Senin, 17 November 2014

PENDEKAR BLOON - Eps.14

PENDEKAR BLOON
Eps.14
PENDEKAR KUCAR-KACIR

1

Pangeran Suprana yang lebih dikenal dengan julukan Kumbang Pemikat

atau Iblis Peruntuh Mahkota tampak mondar-

mandir di depan belasan gadis cantik berpakaian

transparan. Wajahnya yang tampan melebihi ketampanan pemuda-

pemuda sejagad

itu kelihatan murung. Sementara malam sudah menunjukkan pukul dua

dinihari.

Kegelapan menyelimuti istana Pasundan yang terletak di sebuah lembah

yang  sangat subur. Di lembah Kahuripan itulah istana Pasundan berdiri

dengan  megahnya.

Dulunya kerajaan Pasundan diperintah

oleh raja Jasa Raga Namun sejak sang raja mangkat secara aneh dan

misterius.

Maka kedudukan raja digantikan oleh putra mahkotanya yang bernama

Demak Pati.

Waktu itu pangeran Suprana yang hanya merupakan putera selir raja tiba-

tiba saja hilang raib dari istana setelah dua hari kemangkatan raja Jasa

Raga. Sebagai putera mahkota yang terlahir dari permaisuri Diah Mustika,

sesungguhnya Pangeran Demak

Pati tidak suka menggantikan posisi ayahnya.

Pangeran yang lucu ini suka berkelana menuntut ilmu sejak usia belasan

tahun.Ia sering bergaul dengan rakyat jelata.

Tidak segan-segan ia sering menyamar sebagai seorang pengembara hanya

karena ingin menyelami kehidupan rakyat jelata.

Tidak heran jika seluruh rakyat negeri

kerajaan Pasundan cinta kepada Pangeran yang kocak ini. Sejak

ayahandanya mangkat, praktis Pangeran Demak tidak dapat pergi ke

mana-mana. Roda pemerintahan telah memaksanya untuk berpikir keras

demi masa depan kerajaan dan seluruh rakyat negeri. Karena hanya dialah

putra mahkota satu-satunya. Sedangkan saudara lainnya dari permaisuri

hanya puteri Saba. Yaitu gadis cantik berperangai lembut dan tidak

memiliki ilmu silat sama sekali.

Demikianlah Pangeran Demak Pati

memerintah kerajaan Pasundan dalam jangka waktu lebih kurang lima

tahun. Ketika Pangeran Suprana kembali lagi ke istana setelah lima tahun

menghilang tidak tentu rimbanya. Putera selir raja ini secara diam-diam

meracuni permaisuri yang sesungguhnya sangat berperan dalam

menunjang berlangsungnya roda pemerintahan.

Kemudian orang-orang penting istana juga ditemukan meninggal secara

misterius.

Termasuk Patih Gala Menda, Penasehat

kerajaan Para Seta dan juga panglima Ganda Permana.

Tidak lama setelah itu Pangeran Suprana melakukan pemberontakan.

Putera selir ini ternyata memenangkan pertarungan,

Pangeran Demak Pati dengan membawa luka-lukanya melarikan diri

bersama puteri Saba berikut beberapa orang pengikut yang sangat setia

kepadanya. Sekarang kejadian itu sudah berlangsung sepuluh tahun lebih.

Sungguh pun begitu Pangeran Suprana tetap merasa khawatir tentang

keamanan kerajaan. Apalagi hingga saat itu Pangeran Demak dan putri

Saba masih belum dapat ditangkap. Bahkan tempat persembunyiannya

tidak seorang pun yang tahu. Selama

sepuluh tahun Pangeran yang telah berubah sakti ini memimpin kerajaan.

Selama itu pula kehidupan rakyat dalam keadaan makmur

dan tenteram. Hal ini memang sengaja dijaga oleh Kumbang Pemikat

untuk menarik simpati rakyat atas pemerintahannya. Cuma kebiasaannya

yang sangat menjengkelkan adalah, Pangeran mata keranjang itu gemar

mengumpulkan gadis-gadis cantik untuk dijadikan tempat pelampiasan

nafsu. Pangeran yang haus kekuasaan, haus

kehangatan tubuh perempuan ini kemudian bahkan merubah nama istana

Pasundan dengan nama Kerajaan Sorga Dunia. Ia memperTuhankan

dirinya sendiri di depan wanita-wanita cantik yang memberikan

kehangatan tubuhnya pada Pangeran terku-

tuk ini. Malam ini setelah sepuluh tahun, sebulan, sepuluh hari

kegelisahan di hati Pangeran Suprana semakin menjadi-jadi. Apa yang

menjadi pangkal kegelisahannya itu tidak lain karena Pangeran

mendengar suara burung Bence (Burung malam yang meng-isyaratkan

adanya tanda-tanda yang tidak baik). Lalu pemuda berumur sekitar tiga

puluh tahun ini teringat pada pesan gurunya yang sakti mandraguna dari

tanah Andalas.


Dia adalah Dewa Kubu tokoh legenda yang dikabarkan telah raib dari

dunia persilatan.

Tokoh dari Indera Giri Hilir ini pernah berpesan padanya ketika Pangeran

Suprana meninggalkan tempat tinggal gurunya....

"Pangeran mata keranjang. Niatmu untuk menguasai kerajaan Pasundan

pasti dapat kukabulkan. Kesaktian yang kuturunkan padamu setara

dengan tokoh-tokoh rimba persilatan merupakan modal utama untuk

mencapai cita-citamu. Aku Dewa Kubu,

adalah satu diantara dua tokoh paling sakti di tanah Andalas ini. Aku

berada di belakangmu. Tapi ingat jangan kau bertindak semena-mena

terhadap rakyat kecil.

Jika kau menjadi raja, makmurkan hidup

mereka. Mengenai tingkahmu terhadap perempuan aku tidak ambil

perduli. Karena perempuan itu bisa menjadi tongkat dan bisa pula menjadi

ular dalam kehidupan setiap laki-laki. Daripada kau dihancurkan, lebih

baik kau menghancurkan mereka. Satu hal yang harus kau ingat, bila suatu

masa kau mendengar suara burung malam. Itu

merupakan suatu tanda bahwa kau harus

meningkatkan kewaspadaanmu."

"Gila Aku lupa bertanya pada guru, pertanda apa semua ini?" desis

Kumbang Pemikat semakin gelisah. Dari ruangan pribadinya, Pangeran

Suprana ini langsung menuju keluar istana. Suasana di luar sangat

sepi, walaupun puluhan prajurit tampak terus berjaga-jaga. Sedangkan

sampai saat itu suara-suara burung malam terus terdengar tiada henti-

hentinya.

"Esok, pagi-pagi sekali aku harus menjumpai pimpinan bala tentara untuk

tetap bersiap siaga" batin Iblis Peruntuh Mahkota.

Lorong di bawah tanah yang terdapat

di daerah Ciujung di pagi hari itu kelihatan sunyi. Tidak sebagaimana hari-

hari biasanya, setiap pagi selalu terdengar suara teriakan dari seorang

pemuda dan seorang gadis yang sedang berlatih silat. Sudah bertahun-

tahun pemuda dan gadis itu dengan ditemani oleh beberapa laki-laki tua

berada di sana.

Kepandaian serta kesaktian yang mereka miliki pun semakin bertambah

pesat. Maklum guru mereka adalah seorang tokoh kosen berwatak aneh

yang dikenal dengan julukan Setan Terompet.

Di dalam lorong bawah tanah pelita

minyak sudah hampir padam. Sementara itu tiga laki-laki tua berpakaian

usang tampak sedang menyediakan makanan untuk

pemuda berbadan kurus itu dan juga buat gadis cantik berambut panjang

sepinggang.

"Rasanya sudah satu abad kita berada di sini. Padahal kita terpaksa

mengungsi di sini baru sepuluh tahun" berkata pemuda itu pada gadis di

depannya.



"Kanda, sepuluh tahun adalah waktu yang lama, mengapa Kanda
mengatakan

'baru'?" sergah gadis berwajah oval dengan bibir cemberut. Terkadang ia

memang merasa kesal pada pemuda di depannya. Karena pemuda yang

sesungguhnya putera mahkota kerajaan Pasundan ini seakan tidak pernah

serius dalam menghadapi persoalan penting yang harus mereka

selesaikan.

"Sepuluh tahun tidak lama, Dinda.

Bagaimana kalau kita tetap berada di sini sampai seumur hidup kita?"

"Sebagai adikmu, aku tidak menyukai kebodohan sekaligus

kepasrahanmu. Kerajaan harus kita selamatkan. Kudengar Pangeran

Suprana sekarang sudah merubah nama

kerajaan Pasundan menjadi kerajaan 'Sorga Dunia'. Apa ini tidak kau

anggap gila, tidak keterlaluan Lebih celaka lagi dia mengaku dirinya

Tuhan" ucap si gadis yang tidak lain adalah puteri Saba serius. Pangeran

kurus menggelengkan kepalanya, sekali ke kanan, sekali ke kiri.

"Sekarang memang sudah banyak orang gila. Gila memang gila Apa yang

dia katakan Sorga Dunia itu, paling urusannya pelampiasan nafsu rendah

selera setan. Apa betul di dunia ada sorga? Omong kosong, perempuan

dengan laki-laki berbuat mesum kok dikatakan sorga. Kalau Pangeran gila

itu mengaku dirinya Tuhan, bisa berbuat

apa sih dia? Menciptakan bayi? Huh...."

Pangeran Demak gelengkan kepala, sekali ke kanan, sekali lagi ke kiri.

Wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi apa-apa. "Bayi itu yang

menciptakan Gusti Allah. Ibu dan bapaknya cuma berpartisipasi saja,

kerjasama yang bagus itu cuma menghasilkan air.

Pangeran bangsat itu orang gila yang dikutuk Tuhan. Menciptakan sayap

nyamuk saja dia tidak becus Nyawa sendiri bahkan dia tidak bisa

menjamin. Bagaimana dia mengaku-ngaku?"

"Kanda seriuslah bicara. Kita tidak mungkin mendekam di sini terus.

Kerajaan harus diselamatkan dari kemaksiatan. Kita juga harus

menyelidiki siapa yang meracuni ayahanda Prabu, bunda kita dan juga

pembesar-pembesar yang setia pada Prabu"

desis puteri Saba semakin tidak sabar.

'"Ha ha ha... Mengapa kau begitu khawatir Dindaku yang cantik. Pagi ini

guru akan menjumpai kita. Kita tunggu kabar apa yang dibawa oleh Aki

Braja.

Aku pun sebenarnya sudah tidak sabar menghirup udara luar yang bebas

dari debu.

Dan lagi kau tidak usah khawatir tentang kerajaan. Mahkota tidak ada
pada Pangeran gila itu. Pula pedang Penyebar Bencana sejak ayahanda
Prabu mangkat tidak tahu berada di mana. Mahkota kebesaran kerajaan

kita punya. Untuk menegakkan kerajaan


agar kembali pada kita. Satu-satunya cara kita cari dulu Pedang Penebar

Bencana.

Pangeran Suprana sakti luar biasa, entah siapa gurunya. Kita harus

memperhitungkan kekuatan kita sendiri" tegas Pangeran Demak Pati.


Suasana kemudian semakin bertambah

hening. Pangeran terdiam, demikian juga dengan puteri Saba. Keheningan

itu tiba-tiba saja disentakkan oleh suara bunyi trompet yang sedemikian

keras seakan merobek gendang-gendang telinga juga memecahkan sel-sel

otak..Tet Tet Tet Tot Tet Tet Tot

Dinding lorong tergetar hebat. Debu

beterbangan, angin topan berhembus. Pangeran Demak dan puteri Saba

yang sudah

memiliki tenaga dalam tinggi saja terpaksa tutup kedua telinganya.

Apalagi para pengasuhnya yang dulu merupakan orang-orang dari

ksatriaan istana. Mereka yang memiliki kepandaian serta tingkat tenaga

cukup tinggi ini pun terpaksa tutup kedua telinga pula.

"Anak-anak yang malang Murid-muridku yang sengsara Aku datang,

datang untuk mengucapkan salam perpisahan. Setelah kalian bertahun-

tahun berada di pengasingan Ciujung ini" kata sebuah suara di tengah-

tengah hembusan angin yang membadai.

Setelah hembusan badai topan mereda.

Maka muncullah sesosok tubuh kurus kering.

Kulitnya keriputan, sekujur tubuhnya nyaris tidak berdaging. Pipinya

yang juga keriput tampak menggembung menyimpan udara.

Rasanya keadaan kakek ini tidak beda dengan jerangkong. Rasanya jika

anggota tubuh si kakek dipisah-pisahkan, tulang sama kentutnya saja yang

lebih banyak, sedangkan dagingnya sangat sedikit sekali.

Di dekat bibir si kakek terdapat lubang trompet, melingkar menyerupai

pipa yang berkelok-kelok. Sedangkan di punggungnya bagian ujung

trompet berukuran besar berwarna putih terbuat dari perak.

Laki-laki berbaju selempang ini kemudian duduk di depan Pangeran

Demak Pati dan

adiknya. Setelah memandang beberapa saat lamanya, maka orang tua

berambut putih dan cuma beberapa helai ini berkata....

"Waktu bagimu sudah tiba, Pangeran Demak Pati. Kau Pangeran yang

teledor dengan kedudukan, dengan kerajaan. Kau adalah manusia yang

tidak perduli dengan hari esok, lusa dan masa yang akan datang.

Kau Pangeran masa bodoh, tidak mau tahu dengan tahta, harta benda dan

wanita. Ragamu berada di bumi, tapi jiwa, hati dan pikiranmu berada di

langit.  Kau seorang Pangeran, tapi tidak patut menjadi penerus kerajaan,

karena jiwamu pengembara. Sepuluh tahun yang lalu kau gagal

mempertahankan kerajaan Pasundan. Bahkan kau morat-marit, tunggang-

langgang, terbirit-birit, kocar-kacir melarikan diri. Jika kau kembali

merampas hakmu, maka jangan kau sebut

dirimu Pangeran, gelar harus di copot dan diganti dengan julukan. Julukan

bagus bagimu tidak ada dan tidak pula sanggup aku memberikannya. Kau

hanya pantas menyandang julukan Pendekar Kucar Kacir.

Ingat-ingatlah, Kucar Kacir..." Suara trompet kembali menggema. Hingga

membuat Pangeran Demak Pati yang baru saja hendak bicara terpaksa

telan ucapan dan tutup kuping rapat-rapat.

"Guru sedeng ini hanya membuat telingaku congekan dengan trompet

setan-nya" rnaki Pangeran Demak dalam hati.

"Kau mengerti apa yang kuucapkan ini, Pangeran Demak?" sentak Setan

 Terompet.

"Mengerti Guru"

"Apa yang kau mengerti anak manusia yang tidak pernah mau tahu?"

"Gelar Pangeranku telah kau copot, aku sekarang diharuskan memakai

julukan Pendekar Kucar Kacir. Padahal aku tidak mau, dengan memakai

julukan itu kau sama saja seperti menyindirku. Aku jadi heran, aku yang

sudah sakit ingatan atau Guru yang sudah menderita penyakit gila?"

dengus Pangeran Demak cemberut.

"Murid sedeng Berani sekali kau

menghina guru sendiri. Terus terang jika kerajaan di suatu waktu nanti

dapat kau rampas kembali, bukan manusia bertampang sepertimu ini yang

menduduki tahta. Tetapi adikmu puteri Saba inilah yang pantas

memimpin kerajaan Pasundan" tegas Setan Terompet.

"Ha ha ha... Guru... Guru... memang siapa yang akan memimpin kerajaan

aku pikiri. Bagiku asal sudah dapat mengungkap kematian ayah bunda

dan mencari Pedang

Penyebar Bencana simbol kerajaan saja sudah sukur. Mahkota sudah

kubawa. Nah sekarang mahkota ini ada padaku, apakah kau mau

memakainya? Aku bisa menobatkanmu menjadi raja. Tentu saja gelarmu

menjadi Setan Terompet raja kurus kering kurang makan"

"Anak setan kapiran. Jangan kau berani mengejekku. Aku bicara sungguh-

sungguh.

Untuk sementara mahkota kerajaan harus kubawa demi keselamatannya.

Kalian boleh mencari pedang Penyebar Bencana. Pusaka kramat Mahasakti

yang cahayanya saja dapat membuat manusia menjadi debu itu. Selama

pedang itu tidak kalian temukan, maka selama itu pula arwah Prabu Jasa

Raga tidak mengijinkan siapa pun di antara kalian menduduki tahta.

Pedang itu adalah lambang pemersatu kerajaan. Ayahanda kalian me-

nyimpannya di suatu tempat rahasia, tentu karena sudah mencium gelagat

yang tidak

baik dari Pangeran Suprana"

"Kemana harus kami cari pedang itu.

Tempat penyimpanannya saja tidak kami tahu. Jika Guru tahu mengapa

tidak tunjukkan pada kami" protes Pangeran Demak Pati.

"Goblok Aku sendiri tidak tahu dimana almarhum ayahandamu

menyimpan pedang

itu. Tapi kurasa ia menyembunyikannya di tempat yang sering

dikunjunginya. Nah...

untuk itu kalian harus menyamar sebaik mungkin agar usaha kalian untuk

menemukan pusaka pemersatu itu lancar. Ingat kurasa dengan menyaru

sebagai rombongan kaum pengemis usaha kalian akan berhasil

Saat ini janganlah berharap bantuan siapa pun. Karena baik aku atau pun

kalian sama-sama sudah tidak tahu lagi mana kawan dan mana lawan.

Sekarang mahkota itu serahkan padaku. Kelak aku akan

mengembalikannya pada puteri Saba"

Pangeran Demak Pati tanpa bicara

apa-apa lagi langsung mengulurkan tangannya yang memegang

bungkusan berisi mahkota salah satu lambang kerajaan.

"Kurasa bekal ilmu serta kepandaian yang kuberikan pada kalian berdua

telah cukup. Sekarang terimalah senjata ini" kata Setan Terompet sambil

memberikan dua potong kayu seukuran satu meter. Melihat ini Pangeran

Demak pelototkan mata hendak marah. Sedangkan puteri Saba hanya

diam, namun keningnya mengerut.

"Guru Aku tahu kegilaanmu. Tapi kuharap kau jangan bercanda dan

menghina dalam

waktu sekarang ini" protes si pemuda kurus.

"Setan betul Terima saja, mengapa harus membantahku?"

"Sepotong kayu butut begini? Aku sendiri bisa mencari beratus-ratus

potong di depan terowongan ini"

"Diam Edan kowe" maki Setan Terompet dengan mata mendelik.

"Bagaimana aku bisa diam. Guru menghina aku dan adikku"

"Pangeran edan. Setan sontoloyo. Nanti jika kau sudah berhadapan dengan

 musuh dan kau keluarkan tenaga dalam. Kau

segera tahu rahasia apa yang terkandung di balik sepotong kayu butut

yang kau caci maki itu. Sekarang terima saja sambil berharap moga

sepotong kayu butut itu tidak berubah menjadi seekor ular yang

mematukmu"

"Baiklah. Guruku Setan Terompet Jika berbantahan terus denganmu,

berarti aku bisa ketularan penyakit gilamu. Lalu apalagi yang harus kami

perbuat?"

Tet Tet Tet

Terompet kembali berbunyi sebelum

Setan Terompet lanjutkan ucapannya

kembali.


"Aku berharap semoga kau dapat melindungi orang-orang yang

menyertaimu dan selalu setia padamu ini. Terlebih-lebih jagalah

keselamatan puteri Saba. Sebab bagaimana pun kesaktiannya masih berada

jauh di bawahmu Aku sayang kepadanya

sebagaimana rasa sayangku pada seorang cucu. Jika nanti kau tidak becus

menjaganya.

Aku tidak segan-segan membunuhmu, me-

ngertikah Pendekar Kucar Kacir?"

"Gelar jelek itu lagi yang kau sebut?

Tidak usah kau peringatkan tentu aku akan menjaganya. Dia adikku satu-

satunya" sahut Pangeran Demak Pati.

"Bagus Aku gembira mendengarnya.

Sekarang tukarlah pakaian kalian dengan pakaian yang lebih buruk lagi,

sehingga kalian benar-benar mirip dengan seorang pengemis?"

"Pakaian yang kami pakai saja sudah jelek, Guru. Apakah kami harus

memakai pakaian sobek-sobek hingga dada adikku dan burungku

kelihatan orang?" Pangeran Demak bersungut-sungut.

