Senin, 17 November 2014

PENDEKAR BLOON - Eps.18

PENDEKAR BLOON
Eps.18
BATU LAHAT BAKUTUK
SATU


Tidak satu pun rumah terlihat di tengah-

tengah dataran tandus itu. Dalam sehari dua kali terlihat burung gagak
hinggap di celah-celah sebuah bukit. Entah apa yang dilakukan oleh bu-

rung gagak ini tidak seorang pun yang tahu. Ka-

rena memang belum pernah ada orang yang bera-

ni datang ke daerah yang cukup angker ini.

Hanya bila kita mau melihat lebih dekat la-

gi, terlebih-lebih ke celah-celah bukit. Maka di sana ada sebuah pemandangan misterius yang

mengundang tanya. Rupanya diantara tiga buah

bukit cadas yang mengapit dataran sempit terse-

but terlihat puluhan tengkorak menggeletak di

atas tanah. Melihat keadaannya yang sudah ber-

lumut, tentulah orang ini telah lama meninggal

bahkan mungkin sudah berpuluh-puluh tahun.

Dan barangkali pula sebelum meninggal mereka

mengalami perlakuan yang sadis. Sebab diantara

tengkorak itu ada yang retak, banyak pula giginya yang rontok bahkan ada pula yang remuk tulang

pelipisnya.

Diantara lima belas tengkorak kepala itu

ada satu yang masih berambut, wajahnya terbalut

kulit seakan tidak berdaging sedangkan rambut-

nya panjang menjela. Sudah matikah dia?

Ternyata orang ini belum mati, ia masih

mampu mengangkat kepala, walau tubuhnya mu-

lai batas leher ke bawah tertimbun tanah. Terka-

dang kepala itu tertunduk atau terkulai di atas

tanah. Kak Kak

Tiba-tiba seekor burung gagak menyambar

di atas kepalanya sambil memperdengarkan suara

ribut. Orang yang tubuhnya terbenam ini angkat

kepala, menengadah ke atas disertai sesungging

senyum hampa.

"Gagak sahabatku Kau datang lagi? Da-

tang dengan membawakan kehidupanku" rintih si laki-laki.

Kekkk

Seakan mengerti burung tersebut menya-

hut ia hinggap di atas pasir persis di depan hi-

dung orang ini. Si laki-laki membuka mulutnya,

setangkai buah-buahan yang dibawa oleh burung

hitam ini dimakannya. Tidak satu pun buah tersi-

sa. Burung berbulu hitam ini memperhatikan si

laki-laki dengan tatapan iba.

"Sahabatku hitam?" Berkata orang ini

"Kau lihatlah tengkorak kawan-kawanku Mereka semua telah meninggalkan aku seorang diri. Aku

sudah tidak ingat lagi sudah berapa puluh tahun

aku dipendam disini, di dalam tanah jahanam

ini" Kaaaakkk

Si burung menyahut sekaligus gelengkan

kepala. "Kau tentu tidak tahu, sama seperti diriku ini. Mau gila rasanya aku, ingin mati saja aku ini seperti kawan-kawanku. Aku tahu tanah ini mengandung racun jahat, kurasa tubuhku sekarang

sudah hancur. Sahabatku apakah semua ini per-

tanda bahwa hidupku segera akan berakhir?" ke-luh si laki-laki seakan penuh penyesalan.

Keeeeek

Sang gagak menguik lagi, kedua kakinya

mencakar-cakar tanah yang menimbun leher

orang ini. Lalu tiba-tiba saja ia menadahkan pa-

ruhnya ke langit. Ketika itu langit memang men-

dung, suasana berubah gelap sedangkan angin

bertiup dengan kencang sekali. Burung hitam ter-

sebut tampak berubah gelisah, berulang kali ter-

dengar suara pekikannya.

"Mengapa harus takut sahabatku, hitam?

Tidak ingatkah kau selama aku dikubur disini hi-

dup-hidup belum pernah sekalipun turun hujan?

Bahkan angin pun belum pernah berhembus se-

kencang ini. Gagak Apakah ini pertanda bala

atau bahagia? Atau nasibku akan lebih celaka da-

ri kawan-kawanku yang sudah mati? Gagak hi-

tam, kurang bagaimana lagi nasib mempermain-

kan diriku ini? Kurang bagaimana aku bersikap

baik pada sesama manusia? Perempuan sundel

itu benar-benar telah menyengsarakan aku lahir

batin" dengus si laki-laki dengan perasaan tidak senang.

Trat Traat

Gleeer

Didahului oleh serangkaian kilat yang me-

nyambar, petir pun menggelegar sambung me-

nyambung tiada henti. Burung gagak semakin

bertambah gelisah.

"Inilah saat yang kunanti-nantikan seba-

gaimana yang telah dijanjikan oleh Dewata kepa-

daku, gagak." ucap si laki-laki, seraya menenga-dahkan wajahnya ke langit. Ketika itu hujan me-

mang turun dengan derasnya. Petir menggelegar

tiada henti, rambut laki-laki ini pun basah.

Buummm

Terjadi ledakan di suatu tempat, maka ta-

nah bergetar dengan dahsyatnya. Kemudian gun-

cangan semakin bertambah hebat saja, seakan

ada makhluk raksasa yang hendak keluar dari

dalam perut bumi. Si laki-laki mulai cemas. Da-

lam hati ia panjatkan doa agar tidak terjadi malapetaka lagi atas dirinya.

Gllllkh...

Brool

Tiba-tiba saja tanah yang menghimpit dan

memendam tubuh orang ini selama berpuluh-

puluh tahun rengkah terbelah. Seakan-akan ada

satu kekuatan gaib yang membelahnya. Burung

gagak yang sejak tadi mendampingi sekarang ber-

geser menjauh. Terbang di atas batu di salah satu bukit diantara tiga buah bukit cadar yang menge-lilingi lapangan sempit tersebut.

Laki-laki berambut panjang menjela keliha-

tan girang bukan main. Begitu senangnya ia ter-

bebas dari tanah yang memendamnya selama ber-

tahun-tahun sampai ia berteriak-teriak seperti

orang setengah gila. Tentu saja suara teriakannya tenggelam ditelan deru suara hujan. Tanpa sadar

ia merayap naik, maka terlihatlah sebuah peman-

dangan menakjubkan membalut sekujur tubuh-

nya. Bagian tubuh orang ini berwarna putih. Tapi hampir di seluruh permukaan tubuhnya terdapat

akar-akaran yang melibat dengan erat mulai dari

telapak kaki, perut, dada dan juga kedua tangan-

nya. Akar-akaran tersebut bukan cuma satu atau

dua buah saja. Jumlahnya tidak terhitung. Ini

merupakan suatu keanehan juga mengingat di

tempat itu tidak satu pun pohon ada yang tum-

buh. Setelah keluar dari timbunan tanah, maka

orang ini berusaha melepaskan akar-akaran yang

melibat tubuhnya. Namun baru saja ia menyen-

tuh salah satu dari akar-akaran tadi, ia menjerit kesakitan. Laki-laki berambut panjang ini sempat tercengang karenanya.

Ia masih penasaran, disentuhnya lagi akar-

akaran yang melibat tubuhnya. Kali ini terlihat

ada loncatan cahaya yang menyambar, untung

orang ini cepat menarik tangannya, sehingga ca-

haya putih melesat dan terus menghantam bukit

yang terdapat di sebelah kirinya.

Duum

Bukit bergetar dan mengeluarkan pijaran

bunga api. Orang ini terkagum-kagum dan sea-

kan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menoleh ke arah burung gagak yang masih tetap

berdiri tegak tidak jauh di batu bukit sebelah kiri.

"Gagak, sudah berapa lama aku dipendam?

Kurasa ada dua puluh tahun bukan? Selama itu,

gagak. Tubuhku kini digelayuti akar, bukan sem-

barang akar, kurasa akar batuah atau mungkin

akar bakutuk. Atau mungkin akar sakti ini mun-

cul dari bumi ketujuh? Kau lihatlah tangan-

tanganku pun terbungkus akar-akaran. Kutanya-

kan padamu apakah ini termasuk pengaruh ku-

tuk perempuan keparat itu?"

Kekk

Si gagak menyambut sambil gelengkan ke-

pala. Laki-laki gondrong ini juga sama mengge-

leng, sama-sama bingung. Sampai akhirnya ia

berkata.

"Marilah kita pergi dari neraka ini Aku

akan mencarinya kemana pun ia bersembunyi"

ucap orang ini tegas.

Orang ini selanjutnya melangkah satu-satu

meninggalkan bukit kembar tiga, bekas neraka

penyiksaan yang telah dijalaninya dengan berba-

gai penderitaan dan cobaan berat yang hampir-

hampir tidak dapat dipikulnya.

***
Sange tiga puluh tahun yang lalu memang

jauh berubah bila dibandingkan saat ini. Dulu

Sange adalah sebuah kota perdagangan kecil yang

cukup ramai. Penduduknya hidup berdampingan

dengan damai dan juga suka bergotong-royong.

Namun sekarang segala-galanya telah berubah.

Sange menjadi sebuah tempat yang sepi angker

dan seakan telah kembali ke jaman ratusan ta-

hun yang silam. Patung-patung batu terdapat di-

mana-mana, baik yang berujud seperti manusia,

laki, perempuan anak-anak maupun patung-

patung dalam bentuk hewan.

Tidak ada yang tahu apakah patung-

patung ini dipahat oleh seorang pematung yang

ulung atau mereka dulunya adalah manusia yang

kemudian dikutuk menjadi patung.

Tiga puluh tahun adalah sebuah misteri,

keanehan, keajaiban dan kemisteriusan yang ti-

dak terungkap ini. Tidak ada manusia tempat un-

tuk bertanya. Sange daerah tertutup, daerah di-

mana setiap ada yang berani menginjakkan kaki

di tanah ini tidak akan pernah kembali ke dunia

ramai. Pagi itu setelah hampir dua hari dua ma-

lam Sange dan sekitarnya di guyur hujan lebat.

Terlihat seorang laki-laki berbadan kurus beram-

but awut-awutan berpakaian penuh tambalan

tampak melintas di kota mati tersebut. Ia me-

nunggang kuda berbulu hitam, sama seperti

orangnya. Kuda tunggangan ini pun kurus kering

seperti cacingan. Di bahu orang ini terdapat senjata aneh berbentuk kebutan. Melewati kota mati

Sange, orang ini langsung cengengesan.

"Ratu Leak memang manusia sakti man-

draguna. Tidak percuma aku berguru dengannya.

Persekutuan sejati yang sama-sama mendatang-

kan keuntungan Ha ha ha..." Habis tertawa orang ini sejenak menghentikan lari kudanya.

Rupanya ia tertarik dengan patung perempuan

yang berada di pinggir jalan. Wajah patung me-

mang kelihatan sangat cantik sekali. Matanya

terpejam, tapi seperti ada air mata yang menetes di sudut-sudut matanya. Seakan patung batu itu

menangis.

"Patung yang indah, sayang Ratu Leak

berpesan padaku agar jangan menyentuh satu

pun patung yang terdapat di seluruh daerah

Sange ini Sekarang kata sepakat sudah sama-

sama aku capai. Pendekar Blo'on Huh..." paras laki-laki tua ini tiba-tiba saja berubah. "Melalui tangannya semua malapetaka akan terjadi. Malapetaka yang membuat rimba persilatan di nusan-

tara ini jadi geger, tapi mereka juga akan dibuat tidak akan percaya. Dunia sudah terbalik, Ratu

Leak punya rencana Ha ha ha... Jika dulu bocah ajaib itu sempat memburuku sampai ke Madura,

jika dulu aku juga tidak dapat memiliki bayi ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro itu Sekarang sudah waktunya kegemparan lain timbul

Sekarang waktunya golongan putih menjadi he-

boh" kata si laki-laki bertampang angker yang tidak lain adalah Kala Demit. Untuk lebih jelasnya siapa tokoh yang ikut ambil bagian dalam pem-bunuhan orang tua Suro Blondo (Dalam Episode

Neraka Gunung Bromo & Bayang-Bayang Kema-

tian), "Huh, untuk apa aku membuang-buang

waktu percuma Rasanya lebih cepat aku sampai

ke tempat tinggal Ratu Leak akan lebih baik lagi"

guman Kala Demit.

"Heaa... Hiyaaa..."

Tali kekang kuda dihentakkan dengan ke-

ras, kuda hitam kurus kering meringkik panjang

sambil batuk-batuk dua kali. Tidak berselang la-

ma binatang tunggangan ini pun sudah melesat

meninggalkan kota mati. Suasana hening kemba-

li.

Ternyata keheningan tersebut tidak ber-

langsung lama. Di tempat yang baru saja diting-

galkan oleh Kala Demit muncul sosok tubuh ber-

penampilan aneh. Orang ini berjalan hanya den-

gan sebelah kakinya. Sedangkan kaki yang lain-

nya tersambung dengan sebuah besi pipih ber-

bentuk seperti gergaji. Kedua tangan orang ini ju-ga putus sebatas siku, bagian yang putus itu disambung dengan sebuah gaitan, sedangkan yang

satunya lagi terpasang sebuah tombak besar ber-

warna kuning. Wajah orang ini dalam keadaan

hancur, walau bagian yang hancur itu telah men-

gering. Tokh tetap meninggalkan bekas-bekas lu-

ka yang mengerikan.

Sreng Sreng

Breng Breng

Setiap orang ini berjalan sambil melompat,

maka terdengar suara aneh yang ternyata setelah

diperhatikan rupanya gergaji yang tersambung di

kaki kanannya itulah yang bergesekan dengan

tanah atau batu sehingga menimbulkan suara

yang membuat linu telinga.

Dia adalah seorang laki-laki juga kepalanya

hingga ke dagu lonjong, sedangkan bagian ram-

butnya lancip. Orang ini tiba-tiba saja melompat

di atas atap bangunan yang telah membatu. Ke-

mudian memicingkan matanya memandang di ke-

jauhan. Ia hanya melihat sisa-sisa debu yang

mengepul tinggi di udara.

"Siapa yang bisa merobah dunia jika bukan

nafsu angkara murka. Tiga ratus tahun nafsu

terpidana dalam neraka, tapi sekarang malah se-

makin angkuh. Kotaku, tanahku Sange, kini men-

jadi belantara batu. Ratu Leak... kapankah kutuk laknatmu berakhir?" desis orang ini. Kaki kanannya yang tersambung gergaji digesek-gesekkan di

atas atap batu, sehingga menimbulkan suara-

suara yang menyakitkan telinga. "Gila... tanah ini tanah mengandung kutuk, semua tempat terkena

kutuk. Keluargaku, saudara-saudaraku. Dan se-

mua yang ada di Sange ini terkena kutukan.

Ohhk, betapa malangnya. Kemana perginya para

Peri dan Dewata, apakah mereka semua sudah ti-

dak menghiraukan manusia, apakah Dewata su-

dah tidur semua atau mereka menulikan telinga.

Ratu Leak; aku tidak tahu muslihatmu aku juga

tidak tahu rencana busukmu. Tapi kurasa Dewa-

ta tidak kena kau tipu. Wayan Tandira pemimpin

suku, pemimpin Negeri yang selalu hidup dimana

dan dalam waktu kapan saja. Uhh... huk huk

huk... Benarkah pemimpin orang-orang Sange ini

masih ada? Sudah dua puluh tahun ia tidak terli-

hat di mana keberadaannya." rintihnya penuh ke-piluan. "Aku Ktut Bacasona tidak mungkin ber-pangku tangan selama-lamanya, baru saja tanda-

tanda itu berakhir. Kurasa sekaranglah waktunya

bagiku, orang yang terselamat dari malapetaka itu untuk membuat perhitungan. Orang-orang Negeri

yang menjadi patung harus segera dibebaskan

dari kutuk"

Ktut Bacasona tiba-tiba saja menoleh ke

belakang. Sekejap tadi ia merasa mendengar sua-

ra gemerisik batu seperti diinjak oleh seseorang.

Memperhatikan agak lama, ternyata ia tidak me-

lihat sesuatu apapun. Ktut Bacasona melompat

dari atas atap batu, lalu melakukan pemeriksaan

berulang-ulang.

"Rasanya tidak mungkin ada orang berke-

liaran di sini selain orang tadi. Semua orang di Sange ini sudah dikutuk menjadi batu. Mereka

mustahil dapat menjadi manusia kembali sebe-

lum Ratu Leak dapat dimusnahkan" tegas Ktut Bacasona.

Ia terus mencari-cari kian kemari, hingga

ia merasa lelah sendiri. Untuk sekedar diketahui, Ktut Bacasona adalah satu-satunya manusia

yang luput dari kutukan Ratu Leak. Sebab tiga

puluh tahun yang lalu ketika kutukan dijatuhkan

oleh Ratu Leak untuk daerah Sange, orang ini se-

dang berada di Jawa. Mengenai hubungannya

dengan Wayan Tandira. Ia masih terhitung sauda-

ra satu guru. Dulu sebelum Ratu Leak melancar-

kan sepak terjangnya di daerah Sange. Wayan

Tandira adalah pemimpin Negeri Sange, ia peng-

hulu adat sekaligus pemimpin di masyarakatnya.

Wayan Tandira di waktu itu termasuk seo-

rang pemuda yang sakti mandraguna, karena di
waktu kecilnya ia gemar sekali berguru baik da-

lam hal ilmu olah kanuragan maupun ilmu silat.

Kalangan persilatan di waktu itu tidak ada yang

berani mengganggunya, karena ia memiliki puku-

lan dahsyat yang dikenal dengan nama

'Belengguh' dan 'Cambuk Neraka'. Kedua pukulan

ganas ini benar-benar sangat sulit dicari tandingannya. Sebab setiap sasaran yang terkena se-

rangan ini akan menjadi leleh seperti lilin yang terbakar.

Demikianlah Wayan Tandira memimpin

Sange dari tahun ke tahun. Sampai pada suatu

saat muncul Ratu Leak. Perempuan yang menga-

ku datang dari jurang neraka ini mengusik kepe-

mimpinan Wayan Tandira. Bahkan hampir selu-

ruh daerah Kuta telah dikuasainya. Ada juga be-

berapa tokoh sakti di daerah itu yang mencoba

melakukan perlawanan. Namun mereka semua-

nya tewas di tangan Ratu Leak, kalau pun ada

yang masih bertahan hidup nasib mereka pun le-

bih sengsara lagi. Ratu Leak dengan kesaktiannya mampu mengutuk seseorang menjadi batu.

Ketika Wayan Tandira yang penyabar ini

sudah tidak dapat lagi menahan kesabarannya.

Maka ia pun menghadapi tantangan Ratu Leak.

Maka terjadilah pertempuran sengit yang disaksi-

kan oleh seluruh penduduk Negeri Sange.

Dalam pertempuran sehari itu, Wayan

Tandira ternyata tidak mampu menandingi kesak-

tian Ratu Leak. Ia kalah, sebagai hukuman atas-

nya. Wayan Tandira bersama orang-orang keper-

cayaan dikubur dalam keadaan hidup-hidup mu-

lai sebatas leher ke bawah Di Bukit Kembar Tiga

Terlaknat.

Saat Ktut Bacasona kembali, ia telah men-

dapati Negerinya berubah menjadi belantara batu.

Tidak tahu kepada siapa ia harus bertanya. Yang

jelas ketika itu pula muncul Ratu Leak. Setelah

mengetahui kejadian yang sebenarnya, maka ter-

jadi perkelahian sengit antara Ktut Bacasona

dengan Ratu Leak. Dalam kejadian ini dapat dite-

bak, Ktut Bacasona ternyata kalah dan ia dibun-

tungi satu kaki dan kedua tangannya secara ke-

jam oleh Ratu Leak.

Bertahun-tahun ia hidup merana dalam

kesengsaraan dan penuh penderitaan. Namun

Ktut Bacasona adalah seorang laki-laki berhati

baja yang tidak mudah putus asa. Ia mengasing-

kan diri di ujung pulau Bali. Dimana tempat itu

tidak termasuk dalam wilayah kutukan Ratu

Leak. Sampai tadi malam ia melihat tanda-tanda

seperti yang diterimanya dari Dewata bahwa ku-

tuk Ratu Leak mulai melemah, ini merupakan su-

atu pertanda bahwa ia harus mulai bergerak.

"Sudah tidak ada lagi waktu bagiku untuk

tetap bertahan disini Aku harus melakukan pe-

nyelidikan dimana kira-kira si Jahanam itu ber-

sembunyi..." dengus Ktut Bacasona.

Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, la-

ki-laki berwajah mengerikan ini langsung me-

ninggalkan Sange.

DUA

Pemuda berbaju biru ini merasa seperti se-

dang bermimpi saja. Bagaimana tidak? Tadi ma-

lam ia sampai di ujung timur pulau Jawa. Disana

ia mendengar orang-orang bicara tentang Kala

Demit. Sang musuh besar yang telah ikut mem-

bunuh ayah dan ibunya ketika terjadi heboh be-

sar di gunung Bromo. Waktu itu ia pernah men-

cari laki-laki berambut jabrik ini dan juga menca-ri kedua katai bersaudara (dalam Episode

Bayang-Bayang Kematian). Tapi sampai ia berte-

mu dengan Dewi Kerudung Putih di daerah itu,

musuh besarnya konon pergi ke Madura. Seka-

rang untuk kedua kalinya Pendekar Mandau Jan-

tan mendengar orang yang sangat dibencinya itu.

