PENDEKAR BLOON
Eps.14
PENDEKAR KUCAR-KACIR
1
Pangeran Suprana yang lebih dikenal dengan julukan Kumbang Pemikat
atau
Iblis Peruntuh Mahkota tampak mondar-
mandir di
depan belasan gadis cantik berpakaian
transparan. Wajahnya yang tampan melebihi ketampanan pemuda-
pemuda
sejagad
itu
kelihatan murung. Sementara malam sudah menunjukkan pukul dua
dinihari.
Kegelapan
menyelimuti istana Pasundan yang terletak di sebuah lembah
yang sangat subur. Di lembah Kahuripan itulah
istana Pasundan berdiri
dengan megahnya.
Dulunya kerajaan Pasundan diperintah
oleh raja Jasa Raga Namun sejak sang raja mangkat secara aneh dan
Dulunya kerajaan Pasundan diperintah
oleh raja Jasa Raga Namun sejak sang raja mangkat secara aneh dan
misterius.
Maka kedudukan raja digantikan oleh putra mahkotanya yang bernama
Maka kedudukan raja digantikan oleh putra mahkotanya yang bernama
Demak
Pati.
Waktu itu pangeran Suprana yang hanya merupakan putera selir raja tiba-
Waktu itu pangeran Suprana yang hanya merupakan putera selir raja tiba-
tiba saja
hilang raib dari istana setelah dua hari kemangkatan raja Jasa
Raga.
Sebagai putera mahkota yang terlahir dari permaisuri Diah Mustika,
sesungguhnya
Pangeran Demak
Pati tidak suka menggantikan posisi ayahnya.
Pangeran yang lucu ini suka berkelana menuntut ilmu sejak usia belasan
Pati tidak suka menggantikan posisi ayahnya.
Pangeran yang lucu ini suka berkelana menuntut ilmu sejak usia belasan
tahun.Ia
sering bergaul dengan rakyat jelata.
Tidak segan-segan ia sering menyamar sebagai seorang pengembara hanya
Tidak segan-segan ia sering menyamar sebagai seorang pengembara hanya
karena
ingin menyelami kehidupan rakyat jelata.
Tidak heran jika seluruh rakyat negeri
kerajaan Pasundan cinta kepada Pangeran yang kocak ini. Sejak
Tidak heran jika seluruh rakyat negeri
kerajaan Pasundan cinta kepada Pangeran yang kocak ini. Sejak
ayahandanya
mangkat, praktis Pangeran Demak tidak dapat pergi ke
mana-mana.
Roda pemerintahan telah memaksanya untuk berpikir keras
demi masa
depan kerajaan dan seluruh rakyat negeri. Karena hanya dialah
putra
mahkota satu-satunya. Sedangkan saudara lainnya dari permaisuri
hanya
puteri Saba. Yaitu gadis cantik berperangai lembut dan tidak
memiliki
ilmu silat sama sekali.
Demikianlah Pangeran Demak Pati
memerintah kerajaan Pasundan dalam jangka waktu lebih kurang lima
Demikianlah Pangeran Demak Pati
memerintah kerajaan Pasundan dalam jangka waktu lebih kurang lima
tahun.
Ketika Pangeran Suprana kembali lagi ke istana setelah lima tahun
menghilang
tidak tentu rimbanya. Putera selir raja ini secara diam-diam
meracuni
permaisuri yang sesungguhnya sangat berperan dalam
menunjang
berlangsungnya roda pemerintahan.
Kemudian orang-orang penting istana juga ditemukan meninggal secara
Kemudian orang-orang penting istana juga ditemukan meninggal secara
misterius.
Termasuk Patih Gala Menda, Penasehat
kerajaan Para Seta dan juga panglima Ganda Permana.
Tidak lama setelah itu Pangeran Suprana melakukan pemberontakan.
Termasuk Patih Gala Menda, Penasehat
kerajaan Para Seta dan juga panglima Ganda Permana.
Tidak lama setelah itu Pangeran Suprana melakukan pemberontakan.
Putera
selir ini ternyata memenangkan pertarungan,
Pangeran Demak Pati dengan membawa luka-lukanya melarikan diri
Pangeran Demak Pati dengan membawa luka-lukanya melarikan diri
bersama
puteri Saba berikut beberapa orang pengikut yang sangat setia
kepadanya.
Sekarang kejadian itu sudah berlangsung sepuluh tahun lebih.
Sungguh pun begitu Pangeran Suprana tetap merasa khawatir tentang
Sungguh pun begitu Pangeran Suprana tetap merasa khawatir tentang
keamanan kerajaan.
Apalagi hingga saat itu Pangeran Demak dan putri
Saba
masih belum dapat ditangkap. Bahkan tempat persembunyiannya
tidak
seorang pun yang tahu. Selama
sepuluh tahun Pangeran yang telah berubah sakti ini memimpin kerajaan.
sepuluh tahun Pangeran yang telah berubah sakti ini memimpin kerajaan.
Selama
itu pula kehidupan rakyat dalam keadaan makmur
dan tenteram. Hal ini memang sengaja dijaga oleh Kumbang Pemikat
dan tenteram. Hal ini memang sengaja dijaga oleh Kumbang Pemikat
untuk
menarik simpati rakyat atas pemerintahannya. Cuma kebiasaannya
yang
sangat menjengkelkan adalah, Pangeran mata keranjang itu gemar
mengumpulkan
gadis-gadis cantik untuk dijadikan tempat pelampiasan
nafsu. Pangeran
yang haus kekuasaan, haus
kehangatan tubuh perempuan ini kemudian bahkan merubah nama istana
kehangatan tubuh perempuan ini kemudian bahkan merubah nama istana
Pasundan dengan
nama Kerajaan Sorga Dunia. Ia memperTuhankan
dirinya
sendiri di depan wanita-wanita cantik yang memberikan
kehangatan tubuhnya pada Pangeran terku-
tuk ini. Malam ini setelah sepuluh tahun, sebulan, sepuluh hari
kehangatan tubuhnya pada Pangeran terku-
tuk ini. Malam ini setelah sepuluh tahun, sebulan, sepuluh hari
kegelisahan
di hati Pangeran Suprana semakin menjadi-jadi. Apa yang
menjadi
pangkal kegelisahannya itu tidak lain karena Pangeran
mendengar
suara burung Bence (Burung malam yang meng-isyaratkan
adanya
tanda-tanda yang tidak baik). Lalu pemuda berumur sekitar tiga
puluh
tahun ini teringat pada pesan gurunya yang sakti mandraguna dari
tanah
Andalas.
Dia adalah Dewa Kubu tokoh legenda yang dikabarkan telah raib dari
Dia adalah Dewa Kubu tokoh legenda yang dikabarkan telah raib dari
dunia
persilatan.
Tokoh dari Indera Giri Hilir ini pernah berpesan padanya ketika Pangeran
Tokoh dari Indera Giri Hilir ini pernah berpesan padanya ketika Pangeran
Suprana
meninggalkan tempat tinggal gurunya....
"Pangeran mata keranjang. Niatmu untuk menguasai kerajaan Pasundan
"Pangeran mata keranjang. Niatmu untuk menguasai kerajaan Pasundan
pasti
dapat kukabulkan. Kesaktian yang kuturunkan padamu setara
dengan
tokoh-tokoh rimba persilatan merupakan modal utama untuk
mencapai
cita-citamu. Aku Dewa Kubu,
adalah satu diantara dua tokoh paling sakti di tanah Andalas ini. Aku
adalah satu diantara dua tokoh paling sakti di tanah Andalas ini. Aku
berada di
belakangmu. Tapi ingat jangan kau bertindak semena-mena
terhadap
rakyat kecil.
Jika kau menjadi raja, makmurkan hidup
mereka. Mengenai tingkahmu terhadap perempuan aku tidak ambil
Jika kau menjadi raja, makmurkan hidup
mereka. Mengenai tingkahmu terhadap perempuan aku tidak ambil
perduli.
Karena perempuan itu bisa menjadi tongkat dan bisa pula menjadi
ular
dalam kehidupan setiap laki-laki. Daripada kau dihancurkan, lebih
baik kau
menghancurkan mereka. Satu hal yang harus kau ingat, bila suatu
masa kau
mendengar suara burung malam. Itu
merupakan suatu tanda bahwa kau harus
meningkatkan kewaspadaanmu."
"Gila Aku lupa bertanya pada guru, pertanda apa semua ini?" desis
merupakan suatu tanda bahwa kau harus
meningkatkan kewaspadaanmu."
"Gila Aku lupa bertanya pada guru, pertanda apa semua ini?" desis
Kumbang
Pemikat semakin gelisah. Dari ruangan pribadinya, Pangeran
Suprana
ini langsung menuju keluar istana. Suasana di luar sangat
sepi, walaupun puluhan prajurit tampak terus berjaga-jaga. Sedangkan
sepi, walaupun puluhan prajurit tampak terus berjaga-jaga. Sedangkan
sampai
saat itu suara-suara burung malam terus terdengar tiada henti-
hentinya.
"Esok, pagi-pagi sekali aku harus menjumpai pimpinan bala tentara untuk
"Esok, pagi-pagi sekali aku harus menjumpai pimpinan bala tentara untuk
tetap
bersiap siaga" batin Iblis Peruntuh Mahkota.
Lorong di bawah tanah yang terdapat
di daerah Ciujung di pagi hari itu kelihatan sunyi. Tidak sebagaimana hari-
Lorong di bawah tanah yang terdapat
di daerah Ciujung di pagi hari itu kelihatan sunyi. Tidak sebagaimana hari-
hari
biasanya, setiap pagi selalu terdengar suara teriakan dari seorang
pemuda
dan seorang gadis yang sedang berlatih silat. Sudah bertahun-
tahun
pemuda dan gadis itu dengan ditemani oleh beberapa laki-laki tua
berada di
sana.
Kepandaian serta kesaktian yang mereka miliki pun semakin bertambah
Kepandaian serta kesaktian yang mereka miliki pun semakin bertambah
pesat.
Maklum guru mereka adalah seorang tokoh kosen berwatak aneh
yang
dikenal dengan julukan Setan Terompet.
Di dalam lorong bawah tanah pelita
minyak sudah hampir padam. Sementara itu tiga laki-laki tua berpakaian
Di dalam lorong bawah tanah pelita
minyak sudah hampir padam. Sementara itu tiga laki-laki tua berpakaian
usang
tampak sedang menyediakan makanan untuk
pemuda berbadan kurus itu dan juga buat gadis cantik berambut panjang
pemuda berbadan kurus itu dan juga buat gadis cantik berambut panjang
sepinggang.
"Rasanya sudah satu abad kita berada di sini. Padahal kita terpaksa
"Rasanya sudah satu abad kita berada di sini. Padahal kita terpaksa
mengungsi
di sini baru sepuluh tahun" berkata pemuda itu pada gadis di
depannya.
"Kanda, sepuluh tahun adalah waktu yang lama, mengapa Kanda
"Kanda, sepuluh tahun adalah waktu yang lama, mengapa Kanda
mengatakan
'baru'?" sergah gadis berwajah oval dengan bibir cemberut. Terkadang ia
'baru'?" sergah gadis berwajah oval dengan bibir cemberut. Terkadang ia
memang
merasa kesal pada pemuda di depannya. Karena pemuda yang
sesungguhnya
putera mahkota kerajaan Pasundan ini seakan tidak pernah
serius
dalam menghadapi persoalan penting yang harus mereka
selesaikan.
"Sepuluh tahun tidak lama, Dinda.
Bagaimana kalau kita tetap berada di sini sampai seumur hidup kita?"
"Sebagai adikmu, aku tidak menyukai kebodohan sekaligus
"Sepuluh tahun tidak lama, Dinda.
Bagaimana kalau kita tetap berada di sini sampai seumur hidup kita?"
"Sebagai adikmu, aku tidak menyukai kebodohan sekaligus
kepasrahanmu.
Kerajaan harus kita selamatkan. Kudengar Pangeran
Suprana
sekarang sudah merubah nama
kerajaan Pasundan menjadi kerajaan 'Sorga Dunia'. Apa ini tidak kau
kerajaan Pasundan menjadi kerajaan 'Sorga Dunia'. Apa ini tidak kau
anggap
gila, tidak keterlaluan Lebih celaka lagi dia mengaku dirinya
Tuhan"
ucap si gadis yang tidak lain adalah puteri Saba serius. Pangeran
kurus
menggelengkan kepalanya, sekali ke kanan, sekali ke kiri.
"Sekarang memang sudah banyak orang gila. Gila memang gila Apa yang
"Sekarang memang sudah banyak orang gila. Gila memang gila Apa yang
dia
katakan Sorga Dunia itu, paling urusannya pelampiasan nafsu rendah
selera
setan. Apa betul di dunia ada sorga? Omong kosong, perempuan
dengan
laki-laki berbuat mesum kok dikatakan sorga. Kalau Pangeran gila
itu
mengaku dirinya Tuhan, bisa berbuat
apa sih dia? Menciptakan bayi? Huh...."
Pangeran Demak gelengkan kepala, sekali ke kanan, sekali lagi ke kiri.
apa sih dia? Menciptakan bayi? Huh...."
Pangeran Demak gelengkan kepala, sekali ke kanan, sekali lagi ke kiri.
Wajahnya
tidak memperlihatkan ekspresi apa-apa. "Bayi itu yang
menciptakan
Gusti Allah. Ibu dan bapaknya cuma berpartisipasi saja,
kerjasama
yang bagus itu cuma menghasilkan air.
Pangeran bangsat itu orang gila yang dikutuk Tuhan. Menciptakan sayap
Pangeran bangsat itu orang gila yang dikutuk Tuhan. Menciptakan sayap
nyamuk
saja dia tidak becus Nyawa sendiri bahkan dia tidak bisa
menjamin.
Bagaimana dia mengaku-ngaku?"
"Kanda seriuslah bicara. Kita tidak mungkin mendekam di sini terus.
"Kanda seriuslah bicara. Kita tidak mungkin mendekam di sini terus.
Kerajaan
harus diselamatkan dari kemaksiatan. Kita juga harus
menyelidiki
siapa yang meracuni ayahanda Prabu, bunda kita dan juga
pembesar-pembesar
yang setia pada Prabu"
desis puteri Saba semakin tidak sabar.
'"Ha ha ha... Mengapa kau begitu khawatir Dindaku yang cantik. Pagi ini
desis puteri Saba semakin tidak sabar.
'"Ha ha ha... Mengapa kau begitu khawatir Dindaku yang cantik. Pagi ini
guru akan
menjumpai kita. Kita tunggu kabar apa yang dibawa oleh Aki
Braja.
Aku pun sebenarnya sudah tidak sabar menghirup udara luar yang bebas
Aku pun sebenarnya sudah tidak sabar menghirup udara luar yang bebas
dari
debu.
Dan lagi kau tidak usah khawatir tentang kerajaan. Mahkota tidak ada
Dan lagi kau tidak usah khawatir tentang kerajaan. Mahkota tidak ada
pada
Pangeran gila itu. Pula pedang Penyebar Bencana sejak ayahanda
Prabu
mangkat tidak tahu berada di mana. Mahkota kebesaran kerajaan
kita
punya. Untuk menegakkan kerajaan
agar kembali pada kita. Satu-satunya cara kita cari dulu Pedang Penebar
agar kembali pada kita. Satu-satunya cara kita cari dulu Pedang Penebar
Bencana.
Pangeran Suprana sakti luar biasa, entah siapa gurunya. Kita harus
Pangeran Suprana sakti luar biasa, entah siapa gurunya. Kita harus
memperhitungkan
kekuatan kita sendiri" tegas Pangeran Demak Pati.
Suasana kemudian semakin bertambah
hening. Pangeran terdiam, demikian juga dengan puteri Saba. Keheningan
itu
tiba-tiba saja disentakkan oleh suara bunyi trompet yang sedemikian
keras
seakan merobek gendang-gendang telinga juga memecahkan sel-sel
otak..Tet
Tet Tet Tot Tet Tet Tot
Dinding lorong tergetar hebat. Debu
beterbangan, angin topan berhembus. Pangeran Demak dan puteri Saba
Dinding lorong tergetar hebat. Debu
beterbangan, angin topan berhembus. Pangeran Demak dan puteri Saba
yang
sudah
memiliki tenaga dalam tinggi saja terpaksa tutup kedua telinganya.
memiliki tenaga dalam tinggi saja terpaksa tutup kedua telinganya.
Apalagi
para pengasuhnya yang dulu merupakan orang-orang dari
ksatriaan
istana. Mereka yang memiliki kepandaian serta tingkat tenaga
cukup
tinggi ini pun terpaksa tutup kedua telinga pula.
"Anak-anak yang malang Murid-muridku yang sengsara Aku datang,
"Anak-anak yang malang Murid-muridku yang sengsara Aku datang,
datang
untuk mengucapkan salam perpisahan. Setelah kalian bertahun-
tahun
berada di pengasingan Ciujung ini" kata sebuah suara di tengah-
tengah
hembusan angin yang membadai.
Setelah hembusan badai topan mereda.
Maka muncullah sesosok tubuh kurus kering.
Kulitnya keriputan, sekujur tubuhnya nyaris tidak berdaging. Pipinya
Setelah hembusan badai topan mereda.
Maka muncullah sesosok tubuh kurus kering.
Kulitnya keriputan, sekujur tubuhnya nyaris tidak berdaging. Pipinya
yang juga
keriput tampak menggembung menyimpan udara.
Rasanya keadaan kakek ini tidak beda dengan jerangkong. Rasanya jika
Rasanya keadaan kakek ini tidak beda dengan jerangkong. Rasanya jika
anggota
tubuh si kakek dipisah-pisahkan, tulang sama kentutnya saja yang
lebih
banyak, sedangkan dagingnya sangat sedikit sekali.
Di dekat bibir si kakek terdapat lubang trompet, melingkar menyerupai
Di dekat bibir si kakek terdapat lubang trompet, melingkar menyerupai
pipa yang
berkelok-kelok. Sedangkan di punggungnya bagian ujung
trompet
berukuran besar berwarna putih terbuat dari perak.
Laki-laki berbaju selempang ini kemudian duduk di depan Pangeran
Laki-laki berbaju selempang ini kemudian duduk di depan Pangeran
Demak
Pati dan
adiknya. Setelah memandang beberapa saat lamanya, maka orang tua
adiknya. Setelah memandang beberapa saat lamanya, maka orang tua
berambut
putih dan cuma beberapa helai ini berkata....
"Waktu bagimu sudah tiba, Pangeran Demak Pati. Kau Pangeran yang
"Waktu bagimu sudah tiba, Pangeran Demak Pati. Kau Pangeran yang
teledor
dengan kedudukan, dengan kerajaan. Kau adalah manusia yang
tidak
perduli dengan hari esok, lusa dan masa yang akan datang.
Kau Pangeran masa bodoh, tidak mau tahu dengan tahta, harta benda dan
Kau Pangeran masa bodoh, tidak mau tahu dengan tahta, harta benda dan
wanita. Ragamu
berada di bumi, tapi jiwa, hati dan pikiranmu berada di
langit. Kau seorang Pangeran, tapi tidak patut menjadi
penerus kerajaan,
karena
jiwamu pengembara. Sepuluh tahun yang lalu kau gagal
mempertahankan
kerajaan Pasundan. Bahkan kau morat-marit, tunggang-
langgang,
terbirit-birit, kocar-kacir melarikan diri. Jika kau kembali
merampas
hakmu, maka jangan kau sebut
dirimu Pangeran, gelar harus di copot dan diganti dengan julukan. Julukan
dirimu Pangeran, gelar harus di copot dan diganti dengan julukan. Julukan
bagus
bagimu tidak ada dan tidak pula sanggup aku memberikannya. Kau
hanya
pantas menyandang julukan Pendekar Kucar Kacir.
Ingat-ingatlah, Kucar Kacir..." Suara trompet kembali menggema. Hingga
Ingat-ingatlah, Kucar Kacir..." Suara trompet kembali menggema. Hingga
membuat
Pangeran Demak Pati yang baru saja hendak bicara terpaksa
telan
ucapan dan tutup kuping rapat-rapat.
"Guru sedeng ini hanya membuat telingaku congekan dengan trompet
"Guru sedeng ini hanya membuat telingaku congekan dengan trompet
setan-nya"
rnaki Pangeran Demak dalam hati.
"Kau mengerti apa yang kuucapkan ini, Pangeran Demak?" sentak Setan
"Kau mengerti apa yang kuucapkan ini, Pangeran Demak?" sentak Setan
Terompet.
"Mengerti Guru"
"Apa yang kau mengerti anak manusia yang tidak pernah mau tahu?"
"Gelar Pangeranku telah kau copot, aku sekarang diharuskan memakai
"Mengerti Guru"
"Apa yang kau mengerti anak manusia yang tidak pernah mau tahu?"
"Gelar Pangeranku telah kau copot, aku sekarang diharuskan memakai
julukan
Pendekar Kucar Kacir. Padahal aku tidak mau, dengan memakai
julukan
itu kau sama saja seperti menyindirku. Aku jadi heran, aku yang
sudah
sakit ingatan atau Guru yang sudah menderita penyakit gila?"
dengus
Pangeran Demak cemberut.
"Murid sedeng Berani sekali kau
menghina guru sendiri. Terus terang jika kerajaan di suatu waktu nanti
"Murid sedeng Berani sekali kau
menghina guru sendiri. Terus terang jika kerajaan di suatu waktu nanti
dapat kau
rampas kembali, bukan manusia bertampang sepertimu ini yang
menduduki
tahta. Tetapi adikmu puteri Saba inilah yang pantas
memimpin
kerajaan Pasundan" tegas Setan Terompet.
"Ha ha ha... Guru... Guru... memang siapa yang akan memimpin kerajaan
"Ha ha ha... Guru... Guru... memang siapa yang akan memimpin kerajaan
aku pikiri.
Bagiku asal sudah dapat mengungkap kematian ayah bunda
dan
mencari Pedang
Penyebar Bencana simbol kerajaan saja sudah sukur. Mahkota sudah
Penyebar Bencana simbol kerajaan saja sudah sukur. Mahkota sudah
kubawa.
Nah sekarang mahkota ini ada padaku, apakah kau mau
memakainya?
Aku bisa menobatkanmu menjadi raja. Tentu saja gelarmu
menjadi
Setan Terompet raja kurus kering kurang makan"
"Anak setan kapiran. Jangan kau berani mengejekku. Aku bicara sungguh-
"Anak setan kapiran. Jangan kau berani mengejekku. Aku bicara sungguh-
sungguh.
Untuk sementara mahkota kerajaan harus kubawa demi keselamatannya.
Untuk sementara mahkota kerajaan harus kubawa demi keselamatannya.
Kalian
boleh mencari pedang Penyebar Bencana. Pusaka kramat Mahasakti
yang
cahayanya saja dapat membuat manusia menjadi debu itu. Selama
pedang
itu tidak kalian temukan, maka selama itu pula arwah Prabu Jasa
Raga
tidak mengijinkan siapa pun di antara kalian menduduki tahta.
Pedang
itu adalah lambang pemersatu kerajaan. Ayahanda kalian me-
nyimpannya
di suatu tempat rahasia, tentu karena sudah mencium gelagat
yang
tidak
baik dari Pangeran Suprana"
"Kemana harus kami cari pedang itu.
Tempat penyimpanannya saja tidak kami tahu. Jika Guru tahu mengapa
baik dari Pangeran Suprana"
"Kemana harus kami cari pedang itu.
Tempat penyimpanannya saja tidak kami tahu. Jika Guru tahu mengapa
tidak
tunjukkan pada kami" protes Pangeran Demak Pati.
"Goblok Aku sendiri tidak tahu dimana almarhum ayahandamu
"Goblok Aku sendiri tidak tahu dimana almarhum ayahandamu
menyimpan
pedang
itu. Tapi kurasa ia menyembunyikannya di tempat yang sering
itu. Tapi kurasa ia menyembunyikannya di tempat yang sering
dikunjunginya.
Nah...
untuk itu kalian harus menyamar sebaik mungkin agar usaha kalian untuk
untuk itu kalian harus menyamar sebaik mungkin agar usaha kalian untuk
menemukan
pusaka pemersatu itu lancar. Ingat kurasa dengan menyaru
sebagai
rombongan kaum pengemis usaha kalian akan berhasil
Saat ini janganlah berharap bantuan siapa pun. Karena baik aku atau pun
Saat ini janganlah berharap bantuan siapa pun. Karena baik aku atau pun
kalian
sama-sama sudah tidak tahu lagi mana kawan dan mana lawan.
Sekarang
mahkota itu serahkan padaku. Kelak aku akan
mengembalikannya
pada puteri Saba"
Pangeran Demak Pati tanpa bicara
apa-apa lagi langsung mengulurkan tangannya yang memegang
Pangeran Demak Pati tanpa bicara
apa-apa lagi langsung mengulurkan tangannya yang memegang
bungkusan
berisi mahkota salah satu lambang kerajaan.
"Kurasa bekal ilmu serta kepandaian yang kuberikan pada kalian berdua
"Kurasa bekal ilmu serta kepandaian yang kuberikan pada kalian berdua
telah
cukup. Sekarang terimalah senjata ini" kata Setan Terompet sambil
memberikan
dua potong kayu seukuran satu meter. Melihat ini Pangeran
Demak
pelototkan mata hendak marah. Sedangkan puteri Saba hanya
diam,
namun keningnya mengerut.
"Guru Aku tahu kegilaanmu. Tapi kuharap kau jangan bercanda dan
"Guru Aku tahu kegilaanmu. Tapi kuharap kau jangan bercanda dan
menghina
dalam
waktu sekarang ini" protes si pemuda kurus.
"Setan betul Terima saja, mengapa harus membantahku?"
"Sepotong kayu butut begini? Aku sendiri bisa mencari beratus-ratus
waktu sekarang ini" protes si pemuda kurus.
"Setan betul Terima saja, mengapa harus membantahku?"
"Sepotong kayu butut begini? Aku sendiri bisa mencari beratus-ratus
potong di
depan terowongan ini"
"Diam Edan kowe" maki Setan Terompet dengan mata mendelik.
"Bagaimana aku bisa diam. Guru menghina aku dan adikku"
"Pangeran edan. Setan sontoloyo. Nanti jika kau sudah berhadapan dengan
"Diam Edan kowe" maki Setan Terompet dengan mata mendelik.
"Bagaimana aku bisa diam. Guru menghina aku dan adikku"
"Pangeran edan. Setan sontoloyo. Nanti jika kau sudah berhadapan dengan
musuh dan kau keluarkan tenaga dalam. Kau
segera tahu rahasia apa yang terkandung di balik sepotong kayu butut
segera tahu rahasia apa yang terkandung di balik sepotong kayu butut
yang kau
caci maki itu. Sekarang terima saja sambil berharap moga
sepotong
kayu butut itu tidak berubah menjadi seekor ular yang
mematukmu"
"Baiklah. Guruku Setan Terompet Jika berbantahan terus denganmu,
"Baiklah. Guruku Setan Terompet Jika berbantahan terus denganmu,
berarti
aku bisa ketularan penyakit gilamu. Lalu apalagi yang harus kami
perbuat?"
Tet Tet Tet
Terompet kembali berbunyi sebelum
Setan Terompet lanjutkan ucapannya
kembali.
"Aku berharap semoga kau dapat melindungi orang-orang yang
Tet Tet Tet
Terompet kembali berbunyi sebelum
Setan Terompet lanjutkan ucapannya
kembali.
"Aku berharap semoga kau dapat melindungi orang-orang yang
menyertaimu
dan selalu setia padamu ini. Terlebih-lebih jagalah
keselamatan
puteri Saba. Sebab bagaimana pun kesaktiannya masih berada
jauh di
bawahmu Aku sayang kepadanya
sebagaimana rasa sayangku pada seorang cucu. Jika nanti kau tidak becus
sebagaimana rasa sayangku pada seorang cucu. Jika nanti kau tidak becus
menjaganya.
Aku tidak segan-segan membunuhmu, me-
ngertikah Pendekar Kucar Kacir?"
"Gelar jelek itu lagi yang kau sebut?
Tidak usah kau peringatkan tentu aku akan menjaganya. Dia adikku satu-
Aku tidak segan-segan membunuhmu, me-
ngertikah Pendekar Kucar Kacir?"
"Gelar jelek itu lagi yang kau sebut?
Tidak usah kau peringatkan tentu aku akan menjaganya. Dia adikku satu-
satunya"
sahut Pangeran Demak Pati.
"Bagus Aku gembira mendengarnya.
Sekarang tukarlah pakaian kalian dengan pakaian yang lebih buruk lagi,
"Bagus Aku gembira mendengarnya.
Sekarang tukarlah pakaian kalian dengan pakaian yang lebih buruk lagi,
sehingga
kalian benar-benar mirip dengan seorang pengemis?"
"Pakaian yang kami pakai saja sudah jelek, Guru. Apakah kami harus
"Pakaian yang kami pakai saja sudah jelek, Guru. Apakah kami harus
memakai
pakaian sobek-sobek hingga dada adikku dan burungku
kelihatan
orang?" Pangeran Demak bersungut-sungut.
"Diam, gila betul Kau selalu membantah setiap kata-kataku" damprat Setan
"Diam, gila betul Kau selalu membantah setiap kata-kataku" damprat Setan
Terompet.
Pangeran Demak Pati langsung katupkan bibirnya. Selagi ia
hendak
bicara, maka kakek bertubuh kurus kering di depannya telah
lenyap
dari pandangan mereka. Lebih kurang setengah jam kemudian
maka terlihatlah
sekelompok rombongan pengemis berpakaian lusuh
berwajah
kotor meninggalkan terowongan lembah Ciujung.
"Auuuh... siang-siang begini, panas terik, enaknya minum air kelapa
"Auuuh... siang-siang begini, panas terik, enaknya minum air kelapa
muda.
Mana ada kelapa di tepian hutan begini" kata pemuda berbaju biru
sambil
menggaruk rambutnya tiada henti. Kemudian ia merebahkan
tubuhnya
yang letih di bawah sebatang pohon rindang berdaun lebat.
Memandang ke ranting pohon yang terlihat olehnya dua ekor burung
Memandang ke ranting pohon yang terlihat olehnya dua ekor burung
Kapodang
berbulu kuning sedang bercumbu. Pemuda berambut hitam
kemerahan
nyengir, lalu menggaruk kepalanya.
"Hei burung. Kalian lagi pacaran ya?
Enak jadi burung main semplak saja. Tidak perduli emaknya sendiri, adik
"Hei burung. Kalian lagi pacaran ya?
Enak jadi burung main semplak saja. Tidak perduli emaknya sendiri, adik
sendiri
atau saudara sendiri. Tapi... banyak juga kok manusia di akhir
jaman ini
berbuat dan mempunyai prilaku seperti binatang. Padahal jadi
manusia
itu berat tanggung jawabnya.
Salah melangkah menyesal sampai ubanan, sampai ke liang kubur malah. Ada
kakek sudah bau tanah mipisi gadis ingusan Masa bodo' Ha ha ha..."
Salah melangkah menyesal sampai ubanan, sampai ke liang kubur malah. Ada
kakek sudah bau tanah mipisi gadis ingusan Masa bodo' Ha ha ha..."
Sikonyol
tiba-tiba tertawa.