"Diam, gila betul Kau selalu membantah setiap kata-kataku" damprat Setan

Terompet. Pangeran Demak Pati langsung katupkan bibirnya. Selagi ia

hendak bicara, maka kakek bertubuh kurus kering di depannya telah

lenyap dari pandangan mereka. Lebih kurang setengah jam kemudian

maka terlihatlah sekelompok rombongan pengemis berpakaian lusuh

berwajah kotor meninggalkan terowongan lembah Ciujung.

"Auuuh... siang-siang begini, panas terik, enaknya minum air kelapa

muda. Mana ada kelapa di tepian hutan begini" kata pemuda berbaju biru

sambil menggaruk rambutnya tiada henti. Kemudian ia merebahkan

tubuhnya yang letih di bawah sebatang pohon rindang berdaun lebat.

Memandang ke ranting pohon yang terlihat olehnya dua ekor burung

Kapodang berbulu kuning sedang bercumbu. Pemuda berambut hitam

kemerahan nyengir, lalu menggaruk kepalanya.

"Hei burung. Kalian lagi pacaran ya?

Enak jadi burung main semplak saja. Tidak perduli emaknya sendiri, adik

sendiri atau saudara sendiri. Tapi... banyak juga kok manusia di akhir

jaman ini berbuat dan mempunyai prilaku seperti binatang. Padahal jadi

manusia itu berat tanggung jawabnya.

Salah melangkah menyesal sampai ubanan, sampai ke liang kubur malah. Ada

kakek sudah bau tanah mipisi gadis ingusan Masa bodo' Ha ha ha..."

Sikonyol tiba-tiba tertawa.

Crot

Plok

"Ait, apa ini anget-anget?" Suro Blondo

murid Penghulu Siluman Kera Putih dan

Malaikat Berambut Api seka keningnya yang tertimpa cairan hangat dan

lembek. Setelah dapat diendus-endusnya. "Edan, burung goblok, tidak

tahu sopan santun, berak seenaknya. Dasar binatang, otak tidak dipakai"

maki Suro sambil mencak-mencak seperti seekor monyet yang kebakaran

ekornya.

Pemuda itu tiba-tiba saja mengambil

batu kecil dan menyambitkannya ke arah

burung tadi. Namun belum sempat batu mengenai sasaran, burung sudah

terbang, berputar-putar di atas kepala Suro, lalu terdengar suara crot lagi

untuk yang kedua kalinya. Barulah setelah itu burung Kapodang benar-

benar telah terbang menjauh.

"Bangsat Edan betul Itu binatang tidak pernah diajar adat oleh nenek moyangnya.

Gila..." maki Suro dengan mulut termonyong-monyong. Suro kepalkan

tinjunya dan ia acungkan ke udara. Mana kedua burung tadi perduli,

mereka terus ngibrit untuk kemudian hilang dari pandangan mata.

Dengan perasaan kesal Suro merebahkan

tubuhnya lagi, teringat pada burung tadi.

Ia langsung teringat pada Puteri Kilat Bayangan. Gadis bermata indah

seperti bintang kejora, berwajah cantik bagai bidadari.

"Okh... oh... Andai saja aku dapat gadis secantik dia. Betapa dunia yang

gersang ini menjadi indah dan jadi milikku, orang lain termasuk raja

terhitung numpang.

Hatiku tidak pernah bergetar seperti ini

Memandang pada puteri Kilat aku merasa seperti sedang menelan tulang

kaki ayam.

Bagaimana gitu, serba salah. Matanya mengandung magnet. Senyumnya

membuat

aku langsung klepek-klepek seperti ayam disembelih Walah... kapan aku

dapat bersua dengan gadis secantik dia. Gadis yang bukan saja

meruntuhkan hati dan jantungku. Tapi juga membuat runtuh atap rumah

tetangga

Ha ha ha...'* Suro tergelak-gelak. Sehingga tanpa disadarinya sejak tadi ada

sepasang mata yang terus mengawasi tingkahnya.

Namun ada yang terasa aneh pada diri orang ini. Ia tampak selalu

menahan sesuatu yang hampir tidak dapat di tahannya.

Sedangkan matanya hampir terpejam-pejam.

Sampai kemudian....

"Hasyiih... hes..."

Suara bersin pun terdengar. Bukan hanya suara bersin biasa, suaranya

membuat pendekar Blo'on jatuh terguling-guling tunggang langgang.

Telinga pemuda berikat kepala biru belang-belang kuning ini mendenyut

sakit. Dengan wajah pucat Suro bangkit berdiri. Memandang ke arah

datangnya suara. Ia melihat seorang kakek tua ompong berambut kelabu

berjenggot panjang seperti

kambing telah berdiri tegak di situ.

Kakek tua tersebut menutup hidung dan

mulutnya. Agaknya ia hendak bersin lagi.

Suro garuk-garuk kepala, rasa heran sekaligus takjub membuat matanya

terus melotot.

"Has... has... hasyiih..."

Si kakek bersin lagi. Suro merasakan

kepalanya mendenyut sakit. Ia gelenggelengkan kepala untuk

menghilangkan rasa nyeri yang menyerang telinganya.

"Orang tua aneh Hosyah-hasyih. Apakah Anda menderita sakit pilek, plu

demam dan sakit kepala? Siapakah situ, rasanya aku belum pernah

berjumpa dengan orang sepertimu?" ujar Suro mencoba bersikap ramah. Si

kakek tiba-tiba saja pegangi perutnya, kemudian terdengar suara tawanya

 yang serak seperti cicak kcjepit jendela.

"Ha ha ha Kau boleh ingusan. Kalau kau mau tahu aku ini yang dijuluki Ki

Bersin, namaku Sapta Dewa. Kau sendiri siapa?"

Suro menjura hormat, melangkah ke

depan lalu salaman. Sungguh tindak tanduknya membuat Sapta Dewa

menjadi geli.

Sehingga ia bersin lagi. Gantian Suro yang jantungan dan kaget melulu.

"Aku Suro Blondo, Ki. Tapi kuharap kau tidak bersin melulu. Aku bisa

 kaget terus dan mati berdiri karena suara bersinmu itu. Sebenarnya Anda

hendak kemana?"


"Hes... Bersin hampir bersin lagi. Buru-buru ia tutup mulutnya. Lalu

tawanya

meledak. Jenggot kambingnya tergoncang-goncang sedangkan tubuhnya

bergetar. "Aku datang dari seberang, daerah Kutai asalku.

Aku merindukan seorang saudara yang sudah lama meninggalkan tanah

kelahiran dan merantau di daerah orang Jawa. Aku ingin mengajaknya

pulang. Apakah kau pernah bertemu dengannya?"

"Siapa saudaramu itu, Ki? Perempuan atau laki-laki, sudah tua apa masih

muda?" tanya Suro serius.

"Saudaraku? Ha ha ha... Barangnya seperti barangmu, sudah tua,

keriputan kurus dan seperti nggak pernah makan.

Namanya Ki Braja, dia dikenal dengan julukan Setan Terompet" jelas Sapta Dewa.

"Walah julukannya jelek amat. Maaf Ki aku sama sekali tidak pernah

bertemu dengannya. Mendengar julukannya saja baru kali ini."

Kakek tua itu terdiam. Lalu ia bersin

lagi, namun kali ini suaranya pelan hingga tidak membuat Suro kalang

kabut.

"Sayang sekali. Padahal baru sepekan yang lalu aku menerima kabar bahwa aku

harus menjumpainya. Katanya ada persoalan besar yang harus

diselesaikan bersama muridnya dan dia minta bantuanku Setan Terompet

sejak dulu memang sering bikin

aku pusing, was-was dan memperbudak aku.

Karena dia adikku. Maka aku jadi tidak tega melihat dia dapat masalah."

Kata Sapta Dewa seakan ditujukan pada diri sendiri.

"Siapa nama murid adikmu itu, Ki?"

"Hmm, konon dia seorang putera mahkota kerajaan Pasundan. Ia terpaksa

mengasingkan diri bersama adiknya ketika tahta kerajaan dirampas oleh

seorang Pangeran putera selir raja."

"Sebuah cerita yang sangat menarik.

Aku memang pernah mendengar ada kerajaan cukup besar bernama

Pasundan di Lembah Kahuripan. Tapi menurut yang kudengar, kerajaan

itu sekarang telah berganti nama dengan kerajaan Sorga Dunia. Rajanya

mengangkat dirinya sebagai Tuhan Aku menganggap ini tindakan orang

gila yang pantas menjadi penghuni di jurang neraka kelak di hari kiamat

Tetapi kudengar pula, raja edan itu sangat menghargai kehidupan

rakyatnya. Mengenai yang lain-lainnya aku belum menyelidik" tegas

Pendekar Blo'on berterus terang.

Sapta Dewa alias Ki Bersin memandang

tajam pada pemuda di depannya. Setelah memperhatikan beberapa saat

lamanya, maka ia berseru kaget....

"Astaga? Mengapa aku tidak perhatikan sejak tadi. Rambutmu hitam

kemerahan seperti orang bule. Tampangmu... hemm,

cepat kau katakan padaku, siapa dirimu yang sebenarnya?"

"Sudah kukatakan aku Suro Blondo, apakah ada yang aneh menurutmu?"

tanya murid Malaikat Berambut Api dan Penghulu Siluman Kera Putih

terheran-heran sendiri.

"Suro...? Kau bocah yang terlahir pada malam satu Asyuro dua puluh

tahun yang

lalu?" Kini giliran si konyol yang dibuat kaget.

"Bagaimana Aki bisa mengetahuinya?"

"Berita menggemparkan tentang bocah ajaib itu sampai juga di daerah

kami. Kalau melihat tampangmu, rasanya aku tidak bisa menggantung

harapan padamu. Mengapa orang-orang mengatakan kau sebagai bocah

ajaib?"

"Ha ha ha... Dunia ini penuh dengan keanehan, Ki. Mengapa kau harus

 memper-cayai berita gombal? Tidak ada yang istimewa pada diriku, dan

sebaiknya harapanmu jangan kau gantungkan padaku." sahut Suro

merendah.

"Dulu mendengar hari kelahiranmu yang menghebohkan itu aku

penasaran Hei pemuda bertampang tolol. Sekarang aku jadi penasaran

pula dan ingin tahu sampai di

mana kehebatanmu Hasyiih..."

"Bah... Mengapa kau begitu bersemangat menyerang orang yang tidak

punya salah apa-apa. Aku - tidak mau melayani orang


gila sepertimu" desis Suro sambil bersungut-sungut.

"Hasyih Hasyiiiih..."

Sapta Dewa bersin lagi. Suaranya keras

menggeledek. Sehingga membuat Pendekar

Blo'on jatuh bangun. Namun dengan cepat segera bangkit kembali.

Ki Bersin tiba-tiba saja menggerung keras. Tangannya terjulur dan

langsung memanjang seperti karet. Mencengkeram leher Pendekar Blo'on

dengan lima jari terkembang. Mana sudi Suro serahkan lehernya. Sambil

menggerutu ia melompat mundur. Gerakan yang dilakukannya ini tidak

banyak menolongnya, karena tangan Ki Bersin terus terjulur. Pemuda ini

segera mengambil inisiatip untuk menyerang. Ia bergerak ke samping, lalu

sikunya menepis disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

Duuk

"Heh..."

Suro terhuyung disertai suara pekikan

terkejut. Lengannya memerah dan terasa sakit mendenyut. Sapta Dewa

tersenyum mengejek. Tangannya bergerak ke samping.

Menyadari tangan lawannya atos laksana baja. Maka Suro kini segera

mengerahkanjurus

'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.

Detik itu juga terdengar suara lolongan yang sungguh aneh, terdengar

suara ngak ngik

nguk seperti suara monyet. Lalu tubuhnya


berjingkrak-jingkrak, terkadang melompat, atau berguling-gulingan. Tidak

jarang sambil menghindar ia pun menggaruk bagian-bagian tubuhnya.

Walaupun setiap gerakan yang

dilakukan oleh Suro terkesan seperti gerakan seekor monyet yang mabuk.

Namun hingga

sejauh itu tidak satu pun serangan ganas yang dilakukan oleh Sapta Dewa

Mengenai sasaran.

Ki Bersin kerutkan keningnya. Sungguh

ia telah tertipu mentah-mentah. Sama sekali ia tidak menyangka pemuda

bertampang ketolol-tololan itu sesungguhnya memiliki kepandaian yang

sangat mengagumkan.

"Hasyiih."

Sapta Dewa bersin lagi. Tentu saja suaranya sekarang tidak berpengaruh

lagi bagi Suro karena pemuda ini sudah melindungi diri dengan

pengerahan tenaga dalam tinggi. Ki Bersin tarik tangannya.

Kedua tangan setelah disilangkan lalu melambai-lambai. Angin menderu

hingga membuat si pemuda terhuyung ke belakang.

"Edan Apalagi yang hendak dilakukan oleh tua bangka ini?" batin Suro

dalam hati.

"Heaa..."

Ki Bersin tiba-tiba mengadu telapak tangan satu dengan yang lainnya.

Sekejab saja kedua tangannya kemudian berubah merah laksana bara. Dari

telapak tangan


itu memancar cahaya gemerlapan bagaikan sinar bintang. Lima sinar
meluncur deras ke arah Suro. Pemuda ini pencongkan mulutnya, lalu

secepat kilat ia melesat ke udara. Sinar merah itu luput dari sasaran dan

menghantam pohon besar di

belakangnya.

pohon langsung berlubang meninggalkan warna hitam. Kemudian hanya

dalam waktu

sekejab daun-daun pohon berwarna hitam pula dan berguguran. Suro

leletkan lidah.

Hatinya memaki. "Setan betul manusia rongsokan berjanggut mbek ini Dia

punya pukulan beracun yang agaknya sengaja dipergunakan untuk

membunuhku Awas

Kalau aku sampai cedera apalagi sampai kelenger dia akan kubuat malu

pulang pergi"

Sebaliknya Ki Bersin yang melihat lawan dapat menghindari pukulan

'Merobek Raga Meruntuhkan Sukma' ini terperanjat sekali.

Diam-diam ia membatin "Pemuda rambut jagung ini tampangnya saja

yang geblek.

Siapa sangka dia punya kesaktian terendam.

Aku rasa belum puas kalau bilum membuatnya semakin bertambah

konyol. Coba kulepaskan pukulan sekali lagi apa yang dapat

diperbuatnya"

"Anak setan Lihat..." seru Ki Bersin.

Seraya hantamkan kembali tangannya ke

depan.

"Bayi bangkotan tidak bergigi Mampus"


Suro berteriak tidak kalah kerasnya. Rupanya pemuda ini dibuat kesal

melihat ulah si kakek yang bukan saja berniat mengujinya, namun nekad

membunuhnya.

Melihat sinar merah meluncur deras ke

arahnya, Suro dorongkan kedua tangannya menyambut sinar merah

tersebut. Sinar putih menderu Pendekar Bloon telah lepaskan pukulan

'Kera Sakti Menolak Petir'.

Maka terjadilah suara ledakan keras. Kaki Suro amblas ke dalam tanah, Ki

Bersin terhuyung, namun sebentar saja sudah dapat menguasai dirinya

lagi. Sapta Dewa meme-gangi dadanya yang sesak.

"Boleh juga kau pemuda gendeng" maki Ki Bersin.

Setelah puas melepaskan pukulan, namun

tidak menghasilkan apa-apa. Maka kini Ki Bersin menyerang lagi dengan

jurus-jurus tangan kosongnya yang ampuh.

Suro geram bukan main, mulutnya

termonyong-monyong. Ketika tinju lawannya menderu menghantam

rahang Suro. Pemuda

ini merijerit, bukan kena dipukul, melainkan disaat itu Suro telah

mempergunakan jurus Tawa Kera Siluman. Si kakek berambut

kelabu bersurut mundur, ia gelengkan kepala seakan tidak percaya melihat

tubuh lawannya berkelebat mengitari dirinya. Hebatnya lagi tidak satu

pun serangan yang dilancarkan Ki Bersin mengenai sasaran. Pemuda itu



menjerit-jerit, semakin lama berubah menjadi tawa menggeledek yang

membuat konsentrasi lawannya jadi terganggu.

"Hasyih... Hesss"

Sapta Dewa bersin. Dalam suaranya

terkandung tenaga dalam tinggi. Lalu kakek berjenggot kambing ini tiba-

tiba bersalto dengan gerakan setengah berputar. Murid Penghulu Siluman

Kera Putih ini sama

sekali tidak menyangka serangan mendadak dan sulit ditebak ini.

Sehingga sungguh pun ia berusaha menghindar. Kaki lawannya

menghantam dada Suro.

Diekh...

Braak

Pendekar Mandau Jantan jatuh terguling-

guling. Ada darah yang menetes dari sudut-sudut bibirnya. Ki Bersin terus

mencecarnya dengan serangkaian tendangan beruntun.

"Ki Bersin manusia gila. Apakah kau hendak membunuhku" teriak Suro.

"Mana keajaibanmu" dengus Sapta Dewa disertai senyum mengejek.

Merasa diremehkan terus menerus maka

Suro kini berbalik arah. Secepat kilat ia berdiri. Kemudian ia dengan nekad

dan penuh kegusaran langsung menerobos pertahanan lawan. Sekali

hantaman Ki Bersin menghantam perut Suro, ternyata Pendekar



Blo'on tidak menghiraukannya. Lalu tangannya bergerak dengan sangat

cepat sekali Brct

Srosot Serosot

"Auh.... Kurang ajar" Sapta Dewa sambil bersin-bersin menyumpah.

Rupanya ketika bertarung dalam jarak dekat tadi Suro sengaja

menelanjangi lawannya. Adalah sesuatu yang sangat sulit dipercaya,

karena Ki Bersin sebenarnya merupakan tokoh kenamaan dari daerah

Kutai. Suro tergelak-gelak. Ki Bersin cepat membenahi pakaiannya. Ia

menjadi sangat marah bercampur malu. Anehnya setelah melihat pemuda

konyol itu tertawa, Ki Bersin akhirnya ikut tertawa pula.

"Bagaimana, Ki Apakah kau masih penasaran juga? Sekali lagi kau

menyerangku, aku bersumpah akan mencukur habis kau punya bulu"

desis Suro bersungut-sungut.

"Has..." Sapta Dewa tutup mulutnya rapat-rapat. Wajahnya masih bersemu merah.

"Rasanya tidak perlu diteruskan. Tampangmu tolol, ternyata otakmu

cerdik. Pandai sekali kau membuat malu lawanmu Sekarang aku

percaya dengan kehebatan yang kau miliki.

Satu hal yang kuminta darimu.. Suro

langsung memotong. "Huh setelah kau hampir membunuhku sekarang

aku tahu

kau pasti akan minta bantuanku"


"Betul. Suro, terus terang aku orang asing di daerah ini. Naluriku

mengatakan akan terjadi sesuatu yang sangat besar.

Aku percaya kau seorang Pendekar yang

memiliki kepandaian tidak terduga dan berhati jujur. Jika pun seumur

hidup aku memutuskan untuk mempunyai seorang

sahabat. Maka kaulah orangnya."

Suro garuk-garuk rambutnya. "Apa yang dapat kulakukan untukmu?"

"Coba selidikilah apa yang terjadi di kerajaan Pasundan. Siapa Pangeran

Suprana.

Yang aku dengar ia tidak dapat berkuasa penuh, pemerintahannya tidak

 diakui selama ia belum mendapatkan mahkota kerajaan dan juga pedang

pemersatu Penyebar Bencana" jelas Ki Bersin.

"Aneh... sebuah pedang pemersatu. Tapi mengapa namanya mengerikan begitu?"

"Rasanya tidak ada yang aneh, Suro.

Pedang itu menurut adikku konon sangat berbahaya. Terlebih-lebih bila

sampai jatuh ke tangan orang yang salah. Dia hanya akan menyebar

bencana."

"Hemm, aku sering mendengar dan melihat senjata pemersatu. Tapi

tidak seaneh ini." gumam Pendekar Blo'on Seraya memandang Ki Bersin

seakan menunggu jawaban selanjutnya.

Sapta Dewa segera menjelaskan apa yang

diketahuinya tentang Pedang Penyebar Ben-


cana pada Suro.

"Sulit Rasanya memang sulit sekali.

Jika almarhum raja Jasa Raga tidak pernah menceritakan dimana beliau

menyimpan pedang itu. Pangeran Demak pasti sulit menemukannya,

walau kepalanya sampai

botak ubanan" kata Suro seenaknya.

