WIRO
SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
Episode 002
Maut Bernyayi Di Pajajaran
Maut Bernyayi Di Pajajaran
SATU
Di bawah terik panasnya matahari di siang bolong itu maka bertiuplah angin kencang dan gersang. Debu pasir di pedataran beterbangan ke udara, memekat tebal, menutup pemandangan beberapa saat lamanya.
Suara siulan aneh yang melengking-lengking membawakan lagu tak menentu terdengar di lereng bukit di ujung pedataran. Siulan aneh ini seperti mau menerpa dan menumbangkan hembusan angin gersang yang datang dari pedataran. Tiba-tiba sekali suara siulan aneh ini terhenti! Sebagai gantinya mengumandangkan suara tertawa mengekeh di seantero bukit.
Pemuda berpakaian putih yang ada di puncak bukit saat itu memandang ke samping. Sebelum jelas telinganya menangkap suara tertawa tadi sejenis cairan harum telah melesat ke arahnya. Kalau saja dia tidak cepat-cepat melompat ke belakang pastilah sebagian mukanya kena disambar cairan itu. Cairan yang tak mengenai si pemuda baju putih rambut gondrong ini menghatam pohon besar. Bukan olah-olah hebatnya semburan cairan aneh tadi itu!….
Si pemuda sendiri kejutnya bukan
kepalang. Baru saja setengah harian berjalan tahutahu sudah ada orang lain yang
inginkan nyawanya! Dia memandang ke arah datangnya semburan cairan aneh tadi.
Baru saja dia palingkan kepala mendadak dari atas menderulah ratusan tetes
cairan tadi laksana air hujan yang deras ditiup badai!
Pemuda itu berseru nyaring dan hantamkan tangan kanannya ke atas. Ratusan tetes cairan itu muncrat kembali ke atas dan ratusan lagi menyibak ke samping. Daun-daun pohon tembus berlubang-lubang sedang batang-batang kayu seperti kena tusukan paku! Gelak mengekeh menggema lagi di seantero puncak bukit. Anehnya si pemuda belum juga dapat mencari dengan matanya, manusia yang telah mengeluarkan suara tertawa itu. Padahal jelas dekat sekali kedengarannya. Hatinya penasaran sekali. Sambil garuk kepala dia memandang berkeliling. Kedua matanya kemudian tertuju lekat-lekat pada sebatang pohon raksasa yang tinggi menjulang ke langit, mungkin lebih dari tiga puluh meter tingginya. Suara tertawa itu datang dari atas pohon tapi orangnya masih tak kelihatan. Mungkin tertutup oleh daun-daun pohon yang lebarlebar dan lebat.
“Manusia di atas pohon!,” bentak pemuda itu:
“Kalau berani buka urusan, berani unjuk diri!” Sehabis berkata begitu pemuda itu pukulkan telapak tangan kanannya ke atas. Serangkum angin yang dahsyatnya laksana topan melanda pohon raksasa itu. Ranting dan cabang berpatahan. Daun-daun berguguran. Hampir sekejapan mata saja maka pohon raksasa yang menjulang ke langit itu sudah menjadi ranggas gundul! Dan di puncak batang pohon yang masih utuh kelihatanlah duduk seorang laki-laki tua berselempang kain putih. Karena tingginya pohon itu tampangnya tak kentara betul. Tapi jenggotnya yang panjang sampai ke dada dilihat jelas berkibar-kibar ditiup angin gersang dari pedataran. Pada pangkuannya ada sebuah bumbung bambu yang panjangnya sekira satu meter. Bumbung bambu seperti itu masih ada satu iagi tergantung di belakang punggungnya. Dan kedua bumbung bambu itu berisi tuak murni yang harum sekali dan lezat rasanya. Tuak itulah tadi yang telah disemburkannya kepada pemuda yang di bawah pohon! Pukulan tangan kosong si pemuda yang telah meluruhkan cabang-cabang dan daun-daun pohon mau tak mau akan membuat mental si orang tua berjanggut putih diatap pohon. Sekurangkurangnya akan membuat terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi anehnya saat itu si janggut putih tetap saja duduk enak-enak berpangku kaki di puncak pohon yang gundul itu, bahkan sambil meneguk tuaknya dan tertawa-tawa, seakan-akan tak ada terjadi apa-apa! Bukan main geramnya pemuda itu. Tapi untuk bertindak gegabah dia tidak mau. Manusia tua di puncak pohon tinggi berjanggut putih dengan dua buah bumbung tuak itu pernah diceritakan oleh gurunya waktu dia masih di puncak Gunung Gede. Dia adalah seorang pendekar sakti dari empat puluh tahun yang lalu jarang memperlihatkan diri dan dia adalah golongan persilatan putih, artinya yang mempergunakan ilmu silat dan kesaktian untuk maksudmaksud baik. Tapi mengapa tadi dia telah mempergunakan tuaknya untuk menyerang adalah tidak dimengerti si pemuda rambut gondrong.
“Orang tua!” seru si pemuda. Bibirnya bergetar tanda ucapannya disertai tenaga dalam agar dapat sampai ke puncak pohon raksasa yang tingginya lebih dari tiga puluh meter.
“Kalau aku tidak salah lihat bukankah hari ini aku berhadapan dengan seorang tokoh terkenal di dunia persilatan yang digelari Dewa Tuak?” Orang tua di puncak pohon elus jenggotnya sebentar, teguk tuak lalu tertawa lagi macam tadi.
“Orang muda! Matamu sangat tajam dapat mengenali aku yang sudah delapan puluh tahun ini! Tapi apakah kau mau terima undanganku untuk datang ke puncak pohon ini dan meneguk tuak harum dari Kahyangan bersamaku?” Begitulah. Dewa Tuak menamakan tuaknya dari
“kahyangan”. Memang soal rasa dan harumnya tuak itu sukar dicari tandingan. Si pemuda tersenyum.
“Orang tua, kau baik sekali. Hari ini aku ada keperluan mendesak. Mungkin di lain kali aku bisa terima undanganmu…. Terima kasih atas kebaikanmu dan sungguh senang rasanya dapat kenal dengan seorang tokoh persilatan yang selama ini namanya dikenal di delapan penjuru angini”
“Ah, kau keliwat memuji, orang muda,” jawab Dewa Tuak pula.
“Aku sudah lihat kau sejak dari ujung pedataran gersang sana. Kutunggu kau sampai kesini. Tapi sampai di hadapanku kau menolak undanganku. Mungkin tuakku ini kurang baik? Tidak harum.. .?” Si pemuda berpikir sebentar. Agaknya tak menjadi halangan kalau dia menerima undangan Dewa Tuak dan bicara-bicara dengan orang tua itu di puncak pohon. Mulutnya dikatup rapat-rapat, kedua tangan mengembang ke samping dan kedua kaki menghenjot bumi maka laksana seekor elang melayanglah pemuda itu ke puncak pohon. Puncak pohon itu selebar meja bundar luasnya. Meski tidak beranting dan bercabang serta tak berdaun lagi namun ditempat setinggi itu sejuk juga rasanya.
“Aku terima undanganmu. Dewa Tuak,” kata si pemuda seraya duduk disatu bagian yang menonjol bekas patahan cabang pohon.
“He… he… he…,” Dewa Tuak girang sekali.
“Memang tak ada ruginya menerima undanganku orang muda. Tuak enak, tempat duduk bagus. Seantero daerah sini bisa kau tihat dengan jelas!” Memang ketika duduk di atas pohon itu si pemuda dapat melihat pemandangan indah sejauh mata memandang. Dewa Tuak segera ambil salah satu bumbung tuaknya dan memberikannya pada tamunya.
“Kau biasa minum tuak, anak muda?”. Si pemuda itu menjawab.
“Pernah juga”. Padahal seumur hidupnya baru hari itu dia melihat dan membual serta akan merasakan minuman yang bernama tuak itu. Disambutinya bumbung bambu itu dari tangan Dewa Tuak sementara Dewa Tuak mengambil bumbung yang satu lagi dia masih juga berpura-pura menikmati pemandangan sekelilingnya.
“Ayo orang muda, silahkan minum!”. Dewa Tuak memperbasakan:
“Kau harus tahu, tuakku tuak murni. Kalau belum biasa nanti kau bisa mabuk atau pusing dan menggelinding dari pohon ini!” Si pemuda tertawa. Ditempelkannya bibimya ke tepi bumbung bambu. Sedikit saja tuak itu menjalari tenggorokannya maka seluruh badannya menjadi hangat, pemandangannya menjadi jernih sedang pikirannya terasa tenang!
“Bagaimana rasanya?”.
“Tuakmu betul-betul bagus sekali, orang tua. Tak salah kalau kau namakan tuak dari kahyangan!“ Dewa Tuak tertawa senang.
“Kau ini datang dari mana, anak muda?”.
“Barusan dari Jatiwalu…”.
“Jatiwalu kampung jelek. Banyak rampok…,” kata Dewa Tuak pula.
“Dan rampoknya orang situ-situ juga” Si pemuda berpikir kalau Dewa Tuak tahu apa yang terjadi di Jatiwalu kenapa dia tidak turun tangan? Dewa Tuak agaknya maklum apa yang terpikir oleh si pemuda. Lantas dia berkata:
“Aku malas dan bosan dengan urusan-urusan tengik macam begituan. Karenanya kubiarkan saja apa yang terjadi di kampung itu. Orang kampung sana agaknya tidak mau perduli dengan nasib mereka. Lebih senang ditindas. Nanti keadaan di sana akan baik sendirinya…” Dewa Tuak meneguk tuaknya kembali. Setelah diam beberapa lamanya bertanyalah si pemuda:
“Dewa Tuak, apakah pohon besar ini tempat kediamanmu?”
“Kenapa kau tanya begitu?”
“Karena kalau betul berarti aku yang muda telah turun tangan semena-mena membuat pohon ini jadi gundul begini! Dan aku harus haturkan maaf kepadamu… !” Dewa Tuak tertawa mengekeh sampai tuaknya berlelehan di tepi mulut.
“Aku senang pada pemuda macammu. Tak percuma satu tahun aku duduk di sini menunggu. Kau cocok buat jodoh muridku!” Dewa Tuak meneguk tuaknya lagi tapi sambil meneguk matanya melirik pada si pemuda. Akan tetapi si pemuda tentu saja kagetnya tiada terkira, mendengar ucapan DewaTuak itu. Mukanya merah karena jengah. Rupanya dunia ini terlalu banyak manusia-manusia aneh, pikirnya. Diteguknya sedikit lagi tuak harum dalam bumbung. Kemudian bumbung bambu itu diserahkannya kepada pemiliknya kembali.
“Dahagaku sudah lepas Dewa Tuak. Tuakmu enak sekali. Aku ucapkan terima kasih dan sekarang aku minta diri untuk meneruskan perjalanan.,..”
“Ah, orang muda, matahari masih belum bergeser, angin masih sejuk dan pemandangan indah masih banyak yang belum kau lihat. Kenapa musti kesusu?”. Si pemuda tersenyum.
“Kurasa sudah cukup. Di lain hari jika ada kesempatan aku yang muda ini pasti akan membalas undangan serta suguhan tuakmu yang enak itu…”. Dewa Tuak letakkan kedua bumbung tuaknya di pungggung. Ditepuknya bahu pemuda itu.
“Kau tak boleh pergi anak muda. Kau musti ketemu dulu dengan muridku. Kau berjodoh dengan dia! Mari kita turun!”. Dewa Tuak menarik lengan si pemuda dan keduanya loncat turun ke tanah laksana dua ekor burung rajawali. Tapi sampai di tanah si pemuda segera lepaskan tangannya yang dipegang dengan halus. Dia menjura hormat:
“Lain kali kita bertemu lagi, Dewa Tuak. Terima kasih atas suguhanmu!” Tapi baru saja si pemuda berlalu beberapa tombak, tubuhnya sudah terhenti dan tertarik ke belakang kembali. Seutas benang sutera halus telah melilit pinggangnya. Ternyata Dewa Tuaklah yang empunya benang itu dan menariknya.
“Anak muda, aku sudah bilang kenapa buru-buru. Kau belum ketemu dengan muridku… Mari…” Kalau bukan berhadapan dengan Dewa Tuak mungkin si pemuda sudah keluarkan semprotan memaki. Namun saat itu dengan menahan hati berkatalah si pemuda:
“Dewa tuak, kita baru saja berkenalan hari ini. Manusia bodoh dan jelek macam aku ini mana pantas dijodohkan dengan seorang murid pendekar besar macam kau! Masih banyak lain orang yang lebih pantas!” Pemuda itu hendak berlalu lagi tapi benang sutera halus itu masih juga meliliti pinggangnya. Meneliti sutera halus itu si pemuda bukan tak mampu untuk memutuskannya. Tapi dia khawatir itu akan membuat Dewa Tuak tidak bersenang hati. Sementara itu didengarnya Dewa Tuak mengeluarkan Suara suitan aneh. Sesosok bayangan ungu muncui di hadapan pemuda itu dan nyatanya adalah seorang gadis berpakaian ungu dan berpita ungu. Metihat paras gadis ini mau tak mau pemuda rambut gondrong itu tertarik juga.
“Orang muda? Kau lihat sendiri. Muridku toh tidak jelek?! Bagaimana…?” Paras si pemuda jengah sekali. Gadis baju ungu lebih lagi. Ditundukkannya kepalanya sampai dagu dan dadanya hampir menempel.
“Muridmu memang cantik Dewa Tuak,” kata si pemuda.
“Tapi tampangku yang terlalu buruk sehingga tidak cocok! Sebaiknya cari pemuda yang dia sukai sendiri. Dewa Tuak. Selamat tinggal!” Habis berkata demikian si pemuda sentil benang sutera yang melilit pinggangnya. Benang itu putus!
“Pemuda geblek! Dikasih perawan malahan kabur!,” maki Dewa Tuak. Dia berseru:
“Hai pemuda! Tunggu dulu! Kau masih belum terangkan nama!”. Orang tua ini keluarkan segulung tali rotan dan dilemparkannya ke arah pinggang pemuda yang tengah larikan diri. Si pemuda yang tahu dirinya hendak dilibat kembali pukulkan telapak tangan kanannya ke belakang. Sesiur angin kencang menderu deras, menahan lontaran tali rotan, terus menyambar ke arah si orang tua. Dewa Tuak terpaksa loncatkan diri ke atas karena maklum angin yang datang menyambar itu bukan angin biasa. Sambaran angin memberantakkan semak-belukar rendah kemudian menghantam pohon kayu besar.
“Krak” Tak ampun lagi pohon raksasa itu tumbang patah dua dengan suara berisiknya hampir terdengar di seluruh lereng bukit. Dewa Tuak geleng-gelengkan kepalanya.
“Sayang… sayang…,” katanya.
“Sayang aku tak dapatkan itu pemuda…”. Ketika dia memasukkan tali rotannya ke balik pakaiannya, orang tua ini terkejut. Pada bagian pohon besar yang masih berdiri di tanah tapi akar-akarnya hampir berserabutan ke luar, kelihatan tertera tiga buah angka 212. Dewa Tuak memandang pada gadis baju ungu disampingnya lalu memandang lagi pada tiga buah angka dibatang pohon dan leletkan lidah kemudian merenung. Tiga deretan angka itu telah menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu. Tiga deretan angka yang berarti maut bagi kaum persilatan itu golongan hitam! Apakah kini angka 212 itu telah muncui kembali?! Dunia persilatan pasti akan gempar seperti masa dua puluh tahun yang lalu! Tapi yang menjadi tanda tanya besar di kepala Dewa Tuak saat itu ialah siapa adanya pemuda gagah tadi. Apakah dia muridnya Eyang Sinto Gendeng? Kalau betul berarti munculnya kembali seorang tokoh gagah dengan gelar:
“Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…”! Dewa Tuak palingkan kepala pada anak muridnya.
“Anggini! Kau telah lihat kehebatan itu pemuda. Kau musti cari dan kejar dia! Musti dapat! Kalau tidak dapat jangan kembali kepertapaan…”
“Tapi guru…”
“Tidak ada tapi-tapian. Anggini! Kejar pemuda itu. Kau … dengan jalan apa pun musti bisa ambil dia jadi kawan hidupmu karena dia akan menguasai dunia persilatan dalam waktu yang singkat!” Anggini si gadis baju ungu berdiri termanggu.
“Tunggu apa lagi?” tanya gurunya. Gadis ini tak bisa berkata apa-apa lagi melainkan segera meninggalkan tempat itu ke jurusan lenyapnya si pemuda yang telah menerakan angka 212 pada batang pohon!
Pemuda itu berseru nyaring dan hantamkan tangan kanannya ke atas. Ratusan tetes cairan itu muncrat kembali ke atas dan ratusan lagi menyibak ke samping. Daun-daun pohon tembus berlubang-lubang sedang batang-batang kayu seperti kena tusukan paku! Gelak mengekeh menggema lagi di seantero puncak bukit. Anehnya si pemuda belum juga dapat mencari dengan matanya, manusia yang telah mengeluarkan suara tertawa itu. Padahal jelas dekat sekali kedengarannya. Hatinya penasaran sekali. Sambil garuk kepala dia memandang berkeliling. Kedua matanya kemudian tertuju lekat-lekat pada sebatang pohon raksasa yang tinggi menjulang ke langit, mungkin lebih dari tiga puluh meter tingginya. Suara tertawa itu datang dari atas pohon tapi orangnya masih tak kelihatan. Mungkin tertutup oleh daun-daun pohon yang lebarlebar dan lebat.
“Manusia di atas pohon!,” bentak pemuda itu:
“Kalau berani buka urusan, berani unjuk diri!” Sehabis berkata begitu pemuda itu pukulkan telapak tangan kanannya ke atas. Serangkum angin yang dahsyatnya laksana topan melanda pohon raksasa itu. Ranting dan cabang berpatahan. Daun-daun berguguran. Hampir sekejapan mata saja maka pohon raksasa yang menjulang ke langit itu sudah menjadi ranggas gundul! Dan di puncak batang pohon yang masih utuh kelihatanlah duduk seorang laki-laki tua berselempang kain putih. Karena tingginya pohon itu tampangnya tak kentara betul. Tapi jenggotnya yang panjang sampai ke dada dilihat jelas berkibar-kibar ditiup angin gersang dari pedataran. Pada pangkuannya ada sebuah bumbung bambu yang panjangnya sekira satu meter. Bumbung bambu seperti itu masih ada satu iagi tergantung di belakang punggungnya. Dan kedua bumbung bambu itu berisi tuak murni yang harum sekali dan lezat rasanya. Tuak itulah tadi yang telah disemburkannya kepada pemuda yang di bawah pohon! Pukulan tangan kosong si pemuda yang telah meluruhkan cabang-cabang dan daun-daun pohon mau tak mau akan membuat mental si orang tua berjanggut putih diatap pohon. Sekurangkurangnya akan membuat terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi anehnya saat itu si janggut putih tetap saja duduk enak-enak berpangku kaki di puncak pohon yang gundul itu, bahkan sambil meneguk tuaknya dan tertawa-tawa, seakan-akan tak ada terjadi apa-apa! Bukan main geramnya pemuda itu. Tapi untuk bertindak gegabah dia tidak mau. Manusia tua di puncak pohon tinggi berjanggut putih dengan dua buah bumbung tuak itu pernah diceritakan oleh gurunya waktu dia masih di puncak Gunung Gede. Dia adalah seorang pendekar sakti dari empat puluh tahun yang lalu jarang memperlihatkan diri dan dia adalah golongan persilatan putih, artinya yang mempergunakan ilmu silat dan kesaktian untuk maksudmaksud baik. Tapi mengapa tadi dia telah mempergunakan tuaknya untuk menyerang adalah tidak dimengerti si pemuda rambut gondrong.
“Orang tua!” seru si pemuda. Bibirnya bergetar tanda ucapannya disertai tenaga dalam agar dapat sampai ke puncak pohon raksasa yang tingginya lebih dari tiga puluh meter.
“Kalau aku tidak salah lihat bukankah hari ini aku berhadapan dengan seorang tokoh terkenal di dunia persilatan yang digelari Dewa Tuak?” Orang tua di puncak pohon elus jenggotnya sebentar, teguk tuak lalu tertawa lagi macam tadi.
“Orang muda! Matamu sangat tajam dapat mengenali aku yang sudah delapan puluh tahun ini! Tapi apakah kau mau terima undanganku untuk datang ke puncak pohon ini dan meneguk tuak harum dari Kahyangan bersamaku?” Begitulah. Dewa Tuak menamakan tuaknya dari
“kahyangan”. Memang soal rasa dan harumnya tuak itu sukar dicari tandingan. Si pemuda tersenyum.
“Orang tua, kau baik sekali. Hari ini aku ada keperluan mendesak. Mungkin di lain kali aku bisa terima undanganmu…. Terima kasih atas kebaikanmu dan sungguh senang rasanya dapat kenal dengan seorang tokoh persilatan yang selama ini namanya dikenal di delapan penjuru angini”
“Ah, kau keliwat memuji, orang muda,” jawab Dewa Tuak pula.
“Aku sudah lihat kau sejak dari ujung pedataran gersang sana. Kutunggu kau sampai kesini. Tapi sampai di hadapanku kau menolak undanganku. Mungkin tuakku ini kurang baik? Tidak harum.. .?” Si pemuda berpikir sebentar. Agaknya tak menjadi halangan kalau dia menerima undangan Dewa Tuak dan bicara-bicara dengan orang tua itu di puncak pohon. Mulutnya dikatup rapat-rapat, kedua tangan mengembang ke samping dan kedua kaki menghenjot bumi maka laksana seekor elang melayanglah pemuda itu ke puncak pohon. Puncak pohon itu selebar meja bundar luasnya. Meski tidak beranting dan bercabang serta tak berdaun lagi namun ditempat setinggi itu sejuk juga rasanya.
“Aku terima undanganmu. Dewa Tuak,” kata si pemuda seraya duduk disatu bagian yang menonjol bekas patahan cabang pohon.
“He… he… he…,” Dewa Tuak girang sekali.
“Memang tak ada ruginya menerima undanganku orang muda. Tuak enak, tempat duduk bagus. Seantero daerah sini bisa kau tihat dengan jelas!” Memang ketika duduk di atas pohon itu si pemuda dapat melihat pemandangan indah sejauh mata memandang. Dewa Tuak segera ambil salah satu bumbung tuaknya dan memberikannya pada tamunya.
“Kau biasa minum tuak, anak muda?”. Si pemuda itu menjawab.
“Pernah juga”. Padahal seumur hidupnya baru hari itu dia melihat dan membual serta akan merasakan minuman yang bernama tuak itu. Disambutinya bumbung bambu itu dari tangan Dewa Tuak sementara Dewa Tuak mengambil bumbung yang satu lagi dia masih juga berpura-pura menikmati pemandangan sekelilingnya.
“Ayo orang muda, silahkan minum!”. Dewa Tuak memperbasakan:
“Kau harus tahu, tuakku tuak murni. Kalau belum biasa nanti kau bisa mabuk atau pusing dan menggelinding dari pohon ini!” Si pemuda tertawa. Ditempelkannya bibimya ke tepi bumbung bambu. Sedikit saja tuak itu menjalari tenggorokannya maka seluruh badannya menjadi hangat, pemandangannya menjadi jernih sedang pikirannya terasa tenang!
“Bagaimana rasanya?”.
“Tuakmu betul-betul bagus sekali, orang tua. Tak salah kalau kau namakan tuak dari kahyangan!“ Dewa Tuak tertawa senang.
“Kau ini datang dari mana, anak muda?”.
“Barusan dari Jatiwalu…”.
“Jatiwalu kampung jelek. Banyak rampok…,” kata Dewa Tuak pula.
“Dan rampoknya orang situ-situ juga” Si pemuda berpikir kalau Dewa Tuak tahu apa yang terjadi di Jatiwalu kenapa dia tidak turun tangan? Dewa Tuak agaknya maklum apa yang terpikir oleh si pemuda. Lantas dia berkata:
“Aku malas dan bosan dengan urusan-urusan tengik macam begituan. Karenanya kubiarkan saja apa yang terjadi di kampung itu. Orang kampung sana agaknya tidak mau perduli dengan nasib mereka. Lebih senang ditindas. Nanti keadaan di sana akan baik sendirinya…” Dewa Tuak meneguk tuaknya kembali. Setelah diam beberapa lamanya bertanyalah si pemuda:
“Dewa Tuak, apakah pohon besar ini tempat kediamanmu?”
“Kenapa kau tanya begitu?”
“Karena kalau betul berarti aku yang muda telah turun tangan semena-mena membuat pohon ini jadi gundul begini! Dan aku harus haturkan maaf kepadamu… !” Dewa Tuak tertawa mengekeh sampai tuaknya berlelehan di tepi mulut.
“Aku senang pada pemuda macammu. Tak percuma satu tahun aku duduk di sini menunggu. Kau cocok buat jodoh muridku!” Dewa Tuak meneguk tuaknya lagi tapi sambil meneguk matanya melirik pada si pemuda. Akan tetapi si pemuda tentu saja kagetnya tiada terkira, mendengar ucapan DewaTuak itu. Mukanya merah karena jengah. Rupanya dunia ini terlalu banyak manusia-manusia aneh, pikirnya. Diteguknya sedikit lagi tuak harum dalam bumbung. Kemudian bumbung bambu itu diserahkannya kepada pemiliknya kembali.
“Dahagaku sudah lepas Dewa Tuak. Tuakmu enak sekali. Aku ucapkan terima kasih dan sekarang aku minta diri untuk meneruskan perjalanan.,..”
“Ah, orang muda, matahari masih belum bergeser, angin masih sejuk dan pemandangan indah masih banyak yang belum kau lihat. Kenapa musti kesusu?”. Si pemuda tersenyum.
“Kurasa sudah cukup. Di lain hari jika ada kesempatan aku yang muda ini pasti akan membalas undangan serta suguhan tuakmu yang enak itu…”. Dewa Tuak letakkan kedua bumbung tuaknya di pungggung. Ditepuknya bahu pemuda itu.
“Kau tak boleh pergi anak muda. Kau musti ketemu dulu dengan muridku. Kau berjodoh dengan dia! Mari kita turun!”. Dewa Tuak menarik lengan si pemuda dan keduanya loncat turun ke tanah laksana dua ekor burung rajawali. Tapi sampai di tanah si pemuda segera lepaskan tangannya yang dipegang dengan halus. Dia menjura hormat:
“Lain kali kita bertemu lagi, Dewa Tuak. Terima kasih atas suguhanmu!” Tapi baru saja si pemuda berlalu beberapa tombak, tubuhnya sudah terhenti dan tertarik ke belakang kembali. Seutas benang sutera halus telah melilit pinggangnya. Ternyata Dewa Tuaklah yang empunya benang itu dan menariknya.
“Anak muda, aku sudah bilang kenapa buru-buru. Kau belum ketemu dengan muridku… Mari…” Kalau bukan berhadapan dengan Dewa Tuak mungkin si pemuda sudah keluarkan semprotan memaki. Namun saat itu dengan menahan hati berkatalah si pemuda:
“Dewa tuak, kita baru saja berkenalan hari ini. Manusia bodoh dan jelek macam aku ini mana pantas dijodohkan dengan seorang murid pendekar besar macam kau! Masih banyak lain orang yang lebih pantas!” Pemuda itu hendak berlalu lagi tapi benang sutera halus itu masih juga meliliti pinggangnya. Meneliti sutera halus itu si pemuda bukan tak mampu untuk memutuskannya. Tapi dia khawatir itu akan membuat Dewa Tuak tidak bersenang hati. Sementara itu didengarnya Dewa Tuak mengeluarkan Suara suitan aneh. Sesosok bayangan ungu muncui di hadapan pemuda itu dan nyatanya adalah seorang gadis berpakaian ungu dan berpita ungu. Metihat paras gadis ini mau tak mau pemuda rambut gondrong itu tertarik juga.
“Orang muda? Kau lihat sendiri. Muridku toh tidak jelek?! Bagaimana…?” Paras si pemuda jengah sekali. Gadis baju ungu lebih lagi. Ditundukkannya kepalanya sampai dagu dan dadanya hampir menempel.
“Muridmu memang cantik Dewa Tuak,” kata si pemuda.
“Tapi tampangku yang terlalu buruk sehingga tidak cocok! Sebaiknya cari pemuda yang dia sukai sendiri. Dewa Tuak. Selamat tinggal!” Habis berkata demikian si pemuda sentil benang sutera yang melilit pinggangnya. Benang itu putus!
“Pemuda geblek! Dikasih perawan malahan kabur!,” maki Dewa Tuak. Dia berseru:
“Hai pemuda! Tunggu dulu! Kau masih belum terangkan nama!”. Orang tua ini keluarkan segulung tali rotan dan dilemparkannya ke arah pinggang pemuda yang tengah larikan diri. Si pemuda yang tahu dirinya hendak dilibat kembali pukulkan telapak tangan kanannya ke belakang. Sesiur angin kencang menderu deras, menahan lontaran tali rotan, terus menyambar ke arah si orang tua. Dewa Tuak terpaksa loncatkan diri ke atas karena maklum angin yang datang menyambar itu bukan angin biasa. Sambaran angin memberantakkan semak-belukar rendah kemudian menghantam pohon kayu besar.
“Krak” Tak ampun lagi pohon raksasa itu tumbang patah dua dengan suara berisiknya hampir terdengar di seluruh lereng bukit. Dewa Tuak geleng-gelengkan kepalanya.
“Sayang… sayang…,” katanya.
“Sayang aku tak dapatkan itu pemuda…”. Ketika dia memasukkan tali rotannya ke balik pakaiannya, orang tua ini terkejut. Pada bagian pohon besar yang masih berdiri di tanah tapi akar-akarnya hampir berserabutan ke luar, kelihatan tertera tiga buah angka 212. Dewa Tuak memandang pada gadis baju ungu disampingnya lalu memandang lagi pada tiga buah angka dibatang pohon dan leletkan lidah kemudian merenung. Tiga deretan angka itu telah menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu. Tiga deretan angka yang berarti maut bagi kaum persilatan itu golongan hitam! Apakah kini angka 212 itu telah muncui kembali?! Dunia persilatan pasti akan gempar seperti masa dua puluh tahun yang lalu! Tapi yang menjadi tanda tanya besar di kepala Dewa Tuak saat itu ialah siapa adanya pemuda gagah tadi. Apakah dia muridnya Eyang Sinto Gendeng? Kalau betul berarti munculnya kembali seorang tokoh gagah dengan gelar:
“Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…”! Dewa Tuak palingkan kepala pada anak muridnya.
“Anggini! Kau telah lihat kehebatan itu pemuda. Kau musti cari dan kejar dia! Musti dapat! Kalau tidak dapat jangan kembali kepertapaan…”
“Tapi guru…”
“Tidak ada tapi-tapian. Anggini! Kejar pemuda itu. Kau … dengan jalan apa pun musti bisa ambil dia jadi kawan hidupmu karena dia akan menguasai dunia persilatan dalam waktu yang singkat!” Anggini si gadis baju ungu berdiri termanggu.
“Tunggu apa lagi?” tanya gurunya. Gadis ini tak bisa berkata apa-apa lagi melainkan segera meninggalkan tempat itu ke jurusan lenyapnya si pemuda yang telah menerakan angka 212 pada batang pohon!
***
DUA
Sang surya sudah lama bergeser ke ufuk
barat. Warnanya yang tadi demikian terik menyilaukan kini memudar merah
kekuningan seperti tiada sanggup menahan diinya dirampas oleh kedatangan sore.
Sore yang akan dirampas oleh senja dan senja yang akan bertekuk lutut di pintu
malam. Jalan yang ditempuh pemuda itu semakin sukar. Berliku dan menanjak. Di
kiri kanan senantiasa mengapit batu karang putih yang tiada berubah dari zaman
ke zaman atas kerasnya. Mendadak dari puncak batu karang di sebelah timur
melengking suara suitan aneh yang menusuk sepasang gendang-gendang telinga si
pemuda. Dengan waspada pemuda ini putar kepala dan mendongak ke atas. Puncak
karang itu tingginya sekira dua puluh lima tombak. Curam dan terjal sukar
didaki. Tapi mata si pemuda yang tajam dapat melihat bekas cungkilan-cungkilan
pada sepanjang lereng karang mulai dari bawah sampai ke atas.
Cungkilan-cungkilan itu merupakan tangga penolong. Meski demikian, jangan harap
manusia biasa bisa mempergunakannya. Sekali tergelincir tubuh akan amblas ke bawah,
ditunggu oleh unggukan batu karang runcing!
