Jumat, 14 November 2014

Pendekar Bloon - Eps.13, Jodoh Di Gunung Kendeng

PENDEKAR BLOON
Eps.13
JODOH DI GUNUNG KENDENG

1


Lembah Tegal Wilis memang selalu sunyi. Tidak

ada hembusan angin, tidak ada kicauan burung, sea-

kan tidak ada penghidupan di situ. Pohon-pohon me-

ranggas gersang, tanah berbatu cadas kemerah-

merahan. Namun pagi itu kesunyian seakan disentak-

kan oleh suara nyanyian yang tidak karu-karuan jun-

trungnya. Irama lagu yang terdengar pun terkesan as-

al-asalan. Terkadang keras, atau pelan mendayu-dayu

atau berubah seperti teriakan monyet di hutan.

Tidak berselang lama muncul seorang pemuda

berbaju biru, memakai ikat kepala warna biru belang-

belang kuning. Sesekali ia menggaruk rambutnya yang

hitam kemerah-merahan. Bibirnya menyunggingkan

senyum ketolol-tololan walau patut diakui wajahnya

memang tampan. Di atas lampingan batu yang mem-

bukit, pemuda berdiri tegak, memandang ke depannya

sambil golang-golengkan kepala. Kemudian terdengar-

lah suaranya yang seperti orang bersair....

Serngenge, lintang karo mbulan isek iku-iku woe

Wujudte ndunyo isek panggah aket mbiyen mulo

Menungso podo rupane, podo rambute lanang

atawa wadon.

Atine menungso seng gonta ganti

Kang Gusti Allah ndadeke menungso lan Jin

Sak tenane kudu bekti karo Zat seng ndadeake

Lamun menungso sering lali lan silo karo isine





ndunyo Ojo ngono, mengko siro ngerti pasti

Tekane dino pembalesan

Mengko siro gelo

Sopo seng mujo dunyo,

Sak tenane dunyo lan isine iki ngapusi awakmu

Artinya:

Matahari, bintang dan rembulan tetap itu-itu saja

Wujud (keadaan) bumi masih tetap seperti dulu

kala Manusia sama rupanya, sama rambutnya laki-

laki atau perempuan.

Hati manusia yang berubah-ubah

Gusti Allah menjadikan manusia dan Jin

Sebenarnya semata-mata hanya untuk me-

nyembah pada Zat yang telah menjadikannya

Tapi manusia sering lupa dan silau dengan

isinya dunia

Jangan begitu, nanti kau tahu pasti

Akan datangnya hari Pembalasan

Nanti kau sangat menyesal

Siapa yang memuja dunia

Sesungguhnya dunia dan seisinya ini telah

menipu dirimu....

Dari berdiri Suro Blondo si Bocah Ajaib duduk. Mulut-

nya termonyong-monyong sambil berdecap-decap.

Ha ha ha...

Si tolol, si bodoh, si geblek, adalah diriku ini ....

Aku merasa senang diriku merasa bodoh,

Jika aku pandai tentu membuat aku sombong

dan merasa cukup

Aku adalah orang yang bersalah

Dengan mengingat salahku, aku menjadi hati-

hati bertindak ceroboh

Aku bukan orang yang paling benar, mengang-

gap benar hanya membuat diri banyak melakukan ke-

salahan.

Aku adalah orang yang paling lemah

Mengingat kelemahanku, aku merasa pasti ada

zat yang Maha perkasa di atasku

Aku merasa menjadi orang yang paling berun-

tung, karena aku punya tangan, punya kaki, punya ma-ta punya telinga, punya
hidung, punya mulut...

Kelahiranku di dunia ini adalah tempat ujianku

Bermula dari tiada, ada dan kembali ke tiada.

Dua berbanding satu

Aku yakin yang dua itu adalah kekal...

Lalu aku ini siapa?

Ha ha ha...

Pendekar Blo'on garuk-garuk kepala. Ia terbo-

doh oleh ucapannya sendiri. Si Bocah Ajaib kemudian

berdiri. Tengkuknya tiba-tiba saja meremang berdiri.

"Hh, tidak dapat kubayangkan betapa sunyinya

di alam kubur. Dalam kegelapan berteman perbuatan

baik atau buruk. Seandainya saja setiap orang men-

gingat datangnya mati yang pasti itu. Masihkah mere-

ka dapat tertawa dan menumpuk-numpuk dosa? Aku

yakin mereka pastilah banyak menangisinya" pikir Su-ro.

Belum lagi Suro berandai-andai lebih lanjut.

Tiba-tiba dari arah belakangnya muncul seorang gadis

berwajah cantik luar biasa. Matanya bening dan bulat.

Wajahnya kemerah-merahan, sinar matanya meman-

carkan daya pesona bagai mukjijat yang tentu saja

membuat hati laki-laki tergetar atau tidak akan tahan

menatap berlama-lama. Memang itulah yang kini se-

dang terjadi pada Pendekar Blo'on ini.

Ia hanya mampu memandang wajah dan mata

yang benar-benar memancarkan seribu satu pesona

itu sekejap saja. Tiba-tiba ia tertunduk, hatinya berdebar. Belum pernah Suro merasakan perasaan yang seperti ini.

"Lembah Tegal Wilis daerah tidak bertuan"

berkata si gadis. Dan lagi-lagi Suro tercekat, suara gadis berbaju hijau ini benar-
benar merdu, lagi-lagi Suro merasa belum pernah mendengar suara gadis yang

semerdu ini. "Kulihat sedari tadi kau berdiri mematung di sini seperti orang bego.
Setelah kudekati kau ternyata memang bego. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini.

Siapa pun namamu aku tidak perduli, apa pun gelar-

mu aku tidak mau tahu. Keadaan benar-benar gawat

saat ini." serunya seakan memperingatkan.

Untuk pertama kalinya Suro angkat wajahnya,

lalu terlihat senyum tipis di bibirnya. Karena merasa

serba salah tidak tahu harus bicara darimana, maka

pemuda ini pun garuk-garuk rambutnya.

"Eeh, seperti dugaanku kau memang pemuda

konyol yang tidak tahu bahaya. Ketahuilah, di depan-

mu itu ada jalan, jalan tersebut akan dilalui oleh para rombongan yang akan
meminang puteri Reza Baiduri."

"Jika orang hendak lewat, mengapa aku harus

menyingkir?" sahut Suro seenaknya. "Aku di sini, bukan di tengah jalan. Aku tidak
perduli dengan urusan

pinang meminang. Hatiku sedang risau memikirkan

umat manusia. Eeh... ngomong-ngomong puteri siapa-

kah yang mau dipinang? Apakah Reza Baiduri anak

pembesar, hartawan, puteri Jin atau puteri jurangan

tahu?" "Pemuda ceriwis Jangan kau berani bersikap

konyol di depanku. Para utusan itu adalah tokoh-

tokoh sakti. Mereka tidak suka di sepanjang jalan yang

mereka lalui ada orang lain yang melihatnya. Bisa-bisa

kau dibunuhnya" tegas gadis baju hijau.

"Cantik Aku ini bukan orang yang suka usilan.

Kau ini siapakah? Apakah kau centeng, orang bayaran

atau anak pembantu? Sayang sekali jika gadis secan-

tikmu sudi menjadi pembantu orang lain. Pantasnya

kau adalah puteri yang akan dilamar."

"Banyak mulut. Kau tidak berhak tahu siapa

diriku pemuda bertampang konyol Cepat pergi Kalau

telingamu tidak congekan tentu sekarang kau telah

mendengar suara langkah kuda ke mari" bentak si gadis.

"Aku tidak mau pergi" tegas Suro. "Aku yakin setiap ada sesuatu yang dirahasiakan. Pasti ada ketidak beresan di dalamnya."

"Pemuda sinting. Anak bukan saudara bukan,

terserahmulah. Kalau ada apa-apanya tanggungkan

sendiri" Dan kemudian gadis baju hijau itu berkelebat lenyap di balik batu-batu
besar."Kelihatannya dia sangat ketakutan sekali. Ada apa rupanya?" pikir Suro.

Pendekar Blo'on kerat-kerutkan keningnya. Ti-

dak lama kemudian terlihatlah serombongan orang-

orang berkuda. Di belakang rombongan berkuda itu

tampak sebuah kereta yang ditarik dua kuda berbadan

tegap dan kuat sekali. Tentu orang di dalam kereta itu

bukan sembarangan orang, paling tidak berasal dari

keluarga terpandang. Terbukti keretanya saja cukup

bagus dan dihias dengan hiasan dari perak. Di atas ke-

reta kuda terdapat sebuah simbol berbentuk kepala

harimau. Simbol itu terbuat dari emas seluruhnya.

Setelah sampai di depan Pendekar Mandau

Jantan. Maka rombongan yang berada paling depan

langsung menarik kendali kuda, hingga membuat bi-

natang tunggangan itu langsung berhenti. Penung-

gangnya berkumis tebal, memelihara jenggot seperti

kambing bandot, wajahnya bopeng-bopeng tidak rata,

tatapan matanya sinis. Sedangkan mulutnya, nah mu-

lutnya itu yang paling jelek. Bibir bawahnya memble

seperti disengat sepuluh ekor lebah berbisa. Orang ini

tidak memakai baju. Yang aneh, sekujur tubuhnya pe-

nuh tatto bergambar harimau dalam berbagai ukuran.

"Kau yang berani tunjukkan tampang sebutkan

nama?" Suro nyengir.

"Aku?"

"Ya, kau monyet Kau kira aku sedang berbica-

ra dengan siapa?" bentak si laki-laki bengis.

"Aku sendiri bingung siapa aku. Yang jelas bu-

kan si bibir dower yang sekujur tubuhnya di tatto ma-

cam orang gila" jawab Pendekar Blo'on tenang-tenang saja. Di balik batu si gadis
mengomel. "Wong edan tidak tahu gelagat Dia bicara seenak perutnya pada

Macan Terbang ketua dan sesepuh Perguruan Lembah

Kebinasaan?"

Pipi laki-laki berumur enam puluh tahun itu

menggembung. Matanya berkilat-kilat.

"Kau sungguh tidak mengenal peradatan sekali,

pemuda geblek Tidak tahukah kau dengan siapa kau

berhadapan?" dengus Macan Terbang.

"Ha ha ha... Bagaimana aku tahu sedang ber-

hadapan dengan setan jelek dari mana. Kisanak sendi-

ri tidak perkenalkan diri dan tidak mau sebutkan asal-

usul Memang aku pikirin?" sahut Pendekar Blo'on disertai tawa. "Eh... kalau tidak
salah kalian hendak melamar, ya? Aku jadi ingin tahu seperti apa sih tam-

pangnya calon mempelai laki-laki? Apakah lebih dower

dan lebih jelek darimu atau sekujur tubuhnya di tatto

juga dengan gambar perempuan telanjang?"

"Tetua, bicara kunyuk jelek ini sudah sangat

keterlaluan Biar kami yang menutup mulutnya den-

gan golok ini" kata salah seorang laki-laki yang berada di samping Macan Terbang.
Tapi laki-laki tua itu memberi isyarat untuk diam. Suro nyeletuk...

"Walah baru jadi anjing piaraan saja kau sudah

jual lagak padaku kuping sebelah, atau kau mau ko-

nyol? Ke sini biar kubuat babak belur" dengus Suro sambil pencongkan mulut,
mencibir.

"Pemuda kurang ajar Kami orang-orang dari

Lembah Kebinasaan tentu tidak segan memberikan se-

buah pelajaran kepadamu Huh..." Kuping tunggal

membarengi ucapannya dengan lemparan dua buah

golok berukuran kecil. Kedua senjata tajam tersebut

bergerak cepat membeset udara. Kecepatannya me-

mang sungguh di luar dugaan Pendekar Blo'on. Apa

yang sedang terjadi tidak lepas dari perhatian gadis ba-ju hijau.

"Nah kau rasakan Jika tidak dapat menghin-

dar, sebentar lagi tentu tubuhmu tertembus senjata

milik Kuping Tunggal."

Di luar dugaan para rombongan itu tiba-tiba

saja Si Bocah Ajaib lakukan gerakan menghindar se-

perti langkah-langkah seekor monyet. Mula-mula ia

berjingkrak. Lalu melompat ke udara dengan gerakan

yang sangat lucu namun membuat orang yang meli-

hatnya berdecak kagum.

Sebuah golok luput dan terus meluncur meng-

hantam batu di belakangnya. Sedangkan golok lain

meluncur ke arah tenggorokan Suro. Pemuda beram-

but hitam kemerahan ini tidak membiarkan lehernya

putus. Tangannya dengan cepat bergerak.

Set....Tep

"Nih kukembalikan golok jelekmu" dengus

Pendekar Mandau Jantan. Dengan gerakan asal-asalan

dilakukannya. Senjata itu meluncur kembali dengan

kecepatan berlipat ganda. Kuping tunggal kelabakan.

Ia menggebrak kuda tunggangannya. Sehingga luput-

lah serangan itu. Nasib sial menimpa kawan yang be-

rada di belakangnya. Tubuhnya langsung tertembus

senjata milik kawan sendiri. Ia menjerit keras, tubuh-

nya tersungkur. Kagetlah Macan Terbang sesepuh

Lembah Kebinasaan melihat anak buahnya mati seca-

ra mengenaskan itu. Memandang ke arah Suro dengan

penuh keheranan sekaligus marah hanya membuat la-

ki-laki tua ini menjadi bertambah gondok.

"Anak setan itu malah gorak-garuk kepala

kayak monyet. Aku sama sekali tidak menyangka ka-

lau dia punya kepandaian sehebat itu. Kehebatannya

tersembunyi di balik tampangnya yang konyol tidak

meyakinkan. Bangsat betul" maki Macan Terbang da-

lam hati.

"A... ha ha ha... Jika kalian ingin melamar,

mengapa tidak cepat teruskan perjalanan?" kata Suro sambil cengar-cengir. "Apa
nanti kata calon besan jika kalian datang membawa mayat sendiri. Kalau untuk

keperluan sayur atau gulai. Bukankah kambing atau

lembu masih banyak. Apa kalian sudah pada gila? Ma-

sa' daging sesamanya mau kalian jadikan sate?"

"Pemuda keparat" Membentak Macan Terbang.

"Kau siapa sebenarnya? Rambutmu, wajah tololmu, gerakan silatmu, rasa-rasanya
tidak asing lagi bagiku"

Orang bertatto tersebut tiba-tiba ketuk keningnya.

"Hmm, aku rasanya pernah mendengar saat hari kela-

hiranmu. Kau..."

Macan Terbang tiba-tiba saja belalakan mata,

mulutnya terbuka lebar tanda kaget. "Menurut Ki Be-

gawan Sudra bukankah kau si Bocah Ajaib itu" desis si kakek.

"Entahlah, peramal dari Pantai Selatan itu

mungkin sudah gila. Ramalannya hanya membuat aku

jadi yatim piatu. Hayo, aku masih memberi kalian ke-

sempatan untuk meneruskan perjalanan. Jika kalian

tetap membantah, jangan salahkan aku andai cuma

arwah gentayangan kalian saja yang sampai di tempat

tujuan" gertak Pendekar Blo'on.

"Ayah, lebih baik perjalanan diteruskan. Biar-

kan saja pemuda gila itu hidup. Kelak jika kita berte-

mu lagi dengannya, kita dapat meminta nyawanya"

kata sebuah suara dari dalam kereta kuda. Mungkin

inilah calon mempelai laki-laki. Suro tentu tidak dapat melihat orangnya, kereta
kuda itu tertutup rapat.

"Ya... lebih baik kalian cepat minggat. Aku ya-

kin anakmu takut mati. Jika anakmu mati, tentu calon

pengantin perempuan tidak mau kawin dengan bang-

kai Ha ha ha..."

Walau Macan Terbang sebenarnya tidak tahan

mendengar kata-kata Pendekar Blo'on. Di sisi lain ia

sangat sayang pada anaknya. Pemuda tampan ber-

tampang tolol ini tidak dapat dijajaki sampai di mana

kehebatannya. Bagaimana jika mereka kalah?

"Jalan..." perintah Macan Terbang.

"Tapi, tetua..." Kuping Tunggal tampak tidak puas. "Jalan kataku, goblok" bentak
Macan Terbang.

Bukan main kecewanya Kuping tunggal, seba-

gai seorang murid. Tentu ia tidak dapat membantah.

Maka mereka pun bergerak lagi tanpa pernah menoleh

ke belakang.

***

2


"Cantik Keluarlah, orang-orang jelek itu sudah

berlalu. Dia tidak akan mengganggumu lagi" seru Su-ro. Belum sempat Pendekar
Blo'on menoleh, tahu-tahu

gadis cantik baju hijau sudah berdiri di belakangnya.

"Heh... Gerakanmu seperti bayangan saja, aku

ingin bertanya apakah orang-orang tadi telah menyu-

sahkanmu?"

"Kau orang goblok Dengar pemuda sinting. Aku

adalah salah satu anggota tuan rumah. Kanjeng Sunan

Bandi Suliwa pamanku. Mereka adalah para tetamu

Kanjeng Sunan. Kau telah membuat aku kehilangan

muka di depan pamanku. Apa jawabku nanti jika be-

liau bertanya tentang tanggung jawabku tentang kea-

manan rombongan yang ingin melamar puteri Reza

Baiduri?" tanya si cantik baju hijau cemberut.

"Oh, maafkan aku. Sama sekali aku tidak tahu

bahwa kau sedang bertugas mengawasi para tamu

pamanmu yang hendak melamar keponakanmu Maaf-

kan... sekali maafkan..."

"Percuma saja. Berdoalah agar Macan Terbang

tidak melaporkan kejadian ini pada Kanjeng Sunan.

Jika hal itu sampai terjadi, paman ku bisa memenjara-

kan aku" Gadis baju hijau mengeluh. Terlihat jelas ia berusaha menyimpan
ketakutannya.Pendekar Blo'on tersentak kaget, "Seorang pa-

man tega menghukum keponakan sendiri? Baru sekali

ini aku mendengar. ada orang berbuat sekeji itu"

Gadis baju hijau tidak segera menjawab. Per-

soalan yang sedang dihadapinya memang tidak mu-

dah. Malah begitu rumit berbelit-belit. Tidak ada seo-

rang pun yang dapat membantunya. Jika ia bersikap

kasar pada pemuda ini atau menangkapnya. Mungkin

hal itu dapat dilakukannya, mengingat ia dapat berge-

rak cepat seperti kilat. Inilah sebabnya ia dikenal dengan julukan Puteri Kilat
Bayangan. Mungkin pemuda

ini dapat membantunya dalam menyelesaikan masalah

puteri Reza Baiduri yang sesungguhnya sudah punya

seorang kekasih yaitu Ambar Alam.

"Mengapa kau diam Cantik? Apa kau mau

menghukumku? Untuk menebus kesalahanku, aku re-

la kau hadapkan pada Sunan Bandi Suliwa. Dengan

begitu tentu kau terbebas dari hukuman pamanmu?"

kata si konyol, tiba-tiba saja ia merasa iba.

"Kau memanggilku, Cantik? Berani benar kau

bicara begitu?" desis gadis baju hijau

Matanya membulat lebar mempesona, sehingga

membuat Pendekar Blo'on semakin salah tingkah dan

dag dig dug.

"Kau memang cantik, kecantikanmu setara

dengan bidadari. Karena kau tidak mau beritahu na-

ma. Maka aku terpaksa memanggilmu begitu" jawab

Pendekar Blo'on sambil garuk-garuk kepala. Ketika ga-

dis baju hijau terus memandangnya. Suro tundukkan

wajahnya, ia tidak kuat menatap mata yang indah itu

berlama-lama.

"Panggil saja aku Puteri Kilat Bayangan." jelas gadis baju hijau.

"Eeh... ha ha ha... Julukanmu seperti ilmu lari

cepatku Ahk... bagaimana ini." Suro seka keningnya.

"Jangan menghina. Ingat Aku tidak mau ber-

tindak kasar padamu karena semata-mata aku mem-

butuhkan bantuanmu Persoalan ini harus dapat dis-

elesaikan demi kemerdekaan sebuah hati yang tidak

berdaya terhempas belenggu adat"

"Apa maksudmu" tanya Suro. Tiba-tiba ia du-

duk bersila, tangannya menopang dagu tidak bedanya

dengan seorang pendengar yang sangat baik.

Gadis secantik bidadari itu membuang pandan-

gan matanya jauh-jauh. Keningnya berkerut, wajahnya

tampak resah, namun keresahannya itu membuatnya

semakin menggemaskan.

"Jelaskan dulu siapa dirimu?" desah Puteri Kilat Bayangan.

"Aku...?" Suro nyengir lalu garuk-garuk kepala.

"Namaku Suro Blondo. Anak yatim piatu, tidak punya bapak tidak punya ibu, tidak juga babi atau babu..."

Plak......."Astaga Kau berani menamparku?" desis Pen-

dekar Blo'on. Ia mengusap-usap wajahnya yang beru-

bah merah. Jika saja bukan gadis ini yang menampar-

nya. Tentu si konyol sudah membalas.

"Bicaramu kacau seperti orang setengah gila"

dengus gadis baju hijau cemberut. "Bagaimana aku bi-sa mengharap bantuanmu,
jika sikapmu tidak pernah

serius?" "Eemm, katakanlah. Dalam beberapa hal aku juga masih bisa diajak
serius." jawab Si Bocah Ajaib sambil sesekali mencuri pandang.

Berhadapan dengan seorang gadis jelita yang

punya tatapan mata menggetarkan itu. Entah menga-

pa Suro tiba-tiba menjadi seperti seorang gadis yang

sangat pemalu.