Maka tanpa membuang-buang waktu lagi

ia pun melakukan pengejaran sampai ke pinggi-

ran pantai. Dan Kala Demit ternyata telah menye-

berang sampai ke Bali. Suro Blondo alias Pende-

kar Blo'on tidak tinggal diam ia dengan menum-

pang sebuah perahu melakukan pengejaran.

Sayang sampai di tengah-tengah lautan pera-

hunya bocor, seakan memang ada orang yang

hendak mencelakakannya. Lalu siapa? Mustahil

Kala Demit yang telah melakukannya? Dia sama

sekali tidak mengetahui kehadiran Pendekar

Blo'on di daerah itu. Masih untung si konyol me-

miliki ilmu meringankan tubuh yang sudah san-

gat sempurna. Sehingga ia dapat mempergunakan

sepotong papan pecahan perahu untuk mencapai

daratan terdekat.

Namun sekarang ia setelah sampai di ping-

gir pantai, si konyol jadi terheran-heran. Daerah yang ditujunya seperti tidak berpenghuni. Suro

memandang ke sekelilingnya dengan mulut ter-

monyong-monyong.

"Edan, aku tadi malam melihat satu titik

kecil, seperti sebuah perahu. Kurasa perahu Kala Demit, jalannya cepat, meliuk-liuk. Rasanya perahu itu menghilang disini. Tapi tidak mungkin

Di sekeliling ku yang ada hanya belantara batu, pohon-pohon menjadi batu, rumah batu, patung-patung manusia dari batu, kambing batu, ayam

batu dan semuanya serba batu Apa yang terjadi

di sini? Apa mungkin aku mendatangi tempat

yang tidak pernah terusik oleh orang luar sama

sekali? Celaka aku, kok ya begini sialnya Lalu

apa yang harus kulakukan?" pikir Suro sambil garuk-garuk kepala, bingung.

Ia hampir melangkahkan kakinya, namun

ketika melihat ke arah pantai sebelah kiri. Pan-

dangan matanya tertumbuk pada sebuah perahu.

"Hmm, sekarang tahulah aku. Kala Demit

memang menuju tempat ini. Apa urusannya da-

tang ke sini? Mau mati saja kok memilih tempat

yang jauh. Dasar manusia sesat" Tergesa-gesa Pendekar Blo'on datang menghampiri. Namun

alangkah terkejutnya pemuda rambut kemerahan

ini ketika melihat bahwa perahu yang dihampi-

rinya hanya sebuah batu panjang mirip perahu.

Suro gelengkan kepala sambil meneliti. "Adalah suatu hal yang mustahil jika sampan batu ini dapat dipergunakan berlayar. Ia pasti tenggelam sebelum sampai ke tengah-tengah laut sana. Eeh,

ada yang terasa aneh disini. Mengapa setelah du-

duk di atas perahu ini aku mencium bau harum

semerbak seperti wangi tubuh wanita? Apa

mungkin ada orang lain disini?" batin Pendekar Mandau Jantan meragu. Ia melompat dari dalam

perahu ini, lalu kembali menoleh ke arah papan

perahu yang dipergunakannya untuk menyela-

matkan diri tadi. Mata Suro membulat lebar, ia

mengusap-usap matanya beberapa kali. Apa yang

terlihat tidak berubah, papan sisa perahu bekas

dipakainya juga telah berubah menjadi batu.

"Naga-naganya ada yang tidak beres terjadi

disini. Atau apa memang otakku yang sudah tidak

beres?" Pemuda ini garuk-garuk kepala lagi. "Jika setiap yang datang ke sini langsung berubah

menjadi batu, bukan mustahil aku juga sebentar

lagi segera menjadi patung batu" Teringat sampai disini tanpa sadar tengkuknya tiba-tiba saja meremang berdiri.

Ia memutuskan untuk segera mencari tahu

tentang keanehan-keanehan yang terjadi. Semen-

tara itu di luar sepengetahuannya ada sinar hitam yang terus membayanginya. Sinar itu di lain waktu langsung menghantam tubuh Suro tanpa me-

nimbulkan rasa. Itulah sinar kutuk milik Ratu

Leak yang selalu bergentayangan di bawah keku-

asaan iblis untuk menghancurkan orang-orang

yang dikehendaki oleh penguasa segala ilmu hi-

tam tersebut. Adalah sesuatu yang sangat luar

biasa jika Suro tidak mempan bahkan tidak ter-

pengaruh oleh sinar hitam yang biasanya dapat

menjadikan orang lain menjelma menjadi batu.

Bahkan sinar hitam yang berada di bawah penga-

ruh kekuatan iblis itu sekarang seakan-akan ber-

gerak mundur menjauh hingga kemudian meng-

hilang tertiup angin.

Lalu mengapa Suro tidak dapat dipengaru-

hi oleh pengaruh kutukan Ratu Leak? Sebagai-

mana telah sama kita ketahui, Pendekar Blo'on

Suro Blondo terlahir pada malam satu asyuro.

Malam paling keramat dan paling tinggi dalam hi-

tungan masyarakat Jawa. Malam satu Asyuro

adalah malam penuh berkah, malam suci yang

paling tinggi bila dibandingkan hari-hari lainnya.

Sadar atau tidak Suro dilindungi oleh kekuatan-

kekuatan gaib yang berasal dari rahmat Tuhan.

Itulah sebabnya saat kelahirannya dua puluh ta-

hun yang silam membuat gempar kalangan rimba

persilatan. Ia dijuluki si bocah ajaib sebagaimana diramalkan oleh seorang pertapa di Pantai Laut

Selatan Ki Begawan Sudra. Tiga tanda-tanda aneh

dalam diri Suro memang sama persis sebagaima-

na yang dikatakan oleh pertapa Sakti tersebut.

Antara lain ada sebuah tompel besar di pung-

gung, kulitnya putih bersih dan rambut hitam

kemerah-merahan.

Tompel yang terdapat pada bagian pung-

gung Suro antara lain adalah sebagai penangkal

dari segala macam ilmu sihir maupun kutukan

secara alami, sedangkan rambutnya yang keme-

rahan adalah jalan pelepasan bagi tenaga dalam-

nya bila kemarahannya telah meluap.

Kini Suro telah melangkahkan kakinya

menuju daerah pedalaman. Setiap tempat yang

dilaluinya pasti menimbulkan rasa heran yang

mendalam. Di sana sini ia melihat patung batu.

"Eeh, patung bisa menangis? Ini manusia

atau patung? Kalau patung mustahil bisa menan-

gis?" Suro berhenti lalu mengusap-usap pipi patung perempuan. Semakin diusap semakin ba-

nyak air mata yang keluar. Tiba-tiba tanah terasa bergetar. Pada kesempatan itu pula terdengar suara tawa menyentak tidak jauh di belakangnya.

Reflek si konyol cepat menoleh ke belakang.

Sayang ia tidak melihat siapapun di sana terke-

cuali patung juga.

"Apa patung itu yang baru saja tertawa?

Patung kok bisa tertawa?" gerutu Suro. Ia segera datang menghampiri, termonyong-monyong ia

memperhatikan patung laki-laki. Bibir patung da-

lam keadaan terkatup rapat. "Engkaukah yang baru tertawa tadi?" tanya Pendekar Blo'on.

Tidak ada jawaban. Suro rupanya masih

kurang yakin, sehingga ia memperhatikan patung

tersebut dengan lebih seksama lagi. Ternyata pa-

tung memang tidak juga bicara. Pendekar Blo'on

gelengkan kepala, bosan.

"Anak manusia, aku melihat tanah Sange
hatiku jadi sedih. Tidakkah kau sedih melihat

angkara murka manusia? Patung yang kau dekati

itu andai saja mampu bicara pasti sudah menje-

rit. Lebih dari itu ada satu hal yang membuat aku jadi heran. Mengapa kau tidak menjadi patung

batu setelah memasuki tanah kutukan ini? Apa

yang kau punya? Kulihat tampangmu tidak

meyakinkan, apakah kau punya barang rahasia?"

tanya sebuah suara. Suro tertegun, memandang

berkeliling seperti orang yang sedang bingung.

Sekali lagi ia tidak melihat ada orang lain disitu, tapi mengapa ia mendengar suara orang bicara?

"Hooiii... kau hantu apa manusia juga se-

pertiku. Seandainya manusia mengapa tidak mau

tunjukkan diri? Atau kau takut padaku?" seru Suro setengah berteriak.

"Aku manusia juga seperti dirimu itu.

Sayang aku tidak mampu keluar dari pondok ja-

hanam ini karena kaki dan tanganku terbeleng-

guh rantai kutukan Datanglah ke sini, kau bantu aku niscaya kelak aku juga menolongmu..." sahut suara tadi.

Suro Blondo nyaris tidak dapat menahan

tawa. Jika orang yang bicara itu menolong dirinya saja tidak mampu, bagaimana ia dapat menolong

orang lain?

"Engkau ini lucu, rantai kutukan itu ter-

buat dari apa? Menolong dirimu saja kau tidak

becus, bagaimana kau dapat menolongku?" ejek Suro sambil tertawa-tawa.

"Jika tikus dapat masuk ke dalam lubang

yang kecil, apakah gajah dapat masuk ke lubang

tikus? Kau telah menginjakkan kaki ke daerah

yang paling berbahaya dalam hidupmu. Nah apa-

kah kau juga masih ingin berleha-leha? Cepatlah

kau kemari sebelum Ratu Leak melihatmu"

"Siapa Ratu Leak?"

"Pemuda tolol, jangan cuma garuk-garuk

kepala melulu. Cepat kau ke sini" geram suara tadi seakan tidak sabar.

Pendekar Mandau Jantan tampak ragu-

ragu. Hingga pada akhirnya ia memutuskan un-

tuk menghampiri rumah yang berada di depannya. Pintu rumah berselimut debu, seakan sudah

berpuluh-puluh tahun pintu tersebut dalam kea-

daan tertutup. Suro mendorong pintu sekuat te-

naga. Pintu ternyata tidak bergeming. Suro men-

dorong lagi. Hasilnya... pintu tetap tidak bergerak.

"Edan... mengapa pintu jadi begini? Siapa

yang menguncinya?" pikir murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api. Me-

rasa kesal, Pendekar Mandau Jantan ini berte-

riak. "Hei orang di dalam, pintu sudah ku dorong-dorong. Seperti yang kau lihat pintu seakan me-

lawanku. Siapa sih sebenarnya yang telah men-

gunci pintu ini?" tanya si konyol serius.

"Hmm, aku terkunci di dalam rumah ini

sudah sejak tiga puluh tahun yang lalu. Siapa

yang mengunci? Tentu saja perempuan terkutuk

Ratu Leak. Aku tidak punya kekuatan untuk me-

lepaskan pukulan. Tiga puluh tahun tubuhku te-

rantai dan tertotok pula. Sungguh sial nasibku,

akan lebih sial lagi jika kau tidak mampu mem-

buka pintu itu. Daripada kau hanya bengong-

bengong begitu, mengapa tidak cepat lepaskan

pukulan?" jawab suara dari dalam.

Suro Blondo sampai melompat mundur

saking kagetnya. Tiga puluh tahun orang itu

mengaku dalam keadaan terantai dan tertotok.

Adalah sesuatu yang luar biasa jika orang di da-

lam rumah itu dapat bertahan hidup. Lalu Ratu

Leak itu siapa hingga dapat menjatuhkan kutu-

kan? "Pemuda rambut merah macam buntut

kuda, mengapa kau tidak cepat bertindak?"

"Jangan khawatir, aku segera mengambil

tindakan. Menjauhlah kau dari balik pintu. Aku

takut niatku hendak menolong malah mencelaka-

kan kau pula. Awas..." teriak Pendekar Mandau Jantan. Seraya melompat mundur kedua tangan

digosok-gosokkan satu dengan yang lainnya. Ti-

dak lama setelah pemuda Ajaib ini menyalurkan

tenaga dalam ke bagian telapak tangannya Maka

kedua tangan Suro hingga sebatas pergelangan

tangan telah berubah memutih laksana salju. Ru-

panya si konyol sudah siap melepaskan pukulan

'Ratapan Pembangkit Sukma'.

"Hiyaa..."

Pemuda ini tiba-tiba saja mendorongkan

kedua tangannya ke depan. Selarik sinar putih

menderu bergulung-gulung disertai menebarnya

hawa dingin yang menusuk-nusuk. Lalu....

Buuum.....Terjadi ledakan keras menggelegar. Tanah

pasir bergetar hebat. Pintu hancur berkeping-

keping, debu dan serpihan-serpihan pintu berta-

buran di udara. Ketika puing-puing itu luruh

kembali di tanah. Maka terlihatlah kegelapan di

dalam rumah. Suro melangkah masuk, orang di

dalam terbatuk-batuk.

"Orang di dalam apakah kau masih hidup?"

Bertanya Suro Blondo dengan serius.

"Uhuk uhuk uhuk... Ya aku masih hidup,

kau hebat, pukulan apa yang baru kau lepaskan

tadi? Aku mencium hawa maut" sahut suara dari dalam. "Mengapa kau rewel sekali. Mungkin aku melepaskan pukulan Nenek Bawel Kehilangan

Susur, bisa jadi pukulan Setan Gila Main Con-

gklak Mengapa cerewet?" Suro bersungut-sungut.

"Keadaan di dalam ini gelap sekali. Aku tidak ta-hu kau di sebelah mana" Orang di dalam bangunan tertawa mendengar ucapan Pendekar Blo'on.

"Jangan tertawa, kasih tahu aku, engkau

berada di sebelah mana?" bentak Suro semakin kesal. "Beloklah ke kiri" sahut orang itu. Suro tertegak, kini ia baru menyadari bahwa orang

yang diajaknya bicara memiliki ilmu memindah-

kan suara. Jika seseorang memiliki ilmu yang

langka ini saja tidak mampu memutus belengguh

rantai kutuk Ratu Leak, Suro tidak dapat mem-

bayangkan betapa tingginya kesaktian yang dimi-

liki oleh Ratu Leak.

Suro belok ke kiri, di tengah-tengah kege-

lapan itu ia melihat seorang laki-laki duduk dengan kaki dan tangan terikat terbelenggu rantai

sebesar ujung lidi. Suro Blondo tergelak-gelak melihat benda kecil yang sebagian membenam ke da-

lam tanah ini.

"Tua bangka sepertimu punya guna apa?

Rantai sekecil ini saja kau tidak mampu memu-

tuskannya. Padahal dengan tenaga kasar saja

pun kau sudah dapat berbuat banyak. Ha ha

ha..." "Manusia terkadang memang suka tertipu dengan apa yang dilihatnya. Kau harus tahu pemuda gendeng, rantai ini bagian lainnya menem-

bus ke dalam bumi ke tujuh. Jika kau merasa

hebat, coba kau putuskan benda kutukan ini

dengan tenagamu atau kau lepaskan seribu pu-

kulanmu jika kau punya kemampuan" kata laki-laki tua itu tanpa maksud meremehkan.

"Mari biar kucoba" sahut si konyol, sewot.

Rantai kutukan ditariknya kiri kanan. Tapi rantai sebesar ujung lidi ini sedikit pun tidak bergeming.

Wajah si pemuda memerah, matanya mendelik

dan berputar-putar liar seakan tidak percaya.

"Kalau dibilang edan, memang lebih gila.

Aku mana bisa dibuat percaya jika tidak menyak-

sikannya sendiri. Rantai kutukan ini sangat kuat sekali. Darimana Ratu Leak mendapatkan benda

celaka ini? Sebaiknya aku pergunakan tenaga da-

lam" batin si bocah Ajaib dalam hati.

Dengan mengandalkan tenaga dalam, mu-

lailah ia berusaha memutus rantai tersebut. Ber-

getar kedua tangannya di saat seluruh tenaga

terkumpul di kedua tangan.

"Huh, sia-sia, sia-sia Sampai mencret pun

kau tidak mungkin dapat memutus rantai kutu-

kan celaka ini." dengus si kakek.

"Bagaimana kalau kulepaskan pukulan

saktiku?"

"Jika pukulanmu tidak dapat menghan-

curkannya, salah-salah pukulanmu membuatku

mati konyol Kurasa jika kau punya senjata,

mungkin ada sedikit harapan bagiku untuk

menghirup udara kebebasan"

"Senjata?" seru Pendekar Mandau Jantan.

Ia jadi ingat dengan mandau dibalik pinggangnya.

Tanpa bicara lagi, pemuda ini segera mengelua-

rkan senjata. Mandau berwarna hitam dengan

empat lubang miring digenggamnya erat-erat.

"Renggangkan kedua kakimu orang tua jika

tidak ingin kehilangan kaki. Nasibmu bisa sema-

kin malang dan merana jika kau harus kehilan-

gan kedua kaki" Suro berteriak keras. Mandau Jantan diangkat tinggi-tinggi. Setelah itu yang

terdengar hanyalah suara ringkik, tangis dan sua-ra tawa berkepanjangan. Sinar hitam berkiblat

dan.... Traanggg...

Terlihat adanya bunga api berpijaran se-

perti kunang-kunang yang bertaburan di udara.

Terdengar ada suara tawa kegirangan. Orang yang
baru tertawa tadi adalah si kakek terbelenggu

rantai selama puluhan tahun. Sedangkan Suro

meringis kesakitan, tangannya yang memegang

hulu Mandau tergetar keras dan lecet.

"Cepat anak tolol, kaki sudah kau be-

baskan, sekarang hanya tinggal kedua tanganku

Wah... senjatamu memang hebat, aneh tapi he-

bat. Bisa meringkik seperti kuda sakit ayan, bisa menangis seperti nenek-nenek kehilangan pacar

barunya dan bisa tertawa seperti orang gila Ayo...

cepatlah, aku sudah tidak sabar untuk menghi-

rup udara bebas" kata si kakek senang bukan main. Rupanya dalam kegelapan si kakek tidak

dapat melihat sebagaimana ekpresi Pendekar

Blo'on saat itu.

TIGA

Suro Blondo cemberut, kalau tidak men-

gingat ia baru saja bertemu dengan orang ini ten-tu ia marah.

"Ayo orang muda, aku punya banyak raha-

sia yang pantas kau ketahui. Jika kau tidak mau

membantu membebaskan aku, mana aku sudi

mengatakan padamu apa yang aku ketahui." tegas si kakek.

"Orang tua sableng Kau bicara seenak pe-

rutmu, kau tidak tahu apa yang sedang kupikir-

kan. Kau bicara tentang segala macam barang ra-

hasia apa kau kira aku suka melihat tempat-

tempat yang kau rahasiakan? Kurasa yang ter-

sembunyi di tempat rahasia itu adalah barang

yang sudah bulukan, keriput jelek dan jamuran.

Apalagi mengingat tiga puluh tahun tidak pernah

dicuci. Ha ha ha..." Si Konyol tertawa ngakak.

Orang tua yang tangannya masih terbelenggu

rantai kutukan menyumpah-nyumpah.

"Pemuda gila dari mana kau? Bicaramu

ngelantur, tampangmu penuh keedanan tidak ta-

hunya kata-katamu lebih edan lagi. Awas aku

pasti akan membunuhmu" Ancam si kakek.

Si pemuda pencongkan mulutnya lalu ter-

senyum. "Jika sekarang aku sudah tahu niat busukmu, untuk apa aku susah payah membe-

baskanmu? Kau adalah tua bangka yang tidak

pandai membalas guna. Aku tidak punya urusan

denganmu, lebih baik sekarang aku pergi saja"

Suro bangkit berdiri.

"Hei, orang gila tunggu dulu Kau akan

menyesal bila meninggalkan aku begitu saja. Apa-

lagi jika sampai kau terperangkap di batu Lahat

Bakutuk. Seumur hidup kau tidak akan pernah

selamat, hayo jangan malu-malu jangan segan-

segan. Kau bantu aku pasti aku tidak akan melu-

pakan budi baikmu..."

"Kau mengertakku?" tanya Pendekar Blo'on ragu-ragu.

"Kau lihatlah wajahku, kau lihat pula ma-

taku yang buta, apakah orang buta sepertiku

punya hati sekeji itu?"

"Hehh..." Suro melengak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka kalau orang tua itu buta.





Sebab suasana di dalam ruangan pengap itu me-

mang gelap sehingga ia tadi tidak begitu memper-

hatikan keadaan si kakek. "Jadi kau buta? Wah kalau begitu maafkanlah aku orang buta. Kini

aku kembali untuk membebaskan rantai celaka

itu" kata Suro. Mandau di tangan kembali diangkatnya tinggi-tinggi.

Wuut

Triing

"Ha ha ha... Sekarang aku bebas, aku be-

bas..." Si kakek buta tiba-tiba saja menghambur keluar dari pintu yang bobol. Ia menari-nari, ber-jingkrak-jingkrak bahkan menyanyi-nyanyi, hi-

langlah kepedihan dan derita yang dirasakannya

selama berpuluh-puluh tahun. Sebaliknya Suro

hanya bisa melongo dan geleng-geleng kepala.

