PENDEKAR BLOON
Eps.18
BATU LAHAT BAKUTUK
SATU
Tidak satu pun rumah terlihat di tengah-
Tidak satu pun rumah terlihat di tengah-
tengah dataran tandus itu. Dalam sehari dua kali
terlihat burung gagak
hinggap di celah-celah sebuah bukit. Entah apa
yang dilakukan oleh bu-
rung gagak ini tidak seorang pun yang tahu. Ka-
rena memang belum pernah ada orang yang bera-
ni datang ke daerah yang cukup angker ini.
Hanya bila kita mau melihat lebih dekat la-
gi, terlebih-lebih ke celah-celah bukit. Maka di sana ada sebuah pemandangan misterius yang
mengundang tanya. Rupanya diantara tiga buah
bukit cadas yang mengapit dataran sempit terse-
but terlihat puluhan tengkorak menggeletak di
atas tanah. Melihat keadaannya yang sudah ber-
lumut, tentulah orang ini telah lama meninggal
bahkan mungkin sudah berpuluh-puluh tahun.
Dan barangkali pula sebelum meninggal mereka
mengalami perlakuan yang sadis. Sebab diantara
tengkorak itu ada yang retak, banyak pula giginya yang rontok bahkan ada pula yang remuk tulang
pelipisnya.
Diantara lima belas tengkorak kepala itu
ada satu yang masih berambut, wajahnya terbalut
kulit seakan tidak berdaging sedangkan rambut-
nya panjang menjela. Sudah matikah dia?
Ternyata orang ini belum mati, ia masih
mampu mengangkat kepala, walau tubuhnya mu-
lai batas leher ke bawah tertimbun tanah. Terka-
dang kepala itu tertunduk atau terkulai di atas
tanah. Kak Kak
Tiba-tiba seekor burung gagak menyambar
di atas kepalanya sambil memperdengarkan suara
ribut. Orang yang tubuhnya terbenam ini angkat
kepala, menengadah ke atas disertai sesungging
senyum hampa.
"Gagak sahabatku Kau datang lagi? Da-
tang dengan membawakan kehidupanku" rintih si laki-laki.
Kekkk
Seakan mengerti burung tersebut menya-
hut ia hinggap di atas pasir persis di depan hi-
dung orang ini. Si laki-laki membuka mulutnya,
setangkai buah-buahan yang dibawa oleh burung
hitam ini dimakannya. Tidak satu pun buah tersi-
sa. Burung berbulu hitam ini memperhatikan si
laki-laki dengan tatapan iba.
"Sahabatku hitam?" Berkata orang ini
"Kau lihatlah tengkorak kawan-kawanku Mereka semua telah meninggalkan aku seorang diri. Aku
sudah tidak ingat lagi sudah berapa puluh tahun
aku dipendam disini, di dalam tanah jahanam
ini" Kaaaakkk
Si burung menyahut sekaligus gelengkan
kepala. "Kau tentu tidak tahu, sama seperti diriku ini. Mau gila rasanya aku, ingin mati saja aku ini seperti kawan-kawanku. Aku tahu tanah ini mengandung racun jahat, kurasa tubuhku sekarang
sudah hancur. Sahabatku apakah semua ini per-
tanda bahwa hidupku segera akan berakhir?" ke-luh si laki-laki seakan penuh penyesalan.
Keeeeek
Sang gagak menguik lagi, kedua kakinya
mencakar-cakar tanah yang menimbun leher
orang ini. Lalu tiba-tiba saja ia menadahkan pa-
ruhnya ke langit. Ketika itu langit memang men-
dung, suasana berubah gelap sedangkan angin
bertiup dengan kencang sekali. Burung hitam ter-
sebut tampak berubah gelisah, berulang kali ter-
dengar suara pekikannya.
"Mengapa harus takut sahabatku, hitam?
Tidak ingatkah kau selama aku dikubur disini hi-
dup-hidup belum pernah sekalipun turun hujan?
Bahkan angin pun belum pernah berhembus se-
kencang ini. Gagak Apakah ini pertanda bala
atau bahagia? Atau nasibku akan lebih celaka da-
ri kawan-kawanku yang sudah mati? Gagak hi-
tam, kurang bagaimana lagi nasib mempermain-
kan diriku ini? Kurang bagaimana aku bersikap
baik pada sesama manusia? Perempuan sundel
itu benar-benar telah menyengsarakan aku lahir
batin" dengus si laki-laki dengan perasaan tidak senang.
Trat Traat
Gleeer
Didahului oleh serangkaian kilat yang me-
nyambar, petir pun menggelegar sambung me-
nyambung tiada henti. Burung gagak semakin
bertambah gelisah.
"Inilah saat yang kunanti-nantikan seba-
gaimana yang telah dijanjikan oleh Dewata kepa-
daku, gagak." ucap si laki-laki, seraya menenga-dahkan wajahnya ke langit. Ketika itu hujan me-
mang turun dengan derasnya. Petir menggelegar
tiada henti, rambut laki-laki ini pun basah.
Buummm
Terjadi ledakan di suatu tempat, maka ta-
nah bergetar dengan dahsyatnya. Kemudian gun-
cangan semakin bertambah hebat saja, seakan
ada makhluk raksasa yang hendak keluar dari
dalam perut bumi. Si laki-laki mulai cemas. Da-
lam hati ia panjatkan doa agar tidak terjadi malapetaka lagi atas dirinya.
Gllllkh...
Brool
Tiba-tiba saja tanah yang menghimpit dan
memendam tubuh orang ini selama berpuluh-
puluh tahun rengkah terbelah. Seakan-akan ada
satu kekuatan gaib yang membelahnya. Burung
gagak yang sejak tadi mendampingi sekarang ber-
geser menjauh. Terbang di atas batu di salah satu bukit diantara tiga buah bukit cadar yang menge-lilingi lapangan sempit tersebut.
Laki-laki berambut panjang menjela keliha-
tan girang bukan main. Begitu senangnya ia ter-
bebas dari tanah yang memendamnya selama ber-
tahun-tahun sampai ia berteriak-teriak seperti
orang setengah gila. Tentu saja suara teriakannya tenggelam ditelan deru suara hujan. Tanpa sadar
ia merayap naik, maka terlihatlah sebuah peman-
dangan menakjubkan membalut sekujur tubuh-
nya. Bagian tubuh orang ini berwarna putih. Tapi hampir di seluruh permukaan tubuhnya terdapat
akar-akaran yang melibat dengan erat mulai dari
telapak kaki, perut, dada dan juga kedua tangan-
nya. Akar-akaran tersebut bukan cuma satu atau
dua buah saja. Jumlahnya tidak terhitung. Ini
merupakan suatu keanehan juga mengingat di
tempat itu tidak satu pun pohon ada yang tum-
buh. Setelah keluar dari timbunan tanah, maka
orang ini berusaha melepaskan akar-akaran yang
melibat tubuhnya. Namun baru saja ia menyen-
tuh salah satu dari akar-akaran tadi, ia menjerit kesakitan. Laki-laki berambut panjang ini sempat tercengang karenanya.
Ia masih penasaran, disentuhnya lagi akar-
akaran yang melibat tubuhnya. Kali ini terlihat
ada loncatan cahaya yang menyambar, untung
orang ini cepat menarik tangannya, sehingga ca-
haya putih melesat dan terus menghantam bukit
yang terdapat di sebelah kirinya.
Duum
Bukit bergetar dan mengeluarkan pijaran
bunga api. Orang ini terkagum-kagum dan sea-
kan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menoleh ke arah burung gagak yang masih tetap
berdiri tegak tidak jauh di batu bukit sebelah kiri.
"Gagak, sudah berapa lama aku dipendam?
Kurasa ada dua puluh tahun bukan? Selama itu,
gagak. Tubuhku kini digelayuti akar, bukan sem-
barang akar, kurasa akar batuah atau mungkin
akar bakutuk. Atau mungkin akar sakti ini mun-
cul dari bumi ketujuh? Kau lihatlah tangan-
tanganku pun terbungkus akar-akaran. Kutanya-
kan padamu apakah ini termasuk pengaruh ku-
tuk perempuan keparat itu?"
Kekk
Si gagak menyambut sambil gelengkan ke-
pala. Laki-laki gondrong ini juga sama mengge-
leng, sama-sama bingung. Sampai akhirnya ia
berkata.
"Marilah kita pergi dari neraka ini Aku
akan mencarinya kemana pun ia bersembunyi"
ucap orang ini tegas.
Orang ini selanjutnya melangkah satu-satu
meninggalkan bukit kembar tiga, bekas neraka
penyiksaan yang telah dijalaninya dengan berba-
gai penderitaan dan cobaan berat yang hampir-
hampir tidak dapat dipikulnya.
***
Sange tiga puluh tahun yang lalu memang
jauh berubah bila dibandingkan saat ini. Dulu
Sange adalah sebuah kota perdagangan kecil yang
cukup ramai. Penduduknya hidup berdampingan
dengan damai dan juga suka bergotong-royong.
Namun sekarang segala-galanya telah berubah.
Sange menjadi sebuah tempat yang sepi angker
dan seakan telah kembali ke jaman ratusan ta-
hun yang silam. Patung-patung batu terdapat di-
mana-mana, baik yang berujud seperti manusia,
laki, perempuan anak-anak maupun patung-
patung dalam bentuk hewan.
Tidak ada yang tahu apakah patung-
patung ini dipahat oleh seorang pematung yang
ulung atau mereka dulunya adalah manusia yang
kemudian dikutuk menjadi patung.
Tiga puluh tahun adalah sebuah misteri,
keanehan, keajaiban dan kemisteriusan yang ti-
dak terungkap ini. Tidak ada manusia tempat un-
tuk bertanya. Sange daerah tertutup, daerah di-
mana setiap ada yang berani menginjakkan kaki
di tanah ini tidak akan pernah kembali ke dunia
ramai. Pagi itu setelah hampir dua hari dua ma-
lam Sange dan sekitarnya di guyur hujan lebat.
Terlihat seorang laki-laki berbadan kurus beram-
but awut-awutan berpakaian penuh tambalan
tampak melintas di kota mati tersebut. Ia me-
nunggang kuda berbulu hitam, sama seperti
orangnya. Kuda tunggangan ini pun kurus kering
seperti cacingan. Di bahu orang ini terdapat senjata aneh berbentuk kebutan. Melewati kota mati
Sange, orang ini langsung cengengesan.
"Ratu Leak memang manusia sakti man-
draguna. Tidak percuma aku berguru dengannya.
Persekutuan sejati yang sama-sama mendatang-
kan keuntungan Ha ha ha..." Habis tertawa orang ini sejenak menghentikan lari kudanya.
Rupanya ia tertarik dengan patung perempuan
yang berada di pinggir jalan. Wajah patung me-
mang kelihatan sangat cantik sekali. Matanya
terpejam, tapi seperti ada air mata yang menetes di sudut-sudut matanya. Seakan patung batu itu
menangis.
"Patung yang indah, sayang Ratu Leak
berpesan padaku agar jangan menyentuh satu
pun patung yang terdapat di seluruh daerah
Sange ini Sekarang kata sepakat sudah sama-
sama aku capai. Pendekar Blo'on Huh..." paras laki-laki tua ini tiba-tiba saja berubah. "Melalui tangannya semua malapetaka akan terjadi. Malapetaka yang membuat rimba persilatan di nusan-
tara ini jadi geger, tapi mereka juga akan dibuat tidak akan percaya. Dunia sudah terbalik, Ratu
Leak punya rencana Ha ha ha... Jika dulu bocah ajaib itu sempat memburuku sampai ke Madura,
jika dulu aku juga tidak dapat memiliki bayi ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro itu Sekarang sudah waktunya kegemparan lain timbul
Sekarang waktunya golongan putih menjadi he-
boh" kata si laki-laki bertampang angker yang tidak lain adalah Kala Demit. Untuk lebih jelasnya siapa tokoh yang ikut ambil bagian dalam pem-bunuhan orang tua Suro Blondo (Dalam Episode
Neraka Gunung Bromo & Bayang-Bayang Kema-
tian), "Huh, untuk apa aku membuang-buang
waktu percuma Rasanya lebih cepat aku sampai
ke tempat tinggal Ratu Leak akan lebih baik lagi"
guman Kala Demit.
"Heaa... Hiyaaa..."
Tali kekang kuda dihentakkan dengan ke-
ras, kuda hitam kurus kering meringkik panjang
sambil batuk-batuk dua kali. Tidak berselang la-
ma binatang tunggangan ini pun sudah melesat
meninggalkan kota mati. Suasana hening kemba-
li.
Ternyata keheningan tersebut tidak ber-
langsung lama. Di tempat yang baru saja diting-
galkan oleh Kala Demit muncul sosok tubuh ber-
penampilan aneh. Orang ini berjalan hanya den-
gan sebelah kakinya. Sedangkan kaki yang lain-
nya tersambung dengan sebuah besi pipih ber-
bentuk seperti gergaji. Kedua tangan orang ini ju-ga putus sebatas siku, bagian yang putus itu disambung dengan sebuah gaitan, sedangkan yang
rung gagak ini tidak seorang pun yang tahu. Ka-
rena memang belum pernah ada orang yang bera-
ni datang ke daerah yang cukup angker ini.
Hanya bila kita mau melihat lebih dekat la-
gi, terlebih-lebih ke celah-celah bukit. Maka di sana ada sebuah pemandangan misterius yang
mengundang tanya. Rupanya diantara tiga buah
bukit cadas yang mengapit dataran sempit terse-
but terlihat puluhan tengkorak menggeletak di
atas tanah. Melihat keadaannya yang sudah ber-
lumut, tentulah orang ini telah lama meninggal
bahkan mungkin sudah berpuluh-puluh tahun.
Dan barangkali pula sebelum meninggal mereka
mengalami perlakuan yang sadis. Sebab diantara
tengkorak itu ada yang retak, banyak pula giginya yang rontok bahkan ada pula yang remuk tulang
pelipisnya.
Diantara lima belas tengkorak kepala itu
ada satu yang masih berambut, wajahnya terbalut
kulit seakan tidak berdaging sedangkan rambut-
nya panjang menjela. Sudah matikah dia?
Ternyata orang ini belum mati, ia masih
mampu mengangkat kepala, walau tubuhnya mu-
lai batas leher ke bawah tertimbun tanah. Terka-
dang kepala itu tertunduk atau terkulai di atas
tanah. Kak Kak
Tiba-tiba seekor burung gagak menyambar
di atas kepalanya sambil memperdengarkan suara
ribut. Orang yang tubuhnya terbenam ini angkat
kepala, menengadah ke atas disertai sesungging
senyum hampa.
"Gagak sahabatku Kau datang lagi? Da-
tang dengan membawakan kehidupanku" rintih si laki-laki.
Kekkk
Seakan mengerti burung tersebut menya-
hut ia hinggap di atas pasir persis di depan hi-
dung orang ini. Si laki-laki membuka mulutnya,
setangkai buah-buahan yang dibawa oleh burung
hitam ini dimakannya. Tidak satu pun buah tersi-
sa. Burung berbulu hitam ini memperhatikan si
laki-laki dengan tatapan iba.
"Sahabatku hitam?" Berkata orang ini
"Kau lihatlah tengkorak kawan-kawanku Mereka semua telah meninggalkan aku seorang diri. Aku
sudah tidak ingat lagi sudah berapa puluh tahun
aku dipendam disini, di dalam tanah jahanam
ini" Kaaaakkk
Si burung menyahut sekaligus gelengkan
kepala. "Kau tentu tidak tahu, sama seperti diriku ini. Mau gila rasanya aku, ingin mati saja aku ini seperti kawan-kawanku. Aku tahu tanah ini mengandung racun jahat, kurasa tubuhku sekarang
sudah hancur. Sahabatku apakah semua ini per-
tanda bahwa hidupku segera akan berakhir?" ke-luh si laki-laki seakan penuh penyesalan.
Keeeeek
Sang gagak menguik lagi, kedua kakinya
mencakar-cakar tanah yang menimbun leher
orang ini. Lalu tiba-tiba saja ia menadahkan pa-
ruhnya ke langit. Ketika itu langit memang men-
dung, suasana berubah gelap sedangkan angin
bertiup dengan kencang sekali. Burung hitam ter-
sebut tampak berubah gelisah, berulang kali ter-
dengar suara pekikannya.
"Mengapa harus takut sahabatku, hitam?
Tidak ingatkah kau selama aku dikubur disini hi-
dup-hidup belum pernah sekalipun turun hujan?
Bahkan angin pun belum pernah berhembus se-
kencang ini. Gagak Apakah ini pertanda bala
atau bahagia? Atau nasibku akan lebih celaka da-
ri kawan-kawanku yang sudah mati? Gagak hi-
tam, kurang bagaimana lagi nasib mempermain-
kan diriku ini? Kurang bagaimana aku bersikap
baik pada sesama manusia? Perempuan sundel
itu benar-benar telah menyengsarakan aku lahir
batin" dengus si laki-laki dengan perasaan tidak senang.
Trat Traat
Gleeer
Didahului oleh serangkaian kilat yang me-
nyambar, petir pun menggelegar sambung me-
nyambung tiada henti. Burung gagak semakin
bertambah gelisah.
"Inilah saat yang kunanti-nantikan seba-
gaimana yang telah dijanjikan oleh Dewata kepa-
daku, gagak." ucap si laki-laki, seraya menenga-dahkan wajahnya ke langit. Ketika itu hujan me-
mang turun dengan derasnya. Petir menggelegar
tiada henti, rambut laki-laki ini pun basah.
Buummm
Terjadi ledakan di suatu tempat, maka ta-
nah bergetar dengan dahsyatnya. Kemudian gun-
cangan semakin bertambah hebat saja, seakan
ada makhluk raksasa yang hendak keluar dari
dalam perut bumi. Si laki-laki mulai cemas. Da-
lam hati ia panjatkan doa agar tidak terjadi malapetaka lagi atas dirinya.
Gllllkh...
Brool
Tiba-tiba saja tanah yang menghimpit dan
memendam tubuh orang ini selama berpuluh-
puluh tahun rengkah terbelah. Seakan-akan ada
satu kekuatan gaib yang membelahnya. Burung
gagak yang sejak tadi mendampingi sekarang ber-
geser menjauh. Terbang di atas batu di salah satu bukit diantara tiga buah bukit cadar yang menge-lilingi lapangan sempit tersebut.
Laki-laki berambut panjang menjela keliha-
tan girang bukan main. Begitu senangnya ia ter-
bebas dari tanah yang memendamnya selama ber-
tahun-tahun sampai ia berteriak-teriak seperti
orang setengah gila. Tentu saja suara teriakannya tenggelam ditelan deru suara hujan. Tanpa sadar
ia merayap naik, maka terlihatlah sebuah peman-
dangan menakjubkan membalut sekujur tubuh-
nya. Bagian tubuh orang ini berwarna putih. Tapi hampir di seluruh permukaan tubuhnya terdapat
akar-akaran yang melibat dengan erat mulai dari
telapak kaki, perut, dada dan juga kedua tangan-
nya. Akar-akaran tersebut bukan cuma satu atau
dua buah saja. Jumlahnya tidak terhitung. Ini
merupakan suatu keanehan juga mengingat di
tempat itu tidak satu pun pohon ada yang tum-
buh. Setelah keluar dari timbunan tanah, maka
orang ini berusaha melepaskan akar-akaran yang
melibat tubuhnya. Namun baru saja ia menyen-
tuh salah satu dari akar-akaran tadi, ia menjerit kesakitan. Laki-laki berambut panjang ini sempat tercengang karenanya.
Ia masih penasaran, disentuhnya lagi akar-
akaran yang melibat tubuhnya. Kali ini terlihat
ada loncatan cahaya yang menyambar, untung
orang ini cepat menarik tangannya, sehingga ca-
haya putih melesat dan terus menghantam bukit
yang terdapat di sebelah kirinya.
Duum
Bukit bergetar dan mengeluarkan pijaran
bunga api. Orang ini terkagum-kagum dan sea-
kan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menoleh ke arah burung gagak yang masih tetap
berdiri tegak tidak jauh di batu bukit sebelah kiri.
"Gagak, sudah berapa lama aku dipendam?
Kurasa ada dua puluh tahun bukan? Selama itu,
gagak. Tubuhku kini digelayuti akar, bukan sem-
barang akar, kurasa akar batuah atau mungkin
akar bakutuk. Atau mungkin akar sakti ini mun-
cul dari bumi ketujuh? Kau lihatlah tangan-
tanganku pun terbungkus akar-akaran. Kutanya-
kan padamu apakah ini termasuk pengaruh ku-
tuk perempuan keparat itu?"
Kekk
Si gagak menyambut sambil gelengkan ke-
pala. Laki-laki gondrong ini juga sama mengge-
leng, sama-sama bingung. Sampai akhirnya ia
berkata.
"Marilah kita pergi dari neraka ini Aku
akan mencarinya kemana pun ia bersembunyi"
ucap orang ini tegas.
Orang ini selanjutnya melangkah satu-satu
meninggalkan bukit kembar tiga, bekas neraka
penyiksaan yang telah dijalaninya dengan berba-
gai penderitaan dan cobaan berat yang hampir-
hampir tidak dapat dipikulnya.
***
Sange tiga puluh tahun yang lalu memang
jauh berubah bila dibandingkan saat ini. Dulu
Sange adalah sebuah kota perdagangan kecil yang
cukup ramai. Penduduknya hidup berdampingan
dengan damai dan juga suka bergotong-royong.
Namun sekarang segala-galanya telah berubah.
Sange menjadi sebuah tempat yang sepi angker
dan seakan telah kembali ke jaman ratusan ta-
hun yang silam. Patung-patung batu terdapat di-
mana-mana, baik yang berujud seperti manusia,
laki, perempuan anak-anak maupun patung-
patung dalam bentuk hewan.
Tidak ada yang tahu apakah patung-
patung ini dipahat oleh seorang pematung yang
ulung atau mereka dulunya adalah manusia yang
kemudian dikutuk menjadi patung.
Tiga puluh tahun adalah sebuah misteri,
keanehan, keajaiban dan kemisteriusan yang ti-
dak terungkap ini. Tidak ada manusia tempat un-
tuk bertanya. Sange daerah tertutup, daerah di-
mana setiap ada yang berani menginjakkan kaki
di tanah ini tidak akan pernah kembali ke dunia
ramai. Pagi itu setelah hampir dua hari dua ma-
lam Sange dan sekitarnya di guyur hujan lebat.
Terlihat seorang laki-laki berbadan kurus beram-
but awut-awutan berpakaian penuh tambalan
tampak melintas di kota mati tersebut. Ia me-
nunggang kuda berbulu hitam, sama seperti
orangnya. Kuda tunggangan ini pun kurus kering
seperti cacingan. Di bahu orang ini terdapat senjata aneh berbentuk kebutan. Melewati kota mati
Sange, orang ini langsung cengengesan.
"Ratu Leak memang manusia sakti man-
draguna. Tidak percuma aku berguru dengannya.
Persekutuan sejati yang sama-sama mendatang-
kan keuntungan Ha ha ha..." Habis tertawa orang ini sejenak menghentikan lari kudanya.
Rupanya ia tertarik dengan patung perempuan
yang berada di pinggir jalan. Wajah patung me-
mang kelihatan sangat cantik sekali. Matanya
terpejam, tapi seperti ada air mata yang menetes di sudut-sudut matanya. Seakan patung batu itu
menangis.
"Patung yang indah, sayang Ratu Leak
berpesan padaku agar jangan menyentuh satu
pun patung yang terdapat di seluruh daerah
Sange ini Sekarang kata sepakat sudah sama-
sama aku capai. Pendekar Blo'on Huh..." paras laki-laki tua ini tiba-tiba saja berubah. "Melalui tangannya semua malapetaka akan terjadi. Malapetaka yang membuat rimba persilatan di nusan-
tara ini jadi geger, tapi mereka juga akan dibuat tidak akan percaya. Dunia sudah terbalik, Ratu
Leak punya rencana Ha ha ha... Jika dulu bocah ajaib itu sempat memburuku sampai ke Madura,
jika dulu aku juga tidak dapat memiliki bayi ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro itu Sekarang sudah waktunya kegemparan lain timbul
Sekarang waktunya golongan putih menjadi he-
boh" kata si laki-laki bertampang angker yang tidak lain adalah Kala Demit. Untuk lebih jelasnya siapa tokoh yang ikut ambil bagian dalam pem-bunuhan orang tua Suro Blondo (Dalam Episode
Neraka Gunung Bromo & Bayang-Bayang Kema-
tian), "Huh, untuk apa aku membuang-buang
waktu percuma Rasanya lebih cepat aku sampai
ke tempat tinggal Ratu Leak akan lebih baik lagi"
guman Kala Demit.
"Heaa... Hiyaaa..."
Tali kekang kuda dihentakkan dengan ke-
ras, kuda hitam kurus kering meringkik panjang
sambil batuk-batuk dua kali. Tidak berselang la-
ma binatang tunggangan ini pun sudah melesat
meninggalkan kota mati. Suasana hening kemba-
li.
Ternyata keheningan tersebut tidak ber-
langsung lama. Di tempat yang baru saja diting-
galkan oleh Kala Demit muncul sosok tubuh ber-
penampilan aneh. Orang ini berjalan hanya den-
gan sebelah kakinya. Sedangkan kaki yang lain-
nya tersambung dengan sebuah besi pipih ber-
bentuk seperti gergaji. Kedua tangan orang ini ju-ga putus sebatas siku, bagian yang putus itu disambung dengan sebuah gaitan, sedangkan yang
satunya lagi terpasang sebuah tombak besar ber-
warna kuning. Wajah orang ini dalam keadaan
hancur, walau bagian yang hancur itu telah men-
gering. Tokh tetap meninggalkan bekas-bekas lu-
ka yang mengerikan.
Sreng Sreng
Breng Breng
Setiap orang ini berjalan sambil melompat,
maka terdengar suara aneh yang ternyata setelah
diperhatikan rupanya gergaji yang tersambung di
kaki kanannya itulah yang bergesekan dengan
tanah atau batu sehingga menimbulkan suara
yang membuat linu telinga.
Dia adalah seorang laki-laki juga kepalanya
hingga ke dagu lonjong, sedangkan bagian ram-
butnya lancip. Orang ini tiba-tiba saja melompat
di atas atap bangunan yang telah membatu. Ke-
mudian memicingkan matanya memandang di ke-
jauhan. Ia hanya melihat sisa-sisa debu yang
mengepul tinggi di udara.
"Siapa yang bisa merobah dunia jika bukan
nafsu angkara murka. Tiga ratus tahun nafsu
terpidana dalam neraka, tapi sekarang malah se-
makin angkuh. Kotaku, tanahku Sange, kini men-
jadi belantara batu. Ratu Leak... kapankah kutuk laknatmu berakhir?" desis orang ini. Kaki kanannya yang tersambung gergaji digesek-gesekkan di
atas atap batu, sehingga menimbulkan suara-
suara yang menyakitkan telinga. "Gila... tanah ini tanah mengandung kutuk, semua tempat terkena
kutuk. Keluargaku, saudara-saudaraku. Dan se-
mua yang ada di Sange ini terkena kutukan.
Ohhk, betapa malangnya. Kemana perginya para
Peri dan Dewata, apakah mereka semua sudah ti-
dak menghiraukan manusia, apakah Dewata su-
dah tidur semua atau mereka menulikan telinga.
Ratu Leak; aku tidak tahu muslihatmu aku juga
tidak tahu rencana busukmu. Tapi kurasa Dewa-
ta tidak kena kau tipu. Wayan Tandira pemimpin
suku, pemimpin Negeri yang selalu hidup dimana
dan dalam waktu kapan saja. Uhh... huk huk
huk... Benarkah pemimpin orang-orang Sange ini
masih ada? Sudah dua puluh tahun ia tidak terli-
hat di mana keberadaannya." rintihnya penuh ke-piluan. "Aku Ktut Bacasona tidak mungkin ber-pangku tangan selama-lamanya, baru saja tanda-
tanda itu berakhir. Kurasa sekaranglah waktunya
bagiku, orang yang terselamat dari malapetaka itu untuk membuat perhitungan. Orang-orang Negeri
yang menjadi patung harus segera dibebaskan
dari kutuk"
Ktut Bacasona tiba-tiba saja menoleh ke
belakang. Sekejap tadi ia merasa mendengar sua-
ra gemerisik batu seperti diinjak oleh seseorang.
Memperhatikan agak lama, ternyata ia tidak me-
lihat sesuatu apapun. Ktut Bacasona melompat
dari atas atap batu, lalu melakukan pemeriksaan
berulang-ulang.
"Rasanya tidak mungkin ada orang berke-
liaran di sini selain orang tadi. Semua orang di Sange ini sudah dikutuk menjadi batu. Mereka
mustahil dapat menjadi manusia kembali sebe-
lum Ratu Leak dapat dimusnahkan" tegas Ktut Bacasona.
Ia terus mencari-cari kian kemari, hingga
ia merasa lelah sendiri. Untuk sekedar diketahui, Ktut Bacasona adalah satu-satunya manusia
yang luput dari kutukan Ratu Leak. Sebab tiga
puluh tahun yang lalu ketika kutukan dijatuhkan
oleh Ratu Leak untuk daerah Sange, orang ini se-
dang berada di Jawa. Mengenai hubungannya
dengan Wayan Tandira. Ia masih terhitung sauda-
ra satu guru. Dulu sebelum Ratu Leak melancar-
kan sepak terjangnya di daerah Sange. Wayan
Tandira adalah pemimpin Negeri Sange, ia peng-
hulu adat sekaligus pemimpin di masyarakatnya.
Wayan Tandira di waktu itu termasuk seo-
rang pemuda yang sakti mandraguna, karena di
warna kuning. Wajah orang ini dalam keadaan
hancur, walau bagian yang hancur itu telah men-
gering. Tokh tetap meninggalkan bekas-bekas lu-
ka yang mengerikan.
Sreng Sreng
Breng Breng
Setiap orang ini berjalan sambil melompat,
maka terdengar suara aneh yang ternyata setelah
diperhatikan rupanya gergaji yang tersambung di
kaki kanannya itulah yang bergesekan dengan
tanah atau batu sehingga menimbulkan suara
yang membuat linu telinga.
Dia adalah seorang laki-laki juga kepalanya
hingga ke dagu lonjong, sedangkan bagian ram-
butnya lancip. Orang ini tiba-tiba saja melompat
di atas atap bangunan yang telah membatu. Ke-
mudian memicingkan matanya memandang di ke-
jauhan. Ia hanya melihat sisa-sisa debu yang
mengepul tinggi di udara.
"Siapa yang bisa merobah dunia jika bukan
nafsu angkara murka. Tiga ratus tahun nafsu
terpidana dalam neraka, tapi sekarang malah se-
makin angkuh. Kotaku, tanahku Sange, kini men-
jadi belantara batu. Ratu Leak... kapankah kutuk laknatmu berakhir?" desis orang ini. Kaki kanannya yang tersambung gergaji digesek-gesekkan di
atas atap batu, sehingga menimbulkan suara-
suara yang menyakitkan telinga. "Gila... tanah ini tanah mengandung kutuk, semua tempat terkena
kutuk. Keluargaku, saudara-saudaraku. Dan se-
mua yang ada di Sange ini terkena kutukan.
Ohhk, betapa malangnya. Kemana perginya para
Peri dan Dewata, apakah mereka semua sudah ti-
dak menghiraukan manusia, apakah Dewata su-
dah tidur semua atau mereka menulikan telinga.
Ratu Leak; aku tidak tahu muslihatmu aku juga
tidak tahu rencana busukmu. Tapi kurasa Dewa-
ta tidak kena kau tipu. Wayan Tandira pemimpin
suku, pemimpin Negeri yang selalu hidup dimana
dan dalam waktu kapan saja. Uhh... huk huk
huk... Benarkah pemimpin orang-orang Sange ini
masih ada? Sudah dua puluh tahun ia tidak terli-
hat di mana keberadaannya." rintihnya penuh ke-piluan. "Aku Ktut Bacasona tidak mungkin ber-pangku tangan selama-lamanya, baru saja tanda-
tanda itu berakhir. Kurasa sekaranglah waktunya
bagiku, orang yang terselamat dari malapetaka itu untuk membuat perhitungan. Orang-orang Negeri
yang menjadi patung harus segera dibebaskan
dari kutuk"
Ktut Bacasona tiba-tiba saja menoleh ke
belakang. Sekejap tadi ia merasa mendengar sua-
ra gemerisik batu seperti diinjak oleh seseorang.
Memperhatikan agak lama, ternyata ia tidak me-
lihat sesuatu apapun. Ktut Bacasona melompat
dari atas atap batu, lalu melakukan pemeriksaan
berulang-ulang.
"Rasanya tidak mungkin ada orang berke-
liaran di sini selain orang tadi. Semua orang di Sange ini sudah dikutuk menjadi batu. Mereka
mustahil dapat menjadi manusia kembali sebe-
lum Ratu Leak dapat dimusnahkan" tegas Ktut Bacasona.
Ia terus mencari-cari kian kemari, hingga
ia merasa lelah sendiri. Untuk sekedar diketahui, Ktut Bacasona adalah satu-satunya manusia
yang luput dari kutukan Ratu Leak. Sebab tiga
puluh tahun yang lalu ketika kutukan dijatuhkan
oleh Ratu Leak untuk daerah Sange, orang ini se-
dang berada di Jawa. Mengenai hubungannya
dengan Wayan Tandira. Ia masih terhitung sauda-
ra satu guru. Dulu sebelum Ratu Leak melancar-
kan sepak terjangnya di daerah Sange. Wayan
Tandira adalah pemimpin Negeri Sange, ia peng-
hulu adat sekaligus pemimpin di masyarakatnya.
Wayan Tandira di waktu itu termasuk seo-
rang pemuda yang sakti mandraguna, karena di
waktu kecilnya ia gemar sekali berguru baik da-
lam hal ilmu olah kanuragan maupun ilmu silat.
Kalangan persilatan di waktu itu tidak ada yang
berani mengganggunya, karena ia memiliki puku-
lan dahsyat yang dikenal dengan nama
'Belengguh' dan 'Cambuk Neraka'. Kedua pukulan
ganas ini benar-benar sangat sulit dicari tandingannya. Sebab setiap sasaran yang terkena se-
rangan ini akan menjadi leleh seperti lilin yang terbakar.
Demikianlah Wayan Tandira memimpin
Sange dari tahun ke tahun. Sampai pada suatu
saat muncul Ratu Leak. Perempuan yang menga-
ku datang dari jurang neraka ini mengusik kepe-
mimpinan Wayan Tandira. Bahkan hampir selu-
ruh daerah Kuta telah dikuasainya. Ada juga be-
berapa tokoh sakti di daerah itu yang mencoba
melakukan perlawanan. Namun mereka semua-
nya tewas di tangan Ratu Leak, kalau pun ada
yang masih bertahan hidup nasib mereka pun le-
bih sengsara lagi. Ratu Leak dengan kesaktiannya mampu mengutuk seseorang menjadi batu.
Ketika Wayan Tandira yang penyabar ini
sudah tidak dapat lagi menahan kesabarannya.
Maka ia pun menghadapi tantangan Ratu Leak.
Maka terjadilah pertempuran sengit yang disaksi-
kan oleh seluruh penduduk Negeri Sange.
Dalam pertempuran sehari itu, Wayan
Tandira ternyata tidak mampu menandingi kesak-
tian Ratu Leak. Ia kalah, sebagai hukuman atas-
nya. Wayan Tandira bersama orang-orang keper-
cayaan dikubur dalam keadaan hidup-hidup mu-
lai sebatas leher ke bawah Di Bukit Kembar Tiga
Terlaknat.
Saat Ktut Bacasona kembali, ia telah men-
dapati Negerinya berubah menjadi belantara batu.
Tidak tahu kepada siapa ia harus bertanya. Yang
jelas ketika itu pula muncul Ratu Leak. Setelah
mengetahui kejadian yang sebenarnya, maka ter-
jadi perkelahian sengit antara Ktut Bacasona
dengan Ratu Leak. Dalam kejadian ini dapat dite-
bak, Ktut Bacasona ternyata kalah dan ia dibun-
tungi satu kaki dan kedua tangannya secara ke-
jam oleh Ratu Leak.
Bertahun-tahun ia hidup merana dalam
kesengsaraan dan penuh penderitaan. Namun
Ktut Bacasona adalah seorang laki-laki berhati
baja yang tidak mudah putus asa. Ia mengasing-
kan diri di ujung pulau Bali. Dimana tempat itu
tidak termasuk dalam wilayah kutukan Ratu
Leak. Sampai tadi malam ia melihat tanda-tanda
seperti yang diterimanya dari Dewata bahwa ku-
tuk Ratu Leak mulai melemah, ini merupakan su-
atu pertanda bahwa ia harus mulai bergerak.
"Sudah tidak ada lagi waktu bagiku untuk
tetap bertahan disini Aku harus melakukan pe-
nyelidikan dimana kira-kira si Jahanam itu ber-
sembunyi..." dengus Ktut Bacasona.
Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, la-
ki-laki berwajah mengerikan ini langsung me-
ninggalkan Sange.
DUA
Pemuda berbaju biru ini merasa seperti se-
dang bermimpi saja. Bagaimana tidak? Tadi ma-
lam ia sampai di ujung timur pulau Jawa. Disana
ia mendengar orang-orang bicara tentang Kala
Demit. Sang musuh besar yang telah ikut mem-
bunuh ayah dan ibunya ketika terjadi heboh be-
sar di gunung Bromo. Waktu itu ia pernah men-
cari laki-laki berambut jabrik ini dan juga menca-ri kedua katai bersaudara (dalam Episode
Bayang-Bayang Kematian). Tapi sampai ia berte-
mu dengan Dewi Kerudung Putih di daerah itu,
musuh besarnya konon pergi ke Madura. Seka-
rang untuk kedua kalinya Pendekar Mandau Jan-
tan mendengar orang yang sangat dibencinya itu.
Maka tanpa membuang-buang waktu lagi
ia pun melakukan pengejaran sampai ke pinggi-
ran pantai. Dan Kala Demit ternyata telah menye-
berang sampai ke Bali. Suro Blondo alias Pende-
kar Blo'on tidak tinggal diam ia dengan menum-
pang sebuah perahu melakukan pengejaran.
Sayang sampai di tengah-tengah lautan pera-
hunya bocor, seakan memang ada orang yang
hendak mencelakakannya. Lalu siapa? Mustahil
Kala Demit yang telah melakukannya? Dia sama
sekali tidak mengetahui kehadiran Pendekar
Blo'on di daerah itu. Masih untung si konyol me-
miliki ilmu meringankan tubuh yang sudah san-
gat sempurna. Sehingga ia dapat mempergunakan
sepotong papan pecahan perahu untuk mencapai
daratan terdekat.
Namun sekarang ia setelah sampai di ping-
gir pantai, si konyol jadi terheran-heran. Daerah yang ditujunya seperti tidak berpenghuni. Suro
memandang ke sekelilingnya dengan mulut ter-
monyong-monyong.
"Edan, aku tadi malam melihat satu titik
kecil, seperti sebuah perahu. Kurasa perahu Kala Demit, jalannya cepat, meliuk-liuk. Rasanya perahu itu menghilang disini. Tapi tidak mungkin
Di sekeliling ku yang ada hanya belantara batu, pohon-pohon menjadi batu, rumah batu, patung-patung manusia dari batu, kambing batu, ayam
batu dan semuanya serba batu Apa yang terjadi
di sini? Apa mungkin aku mendatangi tempat
yang tidak pernah terusik oleh orang luar sama
sekali? Celaka aku, kok ya begini sialnya Lalu
apa yang harus kulakukan?" pikir Suro sambil garuk-garuk kepala, bingung.
Ia hampir melangkahkan kakinya, namun
ketika melihat ke arah pantai sebelah kiri. Pan-
dangan matanya tertumbuk pada sebuah perahu.
"Hmm, sekarang tahulah aku. Kala Demit
memang menuju tempat ini. Apa urusannya da-
tang ke sini? Mau mati saja kok memilih tempat
yang jauh. Dasar manusia sesat" Tergesa-gesa Pendekar Blo'on datang menghampiri. Namun
alangkah terkejutnya pemuda rambut kemerahan
ini ketika melihat bahwa perahu yang dihampi-
lam hal ilmu olah kanuragan maupun ilmu silat.
Kalangan persilatan di waktu itu tidak ada yang
berani mengganggunya, karena ia memiliki puku-
lan dahsyat yang dikenal dengan nama
'Belengguh' dan 'Cambuk Neraka'. Kedua pukulan
ganas ini benar-benar sangat sulit dicari tandingannya. Sebab setiap sasaran yang terkena se-
rangan ini akan menjadi leleh seperti lilin yang terbakar.
Demikianlah Wayan Tandira memimpin
Sange dari tahun ke tahun. Sampai pada suatu
saat muncul Ratu Leak. Perempuan yang menga-
ku datang dari jurang neraka ini mengusik kepe-
mimpinan Wayan Tandira. Bahkan hampir selu-
ruh daerah Kuta telah dikuasainya. Ada juga be-
berapa tokoh sakti di daerah itu yang mencoba
melakukan perlawanan. Namun mereka semua-
nya tewas di tangan Ratu Leak, kalau pun ada
yang masih bertahan hidup nasib mereka pun le-
bih sengsara lagi. Ratu Leak dengan kesaktiannya mampu mengutuk seseorang menjadi batu.
Ketika Wayan Tandira yang penyabar ini
sudah tidak dapat lagi menahan kesabarannya.
Maka ia pun menghadapi tantangan Ratu Leak.
Maka terjadilah pertempuran sengit yang disaksi-
kan oleh seluruh penduduk Negeri Sange.
Dalam pertempuran sehari itu, Wayan
Tandira ternyata tidak mampu menandingi kesak-
tian Ratu Leak. Ia kalah, sebagai hukuman atas-
nya. Wayan Tandira bersama orang-orang keper-
cayaan dikubur dalam keadaan hidup-hidup mu-
lai sebatas leher ke bawah Di Bukit Kembar Tiga
Terlaknat.
Saat Ktut Bacasona kembali, ia telah men-
dapati Negerinya berubah menjadi belantara batu.