"Begini, Sunan Bandi Suliwa adalah pewaris

Kasunanan Parit Wolu. Beliau punya seorang puteri

cantik Reza Baiduri. Tidak sebagaimana biasanya. Se-

tiap puteri kasunanan selalu dijodohkan dengan pan-

geran. Pamanku ingin menghapus tradisi lama. Karena

sejak muda beliau adalah orang yang banyak bergaul

dengan kalangan rimba persilatan. Yang aku sayang-

kan, Sunan punya tiga pilihan untuk puterinya. Per-

tama, cenderung memilih calon dari bekas sahabatnya

dulu. Diantaranya adalah putera Macan Terbang tadi.

Tapi kurasa masih akan datang lagi sahabat-sahabat

yang lainnya. Jika hal itu terjadi, maka keadaan san-

gat kisruh, di samping itu perlu kujelaskan padamu

bahwa puteri Reza Baiduri tidak mau dijodohkan..."

"Mengapa begitu?" tanya Suro. "Apakah keponakanmu itu sudah punya kekasih?"

"Tepat. Dia sudah punya kekasih, bahkan me-

reka sudah saling mencinta sejak mereka berumur li-

ma belas tahun. Cuma Ambar Alam sekarang entah di

mana. Konon sejak Sunan Bandi Suliwa mengetahui

hubungan anaknya dengan pemuda itu. Sunan secara

diam-diam menangkap pemuda itu dan menghukum-

nya di sebuah tempat rahasia. Puteri tidak tahu bahwa

kekasihnya itu menjalani hukuman yang dijatuhkan

oleh ayahnya." jelas Puteri Kilat Bayangan.

"Lalu apakah Reza Baiduri masih mencintainya

setelah terpisah sekian lama?"

"Cintanya sedalam laut seluas jagad, tidak ter-

pisahkan walau nyawa jadi taruhannya."

"Cek cek cek Hebat betul. Kekasih yang setia

seperti itu jangan dikuburi kalau belum mati." celetuk Suro sambil nyengir. "Lalu
apa yang harus kulakukan Cantik, eeh Putri?"

"Aku minta kau mau mencari Ambar Alam dan

membawa pemuda itu secepatnya ke Parit Wolu. Aku

jadi khawatir jika pemuda itu tidak cepat-cepat datang

puteri Reza terlanjur terikat tali perkawinan secara

paksa." "Di mana aku mencarinya? Apakah kau bisa menjamin pemuda itu masih
hidup hingga saat ini?"

"Hi hi hi... Kau pergilah ke daerah Tujuh Goa

Larangan. Ambar Alam menjalani hukuman di salah

satu gua itu. Antara hidup dan mati kemungkinannya

setengah berbanding setengah. Kalau pun dia sudah

tiada. Paling tidak kau dapat membawa kerangka

mayatnya untuk ditunjukkan pada Puteri Reza."

"Engkau sendiri bagaimana?"

"Aku harus kembali ke Kasunanan Parit Wolu.

Sedapatnya aku harus mencegah perkawinan secara

paksa itu." jelas Puteri Kilat Bayangan.

"Tapi... eeh..." Suro Blondo jadi terkejut sekali ketika melihat gadis secantik Bidadari tersebut telah

lenyap dari hadapannya. "Secepat itu dia pergi. Pantas ia dijuluki Puteri Kilat
Bayangan." Si Konyol geleng-gelengkan kepala.





* * *

Selama hampir lima tahun lebih pemuda itu di-

benamkan di dalam gua kecil yang cuma seukuran tu-

buhnya. Tangannya terantai, kaki terbelenggu. Selama

itu ia tidak kuasa bergerak sama sekali. Karena per-

mukaan gua itu menghadap ke langit mirip sebuah lu-

bang. Tidak heran bila perubahan cuaca mempenga-

ruhi tubuhnya. Bila panas terik, ia merasa seperti ter-

panggang di atas api. Bila malam tiba, maka cuaca

dingin menggerogotinya, menyusup hingga ke sum-

sum tulang. Tidak tertahankan betapa beratnya siksa

yang ia alami.

Menjalani siksaan di alam terbuka seperti itu,

di sebuah daerah sunyi tidak bertuan adalah suatu

cobaan yang Maha berat. Sekujur tubuhnya mulai dari

bagian dada ke atas tampak hitam. Sedangkan bagian

lain yang terbenam di dalam gua putih seperti tidak

berdarah. Selama itu ia tidak makan apa-apa. Kalau ia

merasa haus, ia harus menunggu malam hari tiba di

mana embun akan menetes dari langit. Ia cukup hanya

membuka mulutnya. Sepanjang malam paling ia hanya

mendapat tiga tetes embun. Pabila ia lapar, maka ia

hanya dapat memakan jamur merah yang terdapat di

mulut gua. Itu pun hanya didapatnya bila musim hujan tiba.

Jamur-jamur yang tumbuh sebulan sekali itu-

lah yang membuatnya bertahan hidup hingga saat ini.

Tapi akibat jamur-jamur itu pula yang merubah jalan

hidupnya, jalan pikirannya pun bahkan berubah. Dulu

setelah setahun ia menjalani hukuman dibenam di gua

sempit tersebut. Ia pernah didatangi oleh sosok tubuh

berpakaian serba putih. Orang yang dapat datang dan

pergi secepat setan itu menyebut dirinya sebagai Dewa

Rindu. Ia pun masih ingat dengan pesan-pesannya,

yang penuh kearipan namun menghiba-hiba.

"Anak manusia yang terpasung di kulit bumi

Takdir telah menentukan jalan hidupmu begini. Jan-

gan salahkan dirimu, usah pula kau salahkan keten-

tuan hukum yang berlaku atas dirimu, hu hu hu...

Cinta adalah awal kebahagiaan dan awal celaka. Pen-

deritaan dan kekecewaan. Tempat menggantung harap

dan tempat meminta adalah pada Tuhanmu Bukan

manusia manapun. Sebab bagaimana pun tingginya

derajat manusia, ia tidak punya kuasa atas dirinya

atau diri orang lain. Nah sekarang apa jawabmu?"

Saat itu Ambar Alam dalam keadaan sadar dan

tiada. Suara itu lamat-lamat terdengar oleh pemuda

yang didera penderitaan,

"Aku hanya meminta agar Anda mau membuka

belengguh keparat dan menarikku dari dalam lubang

celaka ini" jawab Ambar Alam.

Dewa Rindu gelengkan kepala. "Aku tidak dapat

melakukannya? Hanya Tuhan yang mampu berbuat

sekehendak hatinya. Kau sekarang berada di ruang

Pembatas Siksa. Ikatan itu akan lenyap dengan sendi-

rinya bila pakaian di tubuhmu telah lapuk semua. Kau

bisa minta seribu pertolongan dariku yang lain. Bukan

yang satu ini." kata Dewa Rindu.

"Berarti aku akan mati sengsara di sini? Aku ti-

dak mendapatkan air dan tidak mendapatkan maka-

nan pula."

"Langit selalu mencucurkan air rahmat untuk

setiap makhluk. Dengan air itu pula tumbuh-

tumbuhan dapat hidup. Di permukaan gua ini akan

segera tumbuh Jamur Dewa. Jamur berkhasiat..."

"Selama setahun di sini aku tidak pernah meli-

hat jamur itu. Berilah aku kesaktian, yang dengan ke-

saktian itu derajatku di atas tokoh-tokoh sakti. Se-

hingga hidupku menjadi berguna dan tidak terhina?"

"Selama kau berada di sini, suasana dalam

keadaan musim kemarau. Jamur mukjijat itu hanya

dapat tumbuh bila udara lembab atau musim hujan.

Sedangkan mengenai kesaktian, kau akan menda-

patkannya secara alamiah. Kesaktianmu berada di

atas tokoh-tokoh manapun. Banyaklah merenung, ba-

nyak pula berpikir atas jamur-jamur yang akan kau

makan nanti. Kau akan berada di alam pikiran yang

sangat lain, kau akan mendapatkan kata-kata yang

dapat melindungi dirimu. Setiap kata yang kau

ucapkan adalah kehancuran bagi dirimu juga kebaikan

pula atas jiwamu. Aku datang sekali dalam hidupmu.

Nah... Gusti Allah memberimu jamur Dewa yang san-

gat berkhasiat. Jamur Dewa, ingat... Dewa Sabrang...

Dewa Sabrang..."

Suara itu mengiang-ngiang di dalam telinganya,

berputar-putar merasuk lembut dalam otaknya, berge-

rak dalam darah menyatu dalam hati. Hingga Ambar

Alam merasa terbebas dari belenggu penderitaan, dari

ketidak pastian cinta yang terhalang tembok berduri

yang kini malah menjerumuskannya dalam kesengsa-

raan. "Dewa Sabrang..." desis Ambar Alam berusaha mengulang-ulang ucapan
Dewa Rindu yang kini telah lenyap dari hadapannya.

Demikianlah, hari terus datang silih bergan-

ti. Apa yang dikatakan oleh Dewa Rindu memang ter-

bukti, jamur Dewa yang berwarna merah itu tumbuh

setiap sebulan sekali. Ambar Alam atau yang selalu

mengingat dirinya dengan Dewa Rindu dapat bertahan

hidup, dengan memakan jamur tersebut. Tentu saja ti-

dak mempergunakan kaki dan tangannya yang terbe-

lenggu. Melainkan langsung dengan mulutnya. Reaksi

dari jamur-jamur itu memang sangat hebat. Hari per-

tama Ambar Alam memakan jamur tersebut ia lang-

sung tidak sadarkan diri selama sepekan. Akan tetapi

setelah sadar, ia segera dapat merasakan tubuhnya

menjadi sangat ringan tanpa bobot. Namun keanehan

lainnya pun terjadi. Ia hampir lupa pada dirinya sendi-

ri, hanya guratan-guratan masa lalu saja yang terka-

dang membayang dalam pikirannya. Terkadang Dewa

Sabrang memperhatikan bentuk jamur yang meliuk-

liuk. Bertudung seakan melindungi diri. Jamur itu

menyilang antara yang satu dengan yang lainnya. Yang

mengejutkan baginya, bila ada serangga yang hinggap

di bagian tudung jamur. Maka binatang-binatang itu

langsung menggelepar mati.

Sekarang Ambar Alam alias Dewa Sabrang juga

suka bicara pada dirinya sendiri. Lidahnya seringan

kapas. Dalam berpikir dan dalam perenungan yang

panjang. Melahirkan kata-kata yang terkadang men-

gandung arti kehidupan, walau tidak jarang mengisya-

ratkan kehampaan-kehampaan hidup yang dilaluinya.

Di sini aku sendiri

Meratapi waktu menghitung hari

Dua alam yang telah kulalui

membuatku masih belum mengerti diri...

Alam rahim telah pun berlalu, alam dunia, se-

dang kujalani





Alam kubur sangat mengerikan bagiku Alam ak-

herat sedasyat-dasyatnya penderitaan...

Celakanya manusia mudah berjanji

Sengsaranya umat menyanggupi apa yang tidak

mampu, ia mengerjakannya.

Celakanya aku karena berharap dan me-

minta cinta manusia?

Ya... Gusti Allah...

Aku lupa pada janjiku padamu ketika berada di

alam rahim

Aku lupa untuk apa aku dihidupkan di dunia

ini... Sebaik-baiknya manusia adalah diam membisu, daripada bicara tidak
berguna...Dan dari setiap kealpaan yang ada,

Baru kusadari bahwa waktu hidupku di dunia

ini semakin sempit dan tiada lama lagi...

Pakaian ini telah lapuk, jasad ini kian merenta

Aku tidak bisa menghindar dari setiap janji dan

ketentuanMu

Maka terbebaslah aku dari neraka dunia yang

menipu dan memperdaya

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun be-

rada di gua sempit itu Dewa Sabrang memandang ke

langit. Matanya berkaca-kaca, tiba-tiba saja ia menun-

dukkan wajahnya kembali.

"Aku hanya seorang hamba, aku tidak pantas

memandang ke langit. Aku hanya berhak memandang

ke bumi. Manusia tanpa kebaikan adalah makhluk

yang paling hina... ukh... ukh..."


***

3

Dewa Sabrang menggerakkan tubuhnya. Maka

secara tidak terduga-duga pakaiannya yang sudah la-

puk itu pun hancur. Lalu kedua tangannya yang terbe-

lenggu rantai dan terjepit di tengah-tengah mulut gua

sempit terbuka. Kini dengan leluasa ia dapat bergerak,

kedua tangannya ditarik keluar. Setelah tangan dapat

digerak-gerakkannya, hanya beberapa saat setelah itu

dipukulnya tanah yang melingkar disekeliling pingang-

nya. Buummm

Terjadi ledakan keras. Tanah di depan mulut

gua kecil hancur berantakan menjadi kepingan debu.

Ini sungguh menakjubkan sekali, sebab tanah tersebut

sebelumnya keras melebihi batu karang. Dewa Sa-

brang menggerakkan tubuhnya.

Tidak lama ia telah melompat keluar. Rantai

yang membelenggu kakinya ternyata sudah terlepas.

Yang mengherankan dari bagian dada ke bawah kulit

Dewa Sabrang tampak putih berkilau-kilauan. Pemuda

itu memperhatikan dirinya yang lucu. Tiba-tiba saja ia

meraung, satu pukulan dilepaskannya secara bertu-

rut-turut. Bukit-bukit yang terdapat di depannya han-

cur berantakan. Tanah dan debu berterbangan. Dewa

Sabrang tertunduk lesu. Kedua tangannya semakin

menghitam, sebaliknya bagian pusat ke bawah ber-

warna putih mengkilat.

Memandang ke langit aku malu

Berpaling ke belakang kulihat puing-puing cinta

yang hitam

Kuterjebak derita karena cinta

Karena berharap karena pinta

Kini engkau entah berada di mana

Entah milik siapa?

Aku ingin pulang

Aku lupa segala di mana rumahku

Lalu mana yang harus kupilih?

Mencari cintaNya jauh dari keramaian dunia

Menyendiri dalam sunyi kulihat keberadaan-

nya.... Lalu tangisku ini adalah kepasrahan diri dalam penghambaanku sampai
akhir hidup aku melihat dunia,... Dewa Sabrang terdiam. Ia tenggelam dalam
perenungan. Dia larut dalam pemikiran yang mendalam.

Sekejab kemudian daun telinganya bergerak-gerak. La-

lu Dewa Sabrang memandang ke satu arah.

"Siapa di situ?" bentaknya. Suaranya pelan saja tapi membuat sakit telinga yang
mendengarnya.

"Aku di sini? Situ siapa?" sahut sebuah suara.

"Perlihatkan diri, aku tidak suka membunuh

orang tanpa kukenal wajah dan namanya"

Dari balik bukit kemudian muncul sosok tubuh

berpakaian serba biru. Pemuda itu tidak hentinya

menggaruk kepala, namun setelah melihat keadaan

Dewa Sabrang yang tidak berpakaian sama sekali. Ta-

wa pemuda ini tertawa bergelak.

Datang dari jauh membawa amanat

Membawa tugas yang juga berat

Sampai di tempat apakah tidak kuwalat

Melihat barang keramat tidak disunat

Ha ha ha...

Mendengar ucapan Suro Blondo yang menyin-

dirnya itu, Dewa Sabrang segera menyadari akan kea-

daan dirinya sendiri. Ia langsung tekap bawah pusar-

nya. Sekali ia melompat sampailah Dewa Sabrang di

depan pemuda rambut hitam kemerahan. Ia menceng-

keram leher pemuda itu, dengan demikian maka ter-

buka auratnya. Suro berkelit menghindar sambil me-

nunjuk-nunjuk.

"Hei... malu-malu... tutupi dulu buah jambu

monyet dan batangnya. Setelah itu baru kau boleh ber-

tindak sesuka hati." kata Suro di sertai tawa bekakakan. Lagi-lagi Dewa Sabrang
urungkan niatnya. Lalu

tutupi dia punya. Wajah pemuda berambut panjang

menjela ini berubah kelam.

"Serahkan celanamu?" pinta Dewa Sabrang pe-

nuh ancaman.

"Mana bisa. Celanaku cuma atu-atunya. Kalau

kuberikan padamu berarti aku menjadi seperti sauda-

ra. Malu... ha ha ha... malu..."

"Jika demikian kau benar-benar ingin cepat

mati" desis Dewa Sabrang. Ia bermaksud menerjang

Pendekar Blo'on, namun pemuda itu dengan cepat

mencegahnya.

"Urungkan niatmu Ambar Alam. Aku datang

dengan membawa maksud yang sangat baik untuk-

mu" jelas Pendekar Blo'on.

"Aku sama sekali tidak mengenalmu, berita apa

yang kau bawa? Ingat Aku mulai saat ini telah ber-

sumpah untuk menjauhi keramaian dunia ini yang te-

lah menyeretku dalam belenggu kesengsaraan." tegas Dewa Sabrang.

"Aku Suro Blondo, bukankah saudara yang

bernama Ambar Alam?" tanya Si Bocah Ajaib menyelidik.

Dewa Sabrang kerutkan keningnya. Seakan ia

sedang berusaha mengingat-ingat siapa dirinya. Tapi

justru yang teringat olehnya adalah seseorang yang te-

lah menyakiti dirinya....

"Adakah kau pernah menyadari siapa dirimu?

Kau bukan keturunan bangsawan atau Kasunanan.

Sedangkan Reza Baiduri adalah anak orang berpang-

kat. Bangsawan dan terpandang di mata dunia, jangan

lagi kau dekati puteriku. Jangan dekati... jangan...

jangan..."

Suara itu mengiang-ngiang di telinganya. Se-

hingga Dewa Sabrang terpaksa menutupi telinganya.

"Ada apa saudara?" tanya Suro serius.

Dewa Sabrang gelengkan kepala. "Aku bukan

Ambar Alam Aku tidak suka dengan nama lama. Na-

ma itu hanya membawa kesialan dalam hidupku. Kau

dengar pemuda bertampang tolol?"

Si Bocah Ajaib anggukkan kepala. Untuk me-

nunjukkan itikad baik Suro lepaskan bajunya dan me-

nyerahkannya pada Dewa Sabrang.

"Pakailah Nanti jika kita sudah berada di kota,

aku dapat mencarikan pakaian yang pantas untukmu"

"Baju ini tidak mungkin kupakai. Kalau atas

tertutup bawah tidak Sebaiknya begini saja..." Dewa Sabrang kemudian melilitkan
pakaian itu ke bagian

pinggang.

"Waduh, baju dipakai seperti celana. Bagaima-

na jika tiba-tiba saja ia kencing atau ngompol? Mana

mungkin aku melarangnya, aku takut dia salah pen-

gertian." kata Pendekar Mandau Jantan dalam hati.

Merasa serba salah, akhirnya ia hanya dapat garuk-

garuk kepala saja.

"Kulihat kau sangat baik. Semoga kebaikanmu

tidak menipu. Nah sekarang coba kau katakan kabar

apa yang kau bawa dan siapa yang memberi kabar ke-

padamu?"

"Menurut Puteri Kilat Bayangan. Apa yang ter-

jadi pada dirimu karena ulah orang tua Reza Baiduri.

Dan...." "Tunggu dulu" Dewa Sabrang cepat memo-tong. "Puteri Kilat Bayangan
jika tidak salah adalah bi-bi gadis itu. Selama aku menjalin cinta dengan kepo-

nakannya, dia tidak pernah mengganggu kami, bah-

kan kelihatannya ia mendukung, merestui hubungan

kami. Puteri Kilat Bayangan Sakti, ilmu silatnya tinggi.

Kabarnya ia belajar itu di Puri Setan. Gurunya seorang

perempuan misterius yang cantik pula. Tapi Sunan

Bandi Suliwa lebih sakti lagi, beliau punya Seruling

Akherat. Salah satu kehebatan Sunan telah ditunjuk-

kan padaku dengan membenamkan aku di gua Batas

Penyiksaan. Tempat terlaknat yang membuatku men-

derita selama hampir lima tahun. Hal ini tidak akan

terjadi jika aku tidak nekad berpacaran dengan puteri

tunggalnya. Huh... sungguh aku sudah bosan memi-

kirkan dunia. Manusia kebanyakan tidak memandang

keluhuran hati dan ketulusan cinta. Orang cuma sela-

lu bertanya apa yang dia punya, apa jabatannya apa

kedudukannya."

"Sebenarnya siapa engkau yang sebenarnya

saudaraku?"

"Aku tidak tahu, ayah ibuku sudah lama me-

ninggal. Sunan yang kemudian menolongku dan men-

gangkat aku menjadi bendara upeti. Salahkah aku jika

menaruh cinta pada puterinya? Sementara Reza Bai-

duri juga menaruh cinta padaku"

"Tentu saja tidak salah. Yang salah jika laki-

laki bercinta dengan laki-laki, perempuan dengan pe-

rempuan. Lonceng dengan lonceng, gunung dengan

gunung. Kalian berjalan di atas kodrat, tapi biasanya

manusia ada yang tidak suka dengan kodratnya."

"Betul. Menurut Sunan, perbedaan aku dengan

puterinya tidak ubahnya seperti langit dengan bumi.

Dia berkuasa atas puterinya. Padahal manusia se-

sungguhnya tidak punya kuasa apa-apa atas diri orang

lain" "Aku paham maksud ucapanmu. Sekarang

yang ingin kusampaikan padamu. Puteri Kilat Bayan-

gan berharap agar aku menemukanmu, sekarang su-

dah bertemu. Ketahuilah, sebelum kemari aku melihat

ada rombongan yang ingin pergi ke Parit Wolu. Menu-

rut si Cantik, orang itu masih sahabat Sunan Bandi

Suliwa. Mereka mau melamar Reza Baiduri, konon ma-

sih ada lagi rombongan yang lain. Mereka punya tu-

juan yang sama. Puteri Kilat Bayangan mengharap

agar kau dapat datang ke sana. Reza Baiduri selalu

menantikan kehadiranmu." jelas murid Penghulu Si-

luman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api serius.

