tuhkan padamu"
Bukan merasa senang, Bunga Seloka malah
menangis tersedu-sedu. Si Bayang-Bayang ke-
rutkan keningnya. Seraya memegang bahu murid-
nya, sentuhan itu tidak terasakan oleh si gadis, karena tangan-tangan gurunya seakan-akan terbuat dari angin.
"Mengapa kau menangis?"
"Guru, aku menangis karena tidak dapat
membantu kakak seperguruan" sahut Bunga Se-
loka. "Sudahlah, jangan kau pikirkan. Berdoa semoga Tuhan selalu melindunginya Sekarang lebih baik kau tunggui pemuda itu, jangan kau sen-
tuh atau kabulkan apapun permintaannya"
"Baik, guru"
Si Bayang Bayang berjalan meninggalkan
Bunga Seloka, gerakannya ringan dan kedua kaki
hampir tidak menyentuh lantai. Bunga Seloka
memeriksa Bunga Arum Dalu yang terdapat di sa-
kunya. Ternyata bunga tersebut sudah tidak ada
di tempatnya.
"Dia telah mengambilnya" desis Bunga Seloka. Ia kemudian menghampiri Pendekar Blo'on
yang dalam keadaan telentang diam tidak berku-
tik. Diperhatikannya pemuda itu dengan malu-
malu. Sementara itu di dalam ruangan pribadinya Si Bayang Bayang sedang berusaha mencampur
beberapa ramuan untuk memunahkan Racun Pe-
lumpuh Akal Pelemah Jiwa yang telah mengeram
lama di tubuh Pendekar Blo'on. Ia memasukkan
ramuan tersebut ke dalam kendi. Terakhir kali di-ambilnya Kuntum Bunga Arum Dalu yang berwar-
na putih itu. Sekejap ia mengerahkan tenaga mur-
ni ke bagian bunga. Kuncup bunga tidak lama ke-
mudian mengembang. Dari setiap sudutnya men-
gepul kabut putih yang menebarkan bau wangi
semerbak.
"Bunga Arum Dalu, keharumanmu yang
semerbak hanya terasa bila malam telah larut.
Atas kuasa Tuhan, moga khasiatmu yang besar
pemunah dari raja-raja racun berguna untuk me-
nyembuhkan ingatan yang pernah hilang Semo-
ga... semoga..." desis Si Bayang Bayang. Hanya dengan sekali remas, bunga mukjizat itupun hancur menjadi serbuk putih. Tangan Biru menabur-
kan serbuk bunga tersebut ke dalam campuran
ramuan. Ketika serbuk bunga tercampur dengan
ramuan lain yang sudah mendidih. Maka terden-
gar suara letupan-letupan kecil disana sini. Air pun bergolak.
Gluk Glebuk Buuk
Setelah campuran ramuan menyatu dengan
serbuk bunga Arum Dalu. Maka Si Bayang Bayang
mengangkat kendi tersebut. Kendi panas diletak-
kan di atas tangannya. Aneh, kedua telapak tan-
gan Si Bayang Bayang alias Si Tangan Biru tidak
melepuh. Kakek aneh yang sosoknya seperti
Bayang-Bayangan ini selanjutnya menghampiri
Pendekar Blo'on.
"Pendekar Bodoh Kini saatnya kau kembali
dari mimpi-mimpimu yang teramat buruk. Aku
Tangan Biru akan membantumu"
"Kau siapa manusia jelek?" sahut Suro Blondo. "Aku adalah anak buah sekaligus utusan Ratu Leak Bebaskan aku dan aku akan menempurmu hingga tubuhmu jadi lumat" maki Suro.
"Guru, mulut pemuda ini keterlaluan sekali
biarkan aku yang akan mengajarinya adat" sergah Bunga Seloka. Ia bangkit berdiri dan hendak menampar pemuda itu.
Si Bayang Bayang memberi isyarat pada
muridnya agar tetap diam di tempatnya. "Biarkan
saja, dia sekarang sedang sakit dan linglung. Kau bukalah mulutnya biar ramuan dalam kendi ini
dapat masuk semua ke dalam mulutnya" perintah Manusia Tangan Biru.
"Orang-orang celaka, aku hendak kalian
apakan?" teriak Suro Blondo yang masih berada dalam pengaruh racun Pelumpuh Akal Pelemah
Jiwa dengan suara lantang.
"Kau mau dimampusin biar hilang kebodo-
hanmu" Bunga Seloka menyahuti. Seraya langsung membuka mulut si pemuda. Pemuda itu ten-
tu tidak dapat berontak karena tubuhnya dalam
keadaan tertotok. Tidak ayal lagi seluruh cairan yang terdapat dalam kendi itupun masuk ke dalam
mulut Suro seluruhnya. Mula-mula yang dirasa-
kan oleh Suro adalah rasa panas yang menjalari
tenggorokannya, lalu kebagian perut. Dan bebera-
pa waktu berikutnya ia menjerit-jerit dengan mata melotot ketika hawa panas menyerang sekujur tubuhnya. Bagian yang paling parah mendapat de-
raan hawa panas itu adalah bagian kepala dan
otaknya.
"Kaarrrhk"
Jeritan Pendekar Blo'on melengking tinggi.
Sekujur tubuhnya bermandikan keringat. Kulit-
kulitnya menjadi merah. Ada sesuatu yang mende-
sak-desak mencari jalan keluar di sekujur tubuh
pemuda ini.
"Arhk... waduh.... arrrkh... bagaimana aku
ini, bagaimana diriku ini??" pekik pemuda rambut merah ini bagaikan orang yang meregang ajal. Ia
terus menjerit dan menjerit. Hingga pemuda ko-
nyol ini pada akhirnya tidak sadarkan diri.
"Dia mati, guru" desis Bunga Seloka ketika dilihatnya Pendekar Blo'on sudah tidak bergerak-gerak lagi.
"Tidak mati, dia hanya pingsan saja" sahut Si Bayang Bayang. Kakek renta ini tetap berdiri di tempatnya sambil tetap mengawasi perkembangan
yang terjadi pada Suro selanjutnya.
Ketika itu Suro memang sudah tidak berge-
rak-gerak lagi, tubuhnya panas bukan main.
Mungkin ini terjadi akibat perlawanan racun yang mengeram di tubuhnya dengan obat yang bercam-bur bunga Arum Dalu yang baru saja diberikan
oleh Si Bayang Bayang. Tidak berselang lama, terlihatlah darah berwarna hitam keluar dari seluruh pori-pori di sekujur tubuh pemuda itu. Darah kehitam-hitaman ini berbau busuk bukan main. Ti-
dak bedanya seperti bau bangkai orang yang telah meninggal tujuh hari.
Bunga Seloka tutup hidungnya, ia ter-
huyung mundur satu langkah dengan wajah tidak
kuasa menyembunyikan perasaan ngerinya. Sete-
lah darah kehitam-hitaman tersebut tidak menetes lagi, maka Si Bayang Bayang melangkah mendekati. Kedua tangannya ditekankan ke dada si pemu-
da. Seraya lalu memejamkan matanya. Bunga Se-
loka sadar betul kalau gurunya sedang mengerah-
kan tenaga dalam ke tubuh Pendekar Mandau
Jantan.
Tubuh yang dalam keadaan tidak sadarkan
diri itu tampak bergetar hebat. Kemudian menyu-
sul dari seluruh pori-pori si pemuda keluar darah
berwarna agak hitam kemerahan. Jelaslah sudah
bahwa Si Bayang Bayang sengaja membuat sisa-
sisa racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa hilang se-
luruhnya dari tubuh Suro.
Si Bayang Bayang setelah melihat darah
berwarna merah segera angkat kedua tangannya.
Tangan itu selanjutnya dipindahkan ke bagian ke-
pala. Untuk yang kedua kalinya Si Bayang Bayang
mengerahkan tenaga dalam. Hal ini dilakukannya
semata-mata untuk memperbaiki sel-sel otak Suro
yang sempat dikacaukan oleh Racun Pelumpuh
Akal Pelemah Jiwa. Tubuh Pendekar Mandau Jan-
tan itu tidak lagi terasa panas, tetapi terjadi perubahan dingin yang begitu mendadak. Di saat itu
Suro Blondo sudah sadarkan diri. Karena ia me-
mang tidak punya kekuatan untuk membang-
kitkan tenaga dalamnya. Praktis perubahan udara
dingin yang terjadi pada dirinya membuat tubuh
pemuda itu tampak membiru keseluruhannya.
"Oh... hhooo... dingiiin... aaaah..." Pemuda konyol ini menjerit-jerit seperti orang gila. Suaranya bergetar pertanda ia hampir-hampir tidak
kuasa menahan hawa dingin yang menderanya
bertubi-tubi.
Si Bayang Bayang tampak tenang-tenang
saja. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada diri pemuda itu. Apa yang dirasakan oleh Suro tidak lain karena hawa murni yang disalurkan oleh
Si Bayang Bayang mulai menyapu habis sisa-sisa
racun yang mengalir dalam darah pemuda ini. Un-
tuk yang kedua kalinya Suro jatuh pingsan lagi.
SEMBILAN
Pendekar Blo'on dibiarkan dalam keadaan
pingsan cukup lama juga. Pada waktu yang ber-
samaan tiba-tiba terdengar suara panggilan dari
luar tabir gaib yang mengelilingi seluruh lembah.
Untuk diketahui selain murid-murid Lembah Nir-
wana tidak ada yang tahu bagaimana caranya da-
pat ke luar masuk lembah dengan aman.
"Kepada pengusaha lembah, harap sudi
memberi jalan masuk Kami datang dengan tan-
duk-tanduk yang komplit termasuk tanduk milik
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya..."
"Jika kau Penghulu Siluman Kera Putih
Sebaiknya masuk dari pintu utara. Saat ini hanya pintu itu saja yang terbuka" jawab Manusia Tangan Biru.
Sementara itu di pinggir lembah, tepatnya di
luar tabir lingkaran gaib yang menjadi pelindung lembah, Mata Iblis kelihatan sudah tidak sabar.
"Mengapa kita berdiri di sini terus? Tadi kau bicara dengan suara perut. Bicara dengan siapa?"
tanya Mata Iblis.
"Dengan penghuni lembah ini" jawab Barata Surya.
"Penghuni lembah sejenis hantu kepompong
barangkali. Hingga tempat tinggalnya saja diselimuti tabir" Laki-laki pendek yang tidak lain adalah Manusia Topeng menimpali.
"Entahlah, kalian ribut melulu. Daripada ribut-ribut sebaiknya kita pergi ke sebelah utara
lembah ini Aku ingin cepat-cepat melihat bagai-
mana keadaan muridku hingga saat ini" ujar Barata Surya.
"Mataku yang buta ini memang tidak meli-
hat. Tetapi kukira yang namanya sebelah utara
lembah cukup jauh dari sini. Aku tidak mau men-
gikuti peraturan gila penghuni lembah. Sebaiknya kuterabas saja dari sini" dengus Mata Iblis sambil bersungut-sungut. Dengan cepat ia melesat ke
arah lembah.
Wuuk
Duuuk
"Aduh..."
Seakan ada sebuah tenaga besar yang tidak
terlihat yang mendorongnya. Mata Iblis terjeng-
kang. Ulah kakek sakti namun mempunyai kepin-
taran tidak lebih tinggi dari keledai ini membuat Manusia Topeng dan Barata Surya tertawa terbahak-bahak.
Dengan muka merah padam Mata Iblis
bangkit kembali. Ia mengerahkan tenaga dalam ke
bagian tangannya. Tapi tindakan yang akan dila-
kukan oleh Mata Iblis segera dicegah oleh Manusia Topeng.
"Sahabatku Mengapa hendak merusak
dinding rumah orang? Pintu sudah tersedia, tuan
rumah sudah mempersilahkan masuk Bercapai-
capai sedikit tidak mengapa. Siapa tahu di dalam sana gadis-gadis cantik sudah menunggu kita?"
"Betul. Kalau peruntungan lebih baik bukan
mustahil seorang gadis telanjang menyambut ke-
hadiran kita di luar pintu" Barata Surya menim-
pali. Manusia Topeng tertawa mendengar gurauan
Barata Surya yang ngawur tidak keruan itu.
"Aku tidak ikut. Sampai di sini aku malah
teringat pada Ratu Leak. Hatiku rasanya belum
tenteram sebelum membalaskan rasa sakit hati
yang sudah lama berkarat" dengus Mata Iblis tiba-tiba. Manusia Topeng dan Penghulu Siluman Ke-
ra Putih saling pandang. Lalu Barata Surya berka-ta. "Kurasa hanya Manusia Topeng saja yang tidak punya kepentingan langsung dengan Ratu Leak.
Aku sendiri seperti yang kau lihat, jelas punya kepentingan dengan Ratu Leak. Karena perbuatan-
nya muridku jadi linglung dan bermaksud mem-
bunuh guru sendiri. Rasa penasaranku adalah
siapa sesungguhnya iblis yang menamakan dirinya
Ratu Leak itu. Hingga ia begitu bernafsu ingin
membunuhku. Sialnya lagi ia memperalat murid-
ku..." "Kalau pun kau punya kepentingan dengan Ratu Leak. Kau tidak boleh turun tangan membunuhnya. Terkecuali aku sudah mengambil anunya.
Ini terpaksa kulakukan karena ia telah mengambil barangku, bukan itu saja barangku konon dije-murnya untuk dijadikan pajangan" dengus Mata Iblis sambil bersungut-sungut.
"Mengenai siapa nanti yang berhak mem-
bunuh Ratu Leak tidak usah kita persoalkan. Yang penting sekarang kita harus masuk ke lembah"
ujar Barata Surya.
"Bagaimana pendapatmu, sahabatku?"
tanya Mata Iblis. Seraya memandang tajam pada
Manusia Topeng.
"Aku memutuskan untuk menunggu di si-
ni" tegas Manusia Topeng.
"Kalau sahabatku ini menunggu di sini. Aku
juga ikut menunggu disini"
"Jadi siapa yang akan membawa tanduk
sakti itu?" tanya Barata Surya.
"Kau saja."
"Tanpa sarung Sutra Kencana?" Mata Penghulu Siluman Kera Putih melotot.
"Bagaimana sahabatku, apakah sarung Su-
tra Kencana ini harus kupinjamkan padanya?
Apakah manusia muka kunyuk ini bisa diper-
caya?" "Kau sudah kehilangan barangmu, manusia terlahir punya bakat mencuri. Kalau sarungmu di-tukarnya. Atau dia melarikan sarung sakti itu apa bukan kau yang repot. Kau bisa kehilangan barang untuk yang kedua kalinya. Untuk itu sebaiknya
kau ikut dia dulu. Antarkan tanduk celaka kepada penghuni lembah. Aku bisa menunggumu disini"
"Kau jangan bicara sembarangan dan ber-
perasangka yang bukan-bukan Manusia Topeng.
Jika aku marah, nanti kurobek-robek topengmu
baru kau rasa" maki Penghulu Siluman Kera Putih.
Manusia Topeng hanya tertawa bergelak.
Barata Surya kemudian menarik tangan Mata Iblis
menuju pintu utara.
Ternyata benar di sebelah utara terdapat
sebuah pintu yang samar-samar dan tembus pan-
dang. Kedua orang ini segera masuk melalui pintu
yang berwarna seputih salju itu. Semua pintu terdiri dari tujuh buah. Ketika mereka melewati pintu terakhir, maka tercium bau harum semerbak yang
khas. Kedua tokoh tua ini sekarang melewati ta-
naman bunga yang terdapat di lembah. Tidak lama
sampailah mereka di depan sebuah bangunan se-
derhana terbuat dari bahan kayu jati. Pintu ban-
gunan di depan mereka tiba-tiba terbuka. Dua
orang murid Lembah Nirwana yang lain menyam-
but kedatangan orang-orang ini.
Barata Surya mengisiki. "Wah rugi kau jadi
orang buta. Gadis-gadis yang menyambut kita can-
tiknya bukan main..." puji si kakek konyol sambil senyum-senyum.
"Sial kau Kalau pun aku dapat melihat ra-
sanya percuma saja, barangku sudah tidak ada.
Paling jempolku yang tegang" dengus Mata Iblis.
"Kepada tetamu Lembah Nirwana harap sa-
bar menunggu Guru kami sekejap lagi berkenan
menjumpai anda berdua" kata salah seorang dari kedua gadis itu dengan ramah dan senyum ma-nisnya tetap menghias di bibir. Mereka baru saja hendak meninggalkan ruangan tamu. Namun
Penghulu Siluman Kera Putih menahannya saat ia
mendengar suara bak bik buk di ruangan sebelah.
"Ada apa kakek tua?" tanya gadis kedua.
"Eeh... aku mendengar suara seperti anjing
dipukuli, sesungguhnya siapakah yang sedang
menjalani penyiksaan itu?" tanya Barata Surya.
"Bukan apa-apa. Guru kami sedang beru-
saha membuat sadar seekor anak kelinci yang
pingsan." sahut kedua gadis itu hampir serentak.
Mereka pun akhirnya berlalu meninggalkan ruan-
gan tamu. Baru saja murid-murid Lembah Nirwa-
na meninggalkan mereka. Mata Iblis berbisik pada Barata Surya.
"Mengapa tolol amat? Bagaimana kalau
yang digebuki itu muridmu?"
"Heii... apa betul. Kalau dia berani-berani menggebuk muridku, akan kubalas murid-muridnya yang cantik itu akan kugebuk pula" geram Barata Surya sewot. Mata Iblis hanya terse-
nyum. "Bicara seenak perutmu Padahal kau tidak bedanya dengan harimau ompong yang cuma pandai berkaor saja"
"Kita lihat saja nanti" kata Barata Surya semakin tidak senang melihat sikap Mata Iblis
yang terlalu meremehkannya.
"Ah... maaf aku telah membiarkan kalian
menunggu terlalu lama" Sebuah suara tiba-tiba terdengar di samping mereka membuat kedua
orang tua ini tersentak kaget. Adalah sesuatu yang sangat mengherankan jika Barata Surya dan Mata
Iblis tokoh berkepandaian tinggi ini sampai tidak mendengar suara langkah orang yang baru saja bicara tadi.
Penghulu Siluman Kera Putih cepat meno-
leh. Seorang laki-laki tua renta berpakaian putih tipis tampak tersenyum. Tubuh orang ini begitu
kurusnya, kulitnya yang keriput tidak beda den-
gan lembaran kain tipis pembalut tulang. Satu kenyataan lain yang membuat Barata Surya terkejut
setengah mati. Orang ini kedua kakinya sama se-
kali tidak menyentuh tanah. Tubuhnya tipis seper-ti bayang-bayang.
"Andakah yang bergelar Si Bayang Bayang
alias Manusia Tangan Biru?" tanya Barata Surya.
Sambil bertanya ia melirik ke bagian kedua tangan si kakek renta. Ternyata kedua tangan yang kurus kering itu berwarna biru sepenuhnya.
"Seperti yang kau lihat, saudara Barata
Surya" "Tapi bagaimana dengan aku yang tidak bi-sa melihat" Mata Iblis langsung protes.
"Aku memang Manusia Tangan Biru. Dan
saudara yang buta ini tentu Mata Iblis" desah Si Bayang Bayang. Keistimewaan orang ini setiap bicara membuat terkesima orang yang mendengar-
nya. "Sekarang aku ingin bertanya bagaimana keadaan muridku" kata si kakek baju putih langsung pada pokok persoalan.
Orang yang ditanya tidak langsung menja-
wab. Tangannya malah menggapai, dan tiba-tiba
saja tanduk sakti yang berada di tangan Mata Iblis telah berpindah ke tangan Manusia Tangan Biru.
Yang mengejutkan kedua tangan orang ini tidak
melepuh.
"Muridmu dalam keadaan aman-aman saja.
Ingatannya kembali pulih. Barusan aku memuku-
linya hingga babak belur untuk memperlancar pe-
redaran darahnya. Tapi sampai sekarang ia belum
sadar. Kesempatan ini dapat kita pergunakan un-
tuk mengembalikan kesaktiannya yang tertahan
dalam tanduk ini" jelas Si Bayang Bayang. Selan-
jutnya ia bicara ditujukan pada Mata Iblis. "Saudara yang tidak bisa melihat. Tanduk telah kuambil, terima kasih atas bantuanmu. Jika kau berkenan
mari silahkan mengikuti aku untuk melihat pen-
gembalian kesaktian serta tenaga dalam Pendekar
Blo'on"
Satya Gama alias Mata Iblis gelengkan ke-
pala. "Mataku tidak melihat, apa guna menyaksikan pengembalian kesaktian Pendekar Bodoh. Ka-
wanku di luar sana sudah menunggu. Aku takut
dia meninggalkan aku Sebaiknya aku permisi sa-
ja" Kakek berambut panjang itu bangkit berdiri.
"Apakah kau perlu diantar ke pintu depan
Mata Iblis? Jika perlu muridku Bunga Seloka da-
pat mengantarkanmu"
"Perlu... he he he... perlu sekali..." sahut Mata Iblis sambil tertawa-tawa.
"Jangan" cegah Barata Surya. "Mata Iblis walau pun buta tapi dapat menentukan jalan keluar sendiri. Tidak perlu pakai penuntun, ia tua bangka genit yang suka menggatal. Sayang dia tidak punya pedang Ha ha ha..."
"Penghulu Siluman keparat Jangan kau be-
rani membongkar barang orang lain... eeh, mak-
sudku rahasia orang lain Aku bisa lupa diri dan membunuhmu" Sambil mengomel tidak jelas, Ma-ta Iblis berkelebat pergi melewati pintu demi pintu tabir pelindung yang ada.
Sementara itu Barata Surya dan Manusia
Tangan Biru telah sampai di dalam ruangan dima-
na Pendekar Blo'on dirawat. Melihat keadaan Suro, Barata Surya langsung mendekat dan berbisik di
dekat telinga si pemuda yang masih belum sadar-
kan diri.
"Murid gendeng, tolol bego. Sudah mengu-
rus diri sendiri tidak becus. Guru yang tidak tahu apa-apa malah mau dibikin celaka Pemuda macam kau ini pantasnya dibikin mampus saja. Ta-
pi..." Penghulu Siluman garuk-garuk kepala. "Ma-na aku berani dengan kakek rambut merah itu.
Jangan-jangan ia membantai seluruh penghuni
gunung Mahameru. Lagipula mustahil aku bunuh
pemuda konyol ini. Lah wong kadang-kadang aku
yang sudah tua bangka ini tidak betul dalam bica-ra kok..."
"Apa yang kau pikirkan saudara? Sekarang
saatnya untuk mengembalikan kesaktian murid-
mu" suara Manusia Tangan Biru menyadarkan si kakek dari lamunannya. Bila Barata Surya memandang ke depan. Maka dilihatnya Si Bayang
Bayang yang telah duduk bersila tampak meng-
genggam tanduk sakti yang mengandung hawa
panas luar biasa itu sambil mengerahkan tenaga
dalamnya.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Yang harus saudara lakukan adalah du-
dukkan Suro. Saudara duduk di belakangnya den-
gan posisi kepala tidak lebih tinggi dari kepala pemuda itu. Jika kepalamu lebih tinggi aku takut
pengembalian kesaktian malah nyasar melalui
ubun-ubunmu Sudahkah saudara mengerti??"
"Mengerti" jawab Barata Surya. Dalam hati ia jadi jengkel juga melihat cara Si Bayang Bayang yang memperlakukannya seperti anak kecil. Peng-
hulu Siluman Kera Putih melakukan apa yang di-
perintahkan Manusia Tangan Biru. Sebelum ma-
nusia setengah gaib di depannya melakukan apa
yang seharusnya ia lakukan. Barata Surya yang
usil bertanya....
