Rabu, 12 November 2014

Pendekar Bloon - eps.7 Neraka-Neraka


PENDEKAR BLOON

Episode 7
NERAKA-NERAKA



SATU

Sampai sejauh mana Prisma Permata ber-

pendar? Dan seberapa hebat kekuatan yang dimi-

likinya? Hanya Datuk Alang Sitepu saja yang

mengetahuinya. Sebagaimana pembicaraan yang

sedang berlangsung di dalam ruangan pertemuan

itu. "Aku sekarang sudah menemukan cara untuk menggabungkan kekuatan yang kumiliki den-

gan kekuatan Prisma Permata ini. Hanya kita

memerlukan waktu dan tempat yang aman untuk

melakukannya."

"Datuk Apakah tempat kediamanku ini ti-

dak cukup aman?" tanya Diraja Penghulu Iblis.

Raja Penyihir ini menyeringai, Bibirnya

yang menggelambir dan nyaris tanggal dari tem-

patnya bergoyang-goyang.

"Harus kuakui tempat ini sudah tidak

aman lagi. Tamu-tamu yang tidak diundang ber-

keliaran disini pula."

"Aku menyediakan Ciruyung tempat ting-

galku untuk menggabungkan dua inti kekuatan

antara Prisma Permata dengan ilmu sihir Datuk"

Nyanyuk Pingitan menawarkan diri.

"Hmm, sebuah ide yang sangat baik. Aku

setuju. Tapi bagaimana dengan kawan Buto Te-

renggi dan Diraja Penghulu Iblis?" Si Bungkuk Lima memandang lurus pada dua orang ini.

"Aku setuju saja. Asalkan semuanya sesuai

dengan rencana kita" Diraja Penghulu Iblis menyetujuinya.

Hanya Buto Terenggi saja yang tidak mem-

berikan jawaban. Namun ia menganggukkan ke-

pala. Datuk Alang Sitepu tertawa. Sejenak setelah tawanya terhenti ia berkata:

"Kalau semuanya sudah setuju, sekarang

aku ingin mengajak Nyanyuk Pingitan pergi ke

rumahnya. Anda berdua boleh menunggu disini

untuk mengecoh musuh diluar Sepekan menda-

tang anda boleh menyusulku jika aku tidak sem-

pat datang kemari" pesan Datuk Alang Sitepu.

"Baiklah. Aku meminta agar Diraja Penghu-

lu Iblis dan Buto Terenggi menjaga keutuhan

bakal istana yang akan kita bangun ini."

Setelah berkata begitu Nyanyuk Pingitan

dan Datuk Alang Sitepu bangkit berdiri. Pada saat itu waktu sudah menjelang subuh. Berangkatlah

kedua tokoh ini meninggalkan gunung Pangrang-

ko.

Sementara itu pada saat yang sama, Dewi

Bulan yang telah menyamar sebagai Pendekar

Blo'on ini tengah tertidur pulas. Ia memang tampak letih sekali menghindari sikap Maya Swari

yang begitu manja dan mengajaknya melakukan

hubungan sebagaimana layaknya suami istri un-

tuk yang kedua kalinya. Bagaimana mereka dapat

melakukannya. Sedangkan pendekar Blo'on palsu

mempunyai kelamin yang sama.

Dewi Bulan sebenarnya merasa geli sendiri,

tapi juga khawatir. Ia tidak dapat membayangkan





bagaimana jadinya jika Suro Blondo yang berada

di samping Maya Swari.

Paling tidak malam ini mereka sudah me-

lambung ke surga. Walau sesungguhnya Suro

Blondo hanya berpura-pura saja menjadi suami

Maya Swari.

Setabah-tabahnya laki-laki, siapa sih

orangnya yang tidak tergiur melihat kecantikan

Maya Swari?

Dengan alasan terlalu lelah, Maya Swari

rupanya mau mengerti juga. Ia pun kelelahan se-

telah lama membujuk demikian juga halnya den-

gan Suro Blondo palsu.

Dalam keadaan pulas sedemikian rupa,

kedua orang ini sama sekali tidak tahu bahwa

saat itu ada sosok bayangan mengendap-endap.

Bayangan itu tercipta dari api. Setelah sampai didepan pintu kamar Maya Swari. Bayangan terse-

but berhenti. Matanya memandang liar kesekeli-

lingnya untuk memastikan keadaan aman-aman

saja. Tidak lama tangannya bergerak, tangan itu sama sekali tidak menyentuh pintu. Tapi sungguh aneh, pintu terbuka. Si bayangan berkerudung

itu menyelinap masuk. Setelah mulutnya berko-

mat-kamit. Tidak lama ia telah mendekati Maya

Swari. Gadis ini sempat menggeliat, namun tidak terjaga.

Bayangan berpakaian gelap ini kemudian

menotok urat gerak dan jalan suara Maya Swari.

Gadis ini tersentak kaget dan terjaga. Matanya





pun terbelalak lebar. Tapi sayang sudah terlam-

bat, jangankan bergerak bersuara saja Maya Swa-

ri tidak mampu.

Orang yang telah menotok gadis ini mem-

punyai maksud yang tidak baik. Bayangan itu

tanpa menunggu lebih lama lagi langsung me-

manggul Maya Swari di pundaknya. Lalu menye-

linap pergi dengan membawa Maya Swari.

Melihat caranya, tentu bayangan itu memi-

liki kepandaian sangat tinggi sekali. Sebab Dewi Bulan yang memiliki kepandaian tidak rendah

sama sekali tidak terjaga dari tidurnya.

Kita tinggalkan Dewi Bulan yang tertidur

pulas memeluk mimpi. Ketika itu matahari mulai

meninggi. Di salah satu lereng gunung Pangrang-

ko. Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng tampak

terheran-heran melihat dandanan pendekar

Blo'on yang menjadi kacung itu. Rupanya tadi

malam mereka tidak sempat melihat keadaan si

pemuda berhubung begitu sibuknya mereka men-

gamankan Manusia Merah. Tapi kini setelah ma-

nusia Merah berada di tempat yang aman dan pu-

las pula. Mereka baru dapat melihat keadaan Su-

ro Blondo yang sebenarnya.

"Kau..."

"Ya, aku." Suro Blondo cengengesan sambil membetulkan topinya, berupa ikat kepala model

kacung.

"Bukan itu maksudku. Siapa namamu?

Apakah kau punya gelar?" tanya Gajah Gemuk sambil uncang-uncang kaki, namun mata tetap





tertuju pada Manusia Merah yang tengah tertidur.

"Aku Suro Blondo?"

"Apa? Suro Blondo?" Gajah Krempeng bela-lakkan mata. Teringat nama depan si pemuda, la-

ki-laki kurus macam kurang makan ini teringat

pula kejadian sekitar delapan belas tahun yang

lalu. "Apakah kau terlahir di gunung Bromo pa-da malam satu Asyuro delapan belas tahun yang

lalu?" Gajah Gemuk ikut bicara.

"Kok tau...?"

"Ya tau... Pernah terjadi peristiwa besar

disana. Jika benarlah kau anak ajaib sebagaima-

na dikatakan oleh seorang resi di pantai selatan pulau Jawa. Berarti sesuai dengan tanggal kelahiran kau manusia hebat. Tapi mengapa bertam-

pang tolol seperti ini? Benarkah rambutmu me-

rah?" Tanpa menunggu jawaban si pemuda Gajah Gemuk mencopot ikat kepala si pemuda. Tapi

apa yang diharapkannya tidak menjadi kenya-

taan. "Rambutnya hitam, kakang. Seperti bukan dia orangnya si bayi ajaib dulu." Gajah Kurus menimpali.

"Apakah ciri-cirinya seperti itu?" Suro Blondo bertanya. Tiba-tiba ia menuangkan air didalam kendi yang dibawanya. Rambutnya menjadi

basah. Ketika rambut diusap, maka kelihatanlah

warna yang asli.

"Hei... siapa kau ini yang sebenarnya anak





muda?" Hampir bersamaan Gajah Gemuk dan

Gajah Kurus bertanya.

"Namaku Suro Blondo, tidak punya ibu ti-

dak punya bapak. Orang-orang yang telah mem-

bunuh orang tuaku kini masih dalam pengejaran.

Yang lain-lainnya aku tidak bisa katakan"

"Ah malang benar nasibmu. Mengenai per-

soalanmu kita bicarakan saja nanti. Sekarang

aku ingin bertanya mengapa kau menyamar se-

bagai kacung?" tanya Gajah Gemuk heran.

"Seseorang yang memintaku begini. Karena

aku memang tidak mau menikah dengan anaknya

iblis." Suro Blondo berterus terang.

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Seorang sahabat yang cukup lama kuken-

al." sahut Pendekar Blo'on, lalu tersenyum.

"Namanya? Sebutkan namanya?" desak

Gajah Gemuk.

"Sssst, bicara jangan keras-keras. Jika

manusia Merah terjaga, mati kita semua." Si pemuda berbisik.

"Aku mengerti. Coba katakan siapa na-

manya?" Gajah Gemuk berbisik pula sehingga se-kilas terlihat lucu.

"Dewi Bulaan..." jawab Suro Blondo dengan suara keras lalu tertawa ngakak. Gajah Ge-

muk sampai melompat kaget. Sebaliknya Gajah

Krempeng malah menoleh ke arah Manusia Me-

rah. Rupanya ia takut laki-laki tinggi lima meter berkulit merah darah ini terjaga.

"Dewi Bulan Sekarang dimana dia?" desak





Gajah Gemuk.

"Eeh... setelah kakek ketahui namanya

mengapa sekarang malah jadi ngotot?"

"Bocah Cepat katakan Dan jangan pula

kau panggil aku kakek"

"Bagaimana ini. Mana yang harus kujawab

duluan." tanya Suro Blondo sambil menyeka keningnya yang keringatan lalu garuk-garuk kepala seperti monyet.

"Kau harus memanggilku paman. Karena

umurku paling baru sembilan puluh tahun..."

Kini Suro Blondolah yang menjadi kaget.

Orang yang dihadapinya termasuk Orang sinting.

Masa' umur sudah bau tanah masih minta di-

panggil paman? Pikir si pemuda.

"Baiklah paman. Dewi Bulan itu ahli dalam

menyamar, punya tahi lalat di dagu. Aku yakin

paman berdua akan tertarik padanya bila sudah

melihat lesung pipitnya..."

Jawaban yang ngaco ini membuat Gajah

Gemuk jadi sewot. Sekali gebrak tangannya su-

dah mencengkeram krah baju si pemuda, lalu di-

angkatnya pemuda itu tinggi-tinggi.

"Wei... mati aku..."

"Cepat Jawab"

"Bagaimana bisa jawab kalau leherku dice-

kik begini?"

"Jika punya kepandaian mengapa tidak di-

pergunakan" dengus Gajah Gemuk.

Karena merasa sulit bernapas dan kepala

serasa mau pecah akibat jepitan yang begitu





kuatnya. Suro Blondo terpaksa lepaskan tendan-

gan. Buuk

Tendangan yang sangat keras itu membuat

cekalan Gajah Gemuk terlepas. Dan Suro Blondo

terbanting di tanah. Ia tercengang melihat Gajah Gemuk hanya usap-usap perutnya yang kena ditendang. Memang Suro Blondo tidak mengerah-

kan tenaga dalamnya, karena ia merasa tidak

punya permusuhan dengan laki-laki berat dua ra-

tus kati ini. Tapi tendangan yang dilepaskannya tadi dengan mempergunakan seluruh tenaga luar.

Jika Gajah Gemuk tidak mengalami akibat apa-

apa. Ini sungguh menakjubkan bagi Suro Blondo.

"Duduk kurang ajar. Kau nakal sekali. Ka-

rena kau telah menendangku, sekarang aku ha-

rus memukulmu" Gajah Gemuk cemberut.

Baru saja Gajah Gemuk hendak bergebrak.

Tahu-tahu ada tangan kurus kering yang mena-

hannya.

"Sabar kakang Urusan kita masih banyak.

Mengapa kita harus bertengkar?" kata Gajah Krempeng.

Lagi-lagi terjadi sesuatu yang sangat sulit

dipercaya. Suro Blondo melihat Gajah Gemuk su-

dah mengerahkan tenaga dalamnya. Tapi begitu

tangan Gajah Krempeng yang hanya sebesar len-

gan bayi itu menahan. Gerakan Gajah Gemuk jadi

terhenti. Padahal si pemuda dapat memastikan,

kalau ada angin kencang sedikit-sedikit saja me-nerpa badan Gajah Krempeng. Pastilah laki-laki





berbadan tipis ini jatuh tunggang langgang.

Tokh ia tidak dapat berpikir lagi, karena

saat itu Gajah Krempeng yang tampaknya lebih

penyabar ini telah menghadap kearahnya.

"Bocah... Dewi Bulan adalah murid tung-

gal kami. Jika ada apa-apa, tentu kakangku ini

akan menuntut mu. Sekarang coba katakan di-

mana dia" desah Gajah Krempeng. Barulah Pendekar Blo'on mengerti.





DUA


"Dewi sendiri yang meminta untuk meng-

gantikan kedudukanku sebagai pengantin. Kare-

na saat ini dia sedang bersenang-senang dengan

putri Diraja Penghulu Iblis Ha ha ha..."

"Huh... kalau begitu dia dalam keadaan

berbahaya. Bagaimana ini adik Krempeng?"

"Kita bisa menyelamatkannya. Mari kita

kesana..."

"Tapi manusia Merah ini bagaimana pula?"

"Untuk sementara biarkan Suro Blondo

yang menjaganya"

"Mana aku bisa?" Pendekar Blo'on mem-

bantah. Tapi percuma saja, kedua gajah itu telah pergi. Sekarang tinggallah Suro Blondo seorang diri. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Terkecuali diam menunggu sampai Manusia Me-





rah sadar dari pingsannya.

"Kalau aku tetap berada disini keadaan bi-

sa jadi kacau. Manusia Merah ini pingsan seperti mendengkur dan mendengkur seperti pingsan.

Aku tidak tahu apakah penyamaran sudah ter-

bongkar atau belum. Tapi.... "

Suro tiba-tiba saja terdiam begitu melihat

Manusia Merah menggeliat.

"Oh... oh... moga saja jangan bangun sam-

pai dunia kiamat" desis Suro sambil mengurut dada. Apa yang diharapkannya itu ternyata tidak kesampaian. Karena Manusia Merah begitu men-gerjabkannya matanya langsung duduk. Begitu

tingginya dia, sehingga dalam posisi seperti itu tingginya sudah menyamai Pendekar Blo'on yang

tengah berdiri.

"Laaa... ladalah... dimana aku. Dimana

musuh-musuhku. Kurang ajar, Prisma Permata

milikku diambil orang. Aku harus mencarinya.

Bau badannya aku tahu. Orangnya harus ku-

tangkap" kata Manusia Merah alias Soma Sastra.

Matanya mencari-cari. Ee... dia melihat ada seorang pemuda tidak dikenal didepannya. "Kau siapa? Kaukah orangnya yang telah menyeretku?"

"Mati aku" Suro Blondo keluarkan keringat dingin. Terbayang olehnya mulut Soma Sastra

dapat menyemburkan lidah api. Sehingga diam-

diam ia bergidik seram. "Aku Suro Blondo, seorang kawan yang juga ingin menangkap orang

yang telah mencuri Prisma Kristalmu."





"Heh... kawan? Seingatku aku tidak punya

kawan. Apakah kau bisa kupercaya?" Manusia Merah meragu.

"Harus. Kau harus percaya hanya padaku.

Karena didunia memang sangat jarang orang yang

bisa dipercaya. Selain aku kau tidak punya ka-

wan lagi. Musuhmu ada dimana-mana"

"Hmm, begitukah?"

"Iya. Kulihat kau mempunyai kecerdikan

yang lambat, kawan. Lihatlah aku juga begitu. Lihat tampangku pula... dimana-mana kau tidak

akan pernah bertemu dengan orang sepertiku.

Hanya manusia yang punya tampang sepertiku

ini saja yang dapat menjadi kawanmu" kata Suro Blondo sambil tertawa-tawa. Cuping hidung Soma

Sastra kembang kempis. Seakan ia mengendus

dan berusaha mengenali lawan bicaranya. Setelah itu Manusia Merah ini tertawa ngakak.

Kini giliran Suro Blondo yang dibuat pon-

tang-panting. Suara tawa manusia merah tidak

ubahnya seperti rentetan halilintar yang Maha

Dahsyat. Sungguhpun Suro Blondo telah menu-

tup indra pendengarannya. Tetap saja pengaruh

suara tawa itu membuat jantung dan isi kepa-

lanya terguncang. Pendekar Blo'on jatuh bangun.

Kedua matanya telah berubah memerah karena

menahan rasa sakit yang sangat.

Patut diakui getaran suara Manusia Merah

ini menimbulkan gempa disana sini. Bahkan ban-

gunan milik Diraja Penghulu Iblis pun sempat

tergetar.





"Hentikan..." teriak Pendekar Blo'on. Tidak kalah kerasnya pemuda itu berteriak. Soma Sastra hentikan tawanya seketika. Ia kemudian berpaling dan memandang tajam pada Suro.

"Mengapa harus berhenti kawan. Setelah

aku terkurung dibawah tanah selama seratus ta-

hun. Mengapa tidak boleh tertawa?"

Suro sesungguhnya kaget juga. Tapi ia ke-

mudian bicara apa adanya

"Suara tawamu membuat gunung runtuh

dan lautan bergelombang. Aku tidak kuat men-

dengarnya. Eeh... apakah kau bersungguh-

sungguh mau mengangkat sahabat denganku?"

"Hmm, kurasa begitu. Tapi aku perlu men-

cari Prisma Permata yang telah dicuri maling.

Tanpa prisma itu pulau Jawa bisa tenggelam."

"Jangan takut. Aku akan membantumu,

tapi bagaimana caranya?"

Manusia Merah menggelengkan kepala.