Tidak tahu kepada siapa ia harus bertanya. Yang
jelas ketika itu pula muncul Ratu Leak. Setelah
mengetahui kejadian yang sebenarnya, maka ter-
jadi perkelahian sengit antara Ktut Bacasona
dengan Ratu Leak. Dalam kejadian ini dapat dite-
bak, Ktut Bacasona ternyata kalah dan ia dibun-
tungi satu kaki dan kedua tangannya secara ke-
jam oleh Ratu Leak.
Bertahun-tahun ia hidup merana dalam
kesengsaraan dan penuh penderitaan. Namun
Ktut Bacasona adalah seorang laki-laki berhati
baja yang tidak mudah putus asa. Ia mengasing-
kan diri di ujung pulau Bali. Dimana tempat itu
tidak termasuk dalam wilayah kutukan Ratu
Leak. Sampai tadi malam ia melihat tanda-tanda
seperti yang diterimanya dari Dewata bahwa ku-
tuk Ratu Leak mulai melemah, ini merupakan su-
atu pertanda bahwa ia harus mulai bergerak.
"Sudah tidak ada lagi waktu bagiku untuk
tetap bertahan disini Aku harus melakukan pe-
nyelidikan dimana kira-kira si Jahanam itu ber-
sembunyi..." dengus Ktut Bacasona.
Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, la-
ki-laki berwajah mengerikan ini langsung me-
ninggalkan Sange.
DUA
Pemuda berbaju biru ini merasa seperti se-
dang bermimpi saja. Bagaimana tidak? Tadi ma-
lam ia sampai di ujung timur pulau Jawa. Disana
ia mendengar orang-orang bicara tentang Kala
Demit. Sang musuh besar yang telah ikut mem-
bunuh ayah dan ibunya ketika terjadi heboh be-
sar di gunung Bromo. Waktu itu ia pernah men-
cari laki-laki berambut jabrik ini dan juga menca-ri kedua katai bersaudara (dalam Episode
Bayang-Bayang Kematian). Tapi sampai ia berte-
mu dengan Dewi Kerudung Putih di daerah itu,
musuh besarnya konon pergi ke Madura. Seka-
rang untuk kedua kalinya Pendekar Mandau Jan-
tan mendengar orang yang sangat dibencinya itu.
Maka tanpa membuang-buang waktu lagi
ia pun melakukan pengejaran sampai ke pinggi-
ran pantai. Dan Kala Demit ternyata telah menye-
berang sampai ke Bali. Suro Blondo alias Pende-
kar Blo'on tidak tinggal diam ia dengan menum-
pang sebuah perahu melakukan pengejaran.
Sayang sampai di tengah-tengah lautan pera-
hunya bocor, seakan memang ada orang yang
hendak mencelakakannya. Lalu siapa? Mustahil
Kala Demit yang telah melakukannya? Dia sama
sekali tidak mengetahui kehadiran Pendekar
Blo'on di daerah itu. Masih untung si konyol me-
miliki ilmu meringankan tubuh yang sudah san-
gat sempurna. Sehingga ia dapat mempergunakan
sepotong papan pecahan perahu untuk mencapai
daratan terdekat.
Namun sekarang ia setelah sampai di ping-
gir pantai, si konyol jadi terheran-heran. Daerah yang ditujunya seperti tidak berpenghuni. Suro
memandang ke sekelilingnya dengan mulut ter-
monyong-monyong.
"Edan, aku tadi malam melihat satu titik
kecil, seperti sebuah perahu. Kurasa perahu Kala Demit, jalannya cepat, meliuk-liuk. Rasanya perahu itu menghilang disini. Tapi tidak mungkin
Di sekeliling ku yang ada hanya belantara batu, pohon-pohon menjadi batu, rumah batu, patung-patung manusia dari batu, kambing batu, ayam
batu dan semuanya serba batu Apa yang terjadi
di sini? Apa mungkin aku mendatangi tempat
yang tidak pernah terusik oleh orang luar sama
sekali? Celaka aku, kok ya begini sialnya Lalu
apa yang harus kulakukan?" pikir Suro sambil garuk-garuk kepala, bingung.
Ia hampir melangkahkan kakinya, namun
ketika melihat ke arah pantai sebelah kiri. Pan-
dangan matanya tertumbuk pada sebuah perahu.
"Hmm, sekarang tahulah aku. Kala Demit
memang menuju tempat ini. Apa urusannya da-
tang ke sini? Mau mati saja kok memilih tempat
yang jauh. Dasar manusia sesat" Tergesa-gesa Pendekar Blo'on datang menghampiri. Namun
alangkah terkejutnya pemuda rambut kemerahan
ini ketika melihat bahwa perahu yang dihampi-
rinya hanya sebuah batu panjang mirip perahu.
Suro gelengkan kepala sambil meneliti. "Adalah suatu hal yang mustahil jika sampan batu ini dapat dipergunakan berlayar. Ia pasti tenggelam sebelum sampai ke tengah-tengah laut sana. Eeh,
ada yang terasa aneh disini. Mengapa setelah du-
duk di atas perahu ini aku mencium bau harum
semerbak seperti wangi tubuh wanita? Apa
mungkin ada orang lain disini?" batin Pendekar Mandau Jantan meragu. Ia melompat dari dalam
perahu ini, lalu kembali menoleh ke arah papan
perahu yang dipergunakannya untuk menyela-
matkan diri tadi. Mata Suro membulat lebar, ia
mengusap-usap matanya beberapa kali. Apa yang
terlihat tidak berubah, papan sisa perahu bekas
dipakainya juga telah berubah menjadi batu.
"Naga-naganya ada yang tidak beres terjadi
disini. Atau apa memang otakku yang sudah tidak
beres?" Pemuda ini garuk-garuk kepala lagi. "Jika setiap yang datang ke sini langsung berubah
menjadi batu, bukan mustahil aku juga sebentar
lagi segera menjadi patung batu" Teringat sampai disini tanpa sadar tengkuknya tiba-tiba saja meremang berdiri.
Ia memutuskan untuk segera mencari tahu
tentang keanehan-keanehan yang terjadi. Semen-
tara itu di luar sepengetahuannya ada sinar hitam yang terus membayanginya. Sinar itu di lain waktu langsung menghantam tubuh Suro tanpa me-
nimbulkan rasa. Itulah sinar kutuk milik Ratu
Leak yang selalu bergentayangan di bawah keku-
asaan iblis untuk menghancurkan orang-orang
yang dikehendaki oleh penguasa segala ilmu hi-
tam tersebut. Adalah sesuatu yang sangat luar
biasa jika Suro tidak mempan bahkan tidak ter-
pengaruh oleh sinar hitam yang biasanya dapat
menjadikan orang lain menjelma menjadi batu.
Bahkan sinar hitam yang berada di bawah penga-
ruh kekuatan iblis itu sekarang seakan-akan ber-
gerak mundur menjauh hingga kemudian meng-
hilang tertiup angin.
Lalu mengapa Suro tidak dapat dipengaru-
hi oleh pengaruh kutukan Ratu Leak? Sebagai-
mana telah sama kita ketahui, Pendekar Blo'on
Suro Blondo terlahir pada malam satu asyuro.
Malam paling keramat dan paling tinggi dalam hi-
tungan masyarakat Jawa. Malam satu Asyuro
adalah malam penuh berkah, malam suci yang
paling tinggi bila dibandingkan hari-hari lainnya.
Sadar atau tidak Suro dilindungi oleh kekuatan-
kekuatan gaib yang berasal dari rahmat Tuhan.
Itulah sebabnya saat kelahirannya dua puluh ta-
hun yang silam membuat gempar kalangan rimba
persilatan. Ia dijuluki si bocah ajaib sebagaimana diramalkan oleh seorang pertapa di Pantai Laut
Selatan Ki Begawan Sudra. Tiga tanda-tanda aneh
dalam diri Suro memang sama persis sebagaima-
na yang dikatakan oleh pertapa Sakti tersebut.
Antara lain ada sebuah tompel besar di pung-
gung, kulitnya putih bersih dan rambut hitam
kemerah-merahan.
Tompel yang terdapat pada bagian pung-
gung Suro antara lain adalah sebagai penangkal
dari segala macam ilmu sihir maupun kutukan
secara alami, sedangkan rambutnya yang keme-
rahan adalah jalan pelepasan bagi tenaga dalam-
nya bila kemarahannya telah meluap.
Kini Suro telah melangkahkan kakinya
menuju daerah pedalaman. Setiap tempat yang
dilaluinya pasti menimbulkan rasa heran yang
mendalam. Di sana sini ia melihat patung batu.
"Eeh, patung bisa menangis? Ini manusia
atau patung? Kalau patung mustahil bisa menan-
gis?" Suro berhenti lalu mengusap-usap pipi patung perempuan. Semakin diusap semakin ba-
nyak air mata yang keluar. Tiba-tiba tanah terasa bergetar. Pada kesempatan itu pula terdengar suara tawa menyentak tidak jauh di belakangnya.
Reflek si konyol cepat menoleh ke belakang.
Sayang ia tidak melihat siapapun di sana terke-
cuali patung juga.
"Apa patung itu yang baru saja tertawa?
Patung kok bisa tertawa?" gerutu Suro. Ia segera datang menghampiri, termonyong-monyong ia
memperhatikan patung laki-laki. Bibir patung da-
lam keadaan terkatup rapat. "Engkaukah yang baru tertawa tadi?" tanya Pendekar Blo'on.
Tidak ada jawaban. Suro rupanya masih
kurang yakin, sehingga ia memperhatikan patung
tersebut dengan lebih seksama lagi. Ternyata pa-
tung memang tidak juga bicara. Pendekar Blo'on
gelengkan kepala, bosan.
"Anak manusia, aku melihat tanah Sange
hatiku jadi sedih. Tidakkah kau sedih melihat
angkara murka manusia? Patung yang kau dekati
itu andai saja mampu bicara pasti sudah menje-
rit. Lebih dari itu ada satu hal yang membuat aku jadi heran. Mengapa kau tidak menjadi patung
batu setelah memasuki tanah kutukan ini? Apa
yang kau punya? Kulihat tampangmu tidak
meyakinkan, apakah kau punya barang rahasia?"
tanya sebuah suara. Suro tertegun, memandang
berkeliling seperti orang yang sedang bingung.
Sekali lagi ia tidak melihat ada orang lain disitu, tapi mengapa ia mendengar suara orang bicara?
"Hooiii... kau hantu apa manusia juga se-
pertiku. Seandainya manusia mengapa tidak mau
tunjukkan diri? Atau kau takut padaku?" seru Suro setengah berteriak.
"Aku manusia juga seperti dirimu itu.
Sayang aku tidak mampu keluar dari pondok ja-
hanam ini karena kaki dan tanganku terbeleng-
guh rantai kutukan Datanglah ke sini, kau bantu aku niscaya kelak aku juga menolongmu..." sahut suara tadi.
Suro Blondo nyaris tidak dapat menahan
tawa. Jika orang yang bicara itu menolong dirinya saja tidak mampu, bagaimana ia dapat menolong
orang lain?
"Engkau ini lucu, rantai kutukan itu ter-
buat dari apa? Menolong dirimu saja kau tidak
becus, bagaimana kau dapat menolongku?" ejek Suro sambil tertawa-tawa.
"Jika tikus dapat masuk ke dalam lubang
yang kecil, apakah gajah dapat masuk ke lubang
tikus? Kau telah menginjakkan kaki ke daerah
yang paling berbahaya dalam hidupmu. Nah apa-
kah kau juga masih ingin berleha-leha? Cepatlah
kau kemari sebelum Ratu Leak melihatmu"
"Siapa Ratu Leak?"
"Pemuda tolol, jangan cuma garuk-garuk
kepala melulu. Cepat kau ke sini" geram suara tadi seakan tidak sabar.
Pendekar Mandau Jantan tampak ragu-
ragu. Hingga pada akhirnya ia memutuskan un-
tuk menghampiri rumah yang berada di depannya. Pintu rumah berselimut debu, seakan sudah
berpuluh-puluh tahun pintu tersebut dalam kea-
daan tertutup. Suro mendorong pintu sekuat te-
naga. Pintu ternyata tidak bergeming. Suro men-
dorong lagi. Hasilnya... pintu tetap tidak bergerak.
"Edan... mengapa pintu jadi begini? Siapa
yang menguncinya?" pikir murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api. Me-
rasa kesal, Pendekar Mandau Jantan ini berte-
riak. "Hei orang di dalam, pintu sudah ku dorong-dorong. Seperti yang kau lihat pintu seakan me-
lawanku. Siapa sih sebenarnya yang telah men-
gunci pintu ini?" tanya si konyol serius.
"Hmm, aku terkunci di dalam rumah ini
sudah sejak tiga puluh tahun yang lalu. Siapa
yang mengunci? Tentu saja perempuan terkutuk
Ratu Leak. Aku tidak punya kekuatan untuk me-
lepaskan pukulan. Tiga puluh tahun tubuhku te-
rantai dan tertotok pula. Sungguh sial nasibku,
Suro gelengkan kepala sambil meneliti. "Adalah suatu hal yang mustahil jika sampan batu ini dapat dipergunakan berlayar. Ia pasti tenggelam sebelum sampai ke tengah-tengah laut sana. Eeh,
ada yang terasa aneh disini. Mengapa setelah du-
duk di atas perahu ini aku mencium bau harum
semerbak seperti wangi tubuh wanita? Apa
mungkin ada orang lain disini?" batin Pendekar Mandau Jantan meragu. Ia melompat dari dalam
perahu ini, lalu kembali menoleh ke arah papan
perahu yang dipergunakannya untuk menyela-
matkan diri tadi. Mata Suro membulat lebar, ia
mengusap-usap matanya beberapa kali. Apa yang
terlihat tidak berubah, papan sisa perahu bekas
dipakainya juga telah berubah menjadi batu.
"Naga-naganya ada yang tidak beres terjadi
disini. Atau apa memang otakku yang sudah tidak
beres?" Pemuda ini garuk-garuk kepala lagi. "Jika setiap yang datang ke sini langsung berubah
menjadi batu, bukan mustahil aku juga sebentar
lagi segera menjadi patung batu" Teringat sampai disini tanpa sadar tengkuknya tiba-tiba saja meremang berdiri.
Ia memutuskan untuk segera mencari tahu
tentang keanehan-keanehan yang terjadi. Semen-
tara itu di luar sepengetahuannya ada sinar hitam yang terus membayanginya. Sinar itu di lain waktu langsung menghantam tubuh Suro tanpa me-
nimbulkan rasa. Itulah sinar kutuk milik Ratu
Leak yang selalu bergentayangan di bawah keku-
asaan iblis untuk menghancurkan orang-orang
yang dikehendaki oleh penguasa segala ilmu hi-
tam tersebut. Adalah sesuatu yang sangat luar
biasa jika Suro tidak mempan bahkan tidak ter-
pengaruh oleh sinar hitam yang biasanya dapat
menjadikan orang lain menjelma menjadi batu.
Bahkan sinar hitam yang berada di bawah penga-
ruh kekuatan iblis itu sekarang seakan-akan ber-
gerak mundur menjauh hingga kemudian meng-
hilang tertiup angin.
Lalu mengapa Suro tidak dapat dipengaru-
hi oleh pengaruh kutukan Ratu Leak? Sebagai-
mana telah sama kita ketahui, Pendekar Blo'on
Suro Blondo terlahir pada malam satu asyuro.
Malam paling keramat dan paling tinggi dalam hi-
tungan masyarakat Jawa. Malam satu Asyuro
adalah malam penuh berkah, malam suci yang
paling tinggi bila dibandingkan hari-hari lainnya.
Sadar atau tidak Suro dilindungi oleh kekuatan-
kekuatan gaib yang berasal dari rahmat Tuhan.
Itulah sebabnya saat kelahirannya dua puluh ta-
hun yang silam membuat gempar kalangan rimba
persilatan. Ia dijuluki si bocah ajaib sebagaimana diramalkan oleh seorang pertapa di Pantai Laut
Selatan Ki Begawan Sudra. Tiga tanda-tanda aneh
dalam diri Suro memang sama persis sebagaima-
na yang dikatakan oleh pertapa Sakti tersebut.
Antara lain ada sebuah tompel besar di pung-
gung, kulitnya putih bersih dan rambut hitam
kemerah-merahan.
Tompel yang terdapat pada bagian pung-
gung Suro antara lain adalah sebagai penangkal
dari segala macam ilmu sihir maupun kutukan
secara alami, sedangkan rambutnya yang keme-
rahan adalah jalan pelepasan bagi tenaga dalam-
nya bila kemarahannya telah meluap.
Kini Suro telah melangkahkan kakinya
menuju daerah pedalaman. Setiap tempat yang
dilaluinya pasti menimbulkan rasa heran yang
mendalam. Di sana sini ia melihat patung batu.
"Eeh, patung bisa menangis? Ini manusia
atau patung? Kalau patung mustahil bisa menan-
gis?" Suro berhenti lalu mengusap-usap pipi patung perempuan. Semakin diusap semakin ba-
nyak air mata yang keluar. Tiba-tiba tanah terasa bergetar. Pada kesempatan itu pula terdengar suara tawa menyentak tidak jauh di belakangnya.
Reflek si konyol cepat menoleh ke belakang.
Sayang ia tidak melihat siapapun di sana terke-
cuali patung juga.
"Apa patung itu yang baru saja tertawa?
Patung kok bisa tertawa?" gerutu Suro. Ia segera datang menghampiri, termonyong-monyong ia
memperhatikan patung laki-laki. Bibir patung da-
lam keadaan terkatup rapat. "Engkaukah yang baru tertawa tadi?" tanya Pendekar Blo'on.
Tidak ada jawaban. Suro rupanya masih
kurang yakin, sehingga ia memperhatikan patung
tersebut dengan lebih seksama lagi. Ternyata pa-
tung memang tidak juga bicara. Pendekar Blo'on
gelengkan kepala, bosan.
"Anak manusia, aku melihat tanah Sange
hatiku jadi sedih. Tidakkah kau sedih melihat
angkara murka manusia? Patung yang kau dekati
itu andai saja mampu bicara pasti sudah menje-
rit. Lebih dari itu ada satu hal yang membuat aku jadi heran. Mengapa kau tidak menjadi patung
batu setelah memasuki tanah kutukan ini? Apa
yang kau punya? Kulihat tampangmu tidak
meyakinkan, apakah kau punya barang rahasia?"
tanya sebuah suara. Suro tertegun, memandang
berkeliling seperti orang yang sedang bingung.
Sekali lagi ia tidak melihat ada orang lain disitu, tapi mengapa ia mendengar suara orang bicara?
"Hooiii... kau hantu apa manusia juga se-
pertiku. Seandainya manusia mengapa tidak mau
tunjukkan diri? Atau kau takut padaku?" seru Suro setengah berteriak.
"Aku manusia juga seperti dirimu itu.
Sayang aku tidak mampu keluar dari pondok ja-
hanam ini karena kaki dan tanganku terbeleng-
guh rantai kutukan Datanglah ke sini, kau bantu aku niscaya kelak aku juga menolongmu..." sahut suara tadi.
Suro Blondo nyaris tidak dapat menahan
tawa. Jika orang yang bicara itu menolong dirinya saja tidak mampu, bagaimana ia dapat menolong
orang lain?
"Engkau ini lucu, rantai kutukan itu ter-
buat dari apa? Menolong dirimu saja kau tidak
becus, bagaimana kau dapat menolongku?" ejek Suro sambil tertawa-tawa.
"Jika tikus dapat masuk ke dalam lubang
yang kecil, apakah gajah dapat masuk ke lubang
tikus? Kau telah menginjakkan kaki ke daerah
yang paling berbahaya dalam hidupmu. Nah apa-
kah kau juga masih ingin berleha-leha? Cepatlah
kau kemari sebelum Ratu Leak melihatmu"
"Siapa Ratu Leak?"
"Pemuda tolol, jangan cuma garuk-garuk
kepala melulu. Cepat kau ke sini" geram suara tadi seakan tidak sabar.
Pendekar Mandau Jantan tampak ragu-
ragu. Hingga pada akhirnya ia memutuskan un-
tuk menghampiri rumah yang berada di depannya. Pintu rumah berselimut debu, seakan sudah
berpuluh-puluh tahun pintu tersebut dalam kea-
daan tertutup. Suro mendorong pintu sekuat te-
naga. Pintu ternyata tidak bergeming. Suro men-
dorong lagi. Hasilnya... pintu tetap tidak bergerak.
"Edan... mengapa pintu jadi begini? Siapa
yang menguncinya?" pikir murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api. Me-
rasa kesal, Pendekar Mandau Jantan ini berte-
riak. "Hei orang di dalam, pintu sudah ku dorong-dorong. Seperti yang kau lihat pintu seakan me-
lawanku. Siapa sih sebenarnya yang telah men-
gunci pintu ini?" tanya si konyol serius.
"Hmm, aku terkunci di dalam rumah ini
sudah sejak tiga puluh tahun yang lalu. Siapa
yang mengunci? Tentu saja perempuan terkutuk
Ratu Leak. Aku tidak punya kekuatan untuk me-
lepaskan pukulan. Tiga puluh tahun tubuhku te-
rantai dan tertotok pula. Sungguh sial nasibku,
akan lebih sial lagi jika kau tidak mampu mem-
buka pintu itu. Daripada kau hanya bengong-
bengong begitu, mengapa tidak cepat lepaskan
pukulan?" jawab suara dari dalam.
Suro Blondo sampai melompat mundur
saking kagetnya. Tiga puluh tahun orang itu
mengaku dalam keadaan terantai dan tertotok.
Adalah sesuatu yang luar biasa jika orang di da-
lam rumah itu dapat bertahan hidup. Lalu Ratu
Leak itu siapa hingga dapat menjatuhkan kutu-
kan? "Pemuda rambut merah macam buntut
kuda, mengapa kau tidak cepat bertindak?"
"Jangan khawatir, aku segera mengambil
tindakan. Menjauhlah kau dari balik pintu. Aku
takut niatku hendak menolong malah mencelaka-
kan kau pula. Awas..." teriak Pendekar Mandau Jantan. Seraya melompat mundur kedua tangan
digosok-gosokkan satu dengan yang lainnya. Ti-
dak lama setelah pemuda Ajaib ini menyalurkan
tenaga dalam ke bagian telapak tangannya Maka
kedua tangan Suro hingga sebatas pergelangan
tangan telah berubah memutih laksana salju. Ru-
panya si konyol sudah siap melepaskan pukulan
'Ratapan Pembangkit Sukma'.
"Hiyaa..."
Pemuda ini tiba-tiba saja mendorongkan
kedua tangannya ke depan. Selarik sinar putih
menderu bergulung-gulung disertai menebarnya
hawa dingin yang menusuk-nusuk. Lalu....
Buuum.....Terjadi ledakan keras menggelegar. Tanah
pasir bergetar hebat. Pintu hancur berkeping-
keping, debu dan serpihan-serpihan pintu berta-
buran di udara. Ketika puing-puing itu luruh
kembali di tanah. Maka terlihatlah kegelapan di
dalam rumah. Suro melangkah masuk, orang di
dalam terbatuk-batuk.
"Orang di dalam apakah kau masih hidup?"
Bertanya Suro Blondo dengan serius.
"Uhuk uhuk uhuk... Ya aku masih hidup,
kau hebat, pukulan apa yang baru kau lepaskan
tadi? Aku mencium hawa maut" sahut suara dari dalam. "Mengapa kau rewel sekali. Mungkin aku melepaskan pukulan Nenek Bawel Kehilangan
Susur, bisa jadi pukulan Setan Gila Main Con-
gklak Mengapa cerewet?" Suro bersungut-sungut.
"Keadaan di dalam ini gelap sekali. Aku tidak ta-hu kau di sebelah mana" Orang di dalam bangunan tertawa mendengar ucapan Pendekar Blo'on.
"Jangan tertawa, kasih tahu aku, engkau
berada di sebelah mana?" bentak Suro semakin kesal. "Beloklah ke kiri" sahut orang itu. Suro tertegak, kini ia baru menyadari bahwa orang
yang diajaknya bicara memiliki ilmu memindah-
kan suara. Jika seseorang memiliki ilmu yang
langka ini saja tidak mampu memutus belengguh
rantai kutuk Ratu Leak, Suro tidak dapat mem-
bayangkan betapa tingginya kesaktian yang dimi-
liki oleh Ratu Leak.
Suro belok ke kiri, di tengah-tengah kege-
lapan itu ia melihat seorang laki-laki duduk dengan kaki dan tangan terikat terbelenggu rantai
sebesar ujung lidi. Suro Blondo tergelak-gelak melihat benda kecil yang sebagian membenam ke da-
lam tanah ini.
"Tua bangka sepertimu punya guna apa?
Rantai sekecil ini saja kau tidak mampu memu-
tuskannya. Padahal dengan tenaga kasar saja
pun kau sudah dapat berbuat banyak. Ha ha
ha..." "Manusia terkadang memang suka tertipu dengan apa yang dilihatnya. Kau harus tahu pemuda gendeng, rantai ini bagian lainnya menem-
bus ke dalam bumi ke tujuh. Jika kau merasa
hebat, coba kau putuskan benda kutukan ini
dengan tenagamu atau kau lepaskan seribu pu-
kulanmu jika kau punya kemampuan" kata laki-laki tua itu tanpa maksud meremehkan.
"Mari biar kucoba" sahut si konyol, sewot.
Rantai kutukan ditariknya kiri kanan. Tapi rantai sebesar ujung lidi ini sedikit pun tidak bergeming.
Wajah si pemuda memerah, matanya mendelik
buka pintu itu. Daripada kau hanya bengong-
bengong begitu, mengapa tidak cepat lepaskan
pukulan?" jawab suara dari dalam.
Suro Blondo sampai melompat mundur
saking kagetnya. Tiga puluh tahun orang itu
mengaku dalam keadaan terantai dan tertotok.
Adalah sesuatu yang luar biasa jika orang di da-
lam rumah itu dapat bertahan hidup. Lalu Ratu
Leak itu siapa hingga dapat menjatuhkan kutu-
kan? "Pemuda rambut merah macam buntut
kuda, mengapa kau tidak cepat bertindak?"
"Jangan khawatir, aku segera mengambil
tindakan. Menjauhlah kau dari balik pintu. Aku
takut niatku hendak menolong malah mencelaka-
kan kau pula. Awas..." teriak Pendekar Mandau Jantan. Seraya melompat mundur kedua tangan
digosok-gosokkan satu dengan yang lainnya. Ti-
dak lama setelah pemuda Ajaib ini menyalurkan
tenaga dalam ke bagian telapak tangannya Maka
kedua tangan Suro hingga sebatas pergelangan
tangan telah berubah memutih laksana salju. Ru-
panya si konyol sudah siap melepaskan pukulan
'Ratapan Pembangkit Sukma'.
"Hiyaa..."
Pemuda ini tiba-tiba saja mendorongkan
kedua tangannya ke depan. Selarik sinar putih
menderu bergulung-gulung disertai menebarnya
hawa dingin yang menusuk-nusuk. Lalu....
Buuum.....Terjadi ledakan keras menggelegar. Tanah
pasir bergetar hebat. Pintu hancur berkeping-
keping, debu dan serpihan-serpihan pintu berta-
buran di udara. Ketika puing-puing itu luruh
kembali di tanah. Maka terlihatlah kegelapan di
dalam rumah. Suro melangkah masuk, orang di
dalam terbatuk-batuk.
"Orang di dalam apakah kau masih hidup?"
Bertanya Suro Blondo dengan serius.
"Uhuk uhuk uhuk... Ya aku masih hidup,
kau hebat, pukulan apa yang baru kau lepaskan
tadi? Aku mencium hawa maut" sahut suara dari dalam. "Mengapa kau rewel sekali. Mungkin aku melepaskan pukulan Nenek Bawel Kehilangan
Susur, bisa jadi pukulan Setan Gila Main Con-
gklak Mengapa cerewet?" Suro bersungut-sungut.
"Keadaan di dalam ini gelap sekali. Aku tidak ta-hu kau di sebelah mana" Orang di dalam bangunan tertawa mendengar ucapan Pendekar Blo'on.
"Jangan tertawa, kasih tahu aku, engkau
berada di sebelah mana?" bentak Suro semakin kesal. "Beloklah ke kiri" sahut orang itu. Suro tertegak, kini ia baru menyadari bahwa orang
yang diajaknya bicara memiliki ilmu memindah-
kan suara. Jika seseorang memiliki ilmu yang
langka ini saja tidak mampu memutus belengguh
rantai kutuk Ratu Leak, Suro tidak dapat mem-
bayangkan betapa tingginya kesaktian yang dimi-
liki oleh Ratu Leak.
Suro belok ke kiri, di tengah-tengah kege-
lapan itu ia melihat seorang laki-laki duduk dengan kaki dan tangan terikat terbelenggu rantai
sebesar ujung lidi. Suro Blondo tergelak-gelak melihat benda kecil yang sebagian membenam ke da-
lam tanah ini.
"Tua bangka sepertimu punya guna apa?
Rantai sekecil ini saja kau tidak mampu memu-
tuskannya. Padahal dengan tenaga kasar saja
pun kau sudah dapat berbuat banyak. Ha ha
ha..." "Manusia terkadang memang suka tertipu dengan apa yang dilihatnya. Kau harus tahu pemuda gendeng, rantai ini bagian lainnya menem-
bus ke dalam bumi ke tujuh. Jika kau merasa
hebat, coba kau putuskan benda kutukan ini
dengan tenagamu atau kau lepaskan seribu pu-
kulanmu jika kau punya kemampuan" kata laki-laki tua itu tanpa maksud meremehkan.
"Mari biar kucoba" sahut si konyol, sewot.
Rantai kutukan ditariknya kiri kanan. Tapi rantai sebesar ujung lidi ini sedikit pun tidak bergeming.
Wajah si pemuda memerah, matanya mendelik
dan berputar-putar liar seakan tidak percaya.
"Kalau dibilang edan, memang lebih gila.
Aku mana bisa dibuat percaya jika tidak menyak-
sikannya sendiri. Rantai kutukan ini sangat kuat sekali. Darimana Ratu Leak mendapatkan benda
celaka ini? Sebaiknya aku pergunakan tenaga da-
lam" batin si bocah Ajaib dalam hati.
Dengan mengandalkan tenaga dalam, mu-
lailah ia berusaha memutus rantai tersebut. Ber-
getar kedua tangannya di saat seluruh tenaga
terkumpul di kedua tangan.
"Huh, sia-sia, sia-sia Sampai mencret pun
kau tidak mungkin dapat memutus rantai kutu-
kan celaka ini." dengus si kakek.
"Bagaimana kalau kulepaskan pukulan
saktiku?"
"Jika pukulanmu tidak dapat menghan-
curkannya, salah-salah pukulanmu membuatku
mati konyol Kurasa jika kau punya senjata,
mungkin ada sedikit harapan bagiku untuk
menghirup udara kebebasan"
"Senjata?" seru Pendekar Mandau Jantan.
Ia jadi ingat dengan mandau dibalik pinggangnya.
Tanpa bicara lagi, pemuda ini segera mengelua-
rkan senjata. Mandau berwarna hitam dengan
empat lubang miring digenggamnya erat-erat.
"Renggangkan kedua kakimu orang tua jika
tidak ingin kehilangan kaki. Nasibmu bisa sema-
kin malang dan merana jika kau harus kehilan-
gan kedua kaki" Suro berteriak keras. Mandau Jantan diangkat tinggi-tinggi. Setelah itu yang
terdengar hanyalah suara ringkik, tangis dan sua-ra tawa berkepanjangan. Sinar hitam berkiblat
dan.... Traanggg...
Terlihat adanya bunga api berpijaran se-
perti kunang-kunang yang bertaburan di udara.
Terdengar ada suara tawa kegirangan. Orang yang baru tertawa tadi adalah si kakek terbelenggu
rantai selama puluhan tahun. Sedangkan Suro
meringis kesakitan, tangannya yang memegang
hulu Mandau tergetar keras dan lecet.
"Cepat anak tolol, kaki sudah kau be-
baskan, sekarang hanya tinggal kedua tanganku
Wah... senjatamu memang hebat, aneh tapi he-
bat. Bisa meringkik seperti kuda sakit ayan, bisa menangis seperti nenek-nenek kehilangan pacar
barunya dan bisa tertawa seperti orang gila Ayo...
cepatlah, aku sudah tidak sabar untuk menghi-
rup udara bebas" kata si kakek senang bukan main. Rupanya dalam kegelapan si kakek tidak
dapat melihat sebagaimana ekpresi Pendekar
Blo'on saat itu.
TIGA
Suro Blondo cemberut, kalau tidak men-
gingat ia baru saja bertemu dengan orang ini ten-tu ia marah.
"Ayo orang muda, aku punya banyak raha-
sia yang pantas kau ketahui. Jika kau tidak mau
membantu membebaskan aku, mana aku sudi
mengatakan padamu apa yang aku ketahui." tegas si kakek.
"Orang tua sableng Kau bicara seenak pe-
rutmu, kau tidak tahu apa yang sedang kupikir-
kan. Kau bicara tentang segala macam barang ra-
hasia apa kau kira aku suka melihat tempat-
tempat yang kau rahasiakan? Kurasa yang ter-
sembunyi di tempat rahasia itu adalah barang
yang sudah bulukan, keriput jelek dan jamuran.
Apalagi mengingat tiga puluh tahun tidak pernah
dicuci. Ha ha ha..." Si Konyol tertawa ngakak.
Orang tua yang tangannya masih terbelenggu
rantai kutukan menyumpah-nyumpah.
"Pemuda gila dari mana kau? Bicaramu
ngelantur, tampangmu penuh keedanan tidak ta-
hunya kata-katamu lebih edan lagi. Awas aku
pasti akan membunuhmu" Ancam si kakek.
Si pemuda pencongkan mulutnya lalu ter-
senyum. "Jika sekarang aku sudah tahu niat busukmu, untuk apa aku susah payah membe-
baskanmu? Kau adalah tua bangka yang tidak
pandai membalas guna. Aku tidak punya urusan
denganmu, lebih baik sekarang aku pergi saja"
Suro bangkit berdiri.
"Hei, orang gila tunggu dulu Kau akan
menyesal bila meninggalkan aku begitu saja. Apa-
lagi jika sampai kau terperangkap di batu Lahat
Bakutuk. Seumur hidup kau tidak akan pernah
selamat, hayo jangan malu-malu jangan segan-
segan. Kau bantu aku pasti aku tidak akan melu-
pakan budi baikmu..."
"Kau mengertakku?" tanya Pendekar Blo'on ragu-ragu.
"Kau lihatlah wajahku, kau lihat pula ma-
taku yang buta, apakah orang buta sepertiku
punya hati sekeji itu?"
"Hehh..." Suro melengak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka kalau orang tua itu buta.
Sebab suasana di dalam ruangan pengap itu me-
mang gelap sehingga ia tadi tidak begitu memper-
hatikan keadaan si kakek. "Jadi kau buta? Wah kalau begitu maafkanlah aku orang buta. Kini
aku kembali untuk membebaskan rantai celaka
itu" kata Suro. Mandau di tangan kembali diangkatnya tinggi-tinggi.
Wuut
Triing
"Ha ha ha... Sekarang aku bebas, aku be-
bas..." Si kakek buta tiba-tiba saja menghambur keluar dari pintu yang bobol. Ia menari-nari, ber-jingkrak-jingkrak bahkan menyanyi-nyanyi, hi-
langlah kepedihan dan derita yang dirasakannya
selama berpuluh-puluh tahun. Sebaliknya Suro
hanya bisa melongo dan geleng-geleng kepala.
"Aku heran melihat orang tua ini. Matanya
buta tetapi seperti melihat saja. Ia berlari tanpa menabrak satu penghalang pun." batin si pemuda. Ia melangkah keluar meninggalkan rumah tua
itu, berdiri di depan pintu sambil memperhatikan orang yang baru saja ditolongnya. Ternyata orang ini sudah berjalan menjauh tanpa menoleh-noleh
lagi. Suro merasa dipermainkan.
"Orang tua buta, tunggu..." teriak Suro jengkel.
"Aku tidak punya waktu, keadaan begini
mendesak. Jika kau ingin tahu apa yang aku ke-
tahui, sebaiknya kau ikuti aku. Jika tidak, terserah kau mau pergi ke mana Satu hal yang perlu
kau ketahui, daerah ini sangat berbahaya. Ratu
Leak kudengar-dengar ingin membunuh Penghulu
Siluman Kera Putih dan seorang kakek tua bang-
ka yang konon berambut merah sepertimu" jelas si kakek buta seenaknya.
Pendekar Mandau Jantan tercengang men-
dengar kata-kata yang diucapkan si kakek buta.
Suro berpikir apakah kakek yang dimaksudkan
oleh si kakek buta ini Penghulu Siluman Kera Pu-
tih gurunya atau memang ada Penghulu-
Penghulu lainnya. Lalu siapa kakek rambut me-
rah yang seperti dikatakan oleh kakek buta ini?
"Hei, kakek melek tapi tidak bisa melihat
Kau harus jelaskan orang yang baru kau katakan
itu" pinta Suro.
"Ha ha ha Huk huk huk... Aku tidak
punya waktu, kau dengar? Lebih baik kau ikuti
aku saja" dengus si kakek buta dengan sikap acuh tak acuh. Saking kesalnya Suro sampai garuk-garuk kepala berulang-ulang.
"Kakek buta, apakah untuk mengatakan
siapa namamu saja kau juga tidak punya waktu?"
teriak si pemuda sengit.
"Aku Si Buta Mata Kejora" jawab si kakek singkat.
Pendekar Blo'on baru saja hendak mena-
nyakan beberapa hal lainnya. Sayang Si Buta Ma-
ta Kejora telah menghilang dari depannya. Karena masih penasaran, pemuda ini segera mengerahkan ajian Kilat Bayangan. Inilah ilmu lari cepat yang dimiliki oleh Pendekar Blo'on.
***
Laki-laki berpakaian penuh tambalan ber-
senjata kebutan itu membelok di sebuah tikun-
gan. Ia memperhatikan suasana di sekelilingnya,
dan setelah memastikan tidak ada orang lain di
sekitar situ, ia melompat turun dari atas pung-
gung kudanya. Pantat kuda kurus dielus-elusnya
sebanyak tiga kali. Kuda meringkik keras, kemu-
dian berlari kencang sekali. Kuda itu menuju ke
sebuah rumah gubuk reot kemudian menghilang
dari pandangan mata.
Laki-laki berambut awut-awutan terse-
nyum. Ia berjalan menghampiri pintu rumah batu
diketuknya sebanyak tiga kali. Tidak terdengar
suara jawaban apa-apa terkecuali desiran angin
halus. "Uwa, apakah kau mendengarku?" tanya si laki-laki.
Lalu terdengar suara jawaban pelan seo-
rang wanita seakan datang dari sebuah tempat
yang jauh. "Masuklah, pintu tidak pernah terkunci, wahai murid keponakanku"
Laki-laki bersenjata kebutan melangkah
masuk. Segera menyambar bau yang teramat bu-
suk. Laki-laki ini seakan tidak perduli, atau ia memang sudah terbiasa dengan bau-bauan seperti ini. "Kau datang untuk yang kedua kalinya di Sange ini, murid keponakanku. Apa kabar gurumu Tua Tengkorak Mata Api?" bertanya suara ta-di.
"Guru si mata satu dalam keadaan baik-
baik saja."
"Lalu bagaimana kabar tanah Jawa?"
"Tanah Jawa biasa-biasa saja, cuma pen-
duduknya semakin padat, karena orang-orangnya
bunting dan beranak terus" sahut si laki-laki rambut jabrik.
Orang ini memperhatikan suasana di da-
lam ruangan yang cuma diterangi cahaya pelita
minyak. Satu hal yang patut diketahui, bahwa di
ruangan itu hanya laki-laki itu sendiri. Tidak ada siapa-siapa di situ, jadi ia bicara dengan suara gaib yang datang dari sebuah tempat jauh.
"Bagaimana dengan tanganmu?" tanya su-
ara gaib itu lagi.
"Berkat pertolongan uwa guru dulu. Tan-
ganku kini sudah normal kembali. Aku bersum-
pah akan membalas semua kegagalan yang terjadi
dulu" kata si laki-laki.
"Hi hi hik Tiga puluh tahun aku menung-
gu, murid keponakanku. Guru musuh besarmu
itu adalah musuh gurumu dan juga musuhku
yang paling besar. Aku akan melakukan pembala-
san yang setimpal melalui tangan muridnya sen-
diri... Aku punya kuasa di Sange ini, hingga pemimpin Negeri pun kubenamkan dalam tanah.
Masyarakatnya kukutuk menjadi batu. Aku Ratu
Leak, ratu dari segala ratu peri. Hik hik hik...
Murid keponakanku, mengapa kau datang kemari
dengan menyamar sebagai Kala Demit?"
"Kala Demit adalah musuh terbesar Pende-
kar Blo'on, orang itu kabarnya telah membunuh
orang tua si tolol di lereng Bromo. Jika aku tidak melakukan penyamaran, aku khawatir ia tidak
dapat masuk ke dalam perangkap kita. Sakit hati
ini harus terbalas, uwa..." geram orang ini.
Tiba-tiba ia teringat dengan kenangan pa-
hit dua tahun yang lalu, dimana ia kalah berta-
rung dengan Pendekar Blo'on. Bukan hanya itu
saja, ia bahkan nyaris kehilangan tangannya, ma-
sih beruntung dalam keadaan yang sangat keritis
muncul gurunya. Untuk lebih jelasnya (Dalam
Episode Pemikat Iblis terdiri dari tiga Episode).
Karena Tua Tengkorak Mata Api tidak sanggup
menyambung tangan muridnya yang putus, maka
mereka tidak kembali ke Ciruyung, Tua Tengko-
rak Mata Api membawa muridnya ke Sange. Di si-
tulah saudara seperguruannya berada. Berkat ke-
saktian yang dimiliki oleh Ratu Leak, tangan yang terbabat putus oleh senjata, Pendekar Blo'on dapat tersambung lagi.
