PENDEKAR BLOON
Eps.19
NAGARI BATAS AJAL
SATU
Jembatan putih yang berasal dari Angkin
Pelebur Petaka ini disentakkan oleh Datuk Nan
Gadang Paluih. Setelah berada di tangannya ang-
kin sakti berubah memendek dan kembali ke ben-
tuk asalnya. Dalam kegelapan yang hanya diteran-
gi cahaya temaram Datuk Nan Gadang Paluih coba
mencari Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata
Kejora. Namun laki-laki berambut putih berumur
sekitar lima puluh lima tahun ini tidak melihat
orang-orang yang dicarinya.
"Ini pasti alam yang tercipta berkat Batu
Lahat Bakutuk yang ada di tangan Ratu Leak Ke-
mana perginya para bagundal berkepandaian seke-
tek tadi? Apa mungkin mereka telah tertangkap?
Tugasku jadi terbagi-bagi karena ulah mereka?"
pikir Datuk Nan Gadang Paluih. Laki-laki itu ke-
mudian berjalan menelusuri ruangan lebar tanpa
batas. Kemudian ia mendengar suara-suara tangis,
jerit kesakitan dan bau busuk yang menusuk-
nusuk penciuman. Seakan-akan suara itu datang
dari dasar neraka. "Anak ketek, orang-orang ketek.
Ratu Leak benar-benar iblis" maki Datuk Nan Gadang Paluih.
Baru saja ia selesai menyumpah, tiba-tiba
di depannya muncul tiga orang gadis bertampang
bengis. Orang-orang ini seperti telah sama kita ketahui dikenal dengan nama 'Sang Juru Siksa', un-
tuk lebih jelasnya dalam Episode (Batu Lahat Ba-
kutuk). "Ini salah satu tamu kita Menurut Ratu kita harus menyambutnya dengan baik" ujar salah
seorang dari gadis tersebut.
"Anak-anak kanciang Aku tahu siapa ka-
lian Cepat menyingkir, aku ingin bertemu dengan
Ratu kalian yang telah mencuri Batu Lahat Milik-
ku di Ngarai Sianok" teriak Datuk Nan Gadang Paluih. "Hik hik hik..." Ketiga gadis itu tertawa se-rentak. "Ini adalah tempat tinggal kami Bagaimana kami bisa menyingkir? Kau adalah tamu orang
rambut putih. Apa pun pangkat dan jabatanmu di
dunia bebas sana. Namun di sini kau tidak lebih
adalah seorang pesakitan dan calon bangkai yang
hidupmu tergantung pada kemurahan Ratu kami"
"Anak kanciang Ratumu bukanlah apa-apa
jika berhadapan dengan aku Cepat panggil dia ke
sini" perintah Datuk Nan Gadang Paluih.
Tiga gadis Juru Siksa langsung mengitari
Datuk Nan Gadang Paluih. Sebentar saja mereka
telah mengurung laki-laki itu dari tiga arah. Sedi-kitpun sang Datuk tidak bergeming dari tempatnya
berdiri bahkan melirik pun ia tidak. Untuk diketahui Datuk Nan Gadang Paluih adalah saudara tua
Ratu Penyair Tujuh Bayangan (Episode Undangan
Maut). Ia memiliki kesaktian di atas adiknya, se-
lain itu Datuk Nan Gadang Paluih juga adalah sa-
lah satu tokoh dari Andalas, selain Datuk Alang Si-tepu, Datuk Panglima Kumbang dan Dewa Kubu.
(Mengenai Dewa Kubu baca Episode Pendekar Ku-
car Kacir). Sekarang menghadapi tiga gadis yang di-
kenal sebagai Juru Siksa ini Datuk Nan Gadang
Paluih masih dapat bersikap tenang. Jauh di da-
lam hatinya orang ini juga sebenarnya merasa ra-
gu. Seandainya ia berhasil membunuh Sang Juru
Siksa, bukan mustahil melalui Batu Lahat Baku-
tuk, Ratu Leak menciptakan pengawal-pengawal
dan tukang kepruk yang lebih tangguh lagi. Satu-
satunya cara adalah dengan merampas Batu Lahat
Bakutuk dari tangan Ratu Leak. Rasanya peker-
jaan ini pun tidak mudah, Batu Lahat Bakutuk
akan menjadi sangat berbahaya di tangan orang se
sesat Ratu Leak. Jadi ia harus mengatur siasat sebelum dirinya masuk dalam perangkap Ratu Leak.
"Orang rambut putih, kuperintahkan pada-
mu untuk menyerah pada kami secara baik-baik.
Atau kau akan merasakan bagaimana pedihnya
siksaan kami" ancam Sang Jum Siksa. Suaranya ketus tanpa mengenal tata krama sama sekali. Datuk Nan Gadang Paluih tertawa membahak. Ketiga
gadis berwajah angker tampak bersurut langkah
mendengar suara tawa Datuk Nan Gadang Paluih
yang terasa menusuk hingga ke otak.
"Aku Datuk Nan Gadang Paluih, tua umur
dan tua kejemur alamat badan binasa. Tua karena
ilmu alamat terbawa ke liang kubur. Aku tahu asal usulmu. aku tahu asal usul manusia. Aku adalah
air, udara, tanah dan api? Dari sini asal-usulku.
Aku menjadi tidak berarti tanpa roh. Untuk itu
Tuhan meniupkan roh ke dalam jasad ini. Wahai
tiga gadis Sang Juru Siksa, aku hanya melihat ka-
lian berasal dari api dan udara, apa yang mengge-
rakkan kalian bukan Roh? Tetapi nyawa setan"
dengus laki-laki itu sambil berkacak pinggang.
"Ringkus" teriak ketiga gadis tersebut.
Wuuut Wuut Wuut
Tiga buah tali bersimpul pada bagian
ujungnya meluncur deras ke arah kepala, kaki dan
tangan Datuk Nan Gadang Paluih. Dengan cepat
datuk ini melompat ke atas. Sedangkan tali yang
datang dari atas disampoknya.
Plash
Wiing
Tali tersebut membalik dan nyaris meng-
hantam pemiliknya dengan kecepatan berlipat
ganda. Gadis bertubuh semampai sempat meme-
kik kaget, dengan menggeser langkahnya ke samp-
ing. Dia dapat menyelamatkan diri. Pada saat itu
juga cahaya lain mengancam sang Datuk, dua tali
yang diluncurkan oleh kedua gadis di samping ka-
nan dan kiri menjerat pinggang, sedangkan yang
satunya lagi mengancam bagian kepala. Tiba-tiba
mulut Datuk Nan Gadang Paluih menggembung
lalu ia pun meniup.
"Puaaah..."
Wuus
Segulung angin menderu, angin yang keluar
dari mulut Sang Datuk disertai lesatan sinar me-
rah yang akhirnya membesar setelah bergesekan
di udara menyambar simpul tali tersebut. Yang
meluncur ke bagian pinggang langsung di tepis
oleh laki-laki ini.
Tess
Datuk Nan Gadang Paluih sempat kaget se-
kejap bila merasakan jari tangan kesemutan. Ini
merupakan suatu tanda bahwa gadis-gadis itu
memiliki tenaga dalam yang tidak ringan. Semen-
tara itu gadis kedua terpaksa berguling-guling
menghindari sambaran api yang merambat melalui
ujung talinya. Akhirnya sambil memaki ia terpaksa mencampakkan tali penjerat, diambilnya tali lain.
Tiga-tiganya melompat mundur sambil
membisikkan kata-kata dengan sesamanya. Kata-
kata rahasia yang Datuk Nan Gadang Paluih sen-
diri tidak tahu artinya.
"Jerat Laba Laba..." teriak salah seorang dari tiga Sang Juru Siksa. Lalu ketiga gadis yang semula berpencar itu saling mendekat. Gadis pertama condongkan tubuhnya, kaki agak ditekuk, la-
lu gadis kedua melompat dan duduk di atas gadis
pertama, demikian juga yang dilakukan oleh gadis
ketiga. Sekali ini mereka tidak lagi memperguna-
kan tali untuk menyergap lawannya. Orang-orang
ini langsung kembangkan lima jari tangan. Dua
orang kawannya juga melakukan hal yang sama.
Dari lima jari tangan yang terkembang itu kemu-
dian meluncur lima buah benang halus yang sal-
ing memilin membentuk jaring di udara tidak
ubahnya dengan laba-laba yang sedang membuat
sarang. Datuk Nan Gadang Paluih cukup kaget ju-
ga dibuatnya. Bagaimana ketiga gadis bengis ini
bisa memiliki ilmu Laba-Laba? Sedangkan sein-
gatnya ilmu tersebut hanya dimiliki oleh Manusia
Laba-Laba yang tinggal di Teluk Hantu.
Walau pun begitu sudah tidak ada kesem-
patan lagi bagi Sang Datuk untuk memecahkan
teka-teki ini. Ia terpaksa mengerahkan ‘Tubrukan
Meteor’. Sekonyong-konyong Datuk Nan Gadang
Paluih kibaskan tangannya ke arah lima belas
benda halus berwarna putih yang siap menyergap-
nya. Dari setiap jemari-jemari tangannya tampak
berkiblat cahaya putih seperti pedang. Lalu....
Tesss
Lima jaring yang telah terjalin rapi itu putus
berantakan terkena hantaman sinar putih dari
tangannya.
"Kalian bukan murid Manusia Laba-Laba,
berarti kalian telah mencuri ilmu manusia Laba-
Laba atau Ratu kalian memang seorang pencuri
sejati" geram Sang Datuk sengit.
Sang Juru Siksa melompat mundur, namun
dua sosok tubuh di atas gadis pertama tidak juga
segera turun, hal ini diketahui oleh Datuk Nan
Gadang. Tidak ayal lagi ia kibaskan kedua tangan-
nya yang tiada putus-putus memancarkan sinar.
"Suing..."
Lima larik sinar putih laksana pedang men-
deru. Dua orang gadis yang duduk di atas gadis
pertama terpaksa bersalto.
Cas Cas
"Hmm..." Datuk Nan Gadang Paluih meng-
guman tidak jelas. Kali ini lawan sudah siap pada posisi seperti tadi. Datuk Nan Gadang Paluih tidak membiarkan hal itu lebih lama. Tubuhnya sekonyong-konyong melesat, tangannya menggapai. Di
lain kejab di tangan tokoh dari Andalas ini sudah tergenggam seikat sapu yang bagian lidi-lidinya berasal dari kawat bara yang merah membara. Ketiga
gadis ini hendak selamatkan diri, namun posisi
mereka benar-benar dalam keadaan yang sulit.
Gadis yang berada paling bawah hendak melompat
mundur, sayang himpitan dua gadis yang berada
di atasnya merupakan hambatan tersendiri ba-
ginya sehingga gerakannya terhalang dan tidak le-
luasa. Wuuusss
Praaaas
"Wuaaakh..."
Dua gadis Juru Siksa menjerit keras, dua-
duanya terpental akibat hantaman-hantaman sa-
pu api gaib di tangan Datuk Nan Gadang Paluih.
Begitu dua sosok tubuh gadis itu menyentuh ta-
nah, maka terjadilah keanehan. Ujud mereka tam-
pak mengecil, kemudian raib disertai melesatnya
gumpalan kabut berwarna merah di udara. Ting-
gallah gadis pertama yang kelihatan marah besar
pada Datuk Nan Gadang Paluih.
"Aku ingin mengadu jiwa denganmu anak
manusia rambut putih Heaaa..." Gadis ini kelihatannya memang tidak memberi kesempatan lagi
pada lawan. Tiba-tiba saja ia menerjang ke arah
Datuk Nan Gadang, dua jari tangannya yang me-
mancarkan sinar itu membabat ke arah tenggoro-
kan sedangkan jari-jari yang lainnya menusuk ke
arah mata.
Cepat sekali penghuni lembah Ngarai Sia-
nok ini menghindar, sambaran angin menghantam
di sampingnya. Serangan gadis baju hitam luput,
namun ia segera susul dengan serangan berikut-
nya yang lebih berbahaya lagi. Melihat lawan me-
mang menghendaki jiwanya, Datuk Nan Gadang
terpaksa bersalto, sayang tindakan yang dilaku-
kannya kurang menguntungkan. Kaki lawan sem-
pat menghantam punggungnya.
Laki-laki baju putih selempang putih kelua-
rkan keluhan tertahan. Tubuhnya berguling-guling
di atas lantai yang becek dan berbau busuk itu.
Ternyata lawan terus memburunya. Datuk Nan
Gadang Paluih menggembor marah, seketika itu
juga ia kibaskan sapu gaib di tangannya. Menda-
pat serangan balasan yang tidak terduga-duga ini
Sang Juru Siksa pertama ini sudah tidak sempat
lagi menghindar, walau pun ia sudah berusaha
melakukannya. Tidak ampun lagi senjata di tan-
gan Datuk Nan Gadang Paluih menghantam pe-
rutnya. Praaasss
"Hakgh..."
Gadis baju hitam ini menjerit keras, isi pe-
rutnya berbusaian. Untuk kedua kalinya sosok ga-
dis baju hitam ini pun langsung lenyap menjadi
gumpalan asap merah.
"Tahulah aku sekarang, gadis-gadis itu tadi
tercipta berkat kekuatan sakti Batu Lahat Baku-
tuk yang dicuri oleh Ratu Leak" guman Datuk Nan Gadang Paluih sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Melawan mereka hanya sia-sia saja. Ratu Leak dapat menciptakan pengawal-pengawal bahkan
mungkin yang lebih tangguh dari sebelumnya se-
lama Batu Lahat Bakutuk masih berada di tan-
gannya Jalan satu-satunya adalah dengan menca-
ri perempuan itu Tapi di mana? Ruangan perlin-
dungan penyiksaan ini cukup luas Dia tentu su-
dah memasang perangkap buat siapa saja yang
masuk ke sini?"
Datuk Nan Gadang Paluih sempat tertegun
sejenak, namun bila teringat pada Dewi Kerudung
Putih dan Si Buta Mata Kejora, maka laki-laki be-
rambut putih ini segera melangkah pergi untuk
melakukan penyelidikan.
***
Gadis berpakaian putih dan berkerudung
putih ini terus melangkah semakin jauh ke ten-
gah-tengah ruangan bersekat dan mirip perangkap
tikus tersebut. Tidak jauh di belakangnya mengi-
kuti seorang kakek tua bermata buta. Kedua orang
ini terus mencari-cari. sayang hingga sejauh itu
mereka tidak melihat di mana gerangan Pendekar
Blo'on disekap.
"Rasanya sudah tipis harapan, Pendekar to-
lol mungkin sudah mati dan sekarang rohnya se-
dang menjalani siksaan di neraka ciptaan Ratu
Leak Apa jawab dan pendapatmu Dewi?" bertanya si kakek buta yang tidak lain adalah Si Buta Mata Kejora. Yang ditanya semakin cemberut, matanya
yang indah berputar-putar seakan ingin menem-
bus dinding-dinding yang jadi penghalang pengli-
hatannya.
"Kakek buta, jika bukan karena ulahmu
yang menghalang-halangi aku dan mengajak ber-
tarung segala, tentu paling tidak kita masih bisa menolong Suro" sahut Dewi Kerudung Putih ketus. "Ha ha ha Mengapa aku yang kau salah-
kan? Sange negeri yang dikutuk. Pada siapa aku
harus percaya tanpa ada rasa curiga? Jika kita
percaya pada Dewata tentu pemuda itu masih se-
lamat." "Aku tidak tahu dengan apa yang kau sebut Dewata, aku percaya dengan kekuatan Tuhan?
Yang membuatku heran apakah manusia seperti
Ratu Leak sanggup menciptakan neraka?" tanya Dewi Kerudung Putih dengan sikap acuh tak acuh.
"Manusia hidup karenaNya, nanti akan
kembali kepadaNya. Yang paling penting sekarang
ini adalah menemukan tempat persembunyian Ra-
tu Leak, "ujar Si Buta Mata Kejora.
Dewi Kerudung Putih tidak menanggapi.
Sekonyong-konyong lantai yang mereka pijak ber-
getar. Dewi memandang lurus pada Si kakek buta,
orang tua ini kerutkan keningnya.
"Aku merasakan seperti ada orang yang da-
tang ke sini" gumannya seakan ditujukan pada di-ri sendiri.
"Hmm...," Dewi Kerudung Putih menggu-
man. Entah mengapa ia merasa tengkuknya me-
remang berdiri. Refleks gadis cantik ini pun berpaling ke belakangnya.
"Eh..." kejut di hati Dewi Kerudung Putih bukan alang kepalang. Ia melihat sosok tubuh hitam legam dengan tinggi hampir dua tombak. Wa-
jah sosok hitam ini hampir mirip dengan wajah
monyet besar, hanya lidahnya agak terjulur. Tar-
ing-taringnya yang besar terlihat dan meneteskan
darah. Di atas kepala makhluk hitam ini terdapat
sebuah tanduk berwarna merah menyala. Tanduk
itu kelihatan seperti menyatu dengan batok kepa-
lanya. Rasanya seumur hidup Dewi Kerudung Pu-
tih yang sering menjelajah pantai laut selatan ini belum pernah melihat sosok mengerikan seperti
ini. Menggigil tubuhnya, ciut juga nyali si gadis.
"Apa yang kau lihat?" tanya Si Buta Mata Kejora, rupanya si kakek buta ini rasakan adanya
bahaya di sekelilingnya.
"Ehk... manusia seperti monyet. Kepalanya
bertanduk dan berwarna merah" jelas si gadis menerangkan ciri-ciri makhluk yang dilihatnya.
"Celaka..." desis si kakek sambil melompat mundur. "Kita tengah berhadapan dengan Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Kita tidak mung-
kin dapat loloskan diri dari tangannya"
"Kau manusia lemah yang suka berkeluh
kesah dan gampang menyerah Belum apa-apa
engkau sudah tunjukkan kerapuhanmu Aku he-
ran mengapa Tuhan memberi umur panjang jika
mengatasi sedikit persoalan saja kau sudah me-
nyerah begini?" dengus Dewi Kerudung Putih
mencemo'oh.
"Gadis tolol, Sang Pelucut Segala Ilmu Sega-
la Daya adalah makhluk dari dalam perut bumi.
Siapa dan bagaimana membuat makhluk di de-
panmu itu dapat muncul ke sini bukan menjadi
soal. Yang kurisaukan dia dapat merampas selu-
ruh kesaktianmu tanpa kau sempat merasakan-
nya Hati-hatilah, dia sangat berbahaya" pesan Si Buta Mata Kejora.
Jika semula Dewi Kerudung Putih men-
ganggap enteng sosok angker di depannya maka
sekarang ia harus memutar otak seribu kali untuk
mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang terja-
di.
"Kau..." seru Dewi ditujukan pada sosok hitam berwajah seperti monyet besar. Suaranya lan-
tang namun agak serak. "Menyingkirlah, aku dan kakek ini hendak mencari kawan kami. Atau kau
mengetahui dimana kawan kami itu, cepat kata-
kan padaku" tegas si gadis.
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya
menggeram lirih, matanya yang merah seperti bara
memandang pada si gadis dan si kakek silih ber-
ganti. "Cepat katakan Aku yakin kau tahu di ma-na pemuda baju biru kawan kami ditahan" seru si gadis. Mata merah di depannya membulat lebar.
Jembatan putih yang berasal dari Angkin
Pelebur Petaka ini disentakkan oleh Datuk Nan
Gadang Paluih. Setelah berada di tangannya ang-
kin sakti berubah memendek dan kembali ke ben-
tuk asalnya. Dalam kegelapan yang hanya diteran-
gi cahaya temaram Datuk Nan Gadang Paluih coba
mencari Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata
Kejora. Namun laki-laki berambut putih berumur
sekitar lima puluh lima tahun ini tidak melihat
orang-orang yang dicarinya.
"Ini pasti alam yang tercipta berkat Batu
Lahat Bakutuk yang ada di tangan Ratu Leak Ke-
mana perginya para bagundal berkepandaian seke-
tek tadi? Apa mungkin mereka telah tertangkap?
Tugasku jadi terbagi-bagi karena ulah mereka?"
pikir Datuk Nan Gadang Paluih. Laki-laki itu ke-
mudian berjalan menelusuri ruangan lebar tanpa
batas. Kemudian ia mendengar suara-suara tangis,
jerit kesakitan dan bau busuk yang menusuk-
nusuk penciuman. Seakan-akan suara itu datang
dari dasar neraka. "Anak ketek, orang-orang ketek.
Ratu Leak benar-benar iblis" maki Datuk Nan Gadang Paluih.
Baru saja ia selesai menyumpah, tiba-tiba
di depannya muncul tiga orang gadis bertampang
bengis. Orang-orang ini seperti telah sama kita ketahui dikenal dengan nama 'Sang Juru Siksa', un-
tuk lebih jelasnya dalam Episode (Batu Lahat Ba-
kutuk). "Ini salah satu tamu kita Menurut Ratu kita harus menyambutnya dengan baik" ujar salah
seorang dari gadis tersebut.
"Anak-anak kanciang Aku tahu siapa ka-
lian Cepat menyingkir, aku ingin bertemu dengan
Ratu kalian yang telah mencuri Batu Lahat Milik-
ku di Ngarai Sianok" teriak Datuk Nan Gadang Paluih. "Hik hik hik..." Ketiga gadis itu tertawa se-rentak. "Ini adalah tempat tinggal kami Bagaimana kami bisa menyingkir? Kau adalah tamu orang
rambut putih. Apa pun pangkat dan jabatanmu di
dunia bebas sana. Namun di sini kau tidak lebih
adalah seorang pesakitan dan calon bangkai yang
hidupmu tergantung pada kemurahan Ratu kami"
"Anak kanciang Ratumu bukanlah apa-apa
jika berhadapan dengan aku Cepat panggil dia ke
sini" perintah Datuk Nan Gadang Paluih.
Tiga gadis Juru Siksa langsung mengitari
Datuk Nan Gadang Paluih. Sebentar saja mereka
telah mengurung laki-laki itu dari tiga arah. Sedi-kitpun sang Datuk tidak bergeming dari tempatnya
berdiri bahkan melirik pun ia tidak. Untuk diketahui Datuk Nan Gadang Paluih adalah saudara tua
Ratu Penyair Tujuh Bayangan (Episode Undangan
Maut). Ia memiliki kesaktian di atas adiknya, se-
lain itu Datuk Nan Gadang Paluih juga adalah sa-
lah satu tokoh dari Andalas, selain Datuk Alang Si-tepu, Datuk Panglima Kumbang dan Dewa Kubu.
(Mengenai Dewa Kubu baca Episode Pendekar Ku-
car Kacir). Sekarang menghadapi tiga gadis yang di-
kenal sebagai Juru Siksa ini Datuk Nan Gadang
Paluih masih dapat bersikap tenang. Jauh di da-
lam hatinya orang ini juga sebenarnya merasa ra-
gu. Seandainya ia berhasil membunuh Sang Juru
Siksa, bukan mustahil melalui Batu Lahat Baku-
tuk, Ratu Leak menciptakan pengawal-pengawal
dan tukang kepruk yang lebih tangguh lagi. Satu-
satunya cara adalah dengan merampas Batu Lahat
Bakutuk dari tangan Ratu Leak. Rasanya peker-
jaan ini pun tidak mudah, Batu Lahat Bakutuk
akan menjadi sangat berbahaya di tangan orang se
sesat Ratu Leak. Jadi ia harus mengatur siasat sebelum dirinya masuk dalam perangkap Ratu Leak.
"Orang rambut putih, kuperintahkan pada-
mu untuk menyerah pada kami secara baik-baik.
Atau kau akan merasakan bagaimana pedihnya
siksaan kami" ancam Sang Jum Siksa. Suaranya ketus tanpa mengenal tata krama sama sekali. Datuk Nan Gadang Paluih tertawa membahak. Ketiga
gadis berwajah angker tampak bersurut langkah
mendengar suara tawa Datuk Nan Gadang Paluih
yang terasa menusuk hingga ke otak.
"Aku Datuk Nan Gadang Paluih, tua umur
dan tua kejemur alamat badan binasa. Tua karena
ilmu alamat terbawa ke liang kubur. Aku tahu asal usulmu. aku tahu asal usul manusia. Aku adalah
air, udara, tanah dan api? Dari sini asal-usulku.
Aku menjadi tidak berarti tanpa roh. Untuk itu
Tuhan meniupkan roh ke dalam jasad ini. Wahai
tiga gadis Sang Juru Siksa, aku hanya melihat ka-
lian berasal dari api dan udara, apa yang mengge-
rakkan kalian bukan Roh? Tetapi nyawa setan"
dengus laki-laki itu sambil berkacak pinggang.
"Ringkus" teriak ketiga gadis tersebut.
Wuuut Wuut Wuut
Tiga buah tali bersimpul pada bagian
ujungnya meluncur deras ke arah kepala, kaki dan
tangan Datuk Nan Gadang Paluih. Dengan cepat
datuk ini melompat ke atas. Sedangkan tali yang
datang dari atas disampoknya.
Plash
Wiing
Tali tersebut membalik dan nyaris meng-
hantam pemiliknya dengan kecepatan berlipat
ganda. Gadis bertubuh semampai sempat meme-
kik kaget, dengan menggeser langkahnya ke samp-
ing. Dia dapat menyelamatkan diri. Pada saat itu
juga cahaya lain mengancam sang Datuk, dua tali
yang diluncurkan oleh kedua gadis di samping ka-
nan dan kiri menjerat pinggang, sedangkan yang
satunya lagi mengancam bagian kepala. Tiba-tiba
mulut Datuk Nan Gadang Paluih menggembung
lalu ia pun meniup.
"Puaaah..."
Wuus
Segulung angin menderu, angin yang keluar
dari mulut Sang Datuk disertai lesatan sinar me-
rah yang akhirnya membesar setelah bergesekan
di udara menyambar simpul tali tersebut. Yang
meluncur ke bagian pinggang langsung di tepis
oleh laki-laki ini.
Tess
Datuk Nan Gadang Paluih sempat kaget se-
kejap bila merasakan jari tangan kesemutan. Ini
merupakan suatu tanda bahwa gadis-gadis itu
memiliki tenaga dalam yang tidak ringan. Semen-
tara itu gadis kedua terpaksa berguling-guling
menghindari sambaran api yang merambat melalui
ujung talinya. Akhirnya sambil memaki ia terpaksa mencampakkan tali penjerat, diambilnya tali lain.
Tiga-tiganya melompat mundur sambil
membisikkan kata-kata dengan sesamanya. Kata-
kata rahasia yang Datuk Nan Gadang Paluih sen-
diri tidak tahu artinya.
"Jerat Laba Laba..." teriak salah seorang dari tiga Sang Juru Siksa. Lalu ketiga gadis yang semula berpencar itu saling mendekat. Gadis pertama condongkan tubuhnya, kaki agak ditekuk, la-
lu gadis kedua melompat dan duduk di atas gadis
pertama, demikian juga yang dilakukan oleh gadis
ketiga. Sekali ini mereka tidak lagi memperguna-
kan tali untuk menyergap lawannya. Orang-orang
ini langsung kembangkan lima jari tangan. Dua
orang kawannya juga melakukan hal yang sama.
Dari lima jari tangan yang terkembang itu kemu-
dian meluncur lima buah benang halus yang sal-
ing memilin membentuk jaring di udara tidak
ubahnya dengan laba-laba yang sedang membuat
sarang. Datuk Nan Gadang Paluih cukup kaget ju-
ga dibuatnya. Bagaimana ketiga gadis bengis ini
bisa memiliki ilmu Laba-Laba? Sedangkan sein-
gatnya ilmu tersebut hanya dimiliki oleh Manusia
Laba-Laba yang tinggal di Teluk Hantu.
Walau pun begitu sudah tidak ada kesem-
patan lagi bagi Sang Datuk untuk memecahkan
teka-teki ini. Ia terpaksa mengerahkan ‘Tubrukan
Meteor’. Sekonyong-konyong Datuk Nan Gadang
Paluih kibaskan tangannya ke arah lima belas
benda halus berwarna putih yang siap menyergap-
nya. Dari setiap jemari-jemari tangannya tampak
berkiblat cahaya putih seperti pedang. Lalu....
Tesss
Lima jaring yang telah terjalin rapi itu putus
berantakan terkena hantaman sinar putih dari
tangannya.
"Kalian bukan murid Manusia Laba-Laba,
berarti kalian telah mencuri ilmu manusia Laba-
Laba atau Ratu kalian memang seorang pencuri
sejati" geram Sang Datuk sengit.
Sang Juru Siksa melompat mundur, namun
dua sosok tubuh di atas gadis pertama tidak juga
segera turun, hal ini diketahui oleh Datuk Nan
Gadang. Tidak ayal lagi ia kibaskan kedua tangan-
nya yang tiada putus-putus memancarkan sinar.
"Suing..."
Lima larik sinar putih laksana pedang men-
deru. Dua orang gadis yang duduk di atas gadis
pertama terpaksa bersalto.
Cas Cas
"Hmm..." Datuk Nan Gadang Paluih meng-
guman tidak jelas. Kali ini lawan sudah siap pada posisi seperti tadi. Datuk Nan Gadang Paluih tidak membiarkan hal itu lebih lama. Tubuhnya sekonyong-konyong melesat, tangannya menggapai. Di
lain kejab di tangan tokoh dari Andalas ini sudah tergenggam seikat sapu yang bagian lidi-lidinya berasal dari kawat bara yang merah membara. Ketiga
gadis ini hendak selamatkan diri, namun posisi
mereka benar-benar dalam keadaan yang sulit.
Gadis yang berada paling bawah hendak melompat
mundur, sayang himpitan dua gadis yang berada
di atasnya merupakan hambatan tersendiri ba-
ginya sehingga gerakannya terhalang dan tidak le-
luasa. Wuuusss
Praaaas
"Wuaaakh..."
Dua gadis Juru Siksa menjerit keras, dua-
duanya terpental akibat hantaman-hantaman sa-
pu api gaib di tangan Datuk Nan Gadang Paluih.
Begitu dua sosok tubuh gadis itu menyentuh ta-
nah, maka terjadilah keanehan. Ujud mereka tam-
pak mengecil, kemudian raib disertai melesatnya
gumpalan kabut berwarna merah di udara. Ting-
gallah gadis pertama yang kelihatan marah besar
pada Datuk Nan Gadang Paluih.
"Aku ingin mengadu jiwa denganmu anak
manusia rambut putih Heaaa..." Gadis ini kelihatannya memang tidak memberi kesempatan lagi
pada lawan. Tiba-tiba saja ia menerjang ke arah
Datuk Nan Gadang, dua jari tangannya yang me-
mancarkan sinar itu membabat ke arah tenggoro-
kan sedangkan jari-jari yang lainnya menusuk ke
arah mata.
Cepat sekali penghuni lembah Ngarai Sia-
nok ini menghindar, sambaran angin menghantam
di sampingnya. Serangan gadis baju hitam luput,
namun ia segera susul dengan serangan berikut-
nya yang lebih berbahaya lagi. Melihat lawan me-
mang menghendaki jiwanya, Datuk Nan Gadang
terpaksa bersalto, sayang tindakan yang dilaku-
kannya kurang menguntungkan. Kaki lawan sem-
pat menghantam punggungnya.
Laki-laki baju putih selempang putih kelua-
rkan keluhan tertahan. Tubuhnya berguling-guling
di atas lantai yang becek dan berbau busuk itu.
Ternyata lawan terus memburunya. Datuk Nan
Gadang Paluih menggembor marah, seketika itu
juga ia kibaskan sapu gaib di tangannya. Menda-
pat serangan balasan yang tidak terduga-duga ini
Sang Juru Siksa pertama ini sudah tidak sempat
lagi menghindar, walau pun ia sudah berusaha
melakukannya. Tidak ampun lagi senjata di tan-
gan Datuk Nan Gadang Paluih menghantam pe-
rutnya. Praaasss
"Hakgh..."
Gadis baju hitam ini menjerit keras, isi pe-
rutnya berbusaian. Untuk kedua kalinya sosok ga-
dis baju hitam ini pun langsung lenyap menjadi
gumpalan asap merah.
"Tahulah aku sekarang, gadis-gadis itu tadi
tercipta berkat kekuatan sakti Batu Lahat Baku-
tuk yang dicuri oleh Ratu Leak" guman Datuk Nan Gadang Paluih sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Melawan mereka hanya sia-sia saja. Ratu Leak dapat menciptakan pengawal-pengawal bahkan
mungkin yang lebih tangguh dari sebelumnya se-
lama Batu Lahat Bakutuk masih berada di tan-
gannya Jalan satu-satunya adalah dengan menca-
ri perempuan itu Tapi di mana? Ruangan perlin-
dungan penyiksaan ini cukup luas Dia tentu su-
dah memasang perangkap buat siapa saja yang
masuk ke sini?"
Datuk Nan Gadang Paluih sempat tertegun
sejenak, namun bila teringat pada Dewi Kerudung
Putih dan Si Buta Mata Kejora, maka laki-laki be-
rambut putih ini segera melangkah pergi untuk
melakukan penyelidikan.
***
Gadis berpakaian putih dan berkerudung
putih ini terus melangkah semakin jauh ke ten-
gah-tengah ruangan bersekat dan mirip perangkap
tikus tersebut. Tidak jauh di belakangnya mengi-
kuti seorang kakek tua bermata buta. Kedua orang
ini terus mencari-cari. sayang hingga sejauh itu
mereka tidak melihat di mana gerangan Pendekar
Blo'on disekap.
"Rasanya sudah tipis harapan, Pendekar to-
lol mungkin sudah mati dan sekarang rohnya se-
dang menjalani siksaan di neraka ciptaan Ratu
Leak Apa jawab dan pendapatmu Dewi?" bertanya si kakek buta yang tidak lain adalah Si Buta Mata Kejora. Yang ditanya semakin cemberut, matanya
yang indah berputar-putar seakan ingin menem-
bus dinding-dinding yang jadi penghalang pengli-
hatannya.
"Kakek buta, jika bukan karena ulahmu
yang menghalang-halangi aku dan mengajak ber-
tarung segala, tentu paling tidak kita masih bisa menolong Suro" sahut Dewi Kerudung Putih ketus. "Ha ha ha Mengapa aku yang kau salah-
kan? Sange negeri yang dikutuk. Pada siapa aku
harus percaya tanpa ada rasa curiga? Jika kita
percaya pada Dewata tentu pemuda itu masih se-
lamat." "Aku tidak tahu dengan apa yang kau sebut Dewata, aku percaya dengan kekuatan Tuhan?
Yang membuatku heran apakah manusia seperti
Ratu Leak sanggup menciptakan neraka?" tanya Dewi Kerudung Putih dengan sikap acuh tak acuh.
"Manusia hidup karenaNya, nanti akan
kembali kepadaNya. Yang paling penting sekarang
ini adalah menemukan tempat persembunyian Ra-
tu Leak, "ujar Si Buta Mata Kejora.
Dewi Kerudung Putih tidak menanggapi.
Sekonyong-konyong lantai yang mereka pijak ber-
getar. Dewi memandang lurus pada Si kakek buta,
orang tua ini kerutkan keningnya.
"Aku merasakan seperti ada orang yang da-
tang ke sini" gumannya seakan ditujukan pada di-ri sendiri.
"Hmm...," Dewi Kerudung Putih menggu-
man. Entah mengapa ia merasa tengkuknya me-
remang berdiri. Refleks gadis cantik ini pun berpaling ke belakangnya.
"Eh..." kejut di hati Dewi Kerudung Putih bukan alang kepalang. Ia melihat sosok tubuh hitam legam dengan tinggi hampir dua tombak. Wa-
jah sosok hitam ini hampir mirip dengan wajah
monyet besar, hanya lidahnya agak terjulur. Tar-
ing-taringnya yang besar terlihat dan meneteskan
darah. Di atas kepala makhluk hitam ini terdapat
sebuah tanduk berwarna merah menyala. Tanduk
itu kelihatan seperti menyatu dengan batok kepa-
lanya. Rasanya seumur hidup Dewi Kerudung Pu-
tih yang sering menjelajah pantai laut selatan ini belum pernah melihat sosok mengerikan seperti
ini. Menggigil tubuhnya, ciut juga nyali si gadis.
"Apa yang kau lihat?" tanya Si Buta Mata Kejora, rupanya si kakek buta ini rasakan adanya
bahaya di sekelilingnya.
"Ehk... manusia seperti monyet. Kepalanya
bertanduk dan berwarna merah" jelas si gadis menerangkan ciri-ciri makhluk yang dilihatnya.
"Celaka..." desis si kakek sambil melompat mundur. "Kita tengah berhadapan dengan Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Kita tidak mung-
kin dapat loloskan diri dari tangannya"
"Kau manusia lemah yang suka berkeluh
kesah dan gampang menyerah Belum apa-apa
engkau sudah tunjukkan kerapuhanmu Aku he-
ran mengapa Tuhan memberi umur panjang jika
mengatasi sedikit persoalan saja kau sudah me-
nyerah begini?" dengus Dewi Kerudung Putih
mencemo'oh.
"Gadis tolol, Sang Pelucut Segala Ilmu Sega-
la Daya adalah makhluk dari dalam perut bumi.
Siapa dan bagaimana membuat makhluk di de-
panmu itu dapat muncul ke sini bukan menjadi
soal. Yang kurisaukan dia dapat merampas selu-
ruh kesaktianmu tanpa kau sempat merasakan-
nya Hati-hatilah, dia sangat berbahaya" pesan Si Buta Mata Kejora.
Jika semula Dewi Kerudung Putih men-
ganggap enteng sosok angker di depannya maka
sekarang ia harus memutar otak seribu kali untuk
mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang terja-
di.
"Kau..." seru Dewi ditujukan pada sosok hitam berwajah seperti monyet besar. Suaranya lan-
tang namun agak serak. "Menyingkirlah, aku dan kakek ini hendak mencari kawan kami. Atau kau
mengetahui dimana kawan kami itu, cepat kata-
kan padaku" tegas si gadis.
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya
menggeram lirih, matanya yang merah seperti bara
memandang pada si gadis dan si kakek silih ber-
ganti. "Cepat katakan Aku yakin kau tahu di ma-na pemuda baju biru kawan kami ditahan" seru si gadis. Mata merah di depannya membulat lebar.
Mulutnya
menyeringai sehingga semakin bertam-
bah mengerikan dalam pandangan Dewi Kerudung
Putih.
DUA
Dalam pada itu sayup-sayup Dewi Keru-
dung Putih mendengar Si Buta Mata Kejora mengi-
siki. "Percuma kau bicara, tidak perlu berteriak atau membentak. Dia tidak akan mau bicara dengan orang yang tidak dikenalnya sama sekali"
"Lalu bagaimana?" tanya Dewi Kerudung
Putih melalui ilmu mengirimkan suara pula.