Ada perubahan pada wajah Dewa Sabrang yang

hitam. Tatapan matanya kosong. Lalu dia gelengkan

kepala berulang-ulang....

Berpaling pada masa lalu adalah kehinaan

Untuk apa aku kembali jika hanya menyakitkan

hati, Biarlah semuanya berjalan menurut takdir dan kehendak

Harapku dan pintaku pada manusia telah le-

nyap Dalam sunyi dan perenungan yang panjang

Sesungguhnya aku pernah datang pada jalan

yang salah

Langkah keinginan hati sudah lama kukubur

Di dalam gua sempit penyiksa terlaknat...

Mengertikah kau hai pembawa amanat??

Lagi-lagi Suro tertegun. Ia berpikir rupanya

pemuda ini pernah mengalami guncangan batin yang

sangat berat. Lalu sekarang bagaimana cara ia mem-

bujuk Dewa Sabrang agar bersedia ikut bersamanya ke

Parit Wolu?

"Sahabat Suro, amanat telah kau sampaikan,

sekarang pergilah Jangan kau hiraukan aku" tegas Ambar Alam.

"Dewa Sabrang Seburuk-buruknya manusia

adalah orang yang mengabaikan perasaan orang lain.

Reza Baiduri siang dan malam selalu mengharapkan

kehadiranmu, menanti kedatanganmu dan membawa

dia pergi dari penjara tradisi yang selama ini sangat

menyiksanya. Percayalah, dia tidak pernah jauh dari

hatimu."

"Entahlah, aku tidak bisa memutuskan apa-apa

saat ini. Selamat tinggal..." Sebelum gema suaranya lenyap, Dewa Sabrang telah berkelebat pergi meninggalkan Suro.

"Tunggu..." cegah si pemuda. Saking bingung-

nya Pendekar Blo'on cuma dapat garuk-garuk kepa-

lanya. "Apa nanti jawabku jika Puteri Kilat Bayangan bertanya tentang Ambar Alam? Apapun resikonya aku

harus segera ke Parit Wolu:" kata si pemuda.

* * *

"Hentikanlah tangismu?" membentak laki-laki

setengah baya berpakaian bangsawan pada gadis can-

tik bertubuh kurus. Walau pun wajahnya menyimpan

duka yang mendalam. Hal ini tidak dapat menghapus

kecantikannya yang menawan dan sangat alami itu.

"Sebentar lagi orang-orang yang akan mela-

marmu datang. Bagaimana kata mereka nanti jika me-

lihatmu bersedih terus?" dengus laki-laki yang tidak lain adalah Sunan Bandi Suliwa marah.

"Saya tidak mau menikah dengan laki-laki ma-

na pun pilihan ayah Ayah selalu memaksa dan mau

menang sendiri, mengapa tidak ayah saja yang kawin

dengan mereka?" sahut Reza Baiduri dengan wajah

tertunduk.

Plak....."Aoww..."

Si gadis menjerit kesakitan, tubuhnya terlem-

par dan jatuh terhempas di sudut ranjang. Dari sudut

bibirnya meneteskan darah. Tangis puteri Reza Baiduri

semakin tersendat-sendat.

"Mengapa tidak ayahanda bunuh saja aku? In-

gat ayah, jika ayah terus memaksaku, aku lebih baik

memilih mati"

"Kurang ajar Anak tidak tahu membalas guna"

teriak Sunan Bandi Suliwa, ia hendak menampar

anaknya lagi, namun urung begitu mendengar suara

pintu diketuk oleh se-seorang. "Siapa?"

"Hamba Sunan Hamba hendak melapor tentang

kedatangan Kala Demit dan muridnya?"

Sunan membuka pintu, wajahnya masih me-

nyiratkan kemarahan. Lalu seraya menoleh pada Pute-

ri Kilat Bayangan.

"Keponakanku, jaga puteri Reza. Jangan sekali

pun lengah. Dia menjadi tanggung jawabmu. Jika

sampai terjadi apa-apa dengannya aku tidak segan

memenggal kepalamu"

"Baik, paman Sunan" sahut si jelita,

Bandi Suliwa segera meninggalkan kamar pu-

trinya. Dengan diikuti oleh seorang pengawal ia menu-

ju ke halaman depan. Ternyata di sana telah berdiri

seorang laki-laki berpakaian hitam berwajah angker

bengis. Di samping laki-laki itu tampak seorang pemu-

da gagah angkuh berpakaian sama seperti si kakek.

Di punggungnya terdapat, buntalan juga tersembul se-

buah kebutan berwarna hitam.

"Sahabatku Kala Demit Aih, tidak kusangka

kau memenuhi undanganku. Silakan masuk" perintah

Sunan Bandi Suliwa dengan ramah. Tanpa basa basi

lagi, tokoh dari Pasuruan ini langsung mengikuti tuan

rumah. Mereka duduk di atas permadani tebal berwar-

na hitam.

"Sudah lama kita tidak saling bertemu Apa ka-

barmu, Kala Demit?"

"Keadaanku masih tetap sama seperti dulu. Ha

ha ha..." Laki-laki itu tertawa membahak.

"Inilah muridmu?" tanya Sunan sambil menge-

lus-elus janggutnya.

"Ya..."

"Dulu kau mengatakan punya dua murid. Sete-

lah gagal mendapatkan si bayi Ajaib yang terlahir pada

malam satu Asyuro. Lalu mana muridmu yang satunya

lagi?" "Muridku yang satunya lagi termasuk murid bengal, meskipun ia seorang
gadis. Ia suka berpetua-lang dan sering berada di pantai Selatan Susah men-

gatur murid bengal itu. Sedangkan muridku yang ini

adalah anak berbakti, penurut dan seluruh ilmu ke-

pandaianku telah kuturunkan kepadanya. Kekuran-

gannya adalah dia kurang pintar bicara, aku yakin dia

pasti sangat cocok berjodoh dengan putrimu. Sekarang

aku menyatakan mau melamar putrimu untuk kujo-

dohkan dengan muridku Bagaimana apakah kau setu-

ju...?" "Ha ha ha... Masalah itu sebaiknya kita bicarakan nanti saja. Sebab masih
ada lagi seorang pelamar,

dia anak Macan Terbang Mengenai siapa nanti yang

dipilih oleh putriku. Kita sebagai orang tua tidak perlu kecewa, bukankah begitu
sobat Kala Demit"

"Tentu saja... ha ha ha..." sahut si kakek. Dalam hatinya memaki. "Jika tidak
kudapatkan putrimu secara baik-baik, tentu aku punya seribu akal untuk

menghancurkan saingan muridku"



***

4


"Untuk menunggu kedatangan tamu kedua se-

kaligus yang terakhir, alangkah baiknya jika sekarang

ini engkau dan muridmu menikmati hidangan yang te-

lah tersedia, Kala Demit"

Beberapa pelayan yang masih sangat muda-

muda langsung menyediakan berbagai jenis makanan

di atas permadani.

"Ini hari yang menyenangkan, muridku. Apa

pendapatmu jika kau menjadi menantu Sunan Bandi

Suliwa kelak?" Kala Demit melirik pada pemuda ang-

kuh yang duduk di sampingnya. Pemuda gagap ini lalu

menjawab...

"Ka... ka ka... lau, Su-su-nan, menjadi mertua-

ku. A-a-a-ku... tentu sangat bahagia sekali..."

"Tentu kau ingin melihat calon isterimu, bu-

kan? Dapatkah kau katakan padaku bagaimana ra-

sanya kau jatuh cinta?" tanya Kala Demit disertai senyum. "Ra-ra-rasanya jatuh
cin-cin-ta. Aku se-seperti i-i-ingin, be-berak-berak dan ken-kencing melulu" sahut
Sidra Gagap.

Wajah Sunan Bandi Suliwa berubah merah pa-

dam. Sebaliknya Kala Demit malah tertawa tergelak-

gelak. "Anak setan ini bicaranya saja tidak lempang.

Bagaimana mungkin putriku bisa tertarik padanya?"

maki Sunan dalam hati.

"Kau dengar Sunan. Muridku ternyata sudah

tidak sabar. Untuk kesungguhanku ini. Maka aku

membawakan mutiara serta emas berharga yang tidak

ternilai harganya." Kala Demit mengambil buntalan besar yang berada di pundak
Sidra Gagap. Ketika bunta-

lan itu dibuka di depan Sunan Bandi Suliwa, maka

yang dikatakan oleh Kala Demit itu memang tidak me-

nyimpang.

"Aku merasa berterima kasih atas penghargaan

ini. Walau bagaimana pun kita harus menunggu pela-

mar kedua" tegas Sunan Bandi Suliwa. Kala Demit

manggut-manggut, walau hatinya merasa tidak senang

sekali. "Kanjeng Sunan, rombongan dari Lembah Ke-

binasaan datang." lapor seorang pengawal yang datang tiba-tiba. Sunan melirik
pada tamunya sekilas.

"Saudara Kala Demit harap tunggu di sini. Se-

bentar lagi kita bisa berkumpul bersama tetamu yang

lainnya."

"Silakan" jawab si kakek cemberut.

Di halaman depan tampak beberapa orang laki-

laki berkuda. Salah seorang di antaranya adalah orang

tua bertelanjang dada berbibir dower. Sekujur tubuh-

nya penuh tatto bergambar harimau. Tatapan matanya

sinis, sedangkan di belakangnya tampak sebuah kereta

kuda. Ketika pintu kereta terbuka, maka dari dalam

kereta itu muncul seorang pemuda berkepala setengah

botak, perutnya agak gendut, tidak memakai baju, ce-

lana kedodoran dan ia selalu menggaruk-garuk seku-

jur badannya. Rupanya pemuda itu menderita penya-

kit kurap yang tidak pernah tersembuhkan.

"Sahabatku Sunan Bandi Suliwa, akhirnya aku

dapat juga menginjakkan kaki di kasunanmu. Lihatlah

anakku sudah dewasa kini. Dia siap berjodoh dengan

putrimu"

"Gila... mengapa begini jadinya? Anak Macan

Terbang ini semula kukira tampan sebagaimana kecil

dulu. Tidak tahunya kini setelah dewasa malah ber-

tambah jelek penyakitan Oh... bagaimana pun aku ti-

dak mungkin menarik ucapan kembali. Salah seorang

diantara mereka akan menjadi calon pendamping pu-

triku" pikir Sunan.

"Marilah masuk sahabatku. Aku tentu tidak

dapat melupakan jasa baikmu dan Kala Demit yang

pernah menolongku ketika dulu Kasunanan ini menja-

di rebutan antara aku dan adikku Rara Ayu."

"Sukurlah kalau kau mau mengingat jasa baik

orang lain. Ingat aku ada membawa barang-barang

berharga untuk meminang putrimu Tentu saja aku ti-

dak sakit hati andai nanti ternyata putrimu tertarik

pada murid Kala Demit."

"Ha ha ha... Kau orang yang mudah mengalah,

Macan Terbang. Belum juga pertemuan dilaksanakan,

kau sudah bersikap pasrah"

"Semua ini kulakukan demi menjaga nama baik

persahabatan Bukankah begitu?" sahut Macan Ter-

bang. Si bibir dower ini lalu mengikuti tuan rumah

menuju ke ruangan tamu. Setelah berada di dalam,

ternyata Macan Terbang melihat Kala Demit dan mu-

ridnya sudah berada di sana.

Kala Demit yang telah sama kita ketahui (Da-

lam Episode Neraka Gunung Bromo) ikut membunuh

Satria Purba juga isterinya. Yaitu orang tua Pendekar

Blo'on, dalam usahanya mendapatkan bayi ajaib yang

terlahir pada malam satu Asyuro. Ia hanya tersenyum

tipis melihat kehadiran Macan Terbang.

"Ternyata kami datang terlambat, anda telah

mendahului kami, sobat Kala Demit" kata Macan Terbang sekedar basa-basi.

"Bagaimana pun Sunan tetap berkenan me-

nunggu kedatanganmu Nah sekarang tunggu apa lagi.

Bukankah Sunan sudah dapat memanggil putri Reza

agar dia dapat memilih yang mana diantara dua pe-

muda yang menjadi pilihannya?" Kala Demit keliha-

tannya sudah tidak sabar sekali.

"Baiklah Tunggu di sini, sebentar lagi putriku

pasti akan kemari" Sunan Bandi Suliwa kemudian

meninggalkan para tamunya. Tidak lama kemudian

muncullah puteri Reza Baiduri diiringi Sunan dan juga

Puteri Kilat Bayangan.

Semua hadirin terkesima melihat kecantikan

Reza, tapi ternyata gadis baju hijau yang mengirin-

ginya lebih cantik lagi. Matanya indah seperti bintang

kejora dan penuh daya pesona yang sangat tinggi. Se-

tiap laki-laki normal pasti cenderung memilih Puteri

Kilat Bayangan, walau pun memang patut diakui Pute-

ri Reza juga sangat cantik.

"Sunan, apakah kedua gadis ini putrimu?"

tanya Kala Demit sambil berdecak kagum.

"Yang satunya adalah keponakanku" sahut

Sunan Bandi Suliwa. Lalu ia menoleh pada putrinya.

"Nah putriku, kau sekarang tinggal memilih yang mana diantara kedua pemuda itu
yang kau sukai?"

Puteri Reza yang sangat takut pada ayahnya ini

sama sekali tidak memberikan jawaban apa-apa. Ia

memandang pada kedua pemuda itu dengan perasaan

jijik. Air matanya bergulir, tanpa sadar kepalanya te-

rangguk-angguk searah pada Sidra Gagap.

Rupanya arti anggukan yang tidak di sengaja

ini di artikan lain baik oleh Sunan sendiri maupun Ka-

la Demit dan muridnya.

"Aih... di-di-a mau pada kau. A... aku juga mau.

A-a-aku ja-di kawin? Ha ha ha, guru..." Sidra Gagap berjingkrak-jingkrak.
Sebaliknya puteri Reza terkesiap.

Ia berlari ke kamarnya. Puteri Kilat Bayangan terkesi-

ma namun juga tidak mengejar."Ayah..." Randu Walang protes. "Puteri itu,
menjatuhkan pilihan pada pemuda
jelek gagap itu?

Bagaimana dengan aku, ayah?" tanya pemuda berke-

pala botak kurapan itu seperti hendak menangis.

Sidra Gagap tertawa. "Li-lihat-lah... gu-guru. Si

botak ke-kecewa. Malang benar nasibnya"

Macan Terbang tidak kehabisan akal. Walau

pun tidak mendapatkan puteri Reza, bukankah gadis

baju hijau itu kecantikan menyamai bidadari. Anaknya

pasti tidak menolak berjodoh dengan gadis itu. Dia le-

bih cantik dan bentuk badannya juga lebih bagus dari

puteri Reza. Sunan, apakah aku boleh usul?" bertanya Macan Terbang.

"Tentu saja. Silakan."

"Murid Kala Demit sudah berjodoh dengan pu-

terimu, sedangkan anakku belum berjodoh. Bagaima-

na jika keponakanmu itu kupilih menjadi pendamping

Randu Walang?" Pertanyaan itu kelihatannya biasa-

biasa saja, namun sangat mengejutkan bagi Puteri Ki-

lat Bayangan.

"Dikiranya aku ini kambing, main jodoh-

jodohkan saja. Manusia kurapan begitu siapa sudi.

Nenek-nenek keriput pun pasti tidak sudi berjodoh

dengan si botak" maki gadis baju hijau dalam hati.

Sunan Bandi Suliwa terdiam untuk beberapa

saat lamanya. Ia mengelus-elus jenggotnya yang cuma

beberapa gelintir itu.

"Keponakanku, apakah kau menerima tawaran

itu? Ketahuilah, mereka ini adalah sahabat-sahabatku.

Kau tidak boleh mengecewakan mereka"

"Paman, sudah kukatakan aku tidak akan

mengambil laki-laki manapun sebelum aku dapat me-

nemukan siapa yang telah membunuh kedua orang

tuaku. Sedikit pun tidak terlintas dalam pikiranku un-

tuk menikah. Harap paman tidak kecewa" tegas Puteri Kilat Bayangan.

Maka memerahlah wajah Sunan mendengar

ucapan keponakannya. Apalagi ketika itu mereka be-

rada di tengah-tengah orang lain.

"Putri, kau bicara apa? Sadarkah kau sedang

berhadapan dengan siapa?" bentak Sunan marah.

"Maafkan aku, paman..." kata Puteri Kilat

Bayangan. Lalu tanpa bicara apa-apa lagi, dengan wa-

jah tertunduk gadis baju hijau meninggalkan ruangan

pertemuan itu.

"Ah... maafkan sahabatku" kata Macan Ter-

bang. "Seharusnya aku tidak salah bicara."

"Jangan tersinggung, Macan Terbang. Lama-

ranmu pada keponakanku tetap kuterima. Dia masih

bisa dibujuk. Apa yang terjadi barusan tadi karena ia

tidak pernah menyangka hal ini sebelumnya. Yang ter-

penting sekarang ini kita harus mempersiapkan segala

perhelatan besar untuk menyambut datangnya hari

perkawinan kedua pasangan mempelai ini" Sunan

Bandi Suliwa memutuskan.

Bukan main gembiranya masing-masing pihak,

baik dari Kala Demit maupun Macan Terbang menden-

gar ketegasan Gusti Sunan. Mereka mengelu-elukan

keputusan Sunan Parit Wolu yang mereka anggap cu-

kup bijaksana ini.


* * *

Langkahnya lambat-lambat menghampiri Reza

Baiduri yang terus menangis memeluk guling di ka-

marnya. Gadis berbaju hijau berwajah jelita tersebut

menyentuh bahu sang puteri. Melihat siapa yang da-

tang, maka puteri Reza Baiduri langsung memeluk

saudara misannya.

"Kakak, mengapa begini buruknya nasib hi-

dupku Aku tidak rela disentuh oleh laki-laki yang ti-

dak kusukai. Aku harus mati... mati... kakak Kurasa

itulah jalan yang paling baik bagiku" tegas puteri Reza berputus asa.

"Jangan mudah berputus asa. Jika kita tetap

bertahan di sini, nasibku pun tidak berbeda dengan

nasibmu, adikku Kita harus mencari kesempatan un-

tuk meloloskan diri sebelum pesta perkawinan itu ber-

langsung. Aku yakin pemuda Blo'on itu dapat mene-

mukan kekasihmu" jelas Puteri Kilat Bayangan.

"Apa, pemuda tolol? Bagaimana pemuda tolol

dapat melakukan sesuatu? Rupanya dimana kakang

Ambar Alam sekarang berada? Kakak tahu tapi men-

gapa tidak mau cerita padaku?" tanya puteri Reza Baiduri. "Tidak cukup waktu untuk menjelaskannya pa-

damu Sekarang sebaiknya kau bersiap-siap. Nanti bila

malam tiba kita akan meloloskan diri dari tempat ini.

Bersediakah kau?" Mata puteri Reza yang semula me-

redup, sekarang tampak berbinar-binar.

"Benarkah? Dapatkah kakak mempertemukan

aku dengan kakang Ambar yang telah pergi selama li-

ma tahun itu?"

"Tenang, jangan banyak bertanya. Bersikaplah

seakan menurut di depan orang tuamu" Puteri Kilat Bayangan menasehati. Reza
Baiduri anggukkan kepala.

Malam itu rencana tentang sebuah pesta besar

disusun, Kala Demit, Macan Terbang dan Sunan Bandi

Suliwa kelihatan tampak serius membicarakan masa-

lah ini. Sunan Suliwa merasa yakin betul, dalam seha-

rian ini baik putri maupun keponakannya telah beru-

bah menjadi baik dan penurut. Sebagai orang tua ten-




tu saja ia sangat puas. Kini terlaksanalah semua cita-

cita untuk menjodohkan anaknya dengan murid anak

sahabat-sahabat yang dulu pernah membantu usa-

hanya tetap mempertahankan Kasunanan Parit Wolu.

Sementara itu Puteri Kilat Bayangan di dalam

kamar adik misannya sedang sibuk mengatur rencana

pelarian mereka. Wajah kedua gadis itu tampak te-

gang. Di luar sepengetahuan mereka, di dalam kegela-

pan tampak berkelebat sesosok bayangan. Bayangan

itu selanjutnya mengendap-endap mendekati kamar di

mana Puteri Reza berada. Ternyata di bagian luar ka-

mar dijaga ketat oleh beberapa orang pengawal.

"Gila Orang-orang ini jika tidak kulumpuhkan

urusan bisa jadi kapiran." gerutu si pemuda sambil garuk-garuk kepala. Tidak lama
sosok bayangan biru ini

langsung bergerak mendekati para pengawal bersenja-

ta tombak yang jumlahnya tidak lebih dari tiga orang.

"Hei... siapa di situ...?" bentak salah seorang pengawal yang kebetulan mengetahui
kehadiran sosok

berpakaian serba biru tersebut.

Jplok

"Uph..."

Pengawal apes ini langsung terdiam, sekujur

tubuhnya kaku tertotok. Sedangkan urat bicaranya

pun tidak mampu mengeluarkan suara. Melihat kea-

daan kawannya, dua orang lainnya langsung menyer-

bu. Namun sungguh hebat. Pemuda baju biru ini den-

gan gesit telah bergerak menyambar-nyambar bagai-

kan seekor monyet terbang. Hanya dalam waktu sing-

kat kedua pengawal apes ini mengalami nasib yang

sama. Tubuh mereka kaku, jangankan bergerak se-

dangkan bicara saja tidak mampu.

