Selasa, 18 November 2014

Pendekar Bodoh - eps 02

KEMELUT DI TELAGA DEWA

1


Di penghujung bulan Besar, Telaga Dewa se-

nantiasa diramaikan oleh perahu sewaan para pelan-

cong. Mereka para saudagar kaya atau para bangsa-

wan yang sedang berpelesir. Namun, di antara para pelancong itu, yang terbanyak adalah petualang-

petualang yang banyak berkecimpung di rimba persilatan.

Para saudagar dan bangsawan yang datang ke

Telaga Dewa bermaksud menikmati keindahan pano-

rama telaga dan meresapi hawa segar di awal musim

kemarau. Lain itu, mereka berharap akan dapat meli-

hat wujud ikan mas besar yang oleh penduduk setem-

pat dinamakan Ikan Mas Dewa. Ikan mas yang besar-

nya melebihi tubuh manusia dewasa itu selalu muncul setiap tanggal satu Suro.

Sementara, para tokoh rimba persilatan yang

datang ke telaga hanya mempunyai satu tujuan, yaitu memperebutkan sebuah benda ajaib bernama Kodok

Wasiat Dewa yang tersimpan di dalam perut Ikan Mas

Dewa. Namun, sampai saat ini belum ada seorang pun

tokoh yang mampu menangkap ikan mas itu, apalagi

mengambil Kodok Wasiat Dewa yang tersimpan di da-

lam perutnya.

Telaga Dewa yang terletak di ujung utara Pulau

Jawa adalah sebuah telaga besar yang dipagari barisan pohon cemara.

Walau musim senantiasa berganti, air Telaga

Dewa selalu jernih. Hingga, dari atas perahu, setiap orang bisa melihat ikan-ikan yang tengah berenang di dalam air. Sementara, di pucuk-pucuk pohon cemara

yang memagari telaga selalu tampak sekumpulan bu-





rung parkit berwarna-warni. Burung-burung itu sese-

kali terbang mendekati perahu dan tampak jinak. se-

hingga hati orang yang berada di atas perahu menjadi sangat senang. Apalagi, mereka selalu berkicau nyaring seakan mengajak bercanda pada setiap orang.

Di antara puluhan perahu yang sedang berlayar

ke tengah telaga, terlihat sebuah perahu coklat kusam bergerak menepi. Layarnya yang berwarna kuning sudah digulung dan diikatkan ke tiang perahu. Pemiliknya seorang lelaki tua yang telah mendekati usia enam puluh tahun. Kakek itu mendayung dengan tatapan

kosong. Berkali-kali dia mendesah. Ada pikiran tak

enak yang menggeluti benaknya.

Sebenarnya ada beberapa orang yang telah me-

nawar harga perahu si kakek untuk disewa, tapi si kakek menolak dengan alasan perahunya akan diguna-

kan untuk mencari ikan. Namun ternyata, setelah be-

berapa hari berlayar ke tengah telaga, dia tak mendapatkan hasil seperti yang diharapkannya.

Tapi, bila melihat raut wajah si kakek yang se-

demikian keruh, dapat dipastikan bukan karena masa-

lah itu yang membuat gundah hati si kakek.

Kakek bernama Karapak itu terus mendesah

dengan kening berkerut rapat. Di benaknya terbayang wajah seorang gadis bernama Sawitri yang beberapa

pekan lalu diambilnya sebagai anak angkat. Istri Karapak bernama Salindri memang tak dapat memberikan

keturunan.

"Aku harus dapat mengungkap tabir rahasia

komplotan Lembah Dewa-Dewi...," gumam si kakek,

"Ya Aku harus dapat Agar tak sia-sia semua jerih payah ku selama ini"

Sinar redup di mata Karapak berubah terang

mana-kala melihat seorang pemuda yang berjalan





mendatangi perahu yang telah ditambatkannya. Pe-

muda itu berparas tampan. Kedua alisnya tebal terbentang seperti sayap elang menukik. Sementara, di balik ketampanan si pemuda terpancar sinar keluguan dan

kejujuran. Tubuhnya yang tinggi tegap terbungkus pakaian biru-biru dengan ikat pinggang kain merah. Angin yang berhembus kencang mengibarkan anak-anak

rambutnya yang tergerai panjang.

"Pak Tua...," sapa si pemuda. "Saya hendak bertanya, apakah telaga ini bernama Telaga Dewa?"

Karapak tak langsung menjawab. Ditatapnya

sosok si pemuda dari ujung rambut sampai ke ujung

kaki. Melihat kegagahan dan ketampanan pemuda itu,

Karapak berpikir, "Anak angkatku juga punya kesem-purnaan wajah dan tubuh. Hmmm.... Alangkah se-

nangnya aku andai pemuda ini bersedia kujadikan

mantu."

Berpikir demikian, untuk beberapa saat si ka-

kek lupa pada masalah pelik yang harus segera disele-saikannya.

"Eh, Pak Tua," tegur si pemuda yang melihat Karapak terlongong bengong.

"Eh ya, ya.... Ada apa, Anak Muda?" kesiap Karapak. Si pemuda tersenyum. Dan, entah karena apa,

dia lalu cengar-cengir. Sementara, Karapak menatap-

nya dengan kening berkerut. Namun, di balik tatapan Karapak yang penuh tanda tanya itu, tersimpan keka-guman yang mencetuskan sebuah harapan.

"Inikah yang disebut Telaga Dewa, Pak Tua?"

pemuda berpakaian biru-biru bertanya lagi.

"Ya," jawab Karapak. "Agaknya, kau datang dari jauh, Anak Muda. Siapakah kau? Apakah kau datang

juga untuk berpelesir?"





"Aku Seno Prasetyo...," kata si pemuda. "Aku datang untuk satu tujuan. Bolehkah pada tanggal satu Suro nanti aku meminjam perahu Pak Tua?"

Si pemuda yang memang Seno Prasetyo adanya

berkata sangat lugu, tanpa malu atau sungkan. Kon-

tan Karapak mengangkat kedua ujung alisnya. Perahu

Karapak disewa saja tidak boleh, apalagi dipinjam?

Namun, Karapak yang sudah telanjur suka pa-

da Seno tak mau pikir panjang lagi. Sambil menyungging senyum, dia berkata, "Boleh. Boleh saja. Tapi, kau harus membantuku mencari ikan."

Seno nyengir kuda. Pemuda remaja yang mau

saja dijuluki orang sebagai Pendekar Bodoh itu tampak berpikir-pikir. Sepanjang usianya yang menginjak tujuh belas tahun, dia tak pernah berlayar mencari ikan.

Bagaimana dia bisa membantu si kakek? Apakah nanti

tidak malah merepotkan?

"He, kenapa lama berpikir?" tegur Karapak.

"Kau boleh meminjam perahu ku asal kau bantu aku mencari ikan. Tubuhmu tinggi tegap. Tenagamu tentu

kuat...." "Aku tidak bisa berlayar, apalagi mencari ikan...," sahut Seno, jujur.

"Hmmm.... Aneh benar kau ini. Kau mau me-

minjam perahu, tapi tidak bisa berlayar. Lalu, perahu ku nanti hendak kau gunakan untuk apa?"

"Aku meminjam perahu, sekaligus dengan

orangnya."

Mendengar ucapan Seno yang begitu lugu, kon-

tak Karapak tertawa. Suara tawanya lepas berderai seperti lak ada lagi rasa sedih di hatinya.

"Kau ini lucu, Seno...," ujar Karapak sambil menepuk bahu Seno. "Tapi, sudahlah. Kau ikut saja.

Nanti ku ajari berlayar."





Usia berkata, Karapak melepas lagi ikatan pe-

rahunya. "Ayolah...," ajaknya, setengah memaksa.

Bagai kerbau dicocok hidungnya, Seno melang-

kah naik ke perahu, menuruti ajakan Karapak. Me-

mang, ada baiknya bila Seno belajar berlayar. Kalau berlayar saja tidak bisa, bagaimana nanti dia bisa

mendapatkan Kodok Wasiat Dewa?

Kedatangan Seno ke Telaga Dewa memang

bermaksud untuk mendapatkan benda ajaib yang ter-

simpan di dalam perut Ikan Mas Dewa itu. Sebelum

berpisah dengan Dewa Dungu gurunya, Seno diperin-

tahkan untuk mencari murid murtad Dewa Dungu

yang bernama Mahisa Lodra. Seno diberi kuasa untuk

menjatuhkan hukuman kepada kakak seperguruannya

yang telah melarikan dua bagian dari Kitab Sanggalangit itu. Perilaku Mahisa Lodra memang telah jauh melenceng dari jalan kebenaran. Selain melarikan dua

bagian kitab milik gurunya, dia pun telah membuat

lumpuh sepasang kaki Dewa Dungu dengan cara yang

amat licik. (Baca episode perdana serial Pendekar Bodoh: "Tongkat Dewa Badai").

Sementara itu, Karapak dan Seno terlihat telah

berlayar ke tengah telaga. Dengan menuruti semua perintah Karapak, akhirnya dapat juga Seno mengemu-

dikan perahu dan bahkan membantu mencari ikan.

Karena mengetahui bila Seno seorang pemuda

lugu dan amat penurut, senanglah hati Karapak. Se-

mangat dalam diri Karapak bergelora lagi. Dia ingin memamerkan kemahiran berlayarnya kepada Seno,

sekaligus ingin menunjukkan bahwa walau sudah tua

pun dia masih mahir berburu ikan di Telaga Dewa

yang amat luas.

Dan agaknya, berlayar dengan Seno membawa





keberuntungan bagi Karapak. Belum sampai mentari

tenggelam, keranjang besar di dalam perahu telah dipenuhi berbagai jenis ikan. Maka, tak dapat lagi digambarkan betapa gembiranya hati Karapak. Ketika

pulang, baru menginjak pinggir halaman rumah, dia

telah berteriak-teriak.

"Nini Nini Lihat Aku pulang membawa hasil

sekeranjang penuh"

Teriakan Karapak ditujukan kepada istrinya,

namun tidak ada siapa-siapa yang muncul dari dalam

rumah. Sambil berlari-lari, Karapak memperkeras te-

riakannya.

"Nini Nini Lekaslah keluar Lihat Aku pulang dengan siapa? Ada seorang pemuda cakap yang akan

menjadi teman anak kita"

Sambil nyengir kuda, Seno mengikuti langkah

Karapak yang melonjak-lonjak kegirangan. Seno me-

langkah memasuki halaman rumah sederhana yang

terbuat dari bilah-bilah papan. Ringan saja Seno melangkah walau sambil menjinjing keranjang besar yang penuh berisi ikan.

Saat Karapak dan Seno sampai di serambi de-

pan, dari ruangan sebelah dalam muncul seorang ne-

nek yang tak lain dari istri Karapak. Nenek itu mengenakan kebaya hijau dan kain batik bercorak parang

rusak. Dan, di belakang si nenek tampak seorang gadis tujuh belas tahunan, mengenakan kebaya merah dan

kain batik bercorak sidomukti. Si gadis berparas cantik. Bulu matanya lentik dan bola matanya bening ber-pijar penuh daya pesona. Hidungnya mancung dengan

belahan bibir merah ranum. Tubuh si gadis pun terlihat sintal-montok berkulit kuning langsat. Rambutnya hitam panjang, digelung dengan hiasan dua tusuk

konde yang terbuat dari batok penyu.





"Eh, kau... kau...," kesiap Seno. Matanya terbelalak menatap si gadis.

Seno kaget bukan karena melihat kecantikan si

gadis yang memang sangat menarik. Tapi, karena dia

telah mengenal gadis putri Karapak itu. Si gadis tak lain dari Kemuning atau Dewi Pedang Kuning, yang dijumpai Seno beberapa waktu yang lalu.

Seno pernah menyelamatkan jiwa Kemuning

yang hampir melayang terbabat ketajaman golok Soka-

lanang. Dengan Tongkat Dewa Badai-nya, Seno mem-

buat Sokalanang lari terbirit-birit. Lalu Seno dan Kemuning berkenalan. Namun, Kemuning harus segera

pergi karena ditunggu Dewi Pedang Halilintar gurunya di Kademangan Lemah Pitu. Sebelum pergi, Kemuning

menjuluki Seno sebagai Pendekar Bodoh. (Baca epi-

sode perdana : "Tongkat Dewa Badai").

"Hei Kenapa kau, Seno?" tegur Karapak yang melihat Seno berdiri terpaku. Karapak menyangka bila Seno telah jatuh hati pada putrinya di pandangan pertama. Maka, Karapak yang memang ingin mengambil

Seno sebagai mantu menjadi sangat senang. Kontan

Karapak tertawa bergelak, terbawa luapan kegembi-

raannya.

"Ha ha ha... Rupanya, kau sangat tertarik me-

lihat kecantikan Sawitri, Seno. Silakan. Silakan berjabat tangan untuk berkenalan agar kalian cepat menja-di akrab. Ha ha ha..."

"Sawitri? Siapa Sawitri?" sahut Seno dengan kening berkerut rapat.

Melihat raut wajah Seno yang menyiratkan rasa

heran, cepat Kemuning mengedipkan mata, memberi

isyarat agar Seno mengikuti kemauan Karapak. Tapi,

Seno yang amat lugu mana dapat menangkap isyarat

itu. Kedipan Kemuning malah dibalasnya dengan tata-





pan tajam.

"Ayo Ayolah, Seno. Jangan bersikap seperti

itu" tegur Karapak. "Berjabat tanganlah. Putriku itu bernama Sawitri. Dia akan menjadi teman baikmu."

Mendengar Karapak menyebut Kemuning seba-

gai Sawitri, Seno terlongong bengong. Setelah nyengir kuda, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara, Kemuning tampak malu-malu kucing dan

bersembunyi di belakang nenek berkebaya hijau.

"Hei Hei" sentak si nenek pada Kemuning. "Tidakkah kau lihat pemuda itu sangat tampan? Kenapa

malah bersembunyi? Ayo, cepat perkenalkan dirimu"

Mendapat teguran itu, Kemuning cemberut. La-

lu dengan sikap yang amat manja dan terkesan malu-

malu, dia melangkah mendekati Seno. Namun, diam-

diam gadis berparas elok rupawan itu mengirim bisi-

kan kepada Seno dengan mempergunakan ilmu mengi-

rim suara dari jarak jauh.

"Seno Aku sedang melakukan penyamaran.

Kuharap kau mau membantuku."

Mendengar bisikan itu, Seno terkesiap. Tapi,

sebagai seorang pemuda yang pernah digembleng se-

lama lima tahun oleh Dewa Dungu yang berkepan-

daian tinggi, Seno segera tahu kalau bisikan yang didengarnya itu adalah suara Kemuning. Maka, walau

dia belum tahu apa maksud Kemuning sebenarnya,

bergegas dia menyambut jabatan tangan si gadis.

"Nah Nah, begitu" seru Karapak melihat Seno dan Kemuning telah berjabat tangan. "Untuk selanjutnya, kau harus dapat melayani Seno dengan baik, Sa-

witri. Kau harus dapat menyediakan semua keperluan

Seno. Karena, mulai saat ini dia telah menjadi anggota keluarga kita."

"Ya. Ya...," sambut Kemuning yang disebut Ka-





rapak sebagai Sawitri.

"Usia Sawitri sebaya denganmu, Seno," jelas Karapak. "Namun, dia belum begitu mengenal aturan.

Kuharap kau sudi memaafkannya...."

"Tak jadi apa, Pak Tua. Anak gadismu itu can-

tik sekali...."

Mendengar pujian Seno yang lugu, Karapak ter-

tawa bergelak-gelak. Kakek berpakaian coklat kumal

itu semakin yakin bila Seno memang telah jatuh hati pada Sawitri.

Sementara, istri Karapak pun turut merasa se-

nang. Tapi, karena nenek itu punya adat cerewet, dia memasang wajah ketus saat melihat Sawitri atau Kemuning belum juga beranjak dari tempat berdirinya.

"Ayo, Sawitri" tegur si nenek. "Cepatlah pergi

Ambil uang tabungan kita Belilah arak yang paling

bagus untuk teman barumu itu Cepatlah"

Kemuning menatap sejenak wajah istri Karapak

seraya menganggukkan kepala. Namun sebelum ma-

suk ke ruangan sebelah dalam, dia melempar kerlin-

gan ke arah Seno secara diam-diam.

Seno nyengir kuda, tak tahu makna kerlingan

itu.





2


REMBULAN sepenggal menyiramkan cahaya


tembaga. Langit hitam kelam. Bintang berkedip dalam kebisuan. Angin berhembus dingin, tak mampu men-gusik sepi.

Di dalam sebuah kamar yang disediakan oleh

Karapak dan istrinya, Seno terbaring telentang di atas dipan beralas tikar daun pandan. Keningnya berkerut.





Ada sesuatu yang tengah menjadi beban pikirannya.

"Kemuning...," desis Seno, menatap langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu. "Kenapa nelayan tua itu menyebut namanya sebagai Sawitri? Be-

narkah Kemuning itu anaknya? Hmmm.... Kemuning

sempat membisikkan sesuatu kepadaku. Dia sedang

menyamar, dan aku diminta untuk membantu. Untuk

apa dia menyamar? Bagaimana aku harus memban-

tunya?" Seno mendesah. Kejadian tadi sore memang membuat resah hatinya. Sebenarnya, Seno ingin ber-cakap-cakap dengan Kemuning untuk meminta penje-

lasan, tapi tak ada kesempatan. Sepulang dari membeli arak, Kemuning tak muncul-muncul lagi. Dan, Seno

pun tak berani menanyakannya kepada Karapak. Seno

merasa, sebagai orang baru, sangat tak pantas bila

bertanya-tanya.

"Hmmm.... Aneh sekali Kemuning itu...," ujar Seno dalam hati, "Tempo hari ketika berjumpa denganku, dia pergi begitu saja setelah menjulukiku sebagai Pendekar Bodoh. Katanya, dia hendak pergi ke Pademangan Lemah Pitu karena gurunya ada di sana.

Tapi, kenapa tiba-tiba aku menemuinya di tempat ini?

Benarkah nelayan tua bernama Karapak itu ayahnya?

Kenapa usia mereka terpaut amat jauh?"

Plok

Mendadak, Seno menggaplok kepalanya sendiri.

"Bodoh sekali aku ini" rutuknya. "Bukankah dia tengah menyamar? Tentu ada sesuatu yang tengah diseli-

dikinya Tentu Tapi... apa atau siapa yang tengah dis-elidikinya...?"

Bola mata Seno melotot ketika tiba-tiba dia

mendengar suara langkah kaki mengendap-endap.

Bergegas Seno bangkit. Dia tahu kalau suara mencuri-





gakan itu mendekati kamarnya.

"Hmmm.... Ada orang mendatangi kamarku dari

luar," kata hati Seno. "Kalau dia pencuri atau seseorang yang bermaksud jahat lainnya, aku akan membe-

ri pelajaran kepadanya."

Terbawa perasaan tegang, Seno mencekal erat

Tongkat Dewa Badai yang terselip di balik bajunya.

Urat-urat darah di pergelangan tangannya tampak

menggembung karena tanpa sadar dia mengalirkan te-

naga dalam.

Namun..., cepat Seno mendekap mulutnya.

Hampir saja dia berseru kaget. Dia mendengar bisikan yang begitu dekat dengan telinganya. Ada seseorang

yang memanggil namanya dengan ilmu mengirim sua-

ra.

"Seno... Seno..."

"Kemuning...," desis Seno.

Setelah dapat memastikan bahwa yang me-

manggilnya adalah Kemuning, tanpa pikir panjang lagi Seno meloncat seraya membuka jendela. Gerakannya

hati-hati sekali. Seno tak mau Karapak dan istrinya terbangun dari tidur mereka.

Lewat jendela yang dibukanya sebagian, Seno

melihat sesosok tubuh berpakaian serba kuning ten-

gah berdiri di bawah naungan pohon. Walau remang-

remang, Seno dapat memastikan bila sesosok tubuh

itu adalah Kemuning yang telah berganti pakaian.

"Keluarlah, Seno. Tutup lagi jendela mu. Ikuti aku...." Seno mendengar sebuah bisikan lagi. Bisikan itu jelas berasal dari mulut seorang gadis. Bertambah yakinlah Seno bila sesosok tubuh yang dilihatnya memang Kemuning. Maka, bergegas dia meloncati jendela.

Gerakannya tak mengeluarkan suara sedikit pun ka-





rena dia menggunakan ilmu peringan tubuhnya yang

bernama 'Lesatan Angin Meniup Dingin'.

Namun, begitu Seno menutup kembali daun

jendelanya, sosok tubuh berpakaian serba kuning me-

lesat pergi. Dan, Seno pun mengikuti. Mudah saja bagi Seno untuk mengikuti lesatan sosok tubuh itu karena ilmu peringan tubuhnya lebih unggul beberapa tingkat.

Beberapa tarikan napas kemudian, di pinggir

Kota Gambiran yang terletak tak sebegitu jauh dari Telaga Dewa, sosok tubuh berpakaian serba kuning

menghentikan lesatannya. Seno turut berhenti.

"Bodoh sekali kau, Seno" rutuk sesosok tubuh yang ternyata memang Kemuning atau Dewi Pedang

Kuning. "Tadi sore, hampir saja penyamaran ku terbuka akibat ulah mu Tahukah kau, Seno, kalau penyamaran ku sampai terbuka, maka sia-sialah semua jerih payah ku selama ini? Nyawaku pun bisa terancam"

"Ah Aku...," sahut Seno, tergagap. "Aku... aku tak tahu kalau kau sedang menyamar. Tapi... tapi, untuk apakah penyamaranmu itu? Apakah kau bukan

putri orang tua bernama Karapak itu?"

"Huh Bodoh benar kau, Seno" sambar Kemuning lagi. "Kau punya kepandaian hebat, tapi otakmu bebal Kau memang pantas dijuluki Pendekar Bodoh"

"Ya..., ya Terserah apa katamu," sambut Seno.

Pemuda lugu ini tak marah disebut berotak bebal wa-

lau sebenarnya otaknya tidak bebal.

"Ya Kau memang Pendekar Bodoh Matamu

dapat melihat, tapi otakmu tak mampu menimbang-

nimbang Tentu saja aku bukan anak nelayan tua itu

Dia dan istrinya sudah begitu uzur. Bagaimana mung-

kin mereka punya anak seusia ku Usiaku baru tujuh

belas tahun Kau harus tahu itu"

"Sama...," sahut Seno sambil nyengir kuda. "Eh





Kalau begitu, kenapa Karapak dan istrinya menyebut

mu sebagai putri mereka? Apakah kau putri angkat

mereka?"