"Jika masih ada kesempatan, mengapa ti-
dak kita cari selamat saja?" usul Si Buta Mata Kejora. Saran kakek itu memang dapat diterima oleh
Dewi Kerudung Putih, lagi pula di tempat itu
hanya mereka berdua dan Sang Pelucut Segala Il-
mu Segala Daya. Jika mereka melarikan diri cari
selamat, tentu hal ini tidak begitu memalukan. Karena memang tidak ada orang lain yang melihat-
nya. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, baik
Si Buta Mata Kejora maupun Dewi Kerudung Putih
langsung ambil langkah ke arah timur ruangan.
Namun betapa kagetnya gadis ini karena di de-
pannya Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya te-
lah menghadang mereka.
"Sia-sia saja kita menghindarinya, kakek
buta Dia bagaimana secepat itu melompati kita?
Padahal aku tidak merasakan ada gerakan di atas
atau di samping kita Aku hampir tidak percaya?"
seru gadis yang selalu memakai kerudung putih
ini sehingga ia dijuluki Dewi Kerudung Putih.
"Tidak ada jalan lain, kita tempur setan
bumi ini sampai titik darah yang terakhir" tegas Si Buta Mata Kejora.
"Ggggraaak Kroookkkh..."
Makhluk hitam di depan mereka julurkan
kedua tangannya dengan gerakan meringkus. Dewi
langsung bersalto, sedangkan Si Buta Mata Kejora
berguling-guling ke samping sambil lepaskan pu-
kulan 'Angin Biru'. Salah satu pukulan yang paling diandalkan oleh kepala adat Sange ini.
Deru angin kencang melabrak Sang Pelucut
Segala Ilmu Segala Daya. Pusaran angin sempat
memporak porandakan dinding berwarna putih di
samping kanan makhluk ini. Detik itu juga dari
bagian tanduk sang makhluk yang semakin ber-
tambah memerah, meluncur sinar merah darah.
Hingga terjadilah benturan keras bukan main. Si
Buta Mata Kejora tertegak dengan sekujur tubuh
bergetar. Pukulan 'Angin Biru' seolah-olah lenyap tersedot sinar merah yang terus melesat ke arah si kakek. Orang tua buta menyadari adanya bahaya
yang mengancamnya. Sehingga sedapat mungkin
ia coba selamatkan diri, sayang sinar itu mengan-
dung daya sedot yang sungguh luar biasa. Sehing-
ga kedudukan Si Buta Mata Kejora pada saat itu
benar-benar terancam bahaya.
Kira-kira setengah batang tombak lagi sinar
merah menggulung habis sosok si kakek. Dari
samping kiri menderu sinar hijau dan terjadilah
ledakan keras untuk kedua kalinya.
Buuuum
Dari sebelah kiri si kakek terdengar suara
jeritan seseorang. Ternyata yang menjerit adalah
Dewi Kerudung Putih yang berusaha menyela-
matkan kakek buta tersebut dari kebinasaan. Aki-
batnya harus dirasakan oleh gadis itu sendiri. Sudut-sudut bibir si gadis meneteskan darah segar,
ia mencoba bangkit berdiri. Terasakan olehnya pa-
da bagian dada mendenyut sakit. Adalah sungguh
mengherankan jika gadis seperti Dewi Kerudung
Putih yang memiliki tenaga dalam tinggi dan juga
berbagai jurus silat ini telah dibuat babak belur hanya dalam gebrakan pertama.
Walaupun begitu Dewi Kerudung Putih su-
dah melompat berdiri. Sekonyong-konyong tubuh-
nya melesat ke arah Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya, atau lebih dikenal dengan julukan Penghela
Neraka. Dalam keadaan meluncur seperti itu ia
cabut pedang tipis yang melingkar di pinggangnya.
Manakala tangan dikibaskan maka seleret sinar
putih bergulung menyambar ke bagian tengkuk
dan dada Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya.
Sosok berwajah monyet besar ini menggeram. Tan-
gannya menyambar, tapi dengan cepat Dewi sudah
menarik balik senjata dan ini tusukan terarah ke
bagian perut.
Dheellll
Dewi Kerudung Putih melengak kaget, la-
wan sama sekali tidak mempan dengan tusukan
senjata. Malah kini Penghela Neraka telah le-
paskan tendangan menggeledek ke arah Dewi.
Wuuut
Tendangan secepat cahaya ini tidak dapat
dihindari oleh si gadis. Tubuhnya terjengkang. Ia sempat menggeliat, di saat itu Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sudah mengejarnya dengan
maksud merengkuh gadis itu guna melucuti seca-
ra gaib semua kesaktian yang dimiliki oleh si ga-
dis. "Celaka..." seru Si Buta Mata Kejora. Seraya tidak membuang-buang waktu lagi langsung
melompat ke depan. Tidak ayal Si Buta Mata Kejo-
ra lepaskan pukulan 'Tinju Maut' ke punggung so-
sok menyerupai kera besar ini. Dengan telak....
Buuuuuk
"Wuakh..."
Si Buta Mata Kejora malah terbanting. So-
sok yang terkena jotosannya jangankan bergetar,
bergeming pun tidak. Si Buta Mata Kejora geleng-
kan kepalanya yang terasa pusing mendenyut. Se-
dangkan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya
meneruskan rencananya untuk memupus habis
segala kesaktian yang dimiliki oleh Dewi Kerudung Putih. Sekali saja tangan hitam berbulu kasar ini terjulur, Dewi yang tampak berusaha menghindar
ini sudah kena dicengkeramnya.
Crep
Dewi Kerudung Putih kena direngkuh oleh
makhluk ini. Si gadis meronta sambil lepaskan
pukulan bertubi-tubi. Sayang pukulan Dewi tidak
membawa pengaruh sama sekali. Sang Pelucut Se-
gala Ilmu Segala Daya menggeram. Tanduk yang
melekat di atas batok kepalanya berpedar-pedar,
Dewi akhirnya menjerit. Manakala segala daya dan
kekuatannya terbetot keluar dari tubuhnya secara
paksa. Maka dari setiap pembuluh pori-pori, telin-ga dan hidungnya meneteskan darah. Si Buta Ma-
ta Kejora yang merasakan bahaya mengancam
Dewi Kerudung Putih segera menggempur Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya dalam jarak yang
sangat dekat sekali.
Makhluk mengerikan ini sama sekali tidak
terpengaruh, tiba-tiba sambil mengempit Dewi
yang sudah tidak sadarkan diri. Tangannya yang
lain dan panjang itu menyambar dengan ganas-
nya.
Tap....
Sekejap Si Buta Mata Kejora sudah kena di-
cekalnya. Dalam keadaan begitu Si Buta Mata Ke-
jora tidak menjadi panik. Tangan yang masih be-
bas dipergunakannya untuk menusuk kedua mata
Penghela Neraka, sayang apa yang dilakukan oleh
si kakek tidak menghasilkan apa-apa.
Hanya dalam waktu sekejap, nasibnya sama
saja dengan apa yang dialami oleh Dewi Kerudung
Putih. Kedua orang ini tidak sadarkan diri.
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya
menggeram keras, seakan meneriakkan satu kemenangan. Suara teriakan itu disambut oleh suara
tawa lainnya.
"Kau telah melakukan tugasmu dengan
baik, Penghela Neraka Kedua anak manusia ini
nasibnya tentu akan lebih buruk lagi dari Pende-
kar tolol, Pendekar edan, gendeng dan Blo'on Hik hik hik..." kata suara tadi dengan penuh kebang-gaan. "Tetaplah kau di sini, menunggu tamu-tamu lain yang tidak kita undang. Sewaktu-waktu jika
aku membutuhkan tenagamu tentu aku akan
memanggilmu" Baru saja suara tanpa ujud tadi lenyap. Maka di udara terlihat kabut berwarna bi-ru bergumpal-gumpal. Kabut ini merendah, dua
sosok tubuh yang sudah tidak sadarkan diri ini
mulai terangkat perlahan, mengambang di udara
tanpa terlihat ada tangan atau pun benda lain
yang mengangkatnya.
Si Buta Mata Kejora maupun Dewi Keru-
dung Putih ini kemudian melayang dalam keadaan
terlentang menuju bagian lain. Sang Pelucut Sega-
bah mengerikan dalam pandangan Dewi Kerudung
Putih.
DUA
Dalam pada itu sayup-sayup Dewi Keru-
dung Putih mendengar Si Buta Mata Kejora mengi-
siki. "Percuma kau bicara, tidak perlu berteriak atau membentak. Dia tidak akan mau bicara dengan orang yang tidak dikenalnya sama sekali"
"Lalu bagaimana?" tanya Dewi Kerudung
Putih melalui ilmu mengirimkan suara pula.
"Jika masih ada kesempatan, mengapa ti-
dak kita cari selamat saja?" usul Si Buta Mata Kejora. Saran kakek itu memang dapat diterima oleh
Dewi Kerudung Putih, lagi pula di tempat itu
hanya mereka berdua dan Sang Pelucut Segala Il-
mu Segala Daya. Jika mereka melarikan diri cari
selamat, tentu hal ini tidak begitu memalukan. Karena memang tidak ada orang lain yang melihat-
nya. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, baik
Si Buta Mata Kejora maupun Dewi Kerudung Putih
langsung ambil langkah ke arah timur ruangan.
Namun betapa kagetnya gadis ini karena di de-
pannya Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya te-
lah menghadang mereka.
"Sia-sia saja kita menghindarinya, kakek
buta Dia bagaimana secepat itu melompati kita?
Padahal aku tidak merasakan ada gerakan di atas
atau di samping kita Aku hampir tidak percaya?"
seru gadis yang selalu memakai kerudung putih
ini sehingga ia dijuluki Dewi Kerudung Putih.
"Tidak ada jalan lain, kita tempur setan
bumi ini sampai titik darah yang terakhir" tegas Si Buta Mata Kejora.
"Ggggraaak Kroookkkh..."
Makhluk hitam di depan mereka julurkan
kedua tangannya dengan gerakan meringkus. Dewi
langsung bersalto, sedangkan Si Buta Mata Kejora
berguling-guling ke samping sambil lepaskan pu-
kulan 'Angin Biru'. Salah satu pukulan yang paling diandalkan oleh kepala adat Sange ini.
Deru angin kencang melabrak Sang Pelucut
Segala Ilmu Segala Daya. Pusaran angin sempat
memporak porandakan dinding berwarna putih di
samping kanan makhluk ini. Detik itu juga dari
bagian tanduk sang makhluk yang semakin ber-
tambah memerah, meluncur sinar merah darah.
Hingga terjadilah benturan keras bukan main. Si
Buta Mata Kejora tertegak dengan sekujur tubuh
bergetar. Pukulan 'Angin Biru' seolah-olah lenyap tersedot sinar merah yang terus melesat ke arah si kakek. Orang tua buta menyadari adanya bahaya
yang mengancamnya. Sehingga sedapat mungkin
ia coba selamatkan diri, sayang sinar itu mengan-
dung daya sedot yang sungguh luar biasa. Sehing-
ga kedudukan Si Buta Mata Kejora pada saat itu
benar-benar terancam bahaya.
Kira-kira setengah batang tombak lagi sinar
merah menggulung habis sosok si kakek. Dari
samping kiri menderu sinar hijau dan terjadilah
ledakan keras untuk kedua kalinya.
Buuuum
Dari sebelah kiri si kakek terdengar suara
jeritan seseorang. Ternyata yang menjerit adalah
Dewi Kerudung Putih yang berusaha menyela-
matkan kakek buta tersebut dari kebinasaan. Aki-
batnya harus dirasakan oleh gadis itu sendiri. Sudut-sudut bibir si gadis meneteskan darah segar,
ia mencoba bangkit berdiri. Terasakan olehnya pa-
da bagian dada mendenyut sakit. Adalah sungguh
mengherankan jika gadis seperti Dewi Kerudung
Putih yang memiliki tenaga dalam tinggi dan juga
berbagai jurus silat ini telah dibuat babak belur hanya dalam gebrakan pertama.
Walaupun begitu Dewi Kerudung Putih su-
dah melompat berdiri. Sekonyong-konyong tubuh-
nya melesat ke arah Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya, atau lebih dikenal dengan julukan Penghela
Neraka. Dalam keadaan meluncur seperti itu ia
cabut pedang tipis yang melingkar di pinggangnya.
Manakala tangan dikibaskan maka seleret sinar
putih bergulung menyambar ke bagian tengkuk
dan dada Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya.
Sosok berwajah monyet besar ini menggeram. Tan-
gannya menyambar, tapi dengan cepat Dewi sudah
menarik balik senjata dan ini tusukan terarah ke
bagian perut.
Dheellll
Dewi Kerudung Putih melengak kaget, la-
wan sama sekali tidak mempan dengan tusukan
senjata. Malah kini Penghela Neraka telah le-
paskan tendangan menggeledek ke arah Dewi.
Wuuut
Tendangan secepat cahaya ini tidak dapat
dihindari oleh si gadis. Tubuhnya terjengkang. Ia sempat menggeliat, di saat itu Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sudah mengejarnya dengan
maksud merengkuh gadis itu guna melucuti seca-
ra gaib semua kesaktian yang dimiliki oleh si ga-
dis. "Celaka..." seru Si Buta Mata Kejora. Seraya tidak membuang-buang waktu lagi langsung
melompat ke depan. Tidak ayal Si Buta Mata Kejo-
ra lepaskan pukulan 'Tinju Maut' ke punggung so-
sok menyerupai kera besar ini. Dengan telak....
Buuuuuk
"Wuakh..."
Si Buta Mata Kejora malah terbanting. So-
sok yang terkena jotosannya jangankan bergetar,
bergeming pun tidak. Si Buta Mata Kejora geleng-
kan kepalanya yang terasa pusing mendenyut. Se-
dangkan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya
meneruskan rencananya untuk memupus habis
segala kesaktian yang dimiliki oleh Dewi Kerudung Putih. Sekali saja tangan hitam berbulu kasar ini terjulur, Dewi yang tampak berusaha menghindar
ini sudah kena dicengkeramnya.
Crep
Dewi Kerudung Putih kena direngkuh oleh
makhluk ini. Si gadis meronta sambil lepaskan
pukulan bertubi-tubi. Sayang pukulan Dewi tidak
membawa pengaruh sama sekali. Sang Pelucut Se-
gala Ilmu Segala Daya menggeram. Tanduk yang
melekat di atas batok kepalanya berpedar-pedar,
Dewi akhirnya menjerit. Manakala segala daya dan
kekuatannya terbetot keluar dari tubuhnya secara
paksa. Maka dari setiap pembuluh pori-pori, telin-ga dan hidungnya meneteskan darah. Si Buta Ma-
ta Kejora yang merasakan bahaya mengancam
Dewi Kerudung Putih segera menggempur Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya dalam jarak yang
sangat dekat sekali.
Makhluk mengerikan ini sama sekali tidak
terpengaruh, tiba-tiba sambil mengempit Dewi
yang sudah tidak sadarkan diri. Tangannya yang
lain dan panjang itu menyambar dengan ganas-
nya.
Tap....
Sekejap Si Buta Mata Kejora sudah kena di-
cekalnya. Dalam keadaan begitu Si Buta Mata Ke-
jora tidak menjadi panik. Tangan yang masih be-
bas dipergunakannya untuk menusuk kedua mata
Penghela Neraka, sayang apa yang dilakukan oleh
si kakek tidak menghasilkan apa-apa.
Hanya dalam waktu sekejap, nasibnya sama
saja dengan apa yang dialami oleh Dewi Kerudung
Putih. Kedua orang ini tidak sadarkan diri.
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya
menggeram keras, seakan meneriakkan satu kemenangan. Suara teriakan itu disambut oleh suara
tawa lainnya.
"Kau telah melakukan tugasmu dengan
baik, Penghela Neraka Kedua anak manusia ini
nasibnya tentu akan lebih buruk lagi dari Pende-
kar tolol, Pendekar edan, gendeng dan Blo'on Hik hik hik..." kata suara tadi dengan penuh kebang-gaan. "Tetaplah kau di sini, menunggu tamu-tamu lain yang tidak kita undang. Sewaktu-waktu jika
aku membutuhkan tenagamu tentu aku akan
memanggilmu" Baru saja suara tanpa ujud tadi lenyap. Maka di udara terlihat kabut berwarna bi-ru bergumpal-gumpal. Kabut ini merendah, dua
sosok tubuh yang sudah tidak sadarkan diri ini
mulai terangkat perlahan, mengambang di udara
tanpa terlihat ada tangan atau pun benda lain
yang mengangkatnya.
Si Buta Mata Kejora maupun Dewi Keru-
dung Putih ini kemudian melayang dalam keadaan
terlentang menuju bagian lain. Sang Pelucut Sega-
la
Ilmu Segala Daya memperhatikan bekas lawan-
lawannya ini sambil angguk-anggukkan kepala.
***
lawannya ini sambil angguk-anggukkan kepala.
***
Laki-laki
yang sekujur tubuhnya terbung-
kus akar-akar berwarna hitam ini sebentar me-
mandang ke langit, di lain waktu ia melihat ke dalam lubang seukuran babi hutan. Suasana di da-
lam lubang yang tidak terukur kedalamannya ini
gelap gulita. Rasanya walau pun mata melotot bila telah berada di dalam lubang tersebut jemari tangan sendiri pun tidak akan terlihat.
Si laki-laki membungkuk lagi, bibirnya
mendecap-decap, sedangkan rambutnya yang pan-
jang riap-riapan dibiarkannya menutupi sebagian
wajah. "Dari sini Aku menjadi ragu jalan ini tidak menembus ke bekas tambang emas dulu. Aku tidak ingin terjebak, urusanku menyangkut kepen-
tingan jiwa orang banyak" pikir si lelaki yang kita kenal sebagai kepala Negeri Sange. Dialah Wayan
Tandira yang pernah dihukum benam dalam tanah
selama tiga puluh tahun. Agar lebih jelas (dalam
Episode Batu Lahat Bakutuk).
"Hhh, rasanya sulit memang sulit. Aku tidak
tahu di mana ketua adat dan pemuda tampan
berwajah tolol itu. Aku harus berjuang sendiri, apa dayaku? Semua ini gara-gara Ratu Leak jahanam"
dengus Wayan Tandira seakan menyesali.
Si laki-laki kembali membungkukkan ba-
dannya untuk mengeluarkan sisa-sisa tanah yang
menghalangi besar lubang tadi. Tiba-tiba saja en-
tah dari mana datangnya Wayan Tandira merasa-
kan adanya hembusan angin. Hembusan yang be-
gitu lembut mirip dengan desiran. Tengkuk si
rambut gondrong ini meremang, sekujur tubuhnya
yang terbalut akar-akaran hingga sebatas leher terasa dingin. Wayan Tandira cepat menoleh, me-
mandang ke sekelilingnya yang terlihat hanyalah
pohon-pohon membatu, bukit-bukit gersang mem-
bisu. Cukup lama Wayan Tandira si Manusia
Akar tertegun. Ia celingak-celinguk bagaikan seo-
rang pencuri yang takut tertangkap basah, atau
karena kecurigaan lebih banyak menguasai di-
rinya. Yang jelas pada siapa pun ia mudah curiga.
"Huuuung"
Wayan lagi-lagi terkesiap ketika ia menden-
gar suara berdengung-dengung seperti pusaran
angin di sekelilingnya. Laki-laki kepala negeri
Sange ini sempat terhuyung-huyung meskipun ti-
dak sampai terjatuh.
"Hih siapakah yang mencoba menganggu-
ku? Pekerjaan ini harus tuntas Atau mungkin Ra-
tu Leak punya anak buah?" batin Wayan Tandira.
Belum hilang rasa heran dalam dirinya, tiba-tiba
terdengar suara tangis seseorang. Wayan menden-
garkan semuanya dengan seksama. Ternyata bu-
kan tangis anak kecil, tapi suara tawa.
"Edan Apakah Ratu Leak hendak memper-
dayaiku lagi?" pikir si laki-laki agak bimbang. Tidak lama desiran angin semakin bertambah kuat.
Lalu suara tawa pun semakin terdengar dengan je-
las. Ketika tawa terhenti, maka ada seseorang berkata seperti bersair....
Duuuuh, panasnya dunia?
Wi h, dunia bukan neraka
Neraka bukan dunia
Tetapi aku melihat neraka di dunia
Aku likat manusia akar
Aku pandang keraguannya
Aku tahu setan menggodanya
Ragu-ragu dan curiga sama bersahabat
Dua-duanya kawan-kawan setan
Duh...
Neraka di dalam bumi
Aku tahu bumi bukanlah neraka
Aku bingung melihat si gondrong bingung
Namun aku lebih bingung lagi melihat orang
gila bingung
Ha ha hi hi...
Baru saja suara-suara tadi lenyap. Di depan
Wayan Tandira sejauh tiga batang tombak tepat-
nya di atas batu terlihat seorang laki-laki berbadan pendek memakai topeng bocah duduk uncang-uncang kaki. Orang ini sama sekali tidak memakai
baju, celananya hitam komprang. Di dadanya yang
telanjang tergantung rompeng anak kecil dan juga
Ketapel butut berwarna hitam. Orang memakai to-
peng-topengan ini tertawa ha ha hi hi. Wajahnya
tentu saja tidak terlihat karena tertutup topeng.
Wayan Tandira memperhatikan orang itu dengan
seksama.
"Datang dari mana, apa tujuan kemari? Ce-
pat jelaskan padaku" bentak pimpinan masyarakat Sange tegas. Yang ditanya bersikap acuh saja, kakinya diguncangkan semakin keras. Sikap laki-laki pendek memakai topeng bocah ini sungguh
membuat Wayan menjadi jengkel.
"Kau tetap membisu atau memang sengaja
ingin mencari mati?" teriak Wayan Tandira. Dalam hati ia sudah mulai curiga kalau orang yang memakai topeng ini mungkin saja anggota Ratu Leak
dan boleh jadi pula merupakan anggota perem-
puan jalang itu. Dari duduk, laki-laki pendek itu duduk mencangkung. Dagunya di tompangkan di
atas kedua tangannya.
Kau ingin tahu siapa aku?
Uuuuuh... aku sendiri tidak tahu siapa diriku ini.
Aku sudah berjalan ke mana arah
Hampir dua ratus tahun sudah
Waktu di alam rahim janjiku pada Tuhan
Aku tidak akan pernah berpaling
Setelah berada di dunia aku menyembah
apa? Wahai anak, jangan tanya siapa aku
Diri ini sama bodohnya
Manusia lebih senang memakai topeng
Topeng adalah aku
Aku adalah topeng
Aku manusia topeng
Wayan Tandira sama sekali memang belum
pernah mengenal laki-laki pendek yang memakai
topeng bocah ini. Tapi melihat cara kehadirannya
tadi rasanya ia bukan laki-laki sembarangan. Apa-
lagi orang di balik topeng sempat mengatakan
bahwa dirinya telah hidup hampir dua ratus ta-
hun. "Entahlah siapa kau aku tidak akan perduli.
Tetapi terus terang jika kau punya ikatan atau hubungan tertentu dengan Ratu Leak, sebaiknya me-
nyerah padaku..." seru Wayan Tandira.
Ha ha ha hi hi hi
Anak kecil bodoh, lama-lama menjadi pintar
Orang bodoh berlagak pintar
Namanya si biang tolol
Orang tua goblok
Jika terus di pelihara menjadi pikun
Aku tidak kenal Ratu Leak.
Aku hanya mengenal kejahatannya
Kutukannya membuat manusia menjadi batu
Aku sedih, huk huk huk
Manusia akar tertegun. Diperhatikannya la-
ki-laki pendek yang terus mencangkung di depan-
nya. Ia menjadi heran mengapa orang tua ini suka
memakai topeng. Siapa sosok dibalik topeng itu?
Ini sungguh mencurigakan. Terdorong oleh rasa
ingin tahu, sekonyong-konyong Wayan Tandira
melompat ke depan dan sambar topeng yang me-
nutupi wajah orang itu.
Wuuut
Si gondrong jadi kaget, karena ternyata ia
hanya menggapai angin. Manusia Topeng telah
berpindah tempat dalam keadaan mencangkung
pula. "Kecurigaan yang berlebihan hanya membuat manusia celaka dan termakan hati sendiri.
Tanggalkanlah topengmu, mari kita saling berbuka
kartu berbuka hati. Mengapa harus saling bersite-
gang? Bukankah yang rugi diri sendiri?" tanya Manusia Topeng.
"Aku bukan bermaksud mencurigaimu, apa
yang kau katakan memang benar. Aku benar-
benar sedang mengalami kesulitan untuk meng-
hancurkan Ratu Leak Jika kau bukan kawannya,
kurasa kau bersedia menolong kesulitanku dan
membantu membebaskan masyarakat Sange ini
dari kutukan Ratu Leak" sahut Wayan Tandira tanpa malu-malu.
"Bukan Ratu Leak itu yang patut diwaspa-
dai. Batu Lahat Bakutuk menurutku lebih berba-
haya dari sepuluh Pendekar Sakti Itu sebabnya
alangkah lebih baik jika kita cari Batu itu, batu bakutuk segala bencana"
"Apakah kita harus memasuki Liang Lahat
Bakutuk? Karena hanya dari sana satu-satunya
jalan yang dapat dilalui" ujar Wayan Tandira, Manusia Topeng tersenyum, kemudian terdengar suara tawanya. "Liang Lahat adalah tempat istirahat yang terakhir buat orang-orang yang sudah bosan makan, bosan bernafas dan bosan dari
segala yang membosankan. Asal usul manusia
tempat keluarnya dari dalam lubang, maka kita bi-
sa masuk ke dalam lubang ini untuk akhirnya ke-
kus akar-akar berwarna hitam ini sebentar me-
mandang ke langit, di lain waktu ia melihat ke dalam lubang seukuran babi hutan. Suasana di da-
lam lubang yang tidak terukur kedalamannya ini
gelap gulita. Rasanya walau pun mata melotot bila telah berada di dalam lubang tersebut jemari tangan sendiri pun tidak akan terlihat.
Si laki-laki membungkuk lagi, bibirnya
mendecap-decap, sedangkan rambutnya yang pan-
jang riap-riapan dibiarkannya menutupi sebagian
wajah. "Dari sini Aku menjadi ragu jalan ini tidak menembus ke bekas tambang emas dulu. Aku tidak ingin terjebak, urusanku menyangkut kepen-
tingan jiwa orang banyak" pikir si lelaki yang kita kenal sebagai kepala Negeri Sange. Dialah Wayan
Tandira yang pernah dihukum benam dalam tanah
selama tiga puluh tahun. Agar lebih jelas (dalam
Episode Batu Lahat Bakutuk).
"Hhh, rasanya sulit memang sulit. Aku tidak
tahu di mana ketua adat dan pemuda tampan
berwajah tolol itu. Aku harus berjuang sendiri, apa dayaku? Semua ini gara-gara Ratu Leak jahanam"
dengus Wayan Tandira seakan menyesali.
Si laki-laki kembali membungkukkan ba-
dannya untuk mengeluarkan sisa-sisa tanah yang
menghalangi besar lubang tadi. Tiba-tiba saja en-
tah dari mana datangnya Wayan Tandira merasa-
kan adanya hembusan angin. Hembusan yang be-
gitu lembut mirip dengan desiran. Tengkuk si
rambut gondrong ini meremang, sekujur tubuhnya
yang terbalut akar-akaran hingga sebatas leher terasa dingin. Wayan Tandira cepat menoleh, me-
mandang ke sekelilingnya yang terlihat hanyalah
pohon-pohon membatu, bukit-bukit gersang mem-
bisu. Cukup lama Wayan Tandira si Manusia
Akar tertegun. Ia celingak-celinguk bagaikan seo-
rang pencuri yang takut tertangkap basah, atau
karena kecurigaan lebih banyak menguasai di-
rinya. Yang jelas pada siapa pun ia mudah curiga.
"Huuuung"
Wayan lagi-lagi terkesiap ketika ia menden-
gar suara berdengung-dengung seperti pusaran
angin di sekelilingnya. Laki-laki kepala negeri
Sange ini sempat terhuyung-huyung meskipun ti-
dak sampai terjatuh.
"Hih siapakah yang mencoba menganggu-
ku? Pekerjaan ini harus tuntas Atau mungkin Ra-
tu Leak punya anak buah?" batin Wayan Tandira.
Belum hilang rasa heran dalam dirinya, tiba-tiba
terdengar suara tangis seseorang. Wayan menden-
garkan semuanya dengan seksama. Ternyata bu-
kan tangis anak kecil, tapi suara tawa.
"Edan Apakah Ratu Leak hendak memper-
dayaiku lagi?" pikir si laki-laki agak bimbang. Tidak lama desiran angin semakin bertambah kuat.
Lalu suara tawa pun semakin terdengar dengan je-
las. Ketika tawa terhenti, maka ada seseorang berkata seperti bersair....
Duuuuh, panasnya dunia?
Wi h, dunia bukan neraka
Neraka bukan dunia
Tetapi aku melihat neraka di dunia
Aku likat manusia akar
Aku pandang keraguannya
Aku tahu setan menggodanya
Ragu-ragu dan curiga sama bersahabat
Dua-duanya kawan-kawan setan
Duh...
Neraka di dalam bumi
Aku tahu bumi bukanlah neraka
Aku bingung melihat si gondrong bingung
Namun aku lebih bingung lagi melihat orang
gila bingung
Ha ha hi hi...
Baru saja suara-suara tadi lenyap. Di depan
Wayan Tandira sejauh tiga batang tombak tepat-
nya di atas batu terlihat seorang laki-laki berbadan pendek memakai topeng bocah duduk uncang-uncang kaki. Orang ini sama sekali tidak memakai
baju, celananya hitam komprang. Di dadanya yang
telanjang tergantung rompeng anak kecil dan juga
Ketapel butut berwarna hitam. Orang memakai to-
peng-topengan ini tertawa ha ha hi hi. Wajahnya
tentu saja tidak terlihat karena tertutup topeng.
Wayan Tandira memperhatikan orang itu dengan
seksama.
"Datang dari mana, apa tujuan kemari? Ce-
pat jelaskan padaku" bentak pimpinan masyarakat Sange tegas. Yang ditanya bersikap acuh saja, kakinya diguncangkan semakin keras. Sikap laki-laki pendek memakai topeng bocah ini sungguh
membuat Wayan menjadi jengkel.
"Kau tetap membisu atau memang sengaja
ingin mencari mati?" teriak Wayan Tandira. Dalam hati ia sudah mulai curiga kalau orang yang memakai topeng ini mungkin saja anggota Ratu Leak
dan boleh jadi pula merupakan anggota perem-
puan jalang itu. Dari duduk, laki-laki pendek itu duduk mencangkung. Dagunya di tompangkan di
atas kedua tangannya.
Kau ingin tahu siapa aku?
Uuuuuh... aku sendiri tidak tahu siapa diriku ini.
Aku sudah berjalan ke mana arah
Hampir dua ratus tahun sudah
Waktu di alam rahim janjiku pada Tuhan
Aku tidak akan pernah berpaling
Setelah berada di dunia aku menyembah
apa? Wahai anak, jangan tanya siapa aku
Diri ini sama bodohnya
Manusia lebih senang memakai topeng
Topeng adalah aku
Aku adalah topeng
Aku manusia topeng
Wayan Tandira sama sekali memang belum
pernah mengenal laki-laki pendek yang memakai
topeng bocah ini. Tapi melihat cara kehadirannya
tadi rasanya ia bukan laki-laki sembarangan. Apa-
lagi orang di balik topeng sempat mengatakan
bahwa dirinya telah hidup hampir dua ratus ta-
hun. "Entahlah siapa kau aku tidak akan perduli.
Tetapi terus terang jika kau punya ikatan atau hubungan tertentu dengan Ratu Leak, sebaiknya me-
nyerah padaku..." seru Wayan Tandira.
Ha ha ha hi hi hi
Anak kecil bodoh, lama-lama menjadi pintar
Orang bodoh berlagak pintar
Namanya si biang tolol
Orang tua goblok
Jika terus di pelihara menjadi pikun
Aku tidak kenal Ratu Leak.
Aku hanya mengenal kejahatannya
Kutukannya membuat manusia menjadi batu
Aku sedih, huk huk huk
Manusia akar tertegun. Diperhatikannya la-
ki-laki pendek yang terus mencangkung di depan-
nya. Ia menjadi heran mengapa orang tua ini suka
memakai topeng. Siapa sosok dibalik topeng itu?
Ini sungguh mencurigakan. Terdorong oleh rasa
ingin tahu, sekonyong-konyong Wayan Tandira
melompat ke depan dan sambar topeng yang me-
nutupi wajah orang itu.
Wuuut
Si gondrong jadi kaget, karena ternyata ia
hanya menggapai angin. Manusia Topeng telah
berpindah tempat dalam keadaan mencangkung
pula. "Kecurigaan yang berlebihan hanya membuat manusia celaka dan termakan hati sendiri.
Tanggalkanlah topengmu, mari kita saling berbuka
kartu berbuka hati. Mengapa harus saling bersite-
gang? Bukankah yang rugi diri sendiri?" tanya Manusia Topeng.
"Aku bukan bermaksud mencurigaimu, apa
yang kau katakan memang benar. Aku benar-
benar sedang mengalami kesulitan untuk meng-
hancurkan Ratu Leak Jika kau bukan kawannya,
kurasa kau bersedia menolong kesulitanku dan
membantu membebaskan masyarakat Sange ini
dari kutukan Ratu Leak" sahut Wayan Tandira tanpa malu-malu.
"Bukan Ratu Leak itu yang patut diwaspa-
dai. Batu Lahat Bakutuk menurutku lebih berba-
haya dari sepuluh Pendekar Sakti Itu sebabnya
alangkah lebih baik jika kita cari Batu itu, batu bakutuk segala bencana"
"Apakah kita harus memasuki Liang Lahat
Bakutuk? Karena hanya dari sana satu-satunya
jalan yang dapat dilalui" ujar Wayan Tandira, Manusia Topeng tersenyum, kemudian terdengar suara tawanya. "Liang Lahat adalah tempat istirahat yang terakhir buat orang-orang yang sudah bosan makan, bosan bernafas dan bosan dari
segala yang membosankan. Asal usul manusia
tempat keluarnya dari dalam lubang, maka kita bi-
sa masuk ke dalam lubang ini untuk akhirnya ke-
luar
dengan selamat Mari tunggu apa lagi?" dengus Manusia Topeng. Kedua orang
ini memasuki
lubang yang hanya pas dimasuki oleh laki-laki de-
wasa saja.
TIGA
Suro Blondo diletakkan di atas meja batu
marmar putih. Di sekeliling meja marmar itu ter-
dapat semacam kolam yang selalu mengepulkan
uap panas. Warna air kolam merah darah, namun
baunya seperti aroma stanggi. Air kolam yang
mengelilingi meja senantiasa menggelegak, sua-
ranya yang bergemuruh membuat merinding bagi
yang mendengarnya. Sementara itu murid Penghu-
lu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api
tergeletak tidak berdaya. Tangan dan kakinya da-
lam keadaan terikat langsung ke bagian bawah
meja marmar, sehingga mustahil bagi pemuda
berpakaian biru ini dapat meloloskan diri.
"Uakh... Ekh..." Si pemuda tiba-tiba saja menggeliat. Gerakannya lemah karena sesungguhnya ia telah kehilangan seluruh tenaga dalam dan
inti hawa murni. Kalau pun ia masih setengah in-
gat dari semua jurus-jurus serta pukulan yang
dimilikinya. Namun rasanya sudah hampir tidak
ada gunanya. Penghela Neraka telah melucuti se-
gala ilmu dan segala kekuatan yang dia miliki se-
hingga sekarang ia hanya mempunyai tenaga ka-
sar saja. "Dimana sekarang aku ini? Pandanganku kabur, ingatanku hilang-hilang timbul. Apakah
aku sudah mati? Rugi betul aku jadi manusia?
Merasakan nikmatnya kawin saja belum, kaya ju-
ga tidak. Masa' aku sekarang sudah berada di
alam baka??" Suro mengguman pelan. Kini hidupnya benar-benar tanpa kemauan sama sekali. Se-
mangat hilang, tiada gairah selain kelesuan yang
berkepanjangan tiada putus-putusnya. "Benar-
benar celaka hidup seperti ini Kepalaku terus menerus mendenyut, dadaku sesak. Dan... akh..."
Suro menjerit tertahan, tangannya seperti ditusuk-tusuk benda tajam. Keadaannya saat itu benar-
benar seperti antara hidup dan mati.
"Hi hi hi... Bagaimana keadaanmu saat ini,
bocah cakep? Sebelum kau sampai di Negeri Batas
Ajal, alangkah lebih baik jika aku perlihatkan padamu beberapa orang yang sudah kau kenal dan
sekarang sama dalam keadaan seperti dirimu"
berkata sebuah suara.
"Bangsat Siapa kau? Apakah perempuan
jalang Iblis Betina Dari Neraka? Atau Kala Demit si jahanam yang telah membunuh kedua orang tua-ku" maki Suro Blondo. Saking gusarnya ia ingin menggaruk rambutnya, tapi apa daya tangan dan
kakinya dalam keadaan terikat.
"Percuma kau memaki, tidak sampai sehari
lagi kau segera menjadi budak terpilih Ratu Leak
Kau akan patuh tanpa pembangkangan sedikit
pun" sahut suara tadi.
Suro meludah, karena ludahnya ke atas
maka yang basah wajahnya sendiri. Geram bukan
main pemuda ini, dalam keadaan seperti itu apa
yang dapat diperbuatnya?
"Ratu Leak Kurasa kau wanita cantik
Sayang baumu busuk seperti comberan. Tubuhmu
berbau mesum, isi kepalamu penuh dendam dan
amarah. Aku jadi ingin tahu apakah di balik kebu-
sukan mu kau masih perawan? Aku tahu kau ti-
dak berani tunjukkan diri karena wajahmu jelek.
Suara tawamu seperti ringkik kuda. Kurasa pan-
tatmu kalah bagus dengan pantat kuda Ha ha
ha..." Suro tertawa bergelak.
Namun hanya beberapa detik kemudian ta-
wa pemuda berambut merah ini melenyap. Sepa-
sang matanya melotot, apa yang dilihatnya adalah
sosok seorang gadis berpakaian putih dan berke-
rudung putih. Gadis itu sama sekali tidak berge-
rak, entah masih hidup atau sudah mati. Anehnya
gadis ini bergerak dalam keadaan telentang dan
mengambang, seakan ada tangan-tangan gaib
yang mengangkatnya.
"Gadis misterius Dewi Kerudung Putih?"
Suro berseru, namun suara yang terdengar hanya
berupa erangan saja. Nafas pemuda ini tersengal.
Kemudian ia berteriak dengan sekuat tenaga. "Ra-tu Leak Jika kau usik satu lembar rambutnya,
apalagi sampai kau mencelakainya, aku bersum-
pah kelak akan memenggal kepalamu" ancam
Pendekar Blo'on.