"Aku heran melihat orang tua ini. Matanya

buta tetapi seperti melihat saja. Ia berlari tanpa menabrak satu penghalang pun." batin si pemuda. Ia melangkah keluar meninggalkan rumah tua

itu, berdiri di depan pintu sambil memperhatikan orang yang baru saja ditolongnya. Ternyata orang ini sudah berjalan menjauh tanpa menoleh-noleh

lagi. Suro merasa dipermainkan.

"Orang tua buta, tunggu..." teriak Suro jengkel.

"Aku tidak punya waktu, keadaan begini

mendesak. Jika kau ingin tahu apa yang aku ke-

tahui, sebaiknya kau ikuti aku. Jika tidak, terserah kau mau pergi ke mana Satu hal yang perlu

kau ketahui, daerah ini sangat berbahaya. Ratu

Leak kudengar-dengar ingin membunuh Penghulu

Siluman Kera Putih dan seorang kakek tua bang-

ka yang konon berambut merah sepertimu" jelas si kakek buta seenaknya.

Pendekar Mandau Jantan tercengang men-

dengar kata-kata yang diucapkan si kakek buta.

Suro berpikir apakah kakek yang dimaksudkan

oleh si kakek buta ini Penghulu Siluman Kera Pu-

tih gurunya atau memang ada Penghulu-

Penghulu lainnya. Lalu siapa kakek rambut me-

rah yang seperti dikatakan oleh kakek buta ini?

"Hei, kakek melek tapi tidak bisa melihat

Kau harus jelaskan orang yang baru kau katakan

itu" pinta Suro.

"Ha ha ha Huk huk huk... Aku tidak

punya waktu, kau dengar? Lebih baik kau ikuti

aku saja" dengus si kakek buta dengan sikap acuh tak acuh. Saking kesalnya Suro sampai garuk-garuk kepala berulang-ulang.

"Kakek buta, apakah untuk mengatakan

siapa namamu saja kau juga tidak punya waktu?"

teriak si pemuda sengit.

"Aku Si Buta Mata Kejora" jawab si kakek singkat.

Pendekar Blo'on baru saja hendak mena-

nyakan beberapa hal lainnya. Sayang Si Buta Ma-

ta Kejora telah menghilang dari depannya. Karena masih penasaran, pemuda ini segera mengerahkan ajian Kilat Bayangan. Inilah ilmu lari cepat yang dimiliki oleh Pendekar Blo'on.





***

Laki-laki berpakaian penuh tambalan ber-

senjata kebutan itu membelok di sebuah tikun-

gan. Ia memperhatikan suasana di sekelilingnya,

dan setelah memastikan tidak ada orang lain di

sekitar situ, ia melompat turun dari atas pung-

gung kudanya. Pantat kuda kurus dielus-elusnya

sebanyak tiga kali. Kuda meringkik keras, kemu-

dian berlari kencang sekali. Kuda itu menuju ke

sebuah rumah gubuk reot kemudian menghilang

dari pandangan mata.

Laki-laki berambut awut-awutan terse-

nyum. Ia berjalan menghampiri pintu rumah batu

diketuknya sebanyak tiga kali. Tidak terdengar

suara jawaban apa-apa terkecuali desiran angin

halus. "Uwa, apakah kau mendengarku?" tanya si laki-laki.

Lalu terdengar suara jawaban pelan seo-

rang wanita seakan datang dari sebuah tempat

yang jauh. "Masuklah, pintu tidak pernah terkunci, wahai murid keponakanku"

Laki-laki bersenjata kebutan melangkah

masuk. Segera menyambar bau yang teramat bu-

suk. Laki-laki ini seakan tidak perduli, atau ia memang sudah terbiasa dengan bau-bauan seperti ini. "Kau datang untuk yang kedua kalinya di Sange ini, murid keponakanku. Apa kabar gurumu Tua Tengkorak Mata Api?" bertanya suara ta-di.





"Guru si mata satu dalam keadaan baik-

baik saja."

"Lalu bagaimana kabar tanah Jawa?"

"Tanah Jawa biasa-biasa saja, cuma pen-

duduknya semakin padat, karena orang-orangnya

bunting dan beranak terus" sahut si laki-laki rambut jabrik.

Orang ini memperhatikan suasana di da-

lam ruangan yang cuma diterangi cahaya pelita

minyak. Satu hal yang patut diketahui, bahwa di

ruangan itu hanya laki-laki itu sendiri. Tidak ada siapa-siapa di situ, jadi ia bicara dengan suara gaib yang datang dari sebuah tempat jauh.

"Bagaimana dengan tanganmu?" tanya su-

ara gaib itu lagi.

"Berkat pertolongan uwa guru dulu. Tan-

ganku kini sudah normal kembali. Aku bersum-

pah akan membalas semua kegagalan yang terjadi

dulu" kata si laki-laki.

"Hi hi hik Tiga puluh tahun aku menung-

gu, murid keponakanku. Guru musuh besarmu

itu adalah musuh gurumu dan juga musuhku

yang paling besar. Aku akan melakukan pembala-

san yang setimpal melalui tangan muridnya sen-

diri... Aku punya kuasa di Sange ini, hingga pemimpin Negeri pun kubenamkan dalam tanah.

Masyarakatnya kukutuk menjadi batu. Aku Ratu

Leak, ratu dari segala ratu peri. Hik hik hik...

Murid keponakanku, mengapa kau datang kemari

dengan menyamar sebagai Kala Demit?"

"Kala Demit adalah musuh terbesar Pende-





kar Blo'on, orang itu kabarnya telah membunuh

orang tua si tolol di lereng Bromo. Jika aku tidak melakukan penyamaran, aku khawatir ia tidak

dapat masuk ke dalam perangkap kita. Sakit hati

ini harus terbalas, uwa..." geram orang ini.

Tiba-tiba ia teringat dengan kenangan pa-

hit dua tahun yang lalu, dimana ia kalah berta-

rung dengan Pendekar Blo'on. Bukan hanya itu

saja, ia bahkan nyaris kehilangan tangannya, ma-

sih beruntung dalam keadaan yang sangat keritis

muncul gurunya. Untuk lebih jelasnya (Dalam

Episode Pemikat Iblis terdiri dari tiga Episode).

Karena Tua Tengkorak Mata Api tidak sanggup

menyambung tangan muridnya yang putus, maka

mereka tidak kembali ke Ciruyung, Tua Tengko-

rak Mata Api membawa muridnya ke Sange. Di si-

tulah saudara seperguruannya berada. Berkat ke-

saktian yang dimiliki oleh Ratu Leak, tangan yang terbabat putus oleh senjata, Pendekar Blo'on dapat tersambung lagi.

Rasa sakit dalam hati orang ini masih be-

lum kunjung tersembuhkan. Pengalaman pahit

sebagai orang yang terkalahkan masih menggores

ingatannya. Ia telah kehilangan Perkasa, patung hasil ciptaan pematung Kelana. Dan yang telah

dihidupkan oleh gurunya dengan tumbal perawan

dan bantuan iblis.

Jika dulu gurunya kehilangan mata karena

ulah Malaikat Berambut Api, ia hampir kehilan-

gan tangan karena ulah Pendekar Blo'on. Murid

dan guru sama-sama menyimpan dendam mem-





bara. Lalu sekarang apa susahnya jika ia menun-

tut balas sedangkan Pendekar Blo'on sudah ter-

pancing datang ke Sange karena penyamarannya

sebagai Kala Demit.

"Kau lebih banyak diam, apakah kau men-

dapat musibah di perjalanan?" bertanya suara tanpa rupa.

"Tidak Justru penyamaranku ini telah

berhasil mendatangkan Pendekar edan itu kesini."

sahut Kala Demit palsu. Kemudian enak saja ia

menanggalkan pakaian luarnya. Setelah pakaian

luar ditanggalkan, ia mengusap wajahnya. Maka

lepas pula rambutnya yang awut-awutan. Seka-

rang tiada kumis dan tidak ada pula jenggot. Wa-

jah licin, berkulit bersih dan cantik. Bila bagian tangan diusap maka kulit yang penuh kerut me-rut itu pun berubah halus. Ternyata ia memakai

topeng tipis terbuat dari bahan semacam kulit.

Kini ia telah menjelma menjadi gadis yang tera-

mat cantik, bukan lagi sebagai Kala Demit musuh

besar Pendekar Blo'on. Tapi ia mungkin saja men-

jadi orang yang lebih berbahaya dari Kala Demit

bagi Suro Blondo. Tubuh gadis ini ramping meng-

giurkan, setiap laki-laki yang memandangnya

pasti langsung jatuh cinta mati-matian.

"Berkat petunjuk uwa guru yang dapat

menembus alam gaib. Penyamaranku yang sem-

purna itu telah mendatangkan hasil. Seekor ka-

kap tolol, yang dulu hampir saja membuat aku

mampus kini sudah berada di mulut kail. Ia tidak mungkin dapat lolos, rencana uwa Ratu Leak un-





tuk mendatangkan kedua gurunya pasti berhasil.

Kakap berikut kedua bapak moyangnya sudah

dapat dipastikan memakan umpan kita. Umpan

yang telah uwa persiapkan selama berpuluh-

puluh tahun;" ujar si gadis.

"Mustika Jajar" berkata suara tanpa rupa dengan suara parau. "Apapun yang telah kuren-canakan, bukan hanya sekedar menghancurkan

Pendekar Blo'on dan kedua gurunya. Aku punya

rencana yang lebih besar dari semua itu. Hanya

saat ini aku tidak dapat mengatakannya padamu.

Kepadamu kupesankan agar bersikap waspada

menghadapi segala kemungkinan, karena baru

saja ku tahu iblis yang menjadi kaki tanganku

mengatakan bahwa ia tidak sanggup membuat

Pendekar Blo'on menjadi patung. Dalam arti ku-

tukku seakan tidak mempan. Entah apa yang di-

miliki oleh Pendekar bego itu. Yang jelas aku masih punya beribu-ribu cara untuk membuatnya

hancur Ingat kegagalan baktimu pada gurumu

sendiri merupakan peristiwa yang sangat mema-

lukan. Jangan sampai terulang lagi, jangan sam-

pai" tegas suara tanpa rupa dengan suara keras berapi-api.

"Aku mengerti uwa guru. Pemuda itu da-

tang mengejar aku ke Sange ini seorang diri. Ia

pasti merasa berada di sebuah negeri belantara

batu. Patung-patung hasil kutukan uwa tidak

mungkin dapat diajaknya bersahabat, bicara atau

tempat bertanya. Cuma yang membuat aku heran

mengapa ia tidak dapat termakan kutukmu? Bu-





kankah kutuk uwa Ratu Leak tetap berlaku bagi

siapa saja yang tidak uwa kehendaki?" ujar Mustika Jajar dengan kening berkerut.

Suara tanpa ujud terdiam, hingga mem-

buat Betina Dari Neraka menjadi gelisah.

"Tirai alam gaib yang baru saja kusingkap

mengatakan. Bahwa pemuda itu memiliki tiga

tanda-tanda ajaib. Satu diantaranya adalah pe-

nangkal kutukan."

"Apakah penangkal itu berupa benda,

uwa?" "Dia bukan berupa benda, penangkal alami itu sudah ada sejak ia dilahirkan. Ujudnya berupa sebuah tompel..."

"Hanya tompel?" Mata yang indah itu terbelalak lebar. "Hanya tompel saja, tapi mengapa ku-tukanmu tidak dapat menguasai jiwa dan ra-

ganya?" tanya si gadis dengan perasaan heran bukan main.

Suara tanpa ujud tertawa rawan. "Bukan

hanya tompel biasa. Kalau pun ada orang punya

sejuta tompel di tubuhnya, hal itu tidak ada ar-

tinya bagiku. Mungkin karena ia terlahir pada

malam satu Asyuro, dimana setiap ilmu dituakan.

Malam itu adalah hari yang penuh berkah, rah-

mat Tuhan tercurah-curah dari langit. Tapi eng-

kau tidak usah merasa risau, aku sudah punya

cara untuk menangani pemuda ini. Dia bukan

rintangan yang sulit. Kau lihat jika seluruh Sange ini saja dapat kutaklukkan, apa sulitnya mengu-rus bocah setolol dia"





Lega hati Mustika Jajar. mendengarnya.

"Hi hi hi... Pendekar Blo'on, musibah apalagi yang paling memalukan bagi seorang Pendekar

andai ia telah kehilangan seluruh kesaktiannya

Ia akan merasakan pembalasanku, berpuluh-

puluh penderitaan nanti yang akan dirasakan-

nya." geram Iblis Betina Dari Neraka.

"Hmm, tindakanmu memang patut kupuji.

Tapi kau tidak boleh turun tangan tanpa seizin-

ku" cegah suara tanpa rupa.

Mustika Jajar tampak kurang puas men-

dengar jawaban suara tanpa rupa. "Mengapa harus begitu? Dulu aku yang merasakan malunya,

yang merasai sakitnya dan aku pula yang mera-

sakan penderitaannya. Sedangkan uwa Ratu ti-

dak punya sangkut paut apa-apa antara persoa-

lanku dengan Pendekar Blo'on." dengus si gadis.

"Hik hik hik Kau telah berhutang tangan

padaku, kau juga telah berhutang kesaktian dari-

ku. Aku berkuasa penuh atas daerah ini, aku

memang tidak punya kepentingan tertentu den-

gan Pendekar tolol itu, tapi dengan kedua gu-

runya aku punya persoalan yang sangat besar"

Meskipun kurang puas mendengar jawa-

ban suara tanpa rupa ini, Mustika Jajar terpaksa memendam kekesalahannya dalam hati. "Lalu apa yang harus kulakukan?" Bertanya si gadis dengan wajah cemberut.

"Kau harus tetap menyamar sebagai Kala

Demit. Dengan begitu pasti Pendekar tolol itu terus bersemangat mengejarmu. Sekali waktu pan-





cinglah dia mendekati Batu Lahat Bakutuk. Dari

sanalah segala-galanya akan dimulai. Pendekar

Blo'on akan mengalami nasib yang sangat tragis.

Hik hik hik..."

"Jadi...??"

"Mulai sekarang coba kau pastikan dimana

pemuda itu berada. Jangan kau lupakan tugas

lain, jika kau bertemu dengan siapa saja harap

kau bereskan Mulai saat ini kau harus memper-

gunakan segala macam kesaktian yang kuberikan

padamu. Sedangkan segala ilmu yang diberikan

oleh gurumu tidak berlaku disini"

"Jika pemuda itu telah kutemukan?"

"Kau bawa dia ke Batu Lahat Bakutuk. Ka-

rena di sanalah jalan menuju kehancuran bagi

orang-orang yang tidak kukehendaki. Hik hik

hik" suara tanpa rupa tergelak-gelak.

Suasana di dalam ruangan berubah sunyi,

Iblis Betina Dari Neraka terdiam untuk sejenak

lamanya. Apa yang dikatakan Ratu Leak masih

mengiang di telinganya. Ia percaya sekali Ratu

Leak mampu menghancurkan dunia persilatan

karena begitu tingginya kesaktian yang dimili-

kinya. Kalau dipikir-pikir Ratu Leak memang

mempunyai cita-cita yang tinggi, ia ingin menja-

dikan seluruh nusantara ini sebagai tanah kutu-

kan. Ia ingin mengembalikan manusia ke jaman

batu, manusia dijadikan patung batu, hewan batu

dan semuanya serba batu. Tetapi rasanya ada

yang lebih penting dari semua itu, hanya Ratu

Leak sendiri yang mengetahuinya.





Tidak lama gadis cantik menggiurkan yang

selalu memakai pakaian merangsang ini merias

wajahnya kembali. Tidak sampai sepemakan sirih

ia telah berubah dalam penyamarannya sebagai

Kala Demit. Mustika Jajar kemudian keluar me-

ninggalkan rumah batu, berjalan cepat meng-

hampiri kuda kurus berbulu hitam.





EMPAT


Kuda bertubuh kurus kering itu meringkik

keras ketika Kala Demit melompat ke atas pung-

gungnya. Kala Demit yang tidak lain adalah Iblis Betina Dari Neraka tanpa menoleh kanan kiri

langsung membedal kudanya menuju Batu Lahat

Bakutuk.

Namun baru beberapa puluh batang tom-

bak, tiba-tiba saja kelihatan sesosok tubuh me-

layang dari kerimbunan semak-semak yang mem-

batu. Kuda kurus mengangkat kakinya tinggi-

tinggi. Sreng Sreng

Di depan Kala Demit kini telah berdiri seo-

rang laki-laki berdagu lonjong berkepala lancip

seperti kerucut. Sebelah kakinya tersambung

dengan sebuah gergaji, sedangkan kedua tangan-

nya yang putus disambung dengan gaitan dan ju-

ga tombak. Kala Demit sipitkan matanya, me-

mandang ke arah orang ini disertai senyum men-

gejek.





"Orang aneh, menyingkirlah dari hadapan-

ku" teriak Kala Demit tidak sabar. Dalam hati ia merasa heran juga melihat orang berkaki gergaji

bertangan gaitan dan tombak tidak terkena kutu-

kan. Atau karena pengaruh kutukan Ratu Leak

sudah mulai melemah?

"Kulihat kau orang asing di Sange ini. Ti-

dak ada orang asing yang dapat berkeliaran den-

gan bebas terkecuali ia punya hubungan tertentu

dengan Ratu Leak Perempuan keparat itu adalah

manusia jahanam. Setiap orang yang bersahabat

dengannya, ia berarti jahanam lainnya yang ha-

rus mampus di tanganku" dengus Ktut Bacaso-na.

Wajah di balik topeng Kala Demit berubah

merah padam mendengar kata-kata pedas yang

dilontarkan oleh laki-laki berkepala lancip ini.

"Manusia gila, tidak ada hujan tidak ada

angin kau marah-marah di depan orang yang be-

lum kau kenal sama sekali" maki Kala Demit.

"Hak hak hak Terlalu lama hidup menderi-

ta, aku pun sudah tidak tahu bagaimana caranya

agar dapat tertawa lebih baik. Kau orang pertama yang kulihat. Demi kebesaran pemimpin Negeri

Wayan Tandira Aku akan memenggal kepalamu,

dan yang paling ringan menyeretmu di depan tu-

lang-belulangnya ke bukit Kembar Tiga" dengus Ktut Bacasona.

"Huh, apa yang kau bisa. Keadaan tubuh-

mu saja sudah membuatku prihatin. Sayang uca-

panmu terlalu menghina Ratu Leak. Jadi tidak





ada jalan lain bagimu terkecuali segera berangkat ke neraka. Kupindahkan nyawamu dari raga ka-sarmu ke langit Eeh... bukan ke langit, tapi ke jurangnya neraka Jahanam Hi hi hi..."

"Bangsat Kudengar suara tawamu rasanya

kau bukan laki-laki. Kau pasti perempuan yang

menyaru sebagai laki-laki Semakin bertambah je-

las saja kedudukanmu di mataku. Tidak bisa dis-

angkal, kau pasti anak buahnya si tukang kutuk

Ratu Leak"

"Banyak mulut, siya..." Kala Demit menggebrak kudanya. Ia mengacungkan jari telunjuk-

nya. Sebaris sinar berwarna putih kuning dan

merah melesat dengan hebatnya ke arah Ktut Ba-

casona. Laki-laki ini sempat kaget juga begitu merasakan sambaran angin panas menghantam wa-

jahnya.

Breng

Cepat sekali Ktut melompat ke samping.

Sinar putih kuning dan merah terus menghantam

angin. Buuummm

Batu di belakang Ktut Bacasona hancur

berkeping-keping. Terlihat percikan bunga api

memijar di udara. Meremang tengkuk si laki-laki, ia tidak dapat membayangkan bagaimana andai

pukulan tadi menghantam dirinya. Memang Mus-

tika Jajar barusan tadi melepaskan serangan

yang dikenal dengan nama 'Tusukan Jari Peng-

hantar Maut'. Salah satu ilmu langka warisan Ra-

tu Leak. Mustika Jajar dari gurunya memang





mewarisi berbagai ilmu kesaktian. Namun oleh

Ratu Leak segala macam kesaktian yang diturun-

kan Tua Tengkorak Mata Api untuk sementara ti-

dak boleh dipergunakan.

"Masih juga kau dapat menghindar kunyuk

berkaki gergaji" dengus Kala Demit palsu. Dua jari telunjuknya kiri kanan diacungkannya lagi ke depan. Wut Wuut

Dua baris sinar tiga warna lebih panas me-

labrak Ktut Bacasona. Laki-laki ini terkesiap. Sa-tu serangan cepat mungkin saja dapat dihinda-

rinya. Tapi kali ini dua serangan datang sekali-

gus. Hebatnya lagi di tengah jalan dua larik sinar membelah menjadi enam bagian. Enam bagian

sinar melesat ke arah enam titik kematian di tu-

buh Ktut Bacasona.

"Mati aku" maki si kaki gergaji. Ia tidak punya pilihan lain. Segera tangannya yang ber-sambung dengan tombak dan gaitan di putar. An-

gin menderu. Laki-laki ini tiba-tiba merasakan

adanya satu dorongan yang sangat dahsyat na-

mun tidak terlihat. Ktut Bacasona terus putar

tangan yang tersambung dengan senjata sambil

melompat.

Bum Buum

Sinar putih kuning merah seperti pecah

bertaburan di udara bagaikan kunang-kunang

yang bertebaran saat membentur senjata Ktut

Bacasona tadi. Ktut menjerit kesakitan. Ia mele-

pas dua senjata yang tersambung dengan tangan





dan sempat meleleh. Tangan-tangannya yang

memang sudah buntung sebatas lengan melepuh.