"He he he Jadilah kalian patung tolol sampai

besok pagi" desis si pemuda. Keadaan ketiga pengawal ini memang tampak sangat
lucu. Mereka menjadi kaku

dalam keadaan bermain silat.

Sambil geleng-gelengkan kepala pemuda baju

biru menghampiri jendela. Jendela sisir diketuknya.

"Siapa?" terdengar suara merdu dari dalam ka-

mar. "Si-anu... aku, Suro..." sahut pemuda baju biru yang tidak lain adalah
Pendekar Blo’on.

"Kau sudah sampai? Malam ini juga kalau bisa

kau menolong kami meninggalkan tempat ini" kata

sebuah suara lainnya.

Suro sudah dapat memastikan bahwa gadis

yang baru bicara itu tidak lain adalah Puteri Kilat

Bayangan.

“Bukalah jendela ini sebelum pengawal-

pengawal lain melihatku” pinta Pendekar Blo’on den-

gan suara berbisik.

Tak lama jendela pun terbuka, Si Bocah Ajaib

melihat ada dua orang gadis di dalam kamar tersebut.

Yang satunya sudah dikenal oleh pemuda itu sedang-

kan yang lainnya adalah seorang gadis bertubuh ku-

rus, wajahnya bulat lonjong dan cantik meskipun agak

pucat. “Apa yang terjadi?”

“Tidak cukup waktu untuk menjelaskannya pa-

damu, Suro.” Puteri Kilat Bayangan menyahuti. Seraya

mendekati jeruji besi, kemudian gadis ini mematahkan

besi-besi pengaman jendela tersebut.

Pendekar Blo’on dibuat melongo dengan kekua-

tan tenaga dalam yang dimiliki oleh si gadis. Belum hi-

lang kaget di hatinya, Puteri Kilat Bayangan dan puteri Reza telah berhasil keluar
meninggalkan kamar.

“Bagaimana kau bisa sampai kemari?” tanya

Puteri Kilat.

“Ku lumpuhkan penjaga di depan, lalu yang

menjaga di sini kubuat jadi patung sementara. Kalau

keadaan sudah gaswat, eeh… gawat, sebaiknya kita

menyingkir saja” saran Suro.

“Mari…”

Puteri Kilat Bayangan membimbing puteri Reza.

Gadis ini selanjutnya melompati pagar Kasunanan se-

dangkan Pendekar Mandau Jantan mengikutinya dari

belakang. Ketiga orang ini hanya beberapa saat saja te-

lah menghilang di kegelapan malam. Lalu keadaan be-

rubah sunyi, menghentak. Ketiga pengawal yang di-

tinggalkan dalam keadaan tertotok menjadi pucat ke-

takutan. Sebab bagaimana pun keamanan puteri men-

jadi tanggung jawab mereka.


***
5


Pagi hari udara terasa dingin menusuk. Puncak

gunung Kendeng berselimut kabut tebal. Puteri Kilat

Bayangan, Pendekar Blo'on, dan puteri Reza kelihatan

sama-sama letih setelah hampir semalaman terus ber-

lari meninggalkan Kasunanan Parit Wolu.

"Kita istirahat di sini. Nafasku sudah hampir

putus" ujar Suro Blondo dengan suara tersengal. Puteri Kilat Bayangan tersenyum,
gadis baju hijau ini ke-

lihatannya biasa-biasa saja. Ia dapat lari secepat an-

gin, keletihan yang terlihat tadi sekarang bahkan telah lenyap. Berganti dengan
sesungging senyum yang

membuat jantung Suro dag dig dug tidak menentu.

"Saat ini pamanku pasti bingung, kemarahan-

nya tidak dapat kubayangkan. Mereka pasti mencari

kita." "Biarkan saja. Mereka itu orang-orang gila yang suka memaksakan
kehendaknya sendiri. Buat apa ri-

sau?" sahut Suro, seraya menyeka keningnya yang basah oleh keringat.

"Saudara..." Puteri Reza buka bicara, "Menurut kakak puteri, saudara mencari
kakang Ambar Alam.

Apakah saudara bertemu dengannya dan mengapa

saudara tidak membawanya kemari?"

"Terus terang saja, aku memang telah bertemu

dengan Dewa Sabrang. Dia baru saja terbebas dari hu-

kuman pendam yang dijatuhkan oleh ayahmu Sayang

aku tidak mampu membujuknya, dan..."

"Apa? Ayah telah menghukumnya? Tidak

mungkin" desis puteri Reza Baiduri. Matanya terbelalak tidak percaya. Suro garuk-
garuk kepala. Ia keliha-

tan bingung, sehingga ia memandang pada Puteri Kilat

Bayangan dengan tatapan penuh tanda tanya

"Benar, Reza. Ayahmu memang telah menghu-

kum Ambar Alam di sebuah gua sempit selama lima

tahun ini. Aku yang mengetahui kejadian itu, hanya

aku tidak berani mengatakannya padamu, karena ke-

tika itu paman mengancamku agar jangan membocor-

kan rahasianya kepadamu" jelas Puteri Kilat Bayangan. "Jadi? Apakah kakang
Ambar tidak mau men-

jumpaiku lagi? Oh... sia-sialah penantianku selama

ini" kata puteri Reza seraya lalu mendekap wajahnya.

Tangisnya tersedu-sedu. Suro jadi bingung, hingga

membuatnya garuk-garuk kepala. Lalu terlintas se-

buah akal di benaknya. Seraya pun berkata:

"Puteri tidak usah bingung-bingung. Ambar

Alam alias Dewa Sabrang berjanji akan menjumpaimu.

Cuma dia tidak mau ke Parit Wolu, itu sebabnya puteri

kami ajak ke sini. Pada saatnya nanti dia akan datang,

kau harus bersabar dan mulai sekarang kita harus

mulai atur siasat"

"Siasat apa?" bertanya Puteri Kilat Bayangan. Belum sempat Suro mengatakan
siasat apa yang hendak dijalankannya. Dari puncak gunung Ken-

deng tiba-tiba saja terdengar suara tawa mengekeh.

Suara itu disertai dengan menderunya angin kencang

bergulung-gulung. Lalu muncul seorang nenek tua be-

rambut putih, tidak punya tangan tidak pula memiliki

kaki. Kehadirannya didukung oleh dua ekor kera yang

sangat besar. Kera-kera itu hampir setinggi Suro Blondo.

Suro terkesiap dan pencongkan mulutnya. Se-

dangkan Puteri Kilat Bayangan kerutkan keningnya. Ia

seperti pernah bertemu dengan nenek yang duduk di

atas bahu dua monyet besar berjalan tegak tersebut,

hanya dia sudah lupa kapan dan di mana.

"Sudah sepuluh tahun daerah kekuasaanku ini

tidak disambangi tamu. Pagi ini aku merasa punya un-

tung karena ada tiga ekor kurcaci datang ke sini. Dua

kurcaci cantik, sedangkan yang satunya... hik hik hik

Cukup tampan juga, tapi tampangnya seperti kedua

anakku ini"

"Orang tua kaki dan tangan buntung Siapakah

anda? Setan buntung penghuni gunung atau manusia

juga seperti kami?" tanya Suro dengan perasaan dong-kol.

Nenek tua yang duduk di atas bahu kedua ekor

monyet besar itu dongakkan wajahnya ke langit. Lalu
tawanya kembali meledak, sedangkan monyet-monyet

yang mendukungnya ikut berjingkrak-jingkrak kegi-

rangan. "Hik hik hik Bertanyalah pada gadis secantik bidadari itu? Dia mungkin
bisa memberi jawaban untukmu" Suro menoleh ke arah Puteri Kilat Bayangan, tapi
gadis ini menggelengkan kepala dengan ragu-ragu.

Tiba-tiba nenek tidak bertangan tidak berkaki

ini membentak. "Puteri Kilat Bayangan, anak tunggal Rara Ayu, dan Raden Aryo
Lungga. Kau adalah gadis

bodoh yang tidak tahu bagaimana orang tuamu dibu-

nuh. Kau tentu tidak tahu bagaimana dan siapa yang

membunuh orang tuamu? Kala itu kau masih bayi

pentil, masih suka ngompol. Tapi aku melihat, aku

menyaksikan. Aku melihat darah Raden Aryo Lungga

ketika dadanya tertembus pedang. Aku melihat ibumu

yang dibokong dari belakang, saat itu kau berada di

pangkuannya Kematian itu, kematian itu membuat

aku merana, aku kehilangan tangan dan kaki. Kalian

tahu semua ini pekerjaan siapa?"

Puteri Kilat Bayangan tidak mampu mem-

buka mulut, puteri Reza sama saja. Sedangkan murid
Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut

Api kerat-kerutkan keningnya.

"Kami tentu saja tidak tahu, nek" sahut Suro.

"Diam goblok. Aku tidak bicara padamu" si nenek mendengus sinis.

Suro katupkan mulutnya, ia bersungut-sungut

tanda tidak suka melihat tingkah orang itu.

"Tua bangka itu galak sekali. Aku tidak tahu

siapa dia, apa maksudnya. Apakah dia juga punya

maksud tidak baik juga? Awas, kalau macam-macam

aku tidak segan membuntungi kepalanya" gerutu Suro dalam hati. "Cobalah jawab,
Puteri Kilat?" Gadis jelita yang matanya memancarkan seribu pesona angkat
wajahnya. Memandang pada nenek serba buntung itu

dengan perasaan tidak mengerti.

"Sekarang aku ingat. Kalau tidak salah aku

pernah berjumpa denganmu di kaputren ketika aku

berumur tujuh tahun. Lalu ketika pengawal melihat-

mu, kau melarikan diri"

"Aku bukan melarikan diri, goblok Kedatan-

ganku hanya ingin memastikan apakah kau dalam


keadaan sehat sebagaimana yang kuharapkan"

"Lalu nenek sendiri siapa?"

"Hik hik hik Aku hanya mau bicara membuka

rahasia jika pemuda konyol itu menyingkir untuk se-

mentara dari hadapanku Ini rahasia besar, masalah

keluarga."

"Tapi dia telah menolong kami" seru Puteri Kilat Bayangan.

"Tidak perduli apa dia telah menolong atau be-

rusaha merebut hatimu. Masa lalu adalah bagian dari

hidupmu masa kini. Kalau kau tertarik ingin mengeta-

huinya. Sebaiknya usir dia untuk sementara waktu"

Ucapan itu membuat kedua gadis cantik ini me-

lengak kaget. Sebaliknya merasa sangat terhina. Wa-

jahnya yang tampan ini bersemu merah.

"Bicaramu seenak perutmu nenek jelek. Kau

cacat namun sombong dan angkuh. Aku paling benci

pada orang sombong, tapi lebih benci lagi pada orang

cacat sombong. Huh, aku tidak akan perduli dengan

bicaramu, uruslah gadis-gadis ini. Jika nanti ternyata

kau tidak becus melindunginya dari kejaran para setan

kapiran itu. Aku akan datang lagi meminta lidahmu

dan kepalamu" dengus Suro.

"Tunggu saudara..."

Sia-sia saja puteri Reza mencegah, karena ter-

nyata pemuda berambut hitam kemerahan itu telah

lenyap dari hadapannya.

"Biarkan dip, pergi. Masalah yang akan kuceri-

takan ini hanya akan membuat malu kalian saja bila

sampai diketahui orang luar."

Puteri Kilat Bayangan sebenarnya merasa tidak

enak hati juga sebab bagaimana pun Suro telah beru-

saha menolong mereka.

"Apa yang ingin kau sampaikan, nenek. Aku

heran kau mengenal kedua orang tuaku."
"Tentu saja aku mengenal orang tuamu. Karena

Raden Aryo Lungga adalah puteraku. Semua ini terjadi

akibat ulah Sunan Bandi Suliwa. Ia terlalu rakus den-

gan kedudukan dan jabatan. Sehingga ketika warisan

Kasunanan hendak dibagi oleh almarhum kakek ka-

lian. Rupanya sunan Bandi Suliwa tidak terima. Sepe-

kan kakek kalian meninggal, Sunan meminta bantuan

tokoh-tokoh sesat rimba persilatan untuk menghan-

curkan Raden Aryo Lungga dan juga Rara Ayu yang

masih terhitung saudara tua Sunan..."

"Ayahanda sekejam itu?" Puteri Reza memekik

keras. "Ini sebuah kenyataan, aku kehilangan tangan dan kaki. Semua itu
kulakukan semata-mata karena

ingin menegakkan kebenaran. Tetapi ayahmu terlalu

tangguh. Aku jadi pecundang dan terpaksa menying-

kir. Perlu kau ketahui juga, puteri Reza. Pemuda tadi

benar, kekasihmu di hukum oleh Sunan. Karena apa?

Dia tidak suka kalian memadu kasih sesuai dengan

kehendakmu. Sebab sesuai perjanjian mereka dulu.

Sunan telah berniat menjodohkan kau dengan salah

seorang putera dari sekutu-sekutunya. Sunan merasa

berhutang budi pada mereka."

"Dan lebih celaka lagi, paman bermaksud men-

jodohkan aku dengan putera Macan Terbang yang ku-

disan itu" Puteri Kilat Bayangan menyahuti.

Puteri Reza menangis tersedu-sedu. Meskipun

Reza tahu ayahnya sangat keras, namun ia tidak me-

nyangka kalau ayahnya tega berbuat sekejam itu

hanya untuk mempertahankan warisan. Tiba-tiba ia

merasa bersalah, jika Puteri Kilat Bayangan mau tentu

ia dapat membalas dendam padanya. Atau paling tidak

berubah membencinya.

"Kalau benarlah apa yang dikatakan oleh nenek

ini. Sekarang kakak bebas memperlakukan aku sesuka

hati kakak. Jika kakak mau membalas, balaslah kema-

tian uwa Rara Ayu. Aku sudah muak melihat kecula-

san dan kekejaman ayah." Puteri Reza tampak putus

asa sekali.

Puteri Kilat Bayangan tersenyum pedih. Kema-

rahannya terhadap pamannya memang meledak-ledak.

Tapi untuk melampiaskan kemarahan itu pada Puteri

Reza, sama sekali tidak terlintas dalam, pikirannya. Ia teramat sayang pada gadis
itu. Jangankan membu-nuhnya, sedangkan menyakiti hatinya saja Puteri Kilat

tidak sanggup.

"Jangan kau pikirkan masalah ini. Nasib kita

sama, jika aku berhadapan dengan paman, persoalan-

nya mungkin lain. Kita sama-sama tidak mengetahui.

Sekarang kita harus memikirkan apa yang akan kita

lakukan jika paman dan para sekutunya mencari ki-

ta?"

"Itu persoalan yang mudah. Kita buat sebuah

pesta di sini untuk mengelabuhi Sunan Bandi Suliwa."

"Caranya bagaimana?" tanya Puteri Kilat.

"Kita berbuat seolah-olah kalian sudah dini-

kahkan dengan pemuda-pemuda yang telah menjadi

pilihan kalian" kata si nenek disertai tawa mengekeh.

"Tapi bagaimana kita mendapatkan pemuda

yang mau mengerti persoalan kita. Sedangkan pemuda

tadi saja sudah nenek usir."

"Puteri Kilat, aku tidak mengusirnya. Aku

hanya memintanya untuk menyingkir. Dia pasti kem-

bali, karena kulihat matanya mengatakan cinta pada-

mu, Puteri Kilat Hik hik hik..."

Wajah si jelita merah seperti kepiting rebus. Ia

sendiri sesungguhnya sangat kaget, tidak menyangka

kalau Suro ada perasaan padanya. Namun untuk me-

nanggapi ucapan si nenek. Ia merasa tidak punya pe-

rasaan apa-apa pada si pemuda.
"Jika pemuda itu tidak kembali, siapa yang

akan menggantikannya?"

"Hik hik hik Cucuku, tentu kedua anak-anak

ini dapat menjadi mempelai laki-laki. Tidak sungguhan

tentu, sebab aku tidak akan sudi punya cucu turunan

monyet."

"Ini pekerjaan gila, nek. Aku keberatan melaku-

kannya" tegas Puteri Kilat Bayangan. Sedangkan puteri Reza tidak memberi
tanggapan apa-apa. Pikirannya

tenggelam dalam persoalan-persoalan yang rumit dan

menyakitkan hati.

"Lebih gila lagi jika kalian berdua menjadi

isteri para musuh yang membuat kau dan puteri Reza

sengsara lahir batin."

"Apa maksud kepura-puraan ini?"

"Hik hik hik Aku yakin rencana pemuda konyol

itu sama dengan rencanaku. Kalian hanya berpura-

pura jadi pengantin, bila Sunan dan kawan-kawannya

muncul ke sini" jelas Nini Suri Pamungkas.

"Baiklah, nek. Rencana gila ini kuterima. Tapi

walau bagaimana pun aku harus mencari pemuda itu.

Aku ingin tahu bagaimana nasib kakang Ambar Alam.

Dia yang telah mengetahuinya, aku harus berjumpa

dengannya" tegas puteri Reza.

"Jangan bodoh. Jika kau meninggalkan lereng

Kendeng ini. Bahaya selalu mengancammu. Sebaiknya

tetaplah kau disini. Kita bisa bersama-sama memper-

siapkan pesta bohong-bohongan untuk menyambut

kedatangan mereka jika Sunan dan orang-orangnya

datang kesini. Hik hik hik..."

Apa yang dikatakan oleh Nini Suri Pamungkas

memang benar, hanya puteri Reza kelihatannya me-

mang tidak dapat tenang jika ia belum bertemu dengan

Suro. Ia harus bertanya bagaimana keadaan Ambar

Alam dan berada dimana saat ini?
"Sekarang marilah kita ke pondokku yang be-

rada di balik bukit itu" ajak si nenek. Perempuan cacat itu menepuk-nepuk pundak kedua monyet besar

yang berjalan dengan kedua kakinya.

"Nguk Ngrokk"

Tiba-tiba saja kedua monyet itu berbalik dan

berjalan cepat menuju pondok yang terdapat di balik

bukit.

* * *

Dewa Sabrang bukan lagi pemuda lemah seper-

ti lima tahun yang lalu di saat Sunan Bandi Suliwa

membenamkan sebagian tubuhnya di salah satu gua

sempit di daerah yang teramat tandus. Berkat penga-

laman yang panjang pahit dan menyakitkan itu pula ia

memperoleh kesaktian yang sungguh dapat diandal-

kan. Itulah jamur Dewa Sabrang. Walau pun untuk

semua itu ia harus rela tubuhnya menjadi belang. Pu-

tih dan hitam.

Sekarang ia menjadi bingung ke mana hendak

pergi. Mengasingkan diri untuk mencari ketenangan

jiwa adalah sudah menjadi sumpahnya. Namun keha-

diran pemuda berwajah tolol kekanak-kanakan itu te-

lah mengusik jalan pikirannya. Reza Baiduri mungkin-

kah sekarang masih mengingatnya? Dewa Sabrang

terduduk lesu di pinggir sebuah tebing yang sangat cu-

ram. Kebimbangan?

Mengapa kini kau datang mengusikku lagi?

Padahal aku sudah menentukan sebuah jalan

yang mendaki lagi sangat sulit

Jalan pilihan yang orang lain jarang menempuhnya

Kini aku berada di persimpangan jalan...

Aku bingung lagi untuk menentukan arah

Resah, bingung, gelisah tegang menerjang

Mana jalanku yang dulu??

Mana....???

"Engkau bingung tentang jalan hidupmu sendi-

ri. Kau ketahuilah bahwa jalan hidupmu adalah ke ne-

raka" sahut sebuah suara.

Dewa Sabrang tersentak kaget. Ia memandang

ke salah satu arah. Saat itu dilihatnya ada seorang la-

ki-laki berpakaian serba hitam berdiri tegak tidak jauh di depannya. Di
punggungnya tergantung sebuah

gunting berukuran sangat besar berwarna putih

mengkilat karena ketajamannya.

"Kau siapa?" tanya Dewa Sabrang dengan mata

setengah terpicing.

"Ha ha ha... Sunan Bandi Suliwa sejak lima

tahun yang lalu telah menugaskan aku dengan upah

besar untuk mengawasi gerak-gerikmu. Sebenarnya

sejak dulu aku sudah berniat membunuhmu. Karena

aku terlanjur terikat janji untuk melihat penderitaan-

mu selama lima tahun itu. Maka aku, Hantu Pemeng-

gal Kepala selalu menunggu. Ternyata sekarang aku

melihat sesuatu yang sangat lain dalam dirimu. Sepa-

ruh tubuhmu seperti singkong bakar. Sedangkan ba-

gian lainnya seperti salju. Karena kau sudah terbebas

sepenuhnya. Kini adalah tugasku untuk menghentikan

langkahmu agar tidak mengganggu puteri Reza lagi."

Jawaban Hantu Pemenggal Kepala membuat Dewa Sa-

brang belalakkan mata.



***

6


"Kau bermimpi di tengah hari bolong, Hantu

Pemenggal Kepala. Perlu kau ingat. Bagiku cinta ma-

nusia sudah tidak menjadi persoalan utama lagi. Satu

hal yang patut kau pertanyakan. Aku tidak suka pe-

maksaan terjadi atas manusia lain. Kini arah langkah-

ku berubah lagi, kaulah yang telah merubahnya. Jika

aku kembali ke Parit Wolu, semata-mata hanya kare-

na ingin minta tanggung jawab Sunan. Apa katamu

tentang pernyataanku ini?"

"Silakan kau bawa mimpi-mimpimu itu ke da-

lam kubur Kau segera tahu akibat yang harus kau

tanggungkan" kata laki-laki berumur lima puluhan

ini. Ia mengacak-acak rambutnya yang lurus bagaikan

ijuk. Disentakkannya kepala ke belakang dua kali.