"Ee... tunggu dulu. Apakah Bunga Arum
Dalu sudah didapat dan dimakan oleh muridku?"
"Jangan bawel Bunga Seloka membawakan
bunga itu ke sini. Barang sudah didapat dan di-
makan muridmu. Kesadarannya pulih seperti se-
mula, dan kekuatan sekaligus kesaktian titipan
Ratu Leak telah musnah Ada lagi yang ingin kau
tanyakan kakek bawel"
"Ya sudah Cuma itu saja kok" sahut Barata Surya sambil senyum-senyum.
"Pusatkan kosentrasimu, jangan lengah jika
tidak ingin pekerjaan kita ini mengalami kegaga-
lan" pesan Si Bayang Bayang. Suaranya pelan namun tegas.
Tidak lama kemudian. kedua tokoh sakti ini
sudah mulai tenggelam dalam kosentrasi penuh.
Sosok tubuh Manusia Tangan biru yang samar-
samar itu kelihatan menggeletar. Tanduk sakti
yang tergenggam di kedua tangannya yang semula
hanya memancarkan sinar merah redup sekarang
mulai menyala dan berpijar-pijar. Bagian ujung
tanduk diarahkan kebagian ubun-ubun Pendekar
Blo'on. Barata Surya yang berada di belakang Suro dapat merasakan adanya hawa hangat yang begitu
kuat mengalir ke tubuh Suro. Wajah Si Bayang
Bayang semakin lama semakin menegang. Lalu....
"Huuup"
Diawali dengan terdengarnya pekikan terta-
han. Dari ujung tanduk terdengar desiran halus.
Terlihat empat sinar, merah putih kuning dan
jingga melesat bagaikan lompatan bunga api ke
arah bagian ubun-ubun Suro Blondo.
Jsssssst
Sampai di atas kepala Suro sinar itu beru-
bah jadi kabut. Kabut warna warni selanjutnya
tersedot sepenuhnya ke dalam ubun-ubun Suro.
Seakan ada sebuah kekuatan dari dalam tubuh
Suro yang menariknya. Pemuda itu menggelepar.
Dengan kuat Barata Surya tetap memegangi mu-
ridnya agar tetap pada posisi semula.
Untuk sekian saat lamanya tanduk tetap
memancarkan empat sinar sakti ke bagian ubun-
ubun Suro. Sampai sinar itu akhirnya semakin
melemah, lama kelamaan bertambah lemah dan
hilang tidak berbekas.
Si Bayang Bayang menyimpan tanduk di
balik pakaiannya. Suro terus menggeliat. Setelah itu terdengar suara jeritannya yang panjang me-nyakitkan telinga.
"Kau dengar suaranya, kesaktian muridmu
sudah pulih sebagaimana sediakala" kata Manusia Tangan Biru.
Mata Pendekar Blo'on yang semula terpejam
rapat, kini secara perlahan mulai terbuka. Ia lalu celingak celinguk seperti orang bingung. Ketika
melihat Penghulu Siluman Kera Putih berada di
belakangnya, pemuda ini jadi kaget.
"Guru? Mengapa kau dan aku sama-sama
berada di sini? Tempat apakah ini?" seru pemuda
itu. Seraya meraih tangan Barata Surya lalu men-
ciumnya. Kakek berambut putih itu malah cembe-
rut. Suro semakin heran, ia memandang ke de-
pannya. Melihat Manusia Tangan Biru pemuda ini
langsung nyerocos. "Guru... siapa orang tua keri-putan macam jerangkong ini??"
Plang
"Waduuuh..." Suro menjerit, ia jatuh ter-jengkang. Secepatnya pemuda itu bangkit berdiri.
Barata Surya memandang dengan mata melotot
kepadanya.
"Mengapa kau memukulku, guru Apakah
kau sudah gila?" kata pemuda itu sambil cen-gengesan.
"Pemuda sontoloyo Yang gila itu kau. Cepat kau beri penghormatan pada kakek yang telah
menolongmu itu, cepaat..." perintah Penghulu Siluman. Karena Pendekar Blo'on masih bengong sa-
ja. Si Kakek hantamkan kakinya ke betis Suro
hingga membuat pemuda itu jatuh terduduk se-
perti orang yang menghaturkan hormat.
"Maafkan aku orang tua Aku bingung apa
yang telah terjadi dengan diriku. Mengapa tiba-tiba aku sudah berada di sini"
Manusia Tangan Biru tersenyum. "Kau
hampir dapat diperalat Ratu Leak. Kami baru saja berhasil mengobatimu juga mengembalikan kesadaran serta kesaktianmu" jelas Si Bayang Bayang.
Suro langsung terdiam. Ia mencoba men-
gingat-ingat kejadian terakhir kali selama ia tersadar. Mula-mula bayangan seorang gadis yang tidak lain adalah Dewi Kerudung Putih. Lalu Si Buta
Mata Kejora. Waktu itu Ratu Leak mengancam
akan membunuh gadis misterius itu jika ia tidak
mau meminum cairan merah pekat yang diberikan
oleh Ratu Leak. Demi menyelamatkan Dewi Keru-
dung Putih akhirnya ia meminum cairan yang ter-
dapat di dalam cangkir tengkorak itu. Sebelum itu ia juga ingat bahwa Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya telah memupus habis seluruh tenaga
sakti yang dimilikinya. Apa yang terjadi pada dirinya selanjutnya Suro benar-benar tidak tahu.
"Kau sudah mengingatnya, Suro?" tanya
Manusia Tangan Biru.
"Ya... Coba tolong ceritakan apa yang aku
lakukan selama dalam keadaan tidak dapat men-
gingat apa-apa?" pinta Suro ditujukah pada gurunya. Secara gamblang Barata Surya lalu mence-
ritakan segala sesuatu yang terjadi atas diri pemuda itu. Wajah Pendekar Mandau Jantan sebentar
memerah sebentar memucat mendengar penutu-
ran gurunya.
"Ratu Leak benar-benar perempuan iblis
Segala tindakannya patut dihentikan. Aku harus
mencarinya, guru" Suro tiba-tiba meraba ping-gangnya. Ia terheran-heran ketika mendapati ke-
nyataan senjata andalannya sudah tidak ada lagi
di situ. "Kakekmu yang membawa senjata itu" jelas Barata Surya.
Suro garuk-garuk kepala lagi. "Sungguh
memalukan jika aku benar-benar hampir membu-
nuh guru sendiri." desis Suro Blondo geram.
"Bukan kau yang memalukan. Ratu Leak-
lah yang sengaja hendak mempermalukan kami"
ujar Barata Surya.
"Sebenarnya ada persoalan apa antara guru
dengan Ratu Leak hingga ia begitu bernafsu ingin membunuh guru?" Pendekar Blo'on bertanya dengan tatapan mata menyelidik.
"Mana aku tahu. Mendengar namanya saja
baru kali ini" jawab si kakek.
"Lalu sekarang aku berhutang nyawa den-
gan kakek ini? Bagaimana aku harus membalas
semua kebaikan ini?" tanya si konyol sambil garuk-garuk kepala.
"Untuk sementara waktu kau harus tinggal
di Lembah Nirwana ini Aku akan menjelaskan du-
duk persoalan yang sebenarnya pada kedua guru-
mu" tegas Manusia Tangan Biru. Tidak lama kakek renta ini mendekati Barata Surya. Seraya berbisik-bisik di telinga kakek berpakaian putih itu.
Barata Surya angguk-anggukkan kepala. Entah
apa yang dikatakan oleh Manusia Tangan Biru,
Suro tidak dapat mendengarnya. Yang jelas Peng-
hulu Siluman Kera Putih setelah itu bangkit berdi-ri dan bersiap-siap hendak pergi.
"Guru? Hendak kemana?" tanya Suro terheran-heran.
"Kau diam saja disini. Urusan di luar tam-
paknya bertambah gawat Kau tidak usah banyak
cing-cong, ikuti saja apa yang diperintahkan oleh kakek ini?" pesan Barata Surya.
"Mana bisa begitu Aku..." terlambat bagi pemuda ini, karena Penghulu Siluman Kera Putih
sudah melesat meninggalkan pintu depan.
"Diamlah kau di sini Hari ini hari istirahat untukmu. Nanti setelah itu ada rahasia besar yang akan kusampaikan padamu" kata Manusia Tangan Biru. Suro jadi ragu-ragu. Urusannya dengan
Ratu Leak membuatnya tidak dapat tenang. Tetapi
ketika melihat seorang gadis cantik luar biasa me-nyediakan makanan untuknya. Pendekar Blo'on
jadi terperangah.
"Bagaimana, tidakkah kau terima tawaran-
ku ini?" suara Si Bayang Bayang membuyarkan lamunan pemuda itu.
"Baiklah, mengingat budi baikmu rasanya
aku malu membantah" sahut Pendekar Blo'on.
Dalam hatinya berkata lain. "Siapa sih orangnya yang tidak sudi dilayani oleh gadis-gadis secantik bidadari?"
"Sekarang istirahatlah Nanti malam kau
akan melihat rahasia besar yang telah kukatakan
padamu itu" janji Si Bayang Bayang. Kakek renta itu kemudian meninggalkan Pendekar Blo'on seorang diri. Nah rahasia besar apakah yang akan
disampaikan oleh Manusia Tangan Biru? Siapakah
kakek setengah manusia setengah gaib ini? Apa
yang akan terjadi dengan Malaikat Berambut Api,
Mata Iblis, Manusia Topeng dan Datuk Nan Ga-
dang Paluih? Bagaimana pula dengan Ratu Leak?
Siapa yang dapat merampas Batu Lahat Bakutuk pangkal dari segala bencana itu?
orang gila yang bertaburan di kolong langit ini
Siapa kau...?" tanya Ratu Leak, suaranya melengking pertanda ia mencoba menahan kemarahannya.
Yang ditanya tidak segera menyahut, me-
lainkan memandang pada Dewi Kerudung Putih
dengan wajah merah. Kemudian berpaling pada
Ratu Leak dengan mata menyiratkan kemarahan.
"Kau perempuan, tetapi tindakanmu sung-
guh memalukan, keji dan dikutuk Sang Hyang Wi-
di. Mengingat kejahatanmu, rasanya sudah sepan-
tasnya hari ini aku mengakhiri segala petualan-
ganmu" dengus si laki-laki yang tidak lain adalah kepala negeri Sange, Wayan Tandira.
"Perempuan atau bukan, semuanya adalah
urusanku. Hei kunyuk, kau belum menjawab per-
tanyaanku" bentak Ratu Leak.
Wayan Tandira menggeram, inilah manusia
yang telah menyengsarakannya selama hampir tiga
puluh tahun. Bukan hanya dirinya saja yang ter-
siksa, hampir seluruh rakyatnya juga sengsara karena dikutuk menjadi batu oleh Ratu Leak.
"Urusanmu adalah kesengsaraan bagi kami,
Ratu Leak keparat Jika kau ingin tahu siapa aku
Cobalah kau ingat siapa orang-orangnya yang kau
kubur hidup-hidup tiga puluh tahun yang lalu di
tengah-tengah ruang bukit Kembar Tiga Terlak-
nat?" teriak Wayan Tandira tidak kalah kerasnya.
Ratu Leak sempat terkesiap, keningnya ber-
kerut dalam. Kejadian tiga puluh tahun yang silam di Bukit Kembar Tiga terlaknat (untuk lebih jelasnya dalam episode Batu Lahat Bakutuk) itu sudah hampir terlupakan olehnya. Jika hari ini tidak ada manusia akar itu yang mengingatkannya, tentu ia
melupakan kejadian tersebut.
"Hmm... rasanya aku pernah melakukan
kesenangan di Bukit Kembar Tiga Terlaknat. Kese-
nangan itu berupa pemendaman diri seorang pe-
mimpin negeri yang tidak mempunyai kebecusan
apa-apa berikut anak buahnya Lalu kau ini
apanya orang-orang yang kutanam itu? Sauda-
ranya, atau arwahnya yang gentayangan?" tanya Ratu Leak dengan sikap meremehkan sekali.
Wayan berjalan lebih mendekat lagi. "Aku
bukan saudara orang-orang itu, bukan juga arwah
yang penasaran" sahut Wayan. Seraya jentikkan tangannya, dari luar terdengar suara burung ga-gak. Mengertilah Ratu Leak siapa laki-laki itu dan mengapa pula arwah-arwah yang telah dibang-kitkannya tidak menyerang Wayan Tandira.
"Oho, rupanya kau pemimpin negeri Sange
Sungguh mengagumkan jika kau dapat bertahan
hidup hingga saat ini dan juga kelebihan baru berupa akar-akar yang mungkin tidak berguna Se-
karang apa maumu?" tantang Ratu Leak sinis.
Wayan Tandira tersenyum mencibir. "Mauku tidak lain hanyalah memenggal kepala busukmu. Karena hanya dengan itu masyarakatku bisa terbebas
dari kutukanmu" dengus Wayan Tandira.
"Hik hik hik Dengan apa kau hendak
menghadapi aku?" ejek Ratu Leak sengit.
"Tentu saja dengan kedua tanganku ini"
"Percuma Percayalah usahamu itu hanya
akan sia-sia saja" kata Ratu Leak penuh keyaki-
nan diri. Tiba-tiba orang ini angkat tangannya, lalu tangan yang lain memegang tengkorak. Tengkorak
itu diguncang-guncangkannya. Angin berdesir.
Wayan merasa ada sebuah kekuatan menerpa wa-
jahnya. "Kutukku... kutukku. Terkutuklah manusia akar yang berdiri di hadapanku itu menjadi ba-tu" teriak Ratu Leak.
"Pemimpin negeri" Dewi Kerudung Putih ti-ba-tiba berteriak memperingatkan. "Hati-hati, ku-tuknya mulai berjalan"
Peringatan itu memang cukup beralasan.
Wayan Tandira langsung dapat merasakan ada
udara dingin menembus batok kepalanya. Tetapi
pemuda ini malah tertawa ganda sambil usap
akar-akaran yang ada di dadanya. Sinar hitam se-
perti lintasan kilat melesat dan melabrak Ratu
Leak. Kutuk yang tengah berjalan itu langsung
musnah. Malah Ratu Leak sendiri sempat terjajar.
Ia seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Ratu Leak kembali gerakkan tengkorak di tangan
kanannya dengan satu sentakan kuat. Wayan ten-
tu tidak tinggal diam, ia kerahkan sepertiga dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Lagi-lagi terjadi satu keanehan. Seluruh akar-akar yang melibat tubuhnya mulai ujung kaki hingga sebatas
leher juga bagian tangannya memancarkan sinar
hitam hingga seluruh tubuhnya lenyap tertelan sinar hitam tersebut. Ratu Leak keluarkan seruan
tertahan. Terlebih-lebih ketika melihat gelombang sinar hitam melesat ke arahnya. Sambil melompat
mundur Ratu Leak hantamkan tangan kiri dan co-
ba selamatkan tengkorak bayi sumber kutukan di
tangan kanannya.
Wuut
Seleret sinar merah melesat ke arah gelom-
bang sinar hitam tersebut. Terjadi letupan kecil.
Dan ternyata pukulan yang dilepaskan Ratu Leak
musnah dilanda gelombang sinar yang memancar
dari akar-akar di tubuh Wayan. Sinar hitam itu terus melabrak tengkorak ditangan Ratu Leak. Ia sekuat tenaga hendak menyelamatkannya. Tetapi
sebagian sinar tersebut masih menyerempet ba-
gian pelipis tengkorak tersebut.
Krak
Tengkorak itu retak. Perempuan cantik ter-
sebut berseru kaget. Ia memandang ke arah
Wayan Tandira dengan sorot mata tajam dan pe-
nuh rasa tidak percaya. Secepatnya Ratu Leak ma-
sukkan kembali tengkorak itu.
"Percuma kau gunakan kutukmu, Ratu
Leak. Sekarang sedang musim hujan, dan kutuk-
mu tidak berlaku Berikan Batu Lahat Bakutuk,
batu yang menjadi penyebab sumber bencana itu"
perintah Wayan Tandira.
Sebagai jawaban Ratu Leak mendengus si-
nis sambil hantamkan pukulan 'Tusukan Jari
Penghantar Maut'. Angin kencang disertai hawa
dingin beracun bergulung-gulung. Menyadari ba-
haya serangan ini Wayan Tandira tutup pernafa-
sannya dan segera mengusap akar-akar yang be-
rada di bagian perut serta dadanya.
Wuust
Kembali sinar hitam meluncur kemudian
membentur sinar merah di tengah jalan. Terjadi
ledakan keras, Wayan terhempas ke dinding di be-
lakangnya. Ratu Leak sempat tergontai-gontai.
Ternyata benturan itu tidak menimbulkan luka ba-
rang sedikit pun bagi Wayan Tandira. Hal ini berkat akar-akar sakti yang melindungi dirinya. Teta-pi Ratu Leak yang cerdik mulai berpikir untuk
menghajar bagian kepala lawan yang tidak berpe-
lindung apa-apa. Untuk itu tanpa membuang-
buang waktu lagi, Ratu Leak segera pergunakan
jurus 'Tusukan Jari Penghantar Maut' yang ampuh
itu. "Hiyaa..."
Orang ini berteriak keras. Tubuhnya tiba-
tiba melesat ke depan. Wayan langsung menangkis
dengan siku kanannya. Tetapi Ratu Leak sudah
melambung lebih ke atas lagi. Lalu secepat kilat tangannya melesat menghantam leher.
Wuuss
Wayan terkesiap, untung ia masih sempat
merundukkan kepala. Walau pun begitu kulitnya
yang terserempet kuku Ratu Leak serta rambut
Wayan sempat terbabat putus.
Dapat dibayangkan betapa berbahayanya
andai kuku lawan tadi menghantam tenggorokan-
nya yang tidak terlindung akar-akar sakti tersebut.
Pemimpin negeri Sange segera melompat mundur
ke belakang dengan perasaan geram.
"Setan satu ini pandai menipu, dulu juga
aku bisa dicelakainya karena tipu muslihatnya
Kali ini jangan harap hal itu terjadi lagi" desis Wayan Tandira di dalam hati.
Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam ke
bagian tangan dan kakinya. Lalu sebelah kakinya
diangkat. Kedua tangannya direntangkan, sedang-
kan seluruh jemarinya yang terbalut akar-akar halus menguncup. Melihat ini Ratu Leak mengguman
pelan. "Hmm, jurus 'Kepakan Burung Gagak
Membelah Malam' memang jurus baru yang boleh
kau banggakan. Tapi sebelum itu kau rasakanlah
pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Jiwa'" teriak Ratu Leak. Tiba-tiba secepat kilat ia hantamkan kedua tangannya tegak lurus ke arah Wayan.
Tetapi lawan ternyata sudah sampai di depan hi-
dungnya. Gerakan memukul yang dilakukan Ratu
Leak berubah jadi gerakan menangkis.
Dukkk
Splak
Keduanya sempat terhuyung, Ratu Leak
maju lagi ke depan sambil lepaskan tendangan
menggeledek. Merasakan adanya sambaran angin
yang cukup keras. Maka Wayan Tandira tekuk lu-
tutnya. Ratu Leak sudah tidak sempat menarik
pulang tendangannya.
Bletak
"Aukh... Akh..."
Ratu Leak menjerit keras sambil melompat
terpincang-pincang. Kakinya yang membentur
akar-akaran di bagian lutut Wayan langsung
membiru, bengkak dan rasa seperti putus. Hal ini benar-benar diluar dugaannya sama sekali. Sebab
ia telah mengaliri kakinya dengan tenaga dalam.
Tapi ternyata akar-akar aneh itu sungguh me-
nyimpan suatu kekuatan yang luar biasa.
"Ratu Leak manusia paling jahanam Kupe-
ringatkan sekali lagi padamu untuk menyerahkan
tengkorak sarana kutukan dan Batu Lahat Baku-
tuk padaku" teriak Wayan. Peringatan ini hanya membuat Ratu Leak menjadi murka. Ia meludah.
"Ilmu sedikit sering membuat orang besar
kepala Wayan Tandira manusia keparat Jika kau
terbungkus akar-akar keparat itu sekujur tubuh-
mu Aku Ratu Leak tidak kehabisan akal dan cara
untuk membuatmu mampus Jangan kau besar
kepala? Karena aku yakin mulai dari bagian leher hingga sampai ke ujung rambut di kepalamu tidak
kebal apa-apa Hea..." Sambil berteriak keras. Ra-tu Leak tiba-tiba saja lepaskan pukulan 'Liang
Hantu Penebus Kutuk'. Angin api menyambar ga-
nas ke arah Wayan Tandira. Laki-laki gondrong ini kerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya
untuk membangkitkan kekuatan yang terkandung
dalam akar-akar sakti itu.
"Huuuuu..."
Tiba-tiba saja terdengar suara gaung pan-
jang. Angin api yang dikirim Ratu Leak bagaikan
air bah melindas apa saja yang terdapat di depannya. Dari pihak Wayan Tandira yang siap menya-
bung nyawa melesat sinar hitam disertai hawa
dingin bukan alang kepalang. Dua kekuatan yang
memiliki dua sifat beda ini saling tindih menindih.
Dalam hal ini yang tersiksa justru Dewi Kerudung Putih yang dalam keadaan nyaris telanjang bulat.
Ia sama sekali tidak kuasa mengerahkan tenaga
dalam untuk melindungi diri dari pengaruh dua
kekuatan antara panas dan dingin tersebut. Aki-
batnya tubuhnya seperti terpanggang, atau dilain waktu terasa sangat dingin menusuk. Dewi menge-rang kesakitan. Demikian hebatnya siksaan yang
harus diterimanya ini, hingga membuat gadis ini
terkulai tidak sadarkan diri.
Sementara itu Angin Api dan Angin Es yang
bersumber dari masing-masing lawan terus saling
himpit dan saling dorong. Wayan Tandira terus
menerus lipat gandakan tenaga dalamnya. Hingga
akar-akar sakti itu tiada henti memancarkan sinar bergulung-gulung saling tumpang tindih. Ratu
Leak mulai terdorong, tapi sebentar kemudian bi-
bir Ratu Leak yang merah merekah keluarkan si-
ulan panjang yang tidak menentu. Di kejauhan
terdengar suara sayup-sayup yang seakan datang
dari dalam kubur dan juga jurang neraka.
"Kami akan membantu"
Bersamaan dengan terdengarnya suara tadi.
Tiba-tiba Wayan merasa ada sesuatu yang me-
nyambar dan turut mendorong dari arah lawan.
Akibatnya....Breees
"Wuuukh"
Tidak ampun lagi Wayan Tandira terlempar
dan terhantam sebagian angin api milik lawannya.
Bagian rambut dan juga sebagian wajah pemimpin
Sange ini sempat terjilat api. Bagian badan malah sempat terbakar. Tapi bagian-bagian yang terbalut akar sakti itu tidak mengalami luka sedikitpun.
Sebenarnya keadaannya tidaklah begitu parah an-
dai bukan bagian kepalanya terlebih dulu yang
membentur dinding.
Wayan Tandira sang pemimpin Sange men-
gerang. Ia ingin bangkit, akan tetapi pandangan
matanya berkunang-kunang, kepalanya yang ben-
jut sakit mendenyut dan seperti dikemplangi palu.