Crot
Plok
"Ait, apa ini anget-anget?" Suro Blondo
murid Penghulu Siluman Kera Putih dan
Malaikat Berambut Api seka keningnya yang tertimpa cairan hangat dan
Crot
Plok
"Ait, apa ini anget-anget?" Suro Blondo
murid Penghulu Siluman Kera Putih dan
Malaikat Berambut Api seka keningnya yang tertimpa cairan hangat dan
lembek.
Setelah dapat diendus-endusnya. "Edan, burung goblok, tidak
tahu
sopan santun, berak seenaknya. Dasar binatang, otak tidak dipakai"
maki Suro
sambil mencak-mencak seperti seekor monyet yang kebakaran
ekornya.
Pemuda itu tiba-tiba saja mengambil
batu kecil dan menyambitkannya ke arah
burung tadi. Namun belum sempat batu mengenai sasaran, burung sudah
Pemuda itu tiba-tiba saja mengambil
batu kecil dan menyambitkannya ke arah
burung tadi. Namun belum sempat batu mengenai sasaran, burung sudah
terbang,
berputar-putar di atas kepala Suro, lalu terdengar suara crot lagi
untuk
yang kedua kalinya. Barulah setelah itu burung Kapodang benar-
benar
telah terbang menjauh.
"Bangsat Edan betul Itu binatang tidak pernah diajar adat oleh nenek moyangnya.
Gila..." maki Suro dengan mulut termonyong-monyong. Suro kepalkan
"Bangsat Edan betul Itu binatang tidak pernah diajar adat oleh nenek moyangnya.
Gila..." maki Suro dengan mulut termonyong-monyong. Suro kepalkan
tinjunya
dan ia acungkan ke udara. Mana kedua burung tadi perduli,
mereka
terus ngibrit untuk kemudian hilang dari pandangan mata.
Dengan perasaan kesal Suro merebahkan
tubuhnya lagi, teringat pada burung tadi.
Ia langsung teringat pada Puteri Kilat Bayangan. Gadis bermata indah
Dengan perasaan kesal Suro merebahkan
tubuhnya lagi, teringat pada burung tadi.
Ia langsung teringat pada Puteri Kilat Bayangan. Gadis bermata indah
seperti
bintang kejora, berwajah cantik bagai bidadari.
"Okh... oh... Andai saja aku dapat gadis secantik dia. Betapa dunia yang
"Okh... oh... Andai saja aku dapat gadis secantik dia. Betapa dunia yang
gersang
ini menjadi indah dan jadi milikku, orang lain termasuk raja
terhitung
numpang.
Hatiku tidak pernah bergetar seperti ini
Memandang pada puteri Kilat aku merasa seperti sedang menelan tulang
Hatiku tidak pernah bergetar seperti ini
Memandang pada puteri Kilat aku merasa seperti sedang menelan tulang
kaki
ayam.
Bagaimana gitu, serba salah. Matanya mengandung magnet. Senyumnya
Bagaimana gitu, serba salah. Matanya mengandung magnet. Senyumnya
membuat
aku langsung klepek-klepek seperti ayam disembelih Walah... kapan aku
aku langsung klepek-klepek seperti ayam disembelih Walah... kapan aku
dapat
bersua dengan gadis secantik dia. Gadis yang bukan saja
meruntuhkan
hati dan jantungku. Tapi juga membuat runtuh atap rumah
tetangga
Ha ha ha...'* Suro tergelak-gelak. Sehingga tanpa disadarinya sejak tadi ada
Ha ha ha...'* Suro tergelak-gelak. Sehingga tanpa disadarinya sejak tadi ada
sepasang
mata yang terus mengawasi tingkahnya.
Namun ada yang terasa aneh pada diri orang ini. Ia tampak selalu
Namun ada yang terasa aneh pada diri orang ini. Ia tampak selalu
menahan
sesuatu yang hampir tidak dapat di tahannya.
Sedangkan matanya hampir terpejam-pejam.
Sampai kemudian....
"Hasyiih... hes..."
Suara bersin pun terdengar. Bukan hanya suara bersin biasa, suaranya
Sedangkan matanya hampir terpejam-pejam.
Sampai kemudian....
"Hasyiih... hes..."
Suara bersin pun terdengar. Bukan hanya suara bersin biasa, suaranya
membuat
pendekar Blo'on jatuh terguling-guling tunggang langgang.
Telinga
pemuda berikat kepala biru belang-belang kuning ini mendenyut
sakit.
Dengan wajah pucat Suro bangkit berdiri. Memandang ke arah
datangnya
suara. Ia melihat seorang kakek tua ompong berambut kelabu
berjenggot
panjang seperti
kambing telah berdiri tegak di situ.
Kakek tua tersebut menutup hidung dan
mulutnya. Agaknya ia hendak bersin lagi.
Suro garuk-garuk kepala, rasa heran sekaligus takjub membuat matanya
kambing telah berdiri tegak di situ.
Kakek tua tersebut menutup hidung dan
mulutnya. Agaknya ia hendak bersin lagi.
Suro garuk-garuk kepala, rasa heran sekaligus takjub membuat matanya
terus
melotot.
"Has... has... hasyiih..."
Si kakek bersin lagi. Suro merasakan
kepalanya mendenyut sakit. Ia gelenggelengkan kepala untuk
"Has... has... hasyiih..."
Si kakek bersin lagi. Suro merasakan
kepalanya mendenyut sakit. Ia gelenggelengkan kepala untuk
menghilangkan
rasa nyeri yang menyerang telinganya.
"Orang tua aneh Hosyah-hasyih. Apakah Anda menderita sakit pilek, plu
"Orang tua aneh Hosyah-hasyih. Apakah Anda menderita sakit pilek, plu
demam dan
sakit kepala? Siapakah situ, rasanya aku belum pernah
berjumpa
dengan orang sepertimu?" ujar Suro mencoba bersikap ramah. Si
kakek
tiba-tiba saja pegangi perutnya, kemudian terdengar suara tawanya
yang serak seperti cicak kcjepit jendela.
"Ha ha ha Kau boleh ingusan. Kalau kau mau tahu aku ini yang dijuluki Ki
"Ha ha ha Kau boleh ingusan. Kalau kau mau tahu aku ini yang dijuluki Ki
Bersin,
namaku Sapta Dewa. Kau sendiri siapa?"
Suro menjura hormat, melangkah ke
depan lalu salaman. Sungguh tindak tanduknya membuat Sapta Dewa
Suro menjura hormat, melangkah ke
depan lalu salaman. Sungguh tindak tanduknya membuat Sapta Dewa
menjadi
geli.
Sehingga ia bersin lagi. Gantian Suro yang jantungan dan kaget melulu.
"Aku Suro Blondo, Ki. Tapi kuharap kau tidak bersin melulu. Aku bisa
kaget terus dan mati berdiri karena suara
bersinmu itu. Sebenarnya Anda
hendak
kemana?"
"Hes... Bersin hampir bersin lagi. Buru-buru ia tutup mulutnya. Lalu
"Hes... Bersin hampir bersin lagi. Buru-buru ia tutup mulutnya. Lalu
tawanya
meledak. Jenggot kambingnya tergoncang-goncang sedangkan tubuhnya
meledak. Jenggot kambingnya tergoncang-goncang sedangkan tubuhnya
bergetar.
"Aku datang dari seberang, daerah Kutai asalku.
Aku merindukan seorang saudara yang sudah lama meninggalkan tanah
Aku merindukan seorang saudara yang sudah lama meninggalkan tanah
kelahiran
dan merantau di daerah orang Jawa. Aku ingin mengajaknya
pulang.
Apakah kau pernah bertemu dengannya?"
"Siapa saudaramu itu, Ki? Perempuan atau laki-laki, sudah tua apa masih
"Siapa saudaramu itu, Ki? Perempuan atau laki-laki, sudah tua apa masih
muda?"
tanya Suro serius.
"Saudaraku? Ha ha ha... Barangnya seperti barangmu, sudah tua,
"Saudaraku? Ha ha ha... Barangnya seperti barangmu, sudah tua,
keriputan
kurus dan seperti nggak pernah makan.
Namanya Ki Braja, dia dikenal dengan julukan Setan Terompet" jelas Sapta Dewa.
"Walah julukannya jelek amat. Maaf Ki aku sama sekali tidak pernah
Namanya Ki Braja, dia dikenal dengan julukan Setan Terompet" jelas Sapta Dewa.
"Walah julukannya jelek amat. Maaf Ki aku sama sekali tidak pernah
bertemu
dengannya. Mendengar julukannya saja baru kali ini."
Kakek tua itu terdiam. Lalu ia bersin
lagi, namun kali ini suaranya pelan hingga tidak membuat Suro kalang
Kakek tua itu terdiam. Lalu ia bersin
lagi, namun kali ini suaranya pelan hingga tidak membuat Suro kalang
kabut.
"Sayang sekali. Padahal baru sepekan yang lalu aku menerima kabar bahwa aku
harus menjumpainya. Katanya ada persoalan besar yang harus
"Sayang sekali. Padahal baru sepekan yang lalu aku menerima kabar bahwa aku
harus menjumpainya. Katanya ada persoalan besar yang harus
diselesaikan
bersama muridnya dan dia minta bantuanku Setan Terompet
sejak
dulu memang sering bikin
aku pusing, was-was dan memperbudak aku.
Karena dia adikku. Maka aku jadi tidak tega melihat dia dapat masalah."
aku pusing, was-was dan memperbudak aku.
Karena dia adikku. Maka aku jadi tidak tega melihat dia dapat masalah."
Kata
Sapta Dewa seakan ditujukan pada diri sendiri.
"Siapa nama murid adikmu itu, Ki?"
"Hmm, konon dia seorang putera mahkota kerajaan Pasundan. Ia terpaksa
"Siapa nama murid adikmu itu, Ki?"
"Hmm, konon dia seorang putera mahkota kerajaan Pasundan. Ia terpaksa
mengasingkan
diri bersama adiknya ketika tahta kerajaan dirampas oleh
seorang
Pangeran putera selir raja."
"Sebuah cerita yang sangat menarik.
Aku memang pernah mendengar ada kerajaan cukup besar bernama
"Sebuah cerita yang sangat menarik.
Aku memang pernah mendengar ada kerajaan cukup besar bernama
Pasundan
di Lembah Kahuripan. Tapi menurut yang kudengar, kerajaan
itu
sekarang telah berganti nama dengan kerajaan Sorga Dunia. Rajanya
mengangkat
dirinya sebagai Tuhan Aku menganggap ini tindakan orang
gila yang
pantas menjadi penghuni di jurang neraka kelak di hari kiamat
Tetapi
kudengar pula, raja edan itu sangat menghargai kehidupan
rakyatnya.
Mengenai yang lain-lainnya aku belum menyelidik" tegas
Pendekar
Blo'on berterus terang.
Sapta Dewa alias Ki Bersin memandang
tajam pada pemuda di depannya. Setelah memperhatikan beberapa saat
Sapta Dewa alias Ki Bersin memandang
tajam pada pemuda di depannya. Setelah memperhatikan beberapa saat
lamanya,
maka ia berseru kaget....
"Astaga? Mengapa aku tidak perhatikan sejak tadi. Rambutmu hitam
"Astaga? Mengapa aku tidak perhatikan sejak tadi. Rambutmu hitam
kemerahan
seperti orang bule. Tampangmu... hemm,
cepat kau katakan padaku, siapa dirimu yang sebenarnya?"
"Sudah kukatakan aku Suro Blondo, apakah ada yang aneh menurutmu?"
cepat kau katakan padaku, siapa dirimu yang sebenarnya?"
"Sudah kukatakan aku Suro Blondo, apakah ada yang aneh menurutmu?"
tanya
murid Malaikat Berambut Api dan Penghulu Siluman Kera Putih
terheran-heran
sendiri.
"Suro...? Kau bocah yang terlahir pada malam satu Asyuro dua puluh
"Suro...? Kau bocah yang terlahir pada malam satu Asyuro dua puluh
tahun
yang
lalu?" Kini giliran si konyol yang dibuat kaget.
"Bagaimana Aki bisa mengetahuinya?"
"Berita menggemparkan tentang bocah ajaib itu sampai juga di daerah
lalu?" Kini giliran si konyol yang dibuat kaget.
"Bagaimana Aki bisa mengetahuinya?"
"Berita menggemparkan tentang bocah ajaib itu sampai juga di daerah
kami.
Kalau melihat tampangmu, rasanya aku tidak bisa menggantung
harapan
padamu. Mengapa orang-orang mengatakan kau sebagai bocah
ajaib?"
"Ha ha ha... Dunia ini penuh dengan keanehan, Ki. Mengapa kau harus
"Ha ha ha... Dunia ini penuh dengan keanehan, Ki. Mengapa kau harus
memper-cayai berita gombal? Tidak ada yang
istimewa pada diriku, dan
sebaiknya
harapanmu jangan kau gantungkan padaku." sahut Suro
merendah.
"Dulu mendengar hari kelahiranmu yang menghebohkan itu aku
"Dulu mendengar hari kelahiranmu yang menghebohkan itu aku
penasaran
Hei pemuda bertampang tolol. Sekarang aku jadi penasaran
pula dan
ingin tahu sampai di
mana kehebatanmu Hasyiih..."
"Bah... Mengapa kau begitu bersemangat menyerang orang yang tidak
mana kehebatanmu Hasyiih..."
"Bah... Mengapa kau begitu bersemangat menyerang orang yang tidak
punya
salah apa-apa. Aku - tidak mau melayani orang
gila sepertimu" desis Suro sambil bersungut-sungut.
"Hasyih Hasyiiiih..."
Sapta Dewa bersin lagi. Suaranya keras
menggeledek. Sehingga membuat Pendekar
Blo'on jatuh bangun. Namun dengan cepat segera bangkit kembali.
Ki Bersin tiba-tiba saja menggerung keras. Tangannya terjulur dan
gila sepertimu" desis Suro sambil bersungut-sungut.
"Hasyih Hasyiiiih..."
Sapta Dewa bersin lagi. Suaranya keras
menggeledek. Sehingga membuat Pendekar
Blo'on jatuh bangun. Namun dengan cepat segera bangkit kembali.
Ki Bersin tiba-tiba saja menggerung keras. Tangannya terjulur dan
langsung
memanjang seperti karet. Mencengkeram leher Pendekar Blo'on
dengan
lima jari terkembang. Mana sudi Suro serahkan lehernya. Sambil
menggerutu
ia melompat mundur. Gerakan yang dilakukannya ini tidak
banyak
menolongnya, karena tangan Ki Bersin terus terjulur. Pemuda ini
segera
mengambil inisiatip untuk menyerang. Ia bergerak ke samping, lalu
sikunya
menepis disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
Duuk
"Heh..."
Suro terhuyung disertai suara pekikan
terkejut. Lengannya memerah dan terasa sakit mendenyut. Sapta Dewa
Duuk
"Heh..."
Suro terhuyung disertai suara pekikan
terkejut. Lengannya memerah dan terasa sakit mendenyut. Sapta Dewa
tersenyum
mengejek. Tangannya bergerak ke samping.
Menyadari tangan lawannya atos laksana baja. Maka Suro kini segera
Menyadari tangan lawannya atos laksana baja. Maka Suro kini segera
mengerahkanjurus
'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.
Detik itu juga terdengar suara lolongan yang sungguh aneh, terdengar
'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.
Detik itu juga terdengar suara lolongan yang sungguh aneh, terdengar
suara
ngak ngik
nguk seperti suara monyet. Lalu tubuhnya
berjingkrak-jingkrak, terkadang melompat, atau berguling-gulingan. Tidak
nguk seperti suara monyet. Lalu tubuhnya
berjingkrak-jingkrak, terkadang melompat, atau berguling-gulingan. Tidak
jarang
sambil menghindar ia pun menggaruk bagian-bagian tubuhnya.
Walaupun
setiap gerakan yang
dilakukan oleh Suro terkesan seperti gerakan seekor monyet yang mabuk.
dilakukan oleh Suro terkesan seperti gerakan seekor monyet yang mabuk.
Namun
hingga
sejauh itu tidak satu pun serangan ganas yang dilakukan oleh Sapta Dewa
sejauh itu tidak satu pun serangan ganas yang dilakukan oleh Sapta Dewa
Mengenai sasaran.
Ki Bersin kerutkan keningnya. Sungguh
ia telah tertipu mentah-mentah. Sama sekali ia tidak menyangka pemuda
Ki Bersin kerutkan keningnya. Sungguh
ia telah tertipu mentah-mentah. Sama sekali ia tidak menyangka pemuda
bertampang
ketolol-tololan itu sesungguhnya memiliki kepandaian yang
sangat
mengagumkan.
"Hasyiih."
Sapta Dewa bersin lagi. Tentu saja suaranya sekarang tidak berpengaruh
"Hasyiih."
Sapta Dewa bersin lagi. Tentu saja suaranya sekarang tidak berpengaruh
lagi bagi
Suro karena pemuda ini sudah melindungi diri dengan
pengerahan
tenaga dalam tinggi. Ki Bersin tarik tangannya.
Kedua tangan setelah disilangkan lalu melambai-lambai. Angin menderu
Kedua tangan setelah disilangkan lalu melambai-lambai. Angin menderu
hingga
membuat si pemuda terhuyung ke belakang.
"Edan Apalagi yang hendak dilakukan oleh tua bangka ini?" batin Suro
"Edan Apalagi yang hendak dilakukan oleh tua bangka ini?" batin Suro
dalam
hati.
"Heaa..."
Ki Bersin tiba-tiba mengadu telapak tangan satu dengan yang lainnya.
"Heaa..."
Ki Bersin tiba-tiba mengadu telapak tangan satu dengan yang lainnya.
Sekejab
saja kedua tangannya kemudian berubah merah laksana bara. Dari
telapak
tangan
itu memancar cahaya gemerlapan bagaikan sinar bintang. Lima sinar
itu memancar cahaya gemerlapan bagaikan sinar bintang. Lima sinar
meluncur
deras ke arah Suro. Pemuda ini pencongkan mulutnya, lalu
secepat
kilat ia melesat ke udara. Sinar merah itu luput dari sasaran dan
menghantam
pohon besar di
belakangnya.
pohon langsung berlubang meninggalkan warna hitam. Kemudian hanya
belakangnya.
pohon langsung berlubang meninggalkan warna hitam. Kemudian hanya
dalam
waktu
sekejab daun-daun pohon berwarna hitam pula dan berguguran. Suro
sekejab daun-daun pohon berwarna hitam pula dan berguguran. Suro
leletkan
lidah.
Hatinya memaki. "Setan betul manusia rongsokan berjanggut mbek ini Dia
Hatinya memaki. "Setan betul manusia rongsokan berjanggut mbek ini Dia
punya
pukulan beracun yang agaknya sengaja dipergunakan untuk
membunuhku
Awas
Kalau aku sampai cedera apalagi sampai kelenger dia akan kubuat malu
Kalau aku sampai cedera apalagi sampai kelenger dia akan kubuat malu
pulang
pergi"
Sebaliknya Ki Bersin yang melihat lawan dapat menghindari pukulan
Sebaliknya Ki Bersin yang melihat lawan dapat menghindari pukulan
'Merobek
Raga Meruntuhkan Sukma' ini terperanjat sekali.
Diam-diam ia membatin "Pemuda rambut jagung ini tampangnya saja
Diam-diam ia membatin "Pemuda rambut jagung ini tampangnya saja
yang
geblek.
Siapa sangka dia punya kesaktian terendam.
Aku rasa belum puas kalau bilum membuatnya semakin bertambah
Siapa sangka dia punya kesaktian terendam.
Aku rasa belum puas kalau bilum membuatnya semakin bertambah
konyol.
Coba kulepaskan pukulan sekali lagi apa yang dapat
diperbuatnya"
"Anak setan Lihat..." seru Ki Bersin.
Seraya hantamkan kembali tangannya ke
depan.
"Bayi bangkotan tidak bergigi Mampus"
Suro berteriak tidak kalah kerasnya. Rupanya pemuda ini dibuat kesal
"Anak setan Lihat..." seru Ki Bersin.
Seraya hantamkan kembali tangannya ke
depan.
"Bayi bangkotan tidak bergigi Mampus"
Suro berteriak tidak kalah kerasnya. Rupanya pemuda ini dibuat kesal
melihat
ulah si kakek yang bukan saja berniat mengujinya, namun nekad
membunuhnya.
Melihat sinar merah meluncur deras ke
arahnya, Suro dorongkan kedua tangannya menyambut sinar merah
Melihat sinar merah meluncur deras ke
arahnya, Suro dorongkan kedua tangannya menyambut sinar merah
tersebut.
Sinar putih menderu Pendekar Bloon telah lepaskan pukulan
'Kera
Sakti Menolak Petir'.
Maka terjadilah suara ledakan keras. Kaki Suro amblas ke dalam tanah, Ki
Maka terjadilah suara ledakan keras. Kaki Suro amblas ke dalam tanah, Ki
Bersin
terhuyung, namun sebentar saja sudah dapat menguasai dirinya
lagi.
Sapta Dewa meme-gangi dadanya yang sesak.
"Boleh juga kau pemuda gendeng" maki Ki Bersin.
Setelah puas melepaskan pukulan, namun
tidak menghasilkan apa-apa. Maka kini Ki Bersin menyerang lagi dengan
"Boleh juga kau pemuda gendeng" maki Ki Bersin.
Setelah puas melepaskan pukulan, namun
tidak menghasilkan apa-apa. Maka kini Ki Bersin menyerang lagi dengan
jurus-jurus
tangan kosongnya yang ampuh.
Suro geram bukan main, mulutnya
termonyong-monyong. Ketika tinju lawannya menderu menghantam
Suro geram bukan main, mulutnya
termonyong-monyong. Ketika tinju lawannya menderu menghantam
rahang
Suro. Pemuda
ini merijerit, bukan kena dipukul, melainkan disaat itu Suro telah
ini merijerit, bukan kena dipukul, melainkan disaat itu Suro telah
mempergunakan
jurus Tawa Kera Siluman. Si kakek berambut
kelabu bersurut mundur, ia gelengkan kepala seakan tidak percaya melihat
kelabu bersurut mundur, ia gelengkan kepala seakan tidak percaya melihat
tubuh
lawannya berkelebat mengitari dirinya. Hebatnya lagi tidak satu
pun
serangan yang dilancarkan Ki Bersin mengenai sasaran. Pemuda itu
menjerit-jerit, semakin lama berubah menjadi tawa menggeledek yang
menjerit-jerit, semakin lama berubah menjadi tawa menggeledek yang
membuat
konsentrasi lawannya jadi terganggu.
"Hasyih... Hesss"
Sapta Dewa bersin. Dalam suaranya
terkandung tenaga dalam tinggi. Lalu kakek berjenggot kambing ini tiba-
"Hasyih... Hesss"
Sapta Dewa bersin. Dalam suaranya
terkandung tenaga dalam tinggi. Lalu kakek berjenggot kambing ini tiba-
tiba
bersalto dengan gerakan setengah berputar. Murid Penghulu Siluman
Kera
Putih ini sama
sekali tidak menyangka serangan mendadak dan sulit ditebak ini.
sekali tidak menyangka serangan mendadak dan sulit ditebak ini.
Sehingga
sungguh pun ia berusaha menghindar. Kaki lawannya
menghantam
dada Suro.
Diekh...
Braak
Pendekar Mandau Jantan jatuh terguling-
guling. Ada darah yang menetes dari sudut-sudut bibirnya. Ki Bersin terus
Diekh...
Braak
Pendekar Mandau Jantan jatuh terguling-
guling. Ada darah yang menetes dari sudut-sudut bibirnya. Ki Bersin terus
mencecarnya
dengan serangkaian tendangan beruntun.
"Ki Bersin manusia gila. Apakah kau hendak membunuhku" teriak Suro.
"Mana keajaibanmu" dengus Sapta Dewa disertai senyum mengejek.
Merasa diremehkan terus menerus maka
Suro kini berbalik arah. Secepat kilat ia berdiri. Kemudian ia dengan nekad
"Ki Bersin manusia gila. Apakah kau hendak membunuhku" teriak Suro.
"Mana keajaibanmu" dengus Sapta Dewa disertai senyum mengejek.
Merasa diremehkan terus menerus maka
Suro kini berbalik arah. Secepat kilat ia berdiri. Kemudian ia dengan nekad
dan penuh
kegusaran langsung menerobos pertahanan lawan. Sekali
hantaman
Ki Bersin menghantam perut Suro, ternyata Pendekar
Blo'on tidak menghiraukannya. Lalu tangannya bergerak dengan sangat
Blo'on tidak menghiraukannya. Lalu tangannya bergerak dengan sangat
cepat
sekali Brct
Srosot Serosot
"Auh.... Kurang ajar" Sapta Dewa sambil bersin-bersin menyumpah.
Srosot Serosot
"Auh.... Kurang ajar" Sapta Dewa sambil bersin-bersin menyumpah.
Rupanya
ketika bertarung dalam jarak dekat tadi Suro sengaja
menelanjangi
lawannya. Adalah sesuatu yang sangat sulit dipercaya,
karena Ki
Bersin sebenarnya merupakan tokoh kenamaan dari daerah
Kutai.
Suro tergelak-gelak. Ki Bersin cepat membenahi pakaiannya. Ia
menjadi
sangat marah bercampur malu. Anehnya setelah melihat pemuda
konyol
itu tertawa, Ki Bersin akhirnya ikut tertawa pula.
"Bagaimana, Ki Apakah kau masih penasaran juga? Sekali lagi kau
"Bagaimana, Ki Apakah kau masih penasaran juga? Sekali lagi kau
menyerangku,
aku bersumpah akan mencukur habis kau punya bulu"
desis
Suro bersungut-sungut.
"Has..." Sapta Dewa tutup mulutnya rapat-rapat. Wajahnya masih bersemu merah.
"Rasanya tidak perlu diteruskan. Tampangmu tolol, ternyata otakmu
"Has..." Sapta Dewa tutup mulutnya rapat-rapat. Wajahnya masih bersemu merah.
"Rasanya tidak perlu diteruskan. Tampangmu tolol, ternyata otakmu
cerdik.
Pandai sekali kau membuat malu lawanmu Sekarang aku
percaya dengan kehebatan yang kau miliki.
Satu hal yang kuminta darimu.. Suro
langsung memotong. "Huh setelah kau hampir membunuhku sekarang
percaya dengan kehebatan yang kau miliki.
Satu hal yang kuminta darimu.. Suro
langsung memotong. "Huh setelah kau hampir membunuhku sekarang
aku tahu
kau pasti akan minta bantuanku"
"Betul. Suro, terus terang aku orang asing di daerah ini. Naluriku
kau pasti akan minta bantuanku"
"Betul. Suro, terus terang aku orang asing di daerah ini. Naluriku
mengatakan
akan terjadi sesuatu yang sangat besar.
Aku percaya kau seorang Pendekar yang
memiliki kepandaian tidak terduga dan berhati jujur. Jika pun seumur
Aku percaya kau seorang Pendekar yang
memiliki kepandaian tidak terduga dan berhati jujur. Jika pun seumur
hidup aku
memutuskan untuk mempunyai seorang
sahabat. Maka kaulah orangnya."
Suro garuk-garuk rambutnya. "Apa yang dapat kulakukan untukmu?"
"Coba selidikilah apa yang terjadi di kerajaan Pasundan. Siapa Pangeran
sahabat. Maka kaulah orangnya."
Suro garuk-garuk rambutnya. "Apa yang dapat kulakukan untukmu?"
"Coba selidikilah apa yang terjadi di kerajaan Pasundan. Siapa Pangeran
Suprana.
Yang aku dengar ia tidak dapat berkuasa penuh, pemerintahannya tidak
Yang aku dengar ia tidak dapat berkuasa penuh, pemerintahannya tidak
diakui selama ia belum mendapatkan mahkota
kerajaan dan juga pedang
pemersatu
Penyebar Bencana" jelas Ki Bersin.
"Aneh... sebuah pedang pemersatu. Tapi mengapa namanya mengerikan begitu?"
"Rasanya tidak ada yang aneh, Suro.
Pedang itu menurut adikku konon sangat berbahaya. Terlebih-lebih bila
"Aneh... sebuah pedang pemersatu. Tapi mengapa namanya mengerikan begitu?"
"Rasanya tidak ada yang aneh, Suro.
Pedang itu menurut adikku konon sangat berbahaya. Terlebih-lebih bila
sampai
jatuh ke tangan orang yang salah. Dia hanya akan menyebar
bencana."
"Hemm, aku sering mendengar dan melihat senjata pemersatu. Tapi
tidak seaneh ini." gumam Pendekar Blo'on Seraya memandang Ki Bersin
"Hemm, aku sering mendengar dan melihat senjata pemersatu. Tapi
tidak seaneh ini." gumam Pendekar Blo'on Seraya memandang Ki Bersin
seakan
menunggu jawaban selanjutnya.
Sapta Dewa segera menjelaskan apa yang
diketahuinya tentang Pedang Penyebar Ben-
cana pada Suro.
"Sulit Rasanya memang sulit sekali.
Jika almarhum raja Jasa Raga tidak pernah menceritakan dimana beliau
Sapta Dewa segera menjelaskan apa yang
diketahuinya tentang Pedang Penyebar Ben-
cana pada Suro.
"Sulit Rasanya memang sulit sekali.
Jika almarhum raja Jasa Raga tidak pernah menceritakan dimana beliau
menyimpan
pedang itu. Pangeran Demak pasti sulit menemukannya,
walau
kepalanya sampai
botak ubanan" kata Suro seenaknya.
"Hasyiim Memang apa yang kau katakan itu dapat kuterima. Namun
botak ubanan" kata Suro seenaknya.
"Hasyiim Memang apa yang kau katakan itu dapat kuterima. Namun
alangkah
baiknya jika kita berusaha menolong Pangeran Demak dan puteri Saba"
"Engkau sendiri hendak ke mana, Ki?"
"Tentu saja mencari adikku Setan Terompet untuk mendengar duduk
"Engkau sendiri hendak ke mana, Ki?"
"Tentu saja mencari adikku Setan Terompet untuk mendengar duduk
persoalan
yang sebenarnya. Jika urusan di tanah Jawa ini selesai, tentu saja
aku
mengajak adikku kembali ke Kutai. Aku tidak tahan berada di sini
berlama-lama,
gerah"
"Cepatlah minggat dari hadapanku, Kakek gila" gerutu Pendekar Blo'on. "Ee...
ternyata tua bangka tukang bersin itu pergi diarn-diam" Di kejauhan Suro
"Cepatlah minggat dari hadapanku, Kakek gila" gerutu Pendekar Blo'on. "Ee...
ternyata tua bangka tukang bersin itu pergi diarn-diam" Di kejauhan Suro
mendengar
suara orang bersin yang semakin lama semakin bertambah
menjauh
untuk kemudian hilang sama sekali. Suro pun tidak perlu
menunggu
lebih lama lagi. Ia segera pergi menuju Lembah Kahuripan.