"Tidak akan semudah itu kawan. Sekarang

aku sudah tidak mengendus lagi bau si pencuri.

Mungkin ia sudah pergi ke suatu tempat Aku ha-

rus menyusulnya sebelum bahaya besar mengan-

camku"

Soma Sastra bangkit berdiri. "Selamat tinggal kawanku. Ditengah jalan nanti aku akan

membantai siapa saja yang kutemui karena me-

reka musuhku"

"Betul, golongan iblis memang musuh kita.

Selamat jalan" Suro Blondo melambaikan tangannya persis diatas kuping. Manusia Merah se-





gera melangkah pergi. Langkah kakinya panjang

dan berat, hingga dalam waktu sekejap ia telah

tidak terlihat lagi.

Barulah pada saat itu Pendekar Blo'on te-

ringat sesuatu. Ia tepuk-tepuk keningnya.

"Ah mengapa bodoh sekali aku ini. Kalau ia membantai semua orang yang ditemuinya di jalan. Bukan tidak mungkin orang-orang tanpa do-

sa menjadi sasarannya. Tapi... eeh, apa pula

itu...?" Pemuda yang baru saja berniat menyusul Soma Sastra ini menjadi menunda niatnya saat

terdengar suara teriakan disertai beradunya senjata tajam membelah keheningan pagi menjelang

siang. "Siapakah yang sedang bertempur itu?" ba-tinnya dalam hati.

Laksana kilat ia bergegas pergi menuju

tempat terjadinya pertempuran tersebut. Hanya

dalam beberapa detik saja ia sudah sampai di

lingkungan bangunan besar milik Diraja Penghu-

lu Iblis.

Bangunan itu tetap utuh sebagaimana

mestinya. Padahal tadi malam bangunan ini se-

perti dimakan api. Tapi pendekar Blo'on segera

maklum bahwa apa yang dilihatnya tadi malam

hanyalah permainan sihir seseorang. Dalam arti

Manusia Merah telah tertipu. Hanya para pen-

gawal yang bergelimpangan tanpa nyawa saja

yang kelihatan.

Kini ditempat yang sama telah terjadi per-





tempuran lagi. Orang yang terlibat pertempuran

itu adalah Dewi Bulan yang telah melepas pe-

nyamarannya dibantu dengan Gajah Gemuk dan

Gajah Krempeng. Sedangkan yang menjadi lawan

mereka adalah Buto Terenggi dan Diraja Penghu-

lu Iblis. Suro Blondo melihat saat itu Dewi Bulan telah terluka pada bagian bahu dan tangannya.

Mengapa gadis itu sampai terlibat pertem-

puran dengan Buto Terenggi? Pagi-pagi sekali Diraja Penghulu Iblis memanggil putrinya melalui

seorang pengawal yang tersisa. Ia memang ingin

membicarakan masalah yang tertunda tadi ma-

lam. Tapi begitu pengawal ini sampai dikamar

Maya Swari, gadis itu tidak berada ditempat. Dewi bulan yang menyaru sebagai Suro Blondo yang

juga sempat terkejut melihat raibnya Maya Swari mengaku terus-terang bahwa Maya Swari hilang.

Spontan pengawal tadi melapor pada Diraja Peng-

hulu Iblis. Tidak pelak lagi Dewi Bulan pun di-

panggil dan terbongkarlah penyamarannya. Meli-

hat kenyataan ini Diraja Penghulu Iblis menjadi panik, lalu ia memanggil algojo untuk memenggal Dewi Bulan dihalaman depan.

Tapi lagi-lagi ia mendapat laporan bahwa

para algojo dan pengawal-pengawal lainnya ber-

kaparan. Mati.

Apa yang dialami oleh Diraja Penghulu Iblis

tidak ubahnya seperti mimpi buruk. Tadi malam

ia memang mendengar sendiri dari laporan Nya-

nyuk Pingitan tentang kehadiran manusia Merah.





Tapi ia menyangka selain bangunan istana milik-

nya yang dilindungi oleh raja penyihir, ia juga menyangka para pengawal dan juga muridnya ju-ga dalam lindungan selubung gaib. Tidak dinyana para undangan yang telah dijadikan pengawal

berkat Racun Pelemah Akal, cuma bertahan bebe-

rapa jam saja.

Bagaimana pun Diraja Penghulu Iblis san-

gat sayang sekali pada putri satu-satunya. Jika Maya Swari yang mempunyai kepandaian tinggi

itu diculik oleh orang lain. Pasti ini ada hubun-gannya dengan penyamaran Dewi Bulan. Karena

gadis itu menurutnya tetap tidak mau mengaku.

Maka akhirnya ia memutuskan untuk membu-

nuhnya. Tapi ternyata diluar dugaannya Dewi Bu-

lan memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Tidak pelak lagi terjadilah pertempuran

sengit. Jurus demi jurus berlalu. Tapi masih belum ada tanda-tanda sapa yang bakal meme-

nangkan pertarungan sengit itu.

Tapi ketika Diraja Penghulu Iblis menge-

rahkan jurus-jurus simpanannya. Maka disini

terlihatlah bahwa Dewi Bulan mulai terdesak.

Dua kali pukulan menghantam perut dan

dada si gadis. Hingga selain menimbulkan luka

dalam juga membuat Dewi Bulan menjadi murka.

Ia mencabut pedang pendeknya. Dengan menge-

rahkan jurus Kupu-Kupu Biru yang cukup ter-

kenal itu ia merangsak lawannya.

Pertempuran menjadi sengit. Permainan

pedang Dewi Bulan hanya dapat berkembang se-





lama lima belas jurus. Diraja Penghulu Iblis ternyata selain sangat licik dan memang berpenga-

laman kini mulai melepaskan pukulan-pukulan

yang sangat keji.

Dalam pertempuran menjelang lima puluh

jurus, selain terdesak hebat. Keselamatan Dewi

Bulan benar-benar dalam keadaan terancam. Sa-

tu pukulan dahsyat yang dilepaskan oleh Raka

Tendra ini berhasil dihindari dengan tangkisan

pedang. Tapi akibatnya ia terpaksa melepaskan

pedangnya yang berubah panas seperti terbakar.

Pukulan kedua dilepaskan oleh lawannya lagi.

Namun pada saat-saat yang sangat kritis itu ada cahaya biru berkilauan menghambat cahaya hitam membara yang melesat dari telapak tangan

Raka Tendra.

Glaar Glaar

Terjadi ledakan dahsyat. Diraja Penghulu

Iblis terguncang tubuhnya. Sebaliknya pada ba-

gian lain tampak seorang laki-laki krempeng jatuh terduduk, sedangkan yang berbadan gemuk

hanya terguncang-guncang saja perutnya yang

berlapis lemak.

"Bangunlah muridku" Gajah Gemuk langsung mendekap muridnya dan mengurut pung-

gung gadis itu hingga memuntahkan darah kental

berwarna hitam. Yang kurus langsung berdiri dan mendamprat ditujukan pada Raka Tendra: "Iblis-iblis pengecut Beraninya cuma dengan bocah in-

gusan yang punya kepandaian tidak seberapa."

Raka Tendra tidak langsung menjawab.





Melainkan meneliti orang yang bicara petenteng

tangan dibawah ketiak.

"Ah... bukankah anda berdua Gajah Ge-

muk dan Gajah Krempeng. Maafkanlah kami yang

lupa menyambut dan mengundang majikan Mer-

babu waktu pesta kemarin"

Gajah Gemuk mendengus. "Pesta apa? Sia-

pa yang mau makan bangkai orang-orang yang

sudah mati. Lagipula kau punya dua kesalahan.

Pertama kau telah melukai muridku...."

"Maaf..." Raka Tendra memotong. "Aku tidak menyangka gadis itu murid kalian."

"Yang kedua." Gajah Gemuk menyambuti.

"Kau harus menyerahkan Buto Terenggi manusia daun itu kepada kami."

"Apakah salahnya?"

"Kesalahannya sudah sangat jelas. Dia te-

lah mencuri ular-ular Kayangan milik kami. Dua

kesalahan dibandingkan satu kenakalan murid

kami kau masih utang satu, Raka Tendra"

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapi. Kalau kau tidak ingin kami membakar singgasanamu ini sebaliknya se-rahkan maling itu?"

"Tidak bisa. Terkecuali orang yang ber-

sangkutan sudi menjumpai kalian" Raka Tendra tetap bersikeras.

"Biarkan saudara Diraja Penghulu Iblis

Aku telah datang menjumpai kalian. Sekarang

mau apa?"

Tiba-tiba terdengar suara ketus dan yang





bicara tidak lain adalah Datuk Mambang Pitoka.

"Bagus kau sudah datang Sekarang serah-

kan ular-ular yang kau curi" Gajah Gemuk mendengus marah.

Datuk Mambang Pitoka sebaliknya malah

tertawa ngakak. "Ambillah dari perutku kalau kalian mampu" tantangnya.

Dan ini bagi kedua Gajah sungguh meru-

pakan penghinaan besar. Mereka merasa lebih

terhina dan sakit lagi setelah melihat muridnya terluka terkena pukulan Raka Tendra.

"Iblis-iblis pengecut Aku tahu siasat keji kalian dengan menyebar undangan merah" desis Gajah Krempeng sudah tidak sabar lagi.

Sementara Gajah Gemuk membawa Dewi

Bulan ke tempat yang aman. Dia sendiri langsung menyerang kedua tokoh sesat itu secara bersamaan.





TIGA


Tidak dapat dihindari lagi pertempuran


sengit segera terjadi. Pada hakekatnya masing-

masing lawan adalah tokoh-tokoh angkatan tua

yang memiliki kepandaian tinggi. Sehingga begitu bergebrak, angin kencang langsung menyambar.

"Hiya..."

"Shaa..."

Masing-masing fihak keluarkan teriakan





melengking tinggi. Lalu Gajah Krempeng lentik-

kan tubuhnya ke udara. Tangannya mendorong

kebagian dada lawan. Sekali lagi angin menderu

dahsyat, Inilah jurus 'Para Gajah Bersilahturah-mi'. Sungguhpun jurus ini terkesan konyol, tapi tidak bisa dianggap main-main. Raka Tendra sendiri sempat terdorong ke belakang. Ia hindari tangan Gajah Krempeng yang terus terulur panjang.

"Aiih..." Buto Terenggi dan Diraja Penghulu Iblis sama-sama mengegoskan tubuhnya ke

samping kiri. Tangan Raka Tendra mengemplang

ke kepala lawannya. Gerakan menghindar sekali-

gus membalas serangan lawan ini benar-benar ti-

dak terduga oleh Gajah Krempeng. Ia terpaksa tarik pukulan untuk selamatkan kepala dari kep-

langan musuh.

"Hmm, hebat juga kau iblis"

"Tutup mulutmu" bentak Raka Tendra.

Tokoh iblis itu sendiri kini kerahkan jurus

MENEPIS KABUT MENGUAK TABIR

Ini merupakan salah satu jurus pedang

tunggal yang diciptakan oleh Diraja Penghulu Iblis. Tapi jurus ini akan lebih berbahaya lagi bila dimainkan dengan tangan kosong.

Diraja Penghulu Iblis tekuk kaki kanan ke

depan, tangan kiri menjulur ke samping sedang-

kan tangan kanan membentuk paruh. Dengan

bertumpu pada kaki kirinya tiba-tiba ia melompat ke depan lalu hantam ke kiri dan hantam ke kanan. Cepat bukan main gerakannya. Sehingga

tangan lawan berubah menjadi banyak. Udara





disekitarnya menebar bau busuk menyengat.

Menghadapi serangan Raka Tendra saja

Gajah Krempeng sudah mulai kerepotan apalagi

dari bagian lain Buto Terenggi juga mencecarnya secara beruntun.

Jika Gajah Gemuk malah tertawa-tawa me-

lihat keroyokan itu, sebaliknya pendekar Blo'on menjadi sangat marah. Sejak tadi ia melihat pertempuran yang sengit itu. Tapi kini setelah melihat kedahsyatan serangan Raka Tendra ia sudah

tidak sabar lagi. Ia menyeruak dari tempat per-

sembunyian. Setelah itu terdengar pula suara

bentakannya.

"Bukanlah tindakan orang gagah bertarung

main keroyokan Manusia daun mata ikan lele.

Alangkah baiknya kalau kau bertarung dengan

aku. Aku jadi ingin merobek-robek pakaian yang

melekat di tubuhmu itu"

Datuk Mambang Pitoka menoleh ke arah

Suro Blondo. Lalu terdengar gema suara tawanya.

"Huh... bukankah kau mantunya Diraja

Penghulu Iblis, mengapa kau malah mencaci go-

longan mertuamu?"

"Ha ha ha Siapa sudi jadi mantu iblis.

Sampai mati pun aku tetap tidak setuju" Suro Blondo pencongkan mulutnya lalu meludah ke

tanah. Karena angin kebetulan berhembus ke

arahnya. Maka ludahnya membasahi wajah sen-

diri. "Kalau begitu kau memang pantas kucin-cang" Datuk Mambang Pitoka menggembor ma-





rah. Ia melompat ke depan, lalu lepaskan ten-

dangan menggeledek ke dada lawannya. Karena

sudah mengetahui kehebatan pemuda ini ketika

adu Pibu beberapa hari yang lalu. Maka ketika lepaskan tendangan tadi ia kerahkan setengah dari tenaga dalamnya.

Angin bersiut nyaring. Tapi Suro Blondo

keburu rundukkan kepala, tangannya menderu

menghantam perut lawan. Gerakan ini benar-

benar diluar dugaan Buto Terenggi. Sehingga ia

tidak sempat menarik pulang kakinya, sementara

tinju Suro Blondo menggedor dengan telak.

Duuk

Habis memukul si pemuda langsung me-

lompat mundur. Sehingga Buto Terenggi yang in-

gin menyamakan kedudukan jadi kecele.

Gusar bukan main melihat serangannya

hanya mengenai angin. Hanya dalam beberapa

gebrakan saja ia telah mempergunakan jurus an-

dalan, 'MENGUKIR NAMA DI ATAS PUSARA'.

Ini merupakan salah satu jurus berbahaya

yang penuh dengan tipuan. Bila ia hantamkan

tangan kiri, maka yang diincar adalah kepala lawan. Tangan kanan yang memukul, kaki menen-

dang. Kiri-kanan, atas bawah disusul dengan

bentakan-bentakan menggeledek membuat Suro

Blondo terpaksa mengerahkan jurus 'SERIGALA

MELOLONG KERA SAKTI KIPASKAN EKOR'.

Gerakan si pemuda berubah secara total.

Tubuhnya tidak lagi hanya meliuk ke depan dan





belakang bagaikan pucuk cemara ditiup angin.

Melainkan telah melompat ke samping kiri, lalu

berjongkok, melompat atau garuk-garuk kepa-

lanya. Apa yang dilakukan oleh si pemuda ternya-ta hanya membuat kemarahan Buto Terenggi se-

makin berkobar-kobar.

Ia semakin memperhebat serangannya. Ki-

ni kakinya melakukan tendangan beruntun ke

arah lawan yang terus berjingkrak-jingkrak.

Pendekar Blo'on tiba-tiba berbalik. Tendan-

gan lawan tidak dielakkannya. Ia menunggu den-

gan sikap seakan gugup, lalu....

Wuuiis

Traaap

Buto Terenggi terbelalak. Sama sekali ia ti-

dak menyangka lawan akan menangkap kakinya.

Karena kaki kirinya tertangkap, ia bermaksud

memukul kepala lawan yang berada dibawahnya.

Pada saat itu diluar dugaan pula tiba-tiba Suro Blondo mendorong kakinya.

Gubraak

Jika Buto Terenggi tidak punya ilmu me-

ringankan tubuh yang sudah sangat sempurna.

Pasti ia telah jatuh tunggang langgang

"Huuup"

Dengan terhuyung-huyung ia mendaratkan

kedua kakinya. Wajahnya yang hitam berubah ke-

lam membesi.

"Pemuda bertampang tolol ini ternyata ti-

dak bisa dianggap main. Gerakannya seradak-





seruduk seperti babi mabuk. Tapi..." pikirnya.

"Hanya segitukah kepandaianmu manusia

daun?" Suro Blondo tersenyum mengejek.

"Bangsat sombong" maki Buto Terenggi dengan suaranya yang sember. Tiba-tiba saja ia

melompat ke depan, lalu melompat pula ke samp-

ing kanan, lalu kesamping kiri.

Melihat gerakan lawan yang sungguh san-

gat aneh dan lucu ini Suro Blondo hampir saja

tertawa. Pada saat itu pula ia mendengar Gajah

Gemuk mengisiki.

"Jangan kau pandang enteng dia. Sebentar

lagi kalau bukan perutmu, kepalamu yang dibikin ambrol. Sekarang dia telah mengerahkan ajian

'MERUBAH RUPA MEMBENTUK BAYANGAN'"

"Heeh..." Suro Blondo sempat tertegun, la-lu menerjang ke depan saat lawannya telah beru-

bah menjadi empat orang. Tidak tanggung-

tanggung lagi ia menghantam ke depan. Tapi sa-

saran yang ditujukan hanya dengan sedikit

menggeser kaki berhasil menghindari serangan si pemuda. Serangan luput, dari belakang pukulan

laksana palu godam mendera punggungnya seca-

ra beruntun.

Pemuda berambut kemerah-merahan ini

terpelanting. Darah meleleh dari sudut-sudut bibirnya. Dengan bersusah payah ia bangkit berdiri, matanya berkunang-kunang. Kemudian terdengar

suara lolongan dari mulutnya yang berdarah, su-

ara lolongan itu kemudian berubah menjadi tan-

gis yang begitu menyedihkan, selanjutnya secara





aneh berubah pula menjadi suara tawa berkepan-

jangan. Bukan hanya lawan saja yang dibuat ter-

kejut. Sebaliknya Gajah Gemuk yang sedang be-

rusaha menyembuhkan luka dalam yang diderita

oleh Dewi Bulan juga terkejut. Sementara dalam

keadaan tertawa-tawa itu Suro Blondo langsung

teringat pada nasehat gurunya.