Rasa sakit dalam hati orang ini masih be-
lum kunjung tersembuhkan. Pengalaman pahit
sebagai orang yang terkalahkan masih menggores
ingatannya. Ia telah kehilangan Perkasa, patung hasil ciptaan pematung Kelana. Dan yang telah
dihidupkan oleh gurunya dengan tumbal perawan
dan bantuan iblis.
Jika dulu gurunya kehilangan mata karena
ulah Malaikat Berambut Api, ia hampir kehilan-
gan tangan karena ulah Pendekar Blo'on. Murid
dan guru sama-sama menyimpan dendam mem-
bara. Lalu sekarang apa susahnya jika ia menun-
tut balas sedangkan Pendekar Blo'on sudah ter-
pancing datang ke Sange karena penyamarannya
sebagai Kala Demit.
"Kau lebih banyak diam, apakah kau men-
dapat musibah di perjalanan?" bertanya suara tanpa rupa.
"Tidak Justru penyamaranku ini telah
berhasil mendatangkan Pendekar edan itu kesini."
sahut Kala Demit palsu. Kemudian enak saja ia
menanggalkan pakaian luarnya. Setelah pakaian
luar ditanggalkan, ia mengusap wajahnya. Maka
lepas pula rambutnya yang awut-awutan. Seka-
rang tiada kumis dan tidak ada pula jenggot. Wa-
jah licin, berkulit bersih dan cantik. Bila bagian tangan diusap maka kulit yang penuh kerut me-rut itu pun berubah halus. Ternyata ia memakai
topeng tipis terbuat dari bahan semacam kulit.
Kini ia telah menjelma menjadi gadis yang tera-
mat cantik, bukan lagi sebagai Kala Demit musuh
besar Pendekar Blo'on. Tapi ia mungkin saja men-
jadi orang yang lebih berbahaya dari Kala Demit
bagi Suro Blondo. Tubuh gadis ini ramping meng-
giurkan, setiap laki-laki yang memandangnya
pasti langsung jatuh cinta mati-matian.
"Berkat petunjuk uwa guru yang dapat
menembus alam gaib. Penyamaranku yang sem-
purna itu telah mendatangkan hasil. Seekor ka-
kap tolol, yang dulu hampir saja membuat aku
mampus kini sudah berada di mulut kail. Ia tidak mungkin dapat lolos, rencana uwa Ratu Leak un-
tuk mendatangkan kedua gurunya pasti berhasil.
Kakap berikut kedua bapak moyangnya sudah
dapat dipastikan memakan umpan kita. Umpan
yang telah uwa persiapkan selama berpuluh-
puluh tahun;" ujar si gadis.
"Mustika Jajar" berkata suara tanpa rupa dengan suara parau. "Apapun yang telah kuren-canakan, bukan hanya sekedar menghancurkan
Pendekar Blo'on dan kedua gurunya. Aku punya
rencana yang lebih besar dari semua itu. Hanya
saat ini aku tidak dapat mengatakannya padamu.
Kepadamu kupesankan agar bersikap waspada
menghadapi segala kemungkinan, karena baru
saja ku tahu iblis yang menjadi kaki tanganku
mengatakan bahwa ia tidak sanggup membuat
Pendekar Blo'on menjadi patung. Dalam arti ku-
tukku seakan tidak mempan. Entah apa yang di-
miliki oleh Pendekar bego itu. Yang jelas aku masih punya beribu-ribu cara untuk membuatnya
hancur Ingat kegagalan baktimu pada gurumu
sendiri merupakan peristiwa yang sangat mema-
lukan. Jangan sampai terulang lagi, jangan sam-
pai" tegas suara tanpa rupa dengan suara keras berapi-api.
"Aku mengerti uwa guru. Pemuda itu da-
tang mengejar aku ke Sange ini seorang diri. Ia
pasti merasa berada di sebuah negeri belantara
batu. Patung-patung hasil kutukan uwa tidak
mungkin dapat diajaknya bersahabat, bicara atau
tempat bertanya. Cuma yang membuat aku heran
mengapa ia tidak dapat termakan kutukmu? Bu-
kankah kutuk uwa Ratu Leak tetap berlaku bagi
siapa saja yang tidak uwa kehendaki?" ujar Mustika Jajar dengan kening berkerut.
Suara tanpa ujud terdiam, hingga mem-
buat Betina Dari Neraka menjadi gelisah.
"Tirai alam gaib yang baru saja kusingkap
mengatakan. Bahwa pemuda itu memiliki tiga
tanda-tanda ajaib. Satu diantaranya adalah pe-
nangkal kutukan."
"Apakah penangkal itu berupa benda,
uwa?" "Dia bukan berupa benda, penangkal alami itu sudah ada sejak ia dilahirkan. Ujudnya berupa sebuah tompel..."
"Hanya tompel?" Mata yang indah itu terbelalak lebar. "Hanya tompel saja, tapi mengapa ku-tukanmu tidak dapat menguasai jiwa dan ra-
ganya?" tanya si gadis dengan perasaan heran bukan main.
Suara tanpa ujud tertawa rawan. "Bukan
hanya tompel biasa. Kalau pun ada orang punya
sejuta tompel di tubuhnya, hal itu tidak ada ar-
tinya bagiku. Mungkin karena ia terlahir pada
malam satu Asyuro, dimana setiap ilmu dituakan.
Malam itu adalah hari yang penuh berkah, rah-
mat Tuhan tercurah-curah dari langit. Tapi eng-
kau tidak usah merasa risau, aku sudah punya
cara untuk menangani pemuda ini. Dia bukan
rintangan yang sulit. Kau lihat jika seluruh Sange ini saja dapat kutaklukkan, apa sulitnya mengu-rus bocah setolol dia"
Lega hati Mustika Jajar. mendengarnya.
"Hi hi hi... Pendekar Blo'on, musibah apalagi yang paling memalukan bagi seorang Pendekar
andai ia telah kehilangan seluruh kesaktiannya
Ia akan merasakan pembalasanku, berpuluh-
puluh penderitaan nanti yang akan dirasakan-
nya." geram Iblis Betina Dari Neraka.
"Hmm, tindakanmu memang patut kupuji.
Tapi kau tidak boleh turun tangan tanpa seizin-
ku" cegah suara tanpa rupa.
Mustika Jajar tampak kurang puas men-
dengar jawaban suara tanpa rupa. "Mengapa harus begitu? Dulu aku yang merasakan malunya,
yang merasai sakitnya dan aku pula yang mera-
sakan penderitaannya. Sedangkan uwa Ratu ti-
dak punya sangkut paut apa-apa antara persoa-
lanku dengan Pendekar Blo'on." dengus si gadis.
"Hik hik hik Kau telah berhutang tangan
padaku, kau juga telah berhutang kesaktian dari-
ku. Aku berkuasa penuh atas daerah ini, aku
memang tidak punya kepentingan tertentu den-
gan Pendekar tolol itu, tapi dengan kedua gu-
runya aku punya persoalan yang sangat besar"
Meskipun kurang puas mendengar jawa-
ban suara tanpa rupa ini, Mustika Jajar terpaksa memendam kekesalahannya dalam hati. "Lalu apa yang harus kulakukan?" Bertanya si gadis dengan wajah cemberut.
"Kau harus tetap menyamar sebagai Kala
Demit. Dengan begitu pasti Pendekar tolol itu terus bersemangat mengejarmu. Sekali waktu pan-
cinglah dia mendekati Batu Lahat Bakutuk. Dari
sanalah segala-galanya akan dimulai. Pendekar
Blo'on akan mengalami nasib yang sangat tragis.
Hik hik hik..."
"Jadi...??"
"Mulai sekarang coba kau pastikan dimana
pemuda itu berada. Jangan kau lupakan tugas
lain, jika kau bertemu dengan siapa saja harap
kau bereskan Mulai saat ini kau harus memper-
gunakan segala macam kesaktian yang kuberikan
padamu. Sedangkan segala ilmu yang diberikan
oleh gurumu tidak berlaku disini"
"Jika pemuda itu telah kutemukan?"
"Kau bawa dia ke Batu Lahat Bakutuk. Ka-
rena di sanalah jalan menuju kehancuran bagi
orang-orang yang tidak kukehendaki. Hik hik
hik" suara tanpa rupa tergelak-gelak.
Suasana di dalam ruangan berubah sunyi,
Iblis Betina Dari Neraka terdiam untuk sejenak
lamanya. Apa yang dikatakan Ratu Leak masih
mengiang di telinganya. Ia percaya sekali Ratu
Leak mampu menghancurkan dunia persilatan
karena begitu tingginya kesaktian yang dimili-
kinya. Kalau dipikir-pikir Ratu Leak memang
mempunyai cita-cita yang tinggi, ia ingin menja-
dikan seluruh nusantara ini sebagai tanah kutu-
kan. Ia ingin mengembalikan manusia ke jaman
batu, manusia dijadikan patung batu, hewan batu
dan semuanya serba batu. Tetapi rasanya ada
yang lebih penting dari semua itu, hanya Ratu
Leak sendiri yang mengetahuinya.
Tidak lama gadis cantik menggiurkan yang
selalu memakai pakaian merangsang ini merias
wajahnya kembali. Tidak sampai sepemakan sirih
ia telah berubah dalam penyamarannya sebagai
Kala Demit. Mustika Jajar kemudian keluar me-
ninggalkan rumah batu, berjalan cepat meng-
hampiri kuda kurus berbulu hitam.
EMPAT
Kuda bertubuh kurus kering itu meringkik
keras ketika Kala Demit melompat ke atas pung-
gungnya. Kala Demit yang tidak lain adalah Iblis Betina Dari Neraka tanpa menoleh kanan kiri
langsung membedal kudanya menuju Batu Lahat
Bakutuk.
Namun baru beberapa puluh batang tom-
bak, tiba-tiba saja kelihatan sesosok tubuh me-
layang dari kerimbunan semak-semak yang mem-
batu. Kuda kurus mengangkat kakinya tinggi-
tinggi. Sreng Sreng
Di depan Kala Demit kini telah berdiri seo-
rang laki-laki berdagu lonjong berkepala lancip
seperti kerucut. Sebelah kakinya tersambung
dengan sebuah gergaji, sedangkan kedua tangan-
nya yang putus disambung dengan gaitan dan ju-
ga tombak. Kala Demit sipitkan matanya, me-
mandang ke arah orang ini disertai senyum men-
gejek.
"Orang aneh, menyingkirlah dari hadapan-
ku" teriak Kala Demit tidak sabar. Dalam hati ia merasa heran juga melihat orang berkaki gergaji
bertangan gaitan dan tombak tidak terkena kutu-
kan. Atau karena pengaruh kutukan Ratu Leak
sudah mulai melemah?
"Kulihat kau orang asing di Sange ini. Ti-
dak ada orang asing yang dapat berkeliaran den-
gan bebas terkecuali ia punya hubungan tertentu
dengan Ratu Leak Perempuan keparat itu adalah
manusia jahanam. Setiap orang yang bersahabat
dengannya, ia berarti jahanam lainnya yang ha-
rus mampus di tanganku" dengus Ktut Bacaso-na.
Wajah di balik topeng Kala Demit berubah
merah padam mendengar kata-kata pedas yang
dilontarkan oleh laki-laki berkepala lancip ini.
"Manusia gila, tidak ada hujan tidak ada
angin kau marah-marah di depan orang yang be-
lum kau kenal sama sekali" maki Kala Demit.
"Hak hak hak Terlalu lama hidup menderi-
ta, aku pun sudah tidak tahu bagaimana caranya
agar dapat tertawa lebih baik. Kau orang pertama yang kulihat. Demi kebesaran pemimpin Negeri
Wayan Tandira Aku akan memenggal kepalamu,
dan yang paling ringan menyeretmu di depan tu-
lang-belulangnya ke bukit Kembar Tiga" dengus Ktut Bacasona.
"Huh, apa yang kau bisa. Keadaan tubuh-
mu saja sudah membuatku prihatin. Sayang uca-
panmu terlalu menghina Ratu Leak. Jadi tidak
ada jalan lain bagimu terkecuali segera berangkat ke neraka. Kupindahkan nyawamu dari raga ka-sarmu ke langit Eeh... bukan ke langit, tapi ke jurangnya neraka Jahanam Hi hi hi..."
"Bangsat Kudengar suara tawamu rasanya
kau bukan laki-laki. Kau pasti perempuan yang
menyaru sebagai laki-laki Semakin bertambah je-
las saja kedudukanmu di mataku. Tidak bisa dis-
angkal, kau pasti anak buahnya si tukang kutuk
Ratu Leak"
"Banyak mulut, siya..." Kala Demit menggebrak kudanya. Ia mengacungkan jari telunjuk-
nya. Sebaris sinar berwarna putih kuning dan
merah melesat dengan hebatnya ke arah Ktut Ba-
casona. Laki-laki ini sempat kaget juga begitu merasakan sambaran angin panas menghantam wa-
jahnya.
Breng
Cepat sekali Ktut melompat ke samping.
Sinar putih kuning dan merah terus menghantam
angin. Buuummm
Batu di belakang Ktut Bacasona hancur
berkeping-keping. Terlihat percikan bunga api
memijar di udara. Meremang tengkuk si laki-laki, ia tidak dapat membayangkan bagaimana andai
pukulan tadi menghantam dirinya. Memang Mus-
tika Jajar barusan tadi melepaskan serangan
yang dikenal dengan nama 'Tusukan Jari Peng-
hantar Maut'. Salah satu ilmu langka warisan Ra-
tu Leak. Mustika Jajar dari gurunya memang
mewarisi berbagai ilmu kesaktian. Namun oleh
Ratu Leak segala macam kesaktian yang diturun-
kan Tua Tengkorak Mata Api untuk sementara ti-
dak boleh dipergunakan.
"Masih juga kau dapat menghindar kunyuk
berkaki gergaji" dengus Kala Demit palsu. Dua jari telunjuknya kiri kanan diacungkannya lagi ke depan. Wut Wuut
Dua baris sinar tiga warna lebih panas me-
labrak Ktut Bacasona. Laki-laki ini terkesiap. Sa-tu serangan cepat mungkin saja dapat dihinda-
rinya. Tapi kali ini dua serangan datang sekali-
gus. Hebatnya lagi di tengah jalan dua larik sinar membelah menjadi enam bagian. Enam bagian
sinar melesat ke arah enam titik kematian di tu-
buh Ktut Bacasona.
"Mati aku" maki si kaki gergaji. Ia tidak punya pilihan lain. Segera tangannya yang ber-sambung dengan tombak dan gaitan di putar. An-
gin menderu. Laki-laki ini tiba-tiba merasakan
adanya satu dorongan yang sangat dahsyat na-
mun tidak terlihat. Ktut Bacasona terus putar
tangan yang tersambung dengan senjata sambil
melompat.
Bum Buum
Sinar putih kuning merah seperti pecah
bertaburan di udara bagaikan kunang-kunang
yang bertebaran saat membentur senjata Ktut
Bacasona tadi. Ktut menjerit kesakitan. Ia mele-
pas dua senjata yang tersambung dengan tangan
dan sempat meleleh. Tangan-tangannya yang
memang sudah buntung sebatas lengan melepuh.
Orang ini menggerung, sementara Kala Demit
bergelak-gelak mengumbar tawanya.
Ktut Bacasona segera sadar bahwa lawan
memiliki kepandaian yang mungkin lebih tinggi
darinya. Ia harus mengambil tindakan jika tidak
ingin dirinya celaka. Secepat kilat tubuhnya me-
layang, ia mempergunakan senjata gergaji di ka-
kinya. Sing Sing Sing
Suara mendesing-desing menggema di uda-
ra bisu. Serangan ini jelas telak dan menggorok
leher. Kala Demit mendengus sengit, karena begi-
tu rendahnya serangan lawan. Maka ia terpaksa
berguling-guling.
Breng
Serangan luput, sebagian gergaji menghan-
tam batu di depannya hingga membuat lubang
mengerikan sebanyak enam puluh mata gergaji.
Kala Demit bergidik ngeri. Sebelum bangkit lawan telah berbalik, seakan dapat berjalan di udara lawan hantamkan senjata mautnya.
Praang
Kala Demit memaki, tangannya nyaris
tanggal, ia jatuh tunggang langgang sambil terus berguling-guling. "Keparat berkaki gergaji ini benar-benar tidak dapat dipandang enteng Ia harus tahu rasa" maki orang ini. Melihat lawan mengambang dan melakukan penyerangan dari uda-
ra. Kala Demit tiba-tiba lepaskan pukulan dah-
syat 'Neraka Perut Bumi'. Serangan maut ini juga warisan Ratu Leak. Sontak Ktut Bacasona merasakan adanya sinar kemilau yang membutakan
mata. Suasana seperti bagai di neraka, masih di
udara terdengar suara jeritan Ktut Bacasona, tu-
buhnya tersentak ke belakang. Kemudian jatuh
terhempas dalam keadaan hangus.
"Hi hi hi... Pukulan yang luar biasa. Ilmu kesaktian uwa Ratu Leak memang hebat. Kini
terbuka mataku, bahwa cita-cita uwa berdasar-
kan atas keyakinan yang kuat Hi hi hi... Manu-
sia kaki gergaji Mampuslah kau... mampus...
mampus..." maki Kala Demit. Seraya melompat kembali ke atas punggung kudanya. Tali kekang
kuda disentakkan dengan keras, maka melesatlah
kuda tersebut meninggalkan debu-debu yang ber-
terbangan.
***
Kuda putih itu seakan-akan memang berja-
lan di atas laut. Ia menerjang gelombang laut
pantai barat dengan langkah lebar dan tidak per-
nah mengenal rasa lelah. Yang menakjubkan laut
yang sedemikian dalam itu hanya sampai setinggi
lututnya saja. Ia memang seekor kuda raksasa
yang sangat luar biasa besarnya. Di atas pung-
gung kuda tersebut duduk seorang laki-laki ber-
pakaian putih berselempang putih, memakai ikat
kepala warna putih. Dilihat dari jauh, orang ini tidak ubahnya seperti seekor lalat yang hinggap di
punggung kuda.
Ombak di pantai laut barat kian menggila,
si laki-laki berumur sekitar lima puluh tahun
menyandarkan punggungnya pada punggung ku-
da. Kakinya yang bersilangan terguncang-
guncang. Sementara kuda putih yang terus berla-
ri di laut dalam namun cuma setinggi lututnya
meringkik keras. Bila kuda ini mengeluarkan sua-
ra, maka suaranya menimbulkan gelombang laut
yang kian menggila.
"Ada apa Kaki Langit? Aku tidak melihat
dan mendengar apa-apa. Apakah kau ada melihat
sesuatu?" bertanya laki-laki baju putih selempang putih. Seraya duduk, memandang ke depan, terlihat olehnya gugusan sebuah pulau. "Kita sudah sampai, Putih Kaki Langit. Aku mencium bau kutukan itu. Aku mengendus sesuatu yang sangat
aku benci, Batu Bakutuk telah memperlihatkan
kehebatannya. Aku tidak menyangka, betina sint-
ing itu sudah mengetahui rahasianya Ayolah...
jangan kau ragu-ragu, pengaruh kutuk tidak
akan berlaku bagi dirimu dan diriku" kata si laki-laki, wajahnya muram. Sehitam mendung yang
bergelayut di kaki langit.
Kuda putih meringkik lagi, sampai di ping-
gir pantai ia berhenti. Bukan main tinggi binatang tunggangan tersebut. Seakan-tingginya hampir
menggapai langit. Pantasan saja laut yang begitu dalam hanya sampai sebatas lututnya. Jika saat
itu ada orang yang melihat pemandangan ini, ten-
tu saja tidak akan percaya melihat tinggi dan be-
sarnya kuda berbulu putih tersebut.
Laki-laki berselempang dan berbaju putih
berdiri di atas punggung kudanya. Bibirnya yang
tertutup kumis putih berkemak-kemik. Samar-
samar terdengar suaranya seakan datang dari se-
buah lubuk yang teramat dalam.
"Datuk Nan Gadaing Paluih, itu namaku.
Jalan melintas darat, langkah menyeberang laut.
Putih Kaki Langit sahabat sejati dari alam gaib.
Raksasa membawa tuah si kecil. Si kecil memba-
wa tuah si raksasa. Alam gaib beda dari alam
nyata, yang nyata tidak mampu menembus alam
gaib. Mata kasat sampai binasa tidak becus me-
neropong kegelapan. Datuk Nan Gadang Paluih
mampu melakukannya. Si Putih Kaki Langit sa-
habatku alam gaib. Ia biji matoku, si besar sahabatnya yang kecil. Yang kecil sahabat si besar.
Maka kembali ke bentuk umumnya kuda Kemba-
li... li li li..." suara laki-laki yang bernama Datuk Nan Gadang Paluih menggema di seantero penjuru pantai.
Kuda raksasa yang tubuhnya menjulang
tinggi ke langit meringkik keras, tubuhnya tergetar. Lalu terjadi proses penyusutan yang sungguh aneh bahkan sulit dipercaya. Kuda raksasa itu terus berproses, mengecil semakin bertambah kecil.
Hingga akhirnya terjadi proses aneh itu setelah
tubuhnya sebesar kuda pada umumnya.
"Putih Kaki Langit, Ngarai Sianok telah kita tinggalkah Semua ini gara-gara Batu Bakutuk
yang dicuri oleh betina jalang itu. Tiga puluh ta-
hun, Kaki Langit. Coba kau bayangkan. Aku baru
mengetahui batu sakti itu hilang setelah adikku
Ratu Penyair Tujuh Bayangan pergi ke tanah
orang Jawa. Kita sudah ketiwasan (terlambat).
Kau lihat patung-patung batu itu. Mereka masih
manusia juga, manusia menjadi batu karena pen-
garuh kutuk" kata si laki-laki sengit. Untuk lebih jelasnya siapa Ratu Penyair dan Datuk ini (dalam episode Undangan Maut). "Ayoo sahabatku, kita selidiki di mana jejaknya wanita jalang itu Ja-lanmu biar lebih cepat agar selamat" kata Datuk Nan Gadang Paluih. Ia menyentuh ubun-ubun Si
Putih Kaki Langit, kuda itu sepontan melesat
dengan kecepatan laksana kilat. Hanya dalam
waktu sekejapan mata, kuda tidak terlihat lagi.
***
Suro masih memperhatikan kakek buta di
depannya. Hampir sepanjang malaman orang ini
menceritakan segala sesuatu yang berhubungan
dengan kutuk di tanah Sange. Terkadang hati
pemuda ini menjadi jerih, terkadang timbul kege-
ramannya. Dan tidak jarang ia memaki perbuatan
si durjana Ratu Leak.
"Anak tolol, aku sering minta petunjuk pa-
da dewata. Aku merasa Dewata berkenan mem-
bebaskan rakyat negeri Sange dari kutukan. Nan-
ti, setelah kehadiranmu ini. Berkah kehadiranmu
di sini, membebaskan mereka. Tapi aku melihat
ada tanda-tanda bahwa kau juga akan mengalami
celaka disini" kata si Buta Mata Kejora.
Saking kagetnya Suro sampai melompat
dari atas tikar rombeng yang didudukinya. Saat
itu mereka memang duduk di dalam rumah bo-
brok agak jauh dari Sange. Sebenarnya tidak da-
pat dikatakan rumah, karena atap dan dinding-
nya tidak ada, hanya tiang-tiangnya saja.
"Jangan kau menakut-nakuti aku, kakek
buta Aku pun tidak sudi menolong orang jika
nyawaku sendiri terancam. Orang tolol namanya
jika untuk kepentingan orang lain ia harus mere-
lakan nyawanya" celetuk Suro sambil bersungut-sungut.
"Apakah kau tidak sadar kalau dirimu itu
Pendekar tolol? Mustahil kau dapat keluar dari
Sange ini sebelum menghadapi kenyataan, kau
sudah mulai masuk dalam perangkap dan jerat-
jerat setan" dengus Si Buta Mata Kejora.
Suro memandang ke atas, karena rumah
tidak beratap ia dapat langsung melihat langit
yang biru. Ia memperhatikan kedua tangan dan
kakinya. Lalu terdengar tawanya....
"Kuakui kau memang manusia aneh, kek.
Adalah salah besar kalau kau mengatakan aku
sudah masuk ke dalam jerat-jerat setan. Kedua
kakiku masih bebas bergerak. Di sekeliling ku tidak ada perangkap terkecuali gubuk reot yang ti-
dak beratap dan berdinding ini Ha ha ha... Kau menipu mana kena aku ditipu Orang buta mau
mengadali orang melek, mana mungkin... eeh,
mana mungkin?"
"Ternyata kau memang tolol, bukan tam-
pangmu saja yang bego, jalan fikiranmu juga me-
nunjukkan kedunguan otakmu Apa yang kuka-
takan itu hanyalah kiasan saja, adakah kau bisa
mengerti?" hardik Si Buta Mata Kejora.
"Kau orang buta yang tidak tahu diri. Ka-
lau terus memaki, biar aku minggat dari sini. Hi-duplah bersama masyarakatmu yang telah diku-
tuk menjadi patung-patung yang dungu, patung
bego yang biasanya cuma keluarkan air mata"
dengus murid Penghulu Siluman Kera Putih sen-
git.
"Olala... tidak usah ngotot, saling tarik urat leher dalam keadaan begini tidak ada gunanya.
Kau merupakan penentu, jika kau salah langkah
maka kedua gurumu, pun bisa celaka?"
"Bualan apa lagi yang kau berikan. pada-
ku, kakek buta. Mana kena guruku ditipu. Mere-
ka adalah orang-orang cerdik yang tidak bisa termakan muslihat apapun" Si konyol rupanya terlalu yakin dengan kemampuan yang dimiliki oleh
kedua gurunya. Sehingga sedikit pun ia tidak
mau percaya dengan ucapan Si Buta Mata Kejora
"Percuma saja aku berdebat dengan orang
bodoh sepertimu. Daripada berdebat lebih baik ki-ta berangkat ke Batu Lahat Bakutuk"
"Bicaramu ngaco, kakek buta. Kalau kau
sudah bosan bicara mengapa tetap duduk di sini?
Ayo berangkat" Suro bangkit berdiri diikuti oleh Si Buta Mata Kejora. Mereka keluar meninggalkan
bangunan reot menempuh padang-padang berba-
tu di tengah-tengah teriknya panas matahari
Belum jauh mereka meninggalkan gubuk
reot itu, tiba-tiba terdengar suara burung di atas kepala mereka. Si Buta Mata Kejora, angkat wajahnya menghadap langit. Suro tertawa terkekeh-
kekeh melihat kakek ini seperti gelisah.
"Ha ha ha Seratus kali kau memandang ke
langit, mana kau tahu apa yang berada di atas-
mu Eeeeh, kulihat wajahmu berubah pucat, kek
Apakah burung gagak itu yang membuatmu ta-
kut?" ejek Pendekar Blo'on.
"Pemuda sedeng, kau melihat tapi tidak ta-
hu apa yang kau lihat. Bukankah yang terbang di
atas kita seekor burung gagak?" tanya Si Buta Mata Kejora tercekat.
"Kau menebak begitu karena aku sudah
mengatakannya padamu, apa sesungguhnya yang
membuatmu takut? Kau seperti melihat hantu,
padahal matamu buta??" Suro garuk-garuk kepa-la.
"Burung gagak itu adalah burung pen-
damping pimpinan kami Sekarang aku tidak ta-
hu bagaimana nasibnya dipendam Ratu Leak di
Tiga Bukit Kembar Burung gagak.... akh, aku
mencium baunya. Dia bukan gagak yang lain. Dia
pendamping pemimpin negeri itu Anak muda,
coba kau lihat apakah kau tidak melihat ada
orang lain disini?"
Suro Blondo mengedarkan matanya, selain
burung gagak yang terbang berputar-putar di atas kepala mereka memang tidak ada siapa pun di si-
tu. Suro gelengkan kepala. Namun akhirnya ter-
tawa sendiri setelah menyadari ketololannya.
"Orang buta ini mana melihat isyaratku"
LIMA
"Bagaimana anak muda? Mengapa kau di-
am saja seperti orang tuli yang sangat bego?" bertanya Si Buta Mata Kejora tidak sabar.
"Mata budek kuping buta Tidak ada siapa-
siapa disini selain kita berdua dan burung jelek itu" sahut Suro Blondo dengan mulut terpencong.
"Kak"
"Wuut
Burung gagak yang terbang berputar-putar
di atas Suro tiba-tiba menukik dan menyambar.
"Weit, kakek buta. Burung itu marah kuka-
tain jelek Bagaimana ini?" tanya Suro. Pontang panting ia menghindari patukan paruh burung
yang terus menyerangnya dengan cepat dan ber-
tubi-tubi.
"Ha ha ha Mampuslah kau. Binatang itu
sangat memahami bahasa manusia. Kau menghi-
nanya, sekarang kau rasakan sendiri akibatnya"
teriak si kakek sambil terus tertawa-tawa.
"Kek"
Wuur
Suro terus mengelak atau sesekali me-
nyampok burung itu. Burung gagak hitam cepat
berkelit begitu merasakan adanya sambaran angin yang sangat keras.
"Kalau dibilang edan, memang lebih gila.
Aku mana bisa dibuat percaya jika tidak menyak-
sikannya sendiri. Rantai kutukan ini sangat kuat sekali. Darimana Ratu Leak mendapatkan benda
celaka ini? Sebaiknya aku pergunakan tenaga da-
lam" batin si bocah Ajaib dalam hati.
Dengan mengandalkan tenaga dalam, mu-
lailah ia berusaha memutus rantai tersebut. Ber-
getar kedua tangannya di saat seluruh tenaga
terkumpul di kedua tangan.
"Huh, sia-sia, sia-sia Sampai mencret pun
kau tidak mungkin dapat memutus rantai kutu-
kan celaka ini." dengus si kakek.
"Bagaimana kalau kulepaskan pukulan
saktiku?"
"Jika pukulanmu tidak dapat menghan-
curkannya, salah-salah pukulanmu membuatku
mati konyol Kurasa jika kau punya senjata,
mungkin ada sedikit harapan bagiku untuk
menghirup udara kebebasan"
"Senjata?" seru Pendekar Mandau Jantan.
Ia jadi ingat dengan mandau dibalik pinggangnya.
Tanpa bicara lagi, pemuda ini segera mengelua-
rkan senjata. Mandau berwarna hitam dengan
empat lubang miring digenggamnya erat-erat.
"Renggangkan kedua kakimu orang tua jika
tidak ingin kehilangan kaki. Nasibmu bisa sema-
kin malang dan merana jika kau harus kehilan-
gan kedua kaki" Suro berteriak keras. Mandau Jantan diangkat tinggi-tinggi. Setelah itu yang
terdengar hanyalah suara ringkik, tangis dan sua-ra tawa berkepanjangan. Sinar hitam berkiblat
dan.... Traanggg...
Terlihat adanya bunga api berpijaran se-
perti kunang-kunang yang bertaburan di udara.
Terdengar ada suara tawa kegirangan. Orang yang baru tertawa tadi adalah si kakek terbelenggu
rantai selama puluhan tahun. Sedangkan Suro
meringis kesakitan, tangannya yang memegang
hulu Mandau tergetar keras dan lecet.
"Cepat anak tolol, kaki sudah kau be-
baskan, sekarang hanya tinggal kedua tanganku
Wah... senjatamu memang hebat, aneh tapi he-
bat. Bisa meringkik seperti kuda sakit ayan, bisa menangis seperti nenek-nenek kehilangan pacar
barunya dan bisa tertawa seperti orang gila Ayo...
cepatlah, aku sudah tidak sabar untuk menghi-
rup udara bebas" kata si kakek senang bukan main. Rupanya dalam kegelapan si kakek tidak
dapat melihat sebagaimana ekpresi Pendekar
Blo'on saat itu.
TIGA
Suro Blondo cemberut, kalau tidak men-
gingat ia baru saja bertemu dengan orang ini ten-tu ia marah.
"Ayo orang muda, aku punya banyak raha-
sia yang pantas kau ketahui. Jika kau tidak mau
membantu membebaskan aku, mana aku sudi
mengatakan padamu apa yang aku ketahui." tegas si kakek.
"Orang tua sableng Kau bicara seenak pe-
rutmu, kau tidak tahu apa yang sedang kupikir-
kan. Kau bicara tentang segala macam barang ra-
hasia apa kau kira aku suka melihat tempat-
tempat yang kau rahasiakan? Kurasa yang ter-
sembunyi di tempat rahasia itu adalah barang
yang sudah bulukan, keriput jelek dan jamuran.
Apalagi mengingat tiga puluh tahun tidak pernah
dicuci. Ha ha ha..." Si Konyol tertawa ngakak.
Orang tua yang tangannya masih terbelenggu
rantai kutukan menyumpah-nyumpah.
"Pemuda gila dari mana kau? Bicaramu
ngelantur, tampangmu penuh keedanan tidak ta-
hunya kata-katamu lebih edan lagi. Awas aku
pasti akan membunuhmu" Ancam si kakek.
Si pemuda pencongkan mulutnya lalu ter-
senyum. "Jika sekarang aku sudah tahu niat busukmu, untuk apa aku susah payah membe-
baskanmu? Kau adalah tua bangka yang tidak
pandai membalas guna. Aku tidak punya urusan
denganmu, lebih baik sekarang aku pergi saja"
Suro bangkit berdiri.
"Hei, orang gila tunggu dulu Kau akan
menyesal bila meninggalkan aku begitu saja. Apa-
lagi jika sampai kau terperangkap di batu Lahat
Bakutuk. Seumur hidup kau tidak akan pernah
selamat, hayo jangan malu-malu jangan segan-
segan. Kau bantu aku pasti aku tidak akan melu-
pakan budi baikmu..."
"Kau mengertakku?" tanya Pendekar Blo'on ragu-ragu.
"Kau lihatlah wajahku, kau lihat pula ma-
taku yang buta, apakah orang buta sepertiku
punya hati sekeji itu?"
"Hehh..." Suro melengak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka kalau orang tua itu buta.
Sebab suasana di dalam ruangan pengap itu me-
mang gelap sehingga ia tadi tidak begitu memper-
hatikan keadaan si kakek. "Jadi kau buta? Wah kalau begitu maafkanlah aku orang buta. Kini
aku kembali untuk membebaskan rantai celaka
itu" kata Suro. Mandau di tangan kembali diangkatnya tinggi-tinggi.
Wuut
Triing
"Ha ha ha... Sekarang aku bebas, aku be-
bas..." Si kakek buta tiba-tiba saja menghambur keluar dari pintu yang bobol. Ia menari-nari, ber-jingkrak-jingkrak bahkan menyanyi-nyanyi, hi-
langlah kepedihan dan derita yang dirasakannya
selama berpuluh-puluh tahun. Sebaliknya Suro
hanya bisa melongo dan geleng-geleng kepala.
"Aku heran melihat orang tua ini. Matanya
buta tetapi seperti melihat saja. Ia berlari tanpa menabrak satu penghalang pun." batin si pemuda. Ia melangkah keluar meninggalkan rumah tua
itu, berdiri di depan pintu sambil memperhatikan orang yang baru saja ditolongnya. Ternyata orang ini sudah berjalan menjauh tanpa menoleh-noleh
lagi. Suro merasa dipermainkan.
"Orang tua buta, tunggu..." teriak Suro jengkel.
"Aku tidak punya waktu, keadaan begini
mendesak. Jika kau ingin tahu apa yang aku ke-
tahui, sebaiknya kau ikuti aku. Jika tidak, terserah kau mau pergi ke mana Satu hal yang perlu
kau ketahui, daerah ini sangat berbahaya. Ratu
Leak kudengar-dengar ingin membunuh Penghulu
Siluman Kera Putih dan seorang kakek tua bang-
ka yang konon berambut merah sepertimu" jelas si kakek buta seenaknya.
Pendekar Mandau Jantan tercengang men-
dengar kata-kata yang diucapkan si kakek buta.
Suro berpikir apakah kakek yang dimaksudkan
oleh si kakek buta ini Penghulu Siluman Kera Pu-
tih gurunya atau memang ada Penghulu-
Penghulu lainnya. Lalu siapa kakek rambut me-
rah yang seperti dikatakan oleh kakek buta ini?
"Hei, kakek melek tapi tidak bisa melihat
Kau harus jelaskan orang yang baru kau katakan
itu" pinta Suro.
"Ha ha ha Huk huk huk... Aku tidak
punya waktu, kau dengar? Lebih baik kau ikuti
aku saja" dengus si kakek buta dengan sikap acuh tak acuh. Saking kesalnya Suro sampai garuk-garuk kepala berulang-ulang.
"Kakek buta, apakah untuk mengatakan
siapa namamu saja kau juga tidak punya waktu?"
teriak si pemuda sengit.
"Aku Si Buta Mata Kejora" jawab si kakek singkat.
Pendekar Blo'on baru saja hendak mena-
nyakan beberapa hal lainnya. Sayang Si Buta Ma-
ta Kejora telah menghilang dari depannya. Karena masih penasaran, pemuda ini segera mengerahkan ajian Kilat Bayangan. Inilah ilmu lari cepat yang dimiliki oleh Pendekar Blo'on.
***
Laki-laki berpakaian penuh tambalan ber-
senjata kebutan itu membelok di sebuah tikun-
gan. Ia memperhatikan suasana di sekelilingnya,
dan setelah memastikan tidak ada orang lain di
sekitar situ, ia melompat turun dari atas pung-
gung kudanya. Pantat kuda kurus dielus-elusnya
sebanyak tiga kali. Kuda meringkik keras, kemu-
dian berlari kencang sekali. Kuda itu menuju ke
sebuah rumah gubuk reot kemudian menghilang
dari pandangan mata.
Laki-laki berambut awut-awutan terse-
nyum. Ia berjalan menghampiri pintu rumah batu
diketuknya sebanyak tiga kali. Tidak terdengar
suara jawaban apa-apa terkecuali desiran angin
halus. "Uwa, apakah kau mendengarku?" tanya si laki-laki.
Lalu terdengar suara jawaban pelan seo-
rang wanita seakan datang dari sebuah tempat
yang jauh. "Masuklah, pintu tidak pernah terkunci, wahai murid keponakanku"
Laki-laki bersenjata kebutan melangkah
masuk. Segera menyambar bau yang teramat bu-
suk. Laki-laki ini seakan tidak perduli, atau ia memang sudah terbiasa dengan bau-bauan seperti ini. "Kau datang untuk yang kedua kalinya di Sange ini, murid keponakanku. Apa kabar gurumu Tua Tengkorak Mata Api?" bertanya suara ta-di.
"Guru si mata satu dalam keadaan baik-
baik saja."
"Lalu bagaimana kabar tanah Jawa?"
"Tanah Jawa biasa-biasa saja, cuma pen-
duduknya semakin padat, karena orang-orangnya
bunting dan beranak terus" sahut si laki-laki rambut jabrik.
Orang ini memperhatikan suasana di da-
lam ruangan yang cuma diterangi cahaya pelita
minyak. Satu hal yang patut diketahui, bahwa di
ruangan itu hanya laki-laki itu sendiri. Tidak ada siapa-siapa di situ, jadi ia bicara dengan suara gaib yang datang dari sebuah tempat jauh.
"Bagaimana dengan tanganmu?" tanya su-
ara gaib itu lagi.
"Berkat pertolongan uwa guru dulu. Tan-
ganku kini sudah normal kembali. Aku bersum-
pah akan membalas semua kegagalan yang terjadi
dulu" kata si laki-laki.
"Hi hi hik Tiga puluh tahun aku menung-
gu, murid keponakanku. Guru musuh besarmu
itu adalah musuh gurumu dan juga musuhku
yang paling besar. Aku akan melakukan pembala-
san yang setimpal melalui tangan muridnya sen-
diri... Aku punya kuasa di Sange ini, hingga pemimpin Negeri pun kubenamkan dalam tanah.
Masyarakatnya kukutuk menjadi batu. Aku Ratu
Leak, ratu dari segala ratu peri. Hik hik hik...
Murid keponakanku, mengapa kau datang kemari
dengan menyamar sebagai Kala Demit?"
"Kala Demit adalah musuh terbesar Pende-
kar Blo'on, orang itu kabarnya telah membunuh
orang tua si tolol di lereng Bromo. Jika aku tidak melakukan penyamaran, aku khawatir ia tidak
dapat masuk ke dalam perangkap kita. Sakit hati
ini harus terbalas, uwa..." geram orang ini.
Tiba-tiba ia teringat dengan kenangan pa-
hit dua tahun yang lalu, dimana ia kalah berta-
rung dengan Pendekar Blo'on. Bukan hanya itu
saja, ia bahkan nyaris kehilangan tangannya, ma-
sih beruntung dalam keadaan yang sangat keritis
muncul gurunya. Untuk lebih jelasnya (Dalam
Episode Pemikat Iblis terdiri dari tiga Episode).
Karena Tua Tengkorak Mata Api tidak sanggup
menyambung tangan muridnya yang putus, maka
mereka tidak kembali ke Ciruyung, Tua Tengko-
rak Mata Api membawa muridnya ke Sange. Di si-
tulah saudara seperguruannya berada. Berkat ke-
saktian yang dimiliki oleh Ratu Leak, tangan yang terbabat putus oleh senjata, Pendekar Blo'on dapat tersambung lagi.
Rasa sakit dalam hati orang ini masih be-
lum kunjung tersembuhkan. Pengalaman pahit
sebagai orang yang terkalahkan masih menggores
ingatannya. Ia telah kehilangan Perkasa, patung hasil ciptaan pematung Kelana. Dan yang telah
dihidupkan oleh gurunya dengan tumbal perawan
dan bantuan iblis.
Jika dulu gurunya kehilangan mata karena
ulah Malaikat Berambut Api, ia hampir kehilan-
gan tangan karena ulah Pendekar Blo'on. Murid
dan guru sama-sama menyimpan dendam mem-
bara. Lalu sekarang apa susahnya jika ia menun-
tut balas sedangkan Pendekar Blo'on sudah ter-
pancing datang ke Sange karena penyamarannya
sebagai Kala Demit.
"Kau lebih banyak diam, apakah kau men-
dapat musibah di perjalanan?" bertanya suara tanpa rupa.