Kini suara tawa kemenangan Ratu Leak pun ba-
ginya sudah tidak beda dengan suara jeritan hantu di neraka.
"Kau tidak dapat membuktikan ucapanmu
Malah kini kau harus mampus di tanganku Sung-
guh menggenaskan jalan hidupmu. Sudah sengsa-
ra seumur-umur, kini harus mati secara tersiksa"
dengus Ratu Leak. Perempuan itu kemudian men-
gangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Matanya
sama sekali tidak berkesip, sedangkan kedua tan-
gan Ratu Leak mula-mula memancarkan sinar me-
rah, sinar merah lalu berubah memutih, setelah
itu berubah pula menjadi hitam legam. Tidak salah lagi, betina jahat ini sudah siap melepaskan pukulan 'Sabda Orang-Orang Dalam Kutukan'.
Tampaknya nyawa pemimpin negeri Sange
itu benar-benar seperti telur di ujung tanduk. Dalam keadaan setengah kelenger begitu mana
mungkin Wayan dapat menjaga keselamatan di-
rinya. Apalagi ketika itu Ratu Leak mengincar bagian kepala Wayan.
"Mampuslah kau hari ini, pemimpin konyol
Hiyaaa..." Ratu Leak dorongkan kedua tangannya ke bagian kepala Wayan Tandira. Agaknya kepala
itu sekejap lagi langsung hancur. Namun ternyata dalam keadaan yang sangat kritis itu melesat sosok serba putih menyambar tubuh Wayan dan
membuangnya ke tempat yang aman.
Pukulan 'Sabda Orang-Orang Dalam Kutu-
kan' menghantam dinding Pura hingga hancur
menjadi serpihan debu yang berterbangan. Ada se-
ruan kaget di samping kanan Ratu Leak. Lalu ter-
dengar pula suara tawa, suara tawa lenyap dan
berganti dengan caci maki seseorang.
TIGA
Pabila Ratu Leak memandang ke arah sosok
yang telah menyelamatkan Wayan Tandira. Maka
di sana telah berdiri seorang laki-laki jangkung berpakaian putih selempang putih. Kejut hati Ratu Leak bukan alang kepalang.
Sementara itu Datuk Nan Gadang Paluih
memandang pada Wayan sambil membatin. "Se-
panjang jalan ia menumpang di kudaku. Turun
sebentar meninggalkan aku dengan alasan ingin
kencing, tidak tahunya ia minggat ke sini sendiri untuk menghadapi musuh bebuyutannya. Dasar
serakah"
"Berani lancang kau mengganggu urusan
orang lain Tampangmu rasanya sudah pernah
kukenal" bentak Ratu Leak.
"Memang, kau tentu saja mengenalku. Ka-
rena kau bangsat pencurinya Sekarang cepat kau
kembalikan Batu Lahat Bakutuk padaku Atau
aku akan mencincang tubuhmu hingga tidak ber-
bentuk lagi??" teriak Datuk Nan Gadang Paluih tidak kalah kerasnya.
Ratu Leak tertawa-tertawa terkikik-kikik.
"Dengan apa kau akan membunuhku Aku sama
sekali tidak melihat kemungkinan jalan hidup ba-
gimu selama Batu Lahat Bakutuk ada di tangan-
ku" ejek Ratu Leak.
"Benda itu hanya menimbulkan malapetaka
bila berada di tangan orang-orang sepertimu Ce-
pat serahkan budak ketek"
Rasanya percuma saja Datuk Nan Gadang
Paluih memberi peringatan. Orang seperti Ratu
Leak mana kena digertak.
"Datuk Nan Gadang Paluih Jika dulu aku
mencuri Batu Lahat Bakutuk yang mengandung
berbagai keanehan dan kesaktian ini. Apa salah-
nya jika hari ini aku mencuri nyawamu? Hi hi
hi..." "Kesalahanmu sudah bertumpuk. Malaikat sudah bosan menghitung dosamu. Tidak ada pilihan dan jalan lain bagiku terkecuali menempurmu
demi Batu Lahat Bakutuk" teriak Datuk Nan Gadang Paluih. Laki-laki ini tampaknya memang su-
dah hilang kesabarannya.
Tanpa menghiraukan Wayan Tandira yang
mulai sadar dari pingsannya. Tanpa memperduli-
kan Dewi Kerudung Putih yang dalam keadaan se-
tengah telanjang. Datuk Nan Gadang Paluih lang-
sung rangkapkan kedua tangannya. Detik itu juga
terlihat ada selarik sinar melesat ke arah Ratu
Leak. Perempuan itu langsung melompat meng-
hindar ketika merasakan sapuan angin panas me-
landa dirinya.
"Wuus
Buuuum
Serangan Datuk Nan Gadang menghantam
dinding belakang Pura. Dinding itu hancur. Batu-
batunya menjadi serpihan debu. Itulah salah satu pukulan dahsyat yang oleh pemiliknya diberi nama
'Mengungkit Gunung Membalik Bukit'. Ratu Leak
leletkan lidah. Wajah perempuan itu sempat me-
mucat. Ia pernah mendengar kehebatan salah satu
tokoh dari Andalas ini. Dulu sama sekali ia belum pernah berhadapan dengannya mengingat setelah
mencuri Batu Lahat Bakutuk ia langsung melari-
kan diri. Namun Ratu Leak adalah manusia yang
penuh dengan rasa percaya diri. Apa lagi mengin-
gat kini Batu Lahat Bakutuk ada di tangannya.
"Pukulanmu boleh juga, rambut putih" ejek Ratu Leak. Sekejap kemudian Ratu Leak sudah
melesat ke depan dan lepaskan tendangan berun-
tun sementara kedua tangannya yang berkuku
panjang itu mencengkeram wajah Datuk Nan Ga-
dang. Kedua serangan yang dilancarkan oleh Ratu
Leak sama berbahaya. Datuk Nan Gadang tidak
mundur ke belakang atau melompat ke samping,
melainkan melesat ke udara sedangkan tinjunya
menghantam bahu.
Wuut
Melihat dirinya terancam, Ratu Leak gerak-
kan tangannya yang mencengkeram menjadi gera-
kan menangkis. Benturan, tidak dapat dihindari
lagi. Ratu Leak sempat terhuyung-huyung. Se-
dangkan lawannya hanya tergetar saja, walau pa-
tut diakui tangan yang membentur tangan lawan
tadi terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk. Ini merupakan pertanda bahwa tenaga dalam Datuk Nan
Gadang Paluih berada beberapa tingkat di atas lawannya.
Melihat kenyataan ini Ratu Leak tidak ting-
gal diam. Ia menyerang lawannya dengan jarak
yang cukup dekat sekali. Tubuhnya berkelebat
laksana walet menyambar-nyambar di atas air. La-
lu serangkaian jotosan dilancarkannya. Angin
menderu. Lawan cepat menundukkan kepala, se-
hingga serangan itu lolos di atas kepala. Begitu serangan Ratu Leak luput, tangan lawan menyambar
ke arah pinggang dimana Batu Lahat Bakutuk di-
perkirakan berada disitu. Ratu Leak tidak bodoh, ia liukkan pinggulnya. Lalu dengan jurus 'Tusukan Jari Penghantar Maut' ia menyodok tenggorokan
lawan. Jika penglihatan Datuk Nan Gadang tidak
jeli, dapat dipastikan tenggorokan laki-laki itu bolong. Datuk Nan Gadang berguling-guling. Dalam
kesempatan itu ia lepaskan pukulan 'Di Balik Ku-
bur Mayat-Mayat Merintih'. Sesaat setelah Datuk
Nan
Gadang dorongkan kedua tangannya. Maka men-
deru hawa panas luar biasa ke arah lawan. Jarak
di antara mereka sangat dekat sekali. Sehingga Ra-tu Leak tidak sempat lagi selamatkan diri.
Blaar
Ratu Leak menjerit keras, tubuhnya terpe-
lanting dan menghantam dinding di belakangnya.
Tampak jelas ia menderita luka dalam, walau tidak parah tapi cukup mengganggu kosentrasinya.
Sementara itu Wayan Tandira sudah me-
langkah mendekati Dewi Kerudung Putih untuk
membebaskan totokan di tubuhnya. Sebelumnya
laki-laki gondrong ini membetulkan pakaian si gadis yang anak-acakan. Begitu dirinya terbebas De-wi langsung menjerit.
"Aku harus membunuhnya"
Wayan menahan bahu di gadis sambil se-
raya berkata. "Jangan kau usik Datuk Nan Gadang. Urusannya dengan Ratu Leak adalah per-
soalan besar yang tidak dapat dianggap main-
main" "Aku juga telah dibuatnya malu Aku bahkan meragukan ia seorang perempuan sejati" teriak Dewi Kerudung Putih marah.
"Maksudmu?" desis Wayan Tandira tidak
mengerti.
"Kita baru saja mengetahui kelaminnya pe-
rempuan atau laki-laki jika aku telah berhasil
membunuhnya" sahut si gadis sengit.
"Hal itu sudah kulakukan. Hasilnya seperti
yang kau lihat. Aku hampir mampus ditangannya.
Kau atau aku bukan tandingannya Lagipula apa
nanti kata orang-orang aliran sesat jika kita men-geroyok Ratu Leak?"
Sadar akan kebenaran kata-kata yang di-
ucapkan Wayan Tandira. Dewi Kerudung Putih
terpaksa telan kembali kemarahannya bulat-bulat.
Mereka segera menyingkir ke tempat yang aman.
Sementara itu pertempuran sengit antara
Datuk Nan Gadang Paluih dan Ratu Leak sudah
mencapai puncaknya. Datuk Nan Gadang bebera-
pa kali sempat dihajar oleh Ratu Leak dengan
mempergunakan tengkorak bayinya. Tetapi lawan
juga berhasil mencidrai Ratu Leak dengan Angkin
Sakti Pelebur Petaka.
Dalam pertempuran yang telah berlangsung
hampir enam puluh lima jurus itu. Ratu Leak tiba-tiba bersuit keras.
"Hang..."
Terdengar suara sahutan di kejauhan Lalu
Datuk Nan Gadang Paluih tiba-tiba merasakan ada
hawa dingin mendorongnya dengan keras hingga
membuat pernafasannya jadi sesak dan jalan da-
rah di tubuhnya jadi kacau.
"Dasar iblis Kau mengerahkan pembantu-
pembantumu dari alam gaib" teriak tokoh dari Andalas ini sambil terhuyung-huyung. Kemudian
laki-laki itu berteriak keras entah ditujukan pada siapa. "Jangan cuma menonton, sesuatu yang tidak terlihat adalah bagianmu"
Dari luar terdengar ringkikan keras. Dind-
ing-dinding ruangan bergetar, terguncang, lalu
hancur di sana sini. Dari balik kegelapan hujan
muncul kuda putih dengan tinggi tidak terkirakan.
Kuda itu berputar-putar mengelilingi Datuk Nan
Gadang. Sementara moncongnya membuka, bila
moncong kuda mengatup kembali maka terdengar
jerit kesakitan. Ternyata Si Putih Kaki Langit kuda alam gaib itu sedang bertarung dengan makhluk-makhluk dari alam lelembut yang mencoba mem-
bantu Ratu Leak.
Tentu saja dengan kehadiran Si Putih Kaki
Langit yang dapat membesar dan meninggi diluar
kelaziman kuda-kuda pada umumnya membuat
pertempuran antara Ratu Leak dan lawannya ter-
henti. Satu demi satu makhluk-makhluk alam
gaib itu dibantai oleh Si Putih Kaki Langit. Kesempatan ini dipergunakan oleh Ratu Leak untuk me-
larikan diri.
"Lihat" seru Dewi Kerudung Putih.
Sebaliknya Wayan Tandira tanpa bicara
langsung lepaskan pukulan 'Cambuk Neraka' saat
melihat lawan melesat meninggalkan kalangan
pertempuran. Ratu Leak tertawa mengikik dan ki-
baskan tangannya ke belakang.
Buuum
Terjadi ledakan, Wayan sempat terdorong
mundur dan nyaris terhantam pukulannya sendiri
yang membalik. Serentak dengan perginya Ratu
Leak, maka sisa-sisa makhluk alam gaib pun ikut
melarikan diri pula.
"Cukup Putih Kaki Langit Percuma saja,
bangsat itu sudah pergi" seru Datuk Nan Gadang Paluih. Putih Kaki Langit meringkik keras, seakan-akan ia menjadi marah pula melihat musuh tuan-
nya melarikan diri.
"Bagaimana Datuk" tanya Wayan yang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Hmm, seberapa luas Tanah Sange ini?"
tanya Datuk Nan Gadang Paluih pula dengan
jengkel.
"Tidak seberapa luas, Datuk" jawab si gondrong. "Kalau pun Sange seluas laut dan seluas daratan. Ratu Leak tidak akan pernah lolos untuk
yang ketiga kalinya dari tanganku"
"Aku berharap penderitaan rakyatku segera
berakhir. Apa saranmu?" tanya si gondrong.
"Ratu Leak tidak akan keluar dari Sange ini dalam keadaan hidup Sekarang kita kejar dia" perintah Datuk Nan Gadang Paluih. Seraya menoleh
ke arah Si Putih Kaki Langit yang kini sudah kembali ke dalam ujud kuda biasa. Bila Datuk berpaling pada Dewi Kerudung Putih. Maka gadis itu su-
dah tidak ada lagi ditempatkan. "Kemana dia?"
"Mungkin dia malu bersama kita Sebaiknya
tidak terjadi sesuatu yang lebih memalukan lagi
padanya" sahut Wayan.
"Anak dara memang begitu Tapi bila ia su-
dah menjadi seorang etek (bibik). Mengeluarkan
kedua teteknya di depan umum pun dia tidak
akan malu-malu lagi" ucap Datuk Nan Gadang Paluih. "Manusia akar, kuharap jangan bertindak bodoh lagi. Dengan berpura-pura kencing tidak tahunya kau hampir mampus di tangan si keparat
Ratu Leak"
"Tidak-tidak lagi, Datuk" jawab Wayan sambil tersenyum. Keduanya kemudian melompat
ke atas punggung Putih Kaki Langit. Dengan sekali hela, kuda pun melesat laksana kilat.
***
Lembah itu ditumbuhi dengan bunga-bunga
liar yang menebarkan bau harum semerbak. Wa-
lau pun hanya bunga-bunga liar yang tumbuh
subur di sana. Akan tetapi cukup indah dipandang mata. Pada musim-musim dingin seperti sekarang
ini banyak kumbang dan kupu-kupu bersayap in-
dah hadir disana untuk menghirup sari dan ma-
dunya. Begitu indah dan harumnya tempat itu
hingga banyak orang yang menamakannya dengan
Lembah Nirwana. Nirwana itu sendiri bisa ber-
makna surga atau keindahan. Tidak jelas siapa
yang mendiami lembah itu, namun pada saat bu-
lan purnama penuh selalu terdengar suara orang
bersenandung. Suaranya terdengar begitu merdu
diselingi suara kecapi yang mendayu-dayu. Pulu-
han tahun silam ada juga beberapa orang dari
rimba persilatan yang tergolong punya keberanian tinggi menyelidiki lembah tersebut. Namun tidak
seorang pun di antara mereka ada yang kembali ke dunia ramai.
Padahal menurut seorang pengembala, ia
pernah melihat puteri-puteri cantik berpakaian
kuning sedang berjalan-jalan memetik bunga. Pen-
gembala tersebut entah karena sebab apa tidak
lama kemudian menderita sakit gila. Itulah sebabnya Lembah Nirwana menjadi daerah terlarang
dan konon dihuni oleh para Peri dan bidadari si-
luman. Tidak seorang pun yang dapat membukti-
kannya. Yang jelas ketika itu dalam jarak yang
agak jauh dari Lembah tampak seorang laki-laki
sedang memanggul sosok tubuh berpakaian serba
biru. Kakek berwajah hitam ini tampaknya baru
saja melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Orang ini sambil terus memanggul pemuda baju
biru tampak menyeka keringat yang meleleh mem-
basahi wajahnya. Sampai di bawah sebatang po-
hon yang besar ia letakkan bawaannya. Seraya
menelentangkan Suro Blondo yang dalam keadaan
tertotok di atas rumput liar. Untuk lebih jelasnya apa yang terjadi pada Pendekar Blo'on sebelumnya (dalam episode Nagari Batas Ajal). Suro yang dalam keadaan tertotok itu cuma dapat melotot me-
nyaksikan apa yang akan dilakukan oleh kakek
berambut riap-riapan ini. Hanya itu yang dapat dilakukannya, karena jalan suara Pendekar Blo'on
pun dalam keadaan tertotok. Untuk diketahui
waktu itu Suro yang berhasil ditundukkan oleh
Ratu Leak dengan cangkir Tengkorak Pelumpuh
akal Pelemah Jiwa. Telah diperalat oleh perem-
puan itu untuk membunuh kedua gurunya sendi-
ri. Dalam perkelahian yang sengit, Suro yang telah memperoleh bekal ilmu kesaktian dari Ratu Leak
ternyata dapat dikalahkan oleh Malaikat Berambut Api dan tertotok pula, meskipun kakeknya dapat
dilukai. Dalam keadaan seperti itulah muncul ka-
kek baju hitam berambut awut-awutan ini dan
langsung melarikannya.
"Aku ingin melihat tiga tanda-tanda di tu-
buhnya Bersusah payah aku melarikan bocah ini
dari kedua gurunya. Aku tidak ingin gagal" batin tokoh aneh ini. Seraya segera melepaskan pakaian Suro, hingga pemuda itu nyaris telanjang. Hawa
kemarahan membuncah di dalam dada Pendekar
Blo'on. Karena pemuda itu dalam keadaan terto-
tok, maka si kakek tidak menghiraukannya.
"Hmm, rambutnya berwarna kemerah-
merahan. Satu pertanda bila ia sampai pada pun-
cak pengerahan tenaga dalam rambut ini akan
berwarna merah seperti bara. Kulitnya juga ber-
warna putih. Tapi aku harus tahu apakah di tu-
buhnya terdapat tompel?" batin si kakek. Seraya membalikkan tubuh Suro, melihat ke bagian
punggung. Maka terkejutlah kakek berambut
awut-awutan ini. Di punggung Suro terdapat se-
buah tompel besar berwarna hitam. "Dia benar-benar pemuda ajaib itu? Tetapi di mana letak kea-jaibannya? Tompel ini adalah bawaan sejak lahir, ia merupakan kekuatan alami yang dapat menolak
sihir, teluh dan racun. Tapi mengapa ia dalam
keadaan begini?" desis si kakek. Ia segera memeriksa bagian pelupuk mata Pendekar Blo'on. Me-
mandang ke bagian bola mata yang hitam sekejap,
lalu tubuhnya tergetar hebat.
"Pantasan Sungguh aku baru mengerti. Ke-
kuatan alami yang dimilikinya mustahil mampu
melenyapkan racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa
Inilah sebabnya ia bermaksud membunuh gu-
runya sendiri. Pastilah ini perbuatan si terkutuk Ratu Leak Racun itu belum ada pemunahnya di
kolong langit ini Ratu Leak sendiri aku yakin tidak punya obat penawar racun itu. Sungguh perbuatan yang keji, dia punya dua pilihan licik. Pertama jika rencana pertama gagal, berarti rencana kedua berjalan dengan mulus. Bagaimana menghilang-kan racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa yang
mengeram di tubuhnya? Kurasa sulit juga men-
gembalikan kesadaran dan ingatan-ingatannya
yang dulu Aku harus membawa pemuda ini ke
tempat tinggalku Lembah Nirwana..." kakek berbaju hitam itu akhirnya memutuskan. Ia segera
memanggul Pendekar Mandau Jantan kembali.
Kemudian secepat angin ia bergerak menuju Lem-
bah Nirwana yang terletak tidak begitu jauh da-
rinya.
***
Hanya beberapa menit saja kakek aneh
yang melarikan Pendekar Blo'on itu berlalu. Mun-
cullah dua sosok bayangan. Yang satu berpakaian
serba putih sedangkan yang satunya lagi berpa-
kaian merah berambut merah. Mereka tidak lain
adalah Malaikat Berambut Api dan Penghulu Si-
luman Kera Putih. Kedua kakek tua ini tiba-tiba
hentikan langkahnya.
"Tadi aku sempat melihat ia berhenti di si-
ni" seru Barata Surya alias Penghulu Siluman Ke-ra Putih.
Dewana atau yang lebih dikenal dengan ge-
lar Malaikat Berambut Api tidak segera menjawab.
Ia berjalan mondar-mandir di depan Penghulu Si-
luman Kera Putih, sementara cuping hidungnya
kembang kempis seakan mengendus sesuatu.
"Kau tahu siapa orang yang telah melarikan
murid kita tadi?" tanya kakek Dewana. Sorot mata kakek rambut merah ini tampak tajam berwibawa
juga menyimpan kedongkolan yang sangat.
"Jarang sekali ada tokoh yang memiliki ilmu lari lebih cepat dariku. Aku tidak dapat menduga
siapa dia" jawab Penghulu Siluman Kera Putih tanpa ragu-ragu.
"Kita berdiri tidak jauh dari Lembah Nirwa-
na. Kau ciumlah bau harum yang semerbak ini.
Lembah itu konon tidak bertuan. Tapi kira-kiranya aku sudah tahu. Siapa orangnya yang dapat berlari melebihi kecepatan suara dan berjalan di atas kecepatan angin" ujar Malaikat Berambut Api.
Wajah si kakek langsung berubah muram.
"Si Bayang Bayang Itukah yang saudara
maksudkan" seru Barata Surya dengan mata
mendelik.
EMPAT
Wajah di depan Barata Surya semakin ber-
tambah muram bahkan terkesan sedih. Seraya ge-
lengkan kepala berulang-ulang.
"Nama itu tidak ubahnya sebuah legenda
yang dipercayai oleh masyarakat banyak. Apakah
Si Bayang Bayang alias si Tangan Biru memang
ada?" tanya Barata Surya.
"Sudah tua begini aku sesungguhnya ma-
lu... aku malu... Segala yang kumiliki tidak bertambah, berkurang malah. Orang tua hanya ama-
rah dan pikunnya saja yang bertambah. Si Bayang
Bayang memiliki ilmu yang tidak dapat dijajaki.
Dia setengah manusia dan setengah gaib Satu
yang merisaukan hatiku, apa maksud dan tujuan-
nya menculik murid kita? Padahal anak itu seka-
rang telah kehilangan segala-galanya? Yang lebih
menyedihkan lagi ada kekuatan lain yang menge-
ram dalam dirinya. Kita seharusnya mengenyah-
kan kekuatan asing itu Tapi bagaimana hal itu
dapat kita lakukan? Suro tidak berada bersama ki-ta" keluh Malaikat Berambut Api.
"Ya... ini memang merisaukan aku juga.
Bertemu dengan Si Bayang Bayang aku sendiri be-
lum pernah. Apakah manusia setengah gaib itu
benar-benar ada, atau hanya kabar angin saja.
Alangkah memalukan jika kita cuma berpangku
tangan. Menurutmu, saudara. Apakah tidak lebih
baik kita mencari bocah konyol itu di lembah tersebut??"
"Aku dengar batas lembah dijaga ketat oleh
murid-murid Si Bayang Bayang. Selain itu Lembah
Nirwana terlindung tabir gaib berlapis-lapis. Terkecuali sebangsanya Siluman, manusia seperti aku
tidak mungkin menembusnya" jelas Malaikat Berambut Api. Yang dalam hal kesaktian memiliki
derajat tiga atau empat tingkat di atas Penghulu Siluman Kera Putih.