"Jika kau dalam keadaan sakit, bersikap-

lah tenang untuk menahan rasa sakitmu Jika

lawanmu tunggal tapi banyak, pejamkanlah ma-

tamu untuk menghadapinya. Karena permainan

sulap tidak dapat menipu mata hati"

Suro Blondo menyeringai, dengan masih

terus tertawa dan menangis karena pada saat itu ia tengah mengerahkan jurus TAWA KERA

SILUMAN. Pendekar Blo'on tiba-tiba pejamkan

matanya. Kini ia bertarung hanya mengandalkan

ketajaman telinganya saja.

Wuut

"Hiyaa..."

Buto Terenggi tiba-tiba merangsak ke de-

pan. Empat bayangan berupa dirinya juga me-

nyertainya. Keanehan segera dirasakan oleh laki-laki mata sipit ini. Karena ternyata lawannya bukan mengincar bayangannya melainkan dirinya

sendiri.

Deb Bet

"Haaakgh"

Tinju si pemuda mendarat dengan telak di

dada Buto Terenggi. Laki-laki ini terseret mundur.

Ia batuk-batuk, mukanya berubah pucat, lalu





menyemburlah darah dari mulutnya. Kalaupun

Datuk Mambang Pitoka ini kemudian menjadi

sangat murka, semata-mata bukan karena rasa

sakit yang dideritanya. Melainkan rasa malu yang sangat, karena ia tidak menyangka ajian yang telah diyakininya selama bertahun-tahun dan

membuat geger orang-orang persilatan di wilayah timur kini dapat dihindari oleh seorang pemuda

bertampang tolol.

Ia ambil mata kail dibahunya, setelah itu

dengan mempergunakan mata kail yang dapat

menjulur panjang itu ia menyerang si pemuda.

"Hmm, maling itu kini mencoba memancing

lawannya dengan kail yang dipergunakan untuk

mencuri ular Kayangan" desis Gajah Gemuk. Ia menoleh pada Dewi Bulan yang terus mengawasi

jalannya pertempuran. "Mari muridku. Sebaiknya kita pergi ke Ciruyung Aku khawatir Iblis penyihir itu sudah dapat memecahkan teka-teki Prisma Permata untuk menghantam kaum lurus"

Tap... tapi bagaimana dengan guru kurus

dan pemuda itu?" Dewi Bulan diam-diam menjadi khawatir.

"Ah... sudahlah aku bosan melihat permai-

nan mereka. Aku yakin masing-masing pihak da-

pat menjaga diri, kalau pun tidak selamat paling-paling mampus Ayo..." ajak Gajah Gemuk.

Karena murid tidak memberikan reaksi.

Maka ia sambar muridnya, lalu didukung diba-

hunya. Selanjutnya Gajah Gemuk berlari dengan

kecepatan laksana terbang.





Apa yang diperhitungkan oleh Gajah Ge-

muk memang tidak meleset. Diraja Penghulu Iblis sendiri yang bertarung dengan Gajah Krempeng

jadi tidak bersemangat karena kosentrasinya sela-lu terpecah memikirkan keselamatan anaknya.

Mereka sudah sama-sama terluka. Jika

Gajah Krempeng tubuhnya babak belur dan men-

derita luka bacokan pada keningnya, maka Diraja Penghulu Iblis juga menderita luka dalam yang tidak ringan.

Jelas sekali jika kedua tokoh ini mempu-

nyai kepandaian dan kesaktian hampir seimbang.

Setelah pertempuran sengit itu berlang-

sung selama hampir sembilan puluh jurus maka

Diraja Penghulu Iblis mulai berpikir untuk me-

nyusul dua kawannya ke Lembah Ciruyung.

Sekejap kemudian ia mengeluarkan bola

kecil berwarna hitam. Bola itu dilemparkannya ke arah Gajah Krempeng secara

berturut-turut. Begitu bola hitam itu meletus. Maka asap tebal menebar dan membuat gelap sekelilingnya.

"Aku belum kalah, Krempeng Urusanku

juga banyak Sampai ketemu di Lembah Ci-

ruyung" kata Diraja Penghulu Iblis.

"Bangsat kecoa. Mau mampus saja menga-

pa harus ke Lembah Ciruyung?" desis Gajah

Krempeng sambil terbatuk-batuk.

Dalam kesempatan itu Buto Terenggi juga

sudah sangat terdesak sekali mendapat serangan

balik yang membuat kepalanya menjadi semakin

bertambah pusing. Dalam keadaan sendiri seperti





itu. Menghadapi Pendekar Blo'on saja ia sudah

sangat terdesak sekali. Apalagi jika mengingat Gajah Krempeng ikut bergabung. Akhirnya mau ti-

dak mau ia harus mengikuti jejak Diraja Penghu-

lu Iblis. Dalam keadaan begitu rupa ia segera

mempergunakan kelicikannya. Mula-mula men-

desak Suro Blondo dengan serangan-serangan

yang sangat berbahaya. Setelah itu ia melepaskan pukulan 'PARA MAMBANG BERSEDIH'.

Seleret sinar kuning kemilau keemasan

menderu dari telapak tangannya hingga membuat

suasana disekelilingnya berubah menjadi panas

bukan main.

Pendekar Blo'on tercekat. Kemudian ia le-

paskan pukulan 'KERA SAKTI MENOLAK PETIR'.

Sepuluh ujung jemari tangan Suro Blondo me-

mancarkan sinar putih kemilau laksana salju.

Pukulan ini menimbulkan udara dingin bagaikan

di padang es.

Ketika dua pukulan sakti ini bertemu di-

udara. Maka terjadilah ledakan dahsyat. Suro

Blondo sempat tergontai-gontai. Dadanya sesak

bukan main, wajahnya berubah pucat. Ketika ia

melihat ke depannya. Dilihatnya Buto Terenggi

sudah tidak berada ditempat lagi.

Sambil memegangi dadanya dengan tangan

kiri, Suro Blondo garuk-garuk kepala dengan tangan kanan. Ia terduduk di bawah sebatang pohon

yang sangat rindang. Sementara Gajah Krempeng

datang menghampiri.

"Heh... wong gila kowe lawan. Akhirnya dia





kabur. Mengapa kau tidak membunuh manusia

daun itu?"

"Paman sendiri mengapa tidak bunuh

Penghulu Iblis?" Suro Blondo balik bertanya.

"Ah... dia? Seharusnya aku membunuhnya.

Tapi jika itu kulakukan, maka aku tidak akan

berjumpa lagi dengannya. Eeh... maksudku aku

tidak tega melakukannya. Bukankah dia mertua-

mu?" Bukannya marah, Suro Blondo sebaliknya malah tergelak-gelak. "Siapa sudi menjadi mantunya. Sudahlah... jangan bicarakan masalah itu.

Urusanku masih banyak. Aku takut Prisma Per-

mata itu tidak dapat kita ambil dari tangan Raja Penyihir jika ia berhasil memecahkan rahasia

yang terkandung didalamnya."

"Kurasa mereka bergabung dengan kawan-

kawannya di lembah Ciruyung. Tapi sebelum kita

berangkat kesana alangkah lebih baik lagi jika ki-ta bakar saja sarang iblis ini"

"Aku setuju." kata Suro Blondo.

Mereka kemudian bahu membahu melaku-

kan pembakaran besar-besaran. Bangunan ber-

bentuk istana itu hanya dalam waktu yang sangat singkat saja telah berubah menjadi lautan api.

"Sekarang tempat tinggalnya yang menjadi

lautan api. Besok orangnya akan kujadikan de-

bu." "Jangan buang waktu Sebaiknya kita berangkat sekarang" kata Suro Blondo. mengingatkan.





"Hmm, baiklah"

Mereka menuruni gunung Pangkrangko.

Tapi setelah sampai ditengah jalan mereka dike-

jutkan lagi dengan hadirnya para pengungsi seca-ra besar-besaran.

"Orang-orang pada membawa bungkusan.

Hendak kemanakan mereka, paman?"

"Gila... aku juga tidak tahu. Tapi alangkah baiknya jika kita tanyakan pada mereka" Gajah Krempeng kemudian menghampiri salah seorang

dari para pengungsi itu. Barulah mereka mengerti telah terjadi luapan lumpur panas yang berasal

dari gunung Gede.

"Anak muda, seingatku dibawah gunung

gede bukankah ada Gua Darah. Apakah mungkin

Gua Darah hancur kemudian menyemburkan la-

har panas karena kebangkitan manusia merah?"

"Aku tidak tahu, paman. Tapi sebaiknya ki-

ta kabarkan hal ini pada semua tokoh-tokoh per-

silatan yang ada."

"Mari kita susul kakangku..."

Maka kedua laki-laki ini langsung berang-

kat menuju lembah Ciruyung.





EMPAT


Maya Swari terus dibawa berlari dengan

kecepatan laksana terbang. Jika malam ia tidak

dapat mengenali siapa yang telah melarikannya





itu. Maka kini dalam keadaan siang tentu ia tahu dan kenal orang yang telah menculiknya itu. Dia tidak lain adalah Datuk Alang Sitepu, Raja Penyihir dari gunung Sibayak. Apakah raja penyihir ini memang ada dua? Bukankah sesungguhnya Datuk Alang Sitepu tengah mengadakan perjalanan

menuju Lembah Ciruyung bersama Nyanyuk Pin-

gitan? Marilah kita simak pada saat mereka me-

ninggalkan Diraja Penghulu Iblis dan Buta Te-

renggi. Ketika pertama kali melihat kecantikan

Maya Swari diatas pelaminan. Datuk Alang Sitepu alias Bungkuk Lima ini sudah merasa jatuh hati

dan terbangkit nafsunya. Tapi ia tidak mau bersikap gegabah. Karena ada hal yang sangat besar

yang perlu mendapat perhatiannya. Hal besar itu menyangkut Prisma Permata yang berada ditangan Nyanyuk sebagai orang yang telah mencu-

rinya dari Goa Darah.

Malam ketika kawan-kawannya memper-

cayakan Prisma Permata kepadanya. Tentu ini

merupakan satu kemenangan. Karena hanya ia

sendiri yang tahu sampai sejauh mana kegunaan

barang yang sangat langka itu. Setelah Prisma

Permata ada ditangannya ia mengatur siasat lagi dengan mencari dalih bahwa ia memerlukan tempat yang aman untuk memecahkan rahasia yang

terkandung dalam Prisma tersebut. Padahal tanpa pemecahan apapun, sesungguhnya Prisma Permata itu memang memiliki kesaktian yang dah-





syat. Asal saja tahu cara penggunannya.

Apa yang dikatakan oleh Datuk Alang Site-

pu sebenarnya hanya tipuan semata karena ia

sendiri memang ingin menguasai dan mendirikan

kerajaan persilatan tanpa ada orang lain, sung-

guhpun kawan-kawan segolongan sendiri.

Menjelang dinihari mereka berangkat ke

Lembah Ciruyung, baru lima puluh tombak me-

ninggalkan istana Diraja Penghulu Iblis ia mem-

beritahu Nyanyuk Pingitan bahwa disepanjang ja-

lan nanti jangan bicara atau berkata apapun. Setelah merasa yakin. Berkat kesaktian serta man-

tra-mantra sihirnya yang sangat ampuh. Datuk

Alang Sitepu menciptakan kembarannya. Sedang-

kan yang asli berbalik ke istana dan menculik

Maya Swari.

Jadilah Nyanyuk Pingitan berjalan dengan

bayangan sang Raja Penyihir. Kini di pinggir hutan Jati Muyung laki-laki bongkok berwajah han-

cur sebelah dan bermata satu ini meletakkan

Maya Swari.

Gadis itu selain sangat marah juga menjadi

ketakutan sekali. Ketika Datuk Alang Sitepu

membuka jalan suaranya. Maka menyemburlah

caci maki dari bibirnya yang mungil dan selalu

membasah.

"Iblis keparat Mengapa kau membawaku

kemari?"

"Ah... jangan terlalu galak, Maya. Aku

membawamu kemari tentu ada tujuan. Setiap la-

ki-laki menghendaki seseorang juga pasti ada tu-





juan tertentu. Kecantikanmu membuat jantungku

mpot-mpotan. Apakah kau tidak merasakannya?"

Datuk Alang Sitepu kemudian tergelak-gelak.

Tangannya dengan leluasa menjamah dan mem-

belai pipi Maya Swari yang kemerah. Lalu belaian itu turun ke bagian lehernya yang jenjang, kemudian turun lagi dibagian dadanya. Karena pakaian Maya Swari menghambat gerakan tangannya,

maka tidak ampun lagi pakaian itu dicabiknya.

Terlihatlah payudara si gadis yang putih

tegak menantang. Datuk Alang Sitepu demi meli-

hat pemandangan ini langsung menelan ludah.

Matanya yang cuma, tinggal sebelah berputar-

putar liar, tenggorokannya turun naik.

Dengan nafas terengah-engah diremasnya

dada si gadis yang kenyal itu berulang-ulang

hingga membuat Maya Swari menjerit-jerit kesa-

kitan. Ia berusaha meronta dan membebaskan di-

ri dari totokan. Tapi setelah ia mengerahkan tenaga dalamnya berulang-ulang apa yang dilakukan-

nya sia-sia saja.

"Bangsat Manusia rendah... keparat..."

"Hakk Hak Kak... Percuma saja kau me-

ronta dan menjerit, Maya. Gerakanmu hanya

membuat semangatku kian menggebu untuk me-

nikmati kehangatan tubuhmu. Aku tahu kau ma-

sih suci. Tentu ini merupakan kenikmatan yang

tidak ada duanya." desis laki-laki berwajah mengerikan itu dengan suara sember.

"Lep.. lepaskan.. Oh... tidak..." Maya Swari menjerit-jerit ketakutan.





Setiap geliatnya membuat darah tua Datuk

Alang Sitepu semakin panas berapi-api.

Bret Bret

Celana panjang biru penutup aurat Maya

Swari terenggut lepas. Melihat tubuh telanjang

didepannya, jantung si datuk semakin mpot-

mpotan. Ia raba-raba bagian yang sangat peka

itu. Kini Maya Swari yang dalam keadaan teran-

cam itu bukan lagi menjerit, melainkan sudah

menangis.

Lebih ketakutan lagi ketika sang Datuk

membuka celananya sendiri. Nasib serta kehor-

matan putri iblis namun baik budi ini benar-

benar berada di ujung tanduk.

Terlebih-lebih ketika melihat laki-laki ber-

muka busuk sebelah itu mulai menindihnya. Na-

mun rupanya suratan nasib menentukan lain.

Pada saat-saat yang sangat kritis itu ada sinar putih yang datangnya dari balik pohon menderu

ke arah Maya Swari. Sinar putih tanpa rasa itu

langsung menembus ubun-ubun Maya Swari. Ga-

dis itu menjadi kejang dan ia merasa tubuhnya

secara tiba-tiba seperti tersentak.

Tanpa diduga-duga kini dari bagian bawah

Maya Swari mencuat kepala ular berwarna putih.

Ular itu langsung mematuk kepala burung kra-

mat Datuk Alang Sitepu, hingga membuatnya me-

raung dan lepaskan pelukan.

Sambil terguling-guling Datuk Alang Sitepu

pegangi burungnya yang dipatuk ular. Karena

ular itu masih lengket dikepala anunya. Maka





anunya yang bisa membengkak dan mengempis

itu mengucurkan darah.

Didera rasa sakit yang bukan alang kepa-

lang. Sang Datuk terpaksa memencet badan ular

putih. Tapi ular itu tidak mati. Jalan satu-

satunya adalah memencet kepala ular tersebut.

Tapi ia juga bingung. Jika kepala ular itu dipen-cetnya, praktis kepala anunya juga ikut tergencet.

Ini akan bertambah repot. Karena separoh kepala anunya berada didalam mulut sang ular. Tidak

ada jalan lain lagi. Datuk Alang Sitepu terpaksa memotong badan ular tersebut dengan mempergunakan kuku-kukunya yang runcing.

Ular itu menggelepar, mulutnya terbuka,

dengan sendirinya ular itu jatuh bersamaan men-

gempisnya kepala anunya sang datuk.

Digeceknya ular itu sampai menjadi serpi-

han daging. Anunya jadi bengkak lagi karena bisa ular. Barulah pada saat itu ia teringat mengapa tadi tidak mempergunakan ilmu sihir saja untuk

membunuh ular itu.

Cepat-cepat ia mengambil obat penawar bi-

sa. Dalam hati ia berguman. "Bagaimana nanti ji-ka anunya tidak dapat dipergunakan lagi. Jika

anunya loyo dan tidak bisa kembang kempis ini

bisa berabe, berarti setiap ada kesempatan me-

nikmati kehangatan gadis ia harus gigit jari."

Kenyataan ini rupanya yang membuat Da-

tuk Alang Sitepu menjadi marah sekaligus meno-

leh ke arah si gadis yang hampir mencelakakan

dirinya. Tapi alangkah terkejutnya dia karena ga-





dis itu sudah tidak ada lagi di tempat terkecuali hanya pakaiannya saja yang berserakan diatas re-rumputan.

"Dajal Perempuan sundul... pemborosan

dan buang-buang waktu saja. Awas... aku tahu

ada yang menolongnya. Suatu hari nanti jika ke-

temu ia akan kuperkosa pulang pergi" desis Bungkuk Lima sambil menyeringai kesakitan. Begitu marahnya dia, sampai-sampai ia memukul-

kan tongkatnya yang berbulu kepala ular Cobra

ke tanah.

Seketika dari bekas pukulan tongkatnya

itu menyembur mata air panas berbau amis. Da-

tuk Alang Sitepu rupanya masih belum puas. Ia

melepaskan pukulan ke batu-batu gunung yang

terdapat disekelilingnya. Batu-batu itu hancur

berkeping-keping menerbangkan serpihan debu.