Orang ini menggerung, sementara Kala Demit

bergelak-gelak mengumbar tawanya.

Ktut Bacasona segera sadar bahwa lawan

memiliki kepandaian yang mungkin lebih tinggi

darinya. Ia harus mengambil tindakan jika tidak

ingin dirinya celaka. Secepat kilat tubuhnya me-

layang, ia mempergunakan senjata gergaji di ka-

kinya. Sing Sing Sing

Suara mendesing-desing menggema di uda-

ra bisu. Serangan ini jelas telak dan menggorok

leher. Kala Demit mendengus sengit, karena begi-

tu rendahnya serangan lawan. Maka ia terpaksa

berguling-guling.

Breng

Serangan luput, sebagian gergaji menghan-

tam batu di depannya hingga membuat lubang

mengerikan sebanyak enam puluh mata gergaji.

Kala Demit bergidik ngeri. Sebelum bangkit lawan telah berbalik, seakan dapat berjalan di udara lawan hantamkan senjata mautnya.

Praang

Kala Demit memaki, tangannya nyaris

tanggal, ia jatuh tunggang langgang sambil terus berguling-guling. "Keparat berkaki gergaji ini benar-benar tidak dapat dipandang enteng Ia harus tahu rasa" maki orang ini. Melihat lawan mengambang dan melakukan penyerangan dari uda-

ra. Kala Demit tiba-tiba lepaskan pukulan dah-





syat 'Neraka Perut Bumi'. Serangan maut ini juga warisan Ratu Leak. Sontak Ktut Bacasona merasakan adanya sinar kemilau yang membutakan

mata. Suasana seperti bagai di neraka, masih di

udara terdengar suara jeritan Ktut Bacasona, tu-

buhnya tersentak ke belakang. Kemudian jatuh

terhempas dalam keadaan hangus.

"Hi hi hi... Pukulan yang luar biasa. Ilmu kesaktian uwa Ratu Leak memang hebat. Kini

terbuka mataku, bahwa cita-cita uwa berdasar-

kan atas keyakinan yang kuat Hi hi hi... Manu-

sia kaki gergaji Mampuslah kau... mampus...

mampus..." maki Kala Demit. Seraya melompat kembali ke atas punggung kudanya. Tali kekang

kuda disentakkan dengan keras, maka melesatlah

kuda tersebut meninggalkan debu-debu yang ber-

terbangan.





***



Kuda putih itu seakan-akan memang berja-

lan di atas laut. Ia menerjang gelombang laut

pantai barat dengan langkah lebar dan tidak per-

nah mengenal rasa lelah. Yang menakjubkan laut

yang sedemikian dalam itu hanya sampai setinggi

lututnya saja. Ia memang seekor kuda raksasa

yang sangat luar biasa besarnya. Di atas pung-

gung kuda tersebut duduk seorang laki-laki ber-

pakaian putih berselempang putih, memakai ikat

kepala warna putih. Dilihat dari jauh, orang ini tidak ubahnya seperti seekor lalat yang hinggap di





punggung kuda.

Ombak di pantai laut barat kian menggila,

si laki-laki berumur sekitar lima puluh tahun

menyandarkan punggungnya pada punggung ku-

da. Kakinya yang bersilangan terguncang-

guncang. Sementara kuda putih yang terus berla-

ri di laut dalam namun cuma setinggi lututnya

meringkik keras. Bila kuda ini mengeluarkan sua-

ra, maka suaranya menimbulkan gelombang laut

yang kian menggila.

"Ada apa Kaki Langit? Aku tidak melihat

dan mendengar apa-apa. Apakah kau ada melihat

sesuatu?" bertanya laki-laki baju putih selempang putih. Seraya duduk, memandang ke depan, terlihat olehnya gugusan sebuah pulau. "Kita sudah sampai, Putih Kaki Langit. Aku mencium bau kutukan itu. Aku mengendus sesuatu yang sangat

aku benci, Batu Bakutuk telah memperlihatkan

kehebatannya. Aku tidak menyangka, betina sint-

ing itu sudah mengetahui rahasianya Ayolah...

jangan kau ragu-ragu, pengaruh kutuk tidak

akan berlaku bagi dirimu dan diriku" kata si laki-laki, wajahnya muram. Sehitam mendung yang

bergelayut di kaki langit.

Kuda putih meringkik lagi, sampai di ping-

gir pantai ia berhenti. Bukan main tinggi binatang tunggangan tersebut. Seakan-tingginya hampir

menggapai langit. Pantasan saja laut yang begitu dalam hanya sampai sebatas lututnya. Jika saat

itu ada orang yang melihat pemandangan ini, ten-

tu saja tidak akan percaya melihat tinggi dan be-





sarnya kuda berbulu putih tersebut.

Laki-laki berselempang dan berbaju putih

berdiri di atas punggung kudanya. Bibirnya yang

tertutup kumis putih berkemak-kemik. Samar-

samar terdengar suaranya seakan datang dari se-

buah lubuk yang teramat dalam.

"Datuk Nan Gadaing Paluih, itu namaku.

Jalan melintas darat, langkah menyeberang laut.

Putih Kaki Langit sahabat sejati dari alam gaib.

Raksasa membawa tuah si kecil. Si kecil memba-

wa tuah si raksasa. Alam gaib beda dari alam

nyata, yang nyata tidak mampu menembus alam

gaib. Mata kasat sampai binasa tidak becus me-

neropong kegelapan. Datuk Nan Gadang Paluih

mampu melakukannya. Si Putih Kaki Langit sa-

habatku alam gaib. Ia biji matoku, si besar sahabatnya yang kecil. Yang kecil sahabat si besar.

Maka kembali ke bentuk umumnya kuda Kemba-

li... li li li..." suara laki-laki yang bernama Datuk Nan Gadang Paluih menggema di seantero penjuru pantai.

Kuda raksasa yang tubuhnya menjulang

tinggi ke langit meringkik keras, tubuhnya tergetar. Lalu terjadi proses penyusutan yang sungguh aneh bahkan sulit dipercaya. Kuda raksasa itu terus berproses, mengecil semakin bertambah kecil.

Hingga akhirnya terjadi proses aneh itu setelah

tubuhnya sebesar kuda pada umumnya.

"Putih Kaki Langit, Ngarai Sianok telah kita tinggalkah Semua ini gara-gara Batu Bakutuk

yang dicuri oleh betina jalang itu. Tiga puluh ta-





hun, Kaki Langit. Coba kau bayangkan. Aku baru

mengetahui batu sakti itu hilang setelah adikku

Ratu Penyair Tujuh Bayangan pergi ke tanah

orang Jawa. Kita sudah ketiwasan (terlambat).

Kau lihat patung-patung batu itu. Mereka masih

manusia juga, manusia menjadi batu karena pen-

garuh kutuk" kata si laki-laki sengit. Untuk lebih jelasnya siapa Ratu Penyair dan Datuk ini (dalam episode Undangan Maut). "Ayoo sahabatku, kita selidiki di mana jejaknya wanita jalang itu Ja-lanmu biar lebih cepat agar selamat" kata Datuk Nan Gadang Paluih. Ia menyentuh ubun-ubun Si

Putih Kaki Langit, kuda itu sepontan melesat

dengan kecepatan laksana kilat. Hanya dalam

waktu sekejapan mata, kuda tidak terlihat lagi.





***

Suro masih memperhatikan kakek buta di

depannya. Hampir sepanjang malaman orang ini

menceritakan segala sesuatu yang berhubungan

dengan kutuk di tanah Sange. Terkadang hati

pemuda ini menjadi jerih, terkadang timbul kege-

ramannya. Dan tidak jarang ia memaki perbuatan

si durjana Ratu Leak.

"Anak tolol, aku sering minta petunjuk pa-

da dewata. Aku merasa Dewata berkenan mem-

bebaskan rakyat negeri Sange dari kutukan. Nan-

ti, setelah kehadiranmu ini. Berkah kehadiranmu

di sini, membebaskan mereka. Tapi aku melihat

ada tanda-tanda bahwa kau juga akan mengalami





celaka disini" kata si Buta Mata Kejora.

Saking kagetnya Suro sampai melompat

dari atas tikar rombeng yang didudukinya. Saat

itu mereka memang duduk di dalam rumah bo-

brok agak jauh dari Sange. Sebenarnya tidak da-

pat dikatakan rumah, karena atap dan dinding-

nya tidak ada, hanya tiang-tiangnya saja.

"Jangan kau menakut-nakuti aku, kakek

buta Aku pun tidak sudi menolong orang jika

nyawaku sendiri terancam. Orang tolol namanya

jika untuk kepentingan orang lain ia harus mere-

lakan nyawanya" celetuk Suro sambil bersungut-sungut.

"Apakah kau tidak sadar kalau dirimu itu

Pendekar tolol? Mustahil kau dapat keluar dari

Sange ini sebelum menghadapi kenyataan, kau

sudah mulai masuk dalam perangkap dan jerat-

jerat setan" dengus Si Buta Mata Kejora.

Suro memandang ke atas, karena rumah

tidak beratap ia dapat langsung melihat langit

yang biru. Ia memperhatikan kedua tangan dan

kakinya. Lalu terdengar tawanya....

"Kuakui kau memang manusia aneh, kek.

Adalah salah besar kalau kau mengatakan aku

sudah masuk ke dalam jerat-jerat setan. Kedua

kakiku masih bebas bergerak. Di sekeliling ku tidak ada perangkap terkecuali gubuk reot yang ti-

dak beratap dan berdinding ini Ha ha ha... Kau menipu mana kena aku ditipu Orang buta mau

mengadali orang melek, mana mungkin... eeh,

mana mungkin?"





"Ternyata kau memang tolol, bukan tam-

pangmu saja yang bego, jalan fikiranmu juga me-

nunjukkan kedunguan otakmu Apa yang kuka-

takan itu hanyalah kiasan saja, adakah kau bisa

mengerti?" hardik Si Buta Mata Kejora.

"Kau orang buta yang tidak tahu diri. Ka-

lau terus memaki, biar aku minggat dari sini. Hi-duplah bersama masyarakatmu yang telah diku-

tuk menjadi patung-patung yang dungu, patung

bego yang biasanya cuma keluarkan air mata"

dengus murid Penghulu Siluman Kera Putih sen-

git.

"Olala... tidak usah ngotot, saling tarik urat leher dalam keadaan begini tidak ada gunanya.

Kau merupakan penentu, jika kau salah langkah

maka kedua gurumu, pun bisa celaka?"

"Bualan apa lagi yang kau berikan. pada-

ku, kakek buta. Mana kena guruku ditipu. Mere-

ka adalah orang-orang cerdik yang tidak bisa termakan muslihat apapun" Si konyol rupanya terlalu yakin dengan kemampuan yang dimiliki oleh

kedua gurunya. Sehingga sedikit pun ia tidak

mau percaya dengan ucapan Si Buta Mata Kejora

"Percuma saja aku berdebat dengan orang

bodoh sepertimu. Daripada berdebat lebih baik ki-ta berangkat ke Batu Lahat Bakutuk"

"Bicaramu ngaco, kakek buta. Kalau kau

sudah bosan bicara mengapa tetap duduk di sini?

Ayo berangkat" Suro bangkit berdiri diikuti oleh Si Buta Mata Kejora. Mereka keluar meninggalkan

bangunan reot menempuh padang-padang berba-





tu di tengah-tengah teriknya panas matahari

Belum jauh mereka meninggalkan gubuk

reot itu, tiba-tiba terdengar suara burung di atas kepala mereka. Si Buta Mata Kejora, angkat wajahnya menghadap langit. Suro tertawa terkekeh-

kekeh melihat kakek ini seperti gelisah.

"Ha ha ha Seratus kali kau memandang ke

langit, mana kau tahu apa yang berada di atas-

mu Eeeeh, kulihat wajahmu berubah pucat, kek

Apakah burung gagak itu yang membuatmu ta-

kut?" ejek Pendekar Blo'on.

"Pemuda sedeng, kau melihat tapi tidak ta-

hu apa yang kau lihat. Bukankah yang terbang di

atas kita seekor burung gagak?" tanya Si Buta Mata Kejora tercekat.

"Kau menebak begitu karena aku sudah

mengatakannya padamu, apa sesungguhnya yang

membuatmu takut? Kau seperti melihat hantu,

padahal matamu buta??" Suro garuk-garuk kepa-la.

"Burung gagak itu adalah burung pen-

damping pimpinan kami Sekarang aku tidak ta-

hu bagaimana nasibnya dipendam Ratu Leak di

Tiga Bukit Kembar Burung gagak.... akh, aku

mencium baunya. Dia bukan gagak yang lain. Dia

pendamping pemimpin negeri itu Anak muda,

coba kau lihat apakah kau tidak melihat ada

orang lain disini?"

Suro Blondo mengedarkan matanya, selain

burung gagak yang terbang berputar-putar di atas kepala mereka memang tidak ada siapa pun di si-





tu. Suro gelengkan kepala. Namun akhirnya ter-

tawa sendiri setelah menyadari ketololannya.

"Orang buta ini mana melihat isyaratku"





LIMA


"Bagaimana anak muda? Mengapa kau di-

am saja seperti orang tuli yang sangat bego?" bertanya Si Buta Mata Kejora tidak sabar.

"Mata budek kuping buta Tidak ada siapa-

siapa disini selain kita berdua dan burung jelek itu" sahut Suro Blondo dengan mulut terpencong.

"Kak"

"Wuut

Burung gagak yang terbang berputar-putar

di atas Suro tiba-tiba menukik dan menyambar.

"Weit, kakek buta. Burung itu marah kuka-

tain jelek Bagaimana ini?" tanya Suro. Pontang panting ia menghindari patukan paruh burung

yang terus menyerangnya dengan cepat dan ber-

tubi-tubi.

"Ha ha ha Mampuslah kau. Binatang itu

sangat memahami bahasa manusia. Kau menghi-

nanya, sekarang kau rasakan sendiri akibatnya"

teriak si kakek sambil terus tertawa-tawa.

"Kek"

Wuur

Suro terus mengelak atau sesekali me-

nyampok burung itu. Burung gagak hitam cepat

berkelit begitu merasakan adanya sambaran angin yang sangat keras.
Tiba-tiba terdengar suitan panjang. Burung gagak bergerak menjauh namun

di belakang Pendekar Blo'on tiba-tiba menyambar

angin dingin yang sangat luar biasa sekali

"Aih..."

Tubuh pemuda ini meliuk, kemudian ber-

salto ke samping kiri. Di depannya terdengar sua-ra dentuman bagai letusan gunung. Si Buta Mata

Kejora tergontai-gontai. Suro terhuyung sambil leletkan lidah. Ia tidak kekurangan satu apapun,

hanya dadanya mendenyut sakit. Cepat ia putar

kepala. Dan matanya pun kontan terbelalak.

"Astaga Kakek buta, lihatlah ada manusia

kayu, eeh... maksudku manusia akar datang ke-

sini. Apakah dia masih saudaramu, atau anak-

mu?" seru pemuda rambut kemerah-merahan ini kaget. Saking tidak percayanya ia sampai ingin

kencing.

"Kau bicara apa? Hendak menipuku lagi?"

dengus si kakek buta tidak percaya,

"Pentang matamu lebar-lebar, dari leher

badan, tangan dan kakinya terbungkus akar. Aku

tidak tahu apakah dia manusia sungguhan atau

kayu berjalan" kata Suro, sementara orang yang disebut-sebutnya sudah berjalan mendekat ke

arahnya.

"Coba kau sebutkan ciri-ciri wajahnya?"

perintah Si Buta Mata Kejora. Suro garuk-garuk

kepala, bibirnya terpencong, monyong-monyong

sebentar lalu memandang ke arah laki-laki di de-

pannya dengan kedua mata menyipit.





"Kau dengar baik-baik. Dia laki-laki seperti kita juga, kumis ada sedikit mungkin cuma beberapa helai. Jenggotnya kurasa sekitar sepuluh bi-ji. Rambutnya panjang, dagunya kokoh Apakah

kau mengenalnya, kek?" Mata buta yang memutih keseluruhannya tampak berkeriapan. Kening si

kakek berkerut dalam. Tiba-tiba ia berseru...

"Tunggu" Seraya melangkah maju ke de-

pan. "Aku rasanya mengenal wajahnya. Dan Si Buta Mata Kejora tiba-tiba saja menjatuhkan diri dan berlutut. "Wayan Tandira pemimpin kami, benarkah engkau Wayan Tandira?" desis orang ini sambil sesunggukan.

Orang yang dipanggil Wayan Tandira ber-

geming pun tidak. Malah kedua bibirnya terkatup

rapat. Otot-otot rahangnya menegang.

"Aku mengenalmu sebagai penduduk

Sange ini, kakek Buta Mata Kejora. Aku meng-

hargaimu sebagai orang tua dan manusia. Aku

membencimu karena telah bersekutu dengan mu-

suh Keadaan negeri begitu buruk, nasib masya-

rakat-ku benar-benar hina dina. Kau ketua adat,

mengapa kau gadaikan harga diri dan keper-

cayaan masyarakat pada pemuda asing ini" dengus laki-laki yang sekujur tubuhnya diselimuti

akar-akaran aneh, sinis.

"Ampun beribu ampun. Para dewata meli-

hat, para dewata mendengar, pemuda ini sama

sekali bukan musuh kita Ia ingin bekerja sama

dengan kita guna menghancurkan Ratu Leak dan

merampas Batu Bakutuk Engkau salah menilai,





engkau salah sangka, pemimpin negeri" jelas Si Buta Mata Kejora.

"Terlalu lama dipendam dalam tanah, ra-

sanya aku sulit membedakan mana kawan dan

mana lawan. Aku tidak suka melihat kunyuk tolol

itu Dia harus kubunuh"

"Jangan..." teriak Si Buta Mata Kejora.

Pendekar Mandau Jantan mula-mula memang

dapat menahan diri mendengar ucapan Wayan

Tandira. Namun karena laki-laki rambut panjang

ini terlalu mencurigainya. Sekarang ia tidak dapat lagi menahan kesabarannya.

"Manusia akar, rambut gondrong Aku ben-

ci melihat manusia sombong, tapi aku lebih benci lagi mendengar ucapanmu Kau bukan memikirkan negerimu, kau juga tidak memikirkan masya-

rakatmu yang berdiri mematung menjadi batu.

Kau hanya mementingkan kekuasaanmu Manu-

sia bermental kerdil macammu buat apa menjadi

pemimpin?" desis Suro marah bukan main.

Wayan Tandira melotot, kupingnya terasa

panas hingga bergerak-gerak. Pikirnya pemuda

itu tampangnya seperti orang tolol, tapi bicaranya menyakitkan.

"Aku tahu apa yang aku perbuat? Aku rela

dipendam selama hampir tiga puluh tahun dalam

tanah semata-mata karena demi rakyatku" sahut Wayan Tandira semakin sengit.

"Itu manusia tolol namanya" ejek Pendekar Blo'on, dalam hati ia tertawa karena melihat lawan ternyata terpancing dengan kata-katanya.





"Kalau merasa jadi orang pintar mengapa mau dipendam segala. Lawan saja kalau perlu sampai

ada yang mampus. Apa guna kau jadi laki-laki,

apa guna kau punya barang. Kalau merasa men-

jadi banci lebih baik barangmu dipajang saja di

jidad..."

"Suro..." Si Buta Mata Kejora bermaksud mencegah kata-kata Suro yang serampangan itu.

Namun sudah terlambat, Suro nyengir kuda. La-

wan langsung menggebraknya dengan serang-

kaian serangan yang sangat mematikan lagi tidak

ada putus-putusnya.

"Walah emak, ada orang gila mengamuk"

seru Suro. Dengan lincah ia menghindari seran-

gan-serangan gencar yang dilakukan oleh Wayan

Tandira. Ia berjingrak-jingkrak, mengelak sambil melompat atau terkadang berjongkok. Di lain

waktu pemuda ini garuk-garuk sekujur tubuhnya.

Dari bibirnya yang termonyong-monyong terden-

gar suara ngak-ngik-nguk yang tidak ada putus-

putusnya.

Wayan Tandira merasa kesal melihat ke-

nyataan setiap serangan yang dilancarkannya ti-

dak mendatangkan hasil. Sekonyong-konyong ia

melompat ke depan, tangan mencengkeram ke

bagian lambung sedangkan, kaki kiri lepaskan

tendangan menggeledek. Dalam keadaan berjong-

kok Suro melesat ke udara. Dua serangan berun-

tun yang dilakukan oleh Wayan Tandira mengenai

tempat kosong. Si konyol berputar di udara, ka-

kinya yang menekuk mendadak terjulur seperti





gerakan kepala ular yang mematuk. Wayan tidak

sempat tarik wajahnya. Dan....

Dhaak

Kepala laki-laki rambut panjang itu sempat

tersentak ke belakang. Terdengar suara jeritan

pendek, Wayan terhuyung-huyung sambil mema-

ki. Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam ke ba-

gian tangan. Sehingga kedua tangan pemuda itu

yang terbalut akar-akar aneh berwarna putih lak-

sana perak. Sontak udara berubah menjadi pa-

nas, Si Buta Mata Kejora keluarkan seruan kaget.

