Senin, 17 November 2014

PENDEKAR BLOON -Eps.19


PENDEKAR BLOON
Eps.19
NAGARI BATAS AJAL
SATU

Jembatan putih yang berasal dari Angkin

Pelebur Petaka ini disentakkan oleh Datuk Nan

Gadang Paluih. Setelah berada di tangannya ang-

kin sakti berubah memendek dan kembali ke ben-

tuk asalnya. Dalam kegelapan yang hanya diteran-

gi cahaya temaram Datuk Nan Gadang Paluih coba

mencari Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata

Kejora. Namun laki-laki berambut putih berumur

sekitar lima puluh lima tahun ini tidak melihat

orang-orang yang dicarinya.

"Ini pasti alam yang tercipta berkat Batu

Lahat Bakutuk yang ada di tangan Ratu Leak Ke-

mana perginya para bagundal berkepandaian seke-

tek tadi? Apa mungkin mereka telah tertangkap?

Tugasku jadi terbagi-bagi karena ulah mereka?"

pikir Datuk Nan Gadang Paluih. Laki-laki itu ke-

mudian berjalan menelusuri ruangan lebar tanpa

batas. Kemudian ia mendengar suara-suara tangis,

jerit kesakitan dan bau busuk yang menusuk-

nusuk penciuman. Seakan-akan suara itu datang

dari dasar neraka. "Anak ketek, orang-orang ketek.

Ratu Leak benar-benar iblis" maki Datuk Nan Gadang Paluih.

Baru saja ia selesai menyumpah, tiba-tiba

di depannya muncul tiga orang gadis bertampang

bengis. Orang-orang ini seperti telah sama kita ketahui dikenal dengan nama 'Sang Juru Siksa', un-

tuk lebih jelasnya dalam Episode (Batu Lahat Ba-

kutuk). "Ini salah satu tamu kita Menurut Ratu kita harus menyambutnya dengan baik" ujar salah

seorang dari gadis tersebut.

"Anak-anak kanciang Aku tahu siapa ka-

lian Cepat menyingkir, aku ingin bertemu dengan

Ratu kalian yang telah mencuri Batu Lahat Milik-

ku di Ngarai Sianok" teriak Datuk Nan Gadang Paluih. "Hik hik hik..." Ketiga gadis itu tertawa se-rentak. "Ini adalah tempat tinggal kami Bagaimana kami bisa menyingkir? Kau adalah tamu orang

rambut putih. Apa pun pangkat dan jabatanmu di
dunia bebas sana. Namun di sini kau tidak lebih

adalah seorang pesakitan dan calon bangkai yang

hidupmu tergantung pada kemurahan Ratu kami"

"Anak kanciang Ratumu bukanlah apa-apa

jika berhadapan dengan aku Cepat panggil dia ke

sini" perintah Datuk Nan Gadang Paluih.

Tiga gadis Juru Siksa langsung mengitari

Datuk Nan Gadang Paluih. Sebentar saja mereka

telah mengurung laki-laki itu dari tiga arah. Sedi-kitpun sang Datuk tidak bergeming dari tempatnya

berdiri bahkan melirik pun ia tidak. Untuk diketahui Datuk Nan Gadang Paluih adalah saudara tua

Ratu Penyair Tujuh Bayangan (Episode Undangan

Maut). Ia memiliki kesaktian di atas adiknya, se-

lain itu Datuk Nan Gadang Paluih juga adalah sa-

lah satu tokoh dari Andalas, selain Datuk Alang Si-tepu, Datuk Panglima Kumbang dan Dewa Kubu.

(Mengenai Dewa Kubu baca Episode Pendekar Ku-

car Kacir). Sekarang menghadapi tiga gadis yang di-

kenal sebagai Juru Siksa ini Datuk Nan Gadang

Paluih masih dapat bersikap tenang. Jauh di da-

lam hatinya orang ini juga sebenarnya merasa ra-

gu. Seandainya ia berhasil membunuh Sang Juru

Siksa, bukan mustahil melalui Batu Lahat Baku-

tuk, Ratu Leak menciptakan pengawal-pengawal

dan tukang kepruk yang lebih tangguh lagi. Satu-

satunya cara adalah dengan merampas Batu Lahat

Bakutuk dari tangan Ratu Leak. Rasanya peker-

jaan ini pun tidak mudah, Batu Lahat Bakutuk

akan menjadi sangat berbahaya di tangan orang se

sesat Ratu Leak. Jadi ia harus mengatur siasat sebelum dirinya masuk dalam perangkap Ratu Leak.

"Orang rambut putih, kuperintahkan pada-

mu untuk menyerah pada kami secara baik-baik.

Atau kau akan merasakan bagaimana pedihnya

siksaan kami" ancam Sang Jum Siksa. Suaranya ketus tanpa mengenal tata krama sama sekali. Datuk Nan Gadang Paluih tertawa membahak. Ketiga

gadis berwajah angker tampak bersurut langkah

mendengar suara tawa Datuk Nan Gadang Paluih

yang terasa menusuk hingga ke otak.

"Aku Datuk Nan Gadang Paluih, tua umur

dan tua kejemur alamat badan binasa. Tua karena

ilmu alamat terbawa ke liang kubur. Aku tahu asal usulmu. aku tahu asal usul manusia. Aku adalah

air, udara, tanah dan api? Dari sini asal-usulku.

Aku menjadi tidak berarti tanpa roh. Untuk itu

Tuhan meniupkan roh ke dalam jasad ini. Wahai

tiga gadis Sang Juru Siksa, aku hanya melihat ka-

lian berasal dari api dan udara, apa yang mengge-

rakkan kalian bukan Roh? Tetapi nyawa setan"

dengus laki-laki itu sambil berkacak pinggang.

"Ringkus" teriak ketiga gadis tersebut.

Wuuut Wuut Wuut

Tiga buah tali bersimpul pada bagian

ujungnya meluncur deras ke arah kepala, kaki dan

tangan Datuk Nan Gadang Paluih. Dengan cepat

datuk ini melompat ke atas. Sedangkan tali yang

datang dari atas disampoknya.

Plash

Wiing

Tali tersebut membalik dan nyaris meng-

hantam pemiliknya dengan kecepatan berlipat

ganda. Gadis bertubuh semampai sempat meme-

kik kaget, dengan menggeser langkahnya ke samp-

ing. Dia dapat menyelamatkan diri. Pada saat itu

juga cahaya lain mengancam sang Datuk, dua tali

yang diluncurkan oleh kedua gadis di samping ka-

nan dan kiri menjerat pinggang, sedangkan yang

satunya lagi mengancam bagian kepala. Tiba-tiba

mulut Datuk Nan Gadang Paluih menggembung

lalu ia pun meniup.

"Puaaah..."

Wuus

Segulung angin menderu, angin yang keluar

dari mulut Sang Datuk disertai lesatan sinar me-

rah yang akhirnya membesar setelah bergesekan

di udara menyambar simpul tali tersebut. Yang

meluncur ke bagian pinggang langsung di tepis

oleh laki-laki ini.

Tess

Datuk Nan Gadang Paluih sempat kaget se-

kejap bila merasakan jari tangan kesemutan. Ini

merupakan suatu tanda bahwa gadis-gadis itu

memiliki tenaga dalam yang tidak ringan. Semen-

tara itu gadis kedua terpaksa berguling-guling

menghindari sambaran api yang merambat melalui

ujung talinya. Akhirnya sambil memaki ia terpaksa mencampakkan tali penjerat, diambilnya tali lain.

Tiga-tiganya melompat mundur sambil

membisikkan kata-kata dengan sesamanya. Kata-

kata rahasia yang Datuk Nan Gadang Paluih sen-

diri tidak tahu artinya.

"Jerat Laba Laba..." teriak salah seorang dari tiga Sang Juru Siksa. Lalu ketiga gadis yang semula berpencar itu saling mendekat. Gadis pertama condongkan tubuhnya, kaki agak ditekuk, la-

lu gadis kedua melompat dan duduk di atas gadis

pertama, demikian juga yang dilakukan oleh gadis

ketiga. Sekali ini mereka tidak lagi memperguna-

kan tali untuk menyergap lawannya. Orang-orang

ini langsung kembangkan lima jari tangan. Dua

orang kawannya juga melakukan hal yang sama.

Dari lima jari tangan yang terkembang itu kemu-

dian meluncur lima buah benang halus yang sal-

ing memilin membentuk jaring di udara tidak

ubahnya dengan laba-laba yang sedang membuat

sarang. Datuk Nan Gadang Paluih cukup kaget ju-

ga dibuatnya. Bagaimana ketiga gadis bengis ini

bisa memiliki ilmu Laba-Laba? Sedangkan sein-

gatnya ilmu tersebut hanya dimiliki oleh Manusia

Laba-Laba yang tinggal di Teluk Hantu.

Walau pun begitu sudah tidak ada kesem-

patan lagi bagi Sang Datuk untuk memecahkan

teka-teki ini. Ia terpaksa mengerahkan ‘Tubrukan

Meteor’. Sekonyong-konyong Datuk Nan Gadang

Paluih kibaskan tangannya ke arah lima belas

benda halus berwarna putih yang siap menyergap-

nya. Dari setiap jemari-jemari tangannya tampak

berkiblat cahaya putih seperti pedang. Lalu....

Tesss

Lima jaring yang telah terjalin rapi itu putus

berantakan terkena hantaman sinar putih dari

tangannya.

"Kalian bukan murid Manusia Laba-Laba,

berarti kalian telah mencuri ilmu manusia Laba-

Laba atau Ratu kalian memang seorang pencuri

sejati" geram Sang Datuk sengit.

Sang Juru Siksa melompat mundur, namun

dua sosok tubuh di atas gadis pertama tidak juga

segera turun, hal ini diketahui oleh Datuk Nan

Gadang. Tidak ayal lagi ia kibaskan kedua tangan-

nya yang tiada putus-putus memancarkan sinar.

"Suing..."

Lima larik sinar putih laksana pedang men-

deru. Dua orang gadis yang duduk di atas gadis

pertama terpaksa bersalto.

Cas Cas

"Hmm..." Datuk Nan Gadang Paluih meng-

guman tidak jelas. Kali ini lawan sudah siap pada posisi seperti tadi. Datuk Nan Gadang Paluih tidak membiarkan hal itu lebih lama. Tubuhnya sekonyong-konyong melesat, tangannya menggapai. Di

lain kejab di tangan tokoh dari Andalas ini sudah tergenggam seikat sapu yang bagian lidi-lidinya berasal dari kawat bara yang merah membara. Ketiga

gadis ini hendak selamatkan diri, namun posisi

mereka benar-benar dalam keadaan yang sulit.

Gadis yang berada paling bawah hendak melompat

mundur, sayang himpitan dua gadis yang berada

di atasnya merupakan hambatan tersendiri ba-

ginya sehingga gerakannya terhalang dan tidak le-

luasa. Wuuusss

Praaaas

"Wuaaakh..."

Dua gadis Juru Siksa menjerit keras, dua-

duanya terpental akibat hantaman-hantaman sa-

pu api gaib di tangan Datuk Nan Gadang Paluih.

Begitu dua sosok tubuh gadis itu menyentuh ta-

nah, maka terjadilah keanehan. Ujud mereka tam-

pak mengecil, kemudian raib disertai melesatnya

gumpalan kabut berwarna merah di udara. Ting-

gallah gadis pertama yang kelihatan marah besar

pada Datuk Nan Gadang Paluih.

"Aku ingin mengadu jiwa denganmu anak

manusia rambut putih Heaaa..." Gadis ini kelihatannya memang tidak memberi kesempatan lagi

pada lawan. Tiba-tiba saja ia menerjang ke arah

Datuk Nan Gadang, dua jari tangannya yang me-

mancarkan sinar itu membabat ke arah tenggoro-

kan sedangkan jari-jari yang lainnya menusuk ke

arah mata.

Cepat sekali penghuni lembah Ngarai Sia-

nok ini menghindar, sambaran angin menghantam

di sampingnya. Serangan gadis baju hitam luput,

namun ia segera susul dengan serangan berikut-

nya yang lebih berbahaya lagi. Melihat lawan me-

mang menghendaki jiwanya, Datuk Nan Gadang

terpaksa bersalto, sayang tindakan yang dilaku-

kannya kurang menguntungkan. Kaki lawan sem-

pat menghantam punggungnya.

Laki-laki baju putih selempang putih kelua-

rkan keluhan tertahan. Tubuhnya berguling-guling

di atas lantai yang becek dan berbau busuk itu.

Ternyata lawan terus memburunya. Datuk Nan

Gadang Paluih menggembor marah, seketika itu

juga ia kibaskan sapu gaib di tangannya. Menda-

pat serangan balasan yang tidak terduga-duga ini

Sang Juru Siksa pertama ini sudah tidak sempat

lagi menghindar, walau pun ia sudah berusaha

melakukannya. Tidak ampun lagi senjata di tan-

gan Datuk Nan Gadang Paluih menghantam pe-

rutnya. Praaasss

"Hakgh..."

Gadis baju hitam ini menjerit keras, isi pe-

rutnya berbusaian. Untuk kedua kalinya sosok ga-

dis baju hitam ini pun langsung lenyap menjadi

gumpalan asap merah.

"Tahulah aku sekarang, gadis-gadis itu tadi

tercipta berkat kekuatan sakti Batu Lahat Baku-

tuk yang dicuri oleh Ratu Leak" guman Datuk Nan Gadang Paluih sambil menarik nafas dalam-dalam.

"Melawan mereka hanya sia-sia saja. Ratu Leak dapat menciptakan pengawal-pengawal bahkan

mungkin yang lebih tangguh dari sebelumnya se-

lama Batu Lahat Bakutuk masih berada di tan-

gannya Jalan satu-satunya adalah dengan menca-
ri perempuan itu Tapi di mana? Ruangan perlin-





dungan penyiksaan ini cukup luas Dia tentu su-

dah memasang perangkap buat siapa saja yang

masuk ke sini?"

Datuk Nan Gadang Paluih sempat tertegun

sejenak, namun bila teringat pada Dewi Kerudung

Putih dan Si Buta Mata Kejora, maka laki-laki be-

rambut putih ini segera melangkah pergi untuk

melakukan penyelidikan.

***
Gadis berpakaian putih dan berkerudung

putih ini terus melangkah semakin jauh ke ten-

gah-tengah ruangan bersekat dan mirip perangkap

tikus tersebut. Tidak jauh di belakangnya mengi-

kuti seorang kakek tua bermata buta. Kedua orang

ini terus mencari-cari. sayang hingga sejauh itu

mereka tidak melihat di mana gerangan Pendekar

Blo'on disekap.

"Rasanya sudah tipis harapan, Pendekar to-

lol mungkin sudah mati dan sekarang rohnya se-

dang menjalani siksaan di neraka ciptaan Ratu

Leak Apa jawab dan pendapatmu Dewi?" bertanya si kakek buta yang tidak lain adalah Si Buta Mata Kejora. Yang ditanya semakin cemberut, matanya

yang indah berputar-putar seakan ingin menem-

bus dinding-dinding yang jadi penghalang pengli-

hatannya.

"Kakek buta, jika bukan karena ulahmu

yang menghalang-halangi aku dan mengajak ber-

tarung segala, tentu paling tidak kita masih bisa menolong Suro" sahut Dewi Kerudung Putih ketus. "Ha ha ha Mengapa aku yang kau salah-

kan? Sange negeri yang dikutuk. Pada siapa aku

harus percaya tanpa ada rasa curiga? Jika kita

percaya pada Dewata tentu pemuda itu masih se-

lamat." "Aku tidak tahu dengan apa yang kau sebut Dewata, aku percaya dengan kekuatan Tuhan?

Yang membuatku heran apakah manusia seperti

Ratu Leak sanggup menciptakan neraka?" tanya Dewi Kerudung Putih dengan sikap acuh tak acuh.

"Manusia hidup karenaNya, nanti akan

kembali kepadaNya. Yang paling penting sekarang

ini adalah menemukan tempat persembunyian Ra-

tu Leak, "ujar Si Buta Mata Kejora.

Dewi Kerudung Putih tidak menanggapi.

Sekonyong-konyong lantai yang mereka pijak ber-

getar. Dewi memandang lurus pada Si kakek buta,

orang tua ini kerutkan keningnya.

"Aku merasakan seperti ada orang yang da-

tang ke sini" gumannya seakan ditujukan pada di-ri sendiri.

"Hmm...," Dewi Kerudung Putih menggu-

man. Entah mengapa ia merasa tengkuknya me-

remang berdiri. Refleks gadis cantik ini pun berpaling ke belakangnya.

"Eh..." kejut di hati Dewi Kerudung Putih bukan alang kepalang. Ia melihat sosok tubuh hitam legam dengan tinggi hampir dua tombak. Wa-

jah sosok hitam ini hampir mirip dengan wajah

monyet besar, hanya lidahnya agak terjulur. Tar-

ing-taringnya yang besar terlihat dan meneteskan

darah. Di atas kepala makhluk hitam ini terdapat

sebuah tanduk berwarna merah menyala. Tanduk

itu kelihatan seperti menyatu dengan batok kepa-

lanya. Rasanya seumur hidup Dewi Kerudung Pu-

tih yang sering menjelajah pantai laut selatan ini belum pernah melihat sosok mengerikan seperti

ini. Menggigil tubuhnya, ciut juga nyali si gadis.

"Apa yang kau lihat?" tanya Si Buta Mata Kejora, rupanya si kakek buta ini rasakan adanya

bahaya di sekelilingnya.

"Ehk... manusia seperti monyet. Kepalanya

bertanduk dan berwarna merah" jelas si gadis menerangkan ciri-ciri makhluk yang dilihatnya.

"Celaka..." desis si kakek sambil melompat mundur. "Kita tengah berhadapan dengan Sang

Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Kita tidak mung-

kin dapat loloskan diri dari tangannya"

"Kau manusia lemah yang suka berkeluh

kesah dan gampang menyerah Belum apa-apa

engkau sudah tunjukkan kerapuhanmu Aku he-

ran mengapa Tuhan memberi umur panjang jika

mengatasi sedikit persoalan saja kau sudah me-

nyerah begini?" dengus Dewi Kerudung Putih

mencemo'oh.

"Gadis tolol, Sang Pelucut Segala Ilmu Sega-

la Daya adalah makhluk dari dalam perut bumi.

Siapa dan bagaimana membuat makhluk di de-

panmu itu dapat muncul ke sini bukan menjadi

soal. Yang kurisaukan dia dapat merampas selu-

ruh kesaktianmu tanpa kau sempat merasakan-

nya Hati-hatilah, dia sangat berbahaya" pesan Si Buta Mata Kejora.

Jika semula Dewi Kerudung Putih men-

ganggap enteng sosok angker di depannya maka

sekarang ia harus memutar otak seribu kali untuk

mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang terja-

di.

"Kau..." seru Dewi ditujukan pada sosok hitam berwajah seperti monyet besar. Suaranya lan-

tang namun agak serak. "Menyingkirlah, aku dan kakek ini hendak mencari kawan kami. Atau kau

mengetahui dimana kawan kami itu, cepat kata-

kan padaku" tegas si gadis.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya

menggeram lirih, matanya yang merah seperti bara

memandang pada si gadis dan si kakek silih ber-

ganti. "Cepat katakan Aku yakin kau tahu di ma-na pemuda baju biru kawan kami ditahan" seru si gadis. Mata merah di depannya membulat lebar.
Mulutnya menyeringai sehingga semakin bertam-

bah mengerikan dalam pandangan Dewi Kerudung

Putih.

DUA

Dalam pada itu sayup-sayup Dewi Keru-

dung Putih mendengar Si Buta Mata Kejora mengi-

siki. "Percuma kau bicara, tidak perlu berteriak atau membentak. Dia tidak akan mau bicara dengan orang yang tidak dikenalnya sama sekali"

"Lalu bagaimana?" tanya Dewi Kerudung

Putih melalui ilmu mengirimkan suara pula.

"Jika masih ada kesempatan, mengapa ti-

dak kita cari selamat saja?" usul Si Buta Mata Kejora. Saran kakek itu memang dapat diterima oleh

Dewi Kerudung Putih, lagi pula di tempat itu

hanya mereka berdua dan Sang Pelucut Segala Il-

mu Segala Daya. Jika mereka melarikan diri cari

selamat, tentu hal ini tidak begitu memalukan. Karena memang tidak ada orang lain yang melihat-

nya. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, baik

Si Buta Mata Kejora maupun Dewi Kerudung Putih

langsung ambil langkah ke arah timur ruangan.

Namun betapa kagetnya gadis ini karena di de-

pannya Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya te-

lah menghadang mereka.

"Sia-sia saja kita menghindarinya, kakek

buta Dia bagaimana secepat itu melompati kita?

Padahal aku tidak merasakan ada gerakan di atas

atau di samping kita Aku hampir tidak percaya?"

seru gadis yang selalu memakai kerudung putih

ini sehingga ia dijuluki Dewi Kerudung Putih.

"Tidak ada jalan lain, kita tempur setan

bumi ini sampai titik darah yang terakhir" tegas Si Buta Mata Kejora.

"Ggggraaak Kroookkkh..."

Makhluk hitam di depan mereka julurkan

kedua tangannya dengan gerakan meringkus. Dewi

langsung bersalto, sedangkan Si Buta Mata Kejora

berguling-guling ke samping sambil lepaskan pu-

kulan 'Angin Biru'. Salah satu pukulan yang paling diandalkan oleh kepala adat Sange ini.

Deru angin kencang melabrak Sang Pelucut

Segala Ilmu Segala Daya. Pusaran angin sempat

memporak porandakan dinding berwarna putih di

samping kanan makhluk ini. Detik itu juga dari

bagian tanduk sang makhluk yang semakin ber-

tambah memerah, meluncur sinar merah darah.

Hingga terjadilah benturan keras bukan main. Si

Buta Mata Kejora tertegak dengan sekujur tubuh

bergetar. Pukulan 'Angin Biru' seolah-olah lenyap tersedot sinar merah yang terus melesat ke arah si kakek. Orang tua buta menyadari adanya bahaya

yang mengancamnya. Sehingga sedapat mungkin

ia coba selamatkan diri, sayang sinar itu mengan-

dung daya sedot yang sungguh luar biasa. Sehing-

ga kedudukan Si Buta Mata Kejora pada saat itu

benar-benar terancam bahaya.

Kira-kira setengah batang tombak lagi sinar

merah menggulung habis sosok si kakek. Dari

samping kiri menderu sinar hijau dan terjadilah

ledakan keras untuk kedua kalinya.

Buuuum

Dari sebelah kiri si kakek terdengar suara

jeritan seseorang. Ternyata yang menjerit adalah

Dewi Kerudung Putih yang berusaha menyela-

matkan kakek buta tersebut dari kebinasaan. Aki-

batnya harus dirasakan oleh gadis itu sendiri. Sudut-sudut bibir si gadis meneteskan darah segar,

ia mencoba bangkit berdiri. Terasakan olehnya pa-

da bagian dada mendenyut sakit. Adalah sungguh

mengherankan jika gadis seperti Dewi Kerudung

Putih yang memiliki tenaga dalam tinggi dan juga

berbagai jurus silat ini telah dibuat babak belur hanya dalam gebrakan pertama.

Walaupun begitu Dewi Kerudung Putih su-

dah melompat berdiri. Sekonyong-konyong tubuh-

nya melesat ke arah Pelucut Segala Ilmu Segala

Daya, atau lebih dikenal dengan julukan Penghela

Neraka. Dalam keadaan meluncur seperti itu ia

cabut pedang tipis yang melingkar di pinggangnya.

Manakala tangan dikibaskan maka seleret sinar

putih bergulung menyambar ke bagian tengkuk

dan dada Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya.

Sosok berwajah monyet besar ini menggeram. Tan-

gannya menyambar, tapi dengan cepat Dewi sudah

menarik balik senjata dan ini tusukan terarah ke

bagian perut.

Dheellll

Dewi Kerudung Putih melengak kaget, la-

wan sama sekali tidak mempan dengan tusukan

senjata. Malah kini Penghela Neraka telah le-

paskan tendangan menggeledek ke arah Dewi.