"Tidak Justru penyamaranku ini telah
berhasil mendatangkan Pendekar edan itu kesini."
sahut Kala Demit palsu. Kemudian enak saja ia
menanggalkan pakaian luarnya. Setelah pakaian
luar ditanggalkan, ia mengusap wajahnya. Maka
lepas pula rambutnya yang awut-awutan. Seka-
rang tiada kumis dan tidak ada pula jenggot. Wa-
jah licin, berkulit bersih dan cantik. Bila bagian tangan diusap maka kulit yang penuh kerut me-rut itu pun berubah halus. Ternyata ia memakai
topeng tipis terbuat dari bahan semacam kulit.
Kini ia telah menjelma menjadi gadis yang tera-
mat cantik, bukan lagi sebagai Kala Demit musuh
besar Pendekar Blo'on. Tapi ia mungkin saja men-
jadi orang yang lebih berbahaya dari Kala Demit
bagi Suro Blondo. Tubuh gadis ini ramping meng-
giurkan, setiap laki-laki yang memandangnya
pasti langsung jatuh cinta mati-matian.
"Berkat petunjuk uwa guru yang dapat
menembus alam gaib. Penyamaranku yang sem-
purna itu telah mendatangkan hasil. Seekor ka-
kap tolol, yang dulu hampir saja membuat aku
mampus kini sudah berada di mulut kail. Ia tidak mungkin dapat lolos, rencana uwa Ratu Leak un-
tuk mendatangkan kedua gurunya pasti berhasil.
Kakap berikut kedua bapak moyangnya sudah
dapat dipastikan memakan umpan kita. Umpan
yang telah uwa persiapkan selama berpuluh-
puluh tahun;" ujar si gadis.
"Mustika Jajar" berkata suara tanpa rupa dengan suara parau. "Apapun yang telah kuren-canakan, bukan hanya sekedar menghancurkan
Pendekar Blo'on dan kedua gurunya. Aku punya
rencana yang lebih besar dari semua itu. Hanya
saat ini aku tidak dapat mengatakannya padamu.
Kepadamu kupesankan agar bersikap waspada
menghadapi segala kemungkinan, karena baru
saja ku tahu iblis yang menjadi kaki tanganku
mengatakan bahwa ia tidak sanggup membuat
Pendekar Blo'on menjadi patung. Dalam arti ku-
tukku seakan tidak mempan. Entah apa yang di-
miliki oleh Pendekar bego itu. Yang jelas aku masih punya beribu-ribu cara untuk membuatnya
hancur Ingat kegagalan baktimu pada gurumu
sendiri merupakan peristiwa yang sangat mema-
lukan. Jangan sampai terulang lagi, jangan sam-
pai" tegas suara tanpa rupa dengan suara keras berapi-api.
"Aku mengerti uwa guru. Pemuda itu da-
tang mengejar aku ke Sange ini seorang diri. Ia
pasti merasa berada di sebuah negeri belantara
batu. Patung-patung hasil kutukan uwa tidak
mungkin dapat diajaknya bersahabat, bicara atau
tempat bertanya. Cuma yang membuat aku heran
mengapa ia tidak dapat termakan kutukmu? Bu-
kankah kutuk uwa Ratu Leak tetap berlaku bagi
siapa saja yang tidak uwa kehendaki?" ujar Mustika Jajar dengan kening berkerut.
Suara tanpa ujud terdiam, hingga mem-
buat Betina Dari Neraka menjadi gelisah.
"Tirai alam gaib yang baru saja kusingkap
mengatakan. Bahwa pemuda itu memiliki tiga
tanda-tanda ajaib. Satu diantaranya adalah pe-
nangkal kutukan."
"Apakah penangkal itu berupa benda,
uwa?" "Dia bukan berupa benda, penangkal alami itu sudah ada sejak ia dilahirkan. Ujudnya berupa sebuah tompel..."
"Hanya tompel?" Mata yang indah itu terbelalak lebar. "Hanya tompel saja, tapi mengapa ku-tukanmu tidak dapat menguasai jiwa dan ra-
ganya?" tanya si gadis dengan perasaan heran bukan main.
Suara tanpa ujud tertawa rawan. "Bukan
hanya tompel biasa. Kalau pun ada orang punya
sejuta tompel di tubuhnya, hal itu tidak ada ar-
tinya bagiku. Mungkin karena ia terlahir pada
malam satu Asyuro, dimana setiap ilmu dituakan.
Malam itu adalah hari yang penuh berkah, rah-
mat Tuhan tercurah-curah dari langit. Tapi eng-
kau tidak usah merasa risau, aku sudah punya
cara untuk menangani pemuda ini. Dia bukan
rintangan yang sulit. Kau lihat jika seluruh Sange ini saja dapat kutaklukkan, apa sulitnya mengu-rus bocah setolol dia"
Lega hati Mustika Jajar. mendengarnya.
"Hi hi hi... Pendekar Blo'on, musibah apalagi yang paling memalukan bagi seorang Pendekar
andai ia telah kehilangan seluruh kesaktiannya
Ia akan merasakan pembalasanku, berpuluh-
puluh penderitaan nanti yang akan dirasakan-
nya." geram Iblis Betina Dari Neraka.
"Hmm, tindakanmu memang patut kupuji.
Tapi kau tidak boleh turun tangan tanpa seizin-
ku" cegah suara tanpa rupa.
Mustika Jajar tampak kurang puas men-
dengar jawaban suara tanpa rupa. "Mengapa harus begitu? Dulu aku yang merasakan malunya,
yang merasai sakitnya dan aku pula yang mera-
sakan penderitaannya. Sedangkan uwa Ratu ti-
dak punya sangkut paut apa-apa antara persoa-
lanku dengan Pendekar Blo'on." dengus si gadis.
"Hik hik hik Kau telah berhutang tangan
padaku, kau juga telah berhutang kesaktian dari-
ku. Aku berkuasa penuh atas daerah ini, aku
memang tidak punya kepentingan tertentu den-
gan Pendekar tolol itu, tapi dengan kedua gu-
runya aku punya persoalan yang sangat besar"
Meskipun kurang puas mendengar jawa-
ban suara tanpa rupa ini, Mustika Jajar terpaksa memendam kekesalahannya dalam hati. "Lalu apa yang harus kulakukan?" Bertanya si gadis dengan wajah cemberut.
"Kau harus tetap menyamar sebagai Kala
Demit. Dengan begitu pasti Pendekar tolol itu terus bersemangat mengejarmu. Sekali waktu pan-
cinglah dia mendekati Batu Lahat Bakutuk. Dari
sanalah segala-galanya akan dimulai. Pendekar
Blo'on akan mengalami nasib yang sangat tragis.
Hik hik hik..."
"Jadi...??"
"Mulai sekarang coba kau pastikan dimana
pemuda itu berada. Jangan kau lupakan tugas
lain, jika kau bertemu dengan siapa saja harap
kau bereskan Mulai saat ini kau harus memper-
gunakan segala macam kesaktian yang kuberikan
padamu. Sedangkan segala ilmu yang diberikan
oleh gurumu tidak berlaku disini"
"Jika pemuda itu telah kutemukan?"
"Kau bawa dia ke Batu Lahat Bakutuk. Ka-
rena di sanalah jalan menuju kehancuran bagi
orang-orang yang tidak kukehendaki. Hik hik
hik" suara tanpa rupa tergelak-gelak.
Suasana di dalam ruangan berubah sunyi,
Iblis Betina Dari Neraka terdiam untuk sejenak
lamanya. Apa yang dikatakan Ratu Leak masih
mengiang di telinganya. Ia percaya sekali Ratu
Leak mampu menghancurkan dunia persilatan
karena begitu tingginya kesaktian yang dimili-
kinya. Kalau dipikir-pikir Ratu Leak memang
mempunyai cita-cita yang tinggi, ia ingin menja-
dikan seluruh nusantara ini sebagai tanah kutu-
kan. Ia ingin mengembalikan manusia ke jaman
batu, manusia dijadikan patung batu, hewan batu
dan semuanya serba batu. Tetapi rasanya ada
yang lebih penting dari semua itu, hanya Ratu
Leak sendiri yang mengetahuinya.
Tidak lama gadis cantik menggiurkan yang
selalu memakai pakaian merangsang ini merias
wajahnya kembali. Tidak sampai sepemakan sirih
ia telah berubah dalam penyamarannya sebagai
Kala Demit. Mustika Jajar kemudian keluar me-
ninggalkan rumah batu, berjalan cepat meng-
hampiri kuda kurus berbulu hitam.
EMPAT
Kuda bertubuh kurus kering itu meringkik
keras ketika Kala Demit melompat ke atas pung-
gungnya. Kala Demit yang tidak lain adalah Iblis Betina Dari Neraka tanpa menoleh kanan kiri
langsung membedal kudanya menuju Batu Lahat
Bakutuk.
Namun baru beberapa puluh batang tom-
bak, tiba-tiba saja kelihatan sesosok tubuh me-
layang dari kerimbunan semak-semak yang mem-
batu. Kuda kurus mengangkat kakinya tinggi-
tinggi. Sreng Sreng
Di depan Kala Demit kini telah berdiri seo-
rang laki-laki berdagu lonjong berkepala lancip
seperti kerucut. Sebelah kakinya tersambung
dengan sebuah gergaji, sedangkan kedua tangan-
nya yang putus disambung dengan gaitan dan ju-
ga tombak. Kala Demit sipitkan matanya, me-
mandang ke arah orang ini disertai senyum men-
gejek.
"Orang aneh, menyingkirlah dari hadapan-
ku" teriak Kala Demit tidak sabar. Dalam hati ia merasa heran juga melihat orang berkaki gergaji
bertangan gaitan dan tombak tidak terkena kutu-
kan. Atau karena pengaruh kutukan Ratu Leak
sudah mulai melemah?
"Kulihat kau orang asing di Sange ini. Ti-
dak ada orang asing yang dapat berkeliaran den-
gan bebas terkecuali ia punya hubungan tertentu
dengan Ratu Leak Perempuan keparat itu adalah
manusia jahanam. Setiap orang yang bersahabat
dengannya, ia berarti jahanam lainnya yang ha-
rus mampus di tanganku" dengus Ktut Bacaso-na.
Wajah di balik topeng Kala Demit berubah
merah padam mendengar kata-kata pedas yang
dilontarkan oleh laki-laki berkepala lancip ini.
"Manusia gila, tidak ada hujan tidak ada
angin kau marah-marah di depan orang yang be-
lum kau kenal sama sekali" maki Kala Demit.
"Hak hak hak Terlalu lama hidup menderi-
ta, aku pun sudah tidak tahu bagaimana caranya
agar dapat tertawa lebih baik. Kau orang pertama yang kulihat. Demi kebesaran pemimpin Negeri
Wayan Tandira Aku akan memenggal kepalamu,
dan yang paling ringan menyeretmu di depan tu-
lang-belulangnya ke bukit Kembar Tiga" dengus Ktut Bacasona.
"Huh, apa yang kau bisa. Keadaan tubuh-
mu saja sudah membuatku prihatin. Sayang uca-
panmu terlalu menghina Ratu Leak. Jadi tidak
ada jalan lain bagimu terkecuali segera berangkat ke neraka. Kupindahkan nyawamu dari raga ka-sarmu ke langit Eeh... bukan ke langit, tapi ke jurangnya neraka Jahanam Hi hi hi..."
"Bangsat Kudengar suara tawamu rasanya
kau bukan laki-laki. Kau pasti perempuan yang
menyaru sebagai laki-laki Semakin bertambah je-
las saja kedudukanmu di mataku. Tidak bisa dis-
angkal, kau pasti anak buahnya si tukang kutuk
Ratu Leak"
"Banyak mulut, siya..." Kala Demit menggebrak kudanya. Ia mengacungkan jari telunjuk-
nya. Sebaris sinar berwarna putih kuning dan
merah melesat dengan hebatnya ke arah Ktut Ba-
casona. Laki-laki ini sempat kaget juga begitu merasakan sambaran angin panas menghantam wa-
jahnya.
Breng
Cepat sekali Ktut melompat ke samping.
Sinar putih kuning dan merah terus menghantam
angin. Buuummm
Batu di belakang Ktut Bacasona hancur
berkeping-keping. Terlihat percikan bunga api
memijar di udara. Meremang tengkuk si laki-laki, ia tidak dapat membayangkan bagaimana andai
pukulan tadi menghantam dirinya. Memang Mus-
tika Jajar barusan tadi melepaskan serangan
yang dikenal dengan nama 'Tusukan Jari Peng-
hantar Maut'. Salah satu ilmu langka warisan Ra-
tu Leak. Mustika Jajar dari gurunya memang
mewarisi berbagai ilmu kesaktian. Namun oleh
Ratu Leak segala macam kesaktian yang diturun-
kan Tua Tengkorak Mata Api untuk sementara ti-
dak boleh dipergunakan.
"Masih juga kau dapat menghindar kunyuk
berkaki gergaji" dengus Kala Demit palsu. Dua jari telunjuknya kiri kanan diacungkannya lagi ke depan. Wut Wuut
Dua baris sinar tiga warna lebih panas me-
labrak Ktut Bacasona. Laki-laki ini terkesiap. Sa-tu serangan cepat mungkin saja dapat dihinda-
rinya. Tapi kali ini dua serangan datang sekali-
gus. Hebatnya lagi di tengah jalan dua larik sinar membelah menjadi enam bagian. Enam bagian
sinar melesat ke arah enam titik kematian di tu-
buh Ktut Bacasona.
"Mati aku" maki si kaki gergaji. Ia tidak punya pilihan lain. Segera tangannya yang ber-sambung dengan tombak dan gaitan di putar. An-
gin menderu. Laki-laki ini tiba-tiba merasakan
adanya satu dorongan yang sangat dahsyat na-
mun tidak terlihat. Ktut Bacasona terus putar
tangan yang tersambung dengan senjata sambil
melompat.
Bum Buum
Sinar putih kuning merah seperti pecah
bertaburan di udara bagaikan kunang-kunang
yang bertebaran saat membentur senjata Ktut
Bacasona tadi. Ktut menjerit kesakitan. Ia mele-
pas dua senjata yang tersambung dengan tangan
dan sempat meleleh. Tangan-tangannya yang
memang sudah buntung sebatas lengan melepuh.
Orang ini menggerung, sementara Kala Demit
bergelak-gelak mengumbar tawanya.
Ktut Bacasona segera sadar bahwa lawan
memiliki kepandaian yang mungkin lebih tinggi
darinya. Ia harus mengambil tindakan jika tidak
ingin dirinya celaka. Secepat kilat tubuhnya me-
layang, ia mempergunakan senjata gergaji di ka-
kinya. Sing Sing Sing
Suara mendesing-desing menggema di uda-
ra bisu. Serangan ini jelas telak dan menggorok
leher. Kala Demit mendengus sengit, karena begi-
tu rendahnya serangan lawan. Maka ia terpaksa
berguling-guling.
Breng
Serangan luput, sebagian gergaji menghan-
tam batu di depannya hingga membuat lubang
mengerikan sebanyak enam puluh mata gergaji.
Kala Demit bergidik ngeri. Sebelum bangkit lawan telah berbalik, seakan dapat berjalan di udara lawan hantamkan senjata mautnya.
Praang
Kala Demit memaki, tangannya nyaris
tanggal, ia jatuh tunggang langgang sambil terus berguling-guling. "Keparat berkaki gergaji ini benar-benar tidak dapat dipandang enteng Ia harus tahu rasa" maki orang ini. Melihat lawan mengambang dan melakukan penyerangan dari uda-
ra. Kala Demit tiba-tiba lepaskan pukulan dah-
syat 'Neraka Perut Bumi'. Serangan maut ini juga warisan Ratu Leak. Sontak Ktut Bacasona merasakan adanya sinar kemilau yang membutakan
mata. Suasana seperti bagai di neraka, masih di
udara terdengar suara jeritan Ktut Bacasona, tu-
buhnya tersentak ke belakang. Kemudian jatuh
terhempas dalam keadaan hangus.
"Hi hi hi... Pukulan yang luar biasa. Ilmu kesaktian uwa Ratu Leak memang hebat. Kini
terbuka mataku, bahwa cita-cita uwa berdasar-
kan atas keyakinan yang kuat Hi hi hi... Manu-
sia kaki gergaji Mampuslah kau... mampus...
mampus..." maki Kala Demit. Seraya melompat kembali ke atas punggung kudanya. Tali kekang
kuda disentakkan dengan keras, maka melesatlah
kuda tersebut meninggalkan debu-debu yang ber-
terbangan.
***
Kuda putih itu seakan-akan memang berja-
lan di atas laut. Ia menerjang gelombang laut
pantai barat dengan langkah lebar dan tidak per-
nah mengenal rasa lelah. Yang menakjubkan laut
yang sedemikian dalam itu hanya sampai setinggi
lututnya saja. Ia memang seekor kuda raksasa
yang sangat luar biasa besarnya. Di atas pung-
gung kuda tersebut duduk seorang laki-laki ber-
pakaian putih berselempang putih, memakai ikat
kepala warna putih. Dilihat dari jauh, orang ini tidak ubahnya seperti seekor lalat yang hinggap di
punggung kuda.
Ombak di pantai laut barat kian menggila,
si laki-laki berumur sekitar lima puluh tahun
menyandarkan punggungnya pada punggung ku-
da. Kakinya yang bersilangan terguncang-
guncang. Sementara kuda putih yang terus berla-
ri di laut dalam namun cuma setinggi lututnya
meringkik keras. Bila kuda ini mengeluarkan sua-
ra, maka suaranya menimbulkan gelombang laut
yang kian menggila.
"Ada apa Kaki Langit? Aku tidak melihat
dan mendengar apa-apa. Apakah kau ada melihat
sesuatu?" bertanya laki-laki baju putih selempang putih. Seraya duduk, memandang ke depan, terlihat olehnya gugusan sebuah pulau. "Kita sudah sampai, Putih Kaki Langit. Aku mencium bau kutukan itu. Aku mengendus sesuatu yang sangat
aku benci, Batu Bakutuk telah memperlihatkan
kehebatannya. Aku tidak menyangka, betina sint-
ing itu sudah mengetahui rahasianya Ayolah...
jangan kau ragu-ragu, pengaruh kutuk tidak
akan berlaku bagi dirimu dan diriku" kata si laki-laki, wajahnya muram. Sehitam mendung yang
bergelayut di kaki langit.
Kuda putih meringkik lagi, sampai di ping-
gir pantai ia berhenti. Bukan main tinggi binatang tunggangan tersebut. Seakan-tingginya hampir
menggapai langit. Pantasan saja laut yang begitu dalam hanya sampai sebatas lututnya. Jika saat
itu ada orang yang melihat pemandangan ini, ten-
tu saja tidak akan percaya melihat tinggi dan be-
sarnya kuda berbulu putih tersebut.
Laki-laki berselempang dan berbaju putih
berdiri di atas punggung kudanya. Bibirnya yang
tertutup kumis putih berkemak-kemik. Samar-
samar terdengar suaranya seakan datang dari se-
buah lubuk yang teramat dalam.
"Datuk Nan Gadaing Paluih, itu namaku.
Jalan melintas darat, langkah menyeberang laut.
Putih Kaki Langit sahabat sejati dari alam gaib.
Raksasa membawa tuah si kecil. Si kecil memba-
wa tuah si raksasa. Alam gaib beda dari alam
nyata, yang nyata tidak mampu menembus alam
gaib. Mata kasat sampai binasa tidak becus me-
neropong kegelapan. Datuk Nan Gadang Paluih
mampu melakukannya. Si Putih Kaki Langit sa-
habatku alam gaib. Ia biji matoku, si besar sahabatnya yang kecil. Yang kecil sahabat si besar.
Maka kembali ke bentuk umumnya kuda Kemba-
li... li li li..." suara laki-laki yang bernama Datuk Nan Gadang Paluih menggema di seantero penjuru pantai.
Kuda raksasa yang tubuhnya menjulang
tinggi ke langit meringkik keras, tubuhnya tergetar. Lalu terjadi proses penyusutan yang sungguh aneh bahkan sulit dipercaya. Kuda raksasa itu terus berproses, mengecil semakin bertambah kecil.
Hingga akhirnya terjadi proses aneh itu setelah
tubuhnya sebesar kuda pada umumnya.
"Putih Kaki Langit, Ngarai Sianok telah kita tinggalkah Semua ini gara-gara Batu Bakutuk
yang dicuri oleh betina jalang itu. Tiga puluh ta-
hun, Kaki Langit. Coba kau bayangkan. Aku baru
mengetahui batu sakti itu hilang setelah adikku
Ratu Penyair Tujuh Bayangan pergi ke tanah
orang Jawa. Kita sudah ketiwasan (terlambat).
Kau lihat patung-patung batu itu. Mereka masih
manusia juga, manusia menjadi batu karena pen-
garuh kutuk" kata si laki-laki sengit. Untuk lebih jelasnya siapa Ratu Penyair dan Datuk ini (dalam episode Undangan Maut). "Ayoo sahabatku, kita selidiki di mana jejaknya wanita jalang itu Ja-lanmu biar lebih cepat agar selamat" kata Datuk Nan Gadang Paluih. Ia menyentuh ubun-ubun Si
Putih Kaki Langit, kuda itu sepontan melesat
dengan kecepatan laksana kilat. Hanya dalam
waktu sekejapan mata, kuda tidak terlihat lagi.
***
Suro masih memperhatikan kakek buta di
depannya. Hampir sepanjang malaman orang ini
menceritakan segala sesuatu yang berhubungan
dengan kutuk di tanah Sange. Terkadang hati
pemuda ini menjadi jerih, terkadang timbul kege-
ramannya. Dan tidak jarang ia memaki perbuatan
si durjana Ratu Leak.
"Anak tolol, aku sering minta petunjuk pa-
da dewata. Aku merasa Dewata berkenan mem-
bebaskan rakyat negeri Sange dari kutukan. Nan-
ti, setelah kehadiranmu ini. Berkah kehadiranmu
di sini, membebaskan mereka. Tapi aku melihat
ada tanda-tanda bahwa kau juga akan mengalami
celaka disini" kata si Buta Mata Kejora.
Saking kagetnya Suro sampai melompat
dari atas tikar rombeng yang didudukinya. Saat
itu mereka memang duduk di dalam rumah bo-
brok agak jauh dari Sange. Sebenarnya tidak da-
pat dikatakan rumah, karena atap dan dinding-
nya tidak ada, hanya tiang-tiangnya saja.
"Jangan kau menakut-nakuti aku, kakek
buta Aku pun tidak sudi menolong orang jika
nyawaku sendiri terancam. Orang tolol namanya
jika untuk kepentingan orang lain ia harus mere-
lakan nyawanya" celetuk Suro sambil bersungut-sungut.
"Apakah kau tidak sadar kalau dirimu itu
Pendekar tolol? Mustahil kau dapat keluar dari
Sange ini sebelum menghadapi kenyataan, kau
sudah mulai masuk dalam perangkap dan jerat-
jerat setan" dengus Si Buta Mata Kejora.
Suro memandang ke atas, karena rumah
tidak beratap ia dapat langsung melihat langit
yang biru. Ia memperhatikan kedua tangan dan
kakinya. Lalu terdengar tawanya....
"Kuakui kau memang manusia aneh, kek.
Adalah salah besar kalau kau mengatakan aku
sudah masuk ke dalam jerat-jerat setan. Kedua
kakiku masih bebas bergerak. Di sekeliling ku tidak ada perangkap terkecuali gubuk reot yang ti-
dak beratap dan berdinding ini Ha ha ha... Kau menipu mana kena aku ditipu Orang buta mau
mengadali orang melek, mana mungkin... eeh,
mana mungkin?"
"Ternyata kau memang tolol, bukan tam-
pangmu saja yang bego, jalan fikiranmu juga me-
nunjukkan kedunguan otakmu Apa yang kuka-
takan itu hanyalah kiasan saja, adakah kau bisa
mengerti?" hardik Si Buta Mata Kejora.
"Kau orang buta yang tidak tahu diri. Ka-
lau terus memaki, biar aku minggat dari sini. Hi-duplah bersama masyarakatmu yang telah diku-
tuk menjadi patung-patung yang dungu, patung
bego yang biasanya cuma keluarkan air mata"
dengus murid Penghulu Siluman Kera Putih sen-
git.
"Olala... tidak usah ngotot, saling tarik urat leher dalam keadaan begini tidak ada gunanya.
Kau merupakan penentu, jika kau salah langkah
maka kedua gurumu, pun bisa celaka?"
"Bualan apa lagi yang kau berikan. pada-
ku, kakek buta. Mana kena guruku ditipu. Mere-
ka adalah orang-orang cerdik yang tidak bisa termakan muslihat apapun" Si konyol rupanya terlalu yakin dengan kemampuan yang dimiliki oleh
kedua gurunya. Sehingga sedikit pun ia tidak
mau percaya dengan ucapan Si Buta Mata Kejora
"Percuma saja aku berdebat dengan orang
bodoh sepertimu. Daripada berdebat lebih baik ki-ta berangkat ke Batu Lahat Bakutuk"
"Bicaramu ngaco, kakek buta. Kalau kau
sudah bosan bicara mengapa tetap duduk di sini?
Ayo berangkat" Suro bangkit berdiri diikuti oleh Si Buta Mata Kejora. Mereka keluar meninggalkan
bangunan reot menempuh padang-padang berba-
tu di tengah-tengah teriknya panas matahari
Belum jauh mereka meninggalkan gubuk
reot itu, tiba-tiba terdengar suara burung di atas kepala mereka. Si Buta Mata Kejora, angkat wajahnya menghadap langit. Suro tertawa terkekeh-
kekeh melihat kakek ini seperti gelisah.
"Ha ha ha Seratus kali kau memandang ke
langit, mana kau tahu apa yang berada di atas-
mu Eeeeh, kulihat wajahmu berubah pucat, kek
Apakah burung gagak itu yang membuatmu ta-
kut?" ejek Pendekar Blo'on.
"Pemuda sedeng, kau melihat tapi tidak ta-
hu apa yang kau lihat. Bukankah yang terbang di
atas kita seekor burung gagak?" tanya Si Buta Mata Kejora tercekat.
"Kau menebak begitu karena aku sudah
mengatakannya padamu, apa sesungguhnya yang
membuatmu takut? Kau seperti melihat hantu,
padahal matamu buta??" Suro garuk-garuk kepa-la.
"Burung gagak itu adalah burung pen-
damping pimpinan kami Sekarang aku tidak ta-
hu bagaimana nasibnya dipendam Ratu Leak di
Tiga Bukit Kembar Burung gagak.... akh, aku
mencium baunya. Dia bukan gagak yang lain. Dia
pendamping pemimpin negeri itu Anak muda,
coba kau lihat apakah kau tidak melihat ada
orang lain disini?"
Suro Blondo mengedarkan matanya, selain
burung gagak yang terbang berputar-putar di atas kepala mereka memang tidak ada siapa pun di si-
tu. Suro gelengkan kepala. Namun akhirnya ter-
tawa sendiri setelah menyadari ketololannya.
"Orang buta ini mana melihat isyaratku"
LIMA
"Bagaimana anak muda? Mengapa kau di-
am saja seperti orang tuli yang sangat bego?" bertanya Si Buta Mata Kejora tidak sabar.
"Mata budek kuping buta Tidak ada siapa-
siapa disini selain kita berdua dan burung jelek itu" sahut Suro Blondo dengan mulut terpencong.
"Kak"
"Wuut
Burung gagak yang terbang berputar-putar
di atas Suro tiba-tiba menukik dan menyambar.
"Weit, kakek buta. Burung itu marah kuka-
tain jelek Bagaimana ini?" tanya Suro. Pontang panting ia menghindari patukan paruh burung
yang terus menyerangnya dengan cepat dan ber-
tubi-tubi.
"Ha ha ha Mampuslah kau. Binatang itu
sangat memahami bahasa manusia. Kau menghi-
nanya, sekarang kau rasakan sendiri akibatnya"
teriak si kakek sambil terus tertawa-tawa.
"Kek"
Wuur
Suro terus mengelak atau sesekali me-
nyampok burung itu. Burung gagak hitam cepat
berkelit begitu merasakan adanya sambaran angin yang sangat keras.
Tiba-tiba
terdengar suitan panjang. Burung gagak bergerak menjauh namun
di belakang Pendekar Blo'on tiba-tiba menyambar
angin dingin yang sangat luar biasa sekali
"Aih..."
Tubuh pemuda ini meliuk, kemudian ber-
salto ke samping kiri. Di depannya terdengar sua-ra dentuman bagai letusan gunung. Si Buta Mata
Kejora tergontai-gontai. Suro terhuyung sambil leletkan lidah. Ia tidak kekurangan satu apapun,
hanya dadanya mendenyut sakit. Cepat ia putar
kepala. Dan matanya pun kontan terbelalak.
"Astaga Kakek buta, lihatlah ada manusia
kayu, eeh... maksudku manusia akar datang ke-
sini. Apakah dia masih saudaramu, atau anak-
mu?" seru pemuda rambut kemerah-merahan ini kaget. Saking tidak percayanya ia sampai ingin
kencing.
"Kau bicara apa? Hendak menipuku lagi?"
dengus si kakek buta tidak percaya,
"Pentang matamu lebar-lebar, dari leher
badan, tangan dan kakinya terbungkus akar. Aku
tidak tahu apakah dia manusia sungguhan atau
kayu berjalan" kata Suro, sementara orang yang disebut-sebutnya sudah berjalan mendekat ke
arahnya.
"Coba kau sebutkan ciri-ciri wajahnya?"
perintah Si Buta Mata Kejora. Suro garuk-garuk
kepala, bibirnya terpencong, monyong-monyong
sebentar lalu memandang ke arah laki-laki di de-
pannya dengan kedua mata menyipit.
"Kau dengar baik-baik. Dia laki-laki seperti kita juga, kumis ada sedikit mungkin cuma beberapa helai. Jenggotnya kurasa sekitar sepuluh bi-ji. Rambutnya panjang, dagunya kokoh Apakah
kau mengenalnya, kek?" Mata buta yang memutih keseluruhannya tampak berkeriapan. Kening si
kakek berkerut dalam. Tiba-tiba ia berseru...
"Tunggu" Seraya melangkah maju ke de-
pan. "Aku rasanya mengenal wajahnya. Dan Si Buta Mata Kejora tiba-tiba saja menjatuhkan diri dan berlutut. "Wayan Tandira pemimpin kami, benarkah engkau Wayan Tandira?" desis orang ini sambil sesunggukan.
Orang yang dipanggil Wayan Tandira ber-
geming pun tidak. Malah kedua bibirnya terkatup
rapat. Otot-otot rahangnya menegang.
"Aku mengenalmu sebagai penduduk
Sange ini, kakek Buta Mata Kejora. Aku meng-
hargaimu sebagai orang tua dan manusia. Aku
membencimu karena telah bersekutu dengan mu-
suh Keadaan negeri begitu buruk, nasib masya-
rakat-ku benar-benar hina dina. Kau ketua adat,
mengapa kau gadaikan harga diri dan keper-
cayaan masyarakat pada pemuda asing ini" dengus laki-laki yang sekujur tubuhnya diselimuti
akar-akaran aneh, sinis.
"Ampun beribu ampun. Para dewata meli-
hat, para dewata mendengar, pemuda ini sama
sekali bukan musuh kita Ia ingin bekerja sama
dengan kita guna menghancurkan Ratu Leak dan
merampas Batu Bakutuk Engkau salah menilai,
engkau salah sangka, pemimpin negeri" jelas Si Buta Mata Kejora.
"Terlalu lama dipendam dalam tanah, ra-
sanya aku sulit membedakan mana kawan dan
mana lawan. Aku tidak suka melihat kunyuk tolol
itu Dia harus kubunuh"
"Jangan..." teriak Si Buta Mata Kejora.
Pendekar Mandau Jantan mula-mula memang
dapat menahan diri mendengar ucapan Wayan
Tandira. Namun karena laki-laki rambut panjang
ini terlalu mencurigainya. Sekarang ia tidak dapat lagi menahan kesabarannya.
"Manusia akar, rambut gondrong Aku ben-
ci melihat manusia sombong, tapi aku lebih benci lagi mendengar ucapanmu Kau bukan memikirkan negerimu, kau juga tidak memikirkan masya-
rakatmu yang berdiri mematung menjadi batu.
Kau hanya mementingkan kekuasaanmu Manu-
sia bermental kerdil macammu buat apa menjadi
pemimpin?" desis Suro marah bukan main.
Wayan Tandira melotot, kupingnya terasa
panas hingga bergerak-gerak. Pikirnya pemuda
itu tampangnya seperti orang tolol, tapi bicaranya menyakitkan.
"Aku tahu apa yang aku perbuat? Aku rela
dipendam selama hampir tiga puluh tahun dalam
tanah semata-mata karena demi rakyatku" sahut Wayan Tandira semakin sengit.
"Itu manusia tolol namanya" ejek Pendekar Blo'on, dalam hati ia tertawa karena melihat lawan ternyata terpancing dengan kata-katanya.
"Kalau merasa jadi orang pintar mengapa mau dipendam segala. Lawan saja kalau perlu sampai
ada yang mampus. Apa guna kau jadi laki-laki,
apa guna kau punya barang. Kalau merasa men-
jadi banci lebih baik barangmu dipajang saja di
jidad..."
"Suro..." Si Buta Mata Kejora bermaksud mencegah kata-kata Suro yang serampangan itu.
Namun sudah terlambat, Suro nyengir kuda. La-
wan langsung menggebraknya dengan serang-
kaian serangan yang sangat mematikan lagi tidak
ada putus-putusnya.
"Walah emak, ada orang gila mengamuk"
seru Suro. Dengan lincah ia menghindari seran-
gan-serangan gencar yang dilakukan oleh Wayan
Tandira. Ia berjingrak-jingkrak, mengelak sambil melompat atau terkadang berjongkok. Di lain
waktu pemuda ini garuk-garuk sekujur tubuhnya.
Dari bibirnya yang termonyong-monyong terden-
gar suara ngak-ngik-nguk yang tidak ada putus-
putusnya.
Wayan Tandira merasa kesal melihat ke-
nyataan setiap serangan yang dilancarkannya ti-
dak mendatangkan hasil. Sekonyong-konyong ia
melompat ke depan, tangan mencengkeram ke
bagian lambung sedangkan, kaki kiri lepaskan
tendangan menggeledek. Dalam keadaan berjong-
kok Suro melesat ke udara. Dua serangan berun-
tun yang dilakukan oleh Wayan Tandira mengenai
tempat kosong. Si konyol berputar di udara, ka-
kinya yang menekuk mendadak terjulur seperti
gerakan kepala ular yang mematuk. Wayan tidak
sempat tarik wajahnya. Dan....
Dhaak
Kepala laki-laki rambut panjang itu sempat
tersentak ke belakang. Terdengar suara jeritan
pendek, Wayan terhuyung-huyung sambil mema-
ki. Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam ke ba-
gian tangan. Sehingga kedua tangan pemuda itu
yang terbalut akar-akar aneh berwarna putih lak-
sana perak. Sontak udara berubah menjadi pa-
nas, Si Buta Mata Kejora keluarkan seruan kaget.
"Pukulan 'Blenggu'..." desisnya seakan memberi peringatan pada Suro Blondo
Pemuda rambut kemerah-merahan me-
langkah mundur sejauh dua tindak.
"Hup Huup..."
"Jurus 'Kacau Balau'.." gumam si pemuda menyebut nama jurus yang dipergunakannya.
Sepontan tubuhnya meliuk-liuk, langkah-
langkahnya tidak teratur dan setiap gerakan yang dilakukannya benar-benar serampangan terkesan
seperti gerakan orang mabuk berat. Inilah jurus
menghindar paling kacau yang tokoh-tokoh di
rimba persilatan sendiri tidak pernah memili-
kinya. Wuss Wuus
Blaar
"Weit-weit kiamat" maki Suro. Ternyata pukulan maut yang dilepaskan oleh Wayan Tandira mengenai tempat kosong. Suro sambil ter-
huyung-huyung langsung berbalik dan balas le-
paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-
sinar'. Seketika terlihat sinar merah redup melesat dari telapak tangan Pendekar Blo'on yang ter-kembang. Wayan Tandira melompat, serangan
pertama luput, sayang pukulan susulan tidak da-
pat dihindarinya lagi.
Buuum
"Wuaarrrkkh..."
Wayan Tandira menjerit keras sambil ber-
guling-guling. Bagian dadanya yang terlibat akar-akaran memang tidak cedera. Tapi bagian leher
hingga ke wajah terasa panas seperti di panggang bara api.
Laki-laki ini menggeram, diam-diam Suro
sendiri sempat terperangah. Tadi ketika sebagian pukulan yang dilepaskannya menghantam bagian
dada dan perut lawan. Ia melihat sinar hitam
memancar dari akar-akaran aneh yang membelit
tubuh Wayan. Ini merupakan sebuah kenyataan
yang sangat aneh. Seakan akar-akaran itu men-
gandung sebuah kekuatan tersembunyi. Hal ini
yang membuat Suro tertegun cukup lama, sikap-
nya yang lengah ini segera dimanfaatkan oleh la-
wan untuk menyerangnya dengan pukulan
'Cambuk Neraka'.
"Cambuk Neraka' Awas..." Si Buta Mata Kejora kembali berteriak memberi peringatan.
Wuuk
Glaar
"Akh..."
Pendekar Mandau Jantan menjerit terta-
han, tubuhnya terpelanting dan terus terguling-
guling. Ada darah yang menetes di sudut-sudut
bibirnya. Wayan Tandira terkekeh senang, Si Buta Mata Kejora jadi prihatin, walaupun matanya tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi, tapi
perasaannya mengatakan bahwa Pendekar yang
terlahir di gunung Bromo dan besar di gunung
Mahameru tersebut sedang terancam bahaya be-
sar. Ia sebenarnya ingin membantu, tapi merasa
serba salah, sebab orang yang dihadapi oleh mu-
rid Penghulu Siluman Kera Putih dan Murid Ma-
laikat Berambut Api ini adalah ketua negeri
Sange. "Hentikanlah perkelahian" seru Si Buta Mata Kejora.
"Kepala adat, jangan kau coba mencegahku
atau kau bersedia menemani pemuda ini ke nera-
ka?" dengus Wayan Tandira tidak senang.
"Dewi Dewata, dia bukan mata-mata dan
bukan pula kaki tangan Ratu Leak. Hentikanlah,
kumohon"
"Mohonlah pada setan dan orang-orang
yang mati gentayangan akibat ulah manusia ja-
lang itu. Hiyaa..." teriak Wayan Tandira berapi-api. Tanpa bicara apa-apa lagi tubuhnya tiba-tiba saja melesat ke arah Suro. Pemuda konyol yang
sudah dilanda kejengkelan ini sama sekali tidak
berusaha menghindar. Malah ia pergunakan ju-
rus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.
Dan tangannya di silangkan, sebelah kaki diang-
kat dan ditekuk.
Splak
Dukk Duukk
"Heh..."
Wayan terdorong mundur lalu jatuh terdu-
duk. Sebaliknya Suro menjerit kesakitan. Bukan
akibat benturan tenaga dalam, melainkan karena
kedua tangannya yang sempat bersentuhan den-
gan akar-akaran seperti tersengat puluhan ekor
ular berbisa.
Sungguh pun begitu ia segera berdiri kem-
bali. Memandang ke depan, dilihatnya Wayan
Tandira dalam keadaan berlutut sambil meme-
gangi wajahnya. Laki-laki itu menangis terisak-
isak, entah apa yang membuatnya begitu.
"Kau tadi mau membunuhku, mengapa se-
karang malah menangis? Apakah kau rindu pada
anak isterimu, pemimpin negeri?"
"Huk huk huk Entah mengapa aku sea-
kan-akan melihat dewata marah padaku bila aku
menyerangmu tadi. Kurasa ucapan Ketua adat
benar, kau bukan musuh sebagaimana yang ku-
duga" kata Wayan Tandira terisak-isak.
"Huk huk huk Aku juga senang jika kau
mau sadar" Suro meniru tangisan Wayan Tandira.
"Lalu sekarang apa yang hendak kau perbuat?
Apakah bertarung denganku lagi sampai salah
seorang diantara kita ada yang mampus. Manusia
bodoh itu namanya, aku sendiri jelek-jelek begini masih punya banyak pertimbangan"
"Aku tidak ingin bertarung denganmu, cu-
kup" sahut Wayan di sela-sela isak tangisnya.
"Lalu apakah kau juga berniat mencari Ra-
tu Leak?" tanya Suro.
"Hem..." Wayan Tandira menggeram. "Perempuan itu harus kubunuh Tiga puluh tahun
aku dipendamnya hidup-hidup. Kau lihat, tubuh-
ku yang terbalut akar ini. Aku telah berusaha
memotongnya tapi tidak bisa. Semua ini gara-gara Ratu Leak keparat itu Sudahlah, tinggalkan aku
disini, aku tidak ingin ada orang yang melihatku, aku malu. Huk huk huk..."
"Pemimpin negeri, bukankah lebih baik jika
kita bersama-sama pergi ke Batu Lahat Bakutuk"
Si Buta Mata Kejora ikut bicara. Namun orang
yang diajaknya bicara gelengkan kepala.
"Pergilah kalian kesana lebih awal. Mung-
kin nanti aku akan menyusul" sahut Wayan Tandira. Laki-laki berambut gondrong yang sekujur tubuhnya diselimuti akar ini langsung melangkah
pergi. Suro hanya garuk-garuk kepala, ia menarik tangan Si Buta Mata Kejora untuk segera meninggalkan tempat itu.
ENAM
"Inikah tempatnya, kakek buta? Aku men-
cium bau maut di sini. Aku juga mengendus bau
kelicikan" Berkata pemuda baju biru. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat
itu. Banyak juga pohon-pohon di sekitar bukit-
bukit itu, akan tetapi pohon-pohon tersebut men-
jadi batu akibat kutukan Ratu Leak. Tengkuk Su-
ro meremang berdiri, ia menoleh ke arah kakek
buta yang berdiri tidak jauh di sebelahnya. Ter-
nyata kelihatannya kakek ini merasa jerih. "Ada lagikah tempat yang lebih mengerikan dari tempat ini?" "Hemm, ada. Bukit Kembar Tiga Terlaknat
Di sanalah Wayan Tandira dan anak buahnya di-
benam. Aku heran jika kemudian ia muncul den-
gan tubuh dipenuhi akar-akaran." sahut Si Buta Mata Kejora.