"Pukulan 'Blenggu'..." desisnya seakan memberi peringatan pada Suro Blondo

Pemuda rambut kemerah-merahan me-

langkah mundur sejauh dua tindak.

"Hup Huup..."

"Jurus 'Kacau Balau'.." gumam si pemuda menyebut nama jurus yang dipergunakannya.

Sepontan tubuhnya meliuk-liuk, langkah-

langkahnya tidak teratur dan setiap gerakan yang dilakukannya benar-benar serampangan terkesan

seperti gerakan orang mabuk berat. Inilah jurus

menghindar paling kacau yang tokoh-tokoh di

rimba persilatan sendiri tidak pernah memili-

kinya. Wuss Wuus

Blaar

"Weit-weit kiamat" maki Suro. Ternyata pukulan maut yang dilepaskan oleh Wayan Tandira mengenai tempat kosong. Suro sambil ter-

huyung-huyung langsung berbalik dan balas le-





paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-

sinar'. Seketika terlihat sinar merah redup melesat dari telapak tangan Pendekar Blo'on yang ter-kembang. Wayan Tandira melompat, serangan

pertama luput, sayang pukulan susulan tidak da-

pat dihindarinya lagi.

Buuum

"Wuaarrrkkh..."

Wayan Tandira menjerit keras sambil ber-

guling-guling. Bagian dadanya yang terlibat akar-akaran memang tidak cedera. Tapi bagian leher

hingga ke wajah terasa panas seperti di panggang bara api.

Laki-laki ini menggeram, diam-diam Suro

sendiri sempat terperangah. Tadi ketika sebagian pukulan yang dilepaskannya menghantam bagian

dada dan perut lawan. Ia melihat sinar hitam

memancar dari akar-akaran aneh yang membelit

tubuh Wayan. Ini merupakan sebuah kenyataan

yang sangat aneh. Seakan akar-akaran itu men-

gandung sebuah kekuatan tersembunyi. Hal ini

yang membuat Suro tertegun cukup lama, sikap-

nya yang lengah ini segera dimanfaatkan oleh la-

wan untuk menyerangnya dengan pukulan

'Cambuk Neraka'.

"Cambuk Neraka' Awas..." Si Buta Mata Kejora kembali berteriak memberi peringatan.

Wuuk

Glaar

"Akh..."

Pendekar Mandau Jantan menjerit terta-





han, tubuhnya terpelanting dan terus terguling-

guling. Ada darah yang menetes di sudut-sudut

bibirnya. Wayan Tandira terkekeh senang, Si Buta Mata Kejora jadi prihatin, walaupun matanya tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi, tapi

perasaannya mengatakan bahwa Pendekar yang

terlahir di gunung Bromo dan besar di gunung

Mahameru tersebut sedang terancam bahaya be-

sar. Ia sebenarnya ingin membantu, tapi merasa

serba salah, sebab orang yang dihadapi oleh mu-

rid Penghulu Siluman Kera Putih dan Murid Ma-

laikat Berambut Api ini adalah ketua negeri

Sange. "Hentikanlah perkelahian" seru Si Buta Mata Kejora.

"Kepala adat, jangan kau coba mencegahku

atau kau bersedia menemani pemuda ini ke nera-

ka?" dengus Wayan Tandira tidak senang.

"Dewi Dewata, dia bukan mata-mata dan

bukan pula kaki tangan Ratu Leak. Hentikanlah,

kumohon"

"Mohonlah pada setan dan orang-orang

yang mati gentayangan akibat ulah manusia ja-

lang itu. Hiyaa..." teriak Wayan Tandira berapi-api. Tanpa bicara apa-apa lagi tubuhnya tiba-tiba saja melesat ke arah Suro. Pemuda konyol yang

sudah dilanda kejengkelan ini sama sekali tidak

berusaha menghindar. Malah ia pergunakan ju-

rus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.

Dan tangannya di silangkan, sebelah kaki diang-

kat dan ditekuk.





Splak

Dukk Duukk

"Heh..."

Wayan terdorong mundur lalu jatuh terdu-

duk. Sebaliknya Suro menjerit kesakitan. Bukan

akibat benturan tenaga dalam, melainkan karena

kedua tangannya yang sempat bersentuhan den-

gan akar-akaran seperti tersengat puluhan ekor

ular berbisa.

Sungguh pun begitu ia segera berdiri kem-

bali. Memandang ke depan, dilihatnya Wayan

Tandira dalam keadaan berlutut sambil meme-

gangi wajahnya. Laki-laki itu menangis terisak-

isak, entah apa yang membuatnya begitu.

"Kau tadi mau membunuhku, mengapa se-

karang malah menangis? Apakah kau rindu pada

anak isterimu, pemimpin negeri?"

"Huk huk huk Entah mengapa aku sea-

kan-akan melihat dewata marah padaku bila aku

menyerangmu tadi. Kurasa ucapan Ketua adat

benar, kau bukan musuh sebagaimana yang ku-

duga" kata Wayan Tandira terisak-isak.

"Huk huk huk Aku juga senang jika kau

mau sadar" Suro meniru tangisan Wayan Tandira.

"Lalu sekarang apa yang hendak kau perbuat?

Apakah bertarung denganku lagi sampai salah

seorang diantara kita ada yang mampus. Manusia

bodoh itu namanya, aku sendiri jelek-jelek begini masih punya banyak pertimbangan"

"Aku tidak ingin bertarung denganmu, cu-

kup" sahut Wayan di sela-sela isak tangisnya.





"Lalu apakah kau juga berniat mencari Ra-

tu Leak?" tanya Suro.

"Hem..." Wayan Tandira menggeram. "Perempuan itu harus kubunuh Tiga puluh tahun

aku dipendamnya hidup-hidup. Kau lihat, tubuh-

ku yang terbalut akar ini. Aku telah berusaha

memotongnya tapi tidak bisa. Semua ini gara-gara Ratu Leak keparat itu Sudahlah, tinggalkan aku

disini, aku tidak ingin ada orang yang melihatku, aku malu. Huk huk huk..."

"Pemimpin negeri, bukankah lebih baik jika

kita bersama-sama pergi ke Batu Lahat Bakutuk"

Si Buta Mata Kejora ikut bicara. Namun orang

yang diajaknya bicara gelengkan kepala.

"Pergilah kalian kesana lebih awal. Mung-

kin nanti aku akan menyusul" sahut Wayan Tandira. Laki-laki berambut gondrong yang sekujur tubuhnya diselimuti akar ini langsung melangkah

pergi. Suro hanya garuk-garuk kepala, ia menarik tangan Si Buta Mata Kejora untuk segera meninggalkan tempat itu.





ENAM


"Inikah tempatnya, kakek buta? Aku men-

cium bau maut di sini. Aku juga mengendus bau

kelicikan" Berkata pemuda baju biru. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat

itu. Banyak juga pohon-pohon di sekitar bukit-





bukit itu, akan tetapi pohon-pohon tersebut men-

jadi batu akibat kutukan Ratu Leak. Tengkuk Su-

ro meremang berdiri, ia menoleh ke arah kakek

buta yang berdiri tidak jauh di sebelahnya. Ter-

nyata kelihatannya kakek ini merasa jerih. "Ada lagikah tempat yang lebih mengerikan dari tempat ini?" "Hemm, ada. Bukit Kembar Tiga Terlaknat

Di sanalah Wayan Tandira dan anak buahnya di-

benam. Aku heran jika kemudian ia muncul den-

gan tubuh dipenuhi akar-akaran." sahut Si Buta Mata Kejora.

"Kurasa disana banyak pohon"

"Tidak satu pun"

"Lalu akar-akaran sakti itu apakan mung-

kin datang dari perut bumi? Terlalu banyak keja-

dian-kejadian ganjil disini" gumam Suro sambil garuk-garuk kepala. "Tempat ini sunyi, seakan tidak berpenghuni. Apa tujuanmu membawa aku

ke sini?" tanya Suro Blondo, perasaannya mulai tidak enak.

"Karena di daerah ini Ratu Leak kudengar

bersembunyi."

Pendekar Blo'on kelihatannya seperti tidak

puas mendengar jawaban si kakek.

"Aku terkadang merasa heran melihat di-

rimu, matamu buta tapi kau tau semua tempat

yang kau lalui. Aku terkadang merasa tidak yakin kalau kau benar-benar buta?" kata si pemuda sambil tersenyum mencibir.

"Mengapa keadaanku yang kau persoalkan.





Waspadalah wahai Pendekar Tolol Aku mencium

adanya bahaya di sekitar kita" Si Buta Mata Kejora memperingatkan.

Suro cepat meneliti keadaan di sekeliling

mereka. Pemuda ini memang tidak melihat sesu-

atu, tapi aneh. Sekujur tubuhnya bertambah me-

rinding. Dalam pada itu sekonyong-konyong ter-

dengar suara ringkik kuda di kejauhan.

"Ada orang datang ke sini, kakek. Tahukah

kau siapa orangnya?" tanya Pendekar Mandau

Jantan, seraya memandang ke arah datangnya

suara. Belum sempat Si Buta Mata Kejora menga-

takan sesuatu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang

seperti melompati kepala mereka.

"Hieehhh..."

"Heh..." Suro pentang matanya lebar-lebar, seakan ia tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri. "Kala Demit? Bagaimana ia bisa hadir di sini? Mengapa tangannya masih utuh?

Padahal aku pernah membuatnya buntung" batin si pemuda. Untuk lebih jelasnya bentrok antara

Kala Demit dan Pendekar Blo'on dalam episode

terdahulu.

"Terkejut bocah ajaib?" Kala Demit tersenyum mencibir.

"Kau? Bagaimana kau dapat menyambung

tanganmu?" tanya Suro.

Kala Demit tertawa ngakak, angin bertiup

sepoi-sepoi. Suro mencium bau sesuatu yang

sangat khas, bau harum khas perempuan. Seba-

gaimana seperti yang didapatinya di perahu batu





pinggir pantai.

"Bukan sesuatu yang sulit, Pendekar

Blo'on" Kala Demit mendengus sengit. "Sekarang perhitungan itu harus dimulai, Pendekar Blo'on.

Tahukah kau bahwa orang yang paling kubenci di

kolong langit ini tidak lain adalah kunyuk ber-

tampang tolol sepertimu?"

Saking geramnya Suro garuk-garuk kepala

sampai berulang-ulang. Ia teringat kira-kira ba-

gaimana kematian orang tuanya ketika terjadi ke-

kacauan di gunung Bromo dulu.

"Kala Demit manusia iblis Apakah tidak

salah yang kudengar? Seharusnya akulah yang

menuntutmu. Karena kau dan Sepasang Iblis Pe-

gat Nyawa telah membunuh kedua orang tuaku.

Mengapa sekarang jadi tebolak, eeh... terbalik.

Aku yang sudah, gila apa kau yang sudah sint-

ing?" maki Suro.

"Siapa manusia yang kau ajak bicara, Pen-

dekar tolol?" Tiba-tiba saja Si Buta Mata Kejora bertanya.

"Dia bukan manusia, tapi iblis yang me-

nyaru sebagai manusia" sahut Pendekar Blo'on sengit. "Kurasa dia punya hubungan tertentu dengan Ratu Leak, Suro. Kalau kita dapat mering-

kusnya hidup-hidup. Kita bisa mengorek keteran-

gan dari mulutnya" Si kakek mengisiki.

"Bagaimana kalian dapat mengorek kete-

rangan dariku, jika jiwa kalian lebih dulu kukorek dan segera kukirim ke neraka?"





"Huh, aku ingin melihat untuk yang kedua

kalinya apakah kau dapat membuktikan mulut

besarmu itu? Kuragukan jangan-jangan cuma

mulutmu saja yang pintar bicara, atau kau men-

gagulkan Ratu Leak itu, eh...?" ejek Suro begitu mencemo'oh.

"Bangsat Hiaaa..."

Dengan masih menunggang kuda hitamnya

yang kurus kering itu. Kala Demit hantamkan ke-

dua tangannya kanan kiri secara berturut-turut.

Sinar putih, kuning dan merah bertebaran di

udara bagaikan kunang-kunang. Si Buta Mata

Kejora langsung tutup hidungnya begitu merasa-

kan nafasnya menjadi sesak. Suro menghindar ke

samping dan diam-diam sempat terkejut juga ke-

tika menyadari bahwa Kala Demit tidak memper-

gunakan pukulan sebagaimana pernah dipergu-

nakan dulu ketika berhadapan dengannya.

Pemuda ini tidak dapat berdiam lebih lama.

Lalu secara cepat ia kibaskan kedua tangannya

siap lepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit

Sukma'. Kala Demit palsu yang pernah mati-

matian bertarung dengan pemuda ini saat terjadi

ledakan pertama lepaskan pukulan susulan den-

gan kekuatan berlipat ganda.

Serangan seperti ini benar-benar tidak per-

nah diduga oleh Suro Blondo. Akibatnya sungguh

buruk sekali bagi Suro, tubuhnya yang terhantam

pukulan 'Neraka Perut Bumi' kontan terpelanting.

Lebih celaka lagi punggungnya terhempas batu.

Braak





Batu hancur berantakan, Suro menggeliat

dan berusaha bangkit berdiri. Kala Demit acung-

kan jari telunjuknya siap lepaskan serangan

'Tusukan Jari Penghantar Maut'. Dua baris sinar

melesat dari ujung jemari tangan Kala Demit, da-

lam waktu bersamaan Si Buta Mata Kejora yang

rupanya merasa khawatir lepaskan pukulan pula.

Sinar biru memotong di pertengahan jalan. Hing-

ga kembali terdengar suara ledakan dan serangan

Kala Demit jadi melenceng

Si Buta Mata Kejora sempat tergontai-

gontai, melihat hal ini Suro jadi tertawa-tawa. Ia sendiri tidak suka bertarung secara keroyokan

seperti itu.

"Kakek buta Aku belum mampus, kelenger

pun belum. Tidak usah main kroyok. Nanti apa

kata orang-orang rimba persilatan melihat keja-

dian ini?" dengus Suro.

"Tidak perduli apa kata setan-setan rimba

persilatan" sahut Si Buta Mata Kejora, tidak kalah sengitnya. "Tiga puluh tahun rakyat negeri Sange menderita kutukan, mereka terjemur panas, tersiram hujan tanpa mampu bergeser dari

penderitaan. Siapa yang memperdulikan mereka?

Siapa yang mau mengerti nasib mereka, hayo sia-

pa?" "Tentu saja kita sendiri. Sudahlah minggir dulu, nanti jika kau melihat aku sudah terkapar

dan tidak ada nafasnya. Kau boleh sesuka hatimu

melabrak Kala Demit"

"Huh, orang-orang golongan putih menga-





ku orang paling bersih dan yang paling jujur. Kenyataannya kalian tidak ubahnya seperti kecoa-

kecoa pengecut yang cuma pandai main keroyok"

teriak Kala Demit yang merasa berada di atas an-

gin. Suro Blondo sama sekali tidak menanggapi.

Ia menggenjot tubuhnya, gerakan kilat yang disertai salto ini cepat bukan main. Tahu-tahu tin-

junya sudah menghantam kaki kuda Kala Demit.

Praak

Kuda meringkik keras, tulang kaki bela-

kangnya hancur. Kala Demit melihat kejadian ini

terpaksa lepaskan tendangan, Suro lebih cepat

lagi melompat ke belakang. Serangan tidak men-

genai sasaran, Kala Demit langsung melompat da-

ri punggung kuda sebelum binatang tunggangan

itu tersungkur ke tanah.

Kini mereka saling serang dengan jarak

yang begitu rapat. Sekonyong-konyong Kala Demit

merubah jurus-jurus serangannya. Ia sempat

berputar dua kali, lalu sambil membentak keras

sikunya menghantam dada Suro. Sayang si ko-

nyol sudah berkelit, dadanya di miring-miringkan ke depan sedangkan kepala condong ke belakang.

Gerakan-gerakan seperti monyet ini dikenal den-

gan nama 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.

Wuuut

"Haes..."

Si pemuda sentakkan dadanya ke bela-

kang, sejurus kemudian kaki Kala Demit telah

menyodok ulu hatinya.





Des Des

Tubuh pemuda ini sempat terpelintir, na-

mun betapa cerdiknya pemuda bertampang keto-

lol-tololan ini. Ia berputar setengah lingkaran sebelum punggungnya jatuh ke tanah belakang tu-

mitnya menghantam pinggang lawan pula.

Buuk

"Huugkh"

"Bangsat Ternyata kau masih dapat juga

cari selamat Heaa..." Kala Demit katupkan bibirnya rapat-rapat. Tiba-tiba saja ia memutar-mutar kedua tangannya di atas kepala. Tubuhnya meliuk sedemikian rupa, dua kali ia jungkir balik.

Dan.... Wuut

Hantaman yang mengarah rusuk kiri lu-

put. Suro membalas dengan melepaskan tendan-

gan pula.

Wuss

Ternyata serangan balasan yang dilaku-

kannya juga tidak mengenai sasaran. Suro sem-

pat tertegun sambil leletkan lidah. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada lawannya. Gerakan

orang ini mirip dengan gerakan perempuan. Apa-

kah Kala Demit mempelajari ilmu-ilmu baru yang

membuat sifat dan tingkah lakunya seperti seo-

rang wanita?

Tidak ada waktu lagi bagi Suro Blondo un-

tuk berpikir lebih jauh. Kala Demit lepaskan pu-

kulan 'Pemusnah Raga Penebus Jiwa'. Kala Demit

membalikkan punggung tangannya, dari bagian





punggung tangan itu tiba-tiba saja menderu segu-

lung angin topan disertai hawa panas bukan

main. Si Buta Mata Kejora terpaksa melompat

dan menyingkir. Udara di sekeliling tempat itu terasa panas bukan alang kepalang.

"Manusia setan ini benar-benar ingin me-

rampas nyawaku Apa boleh buat, hmm..." Suro mengadu kedua telapak tangannya. Lagi tangan

kiri kanan diangkatnya sejajar dengan wajah. Se-

telah itu secepat kilat didorongkannya ke depan.

Zzzzzzzt

Sontak terdengar suara jeritan di mana-

mana. Sinar merah hitam menderu, suasana pa-

nas semakin bertambah panas berganda. Deru

kedua pukulan tersebut sudah tidak dapat diben-

dung-bendung. Kemudian terjadilah ledakan yang

sangat keras sekali.

Bluaar

"Akh..."

Kala Demit sempat tergontai-gontai, bibir-

nya meneteskan darah. Ada bagian wajahnya

yang sempat terobek. Ia tidak ingin hal ini dilihat oleh lawannya. Itulah sebabnya selagi debu panas masih menutupi udara. Selagi lawannya berusaha

bangkit berdiri dengan menahan luka dalam dan

pakaian robek besar di dada kiri. Kala Demit me-

ninggalkan kalangan pertempuran.

Apa yang dilakukan oleh lawan ternyata

sempat dilihat oleh Pendekar Mandau Jantan ini

sehingga ia berteriak sambil mengejar.

"Setan hina dina, tidak akan kubiarkan





kau lolos dari tanganku untuk yang kedua ka-

linya" Si Buta Mata Kejora pun mengikuti Suro, tapi ia kalah cepat dari pemuda itu. Ternyata Kala Demit tanpa menoleh-noleh lagi terus melarikan

diri. Ia tidak perduli dengan teriakan Suro. Tam-paknya ia memang sengaja melarikan diri melalui

jalan berbatu yang sempit lagi sulit. Hingga ke-

mudian ia menghilang di balik gundukan batu

besar. "Heh, baru saja ia lewat sini. Mengapa tiba-tiba saja bisa menghilang seperti setan?" batin Suro dengan kening berkerut. "Mustahil aku tidak melihatnya jika ia lari ke lain tempat. Kala Demit, bagaimana pun manusia bukanlah setan. Aku harus mencarinya sampai dapat"

Suro Blondo berputar-putar mengitari se-

keliling batu. Rasanya tidak ada tempat yang da-

pat dijadikan persembunyian Kala Demit. Sekali

lagi ia berputar, lalu terlihat olehnya sebuah pun-dasi panjang seperti sebuah makam berbatu.

"Ada makam? Makam siapa? Cuma ada sa-

tu makam di sini" kata Pendekar Blo'on.

Duk Jduk Duk

"Tolong... siapapun yang ada di luar sana,

tolonglah" rintih sebuah suara dari balik makam tersebut. Kejut pemuda ini bukan alang kepalang.

"Siapa? Mengapa bisa sampai terkubur di

situ?" tanya Suro, lalu garuk-garuk kepala, bingung. "Seseorang telah menguburkan aku di sini.





Tolonglah, aku sudah hampir tidak dapat berna-

fas" sahut sebuah suara di balik makam batu.

Terdorong oleh rasa ingin menolong dan

mengingat mungkin perempuan itu telah dijeru-

muskan oleh Kala Demit ke makam batu itu. Ma-

ka Pendekar yang besar di gunung Mahameru itu

segera datang menghampiri.

Namun baru saja ia menginjak ujung ma-

kam batu, makam tersebut langsung melesat ke

dalam. Suro yang dalam keadaan berjongkok ti-

dak sempat lagi menyelamatkan diri.

"Awaaaas Jebakan" teriak sebuah suara.