"Hasyiim Memang apa yang kau katakan itu dapat kuterima. Namun

alangkah baiknya jika kita berusaha menolong Pangeran Demak dan puteri Saba"

"Engkau sendiri hendak ke mana, Ki?"

"Tentu saja mencari adikku Setan Terompet untuk mendengar duduk

persoalan yang sebenarnya. Jika urusan di tanah Jawa ini selesai, tentu saja

aku mengajak adikku kembali ke Kutai. Aku tidak tahan berada di sini

berlama-lama, gerah"

"Cepatlah minggat dari hadapanku, Kakek gila" gerutu Pendekar Blo'on. "Ee...

ternyata tua bangka tukang bersin itu pergi diarn-diam" Di kejauhan Suro

mendengar suara orang bersin yang semakin lama semakin bertambah

menjauh untuk kemudian hilang sama sekali. Suro pun tidak perlu

menunggu lebih lama lagi. Ia segera pergi menuju Lembah Kahuripan.

Tubuhnya tegap bukan main. Tatapan

matanya tajam, setajam mata harimau ganas dalam kegelapan malam. Dia-

lah Sang Bala, manusia tinggi besar yang tidak memiliki sifat belas kasih  

sebagaimana layaknya manusia lain pada umumnya. Sang Bala

masih merupakan murid hasil didikan Dewa Kubu. Asal usulnya tidak jelas. Puluhan tahun yang lalu Dewa Kujbu menemukan

Sang Bala di tengah-tengah runtuhan sebuah kota kecil yang porak-

poranda dilanda gempa.

Waktu itu kepalanya retak. Dewa Kubu kemudian mengobati Sang Bala hingga

sembuh. Setelah sembuh ternyata Sang Bala tidak dapat mengingat lagi

siapa dirinya.

Ia bahkan tidak dapat mengingat dari mana asal usulnya. Karena itulah

Dewa Kubu memberinya nama Sang Bala alias Malape-taka alias Bencana

Kini ia tinggal bersama Pangeran

Suprana dan menjadi pimpinan bala tentara kerajaan pula. Laki-laki

berumur empat puluh tahun ini sangat patuh menjalankan perintah. Ia

tidak bedanya dengan sosok makhluk pembunuh yang sangat mengenkan.

Kesaktiannya sulit dijajaki. Lebih dari itu tubuhnya kebal terhadap

berbagai jenis senjata. Pagi itu Pangeran Suprana menjumpai tangan

kanannya itu.

"Salam sejahtera untukmu, saudaraku"

sapa Pangeran Suprana.

"Hemm, aku dalam keadaan sehat-sehat saja. Tidak biasanya kau

menjumpai aku pagi-pagi begini. Ada apa saudaraku raja





nan perkasa?" tanya Sang Bala, suaranya dingin sebagaimana wajah dan

tatapan

matanya. Iblis Peruntuh Mahkota tidak menanggapinya, sebaliknya ia

terus berjalan menelusuri taman bunga yang luas di samping istana. Sang

Bala mengikuti Kumbang Pemikat.

"Saudaraku Begitu banyak masalah akhir-akhir ini yang sangat

mengganggu pikiranku. Aku ini seorang raja, bahkan Tuhan dari segala

macam kesenangan.

Namun hatiku tidak pernah tenang selama mahkota dan Pedang Penyebar

Bencana belum berada di tanganku. Pangeran Demak Pati harus segera

ditemukan. Aku juga ingin menjadikan puteri Saba menjadi permaisuriku

di istana ini. Untuk itu aku menginginkan bantuanmu secepatnya.

Kerahkan pasukanmu untuk mencari pedang dan

merampas Mahkota dari tangan Pangeran Demak Pati."

"Apakah kau merasa yakin saudaraku bahwa Pangeran Demak masih

hidup hingga

saat ini?'”

"Kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Pangeran Demak Pati punya seribu cara untuk mengelabuhi kita. Aku

tidak ingin istana Sorga Dunia ini kelak jatuh ke tangannya" geram

Kumbang Pemikat sinis.

"Pangeran Suprana, Iblis Peruntuh Mahkota. Demi kejayaan kekuasaanmu,

akumakhluk Pembantai telah siap melakukan

segala-galanya. Tidak akan ada seorang pun yang mampu menghentikan

aku. Pula kau

dapat berbuat leluasa dengan burung langka Elang Perak. Sisa makhluk

purba itu dapat mengantarmu kemana pun kau mau"

'Tidak kuragukan apa yang kumiliki, Elang Perak adalah kendaraanku

untuk menembus langit. Tubuhnya dua kali lebih besar dari burung

Rajawali. Jika selama ini burung kesayangan hadiah dari guru

itu kupergunakan untuk menculik gadis-gadis yang aku ingini. Tentu dia

akan lebih berguna bila kugunakan untuk mencari musuh utamaku Ha ha

ha..." Kumbang Pemikat tergelak-gelak.

"Saudaraku, Tuhan dari segala macam kesenangan kenikmatan di dunia.

Sekarang aku mohon pamit. Aku hendak memulai

perjalanan ini untuk mencari dua sebab yang meresahkan hatimu. Aku

hanya membutuhkan lima orang pengawal untuk mendampingiku.

Sedangkan yang lain-lainnya biarkan mereka tetap berjaga-jaga di istana."

"Pergilah saudaraku seguru. Aku meres-tuimu..." sahut Pangeran Suprana.

Sang Bala membalikkan tubuhnya, kemu-

dian ia menuju ke halaman depan istana.

Sedangkan Iblis Peruntuh Mahkota tetap berdiri di tempatnya sambil

tersenyum-senyum seorang diri.

"Apa yang kuinginkan di dunia ini sudah kudapat. Kehormatan gadis-

gadis yang cantik, yang hitam-yang putih. Semuanya sudah kurasakan.

Keinginanku yang belum terkabul adalah mengenai puteri Saba. Sudah

sangat lama aku merindukan keindahan tubuhnya.

Dia harus menjadi permaisuriku. Kalau dia menolak, hmm..." Iblis

Peruntuh Mahkota tersenyum sinis. "Aku pasti akan memaksanya,

menelanjanginya dan memandangi keindahan tubuhnya sehari semalam.

Setelah itu kurampas apa yang dia miliki. Akan kuruntuhkan mahkotanya

yang menjadi

simbol kesucian wanita. Kebahagiaanku atas kekuasaanku di dunia ini

tentu menjadi lengkap setelah mahkota kerajaan dan Pedang Pemersatu itu

telah berada di tanganku"

Kumbang Pemikat terdiam lagi, ia

kemudian mendongak ke langit. Tiba-tiba saja Pangeran Suprana bersuit

nyaring.

Entah ditujukan pada siapa tidak begitu jelas? Namun tidak lama kemudian terdengar suara pekikan nyaring di angkasa.

"Hiiiii..."

"Selamat datang sahabatku Selamat datang Elang Perak" seru Iblis

Peruntuh Mahkota. Dengan jelas di angkasa terlihat seekor burung

melayang-layang. Sosoknya semakin lama semakin bertambah besar ketika

burung berbulu putih keperak-

perakkan itu merendah. Kepakan sayapnya menimbulkan deru angin yang

sangat besar bagaikan topan. Debu dan batu-batu kecil beterbangan. Pucuk

pepohonan terguncang keras.

"Kiiik"

Elang Perak yang memiliki tubuh dua

kali lebih besar dari burung rajawali ini memekik. Lalu kedua kakinya

yang kokoh

mendarat di atas tembok istana.

"Ha ha ha... Aku manusia perkasa, tidak ada tokoh mana pun yang dapat

menandingi kesaktianku. Kendaraanku juga tidak pernah dimiliki oleh orang lain.

Perkasa adalah kekuasaan, aku telah ciptakan sorga di dunia ini Sorga

kenikmatan yang didambakan oleh setiap laki-laki dan perempuan. Ha ha

ha... karena aku berkuasa, maka orang lain kecil semuanya.

Aku berkehendak, tidak ada seorang pun yang dapat menghalang-halangi kehendakku

Elang Perak Antar aku mencari apa yang kuinginkan" seru Iblis Peruntuh

Mahkota

"Kiiiiikh..."

Elang Perak menjerit panjang. Sayapnya

terangkat tinggi. Pangeran Suprana lalu melompat ke arah tembok. Setelah

itu ia naik ke punggung burung purba tersebut.

Sayap kembali terkepak menimbulkan suara desis hingar bingar. Tidak

lama setelah terbang berputar-putar, maka Elang Perak

tersebut membubung tinggi membelah mega.

Apa yang terlihat tadi memang sangat

mencengangkan. Pemuda baju biru hanya dapat pentang mata lebar-lebar,

mulutnya melongo seakan tidak percaya. Ia yang telah melihat Pangeran

Suprana, Sang Bala disusul dengan kehadiran Elang Perak seakan terbius

oleh apa yang dilihatnya. Kini ia hanya dapat garuk-garuk kepala.

"Edan... Pangeran Suprana, anak setan yang mengaku dirinya sebagai

Tuhan Sorga Dunia' itu dan Sang Bala saja aku tidak tahu sampai sejauh

mana kehebatannya.

Dan burung tadi, melihat rentangan sayapnya saja sudah mengerikan. Jika

salah satu sayap itu mengemplang kepalaku, bukan mustahil aku langsung

mampus. Ini benar-benar perjuangan yang sangat besar dan berat bagiku.

Gusti Allah, bagaimana mi...?

Suro garuk-garuk kepala.

Pendekar Blo'on melayangkan pandangan-

nya ke arah istana. Dari atas pohon beringin putih yang sangat tinggi itu ia

dapat melihat semua kegiatan yang sedang berlangsung di istana tersebut.

"Percuma saja aku menggebuk mereka.

Kalau pun mereka semua mampus, prajurit-

prajurit kerajaan itu cuma kroco-kroco pesing yang tidak ada artinya.

Sumber kekuatan adalah dari dua orang pentolannya ditambah dengan

kehadiran Elang Perak. Urusanku

benar-benar telah berubah menjadi kapiran

Tidak ada kata mundur dalam hidupku

Iblis Peruntuh Mahkota harus kusingkirkan.

Aku yakin dia manusia setengah gila. Tuhan itu gaib, sangat keterlaluan

dan dosa besar jika dia mengaku-ngaku sebagai Tuhan.

Orang edan, gila, sedeng, gemblung, dan lain-lainnya. Bagaimana pemuda

keparat itu bisa sesombong itu. Sedangkan dia terlahir dari mulut

perempuan yang dibawah. Dari lubang kencing yang bau pesing Hmm..."

Suro menggeram. Untuk pertama kali dalam hidupnya wajah pemuda itu

kelam membesi.

Sepasang matanya tidak Jenaka lagi, melainkan telah berubah merah.

Bibirnya semakin monyong. Ini merupakan suatu tanda bahwa murid

Malaikat Berambut Api dan Penghulu Siluman Kera Putih sangat serius.

Saking kesalnya ia bersiul kecil, nadanya sumbang tidak teratur. Lalu

terdengar suara nyanyiannya yang semakin ngaco tidak karuan

juntrungnya.

Kepada keparat laknat

Kulihat setan dalam amarah manusia

Kulihat setan dalam kesombongan manusia Kulihat setan dalam

kedengkian manusia Kulihat setan dalam kebencian manusia

Kulihat setan dalam ketamakan manusia

Kulihat setan dalam keserakahan manusia Lalu kulihat semua kebusukan

dalam nafsu manusia

Bermula dari tiada, ada, dan kembali pada tiada

Pantaskah manusia sombong dan membang-

gakan diri.

Kecantikan rupa dan ketampanan wajah hanyalah sari pati tanah.

Kepalamu, tanganmu, badanmu, kakimu

kelak menjadi tanah.

Lalu mengapa kau berjalan di muka bumi dengan membusungkan dada

besar kepala.

Jika aku mati, semua manusia mati.

Kemana perginya sang Roh.

Aku merenung dalam kehinaan diriku diitadapanNya.

Lalu aku menangis dalam kesunyianNya.

Masihkan ada kebahagiaan lain selain harta, wanita dan anak-anak yang

dikasihi?

Kelak bila aku mati ada tiga hal yang kutinggalkan, cuma satu yang

menyertaiku di dalam kubur....

Hartaku yang menumpuk, keluargaku yang kucinta mustahil ikut serta

dalam kubur.

Hanya amal perbuatanku yang setia mene-maniku dalam kuburku

Masihkah aku dapat sombong bila kematian datang pasti?

Aku merenung dalam kebodohanku

Lalu kurasakan ketidak sempurnaanku...

sebagai manusia

Suara Pendekar Blo'on yang tidak

beraturan itu tentu saja memancing perhatian para prajurit kerajaan.

Mereka segera berlompatan menuju ke arah datangnya suara. Salah

seorang di antaranya yang berbadan tinggi besar membentak.

"Kau siapa? Turun cepat"

Suro cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. "Aku ini manusia seperti

kalian juga. Masih perjaka tapi cari perkara" sahut si konyol seenaknya.

"Aku ingin kasih pesan para raja kalian yang gemblung itu.

Sebaiknya lepaskan perempuan di dalam istana yang menjadi budak

nafsunya itu.

Sudah itu berhenti mengaku diri sebagai Tuhan, tinggalkan istana dan

buang pula angan-angannya yang muluk itu"

"Bangsat Rupanya dirimu itu siapa kunyuk baju biru?"

"Aku adalah orang yang akan menghancurkan ambisi rajamu"

"Keparat betul Kawan-kawan tangkap dia" perintah perwira kerajaan

ditujukan pada kawan-kawannya.

Perintah itu segera disambut teriakan teriakan keras prajurit lainnya.

Karena Pendekar konyol Mandau Jantan ini berada di atas pohon. Maka

sulitlah bagi mereka untuk menjangkaunya. Beberapa diantaranya

langsung memanjat pohon tersebut melalui akar nafas pohon beringin

yang menjulur ke tanah. Namun ada juga yang tidak

sabaran dan langsung melepaskan anak panah ke arah pemuda itu.

Suro tersenyum mengejek sambil melom-

pat-lompat di atas pohon seperti seekor monyet yang' bergelayutan dan

berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya.

Dalam hal ini tentu dia sangat ahli,

karena pemuda ini didikan langsung Penghulu Siluman Kera Putih

penguasa kera-kera siluman di gunung Mahameru.

"Pesan telah kusampaikan, aku tidak mau mengotori tangan dengan darah

kalian

Sampai jumpa..." gumam Suro. Tiba-tiba ia bergerak menuruni pohon

tersebut, gerakannya cepat sekali. Hingga dalam waktu singkat pemuda

konyol ini telah hilang dari pandangan mata.

"Kejar" seru salah seorang prajurit.

"Jangan, percuma saja?" cegah Perwira berbadan jangkung. "Nanti jika

paduka kembali kita laporkan apa yang kita saksikan"

Tidak seorang prajurit pun yang berani membantah perintah Perwira.

Mereka akhirnya kembali ke tempatnya masing-masing Telaga Sender di

senja itu tampak sunyi.

Airnya yang jernih membuat ikan-ikan yang hidup di dalamnya terlihat

dengan jelas.

Berjalan ke bagian hulu telaga sejarak



Pancuran Dewa. Dari balik Pancuran Dewa itulah orang luar tidak pernah

tahu bahwa ada seorang pertapa bergelar Dewa Petir berdiam di balik air

terjun selama belasan tahun. Dewa Petir tokoh aneh yang tidak pernah

berpihak pada aliran mana pun.

Ketika masih malang melintang di rimba

persilatan dulu tidak jarang ia berpihak pada orang-orang persilatan aliran

hitam, tapi di lain waktu bisa saja ia membela golongan lurus. Watak laki-

laki bertubuh tambun berambut putih ini sulit ditebak, angin-anginan dan

terkesan seperti orang yang kurang waras. Pada masa itu jarang sekali

tokoh rimba persilatan di tanah Jawa yang mengenalnya. Terkadang ia

muncul dalam waktu tertentu dan tidak terduga-duga.

Dulu Dewa Petir punya kebiasaan jelek,

ia sering melakukan pencurian dan juga mencopet pejabat-pejabat tinggi kerajaan.

Sehingga ia juga dyuluki Dewa Copet, atau Dewa Maling.

Belasan tahun mengasingkan diri di

Telaga Sider, ia juga mempunyai seorang murid perempuan yang cantik rupawan.

Namanya Gadis, dan perempuan itu sebagaimana gurunya punya

kebiasaan sangat buruk, kolokan/manja dan juga sangat cerdik.


Sejak Gadis berhasil mempelajari jurus-

jurus dahsyat Dewa Petir dan juga mempelajari ilmu mencopet kelas

tertinggi. Wanita cantik ini boleh dikata hampir jarang tinggal bersama

gurunya. Beberapa purnama bisa saja ia bergentayangan di kota-kota,

untuk kemudian kembali dengan membawa berbagai jenis barang curian.

Senja itu angin dingin berhembus. Di

dalam telaga tampak seorang gadis berkulit kuning langsat berenang kian

kemari.

Sesekali terdengar suara nyanyiannya yang merdu. Namun suaranya

kemudian terhenti saat ia mendengar suara caci maki dari balik air terjun.

"Ini sudah waktunya. Barang langka itu harus ditemukan, mengapa hanya

bersenang-senang, cepat kembali"

Wanita berwajah ayu itu menggeliatkan

tubuhnya dengan malas. Tanpa bicara apa-apa dia berenang menepi untuk

menghampiri pakaiannya. Tanpa merasa curiga apa-apa, gadis yang

punya nama Gadis ini naik ke tebing telaga. Betapa tubuhnya sangat indah

sekali, dadanya mencuat kencang, pinggulnya yang mulus itu pasti

membuat laki-laki jadi jelalatan.

Gadis mengenakan pakaiannya. Tidak

lama ia segera meninggalkan telaga dan berlari cepat menerobos air terjun.

Di balik air terjun ternyata terdapat sebuah gua


besar yang seluruh dindingnya berwarna putih seperti terbalut es. Di

tengah-tengah ruangan terdapat sebuah pelita kecil. Di belakang pelita

itulah terlihat seorang laki-laki tua bertubuh tambun duduk bersila dengan

mata terpejam.

"Guru memanggilku?" tanya Gadis, matanya yang indah melirik pada

gurunya.

Kakek rambut putih buka matanya. Mata itu berwarna kemerah-merahan

seperti orang yang kurang tidur.

"Bocah bengal Sejak siang tadi kau mandi terus di telaga. Apa kau mau

pamer tubuh pada ikan-ikan itu? Duduklah disini, aku punya tugas

penting untukmu" kata Dewa Petir.

"Aku mau tetap berdiri. Kuharap Guru tidak memaksa" sahut Gadis

dengan wajah cemberut.

"Murid Edan Kalau aku tidak sayang padamu, tubuh bagusmu sudah

kubikin hangus. Kau tetap keras kepala, ingin aku tahu bagaimana nanti

jika kau jatuh cinta pada seorang pemuda Ha ha ha..."

"Huh, aku bukan perempuan lemah yang mudah jatuh cinta. Lagipula aku

bisa saja mengatur orang yang kucinta sesuai dengan kehendakku.

Sekarang jangan Bebut-sebut persoalan cinta Aku tidak suka

mendengarnya" sahut si baju hitam semakin sewot.

"Semakin kau membantahku, ingin cepat-cepat rasanya aku punya mantu"

"Guru Kalau kau tetap bicara tidak karuan. Jangan salahkan aku jika aku

pergi lagi"

Si kakek gelengkan kepala pelan.

"Muridku kau dengarlah Dalam mimpiku aku melihat orang-orang

mendaki bukit.

Aku melihat di atas bukit pancaran cahaya api. Kemudian aku melihat

orang-orang saling bunuh memperebutkan sebuah senjata Pemersatu.

Kulihat pula seorang raja, tapi dia sebenarnya bukan raja. Kemudian aku

melihat orang-orang aneh. Aku ingin kau menyelidik. Jika persoalan sudah

jelas, maka kau kembali kesini secepatnya. Atau kau atasi keadaan dan

ambil pedang yang menjadi rebutan. Aku ingin mempunyai koleksi senjata

yang bagus. Seperti pedang yang kulihat dalam mimpiku itu" jelas Dewa

Petir.

"Hmm, Guru bicara tidak karu-karuan juntrungnya. Tidak pula jelas ujung

pang-kalnya. Aku jadi tidak tahu"

"Pedang itu milik kerajaan Kahuripan.