"Hik hik hik" Suara tanpa rupa tertawa bergelak. "Apa yang dapat kau lakukan Pendekar tolol, tubuhmu tanpa daya dan kekuatan Menyelamatkan dirimu sendiri saja kau tidak mampu,
jangankan lagi memikirkan keselamatan orang
lain" Pendekar Mandau Jantan katupkan bibir-
nya rapat-rapat, rahangnya menggembung pertan-
da ia hampir tidak mampu menguasai kemarahan.
Dengan cepat ia kerahkan tenaga dalam untuk
memutuskan simpul-simpul tali yang membeleng-
gu tangan dan kakinya.
"Gila, kekuatanku benar-benar hilang Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya Dia benar-benar
telah merampas segala-galanya dariku" keluh Su-ro.
"Kau telah membuktikan bahwa dirimu bu-
kanlah apa-apa, bocah ajaib. Kau lihatlah, aku
akan mencambuki gadis ini. Wajahnya memang
cantik, agaknya dia kekasihmu atau dia mencin-
taimu. Terbukti ia telah menyusulmu ke sini" kata Ratu Leak dalam gaibnya.
Kemudian samar-samar Suro melihat se-
buah cambuk api menggelantung di udara. Tidak
terlihat siapa yang memegang cambuk tersebut.
Manakala cambuk melecut di udara. Dewi Keru-
dung Putih yang dalam keadaan terapung di udara
tampak terpelanting.
Tarrr
Cambuk api kembali menghantam tubuh
Dewi, gadis yang tidak sadarkan diri itu terpelanting. Pakaiannya robek, meskipun terpelanting ia
tidak juga jatuh ke lantai atau ke dalam kolam
mendidih.
Melihat pemandangan ini Suro merasa iba
dan prihatin. Sementara bagian-bagian tubuh De-
wi yang terkena cambuk tampak melepuh dan
hangus. Padahal cambuk yang melecut-lecut den-
gan sendirinya itu terus mendera Dewi Kerudung
Putih tiada putus-putusnya.
"Hentikan Jangan kau siksa dia, Ratu Leak
keparat" teriak Suro Blondo.
"Hik hik hik... Sekarang apa yang dapat
kau lakukan? Apakah kau tidak suka menikmati
pemandangan ini? Padahal aku belum memperli-
hatkan padamu seorang pesakitan lain yang juga
menunggu giliran"
"Setan alas Apa keinginanmu yang sebe-
narnya? Jika kau menghendaki nyawaku, menga-
pa orang lain ikut pula kau sakiti?" seru Suro.
"Dirimu memang kuinginkan, tetapi nanti.
Kau akan kuberi tugas yang tidak kalah penting-
nya. Sekarang ingin kutanyakan padamu, apakah
kau ingat dengan Mustika Jajar?" tanya Ratu Leak yang tidak pernah menunjukkan diri itu lantang.
"Perempuan jahanam itu Jika ada makhluk
yang berjalan di punggung bumi yang paling ku-
benci. Iblis Betina Dari Neraka itulah yang aku
benci. Huh..." Suro mendengus sinis. "Rupanya sekarang wanita jalang itu telah menjadi pengi-kutmu? Kurasa Kala Demit juga telah berkomplot
denganmu, setan kurapan Tidak tenang diriku,
kalau pun aku mati, orang yang pertama harus
kucari engkaulah bangsatnya Nanti arwahku ber-
gentayangan, bawa golok yang paling gede, perta-
ma kaki dan tanganmu akan kutebas hingga bun-
tung, kemudian bibirmu kuambil yang di sebelah
atas, biar konyol, setelah bibir, dada harus diambil sebelah. Setelah itu kulitmu kubeset sedikit demi sedikit, daging yang sudah tidak berkulit disiram
air jeruk baru dikasih kecap sedikit. Oh... aku
hampir lupa apakah saat ini sudah ada warung
yang jual kecap?" kata Suro ngawur. "Setelah matamu menyaksikan semua ini baru kukorek, biji
mata harus kujadikan campuran cendol. Kata iblis
cendol dari biji mata enak. Lidahmu pasti me-
raung-raung. Aku sangat senang mendengar sua-
ramu nanti. Kalau aku bosan mendengarnya, baru
lidahmu kupotong. Kau akan menjadi manusia ga-
gu Kau akan menjalani penderitaan hidup yang
tidak pernah kau bayangkan sebelumnya" Kata-kata Suro Blondo terputus menjadi jeritan ketika
cambuk yang dapat bergerak secara gaib itu men-
deru tubuhnya berulang-ulang.
"Bicaralah kau sesuka perutmu, sekarang
rasakanlah azabku yang sangat pedih" geram Ra-tu Leak.
Ctar Tar Tar
"Augkh... Cilaka betul, kau ratu bangsat
Bangsatnya ratu-ratu." maki si konyol. Pakaian pemuda ini sudah tidak karuan bentuknya, tubuh
Suro yang sudah tidak terlindungi tenaga dalam
babak belur.
Ctar
Cambuk api terus menghantam tubuh si
pemuda, kini dirinya antara sadar dan tidak. Da-
lam keadaan hampir kelenger begitu rupa, sayup-
sayup ia masih sempat melihat sosok tubuh lain-
nya dalam keadaan terkapar. Sosoknya jelas seo-
rang kakek berpakaian kumal. Siapa lagi kalau
bukan Si Buta Mata Kejora.
"Uukh... Orang tua yang tidak bisa melek
itu mengapa ikut-ikutan ke sini? Kalau mau mam-
pus wajar saja, dia sudah tua Benar-benar tolol
semuanya. Kurasa dia menyusulku kedalam Liang
Lahat Bakutuk." Begitu bingungnya Suro hingga ia ingin menggaruk kepala, namun hal itu tidak kuasa dilakukannya.
"Bukankah si tua ketua adat ini sahabatmu
juga, Pendekar Tolol? Sama seperti dirimu dan ga-
dis yang mencintaimu itu, dia juga sudah berada
dalam genggamanku. Aku juga akan menyiksanya
jika hukuman yang kuberikan padanya tidak
membuat Buta Mata Kejora menjadi kapok" dengus suara tanpa rupa sengit. Kemudian ia berseru
pada cambuk gaib yang menari-nari di udara.
"Cambuk Api yang hanya bekerja sesuai dengan perintah pemilik Batu Lahat Bakutuk. Hajar orang
tua yang ada di depanmu"
Baru saja gema suara Ratu Leak lenyap,
maka cambuk pun meluncur deras ke arah Si Bu-
ta Mata Kejora. Lalu terdengarlah suara gemuruh
lecutan cambuk yang terasa menyakitkan gen-
dang-gendang telinga. Setiap cambuk api mendera
tubuh si kakek, maka terlihat kepulan asap dari
bekas cambukan itu.
Dalam keadaan seperti ini anehnya tubuh si
kakek yang juga dalam keadaan terikat tampak
mengambang.
"Ratu Leak Mengapa kau menyiksanya, ti-
dak cukupkah hukuman belenggu rantai yang kau
jatuhkan padanya selama hampir tiga puluh ta-
hun?" "Huh, kau tau apa? Apa yang kau saksikan
di luaran sana hanya berupa permulaan dari se-
buah perjalanan panjang Perjalanan ini terjadi
akibat ulah gurumu Sebagai muridnya, kaulah
yang akan mengukir sebuah sejarah perjalanan
baru. Sejarah di mana gurumu akan teringat den-
gan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu" ucap Ratu Leak. Lalu terdengar suara nyanyiannya yang
tidak jelas. Nyanyian terhenti, ada suara tepukan tangan. Sebuah pintu yang terletak di sudut kanan Suro Blondo membuka secara gaib. Dari dalamnya
memancar cahaya merah berkilau-kilauan. Suro
kerutkan keningnya. Dari sinilah tadi Suro men-
dengar suara-suara Ratu Leak, si pemuda berpikir
mungkin di situlah Ratu Leak berdiam.
Kembali memandang ke arah pintu yang
terbuka, dimana sinar merah memancar dari ba-
liknya. Kini kelihatan sesosok tubuh berdiri tegak.
Sosok ramping berpakaian tipis merangsang. Sinar
merah yang menerangi di belakang yang menem-
bus liku-liku tubuh si gadis yang padat menggai-
rahkan. Gadis berambut panjang lambat-lambat
menghampiri. Ternyata gadis itu tidak lain adalah Mustika Jajar, musuh bebuyutan Pendekar Blo'on.
Sampai di tepi kolam mendidih menebar
bau stanggi yang mengelilingi meja panjang batu
marmar Iblis Betina Dari Neraka hentikan lang-
kah. Bibirnya sunggingkan seulas senyum menge-
jek. "Pemuda bangsat rambut merah Kau akan melihat betapa gadis yang mencintaimu itu akan
mengalami penderitaan menyakitkan" dengus
Mustika Jajar.
"Betina Dari Neraka? Kau sakiti dia, berarti hanya mengurangi umurmu saja Aku bersumpah,
aku bersumpah" teriak si konyol dengan bibir pe-letat-peletot.
"Huh..." Mustika Jajar mendengus sinis.
Seraya lalu mengambil kendi yang digenggamnya
sejak dari tadi. Perlu diketahui saat itu masih ada sebuah kendi lain berwarna merah darah tergantung di pinggang Iblis Betina Dari Neraka.
Isi kendi dituangkan ke dalam sebuah
cangkir merah yang kelihatannya terbuat dari ta-
nah liat. Mustika melambaikan tangannya ke arah
Dewi Kerudung Putih yang tengah mengambang di
udara. Sekonyong-konyong, sosok Dewi melayang
mendekatinya. Mustika langsung membuka mulut
Dewi, begitu bibir Dewi Kerudung Putih yang tidak sadarkan diri itu terbuka, maka cairan merah yang terdapat di dalam cangkir di tuangkan.
Glek
Seluruh isi cangkir tertuang ke mulut Dewi
Kerudung Putih. Sekejap setelah itu si gadis berba-ju putih menggeliat, lalu terdengar suara erangannya yang tidak begitu jelas.
"Dewi??" seru Suro. Si gadis menoleh ke arah Suro. Matanya membulat lebar ketika mengenali pemuda yang selalu membayangi hidupnya
selama ini.
"Kau, adakah kau dalam keadaan baik-baik
saja?" tanya Dewi. Ada kelegaan terpancar lewat tatapan mata si gadis. Justru hal ini tidak dike-hendaki oleh Suro. Sebab bagaimana pun sikap
Dewi yang demikian mesra dapat dimanfaatkan
oleh Ratu Leak maupun Mustika Jajar untuk
memperalat mereka.
"Aku dalam keadaan setengah baik dan se-
tengah mati, Dewi. Mataku bebas, mulutku bebas
bicara. Yang terikat kaki dan tanganku Ha ha
ha..." kata Suro Blondo masih sempatnya tertawa.
"Suro, adakah kau sanggup membebaskan
diri dari tali-tali yang mengikatmu itu?" tanya lagi Dewi Kerudung Putih. Sikap Dewi yang tampak
mesra ini membuat Mustika Jajar menjadi sema-
kin bertambah geram.
"Tid... tidak, Dewi Misterius. Kesaktianku
dan tenaga dalamku sudah diperas sampai ke am-
pas-ampasnya oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Se-
gala Daya. Aku sekarang ini tidak ubahnya seperti barang rongsokan yang hampir tidak berguna.
Mungkin hanya pentunganku saja yang berguna
bagi gadis bengis yang baru habis memberi racun
tadi Akh... kulihat wajahmu berubah biru, apakah kau merasakan sesuatu?"
Kening gadis berkerudung itu berkerut ta-
jam. Saat itu ia merasa sekujur tubuhnya seperti
ditusuk-tusuk ribuan batang pedang. Dewi Keru-
dung Putih kemudian menggelepar.
"Su-ro... akh... huakh... Perempuan jaha-
nam itu telah memberiku kesadaran sekaligus ra-
cun berkala yang membuatku mati perlahan-
lahan" teriak Dewi Kerudung Putih dengan suara terbata-bata.
Pendekar Mandau Jantan mendelik, ia ma-
rah bukan main melihat kekejian yang dilakukan
oleh Iblis Betina Dari Neraka.
"Perempuan terlaknat Berikan obat pemu-
nahnya Cepaaat..." geram Pendekar konyol sengit.
"Hik hi hi Apa yang terjadi atas perintah
Ratu Leak. Gadis ini dan si tua mata buta itu
hanya dapat selamat jika kau mau menuruti perin-
tah Ratu" sahut Mustika Jajar.
"Kupertaruhkan nyawaku demi kebebasan-
nya" ujar si pemuda yang merasa tidak berdaya.
"Bagus Itu namanya sayang kekasih. Agak-
nya kau cinta berat padanya Hi hi..."
Suro tidak menyahut, antara dia dengan
Dewi sesungguhnya tidak ada perasaan cinta. Suro
hanya merasa senang dan sayang pada gadis itu.
Namun biar bagaimana pun ia harus menolong
Dewi Kerudung Putih, karena gadis itu juga dulu
pernah menyelamatkan jiwanya (dalam Episode
Bayang-Bayang Kematian).
"Cepat beri dia obat pemunah racun itu"
desak si pemuda begitu melihat kujur tubuh Dewi
semakin membiru.
"Boleh Tapi kau harus meminum ini dulu"
sahut Iblis Betina Dari Neraka. Seraya kemudian
mengambil tengkorak manusia yang sudah berlu-
mut dan berwarna hitam-hitaman. Mustika men-
gambil kendi merah yang tergantung di pinggang-
nya. Isi kendi dituangkan ke dalam tengkorak ke-
pala persis di bagian tempurung otak.
Dengan jelas Suro melihat tempurung kepa-
la itu mengepulkan uap berbau menyengat. Suro
tidak tahu apa cairan tersebut, entah racun entah pula cairan lain yang mematikan.
Mustika Jajar menjejak lantai tiga kali. Tiba-tiba meja marmar bergerak, meninggalkan ko-
lam dalam keadaan mengapung mendekati si ga-
dis. "Cepat kau minum" perintah Iblis Betina Dari Neraka.
"Apakah ini obat kuat untuk membang-
kitkan semangatku? Percayalah si Buyung tidak
mau bangkit apalagi melek jika hanya melihat
anumu yang bulukan Ha ha..."
Plak
Meskipun sakit akibat tamparan Mustika
Jajar, Suro Blondo tidak mengeluh apalagi menje-
rit. Ia malah tertawa dengan bibir terpencong.
"Jika saja tidak mengingat pesan Ratu Leak,
mulutmu yang kurang ajar itu sudah kulumat ha-
bis" geram si gadis.
"Dengan apa kau hendak melumat? Kalau
dengan bibirmu juga, mana tahan" ejek Suro.
"Rupanya kau ingin melihat gadis kerudung
putih itu mampus percuma?" sengit suara Mustika Jajar. Suro pun menoleh, kini sekujur tubuh Dewi Kerudung Putih telah berubah menghitam seperti
terbakar. Dalam kesempatan itu terdengar suara
Dewi. "Apa pun yang terjadi padaku, jangan kau mau meminum racun dalam tengkorak itu?" pesan Dewi Kerudung Putih.
"Kau dengar ucapannya. Jika kau menuruti
apa yang disarankannya, berarti kau sengaja
membiarkan jiwa dan raganya tersiksa Hik hik
hik..."
"Perempuan jahanam, Ratu Leak juga ma-
nusia jahanam. Sudah kukatakan lepaskan dia
Kau sekarang berada dalam posisi yang menang,
ingat Aku tidak akan melupakan kejadian ini" desis si konyol.
Iblis Betina Dari Neraka hanya diam saja. Ia
mendekatkan tengkorak berisi cairan ke mulut Su-
ro. Si pemuda katupkan bibirnya rapat-rapat.
"Kau menolak, berarti dua orang yang bera-
da di depanmu mati dengan percuma" ancam
Mustika Jajar.
Mendapat tekanan sedemikian rupa, Pende-
kar Mandau merasa tidak punya pilihan lain lagi.
Ia terpaksa membuka sedikit mulutnya. Cairan da-
lam mangkuk tengkorak segera dituangkan ke mu-
lutnya oleh Iblis Betina Dari Neraka.
EMPAT
lubang yang hanya pas dimasuki oleh laki-laki de-
wasa saja.
TIGA
Suro Blondo diletakkan di atas meja batu
marmar putih. Di sekeliling meja marmar itu ter-
dapat semacam kolam yang selalu mengepulkan
uap panas. Warna air kolam merah darah, namun
baunya seperti aroma stanggi. Air kolam yang
mengelilingi meja senantiasa menggelegak, sua-
ranya yang bergemuruh membuat merinding bagi
yang mendengarnya. Sementara itu murid Penghu-
lu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api
tergeletak tidak berdaya. Tangan dan kakinya da-
lam keadaan terikat langsung ke bagian bawah
meja marmar, sehingga mustahil bagi pemuda
berpakaian biru ini dapat meloloskan diri.
"Uakh... Ekh..." Si pemuda tiba-tiba saja menggeliat. Gerakannya lemah karena sesungguhnya ia telah kehilangan seluruh tenaga dalam dan
inti hawa murni. Kalau pun ia masih setengah in-
gat dari semua jurus-jurus serta pukulan yang
dimilikinya. Namun rasanya sudah hampir tidak
ada gunanya. Penghela Neraka telah melucuti se-
gala ilmu dan segala kekuatan yang dia miliki se-
hingga sekarang ia hanya mempunyai tenaga ka-
sar saja. "Dimana sekarang aku ini? Pandanganku kabur, ingatanku hilang-hilang timbul. Apakah
aku sudah mati? Rugi betul aku jadi manusia?
Merasakan nikmatnya kawin saja belum, kaya ju-
ga tidak. Masa' aku sekarang sudah berada di
alam baka??" Suro mengguman pelan. Kini hidupnya benar-benar tanpa kemauan sama sekali. Se-
mangat hilang, tiada gairah selain kelesuan yang
berkepanjangan tiada putus-putusnya. "Benar-
benar celaka hidup seperti ini Kepalaku terus menerus mendenyut, dadaku sesak. Dan... akh..."
Suro menjerit tertahan, tangannya seperti ditusuk-tusuk benda tajam. Keadaannya saat itu benar-
benar seperti antara hidup dan mati.
"Hi hi hi... Bagaimana keadaanmu saat ini,
bocah cakep? Sebelum kau sampai di Negeri Batas
Ajal, alangkah lebih baik jika aku perlihatkan padamu beberapa orang yang sudah kau kenal dan
sekarang sama dalam keadaan seperti dirimu"
berkata sebuah suara.
"Bangsat Siapa kau? Apakah perempuan
jalang Iblis Betina Dari Neraka? Atau Kala Demit si jahanam yang telah membunuh kedua orang tua-ku" maki Suro Blondo. Saking gusarnya ia ingin menggaruk rambutnya, tapi apa daya tangan dan
kakinya dalam keadaan terikat.
"Percuma kau memaki, tidak sampai sehari
lagi kau segera menjadi budak terpilih Ratu Leak
Kau akan patuh tanpa pembangkangan sedikit
pun" sahut suara tadi.
Suro meludah, karena ludahnya ke atas
maka yang basah wajahnya sendiri. Geram bukan
main pemuda ini, dalam keadaan seperti itu apa
yang dapat diperbuatnya?
"Ratu Leak Kurasa kau wanita cantik
Sayang baumu busuk seperti comberan. Tubuhmu
berbau mesum, isi kepalamu penuh dendam dan
amarah. Aku jadi ingin tahu apakah di balik kebu-
sukan mu kau masih perawan? Aku tahu kau ti-
dak berani tunjukkan diri karena wajahmu jelek.
Suara tawamu seperti ringkik kuda. Kurasa pan-
tatmu kalah bagus dengan pantat kuda Ha ha
ha..." Suro tertawa bergelak.
Namun hanya beberapa detik kemudian ta-
wa pemuda berambut merah ini melenyap. Sepa-
sang matanya melotot, apa yang dilihatnya adalah
sosok seorang gadis berpakaian putih dan berke-
rudung putih. Gadis itu sama sekali tidak berge-
rak, entah masih hidup atau sudah mati. Anehnya
gadis ini bergerak dalam keadaan telentang dan
mengambang, seakan ada tangan-tangan gaib
yang mengangkatnya.
"Gadis misterius Dewi Kerudung Putih?"
Suro berseru, namun suara yang terdengar hanya
berupa erangan saja. Nafas pemuda ini tersengal.
Kemudian ia berteriak dengan sekuat tenaga. "Ra-tu Leak Jika kau usik satu lembar rambutnya,
apalagi sampai kau mencelakainya, aku bersum-
pah kelak akan memenggal kepalamu" ancam
Pendekar Blo'on.
"Hik hik hik" Suara tanpa rupa tertawa bergelak. "Apa yang dapat kau lakukan Pendekar tolol, tubuhmu tanpa daya dan kekuatan Menyelamatkan dirimu sendiri saja kau tidak mampu,
jangankan lagi memikirkan keselamatan orang
lain" Pendekar Mandau Jantan katupkan bibir-
nya rapat-rapat, rahangnya menggembung pertan-
da ia hampir tidak mampu menguasai kemarahan.
Dengan cepat ia kerahkan tenaga dalam untuk
memutuskan simpul-simpul tali yang membeleng-
gu tangan dan kakinya.
"Gila, kekuatanku benar-benar hilang Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya Dia benar-benar
telah merampas segala-galanya dariku" keluh Su-ro.
"Kau telah membuktikan bahwa dirimu bu-
kanlah apa-apa, bocah ajaib. Kau lihatlah, aku
akan mencambuki gadis ini. Wajahnya memang
cantik, agaknya dia kekasihmu atau dia mencin-
taimu. Terbukti ia telah menyusulmu ke sini" kata Ratu Leak dalam gaibnya.
Kemudian samar-samar Suro melihat se-
buah cambuk api menggelantung di udara. Tidak
terlihat siapa yang memegang cambuk tersebut.
Manakala cambuk melecut di udara. Dewi Keru-
dung Putih yang dalam keadaan terapung di udara
tampak terpelanting.
Tarrr
Cambuk api kembali menghantam tubuh
Dewi, gadis yang tidak sadarkan diri itu terpelanting. Pakaiannya robek, meskipun terpelanting ia
tidak juga jatuh ke lantai atau ke dalam kolam
mendidih.
Melihat pemandangan ini Suro merasa iba
dan prihatin. Sementara bagian-bagian tubuh De-
wi yang terkena cambuk tampak melepuh dan
hangus. Padahal cambuk yang melecut-lecut den-
gan sendirinya itu terus mendera Dewi Kerudung
Putih tiada putus-putusnya.
"Hentikan Jangan kau siksa dia, Ratu Leak
keparat" teriak Suro Blondo.
"Hik hik hik... Sekarang apa yang dapat
kau lakukan? Apakah kau tidak suka menikmati
pemandangan ini? Padahal aku belum memperli-
hatkan padamu seorang pesakitan lain yang juga
menunggu giliran"
"Setan alas Apa keinginanmu yang sebe-
narnya? Jika kau menghendaki nyawaku, menga-
pa orang lain ikut pula kau sakiti?" seru Suro.
"Dirimu memang kuinginkan, tetapi nanti.
Kau akan kuberi tugas yang tidak kalah penting-
nya. Sekarang ingin kutanyakan padamu, apakah
kau ingat dengan Mustika Jajar?" tanya Ratu Leak yang tidak pernah menunjukkan diri itu lantang.
"Perempuan jahanam itu Jika ada makhluk
yang berjalan di punggung bumi yang paling ku-
benci. Iblis Betina Dari Neraka itulah yang aku
benci. Huh..." Suro mendengus sinis. "Rupanya sekarang wanita jalang itu telah menjadi pengi-kutmu? Kurasa Kala Demit juga telah berkomplot
denganmu, setan kurapan Tidak tenang diriku,
kalau pun aku mati, orang yang pertama harus
kucari engkaulah bangsatnya Nanti arwahku ber-
gentayangan, bawa golok yang paling gede, perta-
ma kaki dan tanganmu akan kutebas hingga bun-
tung, kemudian bibirmu kuambil yang di sebelah
atas, biar konyol, setelah bibir, dada harus diambil sebelah. Setelah itu kulitmu kubeset sedikit demi sedikit, daging yang sudah tidak berkulit disiram
air jeruk baru dikasih kecap sedikit. Oh... aku
hampir lupa apakah saat ini sudah ada warung
yang jual kecap?" kata Suro ngawur. "Setelah matamu menyaksikan semua ini baru kukorek, biji
mata harus kujadikan campuran cendol. Kata iblis
cendol dari biji mata enak. Lidahmu pasti me-
raung-raung. Aku sangat senang mendengar sua-
ramu nanti. Kalau aku bosan mendengarnya, baru
lidahmu kupotong. Kau akan menjadi manusia ga-
gu Kau akan menjalani penderitaan hidup yang
tidak pernah kau bayangkan sebelumnya" Kata-kata Suro Blondo terputus menjadi jeritan ketika
cambuk yang dapat bergerak secara gaib itu men-
deru tubuhnya berulang-ulang.
"Bicaralah kau sesuka perutmu, sekarang
rasakanlah azabku yang sangat pedih" geram Ra-tu Leak.
Ctar Tar Tar
"Augkh... Cilaka betul, kau ratu bangsat
Bangsatnya ratu-ratu." maki si konyol. Pakaian pemuda ini sudah tidak karuan bentuknya, tubuh
Suro yang sudah tidak terlindungi tenaga dalam
babak belur.
Ctar
Cambuk api terus menghantam tubuh si
pemuda, kini dirinya antara sadar dan tidak. Da-
lam keadaan hampir kelenger begitu rupa, sayup-
sayup ia masih sempat melihat sosok tubuh lain-
nya dalam keadaan terkapar. Sosoknya jelas seo-
rang kakek berpakaian kumal. Siapa lagi kalau
bukan Si Buta Mata Kejora.
"Uukh... Orang tua yang tidak bisa melek
itu mengapa ikut-ikutan ke sini? Kalau mau mam-
pus wajar saja, dia sudah tua Benar-benar tolol
semuanya. Kurasa dia menyusulku kedalam Liang
Lahat Bakutuk." Begitu bingungnya Suro hingga ia ingin menggaruk kepala, namun hal itu tidak kuasa dilakukannya.
"Bukankah si tua ketua adat ini sahabatmu
juga, Pendekar Tolol? Sama seperti dirimu dan ga-
dis yang mencintaimu itu, dia juga sudah berada
dalam genggamanku. Aku juga akan menyiksanya
jika hukuman yang kuberikan padanya tidak
membuat Buta Mata Kejora menjadi kapok" dengus suara tanpa rupa sengit. Kemudian ia berseru
pada cambuk gaib yang menari-nari di udara.
"Cambuk Api yang hanya bekerja sesuai dengan perintah pemilik Batu Lahat Bakutuk. Hajar orang
tua yang ada di depanmu"
Baru saja gema suara Ratu Leak lenyap,
maka cambuk pun meluncur deras ke arah Si Bu-
ta Mata Kejora. Lalu terdengarlah suara gemuruh
lecutan cambuk yang terasa menyakitkan gen-
dang-gendang telinga. Setiap cambuk api mendera
tubuh si kakek, maka terlihat kepulan asap dari
bekas cambukan itu.
Dalam keadaan seperti ini anehnya tubuh si
kakek yang juga dalam keadaan terikat tampak
mengambang.
"Ratu Leak Mengapa kau menyiksanya, ti-
dak cukupkah hukuman belenggu rantai yang kau
jatuhkan padanya selama hampir tiga puluh ta-
hun?" "Huh, kau tau apa? Apa yang kau saksikan
di luaran sana hanya berupa permulaan dari se-
buah perjalanan panjang Perjalanan ini terjadi
akibat ulah gurumu Sebagai muridnya, kaulah
yang akan mengukir sebuah sejarah perjalanan
baru. Sejarah di mana gurumu akan teringat den-
gan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu" ucap Ratu Leak. Lalu terdengar suara nyanyiannya yang
tidak jelas. Nyanyian terhenti, ada suara tepukan tangan. Sebuah pintu yang terletak di sudut kanan Suro Blondo membuka secara gaib. Dari dalamnya
memancar cahaya merah berkilau-kilauan. Suro
kerutkan keningnya. Dari sinilah tadi Suro men-
dengar suara-suara Ratu Leak, si pemuda berpikir
mungkin di situlah Ratu Leak berdiam.
Kembali memandang ke arah pintu yang
terbuka, dimana sinar merah memancar dari ba-
liknya. Kini kelihatan sesosok tubuh berdiri tegak.
Sosok ramping berpakaian tipis merangsang. Sinar
merah yang menerangi di belakang yang menem-
bus liku-liku tubuh si gadis yang padat menggai-
rahkan. Gadis berambut panjang lambat-lambat
menghampiri. Ternyata gadis itu tidak lain adalah Mustika Jajar, musuh bebuyutan Pendekar Blo'on.
Sampai di tepi kolam mendidih menebar
bau stanggi yang mengelilingi meja panjang batu
marmar Iblis Betina Dari Neraka hentikan lang-
kah. Bibirnya sunggingkan seulas senyum menge-
jek. "Pemuda bangsat rambut merah Kau akan melihat betapa gadis yang mencintaimu itu akan
mengalami penderitaan menyakitkan" dengus
Mustika Jajar.
"Betina Dari Neraka? Kau sakiti dia, berarti hanya mengurangi umurmu saja Aku bersumpah,
aku bersumpah" teriak si konyol dengan bibir pe-letat-peletot.
"Huh..." Mustika Jajar mendengus sinis.
Seraya lalu mengambil kendi yang digenggamnya
sejak dari tadi. Perlu diketahui saat itu masih ada sebuah kendi lain berwarna merah darah tergantung di pinggang Iblis Betina Dari Neraka.
Isi kendi dituangkan ke dalam sebuah
cangkir merah yang kelihatannya terbuat dari ta-
nah liat. Mustika melambaikan tangannya ke arah
Dewi Kerudung Putih yang tengah mengambang di
udara. Sekonyong-konyong, sosok Dewi melayang
mendekatinya. Mustika langsung membuka mulut
Dewi, begitu bibir Dewi Kerudung Putih yang tidak sadarkan diri itu terbuka, maka cairan merah yang terdapat di dalam cangkir di tuangkan.
Glek
Seluruh isi cangkir tertuang ke mulut Dewi
Kerudung Putih. Sekejap setelah itu si gadis berba-ju putih menggeliat, lalu terdengar suara erangannya yang tidak begitu jelas.
"Dewi??" seru Suro. Si gadis menoleh ke arah Suro. Matanya membulat lebar ketika mengenali pemuda yang selalu membayangi hidupnya
selama ini.
"Kau, adakah kau dalam keadaan baik-baik
saja?" tanya Dewi. Ada kelegaan terpancar lewat tatapan mata si gadis. Justru hal ini tidak dike-hendaki oleh Suro. Sebab bagaimana pun sikap
Dewi yang demikian mesra dapat dimanfaatkan
oleh Ratu Leak maupun Mustika Jajar untuk
memperalat mereka.
"Aku dalam keadaan setengah baik dan se-
tengah mati, Dewi. Mataku bebas, mulutku bebas
bicara. Yang terikat kaki dan tanganku Ha ha
ha..." kata Suro Blondo masih sempatnya tertawa.
"Suro, adakah kau sanggup membebaskan
diri dari tali-tali yang mengikatmu itu?" tanya lagi Dewi Kerudung Putih. Sikap Dewi yang tampak
mesra ini membuat Mustika Jajar menjadi sema-
kin bertambah geram.
"Tid... tidak, Dewi Misterius. Kesaktianku
dan tenaga dalamku sudah diperas sampai ke am-
pas-ampasnya oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Se-
gala Daya. Aku sekarang ini tidak ubahnya seperti barang rongsokan yang hampir tidak berguna.
Mungkin hanya pentunganku saja yang berguna
bagi gadis bengis yang baru habis memberi racun
tadi Akh... kulihat wajahmu berubah biru, apakah kau merasakan sesuatu?"
Kening gadis berkerudung itu berkerut ta-
jam. Saat itu ia merasa sekujur tubuhnya seperti
ditusuk-tusuk ribuan batang pedang. Dewi Keru-
dung Putih kemudian menggelepar.
"Su-ro... akh... huakh... Perempuan jaha-
nam itu telah memberiku kesadaran sekaligus ra-
cun berkala yang membuatku mati perlahan-
lahan" teriak Dewi Kerudung Putih dengan suara terbata-bata.
Pendekar Mandau Jantan mendelik, ia ma-
rah bukan main melihat kekejian yang dilakukan
oleh Iblis Betina Dari Neraka.
"Perempuan terlaknat Berikan obat pemu-
nahnya Cepaaat..." geram Pendekar konyol sengit.
"Hik hi hi Apa yang terjadi atas perintah
Ratu Leak. Gadis ini dan si tua mata buta itu
hanya dapat selamat jika kau mau menuruti perin-
tah Ratu" sahut Mustika Jajar.
"Kupertaruhkan nyawaku demi kebebasan-
nya" ujar si pemuda yang merasa tidak berdaya.
"Bagus Itu namanya sayang kekasih. Agak-
nya kau cinta berat padanya Hi hi..."
Suro tidak menyahut, antara dia dengan
Dewi sesungguhnya tidak ada perasaan cinta. Suro
hanya merasa senang dan sayang pada gadis itu.
Namun biar bagaimana pun ia harus menolong
Dewi Kerudung Putih, karena gadis itu juga dulu
pernah menyelamatkan jiwanya (dalam Episode
Bayang-Bayang Kematian).
"Cepat beri dia obat pemunah racun itu"
desak si pemuda begitu melihat kujur tubuh Dewi
semakin membiru.
"Boleh Tapi kau harus meminum ini dulu"
sahut Iblis Betina Dari Neraka. Seraya kemudian
mengambil tengkorak manusia yang sudah berlu-
mut dan berwarna hitam-hitaman. Mustika men-
gambil kendi merah yang tergantung di pinggang-
nya. Isi kendi dituangkan ke dalam tengkorak ke-
pala persis di bagian tempurung otak.
Dengan jelas Suro melihat tempurung kepa-
la itu mengepulkan uap berbau menyengat. Suro
tidak tahu apa cairan tersebut, entah racun entah pula cairan lain yang mematikan.
Mustika Jajar menjejak lantai tiga kali. Tiba-tiba meja marmar bergerak, meninggalkan ko-
lam dalam keadaan mengapung mendekati si ga-
dis. "Cepat kau minum" perintah Iblis Betina Dari Neraka.
"Apakah ini obat kuat untuk membang-
kitkan semangatku? Percayalah si Buyung tidak
mau bangkit apalagi melek jika hanya melihat
anumu yang bulukan Ha ha..."
Plak
Meskipun sakit akibat tamparan Mustika
Jajar, Suro Blondo tidak mengeluh apalagi menje-
rit. Ia malah tertawa dengan bibir terpencong.
"Jika saja tidak mengingat pesan Ratu Leak,
mulutmu yang kurang ajar itu sudah kulumat ha-
bis" geram si gadis.
"Dengan apa kau hendak melumat? Kalau
dengan bibirmu juga, mana tahan" ejek Suro.
"Rupanya kau ingin melihat gadis kerudung
putih itu mampus percuma?" sengit suara Mustika Jajar. Suro pun menoleh, kini sekujur tubuh Dewi Kerudung Putih telah berubah menghitam seperti
terbakar. Dalam kesempatan itu terdengar suara
Dewi. "Apa pun yang terjadi padaku, jangan kau mau meminum racun dalam tengkorak itu?" pesan Dewi Kerudung Putih.
"Kau dengar ucapannya. Jika kau menuruti
apa yang disarankannya, berarti kau sengaja
membiarkan jiwa dan raganya tersiksa Hik hik
hik..."
"Perempuan jahanam, Ratu Leak juga ma-
nusia jahanam. Sudah kukatakan lepaskan dia
Kau sekarang berada dalam posisi yang menang,
ingat Aku tidak akan melupakan kejadian ini" desis si konyol.
Iblis Betina Dari Neraka hanya diam saja. Ia
mendekatkan tengkorak berisi cairan ke mulut Su-
ro. Si pemuda katupkan bibirnya rapat-rapat.
"Kau menolak, berarti dua orang yang bera-
da di depanmu mati dengan percuma" ancam
Mustika Jajar.
Mendapat tekanan sedemikian rupa, Pende-
kar Mandau merasa tidak punya pilihan lain lagi.
Ia terpaksa membuka sedikit mulutnya. Cairan da-
lam mangkuk tengkorak segera dituangkan ke mu-
lutnya oleh Iblis Betina Dari Neraka.
EMPAT
Gluk
Gluuk
Begitu cairan yang dituangkan oleh Mustika
mengalir dalam tenggorokan pemuda baju biru.
Maka meraunglah Pendekar Blo'on. Mata pemuda
ini mendelik seperti melihat setan telanjang. Tu-
buhnya menggelepar, seluruh badan Pendekar
Blo'on menjadi dingin. Dewi Kerudung Putih yang
dalam keadaan setengah sadar jelas tidak dapat
menolong si pemuda. Keadaan Pendekar Blo'on
benar-benar seperti orang yang telah berada di
ambang ajal.
"Su-ro, ma-sih-kah ka-u men-de-ngar sua-
ra-ku..." bertanya Dewi Kerudung Putih, suaranya seperti orang yang mengigau. Tidak terdengar suara jawaban apa-apa. Dewi Kerudung Putih menjadi
cemas. Sementara itu Suro Blondo sudah terkulai.
Nadinya tidak berdenyut, dan jantungnya seakan
tidak berdetak lagi. Dalam suasana sedemikian
rupa, terdengar suara Mustika Jajar.
"Cangkir Tengkorak Pelumpuh Akal Pele-
mah Jiwa Hi hi hi.... Kau sekarang telah berjalan mendekati Negeri Batas Ajal Pendekar Blo'on Di
mana seorang manusia yang sudah tua bangka
dan sakit-sakitan pun tidak berani ke sana. Sean-
dainya manusia itu adalah orang paling kaya raya, ia akan memilih menukar hartanya daripada harus
dirinya yang datang ke sana Selamat datang ke
negeri Batas Ajal, hi hi hi Semoga para setan gentayangan menyambutmu dengan baik" dengus Iblis Betina Dari Neraka.
Gadis berpakaian tipis ini memperhatikan
tiga sosok tubuh yang sama-sama terkapar. Dua
diantaranya dalam keadaan pingsan berat, namun
entah bagaimana yang terjadi dengan Pendekar
Mandau Jantan.
Sementara itu Ratu Leak yang tidak pernah
menampakkan diri itu mulai mempergunakan ke-
sempatan ini untuk membersihkan segala ingatan
Suro dari masa lalu dan menanamkan sebuah in-
gatan baru tentang segala sesuatu yang telah di-
rencanakan oleh Ratu Leak.