Namun terlambat, bayangan putih tadi bahkan

berusaha menyambar punggung Suro. Namun

sangat disayangkan daya luncuran lebih cepat la-

gi. Ketika sosok bayangan putih hendak masuk ke

dalam lubang tersebut. Maka batu menutup kem-

bali. Blaaang

"Heh..."

Bayangan putih itu ternyata adalah seo-

rang gadis berkerudung ia menghela nafas den-

gan wajah diwarnai perasaan cemas.

"Aku baru melihatnya, nasib celaka apa

yang terjadi padanya? Bagaimana aku harus me-

nolong jika sudah begini?" Si gadis mengeluh, hatinya menjadi masgul.

"Suro... Pendekar tolol, kemana engkau?"

kata sebuah suara. Si gadis cepat menoleh.

"Astaga" serunya ketika ia melihat di depannya berdiri seorang kakek bermata buta.





"Aku mencium bau perempuan. Siapa

kau?" tanya Si Buta Mata Kejora.

"Kakek, apakah kau sahabatnya Pendekar

Blo'on, Suro Blondo?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Dewi Kerudung Putih. Untuk lebih jelasnya dalam Episode Bayang-Bayang Kematian.

"Kau mengenalnya, apakah kau juga saha-

batnya?"

"Begitulah Suro memang sahabatku, su-

dah lama aku mencarinya" Lalu Dewi Kerudung Putih memperkenalkan diri termasuk menyebut

asal usulnya dari pantai selatan.

"Lalu sekarang kemana pemuda gendeng

itu? Aku tidak melihat dia berlari mengejar Kala Demit kesini?" jelas Si Buta Mata Kejora.

Dek

Berdebar dada si gadis. Selalu saja ia me-

rasa tidak enak bila ada orang menyebut-nyebut

Kala Demit. Dan ia sadar betul kalau Suro benar-

benar menghendaki nyawa Kala Demit karena to-

koh sesat itu telah membunuh orang tuanya di

gunung Bromo.

"Aku pun baru melihatnya, barusan ia

mendekati makam batu ini. Aku tidak tahu siapa

yang hendak ditolongnya dan apa yang menarik

perhatiannya. Tiba-tiba makam batu amblas ke

bawah. Ia terperosok ke dalamnya, aku tidak

sempat menolong. Maafkan aku..." kata Dewi Kerudung Putih.

"Ah... ah... celaka... ini adalah Liang Lahat Bakutuk. Dia telah terperangkap. Siapa yang





menjebaknya? Kaaau..." Si Buta Mata Kejora menggembor marah.





TUJUH


Betapa berubahnya wajah Si Buta Mata Ke-

jora melihat kenyataan ini. Liang Lahat Bakutuk

entah apapun yang berada di dalamnya tetap me-

rupakan bahaya besar yang dapat mengancam

keselamatan Pendekar Blo'on. Lalu siapa gadis

ini? Jangan-jangan ia hanya mengaku-ngaku se-

bagai sahabatnya Suro Blondo, padahal dialah

yang telah menjerumuskan Suro ke dalam Liang

Lahat Bakutuk. Siapa dapat menduga isi hati

manusia?

"Anak gadis orang berkerudung Apakah

aku bisa percaya dengan penjelasanmu ini. Seta-

huku dia tadi mengejar Kala Demit, orang itu

menghilang lalu muncul engkau. Bagaimana aku

tidak curiga?" kata Si Buta Mata Kejora. Ucapan si kakek buta tentu membuat marah Dewi Kerudung Putih.

"Orang tua, memang diantara kita baru sal-

ing kenal. Tapi antara aku dan Suro sudah lama

saling mengetahui siapa diri masing-masing. Kau

tidak perlu bercuriga padaku. Seandainya Liang

Lahat ini dapat terbuka aku pasti orang pertama

yang akan menyusul ke dalam untuk mengetahui

bagaimana keadaannya"

Penjelasan Dewi Kerudung putih ini ru-





panya masih juga kurang bisa diterima oleh Si

Buta Mata Kejora. Ia bingung karenanya menjadi

ragu untuk dapat membedakan siapa kawan dan

siapa lawan. Si kakek kemudian bicara dengan

suara lantang.

"Maafkan aku, untuk percaya pada orang

lain bagiku sangat sulit sekali, apalagi orang itu baru saja kukenal."

"Jika kau tidak mau mempercayai ucapan

manusia, siapa lagi orang yang kau percayai da-

lam hidup di dunia ini?" dengus Dewi Kerudung Putih. "Entahlah" Si Buta Mata Kejora gelengkan kepala ragu. Sekonyong-konyong dan di luar du-gaan tiba-tiba saja, tinjunya menderu dan meng-

hantam wajah si gadis.

"Hait Apa-apaan kau...?" teriak Dewi sambil mengelakkan serangan si kakek buta.

Wuut

Serangan kilat itu lewat sejengkal di atas

kepala Dewi Kerudung Putih. Serangan pertama

luput, si kakek lepaskan tendangan kilat pula.

Angin keras menyambar, Dewi saking kesalnya

langsung menangkis dengan siku kiri.

Duuk

Dewi Kerudung Putih terhuyung ke bela-

kang, Si Buta Mata Kejora sempat tergetar tu-

buhnya. Bagian kakinya terasa linu seperti orang yang terserang penyakit reumatik.

"Lebih baik kau hentikan perkelahian gila

ini" seru si gadis, marah bercampur cemas. Ma-





rah karena si kakek tidak dapat membedakan la-

wan dan kawan. Cemas karena ia menghawatir-

kan keselamatan Pendekar Blo'on.

"Mana bisa, sebelum aku tahu siapa kau

yang sesungguhnya" Si Buta Mata Kejora tetap ngotot. "Orang tua gila. Otakmu benar-benar sudah tidak dapat kau pergunakan untuk berfikir.

Atau kau memang orang sinting yang gila berke-

lahi?" "Terserah apa pendapatmu, yang jelas aku tidak mau tahu sebelumnya benar-benar bersih

sebagai kawan atau lawan" sahut Si Buta Mata Kejora. "Hiiih..."

Kakek buta sekonyong-konyong melompat,

tangannya mencengkeram wajah Dewi Kerudung

Putih. Namun si gadis melompat, lalu lepaskan

pukulan 'Badai Seribu'. Sebagaimana telah sama-

sama kita ketahui (dalam Episode Bayang-Bayang

Kematian), Dewi Kerudung Putih adalah gadis

aneh yang lebih suka tinggal di atas perahu.

Kini serangan menderu, hawa dingin men-

cucuk disertai meluncurnya sinar putih. Sebuah

pukulan yang tidak dapat dianggap enteng, na-

mun Si Buta Mata Kejora menyampok dengan

ujung lengan bajunya.

Byaar

"Uth..."

Si Buta Mata Kejora yang semula men-

ganggap enteng serangan lawan sempat ter-





huyung. Ujung lengan bajunya robek dan seperti

ada ratusan batang jarum menusuk-nusuk da-

gingnya. Menggigil tubuh si kakek, ia kerahkan

tenaga dalam untuk mengusir hawa dingin terse-

but. Dalam hati ia memuji kesaktian yang dimiliki oleh lawannya.

"Sudah kubilang, hentikan kakek buta?

Apakah tidak terlintas dalam benakmu bagaima-

na nasib Pendekar Blo'on saat ini?" lagi-lagi Dewi Kerudung Putih berteriak memperingatkan.

"Aku belum lagi kalah Mana aku bisa di-

ajak bicara?" kata Si Buta Mata Kejora.

Sesabar-sabarnya Dewi Kerudung Putih,

tentu lama-kelamaan menjadi gusar juga. Ia sa-

lurkan tenaga dalam ke bagian tangannya, tangan

itu digerakkannya ke bawah, lalu ia tarik ke atas dan kemudian dihantamkannya ke arah lawan.

"Gelora Laut Selatan'" teriak si gadis menyebut nama pukulan yang dilepaskannya.

Wuusss

"Walah, pukulan yang keji" dengus Si Buta Mata Kejora. Laki-laki tua ini angkat tangannya

tinggi-tinggi lalu dirangkapkan di atas kepala. Begitu kedua tangan menyatu, maka berpijarlah se-

baris sinar kuning, lalu melesat ke depan dengan kecepatan berganda. Benturan keras tidak dapat

dihindari lagi.

Terjadi letupan, dua sosok tubuh tampak

terpental. Satu semburkan darah, sedangkan sa-

tunya lagi menggeliat di atas tanah seperti orang yang meregang ajal.





"Ha ha ha... Keluar juga kecap dari dada-

ku, bocah? Tapi kurasa kau juga menderita luka

dalam, kepalang tanggung mengapa kita tidak

mengadu jiwa sekalian?" ejek Si Buta Mata Kejora.

"Setan alas Tua bangka buta ini keras ke-

pala sekali" maki Dewi Kerudung Putih. Ia terpaksa berguling-guling ketika merasakan adanya

sambaran angin melabrak tubuhnya.

Wuut Wuut

Buum Buum

Pukulan yang dilepas oleh Si Buta Mata

Kejora hanya mengenai angin. Melabrak batu po-

hon di belakangnya hingga hancur berantakan.

Dewi Kerudung Putih tidak dapat membayangkan

bagaimana jika dirinya yang terkena serangan itu.

Setelah gagal untuk yang kesekian kalinya,

Si Buta Mata Kejora memang seperti tidak puas.

Tiba-tiba saja ia mencabut senjata aneh berben-

tuk bulan sabit. Senjata itu cara penggunaannya

adalah dengan dilemparkan setelah diputar-putar

lebih dulu. Dan memang itulah yang dilakukan

oleh Si Buta Mata Kejora saat ini.

Siing

Senjata aneh tersebut membelah udara,

berputarnya di udara sedemikian cepat, Dewi Ke-

rudung Putih siap mencabut senjatanya ketika

menyadari betapa berbahayanya serangan senjata

maut itu. Namun tiba-tiba saja dalam keadaan

yang menegangkan demikian, terdengar suara

ringkikan kuda yang panjang. Terlihat pula





bayangan putih berselempang putih berkelebat.

Tap

Senjata maut berbentuk aneh itu ditang-

kap oleh bayangan tadi. Si Buta Mata Kejora wa-

lau tidak melihat namun terkejut sekali melihat

kenyataan ada orang dapat menangkap senjata

mautnya selagi masih melayang dan berputar di

udara. Sementara kuda berlari cepat mendekat,

sehingga ketika tubuh bayangan putih melayang

turun, dalam sekejapan mata saja sudah berada

di atas punggung kuda putihnya. Senjata beng-

kok seperti bulan di timang-timang di atas tela-

pak tangan yang putih halus seperti sutera.

Laki-laki berambut putih, berkumis dan

berjenggot putih memandang ke arah kakek buta

dengan tatapan mata aneh. Si Buta Mata Kejora

kedip-kedipkan matanya.

"Aku tidak melihat, tapi aku dapat merasa-

kan ada orang yang datang kesini Perkenalkan

namamu, atau engkau masih ada hubungan ter-

tentu dengan gadis itu?" tanya si kakek dingin.

"Hhm, aku Datuk Nan Gadang Paluih Da-

tang dari jauh tanah Andalas mencari si terkutuk Ratu Leak. Kulihat bukan matamu saja yang bu-ta, tapi hatimu juga
dipenuhi angkara murka

Gadis itu tidak bersalah, mengapa kau menye-

rangnya mati-matian dan hendak pula membu-

nuhnya?" dengus si baju putih Selempang Putih.

"Terlalu banyak penderitaan dan kesengsa-

raan membuatku marah. Terlalu banyak kutukan

membuat aku mudah curiga pada siapa saja."





"Kecurigaan yang membabi buta Kalau

kau merasa tidak mampu menguasai amarahmu,

silahkan kau tumpahkan emosimu atasku Aku

ingin melihat seberapa hebat ilmu-ilmu sakti

orang Sange" tantang sang Datuk.

Si Buta Mata Kejora tidak langsung menja-

wab. Salah satu kehebatan orang dari Andalas ini tentu dibuktikan dengan menangkap senjata miliknya ketika masih melesat di udara. Dan men-

gingat nada ucapannya yang seakan membenci

Ratu Leak. Rasanya orang ini pun punya urusan

penting dengan perempuan yang telah menjatuh-

kan kutuk itu.

"Maaf, aku mempunyai dua kali kebutaan

karena tidak melihat tingginya gunung Agung di

depanku. Sebenarnya aku menghawatirkan nasib

sahabat baruku, Pendekar Blo'on. Ia terjebak di

Liang Lahat Bakutuk Karena kulihat gadis itu berada disini, maka aku bercuriga padanya jangan-

jangan ia mata-mata Ratu Leak..." jelas si kakek buta. "Adanya Liang Lahat Bakutuk bermula dari Batu Lahat Bakutuk. Sekarang ini terciptalah neraka terkutuk karena batu batuah itu jatuh ke

tangan orang yang salah. Sebuah liang lahat,

hemm... dimanakah tempatnya?" tanya Datuk

Nan Gadang Paluih.

Dewi Kerudung Putih tanpa diminta lang-

sung menunjuk ke arah makam tanpa nisan den-

gan dasar seperti batu pelataran berwarna putih.

Si laki-laki datang mendekati.





"Liang lahat ini besarnya seribu kali dari

besarnya batu Bakutuk milikku yang dicuri Ratu

Leak Sebuah adi kesaktian turun temurun yang

diwariskan kakek buyutku. Kini aku harus me-

rampasnya sebelum merenggut korban lebih ba-

nyak lagi." batin Datuk Nan Gadang Paluih.

"Bagaimana orang tua? Apakah kita dapat

menjebol makam batu ini?" tanya Dewi Kerudung Putih tidak sabar.

Datuk Nan Gadang Paluih gelengkan kepa-

la. "Kurasa sahabatmu sengaja dipancing oleh lawannya untuk mendekati jebakan ini. Liang lahat

ini tidak mungkin dibuka, terkecuali dengan Batu Lahat Bakutuk pula. Tapi di dunia ini cuma satu

Batu Lahat dan yang cuma satu-satunya itu telah

dicuri oleh Ratu Leak kurang lebih sekitar tiga

puluh lima tahun yang silam" jelas si Datuk.

"Bagaimana nasib kawanku?" tanya si gadis semakin khawatir.

"Itu yang sulit, nasib manusia tidak seo-

rang pun yang tahu. Dengan batu itu Ratu Leak

bisa punya seribu rencana."

"Biar aku bobol Makam terkutuk celaka

ini" dengus Si Buta Mata Kejora.

Datuk Nan Gadang Paluih sama sekali ti-

dak mencegah, ia sadar betul usaha apapun yang

dilakukan kakek keras kepala ini tidak akan

mendatangkan hasil. Sebab sepengetahuannya

pula tidak ada pukulan sakti manapun yang

mampu menghancurkan barang-barang yang ter-

cipta dari Tuah Batu Lahat Bakutuk





Sementara itu Si Buta Mata Kejora sudah

siap melepaskan pukulan saktinya. Sebentar saja

kedua tangannya telah berubah memerah. Si Bu-

ta Mata Kejora tiba-tiba saja hantamkan kedua

tangannya ke arah liang lahat di depannya.

Terjadi guncangan yang sangat keras seka-

li, kilatan sinar merah berbalik dan nyaris menghantam pemiliknya jika saja ia tidak cepat mem-

buang diri dan berguling-guling.

Si Buta Mata Kejora gelengkan kepala den-

gan wajah sepucat mayat. Dadanya terguncang

dan jantung berdenyut lebih keras lagi. Sayang

kakek yang keras kepala ini tidak mengenai rasa

jeri, walau pada kenyataannya batu liang lahat

selebar setengah depa dan sepanjang dua meter

tidak mengalami kerusakan walau sedikit pun.

"Aku harus mencobanya lagi" berseru si kakek, penasaran.

"Kau tidak akan dapat merubah sesuatu

apa pun. Apa yang kau lakukan hanya akan sia-

sia saja" Datuk Nan Gadang Paluih memperingatkan. Percuma saja peringatan itu bagi kakek

dekil ini. Ia kembali menyiapkan pukulan 'Angin

Biru'. Orang-orang di Sange tahu pasti kehebatan pukulan yang satu ini.

"Huuup..."

Si Buta Mata Kejora tarik kedua tangannya

ke belakang. Tiba-tiba saja kedua tangannya di-

hantamkannya ke hamparan batu liang lahat di

depannya.

Wuuuk





Duuumm

Wuaas

Si Buta Mata Kejora menjerit histeris, tu-

buhnya terdorong ke belakang. Mulutnya me-

nyembur darah, orang ini terkapar terhantam pu-

kulannya sendiri. Nafas Si Buta Mata Kejora me-

gap-megap, Datuk Nan Gadang Paluih datang

menghampiri.

"Banyak sekali orang celaka di dunia ini

termakan tulah sendiri. Kepandaian sebesar ke-

lingking mana bisa mengungkit gajah Dasar bo-

doh keras kepala pula..." gerutu Sang Datuk.

"Bagaimana keadaannya, Datuk?" tanya

Dewi Kerudung Putih.

"Ini namanya mampus tidak hidup pun se-

gan. Anak dara, menjauhlah. Aku akan mengoba-

tinya" ucap Datuk Nan Gadang Paluih tegas. Salah satu tokoh dari Andalas ini kemudian men-

gambil batu sebesar lengan.

"Hendak kau apakan dia Datuk?" Si gadis merasa khawatir kalau orang berbaju putih berselempang putih ini malah mencelakai Si Buta Mata

Kejora. Sehingga ia pun melompat menghadang.

"Anak kuciang Menyingkir kataku, dia su-

dah mau mampus Kalau tidak cepat kutolong

aku khawatir darah semakin menggumpal di se-

tiap pembuluh darahnya." bentak sang Datuk.

Meskipun ragu-ragu Dewi Kerudung Putih ter-

paksa mematuhi perintah orang ini

Datuk Nan Gadang Paluih menelung-

kupkan badan Si Buta seenaknya sendiri. Kemu-





dian batu yang berada dalam genggamannya di-

hantamkan ke sekujur tubuh Mata Kejora. Tentu

orang ini menjerit-jerit kesakitan seperti orang yang sekarat. Namun Datuk Nan Gadang Paluih

sama sekali tidak menghiraukan jeritan kakek

buta. Ia terus memukul-mukul tubuh si kakek.

"Aaakh... celaka, kau orang gila Mengapa

kau malah memukuli badanku, apakah kau hen-

dak membunuhku?" teriak Si Buta Mata Kejora.

"Diam, kau orang yang hendak mampus

tahu apa? Penyakitmu kau cari sendiri. Aku lebih tahu apa yang tidak kau ketahui" dengus sang Datuk. "Kau mengobatiku, mengapa harus me-nyiksa seperti ini?" jerit si kakek manakala han-taman batu di tubuhnya tidak juga berhenti.

"Mulutmu bisa diam atau nggak? Apa kau

ingin agar aku memukul mulutmu dengan batu

juga?" "Kau orang gila?" maki si kakek.

Plok

"Akh..." Si Buta Mata Kejora menjerit. Datuk Nan Gadang Paluih rupanya menampar pipi si

kakek. Sementara itu darah mengalir di sudut-

sudut bibir si kakek. Seketika ia merasa ada pe-rubahan dalam dirinya. Ia merasakan nafas men-

jadi longgar, tubuh terasa enteng. Diam-diam ia

merasa takjub atas apa yang dilakukan oleh Da-

tuk Nan Gadang Paluih. Rupanya saat memukuli

si kakek tadi, Datuk Nan Gadang Paluih diam-

diam mengerahkan tenaga dalam untuk meng-





hancurkan darah yang bergumpal pada setiap

pembuluh darah Si Buta Mata Kejora, hingga sa-

kit mendera yang dirasakannya hampir hilang

sama sekali.

"Ohk, ternyata kau orang hebat" puji Si Buta Mata Kejora. "Aku merasa berterima kasih padamu" kata si kakek.

"Mengapa kau malah memikirkan segala

terima kasih? Batuku, batuku Batu Lahat Baku-

tuk. Aku harus memikirkan cara bagaimana agar

dapat menembus penutup liang Lahat ini?" desis laki-laki setengah baya itu cemas. Bukan hanya

Datuk Nan Gadang Paluih saja yang bingung,

Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora ju-

ga bingung memikirkan nasib Pendekar Blo'on.





DELAPAN


Suro seperti tercampak ke jurang neraka

yang panas di lamun api. Liang Lahat yang men-

jebloskan dirinya dalam perangkap maut itu sea-

kan tanpa dasar, gelap dan di sana sini terdengar suara jeritan mengerikan. Suara-suara itu terus

terdengar menggidikkan telinga yang mendengar-

nya. Dan hal itu berlangsung terus selama tu-

buhnya melayang dan melayang. Hingga akhirnya

ia terjatuh. Jatuh di atas daging busuk terbakar.

Di sana sini terdapat bangkai-bangkai yang ber-

timbun, mayat-mayat itu semuanya sudah han-

cur. Sungguh aneh memang jika mereka ternyata





masih bertahan hidup. Orang-orang sengsara

yang berada di jurang liang lahat itu entah siapa dan entah datang dari mana. Namun kelihatannya mereka mengalami berbagai-bagai penyik-

saan. Sosok-sosok setengah mayat setengah ma-

nusia ini menggapai-gapai ke arah Suro. Melihat

pemandangan yang mengerikan itu tengkuk Pen-

dekar Blo'on meremang berdiri.