Karena suatu sebab pemiliknya menyimpan senjata itu di puncak bukit.

Tempatnya secara pasti aku tidak tahu. Itulah sebabnya kau harus

menyelidik"

"Apakah kabar ini baru Guru saja yang tahu?"

"Huh, rupanya kau tuli" Kakek tambun mendengus. "Tadi sudah

kukatakan dalam mimpi itu aku melihat orang-orang saling bunuh. Ada

tentara kerajaan, tokoh-tokoh sakti dan masih banyak lagi yang lain-

lainnya. Apakah sekarang kau sudah mengerti?"

"Guru, aku tidak tertarik dengan segala macam pedang. Aku lebih suka

perhiasan, permata dan juga batu-batu zambrut biru.

Kalau kau menghendaki pedang itu lebih baik kau cari sendiri. Bagaimana

pun selera laki-laki dan perempuan berbeda"

"Diaam Setan betul" Dewa Petir tampak sangat marah sekali. "Selama ini

aku sangat memanjakanmu. Sehingga kau tidak dapat membedakan mana

tugas mana perintah

Apa yang baru saja kukatakan adalah perintahku Jangan sekali-kali kau

bantah apalagi mencela" hardik Dewa Petir.

"Dulu Guru maling, aku maling Dulu bapak moyangnya Guru copet aku juga

copet.

Kita sama-sama maling, sama-sama

pencopet

pula. Terlanjur aku berhutang budi padamu, maka perintahmu akan ku

laksanakan"

"Ha ha ha Ternyata kau seorang murid yang punya guna juga. Tidak

percuma aku menceboki kau sejak kecil Nah Maling Jenaka alias Maling

Cerdik Pergilah, semoga


usahamu tidak mengecewakan aku"

"Baiklah, tapi satu yang kuminta. Jika

" sudah sepekan aku tidak kembali harap kau menyusulku"

'Tentu saja. Aku akan lihat nanti apa

yang dapat kau lakukan setelah kudidik selama bertahun-tahun"

Gadis tidak menghiraukan kata-kata

gurunya lagi Seraya langsung berbalik, lalu berkelebat pergi menerobos air

terjun yang terdapat di depan mulut gua.

"Sepertinya tempat ini pernah di huni oleh manusia" Membatin laki-laki

bertubuh sangat tegap itu dalam hati. "Rasanya tidak salah dugaanku.

Lorong di bawah tanah mi memang pernah di pergunakan untuk temnat

tinggal selama bertahun-tahun. Meneara prajurit kerajaan tidak seorang

pun yang tahu?" Laki-laki tinggi besar menggerTampak marah.

"Kalian yang mengikuti aku Cepat kalian periksa sepanjang lorong ini Jika
ada orang di dalam sana tangkap dan cepat lapor padaku"

Lima orang pengawal pilihan yang

menyertai Sang Bala langsung bergerak melakukan pemeriksaan. Tidak

sampai sepe-makan sirih mereka sudah keluar lagi menjumpai Sang Bala.

Salah seorang di antara mereka menggelengkan kepala.

"Tidak ada siapa-siapa di dalam sana, Panglima. Kami menunggu perintah

selanjutnya"

Alat pembunuh Pangeran Suprana tam-

pak kecewa. Ia memandang ke upuk barat.

Ketika itu matahari sudah hampir tenggelam.

"Aku tidak mau mengulur-ulur waktu.

Aku rasa orang-orang yang pernah tinggal disini adalah Pangeran Buronan

Demak Pati.

Mereka telah pergi. Tapi melihat sisa-sisa makanan yang ada kurasa

mereka belum

jauh dari sini Sebaiknya kita ikuti jejak-jejak kaki ini"

"Panglima, sudah dua malam kita tidak tidur dan tidak istirahat sama

sekali. Apakah tidak sebaiknya kita bermalam di sini?"

Usul salah seorang pengawal. Mata dingin yang selalu menyorot tajam itu

memandang lurus pada anak buahnya.

"Aku pemimpin kalian. Aku tidak pernah mengantuk. Siapa yang ingin

bermalam silakan Dengan syarat kepala kalian kubawa untuk di hadapkan

pada raja Sorga Dunia"

Maka menggigillah sekujur tubuh pengawal itu. Ia tidak berani berkutik. Ia

sadar betul Sang Bala meskipun manusia, namun tidak

bedanya dengan sang pembunuh berdarah dingin Dalam melakukan

pembunuhan dia tidak pernah pandang bulu. Siapa pun orangnya baik

kawan maupun lawan bila sudah tidak berkenan di hatinya pasti

dibunuhnya.

"Siapa yang masih ingin hidup, cepat jalan di depan" Suara Sang Bala yang

serak membuat tengkuk para pengikutnya meremang berdiri. Kegelapan

mulai menyelimuti alam sekitarnya ketika Sang Bala dan anak buahnya

meninggalkan lembah Ciujung.

Sementara itu pada waktu yang sama,

tampak Serombongan pengemis telah sampai di sebuah kota kecil Cepu.

Meskipun hanya merupakan sebuah kota yang terpencil, di malam hari itu

cukup ramai. Banyak penjual makanan berdagang di pinggir jalan.

"Ki Jarot" kata pengemis muda berwajah lucu "Kita harus mencari

makanan, setelah itu kita cari sebuah penginapan pula»"

Laki-laki paling tua dalam kelompok itu mencegah.

"Tidak usah cari penginapan, Pang eh Aden. Tidak ada pengemis yang

menginap di rumah-rumah mewah. Mata-mata Pangeran Suprana tersebar

di mana-mana. Keme-wahan tidak sepadan dengan penyamaran kita

sebagai pengemis" jelas Ki Jarot tanpa maksud menggurui.

"Lalu kita tidur dimana? Di emperan pasar, atau tidur bersama kerbau dan

kuda milik orang kaya disini?"

"Tentu saja tidak, Den. Nanti setelah kita membeli makanan. Kita bisa

melewatkan malam di luar kota."

"Mengapa kita hidup seperti diburu-buru setan?" Gadis berpakaian

tambal-tambalan yang berada di samping pemuda itu mengeluh.

"Ini suratan takdir, Den putri." menyahuti kakek berbaju hitam tambal-

tambalan.

"Pangeran Suprana menyebar mata-mata di setiap tempat sebagaimana

yang dikatakan oleh Ki Jarot tadi. Aku sendiri bersama Ki Pacul tadi siang

juga hampir mata-mata kerajaan. Untung mereka tidak mengenali aku"

"Lalu sekarang bagaimana?” tanya pemu da lucu yang tidak lain adalah

Pangeran Demak Pati.

"Aku, Ki Palang dan Ki Pacul yang membeli makanan. Sedangkan Adon

Dengan Den putri menunggu di kegelapan sana.

Aku takut kehadiran kita memancing perhatian orang lain. Warung-

warung di sini penuh sesak. Jika pun sampai terjadi hal-hal yang tidak

diinginkan pada kami. Masih ada kesempatan bagi Aden berdua

meloloskan diri" tegas Ki Jarot.

Betapa terharu hati Pangeran Demak

dan puteri Saba mendengar ucapan bekas abdi istananya itu. Mereka

begitu setia dan rela mengorbankan nyawa untuk melindungi keselamatan

Pangeran dan puteri kerajaan Kahuripan atau yang lebih dikenal dengan

kerajaan Pasundan.

"Baiklah, Paman. Berhati-hatilah Kalau pun sampai terjadi apa-apa dengan

kalian. Tidak nantinya kami meninggalkan Paman semua begitu saja. Kita

sudah saling berikrar, berat sama di pikul, aku tidak mau menjadi manusia

pengecut" tegas Pangeran Demak alias Pendekar Kucar Kacir serius.

"Aden, pengabdian kami bukanlah apa-apa. Kami telah melakukan apa

saja asal Aden dapat menguasai kerajaan kembali"

"Ssst Aku takut pembicaraan kita didengar oleh orang lain" kata si gadis

Pengemis khawatir. Ki Jarot segera memberi isyarat pada dua orang

kawannya. MereKa menuju ke warung terdekat dimana Pangeran Demak

Pati dan adiknya menunggu.

Baru sampai di depan warung dan belum

sempat bicara apa-apa. Pemilik warung sudah mengusirnya.

"Hei pengemis-pengemis bau, pergilah

Kehadiran kalian hanya menghilangkan selera langganan kami" bentaknya

tidak ramah.

"Tunggu dulu Pak tua Kami bukan mau meminta makananmu secara gratis.

Kami mau beli. Ini uangnya..." Ki Jarot menyodorkan sekeping uang perak.

Pemilik warung belalakkan mata seakan tidak percaya.

* *

Dengan penuh suka cita, pak tua pemilik

warung tanpa banyak bicara lagi langsung menyediakan makanan yang

dipesan oleh

Ki Jarot. Ketiga laki-laki tua ini setelah menerima pesanan mereka

langsung bergegasmenuju kegelapan malam. Baru saja ketiganya

menghilang dari pandangan mata.

Terdengar suara derap langkah kuda. Lima orang laki-laki berpakaian

prajurit kerajaan di sertai seorang laki-laki berbadan besar muncul dengan

kuda-kuda mereka. Salah

seorang prajurit melompat turun, masuk ke dalam warung dengan tergesa-

gesa. Pemilik warung begitu melihat siapa yang datang langsung bergegas

menghampiri.

"Tu... Tuan apa yang dapat kami lakukan untuk Tuan? Kebetulan sekali

persediaan makanan kami masih banyak" Pak tua menghampiri dengan

tubuh terbungkuk-bungkuk.

"Aku tidak membutuhkan makananmu

Aku ingin tanya padamu apakah ada orang asing melewati kota kecil ini?

JanRan coba-coba berdusta kalau tidak ingin kupeng-gal batang lehermu"

gertak pengawal angkuh. Maka menggigillah tubuh pak tua'


Dengan gugup ia menjawab. "Tiada seorang pun orang asing lewat sini,

Tuan prajurit.

Sebentar tadi ada tiga orang pengemis

membeli makanan dengan uang perak"

jelasnya.

Kening pengawal itu mengerenyit dalam.

"Mustahil pengemis bisa memiliki uang perak. Orang memberi sedekah

biasanya dengan Uang kepeng. Aku harus lapor pada Panglima"

membatin prajurit itu.

Tidak lama ia telah membalikkan

tubuhnya, menghampiri Panglima yang duduk dengan sikap tidak sabar

di atas pelana kudanya.

"Bagaimana?"

"Hanya ada tiga orang pengemis yang belanja di warungnya dengan uang

perak, Tuan Panglima"

"Hmm, pada saat seperti ini jangankan pengemis, monyet budukan pun

perlu dicurigai Mari kita susul mereka " Panglima segera menggebrak

kudanya Lima orang

pengikutnya segera menyusul. Karena suasana dalam keadaan gelap.

Matai matan itu mereka tidak menemukan kelompok pengemis yang

mereka curigai. Namun Sang Bala tidak putus asa. Keesokan paginya

mereka masih berputar-putar di luar kota Cepu.

Sementara itu di pinggir sebuah sungai Pangeran Demak alias Pendekar

Kucar Kacir baru saja selesai membasuh mukanya.

Sedangkan Ki Jarot, Ki Palang dan Ki Pacul tampak sibuk menyediakan makanan

untuk kedua putera raja tersebut.

"Perjalanan ke Sembuang masih jauh lagi, Ki. Kita tidak boleh membuang-

buang waktu. Kejab lagi perjalanan segera kita teruskan" ujar Pendekar

Kucar Kacir sambil menghirup sisa-sisa kopi di dalam cangkir tanah liat.

"Mengapa kita pergi ke Sembuang. Yang saya tahu di sana hanyalah

sebuah bukit dengan hutan-hutannya yang sangat lebat"

Ki Jarot menanggapi.

"Ya... hanya bukit saja memang. Tapi aku ingat dulu ayahanda sering

berburu dan bersunyi diri di sana. Firasatku mengatakan di sanalah Prabu menyimpan

pusaka pemersatu Pedang Penyebar Ben-

cana" Ki Jarot tidak menanggapi. Ia mendengar suara langkah kuda

menuju ke arah mereka.

"Ada orang kemari, sebaiknya kita sembunyi saja" kata Ki Jarot.

"Mengapa harus sembunyi, kita ini pengemis Kita lihat saja siapa yang

datang"

sergah puteri Saba mencoba bersikap tabah Karena yang bicara adalah

junjungan

mereka, maka Ki Jarot tidak berani memaksa kehendaknya sendiri. Tidak

lama kemudian muncullah prajurit kerajaan dan juga Sang Bala. Pendekar

Kucar Kacir tampak kaget juga melihat kemunculan mereka. Namun

sebentar saja mereka sudah dapat menguasai

diri dan bersikap acuh tak acuh. Sang Bala meneliti wajah mereka satu

persatu. Keningnya mengerut dalam ketika melihat cangkir rnilik

kelompok pengemis tersebut. Cangkir itu jelas cangkir milik kerajaan.

Setelah terpisah sepuluh tahun Sang Bala memang tidak dapat mengenali

wajah orang-orang yang diburunya. Karena di antara mereka sudah

banyak yang berubah, baik rupa maupun dandanan mereka.

"Kalian kelompok pengemis dapat cangkir mewah dari mana?"

Pertanyaan Sang Bala benar-benar mem-

buat kaget para pengemis ini. Sial. Mereka tadi tidak sempat membuang

cangkir mereka.

Ki Jarot bangkit berdiri. "Cangkir ini hadiah dari seorang Pangeran

kerajaan belasan tahun yang lalu." sahut Ki Jarot berbohong

"Seorang Pangeran begitu bermurah hati menghadiahkan cangkir pada

kalian? Hebat betul “

Waktu itu Pangeran memerlukan kuda

untuk sebuah perjalanan yang sangat jauh.

Karena kehabisan bekal mereka memberi kami cangkir sebagai upah

mencarikan kuda"

Sang Bala manggut-manggut, jawaban

pengemis tua ini memang masuk di akal.

Mungkin yang dimaksudkan oleh pengemis

ini adalah Pangeran Buronan dan adiknya.

Kalau begitu mereka pergi jauh dari wilayah


Pasundan. Tapi bila melihat salah seorang dari pengemis itu adalah

seorang perempuan dan seorang pemuda. Sang Bala menjadi curiga. Siapa

tahu kedua orang yang menyertai para pengemis itu orang yang mereka cari?

"Pengemis Aku hampir percaya dengan keteranganmu. Tapi setiap sesuatu

perlu diteliti kebenarannya. Tampaknya kalian bukan pengemis biasa"

dengus Panglima itu. Ia kemudian memberi isyarat pada para

pengawalnya untuk menggeledah para

pengemis itu.

Melihat gelagat yang tidak baik ini, Ki Jarot dan juga Pangeran Demak Pati

segera bersikap waspada. Baru saja para prajurit ini hampir menyentuh

tubuh para pengemis.

Ki Jarot, Ki Palang dan Ki Pacul bertindak cepat. Tangan berkelebat.

Gerakan itu sama sekali di luar dugaan. Empat orang prajurit menjerit

kesakitan. Mereka roboh dengan leher tertembus pedang pendek di tangan

ketiga pengemis tua tersebut. Satu prajurit lagi yang memeriksa Pangeran

Demak juga mengalami nasib tragis sebagaimana kawan-kawannya. Sang

Bala tersentak menyaksikan kejadian yang berlangsung sangat cepat sekali.

Baginya walaupun kematian para prajurit itu tampak mengerikan sama

sekali tidak mempengaruhi hatinya. Kematian baginya baik di kalangan
sendiri maupun

di pihak lawannya sama saja. Lalu laki-laki haus darah ini menggeram.

"Pertanyaan berjawab dengan kematian

Semakin besar rasa curigaku pada kalian.

Kau anak muda" Sang Bala menunjuk lurus ke arah Pangeran Demak.

"Kau pasti Pangeran buronan itu, perempuan itu adikmu dan tiga tua

bangka ini adalah para abdi-abdimu. Tugasku terkecuali membiarkan

puteri Saba tetap hidup, adalah mengambil mahkota dan merampas nyawa

kalian"

"Huh, sedap betul bicaramu. Kau pikir mahkota itu milik nenek

moyangmu atau milik bapak moyang Pangeran keparat majikanmu.

Jangan coba ganggu adikku atau menghendaki mahkota itu jika ingin

selamat" dengus Pendekar Kucar Kacir sengit.

"Pangeran serahkan apa yang kuminta

Aku tidak segan menghabisi kalian semua jika kau tetap keras kepala"

bentak Sang Bala dengan mata melotot.

"Manusia setan Mahkota itu tidak ada pada Pangeran Demak. Percuma

Baja kau

memaksa kami" sahut Ki Jarot kelihatan tidak sabar lagi.

"Aku tidak pernah percaya pada manusia.

Apalagi pada orang-orang buronan seperti kalian" Sang Bala mendengus

pendek. Belum sempat ia melakukan sesuatu, Ki

Palang telah menggebukkan senjatanya yang berbentuk pikulan ke bagian

kaki kuda.

Kuda tersebut meringkik keras lalu tergelim-pang roboh. Ki Pacul tidak

tinggal diam, ia mengambil senjatanya berupa pacul yang tergeletak di

tanah. Dengan pacul itu dihantamkannya kepala Panglima. Tapi laki-laki

bermata tajam ini langsung meng-gulingkan tubuhnya ke samping.

Serangan Ki Pacul luput, dari sebelah kiri Ki Jarot segera hantamkan

senjatanya yang mirip

dengan gergaji.

Creng....Serangan ke bagian kepala Sang Bala

luput, laki-laki itu keburu miringkan tubuhnya lalu lepaskan pukulan

beruntun ke arah tiga penyerangnya. Tiga leret sinar menderu, hawa

dingin menyengat. Ki Pacul, Ki Jarot dan Ki Palang memutar senjatanya

lindungi diri. Dua dari pukulan yang dilepaskan lawan luput. Yang

satunya lagi langsung melabrak Ki Pacul.

Kakek tua itu menggerung keras dan

jatuh terguling-guling. Ki Pacul tampak menggigil. Cepat sekali ia

kerahkan tenaga dalam. Setelah itu bangkit berdiri dan menyerang

kembali. Dari arah samping Ki Jarot hantamkan gergajinya, dari arah

depan pikulan Ki Palang menyodok perut Sang Bala. Serangan itu dapat

dihindari oleh Panglima. Namun gergaji Ki Jarot menghantam

punggungnya.Crok Croeng

Ki Jarot terkesima ketika melihat senjatanya tidak berhasil melukai

lawannya.

Melihat hal ini Pendekar Kucar Kacir tidak tinggal diam. Ia dan puteri Saba

serentak ikut mengurung Sang Bala. Tenaga dalam

dikerahkan ke arah sepotong kayu pemberian Setan Terompet. Begitu

sebagian tenaga mereka telah mengalir pada potongan kayu tersebut maka

pada bagian ujungnya tampak membuka. Dari dalamnya melesat dua ekor

ular berwarna kuning. Melihat semua ini Sang Bala malah tertawa

terkekeh-kekeh.

"Bagus Majulah kalian semua. Aku jadi senang membunuh mana saja yang

akumaui"

 Sang Bala memutar kedua tangannya

untuk mementahkan serangan ketiga kakek tua. Sedangkan tangannya

yang lain dipergunakan untuk menyampok ular-ular berbisa berwarna

kuning yang terus meluncur deras ke arahnya. Tiga di antara ular itu

berhasil di Rampoknya dan jatuh ke tanah. Sedangkan yang satunya lagi

berhasil menerobos pertahanannya.

Cep

"Heh...”

Sang Bala kaget. Akibat gigitan ular tersebut membuat sekujur tubuhnya

terasa panas bagai terbakar. Namun ia tidak merasa khawatir karena

tubuhnya kebal terhadap berbagai jenis racun dan bisa. Ular

tadi ditariknya dari bagian perut, lalu diremasnya hingga hancur.

Pangeran Demak Pati alias Pendekar

Kucar Kacir kaget sekali. Sementara serangan dari para abdinya semakin

menghebat. Namun Sang Bala juga tampak mulai

mengamuk. Tubuhnya yang kebal senjata kebal racun ini merupakan

keuntungan baginya. Tidak satu pun senjata dari ketiga kakek tua itu yang

dapat menembus kekebalan Sang Bala. Malah kemudian tangan Sang Bala

terjulur, ia membiarkan dirinya menjadi sasaran senjata. Sasaran yang di

arahnya adalah Ki Pacul. Si kakek tentu saja tidak tinggal diam. Ia

hantamkan paculnya ke wajah Sang Bala.