Sekarang kita ikuti bagaimana keadaan Su-
ro yang berada dalam pengaruh Cangkir Tengko-
rak Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa itu. Keadaan Su-
ro saat itu memang antara hidup dan mati. Ji-
wanya mengembara melayang tidak tentu arah. Ia
merasa sedang berada di tengah-tengah alam an-
tara ada dan tiada. Ia seperti bercampak di tengah-tengah padang yang luas namun mengerikan.
"Dimanakah aku?" batin Suro. Ia memper-
hatikan keadaan di sekelilingnya. Merasa sepi,
seakan di tempat itu hanya si konyol saja yang hidup, tidak ada orang lain atau makhluk bernyawa
yang lain. Dalam kesunyian yang mencekam itu
Suro celingak-celinguk. Tiba-tiba saja ia menden-
gar suara seseorang memanggil. Suara itu mirip
suaranya sendiri.
"Suro... ke sini..."
Refleks, Pendekar Blo'on menoleh ke arah
kiri. Pemuda ini terperangah melihat ada seorang
pemuda lain yang sangat mirip dengan dirinya.
Hanya pemuda yang hampir sama dengan Suro ini
berwajah bengis, kulit hitam. Tatapan matanya si-
nis penuh angkara murka.
"Kkk... kau siapa?" tanya Suro dengan suara bergetar. Sosok yang berdiri di samping kirinya tersenyum, sungguh senyumannya menggiriskan
hati. "Aku adalah saudaramu sendiri, aku adalah dirimu" sahut sosok Suro namun berwajah jelek menyeramkan. Suro memperhatikan cukup lama
juga. Baru kemudian mengguman dalam hati.
"Dia mengaku-ngaku sebagai saudaraku,
padahal sejak lahir aku merasa tidak punya sau-
dara, apalagi saudara sejelek ini?"
"Kau meragukannya? Tidakkah kau lihat
aku sangat mirip dengan dirimu?" bertanya sosok yang mirip dengan si pemuda.
"Entahlah, aku sekarang sedang bingung
Aku tidak tahu sekarang berada di mana. Kalau
aku punya saudara mengapa tidak ada yang bi-
lang-bilang sejak dari dulu, apalagi kau mengaku-
ngaku sebagai saudaraku, sudah serem item lagi"
celetuk Suro sambil garuk-garuk kepala.
"Ha ha ha... Kau tidak percaya pada sesua-
tu yang bakal terjadi? Ketahuilah bahwa sekarang ini kau sedang berada di Negeri Ambang ajal. Ikut-lah bersamaku wahai saudaraku Akan kutunjuk-
kan padamu sesuatu yang belum pernah kau lihat
selama ini Mari..."
Suro menjadi ragu, sosok yang mirip dirinya
baru saja mengatakan ia berada di Negeri Batas
Ajal. Artinya Pendekar Blo'on sudah berada di am-
bang kematian Betapa mengerikan sekali yang
namanya kematian, apakah semua orang pernah
membayangkannya. Mati, tinggal di dalam kubur
sendiri. Tanpa sanak saudara atau teman-teman
yang dicintai. Betapa gelapnya alam kubur itu, be-narkah setelah mati selesai semua urusan manu-
sia? Padahal kubur adalah alam baru, tempat ma-
nusia ditanya dan disiksa sampai tibanya hari
berbangkit.
"Ayolah..." sosok mirip Pendekar Blo'on kembali mendesak.
"Tidak Kau bukan diriku, tapi hantu yang
meniru-niru aku" sahut Suro sambil melangkah mundur. Sosok setinggi si konyol dan mirip dengan pemuda itu menggeram marah.
"Akan kuperlihatkan padamu tempatku
Mari..." dengus sosok Suro Blondo. Lalu tiba-tiba saja orang itu menyambar tangan Pendekar Blo'on.
Pemuda berambut kemerahan ini merasa seperti
berada di sebuah tempat tanpa beban. Ia merasa
dirinya menjadi ringan, bahkan lebih ringan dari
kapas yang diterbangkan angin.
***
Dulu aku tidak pernah melihat ada lorong-
lorong indah seperti ini, Manusia Topeng? Sebuah
tempat yang indah, namun aku merasakan ketidak
nyamanan di dalam sini" kata Wayan Tandira.
"Apa yang kau lihat adalah perubahan
alam, ini yang namanya stalamit dan stalagnit Naluriku mengatakan jika kita dapat menjebol dind-
ing batu di sebelah sana. Kita segera menemukan
tiga sosok tubuh yang kau kenal" sahut laki-laki pendek bertopeng anak-anak.
"Maksudmu?" tanya Wayan Tandira dengan
kening berkerut.
"Di sebelah dinding sana kulihat merupa-
kan bagian Lahat Bakutuk. Tiga kawanmu terpe-
rangkap disana" jelas Manusia Topeng. Wayan anggukkan kepala, ia melangkah lebih ke depan
lagi. Tiba-tiba saja ada sinar putih menyambar seperti kilat dari langit-langit lorong. Sinar tersebut menghantam sekujur badan Wayan yang terbalut
akar hitam.
Byar Byaar
Laki-laki ini menjerit saat merasakan seku-
jur tubuhnya dijalari hawa panas bukan alang ke-
palang. Sinar itu berpedar seperti kunang-kunang
ke seluruh pembuluh akar-akaran yang melibat
tubuhnya. Manusia Topeng memperhatikan semua
ini dengan penuh rasa takjub. Sekonyong-konyong
ia memandang ke langit lorong. Benda yang sama
seperti yang melibat tubuh Wayan Tandira juga
banyak bergelantungan di sana.
"Betapa beruntungnya orang ini, Akar Bumi
yang melibat tubuhnya juga ada di sini. Berarti kesaktian yang dimilikinya bertambah dengan mun-
culnya sinar tadi. Banyak sekali keanehan di sini, penderitaan yang dialaminya selama ini adalah peruntungan baginya juga" desis Manusia Topeng.
"Orang tua, kau lihatkah sinar tadi? Aku
merasa seperti ada sesuatu menghantam diriku
Tubuhku sekarang semakin ringan, apakah yang
telah terjadi?" tanya Wayan Tandira begitu dirinya bangkit berdiri.
"Itulah keberuntunganmu, kau pantas
mengucapkan puji sukur pada Tuhan yang telah
memberi kelimpahan dan tambahan kesaktian
tanpa terduga-duga" ujar Manusia Topeng.
Wayan Tandira kerutkan keningnya.
Aku tidak tahu apa maksudmu?"
"Akar-akar yang membalut tubuhmu itu."
kata Manusia Topeng dan wajah di balik topeng
tersenyum. "Apa kau pikir emakmu yang menem-
pelkannya, atau kau pikir hasil kerja ayahmu, ne-
nekmu, pacarmu atau gendakmu Semua itu ada-
lah karunia Tuhan. Penderitaanmu selama tiga pu-
luh tahun dibenam oleh Ratu Leak, tanpa terduga-
duga berbalas dengan karunia Tuhan. Akar Bumi,
manusia mana di rimba persilatan ini yang pernah
Begitu cairan yang dituangkan oleh Mustika
mengalir dalam tenggorokan pemuda baju biru.
Maka meraunglah Pendekar Blo'on. Mata pemuda
ini mendelik seperti melihat setan telanjang. Tu-
buhnya menggelepar, seluruh badan Pendekar
Blo'on menjadi dingin. Dewi Kerudung Putih yang
dalam keadaan setengah sadar jelas tidak dapat
menolong si pemuda. Keadaan Pendekar Blo'on
benar-benar seperti orang yang telah berada di
ambang ajal.
"Su-ro, ma-sih-kah ka-u men-de-ngar sua-
ra-ku..." bertanya Dewi Kerudung Putih, suaranya seperti orang yang mengigau. Tidak terdengar suara jawaban apa-apa. Dewi Kerudung Putih menjadi
cemas. Sementara itu Suro Blondo sudah terkulai.
Nadinya tidak berdenyut, dan jantungnya seakan
tidak berdetak lagi. Dalam suasana sedemikian
rupa, terdengar suara Mustika Jajar.
"Cangkir Tengkorak Pelumpuh Akal Pele-
mah Jiwa Hi hi hi.... Kau sekarang telah berjalan mendekati Negeri Batas Ajal Pendekar Blo'on Di
mana seorang manusia yang sudah tua bangka
dan sakit-sakitan pun tidak berani ke sana. Sean-
dainya manusia itu adalah orang paling kaya raya, ia akan memilih menukar hartanya daripada harus
dirinya yang datang ke sana Selamat datang ke
negeri Batas Ajal, hi hi hi Semoga para setan gentayangan menyambutmu dengan baik" dengus Iblis Betina Dari Neraka.
Gadis berpakaian tipis ini memperhatikan
tiga sosok tubuh yang sama-sama terkapar. Dua
diantaranya dalam keadaan pingsan berat, namun
entah bagaimana yang terjadi dengan Pendekar
Mandau Jantan.
Sementara itu Ratu Leak yang tidak pernah
menampakkan diri itu mulai mempergunakan ke-
sempatan ini untuk membersihkan segala ingatan
Suro dari masa lalu dan menanamkan sebuah in-
gatan baru tentang segala sesuatu yang telah di-
rencanakan oleh Ratu Leak.
Sekarang kita ikuti bagaimana keadaan Su-
ro yang berada dalam pengaruh Cangkir Tengko-
rak Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa itu. Keadaan Su-
ro saat itu memang antara hidup dan mati. Ji-
wanya mengembara melayang tidak tentu arah. Ia
merasa sedang berada di tengah-tengah alam an-
tara ada dan tiada. Ia seperti bercampak di tengah-tengah padang yang luas namun mengerikan.
"Dimanakah aku?" batin Suro. Ia memper-
hatikan keadaan di sekelilingnya. Merasa sepi,
seakan di tempat itu hanya si konyol saja yang hidup, tidak ada orang lain atau makhluk bernyawa
yang lain. Dalam kesunyian yang mencekam itu
Suro celingak-celinguk. Tiba-tiba saja ia menden-
gar suara seseorang memanggil. Suara itu mirip
suaranya sendiri.
"Suro... ke sini..."
Refleks, Pendekar Blo'on menoleh ke arah
kiri. Pemuda ini terperangah melihat ada seorang
pemuda lain yang sangat mirip dengan dirinya.
Hanya pemuda yang hampir sama dengan Suro ini
berwajah bengis, kulit hitam. Tatapan matanya si-
nis penuh angkara murka.
"Kkk... kau siapa?" tanya Suro dengan suara bergetar. Sosok yang berdiri di samping kirinya tersenyum, sungguh senyumannya menggiriskan
hati. "Aku adalah saudaramu sendiri, aku adalah dirimu" sahut sosok Suro namun berwajah jelek menyeramkan. Suro memperhatikan cukup lama
juga. Baru kemudian mengguman dalam hati.
"Dia mengaku-ngaku sebagai saudaraku,
padahal sejak lahir aku merasa tidak punya sau-
dara, apalagi saudara sejelek ini?"
"Kau meragukannya? Tidakkah kau lihat
aku sangat mirip dengan dirimu?" bertanya sosok yang mirip dengan si pemuda.
"Entahlah, aku sekarang sedang bingung
Aku tidak tahu sekarang berada di mana. Kalau
aku punya saudara mengapa tidak ada yang bi-
lang-bilang sejak dari dulu, apalagi kau mengaku-
ngaku sebagai saudaraku, sudah serem item lagi"
celetuk Suro sambil garuk-garuk kepala.
"Ha ha ha... Kau tidak percaya pada sesua-
tu yang bakal terjadi? Ketahuilah bahwa sekarang ini kau sedang berada di Negeri Ambang ajal. Ikut-lah bersamaku wahai saudaraku Akan kutunjuk-
kan padamu sesuatu yang belum pernah kau lihat
selama ini Mari..."
Suro menjadi ragu, sosok yang mirip dirinya
baru saja mengatakan ia berada di Negeri Batas
Ajal. Artinya Pendekar Blo'on sudah berada di am-
bang kematian Betapa mengerikan sekali yang
namanya kematian, apakah semua orang pernah
membayangkannya. Mati, tinggal di dalam kubur
sendiri. Tanpa sanak saudara atau teman-teman
yang dicintai. Betapa gelapnya alam kubur itu, be-narkah setelah mati selesai semua urusan manu-
sia? Padahal kubur adalah alam baru, tempat ma-
nusia ditanya dan disiksa sampai tibanya hari
berbangkit.
"Ayolah..." sosok mirip Pendekar Blo'on kembali mendesak.
"Tidak Kau bukan diriku, tapi hantu yang
meniru-niru aku" sahut Suro sambil melangkah mundur. Sosok setinggi si konyol dan mirip dengan pemuda itu menggeram marah.
"Akan kuperlihatkan padamu tempatku
Mari..." dengus sosok Suro Blondo. Lalu tiba-tiba saja orang itu menyambar tangan Pendekar Blo'on.
Pemuda berambut kemerahan ini merasa seperti
berada di sebuah tempat tanpa beban. Ia merasa
dirinya menjadi ringan, bahkan lebih ringan dari
kapas yang diterbangkan angin.
***
Dulu aku tidak pernah melihat ada lorong-
lorong indah seperti ini, Manusia Topeng? Sebuah
tempat yang indah, namun aku merasakan ketidak
nyamanan di dalam sini" kata Wayan Tandira.
"Apa yang kau lihat adalah perubahan
alam, ini yang namanya stalamit dan stalagnit Naluriku mengatakan jika kita dapat menjebol dind-
ing batu di sebelah sana. Kita segera menemukan
tiga sosok tubuh yang kau kenal" sahut laki-laki pendek bertopeng anak-anak.
"Maksudmu?" tanya Wayan Tandira dengan
kening berkerut.
"Di sebelah dinding sana kulihat merupa-
kan bagian Lahat Bakutuk. Tiga kawanmu terpe-
rangkap disana" jelas Manusia Topeng. Wayan anggukkan kepala, ia melangkah lebih ke depan
lagi. Tiba-tiba saja ada sinar putih menyambar seperti kilat dari langit-langit lorong. Sinar tersebut menghantam sekujur badan Wayan yang terbalut
akar hitam.
Byar Byaar
Laki-laki ini menjerit saat merasakan seku-
jur tubuhnya dijalari hawa panas bukan alang ke-
palang. Sinar itu berpedar seperti kunang-kunang
ke seluruh pembuluh akar-akaran yang melibat
tubuhnya. Manusia Topeng memperhatikan semua
ini dengan penuh rasa takjub. Sekonyong-konyong
ia memandang ke langit lorong. Benda yang sama
seperti yang melibat tubuh Wayan Tandira juga
banyak bergelantungan di sana.
"Betapa beruntungnya orang ini, Akar Bumi
yang melibat tubuhnya juga ada di sini. Berarti kesaktian yang dimilikinya bertambah dengan mun-
culnya sinar tadi. Banyak sekali keanehan di sini, penderitaan yang dialaminya selama ini adalah peruntungan baginya juga" desis Manusia Topeng.
"Orang tua, kau lihatkah sinar tadi? Aku
merasa seperti ada sesuatu menghantam diriku
Tubuhku sekarang semakin ringan, apakah yang
telah terjadi?" tanya Wayan Tandira begitu dirinya bangkit berdiri.
"Itulah keberuntunganmu, kau pantas
mengucapkan puji sukur pada Tuhan yang telah
memberi kelimpahan dan tambahan kesaktian
tanpa terduga-duga" ujar Manusia Topeng.
Wayan Tandira kerutkan keningnya.
Aku tidak tahu apa maksudmu?"
"Akar-akar yang membalut tubuhmu itu."
kata Manusia Topeng dan wajah di balik topeng
tersenyum. "Apa kau pikir emakmu yang menem-
pelkannya, atau kau pikir hasil kerja ayahmu, ne-
nekmu, pacarmu atau gendakmu Semua itu ada-
lah karunia Tuhan. Penderitaanmu selama tiga pu-
luh tahun dibenam oleh Ratu Leak, tanpa terduga-
duga berbalas dengan karunia Tuhan. Akar Bumi,
manusia mana di rimba persilatan ini yang pernah
memiliki?
Sedangkan namanya saja mungkin ja-
rang sekali orang yang mendengarnya"
"Aku melihat kesamaan antara akar-akar
yang membalut tubuhku dengan yang berada di
atas itu"
"Ya... barusan tadi secara aneh kau telah
mendapatkan tambahan tenaga sakti. Apakah itu
namanya bukan suatu peruntungan?"
"Sekarang apa yang harus kulakukan, wa-
hai Manusia Topeng?" tanya Wayan Tandira.
"Coba kau tabrak dinding batu itu Kita ha-
rus sampai ke ruangan sebelah secepatnya" perintah Manusia Topeng terkesan seenaknya.
Mata Wayan Tandira membelalak lebar. La-
ki-laki pendek bertopeng yang selalu membawa
kompeng dan ketapel ini terkadang tingkahnya se-
perti anak kecil berumur tujuh tahun. Jika ia ha-
rus menabrak dinding batu itu apakah mungkin ia
tidak akan babak belur?
"Ayo tunggu apa lagi?" desak Manusia Topeng kurang senang melihat keragu-raguan si
gondrong.
"Bagaimana jika akibatnya fatal bagiku?"
"Kutanggung kesembuhanmu, tetapi jika
Malaikat sudah menghendaki nyawamu siapa yang
berani tanggung Apalagi yang kau tunggu? Manu-
sia mati hanya sekali, tidak lebih dan tidak ku-
rang" "Orang berkedok ini apa bisa dipercaya?
Hmm... aku ingin membuktikan ucapannya, be-
narkah di balik batu ini terletak bagian liang lahat seperti yang dikatakannya??" batin Wayan Tandira.
"Baik Akibat buruk dan baiknya kau yang
tanggung, biarkan aku jadi pelaksananya" dengus Wayan Tandira. Seraya kemudian melompat mundur mengambil ancang-ancang. Setelah itu dengan
disertai teriakan keras mengguntur tubuh Wayan
Tandira melesat ke depan. Dan....
Diegkh...
Greeeekhh
Dinding batu tampak retak disana sini. Ke-
pala Wayan sempat benjut-benjut. Namun sung-
guh aneh ia tidak merasakan sakit sedikit pun.
Sementara bagian tubuh yang lainnya tidak cedera
sedikit pun. Terhuyung-huyung Wayan bangkit
berdiri. Ia gelengkan kepala, lalu memandang ke
arah Manusia Topeng seakan minta pendapat.
"Apa yang terjadi sudah kau lihat Kau
hanya tinggal menabraknya sekali lagi. Ayolah,
tunggu apa lagi? Menunggu lebih lama yang ada di
dalam sana keburu mampus" teriak Setan Topeng.
Sungguh pun Wayan Tandira tidak paham betul
semua ucapan laki-laki pendek bertelanjang dada
ini. Ia cepat mengambil ancang-ancang lagi.
"Hiyaa,.."
Sosok gondrong terbungkus akar itupun
melesat laksana kilat. Sedangkan dua tangan dan
kaki menghantam.
Buum Buuumm
Terjadi ledakan keras menggelegar. Langit-
langit lorong runtuh, dinding batu runtuh. Terli-
hatlah sebuah lubang besar. Benar seperti apa
yang dikatakan oleh Manusia Topeng, ternyata di
balik dinding batu itu terdapat ruangan luas yang masih merupakan bagian dari Liang Lahat Bakutuk. "Itukah yang kau maksudkan, Manusia Topeng?" tanya Wayan Tandira.
Manusia Topeng tiba-tiba mendongak ke
langit sambil tertawa-tawa, begitu suara tawanya
lenyap, maka ia bicara seperti orang yang bersair.
Batu telah terkuak
Sebagian neraka ciptaan manusia terkutuk
telah tersingkap
Apa lagi yang dicari manusia dalam hidup
ini? Uuuh...
Angkara murka berada di ambang mata
Cepatlah ke sana
Sebelum jasad yang mengambang menjadi
busuk Jangan salahkan aku Manusia Topeng
Wayan sempat tertegun sekejap disaat meli-
hat ruangan luas yang membentang di balik rong-
ga dinding batu itu. Tidak ada kenyamanan atau
keindahan di sekitar ruangan yang seakan tidak
berpembatas ini terkecuali keangkeran yang nyata.
"Masuk kataku" perintah Manusia Topeng, Keraguan di hati Wayan Tandira sirna sudah. Ia pun melangkah masuk melalui dinding ba-
tu yang hancur. Sampai di sana mereka tidak me-
lihat sesuatu apapun terkecuali ceceran darah
membusuk dan suara jeritan-jeritan di sana sini.
rang sekali orang yang mendengarnya"
"Aku melihat kesamaan antara akar-akar
yang membalut tubuhku dengan yang berada di
atas itu"
"Ya... barusan tadi secara aneh kau telah
mendapatkan tambahan tenaga sakti. Apakah itu
namanya bukan suatu peruntungan?"
"Sekarang apa yang harus kulakukan, wa-
hai Manusia Topeng?" tanya Wayan Tandira.
"Coba kau tabrak dinding batu itu Kita ha-
rus sampai ke ruangan sebelah secepatnya" perintah Manusia Topeng terkesan seenaknya.
Mata Wayan Tandira membelalak lebar. La-
ki-laki pendek bertopeng yang selalu membawa
kompeng dan ketapel ini terkadang tingkahnya se-
perti anak kecil berumur tujuh tahun. Jika ia ha-
rus menabrak dinding batu itu apakah mungkin ia
tidak akan babak belur?
"Ayo tunggu apa lagi?" desak Manusia Topeng kurang senang melihat keragu-raguan si
gondrong.
"Bagaimana jika akibatnya fatal bagiku?"
"Kutanggung kesembuhanmu, tetapi jika
Malaikat sudah menghendaki nyawamu siapa yang
berani tanggung Apalagi yang kau tunggu? Manu-
sia mati hanya sekali, tidak lebih dan tidak ku-
rang" "Orang berkedok ini apa bisa dipercaya?
Hmm... aku ingin membuktikan ucapannya, be-
narkah di balik batu ini terletak bagian liang lahat seperti yang dikatakannya??" batin Wayan Tandira.
"Baik Akibat buruk dan baiknya kau yang
tanggung, biarkan aku jadi pelaksananya" dengus Wayan Tandira. Seraya kemudian melompat mundur mengambil ancang-ancang. Setelah itu dengan
disertai teriakan keras mengguntur tubuh Wayan
Tandira melesat ke depan. Dan....
Diegkh...
Greeeekhh
Dinding batu tampak retak disana sini. Ke-
pala Wayan sempat benjut-benjut. Namun sung-
guh aneh ia tidak merasakan sakit sedikit pun.
Sementara bagian tubuh yang lainnya tidak cedera
sedikit pun. Terhuyung-huyung Wayan bangkit
berdiri. Ia gelengkan kepala, lalu memandang ke
arah Manusia Topeng seakan minta pendapat.
"Apa yang terjadi sudah kau lihat Kau
hanya tinggal menabraknya sekali lagi. Ayolah,
tunggu apa lagi? Menunggu lebih lama yang ada di
dalam sana keburu mampus" teriak Setan Topeng.
Sungguh pun Wayan Tandira tidak paham betul
semua ucapan laki-laki pendek bertelanjang dada
ini. Ia cepat mengambil ancang-ancang lagi.
"Hiyaa,.."
Sosok gondrong terbungkus akar itupun
melesat laksana kilat. Sedangkan dua tangan dan
kaki menghantam.
Buum Buuumm
Terjadi ledakan keras menggelegar. Langit-
langit lorong runtuh, dinding batu runtuh. Terli-
hatlah sebuah lubang besar. Benar seperti apa
yang dikatakan oleh Manusia Topeng, ternyata di
balik dinding batu itu terdapat ruangan luas yang masih merupakan bagian dari Liang Lahat Bakutuk. "Itukah yang kau maksudkan, Manusia Topeng?" tanya Wayan Tandira.
Manusia Topeng tiba-tiba mendongak ke
langit sambil tertawa-tawa, begitu suara tawanya
lenyap, maka ia bicara seperti orang yang bersair.
Batu telah terkuak
Sebagian neraka ciptaan manusia terkutuk
telah tersingkap
Apa lagi yang dicari manusia dalam hidup
ini? Uuuh...
Angkara murka berada di ambang mata
Cepatlah ke sana
Sebelum jasad yang mengambang menjadi
busuk Jangan salahkan aku Manusia Topeng
Wayan sempat tertegun sekejap disaat meli-
hat ruangan luas yang membentang di balik rong-
ga dinding batu itu. Tidak ada kenyamanan atau
keindahan di sekitar ruangan yang seakan tidak
berpembatas ini terkecuali keangkeran yang nyata.
"Masuk kataku" perintah Manusia Topeng, Keraguan di hati Wayan Tandira sirna sudah. Ia pun melangkah masuk melalui dinding ba-
tu yang hancur. Sampai di sana mereka tidak me-
lihat sesuatu apapun terkecuali ceceran darah
membusuk dan suara jeritan-jeritan di sana sini.
"Mereka
tidak ada di sini" seru Wayan.
"Memang Tapi aku merasa pasti mereka ti-
dak jauh dari sini" sahut Manusia Topeng.
"Di mana kita harus mencari, ruangan ini
sangat luas sekali." kata Wayan Tandira bin-
gung."Mari ikuti aku" seru Manusia Topeng. Sekejap kedua orang ini sudah berjalan ke bagian timur ruangan tersebut.
***
Sementara itu Pendekar Blo'on sudah sam-
pai di sebuah tempat yang sungguh mengerikan.
Tempat itu tidak ubahnya seperti sebuah neraka
penyiksaan yang sungguh sulit dilukiskan dengan
kata-kata. Berbagai bentuk penyiksaan ada di sa-
na. Tempat itu kebanyakan dihuni oleh kaum pe-
rempuan.
Berbagai-bagai penderitaan terdapat disana.
"Apakah yang terjadi dengan mereka?"
tanya Suro ditujukan pada sosok yang menyerupai
dirinya.
"Apa yang terjadi atas diri manusia di sini
sesuai dengan ulah dan perbuatan manusia itu
sendiri ketika di dunia Di dunia manusia bisa saja luput dari tuntutan hukum karena punya kuasa
dan harta, tapi di sini manusia tidak lebih hanyalah seonggok sampah yang tidak dapat menghin-
dari ketentuan Ha ha ha Tunggu apa lagi, ayolah tunggu apa lagi Kau ikut aku...?"
"Ikut kemana?" tanya Suro. "Ikut terjun ke dalam gejolak api yang menyala-nyala itu aku tidak sudi" bantah Suro.
"Di sini kau tidak bisa membantah, ayo"
Sosok yang mirip dengan Suro namun berwajah
seram itu menyambar tangan si pemuda. Sekali
saja ia bergerak. Maka tangan pendekar Blo'on su-
dah berada dalam cekalan sosok Suro yang angker
tersebut. Pemuda ini berusaha membebaskan diri
dengan cara meronta, namun apa yang dilakukan-
nya tidak membawa hasil sedikit pun. Sosok yang
menyerupai dirinya itu terus menyeretnya untuk
sama-sama masuk ke dalam gejolak api.
"Ini alam yang membingungkan, mengapa
diriku hendak dijerumuskan dalam kebinasaan
oleh hantu jelek yang menyaru-nyaru seperti aku?
Apakah aku sudah gila atau mati sungguhan?" batin Suro bingung.
Walau pun demikian ia tetap bertahan, te-
tapi ia terus terseret mendekati gejolak api yang menyala-nyala. Suro memang sedang terancam
bahaya besar, Akan tetapi pada saat-saat yang
menegangkan itu, tiba-tiba terlihat bayangan putih menyambar tangannya yang lain. Suro sempat
meneliti siapa yang hendak menolongnya. Dan
pemuda jadi kaget....
"Apa-apaan ini? Mengapa ada lagi orang
yang menyerupai diriku? Siapakah dia? Mana
mungkin Suro bisa mengembar tiga? Mana yang
asli?" desisnya.
Suro menjerit-jerit, dua tangannya dibetot
kanan kiri, rasanya mau tanggal dan Pendekar
Blo'on untuk pertama kali mengalami penderitaan
yang bukan main-main.
"Dia belum saatnya mati, mengapa kau
hendak menyeretnya ke neraka?" dengus sosok
Suro yang baru saja datang. Ujud orang ini lebih
tampan, lebih bersih dan wajahnya berseri-seri.
Lalu menyahuti sosok Suro yang bengis.
"Aku akan membawanya ke neraka. Dia sudah
sampai di Negeri Batas Ajal"
"Kau busuk, kau ngawur. Dia harus dikem-
balikan ke jasadnya yang sudah mulai membeku.
Aku melihat langit, aku melihat cacatan riwayat-
nya. Sekarang belum saatnya bagi saudara kita ini meninggalkan dunia fana Dia harus kembali ke
jasad kasarnya." tegas sosok Suro berwajah bersih.
"Kau tahu apa?" bentak sosok Suro yang
buruk.
"Aku tahu, saudara kita ini kencingnya saja
belum lempang, masih bengkok sedikit dan ka-
dang muncrat ke mana-mana. Di kepalanya ba-
nyak kutu, mungkin ketombe. Buktinya dia gorak
garuk kepala terus. Kau lihatlah si buruk rupa,
saudara kita ini mukanya saja belum betul, masih
goblok Ayo kita kembalikan dia Lagipula musuh
besar orang tuanya belum becus dia membunuh-
nya" Suro Blondo ingin rasanya memaki atau tertawa, tapi bagaimana ia bisa tertawa? Lengah saja dia sedikit ia bisa terseret dalam gejolak api yang menyala-nyala.
Sementara tarik menarik pun terus terjadi.
Hingga beberapa saat setelahnya sosok Suro ber-
wajah bersih sedikit bercahaya pukulkan tangan-
nya ke arah sosok Suro berwajah jelek. Pegangan
sosok bengis itu terlepas, Suro Blondo merasa di-
rinya seakan dibawa terbang. Melewati tempat-
tempat yang sangat mengerikan itu. Hingga akhir-
nya tibalah mereka di sebuah tempat yang gelap
gulita. Pendekar Mandau Jantan megap-megap.
LIMA
"Di mana kita sekarang?" tanya Pendekar Blo'on. Yang ditanya hanya diam sejenak. Kemudian memperhatikan kegelapan di depannya den-
gan perasaan cemas. "Kau sekarang berada di Alam Ambang Ajal dan alam dunia. Aku adalah sisi
baik dalam dirimu, sedangkan orang yang hendak
menyeretmu ke dalam api tadi adalah sisi buruk
dirimu pula. apa yang terjadi pada dirimu adalah
akibat ulah Ratu Leak. Kau harus kembali ke da-
lam jasad kasarmu, karena sekarang belum lagi
saatnya bagimu meninggalkan dunia fana. Aku
hanya dapat mengantarkan sampai ke sini, untuk
mencari selamat. Untuk sementara sebaiknya kau
ikuti saja perintah Ratu Leak"
"Apa, aku harus mengikuti perintah manu-
sia terkutuk itu? Tidakkah kau tahu dia manusia
sesat?" tanya Suro pada sosok yang menyerupai dirinya.
"Tidak selamanya, nanti jika Batu Lahat
Bakutuk sudah tidak berada di tangannya lagi,
mudah-mudahan kau menemukan jalan keluar.
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu adalah
kemudahan. Begitu pula setiap persoalan pasti ke
jalan keluarnya."
"Aku telah kehilangan ilmu kehilangan
daya. Aku tidak dapat melakukan sesuatu apapun.
Dalam keadaan seperti itu aku tidak dapat melin-
dungi diriku" ujar Pendekar Blo'on.
"Tuhan adalah tempat yang baik untuk
mencari perlindungan. Kukatakan sekali lagi aku
hanya dapat mengantarmu di sini Cepatlah kau
kembali ke jasad kasarmu" perintah sosok Suro.
Si konyol diam membisu. Kemudian ia me-
ninggalkan alam batas ajal tanpa menoleh-noleh
lagi. Sementara itu pada waktu yang sama di de-
pan tubuh Pendekar Blo'on kelihatan sosok tubuh
berupa kabut biru tengah menggerak-gerakan tan-
gannya di atas kepala murid Penghulu Siluman
Kera Putih. Setiap tangan itu bergerak maka mele-
sat sinar warna warni ke bagian ubun-ubun si
pemuda. Itulah inti kekuatan baru yang dimasuk-
kan oleh Ratu Leak ke dalam tubuh Pendekar
Blo'on. Kejadian seperti ini berlangsung cukup la-ma juga. Sampai kemudian terdengar suara sosok
cantik berujud kabut tersebut.
"Hi hi hi Kau sudah sempat melanglang
buana rupanya Selamat kembali ke rumahmu.
Kau telah mendapatkan kekuatan yang baru, ke-
kuatan lain yang datang berkat Batu Lahat Baku-
tuk. Mulai saat ini kau menjadi budakku"
Pendekar Blo'on mengerang, secara perla-
han ia sadarkan diri. Namun sekarang ia merasa
asing pada dirinya sendiri. Pemuda ini gerakkan
tangan dan kakinya. Celaka, kaki dan tangannya
tidak bertenaga sama sekali. Sekujur tubuhnya te-
rasa lumpuh.
"Apakah yang kurasakan ini akibat penga-
ruh Cangkir Tengkorak Pelumpuh Akal Pelemah
Jiwa?" batin si pemuda. Suro ingin mengucapkan sesuatu pada sosok cantik yang tidak ubahnya seperti bayangan tersebut. Tetapi sekarang untuk
menggerakkan mulutnya saja ia sudah tidak sang-
gup. Lebih aneh lagi secara perlahan akal dan fiki-rannya melemah. Seakan mengerti apa yang ada
dalam pikiran Pendekar Blo'on. Sosok Ratu Leak
berucap.
"Esok atau lusa kau tidak akan lagi sang-
gup mengingat masa lalu. Bahkan mengingat siapa
dirimu saja kau tidak sanggup. Hi hi hi" Sosok Ra-tu Leak tertawa terkekeh-kekeh.
"Bangsat betul, perempuan ini benar-benar
keparat luar dalam" maki Pendekar Blo'on. Sepanjang itu ia memang hanya dapat memaki meski-
pun hanya di dalam hati. Ratu Leak terus berpu-
tar-putar. Tampaknya ia hendak mengatakan se-
suatu. Namun pada waktu yang bersamaan ter-
dengar suara seseorang.
"Manusia Topeng Lihatlah Ketua adat, ga-
dis baju putih dan Pendekar bodoh mengapung di
udara... Eeh... apa itu?" teriak Wayan Tandira.
Laki-laki pendek bercelana hitam yang sela-
lu membawa kompeng dan ketapel sakti itu me-
lompat ke hadapan Wayan Tandira.
"Jangan dekati, sosok kabut yang mengeli-
lingi pemuda baju biru itu adalah manusianya
yang telah mengutuk seluruh penduduk Sange"
kata Manusia Topeng mengisiki.
Wayan Tandira tampak berusaha menahan
kemarahannya. Namun keadaan Ketua adat dan
pendekar Blo'on terlalu meresahkan hatinya.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya si gondrong.
"Yang tua buta dan gadis yang memakai ke-
rudung itu dalam keadaan kelenger berat. Sedang-
kan pemuda baju biru yang bego tampangnya ke-
lihatannya sudah hampir mati, tapi sekarang sa-
dar lagi. Sayang ia sudah berada dalam pengaruh
Ratu Leak. Kita datang terlambat, eeh... menurut
pendapatku sebaiknya kita selamatkan pemuda
baju biru itu. Sebab dialah yang paling diinginkan oleh Ratu Leak untuk melaksanakan ambisinya."
"Aku ingin merampas Batu Lahat Bakutuk
yang jadi sumber malapetaka itu" dengus Wayan Tandira.
"Hi hi hik... Selamat datang, sekarang ka-
lian menjadi tamuku. Setiap tamu harus disambut
dengan baik Nah... karena cuma pemuda ini yang
kuanggap punya guna. Maka sekarang aku harus
membawanya pergi ke tempat yang aman dari
jangkauan tangan-tangan usil"
"Cegah" teriak Wayan. Tanpa menunggu lebih lama laki-laki gondrong ini melompat. Pada
saat itulah sebuah pintu membuka, dari balik pin-
tu muncul sosok bayangan serba hijau. Sambil
menyambar Pendekar Blo'on dan Dewi Kerudung
Putih, Ratu Leak yang sesungguhnya menjentik-
kan jari tangannya.
Wuuut
Selarik sinar biru menyambar Wayan Tandira. Manusia akar mencoba lepaskan pukulan un-
tuk menghalau sinar panas berbau busuk terse-
but. Tapi gerakannya kalah cepat. Tahu-tahu sinar biru tersebut sudah menghantam tubuhnya. Dalam keadaan seperti ini terjadi keanehan. Dari
akar-akar yang membalut tubuh si laki-laki me-
mancar dengan sendirinya sinar hitam. Sinar aneh
yang keluar dari akar-akar sakti itulah yang ak-
hirnya menahan sinar biru yang melesat dari tan-
gan lawannya.
Terjadi benturan keras, Wayan Tandira
sempat terlempar. Ketika Manusia Topeng hendak
turun membantu. Ternyata Ratu Leak telah mem-
bawa lari Pendekar Blo'on dan Dewi Kerudung Pu-
tih.
"Hik hik hik Hadapilah bayanganku dan
pembantu-pembantuku yang masih berada di da-
lam Liang Lahat Bakutuk ini Selamat tinggal..."
terdengar suara Ratu Leak di kejauhan disertai
tawa panjang menggema.
Wayan Tandira cepat bangkit berdiri, lalu
terdengar suara makian menggeledek. "Bajingan betul, dendam dan rasa sakit hati yang lama saja
belum terbalaskan. Kini ia melarikan diri secara
pengecut" maki Wayan Tandira dengan perasaan kesal. Terlintas dalam ingatannya tentang siksaan yang dialaminya selama hampir tiga puluh tahun.
Ia pun sekarang menjadi geram, kini sosok bayan-
gan Ratu Leak yang terbentuk dari kabut itulah
yang menjadi sasaran.
"Kau manusia pengecut jahanam, meskipun
hanya tinggal bayangannya saja aku harus me-
musnahkanmu biar puas hatiku" teriak Wayan.
Tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke arah bayangan
Ratu Leak. Lalu tinjunya kanan kiri menghantam
ke depan. Rupanya Wayan sudah melepaskan pu-
kulan 'Belenggu'. Detik itu juga terlihat sinar putih melesat menghantam sosok Ratu Leak. Ketika pukulan itu menghantam lawannya. Ternyata sinar
putih terus menembus tubuh lawan dan kemudian
menghantam dinding di belakangnya.