Wuuut

Tendangan secepat cahaya ini tidak dapat

dihindari oleh si gadis. Tubuhnya terjengkang. Ia sempat menggeliat, di saat itu Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sudah mengejarnya dengan

maksud merengkuh gadis itu guna melucuti seca-

ra gaib semua kesaktian yang dimiliki oleh si ga-

dis. "Celaka..." seru Si Buta Mata Kejora. Seraya tidak membuang-buang waktu lagi langsung

melompat ke depan. Tidak ayal Si Buta Mata Kejo-

ra lepaskan pukulan 'Tinju Maut' ke punggung so-

sok menyerupai kera besar ini. Dengan telak....

Buuuuuk

"Wuakh..."

Si Buta Mata Kejora malah terbanting. So-

sok yang terkena jotosannya jangankan bergetar,

bergeming pun tidak. Si Buta Mata Kejora geleng-

kan kepalanya yang terasa pusing mendenyut. Se-

dangkan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya

meneruskan rencananya untuk memupus habis

segala kesaktian yang dimiliki oleh Dewi Kerudung Putih. Sekali saja tangan hitam berbulu kasar ini terjulur, Dewi yang tampak berusaha menghindar

ini sudah kena dicengkeramnya.

Crep

Dewi Kerudung Putih kena direngkuh oleh

makhluk ini. Si gadis meronta sambil lepaskan

pukulan bertubi-tubi. Sayang pukulan Dewi tidak

membawa pengaruh sama sekali. Sang Pelucut Se-

gala Ilmu Segala Daya menggeram. Tanduk yang

melekat di atas batok kepalanya berpedar-pedar,

Dewi akhirnya menjerit. Manakala segala daya dan

kekuatannya terbetot keluar dari tubuhnya secara

paksa. Maka dari setiap pembuluh pori-pori, telin-ga dan hidungnya meneteskan darah. Si Buta Ma-

ta Kejora yang merasakan bahaya mengancam

Dewi Kerudung Putih segera menggempur Sang

Pelucut Segala Ilmu Segala Daya dalam jarak yang

sangat dekat sekali.

Makhluk mengerikan ini sama sekali tidak

terpengaruh, tiba-tiba sambil mengempit Dewi

yang sudah tidak sadarkan diri. Tangannya yang

lain dan panjang itu menyambar dengan ganas-

nya.

Tap....

Sekejap Si Buta Mata Kejora sudah kena di-

cekalnya. Dalam keadaan begitu Si Buta Mata Ke-

jora tidak menjadi panik. Tangan yang masih be-

bas dipergunakannya untuk menusuk kedua mata

Penghela Neraka, sayang apa yang dilakukan oleh

si kakek tidak menghasilkan apa-apa.

Hanya dalam waktu sekejap, nasibnya sama

saja dengan apa yang dialami oleh Dewi Kerudung

Putih. Kedua orang ini tidak sadarkan diri.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya

menggeram keras, seakan meneriakkan satu kemenangan. Suara teriakan itu disambut oleh suara

tawa lainnya.

"Kau telah melakukan tugasmu dengan

baik, Penghela Neraka Kedua anak manusia ini

nasibnya tentu akan lebih buruk lagi dari Pende-

kar tolol, Pendekar edan, gendeng dan Blo'on Hik hik hik..." kata suara tadi dengan penuh kebang-gaan. "Tetaplah kau di sini, menunggu tamu-tamu lain yang tidak kita undang. Sewaktu-waktu jika

aku membutuhkan tenagamu tentu aku akan

memanggilmu" Baru saja suara tanpa ujud tadi lenyap. Maka di udara terlihat kabut berwarna bi-ru bergumpal-gumpal. Kabut ini merendah, dua

sosok tubuh yang sudah tidak sadarkan diri ini

mulai terangkat perlahan, mengambang di udara

tanpa terlihat ada tangan atau pun benda lain

yang mengangkatnya.

Si Buta Mata Kejora maupun Dewi Keru-

dung Putih ini kemudian melayang dalam keadaan

terlentang menuju bagian lain. Sang Pelucut Sega-

la Ilmu Segala Daya memperhatikan bekas lawan-

lawannya ini sambil angguk-anggukkan kepala.

***
Laki-laki yang sekujur tubuhnya terbung-

kus akar-akar berwarna hitam ini sebentar me-

mandang ke langit, di lain waktu ia melihat ke dalam lubang seukuran babi hutan. Suasana di da-

lam lubang yang tidak terukur kedalamannya ini

gelap gulita. Rasanya walau pun mata melotot bila telah berada di dalam lubang tersebut jemari tangan sendiri pun tidak akan terlihat.

Si laki-laki membungkuk lagi, bibirnya

mendecap-decap, sedangkan rambutnya yang pan-

jang riap-riapan dibiarkannya menutupi sebagian

wajah. "Dari sini Aku menjadi ragu jalan ini tidak menembus ke bekas tambang emas dulu. Aku tidak ingin terjebak, urusanku menyangkut kepen-

tingan jiwa orang banyak" pikir si lelaki yang kita kenal sebagai kepala Negeri Sange. Dialah Wayan

Tandira yang pernah dihukum benam dalam tanah

selama tiga puluh tahun. Agar lebih jelas (dalam

Episode Batu Lahat Bakutuk).

"Hhh, rasanya sulit memang sulit. Aku tidak

tahu di mana ketua adat dan pemuda tampan

berwajah tolol itu. Aku harus berjuang sendiri, apa dayaku? Semua ini gara-gara Ratu Leak jahanam"

dengus Wayan Tandira seakan menyesali.

Si laki-laki kembali membungkukkan ba-

dannya untuk mengeluarkan sisa-sisa tanah yang

menghalangi besar lubang tadi. Tiba-tiba saja en-

tah dari mana datangnya Wayan Tandira merasa-

kan adanya hembusan angin. Hembusan yang be-

gitu lembut mirip dengan desiran. Tengkuk si

rambut gondrong ini meremang, sekujur tubuhnya

yang terbalut akar-akaran hingga sebatas leher terasa dingin. Wayan Tandira cepat menoleh, me-

mandang ke sekelilingnya yang terlihat hanyalah

pohon-pohon membatu, bukit-bukit gersang mem-

bisu. Cukup lama Wayan Tandira si Manusia

Akar tertegun. Ia celingak-celinguk bagaikan seo-

rang pencuri yang takut tertangkap basah, atau

karena kecurigaan lebih banyak menguasai di-

rinya. Yang jelas pada siapa pun ia mudah curiga.

"Huuuung"

Wayan lagi-lagi terkesiap ketika ia menden-

gar suara berdengung-dengung seperti pusaran

angin di sekelilingnya. Laki-laki kepala negeri

Sange ini sempat terhuyung-huyung meskipun ti-

dak sampai terjatuh.

"Hih siapakah yang mencoba menganggu-

ku? Pekerjaan ini harus tuntas Atau mungkin Ra-

tu Leak punya anak buah?" batin Wayan Tandira.

Belum hilang rasa heran dalam dirinya, tiba-tiba

terdengar suara tangis seseorang. Wayan menden-

garkan semuanya dengan seksama. Ternyata bu-

kan tangis anak kecil, tapi suara tawa.

"Edan Apakah Ratu Leak hendak memper-

dayaiku lagi?" pikir si laki-laki agak bimbang. Tidak lama desiran angin semakin bertambah kuat.

Lalu suara tawa pun semakin terdengar dengan je-

las. Ketika tawa terhenti, maka ada seseorang berkata seperti bersair....

Duuuuh, panasnya dunia?

Wi h, dunia bukan neraka

Neraka bukan dunia

Tetapi aku melihat neraka di dunia

Aku likat manusia akar

Aku pandang keraguannya

Aku tahu setan menggodanya

Ragu-ragu dan curiga sama bersahabat

Dua-duanya kawan-kawan setan

Duh...

Neraka di dalam bumi

Aku tahu bumi bukanlah neraka

Aku bingung melihat si gondrong bingung

Namun aku lebih bingung lagi melihat orang

gila bingung

Ha ha hi hi...

Baru saja suara-suara tadi lenyap. Di depan

Wayan Tandira sejauh tiga batang tombak tepat-

nya di atas batu terlihat seorang laki-laki berbadan pendek memakai topeng bocah duduk uncang-uncang kaki. Orang ini sama sekali tidak memakai

baju, celananya hitam komprang. Di dadanya yang

telanjang tergantung rompeng anak kecil dan juga

Ketapel butut berwarna hitam. Orang memakai to-

peng-topengan ini tertawa ha ha hi hi. Wajahnya

tentu saja tidak terlihat karena tertutup topeng.

Wayan Tandira memperhatikan orang itu dengan

seksama.

"Datang dari mana, apa tujuan kemari? Ce-

pat jelaskan padaku" bentak pimpinan masyarakat Sange tegas. Yang ditanya bersikap acuh saja, kakinya diguncangkan semakin keras. Sikap laki-laki pendek memakai topeng bocah ini sungguh

membuat Wayan menjadi jengkel.

"Kau tetap membisu atau memang sengaja

ingin mencari mati?" teriak Wayan Tandira. Dalam hati ia sudah mulai curiga kalau orang yang memakai topeng ini mungkin saja anggota Ratu Leak

dan boleh jadi pula merupakan anggota perem-

puan jalang itu. Dari duduk, laki-laki pendek itu duduk mencangkung. Dagunya di tompangkan di

atas kedua tangannya.

Kau ingin tahu siapa aku?

Uuuuuh... aku sendiri tidak tahu siapa diriku ini.

Aku sudah berjalan ke mana arah

Hampir dua ratus tahun sudah

Waktu di alam rahim janjiku pada Tuhan

Aku tidak akan pernah berpaling

Setelah berada di dunia aku menyembah

apa? Wahai anak, jangan tanya siapa aku

Diri ini sama bodohnya

Manusia lebih senang memakai topeng

Topeng adalah aku

Aku adalah topeng

Aku manusia topeng

Wayan Tandira sama sekali memang belum

pernah mengenal laki-laki pendek yang memakai

topeng bocah ini. Tapi melihat cara kehadirannya

tadi rasanya ia bukan laki-laki sembarangan. Apa-

lagi orang di balik topeng sempat mengatakan

bahwa dirinya telah hidup hampir dua ratus ta-

hun. "Entahlah siapa kau aku tidak akan perduli.

Tetapi terus terang jika kau punya ikatan atau hubungan tertentu dengan Ratu Leak, sebaiknya me-

nyerah padaku..." seru Wayan Tandira.

Ha ha ha hi hi hi

Anak kecil bodoh, lama-lama menjadi pintar

Orang bodoh berlagak pintar

Namanya si biang tolol

Orang tua goblok

Jika terus di pelihara menjadi pikun

Aku tidak kenal Ratu Leak.

Aku hanya mengenal kejahatannya

Kutukannya membuat manusia menjadi batu

Aku sedih, huk huk huk

Manusia akar tertegun. Diperhatikannya la-

ki-laki pendek yang terus mencangkung di depan-

nya. Ia menjadi heran mengapa orang tua ini suka

memakai topeng. Siapa sosok dibalik topeng itu?

Ini sungguh mencurigakan. Terdorong oleh rasa

ingin tahu, sekonyong-konyong Wayan Tandira

melompat ke depan dan sambar topeng yang me-

nutupi wajah orang itu.

Wuuut

Si gondrong jadi kaget, karena ternyata ia

hanya menggapai angin. Manusia Topeng telah

berpindah tempat dalam keadaan mencangkung

pula. "Kecurigaan yang berlebihan hanya membuat manusia celaka dan termakan hati sendiri.

Tanggalkanlah topengmu, mari kita saling berbuka

kartu berbuka hati. Mengapa harus saling bersite-

gang? Bukankah yang rugi diri sendiri?" tanya Manusia Topeng.

"Aku bukan bermaksud mencurigaimu, apa

yang kau katakan memang benar. Aku benar-

benar sedang mengalami kesulitan untuk meng-

hancurkan Ratu Leak Jika kau bukan kawannya,

kurasa kau bersedia menolong kesulitanku dan

membantu membebaskan masyarakat Sange ini

dari kutukan Ratu Leak" sahut Wayan Tandira tanpa malu-malu.

"Bukan Ratu Leak itu yang patut diwaspa-

dai. Batu Lahat Bakutuk menurutku lebih berba-

haya dari sepuluh Pendekar Sakti Itu sebabnya

alangkah lebih baik jika kita cari Batu itu, batu bakutuk segala bencana"

"Apakah kita harus memasuki Liang Lahat

Bakutuk? Karena hanya dari sana satu-satunya

jalan yang dapat dilalui" ujar Wayan Tandira, Manusia Topeng tersenyum, kemudian terdengar suara tawanya. "Liang Lahat adalah tempat istirahat yang terakhir buat orang-orang yang sudah bosan makan, bosan bernafas dan bosan dari

segala yang membosankan. Asal usul manusia

tempat keluarnya dari dalam lubang, maka kita bi-

sa masuk ke dalam lubang ini untuk akhirnya ke-

luar dengan selamat Mari tunggu apa lagi?" dengus Manusia Topeng. Kedua orang ini memasuki

lubang yang hanya pas dimasuki oleh laki-laki de-

wasa saja.

TIGA


Suro Blondo diletakkan di atas meja batu

marmar putih. Di sekeliling meja marmar itu ter-

dapat semacam kolam yang selalu mengepulkan

uap panas. Warna air kolam merah darah, namun

baunya seperti aroma stanggi. Air kolam yang

mengelilingi meja senantiasa menggelegak, sua-

ranya yang bergemuruh membuat merinding bagi

yang mendengarnya. Sementara itu murid Penghu-

lu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api

tergeletak tidak berdaya. Tangan dan kakinya da-

lam keadaan terikat langsung ke bagian bawah

meja marmar, sehingga mustahil bagi pemuda

berpakaian biru ini dapat meloloskan diri.

"Uakh... Ekh..." Si pemuda tiba-tiba saja menggeliat. Gerakannya lemah karena sesungguhnya ia telah kehilangan seluruh tenaga dalam dan

inti hawa murni. Kalau pun ia masih setengah in-

gat dari semua jurus-jurus serta pukulan yang

dimilikinya. Namun rasanya sudah hampir tidak

ada gunanya. Penghela Neraka telah melucuti se-

gala ilmu dan segala kekuatan yang dia miliki se-

hingga sekarang ia hanya mempunyai tenaga ka-

sar saja. "Dimana sekarang aku ini? Pandanganku kabur, ingatanku hilang-hilang timbul.
Apakah

aku sudah mati? Rugi betul aku jadi manusia?

Merasakan nikmatnya kawin saja belum, kaya ju-

ga tidak. Masa' aku sekarang sudah berada di

alam baka??" Suro mengguman pelan. Kini hidupnya benar-benar tanpa kemauan sama sekali. Se-

mangat hilang, tiada gairah selain kelesuan yang

berkepanjangan tiada putus-putusnya. "Benar-

benar celaka hidup seperti ini Kepalaku terus menerus mendenyut, dadaku sesak. Dan... akh..."

Suro menjerit tertahan, tangannya seperti ditusuk-tusuk benda tajam. Keadaannya saat itu benar-

benar seperti antara hidup dan mati.

"Hi hi hi... Bagaimana keadaanmu saat ini,

bocah cakep? Sebelum kau sampai di Negeri Batas

Ajal, alangkah lebih baik jika aku perlihatkan padamu beberapa orang yang sudah kau kenal dan

sekarang sama dalam keadaan seperti dirimu"

berkata sebuah suara.

"Bangsat Siapa kau? Apakah perempuan

jalang Iblis Betina Dari Neraka? Atau Kala Demit si jahanam yang telah membunuh kedua orang tua-ku" maki Suro Blondo. Saking gusarnya ia ingin menggaruk rambutnya, tapi apa daya tangan dan

kakinya dalam keadaan terikat.

"Percuma kau memaki, tidak sampai sehari

lagi kau segera menjadi budak terpilih Ratu Leak

Kau akan patuh tanpa pembangkangan sedikit

pun" sahut suara tadi.

Suro meludah, karena ludahnya ke atas

maka yang basah wajahnya sendiri. Geram bukan

main pemuda ini, dalam keadaan seperti itu apa

yang dapat diperbuatnya?

"Ratu Leak Kurasa kau wanita cantik

Sayang baumu busuk seperti comberan. Tubuhmu

berbau mesum, isi kepalamu penuh dendam dan

amarah. Aku jadi ingin tahu apakah di balik kebu-

sukan mu kau masih perawan? Aku tahu kau ti-

dak berani tunjukkan diri karena wajahmu jelek.

Suara tawamu seperti ringkik kuda. Kurasa pan-

tatmu kalah bagus dengan pantat kuda Ha ha

ha..." Suro tertawa bergelak.

Namun hanya beberapa detik kemudian ta-

wa pemuda berambut merah ini melenyap. Sepa-

sang matanya melotot, apa yang dilihatnya adalah

sosok seorang gadis berpakaian putih dan berke-

rudung putih. Gadis itu sama sekali tidak berge-

rak, entah masih hidup atau sudah mati. Anehnya

gadis ini bergerak dalam keadaan telentang dan

mengambang, seakan ada tangan-tangan gaib

yang mengangkatnya.

"Gadis misterius Dewi Kerudung Putih?"

Suro berseru, namun suara yang terdengar hanya

berupa erangan saja. Nafas pemuda ini tersengal.

Kemudian ia berteriak dengan sekuat tenaga. "Ra-tu Leak Jika kau usik satu lembar rambutnya,

apalagi sampai kau mencelakainya, aku bersum-
pah kelak akan memenggal kepalamu" ancam

Pendekar Blo'on.

"Hik hik hik" Suara tanpa rupa tertawa bergelak. "Apa yang dapat kau lakukan Pendekar tolol, tubuhmu tanpa daya dan kekuatan Menyelamatkan dirimu sendiri saja kau tidak mampu,

jangankan lagi memikirkan keselamatan orang

lain" Pendekar Mandau Jantan katupkan bibir-

nya rapat-rapat, rahangnya menggembung pertan-

da ia hampir tidak mampu menguasai kemarahan.

Dengan cepat ia kerahkan tenaga dalam untuk

memutuskan simpul-simpul tali yang membeleng-

gu tangan dan kakinya.

"Gila, kekuatanku benar-benar hilang Sang

Pelucut Segala Ilmu Segala Daya Dia benar-benar

telah merampas segala-galanya dariku" keluh Su-ro.

"Kau telah membuktikan bahwa dirimu bu-

kanlah apa-apa, bocah ajaib. Kau lihatlah, aku

akan mencambuki gadis ini. Wajahnya memang

cantik, agaknya dia kekasihmu atau dia mencin-

taimu. Terbukti ia telah menyusulmu ke sini" kata Ratu Leak dalam gaibnya.

Kemudian samar-samar Suro melihat se-

buah cambuk api menggelantung di udara. Tidak

terlihat siapa yang memegang cambuk tersebut.

Manakala cambuk melecut di udara. Dewi Keru-

dung Putih yang dalam keadaan terapung di udara

tampak terpelanting.

Tarrr

Cambuk api kembali menghantam tubuh

Dewi, gadis yang tidak sadarkan diri itu terpelanting. Pakaiannya robek, meskipun terpelanting ia

tidak juga jatuh ke lantai atau ke dalam kolam

mendidih.

Melihat pemandangan ini Suro merasa iba

dan prihatin. Sementara bagian-bagian tubuh De-

wi yang terkena cambuk tampak melepuh dan

hangus. Padahal cambuk yang melecut-lecut den-

gan sendirinya itu terus mendera Dewi Kerudung

Putih tiada putus-putusnya.

"Hentikan Jangan kau siksa dia, Ratu Leak

keparat" teriak Suro Blondo.

"Hik hik hik... Sekarang apa yang dapat

kau lakukan? Apakah kau tidak suka menikmati

pemandangan ini? Padahal aku belum memperli-

hatkan padamu seorang pesakitan lain yang juga

menunggu giliran"

"Setan alas Apa keinginanmu yang sebe-

narnya? Jika kau menghendaki nyawaku, menga-

pa orang lain ikut pula kau sakiti?" seru Suro.

"Dirimu memang kuinginkan, tetapi nanti.

Kau akan kuberi tugas yang tidak kalah penting-

nya. Sekarang ingin kutanyakan padamu, apakah

kau ingat dengan Mustika Jajar?" tanya Ratu Leak yang tidak pernah menunjukkan diri itu lantang.

"Perempuan jahanam itu Jika ada makhluk

yang berjalan di punggung bumi yang paling ku-

benci. Iblis Betina Dari Neraka itulah yang aku

benci. Huh..." Suro mendengus sinis. "Rupanya sekarang wanita jalang itu telah menjadi pengi-kutmu? Kurasa Kala Demit juga telah berkomplot

denganmu, setan kurapan Tidak tenang diriku,

kalau pun aku mati, orang yang pertama harus

kucari engkaulah bangsatnya Nanti arwahku ber-

gentayangan, bawa golok yang paling gede, perta-

ma kaki dan tanganmu akan kutebas hingga bun-

tung, kemudian bibirmu kuambil yang di sebelah

atas, biar konyol, setelah bibir, dada harus diambil sebelah. Setelah itu kulitmu kubeset sedikit demi sedikit, daging yang sudah tidak berkulit disiram

air jeruk baru dikasih kecap sedikit. Oh... aku

hampir lupa apakah saat ini sudah ada warung

yang jual kecap?" kata Suro ngawur. "Setelah matamu menyaksikan semua ini baru kukorek, biji

mata harus kujadikan campuran cendol. Kata iblis

cendol dari biji mata enak. Lidahmu pasti me-

raung-raung. Aku sangat senang mendengar sua-

ramu nanti. Kalau aku bosan mendengarnya, baru

lidahmu kupotong. Kau akan menjadi manusia ga-

gu Kau akan menjalani penderitaan hidup yang

tidak pernah kau bayangkan sebelumnya" Kata-kata Suro Blondo terputus menjadi jeritan ketika

cambuk yang dapat bergerak secara gaib itu men-

deru tubuhnya berulang-ulang.

"Bicaralah kau sesuka perutmu, sekarang

rasakanlah azabku yang sangat pedih" geram Ra-tu Leak.

Ctar Tar Tar

"Augkh... Cilaka betul, kau ratu bangsat

Bangsatnya ratu-ratu." maki si konyol. Pakaian pemuda ini sudah tidak karuan bentuknya, tubuh

Suro yang sudah tidak terlindungi tenaga dalam

babak belur.

Ctar

Cambuk api terus menghantam tubuh si

pemuda, kini dirinya antara sadar dan tidak. Da-

lam keadaan hampir kelenger begitu rupa, sayup-

sayup ia masih sempat melihat sosok tubuh lain-

nya dalam keadaan terkapar. Sosoknya jelas seo-

rang kakek berpakaian kumal. Siapa lagi kalau

bukan Si Buta Mata Kejora.

"Uukh... Orang tua yang tidak bisa melek

itu mengapa ikut-ikutan ke sini? Kalau mau mam-

pus wajar saja, dia sudah tua Benar-benar tolol

semuanya. Kurasa dia menyusulku kedalam Liang

Lahat Bakutuk." Begitu bingungnya Suro hingga ia ingin menggaruk kepala, namun hal itu tidak kuasa dilakukannya.

"Bukankah si tua ketua adat ini sahabatmu

juga, Pendekar Tolol? Sama seperti dirimu dan ga-

dis yang mencintaimu itu, dia juga sudah berada

dalam genggamanku. Aku juga akan menyiksanya

jika hukuman yang kuberikan padanya tidak

membuat Buta Mata Kejora menjadi kapok" dengus suara tanpa rupa sengit. Kemudian ia berseru

pada cambuk gaib yang menari-nari di udara.

"Cambuk Api yang hanya bekerja sesuai dengan perintah pemilik Batu Lahat Bakutuk. Hajar orang

tua yang ada di depanmu"

Baru saja gema suara Ratu Leak lenyap,

maka cambuk pun meluncur deras ke arah Si Bu-

ta Mata Kejora. Lalu terdengarlah suara gemuruh

lecutan cambuk yang terasa menyakitkan gen-

dang-gendang telinga. Setiap cambuk api mendera

tubuh si kakek, maka terlihat kepulan asap dari

bekas cambukan itu.

Dalam keadaan seperti ini anehnya tubuh si

kakek yang juga dalam keadaan terikat tampak

mengambang.