Dokh...

Senjata menghantam tepat pada sasaran,

tapi tidak membawa akibat sebagaimana yang diharapkannya. Sementara

tangan Sang Bala sudah mencengkeram bahunya. Kakek tua ini

diangkatnya tinggi-tinggi ke udara.

Melihat para abdinya dalam keadaan bahaya.

Maka Pangeran Demak gerakkan potongan

kayu di tangannya. Begitu digerakkan dengan pengerahan tenaga dalam.

Maka dari ujung kayu tersebut melesat tiga mata pisau berwarna putih.

Tang Tang

Senjata itu tidak berhasil menembusi

sasaran, malah berpentalan dan jatuh

bergemerincing.

Ki Pacul tidak dapat diselamatkan lagi.

Sang Bala membantingnya. Kakek tua itu tidak sempat menjerit. Kaki Sang

Bala terangkat lalu diinjaknya Ki Pacul, hingga tewaslah si kakek dengan

usus berburaian dari duburnya. Ki Jarot terkesima, lalu sambil menyerang

terdengar suara teriakan-nya.

"Pendekar dan puteri, larilah selagi masih ada kesempatan. Kami akan

mengha-langinya Setan yang satu ini kebal, cepat lari"

"Mengapa aku harus meninggalkan per-tempuran. Betapa pengecutnya

aku" sahut Pendekar Kucar Kacir. Seraya melompat ke depan sambil

hantamkan potongan kayu ke kepala Sang Bala. Dari arah sampingnya

puteri Saba juga hantamkan senjatanya

arah sasaran yang sama.

Plak

Plak

Serangan beruntun itu hanya membuat

Sang Bala terhuyung-huyung. Kemudian terlihat seringainya yang sangat

mengerikan.

Ia lepaskan pukulannya ke arah Pangeran dan adiknya. Dua leret sinar

biru melesat, angin bergulung-gulung.

"Hantam dengan pukulan Trompet Maut'"

teriak Pangeran Demak memberi perintah pada adiknya

Wuuss......Pangeran dan puteri Saba hentakkan

tangannya, sinar merah bergulung-gulung kemudian melabrak sinar biru di tengah jalan.

Bumm Buum

Terjadi ledakan berturut-turut. Sang Bala jatuh terduduk, namun masih

sempat menyambar Ki Palang. Laki-laki itu di cekiknya, leher disentakkan

hingga patah berderak. Ki Palang menjerit suaranya seakan merobek

langit. Ki Jarot bagai kesetanan langsung menghujani Sang Bala dengan

gergajinya. Sedangkan Pangeran Demak si Pendekar Kucar Kacir serta

adiknya tampak berusaha bangkit berdiri.

Ternyata luka yang diderita oleh mereka cukup parah juga.

Ki Jarot bersurut mundur. Ia melihat tidak ada kemungkinan selamat bagi

jun-jungannya terkecuali melarikan diri. Sambil menyerang kembali Ki

Jarot berteriak keras.

"Pangeran Cepat tinggalkan tempat ini.

Kita tidak mungkin menghancurkan manusia baja ini

"Tapi bagaimana dengan engkau?" sahut pendekar Kucar Kacir ragu-ragu.

"Jangan hiraukan keselamatanku. Cepatlah selama masih ada kesempatan"

"Kakang, kurasa benar ucapannya. Kita bukan pengecut, tapi kerajaan

harus kita

bebaskan dari orang-orang seperti mereka"

Puteri Saba ikut memperingati.

Dengan hati berat Pendekar Kucar Kacir

terpaksa menuruti keinginan adiknya. Tentu saja Sang Bala tidak tinggal

diam dengan membiarkan buruannya lolos begitu saja. Ia pun mengejar,

namun Ki Jarot yang cerdik menubruk kakinya. Sementara Pangeran dan

puteri sudah tidak kelihatan lagi. Panglima kerajaan Pasundan atau

kerajaan Sorga Dunia ini berusaha membebaskan kakinya

dari dekapan lawan. Tapi tangan Ki Jarot melekat erat bagaikan tangan-

tangan gurita.

Alat pembunuh ini menggeram marah.

Tangannya terangkat ke bagian kepala Ki Jarot. Lagi-lagi Ki Jarot

menangkis.

Duuk

Ki Jarot menjerit. Tangannya yang

dipergunakan untuk menangkis hancur. Sang Bala menggeram dan

jatuhkan pukulan lagi.

Kali ini Ki Jarot tidak sempat lindungi kepalanya.

Prok

"Akh..." Kakek malang hanya mengeluh pendek. Kepalanya hancur,

benaknya

berhamburan Sang Bala dengan geram

menendang mayat Ki Jarot. Dengan

tergesa-gesa ia kembali mengejar, kira-kita sejarak seratus tombak ia

kehilangan jejak.

"Jahanam Orang itu benar-benar telah memberi kesempatan pada tuannya

untuk


melarikan diri. Aku harus mencari kuda lagi Bagaimana pun Pangeran

Demak harus kutangkap hidup atau mati." dengus Sang Bala masih

kelihatan mendongkol.

"Kau terluka Kakang Luka dalammu cukup parah" kata puteri Saba

kelihatan sangat khawatir sekali. "Kita harus menghubungi tabib Dewa

Sesat. Kurasa hanya dia yang dapat menyembuhkan lukamu"

Pemuda berbaju tambal-tambalan menye-

ringai menahan sakit. "Aku tidak butuh segala macam tabib. Apalagi Tabib

Dewa Sesat. Dulu ketika ayahanda Prabu masih ada beliau memang

memihak pada kita.

Tapi sekarang kita tidak tahu dia berpihak pada siapa? Pula kita tidak tahu

di mana tempat tinggal kakek aneh itu." sahut Pendekar Kucar Kacir.

"Sudahlah jangan terlalu banyak berharap. Guru kita memang sinting, aku

diberinya julukan sial Pendekar Kucar Kacir, sungguh persis sekali dengan

keadaan kita saat ini. Memalukan, sangat memalukan" Pangeran Demak

Pati bersungut-sungut. Ia kepalkan tangannya.

Tinjunya menghantam tanah.

Gerakan emosi spontan itu jelas membuat

luka dalam Pangeran Demak semakin

bertambah parah. Ia terbatuk dan darah bergumpal mengalir keluar. Puteri

Saba semakin khawatir melihat saudaranya yang



tampak prustrasi. Ia sendiri sebenarnya terluka dalam juga. Namun luka

dalam yang dideritanya lebih ringan.

"Jangan banyak bergerak, Kanda. Nanti keadaanmu semakin bertambah parah"

Pangeran Demak terdiam. Tampaknya darah yang mengalir dari sudut-

sudut bibirnya masih belum berhenti.

"Coba Kakang kerahkan tenaga dalam.

Mudah-mudahan saja ada hasilnya" saran puteri Saba.

"Tidak bisa. Pukulan Sang Bala aneh sekali. Semakin aku mengerahkan

tenaga dalam. Aku bisa mati mendadak Sebenarnya kematian bukan

sesuatu yang mengerikan

bagiku. Cuma aku kasihan padamu, dengan siapa nanti kau tinggal

Pangeran keparat itu tampaknya menghendaki dirimu"

"Cis, siapa sudi. Daripada menjadi permaisurinya, lebih baik aku mati"

sahut puteri Saba marah.

"Ukh Akh..."

Pendekar Kucar Kacir dekap dadanya.

tiba-tiba ia terkulai dan tidak sadarkan

"Kandaaa..." jerit puteri Saba Bambil memeluk Pangeran Demak. Gadis itu

menangis. "Kakang jangan tinggalkan aku

Aku tidak mau hidup sendiri"

Ternyata Pangeran Demak bukannya

mati, melainkan hanya pingsan saja. Selagi puteri Saba dalam keadaan

bingung begitu

Terdengar suara langkah-langkah kaki tidak jauh di belakangnya. Sang

puteri cepat menoleh, ternyata yang muncul adalah seorang gadis cantik

berpakaian serba hitam.

"Pengemis cengeng, yang mau mampus itu saudaramu, pacarmu atau suamimu.

Kalau suami biarkan saja dia mampus,

nanti kau bisa cari gantinya yang lebih kaya dan bukan pengemis.

Bukankah wajahmu cantik? Hi hi hi..." cibir si gadis ketus.

Puteri Saba tentu saja menjadi marah

dicaci maki oleh gadis yang tidak di kenalnya sama sekali. Ia bangkit

berdiri, lalu berbalik menghadap gadis baju hitam.

"Kau siapa? Jika punya tujuan baik sebaiknya kau bantu aku menolong

kakangku ini. Tapi jika cuma mau usil, sebaiknya kau merat dari sini"

bentak puteri baba sengit.

” Hi hi hi... Baik, akan kulihat dia masih bisa ditolong atau tidak. Hi m ni.

Gadis baju hitam menghampiri Pangeran Demak. Setelah memperhatikan

keadaan si pemuda dan memeriksa dadanya, ia berdiri lagi sambil

menggelengkan kepalanya. "Luka.

nya cukup berat, aku tidak bisa menolongnya Dia segera mati, biarkan saja

jangan dipikiri.

Aku tidak punya waktu berlama-lama di

sini. Aku punya tugas berat, tugas maling

Selamat tinggal, selamat meratap-ratap"

kata gadis baju hitam yang tidak lain adalah Maling Jenaka atau Maling

Cerdik.Puteri Saba geram bukan main, jika ia

tidak memikirkan keselamatan saudaranya.

Ingin rasanya ia mengejar dan mendamprat gadis sinting tadi. Namun ia

terpaksa menahan kekesalan hatinya. Dihampirinya Pangeran Demak yang

masih tidak sadarkan diri. Dalam keadaan bingung seperti sekarang ini ia

memang tidak tahu harus berbuat apa. Namun lagi-lagi ia dikejutkan oleh

suara seseorang.

"Hlo ke mana perginya gadis itu. Kulihat tadi ia ke sini Kurang ajar betul

Mestinya aku tahu dia hendak pergi kemana" kata seorang pemuda. Puteri

Saba cepat menoleh.

Gadis itu kerutkan keningnya. Saat itu di depannya telah berdiri seorang

pemuda berambut hitam kemerahan berbaju biru.

Lagaknya celingak-celinguk sambil garuk-garuk kepala. Tampangnya ketolol-tololan dan terkesan seperti orang kurang waras.

“Kau siapa? Apakah temannya gadis

Maling tadi?" tanya si gadis curiga.

"Bukan? Aku mencari gadis baju hitam Kulihat ia begitu mencurigakan"

sahut si pemuda yang tidak lain adalah Pendekar Blo'on.

"Aku tadi melihatnya. Gadis sinting yang mengaku dirinya seorang

maling. Dia sempat membuatku kesal. Jadi benar kau tidak

punya hubungan apa-apa dengannya?" Puteri Saba kelihatan masih curiga.

Suro menggeleng. Perhatiannya kini beralih pada pemuda berpakaian

kumal yang dalam

keadaan terlentang tidak sadarkan diri.

"Dia siapa?" tanya Suro ditujukan pada puteri Saba.

"Saudaraku."

Hanya dengan sekali lihat saja Suro

segera tahu bahwa pemuda itu sedang menderita luka dalam yang serius.

Tanpa bicara ia langsung menghampiri.

"Celaka Racun telah menjalar di sekujur pembuluh darahnya. Siapa yang

melakukan semua ini?" .

"Panglima perang kerajaan Sorga Dunia

jawab puteri Saba tanpa ragu-ragu.

"Dia harus cepat ditolong, jika tidak umurnya paling hanya beberapa jam lagi.”

tegas murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api ini

serius.

"Apakah kau mampu melakukannya?

tanya puteri Saba ragu-ragu.

"Kita lihat saja nanti" sahut Suro tanpa menoleh.

Lalu Pendekar Mandau Jantan ini

membuka baju Pangeran Demak Pati. Setelah bagian dada terbuka terlihat

ada bekas telapak tangan membiru. Saking cemasnya Suro termonyong-

monyong.

"Racun keji Pedut Pati Bagaimana

mungkin racun ganas yang menurut guru telah musnah dari rimba

persilatan itu kini ada lagi?" pikir Suro kecut. Mustahil ia mengerahkan

tenaga dalamnya. Pengerahan tenaga dalam hanya membuat luka yang di

derita oleh pemuda mengemis itu semakin bertambah parah. Jalan satu-

satunya adalah dengan membuka jalan darah di bagian kaki, kepala dan

juga dada pemuda itu.

Tanpa berpikir panjang lagi ia mengeluarkan dua buah obat pulung.

Kemudian memasukkannya ke dalam mulut Pendekar

Kucar Kacir secara paksa. Setelah itu ia mengeluarkan mandau berikut tangkainya.

Melihat senjata di tangan pemuda bertampang tolol kekanan-kanakan

puteri Saba jadi curiga.

'Hei... apa yang hendak kau lakukan?

Kau mau mencelakai saudaraku"

"Justeru kalau aku tidak menolongnya dia benar-benar akan celaka" jawab

Suro tidak bergeming sedikit pun. Ia menggores kedua telapak kaki, kedua

telapak tangan, ubun-ubun dan juga dada pemuda pengemis.

Setelah ada darah yang mengalir melalui luka Kecil yang dibuat Suro

Blondo.

Maka bocah ajaib mi segera menempelkan rangka mandau pada setiap

bagian luka beberapa saat lamanya.

Cairan darah berwarna biru kemerah-

merahan tersedot keluar. Bau amis dan bau

busuk bercampur aduk menjadi satu. Tubuh Pendekar Kucar Kacir pucat

pasi seakan tidak berdarah lagi. Puteri Saba semakin khawatir melihat

semua ini. Setelah menye-dot habis seluruh racun ganas yang mengeram

di tubuh pemuda itu. Barulah Suro berani mengerahkan tenaga dalamnya

ke dada Pangeran Demak Pati.

Tampak jelas sekujur tubuh Suro

menggigil, keringat sebesar-besar jagung menetes deras membasahi

wajahnya. Tidak lama setelah terdengar suara erangan Pangeran Demak.

Pemuda ini tarik balik tangannya. Suro bersemedhi.

Bukan main gembiranya hati puteri Saba

melihat Pangeran Demak mulai sadar dan

berangsur-angsur sehat kembali. Ketika si Bocah Ajaib buka matanya.

Puteri Saba mengeluarkan sepuluh keping uang emas.

Sebuah jumlah yang sangat besar yang pada masa itu bisa dipergunakan

untuk membeli sebuah rumah penginapan Apalagi kalau dibelikan krupuk

Suro tidak bisa membayangkan betapa banyaknya.

Pemuda berambut hitam kemerahan itu

beringsut menjauhi puteri Saba. Matanya sedikit melebar, bibirnya

termonyong-monyong.

"Apa yang kau lakukan padaku? Dunia ini kurasakan semakin aneh, ada

pengemis sekaya engkau?" Heran Suro bertanya

dengan perasaan tidak mengerti.

"Lebih baik kau ambil Tuan penolong.

Ini sebagai rasa terima kasihku karena kau telah menyelamatkan

saudaraku" desak puteri Saba sambil tetap menyerahkan sepuluh keping

emas pada Suro. Suro garuk kepala sambil menggeleng. "Aku tidak

meminta imbalan apa-apa. Yang membuat

aku heran mengapa orang kaya seperti kalian mengemis?"

'Tunggulah sebentar, biar saudaraku yang menjelaskan semua ini pada

Tuan"

Puteri Saba memapah Pangeran Demak

hingga membuat pemuda itu dapat duduk tegak. "Kanda, Tuan ini telah

menolongmu.

Dia tidak mau pemberian dari kita. Apakah tidak sebaiknya kita ceritakan

siapa kita dan juga kesulitan kita. Mungkin dia dapat menolong kita."

Pendekar Kucar Kacir memperhatikan

Suro Blondo sekejab. Setelah itu yakinlah Pangeran Demak ini bahwa

pemuda berambut hitam kemerahan ini dapat dipercaya.

'Terima kasih kuucapkan karena Tuan

telah menolong kami Tanpa pertolongan

tu..."

Jangan panggil tuan, aku ini bukan

saudagar atau anak bangsawan. Aku Suro Blondo. He he he..." potong

Pendekar Blo'on merasa tidak enak hati.

"Suro Blondo?" Kening puteri Saba



mengerenyit dalam. Ia coba mengingat-ingat sesuatu. Namun apa yang

dipikirkannya tidak menghasilkan apa-apa. "Aku dan saudaraku

sebetulnya sedang menyamar

untuk menghindari kejaran orang-orang kerajaan. Saudaraku ini adalah

Pangeran Demak Pati bergelar Pendekar Kucar Kacir.

Sedangkan aku sendiri puteri Saba" kata si gadis memperkenalkan diri.

Suro tiba-tiba saja berlutut, kepalanya direndahkan seperti orang hendak

bersujud.

Puteri Saba buru-buru mencegah.

"Eiit... apa-apaan ini?"

"Maafkan aku yang tidak mengenali kalian. Aku tidak tahu Tuan puteri"

"Jangan panggil tuan puteri. Aku lebih suka kalau kau memandangku

sebagai masyarakat biasa saja."

"Aku jarang melihat ada keluarga bangsawan rendah hati seperti kalian.

Tadi kau mengatakan Pangeran Demak adalah

Pendekar Kucar Kacir. Kalau tidak salah aku menduga, tentulah kalian

berdua murid

Setan Terompet?" Pangeran Demak dan puteri Saba saling pandang,

tampak jelas mereka sangat kaget mendengar ucapan

Suro.

"Darimana kau tahu, Suro?" tanya Pendekar Kucar Kacir heran.

Pendekar Blo'on kemudian menceritakan

perjumpaannya dengan Ki Bersin sekaligus

menjelaskan maksud kedatangan tokoh dari Kutai itu pada pewaris

kerajaan Pasundan yang sah.

"Hmm, guru kami Setan Terompet memang pernah menceritakan tentang

saudaranya. Aku yakin dia bersedia membantu, karena Ki Bersin terhitung

uwa guru kami.

Tapi Pangeran Suprana sendiri bukan

manusia lemah. Saudara seperguruannya yang berjuluk Sang Bala sakti

bukan main, ia kebal senjata. Baru saja kami bentrok dengannya. Para

abdiku tewas. Aku sendiri hampir mampus. Belum lagi Elang Perak

burung raksasa itu. Aku pun khawatir jika guru Pangeran Suprana yang

bernama Dewa

Kubu itu menyusul ke Jawa ini. Orang yang kita hadapi bukan hanya

mereka saja, mungkin masih ada lagi tokoh-tokoh lain di luar

perhitunganku"

"Seperti gadis baju hitam tadi" Puteri Saba menimpali. "Dia mengaku

dirinya maling. Tingkahnya kolokan dan setengah sinting. Kurasa ia juga

orang kurang waras yang siapa tahu menginginkan pedang pemersatu

yang disembunyikan almarhum

ayahanda kami"

"Apakah benar pedang itu ada?" tanya si konyol ingin kepastian.

"Pedang Penyebar Bencana memang ada Dulu ayahku selalu

membawanya kemana

pun dia pergi. Agaknya sudah menjadi takdir

dan ayah mengetahuinya apa yang akan terjadi. Ayah kemudian

menyembunyikannya di suatu tempat yang menurut dugaanku di puncak

Bukit Sembuang. Aku khawatir orang luar sudah mendengar kabar ini."

kata Pendekar Kucar Kacir.

"Mengenai masalah pedang. Aku berjanji untuk membantu mencarinya.

Yang kudengar katanya bukan pedang itu saja yang menjadikan sah

tidaknya raja memimpin kerajaan Pasundan."

"Memang benar. Siapa pun yang memimpin Pasundan juga harus memiliki

mahkota kerajaan yang asli yang telah diwariskan secara turun temurun.

Mahkota itu tidak perlu kau risaukan. Sialnya, dalam menghadapi Sang

Bala, aku sudah tidak sanggup.

Rasanya kesialan itu semakin membayangiku setelah guru kami Setan

Terompet memberi-ku gelar Kucar Kacir."

"Ha ha ha Kucar Kacir itu sama artinya dengan morat-marit, pontang-
panting, tunggang langgang, terbirit-birit. Kurasa gurumu manusia tidak

waras, ketika terlahir belum genap umurnya dalam kandungan Pangeran

Demak, tidak segan-segan kukatakan padamu, kulihat garis wajahmu

memang penuh kesialan"

"Pemuda edan" memaki Pangeran Demak Pati.