"Lalu..." tanya Barata Surya sambil ketuk-ketuk keningnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Bodoh Mengapa menunda-nunda waktu
lagi. Bukankah lebih baik jika kau menyelidik ke dalam lembah itu?" dengus Malaikat Berambut Api. Si kakek rambut putih tertawa geli dalam hati.
Dewana menurutnya adalah orang yang mahal se-
nyum. Sikapnya selalu serius, tatapan matanya
berwibawa. Itu mungkin yang membuat tokoh-
tokoh lain baik dari aliran hitam maupun putih
menjadi segan kepadanya. Lain lagi dengan dirinya
yang ugal-ugalan.
"Baiklah, aku mohon saudara mau melin-
dungiku bila sesuatu yang tidak diingini terjadi"
pesan Penghulu Siluman Kera Putih setengah ber-
gurau. "Buat apa?" sahut Dewana. "Aku muak melihat tampangmu, aku tidak akan sedih bila kau
mampus di lembah itu" dengus Malaikat Rambut Api. Barata Surya hanya termonyong-monyong
sebentar. Tiba-tiba ia pejamkan matanya. Sedang-
kan bibir kakek berpakaian putih itu tampak ber-
kemak-kemik.
Pyaaar
Sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi pada
kakek siluman kera itu. Tubuhnya tiba-tiba raib
dan berubah menjadi cahaya putih berpedar-
pedar. Cahaya itu kemudian melesat ke arah lem-
bah. Sampai di perbatasan lembah, cahaya putih
itu seakan membentur sebuah tembok hingga
membuatnya membalik. Melesat ke depan lagi,
kemudian membalik lagi. Malaikat Berambut Api
kerutkan keningnya. Sekarang ia baru percaya
bahwa Lembah Nirwana memang dilindungi oleh
tabir gaib sebagaimana pernah diceritakan oleh tokoh-tokoh rimba persilatan di masa lampau. Ca-
haya putih itu kemudian bergerak mundur dalam
jarak sejauh dua batang tombak. Tidak lama ca-
haya itu bergerak melesat ke depan dengan kece-
patan yang sungguh luar biasa.
Brang
Prak Prak
Terjadi ledakan disertai dengan terdengar-
nya sesuatu yang pecah. Sinar putih lenyap. Ma-
laikat Berambut Api merasa yakin Barata Surya
sudah mampu menembus tabir gaib yang pertama.
Tapi apa yang terjadi kemudian di tengah-tengah
alam lembah yang terbungkus tabir gaib itu?
Cahaya putih yang merupakan penjelmaan
Penghulu Siluman Kera Putih menjumpai kesuli-
tan lain. Di tengah-tengah alam lembah itu ternya-ta ia mendapati tabir lain yang lebih kuat dan kokoh. Penghulu Siluman Kera Putih mencoba
menghancurkan tabir gaib kedua. Tetapi walau
pun ia telah mengerahkan lebih dari setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya. Ia tidak kuasa
memporak-porandakan tabir gaib kedua.
Ini merupakan suatu pertanda bahwa sia-
papun yang menciptakan tabir gaib yang berlapis-
lapis itu pastilah memiliki ilmu sakti lain yang tidak dimiliki oleh Penghulu Siluman Kera Putih.
Cahaya putih itu pun akhirnya hanya berputar-
putar di luar tabir gaib kedua.
"Aku harus mempergunakan ilmu
'Menyusup Cahaya'" pikir Penghulu Siluman Kera Putih yang dalam keadaan terbungkus sinar tersebut. Dengan cepat sekali ia memusatkan kosentra-
si pada bagian matanya.
Tweeeeng
Walau ia terhalang oleh tabir gaib, tapi tata-
pan matanya mampu menembus ke dasar lembah.
Ternyata selain tabir kedua, masih ada lagi tabir ketiga, keempat dan ke tujuh. Bukan main, jika Si Bayang Bayang memang benar ada. Beliau pasti
merupakan tokoh sakti yang memiliki kepandaian
di atas sempurna.
"Ini benar-benar sangat luar biasa. Di atas langit masih ada langit Padahal di atas atap ru-mahku sudah tidak ada lagi atap yang lain." desis Barata Surya. "Apa kata Malaikat Berambut Api ji-ka ia melihat kejadian yang aneh ini? Aku melihat sebuah bangunan sederhana di tengah-tengah
lembah itu. Dan yang di sebelah sana itu, eh... ada gadis-gadis cantik yang sedang mandi telanjang"
Sosok yang terbungkus cahaya putih itu kedip-
kedipkan matanya. "Bukan itu yang kumaksud-
kan. Aku harus tahu apakah bocah konyol itu ada
di lembah ini" Penghulu Siluman Kera Putih kembali memusatkan perhatiannya dalam pengerahan
ilmu 'Menyusup Cahaya'. "Oho... itu dia Suro terbaring di atas ranjang bodol Kaki dan tangannya dalam keadaan terikat. Siapa yang mengikatnya?"
Barata Surya mencari-cari. "Hhh... aku melihat orang tua, tapi tubuhnya tidak begitu jelas Ia seperti bayang-bayang. Inikah orangnya yang berju-
luk Si Bayang Bayang? Apa yang akan dilakukan-
nya terhadap Suro? Eeeh... ia memegang pedang
Gila... Awas jika dia sampai berani membunuh
Suro Aku akan mengerahkan seluruh siluman un-
tuk mencincang tubuhnya" geram Barata Surya bimbang. Cahaya putih itu kemudian mondar-mandir di luar dinding tabir kedua. Karena merasa penasaran sekali. Ia kembali mengerahkan ilmu
'Menyusup Cahaya' untuk melihat kejadian selan-
jutnya. Kakek tua berambut putih tiba-tiba saja
belalakkan matanya lebar-lebar. Ia usap wajahnya
yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ketika bicara getaran suaranya jelas tidak kuasa menutupi rasa
kejut di hatinya.
"Mengapa di bawah lapisan-lapisan tabir ini tiba-tiba saja diselimuti kabut tebal? Ilmu
'Menembus Cahaya' yang kumiliki seakan tidak
berguna dan tidak dapat lagi menembus rumah di
tengah lembah. Apa yang akan dilakukan oleh ka-
kek tua yang ujudnya seperti bayang-bayang itu?"
desis Barata Surya. "Aku harus menghajar tabir celaka ini dengan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar" Dan cahaya putih itu melesat mundur. Ada pijaran-pijaran aneh memancar dari ca-
haya itu hingga sinarnya menjadi terang bende-
rang. Namun sebelum kakek sakti itu sempat me-
lepaskan pukulan dahsyat yang dimilikinya tiba-
tiba terdengar suara bisikan gaib sayup-sayup di kejauhan.
"Sudah berani kau menghancurkan tabir
gaib pertama. Sekarang kau hendak berani-
beranian menghancurkan tabir gaib yang kedua
Cobalah jika kau ingin celaka"
"Setan" maki Barata Surya dengan bibir cemberut. "Jangan berani-berani menakuti aku.
Aku datang ke sini hendak menjemput murid kami
yang telah kau culik" tegas si kakek.
"Jangan banyak bicara Aku bukan mencu-
liknya, cuma meminjam untuk beberapa waktu
lamanya. Ada oleh-oleh yang akan kuhadiahkan
padanya Cuma sayang..." Suara dalam gaib itu tidak melanjutkan ucapannya. Penghulu Siluman
Kera Putih jadi gelisah.
"Ada apa rupanya? Yang aku tahu muridku
itu sekarang sedang dikuasai pengaruh Ratu Leak, ia juga kehilangan kesaktiannya Kami akan berusaha membuatnya sadar. Untuk itu berikan Suro
padaku secepatnya" perintah Barata Surya setengah memaksa.
"Ha ha ha... Penghulu Siluman Kera Putih
Tidak kuragukan kehebatanmu dan ketinggian il-
mu Malaikat Berambut Api. Tapi perlu kau tahu,
Racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa yang ada da-
lam tubuh muridmu sukar dicari obatnya Aku se-
karang sedang memerintahkan kedua muridku
untuk mencari Bunga Arum Dalu..."
"Bunga Arum Dalu??" seru Barata Surya
kaget. "Bukankah bunga itu dijaga oleh Ular Kepala Empat? Dan letaknya pun sulit dijangkau ma-
nusia." "Memang Bahkan akan selalu ada korban bila bunga itu diambil. Biasanya orang yang berani mengambil itulah yang akan jadi korban sebagai
salah satu isyarat penebusan" jelas suara bisikan tersebut.
"Siapa yang merelakan nyawanya demi me-
nolong muridku?" tanya Barata Surya.
"Salah seorang muridku setelah melihat
keadaan pemuda ajaib ini"
"Seseorang bersedia merelakan nyawanya
demi kesembuhan orang lain yang baru dikenal-
nya?" desis Penghulu Siluman Kera Putih seakan tidak percaya.
"Berjuang demi keselamatan orang lain se-
mentara orang yang harus ditolong itu baktinya
dibutuhkan oleh manusia banyak, bukanlah sesu-
atu yang buruk. Mereka rela, karena kebaikan itu sangat disukai Tuhan"
"Biarkan aku yang mencari bunga itu" pinta Barata Surya merasa terharu.
"Tidak Muridku akan menjadi kecewa ka-
rena pengalihan tugas. Lagipula kau harus menca-
ri Tanduk Sakti yang sekarang berada di tangan
Mata Iblis"
"Tanduk sakti apa?" tanya Barata Surya.
"Manusia setengah makhluk bertanduk di
dunia ini hanya Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya. Sekarang apakah kau bisa mengerti siapa
kira-kira yang telah mencelakai dan melucuti ilmu muridmu?" tanya suara gaib itu. Penghulu Siluman Kera Putih menggeram marah. "Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Tapi kudengar ia berada di kawah perut bumi. Siapa yang membangkitkan-nya?" tanya kakek rambut putih terheran-heran.
"Seseorang yang menamakan dirinya Ratu
Leak" "Dia lagi Aku sama sekali tidak mengenalnya, entah mengapa ia begitu memusuhi kami.
Bahkan dia bermaksud membunuh kami melalui
tangan Suro. Bukan itu saja, tega-teganya mem-
buat ling-lung muridku" dengus Barata Surya.
"Kukira diantara kalian ada persoalan ter-
tentu yang membuatnya sakit hati. Sudahlah itu
adalah persoalan nanti. Sekarang yang terpenting pergilah ke arah tenggara. Tanduk itu ada disana"
jelas suara dalam gaib itu.
"Tunggu dulu" serga si kakek sambil garuk-garuk kepala.
"Apa lagi?"
"Aku tidak kenal Ratu Leak. Tapi mengapa
ia begitu sangat membenciku?"
"Tidak mungkin ia memusuhimu tanpa se-
bab Sudahlah, jangan tunda-tunda lagi. Pergilah sekarang atau aku tidak akan pernah mengembalikan muridmu?"
"Jangan macam-macam, aku bisa mengo-
brak-abrik tempat ini dengan bantuan seluruh si-
luman. Tidak perduli siapa pun kau orangnya"
ancam Penghulu Siluman Kera Putih.
"Ha ha ha Dalam keadaan seperti ini kau
masih mau bercanda juga? Benar-benar kau ma-
nusia sinting" desis suara dari balik tabir gaib tersebut disertai tawa.
Barata Surya merasa harus mengabari Ma-
laikat Berambut Api. Untuk itu ia segera bergerak keluar melalui pecahan tabir yang telah dihancur-kan pertama tadi. Sampai di luar Dewana ternyata masih menunggu di tempat semula.
"Bagaimana Penghulu para siluman? Apa-
kah kau sudah menemukan murid kita? Mengapa
terlalu lama sekali?" tanya penghuni pulau Seribu Satu Malam ini bertubi-tubi.
Cahaya putih yang berpedar-pedar itu ke-
mudian tampak mengembang. Lalu terjadi kehan-
curan di sana-sini sekaligus memercikkan bunga
api di udara. Hanya sekali kakek Dewana berke-
dip. Kini Penghulu Siluman Kera Putih sudah be-
rada di depannya.
"Murid kita dalam keadaan gaswat... eh,
gawat maksudku Aku tidak berjumpa langsung
dengannya...."
Kakek Dewana langsung membentak. "Ba-
gaimana kau tahu keadaan Suro dalam bahaya
sedangkan kau tidak menjumpainya. Apakah kau
sudah gila, Barata Surya?"
"Begini, aku tidak dapat menembus tabir
gaib yang dibuat oleh penghuni lembah itu. Terlalu atos dan terlalu kuat, kesaktian yang kumiliki tidak mampu menembusnya"
"Itu menandakan ketidak becusanmu seba-
gai tua bangka yang mau mampus" sahut Malaikat Berambut Api.
"Bukan begitu. Kalau aku mau berfikir pasti ada jalan. Tapi apa gunanya? Lagipula kulihat Si Bayang Bayang punya tujuan baik terhadap murid
kita. Terbukti ia mengerahkan dua muridnya un-
tuk mencari Bunga Arum Dalu demi mengembali-
kan kesadaran Suro" jelas Penghulu Siluman Kera Putih. "Itu sama artinya dengan penghinaan. Apa yang terjadi menunjukkan ketidak becusan kita
sebagai gurunya. Apakah ini menurutmu tidak
memalukan?" dengus Malaikat Berambut Api.
"Biarkanlah memalukan sedikit asalkan ti-
dak malu-maluin. Ha ha ha..."
"Dasar tua bangka sinting" maki kakek Dewana.
Penghulu Siluman Kera Putih terkesan ku-
rang begitu perduli. Ia juga tidak merasa sakit hati mendengar makian Malaikat Berambut Api. Lagi-
pula siapa yang berani terhadap kakek yang satu
ini? Barata Surya sendiri merasa sungkan pa-
danya. "Lalu sekarang apa yang hendak kau lakukan?" "Aku disuruh mengambil tanduk sakti milik Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya." sahut Barata Surya.
Malaikat Berambut Api tidak usah dije-
laskan pun sudah mengerti. Pastilah ilmu serta
kesaktian yang dimiliki oleh Pendekar Blo'on su-
dah berhasil dirampas oleh makhluk itu. Dan se-
karang kesaktian itu tersimpan dalam tanduk.
"Jadi kau akan berhadapan dengan Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya itu?" tanya kakek Dewana dengan mata mendelik.
"Tidak" jawab Barata Surya. "Menurut Si Bayang-Bayang, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya telah mati. Mungkin tewas di tangan Mata Iblis aku tidak menanyakannya. Yang jelas tanduk
makhluk itu sekarang berada di tangan Mata Ib-
lis" "Mata Iblis?" seru Malaikat Berambut Api seakan kaget. "Dia manusia bodoh tapi punya ketinggian ilmu yang sukar dijajaki. Kekuatan ma-
tanya bisa menghancurkan batu karang, membuat
hancur tubuh manusia, membuat pecah pembu-
luh darah yang membuat berantakan otakmu Un-
tuk apa ia mengambil tanduk Sang Pelucut Segala
Ilmu Segala Daya?"
"Aku tidak tahu"
"Manusia yang satu itu tidak dapat diang-
gap main-main. Sesuatu yang telah berada di tan-
gannya mustahil bisa pindah ke tangan orang lain.
Terkecuali kau mampu membujuknya atau me-
nempurnya hingga mati"
"Aku tidak perduli Jika murid-murid Si
Bayang-Bayang saja rela mengorbankan nyawa
demi menolong Suro yang belum pernah mereka
kenal sebelumnya. Mengapa aku harus takut?"
"Keberanianmu patut kupuji. Tapi ingat,
kau musti berhati-hati Barata Surya Dia manusia sakti yang ilmunya hampir setara denganmu"
"Apakah saudara tidak ikut denganku?"
Malaikat Berambut Api untuk pertama ka-
linya tersenyum. Ketika senyumnya lenyap. Ter-
dengar suaranya yang penuh wibawa. "Adalah sesuatu yang memalukan jika aku menyertaimu
Aku tidak ingin ada korban di pihak murid Si
Bayang Bayang. Walau pun manusia setengah gaib
itu saat ini tidak mau menjumpai aku. Tidak ada
salahnya jika aku membantu murid-muridnya un-
tuk menghadapi Ular Berkepala Empat. Aku tidak
ingin dua diantara muridnya menjadi korban demi
memenuhi persyaratan mendapatkan Bunga Arum
Dalu" Maka legalah hati Penghulu Siluman Kera Putih mendengar jawaban kakek Suro Blondo itu.
Ia kemudian menjura hormat dengan merang-
kapkan kedua tangannya dan sedikit membung-
kukkan kepala.
"Sekarang aku mohon diri" kata Barata Surya. Kakek Dewana anggukkan kepala. Sekejap
kemudian Penghulu Siluman Kera Putih sudah le-
nyap dari pandangan Malaikat Berambut Api.
"Aku pun tidak perlu berlama-lama di sini.
Mudah-mudahan aku masih bisa menyusul mu-
rid-murid Si Bayang Bayang" batin si kakek berambut merah. Seraya kemudian dengan menge-
rahkan ilmu lari cepat Kilat Bayangan segera me-
ninggalkan tepian lembah Nirwana.
LIMA
Sekitar dua puluh tahun yang lalu di bukit
Pembantaian atau yang lebih dikenal dengan nama
Bukit Kegelapan Abadi hampir setiap hari terden-
gar suara tangis yang memilukan. Suara tangis itu hanya malam hari saja tidak terdengar. Keesokan
harinya apabila matahari telah menampakkan diri
di upuk-upuk timur, maka suara tangis kembali
terdengar. Begitulah yang terjadi hampir sepanjang waktu. Bukit ini hampir tertutup kabut seutuhnya, baik di musim kemarau atau pun di musim hujan.
Bila dilihat dari dekat ternyata orang yang selalu menangis itu tidak lain adalah laki-laki berpakaian merah. Di depan laki-laki itu terbaring kaku sosok perempuan tua yang tidak lain adalah kekasihnya
sendiri. Ternyata perempuan tua itu sudah lama
meninggal, bahkan mungkin sudah sekitar lima
belas tahun yang silam. Bertahun-tahun ia me-
nangis jenazah orang yang dikasihinya. Sehingga
kebutaan matanya pun semakin menjadi-jadi.
"Aku tidak pernah lagi merasakan lapar se-
telah kematianmu, Elang Maut Tapi mengapa
maut tetap tidak pernah mengembalikan nyawa-
mu Aku tidak pernah mengenal rupa dunia sejak
aku terlahir ke dunia ini. Pertemuanku denganmu
dulu adalah sebuah karunia Tuhan yang teramat
besar bagiku. Walau pun pertemuan kita sudah
cukup umur. Namun kita sama-sama saling men-
gasihi. Aku tidak mau melihatmu menjadi tulang
belulang seperti di luar sana. Mengapa sekarang
kau tidak mau menjawab pertanyaanku, Elang
Maut? Apakah engkau malu pada arwah-arwah
Pendekar Salindra yang tewas terbantai di sini
Maut Satu Kaki Seribu itukah yang menyebabkan
kematianmu? Kurasakan tubuhmu tidak menga-
lami luka. Aku pun tidak mencium adanya luka
beracun. Jika pembantai para Pendekar Salindra
itulah yang menyebabkan kematianmu, mengapa
ia tidak muncul ke sini lagi? Padahal akulah yang telah menemukan Sarung Tangan Sutra Kencana"
kata kakek baju merah yang apabila malam hari
suka memakai baju warna hitam itu dengan sedih.
Demikianlah kejadian dan kebiasaannya itu
terus berlanjut. Sampai pada suatu saat muncul
Ratu Leak. Perempuan cantik itu memperkenalkan
diri dan berusaha menghibur Satya Gama alias
Mata Iblis. Setabah-tabahnya laki-laki walau pada mulanya tetap teguh memegang pendiriannya.
Tokh luluh juga, Mata Iblis bahkan mulai tertarik mendengar tutur kata Ratu Leak yang lembut dan
mirip dengan mendiang istrinya.
Ternyata kehadiran Ratu Leak menyimpan
maksud-maksud tertentu. Ia mengincar sarung
tangan Sutra Kencana yang konon memiliki kesak-
tian serta kebal terhadap berbagai jenis racun, tahan api dan tahan senjata tajam manapun.
Untuk membujuk Mata Iblis, Ratu Leak
sengaja berpura-pura menyerahkan tubuhnya
yang mulus itu pada Mata Iblis. Sebagai imbalan
atas semua itu Ratu Leak secara halus meminta
pada Satya Gama agar memberikan sarung tangan
Sutra Kencana. Ternyata Satya Gama menolaknya.
Di luar dugaan Ratu Leak yang sudah merasa di-
kecewakan itu membetot putus kejantanan Mata
Iblis. Dalam keadaan terluka seperti itulah terjadi pertempuran sengit antara Ratu Leak dan Satya
Gama. Waktu itu Ratu Leak sempat terluka, walau
Mata Iblis menderita luka dalam yang cukup pa-
rah. Sebelum Ratu Leak pergi, ia masih sempat
bicara dengan suaranya yang lantang namun mer-
du.
"Satya Gama manusia ceroboh Barangmu
ini tidak akan kukembalikan, malah akan kujemur
untuk dijadikan pajangan. Kau tidak akan memili-
ki barang lagi terkecuali nanti di suatu saat kelak kau bisa mendapatkan tanduk sakti yang tumbuh
di atas kepala Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya" dengus perempuan itu.
Sebenarnya apa yang dikatakan Ratu Leak
hanya bahan olok-olok saja. Namun oleh Satya
Gama ditanggapi secara serius.
"Kkk... kau... kau manusia bangsat pulang
pergi Kembalikan anuku" teriak Satya Gama. Ia berusaha mengejar Ratu Leak. Tetapi karena luka
yang dideritanya cukup parah akhirnya ia jatuh
lagi. Sayup-sayup ia mendengar....
"Anumu tidak akan pernah kembali. Jika
kau menemukan tanduk sakti itu dan mengo-
leskannya dibekas bagian anumu. Ada kemungki-
nan barang yang baru akan tumbuh lagi" Setelah berkata begitu Ratu Leak akhirnya meninggalkan
bukit Pembantaian.
Berhari-hari Satya Gama berusaha memu-
lihkan kesehatannya. Setelah luka dalam yang di-
deritanya benar-benar sembuh. Mulai saat itu ia
semakin rajin melatih kedua matanya. Lama kela-
maan kedua matanya itu dapat mengeluarkan ca-
haya menyala bahkan melepaskan sinar maut bagi
lawan-lawannya. Jika pada malam hari ia melatih
matanya, maka pada siang hari ia menangis di de-
pan jenazah isterinya.
"Isteriku, maafkanlah aku. Rohmu pasti me-
lihat, jenazahmu pasti menyaksikan. Gara-gara
aku menghianatimu, aku kehilangan anuku wahai
isteriku. Lebih celaka dan memalukan lagi katanya anuku hendak dijemur dan dijadikan pajangan
oleh Ratu Leak. Aku maluuuu... jika anuku yang
ada tutupnya itu sampai ditunjukkan ke orang
lain. Dunia bisa mentertawaiku" desah Satya Ga-ma di tengah-tengah isak tangisnya. Tiba-tiba saja wajahnya menegang. Matanya yang memutih berputar-putar. "Isteriku, aku harus membalas rasa malu ini pada Ratu Leak. Tapi sebelum itu aku harus mencari tanduk sakti yang tumbuh di atas ke-
pala Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya Tan-
duk itu katanya bisa menumbuhkan anuku yang
telah dibetotnya" tegas Mata Iblis. Dan apa yang
dilakukan oleh Mata Iblis untuk hari-hari selan-
jutnya adalah melatih matanya yang buta itu hing-ga menjadi sebuah senjata yang dahsyat dan ber-
bahaya.