"Ratu Leak Mengapa kau menyiksanya, ti-

dak cukupkah hukuman belenggu rantai yang kau

jatuhkan padanya selama hampir tiga puluh ta-

hun?" "Huh, kau tau apa? Apa yang kau saksikan

di luaran sana hanya berupa permulaan dari se-

buah perjalanan panjang Perjalanan ini terjadi

akibat ulah gurumu Sebagai muridnya, kaulah

yang akan mengukir sebuah sejarah perjalanan

baru. Sejarah di mana gurumu akan teringat den-

gan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu" ucap Ratu Leak. Lalu terdengar suara nyanyiannya yang

tidak jelas. Nyanyian terhenti, ada suara tepukan tangan. Sebuah pintu yang terletak di sudut kanan Suro Blondo membuka secara gaib. Dari dalamnya

memancar cahaya merah berkilau-kilauan. Suro

kerutkan keningnya. Dari sinilah tadi Suro men-

dengar suara-suara Ratu Leak, si pemuda berpikir

mungkin di situlah Ratu Leak berdiam.

Kembali memandang ke arah pintu yang

terbuka, dimana sinar merah memancar dari ba-

liknya. Kini kelihatan sesosok tubuh berdiri tegak.

Sosok ramping berpakaian tipis merangsang. Sinar

merah yang menerangi di belakang yang menem-

bus liku-liku tubuh si gadis yang padat menggai-

rahkan. Gadis berambut panjang lambat-lambat

menghampiri. Ternyata gadis itu tidak lain adalah Mustika Jajar, musuh bebuyutan Pendekar Blo'on.

Sampai di tepi kolam mendidih menebar

bau stanggi yang mengelilingi meja panjang batu

marmar Iblis Betina Dari Neraka hentikan lang-

kah. Bibirnya sunggingkan seulas senyum menge-

jek. "Pemuda bangsat rambut merah Kau akan melihat betapa gadis yang mencintaimu itu akan

mengalami penderitaan menyakitkan" dengus

Mustika Jajar.

"Betina Dari Neraka? Kau sakiti dia, berarti hanya mengurangi umurmu saja Aku bersumpah,

aku bersumpah" teriak si konyol dengan bibir pe-letat-peletot.

"Huh..." Mustika Jajar mendengus sinis.

Seraya lalu mengambil kendi yang digenggamnya

sejak dari tadi. Perlu diketahui saat itu masih ada sebuah kendi lain berwarna merah darah tergantung di pinggang Iblis Betina Dari Neraka.

Isi kendi dituangkan ke dalam sebuah

cangkir merah yang kelihatannya terbuat dari ta-

nah liat. Mustika melambaikan tangannya ke arah

Dewi Kerudung Putih yang tengah mengambang di

udara. Sekonyong-konyong, sosok Dewi melayang

mendekatinya. Mustika langsung membuka mulut

Dewi, begitu bibir Dewi Kerudung Putih yang tidak sadarkan diri itu terbuka, maka cairan merah yang terdapat di dalam cangkir di tuangkan.

Glek

Seluruh isi cangkir tertuang ke mulut Dewi

Kerudung Putih. Sekejap setelah itu si gadis berba-ju putih menggeliat, lalu terdengar suara erangannya yang tidak begitu jelas.

"Dewi??" seru Suro. Si gadis menoleh ke arah Suro. Matanya membulat lebar ketika mengenali pemuda yang selalu membayangi hidupnya

selama ini.

"Kau, adakah kau dalam keadaan baik-baik

saja?" tanya Dewi. Ada kelegaan terpancar lewat tatapan mata si gadis. Justru hal ini tidak dike-hendaki oleh Suro. Sebab bagaimana pun sikap

Dewi yang demikian mesra dapat dimanfaatkan

oleh Ratu Leak maupun Mustika Jajar untuk

memperalat mereka.

"Aku dalam keadaan setengah baik dan se-

tengah mati, Dewi. Mataku bebas, mulutku bebas

bicara. Yang terikat kaki dan tanganku Ha ha

ha..." kata Suro Blondo masih sempatnya tertawa.

"Suro, adakah kau sanggup membebaskan

diri dari tali-tali yang mengikatmu itu?" tanya lagi Dewi Kerudung Putih. Sikap Dewi yang tampak

mesra ini membuat Mustika Jajar menjadi sema-

kin bertambah geram.

"Tid... tidak, Dewi Misterius. Kesaktianku

dan tenaga dalamku sudah diperas sampai ke am-

pas-ampasnya oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Se-

gala Daya. Aku sekarang ini tidak ubahnya seperti barang rongsokan yang hampir tidak berguna.

Mungkin hanya pentunganku saja yang berguna

bagi gadis bengis yang baru habis memberi racun

tadi Akh... kulihat wajahmu berubah biru, apakah kau merasakan sesuatu?"

Kening gadis berkerudung itu berkerut ta-

jam. Saat itu ia merasa sekujur tubuhnya seperti

ditusuk-tusuk ribuan batang pedang. Dewi Keru-

dung Putih kemudian menggelepar.

"Su-ro... akh... huakh... Perempuan jaha-

nam itu telah memberiku kesadaran sekaligus ra-

cun berkala yang membuatku mati perlahan-

lahan" teriak Dewi Kerudung Putih dengan suara terbata-bata.

Pendekar Mandau Jantan mendelik, ia ma-

rah bukan main melihat kekejian yang dilakukan

oleh Iblis Betina Dari Neraka.

"Perempuan terlaknat Berikan obat pemu-

nahnya Cepaaat..." geram Pendekar konyol sengit.

"Hik hi hi Apa yang terjadi atas perintah

Ratu Leak. Gadis ini dan si tua mata buta itu

hanya dapat selamat jika kau mau menuruti perin-

tah Ratu" sahut Mustika Jajar.

"Kupertaruhkan nyawaku demi kebebasan-

nya" ujar si pemuda yang merasa tidak berdaya.

"Bagus Itu namanya sayang kekasih. Agak-

nya kau cinta berat padanya Hi hi..."

Suro tidak menyahut, antara dia dengan

Dewi sesungguhnya tidak ada perasaan cinta. Suro

hanya merasa senang dan sayang pada gadis itu.

Namun biar bagaimana pun ia harus menolong

Dewi Kerudung Putih, karena gadis itu juga dulu

pernah menyelamatkan jiwanya (dalam Episode

Bayang-Bayang Kematian).

"Cepat beri dia obat pemunah racun itu"

desak si pemuda begitu melihat kujur tubuh Dewi

semakin membiru.

"Boleh Tapi kau harus meminum ini dulu"

sahut Iblis Betina Dari Neraka. Seraya kemudian

mengambil tengkorak manusia yang sudah berlu-

mut dan berwarna hitam-hitaman. Mustika men-

gambil kendi merah yang tergantung di pinggang-

nya. Isi kendi dituangkan ke dalam tengkorak ke-

pala persis di bagian tempurung otak.

Dengan jelas Suro melihat tempurung kepa-

la itu mengepulkan uap berbau menyengat. Suro

tidak tahu apa cairan tersebut, entah racun entah pula cairan lain yang mematikan.

Mustika Jajar menjejak lantai tiga kali. Tiba-tiba meja marmar bergerak, meninggalkan ko-

lam dalam keadaan mengapung mendekati si ga-

dis. "Cepat kau minum" perintah Iblis Betina Dari Neraka.

"Apakah ini obat kuat untuk membang-

kitkan semangatku? Percayalah si Buyung tidak

mau bangkit apalagi melek jika hanya melihat

anumu yang bulukan Ha ha..."

Plak

Meskipun sakit akibat tamparan Mustika

Jajar, Suro Blondo tidak mengeluh apalagi menje-

rit. Ia malah tertawa dengan bibir terpencong.

"Jika saja tidak mengingat pesan Ratu Leak,

mulutmu yang kurang ajar itu sudah kulumat ha-

bis" geram si gadis.

"Dengan apa kau hendak melumat? Kalau

dengan bibirmu juga, mana tahan" ejek Suro.

"Rupanya kau ingin melihat gadis kerudung

putih itu mampus percuma?" sengit suara Mustika Jajar. Suro pun menoleh, kini sekujur tubuh Dewi Kerudung Putih telah berubah menghitam seperti

terbakar. Dalam kesempatan itu terdengar suara

Dewi. "Apa pun yang terjadi padaku, jangan kau mau meminum racun dalam tengkorak itu?" pesan Dewi Kerudung Putih.

"Kau dengar ucapannya. Jika kau menuruti

apa yang disarankannya, berarti kau sengaja

membiarkan jiwa dan raganya tersiksa Hik hik

hik..."

"Perempuan jahanam, Ratu Leak juga ma-

nusia jahanam. Sudah kukatakan lepaskan dia

Kau sekarang berada dalam posisi yang menang,

ingat Aku tidak akan melupakan kejadian ini" desis si konyol.

Iblis Betina Dari Neraka hanya diam saja. Ia

mendekatkan tengkorak berisi cairan ke mulut Su-

ro. Si pemuda katupkan bibirnya rapat-rapat.

"Kau menolak, berarti dua orang yang bera-

da di depanmu mati dengan percuma" ancam

Mustika Jajar.

Mendapat tekanan sedemikian rupa, Pende-

kar Mandau merasa tidak punya pilihan lain lagi.

Ia terpaksa membuka sedikit mulutnya. Cairan da-

lam mangkuk tengkorak segera dituangkan ke mu-

lutnya oleh Iblis Betina Dari Neraka.

EMPAT

Gluk Gluuk

Begitu cairan yang dituangkan oleh Mustika

mengalir dalam tenggorokan pemuda baju biru.

Maka meraunglah Pendekar Blo'on. Mata pemuda

ini mendelik seperti melihat setan telanjang. Tu-

buhnya menggelepar, seluruh badan Pendekar

Blo'on menjadi dingin. Dewi Kerudung Putih yang

dalam keadaan setengah sadar jelas tidak dapat

menolong si pemuda. Keadaan Pendekar Blo'on

benar-benar seperti orang yang telah berada di

ambang ajal.

"Su-ro, ma-sih-kah ka-u men-de-ngar sua-

ra-ku..." bertanya Dewi Kerudung Putih, suaranya seperti orang yang mengigau. Tidak terdengar suara jawaban apa-apa. Dewi Kerudung Putih menjadi

cemas. Sementara itu Suro Blondo sudah terkulai.

Nadinya tidak berdenyut, dan jantungnya seakan

tidak berdetak lagi. Dalam suasana sedemikian

rupa, terdengar suara Mustika Jajar.

"Cangkir Tengkorak Pelumpuh Akal Pele-

mah Jiwa Hi hi hi.... Kau sekarang telah berjalan mendekati Negeri Batas Ajal Pendekar Blo'on Di

mana seorang manusia yang sudah tua bangka

dan sakit-sakitan pun tidak berani ke sana. Sean-

dainya manusia itu adalah orang paling kaya raya, ia akan memilih menukar hartanya daripada harus

dirinya yang datang ke sana Selamat datang ke

negeri Batas Ajal, hi hi hi Semoga para setan gentayangan menyambutmu dengan baik" dengus Iblis Betina Dari Neraka.

Gadis berpakaian tipis ini memperhatikan

tiga sosok tubuh yang sama-sama terkapar. Dua

diantaranya dalam keadaan pingsan berat, namun

entah bagaimana yang terjadi dengan Pendekar

Mandau Jantan.

Sementara itu Ratu Leak yang tidak pernah

menampakkan diri itu mulai mempergunakan ke-

sempatan ini untuk membersihkan segala ingatan

Suro dari masa lalu dan menanamkan sebuah in-

gatan baru tentang segala sesuatu yang telah di-

rencanakan oleh Ratu Leak.

Sekarang kita ikuti bagaimana keadaan Su-

ro yang berada dalam pengaruh Cangkir Tengko-

rak Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa itu. Keadaan Su-

ro saat itu memang antara hidup dan mati. Ji-

wanya mengembara melayang tidak tentu arah. Ia

merasa sedang berada di tengah-tengah alam an-

tara ada dan tiada. Ia seperti bercampak di tengah-tengah padang yang luas namun mengerikan.

"Dimanakah aku?" batin Suro. Ia memper-

hatikan keadaan di sekelilingnya. Merasa sepi,

seakan di tempat itu hanya si konyol saja yang hidup, tidak ada orang lain atau makhluk bernyawa

yang lain. Dalam kesunyian yang mencekam itu

Suro celingak-celinguk. Tiba-tiba saja ia menden-

gar suara seseorang memanggil. Suara itu mirip

suaranya sendiri.

"Suro... ke sini..."

Refleks, Pendekar Blo'on menoleh ke arah

kiri. Pemuda ini terperangah melihat ada seorang

pemuda lain yang sangat mirip dengan dirinya.

Hanya pemuda yang hampir sama dengan Suro ini

berwajah bengis, kulit hitam. Tatapan matanya si-

nis penuh angkara murka.

"Kkk... kau siapa?" tanya Suro dengan suara bergetar. Sosok yang berdiri di samping kirinya tersenyum, sungguh senyumannya menggiriskan

hati. "Aku adalah saudaramu sendiri, aku adalah dirimu" sahut sosok Suro namun berwajah jelek menyeramkan. Suro memperhatikan cukup lama

juga. Baru kemudian mengguman dalam hati.

"Dia mengaku-ngaku sebagai saudaraku,

padahal sejak lahir aku merasa tidak punya sau-

dara, apalagi saudara sejelek ini?"

"Kau meragukannya? Tidakkah kau lihat

aku sangat mirip dengan dirimu?" bertanya sosok yang mirip dengan si pemuda.

"Entahlah, aku sekarang sedang bingung

Aku tidak tahu sekarang berada di mana. Kalau

aku punya saudara mengapa tidak ada yang bi-

lang-bilang sejak dari dulu, apalagi kau mengaku-

ngaku sebagai saudaraku, sudah serem item lagi"

celetuk Suro sambil garuk-garuk kepala.

"Ha ha ha... Kau tidak percaya pada sesua-

tu yang bakal terjadi? Ketahuilah bahwa sekarang ini kau sedang berada di Negeri Ambang ajal. Ikut-lah bersamaku wahai saudaraku Akan kutunjuk-

kan padamu sesuatu yang belum pernah kau lihat

selama ini Mari..."

Suro menjadi ragu, sosok yang mirip dirinya

baru saja mengatakan ia berada di Negeri Batas

Ajal. Artinya Pendekar Blo'on sudah berada di am-

bang kematian Betapa mengerikan sekali yang

namanya kematian, apakah semua orang pernah

membayangkannya. Mati, tinggal di dalam kubur

sendiri. Tanpa sanak saudara atau teman-teman

yang dicintai. Betapa gelapnya alam kubur itu, be-narkah setelah mati selesai semua urusan manu-

sia? Padahal kubur adalah alam baru, tempat ma-

nusia ditanya dan disiksa sampai tibanya hari

berbangkit.

"Ayolah..." sosok mirip Pendekar Blo'on kembali mendesak.

"Tidak Kau bukan diriku, tapi hantu yang

meniru-niru aku" sahut Suro sambil melangkah mundur. Sosok setinggi si konyol dan mirip dengan pemuda itu menggeram marah.

"Akan kuperlihatkan padamu tempatku

Mari..." dengus sosok Suro Blondo. Lalu tiba-tiba saja orang itu menyambar tangan Pendekar Blo'on.

Pemuda berambut kemerahan ini merasa seperti

berada di sebuah tempat tanpa beban. Ia merasa

dirinya menjadi ringan, bahkan lebih ringan dari

kapas yang diterbangkan angin.



***

Dulu aku tidak pernah melihat ada lorong-

lorong indah seperti ini, Manusia Topeng? Sebuah

tempat yang indah, namun aku merasakan ketidak

nyamanan di dalam sini" kata Wayan Tandira.

"Apa yang kau lihat adalah perubahan

alam, ini yang namanya stalamit dan stalagnit Naluriku mengatakan jika kita dapat menjebol dind-

ing batu di sebelah sana. Kita segera menemukan

tiga sosok tubuh yang kau kenal" sahut laki-laki pendek bertopeng anak-anak.

"Maksudmu?" tanya Wayan Tandira dengan

kening berkerut.

"Di sebelah dinding sana kulihat merupa-

kan bagian Lahat Bakutuk. Tiga kawanmu terpe-

rangkap disana" jelas Manusia Topeng. Wayan anggukkan kepala, ia melangkah lebih ke depan

lagi. Tiba-tiba saja ada sinar putih menyambar seperti kilat dari langit-langit lorong. Sinar tersebut menghantam sekujur badan Wayan yang terbalut

akar hitam.

Byar Byaar

Laki-laki ini menjerit saat merasakan seku-

jur tubuhnya dijalari hawa panas bukan alang ke-

palang. Sinar itu berpedar seperti kunang-kunang

ke seluruh pembuluh akar-akaran yang melibat

tubuhnya. Manusia Topeng memperhatikan semua

ini dengan penuh rasa takjub. Sekonyong-konyong

ia memandang ke langit lorong. Benda yang sama

seperti yang melibat tubuh Wayan Tandira juga

banyak bergelantungan di sana.

"Betapa beruntungnya orang ini, Akar Bumi

yang melibat tubuhnya juga ada di sini. Berarti kesaktian yang dimilikinya bertambah dengan mun-

culnya sinar tadi. Banyak sekali keanehan di sini, penderitaan yang dialaminya selama ini adalah peruntungan baginya juga" desis Manusia Topeng.

"Orang tua, kau lihatkah sinar tadi? Aku

merasa seperti ada sesuatu menghantam diriku

Tubuhku sekarang semakin ringan, apakah yang

telah terjadi?" tanya Wayan Tandira begitu dirinya bangkit berdiri.

"Itulah keberuntunganmu, kau pantas

mengucapkan puji sukur pada Tuhan yang telah

memberi kelimpahan dan tambahan kesaktian

tanpa terduga-duga" ujar Manusia Topeng.

Wayan Tandira kerutkan keningnya.

Aku tidak tahu apa maksudmu?"

"Akar-akar yang membalut tubuhmu itu."

kata Manusia Topeng dan wajah di balik topeng

tersenyum. "Apa kau pikir emakmu yang menem-

pelkannya, atau kau pikir hasil kerja ayahmu, ne-

nekmu, pacarmu atau gendakmu Semua itu ada-

lah karunia Tuhan. Penderitaanmu selama tiga pu-

luh tahun dibenam oleh Ratu Leak, tanpa terduga-

duga berbalas dengan karunia Tuhan. Akar Bumi,

manusia mana di rimba persilatan ini yang pernah

memiliki? Sedangkan namanya saja mungkin ja-

rang sekali orang yang mendengarnya"

"Aku melihat kesamaan antara akar-akar

yang membalut tubuhku dengan yang berada di

atas itu"

"Ya... barusan tadi secara aneh kau telah

mendapatkan tambahan tenaga sakti. Apakah itu

namanya bukan suatu peruntungan?"

"Sekarang apa yang harus kulakukan, wa-

hai Manusia Topeng?" tanya Wayan Tandira.

"Coba kau tabrak dinding batu itu Kita ha-

rus sampai ke ruangan sebelah secepatnya" perintah Manusia Topeng terkesan seenaknya.

Mata Wayan Tandira membelalak lebar. La-

ki-laki pendek bertopeng yang selalu membawa

kompeng dan ketapel ini terkadang tingkahnya se-

perti anak kecil berumur tujuh tahun. Jika ia ha-

rus menabrak dinding batu itu apakah mungkin ia

tidak akan babak belur?

"Ayo tunggu apa lagi?" desak Manusia Topeng kurang senang melihat keragu-raguan si

gondrong.

"Bagaimana jika akibatnya fatal bagiku?"

"Kutanggung kesembuhanmu, tetapi jika

Malaikat sudah menghendaki nyawamu siapa yang

berani tanggung Apalagi yang kau tunggu? Manu-

sia mati hanya sekali, tidak lebih dan tidak ku-

rang" "Orang berkedok ini apa bisa dipercaya?

Hmm... aku ingin membuktikan ucapannya, be-

narkah di balik batu ini terletak bagian liang lahat seperti yang dikatakannya??" batin Wayan Tandira.

"Baik Akibat buruk dan baiknya kau yang

tanggung, biarkan aku jadi pelaksananya" dengus Wayan Tandira. Seraya kemudian melompat mundur mengambil ancang-ancang. Setelah itu dengan

disertai teriakan keras mengguntur tubuh Wayan

Tandira melesat ke depan. Dan....

Diegkh...

Greeeekhh

Dinding batu tampak retak disana sini. Ke-

pala Wayan sempat benjut-benjut. Namun sung-

guh aneh ia tidak merasakan sakit sedikit pun.

Sementara bagian tubuh yang lainnya tidak cedera

sedikit pun. Terhuyung-huyung Wayan bangkit

berdiri. Ia gelengkan kepala, lalu memandang ke

arah Manusia Topeng seakan minta pendapat.

"Apa yang terjadi sudah kau lihat Kau

hanya tinggal menabraknya sekali lagi. Ayolah,

tunggu apa lagi? Menunggu lebih lama yang ada di

dalam sana keburu mampus" teriak Setan Topeng.

Sungguh pun Wayan Tandira tidak paham betul

semua ucapan laki-laki pendek bertelanjang dada

ini. Ia cepat mengambil ancang-ancang lagi.

"Hiyaa,.."

Sosok gondrong terbungkus akar itupun

melesat laksana kilat. Sedangkan dua tangan dan

kaki menghantam.

Buum Buuumm

Terjadi ledakan keras menggelegar. Langit-

langit lorong runtuh, dinding batu runtuh. Terli-

hatlah sebuah lubang besar. Benar seperti apa

yang dikatakan oleh Manusia Topeng, ternyata di

balik dinding batu itu terdapat ruangan luas yang masih merupakan bagian dari Liang Lahat Bakutuk. "Itukah yang kau maksudkan, Manusia Topeng?" tanya Wayan Tandira.

Manusia Topeng tiba-tiba mendongak ke

langit sambil tertawa-tawa, begitu suara tawanya

lenyap, maka ia bicara seperti orang yang bersair.

Batu telah terkuak

Sebagian neraka ciptaan manusia terkutuk

telah tersingkap

Apa lagi yang dicari manusia dalam hidup

ini? Uuuh...

Angkara murka berada di ambang mata

Cepatlah ke sana

Sebelum jasad yang mengambang menjadi

busuk Jangan salahkan aku Manusia Topeng

Wayan sempat tertegun sekejap disaat meli-

hat ruangan luas yang membentang di balik rong-

ga dinding batu itu. Tidak ada kenyamanan atau

keindahan di sekitar ruangan yang seakan tidak

berpembatas ini terkecuali keangkeran yang nyata.

"Masuk kataku" perintah Manusia Topeng, Keraguan di hati Wayan Tandira sirna sudah. Ia pun melangkah masuk melalui dinding ba-

tu yang hancur. Sampai di sana mereka tidak me-

lihat sesuatu apapun terkecuali ceceran darah

membusuk dan suara jeritan-jeritan di sana sini.
"Mereka tidak ada di sini" seru Wayan.

"Memang Tapi aku merasa pasti mereka ti-

dak jauh dari sini" sahut Manusia Topeng.

"Di mana kita harus mencari, ruangan ini

sangat luas sekali." kata Wayan Tandira bin-

gung."Mari ikuti aku" seru Manusia Topeng. Sekejap kedua orang ini sudah berjalan ke bagian timur ruangan tersebut.

***

Sementara itu Pendekar Blo'on sudah sam-

pai di sebuah tempat yang sungguh mengerikan.

Tempat itu tidak ubahnya seperti sebuah neraka

penyiksaan yang sungguh sulit dilukiskan dengan

kata-kata. Berbagai bentuk penyiksaan ada di sa-

na. Tempat itu kebanyakan dihuni oleh kaum pe-

rempuan.

Berbagai-bagai penderitaan terdapat disana.

"Apakah yang terjadi dengan mereka?"

tanya Suro ditujukan pada sosok yang menyerupai

dirinya.

"Apa yang terjadi atas diri manusia di sini

sesuai dengan ulah dan perbuatan manusia itu

sendiri ketika di dunia Di dunia manusia bisa saja luput dari tuntutan hukum karena punya kuasa

dan harta, tapi di sini manusia tidak lebih hanyalah seonggok sampah yang tidak dapat menghin-

dari ketentuan Ha ha ha Tunggu apa lagi, ayolah tunggu apa lagi Kau ikut aku...?"

"Ikut kemana?" tanya Suro. "Ikut terjun ke dalam gejolak api yang menyala-nyala itu aku tidak sudi" bantah Suro.