"Hmmm.... Rupanya, otakmu bisa juga diguna-

kan untuk berpikir. Mulai hari ini, kau harus mem-

bantuku, Seno. Harus"

"Kalau aku tak mau?" goda Seno.

"Karena kau sudah mengetahui penyamaran

ku, terpaksa aku akan membunuhmu" ancam Kemuning penuh kesungguhan seraya mencekal gagang pe-

dang yang terselip di punggungnya.

"Eh Tunggu dulu" cegah Seno. "Aku tadi cuma bercanda. Tapi..., kalau kau memang ingin membunuhku, mampukah kau melakukannya? Tempo hari

kau hampir tewas di tangan Sokalanang. Tidakkah kau ingat bagaimana aku telah membuat perampok itu lari terbirit-birit?"

Kemuning melepas cekalannya pada gagang

pedang. Kesal dia mendengar ucapan Seno. Dia me-

mang pernah ditolong Seno. Dengan mudah, Seno

mengusir Sokalanang yang hendak menjatuhkan tan-

gan maut kepadanya. Seno punya kepandaian hebat.

Kemuning merasa tak mampu menandingi kehebatan

pemuda lugu itu.

"Kau murid Dewa Dungu Seharusnya kau

mengikuti jejak gurumu. Kau harus membantuku un-

tuk memberantas kejahatan" seru Kemuning kemudian. "Ya..., ya Aku tadi cuma bercanda," sambung Seno. "Tapi, katakan dulu apa sebenarnya maksud penyamaranmu ini...."

Lewat cahaya rembulan temaram, Kemuning

menatap lekat wajah Seno. Dia seakan ingin melongok isi hati pemuda lugu itu. Dan setelah menarik napas





panjang, Kemuning berkata, "Bila kau menghitung ha-ri, kau pasti tahu kalau pertemuan kita tempo hari itu telah lewat satu candra...."

"Ya, aku tahu."

Sebelum berpisah denganmu, aku mengatakan

bahwa aku akan pergi ke Kademangan Lemah Pitu.

Aku memang pergi ke sana. Bersama guruku, aku

langsung pergi ke Telaga Dewa. Kata guruku, di Telaga Dewa setiap tanggal satu Suro selalu muncul seekor

ikan mas besar bernama Ikan Mas Dewa. Di dalam pe-

rut ikan itu terdapat... eh...."

Kemuning tak melanjutkan ucapannya. Dia me-

rasa kelepasan bicara. Ditatapnya wajah Seno penuh

selidik. "Kau kenapa?" tegur Seno. "Aku tahu kelanju-tan bicaramu. Bukankah kau hendak mengatakan bila

di dalam perut Ikan Mas Dewa terdapat sebuah benda

ajaib bernama Kodok Wasiat Dewa?"

"Dari mana kau tahu itu?"

"Guruku yang mengatakannya. Aku pun tahu,

di sekitar sini telah muncul puluhan tokoh rimba persilatan. Mereka semua tentu menginginkan Kodok Wa-

siat Dewa itu."

"Kau juga menginginkannya?"

"Ya," Jawab Seno, jujur.

Mendengar jawaban pemuda lugu itu, Kemun-

ing langsung terdiam. Setelah berpikir-pikir, akhirnya dia berkata, "Kau baru datang tadi sore. Kau pasti belum tahu kalau di tempat ini telah banyak jatuh korban...." "Maksudmu?"

"Kata guruku, setiap tahun Telaga Dewa me-

mang selalu jadi ajang pertumpahan darah. Puluhan

tokoh rimba persilatan mati sia-sia tanpa sempat meli-





hat bagaimana wujud Ikan Mas Dewa itu. Mereka di-

bunuh oleh sekelompok orang yang mengaku berasal

dari Lembah Dewa-Dewi. Di mana letak lembah itu dan siapa pemimpinnya, sampai sekarang tak ada yang ta-hu...." "Lalu, apa tujuan mereka dengan membunuh orang-orang yang datang ke Telaga Dewa?" tanya Seno, tertarik.

"Komplotan Lembah Dewa-Dewi hanya membu-

nuh orang-orang yang menginginkan Kodok Wasiat

Dewa. Para pendatang lain yang terdiri dari para saudagar dan bangsawan tak pernah mereka usik. Dari si-tu bisa ditebak kalau sebenarnya komplotan Lembah

Dewa-Dewi sangat menginginkan Kodok Wasiat De-

wa...." "Mereka telah mendapatkannya?"

"Belum. Oleh karena itu kau harus hati-hati,

Seno. Aku menduga, puluhan tokoh rimba persilatan

yang telah mati sekarang ini dibunuh oleh komplotan Lembah Dewa-Dewi."

"Hmmm.... Aku tahu sekarang," tukas Seno.

"Penyamaranmu ini tentu ada hubungannya dengan komplotan jahat itu."

"Ya."

"Kau menyamar sebagai putri Karapak yang tak

mengerti ilmu silat agar kau selamat...."

"Bukan begitu" sergap Kemuning. "Aku menyamar bukan karena ingin menghindari komplotan

Lembah Dewa-Dewi. Walau mereka berkepandaian

tinggi, aku tak takut Aku hanya mengikuti petunjuk guruku"

"Petunjuk apa?"

Mendengar pertanyaan Seno, Kemuning men-

gedarkan pandangan seraya menajamkan pendenga-





ran. Kemuning khawatir ada orang yang mencuri den-

gar. Tapi setelah dapat memastikan tak ada orang lain di tempat itu, Kemuning berkata, "Guruku mencurigai Karapak dan istrinya"

Kontan kening Seno berkerut rapat. Tanpa sa-

dar, dia nyengir kuda. "Aneh...," desisnya. "Kenapa Karapak dan istrinya yang tak mengerti ilmu silat harus dicurigai?"

"Nah Di situlah letak kebodohanmu, Seno" rutuk Kemuning.

"Aku telah terkecoh?"

"Ya Karapak dan Istrinya hanya berpura-pura

tak mengerti ilmu silat. Guruku yang berpengalaman

luas mencurigai mereka sebagai dua orang anggota

komplotan Lembah Dewa-Dewi...."

"Benarkah itu?" kejut Seno.

"Setelah datang ke Telaga Dewa, aku dan guru-

ku langsung mengadakan penyelidikan. Menurut

orang-orang yang berdiam di sekitar Telaga Dewa, Karapak dan istrinya telah cukup lama berdiam di tem-

patnya itu. Namun, pada hari-hari tertentu, Karapak dan istrinya selalu pergi, dan tak seorang pun ada

yang tahu...,"

"Lalu?" kejar Seno, penasaran.

"Aku diperintah guruku dengan berpura-pura

menjadi anak yatim-piatu yang sedang kelaparan. Aku mengetok pintu rumah Karapak pada malam hari dua

pekan yang lalu. Aku berhasil melakukan sandiwara

dengan baik. Karapak dan istrinya senang melihatku.

Rupanya, mereka benar-benar ingin punya anak...."

"Hmmm.... Setelah jadi anak mereka, apa hasil

penyelidikan mu? Benarkah mereka anggota komplo-

tan Lembah Dewa-Dewi?"

"Aku tak tahu. Aku tak mendapatkan apa-apa,"





jawab Kemuning seraya menghela napas panjang. "Aku jadi tak tahu, mereka itu sangat pandai menyembunyikan ilmu kepandaian yang mereka atau memang

mereka tak punya kepandaian apa-apa...."

Seno turut menghela napas panjang.

"Kebetulan kalau kau datang, Seno," ujar Kemuning kemudian. "Kau bisa membantuku untuk

memecahkan persoalan ini."

"Ya. Tapi, apa yang harus kulakukan?"

"Untuk sementara, jangan kau tunjukkan ilmu

silatmu. Kau turuti saja apa kata Karapak dan is-

trinya. Aku tahu mereka amat suka kepadamu. Mereka

akan menjodohkan kita...."

Kemuning tersenyum. Manisss... sekali. Darah

muda Seno kontan berdesir aneh. Ditatapnya wajah

Kemuning tanpa bosan. Seno ingin memegang tangan

Kemuning, memeluknya, lalu.... Tapi, Seno tak berani melakukannya. Namun, malam yang dingin dan suasana yang sunyi membuat keinginan Seno menghen-

tak-hentak....

"Eh, kau kenapa?" tegur Kemuning yang melihat Seno terus menatapnya.

"Ah Aku... aku...."

Seno tergagap. Dalam hatinya terjadi perang

besar. Sebagai seorang pendekar, tentu saja dia harus menjunjung tinggi adab kesusilaan dan kesopanan.

Tapi, sebagai manusia biasa, Seno tak mampu menipu

dirinya sendiri. Dia amat tertarik melihat kecantikan wajah dan kemontokan tubuh Kemuning.

Perang besar dalam hati Seno membuatnya

berkeringat dingin. Dan, begitu cairan keringat me-

nyentuh kain baju Seno, Kemuning terkejut karena

mencium aroma harum kayu cendana. Agaknya, ra-

muan yang telah menyatu dengan kain baju Seno be-





kerja bila terkena cairan keringat.

Dan anehnya, setelah mencium aroma harum

kayu cendana yang menyebar dari kain baju Seno,

otak Kemuning jadi linglung. Nafsu birahinya tiba-tiba bangkit. Tanpa sadar, Kemuning memeluk tubuh Seno.

Erat... sekali

"Kemuning... Kemuning..." sebut Seno, kaget melihat perubahan sikap si gadis.

"Kau tampan dan sangat gagah, Seno..." desis Kemuning. "Aku... aku ingin kau memeluk ku, Seno...."

Semakin erat Kemuning memeluk Seno. Dia

tengadahkan wajahnya, mengharap ciuman si pemu-

da.... Aliran darah Seno berdesir makin kuat. Keinginan yang sudah dia coba untuk ditahan malah sema-

kin menguasai jalan pikirannya. Degup jantung Seno mengencang. Dengus nafasnya memburu. Perlahan dia

angkat kedua tangannya, lalu membalas pelukan Ke-

muning....





3


SENO mencium kening Kemuning. Dan, Ke-

muning pun menerimanya dengan penuh perasaan.

Matanya terpejam rapat. Bibirnya yang merah merekah tampak bergetar....

"Kau cantik sekali, Kemuning...," ujar Seno seraya mempererat pelukannya.

Terbawa hasrat hatinya yang semakin meng-

hentak-hentak, Seno mencium bibir Kemuning. Se-

mentara, Kemuning menikmati benar ciuman itu. Dia

pun balas mencium. Hingga, kedua anak manusia itu

saling pagut. Mereka terlena dalam buaian kenikma-





tan.

Merasakan sesuatu yang belum pernah dirasa-

kannya, lupa sudah Seno pada keadaan sekelilingnya.

Dan, Kemuning pun menurut saja ketika Seno mem-

bopong tubuhnya untuk kemudian dibaringkan di

permukaan tanah berumput tebal.

"Seno...," desis Kemuning,

"Ya..., ya, kau cantik sekali, Kemuning.... " Usai berkata, Seno mencium lagi bibir Kemuning. Dilumat-nya penuh hasrat menggebu. Jemari tangannya pun

mulai bergerak nakal. Satu persatu kancing baju Ke-

muning dilepaskannya. Lalu, dia singkapkan pakaian

dalam Kemuning yang berwarna putih berenda-renda

Napas Seno terhenti manakala melihat dua bu-

kit putih halus yang tampak begitu menggemaskan.

Tak sabaran lagi, Seno membenamkan wajahnya di an-

tara belahan kedua bukit itu.

Kemuning mendesis seraya menggelinjang saat

merasakan sentuhan hangat di dadanya. Dia dekap

kepala Seno, lalu dia benamkan lebih dalam....

Sementara Seno dan Kemuning larut dalam ge-

jolak hasrat jiwa muda, rembulan sepenggal yang berwarna kuning pucat menyiramkan cahaya temaram.

Berjuta bintang yang berkedip-kedip tak mampu mem-

berikan cahaya lebih terang. Hembusan angin menu-

suk dingin, membuat sepi semakin merajai suasana

malam. Sebelum godaan setan benar-benar menguasai

jalan pikiran Seno, mendadak pemuda itu menggera-

gap kaget. Seno merayap bangkit. Bayangan Ibunya

yang telah meninggal berkelebatan di benaknya.

"Ibu.... Seno bersalah, Bu. Seno lupa diri...."

Seno duduk menekuk lutut sambil berkata-

kata seorang diri. Dia mendekap wajahnya, penuh rasa





sesal. Sementara, Kemuning yang masih dikuasai naf-

su setan tampak bangkit. Tanpa membenarkan letak

pakaiannya, dia memeluk tubuh Seno dari belakang....

"Kemuning.... Kemuning" seru Seno, mengin-gatkan. Namun, Kemuning tak ambil peduli. Tubuh Se-

no dipeluknya lebih erat. Pipi kanan pemuda lugu itu diciuminya tanpa bosan.

Merasakan sentuhan sesuatu yang lembut ke-

nyal di punggungnya, hasrat Seno bangkit lagi. Tapi, sosok ibunya yang terbayang di benaknya membuai

Seno tersadar kembali. Sedikit kasar, ditepisnya pelukan Kemuning.

Tapi, Kemuning menerkam lagi. Dengan dengus

napas memburu, diciuminya kedua pipi Seno....

Seno berusaha mengelak.

"Kemuning Ingatlah, Kemuning... " ujarnya.

Selagi Kemuning berusaha melepaskan hasrat

hatinya, angin terus berhembus dingin. Cairan keringat di tubuh Seno menghilang. Perlahan namun pasti, aroma harum kayu cendana yang menyebar dari baju

Seno mulai lenyap. Dan..., sedikit demi sedikit gejolak birahi yang menguasai akal pikiran Kemuning mulai

lenyap pula.

Ketika kesadaran Kemuning telah pulih kemba-

li, gadis cantik itu melonjak kaget. Cepat dia benarkan letak bajunya. Lalu, dengan tubuh gemetaran dan ma-ta mendelik, dia berkata, "Apa... apa yang telah kulakukan...?"

Seno tak menjawab. Dia tak tahu apa yang ha-

rus dikatakannya. Yang dapat dilakukannya adalah

menunduk dan terus menunduk, menyesali apa yang

telah dilakukannya.

"Kau... kau Apa yang telah kau lakukan kepa-





daku, Seno?" sentak Kemuning seraya menyambar pedang yang tergeletak di tanah.

Melihat Seno tak juga membuka suara, Kemun-

ing menghunus pedangnya. Lalu, ujung pedang ber-

warna kuning itu ditodongkannya ke dada Seno

"Katakan, Seno Apa yang telah kau lakukan

kepadaku?"

Perlahan Seno menegakkan wajah. Sambil me-

natap ketajaman pedang Kemuning, dia berkata, "Kita sama-sama khilaf, Kemuning. Aku memang berdosa....

Tapi, aku belum... belum.... Kau tak perlu khawatir, Kemuning. Kau masih... masih...."

Walau ucapan Seno banyak yang menggantung,

tapi Kemuning tahu apa yang dimaksud oleh pemuda

itu. Setelah memperhatikan keadaan dirinya, Kemun-

ing tahu bila dirinya memang belum sampai ternoda.

"Aku tadi juga khilaf, Seno...," ujar Kemuning kemudian. "Namun, andai di lain kali kau melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepadaku, aku akan mengadu nyawa denganmu"

Seno cuma cengar-cengir melihat Kemuning

menyarungkan bilah pedangnya. Sementara, usai me-

nyandarkan kembali pedangnya ke punggung, Kemun-

ing membentak,

"Berdirilah..."

Tanpa berkata apa-apa, Seno bangkit berdiri.

Namun, dia tak berani lagi menatap wajah cantik Ke-

muning. Dia takut akan menjadi lupa diri lagi.

"Ikuti aku..." ajak Kemuning dengan suara ketus, menyimpan kekesalan.

Melihat si gadis hendak berlari cepat, bergegas

Seno mencegah. "Hei Kau hendak ke mana?"

"Ikuti saja aku"

"Kalau aku tak tahu ke mana tujuanmu, aku





tak mau mengikutimu" tolak Seno, ketolol-tololan.

"Huh Bodoh benar kau" semprot Kemuning.

"Kalau kau gunakan otakmu untuk berpikir, kau tentu tahu apa yang akan kuperbuat"

"Apa?" tanya Seno, nyengir kuda. Pemuda lugu ini benar-benar tak tahu maksud ajakan Kemuning.

Kemuning mendelikkan mata. Dengan suara

ketus, dia berkata, "Dasar Pendekar Bodoh Bukankah tadi sudah ku utarakan bahwa aku punya tujuan menyelidiki komplotan Lembah Dewa-Dewi? Sekarang,

aku mengajak mu pergi tentu ada hubungannya den-

gan begundal-begundal itu"

"Ya. Ya," sahut Seno sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Cepat ikuti aku"

Tanpa menanti persetujuan dari Seno, Kemun-

ing menjejak tanah seraya berkelebat pergi, menyusuri tepi sebuah sungai yang berada di selatan Kota Gambiran. Karena tak mau mengecewakan Kemuning,

bergegas Seno mengikuti. Hanya dengan mengerahkan

beberapa bagian ilmu 'Lesatan Angin Meniup Dingin', Seno sudah dapat mengimbangi kecepatan lari Kemuning. Kelebatan tubuh Seno meninggalkan tiupan angin berhawa dingin yang ditebari aroma harum kayu cendana....



* * *



"Selama dua pekan ini, hampir setiap malam

aku berada di tempat ini," beri tahu Kemuning. Gadis itu bersembunyi di balik bongkahan batu besar berse-mak-semak, dekat dengan aliran sungai. Tatapan ma-

tanya tertuju lurus ke arah jalan yang membelah Kota





Gambiran.

Seno yang diajak bicara tampak bersembunyi

pula di sisi kiri Kemuning, juga menatap lurus ke arah jalan yang membelah Kota Gambiran. Karena hari sudah sampai pada titik tengah malam, jalan yang berjarak sekitar seratus tombak dari tempat persembunyian Seno dan Kemuning itu terlihat sepi lengang. Namun

demikian, keadaan jalan cukup terang. Semua kedai

dan rumah warga kota menyalakan lampu luar di ma-

lam hari.

"Untuk apa kau mengajakku bersembunyi di

sini, Kemuning?" tanya Seno karena Kemuning tak ju-ga melanjutkan bicaranya.

Kemuning yang masih menyimpan rasa kesal

menjawab dengan suara ketus. "Dari tempat ini, ketika tengah malam telah lewat, aku dapat melihat kelebatan sesosok bayangan hitam. Bayangan itu berkelebat

amat cepat, sehingga aku tak mampu mengejarnya...."

"Bayangan itu orang jahat?" tanya Seno, lugu.

"Kupikir begitu," jawab Kemuning, masih ketus.

"Setiap aku melihat kelebatan bayangan itu, esok pa-ginya warga Kota Gambiran pasti gempar. Beberapa

orang pelancong yang menginap di rumah penginapan

ditemukan dalam keadaan terbujur kaku menjadi

mayat. Mereka yang mati selalu dari kaum rimba persilatan...."

"Dibunuh oleh komplotan Lembah Dewa-Dewi?"

"Kita akan buktikan nanti. Apabila bayangan

itu telah lewat, kau harus menguntitnya Seno. Aku ta-hu kau punya ilmu peringan tubuh amat hebat. Kau

pasti dapat menangkap basah durjana itu"

"Ya," sambut Seno. "Lalu, apa yang akan kau kerjakan?"

"Beberapa kali mencoba menguntit bayangan





itu, tapi selalu kehilangan jejak. Kali ini, lebih baik aku menunggu di sini. Atau, aku akan pulang diam-diam."

"Uh Enak saja" gerutu Seno. "Kau suruh aku menguntit orang jahat, tapi kau malah pergi pulang

Kalau aku tak berhasil menangkap penjahat itu dan

aku terbunuh, bagaimana?"

Hampir meledak tawa Kemuning mendengar

ucapan Seno yang begitu lugu. Namun, karena masih

ingin menunjukkan kekesalannya, cepat Kemuning

menekan rasa ingin tertawanya itu. Lalu katanya, "Kalau tak bisa menangkap orang jahat, kau tak pantas

menjadi murid Dewa Dungu yang berkepandaian se-

tinggi langit Kalau kau mati, itu lebih baik Agar, na-ma Dewa Dungu tak tercemar oleh kebodohanmu"

"Eh Eh" Seno nyengir kuda. "Kenapa kau berkata kasar seperti itu? Aku.... Eh Kau masih marah padaku, ya? Eh Lupakan dulu kemarahan mu itu.

Aku...." Mendengar ucapan Seno yang tergagap-gagap, sekuat tenaga Kemuning menekan rasa gelinya. Namun begitu, sebentuk senyuman tersungging juga di

bibirnya. Karena tak mau Seno melihat senyumnya itu, cepat Kemuning memalingkan muka.

"Eh Eh Kau kenapa?" tanya Seno. Tangan kanannya terangkat hendak menepuk bahu Kemuning,

tapi tak jadi. Tangan Seno mengambang di udara, lalu bergerak turun perlahan.

"Sudah Jangan banyak cakap Sebal" rutuk Kemuning.

"Ya Ya Aku memang tak boleh ngomong terlalu

banyak. Tapi, kalau kau terus marah-marah seperti

itu... aduh..., bagaimana aku..., aduh...."

Kemuning mendekap mulutnya melihat Seno

salah tingkah. Walau secara lahir Kemuning menahan





tawa, tapi batinnya tertawa senang. Kemuning tahu

kalau Seno menaruh hati kepadanya. Namun, sampai

di mana pun rasa senang Kemuning, dia harus selalu

memasang wajah ketus. Menurut Kemuning, kalau di-

beri hati, setiap lelaki suka berbuat yang tidak-tidak.

Dan, apa yang terjadi di tanah berumput tebal tadi sudah cukup menjadi pelajaran bagi Kemuning. Dia tak

ingin hal itu terulang lagi. Namun, dia tak pernah bisa mengerti, bagaimana dia bisa begitu terlena dalam de-kapan Seno? Bahkan, dia merasakan desakan nafsu

birahi yang amat kuat? Apakah Seno sengaja membe-

rinya obat perangsang?

Kemuning tak pernah berpikir seperti itu sedi-

kit pun. Walau belum lama berkenalan, Kemuning bisa menilai bila Seno adalah pemuda jujur dan amat lugu.