"Kurasa disana banyak pohon"
"Tidak satu pun"
"Lalu akar-akaran sakti itu apakan mung-
kin datang dari perut bumi? Terlalu banyak keja-
dian-kejadian ganjil disini" gumam Suro sambil garuk-garuk kepala. "Tempat ini sunyi, seakan tidak berpenghuni. Apa tujuanmu membawa aku
ke sini?" tanya Suro Blondo, perasaannya mulai tidak enak.
"Karena di daerah ini Ratu Leak kudengar
bersembunyi."
Pendekar Blo'on kelihatannya seperti tidak
puas mendengar jawaban si kakek.
"Aku terkadang merasa heran melihat di-
rimu, matamu buta tapi kau tau semua tempat
yang kau lalui. Aku terkadang merasa tidak yakin kalau kau benar-benar buta?" kata si pemuda sambil tersenyum mencibir.
"Mengapa keadaanku yang kau persoalkan.
Waspadalah wahai Pendekar Tolol Aku mencium
adanya bahaya di sekitar kita" Si Buta Mata Kejora memperingatkan.
Suro cepat meneliti keadaan di sekeliling
mereka. Pemuda ini memang tidak melihat sesu-
atu, tapi aneh. Sekujur tubuhnya bertambah me-
rinding. Dalam pada itu sekonyong-konyong ter-
dengar suara ringkik kuda di kejauhan.
"Ada orang datang ke sini, kakek. Tahukah
kau siapa orangnya?" tanya Pendekar Mandau
Jantan, seraya memandang ke arah datangnya
suara. Belum sempat Si Buta Mata Kejora menga-
takan sesuatu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang
seperti melompati kepala mereka.
"Hieehhh..."
"Heh..." Suro pentang matanya lebar-lebar, seakan ia tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri. "Kala Demit? Bagaimana ia bisa hadir di sini? Mengapa tangannya masih utuh?
Padahal aku pernah membuatnya buntung" batin si pemuda. Untuk lebih jelasnya bentrok antara
Kala Demit dan Pendekar Blo'on dalam episode
terdahulu.
"Terkejut bocah ajaib?" Kala Demit tersenyum mencibir.
"Kau? Bagaimana kau dapat menyambung
tanganmu?" tanya Suro.
Kala Demit tertawa ngakak, angin bertiup
sepoi-sepoi. Suro mencium bau sesuatu yang
sangat khas, bau harum khas perempuan. Seba-
gaimana seperti yang didapatinya di perahu batu
pinggir pantai.
"Bukan sesuatu yang sulit, Pendekar
Blo'on" Kala Demit mendengus sengit. "Sekarang perhitungan itu harus dimulai, Pendekar Blo'on.
Tahukah kau bahwa orang yang paling kubenci di
kolong langit ini tidak lain adalah kunyuk ber-
tampang tolol sepertimu?"
Saking geramnya Suro garuk-garuk kepala
sampai berulang-ulang. Ia teringat kira-kira ba-
gaimana kematian orang tuanya ketika terjadi ke-
kacauan di gunung Bromo dulu.
"Kala Demit manusia iblis Apakah tidak
salah yang kudengar? Seharusnya akulah yang
menuntutmu. Karena kau dan Sepasang Iblis Pe-
gat Nyawa telah membunuh kedua orang tuaku.
Mengapa sekarang jadi tebolak, eeh... terbalik.
Aku yang sudah, gila apa kau yang sudah sint-
ing?" maki Suro.
"Siapa manusia yang kau ajak bicara, Pen-
dekar tolol?" Tiba-tiba saja Si Buta Mata Kejora bertanya.
"Dia bukan manusia, tapi iblis yang me-
nyaru sebagai manusia" sahut Pendekar Blo'on sengit. "Kurasa dia punya hubungan tertentu dengan Ratu Leak, Suro. Kalau kita dapat mering-
kusnya hidup-hidup. Kita bisa mengorek keteran-
gan dari mulutnya" Si kakek mengisiki.
"Bagaimana kalian dapat mengorek kete-
rangan dariku, jika jiwa kalian lebih dulu kukorek dan segera kukirim ke neraka?"
"Huh, aku ingin melihat untuk yang kedua
kalinya apakah kau dapat membuktikan mulut
besarmu itu? Kuragukan jangan-jangan cuma
mulutmu saja yang pintar bicara, atau kau men-
gagulkan Ratu Leak itu, eh...?" ejek Suro begitu mencemo'oh.
"Bangsat Hiaaa..."
Dengan masih menunggang kuda hitamnya
yang kurus kering itu. Kala Demit hantamkan ke-
dua tangannya kanan kiri secara berturut-turut.
Sinar putih, kuning dan merah bertebaran di
udara bagaikan kunang-kunang. Si Buta Mata
Kejora langsung tutup hidungnya begitu merasa-
kan nafasnya menjadi sesak. Suro menghindar ke
samping dan diam-diam sempat terkejut juga ke-
tika menyadari bahwa Kala Demit tidak memper-
gunakan pukulan sebagaimana pernah dipergu-
nakan dulu ketika berhadapan dengannya.
Pemuda ini tidak dapat berdiam lebih lama.
Lalu secara cepat ia kibaskan kedua tangannya
siap lepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit
Sukma'. Kala Demit palsu yang pernah mati-
matian bertarung dengan pemuda ini saat terjadi
ledakan pertama lepaskan pukulan susulan den-
gan kekuatan berlipat ganda.
Serangan seperti ini benar-benar tidak per-
nah diduga oleh Suro Blondo. Akibatnya sungguh
buruk sekali bagi Suro, tubuhnya yang terhantam
pukulan 'Neraka Perut Bumi' kontan terpelanting.
Lebih celaka lagi punggungnya terhempas batu.
Braak
Batu hancur berantakan, Suro menggeliat
dan berusaha bangkit berdiri. Kala Demit acung-
kan jari telunjuknya siap lepaskan serangan
'Tusukan Jari Penghantar Maut'. Dua baris sinar
melesat dari ujung jemari tangan Kala Demit, da-
lam waktu bersamaan Si Buta Mata Kejora yang
rupanya merasa khawatir lepaskan pukulan pula.
Sinar biru memotong di pertengahan jalan. Hing-
ga kembali terdengar suara ledakan dan serangan
Kala Demit jadi melenceng
Si Buta Mata Kejora sempat tergontai-
gontai, melihat hal ini Suro jadi tertawa-tawa. Ia sendiri tidak suka bertarung secara keroyokan
seperti itu.
"Kakek buta Aku belum mampus, kelenger
pun belum. Tidak usah main kroyok. Nanti apa
kata orang-orang rimba persilatan melihat keja-
dian ini?" dengus Suro.
"Tidak perduli apa kata setan-setan rimba
persilatan" sahut Si Buta Mata Kejora, tidak kalah sengitnya. "Tiga puluh tahun rakyat negeri Sange menderita kutukan, mereka terjemur panas, tersiram hujan tanpa mampu bergeser dari
penderitaan. Siapa yang memperdulikan mereka?
Siapa yang mau mengerti nasib mereka, hayo sia-
pa?" "Tentu saja kita sendiri. Sudahlah minggir dulu, nanti jika kau melihat aku sudah terkapar
dan tidak ada nafasnya. Kau boleh sesuka hatimu
melabrak Kala Demit"
"Huh, orang-orang golongan putih menga-
ku orang paling bersih dan yang paling jujur. Kenyataannya kalian tidak ubahnya seperti kecoa-
kecoa pengecut yang cuma pandai main keroyok"
teriak Kala Demit yang merasa berada di atas an-
gin. Suro Blondo sama sekali tidak menanggapi.
Ia menggenjot tubuhnya, gerakan kilat yang disertai salto ini cepat bukan main. Tahu-tahu tin-
junya sudah menghantam kaki kuda Kala Demit.
Praak
Kuda meringkik keras, tulang kaki bela-
kangnya hancur. Kala Demit melihat kejadian ini
terpaksa lepaskan tendangan, Suro lebih cepat
lagi melompat ke belakang. Serangan tidak men-
genai sasaran, Kala Demit langsung melompat da-
ri punggung kuda sebelum binatang tunggangan
itu tersungkur ke tanah.
Kini mereka saling serang dengan jarak
yang begitu rapat. Sekonyong-konyong Kala Demit
merubah jurus-jurus serangannya. Ia sempat
berputar dua kali, lalu sambil membentak keras
sikunya menghantam dada Suro. Sayang si ko-
nyol sudah berkelit, dadanya di miring-miringkan ke depan sedangkan kepala condong ke belakang.
Gerakan-gerakan seperti monyet ini dikenal den-
gan nama 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.
Wuuut
"Haes..."
Si pemuda sentakkan dadanya ke bela-
kang, sejurus kemudian kaki Kala Demit telah
menyodok ulu hatinya.
Des Des
Tubuh pemuda ini sempat terpelintir, na-
mun betapa cerdiknya pemuda bertampang keto-
lol-tololan ini. Ia berputar setengah lingkaran sebelum punggungnya jatuh ke tanah belakang tu-
mitnya menghantam pinggang lawan pula.
Buuk
"Huugkh"
"Bangsat Ternyata kau masih dapat juga
cari selamat Heaa..." Kala Demit katupkan bibirnya rapat-rapat. Tiba-tiba saja ia memutar-mutar kedua tangannya di atas kepala. Tubuhnya meliuk sedemikian rupa, dua kali ia jungkir balik.
Dan.... Wuut
Hantaman yang mengarah rusuk kiri lu-
put. Suro membalas dengan melepaskan tendan-
gan pula.
Wuss
Ternyata serangan balasan yang dilaku-
kannya juga tidak mengenai sasaran. Suro sem-
pat tertegun sambil leletkan lidah. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada lawannya. Gerakan
orang ini mirip dengan gerakan perempuan. Apa-
kah Kala Demit mempelajari ilmu-ilmu baru yang
membuat sifat dan tingkah lakunya seperti seo-
rang wanita?
Tidak ada waktu lagi bagi Suro Blondo un-
tuk berpikir lebih jauh. Kala Demit lepaskan pu-
kulan 'Pemusnah Raga Penebus Jiwa'. Kala Demit
membalikkan punggung tangannya, dari bagian
punggung tangan itu tiba-tiba saja menderu segu-
lung angin topan disertai hawa panas bukan
main. Si Buta Mata Kejora terpaksa melompat
dan menyingkir. Udara di sekeliling tempat itu terasa panas bukan alang kepalang.
"Manusia setan ini benar-benar ingin me-
rampas nyawaku Apa boleh buat, hmm..." Suro mengadu kedua telapak tangannya. Lagi tangan
kiri kanan diangkatnya sejajar dengan wajah. Se-
telah itu secepat kilat didorongkannya ke depan.
Zzzzzzzt
Sontak terdengar suara jeritan di mana-
mana. Sinar merah hitam menderu, suasana pa-
nas semakin bertambah panas berganda. Deru
kedua pukulan tersebut sudah tidak dapat diben-
dung-bendung. Kemudian terjadilah ledakan yang
sangat keras sekali.
Bluaar
"Akh..."
Kala Demit sempat tergontai-gontai, bibir-
nya meneteskan darah. Ada bagian wajahnya
yang sempat terobek. Ia tidak ingin hal ini dilihat oleh lawannya. Itulah sebabnya selagi debu panas masih menutupi udara. Selagi lawannya berusaha
bangkit berdiri dengan menahan luka dalam dan
pakaian robek besar di dada kiri. Kala Demit me-
ninggalkan kalangan pertempuran.
Apa yang dilakukan oleh lawan ternyata
sempat dilihat oleh Pendekar Mandau Jantan ini
sehingga ia berteriak sambil mengejar.
"Setan hina dina, tidak akan kubiarkan
kau lolos dari tanganku untuk yang kedua ka-
linya" Si Buta Mata Kejora pun mengikuti Suro, tapi ia kalah cepat dari pemuda itu. Ternyata Kala Demit tanpa menoleh-noleh lagi terus melarikan
diri. Ia tidak perduli dengan teriakan Suro. Tam-paknya ia memang sengaja melarikan diri melalui
jalan berbatu yang sempit lagi sulit. Hingga ke-
mudian ia menghilang di balik gundukan batu
besar. "Heh, baru saja ia lewat sini. Mengapa tiba-tiba saja bisa menghilang seperti setan?" batin Suro dengan kening berkerut. "Mustahil aku tidak melihatnya jika ia lari ke lain tempat. Kala Demit, bagaimana pun manusia bukanlah setan. Aku harus mencarinya sampai dapat"
Suro Blondo berputar-putar mengitari se-
keliling batu. Rasanya tidak ada tempat yang da-
pat dijadikan persembunyian Kala Demit. Sekali
lagi ia berputar, lalu terlihat olehnya sebuah pun-dasi panjang seperti sebuah makam berbatu.
"Ada makam? Makam siapa? Cuma ada sa-
tu makam di sini" kata Pendekar Blo'on.
Duk Jduk Duk
"Tolong... siapapun yang ada di luar sana,
tolonglah" rintih sebuah suara dari balik makam tersebut. Kejut pemuda ini bukan alang kepalang.
"Siapa? Mengapa bisa sampai terkubur di
situ?" tanya Suro, lalu garuk-garuk kepala, bingung. "Seseorang telah menguburkan aku di sini.
Tolonglah, aku sudah hampir tidak dapat berna-
fas" sahut sebuah suara di balik makam batu.
Terdorong oleh rasa ingin menolong dan
mengingat mungkin perempuan itu telah dijeru-
muskan oleh Kala Demit ke makam batu itu. Ma-
ka Pendekar yang besar di gunung Mahameru itu
segera datang menghampiri.
Namun baru saja ia menginjak ujung ma-
kam batu, makam tersebut langsung melesat ke
dalam. Suro yang dalam keadaan berjongkok ti-
dak sempat lagi menyelamatkan diri.
"Awaaaas Jebakan" teriak sebuah suara.
Namun terlambat, bayangan putih tadi bahkan
berusaha menyambar punggung Suro. Namun
sangat disayangkan daya luncuran lebih cepat la-
gi. Ketika sosok bayangan putih hendak masuk ke
dalam lubang tersebut. Maka batu menutup kem-
bali. Blaaang
"Heh..."
Bayangan putih itu ternyata adalah seo-
rang gadis berkerudung ia menghela nafas den-
gan wajah diwarnai perasaan cemas.
"Aku baru melihatnya, nasib celaka apa
yang terjadi padanya? Bagaimana aku harus me-
nolong jika sudah begini?" Si gadis mengeluh, hatinya menjadi masgul.
"Suro... Pendekar tolol, kemana engkau?"
kata sebuah suara. Si gadis cepat menoleh.
"Astaga" serunya ketika ia melihat di depannya berdiri seorang kakek bermata buta.
"Aku mencium bau perempuan. Siapa
kau?" tanya Si Buta Mata Kejora.
"Kakek, apakah kau sahabatnya Pendekar
Blo'on, Suro Blondo?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Dewi Kerudung Putih. Untuk lebih jelasnya dalam Episode Bayang-Bayang Kematian.
"Kau mengenalnya, apakah kau juga saha-
batnya?"
"Begitulah Suro memang sahabatku, su-
dah lama aku mencarinya" Lalu Dewi Kerudung Putih memperkenalkan diri termasuk menyebut
asal usulnya dari pantai selatan.
"Lalu sekarang kemana pemuda gendeng
itu? Aku tidak melihat dia berlari mengejar Kala Demit kesini?" jelas Si Buta Mata Kejora.
Dek
Berdebar dada si gadis. Selalu saja ia me-
rasa tidak enak bila ada orang menyebut-nyebut
Kala Demit. Dan ia sadar betul kalau Suro benar-
benar menghendaki nyawa Kala Demit karena to-
koh sesat itu telah membunuh orang tuanya di
gunung Bromo.
"Aku pun baru melihatnya, barusan ia
mendekati makam batu ini. Aku tidak tahu siapa
yang hendak ditolongnya dan apa yang menarik
perhatiannya. Tiba-tiba makam batu amblas ke
bawah. Ia terperosok ke dalamnya, aku tidak
sempat menolong. Maafkan aku..." kata Dewi Kerudung Putih.
"Ah... ah... celaka... ini adalah Liang Lahat Bakutuk. Dia telah terperangkap. Siapa yang
menjebaknya? Kaaau..." Si Buta Mata Kejora menggembor marah.
TUJUH
Betapa berubahnya wajah Si Buta Mata Ke-
jora melihat kenyataan ini. Liang Lahat Bakutuk
entah apapun yang berada di dalamnya tetap me-
rupakan bahaya besar yang dapat mengancam
keselamatan Pendekar Blo'on. Lalu siapa gadis
ini? Jangan-jangan ia hanya mengaku-ngaku se-
bagai sahabatnya Suro Blondo, padahal dialah
yang telah menjerumuskan Suro ke dalam Liang
Lahat Bakutuk. Siapa dapat menduga isi hati
manusia?
"Anak gadis orang berkerudung Apakah
aku bisa percaya dengan penjelasanmu ini. Seta-
huku dia tadi mengejar Kala Demit, orang itu
menghilang lalu muncul engkau. Bagaimana aku
tidak curiga?" kata Si Buta Mata Kejora. Ucapan si kakek buta tentu membuat marah Dewi Kerudung Putih.
"Orang tua, memang diantara kita baru sal-
ing kenal. Tapi antara aku dan Suro sudah lama
saling mengetahui siapa diri masing-masing. Kau
tidak perlu bercuriga padaku. Seandainya Liang
Lahat ini dapat terbuka aku pasti orang pertama
yang akan menyusul ke dalam untuk mengetahui
bagaimana keadaannya"
Penjelasan Dewi Kerudung putih ini ru-
panya masih juga kurang bisa diterima oleh Si
Buta Mata Kejora. Ia bingung karenanya menjadi
ragu untuk dapat membedakan siapa kawan dan
siapa lawan. Si kakek kemudian bicara dengan
suara lantang.
"Maafkan aku, untuk percaya pada orang
lain bagiku sangat sulit sekali, apalagi orang itu baru saja kukenal."
"Jika kau tidak mau mempercayai ucapan
manusia, siapa lagi orang yang kau percayai da-
lam hidup di dunia ini?" dengus Dewi Kerudung Putih. "Entahlah" Si Buta Mata Kejora gelengkan kepala ragu. Sekonyong-konyong dan di luar du-gaan tiba-tiba saja, tinjunya menderu dan meng-
hantam wajah si gadis.
"Hait Apa-apaan kau...?" teriak Dewi sambil mengelakkan serangan si kakek buta.
Wuut
Serangan kilat itu lewat sejengkal di atas
kepala Dewi Kerudung Putih. Serangan pertama
luput, si kakek lepaskan tendangan kilat pula.
Angin keras menyambar, Dewi saking kesalnya
langsung menangkis dengan siku kiri.
Duuk
Dewi Kerudung Putih terhuyung ke bela-
kang, Si Buta Mata Kejora sempat tergetar tu-
buhnya. Bagian kakinya terasa linu seperti orang yang terserang penyakit reumatik.
"Lebih baik kau hentikan perkelahian gila
ini" seru si gadis, marah bercampur cemas. Ma-
rah karena si kakek tidak dapat membedakan la-
wan dan kawan. Cemas karena ia menghawatir-
kan keselamatan Pendekar Blo'on.
"Mana bisa, sebelum aku tahu siapa kau
yang sesungguhnya" Si Buta Mata Kejora tetap ngotot. "Orang tua gila. Otakmu benar-benar sudah tidak dapat kau pergunakan untuk berfikir.
Atau kau memang orang sinting yang gila berke-
lahi?" "Terserah apa pendapatmu, yang jelas aku tidak mau tahu sebelumnya benar-benar bersih
sebagai kawan atau lawan" sahut Si Buta Mata Kejora. "Hiiih..."
Kakek buta sekonyong-konyong melompat,
tangannya mencengkeram wajah Dewi Kerudung
Putih. Namun si gadis melompat, lalu lepaskan
pukulan 'Badai Seribu'. Sebagaimana telah sama-
sama kita ketahui (dalam Episode Bayang-Bayang
Kematian), Dewi Kerudung Putih adalah gadis
aneh yang lebih suka tinggal di atas perahu.
Kini serangan menderu, hawa dingin men-
cucuk disertai meluncurnya sinar putih. Sebuah
pukulan yang tidak dapat dianggap enteng, na-
mun Si Buta Mata Kejora menyampok dengan
ujung lengan bajunya.
Byaar
"Uth..."
Si Buta Mata Kejora yang semula men-
ganggap enteng serangan lawan sempat ter-
huyung. Ujung lengan bajunya robek dan seperti
ada ratusan batang jarum menusuk-nusuk da-
gingnya. Menggigil tubuh si kakek, ia kerahkan
tenaga dalam untuk mengusir hawa dingin terse-
but. Dalam hati ia memuji kesaktian yang dimiliki oleh lawannya.
"Sudah kubilang, hentikan kakek buta?
Apakah tidak terlintas dalam benakmu bagaima-
na nasib Pendekar Blo'on saat ini?" lagi-lagi Dewi Kerudung Putih berteriak memperingatkan.
"Aku belum lagi kalah Mana aku bisa di-
ajak bicara?" kata Si Buta Mata Kejora.
Sesabar-sabarnya Dewi Kerudung Putih,
tentu lama-kelamaan menjadi gusar juga. Ia sa-
lurkan tenaga dalam ke bagian tangannya, tangan
itu digerakkannya ke bawah, lalu ia tarik ke atas dan kemudian dihantamkannya ke arah lawan.
"Gelora Laut Selatan'" teriak si gadis menyebut nama pukulan yang dilepaskannya.
Wuusss
"Walah, pukulan yang keji" dengus Si Buta Mata Kejora. Laki-laki tua ini angkat tangannya
tinggi-tinggi lalu dirangkapkan di atas kepala. Begitu kedua tangan menyatu, maka berpijarlah se-
baris sinar kuning, lalu melesat ke depan dengan kecepatan berganda. Benturan keras tidak dapat
dihindari lagi.
Terjadi letupan, dua sosok tubuh tampak
terpental. Satu semburkan darah, sedangkan sa-
tunya lagi menggeliat di atas tanah seperti orang yang meregang ajal.
"Ha ha ha... Keluar juga kecap dari dada-
ku, bocah? Tapi kurasa kau juga menderita luka
dalam, kepalang tanggung mengapa kita tidak
mengadu jiwa sekalian?" ejek Si Buta Mata Kejora.
"Setan alas Tua bangka buta ini keras ke-
pala sekali" maki Dewi Kerudung Putih. Ia terpaksa berguling-guling ketika merasakan adanya
sambaran angin melabrak tubuhnya.
Wuut Wuut
Buum Buum
Pukulan yang dilepas oleh Si Buta Mata
Kejora hanya mengenai angin. Melabrak batu po-
hon di belakangnya hingga hancur berantakan.
Dewi Kerudung Putih tidak dapat membayangkan
bagaimana jika dirinya yang terkena serangan itu.
Setelah gagal untuk yang kesekian kalinya,
Si Buta Mata Kejora memang seperti tidak puas.
Tiba-tiba saja ia mencabut senjata aneh berben-
tuk bulan sabit. Senjata itu cara penggunaannya
adalah dengan dilemparkan setelah diputar-putar
lebih dulu. Dan memang itulah yang dilakukan
oleh Si Buta Mata Kejora saat ini.
Siing
Senjata aneh tersebut membelah udara,
berputarnya di udara sedemikian cepat, Dewi Ke-
rudung Putih siap mencabut senjatanya ketika
menyadari betapa berbahayanya serangan senjata
maut itu. Namun tiba-tiba saja dalam keadaan
yang menegangkan demikian, terdengar suara
ringkikan kuda yang panjang. Terlihat pula
bayangan putih berselempang putih berkelebat.
Tap
Senjata maut berbentuk aneh itu ditang-
kap oleh bayangan tadi. Si Buta Mata Kejora wa-
lau tidak melihat namun terkejut sekali melihat
kenyataan ada orang dapat menangkap senjata
mautnya selagi masih melayang dan berputar di
udara. Sementara kuda berlari cepat mendekat,
sehingga ketika tubuh bayangan putih melayang
turun, dalam sekejapan mata saja sudah berada
di atas punggung kuda putihnya. Senjata beng-
kok seperti bulan di timang-timang di atas tela-
pak tangan yang putih halus seperti sutera.
Laki-laki berambut putih, berkumis dan
berjenggot putih memandang ke arah kakek buta
dengan tatapan mata aneh. Si Buta Mata Kejora
kedip-kedipkan matanya.
"Aku tidak melihat, tapi aku dapat merasa-
kan ada orang yang datang kesini Perkenalkan
namamu, atau engkau masih ada hubungan ter-
tentu dengan gadis itu?" tanya si kakek dingin.
"Hhm, aku Datuk Nan Gadang Paluih Da-
tang dari jauh tanah Andalas mencari si terkutuk Ratu Leak. Kulihat bukan matamu saja yang bu-ta, tapi hatimu juga dipenuhi angkara murka
Gadis itu tidak bersalah, mengapa kau menye-
rangnya mati-matian dan hendak pula membu-
nuhnya?" dengus si baju putih Selempang Putih.
"Terlalu banyak penderitaan dan kesengsa-
raan membuatku marah. Terlalu banyak kutukan
membuat aku mudah curiga pada siapa saja."
"Kecurigaan yang membabi buta Kalau
kau merasa tidak mampu menguasai amarahmu,
silahkan kau tumpahkan emosimu atasku Aku
ingin melihat seberapa hebat ilmu-ilmu sakti
orang Sange" tantang sang Datuk.
Si Buta Mata Kejora tidak langsung menja-
wab. Salah satu kehebatan orang dari Andalas ini tentu dibuktikan dengan menangkap senjata miliknya ketika masih melesat di udara. Dan men-
gingat nada ucapannya yang seakan membenci
Ratu Leak. Rasanya orang ini pun punya urusan
penting dengan perempuan yang telah menjatuh-
kan kutuk itu.
"Maaf, aku mempunyai dua kali kebutaan
karena tidak melihat tingginya gunung Agung di
depanku. Sebenarnya aku menghawatirkan nasib
sahabat baruku, Pendekar Blo'on. Ia terjebak di
Liang Lahat Bakutuk Karena kulihat gadis itu berada disini, maka aku bercuriga padanya jangan-
jangan ia mata-mata Ratu Leak..." jelas si kakek buta. "Adanya Liang Lahat Bakutuk bermula dari Batu Lahat Bakutuk. Sekarang ini terciptalah neraka terkutuk karena batu batuah itu jatuh ke
tangan orang yang salah. Sebuah liang lahat,
hemm... dimanakah tempatnya?" tanya Datuk
Nan Gadang Paluih.
Dewi Kerudung Putih tanpa diminta lang-
sung menunjuk ke arah makam tanpa nisan den-
gan dasar seperti batu pelataran berwarna putih.
Si laki-laki datang mendekati.
"Liang lahat ini besarnya seribu kali dari
besarnya batu Bakutuk milikku yang dicuri Ratu
Leak Sebuah adi kesaktian turun temurun yang
diwariskan kakek buyutku. Kini aku harus me-
rampasnya sebelum merenggut korban lebih ba-
nyak lagi." batin Datuk Nan Gadang Paluih.
"Bagaimana orang tua? Apakah kita dapat
menjebol makam batu ini?" tanya Dewi Kerudung Putih tidak sabar.
Datuk Nan Gadang Paluih gelengkan kepa-
la. "Kurasa sahabatmu sengaja dipancing oleh lawannya untuk mendekati jebakan ini. Liang lahat
ini tidak mungkin dibuka, terkecuali dengan Batu Lahat Bakutuk pula. Tapi di dunia ini cuma satu
Batu Lahat dan yang cuma satu-satunya itu telah
dicuri oleh Ratu Leak kurang lebih sekitar tiga
puluh lima tahun yang silam" jelas si Datuk.
"Bagaimana nasib kawanku?" tanya si gadis semakin khawatir.
"Itu yang sulit, nasib manusia tidak seo-
rang pun yang tahu. Dengan batu itu Ratu Leak
bisa punya seribu rencana."
"Biar aku bobol Makam terkutuk celaka
ini" dengus Si Buta Mata Kejora.
Datuk Nan Gadang Paluih sama sekali ti-
dak mencegah, ia sadar betul usaha apapun yang
dilakukan kakek keras kepala ini tidak akan
mendatangkan hasil. Sebab sepengetahuannya
pula tidak ada pukulan sakti manapun yang
mampu menghancurkan barang-barang yang ter-
cipta dari Tuah Batu Lahat Bakutuk
Sementara itu Si Buta Mata Kejora sudah
siap melepaskan pukulan saktinya. Sebentar saja
kedua tangannya telah berubah memerah. Si Bu-
ta Mata Kejora tiba-tiba saja hantamkan kedua
tangannya ke arah liang lahat di depannya.
Terjadi guncangan yang sangat keras seka-
li, kilatan sinar merah berbalik dan nyaris menghantam pemiliknya jika saja ia tidak cepat mem-
buang diri dan berguling-guling.
Si Buta Mata Kejora gelengkan kepala den-
gan wajah sepucat mayat. Dadanya terguncang
dan jantung berdenyut lebih keras lagi. Sayang
kakek yang keras kepala ini tidak mengenai rasa
jeri, walau pada kenyataannya batu liang lahat
selebar setengah depa dan sepanjang dua meter
tidak mengalami kerusakan walau sedikit pun.
"Aku harus mencobanya lagi" berseru si kakek, penasaran.
"Kau tidak akan dapat merubah sesuatu
apa pun. Apa yang kau lakukan hanya akan sia-
sia saja" Datuk Nan Gadang Paluih memperingatkan. Percuma saja peringatan itu bagi kakek
dekil ini. Ia kembali menyiapkan pukulan 'Angin
Biru'. Orang-orang di Sange tahu pasti kehebatan pukulan yang satu ini.
"Huuup..."
Si Buta Mata Kejora tarik kedua tangannya
ke belakang. Tiba-tiba saja kedua tangannya di-
hantamkannya ke hamparan batu liang lahat di
depannya.
Wuuuk
Duuumm
Wuaas
Si Buta Mata Kejora menjerit histeris, tu-
buhnya terdorong ke belakang. Mulutnya me-
nyembur darah, orang ini terkapar terhantam pu-
kulannya sendiri. Nafas Si Buta Mata Kejora me-
gap-megap, Datuk Nan Gadang Paluih datang
menghampiri.
"Banyak sekali orang celaka di dunia ini
termakan tulah sendiri. Kepandaian sebesar ke-
lingking mana bisa mengungkit gajah Dasar bo-
doh keras kepala pula..." gerutu Sang Datuk.
"Bagaimana keadaannya, Datuk?" tanya
Dewi Kerudung Putih.
"Ini namanya mampus tidak hidup pun se-
gan. Anak dara, menjauhlah. Aku akan mengoba-
tinya" ucap Datuk Nan Gadang Paluih tegas. Salah satu tokoh dari Andalas ini kemudian men-
gambil batu sebesar lengan.
"Hendak kau apakan dia Datuk?" Si gadis merasa khawatir kalau orang berbaju putih berselempang putih ini malah mencelakai Si Buta Mata
Kejora. Sehingga ia pun melompat menghadang.
"Anak kuciang Menyingkir kataku, dia su-
dah mau mampus Kalau tidak cepat kutolong
aku khawatir darah semakin menggumpal di se-
tiap pembuluh darahnya." bentak sang Datuk.
Meskipun ragu-ragu Dewi Kerudung Putih ter-
paksa mematuhi perintah orang ini
Datuk Nan Gadang Paluih menelung-
kupkan badan Si Buta seenaknya sendiri. Kemu-
dian batu yang berada dalam genggamannya di-
hantamkan ke sekujur tubuh Mata Kejora. Tentu
orang ini menjerit-jerit kesakitan seperti orang yang sekarat. Namun Datuk Nan Gadang Paluih
sama sekali tidak menghiraukan jeritan kakek
buta. Ia terus memukul-mukul tubuh si kakek.
"Aaakh... celaka, kau orang gila Mengapa
kau malah memukuli badanku, apakah kau hen-
dak membunuhku?" teriak Si Buta Mata Kejora.
"Diam, kau orang yang hendak mampus
tahu apa? Penyakitmu kau cari sendiri. Aku lebih tahu apa yang tidak kau ketahui" dengus sang Datuk. "Kau mengobatiku, mengapa harus me-nyiksa seperti ini?" jerit si kakek manakala han-taman batu di tubuhnya tidak juga berhenti.
"Mulutmu bisa diam atau nggak? Apa kau
ingin agar aku memukul mulutmu dengan batu
juga?" "Kau orang gila?" maki si kakek.
Plok
"Akh..." Si Buta Mata Kejora menjerit. Datuk Nan Gadang Paluih rupanya menampar pipi si
kakek. Sementara itu darah mengalir di sudut-
sudut bibir si kakek. Seketika ia merasa ada pe-rubahan dalam dirinya. Ia merasakan nafas men-
jadi longgar, tubuh terasa enteng. Diam-diam ia
merasa takjub atas apa yang dilakukan oleh Da-
tuk Nan Gadang Paluih. Rupanya saat memukuli
si kakek tadi, Datuk Nan Gadang Paluih diam-
diam mengerahkan tenaga dalam untuk meng-
hancurkan darah yang bergumpal pada setiap
pembuluh darah Si Buta Mata Kejora, hingga sa-
kit mendera yang dirasakannya hampir hilang
sama sekali.
"Ohk, ternyata kau orang hebat" puji Si Buta Mata Kejora. "Aku merasa berterima kasih padamu" kata si kakek.
"Mengapa kau malah memikirkan segala
terima kasih? Batuku, batuku Batu Lahat Baku-
tuk. Aku harus memikirkan cara bagaimana agar
dapat menembus penutup liang Lahat ini?" desis laki-laki setengah baya itu cemas. Bukan hanya
Datuk Nan Gadang Paluih saja yang bingung,
Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora ju-
ga bingung memikirkan nasib Pendekar Blo'on.
DELAPAN
Suro seperti tercampak ke jurang neraka
yang panas di lamun api. Liang Lahat yang men-
jebloskan dirinya dalam perangkap maut itu sea-
kan tanpa dasar, gelap dan di sana sini terdengar suara jeritan mengerikan. Suara-suara itu terus
terdengar menggidikkan telinga yang mendengar-
nya. Dan hal itu berlangsung terus selama tu-
buhnya melayang dan melayang. Hingga akhirnya
ia terjatuh. Jatuh di atas daging busuk terbakar.
Di sana sini terdapat bangkai-bangkai yang ber-
timbun, mayat-mayat itu semuanya sudah han-
cur. Sungguh aneh memang jika mereka ternyata
masih bertahan hidup. Orang-orang sengsara
yang berada di jurang liang lahat itu entah siapa dan entah datang dari mana. Namun kelihatannya mereka mengalami berbagai-bagai penyik-
saan. Sosok-sosok setengah mayat setengah ma-
nusia ini menggapai-gapai ke arah Suro. Melihat
pemandangan yang mengerikan itu tengkuk Pen-
dekar Blo'on meremang berdiri.
Ia bergerak mundur, ruangan di dasar
liang lahat itu seakan tidak mengenal batas.
"Siapakah mereka? Apa sekarang aku su-
dah mati?" pikir Suro, bingung. Pemuda baju biru mencubit tangannya. Terasa sakit sekali, "Jelas aku belum mati. Aku masih hidup, segar bugar
dan belum sinting"
"Hraagk"
"Harrk..."
Di tengah-tengah suara jerit kesakitan itu
tiba-tiba saja terdengar erangan panjang di belakangnya. Suro cepat menoleh, dalam kegelapan ia
melihat beberapa sosok tubuh berlidah panjang
bermata bolong mendekatinya. Bukan hanya
mendekat, ternyata mereka menyerang Pendekar
Blo'on. Suro berlari menghindar di tengah-tengah kerumunan manusia mayat yang sedang mengalami bermacam-macam siksaan. Ternyata manu-
sia-manusia setengah mayat yang menyerangnya
tidak melakukan pengejaran. Suro sampai di ten-
gah-tengah orang yang kaki dan tangannya diran-
tai, sementara besi panas menembus mulai dubur
sampai ke bagian ubun-ubun. Begitu ngerinya
melihat penderitaan mereka. Suro sampai meme-
kik-mekik tertahan.
"Aku seperti berada di dalam neraka
Ohk... bagaimana ini Aku harus mencari jalan
keluar" Suro garuk-garuk kepala, bingung. Di tengah-tengah kebingungannya itulah sayup-sayup terdengar suara yang seakan datang dari
arah gemuruh api yang menyala-nyala di sisi ki-
rinya. "Suro Blondo Pendekar Blo'on, Hi hi hi...
Selamat datang di tempat kami. Bukankah kau
dapat merasakan penyambutan kami yang sangat
ramah?" Seperti orang linglung Suro memandang ke arah suara. Ia tidak melihat apa-apa terkecuali orang yang sedang disiksa.
"Ya, penyambutanmu sangat luar biasa.
Ketakutanku membuat aku ingin kencing, kenge-
rianku membuat aku ingin berak. Tempat apakah
ini?" tanya Suro keluarkan keringat dingin.
"Inilah salah satu singgasana untuk seo-
rang tamu agung sepertimu..." sahut suara yang seakan datang dari tengah kobaran api disertai
tawa dingin menggidikkan.
"Kau siapa?" bentak Suro, seraya menutup hidungnya. Bau busuk bangkai memang sangat
menyengat sekali. Sehingga Suro mau muntah
dan kepalanya pusing tujuh keliling.
"Aku bukan siapa-siapa?"
"Kau iblis terkutuk" maki Suro geram.
"Tindakanmu sangat pengecut. Kau telah menje-bakku secara licik"
"Hik hik hik... Hari ini kulihat seorang
Pendekar Besar dalam keadaan ketakutan. Hari
ini kulihat betapa wajah seorang Pendekar beru-
bah pucat seperti mayat. Engkau akan mati pe-
lan-pelan dalam ketakutan"
"Setan Kau..." Suro tidak sempat melan-jutkan kata-katanya karena dari arah belakang
ada sepasang tangan busuk meneteskan nanah
dan lendir menyergapnya. Lalu dari depan, dari
samping kiri datang beramai-ramai.
"Ekh... Mati aku emak, setengah manusia
setengah mayat ini mencekikku. Ekh... mati
emak..." pekik Suro. Ia pun meronta-ronta. Jepi-tan sosok-sosok busuk semakin kuat saja. Dari
balik kobaran api terdengar suara cekikikan.
Suro marah, ia meronta, lalu hantamkan
sikunya kanan kiri. Dua orang yang memitingnya
dengan tangan terpental. Pendekar Blo'on terus
meronta-ronta. Hingga orang-orang yang menye-
rangnya berpelantingan roboh. Mereka bangkit
kembali, dan entah dari mana datangnya jumlah
mereka semakin bertambah banyak.
"Aku tidak mungkin membuang tenaga
dengan percuma. Yang aku butuhkan saat ini
adalah jalan keluar dari neraka ini" guman Suro dalam hati. Pemuda ini segera berlari ke ruangan lain. Setiap ada yang menghadangnya ia lepaskan
pukulan menggeledek.
Tapi langkah Suro tiba-tiba terhenti, di de-
pannya ia melihat seperti ada sungai. Sungai yang airnya tidak mengalir sama sekali, air sungai itu
berwarna merah kekuning-kuningan
"Orang-orang tersiksa, bunuh pemuda
yang bergelar Pendekar Mandau Jantan itu"
Kembali terdengar suara mengguntur bernada pe-
rintah. Dari segala penjuru ruangan yang gelap
namun panas itu bermunculan sosok setengah
mayat setengah manusia menyerbu ke arah Suro.
Pemuda ini tercekat.
"Naga-naganya aku bisa mati konyol jika
harus melayani mereka" maki si pemuda.
"Bunuh Bunuh" terdengar suara ribut-
ribut memerintah. Lalu terdengar sahutan yang
lainnya.
"Bunuh, jadikan dia teman kita dalam pe-
nyiksaan"
Orang-orang yang menyerbu ke arah Suro
semakin bertambah banyak saja. Pemuda ini ter-
paksa lepaskan pukulan sakti secara beruntun.
Orang-orang yang mengalami berbagai macam
penyiksaan ini berpelantingan. Suro memang me-
rasa tidak punya pilihan lain lagi. Ia segera melompat ke sungai yang membelah tengah-tengah
ruangan.
"Ukh... Hoeeeek..."
Pendekar Blo'on langsung muntah. Air
sungai itu ternyata terdiri dari campuran nanah
dan darah yang busuk. Dalamnya sampai sebatas
leher. Suro memaki-maki. Dari kobaran api ter-
dengar suara tawa cekikikan. Tokh akhirnya Pen-
dekar Blo'on dapat juga sampai ke seberang. Pe-
muda ini lalu berlari ke lain tempat. Ternyata di
seberang sungai ini pun ruangannya sangat luas
tanpa batas. Setelah berjalan ke sana kemari, ia melihat seperti ada cahaya.
"Matahari? serunya. "Ada cahaya matahari menerobos masuk ke sini. Berarti dunia luar tidak jauh lagi dari sini. Tapi dari mana aku bisa mengetahui jalan keluar bagiku? Tidak ada pintu
tidak ada jendela. Semua dinding berlumuran da-
rah..." Pemuda ini lalu meneliti, tiba-tiba ia melihat di antara dinding yang berlumuran darah itu
terdapat sebuah pintu yang terkuak lebar.
"Aneh, aku tadi tidak melihat pintu di su-
dut sana, mengapa pintu itu tiba-tiba saja ada?
Apakah aku salah melihat?" Suro garuk-garuk kepala. Pintu terkuak semakin lebar. Dari dalamnya muncul seorang gadis dalam keadaan polos
tanpa pakaian. Yang mengejutkan Suro, gadis itu
cukup dikenalnya. Dia tidak lain adalah Dewi Bu-
lan. Dewi Bulan berjalan ke arahnya sambil ter-
senyum. Darah muda Pendekar Blo'on berdesir,
keadaan gadis ini sangat menantang sekali. Sepa-
sang payudaranya putih membusung, kedua pa-
hanya demikian mempesona. Belum pernah Suro
melihat pemandangan seperti ini dalam hidupnya.