Maka akhirnya ia meneruskan perjalanannya

kembali. Tapi ia menghentikan langkah kaki keti-ka menyadari bahwa dari pusernya ke bawah ti-

dak berpenutup apa-apa.

"Sial Gara-gara bukit kembar urusanku

jadi kapiran"

Seperti orang linglung tokoh yang biasanya

angker ini kembali mendapatkan celananya. Un-

tung Prisma Kristal Permata masih berada ditem-

patnya. Setelah mengenakan pakaiannya kembali

kini ia melanjutkan perjalanannya ke Lembah Ci-

ruyung.

Sementara itu tubuh telanjang Maya Swari

terus melayang dalam keadaan rebah diudara.





Sinar putih kemilau itu terus menggerakkannya

ke satu arah. Sampai kemudian berhenti men-

gembang persis ditengah-tengah hutan Hutan Jati Muyung.

Lalu dari atas batu tidak jauh dari gadis itu

yang tengah mengapung diudara. Terlihat seorang kakek tua berambut serba putih, wajahnya nyaris tertutup bulu-bulu warna putih. Alis matanya

yang juga berwarna putih itu tertutup caping

bambu.

Si kakek yang semula hanya mempermain-

kan ranting kayu berwarna putih sambil bersiul-

siul ini tiba-tiba hentikan siulannya. Ranting putih ditangannya digerakkannya ke bawah. Hingga

membuat Maya Swari jatuh terduduk. Ia jentik-

kan ranting itu ke arah Maya Swari. Mengagum-

kan sekali dalam sekedipan mata Maya Swari te-

lah berpakaian lengkap berwarna putih seperti

sutera halus. Si gadis dalam keadaan terkejut

bercampur takjub ini memandang ke sekeliling-

nya. Ia tidak melihat siapa-siapa disitu terkecuali dirinya sendiri dan juga kakek bercaping yang

duduk diatas batu. Satu hal yang membuatnya

heran adalah sekujur tubuh si kakek memancar-

kan cahaya putih berpendar-pedar.

"Andakah yang telah menyelamatkan aku?"

tanya Maya Swari dengan penuh rasa terima ka-

sih. Yang ditanya tidak langsung menjawab.

Melainkan angkat capingnya, pandangi wajah

Maya Swari dengan tatapan bosan.





"Gusti Allah yang telah menyelamatkanmu

dari nista. Bukankah kau putri Diraja Penghulu

Iblis?" Maya Swari merasa senang karena ternyata orang tua aneh ini kenal nama ayahnya. Dengan

cepat ia menjawab.

"Anda kenal dengan orang tuaku, kakek?"

"Huh Siapa yang tidak kenal dengan Diraja Penghulu Iblis. Karena undangannya membuat

aku turun gunung. Jika bertemu ayahmu pasti

kugebuk hingga babak belur" dengus si kakek.

Jawaban si kakek benar-benar sangat ber-

tolak belakang dengan apa yang diharapkannya.

"Apakah salah ayahku?" bentak Maya Swa-ri menjadi sewot. Sungguhpun ia sadar karena

kakek bercaping itu ia selamat dari aib yang sangat besar.

"Salah ayahmu? Huh... salah ayahmu san-

gat banyak sekali. Karena undangannya Prisma

Kristal Permata dicuri dari Goa Darah. Karena dicuri Goa Darah menjadi hancur menyemburkan

hawa panas. Manusia merah terlepas dari kurun-

gan. Kini membantai penduduk yang tidak berdo-

sa, orang-orang sengsara mengungsi menyela-

matkan diri dari amukan lava dan amukan Ma-

nusia Merah. Raja Penyihir yang hampir meno-

daimu juga telah menyihir orang-orang yang tidak berdosa menjadi patung batu. Siasat apa lagi

yang lebih keji, melebihi kejinya iblis berkepala ular?" "Benarkah apa yang kakek katakan itu?"





tanya Maya Swari dengan terkejut.

"Aku tidak memintamu percaya, setan te-

tap setan. Iblis bukan anak setan. Karena hatimu baik. Itu sebabnya aku beri kesempatan kau hidup. Tapi ingat jika kau mencampuri urusan

orang tua. Tidak segan-segan aku membunuhmu

kelak dikemudian hari."

"Tapi..."

Kakek bercaping putih ini memotong. "Ti-

dak ada tapi-tapi. Cepat minggat dari hadapan-

ku" Panas hati Maya Swari, memerah wajahnya karena menahan amarah. Laki-laki gaek ini ang-kuhnya bukan main-main. Kalaulah tidak men-

gingat dia telah menolongnya. Tentu sudah dila-

braknya sejak tadi.

"Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelumnya, sudilah kakek memberitahu siapa nama dan ge-larmu."

"Hak hak hak Gelar? Apa itu gelar? Aku

hanya punya nama Barata Surya Penghulu Silu-

man Kera Putih"

Karena merasa tidak kenal dengan nama

itu, maka Maya Swari hanya diam saja. Jika saja Datuk Alang Sitepu yang mendengar si kakek

menyebut nama, tentu ia akan berpikir dua kali

untuk bertatap muka dengan si kakek. Sebagai-

mana diketahui Barata Surya alias Penghulu Si-

luman Kera Putih adalah satu diantara dua guru

Pendekar Blo'on. Guru yang lainnya adalah De-

wana atau Malaikat Berambut Api yang tinggal di





Pulau Seribu Satu Malam. Jika salah satu guru si pemuda sampai turun gunung, sama artinya ada

persoalan besar akan terjadi.

Laki-laki yang punya sikap ugal-ugalan,

konyol dan angin-anginan ini lalu batuk-batuk.

"Tunggu apa lagi. Menyingkirlah kau dari

sini" Semakin bertambah geram saja Maya Swari. Ia tanpa menoleh-noleh lagi langsung melangkah pergi. Tidak lama Penghulu Siluman Kera Pu-

tih pun berlalu. Tapi bukan dengan berjalan kaki, melainkan mengambang diudara selanjutnya melesat dengan bantuan hembusan angin kencang.





LIMA


"Hraaak" Sekali berteriak, sekali bergebrak. Orang-orang yang marah karena melihat

manusia merah melakukan pembunuhan dis-

epanjang jalan yang dilaluinya berpelantingan roboh. "Cincang manusia gila itu" teriak salah seorang mengkomandoi kawan-kawannya.

Para penduduk yang telah dirasuk marah

ini bergerak kembali. Berbagai jenis senjata

menghantam kaki dan perut Manusia Merah. Ti-

dak satupun dari senjata-senjata itu dapat me-

nembus kulit manusia keturunan raja Jin ini.

"Hraaaaa Hraaaaakh..."





Kaki menendang, tangan menghantam kiri

dan kanan. Lalu orang-orang malang itu berpe-

lantingan roboh.

"Wuaaarkh."

"Hekkkh..."

Para korban berjatuhan, keadaan mereka

sungguh menyedihkan. Ada yang kepalanya di-

potes, ada yang dipatahkan pinggangnya dan ti-

dak jarang dibanting lalu diinjak-injak.

Kenyataan ini tentu tidak lepas dari perha-

tian seorang perempuan berpakaian kembang.

Rupanya perempuan cantik berusia sekitar tiga

puluhan ini terus mengikuti perjalanan Manusia

Merah Soma Sastra.

Setelah lama melihat kekejaman serta

pembantaian yang dilakukannya. Akhirnya pe-

rempuan baju kembang-kembang yang tidak lain

adalah Ratu Penyair tujuh Bayangan ini berusaha mendekati Soma Sastra.

Ia berkelebat-kelebat diantara kerumunan

orang-orang yang mengeroyok Manusia Merah.

Sampai kemudian terdengar suara bentakannya.

"Hei kalian semua Apakah sudah pada gi-

la? Dia jelas tidak dapat kalian kalahkan. Mun-

dur... lebih baik mundur kataku"

Peringatan ini paling tidak cukup berpen-

garuh dan menyadarkan sebagian diantara mere-

ka. Tapi tidak bagi orang-orang yang telah kehi-langan sanak keluarganya.

Mereka malah menjadi nekad dan beringas.

Akibatnya mereka tidak ubahnya menciptakan





neraka bagi mereka sendiri.

Korban terus berjatuhan. Sampai kemu-

dian Ratu Penyair Tujuh Bayangan bicara seperti orang yang sedang bersair dengan suara keras

merobek langit

Tololnya manusia karena menuruti marah

Marah adalah nafsu hewani

Malang sungguh malang.

Kesadaran datangnya selalu terlambat.

Turut kata nafsu angkara murka jadinya

Setan lawannya, iblis tandinganya.

Tolol Bodoh Bego

Badai menggila mengapa dilawan?

Jika sayang badan harus tahu diri.

Jika sayang nyawa sebaiknya angkat kaki.

Pulang Pulang

Jangan-biarkan badan jadi tulang

Biarkan anak jin ciptakan neraka karena

dia tidak tahu dosa

Dasar celaka....

Ratu Penyair Tujuh Bayangan hentikan

ucapannya. Ia memandang lurus ke arah Manu-

sia Merah yang melotot kearahnya.

Laki-laki raksasa berkulit merah ini tiba-

tiba menghentikan gerakannya lalu berkata.

"Kau... perempuan baju kembang-kembang

apa maksud ucapanmu itu?"

Ratu Penyair Tujuh Bayangan seketika

menutup indera pendengarannya ketika menden-





gar suara Manusia Merah yang tidak ubahnya se-

perti suara gelegar halilintar itu.

Sungguhpun ia telah menutup daun telin-

ganya, tapi tetap saja jantungnya berdetak keras.

Orang-orang yang telah mulai menjauhi Manusia

Merah itu juga berkaparan mati. Telinga mereka

meneteskan darah, mata melotot juga mengalir-

kan darah.

"Sobat merah Aku tahu kau mencari Pris-

ma Permata yang telah dicuri oleh Nyanyuk Pingitan. Orang yang kau cari sekarang telah melari-

kan diri ke Lembah Ciruyung. Kuharap kau tidak

membunuh manusia yang tidak memiliki dosa

dan salah apa-apa kepadamu"

"Kau apakah Dewa? Aku bukan sobatmu,

didunia ini semua musuhku. Aku hanya punya

seorang sahabat. Suro Blondo namanya. Jadi kau

jangan mengaku-ngaku" Manusia Merah men-

dengus marah.

"Kalau Pendekar Blo'on itu sahabatmu,

perlu kau tahu dia juga sahabatku"

"Tidak bisa. Tidak bisa Di dunia hanya ada seorang sahabat. Kau hanya mengaku dan bermaksud menipu Puuuuh..."

Tanpa diduga-duga Manusia Merah kecil-

kan bibirnya, mulutnya menggembung dan angin

laksana badai topan berhembus menerjang Ratu

Penyair Tujuh Bayangan. Serangan seketika ini

membuat Ratu Penyair Tujuh Bayangan tadi

tunggang langgang. Dengan mengerahkan seluruh

tenaga dalam yang dimilikinya ia mencacakkan





kakinya diatas tanah membentuk kuda-kuda.

Saat itu ia pun ingin melepaskan pukulannya ke

arah Manusia Merah.

Hanya niatnya itu diurungkannya ketika ia

mengingat sesuatu. Selanjutnya ia melompat ke

samping kiri. Manusia merah mengejar dan in-

jakkan kakinya yang berat dan menimbulkan

gempa. "Kalau pulau Jawa ini tenggelam karena ulah para iblis yang sok berkuasa aku tidak perduli. Tapi terus terang saja aku takut dengan

murka bapak angkat. Hiiiih.... diiekh..."

Manusia Merah Soma Sastra pukulkan

tangannya ke arah Ratu Penyair Tujuh Bayangan.

Tapi begitu tangannya menderu, lawan sudah

menghindar. Praktis pukulannya menghantam

batu. Batu hancur dan meninggalkan lubang be-

sar. Melihat Kenyataan ini Ratu Penyair Tujuh

Bayangan menjadi dingin tengkuknya. Tidak ter-

bayangkan bagaimana jika dirinya yang terkena

tinju Manusia Merah. Paling tidak gepeng dan keluar taik muda.

"Gerakanmu menghindar sebagus walet api

di neraka. Aku ingin tahu apakah kau juga mam-

pu menghindari lidah apiku"

Usai berkata ia kempiskan perut, lalu tarik

nafasnya dalam-dalam. Setelah itu.

"Haaah..."

Seketika dari mulut manusia merah me-

nyembur lidah api. Titisan Raja Jin ini memang

memiliki banyak keanehan disamping terlalu lu-





gu. Begitu api menyembur langsung menyambar

Ratu Penyair Tujuh Bayangan. Perempuan ini

terpaksa bersalto ke belakang untuk menghindari sambaran lidah api. Tapi anehnya lidah api yang menyembur dari mulut Manusia Merah terus

mengejar kemana pun ia berusaha menghindar.

Tidak pelak lagi bangunan yang ada disekitarnya ikut terbakar. Hanya dalam waktu singkat disekitar mereka telah menjadi lautan api.

"Gilaaa.... Jika aku hanya bertahan begini terus, mustahil aku dapat memberi pengertian

kepadanya. Jalan satu-satunya adalah dengan

sedikit unjuk kebolehan...." Pikir Ratu Penyair Tujuh Bayangan.

Sekejap tubuhnya berkelebat lenyap. Ia

dengan mempergunakan ilmu meringankan tu-

buh yang sangat tinggi terus berputar-putar di-

atas kepala Manusia Merah, hingga membuat la-

ki-laki berumur lebih dari satu abad ini kelabakan. Adalah buta jika lawan dianggap kawan

Anak Jin menjadi picik karena kawan di-

anggap lawan

Prisma Permata sekarang telah dikuasai

oleh Raja Penyihir

Mengapa membuang-buang waktu tidak

mendapatkannya?

Pergi cepat pergi

Terlambat sedikit kembarannya bakal terla-

hir....





Seakan diingatkan Manusia Merah jadi ter-

cekat. Apa yang baru saja diucapkan oleh Ratu

Penyair Tujuh Bayangan seakan memiliki kesan

yang mendalam baginya. Mendadak ia katupkan

mulutnya, tangannya berhenti menyerang, lalu

matanya yang berkilat-kilat aneh memandang ta-

jam pada Ratu Penyair Tujuh Bayangan.

"Kau bagaimana bisa mengetahuinya? Apa

yang kau ucapkan itu memang benar adanya.

Aku harus segera pergi, tapi tidak tahu dimana

Lembah Ciruyung" ujar Soma Sastra dengan bingung. "Aku tahu tempatnya. Kalau kau mau aku bisa tunjukkan"

"Baik Aku setuju, tapi jika kau menipuku, rasakan sendiri akibatnya." ancam Manusia Merah. "Kau harus percaya padaku jika segala urusan ini dapat diselesaikan dengan baik"

Manusia Merah mengangguk setuju. Den-

gan perasaan ngeri akhirnya Ratu Penyair Tujuh

Bayangan pergi bersama Manusia Merah menuju

Lembah Ciruyung.

Lembah Ciruyung merupakan lembah

sunyi berbatu. Ditengah-tengah lembah itu terdapat sebuah bangunan terbuat dari batu. Dalam

keadaan tertentu lembah ini selalu berselimut kabut tebal. Tidak jauh dari samping bangunan terlihat sebuah pemandangan yang cukup unik lagi

menyeramkan.





Tengkorak dan tulang belulang manusia

bertebaran dimana-mana. Tidak ada yang tahu

bahwa penghuni lembah Ciruyung ini pada setiap

bulan purnama selalu menculik kaum laki-laki

untuk dijadikan persembahan para roh dan mak-

hluk lelembut yang diyakininya dapat menimbul-

kan malapetaka.

Suasana diluar bangunan memang terasa

sangat sunyi sekali ketika Diraja Penghulu Iblis dan Buto Terenggi sampai di tempat itu. Sebagaimana di daerah Jawa lainnya. Suatu tempat

terkadang sangat diyakini memiliki kekuatan gaib yang dapat mendatangkan kesenangan dan ke-sengsaraan.

Demikian juga halnya dengan lembah Ci-

ruyung ini. Siapapun yang berada di tempat itu

bila satu aliran dengan penguasa lembah. Maka

kekuatannya jadi berlipat ganda. Kekuatan ini

merasuk dalam diri seseorang tanpa disadarinya.

Demikian juga halnya yang terjadi pada diri Dira-ja Penghulu Iblis dan juga Datuk Mambang Pito-

ka.

Ketika itu ada empat sinar yang merasuk

dalam diri mereka. Merah, kuning, hitam dan bi-

ru.

Tanpa sadar mereka terus berjalan mende-

kati bangunan batu yang sudah tidak asing lagi

bagi mereka.

"Lihatlah tumpukan tulang belulang itu,

Datuk. Rupanya sobat kita semakin tua semakin

rajin mengumpulkan korban persembahan."





"Betul. Tentunya orang-orang malang itu

dijadikan gundiknya dulu sebelum dijadikan kor-

ban persembahan terhadap para roh disini." Raka Tenda menimpali.

"Kepada sobat-sobat tamu diluar. Mengapa

hanya diam disitu?"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara sember

dari dalam bangunan. Pintu batu terbuka. Dibalik pintu tidak ada siapa-siapa, berarti pintu itu membuka dengan sendirinya.

Setelah melirik ke arah kawannya. Datuk

Mambang Pitoka kemudian melangkah masuk di-

ikuti Raka Tendra.

"Hik hik hik... Beginilah keadaan tempat

tinggalku. Tentunya sangat jauh berbeda dengan

singgasanamu, Diraja Penghulu"

Setelah saling menjura penuh rasa hormat.

Maka tidak lama setelah itu mereka duduk men-

gelilingi meja terbuat dari batu hitam. Konon batu hitam memiliki kemukjijatan untuk menyembuhkan gigitan binatang berbisa. Tapi Diraja Penghu-lu Iblis manalah perduli dengan hal-hal semacam ini. Sekarang hatinya tetap gelisah mengingat putri tunggalnya masih belum ditemukannya.