Seno tak mungkin berbuat jahat kepadanya. Tapi, ba-

gaimana perbuatan tak senonoh itu hampir terjadi?

Kemuning menggeleng-gelengkan kepalanya.

Untuk sementara waktu, dia tak mau memikirkan pe-

ristiwa itu lagi. Dia ingin menangkap salah seorang anggota komplotan Lembah Dewa-Dewi. Dan, dengan

bantuan Seno, Kemuning yakin akan bisa mewujud-

kan keinginannya itu. Bila ada salah seorang anggota komplotan Lembah Dewa-Dewi yang tertangkap, orang

itu bisa dipaksa untuk membongkar rahasia komplo-

tannya. "Kurasa, hari telah lewat tengah malam, Se-no...," ujar Kemuning kemudian. "Bayangan itu akan segera lewat. Kau harus dapat menguntitnya, kemudian menangkap basah"

"Kau mau pulang?" tanya Seno, mencoba menatap wajah Kemuning di balik kegelapan malam

"Dasar Pendekar Bodoh" rutuk Kemuning.

"Semua orang pasti akan menertawakan perbuatanku





kalau aku menyuruhmu mengejar seorang penjahat,

sementara aku sendiri malah pergi...."

"Lalu, maksud bicaramu tadi?"

"Bodoh benar kau, Seno Apa kau tidak bisa

membedakan, mana ucapanku yang sungguh-

sungguh, mana ucapanku yang bercanda?"

"Jadi, kau tadi bercanda?"

Kemuning tak menjawab. Dia cuma menden-

gus. "Uh Sebal"

Seno nyengir kuda seraya menggaruk kepa-

lanya yang tak gatal. "Aneh benar gadis ini...," katanya dalam hati. "Mendengar kata-katanya yang begitu kasar, ingin rasanya aku segera pergi menjauh. Tapi..., hatiku selalu berdebar-debar bila berdekatan dengannya. Di hatiku ada rasa suka. Apakah aku telah.... Ah"

Plok

Mendadak, Seno menggaplok kepalanya sendiri

seraya menggerutu. "Aku memang bodoh Banyak tu-gas yang harus kukerjakan, tapi kenapa aku malah

memburu rasa senang ku sendiri? Dasar aku memang

bodoh" "He, apa yang kau katakan, Seno?" tanya Kemuning yang mendengar gerutuan Seno. "Kau katakan dirimu bodoh? Itu sudah benar Kau memang Pendekar Bodoh"

Nyengir kuda lagi Seno. Lalu dengan suara sen-

gau, dia berkata, "Aku memang bodoh, tapi tak sebo-doh yang kau kira, Kemuning. Di dunia ini, tak ada

orang yang mau dikatakannya dirinya bodoh walau

orang itu berotak udang sekalipun Kau tahu?"

"Tahu Tapi, kau memang bodoh" bentak Kemuning.

Seno terdiam. Dia merasa tak mampu melawan

keketusan Kemuning. Namun setelah cengar-cengir,





dia mengutarakan kedongkolanya.

"Kau boleh merutuk ku sesuka hatimu, Kemun-

ing. Tapi, jangan di hadapan orang banyak. Aku malu"

Kali ini, tak dapat lagi Kemuning menahan ta-

wanya. Gadis cantik bertubuh sintal montok itu terta-wa mengikik panjang. Sementara, Seno menatap den-

gan sinar mata tak mengerti.

Namun tiba-tiba, Kemuning menghentikan ta-

wanya. Matanya melotot, menatap lurus ke jalan yang membelah Kota Gambiran. Sesosok bayangan hitam

tampak berkelebat amat cepat, hampir tak terlihat oleh pandangan mata.

"Itu dia, Seno" seru Kemuning.





4


BAYANGAN ini berkelebat cepat sekali, laksana

menyatu dengan hembusan angin. Ketika melewati se-

buah perempatan, si bayangan membelok ke kiri, lalu berhenti di sisi kanan Penginapan Asri, sebuah penginapan terbesar di Kota Gambiran.

Lewat cahaya lampu yang menyorot dari pengi-

napan, dapatlah dilihat rupa sosok manusia ini. Ternyata, dia seorang kakek yang mengenakan ikat kepala kain batik. Tubuhnya masih tampak tegap berisi, terbungkus pakaian serba hitam. Tatapan matanya tajam

menusuk, tertuju ke deretan jendela yang terletak di tingkat tiga.

"Kalian manusia-manusia dungu Mana pantas

mendapatkan Kodok Wasiat Dewa?" gumam Si kakek.

Kakek berikat kepala batik ini lalu menjejak ta-

nah. Ringan sekali tubuhnya melayang, hinggap dan





menempel di sisi jendela salah satu kamar di tingkat tiga. Sejenak, dia tak melakukan gerakan apa-apa, di-am meringkuk dan dengan berpegangan pada kayu

jendela yang tertutup rapat"

Telinga si kakek mendengar suara dengkuran

dari dalam kamar. Wajahnya malah kaku menegang.

Sorot matanya tambah berkilat-kilat.

"Hmmm.... Sekaranglah saatnya," si kakek

menggumam lagi. "Kalian harus mati Kalian tak pantas memperebutkan Kodok Wasiat Dewa"

Kakek berikat kepala batik menggerakkan tu-

buhnya, menghadap ke daun jendela yang terbuat dari kayu jati tua. Lalu, kakek yang masih tampak gagah

ini meluruskan telunjuk jari tangan kanannya seraya dialiri tenaga dalam. Kemudian....

Si kakek menusukkan telunjuk jarinya ke daun

jendela. Tak sedikit pun terdengar suara. Daun jendela yang terbuat dari kayu jati itu langsung bolong

Lewat lubang yang baru dibuatnya, kakek beri-

kat kepala batik mengintip. Keadaan di dalam kamar

remang-remang karena sinar lampu yang menempel di

dinding kamar sengaja dikecilkan. Sementara, di atas pembaringan tergolek seorang lelaki setengah baya,

mengenakan pakaian ringkas putih-hitam. Lelaki yang terbaring telentang itu tengah tidur lelap. Suara deng-kurannya terdengar cukup jelas.

"Selamat tinggal, Kerbau Dungu" gumam kakek berikat kepala batik.

Lelaki tua yang masih tampak gagah ini mena-

rik napas dalam-dalam seraya menurunkan kepalanya

hingga mulutnya menyentuh lubang kecil di daun jen-

dela. Si kakek meniup. Aneh sekali Udara yang ke-

luar dari mulut lelaki tua ini menyerupai asap yang





berwarna hijau gelap. Dapat dipastikan bila tiupan si kakek mempunyai daya bunuh yang amat mematikan

Satu tarikan napas kemudian, dari dalam ka-

mar terdengar suara keluh pendek yang disusul men-

gerang. Kakek berikat kepala batik tersenyum. Diintip-nya lagi keadaan di dalam kamar lewat lubang kecil di daun jendela. Senyum si kakek semakin mengembang

lebar. "Malam ini, satu kerbau telah mati. Kerbau-kerbau lainnya harus segera menyusul...," gumam si kakek untuk kesekian kalinya.

Kakek berikat kepala batik menggeser tubuh ke

kiri. Dengan merayap seperti cicak, dia mendekati

daun jendela di kamar lainnya.





* * *



"Turunkan aku Turunkan aku" pinta Kemuning yang berada di gendongan pemuda lugu Seno Pra-

setyo. "Ya Ya Tanpa kau minta, aku memang akan menurunkan mu di tempat ini," sahut Seno. Pemuda yang dijuluki Kemuning sebagai Pendekar Bodoh menarik kedua tangannya. Tubuh Kemuning yang meng-

gelendot di punggungnya melorot turun. Tadi terpaksa Seno menggendong Kemuning karena ilmu peringan

tubuh si gadis berada jauh di bawahnya.

Untunglah, sewaktu Seno berlari dengan meng-

gunakan ilmu 'Lesatan Angin Meniup Dingin', pemuda

tampan ini tidak berkeringat sama sekali, sehingga

aroma harum kayu cendana yang keluar dari baju Se-

no tidak membuat Kemuning mabuk kepayang.

"Kau lihat orang itu?" tanya Seno, menunjuk kakek berikat kepala hitam yang sedang merayap di





dinding kamar Penginapan Asri.

Dari jarak sekitar dua puluh tombak, Kemun-

ing menajamkan pandangan. Setelah mengetahui so-

sok tubuh yang ditunjukkan oleh Seno, Kemuning

langsung berkata, "Itulah orang yang kita kejar. Kita bersembunyi dulu. Dia harus ditangkap basah"

Kemuning meloncat di sisi bangunan besar

yang tak lain dari sebuah toko, tanpa pikir panjang, Seno langsung mengikuti. Sementara, malam semakin

larut. Dingin yang menusuk tulang membuat sepi se-

makin berkuasa.

"Orang itu terus merayap di deretan kamar di

tingkat tiga," ujar Seno, terus memperhatikan tingkah laku kakek berikat kepala batik. "Hmmm.... Dia membuat lubang di daun jendela dengan ujung jari telunjuk. Dia mengintip.,.. Apakah dia hendak mencuri?

Atau...?"

"Diamlah" sergap Kemuning. "Kita pasti akan tahu apa yang akan diperbuatnya nanti."

Mendengar teguran itu, kontan Seno mengunci

mulut rapat-rapat. Namun matanya tak henti menga-

wasi segala gerak-gerik kakek berikat kepala batik.

Kebetulan, toko yang digunakan Seno dan Ke-

muning untuk bersembunyi terdapat dinding batu di

bagian depan yang berlubang-lubang. Sehingga, mere-

ka bisa leluasa mengintai tanpa takut ketahuan. Dan, dari dalam toko yang sudah tutup itu pun tak terdengar suara apa pun.

Sementara itu, kakek berikat kepala batik tam-

pak mengulum senyum. "Satu kerbau lagi akan segera dijemput ajal," gumamnya.

Seperti yang telah dilakukannya tadi, dia mena-

rik napas dalam-dalam. Lalu, dia tempelkan bibirnya ke lubang kecil yang telah dibuatnya di daun jendela.





Terdengar suara desis lirih waktu si kakek me-

niup. Dari mulut kakek berikat kepala batik ini menyembur udara aneh yang menyerupai asap berwarna

hijau gelap.

Sesaat terdengar jerit kecil yang disusul suara

benda berat jatuh ke pembaringan. Setelah itu suasa-na hening sunyi lagi. Kakek berikat kepala batik tertawa pelan.

"Malam ini, cukuplah dua ekor kerbau yang

kubunuh...," desisnya seraya meloncat turun, dan berkelebat cepat





* * *



"Kita kejar" ajak Seno.

"Sebentar Kita belum tahu apa yang telah di-

perbuat durjana itu" tolak Kemuning.

Sementara kakek berikat kepala batik berkele-

bat menembus kegelapan malam, Kemuning dan Seno

berkelebat mendekati Penginapan Asri. Karena tak sabar, Seno meloncat tinggi, dan merayap ke deretan

kamar di tingkat tiga.

Lewat lubang di daun jendela yang dibuat oleh

kakek berikat kepala batik, Seno melihat ke dalam

kamar. Dan..., betapa terkejutnya pemuda lugu ini.

Tubuhnya bergetar melihat tubuh seorang lelaki ber-

pakaian ketat ringkas, pakaian khas seorang ahli silat, yang tergolek telentang tak berkutik. Bola mata lelaki yang terbujur kaku di atas pembaringan itu tampak

melotot besar, dan mulutnya pun terbuka lebar dengan kulit wajah berubah hijau gelap

"Celaka" seru Seno. "Orang di dalam kamar itu mati terserang racun ganas"

Bergegas Seno meloncat turun. Namun, pemu-





da lugu ini tak melihat Kemuning berada di tempatnya lagi. Setelah mengedarkan pandangan, tahulah Seno

bila Kemuning tengah memeriksa kamar-kamar di

tingkat tiga.

Kemuning berhenti merayap ketika menemu-

kan lubang kecil di daun jendela, terpaut tiga kamar dari tempat Seno melihat sesosok mayat di dalam kamar. Kemuning turut terhantam keterkejutan. Lewat

lubang di daun jendela, dia melihat tubuh seorang lelaki berpakaian ringkas putih-hitam yang terbujur ka-ku di atas pembaringan. Sama seperti yang dilihat Se-no, tubuh lelaki setengah baya itu juga tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi Kulit wajahnya telah berubah hijau gelap. Raut muka lelaki naas itu tampak sangat mengerikan karena bola matanya melotot besar dengan mulut terbuka lebar

"Celaka" seru Kemuning yang tak menyangka bila kakek yang diintainya telah melakukan pembunuhan. "Kau melihat mayat di dalam kamar itu, Kemuning?" tanya Seno.

"Ya. Kita kejar dia" sahut si gadis seraya meloncat turun.

Sebelum kaki Kemuning menginjak tanah, Seno

berkelebat cepat. Diraihnya pinggang Kemuning, lalu berlari mengejar kakek berikat kepala batik. Namun

sampai di mana pun Seno mengerahkan ilmu peringan

tubuhnya, bayangan si kakek tak dapat dia temukan.

Sosok kakek berikat kepala batik lenyap bagai ditelan bumi. Agaknya, si kakek mempunyai ilmu peringan

tubuh yang tak kalah dengan Ilmu 'Lesatan Angin Me-

niup Dingin' yang sedang diterapkan oleh Seno.

"Bagaimana ini? Bagaimana ini?" seru Seno, seperti orang kalut. Berhenti berkelebat seraya menu-





runkan tubuh Kemuning.

"Sudah jelas bila orang berpakaian hitam-hitam itu baru saja melakukan pembunuhan. Dia pasti anggota komplotan Lembah Dewa-Dewi," sahut Kemuning.

"Kita harus dapat menangkapnya"

"Ya, tapi ke mana kita harus mengejar?" tanya Seno sambil nyengir kuda.

Kemuning terdiam. Ke mana harus mengejar?

Tak dapat Kemuning menjawab pertanyaan Seno. So-

sok kakek berikat kepala batik memang telah lenyap

tanpa bekas. Sementara, waktu terus berputar. Lamat-lamat terdengar lolongan serigala.

Mendadak, Seno memalingkan muka ke kanan.

Telinganya yang tajam dapat menangkap suara per-

tempuran. Indera pendengar Seno memang sudah se-

demikian tajamnya karena lima tahun yang lalu dia

mendapat aliran hawa sakti dari Tongkat Dewa Badai

yang ditemukannya dengan tidak sengaja.

"Kau dengar suara itu?" tanya Seno untuk memastikan pendengarannya. Sebagai pemuda yang baru

berkecimpung di rimba persilatan, seringkali Seno kurang begitu percaya pada kemampuannya sendiri.

"Suara apa?" Kemuning balik bertanya. "Lolongan serigala itukah yang kau maksud?"

"Bukan."

"Suara apa? Aku hanya mendengar desau angin

dan lolongan serigala."

Untuk beberapa lama Seno nyengir kuda. Kare-

na suara pertempuran semakin terdengar jelas oleh-

nya, bergegas Seno menyambar lagi tubuh Kemuning.

Dengan menggamit pinggang si gadis, Seno mengem-

pos tenaga. Dia keluarkan ilmu 'Lesatan Angin Meniup Dingin' sampai ke puncak.

Dada Kemuning kontan jadi sesak karena kesu-





litan bernapas. Tiupan angin terasa menghajar sekujur tubuhnya. Andai gadis ini tidak mempunyai keteguhan hati, dia pasti telah pingsan dalam rengkuhan tangan Seno yang membawanya berlari amat cepat. Begitu cepatnya lari Seno, hingga tubuh Kemuning dan tubuh-

nya sendiri laksana dapat menghilang.





* * *



"Jahanam Kenapa kalian menghadangku?"

bentak kakek berikat kepala batik seraya mengirim

pukulan dan tendangan beruntun.

Dua sosok tubuh yang menjadi sasaran cepat

membuang tubuh ke belakang. Namun, kedua orang

itu mengeluarkan pekik kaget karena merasakan sam-

baran angin pukulan si kakek yang membuat kulit tu-

buh mereka menjadi pedih seperti tersayat pedang.

"Kalau kalian masih ingin menghirup udara se-

gar, biarkan aku lewat" usir kakek berikat kepala batik, menatap tajam penuh nafsu membunuh.

Ternyata, yang menghadang langkah kaki ka-

kek berikat kepala batik adalah sepasang kakek dan

nenek. Mereka sama-sama mengenakan pakaian long-

gar, terbuat dari kain sederhana berwarna putih-

kuning. Menilik dari raut wajah mereka, kedua orang yang sudah lanjut usia itu adalah Karapak dan istrinya "Jangan harap kami akan melepaskanmu, Mahisa Lodra" seru Karapak yang membawa senjata berupa dayung perahu yang terbuat dari kayu besi.

"Siapa kau? Begitu berani kau berbuat telen-

gas di hadapan Setan Selaksa Wajah"

Mendengar bentakan Mahisa Lodra atau Setan

Selaksa Wajah, istri Karapak tersenyum sinis. "Buka





mata dan telingamu lebar-lebar, Mahisa Lodra Kami

adalah Sepasang Nelayan Sakti" kenalnya. "Bertahun-tahun kami tinggal di pinggir Telaga Dewa dengan

maksud menghukum mati dirimu, Mahisa Lodra. Aku

dan suamiku tahu persis bila kaulah biang pelaku

yang telah membunuh puluhan tokoh silat beberapa

tahun ini"

"Sudah cukup lama aku berdiam diri di pinggir

Telaga Dewa dengan menyamar sebagai petani nelayan

biasa, mustahil aku mau melepaskan dirimu, Mahisa

Lodra" tambah Karapak.

"Sepasang Nelayan Sakti...," desis Setan Selaksa Wajah. "Aku memang pernah mendengar kebesaran julukan kalian itu. Kalau tak salah aku menebak, kalian pasti Karapak dan Salindri. Namun..., persetan dengan segala nama dan julukan Sungguh suatu ke-betulan Sedari dulu aku memendam maksud untuk

melenyapkan seluruh tokoh silat yang berani mende-

kati Telaga Dewa Kecuali aku, tak ada satu pun ma-

nusia yang layak memiliki Kodok Wasiat Dewa"

Istri Karapak, Salindri, yang memegang senjata

berupa pancing berjoran panjang mendengus gusar.

Setelah memberi isyarat kepada suaminya, nenek ini

langsung menerjang. Joran pancingnya berkelebat un-

tuk menotok salah satu jalan darah penting di dada

Mahisa Lodra. Sementara, mata pancingnya yang teri-

kat tali baja lentur berputar di angkasa untuk segera menghujam ke kepala lawan.

Karapak membarengi serangan istrinya dengan

menyabetkan dayung perahunya mengarah pinggang.

Timbul suara bergemuruh keras saat dayung yang ter-

buat dari kayu besi itu berkelebat

"Hiahhh..."

Mahisa Lodra memekik nyaring seraya berkele-





bat ke atas. Tanpa mendapat kesulitan, kakek berikat kepala batik ini menghindari serangan beruntun yang ditujukan kepada dirinya. Sewaktu joran pancing dan dayung melesat lewat di sisi kiri tubuhnya, mendadak Mahisa Lodra membuat gerakan jungkir balik di udara Wusss...

Dari kedua telapak tangan Mahisa Lodra mele-

sat dua larik sinar biru, masing-masing mengarah ke tubuh Karapak dan Salindri

Pukulan jarak jauh Mahisa Lodra yang dilan-

carkan sambil bersalto di udara itu memiliki daya

penghancur luar biasa. Bongkahan sebesar gajah pun

akan lebur menjadi debu apabila tertimpa. Apalagi, tubuh Karapak dan Salindri yang cuma terbuat dari su-

sunan tulang dan daging empuk

"Awasss..." teriak Karapak yang lebih dulu me-nyadari keadaan.

Mendengar peringatan suaminya, bergegas Sa-

lindri membuang tubuh sejauh mungkin. Sementara,

Karapak pun tampak meloncat sejauh tiga tombak.

Blarrr...

Blarrr...

Dua ledakan dahsyat menggelegar di angkasa.

Kesunyian malam tercabik-cabik. Satu larik sinar biru yang melesat dari telapak tangan Mahisa Lodra menerpa batang pohon besar. Tak ampun lagi, batang pohon bergaris tengah satu depa itu meledak hancur menjadi debu halus Sementara, yang satu larik sinar lainnya menerpa permukaan tanah, dan membentuk kubangan besar yang sudah cukup untuk menguburkan dua

bangkai gajah sekaligus

"Jangan gentar Kita gempur terus durjana itu"

seru Karapak seraya menerjang lagi. Dayung di tan-

gannya berkelebatan, mengarah bagian-bagian penting





di tubuh Mahisa Lodra.

"Hanya kematian yang pantas kau terima, Ma-

hisa Lodra" timpal Salindri.

Mengikuti tindakan suaminya, Salindri menye-

rang gencar dengan mengeluarkan seluruh kemam-

puannya. Joran pancing menyambar ke sana-sini. Me-

luncur lurus untuk menotok jalan darah penting sam-

bil sesekali berkelebat sebagai alat pemukul. Sementara, mata pancingnya terus berputar-putar di angkasa.

berusaha menghujani ke kepala Mahisa Lodra

Berkali-kali Setan Selaksa Wajah memekik ma-

rah. Mendapat serangan yang sedemikian hebat, mau

tak mau kakek berikat kepala batik ini mesti mengeluarkan seluruh daya kemampuannya. Untung saja, dia

memiliki ilmu peringan tubuh bernama "Angin Pergi Tiada Berbekas'. Sehingga, Sepasang Nelayan Sakti

mendapat kesulitan untuk mendaratkan serangan.

Dan, beberapa kali mereka dipaksa bergerak mundur

karena Mahisa Lodra mengirim serangan yang tak ka-

lah berbahaya.

Tak lebih dari dua puluh tarikan nafas, per-

tempuran di tepi hutan kecil itu sudah memuncak. Sepasang Nelayan Sakti dan Setan Selaksa Wajah sama-

sama tak mau membuang-buang waktu. Masing-

masing ingin segera menghabisi riwayat lawan.

Akibatnya, suasana malam di tepi hutan kecil

yang sudah cukup jauh dari Telaga Dewa itu berubah

hingar-bingar. Pekik kemarahan berbaur dengan leda-

kan keras yang timbul akibat bentrokan tenaga dalam tingkat tinggi.