Suara suitan aneh itu terdengar lagi
lebih keras dan nyaring dari yang pertama. Dan sesaat mata si pemuda berputar
kembali ke puncak batu karang itu dia terkejut melihat kemunculan seorang tua
bermuka brewok yang kaki kanan dan tangan kanannya buntung. Anggota badan yang
buntung ini disambung dengan kayu. Pada ujung kayu dari lengan menancap sebuah
benda berbentuk arit yang bergemerlap ditimpa sinar matahari di ambang sore
itu! Di tangan kirinya ada sebuah tongkat biru dari besi murni. Karena puncak
karang di mana manusia berewok ini berdiri tinggi sekali maka si pemuda tak
dapat mengenali dengan jelas potongan muka orang ini, apalagi tertutup berewok.
Hanya samar-samar bisa dilihatnya bahwa manusia ini adalah seorang tua yang
bertampang angker. Melihat kepada berewok yang memenuhi mukanya keraslah hati
si pemuda bahwa dia sudah dekat ketempat tujuannya. Mungkin juga sudah sampai.
Dipandang tajam-tajam demikian rupa, si muka angker berewok juga memandang pada
si pemuda secara tajam menyorot. Tapi sebegitu jauh tidak buka suara. Si pemuda
yang menjadi tak sabar lambaikan tangan dan menjura hormat sedikit.
“Orang tua, aku yang muda ini mau tanya
apakah ini jalannya ke Gua Sanggreng?!”. Orang yang ditanya kerutkan kening.
“Bocah gondrong, apakah kau yang
dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…?!”. Pemuda yang berada di bawah
batu karang terkejut sekali. Siapakah orang tua berewok bermuka angker ini?
Apakah guru atau kakak seperguruannya Bergola Wungu yaitu musuh yang telah
mengundangnya untuk datang ke Gua Sanggreng?.
“Aku merasa tak ada orang yang menjuluk
demikian, orang tua…!,” menyahuti si pemuda yang tak lain dari Wiro Sableng
adanya. . Si muka berewok masih memandang menyorot pada pemuda itu. Memang
adalah tak dapat dipercayanya kalau pemuda ini adalah Pendekar Kapak Maut Naga
Geni 212 karena angka 212 telah menggetarkan dunia persilatan pada dua puluh
tahun yang lalu. Tapi ciriciri yang diterangkan muridnya tentang pemuda ini
cocok betul. Akhirnya si berewok bersuit lagi. Kali ini suara suitannya lain
dari dua kali tadi. Dan sesaat kemudian muncullah sosok tubuh berpakaian hitam.
Orang ini mukanya juga berewok dan Wiro dapat mengenalinya sebagai orang yang
dulu telah menantangnya yaitu Bergola Wungu! Kini dia yakin bahwa si kaki
buntung itu punya sangkut-paut erat dengan Bergola Wungu. Dari bawah dilihatnya
kedua orang itu bercakap-cakap sedang si buntung sekali-kali menunjuk-nunjuk
dengan tongkat birunya ke arah Wiro. Tiba-tiba mengumandanglah tawa bergelak dari
si kaki buntung. Daerah sekitar situ seperti dirobek oleh suara tertawanya.
Sambil tertawa diketuk-ketukkannya tongkat di tangan kirinya ke atas batu
karang. Batu karang itu bergetar dan bagian yang kena ketuk lebur menjadi
pasir! Kemudian kedua mata orang tua buntung itu kembali memandang tajam pada
Wiro Sableng.
“Kalau kau bukan Pendekar 212 palsu
pastilah kau muridnya si Sinto Gendeng…: Ah, kiranya kau tak ubah seperti
bocah-bocah ingusan lainnya. Tak ubah seperti gurumu sendiri! Bego dan
keblinger…!”
“Jaga mulutmu, orang tua!,” bentak Wiro
marah karena gurunya dimaki. Tapi diamdiam dia juga heran kalau si muka berewok
yang satu ini tahu nama gurunya. Melihat kepada umur mungkin kira-kira dia
seumur dengan Eyang Sinto Gendeng. Berewok buntung itu tertawa lagi. Tongkatnya
diketuk-ketukkannya lagi.
“Muridku Bergola Wungu bicara terlalu
hebat tentang kau. Tapi setelah berhadapan muka nyatanya kau hanya kosong
melompong! Tadinya mendengar kematian tiga muridku aku ingin mengajaknya
bertempur sampai seratus jurus. Hendak kupecahkan kepalanya dengan tongkat biru
besi murni ini! Tapi nyatanya dia adalah seorang bocah pitit, masih pantas
ngempeng! Pakai baju pun belum becus! Pendekar potongan macammu ini sekali aku
ayunkan tongkat saja pasti sudah kelojotan!” Panas hati Wiro Sableng tiada
terkirakan. Darah mudanya menggeru dalam pembuluhnya.
“Orang tua!,” serunya.
“Bicaramu terlalu sombong! Apakah kau
tahu bahwa semut itu sanggup mengalahkan gajah? Apakah kau juga tahu bahwa
manusia itu bisa terpeleset oleh sebutir batu kecil berlumut…?!” Si berewok
kaki buntung tertawa dingin.
“Barangkali kau belum tahu kebalikan
ucapanmu itu, orang muda! Tahukah kau bahwa semut itu sekali dipijak oleh gajah
akan mejret amblas ke dalam tanah?! Tahukah kau kerikil kecil itu kalau
ditendang akan mental jauh tiada daya?” Wiro Sableng keluarkan suara mendengus
dari hidung.
“Kadangkala manusia keliwat pintar jadi
bicara terbalik-balik macam kau!,” sahutnya.
“Tapi tak apa… aku tak ada urusan
dengan kau. Biar aku bicara dengan Bergola Wungu!”. Si orang tua tertawa
berkekeh.
“Jangan sebut soal tak ada urusan,
geblek! Muridku mati tiga orang…”
“Bukan aku yang bunuh…!”.
“Tapi kau turut bertanggung jawab!”
Menukas Bergola Wungu.
“Buset!,” kata Wiro.”Di depan hidung
gurumu kau bisa buka bacot keras Bergola! Aku sudah datang untuk menerima
tantanganmu!” Bergola Wungu tertawa mengejek.
“Ini bukan Gua Sanggreng, Wiro! Bukan
di sini ajalmu harus kau pasrahkan!”
“Keren betul kau Bergola! Manusia kalau
sudah lupa nasib memang persis macam kau! Kau tahu bahwa kau dulu anak kampung
Jatiwalu kentut?! Yang sekarang punya sedikit ilmu lantas jadi kepala rampok!
Tapi lantas menantang aku dengan lari kepada gurunya? Kalau aku jadi kau lebih
baik terjun dari atas puncak karang itu ke bawah, mampus bunuh diri!” Merah
muka Bergola Wungu sampai ke telinga dan ke kuduk. Mulutnya terkatup rapat.
Gerahamnya bergemeletakkan. Namun tak ada suara jawaban dari dia. Maka
berkatalah si berewok tua kaki buntung.
“Bocah 212, karena kau bicara begitu
congkak tentu kau punya sedikit ilmu yang diandalkan. Aku yang sudah tua ingin
sekali bertukar pengalaman!”. Wiro Sableng tertawa-tawa.
“Kau yang sebenarnya congkak orang tua!
Apakah umurmu yang sudah bangkotan itu masih belum cukup puas untuk melakukan
pertempuran? Tapi kalau kau berkeras hati mau iseng-iseng tukar pengalaman
katamu, aku yang muda tidak keberatan….” Wiro gosok-gosokkan telapak tangannya
satu sama lain
“Tapi aku ingin tahu nama dan siapa kau
lebih dahulu.:..”. Si orang tua kembali tertawa macam tadi yang menggetarkan
seantero daerah batu karang itu.
“Aku adalah penghuni Gua Sanggreng yang
sudah empat puluh tahun malang melintang dalam rimba persilatan! Kau dengar itu
bocah? Dan kalau kau perlu tahu namaku… akulah yang bernama Bladra Wikuyana
Angin Topan Dari Barat!”.
Tentu saja Wiro Sableng terkejut
mendengar nama asli serta nama julukan si berewok kaki buntung itu karena dari
gurunya dia mengenai bahwa Angin Topan Dari Barat adalah satu tokoh persilatan
sakti yang memimpin sebuah perguruan di Jawa Barat, yang namanya cukup tenar
tapi dicurigai adalah kaki tangan golongan hitam (golongan jahat). Namun
demikian pemuda ini sama sekali tidak unjukkan paras kecut. Malah dia tertawa
bergelak:
“Julukanmu hebat juga, orang tua! Tapi
setahuku angin itu hanyalah satu benda kosong belaka dan berbau busuk bila ke
luar dari pantat!” Bladra Wikuyana bersuit marah.
“Bocah setan! Kau berani kurang ajar
terhadap Angin Topan Dari Barat! Terima ini…!”.
“Wuuuuuutt”! Tongkat birunya disapukan
ke bawah! –
***
TIGA
Angin sedahsyat topan melanda Pendekar
212. Pemuda ini balas dengan hantaman tangan ke udara mengirimkan putaran
lengan yang mengandung serangkum angin puyuh! Hal yang hebat sekali terjadilah.
Dua pukulan angin yang sama mengeluarkan suara mengaung itu begitu bentrokkan
menimbulkan letupan udara yang kerasnya bukan kepalang. Bukit-bukit dan
puncakpuncak, karang bergetar. Semak-belukar dan pohon-pohon rambas ke tanah.
Pukulan angin puyuh Wiro Sableng telah membuyarkan pukulan angin topan dari
tongkat Bladra Wikuyana. Namun demikian Wiro Sableng masih kena juga diterpa
kipratan angin pukulan lawan sehingga sesaat tubuhnya menjadi limbung huyung!
Bladra Wikuyana terbeliak kaget. Hantaman tongkat birunya tadi telah
mempergunakan hampir sepertiga bagian tenaga dalamnya. Dia sudah memastikan
kalau tidak mampus pastilah sekurang-kurangnya pemuda itu kelojotan muntah
darah! Tapi kepastiannya itu tidak berkenyataan. Di bawahnya Wiro Sableng
ditihatnya masih berdiri utuh! Maka berserulah Bladra Wikuyana:
“Orang muda! Ilmumu cukup bagus untuk
diandalkan! Aku tunggu kau di Perguruan Gua Sanggreng!” Habis berkata begitu
manusia ini menarik lengan Bergola Wungu. Sekejapan saja guru dan murid itu
lenyap dari pemandangan Wiro Sableng. Si pemuda garuk kepala.
“Tongkat itu hebat sekali!,” katanya
dalam hati. Tapi dia tak menunggu lebih lama. Segera dia lompatkan diri ke atas
puncak karang yang tingginya puluhan tombak itu. Puncak karang itu ternyata
licin sekali. Kalau saja ilmu meringankan tubuhnya dari kelas rendahan pastilah
kakinya akan tergelincir! Wiro memandang berkeliling mencari jejak ke mana
larinya kedua orang tadi. Matanya yang tajam segera menangkap bayangan Bladra
Wikuyana dan muridnya di balik karang sebelah Timur. Tanpa buang waktu Pendekar
212 segera lompat ke karang yang terdekat. Laksana seekor rajawali demikianlah
dia melompat kian kemari sampai akhirnya orang yang dikejamya itu lenyap di
sebuah jurang batu karang yang dalam sekali! Wiro berdiri di tepi jurang batu
itu, memandang ke bawah. Untuk melompat turun tidak mungkin. Jurang itu
dalamnya lebih dari seratus tombak. Berarti tidak mungkin pula Bladra Wikuyana
dan Bergola Wungu lenyap turun ke jurang batu itu. Tapi tiba-tiba Wiro melihat
sebuah tangga tali yang kuat di tepi jurang sebelah Selatan. Segera dia menuju
ke sana dan memeriksa tangga tali itu. Dia berpikir sebentar, kemudian dengan
cepat menuruni tangga tali. Bagian bawah jurang batu itu hampir merupakan
pedataran batu yang sedikit sekali tetumbuhannya. Penuh waspada Pendekar 212
segera memeriksa keadaan. Tiba-tiba menggema suara suitan dari arah Utara yang
dibalas pula oleh suara suitan dari arah barat. Wiro segera menuju ke Barat!
Sementara itu di atas jurang, sesosok tubuh yang sudah sejak lama menguntit
Wiro Sableng hentikan langkahnya dekat tangga tali, tak berani terus ikut
menuruni tangga tali itu. Wiro berdiri di balik sebuah batu karang berbentuk
pilar. Sekurang-kurangnya batu karang itu bisa menjadi tameng baginya dari
musuh yang menyerang dengan diam-diam. Dari balik batu berbentuk pilar ini dia
memandang ke muka. Tepat di antara dua batang kayu besar yang sangat rendah
maka beberapa puluh tombak di mukanya dilihatnya sebuah gua besar. Kemudian
didengarnya lagi suara suitan. Kali ini dari sebelah belakangnya. Suitan ini
disambut oleh suitan yang menggema ke luar dari dalam gua. Pemuda ini menunggu
dengan tidak sabar. Ke mana perginya kedua orang tadi? Apakah masuk ke dalam
gua itu? Dan apakah gua Itu yang bernama Gua Sanggreng? Lalu apakah saat itu
dia sudah berada di Perguruan Gua Sanggreng? Tiba-tiba terdengar suara suitan
yang lebih hebat dari suitan-suitan tadi. Dan Wiro melihat dari mulut gua ke
luar dua lusin manusia, semuanya laki-laki, ada yang berewokan ada yang tidak
dan semuanya mengenakan pakaian hitam dengan ikat pinggang kain putih. Pada
pinggang masing-masing tersisip sebatang tongkat biru yang sama bentuknya
dengan milik Bladra Wikuyana. Keduapuluh empat orang itu membentuk dua barisan
panjang mulai dari mulut gua sampai ke pelataran batu. Tak lama kemudian
muncullah Bladra Wikuyana diiringi oleh Bergola Wungu.
“Pendekar Kapak Naga Geni 212 tak usah
sembunyi di balik pilar! Keluarlah!,” seru Bladra Wikuyana. Pemuda itu segera
ke luar dari balik tiang batu karang dan berdiri waspada di ujung pelataran.
“Angin Topan Dari Barat! Sandiwara atau
tari-tarian apakah yang akan kau pertunjukkan kepadaku?!” Bladra Wikuyana
tertawa hambar.
“Dasar manusia tolol! Ajal sudah di
depan mata masih juga mau jadi badut! Tahukah kau bahwa siapa-siapa yang sudah
masuk ke mari berarti tak ada lagi jalan keluar! Berarti mampus di sini?!”.
Wiro Sableng menyengir. Katanya:
“Kalau begitu kalian semua di sini juga
samasama ikut mampus dengan aku!”. Kembali Bladra Wikuyana tertawa hambar.
Ditepukkannya kedua tangannya.
“Turunkan tangga tali,” perintahnya.
Dua orang anak murid Perguruan Gua Sanggreng segera melaksanakan tugas itu.
Bladra Wikuyana berkemik.
“Tangga tali telah diturunkan berarti
umurmu semakin singkat. Tapi ada syarat jika kau kepingin hidup terus…”
“Apa?” tanya Wiro Sableng kepingin
tahu.
“Berlutut minta ampun di hadapanku dan
bergabung denganku!”. Wiro Sableng tertawa meledak.
“Muridmu Bergola Wungu menantang aku
datang kemari untuk bertempur! Tahutahu kini diajak bergabung, disuruh berlutut
malah! Enak betul bikin aturan…!”
“Kalau begitu kau datang ke sini
betul-betul untuk antarkan jiwa!” kata Bladra Wikuyana pula. Habis berkata
begini dia bertepuk tangan satu kali.
“Bereskan dia dengan gebrakan enam
tongkat merenggut nyawa!” bentak Bladra Wikuyana dengan geram sekali. Maka enam
orang muridnya segera melompat mengurung Pendekar 212 dengan tongkat di tangan.
“Ketahuilah:..” kata Bladra Wikuyana
pula.
“Yang akan kalian hajar itu adalah
seorang bocah yang mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Mulai!”
Bladra Wikuyana bersuit keras. Keenam muridnya juga bersuit keras dan dengan
serentak menyerang Wiro Sableng! Enam larik sinar biru mengambang di udara kian
ke mari dalam gerakan yang sangat tak menentu, mengeluarkan suara bersiuran dan
kesemuanya menyerang pendekar bertangan kosong itu. Wiro lompat ke udara dan
berteriak:
“Angin Topan Dari Barat! Kerapa anak
muridmu yang tak ada sangkut paut dengan aku kau suruh.maju? Apa kau tidak
punya nyali?!”. Biadra Wikuyana menyahut dengan membentak:
“Kalau kau ada urusan dengan salah
seorang di sini berarti kau berurusan dengan Perguruan Gua Sanggreng…!” Saat
itu keenam murid Perguruan Gua Sanggreng melompat pula ke udara dan menyerang
Wiro Sableng dengan sebat. Tapi dengan pergunakan jurus: Belut Menyusup Tanah,
maka Pendekar 212 yang diserang oleh mereka telah berdiri di pelataran batu
kembali. Maka bentrokkanlah enam tongkat biru itu di udara!
“Tolol,” makl Bladra Wikuyana pada
murid-murudnya:
“Aku beri kesempatan tiga jurus lagi
pada kalian! Kalau tak berhasil merubuhkan bangsat itu kalian musti mundur dan
terima hukuman!”. Ternyata gebrakan enam tongkat merebut nyawa yang dikeluarkan
enam murid Perguruan Gua Sanggreng tadi tidak mampu merubuhkan Pendekar 212.
Kini karena takut terima hukuman dari guru mereka, keenamnya segera putar
tongkat dengan sebat dan lancarkan enam tusukan pada enam bagian tubuh Wiro
Sableng!
“Ciaaat!” Bentakan dahsyat menggema dan
menggetarkan jurang batu itu. Bulu-bulu tengkuk anak-anak murid Perguruan Gua
Sanggreng meremang, bukan saja oleh kedahsyatan bentakan tadi tapi juga
menyaksikan bagaimana enam kawan mereka kini berdiri kaku tegang di tengah
pelataran karena tubuh masing-masing sudah kena ditotok lawan. Sedang Pendekar
212 berdiri saat itu berdiri tenang-tenang bahkan bersiul-siul! Rasa tak
percaya membuat Bladra Wikuyana buka matanya lebar-lebar. Dan hatinya merutuk.
Tiba-tiba dicabutnya tongkat birunya dari pinggang dan disapukannya ke muka.
Keenam tubuh muridnya berpelantingan laksana daun kering tapi sekaiigus angin
topan dashyat yang keluar dari tongkat ampuh itu telah melepaskan keenamnya
dari totokan! Kemudian Pemimpin atau Ketua Perguruan Gua Sanggreng itu berkata
pada Bergola Wungu:
“Kau majulah, pimpin semua muridku yang
ada di sini! Bentuk-lingkaran pasang surut!”. Mendengar ini Bergola Wungu
segera melangkah ke muka seraya cabut golok panjang dan bersuit keras tiga kali
berturut-turut. Maka dua puluh empat manusia berpakaian hitam-hitam dengan
tongkat di tangan di bawah pimpinan Bergola Wungu yang memegang golok panjang
segera membentuk dua lapis lingkaran yang disebut lingkaran pasang surut,
mengurung Wiro Sableng di tengah-tengah. Gilanya, yang mau diserang malah tetap
berdiri tenang-tenang, kemak kemik dan sambil bersiul-siul. Tiba-tiba Bergola
Wungu bersuit nyaring. Maka berputarlah barisan lingkaran yang sebelah dalam ke
kiri sedang barisan lingkaran sebelah luar berputar ke kanan. Mula-mula lambat
pelahan kemudian makin lama makin kencang, makin kencang sampai tubuh kedua
puluh empat. manusia berpakaian hitam itu tidak jelas iagi, hanya merupakan
bayang-bayang. Debu yang menutupi pelataran menggebu ke atas dan sambil
berputar-putar itu Bergola Wungu dan kawankawannya tiada henti berteriak
melengking-lengking. Karena putaran dua barisan lingkaran itu makin cepat dan
saling berlawanan serta diiringi lengking pekik hiruk pikuk yang memekakkan dan
mengacaukan pikiran lambat laun kedua pandangan mata Pendekar 212 menjadi
berkunang. Kepalanya terasa pusing. Dia tertegun beberapa jurus lamanya. Dan
dua baris lingkaran itu kini kelihatan semakin menciut mendekatinya! Bergola
Wungu melihat lawan muiai terpengaruh dengan bentakan lantang menyerbu dan
tebaskan goloknya ke kepala lawan yang terkurung ditengah lingkaran. Serangan
ini datangnya secara pengecut yaitu dari belakang! Dan Wiro Sableng dalam
tertegunnya itu masih juga bersiul-siul seperti orang lupa diri!
***
EMPAT
Dia hanya merasakan datangnya sambaran
angin dari arah belakang. Lalu cepat-cepat menggeser kaki ke muka, bergerak ke
samping dan sambil bungkukkan diri balikkan badan! Golok panjang Bergola Wungu
lewat satu setengah jengkal di atas kepalanya, mengibarkan rambutnya yang
gondrong!
“Dasar pengecut! Sudah main keroyok
menyerang dari belakang!,” bentak Wiro Sableng. Kedua tangannya bergerak ke
muka untuk merampas golok lawan. Namun hampir hal itu terlaksana, tahu-tahu dua
belas ujung tongkat menderu menyerang kedua lengannya.
“Sialan!” maki Pendekar 212 dan
terpaksa tarik pulang tangannya sambil hantamkan kaki membabat ke arah beberapa
orang pengeroyok dari barisan sebelah muka. Mereka yang diserang tendangan kaki
anehnya tidak melakukan sesuatu apa, tapi tiba-tiba dari belakang menyeruak
kawan-kawan mereka dari barisan kedua, dan menangkis tendangan Wiro Sableng.
Sejurus kemudian barisan muka kembali menyerang dengan dua belas tongkat biru
mengarah pada dua belas bagian tubuh Wiro Sableng! Sementara itu dari atas
laksana alap-alap golok Bergola Wungu kembati membabat! Ini lah kehebatannya
lingkaran pasang surut! Ciptaan Bladra Wikuyana! Dua tahun dia melatih
murid-muridnya untuk betul-betul memahami jurus tersebut. Meski belum begitu
sempurna tapi hasilnya tidak mengecewakan! Sambil senyumsenyum dia berdiri
menunggu saat di mana matanya akan menyaksikan tubuh Wiro Sableng terpancung
belasan senjata muridnya, telinganya bakal mendengar pekik kematian pemuda itu!
Tapi tiada kelihatan, Pendekar 212 terpancung meregang nyawa di tengah
pelataran itu! Tiada terdengar pekik kematian Wiro Sableng! Dengan kecepatan
luar biasa yang tiada terlihat oleh mata Bladra Wikuyana maka tahu-tahu Wiro
Sableng sudah berada di luar serangan anakanak muridnya, berdiri dengan tenang
dan kembali bersiul-siul! Sebenamya pemuda bermata tajam ini sudah dapat
melihat di mana letak kelemahan barisan lingkaran pasang surut yang
mengeroyoknya saat itu. Dengan merobohkan dua atau tiga orang pengeroyok dari
salah satu barisan maka pastilah lingkaran pasang surut itu akan menjadi kacau
balau! Bisa juga sebagian atau seluruh pengeroyoknya ditumpasnya dengan
hantaman pukulan angin puyuh atau dinding angin berhembus tindih menindih! Tapi
ini pemuda inginkan cara lain yang lebih disukainya sendiri. Maka berserulah
Pendekar 212.
“Angin Topan Dari Barat! Apakah kau
pernah iihat manusia dipakai jadi senjata untuk menyerang manusia…?!”
“Bocah gila! Jangan banyak bacot!
Nyawamu sudah di depan hidung! Anak-anak ciutkan lingkaran dalam sepertiga
jurus!,” teriak Bladra Wikuyana dengan penasaran sekali. Siulan Pendekar 212
tiba-tiba lenyap berganti dengan suara tertawa aneh yang menegakkan bulu
tengkuk. Tubuhnya berkelebat tak kelihatan. Dan tiba-tiba pula Bergola Wungu
merasakan kedua pergelangan kakinya dicengkeram erat sekali. Dicobanya untuk
meronta dan menendang tapi cengkeraman itu laksana japitan besi tak mungkin
untuk di1epaskan. Sementara itu tubuhnya menjadi limbung dan terasa terangkat ke
atas! Dicobanya membabatkan goloknya! Terdengar satu pekikan! Pekikan kawannya
sendiri yang, kemudian roboh mandi darah! Sesudah itu Bergola Wungu tak tahu
apa-apa lagi! Wiro Sableng dengan tertawanya yang aneh memegang erat-erat kedua
pergelangan kaki Bergola Wungu lalu memutar tubuh manusia itu laksana kitiran!
Pekik jerit serta seruan-seruan tertahan terdengar di mana-mana! Barisan
lingkaran pasang surut hancur berantakan. Beberapa orang yang masih tak mau
menyingkir dan terpukau oleh kedahsyatan itu terpaksa dihantam kitiran dari
tubuh Bergola Wungu! Belasan anak murid Perguruan Gua Sanggreng bergeletakan di
pelataran batu karang dalam keadaan tubuh luka-luka parah tanpa nyawa. Suara
erangan terdengar tiada hentinya. Yang masih hidup yaitu sekira sembilan orang
menyingkir jauh-jauh ke dinding batu karang. Suara tertawa Pendekar 212
berhenti.
“Angin Topan Dari Barat! Ini terima
bangkai muridmu!”. Tubuh Bergola Wungu yang tadi dibuat menjadi kitiran untuk
melabrak kawan-kawannya sendiri melesat ke arah Bladra Wikuyana. Orang tua ini
lambaikan tangan kirinya dan tubuh Bergola Wungu terpelanting ke dinding
samping. Tentu saja sudah tanpa nyawa lagi karena sudah sejak tadi kepalanya
nyenyar macam pepaya busuk! Bau anyirnya darah yang mengantarkan regangan-regangan
nyawa manusia menyesak lobang hidung. Wiro Sableng meludah ke tanah. Dan
memandang pada Angin Topan Dari Barat.
“Angin Topan Dari Barat! Murid-muridmu
menemui kematian dengan cara yang tentu kau tidak senangi! Dan mereka mati
tanpa ada sangkut-paut kesalahan apa-apa terhadapku! Kau yang tanggung-jawab
semuanya kalau malaekat maut tertanya di liang kubur!”
“Pemuda iblis!” bentak Bladra Wikuyana.
“Tak usah banyak bacot! Terimalah
kematianmu dalam tiga jurus!”. Tampang manusia ini kelihatan membesi dan tambah
angker. Dia melangkah ringan ke hadapan Wiro Sableng dan cabut tongkat birunya!
Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan selarik sinar biru melanda Pendekar 212.
Pemuda ini egoskan diri ke samping dengan cepat. Tapi dari samping menderu
tangan kanan Bladra Wikuyana yang disambung -dengan kayu dan ujungnya mempunyai
senjata berbentuk Arit!
“Heyyaaa!”. Pendekar 212 membentak
keras. Empat dinding jurang tergetar hebat. Tubuhnya lenyap dan sambil jatuhkan
diri berjongkok pemuda ini hantamkan tangannya ke muka lancarkan pukulan Kunyuk
Melempar Buah! Tapi tongkat biru Bladra Wikuyana sungguh hebat! Pukulan Kunyuk
Melempar Buah yang dilancarkan Pendekar 212 mempergunakan sebahagian tenaga
dalamnya namun sambaran angin tongkat biru membuat angin pukulan Pendekar 212
tersibak ke samping dan menghantam dinding karang! Dinding karang itu
retak-retak pecah! Kepingan-kepingan karang menghambur ke udara berpelantingan!
Wiro Sableng penasaran sekali. Tenaga dalamnya dilipat-gandakan sampai
tangannya tergetar hebat namun tetap pukulan Kunyuk Melempar Buah yang
dilancarkannya masih sanggup disapu oleh angin tongkat biru lawan!
“Edan!” maki pemuda ini dalam hati. Dia
menjerit setinggi langit dan berkelebat lagi. Kini Pendekar 212 keluarkan jurus
Orang Gila Mengebut Lalat! Kedua tangannya kiri kanan memukul kian kemari dan
mengeluarkan angin keras laksana badai! Untuk dua jurus lamanya Bladra Wikuyana
terdesak hebat bahkan kepepet ke dinding jurang sebelah Timur. Anak-anak murid
Perguruan Gua Sanggreng yang ada di jurusan ini terpaksa menyingkir kecuali
kalau mau mampus terkena sambaran-sambaran angin dahsyat kedua manusia sakti
yang bertempur itu! Angin Topan Dari Barat mengeluh dalam hati! Puluhan tahun
hidup di dunia persilatan baru hari ini menghadapi lawan yang tangguhnya bukan
olah-olah! Dan gilanya lawan itu adalah anak muda hijau yang baru berumur tujuh
belas tahun! Orang tua ini kertakkan gerahamnya. Dari tenggorokkannya keluar
suitan kencang. Dengan serta merta permainan tongkat dan jurus-jurus silatnya
berubah. Tongkat biru di tangan kirinya menderu dan mencurah taksana hujan
badai, laksana menjadi ratusan banyaknya! Wiro Sableng terkejut sekali melihat
keganasan serangan tawan ini! Cepat dia lompat tiga tombak ke udara.
“Ho-ho! Mau kabur hah?!” bental Bladra
Wikuyana. Dan segera manusia ini susul melompat.
“Angin Topan Dari Barat!,” seru
Pendekar 212.
“Antara kita sebenarnya tak ada
permusuhan yang berarti…”. Bladra Wikuyana tertawa buruk.
“Ketika nyawa sudah di tenggorokan kau
baru ribut-ribut segata permusuhan yang tak berarti! Sudah kepepet-mulai bicara
rendah diri! Sebaiknya sebut nama Tuhanmu sebentar tagi roh busuk manusia yang
mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 akan minggat ke neraka!”
Bladra Wikuyana menyerang lagi dengan ganas membuat Wiro Sableng kembali
terpaksa lompatkan diri tiga tombak ke belakang.
“Kalau kau yang tua tetap berkeras kepala maka sambutlah
pukulanku ini!” Bladra Wikuyana terbeliak kaget ketika melihat tangan kanan
Wiro Sableng berwarna sangat putih sedang kuku-kuku jarinya memerah
menyilaukan!
“Pukulan Sinar Matahari!” teriaknya
dengan keras. Sekaligus dia menyerukan pada murid-muridnya untuk mencari
perlindungan sedang seturuh tenaga dalamnya dialirkannya ke tongkat biru!
Selarik sinar putih yang menyilaukan mata melesat ke depan. Bladra Wikuyana
lompat ke udara sampai tujuh tombak dan sapukan tongkatnya ke bawah! Dua angin
keras beradu hebat. Bladra Wikuyana berseru keras. Tongkatnya hampir terlepas
mental sedang tangan kirinya tergetar hebat! Tiada nyana tenaga dalam lawan
yang muda belia itu lebih tinggi beberapa tingkat dari padanya. Dengan jungkir
balik di udara jago tua ini jauhkan diri untuk atur jatan nafas serta darahnya
dengan cepat! Ketika bola matanya berputar memandang berkeliling terkejutlah
ia! Seluruh sisa anak muridnya yang tadi masih hidup menggeletak bergelimpangan
dipelataran batu karang itu. Tubuh mereka semuanya termasuk yang sudah menemui
ajal lebih dahulu di tangan Wiro Sableng mengepulkan asap dan udara dalam
jurang itu kini pengap bau daging manusia yang hangus! Ketika Pendekar 212
lepaskan pukulan sinar matahari tadi. Bladra Wikuyana berhasil mengelakkannya.
Angin pukulan menghantam dinding karang di sebelah tenggara. Bukan saja dinding
karang itu menjadi pecah tapi juga hancur berantakan. Bagian atasnya longsor ke
bawah sedang pukulan Sinar Matahari memantul dua kali berturut-turut di dinding
karang. Hawa panas angin pukulan ini telah melabrak sisa-sisa anak murid Bladra
Wikuyana sehingga tubuh mereka tersambar hangus dan menggeletak mati di situ juga!
.Dan sementara itu di tepi jurang sebelah atas, sesosok tubuh berpakaian ungu
menyaksikan apa yang terjadi di dalam jurang batu karang itu dengan mulut
menganga dan mata terbeliak sedang bulu kuduk merinding…. Kembali ke dalam
jurang. Air muka Bladra Wikuyana kelihatan kelam membeku. Tubuhnya laksana
patung berdiri di tengah pelataran. Cambang bawuk atau berewoknya kelihatan
meranggas kaku sedang sepasang matanya menjadi merah angker.