Tubuhnya tegap bukan main. Tatapan
matanya tajam, setajam mata harimau ganas dalam kegelapan malam. Dia-
Tubuhnya tegap bukan main. Tatapan
matanya tajam, setajam mata harimau ganas dalam kegelapan malam. Dia-
lah Sang
Bala, manusia tinggi besar yang tidak memiliki sifat belas kasih
sebagaimana
layaknya manusia lain pada umumnya. Sang Bala
masih merupakan murid hasil didikan Dewa Kubu. Asal usulnya tidak jelas. Puluhan tahun yang lalu Dewa Kujbu menemukan
Sang Bala di tengah-tengah runtuhan sebuah kota kecil yang porak-
masih merupakan murid hasil didikan Dewa Kubu. Asal usulnya tidak jelas. Puluhan tahun yang lalu Dewa Kujbu menemukan
Sang Bala di tengah-tengah runtuhan sebuah kota kecil yang porak-
poranda
dilanda gempa.
Waktu itu kepalanya retak. Dewa Kubu kemudian mengobati Sang Bala hingga
sembuh. Setelah sembuh ternyata Sang Bala tidak dapat mengingat lagi
Waktu itu kepalanya retak. Dewa Kubu kemudian mengobati Sang Bala hingga
sembuh. Setelah sembuh ternyata Sang Bala tidak dapat mengingat lagi
siapa
dirinya.
Ia bahkan tidak dapat mengingat dari mana asal usulnya. Karena itulah
Ia bahkan tidak dapat mengingat dari mana asal usulnya. Karena itulah
Dewa Kubu
memberinya nama Sang Bala alias Malape-taka alias Bencana
Kini ia tinggal bersama Pangeran
Suprana dan menjadi pimpinan bala tentara kerajaan pula. Laki-laki
Kini ia tinggal bersama Pangeran
Suprana dan menjadi pimpinan bala tentara kerajaan pula. Laki-laki
berumur
empat puluh tahun ini sangat patuh menjalankan perintah. Ia
tidak
bedanya dengan sosok makhluk pembunuh yang sangat mengenkan.
Kesaktiannya sulit dijajaki. Lebih dari itu tubuhnya kebal terhadap
Kesaktiannya sulit dijajaki. Lebih dari itu tubuhnya kebal terhadap
berbagai
jenis senjata. Pagi itu Pangeran Suprana menjumpai tangan
kanannya
itu.
"Salam sejahtera untukmu, saudaraku"
sapa Pangeran Suprana.
"Hemm, aku dalam keadaan sehat-sehat saja. Tidak biasanya kau
"Salam sejahtera untukmu, saudaraku"
sapa Pangeran Suprana.
"Hemm, aku dalam keadaan sehat-sehat saja. Tidak biasanya kau
menjumpai
aku pagi-pagi begini. Ada apa saudaraku raja
nan perkasa?" tanya Sang Bala, suaranya dingin sebagaimana wajah dan
nan perkasa?" tanya Sang Bala, suaranya dingin sebagaimana wajah dan
tatapan
matanya. Iblis Peruntuh Mahkota tidak menanggapinya, sebaliknya ia
matanya. Iblis Peruntuh Mahkota tidak menanggapinya, sebaliknya ia
terus
berjalan menelusuri taman bunga yang luas di samping istana. Sang
Bala
mengikuti Kumbang Pemikat.
"Saudaraku Begitu banyak masalah akhir-akhir ini yang sangat
"Saudaraku Begitu banyak masalah akhir-akhir ini yang sangat
mengganggu
pikiranku. Aku ini seorang raja, bahkan Tuhan dari segala
macam
kesenangan.
Namun hatiku tidak pernah tenang selama mahkota dan Pedang Penyebar
Namun hatiku tidak pernah tenang selama mahkota dan Pedang Penyebar
Bencana
belum berada di tanganku. Pangeran Demak Pati harus segera
ditemukan.
Aku juga ingin menjadikan puteri Saba menjadi permaisuriku
di istana
ini. Untuk itu aku menginginkan bantuanmu secepatnya.
Kerahkan
pasukanmu untuk mencari pedang dan
merampas Mahkota dari tangan Pangeran Demak Pati."
"Apakah kau merasa yakin saudaraku bahwa Pangeran Demak masih
merampas Mahkota dari tangan Pangeran Demak Pati."
"Apakah kau merasa yakin saudaraku bahwa Pangeran Demak masih
hidup
hingga
saat ini?'”
"Kemungkinan itu bisa saja terjadi.
Pangeran Demak Pati punya seribu cara untuk mengelabuhi kita. Aku
saat ini?'”
"Kemungkinan itu bisa saja terjadi.
Pangeran Demak Pati punya seribu cara untuk mengelabuhi kita. Aku
tidak ingin
istana Sorga Dunia ini kelak jatuh ke tangannya" geram
Kumbang
Pemikat sinis.
"Pangeran Suprana, Iblis Peruntuh Mahkota. Demi kejayaan kekuasaanmu,
"Pangeran Suprana, Iblis Peruntuh Mahkota. Demi kejayaan kekuasaanmu,
akumakhluk
Pembantai telah siap melakukan
segala-galanya. Tidak akan ada seorang pun yang mampu menghentikan
segala-galanya. Tidak akan ada seorang pun yang mampu menghentikan
aku. Pula
kau
dapat berbuat leluasa dengan burung langka Elang Perak. Sisa makhluk
dapat berbuat leluasa dengan burung langka Elang Perak. Sisa makhluk
purba itu
dapat mengantarmu kemana pun kau mau"
'Tidak kuragukan apa yang kumiliki, Elang Perak adalah kendaraanku
'Tidak kuragukan apa yang kumiliki, Elang Perak adalah kendaraanku
untuk
menembus langit. Tubuhnya dua kali lebih besar dari burung
Rajawali.
Jika selama ini burung kesayangan hadiah dari guru
itu kupergunakan untuk menculik gadis-gadis yang aku ingini. Tentu dia
itu kupergunakan untuk menculik gadis-gadis yang aku ingini. Tentu dia
akan
lebih berguna bila kugunakan untuk mencari musuh utamaku Ha ha
ha..."
Kumbang Pemikat tergelak-gelak.
"Saudaraku, Tuhan dari segala macam kesenangan kenikmatan di dunia.
"Saudaraku, Tuhan dari segala macam kesenangan kenikmatan di dunia.
Sekarang
aku mohon pamit. Aku hendak memulai
perjalanan ini untuk mencari dua sebab yang meresahkan hatimu. Aku
perjalanan ini untuk mencari dua sebab yang meresahkan hatimu. Aku
hanya
membutuhkan lima orang pengawal untuk mendampingiku.
Sedangkan
yang lain-lainnya biarkan mereka tetap berjaga-jaga di istana."
"Pergilah saudaraku seguru. Aku meres-tuimu..." sahut Pangeran Suprana.
Sang Bala membalikkan tubuhnya, kemu-
dian ia menuju ke halaman depan istana.
Sedangkan Iblis Peruntuh Mahkota tetap berdiri di tempatnya sambil
"Pergilah saudaraku seguru. Aku meres-tuimu..." sahut Pangeran Suprana.
Sang Bala membalikkan tubuhnya, kemu-
dian ia menuju ke halaman depan istana.
Sedangkan Iblis Peruntuh Mahkota tetap berdiri di tempatnya sambil
tersenyum-senyum
seorang diri.
"Apa
yang kuinginkan di dunia ini sudah kudapat. Kehormatan gadis-
gadis
yang cantik, yang hitam-yang putih. Semuanya sudah kurasakan.
Keinginanku
yang belum terkabul adalah mengenai puteri Saba. Sudah
sangat
lama aku merindukan keindahan tubuhnya.
Dia harus menjadi permaisuriku. Kalau dia menolak, hmm..." Iblis
Dia harus menjadi permaisuriku. Kalau dia menolak, hmm..." Iblis
Peruntuh
Mahkota tersenyum sinis. "Aku pasti akan memaksanya,
menelanjanginya
dan memandangi keindahan tubuhnya sehari semalam.
Setelah
itu kurampas apa yang dia miliki. Akan kuruntuhkan mahkotanya
yang
menjadi
simbol kesucian wanita. Kebahagiaanku atas kekuasaanku di dunia ini
simbol kesucian wanita. Kebahagiaanku atas kekuasaanku di dunia ini
tentu
menjadi lengkap setelah mahkota kerajaan dan Pedang Pemersatu itu
telah
berada di tanganku"
Kumbang Pemikat terdiam lagi, ia
kemudian mendongak ke langit. Tiba-tiba saja Pangeran Suprana bersuit
Kumbang Pemikat terdiam lagi, ia
kemudian mendongak ke langit. Tiba-tiba saja Pangeran Suprana bersuit
nyaring.
Entah ditujukan pada siapa tidak begitu jelas? Namun tidak lama kemudian terdengar suara pekikan nyaring di angkasa.
"Hiiiii..."
"Selamat datang sahabatku Selamat datang Elang Perak" seru Iblis
Entah ditujukan pada siapa tidak begitu jelas? Namun tidak lama kemudian terdengar suara pekikan nyaring di angkasa.
"Hiiiii..."
"Selamat datang sahabatku Selamat datang Elang Perak" seru Iblis
Peruntuh
Mahkota. Dengan jelas di angkasa terlihat seekor burung
melayang-layang.
Sosoknya semakin lama semakin bertambah besar ketika
burung
berbulu putih keperak-
perakkan itu merendah. Kepakan sayapnya menimbulkan deru angin yang
perakkan itu merendah. Kepakan sayapnya menimbulkan deru angin yang
sangat
besar bagaikan topan. Debu dan batu-batu kecil beterbangan. Pucuk
pepohonan
terguncang keras.
"Kiiik"
Elang Perak yang memiliki tubuh dua
kali lebih besar dari burung rajawali ini memekik. Lalu kedua kakinya
"Kiiik"
Elang Perak yang memiliki tubuh dua
kali lebih besar dari burung rajawali ini memekik. Lalu kedua kakinya
yang
kokoh
mendarat di atas tembok istana.
"Ha ha ha... Aku manusia perkasa, tidak ada tokoh mana pun yang dapat
mendarat di atas tembok istana.
"Ha ha ha... Aku manusia perkasa, tidak ada tokoh mana pun yang dapat
menandingi
kesaktianku. Kendaraanku juga tidak pernah dimiliki oleh orang lain.
Perkasa adalah kekuasaan, aku telah ciptakan sorga di dunia ini Sorga
Perkasa adalah kekuasaan, aku telah ciptakan sorga di dunia ini Sorga
kenikmatan
yang didambakan oleh setiap laki-laki dan perempuan. Ha ha
ha...
karena aku berkuasa, maka orang lain kecil semuanya.
Aku berkehendak, tidak ada seorang pun yang dapat menghalang-halangi kehendakku
Elang Perak Antar aku mencari apa yang kuinginkan" seru Iblis Peruntuh
Aku berkehendak, tidak ada seorang pun yang dapat menghalang-halangi kehendakku
Elang Perak Antar aku mencari apa yang kuinginkan" seru Iblis Peruntuh
Mahkota
"Kiiiiikh..."
Elang Perak menjerit panjang. Sayapnya
terangkat tinggi. Pangeran Suprana lalu melompat ke arah tembok. Setelah
"Kiiiiikh..."
Elang Perak menjerit panjang. Sayapnya
terangkat tinggi. Pangeran Suprana lalu melompat ke arah tembok. Setelah
itu ia
naik ke punggung burung purba tersebut.
Sayap kembali terkepak menimbulkan suara desis hingar bingar. Tidak
Sayap kembali terkepak menimbulkan suara desis hingar bingar. Tidak
lama
setelah terbang berputar-putar, maka Elang Perak
tersebut membubung tinggi membelah mega.
Apa yang terlihat tadi memang sangat
mencengangkan. Pemuda baju biru hanya dapat pentang mata lebar-lebar,
tersebut membubung tinggi membelah mega.
Apa yang terlihat tadi memang sangat
mencengangkan. Pemuda baju biru hanya dapat pentang mata lebar-lebar,
mulutnya
melongo seakan tidak percaya. Ia yang telah melihat Pangeran
Suprana,
Sang Bala disusul dengan kehadiran Elang Perak seakan terbius
oleh apa
yang dilihatnya. Kini ia hanya dapat garuk-garuk kepala.
"Edan... Pangeran Suprana, anak setan yang mengaku dirinya sebagai
"Edan... Pangeran Suprana, anak setan yang mengaku dirinya sebagai
Tuhan
Sorga Dunia' itu dan Sang Bala saja aku tidak tahu sampai sejauh
mana
kehebatannya.
Dan burung tadi, melihat rentangan sayapnya saja sudah mengerikan. Jika
Dan burung tadi, melihat rentangan sayapnya saja sudah mengerikan. Jika
salah
satu sayap itu mengemplang kepalaku, bukan mustahil aku langsung
mampus.
Ini benar-benar perjuangan yang sangat besar dan berat bagiku.
Gusti
Allah, bagaimana mi...?
Suro garuk-garuk kepala.
Pendekar Blo'on melayangkan pandangan-
nya ke arah istana. Dari atas pohon beringin putih yang sangat tinggi itu ia
Suro garuk-garuk kepala.
Pendekar Blo'on melayangkan pandangan-
nya ke arah istana. Dari atas pohon beringin putih yang sangat tinggi itu ia
dapat
melihat semua kegiatan yang sedang berlangsung di istana tersebut.
"Percuma saja aku menggebuk mereka.
Kalau pun mereka semua mampus, prajurit-
prajurit kerajaan itu cuma kroco-kroco pesing yang tidak ada artinya.
"Percuma saja aku menggebuk mereka.
Kalau pun mereka semua mampus, prajurit-
prajurit kerajaan itu cuma kroco-kroco pesing yang tidak ada artinya.
Sumber
kekuatan adalah dari dua orang pentolannya ditambah dengan
kehadiran
Elang Perak. Urusanku
benar-benar telah berubah menjadi kapiran
Tidak ada kata mundur dalam hidupku
Iblis Peruntuh Mahkota harus kusingkirkan.
Aku yakin dia manusia setengah gila. Tuhan itu gaib, sangat keterlaluan
benar-benar telah berubah menjadi kapiran
Tidak ada kata mundur dalam hidupku
Iblis Peruntuh Mahkota harus kusingkirkan.
Aku yakin dia manusia setengah gila. Tuhan itu gaib, sangat keterlaluan
dan dosa
besar jika dia mengaku-ngaku sebagai Tuhan.
Orang edan, gila, sedeng, gemblung, dan lain-lainnya. Bagaimana pemuda
Orang edan, gila, sedeng, gemblung, dan lain-lainnya. Bagaimana pemuda
keparat
itu bisa sesombong itu. Sedangkan dia terlahir dari mulut
perempuan
yang dibawah. Dari lubang kencing yang bau pesing Hmm..."
Suro menggeram. Untuk pertama kali dalam hidupnya wajah pemuda itu
Suro menggeram. Untuk pertama kali dalam hidupnya wajah pemuda itu
kelam
membesi.
Sepasang matanya tidak Jenaka lagi, melainkan telah berubah merah.
Sepasang matanya tidak Jenaka lagi, melainkan telah berubah merah.
Bibirnya
semakin monyong. Ini merupakan suatu tanda bahwa murid
Malaikat
Berambut Api dan Penghulu Siluman Kera Putih sangat serius.
Saking kesalnya ia bersiul kecil, nadanya sumbang tidak teratur. Lalu
Saking kesalnya ia bersiul kecil, nadanya sumbang tidak teratur. Lalu
terdengar
suara nyanyiannya yang semakin ngaco tidak karuan
juntrungnya.
Kepada keparat laknat
Kulihat setan dalam amarah manusia
Kulihat setan dalam kesombongan manusia Kulihat setan dalam
Kepada keparat laknat
Kulihat setan dalam amarah manusia
Kulihat setan dalam kesombongan manusia Kulihat setan dalam
kedengkian
manusia Kulihat setan dalam kebencian manusia
Kulihat setan dalam ketamakan manusia
Kulihat setan dalam keserakahan manusia Lalu kulihat semua kebusukan
Kulihat setan dalam ketamakan manusia
Kulihat setan dalam keserakahan manusia Lalu kulihat semua kebusukan
dalam
nafsu manusia
Bermula dari tiada, ada, dan kembali pada tiada
Pantaskah manusia sombong dan membang-
gakan diri.
Kecantikan rupa dan ketampanan wajah hanyalah sari pati tanah.
Kepalamu, tanganmu, badanmu, kakimu
kelak menjadi tanah.
Lalu mengapa kau berjalan di muka bumi dengan membusungkan dada
Bermula dari tiada, ada, dan kembali pada tiada
Pantaskah manusia sombong dan membang-
gakan diri.
Kecantikan rupa dan ketampanan wajah hanyalah sari pati tanah.
Kepalamu, tanganmu, badanmu, kakimu
kelak menjadi tanah.
Lalu mengapa kau berjalan di muka bumi dengan membusungkan dada
besar
kepala.
Jika aku mati, semua manusia mati.
Kemana perginya sang Roh.
Aku merenung dalam kehinaan diriku diitadapanNya.
Lalu aku menangis dalam kesunyianNya.
Masihkan ada kebahagiaan lain selain harta, wanita dan anak-anak yang
Jika aku mati, semua manusia mati.
Kemana perginya sang Roh.
Aku merenung dalam kehinaan diriku diitadapanNya.
Lalu aku menangis dalam kesunyianNya.
Masihkan ada kebahagiaan lain selain harta, wanita dan anak-anak yang
dikasihi?
Kelak bila aku mati ada tiga hal yang kutinggalkan, cuma satu yang
Kelak bila aku mati ada tiga hal yang kutinggalkan, cuma satu yang
menyertaiku
di dalam kubur....
Hartaku yang menumpuk, keluargaku yang kucinta mustahil ikut serta
Hartaku yang menumpuk, keluargaku yang kucinta mustahil ikut serta
dalam
kubur.
Hanya amal perbuatanku yang setia mene-maniku dalam kuburku
Masihkah aku dapat sombong bila kematian datang pasti?
Aku merenung dalam kebodohanku
Lalu kurasakan ketidak sempurnaanku...
sebagai manusia
Suara Pendekar Blo'on yang tidak
beraturan itu tentu saja memancing perhatian para prajurit kerajaan.
Hanya amal perbuatanku yang setia mene-maniku dalam kuburku
Masihkah aku dapat sombong bila kematian datang pasti?
Aku merenung dalam kebodohanku
Lalu kurasakan ketidak sempurnaanku...
sebagai manusia
Suara Pendekar Blo'on yang tidak
beraturan itu tentu saja memancing perhatian para prajurit kerajaan.
Mereka
segera berlompatan menuju ke arah datangnya suara. Salah
seorang
di antaranya yang berbadan tinggi besar membentak.
"Kau siapa? Turun cepat"
Suro cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. "Aku ini manusia seperti
"Kau siapa? Turun cepat"
Suro cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. "Aku ini manusia seperti
kalian
juga. Masih perjaka tapi cari perkara" sahut si konyol seenaknya.
"Aku
ingin kasih pesan para raja kalian yang gemblung itu.
Sebaiknya lepaskan perempuan di dalam istana yang menjadi budak
Sebaiknya lepaskan perempuan di dalam istana yang menjadi budak
nafsunya
itu.
Sudah itu berhenti mengaku diri sebagai Tuhan, tinggalkan istana dan
Sudah itu berhenti mengaku diri sebagai Tuhan, tinggalkan istana dan
buang
pula angan-angannya yang muluk itu"
"Bangsat Rupanya dirimu itu siapa kunyuk baju biru?"
"Aku adalah orang yang akan menghancurkan ambisi rajamu"
"Keparat betul Kawan-kawan tangkap dia" perintah perwira kerajaan
"Bangsat Rupanya dirimu itu siapa kunyuk baju biru?"
"Aku adalah orang yang akan menghancurkan ambisi rajamu"
"Keparat betul Kawan-kawan tangkap dia" perintah perwira kerajaan
ditujukan
pada kawan-kawannya.
Perintah itu segera disambut teriakan teriakan keras prajurit lainnya.
Perintah itu segera disambut teriakan teriakan keras prajurit lainnya.
Karena
Pendekar konyol Mandau Jantan ini berada di atas pohon. Maka
sulitlah
bagi mereka untuk menjangkaunya. Beberapa diantaranya
langsung
memanjat pohon tersebut melalui akar nafas pohon beringin
yang
menjulur ke tanah. Namun ada juga yang tidak
sabaran dan langsung melepaskan anak panah ke arah pemuda itu.
Suro tersenyum mengejek sambil melom-
pat-lompat di atas pohon seperti seekor monyet yang' bergelayutan dan
sabaran dan langsung melepaskan anak panah ke arah pemuda itu.
Suro tersenyum mengejek sambil melom-
pat-lompat di atas pohon seperti seekor monyet yang' bergelayutan dan
berpindah
dari satu dahan ke dahan lainnya.
Dalam hal ini tentu dia sangat ahli,
karena pemuda ini didikan langsung Penghulu Siluman Kera Putih
Dalam hal ini tentu dia sangat ahli,
karena pemuda ini didikan langsung Penghulu Siluman Kera Putih
penguasa
kera-kera siluman di gunung Mahameru.
"Pesan telah kusampaikan, aku tidak mau mengotori tangan dengan darah
"Pesan telah kusampaikan, aku tidak mau mengotori tangan dengan darah
kalian
Sampai jumpa..." gumam Suro. Tiba-tiba ia bergerak menuruni pohon
Sampai jumpa..." gumam Suro. Tiba-tiba ia bergerak menuruni pohon
tersebut,
gerakannya cepat sekali. Hingga dalam waktu singkat pemuda
konyol
ini telah hilang dari pandangan mata.
"Kejar" seru salah seorang prajurit.
"Jangan, percuma saja?" cegah Perwira berbadan jangkung. "Nanti jika
"Kejar" seru salah seorang prajurit.
"Jangan, percuma saja?" cegah Perwira berbadan jangkung. "Nanti jika
paduka
kembali kita laporkan apa yang kita saksikan"
Tidak seorang prajurit pun yang berani membantah perintah Perwira.
Tidak seorang prajurit pun yang berani membantah perintah Perwira.
Mereka
akhirnya kembali ke tempatnya masing-masing Telaga Sender di
senja itu
tampak sunyi.
Airnya yang jernih membuat ikan-ikan yang hidup di dalamnya terlihat
Airnya yang jernih membuat ikan-ikan yang hidup di dalamnya terlihat
dengan
jelas.
Berjalan ke bagian hulu telaga sejarak
Pancuran Dewa. Dari balik Pancuran Dewa itulah orang luar tidak pernah
Berjalan ke bagian hulu telaga sejarak
Pancuran Dewa. Dari balik Pancuran Dewa itulah orang luar tidak pernah
tahu
bahwa ada seorang pertapa bergelar Dewa Petir berdiam di balik air
terjun
selama belasan tahun. Dewa Petir tokoh aneh yang tidak pernah
berpihak
pada aliran mana pun.
Ketika masih malang melintang di rimba
persilatan dulu tidak jarang ia berpihak pada orang-orang persilatan aliran
Ketika masih malang melintang di rimba
persilatan dulu tidak jarang ia berpihak pada orang-orang persilatan aliran
hitam,
tapi di lain waktu bisa saja ia membela golongan lurus. Watak laki-
laki
bertubuh tambun berambut putih ini sulit ditebak, angin-anginan dan
terkesan
seperti orang yang kurang waras. Pada masa itu jarang sekali
tokoh
rimba persilatan di tanah Jawa yang mengenalnya. Terkadang ia
muncul
dalam waktu tertentu dan tidak terduga-duga.
Dulu Dewa Petir punya kebiasaan jelek,
ia sering melakukan pencurian dan juga mencopet pejabat-pejabat tinggi kerajaan.
Sehingga ia juga dyuluki Dewa Copet, atau Dewa Maling.
Belasan tahun mengasingkan diri di
Telaga Sider, ia juga mempunyai seorang murid perempuan yang cantik rupawan.
Namanya Gadis, dan perempuan itu sebagaimana gurunya punya
Dulu Dewa Petir punya kebiasaan jelek,
ia sering melakukan pencurian dan juga mencopet pejabat-pejabat tinggi kerajaan.
Sehingga ia juga dyuluki Dewa Copet, atau Dewa Maling.
Belasan tahun mengasingkan diri di
Telaga Sider, ia juga mempunyai seorang murid perempuan yang cantik rupawan.
Namanya Gadis, dan perempuan itu sebagaimana gurunya punya
kebiasaan
sangat buruk, kolokan/manja dan juga sangat cerdik.
Sejak Gadis berhasil mempelajari jurus-
jurus dahsyat Dewa Petir dan juga mempelajari ilmu mencopet kelas
Sejak Gadis berhasil mempelajari jurus-
jurus dahsyat Dewa Petir dan juga mempelajari ilmu mencopet kelas
tertinggi.
Wanita cantik ini boleh dikata hampir jarang tinggal bersama
gurunya.
Beberapa purnama bisa saja ia bergentayangan di kota-kota,
untuk
kemudian kembali dengan membawa berbagai jenis barang curian.
Senja itu angin dingin berhembus. Di
dalam telaga tampak seorang gadis berkulit kuning langsat berenang kian
Senja itu angin dingin berhembus. Di
dalam telaga tampak seorang gadis berkulit kuning langsat berenang kian
kemari.
Sesekali terdengar suara nyanyiannya yang merdu. Namun suaranya
Sesekali terdengar suara nyanyiannya yang merdu. Namun suaranya
kemudian
terhenti saat ia mendengar suara caci maki dari balik air terjun.
"Ini sudah waktunya. Barang langka itu harus ditemukan, mengapa hanya
"Ini sudah waktunya. Barang langka itu harus ditemukan, mengapa hanya
bersenang-senang,
cepat kembali"
Wanita berwajah ayu itu menggeliatkan
tubuhnya dengan malas. Tanpa bicara apa-apa dia berenang menepi untuk
Wanita berwajah ayu itu menggeliatkan
tubuhnya dengan malas. Tanpa bicara apa-apa dia berenang menepi untuk
menghampiri
pakaiannya. Tanpa merasa curiga apa-apa, gadis yang
punya
nama Gadis ini naik ke tebing telaga. Betapa tubuhnya sangat indah
sekali,
dadanya mencuat kencang, pinggulnya yang mulus itu pasti
membuat
laki-laki jadi jelalatan.
Gadis mengenakan pakaiannya. Tidak
lama ia segera meninggalkan telaga dan berlari cepat menerobos air terjun.
Gadis mengenakan pakaiannya. Tidak
lama ia segera meninggalkan telaga dan berlari cepat menerobos air terjun.
Di balik
air terjun ternyata terdapat sebuah gua
besar yang seluruh dindingnya berwarna putih seperti terbalut es. Di
besar yang seluruh dindingnya berwarna putih seperti terbalut es. Di
tengah-tengah
ruangan terdapat sebuah pelita kecil. Di belakang pelita
itulah
terlihat seorang laki-laki tua bertubuh tambun duduk bersila dengan
mata
terpejam.
"Guru memanggilku?" tanya Gadis, matanya yang indah melirik pada
"Guru memanggilku?" tanya Gadis, matanya yang indah melirik pada
gurunya.
Kakek rambut putih buka matanya. Mata itu berwarna kemerah-merahan
Kakek rambut putih buka matanya. Mata itu berwarna kemerah-merahan
seperti
orang yang kurang tidur.
"Bocah bengal Sejak siang tadi kau mandi terus di telaga. Apa kau mau
"Bocah bengal Sejak siang tadi kau mandi terus di telaga. Apa kau mau
pamer
tubuh pada ikan-ikan itu? Duduklah disini, aku punya tugas
penting
untukmu" kata Dewa Petir.
"Aku mau tetap berdiri. Kuharap Guru tidak memaksa" sahut Gadis
"Aku mau tetap berdiri. Kuharap Guru tidak memaksa" sahut Gadis
dengan
wajah cemberut.
"Murid Edan Kalau aku tidak sayang padamu, tubuh bagusmu sudah
"Murid Edan Kalau aku tidak sayang padamu, tubuh bagusmu sudah
kubikin
hangus. Kau tetap keras kepala, ingin aku tahu bagaimana nanti
jika kau
jatuh cinta pada seorang pemuda Ha ha ha..."
"Huh, aku bukan perempuan lemah yang mudah jatuh cinta. Lagipula aku
"Huh, aku bukan perempuan lemah yang mudah jatuh cinta. Lagipula aku
bisa saja
mengatur orang yang kucinta sesuai dengan kehendakku.
Sekarang
jangan Bebut-sebut persoalan cinta Aku tidak suka
mendengarnya"
sahut si baju hitam semakin sewot.
"Semakin kau membantahku, ingin cepat-cepat rasanya aku punya mantu"
"Guru Kalau kau tetap bicara tidak karuan. Jangan salahkan aku jika aku
"Semakin kau membantahku, ingin cepat-cepat rasanya aku punya mantu"
"Guru Kalau kau tetap bicara tidak karuan. Jangan salahkan aku jika aku
pergi
lagi"
Si kakek gelengkan kepala pelan.
"Muridku kau dengarlah Dalam mimpiku aku melihat orang-orang
Si kakek gelengkan kepala pelan.
"Muridku kau dengarlah Dalam mimpiku aku melihat orang-orang
mendaki
bukit.
Aku melihat di atas bukit pancaran cahaya api. Kemudian aku melihat
Aku melihat di atas bukit pancaran cahaya api. Kemudian aku melihat
orang-orang
saling bunuh memperebutkan sebuah senjata Pemersatu.
Kulihat
pula seorang raja, tapi dia sebenarnya bukan raja. Kemudian aku
melihat
orang-orang aneh. Aku ingin kau menyelidik. Jika persoalan sudah
jelas,
maka kau kembali kesini secepatnya. Atau kau atasi keadaan dan
ambil
pedang yang menjadi rebutan. Aku ingin mempunyai koleksi senjata
yang
bagus. Seperti pedang yang kulihat dalam mimpiku itu" jelas Dewa
Petir.
"Hmm, Guru bicara tidak karu-karuan juntrungnya. Tidak pula jelas ujung
"Hmm, Guru bicara tidak karu-karuan juntrungnya. Tidak pula jelas ujung
pang-kalnya.
Aku jadi tidak tahu"
"Pedang itu milik kerajaan Kahuripan.
Karena suatu sebab pemiliknya menyimpan senjata itu di puncak bukit.
"Pedang itu milik kerajaan Kahuripan.
Karena suatu sebab pemiliknya menyimpan senjata itu di puncak bukit.
Tempatnya
secara pasti aku tidak tahu. Itulah sebabnya kau harus
menyelidik"
"Apakah kabar ini baru Guru saja yang tahu?"
"Huh, rupanya kau tuli" Kakek tambun mendengus. "Tadi sudah
"Apakah kabar ini baru Guru saja yang tahu?"
"Huh, rupanya kau tuli" Kakek tambun mendengus. "Tadi sudah
kukatakan
dalam mimpi itu aku melihat orang-orang saling bunuh. Ada
tentara
kerajaan, tokoh-tokoh sakti dan masih banyak lagi yang lain-
lainnya.
Apakah sekarang kau sudah mengerti?"
"Guru, aku tidak tertarik dengan segala macam pedang. Aku lebih suka
"Guru, aku tidak tertarik dengan segala macam pedang. Aku lebih suka
perhiasan,
permata dan juga batu-batu zambrut biru.