Tampak kemudian, sosok bayangan Mahisa Lo-

dra melenting tinggi, menghindari sambaran dayung

dan joran pancing Sepasang Nelayan Sakti. Namun se-

belum Mahisa Lodra menjejak tanah, dayung di tangan





Karapak berkelebat untuk meremukkan tulang kaki.

Sementara, joran pancing Salindri menyambar cepat,

hendak menebas leher. Dan, mata pancingnya pun tu-

rut ambil bagian. Dengan mengeluarkan suara men-

dengung seperti lebah, mata pancing yang terbuat dari baja runcing itu menghujam sebat, mengarah ulu hati

Mendapat serangan beruntun itu, Mahisa Lodra

malah tersenyum. Dengan mengibaskan ujung lengan

bajunya, Mahisa Lodra melentingkan tubuhnya lagi.

Lalu dia berjumpalitan di udara. Gerakan itu sedemikian cepatnya, hingga tubuh Mahisa Lodra berubah

menjadi segumpal asap yang bergulung-gulung di uda-

ra

"Matilah kalian Wussss..."

Sambil terus berjumpalitan, Mahisa Lodra me-

niup. Serangkum angin berwarna hijau gelap menyem-

bur Sekejap mata kemudian, bau amis menyebar.

Udara di tepi hutan itu dipenuhi hawa beracun yang

timbul dari dalam perut Mahisa Lodra

"Celaka..."

Berteriak kaget Karapak ketika merasakan tu-

buhnya lemas tiba-tiba. Seluruh tenaganya hilang entah ke mana. Dan, Salindri pun mengalami hal serupa.

Tubuhnya juga terasa lemas tanpa tenaga

Akibatnya, serangan kakek-nenek bergelar Se-

pasang Nelayan Sakti itu jadi kendor. Maka, Mahisa

Lodra tertawa bergelak.

"Ha ha ha... Kalian telah terkena 'Racun Pem-

bunuh Naga' Nyawa kalian akan segera melayang ke

neraka Ha ha ha..."

"Jahanam..." geram Karapak. Kakek bertubuh kurus ini hendak menerjang lagi, tapi tenaganya benar-benar telah lenyap. Kedua tangannya bergetar, tak kuasa memegang senjata dayungnya hingga jatuh ke





tanah.

"Telan puyer 'Penghidup Jiwa', Aki" teriak Salindri. Senjata berupa alat pancing di tangan nenek ini pun telah lepas dari cekalan.

Tergesa-gesa sekali Sepasang Nelayan Sakti

mengambil bungkusan kertas dari lipatan baju mere-

ka. Serbuk kuning yang berada di dalam bungkusan

itu langsung mereka telan. Tapi..., tenaga mereka tetap tak kembali. Bahkan, perlahan-lahan wajah suami-istri itu mulai berubah warna menjadi hijau matang

"Hmmm.... Kalau cuma puyer picisan, mana

dapat melawan pengaruh 'Racun Pembunuh Naga'?"

ejek Mahisa Lodra.

"Keparat Licik sekali kau, Jahanam" umpat Karapak sambil mendekap dadanya yang mulai sesak.

"Binatang culas Kau benar-benar bukan ma-

nusia, Mahisa Lodra" tambah Salindri dengan napas memburu, dadanya terasa sesak pula.

Mendengar kata-kata kasar Karapak dan Is-

trinya, Mahisa Lodra mengerutkan kening. Dia sedikit heran melihat ketahanan tubuh suami-istri yang telah berusia lanjut itu. Sebenarnya, bila seseorang telah menghirup 'Racun Pembunuh Naga', maka tak sampai

tiga tarikan napas kemudian, jiwa orang itu pasti dijemput maut.

"Hmmm.... Aku dapat memastikan bila puyer

'Penghidup Jiwa' sama sekali tak mampu melawan

pengaruh 'Racun Pembunuh Naga'...," gumam Mahisa Lodra. "Tapi kenapa mereka bisa bertahan cukup la-ma. Hmmm.... Kemungkinan besar mereka mempunyai

tenaga simpanan. Agar tak mengulur waktu, lebih baik ku lumatkan tubuh kakek-nenek yang sok pandai itu dengan pukulan 'Pelebur Sukma'"

Tanpa pikir panjang lagi, Mahisa Lodra alias





Setan Selaksa Wajah mengalirkan kekuatan tenaga da-

lam ke kedua telapak tangannya. Lalu....

"Hiahhh..."

Sambil menggembor keras, Mahisa Lodra me-

lancarkan pukulan jarak jauh. Dua larik sinar biru

yang mempunyai daya penghancur dahsyat melesat ke

de-pan tanpa dapat dibendung lagi. Sementara, Sepa-

sang Nelayan Sakti cuma dapat membelalakkan mata.

Tubuh mereka yang lemas sudah tak memungkinkan

lagi untuk bergerak menghindar. Tampaknya, nyawa

Karapak dan istrinya benar-benar akan melayang di

tangan Setan Selaksa Wajah?

Namun tiba-tiba....

"Hanya setan laknat yang tega berbuat seperti

ini" Terdengar teriakan keras menggelepar yang dibarengi melesatnya gelombang angin pukulan dahsyat

Blarrr...

Blarrr...

Dua ledakan keras membahana di angkasa.

Bumi berguncang beberapa lama. Akibatnya, gumpa-

lan tanah dan bebatuan berhamburan. Beberapa ba-

tang pohon yang berada di dekat pusat ledakan tercabut akarnya, lalu terlontar tinggi di angkasa

Dua larik sinar biru wujud dari ilmu pukulan

'Pelebur Sukma' tampak melesat tegak lurus ke atas, kemudian lenyap tanpa bekas. Rupanya, gelombang

angin yang memapaki ilmu pukulan Mahisa Lodra itu

mempunyai daya kekuatan yang tak kalah hebat

"Seno..." pekik Karapak dan istrinya, hampir bersamaan.

Dengan tubuh sempoyongan, kakek-nenek ber-

gelar Sepasang Nelayan Sakti itu menatap tak berkedip sosok pemuda remaja berwajah tampan yang memang

Seno Prasetyo adanya.





"Aki Nini" teriak Kemuning yang berdiri di belakang Seno.

Bergegas Kemuning meloncat mendekati ketika

melihat Karapak dan istrinya jatuh berguling-guling.

Sementara, Seno langsung meloncat ke hada-

pan Mahisa Lodra. Tongkat Dewa Badai tampak ter-

cekal erat di tangan kanannya. Tongkat mustika itu

baru saja digunakan Seno untuk meredam pukulan

'Pelebur Sukma' Mahisa Lodra.





5


AKU tahu kau baru saja melakukan pembunu-

han di Penginapan Asri," ujar Seno. "Aku pun tahu dengan Ilmu pukulan 'Pelebur Sukma', kau hendak

membunuh Kakek Karapak dan Istrinya. Sungguh kau

manusia biadab, Pak Tua Katakan siapa dirimu, dan ada hubungan apa kau dengan Dewa Dungu?"

Seno sengaja menyebut nama Dewa Dungu gu-

runya karena ilmu pukulan 'Pelebur Sukma' adalah

ilmu andalan tokoh tua lumpuh yang kini masih ting-

gal di salah satu lembah di Gunung Lawu itu. Seno ingat benar bila sebelum berpisah, Dewa Dungu berpe-

san bahwa dia diwajibkan untuk mencari kakak seper-

guruannya yang telah salah langkah, melenceng dari

jalan kebenaran. Kakak seperguruan Seno yang telah

membuat lumpuh kedua kaki Dewa Dungu itu berna-

ma Mahisa Lodra.

Menurut penuturan Dewa Dungu, Mahisa Lo-

dra selain telah membuatnya lumpuh, juga melarikan

dua bagian Kitab Sanggalangit. Masing-masing buku

yang dilarikan oleh Mahisa Lodra itu berisi ilmu perin-





gan tubuh bernama 'Angin Pergi Tiada Berbekas' dan

sebuah pelajaran ilmu sihir atau ilmu semacamnya

yang bernama 'Selaksa Wajah Berganti-ganti'. (Baca

episode : "Tongkat Dewa Badai").

"He Kenapa kau diam saja? Benarkah kau

Mahisa Lodra?" bentak Seno melihat kakek berikat kepala batik tak segera menjawab pertanyaannya.

Mendengus gusar Setan Selaksa Wajah. Ilmu

pukulannya dapat dikenali Seno saja sudah membuat-

nya terkejut, apalagi kini si pemuda dapat menyebut nama Dewa Dungu dan mengatakan dengan tepat siapa namanya. Padahal, kakek yang masih tampak ga-

gah ini sama sekali tak mengenal pemuda yang terke-

san amat lugu itu.

"He Kau punya mulut untuk bicara, kenapa

kau diam saja mendengar pertanyaan orang?" Seno membentak lagi.

"Hmmm.... Aku tak mengenal siapa kau Tapi

melihat mulutmu yang ceriwis itu, gatal tanganku untuk segera memecahkan batok kepalamu"

Di ujung kalimatnya, tiba-tiba Setan Selaksa

Wajah menerjang. Kedua tangannya berkelebat cepat,

mengeluarkan suara menderu keras dan member-

sitkan hawa panas yang menyengat kulit

"Hiahhh..."

Untuk meladeni serangan si kakek, sengaja Se-

no tak menggunakan Tongkat Dewa Badai. Tongkat

mustika sepanjang dua jengkal itu disimpannya lagi di balik pakaian.

Dengan menggunakan Ilmu 'Lesatan Angin Me-

niup Dingin', Seno meloncat ke sana-sini, menghindari serangan kakek berikat kepala batik tanpa membalas sama sekali. Seno bermaksud mengenali jurus-jurus

yang sedang diperagakan oleh si kakek.





"Jurus 'Memetik Bunga Melempar Batu'" seru Seno sambil berkelit dari pukulan dan tendangan.

Jurus 'Memetik Bunga Melempar Batu' adalah

salah satu jurus ciptaan Dewa Dungu. Seno hafal be-

nar akan ciri-ciri gerakan jurus itu karena pernah

mempelajarinya, dan dapat pula memainkannya den-

gan sempurna.

Terkejut luar biasa Setan Selaksa Wajah men-

dengar seruan Seno, apalagi setelah si pemuda menye-rangnya dengan jurus yang sama. Maka, terbawa rasa

penasaran, Setan Selaksa Wajah bermaksud mengha-

bisi riwayat Seno secepat mungkin. Cepat Setan Selak-sa Wajah mengganti jurus 'Memetik Bunga Melempar

Batu' yang tengah dimainkannya.

"Jurus 'Memetik Bunga Menghindari Duri'" se-ru Seno lagi, dapat mengenali perubahan jurus kakek berikat kepala batik.

"Jahanam Ada hubungan apa kau dengan De-

wa Dungu?" sentak Setan Selaksa Wajah, terus men-cecar dengan serangan mematikan.

"Itu pertanyaanku tadi, Pak Tua Seharusnya

kaulah yang menjawab" sahut Seno.

Dengan menggunakan jurus 'Memetik Bunga

Melempar Batu', Seno terus meladeni gempuran Setan

Selaksa Wajah yang memainkan jurus 'Memetik Bunga

Menghindari Duri'.

Kedua jurus itu sama-sama ciptaan Dewa Dun-

gu. Kehebatannya bukan alang-kepalang lagi. Apalagi, Seno dan Setan Selaksa Wajah memiliki ilmu peringan tubuh yang hebat luar biasa. Hingga ketika memainkan kedua jurus itu, tubuh Seno dan Setan Selaksa

Wajah berubah menjadi dua gumpal asap berwarna bi-

ru dan hitam yang saling terjang.

Selagi kedua anak manusia itu terlibat dalam





pertempuran seru, waktu terus berlalu, gelap malam

terusir oleh semburat cahaya jingga sang baskara di ufuk timur. Hari berganti karena fajar telah menyingsing.

Tubuh Sepasang Nelayan Sakti tampak terbar-

ing lemah di permukaan tanah, cukup jauh dari ajang pertempuran. Tubuh sepasang suami-istri berusia lanjut itu telah dipindahkan Kemuning. Sementara, den-

gan mengeluarkan seluruh daya kemampuannya yang

didapat dari Dewi Pedang Halilintar, si gadis berusaha menyelamatkan Sepasang Nelayan Sakti yang terserang 'Racun Pembunuh Naga'.

Kemuning menyalurkan hawa murni ke tubuh

Sepasang Nelayan Sakti bergantian. Walau tidak ber-

hasil mengusir pengaruh 'Racun Pembunuh Naga', tin-

dakan Kemuning dapat menghambat aliran racun yang

menuju ke jantung. Hingga untuk beberapa lama, Se-

pasang Nelayan Sakti masih dapat bertahan dari ke-

matian. Sementara itu, pertempuran antara Seno den-

gan Mahisa Lodra semakin berlangsung sengit. Lewat

lima belas jurus kemudian, sosok bayangan Mahisa

Lodra tampak melenting menjauhi ajang pertempuran.

"Aku tidak punya banyak waktu. Katakan siapa

dirimu, dan punya hubungan apa kau dengan Dewa

Dungu?" seru Setan Selaksa Wajah begitu mendarat di tanah. "Kau mengulang pertanyaanku lagi, Pak Tua"

sahut Seno. "Kaulah yang harus menjawabnya. Apakah benar kau Mahisa Lodra? Kalau benar, segera se-

rahkan kepadaku dua bagian Kitab Sanggalangit yang

kau larikan tiga puluh tahun yang lalu Setelah itu, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu

yang telah membuat lumpuh Kakek Dewa Dungu"





"Jahanam Mulutmu semakin ceriwis saja,

Anak Muda" bentak Mahisa Lodra. "Cepat katakan siapa dirimu Agar nanti aku dapat menyebarkan beri-ta kematianmu"

Melihat muka Mahisa Lodra yang merah padam

penuh rasa gusar, Seno nyengir kuda sambil mengga-

ruk-garuk pantatnya yang terasa gatal. Sikapnya amat lugu dan tak dibuat-buat sama sekali. Namun, hal itu malah membuat amarah Mahisa Lodra memuncak.

"Cepat katakan siapa dirimu, dan punya hu-

bungan apa kau dengan Dewa Dungu?" geram si kakek. "Atau, ku lumatkan tubuhmu sekarang ini juga dengan pukulan 'Pelebur Sukma'"

"Kau katakan siapa dirimu dulu, baru aku

memperkenalkan diri" sahut Seno dengan wajah kebodoh-bodohan.

"Bangsat Kalau begitu, mati saja kau, Kerbau

Dungu"

Usai berkata, kedua pergelangan tangan Mahi-

sa Lodra tampak bergetar. Dia tengah menyalurkan

kekuatan tenaga dalamnya sampai ke puncak

Tersurut mundur si pemuda lugu Seno Pra-

setyo. Bukan karena gentar, melainkan karena tahu

kakek berikat kepala batik mempersiapkan pukulan

'Pelebur Sukma' yang teramat dahsyat. Seno tahu be-

nar ilmu pukulan itu adalah ciptaan Dewa Dungu yang hanya diturunkan kepada murid pertamanya. Seno

sendiri tidak diajari ilmu pukulan 'Pelebur Sukma' karena dia telah mendapat ilmu pukulan yang lebih dahsyat. Ilmu pukulan yang dipelajari Seno itu berasal da-ri salah satu bagian Kitab Sanggalangit yang bernama

'Dewa Badai Rontokkan Langit'.

"Hmmm.... Menilik dari ilmu pukulan yang te-

lah disiapkan kakek itu, dia pasti Mahisa Lodra. Ya,





tak salah lagi. Dia pasti Mahisa Lodra" kata Seno dalam hati. "Dan melihat perbuatan biadabnya di Penginapan Asri berikut meracuni Kakek Karapak dan is-

trinya, aku wajib melaksanakan amanat Kakek Dewa

Dungu untuk menghukum mati murid murtad ini"

Tanpa pikir panjang lagi, bergegas Seno mem-

persiapkan pukulan 'Dewa Badai Rontokkan Langit'. Di lain kejap, kedua pergelangan tangan Seno berubah

warna menjadi putih berkilat.

Bersamaan dengan itu, Mahisa Lodra menghen-

takkan kedua telapak tangannya ke depan. Dua larik

sinar biru melesat cepat, menebarkan hawa panas luar biasa WUSSS...

Dengan menggunakan pergelangan kakinya,

Seno menghentakkan pula kedua telapak tangannya

ke depan. Dan..., melesatlah dua larik sinar putih ber-keredapan, memapaki sinar biru yang melesat dari telapak tangan Mahisa Lodra

Blarrr...

Blarrr...

Dua ledakan dahsyat membahana panjang saat

empat larik sinar berbenturan di udara. Gumpalan tanah dan bebatuan berhamburan. Bunga api memercik

ke segala penjuru. Keadaan di tepi hutan itu laksana terserang gempa hebat. Puluhan pohon tumbang, sebagian malah meledak hancur menjadi kepingan-

kepingan kecil

Setelah berbenturan, empat larik sinar berwar-

na biru dan putih tampak melesat tegak lurus ke atas, kemudian berbaur menjadi satu membentuk beraneka

macam warna mirip pelangi. Hingga, keadaan di ang-

kasa menjadi terang benderang, sementara di dekat

pusat ledakan masih gelap gulita karena pandangan





tertutup oleh gumpalan tanah dan bebatuan yang ber-

hamburan.

Tampak kemudian, tubuh Seno terlontar seki-

tar tiga puluh tombak. Karena dihempaskan oleh tena-ga dorong yang amat kuat, tubuh pemuda tampan itu

jatuh berguling-guling ke tanah

Untunglah, Seno melindungi tubuhnya dengan

'Perisai Dewa Badai', sebuah ilmu pengerahan tenaga dalam yang membuat tubuh Seno jadi kebal. Namun

demikian, Seno tampak meringis kesakitan sewaktu

meloncat bangkit. Walau tidak menderita luka dalam, tapi kepala Seno terasa pening dan pandangannya pun mengabur.

"Aku masih hidup Aku masih hidup" desis Se-no sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk men-

jernihkan pandangannya.

Begitu keadaannya telah pulih seperti sediaka-

la, bergegas Seno meloncati kubangan besar yang terbentuk akibat bentrokan dua ilmu pukulan tadi. Dipu-tarnya pandangan ke segenap penjuru untuk mencari

sosok kakek berikat kepala batik. Namun, orang yang dicarinya itu sudah tak tampak lagi batang hidungnya.

"He Di mana kau, Pak Tua? Jangan lari Kau

masih punya urusan denganku"

Seno berteriak-teriak penuh rasa penasaran.

Kakek berikat kepala batik tetap tak dapat ditemukannya. Dan selagi Seno menggedruk-gedrukkan kakinya

ke tanah karena kesal, telinga pemuda itu menangkap sebuah bisikan yang disampaikan dengan ilmu mengirim suara dari jarak jauh.

"Keparat kau, Anak Muda Walau aku belum

mengenal dirimu, dapatlah aku menebak bila kau tak

lain dari murid Dewa Dungu Pada saatnya nanti, urusan ini akan ku lanjutkan"





Kontan Seno mencak-mencak. Dia dapat men-

genali dengan jelas bila bisikan yang didengarnya itu adalah suara kakek berikat kepala batik.

"Hmmm.... Rupanya, kakek jelek itu masih hi-

dup," gumam Seno. "Heran aku. Menurut penuturan Kakek Dewa Dungu, ilmu pukulan "Dewa Badai Rontokkan Langit' lebih unggul dari ilmu pukulan 'Pelebur Sukma'. Tapi, kenapa kakek yang kuduga sebagai Mahisa Lodra itu tak mati?"

Sebenarnya, ilmu pukulan Seno memang satu

tingkat di atas ilmu pukulan Mahisa Lodra atau Setan Selaksa Wajah. Namun karena Mahisa Lodra telah

memperdalam ilmu itu selama tiga puluh tahun, tentu saja tenaga dalam si kakek meningkat berlipat ganda.

Sementara, Seno baru mendalami ilmu silat selama li-ma tahun. Walau Seno telah menelan sebuah benda

ajaib bernama Capung Kumala, namun tenaga dalam

Seno belum dapat mengungguli tenaga dalam Mahisa

Lodra. Sehingga, ilmu pukulan 'Pelebur Sukma' dan

'Dewa Badai Rontokkan Langit' menjadi seimbang.

Sewaktu terjadi bentrokan dua ilmu pukulan

tadi, Mahisa Lodra mengalami hal serupa dengan Seno.

Tubuh si kakek juga terlontar jauh dan berguling-

guling di tanah. Karena tenaga dalam Mahisa Lodra

sudah sedemikian kuatnya, dia pun tak mengalami lu-

ka dalam. Setelah bangkit, Mahisa Lodra langsung

berkelebat pergi. Dia pikir, bertempur dengan seorang pemuda yang belum punya nama di rimba persilatan,

menang pun tak akan membuatnya lebih termasyhur,

sementara kalau kalah malah akan membuatnya men-

derita malu.





* * *





"Hei Bodoh benar kau, Seno" teriak lantang Kemuning. "Cepatlah kau tolong kakek dan nenek ini"

Seno yang masih tergeluti rasa penasaran tam-

pak terkesiap kaget. Diarahkannya pandangan ke so-

sok Kemuning yang sedang melambaikan tangan. Di

dekat Kemuning terbujur tubuh Karapak dan Salindri.

Saat terjadi ledakan keras tadi, tubuh kakek-nenek

bergelar Sepasang Nelayan Sakti itu turut terlontar.

Tapi, kemudian telah mengangkat tubuh mereka un-

tuk kemudian dibaringkan di sebuah tanah datar be-

rumput.

"Uh Aku memang bodoh Uh Kenapa aku bisa

lupa kalau ada orang yang membutuhkan pertolon-

gan" rutuk Seno kepada dirinya sendiri.