Ia bergerak mundur, ruangan di dasar

liang lahat itu seakan tidak mengenal batas.

"Siapakah mereka? Apa sekarang aku su-

dah mati?" pikir Suro, bingung. Pemuda baju biru mencubit tangannya. Terasa sakit sekali, "Jelas aku belum mati. Aku masih hidup, segar bugar

dan belum sinting"

"Hraagk"

"Harrk..."

Di tengah-tengah suara jerit kesakitan itu

tiba-tiba saja terdengar erangan panjang di belakangnya. Suro cepat menoleh, dalam kegelapan ia

melihat beberapa sosok tubuh berlidah panjang

bermata bolong mendekatinya. Bukan hanya

mendekat, ternyata mereka menyerang Pendekar

Blo'on. Suro berlari menghindar di tengah-tengah kerumunan manusia mayat yang sedang mengalami bermacam-macam siksaan. Ternyata manu-

sia-manusia setengah mayat yang menyerangnya

tidak melakukan pengejaran. Suro sampai di ten-

gah-tengah orang yang kaki dan tangannya diran-

tai, sementara besi panas menembus mulai dubur

sampai ke bagian ubun-ubun. Begitu ngerinya





melihat penderitaan mereka. Suro sampai meme-

kik-mekik tertahan.

"Aku seperti berada di dalam neraka

Ohk... bagaimana ini Aku harus mencari jalan

keluar" Suro garuk-garuk kepala, bingung. Di tengah-tengah kebingungannya itulah sayup-sayup terdengar suara yang seakan datang dari

arah gemuruh api yang menyala-nyala di sisi ki-

rinya. "Suro Blondo Pendekar Blo'on, Hi hi hi...

Selamat datang di tempat kami. Bukankah kau

dapat merasakan penyambutan kami yang sangat

ramah?" Seperti orang linglung Suro memandang ke arah suara. Ia tidak melihat apa-apa terkecuali orang yang sedang disiksa.

"Ya, penyambutanmu sangat luar biasa.

Ketakutanku membuat aku ingin kencing, kenge-

rianku membuat aku ingin berak. Tempat apakah

ini?" tanya Suro keluarkan keringat dingin.

"Inilah salah satu singgasana untuk seo-

rang tamu agung sepertimu..." sahut suara yang seakan datang dari tengah kobaran api disertai

tawa dingin menggidikkan.

"Kau siapa?" bentak Suro, seraya menutup hidungnya. Bau busuk bangkai memang sangat

menyengat sekali. Sehingga Suro mau muntah

dan kepalanya pusing tujuh keliling.

"Aku bukan siapa-siapa?"

"Kau iblis terkutuk" maki Suro geram.

"Tindakanmu sangat pengecut. Kau telah menje-bakku secara licik"





"Hik hik hik... Hari ini kulihat seorang

Pendekar Besar dalam keadaan ketakutan. Hari

ini kulihat betapa wajah seorang Pendekar beru-

bah pucat seperti mayat. Engkau akan mati pe-

lan-pelan dalam ketakutan"

"Setan Kau..." Suro tidak sempat melan-jutkan kata-katanya karena dari arah belakang

ada sepasang tangan busuk meneteskan nanah

dan lendir menyergapnya. Lalu dari depan, dari

samping kiri datang beramai-ramai.

"Ekh... Mati aku emak, setengah manusia

setengah mayat ini mencekikku. Ekh... mati

emak..." pekik Suro. Ia pun meronta-ronta. Jepi-tan sosok-sosok busuk semakin kuat saja. Dari

balik kobaran api terdengar suara cekikikan.

Suro marah, ia meronta, lalu hantamkan

sikunya kanan kiri. Dua orang yang memitingnya

dengan tangan terpental. Pendekar Blo'on terus

meronta-ronta. Hingga orang-orang yang menye-

rangnya berpelantingan roboh. Mereka bangkit

kembali, dan entah dari mana datangnya jumlah

mereka semakin bertambah banyak.

"Aku tidak mungkin membuang tenaga

dengan percuma. Yang aku butuhkan saat ini

adalah jalan keluar dari neraka ini" guman Suro dalam hati. Pemuda ini segera berlari ke ruangan lain. Setiap ada yang menghadangnya ia lepaskan

pukulan menggeledek.

Tapi langkah Suro tiba-tiba terhenti, di de-

pannya ia melihat seperti ada sungai. Sungai yang airnya tidak mengalir sama sekali, air sungai itu





berwarna merah kekuning-kuningan

"Orang-orang tersiksa, bunuh pemuda

yang bergelar Pendekar Mandau Jantan itu"

Kembali terdengar suara mengguntur bernada pe-

rintah. Dari segala penjuru ruangan yang gelap

namun panas itu bermunculan sosok setengah

mayat setengah manusia menyerbu ke arah Suro.

Pemuda ini tercekat.

"Naga-naganya aku bisa mati konyol jika

harus melayani mereka" maki si pemuda.

"Bunuh Bunuh" terdengar suara ribut-

ribut memerintah. Lalu terdengar sahutan yang

lainnya.

"Bunuh, jadikan dia teman kita dalam pe-

nyiksaan"

Orang-orang yang menyerbu ke arah Suro

semakin bertambah banyak saja. Pemuda ini ter-

paksa lepaskan pukulan sakti secara beruntun.

Orang-orang yang mengalami berbagai macam

penyiksaan ini berpelantingan. Suro memang me-

rasa tidak punya pilihan lain lagi. Ia segera melompat ke sungai yang membelah tengah-tengah

ruangan.

"Ukh... Hoeeeek..."

Pendekar Blo'on langsung muntah. Air

sungai itu ternyata terdiri dari campuran nanah

dan darah yang busuk. Dalamnya sampai sebatas

leher. Suro memaki-maki. Dari kobaran api ter-

dengar suara tawa cekikikan. Tokh akhirnya Pen-

dekar Blo'on dapat juga sampai ke seberang. Pe-

muda ini lalu berlari ke lain tempat. Ternyata di





seberang sungai ini pun ruangannya sangat luas

tanpa batas. Setelah berjalan ke sana kemari, ia melihat seperti ada cahaya.

"Matahari? serunya. "Ada cahaya matahari menerobos masuk ke sini. Berarti dunia luar tidak jauh lagi dari sini. Tapi dari mana aku bisa mengetahui jalan keluar bagiku? Tidak ada pintu

tidak ada jendela. Semua dinding berlumuran da-

rah..." Pemuda ini lalu meneliti, tiba-tiba ia melihat di antara dinding yang berlumuran darah itu

terdapat sebuah pintu yang terkuak lebar.

"Aneh, aku tadi tidak melihat pintu di su-

dut sana, mengapa pintu itu tiba-tiba saja ada?

Apakah aku salah melihat?" Suro garuk-garuk kepala. Pintu terkuak semakin lebar. Dari dalamnya muncul seorang gadis dalam keadaan polos

tanpa pakaian. Yang mengejutkan Suro, gadis itu

cukup dikenalnya. Dia tidak lain adalah Dewi Bu-

lan. Dewi Bulan berjalan ke arahnya sambil ter-

senyum. Darah muda Pendekar Blo'on berdesir,

keadaan gadis ini sangat menantang sekali. Sepa-

sang payudaranya putih membusung, kedua pa-

hanya demikian mempesona. Belum pernah Suro

melihat pemandangan seperti ini dalam hidupnya.

Untuk lebih jelasnya siapa Dewi Bulan (dalam Ep-

isode Hianat Empat Datuk).

"Bulan..." desis Suro, ia mengerjabkan matanya berulang-ulang. Dewi Bulan tiba-tiba saja lenyap dari pandangan matanya. Di depannya ki-ni berdiri Dewi Arimbi, keadaan gadis ini pun sa-ma seperti Dewi Bulan tadi. Untuk mengetahui





siapa Dewi Arimbi (dalam Episode Memburu Ma-

nusia Setan). Suro semakin terpana.

"Arimbi...??" Lagi-lagi Suro menyebut orang yang pernah dikenalnya. Ia usap matanya berulang-ulang. Sosok telanjang Dewi Arimbi tiba-tiba saja sirna. Kemudian berganti dengan sosok lain, seorang gadis juga. Gadis misterius yang sebagian wajahnya ditumbuhi bulu-bulu lembut. Siapa lagi

jika bukan Dewi Kerudung Putih.

"Gila, apa sesungguhnya yang sedang ter-

jadi dengan diriku?" desis Suro bingung. Ia men-jambak rambutnya. Dan tiba-tiba terdengar suara

teriakannya yang panjang melengking.

"Haaaarkh..."

Sosok Dewi Kerudung Putih pun lenyap.

Suro memandang lurus ke depan. Ia sempat ter-

kesiap, karena di depannya berdiri seorang gadis cantik, si betina jalang Mustika Jajar. Gadis itu menyeringai, ia berdiri tegak dengan kedua tangan bersilang di depan dada.

"Kkk... kau...?" Suro keluarkan seruan kaget. "Hik hik hik... Terkejut Pendekar Mandau Jantan keparat? Kau tentu menyangka tanganku

sudah tidak dapat tersambung lagi bukan? Man-

dau jahanam senjatamu memang telah memutus

tanganku. Tapi seperti yang kau lihat musuh be-

sarku. Sekarang aku tidak kekurangan sesuatu

apa pun Apa jawabmu kini setelah kau terpe-

rangkap dalam kekuatan Batu Lahat Bakutuk?

Apakah kau masih hendak memamerkan pukulan





atau jurus-jurus picisan yang kala itu sangat kau bangga-banggakan? Hik hik hik..." Sosok gadis yang ternyata Iblis Betina Dari Neraka, tertawa terkikik-kikik. Hilang sudah rasa kaget di hati Su-ro. Sekarang ia malah ikut-ikutan tertawa sambil menggaruk rambutnya berulang-ulang.

"Mustika Jajar perempuan yang penuh

keedanan. Apakah setelah kehilangan Perkasa

kau sekarang sudah mendapatkan yang lebih be-

sar lagi. Ha ha ha... kasihan juga nasib kekasih-mu yang patung itu. Sekarang aku dapat bayang-

kan betapa kesepiannya dirimu. Lagipula di dunia ini sulit mencari laki-laki sehebat dan sebesar

Perkasa. Aku pernah melihatnya sebelum kau

berhasil menguasainya dulu. Hebat, lho. Anu ga-

jah saja masih kalah besar" ejek Suro

Merah padam wajah gadis itu bukan kepa-

lang. Jika menuruti kata hatinya ingin rasanya ia melabrak Pendekar Blo'on. Tapi ia ingat pesan

uwa gurunya, Ratu Leak.

"Pemuda gila Tertawalah sepuasmu, nanti

kau akan menangis dalam penderitaan yang tidak

pernah dibayangkan oleh manusia manapun di

dunia ini..." teriak Mustika Jajar.

Suro sama sekali tidak terpancing dengan

ucapan Iblis Betina Dari Neraka. Mulut pemuda

itu tiba-tiba termonyong-monyong. "Penderitaan yang bagaimana kau maksudkan? Kata orang jika

sudah dalam pelukanmu bukan penderitaan yang

kudapatkan, tapi kebahagiaan berpacu dalam

nafsu. Aihk, perempuan keblinger. Sekarang aku





sedang bingung aku dan kau apakah sudah bera-

da di neraka atau sorga?"

"Inilah nerakamu, neraka bagi seorang

pendekar konyol Kau akan mampus, gurumu ju-

ga akan menyusulmu" maki si gadis.

"Ha ha ha... Ancamanmu itu sudah entah

yang keberapa kalinya kudengar. Sebelum aku

mati, maukah kau menjelaskan padaku siapa

yang melakukan pekerjaan licik ini? Dan eeh...

satu lagi, apakah kau melihat Kala Demit?" tanya Suro. "Nanti kau akan mendengar semua penjelasan setelah di neraka? Sekarang terimalah

ajalmu" tegas Iblis Betina Dari Neraka. Tiba-tiba terdengar suara suitan panjang dari bibirnya yang kemerah-merahan itu. Beberapa pintu lainnya segera terbuka. Tiga orang gadis berwajah bengis

dan sadis muncul. Mereka membawa tali penjerat

yang disimpul pada setiap bagian ujungnya.

"Tiga orang telah cukup untuk menjerat

leher, kaki tanganmu Rasanya belum komplit ji-

ka belum kuundang Sang Pelucut Segala Ilmu Se-

gala Daya" sinis suara Mustika Jajar.

Plok-plok-plok

Sebelum hilang gema suara tepukan Mus-

tika Jajar. Terdengar suara bergemuruh. Lantai

rupanya tergetar keras, lalu terjadi keretakan di sana sini. Getaran disertai ledakan-ledakan terus terjadi. Sehingga tampak sinar merah merekah

seperti bara.

"Haaang..."





Muncul sosok tubuh tinggi besar, bagian

kepalanya terdapat sebuah tanduk. Di ujung tan-

duk itu terdapat sinar berkilau-kilauan. Suro tertegak melihat semua keanehan demi keanehan

ini. Memandang ke arah sosok berkulit hitam

berwajah seperti kera Suro tutupi matanya. Entah makhluk apa yang baru keluar dari dalam bumi

ini. Matanya besar-besar, hidungnya lebar. Se-

dangkan mulutnya meneteskan darah. Ia hanya

mendengar sebentar tadi Iblis Betina Dari Neraka menyebut enam buah kata 'Sang Pelucut Segala

Ilmu Segala Daya'. Apa yang akan dilakukan oleh

makhluk kera ini? Apapun yang terjadi Suro ha-

rus bersikap lebih hati-hati.

"Suro, kau lihatlah, makhluk ini dan gadis-

gadis bengis itu hanya tinggal menunggu perin-

tahku. Sebuah kata kuucapkan, maka nasibmu

segera berakhir sampai disini saja" ancam Mustika Jajar.

"Sebuah ancaman tidaklah membuat nya-

liku ciut. Dan kematian bukanlah sesuatu yang

aku takuti. Kau bebas berbuat apa saja, karena

neraka ini memang mungkin daerah kekuasan-

mu Ha ha ha..."

"Tentu aku tidak bodoh, Suro. Kematianmu

tidak secepat itu, nanti sudah ada yang menga-

turnya. Sekarang tugas Penghela Neraka untuk

meringkusmu Laksanakan" perintah Mustika Jajar.

"Hem..."

Tiga gadis berpakaian serba hitam lang-





sung berpencar mengatur posisi. Suro dengan su-

dut matanya mengitarkan perhatiannya. Tahu-

tahu secepat bayangan....

Wuuut

Tiga buah tali bersimpul menjerat Pendekar

Blo'on. Serangan mendadak ini segera dielakkan

oleh Suro. Namun tiga gadis bengis kembali me-

lontarkan tali di tangan mereka. Sementara Mus-

tika Jajar dan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala

Daya memperhatikan semua ini dari jarak yang

tidak jauh.

Set

"Aih, hampir saja..." seru Pendekar Blo'on.

Pemuda ini terus melompat atau berkelit meng-

hindar. Tetapi serangan yang dilancarkan oleh ketiga gadis bengis ini semakin bertambah hebat

dan ganas. Sehingga Pendekar Blo'on terpaksa

mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh

Harimau'. Inilah salah satu jurus yang sangat

dikhawatirkan oleh Mustika Jajar, karena dulu ia juga pernah merasakan kehebatan jurus tersebut.

"Sergap" teriaknya memperingatkan gadis-gadis yang sedang berusaha meringkus Suro. Apa

yang diperintahkan oleh Mustika memang tidak

mudah untuk melaksanakannya. Karena beru-

lang kali tali berbentuk jerat bersimpul ini selalu mengenai bayangan Suro Blondo.

"Tebar" Si gadis kembali memberi aba-aba.

Seketika salah seorang dari mereka langsung me-

lesat ke udara. Yang satunya lagi menyerang dari bawah, sedangkan yang lainnya berputar-putar





mengitari Suro.

Wut Wut Wut

Serangan beruntun yang datang dari ber-

bagai arah ini membuat Suro tercengang. Ia sege-

ra berguling-guling, sehingga jerat tali yang dari atas lolos dari samping kiri juga lulus. Namun

yang dari arah belakangnya tidak dapat dihindari oleh pemuda ini.

Sreet

Buk

Bagaikan durian jatuh Suro terpelanting

dengan pantat menghantam lantai lebih dulu.

Pemuda ini meringis kesakitan, hatinya menyum-

pah. Kakinya yang terjerat tali disentakkan. Suro berguling-guling tangannya cepat melepaskan tali yang mengikat kaki kiri. Sayang gerakannya kalah cepat. Tali kembali meluncur dan kali ini

menjerat tangan kanannya.

Set

Bagaikan seekor kerbau yang hendak di-

jagal keadaan Suro Blondo saat itu. Mustika Jajar tertawa terkikik-kikik. Walau pun begitu pendekar Mandau Jantan tetap berusaha meronta.

Wuut

Sebuah tali yang dilontarkan gadis bengis

ketiga meluncur. Namun Pendekar Blo'on sudah

menghindar. Dua orang menarikkan tali yang

menjerat kaki kiri dan tangan kanan.

Buuuk

"Wadow, setan kapiran" maki Suro. Dalam keadaan yang serba sulit itu Suro menyalurkan





tenaga dalamnya kebagian tangan yang terbebas.

Gadis ketiga masih berusaha menjeratkan talinya

ke bagian tubuh lawan. Namun Suro licin seperti

belut. "Pentang" Perintah Iblis Betina Dari Neraka.

Dua gadis langsung menarik tali-tali yang

telah menjerat kaki dan tangan lawannya. Suro

yang merasa diperlakukan seperti hewan mengge-

ram marah.





SEMBILAN


Dengan kecepatan yang sangat luar biasa

sekali Pendekar Blo'on lepaskan pukulan 'Neraka

Hari Terakhir' ke arah tiga gadis berwajah angker ini. Terdengar suara jeritan di sana-sini. Sinar merah hitam menggebu.

Buum

Terjadi suara ledakan tiga kali berturut-

turut. Ketiga gadis itu menjerit kesakitan di saat hawa panas menghantam tubuh mereka. Sungguh pun orang-orang ini terluka, tetapi anehnya

mereka sudah bangkit berdiri. Lebih celaka tubuh mereka semakin meninggi. Si pemuda sempat tercengang melihat kejadian yang aneh ini. Ia sudah tidak punya waktu lebih lama. Tubuhnya masih

dalam keadaan terikat, maka melalui tangan yang

bebas itu ia mencoba mengambil Mandau dari

warangkanya.





"Jangan beri kesempatan padanya untuk

melakukannya" teriak Mustika Jajar memberi aba-aba. "'Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya'

Lakukanlah tugasmu"

Sosok berkulit hitam berwajah seperti mo-

nyet besar menggeram. Sinar merah yang keluar

dari ujung tanduknya langsung melesat bergu-

lung-gulung ke arah Suro. Pemuda ini gabungkan

dua pukulan, lalu hentakkan kedua tangannya ke

arah sinar merah yang datang menyerang secara

bergulung-gulung seperti angin puyuh tersebut.

Blak

"Ekh..."

Pendekar Mandau Jantan terkesiap. Puku-

lan "Neraka Hari Terakhir' yang dilepaskannya hanya membuat sosok hitam bertanduk merah ini

bergetar saja. Sedangkan pusaran angin sinar

merah terus melabraknya. Suro memekik terta-

han. Sedapat mungkin ia berusaha membebaskan

diri dari gulungan sinar tersebut. Tangan kanan

melepaskan pukulan. 'Matahari Rembulan Tidak

Bersinar' sedangkan tangan kiri lepaskan puku-

lan "Ratapan Pembangkit Sukma'.

Wus

Tup Tup

"Aih, celaka..." seru Suro. Pukulan yang dilepaskannya seakan amblas tersedot sinar yang

keluar dari tanduk makhluk berwajah monyet

tersebut. Pontang-panting pemuda ini selamatkan

diri. Pak Pak





Sinar merah tiba-tiba menyergap dan meli-

batnya. Suro meronta, sekujur tubuhnya tiba-tiba seperti diperas mulai dari ujung kaki. Pemuda

konyol ini menjerit setinggi langit seluruh badannya menggeletar hebat, ia merasa seperti ada be-

ribu tangan gaib yang meremasnya dengan keku-

atan yang semakin menggila. Remasan itu kian

lama bergerak ke arah perut, dada dan akhirnya

ke sekujur tubuh. Telinga, hidung dan mulut

Pendekar Blo'on mengucurkan darah. Suro mera-

sa pandangan matanya berkunang-kunang, tu-

buh tidak bertenaga dan pandangan mata kemu-

dian menggelap hingga akhirnya ia tidak sadar-

kan diri.

Iblis Betina Dari Neraka tertawa bergelak.

Tiga gadis berwajah angker segera mementang

tangan, kaki Pendekar Blo'on ini ke empat juru-

san. "Bawa dia ke ruangan pengadilan" ucapan Mustika Jajar ditujukan pada tiga gadis yang dikenal sebagai 'Juru Siksa'. Orang-orang ini segera menyeret dengan kasar lawan mereka. Mustika

Jajar lalu menoleh ke arah 'Sang Pelucut Segala

Ilmu Segala Daya'. Seraya berkata "Kau datang dari dasar Neraka Perut Bumi atas panggilan Ba-tu Lahat Bakutuk. Kau tidak boleh kembali ke

tempat asalmu sebelum Ratu Leak memberimu

izin. Mulai sekarang tugasmu adalah merintangi

tokoh-tokoh golongan putih yang mana pun yang

coba-coba memasuki Liang Lahat Bakutuk ini.