"Di sini kau tidak bisa membantah, ayo"

Sosok yang mirip dengan Suro namun berwajah

seram itu menyambar tangan si pemuda. Sekali

saja ia bergerak. Maka tangan pendekar Blo'on su-

dah berada dalam cekalan sosok Suro yang angker

tersebut. Pemuda ini berusaha membebaskan diri

dengan cara meronta, namun apa yang dilakukan-

nya tidak membawa hasil sedikit pun. Sosok yang

menyerupai dirinya itu terus menyeretnya untuk

sama-sama masuk ke dalam gejolak api.

"Ini alam yang membingungkan, mengapa

diriku hendak dijerumuskan dalam kebinasaan

oleh hantu jelek yang menyaru-nyaru seperti aku?

Apakah aku sudah gila atau mati sungguhan?" batin Suro bingung.

Walau pun demikian ia tetap bertahan, te-

tapi ia terus terseret mendekati gejolak api yang menyala-nyala. Suro memang sedang terancam

bahaya besar, Akan tetapi pada saat-saat yang

menegangkan itu, tiba-tiba terlihat bayangan putih menyambar tangannya yang lain. Suro sempat

meneliti siapa yang hendak menolongnya. Dan

pemuda jadi kaget....

"Apa-apaan ini? Mengapa ada lagi orang

yang menyerupai diriku? Siapakah dia? Mana

mungkin Suro bisa mengembar tiga? Mana yang

asli?" desisnya.

Suro menjerit-jerit, dua tangannya dibetot

kanan kiri, rasanya mau tanggal dan Pendekar

Blo'on untuk pertama kali mengalami penderitaan

yang bukan main-main.

"Dia belum saatnya mati, mengapa kau

hendak menyeretnya ke neraka?" dengus sosok

Suro yang baru saja datang. Ujud orang ini lebih

tampan, lebih bersih dan wajahnya berseri-seri.

Lalu menyahuti sosok Suro yang bengis.

"Aku akan membawanya ke neraka. Dia sudah

sampai di Negeri Batas Ajal"

"Kau busuk, kau ngawur. Dia harus dikem-

balikan ke jasadnya yang sudah mulai membeku.

Aku melihat langit, aku melihat cacatan riwayat-

nya. Sekarang belum saatnya bagi saudara kita ini meninggalkan dunia fana Dia harus kembali ke

jasad kasarnya." tegas sosok Suro berwajah bersih.

"Kau tahu apa?" bentak sosok Suro yang

buruk.

"Aku tahu, saudara kita ini kencingnya saja

belum lempang, masih bengkok sedikit dan ka-

dang muncrat ke mana-mana. Di kepalanya ba-

nyak kutu, mungkin ketombe. Buktinya dia gorak

garuk kepala terus. Kau lihatlah si buruk rupa,

saudara kita ini mukanya saja belum betul, masih

goblok Ayo kita kembalikan dia Lagipula musuh

besar orang tuanya belum becus dia membunuh-

nya" Suro Blondo ingin rasanya memaki atau tertawa, tapi bagaimana ia bisa tertawa? Lengah saja dia sedikit ia bisa terseret dalam gejolak api yang menyala-nyala.

Sementara tarik menarik pun terus terjadi.

Hingga beberapa saat setelahnya sosok Suro ber-

wajah bersih sedikit bercahaya pukulkan tangan-

nya ke arah sosok Suro berwajah jelek. Pegangan

sosok bengis itu terlepas, Suro Blondo merasa di-

rinya seakan dibawa terbang. Melewati tempat-

tempat yang sangat mengerikan itu. Hingga akhir-

nya tibalah mereka di sebuah tempat yang gelap

gulita. Pendekar Mandau Jantan megap-megap.

LIMA


"Di mana kita sekarang?" tanya Pendekar Blo'on. Yang ditanya hanya diam sejenak. Kemudian memperhatikan kegelapan di depannya den-

gan perasaan cemas. "Kau sekarang berada di Alam Ambang Ajal dan alam dunia. Aku adalah sisi

baik dalam dirimu, sedangkan orang yang hendak

menyeretmu ke dalam api tadi adalah sisi buruk

dirimu pula. apa yang terjadi pada dirimu adalah

akibat ulah Ratu Leak. Kau harus kembali ke da-

lam jasad kasarmu, karena sekarang belum lagi

saatnya bagimu meninggalkan dunia fana. Aku

hanya dapat mengantarkan sampai ke sini, untuk

mencari selamat. Untuk sementara sebaiknya kau

ikuti saja perintah Ratu Leak"

"Apa, aku harus mengikuti perintah manu-

sia terkutuk itu? Tidakkah kau tahu dia manusia

sesat?" tanya Suro pada sosok yang menyerupai dirinya.

"Tidak selamanya, nanti jika Batu Lahat

Bakutuk sudah tidak berada di tangannya lagi,

mudah-mudahan kau menemukan jalan keluar.

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu adalah

kemudahan. Begitu pula setiap persoalan pasti ke

jalan keluarnya."

"Aku telah kehilangan ilmu kehilangan

daya. Aku tidak dapat melakukan sesuatu apapun.

Dalam keadaan seperti itu aku tidak dapat melin-

dungi diriku" ujar Pendekar Blo'on.

"Tuhan adalah tempat yang baik untuk

mencari perlindungan. Kukatakan sekali lagi aku

hanya dapat mengantarmu di sini Cepatlah kau

kembali ke jasad kasarmu" perintah sosok Suro.

Si konyol diam membisu. Kemudian ia me-

ninggalkan alam batas ajal tanpa menoleh-noleh

lagi. Sementara itu pada waktu yang sama di de-

pan tubuh Pendekar Blo'on kelihatan sosok tubuh

berupa kabut biru tengah menggerak-gerakan tan-

gannya di atas kepala murid Penghulu Siluman

Kera Putih. Setiap tangan itu bergerak maka mele-

sat sinar warna warni ke bagian ubun-ubun si

pemuda. Itulah inti kekuatan baru yang dimasuk-

kan oleh Ratu Leak ke dalam tubuh Pendekar

Blo'on. Kejadian seperti ini berlangsung cukup la-ma juga. Sampai kemudian terdengar suara sosok

cantik berujud kabut tersebut.

"Hi hi hi Kau sudah sempat melanglang

buana rupanya Selamat kembali ke rumahmu.

Kau telah mendapatkan kekuatan yang baru, ke-

kuatan lain yang datang berkat Batu Lahat Baku-

tuk. Mulai saat ini kau menjadi budakku"

Pendekar Blo'on mengerang, secara perla-

han ia sadarkan diri. Namun sekarang ia merasa

asing pada dirinya sendiri. Pemuda ini gerakkan

tangan dan kakinya. Celaka, kaki dan tangannya

tidak bertenaga sama sekali. Sekujur tubuhnya te-

rasa lumpuh.

"Apakah yang kurasakan ini akibat penga-

ruh Cangkir Tengkorak Pelumpuh Akal Pelemah

Jiwa?" batin si pemuda. Suro ingin mengucapkan sesuatu pada sosok cantik yang tidak ubahnya seperti bayangan tersebut. Tetapi sekarang untuk

menggerakkan mulutnya saja ia sudah tidak sang-

gup. Lebih aneh lagi secara perlahan akal dan fiki-rannya melemah. Seakan mengerti apa yang ada

dalam pikiran Pendekar Blo'on. Sosok Ratu Leak

berucap.

"Esok atau lusa kau tidak akan lagi sang-

gup mengingat masa lalu. Bahkan mengingat siapa

dirimu saja kau tidak sanggup. Hi hi hi" Sosok Ra-tu Leak tertawa terkekeh-kekeh.

"Bangsat betul, perempuan ini benar-benar

keparat luar dalam" maki Pendekar Blo'on. Sepanjang itu ia memang hanya dapat memaki meski-

pun hanya di dalam hati. Ratu Leak terus berpu-

tar-putar. Tampaknya ia hendak mengatakan se-

suatu. Namun pada waktu yang bersamaan ter-

dengar suara seseorang.

"Manusia Topeng Lihatlah Ketua adat, ga-

dis baju putih dan Pendekar bodoh mengapung di

udara... Eeh... apa itu?" teriak Wayan Tandira.

Laki-laki pendek bercelana hitam yang sela-

lu membawa kompeng dan ketapel sakti itu me-

lompat ke hadapan Wayan Tandira.

"Jangan dekati, sosok kabut yang mengeli-

lingi pemuda baju biru itu adalah manusianya

yang telah mengutuk seluruh penduduk Sange"

kata Manusia Topeng mengisiki.

Wayan Tandira tampak berusaha menahan

kemarahannya. Namun keadaan Ketua adat dan

pendekar Blo'on terlalu meresahkan hatinya.

"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya si gondrong.

"Yang tua buta dan gadis yang memakai ke-

rudung itu dalam keadaan kelenger berat. Sedang-

kan pemuda baju biru yang bego tampangnya ke-

lihatannya sudah hampir mati, tapi sekarang sa-

dar lagi. Sayang ia sudah berada dalam pengaruh

Ratu Leak. Kita datang terlambat, eeh... menurut

pendapatku sebaiknya kita selamatkan pemuda

baju biru itu. Sebab dialah yang paling diinginkan oleh Ratu Leak untuk melaksanakan ambisinya."

"Aku ingin merampas Batu Lahat Bakutuk

yang jadi sumber malapetaka itu" dengus Wayan Tandira.

"Hi hi hik... Selamat datang, sekarang ka-

lian menjadi tamuku. Setiap tamu harus disambut

dengan baik Nah... karena cuma pemuda ini yang

kuanggap punya guna. Maka sekarang aku harus

membawanya pergi ke tempat yang aman dari

jangkauan tangan-tangan usil"

"Cegah" teriak Wayan. Tanpa menunggu lebih lama laki-laki gondrong ini melompat. Pada

saat itulah sebuah pintu membuka, dari balik pin-

tu muncul sosok bayangan serba hijau. Sambil

menyambar Pendekar Blo'on dan Dewi Kerudung

Putih, Ratu Leak yang sesungguhnya menjentik-

kan jari tangannya.

Wuuut

Selarik sinar biru menyambar Wayan Tandira. Manusia akar mencoba lepaskan pukulan un-

tuk menghalau sinar panas berbau busuk terse-

but. Tapi gerakannya kalah cepat. Tahu-tahu sinar biru tersebut sudah menghantam tubuhnya. Dalam keadaan seperti ini terjadi keanehan. Dari

akar-akar yang membalut tubuh si laki-laki me-

mancar dengan sendirinya sinar hitam. Sinar aneh

yang keluar dari akar-akar sakti itulah yang ak-

hirnya menahan sinar biru yang melesat dari tan-

gan lawannya.

Terjadi benturan keras, Wayan Tandira

sempat terlempar. Ketika Manusia Topeng hendak

turun membantu. Ternyata Ratu Leak telah mem-

bawa lari Pendekar Blo'on dan Dewi Kerudung Pu-

tih.

"Hik hik hik Hadapilah bayanganku dan

pembantu-pembantuku yang masih berada di da-

lam Liang Lahat Bakutuk ini Selamat tinggal..."

terdengar suara Ratu Leak di kejauhan disertai

tawa panjang menggema.

Wayan Tandira cepat bangkit berdiri, lalu

terdengar suara makian menggeledek. "Bajingan betul, dendam dan rasa sakit hati yang lama saja

belum terbalaskan. Kini ia melarikan diri secara

pengecut" maki Wayan Tandira dengan perasaan kesal. Terlintas dalam ingatannya tentang siksaan yang dialaminya selama hampir tiga puluh tahun.

Ia pun sekarang menjadi geram, kini sosok bayan-

gan Ratu Leak yang terbentuk dari kabut itulah

yang menjadi sasaran.

"Kau manusia pengecut jahanam, meskipun

hanya tinggal bayangannya saja aku harus me-

musnahkanmu biar puas hatiku" teriak Wayan.

Tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke arah bayangan

Ratu Leak. Lalu tinjunya kanan kiri menghantam

ke depan. Rupanya Wayan sudah melepaskan pu-

kulan 'Belenggu'. Detik itu juga terlihat sinar putih melesat menghantam sosok Ratu Leak. Ketika pukulan itu menghantam lawannya. Ternyata sinar

putih terus menembus tubuh lawan dan kemudian

menghantam dinding di belakangnya.

Buuum

Ledakan keras sempat membuat lantai yang

mereka pijak bergetar. Manusia Topeng kerutkan

wajah di balik topengnya. Sedangkan sosok Ratu

Leak tertawa terbahak-bahak. Wayan Tandira ka-

tupkan bibirnya, untuk kedua kalinya ia mener-

jang. Kali ini kakinya menyapu, lalu tangan laku-

kan gerakan seperti memeluk. Tampak jelas terjadi keanehan. Dari akar-akaran yang membalut tubuh

si gondrong memijar sinar hitam. Sinar-sinar itu

melesat ke segala arah. Sosok bayangan keluarkan

jeritan kaget lalu menghindar. Akan tetapi sinar

yang tampak terpisah-pisah itu sekarang malah

saling menyatu di udara. Lalu dengan hebatnya

memburu bayangan Ratu Leak seakan ada kekua-

tan gaib yang menggerakkannya.

"Hiiiikk..."

Wuut

Wuuesss

"Sialan Perempuan keparat Dia telah me-

nipu kita mentah-mentah, Manusia Topeng" teriak Wayan Tandira. Karena Manusia Topeng hanya di-am saja. Maka melanjutkan. "Yang aku herankan,
kau cuma jadi penonton Manusia macam apa

kau...??" dengus si gondrong lagi.

Manusia Topeng gelengkan kepala. Kemu-

dian ia bicara seperti orang yang sedang bersair.

Pikir dalam diam itu adalah seribu kali lebih baik daripada harus bicara sia-sia tidak berguna Apa guna melayani bayangan?

Sedang jasad kasarnya telah pergi.

Banyak orang menjadi marah bila dikatakan

dirinya bodoh

Tapi kulihat kau melakukan sesuatu dalam

kebodohanmu

Jika bayangan Ratu Leak lenyap, mengapa

kau merisaukannya

Kelicikan hanya bisa dilawan dengan akal

sehat dan kepala dingin

Seribu akal hanya dapat dikalahkan dengan

seribu cara

Diamku karena memikirkan asal muasal ke-

jadian ini

Mengapa manusia dengan manusia jadi ma-

rah? Mengapa umat dengan umat menjadi benci?

Bukankah semua ini menarik?

Wayan Tandira langsung terdiam menden-

gar ucapan Manusia Topeng. Ia berusaha mema-

hami kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki ber-

topeng bocah itu. Tiba-tiba ia merasa seperti ada makna yang tersembunyi dalam setiap ucapan si

pendek.





"Orang tua, engkau berbahasa tinggi den-

ganku. Aku tidak tahu bagaimana rupamu, seka-

rang aku hanya berpegang pada petunjukmu un-

tuk menyelamatkan semuanya. Lalu apa yang ha-

rus kita lakukan?" tanya si gondrong sedemikian seriusnya.

"Berpegang pada kata-kata manusia bisa ce-

laka Orang berisi adalah orang yang berbudi.

Mengapa harus tergesa-gesa, sementara naluriku

mengatakan ada dua maut sedang mengintai" jawab Manusia Topeng.

Wayan Tandira cepat menoleh dan mem-

perhatikan sekelilingnya dengan cermat. Namun

sejauh itu tidak mendengar suara atau gerakan

mencurigakan. Dalam pada itulah Manusia Topeng

berseru.

"Tinggal lama di dalam Liang Lahat Bakutuk

hanya menghabiskan sisa umur dengan percuma.

Ratumu sudah melangkah menuju ke alam kebe-

basan, mengapa kalian masih tetap bertahan dis-

ini??" "Hik hik hik..." terdengar suara tawa sayup-sayup di kejauhan. "Orang tua bertopeng memakai kompeng, kuakui matamu awas sekali. Apa perlu-mu masuk ke sini, apakah ingin mencari mampus

seperti para pendahulumu?"

"Siapa?" tanya Wayan melalui ilmu mengirimkan suara.

"Menurut pengalamanku dan pengakuan

batinku orang tadi masih punya hubungan dekat

dengan Ratu Leak. Kurasa ia tidak akan betah

ngumpet dan berlama-lama dalam persembu-





nyiannya Tunggu saja" jawab Manusia Topeng melalui ilmu mengirimkan suara pula.

Sejenak lamanya kedua laki-laki ini saling

berpandangan. Tidak lama menunggu, Wayan me-

lihat sebuah bayangan merah berkelebat. Tahu-

tahu di depan mereka sekarang telah berdiri seo-

rang gadis berpakaian tipis merangsang. Wajah

gadis itu cantik menggiurkan. Senyumannya

membuat setiap laki-laki yang memandangnya

langsung kelepek-kelepek (karena sedemikian can-

tiknya dan menawan sekali). Gadis itu memperha-

tikan Manusia Topeng dan Wayan Tandira dengan

tatapan memikat tapi meremehkan.

"Atas perintah siapa kalian berani masuk ke

sini?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Mustika Jajar.

Wayan tidak menyahut, sebaliknya malah

berpaling ke arah Manusia Topeng. Seakan ia ber-

harap manusia aneh dan yang tahu berbagai hal

agar bicara.

"Wayan Tandira manusia akar Makhluk

cantik yang berdiri di hadapan kita ini bukan la-

wanku. Kurasa ia sepadan berhadapan dengan-

mu." ujar Manusia Topeng.

"Mengapa harus aku, orang tua?"

"Ya, orang muda berhadapan dengan orang

muda. Sedangkan aku sebentar lagi tentu ada tu-

gas baru yang harus kukerjakan" jawab Manusia Topeng disertai tawa mengikik.

"Mengapa harus satu menghadapi aku. Pa-

dahal aku punya keinginan untuk mengirim kalian

ke neraka Hik hik hik..." dengus si gadis.





Jika Wayan Tandira menjadi gusar menden-

gar ucapan Iblis Betina Dari Neraka, sebaliknya

Manusia Topeng tertawa tergelak-gelak. "Kau terlalu serakah, gadis cantik. Wajahmu memang lu-

mayan bagus, kurasa bagian-bagian lain sama ba-

gusnya. Sangat disayangkan, jalan pikiranmu se-

jahat iblis dan hati nuranimu seburuk wajah se-

tan. Jangan kau terlalu serakah dalam menghada-

pi musuh Aku yang hidup dua abad ingin melihat

bagaimana kehebatan Manusia Akar setelah men-

dapat tambahan kesaktian baru" kata Manusia Topeng, lalu ia menoleh dan berkata ditujukan pa-da Wayan Tandira. "Hayo tunggu apa lagi anak negeri Silakan kalian saling berbetot-betotan Ha ha ha..." "Tua bangka keparat" maki Mustika Jajar sengit. Seraya dengan cepat sekali lepaskan pukulan 'Tusukan Jari Penghantar Maut'.

Wuut

Sekali gadis itu kibaskan jari tangannya ke

arah Manusia Topeng. Sinar hitam membakar me-

lesat ke depan. Manusia Topeng tertawa ganda.

Sekejap saja tubuhnya lenyap dari pandangan ma-

ta. Maka serangan yang dilancarkan oleh Iblis Be-

tina Dari Neraka tidak mengenai sasarannya. Si

gadis terkesiap, ketika memandang ke samping

maka terlihatlah olehnya Manusia Topeng telah

berdiri bertolak pinggang.

"Jahanam..." maki Mustika. Ia hendak melepaskan pukulan lagi. Namun niatnya itu urung

karena dari arah samping melesat sinar hitam.

Ternyata Wayan Tandira melepaskan pukulan Be-





lenggu ke arahnya. Jika saja Iblis Betina Dari Neraka tidak cepat melompat mundur sambil ber-

jumplitan, niscaya tubuhnya sudah hangus ter-

hantam pukulan yang dilepaskan oleh lawannya.

"Sudah kukatakan yang muda harus ber-

hadapan dengan yang muda Mengapa masih se-

rakah juga?" celetuk Manusia Topeng.

"Benar seperti apa yang dikatakan oleh

orang tua bertopeng bocah itu. Jika kau memang

masih punya hubungan tertentu dengan Ratu

Leak. Maka kau termasuk pantas jika mati duluan

menggantikannya"

"Huuup"

Tanpa menimbulkan suara sedikit pun

Mustika Jajar tiba-tiba saja melakukan gerakan

berputar.

Tubuhnya melesat ke udara, lalu meluncur

ke bawah dengan tinju terkepal menghantam ke-

pala dan dada Wayan Tandira. Terdengar suara

angin bersiut disertai menebarnya hawa panas

menyengat.

Wayan mengguman tidak jelas dan cepat

lindungi kepalanya. Sementara bagian tubuh lain-

nya dibiarkan terbuka. Dengan demikian tentu sa-

ja benturan pun tidak dapat dihindari lagi. Wayan sempat terhuyung-huyung, saat itu juga tanpa

pernah diduga-duga oleh lawannya dari akar-

akaran yang membalut tubuh Wayan begitu ter-

bentur tangan Mustika langsung memancarkan

sinar hitam dengan sendirinya.

Chaar...

"Aih..." Iblis Betina Dari Neraka langsung





memekik ketika melihat sambaran sinar secepat

kilat. Beruntung ia masih sempat membanting tu-

buhnya dengan gerakan yang sulit diikuti kasat

mata. Walau pun begitu bagian bahunya masih

sempat tersambar sinar berhawa panas itu sehing-

ga selain bajunya robek, kulitnya yang mulus pun

melepuh.

"Puih, bangsaaat" maki si gadis sambil meludah. Manusia Topeng bertepuk tangan sambil

berjingkrak-jingkrak. Wayan Tandira sudah tidak

lagi menghiraukan tingkah aneh laki-laki berumur

dua ratus tahun ini. Kakinya bergeser, tangan ka-

nan diangkat ke udara, sedangkan tangan kiri

berputar dua kali. Sadar akar-akar itu menjadi pelindung sekaligus kesaktian bagi dirinya, maka selain melakukan serangan baru sekarang Wayan

khusus melindungi bagian leher sampai kepala

yang tidak terlindung akar-akar sakti itu.

Sayang serangan kedua yang hendak dila-

kukan oleh kepala negeri Sange ini juga didahului oleh Mustika Jajar. Gadis itu lepaskan pukulan

'Neraka Perut Bumi'. Suasana di dalam ruangan

luas terasa panas luar biasa. Wayan tidak tinggal diam. Tetapi dengan tenaga sakti yang tersimpan

dalam akar-akar yang menyelimuti dirinya itu be-

gitu terasa adanya perubahan udara di sekeliling-

nya langsung memijarkan cahaya. Bukan hanya

pada bagian-bagian tertentu di tubuh Wayan Tan-

dira. Melainkan di seluruh tubuh si gondrong yang terbalut akar-akaran memancarkan cahaya hitam.

Hingga sosok Wayan tidak terlihat lagi terselubung sinar hitam tersebut.





Tum Tuum Tuuum

Terdengar suara ledakan di sana sini. Dua-

duanya sama menjerit ketika kedua serangan yang

mereka lancarkan bertubrukan di udara. Wayan

sempat terjajar, sedangkan Iblis Betina Dari Nera-ka terguling-guling dengan mulut menyemburkan

darah. "Hmm..." Manusia Topeng mengguman sambil gelengkan kepala. "Hebat sungguh hebat.

'Neraka Perut Bumi' pastilah pukulan warisan Ra-

tu Leak, tapi akar-akar sakti itu juga sebuah pe-

lindung yang cukup baik Lho... siapa itu yang datang??" seru si pendek bersenjata Ketapel Sakti dan tidak pernah meninggalkan kompengnya ini

sambil pentang mata lebar-lebar. Kedua orang

yang sedang terlibat pertempuran ini sama sekali

tidak menghiraukannya. Malah kini mereka sudah

berdiri kembali dengan posisi siap bertempur matimatian.





ENAM


Kita tinggalkan dulu mereka yang terlibat

pertempuran sengit itu. Sementara di depan Ma-

nusia Topeng sekarang telah berdiri sesosok tubuh berkulit hitam legam berwajah seperti monyet besar. Di atas kepala makhluk mengerikan ini tum-

buh sebuah tanduk dengan panjang kurang lebih

dua jengkal dan berwarna merah menyala.

"Ggrrrkh..."

"Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya?"





desis Manusia Topeng. "Tidak ada satu kekuatan pun yang mampu memusnahkannya Kalau pun

aku mengerahkan segala kesaktian yang aku mili-

ki, tanpa pernah kuketahui di mana titik kelema-

hannya rasanya apa yang kulakukan hanya sia-sia

saja. Satu-satunya cara hanyalah dengan mene-

mui Malaikat Pencatat Asal Usul. Artinya aku dan

pemuda itu harus meninggalkan Liang Lahat Ba-

kutuk ini secepatnya"

"Grook Grooouukh"

Makhluk hitam bertaring ini kembali men-

geluarkan suara aneh menyeramkan. Dalam pada

itulah di tengah-tengah pertempuran yang sengit

terdengar suara teriakan Mustika Jajar ditujukan

pada Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. "Jangan kau biarkan Manusia Topeng itu meloloskan diri

begitu saja. Dia musuh Ratu Leak, oleh karenanya

kau dan aku punya kewajiban untuk membunuh-

nya Kau dengar... membunuhnya..."

'Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya' yang

bang-kit dari perut bumi akibat pengaruh kekua-

tan Batu Lahat Bakutuk menggeram panjang. Ti-

ba-tiba saja ia menerkam Manusia Topeng. Laki-

laki itu sama sekali tidak mencoba menangkis me-

lainkan menghindar dengan salto panjang ke bela-

kang. Serangan makhluk hitam tinggi ini luput.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya semakin

bertambah murka. Dalam kemarahannya itu terli-

hat dengan jelas tanduk yang tumbuh di atas ke-

palanya semakin bertambah merah membara dan

memancarkan cahaya berpedar-pedar.

"Hraa..."





Makhluk hitam itu menerjang kembali. Tan-

gannya menghantam ke bagian pinggang. Manusia

Topeng dengan cepat sekali berkelit menghindar.

Seraya kemudian lepaskan pukulan menggeledek

ke arah lawan. Karena serangan ini sangat cepat

maka makhluk hitam tersebut tidak sempat lagi

menghindar. Terjadi dentuman keras, sosok men-

gerikan itu pun jatuh terpelanting. Ia menggeram, secepat kilat bangkit lagi tanpa mengalami cedera apa-apa Manusia Topeng kerutkan keningnya. La-lu ia lepaskan pukulan 'Bintang Terbelah' untuk

mengakhiri perlawanan Sang Pelucut Segala Ilmu

Segala Daya. Namun pada kesempatan itu pula

sebuah keanehan terjadi. Dari tanduk di atas ke-

pala makhluk itu menderu sinar merah yang lang-

sung melesat ke arah Manusia Topeng. Sinar itu-

lah yang kemudian melabrak musnah pukulan

'Bintang Terbelah' yang dilepaskan oleh Manusia

Topeng bahkan kelihatannya sinar merah terus

menderu menerjang lawan dengan kekuatan berli-

pat-lipat. Sadarlah orang tua sakti ini bahwa makhluk hitam tersebut bermaksud merampas ji-

wanya. Orang ini memekik panjang, tubuhnya me-

lesat ke langit-langit ruangan.

"Ketapel Sakti Pembelah Bumi" desis Manusia Topeng. Tiba-tiba saja ia merenggut lepas

ketapel yang bergelantungan di dadanya. Ketapel

itu dikibaskan ke belakang sekali, ke samping ka-

nan dan kiri sekali baru kemudian dihantamkan-

nya ke depan dengan tenaga dalam penuh.

Untuk pertama kalinya Sang Pelucut Segala

Ilmu Segala Daya dibuat kaget bukan kepalang





disaat dari dua cabang ketapel tersebut memancar

sinar putih laksana mutiara bertaburan. Dua sinar itu menghantam sinar merah yang keluar tiada

putus-putusnya dari tanduk makhluk ini.

Buuuuummm

"Selamatkan dirimu, Wayan Tandira" teriak Manusia Topeng ketika melihat dari bagian tanduk

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sinar merah

terus menghantam secara ngawur apa saja yang

terdapat di sekelilingnya. Langit-langit ruangan

runtuh. Liang Lahat Bakutuk amblas sejauh dan

seluas seratus tombak ke kiri, ke samping kanan

dan seratus tombak ke bagian-bagian lainnya.

Wayan dan Manusia Topeng tanpa menghi-

raukan lawan-lawannya terus menerobos longso-

ran tanah yang menimbun mereka. Apa yang dila-

kukan oleh Wayan Tandira tidak mungkin menda-

tangkan hasil karena tanah yang menimbun mere-

ka berlapis-lapis. Jika tidak Manusia Topeng per-

gunakan Ketapel Sakti Pembelah Bumi untuk me-

nerobos gumpalan-gumpalan tanah yang meng-

himpit mereka. Dalam pada itu Manusia Topeng

tetap mencekal tangan kiri Wayan, sedangkan tan-

gan kanan memegang erat Ketapel itu sambil ber-

putar-putar. Terbentuklah sebuah lubang sebesar

badan orang dewasa akibat hantaman teratur ke-

tapel di tangan Manusia Topeng. Begitu mereka

sampai di atas Liang Lahat Bakutuk yang runtuh

itu, kira-kira sejauh seratus tombak tampak pe-

mandangan lain yang sangat mengagumkan.

Wayan Tandira terperangah, sedangkan wajah di

balik topeng melongo.





Mereka melihat seekor kuda berbulu putih,

kuda raksasa yang tingginya menjulang ke langit.

Di atas kuda raksasa itu duduk sosok tubuh yang

kelihatan sangat kecil. Perbandingan kuda dengan

penunggangnya tidak beda dengan seekor lalat

yang menempel di atas punggung kerbau. Rasanya

seumur hidup Manusia Topeng takkan pernah dan

belum pernah melihat kuda sebesar dan setinggi

itu. "Aku Datuk Nan Gadang Paluih Kalian berdua cepatlah kemari Putih Kaki Langit kuda gaib-

ku ini siap membawa kalian menjauhi Sang Pelu-

cut Segala Ilmu Segala Daya Kita harus mengejar

Ratu Leak" Ternyata yang duduk di atas kuda yang dapat berubah meninggi sesuai dengan namanya itu tidak lain adalah Datuk Nan Gadang Pa-

luih. "Mereka tertimbun longsoran tanah Mustahil dapat keluar" sahut Wayan Tandira penuh rasa percaya diri.

Manusia Topeng yang berada di sebelahnya

bicara lugas. "Jangan bodoh Gadis yang menye-rangmu itu bisa saja mampus, tetapi Sang Pelucut

Segala Ilmu Segala Daya mana mungkin binasa, ia

bangkit dari dalam perut bumi, tentu membe-

baskan diri dari timbunan tanah merupakan pe-

kerjaan yang sangat mudah sekali"

Wayan kelihatan ragu-ragu, dalam pada itu

pula terdengar suara menggemuruh tidak jauh di

belakang mereka. Serentak mereka menoleh.

"Heh... benar kataku Lihat dia keluar dari

tanah dengan membawa gadis mesum itu Lari...





lari kataku..." teriak Manusia Topeng. Jika laki-laki pendek berumur dua abad dan punya berba-

gai macam kesaktian dan punya penglihatan batin

yang tajam ini saja tidak mau menghadapi sosok

hitam itu, apalagi dirinya. Tanpa menunggu lebih

lama lagi, Wayan ikut berlari mendapatkan kuda

yang menunggu mereka di tepi Liang Lahat Baku-

tuk yang telah runtuh.

"Kita kejar mereka, sahabatku" teriak Mustika Jajar ketika melihat kedua lawannya berusaha melarikan diri. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala

Daya dengan langkah lebar-lebar ikut melakukan

pengejaran. Jarak mereka tidak bertaut jauh. Da-

tuk Nan Gadang Paluih segera mengibaskan Ang-

kin Pelebur Petaka. Angkin berubah memanjang.

"Naik kalian melalui angkin ini" teriak laki-laki berpakaian putih selempang putih ini. Tidak

lama setelah Wayan dan Manusia Topeng berge-

lantungan di atas angkin, Datuk Nan Gadang Pa-

luih segera menyentakkan angkin tersebut ke atas.

Dua sosok tubuh tampak melayang di udara, dari

arah bawah terdengar suara menggeram disertai

meluncurnya dua larik sinar merah ke arah Wayan

dan Manusia Topeng. Kuda Putih Kaki Langit me-

ringkik keras sambil melompat menghindar. Sekali

kuda gaib ini mengayunkan langkahnya, maka ra-

tusan batang tombak jarak terlewati.

Dengan demikian praktis serangan yang di-

lakukan oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala

Daya tidak mengenai sasaran. Datuk Nan Gadang

Paluih mengarahkan kudanya ke arah selatan. La-

lu bagaimana tokoh dari Andalas ini tiba-tiba saja





sudah berada di atas kuda tunggangannya kemba-

li? Untuk diketahui, ketika berada di dalam Liang Lahat Bakutuk, Datuk Nan Gadang Paluih tidak

berhasil menemukan Suro maupun Dewi Keru-

dung Putih dan Si Buta Mata Kejora. Ia malah ter-

sesat ke tempat-tempat penyiksaan. Setelah cukup

lama melewati ruangan-ruangan yang tidak ubah-

nya seperti neraka buatan itu. Tiba-tiba Datuk

Nan Gadang Paluih mendengar suara Putih Kaki

Langit sebagai isyarat bahwa binatang tunggangan

yang berasal dari alam gaib itu melihat sesuatu.

Maka laki-laki berambut putih ini pun keluar

kembali dari Liang Lahat Bakutuk. Saat itu ia me-

lihat sosok bayangan berlari kencang dengan me-

manggul seorang pemuda berbaju biru. Datuk

Nan Gadang Paluih memerintahkan kudanya un-

tuk memperbesar ujudnya agar mudah melakukan

pengejaran. Datuk ini rupanya menduga orang

yang melarikan diri itu tidak lain adalah Ratu

Leak. Sayang sebelum ia sempat berbuat sesuatu,

tiba-tiba saja ia mendengar suara bergemuruh dis-

ertai dentuman-dentuman. Tanah di sekitar mulut

Liang Lahat tiba-tiba runtuh. Sadarlah orang ini

kemungkinan apa yang terjadi di bawah sana. Se-

hingga ia pun menunggu untuk memastikan apa

yang terjadi di bawah sana. Sehingga ia pun me-

nunggu untuk memastikan apa yang terjadi. Ter-

nyata yang muncul pertama adalah Manusia To-

peng dan Wayan Tandira.

Pada waktu itu kuda terus berlari menjauhi

Liang Lahat Bakutuk yang sudah porak peranda.

Wayan Tandira yang takut pada ketinggian tidak





pernah melepaskan pegangannya dari bulu-bulu

kuda yang dicengkeramnya. Dalam kesempatan itu

pula Manusia Topeng yang duduk di samping Da-

tuk Nan Gadang Paluih bertanya.

"Tinggi kudamu menjulang ke langit. Ba-

gaimana kau bisa memiliki kuda seaneh ini?"

Datuk Nan Gadang Paluih memandang ke

depan dengan tatapan mata liar mencari-cari.

"Bertanya tentang asal usul kuda tidaklah penting untuk saat ini. Yang merisaukan aku Ratu Leak

pergi meninggalkan Liang Lahat Bakutuk dengan

membawa Batu sakti dan juga Pendekar dari ta-

nah Jawa. Aku juga melihat ia membawa Dewi Ke-

rudung Putih. Aku risau, dengan batu di tangan-

nya, ia akan berbuat sesuatu yang sangat keji pa-

da Pendekar Bodoh dan gadis itu"

"Oh, celaka Kalau begitu ketua adat, Si Bu-

ta Mata Kejora yang tidak sadarkan diri itu seka-

rang tertimbun tanah Liang Lahat Bakutuk yang

runtuh. Mengapa aku sampai tidak ingat dengan

nasibnya?" keluh Wayan Tandira seakan menye-

salkan. "Kau sendiri hampir mampus Bagaimana aku bisa menolong dua orang sekaligus??" gerutu Manusia Topeng.

"Hmm, sekarang yang menjadi persoalan

bukan hanya nasib Pendekar Bodoh dan gadis

berkerudung itu. Ratu Leak kurasa memiliki ambi-

si tertentu, selain itu mengingat Batu Lahat Bakutuk masih berada di tangannya. Kita tidak mung-

kin mampu mengusiknya. Sang Pelucut Segala Il-

mu Segala Daya juga merupakan ancaman tersen-





diri bagi kita. Semua kesaktian yang kita miliki bi-sa terkuras habis bila ia sudah turun tangan. Kita harus tahu bagaimana caranya memusnahkan

makhluk hitam itu" Datuk Nan Gadang Paluih

menimpali.

Manusia Topeng tengadahkan wajahnya ke

langit. Lalu terdengar suara tawa cekikikan di balik topengnya. Begitu suara tawa lenyap. Ia bicara dalam kalimat-kalimat panjang seperti orang yang

melantunkan tembang di padang duka yang sunyi.

Waktu terus bergulir

Ada muara pasti karena malu

Adakah kehidupan pernah terputus??

Aku adalah aku, bukan kau, kamu atau ne-

nekku Sekarang ada simpang dua jalan

Aku bingung tentukan arah

Duhai sahabat....

Masihkah jantungmu berdenyut?

Masihkah dadamu menyegarkan durahmu?

Malaikat Pencatat yang berada di antara an-

gin-angin

Dalam lubang angin, dalam botol, dalam pe-

rut dalam nafas dan dalam segala yang hidup dan mati Datanglah, jangan kau tahan-tahan daripada panas dingin

Nanti jika kau tidak suka akan kupulangin

Malaikat Pencatat,....

Segala sejarah masa lalu

Aku memerlukanmu





Datang...

Datang bersama angin

Aku Manusia Topeng memanggilmu

Wayan Tandira memandang Manusia To-

peng dengan perasaan tidak mengerti dan benak

dipenuhi tanda tanya.

"Orang gila ini sesungguhnya bicara dengan

siapa?" batinnya. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Paluih merasakan adanya sesuatu yang aneh, sehingga secara tiba-tiba ia menarik kekang kendali kuda. Gerakan mendadak ini membuat Wayan dan

Manusia Topeng hampir terpelanting.

"Ha ha ha Kuda gaib ini tingginya seperti

hendak menggapai langit. Jika kita sampai jatuh,

paling tidak mampus dan jadi arwah gentayangan

sungguh.,." celetuknya.

Wayan tidak lagi sempat menanggapi, kare-

na detik itu juga terdengar suara angin menderu-

deru. Pohon-pohon batu di sekeliling mereka ber-

tumbangan bahkan ada yang tercabut sampai ke

akar-akarnya.

"Ada apakah ini?" tanya Wayan Tandira

sambil berpegangan erat pada bagian bulu Si Putih Kaki Langit. Sementara deru angin semakin lama

semakin bertambah keras.

"Kau lihatlah ke arah depan sana" seru Datuk Nan Gadang Paluih sambil menunjuk ke arah

depan dengan tatapan terkagum-kagum. Saat

Wayan Tandira melihat ke arah yang dimaksud, ia

menyaksikan bayangan kuning berputar-putar se-

perti gasing. Bayangan itu datang bersama pusa-





ran angin yang memporak perondakan apa saja

yang dilaluinya.

"Dia datang... Ha ha-ha Ternyata ia masih

ada, padahal sudah hampir tujuh puluh tahun

kami tidak bertemu" desis Manusia Topeng. Selanjutnya ia berteriak dengan suara keras dituju-

kan pada sosok serba kuning yang datang bersa-

ma pusaran angin tersebut.. "Selamat datang sahabat lama Tapi hentikanlah kegilaanmu itu La-

ma kita tidak berjumpa, ternyata kau semakin ber-

tambah gila Ha ha ha..."

Pusaran angin yang menderu-deru bahkan

sempat membuat goyah Si Putih Kaki Langit mulai

mereda berangsur-angsur. Bukan hanya Wayan

Tandira saja yang kagum melihat kehebatan yang

dimiliki oleh Manusia Topeng. Tetapi tokoh Anda-

las yang juga pernah mendengar tentang siapa

adanya Malaikat Pencatat sampai terperangah.

Dulu sekali ia memang pernah mendengar adanya

seorang tokoh aneh yang hidup di antara angin

yang punya kebiasaan mencatat segala sesuatu

yang terjadi di rimba persilatan. Ia terkadang

muncul tanpa sepengetahuan orang lain di tengah-

tengah badai yang menggila atau pun diantara to-

pan yang sedang mengamuk melanda suatu dae-

rah. Ia dapat datang dan pergi tanpa disangka-

sangka gerakannya secepat angin. Itu sebabnya ia

dijuluki Malaikat Pencatat oleh kalangan persila-

tan dimasa itu. Meskipun ilmunya tinggi sulit dijajaki, konon tokoh yang satu ini tidak pernah ber-

kelahi. Kemana pun ia pergi selalu membawa kulit

untuk mencatat. Kabarnya pula sepuluh orang





kuat sekalipun tidak mungkin sanggup memikul

kitab-kitab catatannya yang ia buat selama adanya rimba persilatan.

Kini angin benar-benar mereda, di depan

ketiga orang yang berada di atas punggung Si Pu-

tih Kaki Langit telah berdiri seorang laki-laki berpakaian kuning keemasan dan gemerlap. Melihat

raut wajahnya paling ia baru berumur sekitar tiga puluh tahunan. Padahal umur yang sebenarnya

tidak kurang dari tiga ratus lima puluh tahun atau bahkan lebih.

"Sahabatku kecil Kau memanggilku? Ada-

kah sesuatu yang merisaukan hatimu?" tanya laki-laki berpakaian kuning gemerlap ini tanpa senyum

"Bingung... aku bingung, orang-orang bin-

gung. Tidakkah kau lihat apa yang ada di dalam

hati dari kepalaku?" tanya Manusia Topeng. Laki-laki ini lalu menjura hormat. Wayan dan Datuk

Nan Gadang Paluih mengikuti. Malaikat Pencatat

anggukkan kepala atas penghormatan mereka.

"Kalian duduk di atas punggung binatang

kehormatan alam gaib. Yang aku tahu wahai sa-

habat kecil Dalam kepalamu terdapat akal, di da-

lam hatimu terdapat nafsu dan nurani yang suci.

Lalu catatan yang mana yang ingin kau lihat dan

tanyakan wahai sahabat kecil?" tanya Malaikat Pencatat.

"Aku sudah tua, pikiranku mulai luntur

mendekati pikun. Gigiku berpamitan satu-satu,

apa yang aku miliki mulai permisi, penglihatan

berkurang, mata lamur. Tidak ada yang bertambah

terkecuali uban di kepala, orang tua sepertiku ra-





ta-rata besar merajuknya (ambeknya). Malaikat

Pencatat, kurasa dalam catatannya ada tertulis

tentang Sange tanah kutukan. Sudah tiga puluh

tahun yang lalu. Apakah kau tahu sebab apa ma-

nusia seperti Ratu Leak menjadi marah dan men-

gumbar angkara murka membabi buta?" tanya

Manusia Topeng.

Malaikat Pencatat terdiam. Ia turunkan

buntalan besar yang selalu dibawanya dimana pun

dia pergi. Buntalan itu berukuran sangat besar, ti-ga kali lebih besar dari ukuran dan besar badan

pemiliknya.

"Sebelum aku bicara dan membacakan apa

yang ada dalam catatanku, aku meminta pada

orang yang bergelar Datuk Nan Gadang Paluih su-

di kiranya membuat Putih Kaki Langit sebesar dan

setinggi kuda biasa" ujar Malaikat Pencatat setengah memerintah.

Datuk Nan Gadang Paluih sempat kaget ju-

ga karena tidak menyangka bahwa Malaikat Pen-

catat mengetahui siapa dirinya dan tahu pula sia-

pa Si Putih Kaki Langit.

Kalau pun begitu ia cepat mengusap teng-

kuk dan telinga Putih Kaki Langit, sehingga hanya dalam waktu sekedipan mata saja kuda alam gaib

itu berubah memendek dan mengecil sehingga be-

sarnya seukuran kuda biasa pada umumnya.


TUJUH

Manusia Topeng melompat turun dari atas

punggung kuda. Ia memandang ke arah Malaikat

Pencatat dengan perasaan tidak sabar.

"Sebelum aku mengatakan apa yang aku tu-

lis dalam kitab kulit ini. Harap kalian semua pu-

satkan perhatian dan pasang telinga baik-baik"

pinta laki-laki berpakaian kuning keemasan itu

tanpa senyum. Ketiga laki-laki di sekelilingnya

anggukan kepala tanpa kata. Malaikat Pencatat

kemudian membolak balik halaman kulit yang

sangat tebal dan tentu saja sangat berat tersebut.

Laki-laki itu kemudian memulai. "Menurut catatanku, yang namanya Ratu Leak itu adalah gelar

setelah dua puluh tahun belakangan. Aku akan

membuka catatan lain setelah halaman ini" ujar Malaikat Pencatat. Kitab catatan pertama ditutup-nya. Kemudian ia mengambil sebuah kitab lain

yang sudah butut dan sedikit ada jamurnya. "Ratu Leak menurut catatan yang benar mempunyai sepuluh nama dan julukan samaran. Ia terlahir den-

gan nama Pamungkur Walikandi sekitar enam pu-

luh tahun yang silam. Ayahnya bernama Menggolo

Tirto Joyo Negoro Caplok Nogo Ora Opo Hilang da-

lam badai laut Utara. Ibunya Srikanti Waratiri,

meninggal terserang penyakit kotor. Ia adalah mu-

rid seorang tokoh sesat di daerah Muara Randu

Condong. Ilmu serta jurus-jurus silatnya cukup

hebat. Sayang hatinya culas dan sangat kejam. Di

waktu muda ia pernah jatuh cinta dengan seorang

laki-laki dari gunung Mahameru bernama Barata

Surya. Ia begitu tergila-gila sampai-sampai ia ber-





sedia meninggalkan kesesatan dan berani durhaka

pada gurunya sendiri. Persoalannya kemudian

menjadi tidak jelas. Ketika Pamungkur Walikan ini siap menjadi isteri tokoh dari gunung Mahameru

itu. Pihak laki-laki yaitu Barata Surya membatal-

kan perkawinan, hingga terjadilah pertempuran

sengit. Dalam pertempuran itu ternyata Pamung-

kur Walikandi kalah. Ia melarikan diri dengan

membawa rasa putus asa dan malu yang menda-

lam. Dalam keputusasaannya itu ia tidak berani

kembali pada gurunya. Pamungkur Walikandi ber-

temu dengan seorang pemuda lain bernama De-

wana. Pemuda baik hati ini menasehatinya agar

jangan mengambil jalan pintas. Nasehat-nasehat

yang diberikan oleh Dewana diartikan oleh Pa-

mungkur Walikandi sebagai isyarat bahwa pemuda

itu menyukainya. Lebih kurang enam purnama

tinggal berdampingan dengan Dewana, suatu hari

Pamungkur Walikandi berterus terang pada Dewa-

na bahwa dirinya jatuh cinta pada pemuda itu.

Malangnya ternyata secara halus Dewana menolak

pernyataan Pamungkur Walikandi. Gadis ini se-

makin bertambah sakit hati? Ingin melawan atau

mengajak Dewana bertarung, jelas kepandaiannya

kalah jauh. Ia kembali melarikan diri ke tanah Andalas setelah gagal meracuni Dewana. Ia melan-

glang buana di tanah Andalas mencari ilmu kesak-

tian untuk membalas dendam. Sampai kemudian

ia mendengarkan tentang sebuah batu mukjizat

yang diberi nama Batu Lahat Bakutuk. Ia mencari-

cari ke sana ke mari siapa gerangan pemilik batu

sakti tersebut. Hingga kemudian ia merasa pasti





pemilik batu itu tinggal di Ngarai Sianok. Pada suatu kesempatan ketika pemiliknya lengah ia pun

mencurinya. Dari sana ia melarikan diri ke Sange

ini, hingga terjadilah apa yang telah kalian saksikan" jelas Malaikat Pencatat.

Datuk Nan Gadang Paluih maju selangkah.

"Akulah pemilik Batu Lahat Bakutuk, batu tersebut warisan dari kakekku Engku Raja Alam Nan

Bana." kata laki-laki berbaju putih selempang putih mengakui.

"Jika pernyataanmu benar, berarti kedatan-

ganmu ke sini adalah untuk mengambil kembali

Batu Lahat Bakutuk itu." Malaikat Pencatat menanggapi. "Sayang menurut catatanku persoalannya tidak semudah itu. Batu Lahat Bakutuk bu-

kan saja hanya sekedar batu sakti yang mengan-

dung berbagai kegaiban. Ia juga hanya dengan

ucapan-ucapan tertentu dapat membangkitkan

beberapa benda hidup dan membuat benda-benda

yang hidup menjadi patung. Jadi kekuatan yang

membuat penduduk Sange ini menjadi patung ba-

tu bukan semata-mata karena Ratu Leak, melain-

kan Batu Lahat Bakutuk ikut berperan"

"Sahabatku Kukira catatanmu tidak mele-

set, satu hal yang perlu aku ketahui. Apakah Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya tidak dapat dibunuh? Kalau pun dapat di manakah terletak titik

kelemahannya?" tanya Manusia Topeng.