Buuum
Ledakan keras sempat membuat lantai yang
mereka pijak bergetar. Manusia Topeng kerutkan
wajah di balik topengnya. Sedangkan sosok Ratu
Leak tertawa terbahak-bahak. Wayan Tandira ka-
tupkan bibirnya, untuk kedua kalinya ia mener-
jang. Kali ini kakinya menyapu, lalu tangan laku-
kan gerakan seperti memeluk. Tampak jelas terjadi keanehan. Dari akar-akaran yang membalut tubuh
si gondrong memijar sinar hitam. Sinar-sinar itu
melesat ke segala arah. Sosok bayangan keluarkan
jeritan kaget lalu menghindar. Akan tetapi sinar
yang tampak terpisah-pisah itu sekarang malah
saling menyatu di udara. Lalu dengan hebatnya
memburu bayangan Ratu Leak seakan ada kekua-
tan gaib yang menggerakkannya.
"Hiiiikk..."
Wuut
Wuuesss
"Sialan Perempuan keparat Dia telah me-
nipu kita mentah-mentah, Manusia Topeng" teriak Wayan Tandira. Karena Manusia Topeng hanya di-am saja. Maka melanjutkan. "Yang aku herankan,
kau cuma jadi penonton Manusia macam apa
kau...??" dengus si gondrong lagi.
Manusia Topeng gelengkan kepala. Kemu-
dian ia bicara seperti orang yang sedang bersair.
Pikir dalam diam itu adalah seribu kali lebih baik daripada harus bicara sia-sia tidak berguna Apa guna melayani bayangan?
Sedang jasad kasarnya telah pergi.
Banyak orang menjadi marah bila dikatakan
dirinya bodoh
Tapi kulihat kau melakukan sesuatu dalam
kebodohanmu
Jika bayangan Ratu Leak lenyap, mengapa
kau merisaukannya
Kelicikan hanya bisa dilawan dengan akal
sehat dan kepala dingin
Seribu akal hanya dapat dikalahkan dengan
seribu cara
Diamku karena memikirkan asal muasal ke-
jadian ini
Mengapa manusia dengan manusia jadi ma-
rah? Mengapa umat dengan umat menjadi benci?
Bukankah semua ini menarik?
Wayan Tandira langsung terdiam menden-
gar ucapan Manusia Topeng. Ia berusaha mema-
hami kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki ber-
topeng bocah itu. Tiba-tiba ia merasa seperti ada makna yang tersembunyi dalam setiap ucapan si
pendek.
"Orang tua, engkau berbahasa tinggi den-
ganku. Aku tidak tahu bagaimana rupamu, seka-
rang aku hanya berpegang pada petunjukmu un-
tuk menyelamatkan semuanya. Lalu apa yang ha-
rus kita lakukan?" tanya si gondrong sedemikian seriusnya.
"Berpegang pada kata-kata manusia bisa ce-
laka Orang berisi adalah orang yang berbudi.
Mengapa harus tergesa-gesa, sementara naluriku
mengatakan ada dua maut sedang mengintai" jawab Manusia Topeng.
Wayan Tandira cepat menoleh dan mem-
perhatikan sekelilingnya dengan cermat. Namun
sejauh itu tidak mendengar suara atau gerakan
mencurigakan. Dalam pada itulah Manusia Topeng
berseru.
"Tinggal lama di dalam Liang Lahat Bakutuk
hanya menghabiskan sisa umur dengan percuma.
Ratumu sudah melangkah menuju ke alam kebe-
basan, mengapa kalian masih tetap bertahan dis-
ini??" "Hik hik hik..." terdengar suara tawa sayup-sayup di kejauhan. "Orang tua bertopeng memakai kompeng, kuakui matamu awas sekali. Apa perlu-mu masuk ke sini, apakah ingin mencari mampus
seperti para pendahulumu?"
"Siapa?" tanya Wayan melalui ilmu mengirimkan suara.
"Menurut pengalamanku dan pengakuan
batinku orang tadi masih punya hubungan dekat
dengan Ratu Leak. Kurasa ia tidak akan betah
ngumpet dan berlama-lama dalam persembu-
nyiannya Tunggu saja" jawab Manusia Topeng melalui ilmu mengirimkan suara pula.
Sejenak lamanya kedua laki-laki ini saling
berpandangan. Tidak lama menunggu, Wayan me-
lihat sebuah bayangan merah berkelebat. Tahu-
tahu di depan mereka sekarang telah berdiri seo-
rang gadis berpakaian tipis merangsang. Wajah
gadis itu cantik menggiurkan. Senyumannya
membuat setiap laki-laki yang memandangnya
langsung kelepek-kelepek (karena sedemikian can-
tiknya dan menawan sekali). Gadis itu memperha-
tikan Manusia Topeng dan Wayan Tandira dengan
tatapan memikat tapi meremehkan.
"Atas perintah siapa kalian berani masuk ke
sini?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Mustika Jajar.
Wayan tidak menyahut, sebaliknya malah
berpaling ke arah Manusia Topeng. Seakan ia ber-
harap manusia aneh dan yang tahu berbagai hal
agar bicara.
"Wayan Tandira manusia akar Makhluk
cantik yang berdiri di hadapan kita ini bukan la-
wanku. Kurasa ia sepadan berhadapan dengan-
mu." ujar Manusia Topeng.
"Mengapa harus aku, orang tua?"
"Ya, orang muda berhadapan dengan orang
muda. Sedangkan aku sebentar lagi tentu ada tu-
gas baru yang harus kukerjakan" jawab Manusia Topeng disertai tawa mengikik.
"Mengapa harus satu menghadapi aku. Pa-
dahal aku punya keinginan untuk mengirim kalian
ke neraka Hik hik hik..." dengus si gadis.
Jika Wayan Tandira menjadi gusar menden-
gar ucapan Iblis Betina Dari Neraka, sebaliknya
Manusia Topeng tertawa tergelak-gelak. "Kau terlalu serakah, gadis cantik. Wajahmu memang lu-
mayan bagus, kurasa bagian-bagian lain sama ba-
gusnya. Sangat disayangkan, jalan pikiranmu se-
jahat iblis dan hati nuranimu seburuk wajah se-
tan. Jangan kau terlalu serakah dalam menghada-
pi musuh Aku yang hidup dua abad ingin melihat
bagaimana kehebatan Manusia Akar setelah men-
dapat tambahan kesaktian baru" kata Manusia Topeng, lalu ia menoleh dan berkata ditujukan pa-da Wayan Tandira. "Hayo tunggu apa lagi anak negeri Silakan kalian saling berbetot-betotan Ha ha ha..." "Tua bangka keparat" maki Mustika Jajar sengit. Seraya dengan cepat sekali lepaskan pukulan 'Tusukan Jari Penghantar Maut'.
Wuut
Sekali gadis itu kibaskan jari tangannya ke
arah Manusia Topeng. Sinar hitam membakar me-
lesat ke depan. Manusia Topeng tertawa ganda.
Sekejap saja tubuhnya lenyap dari pandangan ma-
ta. Maka serangan yang dilancarkan oleh Iblis Be-
tina Dari Neraka tidak mengenai sasarannya. Si
gadis terkesiap, ketika memandang ke samping
maka terlihatlah olehnya Manusia Topeng telah
berdiri bertolak pinggang.
"Jahanam..." maki Mustika. Ia hendak melepaskan pukulan lagi. Namun niatnya itu urung
karena dari arah samping melesat sinar hitam.
Ternyata Wayan Tandira melepaskan pukulan Be-
lenggu ke arahnya. Jika saja Iblis Betina Dari Neraka tidak cepat melompat mundur sambil ber-
jumplitan, niscaya tubuhnya sudah hangus ter-
hantam pukulan yang dilepaskan oleh lawannya.
"Sudah kukatakan yang muda harus ber-
hadapan dengan yang muda Mengapa masih se-
rakah juga?" celetuk Manusia Topeng.
"Benar seperti apa yang dikatakan oleh
orang tua bertopeng bocah itu. Jika kau memang
masih punya hubungan tertentu dengan Ratu
Leak. Maka kau termasuk pantas jika mati duluan
menggantikannya"
"Huuup"
Tanpa menimbulkan suara sedikit pun
Mustika Jajar tiba-tiba saja melakukan gerakan
berputar.
Tubuhnya melesat ke udara, lalu meluncur
ke bawah dengan tinju terkepal menghantam ke-
pala dan dada Wayan Tandira. Terdengar suara
angin bersiut disertai menebarnya hawa panas
menyengat.
Wayan mengguman tidak jelas dan cepat
lindungi kepalanya. Sementara bagian tubuh lain-
nya dibiarkan terbuka. Dengan demikian tentu sa-
ja benturan pun tidak dapat dihindari lagi. Wayan sempat terhuyung-huyung, saat itu juga tanpa
pernah diduga-duga oleh lawannya dari akar-
akaran yang membalut tubuh Wayan begitu ter-
bentur tangan Mustika langsung memancarkan
sinar hitam dengan sendirinya.
Chaar...
"Aih..." Iblis Betina Dari Neraka langsung
memekik ketika melihat sambaran sinar secepat
kilat. Beruntung ia masih sempat membanting tu-
buhnya dengan gerakan yang sulit diikuti kasat
mata. Walau pun begitu bagian bahunya masih
sempat tersambar sinar berhawa panas itu sehing-
ga selain bajunya robek, kulitnya yang mulus pun
melepuh.
"Puih, bangsaaat" maki si gadis sambil meludah. Manusia Topeng bertepuk tangan sambil
berjingkrak-jingkrak. Wayan Tandira sudah tidak
lagi menghiraukan tingkah aneh laki-laki berumur
dua ratus tahun ini. Kakinya bergeser, tangan ka-
nan diangkat ke udara, sedangkan tangan kiri
berputar dua kali. Sadar akar-akar itu menjadi pelindung sekaligus kesaktian bagi dirinya, maka selain melakukan serangan baru sekarang Wayan
khusus melindungi bagian leher sampai kepala
yang tidak terlindung akar-akar sakti itu.
Sayang serangan kedua yang hendak dila-
kukan oleh kepala negeri Sange ini juga didahului oleh Mustika Jajar. Gadis itu lepaskan pukulan
'Neraka Perut Bumi'. Suasana di dalam ruangan
luas terasa panas luar biasa. Wayan tidak tinggal diam. Tetapi dengan tenaga sakti yang tersimpan
dalam akar-akar yang menyelimuti dirinya itu be-
gitu terasa adanya perubahan udara di sekeliling-
nya langsung memijarkan cahaya. Bukan hanya
pada bagian-bagian tertentu di tubuh Wayan Tan-
dira. Melainkan di seluruh tubuh si gondrong yang terbalut akar-akaran memancarkan cahaya hitam.
Hingga sosok Wayan tidak terlihat lagi terselubung sinar hitam tersebut.
Tum Tuum Tuuum
Terdengar suara ledakan di sana sini. Dua-
duanya sama menjerit ketika kedua serangan yang
mereka lancarkan bertubrukan di udara. Wayan
sempat terjajar, sedangkan Iblis Betina Dari Nera-ka terguling-guling dengan mulut menyemburkan
darah. "Hmm..." Manusia Topeng mengguman sambil gelengkan kepala. "Hebat sungguh hebat.
'Neraka Perut Bumi' pastilah pukulan warisan Ra-
tu Leak, tapi akar-akar sakti itu juga sebuah pe-
lindung yang cukup baik Lho... siapa itu yang datang??" seru si pendek bersenjata Ketapel Sakti dan tidak pernah meninggalkan kompengnya ini
sambil pentang mata lebar-lebar. Kedua orang
yang sedang terlibat pertempuran ini sama sekali
tidak menghiraukannya. Malah kini mereka sudah
berdiri kembali dengan posisi siap bertempur matimatian.
ENAM
Kita tinggalkan dulu mereka yang terlibat
pertempuran sengit itu. Sementara di depan Ma-
nusia Topeng sekarang telah berdiri sesosok tubuh berkulit hitam legam berwajah seperti monyet besar. Di atas kepala makhluk mengerikan ini tum-
buh sebuah tanduk dengan panjang kurang lebih
dua jengkal dan berwarna merah menyala.
"Ggrrrkh..."
"Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya?"
desis Manusia Topeng. "Tidak ada satu kekuatan pun yang mampu memusnahkannya Kalau pun
aku mengerahkan segala kesaktian yang aku mili-
ki, tanpa pernah kuketahui di mana titik kelema-
hannya rasanya apa yang kulakukan hanya sia-sia
saja. Satu-satunya cara hanyalah dengan mene-
mui Malaikat Pencatat Asal Usul. Artinya aku dan
pemuda itu harus meninggalkan Liang Lahat Ba-
kutuk ini secepatnya"
"Grook Grooouukh"
Makhluk hitam bertaring ini kembali men-
geluarkan suara aneh menyeramkan. Dalam pada
itulah di tengah-tengah pertempuran yang sengit
terdengar suara teriakan Mustika Jajar ditujukan
pada Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. "Jangan kau biarkan Manusia Topeng itu meloloskan diri
begitu saja. Dia musuh Ratu Leak, oleh karenanya
kau dan aku punya kewajiban untuk membunuh-
nya Kau dengar... membunuhnya..."
'Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya' yang
bang-kit dari perut bumi akibat pengaruh kekua-
tan Batu Lahat Bakutuk menggeram panjang. Ti-
ba-tiba saja ia menerkam Manusia Topeng. Laki-
laki itu sama sekali tidak mencoba menangkis me-
lainkan menghindar dengan salto panjang ke bela-
kang. Serangan makhluk hitam tinggi ini luput.
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya semakin
bertambah murka. Dalam kemarahannya itu terli-
hat dengan jelas tanduk yang tumbuh di atas ke-
palanya semakin bertambah merah membara dan
memancarkan cahaya berpedar-pedar.
"Hraa..."
Makhluk hitam itu menerjang kembali. Tan-
gannya menghantam ke bagian pinggang. Manusia
Topeng dengan cepat sekali berkelit menghindar.
Seraya kemudian lepaskan pukulan menggeledek
ke arah lawan. Karena serangan ini sangat cepat
maka makhluk hitam tersebut tidak sempat lagi
menghindar. Terjadi dentuman keras, sosok men-
gerikan itu pun jatuh terpelanting. Ia menggeram, secepat kilat bangkit lagi tanpa mengalami cedera apa-apa Manusia Topeng kerutkan keningnya. La-lu ia lepaskan pukulan 'Bintang Terbelah' untuk
mengakhiri perlawanan Sang Pelucut Segala Ilmu
Segala Daya. Namun pada kesempatan itu pula
sebuah keanehan terjadi. Dari tanduk di atas ke-
pala makhluk itu menderu sinar merah yang lang-
sung melesat ke arah Manusia Topeng. Sinar itu-
lah yang kemudian melabrak musnah pukulan
'Bintang Terbelah' yang dilepaskan oleh Manusia
Topeng bahkan kelihatannya sinar merah terus
menderu menerjang lawan dengan kekuatan berli-
pat-lipat. Sadarlah orang tua sakti ini bahwa makhluk hitam tersebut bermaksud merampas ji-
wanya. Orang ini memekik panjang, tubuhnya me-
lesat ke langit-langit ruangan.
"Ketapel Sakti Pembelah Bumi" desis Manusia Topeng. Tiba-tiba saja ia merenggut lepas
ketapel yang bergelantungan di dadanya. Ketapel
itu dikibaskan ke belakang sekali, ke samping ka-
nan dan kiri sekali baru kemudian dihantamkan-
nya ke depan dengan tenaga dalam penuh.
Untuk pertama kalinya Sang Pelucut Segala
Ilmu Segala Daya dibuat kaget bukan kepalang
disaat dari dua cabang ketapel tersebut memancar
sinar putih laksana mutiara bertaburan. Dua sinar itu menghantam sinar merah yang keluar tiada
putus-putusnya dari tanduk makhluk ini.
Buuuuummm
"Selamatkan dirimu, Wayan Tandira" teriak Manusia Topeng ketika melihat dari bagian tanduk
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sinar merah
terus menghantam secara ngawur apa saja yang
terdapat di sekelilingnya. Langit-langit ruangan
runtuh. Liang Lahat Bakutuk amblas sejauh dan
seluas seratus tombak ke kiri, ke samping kanan
dan seratus tombak ke bagian-bagian lainnya.
Wayan dan Manusia Topeng tanpa menghi-
raukan lawan-lawannya terus menerobos longso-
ran tanah yang menimbun mereka. Apa yang dila-
kukan oleh Wayan Tandira tidak mungkin menda-
tangkan hasil karena tanah yang menimbun mere-
ka berlapis-lapis. Jika tidak Manusia Topeng per-
gunakan Ketapel Sakti Pembelah Bumi untuk me-
nerobos gumpalan-gumpalan tanah yang meng-
himpit mereka. Dalam pada itu Manusia Topeng
tetap mencekal tangan kiri Wayan, sedangkan tan-
gan kanan memegang erat Ketapel itu sambil ber-
putar-putar. Terbentuklah sebuah lubang sebesar
badan orang dewasa akibat hantaman teratur ke-
tapel di tangan Manusia Topeng. Begitu mereka
sampai di atas Liang Lahat Bakutuk yang runtuh
itu, kira-kira sejauh seratus tombak tampak pe-
mandangan lain yang sangat mengagumkan.
Wayan Tandira terperangah, sedangkan wajah di
balik topeng melongo.
Mereka melihat seekor kuda berbulu putih,
kuda raksasa yang tingginya menjulang ke langit.
Di atas kuda raksasa itu duduk sosok tubuh yang
kelihatan sangat kecil. Perbandingan kuda dengan
penunggangnya tidak beda dengan seekor lalat
yang menempel di atas punggung kerbau. Rasanya
seumur hidup Manusia Topeng takkan pernah dan
belum pernah melihat kuda sebesar dan setinggi
itu. "Aku Datuk Nan Gadang Paluih Kalian berdua cepatlah kemari Putih Kaki Langit kuda gaib-
ku ini siap membawa kalian menjauhi Sang Pelu-
cut Segala Ilmu Segala Daya Kita harus mengejar
Ratu Leak" Ternyata yang duduk di atas kuda yang dapat berubah meninggi sesuai dengan namanya itu tidak lain adalah Datuk Nan Gadang Pa-
luih. "Mereka tertimbun longsoran tanah Mustahil dapat keluar" sahut Wayan Tandira penuh rasa percaya diri.
Manusia Topeng yang berada di sebelahnya
bicara lugas. "Jangan bodoh Gadis yang menye-rangmu itu bisa saja mampus, tetapi Sang Pelucut
Segala Ilmu Segala Daya mana mungkin binasa, ia
bangkit dari dalam perut bumi, tentu membe-
baskan diri dari timbunan tanah merupakan pe-
kerjaan yang sangat mudah sekali"
Wayan kelihatan ragu-ragu, dalam pada itu
pula terdengar suara menggemuruh tidak jauh di
belakang mereka. Serentak mereka menoleh.
"Heh... benar kataku Lihat dia keluar dari
tanah dengan membawa gadis mesum itu Lari...
lari kataku..." teriak Manusia Topeng. Jika laki-laki pendek berumur dua abad dan punya berba-
gai macam kesaktian dan punya penglihatan batin
yang tajam ini saja tidak mau menghadapi sosok
hitam itu, apalagi dirinya. Tanpa menunggu lebih
lama lagi, Wayan ikut berlari mendapatkan kuda
yang menunggu mereka di tepi Liang Lahat Baku-
tuk yang telah runtuh.
"Kita kejar mereka, sahabatku" teriak Mustika Jajar ketika melihat kedua lawannya berusaha melarikan diri. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya dengan langkah lebar-lebar ikut melakukan
pengejaran. Jarak mereka tidak bertaut jauh. Da-
tuk Nan Gadang Paluih segera mengibaskan Ang-
kin Pelebur Petaka. Angkin berubah memanjang.
"Naik kalian melalui angkin ini" teriak laki-laki berpakaian putih selempang putih ini. Tidak
lama setelah Wayan dan Manusia Topeng berge-
lantungan di atas angkin, Datuk Nan Gadang Pa-
luih segera menyentakkan angkin tersebut ke atas.
Dua sosok tubuh tampak melayang di udara, dari
arah bawah terdengar suara menggeram disertai
meluncurnya dua larik sinar merah ke arah Wayan
dan Manusia Topeng. Kuda Putih Kaki Langit me-
ringkik keras sambil melompat menghindar. Sekali
kuda gaib ini mengayunkan langkahnya, maka ra-
tusan batang tombak jarak terlewati.
Dengan demikian praktis serangan yang di-
lakukan oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya tidak mengenai sasaran. Datuk Nan Gadang
Paluih mengarahkan kudanya ke arah selatan. La-
lu bagaimana tokoh dari Andalas ini tiba-tiba saja
sudah berada di atas kuda tunggangannya kemba-
li? Untuk diketahui, ketika berada di dalam Liang Lahat Bakutuk, Datuk Nan Gadang Paluih tidak
berhasil menemukan Suro maupun Dewi Keru-
dung Putih dan Si Buta Mata Kejora. Ia malah ter-
sesat ke tempat-tempat penyiksaan. Setelah cukup
lama melewati ruangan-ruangan yang tidak ubah-
nya seperti neraka buatan itu. Tiba-tiba Datuk
Nan Gadang Paluih mendengar suara Putih Kaki
Langit sebagai isyarat bahwa binatang tunggangan
yang berasal dari alam gaib itu melihat sesuatu.
Maka laki-laki berambut putih ini pun keluar
kembali dari Liang Lahat Bakutuk. Saat itu ia me-
lihat sosok bayangan berlari kencang dengan me-
manggul seorang pemuda berbaju biru. Datuk
Nan Gadang Paluih memerintahkan kudanya un-
tuk memperbesar ujudnya agar mudah melakukan
pengejaran. Datuk ini rupanya menduga orang
yang melarikan diri itu tidak lain adalah Ratu
Leak. Sayang sebelum ia sempat berbuat sesuatu,
tiba-tiba saja ia mendengar suara bergemuruh dis-
ertai dentuman-dentuman. Tanah di sekitar mulut
Liang Lahat tiba-tiba runtuh. Sadarlah orang ini
kemungkinan apa yang terjadi di bawah sana. Se-
hingga ia pun menunggu untuk memastikan apa
yang terjadi di bawah sana. Sehingga ia pun me-
nunggu untuk memastikan apa yang terjadi. Ter-
nyata yang muncul pertama adalah Manusia To-
peng dan Wayan Tandira.
Pada waktu itu kuda terus berlari menjauhi
Liang Lahat Bakutuk yang sudah porak peranda.
Wayan Tandira yang takut pada ketinggian tidak
pernah melepaskan pegangannya dari bulu-bulu
kuda yang dicengkeramnya. Dalam kesempatan itu
pula Manusia Topeng yang duduk di samping Da-
tuk Nan Gadang Paluih bertanya.
"Tinggi kudamu menjulang ke langit. Ba-
gaimana kau bisa memiliki kuda seaneh ini?"
Datuk Nan Gadang Paluih memandang ke
depan dengan tatapan mata liar mencari-cari.
"Bertanya tentang asal usul kuda tidaklah penting untuk saat ini. Yang merisaukan aku Ratu Leak
pergi meninggalkan Liang Lahat Bakutuk dengan
membawa Batu sakti dan juga Pendekar dari ta-
nah Jawa. Aku juga melihat ia membawa Dewi Ke-
rudung Putih. Aku risau, dengan batu di tangan-
nya, ia akan berbuat sesuatu yang sangat keji pa-
da Pendekar Bodoh dan gadis itu"
"Oh, celaka Kalau begitu ketua adat, Si Bu-
ta Mata Kejora yang tidak sadarkan diri itu seka-
rang tertimbun tanah Liang Lahat Bakutuk yang
runtuh. Mengapa aku sampai tidak ingat dengan
nasibnya?" keluh Wayan Tandira seakan menye-
salkan. "Kau sendiri hampir mampus Bagaimana aku bisa menolong dua orang sekaligus??" gerutu Manusia Topeng.
"Hmm, sekarang yang menjadi persoalan
bukan hanya nasib Pendekar Bodoh dan gadis
berkerudung itu. Ratu Leak kurasa memiliki ambi-
si tertentu, selain itu mengingat Batu Lahat Bakutuk masih berada di tangannya. Kita tidak mung-
kin mampu mengusiknya. Sang Pelucut Segala Il-
mu Segala Daya juga merupakan ancaman tersen-
diri bagi kita. Semua kesaktian yang kita miliki bi-sa terkuras habis bila ia sudah turun tangan. Kita harus tahu bagaimana caranya memusnahkan
makhluk hitam itu" Datuk Nan Gadang Paluih
menimpali.
Manusia Topeng tengadahkan wajahnya ke
langit. Lalu terdengar suara tawa cekikikan di balik topengnya. Begitu suara tawa lenyap. Ia bicara dalam kalimat-kalimat panjang seperti orang yang
melantunkan tembang di padang duka yang sunyi.
Waktu terus bergulir
Ada muara pasti karena malu
Adakah kehidupan pernah terputus??
Aku adalah aku, bukan kau, kamu atau ne-
nekku Sekarang ada simpang dua jalan
Aku bingung tentukan arah
Duhai sahabat....
Masihkah jantungmu berdenyut?
Masihkah dadamu menyegarkan durahmu?
Malaikat Pencatat yang berada di antara an-
gin-angin
Dalam lubang angin, dalam botol, dalam pe-
rut dalam nafas dan dalam segala yang hidup dan mati Datanglah, jangan kau tahan-tahan daripada panas dingin
Nanti jika kau tidak suka akan kupulangin
Malaikat Pencatat,....
Segala sejarah masa lalu
Aku memerlukanmu
Datang...
Datang bersama angin
Aku Manusia Topeng memanggilmu
Wayan Tandira memandang Manusia To-
peng dengan perasaan tidak mengerti dan benak
dipenuhi tanda tanya.
"Orang gila ini sesungguhnya bicara dengan
siapa?" batinnya. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Paluih merasakan adanya sesuatu yang aneh, sehingga secara tiba-tiba ia menarik kekang kendali kuda. Gerakan mendadak ini membuat Wayan dan
Manusia Topeng hampir terpelanting.
"Ha ha ha Kuda gaib ini tingginya seperti
hendak menggapai langit. Jika kita sampai jatuh,
paling tidak mampus dan jadi arwah gentayangan
sungguh.,." celetuknya.
Wayan tidak lagi sempat menanggapi, kare-
na detik itu juga terdengar suara angin menderu-
deru. Pohon-pohon batu di sekeliling mereka ber-
tumbangan bahkan ada yang tercabut sampai ke
akar-akarnya.
"Ada apakah ini?" tanya Wayan Tandira
sambil berpegangan erat pada bagian bulu Si Putih Kaki Langit. Sementara deru angin semakin lama
semakin bertambah keras.
"Kau lihatlah ke arah depan sana" seru Datuk Nan Gadang Paluih sambil menunjuk ke arah
depan dengan tatapan terkagum-kagum. Saat
Wayan Tandira melihat ke arah yang dimaksud, ia
menyaksikan bayangan kuning berputar-putar se-
perti gasing. Bayangan itu datang bersama pusa-
ran angin yang memporak perondakan apa saja
yang dilaluinya.
"Dia datang... Ha ha-ha Ternyata ia masih
ada, padahal sudah hampir tujuh puluh tahun
kami tidak bertemu" desis Manusia Topeng. Selanjutnya ia berteriak dengan suara keras dituju-
kan pada sosok serba kuning yang datang bersa-
ma pusaran angin tersebut.. "Selamat datang sahabat lama Tapi hentikanlah kegilaanmu itu La-
ma kita tidak berjumpa, ternyata kau semakin ber-
tambah gila Ha ha ha..."
Pusaran angin yang menderu-deru bahkan
sempat membuat goyah Si Putih Kaki Langit mulai
mereda berangsur-angsur. Bukan hanya Wayan
Tandira saja yang kagum melihat kehebatan yang
dimiliki oleh Manusia Topeng. Tetapi tokoh Anda-
las yang juga pernah mendengar tentang siapa
adanya Malaikat Pencatat sampai terperangah.
Dulu sekali ia memang pernah mendengar adanya
seorang tokoh aneh yang hidup di antara angin
yang punya kebiasaan mencatat segala sesuatu
yang terjadi di rimba persilatan. Ia terkadang
muncul tanpa sepengetahuan orang lain di tengah-
tengah badai yang menggila atau pun diantara to-
pan yang sedang mengamuk melanda suatu dae-
rah. Ia dapat datang dan pergi tanpa disangka-
sangka gerakannya secepat angin. Itu sebabnya ia
dijuluki Malaikat Pencatat oleh kalangan persila-
tan dimasa itu. Meskipun ilmunya tinggi sulit dijajaki, konon tokoh yang satu ini tidak pernah ber-
kelahi. Kemana pun ia pergi selalu membawa kulit
untuk mencatat. Kabarnya pula sepuluh orang
kuat sekalipun tidak mungkin sanggup memikul
kitab-kitab catatannya yang ia buat selama adanya rimba persilatan.
Kini angin benar-benar mereda, di depan
ketiga orang yang berada di atas punggung Si Pu-
tih Kaki Langit telah berdiri seorang laki-laki berpakaian kuning keemasan dan gemerlap. Melihat
raut wajahnya paling ia baru berumur sekitar tiga puluh tahunan. Padahal umur yang sebenarnya
tidak kurang dari tiga ratus lima puluh tahun atau bahkan lebih.
"Sahabatku kecil Kau memanggilku? Ada-
kah sesuatu yang merisaukan hatimu?" tanya laki-laki berpakaian kuning gemerlap ini tanpa senyum
"Bingung... aku bingung, orang-orang bin-
gung. Tidakkah kau lihat apa yang ada di dalam
hati dari kepalaku?" tanya Manusia Topeng. Laki-laki ini lalu menjura hormat. Wayan dan Datuk
Nan Gadang Paluih mengikuti. Malaikat Pencatat
anggukkan kepala atas penghormatan mereka.
"Kalian duduk di atas punggung binatang
kehormatan alam gaib. Yang aku tahu wahai sa-
habat kecil Dalam kepalamu terdapat akal, di da-
lam hatimu terdapat nafsu dan nurani yang suci.
Lalu catatan yang mana yang ingin kau lihat dan
tanyakan wahai sahabat kecil?" tanya Malaikat Pencatat.
"Aku sudah tua, pikiranku mulai luntur
mendekati pikun. Gigiku berpamitan satu-satu,
apa yang aku miliki mulai permisi, penglihatan
berkurang, mata lamur. Tidak ada yang bertambah
terkecuali uban di kepala, orang tua sepertiku ra-
ta-rata besar merajuknya (ambeknya). Malaikat
Pencatat, kurasa dalam catatannya ada tertulis
tentang Sange tanah kutukan. Sudah tiga puluh
tahun yang lalu. Apakah kau tahu sebab apa ma-
nusia seperti Ratu Leak menjadi marah dan men-
gumbar angkara murka membabi buta?" tanya
Manusia Topeng.
Malaikat Pencatat terdiam. Ia turunkan
buntalan besar yang selalu dibawanya dimana pun
dia pergi. Buntalan itu berukuran sangat besar, ti-ga kali lebih besar dari ukuran dan besar badan
pemiliknya.
"Sebelum aku bicara dan membacakan apa
yang ada dalam catatanku, aku meminta pada
orang yang bergelar Datuk Nan Gadang Paluih su-
di kiranya membuat Putih Kaki Langit sebesar dan
setinggi kuda biasa" ujar Malaikat Pencatat setengah memerintah.
Datuk Nan Gadang Paluih sempat kaget ju-
ga karena tidak menyangka bahwa Malaikat Pen-
catat mengetahui siapa dirinya dan tahu pula sia-
pa Si Putih Kaki Langit.
Kalau pun begitu ia cepat mengusap teng-
kuk dan telinga Putih Kaki Langit, sehingga hanya dalam waktu sekedipan mata saja kuda alam gaib
itu berubah memendek dan mengecil sehingga be-
sarnya seukuran kuda biasa pada umumnya.
"Memang Tapi aku merasa pasti mereka ti-
dak jauh dari sini" sahut Manusia Topeng.
"Di mana kita harus mencari, ruangan ini
sangat luas sekali." kata Wayan Tandira bin-
gung."Mari ikuti aku" seru Manusia Topeng. Sekejap kedua orang ini sudah berjalan ke bagian timur ruangan tersebut.
***
Sementara itu Pendekar Blo'on sudah sam-
pai di sebuah tempat yang sungguh mengerikan.
Tempat itu tidak ubahnya seperti sebuah neraka
penyiksaan yang sungguh sulit dilukiskan dengan
kata-kata. Berbagai bentuk penyiksaan ada di sa-
na. Tempat itu kebanyakan dihuni oleh kaum pe-
rempuan.
Berbagai-bagai penderitaan terdapat disana.
"Apakah yang terjadi dengan mereka?"
tanya Suro ditujukan pada sosok yang menyerupai
dirinya.
"Apa yang terjadi atas diri manusia di sini
sesuai dengan ulah dan perbuatan manusia itu
sendiri ketika di dunia Di dunia manusia bisa saja luput dari tuntutan hukum karena punya kuasa
dan harta, tapi di sini manusia tidak lebih hanyalah seonggok sampah yang tidak dapat menghin-
dari ketentuan Ha ha ha Tunggu apa lagi, ayolah tunggu apa lagi Kau ikut aku...?"
"Ikut kemana?" tanya Suro. "Ikut terjun ke dalam gejolak api yang menyala-nyala itu aku tidak sudi" bantah Suro.
"Di sini kau tidak bisa membantah, ayo"
Sosok yang mirip dengan Suro namun berwajah
seram itu menyambar tangan si pemuda. Sekali
saja ia bergerak. Maka tangan pendekar Blo'on su-
dah berada dalam cekalan sosok Suro yang angker
tersebut. Pemuda ini berusaha membebaskan diri
dengan cara meronta, namun apa yang dilakukan-
nya tidak membawa hasil sedikit pun. Sosok yang
menyerupai dirinya itu terus menyeretnya untuk
sama-sama masuk ke dalam gejolak api.
"Ini alam yang membingungkan, mengapa
diriku hendak dijerumuskan dalam kebinasaan
oleh hantu jelek yang menyaru-nyaru seperti aku?
Apakah aku sudah gila atau mati sungguhan?" batin Suro bingung.
Walau pun demikian ia tetap bertahan, te-
tapi ia terus terseret mendekati gejolak api yang menyala-nyala. Suro memang sedang terancam
bahaya besar, Akan tetapi pada saat-saat yang
menegangkan itu, tiba-tiba terlihat bayangan putih menyambar tangannya yang lain. Suro sempat
meneliti siapa yang hendak menolongnya. Dan
pemuda jadi kaget....
"Apa-apaan ini? Mengapa ada lagi orang
yang menyerupai diriku? Siapakah dia? Mana
mungkin Suro bisa mengembar tiga? Mana yang
asli?" desisnya.
Suro menjerit-jerit, dua tangannya dibetot
kanan kiri, rasanya mau tanggal dan Pendekar
Blo'on untuk pertama kali mengalami penderitaan
yang bukan main-main.
"Dia belum saatnya mati, mengapa kau
hendak menyeretnya ke neraka?" dengus sosok
Suro yang baru saja datang. Ujud orang ini lebih
tampan, lebih bersih dan wajahnya berseri-seri.
Lalu menyahuti sosok Suro yang bengis.
"Aku akan membawanya ke neraka. Dia sudah
sampai di Negeri Batas Ajal"
"Kau busuk, kau ngawur. Dia harus dikem-
balikan ke jasadnya yang sudah mulai membeku.
Aku melihat langit, aku melihat cacatan riwayat-
nya. Sekarang belum saatnya bagi saudara kita ini meninggalkan dunia fana Dia harus kembali ke
jasad kasarnya." tegas sosok Suro berwajah bersih.
"Kau tahu apa?" bentak sosok Suro yang
buruk.
"Aku tahu, saudara kita ini kencingnya saja
belum lempang, masih bengkok sedikit dan ka-
dang muncrat ke mana-mana. Di kepalanya ba-
nyak kutu, mungkin ketombe. Buktinya dia gorak
garuk kepala terus. Kau lihatlah si buruk rupa,
saudara kita ini mukanya saja belum betul, masih
goblok Ayo kita kembalikan dia Lagipula musuh
besar orang tuanya belum becus dia membunuh-
nya" Suro Blondo ingin rasanya memaki atau tertawa, tapi bagaimana ia bisa tertawa? Lengah saja dia sedikit ia bisa terseret dalam gejolak api yang menyala-nyala.
Sementara tarik menarik pun terus terjadi.
Hingga beberapa saat setelahnya sosok Suro ber-
wajah bersih sedikit bercahaya pukulkan tangan-
nya ke arah sosok Suro berwajah jelek. Pegangan
sosok bengis itu terlepas, Suro Blondo merasa di-
rinya seakan dibawa terbang. Melewati tempat-
tempat yang sangat mengerikan itu. Hingga akhir-
nya tibalah mereka di sebuah tempat yang gelap
gulita. Pendekar Mandau Jantan megap-megap.
LIMA
"Di mana kita sekarang?" tanya Pendekar Blo'on. Yang ditanya hanya diam sejenak. Kemudian memperhatikan kegelapan di depannya den-
gan perasaan cemas. "Kau sekarang berada di Alam Ambang Ajal dan alam dunia. Aku adalah sisi
baik dalam dirimu, sedangkan orang yang hendak
menyeretmu ke dalam api tadi adalah sisi buruk
dirimu pula. apa yang terjadi pada dirimu adalah
akibat ulah Ratu Leak. Kau harus kembali ke da-
lam jasad kasarmu, karena sekarang belum lagi
saatnya bagimu meninggalkan dunia fana. Aku
hanya dapat mengantarkan sampai ke sini, untuk
mencari selamat. Untuk sementara sebaiknya kau
ikuti saja perintah Ratu Leak"
"Apa, aku harus mengikuti perintah manu-
sia terkutuk itu? Tidakkah kau tahu dia manusia
sesat?" tanya Suro pada sosok yang menyerupai dirinya.
"Tidak selamanya, nanti jika Batu Lahat
Bakutuk sudah tidak berada di tangannya lagi,
mudah-mudahan kau menemukan jalan keluar.
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu adalah
kemudahan. Begitu pula setiap persoalan pasti ke
jalan keluarnya."
"Aku telah kehilangan ilmu kehilangan
daya. Aku tidak dapat melakukan sesuatu apapun.
Dalam keadaan seperti itu aku tidak dapat melin-
dungi diriku" ujar Pendekar Blo'on.
"Tuhan adalah tempat yang baik untuk
mencari perlindungan. Kukatakan sekali lagi aku
hanya dapat mengantarmu di sini Cepatlah kau
kembali ke jasad kasarmu" perintah sosok Suro.