Bergegas Seno meloncat. Karena menggunakan

ilmu 'Lesatan Angin Meniup Badai', Seno telah sampai di hadapan Kemuning dalam beberapa loncatan. Padahal jarak yang dilaluinya tak kurang dari empat puluh tombak

Kening Seno berkerut rapat melihat tubuh Ka-

rapak dan istrinya yang terbaring pingsan di atas tanah. Wajah kakek-nenek itu telah berwarna hijau ma-

tang. Tahulah Seno bila mereka terserang 'Racun Pembunuh Naga'. Sebenarnya, ilmu mengolah udara di da-

lam perut hingga mengandung racun ganas itu meru-

pakan salah satu ilmu andalan Dewa Dungu. Kini, Se-

no pun tahu sosok mayat di Penginapan Asri juga terkena 'Racun Pembunuh Naga'. Hanya karena tergesa-

gesa, sehingga Seno tidak dapat memastikan racun

apa yang bersarang di tubuh ahli silat yang menjadi korban pembunuhan itu

"Pantas Kakek Dewa Dungu tak mau mengajar-

kan ilmu mengolah udara di dalam perut bernama

'Racun Pembunuh Naga', kiranya ilmu itu sangat ga-





nas dan kejam," gumam Seno. "Hmmm.... Bertambah besar keyakinanku bila kakek berikat kepala batik itu adalah Mahisa Lodra, kakak seperguruanku yang telah melenceng dari jalan kebenaran"

"Hei Kenapa kau malah bengong, Seno?" tegur Kemuning melihat Seno berdiri termangu.

"Eh..., ya, ya"

Seno tergagap. Bergegas dia berjongkok seraya

menekan dada kiri Karapak dan istrinya. Seno berna-

pas lega. Walau detak jantung kakek-nenek itu amat

lemah, tapi masih terasa akan adanya tanda-tanda kehidupan.

"Semoga Tuhan berkenan memperpanjang

usiamu, Aki-Nini...," desis Seno.

Saat Seno mengeluarkan Tongkat Dewa Badai

dari balik bajunya, Kemuning menatap tak berkedip.

Walau sikap Seno tampak kebodoh-bodohan, Kemun-

ing percaya bila Seno mempunyai kepandaian hebat.

Dan, dia pun diam saja ketika Seno menempelkan

tongkat mustikanya di urat nadi pergelangan tangan

kanan Karapak.

Hanya dalam dua tarikan napas, warna hijau di

wajah Karapak berangsur-angsur lenyap. Itu berarti

pengaruh 'Racun Pembunuh Naga' di tubuh si kakek

mulai lenyap pula. Di lain kejap, Tongkat Dewa Badai yang berwarna putih bersih menjadi hijau matang.

"Uh... "

Karapak mengeluh pendek, tersadar dari ping-

sannya. Wajah kakek kurus itu telah berwarna merah

sehat. Tongkat Dewa Badai telah menghisap habis ra-

cun yang bersarang di tubuhnya.

"Seno...," desis Karapak, mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Ya. Aku Seno, Kek. Jangan terlalu banyak ber-





gerak dulu. Atur jalan darahmu dengan duduk bersila.

Kek...." Ucapan Seno terdengar amat polos dan lugu.

Namun demikian, Karapak menuruti ucapan pemuda

itu tanpa bertanya apa-apa. Sementara, Seno tampak

bangkit berdiri. Tongkat Dewa Badai yang telah ber-

warna hijau matang dijulurkan lurus ke depan. Saat

Seno mengalirkan tenaga dalam, salah satu ujung

Tongkat Dewa Badai yang runcing menyemburkan

asap berwarna hijau.

"Wusss..."

Seno meniup. Asap yang mengandung 'Racun

Pembunuh Naga' itu segera lenyap diterbangkan angin.

"Kasihan sekali kau, Nek...," desis Seno melihat tubuh Salindri yang masih terbaring pingsan di tanah.

Bergegas Seno mengambil tindakan. Tongkat

Dewa Badai yang telah kembali berwarna putih bersih ditempelkannya di urat nadi pergelangan tangan kanan Salindri. Seperti Karapak, pengaruh racun di tubuh nenek itu pun berangsur-angsur lenyap. Di lain

kejap, Salindri telah duduk bersemadi di sisi sua-

minya.



* * *



"Tak kusangka Sungguh aku tak menyangka"

ujar Karapak setelah sampai di rumah berdinding bi-

lah-bilah papan. "Aku tak menyangka bila kau punya kepandaian sehebat itu, Seno. Ketika bertemu denganmu, aku menduga kau hanya seorang pesilat biasa

yang tak punya kepandaian apa-apa. Kiranya, kau

adalah murid Dewa Dungu yang sangat termasyhur ti-

ga puluh tahun silam. Sungguh aku tak menyang-

ka...."





Seno yang duduk di hadapan Karapak tampak

nyengir kuda. "Kakek jangan terlalu memuji. Aku takut nanti kepalaku membengkak besar...," sergahnya. "Aku pun tak menyangka bila Kakek dan istri Kakek adalah sepasang pendekar bergelar Sepasang Nelayan Sakti.

Sungguh aku juga tak menyangka, Kek...."

"Aku pun demikian. Aku sama sekali tak me-

nyangka bila kau sebenarnya bernama Kemuning, mu-

rid Dewi Pedang Halilintar...," sahut Salindri seperti la-tah. "Sungguh pandai kau menyembunyikan kepan-

daianmu, Kemuning. Benar-benar tak kusangka bila

kau adalah Dewi Pedang Kuning...."

Karapak, Seno, dan Salindri sama-sama menge-

luarkan isi hatinya. Mereka berucap dengan mata berbinar-binar. Namun, Kemuning atau Dewi Pedang

Kuning tampak menundukkan kepala. Lidah si gadis

terasa kelu. Bibirnya terasa kaku untuk diajak mengucap kata-kata,

"Eh, kau kenapa, Kemuning?" tegur Karapak.

"Di antara kita sudah tidak ada rahasia lagi. Adakah sesuatu yang membuat hatimu risau?"

Perlahan Kemuning mengangkat wajah. Dita-

tapnya Karapak dengan sinar mata redup. "Maafkan aku, Ki...," desisnya.

Kontan kening Karapak berkerut rapat. "Kau ti-

dak salah, Kemuning. Justru aku dan Nini Salindri

mesti berterima kasih kepadamu. Bersama Seno, kau

telah menyelamatkan jiwa kami...."

Kemuning diam, menunduk lagi.

"Kau kenapa, Kemuning?" buru Karapak, penasaran. "Maafkan aku, Ki...," ulang Kemuning, lirih.

"Maaf? Kau tidak bersalah."

Kemuning menggeleng. Ditatapnya wajah Kara-





pak dan Salindri bergantian, lalu katanya, "Sebenarnya, penyamaran ku sebagai Sawitri adalah dengan

maksud menyelidiki Aki dan Nini berdua...."

"Maksudmu?" kejar Karapak, tak mengerti.

"Aki tentu sudah tahu, setiap menjelang tanggal satu Suro, banyak peristiwa pembunuhan di Telaga

Dewa. Kaum rimba persilatan yang menginginkan Ko-

dok Wasiat Dewa banyak yang mati di tangan komplo-

tan Lembah Dewa-Dewi...," tutur Kemuning. "Dan..., maafkan kesalahanku dan guruku. Aku dan guruku

menaruh curiga kepada Aki dan Nini...."

"Maksudmu, kau dan Dewi Pedang Halilintar

mencurigai kami sebagai anggota komplotan Lembah

Dewa-Dewi?" tebak Karapak.

Kemuning mengangguk.

Karapak tersenyum seraya berkata, "Kau dan

gurumu memang keliru, tapi tak perlu meminta maaf.

Ketahuilah, aku dan Istriku menyamar sebagai nelayan biasa juga dengan maksud menyelidiki komplotan

pembunuh itu...."

"Perlu juga kau ketahui, Kemuning..., komplo-

tan Lembah Dewa-Dewi benar-benar menyimpan tabir

rahasia yang tak dapat kami pecahkan," tambah Salindri. "Kami tidak tahu berapa jumlah anggota komplotan itu. Yang kami tahu bahwa di dalam komplotan itu terdapat seorang tokoh sakti bernama Mahisa Lodra atau Setan Selaksa Wajah...."

"Kakek berikat kepala batik itu?" cetus Seno ti-ba-tiba, teringat sosok kakek yang memiliki ilmu pukulan 'Pelebur Sukma' dan ilmu mengolah udara di da-

lam perut bernama 'Racun Pembunuh Naga'.

"Ya," jawab Salindri. "Orang yang telah meracuni aku dan suamiku itu adalah Mahisa Lodra. Dengan

ilmu kesaktiannya, dia bisa merubah wajahnya sesuka





hati. Oleh karena itu dia dijuluki Setan Selaksa Wajah.

Selama bertahun-tahun tinggal di tepi Telaga Dewa,

aku terus menyelidiki komplotan Lembah Dewa-Dewi,

termasuk Mahisa Lodra. Hingga kemudian, aku dan

suamiku dapat mengenal salah satu perubahan wajah

tokoh jahat itu. Kalau dia merubah wajahnya menjadi seorang kakek, dia selalu mengenakan ikat kepala

yang terbuat dari kain batik...."

Di ujung kalimat Salindri, Seno hendak menga-

jukan beberapa pertanyaan, namun Kemuning keburu

mendahului.

"Ada kemungkinan bila sesungguhnya komplo-

tan Lembah Dewa-Dewi itu tidak ada."

"Ya. Aku juga menduga demikian, Kemuning,"

sahut Karapak. "Dengan mengubah-ubah wajahnya, Mahisa Lodra melakukan serangkaian pembunuhan.

Tentu saja banyak yang tidak tahu kalau pembunuhan

itu dilakukan oleh satu orang saja. Dan untuk menye-satkan pikiran orang, Mahisa Lodra menyebarkan ka-

bar bila serangkaian pembunuhan itu dilakukan oleh

komplotan Lembah Dewa-Dewi."

"Dengan demikian, dapatlah dianggap bila

komplotan Lembah Dewa-Dewi memang tidak ada," tegas Salindri.

"Bisa ada, bisa tidak," sahut Seno.

Kemuning mengangkat bahu. Karapak dan is-

trinya saling pandang.

"Mahisa Lodra adalah kakak seperguruanku

yang telah melenceng jauh dari jalan kebenaran," geram Seno tiba-tiba. "Dia tega membuat lumpuh Guru yang telah memberinya ilmu kesaktian. Lain itu, dia pun telah melarikan dua bagian kitab milik Kakek De-wa Dungu untuk kemudian digunakan di jalan sesat.

Hmmm.... Kakek Dewa Dungu telah memberi ku kuasa





untuk memecahkan batok kepala murid murtad itu"

"Aku akan membantumu, Seno," sahut Kemun-

ing penuh kesungguhan.

Seno menatap lekat wajah gadis berpakaian

serba kuning itu. Mendadak, darah mudanya berdesir

saat melihat bibir Kemuning mengulum senyum. Seno

teringat kejadian semalam di mana waktu itu dia bersama Kemuning hampir saja terjerumus dalam per-

buatan dosa.

Plok

Tiba-tiba, Seno menggaplok kepalanya sendiri.

"Bodoh sekali aku ini Kenapa aku begitu mudah ter-goda oleh seraut wajah cantik?" rutuknya dalam hati.





6


TANGGAL tiga puluh bulan Besar....

Kota Gambiran berubah menjadi lautan manu-

sia. Para pelancong dari berbagai daerah datang bagai guyuran air bah. Di antara para saudagar kaya dan

bangsawan yang ingin melihat wujud Ikan Mas Dewa,

banyak dijumpai tokoh silat yang telah punya nama

besar di rimba persilatan. Sehingga, Kota Gambiran

benar-benar menjadi ajang pertemuan bagi orang-

orang yang biasa berkecimpung di dunia yang penuh

kekerasan dan pertumpahan darah itu.

Di bawah siraman sinar mentari pagi yang me-

nyapa hangat, seorang pemuda bertubuh tinggi tegap

tampak berjalan perlahan memasuki keramaian kota.

Pemuda remaja berumur tujuh belas tahun itu menge-

nakan pakaian biru-biru dengan ikat pinggang kain

merah. Kulit tubuhnya kuning langsat dan halus se-





perti kulit wanita. Berwajah tampan. Sementara, kedua bola matanya yang bening senantiasa menyiratkan sinar keluguan dan kejujuran. Dia Seno Prasetyo.

Setelah membantu Karapak mencari ikan di Te-

laga Dewa, Seno sengaja mendatangi Kota Gambiran.

Selain untuk menyelidiki dan mencari keterangan pe-

rihal Setan Selaksa Wajah, Seno bermaksud melihat

seberapa banyak orang-orang yang menginginkan Ko-

dok Wasiat Dewa. Sekiranya dapat, Seno juga bermak-

sud mengukur seberapa tinggi ilmu kepandaian mere-

ka.

Setelah berputar-putar beberapa lama, langkah

kaki Seno menapak di lantai Kedai Mawar yang meru-

pakan rumah makan terbesar di Kota Gambiran.

Seorang pelayan setengah baya menyambut ke-

datangan Seno dengan senyum ramah. Namun, di ba-

lik senyum ramah si pelayan, Seno melihat rasa kha-

watir yang memancar dari sorot mata pelayan berpa-

kaian putih-putih itu.

Di hati si pelayan memang tersimpan rasa

khawatir. Bukan karena kehadiran Seno, tapi karena

di kedai tempatnya bekerja telah didatangi beberapa tokoh silat yang tampak kasar dan garang. Si pelayan khawatir bila mereka akan membuat onar.

Namun, kehadiran beberapa tokoh silat itu ju-

stru membuat senang hati Seno. Maka dengan lagak

dibuat-buat seperti orang agung, Seno duduk di kursi dengan punggung ditegakkan dan wajah sedikit diten-gadahkan. Diambilnya beberapa keping uang logam

dari saku. bajunya. Lalu, uang pemberian Karapak itu diberikan kepada pelayan setengah baya.

"Berikan aku anggur yang paling bagus dan

makanan yang paling enak," pinta Seno.

Kening si pelayan langsung berkerut. Selama





bekerja sebagai pelayan kedai, belum pernah dia men-jumpai orang yang memesan makanan dengan membe-

rikan uang terlebih dulu. Namun, rasa heran di hati lelaki berpakaian putih-putih itu segera berubah menja-di rasa geli. Setelah menatap wajah Seno beberapa

saat, dia berlalu sambil mengulum senyum. Sejenak,

kekhawatiran di hati si pelayan lenyap.

Seno duduk diam menanti pesanannya. Sikap-

nya acuh tak acuh walau tahu banyak mata memper-

hatikan. Sementara, di sudut ruangan kedai sebelah

belakang tampak seorang gadis cantik yang juga tak

lepas memperhatikan semua gerak-gerik Seno. Gadis

berpakaian serba kuning itu duduk semeja dengan

seorang nenek yang juga berpakaian serba kuning.

Walau sudah tua, wajah si nenek masih menyiratkan

sinar kecantikan.

Seno terkesiap saat mendengar seruan yang di-

tujukan kepada dirinya.

"Dasar Pendekar Bodoh Tolol benar kau Mau

makan saja harus membayar lebih dulu"

Walau merasa tersinggung, Seno diam saja. Si-

kapnya tetap acuh tak acuh. Namun, diam-diam hati

Seno berdesir juga. Dia hafal akan warna suara orang yang telah mengolokinya itu.

"Dasar Pendekar Bodoh Tahu dihina orang,

kenapa diam saja?"

Sekali lagi, terdengar seruan yang ditujukan

kepada Seno. Seruan pertama dan kedua itu berasal

dari mulut yang sama, yaitu gadis cantik yang duduk semeja dengan seorang nenek berambut panjang digelung ke atas.

Tak kuasa lagi Seno menahan rasa ingin ta-

hunya. Dan, berbinarlah bola mata pemuda lugu ini

ketika melihat orang yang telah mengolokinya ternyata





Kemuning. Namun, Seno segera menundukkan kepala

karena melihat nenek yang duduk semeja dengan Ke-

muning tampak memandangnya tanpa berkedip.

"Biarlah aku pura-pura tak mengenal Kemun-

ing. Agar nanti gadis itu tak membuatku repot," pikir Seno. Seno benar-benar mengikuti pikiran di benaknya. Tapi sambil menunduk, dia memperhatikan pe-

nampilan si nenek yang terus mengawasinya.

"Kemuning pernah mengatakan ciri-ciri gu-

runya yang bergelar Dewi Pedang Halilintar. Tampak-

nya, nenek yang terus memandangku itulah Dewi Pe-

dang Halilintar," pikir Seno lagi.

Sementara, melihat sikap Seno yang kembali

acuh tak acuh, Kemuning jadi sebal. Bibirnya cembe-

rut. Lalu dengan suara lebih lantang, dia berseru lagi.

"Dasar Pendekar Bodoh Apa kau tak tahu ka-

lau ada banyak mata yang memperhatikan dirimu?"

"Hus Jangan mencari gara-gara" tegur nenek bersanggul yang memang Dewi Pedang Halilintar.

"Aku tidak mencari gara-gara, Eyang. Aku

hanya sebal melihat sikap pemuda itu. Dia berpura-

pura tidak mengenalku" kilah Kemuning.

"Hmmm.... Begitu? Siapa dia?" tanya Dewi Pedang Halilintar, tertarik. Nenek ini turut merasa penasaran melihat sikap Seno.

"Bukankah aku telah bercerita kepada Eyang

tentang Sepasang Nelayan Sakti. Pemuda itulah yang

telah menyelamatkan nyawa mereka dari keganasan

'Racun Pembunuh Naga'," beri tahu Kemuning.

"Seno Prasetyo?"

"Ya. Dia Pendekar Bodoh"

Mendengar kata-kata Kemuning yang cukup

keras, semua orang yang berada di kedai langsung





mengarahkan pandangan lagi ke arah Seno. Dan kare-

na kata-kata Kemuning itulah, di kelak kemudian hari tokoh-tokoh rimba persilatan lebih mengenal Seno sebagai Pendekar Bodoh.

Sementara, Seno masih melanjutkan sikap

acuh tak acuhnya. Namun dalam hati dia berkata,

"Sebenarnya, panas juga telingaku mendengar Kemuning terus mengatakan aku sebagai Pendekar Bodoh.

Tapi, tak apa. Biarlah orang banyak mengenalku sebagai Pendekar Bodoh asal aku tidak benar-benar bo-

doh." Seno nyengir kuda sejenak. Lewat ekor matanya, dia melihat wajah Kemuning yang tampak cem-

berut. "Sehari yang lalu, gadis itu pergi tanpa berpami-tan kepadaku. Rupanya, dia hendak menemui gu-

runya," kata hati murid Dewa Dungu ini. "Hmmm....

Apakah dia bermaksud mempertemukan Dewi Pedang

Halilintar dengan Sepasang Nelayan Sakti?"

Bola mata Seno berbinar ketika melihat pelayan

setengah baya telah datang menyuguhkan anggur dan

makanan pesanannya. Tanpa ambil pusing dengan

keadaan di sekitarnya lagi, Seno menyantap makanan-

nya. Suara kecapan mulut terdengar jelas karena Seno makan seperti orang kelaparan.

"Agaknya, di kedai ini ada seekor monyet yang

habis puasa satu bulan. Ha ha ha..."

Mendadak, terdengar suara sindiran yang di-

ikuti tawa bergelak. Tanpa sadar Seno menghentikan

makannya. Dengan kening berkerut rapat, Seno mena-

tap seorang kakek kurus yang mengucap sindiran tadi.

Kakek berpakaian kuning-hitam itu duduk se-

meja dengan seorang kakek yang sebaya dengannya

namun bertubuh gemuk bundar. Mereka adalah Dua

Iblis Dari Gunung Batur. Yang kurus dikenal dengan





julukan Iblis Perenggut Roh, dan yang gemuk berjuluk Iblis Pencabut Jiwa.

Tersinggung juga Seno disindir sebagai seekor

monyet. Namun sebelum dia membalas ejekan Iblis Pe-

renggut Roh itu, dari sisi kiri tempat duduk Seno terdengar suara lantang.

"Sungguh kau tak tahu diri, Iblis Perenggut

Roh Seorang pemuda tampan kau katakan seekor

monyet, lalu kau yang sudah bangkotan itu lebih pantas disebut apa?"

Yang berkata adalah seorang kakek berwajah

halus, mengenakan pakaian serba hijau seperti orang terpelajar. Dia bernama Bagus Tembini, namun lebih

dikenal sebagai Sastrawan Berbudi.

Di samping kakek berambut putih tergerai itu

duduk seorang tokoh tua lain bergelar Pendeta Tasbih Terbang. Dia memang seorang pendeta ahli silat. Dengan kepala gundul licin, wajah si pendeta menyiratkan sikap welas asih. Tubuhnya yang tinggi besar terbungkus jubah kuning dan di bahunya terselampir kain

merah bercorak kotak-kotak. Seuntai tasbih melingkar di leher kakek yang tampak amat pendiam itu.

"Hmmm.... Keparat kau, Sastrawan Jelek" geram iblis Perenggut Roh. "Aku berkata tidak menyindir dirimu. Kenapa kau mencampuri urusan orang? Apakah monyet geblek itu anakmu?"

"Bukan. Tapi, cobalah kau jaga mulutmu. Apa

kau tak tersinggung bila disamakan dengan seekor

monyet?" sahut Sastrawan Berbudi yang tampaknya menaruh belas kasihan kepada Seno.

Mendelik mata Iblis Perenggut Roh. Kakek ku-

rus yang punya sifat berangasan ini naik darah. Dan, semakin mendidih saja darah Iblis Perenggut Roh ketika Dewi Pedang Halilintar turut memojokkannya.





"Dari dulu kau selalu menyebut orang seenak

perutmu sendiri Sebenarnya, kalau kau mau berkaca

sebentar saja, maka kau akan tahu bagaimana wajah-

mu yang mirip tikus comberan itu"

Ucapan Dewi Pedang Halilintar diikuti suara

tawa bergemuruh pengunjung kedai. Maka, tak dapat

digambarkan lagi betapa marahnya Iblis Perenggut

Roh. Dengan sinar mata berapi-api, dia menatap wajah Dewi Pedang Halilintar.

"Kurang ajarrr... Apa kau tidak tahu sedang

berhadapan dengan siapa?" bentak Iblis Perenggut Roh seraya bangkit dari tempat duduknya.

Bibir Dewi Pedang Halilintar mengulum se-

nyum. "Siapa yang tak kenal kau? Sekali lihat, setiap orang pasti akan mengingat dirimu seumur hidup. Karena, kau punya mulut monyong dan kumis kaku pan-

jang yang benar-benar mirip tikus comberan"

"Bangsat"

Sambil memaki, Iblis Perenggut Roh menjejak

lantai. Mendadak, tubuh kakek kurus ini melayang cepat seperti burung walet. Jemari tangan kanannya terkepal dan menjulur lurus ke depan.