"Kalian mengapa cepat sekali datang kema-

ri? Apakah keadaan di puncak Gunung Pan-

grangko sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan?" tanya Nyanyuk Pingitan sambil tertawa.

Sehingga deretan giginya yang hitam pekat terlihat begitu mengerikan.

Secara singkat Diraja Penghulu Iblis ke-





mudian menceritakan perihal hilangnya Maya

Swari dan penyerbuan yang dilakukan oleh dua

tokoh Gajah dari Merbabu. Ia juga tidak lupa

membicarakan tentang Suro Blondo dan juga De-

wi Bulan. Tidak ayal lagi Nyanyuk Pingitan men-

jadi marah.

"Aku sangat yakin salah satu dari orang-

orang golongan putih telah menculik anakmu.

Tapi... kita tidak tahu siapa dia. Dan kemungkinan lainnya bisa saja pemuda bertampang tolol

itu yang telah menyembunyikannya di suatu tem-

pat. Keadaan ini kurasa dapat kita atasi, karena tidak sampai dua hari lagi, Datuk Alang Sitepu telah berhasil memecahkan kehebatan yang ter-

sembunyi dibalik Prisma Permata tersebut."

"Sudahlah, sekarang istirahat dulu. Mu-

suh-musuh kita mustahil berani menyatroni lem-

bah ini" kata Nyanyuk Pingitan dengan penuh keyakinan.

Kepada dua tamu ini Nyanyuk Pingitan

menyuguhkan tuak wangi. Ketika mereka baru

saja hendak melanjutkan pembicaraan.

Tiba-tiba saja terjadi guncangan yang san-

gat keras pada dinding ruangan. Guncangan ini

tentu sangat mengejutkan bagi orang-orang yang

berada didalamnya. Sehingga ketiga tokoh sesat

ini langsung menghambur keluar. Hanya datuk

Alang Sitepu saja yang tetap bersemedi diruangan khusus bangunan batu tersebut.

Begitu mereka berada diluar. Maka terli-

hatlah oleh mereka seorang laki-laki gemuk bu-





kan main dibantu dengan oleh seorang gadis se-

dang bertarung dengan dua ekor harimau putih

peliharaan Nyanyuk Pingitan.

Perempuan berwajah mengerikan ini terke-

keh-kekeh melihatnya.

"Rupanya kita kedatangan tamu. Biarlah

dua ekor macan putih milikku yang melayaninya.

Sebentar lagi mereka tentu menjadi santapan

yang empuk Hik hik hik..."

"Kau begitu yakin, Nyanyuk? Tahukah kau

bahwa laki-laki gemuk itu adalah tokoh dari gu-

nung Merbabu?" tanya Raka Tendra.

"Apakah mereka setan, atau apa. Aku tidak

perduli. Jika mereka tidak mempunyai nyawa

rangkap mengapa begitu takut? Dua macan putih

itu mempunyai keahlian tiga tingkat diatasku.

Karena mereka adalah paman guruku"

Apa yang dikatakan oleh Nyanyuk Pingitan

memang tidak berlebihan. Selain sangat tangkas, kedua macan putih ini seakan mengerti ilmu silat.

Setiap serangan yang dilakukannya ganas bukan

main. Apalagi mereka menyerang dengan cara

yang berbeda-beda.

Sebagai orang yang sangat berpengalaman,

Gajah Gemuk bukan tidak menyadari akan hal

ini. Menghadapi dua ekor harimau sekaligus bu-

kan apa-apa baginya. Tapi ia juga harus melin-

dungi muridnya yang baru saja sembuh dari luka

dalam yang dideritanya.

Ini yang membuatnya agak repot. Sebenar-

nya ada satu hal yang membuatnya terheran-





heran. Seingatnya ia sudah dua kali menghantam

kepala harimau putih itu dengan telak dan keras.

Tapi pukulan yang mengandung tenaga dalam

tinggi ini seakan tidak membawa arti apa-apa.

Malah kedua binatang ini semakin liar dan

beringas, sehingga setiap serangan baik berupa

cakaran maupun terjangan mereka semakin ber-

bahaya saja.





ENAM


Kenyataan ini membuat Gajah Gemuk se-

gera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak

wajar pada kedua harimau itu. Ia merasa tidak

yakin ada harimau kebal terhadap serangan pu-

kulannya. Untuk itu ia mengambil ancang-

ancang. Kedua tangan yang dikepalkannya ke-

mudian dihantamkannya ke tanah. Lalu terden-

gar bentakannya yang sember.

"Jika kau bukan harimau sungguhan, ma-

ka kembalilah ke asalmu"

Tubuhnya tiba-tiba melesat ke depan, ber-

samaan waktunya dengan sang harimau yang

menerjang ke arahnya.

Begitu cakar sang macan menyambar ke

bagian muka ia miring ke kiri sementara dua tinjunya menggedor dada makhluk buas tersebut

dua-duanya sekaligus.

Buk Beek





"Graaaumg..."

Kedua harimau putih itu terlempar dan

mengeluarkan suara menggerung. Begitu me-

nyentuh tanah makhluk ini menggelepar dan se-

cara perlahan kembali ke asalnya.

"Harimau siluman" desis Dewi Bulan. Seketika ia mencabut pedang pendeknya. Dua ekor

harimau yang telah kembali menjadi manusia ini

bangkit berdiri. Ternyata mereka adalah dua

orang laki-laki berumur kira-kira 56 tahun be-

rambut panjang menjulai berbaju putih dan be-

rambut putih. Ditangan mereka tergenggam se-

buah seruling berwarna kuning keemasan.

"Berani kau datang ke lembah ini, Gendut

Sama artinya kau dan muridmu membuang nya-

wa percuma." dengus salah seorang diantara mereka. "Ha ha ha Melihat pada seruling itu dan juga melihat tampang kalian yang jelek-jelek. Kau pastilah Sepasang Iblis Seruling Emas? Suruh keluar murid keponakanmu yang pantas menjadi

nenek kalian itu"

"Kau berada diwilayah kami. Tidak layak

memerintah terkecuali patuh pada perintah ka-

mi" "Setan Murid keponakanmu itu telah mencuri Prisma Permata, hingga membuat sebagian

Jawa ini dilanda lautan lahar panas. Ulahnya telah membangkitkan Manusia Merah dari penjara

bumi. Selain itu dengan Prisma Permata itu Nya-

nyuk Pingitan dan kawan-kawannya bermaksud





merajai rimba persilatan dengan mendirikan se-

buah kerajaan."

"He he he Itu adalah sebuah rencana yang

sangat baik, gendut. Mengapa kau malah iri? Ka-

lau kurang senang mengapa kau dan orang-orang

golongan lurus tidak mendirikan sebuah menara

kematian saja?"

Bukannya marah Gajah Gemuk malah ter-

gelak-gelak.

"Aha, betul. Kami juga memang bermaksud

mendirikan sebuah menara sekaligus membuat

lubang besar. Tapi kami persiapkan semua itu

untuk mengubur kalian," kata Gajah Gemuk pu-la.

"Paman Rawa dan Paman Ruwi. Jangan

mengulur-ulur waktu. Lekas bunuh guru dan

murid itu sekarang juga" teriak Nyanyuk Pingitan yang terus menyaksikan perdebatan itu bersama

dua orang kawannya. Rawa dan Rawi menanggapi

perintah murid ponakan itu dengan anggukan

kepala. Iblis Seruling Emas ini tiba-tiba membentuk gerakan yang sangat aneh. Tangan yang me-

megang seruling menuding lurus ke depan.
 Se-

dangkan tangan kiri menyilang di dada.

"Hiiit"

Wuuus

Nguuung

Ketika mulut mereka menggembor nyaring.

Tahu-tahu tubuh mereka telah melesat ke depan.

Yang diincar adalah mata dan tenggorokan Dewi

Bulan juga gurunya. Gadis ini kiblatkan pedang-





nya dengan mengandalkan jurus TARIAN KUPU-

KUPU DI ATAS BUNGA MATAHARF. Sedangkan

Gajah Gemuk sendiri pergunakan tangannya un-

tuk menangkis seruling lawan.

"Haiiit"

Traang Traaang

Terlihat ada percikan bunga api ketika pe-

dang ditangan Dewi Bulan membentur seruling

emas ditangan Rawa. Gadis itu sempat terhuyung

mundur, dan tubuhnya bergetar. Jemari tangan-

nya terasa panas bukan main. Jelas dalam hal

tenaga dalam. Dewi Bulan berada beberapa ting-

kat di bawah Rawa.

Gajah Gemuk sendiri yang tangannya

membentur seruling milik Rawi cuma tergetar.

Kalau saja ia tidak melindungi tangannya dengan ajian Wesi Baja. Tentu tangannya yang dipergunakan untuk menangkis sudah remuk sejak tadi.

Sambil tertawa he he he he, kini Gajah

Gemuk balas menyerang. Sungguhpun badannya

gemuk luar biasa, tapi serangan-serangan yang

dilancarkannya sebat bukan main.

Hanya ia kelihatan lebih berhati-hati, kare-

na ia sendiri juga harus melindungi keselamatan muridnya.

Walaupun Sepasang Iblis Seruling Emas

merupakan tokoh-tokoh yang mempunyai kepan-

daian tinggi. Tapi Gajah Gemuk adalah tokoh an-

gin-anginan yang punya kepandaian sulit dijajaki.

Sehingga tidak mudah bagi Sepasang Iblis

Seruling Emas ini untuk menjatuhkannya begitu





saja. Tidak ayal lagi semakin lama pertarungan itu berlangsung semakin seru.

Sementara itu di dekat bangunan batu juga

terjadi keributan. Rupanya Suro Blondo dan Ga-

jah kurus telah sampai di Lembah Ciruyung juga.

Jika Gajah Kurus langsung bergabung dengan

Gajah Gemuk setelah melihat Dewi Bulan agak

terdesak. Sebaliknya Pendekar Blo'on langsung

berhadapan dengan Nyanyuk Pingitan, Buto Te-

renggi dan juga Diraja Penghulu Iblis.

"Akhirnya kau berani datang juga kemari,

bocah Manusia tidak tahu membalas guna seper-

timu memang layak mampus. Tapi sebelumnya

kau harus memberitahukan padaku. Dimana

Maya Swari kau sembunyikan?" Raka Tendra

menggeram. Sedangkan dua orang kawannya te-

lah bersiap-siap untuk mengemplang.

"Aku mana tahu menahu tentang putrimu."

Suro Blondo garuk kepalanya. Lalu tersenyum.

"Bukankah kau telah menjadi suaminya?"

Raka Tendra melotot.

"Aku suami bohong-bohongan, jadi pen-

gantin juga bohong-bohongan. Eeh... iblis bau

apek Kulihat setelah kau bergabung dengan ka-

wan-kawanmu menjadi berani unjuk gigi dan

sombong. Apa kau kira kawan-kawanmu itu be-

cus menghadapi Manusia Merah?" Si pemuda

kemudian tergelak-gelak. "Lebih baik kalian se-rahkan saja Prisma Permata yang telah kalian cu-ri untuk kukembalikan pada yang empunya. Ku-





jamin aku cuma minta tangan dan kaki kalian sa-

ja."

"Bocah goblok tidak tahu gelagat Mulutmu

besar dan kelewat sombong. Apa kau kira kami

akan mengampunimu?"

"Jhe... siapa yang minta ampun?" Si pemuda pegang mulutnya. "Dasar edan mulutku kecil kalian bilang besar. Sudahlah, bosan aku bicara dengan kalian Serahkan saja Prisma Permata itu padaku"

Sebagai jawabannya Raka Tendra langsung

mengemplang kepala si pemuda. Suro begitu me-

rasakan sambaran angin langsung merundukkan

badannya, sehingga kemplangan lawannya lewat

diatas kepalanya. Geram bukan main Raka Ten-

dra melihat tinjunya luput dari sasaran. Kali ini ditendangnya selangkangan Suro. Suro melompat

lagi, Ee... lagi-lagi serangan luput pula. Melihat si pemuda berhasil menghindari serangan. Dua

lainnya menjadi kesal. Tanpa sadar mereka seca-

ra bersama-sama ikut menyerang.

Mendapat serangan dari segala penjuru

arah dan dilakukan oleh tokoh-tokoh yang berke-

pandaian tinggi pula. Maka semakin konyollah gerakan menghindar yang dilakukan oleh Suro.

"Manusia kampret" Buto Terenggi yang sudah merasakan kehebatan lawannya memaki

sambil mengejar. Bersamaan waktunya dengan

itu Raka Tendra menyerang pula dari samping ki-

ri.

Suro terperangah, ia berpikir diantara se-





rangan kedua lawan. Tidak satupun yang dapat

dianggap ringan. Untuk itu ketika ia merasakan

angin menderu menghantam dada, pinggang,

tenggorokan dan juga kepala. Segera ia perguna-

kan jurus 'KACAU BALAU', yaitu salah satu jurus ambang pamungkas yang diwariskan oleh kakek

merangkap gurunya Dewana alias Malaikat Be-

rambut Api.

Dengan gerakan yang sangat sulit diper-

caya ia jatuhkan tubuhnya. Pukulan itu luput.

Tapi dari samping tidak terduga menderu tendan-

gan Nyanyuk Pingitan. Tidak sempat lagi Suro

menghindar. Perutnya kena dihantam kaki la-

wannya. Begitu kerasnya tendangan itu hingga

membuat tubuhnya yang bergulung-gulung itu te-

rangkat kemudian terbanting lagi.

Suro merasa perutnya pecah. Panas bukan

main perut yang kena tendangan. Ia menggeliat

sambil terus berguling-guling. "Aduh biung Moga-moga tempat nasiku tidak berantakan di dalam.

Nenek jelek itu benar-benar minta nyawaku. Tapi daripada aku memberinya nyawa, lebih baik ia

kuberi tendangan juga." geram Suro dalam hati.

Dengan punggung bertumpu diatas tanah,

Suro memutar tubuhnya. Kaki telentang dan me-

nyambar siapa saja yang mencoba mendekatinya.

Dukk

Bletak Bletak

"Anjing" maki Nyanyuk Pingitan ketika tulang keringnya tersambar tumit lawannya, hingga membuatnya terpincang-pincang.





"Monyet Ha ha ha... dasar monyet hitam

jelek" Suro meledek. Semakin lama tentu ketiga lawannya ini semakin hilang kesabarannya.

"Mundur sobat-sobatku..." teriak Nyanyuk Pingitan. Suaranya semakin sember dan bibirnya

bertambah dower pertanda kemarahannya sudah

mencapai ubun-ubun. "Biar aku mewakili Diraja Penghulu Iblis mencabut nyawa bocah gendeng

ini." Dua lawan mundur, kini hanya Nyanyuk Pingitan saja yang berhadapan dengan Suro

Blondo.

"Aku tidak akan pernah puas sebelum

memakan darah dan dagingmu."

"Dari pada makan darah daging. Bagaima-

na kalau kau minum kencingku saja?" Lagi-lagi ucapan Suro hanya membuat hati si nenek menjadi semakin panas.

"Bangsat. Kau memang pemuda tolol seka-

ligus miring Kudengar kau punya julukan yang

konyol. Dulu sayang sekali aku tidak sempat me-

nyaksikan malam kelahiranmu yang mengheboh-

kan itu. Otakmu miring, jalanmu sinting. Coba

sebutkan siapa gurumu?" kata Nyanyuk Pingitan.

Diam-diam rupanya ia juga ingin memasti-

kan siapa guru pemuda berambut kemerahan ini.

"Ha ha ha Kau mau bertarung atau ber-

kotbah didepanku, eeeh...? Kupikir iblis seperti-mu bisa kotbah."

"Anjing buduk" Nyanyuk Pingitan tiba-tiba mendorong kedua tangannya ke depan. Seleret





sinar hitam menderu dan menghantam Suro.

Sesaat sebelum sinar itu menghantam tu-

buhnya. Ia telah melesat ke udara. Dalam kea-

daan berjumpalitan seperti itu, tidak mau kalah ia juga lepaskan pukulan 'RATAPAN

PEMBANGKIT SUKMA'. Deru angin bagaikan di

lautan badai. Bukan main dinginnya udara dis-

ekitar tempat itu. Sinar putih bergulung-gulung bagai awan putih yang siap memporak-porandakan segalanya.

Nyanyuk Pingitan kejut bukan alang-alang

melihat sinar hitam yang melesat dari telapak

tangannya terbuntal sinar putih laksana salju.

Pukulan Nyanyuk Pingitan yang membalik

ditambah lagi dengan pukulan yang dilepaskan

oleh Suro tindih menindih. Nyanyuk Pingitan be-

rusaha mempertahankan diri dengan melipat

gandakan tenaga dalam sambil melepaskan puku-

lan beruntun. Tapi apa yang dilakukannya ini tidak menolongnya. Secara pelan namun pasti tu-

buhnya mulai terseret menjauhi kalangan per-

tempuran. Pakaiannya mulai koyak-koyak di be-

berapa bagian terkena hembusan angin yang se-

makin menggila,

Maka goyah juga akhirnya pertahanan

Nyanyuk Pingitan

Blaar Deer...

Nyanyuk Pingitan jatuh menimpa dua ka-

wannya. Sungguh aneh jika ia tidak mengalami

akibat apa-apa. Sebagaimana kita ketahui, mere-

ka berada di wilayahnya sendiri. Lembah Ci-





ruyung mempunyai banyak keanehan. Salah satu

diantaranya adalah membuat para penghuni dan

sahabat penghuni bertambah baik dalam hal te-

naga dalam maupun ilmunya.

Kini mereka bertiga bahu membahu. Tan-

gan mereka saling menyatu. Begitu jemari tangan mereka menunjuk ke arah Suro Blondo. Lima belas sinar hitam melesat ke arah si pemuda. Merasakan sambaran angin sinar hitam itu saja Suro

merasa tubuhnya seperti terbakar. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika kelima belas sinar

itu menghantam tubuhnya.