Suatu ketika Mata Iblis mendengar kabar
terjadi keanehan-keanehan di tanah Sange dari
seorang pelaut yang konon melihat seekor kuda
menyeberang laut. Bagi Mata Iblis apa yang didengarnya itu merupakan sebuah kejadian yang san-
gat langka dan jarang sekali terjadi. Mana mung-
kin ada kuda yang tingginya sampai menjulang
tinggi ke langit? Apalagi dapat menyeberangi lautan. Merasa penasaran akhirnya Mata Iblis be-
rangkat ke Sange juga. Sampai di sana ia menjadi kaget karena tidak ada satupun manusia yang di-jumpainya. Barulah setelah dua hari, ia bertemu
dengan Manusia Topeng.
Kini Mata Iblis tokoh yang tidak punya pen-
dirian tetap itu berhenti di antara dua bukit batu.
Tanduk sakti di tangan diperhatikannya
dengan seksama. Seperti telah sama kita ketahui
tanduk sakti itu dirampasnya dari tangan Manusia Topeng yang telah mengalahkan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Untuk lebih jelasnya (da-
lam episode Nagari Batas Ajal).
"Aku buta mana mungkin kuketahui ba-
gaimana rupa dan warna tanduk sakti ini" gerutu Mata Iblis. "Aku harus mencari tempat terlindung untuk menumbuhkan kembali anuku yang dirampas Ratu Leak Mudah-mudahan Ratu keparat itu
tidak membobongiku Tidak punya anu rasanya
kurang srek. Jalanku jadi tidak seimbang dan ke-
pala mau nyungsep saja. Kurasa karena tidak ada
pemberat di bagian bawah. Ahk, celaka sekali jadi laki-laki Apalagi jika anuku tidak bisa tumbuh la-gi selama-lamanya" Mata Iblis menggumam lirih.
Ia kemudian pasang pendengaran baik-baik. Sete-
lah memastikan tidak ada orang lain disekitar
tempat itu akhirnya ia pun melompat di balik batu setinggi dirinya. Celana hitamnya langsung ia tarik ke bawah. Ia raba-raba bagian bawah perutnya
yang ditumbuhi hutan lebat. Matanya yang buta
berkedip-kedip.
"Keadaannya subur sekali, cuma bagian
agak lebih ke bawah licin. Untung tidak ada lu-
mutnya, padahal aku sudah tidak pernah mandi
lagi sejak kematian isteriku." batin Mata Iblis sambil senyum. "Tapi tanduk sakti ini panas bukan main, Manusia Topeng saja tidak sanggup meme-gangnya. Tangan orang jelek itu hangus malah.
Kalau bagian pangkalnya kuoleskan ke bekas
anuku apa tidak gosong?" Mata iblis jadi ragu-ragu sejenak. Ia lalu raba bagian pangkal tanduk. Ternyata bagian ujung pangkal tidak panas. Dengan
hati-hati Mata Iblis mengoleskan pangkal tanduk
sakti tersebut ke bagian bekas anunya.
Sret Sret
Setelah diolesi dengan pangkal tanduk yang
agak licin bercampur sumsum, Mata Iblis me-
nunggu sejenak. Kira-kira dua menit kemudian ia
mengolesi lagi bagian anunya. Ia menunggu sambil merasakan adanya perubahan. Setelah itu ia raba
bagian bekas anunya.
"Celaka? Mengapa tidak mau tumbuh ju-
ga?" desis si kakek setengah pikun ini dengan heran. Seraya kemudian menggosokkan pangkal
tanduk sakti berulang-ulang. Namun sampai begi-
tu lama tidak ada perubahan yang terjadi. "Ratu Leak telah membohongiku Apa aku harus memasang tanduk ini di bekas bagian anuku? Hu hu hu
Sungguh memalukan sekali. Aku maluuuu... ba-
gaimana kata orang-orang Anunya manusia mana
ada yang runcing seperti tanduk" Saking gelisah-nya Mata Iblis kembali mengoles-oleskan pangkal
tanduk ke bagian anunya. Karena perubahan yang
diharap tidak kunjung datang juga. Maka rasa pu-
tus asa dan malu membuatnya marah.
"Ini adalah pemborosan waktu yang sia-sia"
maki Mata Iblis setengah berteriak. Ia mondar-
mandir dalam bingungnya, hingga ia pun lupa
bahwa celananya belum ditariknya ke atas. Dalam
keadaan seperti itulah tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Kucari kemana-mana, tidak tahunya kau
ngumpet (sembunyi) di sini Ha ha ha"
"Kau..." desis Mata Iblis. Saking kagetnya ia semakin lupa untuk menutup auratnya yang tidak
beranu lagi.
"Ya... aku, Mata Iblis Ha ha ha Keadaanmu sungguh menggelikan sekali. Lucu... lucu... Ternyata kau tidak memiliki barang, Mata Iblis Terbang kemana kau punya burung? Sekarang kau
masih mau akal-akalan dengan memasang tanduk
itu di bekas anumu? Kalau kau bukan orang gila,
tentu kau orang sinting Tanduk mana bisa dis-
amakan dengan anu Ah, apakah kau hendak ka-
win lagi? Eling, umurmu sudah bau kubur, tulang
belulangmu sudah mau hancur. Lagipula kalau
kau kawin binimu bisa mampus diseruduk tan-
duk. Mata Iblis, pergunakan akal sehat jika kau
masih punya akal Tanduk sakti itu menyimpan
kesaktian Pendekar Blo'on, Dewi Kerudung Putih
dan Si Buta Mata Kejora Tega-teganya kau mema-
sangnya di tempat bekas anumu Apa kau kira
tanduk itu anunya isterimu?" bentak orang yang baru datang yang tidak lain adalah Manusia Topeng. Hanya sekejap saja Mata iblis tampak terkejut. Beberapa saat kemudian ia menggeram sinis.
"Bangsat Tidak henti-hentinya kau meng-
gangguku. Untuk apa kau menyusul kemari, apa-
kah ingin mempermalukan aku?" bentak Mata Iblis marah. "Kau sudah malu karena kehilangan anumu, mana aku tega mempermalukanmu dua kali
Coba kau katakan padaku siapa yang telah mem-
buat kau kehilangan barangmu?" tanya Manusia Topeng. Dan wajah di balik topeng tampak berusaha menahan senyumnya.
Mata Iblis terdiam cukup lama. Ia kelihatan raguragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Hingga
Manusia Topeng menengadahkan wajahnya yang
tertutup topeng itu ke langit. Lalu ia bicara seperti orang yang sedang bersyair.
Manusia adalah tempatnya salah
Banyak orang berlagak lurus walau pun ta-
hu dirinya bersalah
Manusia bersandiwara dengan sesamanya
Orang-orang menutupi kekurangannya den-
gan topeng
Mengapa topeng tidak ditanggalkan
Apa yang terjadi pada manusia terkadang
karena salahnya sendiri
Baik dan buruk datangnya dari Sang Takdir
Lalu takdir punya siapa?
Alam adalah tempat berguru tempat ber-
tanya Apa yang menjadi keresahan hati karena terlalu banyak bicara menduga-duga
Keinginan terkadang selalu tidak sesuai
dengan kenyataan
Itu tandanya manusia adalah makhluk yang
lemah Mata Iblis
Sesuatu yang pergi tidak mungkin kembali
Sesuatu yang hilang jangan cari pengganti
Salahnya langkahmu tidak perlu disesali
Apalagi sampai membunuh diri
Mata Iblis sempat tertegun mendengar kata-
kata yang diucapkan Manusia Topeng. Tiba-tiba
saja Mata Iblis menangis tersedu-sedu.
"Diriku ini memang bodoh Sudah hampir
tua bangka masih kena dikadali Apakah manusia
sepertiku ini masih layak hidup?"
"Tentu saja kau masih sangat layak untuk
hidup. Orang sudah pikun yang giginya sudah ha-
bis semua, yang jalannya bungkuk seperti udang
kering saja masih boleh hidup. Kehidupan ini terus
berjalan sampai takdir dan kematian datang men-
jemput. Tapi jika kau mau tahu hidup ini sebenarnya ada dua"
"Apa maksudmu?" tanya Mata Iblis.
"Maksudku tidak berguna dan hidup tidak
punya guna sama sekali Seperti kau, kupikir hi-
dupmu tidak berguna"
"Apa? Kau berani mengatakan hidup tidak
berguna? Apakah karena aku telah kehilangan
anuku" tanya Mata Iblis marah.
"Bukan, bukan karena kau kehilangan
anumu Yang kumaksud dengan hidup berguna
adalah bila hidup seseorang itu dipenuhi dengan kebajikan, sering menjaga lidahnya dari perkataan-perkataan yang tidak perlu. Suka menolong
orang yang benar-benar membutuhkan pertolon-
gan dan penuh rasa cinta terhadap sesama manu-
sia dan sesama makhluk Tuhan..."
"Kalau hidup yang tidak berguna bagaimana
menurutmu?" potong Mata Iblis kelihatan mulai tertarik.
"Hidup yang tidak berguna bila seseorang
terlalu mementingkan diri sendiri, tamak, som-
bong, pelit dan besar kepala. Di dalam hatinya tidak terdapat jiwa kasih sayang, ia cenderung
membuat kerusakan dimana-mana. Orang seperti
ini benar-benar tidak disukai Tuhan"
"Berarti hidupku memang tidak berguna."
ucap Mata Iblis seakan putus asa. "Aku terlalu mementingkan diri sendiri, pelit dan terkadang ada rasa sombong sedikit terhadap apa yang kumiliki
Sekarang aku tidak punya anu, harapanku untuk
hidup kecil sekali Rasanya hari ini kau akan menjadi saksi atas kematian yang kuperbuat sendiri"
kata laki-laki berambut gondrong ini.
"Mata Iblis Sebelum kau mati dengarkanlah
kata-kataku" cegah Manusia Topeng. "Jika kebai-kanmu masih sedikit, mengapa kau tidak mena-
nam kebaikan di usiamu yang senja. Kau bisa me-
nolong orang lain, kau bisa membantu orang-
orang yang lemah. Lagipula membunuh diri terma-
suk perbuatan yang dibenci Tuhan" Mata Iblis melotot. "Mengapa dibenci? Aku membunuh diriku sendiri, bukan orang lain" seru kakek buta ini sambil melotot.
"Kalau kau kutanya siapa yang mencipta-
kan dirimu?" tanya Manusia Topeng. Ia hampir tidak dapat menahan tawa melihat kebodohan ka-
kek sakti itu.
"Yang menciptakan aku? Kalau tidak salah
bapak sama emakku yang sudah almarhum" ja-
wab Mata Iblis.
"Yang menciptakan kau adalah Tuhan yang
telah menciptakan alam ini Almarhum ayah dan
ibumu itu hanya main kapal-kapalan saja. Tidak
lebih Demikian juga yang menciptakan roh adalah Tuhan. Kalau semuanya merupakan pemberian
Tuhan, manusia mana yang berhak menyakiti diri
sendiri?"
"Oh, jadi membunuh diri pun tidak boleh?
Lalu apa yang dapat kukerjakan?"
"Bukankah kau telah kehilangan anumu?"
tanya Manusia Topeng. Mata Iblis anggukkan ke-
pala. "Sesuatu tidak akan hilang terkecuali ada seseorang yang mengambilnya. Sesuatu yang hilang berarti berpindah tempat Kau tentu saja masih dapat menuntut balas pada orang yang telah
mengambil anumu itu?"
Wajah mata Iblis nampak menegang. "Orang
yang membuatku sengsara adalah Ratu Leak. Be-
nar katamu aku harus menuntut balas" dengus Mata Iblis. "Kau begini baik padaku, siapakah kau yang sebenarnya Manusia Topeng?" tanya Mata Iblis penuh rasa terima kasih.
"Ha ha ha... Aku masih manusia juga."
"Aku ingin menjadi muridmu" kata Mata Iblis, tiba-tiba ia menjatuhkan diri dan berlutut.
"Weit, jangan" Manusia Topeng buru-buru mencegah dan menarik Mata Iblis hingga berdiri
kembali.
"Mengapa kau menolak? Apakah karena
aku manusia hina?"
"Jangan suka berburuk sangka Aku tidak
mau menjadi gurumu karena kulihat ilmumu su-
dah tinggi, kita sudah sama-sama tua. Yang diatas dan di bawah sudah sama-sama beruban Lagipula
tidak ada ilmu yang harus kau korek dariku"
Mendengar ucapan Manusia Topeng, untuk
pertama kalinya Mata Iblis tertawa terbahak-
bahak. "Bagaimana kalau kita bersahabat? Sahabat yang baik tentunya"
"Aku setuju" sahut Manusia Topeng. "Kalau kau sudah berikrar aku ini sahabatmu tentu kau
setuju membantuku bukan?" pancing Manusia
Topeng cerdik.
"Membantu sahabat yang kesusahan tentu
tidak ada salahnya Katakanlah, jika aku mampu
tentu akan kubantu" sahut Mata Iblis masih dengan tertawa-tawa.
ENAM
"Seperti kukatakan dalam tanduk sakti itu
tersimpan kesaktian Pendekar Blo'on, Dewi Keru-
dung Putih dan juga Si Buta Mata Kejora Aku
sendiri tidak mampu memegang tanduk itu karena
aku tidak memiliki sarung 'Sutra Kencana'. Untuk mempererat persahabatan kita, kuharap kau mau
membawakan Tanduk itu menjumpai Pendekar
Blo'on."
"Aku sering mendengar kau menyebut Pen-
dekar Blo'on. Siapakah orang yang kau maksud-
kan itu?" tanya Mata Iblis ingin tahu.
"Pendekar Blo'on adalah seorang pemuda
gagah, rambutnya merah seperti rambut jagung.
Orangnya kocak dan konyol, agak telat mikir sedikit, mendekati goblok tapi cerdik. Kalau sedang
bertarung tingkahnya seperti monyet bunting yang hendak melahirkan"
"Ha ha ha Kau ini ada-ada saja sahabatku
Tapi kurasa aku menyukai pemuda seperti itu Ka-
sihan sekali dia. Siapa yang telah membuatnya begitu menderita?" tanya Mata Iblis.
"Yang membuatnya menderita adalah orang
yang telah mencopoti perabotanmu juga" jelas Manusia Topeng.
"Ratu Leak" desis Mata Iblis dengan mata mendelik. Selalu saja timbul kemarahannya bila
seseorang menyebut nama yang sangat dibencinya
itu. "Lagi-lagi perempuan keparat itu bikin susah orang lain. Rasanya Pendekar Blo'on hampir memiliki penderitaan yang sama denganku. Kami sena-
sib, aku tidak ragu menyerahkan tanduk ini pa-
danya" tegas kakek tua itu mantap. Lega rasanya hati Manusia Topeng mendengar ucapan Mata Iblis. Tapi di sudut hatinya ia pun merasa ragu, karena ia tidak tahu dimana Pendekar Malang itu
saat ini berada.
"Tunggu apa lagi, mari kita berangkat" desak Mata Iblis terkesan tidak sabaran.
Belum sempat Manusia Topeng menyahut.
Tiba-tiba terasa ada sambaran angin yang cukup
keras. Lalu terdengar seruan seseorang....
"Tunggu"
Manusia Topeng dan Mata Iblis langsung
menoleh ke arah datangnya suara. Tidak jauh di
hadapan mereka tampak berdiri seorang kakek tua
berbadan tegap berpakaian putih, berjambang ser-
ta berambut serta putih. Kumisnya yang menutup
kedua bibir orang ini pun berwarna putih.
Manusia Topeng memperhatikan kakek di
depannya dengan kening berkerut dan mata seten-
gah terpejam. Mata Iblis yang berdiri di samping Manusia Topeng langsung maju beberapa langkah
ke depan.
"Kau siapa lagi, orang tua Apakah anak
buah Ratu Leak atau kaki tangannya? Percayalah
padaku lekas kau menyingkir atau aku dan saha-
batku ini akan membunuhmu" ancam Mata Iblis serius. Yang dibentak sunggingkan seulas senyum.
Melihat mata hitam yang putih seluruhnya. Ia me-
rasa yakin inilah orangnya yang berjuluk Mata Iblis. Orang itu memegang tanduk. Jadi sudah jelas tanduk sakti itu yang dimaksudkan oleh Si Bayang Bayang.
"Mata Iblis dan sahabatnya yang memakai
topeng seperti orang gila Dan yang gila cuma Manusia Topeng saja Kalian hendak kemana?" tanya si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih.
"Sahabat Manusia Topeng, setan ini sudah
mengataimu seperti orang gila sekarang malah
bertanya kita hendak ke mana? Apakah menurut-
mu kita pantas menjawab pertanyaan tua bangka
bertampang kunyuk ini?" teriak Mata Iblis dengan perasaan tidak senang. Mata Iblis melangkah ma-ju, ia hendak lepaskan pukulan maut, tapi Manu-
sia Topeng sudah mencegahnya.
"Sabar, tunggu dulu" seru kakek yang tidak pernah meninggalkan ketapel dan kompeng itu.
"Naga-naganya aku seperti mengenalnya.
Yieaaah... tidak salah Di dunia ini tua bangka
yang mempunyai tampang seperti kunyuk cuma
dia seorang. Penghulu Siluman Kera Putih, benar-
kah dugaanku ini?" tanya Manusia Topeng.
Yang ditanya tersenyum masam. "Memang
aku orangnya. Ah... Manusia Topeng Setelah se-
kian lama kau tidak menampakkan diri sekarang
kau muncul masih dengan memakai topeng pula.
Sungguh kau manusia palsu yang pemalu" cibir Penghulu Siluman Kera Putih sambil tertawa.
"Apakah kau mengenalnya, sahabat Manu-
sia Topeng? Katakan terus terang, mataku sudah
gatal untuk menghajarnya"
"Ha ha ha Aku kenal padanya, jangan kau
hajar Jika dia mati sulit dicari pengganti. Lebih baik kita tanya apa keperluannya menjumpai kita"
Tanpa menunggu lebih lama Barata Surya
segera menjawab: "Aku sedang bingung memikirkan nasib muridku yang seperti harimau kehilan-
gan taringnya. Kulihat Mata Iblis memegang tan-
duk sakti Perlu kalian ketahui di dalam tanduk
itu tersimpan kesaktian muridku Pendekar Blo'on.
Sekarang aku meminta pada kalian agar ikut den-
ganku ke Lembah Nirwana" jelas Barata Surya.
Mata Iblis dan Manusia Topeng saling pan-
dang. "Untuk apa?" tanya Mata Iblis curiga. "Tanduk ini akan kami bawa untuk seseorang yang
bergelar Pendekar Blo'on juga Kau jangan coba-
coba menipu kami" bentak si kakek buta.
"Di dunia ini orang yang bergelar Pendekar
Blo'on cuma muridku saja. Mengapa kau masih
meragukannya, Mata Iblis?"
"Aku tergantung bagaimana pendapat Ma-
nusia Topeng. Jika di kolong langit ini Pendekar Blo'on memang cuma itu, tentu aku bersedia ikut
denganmu. Karena tujuan kami pun ingin men-
gembalikan kesaktian Pendekar Bodoh yang kena
dikadali oleh Ratu Leak"
Mata Iblis memandang pada Manusia To-
peng seakan menunggu pendapat orang itu.
"Aku ingin bertanya bagaimana muridmu
bisa sampai ke Lembah Nirwana? Bukankah tem-
pat itu diselimuti tabir gaib berlapis-lapis...?"
Barata Surya sempat kaget juga melihat ke-
nyataan Manusia Topeng ternyata mengetahui se-
luk beluk daerah itu.
"Yang membawa muridku kesana adalah Si
Bayang Bayang"
"Si Bayang Bayang? Benarkah manusia se-
tengah gaib itu masih ada?" tanya Manusia Topeng kaget. "Begitulah kenyataannya"
"Maksudmu Si Bayang Bayang menculik
muridmu?"
"Bukan menculik cuma di pinjam sebentar"
"Dan manusia seperti Si Bayang Bayang ti-
dak sanggup menyembuhkan muridmu? Padahal
nama besarnya sudah sangat lama aku dengar"
"Kurasa ia mampu mengembalikan kesada-
ran dan memunahkan racun yang mengeram di
tubuh muridku, persoalannya cuma tinggal waktu
saja". tegas Penghulu Siluman Kera Putih.
"Hmm..." Mata Iblis mengguman tidak jelas.
"Ayolah sebaiknya sekarang juga kita berangkat"
perintah Manusia Topeng. Mata Iblis dan Barata
Surya sama anggukkan kepala. Sekejap saja tubuh
mereka berkelebat lenyap dari pandangan mata.
Mereka kelihatannya sama-sama mengerahkan il-
mu lari cepat yang mereka miliki. Hingga gerakan mereka sekilas bagai gerakan setan bergentayangan.
***
"Masih jauh lagikah tempat itu dari sini,
kakak" tanya gadis berpakaian ungu itu sambil menyeka keningnya yang basah karena keringat.
Gadis baju putih yang berlari cepat di depannya
menoleh ke belakang sebentar tanpa mengurangi
kecepatan larinya.
"Ada apa adik kecil?" sahut gadis baju putih yang pada sangkul rambutnya berhiaskan anggrek
kala putih.
"Aku sudah mulai letih"
"Apakah kau ingin istirahat? Tebing Akherat tidak begitu jauh lagi dari sini. Menurut Guru, kita mesti mencapai tempat itu sebelum matahari ter-benam. Ular Kepala Empat akan lebih ganas bila
malam hari"
"Tapi aku sudah sangat letih sekali, kakak"
keluh gadis berkulit putih bermata sipit ini dengan rengekan manja. Gadis di depannya dan tampak
lebih dewasa dan tidak kalah cantiknya terpaksa
hentikan langkah. Ia melihat adik seperguruannya sudah terduduk sambil memegangi lututnya.
"Adikku Bunga Seloka Untuk pertama ka-
linya kita meninggalkan Lembah Nirwana. Sebe-
narnya belum waktunya kau meninggalkan Lem-
bah. Tapi kau tetap ngotot hendak ikut juga Tidak biasanya kau bertindak seperti ini"
"Kakak, bukankah pemuda itu patut kita
selamatkan?" jawab gadis bermata sipit yang ber-nama Bunga Seloka itu merdu.
"Memang Menolong orang lain yang dalam
kesusahan sudah menjadi kewajiban semua peng-
huni Lembah Nirwana. Tapi benarkah karena ala-
san itu kau ikut melakukan perjalanan bersama
aku?" Bunga Seloka tundukkan wajahnya yang kemerahan. "Kakak, engkau jahat sekali. Menuduh orang yang bukan-bukan..." Bunga Seloka jadi cemberut.
"Hi hi hi Kukira engkau sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pemuda itu. Ingat adik, umurmu belum pun genap delapan belas
tahun" kata gadis baju putih yang lebih akrab dengan panggilan Bunga Bidadari. Dialah gadis
paling cantik diantara gadis-gadis yang berada di Lembah Nirwana. Seraya berpura-pura memandang ke jurusan lain. Sedangkan wajah Bunga Se-
loka semakin bertambah merah seperti tomat ma-
tang. "Kau jahat Aih, kakak Tidak bolehkah seseorang jatuh cinta?"