Entah mengapa hati Pangeran merasa

cocok berkawan dengan Pendekar Blo'on padahal mereka belum lama
saling kenal.


"Apa gelarmu. Aku yakin kau punya julukan tidak jauh bedanya dari

tampangmu

Ayo katakan..." Pangeran Demak mendelik.

Suro beringsut menjauh. "Ha ha ha... Aku tahu, tapi mana kena di tipu.

Kalau kau tahu julukanku kau pasti akan mengejekku.

Bukankah begitu?"

"Kau tampan namun tampangmu seperti orang bego. Aku tahu kau pasti

bergelar Pendekar Goblok. Hayo mengakulah..."

"Kau salah menduga" bantah Suro, waiahnya berubah memerah. "Aku

Pendekar Blo'on"

Pangeran Demak langsung meledak

tawanya. Ia terkekeh-kekeh, lalu pegangi celananya yang basah. Ternyata

Pendekar Kucar Kacir sampai terkencing-kencing.

"Walah memalukan, sudah tua bangka begitu masih ngompol" Suro

tersenyum mengejek.

"Kanda celanamu... merah..." seru puteri Saba.

Seketika Pangeran Demak melirik ke

bagian yang basah itu. Memang ada darah bercampur air kencing di situ.

Maka pucatlah wajah Pangeran Demak. Tawa Suro Bemakin

menjadi-jadi.

"Kau pangeran mata keranjang, pasti sering jajan pada wanita jalanan. Kau

kena penyakit. Ha ha ha..."

Wajah Pangeran Demak berubah pucat.

"Suro sungguh mati aku tidak pernah kencing pada perempuan murahan. Mengapa

begini, Suro tolonglah Kau jangan tertawa saja seperti orang gila.

Bagaimana ini?"

Pangeran Demak kelihatan bingung sekali.

"Tolong kakangku, Suro" Puteri Saba ikut meratap, tatapan matanya

tampak memelas sekali. Pendekar Blo'on hentikan tawanya. Ia sadar betul

pasti ada urat darah di bagian saluran air seni Pangeran Demak yang

bocor. Sehingga karena pengaruh suara tawa itu menekan darah keluar

melalui saluran air seni sang Pangeran.

"Tidak usah khawatir. Darah itu akan berhenti dengan sendirinya." jelas

akhirnya dengan serius.

Merasa jera Pangeran Demak Pati

terpaksa hentikan tawanya. Ia memandang pada puteri Saba dan Pendekar Blo'on silih berganti. Lalu terdengar suara si baju biru.

"Aku tertawa di tengah orang yang sedang kesusahan. Orang yang sedang

kesusahan mentertawakan dirinya sendiri, gila betul Pangeran Demak"

kata Suro sambil mendongak ke langit. "Aku sudah menyelidik ke istana

beberapa hari yang lalu. Aku juga sudah melihat bagaimana tampangnya

Pangeran yang mengaku dirinya Tuhan. Seandainya ia punya ilmu

simpanan

segudang, aku tidak begitu menghiraukannya. Tapi burung raksasa yang

bernama Elang Perak itu adalah sosok makhluk yang berbahaya.

Sepanjang perjalanan mencari kalian, aku berpikir bagaimana caranya

mengatasi burung raksasa itu. Akal sudah kudapat, namun aku tidak

yakin apakah berhasil melakukan sebuah siasat"

"Mengatasi Sang Bala dan Pangeran Suprana saja aku sudah pusing tujuh

keliling Aku tidak dapat lagi membayangkan betapa dahsyatnya burung

itu" sahut Pendekar Kucar Kacir.

"Ketentuan di tangan Gusti Allah.

Marilah kita sama-sama bertekad untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada"

tegas Pendekar Blo'on memberi semangat

"Hiiii... kak..."

Sedang mereka terlibat pembicaran serius.

Tiba-tiba di angkasa terdengar suara men-desir disertai pekik keras suara

seekor burung. Ketiganya serentak memandang ke langit.

"Celaka Elang Perak..." desis puteri Saba dengan suara tercekat.

Suro dan Pangeran Demak juga tidak

kalah kagetnya. Timbul keinginan bagi mereka untuk bersembunyi. Tapi

rasanya sudah terlambat. Pangeran Suprana yang

duduk di punggung burung raksasa tadi pasti sudah melihat mereka.

Terbukti Liang

Perak mulai terbang merendah.

"Pendekar Kucar Kacir Luka dalammu belum sembuh benar, harap kau

berlindung di tempat yang aman. Kau juga puteri Saba" perintah Si Bocah

Ajaib, seraya bangkit berdiri.

"Hiii..."

Elang Perak menyambar-nyambar di atas

kepala Pendekar Blo'on. Sedangkan Pangeran Demak masih tetap berada

di tempatnya.

Kepakan sayap elang itu saja sudah membuat tubuh Suro tergontai-gontai.

Debu dan pasir berterbangan. Hingga suasana di sekitarnya gelap seketika.

"Kaak..."

Angin bergemuruh, pohon-pohon seukur-

an paha porak poranda. Tidak lama kemudian terdengar suara Pangeran

Suprana yang begitu lantang.

"Kepada orang di bawah Harap kalian tidak bikin ulah dan menyerah

secara baik-baik kepadaku Aku tahu kalian mungkin orang yang kami

cari" Elang Perak mendarat di atas batu cadas tinggi.

Pangeran Suprana melompat dari atas punggung binatang

tunggangannya. Dengan hanya beberapa kali lompatan saja ia telah sampai

di depan Suro Blondo. Hanya sebentar saja ia memperhatikan pemuda

berambut kemerahan itu. Kini perhatiannya tertuju pada kedua muda-

mudi berpakaian pengemis

yang baru saja berdiri dari tempat duduknya.

Mula-mula matanya tampak menyipit,

semakin lama memperhatikan. Maka kemu-

dian terdengar suara tawanya bergelak.

Pangeran Demak Pati merasa penyamaran-

nya telah diketahui oleh orang yang sangat ia benci.

'Sepuluh tahun melarikan diri, sepuluh tahun kalian menghilang. Sungguh

kasihan kini kahan menjadi gembel-gembel memalukan Aku sebagai raja

Pasundan mencari kalian kemana-mana. Tidak tahunya kalian sangat

menyedihkan Sekarang menyerahlah'

Tidak ada gunanya kalian melawan Tuhan"

kata Pangeran Suprana begitu angkuhnya.

"Kau orang gila lepas dari penjara mana mengaku-ngaku diri Tuhan Kau

pikir pantas dirimu mengaku Tuhan Walau pun wajahmu

tampan, kau sesungguhnya lebih cocok menjadi monyet Ha ha ha..."

celetuk Suro yang merasa panas telinganya mendengar ucapan Pangeran Suprana.

"Heh..." Raja Sorga Dunia kaget sekaligus menoleh. Di lihatnya pemuda

baju biru tampak cemberut sambil garuk-garuk kepala.

"Kau yang barusan bicara kurang ajar tadi?"

"Matamu tidak buta. Tentu saja aku yang bicara, apa kau merasa arwah

nenek moyang selir yang gentayangan kemari dan bicara padamu" Marah

sekali Pangeran Suprana mendengar ucapan pemuda bertam-

pang ketolol-tololan yang sangat menghina-nya itu.

"Jahanam Aku akan selesakan

urusanku dengan Pangeran Demak dulu, Setelah itu giliranmu nanti” maki yang

Suprana. Seraya berpaling Pangeran

Demak dan puteri Saba. “Kembalikan

mahkota itu dan tunjuk dimana ayahanda Prabu menyembunyikan

pedang Penyebar Bencana"

Pendekar Kucar Kacir pura-pura terkejut.

"Eh, kau manusia dari mana? Apakah kau baru turun dari langit? Aku

sama sekali tidak mengenalmu, aku juga tidak mengerti apa maksud

ucapanmu Aku Pendekar Kucar Kacir, bukan Pangeran apa tadi yang kau sebutkan?"

"Ha ha ha Kau memang pantas menjadi Pendekar Kucar Kacir, sepuluh

tahun yang lalu kau pontang panting menyelamatkan diri dari istana

bersama adikmu. Nyawamu tidak bisa kuampuni, hanya nyawa adikmu

saja yang dapat kumaafkan, karena ia akan menjadi permaisuriku" kata

Pangeran Suprana tanpa malu-malu.

Wajah puteri Saba sempat memerah,

sedangkan Pangeran Demak Pati jadi geram sekali. Perubahan air muka

mereka tidak sempat terlihat oleh Pangeran Suprana.

Sebaliknya Pendekar Blo'on tampak tidak sabar mendengar ucapan raja

tengil itu.


"Hei raja cabul. Sudah selesai kau bicara dengan para pengemis itu?

Cepatlah kemari, berlutut di hadapanku. Kata-katamu cuma membuat

gatal kupingku Cepat turuti perintahku" bentak Suro Blondo sinis.

“Anak setan ini benar-benar Bangat keterlaluan sekali. Kalau aku tidak

meng-hajarnya hingga mampus, dia akan semakin kurang ajar saja

padaku" batin Pangeran Suprana geram.

Cepat sekali Pangeran Suprana alias

Iblis Peruntuh Mahkota alias' Kumbang Pemikat berbalik. Tanpa basa-basi

ia kirimkan satu jotosan menggeledek ke dada Si Bocah Ajaib. Angin

dingin bersiut membuat tubuh Suro merinding. Karena serangan

mendadak itu disertai pengerahan tenaga dalam, dapat dipastikan

pukulan itu dapat meremukkan dada lawannya. Hanya sepersekian detik

lagi pukulan itu mendarat di dada lawannya, di luar dugaan Suro

meliukkan tubuhnya. Ia bergerak ke samping sambil meludahi wajah

Pangeran Suprana.

Air ludah berhamburan membasahi wajah

raja Sorga Dunia. Pemuda itu selain kaget juga marah sekali. Ia seka air ludah tersebut sambil menggeram.

"Jahanam"

"Ha ha ha Pentang matamu baik-baik, orang gila yang mengaku Tuhan

Barangkah kau mabuk hingga seranganmu jadi melen-

ceng" kata Suro mencemo'oh. Merasa penasaran Pangeran Suprana

kembali lepaskan tendangan beruntun ke arah awannya.

Kali ini Suro melompat-lompat sambil menggaruk bagian-bagian

tubuhnya. Tiba-tiba saja pemuda ini berbalik lalu dengart cepat menangkis

tendangan lawannya dengan sikunya.

Dak... Dik.... Duk....Splak

Iblis Peruntuh Mahkota bersurut mundur.

Kakinya yang berbenturan dengan siku lawannya terasa mendenyut

seperti di tusuk-tusuk ribuan batang jarum.

"Orang ini ternyata mempunyai kepandaian di luar dugaanku semula.

Melihat wajahnya aku tidak menyangka ia memiliki kesaktian. Gerakan-

gerakannya aneh seperti gerakan monyet. Aku harus cepat menying-

kirkannya" batin Pangeran Suprana.

Untuk kedua kalinya Kumbang Pemikat

merangsak maju. Ia langsung mempergunakan jurus Menembus Langit

Merengkuh Matahari. Salah satu jurus warisan Dewa Kubu yang sangat

dahsyat. Lalu kedua tangan Iblis Peruntuh Mahkota ini secara bersamaan

menghantam ke bagian-bagian tubuh lawannya. Suro menggerung ketika

merasakan adanya sambaran hawa panas seakan memanggang tubuhnya.

Ia bersalto ke belakang. Sambil berjongkok ia terus

menghindar. Gerakannya cepat bukan main, sedangkan dari bibirnya

terdengar suara ngak ngik nguk tiada henti.

Meskipun gerakan-gerakan unik Suro

yang seperti monyet mabuk ini sempat mengecoh Pangeran Suprana.

Tetapi ketika raja Sorga Dunia ini lipat gandakan tenaga dalamnya dan

lakukan serangan bertubi-tubi Suro mulai merasakan adanya tekanan yang

kian menghebat, la tidak dapat tinggal diam saat jemari tangan lawan

menjebol dadanya secepat kilat ia melompat, kaninya segera menendang

Duuk

"Ukh..."

Sentakan keras serta akibat dorongan

Kumbang Pemikat yang begitu besar membuat Suro nyaris terbanting.

Pangeran Suprana menggelengkan kepalanya sekali.

Setelah itu melompat lagi, kini jemari tangannya mencengkeram pundak Suro.

Pemuda itu jelas tidak membiarkan bahunya hancur dicengkeram lawan,

karena ia sudah melihat kedua tangan lawan sudah berubah seperti bara

sampai sebatas siku.

"Dia tidak bisa dipandang enteng. Monyet satu ini harus di beri sedikit pelajaran"

batin Suro.

Pendekar Blo'on menggeser langkahnya.

Segera ia kerahkan jurus Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau. Pemuda

baju biru ini langsung melompat tinggi ke udara. Serangan Pangeran

Suprana luput, saat itu Suro sudah meluncur kembali ke bawah.

Tendangan lurus di arahkan tepat ke bagian kepala lawannya. Serangan

yang sangat cepat^ ini tidak sempat lagi dielakkan oleh Pangeran Suprana.

Dhaak

Dengan telak kepala Pangeran kena

dihantam oleh Suro. Laki-laki ini jatuh tidak jauh dari tempat Pangeran

Demak dan puteri Saba berada. Iblis Peruntuh Mahkota yang masih

puyengan ini langsung bersuit. Sesungguhnya ia belum kalah, namun

rupanya ia punya rencana lain.

"Kiiik"

Elang Perak yang sudah tampak resah

di atas batu cadas kepakkan sayapnya.

Makhluk raksasa itu langsung terbang rendah mendekati Suro.

"Bunuh setan tolol itu, sahabatku" teriak Pangeran Suprana.

"Kaaak..."

Elang Perak memekik keras. Suro

terkesiap.

"Celaka Jika binatang ini menyerangku, mustahil aku dapat melindungi

Pangeran Demak yang sedang terluka, si jahanam itu pasti menghendaki

puteri Saba" maki Suro dalam hati. Dan pemuda ini sebagaimana

kenyataannya memang sudah tidak punya

waktu lagi untuk berfikir jauh. Kepakan Elang Perak telah menghantam

Suro. Bukan main dahsyat angin yang ditimbulkannya.

Suro nyaris terpelanting. Namun ia cepat berguling-guling. Elang Perak

menukik tajam, paruhnya mematuk kepala Suro.

Melihat bahaya yang mengancamnya, Suro

lepaskan pukulan Kera Sakti Menolak Petir Sinar putih bergulung-gulung

melabrak burung raksasa itu. Namun Elang Perak seakan mengerti, ia

kepakkan sayapnya Angin bagai badai topan menderu, pukulan Suro

buyar. Pemuda konyol ini memaki panjang pendek. Ia gagal mengusir

Elang Perak, kini bahaya lain mengancam jiwanya.

Kaki elang raksasa itu mencengkeram ke arah perutnya. Pendekar Blo'on

langsung mempergunakan jurus Tawa Kera Siluman.

Tubuh pemuda itu tampak berkelebat disertai tawa yang seakan mengitari

elang tersebut.

Namun hanya sekejab saja Elang Perak menjadi bingung, sekejab

kemudian ia sudah menguasai keadaan dan keluarkan suara

nyaring.

"Kaaaaak..."

Elang Perak terbang rendah berputar-

putar. Suro leletkan lidah dan mulutnya langsung termonyong-monyong,

ancaman paruh burung ini tidak dapat dianggap main-rnain. Belum lagi

cakar-cakarnya. Inilah yang selalu dijaga oleh Suro. Namun di

Brees

"Huaagkh..."

Murid Penghulu Siluman Kera Putih ini

terpelanting. Pakaiannya robek, tubuhnya yang dipenuhi luka tampak

kotor berselimut debu. Pemuda ini merasakan bumi seperti berputar

dengan cepat, kepalanya pusing dan sakit mendenyut. Setelah menggeleng

dan kerahkan tenaga dalam ia bangkit berdiri.

"Burung jahanam" maki Suro dalam kemarahannya yang meledak-ledak.

Makiannya itu disambut pekikan Elang

Perak, binatang ini langsung menyerbunya lagi. Semakin lama tampaknya

serangan sisa burung purba ini semakin mengganas.

Angin kembali menderu, Suro bertambah sewot. Lalu ia lepaskan pukulan

'Ratapan Pembangkit Sukma'. Elang Perak agaknya mengetahui bahaya

yang mengancamnya. Ia bergerak mundur menjauh ketika melihat sinar

putih laksana salju bergulung-gulung ke arahnya. Karena begitu jauhnya

jarak antara sasaran dengan Suro. Praktis pukulan yang dilepaskannya

tidak menghasilkan apa-apa. Semakin bertambah kesallah pemuda ini

dibuatnya. Ia kemudian melihat Elang Perak kembali mendekatinya.

Pemuda ini langsung bersiap siaga.

Sementara itu Pendekar Kucar Kacir

dan adiknya juga sedang menghadapi serangan Iblis Peruntuh Mahkota.

Karena luka dalam yang diderita oleh Pangeran Demak masih belum

sembuh benar, maka

pemuda ini tidak berani bentrok tangan secara langsung dengan lawannya.

Dua bersaudara ini sama-sama lepaskan pukulan ke arah lawannya. Dua

leret sinar merah datang menggebu dan langsung menghantam Pangeran

Suprana. Laki-laki ini tidak tinggal diam. Ia juga kibaskan kedua

tangannya memapak serangan itu. Sinar hitam bergulung-gulung. Lalu

terjadilah ledakan-ledakan yang sangat keras

Buuum

Puteri Saba memekik keras, sedangkan

Pangeran Demak yang memang belum

sembuh benar dari luka yang dideritanya tampak terpelanting. Iblis

Peruntuh Mahkota tertawa membahak.

"Kanda..." pekik puteri Saba ketika melihat Pangeran Demak muntahkan

darah

kembali.

"Ha ha ha Sekarang kau benar-benar sesuai dengan julukanmu" desis

Kumbang Pemikat. Dengan langkah tegap Pangeran Suprana datang

menghampiri. Ia bermaksud membunuh pewaris kerajaan yang sah saat

itu juga. Kemudian Pangeran gila ini mencabut pedang, senjata diayunkan.

Ketika senjata itu menderu, tampak bayangan putih berkelebat dan....

Traang ....Tangan Pangeran Suprana sempat ter-

getar. Ia cepat menoleh dan terlihat olehnya puteri Saba berdiri sambil

memegang sepotong kayu di mana pada setiap ujungnya mencuat mata

pisau putih berkilat-kilat.

"Jangan coba-coba mengganggu kandaku"

ancam sang puteri.

Iblis Peruntuh Mahkota tersenyum,

matanya jelalatan seakan menggerayangi lekuk-lekuk tubuh puteri cantik

tersebut.

"Kau calon permaisuriku, jangan membantah Apa kau suka kalau aku

memperkosa dirimu di depan saudaramu Ha ha ha..."

"Kau benar-benar iblis" maki puteri Saba.

Ia segera lakukan penyerangan kembali.

Namun dengan mudahnya Pangeran Suprana

mentahkan serangan-serangan ganas yang dilakukan oleh lawan. Puteri

Saba kerahkan tenaga dalam ke bagian senjata yang dipegangnya. Kedua

ujung kayu tampak membuka, lalu dari dalamnya meluncur dua ekor ular

berwarna kuning. Ular-ular tersebut menyerang sang Pangeran. Pedang

dikibaskan dengan cepat

Tes

Salah seekor ular berhasil dibabatnya hingga putus menjadi dua.

Sedangkan yang satunya lagi berhasil menerobos pertahanan-

nya dan mematuk perut pemuda itu.

"Akh... keparat" Pangeran Suprana memaki, tubuhnya terhuyung-huyung.

Hawa panas menyerang dirinya. Kini ia urungkan niat untuk membunuh

Pangeran Demak.

Sebaliknya ia melompat ke samping kiri.

Puteri Saba tersentak kaget dan coba menghindar dari totokan. Tapi

gerakannya kalah cepat dengan gerakan lawannya.

"Tak Tak

"Akh..." "

Puteri Saba menjerit tertahan, tubuhnya

langsung kaku. Gadis ini tidak dapat berbuat apa-apa ketika Pangeran

Suprana menyambar dirinya dan berlari menjauh dengan terhu yung-huyung

Swiet

Terdengar suitan nyaring. Elang Perak

yang sedang mencecar Pendekar Blo'on sontak meninggalkan lawan begitu

mendengar suara majikannya. Burung itu di sebuah tempat menghilang.