Untuk lebih jelasnya siapa Dewi Bulan (dalam Ep-
isode Hianat Empat Datuk).
"Bulan..." desis Suro, ia mengerjabkan matanya berulang-ulang. Dewi Bulan tiba-tiba saja lenyap dari pandangan matanya. Di depannya ki-ni berdiri Dewi Arimbi, keadaan gadis ini pun sa-ma seperti Dewi Bulan tadi. Untuk mengetahui
siapa Dewi Arimbi (dalam Episode Memburu Ma-
nusia Setan). Suro semakin terpana.
"Arimbi...??" Lagi-lagi Suro menyebut orang yang pernah dikenalnya. Ia usap matanya berulang-ulang. Sosok telanjang Dewi Arimbi tiba-tiba saja sirna. Kemudian berganti dengan sosok lain, seorang gadis juga. Gadis misterius yang sebagian wajahnya ditumbuhi bulu-bulu lembut. Siapa lagi
jika bukan Dewi Kerudung Putih.
"Gila, apa sesungguhnya yang sedang ter-
jadi dengan diriku?" desis Suro bingung. Ia men-jambak rambutnya. Dan tiba-tiba terdengar suara
teriakannya yang panjang melengking.
"Haaaarkh..."
Sosok Dewi Kerudung Putih pun lenyap.
Suro memandang lurus ke depan. Ia sempat ter-
kesiap, karena di depannya berdiri seorang gadis cantik, si betina jalang Mustika Jajar. Gadis itu menyeringai, ia berdiri tegak dengan kedua tangan bersilang di depan dada.
"Kkk... kau...?" Suro keluarkan seruan kaget. "Hik hik hik... Terkejut Pendekar Mandau Jantan keparat? Kau tentu menyangka tanganku
sudah tidak dapat tersambung lagi bukan? Man-
dau jahanam senjatamu memang telah memutus
tanganku. Tapi seperti yang kau lihat musuh be-
sarku. Sekarang aku tidak kekurangan sesuatu
apa pun Apa jawabmu kini setelah kau terpe-
rangkap dalam kekuatan Batu Lahat Bakutuk?
Apakah kau masih hendak memamerkan pukulan
atau jurus-jurus picisan yang kala itu sangat kau bangga-banggakan? Hik hik hik..." Sosok gadis yang ternyata Iblis Betina Dari Neraka, tertawa terkikik-kikik. Hilang sudah rasa kaget di hati Su-ro. Sekarang ia malah ikut-ikutan tertawa sambil menggaruk rambutnya berulang-ulang.
"Mustika Jajar perempuan yang penuh
keedanan. Apakah setelah kehilangan Perkasa
kau sekarang sudah mendapatkan yang lebih be-
sar lagi. Ha ha ha... kasihan juga nasib kekasih-mu yang patung itu. Sekarang aku dapat bayang-
kan betapa kesepiannya dirimu. Lagipula di dunia ini sulit mencari laki-laki sehebat dan sebesar
Perkasa. Aku pernah melihatnya sebelum kau
berhasil menguasainya dulu. Hebat, lho. Anu ga-
jah saja masih kalah besar" ejek Suro
Merah padam wajah gadis itu bukan kepa-
lang. Jika menuruti kata hatinya ingin rasanya ia melabrak Pendekar Blo'on. Tapi ia ingat pesan
uwa gurunya, Ratu Leak.
"Pemuda gila Tertawalah sepuasmu, nanti
kau akan menangis dalam penderitaan yang tidak
pernah dibayangkan oleh manusia manapun di
dunia ini..." teriak Mustika Jajar.
Suro sama sekali tidak terpancing dengan
ucapan Iblis Betina Dari Neraka. Mulut pemuda
itu tiba-tiba termonyong-monyong. "Penderitaan yang bagaimana kau maksudkan? Kata orang jika
sudah dalam pelukanmu bukan penderitaan yang
kudapatkan, tapi kebahagiaan berpacu dalam
nafsu. Aihk, perempuan keblinger. Sekarang aku
sedang bingung aku dan kau apakah sudah bera-
da di neraka atau sorga?"
"Inilah nerakamu, neraka bagi seorang
pendekar konyol Kau akan mampus, gurumu ju-
ga akan menyusulmu" maki si gadis.
"Ha ha ha... Ancamanmu itu sudah entah
yang keberapa kalinya kudengar. Sebelum aku
mati, maukah kau menjelaskan padaku siapa
yang melakukan pekerjaan licik ini? Dan eeh...
satu lagi, apakah kau melihat Kala Demit?" tanya Suro. "Nanti kau akan mendengar semua penjelasan setelah di neraka? Sekarang terimalah
ajalmu" tegas Iblis Betina Dari Neraka. Tiba-tiba terdengar suara suitan panjang dari bibirnya yang kemerah-merahan itu. Beberapa pintu lainnya segera terbuka. Tiga orang gadis berwajah bengis
dan sadis muncul. Mereka membawa tali penjerat
yang disimpul pada setiap bagian ujungnya.
"Tiga orang telah cukup untuk menjerat
leher, kaki tanganmu Rasanya belum komplit ji-
ka belum kuundang Sang Pelucut Segala Ilmu Se-
gala Daya" sinis suara Mustika Jajar.
Plok-plok-plok
Sebelum hilang gema suara tepukan Mus-
tika Jajar. Terdengar suara bergemuruh. Lantai
rupanya tergetar keras, lalu terjadi keretakan di sana sini. Getaran disertai ledakan-ledakan terus terjadi. Sehingga tampak sinar merah merekah
seperti bara.
"Haaang..."
Muncul sosok tubuh tinggi besar, bagian
kepalanya terdapat sebuah tanduk. Di ujung tan-
duk itu terdapat sinar berkilau-kilauan. Suro tertegak melihat semua keanehan demi keanehan
ini. Memandang ke arah sosok berkulit hitam
berwajah seperti kera Suro tutupi matanya. Entah makhluk apa yang baru keluar dari dalam bumi
ini. Matanya besar-besar, hidungnya lebar. Se-
dangkan mulutnya meneteskan darah. Ia hanya
mendengar sebentar tadi Iblis Betina Dari Neraka menyebut enam buah kata 'Sang Pelucut Segala
Ilmu Segala Daya'. Apa yang akan dilakukan oleh
makhluk kera ini? Apapun yang terjadi Suro ha-
rus bersikap lebih hati-hati.
"Suro, kau lihatlah, makhluk ini dan gadis-
gadis bengis itu hanya tinggal menunggu perin-
tahku. Sebuah kata kuucapkan, maka nasibmu
segera berakhir sampai disini saja" ancam Mustika Jajar.
"Sebuah ancaman tidaklah membuat nya-
liku ciut. Dan kematian bukanlah sesuatu yang
aku takuti. Kau bebas berbuat apa saja, karena
neraka ini memang mungkin daerah kekuasan-
mu Ha ha ha..."
"Tentu aku tidak bodoh, Suro. Kematianmu
tidak secepat itu, nanti sudah ada yang menga-
turnya. Sekarang tugas Penghela Neraka untuk
meringkusmu Laksanakan" perintah Mustika Jajar.
"Hem..."
Tiga gadis berpakaian serba hitam lang-
sung berpencar mengatur posisi. Suro dengan su-
dut matanya mengitarkan perhatiannya. Tahu-
tahu secepat bayangan....
Wuuut
Tiga buah tali bersimpul menjerat Pendekar
Blo'on. Serangan mendadak ini segera dielakkan
oleh Suro. Namun tiga gadis bengis kembali me-
lontarkan tali di tangan mereka. Sementara Mus-
tika Jajar dan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya memperhatikan semua ini dari jarak yang
tidak jauh.
Set
"Aih, hampir saja..." seru Pendekar Blo'on.
Pemuda ini terus melompat atau berkelit meng-
hindar. Tetapi serangan yang dilancarkan oleh ketiga gadis bengis ini semakin bertambah hebat
dan ganas. Sehingga Pendekar Blo'on terpaksa
mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh
Harimau'. Inilah salah satu jurus yang sangat
dikhawatirkan oleh Mustika Jajar, karena dulu ia juga pernah merasakan kehebatan jurus tersebut.
"Sergap" teriaknya memperingatkan gadis-gadis yang sedang berusaha meringkus Suro. Apa
yang diperintahkan oleh Mustika memang tidak
mudah untuk melaksanakannya. Karena beru-
lang kali tali berbentuk jerat bersimpul ini selalu mengenai bayangan Suro Blondo.
"Tebar" Si gadis kembali memberi aba-aba.
Seketika salah seorang dari mereka langsung me-
lesat ke udara. Yang satunya lagi menyerang dari bawah, sedangkan yang lainnya berputar-putar
mengitari Suro.
Wut Wut Wut
Serangan beruntun yang datang dari ber-
bagai arah ini membuat Suro tercengang. Ia sege-
ra berguling-guling, sehingga jerat tali yang dari atas lolos dari samping kiri juga lulus. Namun
yang dari arah belakangnya tidak dapat dihindari oleh pemuda ini.
Sreet
Buk
Bagaikan durian jatuh Suro terpelanting
dengan pantat menghantam lantai lebih dulu.
Pemuda ini meringis kesakitan, hatinya menyum-
pah. Kakinya yang terjerat tali disentakkan. Suro berguling-guling tangannya cepat melepaskan tali yang mengikat kaki kiri. Sayang gerakannya kalah cepat. Tali kembali meluncur dan kali ini
menjerat tangan kanannya.
Set
Bagaikan seekor kerbau yang hendak di-
jagal keadaan Suro Blondo saat itu. Mustika Jajar tertawa terkikik-kikik. Walau pun begitu pendekar Mandau Jantan tetap berusaha meronta.
Wuut
Sebuah tali yang dilontarkan gadis bengis
ketiga meluncur. Namun Pendekar Blo'on sudah
menghindar. Dua orang menarikkan tali yang
menjerat kaki kiri dan tangan kanan.
Buuuk
"Wadow, setan kapiran" maki Suro. Dalam keadaan yang serba sulit itu Suro menyalurkan
tenaga dalamnya kebagian tangan yang terbebas.
Gadis ketiga masih berusaha menjeratkan talinya
ke bagian tubuh lawan. Namun Suro licin seperti
belut. "Pentang" Perintah Iblis Betina Dari Neraka.
Dua gadis langsung menarik tali-tali yang
telah menjerat kaki dan tangan lawannya. Suro
yang merasa diperlakukan seperti hewan mengge-
ram marah.
SEMBILAN
Dengan kecepatan yang sangat luar biasa
sekali Pendekar Blo'on lepaskan pukulan 'Neraka
Hari Terakhir' ke arah tiga gadis berwajah angker ini. Terdengar suara jeritan di sana-sini. Sinar merah hitam menggebu.
Buum
Terjadi suara ledakan tiga kali berturut-
turut. Ketiga gadis itu menjerit kesakitan di saat hawa panas menghantam tubuh mereka. Sungguh pun orang-orang ini terluka, tetapi anehnya
mereka sudah bangkit berdiri. Lebih celaka tubuh mereka semakin meninggi. Si pemuda sempat tercengang melihat kejadian yang aneh ini. Ia sudah tidak punya waktu lebih lama. Tubuhnya masih
dalam keadaan terikat, maka melalui tangan yang
bebas itu ia mencoba mengambil Mandau dari
warangkanya.
"Jangan beri kesempatan padanya untuk
melakukannya" teriak Mustika Jajar memberi aba-aba. "'Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya'
Lakukanlah tugasmu"
Sosok berkulit hitam berwajah seperti mo-
nyet besar menggeram. Sinar merah yang keluar
dari ujung tanduknya langsung melesat bergu-
lung-gulung ke arah Suro. Pemuda ini gabungkan
dua pukulan, lalu hentakkan kedua tangannya ke
arah sinar merah yang datang menyerang secara
bergulung-gulung seperti angin puyuh tersebut.
Blak
"Ekh..."
Pendekar Mandau Jantan terkesiap. Puku-
lan "Neraka Hari Terakhir' yang dilepaskannya hanya membuat sosok hitam bertanduk merah ini
bergetar saja. Sedangkan pusaran angin sinar
merah terus melabraknya. Suro memekik terta-
han. Sedapat mungkin ia berusaha membebaskan
diri dari gulungan sinar tersebut. Tangan kanan
melepaskan pukulan. 'Matahari Rembulan Tidak
Bersinar' sedangkan tangan kiri lepaskan puku-
lan "Ratapan Pembangkit Sukma'.
Wus
Tup Tup
"Aih, celaka..." seru Suro. Pukulan yang dilepaskannya seakan amblas tersedot sinar yang
keluar dari tanduk makhluk berwajah monyet
tersebut. Pontang-panting pemuda ini selamatkan
diri. Pak Pak
Sinar merah tiba-tiba menyergap dan meli-
batnya. Suro meronta, sekujur tubuhnya tiba-tiba seperti diperas mulai dari ujung kaki. Pemuda
konyol ini menjerit setinggi langit seluruh badannya menggeletar hebat, ia merasa seperti ada be-
ribu tangan gaib yang meremasnya dengan keku-
atan yang semakin menggila. Remasan itu kian
lama bergerak ke arah perut, dada dan akhirnya
ke sekujur tubuh. Telinga, hidung dan mulut
Pendekar Blo'on mengucurkan darah. Suro mera-
sa pandangan matanya berkunang-kunang, tu-
buh tidak bertenaga dan pandangan mata kemu-
dian menggelap hingga akhirnya ia tidak sadar-
kan diri.
Iblis Betina Dari Neraka tertawa bergelak.
Tiga gadis berwajah angker segera mementang
tangan, kaki Pendekar Blo'on ini ke empat juru-
san. "Bawa dia ke ruangan pengadilan" ucapan Mustika Jajar ditujukan pada tiga gadis yang dikenal sebagai 'Juru Siksa'. Orang-orang ini segera menyeret dengan kasar lawan mereka. Mustika
Jajar lalu menoleh ke arah 'Sang Pelucut Segala
Ilmu Segala Daya'. Seraya berkata "Kau datang dari dasar Neraka Perut Bumi atas panggilan Ba-tu Lahat Bakutuk. Kau tidak boleh kembali ke
tempat asalmu sebelum Ratu Leak memberimu
izin. Mulai sekarang tugasmu adalah merintangi
tokoh-tokoh golongan putih yang mana pun yang
coba-coba memasuki Liang Lahat Bakutuk ini.
Adakah kau mengerti?"
"Aku mengerti..." sahut Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sambil menggeram.
"Nah disinilah tempatmu Jangan pergi ke
mana pun sebelum ada perintah dariku atau pe-
rintah dari Ratu Leak..." tegas Mustika Jajar.
Sosok hitam berwajah seperti monyet besar
bertanduk merah memancarkan cahaya angguk-
kan kepala sambil menggeram pula.
Mustika Jajar tanpa menunggu lebih lama
segera meninggalkannya. Suasana pada bagian
ruangan itu berubah menjadi sunyi. Mungkin pa-
da ruangan-ruangan lain yang seperti neraka itu
penyiksaan terus berlangsung.
***
Datuk Nan Gadang Paluih duduk menekur
di atas bahu, kuda putihnya berdiri tegak tidak
jauh di sampingnya. Ia memang sedang bingung
memikirkan cara bagaimana agar dapat menem-
bus Liang Lahat Bakutuk. Rasanya jalan keluar
itu memang sulit dicari. Tapi jika ia tetap berdiam diri, keadaan akan bertambah lebih parah lagi.
Ratu Leak bisa menjebak mereka semua. Batu
Lahat Bakutuk mempunyai kekuatan yang sung-
guh dahsyat. Dengan kekuatan yang terkandung
dalam batu tersebut. Ratu bisa berbuat apa saja
"Rajo di atas rajo. Batu Lahat Bakutuk
adalah rajanya batu-batu gaib. Siapa sangka uru-
san bisa menjadi begini rumit? Sekarang orang-
orang sakti tidak ubahnya seperti sampah. Ratu
Leak punya kuasa, tanpa Batu Lahat Bakutuk.
Seribu Ratu Leak tidak kupandang sebelah mata.
Bangsat, jauh-jauh dari Ngarai Sianok hanya ber-
pusing-pusing memikirkan nasib si batu."
"Putih Kaki Langit..." gumannya ditujukan pada kuda di sampingnya. "Apa pendapatmu tentang hal ini?"
Kuda alam gaib tersebut meringkik pan-
jang. Seraya, kuda itu mendekati Datuk Nan Ga-
dang Paluih. Mulutnya terbuka ke arah pinggang
sang Datuk. Lalu sesuatu disentakkan. Ikat ping-
gang Datuk Nan Gadang Paluih terlepas. Datuk
terbelalak. "Angin Pelebur Petaka? Apa maksud-mu kau menarik angkin sakti ini? Apakah ingin
agar aku menghantam pintu Liang lahat itu den-
gan angin ini?"
"Hik Hiiiik..."
Si Putih Kaki Langit keluarkan ringkikan
pendek. Kepala digoyang-goyangkan ke atas dan
ke bawah. Tahulah Datuk Nan Gadang Paluih apa
yang dikehendaki oleh kuda tersebut. Laki-laki
berbaju putih berselempang putih mendekati pin-
tu Liang Lahat Bakutuk.
Sementara itu Dewi Kerudung Putih dan Si
Buta Mata Kejora berdiri tegak tidak jauh dari
Liang Lahat di mana Suro terperosok di dalam-
nya. Dua orang ini juga sama bingungnya. Keliha-
tannya sampai saat itu mereka masih belum me-
nemukan cara untuk menghancurkan pintu pe-
nutup Liang Lahat Bakutuk.
Kini perhatian Dewi Kerudung Putih tertuju
pada Datuk Nan Gadang Paluih. Tokoh dari Anda-
las ini mulai memutar-mutar, angkin Pelebur Pe-
taka. Sekejap saja angin menderu-deru. Udara
semakin memanas, wajah sang Datuk semakin
lama semakin menegang. Angkin tiba-tiba melun-
cur deras menghantam batu.
Buuuuum
Terdengar dentuman keras bukan main.
Cahaya Putih seperti kunang-kunang bertebaran
di udara. Tanah bergetar pintu Liang Lahat bergetar, sayang tidak terjadi kehancuran di situ. Datuk Nan Gadang Paluih demi melihat semua ini
goyangkan kepala.
"Putih Kaki Langit, Angkin Pelebur Petaka
rasa-rasanya seperti tidak berguna. Benar kata-
ku, ini buktinya" seru Datuk Nan Gadang Paluih ditujukan pada kuda gaibnya.
"Hiik"
"Aku tidak mau melakukannya lagi, Putih
Kita harus menunggu waktu yang baik. Kulihat
pengaruh kutuk Ratu Leak sudah mulai mele-
mah" ujar sang Datuk.
Dewi Kerudung Putih melangkah mendeka-
ti. Kelihatannya ia ingin mengatakan sesuatu. Ba-ru saja mulutnya terbuka, tiba-tiba saja terdengar suara pelan seseorang.
Ujung timur dan ujung barat
Manusia mana yang dapat menempuh ja-
raknya?
Bumi Gusti Allah sungguh besar luasnya
Kekuasaannya meliputi segala
Rahmat dan kasih sayangNya tidak pernah
terputus
Diberikan pada semua yang bersukur atau
tidak bersukur
Lalu apa rasa terima kasih manusia?
Hidupnya hanya menuruti keinginan nafsu
rendah.
Sombongnya, angkuhnya, melebihi pencip-
ta-nya Setiap jalan pasti ada ujungnya
Setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya
Hidup manusia tidak kekal, pasti binasa
Bila langit menangis, bumi menjadi subur
Aku... aku, siapa aku...?
Serentak ketiga orang yang berdiri di tepi
Liang Lahat itu menoleh dan memandang ke arah
datangnya suara. Di atas batu tidak jauh dari ku-da putih. Terlihat seorang laki-laki berbadan pendek memakai topeng-topengan berbentuk wajah
anak kecil duduk mencangkung dengan kedua
tangan menopang dagu. Orang ini tidak memakai
baju, celananya hitam. Di dadanya yang telanjang terlihat sebuah ketapel dan kompeng (dot) anak
kecil. Pertama melihat penampilan orang mema-
kai topeng anak kecil ini Dewi Kerudung Putih ingin tertawa. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Paluih
kerutkan keningnya.
Apa yang dikatakan oleh laki-laki pendek
memakai topeng itu bukan tidak punya makna
tertentu. Lalu siapa orang di balik topeng bocah ini? Datuk Nan Gadang datang mendekati. Si laki-laki tertawa ha ha hi hi.
"Wahai Kisanak yang bicara dalam sair
Dapatkah kau sebutkan siapa dirimu?" tanya Datuk Nan Gadang Paluih. Yang ditanya tertawa la-
gi. Lalu tutupi wajahnya. Setelah itu ia menjawab seperti orang yang bersair.
Untuk menutup rasa malunya manusia me-
makai topeng
Sadar tidak sadar manusia suka memakai
topeng Bicara manusia dengan topeng, langkah manusia juga dengan topeng
Topeng-topeng yang nakal
Penutup rasa malu dan kebusukan
Bila topeng-topeng bertanggalan?
Itu namanya kiamat
Berhadapan dengan Tuhan tidak perlu me-
makai topeng
Karena Tuhan melihat langsung isi hati ma-
nusia Topeng adalah aku
Aku adalah topeng
Topeng-topeng adalah bagian hidup manu-
sia Aku topeng Topeng itu aku
Berubah wajah Datuk Nan Gadang Paluih
seketika mendengar kata-kata yang diucapkan
oleh laki-laki pendek bertopeng bocah. Ia seka-
rang sudah berumur hampir lima puluh atau
enam puluh tahun. Dulu gurunya ketika masih
kecil pernah bercerita ada seorang tokoh aneh berumur sekitar seratus lima puluh tahun. Jadi jika benar orang ini adalah Manusia Topeng alias Setan Topeng. Berarti umurnya sekarang hampir
dua ratus tahun.
"Engkaukah yang bergelar Manusia To-
peng?" tanya Datuk Nan Gadang Paluih. Yang ditanya kembali tertawa ha ha hi hi.
Tidak di langit tidak di bumi itu tempat ting-galku Jika mau tahu siapa aku, kenalilah diri sendiri Langit luas bumi luas
Di perut bumi petaka menanti
Topeng aku
Aku topeng
Jawaban ini sudah cukup jelas bagi Datuk
Nan Gadang Paluih siapa adanya laki-laki pendek bertopeng bocah ini. Dulu ia mendengar Manusia
Topeng memiliki kepandaian tinggi, walau pun
wataknya sulit ditebak. Untuk itulah Datuk Nan
Gadang Paluih langsung menjura hormat.
"Aku manusia rendah tidak berguna men-
gucapkan salam selamat datang padamu" ucapnya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Sebaliknya Dewi Kerudung Putih tentu merasa
terheran-heran melihat tingkah sang Datuk yang
seakan terlalu berlebihan terhadap orang yang belum mereka kenal sama sekali. Dewi tentu tidak
mau bersikap merendah seperti itu. Ia tetap tegak di tempatnya memandangi Datuk Nan Gadang Paluih dan laki-laki pendek memakai topeng bocah
silih berganti.
Kebanyakan orang bijak bersikap dan ber-
tingkah laku seperti orang bodoh
Sedikit ilmu sombong selangit
Hi hi hi
Ha ha ha
Pusing pusing memikirkan Liang Lahat
mengapa tidak dikencingi saja??
Datuk Nan Gadang Paluih, Dewi Kerudung Putih maupun Si Buta Mata Kejora yang sejak ta-di hanya diam saja ternganga. Manusia Topeng ini bicara asal keluar saja. Apa mungkin ucapannya
dapat dipercaya? Inilah yang dipikirkan oleh Datuk Nan Gadang Paluih.
Lagipula kalau benar siapa sanggup mela-
kukannya? Di situ ada Dewi, mau ditaruh dimana
rasa malu ini? Karena melihat ketiga orang ini tidak juga bergerak. Manusia Topeng melompat
mendekati Liang Lahat.
SEPULUH
Ia menghadap ke arah Dewi Kerudung Pu-
tih, lalu seenaknya saja tarik celana hitamnya
hingga sebatas lutut.
Seeerrr
Dewi Kerudung Putih memekik kaget. wa-
jahnya merah karena malu dan ia cepat menying-
kir ke tempat aman. Manusia Topeng tertawa ha
ha hi hi. Datuk Nan Gadang Paluih juga pentang
matanya, bukan karena ngeri atau ngiler melihat
anunya Setan Topeng, yang membuatnya terpe-
ranjat justru, pintu batu Liang Lahat yang terke-na kencing Manusia Topeng tampak mengepulkan
asap putih menebar bau pesing dan bau telur bu-
suk. Asap putih semakin lama semakin meneb-
al, meliuk-liuk di udara untuk akhirnya lenyap.
Penutup batu liang lahat hancur menjadi
debu. Setelah itu diteliti oleh Dewi Kerudung Putih, ternyata hanya bagian atas saja yang hancur.
Batu penutup liang lahat setebal setengah
hasta tidak hancur seluruhnya.
Manusia Topeng terdiam, ia mendongak ke
langit. Setelah itu memperhatikan orang-orang di sekelilingnya satu demi satu.
Kencing memang sudah kukencingi.
Mempan tidak mempan
Tapi kurasa ada cara ada jalan
Ketapelku...
Senjata sakti Pembelah Bumi
Ingin kulihat Ingin kulihat
Manusia Topeng lepas ketapelnya yang
tanpa karet itu, terkecuali terikat tali berwarna hitam. Datuk Nan Gadang Paluih kerutkan keningnya. Si Buta Mata Kejora coba pertegas pen-
dengaran.
"Aku dengar ada suara mendengung" bi-
siknya ditujukan pada Dewi Kerudung Putih. Wa-
lau cemberut gadis itu tetap menjawab juga. "Ya, Manusia, Topeng keluarkan ketapel butut. Aku
tidak tahu apa saja yang akan dilakukan oleh
orang-orang gila disini"
"Jangan sembarangan kau bicara Dia bu-
kan manusia biasa seperti kita..,." ujar Si Buta Mata Kejora. Sekonyong-konyong terdengar suara
Manusia Topeng.
Yang megah belum tentu kokoh
Yang butut belum tentu rapuh
Wajah Dewi merah padam mendengar sin-
diran Manusia Topeng. Laki-laki Pendek memakai
topeng bocah ini tiba-tiba acungkan ketapel ca-
bang dua di tangannya tinggi-tinggi. Cabang ke-
tapel lalu dihantamkannya ke arah batu liang la-
hat. Tum Tum Tum
Tiga tempat dihantam, tiga lubang besar
tercipta. Dari dalam liang lahat yang bolong men-guap bau busuk menyengat. Manusia Topeng ter-
tegak, wajah di balik topeng pucat pasi. Akibat
pengerahan tenaga sakti tadi serta pengaruh si-
nar yang membalik membuat dada Manusia To-
peng sakit mendenyut dan sesak luar biasa.
Laki-laki bertopeng bocah ini usap-usap
dadanya beberapa kali. Si Buta Mata Kejora se-
perti tidak sabar dan ingin cepat-cepat masuk ke dalam lubang di depannya.
"Jangan ada yang turun" berteriak Datuk Nan Gadang Paluih memberi peringatan. "Aku
pemilik Batu Lahat Bakutuk, kira-kiranya apa
yang terjadi di bawah sana aku sudah dapat me-
nerka" Lalu Sang Datuk mengambil Angkin Pelebur Petaka yang saat itu telah dijadikan ikat kepalanya. Angkin warna Putih dilecutkan ke udara.
Sreset
Angkin tersebut mendadak saja berubah
panjang dengan lebar lebih kurang setengah tom-
bak. "Di bawah sana setelah mencium bau busuk ini pasti telah diciptakan neraka jadi-jadian.
Aku yakin Suro tercebur ke bawah sana. Kita ha-
rus membuat jembatan terselamat dengan meng-
gunakan Angkin Pelebur Petaka Kepada Manusia
Topeng harap hancurkan sisa-sisa batu penutup
Liang Lahat Bakutuk ini" pinta Datuk Nan Gadang Paluih.
Manusia Topeng tertawa ha ha hi hi. Ia
menggigit-gigit kompengnya, sedangkan wajahnya
tetap tertutup rapat. Orang ini tiba-tiba melompat mundur. Tangan diputar-putar
di belakang Pendekar Blo'on tiba-tiba menyambar
angin dingin yang sangat luar biasa sekali
"Aih..."
Tubuh pemuda ini meliuk, kemudian ber-
salto ke samping kiri. Di depannya terdengar sua-ra dentuman bagai letusan gunung. Si Buta Mata
Kejora tergontai-gontai. Suro terhuyung sambil leletkan lidah. Ia tidak kekurangan satu apapun,
hanya dadanya mendenyut sakit. Cepat ia putar
kepala. Dan matanya pun kontan terbelalak.
"Astaga Kakek buta, lihatlah ada manusia
kayu, eeh... maksudku manusia akar datang ke-
sini. Apakah dia masih saudaramu, atau anak-
mu?" seru pemuda rambut kemerah-merahan ini kaget. Saking tidak percayanya ia sampai ingin
kencing.
"Kau bicara apa? Hendak menipuku lagi?"
dengus si kakek buta tidak percaya,
"Pentang matamu lebar-lebar, dari leher
badan, tangan dan kakinya terbungkus akar. Aku
tidak tahu apakah dia manusia sungguhan atau
kayu berjalan" kata Suro, sementara orang yang disebut-sebutnya sudah berjalan mendekat ke
arahnya.
"Coba kau sebutkan ciri-ciri wajahnya?"
perintah Si Buta Mata Kejora. Suro garuk-garuk
kepala, bibirnya terpencong, monyong-monyong
sebentar lalu memandang ke arah laki-laki di de-
pannya dengan kedua mata menyipit.
"Kau dengar baik-baik. Dia laki-laki seperti kita juga, kumis ada sedikit mungkin cuma beberapa helai. Jenggotnya kurasa sekitar sepuluh bi-ji. Rambutnya panjang, dagunya kokoh Apakah
kau mengenalnya, kek?" Mata buta yang memutih keseluruhannya tampak berkeriapan. Kening si
kakek berkerut dalam. Tiba-tiba ia berseru...
"Tunggu" Seraya melangkah maju ke de-
pan. "Aku rasanya mengenal wajahnya. Dan Si Buta Mata Kejora tiba-tiba saja menjatuhkan diri dan berlutut. "Wayan Tandira pemimpin kami, benarkah engkau Wayan Tandira?" desis orang ini sambil sesunggukan.
Orang yang dipanggil Wayan Tandira ber-
geming pun tidak. Malah kedua bibirnya terkatup
rapat. Otot-otot rahangnya menegang.
"Aku mengenalmu sebagai penduduk
Sange ini, kakek Buta Mata Kejora. Aku meng-
hargaimu sebagai orang tua dan manusia. Aku
membencimu karena telah bersekutu dengan mu-
suh Keadaan negeri begitu buruk, nasib masya-
rakat-ku benar-benar hina dina. Kau ketua adat,
mengapa kau gadaikan harga diri dan keper-
cayaan masyarakat pada pemuda asing ini" dengus laki-laki yang sekujur tubuhnya diselimuti
akar-akaran aneh, sinis.
"Ampun beribu ampun. Para dewata meli-
hat, para dewata mendengar, pemuda ini sama
sekali bukan musuh kita Ia ingin bekerja sama
dengan kita guna menghancurkan Ratu Leak dan
merampas Batu Bakutuk Engkau salah menilai,
engkau salah sangka, pemimpin negeri" jelas Si Buta Mata Kejora.
"Terlalu lama dipendam dalam tanah, ra-
sanya aku sulit membedakan mana kawan dan
mana lawan. Aku tidak suka melihat kunyuk tolol
itu Dia harus kubunuh"
"Jangan..." teriak Si Buta Mata Kejora.
Pendekar Mandau Jantan mula-mula memang
dapat menahan diri mendengar ucapan Wayan
Tandira. Namun karena laki-laki rambut panjang
ini terlalu mencurigainya. Sekarang ia tidak dapat lagi menahan kesabarannya.
"Manusia akar, rambut gondrong Aku ben-
ci melihat manusia sombong, tapi aku lebih benci lagi mendengar ucapanmu Kau bukan memikirkan negerimu, kau juga tidak memikirkan masya-
rakatmu yang berdiri mematung menjadi batu.
Kau hanya mementingkan kekuasaanmu Manu-
sia bermental kerdil macammu buat apa menjadi
pemimpin?" desis Suro marah bukan main.
Wayan Tandira melotot, kupingnya terasa
panas hingga bergerak-gerak. Pikirnya pemuda
itu tampangnya seperti orang tolol, tapi bicaranya menyakitkan.
"Aku tahu apa yang aku perbuat? Aku rela
dipendam selama hampir tiga puluh tahun dalam
tanah semata-mata karena demi rakyatku" sahut Wayan Tandira semakin sengit.
"Itu manusia tolol namanya" ejek Pendekar Blo'on, dalam hati ia tertawa karena melihat lawan ternyata terpancing dengan kata-katanya.
"Kalau merasa jadi orang pintar mengapa mau dipendam segala. Lawan saja kalau perlu sampai
ada yang mampus. Apa guna kau jadi laki-laki,
apa guna kau punya barang. Kalau merasa men-
jadi banci lebih baik barangmu dipajang saja di
jidad..."
"Suro..." Si Buta Mata Kejora bermaksud mencegah kata-kata Suro yang serampangan itu.
Namun sudah terlambat, Suro nyengir kuda. La-
wan langsung menggebraknya dengan serang-
kaian serangan yang sangat mematikan lagi tidak
ada putus-putusnya.
"Walah emak, ada orang gila mengamuk"
seru Suro. Dengan lincah ia menghindari seran-
gan-serangan gencar yang dilakukan oleh Wayan
Tandira. Ia berjingrak-jingkrak, mengelak sambil melompat atau terkadang berjongkok. Di lain
waktu pemuda ini garuk-garuk sekujur tubuhnya.
Dari bibirnya yang termonyong-monyong terden-
gar suara ngak-ngik-nguk yang tidak ada putus-
putusnya.
Wayan Tandira merasa kesal melihat ke-
nyataan setiap serangan yang dilancarkannya ti-
dak mendatangkan hasil. Sekonyong-konyong ia
melompat ke depan, tangan mencengkeram ke
bagian lambung sedangkan, kaki kiri lepaskan
tendangan menggeledek. Dalam keadaan berjong-
kok Suro melesat ke udara. Dua serangan berun-
tun yang dilakukan oleh Wayan Tandira mengenai
tempat kosong. Si konyol berputar di udara, ka-
kinya yang menekuk mendadak terjulur seperti
gerakan kepala ular yang mematuk. Wayan tidak
sempat tarik wajahnya. Dan....
Dhaak
Kepala laki-laki rambut panjang itu sempat
tersentak ke belakang. Terdengar suara jeritan
pendek, Wayan terhuyung-huyung sambil mema-
ki. Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam ke ba-
gian tangan. Sehingga kedua tangan pemuda itu
yang terbalut akar-akar aneh berwarna putih lak-
sana perak. Sontak udara berubah menjadi pa-
nas, Si Buta Mata Kejora keluarkan seruan kaget.
"Pukulan 'Blenggu'..." desisnya seakan memberi peringatan pada Suro Blondo
Pemuda rambut kemerah-merahan me-
langkah mundur sejauh dua tindak.
"Hup Huup..."
"Jurus 'Kacau Balau'.." gumam si pemuda menyebut nama jurus yang dipergunakannya.
Sepontan tubuhnya meliuk-liuk, langkah-
langkahnya tidak teratur dan setiap gerakan yang dilakukannya benar-benar serampangan terkesan
seperti gerakan orang mabuk berat. Inilah jurus
menghindar paling kacau yang tokoh-tokoh di
rimba persilatan sendiri tidak pernah memili-
kinya. Wuss Wuus
Blaar
"Weit-weit kiamat" maki Suro. Ternyata pukulan maut yang dilepaskan oleh Wayan Tandira mengenai tempat kosong. Suro sambil ter-
huyung-huyung langsung berbalik dan balas le-
paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-
sinar'. Seketika terlihat sinar merah redup melesat dari telapak tangan Pendekar Blo'on yang ter-kembang. Wayan Tandira melompat, serangan
pertama luput, sayang pukulan susulan tidak da-
pat dihindarinya lagi.
Buuum
"Wuaarrrkkh..."
Wayan Tandira menjerit keras sambil ber-
guling-guling. Bagian dadanya yang terlibat akar-akaran memang tidak cedera. Tapi bagian leher
hingga ke wajah terasa panas seperti di panggang bara api.
Laki-laki ini menggeram, diam-diam Suro
sendiri sempat terperangah. Tadi ketika sebagian pukulan yang dilepaskannya menghantam bagian
dada dan perut lawan. Ia melihat sinar hitam
memancar dari akar-akaran aneh yang membelit
tubuh Wayan. Ini merupakan sebuah kenyataan
yang sangat aneh. Seakan akar-akaran itu men-
gandung sebuah kekuatan tersembunyi. Hal ini
yang membuat Suro tertegun cukup lama, sikap-
nya yang lengah ini segera dimanfaatkan oleh la-
wan untuk menyerangnya dengan pukulan
'Cambuk Neraka'.
"Cambuk Neraka' Awas..." Si Buta Mata Kejora kembali berteriak memberi peringatan.
Wuuk
Glaar
"Akh..."
Pendekar Mandau Jantan menjerit terta-
han, tubuhnya terpelanting dan terus terguling-
guling. Ada darah yang menetes di sudut-sudut
bibirnya. Wayan Tandira terkekeh senang, Si Buta Mata Kejora jadi prihatin, walaupun matanya tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi, tapi
perasaannya mengatakan bahwa Pendekar yang
terlahir di gunung Bromo dan besar di gunung
Mahameru tersebut sedang terancam bahaya be-
sar. Ia sebenarnya ingin membantu, tapi merasa
serba salah, sebab orang yang dihadapi oleh mu-
rid Penghulu Siluman Kera Putih dan Murid Ma-
laikat Berambut Api ini adalah ketua negeri
Sange. "Hentikanlah perkelahian" seru Si Buta Mata Kejora.
"Kepala adat, jangan kau coba mencegahku
atau kau bersedia menemani pemuda ini ke nera-
ka?" dengus Wayan Tandira tidak senang.
"Dewi Dewata, dia bukan mata-mata dan
bukan pula kaki tangan Ratu Leak. Hentikanlah,
kumohon"
"Mohonlah pada setan dan orang-orang
yang mati gentayangan akibat ulah manusia ja-
lang itu. Hiyaa..." teriak Wayan Tandira berapi-api. Tanpa bicara apa-apa lagi tubuhnya tiba-tiba saja melesat ke arah Suro. Pemuda konyol yang
sudah dilanda kejengkelan ini sama sekali tidak
berusaha menghindar. Malah ia pergunakan ju-
rus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.
Dan tangannya di silangkan, sebelah kaki diang-
kat dan ditekuk.
Splak
Dukk Duukk
"Heh..."
Wayan terdorong mundur lalu jatuh terdu-
duk. Sebaliknya Suro menjerit kesakitan. Bukan
akibat benturan tenaga dalam, melainkan karena
kedua tangannya yang sempat bersentuhan den-
gan akar-akaran seperti tersengat puluhan ekor
ular berbisa.
Sungguh pun begitu ia segera berdiri kem-
bali. Memandang ke depan, dilihatnya Wayan
Tandira dalam keadaan berlutut sambil meme-
gangi wajahnya. Laki-laki itu menangis terisak-
isak, entah apa yang membuatnya begitu.
"Kau tadi mau membunuhku, mengapa se-
karang malah menangis? Apakah kau rindu pada
anak isterimu, pemimpin negeri?"
"Huk huk huk Entah mengapa aku sea-
kan-akan melihat dewata marah padaku bila aku
menyerangmu tadi. Kurasa ucapan Ketua adat
benar, kau bukan musuh sebagaimana yang ku-
duga" kata Wayan Tandira terisak-isak.
"Huk huk huk Aku juga senang jika kau
mau sadar" Suro meniru tangisan Wayan Tandira.
"Lalu sekarang apa yang hendak kau perbuat?
Apakah bertarung denganku lagi sampai salah
seorang diantara kita ada yang mampus. Manusia
bodoh itu namanya, aku sendiri jelek-jelek begini masih punya banyak pertimbangan"
"Aku tidak ingin bertarung denganmu, cu-
kup" sahut Wayan di sela-sela isak tangisnya.
"Lalu apakah kau juga berniat mencari Ra-
tu Leak?" tanya Suro.
"Hem..." Wayan Tandira menggeram. "Perempuan itu harus kubunuh Tiga puluh tahun
aku dipendamnya hidup-hidup. Kau lihat, tubuh-
ku yang terbalut akar ini. Aku telah berusaha
memotongnya tapi tidak bisa. Semua ini gara-gara Ratu Leak keparat itu Sudahlah, tinggalkan aku
disini, aku tidak ingin ada orang yang melihatku, aku malu. Huk huk huk..."
"Pemimpin negeri, bukankah lebih baik jika
kita bersama-sama pergi ke Batu Lahat Bakutuk"
Si Buta Mata Kejora ikut bicara. Namun orang
yang diajaknya bicara gelengkan kepala.
"Pergilah kalian kesana lebih awal. Mung-
kin nanti aku akan menyusul" sahut Wayan Tandira. Laki-laki berambut gondrong yang sekujur tubuhnya diselimuti akar ini langsung melangkah
pergi. Suro hanya garuk-garuk kepala, ia menarik tangan Si Buta Mata Kejora untuk segera meninggalkan tempat itu.