“Pendekar 212!” desis Bladra Wikuyana.
“Detik ini jangan harap nyawamu akan
selamat…!” Tongkat birunya diacungkan ke muka lurus-lurus dan kini tongkat itu
berubah menjadi hitam legam. Sinar hitam yang memancar dari senjata ampuh Itu
menggidikkan sekali…
“Bersiaplah untuk minggat ke neraka!”
teriak Bladra Wikuyana. Serentak dengan itu menyerbulah dia ke muka. Seluruh
bagian tenaga dalamnya telah mengalir ke dalam tongkat dan serangannya kini
luar biasa ganasnya! Sambil menyerang itu Bladra Wikuyana tiada hentinya
bersuit-suit aneh, menggetarkan telinga dan raga! Wiro Sableng begitu merasakan
tekanan serangan yang hebat luar biasa segera percepat gerakannya. Namun ilmu
mengentengi tubuhnya yang sudah sangat tinggi itu masih sangat terasa lamban
ditindih oleh sinar pukulan Angin Hitam yang ke luar dari tongkat lawan.
“Breet”! Tersirap darah Pendekar 212.
Nyawanya serasa iepas! Ujung tongkat lawan telah merobek pakaiannya di bagian
dada. Angin tongkat membuat tulang-tulang dadanya seperti melesak! Pendekar ini
berteriak nyaring dan jungkir balik ke belakang ke luar dari kalangan
pertempuran!
***
LIMA
“Ho ho…. Mau merat ke mana?!” tanya
Bladra Wikuyana.
“Aku sudah bilang, sekali masuk ke sini
musti lepas nyawa di sini!” Wiro Sableng tak berikan sahutan. Kalau saja ada
sepuluh manusia jahat sesakti Bladra Wikuyana ini di atas jagat pastilah dunia
akan tenggelam dalam kekalutan pikirnya. Ketika lawan menyerang kembali
Pendekar 212 sambut dengan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. Untuk
beberapa ketika lamanya serangan tongkat Bladra Wikuyana terbendung dan
kesempatan ini dipergunakan oleh Wiro Sableng untuk melompat ke udara, menukik
kembali dan lancarkan pukulanKunyuk Melempar Buah. Dentuman yang dahsyat
terdengar. Wiro terpaksa turun ke pelataran batu karang kembali karena
pukulannya kena disapu aliran angin hitam tongkat lawan. Pemuda ini kepepet ke
dinding jurang sebelah Timur! Pemuda ini merutuk sendiri dalam hatinya. Dalam
merutuk itu tongkat lawan menyapu di atas kepalanya. Wiro lompat ke samping.
Tongkat menghantam dinding karang sampai hancur berantakan! Ketika Bladra Wikuyana
balikkan tubuh siap untuk menyerang kembali, langkahnya tertahan. Kedua matanya
yang merah memandang tak berkedip pada senjata berbentuk kapak bermata dua yang
ada di tangan lawannya. Bergidik juga Angin Topan Dari Barat melihat senjata
tersebut. Dua puluh tahun yang silam dia pernah saksikan sendiri kehebatan
Kapak Maut Naga Geni 212. Kini apakah sanggup dia menghadapinya?!
“Angin Topan Dari Barat,” Pendekar 212
buka mulut.
“Baiknya kau lekas-lekas minta tobat
atas kejahatanmu selama ini. Sebentar lagi tentu sudah tak keburu…. !” Angin
Topan Dari Barat atau Bladra Wikuyana tindih rasa jerihnya dengan tertawa
bergelak. Tahu akan kehebatan senjata di tangan lawan maka dia segera menyerang
lebih dahulu! Sinar hitam bergulung-gulung ke arah Pendekar 212. Pemuda ini
sambut serangan lawan dengan pergunakan jurus:Orang Gila Mengebut Lalat.
Kapak Naga Geni 212 di tangannya berkelebat cepat ke kiri dan ke kanan,
mengeluarkan suara berdengung macam suara ribuan tawon! Terkejutnya Bladra
Wikuyana bukan kepalang ketika merasa bagaimana kini tongkat saktinya tak dapat
lagi bergerak leluasa, tertindih, terbendung dan terpukul angin kapak bermata
dua di tangan lawan! Bladra Wikuyana percepat permainan tongkatnya dan
menyerang dengan jurus-jurus lihay mematikan. Namun tetap saja tak dapat ke
luar dari tindihan senjata lawan. Dan kini sesudah bertempur di jurus yang
kesembilan puluh delapan maka mulailah jago tua ini terdesak hebat! Diam-diam
Bladra Wlikuyana cucurkan keringat dingin. Ditahannya sedapat-dapatnya serangan
senjata lawan. Satu kali tongkatnya beradu dan tak ampun ujung tongkat terbabat
puntung! Bladra Wikuyana tak berani lagi bentrokan senjata! Matanya kini liar
mencari kesempatan untuk kabur. Dia menggeram karena telah menyuruh
murid-muridnya menurunkan tangga gantung karena tangga dari tali itulah
satu-satunya jalan untuk kabur ke luar jurang batu karang! Karena pikirannya
bercabang dua, satu memikir jalan untuk lari, kedua memusatkan pada serangan
lawan maka pertahanan Bladra Wikuyana sering-sering melompong. Hal ini bukan
tak dilihat oleh Pendekar 212, kalau saja dia mau maka sudah sejak tadi dia
melabrak manusia berewok bertangan dan kaki buntung itu. Dari mulut Pendekar
212 mulai terdengar siulan membawakan lagu tak menentu!
Sambil kirimkan bacokan ke pinggang,
Wiro Sableng putar gagang kapak. Kedua mata kapak membuat setengah lingkaran,
salah satu dari padanya memapas pergelangan tangan kanan Bladra Wikuyana yang
terbuat dari kayu! Tangan palsu yang ujungnya berbentuk arit itu kutung dan lepas!
Mental ke udara! Bladra Wikuyana melompat ke belakang. Mukanya pucat pasi. Dia
mengerang karena aliran aneh yang berhawa panas dari senjata lawan merembes
melalui kutungan tangan kayu ke dalam tubuhnya!
“Cuma lengan kayumu saja. Angin Topan
Dari Barat! Kenapa musti pucat macam mayat?” Wiro Sableng tertawa gelak-gelak.
“Sekarang aku minta kaki kayumu!” Habis
berkata begitu. Wiro Sableng bersiul dan melompat ke muka. Kapaknya membabat ke
kepala Bladra Wikuyana. Jago tua ini yang tak berani lakukan bentrokan senjata
cepat-cepat melompat berkelit dan lancarkan serangan balasan dengan pukulan
tangan kosong yang menimbulkan angin hebat. Namun dengan Kapak Naga Geni 212 di
tangan, segala pukulan tangan kosong bagaimanapun hebatnya dari manusia berewok
yang bergelar Angin Topan Dari Barat itu tiada artinya lagi! Kapak Naga Geni
212 membacok ke bahu, berbalik merambas pinggang, menderu lagi ke kepala
membuat tokoh silat tua dan berpengalaman luas itu menjadi sangat sibuk. Dan
ketika tiba-tiba sekali senjata lawan membabat ke bawah, dia tak punya
kesempatan lagi untuk mengelak! Untuk kedua kalinya mata kapak membabat anggota
badannya yaitu kaki kayu Bladra Wikuyana sebelah kanan! Meski huyung-huyung
tapi laki-laki ini masih sempat lompatkan diri ke luar dari kalangan
pertempuran. Mukanya pucat sekali dan keningnya penuh keringat! Di dalam
dadanya menggelegak rasa benci, dendam dan nafsu untuk membunuh! Dengan tahan
tubuhnya pada ujung tongkat, Bladra Wikuyana pejamkan mata. Mulutnya komat
kamit.
“Ilmu apa yang kau mau keluarkan Angin
Topan Dari Barat? Sebaiknya dengar omonganku! Aku yang muda ini masih mau kasih
ampun kepada kau jika kau berjanji untuk bertobat dan hidup di jalan yang
benar, tidak lagi berbuat kejahatan tapi mempergunakan iimumu buat menolong
sesama manusia. Bagaimana…?!” Bladra Wikuyana buka sepasang matanya sedikit.
Mulutnya berkemik mengejek.
“Jangan kira kau sudah menang bocah
hijau! Aku masih jauh dari kalah! Lihat mukaku bocah hijau… lihat mukaku….
“ Mata Wiro Sableng menyipit. Ketika
diperhatikannya tampang Bladra Wikuyana terkejutlah dia. Kepala tokoh silat itu
kini rnenjadi enam dan berwarna hitam, gigi-giginya merupakan caling-caling
yang mengerikan, bola-bola matanya besar sedang lidahnya panjang menjulai
sampai ke dada. Dari dua belas mata yang ada di enam kepala itu memancar sinar
hijau.
“Ah… ilmu siluman macam begini hanya
pantas untuk menakut-nakuti anak kecil!” ejek Wiro Sableng. Disapukannya Kapak Naga Geni 212
ke muka. Angin deras membuat Bladra Wikuyana terpelanting tapi muka silumannya
masih juga seperti tadi malah semakin menyeramkan. Tiba-tiba dengan menggereng
keras laksana harimau terluka menerjanglah tokoh silat itu didahului oleh dua
belas sinar hijau yang ke luar dari mata silumannya!
“Tua bangka geblek! Dikasih ampun malah
keluarkan Ilmu yang bukan-bukan!” rutuk Wiro Sableng. Ditunggunya beberapa
detik. Sesaat kemudian berkiblatlah kapak mautnya dari atas ke bawah! Angin
Topan Dari Barat terkapar di pelataran batu karang tanpa berkutik, juga tanpa
menjerit. Kepalanya sampai ke dada terbelah dua. Darah membanjir! Tamatlah
riwayat tokoh silat dari golongan hitam itu yang selama hidupnya telah menebar
benih kejahatan dan mendidik manusia-manusia untuk disesatkan! Wiro Sableng
garuk rambut gondrongnya dan meludah. Jijik juga dia melihat darah yang
membanjir dari tubuh Bladra Wikuyana. Dipandangnya Kapak Maut Naga Geni 212 di
tangan kanannya. Mata kapak itu berlumuran darah. Pemuda ini goleng-goleng
kepala.
“Kapak hebat… kapak hebat….” katanya.
Kemudian sekali hembus saja maka noda darah pada mata kapak pun lenyaplah!
Senjata sakti pemberian Eyang Sinto Gendeng itu segera dimasukkannya ke balik
pinggang kembali. Selama setengah jam Wiro Sableng memasuki dan menggeledah isi
Gua Sanggreng. Di sini ditemuinya banyak sekali persediaan makanan dan uang
serta barang-barang perhiasan. Menurut pikiran Wiro uang serta perhiasan itu
mungkin sekali hasil rampokan yang ditimbun menjadi milik Perguruan Gua
Sanggreng. Wiro mengambil sejumlah uang dan perhiasan sekedar bekal di
perjalanan. Kemudian pemuda ini duduk di sebuah kursi besar dan menikmati
makanan yang ada di dalam gua itu. Waktu dia ke luar dari gua dilihatnya langit
sudah sangat merah kekuningan tanda matahari hampir tenggelam. Pemuda ini
segera mencari tangga tali. Tangga tali itu kemudian dilemparkannya pada patok
runcing batu karang di tepi jurang sebelah atas dan mulailah pendekar ini
menaiki anak tangga demi anak tangga menuju ke atas. Dari atas sebelum berlalu
dilayangkannya pandangannya untuk terakhir kali ke dalam jurang batu. Duapuluh
enam mayat bergelimpangan di mana-mana. Pemuda ini garuk dan golenggoleng
kepala. Dan mulailah dia melangkah sepembawa kakinya. Malam tiba nanti entah di
mana dia akan berada. Suara siulannya mengumandang di belantara batu-batu
karang. Sambil terus berjalan. bernyanyilah pendekar ini: Langit merah angin
silir…. Surya tenggelam di ufuk Barat…. Malam yang datang tentu dingin dan
gelap…. Berjalan seorang diri memang tidak enak…. Tapi selalu diikuti orang
lain juga tidak enak…. Nyanyian ini tiada menentu nadanya dan diulang-ulang
sampai beberapa kali. Akhirnya disatu penurunan curam Pendekar 212 hentikan
nyanyiannya dan duduk di sebuah unggukan batu. Sambil tertawa-tawa berkatalah
dia:
“Manusia yang ikuti aku kenapa sembunyi
di belakang batu? Coba ke luar unjukkan jidat, apa betul manusia atau hantu…?”
Wiro memandang pada celah batu karang yang tadi dilewatinya. Suasana hening
saja.
“Ah, manusia di belakang batu tentu
seorang pemalu,” katanya.
“Biarlah aku sendiri yang lihat
tampangnya!”
Habis berkata begitu Wiro Sableng
hantamkan tangan kanannya ke arah celah batu. Sebagian lagi terguling ke bawah.
Dan dari balik batu terdengar seruan tertahan!
Apa yang tidak diduga oleh Pendekar 212
ternyata bahwa penguntitnya sejak dari jurang Gua Sanggreng tadi adalah seorang
gadis!
***
ENAM
“Aha… Nyatanya seorang gadis molek!
Pantas malu-malu unjukkan diri…!” kata Wiro Sableng pula dengan tertawa lebar
melihat kepada pakaian ungu yang dikenakan gadis itu segera pemuda ini
mengenali bahwa gadis itu adalah anak murid Dewa Tuak.
“Gadis molek, ada apa kau menguntit aku
sejak dari lereng bukit sampai ke jurang maut sana…?” bertanya Wiro.
Anggini, si gadis baju ungu, tak
memberikan jawaban. Mukanya merah karena malu dan jengah. Wiro Sableng tertawa
lagi dan berkata: “Mungkin ada mengandung suatu maksud tidak baik …. “
“Saudara… a…aku…” Anggini gugup sekali.
Apa yang harus dikatakannya pada pemuda itu?
“Apakah gurumu si Dewa Tuak itu juga
ikut bersamamu saat ini?
Barangkali juga kalian hendak
menjebakku…?”
“Saudara dengarlah…” kata Anggini pula.
“Aku sebenarnya tidak mau dengan
semuanya ini…”
“Semuanya ini apa…?” potong Wiro
Sableng.
Anggini menggigit bibir.
“Gurumu bersamamu?”
“Tidak….”
“Gurumu yang menyuruh untuk menguntit
aku?”
Gadis itu anggukkan kepala.
“Perlu apa gurumu menyuruh demikian?”
Kembali Anggini menggigit bibir.
“Apa dia belum puas dengan sedikit
pertempuran siang tadi…?”
Anggini tetap membungkam. Ya, bagaimana
dia harus mengatakan pada si pemuda bahwa gurunya menyuruhnya mengejar untuk
kemudian berusaha menjadi kawan hidup pemuda itu? Bagaimana dia harus terangkan
semua itu! Ingin dia menangis dan lari dari hadapan pemuda itu. Tapi kepada
Dewa Tuak gadis ini takut sekali!
Pendekar 212 kerutkan kening. Mendadak
mukanya menjadi merah, semerah langit yang disaputi sinar sang surya yang mau
tenggelam di saat itu. Dia ingat akan ucapan Dewa Tuak yang mengatakan bahwa
dirinya cocok untuk jadi jodoh muridnya!
Pendekar muda ini melirik pada gadis
baju ungu. Anggini berparas bujur telur dan molek. Kulitnya kuning dan potongan
tubuhnya sedap dipandang mata. Tapi urusan jodoh mana ini pemuda berpikir
sampai di situ. Tak ada ingatannya sampai sejauh itu.
Bahkan kewajiban berat yang dipikulkan
gurunya ke pundaknya, hutang nyawa dendam seribu karat terhadap Suranyali alias
Mahesa Birawa sampai hari ini masih belum lunas! Masih belum dilaksanakannya!
Wiro Sableng berdiri dari duduknya.
Dipandanginya gadis baju ungu itu seketika lalu mengumandanglah gelak tawanya.
“Saudari… apakah penguntitan ini ada
sangkut pautnya dengan ucapan gurumu si Dewa Tuak?”
Paras Anggini semakin merah.
“Tadi aku sudah bilang… sebenarnya aku
tak senang dengan semua ini. Tapi guru memaksaku…”
“Memaksa bagaimana?!”
“Katanya aku harus mengejarmu sampai
dapat. Kalau tak berhasil tak usah kembali kepertapaan. Katanya lagi aku harus…
harus…” Anggini tak dapat meneruskan ucapannya.
“Kurasa gurumu itu sudah sinting!
Sekurang-kurangnya seperempat sinting!"
Meski Anggini memang tak suka
menjalankan apa yang diperintahkan Dewa Tuak namun mendengar nama gurunya
dicaci demikian rupa gadis ini jadi marah.
“Jangan hina guruku, saudara!”
bentaknya. Wiro Sableng garuk kepala.
“Ah… guru dan murid sama saja
gebleknya!” kata ini pemuda.
“Kalau gurumu suruh kau makan beling
dan minum racun, apakah kau juga akan ikuti ucapannya itu…?!”
“Guruku tidak segila itu!” bentak si
gadis.
“Aku memang tidak bilang gurumu gila,
tapi sinting!” menukasi Wiro Sableng.
“Sekali lagi kau berani menghina
guruku, kutampar mulutmu!” ancam Anggini. Wiro Sableng keluarkan suara bersiul!
“Gurumu memang sinting!” katanya lagi.
Anggini telah menyaksikan kehebatan ilmu silat dan ketinggian kesaktian
Pendekar 212 waktu terjadi pertempuran di jurang Sanggreng beberapa saat yang
lalu. Dari situ dia dapat menyimpulkan bahwa gurunya sekali pun belum tentu
akan dapat mengalahkan pemuda itu dengan mudah. Namun saat itu kegemasannya tak
dapat ditahan lagi. Tangan kanannya bergerak cepat. Sebaliknya Wiro Sableng
malah angsurkan pipi ke muka!
“Plaak!” Tamparan mendarat di pipi Wiro
Sableng. Pendekar muda ini tertawa.
“Betapa lembutnya jari-jarimu mengelus
pipiku..,” katanya dengan pejamkan mata.
“Ayo, tamparlah sekali lagi… dua kali
lagi… tiga kali lagi… sesuka hatimulah…!” Wiro menunggu tapi tamparan
berikutnya tak datang dan pemuda ini bukakan kedua matanya ‘kembali. Dilihatnya
Anggini berdiri dengan hidung kembang kempis menahan geram yang menyesaki
dadanya. Pendekar 212 tertawa.
“Kenapa tidak mau tampar?” tanyanya
sinis. Karena digemasi terus-terusan Anggini jadi penasaran sekali. Segera
dibukanya selendang ungu yang melilit di pinggangnya yang berpinggul besar.
“Eh… saudari kau ini apa mau buka
pakaian di depanku?” tanya Wiro Sableng sambil kedip-kedipkan mata dengan
ceriwis.
“Pemuda rendah terima selendangku ini!”
bentak Anggini. Tangan kanannya bergerak. Ujung selendang berputar pelahan dan
lamban ke arah kepala Wiro Sableng. Selendang terbuat dari kain yang halus.
Bila benda itu bergerak lamban berarti benda itu dialiri oleh aliran tenaga
halus. Dan Wiro tahu bahwa kadangkala tenaga halus lebih berbahaya daripada
tenaga kasar yang di luarnya kelihatan hebat. Pemuda ini tak mau menyambuti
liuk liku selendang itu. Dia menggeser kedua kaki dan menjauhkan kepalanya.
Masih tertawa dia mengejek:
“Saudari, tarianmu bagus sekali! Apakah
ini juga dari gurumu kau pelajari?!” Dugaan Pendekar 212 memang tepat. Kalau
sekiranya dia mencoba memapasi selendang yang meliuk-liuk itu maka dengan satu
sentakan cepat Anggini akan menarik selendang dan melesatkan ujungnya ke mata
si pemuda. Ini pun sebenarnya belum ketentuan Wiro Sableng akan kena dihajar
begitu saja. Tapi demikianlah kenyataannya bahwa kadangkala ilmu halus dan
lembut harus dihadapi dengan kehalusan dan kelembutan pula. Melihat si pemuda
geser kaki menjauh tapi masih dengan sikap mengejek maka kini Anggini rubah
permainan selendangnya. Laksana seekor naga selendang ungu itu meliuk dan
mematuk kian ke mari. Dan kini barulah Wiro menghadapinya dengan kekasaran
pula.
“Saudari, permainan selendangmu patut
dikagumi!” memuji Pendekar 212.
“Tapi tak cukup pasal kalau kau sampai
menyerangku begini rupa. Aku…” Ucapan Wiro Sableng terpotong oleh bentakan
Anggini.
“Tutup mulut pemuda ceriwis! Lihat
selendang!” Ujung selendang ungu dengan sangat tiba-tiba mematuk ke arah mata
kiri Wiro Sableng. Ganda tertawa pemuda ini tundukkan kepala untuk mengelak.
Sejak tadi meski dia menghadapi serangan-serangan lawan dengan cara kasar tapi
sesungguhnya Pendekar 212 terus-terusan mengambil sikap mengelak. Tapi pada
saat Wiro Sableng mengelak, pada detik itu pula ujung selendang dengan sangat
cepat turun dan melibat leher! Setengah libatan Pendekar 212 cepat-cepat
pergunakan tangan kiri untuk rnengibaskan selendang ujung tapi ini tak bisa
dilakukannya karena serentak dengan itu Anggini kirim satu tusukan dua ujung jari
tangan kiri ke dada kiri Wiro Sableng. Hebat sekali serangan ini sehingga kalau
dilihat dari atas maka serentakan dengan serangan selendangnya tadi, maka
sepasang serangan Anggini tak ubahnya seperti sebuah gunting besar yang hendak
menggerus tubuh dan leher si pemuda!
“Ah… ah… bagus, bagus sekali saudari!
Tak percuma kau jadi murid si Dewa Tuak!” memuji Wiro Sableng. Tangan kirinya
terpaksa dipalangkan untuk menunggu tusukan jari tangan lawan. Anggini yang
tahu bahwa tenaga dalam pemuda itu jauh lebih tinggi darinya batalkan serangan
sebaliknya tangan kanannya siap menyentakkan selendang ungu yang ujungnya telah
melibat setengah leher Wiro Sableng. Pendekar 212 cepat angsurkan lehernya ke
muka untuk mengendurkan selendang sehingga kalaupun detik itu disentak,
sentakan itu tak akan mencelakainya. Kemudian dengan tangan kanannya, cepat
sekali disampoknya bagian tengah selendang! Anggini sama sekali tak dapat
melihat cepatnya tangan kanan lawan yang menyampoki senjatanya. Dia hanya tahu
tiba-tiba saja bagaimana selendangnya menjadi menegang dan tertarik ke muka!
Sesaat mengetahui bahwa selendangnya kena terpegang lawan terkejutlah gadis
ini, tapi juga penasaran sekali. Dibetotnya selendang itu namun mana Wiro
Sableng mau lepaskan, malahan sebaliknya pemuda ini tarik selendang tersebut
sehingga tubuh Anggini sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah ikut
tertarik ke hadapannya. Anggini memaki dalam hati.
“Sambut paku perakku, rnanusia rendah!”
bentak gadis itu. Sekali dia gerakkan tangan kirinya maka selusin benda yang
besarnya setengah jengkal, berbentuk paku dan berwarna putih perak mendesing ke
arah Wiro Sableng. Karena jarak mereka terpisah dekat sekali maka dua belas
senjata rahasia ini sangat berbahaya bagi keselamatan si pemuda. Anggini
sendiri tiba-tiba merasa menyesal melepaskan senjata rahasia itu karena kawatir
si pemuda tak dapat berkelit atau memapakinya, karena bukankah gurunya telah
berpesan bahwa pemuda itu adalah cocok bakal jadi jodohnya…?! Sebaliknya yang
diserang tenang-tenang saja. Bahkan sambil bersiul dilambaikannya tangan
kirinya. Delapan paku perak luruh ke tanah sedang yang empat lagi dielakkan
dengan berkelit sedikit ke samping. Kalau tadi dia merasa menyesal menyerang
pemuda itu dengan senjata rahasianya maka kini setelah si pemuda berhasil
selamatkan diri, kembali Anggini menjadi penasaran. Dia memekik keras, lompat
ke atas dan kirimkan dua tendangan jarak dekat susul rnenyusul.
“Ah, tak sangka gadis molek begini
galak sekali!” kata Wiro Sableng pula. Dia melompat ke samping. Membuat gerakan
satu putaran, dan sebelum Anggini turun ke tanah, kedua kaki gadis itu sudah
terlibat selendangnya sendiri! Membuatnya berdiri dengan terhuyung-huyung tak
bisa melangkah!
Wiro tertawa gelak-gelak.
“Ayo, kenapa berhenti galaknya?”
tanyanya mengejek.
Karena sampai saat ini Anggini masih
memegang ujung yang lain dari selendangnya maka dengan cepat dia dapat
membukanya kembali. Paras gadis ini merah sekali. Matanya menyorot memandang
kepada Wiro Sableng, sebaliknya Pendekar 212 dengan ceriwis mengedip-ngedipkan
matanya!
“Senjata apa lagi yang bakal kau
keluarkan?!” tanya Wiro.
“Lepaskan selendangku!” teriak Anggini.
Wiro hanya tertawa.
“Lepaskan!” teriak gadis itu lagi.
Dicobanya menyentakkan selendang itu tapi Wiro memegangnya erat sekali. Kalau ditariknya
keras pasti selendang kain itu akan robek.
Kesal dan gemas akhirnya dengan
menghentakkan kaki Anggini lepaskan selendangnya, putar tubuh dan lari ke balik
sebuah batu besar. Di sini menangislah gadis itu.
“Heh… kenapa jadi nangis?” tanya Wiro ketika
dia melangkah dan datang di balik batu besar. Pemuda ini jadi garuk-garuk
kepala. Lalu katanya: “Saudari, lihat, hari sudah senja.
Sebaliknya kau kembalilah ke tempat
gurumu! Kalau tidak pasti kau akan sesat di malam yang gelap nanti!”
“Aku tak mau kembali! Tak bisa kembali
ke pertapaan!” jawab Anggini di antara tangis sesungguhnya.
“Kenapa tak mau? Kenapa tak bisa?”
“Guruku akan marah!”
“Marah kenapa?” tanya Wiro tagi.
“Sudah… sudah! Kau tidak tahu!” Dan
tangis Anggini semakin mengeras.
“Lalu kalau kau tak mau kembali ke
tempat gurumu, apa kau bakal nginap di sini?!”
“Tak usah perdulikan aku! Biar aku mau
malang mau melintang tak usah ambil pusing! Pergi dari sini kau…!” Anggini
menyeka mata dan pipinya.
“Tak perlu bicara keras macam begitu,
Saudari. Antara kita tak ada permusuhan. Ini semua adalah gara-gara gurumu yang
berotak sinting itu!”
“Jangan hinakan guruku!” hardik
Anggini.
“Kau seorang murid yang baik. Patuh
terhadap guru dan juga hormati Tapi sayang kau juga turut-turutan bertindak
tidak pakai pikiran sehat. Sekarang sudah, kembalilah ke pertapaan gurumu
sebelum hari menjadi malam…”
“Tidak!”
Wiro Sableng melangkah ke belakang
Anggini. Kasihan-kasihan lucu dia merasa saat itu. Akhirnya pemuda ini berkata
juga: “Ini selendangmu. Kalau kau banyak berlatih pasti kau menjadi seorang
gadis yang hebat….”
Wiro lantas menyampirkan selendang ungu
itu di pundak si gadis. Ketika dia memandang ke langit dilihatnya
bintang-bintang sudah bermunculan dan bulan sabit kelihatan samarsamar di balik
awan.
“Sudah malam….” desis pemuda ini.
Kemudian dia memandang pada gadis yang berdiri di depannya dengan membelakang
itu.
“Pergilah cepat, saudari. Nanti kau
kemalaman di jalan….”
Anggini gelengkan kepala.
“Guruku akan marah… akan marah kalau
aku kembali…. “
“Kalau begitu ya tak usah kembali
saja…” ujar Wiro Sableng.
“Aku memang tak bakal kembali…” kata
Anggini pula.
“Hem… dan kau mau pergi ke mana?”
“Apa urusanmu tanya-tanya?”
“Ah…” Wiro tertawa. Dia melangkah ke
hadapan si gadis. Kemudian dipegangnya pundak Anggini. Si gadis dengan serta
merta hendak menyibakkan tangan itu. Tapi tubuhnya sudah keburu dijalari
perasaan aneh yang menggelora-gelora sampai ke lubuk hatinya. Tak kuasa dia
menyibakkan pegangan tangan pada bahu itu.
“Saudari, dengarlah…” kata Wiro pula.
Tangannya masih memegang bahu si gadis malahan meremas-remasnya dengan lembut.
“Dalam hubungan guru dan murid walau
bagaimana pun kau musti kembali ke pertapaan. Kau tak boleh tempuh jalan
sehdiri. Kalau kau tak kembali malah gurumu akan marah sekali. Kau pasti akan
dihukumnya!”
“Tapi bagaimana aku mungkin bisa
kembali? Tidak bisa saudara.., kau tidak tahu….”
“Apa yang aku tidak tahu?” tanya Wiro.
Tak mungkin bagi Anggini untuk mengatakannya dengan terus terang. Namun
terluncur juga ucapan dari mulutnya:
“Kalau aku musti kembali kata guruku…
aku harus bersamamu…” Wiro tertawa. Suara tertawanya menggema di daerah sepi
dingin di permulaan malam itu.
“Saudari… namamu siapa?” bertanya Wiro
Sableng. Dan karena tadi gadis itu diam saja diremas bahunya maka tangan Wiro
kini meluncur ke pipi, membelai pipi yang masih belum kering dengan air mata
itu. Rasa yang menyentak-nyentak mendebarkan dada si gadis kini tambah keras
dari tadi. Lagi-lagi tak kuasa dia menyibakkan tangan yang membelaibelai itu.
Ditundukkannya kepalanya.
“Siapa namamu, saudari…?” tanya Wiro
lagi.
“Anggini,” jawab si gadis perlahan.
“Nama bagus… nama bagus,” puji Pendekar
212 dan tangannya semakin berani membelai muka Anggini.
“Dengar Anggini, orang tua macam gurumu
itu memang suka bicara ngelantur. Sekarang kau kembali saja ke pertapaannya dan
katakan bahwa kau tak berhasil mengejar atau menemui aku. Habis perkara. Atau
kalau tidak katakan saja kau telah menemuiku dalam keadaan tak bernyawa mati di
jurang Sranggreng!”
“Aku tak bisa berdusta… kalau aku
berdusta dia selalu mengetahuinya!” kata Anggini pula.
“Wah berabe kalau begini!” ujar
Pendekar 212 dengan garuk-garuk kepala. Dia berpikir-pikir apa yang akan
diperbuatnya. Kalau ditinggalkannya gadis itu sendirian di situ, tak tega pula
hatinya. Pemuda ini hela nafas panjang. Akhirnya diajaknya gadis itu duduk di
sebuah batu datar. Daerah belantara di mana mereka berada saat itu serba asing
baginya. Mungkin sampai ratusan tombak bahkan ribuan tombak perjalanan belum
menemui rumah penduduk. Apakah dia dan gadis itu terpaksa tinggal terus di
tempat itu malam ini? Angin bertiup dari celah-celah batu-batu yang meruncing
memenuhi tempat itu.
“Dingin…?” bisik Pendekar 212. Anggini
mengangguk. Dan tangan kiri Pendekar 212 bergerak di balik punggung si gadis
untuk kemudian merangkul bahu Anggini. Suasana berubah hangat. Dan untuk
beberapa lamanya mereka tiada bicara. Wiro memecah kesunyian.
“Kalau kau tak mau kembali ke pertapaan
dan aku tak bisa pula meninggalkan kau sendirian maka kita terpaksa bermalam di
sini. Tunggulah sebentar aku akan cari tempat yang baik….”
“Nanti sajalah….
“ kata Anggini. Diletakkannya tangan
kanannya di paha Pendekar 212 dan dia memandang ke angkasa.
“Langit cerah,” kata Wiro.
“Kalau nanti turun hujan, memang. kita yang
sialan…. !” Anggini tertawa. Manis sekali tertawa itu. Hati Pendekar 212 sejuk
sekali jadinya. Dan diperketatnya rangkulannya. Kemudian dengan beraninya
pendekar ini menggelitiki tengkuk si gadis dengan hidungnya.
