PERISTIWA DI KEDAI ARAK
Musim semi selalu menjadi saat paling tepat untuk bersantai di
setiap tahun. Angin sepoi-sepoi yang berhembus dengan lembut meniup dedaunan
pohon liu dan bunga-bunga liar, membuat udara terasa begitu segar bagi siapa
saja yang menghirupnya.
Di tepi selatan jalan raya berbatu yang membentang dari gerbang barat Kota Fuzhou, Provinsi Fujian, berdiri sebuah gedung yang cukup megah. Di depan gedung itu tampak menjulang dua batang tiang bendera berukuran tujuh meter. Pada masing-masing tiang terpasang bendera berwarna hijau yang berkibaran tertiup angin. Bendera sebelah kiri bersulamkan gambar seekor singa jantan dengan benang warna kuning. Sewaktu bendera melambai-lambai, gambar singa itu bagaikan hidup, seolah hendak melompat dan siap menerkam setiap saat. Tepat di atas kepala singa tersulam gambar dua ekor kelelawar dengan benang warna hitam, masing-masing sedang mengepakkan sayapnya. Sementara itu pada bendera yang terpasang di tiang sebelah kanan tampak bersulamkan benang warna hitam pula yang membentuk tulisan berbunyi “Biro Ekspedisi Fuwei”. Melihat betapa kuat dan indahnya sulaman pada kedua bendera tersebut, jelas semuanya dikerjakan oleh kaum ahli yang ternama.
Pintu utama gedung tersebut berwarna merah dengan dihiasi
paku-paku tembaga seukuran cawan teh. Diterpa sinar matahari, paku-paku tembaga
itu tampak bercahaya dan berkilat-kilat. Di atas pintu terpasang sebuah papan
nama berwarna hitam, bertuliskan huruf-huruf kuning emas berukuran besar yang
juga berbunyi “Biro Ekspedisi Fuwei”. Di bawah huruf-huruf besar tersebut
melintang beberapa huruf yang lebih kecil, berbunyi “Kantor Pusat”.
Di balik pintu utama –di sebelah kanan dan kiri lorong– terdapat
dua baris bangku panjang. Tampak duduk di sana delapan orang laki-laki gagah
berseragam rapi sedang asyik bersenda gurau.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara derap kaki beberapa
ekor kuda. Kedelapan pria berseragam itu serentak bangkit dan berlari keluar.
Dari pintu samping sebelah barat gedung muncul lima orang penunggang kuda yang
kemudian berhenti tepat di depan pintu utama tadi. Kuda yang paling depan
berwarna putih bersih, memakai pelana indah yang tepiannya dihiasi sepuhan
perak. Penunggangnya seorang pemuda berpakaian mewah berusia kurang lebih
sembilan belas tahun. Di atas bahu pemuda itu hinggap seekor elang pemburu.
Sebilah pedang tergantung di pinggangnya, serta seperangkat busur dan anak
panah tampak menghiasi punggungnya. Tangan kirinya juga memegang sehelai
cambuk. Keempat penunggang yang lain berada di belakang, dan semuanya
mengenakan seragam warna hitam.
“Tuan Muda hendak berburu lagi!” seru tiga di antara delapan
laki-laki penjaga pintu hampir bersamaan.
Pemuda itu tersenyum sambil melecutkan cambuknya ke udara. Kuda
putih tunggangannya langsung meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan,
kemudian melaju kencang bagaikan terbang.
“Pengawal Shi,” sahut salah seorang penjaga pintu gerbang,
“bagaimana kalau nanti kami dibawakan seekor babi hutan untuk makan malam?”
“Jangan khawatir, akan kami sisakan ekornya saja untuk kalian,”
jawab seorang penunggang kuda berusia empat puluhan yang dipanggil Pengawal Shi
itu. “Yang penting berjagalah dengan baik dan jangan mabuk sebelum kami
pulang.”
Usai berkata demikian, ia langsung memacu kuda menyusul sang
Tuan Muda diiringi ketiga rekannya meninggalkan kedelapan penjaga pintu yang
ramai bergelak tawa tersebut.
Tuan muda yang melaju paling depan tadi bernama Lin Pingzhi,
putra tunggal pemilik Biro Ekspedisi Fuwei. Kuda putih yang dikendarainya
berlari kencang bagaikan terbang di udara. Hanya dalam waktu singkat keempat
pengikutnya sudah tertinggal jauh di belakang. Adapun keempat pengikutnya itu
adalah para pegawai biro, yang terdiri atas dua orang pengawal bermarga Shi dan
Zheng, serta dua orang pengiring bernama Bai Er dan Chen Qi.