ENAM
"Inikah tempatnya, kakek buta? Aku men-
cium bau maut di sini. Aku juga mengendus bau
kelicikan" Berkata pemuda baju biru. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat
itu. Banyak juga pohon-pohon di sekitar bukit-
bukit itu, akan tetapi pohon-pohon tersebut men-
jadi batu akibat kutukan Ratu Leak. Tengkuk Su-
ro meremang berdiri, ia menoleh ke arah kakek
buta yang berdiri tidak jauh di sebelahnya. Ter-
nyata kelihatannya kakek ini merasa jerih. "Ada lagikah tempat yang lebih mengerikan dari tempat ini?" "Hemm, ada. Bukit Kembar Tiga Terlaknat
Di sanalah Wayan Tandira dan anak buahnya di-
benam. Aku heran jika kemudian ia muncul den-
gan tubuh dipenuhi akar-akaran." sahut Si Buta Mata Kejora.
"Kurasa disana banyak pohon"
"Tidak satu pun"
"Lalu akar-akaran sakti itu apakan mung-
kin datang dari perut bumi? Terlalu banyak keja-
dian-kejadian ganjil disini" gumam Suro sambil garuk-garuk kepala. "Tempat ini sunyi, seakan tidak berpenghuni. Apa tujuanmu membawa aku
ke sini?" tanya Suro Blondo, perasaannya mulai tidak enak.
"Karena di daerah ini Ratu Leak kudengar
bersembunyi."
Pendekar Blo'on kelihatannya seperti tidak
puas mendengar jawaban si kakek.
"Aku terkadang merasa heran melihat di-
rimu, matamu buta tapi kau tau semua tempat
yang kau lalui. Aku terkadang merasa tidak yakin kalau kau benar-benar buta?" kata si pemuda sambil tersenyum mencibir.
"Mengapa keadaanku yang kau persoalkan.
Waspadalah wahai Pendekar Tolol Aku mencium
adanya bahaya di sekitar kita" Si Buta Mata Kejora memperingatkan.
Suro cepat meneliti keadaan di sekeliling
mereka. Pemuda ini memang tidak melihat sesu-
atu, tapi aneh. Sekujur tubuhnya bertambah me-
rinding. Dalam pada itu sekonyong-konyong ter-
dengar suara ringkik kuda di kejauhan.
"Ada orang datang ke sini, kakek. Tahukah
kau siapa orangnya?" tanya Pendekar Mandau
Jantan, seraya memandang ke arah datangnya
suara. Belum sempat Si Buta Mata Kejora menga-
takan sesuatu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang
seperti melompati kepala mereka.
"Hieehhh..."
"Heh..." Suro pentang matanya lebar-lebar, seakan ia tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri. "Kala Demit? Bagaimana ia bisa hadir di sini? Mengapa tangannya masih utuh?
Padahal aku pernah membuatnya buntung" batin si pemuda. Untuk lebih jelasnya bentrok antara
Kala Demit dan Pendekar Blo'on dalam episode
terdahulu.
"Terkejut bocah ajaib?" Kala Demit tersenyum mencibir.
"Kau? Bagaimana kau dapat menyambung
tanganmu?" tanya Suro.
Kala Demit tertawa ngakak, angin bertiup
sepoi-sepoi. Suro mencium bau sesuatu yang
sangat khas, bau harum khas perempuan. Seba-
gaimana seperti yang didapatinya di perahu batu
pinggir pantai.
"Bukan sesuatu yang sulit, Pendekar
Blo'on" Kala Demit mendengus sengit. "Sekarang perhitungan itu harus dimulai, Pendekar Blo'on.
Tahukah kau bahwa orang yang paling kubenci di
kolong langit ini tidak lain adalah kunyuk ber-
tampang tolol sepertimu?"
Saking geramnya Suro garuk-garuk kepala
sampai berulang-ulang. Ia teringat kira-kira ba-
gaimana kematian orang tuanya ketika terjadi ke-
kacauan di gunung Bromo dulu.
"Kala Demit manusia iblis Apakah tidak
salah yang kudengar? Seharusnya akulah yang
menuntutmu. Karena kau dan Sepasang Iblis Pe-
gat Nyawa telah membunuh kedua orang tuaku.
Mengapa sekarang jadi tebolak, eeh... terbalik.
Aku yang sudah, gila apa kau yang sudah sint-
ing?" maki Suro.
"Siapa manusia yang kau ajak bicara, Pen-
dekar tolol?" Tiba-tiba saja Si Buta Mata Kejora bertanya.
"Dia bukan manusia, tapi iblis yang me-
nyaru sebagai manusia" sahut Pendekar Blo'on sengit. "Kurasa dia punya hubungan tertentu dengan Ratu Leak, Suro. Kalau kita dapat mering-
kusnya hidup-hidup. Kita bisa mengorek keteran-
gan dari mulutnya" Si kakek mengisiki.
"Bagaimana kalian dapat mengorek kete-
rangan dariku, jika jiwa kalian lebih dulu kukorek dan segera kukirim ke neraka?"
"Huh, aku ingin melihat untuk yang kedua
kalinya apakah kau dapat membuktikan mulut
besarmu itu? Kuragukan jangan-jangan cuma
mulutmu saja yang pintar bicara, atau kau men-
gagulkan Ratu Leak itu, eh...?" ejek Suro begitu mencemo'oh.
"Bangsat Hiaaa..."
Dengan masih menunggang kuda hitamnya
yang kurus kering itu. Kala Demit hantamkan ke-
dua tangannya kanan kiri secara berturut-turut.
Sinar putih, kuning dan merah bertebaran di
udara bagaikan kunang-kunang. Si Buta Mata
Kejora langsung tutup hidungnya begitu merasa-
kan nafasnya menjadi sesak. Suro menghindar ke
samping dan diam-diam sempat terkejut juga ke-
tika menyadari bahwa Kala Demit tidak memper-
gunakan pukulan sebagaimana pernah dipergu-
nakan dulu ketika berhadapan dengannya.
Pemuda ini tidak dapat berdiam lebih lama.
Lalu secara cepat ia kibaskan kedua tangannya
siap lepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit
Sukma'. Kala Demit palsu yang pernah mati-
matian bertarung dengan pemuda ini saat terjadi
ledakan pertama lepaskan pukulan susulan den-
gan kekuatan berlipat ganda.
Serangan seperti ini benar-benar tidak per-
nah diduga oleh Suro Blondo. Akibatnya sungguh
buruk sekali bagi Suro, tubuhnya yang terhantam
pukulan 'Neraka Perut Bumi' kontan terpelanting.
Lebih celaka lagi punggungnya terhempas batu.
Braak
Batu hancur berantakan, Suro menggeliat
dan berusaha bangkit berdiri. Kala Demit acung-
kan jari telunjuknya siap lepaskan serangan
'Tusukan Jari Penghantar Maut'. Dua baris sinar
melesat dari ujung jemari tangan Kala Demit, da-
lam waktu bersamaan Si Buta Mata Kejora yang
rupanya merasa khawatir lepaskan pukulan pula.
Sinar biru memotong di pertengahan jalan. Hing-
ga kembali terdengar suara ledakan dan serangan
Kala Demit jadi melenceng
Si Buta Mata Kejora sempat tergontai-
gontai, melihat hal ini Suro jadi tertawa-tawa. Ia sendiri tidak suka bertarung secara keroyokan
seperti itu.
"Kakek buta Aku belum mampus, kelenger
pun belum. Tidak usah main kroyok. Nanti apa
kata orang-orang rimba persilatan melihat keja-
dian ini?" dengus Suro.
"Tidak perduli apa kata setan-setan rimba
persilatan" sahut Si Buta Mata Kejora, tidak kalah sengitnya. "Tiga puluh tahun rakyat negeri Sange menderita kutukan, mereka terjemur panas, tersiram hujan tanpa mampu bergeser dari
penderitaan. Siapa yang memperdulikan mereka?
Siapa yang mau mengerti nasib mereka, hayo sia-
pa?" "Tentu saja kita sendiri. Sudahlah minggir dulu, nanti jika kau melihat aku sudah terkapar
dan tidak ada nafasnya. Kau boleh sesuka hatimu
melabrak Kala Demit"
"Huh, orang-orang golongan putih menga-
ku orang paling bersih dan yang paling jujur. Kenyataannya kalian tidak ubahnya seperti kecoa-
kecoa pengecut yang cuma pandai main keroyok"
teriak Kala Demit yang merasa berada di atas an-
gin. Suro Blondo sama sekali tidak menanggapi.
Ia menggenjot tubuhnya, gerakan kilat yang disertai salto ini cepat bukan main. Tahu-tahu tin-
junya sudah menghantam kaki kuda Kala Demit.
Praak
Kuda meringkik keras, tulang kaki bela-
kangnya hancur. Kala Demit melihat kejadian ini
terpaksa lepaskan tendangan, Suro lebih cepat
lagi melompat ke belakang. Serangan tidak men-
genai sasaran, Kala Demit langsung melompat da-
ri punggung kuda sebelum binatang tunggangan
itu tersungkur ke tanah.
Kini mereka saling serang dengan jarak
yang begitu rapat. Sekonyong-konyong Kala Demit
merubah jurus-jurus serangannya. Ia sempat
berputar dua kali, lalu sambil membentak keras
sikunya menghantam dada Suro. Sayang si ko-
nyol sudah berkelit, dadanya di miring-miringkan ke depan sedangkan kepala condong ke belakang.
Gerakan-gerakan seperti monyet ini dikenal den-
gan nama 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.
Wuuut
"Haes..."
Si pemuda sentakkan dadanya ke bela-
kang, sejurus kemudian kaki Kala Demit telah
menyodok ulu hatinya.
Des Des
Tubuh pemuda ini sempat terpelintir, na-
mun betapa cerdiknya pemuda bertampang keto-
lol-tololan ini. Ia berputar setengah lingkaran sebelum punggungnya jatuh ke tanah belakang tu-
mitnya menghantam pinggang lawan pula.
Buuk
"Huugkh"
"Bangsat Ternyata kau masih dapat juga
cari selamat Heaa..." Kala Demit katupkan bibirnya rapat-rapat. Tiba-tiba saja ia memutar-mutar kedua tangannya di atas kepala. Tubuhnya meliuk sedemikian rupa, dua kali ia jungkir balik.
Dan.... Wuut
Hantaman yang mengarah rusuk kiri lu-
put. Suro membalas dengan melepaskan tendan-
gan pula.
Wuss
Ternyata serangan balasan yang dilaku-
kannya juga tidak mengenai sasaran. Suro sem-
pat tertegun sambil leletkan lidah. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada lawannya. Gerakan
orang ini mirip dengan gerakan perempuan. Apa-
kah Kala Demit mempelajari ilmu-ilmu baru yang
membuat sifat dan tingkah lakunya seperti seo-
rang wanita?
Tidak ada waktu lagi bagi Suro Blondo un-
tuk berpikir lebih jauh. Kala Demit lepaskan pu-
kulan 'Pemusnah Raga Penebus Jiwa'. Kala Demit
membalikkan punggung tangannya, dari bagian
punggung tangan itu tiba-tiba saja menderu segu-
lung angin topan disertai hawa panas bukan
main. Si Buta Mata Kejora terpaksa melompat
dan menyingkir. Udara di sekeliling tempat itu terasa panas bukan alang kepalang.
"Manusia setan ini benar-benar ingin me-
rampas nyawaku Apa boleh buat, hmm..." Suro mengadu kedua telapak tangannya. Lagi tangan
kiri kanan diangkatnya sejajar dengan wajah. Se-
telah itu secepat kilat didorongkannya ke depan.
Zzzzzzzt
Sontak terdengar suara jeritan di mana-
mana. Sinar merah hitam menderu, suasana pa-
nas semakin bertambah panas berganda. Deru
kedua pukulan tersebut sudah tidak dapat diben-
dung-bendung. Kemudian terjadilah ledakan yang
sangat keras sekali.
Bluaar
"Akh..."
Kala Demit sempat tergontai-gontai, bibir-
nya meneteskan darah. Ada bagian wajahnya
yang sempat terobek. Ia tidak ingin hal ini dilihat oleh lawannya. Itulah sebabnya selagi debu panas masih menutupi udara. Selagi lawannya berusaha
bangkit berdiri dengan menahan luka dalam dan
pakaian robek besar di dada kiri. Kala Demit me-
ninggalkan kalangan pertempuran.
Apa yang dilakukan oleh lawan ternyata
sempat dilihat oleh Pendekar Mandau Jantan ini
sehingga ia berteriak sambil mengejar.
"Setan hina dina, tidak akan kubiarkan
kau lolos dari tanganku untuk yang kedua ka-
linya" Si Buta Mata Kejora pun mengikuti Suro, tapi ia kalah cepat dari pemuda itu. Ternyata Kala Demit tanpa menoleh-noleh lagi terus melarikan
diri. Ia tidak perduli dengan teriakan Suro. Tam-paknya ia memang sengaja melarikan diri melalui
jalan berbatu yang sempit lagi sulit. Hingga ke-
mudian ia menghilang di balik gundukan batu
besar. "Heh, baru saja ia lewat sini. Mengapa tiba-tiba saja bisa menghilang seperti setan?" batin Suro dengan kening berkerut. "Mustahil aku tidak melihatnya jika ia lari ke lain tempat. Kala Demit, bagaimana pun manusia bukanlah setan. Aku harus mencarinya sampai dapat"
Suro Blondo berputar-putar mengitari se-
keliling batu. Rasanya tidak ada tempat yang da-
pat dijadikan persembunyian Kala Demit. Sekali
lagi ia berputar, lalu terlihat olehnya sebuah pun-dasi panjang seperti sebuah makam berbatu.
"Ada makam? Makam siapa? Cuma ada sa-
tu makam di sini" kata Pendekar Blo'on.
Duk Jduk Duk
"Tolong... siapapun yang ada di luar sana,
tolonglah" rintih sebuah suara dari balik makam tersebut. Kejut pemuda ini bukan alang kepalang.
"Siapa? Mengapa bisa sampai terkubur di
situ?" tanya Suro, lalu garuk-garuk kepala, bingung. "Seseorang telah menguburkan aku di sini.
Tolonglah, aku sudah hampir tidak dapat berna-
fas" sahut sebuah suara di balik makam batu.
Terdorong oleh rasa ingin menolong dan
mengingat mungkin perempuan itu telah dijeru-
muskan oleh Kala Demit ke makam batu itu. Ma-
ka Pendekar yang besar di gunung Mahameru itu
segera datang menghampiri.
Namun baru saja ia menginjak ujung ma-
kam batu, makam tersebut langsung melesat ke
dalam. Suro yang dalam keadaan berjongkok ti-
dak sempat lagi menyelamatkan diri.
"Awaaaas Jebakan" teriak sebuah suara.
Namun terlambat, bayangan putih tadi bahkan
berusaha menyambar punggung Suro. Namun
sangat disayangkan daya luncuran lebih cepat la-
gi. Ketika sosok bayangan putih hendak masuk ke
dalam lubang tersebut. Maka batu menutup kem-
bali. Blaaang
"Heh..."
Bayangan putih itu ternyata adalah seo-
rang gadis berkerudung ia menghela nafas den-
gan wajah diwarnai perasaan cemas.
"Aku baru melihatnya, nasib celaka apa
yang terjadi padanya? Bagaimana aku harus me-
nolong jika sudah begini?" Si gadis mengeluh, hatinya menjadi masgul.
"Suro... Pendekar tolol, kemana engkau?"
kata sebuah suara. Si gadis cepat menoleh.
"Astaga" serunya ketika ia melihat di depannya berdiri seorang kakek bermata buta.
"Aku mencium bau perempuan. Siapa
kau?" tanya Si Buta Mata Kejora.
"Kakek, apakah kau sahabatnya Pendekar
Blo'on, Suro Blondo?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Dewi Kerudung Putih. Untuk lebih jelasnya dalam Episode Bayang-Bayang Kematian.
"Kau mengenalnya, apakah kau juga saha-
batnya?"
"Begitulah Suro memang sahabatku, su-
dah lama aku mencarinya" Lalu Dewi Kerudung Putih memperkenalkan diri termasuk menyebut
asal usulnya dari pantai selatan.
"Lalu sekarang kemana pemuda gendeng
itu? Aku tidak melihat dia berlari mengejar Kala Demit kesini?" jelas Si Buta Mata Kejora.
Dek
Berdebar dada si gadis. Selalu saja ia me-
rasa tidak enak bila ada orang menyebut-nyebut
Kala Demit. Dan ia sadar betul kalau Suro benar-
benar menghendaki nyawa Kala Demit karena to-
koh sesat itu telah membunuh orang tuanya di
gunung Bromo.
"Aku pun baru melihatnya, barusan ia
mendekati makam batu ini. Aku tidak tahu siapa
yang hendak ditolongnya dan apa yang menarik
perhatiannya. Tiba-tiba makam batu amblas ke
bawah. Ia terperosok ke dalamnya, aku tidak
sempat menolong. Maafkan aku..." kata Dewi Kerudung Putih.
"Ah... ah... celaka... ini adalah Liang Lahat Bakutuk. Dia telah terperangkap. Siapa yang
menjebaknya? Kaaau..." Si Buta Mata Kejora menggembor marah.
TUJUH
Betapa berubahnya wajah Si Buta Mata Ke-
jora melihat kenyataan ini. Liang Lahat Bakutuk
entah apapun yang berada di dalamnya tetap me-
rupakan bahaya besar yang dapat mengancam
keselamatan Pendekar Blo'on. Lalu siapa gadis
ini? Jangan-jangan ia hanya mengaku-ngaku se-
bagai sahabatnya Suro Blondo, padahal dialah
yang telah menjerumuskan Suro ke dalam Liang
Lahat Bakutuk. Siapa dapat menduga isi hati
manusia?
"Anak gadis orang berkerudung Apakah
aku bisa percaya dengan penjelasanmu ini. Seta-
huku dia tadi mengejar Kala Demit, orang itu
menghilang lalu muncul engkau. Bagaimana aku
tidak curiga?" kata Si Buta Mata Kejora. Ucapan si kakek buta tentu membuat marah Dewi Kerudung Putih.
"Orang tua, memang diantara kita baru sal-
ing kenal. Tapi antara aku dan Suro sudah lama
saling mengetahui siapa diri masing-masing. Kau
tidak perlu bercuriga padaku. Seandainya Liang
Lahat ini dapat terbuka aku pasti orang pertama
yang akan menyusul ke dalam untuk mengetahui
bagaimana keadaannya"
Penjelasan Dewi Kerudung putih ini ru-
panya masih juga kurang bisa diterima oleh Si
Buta Mata Kejora. Ia bingung karenanya menjadi
ragu untuk dapat membedakan siapa kawan dan
siapa lawan. Si kakek kemudian bicara dengan
suara lantang.
"Maafkan aku, untuk percaya pada orang
lain bagiku sangat sulit sekali, apalagi orang itu baru saja kukenal."
"Jika kau tidak mau mempercayai ucapan
manusia, siapa lagi orang yang kau percayai da-
lam hidup di dunia ini?" dengus Dewi Kerudung Putih. "Entahlah" Si Buta Mata Kejora gelengkan kepala ragu. Sekonyong-konyong dan di luar du-gaan tiba-tiba saja, tinjunya menderu dan meng-
hantam wajah si gadis.
"Hait Apa-apaan kau...?" teriak Dewi sambil mengelakkan serangan si kakek buta.
Wuut
Serangan kilat itu lewat sejengkal di atas
kepala Dewi Kerudung Putih. Serangan pertama
luput, si kakek lepaskan tendangan kilat pula.
Angin keras menyambar, Dewi saking kesalnya
langsung menangkis dengan siku kiri.
Duuk
Dewi Kerudung Putih terhuyung ke bela-
kang, Si Buta Mata Kejora sempat tergetar tu-
buhnya. Bagian kakinya terasa linu seperti orang yang terserang penyakit reumatik.
"Lebih baik kau hentikan perkelahian gila
ini" seru si gadis, marah bercampur cemas. Ma-
rah karena si kakek tidak dapat membedakan la-
wan dan kawan. Cemas karena ia menghawatir-
kan keselamatan Pendekar Blo'on.
"Mana bisa, sebelum aku tahu siapa kau
yang sesungguhnya" Si Buta Mata Kejora tetap ngotot. "Orang tua gila. Otakmu benar-benar sudah tidak dapat kau pergunakan untuk berfikir.
Atau kau memang orang sinting yang gila berke-
lahi?" "Terserah apa pendapatmu, yang jelas aku tidak mau tahu sebelumnya benar-benar bersih
sebagai kawan atau lawan" sahut Si Buta Mata Kejora. "Hiiih..."
Kakek buta sekonyong-konyong melompat,
tangannya mencengkeram wajah Dewi Kerudung
Putih. Namun si gadis melompat, lalu lepaskan
pukulan 'Badai Seribu'. Sebagaimana telah sama-
sama kita ketahui (dalam Episode Bayang-Bayang
Kematian), Dewi Kerudung Putih adalah gadis
aneh yang lebih suka tinggal di atas perahu.
Kini serangan menderu, hawa dingin men-
cucuk disertai meluncurnya sinar putih. Sebuah
pukulan yang tidak dapat dianggap enteng, na-
mun Si Buta Mata Kejora menyampok dengan
ujung lengan bajunya.
Byaar
"Uth..."
Si Buta Mata Kejora yang semula men-
ganggap enteng serangan lawan sempat ter-
huyung. Ujung lengan bajunya robek dan seperti
ada ratusan batang jarum menusuk-nusuk da-
gingnya. Menggigil tubuh si kakek, ia kerahkan
tenaga dalam untuk mengusir hawa dingin terse-
but. Dalam hati ia memuji kesaktian yang dimiliki oleh lawannya.
"Sudah kubilang, hentikan kakek buta?
Apakah tidak terlintas dalam benakmu bagaima-
na nasib Pendekar Blo'on saat ini?" lagi-lagi Dewi Kerudung Putih berteriak memperingatkan.
"Aku belum lagi kalah Mana aku bisa di-
ajak bicara?" kata Si Buta Mata Kejora.
Sesabar-sabarnya Dewi Kerudung Putih,
tentu lama-kelamaan menjadi gusar juga. Ia sa-
lurkan tenaga dalam ke bagian tangannya, tangan
itu digerakkannya ke bawah, lalu ia tarik ke atas dan kemudian dihantamkannya ke arah lawan.
"Gelora Laut Selatan'" teriak si gadis menyebut nama pukulan yang dilepaskannya.
Wuusss
"Walah, pukulan yang keji" dengus Si Buta Mata Kejora. Laki-laki tua ini angkat tangannya
tinggi-tinggi lalu dirangkapkan di atas kepala. Begitu kedua tangan menyatu, maka berpijarlah se-
baris sinar kuning, lalu melesat ke depan dengan kecepatan berganda. Benturan keras tidak dapat
dihindari lagi.
Terjadi letupan, dua sosok tubuh tampak
terpental. Satu semburkan darah, sedangkan sa-
tunya lagi menggeliat di atas tanah seperti orang yang meregang ajal.
"Ha ha ha... Keluar juga kecap dari dada-
ku, bocah? Tapi kurasa kau juga menderita luka
dalam, kepalang tanggung mengapa kita tidak
mengadu jiwa sekalian?" ejek Si Buta Mata Kejora.
"Setan alas Tua bangka buta ini keras ke-
pala sekali" maki Dewi Kerudung Putih. Ia terpaksa berguling-guling ketika merasakan adanya
sambaran angin melabrak tubuhnya.
Wuut Wuut
Buum Buum
Pukulan yang dilepas oleh Si Buta Mata
Kejora hanya mengenai angin. Melabrak batu po-
hon di belakangnya hingga hancur berantakan.
Dewi Kerudung Putih tidak dapat membayangkan
bagaimana jika dirinya yang terkena serangan itu.
Setelah gagal untuk yang kesekian kalinya,
Si Buta Mata Kejora memang seperti tidak puas.
Tiba-tiba saja ia mencabut senjata aneh berben-
tuk bulan sabit. Senjata itu cara penggunaannya
adalah dengan dilemparkan setelah diputar-putar
lebih dulu. Dan memang itulah yang dilakukan
oleh Si Buta Mata Kejora saat ini.
Siing
Senjata aneh tersebut membelah udara,
berputarnya di udara sedemikian cepat, Dewi Ke-
rudung Putih siap mencabut senjatanya ketika
menyadari betapa berbahayanya serangan senjata
maut itu. Namun tiba-tiba saja dalam keadaan
yang menegangkan demikian, terdengar suara
ringkikan kuda yang panjang. Terlihat pula
bayangan putih berselempang putih berkelebat.
Tap
Senjata maut berbentuk aneh itu ditang-
kap oleh bayangan tadi. Si Buta Mata Kejora wa-
lau tidak melihat namun terkejut sekali melihat
kenyataan ada orang dapat menangkap senjata
mautnya selagi masih melayang dan berputar di
udara. Sementara kuda berlari cepat mendekat,
sehingga ketika tubuh bayangan putih melayang
turun, dalam sekejapan mata saja sudah berada
di atas punggung kuda putihnya. Senjata beng-
kok seperti bulan di timang-timang di atas tela-
pak tangan yang putih halus seperti sutera.
Laki-laki berambut putih, berkumis dan
berjenggot putih memandang ke arah kakek buta
dengan tatapan mata aneh. Si Buta Mata Kejora
kedip-kedipkan matanya.
"Aku tidak melihat, tapi aku dapat merasa-
kan ada orang yang datang kesini Perkenalkan
namamu, atau engkau masih ada hubungan ter-
tentu dengan gadis itu?" tanya si kakek dingin.
"Hhm, aku Datuk Nan Gadang Paluih Da-
tang dari jauh tanah Andalas mencari si terkutuk Ratu Leak. Kulihat bukan matamu saja yang bu-ta, tapi hatimu juga dipenuhi angkara murka
Gadis itu tidak bersalah, mengapa kau menye-
rangnya mati-matian dan hendak pula membu-
nuhnya?" dengus si baju putih Selempang Putih.
"Terlalu banyak penderitaan dan kesengsa-
raan membuatku marah. Terlalu banyak kutukan
membuat aku mudah curiga pada siapa saja."
"Kecurigaan yang membabi buta Kalau
kau merasa tidak mampu menguasai amarahmu,
silahkan kau tumpahkan emosimu atasku Aku
ingin melihat seberapa hebat ilmu-ilmu sakti
orang Sange" tantang sang Datuk.
Si Buta Mata Kejora tidak langsung menja-
wab. Salah satu kehebatan orang dari Andalas ini tentu dibuktikan dengan menangkap senjata miliknya ketika masih melesat di udara. Dan men-
gingat nada ucapannya yang seakan membenci
Ratu Leak. Rasanya orang ini pun punya urusan
penting dengan perempuan yang telah menjatuh-
kan kutuk itu.
"Maaf, aku mempunyai dua kali kebutaan
karena tidak melihat tingginya gunung Agung di
depanku. Sebenarnya aku menghawatirkan nasib
sahabat baruku, Pendekar Blo'on. Ia terjebak di
Liang Lahat Bakutuk Karena kulihat gadis itu berada disini, maka aku bercuriga padanya jangan-
jangan ia mata-mata Ratu Leak..." jelas si kakek buta. "Adanya Liang Lahat Bakutuk bermula dari Batu Lahat Bakutuk. Sekarang ini terciptalah neraka terkutuk karena batu batuah itu jatuh ke
tangan orang yang salah. Sebuah liang lahat,
hemm... dimanakah tempatnya?" tanya Datuk
Nan Gadang Paluih.
Dewi Kerudung Putih tanpa diminta lang-
sung menunjuk ke arah makam tanpa nisan den-
gan dasar seperti batu pelataran berwarna putih.
Si laki-laki datang mendekati.
"Liang lahat ini besarnya seribu kali dari
besarnya batu Bakutuk milikku yang dicuri Ratu
Leak Sebuah adi kesaktian turun temurun yang
diwariskan kakek buyutku. Kini aku harus me-
rampasnya sebelum merenggut korban lebih ba-
nyak lagi." batin Datuk Nan Gadang Paluih.
"Bagaimana orang tua? Apakah kita dapat
menjebol makam batu ini?" tanya Dewi Kerudung Putih tidak sabar.
Datuk Nan Gadang Paluih gelengkan kepa-
la. "Kurasa sahabatmu sengaja dipancing oleh lawannya untuk mendekati jebakan ini. Liang lahat
ini tidak mungkin dibuka, terkecuali dengan Batu Lahat Bakutuk pula. Tapi di dunia ini cuma satu
Batu Lahat dan yang cuma satu-satunya itu telah
dicuri oleh Ratu Leak kurang lebih sekitar tiga
puluh lima tahun yang silam" jelas si Datuk.
"Bagaimana nasib kawanku?" tanya si gadis semakin khawatir.
"Itu yang sulit, nasib manusia tidak seo-
rang pun yang tahu. Dengan batu itu Ratu Leak
bisa punya seribu rencana."
"Biar aku bobol Makam terkutuk celaka
ini" dengus Si Buta Mata Kejora.
Datuk Nan Gadang Paluih sama sekali ti-
dak mencegah, ia sadar betul usaha apapun yang
dilakukan kakek keras kepala ini tidak akan
mendatangkan hasil. Sebab sepengetahuannya
pula tidak ada pukulan sakti manapun yang
mampu menghancurkan barang-barang yang ter-
cipta dari Tuah Batu Lahat Bakutuk
Sementara itu Si Buta Mata Kejora sudah
siap melepaskan pukulan saktinya. Sebentar saja
kedua tangannya telah berubah memerah. Si Bu-
ta Mata Kejora tiba-tiba saja hantamkan kedua
tangannya ke arah liang lahat di depannya.
Terjadi guncangan yang sangat keras seka-
li, kilatan sinar merah berbalik dan nyaris menghantam pemiliknya jika saja ia tidak cepat mem-
buang diri dan berguling-guling.
Si Buta Mata Kejora gelengkan kepala den-
gan wajah sepucat mayat. Dadanya terguncang
dan jantung berdenyut lebih keras lagi. Sayang
kakek yang keras kepala ini tidak mengenai rasa
jeri, walau pada kenyataannya batu liang lahat
selebar setengah depa dan sepanjang dua meter
tidak mengalami kerusakan walau sedikit pun.
"Aku harus mencobanya lagi" berseru si kakek, penasaran.
"Kau tidak akan dapat merubah sesuatu
apa pun. Apa yang kau lakukan hanya akan sia-
sia saja" Datuk Nan Gadang Paluih memperingatkan. Percuma saja peringatan itu bagi kakek
dekil ini. Ia kembali menyiapkan pukulan 'Angin
Biru'. Orang-orang di Sange tahu pasti kehebatan pukulan yang satu ini.
"Huuup..."
Si Buta Mata Kejora tarik kedua tangannya
ke belakang. Tiba-tiba saja kedua tangannya di-
hantamkannya ke hamparan batu liang lahat di
depannya.
Wuuuk
Duuumm
Wuaas
Si Buta Mata Kejora menjerit histeris, tu-
buhnya terdorong ke belakang. Mulutnya me-
nyembur darah, orang ini terkapar terhantam pu-
kulannya sendiri. Nafas Si Buta Mata Kejora me-
gap-megap, Datuk Nan Gadang Paluih datang
menghampiri.
"Banyak sekali orang celaka di dunia ini
termakan tulah sendiri. Kepandaian sebesar ke-
lingking mana bisa mengungkit gajah Dasar bo-
doh keras kepala pula..." gerutu Sang Datuk.
"Bagaimana keadaannya, Datuk?" tanya
Dewi Kerudung Putih.
"Ini namanya mampus tidak hidup pun se-
gan. Anak dara, menjauhlah. Aku akan mengoba-
tinya" ucap Datuk Nan Gadang Paluih tegas. Salah satu tokoh dari Andalas ini kemudian men-
gambil batu sebesar lengan.
"Hendak kau apakan dia Datuk?" Si gadis merasa khawatir kalau orang berbaju putih berselempang putih ini malah mencelakai Si Buta Mata
Kejora. Sehingga ia pun melompat menghadang.
"Anak kuciang Menyingkir kataku, dia su-
dah mau mampus Kalau tidak cepat kutolong
aku khawatir darah semakin menggumpal di se-
tiap pembuluh darahnya." bentak sang Datuk.
Meskipun ragu-ragu Dewi Kerudung Putih ter-
paksa mematuhi perintah orang ini
Datuk Nan Gadang Paluih menelung-
kupkan badan Si Buta seenaknya sendiri. Kemu-
dian batu yang berada dalam genggamannya di-
hantamkan ke sekujur tubuh Mata Kejora. Tentu
orang ini menjerit-jerit kesakitan seperti orang yang sekarat. Namun Datuk Nan Gadang Paluih
sama sekali tidak menghiraukan jeritan kakek
buta. Ia terus memukul-mukul tubuh si kakek.
"Aaakh... celaka, kau orang gila Mengapa
kau malah memukuli badanku, apakah kau hen-
dak membunuhku?" teriak Si Buta Mata Kejora.
"Diam, kau orang yang hendak mampus
tahu apa? Penyakitmu kau cari sendiri. Aku lebih tahu apa yang tidak kau ketahui" dengus sang Datuk. "Kau mengobatiku, mengapa harus me-nyiksa seperti ini?" jerit si kakek manakala han-taman batu di tubuhnya tidak juga berhenti.
"Mulutmu bisa diam atau nggak? Apa kau
ingin agar aku memukul mulutmu dengan batu
juga?" "Kau orang gila?" maki si kakek.
Plok
"Akh..." Si Buta Mata Kejora menjerit. Datuk Nan Gadang Paluih rupanya menampar pipi si
kakek. Sementara itu darah mengalir di sudut-
sudut bibir si kakek. Seketika ia merasa ada pe-rubahan dalam dirinya. Ia merasakan nafas men-
jadi longgar, tubuh terasa enteng. Diam-diam ia
merasa takjub atas apa yang dilakukan oleh Da-
tuk Nan Gadang Paluih. Rupanya saat memukuli
si kakek tadi, Datuk Nan Gadang Paluih diam-
diam mengerahkan tenaga dalam untuk meng-
hancurkan darah yang bergumpal pada setiap
pembuluh darah Si Buta Mata Kejora, hingga sa-
kit mendera yang dirasakannya hampir hilang
sama sekali.
"Ohk, ternyata kau orang hebat" puji Si Buta Mata Kejora. "Aku merasa berterima kasih padamu" kata si kakek.
"Mengapa kau malah memikirkan segala
terima kasih? Batuku, batuku Batu Lahat Baku-
tuk. Aku harus memikirkan cara bagaimana agar
dapat menembus penutup liang Lahat ini?" desis laki-laki setengah baya itu cemas. Bukan hanya
Datuk Nan Gadang Paluih saja yang bingung,
Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora ju-
ga bingung memikirkan nasib Pendekar Blo'on.
DELAPAN
Suro seperti tercampak ke jurang neraka
yang panas di lamun api. Liang Lahat yang men-
jebloskan dirinya dalam perangkap maut itu sea-
kan tanpa dasar, gelap dan di sana sini terdengar suara jeritan mengerikan. Suara-suara itu terus
terdengar menggidikkan telinga yang mendengar-
nya. Dan hal itu berlangsung terus selama tu-
buhnya melayang dan melayang. Hingga akhirnya
ia terjatuh. Jatuh di atas daging busuk terbakar.
Di sana sini terdapat bangkai-bangkai yang ber-
timbun, mayat-mayat itu semuanya sudah han-
cur. Sungguh aneh memang jika mereka ternyata
masih bertahan hidup. Orang-orang sengsara
yang berada di jurang liang lahat itu entah siapa dan entah datang dari mana. Namun kelihatannya mereka mengalami berbagai-bagai penyik-
saan. Sosok-sosok setengah mayat setengah ma-
nusia ini menggapai-gapai ke arah Suro. Melihat
pemandangan yang mengerikan itu tengkuk Pen-
dekar Blo'on meremang berdiri.
Ia bergerak mundur, ruangan di dasar
liang lahat itu seakan tidak mengenal batas.
"Siapakah mereka? Apa sekarang aku su-
dah mati?" pikir Suro, bingung. Pemuda baju biru mencubit tangannya. Terasa sakit sekali, "Jelas aku belum mati. Aku masih hidup, segar bugar
dan belum sinting"
"Hraagk"
"Harrk..."
Di tengah-tengah suara jerit kesakitan itu
tiba-tiba saja terdengar erangan panjang di belakangnya. Suro cepat menoleh, dalam kegelapan ia
melihat beberapa sosok tubuh berlidah panjang
bermata bolong mendekatinya. Bukan hanya
mendekat, ternyata mereka menyerang Pendekar
Blo'on. Suro berlari menghindar di tengah-tengah kerumunan manusia mayat yang sedang mengalami bermacam-macam siksaan. Ternyata manu-
sia-manusia setengah mayat yang menyerangnya
tidak melakukan pengejaran. Suro sampai di ten-
gah-tengah orang yang kaki dan tangannya diran-
tai, sementara besi panas menembus mulai dubur
sampai ke bagian ubun-ubun. Begitu ngerinya
melihat penderitaan mereka. Suro sampai meme-
kik-mekik tertahan.
"Aku seperti berada di dalam neraka
Ohk... bagaimana ini Aku harus mencari jalan
keluar" Suro garuk-garuk kepala, bingung. Di tengah-tengah kebingungannya itulah sayup-sayup terdengar suara yang seakan datang dari
arah gemuruh api yang menyala-nyala di sisi ki-
rinya. "Suro Blondo Pendekar Blo'on, Hi hi hi...
Selamat datang di tempat kami. Bukankah kau
dapat merasakan penyambutan kami yang sangat
ramah?" Seperti orang linglung Suro memandang ke arah suara. Ia tidak melihat apa-apa terkecuali orang yang sedang disiksa.
"Ya, penyambutanmu sangat luar biasa.
Ketakutanku membuat aku ingin kencing, kenge-
rianku membuat aku ingin berak. Tempat apakah
ini?" tanya Suro keluarkan keringat dingin.
"Inilah salah satu singgasana untuk seo-
rang tamu agung sepertimu..." sahut suara yang seakan datang dari tengah kobaran api disertai
tawa dingin menggidikkan.
"Kau siapa?" bentak Suro, seraya menutup hidungnya. Bau busuk bangkai memang sangat
menyengat sekali. Sehingga Suro mau muntah
dan kepalanya pusing tujuh keliling.
"Aku bukan siapa-siapa?"
"Kau iblis terkutuk" maki Suro geram.
"Tindakanmu sangat pengecut. Kau telah menje-bakku secara licik"
"Hik hik hik... Hari ini kulihat seorang
Pendekar Besar dalam keadaan ketakutan. Hari
ini kulihat betapa wajah seorang Pendekar beru-
bah pucat seperti mayat. Engkau akan mati pe-
lan-pelan dalam ketakutan"
"Setan Kau..." Suro tidak sempat melan-jutkan kata-katanya karena dari arah belakang
ada sepasang tangan busuk meneteskan nanah
dan lendir menyergapnya. Lalu dari depan, dari
samping kiri datang beramai-ramai.
"Ekh... Mati aku emak, setengah manusia
setengah mayat ini mencekikku. Ekh... mati
emak..." pekik Suro. Ia pun meronta-ronta. Jepi-tan sosok-sosok busuk semakin kuat saja. Dari
balik kobaran api terdengar suara cekikikan.
Suro marah, ia meronta, lalu hantamkan
sikunya kanan kiri. Dua orang yang memitingnya
dengan tangan terpental. Pendekar Blo'on terus
meronta-ronta. Hingga orang-orang yang menye-
rangnya berpelantingan roboh. Mereka bangkit
kembali, dan entah dari mana datangnya jumlah
mereka semakin bertambah banyak.
"Aku tidak mungkin membuang tenaga
dengan percuma. Yang aku butuhkan saat ini
adalah jalan keluar dari neraka ini" guman Suro dalam hati. Pemuda ini segera berlari ke ruangan lain. Setiap ada yang menghadangnya ia lepaskan
pukulan menggeledek.
Tapi langkah Suro tiba-tiba terhenti, di de-
pannya ia melihat seperti ada sungai. Sungai yang airnya tidak mengalir sama sekali, air sungai itu
berwarna merah kekuning-kuningan
"Orang-orang tersiksa, bunuh pemuda
yang bergelar Pendekar Mandau Jantan itu"
Kembali terdengar suara mengguntur bernada pe-
rintah. Dari segala penjuru ruangan yang gelap
namun panas itu bermunculan sosok setengah
mayat setengah manusia menyerbu ke arah Suro.
Pemuda ini tercekat.
"Naga-naganya aku bisa mati konyol jika
harus melayani mereka" maki si pemuda.
"Bunuh Bunuh" terdengar suara ribut-
ribut memerintah. Lalu terdengar sahutan yang
lainnya.
"Bunuh, jadikan dia teman kita dalam pe-
nyiksaan"
Orang-orang yang menyerbu ke arah Suro
semakin bertambah banyak saja. Pemuda ini ter-
paksa lepaskan pukulan sakti secara beruntun.
Orang-orang yang mengalami berbagai macam
penyiksaan ini berpelantingan. Suro memang me-
rasa tidak punya pilihan lain lagi. Ia segera melompat ke sungai yang membelah tengah-tengah
ruangan.
"Ukh... Hoeeeek..."
Pendekar Blo'on langsung muntah. Air
sungai itu ternyata terdiri dari campuran nanah
dan darah yang busuk. Dalamnya sampai sebatas
leher. Suro memaki-maki. Dari kobaran api ter-
dengar suara tawa cekikikan. Tokh akhirnya Pen-
dekar Blo'on dapat juga sampai ke seberang. Pe-
muda ini lalu berlari ke lain tempat. Ternyata di
seberang sungai ini pun ruangannya sangat luas
tanpa batas. Setelah berjalan ke sana kemari, ia melihat seperti ada cahaya.
"Matahari? serunya. "Ada cahaya matahari menerobos masuk ke sini. Berarti dunia luar tidak jauh lagi dari sini. Tapi dari mana aku bisa mengetahui jalan keluar bagiku? Tidak ada pintu
tidak ada jendela. Semua dinding berlumuran da-
rah..." Pemuda ini lalu meneliti, tiba-tiba ia melihat di antara dinding yang berlumuran darah itu
terdapat sebuah pintu yang terkuak lebar.
"Aneh, aku tadi tidak melihat pintu di su-
dut sana, mengapa pintu itu tiba-tiba saja ada?