Kalau kau menghendaki pedang itu lebih baik kau cari sendiri. Bagaimana
Kalau kau menghendaki pedang itu lebih baik kau cari sendiri. Bagaimana
pun selera
laki-laki dan perempuan berbeda"
"Diaam Setan betul" Dewa Petir tampak sangat marah sekali. "Selama ini
"Diaam Setan betul" Dewa Petir tampak sangat marah sekali. "Selama ini
aku
sangat memanjakanmu. Sehingga kau tidak dapat membedakan mana
tugas
mana perintah
Apa yang baru saja kukatakan adalah perintahku Jangan sekali-kali kau
Apa yang baru saja kukatakan adalah perintahku Jangan sekali-kali kau
bantah
apalagi mencela" hardik Dewa Petir.
"Dulu Guru maling, aku maling Dulu bapak moyangnya Guru copet aku juga
copet.
Kita sama-sama maling, sama-sama
pencopet
pula. Terlanjur aku berhutang budi padamu, maka perintahmu akan ku
"Dulu Guru maling, aku maling Dulu bapak moyangnya Guru copet aku juga
copet.
Kita sama-sama maling, sama-sama
pencopet
pula. Terlanjur aku berhutang budi padamu, maka perintahmu akan ku
laksanakan"
"Ha ha ha Ternyata kau seorang murid yang punya guna juga. Tidak
"Ha ha ha Ternyata kau seorang murid yang punya guna juga. Tidak
percuma
aku menceboki kau sejak kecil Nah Maling Jenaka alias Maling
Cerdik
Pergilah, semoga
usahamu tidak mengecewakan aku"
"Baiklah, tapi satu yang kuminta. Jika
" sudah sepekan aku tidak kembali harap kau menyusulku"
'Tentu saja. Aku akan lihat nanti apa
yang dapat kau lakukan setelah kudidik selama bertahun-tahun"
Gadis tidak menghiraukan kata-kata
gurunya lagi Seraya langsung berbalik, lalu berkelebat pergi menerobos air
usahamu tidak mengecewakan aku"
"Baiklah, tapi satu yang kuminta. Jika
" sudah sepekan aku tidak kembali harap kau menyusulku"
'Tentu saja. Aku akan lihat nanti apa
yang dapat kau lakukan setelah kudidik selama bertahun-tahun"
Gadis tidak menghiraukan kata-kata
gurunya lagi Seraya langsung berbalik, lalu berkelebat pergi menerobos air
terjun
yang terdapat di depan mulut gua.
"Sepertinya tempat ini pernah di huni oleh manusia" Membatin laki-laki
"Sepertinya tempat ini pernah di huni oleh manusia" Membatin laki-laki
bertubuh
sangat tegap itu dalam hati. "Rasanya tidak salah dugaanku.
Lorong di
bawah tanah mi memang pernah di pergunakan untuk temnat
tinggal
selama bertahun-tahun. Meneara prajurit kerajaan tidak seorang
pun yang tahu?"
Laki-laki tinggi besar menggerTampak marah.
"Kalian yang mengikuti aku Cepat kalian periksa sepanjang lorong ini Jika
"Kalian yang mengikuti aku Cepat kalian periksa sepanjang lorong ini Jika
ada orang
di dalam sana tangkap dan cepat lapor padaku"
Lima orang pengawal pilihan yang
menyertai Sang Bala langsung bergerak melakukan pemeriksaan. Tidak
Lima orang pengawal pilihan yang
menyertai Sang Bala langsung bergerak melakukan pemeriksaan. Tidak
sampai
sepe-makan sirih mereka sudah keluar lagi menjumpai Sang Bala.
Salah
seorang di antara mereka menggelengkan kepala.
"Tidak ada siapa-siapa di dalam sana, Panglima. Kami menunggu perintah
"Tidak ada siapa-siapa di dalam sana, Panglima. Kami menunggu perintah
selanjutnya"
Alat pembunuh Pangeran Suprana tam-
pak kecewa. Ia memandang ke upuk barat.
Ketika itu matahari sudah hampir tenggelam.
"Aku tidak mau mengulur-ulur waktu.
Aku rasa orang-orang yang pernah tinggal disini adalah Pangeran Buronan
Alat pembunuh Pangeran Suprana tam-
pak kecewa. Ia memandang ke upuk barat.
Ketika itu matahari sudah hampir tenggelam.
"Aku tidak mau mengulur-ulur waktu.
Aku rasa orang-orang yang pernah tinggal disini adalah Pangeran Buronan
Demak
Pati.
Mereka telah pergi. Tapi melihat sisa-sisa makanan yang ada kurasa
Mereka telah pergi. Tapi melihat sisa-sisa makanan yang ada kurasa
mereka
belum
jauh dari sini Sebaiknya kita ikuti jejak-jejak kaki ini"
"Panglima, sudah dua malam kita tidak tidur dan tidak istirahat sama
jauh dari sini Sebaiknya kita ikuti jejak-jejak kaki ini"
"Panglima, sudah dua malam kita tidak tidur dan tidak istirahat sama
sekali.
Apakah tidak sebaiknya kita bermalam di sini?"
Usul salah seorang pengawal. Mata dingin yang selalu menyorot tajam itu
memandang lurus pada anak buahnya.
"Aku pemimpin kalian. Aku tidak pernah mengantuk. Siapa yang ingin
Usul salah seorang pengawal. Mata dingin yang selalu menyorot tajam itu
memandang lurus pada anak buahnya.
"Aku pemimpin kalian. Aku tidak pernah mengantuk. Siapa yang ingin
bermalam
silakan Dengan syarat kepala kalian kubawa untuk di hadapkan
pada raja
Sorga Dunia"
Maka menggigillah sekujur tubuh pengawal itu. Ia tidak berani berkutik. Ia
Maka menggigillah sekujur tubuh pengawal itu. Ia tidak berani berkutik. Ia
sadar
betul Sang Bala meskipun manusia, namun tidak
bedanya dengan sang pembunuh berdarah dingin Dalam melakukan
bedanya dengan sang pembunuh berdarah dingin Dalam melakukan
pembunuhan
dia tidak pernah pandang bulu. Siapa pun orangnya baik
kawan
maupun lawan bila sudah tidak berkenan di hatinya pasti
dibunuhnya.
"Siapa yang masih ingin hidup, cepat jalan di depan" Suara Sang Bala yang
dibunuhnya.
"Siapa yang masih ingin hidup, cepat jalan di depan" Suara Sang Bala yang
serak
membuat tengkuk para pengikutnya meremang berdiri. Kegelapan
mulai
menyelimuti alam sekitarnya ketika Sang Bala dan anak buahnya
meninggalkan
lembah Ciujung.
Sementara itu pada waktu yang sama,
tampak Serombongan pengemis telah sampai di sebuah kota kecil Cepu.
Sementara itu pada waktu yang sama,
tampak Serombongan pengemis telah sampai di sebuah kota kecil Cepu.
Meskipun
hanya merupakan sebuah kota yang terpencil, di malam hari itu
cukup
ramai. Banyak penjual makanan berdagang di pinggir jalan.
"Ki Jarot" kata pengemis muda berwajah lucu "Kita harus mencari
"Ki Jarot" kata pengemis muda berwajah lucu "Kita harus mencari
makanan,
setelah itu kita cari sebuah penginapan pula»"
Laki-laki paling tua dalam kelompok itu mencegah.
"Tidak usah cari penginapan, Pang eh Aden. Tidak ada pengemis yang
Laki-laki paling tua dalam kelompok itu mencegah.
"Tidak usah cari penginapan, Pang eh Aden. Tidak ada pengemis yang
menginap
di rumah-rumah mewah. Mata-mata Pangeran Suprana tersebar
di
mana-mana. Keme-wahan tidak sepadan dengan penyamaran kita
sebagai
pengemis" jelas Ki Jarot tanpa maksud menggurui.
"Lalu kita tidur dimana? Di emperan pasar, atau tidur bersama kerbau dan
"Lalu kita tidur dimana? Di emperan pasar, atau tidur bersama kerbau dan
kuda
milik orang kaya disini?"
"Tentu saja tidak, Den. Nanti setelah kita membeli makanan. Kita bisa
"Tentu saja tidak, Den. Nanti setelah kita membeli makanan. Kita bisa
melewatkan
malam di luar kota."
"Mengapa kita hidup seperti diburu-buru setan?" Gadis berpakaian
"Mengapa kita hidup seperti diburu-buru setan?" Gadis berpakaian
tambal-tambalan
yang berada di samping pemuda itu mengeluh.
"Ini suratan takdir, Den putri." menyahuti kakek berbaju hitam tambal-
"Ini suratan takdir, Den putri." menyahuti kakek berbaju hitam tambal-
tambalan.
"Pangeran Suprana menyebar mata-mata di setiap tempat sebagaimana
"Pangeran Suprana menyebar mata-mata di setiap tempat sebagaimana
yang
dikatakan oleh Ki Jarot tadi. Aku sendiri bersama Ki Pacul tadi siang
juga
hampir mata-mata kerajaan. Untung mereka tidak mengenali aku"
"Lalu sekarang bagaimana?” tanya pemu da lucu yang tidak lain adalah
"Lalu sekarang bagaimana?” tanya pemu da lucu yang tidak lain adalah
Pangeran
Demak Pati.
"Aku, Ki Palang dan Ki Pacul yang membeli makanan. Sedangkan Adon
"Aku, Ki Palang dan Ki Pacul yang membeli makanan. Sedangkan Adon
Dengan Den
putri menunggu di kegelapan sana.
Aku takut kehadiran kita memancing perhatian orang lain. Warung-
Aku takut kehadiran kita memancing perhatian orang lain. Warung-
warung di
sini penuh sesak. Jika pun sampai terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan
pada kami. Masih ada kesempatan bagi Aden berdua
meloloskan diri" tegas Ki Jarot.
Betapa terharu hati Pangeran Demak
dan puteri Saba mendengar ucapan bekas abdi istananya itu. Mereka
meloloskan diri" tegas Ki Jarot.
Betapa terharu hati Pangeran Demak
dan puteri Saba mendengar ucapan bekas abdi istananya itu. Mereka
begitu
setia dan rela mengorbankan nyawa untuk melindungi keselamatan
Pangeran
dan puteri kerajaan Kahuripan atau yang lebih dikenal dengan
kerajaan Pasundan.
"Baiklah, Paman. Berhati-hatilah Kalau pun sampai terjadi apa-apa dengan
kerajaan Pasundan.
"Baiklah, Paman. Berhati-hatilah Kalau pun sampai terjadi apa-apa dengan
kalian. Tidak
nantinya kami meninggalkan Paman semua begitu saja. Kita
sudah
saling berikrar, berat sama di pikul, aku tidak mau menjadi manusia
pengecut"
tegas Pangeran Demak alias Pendekar Kucar Kacir serius.
"Aden, pengabdian kami bukanlah apa-apa. Kami telah melakukan apa
"Aden, pengabdian kami bukanlah apa-apa. Kami telah melakukan apa
saja asal
Aden dapat menguasai kerajaan kembali"
"Ssst Aku takut pembicaraan kita didengar oleh orang lain" kata si gadis
"Ssst Aku takut pembicaraan kita didengar oleh orang lain" kata si gadis
Pengemis
khawatir. Ki Jarot segera memberi isyarat pada dua orang
kawannya.
MereKa menuju ke warung terdekat dimana Pangeran Demak
Pati dan
adiknya menunggu.
Baru sampai di depan warung dan belum
sempat bicara apa-apa. Pemilik warung sudah mengusirnya.
"Hei pengemis-pengemis bau, pergilah
Kehadiran kalian hanya menghilangkan selera langganan kami" bentaknya
Baru sampai di depan warung dan belum
sempat bicara apa-apa. Pemilik warung sudah mengusirnya.
"Hei pengemis-pengemis bau, pergilah
Kehadiran kalian hanya menghilangkan selera langganan kami" bentaknya
tidak
ramah.
"Tunggu dulu Pak tua Kami bukan mau meminta makananmu secara gratis.
Kami mau beli. Ini uangnya..." Ki Jarot menyodorkan sekeping uang perak.
"Tunggu dulu Pak tua Kami bukan mau meminta makananmu secara gratis.
Kami mau beli. Ini uangnya..." Ki Jarot menyodorkan sekeping uang perak.
Pemilik
warung belalakkan mata seakan tidak percaya.
* *
Dengan penuh suka cita, pak tua pemilik
warung tanpa banyak bicara lagi langsung menyediakan makanan yang
* *
Dengan penuh suka cita, pak tua pemilik
warung tanpa banyak bicara lagi langsung menyediakan makanan yang
dipesan
oleh
Ki Jarot. Ketiga laki-laki tua ini setelah menerima pesanan mereka
Ki Jarot. Ketiga laki-laki tua ini setelah menerima pesanan mereka
langsung
bergegasmenuju kegelapan malam. Baru saja ketiganya
menghilang
dari pandangan mata.
Terdengar suara derap langkah kuda. Lima orang laki-laki berpakaian
Terdengar suara derap langkah kuda. Lima orang laki-laki berpakaian
prajurit
kerajaan di sertai seorang laki-laki berbadan besar muncul dengan
kuda-kuda
mereka. Salah
seorang prajurit melompat turun, masuk ke dalam warung dengan tergesa-
seorang prajurit melompat turun, masuk ke dalam warung dengan tergesa-
gesa.
Pemilik warung begitu melihat siapa yang datang langsung bergegas
menghampiri.
"Tu... Tuan apa yang dapat kami lakukan untuk Tuan? Kebetulan sekali
"Tu... Tuan apa yang dapat kami lakukan untuk Tuan? Kebetulan sekali
persediaan
makanan kami masih banyak" Pak tua menghampiri dengan
tubuh
terbungkuk-bungkuk.
"Aku tidak membutuhkan makananmu
Aku ingin tanya padamu apakah ada orang asing melewati kota kecil ini?
"Aku tidak membutuhkan makananmu
Aku ingin tanya padamu apakah ada orang asing melewati kota kecil ini?
JanRan
coba-coba berdusta kalau tidak ingin kupeng-gal batang lehermu"
gertak
pengawal angkuh. Maka menggigillah tubuh pak tua'
Dengan gugup ia menjawab. "Tiada seorang pun orang asing lewat sini,
Tuan
prajurit.
Sebentar tadi ada tiga orang pengemis
membeli makanan dengan uang perak"
jelasnya.
Kening pengawal itu mengerenyit dalam.
"Mustahil pengemis bisa memiliki uang perak. Orang memberi sedekah
Sebentar tadi ada tiga orang pengemis
membeli makanan dengan uang perak"
jelasnya.
Kening pengawal itu mengerenyit dalam.
"Mustahil pengemis bisa memiliki uang perak. Orang memberi sedekah
biasanya
dengan Uang kepeng. Aku harus lapor pada Panglima"
membatin
prajurit itu.
Tidak lama ia telah membalikkan
tubuhnya, menghampiri Panglima yang duduk dengan sikap tidak sabar
Tidak lama ia telah membalikkan
tubuhnya, menghampiri Panglima yang duduk dengan sikap tidak sabar
di atas
pelana kudanya.
"Bagaimana?"
"Hanya ada tiga orang pengemis yang belanja di warungnya dengan uang
"Bagaimana?"
"Hanya ada tiga orang pengemis yang belanja di warungnya dengan uang
perak,
Tuan Panglima"
"Hmm, pada saat seperti ini jangankan pengemis, monyet budukan pun
"Hmm, pada saat seperti ini jangankan pengemis, monyet budukan pun
perlu
dicurigai Mari kita susul mereka " Panglima segera menggebrak
kudanya
Lima orang
pengikutnya segera menyusul. Karena suasana dalam keadaan gelap.
pengikutnya segera menyusul. Karena suasana dalam keadaan gelap.
Matai
matan itu mereka tidak menemukan kelompok pengemis yang
mereka
curigai. Namun Sang Bala tidak putus asa. Keesokan paginya
mereka
masih berputar-putar di luar kota Cepu.
Sementara itu di pinggir sebuah sungai Pangeran Demak alias Pendekar
Sementara itu di pinggir sebuah sungai Pangeran Demak alias Pendekar
Kucar
Kacir baru saja selesai membasuh mukanya.
Sedangkan Ki Jarot, Ki Palang dan Ki Pacul tampak sibuk menyediakan makanan
untuk kedua putera raja tersebut.
"Perjalanan ke Sembuang masih jauh lagi, Ki. Kita tidak boleh membuang-
Sedangkan Ki Jarot, Ki Palang dan Ki Pacul tampak sibuk menyediakan makanan
untuk kedua putera raja tersebut.
"Perjalanan ke Sembuang masih jauh lagi, Ki. Kita tidak boleh membuang-
buang
waktu. Kejab lagi perjalanan segera kita teruskan" ujar Pendekar
Kucar
Kacir sambil menghirup sisa-sisa kopi di dalam cangkir tanah liat.
"Mengapa kita pergi ke Sembuang. Yang saya tahu di sana hanyalah
"Mengapa kita pergi ke Sembuang. Yang saya tahu di sana hanyalah
sebuah
bukit dengan hutan-hutannya yang sangat lebat"
Ki Jarot menanggapi.
"Ya... hanya bukit saja memang. Tapi aku ingat dulu ayahanda sering
Ki Jarot menanggapi.
"Ya... hanya bukit saja memang. Tapi aku ingat dulu ayahanda sering
berburu
dan bersunyi diri di sana. Firasatku mengatakan di sanalah Prabu menyimpan
pusaka pemersatu Pedang Penyebar Ben-
cana" Ki Jarot tidak menanggapi. Ia mendengar suara langkah kuda
pusaka pemersatu Pedang Penyebar Ben-
cana" Ki Jarot tidak menanggapi. Ia mendengar suara langkah kuda
menuju ke
arah mereka.
"Ada orang kemari, sebaiknya kita sembunyi saja" kata Ki Jarot.
"Mengapa harus sembunyi, kita ini pengemis Kita lihat saja siapa yang
"Ada orang kemari, sebaiknya kita sembunyi saja" kata Ki Jarot.
"Mengapa harus sembunyi, kita ini pengemis Kita lihat saja siapa yang
datang"
sergah puteri Saba mencoba bersikap tabah Karena yang bicara adalah
sergah puteri Saba mencoba bersikap tabah Karena yang bicara adalah
junjungan
mereka, maka Ki Jarot tidak berani memaksa kehendaknya sendiri. Tidak
mereka, maka Ki Jarot tidak berani memaksa kehendaknya sendiri. Tidak
lama
kemudian muncullah prajurit kerajaan dan juga Sang Bala. Pendekar
Kucar
Kacir tampak kaget juga melihat kemunculan mereka. Namun
sebentar
saja mereka sudah dapat menguasai
diri dan bersikap acuh tak acuh. Sang Bala meneliti wajah mereka satu
diri dan bersikap acuh tak acuh. Sang Bala meneliti wajah mereka satu
persatu.
Keningnya mengerut dalam ketika melihat cangkir rnilik
kelompok
pengemis tersebut. Cangkir itu jelas cangkir milik kerajaan.
Setelah
terpisah sepuluh tahun Sang Bala memang tidak dapat mengenali
wajah
orang-orang yang diburunya. Karena di antara mereka sudah
banyak
yang berubah, baik rupa maupun dandanan mereka.
"Kalian kelompok pengemis dapat cangkir mewah dari mana?"
Pertanyaan Sang Bala benar-benar mem-
buat kaget para pengemis ini. Sial. Mereka tadi tidak sempat membuang
"Kalian kelompok pengemis dapat cangkir mewah dari mana?"
Pertanyaan Sang Bala benar-benar mem-
buat kaget para pengemis ini. Sial. Mereka tadi tidak sempat membuang
cangkir
mereka.
Ki Jarot bangkit berdiri. "Cangkir ini hadiah dari seorang Pangeran
Ki Jarot bangkit berdiri. "Cangkir ini hadiah dari seorang Pangeran
kerajaan
belasan tahun yang lalu." sahut Ki Jarot berbohong
"Seorang Pangeran begitu bermurah hati menghadiahkan cangkir pada
"Seorang Pangeran begitu bermurah hati menghadiahkan cangkir pada
kalian?
Hebat betul “
Waktu itu Pangeran memerlukan kuda
untuk sebuah perjalanan yang sangat jauh.
Karena kehabisan bekal mereka memberi kami cangkir sebagai upah
Waktu itu Pangeran memerlukan kuda
untuk sebuah perjalanan yang sangat jauh.
Karena kehabisan bekal mereka memberi kami cangkir sebagai upah
mencarikan
kuda"
Sang Bala manggut-manggut, jawaban
pengemis tua ini memang masuk di akal.
Mungkin yang dimaksudkan oleh pengemis
ini adalah Pangeran Buronan dan adiknya.
Kalau begitu mereka pergi jauh dari wilayah
Pasundan. Tapi bila melihat salah seorang dari pengemis itu adalah
Sang Bala manggut-manggut, jawaban
pengemis tua ini memang masuk di akal.
Mungkin yang dimaksudkan oleh pengemis
ini adalah Pangeran Buronan dan adiknya.
Kalau begitu mereka pergi jauh dari wilayah
Pasundan. Tapi bila melihat salah seorang dari pengemis itu adalah
seorang
perempuan dan seorang pemuda. Sang Bala menjadi curiga. Siapa
tahu
kedua orang yang menyertai para pengemis itu orang yang mereka cari?
"Pengemis Aku hampir percaya dengan keteranganmu. Tapi setiap sesuatu
"Pengemis Aku hampir percaya dengan keteranganmu. Tapi setiap sesuatu
perlu
diteliti kebenarannya. Tampaknya kalian bukan pengemis biasa"
dengus
Panglima itu. Ia kemudian memberi isyarat pada para
pengawalnya
untuk menggeledah para
pengemis itu.
Melihat gelagat yang tidak baik ini, Ki Jarot dan juga Pangeran Demak Pati
pengemis itu.
Melihat gelagat yang tidak baik ini, Ki Jarot dan juga Pangeran Demak Pati
segera
bersikap waspada. Baru saja para prajurit ini hampir menyentuh
tubuh
para pengemis.
Ki Jarot, Ki Palang dan Ki Pacul bertindak cepat. Tangan berkelebat.
Ki Jarot, Ki Palang dan Ki Pacul bertindak cepat. Tangan berkelebat.
Gerakan
itu sama sekali di luar dugaan. Empat orang prajurit menjerit
kesakitan.
Mereka roboh dengan leher tertembus pedang pendek di tangan
ketiga
pengemis tua tersebut. Satu prajurit lagi yang memeriksa Pangeran
Demak
juga mengalami nasib tragis sebagaimana kawan-kawannya. Sang
Bala
tersentak menyaksikan kejadian yang berlangsung sangat cepat sekali.
Baginya
walaupun kematian para prajurit itu tampak mengerikan sama
sekali
tidak mempengaruhi hatinya. Kematian baginya baik di kalangan
sendiri
maupun
di pihak lawannya sama saja. Lalu laki-laki haus darah ini menggeram.
"Pertanyaan berjawab dengan kematian
Semakin besar rasa curigaku pada kalian.
Kau anak muda" Sang Bala menunjuk lurus ke arah Pangeran Demak.
di pihak lawannya sama saja. Lalu laki-laki haus darah ini menggeram.
"Pertanyaan berjawab dengan kematian
Semakin besar rasa curigaku pada kalian.
Kau anak muda" Sang Bala menunjuk lurus ke arah Pangeran Demak.
"Kau
pasti Pangeran buronan itu, perempuan itu adikmu dan tiga tua
bangka
ini adalah para abdi-abdimu. Tugasku terkecuali membiarkan
puteri
Saba tetap hidup, adalah mengambil mahkota dan merampas nyawa
kalian"
"Huh, sedap betul bicaramu. Kau pikir mahkota itu milik nenek
"Huh, sedap betul bicaramu. Kau pikir mahkota itu milik nenek
moyangmu
atau milik bapak moyang Pangeran keparat majikanmu.
Jangan
coba ganggu adikku atau menghendaki mahkota itu jika ingin
selamat"
dengus Pendekar Kucar Kacir sengit.
"Pangeran serahkan apa yang kuminta
Aku tidak segan menghabisi kalian semua jika kau tetap keras kepala"
"Pangeran serahkan apa yang kuminta
Aku tidak segan menghabisi kalian semua jika kau tetap keras kepala"
bentak
Sang Bala dengan mata melotot.
"Manusia setan Mahkota itu tidak ada pada Pangeran Demak. Percuma
"Manusia setan Mahkota itu tidak ada pada Pangeran Demak. Percuma
Baja kau
memaksa kami" sahut Ki Jarot kelihatan tidak sabar lagi.
"Aku tidak pernah percaya pada manusia.
Apalagi pada orang-orang buronan seperti kalian" Sang Bala mendengus
memaksa kami" sahut Ki Jarot kelihatan tidak sabar lagi.
"Aku tidak pernah percaya pada manusia.
Apalagi pada orang-orang buronan seperti kalian" Sang Bala mendengus
pendek. Belum
sempat ia melakukan sesuatu, Ki
Palang telah menggebukkan senjatanya yang berbentuk pikulan ke bagian
Palang telah menggebukkan senjatanya yang berbentuk pikulan ke bagian
kaki
kuda.
Kuda tersebut meringkik keras lalu tergelim-pang roboh. Ki Pacul tidak
Kuda tersebut meringkik keras lalu tergelim-pang roboh. Ki Pacul tidak
tinggal
diam, ia mengambil senjatanya berupa pacul yang tergeletak di
tanah.
Dengan pacul itu dihantamkannya kepala Panglima. Tapi laki-laki
bermata
tajam ini langsung meng-gulingkan tubuhnya ke samping.
Serangan
Ki Pacul luput, dari sebelah kiri Ki Jarot segera hantamkan
senjatanya
yang mirip
dengan gergaji.
Creng....Serangan ke bagian kepala Sang Bala
luput, laki-laki itu keburu miringkan tubuhnya lalu lepaskan pukulan
dengan gergaji.
Creng....Serangan ke bagian kepala Sang Bala
luput, laki-laki itu keburu miringkan tubuhnya lalu lepaskan pukulan
beruntun
ke arah tiga penyerangnya. Tiga leret sinar menderu, hawa
dingin
menyengat. Ki Pacul, Ki Jarot dan Ki Palang memutar senjatanya
lindungi
diri. Dua dari pukulan yang dilepaskan lawan luput. Yang
satunya
lagi langsung melabrak Ki Pacul.
Kakek tua itu menggerung keras dan
jatuh terguling-guling. Ki Pacul tampak menggigil. Cepat sekali ia
Kakek tua itu menggerung keras dan
jatuh terguling-guling. Ki Pacul tampak menggigil. Cepat sekali ia
kerahkan
tenaga dalam. Setelah itu bangkit berdiri dan menyerang
kembali.
Dari arah samping Ki Jarot hantamkan gergajinya, dari arah
depan
pikulan Ki Palang menyodok perut Sang Bala. Serangan itu dapat
dihindari
oleh Panglima. Namun gergaji Ki Jarot menghantam
punggungnya.Crok
Croeng
Ki Jarot terkesima ketika melihat senjatanya tidak berhasil melukai
Ki Jarot terkesima ketika melihat senjatanya tidak berhasil melukai
lawannya.
Melihat hal ini Pendekar Kucar Kacir tidak tinggal diam. Ia dan puteri Saba
Melihat hal ini Pendekar Kucar Kacir tidak tinggal diam. Ia dan puteri Saba
serentak
ikut mengurung Sang Bala. Tenaga dalam
dikerahkan ke arah sepotong kayu pemberian Setan Terompet. Begitu
dikerahkan ke arah sepotong kayu pemberian Setan Terompet. Begitu
sebagian
tenaga mereka telah mengalir pada potongan kayu tersebut maka
pada
bagian ujungnya tampak membuka. Dari dalamnya melesat dua ekor
ular
berwarna kuning. Melihat semua ini Sang Bala malah tertawa
terkekeh-kekeh.
"Bagus Majulah kalian semua. Aku jadi senang membunuh mana saja yang
"Bagus Majulah kalian semua. Aku jadi senang membunuh mana saja yang
akumaui"
Sang Bala memutar kedua tangannya
untuk mementahkan serangan ketiga kakek tua. Sedangkan tangannya
Sang Bala memutar kedua tangannya
untuk mementahkan serangan ketiga kakek tua. Sedangkan tangannya
yang lain
dipergunakan untuk menyampok ular-ular berbisa berwarna
kuning
yang terus meluncur deras ke arahnya. Tiga di antara ular itu
berhasil
di Rampoknya dan jatuh ke tanah. Sedangkan yang satunya lagi
berhasil
menerobos pertahanannya.
Cep
"Heh...”
Sang Bala kaget. Akibat gigitan ular tersebut membuat sekujur tubuhnya
Cep
"Heh...”
Sang Bala kaget. Akibat gigitan ular tersebut membuat sekujur tubuhnya
terasa
panas bagai terbakar. Namun ia tidak merasa khawatir karena
tubuhnya
kebal terhadap berbagai jenis racun dan bisa. Ular
tadi ditariknya dari bagian perut, lalu diremasnya hingga hancur.
Pangeran Demak Pati alias Pendekar
Kucar Kacir kaget sekali. Sementara serangan dari para abdinya semakin
tadi ditariknya dari bagian perut, lalu diremasnya hingga hancur.
Pangeran Demak Pati alias Pendekar
Kucar Kacir kaget sekali. Sementara serangan dari para abdinya semakin
menghebat.
Namun Sang Bala juga tampak mulai
mengamuk. Tubuhnya yang kebal senjata kebal racun ini merupakan
mengamuk. Tubuhnya yang kebal senjata kebal racun ini merupakan
keuntungan
baginya. Tidak satu pun senjata dari ketiga kakek tua itu yang
dapat
menembus kekebalan Sang Bala. Malah kemudian tangan Sang Bala
terjulur,
ia membiarkan dirinya menjadi sasaran senjata. Sasaran yang di
arahnya
adalah Ki Pacul. Si kakek tentu saja tidak tinggal diam. Ia
hantamkan
paculnya ke wajah Sang Bala.
Dokh...
Senjata menghantam tepat pada sasaran,
tapi tidak membawa akibat sebagaimana yang diharapkannya. Sementara
Dokh...
Senjata menghantam tepat pada sasaran,
tapi tidak membawa akibat sebagaimana yang diharapkannya. Sementara
tangan
Sang Bala sudah mencengkeram bahunya. Kakek tua ini
diangkatnya
tinggi-tinggi ke udara.
Melihat para abdinya dalam keadaan bahaya.
Maka Pangeran Demak gerakkan potongan
kayu di tangannya. Begitu digerakkan dengan pengerahan tenaga dalam.
Melihat para abdinya dalam keadaan bahaya.
Maka Pangeran Demak gerakkan potongan
kayu di tangannya. Begitu digerakkan dengan pengerahan tenaga dalam.
Maka dari
ujung kayu tersebut melesat tiga mata pisau berwarna putih.
Tang Tang
Senjata itu tidak berhasil menembusi
sasaran, malah berpentalan dan jatuh
bergemerincing.
Ki Pacul tidak dapat diselamatkan lagi.
Sang Bala membantingnya. Kakek tua itu tidak sempat menjerit. Kaki Sang
Tang Tang
Senjata itu tidak berhasil menembusi
sasaran, malah berpentalan dan jatuh
bergemerincing.
Ki Pacul tidak dapat diselamatkan lagi.
Sang Bala membantingnya. Kakek tua itu tidak sempat menjerit. Kaki Sang
Bala
terangkat lalu diinjaknya Ki Pacul, hingga tewaslah si kakek dengan
usus
berburaian dari duburnya. Ki Jarot terkesima, lalu sambil menyerang
terdengar
suara teriakan-nya.