Disertai dengan teriakan keras, Hantu Pemenggal Kepala hantamkan tinjunya ke
dada Dewa Sabrang. Angin keras menderu, rambut Dewa Sabrang

yang riap-riapan berkibar-kibar. Namun detik itu ju-

ga ia menggeser langkahnya ke samping. Setelah itu

kepala dirundukkan, sikunya menyongsong ke depan.

Maka terjadilah benturan sangat keras. Hantu Pe-

menggal Kepala terjajar mundur disertai seringai kesa-

kitan. Dewa Sabrang lakukan sebuah gerakan cukup

unik. Tangannya diangkat menutupi kepala, lalu ia

melompat satu tendangan dilepaskannya.

Setelah merasakan besarnya tenaga dalam yang

dimiliki oleh lawan. Hantu Pemenggal Kepala kali ini

tampak menghindar. Kemudian ia bersalto di udara.

Setelah itu tinju kirinya menghantam bahu si pemuda.

Sesungguhnya Dewa Sabrang sama sekali tidak memi-

liki dasar-dasar ilmu silat. Sehingga ketika pukulan itu meluncur ke bagian
tubuhnya ia tidak kuasa menghindar lagi.

Buuuk

"Heh..."

Hantu Pemenggal Kepala kaget setengah mati.

Pukulan yang dilepaskannya tidak membawa akibat

apa-apa bagi lawannya. Sebaliknya tangan laki-laki itu

kontan bengkak membiru.

"Gila Darimana dia mendapatkan kekuatan se-

perti itu? Tubuhnya keras seperti karang. Padahal du-

lu menurut Sunan ia tidak mempunyai kesaktian apa-

apa?" desis sang Hantu dalam hati.

"Kaget, Hantu jelek? Kau tidak usah heran, sa-

tu lagi yang perlu kau ketahui, dibalik penderitaan

pasti ada hikmahnya. Aku telah mendapatkan hikmah

itu. Sekarang kau boleh menyerangku bagian mana sa-

ja yang kau suka. Tapi ingat, jika sampai sepuluh ju-

rus dimuka kau tidak mampu mengalahkan aku. Tu-

buhmu akan kupatahkan menjadi empat bagian" an-

cam Dewa Sabrang berapi-api.

"Bangsat Hiyaa...." teriak Hantu Pemenggal

Kepala. Laki-laki berambut kaku ini tiba-tiba saja le-

paskan pukulan 'Pemutus Raga Mencabut Sukma' sa-

lah satu pukulan yang tentu saja menjadi andalannya.

Hanya dalam waktu yang teramat singkat, menggele-

tarlah sekujur tubuh Hantu Pemenggal Kepala. Kedua

telapak tangannya sampai ke siku telah berubah men-

jadi hitam menebarkan asap tipis berbau sengit. Untuk

diketahui, Hantu Pemenggal Kepala adalah seorang ja-

goan bayaran berasal dari daerah Pagar Alam. Ia juga

memiliki kepandaian tinggi, terlebih-lebih dalam mem-

pergunakan guntingnya.

Sekejab kemudian menderulah sinar hitam me-

labrak Dewa Sabrang. Pemuda itu segera mempergu-

nakan tangannya untuk lindungi kepala. Sedangkan

tangan lainnya yang telah berubah memutih akibat

pengerahan tenaga dalam langsung dikibaskannya ke

depan. Wuuut...Buum....Terjadilah ledakan yang sangat keras, hingga

membuat dua sosok tubuh terlempar jauh dari kalan-

gan pertempuran. Hantu Pemenggal Kepala dengan ce-

pat berusaha bangkit berdiri. Darah meleleh dari hi-

dung dan sudut-sudut bibirnya. Dewa Sabrang sendiri

tidak mengalami akibat apa-apa. Hanya wajahnya ber-

selimut debu. Ia duduk bersila, matanya terpejam.

Menduga lawannya terluka dalam, maka Hantu

Pemenggal Kepala yang sudah tahu kehebatan lawan-

nya langsung mengambil gunting besar yang selalu

tergantung di punggungnya.

Ckrek Ckrek

Suara angin disertai bunyi gunting yang men-

gatup dan membuka terdengar jelas. Namun sama se-

kali Dewa Sabrang seakan tidak menghiraukan bahaya

yang mengancamnya.

Craak....Craak

Ketika gunting maut itu menghantam leher dan

bagian tubuh lain Dewa Sabrang. Tidak sedikitpun

senjata itu mampu melukai lawannya. Hantu Pemeng-

gal Kepala melompat mundur saking kagetnya. Di saat

belum lagi hilang kecut di hati laki-laki itu, Dewa Sa-

brang sudah lepaskan pukulan menggeledek ke arah

Hantu Pemenggal Kepala.

Orang ini mencoba selamatkan diri. Ia bergul-

ing-guling menjauhi sinar hitam putih yang menghan-

tam dirinya. Namun dengan cepat sekali pukulan jarak

jauh itu meluas. Hingga tidak urung Hantu Pemenggal

Kepala terhantam pukulan yang dilepaskan oleh la-

wannya.

"Haaakh"

Hantu Pemenggal Kepala terkapar. Luka yang

dideritanya memang cukup parah. Dewa Sabrang ter-

senyum sinis, menghampiri lawannya dengan langkah

satu-satu. Tangan pemuda itu mencengkeram leher la-

wannya. Sekali sentak, maka berdirilah Hantu secara

paksa. "Setan Kau pandanglah mata dan wajah ku

baik-baik. Kau lihatlah" seru Dewa Sabrang. Dengan bersusah payah Hantu
Pemenggal Kepala membuka

matanya, memperhatikan wajah Dewa Sabrang dengan

perasaan kecut.

"Bukankah kau lihat sisa-sisa penderitaanku

Agar kau dapat mengetahuinya, seperti ini rasanya"

dengus Dewa Sabrang. Seraya mencengkeram rambut

Hantu Pemenggal Kepala. Tiba-tiba saja kedua tan-

gannya sama bergerak dan....

Kraak Kraak Kraak

"Akrrrkh..."

Terdengar sebuah jeritan yang sangat mengeri-

kan. Tubuh Hantu Pemenggal Kepala patah menjadi ti-

ga bagian. Matanya melotot, darah menyembur dari

mulut laki-laki itu tiada henti. Ketika Dewa Sabrang

mencampakkan tubuh lawannya. Maka tidak terlihat

adanya gerakan lagi. Hantu Pemenggal Kepala tewas

penasaran.

"Aku telah membunuh, puah? Inilah pembu-

nuhan pertama yang kulakukan. Apa mungkin aku

dapat berhenti dari membunuh? Ini adalah awal,

mungkin baru akan berakhir setelah aku dapat mema-

tahkan kepala Sunan Bandi Suliwa" desis Dewa Sa-

brang, wajah pemuda itu semakin bertambah murung.

* * *

Sunan Bandi Suliwa jelas menjadi gusar ketika

melihat kenyataan bahwa putrinya dan Puteri Kilat

Bayangan sang keponakan melarikan diri. Lebih gusar

lagi, karena ada orang lain yang ikut ambil bagian da-

lam pelarian itu sebagaimana penjelasan pengawal

yang sempat ditotok oleh Bayangan Biru. Tidak kalah

geramnya, Kala Demit maupun Macan Terbang. Lebih

panik lagi Sidra Gagap dan Randu Walang. Mereka ti-

dak hentinya, menjerit atau meraung seperti orang gila.

Patut dimaklumi, baik Sidra Gagap maupun

Randu Walang adalah pemuda jelek dan punya kesia-

lan pula. Kesialan itu berupa penyakit gagap, sedang-

kan yang satunya lagi kudisan dan kepala botak pula.

Sedangkan kedua gadis yang akan menjadi calon isteri

adalah gadis-gadis cantik. Bukan gadis kampungan

yang hanya dengan memandangnya langsung kenyang.

Puteri Kilat Bayangan sangat aduhai dan memikat. Itu

calon pasangan Randu Walang yang botak kudisan.

Sedangkan puteri Reza Baiduri cantik pula, walau ma-

tanya memang tidak memancarkan pesona tinggi.

Yang mereka khawatirkan, bagaimana sean-

dainya kedua gadis itu diperistri oleh Bayangan Biru

yang telah membawa lari mereka. Sebaliknya Sunan

Bandi Suliwa lain lagi. Ia menyangka yang melarikan

puterinya tentu Ambar Alam kekasih puterinya ia hu-

kum pendam selama lima tahun di gua sempit. Padah-

al sampai sekarang ini Hantu Pemenggal Kepala yang

dipercaya mengawasi gerak-gerik Ambar Alam tidak

muncul juga.

"Kita tidak bisa berpangku tangan lebih lama.

Sekarang ini harus ada kerjasama di kedua belah pi-

hak agar kita dapat menemukan puteriku dan juga ke-

ponakan murtad itu" berkata Sunan Bandi Suliwa

sambil berusaha menekan kemarahannya. Laki-laki

kurus ceking berwajah kelimis tersenyum, tokh se-

nyumnya tidak dapat memendam kegelisahan hatinya.

"Pemuda yang melarikan kedua puteri itu be-

nar-benar anak setan yang sudah bosan hidup, sobat

Macan Terbang. Apa benar kau pernah bertemu den-

gan pemuda gendeng itu?"

"Benar. Dia bahkan sempat membunuh salah

seorang anak buahku ketika aku melakukan perjala-

nan ke sini." sahut Macan Terbang. Ia kemudian menjelaskan ciri-cirinya secara terperinci. Penjelasan Ma-

can Terbang membuat kening Kala Demit menggerimit

dalam. "Rambutnya, tampangnya rasanya tidak salah.

Dua puluh tahun yang lalu aku menginginkannya. Ti-

dak kusangka bibit bencana itu sekarang sudah men-

jadi biang penyakit yang cukup berbahaya. Bagaimana

pun aku harus menemukan cara untuk melenyapkan-

nya" pikir Kala Demit. Untuk lebih jelasnya bacalah (Dalam episode Neraka
Gunung Bromo & Bayang-Bayang Kematian).

"Apa jawabmu sahabat Kala Demit?" tanya Su-

nan Bandi Suliwa seakan bosan menunggu.

Kala Demit usap-usap jenggotnya. "Muridku

dan putera Macan Terbang sebaiknya bergabung dan

sama-sama melakukan pencaharian. Sedangkan aku

dan Macan Terbang mencari mereka bersama-sama,

kurasa Sunan sendiri sebaiknya membawa sebagian

pengawal untuk menelusuri tempat-tempat yang kita

anggap mencurigakan. Sekitar tiga hari lagi kita ber-

kumpul di sini. Apapun hasilnya"

"Aku setuju sobat Kala Demit. Kalau mau be-

rangkat, sekaranglah waktunya bagi kita" ujar Sunan Bandi Suliwa seakan tidak
sabar. Siang hari itu juga

berangkatlah tiga rombongan yang telah disepakati ini.

Mereka sama-sama menunggang kuda. Sidra Gagap

dan Randu Walang bergerak mencari kedua putri yang

melarikan diri dengan disertai oleh seluruh anak buah

ayahnya Macan Terbang. Masing-masing menempuh

jalan yang berbeda. Ini dimaksudkan agar pencaharian

tidak berlangsung lama.

* * *

Senja hari, pemuda rambut hitam kemerahan

duduk di atas sebuah pohon yang sangat tinggi. Tata-

pan matanya memandang jauh pada hamparan gu-

nung Kendeng yang menjulang tinggi. Lalu di tengah-

tengah semilirnya angin senja yang sepoi-sepoi menye-

jukkan. Pemuda itu melantunkan lagu-lagu yang tidak

jelas dan kurang teratur. Terkadang suaranya me-

lengking tinggi meledak-ledak seperti suara monyet

yang berteriak. Atau di lain waktu berubah pelan men-

dayu-dayu, kemudian berubah sangat pelan tidak ter-

dengar, tidak bedanya seperti orang yang berkemak-

kemik membaca doa.

Setelah letih menyanyi si pemuda garuk-garuk

kepala. Melihat ke bagian lain dari atas pohon itu, terdapat sebuah sungai berair
jernih. Bahkan dari atas

pohon Pendekar Blo'on dapat melihat adanya ikan

yang sedang bermain-main.

"Terbit seleraku bila memandangmu. Tapi...

akh..." Si konyol garuk-garuk kepala. Wajahnya berubah murung. "Yang satu ini
sangat lain. Sudah sering kulihat gadis cantik, yang hitam manis, yang kuning

langsat. Yang hitam macam pantat kuali, yang umit-

umit, eeh... yang imut-imut. Yang besar pantatnya,

yang kempes dadanya. Yang besar dadanya kempes di

pantat. Semua itu adalah keindahan, tapi yang satu ini

lain sekali. Begitu ketemu jantungku langsung ser-seran, melihat wajahnya hatiku
bergetar. Belum pernah aku seresah ini. Mungkin inilah yang rasanya ja-

tuh cinta pada pandangan pertama. Semestinya aku

tidak meninggalkan mereka. Uhh... nenek jelek kaki

buntung itu membuat aku kesal. Apakah aku harus

kembali ke sana?" Suro jadi ragu-ragu.

Tokh keragu-raguan itu tidak berlangsung la-

ma. Suro memutuskan untuk kembali menjumpai pu-

teri Reza dan Puteri Kilat Bayangan di lereng bagian

selatan gunung Kendeng. Sementara itu puteri Reza

secara diam-diam rupanya meninggalkan Nini Suri

Pamungkas dan juga kakak misannya. Gadis ini masih

penasaran dan tetap ingin mencari Pendekar Blo'on

yang dianggapnya memang mengetahui di mana Am-

bar Alam berada. Karena sejak kecil gadis berbaju pu-

tih ini memang tidak pernah pergi kemana-mana.

Tentu saja suasana di daerah pegunungan yang

ditumbuhi hutan lebat cukup membingungkannya. Ia

pun tersesat.

"Kemana perginya pemuda geblek itu?" Puteri

Reza menggumam seorang diri. "Hutan di lereng gu-

nung ini sangat luas sekali. Eeh... aku seperti menden-

gar suara langkah-langkah kuda kemari" Gadis berba-ju putih tercekat. Dalam
keadaan bingung seperti itu

terlintas dalam benaknya untuk bersembunyi. Namun

apa yang hendak dilakukannya terlambat. Karena si

penunggang kuda telah melihatnya.

"Kurang ajar. Si gagap itu rupanya mencariku"

Karena melihat tidak ada kesempatan lain. Ma-

ka puteri Reza berlari selamatkan diri.

"A-a-aku... calon suamimu. Meng-meng-apa ta-

kut." kata Sidra Gagap dengan suara terbata-bata. Ti-ba-tiba ia melompat dari
punggung kudanya. Dikejar-

nya puteri Reza yang sekarang sudah berada di pinggir sungai.

"Pergi kau dariku pemuda goblok" teriak gadis itu ketakutan. Karena Sidra Gagap terus mengejarnya.

Maka akhirnya puteri Reza melompat ke sungai. Pa-

kaiannya jadi basah sehingga bagian-bagian tubuhnya

yang indah itu terlihat dengan jelas. Sungai itu ternya-ta hanya sedalam betis saja.
Sidra Gagap gemetar tubuhnya. Seraya leletkan lidah begitu melihat kain yang

membalut pinggul si gadis tersingkap sampai sebatas

pertengahan paha. Melihat kaki yang halus mulus ini.

Sidra Gagap jadi tergoda. Ia melompat ke sungai.

"Ak-aku... ja-jadi tidak sabar menunggu malam

per-pertama. Ka-u calon isteriku. Se-se-sekarang dan

nanti sama saja..." kata si gagap. Puteri Reza meronta-ronta di saat pemuda
berwajah angkuh itu memeluk-

nya. Sidra Gagap ternyata semakin kurang ajar saja. Ia

meremas-remas dada sang puteri yang membayang ke-

tat di balik pakaiannya yang basah.

"Ki-kita bersenang-senang... ti-ti-tidak ada yang

melihat. Hanya kita saja berdua..." desis si pemuda sementara tangannya tiada
henti meraba-raba kian

kemari. Selain bertambah kecut gadis ini tentu marah

bukan main. Disayangkan puteri Reza memang tidak

memiliki kepandaian apa-apa. Ia hanya menjerit-jerit

di saat Sidra Gagap mencopoti kancing pakaiannya

dan menarik lepas kain yang membalut tubuhnya. Ga-

dis itu benar-benar dalam keadaan setengah telanjang.

Si gagap melototkan matanya melihat keindahan di

depannya. Nafsu kelakiannya terbangkitkan.



***

7


Dipeluknya puteri Reza erat-erat, ia menciumi

wajah sang puteri. Dari wajah beralih ke leher, dari

leher Sidra Gagap memberanikan wajahnya di antara

kedua bukit kembar sang puteri. Gadis ini menjerit-

jerit ketakutan. Terlebih-lebih lagi ketika Sidra Gagap tanpa melepaskan
pelukannya langsung melucuti pakaian sendiri. Terakhir ditariknya secara paksa
penutup bagian terlarang milik si gadis.

Sidra Gagap memang tidak ubahnya binatang

jalang yang liar. Ia terus berusaha menerobos kesucian

si gadis secara paksa. Namun hal itu tentu saja tidak

mudah dilakukannya. Karena puteri Reza berusaha

mempertahankan kehormatannya dengan cara mera-

patkan kedua kakinya. Didera oleh luapan nafsu

yang meledak-ledak. Tentu saja lama-kelamaan Sidra

Gagap menjadi tidak sabar. Ia berusaha menguakkan

kedua kaki si gadis dengan paksa. Sehebat-hebatnya

tenaga perempuan. Lama kelamaan melemah juga. Ke-

dua kaki si gadis akhirnya merenggang. Sidra melihat

hal ini langsung menyusup di antara kedua kaki

mangsanya.

Namun kelihatannya nasib baik memang masih

berpihak pada puteri Reza. Karena pada waktu itu te-

rasa ada angin dingin berkesir, sosok Bayangan Biru

berkelebat. Sedetik kemudian terdengar Suara jeritan

Sidra. Tubuhnya terpelanting ke belakang, beberapa

buah rambutnya jebol. Di belakangnya terdengar suara

nyanyian tidak menentu persis orang yang memaki-

maki. Melihat dirinya yang dalam keadaan telanjang

bulat itu. Puteri langsung menyambar sebagian pa-

kaiannya yang hanyut. Lalu dengan sekenanya ia me-

nutupkan kain dan baju ke bagian-bagian yang berton-

jolan. Sidra Gagap sendiri jadi kaget. Ia pegangi kepalanya. Ternyata ada yang
botak. Pada bagian yang bo-

tak meneteskan darah. Artinya seseorang telah mena-

rik rambutnya hingga bagian kulitnya ikut tersobek.

Sakit bukan main rasanya, nafsu bejadnya sontak

menjadi lenyap. Puteri Reza langsung bersembunyi ke

tempat yang aman. Sedangkan Sidra Gagap berdiri,

memutar-mutar dan langsung menghadap ke pinggir

tebing. Di sana ternyata telah berdiri seorang pemuda

berpakaian serba biru berwajah ketolo-tololan, se-

dangkan tatapan matanya angker menyorotkan ama-

rah. "K-k-kau sia-apa, monyet be-be-berani men-campuri urusan orang lain"
bentak Sidra dengan sua-ra tergagap-gagap. Si baju biru yang tiada lain adalah

Suro Blondo mendengus sinis. Ulah si gagap ini telah

dilihatnya tadi di atas pohon. Bahkan kedatangannya

juga sudah diketahuinya. Tanpa memberi jawaban,

Suro menendang sebuah batu kerikil. Batu meluncur

lurus persis ke tengah-tengah selangkangan Sidra Ga-

gap. Si pemuda gagap saking kagetnya rupanya masih

belum merasa saat itu ia sedang tidak berpakaian.

Takkk....Batu kerikil langsung menghantam batang

anunya yang cukup besar dan mulai mengempis. Ka-

ruan saja Sidra menjerit kesakitan sambil jejingkra-

kan. Ia menggerung, mendekap sambil memegangi pe-

rutnya yang mulas. Batang anunya bengkak membiru,

salah satu telurnya juga biru, mungkin juga pecah.
"Aduh biyung... sakitnya... keparat Anak setan,

tol-tolol, sontoloyol" Sidra memaki-maki. Anunya semakin bertambah bengkak
saja. Suro tertawa bekaka-

kan. Bibirnya termonyong-monyong, sedangkan tangan

kiri garuk-garuk rambut di atas kuping.

"Bicaramu saja masih tidak lempang Kau pikir

aku kepincut melihat anumu yang item itu? Pakai dulu

pakaianmu, jika kau masih penasaran aku menung-

gumu di sini" dengus Pendekar Blo'on sinis.

Sidra sama sekali tidak menyahuti. Ia segera

memakai pakaiannya. Selesai berpakaian ia melompat

ke bibir sungai.

"Bunuh manusia keparat itu, Suro" teriak pu-

teri Reza dengan penuh kebencian.

"Jangan khawatir. Dia pasti menerima ganjaran

setimpal dariku" sahut Suro. Sidra menunjuk-nunjuk Suro dengan berangnya.
Matanya melotot, lidahnya

terjulur seperti anjing. Rupanya inilah puncak kema-

rahan si pemuda.

"Kk... kau tel-lah merusak, kes...."

"Keselo..." Suro menyambuti. Lalu tawanya kembali terdengar.

"Ja-jahanam Gur... gur-uku, pasti tidak aa-

akan ting-ting...."