“Jangan begitu ah….” kata Anggini menggeliat
kegelian. Tapi tubuh dan tengkuknya tidak dijauhkannya. Malam itu Wiro Sableng
sengaja tidak membuat, perapian. Dia khawatir kalau-kalau nyala api hanya akan
mengundang datangnya hal-hal yang tidak diingini. Apalagi kalau yang datang itu
adalah Dewa Tuak adanya. Meskipun dingin, meskipun mereka hanya terbaring di
balik batu besar hitam itu dan beratapkan langit luas namun tubuh mereka yang
berada berdekatan itu saling memberi kehangatan. Pendekar 212 ingat pada suatu
malam ketika dia berada berdua-duaan di sebuah dangau di tengah sawah dengan
Nilamsuri. Malam ini tak ada bedanya dengan malam yang dulu itu. Sama-sama ada
seorang gadis di sampingnya. Tapi terhadap Anggini, Pendekar 212 masih punya
pikiran panjang dan sehat: Meski saat itu Anggini sudah berbaring pasrahkan
seluruh tubuhnya untuknya dan memang sudah hampir setiap bagian dari tubuh
Anggini disentuh oteh Pendekar 212, namun untuk berbuat lebih jauh dari itu
pemuda ini tidak mau. Tubuh perawan itu laksana bara hangatnya, tangannya
menggapai punggung Wiro dan pahanya melejang-lejang halus. Tapi Pendekar 212
hanya merangkuli tubuh itu, hanya mengecupi bibirnya yang basah, hanya menciumi
matanya yang sayu kuyu tapi menyembunyikan hasrat yang meluap itu.
***
Sinar matahari yang menyapu mukanya membuat
gadis ini terbangun dari kenyenyakan tidurnya. Dibukanya kedua matanya dengan
pelahan, digosoknya beberapa kali kemudian dipalingkannya kepalanya ke samping.
Dia terkejut mendapatkan pemuda itu tak ada di sampingnya, la segera bangun
duduk, lalu berdiri dan memandang ke belakang. Tapi pemuda itu tidak kelihatan.
“Wiro,” panggilnya. Tak ada yang
menyahut.
“Wiro…. !” panggilnya sekali lagi lebih
keras. Hanya gaung suaranya yang menjawab. Tiba-tiba ketika matanya memandang
ke batu besar di samping pembaringan di mana dia dan Wiro tidur semalam
terbentur olehnya tulisan. Tulisan. Anggini Maafkan kalau aku pergi tanpa
pamit. Aku terpaksa meninggalkan kau. Kalau ada umur kita pasti bertemu lagi.
Kembalilah ke tempat gurumu. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi.
Anggini merasakan dadanya menyesak.
Digigit-gigitnya bibirnya. Nyatanya pemuda itu sudah pergi. Tubuhnya masih
terasa hangat oleh pelukan Wiro malam tadi. Seperti masih terasa jari-jari
tangan pemuda itu mengelusi kulit tubuhnya. Juga kecupan-kecupan yang disertai
gigitan-gigitan kecil. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi Anggini
membaca lagi tulisan itu. Termangu dia. Diputarnya tubuhnya, parasnya ke
kemerahan, ditambah lagi sentuhan sinar matahari pagi. Tak mungkin baginya
untuk mengejar pemuda itu kembali. Dia tak tahu apakah Wiro pergi larut malam
tadi atau dinihari, atau pagi tadi sebelum dia bangun. Gadis ini tarik nafas
panjang dan dalam. Ketika dia membetulkan ikatan selendang ungunya yang di
pinggang, maka pada ujung selendang itu dilihatnya sederetan angka: 212. Sekali
lagi gadis ini tarik nafas dalam dan panjang. Lalu dengan langkah gontai
ditinggalkannya tempat itu.
***
TUJUH
Kerajaan Pajajaran…
Pada masa itu Kerajaan Pajajaran masih
belum luas pengaruhnya di Jawa Barat. Bahkan dengan kesultanan Banten di pantai
Utara masih terdapat hubungan baik, belum ada silang sengketa. Di bawah
pemerintahan Prabu Kamandaka maka Kerajaan Pajajaran aman tenteram. Penduduk
hidup berkecukupan. Tapi di dunia ini selalu saja ada manusia yang berbusuk
hati, yang iri dan dengki. Yang tidak senang dengan kebahagiaan orang lain,
yang tidak suka dengan keberuntungan orang lain, yang tidak suka akan kekuasaan
orang lain dan ingin meruntuhkan kekuasaan orang lain itu lalu ganti
menguasainya! Saat itu satu-satunya manusia di seiuruh Pajajaran yang paling
membenci Prabu Kamandaka ialah Werku Alit. Dalam tambo keturunan raja-raja
Pajajaran maka Prabu Purnawijaya adalah satu-satunya raja pajajaran yang tidak
mempunyai keturunan kandung dari permaisurinya. Mungkin ini sudah menjadi
takdir Dewa-dewa di Kahyangan, dan ini jugalah yang menjadi pangkal sebab
buntut daripada terjadinya banjir darah di Pajajaran. Ketika Prabu Purnawijaya
mangkat maka tokoh-tokoh istana, ahli-ahli agama dan orangorang tua kerajaan menyepakati
untuk menobatkan Kamandaka, adik kandung Prabu Purnawijaya, menjadi raja
Pajajaran. Kamandaka memang seorang yang bijaksana, pandai serta berilmu
tinggi, disegani dan dihormati. Memang dia telah menunjukkan bakat untuk
menjadi seorang pemimpin agung. Lagi pula memang tak ada manusia lain di
Pajajaran saat itu yang punya hak dan pantas untuk dinobatkan sebagai pengganti
mendiang Prabu Purnawijaya. Dari seorang selirnya, Prabu Purnawijaya mempunyai
seorang anak yang bernama Werku Alit. Werku Alit ini tua beberapa bulan dari
Kamandaka. Ketika masih orok keduanya sama-sama disusukan pada seorang
perempuan penyusu istana sehingga boleh dikatakan antara Werku Alit dan
Kamandaka terjalin sudah satu pautan tali persaudaraan! Namun ketika Kamandaka
dinobatkan sebagai Prabu Pajajaran timbullah dengki di hati Werku Alit.
Bukankah Kamandaka hanya adik Prabu Purnawijaya; bukan anak kandungnya? Dan
bukankah dia sebagai anak dari Prabu Purnawijaya, lebih mempunyai hak untuk
memegang tahta kerajaan? Werku Alit dalam dengkinya, apalagi sesudah kena
hasutan oleh golongangdongan tertentu yang memang tidak suka pada Kamandaka,
lupa bahwa dirinya hanyalah seorang anak yang dilahirkan dari selir Prabu
Pumawijaya, yang sama sekali tidak punya hak untuk menjadi raja Pajajaran.
Demikianlah, secara diam-diam Werku Alit meMnggalkan istana Pajajaran,
mengembara menuntut ilmu dan menghubungi beberapa orang tertentu. Ketika dia
kembali ke istana maka saat itu dia sudah menyusun suatu rencana besar. Yaitu
untuk merebut takhta kerajaan dengan jalan kekerasan! Dengan pertempuran,
dengan peperangan! Dalam pengembaraan itulah Werku Alit bertemu dengan
Suranyali atau Mahesa Birawa. Tahu bahwa Mahesa Birawa seorang manusia sakti
luar biasa maka Werku Alit mengambilnya sebagai tangan kanan dengan perjanjian
bila kerajaan berhasil digulingkan maka Mahesa Birawa akan dijadikan Perdana
Menteri! Dalam menjadi tangan kanan membantu rencana busuk Werku Alit. Mahesa
Birawa mempunyai rencana sendiri, rencana dalam selimut. Jika kerajaan jatuh dan
Werku Alit menang, maka Mahesa dan kawan-kawannya akan menyingkirkan Werku Alit
untuk kemudian dia sendiri yang akan menampilkan diri menduduki tahta kerajaan
Pajajaran
*
* *
Di hutan belantara di sekitar kaki
Gunung Halimun kelihatan bertebaran ratusan buah kemah. Inilah pusat
balatentara pemberontak yang hendak merebut tahta kerajaan Pajajaran di bawah
pimpinan Werku Alit. Sementara Werku Alit kembali ke Pajajaran maka pimpinan
dipegang langsung oleh tangan kanannya yaitu Mahesa Birawa. Di sini berhimpun
sekitar seribu prajurit. Kebanyakan dari pasukan-pasukan ini didapat Werku Alit
dan Mahesa Birawa dari Adipati-adipati kecil yang bernaung di bawah Pajajaran
tapi yang kena dipengaruhi dan dihasut oleh kedua orang itu. Bahkan saat itu
Mahesa Birawa masih menunggu beberapa orang Adipati lagi yang telah
dihubunginya. Jika Adipati-adipati ini datang dan menyerahkan beberapa ratus
prajurit tambahan maka dapatlah diatur kapan dilaksanakan penyerangan terhadap
Pajajaran. Sementara waktu menunggu maka semua prajurit senantiasa dilatih
perang-perangan. Para kepala-kepala pasukan diberi tambahan ilmu silat dan
kesaktian yang lumayan oleh Mahesa Birawa sedang para Adipati yang saat itu
sudah bergabung Mahesa Birawa menurunkan beberapa ilmu kesaktiannya. Mahesa
merasa sangat menyesal sekali ketika mendapat kabar bahwa tiga orang anak
buahnya yang; diam di Jatiwalu telah menemui ajal akibat bentrokan dengan
anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng sedang Kalingundii hilang lenyap tak
tentu rimbanya. Kalau saja keempat manusia itu ada di sana tentu tak usah
payah-payah dia menggembleng kepala-kepala pasukan dan Adipatiadipati itu. Tapi
tak apa payah sedikit. Nanti dia akan memetik hasilnya sendiri! Di dalam kemah
besar yang terletak di tengah-tengah ratusan kemah di kaki Gunung Halimun itu,
mengelilingi sebuah meja bulat telur maka duduklah empat orang laki-laki. Yang
pertama tak lain dari Mahesa Birawa, kumis melintang dan badan semakin gemuk.
Yang kedua Adipati Karangtretes yaitu Jakaluwing, bercambang bawuk lebat, potongan
tubuhnya tegap kekar. Yang ketiga, yang duduk di samping kiri Mahesa Birawa
ialah seorang berbadan tinggi kurus bermuka licin bernama Surablabak. Dia
adalah Adipati Manganreja. Yang terakhir seorang laki-laki berbadan gemuk
pendek, berkepala sulah. Sinar lampu dalam kemah membuat kepalanya itu berkilat
seperti bersinar-sinar. Manusia ini bernama Lanabelong, Adipati Kendil. Di atas
meja, di hadapan keempatnya terletak masing-masing segelas tuak murni dan
harum. Ketiga Adipati itu telah kena dihasut oleh Mahesa Birawa dan Werku Alit
untuk memberontak terhadap Pajajaran dan kepada mereka dijanjikan kedudukan
sebagai Menteri kerajaan bila pemberontakan mereka berhasil kelak.
“Silahkan diteguk tuaknya,
saudara-saudara Adipati,” kata Mahesa Birawa pula sesudah keheningan
mengungkungi kemah itu beberapa lamanya. Masing-masing kemudian meneguk tuak
yang enak itu. Di malam yang dingin minum tuak memang enak menghangatkan tubuh.
Jakaluwing raba cambang bawuknya. Lalu bertanya:’
“Kapan kira-kira saatnya kita akan menggempur
Pajajaran, adimas Mahesa Birawa?”
“Soal penggempuran itu kangmas
Jakaluwing, sebenarnya saat ini pun kita sudah sanggup melakukannya. Jumlah
prajurit cukup, tenaga pimpinan rata-rata sudah berpengalaman dan dapat
diandalkan. Cuma kita tak enak kalau meninggalkan saudara-saudara Warok Gluduk
dan Tapak Ireng. Kedua Adipati itu telah berjanji akan bergabung dengan kita
bersama beberapa ratus prajurit-prajurit mereka. Ada baiknya jika kita tunggu
kedatangan mereka. Sesudah itu baru kita hubungi Raden Werku Alit untuk
menentukan kapan saat yang baik untuk penyerangan….” Adipati Jakaluwing
manggut-manggut.
“Begitu memang bagus,” kata Lanabelong.
Adipati berkepala sulah. Lalu diteguknya tuaknya.
“Di samping itu, mengingat bahwa di
Pajajaran tentunya terdapat tokoh-tokoh pelindung yang berilmu tinggi maka kita
musti tidak pula menyia-nyiakan bantuan yang hendak diberikan oleh Begawan
Sitaraga yang diam di puncak Gunung Halimun!”
“Ah, hebat sekali kalau Begawan yang
tersohor ini ikut di pihak kita!” kata Surablabak sambil pukul meja.
“Sebenarnya,” kata Mahesa Birawarpula.
“Begawan Sitaraga ini mempunyai dendam
kesumat yang masih belum terbalaskan terhadap toa Pajajaran yaitu kakek dari
Kamandaka….”
“Kalau Begawan ini setingkat umurnya
dengan kakek Kamandaka, tentu kini kira-kira sudah seratusan usianya…” kata
Lanabelong.
“Kira-kira begitutah,” sahut Mahesa
Birawa. Kemudian laki-laki ini berseru memanggil pelayan untuk menyuruh tambah
tuak di keempat gelas itu. Sesudah pelayan pergi Mahesa Birawa buka mulut
kembali.
“Besok aku akan kirimkan dua orang
kurir ke Pajajaran untuk menemui Raden Werku Alit. Kuminta kepadanya untuk
menyebar mata-mata lebih banyak, terutama di dalam istana guna mengetahui
perkembangan terakhir, terutama mencari kabar selentingan apakah gerakan kita
ini bocor atau tidak….“
“Dan jangan lupa pula untuk meneliti
pertahanan Pajajaran di mana yang lemah,” kata Lanabelong. Mahesa Birawa
mengangguk.
“Saudara-saudara Adipati, agaknya
pertemuan kita malam ini cukup. Sampai besok pagi.” Keempat orang itu saling
menjura kemudian satu demi satu meninggalkan kemah besar khusus untuk tempat
perundingan, menuju ke kemah masing-masing.
***
DELAPAN
Laki-laki itu berjalan di liku-liku
lorong bagian belakang istana dengan menundukkan kepala. Sekali-sekali
dilewatinya para pengawal. Pengawal-pengawal istana tidak menegur atau menahan
laki-laki ini karena semuanya tahu bahwa laki-laki itu adalah Udayana, pembantu
Prabu Kamandaka. Segala urusan rumah tangga sang Prabu dialah yang mengurusnya.
Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Maut Bernyanyi Di Pajajaran Di
pintu besar gedung istana sebelah belakang laki-laki ini berhenti sebentar lalu
menyeberangi halaman kecil dan masuk ke pintu sebuah bangunan kecil yang bagus
bentuknya. Justru di sini dua orang pengawal memalangkan tombak
menghentikannya.
“Aku mau ketemu Raden Werku Alit,” kata
Udayana.
“Ada keperluan apa?” tanya salah
seorang pengawal.
“Beliau sudah tahu.”
“Tunggu di sini,” Pengawal itu masuk
yang seorang tetap di tempatnya. Tak lama kemudian pengawal yang masuk muncul
kembali.
“Kau dipersilahkan menghadap.” katanya
memberi tahu. Udayana mengangguk dan memasuki pintu gedung. Di dalam sebuah
kamar yang luas, Werku Alit menyambut kedatangannya. Ditepuktepuknya bahu
Udayana.
“Bagaimana? Ada perkembangan baru…?”
Werku Alit berbadan tinggi langsing dan me-melihara kumis panjang menjulai
seperti tali, seperti raja-raja Tiongkok!
“Perkembangan baru belum ada Raden….
Cuma ada satu berita. Mungkin sedikit banyak nya ada perlunya juga saya sampaikan
kepada Raden…”
“Bagus, katakanlah Udayana….”
“Rara Murni adik Kamandaka siang besok
akan berangkat ke Kalijaga untuk menyambangi adik neneknya. Dia akan pergi
dengan kereta dan dikawal secukupnya….“
“Hem….” Werku Alit menggumam dan
mengusut-usut kumis talinya.
“Aku belum melihat adanya hubungan
keteranganmu ini dengan rencanaku. Tapi tunggu sebentar, coba kupikir….” Tangan
yang tadi mengusut kumis ini memijit-mijit kening. Dan tangan itu tibatiba
menepuk bahu Udayana sampai laki-laki ini terkejut.
“Aku telah melihat kegunaan
keteranganmu ini Udayana. Suruh seorang mata-mata kita menghubungi Kalasrenggi.
Katakan bahwa aku akan bicara dengan dia malam ini di pondok tua di luar tembok
kerajaan.” Udaya menjura.
“Perintah Raden akan saya jalankan,” katanya
lalu cepat-cepat meninggalkan kamar itu.
*
* *
Seluruh balatentara kerajaan Pajajaran
dibagi atas lima kelompok pasukan dan tiap-tiap pasukan dibagi dua
masing-masing bagian dikepalai oleh seorang yang disebut kepala prajurit,
Kalasrenggi adalah salah seorang dari kepala pasukan balatentara Pajajaran.
Sebagai kepala lWiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Maut Bernyanyi
Di Pajajaran pasukan tentu saja dia memiliki ilmu dan pengalaman yang dapat
diandalkan. Dan memang banyak orang yang mengatakan bahwa diantara lima kepala
pasukan Pajajaran maka Kalasrenggi adalah yang paling tinggi ilmunya. Tapi
sayang kepala pasukan ini, telah pula terseret ke dalam rencana busuk Werku
Alit dan Mahesa Birawa. Telah kena bujuk dan dihasut untuk memberontak dan menggulingkan
pemerintahan Prabu Kamandaka! Siang tadi seorang suruhan Raden Werku Alit telah
menemui Kalasrenggi dan menyampaikan pesan bahwa Werku Alit akan bicara dengan
dia malam ini di pondok tua di luar tembok kerajaan. Maka malamnya dengan
seorang diri berangkatlah Kalasrenggi ke ternpat yang ditentukan itu. Dia
sampai ke pondok tua itu. Sebenarnya tak pantas disebut pondok karena sama
sekali bangunan tua itu tiada mempunyai dinding dan atapnya pun sudah sebagian
melompong dimakan umur. Pondok atau lebih tepat teratak itu sunyi saja. Tak
seorang pun kelihatan di sana. Kalasrenggi berpikir tentu Raden Werku Alit
belum sampai ke sana, maka dia pun menunggulah. Dinyalakannya sebatang rokok.
Dia memandang ke angkasa. Langit kelihatan mendung. Bintang-bintang mulai
tertutup awan. Bulan menghilang dan angin bertambah besar serta dingin. Dia tak
sabaran menunggu. Rokok yang dihisapnya sudah hampir habis. Berbarengan ketika
rokok itu dibuangnya ke tanah maka dipengkolan muncul tiga sosok bayangan. Dua
dari sosok bayangan itu berhenti sedang yang satu terus melangkah ke arah
teratak itu.
“Sudah lama kau…?” bertanya orang yang
datang ini yang tak lain dari Werku Alit adanya.
“Sudah juga,” sahut Kalasrenggi.
“Raden mau bicara apa dengan saya?”
Sementara itu hujan rintik-rintik mulai turun. Angin tambah kencang.
“Ada tugas buatmu besok Kalasrenggi,”
kata Werku Alit.
“Tugas apakah, Raden?” Hujan
rintik-rintik berubah menjadi lebat. Guruh menggelegar. Kilat menyambar.
Sesosok bayangan putih dibawah penerangan kilat yang hanya sedetik saja
terangnya, kelihatan berlari sangat cepat menuju teratak tua itu. Werku Alit
dan Kalasrenggi terkejut sekali dan tangan-tangan mereka segera meraba hulu
senjata di pinggang masing-masing!
“Hujan sialan!” Terdengar orang yang
baru datang ini merutuk. Kemudian dia berpaling pada Werku Alit dan Kalasrenggi
dan berkata:
“Saudara-saudara, aku numpang mondok
samasama kalian.”
Werku Alit dan Kalasrenggi memandang
tajam pada laki-laki yang baru datang ini. Dia masih muda, berbadan kekar dan
berambut gondrong. Kedatangannya mau tidak mau mencurigakan kedua orang itu
meski ada alasan bahwa dia datang ke sana untuk berteduh karena hari hujan
lebat.
“Kau siapa?!” tanya Kalasrenggi
membentak garang. Pandangannya buas sekali. Tangan kirinya menyelinap ke
pinggang. Laki-laki muda yang dibentak memandang dengan keheran-heranan.
“Memangnya apa aku tidak boleh mondok
di sini, Saudara?!”
“Aku tanya kau siapa dan jangan banyak
tanya!” hardik Kalasrenggi. Pemuda itu bersiul dan menyeringai.
“Tak usahlah bicara pakai membentak
segala. Urusan kecil kalau dipersoalkan dengan kasar bisa menimbulkan gara-gara
yang tidak diingini!” Kalasrenggi dengan tidak sabar melangkah ke hadapan
pemuda itu dan hendak menempelaknya. Tapi langkahnya dihentfkan ketika dalam
kegelapan dan masih sempat rnelihat isyarat yang diberikan oleh Werku Alit.
Werku Alit tak ingin terjadi keributan yang buntutbuntutnya bisa membocorkan
rencana besamya. Karena itu dengan terancam dia melangkah mendekati pemuda itu.
“Saudara,” kata Werku Alit sambil
memegang bahu si pemuda.
“Harap maafkan. Kawanku memang lagi
kasar berangasan habis kalah judi! Sudahlah, tak ada yang harus kita ributkan
di malam buta begini, mana hujan, mana dingin. Bukankah begitu…?”
“Ah… tepat sekali saudara….” jawab si
pemuda. Werku Alit tersenyum. Tiba-tiba laksana kilat cepatnya, dua jari tangan
kirinya menusuk ke muka menghantam urat besar di bagian kiri tubuh si pemuda.
Tak ampun lagi pemuda itu rebah ke tanah. Sebagian kakinya terjulur lewat atap
dan segera diguyur oleh air hujan! Werku Alit tertawa mengekeh.
“Pemuda konyol mau banyak tingkah!”
“Tapi siapa tahu dia bukan pemuda
biasa. Raden. Mungkin mata-mata….”
“Ah, tampangnya saja geblek, dogol,
bagaimana bisa jadi mata-mata? Buktinya sekali totok saja sudah rubuh!”
Kalasrenggi memandang sosok tubuh yang menggeletak menelungkup itu. Dia
bermaksud untuk menggeledah pemuda itu namun didengarnya Werku Alit berkata:
“Sudah, tak perlu perdulikan kunyuk
itu! Mad kita muiai pembicaraan. Menurut keterangan pembantu rahasiaku, besok
siang Rara Murni akan berangkat dengan kereta ke Kalijaga. Tugasmu culik gadis
itu, sekap di kuil tua di lembah Limanaluk. Bila sudah beri laporan sama aku
biar aku tentukan langkah selanjutnya!”
“Itu tugas mudah, Raden,” kata Kalasrenggi.
“Tapi saya ingin tahu siapa-siapa saja
yang ikut dengan Rara Murni…?”
“Aku tak mendapat keterangan tentang
hal itu. Yang penting kau harus tangkap Rara Murni hidup-hidup. Yang lainnya
kalau melawan bereskan saja, habis perkara!”
“Baiklah Raden. Sebelum malam tiba
besok, saya akan mengirimkan seseorang untuk memberitahukan bahwa tugas sudah
selesai….” Werku Alit menepuk bahu kepala pasukan itu.
“Nah, aku pergi sekarang!” Kalasrenggi
memperhatikan sampai ketiga orang itu lenyap di kejauhan dalam kegelapan malam.
Kemudian laki-laki ini memutar tubuh dan kembali matanya memandangi manusia
yang menelungkup di bawah teratak itu. Dia membungkuk hendak menggeledah,
meneruskan niatnya yang tadi batal, tapi kemudian terpikir olehnya, perlu apa
susah-susah dengan diri orang lain. Dengan seenaknya Kalasrenggi menendang
tubuh laki-laki yang menggeletak itu sehingga tubuh itu terlontar sampai
beberapa tombak! Kalasrenggi kemudian berlalu pula dari teratak tua itu.
***
SEMBILAN
Hanya beberapa ketika saja Kalasrenggi
meninggalkan teratak tua itu maka orang yang tadi ditotok dan ditendang anehnya
tiba-tiba berdiri dengan cepat. Dia melangkah kembali ke bawah teratak.
Disekanya mukanya yang basah oleh air hujan dan berselomotan lumpur.
Diperhatikannya pakaiannya, kotor semua. Ditepuk-tepuknya pinggul kirinya yang
tadi bekas kena ditendang Kalasrenggi.
“Sialan betul! Sakit juga tendangan
kunyuk itu!” makinya seorang diri.
“Di lain hari aku akan balas keramah
tamahannya tadi!” Sesungguhnya sewaktu Werku Alit menotoknya tadi, orang ini
sudah dapat menduga gerakan dan maksud Werku Alit. Sebelum totokan datang
cepat-cepat bagian tubuh di samping kiri dialirkan dengan tenaga dalam.
Kemudian ketika totokan Werku Alit mendarat di tubuhnya, taki-laki ini
pura-pura jatuh tak sadarkan diri. Demikian juga ketika Kalasrenggi
menendangnya, dia dalam meneiungkup pura-pura pingsan masih sempat melihat
gerakan kaki orang itu dan bersiap menjaga diri sehingga waktu ditendang
tubuhnya hanya terasa pegal-pegal sedikit! Dan apa yang telah dibicarakan kedua
orang itu dapat didengarnya dengan jelas. Orang ini duduk bergelung lutut dan
berpikir-pikir. Siapakah gerangan kedua orang tadi? Siapa yang dipanggil dengan
sebutan
“raden” dan siapa yang satu lagi?
Mengapa mereka bicara di tempat terpencil dan di malam hari berudara buruk
seperti ini? Dan tugas yang diberikan oleh orang yang dipangglkan
“raden” itu? Siapakah Rara Murni?
Apakah keduanya bukan gerombolan-gerombolan rampok pengacau? Yang hendak
menculik Rara Mumi kemudian melakukan pemerasan terhadap orang tua gadis itu?
Orang itu usut-usut dagunya. Banyak yang tak dimengertinya atas apa yang telah
dialaminya tadi. Tapi esok bila hari sudah siang dia bisa mencari keterangan di
Kotaraja. Sejak pagi sampai saat itu sudah beberapa jam dia mengelilingi
Kotaraja. Berbagai tempat dan pelosok didatanginya. Namun tampang-tampang
manusia yang dua orang yang ditemuinya malam tadi tak berhasil dicarinya.
Akhimya masuklah dia ke dalam sebuah kedai. Memang saat itu tenggorokannya
sudah seperti terbakar oleh rasa haus dan perutnya perih keroncongan. Sambil
makan dia terus juga berpikir-pikir. Rasanya tak mungkin kedua orang yang
semalam itu gerombolan-gerombolan rampok. Seorang rampok tak akan dipanggil
“raden”. Pasti yang dipanggil
“raden” itu seorang bangsawan kaya.
Lalu kenapa bangsawan kaya mau menculik gadis orang? Mungkin pernah melamar
tapi tak diterima? Dia menyudahi makanannya. Ketika dia memandang berkeliling
ternyata kedai itu sudah penuh dengan tamu-tamu yang makan siang. Dengan perut
kenyang dia kemudian melangkah mendekati pemilik kedai. Ditanyakannya berapa
jumlah yang harus dibayarkannya lalu diberikannya sejumiah uang.
“lni kembalinya, Nak,” kata orang
kedai. Dia sudah tua. Rambutnya sudah putih semua.
“Ah, tak usah. Ambil saja….” kata pemuda.
Si orang tua jadi keheranan. Demikian juga beberapa orang yang duduk di dekat
sana. Pemuda yang berambut gondrong, berpakaian lusuh serta bertampang keren
tapi macam anakanak itu berlagak seperti seorang kaya raya yang punya banyak
uang, sok tak mau terima uang kembalian! Tapi perhatian orang hanya sebentar
tertuju kepada si pemuda. Masing-masing kemudian sibuk mengurusi mulut dan
perutnya sendiri. Si pemuda mendekati pemilik kedai dan berkata pelahan:
“Uang yang kulebihkan itu untuk
membayar beberapa keterangan darimu, Bapak,” katanya.
“Keterangan?” Si orang tua kerenyitkan
kening.
“Keterangan apa…?”
“Bapak sudah lama tinggal di Kotaraja
ini?”
“Dari masih orok sampai punya buyut!”
jawab pemilik kedai pula. Hatinya masih bertanya-tanya dan heran.
“Kenapa anak tanya begitu?”
“Oh tak apa-apa…. Mungkin bapak kenal
dengan seorang perempuan bernama Rara Murni?” Pertanyaan ini membuat si orang
tua lebih heran.
“Semua orang di Pakuan ini tahu siapa
Rara Murni,” katanya.
“Oh pantas.. pantas… Rara Murni yang kau
tanyakan itu adalah adik Sang Prabu Kamandaka!” Tentu saja si pemuda mendengar
ini jadi kaget sekali. Siapa sangka kalau Rara Murni adik dari raja Pajajaran?!
Namun dengan pandainya dia menyembunyikan kekagetannya itu. Kemudian terdengar
suara orang kedai bertanya.
“Anak muda, ada maksud apakah kau
bertanyakan adik Sang Prabu itu…?”
“Oh tidak apa-apa. Tidak apa-apa….”
“Kalau kau bermaksud buruk ketahuilah
bahwa di Kotaraja ini banyak sekali hulubalanghulubalang Sang Prabu yang
bertelinga tajam!” Si pemuda sunggingkan senyum.
“Kau terlalu bercuriga terhadapku,
orang tua. Aku hanya seorang pemuda desa yang mendengar kabar disampaikan dari
mulut ke mulut bahwa Rara Murni adalah seorang yang cantik jelita. Biasa bukan
laki-laki tanya perempuan…?” Pemuda ini kemudian tertawa geli. Namun tawa
gelinya itu diputuskan oleh suara bentakan dari arah pintu.
“Manusia yang berani bicara seenaknya
tentang adik Sang Prabu coba putar tubuh! Aku mau lihat tampangnya!” .Suara itu
keras dan garang. Si pemuda melihat bagaimana orang tua di hadapannya menjadi
gemetar ketakutan.
“Aku sudah bilang apa… aku sudah bilang
apa…” katanya berulang kali. Pemuda itu dengan perlahan memutar tubuh. Di pintu
dilihatnya berdiri seorang prajurit berhadapan tegap bersenjata tombak.
“Bagus! Tampangmu memang mirip kunyuk.
Jadi cukup pantas untuk pengisi kerangkeng istana!” Prajurit ini melambaikan
tangannya. Dua orang prajurit lagi muncul di ambang pintu.
“Tangkap pemuda rambut gondrong itu!
Dia telah menghina adik Sang Prabu!” Dengan tombak terhunus kedua prajurit itu
melangkah ke hadapan pemuda rambut gondrong.
“Sebentar saudara… sebentar!” kata si
pemuda sambil pentangkan kedua telapak tangannya ke muka. Selarik sinar halus
berhembus ke arah jalan darah kedua prajurit itu.
Dan semua mata dalam kedai yang tak
tahu menahu ha1 itu hanya menyaksikan bahwa kedua prajurit itu hentikan langkah
karena memenuhi permintaan si pemuda. Padahal dua prajurit itu sudah kena
ditotok dari jarak jauh dan berdiri kaku tak bisa bergerak tak bisa bicara!
“Sebentar, aku mau bicara dulu!” kata
pemuda rambut gondrong kini pada prajurit yang di pintu.
“Bicara apa?! Lekas? Katakan!” Seekor
lalat terbang dan hinggap di lengan kiri si rambut gondrong.