Untuk pertama kalinya Malaikat Pencatat

tersenyum. Senyum samar jika mata yang tidak

awas bisa menafsirkan bahwa laki-laki berpakaian

serba kuning ini sedang menderita sakit mejan.





"Sahabat kecil Kau memiliki ilmu serta ke-

saktian segudang, terkadang aku sesalkan jalan

pikiranmu terlalu tumpul mendekati bodoh. Sang

Pelucut Segala Ilmu Segala Daya tidak mungkin

dapat dibunuh oleh siapapun. Makhluk itu berasal

dari dalam perut bumi. Kebangkitannya karena

Batu Lahat Bakutuk itu juga..." jelas Malaikat Pencatat. Sayang Manusia Topeng merasa kurang

puas mendengar penjelasan sahabatnya.

"Kurasa apa yang kau katakan barusan ter-

lalu ngawur dan melenceng dari catatanmu. Menu-

rutku sesakti apa pun manusia di jagat ini pasti

punya kelemahan. Adalah sesuatu yang mustahil

jika Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sang

makhluk jelek itu tidak punya kelemahan. Hayo

buka lagi catatanmu atau kau hanya mencatat as-

al usul makhluk itu tanpa mengetahui kesaktian

dan kelemahannya" ejek Manusia Topeng seperti anak kecil yang sedang meledek temannya. Malaikat Pencatat sama sekali tidak menanggapi, ia

membolak balik halaman kulit setebal dua jengkal

di tangannya.

"Hmm, disini, sesuai dengan catatanku.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya selalu me-

musnahkan kesaktian dan tenaga dalam orang

lain itu punya titik kelemahan pada tanduk di ke-

palanya. Tanduk yang memancarkan sinar merah

itulah yang merupakan kehidupan baginya dan

tanduk itu pula yang menjadi kehancuran orang

lain" jelas Malaikat Pencatat.

Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tan-

dira tercengang mendengar penjelasan laki-laki





berpakaian kuning keemasan tersebut. Sebaliknya

Manusia Topeng tertawa terpingkal-pingkal sambil

pegangi perutnya.

"Sahabat kecil, adakah yang kau anggap lu-

cu dengan apa yang aku baca ini?" Pertanyaan Malaikat Pencatat membuat Manusia Topeng henti-

kan tawa dan tutup mulut topengnya.

"Aku tertawa karena gembira, aku seperti

baru habis mimpi kejatuhan bintang kejatuhan

bulan, kemudian kejatuhan durian"

"Dan engkau langsung mampus, Manusia

Topeng" celetuk laki-laki berpakaian serba kuning.

"Bukan itu maksudku Aku senang karena

biar bagaimana pun sebelum main-main dengan

Ratu Leak, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya

harus kumati'in dulu Aku benci melihat makhluk

itu. Tatapan matanya sama sekali tidak bersaha-

bat" dengus Manusia Topeng.

"Satu hal jangan kau lupa, jika kau patah-

kan tanduk di kepala makhluk itu jangan kau

buang, karena sahabatmu seperti Pendekar Blo'on,

Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora jika

masih hidup memerlukan benda itu"

"Apakah Pendekar Bodoh itu ingin punya

tanduk juga? Ha ha ha... Padahal tanduknya yang

di bawah pun belum pernah digunakan" sahut

Manusia Topeng seenaknya. Wayan dan Datuk

Nan Gadang Paluih terpaksa menahan senyum.

"Bukan itu maksudku, nanti kalian semua

yang berada di sini akan tahu juga. Sekarang tidak usah membuang-buang waktu Jika boleh aku

memberi saran, Datuk Nan Gadang Paluih dan





Wayan Tandira cepat kejar Ratu Leak Sedangkan

Manusia Topeng tunggulah di sini, kurasa tidak

lama lagi Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya

sudah menyusul..."

"Engkau sendiri hendak ke mana? Bukan-

kah lebih baik bersama-sama denganku disini?

Kau bisa melihat tontonan gratis, lagipula rasa

rinduku padamu belum hilang" berkata Manusia Topeng disertai tawa.

Malaikat Pencatat gelengkan kepala.

"Tidak Aku harus pergi, tugasku di dunia

ini masih sangat banyak sekali Selamat tinggal."

jawab laki-laki berpakaian serba kuning itu. Se-

raya tengadahkan wajahnya ke langit, bibir orang

ini berkemik-kemik. Tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan, angin seketika itu juga menderu-deru. Malaikat Pencatat hanya dalam waktu sekejap saja telah lenyap dari pandangan mereka yang berada di

tempat itu.

"Sekarang segalanya sudah menjadi jelas.

Kepada saudara Datuk Nan Gadang Paluih dan

Wayan Tandira, sebaiknya lakukanlah apa yang

disarankan oleh Malaikat Pencatat." ujar Manusia Topeng lirih.

"Ratu Leak menjadi urusanku, aku merasa

pasti Batu Lahat Bakutuk segera kembali ke tan-

gan pemiliknya" dengus Datuk Nan Gadang Pa-

luih. "Wayan Tandira kalau kau mau ikut denganku, sebaiknya naik ke punggung Si Putih Kaki

Langit Kita harus melakukan pengejaran sebelum

Ratu Leak jauh dari sini"

"Merupakan suatu kehormatan jika Datuk





memperkenankan aku ikut serta. Terima kasih

atas segala perhatianmu" kata Wayan Tandira.

Kepala negeri Sange itu selanjutnya membonceng

di belakang Datuk Nan Gadang Paluih. Sekejap

terdengar suara ringkik Putih Kaki Langit yang begitu panjang. Selanjutnya kuda itu berlari kencang meninggalkan Manusia Topeng.

"Kuda bagus Ada-ada saja keanehan di du-

nia ini" celetuk Manusia Topeng sambil tertawa tergelak-gelak.





***



Ratu Leak saat itu sudah sampai di ujung

Sange. Ia tidak langsung memasuki Pura di de-

pannya, melainkan jalan berkeliling di sekitar tempat itu. Sementara dua sosok tubuh yang dipang-

gul di atas bahunya masih juga belum diturunkan.

"Disinilah sejarah akan dimulai. Aku pernah

mendengar kelahiran bocah ajaib ini. Siapa yang

tidak senang jika ternyata gurunya adalah para

musuh besarku Sekarang akan kulihat apa yang

dapat dilakukan oleh Barata Surya dan Dewana ji-

ka harus berhadapan dengan murid sendiri." Ratu Leak menoleh ke arah Dewi Kerudung Putih yang

di pondong di bahu kiri. "Sedangkan gadis cantik ini Rasanya sangat mubazir jika aku tidak me-manfaatkannya"

Perempuan cantik berpakaian serba hijau

ini kemudian memasuki Pura. Ternyata di dalam

Pura tersebut jauh sebelumnya Ratu Leak sudah

mempersiapkan sebuah altar besar. Di sanalah





dua sosok tubuh yang dalam keadaan pingsan di-

baringkan. Ratu Leak berputar-putar mengelilingi

pemuda baju biru. Tiba-tiba saja ia memijit bebe-

rapa bagian di tubuh Pendekar Blo'on. Pemuda be-

rambut kemerahan mengeluh. Matanya yang mulai

terbuka berkedap-kedip. Tatapan mata itu begitu

hampanya seakan tidak memiliki semangat dan

gairah hidup sama sekali.

"Wahai bodoh Dapatkah kau ingat siapa di-

rimu?" tanya Ratu Leak ditujukan pada pemuda yang tengah terbaring di atas batu putih di depannya. Pendekar Blo'on menggeleng.

"Tahukah kau siapa namamu?"

Suro kembali gelengkan kepala.

"Lalu apakah kau tahu siapa aku?" tanya Ratu Leak. Dalam kesempatan itu pula pada bagian tompel yang terdapat di punggung Pendekar

Mandau Jantan ini terasa panas. Seakan ada se-

buah kekuatan gaib yang tengah berusaha mem-

beri kesadaran pada si pemuda. Namun pada ba-

gian lain tubuh pemuda ini seperti ada kekuatan

yang menekannya.

"Kau adalah orang dimana aku harus bersi-

kap patuh" jawab Suro.

"Hik hik hik Bagus sekali. Dirimu telah

kuisi dengan kekuatan baru dariku. Bahkan batu

ini ikut memberi kesaktian padamu. Senjatamu

sengaja tidak kuambil, karena aku berharap den-

gan senjata itu pula kau membunuh kedua guru-

mu Apakah kau sudah mengerti?"

"Aku sudah mengerti"

"Tahukah kau siapa Barata Surya dan De-





wana itu?" tanya Ratu Leak seakan ingin memastikan. "Aku tidak tahu" sahut Pendekar Blo'on.

Bibir perempuan berumur enam puluhan namun

tetap awet muda itu tersenyum.

"Merekalah musuh besarku Kau harus

membunuhnya, kau harus mem-bu-nuh-nya Su-

dahkah kau tahu apa yang menjadi tugasmu seka-

rang?" "Aku sudah tahu" jawab Suro Blondo lagi.

"Sekarang berdirilah, kau harus melaksa-

nakan tugasmu" perintah Ratu Leak. Setiap kata yang diucapkannya mengandung pengaruh gaib

hingga membuat Suro Blondo berubah seperti

orang linglung berat. Ratu Leak kemudian menge-

luarkan sebuah kantung berwarna hitam, perem-

puan itu mengusap-usap kantung tersebut tiga

kali. Dari dalam kantung memancar sinar putih

yang langsung memancar ke bagian kening Suro.

Si pemuda kedip-kedipkan matanya. Ratu Leak

melanjutkan. "Nah sekarang kesaktian yang kau miliki semakin bertambah-tambah Kewajibanmu

adalah membunuh Barata Surya dan Dewana

Bunuh mereka, bunuh, bunuh..."

Lagi-lagi Suro anggukkan kepala. Dengan

gerakan yang kaku ia memutar langkah. Sampai di

pintu Pura, tanpa menoleh-noleh lagi Pendekar

Blo'on berlari kencang meninggalkan Sange.

Sepeninggal Suro, Ratu Leak tersenyum

puas melihat apa yang telah dicapainya. Ia merasa yakin kedua musuh besar yang sangat dibencinya

itu tidak mungkin dapat meloloskan diri dari ke-





matian. Sementara menunggu kabar kembalinya

Suro, Pendekar yang telah berhasil diperalatnya. Ia berpikir mengapa tidak memanfaatkan waktu

luang untuk bersenang-senang? Maka tanpa me-

nunggu lebih lama lagi ia memanggul Dewi Keru-

dung Putih. Sebentar saja ia sudah memasuki

bangunan lain di bagian dalam Pura. Tidak tahu

apa yang hendak dilakukan oleh Ratu Leak terha-

dap gadis yang selalu hilir mudik di pantai Laut

Selatan tersebut.





***



Gunung Mahameru selayang pandang tera-

sa sunyi seakan tidak berpenghuni. Padahal ba-

gian puncak bukit itu di sebelah selatan tinggal

seorang tokoh sakti mempunyai watak angin-

anginan dan konyol sekali. Di situ pula kera-kera siluman berdiam selama berpuluh-puluh tahun

tanpa ada tangan usil yang mengusiknya. Di sana

pada bagian puncak yang datar terdapat sebuah

bangunan kecil mungil yang bagian dindingnya

terbuat dari kayu jati tua. Dalam keadaan-

keadaan tertentu bangunan ini sama sekali tidak.

dapat dilihat oleh orang lain. Pada salah satu kamar dalam bangunan tersebut. Terlihat sosok tu-

buh dalam keadaan duduk bersila. Ia tidak ubah-

nya seperti patung, berpakaian serba putih, be-

rambut, bercambang serta berjenggot putih. Entah

berapa lama ia dalam keadaan bersemedi seperti

itu, tidak seorang pun yang tahu. Di pagi yang

sunyi itu angin dingin bercampur kabut menderu-





deru. Si kakek sama sekali tidak terusik oleh pengaruh udara di sekitarnya.

Namun entah mengapa tiba-tiba sosok tua

itu tersentak. Matanya terbuka lebar, wajahnya

pucat seakan melihat sesuatu yang sangat mena-

kutkan. Bibir yang tertutup kumis itu mengguman

berulang-ulang. Sayang kata-katanya tidak begitu

jelas. Tiba-tiba kakek tua yang selalu tersenyum

ini kehilangan senyumnya. Sekujur tubuh dibasa-

hi keringat dingin sebesar-besar kacang ijo.

"Aku tidak bermimpi, tidak mengigau tidak

pula berkhayal. Aku melihatnya, aku melihat bo-

cah edan itu. Tetapi..." Si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih Barata Surya

kerut-kerutkan keningnya. "Mengapa dia berubah seperti gembel goblok, mengapa ia sedungu domba

tua yang pikun?" desis Barata Surya.

Kakek ini mondar-mandir di dalam ruangan

yang tidak seberapa luas itu. Lalu ia duduk di atas dipan kayu dengan sandaran berbentuk monyet

putih. "Dia benar-benar seperti orang linglung, aku melihatnya di sebuah tempat berbatu, jauh dan

ada air luas yang memisahkannya. Bocah geblek

itu sekarang sedang susah, siapa yang membuat-

nya susah. Jalannya loyo, tatapan matanya berin-

gas seganas setan Oh apa yang harus aku laku-

kan?" Barata Surya sang guru yang mempunyai

watak angin-anginan tepuk-tepuk keningnya.

Tingkahnya hampir tidak berbeda dengan murid-

nya yang gendeng.

Penghulu Siluman Kera Putih melangkah





keluar meninggalkan ruangan semedi yang selalu

dipergunakannya selama ini. Pintu depan dibuka,

udara dingin menerpa wajahnya. Namun Barata

Surya yang sedang gundah gulana ini sama sekali

tidak menghiraukannya. Di depan pintu ia melihat

puluhan ekor kera putih berjalan mondar-mandir

seperti orang yang sedang mengucapkan selamat

pagi pada tuannya.

"Nguk Nyiet, nyiet..."

Monyet-monyet siluman itu menjadi ribut

begitu melihat majikannya. Barata Surya menjadi

sewot. "Kunyuk-kunyuk yang nakal dan sialan

Minggat kalian dari hadapanku Apakah kalian ti-

dak tahu hati dan pikiranku sedang bingung??"

hardik Barata Surya sambil menutupkan pintu

kembali. Pintu baru tertutup, tapi mendadak saja

terbuka kembali seakan ada orang yang mendo-

rongnya. "Kunyuk yang nakal, tidak bosannya kalian menggangguku Atau kalian ingin aku mema-

sukkan kalian ke dalam kawah Mahameru biar

pada mampus semua" teriak si kakek, seraya tiba-tiba saja memutar langkah. Tapi alangkah terke-

jutnya kakek konyol ini begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu.





DELAPAN





Untuk sekian saat lamanya Penghulu Silu-

man Kera Putih tertegak di tempatnya dengan bibir terkatup rapat tanpa mampu bicara apa-apa.

Orang di depan pintu maju selangkah, sungguh ta-

tapan mata kakek berpakaian serba merah beram-

but merah itu kurang sedap dipandang mata.

"Barata Surya, ada tamu datang mengapa

tidak kau suruh masuk. Tuan rumah macam apa

kau ini?" Kakek berambut merah berwajah angker membentak marah. Yang dibentak malah mengha-turkan hormat. Seakan orang tua yang berdiri di

hadapannya itu adalah orang yang paling disega-

ninya. "Malaikat Berambut Api, maafkan aku yang salah kata dan salah memaki tadi. Silahkan masuk... silahkan... Selamat datang di rumahku

yang jelek dan butut." Kata Barata Surya. Malaikat Berambut Api tidak menyahut, namun ia mengikuti kakek di depannya.

"Duduklah..." ujar Malaikat Berambut Api mempersilahkan tuan rumah. Dengan patuh Barata Surya mengikuti apa yang diperintahkan pa-

danya. "Angin apa yang membuat sampean (anda) datang ke sini, saudara Dewana?" tanya Penghulu Siluman Kera Putih.

Malaikat Berambut Api terdiam sejenak la-

manya. Orang yang satu ini memang sangat jarang

sekali bicara, tetapi kali ini tampaknya ia memba-wa persoalan yang sangat serius.

"Anginnya puting beliung atau mungkin le-

bih parah dari apa yang kau sebutkan itu, malah.





Barata Surya, sudahkah kau lihat bagaimana bu-

ruknya nasib dan keadaan murid kita?" ucap Malaikat Berambut Api dengan suara serak dan berat.

Diam-diam Penghulu Siluman Kera Putih

terkejut juga karena tidak menyangka bahwa ka-

kek berambut merah tersebut telah mendapat fira-

sat pula tentang si konyol Suro Blondo?

"Aku sudah mengetahuinya. Kurasa murid

kita sekarang sedang dalam keadaan susah. Atau

lebih parah dari itu. Aku melihat dia bukan di-

rinya. Kurasa ada yang berkepandaian tinggi telah berhasil memperdayanya. Ia seperti orang linglung..."

"Jangan bicara sembarangan. Bagaimana

pun kita harus menolong bocah gendeng itu. Dia

dalam kesulitan besar, keadaannya sekarang bu-

kan saja membahayakan dirinya sendiri. Tapi

orang lain juga dapat terancam bahaya" tegas Dewana. "Apa sebaiknya yang akan kita lakukan?"

"Keadaan pemuda itu yang sesungguhnya

aku belum tahu pasti, tetapi sesuai dengan gam-

baran yang kudapat dalam semediku, kira-kira

aku sudah mengetahui dimana letak daerahnya

Sebaiknya persiapkan segala sesuatunya dengan

baik. Aku rasanya belum pernah melihat lawan

yang sehebat ini" desis Dewana tegas.

"Itu adalah persoalan yang mudah. Yang

membuat aku bingung bagaimana caranya agar ki-

ta bisa sampai ke tempat berbatu itu secepatnya?"

"Barata Surya, tidak kusangka di usiamu

yang semakin senja ini apa yang bertambah dalam





dirimu, tidak lain hanya kepikunanmu saja. Bu-

kankah kau memiliki ilmu 'Pedut Lakon'. Kau bisa

mempergunakannya, sedangkan aku tentu punya

cara tersendiri untuk dapat mengikutimu terus"

Penghulu Siluman Kera Putih hampir tidak

dapat menahan tawa. Apa yang baru dikatakan

oleh Malaikat Berambut Api memang benar. Ia

memiliki ilmu 'Pedut Lakon' di mana ia dapat ber-

jalan seperti kabut yang mengambang di udara se-

dangkan kecepatannya melebihi angin ribut.

"Sekarangkah kita memulai perjalanan?"

tanya Barata Surya.

"Tidak, besok atau tahun depan. Sehingga

muridmu dan cucuku keburu mampus Kau ini

guru tolol, bego dan menyebalkan. Mengapa harus

membuang-buang waktu sekarang juga kita harus

berangkat" Malaikat Berambut Api memutuskan.

Barata Surya terdiam sejenak sambil ang-

gukkan kepala. Tidak lama setelah itu bibirnya

tampak berkemak-kemik, rupanya ia sedang

membaca mantra-mantra dari ilmu perjalanan ce-

pat 'Pedut Lakon'. Tiba-tiba saja tubuh Barata

Surya seakan lenyap ditelan cahaya putih kemilau.

Sosoknya mengambang di udara. Malaikat Beram-

but Api pejamkan matanya. Ia gelengkan kepala ke

kanan ke kiri sebanyak tiga kali. Lalu....

Wuut

Tokoh dari pulau Seribu Satu Malam di

pantai selatan ini tiba-tiba lenyap pula dari pandangan mata (dalam Episode Neraka Gunung

Bromo). Bagian atap bangunan kecil terbuka. Dari

dalamnya melesat dua sinar, yang satu berwarna





putih kemilau sedangkan yang satunya lagi ber-

warna gelap kemerahan. Kepergian dua tokoh sak-

ti ini diiringi suara ribut kera-kera siluman. Kemudian adalah kesunyian yang mencekam, tidak

ada lagi suara kera-kera putih siluman. Kesunyian abadi yang cukup panjang.





***



Dua bayangan berkelebat menuju ke arah

hilangnya Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan

Tandira. Kedua bayangan itu yang satu dan berada

paling depan bertubuh ramping berpakaian tipis

merangsang. Sedangkan yang satunya lagi sosok

hitam tinggi besar bertelanjang dada dan bercelana hitam gombrong. Di bagian kepala sosok tinggi besar itu terdapat sebuah tanduk yang memancar-

kan cahaya merah berpedar-pedar. Mereka berlari

seperti dikejar-kejar setan, tidak pernah menoleh ke kanan maupun kiri.

Sedang mereka dalam keadaan berlari ken-

cang itulah, tiba-tiba dari balik bukit melesat cahaya biru memotong langkah kaki mereka. Jika

gadis baju hijau di depannya tidak melompat tinggi sambil memaki. Tentu cahaya panas itu memang-gang tubuhnya. Malang bagi sosok hitam di bela-

kangnya. Ia tidak sempat lagi menghindar. Praktis dari dua leret sinar itu salah satu diantaranya

menghantam bagian iga dengan telak.

Duuuummm

Gusraaak

Sosok hitam berwajah seperti monyet besar





menggereng marah. Ternyata pukulan gelap tadi

sama sekali tidak berhasil melukai tubuh Sang Pe-

lucut Segala Ilmu Segala Daya. Sebaliknya gadis

berpakaian tipis merangsang memperlihatkan se-

bagian aurat ini sudah berdiri berkacak pinggang.

"Pembokong gelap, mengapa bertindak





pengecut seperti banci. Tunjukkan diri jika ingin jual lagak. Aku Iblis Betina Dari Neraka tidak segan-segan turunkan tangan kejam" teriak gadis berwajah cantik bertubuh menggiurkan sengit.

Suara si gadis berlalu begitu saja. Sang Pelucut

Segala Ilmu Segala Daya yang berpantang bicara

dengan lawan buka suara.

"Tidak ada hantu disini. Kalau pun ada pas-

ti kumakan, segala macam hantu takut padaku

Biar aku periksa siapa kunyuknya" Makhluk bertubuh tinggi putar langkah. Langkahnya yang

hampir terayun terhenti seketika. Ia memandang

ke atas bukit kecil di mana seorang laki-laki me-

makai topeng bocah berdiri. Dengan sikap acuh

tak acuh ia bicara.

Segala rahasia manusia ada di tangan Gusti

Allah Manusia dengan manusia suka memakai topeng Dalam laut dapat di ukur

Dalam hati mana bisa diatur

Rahasiamu sudah pun kudapat

Catatan Malaikat bukan sesuatu yang dilak-

nat

Apa jawabmu jika topeng-topeng kutanggal-





kan? Jangan coba mencari dalih

Selagi hidup bersilat lidah

Jika sudah terbujur jasad hancur terkubur

Aku Manusia Topeng

Topeng-topeng adalah manusia

Hidup manusia selalu ada dua

Manusia punya guna dan manusia tidak

berguna

Jika dia tertidur manusia tiada berguna

Bila terjaga pasti ada gunanya

Lalu...

Pada kalian berdua

Apa guna kalian terlahir ke dunia?

Hanya untuk membuat onar angkara murka?

Setiap perbuatan pasti akan ditanya

Setiap hidup pasti ada matinya

Untuk apa manusia menjadi sombong dan

besar kepala?

Dalam hening tanya nurani, dalam diam hati

punya jawab sendiri

Mustika Jajar menjadi sangat geram sekali

mendengar kata-kata Manusia Topeng yang seperti

menyindir dirinya. Tanpa diduga-duga ia melompat

ke depan.