"Tinggi hati" Lagi-lagi Suro menyahuti

Mendapat ejekan sedemikian rupa, semakin ka-

laplah Sidra Gagap. Kemarahan itu ditindihnya. Ia be-

rusaha bicara sebaik mungkin.

"An-anak Setan Kau telah melarikan calon is-

is..." "Istana surgamu Gila betul. Bicara saja kau tidak becus Sekarang katakan
padaku siapa gurumu?"

dengus Suro tidak sabar.

"Hh... ha ha ha... Gur-guruku Kala Demit.

Tampangmu yang konyol itu pasti akan dibuatnya

hancur" teriak Sidra Gagap penuh rasa percaya diri.

Wajah pemuda bertampang ketolol-tololan itu

berubah kelam seketika. Sekujur tubuhnya menggele-

tar. Matanya melotot seakan baru saja melihat gelegar

halilintar di siang bolong. Ketika pemuda ini tertawa,



maka tawanya kini terasa lain, berubah menyeramkan

dan mendirikan bulu roma. Suro acungkan tinjunya ke

udara, kemudian terdengar siulan panjang tidak teratur.

"Ha ha ha Kala Demit Sebuah nama jahanam

yang terukir di dalam kalbuku. Sembilan buah huruf

yang tidak pernah terhapus dari dalam kepalaku Ber-

tahun-tahun aku mencarinya. Dia adalah satu dari

Sepasang Iblis Pegat Nyawa yang terdaftar dalam buku

lembaran yang paling hitam. Kau muridnya? Ha ha

ha... Jika semula aku punya rencana bagus untukmu,

maka kini rencanaku lain lagi. Sebentar lagi kau bera-

da dalam genggamanku, Kala Demit harus datang ke-

padaku untuk menyerahkan nyawa busuknya" jerit

Pendekar Blo'on.

"Ka-kau siapa?" tanya Sidra Gagap sinis.

"Agar kau tidak semakin gagap penasaran. Ke-

tahuilah bahwa aku adalah anak yang kedua orang tu-

anya terbunuh pada malam satu Asyuro di lereng gu-

nung Bromo. Gurumu adalah salah seorang dari tiga

pembunuh orang tuaku. Kau dengar? Gurumu pem-

bunuh orang tuaku" jawab murid Penghulu Siluman

Kera Putih dan murid Malaikat Berambut Api tegas.

Sebagai seorang murid, tentu saja Sidra pernah

mendengar tentang apa yang dikatakan oleh pemuda

itu dari gurunya. Namun sekarang ia menjadi heran

sendiri setelah melihat pemuda yang waktu kecilnya

jadi rebutan. Pemuda bertampang goblok itu bagaima-

na menjadi pusat perhatian dan rebutan para tokoh?

Bahkan mereka rela saling berbunuhan untuk menda-

patkannya. Padahal Sidra merasa yakin, otaknya pasti

tidak lebih cerdik dari otak keledai.

"Ja-jadi kau-lah orangnya yang dimak-sudkan

oleh guruku Kebetulan sekali, kesalahanmu sudah

tumpuk undung padaku. Jika aku meringkusmu, ten-

tu aku dapat tunjuk-kan pada guru, bahwa dia dulu

telah memperebutkan bu-bualan pertapa gila Huh...

mampus" teriak Sidra Gagap.

Bibir Sidra membulat kecil, seraya lalu meniup

dengan keras. Dari dalam mulutnya melesat lima buah

jarum berwarna putih mengkilat. Jika saja Suro tidak

awas sejak tadi, pasti mata dan wajahnya sudah ditan-

capi senjata-senjata rahasia milik lawan. Suro menja-

tuhkan tubuhnya lalu terus berguling-guling. Gerakan

yang dilakukannya itu bukan menjauh, melainkan

mendekati lawan, lalu kakinya menendang.

Des....Sidra Gagap meraung keras. Tinjunya kanan

kiri menghantam dada dan muka Suro dengan telak. Ia

merasa yakin pukulan itu pasti tidak meleset. Apalagi

kelihatannya lawan merasa kesulitan untuk menghin-

dar, setengah jengkal lagi serangan mengenai sasaran.

Suro menarik tubuhnya ke belakang dengan gerakan

setengah berjingkrak. Lalu ia melompat, kepalanya di-

miringkan ke kiri dan ke kanan. Begitulah yang dila-

kukan berulang-ulang. Tidak satu pun serangan gen-

car Sidra yang mengenai sasaran.

"Huk Nguk Nguk" Untuk beberapa saat la-

manya itulah yang dilakukan Suro secara terus mene-

rus. Tingkahnya memang hampir sama dengan gerak

seekor monyet yang menari-nari. Terkadang sambil

menghindar ia garuk-garuk kepala, garuk hidung atau

menggaruk punggungnya. Di dalam kesempatan lain-

nya seraya melompat dengan kaki ditekuk. Kakinya

melesat...

Wuuk....Sidra Gagap melompat, serangan luput. Di saat

Suro sedang berjumpalitan di udara. Sidra membaren-

ginya dengan pukulan telak.

Buuk......"Hukh"

Ketika menjejakkan kakinya di atas tanah, Suro

langsung terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya.

"Kau segera mampus, pemuda setan Pukulan

'Mendobrak Benteng Membunuh Setan' tidak bisa di-

anggap main-main" desis Sidra kata-katanya agak

lancar. "Setan jelek tidak becus bicara Besar juga kau punya mulut Huh..." Suro
tiba-tiba saja berjongkok, lalu segera menerjang ke depan. Namun sungguh sial,

belum lagi ia mencapai sasaran, Sidra sudah mele-

paskan pukulan jarak jauhnya.

Hawa panes bergulung-gulung menyambar wa-

jah Suro. Pemuda itu meraung keras, lalu membanting

tubuhnya ke kiri.

Buumm....Terlihat sebuah lubang sangat besar ketika le-

dakan itu terjadi. Suro leletkan lidah. Wajahnya masih

terasa panas, ia bangkit berdiri. Mulutnya pletat-pletot, sekejap kemudian murid
Penghulu Siluman Kera Putih

ini dorongkan kedua tangannya. Angin kencang men-

deru, hawa dingin menghampar disertai sinar putih

bagaikan salju. Sidra Gagap merasa pukulan susulan

yang dilepaskannya membalik. Ia berusaha memperta-

hankan diri dengan melipat gandakan tenaga dalam-

nya. Tubuhnya malah tergetar, kakinya terseret-seret.

"Aaak..."

Sidra terguling-guling. Ia terkapar dengan mu-

lut menyemburkan darah. Suro tersenyum sinis, den-

gan cepat ia menghampiri lawannya. Begitu dekat ia

bermaksud mencengkeram baju lawannya. Diluar du-

gaan Sidra menghantamkan kebutan ke dada Suro.

Prat....Pendekar Blo'on memekik kaget. Ia terhuyung

mundur, dadanya meneteskan darah.



"Penipu licik Kau akan tahu rasa nanti." desis si pemuda disertai seringai
kesakitan.

"Ha ha ha Ka-ka-u ternyata memang Pendekar

Goblok" sahut Sidra Gagap sambil mengibas-

ngibaskan kebutan di tangannya.

"Ya... mungkin saja aku goblok. Tapi kau, ha-

haha... Manusia sinting yang mesti ku potong lidah-

nya" Pendekar Mandau Jantan acungkan tinjunya

ke depan. Tinju itu diputar-putarnya. Dengan mem-

pergunakan jurus "Serigala Melolong Kera Sakti Ki-

baskan Ekor', pemuda ini langsung melabrak lawan-

nya. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh Suro

memang sangat cepat di samping mengandung teka-

teki yang sulit dipecahkan. Suatu saat tinju Suro men-

deru disertai tendangan kaki. Melihat serangan yang

datang secara bersamaan. ini. Tentu Sidra segera ber-

jumpalitan ke belakang. Tapi ternyata Suro merubah

gerakannya, ia berputar ke arah lawannya bergerak.

Sesekali terdengar suara lolongan panjang. Ketika Si-

dra menjejakkan kakinya. Tentu pemuda gagap ini jadi

kaget karena lawan ternyata Suro telah berada di bela-

kangnya. Dengan tangan terkepal dihantamnya wajah

Sidra. Dieng

Pukulan keras itu laksana palu godam meng-

hantam kepala. Sejuta bintang bertaburan di mata Si-

dra Gagap, kepalanya mendadak sontak jadi pusing.

Selagi ia sempoyongan, Suro melompat, tangannya

bergerak cepat.

Breet....Senjata itu pun berpindah tangan. Serta merta

gagang kebutan digetokkan lagi ke kepala Sidra Gagap.

Kepala pemuda itu pun benjol-benjol. Ia jatuh terdu-

duk. Melihat pemuda itu dalam keadaan tidak berdaya,

maka puteri Reza berlari menghampiri, lalu lepaskan

tendangan bertubi-tubi dengan tenaga kasarnya.

"Sudah biarkan saja" Suro Blondo mencegah.

"Bunuh dia" perintah si gadis. Suro gelengkan kepala. "Kau membelanya?" Puteri
Reza belalakkan mata. "Kau salah, puteri. Ketahuilah. Guru pemuda sableng ini
adalah orang yang kucari-cari selama ini.

Kala Demit telah membunuh ayah dan ibuku di gu-

nung Bromo. Jika dia kubunuh, maka aku kehilangan

kesempatan untuk menagih hutang nyawa. Sekarang

aku punya rencana" Tiba-tiba saja Suro menotok Sidra Gagap. Lalu lanjutkan
ucapannya. "Nenek kaki

buntung itu kulihat punya dua ekor monyet. Rencana-

ku bagaimana jika kita sandingkan dia dengan mo-

nyet-monyet itu di atas pelaminan. Ha ha ha..."

"Nenek itu pun punya rencana yang sama den-

gan rencanamu Aku setuju saja, walau pun sebenar-

nya aku muak melihat tampangnya"

"Untuk itu kita jangan buang-buang waktu.

Mari" Suro memanggul Sidra di bahunya. Setelah itu mereka berjalan melewati
semak belukar yang terdapat

di sekelilingnya.

* * *

"Reza hanya membuat urusan jadi tertunda-

tunda. Jika ia sampai ketahuan ayahnya atau calon

suaminya. Tentu masalahnya semakin gawat. Kasihan

sekali nasibnya. Gunung Kendeng ini sangat luas, di-

mana aku harus mencarinya?" pikir gadis baju hijau.

Puteri Kilat Bayangan akhirnya berlari-lari menelusuri

lereng gunung di sebelah barat.

"Rasanya tidak mungkin dia berada di sekitar tempat ini. Heh, aku melihat semak-
semak belukar disebelah sana bergerak-gerak." kata Puteri Kilat. Ia kemudian
memanggil-manggil adik misannya itu. Namun sampai suaranya serak tetap tidak
ada sahutan.

"Puteri Reza..." teriaknya berulang-ulang.

Karena tetap tidak ada jawaban, maka Puteri

Kilat Bayangan mendekati semak-semak yang dicuri-

gainya. Setelah menyelidik kian kemari, ternyata ia ti-

dak melihat siapa-siapa di situ. Gadis ini lama kela-

maan menjadi kesal juga.

"Heh, ada kuda di sini? Kuda milik siapa?" Gadis baju hijau tersentak kaget.
"Bukankah ini kuda milik paman. Aku merasa seperti ada beberapa pasang

mata mengawasiku" Puteri Kilat Bayangan merasa tidak enak. Ternyata dugaannya
memang tidak meleset,

sebab tidak lama bermunculan beberapa orang laki-

laki dari balik semak belukar. Orang-orang bertam-

pang angker ini langsung mengurung si gadis.

"Ha ha ha... Kalau memang sudah jodoh, ke-

mana pun kau pergi akhirnya kami temukan juga" ka-ta sebuah suara.

"Keparat Bukankah itu suara Randu Walang?"

desis Puteri Kilat Bayangan kecut.



***

8


Ternyata setelah terlihat dengan jelas, memang

Randu Walang dan beberapa orang anak buahnya yang

telah mengepung Puteri Kilat Bayangan. Salah seorang

diantaranya adalah laki-laki berkuping tunggal yang

tempo hari berhadapan dengan Pendekar Blo'on dan

hampir saja menjadi sasaran goloknya sendiri.

"Calon isteriku, mengapa kau tega-teganya me-

larikan diri dariku. Apakah kau tidak suka padaku?"

tanya Randu Walang. Pemuda yang sekujur tubuhnya

di penuhi penyakit kurap itu tiada hentinya mengga-

ruk-garuk sekujur tubuhnya. Apalagi ketika itu panas

sedemikian teriknya, sehingga tubuhnya yang keringa-

tan membuat penyakit kurapnya semakin menjadi-

jadi. "Orang jelek kudisan. Terus terang aku me-

mang tidak suka padamu. Kurasa kambing congekan

pun tidak sudi menjadi isterimu. Sebaiknya kau urus

penyakit menjijikkan yang menghinggapi tubuhmu.

Jangan coba-coba membujukku. Sekali pun tidak ter-

lintas dalam pikiranku untuk berumah tangga. Sean-

dainya aku punya keinginan nanti, tentu bukan den-

gan dirimu" bentak Puteri Kilat Bayangan sinis.

Jawaban ini tentu saja membuat Randu Walang

merasa terhina. Apalagi anak buahnya yang berkuping

sebelah.

"Anak ketua, sebaiknya serahkan saja urusan

perempuan ini kepada kami. Kalau sudah kena diring-

kus tentu dia tidak akan banyak tingkah lagi..."

"Ha ha ha Tentu saja gadis ini menjadi ba-

gianmu untuk menaklukkannya. Tapi ingat, kau tidak

boleh menyakitinya, bahkan membuat lecet tubuhnya

sedikit pun tidak boleh" sahut Randu Walang.

Begitu mendapat aba-aba, Jalak Abang dan li-

ma orang anak buahnya langsung mengurung si gadis

Secantik bidadari ini. Kelima laki-laki berbadan tegap

yang di dadanya terdapat tatto bergambar harimau be-

sar ini Secara bersamaan mencengkeram lawannya.

Gerakan mereka cepat sekali. Bahkan lebih cepat dari

dugaan Puteri Kilat Bayangan.

Wuus....Lima buah tangan laksana setan gerayangan

menjamah bagian-bagian tubuh si gadis. Gadis baju

hijau memaki-maki dalam hati. Tiba-tiba saja secepat

kilat tubuhnya melesat ke udara sambil lepaskan ten-

dangan memutar.

"Hiyaa..."...Spontan kelima laki-laki itu menarik pulang

tangannya. Tendangan kilat itu hanya membeset uda-

ra. Selagi Puteri Kilat berputar-putar di atas kepala lawan-lawannya. Maka dua
diantara penyerangnya juga

melompat ke udara.

Tindakan mereka yang nekad itu di sambut

oleh gadis baju hijau dengan hentakan kedua tangan-

nya. Bukk Walau pun serangan kilat yang dilakukan oleh

Puteri Kilat Bayangan kelihatan pelan. Namun akibat-

nya sungguh sangat luar biasa sekali. Kedua laki-laki

itu seperti dibanting gajah. Mereka menggeliat, kawan-

kawannya langsung menyerbu. Kini mereka sudah mu-

lai mengeluarkan jurus-jurus harimau yang sangat

berbahaya sekali.

Gadis baju hijau tersenyum mencibir. Tiga laki-

laki langsung menerkam Puteri Kilat. Sesuai dengan

julukannya, gadis ini cepat sekali berkelebat. Tahu-

tahu lawannya menghantam angin. Si gadis memutar

tubuhnya, kedua tangannya menderu. Kiri kanan

menghantam dada lawan.

Buk Buuk

"Wuakh..."

Kedua orang ini terpelanting roboh, tulang ru-

suknya patah dan mereka menjerit-jerit kesakitan. Pu-

teri Kilat Bayangan tidak memberi kesempatan lagi.

Sekali lompat ia sudah menginjak perut kedua laki-laki

itu hingga mata mereka melotot. Melihat keganasan si

gadis Jalak Abang dan dua orang kawannya cabut sen-
jata. Mereka sudah tidak menghiraukan teriakan Ran-

du Walang yang khawatir gadis baju hijau menjadi sa-

saran senjata.

"Jalak Abang jangan lukai dia. Calon isteriku

jangan sampai lecet Awas aku potong kupingmu jika

sampai calon isteriku terluka"

Wut Wut....Tiga buah golok menderu, membelah, mencin-

cang, menebas dan membabat tubuh lawannya. Puteri

Kilat Bayangan tidak bedanya dengan seekor burung

walet. Berkelebat kian-kemari, menyambar atau terka-

dang menerobos ke pertahanan lawannya.

Tapi pertahanan Jalak Abang dan dua kawan-

nya cukup kokoh juga. Tubuh mereka diselubungi si-

nar golok yang berwarna putih bagaikan bintang-

bintang yang bertaburan.

"Bunuh" teriak Jalak Abang prustasi.

"Jalak Abang Kau berani melawan kehendak-

ku Jika gadis itu terbunuh, kepalamu nanti akan

menjadi gantinya. Tidak cukup itu saja, anak binimu

juga akan kubunuh semuanya"

Maka pucatlah wajah Jalak Seta ketika diin-

gatkan tentang anak isterinya. Ia menjadi ragu-ragu

untuk melampiaskan keinginannya, justeru kesempa-

tan ini langsung dimanfaatkan oleh Puteri Kilat

Bayangan. Si gadis lepaskan pukulan 'Bidadari Kilat

Halilintar'. Kedua tangannya diadu satu dengan yang

lainnya. Terdengar ledakan dahsyat, sinar merah kun-

ing dan biru bertebaran bagai bunga api.

Jalak Abang terbelalak matanya, serangan la-

wan yang datang secara tiba-tiba itu tidak mungkin di-

elakkannya. Maka golok di tangan langsung diputar-

nya. Lima larik sinar melabrak tubuhnya, golok lang-

sung leleh, Jalak Abang terpaksa lepaskan senjata

sambil menjerit-jerit. Praktis ia tidak memiliki pelindung apa-apa.

Bum Buum.....Jeritan keras laksana merobek langit. Jalak

Abang tubuhnya terbelah menjadi empat bagian.

Sungguh mengenaskan keadaan laki-laki ini. Sedang-

kan kedua kawannya juga mengalami nasib sial. Seba-

gian pukulan Puteri Kilat Bayangan mengenai mereka.

Sungguh pun tubuh orang-orang ini tidak tercerai be-

rai. Namun nyawa mereka tidak terselamatkan lagi.

Puteri Kilat Bayangan membalikkan tubuhnya,

memandang pada Randu Walang dengan tatapan mata

sinis. Pemuda itu tercekat, hanya dalam waktu belasan

jurus saja semua anak buah ayahnya sudah terkapar

tanpa nyawa. Hal-hal seperti ini sangat jarang terjadi, sama sekali ia tidak
menyangka gadis itu mempunyai

kepandaian tinggi. Saking bingungnya Randu Walang

garuk-garuk koreng di sekujur tubuhnya.

"Kau mengapa bertindak kejam begitu, calon is-

teriku" desis Randu Walang kecut.

"Hei... botak kurapan, jangan lagi kau sebut

aku calon isterimu jika tidak ingin mampus" dengus si gadis sengit. Memang sejak
pertama bertemu dengan

pemuda ini sedikit pun tiada rasa simpati di hatinya.

Malah kebenciannya meledak-ledak. Benci botaknya,

benci kurapnya, pokoknya benci segala-galanya.

"Kau... mengapa begini galak. Apa kau ingin

agar aku bertindak kasar padamu...?" bertanya Randu Walang disertai senyum terkekeh-kekeh.

"Hi hi hi... Kau rupanya masih belum tahu sia-

pa aku Jika kau mampu menangkapku, mungkin aku

bersedia mempertimbangkan permintaan gilamu.

Mungkin juga aku bersedia tidur denganmu, dengan

syarat kau bisa menangkapku" kata Puteri Kilat

Bayangan berbohong. "Tapi jika sepuluh jurus di depan kau tidak bisa berbuat apa-
apa. Kau akan kujodohkan dengan monyet milik nenekku"

"Tawaranmu sangat mengesankan hatiku, calon

isteriku. Jangankan cuma menangkap, membelai dan

memeluk pun aku sanggup. Ayolah aku sudah tidak

kuat lagi menahan keinginanku" desis Randu Walang, kata-katanya bernada
mesum. "Orang gila Hiya..." teriak Puteri Kilat Bayangan. Berhadapan dengan
Randu Walang tentu saja si

gadis tidak mau bersikap untung-untungan. Ia menge-

luarkan segenap ilmu meringankan tubuh yang dimili-

kinya. Sebaliknya Randu Walang karena terdorong

keinginan nafsunya yang meledak-ledak segera beru-

saha menangkap gadis baju hijau.

Tidak heran bila pertempuran itu sekejap saja

sudah menjadi sengit luar biasa. Pada dasarnya Randu

Walang adalah pewaris tunggal jurus-jurus Macan

Terbang milik ayahnya. Tidak heran jika serangannya

lebih berbobot dan sangat berbahaya sekali.

"Haiit Kena..." teriak Randu Walang dengan

gerakan orang memeluk.

Set

Secepat kilat gadis baju hijau telah melesat ke

samping. Randu Walang memeluk angin. Ia meludah

dan memaki kegagalannya sendiri. Tiba-tiba saja si

pemuda botak silangkan kedua tangannya di depan

dada. Tubuhnya sebentar saja sudah menggeletar,

dari ubun-ubunnya yang gesang mengepul kabut tipis

berwarna merah. Mulutnya meraung seperti jeritan ha-

rimau. Kaki kanan kemudian ditarik ke belakang, se-

dangkan kedua tangannya kini secara serentak berge-

rak ke samping ditarik ke belakang, kemudian dido-

rong ke depan. Setiap gerakan apapun yang dilaku-

kannya selalu menimbulkan desir angin yang sangat

panas sekali. Lalu...