Si konyol diam membisu. Kemudian ia me-
ninggalkan alam batas ajal tanpa menoleh-noleh
lagi. Sementara itu pada waktu yang sama di de-
pan tubuh Pendekar Blo'on kelihatan sosok tubuh
berupa kabut biru tengah menggerak-gerakan tan-
gannya di atas kepala murid Penghulu Siluman
Kera Putih. Setiap tangan itu bergerak maka mele-
sat sinar warna warni ke bagian ubun-ubun si
pemuda. Itulah inti kekuatan baru yang dimasuk-
kan oleh Ratu Leak ke dalam tubuh Pendekar
Blo'on. Kejadian seperti ini berlangsung cukup la-ma juga. Sampai kemudian terdengar suara sosok
cantik berujud kabut tersebut.
"Hi hi hi Kau sudah sempat melanglang
buana rupanya Selamat kembali ke rumahmu.
Kau telah mendapatkan kekuatan yang baru, ke-
kuatan lain yang datang berkat Batu Lahat Baku-
tuk. Mulai saat ini kau menjadi budakku"
Pendekar Blo'on mengerang, secara perla-
han ia sadarkan diri. Namun sekarang ia merasa
asing pada dirinya sendiri. Pemuda ini gerakkan
tangan dan kakinya. Celaka, kaki dan tangannya
tidak bertenaga sama sekali. Sekujur tubuhnya te-
rasa lumpuh.
"Apakah yang kurasakan ini akibat penga-
ruh Cangkir Tengkorak Pelumpuh Akal Pelemah
Jiwa?" batin si pemuda. Suro ingin mengucapkan sesuatu pada sosok cantik yang tidak ubahnya seperti bayangan tersebut. Tetapi sekarang untuk
menggerakkan mulutnya saja ia sudah tidak sang-
gup. Lebih aneh lagi secara perlahan akal dan fiki-rannya melemah. Seakan mengerti apa yang ada
dalam pikiran Pendekar Blo'on. Sosok Ratu Leak
berucap.
"Esok atau lusa kau tidak akan lagi sang-
gup mengingat masa lalu. Bahkan mengingat siapa
dirimu saja kau tidak sanggup. Hi hi hi" Sosok Ra-tu Leak tertawa terkekeh-kekeh.
"Bangsat betul, perempuan ini benar-benar
keparat luar dalam" maki Pendekar Blo'on. Sepanjang itu ia memang hanya dapat memaki meski-
pun hanya di dalam hati. Ratu Leak terus berpu-
tar-putar. Tampaknya ia hendak mengatakan se-
suatu. Namun pada waktu yang bersamaan ter-
dengar suara seseorang.
"Manusia Topeng Lihatlah Ketua adat, ga-
dis baju putih dan Pendekar bodoh mengapung di
udara... Eeh... apa itu?" teriak Wayan Tandira.
Laki-laki pendek bercelana hitam yang sela-
lu membawa kompeng dan ketapel sakti itu me-
lompat ke hadapan Wayan Tandira.
"Jangan dekati, sosok kabut yang mengeli-
lingi pemuda baju biru itu adalah manusianya
yang telah mengutuk seluruh penduduk Sange"
kata Manusia Topeng mengisiki.
Wayan Tandira tampak berusaha menahan
kemarahannya. Namun keadaan Ketua adat dan
pendekar Blo'on terlalu meresahkan hatinya.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya si gondrong.
"Yang tua buta dan gadis yang memakai ke-
rudung itu dalam keadaan kelenger berat. Sedang-
kan pemuda baju biru yang bego tampangnya ke-
lihatannya sudah hampir mati, tapi sekarang sa-
dar lagi. Sayang ia sudah berada dalam pengaruh
Ratu Leak. Kita datang terlambat, eeh... menurut
pendapatku sebaiknya kita selamatkan pemuda
baju biru itu. Sebab dialah yang paling diinginkan oleh Ratu Leak untuk melaksanakan ambisinya."
"Aku ingin merampas Batu Lahat Bakutuk
yang jadi sumber malapetaka itu" dengus Wayan Tandira.
"Hi hi hik... Selamat datang, sekarang ka-
lian menjadi tamuku. Setiap tamu harus disambut
dengan baik Nah... karena cuma pemuda ini yang
kuanggap punya guna. Maka sekarang aku harus
membawanya pergi ke tempat yang aman dari
jangkauan tangan-tangan usil"
"Cegah" teriak Wayan. Tanpa menunggu lebih lama laki-laki gondrong ini melompat. Pada
saat itulah sebuah pintu membuka, dari balik pin-
tu muncul sosok bayangan serba hijau. Sambil
menyambar Pendekar Blo'on dan Dewi Kerudung
Putih, Ratu Leak yang sesungguhnya menjentik-
kan jari tangannya.
Wuuut
Selarik sinar biru menyambar Wayan Tandira. Manusia akar mencoba lepaskan pukulan un-
tuk menghalau sinar panas berbau busuk terse-
but. Tapi gerakannya kalah cepat. Tahu-tahu sinar biru tersebut sudah menghantam tubuhnya. Dalam keadaan seperti ini terjadi keanehan. Dari
akar-akar yang membalut tubuh si laki-laki me-
mancar dengan sendirinya sinar hitam. Sinar aneh
yang keluar dari akar-akar sakti itulah yang ak-
hirnya menahan sinar biru yang melesat dari tan-
gan lawannya.
Terjadi benturan keras, Wayan Tandira
sempat terlempar. Ketika Manusia Topeng hendak
turun membantu. Ternyata Ratu Leak telah mem-
bawa lari Pendekar Blo'on dan Dewi Kerudung Pu-
tih.
"Hik hik hik Hadapilah bayanganku dan
pembantu-pembantuku yang masih berada di da-
lam Liang Lahat Bakutuk ini Selamat tinggal..."
terdengar suara Ratu Leak di kejauhan disertai
tawa panjang menggema.
Wayan Tandira cepat bangkit berdiri, lalu
terdengar suara makian menggeledek. "Bajingan betul, dendam dan rasa sakit hati yang lama saja
belum terbalaskan. Kini ia melarikan diri secara
pengecut" maki Wayan Tandira dengan perasaan kesal. Terlintas dalam ingatannya tentang siksaan yang dialaminya selama hampir tiga puluh tahun.
Ia pun sekarang menjadi geram, kini sosok bayan-
gan Ratu Leak yang terbentuk dari kabut itulah
yang menjadi sasaran.
"Kau manusia pengecut jahanam, meskipun
hanya tinggal bayangannya saja aku harus me-
musnahkanmu biar puas hatiku" teriak Wayan.
Tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke arah bayangan
Ratu Leak. Lalu tinjunya kanan kiri menghantam
ke depan. Rupanya Wayan sudah melepaskan pu-
kulan 'Belenggu'. Detik itu juga terlihat sinar putih melesat menghantam sosok Ratu Leak. Ketika pukulan itu menghantam lawannya. Ternyata sinar
putih terus menembus tubuh lawan dan kemudian
menghantam dinding di belakangnya.
Buuum
Ledakan keras sempat membuat lantai yang
mereka pijak bergetar. Manusia Topeng kerutkan
wajah di balik topengnya. Sedangkan sosok Ratu
Leak tertawa terbahak-bahak. Wayan Tandira ka-
tupkan bibirnya, untuk kedua kalinya ia mener-
jang. Kali ini kakinya menyapu, lalu tangan laku-
kan gerakan seperti memeluk. Tampak jelas terjadi keanehan. Dari akar-akaran yang membalut tubuh
si gondrong memijar sinar hitam. Sinar-sinar itu
melesat ke segala arah. Sosok bayangan keluarkan
jeritan kaget lalu menghindar. Akan tetapi sinar
yang tampak terpisah-pisah itu sekarang malah
saling menyatu di udara. Lalu dengan hebatnya
memburu bayangan Ratu Leak seakan ada kekua-
tan gaib yang menggerakkannya.
"Hiiiikk..."
Wuut
Wuuesss
"Sialan Perempuan keparat Dia telah me-
nipu kita mentah-mentah, Manusia Topeng" teriak Wayan Tandira. Karena Manusia Topeng hanya di-am saja. Maka melanjutkan. "Yang aku herankan,
kau cuma jadi penonton Manusia macam apa
kau...??" dengus si gondrong lagi.
Manusia Topeng gelengkan kepala. Kemu-
dian ia bicara seperti orang yang sedang bersair.
Pikir dalam diam itu adalah seribu kali lebih baik daripada harus bicara sia-sia tidak berguna Apa guna melayani bayangan?
Sedang jasad kasarnya telah pergi.
Banyak orang menjadi marah bila dikatakan
dirinya bodoh
Tapi kulihat kau melakukan sesuatu dalam
kebodohanmu
Jika bayangan Ratu Leak lenyap, mengapa
kau merisaukannya
Kelicikan hanya bisa dilawan dengan akal
sehat dan kepala dingin
Seribu akal hanya dapat dikalahkan dengan
seribu cara
Diamku karena memikirkan asal muasal ke-
jadian ini
Mengapa manusia dengan manusia jadi ma-
rah? Mengapa umat dengan umat menjadi benci?
Bukankah semua ini menarik?
Wayan Tandira langsung terdiam menden-
gar ucapan Manusia Topeng. Ia berusaha mema-
hami kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki ber-
topeng bocah itu. Tiba-tiba ia merasa seperti ada makna yang tersembunyi dalam setiap ucapan si
pendek.
"Orang tua, engkau berbahasa tinggi den-
ganku. Aku tidak tahu bagaimana rupamu, seka-
rang aku hanya berpegang pada petunjukmu un-
tuk menyelamatkan semuanya. Lalu apa yang ha-
rus kita lakukan?" tanya si gondrong sedemikian seriusnya.
"Berpegang pada kata-kata manusia bisa ce-
laka Orang berisi adalah orang yang berbudi.
Mengapa harus tergesa-gesa, sementara naluriku
mengatakan ada dua maut sedang mengintai" jawab Manusia Topeng.
Wayan Tandira cepat menoleh dan mem-
perhatikan sekelilingnya dengan cermat. Namun
sejauh itu tidak mendengar suara atau gerakan
mencurigakan. Dalam pada itulah Manusia Topeng
berseru.
"Tinggal lama di dalam Liang Lahat Bakutuk
hanya menghabiskan sisa umur dengan percuma.
Ratumu sudah melangkah menuju ke alam kebe-
basan, mengapa kalian masih tetap bertahan dis-
ini??" "Hik hik hik..." terdengar suara tawa sayup-sayup di kejauhan. "Orang tua bertopeng memakai kompeng, kuakui matamu awas sekali. Apa perlu-mu masuk ke sini, apakah ingin mencari mampus
seperti para pendahulumu?"
"Siapa?" tanya Wayan melalui ilmu mengirimkan suara.
"Menurut pengalamanku dan pengakuan
batinku orang tadi masih punya hubungan dekat
dengan Ratu Leak. Kurasa ia tidak akan betah
ngumpet dan berlama-lama dalam persembu-
nyiannya Tunggu saja" jawab Manusia Topeng melalui ilmu mengirimkan suara pula.
Sejenak lamanya kedua laki-laki ini saling
berpandangan. Tidak lama menunggu, Wayan me-
lihat sebuah bayangan merah berkelebat. Tahu-
tahu di depan mereka sekarang telah berdiri seo-
rang gadis berpakaian tipis merangsang. Wajah
gadis itu cantik menggiurkan. Senyumannya
membuat setiap laki-laki yang memandangnya
langsung kelepek-kelepek (karena sedemikian can-
tiknya dan menawan sekali). Gadis itu memperha-
tikan Manusia Topeng dan Wayan Tandira dengan
tatapan memikat tapi meremehkan.
"Atas perintah siapa kalian berani masuk ke
sini?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Mustika Jajar.
Wayan tidak menyahut, sebaliknya malah
berpaling ke arah Manusia Topeng. Seakan ia ber-
harap manusia aneh dan yang tahu berbagai hal
agar bicara.
"Wayan Tandira manusia akar Makhluk
cantik yang berdiri di hadapan kita ini bukan la-
wanku. Kurasa ia sepadan berhadapan dengan-
mu." ujar Manusia Topeng.
"Mengapa harus aku, orang tua?"
"Ya, orang muda berhadapan dengan orang
muda. Sedangkan aku sebentar lagi tentu ada tu-
gas baru yang harus kukerjakan" jawab Manusia Topeng disertai tawa mengikik.
"Mengapa harus satu menghadapi aku. Pa-
dahal aku punya keinginan untuk mengirim kalian
ke neraka Hik hik hik..." dengus si gadis.
Jika Wayan Tandira menjadi gusar menden-
gar ucapan Iblis Betina Dari Neraka, sebaliknya
Manusia Topeng tertawa tergelak-gelak. "Kau terlalu serakah, gadis cantik. Wajahmu memang lu-
mayan bagus, kurasa bagian-bagian lain sama ba-
gusnya. Sangat disayangkan, jalan pikiranmu se-
jahat iblis dan hati nuranimu seburuk wajah se-
tan. Jangan kau terlalu serakah dalam menghada-
pi musuh Aku yang hidup dua abad ingin melihat
bagaimana kehebatan Manusia Akar setelah men-
dapat tambahan kesaktian baru" kata Manusia Topeng, lalu ia menoleh dan berkata ditujukan pa-da Wayan Tandira. "Hayo tunggu apa lagi anak negeri Silakan kalian saling berbetot-betotan Ha ha ha..." "Tua bangka keparat" maki Mustika Jajar sengit. Seraya dengan cepat sekali lepaskan pukulan 'Tusukan Jari Penghantar Maut'.
Wuut
Sekali gadis itu kibaskan jari tangannya ke
arah Manusia Topeng. Sinar hitam membakar me-
lesat ke depan. Manusia Topeng tertawa ganda.
Sekejap saja tubuhnya lenyap dari pandangan ma-
ta. Maka serangan yang dilancarkan oleh Iblis Be-
tina Dari Neraka tidak mengenai sasarannya. Si
gadis terkesiap, ketika memandang ke samping
maka terlihatlah olehnya Manusia Topeng telah
berdiri bertolak pinggang.
"Jahanam..." maki Mustika. Ia hendak melepaskan pukulan lagi. Namun niatnya itu urung
karena dari arah samping melesat sinar hitam.
Ternyata Wayan Tandira melepaskan pukulan Be-
lenggu ke arahnya. Jika saja Iblis Betina Dari Neraka tidak cepat melompat mundur sambil ber-
jumplitan, niscaya tubuhnya sudah hangus ter-
hantam pukulan yang dilepaskan oleh lawannya.
"Sudah kukatakan yang muda harus ber-
hadapan dengan yang muda Mengapa masih se-
rakah juga?" celetuk Manusia Topeng.
"Benar seperti apa yang dikatakan oleh
orang tua bertopeng bocah itu. Jika kau memang
masih punya hubungan tertentu dengan Ratu
Leak. Maka kau termasuk pantas jika mati duluan
menggantikannya"
"Huuup"
Tanpa menimbulkan suara sedikit pun
Mustika Jajar tiba-tiba saja melakukan gerakan
berputar.
Tubuhnya melesat ke udara, lalu meluncur
ke bawah dengan tinju terkepal menghantam ke-
pala dan dada Wayan Tandira. Terdengar suara
angin bersiut disertai menebarnya hawa panas
menyengat.
Wayan mengguman tidak jelas dan cepat
lindungi kepalanya. Sementara bagian tubuh lain-
nya dibiarkan terbuka. Dengan demikian tentu sa-
ja benturan pun tidak dapat dihindari lagi. Wayan sempat terhuyung-huyung, saat itu juga tanpa
pernah diduga-duga oleh lawannya dari akar-
akaran yang membalut tubuh Wayan begitu ter-
bentur tangan Mustika langsung memancarkan
sinar hitam dengan sendirinya.
Chaar...
"Aih..." Iblis Betina Dari Neraka langsung
memekik ketika melihat sambaran sinar secepat
kilat. Beruntung ia masih sempat membanting tu-
buhnya dengan gerakan yang sulit diikuti kasat
mata. Walau pun begitu bagian bahunya masih
sempat tersambar sinar berhawa panas itu sehing-
ga selain bajunya robek, kulitnya yang mulus pun
melepuh.
"Puih, bangsaaat" maki si gadis sambil meludah. Manusia Topeng bertepuk tangan sambil
berjingkrak-jingkrak. Wayan Tandira sudah tidak
lagi menghiraukan tingkah aneh laki-laki berumur
dua ratus tahun ini. Kakinya bergeser, tangan ka-
nan diangkat ke udara, sedangkan tangan kiri
berputar dua kali. Sadar akar-akar itu menjadi pelindung sekaligus kesaktian bagi dirinya, maka selain melakukan serangan baru sekarang Wayan
khusus melindungi bagian leher sampai kepala
yang tidak terlindung akar-akar sakti itu.
Sayang serangan kedua yang hendak dila-
kukan oleh kepala negeri Sange ini juga didahului oleh Mustika Jajar. Gadis itu lepaskan pukulan
'Neraka Perut Bumi'. Suasana di dalam ruangan
luas terasa panas luar biasa. Wayan tidak tinggal diam. Tetapi dengan tenaga sakti yang tersimpan
dalam akar-akar yang menyelimuti dirinya itu be-
gitu terasa adanya perubahan udara di sekeliling-
nya langsung memijarkan cahaya. Bukan hanya
pada bagian-bagian tertentu di tubuh Wayan Tan-
dira. Melainkan di seluruh tubuh si gondrong yang terbalut akar-akaran memancarkan cahaya hitam.
Hingga sosok Wayan tidak terlihat lagi terselubung sinar hitam tersebut.
Tum Tuum Tuuum
Terdengar suara ledakan di sana sini. Dua-
duanya sama menjerit ketika kedua serangan yang
mereka lancarkan bertubrukan di udara. Wayan
sempat terjajar, sedangkan Iblis Betina Dari Nera-ka terguling-guling dengan mulut menyemburkan
darah. "Hmm..." Manusia Topeng mengguman sambil gelengkan kepala. "Hebat sungguh hebat.
'Neraka Perut Bumi' pastilah pukulan warisan Ra-
tu Leak, tapi akar-akar sakti itu juga sebuah pe-
lindung yang cukup baik Lho... siapa itu yang datang??" seru si pendek bersenjata Ketapel Sakti dan tidak pernah meninggalkan kompengnya ini
sambil pentang mata lebar-lebar. Kedua orang
yang sedang terlibat pertempuran ini sama sekali
tidak menghiraukannya. Malah kini mereka sudah
berdiri kembali dengan posisi siap bertempur matimatian.
ENAM
Kita tinggalkan dulu mereka yang terlibat
pertempuran sengit itu. Sementara di depan Ma-
nusia Topeng sekarang telah berdiri sesosok tubuh berkulit hitam legam berwajah seperti monyet besar. Di atas kepala makhluk mengerikan ini tum-
buh sebuah tanduk dengan panjang kurang lebih
dua jengkal dan berwarna merah menyala.
"Ggrrrkh..."
"Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya?"
desis Manusia Topeng. "Tidak ada satu kekuatan pun yang mampu memusnahkannya Kalau pun
aku mengerahkan segala kesaktian yang aku mili-
ki, tanpa pernah kuketahui di mana titik kelema-
hannya rasanya apa yang kulakukan hanya sia-sia
saja. Satu-satunya cara hanyalah dengan mene-
mui Malaikat Pencatat Asal Usul. Artinya aku dan
pemuda itu harus meninggalkan Liang Lahat Ba-
kutuk ini secepatnya"
"Grook Grooouukh"
Makhluk hitam bertaring ini kembali men-
geluarkan suara aneh menyeramkan. Dalam pada
itulah di tengah-tengah pertempuran yang sengit
terdengar suara teriakan Mustika Jajar ditujukan
pada Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. "Jangan kau biarkan Manusia Topeng itu meloloskan diri
begitu saja. Dia musuh Ratu Leak, oleh karenanya
kau dan aku punya kewajiban untuk membunuh-
nya Kau dengar... membunuhnya..."
'Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya' yang
bang-kit dari perut bumi akibat pengaruh kekua-
tan Batu Lahat Bakutuk menggeram panjang. Ti-
ba-tiba saja ia menerkam Manusia Topeng. Laki-
laki itu sama sekali tidak mencoba menangkis me-
lainkan menghindar dengan salto panjang ke bela-
kang. Serangan makhluk hitam tinggi ini luput.
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya semakin
bertambah murka. Dalam kemarahannya itu terli-
hat dengan jelas tanduk yang tumbuh di atas ke-
palanya semakin bertambah merah membara dan
memancarkan cahaya berpedar-pedar.
"Hraa..."
Makhluk hitam itu menerjang kembali. Tan-
gannya menghantam ke bagian pinggang. Manusia
Topeng dengan cepat sekali berkelit menghindar.
Seraya kemudian lepaskan pukulan menggeledek
ke arah lawan. Karena serangan ini sangat cepat
maka makhluk hitam tersebut tidak sempat lagi
menghindar. Terjadi dentuman keras, sosok men-
gerikan itu pun jatuh terpelanting. Ia menggeram, secepat kilat bangkit lagi tanpa mengalami cedera apa-apa Manusia Topeng kerutkan keningnya. La-lu ia lepaskan pukulan 'Bintang Terbelah' untuk
mengakhiri perlawanan Sang Pelucut Segala Ilmu
Segala Daya. Namun pada kesempatan itu pula
sebuah keanehan terjadi. Dari tanduk di atas ke-
pala makhluk itu menderu sinar merah yang lang-
sung melesat ke arah Manusia Topeng. Sinar itu-
lah yang kemudian melabrak musnah pukulan
'Bintang Terbelah' yang dilepaskan oleh Manusia
Topeng bahkan kelihatannya sinar merah terus
menderu menerjang lawan dengan kekuatan berli-
pat-lipat. Sadarlah orang tua sakti ini bahwa makhluk hitam tersebut bermaksud merampas ji-
wanya. Orang ini memekik panjang, tubuhnya me-
lesat ke langit-langit ruangan.
"Ketapel Sakti Pembelah Bumi" desis Manusia Topeng. Tiba-tiba saja ia merenggut lepas
ketapel yang bergelantungan di dadanya. Ketapel
itu dikibaskan ke belakang sekali, ke samping ka-
nan dan kiri sekali baru kemudian dihantamkan-
nya ke depan dengan tenaga dalam penuh.
Untuk pertama kalinya Sang Pelucut Segala
Ilmu Segala Daya dibuat kaget bukan kepalang
disaat dari dua cabang ketapel tersebut memancar
sinar putih laksana mutiara bertaburan. Dua sinar itu menghantam sinar merah yang keluar tiada
putus-putusnya dari tanduk makhluk ini.
Buuuuummm
"Selamatkan dirimu, Wayan Tandira" teriak Manusia Topeng ketika melihat dari bagian tanduk
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sinar merah
terus menghantam secara ngawur apa saja yang
terdapat di sekelilingnya. Langit-langit ruangan
runtuh. Liang Lahat Bakutuk amblas sejauh dan
seluas seratus tombak ke kiri, ke samping kanan
dan seratus tombak ke bagian-bagian lainnya.
Wayan dan Manusia Topeng tanpa menghi-
raukan lawan-lawannya terus menerobos longso-
ran tanah yang menimbun mereka. Apa yang dila-
kukan oleh Wayan Tandira tidak mungkin menda-
tangkan hasil karena tanah yang menimbun mere-
ka berlapis-lapis. Jika tidak Manusia Topeng per-
gunakan Ketapel Sakti Pembelah Bumi untuk me-
nerobos gumpalan-gumpalan tanah yang meng-
himpit mereka. Dalam pada itu Manusia Topeng
tetap mencekal tangan kiri Wayan, sedangkan tan-
gan kanan memegang erat Ketapel itu sambil ber-
putar-putar. Terbentuklah sebuah lubang sebesar
badan orang dewasa akibat hantaman teratur ke-
tapel di tangan Manusia Topeng. Begitu mereka
sampai di atas Liang Lahat Bakutuk yang runtuh
itu, kira-kira sejauh seratus tombak tampak pe-
mandangan lain yang sangat mengagumkan.
Wayan Tandira terperangah, sedangkan wajah di
balik topeng melongo.
Mereka melihat seekor kuda berbulu putih,
kuda raksasa yang tingginya menjulang ke langit.
Di atas kuda raksasa itu duduk sosok tubuh yang
kelihatan sangat kecil. Perbandingan kuda dengan
penunggangnya tidak beda dengan seekor lalat
yang menempel di atas punggung kerbau. Rasanya
seumur hidup Manusia Topeng takkan pernah dan
belum pernah melihat kuda sebesar dan setinggi
itu. "Aku Datuk Nan Gadang Paluih Kalian berdua cepatlah kemari Putih Kaki Langit kuda gaib-
ku ini siap membawa kalian menjauhi Sang Pelu-
cut Segala Ilmu Segala Daya Kita harus mengejar
Ratu Leak" Ternyata yang duduk di atas kuda yang dapat berubah meninggi sesuai dengan namanya itu tidak lain adalah Datuk Nan Gadang Pa-
luih. "Mereka tertimbun longsoran tanah Mustahil dapat keluar" sahut Wayan Tandira penuh rasa percaya diri.
Manusia Topeng yang berada di sebelahnya
bicara lugas. "Jangan bodoh Gadis yang menye-rangmu itu bisa saja mampus, tetapi Sang Pelucut
Segala Ilmu Segala Daya mana mungkin binasa, ia
bangkit dari dalam perut bumi, tentu membe-
baskan diri dari timbunan tanah merupakan pe-
kerjaan yang sangat mudah sekali"
Wayan kelihatan ragu-ragu, dalam pada itu
pula terdengar suara menggemuruh tidak jauh di
belakang mereka. Serentak mereka menoleh.
"Heh... benar kataku Lihat dia keluar dari
tanah dengan membawa gadis mesum itu Lari...
lari kataku..." teriak Manusia Topeng. Jika laki-laki pendek berumur dua abad dan punya berba-
gai macam kesaktian dan punya penglihatan batin
yang tajam ini saja tidak mau menghadapi sosok
hitam itu, apalagi dirinya. Tanpa menunggu lebih
lama lagi, Wayan ikut berlari mendapatkan kuda
yang menunggu mereka di tepi Liang Lahat Baku-
tuk yang telah runtuh.
"Kita kejar mereka, sahabatku" teriak Mustika Jajar ketika melihat kedua lawannya berusaha melarikan diri. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya dengan langkah lebar-lebar ikut melakukan
pengejaran. Jarak mereka tidak bertaut jauh. Da-
tuk Nan Gadang Paluih segera mengibaskan Ang-
kin Pelebur Petaka. Angkin berubah memanjang.
"Naik kalian melalui angkin ini" teriak laki-laki berpakaian putih selempang putih ini. Tidak
lama setelah Wayan dan Manusia Topeng berge-
lantungan di atas angkin, Datuk Nan Gadang Pa-
luih segera menyentakkan angkin tersebut ke atas.
Dua sosok tubuh tampak melayang di udara, dari
arah bawah terdengar suara menggeram disertai
meluncurnya dua larik sinar merah ke arah Wayan
dan Manusia Topeng. Kuda Putih Kaki Langit me-
ringkik keras sambil melompat menghindar. Sekali
kuda gaib ini mengayunkan langkahnya, maka ra-
tusan batang tombak jarak terlewati.
Dengan demikian praktis serangan yang di-
lakukan oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya tidak mengenai sasaran. Datuk Nan Gadang
Paluih mengarahkan kudanya ke arah selatan. La-
lu bagaimana tokoh dari Andalas ini tiba-tiba saja
sudah berada di atas kuda tunggangannya kemba-
li? Untuk diketahui, ketika berada di dalam Liang Lahat Bakutuk, Datuk Nan Gadang Paluih tidak
berhasil menemukan Suro maupun Dewi Keru-
dung Putih dan Si Buta Mata Kejora. Ia malah ter-
sesat ke tempat-tempat penyiksaan. Setelah cukup
lama melewati ruangan-ruangan yang tidak ubah-
nya seperti neraka buatan itu. Tiba-tiba Datuk
Nan Gadang Paluih mendengar suara Putih Kaki
Langit sebagai isyarat bahwa binatang tunggangan
yang berasal dari alam gaib itu melihat sesuatu.
Maka laki-laki berambut putih ini pun keluar
kembali dari Liang Lahat Bakutuk. Saat itu ia me-
lihat sosok bayangan berlari kencang dengan me-
manggul seorang pemuda berbaju biru. Datuk
Nan Gadang Paluih memerintahkan kudanya un-
tuk memperbesar ujudnya agar mudah melakukan
pengejaran. Datuk ini rupanya menduga orang
yang melarikan diri itu tidak lain adalah Ratu
Leak. Sayang sebelum ia sempat berbuat sesuatu,
tiba-tiba saja ia mendengar suara bergemuruh dis-
ertai dentuman-dentuman. Tanah di sekitar mulut
Liang Lahat tiba-tiba runtuh. Sadarlah orang ini
kemungkinan apa yang terjadi di bawah sana. Se-
hingga ia pun menunggu untuk memastikan apa
yang terjadi di bawah sana. Sehingga ia pun me-
nunggu untuk memastikan apa yang terjadi. Ter-
nyata yang muncul pertama adalah Manusia To-
peng dan Wayan Tandira.
Pada waktu itu kuda terus berlari menjauhi
Liang Lahat Bakutuk yang sudah porak peranda.
Wayan Tandira yang takut pada ketinggian tidak
pernah melepaskan pegangannya dari bulu-bulu
kuda yang dicengkeramnya. Dalam kesempatan itu
pula Manusia Topeng yang duduk di samping Da-
tuk Nan Gadang Paluih bertanya.
"Tinggi kudamu menjulang ke langit. Ba-
gaimana kau bisa memiliki kuda seaneh ini?"
Datuk Nan Gadang Paluih memandang ke
depan dengan tatapan mata liar mencari-cari.
"Bertanya tentang asal usul kuda tidaklah penting untuk saat ini. Yang merisaukan aku Ratu Leak
pergi meninggalkan Liang Lahat Bakutuk dengan
membawa Batu sakti dan juga Pendekar dari ta-
nah Jawa. Aku juga melihat ia membawa Dewi Ke-
rudung Putih. Aku risau, dengan batu di tangan-
nya, ia akan berbuat sesuatu yang sangat keji pa-
da Pendekar Bodoh dan gadis itu"
"Oh, celaka Kalau begitu ketua adat, Si Bu-
ta Mata Kejora yang tidak sadarkan diri itu seka-
rang tertimbun tanah Liang Lahat Bakutuk yang
runtuh. Mengapa aku sampai tidak ingat dengan
nasibnya?" keluh Wayan Tandira seakan menye-
salkan. "Kau sendiri hampir mampus Bagaimana aku bisa menolong dua orang sekaligus??" gerutu Manusia Topeng.
"Hmm, sekarang yang menjadi persoalan
bukan hanya nasib Pendekar Bodoh dan gadis
berkerudung itu. Ratu Leak kurasa memiliki ambi-
si tertentu, selain itu mengingat Batu Lahat Bakutuk masih berada di tangannya. Kita tidak mung-
kin mampu mengusiknya. Sang Pelucut Segala Il-
mu Segala Daya juga merupakan ancaman tersen-
diri bagi kita. Semua kesaktian yang kita miliki bi-sa terkuras habis bila ia sudah turun tangan. Kita harus tahu bagaimana caranya memusnahkan
makhluk hitam itu" Datuk Nan Gadang Paluih
menimpali.
Manusia Topeng tengadahkan wajahnya ke
langit. Lalu terdengar suara tawa cekikikan di balik topengnya. Begitu suara tawa lenyap. Ia bicara dalam kalimat-kalimat panjang seperti orang yang
melantunkan tembang di padang duka yang sunyi.
Waktu terus bergulir
Ada muara pasti karena malu
Adakah kehidupan pernah terputus??
Aku adalah aku, bukan kau, kamu atau ne-
nekku Sekarang ada simpang dua jalan
Aku bingung tentukan arah
Duhai sahabat....
Masihkah jantungmu berdenyut?
Masihkah dadamu menyegarkan durahmu?
Malaikat Pencatat yang berada di antara an-
gin-angin
Dalam lubang angin, dalam botol, dalam pe-
rut dalam nafas dan dalam segala yang hidup dan mati Datanglah, jangan kau tahan-tahan daripada panas dingin
Nanti jika kau tidak suka akan kupulangin
Malaikat Pencatat,....
Segala sejarah masa lalu
Aku memerlukanmu
Datang...
Datang bersama angin
Aku Manusia Topeng memanggilmu
Wayan Tandira memandang Manusia To-
peng dengan perasaan tidak mengerti dan benak
dipenuhi tanda tanya.
"Orang gila ini sesungguhnya bicara dengan
siapa?" batinnya. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Paluih merasakan adanya sesuatu yang aneh, sehingga secara tiba-tiba ia menarik kekang kendali kuda. Gerakan mendadak ini membuat Wayan dan
Manusia Topeng hampir terpelanting.
"Ha ha ha Kuda gaib ini tingginya seperti
hendak menggapai langit. Jika kita sampai jatuh,
paling tidak mampus dan jadi arwah gentayangan
sungguh.,." celetuknya.
Wayan tidak lagi sempat menanggapi, kare-
na detik itu juga terdengar suara angin menderu-
deru. Pohon-pohon batu di sekeliling mereka ber-
tumbangan bahkan ada yang tercabut sampai ke
akar-akarnya.
"Ada apakah ini?" tanya Wayan Tandira
sambil berpegangan erat pada bagian bulu Si Putih Kaki Langit. Sementara deru angin semakin lama
semakin bertambah keras.
"Kau lihatlah ke arah depan sana" seru Datuk Nan Gadang Paluih sambil menunjuk ke arah
depan dengan tatapan terkagum-kagum. Saat
Wayan Tandira melihat ke arah yang dimaksud, ia
menyaksikan bayangan kuning berputar-putar se-
perti gasing. Bayangan itu datang bersama pusa-
ran angin yang memporak perondakan apa saja
yang dilaluinya.
"Dia datang... Ha ha-ha Ternyata ia masih
ada, padahal sudah hampir tujuh puluh tahun
kami tidak bertemu" desis Manusia Topeng. Selanjutnya ia berteriak dengan suara keras dituju-
kan pada sosok serba kuning yang datang bersa-
ma pusaran angin tersebut.. "Selamat datang sahabat lama Tapi hentikanlah kegilaanmu itu La-
ma kita tidak berjumpa, ternyata kau semakin ber-
tambah gila Ha ha ha..."
Pusaran angin yang menderu-deru bahkan
sempat membuat goyah Si Putih Kaki Langit mulai
mereda berangsur-angsur. Bukan hanya Wayan
Tandira saja yang kagum melihat kehebatan yang
dimiliki oleh Manusia Topeng. Tetapi tokoh Anda-
las yang juga pernah mendengar tentang siapa
adanya Malaikat Pencatat sampai terperangah.
Dulu sekali ia memang pernah mendengar adanya
seorang tokoh aneh yang hidup di antara angin
yang punya kebiasaan mencatat segala sesuatu
yang terjadi di rimba persilatan. Ia terkadang
muncul tanpa sepengetahuan orang lain di tengah-
tengah badai yang menggila atau pun diantara to-
pan yang sedang mengamuk melanda suatu dae-
rah. Ia dapat datang dan pergi tanpa disangka-
sangka gerakannya secepat angin. Itu sebabnya ia
dijuluki Malaikat Pencatat oleh kalangan persila-
tan dimasa itu. Meskipun ilmunya tinggi sulit dijajaki, konon tokoh yang satu ini tidak pernah ber-
kelahi. Kemana pun ia pergi selalu membawa kulit
untuk mencatat. Kabarnya pula sepuluh orang
kuat sekalipun tidak mungkin sanggup memikul
kitab-kitab catatannya yang ia buat selama adanya rimba persilatan.
Kini angin benar-benar mereda, di depan
ketiga orang yang berada di atas punggung Si Pu-
tih Kaki Langit telah berdiri seorang laki-laki berpakaian kuning keemasan dan gemerlap. Melihat
raut wajahnya paling ia baru berumur sekitar tiga puluh tahunan. Padahal umur yang sebenarnya
tidak kurang dari tiga ratus lima puluh tahun atau bahkan lebih.
"Sahabatku kecil Kau memanggilku? Ada-
kah sesuatu yang merisaukan hatimu?" tanya laki-laki berpakaian kuning gemerlap ini tanpa senyum
"Bingung... aku bingung, orang-orang bin-
gung. Tidakkah kau lihat apa yang ada di dalam
hati dari kepalaku?" tanya Manusia Topeng. Laki-laki ini lalu menjura hormat. Wayan dan Datuk
Nan Gadang Paluih mengikuti. Malaikat Pencatat
anggukkan kepala atas penghormatan mereka.
"Kalian duduk di atas punggung binatang
kehormatan alam gaib. Yang aku tahu wahai sa-
habat kecil Dalam kepalamu terdapat akal, di da-
lam hatimu terdapat nafsu dan nurani yang suci.
Lalu catatan yang mana yang ingin kau lihat dan
tanyakan wahai sahabat kecil?" tanya Malaikat Pencatat.
"Aku sudah tua, pikiranku mulai luntur
mendekati pikun. Gigiku berpamitan satu-satu,
apa yang aku miliki mulai permisi, penglihatan
berkurang, mata lamur. Tidak ada yang bertambah
terkecuali uban di kepala, orang tua sepertiku ra-
ta-rata besar merajuknya (ambeknya). Malaikat
Pencatat, kurasa dalam catatannya ada tertulis
tentang Sange tanah kutukan. Sudah tiga puluh
tahun yang lalu. Apakah kau tahu sebab apa ma-
nusia seperti Ratu Leak menjadi marah dan men-
gumbar angkara murka membabi buta?" tanya
Manusia Topeng.
Malaikat Pencatat terdiam. Ia turunkan
buntalan besar yang selalu dibawanya dimana pun
dia pergi. Buntalan itu berukuran sangat besar, ti-ga kali lebih besar dari ukuran dan besar badan
pemiliknya.
"Sebelum aku bicara dan membacakan apa
yang ada dalam catatanku, aku meminta pada
orang yang bergelar Datuk Nan Gadang Paluih su-
di kiranya membuat Putih Kaki Langit sebesar dan
setinggi kuda biasa" ujar Malaikat Pencatat setengah memerintah.
Datuk Nan Gadang Paluih sempat kaget ju-
ga karena tidak menyangka bahwa Malaikat Pen-
catat mengetahui siapa dirinya dan tahu pula sia-
pa Si Putih Kaki Langit.
Kalau pun begitu ia cepat mengusap teng-
kuk dan telinga Putih Kaki Langit, sehingga hanya dalam waktu sekedipan mata saja kuda alam gaib
itu berubah memendek dan mengecil sehingga be-
sarnya seukuran kuda biasa pada umumnya.