"Pendekar dan puteri, larilah selagi masih ada kesempatan. Kami akan
"Pendekar dan puteri, larilah selagi masih ada kesempatan. Kami akan
mengha-langinya
Setan yang satu ini kebal, cepat lari"
"Mengapa aku harus meninggalkan per-tempuran. Betapa pengecutnya
"Mengapa aku harus meninggalkan per-tempuran. Betapa pengecutnya
aku"
sahut Pendekar Kucar Kacir. Seraya melompat ke depan sambil
hantamkan
potongan kayu ke kepala Sang Bala. Dari arah sampingnya
puteri
Saba juga hantamkan senjatanya
arah sasaran yang sama.
Plak
Plak
Serangan beruntun itu hanya membuat
Sang Bala terhuyung-huyung. Kemudian terlihat seringainya yang sangat
arah sasaran yang sama.
Plak
Plak
Serangan beruntun itu hanya membuat
Sang Bala terhuyung-huyung. Kemudian terlihat seringainya yang sangat
mengerikan.
Ia lepaskan pukulannya ke arah Pangeran dan adiknya. Dua leret sinar
Ia lepaskan pukulannya ke arah Pangeran dan adiknya. Dua leret sinar
biru
melesat, angin bergulung-gulung.
"Hantam dengan pukulan Trompet Maut'"
teriak Pangeran Demak memberi perintah pada adiknya
"Hantam dengan pukulan Trompet Maut'"
teriak Pangeran Demak memberi perintah pada adiknya
Wuuss......Pangeran
dan puteri Saba hentakkan
tangannya, sinar merah bergulung-gulung kemudian melabrak sinar biru di tengah jalan.
Bumm Buum
Terjadi ledakan berturut-turut. Sang Bala jatuh terduduk, namun masih
tangannya, sinar merah bergulung-gulung kemudian melabrak sinar biru di tengah jalan.
Bumm Buum
Terjadi ledakan berturut-turut. Sang Bala jatuh terduduk, namun masih
sempat
menyambar Ki Palang. Laki-laki itu di cekiknya, leher disentakkan
hingga patah
berderak. Ki Palang menjerit suaranya seakan merobek
langit.
Ki Jarot bagai kesetanan langsung menghujani Sang Bala dengan
gergajinya.
Sedangkan Pangeran Demak si Pendekar Kucar Kacir serta
adiknya
tampak berusaha bangkit berdiri.
Ternyata luka yang diderita oleh mereka cukup parah juga.
Ki Jarot bersurut mundur. Ia melihat tidak ada kemungkinan selamat bagi
Ternyata luka yang diderita oleh mereka cukup parah juga.
Ki Jarot bersurut mundur. Ia melihat tidak ada kemungkinan selamat bagi
jun-jungannya
terkecuali melarikan diri. Sambil menyerang kembali Ki
Jarot
berteriak keras.
"Pangeran Cepat tinggalkan tempat ini.
Kita tidak mungkin menghancurkan manusia baja ini
"Tapi bagaimana dengan engkau?" sahut pendekar Kucar Kacir ragu-ragu.
"Jangan hiraukan keselamatanku. Cepatlah selama masih ada kesempatan"
"Kakang, kurasa benar ucapannya. Kita bukan pengecut, tapi kerajaan
"Pangeran Cepat tinggalkan tempat ini.
Kita tidak mungkin menghancurkan manusia baja ini
"Tapi bagaimana dengan engkau?" sahut pendekar Kucar Kacir ragu-ragu.
"Jangan hiraukan keselamatanku. Cepatlah selama masih ada kesempatan"
"Kakang, kurasa benar ucapannya. Kita bukan pengecut, tapi kerajaan
harus
kita
bebaskan dari orang-orang seperti mereka"
Puteri Saba ikut memperingati.
Dengan hati berat Pendekar Kucar Kacir
terpaksa menuruti keinginan adiknya. Tentu saja Sang Bala tidak tinggal
bebaskan dari orang-orang seperti mereka"
Puteri Saba ikut memperingati.
Dengan hati berat Pendekar Kucar Kacir
terpaksa menuruti keinginan adiknya. Tentu saja Sang Bala tidak tinggal
diam
dengan membiarkan buruannya lolos begitu saja. Ia pun mengejar,
namun Ki
Jarot yang cerdik menubruk kakinya. Sementara Pangeran dan
puteri
sudah tidak kelihatan lagi. Panglima kerajaan Pasundan atau
kerajaan
Sorga Dunia ini berusaha membebaskan kakinya
dari dekapan lawan. Tapi tangan Ki Jarot melekat erat bagaikan tangan-
dari dekapan lawan. Tapi tangan Ki Jarot melekat erat bagaikan tangan-
tangan
gurita.
Alat pembunuh ini menggeram marah.
Tangannya terangkat ke bagian kepala Ki Jarot. Lagi-lagi Ki Jarot
Alat pembunuh ini menggeram marah.
Tangannya terangkat ke bagian kepala Ki Jarot. Lagi-lagi Ki Jarot
menangkis.
Duuk
Ki Jarot menjerit. Tangannya yang
dipergunakan untuk menangkis hancur. Sang Bala menggeram dan
Duuk
Ki Jarot menjerit. Tangannya yang
dipergunakan untuk menangkis hancur. Sang Bala menggeram dan
jatuhkan
pukulan lagi.
Kali ini Ki Jarot tidak sempat lindungi kepalanya.
Prok
"Akh..." Kakek malang hanya mengeluh pendek. Kepalanya hancur,
Kali ini Ki Jarot tidak sempat lindungi kepalanya.
Prok
"Akh..." Kakek malang hanya mengeluh pendek. Kepalanya hancur,
benaknya
berhamburan Sang Bala dengan geram
menendang mayat Ki Jarot. Dengan
tergesa-gesa ia kembali mengejar, kira-kita sejarak seratus tombak ia
berhamburan Sang Bala dengan geram
menendang mayat Ki Jarot. Dengan
tergesa-gesa ia kembali mengejar, kira-kita sejarak seratus tombak ia
kehilangan
jejak.
"Jahanam Orang itu benar-benar telah memberi kesempatan pada tuannya
"Jahanam Orang itu benar-benar telah memberi kesempatan pada tuannya
untuk
melarikan
diri. Aku harus mencari kuda lagi Bagaimana pun Pangeran
Demak
harus kutangkap hidup atau mati." dengus Sang Bala masih
kelihatan
mendongkol.
"Kau terluka Kakang Luka dalammu cukup parah" kata puteri Saba
"Kau terluka Kakang Luka dalammu cukup parah" kata puteri Saba
kelihatan
sangat khawatir sekali. "Kita harus menghubungi tabib Dewa
Sesat.
Kurasa hanya dia yang dapat menyembuhkan lukamu"
Pemuda berbaju tambal-tambalan menye-
ringai menahan sakit. "Aku tidak butuh segala macam tabib. Apalagi Tabib
Pemuda berbaju tambal-tambalan menye-
ringai menahan sakit. "Aku tidak butuh segala macam tabib. Apalagi Tabib
Dewa
Sesat. Dulu ketika ayahanda Prabu masih ada beliau memang
memihak
pada kita.
Tapi sekarang kita tidak tahu dia berpihak pada siapa? Pula kita tidak tahu
Tapi sekarang kita tidak tahu dia berpihak pada siapa? Pula kita tidak tahu
di mana
tempat tinggal kakek aneh itu." sahut Pendekar Kucar Kacir.
"Sudahlah
jangan terlalu banyak berharap. Guru kita memang sinting, aku
diberinya
julukan sial Pendekar Kucar Kacir, sungguh persis sekali dengan
keadaan
kita saat ini. Memalukan, sangat memalukan" Pangeran Demak
Pati
bersungut-sungut. Ia kepalkan tangannya.
Tinjunya menghantam tanah.
Gerakan emosi spontan itu jelas membuat
luka dalam Pangeran Demak semakin
bertambah parah. Ia terbatuk dan darah bergumpal mengalir keluar. Puteri
Tinjunya menghantam tanah.
Gerakan emosi spontan itu jelas membuat
luka dalam Pangeran Demak semakin
bertambah parah. Ia terbatuk dan darah bergumpal mengalir keluar. Puteri
Saba
semakin khawatir melihat saudaranya yang
tampak prustrasi. Ia sendiri sebenarnya terluka dalam juga. Namun luka
tampak prustrasi. Ia sendiri sebenarnya terluka dalam juga. Namun luka
dalam
yang dideritanya lebih ringan.
"Jangan banyak bergerak, Kanda. Nanti keadaanmu semakin bertambah parah"
Pangeran Demak terdiam. Tampaknya darah yang mengalir dari sudut-
"Jangan banyak bergerak, Kanda. Nanti keadaanmu semakin bertambah parah"
Pangeran Demak terdiam. Tampaknya darah yang mengalir dari sudut-
sudut
bibirnya masih belum berhenti.
"Coba Kakang kerahkan tenaga dalam.
Mudah-mudahan saja ada hasilnya" saran puteri Saba.
"Tidak bisa. Pukulan Sang Bala aneh sekali. Semakin aku mengerahkan
"Coba Kakang kerahkan tenaga dalam.
Mudah-mudahan saja ada hasilnya" saran puteri Saba.
"Tidak bisa. Pukulan Sang Bala aneh sekali. Semakin aku mengerahkan
tenaga
dalam. Aku bisa mati mendadak Sebenarnya kematian bukan
sesuatu
yang mengerikan
bagiku. Cuma aku kasihan padamu, dengan siapa nanti kau tinggal
bagiku. Cuma aku kasihan padamu, dengan siapa nanti kau tinggal
Pangeran
keparat itu tampaknya menghendaki dirimu"
"Cis, siapa sudi. Daripada menjadi permaisurinya, lebih baik aku mati"
"Cis, siapa sudi. Daripada menjadi permaisurinya, lebih baik aku mati"
sahut
puteri Saba marah.
"Ukh Akh..."
Pendekar Kucar Kacir dekap dadanya.
tiba-tiba ia terkulai dan tidak sadarkan
"Kandaaa..." jerit puteri Saba Bambil memeluk Pangeran Demak. Gadis itu
"Ukh Akh..."
Pendekar Kucar Kacir dekap dadanya.
tiba-tiba ia terkulai dan tidak sadarkan
"Kandaaa..." jerit puteri Saba Bambil memeluk Pangeran Demak. Gadis itu
menangis.
"Kakang jangan tinggalkan aku
Aku tidak mau hidup sendiri"
Ternyata Pangeran Demak bukannya
mati, melainkan hanya pingsan saja. Selagi puteri Saba dalam keadaan
Aku tidak mau hidup sendiri"
Ternyata Pangeran Demak bukannya
mati, melainkan hanya pingsan saja. Selagi puteri Saba dalam keadaan
bingung
begitu
Terdengar suara langkah-langkah kaki tidak jauh di belakangnya. Sang
Terdengar suara langkah-langkah kaki tidak jauh di belakangnya. Sang
puteri
cepat menoleh, ternyata yang muncul adalah seorang gadis cantik
berpakaian
serba hitam.
"Pengemis cengeng, yang mau mampus itu saudaramu, pacarmu atau suamimu.
Kalau suami biarkan saja dia mampus,
nanti kau bisa cari gantinya yang lebih kaya dan bukan pengemis.
"Pengemis cengeng, yang mau mampus itu saudaramu, pacarmu atau suamimu.
Kalau suami biarkan saja dia mampus,
nanti kau bisa cari gantinya yang lebih kaya dan bukan pengemis.
Bukankah
wajahmu cantik? Hi hi hi..." cibir si gadis ketus.
Puteri Saba tentu saja menjadi marah
dicaci maki oleh gadis yang tidak di kenalnya sama sekali. Ia bangkit
Puteri Saba tentu saja menjadi marah
dicaci maki oleh gadis yang tidak di kenalnya sama sekali. Ia bangkit
berdiri,
lalu berbalik menghadap gadis baju hitam.
"Kau siapa? Jika punya tujuan baik sebaiknya kau bantu aku menolong
"Kau siapa? Jika punya tujuan baik sebaiknya kau bantu aku menolong
kakangku
ini. Tapi jika cuma mau usil, sebaiknya kau merat dari sini"
bentak
puteri baba sengit.
” Hi hi hi... Baik, akan kulihat dia masih bisa ditolong atau tidak. Hi m ni.
Gadis baju hitam menghampiri Pangeran Demak. Setelah memperhatikan
” Hi hi hi... Baik, akan kulihat dia masih bisa ditolong atau tidak. Hi m ni.
Gadis baju hitam menghampiri Pangeran Demak. Setelah memperhatikan
keadaan
si pemuda dan memeriksa dadanya, ia berdiri lagi sambil
menggelengkan
kepalanya. "Luka.
nya cukup berat, aku tidak bisa menolongnya Dia segera mati, biarkan saja
nya cukup berat, aku tidak bisa menolongnya Dia segera mati, biarkan saja
jangan
dipikiri.
Aku tidak punya waktu berlama-lama di
sini. Aku punya tugas berat, tugas maling
Selamat tinggal, selamat meratap-ratap"
Aku tidak punya waktu berlama-lama di
sini. Aku punya tugas berat, tugas maling
Selamat tinggal, selamat meratap-ratap"
kata
gadis baju hitam yang tidak lain adalah Maling Jenaka atau Maling
Cerdik.Puteri
Saba geram bukan main, jika ia
tidak memikirkan keselamatan saudaranya.
Ingin rasanya ia mengejar dan mendamprat gadis sinting tadi. Namun ia
tidak memikirkan keselamatan saudaranya.
Ingin rasanya ia mengejar dan mendamprat gadis sinting tadi. Namun ia
terpaksa
menahan kekesalan hatinya. Dihampirinya Pangeran Demak yang
masih
tidak sadarkan diri. Dalam keadaan bingung seperti sekarang ini ia
memang
tidak tahu harus berbuat apa. Namun lagi-lagi ia dikejutkan oleh
suara
seseorang.
"Hlo ke mana perginya gadis itu. Kulihat tadi ia ke sini Kurang ajar betul
"Hlo ke mana perginya gadis itu. Kulihat tadi ia ke sini Kurang ajar betul
Mestinya
aku tahu dia hendak pergi kemana" kata seorang pemuda. Puteri
Saba
cepat menoleh.
Gadis itu kerutkan keningnya. Saat itu di depannya telah berdiri seorang
Gadis itu kerutkan keningnya. Saat itu di depannya telah berdiri seorang
pemuda
berambut hitam kemerahan berbaju biru.
Lagaknya celingak-celinguk sambil garuk-garuk kepala. Tampangnya ketolol-tololan dan terkesan seperti orang kurang waras.
“Kau siapa? Apakah temannya gadis
Maling tadi?" tanya si gadis curiga.
"Bukan? Aku mencari gadis baju hitam Kulihat ia begitu mencurigakan"
Lagaknya celingak-celinguk sambil garuk-garuk kepala. Tampangnya ketolol-tololan dan terkesan seperti orang kurang waras.
“Kau siapa? Apakah temannya gadis
Maling tadi?" tanya si gadis curiga.
"Bukan? Aku mencari gadis baju hitam Kulihat ia begitu mencurigakan"
sahut si
pemuda yang tidak lain adalah Pendekar Blo'on.
"Aku tadi melihatnya. Gadis sinting yang mengaku dirinya seorang
"Aku tadi melihatnya. Gadis sinting yang mengaku dirinya seorang
maling.
Dia sempat membuatku kesal. Jadi benar kau tidak
punya hubungan apa-apa dengannya?" Puteri Saba kelihatan masih curiga.
punya hubungan apa-apa dengannya?" Puteri Saba kelihatan masih curiga.
Suro
menggeleng. Perhatiannya kini beralih pada pemuda berpakaian
kumal
yang dalam
keadaan terlentang tidak sadarkan diri.
"Dia siapa?" tanya Suro ditujukan pada puteri Saba.
"Saudaraku."
Hanya dengan sekali lihat saja Suro
segera tahu bahwa pemuda itu sedang menderita luka dalam yang serius.
keadaan terlentang tidak sadarkan diri.
"Dia siapa?" tanya Suro ditujukan pada puteri Saba.
"Saudaraku."
Hanya dengan sekali lihat saja Suro
segera tahu bahwa pemuda itu sedang menderita luka dalam yang serius.
Tanpa
bicara ia langsung menghampiri.
"Celaka Racun telah menjalar di sekujur pembuluh darahnya. Siapa yang
"Celaka Racun telah menjalar di sekujur pembuluh darahnya. Siapa yang
melakukan
semua ini?" .
"Panglima perang kerajaan Sorga Dunia
jawab puteri Saba tanpa ragu-ragu.
"Dia harus cepat ditolong, jika tidak umurnya paling hanya beberapa jam lagi.”
tegas murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api ini
"Panglima perang kerajaan Sorga Dunia
jawab puteri Saba tanpa ragu-ragu.
"Dia harus cepat ditolong, jika tidak umurnya paling hanya beberapa jam lagi.”
tegas murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api ini
serius.
"Apakah kau mampu melakukannya?
tanya puteri Saba ragu-ragu.
"Kita lihat saja nanti" sahut Suro tanpa menoleh.
Lalu Pendekar Mandau Jantan ini
membuka baju Pangeran Demak Pati. Setelah bagian dada terbuka terlihat
"Apakah kau mampu melakukannya?
tanya puteri Saba ragu-ragu.
"Kita lihat saja nanti" sahut Suro tanpa menoleh.
Lalu Pendekar Mandau Jantan ini
membuka baju Pangeran Demak Pati. Setelah bagian dada terbuka terlihat
ada bekas
telapak tangan membiru. Saking cemasnya Suro termonyong-
monyong.
"Racun keji Pedut Pati Bagaimana
"Racun keji Pedut Pati Bagaimana
mungkin
racun ganas yang menurut guru telah musnah dari rimba
persilatan
itu kini ada lagi?" pikir Suro kecut. Mustahil ia mengerahkan
tenaga
dalamnya. Pengerahan tenaga dalam hanya membuat luka yang di
derita
oleh pemuda mengemis itu semakin bertambah parah. Jalan satu-
satunya
adalah dengan membuka jalan darah di bagian kaki, kepala dan
juga dada
pemuda itu.
Tanpa berpikir panjang lagi ia mengeluarkan dua buah obat pulung.
Tanpa berpikir panjang lagi ia mengeluarkan dua buah obat pulung.
Kemudian
memasukkannya ke dalam mulut Pendekar
Kucar Kacir secara paksa. Setelah itu ia mengeluarkan mandau berikut tangkainya.
Melihat senjata di tangan pemuda bertampang tolol kekanan-kanakan
Kucar Kacir secara paksa. Setelah itu ia mengeluarkan mandau berikut tangkainya.
Melihat senjata di tangan pemuda bertampang tolol kekanan-kanakan
puteri
Saba jadi curiga.
'Hei... apa yang hendak kau lakukan?
Kau mau mencelakai saudaraku"
"Justeru kalau aku tidak menolongnya dia benar-benar akan celaka" jawab
'Hei... apa yang hendak kau lakukan?
Kau mau mencelakai saudaraku"
"Justeru kalau aku tidak menolongnya dia benar-benar akan celaka" jawab
Suro
tidak bergeming sedikit pun. Ia menggores kedua telapak kaki, kedua
telapak
tangan, ubun-ubun dan juga dada pemuda pengemis.
Setelah ada darah yang mengalir melalui luka Kecil yang dibuat Suro
Setelah ada darah yang mengalir melalui luka Kecil yang dibuat Suro
Blondo.
Maka bocah ajaib mi segera menempelkan rangka mandau pada setiap
Maka bocah ajaib mi segera menempelkan rangka mandau pada setiap
bagian
luka beberapa saat lamanya.
Cairan darah berwarna biru kemerah-
merahan tersedot keluar. Bau amis dan bau
Cairan darah berwarna biru kemerah-
merahan tersedot keluar. Bau amis dan bau
busuk
bercampur aduk menjadi satu. Tubuh Pendekar Kucar Kacir pucat
pasi seakan
tidak berdarah lagi. Puteri Saba semakin khawatir melihat
semua
ini. Setelah menye-dot habis seluruh racun ganas yang mengeram
di tubuh
pemuda itu. Barulah Suro berani mengerahkan tenaga dalamnya
ke dada
Pangeran Demak Pati.
Tampak jelas sekujur tubuh Suro
menggigil, keringat sebesar-besar jagung menetes deras membasahi
Tampak jelas sekujur tubuh Suro
menggigil, keringat sebesar-besar jagung menetes deras membasahi
wajahnya.
Tidak lama setelah terdengar suara erangan Pangeran Demak.
Pemuda
ini tarik balik tangannya. Suro bersemedhi.
Bukan main gembiranya hati puteri Saba
melihat Pangeran Demak mulai sadar dan
berangsur-angsur sehat kembali. Ketika si Bocah Ajaib buka matanya.
Bukan main gembiranya hati puteri Saba
melihat Pangeran Demak mulai sadar dan
berangsur-angsur sehat kembali. Ketika si Bocah Ajaib buka matanya.
Puteri
Saba mengeluarkan sepuluh keping uang emas.
Sebuah jumlah yang sangat besar yang pada masa itu bisa dipergunakan
Sebuah jumlah yang sangat besar yang pada masa itu bisa dipergunakan
untuk
membeli sebuah rumah penginapan Apalagi kalau dibelikan krupuk
Suro
tidak bisa membayangkan betapa banyaknya.
Pemuda berambut hitam kemerahan itu
beringsut menjauhi puteri Saba. Matanya sedikit melebar, bibirnya
Pemuda berambut hitam kemerahan itu
beringsut menjauhi puteri Saba. Matanya sedikit melebar, bibirnya
termonyong-monyong.
"Apa yang kau lakukan padaku? Dunia ini kurasakan semakin aneh, ada
"Apa yang kau lakukan padaku? Dunia ini kurasakan semakin aneh, ada
pengemis
sekaya engkau?" Heran Suro bertanya
dengan perasaan tidak mengerti.
"Lebih baik kau ambil Tuan penolong.
Ini sebagai rasa terima kasihku karena kau telah menyelamatkan
dengan perasaan tidak mengerti.
"Lebih baik kau ambil Tuan penolong.
Ini sebagai rasa terima kasihku karena kau telah menyelamatkan
saudaraku"
desak puteri Saba sambil tetap menyerahkan sepuluh keping
emas pada
Suro. Suro garuk kepala sambil menggeleng. "Aku tidak
meminta
imbalan apa-apa. Yang membuat
aku heran mengapa orang kaya seperti kalian mengemis?"
'Tunggulah sebentar, biar saudaraku yang menjelaskan semua ini pada
aku heran mengapa orang kaya seperti kalian mengemis?"
'Tunggulah sebentar, biar saudaraku yang menjelaskan semua ini pada
Tuan"
Puteri Saba memapah Pangeran Demak
hingga membuat pemuda itu dapat duduk tegak. "Kanda, Tuan ini telah
Puteri Saba memapah Pangeran Demak
hingga membuat pemuda itu dapat duduk tegak. "Kanda, Tuan ini telah
menolongmu.
Dia tidak mau pemberian dari kita. Apakah tidak sebaiknya kita ceritakan
Dia tidak mau pemberian dari kita. Apakah tidak sebaiknya kita ceritakan
siapa
kita dan juga kesulitan kita. Mungkin dia dapat menolong kita."
Pendekar Kucar Kacir memperhatikan
Suro Blondo sekejab. Setelah itu yakinlah Pangeran Demak ini bahwa
Pendekar Kucar Kacir memperhatikan
Suro Blondo sekejab. Setelah itu yakinlah Pangeran Demak ini bahwa
pemuda
berambut hitam kemerahan ini dapat dipercaya.
'Terima kasih kuucapkan karena Tuan
telah menolong kami Tanpa pertolongan
tu..."
Jangan panggil tuan, aku ini bukan
saudagar atau anak bangsawan. Aku Suro Blondo. He he he..." potong
'Terima kasih kuucapkan karena Tuan
telah menolong kami Tanpa pertolongan
tu..."
Jangan panggil tuan, aku ini bukan
saudagar atau anak bangsawan. Aku Suro Blondo. He he he..." potong
Pendekar
Blo'on merasa tidak enak hati.
"Suro Blondo?" Kening puteri Saba
mengerenyit dalam. Ia coba mengingat-ingat sesuatu. Namun apa yang
"Suro Blondo?" Kening puteri Saba
mengerenyit dalam. Ia coba mengingat-ingat sesuatu. Namun apa yang
dipikirkannya
tidak menghasilkan apa-apa. "Aku dan saudaraku
sebetulnya
sedang menyamar
untuk menghindari kejaran orang-orang kerajaan. Saudaraku ini adalah
untuk menghindari kejaran orang-orang kerajaan. Saudaraku ini adalah
Pangeran
Demak Pati bergelar Pendekar Kucar Kacir.
Sedangkan aku sendiri puteri Saba" kata si gadis memperkenalkan diri.
Suro tiba-tiba saja berlutut, kepalanya direndahkan seperti orang hendak
Sedangkan aku sendiri puteri Saba" kata si gadis memperkenalkan diri.
Suro tiba-tiba saja berlutut, kepalanya direndahkan seperti orang hendak
bersujud.
Puteri Saba buru-buru mencegah.
"Eiit... apa-apaan ini?"
"Maafkan aku yang tidak mengenali kalian. Aku tidak tahu Tuan puteri"
"Jangan panggil tuan puteri. Aku lebih suka kalau kau memandangku
Puteri Saba buru-buru mencegah.
"Eiit... apa-apaan ini?"
"Maafkan aku yang tidak mengenali kalian. Aku tidak tahu Tuan puteri"
"Jangan panggil tuan puteri. Aku lebih suka kalau kau memandangku
sebagai
masyarakat biasa saja."
"Aku jarang melihat ada keluarga bangsawan rendah hati seperti kalian.
"Aku jarang melihat ada keluarga bangsawan rendah hati seperti kalian.
Tadi kau
mengatakan Pangeran Demak adalah
Pendekar Kucar Kacir. Kalau tidak salah aku menduga, tentulah kalian
Pendekar Kucar Kacir. Kalau tidak salah aku menduga, tentulah kalian
berdua
murid
Setan Terompet?" Pangeran Demak dan puteri Saba saling pandang,
Setan Terompet?" Pangeran Demak dan puteri Saba saling pandang,
tampak
jelas mereka sangat kaget mendengar ucapan
Suro.
"Darimana kau tahu, Suro?" tanya Pendekar Kucar Kacir heran.
Pendekar Blo'on kemudian menceritakan
perjumpaannya dengan Ki Bersin sekaligus
menjelaskan maksud kedatangan tokoh dari Kutai itu pada pewaris
Suro.
"Darimana kau tahu, Suro?" tanya Pendekar Kucar Kacir heran.
Pendekar Blo'on kemudian menceritakan
perjumpaannya dengan Ki Bersin sekaligus
menjelaskan maksud kedatangan tokoh dari Kutai itu pada pewaris
kerajaan
Pasundan yang sah.
"Hmm, guru kami Setan Terompet memang pernah menceritakan tentang
"Hmm, guru kami Setan Terompet memang pernah menceritakan tentang
saudaranya.
Aku yakin dia bersedia membantu, karena Ki Bersin terhitung
uwa guru
kami.
Tapi Pangeran Suprana sendiri bukan
manusia lemah. Saudara seperguruannya yang berjuluk Sang Bala sakti
Tapi Pangeran Suprana sendiri bukan
manusia lemah. Saudara seperguruannya yang berjuluk Sang Bala sakti
bukan
main, ia kebal senjata. Baru saja kami bentrok dengannya. Para
abdiku
tewas. Aku sendiri hampir mampus. Belum lagi Elang Perak
burung
raksasa itu. Aku pun khawatir jika guru Pangeran Suprana yang
bernama
Dewa
Kubu itu menyusul ke Jawa ini. Orang yang kita hadapi bukan hanya
Kubu itu menyusul ke Jawa ini. Orang yang kita hadapi bukan hanya
mereka
saja, mungkin masih ada lagi tokoh-tokoh lain di luar
perhitunganku"
"Seperti gadis baju hitam tadi" Puteri Saba menimpali. "Dia mengaku
"Seperti gadis baju hitam tadi" Puteri Saba menimpali. "Dia mengaku
dirinya
maling. Tingkahnya kolokan dan setengah sinting. Kurasa ia juga
orang
kurang waras yang siapa tahu menginginkan pedang pemersatu
yang
disembunyikan almarhum
ayahanda kami"
"Apakah benar pedang itu ada?" tanya si konyol ingin kepastian.
"Pedang Penyebar Bencana memang ada Dulu ayahku selalu
ayahanda kami"
"Apakah benar pedang itu ada?" tanya si konyol ingin kepastian.
"Pedang Penyebar Bencana memang ada Dulu ayahku selalu
membawanya
kemana
pun dia pergi. Agaknya sudah menjadi takdir
pun dia pergi. Agaknya sudah menjadi takdir
dan ayah
mengetahuinya apa yang akan terjadi. Ayah kemudian
menyembunyikannya
di suatu tempat yang menurut dugaanku di puncak
Bukit
Sembuang. Aku khawatir orang luar sudah mendengar kabar ini."
kata Pendekar Kucar Kacir.
"Mengenai masalah pedang. Aku berjanji untuk membantu mencarinya.
kata Pendekar Kucar Kacir.
"Mengenai masalah pedang. Aku berjanji untuk membantu mencarinya.
Yang
kudengar katanya bukan pedang itu saja yang menjadikan sah
tidaknya
raja memimpin kerajaan Pasundan."
"Memang benar. Siapa pun yang memimpin Pasundan juga harus memiliki
"Memang benar. Siapa pun yang memimpin Pasundan juga harus memiliki
mahkota
kerajaan yang asli yang telah diwariskan secara turun temurun.
Mahkota
itu tidak perlu kau risaukan. Sialnya, dalam menghadapi Sang
Bala, aku
sudah tidak sanggup.
Rasanya kesialan itu semakin membayangiku setelah guru kami Setan
Rasanya kesialan itu semakin membayangiku setelah guru kami Setan
Terompet
memberi-ku gelar Kucar Kacir."
"Ha ha ha Kucar Kacir itu sama artinya dengan morat-marit, pontang-
"Ha ha ha Kucar Kacir itu sama artinya dengan morat-marit, pontang-
panting,
tunggang langgang, terbirit-birit. Kurasa gurumu manusia tidak
waras,
ketika terlahir belum genap umurnya dalam kandungan Pangeran
Demak, tidak segan-segan kukatakan padamu, kulihat garis wajahmu
Demak, tidak segan-segan kukatakan padamu, kulihat garis wajahmu
memang
penuh kesialan"
"Pemuda edan" memaki Pangeran Demak Pati.
Entah mengapa hati Pangeran merasa
"Pemuda edan" memaki Pangeran Demak Pati.
Entah mengapa hati Pangeran merasa
cocok
berkawan dengan Pendekar Blo'on padahal mereka belum lama
saling
kenal.
"Apa
gelarmu. Aku yakin kau punya julukan tidak jauh bedanya dari
tampangmu
Ayo katakan..." Pangeran Demak mendelik.
Suro beringsut menjauh. "Ha ha ha... Aku tahu, tapi mana kena di tipu.