“Ah lalat ini! Mengganggu aku yang
hendak bicara!” kata si rambut gondrong. Dengan jari-jari tangan kanannya
disentilnya lalat itu. Namun tujuan sebenarnya bukan binatang itu. Sang lalat
memang terpental mati dengan tubuh hancur tapi angin sentilan terus menotok
jalan darah prajurit yang berdiri di pintu kedai. Orang-orang tetap melihat dia
berdiri sebagaimana biasa tapi sesungguhnya tubuhnya sudah kaku tegang! Si
rambut gondrong datang ke hadapannya, pura-pura membisikkan sesuatu lalu
menepuk bahu prajurit itu dan berlalu. Orang-orang mulai menjadi heran. Dan beberapa
ketika saja sesudah pemuda aneh tadi lenyap tiba-tiba:
“Bluk… bluk… b!uk…. !” Ketiga prajurit
itu rebah ke tanah susul menyusul! Begitu mencium lantai begitu mereka kembali
sadarkan diri! Kedai itu menjadi hiruk pikuk. Tiga prajurit dengan rasa malu, geram
dan amarah meluap memburu ke luar kedai tapi si rambut gondrong sudah lama
lenyap! Tiga prajurit ini tiada lain adalah anak buah Kalasrenggi. Sewaktu
pemuda rambut gondrong mengeliling Kotaraja mencari dua manusia yang ditemuinya
malam tadi di teratak tua di luar tembok kerajaan maka tanpa setahunya sepasang
mata telah menguntitnya. Yang menguntit tiada lain dari Kalasrenggi yang saat
itu tengah bersiap-siap untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Werku
Alit. Ketika si rambut gondrong masuk kedai maka dikirimnya tiga orang prajurit
ke sana. Diperintahkannya untuk menangkap pemuda itu dengan alasan yang
dibuat-buat. Bila sudah ditangkap, maka pengusutan lebih lanjut siapa adanya
pemuda ini akan dilakukan Kalasrenggi sesudahnya dia selesai melakukan tugas
dari Werku Alit. Ketika mereka masuk dengan diam-diam mereka telah mencuri
dengar apa yang dipercakapkan si rambut gondrong dengan orang kedai. lni mereka
jadikan alasan untuk menalngkap pemuda itu. Namun karena tiga prajurit ini
hanyalah mengandalkan tenagatenaga lahir yang kasar, tak mempunyai ilmu dalam
maka dengan mudah si rambut gondrong “mempermainkannya!”
***
SEPULUH
“Kalau Rara Murni adalah adiknya Raja
Pajajaran…” kata pemuda itu sambil terus juga menyusuri jalan di bawah panas
teriknya matahari musim kemarau,
“Pasti peristiwa penculikannya
mempunyai latar belakang yang besar dan buntut panjang!” Dia menengadah ke
langit.
“Ah, cepat benar bergesernya
matahari….” katanya lagi. Dan ketika dia berpapasan dengan seorang penjual
sayur mayur maka bertanyalah dia,
“Bapak, manakah jalan yang menuju ke
lembah Limanaluk?” Penjual sayur mayur itu menyeka peluh di keningnya terlebih
dahulu. Diputarnya badannya sedikit dan dia menunjuk ke ujung jalan.
“Ikuti saja terus jalan ini, jangan
mengkol. Limanaluk sekira setengah hari perjalanan dari sini.” Pemuda yang
bertanya mengucapkan terima kasih lalu metanjutkan perjalanannya kembali….
Kereta itu bagus dan mungil potongannya. Dua ekor kuda coklat yang menariknya
berlari kencang. Empat prajurit terpercaya mengawal kereta ini. Dua orang di
depan, dua lainnya di belakang. Debu menggebubu sepanjang jalan yang mereka
lalui. Setelah dua jam perjalanan meninggalkan Kotapraja jalan yang ditempuh
mulai banyak lobang-lobang dan batu-batunya. Kusir memperlambat jalan kereta
terutama ketika melewati satu pengkolan tajam. Selewatnya sebuah penurunan
jalan yang mereka lalui baik kembali dan menyusuri tepi sebuah kali kecil
berair jernih. Prajurit di depan sebelah kanan melambaikan tangan memberi tanda
berhenti. Ketika kereta itu berhenti maka tersibaklah tirai jendela dan sebuah
kepala berparas jelita remaja munculkan diri ke luar.
“Ada apa berhenti?” Suara gadis ini
bertanya begitu merdu. Kepala pengawal menjura sedikit dan menjawab:
“Kuda-kuda kita perlu diberi minum,
Tuan Puteri…” Rara Murni menutupkan tirai jendela kembali. Kusir turun dari
kereta dan membawa kedua ekor kuda coklat ke tepi kali. Enam ekor binatang itu
kemudian seperti berebutan memasukkan mulutnya ke datam air kali yang bening
sejuk. Beberapa ketika berlalu maka rombongan bersiap-siap untuk melanjutkan
kembati. Namun belum lagi kusir naik ke atas kereta empat orang penunggang kuda
muncul di tempat itu. Badan tegap-tegap dan muka mereka tak dapat dikenali
karena kepala masing-masing tertutup dengan kerudung kain hitam yang dilubangi
di bagian matanya.
“Perjalanan kalian hanya sampai di
sini!” kata penunggang kuda paling depan. Suaranya berat dan parau, disertai
dengan tenaga dalam sehingga tak mungkin untuk mengenali suaranya yang asli.
Empat pengawal kereta yang tahu bahwa manusia-manusia berkerudung kain hitam
itu datang bukan dengan membawa maksud baik segera cabut pedang! Melihat ini
orang yang tadi bicara tertawa mengekeh.
“Kalian kunyuk-kunyuk Pajajaran kalau
masih ingin selamatkan batang leher segeralah tinggalkan tempat ini!”
“Bangsat rendah! Berani menghina
prajurit kerajaan! Terima pedangku!” bentak kepala pengawal. Dia melompat ke
muka dan pedangnya berkelebat, berkilauan ditimpa sinar matahari! Manusia
berkerudung sentakkan tali kekang kuda dan miringkan badan. Berbarengan dengan
itu kaki kanannya meluncur dengan sangat cepat. Kepala pengawal kereta
terpekik. Pedangnya lepas dan mental sedang sambungan sikunya yang dimakan
tendangan tanggal dari persendian! Dia mengeluh kesakitan, terbungkuk-bungkuk
sambil memegangi sambungan sikunya yang copot! Tiga pengawa! yang lain tanpa
banyak bicara segera menyerbu dan disambuti oleh tiga laki-laki lainnya yang
memakai kerudung. Setelah terlibat dalam dua jurus pertempuran maka terdesaklah
ketiga pengawal kereta. Sementara itu di dalam kereta, mendengar suara
ribut-ribut dan disusul dengan suara beradunya senjata dengan hati cemas Rara
Mumi singkapkan tirai jendela. Dia terkejut sekali melihat ada sesosok tubuh
berkerudung melangkah mendekati kereta. dan mengulurkan tangan untuk membuka
pintu kereta!
“Rara Murni… kau tak usah cemas! Apa
yang terjadi di,sini hanya pertunjukan biasa saja. Silahkan turun…!”
“Kalian siapa…?!”
“Siapa kami itu tidak penting.
Turunlah….”
“Rampok-rampok biadab! Kalau kalian tahu
siapa aku segeralah tinggalkan tempat ini sebelum pasukan kerajaan datang
menumpas kalian!” Laki-laki berkerudung tertawa bergelak. Dibukanya pintu
kereta dan diulurkannya tangan kanan untuk menarik Rara Murni keluar dari
kereta. Kusir kereta yang sejak tadi seperti terpukau melihat pertempuran yang
berkecamuk di depan matanya, ketika mengetahui bahwa Rara Murni hendak
diperlakukan secara kasar segera mengambil cambuk kereta dan menderu punggung
laki-laki berkerudung.
“Rampok laknat! Berani mengganggu adik
Sang Prabu!” Dan cambuk itu mendera lagi beberapa kali. Laki-laki berkerudung
memutar tubuh. Sekali dia gerakkan tangan maka berhasillah dia merampas cambuk
itu. Dan kini cambuk itu dipakainya untuk melecuti muka kusir kereta. Kusir ini
menjerit-jerit. Kemudian dengan kalap mencabut golok pendeknya dan menyerang si
muka berkerudung. Namun hanya dengan mengelak dan sekali tendang saja maka
kusir kereta itu terpelanting ke tebing kali, masuk ke dalam kali. Tubuhnya
segera hanyut terbawa air, tenggelam timbul karena sebelum jatuh ke dalam kali
tendangan laki-laki berkerudung telah membuatnya pingsan terlebih dulu!
Pertempuran antara tiga prajurit pengawal dan tiga laki-laki berkerudung
lainnya tak berjalan lama. Ketiga pengawal itu menggeletak di tanah bermandikan
darah. Sementara itu di atas kereta Rara Murni berusaha melawan dan
meronta-ronta, menerjang dan meninju laki-laki yang hendak menyeretnya turun
secara paksa. Namun apalah kekuatan seorang perempuan. Dalam waktu sebentar
saja segera laki-laki berkerudung itu dapat membekuknya. Rara Murni dinaikkan
ke atas kuda.
“Lemparkan ketlga mayat itu ke dalam
kali!” perintah laki-laki berkerudung yang sudah naik ke atas punggung kudanya.
“Juga kereta itu!” Tiga mayat pengawal
dilemparkan ke dalam kali. Kuda penarik kereta melonjak-lonjak dan meringkik
keras ketika tiga manusia berkerudung itu mendorong kereta ke dalam kali!
Dalam waktu yang singkat keempat orang
itu segera berlalu. Yang tinggal kini di tempat itu hanya bekas-bekas
pertempuran, darah, mayat, kereta dan kuda yang masih terus meringkikringkik
sementara tubuhnya dengan perlahan tapi pasti tenggelam ke dalam kali!
***
SEBELAS
Lembah Limanaluk satu daerah yang
jarang didatangi manusia. Daerah ini sunyi sepi, ditumbuhi pohon-pohon raksasa
dan semak belukar lebat. Ke sinilah keempat manusia berkerudung itu membawa
Rara Murni. Di hadapan sebuah kuil tua mereka berhenti dan menurunkan gadis itu
yang sampai saat itu masih terus juga melawan dengan segala daya yang ada.
“Rara Murni, kalau kau tak banyak cingcong
aku tak akan perlakukan kau dengan kekerasan…”
“Lepaskan aku!” teriak Rara Murni.
“Masuklah ke dalam kuil sana!”
“Tidak!” dan Rara Murni berusaha hendak
lari namun tangannya segera kena dicekat. Laki-laki berkerudung yang bertindak
sebagai pemimpin tiga orang lainnya berpaling, lalu katanya pada ketiga orang
itu:
“Kalian kembalilah. Beritahukan bahwa
tugas kita berhasil baik!” Tiga laki-laki berkerudung segera lompat kembali ke
atas punggung kuda masing-masing dan meninggalkan tempat itu. Yang seorang tadi
menyeret Rara Murni ke dalam kuil. Kuil itu sebuah kuil tua yang sudah tak
dipakai lagi. Batu dindingnya sudah pada luruh dimakan umur. Sebuah arca besar
yang terdapat di pojok kuil sebagian mukanya rusak dan tangan serta kakinya
sudah buntung.
“Lepaskan aku dari sini!” teriak Rara
Murni untuk kesekian kalinya. Suaranya mulai parau.
“Kau terlalu banyak cerewet, Rara
Murni.” kata laki-laki berkerudung. Kedua bola matanya berkilat-kilat
memandangi paras dan tubuh gadis itu.
“Tapi…” kata orang ini kemudian,
“Kau mungkin tak akan banyak ulah bila
mengetahui siapa aku.” Habis berkata begitu laki-laki ini membuka kerudung
penutup mukanya. Kaget Rara Murni bukan kepalang. Seperti tak percaya dia akan
pandangan kedua matanya. Betapakah tidak! Laki-laki berkerudung itu ternyata
adalah salah seorang kepala pasukan kerajaan yang cukup dikenalnya.
“Kalasrenggi!” Kalasrenggi tertawa
mengekeh.
“Kau sudah lihat mukaku dan tahu siapa
aku. Apa kau juga masih mau cerewet?”
“Apa maksudmu dengan semua ini,
Kalasrenggi?!’ ,
“Apa maksudku? Kau akan lihat saja
nanti!”
“Pengkhianat! Pengkhianat terkutuk kau
Kalasrenggi! Kau sadar apa akibatnya kalau kakakku mengetahui perbuatanmu
ini?!”
“Kakakmu tak akan pernah
mengetahuinya!”
“Aku akan adukan dan kau akan dibuang
ke pulau Neraka! Tempat pengkhianatpengkhianat kerajaan!” Kalasrenggi tertawa
lagi. Matanya semakin berkilat-kilat memandangi paras Rara Murni. Memang
sesungguhnya sudah sejak lama laki-laki ini secara diam-diam merasa tertarik
dan jatuh hati terhadap Rara Murni. Kini berada berdua-dua di tempat sunyi itu,
hasrat yang terpendam itu menjadi berkobar-kobar memanasi darah dan tubuhnya.
“Mungkin kau tak akan pernah punya
kesempatan untuk mengadu Rara Murni. Kepalamu cukup bagus untuk jadi benda
persembahan kepada kakakmu sendiri!” Rara Murni terkejut.
“Apa maksudmu?” Kalasrenggi tertawa.
Tawa yang menjijikkan Rara Murni. Katanya:
“Kalau kau mau menuruti apa yang aku
katakan, mungkin aku masih bisa menyelamatkan kau dari kematian….”
“Kau benar-benar pengkhianat terkutuk!
Terkutuk!” Masih dengan tertawa yang menjijikkan itu Kalasrenggi melangkah maju
mendekati Rara Murni. Matanya berkilat-kilat, cuping hidung kembang kempis dan
dadanya bergejoiak. Melihat ini Rara Murni segera melangkah mundur. Mundur
sampai punggungnya membentur dinding kuil. Sebelum dia sempat lari ke pintu
jari-jari tangan Kalasrenggi yang besar-besar dan panas digelorai nafsu telah
mencekal lengannya.
“Kenapa musti takut…?” ujar laki-laki
itu. Nafasnya yang keras dan panas menghembushembus ke muka Rara Murni.
“Keparat! Lepaskan tanganku! Lepaskan!”
teriak Rara Murni. Tiba-tiba Kalasrenggi menyentakkan tangan itu. Rara Murni
tenggelam ke dalam pelukannya yang beringas dan ganas. Ciumannya bertubi-tubi
di paras jelita gadis itu. Rara Murni memekik. Meronta dan memekik! Badannya
ditekan erat-erat ke dinding kuil oleh Kalasrenggi, membuatnya hampir tak bisa
meronta dan menghindarkan kepalanya dan ciumanciuman laki-laki itu. Bahkan Rara
Murni tak bisa berbuat sesuatu apa ketika Kalasrenggi dengan beringasnya
menarik kain yang menutupi dadanya! Rara Murni memekik lagi ketika badannya
digulingkan ke lantai kuil. Kedua kakinya dilejang-lejangkannya. Namun
lejangan-lejangan ini hanya membuat kain yang dipakainya menjadi turun sampai
ke paha. Pemandangan ini membuat nafsu yang sudah menggejolak dalam diri
Kalasrenggi jadi mengamuk dengan dahsyat. Rara Mumi menjerit tiada
henti-hentinya. Menjerit meski dia tahu bahwa jeritan itu tak ada artinya bagi
Kalasrenggi, menjerit meskipun tahu bahwa dia dalam keadaan begitu rupa tak
akan mungkin lagi menyelamatkan diri dan kehormatannya! Dalam nafsu yang
mengamuk itu mendadak Kalasrenggi merasakan sesuatu menyambar di atas
punggungnya. Belum lagi dia sempat palingkan kepala untuk melihat benda apa
yang menyambar itu maka terdengarlah suara bergedebukan di lantai kuil! Dan
sesaat bila Kalasrenggi memalingkan kepala maka terkejutlah dia, terkejut
seperti melihat setan berkepala tujuh! Tiga sosok tubuh bergeletakkan di lantai
kuil! Bukan saja tiga sosok tubuh yang bergeletakkan itu yang mengejutkan
Kalasrenggi tapi terlebih lagi ialah ketika mengenali bahwa ketiga manusia ini
adalah anak buahnya sendiri, yang tadi disuruhnya kembali ke Kotaraja untuk
memberikan laporan pada Raden Werku Alit bahwa tugas penculikan atas diri Rara
Mutni telah dilaksanakan. Nafsu yang membara di tubuh Kalasrenggi dengan serta
merta mengendur dan lenyap sama sekali. Perlahan-lahan laki-laki ini berdiri
dan meninggalkan Rara Murni yang tadi hampir saja menjadi mangsa kebejatannya.
Ketika diperhatikannya ketiga anak
buahnya itu ternyata tidak bernafas lagi alias sudah menjadi mayat! Muka-muka
mereka membiru sedang pada kening masing-masing dilihatnya tiga deretan
angka-angka 212. Muka yang biru itu diketahuinya adalah akibat pukulan atau
tamparan yang ampuh sekali. Tapi adanya angka-angka 212 pada kening ketiga
orang ini adalah tidak dimengerti sama sekali oleh Kalasrenggi! Pada saat
dirinya dilepaskan oleh Kalasrenggi maka pada saat itu pula dengan serta merta
Rara Murni bangkit berdiri dan hendak lari ke pintu kuil. Namun baru tiga
langkah kedua kakinya bergerak, gadis ini hentikan langkah, darahnya tersirap
dan mukanya memucat. Pada pintu kuil sesosok tubuh yang memakai kerudung hitam
berdiri dengan bertolak pinggang. Tak bisa tidak pastilah manusia ini anak buah
Kalasrenggi juga, pikir Rara Murni… Kalasrenggi sendiri ketika melihat bayangan
seseorang di pintu kuil cepat menoleh dan kembali mukanya dilanda rasa
terkejut! Dia tidak kenal dengan manusia berkerudung di pintu itu, tapi dia
pasti betul bahwa laki-laki ini bukanlah orangnya, tapi kerudung hitam yang
dikenakannya adalah kerudung salah seorang anak buahnya yang telah menemui ajal
dengan cara yang aneh itu! Bukan tidak mustahil manusia ini pulalah yang telah
menamatkan riwayat tiga anak buahnya itu! Meski amarahnya tidak terkirakan
namun Kalasrenggi tidak mau bertindak gegabah. Sepasang matanya memandang
tajam-tajam seperti mau menembus kerudung yang menutupi kepala sosok tubuh
manusia yang berdiri di pintu kuil itu!
“Tamu tak diundang, silahkan buka
kerudung!” kata Kalasrenggi. Orang yang di pintu menyeringai di balik kerudung
hitamnya. Lalu terdengarlah suara tertawanya, mula-mula mengekeh perlahan, tapi
kemudian menjadi tawa bergelak yang menggetarkan gendang-gendang telinga serta
menggetarkan dinding-dinding kuil tua itu! Kalasrenggi bersiap-siap dengan
tenaga dalamnya dan berlaku waspada. Kalau suara tertawa manusia ini dapat
menggetarkan gendang-gendang telinga bahkan menggetarkan dinding kuil, maka ini
suatu pertanda bahwa siapa pun adanya manusia ini, dia bukanlah orang
sembarangan! Dan semakin yakin Kalasrenggi bahwa orang inilah yang telah
menewaskan ketiga anak buahnya. Akan Rara Murni, kalau tadi hatinya kecut dan
takut melihat munculnya manusia berkerudung ini, maka setelah mengetahui bahwa
dia bukanlah di pihaknya Kalasrenggi, diamdiam Rara Murni menjadi sedikit lega
hatinya. Tapi dia tak tahu apakah manusia yang baru datang ini adalah tuan
penolongnya ataukah seseorang yang lebih bejat dan terkutuk dari Kalasrenggi!
Dalam pada itu dia sendiri masih belum dapat melihat tampang orang ini. Hati
Kalasrenggi serasa dibakar karena ucapannya disahuti dengan suara tertawa macam
begitu oleh si kerudung hitam. Maka berkatalah dia dengan menunjukkan nyali
besar:
“Kalau kau tak mau buka kerudung,
terpaksa aku turun tangan….” Orang berkerudung hentikan tertawanya. Dan dia
buka mulut menyahuti:
“Diri manusia tidak diukur dari
tampangnya, tapi dari hatinya! Bila dia seorang prajurit, maka kejujuran hati,
kesetiaan dan baktinya pada kerajaanlah yang menjadi ukuran!” Merah paras
Kalasrenggi mendengar kata-kata ini. Si kerudung hitam tertawa bergumam dan
berpaling pada Rara Murni dan berkata:
“Bukan begitu Tuan Puteri Rara Murni…?”
Rara Mumi tak menyahuti. Tapi dia menjadi terkejut karena tak menyangka kalau
lakilaki itu tahu namanya. Dan beratlah dugaannya bahwa laki-lakl ini adalah
orang dalam juga. Orang kerajaan juga, entah pengkhianat entah seorang
penolong. Tapi kalau dia bermaksud menolong, mengapa musti pakai kerudung hitam
segala?
“Tapi…” kata laki-laki yang di pintu
pula melanjutkan bicaranya,
“Kalau kau memang kepingin melihat
tampangku, baiklah! Aku tak keberatan untuk membuka kerudung hitam ini.
Tampangku memang buruk. Namun jika dibandingkan dengan tampangmu, masih
mendingan aku ke mana-mana!” Sambil tertawa-tawa laki-laki ini membuka kerudung
hitam yang menutupi kepalanya.
***
DUA BELAS
Bila Rara Murni memandang ke muka maka
di balik kerudung yang telah dibuka itu ternyata laki-iaki yang berdiri di
pintu adalah seorang pemuda gagah berambut gondrong. Meski tertawanya tadi
mengekeh dan bergelak namun parasnya yang gagah itu condong kepada paras
anak-anak. Sebaliknya begitu menyaksikan tampang manusia di depannya, kedua
mata Kalasrenggi menyipit, kulit mukanya mengerenyit. Otaknya berputar dengan
cepat, mengingat-ingat di mana dia pernah melihat pemuda ini sebelumnya. Dan
secepat dia ingat maka menggeramlah Kalasrenggi. Pemuda yang ada di hadapannya
saat itu tak lain daripada pemuda yang malam tadi telah berteduh di teratak di
luar Kotaraja sewaktu hari hujan lebat dan sewaktu dia tengah bicara dengan
Werku Alit! Juga pemuda inilah yang kemudian ditotok Werku Alit! Dan dia
sendiri menghadiahkan satu tendangan!
“Ingat siapa aku…?”
“Saudara, apa urusanmu dalam hal ini?!”
bentak Kalasrenggi garang. Tangan kirinya menyelinap ke balik pinggang di mana
tersisip sebilah keris.
“Ah… tentu ada saja, Saudara. Pertama,
kau telah menghadiahkan tendangan padaku malam tadi. Enak juga tendangan itu.
He,.. he… he…. Lalu, aku tidak begitu suka pada manusiamanusia yang bersifat
ular kepala dua, pengkhianat besar serta tukang rusak kehormatan perempuan….
Apa itu kurang cukup untuk bikin urusan denganmu?!”
“Hem….” Kalasrenggi menggumam.
“Jadi hari ini aku berhadapan dengan
seorang pendekar budiman huh?! Satu hal yang menyenangkan sekali!” Habis
berkata begini Kalasrenggi keluarkan suara berdengus dari hidungnya.
“Terangkan dulu siapa kau punya nama!”
katanya kemudian.
“Ah, kau keliwat ramah tanya-tanya
segala nama. Namaku sudah kutuliskan pada kening ketiga anak buahmu!” jawab si
pemuda pula. Kalasrenggi tertawa mengejek.
“Baru kali ini aku bertemu manusia yang
namanya adalah tiga buah angka. Angka-angka gila!” Si pemuda tertawa.
“Angka-angka itu mungkin gila! Tapi
tidak segila pengkhianat macam kau Kalasrenggi!”
“Kau sudah tahu namaku. Kenapa tidak
lekas kabur tinggalkan tempat ini?!”
“Apa kabur dari sini? L.alu kau
teruskan maksud busukmu terhadap Tuan Puteri Rara Murni? Aku tidak sebodoh dan
sepengecut yang kau sangka, Kalasrenggi!”
“Kalau betul kau punya nyali, tahan
ini!” bentak Kalasrenggi garang. Dengan satu lompatan cepat Kalasrenggi
lancarkan serangan tangan kosong. Tapi serangan yang hebat ini dapat dielakkan
lawan dengan mudah bahkan sambil bersiul dan tertawatawa.
“Kalasrenggi, kalau mau baku jotos
jangan di dalam sini, mari keluar!” kata si pemuda rambut gondrong atau
pendekar 212 Wiro Sableng. Sengaja dia berkata begitu karena khawatir dalam
pertempuran nanti Rara Murni yang juga berada di ruangan itu akan mendapat
celaka.
“Tak usah banyak mulut! Kau harus
mampus disaksikan ketiga mayat anak buahku!” bentak Kalasrenggi pula. Untuk
kedua kalinya kepala pasukan Pajajaran yang berkhianat ini menyerang, lebih
hebat dari tadi. Tiba-tiba orang yang diserangnya lenyap dari hadapannya.
Kemudian di belakangnya terdengar suara siulan.
“Aku di sini Kalasrenggi, mengapa
menyerang tempat kosong?!” Kalasrenggi kertakkan rahang. Dia berbalik dengan
cepat dan menyerang lebih ganas. Tangannya bergerak cepat, tendangan kaki
bertubi-tubi. Keseluruhannya mengeluarkan angin yang keras dan bersiuran.
Agaknya permainan silat tangan kosong Kalasrenggi tidak dari tingkat rendahan.
Dari angin pukulan dan tendangannya Wiro sudah dapat menjajaki kehebatan lawan.
Karena tak mau ambil resiko pemuda ini segera bergerak cepat. Dalam waktu yang
singkat tiga jurus berlalu sebat. Pada saat memasuki jurus keempat Wiro Sableng
melihat Rara Murni melarikan diri keluar kuil. Sambil rundukkan kepala
mengelakkan hantaman tinju Kalasrenggi, Wiro Sableng berseru:
“Rara, tunggu! Jangan pergi dulu!” Tapi
mana si gadis mau dengar. Sambil menyingsingkan kainnya ke atas Rara Murni
mempercepat larinya. Terpaksa pendekar 212 lepaskan pukulan tangan kanan ke
arah kedua kaki gadis itu. Serangkum angin melesat deras dan dingin. Rara Murni
merasa kedua kakinya seperti disiram air es, kemudian kedua kakinya itu kaku
tak bisa lagi digerakkan. Larinya dengan serta merta terhenti. Melihat lawan
melakukan dua gerakan sekaligus maka kesempatan ini dipergunakan oleh
Kalasrenggi untuk membobolkan pertahanan lawan. Tendangan kaki kanan dan tinju
kiri kanan menyerang susul menyusul ke tempat-tempat terlemah dari Wiro
Sableng! Namun dengan membentak keras dan berkelebat cepat ketiga serangan
lawan dapat dikelit oleh pendekar 212. Penasaran sekali Kalasrenggi memburu
lagi dengan satu serangan berantai. Kali ini, pada saat tangan kanan
Kalasrenggi memukul ke muka, pendekar 212 sengaja menyongsong datangnya lengan
lawan. Maka beradulah lengan dengan lengan! Kalasrenggi terpekik. Tubuhnya terpelanting
ke belakang sampai punggungnya menghantam dinding kuil. Lengan kanannya yang
beradu dengan lengan lawan kelihatan biru dan bengkak besar. Sakitnya bukan
alang kepalang! Karena tadi Wiro Sableng melayaninya seperti acuh tak acuh,
Kalasrenggi tidak menduga kalau kehebatan lawan demikian lihainya. Sesudah
mengurut lengannya yang bengkak biru serta mengalirkan tenaga dalam ke bagian
yang terpukul itu maka kemudian Kalasrenggi dengan tangan kirinya mencabut
sebilah keris dari balik pinggang. Senjata ini sebuah senjata pusaka juga
rupanya karena memancarkan sinar membiru. Tanpa banyak bicara kepala pasukan
Pajajaran itu segera lancarkan serangan dahsyat. Kalasrenggi memang seorang
kidal dan permainan kerisnya juga sudah mencapai tingkat yang matang. Apalagi
dengan mempergunakan tangan kiri itu maka serangan-serangannya sukar diduga.
Namun demikian pendekar 212 sudah punya rencana sendiri terhadap manusia kepala
dua ini! Dibiarkan dan dielakkannya saja untuk beberapa lamanya
serangan-serangan keris Kalasrenggi. Kepala pasukan pengkhianat ini semakin
gemas dan geram. Dipercepatnya gerakannya namun tetap saja tiada mencapai hasil
yang dikehendakinya.
“Pegang senjatamu erat-erat,
Kalasrenggi.” kata pendekar 212 memberi ingat. Kalasrenggi masih belum mengerti
apa maksud ucapan lawannya itu. Bahkan dia sama sekali tidak dapat melihat
dengan jelas gerakan kedua tangan Wiro Sableng. Tahu-tahu saja dirasakannya
keris pusakanya terlepas dari tangan. Laki-laki ini mengeluarkan seruan
tertahan. Memandang dengan tak percaya pada tangan kirinya yang kosong! Wiro
Sableng tertawa mengekeh dan melompat ke muka. Tangan kanannya terkembang
seperti hendak mencengkeram muka Kalasrenggi. Yang diserang cepat merunduk dan
berusaha menyodokkan lipatan sikunya ke perut lawan. Tapi kali ini Kalasrenggi
tertipu. Tangan yang menyerang dan hendak mencengkeram itu hanya gerakan palsu
belaka. Tanpa dapat dikelit lagi oleh Kalasrenggi maka dua ujung jari tangan
kanan Wiro Sableng meluncur ke rusuk kirinya. Mendadak sontak detik itu juga tubuh
Kalasrenggi menjadi kaku tegang. Tangan dan kakinya tak bisa digerakkan lagi,
tapi mulutnya masih sanggup bicara, telinganya masih bisa mendengar, demikian
juga indera-inderanya yang lain masih tetap seperti biasa. Pendekar 212 sengaja
menotok laki-laki itu demikian rupa, sesuai dengan rencananya. Sambil
tertawa-tawa dan garuk-garuk kepalanya yang berambut gondrong Wiro Sableng
memandangi Kalasrenggi beberapa lamanya. Kemudian pendekar muda ini melangkah
mendapatkan Rara Murni. Dilepaskannya totokan yang telah memakukan kedua kaki
gadis itu. Rara Murni begitu merasa kakinya bebas segera hendak lari namun
tangannya cepat dipegang oleh Wiro Sableng.
“Lepaskan tanganku!” teriak Rara Murni.
“Terhadapku tak usah takut, Rara
Murni.” kata pendekar 212 pula.
“Kau siapa?!” tanya Rara Murni dan
berusaha melepaskan tangannya yang dipegang.
“Siapa aku itu soal nanti. Tapi apakah
kau akan tinggalkan begitu saja Kalasrenggi tanpa memberikan satu hukuman yang
setimpal terhadapnya?!”
“Aku akan laporkan kejahatannya terhadap
Sang Prabu. Pasukan Kerajaan akan menyeretnya ke Pakuan! Dia pasti akan dibuang
ke pulau Neraka!
“ Pendekar 212 tersenyum.
“Kuil ini juga bisa menjadi tempat
neraka baginya, Rara Murni. Mari, aku akan tunjukkan cara yang bagus untuk
menghukum pengkhianat dan manusia bejat macam dia!” Dengan seutas tali pendekar
212 mengikat kedua pergelangan kaki Kalasrenggi. Kalasrenggi yang saat itu
meski tubuhnya kaku tapi masih bisa merasa, melihat dan bicara:
“Keparat! Kau mau buat apa
terhadapku?!”
“Ah, kau masih bilang keparat,
Saudara…” jawab pendekar 212 dengan tertawa.
“Pernahkah kau melihat dunia terbalik?!
Melihat dengan kaki ke atas kepala ke bawah?!”
“Apa maksudmu?!” bentak Kalasrenggi.
Tapi dalam hatinya dia sudah dapat menduga apa yang bakal dilakukan oleh Wiro
Sableng dan tubuhnya mengucurkan keringat dingin.
“Apa maksudku kita akan saksikan
sama-sama, Kalasrenggi,” kata Wiro Sableng pula. Sekali saja tali yang mengikat
kedua pergelangan kaki Kalasrenggi ditariknya maka terbantinglah laki-laki itu
ke lantai kuil. Kutuk serapah dan keluh kesakitan bersemburan dari mulut
Kalasrenggi.