"Tentu saja boleh. Tapi kau belum wak-
tunya" "Aku mengerti. Yang tidak dapat kumengerti bagaimanakah rasanya jatuh cinta itu?"
"Hi hi hi Kau bertanya terlalu jauh. Lebih baik kita teruskan perjalanan kita" ajak Bunga Bidadari. Bunga Seloka gelengkan kepala. Adik seperguruannya yang satu ini memang teramat man-
ja. Walau terkadang ia tegas dalam pendirian. Sikapnya lemah lembut dan penyabar, tidak heran
jika saudara-saudara seperguruan yang lain me-
nyukainya.
"Aku tidak akan ikut kakak jika kakak tidak mau menerangkan padaku bagaimana rasanya jatuh cinta" kata Bunga Seloka sambil bersungut-sungut. Bunga Bidadari tersenyum-senyum. Ia
sendiri merasa belum pernah jatuh cinta dengan
laki-laki mana pun. Jika Bunga Seloka bertanya
tentang yang satu itu tentu sulit bagi gadis ini untuk menjawabnya. Sehingga jawaban Bunga Bida-
dari itu pun jadi ngawur.
"Rasanya jatuh cinta itu, hmmm... Kepala
sakit berdenyut, hati gatal-gatal gitu. Lalu kalau perasaan cinta semakin menjadi-jadi, mulailah rasanya ingin berak-berak dan kencing melulu Hi hi hi..." "Ihh... kakak jahat sekali. Masa' rasanya jatuh cinta seperti itu?" Bunga Seloka mendelik sambil cemberut.
"Akh... aku tidak tahu yang sebenarnya.
Sudahlah, sekarang lebih baik kita teruskan perjalanan ini" ajak Bunga Bidadari.
Tanpa berkata apa-apa, Bunga Seloka sege-
ra mengikuti kakak seperguruannya yang telah
berlari mendahuluinya.
Kira-kira sepemakan sirih, maka sampailah
kedua gadis yang cantik-cantik ini di tebing Bukit Petir. Tebing itu sebenarnya lebih dikenal dengan nama Tebing Akherat. Suatu tempat yang memiliki
kedalaman lebih dari dua ratus batang tombak.
Sulitnya di tebing itulah Bunga Arum Dalu tum-
buh. Sementara di samping tumbuhnya bunga
terdapat sebuah lubang gelap yang besar. Di da-
lam lubang gelap itu terdapat dua bintik sinar
kuning menyala. Dan penghuninya adalah Ular
Berkepala Empat.
"Tempat ini mengerikan sekali, aku men-
cium bau amis yang begitu menusuk Dan jurang
itu... hmmm... rasanya gemuruh angin tiada henti-hentinya menampar bibir tebing" desis Bunga Seloka dan matanya yang sipit itu semakin menyipit.
Sedikit pun Bunga Bidadari tidak menjawab. Den-
gan hati-hati ia mendekati bibir tebing. Tengkuknya tiba-tiba meremang berdiri.
"Ini adalah tantangan pertama yang cukup
berat bagi kita Kita tidak mungkin dapat menuru-ni tebing maut itu" kata Bunga Bidadari.
"Bukankah kita ada membawa Tali Alas Pi-
tu?" tanya Bunga Seloka. Tali alas pitu panjangnya tidak lebih dari tiga tombak. Tapi ia dapat mulur (memanjang) dan punya kelenturan yang luar biasa. "Dua ratus tombak ke bawah mungkin bisa kita jangkau dengan tali ini. Tapi tali Alas Pitu tidak dapat menahan pagutan gigi Ular Berkepala
Empat" jelas si cantik Bidadari.
"Nggiiiiingkh..."
"Suara apa itu, kakak?" tanya Bunga Seloka saking kagetnya.
Bunga Bidadari memandang tegang. "Itulah
suara Ular Berkepala Empat Tampaknya ia sudah
mengendus kehadiran manusia di sini"
Baru saja Bunga Bidadari selesai bicara, ti-
ba-tiba saja tanah yang mereka pijak bergetar hebat seperti dilanda gempa.
"Celaka" Bunga Seloka belalakkan mata
dan wajahnya jelas-jelas tidak dapat menyembu-
nyikan perasaan paniknya. Dalam suasana seperti
itu justru Bunga Bidadari terkesan lebih tenang
dan dewasa. "Tebing bukit ini rasanya mau runtuh. Bagaimana, kakak?" tanya Bunga Seloka bingung.
"Tenang saja, Ular Kepala Empat tidak
mungkin meninggalkan sarangnya. Getaran yang
terjadi ini akibat gerakan ular itu"
"Apakah kita turun ke bawah sekarang?"
tanya Bunga Seloka.
"Tidak ada yang harus ditunggu Kematian
demi tugas bagiku lebih mulia daripada kembali ke Lembah Nirwana dengan membawa malu besar"
tegas gadis bersanggul itu mantap. Melihat ke-
sungguhan kakak seperguruannya, Bunga Seloka
jadi lebih serius.
"Aku siap membantumu, kakak" Bunga Bidadari anggukkan kepala. Ia melepas tali Alas Pitu sepanjang tiga tombak. Tali itu kemudian di-ikatkannya pada sebatang pohon jambu batu yang
terdapat tidak begitu jauh dari bibir tebing.
"Bunga Seloka, kau berjaga-jaga di dekat ta-li ini. Aku khawatir jika ada sesuatu yang tidak dingin mengganggu pekerjaan kita" pesan Bunga Bidadari.
"Kakak, mana mungkin aku hanya berdiam
diri di sini, sementara kakak di bawah sana ber-
juang menempuh bahaya Bukankah lebih baik
aku menyertaimu?"
"Jangan jadi orang bodoh Jika kita berdua
berada di bawah, bagaimana nanti kalau muncul
orang jahat dan memutuskan tali ini. Kita berdua bisa celaka"
"Betul juga Baiklah aku akan menjaga dis-
ini. Aku akan menarikmu ke atas bila ada bahaya
yang mengancammu"
Bunga Bidadari acungkan jempolnya. Lalu
ia memegang ujung Tali Alas Pitu. Setelah itu ia keluarkan senjata aneh yang berbentuk gaitan tetapi memiliki ketajaman pada kedua sisinya.
"Kau siap?"
"Yaaa..." jawab Bunga Seloka mantap.
Wuuut
Wiiiing
Dan melayanglah tubuh Bunga Bidadari
melampaui bibir tebing. Ketika Bunga Bidadari
hampir mencapai Bunga Arum Dalu yang melekat
erat di pertengahan tebing. Dari dalam lubang setinggi orang dewasa menggerung suara Ular Kepala Empat. Dari dalam lubang itu sekonyong-konyong
menyembur uap putih berbau amis. Bunga Bida-
dari sadar betul uap yang menyembur keluar dari
dalam lubang tidak lain adalah racun yang disem-
burkan oleh ular pemangsa manusia ini. Sehingga
ia tutup pernafasannya, lalu senjata gaitan di tangan langsung ia putar hingga menimbulkan suara
deru yang membuat bising telinga.
Racun yang menyatu dalam uap beracun
itu bubar. Di atas tebing terjadi gerakan seperti gempa. Ternyata ular itu sekarang sudah mengeluarkan kepalanya ke depan mulut lubang. Lidah-
nya yang bercabang tiga dan berwarna biru terung bergerak-gerak liar seakan hendak melibat.
Bunga Bidadari langsung hantamkan gaitan
panjang di tangannya. Seperti manusia saja, Ular Kepala Empat mengelak dengan menarik kepalanya ke atas.
"Hmm, aku hanya melihat satu kepala, Tiga
kepala ular ini entah dimana?" desis Bunga Bidadari. Ia merasa kecut juga melihat betapa besarnya ular yang harus dihadapinya. Tetapi, dia bukanlah gadis lemah yang mudah menyerah dalam menghadapi situasi berbahaya seperti sekarang. Melihat serangan pertamanya luput, Bunga Bidadari tiba-tiba saja berayun-ayun di atas tali, kemudian
jungkir balik dengan gerakan yang manis. Ular
Kepala Empat menyambar punggungnya.
Wuuut
Dengan meminjam kelenturan tali yang di-
pegangnya, tubuh gadis ini melesat lebih ke atas.
Sehingga serangan itu luput dan Bunga Bidadari
menghantam mata makhluk melata itu dengan
mempergunakan gaitannya. Serangan kilat ini be-
nar-benar tidak pernah disangka oleh Ular Kepala Empat. Mata kirinya kena ditambus gaitan Bunga.
Tidak terkirakan betapa marahnya makhluk mela-
ta itu. Sekejap tubuh serta kepalanya masuk ke
dalam lubang. Kesempatan ini tidak disia-siakan
oleh Bunga. Ia meluncur deras dengan mempergu-
nakan ayunan tali dan....
"Haaap..."
Breellh
"Tarik" pekik Bunga Bidadari ditujukan pa-da adik seperguruannya. Dengan cepat dan cemas
sekali Bunga Seloka menarik Tali Alas Pitu. Ter-
nyata Bunga Arum Dalu telah berhasil diambil
oleh gadis rupawan ini.
"Kau berhasil kakak?" seru Bunga Seloka kelihatan gembira sekali.
"Bunga Putih inilah yang dibutuhkannya"
sahut Bunga Bidadari. Dalam hati gadis ini ia
menjadi bimbang. "Semudah itukah aku menak-
lukkan Ular Kepala Empat? Padahal sudah sekian
banyak nyawa yang melayang begitu saja di mulut
ular itu? Apakah dia sebangsa siluman??" batin-nya. Sambil berpikir Bunga Bidadari menggu-
lung Tali Alas Pitu yang dapat melentur tidak bedanya dengan karet itu. Ia tidak tahu kalau sejak tadi secara diam-diam Bunga Seloka memperhati-kannya.
"Kakak, mengapa sejak kau berhasil men-
gambil Bunga Arum Dalu itu kelihatannya kau ti-
dak gembira?"
"Seloka" tegasnya serius. "Tidakkah menurutmu aneh, Bunga Arum Dalu adalah bunga
langka yang hanya berbunga seratus tahun sekali.
Menurut guru kita, Bunga ini dijaga oleh Ular Kepala Empat. Dibawah sana aku melihat ular kepa-
la tunggal. Bagaimana aku tidak heran jika aku
merasa mudah mengalahkan Ular itu. Ini sulit
kumengerti"
"Mengapa hal itu merisaukan hatimu Kita
sudah mendapatkannya Mengapa sekarang kita
tidak membawa bunga ini ke Lembah Nirwana se-
cepatnya?" usul Bunga Seloka.
"Penunggu bunga ini konon kudengar me-
minta korban bila ada seseorang mengambilnya.
Aku yang telah mengambil, aku harus bertang-
gung jawab"
"Bertanggung jawab pada siapa?" tanya
Bunga Seloka.
"Aku merasakan ada perubahan di bawah
kita Mustahil aku dapat melarikan diri daripa-
danya" "Jangan bodoh Ayo lari" Bunga Seloka tanpa perduli lagi langsung menarik lengan Bunga Bidadari. Di saat mereka sedang sibuk begitu ru-pa. Tiba-tiba terjadi ledakan-ledakan keras di sisi Tebing Akherat. Tanah pun runtuh di sana sini.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan Bun-
ga Bidadari segera berlari bersama Bunga Seloka
menjauhi bibir tebing. Dan hanya beberapa saat
saja setelah kepergian mereka, bibir tebing runtuh.
"Kakak..." pekik Bunga Seloka di saat tubuhnya terhempas kian kemari. Bidadari berusaha
bersikap tabah. Dengan mengandalkan ilmu me-
ringankan tubuhnya ia melompat kian kemari,
hingga tubuhnya tidak sampai terhempas.
"Kiamat, kakak" seru Bunga Seloka dengan wajah pucat dan tubuh dibasahi keringat dingin.
"Ini bukan kiamat Sesuatu yang sangat he-
bat sedang terjadi" jawab Bunga Bidadari. Untuk membesarkan hati adik seperguruannya, gadis ini tersenyum.
"Ha ha ha... Hemm, kelancangan biasanya
membawa malapetaka Anak-anak kurcaci yang
cantik Kalian benar-benar berani mati mengusik satu-satunya bunga langka di sini" kata sebuah
suara di tengah-tengah gemuruhnya suara tebing
yang runtuh.
TUJUH
Bunga Bidadari hentikan langkah. Melihat
kakak seperguruannya berhenti mau tidak mau
Bunga Seloka berhenti pula. Bidadari cepat mengi-tarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Saat itu ia tidak melihat apa-apa. Gemuruh suara tebing
yang runtuh semakin menggila. Hingga suasana
menjadi hingar bingar menyeramkan.
"Sebaiknya tinggalkan tempat ini, Seloka"
seru Bunga Bidadari dengan teriakan keras. Tam-
pak Bunga Seloka jadi bingung.
"Kakak sendiri bagaimana? Bukankah se-
baiknya kita tinggalkan tempat ini bersama-
sama?" "Kuakui betapa besarnya rasa sayangmu padaku Tapi kuharap kau mau menyelamatkan
bunga itu demi kepentingan Pendekar rambut me-
rah Cepatlah sebelum terlambat" perintah Bunga Bidadari setengah membentak.
"Tidak Kita datang kesini bersama-sama,
apa-pun resikonya harus kita tanggung bersama"
bantah Bunga Seloka tetap bersikeras.
"Kau terlalu keras kepala atau memang in-
gin mengingkari perintah guru" teriak Bunga Bidadari. Melihat cara saudara seperguruannya bica-ra, sadarlah Bunga Seloka bahwa Bunga Bidadari
tidak suka dibantah. Dengan berat hati gadis ber-
kulit putih bermata sipit ini terpaksa meninggalkan Bunga Bidadari. Ia berlari secepat terbang,
dan memang patut diakui semua murid-murid
Lembah Nirwana memang memiliki ilmu lari yang
sulit dicari tandingannya.
Namun sebelum Bunga Seloka benar-benar
lenyap dari pandangan mata. Dari arah samping
kiri menderu angin kencang disertai hawa dingin
luar biasa. Angin itu menghantam si gadis. Hingga sambarannya saja membuat Bunga Seloka terhuyung-huyung. Melihat hal ini Bunga Bidadari tidak tinggal diam. Ia dorongkan kedua tangannya
ke arah serangan gelap yang hampir mencelakai
adiknya.
Wuut Wuut
Buuum
"Aikh..."
Murid tertua Lembah Nirwana ini sempat
terhuyung ke belakang dua langkah. Ia pegangi
dadanya yang mendenyut sakit. Bunga Bidadari
merasa ada sesuatu yang sangat dingin dan gatal
sekali menusuk-nusuk tenggorokannya. Bunga Se-
loka memang terbebas dari ancaman maut. Akan
tetapi sekarang di depan gadis itu berdiri sesosok tubuh yang panjang luar biasa. Apa yang dilihat
Bunga Bidadari tidak lain adalah seekor ular hi-
tam. Yang mengerikan dari makhluk ini, badannya
berbentuk ular, tiga kepalanya juga kepala ular.
Hanya satu kepala yang lain saja yang berbentuk
kepala manusia biasa.
Tiga kepala yang berbentuk ular mulutnya
terbuka lebar dengan lidah bercabang. Taring-
taringnya meranggas buas siap mencabik-cabik
tubuh yang halus itu. Satu kepala pada bagian
matanya tampak terluka dan meneteskan darah.
Bunga Bidadari ingat betul, mata itu terluka kare-na senjata gaitannya. Sedangkan bagian kepala
yang tegak lurus sejajar dengan badannya meru-
pakan manusia, tetapi tampangnya angker, kulit
hitam. Diam menatap Bunga Bidadari dalam gelo-
ra buas ingin cepat melahapnya.
"Kau lihat hasil perbuatanmu?" dengus Ular Kepala Empat. Suaranya dingin menusuk membuat sekujur tubuh si gadis meremang berdiri.
"Rasanya tidak kau katakan pun aku sudah
mengerti" sahut Bunga Bidadari dengan suara bergetar.
"Hemm, Tebing Akherat yang menjadi tem-
pat tinggalku porak poranda. Bunga Arum Dalu ti-
dak mungkin pernah tumbuh lagi setelah bunga
berikut pohonnya kau cabut Sekarang kau harus
kujadikan tumbal untuk penangkal perutku Aku
harus membuat rumah baru, untuk itu dibutuh-
kan tenaga berganda. Jika ternyata dirimu masih
perawan suci, berarti aku juga mendapat kesak-
tian baru. Dan mungkin setahun lagi aku baru
membutuhkan korban baru"
"Hi hi hi Ha ha ha..." Bunga Bidadari tertawa nyaring. Kini wajahnya tidak memperlihatkan rasa takut sedikit pun juga.
"Kau tertawa. Apakah berarti kau sudah
siap menjadi tumbalku?" tanya bagian kepala ular yang berbentuk wajah mengerikan sosok manusia.
"Aku datang jauh dari Lembah Nirwana.
Mencari bunga demi menolong orang lain. Adalah
perbuatan bodoh jika aku rela mati tanpa ada
usaha menyelamatkan diri Jawabku sudah jelas,
mungkin aku baru bisa masuk ke perutmu bila di-
riku sudah menjadi bangkai" sahut Bunga Bidadari tegas. Jawaban ini hanya membuat Ular Ke-
pala Empat menjadi marah.
"Kau gadis lancang, tidak tahu betapa ting-
ginya Mahameru Kesalahan sudah begitu nyata,
tapi kau tetap mencari dalih dan keras kepala
Hiiing..." Ular Kepala Empat menjerit. Suaranya menyempitkan pembulu darah dan menulikan telinga. Sekali ia meliukkan tubuhnya, maka tiga
buah lidahnya yang berjabang menyambar laksana
mata pedang yang begitu ganas serta mengelua-
rkan suara angin bersiut.
"Binatang menjijikkan" dengus Bunga Bidadari sambil melompat menghindar. Cepat bukan
main gerakan gadis ini, namun sebelum kedua ka-
kinya menginjak tanah. Binatang sebesar dua kali pohon kelapa ini sudah menghantam kembali dengan kepalanya yang lain. Bunga terpaksa melom-
pat lagi, ia putar gaitan panjang di tangan. Makhluk ini terus bergerak memburu dan kelihatan-
nya sudah tidak lagi menghiraukan ketajaman
senjata lawan.
"Kau tidak mungkin lolos" geram Ular Kepala Empat. Sekonyong-konyong lidahnya terjulur
memanjang dengan gerakan melipat. Jika tidak
cepat membantingkan tubuhnya dan diteruskan
dengan berguling-guling. Niscaya Bunga Bidadari
sudah tersambar jilatan makhluk mengerikan itu.
Lidah bercabang itu terus terjulur, melihat
bahaya ini Bunga Bidadari kibaskan gaitannya.
Claang
"Heh, lidah ular dibacok kok bunyinya,
clang?" batin si gadis. Secepatnya ia jungkir balik.
Kemudian ia memainkan jurus-jurus Lembah Nir-
wana yang dikenal mempunyai banyak keanehan
ini.
"Hiiiing Hiiigkh"
Ular Kepala Empat tiba-tiba dorongkan tiga
kepalanya ke depan sekaligus. Dalam pada itu
Bunga Bidadari demi melihat lawan kebal senjata
langsung buang gaitannya. Sebagai gantinya ia lepaskan pukulan 'Badai Langit'.
Wuuuut
Ada semacam kabut melesat dari pori-pori
Bunga Bidadari. Kabut itu langsung bergulung-
gulung menghantam habis sosok besar di depan
Bunga Bidadari. Gadis itu merasa yakin benar se-
rangan ini mampu paling tidak melukai lawannya.
Tetapi kenyataannya setelah badai kabut itu le-
nyap, Ular Kepala Empat masih tegak kokoh sete-
gar karang.
"Ha ha ha Dengan apa kau hendak menga-
kaliku? Aku adalah makhluk yang kebal senjata
kebal pukulan. Jika kau punya seribu senjata se-
ribu pukulan, cepat kau keluarkan sebelum kebu-
ru kasib" teriak Ular Kepala Empat dengan suara lantang menggeledek.
Bunga Bidadari tidak menyahut. Kedua
tangannya lurus di bentang persis di bagian atas kepalanya. Tubuh si gadis bergetar, bibirnya yang
mungil kemerahan tanpa polesan berkemak-
kemik. Ketika kedua tangannya merangkap sejajar
dengan ubun-ubun. Maka tubuh Bunga Bidadari
berubah mengembar menjadi banyak. Rupanya
Bunga Bidadari telah mempergunakan ilmu langka
"Barisan Bidadari Berangkat Ke Bumi'. Ular Kepala Empat sekejap tampak terkesiap juga. Tapi beberapa saat setelah itu, tiga kepalanya sudah kemba-li menyerang dengan patukan-patukan ganas bu-
kan main.
Dalam hal ini ternyata Ular Kepala Empat
tidak dapat lagi membedakan mana Bunga Bida-
dari yang asli dengan yang palsu. Bila Bunga Bi-
dadari yang palsu kena dipatuknya, maka seran-
gan Ular Kepala Empat langsung nyeplos meng-
hantam angin. Sedangkan pukulan-pukulan dah-
syat terus menghujani sekujur tubuhnya. Betapa-
pun kerasnya tubuh Ular Kepala Empat. Tetapi se-
rangan yang bertubi-tubi itu membuat bagian da-
lamnya terluka juga. Ia pun menggeliat, kini seluruh tubuhnya meninggalkan sarang. Sehingga be-
kas yang ditinggalkannya membentuk sebuah lu-
bang besar yang tidak diketahui dalamnya.
"Hiiiing"
Ular Kepala Empat lagi-lagi memekik keras.
Empat kepala sama tertegak. Sebagian tubuhnya
berdiri. Lalu diluar dugaan Bunga Bidadari Ular
itu menyemburkan bisanya yang ganas.
"Pruuskh..."
Kalang kabut si gadis berusaha selamatkan
diri dari hujan bisa. Memang ia selamat dari han-taman cairan bisa yang berwarna putih itu. Tetapi
sayang dalam keadaan yang terdesak itu ia lupa
menutup jalan nafasnya. Sehingga sebagian kecil
kabut bisa terhirup olehnya.
"Hukh Celaka" pekik Bunga Bidadari. Mu-la-mula ia merasakan kepalanya jadi sakit mende-
nyut. Langkahnya limbung dan tidak teratur, perut dirasakannya sangat mual sekali. Bunga Bidadari
tidak dapat bertahan. Ia jatuh tidak sadarkan diri.
"Hemm, sudah kubilang. Tidak ada manusia
mana pun yang mampu menentangku Kau sangat
cantik, kukira sebelum kujadikan tumbal alangkah baiknya jika aku mencicipi kehangatan tubuhmu"
desis Ular Kepala Empat. Kepalanya yang tegak itu kemudian merendah. Lidahnya terjulur dengan
maksud merengkuh. Sedangkan ekornya tampak
dikibas-kibaskan.
Bunga Bidadari benar-benar berada dalam
bahaya besar. Sesaat lagi lidah Ular Kepala Empat menggapai pinggang Bunga. Saat itu pula tampak
melesat sinar kuning yang disertai berkelebatnya bayangan merah. Sinar kuning itu langsung
menghunjam ke bagian ujung lidah. Lidah tersebut putus hingga terdengarlah suara jeritan panjang
mengerikan. Kepala Ular Kepala Empat tertegak,
darah menetes-netes dari bagian lidah yang terputus itu. Ketika ia memandang lurus ke depan den-
gan kemarahan berkobar-kobar. Maka tidak jauh
dari sisi si gadis yang nyaris menjadi mangsanya berdiri tegak sosok kakek tua berpakaian dan berambut serba merah. Tatapan kakek ini penuh wi-
bawa. Ditangan kirinya tergenggam sepotong bam-
bu runcing berwarna kuning. Ular Kepala Empat
langsung dapat menduga bambu itu tadilah yang
telah melukainya. Melihat bambu tersebut nyali
Ular Kepala Empat langsung menciut. Akan tetapi
rasa penasarannya membuat kemarahan makhluk
melata ini tidak dapat dipadamkan.