Graaung

Satu sentakan yang disertai dengan gerakan

kaki membuat tubuh Randu Walang melesat laksana

terbang. Cengkeramannya terarah pada bagian batok

kepala Puteri Kilat. Gadis baju hijau melihat betapa

berbahayanya serangan ini. Ia menjatuhkan pung-

gungnya. Kaki terangkat dan menghantam dada Randu

Walang. Pemuda ini memekik keras, sepuluh jurus

hanya dalam waktu singkat telah terlewati. Sejauh itu

pemuda kurapan masih belum dapat menyentuh tu-

buh Puteri Kilat Bayangan. Maka bertarunglah mereka

tanpa memakai peraturan lagi.

"Gadis sebaiknya kau menyerah saja Percuma

kau mengadakan perlawanan" teriak Randu Walang

memberi aba-aba.

"Menangkap sapi saja kau tidak becus, ternyata

mulutnya hanya mampu berkoar" sahut Puteri Kilat

sinis. "Hmm, pandai juga kau bicara. Wajahnya cantik seperti bidadari, kuharap
kau juga pandai melaya-

niku bila sudah di atas ranjang"

Wuut....Plakk.....Randu Walang terhuyung ke belakang. Dua

buah giginya rontok, Puteri Kilat rupanya menjadi gu-

sar ketika mendengar ucapan Randu Walang yang ti-

dak senonoh itu.

Pruuh....Dua buah gigi berpentalan keluar dari mulut

Randu Walang bersamaan menyemburnya ludah ber-

campur darah.

"Betina setan Rasakanlah pembalasanku" te-

riak si pemuda botak kudisan.

Sret....Sing....Randu mencabut pedang pendek dari balik

punggungnya. Dengan masih mempergunakan jurus-

jurus dasar Macan Terbang ia mendesak Puteri Kilat

Bayangan. Si gadis mengandalkan ilmu meringankan

tubuh dan gerakannya yang cepat seperti kilat terus

menghindar. Tapi gempuran Randu Walang semakin

lama semakin bertambah cepat bahkan membahaya-

kan keselamatannya.

"Haiit...”...Gadis baju hijau membentak keras. Tubuhnya

bersalto sebanyak tiga kali. Melihat gerakan itu Randu

membarenginya dengan satu tusukan dan sabetan.

Puteri menjadi gugup, tiba-tiba posisi berbalik,

hingga membuat si gadis jelita jadi terdesak. Walau

pun begitu gadis baju hijau terpaksa berguling-guling

untuk selamatkan diri. Ternyata senjata lawan telah

mendahuluinya. Pedang itu menyambar bagian dada

hingga ke perut.

Breet....Kancing-kancing baju si gadis terbeset lepas,

pakaian bagian dalamnya juga berantakan angin nakal

ikut menyibakkannya. Sehingga terlihatlah dada Puteri

Kilat yang mulus padat menantang. Merah wajah gadis

ini, ia berusaha menutupi bagian yang terbuka itu

dengan menautkan pakaiannya. Bibir mungilnya yang

tipis kemerah-merahan memaki.

"Kau telah berani mempermalukan aku Nanti

akan kau rasakan akibatnya..." teriak si gadis.

"Ha ha ha... Bila kau marah-marah, di mataku

semakin bertambah cantik saja. Di sini cuma kita ber-

dua, mengapa kita tidak bersenang-senang saja."

"Hmm, bicaramu semakin kurang ajar saja?"

jerit Puteri Kilat Bayangan. Tangan kiri menutupi da-

da, tangan kanan digerak-gerakkan ke atas kepala se-

dangkan jemari tangannya menyatu rapat seperti pa-

ruh burung. Kaki kiri si gadis diangkat ke atas, gera-

kan-gerakan ini terkenal sangat cepat.

"Kau...? Bukankah itu jurus 'Congcorang'..."

desis Randu Walang dengan mata melotot kaget.

"Ya, berhati-hatilah kau. Salah langkah kau bi-

sa kehilangan mata" tegas si jelita. Apa yang dikata-kannya itu bukan gertakan
kosong. Sebab begitu Ran-

du Walang menyerang. Maka gadis itu telah lenyap da-

ri hadapannya. Randu jadi bingung. Ia berbalik, di

waktu itu tendangan lawan telah menghantam da-

danya dengan sangat keras sekali.

Pemuda botak kudisan memang sial nasibnya.

Ia terguling-guling. Justru pada waktu itu wajahnya

mencium kotoran kuda.

"Bangsat Kuda goblok, berak tidak bilang-

bilang Hiaaa..." Merasa penasaran bercampur rasa malu. Randu Walang bangkit
berdiri. Dengan beringas

ia menusukkan senjata ke perut Puteri Kilat Bayangan.

Serangan itu tidak dielakkan oleh lawan. Tetapi di saat pedang hampir menembus
kulitnya yang putih itu.

Jemari tangan si gadis bergerak cepat.

Taap

Badan senjata terjepit di antara jemari lawan-

nya. Puteri Kilat berputar-putar seperti gerakan seekor belalang yang menghindari
patukan burung. Randu

Walang ternyata tidak dapat mengikutinya, sehingga

pedangnya berpindah ke tangan lawannya. Gadis baju

hijau melemparkan senjata itu ke semak-semak. Di

saat Randu terperangah menyaksikan keajaiban yang

terjadi. Satu jari tangan Puteri Kilat mencoblos ma-

tanya. "Wuaakh..."

"Mataku, akhh... mataku..." jerit Randu Wa-

lang sambil memegangi sebelah matanya yang hancur.

Ia berguling-guling seperti setan gila yang prustasi.

"Bangun" bentak si gadis.

Merasakan penderitaan yang teramat sangat

itu, tentu saja Randu Walang tidak menghiraukan

ucapan si gadis. Ia terus berguling-guling sambil pe-

gangi sebelah matanya yang hancur.

Buuk...."Ukh..."....Randu menjerit tertahan ketika kaki si gadis

menghantam punggungnya. Puteri Kilat Bayangan tersenyum sinis.

"Kini telah terbukti, kiranya kau hanya bermu-

lut besar saja" dengus si gadis. Kemudian ditotoknya Randu Walang. Tangannya di
ikat dengan tali yang ter-sampir di atas pelana kuda. Tidak berselang lama Pu-

teri Kilat Bayangan telah berada di atas punggung ku-

da. Maka Randu Walang pun diseret menuju lereng

gunung Kendeng. Keadaan pemuda kudisan itu benar-

benar sangat mengenaskan. Tubuhnya terhempas-

hempas di atas tanah berbatu.

"Niatmu untuk menjadi pengantin akan kami

turuti, sebentar lagi Hi hi hi..." Puteri Kilat Bayangan tertawa mengekeh.



***


9


Kasunanan Parit Wolu di pagi itu dalam kea-

daan sepi. Bangunan megah ini hanya dijaga oleh be-

berapa orang pengawal saja bersenjata lengkap. Sudah

hampir dua hari ini Sunan tidak berada di tempat. Ru-

panya usaha Sunan untuk menemukan puterinya

kembali belum mendatangkan hasil. Sepagi itu dari

bagian luar tembok benteng, tampak sesosok tubuh

bergerak cepat mendekati gerbang utama. Pemuda be-

rambut riap-riapan memakai baju biru bercelana hi-

tam komprang ini langsung dihadang oleh pengawal

yang bertugas di tempat itu.

"Berhenti" perintah salah seorang dari dua

pengawal dengan lagak memuakkan. Si pemuda henti-

kan langkahnya, memandang sejenak ke arah si pen-

gawal dengan tatapan mata bosan.

"Mau apa kau kemari, orang muda kulit hitam

putih?" tanya yang lainnya.

"Huh, aku hendak bertemu dengan kanjeng

Sunan. Apakah dia ada di tempat?" tanya si pemuda

dingin. "Beliau tidak ada. Kalau pun ada, tentu kau tidak boleh masuk" jawab si
pengawal ketus. Kedua ra-hang si pemuda mengatup rapat dan tampak meng-

gembung menahan marah.

"Kalian berdua sama bangsatnya dengan Sunan

Bandi Suliwa Kalau tidak mau mampus sebaiknya

kau menyingkir" tegas pemuda itu.

"Monyet gila kesasar, sadarkah kau sedang

berhadapan dengan siapa?" tanya si pengawal, seraya menodongkan pedangnya ke
leher Dewa Sabrang.

Namun tanpa disangka-sangka si pemuda me-

nepiskan senjata itu, lalu membalikkannya ke tenggo-

rokan pengawal. Gerakan yang dilakukannya ini san-

gat cepat bukan main. Tahu-tahu leher pengawal ma-

lang ini mengucurkan darah. Si pengawal menjerit

sambil mendekap tenggorokannya yang nyaris putus.

Pedang disentakkan dari tangan lawan. Sekelebatan

senjata telah berpindah tangan. Belum lagi pengawal

kedua sempat berbuat sesuatu, pedang di tangan De-

wa Sabrang sudah amblas di bagian perutnya.

Kedua pengawal ini kemudian roboh tidak ber-

kutik, yang lain-lainnya langsung berhamburan keluar

begitu mendengar suara jeritan kawannya. Betapa ka-

getnya mereka ketika melihat seorang pemuda berdiri

tegak dengan tatapan matanya yang dingin menusuk.

Di tangan pemuda itu tergenggam sebilah pedang ber-

lumuran darah.

"Hei... siapa kau...?" teriak salah seorang diantara belasan pengawal ini sambil mencabut senjatanya.

Dewa Sabrang tersenyum tipis. Tatapan matanya

sungguh menggidikkan bagi yang memandangnya.

Masa lalu sering terlupakan

Tapi aku tidak bisa melakukannya

Saat aku berada di simpang keraguan

Kusadari matahari sudah makin meninggi

Aku hampir tidak dapat lagi membedakan

Cinta Tuhanku dan sayang manusia

Masa lalu telah menusukku dengan sembilu te-

ramat dalam...

Hal ini sangat melukai, melukai teramat dalam

Salahkah aku menggantung harap

Antara harapan dan sia-sia

Aku datang bukan tuk mengharap cinta dan ka-

sih dari seorang anak manusia

Aku hanya ingin bertanya, mengapa orang-orang

tersalah masih bisa tertawa

Mengapa pula orang-orang benar malah menangis Aku datang bukan untuk
menghapus luka atau perturutkan nafsu kebencian.

Aku datang semata-mata untuk meluruskan

jalan agar tidak semakin menyesatkan

Menyingkirlah Menyingkir

Jawaban Dewa Sabrang yang tidak ubahnya

seperti orang yang melantunkan bait-bait sair ini tentu

saja membuat pengawal-pengawal itu menjadi sangat

marah. Salah seorang diantaranya dengan tidak sabar

langsung menyerbu ke arah Dewa Sabrang. Namun

pemuda itu laksana kilat langsung menyambitkan sen-

jata berlumuran darah di tangannya. Senjata itu me-

luncur laksana kilat dan tidak terelakkan lagi.

"Wuaaak..."

Gerakan si pengawal tertahan, matanya mende-

lik. Ia dekap pedang itu dan berusaha mencabut senja-

ta yang membenam di perutnya. Tindakan yang dila-

kukannya ini hanya mempercepat kematiannya saja. Ia

terguling, yang lain-lainnya sempat terperangah. Tapi

hanya sebentar saja. Di lain waktu mereka sudah me-

nyerbu sambil mengibaskan senjata di tangan masing-

masing. Menghadapi hujan senjata yang bertubi-tubi

ini, Dewa Sabrang hanya menghindar seenaknya saja.

Sehingga tidak dapat dicegah beberapa senjata milik

lawannya mengenai tubuhnya. Tapi serangan itu tidak

membawa akibat apa-apa. Untuk kedua kalinya para

pengawal ini dibuat terkejut. Dewa Sabrang tertawa

dingin. Tangannya yang sudah berwarna putih kehi-

tam-hitaman itu akhirnya bergerak laksana kilat.

Buk Buk Buk

Pukulan-pukulan yang dilakukan oleh Dewa

Sabrang membuat lawannya menjerit kesakitan. Mere-

ka roboh, tubuh berubah berwarna hitam. Darah ken-

tal meleleh dari hidung mereka. Dewa Sabrang ru-

panya sudah tidak dapat lagi mengendalikan amarah-

nya. Sehingga secara tidak sadar ia sudah mempergu-

nakan pukulan Racun Dewa. Akibatnya tentu sangat

mengerikan sekali. Apa yang terjadi pada kawan-

kawannya membuat sisa-sisa pengawal menjadi kecut

kehilangan nyali.

"Lebih baik jangan kalian halang-halangi aku,

jika ingin selamat" dengus Dewa Sabrang. "Pergilah sebelum kalian mengalami
nasib seperti kawan-kawan

kalian" bentak Dewa Sabrang.

Melihat tidak ada kemungkinan lain lagi. Para

pengawal ini pun berserabutan meninggalkan halaman

Kasunanan. Dewa Sabrang memperhatikan tingkah

pengecut pengawal-pengawal itu untuk kemudian

langsung bergerak memasuki ruangan besar dihada-

pannya. Tidak sampai setengah jam kemudian Dewa

Sabrang telah keluar lagi dengan perasaan kecewa.

"Aku tahu kemana puteri pergi Kurasa kesana-

lah aku harus mencari" pikir Dewa Sabrang. Pemuda ini kemudian menghampiri
seekor kuda putih yang

terdapat di samping bangunan itu. Dengan memper-

gunakan kuda itu ia berangkat menuju gunung Ken-

deng.



* * *



Tetabuhan ala kadarnya sudah tersedia di ba-

wah tratak. Perhelatan besar itu agaknya sudah ham-

pir dimulai. Pengantin perempuan sudah dirias ala ka-

darnya. Sedangkan mempelai laki-laki memakai topi

caping yang terbuat dari kulit kayu. Wajahnya coreng

moreng dengan warna kontras, hitam merah dan biru.

Kedua mempelai laki-laki ini memakai pakaian kedo-

doran. Tubuh mereka dibaluri warna yang terbuat dari

tanah liat. Bibirnya diberi warna merah menyala.

Tampaknya di lereng gunung Kendeng sedang

diadakan pesta besar. Dua pasang pengantin disan-

dingkan sekaligus. Di samping mempelai laki-laki du-

duk dengan resah mempelai perempuan. Mempelai pe-

rempuan tidak henti-hentinya cengar-cengir atau ga-

ruk-garuk kepala. Terkadang bahkan tidak segan-

segan mempelai perempuan mencari kutu di kepala

pasangannya. Sementara di samping mempelai laki-

laki tersedia arak keras, mereka tidak henti-hentinya

meneguk minuman memabukkan itu hingga membuat

mata memerah dan bicara melantur tidak karuan. Pa-

da deretan sebelah kiri, tampak mempelai laki-laki du-

duk dengan santai. Kelihatan sekali ia kurang menghi-

raukan matanya yang bengkak membiru. Wajahnya

juga coreng moreng, bicaranya ngawur tidak karuan.

Terkadang ia tertawa-tawa sendiri, sedangkan mempe-

lai perempuan yang duduk di sampingnya terdiam

dengan mulut melongo.

Pada setiap pasangan pengantin itu. Di sam-

pingnya berdiri seorang gadis berpakaian dayang me-

megang kipas dari daun pisang. Para gadis itu tidak

henti-hentinya tersenyum. Wajah mereka juga coreng

moreng, bergincu tebal dan memakai alis berukir tebal

pula. Para gadis pengiring ini mengenakan kostum

yang sepenuhnya terbuat dari rangkaian bunga. Walau

patut diakui dibalik semua itu mereka berpakaian

lengkap. Kipas daun pisang tidak henti-hentinya diki-

baskan. Lalu mempelai perempuan nyengir lagi sambil

melahap pisang yang terdapat di sampingnya.

Tidak lama kemudian muncul seorang nenek

dipanggul oleh dua ekor monyet besar. Dia tidak lain

adalah nenek kaki dan tangan buntung yang lebih di-

kenal dengan Nini Suri Pamungkas. Perempuan cacat

ini memperhatikan dua pasang pengantin yang kini ke-

lihatan sibuk dengan urusan masing-masing. Pengan-

tin perempuan terus menerus makan pisang, sedang-

kan mempelai laki-laki tiada henti meneguk minu-

mannya.

"Nguk Nguk"

Kedua monyet yang memanggul si nenek tam-

pak ribut. Namun monyet-monyet ini tidak berani me-


lakukan sesuatu yang membuat majikannya bisa ma-

rah. Nini Suri Pamungkas menepuk-nepuk bahu ke-

dua monyet yang selalu memanggulnya kemana pun

nenek ini pergi.

"Jangan cemburu, Nyet Tam, Nyet Tih" kata si nenek (Maksudnya monyet hitam
dan monyet putih).

"Isteri-isteri kalian hanya dipinjam sementara waktu buat kedua pemuda yang gila
kawin ini. Nanti jika pesta besar ini selesai. Mereka pasti kembali pada kalian

juga" "Nenek jelek Cepat tepung tawari pasangan mempelai ini. Sebagai tanda
restu darimu, aku sudah

tidak sabar memukul tetabuhan ini" ujar pemuda baju hijau yang sedari tadi tiada
henti mencuri pandang

pada gadis pengiring mempelai yang berada di sudut

kanan. "Hik hik hik Pemuda tolol Tanganmu gatal ingin memukul tetabuhan atau
kau merasa pingin seper-

ti mempelai ini. Lalu siapa yang ingin kau jadikan pa-

sangan? Cucuku Puteri Kilat Bayangan atau mempelai

yang suka makan pisang itu?" ejek Nini Suri Pamungkas. Puteri Kilat Bayangan
tundukkan wajahnya.

Seandainya wajahnya tidak tertutup pewarna. Tentu

terlihat betapa paras gadis secantik bidadari itu beru-

bah memerah seperti tomat matang. Suro Blondo

nyengir, walau hatinya memang tidak pernah tenang.

"Jangan kau menyindir ku, Nek Aku khawatir

malah kau ingin kawin yang kedua kalinya. Jangan se-

rakah, aku yang muda-muda saja belum pernah mera-

sakan jadi pengantin. Ha ha ha..."

"Anak setan sontoloyo. Tutup mulutmu, seka-

rang aku hendak memberikan restu pada kedua pa-

sang pengantin ini. Nah tabuhlah kendangmu, ayo pu-

kul" perintah si nenek.

Plak Dut Plak Dut Duuut

Kendang dipukul bertalu-talu. Tentu saja ira-

manya sesuka hati si pemuda. Sementara di bawah

tratak si nenek mulai menaburkan bunga-bunga hutan

yang terdiri dari berbagai jenis. Baik puteri Reza mau-

pun Puteri Kilat Bayangan sama menahan tawa meli-

hat cara si pemuda memukul tetabuhan yang kedenga-

rannya seperti orang yang kentut di tengah orang ra-

mai hingga tertahan-tahan. Suro termonyong-monyong

melihat mempelai perempuan jejingkrakan sambil me-

makan pisang. Sesekali mempelai perempuan men-

cium mempelai laki-laki tanpa rasa malu.

Clepot......"Dasar binatang Tidak ada pikirannya, betul-

betul gendeng" gerutu Suro.

"Ayo yang keras kau menabuh kendang. Jan-

gan pelan seperti cacing kurang makan. Ayo lebih ke-

ras lagi. Biar para tetamu tidak nyasar kondangan di

tempat lain" perintah Nini Suri Pamungkas.

Si pemuda pun akhirnya memperkeras puku-

lannya. Saking kerasnya, hingga tetabuhan menjadi

robek. Suro melempar tabuhan yang robek dan meng-

gantikannya dengan tetabuhan yang lain. Sementara

mempelai yang sedang bersanding tampak tersenyum-

senyum.

"Hei bagaimana rasanya jadi pengantin?" tanya Si Bocah Ajaib di tengah-tengah
kesibukannya. Perta-nyaannya ditujukan pada Randu Walang yang sudah

mabuk berat.

"Ha ha ha... Jadi pengantin kepala rasanya

muter terus. Endah juga sih, tapi ada mual sedikit-

sedikit..." jawab Randu Walang yang memang sudah

mabuk berat.

"Uh... uh... Aku lain, kawanku itu salah. Jadi

pengantin rasanya seperti berada di atas angin, me-

layang timbul tenggelam. Kepala agak sakit dan dunia

ini rasanya milik orang-orang kaya. Lalu jalan tidak ra-ta, tratak ini bergerak-gerak mengerikan. Uh... uh..."

Sidra Gagap dengan lancar ikut menanggapi perta-

nyaan Suro Blondo.

"Orang-orang mabuk, disandingkan dengan

monyet pun bagi kalian indah saja" teriak Pendekar Blo'on, kemudian terdengar
suara tawanya bergelak-gelak.

* * *

Kita tinggalkan kesibukan pesta gila yang terja-

di di lereng gunung Kendeng. Sementara itu di bagian

lain lereng gunung, tampak Sunan Bandi Suliwa dan

para pengawalnya yang berjumlah belasan orang tam-

pak terns memacu kudanya. Baik para pengawal mau-

pun Sunan Bandi Suliwa sendiri sudah sama-sama le-

tih. Apalagi mengingat sudah dua malam mereka tidak

istirahat barang sedikit pun.

"Kanjeng Sunan, bagaimana jika kita melepas

lelah sebentar" tanya salah seorang pengawal dengan perasaan takut.