Ayo katakan..." Pangeran Demak mendelik.
Suro beringsut menjauh. "Ha ha ha... Aku tahu, tapi mana kena di tipu.
Kalau kau
tahu julukanku kau pasti akan mengejekku.
Bukankah begitu?"
"Kau tampan namun tampangmu seperti orang bego. Aku tahu kau pasti
Bukankah begitu?"
"Kau tampan namun tampangmu seperti orang bego. Aku tahu kau pasti
bergelar
Pendekar Goblok. Hayo mengakulah..."
"Kau salah menduga" bantah Suro, waiahnya berubah memerah. "Aku
"Kau salah menduga" bantah Suro, waiahnya berubah memerah. "Aku
Pendekar
Blo'on"
Pangeran Demak langsung meledak
tawanya. Ia terkekeh-kekeh, lalu pegangi celananya yang basah. Ternyata
Pangeran Demak langsung meledak
tawanya. Ia terkekeh-kekeh, lalu pegangi celananya yang basah. Ternyata
Pendekar
Kucar Kacir sampai terkencing-kencing.
"Walah memalukan, sudah tua bangka begitu masih ngompol" Suro
"Walah memalukan, sudah tua bangka begitu masih ngompol" Suro
tersenyum
mengejek.
"Kanda celanamu... merah..." seru puteri Saba.
Seketika Pangeran Demak melirik ke
bagian yang basah itu. Memang ada darah bercampur air kencing di situ.
"Kanda celanamu... merah..." seru puteri Saba.
Seketika Pangeran Demak melirik ke
bagian yang basah itu. Memang ada darah bercampur air kencing di situ.
Maka
pucatlah wajah Pangeran Demak. Tawa Suro Bemakin
menjadi-jadi.
"Kau pangeran mata keranjang, pasti sering jajan pada wanita jalanan. Kau
menjadi-jadi.
"Kau pangeran mata keranjang, pasti sering jajan pada wanita jalanan. Kau
kena penyakit.
Ha ha ha..."
Wajah Pangeran Demak berubah pucat.
"Suro sungguh mati aku tidak pernah kencing pada perempuan murahan. Mengapa
begini, Suro tolonglah Kau jangan tertawa saja seperti orang gila.
Wajah Pangeran Demak berubah pucat.
"Suro sungguh mati aku tidak pernah kencing pada perempuan murahan. Mengapa
begini, Suro tolonglah Kau jangan tertawa saja seperti orang gila.
Bagaimana
ini?"
Pangeran Demak kelihatan bingung sekali.
"Tolong kakangku, Suro" Puteri Saba ikut meratap, tatapan matanya
Pangeran Demak kelihatan bingung sekali.
"Tolong kakangku, Suro" Puteri Saba ikut meratap, tatapan matanya
tampak
memelas sekali. Pendekar Blo'on hentikan tawanya. Ia sadar betul
pasti ada
urat darah di bagian saluran air seni Pangeran Demak yang
bocor.
Sehingga karena pengaruh suara tawa itu menekan darah keluar
melalui
saluran air seni sang Pangeran.
"Tidak usah khawatir. Darah itu akan berhenti dengan sendirinya." jelas
"Tidak usah khawatir. Darah itu akan berhenti dengan sendirinya." jelas
akhirnya
dengan serius.
Merasa jera Pangeran Demak Pati
terpaksa hentikan tawanya. Ia memandang pada puteri Saba dan Pendekar Blo'on silih berganti. Lalu terdengar suara si baju biru.
"Aku tertawa di tengah orang yang sedang kesusahan. Orang yang sedang
Merasa jera Pangeran Demak Pati
terpaksa hentikan tawanya. Ia memandang pada puteri Saba dan Pendekar Blo'on silih berganti. Lalu terdengar suara si baju biru.
"Aku tertawa di tengah orang yang sedang kesusahan. Orang yang sedang
kesusahan
mentertawakan dirinya sendiri, gila betul Pangeran Demak"
kata Suro
sambil mendongak ke langit. "Aku sudah menyelidik ke istana
beberapa
hari yang lalu. Aku juga sudah melihat bagaimana tampangnya
Pangeran
yang mengaku dirinya Tuhan. Seandainya ia punya ilmu
simpanan
segudang, aku tidak begitu menghiraukannya. Tapi burung raksasa yang
segudang, aku tidak begitu menghiraukannya. Tapi burung raksasa yang
bernama
Elang Perak itu adalah sosok makhluk yang berbahaya.
Sepanjang
perjalanan mencari kalian, aku berpikir bagaimana caranya
mengatasi
burung raksasa itu. Akal sudah kudapat, namun aku tidak
yakin
apakah berhasil melakukan sebuah siasat"
"Mengatasi Sang Bala dan Pangeran Suprana saja aku sudah pusing tujuh
"Mengatasi Sang Bala dan Pangeran Suprana saja aku sudah pusing tujuh
keliling
Aku tidak dapat lagi membayangkan betapa dahsyatnya burung
itu"
sahut Pendekar Kucar Kacir.
"Ketentuan di tangan Gusti Allah.
Marilah kita sama-sama bertekad untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada"
tegas Pendekar Blo'on memberi semangat
"Hiiii... kak..."
Sedang mereka terlibat pembicaran serius.
Tiba-tiba di angkasa terdengar suara men-desir disertai pekik keras suara
"Ketentuan di tangan Gusti Allah.
Marilah kita sama-sama bertekad untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada"
tegas Pendekar Blo'on memberi semangat
"Hiiii... kak..."
Sedang mereka terlibat pembicaran serius.
Tiba-tiba di angkasa terdengar suara men-desir disertai pekik keras suara
seekor
burung. Ketiganya serentak memandang ke langit.
"Celaka Elang Perak..." desis puteri Saba dengan suara tercekat.
Suro dan Pangeran Demak juga tidak
kalah kagetnya. Timbul keinginan bagi mereka untuk bersembunyi. Tapi
"Celaka Elang Perak..." desis puteri Saba dengan suara tercekat.
Suro dan Pangeran Demak juga tidak
kalah kagetnya. Timbul keinginan bagi mereka untuk bersembunyi. Tapi
rasanya
sudah terlambat. Pangeran Suprana yang
duduk di punggung burung raksasa tadi pasti sudah melihat mereka.
duduk di punggung burung raksasa tadi pasti sudah melihat mereka.
Terbukti
Liang
Perak mulai terbang merendah.
"Pendekar Kucar Kacir Luka dalammu belum sembuh benar, harap kau
berlindung di tempat yang aman. Kau juga puteri Saba" perintah Si Bocah
Perak mulai terbang merendah.
"Pendekar Kucar Kacir Luka dalammu belum sembuh benar, harap kau
berlindung di tempat yang aman. Kau juga puteri Saba" perintah Si Bocah
Ajaib,
seraya bangkit berdiri.
"Hiii..."
Elang Perak menyambar-nyambar di atas
kepala Pendekar Blo'on. Sedangkan Pangeran Demak masih tetap berada
"Hiii..."
Elang Perak menyambar-nyambar di atas
kepala Pendekar Blo'on. Sedangkan Pangeran Demak masih tetap berada
di
tempatnya.
Kepakan sayap elang itu saja sudah membuat tubuh Suro tergontai-gontai.
Kepakan sayap elang itu saja sudah membuat tubuh Suro tergontai-gontai.
Debu dan
pasir berterbangan. Hingga suasana di sekitarnya gelap seketika.
"Kaak..."
Angin bergemuruh, pohon-pohon seukur-
an paha porak poranda. Tidak lama kemudian terdengar suara Pangeran
"Kaak..."
Angin bergemuruh, pohon-pohon seukur-
an paha porak poranda. Tidak lama kemudian terdengar suara Pangeran
Suprana
yang begitu lantang.
"Kepada orang di bawah Harap kalian tidak bikin ulah dan menyerah
"Kepada orang di bawah Harap kalian tidak bikin ulah dan menyerah
secara
baik-baik kepadaku Aku tahu kalian mungkin orang yang kami
cari"
Elang Perak mendarat di atas batu cadas tinggi.
Pangeran Suprana melompat dari atas punggung binatang
Pangeran Suprana melompat dari atas punggung binatang
tunggangannya.
Dengan hanya beberapa kali lompatan saja ia telah sampai
di depan
Suro Blondo. Hanya sebentar saja ia memperhatikan pemuda
berambut
kemerahan itu. Kini perhatiannya tertuju pada kedua muda-
mudi
berpakaian pengemis
yang baru saja berdiri dari tempat duduknya.
Mula-mula matanya tampak menyipit,
semakin lama memperhatikan. Maka kemu-
dian terdengar suara tawanya bergelak.
Pangeran Demak Pati merasa penyamaran-
nya telah diketahui oleh orang yang sangat ia benci.
'Sepuluh tahun melarikan diri, sepuluh tahun kalian menghilang. Sungguh
yang baru saja berdiri dari tempat duduknya.
Mula-mula matanya tampak menyipit,
semakin lama memperhatikan. Maka kemu-
dian terdengar suara tawanya bergelak.
Pangeran Demak Pati merasa penyamaran-
nya telah diketahui oleh orang yang sangat ia benci.
'Sepuluh tahun melarikan diri, sepuluh tahun kalian menghilang. Sungguh
kasihan
kini kahan menjadi gembel-gembel memalukan Aku sebagai raja
Pasundan
mencari kalian kemana-mana. Tidak tahunya kalian sangat
menyedihkan
Sekarang menyerahlah'
Tidak ada gunanya kalian melawan Tuhan"
kata Pangeran Suprana begitu angkuhnya.
"Kau orang gila lepas dari penjara mana mengaku-ngaku diri Tuhan Kau
Tidak ada gunanya kalian melawan Tuhan"
kata Pangeran Suprana begitu angkuhnya.
"Kau orang gila lepas dari penjara mana mengaku-ngaku diri Tuhan Kau
pikir
pantas dirimu mengaku Tuhan Walau pun wajahmu
tampan, kau sesungguhnya lebih cocok menjadi monyet Ha ha ha..."
tampan, kau sesungguhnya lebih cocok menjadi monyet Ha ha ha..."
celetuk
Suro yang merasa panas telinganya mendengar ucapan Pangeran Suprana.
"Heh..." Raja Sorga Dunia kaget sekaligus menoleh. Di lihatnya pemuda
"Heh..." Raja Sorga Dunia kaget sekaligus menoleh. Di lihatnya pemuda
baju biru
tampak cemberut sambil garuk-garuk kepala.
"Kau yang barusan bicara kurang ajar tadi?"
"Matamu tidak buta. Tentu saja aku yang bicara, apa kau merasa arwah
"Kau yang barusan bicara kurang ajar tadi?"
"Matamu tidak buta. Tentu saja aku yang bicara, apa kau merasa arwah
nenek
moyang selir yang gentayangan kemari dan bicara padamu" Marah
sekali
Pangeran Suprana mendengar ucapan pemuda bertam-
pang ketolol-tololan yang sangat menghina-nya itu.
"Jahanam Aku akan selesakan
urusanku dengan Pangeran Demak dulu, Setelah itu giliranmu nanti” maki yang
Suprana. Seraya berpaling Pangeran
Demak dan puteri Saba. “Kembalikan
mahkota itu dan tunjuk dimana ayahanda Prabu menyembunyikan
pang ketolol-tololan yang sangat menghina-nya itu.
"Jahanam Aku akan selesakan
urusanku dengan Pangeran Demak dulu, Setelah itu giliranmu nanti” maki yang
Suprana. Seraya berpaling Pangeran
Demak dan puteri Saba. “Kembalikan
mahkota itu dan tunjuk dimana ayahanda Prabu menyembunyikan
pedang
Penyebar Bencana"
Pendekar Kucar Kacir pura-pura terkejut.
"Eh, kau manusia dari mana? Apakah kau baru turun dari langit? Aku
Pendekar Kucar Kacir pura-pura terkejut.
"Eh, kau manusia dari mana? Apakah kau baru turun dari langit? Aku
sama
sekali tidak mengenalmu, aku juga tidak mengerti apa maksud
ucapanmu
Aku Pendekar Kucar Kacir, bukan Pangeran apa tadi yang kau sebutkan?"
"Ha ha ha Kau memang pantas menjadi Pendekar Kucar Kacir, sepuluh
"Ha ha ha Kau memang pantas menjadi Pendekar Kucar Kacir, sepuluh
tahun
yang lalu kau pontang panting menyelamatkan diri dari istana
bersama
adikmu. Nyawamu tidak bisa kuampuni, hanya nyawa adikmu
saja yang
dapat kumaafkan, karena ia akan menjadi permaisuriku" kata
Pangeran
Suprana tanpa malu-malu.
Wajah puteri Saba sempat memerah,
sedangkan Pangeran Demak Pati jadi geram sekali. Perubahan air muka
Wajah puteri Saba sempat memerah,
sedangkan Pangeran Demak Pati jadi geram sekali. Perubahan air muka
mereka
tidak sempat terlihat oleh Pangeran Suprana.
Sebaliknya Pendekar Blo'on tampak tidak sabar mendengar ucapan raja
Sebaliknya Pendekar Blo'on tampak tidak sabar mendengar ucapan raja
tengil
itu.
"Hei raja cabul. Sudah selesai kau bicara dengan para pengemis itu?
"Hei raja cabul. Sudah selesai kau bicara dengan para pengemis itu?
Cepatlah
kemari, berlutut di hadapanku. Kata-katamu cuma membuat
gatal
kupingku Cepat turuti perintahku" bentak Suro Blondo sinis.
“Anak setan ini benar-benar Bangat keterlaluan sekali. Kalau aku tidak
“Anak setan ini benar-benar Bangat keterlaluan sekali. Kalau aku tidak
meng-hajarnya
hingga mampus, dia akan semakin kurang ajar saja
padaku"
batin Pangeran Suprana geram.
Cepat sekali Pangeran Suprana alias
Iblis Peruntuh Mahkota alias' Kumbang Pemikat berbalik. Tanpa basa-basi
Cepat sekali Pangeran Suprana alias
Iblis Peruntuh Mahkota alias' Kumbang Pemikat berbalik. Tanpa basa-basi
ia
kirimkan satu jotosan menggeledek ke dada Si Bocah Ajaib. Angin
dingin
bersiut membuat tubuh Suro merinding. Karena serangan
mendadak
itu disertai pengerahan tenaga dalam, dapat dipastikan
pukulan
itu dapat meremukkan dada lawannya. Hanya sepersekian detik
lagi
pukulan itu mendarat di dada lawannya, di luar dugaan Suro
meliukkan
tubuhnya. Ia bergerak ke samping sambil meludahi wajah
Pangeran
Suprana.
Air ludah berhamburan membasahi wajah
raja Sorga Dunia. Pemuda itu selain kaget juga marah sekali. Ia seka air ludah tersebut sambil menggeram.
"Jahanam"
"Ha ha ha Pentang matamu baik-baik, orang gila yang mengaku Tuhan
Air ludah berhamburan membasahi wajah
raja Sorga Dunia. Pemuda itu selain kaget juga marah sekali. Ia seka air ludah tersebut sambil menggeram.
"Jahanam"
"Ha ha ha Pentang matamu baik-baik, orang gila yang mengaku Tuhan
Barangkah
kau mabuk hingga seranganmu jadi melen-
ceng"
kata Suro mencemo'oh. Merasa penasaran Pangeran Suprana
kembali
lepaskan tendangan beruntun ke arah awannya.
Kali ini Suro melompat-lompat sambil menggaruk bagian-bagian
Kali ini Suro melompat-lompat sambil menggaruk bagian-bagian
tubuhnya.
Tiba-tiba saja pemuda ini berbalik lalu dengart cepat menangkis
tendangan
lawannya dengan sikunya.
Dak... Dik.... Duk....Splak
Iblis Peruntuh Mahkota bersurut mundur.
Kakinya yang berbenturan dengan siku lawannya terasa mendenyut
Dak... Dik.... Duk....Splak
Iblis Peruntuh Mahkota bersurut mundur.
Kakinya yang berbenturan dengan siku lawannya terasa mendenyut
seperti
di tusuk-tusuk ribuan batang jarum.
"Orang ini ternyata mempunyai kepandaian di luar dugaanku semula.
"Orang ini ternyata mempunyai kepandaian di luar dugaanku semula.
Melihat
wajahnya aku tidak menyangka ia memiliki kesaktian. Gerakan-
gerakannya
aneh seperti gerakan monyet. Aku harus cepat menying-
kirkannya"
batin Pangeran Suprana.
Untuk kedua kalinya Kumbang Pemikat
merangsak maju. Ia langsung mempergunakan jurus Menembus Langit
Untuk kedua kalinya Kumbang Pemikat
merangsak maju. Ia langsung mempergunakan jurus Menembus Langit
Merengkuh
Matahari. Salah satu jurus warisan Dewa Kubu yang sangat
dahsyat.
Lalu kedua tangan Iblis Peruntuh Mahkota ini secara bersamaan
menghantam
ke bagian-bagian tubuh lawannya. Suro menggerung ketika
merasakan
adanya sambaran hawa panas seakan memanggang tubuhnya.
Ia
bersalto ke belakang. Sambil berjongkok ia terus
menghindar. Gerakannya cepat bukan main, sedangkan dari bibirnya
menghindar. Gerakannya cepat bukan main, sedangkan dari bibirnya
terdengar
suara ngak ngik nguk tiada henti.
Meskipun gerakan-gerakan unik Suro
yang seperti monyet mabuk ini sempat mengecoh Pangeran Suprana.
Meskipun gerakan-gerakan unik Suro
yang seperti monyet mabuk ini sempat mengecoh Pangeran Suprana.
Tetapi
ketika raja Sorga Dunia ini lipat gandakan tenaga dalamnya dan
lakukan
serangan bertubi-tubi Suro mulai merasakan adanya tekanan yang
kian
menghebat, la tidak dapat tinggal diam saat jemari tangan lawan
menjebol
dadanya secepat kilat ia melompat, kaninya segera menendang
Duuk
"Ukh..."
Sentakan keras serta akibat dorongan
Kumbang Pemikat yang begitu besar membuat Suro nyaris terbanting.
Duuk
"Ukh..."
Sentakan keras serta akibat dorongan
Kumbang Pemikat yang begitu besar membuat Suro nyaris terbanting.
Pangeran
Suprana menggelengkan kepalanya sekali.
Setelah itu melompat lagi, kini jemari tangannya mencengkeram pundak Suro.
Pemuda itu jelas tidak membiarkan bahunya hancur dicengkeram lawan,
Setelah itu melompat lagi, kini jemari tangannya mencengkeram pundak Suro.
Pemuda itu jelas tidak membiarkan bahunya hancur dicengkeram lawan,
karena ia
sudah melihat kedua tangan lawan sudah berubah seperti bara
sampai
sebatas siku.
"Dia tidak bisa dipandang enteng. Monyet satu ini harus di beri sedikit pelajaran"
batin Suro.
Pendekar Blo'on menggeser langkahnya.
Segera ia kerahkan jurus Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau. Pemuda
"Dia tidak bisa dipandang enteng. Monyet satu ini harus di beri sedikit pelajaran"
batin Suro.
Pendekar Blo'on menggeser langkahnya.
Segera ia kerahkan jurus Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau. Pemuda
baju biru
ini langsung melompat tinggi ke udara. Serangan Pangeran
Suprana
luput, saat itu Suro sudah meluncur kembali ke bawah.
Tendangan
lurus di arahkan tepat ke bagian kepala lawannya. Serangan
yang
sangat cepat^ ini tidak sempat lagi dielakkan oleh Pangeran Suprana.
Dhaak
Dengan telak kepala Pangeran kena
dihantam oleh Suro. Laki-laki ini jatuh tidak jauh dari tempat Pangeran
Dhaak
Dengan telak kepala Pangeran kena
dihantam oleh Suro. Laki-laki ini jatuh tidak jauh dari tempat Pangeran
Demak dan
puteri Saba berada. Iblis Peruntuh Mahkota yang masih
puyengan
ini langsung bersuit. Sesungguhnya ia belum kalah, namun
rupanya
ia punya rencana lain.
"Kiiik"
Elang Perak yang sudah tampak resah
di atas batu cadas kepakkan sayapnya.
Makhluk raksasa itu langsung terbang rendah mendekati Suro.
"Bunuh setan tolol itu, sahabatku" teriak Pangeran Suprana.
"Kaaak..."
Elang Perak memekik keras. Suro
terkesiap.
"Celaka Jika binatang ini menyerangku, mustahil aku dapat melindungi
"Kiiik"
Elang Perak yang sudah tampak resah
di atas batu cadas kepakkan sayapnya.
Makhluk raksasa itu langsung terbang rendah mendekati Suro.
"Bunuh setan tolol itu, sahabatku" teriak Pangeran Suprana.
"Kaaak..."
Elang Perak memekik keras. Suro
terkesiap.
"Celaka Jika binatang ini menyerangku, mustahil aku dapat melindungi
Pangeran
Demak yang sedang terluka, si jahanam itu pasti menghendaki
puteri
Saba" maki Suro dalam hati. Dan pemuda ini sebagaimana
kenyataannya
memang sudah tidak punya
waktu
lagi untuk berfikir jauh. Kepakan Elang Perak telah menghantam
Suro.
Bukan main dahsyat angin yang ditimbulkannya.
Suro nyaris terpelanting. Namun ia cepat berguling-guling. Elang Perak
Suro nyaris terpelanting. Namun ia cepat berguling-guling. Elang Perak
menukik
tajam, paruhnya mematuk kepala Suro.
Melihat bahaya yang mengancamnya, Suro
lepaskan pukulan Kera Sakti Menolak Petir Sinar putih bergulung-gulung
Melihat bahaya yang mengancamnya, Suro
lepaskan pukulan Kera Sakti Menolak Petir Sinar putih bergulung-gulung
melabrak
burung raksasa itu. Namun Elang Perak seakan mengerti, ia
kepakkan
sayapnya Angin bagai badai topan menderu, pukulan Suro
buyar.
Pemuda konyol ini memaki panjang pendek. Ia gagal mengusir
Elang
Perak, kini bahaya lain mengancam jiwanya.
Kaki elang raksasa itu mencengkeram ke arah perutnya. Pendekar Blo'on
Kaki elang raksasa itu mencengkeram ke arah perutnya. Pendekar Blo'on
langsung
mempergunakan jurus Tawa Kera Siluman.
Tubuh pemuda itu tampak berkelebat disertai tawa yang seakan mengitari
Tubuh pemuda itu tampak berkelebat disertai tawa yang seakan mengitari
elang
tersebut.
Namun hanya sekejab saja Elang Perak menjadi bingung, sekejab
Namun hanya sekejab saja Elang Perak menjadi bingung, sekejab
kemudian
ia sudah menguasai keadaan dan keluarkan suara
nyaring.
"Kaaaaak..."
Elang Perak terbang rendah berputar-
putar. Suro leletkan lidah dan mulutnya langsung termonyong-monyong,
nyaring.
"Kaaaaak..."
Elang Perak terbang rendah berputar-
putar. Suro leletkan lidah dan mulutnya langsung termonyong-monyong,
ancaman
paruh burung ini tidak dapat dianggap main-rnain. Belum lagi
cakar-cakarnya.
Inilah yang selalu dijaga oleh Suro. Namun di
Brees
"Huaagkh..."
Murid Penghulu Siluman Kera Putih ini
terpelanting. Pakaiannya robek, tubuhnya yang dipenuhi luka tampak
Brees
"Huaagkh..."
Murid Penghulu Siluman Kera Putih ini
terpelanting. Pakaiannya robek, tubuhnya yang dipenuhi luka tampak
kotor
berselimut debu. Pemuda ini merasakan bumi seperti berputar
dengan
cepat, kepalanya pusing dan sakit mendenyut. Setelah menggeleng
dan
kerahkan tenaga dalam ia bangkit berdiri.
"Burung jahanam" maki Suro dalam kemarahannya yang meledak-ledak.
Makiannya itu disambut pekikan Elang
Perak, binatang ini langsung menyerbunya lagi. Semakin lama tampaknya
"Burung jahanam" maki Suro dalam kemarahannya yang meledak-ledak.
Makiannya itu disambut pekikan Elang
Perak, binatang ini langsung menyerbunya lagi. Semakin lama tampaknya
serangan
sisa burung purba ini semakin mengganas.
Angin kembali menderu, Suro bertambah sewot. Lalu ia lepaskan pukulan
Angin kembali menderu, Suro bertambah sewot. Lalu ia lepaskan pukulan
'Ratapan
Pembangkit Sukma'. Elang Perak agaknya mengetahui bahaya
yang
mengancamnya. Ia bergerak mundur menjauh ketika melihat sinar
putih
laksana salju bergulung-gulung ke arahnya. Karena begitu jauhnya
jarak
antara sasaran dengan Suro. Praktis pukulan yang dilepaskannya
tidak
menghasilkan apa-apa. Semakin bertambah kesallah pemuda ini
dibuatnya.
Ia kemudian melihat Elang Perak kembali mendekatinya.
Pemuda
ini langsung bersiap siaga.
Sementara itu Pendekar Kucar Kacir
dan adiknya juga sedang menghadapi serangan Iblis Peruntuh Mahkota.
Sementara itu Pendekar Kucar Kacir
dan adiknya juga sedang menghadapi serangan Iblis Peruntuh Mahkota.
Karena
luka dalam yang diderita oleh Pangeran Demak masih belum
sembuh
benar, maka
pemuda ini tidak berani bentrok tangan secara langsung dengan lawannya.
pemuda ini tidak berani bentrok tangan secara langsung dengan lawannya.
Dua
bersaudara ini sama-sama lepaskan pukulan ke arah lawannya. Dua
leret
sinar merah datang menggebu dan langsung menghantam Pangeran
Suprana.
Laki-laki ini tidak tinggal diam. Ia juga kibaskan kedua
tangannya
memapak serangan itu. Sinar hitam bergulung-gulung. Lalu
terjadilah
ledakan-ledakan yang sangat keras
Buuum
Puteri Saba memekik keras, sedangkan
Pangeran Demak yang memang belum
sembuh benar dari luka yang dideritanya tampak terpelanting. Iblis
Buuum
Puteri Saba memekik keras, sedangkan
Pangeran Demak yang memang belum
sembuh benar dari luka yang dideritanya tampak terpelanting. Iblis
Peruntuh
Mahkota tertawa membahak.
"Kanda..." pekik puteri Saba ketika melihat Pangeran Demak muntahkan
"Kanda..." pekik puteri Saba ketika melihat Pangeran Demak muntahkan
darah
kembali.
"Ha ha ha Sekarang kau benar-benar sesuai dengan julukanmu" desis
kembali.
"Ha ha ha Sekarang kau benar-benar sesuai dengan julukanmu" desis
Kumbang
Pemikat. Dengan langkah tegap Pangeran Suprana datang
menghampiri.
Ia bermaksud membunuh pewaris kerajaan yang sah saat
itu juga.
Kemudian Pangeran gila ini mencabut pedang, senjata diayunkan.
Ketika senjata
itu menderu, tampak bayangan putih berkelebat dan....
Traang ....Tangan Pangeran Suprana sempat ter-
getar. Ia cepat menoleh dan terlihat olehnya puteri Saba berdiri sambil
Traang ....Tangan Pangeran Suprana sempat ter-
getar. Ia cepat menoleh dan terlihat olehnya puteri Saba berdiri sambil
memegang
sepotong kayu di mana pada setiap ujungnya mencuat mata
pisau
putih berkilat-kilat.
"Jangan coba-coba mengganggu kandaku"
ancam sang puteri.
Iblis Peruntuh Mahkota tersenyum,
matanya jelalatan seakan menggerayangi lekuk-lekuk tubuh puteri cantik
"Jangan coba-coba mengganggu kandaku"
ancam sang puteri.
Iblis Peruntuh Mahkota tersenyum,
matanya jelalatan seakan menggerayangi lekuk-lekuk tubuh puteri cantik
tersebut.
"Kau calon permaisuriku, jangan membantah Apa kau suka kalau aku
"Kau calon permaisuriku, jangan membantah Apa kau suka kalau aku
memperkosa
dirimu di depan saudaramu Ha ha ha..."
"Kau benar-benar iblis" maki puteri Saba.
Ia segera lakukan penyerangan kembali.
Namun dengan mudahnya Pangeran Suprana
mentahkan serangan-serangan ganas yang dilakukan oleh lawan. Puteri
"Kau benar-benar iblis" maki puteri Saba.
Ia segera lakukan penyerangan kembali.
Namun dengan mudahnya Pangeran Suprana
mentahkan serangan-serangan ganas yang dilakukan oleh lawan. Puteri
Saba
kerahkan tenaga dalam ke bagian senjata yang dipegangnya. Kedua
ujung
kayu tampak membuka, lalu dari dalamnya meluncur dua ekor ular
berwarna
kuning. Ular-ular tersebut menyerang sang Pangeran. Pedang
dikibaskan
dengan cepat
Tes
Salah seekor ular berhasil dibabatnya hingga putus menjadi dua.
Tes
Salah seekor ular berhasil dibabatnya hingga putus menjadi dua.
Sedangkan
yang satunya lagi berhasil menerobos pertahanan-
nya dan mematuk perut pemuda itu.
"Akh... keparat" Pangeran Suprana memaki, tubuhnya terhuyung-huyung.
nya dan mematuk perut pemuda itu.
"Akh... keparat" Pangeran Suprana memaki, tubuhnya terhuyung-huyung.
Hawa
panas menyerang dirinya. Kini ia urungkan niat untuk membunuh
Pangeran
Demak.
Sebaliknya ia melompat ke samping kiri.
Puteri Saba tersentak kaget dan coba menghindar dari totokan. Tapi
Sebaliknya ia melompat ke samping kiri.
Puteri Saba tersentak kaget dan coba menghindar dari totokan. Tapi
gerakannya
kalah cepat dengan gerakan lawannya.
"Tak Tak
"Akh..." "
Puteri Saba menjerit tertahan, tubuhnya
langsung kaku. Gadis ini tidak dapat berbuat apa-apa ketika Pangeran
"Tak Tak
"Akh..." "
Puteri Saba menjerit tertahan, tubuhnya
langsung kaku. Gadis ini tidak dapat berbuat apa-apa ketika Pangeran
Suprana
menyambar dirinya dan berlari menjauh dengan terhu yung-huyung
Swiet
Terdengar suitan nyaring. Elang Perak
yang sedang mencecar Pendekar Blo'on sontak meninggalkan lawan begitu
Swiet
Terdengar suitan nyaring. Elang Perak
yang sedang mencecar Pendekar Blo'on sontak meninggalkan lawan begitu
mendengar
suara majikannya. Burung itu di sebuah tempat menghilang.
Ketika ia
terbang lagi ke angkasa. Maka terlihatlah oleh Pendekar Blo'on
Pangeran
Suprana dan puteri Saba yang dalam keadaan tertotok telah
berada di
atasnya. Suro jadi cemas, kesal dan dongkol. Rahangnya
menggembung,
tiada henti ia garuk-garuk kepala saking bingung-nya. Di
atas sana
dalam ketinggian terdengar suara Pangeran Suprana mengejek.
"Untuk sementara aku akan bersenang-
senang dulu. Setelah itu aku akan mencari kalian berdua. Kalau mau
"Untuk sementara aku akan bersenang-
senang dulu. Setelah itu aku akan mencari kalian berdua. Kalau mau
selamat
serahkan mahkota dan pedang pemersatu padaku.