"Kau ada hubungan apa dengan gadis ini,
orang tua? Sehingga kau begitu lancang mencam-
puri urusan orang lain?" bentak Ular Kepala Empat. Suaranya tidak lagi segarang tadi. Namun
jelas menyimpan dendam.
"Hubunganku dengannya adalah rasa ke-
manusiaan antar sesama manusia. Tindakanmu
sudah melampaui batas. Aku Malaikat Berambut
Api akan membunuhmu jika kau tetap bersikeras
hendak menjadikannya sebagai tumbal" tegas kakek Dewana penuh ancaman.
"Huh, kau lihatlah Tebing Akherat Tempat
ini merupakan tempat tinggalku selama puluhan
tahun. Bunga Arum Dalu akar-akarnya merupa-
kan kunci sekaligus benteng keruntuhan Tebing
Akherat. Bunga Arum Dalu sekarang telah dilari-
kan oleh adik seperguruannya. Adalah suatu tra-
disi, siapa yang berani memetik Bunga Arum Dalu, sebagai tebusannya ia harus mengorbankan nyawa
dan raganya sebagai ganti" kata Ular Kepala Empat. "Ha ha ha Jika kau menginginkan tumbal, silakan kau ambil tubuhku yang tua dan lapuk ini.
Tapi sebelum itu kita harus bertarung sampai sa-
lah seorang diantara kita ada yang mampus" kata kakek Dewana. Ular Kepala Empat kembali melirik
ke arah bambu kuning yang dipegang lawannya.
Malaikat Berambut Api bukan tidak menyadari
benda yang dipegangnya itu merupakan sumber
kelemahannya. Bambu itu terbukti dapat memu-
tus lidahnya. Kekebalan yang ia miliki menjadi tidak berarti karena bambu celaka itu.
"Aku pantang dihina Apapun keinginanmu
akan kulayani. Huuuk" Ular Kepala Empat tiba-tiba julurkan kepalanya ke depan. Kepala yang lain menyerang dari samping kiri dan kanan. Serangan
itu termasuk cepat di samping sangat berbahaya
sekali. Kakek Dewana tampak tenang-tenang saja,
namun hanya sepersekian detik lagi salah satu
moncong binatang melata ini menelan dirinya.
Bambu kuning ditangan langsung dikibaskan den-
gan posisi mendatar.
Wuuut
Bet Bet
Ssssst
Ular Kepala Empat terpaksa tarik ketiga ke-
palanya secara serentak. Terdengar desisan pan-
jang. Kemudian kepala itu terhuyung-huyung. Di-
luar dugaan bagian ekor Ular Kepala Empat men-
gibas. Buuung
"Haiiit..."
Kibasan itu membuat tumbang sepuluh ba-
tang pohon. Malaikat Berambut Api melompat
tinggi, setelah itu tubuhnya menukik ke bawah.
Bambu kuning di tangan langsung dihantamkan-
nya ke bagian ekor yang melecut bagaikan cambuk
raksasa itu.
Wuuut
Cepat sekali Ular Kepala Empat menarik ba-
lik ekornya, bagian kepala kemudian menyambar
ganas ke dada si kakek, sementara kepala yang
lain mematuk bagian leher dan perutnya. Malaikat Berambut Api putar tongkat bambu di tangan dengan kecepatan bagai titiran. Pada waktu itu juga ia pergunakan jurus 'Kacau Balau'. Gerakan yang tidak teratur dan terkesan asal-asalan segera terlihat. Ular Kepala Empat yang semula mengira ka-
kek tua itu tidak becus ilmu silat sekarang dibuat terperangah. Tidak satu pun dari sekian banyak
serangan-serangannya yang ganas itu mengenai
sasaran yang diharapkan. Malah kini lawan tam-
pak berusaha terus mendesaknya. Gempuran he-
bat segera dilakukan oleh masing-masing lawan-
nya. Suara pekik dan jerit menggeledek mewarnai
pertempuran sengit itu. Berulangkali Ular Kepala Empat hampir berhasil mencelakai lawan. Sayang
gerakannya selalu terhalang bambu kuning yang
sangat ditakutinya itu.
DELAPAN
"Aku harus punya satu cara, agar bambu
celaka itu tidak sampai mengenai tubuhku" batin Ular Kepala Empat sinis. Kini ia berdiri dengan
bertumpu pada pertengahan tubuhnya. Setelah itu
ia berputar, praktis kepala dan bagian ekornya sekarang mengibas kian kemari. Malaikat Berambut
Api tiba-tiba merasakan tubuhnya terdorong ke
belakang. Ia memperkuat kuda-kudanya. Sedang-
kan tangan kiri lepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'.
Wuuuk
Mula-mula terdengar suara gaung disertai
jeritan di sana-sini. Sinar merah hitam melesat
menyertai suara-suara aneh tersebut. Udara di sekelilingnya berubah panas bukan kepalang. Untuk
pertama kalinya Ular Kepala Empat merasa ada
tenaga dorong yang hampir memusnahkan seran-
gannya. Ia lipat gandakan tenaga dalam. Udara
panas dan dingin saling dorong tumpang tindih.
Wajah kakek Dewana menegang dan benturan ti-
dak dapat dihindari lagi.
Duuum
Ledakan keras itu membuat Malaikat Ram-
but Api terpental, tubuhnya jungkir balik namun
dapat berdiri lagi dengan kedua kakinya. Si kakek memijit dadanya yang mendenyut. Bila ia memandang ke depan, dilihatnya Ular Kepala Empat ma-
sih tertegak sedangkan salah satu moncongnya
meluncur deras mengincar bagian ubun-ubun si
kakek. "Hem..."" Malaikat Rambut Api mengguman pendek. Ia berpura-pura terkejut. Di luar dugaan ujung bambu di tangan menerobos persis di bagian bawah moncong ular tersebut.
Crook
"Haiiiing"
Ular Kepala Empat menguik keras. Darah
mengucur dari bagian luka yang tertusuk bambu.
Tiga kepala lainnya meronta memperlihatkan ke-
marahannya. Lalu sekonyong-konyong dari mulut-
nya menyembur bisa. Malaikat Berambut Api lang-
sung bergerak menjauh sambil selamatkan Bunga
Bidadari dari semburan bisa. Bila bisa Ular Kepala Empat jatuh di atas rerumputan yang menghijau.
Maka rumput-rumput itu langsung layu lalu ke-
mudian hangus.
"Dia benar-benar sangat berbahaya sekali"
batin Malaikat Berambut Api. "Aku harus bertindak lebih cepat"
Selesai ia bicara dengan diri sendiri, disertai
dengan jeritan melengking tinggi. Kakek Dewana
tampak melesat ke udara. Tongkat bambu kuning
segera ditusukkannya ke bagian kepala lawan se-
cara beruntun sambil melompat kian kemari.
Jrooos
"Hiiiikng"
Ular Kepala Empat meraung keras. Dua ke-
palanya dapat ditembus senjata lawan hingga jebol sampai ke otak-otaknya. Makhluk mengerikan ini
tampak membabi buta karena didera kemarahan
dan rasa sakit yang bukan kepalang. Sementara
darah semakin banyak yang mengucur keluar,
menjadikan Ular Kepala Empat kehilangan banyak
tenaga. "Ular Kepala Empat Akui kekalahanmu biar aku sudahi serangan" teriak Malaikat Berambut Api merasa iba.
"Belum pernah makhluk sebangsa kami
menyerah pada manusia. Perlawanan sampai titik
darah penghabisan jauh lebih baik daripada pergi berkalang malu" sahut Ular Kepala Empat. Dua
kepalanya yang tertusuk bambu tampak terkulai.
Yang satunya lagi sudah tidak dapat melihat kare-na matanya kena dicelakai oleh Bunga Bidadari.
Hanya kepala yang berbentuk kepala manusia saja
yang masih utuh. Secepat kilat ekornya yang besar bagaikan pecut raksasa melibaskan Malaikat Berambut Api.
Dess
"Hukh"
Orang tua dari Pulau Seribu Satu Malam itu
sempat tersentak ke belakang. Malaikat Berambut
Api tarik nafas dalam-dalam. Tanpa diduga-duga
ia bersalto, kedua tangannya memegang erat bam-
bu kuning tersebut. Satu loncatan tinggi dilaku-
kannya. Dengan tenaga penuh ia tusukkan senjata
itu. Ular Kepala Empat tidak sempat lagi menghindar untuk selamatkan diri. Akibatnya bambu kun-
ing itu menembus punggung hingga ke bagian sisi
perutnya.
Ia menggelepar disertai raungan menukik
telinga. Ekornya dikibas-kibaskan. Gerakan ular
besar itu kemudian melemah.
"Kkk... kau..." Hanya itu kata-kata yang te-rucap dari mulut Ular Kepala Empat. Matanya me-
redup lalu kepala terkulai mengikuti ambruknya
badan binatang itu.
Malaikat Berambut Api langsung meng-
hampiri Bunga Bidadari. Setelah meneliti keadaan gadis itu tahulah ia bahwa racun yang mengidap
di tubuh si gadis belum sampai menjalar ke bagian jantung.
Kakek itu segera mengeluarkan dua buah
obat pemunah racun kemudian memasukkan obat
itu ke mulut Bunga Bidadari. Setelah melakukan
pemijatan di beberapa tempat, kira-kira sepenanakan nasi lamanya Bunga Bidadari mulai sadarkan
diri. "Di manakah aku?" Bunga Bidadari menggeram lirih. Ia kedip-kedipkan matanya yang indah itu. "Kau berada di tempat yang aman"
"Siapakah anda?" tanya si gadis. Rupanya ia kaget juga melihat ada orang lain berdiri tidak jauh darinya.
"Aku Dewana, gurunya pemuda yang hen-
dak ditolong oleh Si Bayang Bayang" jelas Malaikat Berambut Api.
"Oh..." Gadis cantik jelita itu menarik na-pas lega. "Ular itu menyerangku" kata si gadis mengadukan perihal yang dialaminya.
"Ular itukah yang kau maksud??" Kakek
Dewana menunjuk ke arah bangkai ular yang ter-
geletak tidak jauh dari mereka.
"Siapa yang melakukannya?"
"Aku"
"Kalau begitu aku sedang berhadapan den-
gan tokoh berkepandaian tinggi?" puji Bunga Bidadari penuh rasa takjub.
"Tidak juga. Menghadapi sesuatu bila kita
tahu titik kelemahannya akan mempermudah pe-
kerjaan kita" tegas si kakek. "Sebaiknya kita ke Lembah Nirwana secepatnya Tapi kalau kau masih merasa belum kuat berjalan aku akan mendu-
kungmu"
"Kukira aku sudah sanggup berjalan sendi-
ri" Bunga Bidadari kemudian bangkit berdiri.
"Ayolah, kita tidak perlu membuang-buang waktu"
Bunga Bidadari melangkah mendahului Malaikat
Berambut Api. Sementara kakek berambut merah
itu mengikuti tidak jauh di belakangnya.
***
Tubuh kaku Suro Blondo dibaringkan di
atas dipan kayu yang telah berumur ratusan ta-
hun. Karena urat bicaranya telah terbebas dari totokan, maka ia bebas bicara apa saja.
"Ratu Leak Ternyata aku tidak sanggup me-
lenyapkan musuh besarmu. Utusan macam apa
diriku ini. Huk huk huk Aku terpaksa menangis,
sedih bukan karena tubuhku dalam keadaan terto-
tok. Aku menangis karena merasa percuma menja-
lani hidup dan percuma juga sebagai laki-laki
Apakah orang sepertiku ini masih pantas hidup
Uhk... hidup yang menyedihkan" kata Pendekar Blo'on yang masih berada di bawah pengaruh Ratu
Leak sedih.
Sosok tua renta yang terlihat hanya seperti
baying-bayang sama sekali tidak menanggapi. Ia
malah menghampiri pintu saat didengarnya suara
ketukan pada pintu depan.
Ketika pintu terbuka muncul seorang gadis
bermata sipit yang tidak lain adalah Bunga Seloka.
Gadis ini langsung membungkukkan badannya.
"Guru, aku datang dengan membawa kabar baik dan kabar buruk" lapor Bunga Seloka.
Si tua angguk-anggukkan kepala. "Kabar
apa yang kau bawa wahai muridku yang bungsu?
Katakanlah segera"
"Bunga Arum Dalu berhasil diambil oleh
kakak Bunga Bidadari. Aku diperintahkannya
membawa bunga ini pada guru. Tetapi..." kata-kata Bunga Seloka tiba-tiba terhenti. Air mata ber-linangan dan isak tangisnya pun terdengar.
"Katakanlah, segala sesuatu yang menimpa
manusia harus selalu kau ingat adalah merupakan
kehendak yang Maha Kuasa" desak Si Bayang-
Bayang alias Tangan Biru.
"Kakak... kakak Bunga Bidadari terpaksa
menghadapi Ular Kepala Empat seorang diri" lapor Bunga Seloka. "Untuk kesalahan ini aku bersedia dihukum berat guru"
Sosok yang berdiri tegak dan merupakan
bayangan yang samar-samar ini elus jenggot pan-
jangnya. "Kau pulang dengan membawa Bunga
Arum Dalu karena menuruti perintah kakak se-
perguruan. Itu adalah tindakan yang cukup terpu-
ji. Tidak ada hukuman apapun yang patut kuja-
tuhkan padamu"
Bukan merasa senang, Bunga Seloka malah
menangis tersedu-sedu. Si Bayang-Bayang ke-
rutkan keningnya. Seraya memegang bahu murid-
nya, sentuhan itu tidak terasakan oleh si gadis, karena tangan-tangan gurunya seakan-akan terbuat dari angin.
"Mengapa kau menangis?"
"Guru, aku menangis karena tidak dapat
membantu kakak seperguruan" sahut Bunga Se-
loka. "Sudahlah, jangan kau pikirkan. Berdoa semoga Tuhan selalu melindunginya Sekarang lebih baik kau tunggui pemuda itu, jangan kau sen-
tuh atau kabulkan apapun permintaannya"
"Baik, guru"
Si Bayang Bayang berjalan meninggalkan
Bunga Seloka, gerakannya ringan dan kedua kaki
hampir tidak menyentuh lantai. Bunga Seloka
memeriksa Bunga Arum Dalu yang terdapat di sa-
kunya. Ternyata bunga tersebut sudah tidak ada
di tempatnya.
"Dia telah mengambilnya" desis Bunga Seloka. Ia kemudian menghampiri Pendekar Blo'on
yang dalam keadaan telentang diam tidak berku-
tik. Diperhatikannya pemuda itu dengan malu-
malu. Sementara itu di dalam ruangan pribadinya Si Bayang Bayang sedang berusaha mencampur
beberapa ramuan untuk memunahkan Racun Pe-
lumpuh Akal Pelemah Jiwa yang telah mengeram
lama di tubuh Pendekar Blo'on. Ia memasukkan
ramuan tersebut ke dalam kendi. Terakhir kali di-ambilnya Kuntum Bunga Arum Dalu yang berwar-
na putih itu. Sekejap ia mengerahkan tenaga mur-
ni ke bagian bunga. Kuncup bunga tidak lama ke-
mudian mengembang. Dari setiap sudutnya men-
gepul kabut putih yang menebarkan bau wangi
semerbak.
"Bunga Arum Dalu, keharumanmu yang
semerbak hanya terasa bila malam telah larut.
Atas kuasa Tuhan, moga khasiatmu yang besar
pemunah dari raja-raja racun berguna untuk me-
nyembuhkan ingatan yang pernah hilang Semo-
ga... semoga..." desis Si Bayang Bayang. Hanya dengan sekali remas, bunga mukjizat itupun hancur menjadi serbuk putih. Tangan Biru menabur-
kan serbuk bunga tersebut ke dalam campuran
ramuan. Ketika serbuk bunga tercampur dengan
ramuan lain yang sudah mendidih. Maka terden-
gar suara letupan-letupan kecil disana sini. Air pun bergolak.
Gluk Glebuk Buuk
Setelah campuran ramuan menyatu dengan
serbuk bunga Arum Dalu. Maka Si Bayang Bayang
mengangkat kendi tersebut. Kendi panas diletak-
kan di atas tangannya. Aneh, kedua telapak tan-
gan Si Bayang Bayang alias Si Tangan Biru tidak
melepuh. Kakek aneh yang sosoknya seperti
Bayang-Bayangan ini selanjutnya menghampiri
Pendekar Blo'on.
"Pendekar Bodoh Kini saatnya kau kembali
dari mimpi-mimpimu yang teramat buruk. Aku
Tangan Biru akan membantumu"
"Kau siapa manusia jelek?" sahut Suro Blondo. "Aku adalah anak buah sekaligus utusan Ratu Leak Bebaskan aku dan aku akan menempurmu hingga tubuhmu jadi lumat" maki Suro.
"Guru, mulut pemuda ini keterlaluan sekali
biarkan aku yang akan mengajarinya adat" sergah Bunga Seloka. Ia bangkit berdiri dan hendak menampar pemuda itu.
Si Bayang Bayang memberi isyarat pada
muridnya agar tetap diam di tempatnya. "Biarkan
saja, dia sekarang sedang sakit dan linglung. Kau bukalah mulutnya biar ramuan dalam kendi ini
dapat masuk semua ke dalam mulutnya" perintah Manusia Tangan Biru.
"Orang-orang celaka, aku hendak kalian
apakan?" teriak Suro Blondo yang masih berada dalam pengaruh racun Pelumpuh Akal Pelemah
Jiwa dengan suara lantang.
"Kau mau dimampusin biar hilang kebodo-
hanmu" Bunga Seloka menyahuti. Seraya langsung membuka mulut si pemuda. Pemuda itu ten-
tu tidak dapat berontak karena tubuhnya dalam
keadaan tertotok. Tidak ayal lagi seluruh cairan yang terdapat dalam kendi itupun masuk ke dalam
mulut Suro seluruhnya. Mula-mula yang dirasa-
kan oleh Suro adalah rasa panas yang menjalari
tenggorokannya, lalu kebagian perut. Dan bebera-
pa waktu berikutnya ia menjerit-jerit dengan mata melotot ketika hawa panas menyerang sekujur tubuhnya. Bagian yang paling parah mendapat de-
raan hawa panas itu adalah bagian kepala dan
otaknya.
"Kaarrrhk"
Jeritan Pendekar Blo'on melengking tinggi.
Sekujur tubuhnya bermandikan keringat. Kulit-
kulitnya menjadi merah. Ada sesuatu yang mende-
sak-desak mencari jalan keluar di sekujur tubuh
pemuda ini.
"Arhk... waduh.... arrrkh... bagaimana aku
ini, bagaimana diriku ini??" pekik pemuda rambut merah ini bagaikan orang yang meregang ajal. Ia
terus menjerit dan menjerit. Hingga pemuda ko-
nyol ini pada akhirnya tidak sadarkan diri.
"Dia mati, guru" desis Bunga Seloka ketika dilihatnya Pendekar Blo'on sudah tidak bergerak-gerak lagi.
"Tidak mati, dia hanya pingsan saja" sahut Si Bayang Bayang. Kakek renta ini tetap berdiri di tempatnya sambil tetap mengawasi perkembangan
yang terjadi pada Suro selanjutnya.
Ketika itu Suro memang sudah tidak berge-
rak-gerak lagi, tubuhnya panas bukan main.
Mungkin ini terjadi akibat perlawanan racun yang mengeram di tubuhnya dengan obat yang bercam-bur bunga Arum Dalu yang baru saja diberikan
oleh Si Bayang Bayang. Tidak berselang lama, terlihatlah darah berwarna hitam keluar dari seluruh pori-pori di sekujur tubuh pemuda itu. Darah kehitam-hitaman ini berbau busuk bukan main. Ti-
dak bedanya seperti bau bangkai orang yang telah meninggal tujuh hari.
Bunga Seloka tutup hidungnya, ia ter-
huyung mundur satu langkah dengan wajah tidak
kuasa menyembunyikan perasaan ngerinya. Sete-
lah darah kehitam-hitaman tersebut tidak menetes lagi, maka Si Bayang Bayang melangkah mendekati. Kedua tangannya ditekankan ke dada si pemu-
da. Seraya lalu memejamkan matanya. Bunga Se-
loka sadar betul kalau gurunya sedang mengerah-
kan tenaga dalam ke tubuh Pendekar Mandau
Jantan.
Tubuh yang dalam keadaan tidak sadarkan
diri itu tampak bergetar hebat. Kemudian menyu-
sul dari seluruh pori-pori si pemuda keluar darah
berwarna agak hitam kemerahan. Jelaslah sudah
bahwa Si Bayang Bayang sengaja membuat sisa-
sisa racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa hilang se-
luruhnya dari tubuh Suro.
Si Bayang Bayang setelah melihat darah
berwarna merah segera angkat kedua tangannya.
Tangan itu selanjutnya dipindahkan ke bagian ke-
pala. Untuk yang kedua kalinya Si Bayang Bayang
mengerahkan tenaga dalam. Hal ini dilakukannya
semata-mata untuk memperbaiki sel-sel otak Suro
yang sempat dikacaukan oleh Racun Pelumpuh
Akal Pelemah Jiwa. Tubuh Pendekar Mandau Jan-
tan itu tidak lagi terasa panas, tetapi terjadi perubahan dingin yang begitu mendadak. Di saat itu
Suro Blondo sudah sadarkan diri. Karena ia me-
mang tidak punya kekuatan untuk membang-
kitkan tenaga dalamnya. Praktis perubahan udara
dingin yang terjadi pada dirinya membuat tubuh
pemuda itu tampak membiru keseluruhannya.
"Oh... hhooo... dingiiin... aaaah..." Pemuda konyol ini menjerit-jerit seperti orang gila. Suaranya bergetar pertanda ia hampir-hampir tidak
kuasa menahan hawa dingin yang menderanya
bertubi-tubi.
Si Bayang Bayang tampak tenang-tenang
saja. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada diri pemuda itu. Apa yang dirasakan oleh Suro tidak lain karena hawa murni yang disalurkan oleh
Si Bayang Bayang mulai menyapu habis sisa-sisa
racun yang mengalir dalam darah pemuda ini. Un-
tuk yang kedua kalinya Suro jatuh pingsan lagi.
SEMBILAN
Pendekar Blo'on dibiarkan dalam keadaan
pingsan cukup lama juga. Pada waktu yang ber-
samaan tiba-tiba terdengar suara panggilan dari
luar tabir gaib yang mengelilingi seluruh lembah.
Untuk diketahui selain murid-murid Lembah Nir-
wana tidak ada yang tahu bagaimana caranya da-
pat ke luar masuk lembah dengan aman.
"Kepada pengusaha lembah, harap sudi
memberi jalan masuk Kami datang dengan tan-
duk-tanduk yang komplit termasuk tanduk milik
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya..."
"Jika kau Penghulu Siluman Kera Putih
Sebaiknya masuk dari pintu utara. Saat ini hanya pintu itu saja yang terbuka" jawab Manusia Tangan Biru.