TUJUH
Manusia Topeng melompat turun dari atas
punggung kuda. Ia memandang ke arah Malaikat
Pencatat dengan perasaan tidak sabar.
"Sebelum aku mengatakan apa yang aku tu-
lis dalam kitab kulit ini. Harap kalian semua pu-
satkan perhatian dan pasang telinga baik-baik"
pinta laki-laki berpakaian kuning keemasan itu
tanpa senyum. Ketiga laki-laki di sekelilingnya
anggukan kepala tanpa kata. Malaikat Pencatat
kemudian membolak balik halaman kulit yang
sangat tebal dan tentu saja sangat berat tersebut.
Laki-laki itu kemudian memulai. "Menurut catatanku, yang namanya Ratu Leak itu adalah gelar
setelah dua puluh tahun belakangan. Aku akan
membuka catatan lain setelah halaman ini" ujar Malaikat Pencatat. Kitab catatan pertama ditutup-nya. Kemudian ia mengambil sebuah kitab lain
yang sudah butut dan sedikit ada jamurnya. "Ratu Leak menurut catatan yang benar mempunyai sepuluh nama dan julukan samaran. Ia terlahir den-
gan nama Pamungkur Walikandi sekitar enam pu-
luh tahun yang silam. Ayahnya bernama Menggolo
Tirto Joyo Negoro Caplok Nogo Ora Opo Hilang da-
lam badai laut Utara. Ibunya Srikanti Waratiri,
meninggal terserang penyakit kotor. Ia adalah mu-
rid seorang tokoh sesat di daerah Muara Randu
Condong. Ilmu serta jurus-jurus silatnya cukup
hebat. Sayang hatinya culas dan sangat kejam. Di
waktu muda ia pernah jatuh cinta dengan seorang
laki-laki dari gunung Mahameru bernama Barata
Surya. Ia begitu tergila-gila sampai-sampai ia ber-
sedia meninggalkan kesesatan dan berani durhaka
pada gurunya sendiri. Persoalannya kemudian
menjadi tidak jelas. Ketika Pamungkur Walikan ini siap menjadi isteri tokoh dari gunung Mahameru
itu. Pihak laki-laki yaitu Barata Surya membatal-
kan perkawinan, hingga terjadilah pertempuran
sengit. Dalam pertempuran itu ternyata Pamung-
kur Walikandi kalah. Ia melarikan diri dengan
membawa rasa putus asa dan malu yang menda-
lam. Dalam keputusasaannya itu ia tidak berani
kembali pada gurunya. Pamungkur Walikandi ber-
temu dengan seorang pemuda lain bernama De-
wana. Pemuda baik hati ini menasehatinya agar
jangan mengambil jalan pintas. Nasehat-nasehat
yang diberikan oleh Dewana diartikan oleh Pa-
mungkur Walikandi sebagai isyarat bahwa pemuda
itu menyukainya. Lebih kurang enam purnama
tinggal berdampingan dengan Dewana, suatu hari
Pamungkur Walikandi berterus terang pada Dewa-
na bahwa dirinya jatuh cinta pada pemuda itu.
Malangnya ternyata secara halus Dewana menolak
pernyataan Pamungkur Walikandi. Gadis ini se-
makin bertambah sakit hati? Ingin melawan atau
mengajak Dewana bertarung, jelas kepandaiannya
kalah jauh. Ia kembali melarikan diri ke tanah Andalas setelah gagal meracuni Dewana. Ia melan-
glang buana di tanah Andalas mencari ilmu kesak-
tian untuk membalas dendam. Sampai kemudian
ia mendengarkan tentang sebuah batu mukjizat
yang diberi nama Batu Lahat Bakutuk. Ia mencari-
cari ke sana ke mari siapa gerangan pemilik batu
sakti tersebut. Hingga kemudian ia merasa pasti
pemilik batu itu tinggal di Ngarai Sianok. Pada suatu kesempatan ketika pemiliknya lengah ia pun
mencurinya. Dari sana ia melarikan diri ke Sange
ini, hingga terjadilah apa yang telah kalian saksikan" jelas Malaikat Pencatat.
Datuk Nan Gadang Paluih maju selangkah.
"Akulah pemilik Batu Lahat Bakutuk, batu tersebut warisan dari kakekku Engku Raja Alam Nan
Bana." kata laki-laki berbaju putih selempang putih mengakui.
"Jika pernyataanmu benar, berarti kedatan-
ganmu ke sini adalah untuk mengambil kembali
Batu Lahat Bakutuk itu." Malaikat Pencatat menanggapi. "Sayang menurut catatanku persoalannya tidak semudah itu. Batu Lahat Bakutuk bu-
kan saja hanya sekedar batu sakti yang mengan-
dung berbagai kegaiban. Ia juga hanya dengan
ucapan-ucapan tertentu dapat membangkitkan
beberapa benda hidup dan membuat benda-benda
yang hidup menjadi patung. Jadi kekuatan yang
membuat penduduk Sange ini menjadi patung ba-
tu bukan semata-mata karena Ratu Leak, melain-
kan Batu Lahat Bakutuk ikut berperan"
"Sahabatku Kukira catatanmu tidak mele-
set, satu hal yang perlu aku ketahui. Apakah Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya tidak dapat dibunuh? Kalau pun dapat di manakah terletak titik
kelemahannya?" tanya Manusia Topeng.
Untuk pertama kalinya Malaikat Pencatat
tersenyum. Senyum samar jika mata yang tidak
awas bisa menafsirkan bahwa laki-laki berpakaian
serba kuning ini sedang menderita sakit mejan.
"Sahabat kecil Kau memiliki ilmu serta ke-
saktian segudang, terkadang aku sesalkan jalan
pikiranmu terlalu tumpul mendekati bodoh. Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya tidak mungkin
dapat dibunuh oleh siapapun. Makhluk itu berasal
dari dalam perut bumi. Kebangkitannya karena
Batu Lahat Bakutuk itu juga..." jelas Malaikat Pencatat. Sayang Manusia Topeng merasa kurang
puas mendengar penjelasan sahabatnya.
"Kurasa apa yang kau katakan barusan ter-
lalu ngawur dan melenceng dari catatanmu. Menu-
rutku sesakti apa pun manusia di jagat ini pasti
punya kelemahan. Adalah sesuatu yang mustahil
jika Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sang
makhluk jelek itu tidak punya kelemahan. Hayo
buka lagi catatanmu atau kau hanya mencatat as-
al usul makhluk itu tanpa mengetahui kesaktian
dan kelemahannya" ejek Manusia Topeng seperti anak kecil yang sedang meledek temannya. Malaikat Pencatat sama sekali tidak menanggapi, ia
membolak balik halaman kulit setebal dua jengkal
di tangannya.
"Hmm, disini, sesuai dengan catatanku.
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya selalu me-
musnahkan kesaktian dan tenaga dalam orang
lain itu punya titik kelemahan pada tanduk di ke-
palanya. Tanduk yang memancarkan sinar merah
itulah yang merupakan kehidupan baginya dan
tanduk itu pula yang menjadi kehancuran orang
lain" jelas Malaikat Pencatat.
Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tan-
dira tercengang mendengar penjelasan laki-laki
berpakaian kuning keemasan tersebut. Sebaliknya
Manusia Topeng tertawa terpingkal-pingkal sambil
pegangi perutnya.
"Sahabat kecil, adakah yang kau anggap lu-
cu dengan apa yang aku baca ini?" Pertanyaan Malaikat Pencatat membuat Manusia Topeng henti-
kan tawa dan tutup mulut topengnya.
"Aku tertawa karena gembira, aku seperti
baru habis mimpi kejatuhan bintang kejatuhan
bulan, kemudian kejatuhan durian"
"Dan engkau langsung mampus, Manusia
Topeng" celetuk laki-laki berpakaian serba kuning.
"Bukan itu maksudku Aku senang karena
biar bagaimana pun sebelum main-main dengan
Ratu Leak, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya
harus kumati'in dulu Aku benci melihat makhluk
itu. Tatapan matanya sama sekali tidak bersaha-
bat" dengus Manusia Topeng.
"Satu hal jangan kau lupa, jika kau patah-
kan tanduk di kepala makhluk itu jangan kau
buang, karena sahabatmu seperti Pendekar Blo'on,
Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora jika
masih hidup memerlukan benda itu"
"Apakah Pendekar Bodoh itu ingin punya
tanduk juga? Ha ha ha... Padahal tanduknya yang
di bawah pun belum pernah digunakan" sahut
Manusia Topeng seenaknya. Wayan dan Datuk
Nan Gadang Paluih terpaksa menahan senyum.
"Bukan itu maksudku, nanti kalian semua
yang berada di sini akan tahu juga. Sekarang tidak usah membuang-buang waktu Jika boleh aku
memberi saran, Datuk Nan Gadang Paluih dan
Wayan Tandira cepat kejar Ratu Leak Sedangkan
Manusia Topeng tunggulah di sini, kurasa tidak
lama lagi Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya
sudah menyusul..."
"Engkau sendiri hendak ke mana? Bukan-
kah lebih baik bersama-sama denganku disini?
Kau bisa melihat tontonan gratis, lagipula rasa
rinduku padamu belum hilang" berkata Manusia Topeng disertai tawa.
Malaikat Pencatat gelengkan kepala.
"Tidak Aku harus pergi, tugasku di dunia
ini masih sangat banyak sekali Selamat tinggal."
jawab laki-laki berpakaian serba kuning itu. Se-
raya tengadahkan wajahnya ke langit, bibir orang
ini berkemik-kemik. Tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan, angin seketika itu juga menderu-deru. Malaikat Pencatat hanya dalam waktu sekejap saja telah lenyap dari pandangan mereka yang berada di
tempat itu.
"Sekarang segalanya sudah menjadi jelas.
Kepada saudara Datuk Nan Gadang Paluih dan
Wayan Tandira, sebaiknya lakukanlah apa yang
disarankan oleh Malaikat Pencatat." ujar Manusia Topeng lirih.
"Ratu Leak menjadi urusanku, aku merasa
pasti Batu Lahat Bakutuk segera kembali ke tan-
gan pemiliknya" dengus Datuk Nan Gadang Pa-
luih. "Wayan Tandira kalau kau mau ikut denganku, sebaiknya naik ke punggung Si Putih Kaki
Langit Kita harus melakukan pengejaran sebelum
Ratu Leak jauh dari sini"
"Merupakan suatu kehormatan jika Datuk
memperkenankan aku ikut serta. Terima kasih
atas segala perhatianmu" kata Wayan Tandira.
Kepala negeri Sange itu selanjutnya membonceng
di belakang Datuk Nan Gadang Paluih. Sekejap
terdengar suara ringkik Putih Kaki Langit yang begitu panjang. Selanjutnya kuda itu berlari kencang meninggalkan Manusia Topeng.
"Kuda bagus Ada-ada saja keanehan di du-
nia ini" celetuk Manusia Topeng sambil tertawa tergelak-gelak.
***
Ratu Leak saat itu sudah sampai di ujung
Sange. Ia tidak langsung memasuki Pura di de-
pannya, melainkan jalan berkeliling di sekitar tempat itu. Sementara dua sosok tubuh yang dipang-
gul di atas bahunya masih juga belum diturunkan.
"Disinilah sejarah akan dimulai. Aku pernah
mendengar kelahiran bocah ajaib ini. Siapa yang
tidak senang jika ternyata gurunya adalah para
musuh besarku Sekarang akan kulihat apa yang
dapat dilakukan oleh Barata Surya dan Dewana ji-
ka harus berhadapan dengan murid sendiri." Ratu Leak menoleh ke arah Dewi Kerudung Putih yang
di pondong di bahu kiri. "Sedangkan gadis cantik ini Rasanya sangat mubazir jika aku tidak me-manfaatkannya"
Perempuan cantik berpakaian serba hijau
ini kemudian memasuki Pura. Ternyata di dalam
Pura tersebut jauh sebelumnya Ratu Leak sudah
mempersiapkan sebuah altar besar. Di sanalah
dua sosok tubuh yang dalam keadaan pingsan di-
baringkan. Ratu Leak berputar-putar mengelilingi
pemuda baju biru. Tiba-tiba saja ia memijit bebe-
rapa bagian di tubuh Pendekar Blo'on. Pemuda be-
rambut kemerahan mengeluh. Matanya yang mulai
terbuka berkedap-kedip. Tatapan mata itu begitu
hampanya seakan tidak memiliki semangat dan
gairah hidup sama sekali.
"Wahai bodoh Dapatkah kau ingat siapa di-
rimu?" tanya Ratu Leak ditujukan pada pemuda yang tengah terbaring di atas batu putih di depannya. Pendekar Blo'on menggeleng.
"Tahukah kau siapa namamu?"
Suro kembali gelengkan kepala.
"Lalu apakah kau tahu siapa aku?" tanya Ratu Leak. Dalam kesempatan itu pula pada bagian tompel yang terdapat di punggung Pendekar
Mandau Jantan ini terasa panas. Seakan ada se-
buah kekuatan gaib yang tengah berusaha mem-
beri kesadaran pada si pemuda. Namun pada ba-
gian lain tubuh pemuda ini seperti ada kekuatan
yang menekannya.
"Kau adalah orang dimana aku harus bersi-
kap patuh" jawab Suro.
"Hik hik hik Bagus sekali. Dirimu telah
kuisi dengan kekuatan baru dariku. Bahkan batu
ini ikut memberi kesaktian padamu. Senjatamu
sengaja tidak kuambil, karena aku berharap den-
gan senjata itu pula kau membunuh kedua guru-
mu Apakah kau sudah mengerti?"
"Aku sudah mengerti"
"Tahukah kau siapa Barata Surya dan De-
wana itu?" tanya Ratu Leak seakan ingin memastikan. "Aku tidak tahu" sahut Pendekar Blo'on.
Bibir perempuan berumur enam puluhan namun
tetap awet muda itu tersenyum.
"Merekalah musuh besarku Kau harus
membunuhnya, kau harus mem-bu-nuh-nya Su-
dahkah kau tahu apa yang menjadi tugasmu seka-
rang?" "Aku sudah tahu" jawab Suro Blondo lagi.
"Sekarang berdirilah, kau harus melaksa-
nakan tugasmu" perintah Ratu Leak. Setiap kata yang diucapkannya mengandung pengaruh gaib
hingga membuat Suro Blondo berubah seperti
orang linglung berat. Ratu Leak kemudian menge-
luarkan sebuah kantung berwarna hitam, perem-
puan itu mengusap-usap kantung tersebut tiga
kali. Dari dalam kantung memancar sinar putih
yang langsung memancar ke bagian kening Suro.
Si pemuda kedip-kedipkan matanya. Ratu Leak
melanjutkan. "Nah sekarang kesaktian yang kau miliki semakin bertambah-tambah Kewajibanmu
adalah membunuh Barata Surya dan Dewana
Bunuh mereka, bunuh, bunuh..."
Lagi-lagi Suro anggukkan kepala. Dengan
gerakan yang kaku ia memutar langkah. Sampai di
pintu Pura, tanpa menoleh-noleh lagi Pendekar
Blo'on berlari kencang meninggalkan Sange.
Sepeninggal Suro, Ratu Leak tersenyum
puas melihat apa yang telah dicapainya. Ia merasa yakin kedua musuh besar yang sangat dibencinya
itu tidak mungkin dapat meloloskan diri dari ke-
matian. Sementara menunggu kabar kembalinya
Suro, Pendekar yang telah berhasil diperalatnya. Ia berpikir mengapa tidak memanfaatkan waktu
luang untuk bersenang-senang? Maka tanpa me-
nunggu lebih lama lagi ia memanggul Dewi Keru-
dung Putih. Sebentar saja ia sudah memasuki
bangunan lain di bagian dalam Pura. Tidak tahu
apa yang hendak dilakukan oleh Ratu Leak terha-
dap gadis yang selalu hilir mudik di pantai Laut
Selatan tersebut.
***
Gunung Mahameru selayang pandang tera-
sa sunyi seakan tidak berpenghuni. Padahal ba-
gian puncak bukit itu di sebelah selatan tinggal
seorang tokoh sakti mempunyai watak angin-
anginan dan konyol sekali. Di situ pula kera-kera siluman berdiam selama berpuluh-puluh tahun
tanpa ada tangan usil yang mengusiknya. Di sana
pada bagian puncak yang datar terdapat sebuah
bangunan kecil mungil yang bagian dindingnya
terbuat dari kayu jati tua. Dalam keadaan-
keadaan tertentu bangunan ini sama sekali tidak.
dapat dilihat oleh orang lain. Pada salah satu kamar dalam bangunan tersebut. Terlihat sosok tu-
buh dalam keadaan duduk bersila. Ia tidak ubah-
nya seperti patung, berpakaian serba putih, be-
rambut, bercambang serta berjenggot putih. Entah
berapa lama ia dalam keadaan bersemedi seperti
itu, tidak seorang pun yang tahu. Di pagi yang
sunyi itu angin dingin bercampur kabut menderu-
deru. Si kakek sama sekali tidak terusik oleh pengaruh udara di sekitarnya.
Namun entah mengapa tiba-tiba sosok tua
itu tersentak. Matanya terbuka lebar, wajahnya
pucat seakan melihat sesuatu yang sangat mena-
kutkan. Bibir yang tertutup kumis itu mengguman
berulang-ulang. Sayang kata-katanya tidak begitu
jelas. Tiba-tiba kakek tua yang selalu tersenyum
ini kehilangan senyumnya. Sekujur tubuh dibasa-
hi keringat dingin sebesar-besar kacang ijo.
"Aku tidak bermimpi, tidak mengigau tidak
pula berkhayal. Aku melihatnya, aku melihat bo-
cah edan itu. Tetapi..." Si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih Barata Surya
kerut-kerutkan keningnya. "Mengapa dia berubah seperti gembel goblok, mengapa ia sedungu domba
tua yang pikun?" desis Barata Surya.
Kakek ini mondar-mandir di dalam ruangan
yang tidak seberapa luas itu. Lalu ia duduk di atas dipan kayu dengan sandaran berbentuk monyet
putih. "Dia benar-benar seperti orang linglung, aku melihatnya di sebuah tempat berbatu, jauh dan
ada air luas yang memisahkannya. Bocah geblek
itu sekarang sedang susah, siapa yang membuat-
nya susah. Jalannya loyo, tatapan matanya berin-
gas seganas setan Oh apa yang harus aku laku-
kan?" Barata Surya sang guru yang mempunyai
watak angin-anginan tepuk-tepuk keningnya.
Tingkahnya hampir tidak berbeda dengan murid-
nya yang gendeng.
Penghulu Siluman Kera Putih melangkah
keluar meninggalkan ruangan semedi yang selalu
dipergunakannya selama ini. Pintu depan dibuka,
udara dingin menerpa wajahnya. Namun Barata
Surya yang sedang gundah gulana ini sama sekali
tidak menghiraukannya. Di depan pintu ia melihat
puluhan ekor kera putih berjalan mondar-mandir
seperti orang yang sedang mengucapkan selamat
pagi pada tuannya.
"Nguk Nyiet, nyiet..."
Monyet-monyet siluman itu menjadi ribut
begitu melihat majikannya. Barata Surya menjadi
sewot. "Kunyuk-kunyuk yang nakal dan sialan
Minggat kalian dari hadapanku Apakah kalian ti-
dak tahu hati dan pikiranku sedang bingung??"
hardik Barata Surya sambil menutupkan pintu
kembali. Pintu baru tertutup, tapi mendadak saja
terbuka kembali seakan ada orang yang mendo-
rongnya. "Kunyuk yang nakal, tidak bosannya kalian menggangguku Atau kalian ingin aku mema-
sukkan kalian ke dalam kawah Mahameru biar
pada mampus semua" teriak si kakek, seraya tiba-tiba saja memutar langkah. Tapi alangkah terke-
jutnya kakek konyol ini begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
DELAPAN
Untuk sekian saat lamanya Penghulu Silu-
man Kera Putih tertegak di tempatnya dengan bibir terkatup rapat tanpa mampu bicara apa-apa.
Orang di depan pintu maju selangkah, sungguh ta-
tapan mata kakek berpakaian serba merah beram-
but merah itu kurang sedap dipandang mata.
"Barata Surya, ada tamu datang mengapa
tidak kau suruh masuk. Tuan rumah macam apa
kau ini?" Kakek berambut merah berwajah angker membentak marah. Yang dibentak malah mengha-turkan hormat. Seakan orang tua yang berdiri di
hadapannya itu adalah orang yang paling disega-
ninya. "Malaikat Berambut Api, maafkan aku yang salah kata dan salah memaki tadi. Silahkan masuk... silahkan... Selamat datang di rumahku
yang jelek dan butut." Kata Barata Surya. Malaikat Berambut Api tidak menyahut, namun ia mengikuti kakek di depannya.
"Duduklah..." ujar Malaikat Berambut Api mempersilahkan tuan rumah. Dengan patuh Barata Surya mengikuti apa yang diperintahkan pa-
danya. "Angin apa yang membuat sampean (anda) datang ke sini, saudara Dewana?" tanya Penghulu Siluman Kera Putih.
Malaikat Berambut Api terdiam sejenak la-
manya. Orang yang satu ini memang sangat jarang
sekali bicara, tetapi kali ini tampaknya ia memba-wa persoalan yang sangat serius.
"Anginnya puting beliung atau mungkin le-
bih parah dari apa yang kau sebutkan itu, malah.
Barata Surya, sudahkah kau lihat bagaimana bu-
ruknya nasib dan keadaan murid kita?" ucap Malaikat Berambut Api dengan suara serak dan berat.
Diam-diam Penghulu Siluman Kera Putih
terkejut juga karena tidak menyangka bahwa ka-
kek berambut merah tersebut telah mendapat fira-
sat pula tentang si konyol Suro Blondo?
"Aku sudah mengetahuinya. Kurasa murid
kita sekarang sedang dalam keadaan susah. Atau
lebih parah dari itu. Aku melihat dia bukan di-
rinya. Kurasa ada yang berkepandaian tinggi telah berhasil memperdayanya. Ia seperti orang linglung..."
"Jangan bicara sembarangan. Bagaimana
pun kita harus menolong bocah gendeng itu. Dia
dalam kesulitan besar, keadaannya sekarang bu-
kan saja membahayakan dirinya sendiri. Tapi
orang lain juga dapat terancam bahaya" tegas Dewana. "Apa sebaiknya yang akan kita lakukan?"
"Keadaan pemuda itu yang sesungguhnya
aku belum tahu pasti, tetapi sesuai dengan gam-
baran yang kudapat dalam semediku, kira-kira
aku sudah mengetahui dimana letak daerahnya
Sebaiknya persiapkan segala sesuatunya dengan
baik. Aku rasanya belum pernah melihat lawan
yang sehebat ini" desis Dewana tegas.
"Itu adalah persoalan yang mudah. Yang
membuat aku bingung bagaimana caranya agar ki-
ta bisa sampai ke tempat berbatu itu secepatnya?"
"Barata Surya, tidak kusangka di usiamu
yang semakin senja ini apa yang bertambah dalam
dirimu, tidak lain hanya kepikunanmu saja. Bu-
kankah kau memiliki ilmu 'Pedut Lakon'. Kau bisa
mempergunakannya, sedangkan aku tentu punya
cara tersendiri untuk dapat mengikutimu terus"
Penghulu Siluman Kera Putih hampir tidak
dapat menahan tawa. Apa yang baru dikatakan
oleh Malaikat Berambut Api memang benar. Ia
memiliki ilmu 'Pedut Lakon' di mana ia dapat ber-
jalan seperti kabut yang mengambang di udara se-
dangkan kecepatannya melebihi angin ribut.
"Sekarangkah kita memulai perjalanan?"
tanya Barata Surya.
"Tidak, besok atau tahun depan. Sehingga
muridmu dan cucuku keburu mampus Kau ini
guru tolol, bego dan menyebalkan. Mengapa harus
membuang-buang waktu sekarang juga kita harus
berangkat" Malaikat Berambut Api memutuskan.
Barata Surya terdiam sejenak sambil ang-
gukkan kepala. Tidak lama setelah itu bibirnya
tampak berkemak-kemik, rupanya ia sedang
membaca mantra-mantra dari ilmu perjalanan ce-
pat 'Pedut Lakon'. Tiba-tiba saja tubuh Barata
Surya seakan lenyap ditelan cahaya putih kemilau.
Sosoknya mengambang di udara. Malaikat Beram-
but Api pejamkan matanya. Ia gelengkan kepala ke
kanan ke kiri sebanyak tiga kali. Lalu....
Wuut
Tokoh dari pulau Seribu Satu Malam di
pantai selatan ini tiba-tiba lenyap pula dari pandangan mata (dalam Episode Neraka Gunung
Bromo). Bagian atap bangunan kecil terbuka. Dari
dalamnya melesat dua sinar, yang satu berwarna
putih kemilau sedangkan yang satunya lagi ber-
warna gelap kemerahan. Kepergian dua tokoh sak-
ti ini diiringi suara ribut kera-kera siluman. Kemudian adalah kesunyian yang mencekam, tidak
ada lagi suara kera-kera putih siluman. Kesunyian abadi yang cukup panjang.
***
Dua bayangan berkelebat menuju ke arah
hilangnya Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan
Tandira. Kedua bayangan itu yang satu dan berada
paling depan bertubuh ramping berpakaian tipis
merangsang. Sedangkan yang satunya lagi sosok
hitam tinggi besar bertelanjang dada dan bercelana hitam gombrong. Di bagian kepala sosok tinggi besar itu terdapat sebuah tanduk yang memancar-
kan cahaya merah berpedar-pedar. Mereka berlari
seperti dikejar-kejar setan, tidak pernah menoleh ke kanan maupun kiri.
Sedang mereka dalam keadaan berlari ken-
cang itulah, tiba-tiba dari balik bukit melesat cahaya biru memotong langkah kaki mereka. Jika
gadis baju hijau di depannya tidak melompat tinggi sambil memaki. Tentu cahaya panas itu memang-gang tubuhnya. Malang bagi sosok hitam di bela-
kangnya. Ia tidak sempat lagi menghindar. Praktis dari dua leret sinar itu salah satu diantaranya
menghantam bagian iga dengan telak.
Duuuummm
Gusraaak
Sosok hitam berwajah seperti monyet besar
menggereng marah. Ternyata pukulan gelap tadi
sama sekali tidak berhasil melukai tubuh Sang Pe-
lucut Segala Ilmu Segala Daya. Sebaliknya gadis
berpakaian tipis merangsang memperlihatkan se-
bagian aurat ini sudah berdiri berkacak pinggang.
"Pembokong gelap, mengapa bertindak
pengecut seperti banci. Tunjukkan diri jika ingin jual lagak. Aku Iblis Betina Dari Neraka tidak segan-segan turunkan tangan kejam" teriak gadis berwajah cantik bertubuh menggiurkan sengit.
Suara si gadis berlalu begitu saja. Sang Pelucut
Segala Ilmu Segala Daya yang berpantang bicara
dengan lawan buka suara.
"Tidak ada hantu disini. Kalau pun ada pas-
ti kumakan, segala macam hantu takut padaku
Biar aku periksa siapa kunyuknya" Makhluk bertubuh tinggi putar langkah. Langkahnya yang
hampir terayun terhenti seketika. Ia memandang
ke atas bukit kecil di mana seorang laki-laki me-
makai topeng bocah berdiri. Dengan sikap acuh
tak acuh ia bicara.
Segala rahasia manusia ada di tangan Gusti
Allah Manusia dengan manusia suka memakai topeng Dalam laut dapat di ukur
Dalam hati mana bisa diatur
Rahasiamu sudah pun kudapat
Catatan Malaikat bukan sesuatu yang dilak-
nat
Apa jawabmu jika topeng-topeng kutanggal-
kan? Jangan coba mencari dalih
Selagi hidup bersilat lidah
Jika sudah terbujur jasad hancur terkubur
Aku Manusia Topeng
Topeng-topeng adalah manusia
Hidup manusia selalu ada dua
Manusia punya guna dan manusia tidak
berguna
Jika dia tertidur manusia tiada berguna
Bila terjaga pasti ada gunanya
Lalu...
Pada kalian berdua
Apa guna kalian terlahir ke dunia?
Hanya untuk membuat onar angkara murka?
Setiap perbuatan pasti akan ditanya
Setiap hidup pasti ada matinya
Untuk apa manusia menjadi sombong dan
besar kepala?
Dalam hening tanya nurani, dalam diam hati
punya jawab sendiri
Mustika Jajar menjadi sangat geram sekali
mendengar kata-kata Manusia Topeng yang seperti
menyindir dirinya. Tanpa diduga-duga ia melompat
ke depan.
"Manusia keparat Aku ingin tahu apakah
kau benar-benar manusia suci seperti Malaikat
yang tidak bernoda. Aku juga akan mencabik-
cabik topeng yang menutupi wajahmu" teriak si gadis. Ia kemudian menoleh pada Sang Pelucut
Segala Ilmu Segala Daya. "Sahabat, kau lihatlah
Aku akan mencabik topengnya sekaligus menca-
but nyawa busuknya"
"Ha ha ha... Bicaramu kelewat lantang, bo-
cah. Kau terlalu kurang ajar dan kehilangan budi
pekertimu. Buktikanlah mulut besarmu itu, atau
kau hanya sebangsa geledek yang tidak pernah
membawa hujan" sahut Manusia Topeng disertai tawa ha ha hi hi. Semakin panas Iblis Betina Dari Neraka mendengar ucapan Manusia Topeng. Sekonyong-konyong ia melompat ke depan. Sekali
terkam tamatlah riwayat laki-laki pendek ini. Karena ketika itu ia mengerahkan jurus 'Pemusnah
Raga Penghancur Jiwa'.
Mulai dari jari tangan Mustika sampai ke
bagian tangan telah berubah hitam pekat. Iblis Betina merasa yakin dengan kecepatan gerakannya
itu. Kira-kira sepersekian jengkal lagi kepala dan dada telanjang Manusia Topeng alias Setan Topeng
kena dihantam. Orang ini liukkan tubuhnya
dan.... "Hap"
Craak
Serangan luput, kedua tangan Mustika Ja-
jar tidak dapat ditahan-tahan lagi langsung amblas ke dalam batu. Terlihat sebuah lubang besar dan
warna hitam mengepulkan asap busuk. Itu meru-
pakan pertanda betapa serangan gadis jelita itu
mengandung racun yang jahat.
Dengan cepat ia berbalik, sekejap Mustika
angkat kedua tangannya di atas kepala. Setelah itu ia hantamkan ke depan. Sekali ini Iblis Betina Dari Neraka lepaskan pukulan "Neraka Perut Bumi".
Sinar hitam, merah, biru melesat laksana
kilat dari telapak tangan gadis itu. Di rimba persilatan jarang sekali ada tokoh yang dapat mele-
paskan pukulan dengan tiga warna sekaligus, ter-
kecuali seorang tokoh yang telah memiliki tenaga
dalam mencapai taraf di atas sempurna.
Tetapi orang yang dihadapi oleh Mustika
kali ini adalah tokoh kawakan yang kemunculan-
nya di rimba bisa dihitung dengan jari. Bahkan
seandainya ada tokoh-tokoh seperti Datuk Sage
Mayasal Hiduik (dalam episode Iblis Betina Dari
Neraka) sekali pun tidak pernah tahu seberapa
tinggi kesaktian yang dimiliki Manusia Topeng. Ja-di bukanlah sesuatu yang mudah untuk menekan
tokoh yang tidak pernah menanggalkan topeng ini.
Malah Manusia Topeng sekarang membalas seran-
gan si gadis dengan pukulan 'Bintang Terbelah'.
Wut Wuuuut
Suasana semakin bertambah panas. Nam-
pak sinar kuning kemilau meluncur deras dari
tangan Manusia Topeng. Sinar itu langsung memo-
tong pukulan Mustika di tengah jalan. Maka terja-
dilah ledakan beruntun yang mengguncang tempat
sekitarnya.
Mustika menjerit keras, tubuhnya melayang
dan terbanting keras di atas batu sebesar kamb-
ing. Batu hancur, dari sudut bibir gadis itu mele-leh darah kental berwarna hitam. Wajah gadis ini
pucat pasi. Sedangkan Manusia Topeng masih
sempat bersalto dan jatuh dengan kedua kakinya.
Ia merasa dadanya mendenyut sakit.
"Jika tidak memiliki kepandaian tinggi, ga-
dis ini pasti sudah menjadi bangkai" rutuk Manusia Topeng dalam hati, tapi pada sisi lain ia merasa kagum dengan daya tahan yang dimiliki oleh Mustika Jajar. Di sudut lain Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya tampak baru saja berdiri. Rupanya
pengaruh ledakan tadi membuat ia jatuh tunggang
langgang juga. Walau pun begitu ia tidak menga-
lami luka barang sedikit pun.
"Bangsat kapiran Tidak puas hatiku jika
belum membunuhmu, memakan dagangmu dan
meminum darahmu" geram si gadis yang baru sa-ja mampu bangkit kembali. Wajah di balik topeng
tersenyum. Laki-laki aneh ini menyanyi-nyanyi se-
perti orang yang kurang waras. Selesai menyanyi
ia bersiul-siul, suara siulannya melengking tinggi tidak beraturan. Semakin lama semakin bertambah tinggi, hingga membuat sakit telinga yang
mendengarnya. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya terpaksa tutupi telinganya yang lebar. Musti-ka membentak keras untuk menghilangkan penga-
ruh siulan lawannya. Wajahnya sempat menegang,
akan tetapi kelihatannya ia tidak perduli. Sekarang ia menyerang lagi dengan melancarkan tendangan-tendangan menggeledek. Manusia Topeng sejenak
dibuat sibuk. Ia menghindar kian kemari disertai liukan indah.
"Hiaa..."
"Hap... "
Angin menderu-deru disertai teriakan mele-
dak-ledak. Sejauh itu serangan yang dilakukan
oleh Iblis Betina Dari Neraka tidak mendatangkan
hasil. Diserang dengan tendangan tidak menda-
tangkan hasil. Kini Mustika Jajar kembangkan je-
mari tangannya. Ia menyerang lagi dengan jurus
pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Jiwa'.
Wut Wuuuuut
"Aih..."
Batok kepala Manusia Topeng nyaris rengat
terhantam pukulan lawannya. Selagi menghindar
ia membalas pula dengan mendorongkan sikunya
ke bagian dada Mustika. Gadis ini bersalto sehing-ga luput pulalah serangan Setan Topeng. Akan te-
tapi Manusia Topeng tidak membiarkan lawan lo-
los begitu saja. Kaki kanannya tiba-tiba melayang.
Mustika menjerit kesakitan di saat bagian pung-
gungnya kena hantam lawan. Tubuhnya sempat
terangkat ke udara. Lalu meluncur ke bawah den-
gan berputar-putar dan....
Bruuk
Si gadis merasa sebagian tubuhnya lumpuh
dan kaku. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya
melihat kejadian ini langsung hendak membantu.
Tapi Mustika menggelengkan kepala keras.
"Tidak usah ikut campur Rasanya aku ma-
sih bisa menanggalkan kepala bangsat bertopeng
ini Heaa..." teriak Iblis Betina Dari Neraka. Dengan kaki setengah berjongkok. Ia menghantam ke
atas, ke bawah, ke kiri selanjutnya ke depan.
Bet
Zeb Zeeb
Menggeletar tubuh gadis ini, keringat men-
gucur deras di wajahnya. Sekarang dari bagian ke-
palanya tampak mengepulkan asap tipis berwarna
putih biru. Nyatalah sudah bagi Manusia Topeng
yang sudah kenyang makan asam garam rimba
persilatan ini bahwa lawan tengah mengerahkan
seluruh kesaktian dan tenaga dalam yang dimili-
kinya. Sekejap kemudian Mustika Jajar kembang-
kan kedua tangannya. Bagian wajah terangkat te-
gak. Sesuatu yang mengerikan terlihat sudah. Bu-
kan hanya kedua belah tangan gadis itu saja yang
berubah hitam, akan tetapi wajahnya juga telah
menjadi hitam pekat.
"Manusia Topeng Aku berniat mengadu ji-
wa denganmu" dengus Iblis Betina Dari Neraka geram. "Ha ha ha... Bagus, aku mengenali pukulan
'Liang Hantu Penebus Kutuk' Itu adalah salah sa-
tu pukulan yang dimiliki oleh Ratu Leak. Jelas kini bagiku kau jika bukan muridnya tentu antek-anteknya Jika bukan aku yang berangkat ke sorga
duluan, tentu kaulah orangnya yang akan berang-
kat ke neraka" sahut Manusia Topeng tenang, namun bersikap waspada.
Wuuk Wuuk
"Hhhh..."
Manusia Topeng hembuskan nafasnya da-
lam-dalam. Orang ini diam-diam mempersiapkan
pukulan 'Prabawa Geni'. Ini juga adalah sebuah
pukulan yang langka dan jarang dimiliki oleh to-
koh-tokoh rimba persilatan dimasa itu.
"Hiaa..."
"Huuuuuh..."
Dua-duanya kini sama hantamkan kedua
tangannya ke arah sasaran masing-masing. Sinar
hitam menggebu dan meluncur deras dari ujung-
ujung jemari tangan Mustika Jajar. Dari telapak
tangan Manusia Topeng melesat pula dua leret si-
nar putih biru dan merah. Mustika Jajar merasa
yakin betul dengan kehebatan yang dimilikinya ju-
ga merasa percaya bahwa pukulan yang diwa-
riskan Ratu Leak kepadanya mempunyai keheba-
tan tersendiri yang tiada duanya. Untuk itu ia tidak surut lagi dan terus melabrak ke depan. Udara panas saling tindih menindih, himpit menghimpit.
Hingga....
Buuuumm
"Waarrrkh"
Bruk
Mustika terdorong ke belakang sambil men-
jerit keras seperti orang yang putus nyawanya. Ia terpelanting dan jatuh tidak berkutik. Dari telinga, hidung dan mulut gadis ini meneteskan darah hitam. Keadaannya saat itu entah binasa atau cuma
pingsan berat. Sebaliknya Manusia Topeng yang
sempat terhuyung dan sesak bagian perut dan da-
da segera atur nafas dan kerahkan tenaga dalam.
Sebentar saja peredaran darahnya yang sempat
kacau sudah normal kembali.
SEMBILAN
Cepat Setan Topeng menoleh ke belakang.
Ia sempat tercekat juga melihat Sang Pelucut Sega-la Ilmu Segala Daya telah bergerak mendekatinya
dengan langkah lambat-lambat. Mulut sosok ber-
wajah seperti monyet besar ini menyeringai se-
hingga dua pasang taringnya yang panjang dan se-
lalu meneteskan darah mencuat keluar. Betapa
angkernya makhluk ini bila dalam keadaan marah.
Ia menjadi marah karena melihat Mustika Jajar
dapat dijatuhkan oleh Manusia Topeng. Lebih
mengkhawatirkan lagi karena ia tidak tahu gadis
itu masih hidup atau sudah mati.