Ia menjadi kecut, tapi segera pergunakan

jurus 'SERIBU KERA SAKTI MENGECOH

HARIMAU'. Di samping itu ia juga pergunakan se-

tengah dari tenaga dalamnya untuk memper-

siapkan pukulan 'MATAHARI REMBULAN TIDAK

BERSINAR'.

Karuan saja suasana semakin bertambah

seru dan tegang. Tapi Suro tetap berhati-hati karena melihat jumlah lawannya cukup banyak ju-

ga. Ia tidak ingin konyol sebelum berhasil merebut Prisma Permata yang di sembunyikan oleh sa-

lah satu tokoh iblis ini.





TUJUH


Kita tinggalkan dulu Pendekar Blo'on yang

sedang menghadapi lawan-lawan yang cukup be-





rat. Sementara itu Gajah Gemuk dan Gajah

Krempeng yang kini tengah menghadapi Sepasang

Iblis Seruling Emas tampak mulai berada di atas angin. Saudara sedarah yang selalu bertarung

dengan mempergunakan tangan kosong ini sejak

mengerahkan jurus 'PARA GAJAH

BERSILATURAHMI' berhasil menekan serangan

lawan-lawannya.

Sungguhpun memang patut diakui Gajah

Gemuk dan Gajah Krempeng juga tidak terlepas

dari luka dalam yang diderita. Namun keadaan

lawan jauh lebih parah lagi.

"Kakang Kita sebenarnya terlalu banyak

mengulur waktu dan menguras tenaga..." Gajah Krempeng mulai mengisiki saudaranya. Sebaiknya kita habisi saja. Lihatlah bocah itu kelihatannya jadi bulan-bulanan. Kita harus menolong-

nya." "Apa yang kau katakan memang benar. Ta-pi orang ini seperti punya nyawa rangkap saja.

Aku sudah membantingnya, tapi tidak mampus

Lihatlah murid kita nampaknya gelisah sekali melihat pemuda itu jadi keroyokan."

"Tapi mengapa dia tidak turun tangan

membantu kawannya?"

"Aku telah menotoknya tolol Kalau tidak

sejak tadi dia pasti telah bergabung dengan pe-

muda itu."

"Sebaiknya lepaskan saja. Biar dia bantu

Suro Blondo."





"Edan... Dewi Bulan belum sembuh benar

dari luka dalam yang dideritanya. Biarkan dia istirahat, kalau perlu kita-kita yang sudah pada tua bangka ini selesaikan urusan disini, lalu bantu disana."

"Huuuup"

Seruling ditangan Rawa menderu pada saat

Gajah Gemuk saling mengirimkan isyarat pada

sesamanya.

Apa yang dilakukan oleh Rawa bukan sem-

barangan serangan. Karena ia telah mengerahkan

jurus 'HARIMAU MERANGKUH LEMBAH'.

Gajah Gemuk terpaksa tarik pulang puku-

lan lalu menyampok senjata Rawa. Tapi hanya

membelokkannya sedikit saja tangkisan Gajah

Gemuk luput. Serangan ganas ini tampaknya

akan membuat remuk wajah lawan jika Gajah

Gemuk tidak cepat merundukkan wajahnya ke

samping lalu sambar tangan kanan lawan yang

memegang senjata.

"Dewa Bergabung Gajah menjerit" teriak-nya sambil mematahkan tangan lawannya.

Kraak

Tangan Rawa patah mengeluarkan suara

berderak, namun Rawa sama sekali tidak menje-

rit. Seruling jatuh, langsung dipungut Gajah Gemuk. Dengan sekuat tenaga langsung dipukulkan

ke kepala Rawa.

Praak

Darah dan otak Rawa berhamburan. Ba-

dannya langsung menggelosor ke tanah. Melihat





kematian saudara seperguruannya. Ruwi menjerit

bagai orang kesurupan. Tiba-tiba ia mengangkat

tangannya tinggi-tinggi, sementara seruling ditangannya dia lemparkan ke udara.

Mulut Ruwi berkomat-kamit. Dari telapak

tangannya menebar kabut tipis dan menimbulkan

bau kayu cendana.

Dari atasnya seruling yang dilemparkannya

keluar suara aneh. Ketika Gajah Gemuk dan Ga-

jah Krempeng mendongak ke langit. Maka terlihat oleh puluhan bahkan ratusan seruling yang sa-ma. Seruling dengan ujung runcing itu kemudian

meluruk ke tanah bagaikan anak panah yang di-

lepaskan dari langit.

Tentu saja suasana menjadi gempar. Gajah

Gemuk dan adiknya langsung putar tangan diatas

kepala dengan kecepatan bagaikan titiran. Maka

terdengar suara tung ting tang disertai berpenta-lannya puluhan seruling yang kena disampok ke

berbagai arah.

Sepuluh seruling kena dihalau, yang da-

tang dua puluh menyerang. Dua puluh berhasil

dienyahkan yang datang empat puluh. Begitulah

yang terjadi seterusnya.

Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng berjin-

grak-jingrak bagai orang yang diserang lebah.

"Wuaaaah.... Tipuan mata gombal" teriak-nya. Teriakan yang sangat keras itu tentu saja membuat kosentrasi lawannya buyar. Praktis seruling yang sedang menari-nari di atas udara pun





berubah menjadi tunggal dan jatuh ke bawah.

Sebelum seruling itu menyentuh tanah, Rawi be-

rusaha menggapainya. Kesempatan lengah Ruwi

dipergunakan oleh Gajah Krempeng dan Gajah

Gemuk untuk melepaskan pukulan.

Braak

Raaaak

"Aaaaa..."

Dihantam dari depan dan belakang oleh

Gajah bersaudara. Dada Rawi remuk. Ia hanya

mampu menjerit pendek, tulang-tulang rusuknya

melesak dan menyatu. Ketika Gajah Gemuk dan

adiknya sama-sama tarik tangannya. Maka Rawi

yang sudah tidak bernyawa itu ambruk tergontai-

gontai. Keduanya saling berpandangan setelah itu mereka berpaling ke arah Suro Blondo dan lawan-lawannya yang tampak mulai letih. "Sebaiknya ki-ta bantu dia?" "Mari. Eeeh... tapi tunggu dulu.

Lembah ini seperti diguncang gempa" Gajah Gemuk memasang telinganya baik-baik. Kemudian

ia memandang ke satu arah dimana suara itu be-

rasal. "Lihat bukan gempa Tapi manusia merah"

Benar saja yang datang ternyata manusia

merah. Ia tidak datang sendiri, melainkan bersa-ma seorang perempuan berpakaian kembang-

kembang.

Sekali lihat kedua Gajah bersaudara sudah

dapat mengenali perempuan itu. Namun mereka

jadi heran. Bagaimana mungkin Ratu Penyair Tu-





juh Bayangan dapat menjinakkan Manusia Me-

rah. Semakin mendekati tengah lembah suara

mereka semakin menggemuruh. Batu-batu dis-

ampingnya di tendang oleh manusia dengan tinggi lima meter ini sehingga hujan batu di tengah-tengah lembah sudah tidak dapat dihindari. Praktis mereka yang sedang bertarung keluar dari kalangan pertempuran. Manusia Merah berdiri te-

gak di tengah-tengah mereka.

Cuping hidungnya mengendus-endus. Lalu

matanya tiba-tiba melotot mendelik pada Nya-

nyuk Pingitan.

"Kau..." Telunjuk Manusia Merah langsung menuding pada Nyanyuk Pingitan. Sinar merah

laksana darah menyembur dari telapak tangan

Soma Sastra. Sinar itu menderu kencang. Nya-

nyuk Pingitan tahu gelagat dan langsung meng-

hindari serangan yang tidak disangka-sangka ini.

Serangan luput, pohon dibelakangnya jadi korban langsung terbakar bagaikan pohon kering.

"Kau yang telah mencuri Prisma Permata

dari Goa Darah. Goa Darah hancur. Aku terbebas

dari dalamnya, tapi bukan malah merdeka, seba-

liknya sangat tersiksa Terimalah kematianmu..."

Manusia Merah kembali tudingkan telunjuknya.

Dua leret sinar laksana bara melesat dari ujung kuku Manusia Merah. Lagi-lagi Nyanyuk Pingitan

berusaha menghindarinya sambil lontarkan caci

maki. Tapi rupanya Manusia Merah ini tidak beri kesempatan lagi. Sepuluh jari direntangkannya.





Maka dari sepuluh jari itu secara berturut-turut menderu sinar yang sama. Diserang sedemikian

rupa, Nyanyuk Pingitan jadi pontang-panting ju-

ga. Sungguh pun patut diakui ia punya tenaga

dalam tinggi dan juga ilmu mengentengi tubuh

yang sudah sangat sempurna.

Tapi ternyata Manusia Merah bukan saja

hanya menyerang Nyanyuk Pingitan. Raka Tenda-

ra, Buto Terenggi dan kawan-kawan. Suro Blondo

tidak luput dari serangannya. Melihat ini Pendekar Blo'on jadi kebat kebit juga. Karena Serangan Manusia Merah itu disamping sangat ganas juga

mematikan dan menimbulkan kobaran api dima-

na-mana.

Suasana di Lembah Ciruyung saat itu be-

nar-benar telah berubah menjadi Neraka.

"Manusia Merah sobatku Jangan kau bu-

nuh kawan-kawanku. Bunuh saja manusia jelek

itu" teriak Suro Blondo.

"Heeh... bukankah kawanku hanya dua.

Kau dan juga perempuan baju kembangan ini..."

Manusia Merah menyahuti.

"Tidak manusia gendut perut macam kuali

tengkurap itu juga kawan kita. Juga yang kurus

kurang makan itu kawan. Mengamuk ya menga-

muk, tapi jangan bunuh kawan sendiri"

"Baik. Dan kalian cukup menonton di ping-

gir saja. Ketiga orang ini bagianku..."

Apa yang dikatakan oleh Manusia Merah

bukan hanya sekedar omongan belaka. Karena di-

lain saat ia telah menyerang Nyanyuk Pingitan,





Buto Terenggi dan juga Diraja Penghulu Iblis sekaligus Ketiga tokoh iblis ini tentu saja gembira sekali. Melihat lawan-lawannya yang lain tidak ikut mengeroyok mereka. Itu sebabnya mereka ini

langsung mengerubuti Manusia Merah dengan

berbagai tipu muslihat yang ada. Tidak segan-

segannya mereka mengeluarkan senjata andalan

dan juga melepaskan pukulan-pukulan yang san-

gat mematikan.

Tapi putra titisan Jin ini selain kebal senja-

ta juga tidak mempan pukulan sakti. Sehingga

apa yang mereka lakukan hanya sia-sia saja.

Karena yang menjadi incaran pertama ada-

lah Nyanyuk Pingitan. Maka Manusia Merah lang-

sung mencecarnya tanpa menghiraukan serangan

dua orang lawan lainnya yang juga berbahaya tapi tidak berakibat pada Soma Sastra.

"Hiya..."

Nyanyuk Pingitan yang sudah semakin ter-

desak walaupun dibantu oleh kawan-kawannya

ini tiba-tiba cabut tusuk kondai perak dari batok kepalanya. Laksana kilat sambil melesat ke udara ia sambitkan tusuk konde itu ke arah mata Manusia Merah.

Tapi Soma Sastra ini sambil menggeram

murka segera tepis sambitan lawan dengan tela-

pak tangannya.

Traang

Suara berkrontangan terdengar. Sambitan

itu luput, sementara tangan Manusia Merah yang





terulur terus menyambar ke arah pinggangnya.

Nyanyuk Pingitan berusaha berkelit dari

jangkauan tangan lawannya. Tapi sudah tidak

ada lagi kesempatan baginya, karena begitu tan-

gan kiri luput. Maka tangan kanannya kembali

menyambar. Dan....

Kreepkkk...

Kini Nyanyuk Pingitan berada dalam geng-

gaman Manusia Merah. Dua kawannya yang be-

rusaha menolong dengan menusukkan senjata

masing-masing ke paha lawannya tidak membawa

akibat apa-apa.

Tusukan tidak mempan, maka mereka

memukul. Tapi pukulan yang mereka arahkan ke

kaki lawan ini malah berbalik dan menyerang diri mereka sendiri.

Cengkeraman pada pinggang Nyanyuk Pin-

gitan memang begitu kerasnya. Malah semakin

lama Nyanyuk Pingitan merasakan tekanan yang

membuat isi perutnya mau pecah dan dada sea-

kan meledak.

"Cepat kau katakan dimana Prisma Perma-

ta itu kau sembunyikan" bentak Manusia Merah hingga membuat Nyanyuk Pingitan yang telah

melindungi telinganya dengan tenaga dalam saja

menggelepar.

"Ak... aku tidak menyimpannya Benda itu

sekarang berada ditangan Raja Penyihir" jawab Nyanyuk Pingitan sambil megap-megap.

Dalam hidupnya barulah kali ini ia merasa

ngeri menghadapi lawan.





"Cepat panggil keluar mereka"

"Bukan mereka tapi cuma ahli sihir itu saja yang berada didalam bangunan batu..."

"Ak-ku—tidak bisa..,"

Tekanan pada perut Nyanyuk Pingitan se-

makin mengeras. Sehingga dari mulut dan hidung

perempuan berwajah angker itu menyembur da-

rah bercampur kotoran.

Sementara itu dari balik pintu bangunan

batu melompat keluar seorang laki-laki berbadan bungkuk berwajah rusak sebelah menebar bau

busuk dan bermata merah bagaikan bara. Laki-

laki itu berbadan bungkuk dan memegang tong-

kat berwarna hitam dengan hulu berukir kepala

ular cobra.

Begitu melihat kemunculan laki-laki ini,

maka Suro Blondo, Gajah Gemuk dan Gajah Ku-

rus menghambur ke sana.

Ratu Penyair Tujuh Bayangan yang baru

mau menyusul langkahnya segera dihadang oleh

Diraja Penghulu Iblis. Rupanya setelah mereka

kehabisan akal untuk menjatuhkan Manusia Me-

rah, Diraja Penghulu Iblis menjadi marah bukan

kepalang.

"Aku tidak akan ikut main keroyokan se-

perti kalian Raka Tendra rupanya kau lebih suka mengurusi persoalan Prisma Permata itu dari pa-da mengurusi Putrimu yang hampir saja diperko-

sa oleh Datuk Alang Sitepu?"

"Ratu Penyair Mengapa kau berpihak pada

musuh? Lagipula apakah mungkin Datuk Alang





berani melakukan itu?"

"Turut kata-kataku. Lebih baik kau kemba-

li ke gunung Pangrangko untuk hindari kematian

bersamaku."

Raka Tendra yang dalam keadaan terkejut

ini tidak dapat mengambil keputusan secepatnya.

Ratu penyair Tujuh Bayangan jadi tidak sabar.

Disambarnya tangan sahabatnya ini. Kemudian

tanpa menoleh-noleh lagi mereka pergi dengan

kecepatan laksana terbang...

Sementara itu Datuk Alang Sitepu malah

tersenyum-senyum begitu melihat Pendekar

Blo'on serta dua gajah bersaudara. Tidak lupa ia-pun memandang tajam pada Manusia Merah yang

sedang mengadili Nyanyuk Pingitan.

"Kalian sudah pada datang kemari semua-

nya. Berarti kalian telah datang ke neraka tanpa diundang. Kau manusianya yang bernama Suro

Blondo. Dan kalian berdua tentu dua Gajah yang

tidak berguna" Datuk Alang Sitepu menggeram dahsyat. "Kalian segera mampus dan jadi bangkai percuma"

Laki-laki bertampang menjijikkan dan ber-

badan bungkuk ini angkat tongkatnya tinggi-

tinggi. Tongkat itu kemudian menebar bau bu-

suknya bangkai. Dari hulu tongkat keluar kabut

tipis berwarna kelabu. Kabut itu membentuk

bayangan dan kemudian berubah menjadi manu-

sia yang sama persis dengan Gajah Gemuk dan

Gajah Kurus.





"Mundur anak muda" teriak Gajah Gemuk dan Gajah Kurus. Ia sendiri kemudian melompat

ke depan. Setelah itu mengebutkan jubah yang

menggelantung di pundak mereka ke arah kem-

baran tiruan.

Terdengar suara letusan yang sangat keras.

Gajah yang tercipta atas kekuatan sihir itu le-

nyap. Tubuh Datuk Alang Pitoka sempat tergetar.

Gajah Gemuk dan Gajah Kurus asli tertawa men-

gekeh. "Masih banyakkah permainan sulapmu?

Jangan sungkan-sungkan, keluarkan saja semu-

anya" Datuk Alang Sitepu hanya tersenyum mengejek. Ia goyang-goyangkan kepala tongkatnya.

Kali ini kabut merah yang menebar. Kabut itu

semakin lama membubung setinggi lima meter.

Maka terciptalah manusia merah tiruan. Manusia

Merah ini langsung menyerang Gajah Gemuk dan

Gajah Kurus.

Pendekar Blo'on tentu saja tidak dapat

tinggal diam. Tiba-tiba ia menerjang ke arah Datuk Alang Sitepu.

Sementara itu Manusia Merah yang se-

sungguhnya benar-benar sedang mengadili Nya-

nyuk Pingitan yang membuat Jawa bagian Barat

telah tenggelam oleh lumpur lava. Mula-mula ia

mencopoti tangan Nyanyuk Pingitan. Perempuan

renta berkulit hitam legam ini menjerit-jerit kesakitan. Kemudian ketika kedua kakinya ditarik lepas dari badannya. Maka darah menyembur ke-





luar dari luka-luka yang sangat mengerikan ini.

Sampai disini Nyanyuk Pingitan sudah tidak

mampu menjerit lagi. Suaranya habis bersama hi-

langnya seluruh tenaga yang mengalir ditubuh-

nya. Setelah itu sambil menggeram. Manusia

Merah menginjak tubuh yang sudah tidak ber-

daya ini hingga hancur dan melesak ke dalam ta-

nah. "Ha ha ha... Mati... malingnya sudah ma-ti..." teriak Manusia Merah sambil tertawa-tawa.