Para pengunjung kedai yang telah mengenal Ib-

lis Perenggut Roh terperangah. Mereka menatap kelebatan tubuh si kakek tanpa berkedip. Walau tahu Iblis Perenggut Roh punya sifat berangasan, mereka sama

sekali tak menyangka bila si kakek hendak menjatuh-

kan tangan maut.

Kepalan tangan kanan Iblis Perenggut Roh me-

mang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi. Sekali lihat, Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang tahu

kalau Iblis Perenggut Roh bermaksud menghantam

dada Dewi Pedang Halilintar dengan pukulan

'Merenggut Roh Mencabut Jiwa'. Karena ilmu pukulan





itulah nama Dua Iblis dari Gunung Batur pernah beberapa kali menggegerkan rimba persilatan karena ber-

hasil mengalahkan tokoh-tokoh jajaran atas. Sayang-

nya, Dua Iblis dari Gunung Batur lebih terkenal sebagai dua tokoh beraliran hitam yang sering membuat

onar. Oleh karena itu, mereka memang lebih pantas

dipanggil 'iblis'.

Set...

Dewi Pedang Halilintar yang telah mengetahui

kehebatan ilmu pukulan 'Merenggut Roh Mencabut Ji-

wa' bergegas bangkit seraya menghunus pedang yang

terselip di punggungnya. Cepat sekali gerakan guru

Kemuning ini. Di lain kejap, terdengar ledakan keras menggelegar mirip halilintar. Akibatnya, lantai kedai bergetar. Semua meja dan kursi yang masih kosong

tampak bergeser.

Semua mata memandang tak berkedip ketika

tubuh Iblis Perenggut Roh tertahan di udara, lalu jatuh terduduk di lantai. Namun, kakek kurus ini dapat segera bangkit karena tak mendapat luka apa-apa.

Hanya wajahnya yang tampak pucat-pasi karena ter-

hantam keterkejutan.

Sastrawan Berbudi, Pendeta Tasbih Terbang,

dan Seno menghela napas panjang menyaksikan ade-

gan mendebarkan yang baru saja berlangsung. Iblis

Pencabut Jiwa yang tak sempat berbuat apa-apa pun

menarik napas lega. Mata mereka yang tajam dapat

melihat dengan jelas apa yang telah dilakukan oleh

Dewi Pedang Halilintar.

Sewaktu kepalan tangan Iblis Perenggut Roh

kurang sedepa untuk mengenai sasaran, Dewi Pedang

Kuning mengibaskan bilah pedang yang telah dihu-

nusnya. Kibasan pedang di tangan nenek berilmu ting-gi itu menimbulkan ledakan keras yang mampu mena-





han terjangan Iblis Perenggut Roh.

"Jahanam kau, Nenek Kudisan" geram Iblis Perenggut Roh, menahan rasa malu. "Saat ini juga aku menantangmu untuk bertempur seribu jurus"

Usai berkata, Iblis Perenggut Roh melirik sau-

dara seperguruannya. Sebagai seorang tokoh golongan hitam, dia tak merasa malu untuk meminta bantuan

Iblis Pencabut Jiwa.

Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang

tampak geleng-geleng kepala melihat perilaku Iblis Perenggut Roh yang tak mengindahkan aturan di rimba

persilatan. Mereka menganggap Iblis Perenggut Roh

sebagai manusia yang tak tahu diri. Andai Dewi Pe-

dang Halilintar bermaksud menurunkan tangan maut

pada gebrakan tadi, mana mungkin Iblis Perenggut

Roh masih dapat menghirup udara segar.

Tapi tampaknya, Dewi Pedang Halilintar yang

punya sifat keras kepala dan sedikit tinggi hati bersedia meladeni tantangan Iblis Perenggut Roh. Dia julurkan pedangnya yang terbuat dari logam pilihan ber-

warna kuning ke muka Iblis Perenggut Roh.

"Tua bangka tak tahu malu Tak sampai lima

puluh jurus pun kepalamu pasti menggelinding di ke

tanah" ujar Dewi Pedang Halilintar.

"Baik Baik Kita keluar mencari tempat yang

lebih lapang" sambut Iblis Perenggut Roh.

"Tunggu"

Tiba-tiba terdengar teriakan keras menggelegar.

Semua orang langsung mengarahkan pandangan ke

Sastrawan Berbudi yang telah bangkit berdiri.

"Tahan hawa amarah" Sastrawan Berbudi melanjutkan teriakannya. "Kalian sudah tua. Kenapa masih bersifat kekanak-kanakan? Hanya karena persoa-

lan sepele, darah tak perlu ditumpahkan Lebih baik





kalian menyimpan tenaga untuk digunakan esok hari"

Yang dimaksud 'esok hari' oleh Sastrawan Ber-

budi adalah perebutan Kodok Wasiat Dewa di Telaga

Dewa. Tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan

benda ajaib yang tersimpan di dalam perut Ikan Mas

Dewa itu. Karena, di rimba persilatan sudah lama ter-siar kabar bila Ikan Mas Dewa memiliki kekuatan luar biasa. Kibasan ekornya saja sudah cukup mampu untuk menggulingkan dua puluh perahu sekaligus.

"Kita pergi"

Sambil berkata demikian, Dewi Pedang Halilin-

tar menyarungkan pedangnya seraya menggamit len-

gan Kemuning. Setelah meninggalkan beberapa keping

uang logam di meja, nenek bersanggul itu berkelebat keluar kedai. Setengah terpaksa, Kemuning mengikuti.

Agaknya, Dewi Pedang Halilintar mau menuruti nasi-

hat Sastrawan Berbudi.

Namun, Iblis Perenggut Roh tidak demikian.

Karena tergeluti rasa malu dan penasaran, dia ber-

maksud mengajak kakak seperguruannya untuk men-

gejar Dewi Pedang Halilintar. Tapi, Iblis Perenggut Roh jadi kecewa karena Iblis Pencabut Jiwa menolak aja-kannya dengan menggeleng-gelengkan kepala.

"Biarkan nenek itu pergi" ujar Iblis Pencabut Jiwa seraya menenggak segelas arak. Tubuhnya yang

gemuk bulat tampak bergoyang-goyang ketika cairan

arak keras mengalir ke dalam perutnya.

"Tapi..., dia telah membuatku malu" desak Iblis Perenggut Roh.

"Kau dengar ucapanku tidak?" bentak Iblis Pencabut Jiwa. Cairan arak yang masih tersisa di

rongga mulutnya menyemprot keluar.

"Dia telah mencoreng mukaku" dengus Iblis Perenggut Roh dengan mata mendelik. "Walau kau tak





mau membantu, aku akan tetap membuat perhitungan

dengan nenek cerewet itu"

Iblis Perenggut Roh menjejak tanah untuk sege-

ra berkelebat keluar kedai. Tapi tiba-tiba, Iblis Pencabut Jiwa bangkit berdiri. Cepat sekali tangan kanannya bergerak

Plak...

"Uhhh..."

Memekik kesakitan Iblis Perenggut Roh. Tu-

buhnya berpusing ke kanan terkena tamparan Iblis

Pencabut Jiwa.

Setelah mendapat tamparan yang cukup keras

itu, Iblis Perenggut Roh berdiri terpaku dengan kepala tertunduk. Rupanya, dia menyimpan rasa takut terhadap kakak seperguruannya.

"Ha ha ha..."

Mendadak, terdengar suara tawa lepas berderai.

Kontan Iblis Perenggut Roh menggeram marah. Bola

matanya melotot besar, tak berkedip menatap Seno

yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.

"Hei Apa yang kau tertawakan, Monyet Bau?"

bentak Iblis Perenggut Roh dengan muka merah pa-

dam. "Eh Eh Maaf, Pak Tua...," ujar Seno, gelaga-pan. "Kau mentertawakan aku, heh?"

"Ya. Eh..."

Cepat Seno mendekap mulut karena kelepasan

bicara. Tadi, pemuda lugu ini memang merasa geli melihat sikap iblis Perenggut Roh yang tampak begitu takut kepada Iblis Pencabut Jiwa.

"Jahanam" geram Iblis Perenggut Roh.

Kakek kurus yang merasa terhina itu tak kuasa

menahan hawa amarah. Jajaran giginya yang bertau-





tan memperdengarkan suara gemelutuk. Seluruh rasa

kesalnya tertumpah pada Seno.

Dengan sorot mata tajam menusuk, Iblis Pe-

renggut Roh menghampiri. Begitu sampai di hadapan

Seno, tangan kanan Iblis Perenggut Roh melayang un-

tuk menepuk bahu kiri si pemuda

Melihat Seno yang tampak tenang-tenang saja,

seluruh pengunjung kedai terbelalak. Walau hanya sebuah tepukan, jangan dikira jemari tangan Iblis Pe-

renggut Roh tidak berbahaya. Karena, tepukan itu disertai ilmu pukulan 'Merenggut Roh Mencabut Jiwa'

Balok baja pun akan lumer terkena pukulan tokoh se-

sat itu, apalagi bahu seorang pemuda yang hanya terdiri dari tulang dan segumpal daging empuk

"Jangan" cegah Pendeta Tasbih Terbang yang sedari tadi cuma diam. Kakek gundul ini langsung meloncat bangkit untuk menolong jiwa Seno, tapi mana

sempat?

Ketika telapak tangan Iblis Perenggut Roh

hampir menyentuh bahu Seno, semua pengunjung ke-

dai memejamkan mata karena tak tega melihat akibat

yang akan diterima si pemuda yang bertampang kebo-

doh-bodohan. Hanya Iblis Pencabut Jiwa yang tampak

tenang-tenang saja melihat perbuatan adik sepergu-

ruannya.

Kakek bertubuh gemuk bulat itu memang telah

terbiasa melihat Iblis Perenggut Roh melakukan tindakan semena-mena.

Sementara, Seno yang diam tak bergeming bu-

kan tidak tahu kalau ada bahaya yang sedang men-

gancam jiwanya. Pada waktu terjadi bentrokan antara Dewi Pedang Halilintar dengan Iblis Perenggut Roh ta-di, Seno sudah dapat mengukur sampai di mana kehe-

batan ilmu pukulan Iblis Perenggut Roh.





Maka ketika merasakan tiupan angin dingin

yang dibarengi bau anyir darah yang menebar dari telapak tangan Iblis Perenggut Roh, Seno mengalirkan

kekuatan tenaga dalam ke bahu kirinya. Dengan ilmu

'Perisai Dewa Badai', Seno bermaksud menadahi tepu-

kan maut Iblis Perenggut Roh

Blammm...

Terdengar suara ledakan cukup keras. Sekali

lagi, semua pengunjung kedai membelalakkan mata,

termasuk Iblis Pencabut Jiwa. Mereka terperangah melihat tubuh Iblis Perenggut Roh yang tiba-tiba mencelat dan membentur dinding kedai sampai jebol Sementara, Seno masih duduk diam di tempatnya sambil cen-

gar-cengir

Rupanya, ilmu pukulan 'Merenggut Roh Men-

cabut Jiwa' tak mampu menembus ilmu kebal Seno

yang bernama 'Perisai Dewa Badai'. Beberapa orang

tampak bertepuk tangan melihat kehebatan Seno.

Yang lainnya, menyampaikan rasa kagumnya dengan

tatapan mata. Hal itu membuat Seno salah tingkah.

"Aku pergi saja Aku pergi saja" desis Seno sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Saat Iblis Perenggut Roh kembali masuk ke ke-

dai dengan langkah sempoyongan, Seno beranjak per-

gi. Karena terburu-buru, tanpa sadar Seno mengguna-

kan ilmu 'Lesatan Angin Meniup Dingin'.

"Astaga" seru beberapa orang ketika melihat tubuh Seno berkelebat amat cepat seakan dapat

menghilang.

Suasana kedai jadi ramai karena semua pen-

gunjung membicarakan kehebatan Seno. Demikian ju-

ga dengan Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Ter-

bang. "Siapa dia?" tanya Sastrawan Berbudi.





"Kalau tidak salah aku mendengar, tadi murid

Dewi Pedang Halilintar menyebut pemuda itu sebagai

Pendekar Bodoh," jawab Pendeta Tasbih Terbang.

Mendengar ucapan kakek berkepala gundul itu,

seluruh pengunjung kedai semakin ramai membicara-

kan Seno yang disebut-sebut sebagai Pendekar Bodoh.





7


PUCUK-PUCUK cemara meliuk gemulai tersapu


hembusan sang bayu. Burung parkit aneka warna

bernyanyi dalam canda riang. Namun, kegembiraan di

hati mereka segera terhalau manakala bau anyir darah menebar. Bau menusuk hidung itu berasal dari halaman rumah sederhana yang terbuat dari bilah-bilah

papan. Ketika hembusan sang bayu bertambah ken-

cang, bau anyir darah semakin menyengat. Belasan

burung parkit mencicit ngeri seraya terbang ke angka-sa luas. Mereka tak kuasa melihat sebuah pemandan-

gan yang sungguh amat mengenaskan.

Di halaman rumah papan yang tak beberapa

jauh dari Telaga Dewa tampak dua sosok mayat terbu-

jur kaku dalam keadaan telentang. Pakaian kedua

orang yang telah dijemput ajal itu penuh lumuran darah yang mulai mengering.

Wajah kedua mayat itu sama-sama menggam-

barkan rasa penasaran. Rahang mereka tampak meng-

gembung hingga berbentuk balok persegi empat. Dan,

bola mata mereka pun melotot besar dengan mulut

ternganga lebar.

Mereka adalah seorang kakek dan nenek. Dili-





hat dari garis-garis wajahnya, mereka tak lain dari Karapak dan Salindri alias Sepasang Nelayan Sakti

"Ya, Tuhan...."

Sebuah pekik parau merobek suasana sepi.

Dengan menyebut nama Sang Penguasa Tunggal, seo-

rang pemuda remaja berlari panik penuh rasa tidak

percaya. Pemuda berpakaian biru-biru dengan ikat

pinggang kain merah itu membelalakkan mata. Seku-

jur tubuhnya bergetar karena jantungnya berdegup lebih kencang.

"Kakek Karapak.... Nenek Salindri...," sebut si pemuda yang tak lain dari Seno Prasetyo.

Tak percaya pada penglihatannya sendiri, Seno

memeriksa jalan napas Karapak dan Salindri. Diperik-sanya pula detak jantung sepasang suami-istri berusia lanjut itu. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Jiwa mereka memang telah melayang beberapa waktu yang lalu.

Sejenak Seno mengedarkan pandangan. Tak

ada manusia lain yang terlihat. Suasana sunyi sepi.

Hanya desau angin yang terdengar.

"Pembunuh kejam itu tentu telah pergi...," pikir Seno, raut wajah keruh. Lalu dengan suara bergetar, pemuda lugu ini berkata, "Kakek dan nenek yang baik..., kasihan sekali kau.... Aku tahu Kakek dan Nenek berdua mati dibunuh orang. Percayalah kepadaku.

Akan kubalas tindakan biadab ini. Ya. Akan kubalas

tindakan biadab ini"

Setelah mengatakan tekadnya, Seno memeriksa

lagi jenazah Karapak dan Salindri. Tepat di ulu hati kakek-nenek itu terdapat luka berlubang yang tembus sampai ke punggung.

"Hmmm.... Aku tahu kakek dan nenek ini dibu-

nuh orang dengan tusukan senjata tajam. Mungkin

pedang atau senjata semacamnya," pikir Seno.





Murid Dewa Dungu ini mengedarkan pandan-

gan lagi, lalu melangkah untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai petunjuk mencari si pembunuh. Seno memasuki rumah bilah-bilah papan. Na-

mun, di rumah sederhana itu, Seno tak menemukan

apa-apa. Seno berdiri termangu sejenak. Hatinya be-

nar-benar sedih dan perih teriris-iris. Selama beberapa hari tinggal bersama Karapak dan Salindri, kakek-nenek bergelar Sepasang Nelayan Sakti itu telah memperlihatkan sikap ramah dan penuh kasih sayang.

Terbayang di benak Seno, ucapan Karapak

yang ingin menjodohkan dirinya dengan Kemuning.

Ucapan si kakek yang mengiang di telinga itu membuat hati Seno makin sedih. Hingga, pada puncak kesedi-hannya, Seno teringat pada sosok Ibunya yang juga

mati dibunuh orang.

Dengan langkah gontai, Seno keluar rumah. Di-

tatapnya langit biru yang ditebari awan perak. Di atas sana, Seno seakan dapat melihat sosok ibunya yang

bernama Dewi Ambarsari atau Putri Bunga Putih.

"Maafkan Seno, Bu...," desis Seno, tetap me-nengadahkan wajah. "Belum dapat aku mencari siapa orang-orang yang telah menyengsarakan Ibu, kini Seno mesti kehilangan dua orang tua yang juga menyayangi Seno. Seno sedih sekali, Bu. Seno bersalah.... Seno tak mampu mencegah tindakan kejam itu...."

Seno menumpahkan rasa sedihnya dengan

berkata-kata seorang diri. Namun, Seno tak mau me-

nangis. Karena kalau menangis, berarti dia tidak tabah. Dan kalau tidak tabah, berarti dia tak kuasa men-jalani hidup yang memang penuh tantangan dan co-

baan. Begitulah pengertian yang telah mendarah dag-





ing dalam diri Seno sejak kecil.

Dengan langkah masih gontai, Seno melangkah

ke halaman samping rumah. Mendadak, langkah pe-

muda lugu itu terhenyak. Cepat diambilnya sebatang

kayu besi yang tergeletak di tanah. Batang kayu berwarna hitam itu ternyata potongan dayung perahu.

"Dayung ini senjata Kakek Karapak," desis Se-no, mengamati potongan kayu di tangannya. "Dayung ini terpapas jadi dua karena tebasan senjata tajam.

Hmmm.... Bersama Nenek Salindri, Kakek Karapak

tentu habis melakukan pertempuran sengit melawan

orang bersenjata pedang atau golok."

Melangkah lagi Seno. Di balik tonjolan batu be-

sar, Seno menemukan joran pancing yang juga telah

terpotong sebagian. Bekas potongannya rata karena

memang tertebas oleh senjata tajam,

"Joran pancing ini senjata Nenek Salindri. Aku yakin bila pembunuh itu memang seorang pesilat yang mahir memainkan senjata pedang atau golok," pikir Seno. "Tapi, siapa? Mungkinkah Setan Selaksa Wajah?

Atau, orang lain anggota komplotan Lembah Dewa-

Dewi?" Seno cengar-cengir, tak mampu menjawab pertanyaan di benaknya. Tapi mendadak, bola mata pe-

muda berwajah tampan itu melotot. Di bawah batang

pohon cemara, dia melihat sesosok tubuh terbaring

miring. Bergegas Seno meloncat menghampiri. Sosok

tubuh yang dilihat Seno itu mengenakan pakaian ser-

ba kuning. Rambutnya yang telah berwarna dua dige-

lung ke atas. Dan, di punggungnya terikat sarung pedang kosong.

Seno terkesiap ketika tahu jemari tangan kanan

sosok tubuh itu mencengkeram sebatang pedang yang





terbuat dari logam pilihan berwarna kuning. Dan, bilah pedang itu penuh berlumuran darah yang telah mengering "Dewi Pedang Halilintar..." pekik Seno setelah dapat mengenali sosok tubuh yang ditemukannya

Tanpa pikir panjang lagi, Seno memeriksa kea-

daan sosok tubuh yang memang Dewi Pedang Halilin-

tar itu. Seno dapat merasakan detak jantung si nenek, berarti guru Kemuning itu masih hidup.

Namun, Seno terkesiap lagi saat menemukan

sebentuk luka di bahu kiri Dewi Pedang Halilintar. Lu-ka itu tidak seberapa besar, seperti bekas cabikan. Se-no segera dapat memastikan bila luka di bahu guru

Kemuning itu bekas sambaran mata pancing

Kontan mata Seno berkilat-kilat karena tergelu-

ti pikiran tak enak. Seperti orang kesetanan, Seno

membalikkan tubuh Dewi Pedang Halilintar. Di pung-

gung si nenek, Seno menemukan luka memar akibat

benturan senjata tumpul.

Benak Seno semakin digeluti pikiran tak enak.

Dapat dipastikan bila dua luka di tubuh Dewi Pedang Halilintar akibat senjata Salindri dan Karapak, yang memang biasa menggunakan senjata alat pancing dan

dayung perahu. Melihat darah yang melumuri pedang

Dewi Pedang Halilintar, kemungkinan besar nenek bersanggul Itulah yang telah membunuh Sepasang Ne-

layan Sakti. Bukankah tubuh Dewi Pedang Halilintar

terdapat luka akibat senjata Karapak dan Salindri?

Ingin rasanya Seno memecahkan batok kepala

Dewi Pedang Halilintar saat itu juga. Tapi, dia tak mau berbuat gegabah. Dia harus dapat membuktikan kebe-narannya dulu.

Tak sabaran lagi Seno menotok beberapa jalan

darah di tubuh Dewi Pedang Halilintar. Setelah nenek





bersanggul itu siuman, Seno hendak mengorek penga-

kuan darinya.

"Uh..."

Pada totokan kelima di dada kiri, Dewi Pedang

Halilintar mengeluh pendek, tersadar dari pingsannya.

Karena si nenek menderita luka dalam akibat pukulan dayung, tangannya langsung mendekap dadanya yang

sesak. "Pendekar Bodoh...," desis Dewi Pedang Halilintar, mengerjap-ngerjapkan mata.

"Ya. Ini aku," sahut Seno, cepat. "Engkaukah yang telah membunuh Sepasang Nelayan Sakti?"

"Uh..."

Dewi Pedang Halilintar mengeluh kesakitan,

mencoba duduk sambil memegangi punggungnya. Se-

no memungut bilah pedang kuning yang terlepas dari

cekalan nenek bersanggul itu.

"Kau dengar perkataan ku tidak, Nek?" ujar Se-no, menunjukkan bilah pedang yang berlumuran da-

rah. "Engkaukah yang telah membunuh Sepasang Nelayan Sakti?"

"Uh..."

Mengeluh lagi Dewi Pedang Halilintar. Nafasnya

terdengar memburu. Seno mendelikkan mata melihat

si nenek menundukkan kepala, tak menjawab perta-

nyaannya.

"Aku tahu kau terluka dalam," ucap Seno, keras membentak. "Walau begitu, tentu kau masih bisa menjawab pertanyaanku. Engkaukah yang telah membunuh Sepasang Nelayan Sakti?"