"Manusia keparat Aku ingin tahu apakah

kau benar-benar manusia suci seperti Malaikat

yang tidak bernoda. Aku juga akan mencabik-

cabik topeng yang menutupi wajahmu" teriak si gadis. Ia kemudian menoleh pada Sang Pelucut

Segala Ilmu Segala Daya. "Sahabat, kau lihatlah





Aku akan mencabik topengnya sekaligus menca-

but nyawa busuknya"

"Ha ha ha... Bicaramu kelewat lantang, bo-

cah. Kau terlalu kurang ajar dan kehilangan budi

pekertimu. Buktikanlah mulut besarmu itu, atau

kau hanya sebangsa geledek yang tidak pernah

membawa hujan" sahut Manusia Topeng disertai tawa ha ha hi hi. Semakin panas Iblis Betina Dari Neraka mendengar ucapan Manusia Topeng. Sekonyong-konyong ia melompat ke depan. Sekali

terkam tamatlah riwayat laki-laki pendek ini. Karena ketika itu ia mengerahkan jurus 'Pemusnah

Raga Penghancur Jiwa'.

Mulai dari jari tangan Mustika sampai ke

bagian tangan telah berubah hitam pekat. Iblis Betina merasa yakin dengan kecepatan gerakannya

itu. Kira-kira sepersekian jengkal lagi kepala dan dada telanjang Manusia Topeng alias Setan Topeng

kena dihantam. Orang ini liukkan tubuhnya

dan.... "Hap"

Craak

Serangan luput, kedua tangan Mustika Ja-

jar tidak dapat ditahan-tahan lagi langsung amblas ke dalam batu. Terlihat sebuah lubang besar dan

warna hitam mengepulkan asap busuk. Itu meru-

pakan pertanda betapa serangan gadis jelita itu

mengandung racun yang jahat.

Dengan cepat ia berbalik, sekejap Mustika

angkat kedua tangannya di atas kepala. Setelah itu ia hantamkan ke depan. Sekali ini Iblis Betina Dari Neraka lepaskan pukulan "Neraka Perut Bumi".





Sinar hitam, merah, biru melesat laksana

kilat dari telapak tangan gadis itu. Di rimba persilatan jarang sekali ada tokoh yang dapat mele-

paskan pukulan dengan tiga warna sekaligus, ter-

kecuali seorang tokoh yang telah memiliki tenaga

dalam mencapai taraf di atas sempurna.

Tetapi orang yang dihadapi oleh Mustika

kali ini adalah tokoh kawakan yang kemunculan-

nya di rimba bisa dihitung dengan jari. Bahkan

seandainya ada tokoh-tokoh seperti Datuk Sage

Mayasal Hiduik (dalam episode Iblis Betina Dari

Neraka) sekali pun tidak pernah tahu seberapa

tinggi kesaktian yang dimiliki Manusia Topeng. Ja-di bukanlah sesuatu yang mudah untuk menekan

tokoh yang tidak pernah menanggalkan topeng ini.

Malah Manusia Topeng sekarang membalas seran-

gan si gadis dengan pukulan 'Bintang Terbelah'.

Wut Wuuuut

Suasana semakin bertambah panas. Nam-

pak sinar kuning kemilau meluncur deras dari

tangan Manusia Topeng. Sinar itu langsung memo-

tong pukulan Mustika di tengah jalan. Maka terja-

dilah ledakan beruntun yang mengguncang tempat

sekitarnya.

Mustika menjerit keras, tubuhnya melayang

dan terbanting keras di atas batu sebesar kamb-

ing. Batu hancur, dari sudut bibir gadis itu mele-leh darah kental berwarna hitam. Wajah gadis ini

pucat pasi. Sedangkan Manusia Topeng masih

sempat bersalto dan jatuh dengan kedua kakinya.

Ia merasa dadanya mendenyut sakit.

"Jika tidak memiliki kepandaian tinggi, ga-





dis ini pasti sudah menjadi bangkai" rutuk Manusia Topeng dalam hati, tapi pada sisi lain ia merasa kagum dengan daya tahan yang dimiliki oleh Mustika Jajar. Di sudut lain Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya tampak baru saja berdiri. Rupanya

pengaruh ledakan tadi membuat ia jatuh tunggang

langgang juga. Walau pun begitu ia tidak menga-

lami luka barang sedikit pun.

"Bangsat kapiran Tidak puas hatiku jika

belum membunuhmu, memakan dagangmu dan

meminum darahmu" geram si gadis yang baru sa-ja mampu bangkit kembali. Wajah di balik topeng

tersenyum. Laki-laki aneh ini menyanyi-nyanyi se-

perti orang yang kurang waras. Selesai menyanyi

ia bersiul-siul, suara siulannya melengking tinggi tidak beraturan. Semakin lama semakin bertambah tinggi, hingga membuat sakit telinga yang

mendengarnya. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala

Daya terpaksa tutupi telinganya yang lebar. Musti-ka membentak keras untuk menghilangkan penga-

ruh siulan lawannya. Wajahnya sempat menegang,

akan tetapi kelihatannya ia tidak perduli. Sekarang ia menyerang lagi dengan melancarkan tendangan-tendangan menggeledek. Manusia Topeng sejenak

dibuat sibuk. Ia menghindar kian kemari disertai liukan indah.

"Hiaa..."

"Hap... "

Angin menderu-deru disertai teriakan mele-

dak-ledak. Sejauh itu serangan yang dilakukan

oleh Iblis Betina Dari Neraka tidak mendatangkan

hasil. Diserang dengan tendangan tidak menda-





tangkan hasil. Kini Mustika Jajar kembangkan je-

mari tangannya. Ia menyerang lagi dengan jurus

pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Jiwa'.

Wut Wuuuuut

"Aih..."

Batok kepala Manusia Topeng nyaris rengat

terhantam pukulan lawannya. Selagi menghindar

ia membalas pula dengan mendorongkan sikunya

ke bagian dada Mustika. Gadis ini bersalto sehing-ga luput pulalah serangan Setan Topeng. Akan te-

tapi Manusia Topeng tidak membiarkan lawan lo-

los begitu saja. Kaki kanannya tiba-tiba melayang.

Mustika menjerit kesakitan di saat bagian pung-

gungnya kena hantam lawan. Tubuhnya sempat

terangkat ke udara. Lalu meluncur ke bawah den-

gan berputar-putar dan....

Bruuk

Si gadis merasa sebagian tubuhnya lumpuh

dan kaku. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya

melihat kejadian ini langsung hendak membantu.

Tapi Mustika menggelengkan kepala keras.

"Tidak usah ikut campur Rasanya aku ma-

sih bisa menanggalkan kepala bangsat bertopeng

ini Heaa..." teriak Iblis Betina Dari Neraka. Dengan kaki setengah berjongkok. Ia menghantam ke

atas, ke bawah, ke kiri selanjutnya ke depan.

Bet

Zeb Zeeb

Menggeletar tubuh gadis ini, keringat men-

gucur deras di wajahnya. Sekarang dari bagian ke-

palanya tampak mengepulkan asap tipis berwarna

putih biru. Nyatalah sudah bagi Manusia Topeng





yang sudah kenyang makan asam garam rimba

persilatan ini bahwa lawan tengah mengerahkan

seluruh kesaktian dan tenaga dalam yang dimili-

kinya. Sekejap kemudian Mustika Jajar kembang-

kan kedua tangannya. Bagian wajah terangkat te-

gak. Sesuatu yang mengerikan terlihat sudah. Bu-

kan hanya kedua belah tangan gadis itu saja yang

berubah hitam, akan tetapi wajahnya juga telah

menjadi hitam pekat.

"Manusia Topeng Aku berniat mengadu ji-

wa denganmu" dengus Iblis Betina Dari Neraka geram. "Ha ha ha... Bagus, aku mengenali pukulan

'Liang Hantu Penebus Kutuk' Itu adalah salah sa-

tu pukulan yang dimiliki oleh Ratu Leak. Jelas kini bagiku kau jika bukan muridnya tentu antek-anteknya Jika bukan aku yang berangkat ke sorga

duluan, tentu kaulah orangnya yang akan berang-

kat ke neraka" sahut Manusia Topeng tenang, namun bersikap waspada.

Wuuk Wuuk

"Hhhh..."

Manusia Topeng hembuskan nafasnya da-

lam-dalam. Orang ini diam-diam mempersiapkan

pukulan 'Prabawa Geni'. Ini juga adalah sebuah

pukulan yang langka dan jarang dimiliki oleh to-

koh-tokoh rimba persilatan dimasa itu.

"Hiaa..."

"Huuuuuh..."

Dua-duanya kini sama hantamkan kedua

tangannya ke arah sasaran masing-masing. Sinar





hitam menggebu dan meluncur deras dari ujung-

ujung jemari tangan Mustika Jajar. Dari telapak

tangan Manusia Topeng melesat pula dua leret si-

nar putih biru dan merah. Mustika Jajar merasa

yakin betul dengan kehebatan yang dimilikinya ju-

ga merasa percaya bahwa pukulan yang diwa-

riskan Ratu Leak kepadanya mempunyai keheba-

tan tersendiri yang tiada duanya. Untuk itu ia tidak surut lagi dan terus melabrak ke depan. Udara panas saling tindih menindih, himpit menghimpit.

Hingga....

Buuuumm

"Waarrrkh"

Bruk

Mustika terdorong ke belakang sambil men-

jerit keras seperti orang yang putus nyawanya. Ia terpelanting dan jatuh tidak berkutik. Dari telinga, hidung dan mulut gadis ini meneteskan darah hitam. Keadaannya saat itu entah binasa atau cuma

pingsan berat. Sebaliknya Manusia Topeng yang

sempat terhuyung dan sesak bagian perut dan da-

da segera atur nafas dan kerahkan tenaga dalam.

Sebentar saja peredaran darahnya yang sempat

kacau sudah normal kembali.





SEMBILAN


Cepat Setan Topeng menoleh ke belakang.





Ia sempat tercekat juga melihat Sang Pelucut Sega-la Ilmu Segala Daya telah bergerak mendekatinya

dengan langkah lambat-lambat. Mulut sosok ber-

wajah seperti monyet besar ini menyeringai se-

hingga dua pasang taringnya yang panjang dan se-

lalu meneteskan darah mencuat keluar. Betapa

angkernya makhluk ini bila dalam keadaan marah.

Ia menjadi marah karena melihat Mustika Jajar

dapat dijatuhkan oleh Manusia Topeng. Lebih

mengkhawatirkan lagi karena ia tidak tahu gadis

itu masih
hidup atau sudah mati.

"Makhluk jelek muka monyet. Kini disini

cuma tinggal kita berdua saja. Ratu Leak sudah la-ri terbirit-birit meninggalkanmu Sekarang kau tidak punya majikan sebagai tempat untuk men-

gabdi. Aku memberimu tawaran yang cukup ba-

gus" ujar Manusia Topeng dan wajah di balik topeng tersenyum-senyum. "Bagaimana jika mulai saat sekarang ini kau kuangkat menjadi kacung-ku?" "Haaang"

"Kau bicara hang? Apakah kau masih

punya saudara bernama Hang Aih... lucunya kau

ini..." ledek si pendek bersenjata Ketapel Sakti Pembelah Bumi itu lalu tertawa panjang.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya ke-

dip-kedipkan matanya. Ia menoleh ke arah Musti-

ka Jajar yang dalam keadaan tergeletak.

"Jangan kau pikirkan dia. Kalau kau mau

kawin aku bisa menjodohkanmu dengan gadis

cantik. Kalau dia menjanjikan kawin denganmu

jangan mau. Gadis itu biarpun cantik tapi sisanya





orang. Anunya sudah karatan dan sedikit ada ja-

mur dan berlumut"

"Hraa..."

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya me-

raung keras. Tangannya melambai ke depan seper-

ti gerakan menggapai. Meskipun hanya menggapai,

akan tetapi hembusan angin dingin yang ditimbul-

kannya membuat Manusia Topeng menggigil ke-

dinginan. Orang ini berguling ke samping. Sama

sekali ia tidak membalas, karena Manusia Topeng

sadar betul serangan yang dilakukannya hanya

akan sia-sia selama tanduk merah itu masih ber-

cokol di kepala makhluk hitam ini.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sege-

ra melakukan pengejaran. Diinjak-injaknya tubuh

Manusia Topeng dengan hentakan cepat dan keras

bukan main. Dengan gesit orang ini berguling kian kemari. Lalu kaki kanannya menghantam ke bagian selangkangan lawan.

Proooot

"Haiih, apa ini lembek-lembek tidak ada tu-

langnya? Gede amaat..." kata Manusia Topeng sambil tertawa ha ha hi hi. Makhluk hitam menjerit keras, ia pegangi tongkat dan buah jambu mi-

liknya. Jalan terpincang-pincang, matanya yang

berwarna merah kekuning-kuningan melotot me-

nahan sakit bercampur geram. Apa yang diala-

minya membuat kemarahan Manusia setengah

makhluk aneh ini semakin meluap. Ia pun umbar

pukulan-pukulan dahsyat ke arah lawannya. Se-

karang Manusia Topeng dibuat pontang-panting.

Ia menghindar bagaikan belatung yang didera pa-





nas matahari. Dentuman-dentuman keras terden-

gar di sana-sini. Hingga batu-batu maupun bukit

yang ada di sekeliling tempat itu berhamburan po-

rak poranda.

"Kau benar-benar ngamuk rupanya. Aduh...

semakin jeleknya kau jika sedang marah" ledek si pendek. Makhluk hitam di depan Manusia Topeng

lagi-lagi menggeram sambil memperlihatkan serin-

gai menggidikkan. Tiba-tiba saja ia melompat la-

kukan gerakan merengkuh. Lawan tentu saja me-

nyadari betapa berbahayanya jika ia sampai ber-

hasil dipeluk oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Dirinya bisa menjadi lumpuh kehilangan

kekuatan sakti dan tenaga dalamnya. Ia betot Ke-

tapel Sakti Membelah Bumi, kemudian mengarah-

kannya langsung ke bagian mata lawannya. Dua

Leret Sinar merah meluncur deras menghantam

mata Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Mak-

hluk hitam ini terpaksa urungkan niatnya, cepat

lindungi mata dan....

Tas Tas

Serangan maut itu seakan melabrak dinding

hampa dan hilang tidak berarti. Manusia Topeng

jadi penasaran. Ia acungkan Ketapelnya lagi. Kem-

bali sinar merah dengan kekuatan berganda mela-

brak lawannya. Kali ini dari bagian tanduk Sang

Pelucut Segala Ilmu Segala Daya membersit keluar

sinar yang sama akan tetapi disertai suara berge-

muruh bagaikan angin ribut. Sinar itu berputar

melingkar dari atas tanah hingga setinggi dua

tombak. Sinar sakti yang keluar dari senjata Ma-

nusia Topeng terbuntal lenyap dan tergulung sinar





berhawa panas lawannya. Lalu kekuatan dahsyat

itu tidak berhenti sampai di situ saja, ia terus ber-gelung-gelung bagaikan naga siap menghantam

lawan. Untuk pertama kalinya laki-laki pendek

yang tidak pernah menanggalkan topengnya ini

terkesiap. Tapi ia tidak berdiam diri menunggu sinar merah itu menghantam mampus dirinya. Se-

cepat kilat tubuhnya yang lentur melentik di uda-

ra. Dengan kecepatan dua kali gerakan pertama

masih mengambang di udara ia mengerahkan te-

naga dalam lagi sehingga sekarang ia meluncur

deras ke arah bagian kepala Sang Pelucut Segala

Ilmu Segala Daya. Hampir seluruh tenaga dalam

dikerahkan ke tangan kanan. Secepat kilat ia me-

nyambar dan membetot.

Wuut

Kraaak

Hentakan keras itu menimbulkan suara

berderak. Tanduk di kepala lawan nyaris tanggal.

Dan sekarang darah membanjir membasahi ram-

but dan wajah sosok hitam tersebut. Tidak diduga-

duga lawan juga menghantam dada Manusia To-

peng dalam waktu hampir bersamaan. Akibatnya

cukup patal sekali. Laki-laki itu terpental sampai sejauh lima batang tombak. Lebih celaka lagi tubuhnya terhempas menghantam batu di belakang-

nya. Manusia Topeng muntahkan darah segar, ia

bangkit berdiri walau pun kepalanya mendenyut

sakit. Masih dalam keadaan terhuyung-huyung

begitu rupa lawan yang sudah hampir kehilangan

tanduknya mengumbar kemarahan dan kesakitan

dengan pukulan-pukulan saktinya. Dengan mem-





pergunakan sisa-sisa tenaga yang ada, orang ini

melompat kembali. Tubuhnya berkelebat di atas

kepala lawannya. Berulangkali Manusia Topeng

nyaris terkena pukulan ngawur Sang Pelucut Se-

gala Ilmu Segala Daya. Hujan serangan yang me-

matikan itu lama sekali tidak dihiraukan oleh Se-

tan Topeng. Tiba-tiba ia menukik dengan kepala di bawah dan tangan menyambar....

Wuuut

Srrooot

"Huaaarrrkh..."

Menjeritlah Sang Pelucut Segala Ilmu Segala

Daya begitu tanduk di atas kepalanya tanggal di

betot Manusia Topeng. Sosok hitam ini berputar-

putar jatuh bangun. Darah menyambar-nyambar

bercampur otak. Sungguh daya tahannya sangat

luar biasa, terbukti ia tidak langsung ambruk. Melainkan terus terhuyung-huyung sambil mele-

paskan pukulan, ngawur. Dalam pada itu pula be-

gitu tanduk di atas kepala lawan telah berada di

tangan Manusia Topeng. Seraya merasakan ada

sesuatu yang terasa aneh namun menyakitkan.

Tanduk berwarna merah itu menyengat kulit tela-

pak tangan Manusia Topeng. Melihat ke bagian

tangannya ternyata telah melepuh terbakar. Ma-

nusia Topeng pindahkan tanduk ke tangan kiri.

Malah akibatnya sama saja meskipun Manusia

Topeng sudah kerahkan tenaga dalam ke bagian

tangan tersebut.

Sementara itu terdengar suara berdebum di

belakangnya. Ternyata Sang Pelucut Segala Ilmu

Segala Daya telah roboh tidak berkutik. Ia tewas





karena kehabisan darah. Kini Manusia Topeng

yang kebingungan, kulit dan dagingnya sudah ter-

bakar. Sebentar lagi tanduk sakti itu pasti mem-

buat hangus tulang jarinya. Jika ia buang tanduk

sakti itu. Lalu bagaimana nasib Pendekar Blo'on

dan lain-lainnya. Bukankah seluruh kesaktian

pemuda itu telah berpindah ke tanduk Sakti. Ba-

gaimana pun ia harus membawa tanduk itu untuk

mengembalikan kesaktian Pendekar Bodoh yang

telah dilucuti oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya? Kesaktian itu sekarang tersimpan di tanduk. Celakanya tanduk Sakti tersebut naga-

naganya mau memakan dirinya hidup-hidup.

Semakin Manusia Topeng mempertahankan

tanduk, ia merasa seperti menggenggam cairan be-

si panas membara. Ia terpaksa menjatuhkan tan-

duk di bawah kakinya sambil mencari akal bagai-

mana caranya membawa tanduk biar selamat. Se-

lagi Manusia Topeng mengibas-ngibaskan tangan-

nya yang sempat hangus disertai sumpah serapah.

Ia mondar-mandir mengelilingi tanduk, mata di

balik topeng melotot seakan hendak menelan tan-

duk mentah-mentah. Tapi ia kemudian merengut

sendiri, jika dipegang saja tangan bisa hangus apalagi ditelan, tentu ia mampus sungguhan. Akhir-

nya ia duduk mencangkung tidak jauh dari tan-

duk. Pada saat ia dalam keadaan demikian itulah

ia merasa ada angin menyambar disertai berkele-

batnya bayangan merah ke arah tanduk sakti itu.

Manusia Topeng bermaksud mencegah, sayang ge-

rakan bayangan itu lebih cepat dari apa yang dila-





kukannya. Dapat dibayangkan jika orang seperti

Manusia Topeng yang memiliki gerakan cepat luar

biasa masih dapat didahului oleh orang lain. Tentu kesaktian bayangan merah tadi sulit dijajaki.

"Hei... berhenti..." teriak Manusia Topeng.

Bayangan yang dibentak langsung berhenti sejarak

sepuluh langkah dari depan Manusia Topeng. Se-

mentara tanduk sakti di timang-timangnya. Di bo-

lang-baling seenak perut baju merah.

"Aku dapat, benda yang kucari selama pu-

luhan tahun ini baru kudapat Ha ha ha... Aku

adalah orang yang paling bahagia di dunia. Tan-

duk... tanduk sakti dari manusia bertanduk. Ma-

nusianya sudah mampus, tanduknya tergeletak"

kata orang itu dengan sikap acuh tak acuh.

"Bangsat kapiran Jangan kau berani main-

main dengan tanduk itu. Itu tandukku Kembali-

kan..." bentak Manusia Topeng marah. Yang dibentak malah tertawa terbahak-bahak sambil

membolang-baling tanduk di tangannya.

"Kau ribut-ribut soal tanduk. Bukankah

tandukmu masih ada di balik kolormu itu...??" sahut baju merah tanpa pernah menoleh. Merah wa-

jah di balik topeng tersebut. Ia seperti kena ba-

tunya atau bertemu dengan manusia gila.

"Kukira semula kau orang waras, tidak ta-

hunya lebih gila dariku. Tetapi apapun alasanmu

kau harus serahkan tanduk Sakti itu padaku. Dia

bukan milikmu juga bukan milikku. Ayo kembali-

kan..." perintah Manusia Topeng. Laki-laki berpakaian merah masih tetap tidak menoleh. Ia bolang

balingkan tanduk di tangan entah untuk yang ke-





berapa kalinya. Manusia Topeng terbelalak. Satu

hal yang mengherankan orang ini adalah laki-laki

baju merah itu sama sekali tidak terpengaruh,

meskipun tanduk sakti di tangan tetap digeng-

gamnya. Wajah di balik topeng itu pun berkerut

dalam. "Hmm, tahulah aku sekarang. Tangannya tidak melepuh, tidak gosong dan tidak hangus karena ia memakai sarung tangan. Rasanya di dunia

ini hanya 'Sarung Sutra Kencana' saja yang mam-

pu menahan segala sesuatu yang bersumber dari

api Aih... mengapa baru sekarang aku ingat. Di

dunia ini orang yang memiliki Sarung Sutra Ken-

cana hanya kunyuk jelek yang bergelar 'Mata Ib-

lis'." batin Manusia Topeng. Tiba-tiba saja ia tertawa tergelak-gelak. Laki-laki berpakaian merah ten-tu jadi kaget. Ia menoleh, Manusia Topeng walau

pun sempat kaget melihat mata si Mata Iblis yang

memutih bagaikan orang buta tetapi semakin

memperhebat tawanya.

"Mata Iblis, jangan kau coba mencari dalih.

Orang lain boleh takut mendengar nama besarmu.

Kunyuk-kunyuk lain boleh jadi terkencing-kencing

melihat kekuatan gaib sinar matamu? Tapi aku

yang pantas menjadi kakekmu Jangan kau bersi-

kap kurang ajar apalagi coba-coba menjadi maling

tengik Cepat kau serahkan kembali Tanduk Sakti

itu atau aku akan menggebukmu hingga babak be-

lur?" teriak Manusia Topeng gusar.

Mata Iblis tersenyum mengejek. Rupanya

tokoh yang tidak pernah berpihak pada golongan

putih dan golongan hitam ini cukup mengenal Ma-





nusia Topeng. Sehingga dengan seenaknya ia bica-

ra. "Kau meminta barang yang telah kau buang.

Apakah ini barangmu. Kalau beginilah bentuk ba-

rangmu, kujamin tidak ada perempuan yang mau

kawin denganmu Tapi ingat jika kau tidak men-

gambilnya, maka Tanduk Sakti itu kuanggap ba-

rang yang tidak bertuan. Aku pantas menjadi pe-

miliknya" kata Mata Iblis. Ia lemparkan tanduk di tangannya. Manusia Topeng ragu untuk mengam-bilnya, mengingat ketika pertama tadi saja tan-

gannya sudah hangus.

"Ayo, tunggu apa lagi?" desak Mata Iblis.

Manusia Topeng tampak meragu. Ia berpikir jika

tanduk tidak cepat diambilnya, tentu kunyuk jelek yang berdiri di depannya akan mengambil tanduk

itu. Sudah menjadi watak Mata Iblis barang siapa

pun pantang tergeletak. Pasti diembatnya, tidak

perduli barang itu milik perempuan atau milik la-

ki-laki. Yang putih atau yang hitam, yang burik

atau yang keriput baginya semua sama saja.