Suara tawa laki-laki ini benar-benar membuat

Lembah Ciruyung seperti dilanda gempa.

Buto Terenggi meskipun tubuhnya sempat

terguncang-guncang menjadi murka sekali meli-

hat kematian Nyanyuk Pingitan.





DELAPAN


Ia sambil menggembor bagaikan kerbau


yang marah karena nggak mau disembelih lang-

sung mencabut kailnya yang dapat berubah me-

manjang itu. Begitu kail ada ditangannya, ia langsung menyerang Manusia Merah dengan segenap

kemampuan yang dimilikinya. Tentu saja apa

yang dilakukannya ini mendapat perlawanan yang

sengit dari Manusia Merah. Laki-laki berbadan

luar biasa tinggi ini tiba-tiba membuka mulutnya.

Lidahnya yang kemerah-merahan ini terjulur. Api





tiba-tiba melesat bergulung-gulung dari mulut

Manusia Merah yang terbuka lebar. Tidak pelak

lagi Buto Terenggi terpaksa melepaskan pukulan

saktinya.

Seleret sinar kuning keperakan mencelat

dari telapak tangan Buto Terenggi. Sinar kuning itu menyambar bola api yang bergulung-gulung

dari mulut Manusia Merah.

Zzssst...

"Hiiih..."

Tampaknya usaha Buto Terenggi hanya

sia-sia saja. Tidak lama kemudian pukulan itu

membalik dan menghantam diri Buto Terenggi.

Hanya dalam waktu singkat, jika saja laki-

laki ini tidak cepat menghindar sudah terkena

pukulannya sendiri, ditambah lagi dengan samba-

ran lidah api yang keluar dari mulut Manusia Merah. Paling tidak tubuhnya bisa gosong.

Namun pada saat-saat yang sangat kritis

itu dari arah samping menggerung pula suara

lainnya. Manusia Merah terkejut bukan alang ke-

palang. Ketika ia memandang ke arah itu. Maka

dilihatnya Datuk Alang Sitepu tengah menga-

cungkan Prisma Permata ditangannya tinggi-

tinggi. Dari Prisma itu pula mencuat keluar Ma-

nusia Merah yang sama persis dengan Manusia

Merah yang asli. Mati-matian Suro Blondo beru-

saha menghalangi. Tapi apa yang dilakukannya

tampaknya tidak mendatangkan hasil. Tubuhnya

bahkan terpelanting tunggang langgang terkena

pengaruh getaran kehadiran Manusia Merah baru





yang muncul dari salah satu sisi Prisma.

"Hraaaakhhh..."

Terwujudlah kembaran manusia merah ini.

Maka Manusia Merah dengan Manusia Merah

bertarung.

Keadaan di lembah Ciruyung semakin ber-

tambah mengerikan sekali.

"Paman Gajah berdua. Mundurlah Hadapi

manusia Buto yang satu itu" teriak Pendekar Blo'on. Gajah Krempeng dan Gajah Gemuk segera

melompat dari kalangan pertempuran.

Mereka langsung berhadapan dengan Buto

Terenggi yang kini telah mempergunakan kailnya

sebagai senjata.

Sementara itu Suro Blondo kini telah ber-

hadapan dengan Datuk Alang Sitepu. Laki-laki

ahli sihir ini kembali menggerak-gerakkan tongkat ditangannya. Dari telapak tangan kiri tiba-tiba meluncur pukulan ekor ular Cobra yang langsung

menyerang Suro Blondo.

"Heaaa..."

Pemuda ini sambil berteriak nyaring segera

lepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir' Inilah

untuk yang pertama kalinya Pendekar Blo'on me-

lepaskan pukulan Maha Dahsyat yang diwariskan

oleh kakek gurunya Malaikat berambut Api.

Seketika terdengar suara jeritan dimana-

mana. Angin kencang menderu-deru menerbang-

kan batu-batu sebesar kambing jantan. Sinar Hi-

tam dan merah melesat dari telapak tangan laki-





laki ini. Dan suasana disekitar lembah berubah

panas bagai di neraka.

Duuum Duuum

Terjadi ledakan dahsyat ketika pukulan

yang melesat dari telapak tangan Suro Blondo

membentur tongkat ditangan Datuk Alang Sitepu.

Ular-ular cobra, jadi-jadian tersapu bersih. Tubuh Datuk Alang Sitepu tergontai-gontai.

Kedua Manusia Merah yang sedang berta-

rung terkejut bukan kepalang. Sedangkan Gajah

Gemuk dan Gajah Krempeng terpaksa menyingkir

jauh-jauh.

"Aduh tauubaat. Biyung... bocah gemblung

itu ternyata hendak membuat mampus kita se-

mua" desis Gajah Krempeng sambil leletkan lidah. Sementara itu Datuk Alang Sitepu sudah

bangkit berdiri. Wajahnya berubah pucat. Bibir-

nya yang menggelambir itu bergoyang-goyang dan

seperti mau copot dari tempatnya.

"Kau ternyata pemuda yang tangguh. Tapi

kau tidak mungkin dapat mengalahkan raja Sihir

dari seberang...." dengusnya.

Tongkat di tangannya kemudian diangkat-

nya tinggi-tinggi. Menyusul Prisma Permata yang berwarna merah berkilauan. Begitu kedua benda

ini diadu. Maka tercipta pula Suro Blondo-Suro

Blondo yang lain.

Si Pemuda meskipun geram tapi tertawa

ngakak. Ia menggabungkan pukulan 'Ratapan

Pembangkit Sukma' dan 'Neraka Hari Terakhir'





menjadi satu. Sebaliknya untuk menghindari se-

rangan lawannya ia menggabungkan jurus 'Kera

Putih Memilah Kutu' dan 'Jurus Seribu Kera Sakti Mengecoh Harimau'.

Pukulan beruntun dilepaskannya ke arah

dirinya yang palsu, tidak lupa ia juga melepaskan pukulan ke arah Datuk Alang Sitepu.

Hari ini Pendekar Blo'on benar-benar harus

menguras tenaga habis-habisan dan juga terpak-

sa mengerahkan segenap kemampuan dan kesak-

tian yang ia miliki.

Pukulan-pukulan beruntun yang dile-

paskannya membuat ciptaan Datuk Alang Sitepu

musnah terbakar. Tapi satu menghilang yang ter-

cipta bisa dua, tiga dan berlipat ganda. Inilah yang membuat Pendekar Blo'on menjadi repot sekali. Dalam keadaan seperti itu ia tidak sempat lagi mengingat petuah-petuah yang pernah dibe-rikan oleh gurunya. Kini ia telah bersiap-siap untuk mencabut senjata pusakanya Mandau Jantan

yang terselip dibalik bajunya.

Tapi pada saat-saat yang menegangkan itu-

lah, seakan datangnya dari langit terlihat cahaya berwarna putih. Cahaya putih itu berpendar-pendar dan langsung menyambar ke arah tangan

kiri Datuk Alang Sitepu yang sedang bertarung

melawan Suro Blondo.

Hanya dalam waktu sekedipan mata saja.

Prisma Permata telah berpindah tangan.

"Benda celaka ini hanya membuat geger

dunia dan isinya" terdengar suara tanpa rupa.





Semua orang langsung menghentikan pertempu-

ran. Terkecuali Buto Terenggi yang kini telah di totok oleh Gajah Gemuk dan menjadi tawanan-nya. Manusia Merah sendiri menjadi terheran-

heran melihat lawannya yang menyerupai dirinya

jadi menyusut. Bahkan kemudian hilang begitu

saja. Sementara diantara Datuk Alang Sitepu

dan Suro Blondo kini telah berdiri- seorang laki-laki berbaju putih, berambut putih dan pokoknya semuanya serba putih. Ditangan kakek itu meng-genggam sebuah Prisma Permata milik Manusia

Merah. Anehnya Manusia Merah sendiri langsung

bersujud di depan si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih alias Barata Surya

dan merupakan guru pendekar Blo'on.

"Aha... guru, telah datang rupanya. Hore

guru telah datang..." Suro Blondo tanpa sadar bertepuk tangan sambil berjingkrak-jingkrak sehingga mengundang tawa yang lainnya.

"Cah geblek Jangan kau berjingkrak-

jingkrak seperti anak kecil." kata kakek yang sekujur badannya memancarkan cahaya putih ini

penuh teguran. Suro Blondo langsung terdiam

sambil garuk-garuk kepalanya.

Sementara itu Datuk Alang Sitepu yang te-

lah menderita luka dalam parah akibat pukulan si pemuda yang terakhir tadi langsung tahu gelagat.

Ia sadar meskipun ia merupakan raja penyihir

namun ia tidak mungkin mengkadali tokoh tua





yang satu ini. Itu sebabnya begitu orang-orang

lengah. Ia langsung ambil langkah seribu.

Tapi apa yang dilakukannya ini terlihat

oleh Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng sehingga

ia mereka langsung melakukan pengejaran.

"Tinggalkan kepalamu yang bau busuk

Jangan lari He he he he... malah lari..." Maki Gajah Gemuk sambil menggendong muridnya Dewi

Bulan ia tertawa-tawa.

"Guru... mengapa guru malah menyusul

kemari?" tanya Suro Blondo. Matanya meman-

dang tajam pada Prisma Permata yang berada di

tangan gurunya.

"Ketololanmu selalu membuatku kuatir.

Kalau kau mati digebuk orang mana aku perduli.

Tapi jika hanya setengah mati saja apa aku tidak repot" dengus Barata Surya yang sama konyolnya dengan sang murid ini tanpa senyum.

"Ah... guru. Kawanku Manusia Merah apa-

kah harus dibiarkan mendekam seperti itu. To-

long kembalikan Prisma Permata itu padanya

guru... Kasihan dia."

"Suro Blondo. Aku lebih tahu apa yang ti-

dak kau ketahui." Penghulu Siluman Kera Putih lalu berpaling pada manusia merah. "Kau bocah malang. Sebaiknya bangkit"

Manusia Merah bangkit berdiri. Ia tidak be-

rani memandang pada Barata Surya secara lang-

sung. "Prisma Permata ini memang milikmu. Untuk itu akan kukembalikan padamu. Tapi sebe-





lumnya ingat-ingatlah pada pesanku ini. Kau ha-

rus kembali ke gunung Gede bersama Prisma ini.

Jika kau sayang dengan nyawa manusia. Tentu

kau akan menolong mereka dari kehancuran.

Hanya dengan kau kembali ke sana saja amukan

lahar panas akan berhenti dengan sendirinya."

"Baik paman mulia."

"Aku bagaimana guru? Apakah juga harus

kembali ke tempat tinggal guru?" tanya Suro sambil cengar-cengir.

"Kau bocah geblek, mana kau boleh kem-

bali ke puncak Mahameru? Rimba persilatan ma-

sih membutuhkan uluran tanganmu, demikian

juga manusia lain yang hidup dalam kekejaman

jaman. Lagipula kau harus mencari musuh besar

orang tuamu, maka teruskanlah pengembaraan-

mu" "Apakah guru hendak ikut aku?"

"Siapa sudi, jalan bersama denganmu bisa

membuat aku semakin goblok"

"Guru sendiri memang sudah geblek, su-

dah miring dan setengah edan dari sananya, kok.

Ha ha ha..."

"Anak Setan Jangan kau berani kurang

ajar padaku, ya?" bentak Barata Surya dengan mata melotot.

"Guru muka
monyet. Nyiet-nyiet... ha ha

ha... Urusilah kera-kera silumanmu" dengus si konyol. Kalaulah Penghulu Siluman Kera Putih tidak hapal betul bagaimana tabiat murid yang





sangat disayangnya itu. Tentu Si Bocah Ajaib sudah di kemplangnya sejak tadi-tadi.

Kini sikap Barata Surya berubah serius. Ia

berpaling pada Manusia Merah yang terus men-

dekam seperti ayam betina mau nelor.

"Terima prisma Permata ini, jangan kau sa-

lah pergunakan lagi." pesan si kakek.

Manusia Merah menerima Kristal Permata

tersebut, kemudian....

"Budi baik paman pasti selalu ku kenang"

kata Manusia Merah dengan penuh rasa hormat.

"Jangan lupa, kau pun harus mengenang-

ku, sobat" kata Suro tidak mau ketinggalan.

"Ya, aku juga akan mengenangmu, sahabat

tolol sepertimu di dunia ini mana ada duanya.

Tapi terus terang aku suka, aku suka padamu"

"Hus, kau pikir aku perempuan apa?"

"Sudahlah, jangan pula kalian saling bersikeras. Pergilah Titisan Jin" perintah Barata Surya. Maka tanpa bicara apa-apa lagi, Manusia

Merah langsung meninggalkan Lembah Ciruyung

yang porak poranda.

Suro Blondo memperhatikan kepergian sa-

habatnya itu sambil geleng-gelengkan kepala. Ketika Suro menoleh ke arah gurunya, maka Peng-

hulu Siluman Kera Putih itu telah kembali beru-

bah menjadi cahaya putih, cahaya itu membentuk

sosok Barata Surya, sayup-sayup Suro menden-

gar suara gurunya....

"Hati-hatilah kau membawa diri, muridku





Kerjakanlah apa yang semestinya kau kerjakan,

jangan tunda sampai besok apalagi sampai tua.

Pesanku jangan cengeng, jangan tinggi hati, jangan mata keranjang dan jangan pula ngompol. Ha

ha ha..."

"Si edan itu dari dulu sampai sekarang te-

tap saja edan. Ah, guruku aku pasti merindu-

kanmu" desis Suro.

Pendekar Mandau Jantan alias Si Bocah

Ajaib celingak-celinguk. Ia sekarang hanya tinggal seorang diri.

"Weleh, dunia ini sekarang kurasakan sepi

sekali. Sekarang aku tinggal sendiri. Buto Terenggi dibawa kabur untuk terima hukuman dari pa-

man Krempeng. Sunyi sungguh sunyi." desah Su-ro, seraya kemudian melangkah meninggalkan

Lembah Ciruyung. Sampai di bibir lembah yang

mulai berselimut kabut terdengar sayup-sayup

suara si pemuda konyol seperti orang sedang bersair. Lembah ini sunyi, tapi hatiku lebih sunyi lagi. Aku sendiri kau tidak sendiri. Aku rindu apakah kau juga rindu?

Bulan... oh kau bulan, lirikanmu membuat

hatiku berbunga-bunga.

Senyumanmu membuat jantungku nyut-

nyutan.

Adakah hatimu semanis empedu?

Bulan oh bulan, dimanakah dikau?





Ha ha ha. Aku disini....

Suara si pemuda tiba-tiba terputus ketika

mendengar suara bergemerisik tidak jauh di sam-

pingnya.





SEMBILAN


"Hi hi hi... Pemuda goblok lagi kasmaran.

Manusia paling tolol di kolong langit. Sair picisan begitu apa hebatnya?" kata sebuah suara dari balik semak belukar.

Suro nyengir, lalu garuk-garuk kepala.

"Ee... kau siapa, manusia usilan perempuan jelek kayak hantu. Atau kuntilanak kawannya almar-hum Nyanyuk Pingitan atau kau saudara kem-

barnya?" cibir Suro Blondo.

"Hi hi hi... Jika kau melihat diriku, aku yakin kau akan tergila-gila karena diriku memang cantik" sahut si gadis.

"Siapa mau percaya, orang yang selalu

sembunyikan diri biasanya punya wajah buruk

seperti beruk (monyet). Tentu saja beruk yang

paling jelek di dunia. Ha ha ha..."

"Hmm, bicaramu sungguh keterlaluan.

Apakah setelah kawan-kawanmu pergi kau masih

mau jual lagak di depan si Cantik?" dengus suara di balik semak-semak itu.

"Kalau kau memang cantik, mengapa tidak





perlihatkan diri?" tanya Suro.

Suasana berubah sunyi, Pendekar Bloon

garuk-garuk kepala. Semak belukar di samping-

nya sedikit pun tidak bergoyang.

"Hei, mengapa kau diam?" tanya Suro. Di-am-diam hatinya mulai gelisah. Kembali tidak

terdengar jawaban apa-apa. Suro penasaran, lalu mendekati semak-semak belukar dimana suara

tadi berasal. Daun-daun disibakkannya.

"Tidak ada, apa tadi rohnya Nyanyuk Pingi-

tan yang mulai gentayangan ya...?" pikir Si Bocah Ajaib.

Kemudian ia menyingkap semak-semak di

sampingnya. Tiba-tiba saja sebuah tangan meng-

hantamnya.

Buaak...

"Ekh..."

Suro jatuh terduduk, pukulan tadi cukup

keras juga, apalagi pemuda ini dalam keadaan tidak waspada. Pemuda itu merasa beribu kunang-

kunang menari di matanya, nafasnya sesak. Na-

mun dengan cepat ia bangkit berdiri.

Pendekar Mandau Jantan hendak lepaskan

pukulan, namun di balik semak belukar terlihat

sesosok tubuh melesat ke udara, dilain waktu telah menjejakkan kakinya tanpa menimbulkan su-

ara sedikit pun

Suro cepat berbalik. Maka terlihatlah oleh-

nya seorang gadis berpakaian ketat. Sehingga bagian-bagian yang menonjol bertonjolan dengan jelas. Namun wajah gadis ini ternyata jelek bukan





main. Mukanya benjol-benjol seperti tumbuh pe-

nyakit bisul yang tidak terhitung.

"Gadis ini bersuara merdu, aku mengapa

tidak yakin kalau dia gadis yang jelek. Padahal kenyataannya benar-benar jelek." guman Suro dalam hati.

"Pemuda geblek berambut seperti rambut

jagung Kau telah membuat bencana di lembah

Ciruyung. Tahukah kau hal itu hanya akan me-

nyengsarakan dirimu sendiri?" dengus si gadis.

Suro tertawa dengan mulut terpencong.

"Betulkan begitu, kalau begitu aku menjadi sedih.