“Sudahlah, jangan memaki-maki juga, tak
ada gunanya,” kata pendekar 212. Dia memandang ke atas atap kuil dan dilihatnya
sebuah tiang yang membentang memalang di bawah atap. Ujung tali yang
dipegangnya dilemparkannya ke atas. Bila ujung tali itu menjuntai ke bawah
kembali setelah terlebih dahulu menyangkut di tiang palang maka pendekar 212
mulai mengerek badan Kalasrenggi. Gelap dunia ini bagi Kalasrenggi. Dalam tempo
yang singkat mukanya menjadi sangat merah karena darah yang mengalir turun
memberati mukanya. Laki-laki ini coba meronta, tapi tubuhnya kaku tak bergerak,
hanya terbuai-buai saja macam karung diisi pasir dan digantung! Yang bisa
dilakukan Kalasrenggi hanya memaki dan memaki tiada habisnya dia menjadi letih
sendiri. Pendekar 212 tertawa mengekeh macam kakek-kakek. Dia berpaling pada
Rara Murni sebentar lalu bertanya pada Kalasrenggi:
“Bagaimana, indahkah dunia ini bila
dilihat terbalik…?”
“Demi setan bila bebas aku bersumpah
untuk mencincang tubuhmu keparat…!” hardik Kalasrenggi.
“Sumpahmu terlalu hebat Kalasrenggi.
Tapi bisakah kau membebaskan dirimu dari jarijari tanganku ini…?” Dengan
senyum-senyum Wiro Sableng melangkah mendekati Kalasrenggi. Kemudian sepuluh
jari-jari tangannya menggerayang menggelitiki tulang rusuk Kalasrenggi!
Laki-laki ini menjerit, melolong setinggi langit sampai suaranya menjadi serak!
Wiro Sableng tertawa senang. Rara Murni sendiri hampir-hampir tak dapat menahan
gelinya. Dan Kalasrenggi terus juga berteriak, menjerit, melolong dan memekik
dengan suaranya yang serak parau itu!
“Rara Murni, ayo mengapa diam saja?
Kalau kau ingin membalaskan sakit hatimu terhadapnya, inilah saatnya,” kata
Wiro Sableng pula. Meski amarahnya memang masih meluap terhadap Kalasrenggi
namun berada lebih lama di situ menimbulkan kekhawatiran bagi Rara Murni. Gadis
ini walau bagaimanapun tak dapat memastikan manusia yang bagaimana adanya
pemuda rambut gondrong itu, meskipun dianya telah menolong dan menyelamatkan
diri serta kehormatannya. Karenanya tanpa banyak bicara menyahuti ucapan Wiro
Sableng tadi, juga tanpa membuang waktu, Rara Murni segera lari meninggalkan
kuil itu. Kali ini Wiro Sableng tidak berbuat apa-apa lagi untuk menahan Rara
Murni, diikutinya saja gadis itu dengan pandangan mata.
“Gadis tolol!” gerendeng pendekar 212
dalam hati.
“Dikiranya Kotaraja dekat dari sini!”
Kemudian ketika Rara Murni lenyap di
balik kelebatan pohonpohon di lembah Limanaluk itu maka pendekar 212 segera
angkat kaki pula, menyusul dengan diam-diam dari belakang….
***
TIGA BELAS
Begitu keluar dari lembah Limanaluk
maka sesaklah nafas Rara Murni karena telah berlari itu. Sebelumnya jangankan
berlari, berjalan sejauh itu pun tak pernah dilakukannya! Dia berhenti dan
berdiri bersandar ke sebatang pohon rindang. Saat itulah baru disadarinya
keadaan pakaiannya yang tidak menutupi badannya, terutama letak kain di bagian
dadanya. Segera dibetulkannya letak pakaiannya, dirapikannya pula rambutnya.
Dia menunggu sampai nafasnya yang
memburu dan dadanya yang sesak pulih seperti sedia kala. Saat itu kedua kakinya
pun terasa sakit. Rara Murni merasa bahwa dia tidak sendirian di tempat itu.
Dipalingkannya kepalanya. Darahnya tersirap karena begitu kepalanya diputar
maka kedua matanya membentur sesosok tubuh yang berada dekat sekali di
sampingnya. Orang ini ternyata adalah pemuda rambut gondrong yang di kuil tua
tadi!
“Letih?” tanya Wiro Sableng dengan
senyum-senyum.
Rara Murni tak menjawab.
“Kotaraja tidak dekat dari sini, Rara…”
“Aku tahu…”
“Lalu, mengapa lari-lari macam begini?
Mungkin juga aku membuat kau jadi takut? Rambutku yang gondrong ini barangkali
ya?”
“Saudara, kau ini siapa sebenarnya?”
“Aku? Aku ya aku…” jawab Wiro pula.
“Kalau kau hendak bermaksud jahat pula
terhadapku sebaiknya berlalunya saat ini juga!”
“Ah… tampangku memang jelek, tapi aku
tidak sejahat yang kau sangkakan Rara Murni. Aku hanya tak ingin melihat kau
musti lari setengah mati sampai di Kotaraja! Mungkin seperempat jalan kau sudah
mengeletak pingsan!”
Rara Murni terdiam. Tapi kemudian dia
berkata: “Walau bagaimanapun aku musti kembali ke Kotaraja selekas mungkin…”
“Itu memang betul. Tapi bukan dengan
lari caranya. Mari ikut aku…”
“Ikut ke mana?”
“Dengar Rara, kau tak perlu terlalu
bercuriga terhadapku. Di tepi sungai sana ada beberapa ekor kuda. Kau bisa naik
kuda?”
Gadis itu menggeleng. Wiro Sableng
garuk-garuk kepalanya.
“Kalau begitu…” katanya,
“Kau terpaksa naik
kuda bersama-samaku!”
Maka merahlah paras Rara Mumi.
“Jangan bicara seenak perutmu,
saudara!” bentak gadis ini.
“Heh… aku toh tidak bicara usil. Habis
kalau kau tak bisa naik kuda sendiri bagaimana?”
“Aku lebih baik jalan kaki!” sahut Rara
Murni dengan hati dan suara keras.
Wiro Sableng tertawa.
“Dengar Rara Murni, aku mempunyai
firasat bahwa peristiwa penculikanmu ada ekornya. Ekor yang panjang dan besar.
Kalau Kalasrenggi berkhianat terhadap Sang Prabu, terhadap kerajaan Pajajaran,
bahkan bukan hanya sekedar berkhianat tapi juga hendak bikin celaka terhadap
kau, maka tidak mustahil masih ada pejabat-pejabat tinggi kerajaan lainnya yang
turut terlibat dalam pengkhianatan ini…” Ucapan Pendekar 212 itu memang
terpikir ada benarnya oleh Rara Murni. Tapi menunggang kuda bersama pemuda itu,
tentu saja dia merasa malu sekali. Apa akan kata orang bila melihat hal itu
nanti? Kemudian didengarnya pula oleh gadis ini suara Wiro Sableng kembali:
“Makin cepat kau sampai ke Kotaraja
semakin baik…” Rara Murni termenung sejurus. Tapi hatinya tetap keras tak mau
naik kuda bersama pemuda itu. Tanpa banyak bicara gadis ini kemudian putar
tubuhnya dan bergegas meninggalkan tempat itu. Wiro Sableng menggerutu dalam
hatinya.
“Gadis keras kepala! Kalau sudah lecet
kulit kakinya baru tahu rasa!” Dia geleng-geleng kepala dan melangkah pula
mengikuti. Beberapa lama kemudian mereka sampai di tepi sebuah jalan umum.
Selama itu tak satu pun dari keduanya yang buka mulut.
“Rara,” kata Wiro ketika mereka sampai
di jalan umum itu.
“Ada baiknya kita berhenti istirahat di
sini. Siapa tahu ada kereta atau gerobak yang lewat dan kita bisa menumpang.”
Gadis itu tak menjawab. Tapi dia menghentikan langkah karena memang kedua
kakinya sudah letih. Hampir sepuluh menit mereka berdiri di tepi jalan itu tapi
tak satu kendaraan pun yang lewat.
“Rara Murni…” kata Wiro Sableng.
“Agaknya kau tidak senang terhadapku…?
Tak mau bicara denganku?” Rara Murni diam saja. Sebenarnya memang tak ada yang
harus ditidaksenangkannya terhadap pemuda itu. Hanya segala apa yang tadi
terjadi dan segala apa yang hampir menimpa dirinyalah yang membuat dia jadi tak
banyak bicara dan merasa bercuriga terhadap pemuda berambut gondrong yang
sampai saat itu masih belum juga diketahuinya siapa adanya. Wiro Sableng
memandang ke ujung jalan. Sepi tiada bermanusia.
“Kita berangkat lagi, Rara…?”
“Saudara….” kata Rara Murni untuk
pertama kalinya sesudah sedemikian lama berdiam diri.
“Kau sendiri siapa sebenarnya dan mau
menuju ke mana?”
“Ah… ini pertanyaan yang bagus sekali.
Bagus sekali.” kata pendekar 212 dengan senyum-senyum.
“Siapa aku, kurasa tidak penting. Dan
ke mana aku mau menuju… aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu… !” Rara Murni
memandang dengan sudut matanya memperhatikan pemuda itu. Jawabannya seperti
jawaban orang yang tidak betul pikirannya, atau mungkin pula jawaban itu hanya
sekedar jawaban belaka. Tiba-tiba keduanya memalingkan kepala ke ujung jalan
sebelah kanan. Di kejauhan kelihatan muncul sebuah gerobak, ditarik oleh dua
ekor lembu. Di bagian depan gerobak yang terbuka itu duduk dua orang laki-laki.
Mereka berpakaian petani sedang setengah dari gerobaknya sarat dengan sayur
mayur.
“Nasib kita baik juga rupanya Rara,”
kata Wiro Sableng. Dan ketika gerobak itu datang mendekat, pemuda ini segera
lambaikan tangannya. Gerobak berhenti.
“Saudara, apakah kalian menuju ke
Kotaraja?” Kedua orang di atas gerobak tak menjawab pertanyaan Wiro Sableng
melainkan memandang lekat-lekat pada gadis di sampingnya.
“Kalau kami tak salah lihat,” kata
laki-laki yang mengemudikan gerobak,
“Agaknya kami berhadapan dengan Tuan Puteri
Rara Murni, adik Sang Prabu Pajajaran…” Rara Murni mengangguk dan kedua orang
itu segera turun dari kereta lalu menjura.
“Ada hal apakah sampai Tuan Puteri
berada di tempat ini…?” tanya laki-laki yang memegang kemudi gerobak. Kedua
matanya kemudian melirik sekilas pada Wiro Sableng, lalu melirik pada kawannya.
Rara Murni hanya menarik nafas panjang. Karena mengira pemuda rambut gondrong
dan berpakaian sederhana itu adalah hamba sahaya atau pembantu Rara Murni maka
yang ditanya menjawab dengan anggukan kepala acuh tak acuh. Seorang dari mereka
kemudian berkata pada Rara Murni:
“Jika Tuan Puteri bermaksud hendak
kembali ke Pakuan, kami tentu saja bersedia bahkan merasa berkewajiban untuk
membawa Tuan Puteri. Tapi maafkanlah keadaan kereta kami, kotor dan penuh
sayuran…”
“Itu tak menjadi apa, pokoknya asal
sampai ke Kotaraja.” Yang menjawab adalah Wiro Sableng. Ini mengesalkan kedua
orang itu. Kemudian mereka menolong Rara Murni naik ke atas gerobak. Gadis itu
duduk di sebelah muka, di samping pengemudi sedang kawannya bersama Wiro
Sableng duduk di sebelah belakang, di samping tumpukan sayur. Tak lama kemudian
gerobak itu pun bergeraklah.
***
EMPAT BELAS
Kesunyian sepanjang jalan itu kini
dipecahkan oleh suara deru roda gerobak. Sekalisekali diselingi dengan
gemeletakkan- gemeletakkan bila roda gerobak menggilas bebatuan atau suara
kayu-kayu kendaraan itu bergerobyakan ketika salah satu rodanya memasuki lobang
jalanan. Saat itu masih cukup jauh dari Kotaraja, Pendekar 212 duduk
melunjurkan kedua kakinya di bagian belakang kereta. Matanya terpejam-pejam
oleh hembusan angin siang yang sejuk. Beberapa kali dia sudah menguap. Orang
yang duduk di hadapannya senantiasa membuang muka, segan atau tepatnya tak
senang memandang pada pemuda ini yang sebentarsebentar menguap,
sebentar-sebentar menggaruk kepalanya yang berambut gondrong. Beberapa saat
kemudian Wiro Sableng membuka juga kedua matanya. Dia menggeliat. Ini menambah
ketidaksenangan orang yang di hadapannya.
“Saudara, aku minta mentimunmu satu….”
kata Wiro Sableng. Dan tidak menunggu jawaban pemilik sayuran itu langsung saja
Wiro Sableng mengambil sebuah mentimun besar dan menggerogotinya. Orang yang di
depan Wiro Sableng memaki dalam hati. Rahangnya terkatup rapat-rapat.
“Rara Murni…” seru Wiro Sableng tiba-tiba.
“Apakah kau suka makan mentimun?” Di
bagian depan kereta Rara Murni berpaling sebentar tapi tak menjawab.
“Panas-panas begini enak sekali makan
mentimun, untuk pelepas haus dan mendapatkannya tak usah susah payah…”
“Terima kasih… aku tidak haus,
Saudara….” Terdengar jawaban gadis itu.
“Hem….” Wiro Sableng menggumam dan
terus juga mengunyah mentimun dalam mulutnya, dan gerobak terus juga bergerak
menempuh jalan berdebu dan berlobang serta berbatu-batu. Di bagian belakang
kereta Wiro Sableng mengusap-usap perutnya. Telah tiga butir ketimun amblas ke
dalam perut itu dan betapa asamnya tampang orang yang di hadapannya. Kini
kembali Wiro Sableng memejamkan matanya. Kalau perut sudah kenyang memang
kantuk segera datang. Mendadak gerobak itu dibelokkan ke sebuah jalan buntu
yang menuju sungai oleh pengemudinya. Begitu gerobak berhenti maka terdengarlah
suara Rara Murni bertanya:
“Saudara, kenapa ke sini dan berhenti
di sini?” Pengemudi gerobak tertawa mengekeh. Tiba-tiba tertawanya yang
menjijikkan itu lenyap dan diganti dengan teriakan Rara Murni. Dan di bagian
belakang kereta sendiri petani yang duduk dihadapan Wiro Sableng tiba-tiba
mencabut sebatang golok dari balik pinggang. Begitu golok tercabut keluar dari
sarungnya tanpa menungu lebih lama segera dibacokkan ke kepala Wiro Sableng
yang saat itu masih pejamkan mata, keenakan tidur-tidur ayam tertiup angin
sejuk sepanjang perjalanan! Satu jengkal lagi mata gotok yang tajam akan
membelah batok kepala pendekar 212, maka terdengarlah bentakan menggeledek.
“Ciaaat!” Tubuh petani yang menyerang
terpental ke luar gerobak. Goloknya lepas dan tubuh itu kemudian tergelimpang
di tanah dengan perut pecah dihantam tendangan! Manusia ini hembuskan nafas
tanpa keluarkan sedikit suara pun! Pandangan bola mata pendekar 212 menyorot
bersinar.
“Kentut betul!” makinya dan meludahi
muka mayat petani ini.
“Orang lagi enak-enak tidur mau
dibacok, rasakan sendiri! Puah…!” Diludahinya lagi muka mayat itu kemudian
dipalingkannya kepalanya dengan cepat. Rara Murni tengah meronta-ronta
melepaskan cekalan petani yang mengemudikan gerobak sayur.
“Saudara, tolong aku!” teriak gadis itu
pada Wiro Sableng.
“Petani sialan!” gerendeng Wiro Sableng
seraya melompat dari atas gerobak.
“Budak hina! Pergi dari sini atau
kutebas batang lehermu!” teriak laki-laki yang mencekal Rara Murni.
“Sreet!” Dicabutnya sebuah golok dari
batik pinggang.
“Hemmm… jadi kau hanyalah seorang
rampok bejat yang berkedok sebagai petani huh? Seekor serigala yang berbulu
domba…. Lepaskan gadis itu atau jidatmu kubikin rengkah!”
“Anjing buduk tak tahu diri, dikasih
kebebasan malah minta mampus!” Dengan tangan kirinya pengemudi gerobak itu
totok tubuh Rara Murni. Melihat kelihayan totokan laki-laki itu pendekar 212
segera maklum bahwa orang itu bukanlah seorang petani biasa atau pengemudi
gerobak yang bodoh, tapi seorang pendekar lihay yang tengah menyamar! Maka
ketika senjata lawan berkelebat ke arah kepalanya pendekar 212 bergerak cepat
dan tak mau kasih peluang lagi. Pengemudi gerobak itu buka matanya lebih lebar
sewaktu melihat orang yang diserangnya tenyap dari hadapannya. Sambaran
goloknya yang deras mengenai tempat kosong. Ini membuat laki-laki itu terdorong
ke muka dan pada saat inilah kedua matanya melihat sosok tubuh kawannya yang
menggeletak di tanah dengan perut pecah!
Berdiri bulu kuduk laki-laki ini. Tapi
hanya sebentar saja. Rasa ngeri ini segera digantikan dengan rasa geram dan
amarah yang meluap. Tubuhnya diputar kembali, untuk kedua kalinya berkiblatlah
senjatanya menyerang Wiro Sableng. Tapi kali yang kedua ini justru adalah saat
kematiannya! Senjatanya lagi-lagi menghantam angin kosong dan sebelum dia
sempat mengirimkan serangan berikutnya maka lima jari tangan dilihatnya
berkelebat dekat sekali ke arah keningnya, tak bisa dipapaki dengan golok, tak
bisa dikelit dengan kecepatan yang bagaimanapun!
“Plaaak!” Telapak tangan kanan pendekar
212 mendarat di kening laki-laki itu, disusul dengan suara jerit kesakitan.
Laki-laki itu terguling ke tanah tidak sadarkan diri lagi. Kulit keningnya
hitam seperti terbakar dan di bagian tengah kulit kening itu terteralah angka
212. Laki-laki ini bernasib masih untung dari kawannya karena pendekar 212
tidak menamatkan riwayatnya. Wiro Sableng melepaskan totokan yang mengakukan
tubuh Rara Murni.
“Hari ini nasibmu sial terus-terusan
rupanya, Rara,” kata pemuda itu dengan senyum-senyum. Si gadis tak berkata
apa-apa. Mukanya masih agak pucat. Dan Wiro Sableng berkata lagi:
“Tapi ada juga untungnya. Gerobak ini
sekarang jadi milik kita. Ayo kita teruskan perjalanan. Rara Murni naik kembali
ke atas gerobak. Wiro Sableng mengemudikan gerobak itu. Sepanjang perjalanan
gadis itu tak habis pikir. Pemuda yang duduk di sampingnya itu bertampang
gagah, tapi aneh dan juga lucu. Dan di samping itu kehebatan yang telah disaksikan
sendiri olehnya tadi diam-diam membuat dia mengagumi si pemuda. Dan sampai saat
ini Rara Murni tidak tahu sama sekali siapa nama pemuda itu! Beberapa jauh di
luar tembok kerajaan, Wiro Sableng menghentikan gerobak. Dia berpaling ke
samping. Lalu berkata:
“Rara, Pakuan sudah di depan mata. Aku
mengantarkan kau hanya sampai di sini. Kau bawalah terus gerobak ini, tak susah
untuk mengemudikannya….”
“Kau sendiri hendak ke mana, Saudara?”
tanya Rara Murni heran. Pendekar 212 tertawa.
“Ke mana aku mau pergi itulah satu hal
yang aku tidak bisa jawab,” ujar Wiro Sableng pula.
“Cuma pesanku, jangan lupa untuk
mengatakan segala kejadian yang kau alami pada Sang Prabu. Kurasa
peristiwa-peristiwa yang kau alami itu mempunyai latar belakang. Dan bukan
mustahil kalau masih ada pembesar-pembesar istana lainnya yang menjadi
pengkhianat macam Kalasrenggi….” Rara Murni mengangguk. Kemudian Wiro Sableng
berkata lagi:
“Juga jangan lupa mengirimkan sepasukan
prajurit ke kuil di lembah Limanaluk itu untuk membekuk Kalasrenggi….” Rara
Murni mengangguk untuk kedua kalinya. Ketika dilihatnya pemuda rambut gondrong
itu memutar tubuh hendak berlalu, gadis ini cepat-cepat berkata:
“Saudara… tunggu dulu.” Pendekar 212
putar tubuhnya kembali.
“Ada apakah Rara…?”
“Aku belum bilang terima kasih pada
kau…”
“Ah….” Wiro Sableng goyangkan
tangannya,
“Tak usah… tak usah. Itu hanya
kebetulan saja….”
“Sang Prabu mungkin akan banyak
bertanya tentang kau. Kurasa lebih baik kau ikut sama-sama ke istana.”
“Terima kasih. Tapi aku ada urusan lain
Rara….” jawab Wiro Sableng.
“Lalu kalau hem… kalau Sang Prabu
bertanya siapa namamu, bagaimana aku musti menerangkannya?” Wiro Sableng
tertawa.
“Nama itu sebenarnya tidak ada arti
apa-apa. Rara. Kita semua dilahirkan tidak bernama. Orang-orang tua kita yang
memberi nama dan itu hanya kebiasaan saja….”
“Jadi, apakah kau tidak punya nama?”
tanya Rara Mumi pula. Wiro Sableng tertawa lagi.
“Namaku tidak penting Rara. Tapi kalau
kau penasaran ingat-ingat angka ini….” Habis berkata begitu ditariknya saja
ujung bawah kain yang dikenakan Rara Murni. Dan dengan ujung jari tangannya,
dengan mempergunakan tenaga dalam tentunya, maka dituliskannya tiga rentetan
angka 212. Rara Murni memperhatikan angka itu.
“Dua satu dua…:” desisnya. Diangkatnya
kepalanya hendak mengatakan sesuatu pada pemuda itu. Namun dia terkejut dan tak
habis heran. Si pemuda sudah tak ada lagi di hadapannya, seakan-akan gaib
lenyap ditelan bumi. Rara Murni memandang berkeliling. Tapi pendekar 212 tetap
saja tidak kelihatan. Gadis itu menghela nafas panjang.
“Pemuda aneh… agak ceriwis… tapi
berhati polos….” kata Rara Murni dalam hati. Dicambuknya sapi-sapi penarik
gerobak. Gerobak itu pun bergeraklah menuju pintu gerbang Kotaraja. Tentu saja
Prabu Kamandaka sangat terkejut ketika mendapat keterangan dan mengetahui apa
yang telah terjadi atas diri adiknya. Sepasukan prajurit kerajaan segera
dikirim ke lembah Limanaluk. Tapi mereka datang terlambat karena saat itu
pengkhianat Kalasrenggi sudah tak bernafas lagi, mati tergantung dengan darah
bercucuran dari hidung, mata serta telinga! Rara Murni sendiri, secara
diam-diam menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk mencari jejak Wiro
Sableng si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, namun usaha mereka siasia belaka.
Hari itu juga di seluruh Kerajaan diadakan pembersihan, termasuk di dalam
istana. Tapi hasilnya tidak memuaskan sama sekali. Bahkan biang racun
pengkhianat yaitu Raden Werku Alit tetap tenang-tenang saja di tempatnya di
dalam gedungnya yang mewah di lingkungan istana. Siapa yang menduga kalau saudara
sepenyusuan dari Sang Prabu sendiri yang menjadi tokoh pengkhianat terbesar?
Satu-satunya orang yang ditangkap dalam pembersihan yang diadakan ialah petani
yang menggagahi Rara Murni di tengah jalan sewaktu naik gerobak. Namun sebelum
dibawa ke hadapan Sang Prabu, petani ini berhasil merampas pedang seorang
perajurit dan menghunjamkannya ke batang lehernya. Tak ampun lagi manusia itu
meregang nyawa di situ juga. Siapakah petani ini sesungguhnya? Siapa pula
kawannya yang telah ditamatkan riwayatnya oleh pendekar 212 sebelumnya? Mengapa
pula petani yang satu itu memutuskan untuk membunuh diri sendiri? Dia dan
kawannya tiada lain adalah mata-mata kaki tangan kaum pemberontak yang
dikirimkan oleh Mahesa Birawa untuk menemui Raden Werku Alit dan menyelidiki
suasana di Pajajaran menjelang saat-saat penyerangan total diadakan! Seperti
yang diceritakan di atas, dalam perjalanan menuju ibu kota kerajaan yaitu
Pakuan, mereka telah bertemu dengan Rara Murni, adik Sang Prabu, bersama
seorang laki-laki gondrong yang mereka sangkakan hamba sahaya Rara Murni. Maka
saat itu timbullah niat mereka untuk menculik gadis itu dan membawanya ke
tempat persembunyian kaum pemberontak di kaki Gunung Halimun. Namun maksud
mereka itu membawa celaka kepada diri mereka sendiri. Yang satu mati dihajar
pendekar 212. Yang satu lagi roboh pingsan di tengah jalan kemudian ditangkap
oleh serdadu-serdadu kerajaan tapi berhasil bunuh diri sebelum dibawa ke
hadapan Sang Prabu, sebelum dipaksa untuk memberikan keterangan!
***
LIMA BELAS
Malam itu untuk kesekian kalinya di
dalam kemah besar diadakan pertemuan kali ini sangat penting sekali rupanya
karena di luar kemah itu dijaga dengan ketat oleh para pengawal. Pertemuan ini
bukan saja penting karena datangnya dua tokoh sekutu dari kaum pemberontak
yaitu Adipati Warok Gluduk dari Rajasitu dan Adipati Tapak Ireng dari Ratujaya,
tapi juga karena kabar yang dibawa oleh seorang kurir Raden Werku Alit dari
Kotaraja. Sebagaimana biasa pertemuan penting ini di:pimpin oleh Mahesa Birawa
yang duduk di kepala meja. Setelah mempersilahkan kelima Adipati meneguk
minuman masing-masing maka Mahesa Birawa segera membuka pembicaraan.
“Pertama sekali perkenankanlah saya
atas nama Adipati-Adipati yang terdahulu datang ke sini dan juga atas nama
Raden Werku Alit, mengucapkan selamat datang pada Adipati Warok Gluduk dan
Adipati Tapak Ireng. Kemudian kami juga mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya atas tekad Adipati-Adipati berdua untuk
bersedia membantu dan bersekutu dalam perjuangan mencapai cita-cita kita yang
besar yaitu menggulingkan Pajajaran, menumbangkan Kamandaka dari takhta
kerajaannya karena sesungguhnya selama Raden Werku Alit masih hidup maka
Kamandaka tidak punya hak sama sekali untuk menjadi Raja Pajajaran….” Mahesa
Birawa memuntir-muntir kumisnya yang melintang dua tiga kali lalu melanjutkan
bicaranya:
“Kedua kalinya, pertemuan ini adalah
juga untuk membahas keterangan yang telah disampaikan kurir dari Kotaraja.
Diterangkan bahwa dua orang mata-mata kita tertangkap. Yang satu terbunuh dan
yang satu lagi bunuh diri. Mayat mereka dibuang ke kali. Mengenai peristiwa ini
ada sedikit keterangan yang bersimpang siur sehingga belum dapat saya menarik
satu kesimpulan bagaimana sampai kedua matamata kita itu mengalami nasib
demikian rupa. Kabar keterangan yang paling buruk ialah bahwa salah seorang
pembantu utama kita yaitu kepala pasukan Kalasrenggi juga telah menemui
kematiannya. Dia digantung di sebuah kuil tua di lembah Limanaluk. Mengenai
kematian Kalasrenggi ini ada hal-hal aneh dan keterangan yang agak bersimpang
siur. Menurut kurir Raden Werku Alit, ketika pasukan kerajaan datang ke kuil
itu, Kalasrenggi sudah tidak bernafas, digantung kaki ke atas kepala ke bawah
dan pada keningnya tertera guratan-guratan yang membentuk tiga buah angka yaitu
angka 212….” Mahesa Birawa memandang berkeliling dan melihat paras-paras
Adipati itu keheran-heranan.
“Sukar diduga siapa sebenarnya yang
membunuh Kalasrenggi dan juga tak dapat ditafsirkan apa arti angka 212 itu! Di
samping itu, sesudah kejadian itu Sang Prabu memerintahkan pembersihan
besar-besaran di kerajaan. Namun semua orang kita sudah menyingkir. Dan menurut
Raden Werku Alit sampai saat dia mengirimkan kurir itu masih belum ada
kecurigaan terhadap dirinya. Namun demikian dalam sehari dua ini dia akan
segera berangkat ke sini untuk berunding terakhir kali, menentukan kapan
penyerangan dilakukan terhadap Pajajaran. Raden Werku Alit berharap agar kita
terus dalam kesiap siagaan…..” Sunyi sebentar, Adipati Lanabelong dari Kendil
yang berkepala sulah meneguk tuaknya, mengumur-ngumurkan minuman itu dalam
mulutnya beberapa lama, lalu bertanya:
“Sampai saat ini berapakah kekuatan
balatentara Pajajaran?”
“Menurut keterangan Kalasrenggi sebelum
menemui kematiannya tempo hari sekitar dua ribu lebih. Memang jumlah kekuatan
mereka lebih dari kita. Kita cuma sekitar seribu enam ratusan. Tapi janganlah
itu menjadi kekhawatiran para Adipati sekalian. Mengapa aku katakan tak usah
khawatir sebabnya begini. Pertama, dalam peperangan itu jumlah yang besar tidak
selamanya menentukan untuk mencapai kemenangan. Sering pasukan yang lebih
sedikit sanggup mengalahkan pasukan yang lebih besar. Ini adalah disebabkan
bahwa sesungguhnya unsur kekuatan atau jumlah tidak terlalu menentukan tapi
unsur taktiklah yang lebih menentukan. Dengan taktik yang tinggi serta matang,
dengan mengetahui di mana kelemahankelemahan pertahanan pasukan Pajajaran,
pasti kita dalam sekejapan mata bisa mengobrakabrik mereka! Kedua, dalam
peperangan kecepatan tempur atau waktu penyerangan yang tepat adalah sangat
menentukan. Bila lawan sedang lengah, meskipun jumlahnya besar, sanggup dikacau
balaukan dan disapu bersih oleh sepasukan kecil saja. Demikian pula dengan
kita. Kita akan menyerang dengan tiba-tiba, dengan menyergap! Pajajaran hanya baru
akan mengetahui bila balatentara kita sudah berada di depan mata hidung mereka!
Dan saat itu mereka tak akan ada waktu lagi untuk mempersiapkan diri. Aku rasa
dengan berpegang teguh pada dua hal itu, tidak sukar bagi kita untuk
membereskan Pajajaran. Apalagi para Adipati di sini bukan pula manusia-manusia
berilmu rendah. Sedikit banyaknya adalah murid-murid dari perguruanperguruan
silat yang ternama juga, bukankah demikian?” Kelima Adipati itu sama mengulum
senyum. Memang rata-rata mereka dalah pewaris ilmu-ilmu silat dari pelbagai
cabang dan aliran dan ilmu-ilmu mereka tidaklah dapat dianggap ilmu pasaran
yang rendah belaka!
“Di samping itu,” kata Mahesa Birawa
pula,
“Jangan pula kita lupakan bantuan yang
akan diberikan oleh seorang tokoh dunia persilatan yang terkenal yakni Begawan
Sitaraga….”
“Oh, jadi Begawan sakti yang diam di
puncak Gunung Halimun itu membantu kita pula?” tanya Warok Gluduk, Adipati dari
Rajasitu.
“Ya,” sahut Mahesa Birawa.
“Bagaimana sampai Begawan ini mau
membantu perjuangan kita?” tanya Tapak Ireng.
“Setahuku dia mempunyai pertikaian
dengan Toa Kamandaka….
“ jawab Mahesa Birawa pula.
“Kalau benar begitu, satu hari saja
Pajajaran pasti sudah sama rata dengan tanah….” kata Warok Gluduk sambil
mengusap-usap dagunya. Dan dibayangkannya kedudukan yang bakai diterimanya bila
pemberontakan mereka berhasil nanti!
*
* *
Waktu itu hari hujan rintik-rintik.
Angin malam bertiup kencang dan dingin. Sosok tubuh itu berjalan dengan acuh
tak acuh. Tidak perduli hujan rintik-rintik, tidak perduli angin kencang, tidak
perduli segala rasa dingin yang menyembilui tulang-tulang sumsum. Dia berjalan
terus bahkan sambil bersiul-siul. Sesampainya di ujung jalan itu maka
disusurinya tembok tinggi dan sekali-sekali, dalam jarak-jarak tertentu
dilewatinya seorang pengawal bersenjata lengkap. Di hadapan sebuah pintu
gerbang yang dikawal oleh delapan orang perajurit berhentilah pemuda itu. Dia
memandang ke kiri dan ke kanan, memandang ke atas pintu gerbang lalu memandang
pada barisan pengawal dengan pandangan orang bodoh. Pengawal-pengawal pintu
gerbang mula-mula memandang saja dengan penuh curiga namun kemudian salah
seorang daripadanya membentak:
“Pemuda gondrong! Ada apa kau celangak
celinguk di sini?!” Dibentak malahan pemuda itu tersenyum.