Ketika ia terbang lagi ke angkasa. Maka terlihatlah oleh Pendekar Blo'on

Pangeran Suprana dan puteri Saba yang dalam keadaan tertotok telah

berada di atasnya. Suro jadi cemas, kesal dan dongkol. Rahangnya

menggembung, tiada henti ia garuk-garuk kepala saking bingung-nya. Di

atas sana dalam ketinggian terdengar suara Pangeran Suprana mengejek.

"Untuk sementara aku akan bersenang-

senang dulu. Setelah itu aku akan mencari kalian berdua. Kalau mau

selamat serahkan mahkota dan pedang pemersatu padaku.

"Setan jahanam Dia akan merusak kehormatan adikmu, Pangeran geram

Pendekar Blo'on sambil menghampiri Pendekar Kucar Kacir

"Selamatkan adikku, Suro. Pangeran Suprana pasti kembali ke istana." jelas

Pendekar Kucar Kacir sambil pegangi

dadanya.

"Bagaimana dengan kau?" Suro bingung juga khawatir.

"Jangan hiraukan aku, jika kita sama-sama selamat. Nanti bertemu di

puncak bukit Sembuang."

"Baiklah Kau telan ini dulu" Suro Blondo memberikan tiga obat pulung

yang salah satu diantaranya berwarna merah.

"Terima kasih. Jangan tunda-tunda waktu, sahabatku. Sebelum segala-

galanya jadi kucar kacir"

"Baik, aku pergi dulu" jawab Suro.

Tanpa menoleh-noleh lagi pemuda itu segera berkelebat pergi. Gerakannya

cepat sekali, karena pada waktu itu ia telah mengerahkan ilmu lari cepat

Kilat Bayangan. Kini Pangeran Demak Pati tinggal seorang diri.

Ia menyesali kelemahan diri sendiri. Antara kecewa, putus asa membaur

menjadi satu.

"Aku ini mengapa menjadi seperti banci?

Melindungi adik sendiri saja aku tidak mampu. Benar-benar tolol"

Pangeran Demak Pati memaki diri sendiri. Ia lalu bangkit berdiri,

selanjutnya melangkah terseok-seok meninggalkan tempat itu.

Suasana rimba persilatan semakin mema-

nas. Ditambah lagi dengan ketegangan pihak kerajaan yang terus mencari

mahkota dan juga pedang pemersatu kerajaan Pasundan.

Kabar tentang pedang keramat itu dengan cepat langsung meluas. Maka

bermunculan-lah tokoh-tokoh hitam yang juga menginginkan Pedang

Penyebar Bencana yang konon

apabila senjata itu tercabut dari rangkanya, sinarnya saja dapat membuat

orang di sekelilingnya menjadi debu.

Setan Terompet menjadi resah memikir-

kan persoalan ini. Ia juga khawatir dengan keselamatan murid-muridnya.

Pendekar Kucar Kacir memang memiliki kesaktian yang cukup tinggi.

Begitu juga dengan puteri Saba. Namun tokoh-tokoh yang muncul di

rimba persilatan rata-rata mempunyai kepandaian seendang. . ,.

"Tentara kerajaan kulihat ada di mana-mana. Orang-orang rimba

persilatan juga tampaknya lebih banyak yang pergi ke bukit Sembuang.

Aku yakin sekali pedang itulah yang menjadi perhatian mereka. Aku tidak

tahu kedua muridku sekarang berada di

mana." kata kakek tua berpakaian selempang itu seraya menimang-nimang

buntalan berisi mahkota raja. "Sebaiknya aku menyusul ke sana."

Kakek berpakaian selempang yang tidak

lain adalah Setan Terompet ini bermaksud beranjak dari tempatnya berdiri.
Namun ia urungkan niatnya saat melihat sosok tubuh berpakaian kulit

harimau tampak duduk membelakanginya. Yang mengejutkan bagi

Setan Terompet pantat orang itu sama sekali tidak menyentuh tanah.

Duduknya seakan

mengambang dua jengkal di atas tanah.

Orang ini sama sekali tidak terlihat wajahnya, juga tidak bicara apa-apa.

Karena merasa tidak punya permusuhan apa-apa.

Maka Setan Terompet mengambil arah lain.

Kemudian ia berjalan dengan tergesa-gesa.

Baru beberapa tombak dia berjalan. Di depannya tampak pula orang yang sama.

Posisinya tetap duduk dalam keadaan mengambang dan

memunggunginya pula.

Setan Terompet membalikkan tubuh dan

berjalan ke arah lain. Rasa kagetnya semakin menjadi-jadi disaat ia melihat

orang yang sama telah pula duduk searah dengan jalan yang

ditempuhnya. Setan Terompet segera menyadari adanya gelagat yang

tidak baik ini . Belum sempat ia mengajukan pertanyaan Terdengar suara

orang yang duduk memung

gunginya, suara yang begitu dingin seakan

meremas-remas jantung Setan Terompet

"Langkahku telah terseret jauh demi seorang murid yang kucinta. Kutinggalkan tanah pengasingan di mana orang-orang telah menganggap

aku telah terkubur lama di sana. Tapaku yang hampir seratus tahun

membuat ujudku antara ada dan tiada. Aku berjalan dalam waktu,

langkahku secepat topan. Lariku secepat perjalanan cahaya dalam

kegelapan. Tiada kehendak yang tidak terkabul, tiada pula hajat yang

tidak terpenuhi. Anak manusia yang berjuluk Setan Terompet. Jika kau

belajar ilmu kesaktian seabad lagi. Kau belum bisa menandingi

kesaktianku Setiap aku menemui manusia, pasti ada yang kuinginkan.

Untuk itu terus terang kukatakan padamu, serahkan mahkota kerajaan itu padaku.

Setelah itu nyawamu kubiarkan tetap bersama ragamu"

Apa yang dikhawatirkan Setan Terompet

menjadi kenyataan juga. Laki-laki yang belum terlihat wajahnya

berpakaian kulit harimau ini ternyata memang menghendaki mahkota raja

yang di bawanya.

Tet Tet Tet

Setan Terompet meniup terompetnya.

Terdengar suara bergemuruh menyakitkan telinga. Karena dalam suara

terompet tadi terkandung pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi.

Sungguh mengejutkan jika

laki-laki berpakaian kulit harimau ini sama sekali tidak bergeming. Ia tetap

duduk tenang mengambang di udara. Setan Terompet termasuk manusia

sakti, namun ia terpaksa telan ludah membasahi kerong-kongannya yang

terasa kering tiba-tiba.

"Mahkota ini bukan milikku, ini hanya barang titipan yang di amanahkan

padaku.Kuharap Anda suka mengerti dan memberi

jalan padaku untuk berlalu" jawab Setan Terompet berusaha ramah.

"Aku hanya bicara sekali lagi. Kalau kau membantah aku akan rampas

mahkota berikut nyawamu" Dingin suara laki-laki berpakaian kulit

harimau tersebut.

Setan Terompet bukan orang yang mudah

digertaki tanpa menghiraukan ucapan laki-laki yang seluruh wajahnya

tertutup rambut panjang menjela ini ia berkelebat pergi.

Namun baru beberapa langkah, laki-laki yang duduk mengambang di atas

tanah itu sentakkan kepalanya. Angin dingin menderu, Setan Terompet terjajar.

"Setan keparat Hiii..." teriak Setan Terompet kalap. Seraya langsung

lepaskan pukulan jarak jauh ke arah laki-laki berpakaian harimau. Sekali

lagi orang itu gelengkan kepala.

Plas

Pukulan sakti yang dilepaskan oleh Setan Terompet lenyap seakan

menghantam sebuah

ruangan hampa udara. Kakek berselempang

tersentak kaget. Pukulan yang dilepaskannya bukan sembarang pukulan.

Jika hanya tokoh berkepandaian biasa saja yang terkena serangan itu dapat

dipastikan ia menemui ajal seketika.

"Siapa kau?"

Laki-laki berpakaian kulit harimau tertawa pelan, lalu mulutnya mengatup kembali.

Ketika bicara ia sama sekali tidak meng-hadapkan wajahnya pada lawan

bicaranya melainkan tetap memunggunginya.

"Aku Dewa Kubu, datang ke sini ingin melihat kematian juga melihat

darah. Aku juga ingin membantu muridku Pangeran Suprana Kau sudah

tahu, serahkan mahkota raja secepatnya"

Semakin bertambah kagetlah Setan

Terompet. Orang yang satu ini tidak dapat dianggap main-main.

Kesaktiannya sulit dijajaki, dan ia manusia sesat pula. Keadaan semakin

runyam, persoalan bertambah pelik dan sukar.

"Bagus Aku sudah tahu sekarang muridmu iblis dan rupanya kau bapak

moyangnya iblis Kau boleh ambil mahkota di tanganku jika sudah

melangkahi mayat-ku" tantang Setan Terompet gusar.

Ucapan Setan Terompet sama sekali

tidak membuat Dewa Kubu memalingkan

muka ke arahnya. Tokoh Andalas ini (agar

lebih jelas ikuti Episode Memburu Manusia Setan), gerakan tangan kirinya.

Lima larik sinar menderu, sebelum serangan itu menghantam Setan Terompet. Maka si kakek hantamkan mulut terompetnya.

Prang Praang

Setan Terompet bersurut mundur, tangan-

nya yang memegang terompet itu tersengat hawa dingin membekukan.

Ia kerahkan tenaga dalam, setelah itu dengan cepat ia menyerbu ke depan.

Terompet ditiup tiga kali mengeluarkan suara yang dapat membuat hancur syaraf manusia.

Dewa Kubu tertawa pendek, lalu kedua bibirnya mengatup

rapat. Masih dalam posisi duduk tidak berubah, Dewa Kubu gerakkan kedua tangannya ke samping.

Tiba-tiba Setan Terompet merasa seperti ada

sebuah kekuatan dahsyat menindih sekaligus membungkam suara terompetnya.

Belum hilang rasa kaget di hati tokoh

dari Kutai ini Dewa Kubu menggerakkan tangannya ke atas seakan mengangkat.

Anehnya tubuh Setan Terompet ikut pula terangkat ke udara.

Serangan seperti ini sangat jarang dimiliki oleh tokoh-tokoh rimba persilatan di masa itu.

Meskipun dirinya terancam bahaya besar. Dalam keadaan terangkat ke udara itu ia lepaskan pukulan dahsyat.

Hawa panas menyengat menghantam Dewa Kubu. Laki-laki yang masih

belum jelas wajahnya ini gerakkan tangan yang satunya lagi.

Sssst....Serangan itu meleset dan menghantam

pohon di samping Dewa Kubu. Laki-laki itu menggerakkan tangan kanannya.

Setan Terompet tiba-tiba merasa tubuhnya seperti tersedot ke arah

lawannya. Meskipun ia berusaha bertahan namun kekuatan lawannya terus membetotnya.

Lama kelamaan ia pun tidak kuat

bertahan. Tubuhnya meluncur deras ke arah Dewa Kubu. Sejengkal lagi badannya menubruk lawan,

Setan Terompet hantamkan senjatanya ke bagian kepala Dewa Kubu.

Prang...Mulut terompetnya melesak, Dewa Kubu

bergeming pun tidak. Tiba-tiba kakinya menendang. Sedangkan rambutnya yang

berubah kaku laksana kawat baja menghantam perut Setan Terompet.

Laki-laki itu sudah tidak dapat menghindar lagi. Perutnya ditembusi ribuan

batang rambut, beton Terompet menjerit sambil mendekap perutnya.

Ketika rambut yang berlumuran darah itu disentakkan. Maka Setan Terompet

terbanting ke tanah. Ia tewas seketika, tidak terbayangkan betapa tingginya ilmu Dewa Kubu,

apalagi mengingat orang seperti Setan Terompet adalah

tokoh yang memiliki kepandaian tidak rendah.

Mahkota dalam buntalan diambil oleh

laki-laki berpakaian kulit harimau ini. Ia tertawa sambil menimang-nimang mahkota tersebut.

Setelah itu Dewa Kubu berdiri sepenuhnya di atas tanah. Selanjutnya tokoh aneh ini

langsung berkelebat pergi meninggalkan mayat Setan Terompet

yang mulai membeku.

Tidak lama setelah perginya Dewa Kubu

sambil membawa mahkota kerajaan. Di

tempat itu terdengar suara bersin-bersin yang tentu saja membuat

burung-burung pemakan bangkai berterbangan menjauh.

Hanya beberapa saat setelah terdengar suaranya, muncul pula orangnya.

 Ia tidak lain adalah seorang laki-laki berambut kelabu dan berjenggot kelabu.

 Mata si kakek tampak mendelik ketika melihat Setan Terompet terkapar tanpa nyawa. Tergesa-gesa ia

datang menghampiri.

"Saudaraku Setan Terompet?" Ki Bersin menggerung keras. Seraya memeluki mayat adiknya.

 "Aku datang jauh-jauh kemari, tidak tahunya kau suruh aku melihat mayatmu?

Setan mana yang telah membuat-mu kaku begini?" desis Ki Bersin di sela-sela isak tangisnya.

Setelah puas menangis, Ki Bersin

tengadahkan wajahnya. Ia teringat sesuatu

"Aku punya ajian Pati Darah, mengapa aku sebodoh ini. Dia tidak mungkin mati selama

aku masih hidup. Akupun tidak akan mati selama Setan Terompet masih hidup

Mengapa aku harus bersedih, hu hu hu..." Ki Bersin bangkit berdiri, mayat saudaranya yang

sudah dingin ini dilangkahinya seba-nyak tiga kali. Setelah melangkahi mayat itu tiga kali,

maka Ki Bersin menunggu sejenak. Reaksinya kemudian segera terlihat.

Mayat yang sudah dingin tersebut tampak bergerak-gerak. Setan

Terompet menggeliat sambil merintih. Tidak lama ia merentak bangkit.

"Waduuuh... sakit... Kk... kau..." Setan Terompet kelihatan terkejut sekali. "Bagaimana Kakang bisa berada di sini?"

""Kepalamu peang Setan Terompet. Jika aku tidak muncul dalam waktu yang tepat.

Tubuhmu seminggu mendatang sudah mem-

busuk. Coba kau ingat-ingat siapa yang membunuhmu?"

Setan Terompet pegangi perutnya yang

masih meneteskan darah di sana-sini. Ki Bersin segera membaca mantra-mantra

Pati Darah, lalu kedua tangannya di usapkan ke bagian luka di perut adiknya. Secara aneh, luka itu pun lenyap.

Kini Setan Terompet tertawa-tawa seperti anak kecil yang baru mendapat mainan. Ki Bersin melotot.

"Cepat katakan siapa yang membunuhmu?" bentak kakek berambut kelabu tidak

sabar lagi.

"Yang membunuhku Dewa Kubu. Guru

Pangeran Keparat Suprana. Ia bahkan telah melarikan mahkota itu. Duh,

apa nanti jawabku kalau Si Kucar Kacir menanyakan

mahkota kerajaan? Apa...??" Setan Terompet menggerung.

"Kau tua bangka tolol. Menghadapi satu musuh saja sudah kalah, bahkan mampus

malah. Betapa memalukan Setan Terompet?"

Ki Bersin kelihatan gusar sekali.

"Aku tidak malu-malu mengakuinya.

Namun harus diingat jika pun kita berdua maju bersama-sama.

Belum tentu kita dapat mengalahkannya. Dia sakti bukan main. .Ia menghadapi aku hanya dengan duduk saja."

"Ngomong apa, kau Terompet Aku tidak percaya" sergah Ki Bersin.

"Kau boleh tidak percaya. Yang jelas kita semua termasuk Pangeran Demak

benar-benar terancam bahaya besar saat ini" Kening Ki Bersin mengerenyit dalam.

"Katamu dia menghadapi kau hanya duduk saja?"

"Betul."

"Kau kalah dengan orang duduk? Setan memalukan.

Apa gunanya kau belajar ilmu sampai ubanan. Jika kau tidak becua menghadapi seorang musuh apa lagi

dengan murid-muridmu?" bentak Ki Bersin dengan mata melotot.

"Itulah yang memusingkan pikiranku, Kakang. Kau harus membantuku.

Kita harus pula pergi ke bukit Sembuang secepatnya Kulihat orang-orang pergi ke sana.

Kurasa di sanalah almarhum ayahanda muridku menyimpan pedang pemersatu."

"Tunggu dulu. Sebelum aku mencarimu, aku bertemu dengan seorang pemuda berbaju biru.

Kurasa dia seorang pendekar juga. Ia kutugaskan untuk menyelidiki ke istana.

Tapi sampai saat ini aku belum bertemu dia lagi."

"Lalu?"

"Setelah melihat keteledoranmu menjaga mahkota itu. Firasatku mengatakan kekacau-an segera terjadi.

Orang yang telah membunuhmu tadi adalah tokoh sesat yang namanya melegenda di rimba persilatan tanah Andalas.

 Dulu... kudengar-dengar ia dikabarkan sudah mati. Siapa sangka ia sekarang

bergentayangan dengan segala kesaktiannya yang semakin menggila.

Ayo tunggu apalagi tua bangka goblok? Apa kau ingin melihat murid-muridmu mampus

semua ?”

Setan Terompet hendak mengatakan

sesuatu, namun urung karena Ki Bersin telah menyentakkan tangannya

 dan membawa Setan Terompet berlari menuju ke arah utara.


"Kurasa aku salah jalan, salah tujuan.

Dan bukit ini bukan tempat yang kutuju.

Dewa Petir memang manusia gila Mengapa

dia tidak mau memberi peta padaku di mana bukit Sembuang?"

Gadis baju hitam bicara seorang diri sambil membanting-banting kakinya

yang terbungkus sepatu kulit beruang. "Kalau dia bukan guruku, siapa sudi

bersusah payah mencari barang yang belum ketahuan di mana rimbanya.

Padahal barang guru tidak pergi kemanamana. Dia tetap berada di tempat sejak

masih kecil. Sepertiii... hi hi hi. Malu aku mengatakannya." Gadis ini memegang bawah perutnya.

"Barangku juga tidak kemana-mana. Mana mungkin ada barang disimpan

di atas bukit. Aku sudah memeriksanya tadi. Guru ada-ada saja, segala pedang dicari.

Aku sendiri lebih suka mencopet barang-barang yang ada harganya. Betul-betul menjengkelkan" desis si gadis.

Selagi ia sedang dilanda kebingungan.

Semak-semak di depannya tampak bergoyang-goyang. Si gadis memperhatikan dengan seksama.

Lalu ia lepaskan pukulan ke arah semak-semak tersebut.

Buum

Terjadi ledakan keras. Semak belukar berantakan. Namun tidak terlihat reaksi apa-apa.

Tidak disangka-sangka di belakang


Maling Jenaka terdengar suara seseorang

"Ribut-ribut mencari barang hilang?

Barang yang di atas atau yang di bawah?

Tapi kulihat barang di atas masih ada dua di balik bajumu. Kalau yang di bawah,

maaf... aku belum memeriksa. Aku juga tidak tahu rupanya, entah rimbun atau gersang, hahaha..."

Wajah gadis baju hitam kontan berubah

seperti tomat masak. Kata-kata orang di balik semak-semak itu sungguh

menyinggung perasaannya karena nyerempet-nyerempet daerah larangan.

"Setan usilan yang bersembunyi di balik semak, sebaiknya tunjukan

diri kalau tidak ingin mampus" ketus suara si gadis. Dari balik semak belukar muncul

seorang pemuda berpakaian biru berwajah tampan. Hanya tampangnya ketolol-tololan.

"Kau yang bicara kurang ajar tadi?”

"Iya Kita ketemu lagi, Nisanak. Kudengar kau mencari barang?

Barang siapa sebenarnya?" tanya Suro sambil garuk-garuk kepala.

Sebagaimana kita ketahui Suro bermaksud mengejar Pangeran Suprana yang telah melarikan puteri Saba.

Namun dalam perjalanannya ia melihat gadis yang pernah dijumpainya beberapa hari yang lalu sedang sibuk mencari-cari sesuatu.

"Barangmu" sahut si gadis sinis.

Suro spontan raba celananya.

"Wah, aku punya masih ada kok. Tidak terbang kemana-mana"

Gadis itu hampir tertawa, tapi kedong-

kolan lebih banyak menguasai dirinya.

"Pemuda kurang ajar. Jika tidak kupukul mulutmu itu, agaknya kau semakin bertambah konyol.