Apakah aku salah melihat?" Suro garuk-garuk kepala. Pintu terkuak semakin lebar. Dari dalamnya muncul seorang gadis dalam keadaan polos
tanpa pakaian. Yang mengejutkan Suro, gadis itu
cukup dikenalnya. Dia tidak lain adalah Dewi Bu-
lan. Dewi Bulan berjalan ke arahnya sambil ter-
senyum. Darah muda Pendekar Blo'on berdesir,
keadaan gadis ini sangat menantang sekali. Sepa-
sang payudaranya putih membusung, kedua pa-
hanya demikian mempesona. Belum pernah Suro
melihat pemandangan seperti ini dalam hidupnya.
Untuk lebih jelasnya siapa Dewi Bulan (dalam Ep-
isode Hianat Empat Datuk).
"Bulan..." desis Suro, ia mengerjabkan matanya berulang-ulang. Dewi Bulan tiba-tiba saja lenyap dari pandangan matanya. Di depannya ki-ni berdiri Dewi Arimbi, keadaan gadis ini pun sa-ma seperti Dewi Bulan tadi. Untuk mengetahui
siapa Dewi Arimbi (dalam Episode Memburu Ma-
nusia Setan). Suro semakin terpana.
"Arimbi...??" Lagi-lagi Suro menyebut orang yang pernah dikenalnya. Ia usap matanya berulang-ulang. Sosok telanjang Dewi Arimbi tiba-tiba saja sirna. Kemudian berganti dengan sosok lain, seorang gadis juga. Gadis misterius yang sebagian wajahnya ditumbuhi bulu-bulu lembut. Siapa lagi
jika bukan Dewi Kerudung Putih.
"Gila, apa sesungguhnya yang sedang ter-
jadi dengan diriku?" desis Suro bingung. Ia men-jambak rambutnya. Dan tiba-tiba terdengar suara
teriakannya yang panjang melengking.
"Haaaarkh..."
Sosok Dewi Kerudung Putih pun lenyap.
Suro memandang lurus ke depan. Ia sempat ter-
kesiap, karena di depannya berdiri seorang gadis cantik, si betina jalang Mustika Jajar. Gadis itu menyeringai, ia berdiri tegak dengan kedua tangan bersilang di depan dada.
"Kkk... kau...?" Suro keluarkan seruan kaget. "Hik hik hik... Terkejut Pendekar Mandau Jantan keparat? Kau tentu menyangka tanganku
sudah tidak dapat tersambung lagi bukan? Man-
dau jahanam senjatamu memang telah memutus
tanganku. Tapi seperti yang kau lihat musuh be-
sarku. Sekarang aku tidak kekurangan sesuatu
apa pun Apa jawabmu kini setelah kau terpe-
rangkap dalam kekuatan Batu Lahat Bakutuk?
Apakah kau masih hendak memamerkan pukulan
atau jurus-jurus picisan yang kala itu sangat kau bangga-banggakan? Hik hik hik..." Sosok gadis yang ternyata Iblis Betina Dari Neraka, tertawa terkikik-kikik. Hilang sudah rasa kaget di hati Su-ro. Sekarang ia malah ikut-ikutan tertawa sambil menggaruk rambutnya berulang-ulang.
"Mustika Jajar perempuan yang penuh
keedanan. Apakah setelah kehilangan Perkasa
kau sekarang sudah mendapatkan yang lebih be-
sar lagi. Ha ha ha... kasihan juga nasib kekasih-mu yang patung itu. Sekarang aku dapat bayang-
kan betapa kesepiannya dirimu. Lagipula di dunia ini sulit mencari laki-laki sehebat dan sebesar
Perkasa. Aku pernah melihatnya sebelum kau
berhasil menguasainya dulu. Hebat, lho. Anu ga-
jah saja masih kalah besar" ejek Suro
Merah padam wajah gadis itu bukan kepa-
lang. Jika menuruti kata hatinya ingin rasanya ia melabrak Pendekar Blo'on. Tapi ia ingat pesan
uwa gurunya, Ratu Leak.
"Pemuda gila Tertawalah sepuasmu, nanti
kau akan menangis dalam penderitaan yang tidak
pernah dibayangkan oleh manusia manapun di
dunia ini..." teriak Mustika Jajar.
Suro sama sekali tidak terpancing dengan
ucapan Iblis Betina Dari Neraka. Mulut pemuda
itu tiba-tiba termonyong-monyong. "Penderitaan yang bagaimana kau maksudkan? Kata orang jika
sudah dalam pelukanmu bukan penderitaan yang
kudapatkan, tapi kebahagiaan berpacu dalam
nafsu. Aihk, perempuan keblinger. Sekarang aku
sedang bingung aku dan kau apakah sudah bera-
da di neraka atau sorga?"
"Inilah nerakamu, neraka bagi seorang
pendekar konyol Kau akan mampus, gurumu ju-
ga akan menyusulmu" maki si gadis.
"Ha ha ha... Ancamanmu itu sudah entah
yang keberapa kalinya kudengar. Sebelum aku
mati, maukah kau menjelaskan padaku siapa
yang melakukan pekerjaan licik ini? Dan eeh...
satu lagi, apakah kau melihat Kala Demit?" tanya Suro. "Nanti kau akan mendengar semua penjelasan setelah di neraka? Sekarang terimalah
ajalmu" tegas Iblis Betina Dari Neraka. Tiba-tiba terdengar suara suitan panjang dari bibirnya yang kemerah-merahan itu. Beberapa pintu lainnya segera terbuka. Tiga orang gadis berwajah bengis
dan sadis muncul. Mereka membawa tali penjerat
yang disimpul pada setiap bagian ujungnya.
"Tiga orang telah cukup untuk menjerat
leher, kaki tanganmu Rasanya belum komplit ji-
ka belum kuundang Sang Pelucut Segala Ilmu Se-
gala Daya" sinis suara Mustika Jajar.
Plok-plok-plok
Sebelum hilang gema suara tepukan Mus-
tika Jajar. Terdengar suara bergemuruh. Lantai
rupanya tergetar keras, lalu terjadi keretakan di sana sini. Getaran disertai ledakan-ledakan terus terjadi. Sehingga tampak sinar merah merekah
seperti bara.
"Haaang..."
Muncul sosok tubuh tinggi besar, bagian
kepalanya terdapat sebuah tanduk. Di ujung tan-
duk itu terdapat sinar berkilau-kilauan. Suro tertegak melihat semua keanehan demi keanehan
ini. Memandang ke arah sosok berkulit hitam
berwajah seperti kera Suro tutupi matanya. Entah makhluk apa yang baru keluar dari dalam bumi
ini. Matanya besar-besar, hidungnya lebar. Se-
dangkan mulutnya meneteskan darah. Ia hanya
mendengar sebentar tadi Iblis Betina Dari Neraka menyebut enam buah kata 'Sang Pelucut Segala
Ilmu Segala Daya'. Apa yang akan dilakukan oleh
makhluk kera ini? Apapun yang terjadi Suro ha-
rus bersikap lebih hati-hati.
"Suro, kau lihatlah, makhluk ini dan gadis-
gadis bengis itu hanya tinggal menunggu perin-
tahku. Sebuah kata kuucapkan, maka nasibmu
segera berakhir sampai disini saja" ancam Mustika Jajar.
"Sebuah ancaman tidaklah membuat nya-
liku ciut. Dan kematian bukanlah sesuatu yang
aku takuti. Kau bebas berbuat apa saja, karena
neraka ini memang mungkin daerah kekuasan-
mu Ha ha ha..."
"Tentu aku tidak bodoh, Suro. Kematianmu
tidak secepat itu, nanti sudah ada yang menga-
turnya. Sekarang tugas Penghela Neraka untuk
meringkusmu Laksanakan" perintah Mustika Jajar.
"Hem..."
Tiga gadis berpakaian serba hitam lang-
sung berpencar mengatur posisi. Suro dengan su-
dut matanya mengitarkan perhatiannya. Tahu-
tahu secepat bayangan....
Wuuut
Tiga buah tali bersimpul menjerat Pendekar
Blo'on. Serangan mendadak ini segera dielakkan
oleh Suro. Namun tiga gadis bengis kembali me-
lontarkan tali di tangan mereka. Sementara Mus-
tika Jajar dan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya memperhatikan semua ini dari jarak yang
tidak jauh.
Set
"Aih, hampir saja..." seru Pendekar Blo'on.
Pemuda ini terus melompat atau berkelit meng-
hindar. Tetapi serangan yang dilancarkan oleh ketiga gadis bengis ini semakin bertambah hebat
dan ganas. Sehingga Pendekar Blo'on terpaksa
mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh
Harimau'. Inilah salah satu jurus yang sangat
dikhawatirkan oleh Mustika Jajar, karena dulu ia juga pernah merasakan kehebatan jurus tersebut.
"Sergap" teriaknya memperingatkan gadis-gadis yang sedang berusaha meringkus Suro. Apa
yang diperintahkan oleh Mustika memang tidak
mudah untuk melaksanakannya. Karena beru-
lang kali tali berbentuk jerat bersimpul ini selalu mengenai bayangan Suro Blondo.
"Tebar" Si gadis kembali memberi aba-aba.
Seketika salah seorang dari mereka langsung me-
lesat ke udara. Yang satunya lagi menyerang dari bawah, sedangkan yang lainnya berputar-putar
mengitari Suro.
Wut Wut Wut
Serangan beruntun yang datang dari ber-
bagai arah ini membuat Suro tercengang. Ia sege-
ra berguling-guling, sehingga jerat tali yang dari atas lolos dari samping kiri juga lulus. Namun
yang dari arah belakangnya tidak dapat dihindari oleh pemuda ini.
Sreet
Buk
Bagaikan durian jatuh Suro terpelanting
dengan pantat menghantam lantai lebih dulu.
Pemuda ini meringis kesakitan, hatinya menyum-
pah. Kakinya yang terjerat tali disentakkan. Suro berguling-guling tangannya cepat melepaskan tali yang mengikat kaki kiri. Sayang gerakannya kalah cepat. Tali kembali meluncur dan kali ini
menjerat tangan kanannya.
Set
Bagaikan seekor kerbau yang hendak di-
jagal keadaan Suro Blondo saat itu. Mustika Jajar tertawa terkikik-kikik. Walau pun begitu pendekar Mandau Jantan tetap berusaha meronta.
Wuut
Sebuah tali yang dilontarkan gadis bengis
ketiga meluncur. Namun Pendekar Blo'on sudah
menghindar. Dua orang menarikkan tali yang
menjerat kaki kiri dan tangan kanan.
Buuuk
"Wadow, setan kapiran" maki Suro. Dalam keadaan yang serba sulit itu Suro menyalurkan
tenaga dalamnya kebagian tangan yang terbebas.
Gadis ketiga masih berusaha menjeratkan talinya
ke bagian tubuh lawan. Namun Suro licin seperti
belut. "Pentang" Perintah Iblis Betina Dari Neraka.
Dua gadis langsung menarik tali-tali yang
telah menjerat kaki dan tangan lawannya. Suro
yang merasa diperlakukan seperti hewan mengge-
ram marah.
SEMBILAN
Dengan kecepatan yang sangat luar biasa
sekali Pendekar Blo'on lepaskan pukulan 'Neraka
Hari Terakhir' ke arah tiga gadis berwajah angker ini. Terdengar suara jeritan di sana-sini. Sinar merah hitam menggebu.
Buum
Terjadi suara ledakan tiga kali berturut-
turut. Ketiga gadis itu menjerit kesakitan di saat hawa panas menghantam tubuh mereka. Sungguh pun orang-orang ini terluka, tetapi anehnya
mereka sudah bangkit berdiri. Lebih celaka tubuh mereka semakin meninggi. Si pemuda sempat tercengang melihat kejadian yang aneh ini. Ia sudah tidak punya waktu lebih lama. Tubuhnya masih
dalam keadaan terikat, maka melalui tangan yang
bebas itu ia mencoba mengambil Mandau dari
warangkanya.
"Jangan beri kesempatan padanya untuk
melakukannya" teriak Mustika Jajar memberi aba-aba. "'Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya'
Lakukanlah tugasmu"
Sosok berkulit hitam berwajah seperti mo-
nyet besar menggeram. Sinar merah yang keluar
dari ujung tanduknya langsung melesat bergu-
lung-gulung ke arah Suro. Pemuda ini gabungkan
dua pukulan, lalu hentakkan kedua tangannya ke
arah sinar merah yang datang menyerang secara
bergulung-gulung seperti angin puyuh tersebut.
Blak
"Ekh..."
Pendekar Mandau Jantan terkesiap. Puku-
lan "Neraka Hari Terakhir' yang dilepaskannya hanya membuat sosok hitam bertanduk merah ini
bergetar saja. Sedangkan pusaran angin sinar
merah terus melabraknya. Suro memekik terta-
han. Sedapat mungkin ia berusaha membebaskan
diri dari gulungan sinar tersebut. Tangan kanan
melepaskan pukulan. 'Matahari Rembulan Tidak
Bersinar' sedangkan tangan kiri lepaskan puku-
lan "Ratapan Pembangkit Sukma'.
Wus
Tup Tup
"Aih, celaka..." seru Suro. Pukulan yang dilepaskannya seakan amblas tersedot sinar yang
keluar dari tanduk makhluk berwajah monyet
tersebut. Pontang-panting pemuda ini selamatkan
diri. Pak Pak
Sinar merah tiba-tiba menyergap dan meli-
batnya. Suro meronta, sekujur tubuhnya tiba-tiba seperti diperas mulai dari ujung kaki. Pemuda
konyol ini menjerit setinggi langit seluruh badannya menggeletar hebat, ia merasa seperti ada be-
ribu tangan gaib yang meremasnya dengan keku-
atan yang semakin menggila. Remasan itu kian
lama bergerak ke arah perut, dada dan akhirnya
ke sekujur tubuh. Telinga, hidung dan mulut
Pendekar Blo'on mengucurkan darah. Suro mera-
sa pandangan matanya berkunang-kunang, tu-
buh tidak bertenaga dan pandangan mata kemu-
dian menggelap hingga akhirnya ia tidak sadar-
kan diri.
Iblis Betina Dari Neraka tertawa bergelak.
Tiga gadis berwajah angker segera mementang
tangan, kaki Pendekar Blo'on ini ke empat juru-
san. "Bawa dia ke ruangan pengadilan" ucapan Mustika Jajar ditujukan pada tiga gadis yang dikenal sebagai 'Juru Siksa'. Orang-orang ini segera menyeret dengan kasar lawan mereka. Mustika
Jajar lalu menoleh ke arah 'Sang Pelucut Segala
Ilmu Segala Daya'. Seraya berkata "Kau datang dari dasar Neraka Perut Bumi atas panggilan Ba-tu Lahat Bakutuk. Kau tidak boleh kembali ke
tempat asalmu sebelum Ratu Leak memberimu
izin. Mulai sekarang tugasmu adalah merintangi
tokoh-tokoh golongan putih yang mana pun yang
coba-coba memasuki Liang Lahat Bakutuk ini.
Adakah kau mengerti?"
"Aku mengerti..." sahut Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sambil menggeram.
"Nah disinilah tempatmu Jangan pergi ke
mana pun sebelum ada perintah dariku atau pe-
rintah dari Ratu Leak..." tegas Mustika Jajar.
Sosok hitam berwajah seperti monyet besar
bertanduk merah memancarkan cahaya angguk-
kan kepala sambil menggeram pula.
Mustika Jajar tanpa menunggu lebih lama
segera meninggalkannya. Suasana pada bagian
ruangan itu berubah menjadi sunyi. Mungkin pa-
da ruangan-ruangan lain yang seperti neraka itu
penyiksaan terus berlangsung.
***
Datuk Nan Gadang Paluih duduk menekur
di atas bahu, kuda putihnya berdiri tegak tidak
jauh di sampingnya. Ia memang sedang bingung
memikirkan cara bagaimana agar dapat menem-
bus Liang Lahat Bakutuk. Rasanya jalan keluar
itu memang sulit dicari. Tapi jika ia tetap berdiam diri, keadaan akan bertambah lebih parah lagi.
Ratu Leak bisa menjebak mereka semua. Batu
Lahat Bakutuk mempunyai kekuatan yang sung-
guh dahsyat. Dengan kekuatan yang terkandung
dalam batu tersebut. Ratu bisa berbuat apa saja
"Rajo di atas rajo. Batu Lahat Bakutuk
adalah rajanya batu-batu gaib. Siapa sangka uru-
san bisa menjadi begini rumit? Sekarang orang-
orang sakti tidak ubahnya seperti sampah. Ratu
Leak punya kuasa, tanpa Batu Lahat Bakutuk.
Seribu Ratu Leak tidak kupandang sebelah mata.
Bangsat, jauh-jauh dari Ngarai Sianok hanya ber-
pusing-pusing memikirkan nasib si batu."
"Putih Kaki Langit..." gumannya ditujukan pada kuda di sampingnya. "Apa pendapatmu tentang hal ini?"
Kuda alam gaib tersebut meringkik pan-
jang. Seraya, kuda itu mendekati Datuk Nan Ga-
dang Paluih. Mulutnya terbuka ke arah pinggang
sang Datuk. Lalu sesuatu disentakkan. Ikat ping-
gang Datuk Nan Gadang Paluih terlepas. Datuk
terbelalak. "Angin Pelebur Petaka? Apa maksud-mu kau menarik angkin sakti ini? Apakah ingin
agar aku menghantam pintu Liang lahat itu den-
gan angin ini?"
"Hik Hiiiik..."
Si Putih Kaki Langit keluarkan ringkikan
pendek. Kepala digoyang-goyangkan ke atas dan
ke bawah. Tahulah Datuk Nan Gadang Paluih apa
yang dikehendaki oleh kuda tersebut. Laki-laki
berbaju putih berselempang putih mendekati pin-
tu Liang Lahat Bakutuk.
Sementara itu Dewi Kerudung Putih dan Si
Buta Mata Kejora berdiri tegak tidak jauh dari
Liang Lahat di mana Suro terperosok di dalam-
nya. Dua orang ini juga sama bingungnya. Keliha-
tannya sampai saat itu mereka masih belum me-
nemukan cara untuk menghancurkan pintu pe-
nutup Liang Lahat Bakutuk.
Kini perhatian Dewi Kerudung Putih tertuju
pada Datuk Nan Gadang Paluih. Tokoh dari Anda-
las ini mulai memutar-mutar, angkin Pelebur Pe-
taka. Sekejap saja angin menderu-deru. Udara
semakin memanas, wajah sang Datuk semakin
lama semakin menegang. Angkin tiba-tiba melun-
cur deras menghantam batu.
Buuuuum
Terdengar dentuman keras bukan main.
Cahaya Putih seperti kunang-kunang bertebaran
di udara. Tanah bergetar pintu Liang Lahat bergetar, sayang tidak terjadi kehancuran di situ. Datuk Nan Gadang Paluih demi melihat semua ini
goyangkan kepala.
"Putih Kaki Langit, Angkin Pelebur Petaka
rasa-rasanya seperti tidak berguna. Benar kata-
ku, ini buktinya" seru Datuk Nan Gadang Paluih ditujukan pada kuda gaibnya.
"Hiik"
"Aku tidak mau melakukannya lagi, Putih
Kita harus menunggu waktu yang baik. Kulihat
pengaruh kutuk Ratu Leak sudah mulai mele-
mah" ujar sang Datuk.
Dewi Kerudung Putih melangkah mendeka-
ti. Kelihatannya ia ingin mengatakan sesuatu. Ba-ru saja mulutnya terbuka, tiba-tiba saja terdengar suara pelan seseorang.
Ujung timur dan ujung barat
Manusia mana yang dapat menempuh ja-
raknya?
Bumi Gusti Allah sungguh besar luasnya
Kekuasaannya meliputi segala
Rahmat dan kasih sayangNya tidak pernah
terputus
Diberikan pada semua yang bersukur atau
tidak bersukur
Lalu apa rasa terima kasih manusia?
Hidupnya hanya menuruti keinginan nafsu
rendah.
Sombongnya, angkuhnya, melebihi pencip-
ta-nya Setiap jalan pasti ada ujungnya
Setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya
Hidup manusia tidak kekal, pasti binasa
Bila langit menangis, bumi menjadi subur
Aku... aku, siapa aku...?
Serentak ketiga orang yang berdiri di tepi
Liang Lahat itu menoleh dan memandang ke arah
datangnya suara. Di atas batu tidak jauh dari ku-da putih. Terlihat seorang laki-laki berbadan pendek memakai topeng-topengan berbentuk wajah
anak kecil duduk mencangkung dengan kedua
tangan menopang dagu. Orang ini tidak memakai
baju, celananya hitam. Di dadanya yang telanjang terlihat sebuah ketapel dan kompeng (dot) anak
kecil. Pertama melihat penampilan orang mema-
kai topeng anak kecil ini Dewi Kerudung Putih ingin tertawa. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Paluih
kerutkan keningnya.
Apa yang dikatakan oleh laki-laki pendek
memakai topeng itu bukan tidak punya makna
tertentu. Lalu siapa orang di balik topeng bocah ini? Datuk Nan Gadang datang mendekati. Si laki-laki tertawa ha ha hi hi.
"Wahai Kisanak yang bicara dalam sair
Dapatkah kau sebutkan siapa dirimu?" tanya Datuk Nan Gadang Paluih. Yang ditanya tertawa la-
gi. Lalu tutupi wajahnya. Setelah itu ia menjawab seperti orang yang bersair.
Untuk menutup rasa malunya manusia me-
makai topeng
Sadar tidak sadar manusia suka memakai
topeng Bicara manusia dengan topeng, langkah manusia juga dengan topeng
Topeng-topeng yang nakal
Penutup rasa malu dan kebusukan
Bila topeng-topeng bertanggalan?
Itu namanya kiamat
Berhadapan dengan Tuhan tidak perlu me-
makai topeng
Karena Tuhan melihat langsung isi hati ma-
nusia Topeng adalah aku
Aku adalah topeng
Topeng-topeng adalah bagian hidup manu-
sia Aku topeng Topeng itu aku
Berubah wajah Datuk Nan Gadang Paluih
seketika mendengar kata-kata yang diucapkan
oleh laki-laki pendek bertopeng bocah. Ia seka-
rang sudah berumur hampir lima puluh atau
enam puluh tahun. Dulu gurunya ketika masih
kecil pernah bercerita ada seorang tokoh aneh berumur sekitar seratus lima puluh tahun. Jadi jika benar orang ini adalah Manusia Topeng alias Setan Topeng. Berarti umurnya sekarang hampir
dua ratus tahun.
"Engkaukah yang bergelar Manusia To-
peng?" tanya Datuk Nan Gadang Paluih. Yang ditanya kembali tertawa ha ha hi hi.
Tidak di langit tidak di bumi itu tempat ting-galku Jika mau tahu siapa aku, kenalilah diri sendiri Langit luas bumi luas
Di perut bumi petaka menanti
Topeng aku
Aku topeng
Jawaban ini sudah cukup jelas bagi Datuk
Nan Gadang Paluih siapa adanya laki-laki pendek bertopeng bocah ini. Dulu ia mendengar Manusia
Topeng memiliki kepandaian tinggi, walau pun
wataknya sulit ditebak. Untuk itulah Datuk Nan
Gadang Paluih langsung menjura hormat.
"Aku manusia rendah tidak berguna men-
gucapkan salam selamat datang padamu" ucapnya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Sebaliknya Dewi Kerudung Putih tentu merasa
terheran-heran melihat tingkah sang Datuk yang
seakan terlalu berlebihan terhadap orang yang belum mereka kenal sama sekali. Dewi tentu tidak
mau bersikap merendah seperti itu. Ia tetap tegak di tempatnya memandangi Datuk Nan Gadang Paluih dan laki-laki pendek memakai topeng bocah
silih berganti.
Kebanyakan orang bijak bersikap dan ber-
tingkah laku seperti orang bodoh
Sedikit ilmu sombong selangit
Hi hi hi
Ha ha ha
Pusing pusing memikirkan Liang Lahat
mengapa tidak dikencingi saja??
Datuk Nan Gadang Paluih, Dewi Kerudung Putih maupun Si Buta Mata Kejora yang sejak ta-di hanya diam saja ternganga. Manusia Topeng ini bicara asal keluar saja. Apa mungkin ucapannya
dapat dipercaya? Inilah yang dipikirkan oleh Datuk Nan Gadang Paluih.
Lagipula kalau benar siapa sanggup mela-
kukannya? Di situ ada Dewi, mau ditaruh dimana
rasa malu ini? Karena melihat ketiga orang ini tidak juga bergerak. Manusia Topeng melompat
mendekati Liang Lahat.
SEPULUH
Ia menghadap ke arah Dewi Kerudung Pu-
tih, lalu seenaknya saja tarik celana hitamnya
hingga sebatas lutut.
Seeerrr
Dewi Kerudung Putih memekik kaget. wa-
jahnya merah karena malu dan ia cepat menying-
kir ke tempat aman. Manusia Topeng tertawa ha
ha hi hi. Datuk Nan Gadang Paluih juga pentang
matanya, bukan karena ngeri atau ngiler melihat
anunya Setan Topeng, yang membuatnya terpe-
ranjat justru, pintu batu Liang Lahat yang terke-na kencing Manusia Topeng tampak mengepulkan
asap putih menebar bau pesing dan bau telur bu-
suk. Asap putih semakin lama semakin meneb-
al, meliuk-liuk di udara untuk akhirnya lenyap.
Penutup batu liang lahat hancur menjadi
debu. Setelah itu diteliti oleh Dewi Kerudung Putih, ternyata hanya bagian atas saja yang hancur.
Batu penutup liang lahat setebal setengah
hasta tidak hancur seluruhnya.
Manusia Topeng terdiam, ia mendongak ke
langit. Setelah itu memperhatikan orang-orang di sekelilingnya satu demi satu.
Kencing memang sudah kukencingi.
Mempan tidak mempan
Tapi kurasa ada cara ada jalan
Ketapelku...
Senjata sakti Pembelah Bumi
Ingin kulihat Ingin kulihat
Manusia Topeng lepas ketapelnya yang
tanpa karet itu, terkecuali terikat tali berwarna hitam. Datuk Nan Gadang Paluih kerutkan keningnya. Si Buta Mata Kejora coba pertegas pen-
dengaran.
"Aku dengar ada suara mendengung" bi-
siknya ditujukan pada Dewi Kerudung Putih. Wa-
lau cemberut gadis itu tetap menjawab juga. "Ya, Manusia, Topeng keluarkan ketapel butut. Aku
tidak tahu apa saja yang akan dilakukan oleh
orang-orang gila disini"
"Jangan sembarangan kau bicara Dia bu-
kan manusia biasa seperti kita..,." ujar Si Buta Mata Kejora. Sekonyong-konyong terdengar suara
Manusia Topeng.
Yang megah belum tentu kokoh
Yang butut belum tentu rapuh
Wajah Dewi merah padam mendengar sin-
diran Manusia Topeng. Laki-laki Pendek memakai
topeng bocah ini tiba-tiba acungkan ketapel ca-
bang dua di tangannya tinggi-tinggi. Cabang ke-
tapel lalu dihantamkannya ke arah batu liang la-
hat. Tum Tum Tum
Tiga tempat dihantam, tiga lubang besar
tercipta. Dari dalam liang lahat yang bolong men-guap bau busuk menyengat. Manusia Topeng ter-
tegak, wajah di balik topeng pucat pasi. Akibat
pengerahan tenaga sakti tadi serta pengaruh si-
nar yang membalik membuat dada Manusia To-
peng sakit mendenyut dan sesak luar biasa.
Laki-laki bertopeng bocah ini usap-usap
dadanya beberapa kali. Si Buta Mata Kejora se-
perti tidak sabar dan ingin cepat-cepat masuk ke dalam lubang di depannya.
"Jangan ada yang turun" berteriak Datuk Nan Gadang Paluih memberi peringatan. "Aku
pemilik Batu Lahat Bakutuk, kira-kiranya apa
yang terjadi di bawah sana aku sudah dapat me-
nerka" Lalu Sang Datuk mengambil Angkin Pelebur Petaka yang saat itu telah dijadikan ikat kepalanya. Angkin warna Putih dilecutkan ke udara.
Sreset
Angkin tersebut mendadak saja berubah
panjang dengan lebar lebih kurang setengah tom-
bak. "Di bawah sana setelah mencium bau busuk ini pasti telah diciptakan neraka jadi-jadian.
Aku yakin Suro tercebur ke bawah sana. Kita ha-
rus membuat jembatan terselamat dengan meng-
gunakan Angkin Pelebur Petaka Kepada Manusia
Topeng harap hancurkan sisa-sisa batu penutup
Liang Lahat Bakutuk ini" pinta Datuk Nan Gadang Paluih.
Manusia Topeng tertawa ha ha hi hi. Ia
menggigit-gigit kompengnya, sedangkan wajahnya
tetap tertutup rapat. Orang ini tiba-tiba melompat mundur. Tangan diputar-putar
di atas kepala, bibirnya mendesis seperti orang yang meniup air
panas. "Heaa Jebol... bol... bol..."
Dihantamnya sisa-sisa penutup batu lahat
tersebut. Sisa batu bercampur tanah muncrat di
udara. Terlihat sebuah lubang besar menganga
berbentuk empat persegi panjang.
Bau busuk semakin bertambah menyengat.
Datuk Nan Gadang Paluih setelah melihat lubang
yang menguak lebar di depannya langsung ki-
baskan angkinnya ke dalam lubang tersebut.
Sret
Maka terbentang sebuah jembatan angkin
yang cukup lebar. Jembatan angkin itu oleh Da-
tuk diperkirakan melewati sungai penyelamatan,
yaitu sungai nanah bercampur darah.
"Aku mencium bau api yang membakar
Apakah angkinmu tidak terbakar wahai anak lima
setengah hari Hi hi hi..." Ucapan Manusia Topeng ditujukan pada Datuk Nan Gadang Paluih.
"Api neraka jejadian tidak mungkin dapat
menghanguskan angkin Pelebur Petaka Siapa
yang ingin berangkat duluan cepat lalui jembatan angkin ini" perintah Datuk Nan Gadang.
"Ha ha ha... Siapa mau berangkat ke nera-
ka duluan, silakan" Manusia Topeng menimpali.
"Aku sendiri meskipun ingin melihat Ratu Leak yang konon cantik luar biasa tidak mau lewat
jembatan di atas neraka. Aku ingin mencari jalan
lain yang lebih selamat" kata laki-laki berbadan pendek ini. Selesai bicara tubuhnya mendadak
saja raib dari pandangan mata. Ketiga orang yang berada di pinggir-pinggir liang lahat terkejut sekali, terlebih-lebih Dewi Kerudung Putih yang sejak tadi meremehkan orang aneh setengah gila itu.
"Biar aku yang menyeberangi jembatan
angkin ini. Aku percaya dengan kebenaran Datuk
Nan Gadang Paluih. Aku sudah tuaan, kalau
langkahku sampai meleset dan tercebur ke nera-
ka ciptaan Ratu Leak aku tidak menyesal. Ha ha
ha..." Dan Si Buta Mata Kejora ini pun naik ke atas jembatan angkin. Tubuhnya dalam waktu
singkat melesat ke dalam liang lahat Bakutuk.
Kini tinggal giliran Dewi Kerudung Putih,
gadis ini kelihatan ragu-ragu untuk mengikuti
apa yang dilakukan oleh Si Buta Mata Kejora
"Kau tunggu apa lagi, anak dara? Jemba-
tan angkin itu tidak dapat kupertahankan lebih
lama" datuk Nan Gadang Paluih memperin-
gatkan.
"Baiklah, terlanjur aku datang dari jauh.
Ratu Leak harus kita ringkus Walaupun ia punya
kesakitan sebanyak buih di lautan" Dan gadis ini kemudian naik ke jembatan angkin. Tubuhnya
dalam waktu singkat telah meluncur ke dalam
Liang Lahat tersebut.
Sayup-sayup ia mendengar jerit orang-
orang kesaktian. Udara sontak menjadi panas
luar biasa. Seolah-olah ia sedang menuju ke da-
lam tungku pembakaran.
Datuk Nan Gadang Paluih menoleh ke arah
kuda putihnya. Kuda alam gaib itu meringkik
panjang seakan memberi persetujuan.
"Putih Kaki Langit Bersiagalah kau di sini, nanti jika aku memerlukan bantuanmu aku akan
memanggilmu" pesan sang Datuk.
Kuda meringkik lagi, Datuk Nan Gadang
Paluih segera melangkah ke atas jembatan ang-
kin. Sekejap saja tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.
***
Kedua kaki dan kedua tangan Suro dipen-
tang, simpul-simpul tali yang mengikatnya begitu kuat. Bagian ujung tali tergantung begitu saja
seakan ada kekuatan gaib yang menahannya. Di
bawah sosok Suro yang tidak sadarkan diri, seja-
rak dua tombak api tampak menyala-nyala. Baju
pemuda itu sebagian telah meleleh terjilat api.
Namun masih belum ada tanda-tanda bahwa pe-
muda ini akan segera sadar.
Tiga gadis bengis yang dikenal dengan ju-
lukan Sang Jurus Siksa terus mengawasi. Ek-
spresi mereka sama sekali tidak menunjukkan
rasa belas kasihan.
Tidak lama terdengar suara langkah-
langkah kaki mendekat ke arah mana Sosok Pen-
dekar Blo'on tergantung. Yang datang ternyata
Mustika Jajar alias Iblis Betina Dari Neraka.
"Bagaimana keadaannya?" bertanya gadis
cantik berpakaian merangsang itu ditujukan pada
salah seorang gadis yang berada di sebelahnya.
"Ia pingsan berat, mungkin juga hampir
mampus" sahut gadis bengis itu ringan.
"Murid keponakanku Kematiannya ada di
tanganku. Kau tidak usah mencemaskannya.
Pendekar edan ini dapat kita jadikan apa saja se-suai dengan kehendakku. Melalui tangannya kita
tidak usah bersusah payah mencari dan membu-
nuh kedua gurunya. Nanti aku akan menjadikan-
nya sebagai alat pembunuh yang baik Seluruh
rimba persilatan akan menjadi gempar dengan pe-
ristiwa yang bakal terjadi. Seorang Pendekar be-
sar membunuh gurunya sendiri apakah ini bukan
peristiwa yang menghebohkan? Hik hik hik Tapi
yang lebih penting dari semua itu wahai murid
keponakanku. Sekarang kita mulai kedatangan
tamu. Tamu agung yang kematiannya juga sudah
ditentukan disini Biar mereka kesasar dan jalan-jalan ke neraka dulu Kalian sebagai anggota tuan rumah wajib menyambut kedatangan mereka"
kata suara tanpa rupa yang tidak lain adalah Ra-
tu Leak.
Sang Juru Siksa dengan diikuti oleh Iblis
Betina Dari Neraka kemudian segera menuju ke
pintu utama. Sedangkan sosok Suro yang terikat
tali dan dalam keadaan mengambang di udara
kemudian kelihatan bergerak mengambang. Sea-
kan ada kekuatan yang tidak terlihat telah me-
mindahkannya. Bagaimana nasib Pendekar Blo'on
yang dalam keadaan pingsan dan kehilangan
hampir seluruh kekuatannya itu? Seperti apakah
rupa Batu Lahat Bakutuk dan sedasyat apa ke-
kuatan yang terkandung di dalamnya? Mampu-
kah Datuk Nan Gadang Paluih merampas benda
sakti miliknya itu? Atau ia malah menjumpai ke-
binasaan setelah berada di dalam Liang Lahat
Bakutuk? Bagaimana pula dengan pemimpin ne-
geri, Wayan Tandira? Nantikan kelanjutannya
panas. "Heaa Jebol... bol... bol..."
Dihantamnya sisa-sisa penutup batu lahat
tersebut. Sisa batu bercampur tanah muncrat di
udara. Terlihat sebuah lubang besar menganga
berbentuk empat persegi panjang.
Bau busuk semakin bertambah menyengat.
Datuk Nan Gadang Paluih setelah melihat lubang
yang menguak lebar di depannya langsung ki-
baskan angkinnya ke dalam lubang tersebut.
Sret
Maka terbentang sebuah jembatan angkin
yang cukup lebar. Jembatan angkin itu oleh Da-
tuk diperkirakan melewati sungai penyelamatan,
yaitu sungai nanah bercampur darah.
"Aku mencium bau api yang membakar
Apakah angkinmu tidak terbakar wahai anak lima
setengah hari Hi hi hi..." Ucapan Manusia Topeng ditujukan pada Datuk Nan Gadang Paluih.
"Api neraka jejadian tidak mungkin dapat
menghanguskan angkin Pelebur Petaka Siapa
yang ingin berangkat duluan cepat lalui jembatan angkin ini" perintah Datuk Nan Gadang.
"Ha ha ha... Siapa mau berangkat ke nera-
ka duluan, silakan" Manusia Topeng menimpali.
"Aku sendiri meskipun ingin melihat Ratu Leak yang konon cantik luar biasa tidak mau lewat
jembatan di atas neraka. Aku ingin mencari jalan
lain yang lebih selamat" kata laki-laki berbadan pendek ini. Selesai bicara tubuhnya mendadak
saja raib dari pandangan mata. Ketiga orang yang berada di pinggir-pinggir liang lahat terkejut sekali, terlebih-lebih Dewi Kerudung Putih yang sejak tadi meremehkan orang aneh setengah gila itu.
"Biar aku yang menyeberangi jembatan
angkin ini. Aku percaya dengan kebenaran Datuk
Nan Gadang Paluih. Aku sudah tuaan, kalau
langkahku sampai meleset dan tercebur ke nera-
ka ciptaan Ratu Leak aku tidak menyesal. Ha ha
ha..." Dan Si Buta Mata Kejora ini pun naik ke atas jembatan angkin. Tubuhnya dalam waktu
singkat melesat ke dalam liang lahat Bakutuk.
Kini tinggal giliran Dewi Kerudung Putih,
gadis ini kelihatan ragu-ragu untuk mengikuti
apa yang dilakukan oleh Si Buta Mata Kejora
"Kau tunggu apa lagi, anak dara? Jemba-
tan angkin itu tidak dapat kupertahankan lebih
lama" datuk Nan Gadang Paluih memperin-
gatkan.
"Baiklah, terlanjur aku datang dari jauh.
Ratu Leak harus kita ringkus Walaupun ia punya
kesakitan sebanyak buih di lautan" Dan gadis ini kemudian naik ke jembatan angkin. Tubuhnya
dalam waktu singkat telah meluncur ke dalam
Liang Lahat tersebut.
Sayup-sayup ia mendengar jerit orang-
orang kesaktian. Udara sontak menjadi panas
luar biasa. Seolah-olah ia sedang menuju ke da-
lam tungku pembakaran.
Datuk Nan Gadang Paluih menoleh ke arah
kuda putihnya. Kuda alam gaib itu meringkik
panjang seakan memberi persetujuan.
"Putih Kaki Langit Bersiagalah kau di sini, nanti jika aku memerlukan bantuanmu aku akan
memanggilmu" pesan sang Datuk.
Kuda meringkik lagi, Datuk Nan Gadang
Paluih segera melangkah ke atas jembatan ang-
kin. Sekejap saja tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.
***
Kedua kaki dan kedua tangan Suro dipen-
tang, simpul-simpul tali yang mengikatnya begitu kuat. Bagian ujung tali tergantung begitu saja
seakan ada kekuatan gaib yang menahannya. Di
bawah sosok Suro yang tidak sadarkan diri, seja-
rak dua tombak api tampak menyala-nyala. Baju
pemuda itu sebagian telah meleleh terjilat api.
Namun masih belum ada tanda-tanda bahwa pe-
muda ini akan segera sadar.
Tiga gadis bengis yang dikenal dengan ju-
lukan Sang Jurus Siksa terus mengawasi. Ek-
spresi mereka sama sekali tidak menunjukkan
rasa belas kasihan.
Tidak lama terdengar suara langkah-
langkah kaki mendekat ke arah mana Sosok Pen-
dekar Blo'on tergantung. Yang datang ternyata
Mustika Jajar alias Iblis Betina Dari Neraka.
"Bagaimana keadaannya?" bertanya gadis
cantik berpakaian merangsang itu ditujukan pada
salah seorang gadis yang berada di sebelahnya.
"Ia pingsan berat, mungkin juga hampir
mampus" sahut gadis bengis itu ringan.
"Murid keponakanku Kematiannya ada di
tanganku. Kau tidak usah mencemaskannya.
Pendekar edan ini dapat kita jadikan apa saja se-suai dengan kehendakku. Melalui tangannya kita
tidak usah bersusah payah mencari dan membu-
nuh kedua gurunya. Nanti aku akan menjadikan-
nya sebagai alat pembunuh yang baik Seluruh
rimba persilatan akan menjadi gempar dengan pe-
ristiwa yang bakal terjadi. Seorang Pendekar be-
sar membunuh gurunya sendiri apakah ini bukan
peristiwa yang menghebohkan? Hik hik hik Tapi
yang lebih penting dari semua itu wahai murid
keponakanku. Sekarang kita mulai kedatangan
tamu. Tamu agung yang kematiannya juga sudah
ditentukan disini Biar mereka kesasar dan jalan-jalan ke neraka dulu Kalian sebagai anggota tuan rumah wajib menyambut kedatangan mereka"
kata suara tanpa rupa yang tidak lain adalah Ra-
tu Leak.
Sang Juru Siksa dengan diikuti oleh Iblis
Betina Dari Neraka kemudian segera menuju ke
pintu utama. Sedangkan sosok Suro yang terikat
tali dan dalam keadaan mengambang di udara
kemudian kelihatan bergerak mengambang. Sea-
kan ada kekuatan yang tidak terlihat telah me-
mindahkannya. Bagaimana nasib Pendekar Blo'on
yang dalam keadaan pingsan dan kehilangan
hampir seluruh kekuatannya itu? Seperti apakah
rupa Batu Lahat Bakutuk dan sedasyat apa ke-
kuatan yang terkandung di dalamnya? Mampu-
kah Datuk Nan Gadang Paluih merampas benda
sakti miliknya itu? Atau ia malah menjumpai ke-
binasaan setelah berada di dalam Liang Lahat
Bakutuk? Bagaimana pula dengan pemimpin ne-
geri, Wayan Tandira? Nantikan kelanjutannya
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...