“Apa kau tidak tahu berada di mana saat
ini?!” bentak prajurit pengawal yang lain.
“Ah… itulah yang aku mau tanya,
saudara. Apakah ini istananya Sang Prabu Raja Pajajaran?” Delapan pasang mata
prajurit pengawal memandang dari atas ke bawah. Tak ada kesimpulan lain bagi mereka
daripada berpendapat bahwa tentulah pemuda berambut gondrong itu seorang yang
kurang ingatan. Seorang prajurit yang agak berumur maju ke muka.
“Orang muda, ini memang istana Raja
Pajajaran. Siapapun tak diperkenankan berdiri lama-lama di sekitar sini….”
Pemuda itu garuk-garuk kepalanya.
“Kalau berdiri di sini tidak boleh…
tentu masuk lebih tidak boleh lagi….
“ katanya perlahan seperti pada dirinya
sendiri.
“Berlalulah dari sini,” kata prajurit
tadi.
“Tapi, aku mau bertemu dengan Rara
Murni….” kata si pemuda. Prajurit tua itu tertawa.
“Tak seorang pun yang diizinkan bertemu
dengan Tuan P.uteri, apalagi kau….”
“Ini urusan penting sekali, Saudara!”
desak si pemuda. Salah seorang prajurit yang lain, yang sudah tak sabaran
berkata:
“Pemuda gila, berlalulah dari sini.
Atau pangkal tombakku akan membenjutkan kepalamu!” Tapi si pemuda tidak
memperdulikan ancaman itu.
“Saudara pengawal, dengarlah,” katanya.
“Aku pernah kenal dengan Rara Murni.
Mungkin aku lebih kenal padanya dari kalian semua di sini. Aku musti ketemu
dengan dia. Katakan saja bahwa ada seorang pemuda berambut gondrong bernama 212
mau bertemu dengan dia. Pasti dia tahu dan mengizinkan aku masuk….” Kedelapan
prajurit pengawal itu tertawa membahak. Beberapa di antaranya malah mencibir.
Dan seseorang di antara mereka berkata:
“Kau salah alamat, kawan. Mustinya kau
datang ke rumah dukun Gendong di kampung Andawa, minta obat kepadanya agar
otakmu yang geblek sinting itu bisa diperbaikinya!”
“Siapa bilang aku sinting?!” radang si
pemuda rambut gondrong.
“Kau memang tidak sinting! Tapi berotak
miring atau setengah gila!” Dan gelak membahak terdengar lagi di depan pintu
gerbang istana itu!
“Kalau kalian tidak mau kasih aku
masuk, tak apa,” kata si pemuda yang tiada lain daripada pendekar 212 Wiro
Sableng.
“Tapi satu hal aku katakan, aku tidak
gila. Kalianlah semua yang gila tertawa tiada pangkal sebab!” Habis berkata
begini pemuda itu berlalu, melangkah sambil bersiul-siul. Rara Murni seperti
tidak percaya pada pemandangannya ketika melihat pintu terbuka dan dua sosok
tubuh masuk ke dalam. Yang seorang adalah inang pengasuhnya, seorang perempuan
tua, sedang yang satu lagi adalah pemuda rambut gondrong yang pernah
menolongnya tempo hari.
“Kita bertemu lagi, Rara,” kata Wiro
Sableng.
“Di pintu gerbang aku tak diperbolehkan
masuk, terpaksa lompat lewat tembok dan memaksa perempuan tua ini untuk
memberitahukan kamarmu…. “
“Ada apakah kau datang ke sini, Saudara
212?” tanya Rara Murni.
“Ah… rupanya kau masih belum melupakan
angka itu. Bagus sekali! Mengapa aku datang ke sini…. Untuk bertemu dengan kau
tentunya.” kata pendekar 212 pula seraya menyandarkan punggungnya ke pintu yang
tadi ditutupkannya. Merah paras Rara Murni mendengar kata-kata Wiro Sableng.
Tentang diri penolongnya ini memang tak pernah dilupakannya, terutama mengingat
kehebatannya. Maka bertanya pula dia:
“Mengapa kau ingin ketemu aku…?”
“Oh, jadi tak boleh ketemu?”
“Bukan begitu maksudku, Saudara….”
“Dengar Rara, aku musti bertemu dan
bicara dengan Sang Prabu malam ini juga….” Rara Murni terkejut.
“Ada urusan apa…?”
“Urusan penting. Penting sekali….” Rara
Murni berpikir-pikir. Pemuda ini selama dikenalnya meski ceriwis dan suka
bicara ngelantur tapi hatinya polos. Namun demikian dia masih belum tahu siapa
adanya pemuda ini. Bukan mustahil dia adalah seorang pengkhianat macam
Kalasrenggi tapi yang menjalankan taktik secara lain. Purapura menolong pertama
kali, kemudian bila tiba saatnya akan menggolong.
“Katakan saja urusan pentingmu itu,
saudara. Nanti aku yang sampaikan kepada Sang Prabu….”
“Ini bukan urusan perempuan, Rara
Murni.” kata Wiro Sableng pula. Rara Murni yang lebih mementingkan keselamatan
kakak kandungnya Prabu Kamandaka menjawab:
“Maaf, walau bagaimanapun aku tak dapat
mempertemukan kau dengan Sang Prabu….” Wiro Sableng tak berkata apa-apa.
Digaruknya kepalanya.
“Sukar memang untuk percaya pada
manusia macamku. Tapi biarlah, bertemu dengan kau puas juga hatiku.” Pendekar
itu tertawa dan kembali melihat bagaimana kedua pipi Rara Murni menjadi merah.
Tiba-tiba tangan kirinya dihantamkan ke muka dengan telunjuk terpentang
lurus-lurus. Tanpa keluarkan suara inang pengasuh yang tadi berlutut kini rebah
tiada sadarkan diri. Rara Murni hendak menjerit. Tapi mulutnya ditekap oleh
Wiro Sableng. Pemuda ini berkata:
“Rara, perempuan itu tak apa-apa. Aku
hanya menotoknya agar jangan sampai dia membocorkan rahasia. Ketahuilah,
istanamu ini kini penuh dengan pengkhianatpengkhianat. Aku tak tahu siapa yang
menjadi biang pengkhianat! Kalau tahu siang-siang sudah kupuntir kepalanya dan
kubawa ke hadapan Sang Prabu. Kuharap besok pagi atau malam ini juga kau
bawalah Sang Prabu ke kamarmu ini dan baca pesanku ini?” Habis berkata demikian
pendekar 212 melangkah ke dinding dan pergunakan jari telunjuknya untuk
menulis. Menulis serentetan syair yang mengandung nasihat dan peringatan. Dalam
waktu yang dekat akan pecah pemberontakan Pemberontakan menggulingkan Sang
Prabu dari takhta kerajaan Istana penuh dengan pengkhianat-pengkhianat bermuka
jujur tapi berhati seculas setan Siapkan bala tentara di luar tembok kerajaan
212
“Samapi ketemu lagi Rara Murni.” kata
pendekar 212 Wiro Sableng sehabis menulis rentetan syair itu. Lalu cepat-cepat
ditinggalkannya kamar itu. Rara Murni memburu ke pintu tapi si pemuda sudah
lenyap. Ketika malam itu juga Rara Murni menemui Sang Prabu dan menerangkan
tentang kedatangan pemuda aneh itu maka terkejutlah Prabu Kamandaka. Dengan
langkah besarbesar dan tanpa pengawal sama sekali Raja Pajajaran itu bersama
adiknya pergi ke kamar. Dan memang apa yang tertulis di dinding kamar cocok
seperti apa yang diterangkan adiknya. Dinding kamar itu dari batu dan dilapisi
dengan marmer putih yang sangat keras. Dengan pahat sekalipun akan sukar
menuliskan rentetan syair itu. Tapi si pemuda aneh telah menuliskannya dengan
ujung jari!
“Bagaimana pendapat Kanda?” tanya Rara
Murni kepada kakaknya.
“Pemuda itu tentu seorang yang sakti
luar biasa.” kata Prabu Kamandaka.
“Tapi apa yang dituliskannya di dinding
ini, adalah satu hal yang aku belum bisa percaya. Tentara kerajaan telah
mengadakan pembersihan. Dan tak seorang pengkhianat pun ditemukan….”
“Mungkin mereka semua sudah menyingkir
dan mempersiapkan diri di satu tempat yang tersembunyi di luar kerajaan,” kata
Rara Murni pula. Prabu Kamandaka mengusap-usap dagunya. Lalu katanya:
“Rahasiakan tentang tulisan ini, Dinda.
Meski aku tak percaya, aku akan mengadakan penyelidikan juga.” Sesudah itu,
keluarlah Kamandaka dari kamar adiknya.
***
ENAM BELAS
“Berhenti!”
“Tahan!” Enam prajurit maju ke muka,
enam ujung tombak ditujukan ke dada dan punggung manusia berpakaian putih itu.
“Siapa kau?!”
“Aku mau bertemu dengan Mahesa Birawa!”
“Keparat, aku tanya siapa, menjawabnya
lain” bentak prajurit itu. Laki-laki itu menggeram dalam hati.
“Tunjukkan kemah Mahesa Birawa. Kalau
tidak antarkan aku kepadanya!”
“ Manusia bau tengik! Kau kira kami ini
budakmu?“
“Kau mata-mata Pajajaran ya?!” bentak
prajurit yang paling kanan sekali. Ujung tombaknya kini digeser ke tenggorokan
laki-laki asing itu.
“Kalian sontoloyo semua! Aku bicara
baik-baik, dibalas dengan bentakan-bentakan! Sialan!” Enam ujung tombak dengan
serta merta bergerak ke muka. Laki-laki yang hendak menjadi bahan sasaran ujung
senjata itu berkelebat cepat. Satu kali gebrakan saja maka mentallah keenam
prajurit itu! Empat tergelimpang di tanah tak bangun lagi. Satu berdiri nanar,
sedang yang satu sambil memegang perutnya yang kesakitan, masih sanggup
berteriak memanggil kawan-kawannya. Maka dalam sekejapan mata saja puluhan
prajurit dengan senjata terhunus sudah mengurung tempat itu, mengurung ketat
laki-laki berpakaian serba putih. Oborobor menerangi tempat itu dan jelaslah
tampang manusia yang telah menggeprak enam prajurit tadi. Dia memandang
berkeliling dengan air muka melontarkan senyum mengejek.
“’Inikah tampangnya manusia-manusia
yang hendak memberontak pada kerajaan….?” Laki-taki itu tertawa mengekeh.
“Kalian manusia dogol semua. Mau saja
diperalat oleh segelintir manusia yang hendakkan kekuasaan secara keji! Kalau
kalian kalah, kalian dan dipancung semua! Kalau kalian menang, kalian dapat
apa?!” Seorang laki-laki berbadan tinggi kekar dan berkulit hitam maju ke
hadapan orang asing itu. Dia adalah seorang pelatih prajurit-prajurit yang
hendak memberontak itu. Satu tangan bertolak pinggang, satu lagi menuding
tepat-tepat ke muka si orang asing, dia berkata:
“Kurasa kau masih belum buta untuk
melihat kenyataan, di mana kau berada saat ini!” kata laki-laki tinggi besar
itu. Si orang asing masih tertawa seperti tadi, mengekeh mengejek. Si tinggi
kekar yang merasa dihina di hadapan orang banyak dengan gemas sekali hantamkan
tinju kanannya ke perut si orang asing. Apa yang terjadi kemudian terlalu cepat
untuk dilihat oleh mata orang banyak di tempat itu. Tubuh kepala pelatih yang
tinggi besar itu jungkir balik di udara dan jatuh punggung di tanah. Untuk
beberapa lamanya tak dapat bergerak-gerak! Kesunyian karena terkejut dan
keheranan hanya berlangsung beberapa ketika saja. Begitu terdengar seseorang
berteriak maka menyerbulah puluhan prajurit itu. Suara beradunya senjata riuh
dan kacau balau.
“Tahan!,” Seorang prajurit berteriak.
“Lihat! Kita menghantam sesama kita!
Kunyuk itu sudah ada di sana!” Dan ketika semua mata memandang ke jurusan yang
ditunjuk maka kelihatanlah orang asing tadi berjalan seenaknya di sela-sela
kemah prajurit! Sewaktu dirinya diserang, secara bersama-sama tadi, laki-laki
itu dengan kecepatan luar biasa jatuhkan diri di tanah dan lolos di antara
selangkangan para penyerangnya. Keadaan malam yang gelap menolongnya untuk
lolos dan melangkah seenaknya di sela-sela kemah. Metihat bahwa orang yang
mereka serang sudah berada di tempat lain, di samping terkejut tentu saja
prajurit-prajurit itu menjadi geram sekali. Apa lagi kepala pelatih yang tadi
dibikin menggeletak di tanah dalam satu kali gebrakan. Dia berseru memanggil
prajuritprajurit lainnya.
“Kurung bangsat itu! Kalau tak mungkin
ditangkap hidup-hidup, cincang sampai lumat!,” perintahnya. Kepala pelatih ini
kemudian cabut kerisnya. Sebelum menyerbu di antara anak buahnya dia memberi
perintah pada seorang prajurit yang kebetulan berada di dekatnya:
“Beri tahu hal ini pada Mahesa
Birawa….!”
Di dalam kemah besar itu tengah
berlangsung perundingan. Mahesa Birawa tengah berkata:
“Besok Raden Werku Alit sudah berada di
sini dan agaknya….
“ Ucapan Mahesa Birawa terputus.
Kepalanya berpaling ke kanan dan dari mulutnya keluarlah suara bentakan:
“Pengawal! Apa kamu orang tidak tahu
bahwa tidak siapa pun boleh masuk ke dalam kemah ini? Keluar…. !”
“Mohon maaf Raden… kata pengawal kemah
seraya menjura dua kali.
“Seorang prajurit memberitahukan bahwa
terjadi kerusuhan di sebelah timur…”
“Kerusuhan….?!” Mahesa Birawa berdiri
dari kursinya.
“Ya, seorang asing diketahui memasuki
perkemahan. Ketika dikurung dan ditanyai dia melawan. Dia merubuhkan enam
prajurit! Memukul kepala pelatih Suto Rande dan kini tengah dikeroyok oleh
puluhan prajurit di bawah pimpinan Suto Rande!”
“Hanya seorang asing nyasar ke sini
saja kalian tidak bisa membereskan?! Memalukan sekali!” kertak Mahesa Birawa.
Tapi dalam hatinya dia sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam dunia
persilatan memaklumi, kalau seseorang sanggup merubuhkan enam lawan sekaligus,
bahkan memukul jatuh kepala pelatih prajurit ini suatu tanda bahwa dia bukanlah
orang sembarangan, pasti mempunyai ilmu yang diandalkan. Tapi siapa adanya
orang asing yang berani datang seorang diri ke perkemahan itu, inilah satu hal
yang ingin diketahui Mahesa Birawa. Mahesa Birawa berpaling pada
Adipati-Adipati yang ada dalam kemah itu dan berkata:
“Harap maafkan. Aku terpaksa
meninggalkan persidangan sebentar untuk membereskan keonaran…” Semua Adipati
menganggukkan kepala. Adipati Tapak Ireng berkata:
“Mungkin sekali perusuh ini seorang
mata-mata Pajajaran…”
“Boleh jadi,” sahut Mahesa Birawa
seraya menindak ke pintu kemah. Dan saat itu pengawal kemah berkata:
“Orang asing itu berkata bahwa dia
ingin bertemu dengan Raden…”
“Dengan aku?” Mahesa Birawa menuding
dadanya sendiri. Pengawal mengangguk. Ini membuat Mahesa Birawa tambah ingin
lekas-lekas mengetahui siapa adanya perusuh itu. Pertempuran berkecamuk seru
ketika Mahesa Birawa sampai ke sana bersama seorang prajurit. Prajurit ini
hendak berseru tapi diberi isyarat oleh Mahesa Birawa agar diam saja. Akan
disaksikannya dengan mata kepala sendiri beberapa jurus kehebatan pertempuran
itu. Pekik dan jeritan terdengar hampir setiap saat. Setiap pekikan musti
disusul dengan menggeletaknya tubuh seorang pengeroyok. Menurut taksiran Mahesa
Birawa saat itu ada sekitar tiga puluh prajurit di bawah pimpinan Suto Rande
yang mengeroyok si orang asing. Diam-diam Mahesa Birawa mengagumi juga
kehebatan orang asing itu. Masih muda belia, bertampang keren dan senjatanya
sebuah tombak yang diputar seperti kitiran, menderu dan setiap saat meminta
korban dari pihak pengeroyok! Mahesa Birawa tahu betul, tombak yang di tangan
pemuda itu adalah tombak rampasan. Dan yang membuat Mahesa Birawa terpaksa
leletkan lidah ialah meski dikeroyok puluhan manusia, si pemuda itu dengan
seenaknya saja melayani sambil tertawa dan bersiul! Beberapa orang lagi rubuh
menggeletak dengan perut atau dada terluka parah disambar ujung tombak.
Kemudian terdengar lagi satu pekikan dahsyat. Sesosok tubuh mental, jatuh tepat
di hadapan Mahesa Birawa. Ketika diteliti oleh Mahesa Birawa ternyata sosok
tubuh itu adalah sosok tubuh Suto Rande, kepala pelatih prajurit! Nyawanya
sudah minggat dan pada keningnya kelihatan guratan angka 212…! Angka ini
sekaligus mengingatkan Mahesa Birawa pada keterangan kurir Raden Werku Alit
tentang kematian Kalasrenggi secara aneh, digantung kaki ke atas kepala ke
bawah dan juga ada angka 212 pada kulit keningnya! Tanpa menunggu lebih banyak
korban lagi yang jatuh maka berserulah Mahesa Birawa!
***
TUJUH BELAS
“Aku Mahesa Birawa memerintahkan untuk
hentikan pertempuran ini!” Suara yang hampir menggeledek itu dengan serta merta
menghentikan pertempuran. Prajurit-prajurit yang mengeroyok melompat ke luar
dari kalangan pertempuran. Si pemuda asing masih berdiri di tempat dengan
tombak di tangan. Teriakan Mahesa Birawa tadi membuat dia putar kepala ke arah
datangnya suara itu. Dan sepasang matanya segera membentur sesosok laki-laki
berbadan tegap berkumis lebat melintang, berpakaian bagus. Pada pinggangnya
terselip keris. Dalam hatinya pemuda itu menggumam:
“Hem… jadi inilah dia manusianya yang
bernama Mahesa Birawa itu…”. Selagi dia menggumam begitu laki-laki itu
melangkah mendatanginya.
“Orang asing!,” kata Mahesa Birawa
dengan nada keren dan lantang.
“Meski kau punya sedikit ilmu yang
diandalkan, tapi di sini bukanlah tempat untuk memamerkannya!” Si pemuda
keluarkan suara bersiul.
“Betul aku berhadapan dengan Mahesa
Birawa saat ini…?” tanyanya.
“Kau siapa?!,” membentak Mahesa Birawa.
“Namaku tertulis di kening anak buahmu
itu!” Si pemuda pendekar 212 menunjuk ke mayat Suto Rande.
“Hem… bagus kalau begitu!” Mahesa
Birawa puntir kumisnya.
“Kau yang membunuh Kalasrenggi, bukan?”
“Tidak! Aku hanya menggantungnya dan
Tuhan kemudian mengambil rohnya….”. Habis berkata begitu pendekar 212 Wiro
Sableng tertawa mengekeh.
“Kau tahu Mahesa, manusia macam
Kalasrenggi itu tak layak hidup lama-lama di dunia! Masih kebagusan ada kali
untuk tempat pembuang mayatnya! Dan kau tahu… di atas bumi ini masih banyak
manusia-manusia macam Kalasrenggi malahan lebih terkutuk dari Kalasrenggi yang
musti dilenyapkan!” Di sini bukan tempat pidato, budak hina!,” bentak Mahesa
Birawa.
“Oh, begitu…? Kalau demikian mari kita
bicara empat mata Mahesa Birawa. Aku memang sudah lama mencari kau!” Mahesa
Birawa menyeringai. Kemudian kelihatan bagaimana mukanya menjadi kelam membesi.
“Kalau aku bicara dengan kau maka biar
aku terangkan padamu bahwa kedatanganmu ke sini hanyalah untuk mengantar
nyawa!” Habis berkata demikian Mahesa Birawa hantamkan tangan kanannya ke muka.
Setiup angin yang bukan olah-olah panasnya menggebubu ke arah pendekar 212!
Pendekar 212 lompat tiga tombak ke atas. Angin pukulan lewat di bawahnya dan
menghantam sebuah pohon kayu.
“Buum!”
“Kraak!” Pohon itu bukan saja tumbang
dilanda angin pukulan tapi juga berwarna hitam karena hangus! Kedua orang itu
sama-sama terkejut. Pendekar 212 terkejut melihat kehebatan pukulan dan tenaga
dalam lawan sedang Mahesa Birawa heran tidak menyangka kalau pukulannya itu
dapat dielakkan dengan satu lompatan enteng ke udara!
Dengan penuh waspada Wiro Sableng
jejakkan kedua kakinya kembali ke tanah.
“Mahesa Birawa,” katanya,
“Soal pertempuran soal mudah. Mudah
dimulai, mudah diakhiri. Tapi aku bilang, aku mau bicara dengan kau! Empat
ma….”
“Budak hina! Siapa sudi bicara dengan
kau!” potong Mahesa Birawa membentak. Sekali lagi tangan kanannya dipukulkan ke
muka. Kalau tadi dia hanya mempergunakan sepertiga dari tenaga dalamnya maka
kini dialirkan ke dalam pukulannya itu setengah dari tenaga dalamnya! Namun
untuk kedua kalinya pula Mahesa Birawa dibuat gemas karena Pendekar 212
berhasil pula mengelakkan serangannya yang dahsyat itu.
“Mahesa Birawa, apakah kau yang lebih
tua tidak memberikan kesempatan padaku untuk bicara empat mata?!”tanya Wiro
Sableng pula. Kesabarannya mulai terkikis dari hatinya. Kalau saja dia tiada
ingat pesan gurunya Eyang Sinto Gendeng pastilah saat itu juga dibalasnya
serangan-serangan Mahesa Birawa tadi! Untuk tidak terlalu kehilangan muka
karena dua pukulannya berhasil dielakkan lawan maka berkatalah Mahesa Birawa:
“Percuma saja kau bicara, toh nantinya
nyawamu akan aku bikin merat juga dari kau punya badan!” Pendekar 212 tertawa.
“Dengar Mahesa Birawa…” kata pendekar
ini. Rahang-rahangnya bertonjolan. Pelipisnya bergerak-gerak tanda dia menekan
amarahnya dan berusaha mempertahankan kesabarannya.
“Aku membawa pesan dari Eyang Sinto
Gendeng…” Maka terkejutlah Mahesa Birawa mendengar nama itu.
“Kau ini siapa kalau begitu?!”
tanyanya.
“Siapa aku masih belum penting. Aku
tunggu kau malam ini di bukit Jatimaleh. Seorang diri, Mahesa Birawa. Datanglah
seorang diri….”
“Kau bisa bicara di sini!” Pendekar 212
menggeleng.
“Di bukit Jatimaleh…” desisnya.
“Aku bilang di sini!,” bentak Mahesa
Birawa.
“Takutkah kau datang ke bukit itu
malam-malam gelap begini? Atau mungkin takut pada dinginnya udara? Atau mungkin
takut pada roh-roh manusia yang selama ini membayangimu….?!” Mahesa Birawa
kertakkan geraham. Dia memberi isyarat. Bersama puluhan prajurit yang ada di
situ maka menyerbulah dia! Pendekar 212 melompat sampai setinggi tujuh tombak.
Dia berpegangan pada ujung sebuah cabang pohon, membuat satu kali putaran pada
saat mana Mahesa Birawa lemparkan sejenis senjata rahasia. Mahesa Birawa
berseru tertahan ketika melihat senjata rahasianya membalik kembali menyerang
dirinya sendiri. Dikebutkannya tangan kirinya. Senjata rahasia itu bermentalan,
menghantam prajurit-prajurit di sekitarnya. Empat orang menggerang dan rebah ke
tanah! Bayangan Wiro Sableng lenyap namun masih terdengarsuara seruannya
mengiangi anak telinga.
“Bukit Jatimaleh, Mahesa! Malam ini.
Ingat, seorang diri…. !”
***
DELAPAN BELAS
Bukit Jatimaleh tertetak tidak berapa
jauh dari perkemahan pemberontak. Ketika Mahesa Birawa hendak meninggalkan
perkemahan, beberapa prajurit menyatakan hendak ikut serta tapi Mahesa berkata:
“Biar aku sendiri yang membereskan
urusan ini! Kalian semua di sini bersiap siagalah. Perkuat penjagaan dan lipat
gandakan prajurit-prajurit peronda!” Cuaca malam di atas bukit Jatimaleh gelap
gulita. Di langit tiada rembulan tiada bintang. Udara yang dingin mencucuki
daging menyembilui tulang-tulang sampai ke sungsum. Dalam kegelapan inilah
kelihatan dua sosok tubuh berdiri berhadap-hadapan. Yang satu membentak
lantang:
“Cepat terangkan siapa kau adanya budak
hina!”
“Ah… jangan bicara memaki terus-terusan
Mahesa Birawa. Belum tentu aku lebih hina dari kau!,” jawab Pendekar 212.
Marahlah Mahesa Birawa. Dia menggeser langkahnya ke muka. Tapi langkahnya
segera pula terhenti ketika didengarnya pemuda di hadapannya berkata:
“Pesan Eyang Sinto Gendeng ialah agar
kau segera kembali ke puncak Gunung Gede dalam waktu secepat-cepatnya!”
“Kembali ke puncak Gunung Gede…. ?!”
“Yeah… Untuk menerima hukuman atas
perbuatan-perbuatan jahatmu sejak kau turun gunung tujuh belas tahun yang
silam!”
“Jangan bicara ngaco belo! Ada hubungan
apa kau dengan Eyang Sinto Gendeng?!” Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 tertawa
datar.
“Aku hanya pesuruh buruk saja,
Mahesa….” jawabnya.
“Dusta!,” bentak Mahesa Birawa
menggeledek.
“Kalau kau tak mau bicara yang
sebetulnya jangan menyesal bila kepalamu kupuntir sampai putus!” Wiro Sableng
bersiul.
“Aku tak tahu segala urusan puntir
kepala. Aku hanya menyampaikan perintah Eyang Sinto Gendeng agar kau
menghadapnya di puncak Gunung Gede! Kau dengar Mahesa…. He… he… he….” Jari-jari
tangan Mahesa Birawa mengepal membentuk tinju.
“Aku ingin tahu saat ini juga. Apakah
kau bersedia memenuhi perintah itu atau tidak…?”
“Aku tanya dulu! Apa hubunganmu dengan
Eyang Sinto Gendeng? Jangan bikin kesabaranku habis!”
“Kurasa akulah yang mustinya kehabisan
rasa sabar melihat tampangmu saat ini!” tukas Wiro Sableng.
“Katakan saja terus terang bahwa kau
tak mau menghadap Eyang Sinto Gendeng! Itu lebih baik dan lebih jelas….!”
Mahesa Birawa busungkan dada. Katanya:
“Kalau orang tua geblek itu butuh
ketemu dengan aku, suruh dia datang ke sini!” Suara menggeram jelas terdengar
di tenggorokan Pendekar 212. Mukanya kelam membesi. Tanah yang dipijaknya
melesak sampai tiga senti!
“Bicaramu terlalu besar Mahesa Birawa!
Terlalu pongah! Dosamu sendiri sudah lebih dari takaran! Hari ini kau hina
gurumu sendiri! Guru yang bertahun-tahun telah memeliharamu, mengajarmu segala
ilmu kepandaian! Guru yang telah kau nodai nama baiknya! Kau mengandalkan
apakah, Mahesa Birawa….. ?!“
“Bocah gila! Terpaksa mulutmu kurobek
detik ini juga!” bentak Mahesa Birawa. Secepat kilat, belum lagi habis bicaranya
maka lima jari-jari tangan kanannya bergerak mencengkeram ke muka. Pendekar 212
tertawa. Tertawa dan bersiul. Bentakan nyaring menggeledek dari mulutnya dan
dia lompat ke samping sambil hantamkan tangan kirinya. Mahesa Birawa terkejut
ketika merasakan satu angin yang deras mendorong tubuhnya. Cepat-cepat dia
pergunakan tangan kanan untuk memapasi dorongan angin itu tapi tak urung
tubuhnya menjadi gontai juga! Maka kini keringat dingin memercik di kening
laki-laki itu!
“Urusan kekerasan urusan mudah, Mahesa!,”
kata Wiro Sableng.
“Tapi bicaraku masih belum habis. Tujuh
belas tahun yang lewat kau pernah malang melintang di Jatiwalu. Ingat…. ?”
“Pemuda sedeng! Darimana….”
“Ah… kau masih ingat! Bagus… bagus
sekali! Apa kau juga ingat bahwa pada masa tujuh belas tahun itu kau telah
membunuh Ranaweleng, Kepala Kampung Jatiwalu?! Apakah kau juga masih ingat
bahwa pada masa itu kau juga merusak kehormatan seorang perempuan bernama Suci,
isteri Ranaweleng, kemudian karena malu perempuan itu bunuh diri?! Apa kau juga
masih ingat dan sanggup menghitung berapa banyak jiwa penduduk yang kau
renggut, kau bunuh?!” Mulut Mahesa Birawa terkatup rapat-rapat. Dan pendekar
212 buka mulut lagi:
“Kalau aku tidak ingat pesan Eyang
Sinto Gendeng, pada detik aku melihat tampangmu aku sudah bertekad untuk
mengermus kepalamu! Kini setelah tahu bahwa kau tidak mau diperintahkan untuk
menghadap ke puncak Gunung Gede maka tak ada lagi halangan bagiku untuk
membalaskan dendam kesumat seribu karat, untuk membalaskan sakit hati yang berurat
berakar sejak tujuh belas tahun yang lewat! Ketahuilah Mahesa Birawa, aku
adalah anak Ranaweleng. Dan aku adalah juga murid Eyang Sinto Gendeng! Adik
seperguruanmu sendiri, tapi yang akan memisahkan roh busukmu dengan tubuh
bejatmu!” Habis berkata begini maka tertawalah pendekar 212. Suara tertawanya
keras dan panjang, menegakkan bulu roma. Bergetar hati Mahesa Birawa mendengar
suara tertawa yang menegakkan bulu kuduknya itu. Terbayang olehnya masa tujuh
belas tahun yang silam. Begitu cepat waktu berlalu dan tahu-tahu kini dia
berhadapan dengan kenyataan yang pahit! Berhadapan dengan anak laki-laki dari
suami isteri yang pernah menjadi korbannya. Seperti tak percaya dia akan
kenyataan ini!
“Orang muda…!,” kata Mahesa Birawa
pula. Suaranya diperbawa dengan aliran tenaga dalam agar tidak kentara getaran
hatinya.
“Kuharap kau cepat-cepat saja bangun
dari mimpimu dan tahu berhadapan dengan siapa…!” Pendekar 212 tertawa lagi
seperti tadi. Lebih seram malah! Dan didengarnya suara Mahesa Birawa, musuh
besarnya itu berkata pongah:
“Jangankan kau… Eyang Sinto Gendeng
sekalipun tak akan sanggup turun tangan terhadapku! Kalau kau teruskan niat
edanmu, ketahuilah bahwa kedatanganmu sejauh ini dari puncak Gunung Gede
hanyalah untuk mencari mampus sendiri!”
“Kita akan lihat Mahesa Birawa! Kita
akan saksikan! Darah siapa di antara kita yang akan dihisap oleh tanah! Kau
telah menentukan kematian ibu bapakku di siang hari! Disaksikan oleh langit
siang dan matahari! Karena itu besok, bila matahari tepat sampai di puncak ubun-ubun,
aku tunggu kau di atas bukit ini! Biar langit dan matahari yang dulu
menyaksikan kematian ibu bapakku, besok menyaksikan pula kematianmu,
menyaksikan pembalasan dendam kesumat seribu karat!” Mahesa Birawa keluarkan
suara mendengus.