"Siapa yang mau istirahat silakan. Tapi istira-

hatnya seumur hidup" dengus Sunan tanpa mengu-

rangi kecepatan kudanya yang sudah sangat kelela-

han. Pengawal ini langsung katupkan bibirnya. Ku-

da-kuda itu terus berlari bagai dikejar-kejar setan. Setelah melewati tikungan
tebing curam. Mendadak saja

tiga orang pengawal di depan menjerit dan langsung

terlempar dari atas pelana kudanya. Begitu menyentuh

tanah para pengawal yang malang ini langsung terdiam

tidak berkutik. Sunan menghentikan kuda, belum lagi

hilang rasa kagetnya dan belum pula sempat meneliti.

Dari balik batu besar menderu sinar hitam putih dan

langsung melabrak pengawal yang berada di belakang-

nya. Sunan tidak sempat lagi memberi peringatan. Li-

ma orang pengawal langsung roboh bersama kuda

tunggangan mereka. Sekujur tubuh pengawal-

pengawal ini berubah menghitam keracunan.

Pukulan gelap tadi benar-benar sangat dahsyat.

Sunan sendiri seakan hampir tidak percaya dengan

apa yang disaksikannya. Tiga orang bisa pengawal

menjadi kecut. Selagi ia hendak bicara, dari balik batu besar muncul seorang
pemuda terambut riap-riapan

berwajah dingin. Dari kepala hingga ke dada kulit pe-

muda itu hitam pekat, sedangkan dari dada hingga ke

ujung kaki berwarna putih seperti kapas. Walau pun

peristiwa itu sudah berlangsung lima tahun yang lalu,

tapi Sunan masih dapat mengingat bekas bendaha-

ranya itu.

"Kau rupanya?" desis Sunan Bandi Suliwa sinis. "Ya, aku Ambar Alam si Dewa
Sabrang. Orang yang lima tahun lalu kau hukum pendam di mulut gua

celaka itu. Tidak ada jalan bagimu untuk selamat Su-

nan. Aku tahu muslihatmu. Dulu kau bersekutu den-

gan tokoh-tokoh sesat yang akan menjadi besanmu ke-

tika menghancurkan orang tua Puteri Kilat Bayangan.

Kini kau memperkosa kemerdekaan hati manusia den-

gan kehendak gilamu" dengus Dewa Sabrang.

"Rupanya kau merasa sakit hati karena aku

melarangmu berhubungan dengan putriku. Ha ha ha

Sebaiknya kau berkaca siapa dirimu"

"Bukan persoalan sakit hati atau putus hara-

pan. Aku hanya ingin membuatmu mengerti bahwa

manusia tidak punya kuasa atas jiwa orang lain

Heaa..." Dewa Sabrang berteriak keras dan langsung lepaskan pukulan "Payung
Dewa'. Udara panas mem-

bakar bergulung-gulung, angin sambarannya saja su-

dah membuat tiga pengawal Sunan Bandi Suliwa ter-

kapar tidak berdaya.

Sedangkan Sunan sendiri langsung melompat

dari punggung kudanya. Gerakannya cukup menga-

gumkan. Kuda Sunan menjadi sasaran. Terdengar

dentuman sangat keras menggelegar. Kuda hitam itu

terbanting ke tanah. Sunan yang sekarang sudah be-

rada dekat dengan Dewa Sabrang dengan penuh kema-

rahan juga lepaskan pukulan 'Tapak Sakti'. Suasana

mendadak sontak berubah panas seperti berada di ne-

raka. Dewa Sabrang tidak tinggal diam. Ia pun le-

paskan pukulan dengan tenaga berlipat ganda.

Buum...Ledakan-ledakan itu sangat mengerikan sekali.

Masing-masing pihak sempat terangkat ke udara. Ru-

panya Dewa Sabrang sudah memperhitungkan betapa

hebatnya kesaktian yang dimiliki oleh Sunan Bandi

Suliwa. Sehingga di saat berhadapan ia langsung me-

lepaskan pukulan-pukulan yang sangat mematikan.

Sunan terkejut sekali melihat kemajuan pesat yang di-

peroleh Ambar Alam. Ia kelihatan seakan-akan tidak

percaya melihat kehebatan Dewa Sabrang.

Menyadari lawannya sekarang bukan pemuda

yang lemah lagi, maka Sunan Bandi Suliwa pun segera

mengerahkan jurus-jurus yang paling diandalkannya.

Tidak terelakkan lagi terjadilah pertempuran sengit di

mana masing-masing pihak melepaskan pukulan-

pukulan dahsyat yang menjadi andalannya masing-

masing. “Kini saatnya, Sunan?” teriak Dewa Sabrang

histeris.

“Jangan kau bermimpi” dengus Sunan Bandi.

Laki-laki itu kemudian hentakkan kedua tan-

gannya ke depan. Sekejab saja terlihat tiga leret sinar

meluncur deras ke arah Dewa Sabrang. Pemuda ini

pun tidak mau kalah. Ia lepaskan pukulan untuk me-

nyambut serangan lawannya. Sinar putih menyilaukan

melesat laksana kilat. Lalu terjadi ledakan keras

menggelegar. Dua-duanya tercampak, tapi diantara

mereka berdua tidak satu pun yang terluka. Sunan

Bandi Suliwa terpaksa cabut senjatanya. Sebuah pe-

dang berwarna kuning dan dikenal dengan nama pu-

saka Wesi Kuning ini lalu ditusukkan ke dada Dewa

Sabrang.



***

10


"Haiit"...Dewa Sabrang berguling-guling, senjata itu me-

nyerempet di bahunya. Si pemuda menjerit keras. Ter-

nyata senjata ampuh itu mampu menembus kekebalan

tubuh Dewa Sabrang. Pemuda rambut riap-riapan

bangkit lagi. "Aku dan dia sama-sama kebal. Tapi kurasa aku mampu
mengatasinya." pikir Dewa Sa-

brang. Terlintas sebuah akal di benaknya, ia merasa

yakin sekali Sunan Bandi Suliwa tidak mungkin dapat

dirobohkan terkecuali dengan mempergunakan senjata

miliknya sendiri. Untuk itu ia harus dapat merampas

senjata dari tangan lawannya. Mengingat sampai kesi-

tu, maka sambil lindungi kepala Dewa Sabrang men-

coba mendesak, baru beberapa gebrakan ia sudah ter-

dorong mundur lagi karena senjata lawan terus saja

berkelebat-kelebat menyambar ke arah tubuhnya.

Dewa Sabrang terpaksa bersurut mundur lagi

sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke

bagian telapak tangan. Sebentar saja kedua tangannya

telah berwarna hitam keputih-putihan. Sunan kaget

sekali melihat perubahan ini. Ia lalu memutar senjata

lindungi diri. Badai topan mengandung hawa panas

bergulung-gulung.

Wuuk Wuuk

Senjata kanjeng Sunan diputar membentuk pe-

risai. Sekejab kemudian laki-laki itu langsung dapat

merasakan sebuah tekanan yang dahsyat. Kedua tan-

gannya goyah, pedang Wesi Kuning menggeletar. Lalu

serangan itu semakin tindih menindih, hingga Sunan

terdorong dan akhirnya terlempar. Senjata di tangan

terlepas. Dewa Sabrang yang memang menghendaki

kejadian ini langsung menyerbu, lalu memungut senja-

ta milik lawan.

Sunan Bandi Suliwa yang masih jungkir balik

langsung berubah pucat wajahnya melihat senjatanya

sudah berpindah ke tangan musuh.

"Serahkan senjataku" teriak Sunan dengan su-

ara bergetar.

Dewa Sabrang menyeringai sinis. Di lain kejab

tanpa didahului oleh ucapan apapun ia sudah membu-

ru Sunan. Lawan berkelit menghindar sambil menepis

lengan Dewa Sabrang. Gerakan itu dapat dihindari

oleh si pemuda. Senjata di tangannya kembali berkib-

lat. Sunan terdesak, namun masih berusaha lepaskan tendangan.

Wuuss....Lagi-lagi serangan itu gagal mengenai sasaran.

Sementara senjata di tangan Dewa Sabrang sudah me-

nerobos pertahanannya. Tidak terelakkan lagi senjata

maut itu pun menembus perut kanjeng Sunan.

Ces...."Akh..."

Kanjeng Sunan Bandi Suliwa memekik terta-

han. Perutnya yang tertembus pedangnya sendiri men-

gepulkan asap menebar bau sengit. Matanya mendelik

sedangkan tubuhnya menggeletar untuk beberapa saat

lamanya. Setelah itu Sunan Bandi Suliwa terkapar ti-

dak bangun-bangun lagi. Dewa Sabrang setelah men-

gamankan pedang Wesi Kuning milik lawannya lang-

sung memanggul tubuh Sunan yang sudah tidak ber-

nyawa. Setelah itu ia langsung menaiki kuda yang dis-

embunyikannya di semak-semak. Mayat Sunan Bandi

Suliwa disampirkannya ke bagian depan pelana, ke-

mudian itu tali kekang disentakkan dan kuda pun ber-

lari meninggalkan mayat-mayat pengawal yang berge-

limpangan.
* * *


"Tamu akhirnya datang juga" sera Pendekar

Blo'on. Dan tetabuhan di depannya dipukul dengan

keras. "Setiap tamu yang datang mengapa tidak disambut?" menimpali Nini Suri.
Pamungkas.

"Mereka masih heran melihat pengantin Di

atas pelaminan putra dan murid mereka tampak gagah

seperti macan loyo" kata Pendekar Blo'on. Seraya hentikan tetabuhannya. Lalu
berdiri tegak di depan mem-

pelai yang sedang bersanding.

Tidak jauh di seberang teratak, Macan Terbang

dan Kala Demit Sudah melompat dari punggung kuda

masing-masing.

Mata mereka terbelalak melihat anak dan mu-

rid mereka bersanding dengan monyet besar. Lebih he-

ran lagi karena baik Sidra Gagap dan Randu Walang

dihias secara asal-asalan dan kedua pemuda itu keli-

hatannya sedang dalam keadaan mabuk berat.

"Siapa yang berani melakukan tindakan gila itu

pada muridku" teriak Kala Demit marah besar.

"Ha ha ha... Orang jelek. Bukankah kau men-

ginginkan muridmu menjadi pengantin. Kini mereka

sudah bersanding dan tampak bahagia, kenapa tamu

datang marah-marah? Aku dan nenek itu yang me-

riasnya tanpa harus membayar. Mana rasa terima ka-

sihmu" ejek Suro Blondo sambil garuk-garuk kepala.

"Bangsat Permainan gila ini harus diakhiri dan

kalian mesti menyerah pada kami" teriak Macan Terbang tidak sabaran.

"Walah... bebaskan dulu putramu. Baru nanti

kita bebas bicara. Lihatlah dia sudah mabuk berat.

Apa kau juga ingin mabuk seperti anakmu" dengus

Suro dengan tangan berkacak pinggang.

Kata-kata Pendekar Blo'on yang seenaknya itu

tentu membuat Macan Terbang menjadi kalap. Ia

pun melompat ke depan dengan maksud memberi pe-

lajaran pada si konyol sekaligus menarik putranya dari

atas pelaminan. Namun tidak terduga-duga rupanya

bagian lantai tratak di pasang lubang besar. Begitu

menginjakkan kakinya di bawah teratak. Macan Ter-

bang langsung terperosok ke dalamnya. Walau pun

Macan Terbang telah berusaha menyelamatkan diri

namun lubang itu terlalu lebar. Sehingga ia kehilangan

keseimbangan. Tidak ayal lagi tubuhnya meluncur ke

bawah. Sedetik kemudian terdengar suara jeritannya

yang menyayat. Tubuh Macan Terbang tertembus

bambu-bambu runcing berceragah yang dipasang di

bawah lubang tersebut. Kala Demit telan ludah melihat

kematian Macan Terbang yang mengenaskan itu. Ia ti-

dak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang

tercebur ke dalam lubang tersebut.

Sementara itu, Puteri Kilat Bayangan dan Nini

Suri Pamungkas sudah mengepung tokoh sesat.

"Kalian manusia-manusia pengecut yang sangat

licik" dengus Kala Demit marah sekali.

"Jangan banyak bacot, Kala Demit. Segala

kebusukanmu bersama Sunan sudah diketahui oleh

semua orang yang berada di sini. Kau dulu ikut mem-

buntungi kaki dan tanganku bersama Sunan Bandi

Suliwa. Sekarang tibalah saatnya bagimu untuk mera-

sakan penderitaanku dan juga penderitaan Puteri Kilat

Bayangan" tegas Nini Suri Pamungkas.

"Tunggu dulu" Suro Blondo tiba-tiba saja me-

lompat dan kini berdiri tegak di tengah-tengah mereka.

"Kala Demit punya seribu hutang yang harus dibayarnya hari ini. Siapapun yang
berada di sini tidak boleh

ikut campur Dia menjadi bagianku"

Tokoh sesat itu memandang lurus pada Suro.

Setelah memperhatikan ciri-ciri pemuda itu, sekarang

yakinlah dia bahwa pemuda berambut hitam kemera-

han ini adalah si Bocah Ajaib yang terlahir pada ma-

lam satu Asyuro di lereng Bromo.

Mendengar ucapan Suro, Nini Suri Pamungkas

dan Puteri Kilat Bayangan langsung mundur teratur.

Sebaliknya Kala Demit melangkah maju menghampiri

Pendekar Blo'on.

"Kau si bocah ajaib itu?"

"Betul" sahut Suro ketus.

"Menyesal aku telah membunuh orang tuamu.

Jika cuma beginilah tampangnya bocah yang kami pe-

rebutkan tempo hari. Tentu aku tidak akan ikut ambil

bagian dalam urusan gila itu. Sekarang kau mau apa?"

"Ha ha ha... Ayah, ibu..." Suro menengadah-

kan wajahnya ke langit. "Hari ini aku telah bertemu dengan orang yang
menyebabkan kematianmu Hutang-hutang itu harus impas Ha ha..." Suro berteriak-
teriak seperti orang gila. Kala Demit yang sudah men-

dengar kehebatan pemuda berwajah ketolol-tololan ini

tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja.

Dengan cepat ia layangkan pukulannya ke bagian dada

Suro Blondo. Serangan ini dua kali kecepatan suara. Tiba-

tiba saja Suro sudah jatuh terpelanting. Ia menggerung

marah, dengan mulut peletat-pletot seraya melompat

berdiri. Berhadapan dengan musuh besarnya Pendekar

Blo'on tidak mau bersikap ayal-ayalan lagi. Mendadak

sontak terdengar suara tawa yang tiada henti-hentinya

dari mulut si pemuda. Suara yang sedemikian menye-

ramkan membuyarkan konsentrasi lawannya. Lalu tu-

buhnya berkelebat, gerakannya sangat cepat, namun
terhuyung-huyung seperti kera mabuk.

Kala Demit jadi terkesiap. Ia langsung mengha-

lau setiap serangan si pemuda yang mengandung ber-

macam-macam muslihat, meskipun jurus-jurus dan

setiap gerakannya sangat aneh sulit dipecahkan.

"Astaga Itu adalah jurus Tawa Kera Siluman

milik Penghulu Siluman Kera Putih" desis Nini Suri Pamungkas. Rupanya si nenek
kenal dengan Barata

Surya tokoh sakti bukan main yang punya watak ko-

nyol, angin-anginan itu. "Pantas tingkah pemuda itu sangat mirip dengan tokoh
aneh itu."

Di tengah-tengah pertempuran yang sengit di

antara dua musuh bebuyutan ini. Muncul Dewa Sa-

brang, pemuda itu sama sekali tidak menghiraukan

mereka yang bertempur, melainkan menghampiri Nini

Suri Pamungkas dan dua gadis dengan dandanan

aneh. "Kakang Ambar?" seru puteri Reza sambil memeluk Dewa Sabrang. Ia
menangis terisak-isak di dada

kekasihnya yang terpisah selama lima tahun.

"Apa yang terjadi disini?" tanya Dewa Sabrang dingin. "Kami mengecoh paman Sunan dan para sahabatnya" Puteri Kilat Bayangan yang menyahuti.

"Nenek, Reza. Aku telah membunuh Sunan

Bandi Suliwa. Jika kalian membenciku aku tidak akan

sakit hati. Perbuatan gila itu harus dihentikan"

"Dia memang pantas menerima hukuman itu."

Kata Puteri Kilat. "Kurasa Puteri Reza dapat memak-luminya. Aku pesankan
padamu, lindungilah adik mi-

sanku itu baik-baik. Sayangilah dia sebagaimana dia

menyayangimu"

"Betul, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi."

Nini Suri Pamungkas menimpali.

"Kau mau mengampuni aku, Reza?" tanya De-

wa Sabrang kelihatan kurang puas.

"Aku memaklumi tindakanmu, kakang, Semoga

Gusti Allah mau memaafkan kau dan ayahku"

"Oh, kau selalu baik padaku. Mari kita bawa

mayat ayahmu untuk dikuburkan secara layak"

Puteri Reza Baiduri menganggukkan kepala.

Setelah berpamitan pada Nini Suri dan Puteri Kilat,

mereka meninggalkan tempat itu.

Kini tinggallah Puteri Kilat dan neneknya yang

terus mengawasi jalannya pertempuran yang semakin

sengit itu. Pada waktu itu Pendekar Blo'on memang

sudah tampak terluka. Ia telah mengerahkan segenap

kesaktian yang dimilikinya. Sekarang pemuda ini

menghadapi tekanan-tekanan yang tidak ringan dari

Kala Demit. Apalagi tokoh sesat ini telah melepaskan

pukulan-pukulan yang sangat dahsyat. Menghadapi

serangan gencar yang seakan tidak ada habis-habisnya

ini. Suro terpaksa mengeluarkan jurus 'Neraka Pem-

basmi Iblis', salah satu jurus tingkatan terakhir wari-

san kakek gurunya Malaikat Berambut Api.

Di satu kesempatan Kala Demit berusaha me-

nerobos pertahanan lawannya. Di saat pemuda itu me-

lompat ke udara. Maka tinjunya yang telah berwarna

hitam itu menderu. Suro melihat kelebatan tangan la-

wan segera menangkis.

Dess

"Heh..."

"Eeh..."

Dua-duanya sama terkejut. Warna merah

membekas di telapak tangan Suro. Sedangkan Kala

Demit dalam keadaan terhuyung-huyung langsung le-

paskan pukulan "Menerobos Langit Membelah Matahari'.

"Terimalah kematianmu, anak setan" Sekejab

saja kedua tangannya dihentakkan. Melihat hal ini Ni-

ni Suri Pamungkas jadi khawatir atas keselamatan si

pemuda. Ia bergerak ke depan sambil mengebutkan

ujung jubahnya. Sinar biru tampak melesat, lalu me-

nepis sinar hitam kuning di tengah jalan.

Buum..."Akh..."

Nenek kaki dan tangan buntung menjerit keras.

Tubuhnya terlempar dari bahu-bahu monyet yang

mendukungnya. Ketika Puteri Kilat hendak membantu

Suro yang dalam keadaan kalang kabut itu. Si pemuda

membentak keras.

"Jangan mendekat, Puteri Kilat" Pendekar

Blo'on memperingatkan. Pemuda itu tiba-tiba saja hen-

takkan tangannya. Di lain kejab terlihat bayangan hi-

tam berkelebat-kelebat disertai terdengarnya suara

ringkik, ratapan tangis dan tawa bergelak-gelak. Ki-

ranya pemuda itu sudah mempergunakan Mandau

Jantan yang sangat hebat itu.

Wuus....Kini posisi berbalik, Kala Demit jadi kalang ka-

but dan berusaha menghindari tebasan-tebasan senjata lawan.

Bet Karena tidak melihat adanya peluang lain. Ma-

ka laki-laki itu langsung mengeluarkan kebutan. Na-

mun senjata mautnya ini hanya dapat melindungi di-

rinya beberapa saat saja. Ketika Suro melompat, Man-

dau Jantan di tangannya memapas senjata lawan.

Pres....Kebutan itu jadi berantakan. Mandau bergerak

lagi, sementara Kala Demit bergerak mundur menjauh.

"Hiya..."

Crees...."Akh..."

Kala Demit meraung keras. Tangannya terbabat

putus sebatas lengan. Darah mengucur. Namun Suro

yang sudah kalap ini terus memburunya. Sebelum

senjata mengenai sasaran yang diharapkan. Terdengar

suara ledakan yang disertai menebarnya asap hitam

menutup pandangan. Suro terpaksa menahan gera-

kan. Tidak lama setelah asap hitam menghilang, maka

ia tidak melihat Kala Demit maupun Randu Walang

dan Sidra Gagap di situ.

"Jahanam Dia melarikan diri. Ukh..," desis Su-ro agak terbungkuk-bungkuk.
Rupanya ia menderita

luka dalam yang tidak pernah dihiraukannya sejak tadi.

"Cucuku, bawalah pemuda itu ke pondok. Lu-

ka-lukanya harus diobati. Dia murid tokoh hebat. Kau

harus mengenalnya lebih dekat lagi Hik hik hik" kata Nini Suri Pamungkas. Gadis
secantik bidadari ini

dengan malu-malu memapah Suro yang tampak kele-

lahan. Tubuhnya gemetar, bukan karena menahan ra-

sa sakit saja, melainkan juga karena didera oleh pera-

saan aneh terhadap Puteri Kilat Bayangan. Untuk

pertama kalinya ia tidak dapat bertingkah macam-

macam. Bahkan untuk bicara saja Suro tidak berani.

Mungkin inilah yang dikatakan cinta pada pandangan

pertama, Suro tidak tahu. Pendekar Blo'on hanya da-

pat berharap meskipun ia gagal membunuh orang

yang telah mencelakakan orang tuanya. Mudah-

mudahan si jelita yang penuh seribu pesona itu punya

perasaan yang sama.



TAMAT


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...