"Setan jahanam Dia akan merusak kehormatan adikmu, Pangeran geram
"Setan jahanam Dia akan merusak kehormatan adikmu, Pangeran geram
Pendekar
Blo'on sambil menghampiri Pendekar Kucar Kacir
"Selamatkan adikku, Suro. Pangeran Suprana pasti kembali ke istana." jelas
"Selamatkan adikku, Suro. Pangeran Suprana pasti kembali ke istana." jelas
Pendekar
Kucar Kacir sambil pegangi
dadanya.
"Bagaimana dengan kau?" Suro bingung juga khawatir.
"Jangan hiraukan aku, jika kita sama-sama selamat. Nanti bertemu di
dadanya.
"Bagaimana dengan kau?" Suro bingung juga khawatir.
"Jangan hiraukan aku, jika kita sama-sama selamat. Nanti bertemu di
puncak
bukit Sembuang."
"Baiklah Kau telan ini dulu" Suro Blondo memberikan tiga obat pulung
"Baiklah Kau telan ini dulu" Suro Blondo memberikan tiga obat pulung
yang
salah satu diantaranya berwarna merah.
"Terima kasih. Jangan tunda-tunda waktu, sahabatku. Sebelum segala-
"Terima kasih. Jangan tunda-tunda waktu, sahabatku. Sebelum segala-
galanya
jadi kucar kacir"
"Baik, aku pergi dulu" jawab Suro.
Tanpa menoleh-noleh lagi pemuda itu segera berkelebat pergi. Gerakannya
"Baik, aku pergi dulu" jawab Suro.
Tanpa menoleh-noleh lagi pemuda itu segera berkelebat pergi. Gerakannya
cepat
sekali, karena pada waktu itu ia telah mengerahkan ilmu lari cepat
Kilat
Bayangan. Kini Pangeran Demak Pati tinggal seorang diri.
Ia menyesali kelemahan diri sendiri. Antara kecewa, putus asa membaur
Ia menyesali kelemahan diri sendiri. Antara kecewa, putus asa membaur
menjadi
satu.
"Aku ini mengapa menjadi seperti banci?
Melindungi adik sendiri saja aku tidak mampu. Benar-benar tolol"
"Aku ini mengapa menjadi seperti banci?
Melindungi adik sendiri saja aku tidak mampu. Benar-benar tolol"
Pangeran
Demak Pati memaki diri sendiri. Ia lalu bangkit berdiri,
selanjutnya
melangkah terseok-seok meninggalkan tempat itu.
Suasana rimba persilatan semakin mema-
nas. Ditambah lagi dengan ketegangan pihak kerajaan yang terus mencari
Suasana rimba persilatan semakin mema-
nas. Ditambah lagi dengan ketegangan pihak kerajaan yang terus mencari
mahkota
dan juga pedang pemersatu kerajaan Pasundan.
Kabar tentang pedang keramat itu dengan cepat langsung meluas. Maka
Kabar tentang pedang keramat itu dengan cepat langsung meluas. Maka
bermunculan-lah
tokoh-tokoh hitam yang juga menginginkan Pedang
Penyebar
Bencana yang konon
apabila senjata itu tercabut dari rangkanya, sinarnya saja dapat membuat
apabila senjata itu tercabut dari rangkanya, sinarnya saja dapat membuat
orang di
sekelilingnya menjadi debu.
Setan Terompet menjadi resah memikir-
kan persoalan ini. Ia juga khawatir dengan keselamatan murid-muridnya.
Setan Terompet menjadi resah memikir-
kan persoalan ini. Ia juga khawatir dengan keselamatan murid-muridnya.
Pendekar
Kucar Kacir memang memiliki kesaktian yang cukup tinggi.
Begitu
juga dengan puteri Saba. Namun tokoh-tokoh yang muncul di
rimba persilatan rata-rata mempunyai kepandaian seendang. . ,.
"Tentara kerajaan kulihat ada di mana-mana. Orang-orang rimba
rimba persilatan rata-rata mempunyai kepandaian seendang. . ,.
"Tentara kerajaan kulihat ada di mana-mana. Orang-orang rimba
persilatan
juga tampaknya lebih banyak yang pergi ke bukit Sembuang.
Aku yakin
sekali pedang itulah yang menjadi perhatian mereka. Aku tidak
tahu kedua
muridku sekarang berada di
mana." kata kakek tua berpakaian selempang itu seraya menimang-nimang
mana." kata kakek tua berpakaian selempang itu seraya menimang-nimang
buntalan berisi
mahkota raja. "Sebaiknya aku menyusul ke sana."
Kakek berpakaian selempang yang tidak
lain adalah Setan Terompet ini bermaksud beranjak dari tempatnya berdiri.
Kakek berpakaian selempang yang tidak
lain adalah Setan Terompet ini bermaksud beranjak dari tempatnya berdiri.
Namun ia
urungkan niatnya saat melihat sosok tubuh berpakaian kulit
harimau
tampak duduk membelakanginya. Yang mengejutkan bagi
Setan Terompet pantat orang itu sama sekali tidak menyentuh tanah.
Setan Terompet pantat orang itu sama sekali tidak menyentuh tanah.
Duduknya
seakan
mengambang dua jengkal di atas tanah.
Orang ini sama sekali tidak terlihat wajahnya, juga tidak bicara apa-apa.
mengambang dua jengkal di atas tanah.
Orang ini sama sekali tidak terlihat wajahnya, juga tidak bicara apa-apa.
Karena merasa
tidak punya permusuhan apa-apa.
Maka Setan Terompet mengambil arah lain.
Kemudian ia berjalan dengan tergesa-gesa.
Baru beberapa tombak dia berjalan. Di depannya tampak pula orang yang sama.
Posisinya tetap duduk dalam keadaan mengambang dan
Maka Setan Terompet mengambil arah lain.
Kemudian ia berjalan dengan tergesa-gesa.
Baru beberapa tombak dia berjalan. Di depannya tampak pula orang yang sama.
Posisinya tetap duduk dalam keadaan mengambang dan
memunggunginya
pula.
Setan Terompet membalikkan tubuh dan
berjalan ke arah lain. Rasa kagetnya semakin menjadi-jadi disaat ia melihat
Setan Terompet membalikkan tubuh dan
berjalan ke arah lain. Rasa kagetnya semakin menjadi-jadi disaat ia melihat
orang
yang sama telah pula duduk searah dengan jalan yang
ditempuhnya.
Setan Terompet segera menyadari adanya gelagat yang
tidak
baik ini . Belum sempat ia mengajukan pertanyaan Terdengar suara
orang
yang duduk memung
gunginya, suara yang begitu dingin seakan
meremas-remas jantung Setan Terompet
"Langkahku telah terseret jauh demi seorang murid yang kucinta. Kutinggalkan tanah pengasingan di mana orang-orang telah menganggap
gunginya, suara yang begitu dingin seakan
meremas-remas jantung Setan Terompet
"Langkahku telah terseret jauh demi seorang murid yang kucinta. Kutinggalkan tanah pengasingan di mana orang-orang telah menganggap
aku telah
terkubur lama di sana. Tapaku yang hampir seratus tahun
membuat
ujudku antara ada dan tiada. Aku berjalan dalam waktu,
langkahku
secepat topan. Lariku secepat perjalanan cahaya dalam
kegelapan.
Tiada kehendak yang tidak terkabul, tiada pula hajat yang
tidak
terpenuhi. Anak manusia yang berjuluk Setan Terompet. Jika kau
belajar
ilmu kesaktian seabad lagi. Kau belum bisa menandingi
kesaktianku
Setiap aku menemui manusia, pasti ada yang kuinginkan.
Untuk itu terus terang kukatakan padamu, serahkan mahkota kerajaan itu padaku.
Setelah itu nyawamu kubiarkan tetap bersama ragamu"
Apa yang dikhawatirkan Setan Terompet
menjadi kenyataan juga. Laki-laki yang belum terlihat wajahnya
Untuk itu terus terang kukatakan padamu, serahkan mahkota kerajaan itu padaku.
Setelah itu nyawamu kubiarkan tetap bersama ragamu"
Apa yang dikhawatirkan Setan Terompet
menjadi kenyataan juga. Laki-laki yang belum terlihat wajahnya
berpakaian
kulit harimau ini ternyata memang menghendaki mahkota raja
yang di
bawanya.
Tet Tet Tet
Setan Terompet meniup terompetnya.
Terdengar suara bergemuruh menyakitkan telinga. Karena dalam suara
Tet Tet Tet
Setan Terompet meniup terompetnya.
Terdengar suara bergemuruh menyakitkan telinga. Karena dalam suara
terompet
tadi terkandung pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi.
Sungguh
mengejutkan jika
laki-laki
berpakaian kulit harimau ini sama sekali tidak bergeming. Ia tetap
duduk
tenang mengambang di udara. Setan Terompet termasuk manusia
sakti,
namun ia terpaksa telan ludah membasahi kerong-kongannya yang
terasa
kering tiba-tiba.
"Mahkota ini bukan milikku, ini hanya barang titipan yang di amanahkan
"Mahkota ini bukan milikku, ini hanya barang titipan yang di amanahkan
padaku.Kuharap
Anda suka mengerti dan memberi
jalan padaku untuk berlalu" jawab Setan Terompet berusaha ramah.
"Aku hanya bicara sekali lagi. Kalau kau membantah aku akan rampas
jalan padaku untuk berlalu" jawab Setan Terompet berusaha ramah.
"Aku hanya bicara sekali lagi. Kalau kau membantah aku akan rampas
mahkota berikut
nyawamu" Dingin suara laki-laki berpakaian kulit
harimau
tersebut.
Setan Terompet bukan orang yang mudah
digertaki tanpa menghiraukan ucapan laki-laki yang seluruh wajahnya
Setan Terompet bukan orang yang mudah
digertaki tanpa menghiraukan ucapan laki-laki yang seluruh wajahnya
tertutup
rambut panjang menjela ini ia berkelebat pergi.
Namun baru beberapa langkah, laki-laki yang duduk mengambang di atas
Namun baru beberapa langkah, laki-laki yang duduk mengambang di atas
tanah itu
sentakkan kepalanya. Angin dingin menderu, Setan Terompet terjajar.
"Setan keparat Hiii..." teriak Setan Terompet kalap. Seraya langsung
"Setan keparat Hiii..." teriak Setan Terompet kalap. Seraya langsung
lepaskan
pukulan jarak jauh ke arah laki-laki berpakaian harimau. Sekali
lagi
orang itu gelengkan kepala.
Plas
Pukulan sakti yang dilepaskan oleh Setan Terompet lenyap seakan
Plas
Pukulan sakti yang dilepaskan oleh Setan Terompet lenyap seakan
menghantam
sebuah
ruangan hampa udara. Kakek berselempang
tersentak kaget. Pukulan yang dilepaskannya bukan sembarang pukulan.
ruangan hampa udara. Kakek berselempang
tersentak kaget. Pukulan yang dilepaskannya bukan sembarang pukulan.
Jika
hanya tokoh berkepandaian biasa saja yang terkena serangan itu dapat
dipastikan
ia menemui ajal seketika.
"Siapa kau?"
Laki-laki berpakaian kulit harimau tertawa pelan, lalu mulutnya mengatup kembali.
Ketika bicara ia sama sekali tidak meng-hadapkan wajahnya pada lawan
"Siapa kau?"
Laki-laki berpakaian kulit harimau tertawa pelan, lalu mulutnya mengatup kembali.
Ketika bicara ia sama sekali tidak meng-hadapkan wajahnya pada lawan
bicaranya
melainkan tetap memunggunginya.
"Aku Dewa Kubu, datang ke sini ingin melihat kematian juga melihat
"Aku Dewa Kubu, datang ke sini ingin melihat kematian juga melihat
darah.
Aku juga ingin membantu muridku Pangeran Suprana Kau sudah
tahu,
serahkan mahkota raja secepatnya"
Semakin bertambah kagetlah Setan
Terompet. Orang yang satu ini tidak dapat dianggap main-main.
Semakin bertambah kagetlah Setan
Terompet. Orang yang satu ini tidak dapat dianggap main-main.
Kesaktiannya
sulit dijajaki, dan ia manusia sesat pula. Keadaan semakin
runyam,
persoalan bertambah pelik dan sukar.
"Bagus Aku sudah tahu sekarang muridmu iblis dan rupanya kau bapak
moyangnya iblis Kau boleh ambil mahkota di tanganku jika sudah
"Bagus Aku sudah tahu sekarang muridmu iblis dan rupanya kau bapak
moyangnya iblis Kau boleh ambil mahkota di tanganku jika sudah
melangkahi
mayat-ku" tantang Setan Terompet gusar.
Ucapan Setan Terompet sama sekali
tidak membuat Dewa Kubu memalingkan
muka ke arahnya. Tokoh Andalas ini (agar
lebih jelas ikuti Episode Memburu Manusia Setan), gerakan tangan kirinya.
Ucapan Setan Terompet sama sekali
tidak membuat Dewa Kubu memalingkan
muka ke arahnya. Tokoh Andalas ini (agar
lebih jelas ikuti Episode Memburu Manusia Setan), gerakan tangan kirinya.
Lima
larik sinar menderu, sebelum serangan itu menghantam Setan Terompet. Maka si
kakek hantamkan mulut terompetnya.
Prang Praang
Setan Terompet bersurut mundur, tangan-
nya yang memegang terompet itu tersengat hawa dingin membekukan.
Prang Praang
Setan Terompet bersurut mundur, tangan-
nya yang memegang terompet itu tersengat hawa dingin membekukan.
Ia
kerahkan tenaga dalam, setelah itu dengan cepat ia menyerbu ke depan.
Terompet
ditiup tiga kali mengeluarkan suara yang dapat membuat hancur syaraf manusia.
Dewa Kubu
tertawa pendek, lalu kedua bibirnya mengatup
rapat.
Masih dalam posisi duduk tidak berubah, Dewa Kubu gerakkan kedua tangannya ke
samping.
Tiba-tiba
Setan Terompet merasa seperti ada
sebuah
kekuatan dahsyat menindih sekaligus membungkam suara terompetnya.
Belum hilang rasa kaget di hati tokoh
dari Kutai ini Dewa Kubu menggerakkan tangannya ke atas seakan mengangkat.
Anehnya tubuh Setan Terompet ikut pula terangkat ke udara.
Belum hilang rasa kaget di hati tokoh
dari Kutai ini Dewa Kubu menggerakkan tangannya ke atas seakan mengangkat.
Anehnya tubuh Setan Terompet ikut pula terangkat ke udara.
Serangan
seperti ini sangat jarang dimiliki oleh tokoh-tokoh rimba persilatan di masa
itu.
Meskipun
dirinya terancam bahaya besar. Dalam keadaan terangkat ke udara itu ia lepaskan
pukulan dahsyat.
Hawa
panas menyengat menghantam Dewa Kubu. Laki-laki yang masih
belum
jelas wajahnya ini gerakkan tangan yang satunya lagi.
Sssst....Serangan itu meleset dan menghantam
pohon di samping Dewa Kubu. Laki-laki itu menggerakkan tangan kanannya.
Sssst....Serangan itu meleset dan menghantam
pohon di samping Dewa Kubu. Laki-laki itu menggerakkan tangan kanannya.
Setan
Terompet tiba-tiba merasa tubuhnya seperti tersedot ke arah
lawannya.
Meskipun ia berusaha bertahan namun kekuatan lawannya terus membetotnya.
Lama kelamaan ia pun tidak kuat
bertahan. Tubuhnya meluncur deras ke arah Dewa Kubu. Sejengkal lagi badannya menubruk lawan,
Lama kelamaan ia pun tidak kuat
bertahan. Tubuhnya meluncur deras ke arah Dewa Kubu. Sejengkal lagi badannya menubruk lawan,
Setan
Terompet hantamkan senjatanya ke bagian kepala Dewa Kubu.
Prang...Mulut terompetnya melesak, Dewa Kubu
bergeming pun tidak. Tiba-tiba kakinya menendang. Sedangkan rambutnya yang
berubah kaku laksana kawat baja menghantam perut Setan Terompet.
Prang...Mulut terompetnya melesak, Dewa Kubu
bergeming pun tidak. Tiba-tiba kakinya menendang. Sedangkan rambutnya yang
berubah kaku laksana kawat baja menghantam perut Setan Terompet.
Laki-laki
itu sudah tidak dapat menghindar lagi. Perutnya ditembusi ribuan
batang
rambut, beton Terompet menjerit sambil mendekap perutnya.
Ketika
rambut yang berlumuran darah itu disentakkan. Maka Setan Terompet
terbanting
ke tanah. Ia tewas seketika, tidak terbayangkan betapa tingginya ilmu Dewa
Kubu,
apalagi
mengingat orang seperti Setan Terompet adalah
tokoh
yang memiliki kepandaian tidak rendah.
Mahkota dalam buntalan diambil oleh
laki-laki berpakaian kulit harimau ini. Ia tertawa sambil menimang-nimang mahkota tersebut.
Mahkota dalam buntalan diambil oleh
laki-laki berpakaian kulit harimau ini. Ia tertawa sambil menimang-nimang mahkota tersebut.
Setelah
itu Dewa Kubu berdiri sepenuhnya di atas tanah. Selanjutnya tokoh aneh ini
langsung
berkelebat pergi meninggalkan mayat Setan Terompet
yang
mulai membeku.
Tidak lama setelah perginya Dewa Kubu
sambil membawa mahkota kerajaan. Di
tempat itu terdengar suara bersin-bersin yang tentu saja membuat
Tidak lama setelah perginya Dewa Kubu
sambil membawa mahkota kerajaan. Di
tempat itu terdengar suara bersin-bersin yang tentu saja membuat
burung-burung
pemakan bangkai berterbangan menjauh.
Hanya beberapa saat setelah terdengar suaranya, muncul pula orangnya.
Hanya beberapa saat setelah terdengar suaranya, muncul pula orangnya.
Ia tidak lain adalah seorang laki-laki
berambut kelabu dan berjenggot kelabu.
Mata si kakek tampak mendelik ketika melihat
Setan Terompet terkapar tanpa nyawa. Tergesa-gesa ia
datang menghampiri.
"Saudaraku Setan Terompet?" Ki Bersin menggerung keras. Seraya memeluki mayat adiknya.
datang menghampiri.
"Saudaraku Setan Terompet?" Ki Bersin menggerung keras. Seraya memeluki mayat adiknya.
"Aku datang jauh-jauh kemari, tidak
tahunya kau suruh aku melihat mayatmu?
Setan
mana yang telah membuat-mu kaku begini?" desis Ki Bersin di sela-sela isak
tangisnya.
Setelah puas menangis, Ki Bersin
tengadahkan wajahnya. Ia teringat sesuatu
"Aku punya ajian Pati Darah, mengapa aku sebodoh ini. Dia tidak mungkin mati selama
aku masih hidup. Akupun tidak akan mati selama Setan Terompet masih hidup
Setelah puas menangis, Ki Bersin
tengadahkan wajahnya. Ia teringat sesuatu
"Aku punya ajian Pati Darah, mengapa aku sebodoh ini. Dia tidak mungkin mati selama
aku masih hidup. Akupun tidak akan mati selama Setan Terompet masih hidup
Mengapa
aku harus bersedih, hu hu hu..." Ki Bersin bangkit berdiri, mayat
saudaranya yang
sudah
dingin ini dilangkahinya seba-nyak tiga kali. Setelah melangkahi mayat itu tiga
kali,
maka Ki
Bersin menunggu sejenak. Reaksinya kemudian segera terlihat.
Mayat yang sudah dingin tersebut tampak bergerak-gerak. Setan
Mayat yang sudah dingin tersebut tampak bergerak-gerak. Setan
Terompet
menggeliat sambil merintih. Tidak lama ia merentak bangkit.
"Waduuuh... sakit... Kk... kau..." Setan Terompet kelihatan terkejut sekali. "Bagaimana Kakang bisa berada di sini?"
""Kepalamu peang Setan Terompet. Jika aku tidak muncul dalam waktu yang tepat.
Tubuhmu seminggu mendatang sudah mem-
busuk. Coba kau ingat-ingat siapa yang membunuhmu?"
Setan Terompet pegangi perutnya yang
masih meneteskan darah di sana-sini. Ki Bersin segera membaca mantra-mantra
"Waduuuh... sakit... Kk... kau..." Setan Terompet kelihatan terkejut sekali. "Bagaimana Kakang bisa berada di sini?"
""Kepalamu peang Setan Terompet. Jika aku tidak muncul dalam waktu yang tepat.
Tubuhmu seminggu mendatang sudah mem-
busuk. Coba kau ingat-ingat siapa yang membunuhmu?"
Setan Terompet pegangi perutnya yang
masih meneteskan darah di sana-sini. Ki Bersin segera membaca mantra-mantra
Pati
Darah, lalu kedua tangannya di usapkan ke bagian luka di perut adiknya. Secara
aneh, luka itu pun lenyap.
Kini Setan Terompet tertawa-tawa seperti anak kecil yang baru mendapat mainan. Ki Bersin melotot.
"Cepat katakan siapa yang membunuhmu?" bentak kakek berambut kelabu tidak
sabar lagi.
"Yang membunuhku Dewa Kubu. Guru
Pangeran Keparat Suprana. Ia bahkan telah melarikan mahkota itu. Duh,
Kini Setan Terompet tertawa-tawa seperti anak kecil yang baru mendapat mainan. Ki Bersin melotot.
"Cepat katakan siapa yang membunuhmu?" bentak kakek berambut kelabu tidak
sabar lagi.
"Yang membunuhku Dewa Kubu. Guru
Pangeran Keparat Suprana. Ia bahkan telah melarikan mahkota itu. Duh,
apa nanti
jawabku kalau Si Kucar Kacir menanyakan
mahkota kerajaan? Apa...??" Setan Terompet menggerung.
"Kau tua bangka tolol. Menghadapi satu musuh saja sudah kalah, bahkan mampus
malah. Betapa memalukan Setan Terompet?"
Ki Bersin kelihatan gusar sekali.
"Aku tidak malu-malu mengakuinya.
Namun harus diingat jika pun kita berdua maju bersama-sama.
mahkota kerajaan? Apa...??" Setan Terompet menggerung.
"Kau tua bangka tolol. Menghadapi satu musuh saja sudah kalah, bahkan mampus
malah. Betapa memalukan Setan Terompet?"
Ki Bersin kelihatan gusar sekali.
"Aku tidak malu-malu mengakuinya.
Namun harus diingat jika pun kita berdua maju bersama-sama.
Belum
tentu kita dapat mengalahkannya. Dia sakti bukan main. .Ia menghadapi aku hanya
dengan duduk saja."
"Ngomong apa, kau Terompet Aku tidak percaya" sergah Ki Bersin.
"Kau boleh tidak percaya. Yang jelas kita semua termasuk Pangeran Demak
benar-benar terancam bahaya besar saat ini" Kening Ki Bersin mengerenyit dalam.
"Katamu dia menghadapi kau hanya duduk saja?"
"Betul."
"Kau kalah dengan orang duduk? Setan memalukan.
"Ngomong apa, kau Terompet Aku tidak percaya" sergah Ki Bersin.
"Kau boleh tidak percaya. Yang jelas kita semua termasuk Pangeran Demak
benar-benar terancam bahaya besar saat ini" Kening Ki Bersin mengerenyit dalam.
"Katamu dia menghadapi kau hanya duduk saja?"
"Betul."
"Kau kalah dengan orang duduk? Setan memalukan.
Apa
gunanya kau belajar ilmu sampai ubanan. Jika kau tidak becua menghadapi seorang
musuh apa lagi
dengan murid-muridmu?" bentak Ki Bersin dengan mata melotot.
"Itulah yang memusingkan pikiranku, Kakang. Kau harus membantuku.
dengan murid-muridmu?" bentak Ki Bersin dengan mata melotot.
"Itulah yang memusingkan pikiranku, Kakang. Kau harus membantuku.
Kita
harus pula pergi ke bukit Sembuang secepatnya Kulihat orang-orang pergi ke
sana.
Kurasa di
sanalah almarhum ayahanda muridku menyimpan pedang pemersatu."
"Tunggu dulu. Sebelum aku mencarimu, aku bertemu dengan seorang pemuda berbaju biru.
"Tunggu dulu. Sebelum aku mencarimu, aku bertemu dengan seorang pemuda berbaju biru.
Kurasa
dia seorang pendekar juga. Ia kutugaskan untuk menyelidiki ke istana.
Tapi sampai saat ini aku belum bertemu dia lagi."
"Lalu?"
"Setelah melihat keteledoranmu menjaga mahkota itu. Firasatku mengatakan kekacau-an segera terjadi.
Tapi sampai saat ini aku belum bertemu dia lagi."
"Lalu?"
"Setelah melihat keteledoranmu menjaga mahkota itu. Firasatku mengatakan kekacau-an segera terjadi.
Orang
yang telah membunuhmu tadi adalah tokoh sesat yang namanya melegenda di rimba
persilatan tanah Andalas.
Dulu... kudengar-dengar ia dikabarkan sudah
mati. Siapa sangka ia sekarang
bergentayangan
dengan segala kesaktiannya yang semakin menggila.
Ayo
tunggu apalagi tua bangka goblok? Apa kau ingin melihat murid-muridmu mampus
semua ?”
Setan Terompet hendak mengatakan
sesuatu, namun urung karena Ki Bersin telah menyentakkan tangannya
semua ?”
Setan Terompet hendak mengatakan
sesuatu, namun urung karena Ki Bersin telah menyentakkan tangannya
dan membawa Setan Terompet berlari menuju ke
arah utara.
"Kurasa aku salah jalan, salah tujuan.
Dan bukit ini bukan tempat yang kutuju.
Dewa Petir memang manusia gila Mengapa
dia tidak mau memberi peta padaku di mana bukit Sembuang?"
"Kurasa aku salah jalan, salah tujuan.
Dan bukit ini bukan tempat yang kutuju.
Dewa Petir memang manusia gila Mengapa
dia tidak mau memberi peta padaku di mana bukit Sembuang?"
Gadis
baju hitam bicara seorang diri sambil membanting-banting kakinya
yang
terbungkus sepatu kulit beruang. "Kalau dia bukan guruku, siapa sudi
bersusah
payah mencari barang yang belum ketahuan di mana rimbanya.
Padahal barang guru tidak pergi kemanamana. Dia tetap berada di tempat sejak
Padahal barang guru tidak pergi kemanamana. Dia tetap berada di tempat sejak
masih
kecil. Sepertiii... hi hi hi. Malu aku mengatakannya." Gadis ini memegang
bawah perutnya.
"Barangku
juga tidak kemana-mana. Mana mungkin ada barang disimpan
di atas bukit. Aku sudah memeriksanya tadi. Guru ada-ada saja, segala pedang dicari.
Aku sendiri lebih suka mencopet barang-barang yang ada harganya. Betul-betul menjengkelkan" desis si gadis.
Selagi ia sedang dilanda kebingungan.
Semak-semak di depannya tampak bergoyang-goyang. Si gadis memperhatikan dengan seksama.
di atas bukit. Aku sudah memeriksanya tadi. Guru ada-ada saja, segala pedang dicari.
Aku sendiri lebih suka mencopet barang-barang yang ada harganya. Betul-betul menjengkelkan" desis si gadis.
Selagi ia sedang dilanda kebingungan.
Semak-semak di depannya tampak bergoyang-goyang. Si gadis memperhatikan dengan seksama.
Lalu ia
lepaskan pukulan ke arah semak-semak tersebut.
Buum
Terjadi ledakan keras. Semak belukar berantakan. Namun tidak terlihat reaksi apa-apa.
Buum
Terjadi ledakan keras. Semak belukar berantakan. Namun tidak terlihat reaksi apa-apa.
Tidak
disangka-sangka di belakang
Maling Jenaka terdengar suara seseorang
"Ribut-ribut mencari barang hilang?
Barang yang di atas atau yang di bawah?
Tapi kulihat barang di atas masih ada dua di balik bajumu. Kalau yang di bawah,
Maling Jenaka terdengar suara seseorang
"Ribut-ribut mencari barang hilang?
Barang yang di atas atau yang di bawah?
Tapi kulihat barang di atas masih ada dua di balik bajumu. Kalau yang di bawah,
maaf...
aku belum memeriksa. Aku juga tidak tahu rupanya, entah rimbun atau gersang,
hahaha..."
Wajah gadis baju hitam kontan berubah
seperti tomat masak. Kata-kata orang di balik semak-semak itu sungguh
Wajah gadis baju hitam kontan berubah
seperti tomat masak. Kata-kata orang di balik semak-semak itu sungguh
menyinggung
perasaannya karena nyerempet-nyerempet daerah larangan.
"Setan usilan yang bersembunyi di balik semak, sebaiknya tunjukan
"Setan usilan yang bersembunyi di balik semak, sebaiknya tunjukan
diri
kalau tidak ingin mampus" ketus suara si gadis. Dari balik semak belukar
muncul
seorang
pemuda berpakaian biru berwajah tampan. Hanya tampangnya ketolol-tololan.
"Kau yang bicara kurang ajar tadi?”
"Iya Kita ketemu lagi, Nisanak. Kudengar kau mencari barang?
"Kau yang bicara kurang ajar tadi?”
"Iya Kita ketemu lagi, Nisanak. Kudengar kau mencari barang?
Barang
siapa sebenarnya?" tanya Suro sambil garuk-garuk kepala.
Sebagaimana
kita ketahui Suro bermaksud mengejar Pangeran Suprana yang telah melarikan
puteri Saba.
Namun dalam
perjalanannya ia melihat gadis yang pernah dijumpainya beberapa hari yang lalu
sedang sibuk mencari-cari sesuatu.
"Barangmu" sahut si gadis sinis.
Suro spontan raba celananya.
"Wah, aku punya masih ada kok. Tidak terbang kemana-mana"
Gadis itu hampir tertawa, tapi kedong-
kolan lebih banyak menguasai dirinya.
"Pemuda kurang ajar. Jika tidak kupukul mulutmu itu, agaknya kau semakin bertambah konyol.
"Barangmu" sahut si gadis sinis.
Suro spontan raba celananya.
"Wah, aku punya masih ada kok. Tidak terbang kemana-mana"
Gadis itu hampir tertawa, tapi kedong-
kolan lebih banyak menguasai dirinya.
"Pemuda kurang ajar. Jika tidak kupukul mulutmu itu, agaknya kau semakin bertambah konyol.
"
Melihat gadis baju hitam mendekati, Suro melangkah mundur.
"Jangan kau cari perkara. Sekarang kulihat kau begitu sibuk, dan aku ada tugas penting pula. Maaf aku harus pergi"
kata Suro yang langsung teringat dengan tugas yang diembannya.
"Jangan kau cari perkara. Sekarang kulihat kau begitu sibuk, dan aku ada tugas penting pula. Maaf aku harus pergi"
kata Suro yang langsung teringat dengan tugas yang diembannya.
Ia pun
berlari, tapi entah sengaja atau tidak gadis baju hitam menabraknya.
Kejadiannya
seperti biasa-biasa saja memang, anehnya si gadis masih sempat berkata 'Maaf.
Suro pun tidak ambil pcrduli.
Pemuda konyol itu langsung meninggalkan Maling Jenaka si Maling Cerdik.