“Aku bukan manusia yang bisa menunggu,
apa lagi terhadap keroco macam kau! Tapi dengar orang muda… daripada kau mati
tiada guna, aku ada usul baik bagimu. Ikut bersamaku menghancurkan Pajajaran,
niscaya kau akan kuangkat kelak menjadi seorang pejabat berpangkat tinggi…. !”
Wiro Sableng bersiul.
“Aku tidak butuh usul, Mahesa Birawa,
juga tidak butuh apa-apa. Saat ini aku hanya butuh roh busukmu! Besok siang di
tempat ini. Mahesa. Darahmu atau darahku, nyawamu atau nyawaku!” Maka kini
Mahesa Birawa tidak dapat lagi menahan hatinya.
“Tak perlu tunggu sampai besok!
Sekarang pun aku bersedia melayani! Terima pukulan seribu badai ini!” Mahesa
Birawa menerjang ke muka. Tangan kanannya memukul dan gelombang angin yang
sangat hebat menderu menyambar ke arah pendekar 212. Yang diserang tanpa tunggu
lebih lama berkelebat dan melompat setinggi tujuh tombak. Kedua kakinya
tergetar dan linu ketika angin pukulan lawan dalam jarak setinggi itu masih
sanggup menyapu kedua kakinya! Dengan kerahkan setengah dari tenaga dalamnya
Wiro Sabteng hantamkan tangan kanan ke bawah melancarkan pukulan Benteng Topan
Melanda Samudera! Mahesa Birawa berseru tertahan melihat datangnya angin
laksana badai ke arahnya. Cepat-cepat dia melompat ke samping. Tubuhnya hampir
terpelanting diserempet angin pukulan lawan. Dengan kerahkan tenaga dalamnya
dia masih sanggup berdiri di tempat setelah mengelak tadi. Namun demikian kedua
kakinya melesak sampai lima senti ke dalam tanah! Dalam keterkejutan melihat
kehebatan lawan Mahesa Birawa mendengar suara tertawa pendekar 212.
“Kutunggu besok siang Mahesa Birawa. Di
sini,di puncak bukit ini! Satu hal perlu kukatakan. Besok aku menghadapimu
bukan sebagai manusia bernama Mahesa Birawa, tapi sebagai Suranyali!” Wiro
Sableng berkelebat.
“Budak hina! Jangan lari!” teriak Mahesa
Birawa alias Suranyali. Namun pendekar 212 sudah lenyap dari pemandangannya
ditelan kegelapan malam.
***
SEMBILAN BELAS
Malam itu Mahesa Birawa tak dapat
memicingkan mata. Dia gelisah sekali. Sebentar-sebentar di atas pembaringan
dalam kemah dia membalik ke kiri, membalik ke kanan. Ingatannya mengawang
kembali pada masa tujuh belas tahun yang silam. Terbayang olehnya kematian
Ranaweleng. Terbayang olehnya Suci, perempuan yang bunuh diri itu. Dan ketika
ingatannya berpindah pada pemuda yang mengaku anak dari Ranaweleng itu,
tubuhnya seperti dijalari hawa dingin. Meski sudah dapat mengukur kehebatan
lawan namun Mahesa Birawa tidak takut sama sekali untuk menghadapi pemuda itu.
Cuma kemunculan si pemuda yang tidak terdugalah yang benar-benar mengejutkan dan
menyirapkan semangatnya. Hati kecilnya mengutuki kebodohannya sendiri. Pada
masa tujuh belas tahun yang silam itu dia tahu kalau Ranaweleng dan Suci
mempunyai seorang putera. Kenapa dia tidak sekaligus membunuh orok Ranaweleng
itu? Tapi saat itu tentu saja dia tidak mempunyai pikiran panjang seperti waktu
sekarang ini. Mahesa Birawa membalikkan tubuhnya kembali. Dia memandang ke
dinding kemah. Dan pada dinding kemah itu seperti terbayang oleh matanya
rentetan kalimat yang pernah dibacanya pada dinding tempat kediamannya tujuh
belas tahun yang lalu yaitu ketika dia baru saja berhasil melarikan Suci dan
memasukkannya ke kamarnya. Di sana… di dalam ingatan Mahesa Birawa alias
Suranyali, seperti tertera kembali rentetan kalimat itu. Rentetan kalimat yang
menjadi kenyataan:
“Apa yang kau lakukan hari ini akan kau
terima balasannya pada tujuh belas tahun mendatang!” Mahesa Birawa akhirnya
turun dari pembaringan. Beberapa lama dia mondar mandir didalam kemah besarnya
itu. Kemudian teringat dia pada kematian Kalasrenggi dan dua orang mata-mata
yang dikirim ke Kotaraja tempo hari. Mereka menemui kematian akibat turun
tangannya seorang manusia aneh. Kalasrenggi mati dengan guratan angka 212 pada
keningnya. Dan tadi dia juga saksikan sendiri kematian Suto Rande dalam cara
yang sama! Kalau begitu sedikit banyaknya atau mungkin pasti… pasti sekali
pemuda yang mengaku anak Ranaweleng itu, yang sesungguhnya adalah adik
seperguruannya sendiri, pastilah mempunyai sangkut paut atau hubungan dengan
Pajajaran. Dan kalau sudah begini berarti bocornya rencana untuk menggulingkan
Prabu Kamandaka, bocornya rencana untuk memberontak terhadap Kerajaan! Mahesa
Birawa melangkah lagi mondar mandir sambil mengepalkan tinjunya. Dia harus
bertindak cepat sebelum Pajajaran benar-benar tahu keseluruhan rencananya.
Bukan mustahil saat itu balatentara Pajajaran tengah menuju ke perkemahan
mereka untuk menyapu mereka! Malam itu juga Mahesa Birawa berunding dengan
kelima Adipati. Dan malam itu pula diputuskan untuk menggerakkan seluruh
pasukan ke Kotaraja. Dua orang kurir dikirim terlebih dahulu. Yang pertama
untuk menemui Raden Werku Alit di Kotaraja, memberitahukan bahwa karena sesuatu
hal yang mendesak maka pasukan diberangkatkan malam itu dan direncanakan untuk
menggempur Pajajaran selambat-lambatnya satu dua jam sesudah fajar menyingsing!
Kurir yang kedua berangkat menuju puncak Gunung Halimun, menemui Begawan Sakti
Sitaraga yang sebelumnya telah mengatakan bersedia turun tangan membantu kaum
pemberontak! Tapi kurir ini kemudian tertawan oleh prajurit-prajurit Pajajaran
di perbatasan.
Meski tetap berhati bimbang akan
kebenaran peringatan yang dibacanya di dinding kamar adiknya, namun Prabu
Kamandaka tak urung menyiapsiagakan balatentara Pajajaran secara diamdiam. Dan
ketika dini hari itu dia dibangunkan secara mendadak, dilaporkan tentang
terlihatnya sepasukan besar mendatangi Kotaraja. Raja Pajajaran ini benar-benar
menjadi kaget. Benar juga peringatan itu, katanya dalam hati. Kepada
Kepala-Kepala Pasukan Kerajaan segera diberikan perintah kilat:
“Kalau pasukan yang datang itu adalah
benar pasukan pemberontak, hadapi mereka di luar tembok Kerajaan!” Manakala
sinar fajar pertama memancar di ufuk timur maka pada saat itu pulalah mulainya
berkecamuk pertempuran yang dahsyat di sepanjang tembok besar yang mengelilingi
Kotaraja. Yang paling seru adalah pertempuran pada dua buah pintu gerbang.
Pihak pemberontak menyerang habis-habisan untuk dapat membobolkan pintu gerbang
Kotaraja itu. Yang diserang bertahan mati-matian! Suara beradunya senjata, pekik
kematian, lolong manusia-manusia yang terbabat senjata, bau anyirnya darah,
semuanya menjadi satu menimbulkan suasana yang mengerikan. Agaknya serangan
lawan mulai tak dapat dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran
berkecamuk hampir setengah jam lebih. Prabu Kamandaka dengan teriakan-teriakan
hebat berkelebat kian ke mari memberi semangat pasukan Pajajaran. Prabu ini
menunggangi seekor kuda putih dan di tangannya tergenggam sebilah golok panjang
yang berlumuran darah! Prabu Kamandaka seperti terpukau dan tak mau percaya
akan kedua matanya ketika dia bergerak ke medan pertempuran sebelah timur, dia
langsung berhadap-hadapan dengan Werku Alit, saudara sepenyusuan sendiri!
“Matakukah yang terbalik atau benarkah
kau yang ada di hadapanku ini, Alit?” ujar Sang Prabu. Raden Werku Alit tertawa
membesi.
“Matamu masih belum terbalik,
Kamandaka! Cuma otakmu yang miring sehingga mengambil hak orang lain….!”
“Hak apakah yang aku telah ambil dan
siapakah orang lain itu?!”
“Takhta Kerajaan adalah hak syah diriku,
Kamandaka!” jawab Werku Alit garang. Prabu Kamandaka tertawa dingin.
“Kau mengigau di slang hari Alit! Tak
kusangka, kau sendiri yang menjadi biang racun pentolan pemberontak yang
memberikan perintah untuk mengeroyok Raja Pajajaran itu!” Prabu Kamandaka
dengan teriakan-teriakan hebat berkelebat kian ke mari memberi semangat pasukan
Pajajaran. Prabu ini menunggangi kuda putih dan di tangannya tergenggam golok
panjang yang berlumuran darah! Agaknya serangan lawan mulai tak dapat
dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran berkecamuk hampir setengah jam
lebih. Yang diserang bertahan mati-matian! Suara beradunya senjata, pekik
kematian, lolong manusia-manusia yang terbabat senjata bau anyirnya darah,
semuanya menjadi satu menimbulkan suasana yang mengerikan. Satu demi satu
prajurit yang bertempur bersama rajanya itu gugur bergelimpangan. Keadaan Sang
Prabu sangat kritis sekali sedang di sebelah barat balatentara pemberontak di
bawah pimpinan Mahesa Birawa sudah hampir berhasil membobolkan pertahanan pintu
gerbang!
***
DUA PULUH
Pada saat pertempuran berkecamuk dengan
serunya, pada saat pintu gerbang Kotaraja di sebelah barat hampir bobol dan
pada saat keselamatan Prabu Kamandaka sendiri terancam maka pada saat itulah
terdengar suara yang keras laksana guntur mengatasi segala kecamukan perang
yang mendatangkan maut itu!
“Manusia-manusia bodoh! Hentikan
pertempuran ini!” Hampir semua mereka yang bertempur di medan sebelah timur itu
jadi terkejut dan hampir semua mata pula memandang ke atas tembok Kotaraja di
mana kelihatan berdiri seorang pemuda berpakaian putih-putih berambut gondrong!
Mungkin sekali Raden Werku Alit adalah orang yang paling terkejut melihat
pemuda di atas tembok itu. Manusia ini tampangnya sama betul dengan pemuda yang
tempo hari ditotoknya sewaktu hujan-hujan di teratak tua!
“Orang-orang mati inginkan hidup,
kalian yang hidup mau bertempur sampai mati! Goblok betul!” terdengar lagi
pemuda yang di atas tembok berkata dengan suaranya yang mengguntur. Werku Alit
kertakkan rahang. Hatinya gusar terhadap si pemuda. Diam-diam dia tahu bahwa
suara yang mengguntur itu pastilah menandakan bahwa si pemuda yang memiliki
tenaga dalam yang sangat tinggi. Namun bila dia melirik ke samping dan detik
itu melihat Prabu Kamandaka berada dalam keadaan lengah maka kesempatan ini
dipergunakan Werku Alit dengan sebaik-baiknya. Senjatanya berkelebat cepat dan
ganas. Satu ujung tajam dari toja menyambar ke leher sedang ujung yang lain
menyapu ke kaki Prabu Kamandaka! Melihat datangnya serangan itu Prabu Kamandaka
sadar akan keteledorannya berbuat lengah. Sangat terlambat baginya untuk dapat
mengelakkan senjata lawan yang menyerang dua tempat itu sekaligus. Salah satu
ujung tajam dari senjata lawan pastilah akan mengenai badannya. Prabu Kamandaka
lemparkan diri ke belakang meski dia tahu bahwa kakinya akan disapu ujung toja
lawan. Tapi pada saat itu pula dari atas tembok melesat satu benda putih sekali
laksana bercahaya. Benda ini berbentuk bintang dan mengeluarkan suara
mendesing, menghantam pertengahan toja Werku Alit dengan tepatnya. Toja itu
patah dua. Salah satu patahannya menggores dada Werku Alit sendiri! Laki-laki
ini menjerit kesakitan dan lompat mundur namun diburu dengan sebat oleh Prabu
Kamandaka. Dalam keadaan terluka, bersama orang-orangnya Werku Alit bertahan
dengan hebat. Dua Adipati lainnya yang melihat terdesaknya Werku Alit segera
berikan bantuan sehingga Prabu Kamandaka dan orang-orangnya kembali terdesak
hebat! Werku Alit mengamuk dahsyat. Mengamuk dengan patahan tojanya. Namun
keadaan dirinya mulai payah akibat luka yang dideritanya. Gerakan-gerakannya
mulai menjadi lamban sehingga dia terpaksa mengambil posisi bertahan dan
membiarkan pembantupembantunya menyerang pihak lawan. Adipati Tapak Ireng
mendekati Werku Alit dan sodorkan sebuah pil.
“Telanlah cepat Raden Alit dan alirkan
tenaga dalammu ke bagian yang terluka….” Werku Alit cepat-cepat telan pil yang
berwama hitam itu lalu kerahkan tenaga dalamnya. Obat yang diberikan oleh
Adipati Tapak Ireng memang manjur sekali. Sesaat kemudian darah pada luka Werku
Alit berhenti dan tiada terasa sakit lagi. Maka dengan cabut kerisnya Werku
Alit kembali maju menghadapi Prabu Kamandaka. Ketika Adipati Lanabelong dengan
ruyung besi putihnya turut pula membantu Werku Alit maka lebih buruk dari tadi
keadaan Prabu Kamandaka kembali terdesak hebat.
“Kaum pemberontak! Hentikan pertempuran
ini!” teriak orang yang di atas tembok. Tapi tak ada yang memperdulikan malah
Adipati Jakaluwing dari Karangtretes menantang:
“Orang gila berambut gondrong kalau mau
rasakan toja besiku, turunlah!” Orang di atas tembok menggerutu penasaran. Dari
balik pinggangnya dikeluarkannya sebuah kapak bermata dua! Mata kapak itu
berkilat-kilat ditimpa sinar matahari pagi. Kemudian dengan satu gerakan yang
sangat enteng dia melompat turun. Dan begitu sampai di tanah ditempelkannya
ujung gagang kapak ke bibirnya. Maka sesaat kemudian menggemalah suara seperti
seruling. Mula-mula pelahan, kemudian makin keras dan melengking-lengking!
Telinga pihak pemberontak yang mendengar suara lengkingan seruling itu seperti
ditusuk-tusuk sakit sekali. Prajurit-prajurit rendahan menjadi terpukau dan
dengan mudah menjadi korban senjata prajurit-prajurit Pajajaran! Werku Alit dan
lima Adipati sekutunya terkejut ketika merasa bagaimana sakitnya telinga mereka
sedang jalan darah mereka tidak lagi teratur tapi sesak tersendat-sendat. Dan
ketika mereka memandang berkeliling mereka melihat bagaimana pasukan mereka di
bagian medan mayat prajurit dengan dada mandi darah! Werku Alit dan
Adipati-Adipati yang masih hidup terkejutnya bukan main. Serangan mereka di
samping dijuruskan kepada Prabu Kamandaka kini juga dititikberatkan pada Wiro
Sableng! Namun bila sekali lagi Kapak Naga Geni 212 berkelebat maka kini
giliran Adipati Jakaluwing pula yang meregang nyawa dengan kepala hampir
terbelah dual Werku Alit dan Adipati-Adipati yang masih hidup menjadi kecut.
Mereka saling berlirikan tajam dan beri isyarat namun pada saat itu pula
pendekar 212 yang sudah tahu maksud mereka membuat gerakan cepat. Rujung besi
Ranabelong mental puntung dua ke udara disusul dengan jerit kematiannya!
Satu-satunya Adipati yang masih hidup yaitu Warok Gluduk boleh dikatakan sudah
tak ada daya lagi sesudah lengan kanannya tadi dibabat puntung oleh Prabu
Kamandaka. Dia memutuskan untuk kabur saja tapi tombak seorang kepala pasukan
Pajajaran lebih dahulu menancap di punggungnya terus menembus sampai ke dada!
Nyali Werku Alit semakin luntur menciut. Di medan pertempuran sebelah timur itu
hanya dia sendiri kini yang menjadi pucuk pimpinan. Kalau tadi dia dan
anak-anak buahnya merupakan pihak penyerang yang mendesak maka kini keadaan
terbalik! Di mana-mana puluhan prajurit-prajuritnya bergeletakan mati. Yang
masih hidup bertempur dengan setengah hati, mundur terus-terusan dan kacau
balau! Suara seruling Kapak Naga Geni 212 yang terus menerus melengking seperti
melumpuhkan sekujur tubuh Raden Werku Alit. Dicobanya mengerahkan tenaga
dalamnya namun tenaga dalamnya terasa laksana punah! Telinganya sakit dan kemudian
dirasakannya ada yang meleleh pada kedua liang telinganya itu! Darah!
***
DUA PULUH SATU
Mahesa Birawa yang ada di medan
pertempuran sebelah barat, yang saat itu sudah hampir berhasil mendesak pasukan
Pajajaran dan membobolkan pintu gerbang pertahanan menjadi terkejut ketika
selintas kepalanya dipalingkan ke arah timur! Pasukan pihaknya di jurusan ini
dilihatnya bertempur dengan kacau, malah sebagian besar mundur terdesak hebat!
Beberapa kelompok pasukan bahkan dilihatnya melarikan diri kucar kacir! Dan di
antara semua apa yang disaksikannya itu sayup-sayup telinganya mendengar
lengkingan suara seruling! Jaraknya dengan medan pertempuran sebelah timur
terpisah puluhan tombak tapi suara seruling itu seperti menerpa-nerpa kulit
tubuhnya, menyendatkan jalan darahnya dan menyakitkan anak telinganya. Dan saat
demi saat jumlah prajurit yang bertempur di medan sana itu semakin berkurang
juga, banyak yang lari dan banyak yang tergelimpang mati! Mahesa Birawa
serahkan pimpinan kepada seorang kepala pasukan yang dipercayainya. Kemudian
dengan gerakan sebat dia menuju ke medan pertempuran sebelah timur. Begitu
sampai di medan pertempuran ini dia disambut oleh satu pemandangan yang cukup
membuat bulu kuduknya merinding. Saat itu, Raden Werku Alit sudah terdesak hebat
dan tak sanggup mengelakkan sambaran pedang Prabu Kamandaka. jarak yang jauh
Mahesa Birawa masih berusaha untuk membokong Prabu Kamandaka dengan pukulan
tangan kosong. Namun angin pukulannya yang dahsyat itu diterpa hebat oleh satu
gelombang angin ganas dari samping! Ketika dia berpaling maka sepasang matanya
membentur pemuda yang tak asing lagi baginya. Maka membentaklah Mahesa Birawa.
Namun bentakannya belum lagi keluar, tahu-tahu satu benda menggelinding ke arah
tempatnya berdiri, dan ketika diperhatikan benda itu adalah kepala Raden Werku
Alit yang sesaat sebetumnya lehernya kena ditebas pedang Prabu Kamandaka!
Kemarahan Mahesa Birawa tiada terperikan. Dengan keris di tangan kanan dan gada
berduri yang mempunyai tiga mata rantai berduri pula dia menyerbu ke hadapan
Prabu Kamandaka! Namun setiup angin dahsyat memotong serangannya itu dari
samping. Dan ketika dia berpaling ternyata lagi-lagi pemuda itu yang
menghalanginya!
“Aku lawanmu, Mahesa Birawa!,” teriak
pendekar 212 dengan bola mata bersinar-sinar.
“Kutunggu kau di bukit Jatimaleh!”
“Budak hina! Kuburmu adalah di antara
tumpukan mayat di tempat ini juga!,” bentak Mahesa Birawa. Sementara itu Prabu
Kamandaka yang tahu bahwa yang tadi hendak menyerangnya adalah tokoh
pemberontak kaki tangan Werku Alit yang berbahaya segera berteriak berikan
perintah:
“Kurung bangsat-bangsat pemberontak
ini!” Dua lusin prajurit, tiga kepala pasukan dan Prabu Kamandaka sendiri
segera mengurung Mahesa Birawa. Namun pada saat itu pula Wiro Sableng melompat
ke muka dan berseru:
“Prabu Kamandaka! Kau memang punya hak
untuk menangkap dan membunuh manusia karena dia adalah pentolan pemberontak
musuh Pajajaran! Tapi aku merasa lebih punya hak untuk membereskannya karena
dialah pembunuh ayahku dan penyebab kematian ibuku! Serahkan dia padaku Prabu
Kamandaka!” Raja Pajajaran meski amarahnya hampir tak dapat dikendalikan lagi,
tapi mendengar ucapan Wiro Sableng itu menahan juga serangannya dan bertanya:
“Orang muda gagah, kau siapakah?!” Wiro
Sableng senyum sedikit. Diacungkannya kapak yang di tangan kanannya. Dan pada
kedua mata kapak itu jelas kelihatan tiga rentetan angka. 212! Terkejutlah Sang
Prabu! Tak disangka pemuda itulah kiranya manusia aneh yang telah memberikan
peringatan kepadanya sebelumnya tentang akan pecahnya pemberontakan. Tahu kalau
si pemuda gagah betul-betul berada di pihaknya sendiri maka Prabu Pajajaran itu
tidak keberatan mengabulkan permintaan Wiro Sableng. Dia beri isyarat agar
prajurit-prajuritnya mundur kembali. Sementara itu boleh dikatakan pertempuran
sudah hampir berakhir. Balatentara pemberontak yang kini tidak berpimpinan lagi
sudah mundur jauh dari tembok Kerajaan dan terus dikejar oleh pasukan Pajajaran
sehingga lari kucar kacir. Dan di antara gelimpangan mayat manusia di atas
tanah yang banjir darah, di udara yang masih hangat oleh baunya maut maka
berhadapanlah dua musuh besar, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dengan
Suranyali alias Mahesa Birawa! Pendekar 212 baru saja pasang kuda-kuda dan
melintangkan kapak Naga Geni di muka dada ketika dengan membentak dahsyat
Suranyali menerjang ke muka. Keris menusuk ke kepala dan gada rantai berduri
menyapu ke perut!
“Ciaat!” Wiro Sableng tak kalah sebat.
Tubuhnya berkelebat, Kapak Naga Geni berputar dahsyat menimbulkan gelombang
angin dan mengeluarkan suara mengaung laksana suara ratusan tawon! Gelombang
angin itu sekaligus membentur senjata-senjata Suranyali membuat kedua
tangan-tangannya laksana kena dipukul mental! Suranyali alias Mahesa Birawa
kini tidak bisa bertempur tanggung-tanggung lagi. Seluruh tenaga dalamnya
dikerahkan dan untuk kedua kalinya dia menyerbu ke muka! Serangan kali ini
lebih dahsyat dari yang pertama namun pendekar 212 menunggu dengan tenang!
Setengah tombak tubuh lawan mengapung ke arahnya Wiro Sableng sapukan Kapak
Maut Naga Geni ke muka dalam jurus Orang Gila Mengebut Lalat. Suranyali
merasakan badannya seperti membentur dinding yang tak kelihatan! Dengan
andalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sempurna sekali, laki-laki ini
lompat ke samping. Kapak Naga Geni melesat di bawahnya dan pada detik itu pula
Suranyali kembali menukik dan babatkan gada berdurinya! Yang diserang sama
sekali tidak mau mengelak, tapi putar Kapak Naga Geninya di atas kepala. Maka
dua senjata bentrokanlah dengan hebat, mengeluarkan suara nyaring! Kapak Naga
Geni memancarkan bunga api, dua dari rantai besi berduri yang bergandul pada
gada berduri di tangan kiri Suranyali putus! Membuat pemiliknya jadi terkejut
sekali! Dan dalam saat itu pula laksana topan Kapak Naga Geni membalik membabat
ke arah selangkangannya! Suranyali berseru keras dan jungkir balik di udara!
Keringat dingin mengucur di kuduknya! Prabu Kamandaka leletkan lidah melihat
pertempuran yang hebat itu. Dalam waktu yang singkat kedua orang itu telah
bertempur dua puluh jurus! Dan kentara sekali bagaimana kini Suranyali alias
Mahesa Birawa mulai mendapat tekanantekanan hebat! Dan pada saat laki-laki ini
terpaksa buang penggada berdurinya karena senjata itu dibabat puntung oleh
kapak lawan! Dengan penasaran Suranyali cabut senjatanya yang lain yaitu sebuah
tongkat besi yang ujungnya bercagak dua. Tongkat besi ini memancarkan sinar
kehijauan tanda bukan senjata sembarangan dan menggndung racun yang hebat!
Dengan keris di tangan kanan dan tongkat besi bercagak di tangan kiri
berkelebatlah Suranyali. Kedua senjatanya memancarkan sinar dahsyat yang
membungkus lawannya. Namun yang dihadapi Suranyali saat itu bukan manusia
berilmu rendah dan bukan pula yang bersenjatakan senjata biasa! Kapak Naga Geni
212 menderu-deru mengaung mengeluarkan sinar putih menyilaukan. Tubuh kedua
orang itu hanya merupakan bayangbayang saja dan tiba-tiba terdengar teriakan
Suranyali. Keris di tangan kanannya terlepas mental patah dua. Kalau saja dia
tidak cepat-cepat tarik tangan kanannya pastilah tangan itu kena pula dibabat kapak
lawan! Suranyali melompat ke luar dari kalangan pertempuran! Mukanya memucat
laksana salju! Cepat-cepat dia atur jalan nafasnya. Ketika dia melangkah ke
muka maka kelihatanlah tangan kanannya sampai ke pangkal siku berwarna sangat
hijau dan bergetar.
“Pemuda hina dina! Kau lihat lengan
kananku ini?!” tanya Suranyali sambil acungkan tangan kanannya.
“Tujuh belas tahun yang lalu bapakmu
meregang nyawa oleh pukulan Kelabang Hijau-ku! Kini anaknya akan menerima
bagian yang sama pula!” Wiro Sableng tahu. kalau tujuh belas tahun yang lalu
musuh besarnya itu telah memiliki ilmu pukulan Kelabang Hijau itu maka kini
kehebatannya tentu tak dapat dibayangkan. Namun hal ini sama sekali tidak
menggetarkan hatinya! Kapak Naga Geni 212 dipindahkan ke tangan kiri dan tiga
perempat bagian tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanan. Dan kelihatanlah
tangan kanan itu menjadi sangat putih sedang kuku-kuku jarinya bersinar memerah
menyilaukan! Terkejutlah Suranyali melihat hal ini. Hatinya tergetar.
“Pukulan sinar matahari…,” desisnya.
Pendekar 212 tertawa menggumam.
“Silahkan mulai dahulu, Suranyali…,”
katanya menantang! Diam-diam Suranyali alirkan teluruh tenaga dalamnya ke
lengan kanan. Mulutnya komat-kamit. Kedua kakinya amblas lima senti ke dalam
tanah yang basah oleh genangan darah. Dan sambil lompat sembilan tombak ke atas
kemudian laki-laki ini hantamkan tangan kanannya ke muka! Pendekar 212 tetap
tak bergerak di tempatnya. Sinar hijau dari pukulan lawan melesat ke arahnya
dan disambutinya dengan pukulan tangan kanan! Dua pukulan dahsyat beradu di
udara mengeluarkan suara berdentum! Sinar hijau dan putih saling nyambar dan
memecah ke samping! Pekik jerit dari orang-orang yang berdiri di tepi kalangan
pertempuran terdengar di mana-mana. Tubuh mereka tergelimpang mati. Ada yang
menjadi hijau akibat racun pukulan Kelabang Hijau Suranyali dan banyak yang
menjadi hangus hitam tersambar pukulan sinar matahari Wiro Sableng! Prabu
Kamandaka sendiri jika tidak cepat-cepat melompat pastilah akan menjadi korban
pula! Ketika dua sinar itu beradu keras Suranyali merasakan badannya menjadi
panas. Celaka! Keluhnya. Pukulannya kelabang Hijaunya bukan saja musnah oleh
pukulan lawan tapi juga kena dihantam dikembalikan ke arah kedua kakinya.
Cepat-cepat laki-laki ini ambil sebuah pil dari sabuk di pinggangnya dan
menelannya. Kemudian sesaat sesudah itu laksana seekor elang dia menukik ke
bawah, tusukan besi bercagaknya ke leher Wiro Sableng. Wiro memapasi dengan
kapaknya. Suranyali coba menjepit gagang kapak dengan gagakan besi.
Tapi “trang!” Sekali kapak itu
berkiblat maka patahkan senjata Suranyali. Sebelum dia sempat menjejakkan kaki
di tanah, sebelum dia sanggup menjauhi lawan maka Kapak Naga Geni 212 menderu
lagi kali ini tiada ampun membabat kuntung bahu kanan Suranyali! Laki-laki ini
melolong seperti srigala haus darah! Tubuhnya limbung menghuyung! Wiro Sableng
tertawa mengekeh.
“Itu dari ayahku, Suranyali!” katanya.
“Dan ini dari ibuku!” Kapak Naga Geni
berkiblat lagi. Suranyali coba menghindar dengan segala daya tapi tak berhasil.
Bahu kirinya terpapas mental. Darah menyembur! Sungguh mengerikan menyaksikan
tubuh Suranyali yang tanpa lengan itu!
“Yang ini dari Eyang Sinto Gendeng,
Suranyali!” kata Wiro Sableng pula dengan masih tertawa mengekeh seperti tadi.
Kapak Naga Geni sekali lagi menderu. Tubuh Suranyali mental tersandar ke tembok
Kerajaan! Dadanya sampai ke perut robek besar. Darah membanjir dan ususnya
menjela-jela. Pendekar 212 masih belum puas.
“Yang terakhir ini dariku sendiri,
Suranyali!,” katanya. Ketika Kapak Maut Naga Geni 212 itu membelah kepala
Suranyali alias Mahesa Birawa itu, tiada terdengar pekikan atau keluh kematian
dari mulutnya. Tubuhnya masih tersandar sesaat lamanya pada tembok Kerajaan,
kemudian merosot ke bawah dan tergelimpang di atas mayat-mayat pemberontak
lainnya. Tapi tubuh itu tak berada lama menggeletak di sana. Sekali kaki kanan
Wiro Sableng menendang maka mentallah tubuh musuh bebuyutannya itu sampai
belasan tombak! Wiro Sableng tertawa mengekeh, lama dan panjang. dimasukkannya
Kapak Naga Geni 212 ke balik pinggangnya. Kemudian seperti tak ada kejadian
apa-apa, seperti dia bukan berada di antara hamparan ratusan mayat, pemuda ini
melangkah seenaknya bahkan dengan bersiul!
“Saudara muda!,” Prabu Kamandaka
memburu.
“Tunggu dulu…. !” Pendekar 212
berpaling.
“Ah…. aku sampai lupa minta diri padamu
Prabu Kamandaka….”
“Saudara, kau tak boleh pergi dulu…”
“Kenapa?”
“Ikutlah ke istana. Kau telah berjasa
besar dan….”
“Jasa hanyalah jasa Sang Prabu. Hanya
sekedar kenang-kenangan indah. Bagiku jasa tidak berarti mengharapkan balas
imbalan. Selamat tinggal….” Prabu Kamandaka memegang bahu pemuda itu.
“Kuharap kau sudi datang ke istana
terlebih dahulu, saudara,” katanya.
“Terima kasih Sang Prabu, terima
kasih….,” sahut pendekar 212.
“Kalau begitu beri tahu saja namamu….”
Wiro Sableng tersenyum.
“Namaku tidak penting Sang Prabu. Cuma
ingatlah angka 212. Mungkin suatu ketika angka itu akan kembali lagi ke
Pajajaran ini…. Dan satu hal…. jangan lupa sampaikan salamku buat adikmu…. Rara
Murni….”
“Akan kusampaikan” kata Prabu Kamandaka
pula., Dan semua mata kemudian menyaksikan kepergian pendekar muda itu. Prabu
Pajajaran akhirnya geleng-geleng kepala dan tarik nafas panjang.
“Pemuda hebat…. pemuda gagah….,”
katanya.
“Pajajaran berhutang besar kepadamu.
Jasamu tak akan dilupakan sampai turun temurun….”.
TAMAT
Episode selanjutnya:

0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...