Tapi aku lebih sedih lagi melihat wajahmu yang

jelek. Ha ha ha"

"Kau boleh bicara apa saja. Yang perlu kau ketahui jika guruku datang kesini. Pasti jiwamu tidak akan tertolong"

"Siapa gurumu? Apakah masih punya hu-

bungan dengan Nyanyuk Pingitan?" tanya si konyol. "Guruku adalah kakang seperguruan dengan bibi guru Nyanyuk Pingitan Nah sekarang

sudah jelas bagimu Bersiap-siaplah untuk mam-

pus Heaa..." Gadis yang sekujur tubuhnya dipenuhi dengan benjolan-benjolan itu langsung me-

nyerang Suro Blondo. Pemuda berambut hitam

kemerahan ini berkelit.

"Hei... kau sudah jelek main serang saja.

Sebutkan dulu namamu, nanti baru boleh kau

membunuhku"

"Kau segera tahu siapa namaku setelah di





neraka nanti" dengus si Cantik.

"Aih..."

Suro terpaksa merundukkan tubuhnya ke-

tika tinju lawan menghantam mukanya. Si gadis

mendengus geram. Dalam hati ia merasa kaget

juga melihat keanehan gerak yang dimiliki oleh

lawan. Tiba-tiba saja ia melompat mundur, lalu

bergerak ke samping, sedangkan tangannya me-

lakukan gerakan seperti menggaruk dada.

"Wah kalau gatal biarkan aku saja yang

menggaruk kau punya dada, Cantik. Pasti aku ti-

dak akan menolak Tapi aku yakin di atas kau

punya bisul masih ada bisul-bisul yang lain

dan..." "Anak setan" maki si gadis. Kemudian ia melompat tangannya terpentang mencakar mulut

Suro. Suro katupkan mulut dan selamatkan ke-

pala. Tangan kanan di angkat, sehingga terjadi

benturan keras.

Duuk

"Ukh..."

Suro sempat terhuyung, telapak tangannya

memerah, mulut si pemuda termonyong-

monyong. Kemudian ia memutar tubuhnya, ten-

dangan lawan bersiut keras. Suro berjongkok, la-lu melompat-lompat sambil garuk sana sini. Keti-ka tendangan pertama lolos, maka si gadis meng-

hujaninya dengan pukulan dan tendangan.

Pendekar Blo'on tampak semakin sibuk. Si

Cantik, namun jelek kelihatannya semakin mem-





babi buta. Tiba-tiba saja ia melompat, ee... Suro terpeleset. Tidak ayal lagi tinju lawannya menghantam tubuh si konyol...

Buk Buk

"Adow..."

Pendekar Mandau Jantan terguling-guling.

Ia jatuh tengkurap, lawan sekali lagi melompat

bermaksud menginjak punggung Suro dengan sa-

tu hentakan yang sangat keras. Tapi Suro sudah

menggelinding lagi, sehingga injakan si Cantik

meleset. Kaki gadis itu sampai amblas sampai se-dalam mata kaki. Ia cabut kakinya, begitu terbebas tubuhnya melesat, tangan meluncur men-

cengkeram leher Suro. Belum kena Suro sudah

melotot seperti orang yang tercekik. Bukan main geramnya si Cantik melihat tingkah si konyol. Ia kemudian mengerahkan jurus 'Pancaran Surya',

sungguh aneh. Tubuh gadis itu kemudian berpu-

tar-putar. Di bibirnya terdengar pekikan-pekikan seperti suara nyanyian-nyanyian sumbang. Tubuhnya berkelebat, lalu tubuhnya meluncur lagi.

Suro ketika itu segera mengerahkan jurus

'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.

Suro melompat-lompat, pantatnya ber-

goyang-goyang dengan gerakan yang tidak tera-

tur, ia menjerit-jerit seperti hewan buas yang me-lolong. Lalu disaat serangan beruntun menghuja-

ni dirinya. Pemuda ini langsung memapakinya.

Des Des

"Heh..."

Si cantik terhuyung-huyung, namun Suro





hanya tergetar saja. Gadis itu menggeram. Lalu

tanpa terduga-duga lepaskan pukulan ke arah si

konyol.

"Edan. Dia benar-benar menghendaki nya-

waku. Bukan main-main?" gerutu Suro.

Serangan yang menghampar hawa dingin

itu melabrak Suro, tapi pemuda ini tidak tinggal diam. Dengan mulut termonyong-monyong sebagai tanda keseriusannya. Pendekar Mandau Jan-

tan hentakkan tangannya. "'Kera Sakti Menolak Petir' Heaaa..." Sinar putih menderu. Lalu terjadi benturan persis di depan Suro Blondo.

Buuuum...

"Hekh"

Suro menjerit sambil terhuyung-huyung.

Tangannya mendekap wajahnya yang panas se-

perti tercebur ke dalam air mendidih. Si Cantik tergelak-gelak.

"Goblok, sebenarnya aku tidak goblok. Aku

cerdik, namun selalu agak telat mikir" gerutu Su-ro mencaci diri sendiri.

"Sebentar lagi kau benar-benar mampus,

Pendekar Geblek. Hutang nyawa bibi guruku ha-

rus dibayar lunas dengan tampang konyolmu"

geram Si Cantik.

"Hh, Cantik namun jelek. Silakan jika kau

mampu melakukannya. Jika aku mati, arwahku

gentayangan. Aku akan mencari manusia jelek

sepertimu, aku akan menghantui hidupmu hingga

kau minta ampun dan terkencing-kencing" sahut Suro.





"Dasar Setan"

"Kau juga biangnya setan."

"Haiiiit"

Sambil membentak keras, Cantik menca-

but senjata dari balik pinggangnya. Senjatanya

unik juga, sebuah keris berkeluk tujuh berwarna hitam. "Kau punya senjata bentuknya berliku-liku. Sungguh unik, tapi racun yang terkandung

di dalamnya sangat keji. Kalian golongan sesat

memang orang-orang yang selalu haus darah. Ke-

tahuan Nyanyuk Pingitan bersalah, kalian masih

tetap membelanya" kata Suro.

Sebagai jawaban Cantik gerakkan senjata

di tangannya. Sinar hitam menderu, lalu menu-

suk lambung Suro. Pemuda ini pergunakan jurus

'Kacau-balau', dan yang namanya jurus ini- me-

mang benar-benar kacau sekali. Setiap serangan

balik maupun gerakan menghindar yang dilaku-

kan Suro tidak pakai aturan sebagaimana

umumnya jurus-jurus silat biasa. Kaki si pemuda bergerak lincah, tubuhnya meliuk ke kanan atau

ke kiri seperti pohon yang di tiup angin.

Di lain waktu ia sudah berputar, lalu keti-

ka tusukan untuk yang kesekian kalinya mence-

car tubuhnya, maka Suro berkelebat dan berpu-

tar ke belakang. Seluruh tenaga dalam di alirkan ke tangan, hingga tangan itu bergetar. Lalu....

Braak

"Akh..."

Pukulan keras itu membuat tubuh Cantik





terpelanting. Keris di tangannya tercampak jauh.

Ia langsung tidak sadarkan diri, sedangkan darah tampak mengalir deras di mulutnya.





SEPULUH


Suro Blondo yang semula memang tidak

punya niat membunuh gadis yang mengaku seba-

gai si Cantik ini langsung datang menghampiri.

Entah mengapa ada perasaan lain di hatinya. Ru-

panya itulah yang membuatnya terdorong untuk

mengusap darah yang mengalir di sudut-sudut

bibir yang dipenuhi dengan benjolan-benjolan itu.

Eeh, benjolan tersingkap. Ternyata di balik benjolan tersebut tampak begitu halus.

"Orang ini ternyata memakai topeng" desis Suro. Ia kemudian menyingkapkan topeng yang

sangat mirip dengan kulit itu. Begitu topeng tipis ini terkelupas seluruhnya. Maka terbelalaklah

mata Suro lebar-lebar.

"Astaga Wajahnya sangat cantik sekali.

Mengapa dia lebih suka menyaru seperti orang

buruk? Aku sungguh tidak menyangka dan hati-

ku mengapa deg-degkan begini? Padahal dia jelas-jelas musuhku" guman Pendekar Blo'on. Ia

menggaruk-garuk rambutnya hingga tampak

acak-acakkan.





Sebentar diperiksanya keadaan Si Cantik.

Ternyata nafasnya masih ada, jantungnya berde-

nyut satu-satu. Gadis itu pun ditelungkupkan-

nya. Setelah menelungkup ia berusaha mengalir-

kan tenaga dalam agar jalan darah gadis itu menjadi lancar.

Sayang belum sempat Suro menyempurna-

kan peredaran darah di tubuh gadis itu terasa

ada angin dingin bersiut. Ketika Suro menoleh ke belakang, maka tubuhnya tersungkur.

Rupanya orang yang baru datang itu me-

nendangnya. Bukan hanya sekali tendangan saja,

melainkan berulang-ulang. Tubuh si konyol ter-

banting dan terangkat, lalu terbanting lagi.

Perut Bocah Ajaib ini seperti hancur dada

terasa remuk. Dengan gerakan seperti monyet

yang kalah perang ia menghindar setengah berla-

ri.

Kemudian ia menoleh, dilihatnya seorang

kakek tua berambut putih bermata juling dan

menggendong buntalan di punggungnya telah

berdiri bertolak pinggang.

"Kau apakan muridku?" Dingin suara si kakek. Namun mata julingnya terus berputar-putar tidak mau berhenti.

"Tidak diapa-apakan, dia sendiri yang me-

nyerangku. Karena muridmu hendak menusukku,

maka aku terpaksa membela diri. Mana mungkin

aku berdiam diri"

"Hmm, agar kau tahu. Aku adalah Nya-

nyuk Buyutan, saudara tua Nyanyuk Pingitan





yang telah kau bunuh. Asalku dari Cijulang, nah apa jawabmu hingga kau berani membunuh Nyanyuk Pingitan?" geram Nyanyuk Buyutan. Suro tergelak-gelak, lalu pegang mulutnya hingga tertutup rapat-rapat.

"Nyanyuk Buyutan, ketahuilah... adikmu

itu telah bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat melarikan Prisma Permata. Sedangkan Prisma itu

sendiri milik Manusia Merah. Dia bersalah, tentu saja. Karena Prisma itu sangat penting artinya

bagi keseimbangan tanah Jawa ini. Nah kalau da-

ratan sudah tenggelam, kita semua akan hidup di mana, Ki?"

"Aku sudah mendengar kabar itu. Tapi aku

tetap tidak puas hati. Bagaimana pun darah ha-

rus dibayar darah"

"Kalau begitu dendammu terlalu membabi

buta. Sungguh setan telah menyesatkanmu"

"Diam" bentak Nyanyuk Buyutan. "Menyesal sekali aku harus membunuhmu"

"Apa artinya kau bunuh aku, tokh daging-

ku tidak enak, orang jelek mata juling Ha ha

ha..." "Tertawalah kau sepuasmu. Katakan apa julukanmu anak Setan bertampang tolol?"

"Ak... eh, mau membunuh atau diskusi,

Ki? Kalau kau tanya julukan gelar atau apa saja namanya. Kalau nggak salah 'Pendekar Blo'on'

itulah julukanku. Nah apakah engkau juga ingin

kukasih julukan, Ki?" tanya Suro dengan mulut terpencong.





Nyanyuk Pingitan terdiam, namun matanya

mendelik.

"Kalau kau mau gelar dariku, bagaimana

kalau julukanmu Orang Sinting Mata Juling?" ka-ta Suro sambil cengar-cengir.

"Bangsat betul kau Anak setan sepertimu

pantasnya kukirim ke neraka. Kau hanya mem-

buat gatal tanganku"

"Masih mending, Ki. Pantatku sendiri su-

dah gatal-gatal sejak tadi" sahut Suro.

Jawaban si konyol ini benar-benar mem-

buat jengkel Nyanyuk Buyutan. Tanpa menghi-

raukan muridnya yang masih belum juga sadar-

kan diri. Si kakek langsung lepaskan pukulan

dahsyat ke arah Suro.

Segulung sinar biru kehitam-hitaman

menggebu menghamparkan hawa panas yang

sangat luar biasa sekali.

"Wuaaak..."

Dengan gerakan yang tidak terduga-duga,

Suro Blondo melenting ke udara. Tangannya

langsung ditetapkan ke depan memapas serangan

lawan dengan pukulan 'Ratapan Pembangkit

Sukma'.

Angin kencang dingin, menghamparkan

hawa dingin laksana es menderu-deru dan terja-

dilah benturan keras bukan main-main.

Buuuum...

"Waaa..."

"Heeew..."

Terjengkang Suro Blondo tunggang lang-





gang. Untung punggungnya duluan yang meng-

hempas ke tanah. Jika kepalanya duluan, nasib si geblek semakin bertambah konyol saja.

Nyanyuk Buyutan sendiri sebagai salah sa-

tu tokoh berpengalaman sempat kaget. Ia sempat

merasakan tangannya kesemutan, laki-laki kurus

ini terhuyung-huyung seperti orang mabuk.

Suro leletkan lidah, kepalanya digeleng-

gelengkan berulang-ulang. Mulutnya cemberut.

"Kau ternyata boleh juga Pendekar geblek.

Melihat pukulanmu tadi rasanya kau ada hubun-

gan dengan Malaikat Berambut Api Benarkah?"

tanya si juling dan matanya terus berputar-putar seperti mata yang bingung.

"Syukur, Ki. Kau kenal kakekku, mestinya

kita salaman dulu" kata Suro lalu ia mendekat berpura-pura salaman. Di luar dugaan tangannya

menghantam dada Nyanyuk Buyutan.

Tokoh sesat yang telah kenyang makan

asam garam persilatan ini tentu tidak kena dikadali. Ia berkelit, tangannya menyampok, sedang-

kan kakinya menendang.

Kini situasi berbalik, Suro terpaksa ber-

jingkrak. Lalu ia pergunakan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau', tubuhnya pun berkelebat. Namun ujung kakinya tersangkut kaki la-

wannya. Si konyol jatuh, tapi kakinya dengan cepat berputar. Kini punggung lawannya yang jadi

sasaran.

Dees

Gubraak





"Bangsat"

Begitu memaki Nyanyuk Buyutan melom-

pat dan berdiri lagi. Kemudian ia cabut senja-

tanya. Senjata berbentuk kebutan yang dapat me-

lemas atau berubah kaku sesuai dengan pengera-

han tenaga dalam tersebut menghantam dada Su-

ro.

Pemuda ini tidak dapat mengelakkannya

lagi. Dadanya terhantam kebutan. Bajunya han-

cur daging dadanya robek dan Suro menjerit-jerit kesakitan.

Wajah si Bocah Ajaib berubah tegang, per-

lahan namun pasti rambutnya yang hitam keme-

rah-merahan ini berubah merah laksana bara.

"Gila, inikah si bocah Ajaib itu?" pikir Nyanyuk Buyutan. "Tidak dapat disangkal bila di balik wajahnya yang ketolol-tololan ia memiliki berbagai keanehan yang sungguh mengagumkan"

"Huuuuuk..."

"Ha ha ha..." Suro tertawa-tawa, tapi tubuhnya berkelebat lenyap. Itulah jurus 'Tawa Ke-ra Siluman'. Tawa si konyol tidak kunjung henti, sedikit banyaknya kosentrasi lawan jadi tergang-gu. Tiba-tiba saja Suro menerjang ke depan gerakannya ini dua kali kecepatan biasa. Melihat pemuda ini nekad mengadu nyawa. Nyanyuk Buyu-

tan kebutkan senjata di tangannya.

Senjata itu berubah kaku dan tegang se-

perti kawat besi. Yang menjadi sasaran adalah

bagian muka Suro. Pemuda ini mendengus ge-

ram, kepalanya dirundukkan. Setengah berjong-





kok, tangannya terangkat tinggi menghantam si-

ku lawan.

Tak

Senjata terlepas, namun kaki lawan meng-

hantam dadanya. Pemuda ini menjerit. Bibirnya

mengucurkan darah. Ia jatuh terduduk, di saat

itulah lawan mencoba menghabisi jiwanya.

Dalam keadaan terluka dalam, Suro tidak

mungkin menghindar. Sementara jiwanya benar-

benar dalam keadaan terancam bahaya. Tidak

ada pilihan lain. Pendekar Blo'on raba pinggangnya, lalu tangan bergerak. Saat tangan bergerak, terdengar suara jerit, tawa bercampur suara ring-kikan kuda.

Ternyata pemuda ini telah mencabut Man-

dau Jantan. Terlihat sinar hitam menyambar tan-

gan Nyanyuk Buyutan.

Tess

Ada sepotong tangan terpental, terdengar

pula jeritan. Jeritan yang kemudian semakin

menjauh, ternyata Nyanyuk Buyutan melarikan

diri sambil menyambar tubuh muridnya.

"Suatu saat kau akan merasakan bagaima-

na dahsyatnya pembalasanku" kata Nyanyuk

Buyutan sayup-sayup di kejauhan.

Suro tidak menyahuti, ia batuk-batuk, ma-

lah darah yang keluar. Setelah menelan dua obat pulung sambil mengembalikan tenaga dalamnya.

Maka rasa sakit itu agak berkurang.

"Ekh... gila, hampir saja aku mampus"

maki Pendekar Blo'on.





Pelan-pelan ia berdiri, namun ketika ia

mendengar suara sayup-sayup suara seorang ga-

dis, maka tersentaklah ia....

"Kakang Pangeran Linglung... suamiku ke-

kasihku..."

"Celaka, itu kan suaranya Maya Swari

Wah sudah tidak betul lagi. Siapa mau menjadi

suaminya putri iblis Mendingan aku ngacir saja"

guman Suro.

Tanpa menunggu kedatangan Maya Swari,

Suro langsung lari tunggang langgang.

"Kakang Pangeran... Pangeran Linglung...

tega nian dikau... hu hu hu..." tangis si gadis meledak Semakin di panggil Pendekar konyol ini

semakin ngibrit. Meskipun ketika itu dadanya

masih mendenyut.


T A M A T



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...