Berpikir sampai disitu tanpa menunggu le-

bih lama lagi Manusia Topeng langsung sambar la-

gi tanduk sakti yang tergeletak di depannya. Baru saja tanduk di tangan ia sudah menjerit lagi. Praktis tanduk tercampak kembali. Wajah di balik to-

peng meringis. Dalam hati ia memaki.

"Tanduk sialan Kalau bukan di dalamnya

tersimpan kesaktian Pendekar Bodoh, ingin ra-

sanya tanduk itu kukencingi, biar adem (dingin)

sedikit. Tapi bagaimana jika akibat air kencingku segala kesaktian yang terkandung dalam tanduk

ini menguap dengan sendirinya?" Manusia Topeng





jadi bingung sendiri. Selagi ia bingung tanduk sak-ti sudah disambar lagi Mata Iblis. Seraya tanpa

menunggu langsung melarikan tanduk itu.

"Bangsat pencuri, rupanya kau benar-benar

tidak memandang muka padaku sama sekali. Kau

mau cari penyakit" teriak Manusia Topeng. Sambil mengejar seraya hantamkan tangan lepaskan pukulan ‘Membalik Gunung Menjungkir Bukit’. Tentu

serangan ini bukan pukulan sembarangan. Gese-

kan pukulan dengan udara menimbulkan pijaran

bunga api yang panas bukan main.

Sementara sambil berlari Mata Iblis menya-

hut tanpa menoleh. "Bagaimana aku bisa memandang mukamu, rasanya seumur-umur wajahmu

yang burik tertutup topeng. Dan penyakit tentu sa-ja tidak kucari jika kau memukulkan tentu aku

membalas" Dan benar saja Mata Iblis dengan

acuh tak acuh kibaskan tangannya ke belakang.

Wuuuesss

Buuuumm

Ledakan keras itu membuat Manusia To-

peng terdorong mundur sejauh satu batang tom-

bak. Sedangkan Mata Iblis tersungkur. Cepat se-

kali ia bangkit berdiri dan kembali berlari secepat setan. "Ke ujung dunia sekalipun kau melarikan diri aku tetap mengejarmu Terkecuali kau tinggalkan tanduk itu?" pekik Manusia Topeng. Ia bangkit lagi kemudian segera melakukan pengejaran. Yang

dikejar tiba-tiba saja menghilang dari pandangan

mata. "Huh-hah... huh-hah... Aku akan tetap





mengejarmu, aku tahu kira-kira dimana kau akan

berhenti Ha ha ha... Mana mungkin anak kadal

mengakali buaya Yeaaa..." cibir Manusia Topeng, seraya semakin mempercepat larinya.





***



Suro Blondo terus melangkahkan kakinya

mendekati teluk yang terdapat di depannya. Wa-

jahnya sama sekali tidak membayangkan ekspresi

apapun. Bibir pemuda itu terkatup rapat, tidak

ada senyum dan tidak ada pula kekonyolan. Tata-

pan si pemuda demikian dingin dan mengandung

hawa pembunuhan. Sampai di pinggir teluk ia du-

duk sebentar seperti orang yang sedang bingung

menentukan arah.

Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang

mengisiki. "Aku adalah majikanmu. Kau harus patuh pada perintahku. Tidak usah kau pikirkan ba-

gaimana kau harus menyeberang. Tunggu saja dis-

ini, orang yang kau tunggu pasti akan melewati

tempat ini"

"A-ku patuh... Perintahmu kukerjakan se-

gera." kata Suro Blondo seperti orang linglung.

"Bagus Aku senang kau setia padaku Ti-

dak ada orang yang harus kau patuhi di dunia ini

terkecuali aku Aku Ratu Leak, ratu dari segala ra-tu-ratu" bisik suara itu lembut. Memang sesuatu yang sangat mengagumkan jika Ratu Leak dapat

mengirimkan suara dalam jarak yang jauh itu. Di

seluruh rimba persilatan pada masa itu sangat ja-

rang sekali tokoh-tokoh kelas satu yang dapat





mengirimkan suara dalam jarak beribu-ribu tom-

bak. "Aku mengerti" sahut Pendekar Blo'on.

"Bagus kalau kau sudah mengerti, tetapi

harus kau ingat. Melalui kekuatan batu Lahat Ba-

kutuk aku tahu musuh besar kita sudah datang.

Hadapi mereka dan bunuh" perintah Ratu Leak melalui suaranya. Suro Blondo Pendekar Mandau

Jantang anggukkan kepala kaku.

Sementara itu tidak jauh dari samping ki-

rinya tampak ada cahaya putih berkilau mendekat

ke arahnya. Tidak jauh dari cahaya putih tersebut terlihat pula bayangan serba merah. Lalu... tiba-tiba saja cahaya putih itu menjelma menjadi sosok seorang laki-laki berpakaian serba putih, berambut dan berjenggot putih. Di belakangnya muncul

pula kakek tua berpakaian merah berambut me-

rah. Mereka tidak lain adalah Penghulu Siluman

Kera Putih dan Malaikat Berambut Api. Ketika me-

lihat Suro Blondo, Malaikat Berambut Api nampak

kerutkan keningnya. Sedangkan Barata Surya me-

sem-mesem (senyum-senyum) seperti orang yang

kurang waras.

"Muridku..." berkata Penghulu Siluman Ke-ra Putih. "Sudah lama kita tidak bertemu, kupikir kau semakin pintar dan tambah pengalaman. Tidak tahunya kau semakin tolol dan gila Ha ha

ha..." Yang diajak bicara memandang Barata Surya seperti orang asing yang tidak pernah dikenalnya sama sekali.





SEPULUH


Tiada lagi senyum di wajahnya, tatapan ma-

tanya pun sinis tidak bersahabat. Dewana Malai-

kat Berambut Api pandangi murid sekaligus cu-

cunya itu untuk yang kedua kalinya.

"Aku tidak melihat tanda-tanda ia menyada-

ri siapa dirinya. Dia telah dikuasai oleh kekuatan iblis." batinnya merasa sedih. Bagaimana pun Suro selain murid juga cucu satu-satunya. Sekarang ia

dipermalukan sedemikian rupa oleh orang lain. Ke-

jadian seperti ini belum pernah ia alami selama hidupnya. Jika dulu dirinya tidak sempat menyela-

matkan orang tua Suro yang tewas di tangan Se-

pasang Iblis Pegat Nyawa dan Kala Demit. Itu su-

dah merupakan pukulan terberat bagi dirinya. Ha-

ruskah dia sekarang berpangku tangan melihat ke-

jadian yang dialami oleh cucunya.

"Siapa pun orangnya aku bersumpah den-

gan apapun aku akan membunuh orang yang te-

lah mencelakai cucuku" desis Malaikat Berambut Api. "Suro Blondo Pendekar Blo'on, tidakkah kau ingat siapa kami?" teriak Barata Surya berapi-api.

"Kalian siapa para orang tua yang hendak

mampus" sahut Pendekar Blo'on. Wajah pemuda itu sama sekali berubah, tidak ada kekonyolan, hilang lucunya bahkan ia sudah lupa dengan kebia-

saannya yang suka menggaruk kepala.

"Bocah geblek Kami adalah gurumu, siapa

yang telah membuatmu begini bocah gila?"





"Percuma kau bicara Barata Surya" Dewa-na memperingatkan. "Bocah ini sudah hampir hilang akal sehatnya, hilang tenaga saktinya. Kulihat ia memang memiliki kekuatan, tetapi kekuatan itu

milik orang lain"

"Kalau begitu ia benar-benar Blo'on sung-

guhan. Apa rencanamu saudara Malaikat Beram-

but Api?" tanya Penghulu Siluman Kera Putih.

"Rencanaku tentu sesuai dengan selera

pengacau yang memerintahkan Suro untuk mem-

bunuh kita" jawab Dewana tegas.

"Kalian adalah musuh besar kami" Pendekar Blo'on buka suara. "Ratu Leak memerintahkan padaku untuk membunuh kalian"

Barata Surya menoleh pada Dewana. Ru-

panya ia tidak kenal dengan orang yang dis-

ebutkan oleh Pen-dekar Blo'on barusan.

"Siapa Ratu Leak?"

"Aku belum tahu. aku juga baru mendengar

namanya Dia bermaksud membunuh kita. Hal itu

tidak mungkin dilakukannya jika kita sudah me-

notoknya" jelas Malaikat Berambut Api melalui il-mu mengisikkan suara tingkat tinggi. Ternyata ki-

sikan ini pun didengar oleh Pendekar Blo'on.

"Ha ha ha... Tua bangka seperti kalian jan-

gan coba-coba menentangku. Kalian semua akan

celaka" dengus si pemuda.

"Suro Blondo, setan Ratu Leak itukah yang

membuatmu jadi Pendekar Edan? Eling (ingat) Su-

ro, eling..."

Melihat Penghulu Siluman Kera Putih yang

masih juga bersikap main-main. Malaikat Beram-





but Api jadi gusar dan langsung membentak. "Barata Surya, aku tahu tabiat dan kebiasaan jelek-

mu. Tapi kuharap dalam hal yang satu ini kau

bersikap serius"

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Mem-

bunuhnya?"

"Jangan lagi kau sampai membunuhnya,

sedangkan kau lukai pun muridmu yang cucuku

itu dalam usaha menyadarkannya. Engkaulah

orang pertama yang akan kupenggal kepalanya

Hadapi dia dan jatuhkan dengan totokan" perintah Malaikat Berambut Api tegas.

"Gila... Aku pula yang disuruh menghadapi

bocah sakit ini. Huh, jika aku tidak segan pa-

danya, tidak mungkin aku sudi menjalankan pe-

rintahnya" gerutu Barata Surya.

Wuuk

Belum apa-apa Suro sudah lepaskan puku-

lan dahsyat ke arah Penghulu Siluman Kera Putih.

Jelas pukulan barusan bukan serangan maupun

jurus baik yang ia wariskan pada pemuda itu atau

pun jurus pukulan yang diwariskan oleh Malaikat

Berambut Api.

"Selagi masih orok kau kencingi aku. Seka-

rang sudah besar malah kau mau bunuh guru

sendiri Hiih..." Sambil Mengomel Barata Surya melompat tinggi. Serangan itu mengenai tempat

kosong dan menimbulkan dentuman yang sangat

keras sekali. Pemuda yang telah berubah linglung

ini putar langkah. Dari samping menderu angin

kencang menghantam tengkuknya. Itulah ilmu to-

tokan tingkat tinggi, Barata Surya menamakannya





'Jari Sakti Pembeku Darah'. Merasakan ada sam-

baran angin dahsyat, Suro liukkan tubuhnya seka-

ligus melompat ke samping. Serangan luput. Pen-

dekar Blo'on membalas dengan tendangan meng-

geledek pula. Karena jarak diantara mereka sede-

mikian dekat. Barata Surya miringkan badannya,

siku menangkis. Sehingga benturan keras tidak

dapat dihindari lagi.

Duuuk

Suro menggeram meskipun sempat jatuh

duduk. Barata Surya mengomel, tubuhnya sempat

tergontai-gontai. Sekali ia melihat ke arah Dewana yang sedang duduk ongkang-ongkang sambil ke-rat-kerutkan keningnya. Suro sudah menyerang-

nya lagi dengan pukulan dan tendangan-

tendangan menggeledek. Setiap gerakan yang dila-

kukan pemuda itu menimbulkan deru angin diser-

tai melesatnya sinar jingga kehitam-hitaman.

"Bocah ini benar-benar pesong Dia sama

sekali tidak mempergunakan jurus-jurus yang di-

wariskan guru-gurunya. Tetapi kekuatan apapun

yang merasuk dalam dirinya sama berbahayanya"

pikir Penghulu Siluman Kera Putih. Sebagai orang

yang telah berpengalaman menghadapi tendangan

kaki dan jotosan tangan ia tidak langsung mema-

pakinya. Melainkan bersalto ke samping. Dengan

ilmu meringankan tubuhnya ia melesat di udara.

Ketika tubuhnya meluncur ke bawah, Barata

Surya pergunakan jurus 'Seribu Kera Putih Men-

gecoh Harimau'. Ia berkelebat lenyap tapi tangan

kanannya menghantam ke atas dan ke bawah.

Des Deesss





"Ukh..." Suro mengeluh panjang dan jatuh terguling-guling. Hanya keluhan itu saja, tidak

menimbulkan luka apa-apa.

"Barata Surya, jangan kau pukul dia Atau

kau juga sudah ikut-ikutan gila" Dewana dari jarak yang tidak begitu jauh mengingatkan.

"Itu cuma kebetulan saja. Maksudku tadi

hendak menotok, tapi eh... malah kupukul" sahut Barata Surya.

Kesempatan bicara yang cuma sekejap itu

dipergunakan Suro lepaskan pukulan 'Tusukan

Jari Penghantar Maut'.

Zzzts

Serangan Suro luput, karena Barata Surya

dengan jurus andalannya ini telah berkelebat kian kemari seperti setan gentayangan sambil melancarkan totokan ke bagian-bagian tubuh muridnya.

"Haiiit..."

Suro cepat putar langkah, matanya yang

angker itu berkedap kedip. Lalu ia membentak ke-

ras dan tubuhnya melesat ke depan seperti anak

panah. Lima jarinya menusuk perut, mata dan da-

da Barata Surya dengan sebat sekali. Kakek ini

pontang panting selamatkan diri. Lalu jatuhkan

punggungnya dan kaki mengungkit.

Duuuk Deesss

"Ukkkh..."

Perut muridnya kena dihantam. Pemuda itu

jatuh terguling-guling, Penghulu Siluman Kera Pu-

tih merasa ada sesuatu yang panas dan menusuk-

nusuk di bagian ulu hatinya. Ketika ia berdiri dan melihat bajunya, Barata Surya belalakkan mata.





Ternyata baju putih belong dan mengepulkan

asap, melihat ke balik baju lima buah jari membe-

kas disana. Jika bukan Barata Surya yang terkena

serangan itu, tentu nyawanya sudah minggat dari

raganya tidak pulang-pulang lagi.

"Saudara Dewana, kau yang menyuruhku

agar tidak menurunkan tangan jahat. Kini akibat-

nya kau lihat sendiri" teriak Barata Surya marah.

"Suro itu murid yang sedang sakit. Apa kau

tega menambah penyakitnya Kalau kau tidak be-

cus menghadapinya, mengapa kau tidak membu-

nuh diri saja?" sahut Dewana ringan.

"Setan sialan" Penghulu Siluman Kera Putih mengumpat Bibirnya terpaksa dikutubkan

kembali ketika melihat Suro sudah siap mele-

paskan pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Ji-

wa'. "Murid sakit ini benar-benar hendak membuat gurunya mampus" maki Barata Surya. Tidak ayal lagi ia pun lepaskan pukulan 'Matahari Rem-bulan Tidak Bersinar'.

Wuuus

Wuuuur

Dua larik sinar hitam menderu, dari arah

Penghulu Siluman melesat pula sinar redup biru

bersemu merah.

"Hati-hati kau Barata Surya" Malaikat Berambut Api memperingatkan.

Peringatan yang sudah terlambat. Dentu-

man keras terdengar susul menyusul. Dua-duanya

sama menjerit dan sama-sama terlempar pula.

Si kakek urut-urut dadanya yang mende-





nyut. Setelah di urut ternyata ada darah yang me-

netes keluar dari sudut-sudut bibirnya. Suro

Blondo meringkuk tidak jauh dari Barata Surya.

Wajah pemuda itu pucat pasi, sedangkan darah

keluar dari hidung dan mulutnya. Melihat cucu sa-

tu-satunya dalam keadaan begitu rupa kakek De-

wana lupa dengan musibah yang menimpa Suro.

Cepat ia melesat hendak menolong.

"Suro..." pekiknya. Baru saja ia hendak mendukung pemuda itu. Satu hantaman keras

mendarat di dadanya. Malaikat Berambut Api

menjerit, ia terlempar dan menderita luka dalam.

Rupanya Suro walau pun terluka bersiasat untuk

menjatuhkan lawan dengan berpura-pura pingsan.

Muslihatnya berhasil. Dewana kena dihantamnya.

Penghulu Siluman Kera Putih tergelak-gelak meli-

hat kejadian itu.

"Sudah tua bangka masih kena dikadali cu-

cu sendiri. Sudah kubilang Suro sedang kesuru-

pan, kini kau rasa sendiri. Ha ha ha..." Barata Surya mengejek. Malaikat Berambut Api bangkit

berdiri. Di depannya Pendekar Blo'on telah berdiri.

Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. Malaikat

Berambut Api terkesiap ketika melihat di tangan

pemuda itu telah tergenggam senjata sakti Man-

dau Jantan.

"Suro ingat Jangan kau main-main dengan

senjata itu" Dewana berteriak memperingatkan.

Dan sebenarnya jika Suro bukan cucu dan murid

sendiri. Rasanya menjatuhkan pemuda itu tidak

demikian sulit. Walau pun selain mewarisi puku-

lan-pukulan hebat dari lawan yang telah mempe-





ralatnya ia juga memegang senjata Sakti Mandau

Jantan. Tetapi orang yang menghendaki nyawanya

ini adalah murid sekaligus cucu yang masih punya

hubungan darah. Mana mungkin ia tega melu-

kainya apalagi sampai membunuh pemuda itu.

"Aku tidak tahu seberapa besar kehebatan

senjata ini. Namun dengan senjata ini pula Ratu

Leak memberi tugas padaku untuk memancung

leher kalian" dengus Suro seakan pada musuh bebuyutannya.

"Hieeeh.., Huuuung Hahahaha..."

Mendengung suara ringkik dan tawa serta

tangis berkepanjangan dikala Pendekar Blo'on ke-

rahkan segenap kesaktian pinjaman Ratu Leak

dan mengayunkan senjata itu. Sinar hitam berke-

lebat ganas menyambar.

"Biar aku yang melumpuhkannya..." pinta Penghulu Siluman Kera Putih.

"Kau hendak mampus" hardik Dewana.

"Hanya aku yang tahu bagaimana caranya mengatasi kedahsyatan senjata itu..."

Malaikat Berambut Api lalu pungut sepo-

tong kayu keras sepanjang setengah depa. Barata

Surya cemberut. "Dia rupanya hendak menggebuk cucu sendiri. Bagusnya aku nonton pertunjukan

gratis ini" ujar si kakek. Ia melompat di atas seba-tang kayu. Kemudian ia berayun-ayun sambil me-

nopangkan kepala di atas kedua tangan. Pertarun-

gan sengit pun tidak dapat dihindari lagi. Dengan mandau di tangan pemuda itu terus memburu Malaikat Berambut Api. Setiap senjata itu melayang

selain menimbulkan deru angin panas juga ter-





dengar suara ringkik kuda. Semakin kuat Suro

mengayunkan senjata itu, maka lubang miring

yang terdapat di tengah-tengah mandau mengelua-

rkan suara tangis. Suro mengerahkan seluruh te-

naga dalam yang ada, rambutnya yang kemerahan

berubah merah seperti bara. Dan dari senjatanya

terdengar suara tawa berkepanjangan tiada habis-

habisnya.

Kakek Dewana menggumam tidak jelas. Di-

am-diam ia pun kerahkan tenaga dalam ke bagian

potongan kayu di tangan. Lalu secepat kilat kedu-

anya menerjang. Dua sosok tubuh kini terlihat ba-

gai bayang-bayang saja. Jika bayangan biru terus

mengejar dan sabetkan senjatanya berulang-ulang.

Maka bayangan merah menghindar sambil sesekali

menangkis serangan Suro.

"Hiaaa,.."

Suro Blondo tiba-tiba saja melesat di udara.

Ia lepaskan pukulan sebagai pancingan. Tetapi

kakek Dewana menyambutnya dengan kemplan-

gan kayu di tangan.

Buuum

Suro bangkit kembali, Malaikat Berambut

Api yang sempat tergontai-gontai segera sambut

hantaman Mandau yang mendengung nyaris

membelah kepalanya.

Tring Triing

Tesss

Dentingan senjata dengan potongan kayu

yang teraliri tenaga dalam menimbulkan pijaran

bunga api. Akan tetapi ketika Pendekar Blo'on lipat gandakan tenaga dalam hingga ke puncaknya.





Maka kayu yang dipergunakan kakek Dewana ter-

babat putus. Laki-laki tua ini langsung melompat

mundur. Ia kerahkan sepertiga dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Perubahan rambut si kakek pun terjadi. Rambut yang berwarna merah itu

semakin bertambah merah. Wajahnya tegang, ra-

sanya mustahil ia tega melepaskan pukulan dah-

syat terhadap murid sendiri. Sebab ia menyadari

sepenuhnya Suro Blondo sedang berada dalam

pengaruh kekuatan lain yang tentu saja teramat

dahsyatnya. Kini ia melesat ke depan, kayu di tangan yang sudah buntung dihantamkan ke bagian

wajah Suro. Apa yang dilakukannya itu hanyalah

tipuan saja. Suro cepat menangkis dengan senja-

tanya. Triing

Keduanya tampak tergetar hebat. Tanpa di-

duga-duga si pemuda yang merasa tertipu mentah-

mentah, gerakkan senjata agak ke bawah. Mandau

meluncur mengancam. Kakek Dewana selamatkan

perut dengan menggeser kaki kiri. Justru kaki ka-

nan dalam keadaan condong dan tidak sempat di-

tarik lagi. Laksana kilat si kakek selamatkan ka-

kinya. Walau pun begitu ujung mandau masih

menggores kakinya.

Breet

"Ukh..."

Malaikat Berambut Api keluarkan keluhan

tinggi. Tetapi ia tetap menggerak potongan kayu di tangannya. Suro tarik tangannya yang memegang

senjata agar tidak terkena pukulan si kakek. Ge-

rakannya ini tertahan karena kakinya terpeleset





lumut licin yang dipijaknya. Tidak terelakkan la-

gi.... Tak

Ting

Pemuda itu mengeluh bersamaan waktunya

dengan Mandau Sakti jatuh menancap tidak jauh

di sampingnya. Selagi Suro dalam keadaan lengah,

maka Malaikat Berambut Api bergerak. Jemari

tangannya terjulur ke lima bagian di tubuh murid-

nya. Pendekar Blo'on terkesiap ia berusaha le-

paskan pukulan 'Liang Batu Penebus Kutuk'. Ma-

lang gerakannya kalah cepat dan....

Tuuuuk

"Aaaah..."

Sekujur tubuh pemuda ini tiba-tiba saja

menjadi kaku. Ia melotot menahan kemarahan.

Penghulu Siluman Kera Putih segera mengambil

senjata yang tergeletak di atas pasir. Ia menimang-nimang senjata itu sekejap sambil memperhati-

kannya.

"Hampir saudara Dewana mati konyol den-

gan senjata yang dibuat sendiri. Senjata hebat, sebagai salah seorang guru Suro, baru kali ini aku

melihat senjata ini" puji Barata Surya. Orang yang diajaknya bicara sama sekali tidak menanggapi. Ia bahkan malah sibuk mengobati luka di paha yang

tergores senjata cucunya. Pada saat seperti itulah kilat menyambar disertai suara guruh di angkasa.

Sosok bayangan dalam waktu bersamaan me-

nyambar ke arah Suro.

"Selamatkan murid kita" teriak kakek Dewana ketika menyadari ada sesuatu bergerak ke





arah Suro. Akan tetapi peringatan itu terlambat,

Suro telah dilarikan oleh bayangan hitam yang

menyambarnya.

"Gila... Siapa dia??" desis Barata Surya dengan mulut melongo saking kagetnya.

"Celaka Cepat kejar, jangan-jangan orang

itu hendak mencelakainya" pekik Malaikat Berambut Api.

"Bagaimana dengan kau, saudara Dewana?"

Barata Surya ragu-ragu.

"Bodoh Jangan pikirkan aku. Aku tidak

apa-apa, cepat kejar" teriak si kakek cemas.

Tanpa menunggu dengan masih membawa

Mandau Jantan, Penghulu Siluman Kera Putih se-

gera melakukan pengejaran ke arah menghilang-

nya bayangan hitam yang melarikan Pendekar

Blo'on. Lalu, apakah yang akan terjadi dengan Su-

ro, si Pendekar konyol? Bagaimana nasib Dewi Ke-

rudung Putih di tangan Ratu Leak? Lalu bagaima-

na nasib tanduk Sakti yang direbut oleh Mata Ib-

lis? Padahal kekuatan Pendekar Blo'on tertahan

dalam tanduk itu. Dapatkah Dewi Kerudung Putih

merampas Batu Lahat Bakutuk itu kembali? Nantikan kelanjutannya


TAMAT




0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...