Sementara itu di pinggir lembah, tepatnya di
luar tabir lingkaran gaib yang menjadi pelindung lembah, Mata Iblis kelihatan sudah tidak sabar.
"Mengapa kita berdiri di sini terus? Tadi kau bicara dengan suara perut. Bicara dengan siapa?"
tanya Mata Iblis.
"Dengan penghuni lembah ini" jawab Barata Surya.
"Penghuni lembah sejenis hantu kepompong
barangkali. Hingga tempat tinggalnya saja diselimuti tabir" Laki-laki pendek yang tidak lain adalah Manusia Topeng menimpali.
"Entahlah, kalian ribut melulu. Daripada ribut-ribut sebaiknya kita pergi ke sebelah utara
lembah ini Aku ingin cepat-cepat melihat bagai-
mana keadaan muridku hingga saat ini" ujar Barata Surya.
"Mataku yang buta ini memang tidak meli-
hat. Tetapi kukira yang namanya sebelah utara
lembah cukup jauh dari sini. Aku tidak mau men-
gikuti peraturan gila penghuni lembah. Sebaiknya kuterabas saja dari sini" dengus Mata Iblis sambil bersungut-sungut. Dengan cepat ia melesat ke
arah lembah.
Wuuk
Duuuk
"Aduh..."
Seakan ada sebuah tenaga besar yang tidak
terlihat yang mendorongnya. Mata Iblis terjeng-
kang. Ulah kakek sakti namun mempunyai kepin-
taran tidak lebih tinggi dari keledai ini membuat Manusia Topeng dan Barata Surya tertawa terbahak-bahak.
Dengan muka merah padam Mata Iblis
bangkit kembali. Ia mengerahkan tenaga dalam ke
bagian tangannya. Tapi tindakan yang akan dila-
kukan oleh Mata Iblis segera dicegah oleh Manusia Topeng.
"Sahabatku Mengapa hendak merusak
dinding rumah orang? Pintu sudah tersedia, tuan
rumah sudah mempersilahkan masuk Bercapai-
capai sedikit tidak mengapa. Siapa tahu di dalam sana gadis-gadis cantik sudah menunggu kita?"
"Betul. Kalau peruntungan lebih baik bukan
mustahil seorang gadis telanjang menyambut ke-
hadiran kita di luar pintu" Barata Surya menim-
pali. Manusia Topeng tertawa mendengar gurauan
Barata Surya yang ngawur tidak keruan itu.
"Aku tidak ikut. Sampai di sini aku malah
teringat pada Ratu Leak. Hatiku rasanya belum
tenteram sebelum membalaskan rasa sakit hati
yang sudah lama berkarat" dengus Mata Iblis tiba-tiba. Manusia Topeng dan Penghulu Siluman Ke-
ra Putih saling pandang. Lalu Barata Surya berka-ta. "Kurasa hanya Manusia Topeng saja yang tidak punya kepentingan langsung dengan Ratu Leak.
Aku sendiri seperti yang kau lihat, jelas punya kepentingan dengan Ratu Leak. Karena perbuatan-
nya muridku jadi linglung dan bermaksud mem-
bunuh guru sendiri. Rasa penasaranku adalah
siapa sesungguhnya iblis yang menamakan dirinya
Ratu Leak itu. Hingga ia begitu bernafsu ingin
membunuhku. Sialnya lagi ia memperalat murid-
ku..." "Kalau pun kau punya kepentingan dengan Ratu Leak. Kau tidak boleh turun tangan membunuhnya. Terkecuali aku sudah mengambil anunya.
Ini terpaksa kulakukan karena ia telah mengambil barangku, bukan itu saja barangku konon dije-murnya untuk dijadikan pajangan" dengus Mata Iblis sambil bersungut-sungut.
"Mengenai siapa nanti yang berhak mem-
bunuh Ratu Leak tidak usah kita persoalkan. Yang penting sekarang kita harus masuk ke lembah"
ujar Barata Surya.
"Bagaimana pendapatmu, sahabatku?"
tanya Mata Iblis. Seraya memandang tajam pada
Manusia Topeng.
"Aku memutuskan untuk menunggu di si-
ni" tegas Manusia Topeng.
"Kalau sahabatku ini menunggu di sini. Aku
juga ikut menunggu disini"
"Jadi siapa yang akan membawa tanduk
sakti itu?" tanya Barata Surya.
"Kau saja."
"Tanpa sarung Sutra Kencana?" Mata Penghulu Siluman Kera Putih melotot.
"Bagaimana sahabatku, apakah sarung Su-
tra Kencana ini harus kupinjamkan padanya?
Apakah manusia muka kunyuk ini bisa diper-
caya?" "Kau sudah kehilangan barangmu, manusia terlahir punya bakat mencuri. Kalau sarungmu di-tukarnya. Atau dia melarikan sarung sakti itu apa bukan kau yang repot. Kau bisa kehilangan barang untuk yang kedua kalinya. Untuk itu sebaiknya
kau ikut dia dulu. Antarkan tanduk celaka kepada penghuni lembah. Aku bisa menunggumu disini"
"Kau jangan bicara sembarangan dan ber-
perasangka yang bukan-bukan Manusia Topeng.
Jika aku marah, nanti kurobek-robek topengmu
baru kau rasa" maki Penghulu Siluman Kera Putih.
Manusia Topeng hanya tertawa bergelak.
Barata Surya kemudian menarik tangan Mata Iblis
menuju pintu utara.
Ternyata benar di sebelah utara terdapat
sebuah pintu yang samar-samar dan tembus pan-
dang. Kedua orang ini segera masuk melalui pintu
yang berwarna seputih salju itu. Semua pintu terdiri dari tujuh buah. Ketika mereka melewati pintu terakhir, maka tercium bau harum semerbak yang
khas. Kedua tokoh tua ini sekarang melewati ta-
naman bunga yang terdapat di lembah. Tidak lama
sampailah mereka di depan sebuah bangunan se-
derhana terbuat dari bahan kayu jati. Pintu ban-
gunan di depan mereka tiba-tiba terbuka. Dua
orang murid Lembah Nirwana yang lain menyam-
but kedatangan orang-orang ini.
Barata Surya mengisiki. "Wah rugi kau jadi
orang buta. Gadis-gadis yang menyambut kita can-
tiknya bukan main..." puji si kakek konyol sambil senyum-senyum.
"Sial kau Kalau pun aku dapat melihat ra-
sanya percuma saja, barangku sudah tidak ada.
Paling jempolku yang tegang" dengus Mata Iblis.
"Kepada tetamu Lembah Nirwana harap sa-
bar menunggu Guru kami sekejap lagi berkenan
menjumpai anda berdua" kata salah seorang dari kedua gadis itu dengan ramah dan senyum ma-nisnya tetap menghias di bibir. Mereka baru saja hendak meninggalkan ruangan tamu. Namun
Penghulu Siluman Kera Putih menahannya saat ia
mendengar suara bak bik buk di ruangan sebelah.
"Ada apa kakek tua?" tanya gadis kedua.
"Eeh... aku mendengar suara seperti anjing
dipukuli, sesungguhnya siapakah yang sedang
menjalani penyiksaan itu?" tanya Barata Surya.
"Bukan apa-apa. Guru kami sedang beru-
saha membuat sadar seekor anak kelinci yang
pingsan." sahut kedua gadis itu hampir serentak.
Mereka pun akhirnya berlalu meninggalkan ruan-
gan tamu. Baru saja murid-murid Lembah Nirwa-
na meninggalkan mereka. Mata Iblis berbisik pada Barata Surya.
"Mengapa tolol amat? Bagaimana kalau
yang digebuki itu muridmu?"
"Heii... apa betul. Kalau dia berani-berani menggebuk muridku, akan kubalas murid-muridnya yang cantik itu akan kugebuk pula" geram Barata Surya sewot. Mata Iblis hanya terse-
nyum. "Bicara seenak perutmu Padahal kau tidak bedanya dengan harimau ompong yang cuma pandai berkaor saja"
"Kita lihat saja nanti" kata Barata Surya semakin tidak senang melihat sikap Mata Iblis
yang terlalu meremehkannya.
"Ah... maaf aku telah membiarkan kalian
menunggu terlalu lama" Sebuah suara tiba-tiba terdengar di samping mereka membuat kedua
orang tua ini tersentak kaget. Adalah sesuatu yang sangat mengherankan jika Barata Surya dan Mata
Iblis tokoh berkepandaian tinggi ini sampai tidak mendengar suara langkah orang yang baru saja bicara tadi.
Penghulu Siluman Kera Putih cepat meno-
leh. Seorang laki-laki tua renta berpakaian putih tipis tampak tersenyum. Tubuh orang ini begitu
kurusnya, kulitnya yang keriput tidak beda den-
gan lembaran kain tipis pembalut tulang. Satu kenyataan lain yang membuat Barata Surya terkejut
setengah mati. Orang ini kedua kakinya sama se-
kali tidak menyentuh tanah. Tubuhnya tipis seper-ti bayang-bayang.
"Andakah yang bergelar Si Bayang Bayang
alias Manusia Tangan Biru?" tanya Barata Surya.
Sambil bertanya ia melirik ke bagian kedua tangan si kakek renta. Ternyata kedua tangan yang kurus kering itu berwarna biru sepenuhnya.
"Seperti yang kau lihat, saudara Barata
Surya" "Tapi bagaimana dengan aku yang tidak bi-sa melihat" Mata Iblis langsung protes.
"Aku memang Manusia Tangan Biru. Dan
saudara yang buta ini tentu Mata Iblis" desah Si Bayang Bayang. Keistimewaan orang ini setiap bicara membuat terkesima orang yang mendengar-
nya. "Sekarang aku ingin bertanya bagaimana keadaan muridku" kata si kakek baju putih langsung pada pokok persoalan.
Orang yang ditanya tidak langsung menja-
wab. Tangannya malah menggapai, dan tiba-tiba
saja tanduk sakti yang berada di tangan Mata Iblis telah berpindah ke tangan Manusia Tangan Biru.
Yang mengejutkan kedua tangan orang ini tidak
melepuh.
"Muridmu dalam keadaan aman-aman saja.
Ingatannya kembali pulih. Barusan aku memuku-
linya hingga babak belur untuk memperlancar pe-
redaran darahnya. Tapi sampai sekarang ia belum
sadar. Kesempatan ini dapat kita pergunakan un-
tuk mengembalikan kesaktiannya yang tertahan
dalam tanduk ini" jelas Si Bayang Bayang. Selan-
jutnya ia bicara ditujukan pada Mata Iblis. "Saudara yang tidak bisa melihat. Tanduk telah kuambil, terima kasih atas bantuanmu. Jika kau berkenan
mari silahkan mengikuti aku untuk melihat pen-
gembalian kesaktian serta tenaga dalam Pendekar
Blo'on"
Satya Gama alias Mata Iblis gelengkan ke-
pala. "Mataku tidak melihat, apa guna menyaksikan pengembalian kesaktian Pendekar Bodoh. Ka-
wanku di luar sana sudah menunggu. Aku takut
dia meninggalkan aku Sebaiknya aku permisi sa-
ja" Kakek berambut panjang itu bangkit berdiri.
"Apakah kau perlu diantar ke pintu depan
Mata Iblis? Jika perlu muridku Bunga Seloka da-
pat mengantarkanmu"
"Perlu... he he he... perlu sekali..." sahut Mata Iblis sambil tertawa-tawa.
"Jangan" cegah Barata Surya. "Mata Iblis walau pun buta tapi dapat menentukan jalan keluar sendiri. Tidak perlu pakai penuntun, ia tua bangka genit yang suka menggatal. Sayang dia tidak punya pedang Ha ha ha..."
"Penghulu Siluman keparat Jangan kau be-
rani membongkar barang orang lain... eeh, mak-
sudku rahasia orang lain Aku bisa lupa diri dan membunuhmu" Sambil mengomel tidak jelas, Ma-ta Iblis berkelebat pergi melewati pintu demi pintu tabir pelindung yang ada.
Sementara itu Barata Surya dan Manusia
Tangan Biru telah sampai di dalam ruangan dima-
na Pendekar Blo'on dirawat. Melihat keadaan Suro, Barata Surya langsung mendekat dan berbisik di
dekat telinga si pemuda yang masih belum sadar-
kan diri.
"Murid gendeng, tolol bego. Sudah mengu-
rus diri sendiri tidak becus. Guru yang tidak tahu apa-apa malah mau dibikin celaka Pemuda macam kau ini pantasnya dibikin mampus saja. Ta-
pi..." Penghulu Siluman garuk-garuk kepala. "Ma-na aku berani dengan kakek rambut merah itu.
Jangan-jangan ia membantai seluruh penghuni
gunung Mahameru. Lagipula mustahil aku bunuh
pemuda konyol ini. Lah wong kadang-kadang aku
yang sudah tua bangka ini tidak betul dalam bica-ra kok..."
"Apa yang kau pikirkan saudara? Sekarang
saatnya untuk mengembalikan kesaktian murid-
mu" suara Manusia Tangan Biru menyadarkan si kakek dari lamunannya. Bila Barata Surya memandang ke depan. Maka dilihatnya Si Bayang
Bayang yang telah duduk bersila tampak meng-
genggam tanduk sakti yang mengandung hawa
panas luar biasa itu sambil mengerahkan tenaga
dalamnya.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Yang harus saudara lakukan adalah du-
dukkan Suro. Saudara duduk di belakangnya den-
gan posisi kepala tidak lebih tinggi dari kepala pemuda itu. Jika kepalamu lebih tinggi aku takut
pengembalian kesaktian malah nyasar melalui
ubun-ubunmu Sudahkah saudara mengerti??"
"Mengerti" jawab Barata Surya. Dalam hati ia jadi jengkel juga melihat cara Si Bayang Bayang yang memperlakukannya seperti anak kecil. Peng-
hulu Siluman Kera Putih melakukan apa yang di-
perintahkan Manusia Tangan Biru. Sebelum ma-
nusia setengah gaib di depannya melakukan apa
yang seharusnya ia lakukan. Barata Surya yang
usil bertanya....
"Ee... tunggu dulu. Apakah Bunga Arum
Dalu sudah didapat dan dimakan oleh muridku?"
"Jangan bawel Bunga Seloka membawakan
bunga itu ke sini. Barang sudah didapat dan di-
makan muridmu. Kesadarannya pulih seperti se-
mula, dan kekuatan sekaligus kesaktian titipan
Ratu Leak telah musnah Ada lagi yang ingin kau
tanyakan kakek bawel"
"Ya sudah Cuma itu saja kok" sahut Barata Surya sambil senyum-senyum.
"Pusatkan kosentrasimu, jangan lengah jika
tidak ingin pekerjaan kita ini mengalami kegaga-
lan" pesan Si Bayang Bayang. Suaranya pelan namun tegas.
Tidak lama kemudian. kedua tokoh sakti ini
sudah mulai tenggelam dalam kosentrasi penuh.
Sosok tubuh Manusia Tangan biru yang samar-
samar itu kelihatan menggeletar. Tanduk sakti
yang tergenggam di kedua tangannya yang semula
hanya memancarkan sinar merah redup sekarang
mulai menyala dan berpijar-pijar. Bagian ujung
tanduk diarahkan kebagian ubun-ubun Pendekar
Blo'on. Barata Surya yang berada di belakang Suro dapat merasakan adanya hawa hangat yang begitu
kuat mengalir ke tubuh Suro. Wajah Si Bayang
Bayang semakin lama semakin menegang. Lalu....
"Huuup"
Diawali dengan terdengarnya pekikan terta-
han. Dari ujung tanduk terdengar desiran halus.
Terlihat empat sinar, merah putih kuning dan
jingga melesat bagaikan lompatan bunga api ke
arah bagian ubun-ubun Suro Blondo.
Jsssssst
Sampai di atas kepala Suro sinar itu beru-
bah jadi kabut. Kabut warna warni selanjutnya
tersedot sepenuhnya ke dalam ubun-ubun Suro.
Seakan ada sebuah kekuatan dari dalam tubuh
Suro yang menariknya. Pemuda itu menggelepar.
Dengan kuat Barata Surya tetap memegangi mu-
ridnya agar tetap pada posisi semula.
Untuk sekian saat lamanya tanduk tetap
memancarkan empat sinar sakti ke bagian ubun-
ubun Suro. Sampai sinar itu akhirnya semakin
melemah, lama kelamaan bertambah lemah dan
hilang tidak berbekas.
Si Bayang Bayang menyimpan tanduk di
balik pakaiannya. Suro terus menggeliat. Setelah itu terdengar suara jeritannya yang panjang me-nyakitkan telinga.
"Kau dengar suaranya, kesaktian muridmu
sudah pulih sebagaimana sediakala" kata Manusia Tangan Biru.
Mata Pendekar Blo'on yang semula terpejam
rapat, kini secara perlahan mulai terbuka. Ia lalu celingak celinguk seperti orang bingung. Ketika
melihat Penghulu Siluman Kera Putih berada di
belakangnya, pemuda ini jadi kaget.
"Guru? Mengapa kau dan aku sama-sama
berada di sini? Tempat apakah ini?" seru pemuda
itu. Seraya meraih tangan Barata Surya lalu men-
ciumnya. Kakek berambut putih itu malah cembe-
rut. Suro semakin heran, ia memandang ke de-
pannya. Melihat Manusia Tangan Biru pemuda ini
langsung nyerocos. "Guru... siapa orang tua keri-putan macam jerangkong ini??"
Plang
"Waduuuh..." Suro menjerit, ia jatuh ter-jengkang. Secepatnya pemuda itu bangkit berdiri.
Barata Surya memandang dengan mata melotot
kepadanya.
"Mengapa kau memukulku, guru Apakah
kau sudah gila?" kata pemuda itu sambil cen-gengesan.
"Pemuda sontoloyo Yang gila itu kau. Cepat kau beri penghormatan pada kakek yang telah
menolongmu itu, cepaat..." perintah Penghulu Siluman. Karena Pendekar Blo'on masih bengong sa-
ja. Si Kakek hantamkan kakinya ke betis Suro
hingga membuat pemuda itu jatuh terduduk se-
perti orang yang menghaturkan hormat.
"Maafkan aku orang tua Aku bingung apa
yang telah terjadi dengan diriku. Mengapa tiba-tiba aku sudah berada di sini"
Manusia Tangan Biru tersenyum. "Kau
hampir dapat diperalat Ratu Leak. Kami baru saja berhasil mengobatimu juga mengembalikan kesadaran serta kesaktianmu" jelas Si Bayang Bayang.
Suro langsung terdiam. Ia mencoba men-
gingat-ingat kejadian terakhir kali selama ia tersadar. Mula-mula bayangan seorang gadis yang tidak lain adalah Dewi Kerudung Putih. Lalu Si Buta
Mata Kejora. Waktu itu Ratu Leak mengancam
akan membunuh gadis misterius itu jika ia tidak
mau meminum cairan merah pekat yang diberikan
oleh Ratu Leak. Demi menyelamatkan Dewi Keru-
dung Putih akhirnya ia meminum cairan yang ter-
dapat di dalam cangkir tengkorak itu. Sebelum itu ia juga ingat bahwa Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya telah memupus habis seluruh tenaga
sakti yang dimilikinya. Apa yang terjadi pada dirinya selanjutnya Suro benar-benar tidak tahu.
"Kau sudah mengingatnya, Suro?" tanya
Manusia Tangan Biru.
"Ya... Coba tolong ceritakan apa yang aku
lakukan selama dalam keadaan tidak dapat men-
gingat apa-apa?" pinta Suro ditujukah pada gurunya. Secara gamblang Barata Surya lalu mence-
ritakan segala sesuatu yang terjadi atas diri pemuda itu. Wajah Pendekar Mandau Jantan sebentar
memerah sebentar memucat mendengar penutu-
ran gurunya.
"Ratu Leak benar-benar perempuan iblis
Segala tindakannya patut dihentikan. Aku harus
mencarinya, guru" Suro tiba-tiba meraba ping-gangnya. Ia terheran-heran ketika mendapati ke-
nyataan senjata andalannya sudah tidak ada lagi
di situ. "Kakekmu yang membawa senjata itu" jelas Barata Surya.
Suro garuk-garuk kepala lagi. "Sungguh
memalukan jika aku benar-benar hampir membu-
nuh guru sendiri." desis Suro Blondo geram.
"Bukan kau yang memalukan. Ratu Leak-
lah yang sengaja hendak mempermalukan kami"
ujar Barata Surya.
"Sebenarnya ada persoalan apa antara guru
dengan Ratu Leak hingga ia begitu bernafsu ingin membunuh guru?" Pendekar Blo'on bertanya dengan tatapan mata menyelidik.
"Mana aku tahu. Mendengar namanya saja
baru kali ini" jawab si kakek.
"Lalu sekarang aku berhutang nyawa den-
gan kakek ini? Bagaimana aku harus membalas
semua kebaikan ini?" tanya si konyol sambil garuk-garuk kepala.
"Untuk sementara waktu kau harus tinggal
di Lembah Nirwana ini Aku akan menjelaskan du-
duk persoalan yang sebenarnya pada kedua guru-
mu" tegas Manusia Tangan Biru. Tidak lama kakek renta ini mendekati Barata Surya. Seraya berbisik-bisik di telinga kakek berpakaian putih itu.
Barata Surya angguk-anggukkan kepala. Entah
apa yang dikatakan oleh Manusia Tangan Biru,
Suro tidak dapat mendengarnya. Yang jelas Peng-
hulu Siluman Kera Putih setelah itu bangkit berdi-ri dan bersiap-siap hendak pergi.
"Guru? Hendak kemana?" tanya Suro terheran-heran.
"Kau diam saja disini. Urusan di luar tam-
paknya bertambah gawat Kau tidak usah banyak
cing-cong, ikuti saja apa yang diperintahkan oleh kakek ini?" pesan Barata Surya.
"Mana bisa begitu Aku..." terlambat bagi pemuda ini, karena Penghulu Siluman Kera Putih
sudah melesat meninggalkan pintu depan.
"Diamlah kau di sini Hari ini hari istirahat untukmu. Nanti setelah itu ada rahasia besar yang akan kusampaikan padamu" kata Manusia Tangan Biru. Suro jadi ragu-ragu. Urusannya dengan
Ratu Leak membuatnya tidak dapat tenang. Tetapi
ketika melihat seorang gadis cantik luar biasa me-nyediakan makanan untuknya. Pendekar Blo'on
jadi terperangah.
"Bagaimana, tidakkah kau terima tawaran-
ku ini?" suara Si Bayang Bayang membuyarkan lamunan pemuda itu.
"Baiklah, mengingat budi baikmu rasanya
aku malu membantah" sahut Pendekar Blo'on.
Dalam hatinya berkata lain. "Siapa sih orangnya yang tidak sudi dilayani oleh gadis-gadis secantik bidadari?"
"Sekarang istirahatlah Nanti malam kau
akan melihat rahasia besar yang telah kukatakan
padamu itu" janji Si Bayang Bayang. Kakek renta itu kemudian meninggalkan Pendekar Blo'on seorang diri. Nah rahasia besar apakah yang akan
disampaikan oleh Manusia Tangan Biru? Siapakah
kakek setengah manusia setengah gaib ini? Apa
yang akan terjadi dengan Malaikat Berambut Api,
Mata Iblis, Manusia Topeng dan Datuk Nan Ga-
dang Paluih? Bagaimana pula dengan Ratu Leak?
Siapa yang dapat merampas Batu Lahat Bakutuk pangkal dari segala bencana itu?
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...