"Makhluk jelek muka monyet. Kini disini
cuma tinggal kita berdua saja. Ratu Leak sudah la-ri terbirit-birit meninggalkanmu Sekarang kau tidak punya majikan sebagai tempat untuk men-
gabdi. Aku memberimu tawaran yang cukup ba-
gus" ujar Manusia Topeng dan wajah di balik topeng tersenyum-senyum. "Bagaimana jika mulai saat sekarang ini kau kuangkat menjadi kacung-ku?" "Haaang"
"Kau bicara hang? Apakah kau masih
punya saudara bernama Hang Aih... lucunya kau
ini..." ledek si pendek bersenjata Ketapel Sakti Pembelah Bumi itu lalu tertawa panjang.
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya ke-
dip-kedipkan matanya. Ia menoleh ke arah Musti-
ka Jajar yang dalam keadaan tergeletak.
"Jangan kau pikirkan dia. Kalau kau mau
kawin aku bisa menjodohkanmu dengan gadis
cantik. Kalau dia menjanjikan kawin denganmu
jangan mau. Gadis itu biarpun cantik tapi sisanya
orang. Anunya sudah karatan dan sedikit ada ja-
mur dan berlumut"
"Hraa..."
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya me-
raung keras. Tangannya melambai ke depan seper-
ti gerakan menggapai. Meskipun hanya menggapai,
akan tetapi hembusan angin dingin yang ditimbul-
kannya membuat Manusia Topeng menggigil ke-
dinginan. Orang ini berguling ke samping. Sama
sekali ia tidak membalas, karena Manusia Topeng
sadar betul serangan yang dilakukannya hanya
akan sia-sia selama tanduk merah itu masih ber-
cokol di kepala makhluk hitam ini.
Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sege-
ra melakukan pengejaran. Diinjak-injaknya tubuh
Manusia Topeng dengan hentakan cepat dan keras
bukan main. Dengan gesit orang ini berguling kian kemari. Lalu kaki kanannya menghantam ke bagian selangkangan lawan.
Proooot
"Haiih, apa ini lembek-lembek tidak ada tu-
langnya? Gede amaat..." kata Manusia Topeng sambil tertawa ha ha hi hi. Makhluk hitam menjerit keras, ia pegangi tongkat dan buah jambu mi-
liknya. Jalan terpincang-pincang, matanya yang
berwarna merah kekuning-kuningan melotot me-
nahan sakit bercampur geram. Apa yang diala-
minya membuat kemarahan Manusia setengah
makhluk aneh ini semakin meluap. Ia pun umbar
pukulan-pukulan dahsyat ke arah lawannya. Se-
karang Manusia Topeng dibuat pontang-panting.
Ia menghindar bagaikan belatung yang didera pa-
nas matahari. Dentuman-dentuman keras terden-
gar di sana-sini. Hingga batu-batu maupun bukit
yang ada di sekeliling tempat itu berhamburan po-
rak poranda.
"Kau benar-benar ngamuk rupanya. Aduh...
semakin jeleknya kau jika sedang marah" ledek si pendek. Makhluk hitam di depan Manusia Topeng
lagi-lagi menggeram sambil memperlihatkan serin-
gai menggidikkan. Tiba-tiba saja ia melompat la-
kukan gerakan merengkuh. Lawan tentu saja me-
nyadari betapa berbahayanya jika ia sampai ber-
hasil dipeluk oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Dirinya bisa menjadi lumpuh kehilangan
kekuatan sakti dan tenaga dalamnya. Ia betot Ke-
tapel Sakti Membelah Bumi, kemudian mengarah-
kannya langsung ke bagian mata lawannya. Dua
Leret Sinar merah meluncur deras menghantam
mata Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Mak-
hluk hitam ini terpaksa urungkan niatnya, cepat
lindungi mata dan....
Tas Tas
Serangan maut itu seakan melabrak dinding
hampa dan hilang tidak berarti. Manusia Topeng
jadi penasaran. Ia acungkan Ketapelnya lagi. Kem-
bali sinar merah dengan kekuatan berganda mela-
brak lawannya. Kali ini dari bagian tanduk Sang
Pelucut Segala Ilmu Segala Daya membersit keluar
sinar yang sama akan tetapi disertai suara berge-
muruh bagaikan angin ribut. Sinar itu berputar
melingkar dari atas tanah hingga setinggi dua
tombak. Sinar sakti yang keluar dari senjata Ma-
nusia Topeng terbuntal lenyap dan tergulung sinar
berhawa panas lawannya. Lalu kekuatan dahsyat
itu tidak berhenti sampai di situ saja, ia terus ber-gelung-gelung bagaikan naga siap menghantam
lawan. Untuk pertama kalinya laki-laki pendek
yang tidak pernah menanggalkan topengnya ini
terkesiap. Tapi ia tidak berdiam diri menunggu sinar merah itu menghantam mampus dirinya. Se-
cepat kilat tubuhnya yang lentur melentik di uda-
ra. Dengan kecepatan dua kali gerakan pertama
masih mengambang di udara ia mengerahkan te-
naga dalam lagi sehingga sekarang ia meluncur
deras ke arah bagian kepala Sang Pelucut Segala
Ilmu Segala Daya. Hampir seluruh tenaga dalam
dikerahkan ke tangan kanan. Secepat kilat ia me-
nyambar dan membetot.
Wuut
Kraaak
Hentakan keras itu menimbulkan suara
berderak. Tanduk di kepala lawan nyaris tanggal.
Dan sekarang darah membanjir membasahi ram-
but dan wajah sosok hitam tersebut. Tidak diduga-
duga lawan juga menghantam dada Manusia To-
peng dalam waktu hampir bersamaan. Akibatnya
cukup patal sekali. Laki-laki itu terpental sampai sejauh lima batang tombak. Lebih celaka lagi tubuhnya terhempas menghantam batu di belakang-
nya. Manusia Topeng muntahkan darah segar, ia
bangkit berdiri walau pun kepalanya mendenyut
sakit. Masih dalam keadaan terhuyung-huyung
begitu rupa lawan yang sudah hampir kehilangan
tanduknya mengumbar kemarahan dan kesakitan
dengan pukulan-pukulan saktinya. Dengan mem-
pergunakan sisa-sisa tenaga yang ada, orang ini
melompat kembali. Tubuhnya berkelebat di atas
kepala lawannya. Berulangkali Manusia Topeng
nyaris terkena pukulan ngawur Sang Pelucut Se-
gala Ilmu Segala Daya. Hujan serangan yang me-
matikan itu lama sekali tidak dihiraukan oleh Se-
tan Topeng. Tiba-tiba ia menukik dengan kepala di bawah dan tangan menyambar....
Wuuut
Srrooot
"Huaaarrrkh..."
Menjeritlah Sang Pelucut Segala Ilmu Segala
Daya begitu tanduk di atas kepalanya tanggal di
betot Manusia Topeng. Sosok hitam ini berputar-
putar jatuh bangun. Darah menyambar-nyambar
bercampur otak. Sungguh daya tahannya sangat
luar biasa, terbukti ia tidak langsung ambruk. Melainkan terus terhuyung-huyung sambil mele-
paskan pukulan, ngawur. Dalam pada itu pula be-
gitu tanduk di atas kepala lawan telah berada di
tangan Manusia Topeng. Seraya merasakan ada
sesuatu yang terasa aneh namun menyakitkan.
Tanduk berwarna merah itu menyengat kulit tela-
pak tangan Manusia Topeng. Melihat ke bagian
tangannya ternyata telah melepuh terbakar. Ma-
nusia Topeng pindahkan tanduk ke tangan kiri.
Malah akibatnya sama saja meskipun Manusia
Topeng sudah kerahkan tenaga dalam ke bagian
tangan tersebut.
Sementara itu terdengar suara berdebum di
belakangnya. Ternyata Sang Pelucut Segala Ilmu
Segala Daya telah roboh tidak berkutik. Ia tewas
karena kehabisan darah. Kini Manusia Topeng
yang kebingungan, kulit dan dagingnya sudah ter-
bakar. Sebentar lagi tanduk sakti itu pasti mem-
buat hangus tulang jarinya. Jika ia buang tanduk
sakti itu. Lalu bagaimana nasib Pendekar Blo'on
dan lain-lainnya. Bukankah seluruh kesaktian
pemuda itu telah berpindah ke tanduk Sakti. Ba-
gaimana pun ia harus membawa tanduk itu untuk
mengembalikan kesaktian Pendekar Bodoh yang
telah dilucuti oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya? Kesaktian itu sekarang tersimpan di tanduk. Celakanya tanduk Sakti tersebut naga-
naganya mau memakan dirinya hidup-hidup.
Semakin Manusia Topeng mempertahankan
tanduk, ia merasa seperti menggenggam cairan be-
si panas membara. Ia terpaksa menjatuhkan tan-
duk di bawah kakinya sambil mencari akal bagai-
mana caranya membawa tanduk biar selamat. Se-
lagi Manusia Topeng mengibas-ngibaskan tangan-
nya yang sempat hangus disertai sumpah serapah.
Ia mondar-mandir mengelilingi tanduk, mata di
balik topeng melotot seakan hendak menelan tan-
duk mentah-mentah. Tapi ia kemudian merengut
sendiri, jika dipegang saja tangan bisa hangus apalagi ditelan, tentu ia mampus sungguhan. Akhir-
nya ia duduk mencangkung tidak jauh dari tan-
duk. Pada saat ia dalam keadaan demikian itulah
ia merasa ada angin menyambar disertai berkele-
batnya bayangan merah ke arah tanduk sakti itu.
Manusia Topeng bermaksud mencegah, sayang ge-
rakan bayangan itu lebih cepat dari apa yang dila-
kukannya. Dapat dibayangkan jika orang seperti
Manusia Topeng yang memiliki gerakan cepat luar
biasa masih dapat didahului oleh orang lain. Tentu kesaktian bayangan merah tadi sulit dijajaki.
"Hei... berhenti..." teriak Manusia Topeng.
Bayangan yang dibentak langsung berhenti sejarak
sepuluh langkah dari depan Manusia Topeng. Se-
mentara tanduk sakti di timang-timangnya. Di bo-
lang-baling seenak perut baju merah.
"Aku dapat, benda yang kucari selama pu-
luhan tahun ini baru kudapat Ha ha ha... Aku
adalah orang yang paling bahagia di dunia. Tan-
duk... tanduk sakti dari manusia bertanduk. Ma-
nusianya sudah mampus, tanduknya tergeletak"
kata orang itu dengan sikap acuh tak acuh.
"Bangsat kapiran Jangan kau berani main-
main dengan tanduk itu. Itu tandukku Kembali-
kan..." bentak Manusia Topeng marah. Yang dibentak malah tertawa terbahak-bahak sambil
membolang-baling tanduk di tangannya.
"Kau ribut-ribut soal tanduk. Bukankah
tandukmu masih ada di balik kolormu itu...??" sahut baju merah tanpa pernah menoleh. Merah wa-
jah di balik topeng tersebut. Ia seperti kena ba-
tunya atau bertemu dengan manusia gila.
"Kukira semula kau orang waras, tidak ta-
hunya lebih gila dariku. Tetapi apapun alasanmu
kau harus serahkan tanduk Sakti itu padaku. Dia
bukan milikmu juga bukan milikku. Ayo kembali-
kan..." perintah Manusia Topeng. Laki-laki berpakaian merah masih tetap tidak menoleh. Ia bolang
balingkan tanduk di tangan entah untuk yang ke-
berapa kalinya. Manusia Topeng terbelalak. Satu
hal yang mengherankan orang ini adalah laki-laki
baju merah itu sama sekali tidak terpengaruh,
meskipun tanduk sakti di tangan tetap digeng-
gamnya. Wajah di balik topeng itu pun berkerut
dalam. "Hmm, tahulah aku sekarang. Tangannya tidak melepuh, tidak gosong dan tidak hangus karena ia memakai sarung tangan. Rasanya di dunia
ini hanya 'Sarung Sutra Kencana' saja yang mam-
pu menahan segala sesuatu yang bersumber dari
api Aih... mengapa baru sekarang aku ingat. Di
dunia ini orang yang memiliki Sarung Sutra Ken-
cana hanya kunyuk jelek yang bergelar 'Mata Ib-
lis'." batin Manusia Topeng. Tiba-tiba saja ia tertawa tergelak-gelak. Laki-laki berpakaian merah ten-tu jadi kaget. Ia menoleh, Manusia Topeng walau
pun sempat kaget melihat mata si Mata Iblis yang
memutih bagaikan orang buta tetapi semakin
memperhebat tawanya.
"Mata Iblis, jangan kau coba mencari dalih.
Orang lain boleh takut mendengar nama besarmu.
Kunyuk-kunyuk lain boleh jadi terkencing-kencing
melihat kekuatan gaib sinar matamu? Tapi aku
yang pantas menjadi kakekmu Jangan kau bersi-
kap kurang ajar apalagi coba-coba menjadi maling
tengik Cepat kau serahkan kembali Tanduk Sakti
itu atau aku akan menggebukmu hingga babak be-
lur?" teriak Manusia Topeng gusar.
Mata Iblis tersenyum mengejek. Rupanya
tokoh yang tidak pernah berpihak pada golongan
putih dan golongan hitam ini cukup mengenal Ma-
nusia Topeng. Sehingga dengan seenaknya ia bica-
ra. "Kau meminta barang yang telah kau buang.
Apakah ini barangmu. Kalau beginilah bentuk ba-
rangmu, kujamin tidak ada perempuan yang mau
kawin denganmu Tapi ingat jika kau tidak men-
gambilnya, maka Tanduk Sakti itu kuanggap ba-
rang yang tidak bertuan. Aku pantas menjadi pe-
miliknya" kata Mata Iblis. Ia lemparkan tanduk di tangannya. Manusia Topeng ragu untuk mengam-bilnya, mengingat ketika pertama tadi saja tan-
gannya sudah hangus.
"Ayo, tunggu apa lagi?" desak Mata Iblis.
Manusia Topeng tampak meragu. Ia berpikir jika
tanduk tidak cepat diambilnya, tentu kunyuk jelek yang berdiri di depannya akan mengambil tanduk
itu. Sudah menjadi watak Mata Iblis barang siapa
pun pantang tergeletak. Pasti diembatnya, tidak
perduli barang itu milik perempuan atau milik la-
ki-laki. Yang putih atau yang hitam, yang burik
atau yang keriput baginya semua sama saja.
Berpikir sampai disitu tanpa menunggu le-
bih lama lagi Manusia Topeng langsung sambar la-
gi tanduk sakti yang tergeletak di depannya. Baru saja tanduk di tangan ia sudah menjerit lagi. Praktis tanduk tercampak kembali. Wajah di balik to-
peng meringis. Dalam hati ia memaki.
"Tanduk sialan Kalau bukan di dalamnya
tersimpan kesaktian Pendekar Bodoh, ingin ra-
sanya tanduk itu kukencingi, biar adem (dingin)
sedikit. Tapi bagaimana jika akibat air kencingku segala kesaktian yang terkandung dalam tanduk
ini menguap dengan sendirinya?" Manusia Topeng
jadi bingung sendiri. Selagi ia bingung tanduk sak-ti sudah disambar lagi Mata Iblis. Seraya tanpa
menunggu langsung melarikan tanduk itu.
"Bangsat pencuri, rupanya kau benar-benar
tidak memandang muka padaku sama sekali. Kau
mau cari penyakit" teriak Manusia Topeng. Sambil mengejar seraya hantamkan tangan lepaskan pukulan ‘Membalik Gunung Menjungkir Bukit’. Tentu
serangan ini bukan pukulan sembarangan. Gese-
kan pukulan dengan udara menimbulkan pijaran
bunga api yang panas bukan main.
Sementara sambil berlari Mata Iblis menya-
hut tanpa menoleh. "Bagaimana aku bisa memandang mukamu, rasanya seumur-umur wajahmu
yang burik tertutup topeng. Dan penyakit tentu sa-ja tidak kucari jika kau memukulkan tentu aku
membalas" Dan benar saja Mata Iblis dengan
acuh tak acuh kibaskan tangannya ke belakang.
Wuuuesss
Buuuumm
Ledakan keras itu membuat Manusia To-
peng terdorong mundur sejauh satu batang tom-
bak. Sedangkan Mata Iblis tersungkur. Cepat se-
kali ia bangkit berdiri dan kembali berlari secepat setan. "Ke ujung dunia sekalipun kau melarikan diri aku tetap mengejarmu Terkecuali kau tinggalkan tanduk itu?" pekik Manusia Topeng. Ia bangkit lagi kemudian segera melakukan pengejaran. Yang
dikejar tiba-tiba saja menghilang dari pandangan
mata. "Huh-hah... huh-hah... Aku akan tetap
mengejarmu, aku tahu kira-kira dimana kau akan
berhenti Ha ha ha... Mana mungkin anak kadal
mengakali buaya Yeaaa..." cibir Manusia Topeng, seraya semakin mempercepat larinya.
***
Suro Blondo terus melangkahkan kakinya
mendekati teluk yang terdapat di depannya. Wa-
jahnya sama sekali tidak membayangkan ekspresi
apapun. Bibir pemuda itu terkatup rapat, tidak
ada senyum dan tidak ada pula kekonyolan. Tata-
pan si pemuda demikian dingin dan mengandung
hawa pembunuhan. Sampai di pinggir teluk ia du-
duk sebentar seperti orang yang sedang bingung
menentukan arah.
Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang
mengisiki. "Aku adalah majikanmu. Kau harus patuh pada perintahku. Tidak usah kau pikirkan ba-
gaimana kau harus menyeberang. Tunggu saja dis-
ini, orang yang kau tunggu pasti akan melewati
tempat ini"
"A-ku patuh... Perintahmu kukerjakan se-
gera." kata Suro Blondo seperti orang linglung.
"Bagus Aku senang kau setia padaku Ti-
dak ada orang yang harus kau patuhi di dunia ini
terkecuali aku Aku Ratu Leak, ratu dari segala ra-tu-ratu" bisik suara itu lembut. Memang sesuatu yang sangat mengagumkan jika Ratu Leak dapat
mengirimkan suara dalam jarak yang jauh itu. Di
seluruh rimba persilatan pada masa itu sangat ja-
rang sekali tokoh-tokoh kelas satu yang dapat
mengirimkan suara dalam jarak beribu-ribu tom-
bak. "Aku mengerti" sahut Pendekar Blo'on.
"Bagus kalau kau sudah mengerti, tetapi
harus kau ingat. Melalui kekuatan batu Lahat Ba-
kutuk aku tahu musuh besar kita sudah datang.
Hadapi mereka dan bunuh" perintah Ratu Leak melalui suaranya. Suro Blondo Pendekar Mandau
Jantang anggukkan kepala kaku.
Sementara itu tidak jauh dari samping ki-
rinya tampak ada cahaya putih berkilau mendekat
ke arahnya. Tidak jauh dari cahaya putih tersebut terlihat pula bayangan serba merah. Lalu... tiba-tiba saja cahaya putih itu menjelma menjadi sosok seorang laki-laki berpakaian serba putih, berambut dan berjenggot putih. Di belakangnya muncul
pula kakek tua berpakaian merah berambut me-
rah. Mereka tidak lain adalah Penghulu Siluman
Kera Putih dan Malaikat Berambut Api. Ketika me-
lihat Suro Blondo, Malaikat Berambut Api nampak
kerutkan keningnya. Sedangkan Barata Surya me-
sem-mesem (senyum-senyum) seperti orang yang
kurang waras.
"Muridku..." berkata Penghulu Siluman Ke-ra Putih. "Sudah lama kita tidak bertemu, kupikir kau semakin pintar dan tambah pengalaman. Tidak tahunya kau semakin tolol dan gila Ha ha
ha..." Yang diajak bicara memandang Barata Surya seperti orang asing yang tidak pernah dikenalnya sama sekali.
SEPULUH
Tiada lagi senyum di wajahnya, tatapan ma-
tanya pun sinis tidak bersahabat. Dewana Malai-
kat Berambut Api pandangi murid sekaligus cu-
cunya itu untuk yang kedua kalinya.
"Aku tidak melihat tanda-tanda ia menyada-
ri siapa dirinya. Dia telah dikuasai oleh kekuatan iblis." batinnya merasa sedih. Bagaimana pun Suro selain murid juga cucu satu-satunya. Sekarang ia
dipermalukan sedemikian rupa oleh orang lain. Ke-
jadian seperti ini belum pernah ia alami selama hidupnya. Jika dulu dirinya tidak sempat menyela-
matkan orang tua Suro yang tewas di tangan Se-
pasang Iblis Pegat Nyawa dan Kala Demit. Itu su-
dah merupakan pukulan terberat bagi dirinya. Ha-
ruskah dia sekarang berpangku tangan melihat ke-
jadian yang dialami oleh cucunya.
"Siapa pun orangnya aku bersumpah den-
gan apapun aku akan membunuh orang yang te-
lah mencelakai cucuku" desis Malaikat Berambut Api. "Suro Blondo Pendekar Blo'on, tidakkah kau ingat siapa kami?" teriak Barata Surya berapi-api.
"Kalian siapa para orang tua yang hendak
mampus" sahut Pendekar Blo'on. Wajah pemuda itu sama sekali berubah, tidak ada kekonyolan, hilang lucunya bahkan ia sudah lupa dengan kebia-
saannya yang suka menggaruk kepala.
"Bocah geblek Kami adalah gurumu, siapa
yang telah membuatmu begini bocah gila?"
"Percuma kau bicara Barata Surya" Dewa-na memperingatkan. "Bocah ini sudah hampir hilang akal sehatnya, hilang tenaga saktinya. Kulihat ia memang memiliki kekuatan, tetapi kekuatan itu
milik orang lain"
"Kalau begitu ia benar-benar Blo'on sung-
guhan. Apa rencanamu saudara Malaikat Beram-
but Api?" tanya Penghulu Siluman Kera Putih.
"Rencanaku tentu sesuai dengan selera
pengacau yang memerintahkan Suro untuk mem-
bunuh kita" jawab Dewana tegas.
"Kalian adalah musuh besar kami" Pendekar Blo'on buka suara. "Ratu Leak memerintahkan padaku untuk membunuh kalian"
Barata Surya menoleh pada Dewana. Ru-
panya ia tidak kenal dengan orang yang dis-
ebutkan oleh Pen-dekar Blo'on barusan.
"Siapa Ratu Leak?"
"Aku belum tahu. aku juga baru mendengar
namanya Dia bermaksud membunuh kita. Hal itu
tidak mungkin dilakukannya jika kita sudah me-
notoknya" jelas Malaikat Berambut Api melalui il-mu mengisikkan suara tingkat tinggi. Ternyata ki-
sikan ini pun didengar oleh Pendekar Blo'on.
"Ha ha ha... Tua bangka seperti kalian jan-
gan coba-coba menentangku. Kalian semua akan
celaka" dengus si pemuda.
"Suro Blondo, setan Ratu Leak itukah yang
membuatmu jadi Pendekar Edan? Eling (ingat) Su-
ro, eling..."
Melihat Penghulu Siluman Kera Putih yang
masih juga bersikap main-main. Malaikat Beram-
but Api jadi gusar dan langsung membentak. "Barata Surya, aku tahu tabiat dan kebiasaan jelek-
mu. Tapi kuharap dalam hal yang satu ini kau
bersikap serius"
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Mem-
bunuhnya?"
"Jangan lagi kau sampai membunuhnya,
sedangkan kau lukai pun muridmu yang cucuku
itu dalam usaha menyadarkannya. Engkaulah
orang pertama yang akan kupenggal kepalanya
Hadapi dia dan jatuhkan dengan totokan" perintah Malaikat Berambut Api tegas.
"Gila... Aku pula yang disuruh menghadapi
bocah sakit ini. Huh, jika aku tidak segan pa-
danya, tidak mungkin aku sudi menjalankan pe-
rintahnya" gerutu Barata Surya.
Wuuk
Belum apa-apa Suro sudah lepaskan puku-
lan dahsyat ke arah Penghulu Siluman Kera Putih.
Jelas pukulan barusan bukan serangan maupun
jurus baik yang ia wariskan pada pemuda itu atau
pun jurus pukulan yang diwariskan oleh Malaikat
Berambut Api.
"Selagi masih orok kau kencingi aku. Seka-
rang sudah besar malah kau mau bunuh guru
sendiri Hiih..." Sambil Mengomel Barata Surya melompat tinggi. Serangan itu mengenai tempat
kosong dan menimbulkan dentuman yang sangat
keras sekali. Pemuda yang telah berubah linglung
ini putar langkah. Dari samping menderu angin
kencang menghantam tengkuknya. Itulah ilmu to-
tokan tingkat tinggi, Barata Surya menamakannya
'Jari Sakti Pembeku Darah'. Merasakan ada sam-
baran angin dahsyat, Suro liukkan tubuhnya seka-
ligus melompat ke samping. Serangan luput. Pen-
dekar Blo'on membalas dengan tendangan meng-
geledek pula. Karena jarak diantara mereka sede-
mikian dekat. Barata Surya miringkan badannya,
siku menangkis. Sehingga benturan keras tidak
dapat dihindari lagi.
Duuuk
Suro menggeram meskipun sempat jatuh
duduk. Barata Surya mengomel, tubuhnya sempat
tergontai-gontai. Sekali ia melihat ke arah Dewana yang sedang duduk ongkang-ongkang sambil ke-rat-kerutkan keningnya. Suro sudah menyerang-
nya lagi dengan pukulan dan tendangan-
tendangan menggeledek. Setiap gerakan yang dila-
kukan pemuda itu menimbulkan deru angin diser-
tai melesatnya sinar jingga kehitam-hitaman.
"Bocah ini benar-benar pesong Dia sama
sekali tidak mempergunakan jurus-jurus yang di-
wariskan guru-gurunya. Tetapi kekuatan apapun
yang merasuk dalam dirinya sama berbahayanya"
pikir Penghulu Siluman Kera Putih. Sebagai orang
yang telah berpengalaman menghadapi tendangan
kaki dan jotosan tangan ia tidak langsung mema-
pakinya. Melainkan bersalto ke samping. Dengan
ilmu meringankan tubuhnya ia melesat di udara.
Ketika tubuhnya meluncur ke bawah, Barata
Surya pergunakan jurus 'Seribu Kera Putih Men-
gecoh Harimau'. Ia berkelebat lenyap tapi tangan
kanannya menghantam ke atas dan ke bawah.
Des Deesss
"Ukh..." Suro mengeluh panjang dan jatuh terguling-guling. Hanya keluhan itu saja, tidak
menimbulkan luka apa-apa.
"Barata Surya, jangan kau pukul dia Atau
kau juga sudah ikut-ikutan gila" Dewana dari jarak yang tidak begitu jauh mengingatkan.
"Itu cuma kebetulan saja. Maksudku tadi
hendak menotok, tapi eh... malah kupukul" sahut Barata Surya.
Kesempatan bicara yang cuma sekejap itu
dipergunakan Suro lepaskan pukulan 'Tusukan
Jari Penghantar Maut'.
Zzzts
Serangan Suro luput, karena Barata Surya
dengan jurus andalannya ini telah berkelebat kian kemari seperti setan gentayangan sambil melancarkan totokan ke bagian-bagian tubuh muridnya.
"Haiiit..."
Suro cepat putar langkah, matanya yang
angker itu berkedap kedip. Lalu ia membentak ke-
ras dan tubuhnya melesat ke depan seperti anak
panah. Lima jarinya menusuk perut, mata dan da-
da Barata Surya dengan sebat sekali. Kakek ini
pontang panting selamatkan diri. Lalu jatuhkan
punggungnya dan kaki mengungkit.
Duuuk Deesss
"Ukkkh..."
Perut muridnya kena dihantam. Pemuda itu
jatuh terguling-guling, Penghulu Siluman Kera Pu-
tih merasa ada sesuatu yang panas dan menusuk-
nusuk di bagian ulu hatinya. Ketika ia berdiri dan melihat bajunya, Barata Surya belalakkan mata.
Ternyata baju putih belong dan mengepulkan
asap, melihat ke balik baju lima buah jari membe-
kas disana. Jika bukan Barata Surya yang terkena
serangan itu, tentu nyawanya sudah minggat dari
raganya tidak pulang-pulang lagi.
"Saudara Dewana, kau yang menyuruhku
agar tidak menurunkan tangan jahat. Kini akibat-
nya kau lihat sendiri" teriak Barata Surya marah.
"Suro itu murid yang sedang sakit. Apa kau
tega menambah penyakitnya Kalau kau tidak be-
cus menghadapinya, mengapa kau tidak membu-
nuh diri saja?" sahut Dewana ringan.
"Setan sialan" Penghulu Siluman Kera Putih mengumpat Bibirnya terpaksa dikutubkan
kembali ketika melihat Suro sudah siap mele-
paskan pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Ji-
wa'. "Murid sakit ini benar-benar hendak membuat gurunya mampus" maki Barata Surya. Tidak ayal lagi ia pun lepaskan pukulan 'Matahari Rem-bulan Tidak Bersinar'.
Wuuus
Wuuuur
Dua larik sinar hitam menderu, dari arah
Penghulu Siluman melesat pula sinar redup biru
bersemu merah.
"Hati-hati kau Barata Surya" Malaikat Berambut Api memperingatkan.
Peringatan yang sudah terlambat. Dentu-
man keras terdengar susul menyusul. Dua-duanya
sama menjerit dan sama-sama terlempar pula.
Si kakek urut-urut dadanya yang mende-
nyut. Setelah di urut ternyata ada darah yang me-
netes keluar dari sudut-sudut bibirnya. Suro
Blondo meringkuk tidak jauh dari Barata Surya.
Wajah pemuda itu pucat pasi, sedangkan darah
keluar dari hidung dan mulutnya. Melihat cucu sa-
tu-satunya dalam keadaan begitu rupa kakek De-
wana lupa dengan musibah yang menimpa Suro.
Cepat ia melesat hendak menolong.
"Suro..." pekiknya. Baru saja ia hendak mendukung pemuda itu. Satu hantaman keras
mendarat di dadanya. Malaikat Berambut Api
menjerit, ia terlempar dan menderita luka dalam.
Rupanya Suro walau pun terluka bersiasat untuk
menjatuhkan lawan dengan berpura-pura pingsan.
Muslihatnya berhasil. Dewana kena dihantamnya.
Penghulu Siluman Kera Putih tergelak-gelak meli-
hat kejadian itu.
"Sudah tua bangka masih kena dikadali cu-
cu sendiri. Sudah kubilang Suro sedang kesuru-
pan, kini kau rasa sendiri. Ha ha ha..." Barata Surya mengejek. Malaikat Berambut Api bangkit
berdiri. Di depannya Pendekar Blo'on telah berdiri.
Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. Malaikat
Berambut Api terkesiap ketika melihat di tangan
pemuda itu telah tergenggam senjata sakti Man-
dau Jantan.
"Suro ingat Jangan kau main-main dengan
senjata itu" Dewana berteriak memperingatkan.
Dan sebenarnya jika Suro bukan cucu dan murid
sendiri. Rasanya menjatuhkan pemuda itu tidak
demikian sulit. Walau pun selain mewarisi puku-
lan-pukulan hebat dari lawan yang telah mempe-
ralatnya ia juga memegang senjata Sakti Mandau
Jantan. Tetapi orang yang menghendaki nyawanya
ini adalah murid sekaligus cucu yang masih punya
hubungan darah. Mana mungkin ia tega melu-
kainya apalagi sampai membunuh pemuda itu.
"Aku tidak tahu seberapa besar kehebatan
senjata ini. Namun dengan senjata ini pula Ratu
Leak memberi tugas padaku untuk memancung
leher kalian" dengus Suro seakan pada musuh bebuyutannya.
"Hieeeh.., Huuuung Hahahaha..."
Mendengung suara ringkik dan tawa serta
tangis berkepanjangan dikala Pendekar Blo'on ke-
rahkan segenap kesaktian pinjaman Ratu Leak
dan mengayunkan senjata itu. Sinar hitam berke-
lebat ganas menyambar.
"Biar aku yang melumpuhkannya..." pinta Penghulu Siluman Kera Putih.
"Kau hendak mampus" hardik Dewana.
"Hanya aku yang tahu bagaimana caranya mengatasi kedahsyatan senjata itu..."
Malaikat Berambut Api lalu pungut sepo-
tong kayu keras sepanjang setengah depa. Barata
Surya cemberut. "Dia rupanya hendak menggebuk cucu sendiri. Bagusnya aku nonton pertunjukan
gratis ini" ujar si kakek. Ia melompat di atas seba-tang kayu. Kemudian ia berayun-ayun sambil me-
nopangkan kepala di atas kedua tangan. Pertarun-
gan sengit pun tidak dapat dihindari lagi. Dengan mandau di tangan pemuda itu terus memburu Malaikat Berambut Api. Setiap senjata itu melayang
selain menimbulkan deru angin panas juga ter-
dengar suara ringkik kuda. Semakin kuat Suro
mengayunkan senjata itu, maka lubang miring
yang terdapat di tengah-tengah mandau mengelua-
rkan suara tangis. Suro mengerahkan seluruh te-
naga dalam yang ada, rambutnya yang kemerahan
berubah merah seperti bara. Dan dari senjatanya
terdengar suara tawa berkepanjangan tiada habis-
habisnya.
Kakek Dewana menggumam tidak jelas. Di-
am-diam ia pun kerahkan tenaga dalam ke bagian
potongan kayu di tangan. Lalu secepat kilat kedu-
anya menerjang. Dua sosok tubuh kini terlihat ba-
gai bayang-bayang saja. Jika bayangan biru terus
mengejar dan sabetkan senjatanya berulang-ulang.
Maka bayangan merah menghindar sambil sesekali
menangkis serangan Suro.
"Hiaaa,.."
Suro Blondo tiba-tiba saja melesat di udara.
Ia lepaskan pukulan sebagai pancingan. Tetapi
kakek Dewana menyambutnya dengan kemplan-
gan kayu di tangan.
Buuum
Suro bangkit kembali, Malaikat Berambut
Api yang sempat tergontai-gontai segera sambut
hantaman Mandau yang mendengung nyaris
membelah kepalanya.
Tring Triing
Tesss
Dentingan senjata dengan potongan kayu
yang teraliri tenaga dalam menimbulkan pijaran
bunga api. Akan tetapi ketika Pendekar Blo'on lipat gandakan tenaga dalam hingga ke puncaknya.
Maka kayu yang dipergunakan kakek Dewana ter-
babat putus. Laki-laki tua ini langsung melompat
mundur. Ia kerahkan sepertiga dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Perubahan rambut si kakek pun terjadi. Rambut yang berwarna merah itu
semakin bertambah merah. Wajahnya tegang, ra-
sanya mustahil ia tega melepaskan pukulan dah-
syat terhadap murid sendiri. Sebab ia menyadari
sepenuhnya Suro Blondo sedang berada dalam
pengaruh kekuatan lain yang tentu saja teramat
dahsyatnya. Kini ia melesat ke depan, kayu di tangan yang sudah buntung dihantamkan ke bagian
wajah Suro. Apa yang dilakukannya itu hanyalah
tipuan saja. Suro cepat menangkis dengan senja-
tanya. Triing
Keduanya tampak tergetar hebat. Tanpa di-
duga-duga si pemuda yang merasa tertipu mentah-
mentah, gerakkan senjata agak ke bawah. Mandau
meluncur mengancam. Kakek Dewana selamatkan
perut dengan menggeser kaki kiri. Justru kaki ka-
nan dalam keadaan condong dan tidak sempat di-
tarik lagi. Laksana kilat si kakek selamatkan ka-
kinya. Walau pun begitu ujung mandau masih
menggores kakinya.
Breet
"Ukh..."
Malaikat Berambut Api keluarkan keluhan
tinggi. Tetapi ia tetap menggerak potongan kayu di tangannya. Suro tarik tangannya yang memegang
senjata agar tidak terkena pukulan si kakek. Ge-
rakannya ini tertahan karena kakinya terpeleset
lumut licin yang dipijaknya. Tidak terelakkan la-
gi.... Tak
Ting
Pemuda itu mengeluh bersamaan waktunya
dengan Mandau Sakti jatuh menancap tidak jauh
di sampingnya. Selagi Suro dalam keadaan lengah,
maka Malaikat Berambut Api bergerak. Jemari
tangannya terjulur ke lima bagian di tubuh murid-
nya. Pendekar Blo'on terkesiap ia berusaha le-
paskan pukulan 'Liang Batu Penebus Kutuk'. Ma-
lang gerakannya kalah cepat dan....
Tuuuuk
"Aaaah..."
Sekujur tubuh pemuda ini tiba-tiba saja
menjadi kaku. Ia melotot menahan kemarahan.
Penghulu Siluman Kera Putih segera mengambil
senjata yang tergeletak di atas pasir. Ia menimang-nimang senjata itu sekejap sambil memperhati-
kannya.
"Hampir saudara Dewana mati konyol den-
gan senjata yang dibuat sendiri. Senjata hebat, sebagai salah seorang guru Suro, baru kali ini aku
melihat senjata ini" puji Barata Surya. Orang yang diajaknya bicara sama sekali tidak menanggapi. Ia bahkan malah sibuk mengobati luka di paha yang
tergores senjata cucunya. Pada saat seperti itulah kilat menyambar disertai suara guruh di angkasa.
Sosok bayangan dalam waktu bersamaan me-
nyambar ke arah Suro.
"Selamatkan murid kita" teriak kakek Dewana ketika menyadari ada sesuatu bergerak ke
arah Suro. Akan tetapi peringatan itu terlambat,
Suro telah dilarikan oleh bayangan hitam yang
menyambarnya.
"Gila... Siapa dia??" desis Barata Surya dengan mulut melongo saking kagetnya.
"Celaka Cepat kejar, jangan-jangan orang
itu hendak mencelakainya" pekik Malaikat Berambut Api.
"Bagaimana dengan kau, saudara Dewana?"
Barata Surya ragu-ragu.
"Bodoh Jangan pikirkan aku. Aku tidak
apa-apa, cepat kejar" teriak si kakek cemas.
Tanpa menunggu dengan masih membawa
Mandau Jantan, Penghulu Siluman Kera Putih se-
gera melakukan pengejaran ke arah menghilang-
nya bayangan hitam yang melarikan Pendekar
Blo'on. Lalu, apakah yang akan terjadi dengan Su-
ro, si Pendekar konyol? Bagaimana nasib Dewi Ke-
rudung Putih di tangan Ratu Leak? Lalu bagaima-
na nasib tanduk Sakti yang direbut oleh Mata Ib-
lis? Padahal kekuatan Pendekar Blo'on tertahan
dalam tanduk itu. Dapatkah Dewi Kerudung Putih
merampas Batu Lahat Bakutuk itu kembali? Nantikan kelanjutannya
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...