Tak Juga menjawab Dewi Pedang Halilintar. Dia

terus menunduk sambil mendesah-desah. Seno men-

dengus gusar. Andai Seno tak ingat nasihat ibunya

bahwa Seno harus berlaku sopan dan hormat kepada





siapa saja terutama kepada orang tua, pastilah saat itu Seno telah menonjok mulut Dewi Pedang Halilintar

yang tak mau menjawab pertanyaannya.

"Pedangmu ini berlumuran darah, Nek" geram Seno yang masih memegang bilah pedang kuning. "Kalau kau tidak segera menjawab pertanyaanku, maka

darah yang melumuri pedang ini akan bertambah lagi

Kau tak menjawab, berarti kau mengakui. Engkaulah

pembunuh Sepasang Nelayan Sakti"

"Bukan...," sahut Dewi Pedang Halilintar, lirih seperti orang menggumam.

"Bukan? Lalu, siapa?" desak Seno.

Dewi Pedang Halilintar diam. Kepalanya me-

nunduk lagi. Seno jadi sebal karena si nenek terus

mendesah-desah.

"Kakek Karapak dan Nenek Salindri mati terke-

na tusukan senjata tajam. Dan, aku menemukan diri-

mu yang pingsan dengan memegang pedang berlumu-

ran darah. Sementara, aku tahu di bahu kirimu terdapat luka sambaran mata pancing senjata Nenek Salin-

dri. Lain itu, di punggungmu terdapat luka memar akibat pukulan benda tumpul yang kemungkinan besar

adalah pukulan dayung perahu senjata Kakek Kara-

pak," ujar Seno, panjang lebar. "Melihat bukti-bukti yang sedemikian kuat, apakah kau mau mungkir?"

"Aku tidak membunuh mereka...," elak Dewi Pedang Halilintar. "Aku tidak membunuh siapa-siapa...."

"Lalu, darah yang melumuri pedangmu ini da-

rah siapa?" sergap Seno.

"Darah Karapak dan istrinya."

"Kalau begitu, memang engkaulah pembunuh

Sepasang Nelayan Sakti itu"

"Bukan"





"Ngaco belo Kau jangan membuatku bingung,

Nek Kau jangan berkata terbelit-belit"

Seno membentak keras sekali. Bahunya naik

turun karena desakan napas memburu. Amarah Seno

benar-benar hendak meledak. Walau Seno bukanlah

seorang pemuda yang gampang naik pitam, tapi kare-

na desakan rasa sedih dan kehilangan, darahnya jadi mendidih. Apalagi, Dewi Pedang Halilintar tak segera memberi penjelasan.

"Kau akui bila darah yang melumuri pedangmu

adalah pedang Sepasang Nelayan Sakti, tapi kenapa

kau tak mau mengakui bila kaulah pembunuh kakek-

nenek itu?" seru Seno dengan sorot mata berkilat-kilat. "Aku tidak membunuh siapa-siapa...," sahut Dewi Pedang Halilintar.

Bummm...

Terdesak rasa jengkel, Seno menggedruk tanah.

Tanpa sadar gedrukannya disertai tenaga dalam. Aki-

batnya, bumi berguncang, dan tubuh Dewi Pedang Ha-

lilintar jatuh berguling-guling.

"Dasar Pendekar Bodoh" maki Dewi Pedang

Halilintar kemudian. Bola matanya melotot besar, tak berkedip menatap wajah Seno.

Melihat perubahan sikap si nenek, Seno meng-

geram marah. "Aku memang Pendekar Bodoh Tapi, kalau cuma memecahkan kepala seseorang pembunuh

kejam macam kau, kurasa aku cukup mampu"

"Aku bukan pembunuh" elak Dewi Pedang Halilintar. Usai berkata, guru Kemuning ini mendekap

dadanya, yang sesak. Dia lalu terbatuk-batuk.

Melihat penderitaan si nenek, Seno jadi iba dan

kasihan. Tapi setelah ingat bila dia punya bukti kuat untuk menuduh si nenek sebagai seorang pembunuh,





cepat Seno menepis rasa iba dan kasihannya. Ditatapnya wajah si nenek dengan sorot mata makin berapi-

api.

Tapi, Dewi Pedang Halilintar yang punya sifat

tinggi hati balas menatap tajam pula. Walau menderita luka dalam, dia tidak gentar sama sekali melihat tatapan Seno yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.

"Aku bukan pembunuh" seru si nenek lagi.

"Bukti sudah cukup kuat Kau jangan mung-

kir" bentak Seno.

"Aku tidak mungkir Aku memang bukan pem-

bunuh Dasar kau Pendekar Bodoh Mana tahu siasat

licik orang?"

Seno mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

tanyanya. Mendadak, amarah di hati pemuda lugu ini

menurun.

"Sekujur tubuhku terasa sakit. Tapi, hatiku lebih sakit lagi" ujar Dewi Pedang Halilintar.

Usai berkata, nenek yang tubuhnya masih

tampak sintal itu bangkit berdiri sambil meringis kesakitan. Dia melangkah sempoyongan. Begitu sampai di

hadapan Seno, dia berkata, "Serahkan pedangku"

"Enak saja" tolak Seno. "Kau seorang pembunuh Justru pedang ini akan kugunakan untuk me-

menggal kepalamu"

"Bodoh sekali kau" bentak Dewi Pedang Halilintar. "Aku harus segera menyelamatkan muridku Bi-la kau masih penasaran, kau bisa menemuiku di lain

waktu Serahkan pedang itu"

Mendengar ucapan si nenek yang sama sekali

tak takut kepadanya, Seno mengerutkan kening lagi.

Tanpa sadar dia melakukan kebiasaan buruknya, yak-

ni nyengir kuda. Hidungnya berkernyit dengan kelopak mata menyipit. Kalau sudah begitu, wajah Seno sema-





kin tampak kebodoh-bodohan.

"Eh Kau tadi berkata hendak menyelamatkan

muridmu?" ujar Seno kemudian. "Kenapa dengan Kemuning?"

"Dia diculik orang" sahut Dewi Pedang Halilintar. "Cepat serahkan pedang itu"

Seno menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ti-

ba-tiba, otaknya jadi bebal memikirkan semua ucapan Dewi Pedang Halilintar. Bukti sudah kuat, tapi kenapa si nenek bersikeras menolak tuduhan bahwa dialah

pembunuh Sepasang Nelayan Sakti? Apakah nenek itu

memang bukan pembunuhnya? Lalu, kenapa pula si

nenek mengatakan Kemuning diculik orang?

Plok

Mendadak, Seno menggaplok kepalanya sendiri.

Untuk beberapa lama, dia cuma dapat cengar-cengir

seperti telah hilang akal pikirannya. Namun, begitu teringat pada Sepasang Nelayan Sakti yang telah terbujur kaku menjadi mayat, Seno menodongkan pedang di

tangannya ke dada Dewi Pedang Halilintar.

"Kau jangan membuat aku bingung, Nek" har-dik Seno. "Cepat katakan siapa sebenarnya yang telah membunuh Kakek Karapak dan istrinya Dan, apa pula

yang telah terjadi pada Kemuning"

"Aku tak biasa diancam seperti ini" tantang Dewi Pedang Halilintar.

Pergelangan tangan Seno bergetar melihat tata-

pan tajam Dewi Pedang Halilintar. Tanpa terasa, pedang ditangannya melorot turun.

"Andai kau mau berpikir matang, kau pasti ta-

hu apa yang sebenarnya telah terjadi," ujar Dewi Pedang Halilintar sambil mendekap dada. "Ada orang jahat yang hendak membunuhku dengan meminjam

tanganmu, Pendekar Bodoh"





"Apa maksudmu?" seru Seno kaget. Dewi pe-

dang Halilintar tak segera menjawab. Dia terbatuk-

batuk beberapa lama. Setelah menarik napas beberapa kali, barulah dia dapat bernapas dengan lega. Tata-pannya pada Seno tiba-tiba berubah redup.

"Aku tahu kau seorang pemuda yang lugu dan

jujur, Seno...," ujar si nenek kemudian. "Percayalah kepadaku. Aku bukan seorang pembunuh kejam seperti yang kau kira. Aku tidak membunuh Sepasang

Nelayan Sakti. Bersama mereka, aku dan Kemuning

baru saja bertempur melawan seorang pemuda yang

punya ilmu kesaktian amat tinggi..."

"Benarkah itu?" selidik Seno sambil menyengir kuda. "Aku dan Kemuning sedang mengunjungi Sepasang Nelayan Sakti. Kedatanganku adalah dengan satu maksud untuk meminta maaf. Kau tahu aku telah salah menilai orang. Sepasang Nelayan Sakti yang ter-

nyata dua tokoh beraliran putih telah kusangka sebagai anggota komplotan Lembah Dewa-Dewi" tutur Dewi Pedang Halilintar.

Guru Kemuning itu memaksakan diri untuk bi-

cara banyak walau dengan napas tersengal-sengal. Se-no membiarkan saja karena dia ingin tahu peristiwa

pembunuhan Sepasang Nelayan Sakti yang sebenar-

nya. "Di rumah sederhana itu," lanjut Dewi Pedang Halilintar, menunjuk rumah kediaman Sepasang Nelayan Sakti, "Aku dan Sepasang Nelayan Sakti sempat beramah-tamah dan menyusun siasat untuk menjebak

Setan Selaksa Wajah. Namun tiba-tiba, dari halaman

depan terdengar teriakan keras yang menyuruh Kami

semua keluar. Karena teriakan itu kata-kata kotor

yang tak enak didengar telinga, aku bersama Kemun-





ing dan Sepasang Nelayan Sakti keluar rumah...."

"Ternyata, yang berteriak itu siapa?" tanya Se-no, mulai percaya pada ucapan Dewi Pedang Halilintar.

"Kami semua tak mengenal," jawab si nenek.

"Dia seorang pemuda kekar yang mengenakan pakaian serba merah. Dan...."

Dewi Pedang Halilintar tak meneruskan ceri-

tanya. Mendadak, air bening mengambang di pelupuk

matanya.

"Terus bagaimana, Nek?" kejar Seno, terharu.

"Pemuda itu langsung menyerang kami...," ujar Dewi Pedang Halilintar, lirih seperti mengandung penyesalan dalam. "Dia sangat hebat luar biasa. Ilmu peringan tubuhnya benar-benar telah mencapai tingkat

sangat tinggi. Lalu...."

"Lalu apa, Nek?" Seno semakin penasaran.

"Pedangku dirampas. Dengan pedangku ini, dia

membabat putus senjata Sepasang Nelayan Sakti yang

berupa dayung perahu dan joran pancing...."

Cerita Dewi Pedang Halilintar terhenti lagi. Air

bening yang mengambang di pelupuk matanya tampak

menitik ke pipi. Sesaat kemudian, dia terbatuk-batuk lagi. "Kau terluka dalam, Nek...," ucap Seno, kebodoh-bodohan.

"Ya. Tapi, aku harus bercerita dulu kepada-

mu...," sahut Dewi Pedang Halilintar. "Setelah pemuda jahat itu berhasil membabat putus senjata Sepasang

Nelayan Sakti, dia tertawa bergelak-gelak. Dia mengucap kata-kata penuh kesombongan yang membuat hati

kami semua jadi panas membara. Secara bersamaan,

kami menerjang. Namun...," Dewi Pedang Halilintar menyeka air matanya, "Tiba-tiba, Sepasang Nelayan Sakti memekik parau. Dada mereka tertembus pedang





di tangan pemuda jahat itu...."

Mendelik mata Seno mendengar cerita Dewi Pe-

dang Halilintar. Amarahnya memuncak lagi. "Benarkah apa yang kau katakan itu, Nek?" selidiknya lagi.

"Kalau kau tak percaya, kau boleh bunuh aku

sekarang juga."

Mendengar ucapan Dewi Pedang Halilintar itu,

Seno mendesah. Antara percaya dan tidak, Seno ber-

kata, "Lanjutkan ceritamu, Nek."

Dewi Pedang Halilintar batuk-batuk sebentar,

lalu berkata, "Kemuning yang berilmu lebih rendah di-totok hingga tak dapat berbuat apa-apa. Dan dengan

kecepatan luar biasa, pemuda itu memungut potongan

senjata yang tergeletak di tanah. Tak dapat aku menghindar ketika mata pancing melukai bahu kiriku. Sela-gi aku mengaduh kesakitan, tiba-tiba pemuda itu

menggebuk punggungku dengan potongan dayung...."

"Lalu?" buru Seno.

"Aku jatuh ke tanah. Namun sebelum pingsan,

aku sempat melihat pemuda berpakaian serba merah

itu menyambar tubuh Kemuning dan membawanya la-

ri...." "Keparat" geram Seno tiba-tiba.

"Bila kau menemukan tubuhku yang terkulai

pingsan dengan tangan mencekal pedang kuning, itu

karena perbuatan pemuda jahat itu pula. Sebelum

membawa lari Kemuning, dia melemparkan pedang

yang dibawanya ke arah ku. Aku memungutnya. Tentu

saja aku hendak mengejar guna menyelamatkan Ke-

muning, tapi bayang-bayang gelap keburu menyelimuti pandanganku...."

Dewi Pedang Halilintar mengakhiri ceritanya

dengan desah panjang. Ditatapnya wajah Seno lekat-

lekat seraya berkata, "Serahkan pedang itu. Aku akan





pergi mencari Kemuning...."

Seno berpikir-pikir sebentar. Dia tak melihat

adanya dusta atau suatu kebohongan dalam cerita

Dewi Pedang Halilintar. Maka, dia angsurkan pedang

di tangannya yang memang milik Dewi Pedang Halilin-

tar. "Kau hendak mencari Kemuning ke mana,

Nek?" tanya Seno dengan suara lembut dan polos.

"Ke mana saja," jawab Dewi Pedang Halilintar.

"Sampai ke ujung langit pun Kemuning harus kutemukan kembali. Bila perlu aku akan mengadu nyawa

dengan pemuda yang melarikan Kemuning itu"

"Tapi, kau menderita luka dalam, Nek...."

Tersenyum Dewi Pedang Halilintar. Ditatapnya

wajah Seno lekat-lekat seraya berkata, "Kau tak perlu mengkhawatirkan keadaanku. Luka dalamku pasti bi-sa ku atasi. Namun, Seno...," suara Dewi Pedang Halilintar bergetar. "Kau seorang pemuda yang amat lugu dan jujur. Kemuning banyak bercerita hingga aku tahu siapa dirimu. Hati-hatilah. Di dunia ini banyak manusia jahat. Hati-hatilah. Jangan sampai mereka meman-faatkan keluguan dan kejujuranmu...."

Usai berkata, Dewi Pedang Halilintar memba-

likkan badan seraya melangkah meninggalkan tempat.

Seno menatap punggung si nenek tanpa berkedip.

"Aku akan membantumu mencari Kemuning,

Nek" teriak Seno.

Namun, Dewi Pedang Halilintar terus melang-

kah. Seno cuma dapat mendesah.

Plok

Sekali lagi, Seno menggaplok kepalanya sendiri.

"Bodoh benar aku ini" rutuknya kepada diri sendiri.

"Kenapa aku hanya berdiri bengong di tempat ini. Aku harus segera mengurus jenazah Kakek Karapak dan is-





trinya"





8


SATU Suro.... Semburat cahaya jingga di kaki

langit timur hanya dapat memberi keremangan. Sang

baskara bagai putri malu untuk menampakkan wu-

judnya. Walau hari baru saja menyingsing fajar, Telaga Dewa telah diramaikan hiruk-pikuk suara orang. Puluhan perahu tampak berjajar memenuhi pinggiran te-

laga. Manakala kepala sang baskara terlihat samar-

samar, suasana di Telaga Dewa, berubah sunyi. Tak

ada lagi orang yang membuka percakapan. Semua di-

am membisu dalam ketegangan. Terutama tokoh-tokoh

rimba persilatan yang menginginkan Kodok Wasiat

Dewa yang tersimpan di dalam perut Ikan Mas Dewa.

Putaran waktu terus berlalu. Sang baskara

yang telah menampakkan wujud utuhnya menyiram-

kan cahaya hangat. Pagi telah tiba. Keremangan terusir. Namun, di hari yang telah menjadi terang benderang itu, ikan Mas Dewa tak juga ada tanda-tanda

akan menampakkan diri.

Semua yang menanti kehadiran ikan mas rak-

sasa yang memiliki kekuatan luar biasa itu menjadi ge-lisah. Bukan saja tokoh-tokoh rimba persilatan, juga para saudagar kaya dan bangsawan yang memang

sangat berhasrat untuk dapat melihat wujud Ikan Mas Dewa. Namun akhirnya, penantian mereka membua-hkan hasil juga. Saat sang baskara naik dua jengkal dari kaki langit timur, mendadak di tengah telaga sinar kuning keemasan melesat tinggi ke atas. Sinar itu melesat cepat sekali, dan menimbulkan gelombang besar





yang disertai ombak setinggi pohon kelapa.

Di bawah lesatan sinar kuning keemasan, terli-

hat seekor ikan yang panjang tubuhnya sekitar tiga

depa. Ikan yang meloncat di atas permukaan air itu

bersisik kuning mengkilat yang benar-benar mirip

emas yang berkilau tertimpa sinar mentari.

"Ikan Mas Dewa..." seru orang-orang di atas perahu, gegap gempita.

Selagi puluhan perahu bergerak serentak men-

dekati, ikan mas raksasa yang memang Ikan Mas Dewa

tampak meluncur berputar-putar di tengah telaga.

Timbul gelombang yang lebih besar. Belasan perahu

yang bergerak di depan langsung terbalik. Pekik parau terdengar susul-menyusul.

Gelombang yang dibuat oleh Ikan Mas Dewa

benar-benar kuat luar biasa. Belasan perahu lagi, yang ditumpangi tokoh-tokoh silat, tampak saling bentur.

Sebagian pecah berantakan. Sebagian lagi terbalik.

Tentu saja para penumpangnya menjadi panik. Demi

keselamatan nyawa, bergegas mereka berenang mene-

pi. Tak hendak lagi berusaha menangkap Ikan Mas

Dewa. Namun tiba-tiba, tiga buah perahu melesat

amat cepat. Penumpangnya adalah tiga orang kakek

yang sama-sama berpakaian serba putih.

Sesaat, terdengar suara mendesing disertai ge-

muruh angin. Tiga batang tombak meluncur deras.

Ujung-ujungnya yang terbuat dari besi runcing mengarah kepala Ikan Mas Dewa

Buk Buk Buk

Ketiga ujung tombak tepat menerpa kepala Ikan

Mas Dewa. Namun, betapa terkejutnya tiga kakek ber-

pakaian serba putih yang berada di atas perahu. Tombak-tombak yang mereka lemparkan tak dapat melukai





Ikan Mas Dewa. Dua batang terlontar balik lalu tenggelam ke dasar telaga. Sementara, yang satunya lagi pa-tah jadi dua, dan turut tenggelam pula.

Sebenarnya, ketiga kakek pelempar tombak itu

bukanlah orang sembarangan. Di rimba persilatan,

mereka terkenal dengan julukan Tiga Saudagar Putih.

Mereka adalah ahli memainkan senjata tombak. Dan,

lemparan ketiga tombak tadi sesungguhnya sudah cu-

kup mampu untuk menembus batu karang sebesar

kerbau. Namun agaknya, lemparan tombak mereka tak

berarti sama sekali bagi Ikan Mas Dewa yang memang

memiliki kekuatan luar biasa.

Tampak kemudian, Ikan Mas Dewa mengi-

baskan ekornya. Gerakannya terlihat pelan, namun ti-ba-tiba terbentuk ombak besar yang mampu melontar-

kan perahu Tiga Saudara Putih

Seperti beberapa tokoh silat lainnya yang telah

mendapat nasib apes, Tiga Saudara Putih pun berge-

gas berenang ke tepi telaga.

Sementara, Ikan Mas Dewa terus meluncur

berputar-putar. Semakin besar gelombang dan ombak

yang terbuat. Akibatnya, semakin banyak perahu yang terbalik atau pecah karena saling bentur. Para saudagar dan bangsawan tak berani mendayung perahu ke

tengah telaga. Kekuatan Ikan Mas Dewa benar-benar

membuat mereka ngeri. Belasan saudagar dan bang-

sawan bahkan tampak tergesa-gesa menambatkan pe-

rahu lalu meloncat ke daratan.

Namun, bagi para pesilat yang sudah terbiasa

melihat sesuatu yang menggiriskan, kekuatan Ikan

Mas Dewa malah membuat semangat mereka terbakar.

Sambil menjaga keseimbangan perahu agar tak terba-

lik, mereka melemparkan berbagai jenis senjata tajam.

Maka dalam beberapa kejap mata, puluhan tombak,





pedang, golok, trisula, dan anak panah tampak berlesatan. Namun, Ikan Mas Dewa tampak tenang-tenang

saja. Hujan senjata yang menimpa tubuhnya tak satu

pun yang dapat melukai. Padahal, senjata-senjata itu dilemparkan dengan kekuatan penuh yang disertai tenaga dalam.

Melihat tubuh Ikan Mas Dewa yang kebal, la-

ma-kelamaan para pelempar senjata tajam jadi putus

asa. Satu-persatu mereka mundur teratur. Namun,

banyak di antara mereka yang mesti minggir dengan

berenang karena perahu yang mereka tumpangi telah

terbalik ataupun pecah.

Pada saat Ikan Mas Dewa meloncat-loncat ke

atas air memperlihatkan keelokan tubuhnya, terdengar siulan panjang amat keras. Lalu, dari arah utara telaga meluncur sebuah perahu kecil secepat luncuran anak

panah lepas dari busur. Penumpangnya seorang pe-

muda remaja berumur tujuh belas tahun. Berwajah

tampan dan mengenakan pakaian biru-biru dengan

ikat pinggang kain merah. Rambutnya yang tergerai

panjang tampak berkibaran karena terhempas tiupan

angin kencang.

Dia Seno Prasetyo

Setelah menguburkan jenazah Sepasang Ne-

layan Sakti, sebenarnya Seno telah berputar-putar ke berbagai tempat untuk mencari pembunuh kakek-nenek itu. Tentu saja Seno sangat mengkhawatirkan

keselamatan Kemuning karena menurut penuturan

Dewi Pedang Halilintar, Kemuning diculik orang yang telah membunuh Sepasang Nelayan Sakti. Dewi Pedang Halilintar berkata bahwa si orang jahat adalah seorang pemuda kekar yang mengenakan pakaian serba merah. Namun hingga hari berganti, Seno tak dapat





menemukan penjahat itu. Akhirnya, Seno memu-

tuskan untuk mencari jejak si penjahat di Telaga De-wa. Dan ketika melihat kemunculan Ikan Mas Dewa,

Seno teringat tujuannya semula untuk mendapatkan

Kodok Wasiat Dewa seperti yang telah dipesankan oleh Dewa Dungu gurunya. Dengan turut memperebutkan

Kodok Wasiat Dewa, Seno berharap akan dapat ber-

jumpa dengan si penjahat untuk kemudian membuat

perhitungan.