Gadis itu lalu tersenyum. Tabrakan yang memang disengajanya tadi telah menghasilkan sesuatu.
Pemuda konyol itu langsung meninggalkan Maling Jenaka si Maling Cerdik.
Gadis itu lalu tersenyum. Tabrakan yang memang disengajanya tadi telah menghasilkan sesuatu.
Ia tidak
perlu memeriksanya, segera barang yang baru didapatnya itu langsung dimasukkan
di balik punggungnya.
"Pemuda tolol. Nanti kau akan kelabakan sendiri. Hi hi hi..."
Gadis itu tidak merasa perlu berlamalama berada di tempat tersebut.
"Pemuda tolol. Nanti kau akan kelabakan sendiri. Hi hi hi..."
Gadis itu tidak merasa perlu berlamalama berada di tempat tersebut.
Seakan
tidak pernah terjadi apa-apa ia pun melenggang sambil terus tersenyum-senyum
Dua orang tabib istana sudah didatang-
kan untuk mengobati luka yang diderita oleh raja Sorga Dunia.
Dua orang tabib istana sudah didatang-
kan untuk mengobati luka yang diderita oleh raja Sorga Dunia.
Namun
kedua tabib tadi tidak berhasil menyembuhkan luka gigitan ular kuning
sepenuhnya.
Hanya
sebagian kecil saja bisa dapat dikeluarkan.
Sebagian lainnya masih mendekam di dada Pangeran Suprana.
"Kita harus mendatangkan Tabib Dewa Sesat, Paduka.
Sebagian lainnya masih mendekam di dada Pangeran Suprana.
"Kita harus mendatangkan Tabib Dewa Sesat, Paduka.
Jika
tidak empat puluh hari di muka nyawa Paduka tidak tertolong"
kata salah seorang dari tabib itu tanpa ragu.
"Tidak seorang pun yang tahu Tabib sakti itu berada. Semua ini gara-gara puteri celaka itu.
kata salah seorang dari tabib itu tanpa ragu.
"Tidak seorang pun yang tahu Tabib sakti itu berada. Semua ini gara-gara puteri celaka itu.
Awas Jika
racun di tubuhku ini sudah menghilang ia benar-benar akan
merasakan
pembalasanku" geram Iblis Peruntuh Mahkota disertai senyum liciK.
"Kami akan berusaha mencari Tabibj itu.
Sebaiknya Pangeran istirahat saja duiu.
saran sang tabib. Kedua tabib istana meninggalkan kamar peristirahatan.
"Kami akan berusaha mencari Tabibj itu.
Sebaiknya Pangeran istirahat saja duiu.
saran sang tabib. Kedua tabib istana meninggalkan kamar peristirahatan.
Pangeran
Suprana menganggukkan kepala, kemu-
dian ia merebahkan tubuhnya. Ia tampaknya memang tidak sabar menunggu kesembuhan-nya.
Lima orang gadis yang merawat Pangeran
Suprana semuanya cantik-cantik. Kalau dihitung semua gadis
dian ia merebahkan tubuhnya. Ia tampaknya memang tidak sabar menunggu kesembuhan-nya.
Lima orang gadis yang merawat Pangeran
Suprana semuanya cantik-cantik. Kalau dihitung semua gadis
yang
berada di istana Sorga Dunia ada sekitar empat puluh orang.
Semuanya setia dan siap dipanggil kapan saja untuk memberikan kehangatan pada
Pangeran itu. Dan kini kelima gadis itu tampak sibuk. Kelima gadis ini hampir semuanya
Semuanya setia dan siap dipanggil kapan saja untuk memberikan kehangatan pada
Pangeran itu. Dan kini kelima gadis itu tampak sibuk. Kelima gadis ini hampir semuanya
berpakaian
merangsang dan di balik pakaian tipisnya tidak memakai pelindung apa-apa.
Mereka sibuk sekali.
Narnun pelayanan yang diberikan oleh kelima gadis itu tampaknya kurang berkenan di hati Iblis Peruntuh Mahkota.
Rupanya ia sudah tidak sabar untuk
menghampiri puteri Saba yang dalam keadaan tertotok dan di tcmpatkannya
Narnun pelayanan yang diberikan oleh kelima gadis itu tampaknya kurang berkenan di hati Iblis Peruntuh Mahkota.
Rupanya ia sudah tidak sabar untuk
menghampiri puteri Saba yang dalam keadaan tertotok dan di tcmpatkannya
di
sebuaii kamar terkunci. Pemuda itu tanpa menghiraukan tubuhnya yang panas
langsung mencam-
pakkan selimut yang menutupi dirinya.
"Paduka hendak kemana? Tabib berpesan agar Paduka jangan
pakkan selimut yang menutupi dirinya.
"Paduka hendak kemana? Tabib berpesan agar Paduka jangan
bergerak,
racun yang mengeram dalam tubuh Paduka akan
menjalar lebih cepat lagi" Salah seorang gadis pemuas nafsu bejat
menjalar lebih cepat lagi" Salah seorang gadis pemuas nafsu bejat
Pangeran
Suprana mengingatkan.
"Diam Di sini aku yang berkuasa, bukan tabib sial yang tidak mampu
"Diam Di sini aku yang berkuasa, bukan tabib sial yang tidak mampu
berbuat
apa-apa atas penyakitku ini" hardik Pangeran sinting itu. Seraya keluar
meninggalkan kamarnya.
Dengan terhuyung-huyung ia menghampiri sebuah kamar. Tidak lama pintu kamar pun sudah dibukanya.
Di atas ranjang tampak puteri Saba diam terbaring dalam keadaan tertotok.
Gadis itu menyadari adanya bahaya yang mengancamnya.
Dengan terhuyung-huyung ia menghampiri sebuah kamar. Tidak lama pintu kamar pun sudah dibukanya.
Di atas ranjang tampak puteri Saba diam terbaring dalam keadaan tertotok.
Gadis itu menyadari adanya bahaya yang mengancamnya.
Namun
dalam keadaan tertotok seperti sekarang ini mana mampu ia berbuat sesuatu.
"Iblis jahanam ini benar-benar ingin mempermalukan aku" desis puteri Saba dalam hati.
"Iblis jahanam ini benar-benar ingin mempermalukan aku" desis puteri Saba dalam hati.
"Aku
bersumpah akan membunuhnya jika sampai ia berbuat kurang ajar
padaku"
Dugaan puteri Saba memang tidak meleset, Iblis Peruntuh Mahkota
sambil
tersenyum mendekati ranjang. Ia mencium bibir sang puteri.
Tentu
saja puteri tidak dapat menghindari ciuman ganas itu karena
kepalanya
juga tidak dapat digerakkannya.
"Manusia iblis, lepaskan aku Lepaskan...
teriak gadis berambut panjang itu
histeris. Pangeran menjauhkan sedikit wajahnya dari wajah sang puteri.
"Manusia iblis, lepaskan aku Lepaskan...
teriak gadis berambut panjang itu
histeris. Pangeran menjauhkan sedikit wajahnya dari wajah sang puteri.
Bibirnya
menyunggingkan seulas senyum mencemooh
“Percuma aku dijuluki Iblis Peruntuh
Mahkota. Aku akan meruntuhkan mahkota kebanggaanmu, akan kurenggut kesucianmu
Dan kau nanti hanya dapat meratap menyesali nasib Ha ha ha..."
“Percuma aku dijuluki Iblis Peruntuh
Mahkota. Aku akan meruntuhkan mahkota kebanggaanmu, akan kurenggut kesucianmu
Dan kau nanti hanya dapat meratap menyesali nasib Ha ha ha..."
kata
Pangeran Suprana. Ia kemudian menciumi leher puteri yang kuning langsat dan
berbau harum.
Sedangkan tangannya yang sedang menyusup di balik pakaian gadis itu
Sedangkan tangannya yang sedang menyusup di balik pakaian gadis itu
sudah
bergayangan meremas-remas dada sang puteri.
Gadis ini tampak semakin ketakutan.
Ia bahkan kemudian menangis terisak-isak.
Rupanya pengeran tidak puas hanya meremas dan membelai.
Gadis ini tampak semakin ketakutan.
Ia bahkan kemudian menangis terisak-isak.
Rupanya pengeran tidak puas hanya meremas dan membelai.
Disobeknya
pakaian puteri Saba di bagian dada.
"Hari
ini aku ingin melihat keindahan tubuhmu yang kau
sembunyikan selama ini"
Bret , . .
Pakaian itu robek besar. Kedua dada puteri tersibak. Mata Pangeran mendelik.
Ia leletkan lidah basahi bibir.
"Oh... betapa menawan." seru pemuda sinting itu,
sembunyikan selama ini"
Bret , . .
Pakaian itu robek besar. Kedua dada puteri tersibak. Mata Pangeran mendelik.
Ia leletkan lidah basahi bibir.
"Oh... betapa menawan." seru pemuda sinting itu,
lalu ia
menciumi kedua bukit yang hangat mulus tegak menantang itu
Puteri Saba hanya dapat memaki dan menangis. "Luar biasa, aku
Puteri Saba hanya dapat memaki dan menangis. "Luar biasa, aku
belum
pernah melihat yang seindah ini. Kau benar-benar masih, hmm..." desis
Pangeran Suprana.
Darah mudanya bergolak kembali, nafsu meledak-ledak. Dan ia bertindak semakin kurang ajar saja.
"Kurasa bagian lainnya lebih hebat dari ini" kata Kumbang Pemikat.
Darah mudanya bergolak kembali, nafsu meledak-ledak. Dan ia bertindak semakin kurang ajar saja.
"Kurasa bagian lainnya lebih hebat dari ini" kata Kumbang Pemikat.
Dan
tangannya meluncur melalui perut sang puteri. Jeritan gadis itu semakin
menjadi-jadi.
Setelah
menyelinap di balik pakaian bawah si gadis.
Pangeran menyentakkan pakaian yang menu-
tupi bagian terlarang sang puteri sehingga gadis itu benar-benar dalam keadaan telanjang.
Pangeran menyentakkan pakaian yang menu-
tupi bagian terlarang sang puteri sehingga gadis itu benar-benar dalam keadaan telanjang.
Mata
Pangeran mendelik-delik melihat tubuh telanjang di depannya.
Tangannya
dengan agresif menjelajah ke bagian-bagian
yang sensitip itu. Puteri Saba merasa nyawanya laksana terbang.
"Kau akan kubawa menikmati sorga di istanaku ini, puteri Saba" kata Pangeran Suprana.
yang sensitip itu. Puteri Saba merasa nyawanya laksana terbang.
"Kau akan kubawa menikmati sorga di istanaku ini, puteri Saba" kata Pangeran Suprana.
Gairahnya
kini meletup-letup.
Darahnya bergolak, pemuda itu melepaskan pakaiannya.
Darahnya bergolak, pemuda itu melepaskan pakaiannya.
Satu hal
yang tidak disadari oleh pemuda itu. Bahwa birahi yang membakar
jiwanya
secara langsung telah membuat racun ular kuning menyebar ke
seluruh tubuhnya lebih cepat dari perhitungan sang tabib.
Pemuda yang sudah setengah telanjang
ini tiba-tiba saja merasa ada satu hawa panas laksana membakar sekujur tubuhnya.
Ia mendekap dadanya.
"Ukh... Penyakit keparat ini” maki Pangeran dengan tubuh terhuyung-huyung Ia nyaris terjatuh,
seluruh tubuhnya lebih cepat dari perhitungan sang tabib.
Pemuda yang sudah setengah telanjang
ini tiba-tiba saja merasa ada satu hawa panas laksana membakar sekujur tubuhnya.
Ia mendekap dadanya.
"Ukh... Penyakit keparat ini” maki Pangeran dengan tubuh terhuyung-huyung Ia nyaris terjatuh,
penderitaan
yang dirasakannya membuat sang Pangeran Urungkan
niatnya “Kau tunggulah sayang, waktunya pasti akan tiba” kata pemuda itu.
niatnya “Kau tunggulah sayang, waktunya pasti akan tiba” kata pemuda itu.
Ia
menutupi tubuh telanjang si gadis dengan selimut Kemudian dengan
terhuyung-huyung
ia meninggalkan kamar yang dipergunakan untuk menyekap puteri Saba.
Jatuh bangun Pangeran Suprana mema-
suki kamarnya. Lima orang gadis yang tetap setia menunggu kelihatan kaget
Jatuh bangun Pangeran Suprana mema-
suki kamarnya. Lima orang gadis yang tetap setia menunggu kelihatan kaget
melihat
sekujur tubuh rajanya berubah merah dan panas sekali.
"Paduka..."
"Aku Tuhanmu. Cepat panggil tabib, jangan membuang-buang waktu" bentak pemuda itu.
"Paduka..."
"Aku Tuhanmu. Cepat panggil tabib, jangan membuang-buang waktu" bentak pemuda itu.
Tubuhnya
memang menggigil, mungkin semua ini tidak akan terjadi jika ia tadi
dapat
mengekang nafsunya tapi mana Pangeran budak nafsu ini perduli, ia terus
berteriak-teriak
hingga para pengawal mengira rajanya sedang bertempur.
Merekapun berdatangan Melihat keha-
diran para prajurit Pangeran
bertambah marah.
“Mana tabib itu. Hadirkan Tabib Dewa
Sesat ke sini Orang-orang goblok mengapa cuma berdiri di situ?" maki sang Pangeran.
Para pengawal berserabutan keluar. Iblis Peruntuh Mahkota terus mengerang-erang.
Selagi semua gadis yang berada di ruangan itu dalam keadaan bingung tiba-tiba saja
Merekapun berdatangan Melihat keha-
diran para prajurit Pangeran
bertambah marah.
“Mana tabib itu. Hadirkan Tabib Dewa
Sesat ke sini Orang-orang goblok mengapa cuma berdiri di situ?" maki sang Pangeran.
Para pengawal berserabutan keluar. Iblis Peruntuh Mahkota terus mengerang-erang.
Selagi semua gadis yang berada di ruangan itu dalam keadaan bingung tiba-tiba saja
angin
kencang berhembus menerobos kisi-kisi jendela. Pangeran Suprana walaupun
dalam
keadaan sakit tetap bersiap siaga menjaga segala kemungkinan. Kunci-kunci
jendela
terbuka, seakan ada tangan-tangan gaib yang menyentuhnya. Dan....
Braak Braak
Jendela terhempas dan terbuka dengan
paksa. Angin kencang tetap berhembus
menerobos ke dalam kamar. Lalu terdengar suara mendengung seperti suara ribuan lebah
Braak Braak
Jendela terhempas dan terbuka dengan
paksa. Angin kencang tetap berhembus
menerobos ke dalam kamar. Lalu terdengar suara mendengung seperti suara ribuan lebah
yang baru
pindah sarang. Suara mendengung
semakin lama semakin bertambah jelas, bertambah dekat
semakin lama semakin bertambah jelas, bertambah dekat
sampai
kemudian terdengar suara seseorang.
"Nafsu bisa mencelakakan manusia.
Banyak manusia celaka karena nafsunya."
Pangeran Suprana kaget bukan main,
memandang ke arah jendela ia lebih terkejut lagi. Di pintu jendela terlihat seorang kakek tua berkepala botak.
"Nafsu bisa mencelakakan manusia.
Banyak manusia celaka karena nafsunya."
Pangeran Suprana kaget bukan main,
memandang ke arah jendela ia lebih terkejut lagi. Di pintu jendela terlihat seorang kakek tua berkepala botak.
Alisnya
putih, tidak berjenggot dan tidak pula berkumis. Sesekali si kakek meludah.
Air ludah
berwarna merah. Ternyata kakek ini makan sirih.
"Tabib Dewa Sesat Sukur para tabib istana telah menghubungimu.
"Tabib Dewa Sesat Sukur para tabib istana telah menghubungimu.
Cepat
tolonglah aku?" kata Pangeran Suprana penuh harap.
Ia rupanya sungkan dengan tabib kondang
yang konon juga memiliki kesaktian yang cukup tinggi.
"Cuih" Tabib Dewa Sesat meludahkan air sirih ke lantai seenaknya saja dengan sikap acuh malah.
Ia rupanya sungkan dengan tabib kondang
yang konon juga memiliki kesaktian yang cukup tinggi.
"Cuih" Tabib Dewa Sesat meludahkan air sirih ke lantai seenaknya saja dengan sikap acuh malah.
"Penyakit
kau cari sendiri Dari mukamu aku dapat melihat umurmu paling hanya tinggal
tiga
puluh lima hari lagi karena kecerobohanmu sekejab tadi"
"Tabib Dewa Sesat, aku akan memberi imbalan yang sangat besar. Para tabibku
"Tabib Dewa Sesat, aku akan memberi imbalan yang sangat besar. Para tabibku
sengaja
kusuruh menjemputmu, karena mereka tidak mampu menyembuhkan aku"
"Bertemu dengan batang hidung para tabibmu-pun aku tidak. Aku datang sekehen-
dak hatiku. Kau tidak bisa membayarku
terkecuali kau mau menuruti upah yang aku minta." kata si kakek botak acuh tak acuh.
"Bertemu dengan batang hidung para tabibmu-pun aku tidak. Aku datang sekehen-
dak hatiku. Kau tidak bisa membayarku
terkecuali kau mau menuruti upah yang aku minta." kata si kakek botak acuh tak acuh.
Tubuh
Pangeran Suprana disaat itu semakin menggigil,
rupanya
racun ganas ular kuning semakin hebat menyerangnya.
"Apa...? Katakanlah" desak Pangeran itu tidak sabar. .
"Cuih Aku meminta dua dan kemungkinan yang kau miliki.
"Apa...? Katakanlah" desak Pangeran itu tidak sabar. .
"Cuih Aku meminta dua dan kemungkinan yang kau miliki.
Pertama
jika kau mau menyerahkan kerajaan ini padaku Maka aku akan mengobatimu, kau
nanti
bisa membuat kerajaan di lain tempat”
Raja Sorga Dunia kaget ”Botak
jahanam ini benar-benar sangat Keterlaluan.
Aku harus punya siasat untuk melicikinya.
Nanti kalau aku sembuh, kepalanya kupenggal lalu kuseret ke alun-alun." batin si pemuda.
bisa membuat kerajaan di lain tempat”
Raja Sorga Dunia kaget ”Botak
jahanam ini benar-benar sangat Keterlaluan.
Aku harus punya siasat untuk melicikinya.
Nanti kalau aku sembuh, kepalanya kupenggal lalu kuseret ke alun-alun." batin si pemuda.
Maka dia
menjawab. "Jangan kau pinta istana. Lebih baik kau minta
seribu
permintaan lain dan aku akan mengabul-kannya"
"Begitu?" Tabib Dewa Sesat tersenyum sinis. "Kalau begitu bagaimana andai aku minta puteri Saba?
"Begitu?" Tabib Dewa Sesat tersenyum sinis. "Kalau begitu bagaimana andai aku minta puteri Saba?
Aku
terlanjur melihat kebagusan tubuhnya. Kau sudah melihatnya, aku yang ingin
merasakan dalamnya.
Bagaimana? Jika kau setuju, tentu aku akan mengobatimu"
"Tua bangka ini cari penyakit Dia pikir dirinya siapa? Aku harus mengalah semen-
tara. Jika dia telah berikan obat itu, huh tahu rasa nanti" maki Pangeran Suprana dalam hati.
Bagaimana? Jika kau setuju, tentu aku akan mengobatimu"
"Tua bangka ini cari penyakit Dia pikir dirinya siapa? Aku harus mengalah semen-
tara. Jika dia telah berikan obat itu, huh tahu rasa nanti" maki Pangeran Suprana dalam hati.
Namun
mulutnya berkata lain.
"Baiklah permintaanmu kuturuti. Aku menginginkan kesembuhan,
"Baiklah permintaanmu kuturuti. Aku menginginkan kesembuhan,
seratus
perempuan cantik nanti dapat kucari. Nah cepat sekarang lakukanlah pengobatan
sesegera mungkin"
"Keputusanmu sangat bijaksana" Tabib Dewa Sesat menyahuti, ia melompat turun
"Keputusanmu sangat bijaksana" Tabib Dewa Sesat menyahuti, ia melompat turun
dari atas
jendela. Setelah itu ia mengeluarkan sebuah kantung berwarna hitam dan
sudah butut. Setelah itu si kakek botak mengeluarkan belasan
sudah butut. Setelah itu si kakek botak mengeluarkan belasan
batang
jarum panjang dari dalam kantung. Yang satu berwarna
putih lainnya berwarna kuning.
"Tidak usah khawatir. Aku tidak mencelakaimu. Kalau kau kurang yakin suruh
putih lainnya berwarna kuning.
"Tidak usah khawatir. Aku tidak mencelakaimu. Kalau kau kurang yakin suruh
pergi kelima
perempuan ini, panggil pengawalmu untuk berjaga-jaga di sini''
Karena pada dasarnya Pangeran Suprana
memang tidak pernah menaruh rasa percaya pada siapa pun. Ia segera
Karena pada dasarnya Pangeran Suprana
memang tidak pernah menaruh rasa percaya pada siapa pun. Ia segera
memberi
isyarat pada gadis-gadis itu. Kelimanya langsung pergi, t
idak lama
datang beberapa orang pengawal mereka tampak bersiap siaga di
depan pintu dan di depan jendela. Sambil tersenyum sang Tabib memandang acuh tak
acuh pada para pengawal itu. Kemudian ia mulai menusukkan
depan pintu dan di depan jendela. Sambil tersenyum sang Tabib memandang acuh tak
acuh pada para pengawal itu. Kemudian ia mulai menusukkan
jarum-jarum
itu di sekitar dada Pangeran dan juga pada bagian paha
pemuda itu.
"Jangan bergerak sedikit pun. Salah-salah kau bisa lumpuh seumur
pemuda itu.
"Jangan bergerak sedikit pun. Salah-salah kau bisa lumpuh seumur
hidupmu"
kata sang Tabib memperingatkan. Iblis Peruntuh Mahkota
tidak
berani bergerak walau barang sedikit pun. Ia mulai merasakan
adanya
serangan hawa dingin dari bagian-bagian yang di tusuki jarum tersebut.
Hawa dingin dan hawa panas membaur dan
terjadilah
pergolakan hebat. Pangeran Suprana menjerit. . .
Pemuda itu hampir saja memaki sang
Tabib tapi ketika dirasakannya pergolakan dua kekuatan yang
pergolakan hebat. Pangeran Suprana menjerit. . .
Pemuda itu hampir saja memaki sang
Tabib tapi ketika dirasakannya pergolakan dua kekuatan yang
berlawanan
mulai mereda ia pun urung. Sekarang dari seluruh pori-pori
Pangeran
Suprana menetes cairan merah kehitam-hitaman. Setelah warna hitam
dalam
cairan merah itu hilang sepenuhnya. Maka Tabib Dewa Sesat mencabuti
jarum-jarum
yang tertancap di sebagian besar tubuh pemuda itu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Paduka raja?" tanya Tabib Dewa Sesat.
"Sudah agak lumayan" sahut Pangeran Suprana.
Tabib Dewa Sesat menyerahkan dua pil
berwarna biru dan hitam. "Telanlah Obat itu gunanya untuk memperlancar
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Paduka raja?" tanya Tabib Dewa Sesat.
"Sudah agak lumayan" sahut Pangeran Suprana.
Tabib Dewa Sesat menyerahkan dua pil
berwarna biru dan hitam. "Telanlah Obat itu gunanya untuk memperlancar
peredaran
darah" Tanpa merasa curiga Pangeran Suprana langsung telan
obat
pemberian Tabib Dewa Sesat. Setelah agak lama
reaksinya pun terasa. Pangeran merasa tubuhnya menjadi enteng.
"Sekarang aku harus pergi dan membawa puteri Saba" kata sang
reaksinya pun terasa. Pangeran merasa tubuhnya menjadi enteng.
"Sekarang aku harus pergi dan membawa puteri Saba" kata sang
Tabib
sambil bangkit berdiri. Di luar dugaan Pangeran Suprana bangkit berdiri pula,
kemudian
tawanya meledak
"Ha ha ha.., Kau pikir akan semudah itu Tabib? Puteri Saba adalah calon
"Ha ha ha.., Kau pikir akan semudah itu Tabib? Puteri Saba adalah calon
permaisuriku.
Adalah suatu kebodohan jika aku menyerahkan
kepadamu"
dengus raja Sorga Dunia sinis. Lalu ia menoleh ke arah pintu.
"Panglima,
tangkap monyet botak ini" perintah Pangeran Suprana.
Dari
balik lain adalah Sang Bala, SoSok pembunuh berdarah dingin yang paling
ditakuti.
Kini Tabib Dewa Sesat yang ganti
tertawa. "Aku sering mendengar kelicikan-mu,
Kini Tabib Dewa Sesat yang ganti
tertawa. "Aku sering mendengar kelicikan-mu,
Pangeran
bangsat Jangan kira kau sembuh sepenuhnya.
Obat yang
baru kau makan tadi satu diantaranya adalah alat
pembunuh
yang akan menyiksamu lahir batin. Hanya aku
yang
punya obat penawar-nya, kau akan mati pelan-pelan. Bukan Tabib Dewa Sesat jika
aku masih dapat
diliciki oleh bocah ingusan sepertimu Ha ha ha..."
"Kau pasti berdusta. Siapa mau percaya?"
"Aku tidak memintamu percaya pada tabib sesat sepertiku
diliciki oleh bocah ingusan sepertimu Ha ha ha..."
"Kau pasti berdusta. Siapa mau percaya?"
"Aku tidak memintamu percaya pada tabib sesat sepertiku
Untuk
mengetahuinya, coba kau kerahkan tenaga dalammu"
perintah sang Tabib.
Diam-diam Pangeran Suprana kerahkan
tenaga dalam. Tiba-tiba dadanya langsung sesak dan leher seperti tercekik. Maka
pucatlah paras pemuda itu.
"Keparat" Pangeran Suprana menggeram marah sudah bisa menakar umurmu.
Kalau kau tidak turuti parintahku, maka nyawamu tidak tertolong”
"Sebaiknya kita tabib tangkap ini saudaraku. Setelah itu kita rampas obat pemunahnya" seru Sang Bala dingin.
Tabib Dewa Sesat memasukkan bungkus
kecil berisi obat pemunah. Kau berani menangkapku, obat pemunah racun
perintah sang Tabib.
Diam-diam Pangeran Suprana kerahkan
tenaga dalam. Tiba-tiba dadanya langsung sesak dan leher seperti tercekik. Maka
pucatlah paras pemuda itu.
"Keparat" Pangeran Suprana menggeram marah sudah bisa menakar umurmu.
Kalau kau tidak turuti parintahku, maka nyawamu tidak tertolong”
"Sebaiknya kita tabib tangkap ini saudaraku. Setelah itu kita rampas obat pemunahnya" seru Sang Bala dingin.
Tabib Dewa Sesat memasukkan bungkus
kecil berisi obat pemunah. Kau berani menangkapku, obat pemunah racun
Serat
Raja kutelan. Rajamu mampus dan kau tidak mendapatkan apa-apa dariku"
Pangeran
Suprana menjadi serba salah. Ia harus menyerahkan puteri Saba pada
Tabib itu
jika dirinya ingin selamat.
Sementara itu di ruangan kamar tempat
di mana puteri Saba berada tampak pula bayangan merah berkelebat memasuki kamar tersebut.
Sementara itu di ruangan kamar tempat
di mana puteri Saba berada tampak pula bayangan merah berkelebat memasuki kamar tersebut.
Melihat
wajahnya mungkin orang ini sudah berumur delapan puluhan atau lebih.
Ia
memakai ikat kepala warna hitam dan lebar sehingga sehelai rambutnya pun tidak
terlihat.
Tanpa
bicara apa-apa jalan suara si gadis ditotoknya. Puteri Saba ketakutan setengah
mati.
Kakek
baju merah ini tanpa menunggu lagi langsung memang-
gul tubuh telanjang si gadis. Kemudian ia keluar lagi
gul tubuh telanjang si gadis. Kemudian ia keluar lagi
sambil
berlari kencang meninggalkan istana.
Di ruangan pertama tadi Pangeran
Suprana jadi bingung sendiri. Ia tidak menyangka Tabib itu telah menyiasatinya pula.
“Tidak ada pilihan lain bagimu, terkecuali menyerahkan gadis itu padaku" tegas Tabib Dewa Sesat.
"Hmm, baiklah. Kau menang hari ini.
Puteri itu boleh kau miliki sekarang serahkan obat pemunah racun itu kepadaku”
"Aku tidak bodoh. Obat baru kuberikan pada panglimamu setelah aku membawa
gadis cantik tersebut jauh dari istana Silahkan Panglima mengiringiku..."
Dengan meredam kemarahannya, Pange-
ran Suprana terpaksa menurut pula. Ia dan panglimanya mengantar sang Tabib
Di ruangan pertama tadi Pangeran
Suprana jadi bingung sendiri. Ia tidak menyangka Tabib itu telah menyiasatinya pula.
“Tidak ada pilihan lain bagimu, terkecuali menyerahkan gadis itu padaku" tegas Tabib Dewa Sesat.
"Hmm, baiklah. Kau menang hari ini.
Puteri itu boleh kau miliki sekarang serahkan obat pemunah racun itu kepadaku”
"Aku tidak bodoh. Obat baru kuberikan pada panglimamu setelah aku membawa
gadis cantik tersebut jauh dari istana Silahkan Panglima mengiringiku..."
Dengan meredam kemarahannya, Pange-
ran Suprana terpaksa menurut pula. Ia dan panglimanya mengantar sang Tabib
menuju
kamar puteri Saba. Alangkah terkejutnya berbagai pihak yang sama-sama
berada di
situ ketika melihat pintu terbuka dan puteri Saba tidak berada di tempatnya.
"Celaka ada seseorang yang telah melarikannya" desis Pangeran dengan wajah pucat dan bibir bergetar.
"Huh, kau tidak dapat menepati janjimu.
Gadis itu dilarikan orang dan aku harus mendapatkannya.
"Celaka ada seseorang yang telah melarikannya" desis Pangeran dengan wajah pucat dan bibir bergetar.
"Huh, kau tidak dapat menepati janjimu.
Gadis itu dilarikan orang dan aku harus mendapatkannya.
Jika dia
tidak kutemukan, maka aku tidak akan pernah memberikan
pemunah Racun Serat Raga padamu" kata Tabib Dewa Sesat sambil berkelebat pergi.
"Mari kita ikuti dia" seru Pangeran Suprana pada Sang Bala.
Tanpa membuang-buang waktu lagi kedua
orang penting kerajaan Sorga Dunia ini segera mengejar Tabib Dewa Sesat.
Nah apa yang bakal terjadi? Siapa yang telah menawan puteri Saba,
pemunah Racun Serat Raga padamu" kata Tabib Dewa Sesat sambil berkelebat pergi.
"Mari kita ikuti dia" seru Pangeran Suprana pada Sang Bala.
Tanpa membuang-buang waktu lagi kedua
orang penting kerajaan Sorga Dunia ini segera mengejar Tabib Dewa Sesat.
Nah apa yang bakal terjadi? Siapa yang telah menawan puteri Saba,
apakah
nyawa Pangeran Suprana dapat tertolong ? Apa yang hilang dalam diri PendeKar
Bloon ?
Dewa Kubu
tidak tinggal diam, Elang Perak apalagi dan kehadiran Dewa Petir?
Mala-petaka
tidak dapat dicegah.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...