" Melihat gadis baju hitam mendekati, Suro melangkah mundur.

"Jangan kau cari perkara. Sekarang kulihat kau begitu sibuk, dan aku ada tugas penting pula. Maaf aku harus pergi"

kata Suro yang langsung teringat dengan tugas yang diembannya.

Ia pun berlari, tapi entah sengaja atau tidak gadis baju hitam menabraknya.

Kejadiannya seperti biasa-biasa saja memang, anehnya si gadis masih sempat berkata 'Maaf. Suro pun tidak ambil pcrduli.

Pemuda konyol itu langsung meninggalkan Maling Jenaka si Maling Cerdik.

Gadis itu lalu tersenyum. Tabrakan yang memang disengajanya tadi telah menghasilkan sesuatu.

Ia tidak perlu memeriksanya, segera barang yang baru didapatnya itu langsung dimasukkan di balik punggungnya.

"Pemuda tolol. Nanti kau akan kelabakan sendiri. Hi hi hi..."

Gadis itu tidak merasa perlu berlamalama berada di tempat tersebut.

Seakan tidak pernah terjadi apa-apa ia pun melenggang sambil terus tersenyum-senyum

Dua orang tabib istana sudah didatang-

kan untuk mengobati luka yang diderita oleh raja Sorga Dunia.

Namun kedua tabib tadi tidak berhasil menyembuhkan luka gigitan ular kuning sepenuhnya.

Hanya sebagian kecil saja bisa dapat dikeluarkan.

Sebagian lainnya masih mendekam di dada Pangeran Suprana.

"Kita harus mendatangkan Tabib Dewa Sesat, Paduka.

Jika tidak empat puluh hari di muka nyawa Paduka tidak tertolong"

kata salah seorang dari tabib itu tanpa ragu.

"Tidak seorang pun yang tahu Tabib sakti itu berada. Semua ini gara-gara puteri celaka itu.

Awas Jika racun di tubuhku ini sudah menghilang ia benar-benar akan

merasakan pembalasanku" geram Iblis Peruntuh Mahkota disertai senyum liciK.

"Kami akan berusaha mencari Tabibj itu.

Sebaiknya Pangeran istirahat saja duiu.

saran sang tabib. Kedua tabib istana meninggalkan kamar peristirahatan.

Pangeran Suprana menganggukkan kepala, kemu-

dian ia merebahkan tubuhnya. Ia tampaknya memang tidak sabar menunggu kesembuhan-nya.

Lima orang gadis yang merawat Pangeran

Suprana semuanya cantik-cantik. Kalau dihitung semua gadis

yang berada di istana Sorga Dunia ada sekitar empat puluh orang.

Semuanya setia dan siap dipanggil kapan saja untuk memberikan kehangatan pada

Pangeran itu. Dan kini kelima gadis itu tampak sibuk. Kelima gadis ini hampir semuanya

berpakaian merangsang dan di balik pakaian tipisnya tidak memakai pelindung apa-apa. Mereka sibuk sekali.

Narnun pelayanan yang diberikan oleh kelima gadis itu tampaknya kurang berkenan di hati Iblis Peruntuh Mahkota.

Rupanya ia sudah tidak sabar untuk

menghampiri puteri Saba yang dalam keadaan tertotok dan di tcmpatkannya

di sebuaii kamar terkunci. Pemuda itu tanpa menghiraukan tubuhnya yang panas langsung mencam-

pakkan selimut yang menutupi dirinya.

"Paduka hendak kemana? Tabib berpesan agar Paduka jangan

bergerak, racun yang mengeram dalam tubuh Paduka akan

menjalar lebih cepat lagi" Salah seorang gadis pemuas nafsu bejat

Pangeran Suprana mengingatkan.

"Diam Di sini aku yang berkuasa, bukan tabib sial yang tidak mampu

berbuat apa-apa atas penyakitku ini" hardik Pangeran sinting itu. Seraya keluar meninggalkan kamarnya.

Dengan terhuyung-huyung ia menghampiri sebuah kamar. Tidak lama pintu kamar pun sudah dibukanya.

Di atas ranjang tampak puteri Saba diam terbaring dalam keadaan tertotok.

Gadis itu menyadari adanya bahaya yang mengancamnya.

Namun dalam keadaan tertotok seperti sekarang ini mana mampu ia berbuat sesuatu.

"Iblis jahanam ini benar-benar ingin mempermalukan aku" desis puteri Saba dalam hati.

"Aku bersumpah akan membunuhnya jika sampai ia berbuat kurang ajar

padaku" Dugaan puteri Saba memang tidak meleset, Iblis Peruntuh Mahkota

sambil tersenyum mendekati ranjang. Ia mencium bibir sang puteri.

Tentu saja puteri tidak dapat menghindari ciuman ganas itu karena

kepalanya juga tidak dapat digerakkannya.

"Manusia iblis, lepaskan aku Lepaskan...

teriak gadis berambut panjang itu

histeris. Pangeran menjauhkan sedikit wajahnya dari wajah sang puteri.

Bibirnya menyunggingkan seulas senyum mencemooh

“Percuma aku dijuluki Iblis Peruntuh

Mahkota. Aku akan meruntuhkan mahkota kebanggaanmu, akan kurenggut kesucianmu

Dan kau nanti hanya dapat meratap menyesali nasib Ha ha ha..."

kata Pangeran Suprana. Ia kemudian menciumi leher puteri yang kuning langsat dan berbau harum.

Sedangkan tangannya yang sedang menyusup di balik pakaian gadis itu

sudah bergayangan meremas-remas dada sang puteri.

Gadis ini tampak semakin ketakutan.

Ia bahkan kemudian menangis terisak-isak.

Rupanya pengeran tidak puas hanya meremas dan membelai.

Disobeknya pakaian puteri Saba di bagian dada.

"Hari ini aku ingin melihat keindahan tubuhmu yang kau

sembunyikan selama ini"

Bret , . .

Pakaian itu robek besar. Kedua dada puteri tersibak. Mata Pangeran mendelik.

Ia leletkan lidah basahi bibir.

"Oh... betapa menawan." seru pemuda sinting itu,

lalu ia menciumi kedua bukit yang hangat mulus tegak menantang itu

Puteri Saba hanya dapat memaki dan menangis. "Luar biasa, aku

belum pernah melihat yang seindah ini. Kau benar-benar masih, hmm..." desis Pangeran Suprana.

Darah mudanya bergolak kembali, nafsu meledak-ledak. Dan ia bertindak semakin kurang ajar saja.

"Kurasa bagian lainnya lebih hebat dari ini" kata Kumbang Pemikat.

Dan tangannya meluncur melalui perut sang puteri. Jeritan gadis itu semakin menjadi-jadi.

Setelah menyelinap di balik pakaian bawah si gadis.

Pangeran menyentakkan pakaian yang menu-

tupi bagian terlarang sang puteri sehingga gadis itu benar-benar dalam keadaan telanjang.

Mata Pangeran mendelik-delik melihat tubuh telanjang di depannya.

Tangannya dengan agresif menjelajah ke bagian-bagian

yang sensitip itu. Puteri Saba merasa nyawanya laksana terbang.

"Kau akan kubawa menikmati sorga di istanaku ini, puteri Saba" kata Pangeran Suprana.

Gairahnya kini meletup-letup.

Darahnya bergolak, pemuda itu melepaskan pakaiannya.

Satu hal yang tidak disadari oleh pemuda itu. Bahwa birahi yang membakar

jiwanya secara langsung telah membuat racun ular kuning menyebar ke

seluruh tubuhnya lebih cepat dari perhitungan sang tabib.

Pemuda yang sudah setengah telanjang

ini tiba-tiba saja merasa ada satu hawa panas laksana membakar sekujur tubuhnya.

Ia mendekap dadanya.

"Ukh... Penyakit keparat ini” maki Pangeran dengan tubuh terhuyung-huyung Ia nyaris terjatuh,

penderitaan yang dirasakannya membuat sang Pangeran Urungkan

niatnya “Kau tunggulah sayang, waktunya pasti akan tiba” kata pemuda itu.

Ia menutupi tubuh telanjang si gadis dengan selimut Kemudian dengan

terhuyung-huyung ia meninggalkan kamar yang dipergunakan untuk menyekap puteri Saba.

Jatuh bangun Pangeran Suprana mema-

suki kamarnya. Lima orang gadis yang tetap setia menunggu kelihatan kaget

melihat sekujur tubuh rajanya berubah merah dan panas sekali.

"Paduka..."

"Aku Tuhanmu. Cepat panggil tabib, jangan membuang-buang waktu" bentak pemuda itu.

Tubuhnya memang menggigil, mungkin semua ini tidak akan terjadi jika ia tadi

dapat mengekang nafsunya tapi mana Pangeran budak nafsu ini perduli, ia terus

berteriak-teriak hingga para pengawal mengira rajanya sedang bertempur.

Merekapun berdatangan Melihat keha-

diran para prajurit Pangeran

bertambah marah.

“Mana tabib itu. Hadirkan Tabib Dewa

Sesat ke sini Orang-orang goblok mengapa cuma berdiri di situ?" maki sang Pangeran.

Para pengawal berserabutan keluar. Iblis Peruntuh Mahkota terus mengerang-erang.

Selagi semua gadis yang berada di ruangan itu dalam keadaan bingung tiba-tiba saja

angin kencang berhembus menerobos kisi-kisi jendela. Pangeran Suprana walaupun

dalam keadaan sakit tetap bersiap siaga menjaga segala kemungkinan. Kunci-kunci

jendela terbuka, seakan ada tangan-tangan gaib yang menyentuhnya. Dan....

Braak Braak

Jendela terhempas dan terbuka dengan

paksa. Angin kencang tetap berhembus

menerobos ke dalam kamar. Lalu terdengar suara mendengung seperti suara ribuan lebah

yang baru pindah sarang. Suara mendengung

semakin lama semakin bertambah jelas, bertambah dekat

sampai kemudian terdengar suara seseorang.

"Nafsu bisa mencelakakan manusia.

Banyak manusia celaka karena nafsunya."

Pangeran Suprana kaget bukan main,

memandang ke arah jendela ia lebih terkejut lagi. Di pintu jendela terlihat seorang kakek tua berkepala botak.

Alisnya putih, tidak berjenggot dan tidak pula berkumis. Sesekali si kakek meludah.

Air ludah berwarna merah. Ternyata kakek ini makan sirih.

"Tabib Dewa Sesat Sukur para tabib istana telah menghubungimu.

Cepat tolonglah aku?" kata Pangeran Suprana penuh harap.

Ia rupanya sungkan dengan tabib kondang

yang konon juga memiliki kesaktian yang cukup tinggi.

"Cuih" Tabib Dewa Sesat meludahkan air sirih ke lantai seenaknya saja dengan sikap acuh malah.

"Penyakit kau cari sendiri Dari mukamu aku dapat melihat umurmu paling hanya tinggal

tiga puluh lima hari lagi karena kecerobohanmu sekejab tadi"

"Tabib Dewa Sesat, aku akan memberi imbalan yang sangat besar. Para tabibku

sengaja kusuruh menjemputmu, karena mereka tidak mampu menyembuhkan aku"

"Bertemu dengan batang hidung para tabibmu-pun aku tidak. Aku datang sekehen-

dak hatiku. Kau tidak bisa membayarku

terkecuali kau mau menuruti upah yang aku minta." kata si kakek botak acuh tak acuh.

Tubuh Pangeran Suprana disaat itu semakin menggigil,

rupanya racun ganas ular kuning semakin hebat menyerangnya.

"Apa...? Katakanlah" desak Pangeran itu tidak sabar. .

"Cuih Aku meminta dua dan kemungkinan yang kau miliki.

Pertama jika kau mau menyerahkan kerajaan ini padaku Maka aku akan mengobatimu, kau nanti

bisa membuat kerajaan di lain tempat”

Raja Sorga Dunia kaget ”Botak

jahanam ini benar-benar sangat Keterlaluan.

Aku harus punya siasat untuk melicikinya.

Nanti kalau aku sembuh, kepalanya kupenggal lalu kuseret ke alun-alun." batin si pemuda.

Maka dia menjawab. "Jangan kau pinta istana. Lebih baik kau minta

seribu permintaan lain dan aku akan mengabul-kannya"

"Begitu?" Tabib Dewa Sesat tersenyum sinis. "Kalau begitu bagaimana andai aku minta puteri Saba?

Aku terlanjur melihat kebagusan tubuhnya. Kau sudah melihatnya, aku yang ingin merasakan dalamnya.

Bagaimana? Jika kau setuju, tentu aku akan mengobatimu"

"Tua bangka ini cari penyakit Dia pikir dirinya siapa? Aku harus mengalah semen-

tara. Jika dia telah berikan obat itu, huh tahu rasa nanti" maki Pangeran Suprana dalam hati.

Namun mulutnya berkata lain.

"Baiklah permintaanmu kuturuti. Aku menginginkan kesembuhan,

seratus perempuan cantik nanti dapat kucari. Nah cepat sekarang lakukanlah pengobatan sesegera mungkin"

"Keputusanmu sangat bijaksana" Tabib Dewa Sesat menyahuti, ia melompat turun

dari atas jendela. Setelah itu ia mengeluarkan sebuah kantung berwarna hitam dan

sudah butut. Setelah itu si kakek botak mengeluarkan belasan

batang jarum panjang dari dalam kantung. Yang satu berwarna

putih lainnya berwarna kuning.

"Tidak usah khawatir. Aku tidak mencelakaimu. Kalau kau kurang yakin suruh

pergi kelima perempuan ini, panggil pengawalmu untuk berjaga-jaga di sini''

Karena pada dasarnya Pangeran Suprana

memang tidak pernah menaruh rasa percaya pada siapa pun. Ia segera

memberi isyarat pada gadis-gadis itu. Kelimanya langsung pergi, t

idak lama datang beberapa orang pengawal mereka tampak bersiap siaga di

depan pintu dan di depan jendela. Sambil tersenyum sang Tabib memandang acuh tak

acuh pada para pengawal itu. Kemudian ia mulai menusukkan

jarum-jarum itu di sekitar dada Pangeran dan juga pada bagian paha

pemuda itu.

"Jangan bergerak sedikit pun. Salah-salah kau bisa lumpuh seumur

hidupmu" kata sang Tabib memperingatkan. Iblis Peruntuh Mahkota

tidak berani bergerak walau barang sedikit pun. Ia mulai merasakan

adanya serangan hawa dingin dari bagian-bagian yang di tusuki jarum tersebut.

 Hawa dingin dan hawa panas membaur dan terjadilah

pergolakan hebat. Pangeran Suprana menjerit. . .

Pemuda itu hampir saja memaki sang

Tabib tapi ketika dirasakannya pergolakan dua kekuatan yang

berlawanan mulai mereda ia pun urung. Sekarang dari seluruh pori-pori

Pangeran Suprana menetes cairan merah kehitam-hitaman. Setelah warna hitam

dalam cairan merah itu hilang sepenuhnya. Maka Tabib Dewa Sesat mencabuti

jarum-jarum yang tertancap di sebagian besar tubuh pemuda itu.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Paduka raja?" tanya Tabib Dewa Sesat.

"Sudah agak lumayan" sahut Pangeran Suprana.

Tabib Dewa Sesat menyerahkan dua pil

berwarna biru dan hitam. "Telanlah Obat itu gunanya untuk memperlancar

peredaran darah" Tanpa merasa curiga Pangeran Suprana langsung telan

obat pemberian Tabib Dewa Sesat. Setelah agak lama

reaksinya pun terasa. Pangeran merasa tubuhnya menjadi enteng.

"Sekarang aku harus pergi dan membawa puteri Saba" kata sang

Tabib sambil bangkit berdiri. Di luar dugaan Pangeran Suprana bangkit berdiri pula,

kemudian tawanya meledak

"Ha ha ha.., Kau pikir akan semudah itu Tabib? Puteri Saba adalah calon

permaisuriku. Adalah suatu kebodohan jika aku menyerahkan

kepadamu" dengus raja Sorga Dunia sinis. Lalu ia menoleh ke arah pintu.

"Panglima, tangkap monyet botak ini" perintah Pangeran Suprana.

Dari balik lain adalah Sang Bala, SoSok pembunuh berdarah dingin yang paling ditakuti.

Kini Tabib Dewa Sesat yang ganti

tertawa. "Aku sering mendengar kelicikan-mu,

Pangeran bangsat Jangan kira kau sembuh sepenuhnya.

Obat yang baru kau makan tadi satu diantaranya adalah alat

pembunuh yang akan menyiksamu lahir batin. Hanya aku

yang punya obat penawar-nya, kau akan mati pelan-pelan. Bukan Tabib Dewa Sesat jika aku masih dapat

diliciki oleh bocah ingusan sepertimu Ha ha ha..."

"Kau pasti berdusta. Siapa mau percaya?"

"Aku tidak memintamu percaya pada tabib sesat sepertiku

Untuk mengetahuinya, coba kau kerahkan tenaga dalammu"

perintah sang Tabib.

Diam-diam Pangeran Suprana kerahkan

tenaga dalam. Tiba-tiba dadanya langsung sesak dan leher seperti tercekik. Maka

pucatlah paras pemuda itu.

"Keparat" Pangeran Suprana menggeram marah sudah bisa menakar umurmu.

Kalau kau tidak turuti parintahku, maka nyawamu tidak tertolong”

"Sebaiknya kita tabib tangkap ini saudaraku. Setelah itu kita rampas obat pemunahnya" seru Sang Bala dingin.

Tabib Dewa Sesat memasukkan bungkus

kecil berisi obat pemunah. Kau berani menangkapku, obat pemunah racun

Serat Raja kutelan. Rajamu mampus dan kau tidak mendapatkan apa-apa dariku"

Pangeran Suprana menjadi serba salah. Ia harus menyerahkan puteri Saba pada

Tabib itu jika dirinya ingin selamat.

Sementara itu di ruangan kamar tempat

di mana puteri Saba berada tampak pula bayangan merah berkelebat memasuki kamar tersebut.

Melihat wajahnya mungkin orang ini sudah berumur delapan puluhan atau lebih.

Ia memakai ikat kepala warna hitam dan lebar sehingga sehelai rambutnya pun tidak terlihat.

Tanpa bicara apa-apa jalan suara si gadis ditotoknya. Puteri Saba ketakutan setengah mati.

Kakek baju merah ini tanpa menunggu lagi langsung memang-

gul tubuh telanjang si gadis. Kemudian ia keluar lagi

sambil berlari kencang meninggalkan istana.

Di ruangan pertama tadi Pangeran

Suprana jadi bingung sendiri. Ia tidak menyangka Tabib itu telah menyiasatinya pula.

“Tidak ada pilihan lain bagimu, terkecuali menyerahkan gadis itu padaku" tegas Tabib Dewa Sesat.

"Hmm, baiklah. Kau menang hari ini.

Puteri itu boleh kau miliki sekarang serahkan obat pemunah racun itu kepadaku”

"Aku tidak bodoh. Obat baru kuberikan pada panglimamu setelah aku membawa

gadis cantik tersebut jauh dari istana Silahkan Panglima mengiringiku..."

Dengan meredam kemarahannya, Pange-

ran Suprana terpaksa menurut pula. Ia dan panglimanya mengantar sang Tabib

menuju kamar puteri Saba. Alangkah terkejutnya berbagai pihak yang sama-sama

berada di situ ketika melihat pintu terbuka dan puteri Saba tidak berada di tempatnya.

"Celaka ada seseorang yang telah melarikannya" desis Pangeran dengan wajah pucat dan bibir bergetar.

"Huh, kau tidak dapat menepati janjimu.

Gadis itu dilarikan orang dan aku harus mendapatkannya.

Jika dia tidak kutemukan, maka aku tidak akan pernah memberikan

pemunah Racun Serat Raga padamu" kata Tabib Dewa Sesat sambil berkelebat pergi.

"Mari kita ikuti dia" seru Pangeran Suprana pada Sang Bala.

Tanpa membuang-buang waktu lagi kedua

orang penting kerajaan Sorga Dunia ini segera mengejar Tabib Dewa Sesat.

Nah apa yang bakal terjadi? Siapa yang telah menawan puteri Saba,

apakah nyawa Pangeran Suprana dapat tertolong ? Apa yang hilang dalam diri PendeKar Bloon ?

Dewa Kubu tidak tinggal diam, Elang Perak apalagi dan kehadiran Dewa Petir?

Mala-petaka tidak dapat dicegah.



TAMAT


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...