Byarrr... Byarrr...

Melihat kedatangan perahu yang ditumpangi

Seno, Ikan Mas Dewa mengibaskan ekornya dua kali.

Terciptalah dua gulungan ombak setinggi pohon kela-

pa. Seno tidak menjadi panik karena dia sudah cukup mahir mengendalikan perahu hasil ajaran Karapak.

Dua gulungan ombak ciptaan Ikan Mas Dewa mampu

mengangkat perahu Seno. Tapi, Seno dapat berbuat

sedemikian rupa hingga perahunya dapat meluncur

turun lagi tanpa terbalik.

Srat... Srat...

Tiba-tiba, Seno melemparkan dua utas tali pan-

jang berwarna putih berkilat. Bagai ular yang amat ge-sit, dua utas tali pemberian Salindri yang terbuat dari baja lentur itu langsung melilit sirip dan ekor Ikan Mas Dewa Tentu saja Ikan Mas Dewa tak tinggal diam. Dia memberontak dengan mengerahkan seluruh daya ke-kuatannya. Hingga, segulung ombak sebesar bukit terbentuk. Permukaan air telaga naik tiga tombak dan

meluber ke daratan. Puluhan perahu berpentalan ke

udara Namun demikian, Ikan Mas Dewa tak dapat

melepaskan diri dari belitan tali baja Seno. Sementara, perahu Seno pun tak terbalik ataupun terlontar. Pera-





hu Seno bagai lengket di permukaan air, naik-turun

mengikuti ombak atau gelombang besar yang dicipta-

kan oleh Ikan Mas Dewa.

Hingga sepeminum teh, Ikan Mas Dewa terus

mengempos tenaga untuk dapat membebaskan diri.

Tapi sampai tenaganya terkuras, belitan tali baja Seno tak dapat terlepas. Dan perlahan-lahan, gerakan Ikan Mas Dewa melemah. Sedikit demi sedikit, ombak ataupun gelombang di tengah telaga mulai lenyap.

Kemudian, dari tepi telaga terdengar sorak-

sorai yang mengelu-elukan kehebatan Seno. Namun

karena mereka tak tahu nama Seno yang sebenarnya,

mereka menyebut dengan julukan yang pernah mereka

dengar dari mulut Kemuning.

"Pendekar Bodoh Hebat sekali kau, Pendekar

Bodoh" "Luar biasa Pendekar Bodoh memang luar biasa" "Ajaib Pendekar Bodoh seorang pemuda ajaib"

Begitulah teriakan para tokoh silat yang pernah melihat Seno di Kedai Mawar tempo hari. Dan, pesilat-

pesilat lainnya pun turut mengelu-elukan kehebatan

Seno. Karena tak tahu pula nama Seno yang sebenar-

nya, mereka juga menyebut Seno dengan sebutan Pen-

dekar Bodoh.

Belum reda sorak-sorai yang terdengar dari tepi

telaga, mendadak dua buah perahu meluncur cepat

mendekati perahu Seno. Mereka dua orang kakek ber-

pakaian kuning-hitam. Satu bertubuh kurus kerem-

peng dan yang satunya lagi bertubuh gemuk bulat.

Mereka adalah Dua Iblis dari Gunung Batur, Iblis Perenggut Roh dan Iblis Pencabut Jiwa

Ketika perahu Dua Iblis dari Gunung Batur

hampir mendekati perahu Seno, mereka memisahkan





diri. Iblis Perenggut Roh langsung melepas pukulan

'Merenggut Roh Mencabut Jiwa'. Kakek kurus itu me-

nyertai pukulan jarak jauhnya dengan tenaga dalam

penuh. Dia tak mau kejadian di Kedai Mawar terulang lagi. Sementara, Iblis Pencabut Jiwa tampak meloncat untuk merampas dua utas tali baja di tangan Seno.

"Hiahhh..."

Wusss...

Tahu ada bahaya mengancam, cepat Seno me-

nyatukan kedua talinya ke tangan kiri. Dengan kedua kaki menjepit bilah kayu di geladak perahu, Seno meloncat tinggi untuk menghindari sambaran tangan Iblis Pencabut Jiwa. Dan, telapak tangan kanannya yang di-lambari Ilmu pukulan 'Dewa Badai Rontokkan Langit'

mengibas guna memapaki pukulan jarak jauh Iblis Pe-

renggut Roh

Blar...

Selarik sinar putih berkilat bentrok dengan dua

larik sinar kuning. Walau Seno cuma mengerahkan

seperempat bagian tenaga dalamnya, tapi sudah cukup mampu untuk meredam pukulan 'Merenggut Roh

Mencabut Jiwa'. Bahkan, tubuh Iblis Perenggut Roh

tampak terlontar dari perahu, lalu tercebur ke telaga.

Untung dia tak mendapat cedera, sehingga dapat berenang ke tepian.

Byurrr...

Iblis Pencabut Jiwa pun tercebur ke telaga ka-

rena sambarannya hanya mengenai tempat kosong.

Sambil memapaki pukulan jarak jauh Iblis Perenggut

Roh, Seno meloncat tinggi dengan menjepit perahunya.

Hingga, usaha Iblis Pencabut Jiwa tak menghasilkan

apa-apa. Dan, dia pun tercebur ke telaga.

Terucap sumpah serapah dari mulut Iblis Pen-

cabut Jiwa. Namun, dia pun tak dapat berbuat apa-





apa lagi kecuali berenang ke tepian, menyusul saudara seperguruannya. Walau tubuh kakek itu gemuk bulat,

tapi dia dapat berenang dengan cepat.

Seno bernapas lega. Matanya menatap Ikan

Mas Dewa yang sudah tampak jinak. Namun, tanpa

diduga-duga oleh pemuda lugu ini, dari arah bela-

kangnya melesat empat perahu yang ditumpangi em-

pat kakek berkepala gundul. Mereka mengenakan

rompi kuning dan celana merah.

Keempat kakek itu langsung menerjang Seno

dengan serangan-serangan mematikan. Mereka melon-

cat bergantian dan saling bertukar perahu. Seno jadi kerepotan. Selain harus menghindari sambaran golok

yang datang bertubi-tubi, dia pun harus tetap memegangi tali baja yang membelit Ikan Mas Dewa.

"Empat Setan Gundul Kalian benar-benar tak

tahu peradatan"

Tiba-tiba, dari sisi kiri perahu Seno terdengar

teriakan keras yang dibarengi melesatnya sebuah pe-

rahu. Penumpangnya seorang kakek berwajah halus

yang mengenakan pakaian serba hijau. Dia Bagus

Tembini alias Sastrawan Berbudi

Usai berteriak, Sastrawan Berbudi langsung

menerjang salah seorang dari empat kakek berkepala

gundul yang disebut sebagai Empat Setan Gundul. Ce-

pat sekali gerakan Sastrawan Berbudi. Dengan meng-

gunakan sebatang bambu sepanjang tiga jengkal yang

ujungnya terdapat bulu-bulu halus, dia berani me-

nangkis tebasan golok yang mengarah ke pinggang Se-

no.

Trang...

Bunga api memercik ke mana-mana ketika alat

tulis Sastrawan Berbudi berbenturan dengan golok salah seorang dari Empat Setan Gundul. Pertempuran





sengit segera berlangsung.

Melihat ada orang yang membantu Seno, Empat

Setan Gundul bertambah beringas. Mereka memain-

kan senjata golok bagai orang kesetanan. Nafsu mem-

bunuh benar-benar telah menguasai jalan pikiran me-

reka. "Puji bagi Tuhan seru sekalian alam...."

Terdengar sebuah desisan halus.Empat Setan

Gundul, Sastrawan Berbudi, dan Seno tampak terke-

siap. Tanpa sadar mereka menghentikan pertempuran.

Dari barat, mereka melihat sebuah perahu bergerak

pelan mendekati. Di atas perahu itu terlihat seorang kakek berjubah kuning dan berselempang kain merah

kotak-kotak. Dia adalah Pendeta Tasbih terbang.

"Kalian Empat Setan Gundul, kenapa melang-

gar aturan?" tegur Pendeta Tasbih Terbang setelah berada di dekat arena pertempuran. "Apakah kalian tak tahu, mengeroyok seorang pemuda tak bersenjata adalah perbuatan licik?"

"Jahanam kau, Pendeta Jelek" sahut salah seorang dari Empat Setan Gundul. "Apa pedulimu datang ke tempat ini? Apakah juga bermaksud sama dengan

sastrawan dungu itu?"

"Segala puji bagi Tuhan...," sebut Pendeta Tasbih Terbang, menyambut ucapan kasar yang didengar-

nya dengan sikap sabar. "Aku tidak biasa mencampuri urusan orang. Tapi, aku tidak bisa membiarkan perbuatan tak adil berlangsung di hadapanku."

"Jangan banyak bacot kau, Pendeta Jelek" ma-ki salah satu dari Empat Setan Gundul yang menge-

nakan kalung perak. "Jangan banyak alasan Katakan saja kalau kau juga menginginkan Kodok Wasiat De-wa" "Tidak" tolak Pendeta Tasbih Terbang, mengge-





lengkan kepalanya yang gundul licin. "Aku datang ke Telaga Dewa ini hanya untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Berdosa kalau aku turut mempere-

butkan Kodok Wasiat Dewa. Sekali lagi aku katakan,

aku hanya ingin mencegah terjadinya pertumpahan

darah. Harap kalian tahu itu"

"Terlalu banyak mulut kau, Pendeta Jelek"

Usai berkata, salah seorang dari Empat Setan

Gundul langsung menerjang Pendeta Tasbih Terbang.

Sementara, salah satu temannya lagi menyerang Sa-

strawan Berbudi. Mereka menyabetkan golok dengan

membabi buta. Terpaksa Pendeta Tasbih Terbang me-

loloskan senjata berubah tasbih yang melingkar di le-hernya. Dan, Sastrawan Berbudi pun tak segan-segan

lagi mengeluarkan jurus-jurusnya andalannya dengan

menggunakan senjatanya yang berupa alat tulis.

Sementara, dua orang lagi menyerang Seno.

Golok mereka menyambar-nyambar, mengincar jalan

darah mematikan di tubuh Seno. Gerakan mereka cu-

kup cepat karena mereka memiliki ilmu peringan tu-

buh yang bisa diandalkan.

Empat Setan Gundul memang bukanlah tokoh

sembarangan. Mereka termasuk empat orang tokoh

aliran hitam tingkat atas. Tempat tinggal mereka sebenarnya di Pesisir Laut Selatan. Dan karena biasa hidup di tepi laut, mereka jadi mahir berperahu ataupun berenang. Oleh karena itu, mereka sama sekali tak mendapat kesulitan ketika harus bertempur di tengah Telaga Dewa.

Andai Seno tak mendapat bantuan Sastrawan

Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang, dia pasti terdesak hebat. Karena selain harus menghindari serangan yang datang bagai guyuran air bah, Ikan Mas Dewa

yang berada dalam belitan tali bajanya mulai membe-





rontak lagi. Gulungan ombak besar pun kembali mun-

cul

Terpaksa Seno mengeluarkan Tongkat Dewa

Badai yang tersimpan di balik pakaiannya. Dengan

tangan kiri tetap memegang erat kedua tali baja, tangan kanan Seno mengibas dua kali. Tongkat Dewa

Badal berkelebat menimbulkan tiupan angin kencang.

Sesaat kemudian, terdengar dua pekik parau.

Tubuh dua orang pengeroyok Seno tampak terlontar

tinggi di udara karena terhempas gelombang angin pukulan Tongkat Dewa Badai

Tubuh kedua kakek itu tercebur lalu tenggelam

ke air telaga. Susah payah mereka berenang ke atas.

Golok mereka pun terlepas dari cekalan. Begitu sampai di permukaan air telaga, kedua orang itu mendengar

dua jerit kesakitan. Rupanya, kedua teman mereka

pun telah dapat dipukul mundur oleh Sastrawan Ber-

budi dan Pendeta Tasbih Terbang.

Terpaksa Empat Setan Gundul berenang mene-

pi. Mereka harus melupakan tujuan mereka untuk

mendapatkan Kodok Wasiat Dewa.

Sementara itu, setelah mengalahkan kedua

pengeroyoknya, Seno menatap Ikan Mas Dewa dengan

sinar mata aneh. Ikan Mas Dewa tak bergerak-gerak

lagi, membalas tatapan Seno dengan sinar mata redup.

Ikan Mas Dewa diam terapung di permukaan

air. Sisik-sisik tubuhnya tampak berkilauan tertimpa sinar mentari. Sementara, orang-orang yang berdiri di tepi telaga semakin mengelu-elukan sebutan Pendekar Bodoh yang telah berhasil menjinakkan Ikan Mas De-wa.

"Ya, Tuhan... " desis Seno, kaget.

Ikan Mas Dewa yang masih diam terapung di

permukaan air tampak mengedip-ngedipkan kelopak





matanya. Tentu saja Seno kaget karena mana ada di

dunia ini seekor ikan yang dapat mengedipkan ma-

tanya? Dan..., keterkejutan Seno berubah menjadi rasa kasihan saat melihat butir-butir air bening yang menetes dari mata Ikan Mas Dewa.

"Ya, Tuhan...," desis Seno lagi. "Ikan itu menangis. Agaknya, dia minta belas kasihan.... Oh Sungguh aku berdosa besar bila tidak melepaskannya...."

Terdorong rasa kasihan, si pemuda lugu Seno

Prasetyo lupa pada tujuannya untuk mendapatkan

Kodok Wasiat Dewa. Sambil menatap haru, Seno mele-

pas aliran tenaga dalamnya. Dua utas tali baja men-

gendor. Ikan Mas Dewa pun terbebas dari belitan. Namun, Ikan raksasa bersisik kuning kemilau itu tidak langsung pergi. Sambil terus meneteskan air mata, dia mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda terima

kasih. Seno tambah terharu. Tapi tiba-tiba, bola mata pemuda lugu ini terbelalak lebar. Dia melihat sesosok bayangan merah yang berkelebat di permukaan air.

Bayangan itu berkelebat cepat sekali. Namun, mata

Seno yang tajam dapat melihat bila si bayangan mem-

bawa sebilah pedang yang memancarkan sinar kuning

berkeredepan. Jelas sekali bila pedang itu adalah seje-nis pedang pusaka yang tentu saja memiliki ketajaman luar biasa

Melihat si bayangan terus melesat mendekati

Ikan Mas Dewa, Seno jadi khawatir. Walau Ikan Mas

Dewa kebal terhadap senjata tajam, tapi apakah dia juga kebal terhadap tusukan atau tebasan pedang pusaka? "Awas..."

Seno berteriak keras untuk memberi peringa-

tan. Ikan Mas Dewa menggerakkan sirip dan ekornya,





namun... lesatan bayangan merah lebih cepat. Akibatnya..... Crept

Crash...

Byarrr... Byarrr...

Ikan Mas Dewa menggeliat kesakitan. timbul

gulungan ombak besar. Air telaga yang semula jernih berubah merah karena ternoda oleh cairan darah

"Ya, Tuhan...."

Sekali lagi, Seno menyebut nama kebesaran

Sang Penguasa Tunggal. Pemuda ini dapat melihat

dengan jelas bagaimana pedang pusaka di tangan so-

sok orang yang baru datang menusuk dan menebas

tubuh Ikan Mas Dewa. Kekhawatiran Seno terbukti.

Ikan Mas Dewa memang tidak kebal terhadap ketaja-

man pedang pusaka Sementara, Seno sendiri tidak

sempat berbuat apa-apa karena pikirannya sedang linglung akibat terhantam keterkejutan.

"Ha ha ha... Matilah kau, Ikan Keparat Akan

segera kurobek perutmu untuk mengambil Kodok Wa-

siat Dewa" ujar sosok orang yang baru melukai Ikan Mas Dewa

Dia seorang pemuda gagah bertubuh tinggi te-

gap. Mengenakan pakaian serba merah yang terbuat

dari bahan mahal. Di kepalanya melingkar ikat kepala merah yang terbuat dari kain sutera. Dengan pongah-nya, dia terus tertawa bergelak-gelak sambil menatap Ikan Mas Dewa yang masih menggeliat kesakitan.

Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang

tampak terperangah. Di balik rasa tak suka melihat

kekejaman yang baru saja berlangsung, mereka me-

nyimpan rasa kagum. Pemuda berbaju merah dapat

berdiri tegak di atas permukaan air tanpa menumpang perahu. Kedua telapak kakinya dialasi dua bilah papan





sepanjang dua jengkal.

"Pusaka Pedang Naga...," desis Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang ketika melihat wujud pedang di tangan pemuda berbaju merah.

Sementara, Seno pun tampak terkejut. Bola

matanya melotot besar seperti hendak meloncat dari

rongganya. Dia melihat tak berkedip pada sosok pe-

muda berbaju merah yang terus tertawa bergelak-

gelak. "Hmmm.... Melihat bentuk tubuh dan pakaian yang dikenakannya, kemungkinan besar pemuda itulah yang telah membunuh Sepasang Nelayan Sakti dan

menculik Kemuning...," pikir Seno. "Ciri-cirinya persis seperti yang dikatakan oleh Dewi Pedang Halilintar. Ya

Pasti dialah penjahat itu. Aku harus membuat perhitungan sekarang juga"

Seno menatap sosok pemuda berbaju merah

dengan segudang dendam di hati. Namun, hati pemu-

da lugu ini bergetar ketika melihat kelopak mata kiri pemuda berbaju merah yang selalu terpejam di saat

tertawa.

Ucapan Dewa Dungu langsung mengiang lagi di

telinga Seno. Sebelum Seno diperintah pergi dari tempat persembunyiannya, Dewa Dungu menugaskan Se-

no mencari Mahisa Lodra yang telah tersesat jalan.

"Sepandai-pandainya Mahisa Lodra merubah

wajahnya, kau akan tetap dapat mengenalinya," kata Dewa Dungu waktu itu. "Mahisa Lodra mempunyai bekas luka di batok kepala bagian belakang.... Ada satu ciri lain yang pasti dapat kau kenali. Kalau tertawa, kelopak mata Mahisa Lodra yang sebelah kiri akan selalu terpejam."

Teringat akan ucapan gurunya itu, Seno lang-

sung berteriak, "Keparat kau, Mahisa Lodra Kau mu-





rid murtad yang benar-benar layak dikirim ke neraka"

Pemuda berbaju merah yang memang Mahisa

Lodra tampak terkesiap. Namun, pemuda ini menutupi

keterkejutannya dengan tertawa bergelak-gelak. Melihat Seno hendak menerjangnya, dia menyilangkan pe-

dangnya ke depan dada untuk berjaga-jaga.

Namun, Mahisa Lodra yang bergelar Setan Se-

laksa Wajah itu tak memperhatikan Seno lagi ketika

melihat Ikan Mas Dewa berenang cepat, berlalu dari

hadapannya.

"Hei Jangan lari kau, Ikan Buduk" seru Mahisa Lodra seraya mengejar.

Kelebatan tubuh Mahisa Lodra cepat sekali ka-

rena dia mengeluarkan ilmu peringan tubuh tingkat

tinggi yang bernama 'Angin Pergi Tiada Berbekas'. Namun, luncuran tubuh Ikan Mas Dewa pun tak kalah

cepat walau dia telah menderita luka-luka.

Luncuran tubuh Ikan Mas Dewa menuju ke tepi

telaga sebelah timur. Orang-orang yang berada di sebelah sana pun langsung bersorak-sorai. Tapi, wujud

Ikan Mas Dewa mendadak hilang karena telah menye-

lam ke air telaga.

Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang

tampak menggerakkan perahunya menuju ke sana.

Sementara, Seno tampak cengar-cengir. Mestinya dia

langsung mengejar Mahisa Lodra. Tapi, itu tak dilakukannya karena otaknya tiba-tiba sangat bebal. Rasa

kasihan, penyesalan, dan segudang amarah bercampur

dendam telah membuat sikap Seno jadi sedemikian

bodoh. Tapi, Sikap bodoh Seno itu justru mendatang-

kan sebuah keberuntungan. Tiba-tiba, Ikan Mas Dewa

menampakkan wujudnya di dekat perahu Seno. Tubuh

Ikan raksasa itu berada satu tombak di bawah permu-





kaan air telaga yang jernih. Karena tak ada orang lain yang berada di dekat Seno, maka hanya Seno sendiri-lah yang melihat kehadiran Ikan Mas Dewa.

"Maafkan aku...," desis Seno penuh kesungguhan, terdesak penyesalan. "Aku telah membuatmu sengsara. Tubuhmu terluka, kau pasti merasa kesakitan. Aku ingin menolongmu, tapi aku tak tahu bagai-

mana caranya...."

Seno berkata-kata seakan Ikan Mas Dewa da-

pat mengerti makna ucapannya. Mata Seno tak berke-

dip ketika melihat Ikan Mas Dewa mengangguk-

anggukkan kepalanya. Lalu, sang Ikan membuka mu-

lutnya. Dan....

Slup

Dari mulut Ikan Mas Dewa melesat sebuah

benda sebesar kedondong. Seno menangkapnya. Ter-

nyata, benda itu berupa gumpalan sinar putih yang di dalamnya terdapat sebentuk katak kecil berwarna

emas, "Kodok Wasiat Dewa...," desis Seno antara sadar dan tidak.

Di dalam air, Ikan Mas Dewa menganggukkan

kepalanya tiga kali, lalu menyelam dan menghilang da-ri pandangan. Sementara, Seno langsung memasukkan

benda pemberian sang ikan ke saku bajunya. Benda

itulah yang disebut sebagai Kodok Wasiat Dewa

Teringat pada Mahisa Lodra, Seno mengarah-

kan pandangan ke timur. Sosok Mahisa Lodra sudah

tak terlihat lagi. Yang dilihat Seno hanyalah sekelompok orang yang terus berteriak-teriak. Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang tak tampak pula.

Mereka pergi entah ke mana....

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...