Adakah kau mengerti?"





"Aku mengerti..." sahut Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sambil menggeram.

"Nah disinilah tempatmu Jangan pergi ke

mana pun sebelum ada perintah dariku atau pe-

rintah dari Ratu Leak..." tegas Mustika Jajar.

Sosok hitam berwajah seperti monyet besar

bertanduk merah memancarkan cahaya angguk-

kan kepala sambil menggeram pula.

Mustika Jajar tanpa menunggu lebih lama

segera meninggalkannya. Suasana pada bagian

ruangan itu berubah menjadi sunyi. Mungkin pa-

da ruangan-ruangan lain yang seperti neraka itu

penyiksaan terus berlangsung.





***



Datuk Nan Gadang Paluih duduk menekur

di atas bahu, kuda putihnya berdiri tegak tidak

jauh di sampingnya. Ia memang sedang bingung

memikirkan cara bagaimana agar dapat menem-

bus Liang Lahat Bakutuk. Rasanya jalan keluar

itu memang sulit dicari. Tapi jika ia tetap berdiam diri, keadaan akan bertambah lebih parah lagi.

Ratu Leak bisa menjebak mereka semua. Batu

Lahat Bakutuk mempunyai kekuatan yang sung-

guh dahsyat. Dengan kekuatan yang terkandung

dalam batu tersebut. Ratu bisa berbuat apa saja

"Rajo di atas rajo. Batu Lahat Bakutuk

adalah rajanya batu-batu gaib. Siapa sangka uru-

san bisa menjadi begini rumit? Sekarang orang-

orang sakti tidak ubahnya seperti sampah. Ratu





Leak punya kuasa, tanpa Batu Lahat Bakutuk.

Seribu Ratu Leak tidak kupandang sebelah mata.

Bangsat, jauh-jauh dari Ngarai Sianok hanya ber-

pusing-pusing memikirkan nasib si batu."

"Putih Kaki Langit..." gumannya ditujukan pada kuda di sampingnya. "Apa pendapatmu tentang hal ini?"

Kuda alam gaib tersebut meringkik pan-

jang. Seraya, kuda itu mendekati Datuk Nan Ga-

dang Paluih. Mulutnya terbuka ke arah pinggang

sang Datuk. Lalu sesuatu disentakkan. Ikat ping-

gang Datuk Nan Gadang Paluih terlepas. Datuk

terbelalak. "Angin Pelebur Petaka? Apa maksud-mu kau menarik angkin sakti ini? Apakah ingin

agar aku menghantam pintu Liang lahat itu den-

gan angin ini?"

"Hik Hiiiik..."

Si Putih Kaki Langit keluarkan ringkikan

pendek. Kepala digoyang-goyangkan ke atas dan

ke bawah. Tahulah Datuk Nan Gadang Paluih apa

yang dikehendaki oleh kuda tersebut. Laki-laki

berbaju putih berselempang putih mendekati pin-

tu Liang Lahat Bakutuk.

Sementara itu Dewi Kerudung Putih dan Si

Buta Mata Kejora berdiri tegak tidak jauh dari

Liang Lahat di mana Suro terperosok di dalam-

nya. Dua orang ini juga sama bingungnya. Keliha-

tannya sampai saat itu mereka masih belum me-

nemukan cara untuk menghancurkan pintu pe-

nutup Liang Lahat Bakutuk.

Kini perhatian Dewi Kerudung Putih tertuju

pada Datuk Nan Gadang Paluih. Tokoh dari Anda-

las ini mulai memutar-mutar, angkin Pelebur Pe-

taka. Sekejap saja angin menderu-deru. Udara

semakin memanas, wajah sang Datuk semakin

lama semakin menegang. Angkin tiba-tiba melun-

cur deras menghantam batu.

Buuuuum

Terdengar dentuman keras bukan main.

Cahaya Putih seperti kunang-kunang bertebaran

di udara. Tanah bergetar pintu Liang Lahat bergetar, sayang tidak terjadi kehancuran di situ. Datuk Nan Gadang Paluih demi melihat semua ini

goyangkan kepala.

"Putih Kaki Langit, Angkin Pelebur Petaka

rasa-rasanya seperti tidak berguna. Benar kata-

ku, ini buktinya" seru Datuk Nan Gadang Paluih ditujukan pada kuda gaibnya.

"Hiik"

"Aku tidak mau melakukannya lagi, Putih

Kita harus menunggu waktu yang baik. Kulihat

pengaruh kutuk Ratu Leak sudah mulai mele-

mah" ujar sang Datuk.

Dewi Kerudung Putih melangkah mendeka-

ti. Kelihatannya ia ingin mengatakan sesuatu. Ba-ru saja mulutnya terbuka, tiba-tiba saja terdengar suara pelan seseorang.

Ujung timur dan ujung barat

Manusia mana yang dapat menempuh ja-

raknya?

Bumi Gusti Allah sungguh besar luasnya

Kekuasaannya meliputi segala

Rahmat dan kasih sayangNya tidak pernah

terputus

Diberikan pada semua yang bersukur atau

tidak bersukur

Lalu apa rasa terima kasih manusia?

Hidupnya hanya menuruti keinginan nafsu

rendah.

Sombongnya, angkuhnya, melebihi pencip-

ta-nya Setiap jalan pasti ada ujungnya

Setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya

Hidup manusia tidak kekal, pasti binasa

Bila langit menangis, bumi menjadi subur

Aku... aku, siapa aku...?

Serentak ketiga orang yang berdiri di tepi

Liang Lahat itu menoleh dan memandang ke arah

datangnya suara. Di atas batu tidak jauh dari ku-da putih. Terlihat seorang laki-laki berbadan pendek memakai topeng-topengan berbentuk wajah

anak kecil duduk mencangkung dengan kedua

tangan menopang dagu. Orang ini tidak memakai

baju, celananya hitam. Di dadanya yang telanjang terlihat sebuah ketapel dan kompeng (dot) anak

kecil. Pertama melihat penampilan orang mema-

kai topeng anak kecil ini Dewi Kerudung Putih ingin tertawa. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Paluih

kerutkan keningnya.

Apa yang dikatakan oleh laki-laki pendek

memakai topeng itu bukan tidak punya makna

tertentu. Lalu siapa orang di balik topeng bocah ini? Datuk Nan Gadang datang mendekati. Si laki-laki tertawa ha ha hi hi.

"Wahai Kisanak yang bicara dalam sair

Dapatkah kau sebutkan siapa dirimu?" tanya Datuk Nan Gadang Paluih. Yang ditanya tertawa la-

gi. Lalu tutupi wajahnya. Setelah itu ia menjawab seperti orang yang bersair.

Untuk menutup rasa malunya manusia me-

makai topeng

Sadar tidak sadar manusia suka memakai

topeng Bicara manusia dengan topeng, langkah manusia juga dengan topeng

Topeng-topeng yang nakal

Penutup rasa malu dan kebusukan

Bila topeng-topeng bertanggalan?

Itu namanya kiamat

Berhadapan dengan Tuhan tidak perlu me-

makai topeng

Karena Tuhan melihat langsung isi hati ma-

nusia Topeng adalah aku

Aku adalah topeng

Topeng-topeng adalah bagian hidup manu-

sia Aku topeng Topeng itu aku

Berubah wajah Datuk Nan Gadang Paluih

seketika mendengar kata-kata yang diucapkan

oleh laki-laki pendek bertopeng bocah. Ia seka-

rang sudah berumur hampir lima puluh atau

enam puluh tahun. Dulu gurunya ketika masih

kecil pernah bercerita ada seorang tokoh aneh berumur sekitar seratus lima puluh tahun. Jadi jika benar orang ini adalah Manusia Topeng alias Setan Topeng. Berarti umurnya sekarang hampir

dua ratus tahun.

"Engkaukah yang bergelar Manusia To-

peng?" tanya Datuk Nan Gadang Paluih. Yang ditanya kembali tertawa ha ha hi hi.

Tidak di langit tidak di bumi itu tempat ting-galku Jika mau tahu siapa aku, kenalilah diri sendiri Langit luas bumi luas

Di perut bumi petaka menanti

Topeng aku

Aku topeng

Jawaban ini sudah cukup jelas bagi Datuk

Nan Gadang Paluih siapa adanya laki-laki pendek
 bertopeng bocah ini. Dulu ia mendengar Manusia

Topeng memiliki kepandaian tinggi, walau pun

wataknya sulit ditebak. Untuk itulah Datuk Nan

Gadang Paluih langsung menjura hormat.

"Aku manusia rendah tidak berguna men-

gucapkan salam selamat datang padamu" ucapnya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.

Sebaliknya Dewi Kerudung Putih tentu merasa

terheran-heran melihat tingkah sang Datuk yang

seakan terlalu berlebihan terhadap orang yang belum mereka kenal sama sekali. Dewi tentu tidak

mau bersikap merendah seperti itu. Ia tetap tegak di tempatnya memandangi Datuk Nan Gadang Paluih dan laki-laki pendek memakai topeng bocah

silih berganti.

Kebanyakan orang bijak bersikap dan ber-

tingkah laku seperti orang bodoh

Sedikit ilmu sombong selangit

Hi hi hi

Ha ha ha

Pusing pusing memikirkan Liang Lahat

mengapa tidak dikencingi saja??

Datuk Nan Gadang Paluih, Dewi Kerudung Putih maupun Si Buta Mata Kejora yang sejak ta-di hanya diam saja ternganga. Manusia Topeng ini bicara asal keluar saja. Apa mungkin ucapannya

dapat dipercaya? Inilah yang dipikirkan oleh Datuk Nan Gadang Paluih.

Lagipula kalau benar siapa sanggup mela-

kukannya? Di situ ada Dewi, mau ditaruh dimana

rasa malu ini? Karena melihat ketiga orang ini tidak juga bergerak. Manusia Topeng melompat

mendekati Liang Lahat.

SEPULUH


Ia menghadap ke arah Dewi Kerudung Pu-

tih, lalu seenaknya saja tarik celana hitamnya

hingga sebatas lutut.

Seeerrr

Dewi Kerudung Putih memekik kaget. wa-

jahnya merah karena malu dan ia cepat menying-

kir ke tempat aman. Manusia Topeng tertawa ha

ha hi hi. Datuk Nan Gadang Paluih juga pentang

matanya, bukan karena ngeri atau ngiler melihat

anunya Setan Topeng, yang membuatnya terpe-

ranjat justru, pintu batu Liang Lahat yang terke-na kencing Manusia Topeng tampak mengepulkan

asap putih menebar bau pesing dan bau telur bu-

suk. Asap putih semakin lama semakin meneb-

al, meliuk-liuk di udara untuk akhirnya lenyap.

Penutup batu liang lahat hancur menjadi

debu. Setelah itu diteliti oleh Dewi Kerudung Putih, ternyata hanya bagian atas saja yang hancur.

Batu penutup liang lahat setebal setengah

hasta tidak hancur seluruhnya.

Manusia Topeng terdiam, ia mendongak ke

langit. Setelah itu memperhatikan orang-orang di sekelilingnya satu demi satu.

Kencing memang sudah kukencingi.

Mempan tidak mempan

Tapi kurasa ada cara ada jalan

Ketapelku...

Senjata sakti Pembelah Bumi

Ingin kulihat Ingin kulihat

Manusia Topeng lepas ketapelnya yang

tanpa karet itu, terkecuali terikat tali berwarna hitam. Datuk Nan Gadang Paluih kerutkan keningnya. Si Buta Mata Kejora coba pertegas pen-

dengaran.

"Aku dengar ada suara mendengung" bi-

siknya ditujukan pada Dewi Kerudung Putih. Wa-

lau cemberut gadis itu tetap menjawab juga. "Ya, Manusia, Topeng keluarkan ketapel butut. Aku

tidak tahu apa saja yang akan dilakukan oleh

orang-orang gila disini"

"Jangan sembarangan kau bicara Dia bu-

kan manusia biasa seperti kita..,." ujar Si Buta Mata Kejora. Sekonyong-konyong terdengar suara

Manusia Topeng.

Yang megah belum tentu kokoh

Yang butut belum tentu rapuh

Wajah Dewi merah padam mendengar sin-

diran Manusia Topeng. Laki-laki Pendek memakai

topeng bocah ini tiba-tiba acungkan ketapel ca-

bang dua di tangannya tinggi-tinggi. Cabang ke-

tapel lalu dihantamkannya ke arah batu liang la-

hat. Tum Tum Tum

Tiga tempat dihantam, tiga lubang besar

tercipta. Dari dalam liang lahat yang bolong men-guap bau busuk menyengat. Manusia Topeng ter-

tegak, wajah di balik topeng pucat pasi. Akibat

pengerahan tenaga sakti tadi serta pengaruh si-

nar yang membalik membuat dada Manusia To-

peng sakit mendenyut dan sesak luar biasa.

Laki-laki bertopeng bocah ini usap-usap

dadanya beberapa kali. Si Buta Mata Kejora se-

perti tidak sabar dan ingin cepat-cepat masuk ke dalam lubang di depannya.

"Jangan ada yang turun" berteriak Datuk Nan Gadang Paluih memberi peringatan. "Aku

pemilik Batu Lahat Bakutuk, kira-kiranya apa

yang terjadi di bawah sana aku sudah dapat me-

nerka" Lalu Sang Datuk mengambil Angkin Pelebur Petaka yang saat itu telah dijadikan ikat kepalanya. Angkin warna Putih dilecutkan ke udara.

Sreset

Angkin tersebut mendadak saja berubah

panjang dengan lebar lebih kurang setengah tom-

bak. "Di bawah sana setelah mencium bau busuk ini pasti telah diciptakan neraka jadi-jadian.

Aku yakin Suro tercebur ke bawah sana. Kita ha-

rus membuat jembatan terselamat dengan meng-

gunakan Angkin Pelebur Petaka Kepada Manusia

Topeng harap hancurkan sisa-sisa batu penutup

Liang Lahat Bakutuk ini" pinta Datuk Nan Gadang Paluih.

Manusia Topeng tertawa ha ha hi hi. Ia

menggigit-gigit kompengnya, sedangkan wajahnya

tetap tertutup rapat. Orang ini tiba-tiba melompat mundur. Tangan diputar-putar 
di atas kepala, bibirnya mendesis seperti orang yang meniup air

panas. "Heaa Jebol... bol... bol..."

Dihantamnya sisa-sisa penutup batu lahat

tersebut. Sisa batu bercampur tanah muncrat di

udara. Terlihat sebuah lubang besar menganga

berbentuk empat persegi panjang.

Bau busuk semakin bertambah menyengat.

Datuk Nan Gadang Paluih setelah melihat lubang

yang menguak lebar di depannya langsung ki-

baskan angkinnya ke dalam lubang tersebut.

Sret

Maka terbentang sebuah jembatan angkin

yang cukup lebar. Jembatan angkin itu oleh Da-

tuk diperkirakan melewati sungai penyelamatan,

yaitu sungai nanah bercampur darah.

"Aku mencium bau api yang membakar

Apakah angkinmu tidak terbakar wahai anak lima

setengah hari Hi hi hi..." Ucapan Manusia Topeng ditujukan pada Datuk Nan Gadang Paluih.

"Api neraka jejadian tidak mungkin dapat

menghanguskan angkin Pelebur Petaka Siapa

yang ingin berangkat duluan cepat lalui jembatan angkin ini" perintah Datuk Nan Gadang.

"Ha ha ha... Siapa mau berangkat ke nera-

ka duluan, silakan" Manusia Topeng menimpali.

"Aku sendiri meskipun ingin melihat Ratu Leak yang konon cantik luar biasa tidak mau lewat

jembatan di atas neraka. Aku ingin mencari jalan

lain yang lebih selamat" kata laki-laki berbadan pendek ini. Selesai bicara tubuhnya mendadak

saja raib dari pandangan mata. Ketiga orang yang berada di pinggir-pinggir liang lahat terkejut sekali, terlebih-lebih Dewi Kerudung Putih yang sejak tadi meremehkan orang aneh setengah gila itu.

"Biar aku yang menyeberangi jembatan

angkin ini. Aku percaya dengan kebenaran Datuk

Nan Gadang Paluih. Aku sudah tuaan, kalau

langkahku sampai meleset dan tercebur ke nera-

ka ciptaan Ratu Leak aku tidak menyesal. Ha ha

ha..." Dan Si Buta Mata Kejora ini pun naik ke atas jembatan angkin. Tubuhnya dalam waktu

singkat melesat ke dalam liang lahat Bakutuk.

Kini tinggal giliran Dewi Kerudung Putih,

gadis ini kelihatan ragu-ragu untuk mengikuti

apa yang dilakukan oleh Si Buta Mata Kejora

"Kau tunggu apa lagi, anak dara? Jemba-

tan angkin itu tidak dapat kupertahankan lebih

lama" datuk Nan Gadang Paluih memperin-

gatkan.

"Baiklah, terlanjur aku datang dari jauh.

Ratu Leak harus kita ringkus Walaupun ia punya

kesakitan sebanyak buih di lautan" Dan gadis ini kemudian naik ke jembatan angkin. Tubuhnya

dalam waktu singkat telah meluncur ke dalam

Liang Lahat tersebut.

Sayup-sayup ia mendengar jerit orang-

orang kesaktian. Udara sontak menjadi panas

luar biasa. Seolah-olah ia sedang menuju ke da-

lam tungku pembakaran.

Datuk Nan Gadang Paluih menoleh ke arah

kuda putihnya. Kuda alam gaib itu meringkik

panjang seakan memberi persetujuan.

"Putih Kaki Langit Bersiagalah kau di sini, nanti jika aku memerlukan bantuanmu aku akan

memanggilmu" pesan sang Datuk.

Kuda meringkik lagi, Datuk Nan Gadang

Paluih segera melangkah ke atas jembatan ang-

kin. Sekejap saja tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.



***

Kedua kaki dan kedua tangan Suro dipen-

tang, simpul-simpul tali yang mengikatnya begitu kuat. Bagian ujung tali tergantung begitu saja

seakan ada kekuatan gaib yang menahannya. Di

bawah sosok Suro yang tidak sadarkan diri, seja-

rak dua tombak api tampak menyala-nyala. Baju

pemuda itu sebagian telah meleleh terjilat api.

Namun masih belum ada tanda-tanda bahwa pe-

muda ini akan segera sadar.

Tiga gadis bengis yang dikenal dengan ju-

lukan Sang Jurus Siksa terus mengawasi. Ek-

spresi mereka sama sekali tidak menunjukkan

rasa belas kasihan.

Tidak lama terdengar suara langkah-

langkah kaki mendekat ke arah mana Sosok Pen-

dekar Blo'on tergantung. Yang datang ternyata

Mustika Jajar alias Iblis Betina Dari Neraka.

"Bagaimana keadaannya?" bertanya gadis

cantik berpakaian merangsang itu ditujukan pada

salah seorang gadis yang berada di sebelahnya.

"Ia pingsan berat, mungkin juga hampir

mampus" sahut gadis bengis itu ringan.

"Murid keponakanku Kematiannya ada di

tanganku. Kau tidak usah mencemaskannya.

Pendekar edan ini dapat kita jadikan apa saja se-suai dengan kehendakku. Melalui tangannya kita

tidak usah bersusah payah mencari dan membu-

nuh kedua gurunya. Nanti aku akan menjadikan-

nya sebagai alat pembunuh yang baik Seluruh

rimba persilatan akan menjadi gempar dengan pe-

ristiwa yang bakal terjadi. Seorang Pendekar be-

sar membunuh gurunya sendiri apakah ini bukan

peristiwa yang menghebohkan? Hik hik hik Tapi

yang lebih penting dari semua itu wahai murid

keponakanku. Sekarang kita mulai kedatangan

tamu. Tamu agung yang kematiannya juga sudah

ditentukan disini Biar mereka kesasar dan jalan-jalan ke neraka dulu Kalian sebagai anggota tuan rumah wajib menyambut kedatangan mereka"

kata suara tanpa rupa yang tidak lain adalah Ra-

tu Leak.

Sang Juru Siksa dengan diikuti oleh Iblis

Betina Dari Neraka kemudian segera menuju ke

pintu utama. Sedangkan sosok Suro yang terikat

tali dan dalam keadaan mengambang di udara

kemudian kelihatan bergerak mengambang. Sea-

kan ada kekuatan yang tidak terlihat telah me-

mindahkannya. Bagaimana nasib Pendekar Blo'on

yang dalam keadaan pingsan dan kehilangan


hampir seluruh kekuatannya itu? Seperti apakah

rupa Batu Lahat Bakutuk dan sedasyat apa ke-

kuatan yang terkandung di dalamnya? Mampu-

kah Datuk Nan Gadang Paluih merampas benda

sakti miliknya itu? Atau ia malah menjumpai ke-

binasaan setelah berada di dalam Liang Lahat

Bakutuk? Bagaimana pula dengan pemimpin ne-

geri, Wayan Tandira? Nantikan kelanjutannya

TAMAT



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...