Begitu sampai di atas tanjakan bukit, Lin Pingzhi segera
melepaskan elang pemburunya. Tidak lama kemudian sepasang kelinci berwarna
coklat kekuningan sudah berlari-lari keluar dari dalam hutan karena diburu
elang tersebut. Dengan cepat Lin Pingzhi melepaskan anak panahnya. Seekor di
antara dua kelinci itu langsung roboh di tanah. Sewaktu hendak membidik lagi,
kelinci yang lain ternyata sudah menghilang di dalam semak-semak.
Pengawal Zheng dan yang lain baru saja tiba. Dengan tertawa ia
memuji, “Sungguh hebat bidikan Tuan Muda!”
Kemudian terdengar suara Bai Er berseru dari dalam hutan sebelah
kiri mereka, “Tuan Muda, lekas kemari! Di sini ada ayam hutan!”
Lin Pingzhi menjalankan kudanya menuju tempat itu dan melihat
seekor ayam hutan berbulu indah melayang keluar dari balik semak pohon. Segera
ia melepaskan panah namun meleset, sementara ayam itu justru melayang di atas
kepalanya. Dengan cekatan pemuda itu melecutkan cambuknya ke atas, sehingga
ayam tersebut langsung jatuh ke bawah dan bulunya yang berwarna-warni tampak
bertebaran di udara.
Kelima orang Biro Fuwei itu pun bergelak tawa melihatnya.
“Jangankan cuma seekor ayam hutan, lecutan cambuk Tuan Muda
bahkan mampu menjatuhkan seekor rajawali,” ujar Pengawal Shi memuji.
Mereka berlima lantas menyusur kian kemari sampai ke tengah
hutan. Demi untuk menyenangkan hati sang majikan muda, kedua pengawal dan kedua
pengiring selalu mengusik setiap binatang yang mereka temui dan menggiringnya
ke arah Lin Pingzhi. Padahal sebenarnya, mereka sendiri mampu membinasakan hewan-hewan
tersebut. Tidak terasa, perburuan tersebut sudah melewati empat jam. Tampak Lin
Pingzhi telah mendapatkan tambahan dua ekor kelinci dan dua ekor ayam hutan
lagi. Namun demikian, ia masih belum puas juga dan ingin memperoleh hasil yang
lebih besar.
“Mari kita mencari lagi di depan sana, dan coba lihat apa yang
bisa kita temukan,” ajak pemuda itu.
Diam-diam Pengawal Shi berpikir kalau menuruti hasrat sang
majikan muda, bisa jadi sampai hari gelap pun tidak akan berhenti. Tentu pada
akhirnya para pengawal yang akan ditegur nyonya majikan. Maka, Pengawal Shi pun
menyahut, “Hari sudah mendekati petang. Jalan di sini banyak batunya dan sukar
dilewati. Bisa-bisa kuda putih terpeleset jatuh. Selagi hari masih terang lebih
baik kita pulang sekarang saja. Bagaimana kalau besok kita berangkat lebih awal
supaya bisa mendapatkan buruan yang lebih besar?”
Pengawal Shi sangat hafal sifat sang majikan muda yang keras
kepala dan sulit dibujuk, kecuali dengan menyampaikan kemungkinan bahwa si kuda
putih akan mengalami celaka atau terluka. Lin Pingzhi memang sangat menyayangi
hewan tunggangannya itu. Kuda tersebut berasal dari negeri barat yang kemudian
dibeli oleh neneknya dari pihak ibu yang tinggal di Kota Luoyang dengan
sejumlah emas. Kuda itu lalu diberikan kepadanya sebagai hadiah saat ia
berulang tahun yang ketujuh belas.
Sesuai dugaan, Lin Pingzhi tampak tertegun sejenak kemudian
menepuk leher kudanya sambil berkata, “Si Naga Putih sangat cerdik dan pintar.
Justru kuda-kuda kalian itu yang perlu dikhawatirkan. Baiklah, kita pulang
saja. Aku takut pantat Chen Qi yang akan pecah terbentur batu kalau kudanya
nanti tiba-tiba terpeleset.”
Sambil bergelak tawa, kelima orang itu memutar kuda
masing-masing kembali ke arah semula. Lin Pingzhi melaju paling depan dan
menempuh jalur berbeda dibandingkan sewaktu berangkat tadi. Kali ini ia
membelokkan kudanya ke arah utara dan memacunya dengan kencang. Setelah melaju
cukup lama dan merasa puas, ia lalu memperlambat langkah kudanya
perlahan-lahan. Tampak di tepi jalan terpancang panji sebuah kedai penjual
arak.
“Tuan Muda!” seru Pengawal Zheng yang telah menyusul bersama
ketiga lainnya. “Bagaimana kalau kita minum dulu barang secawan di situ? Daging
kelinci dan ayam hutan yang masih segar ini sangat cocok sebagai teman minum
arak.”
Lin Pingzhi tertawa dan menjawab, “Sebenarnya kalian tidak
sungguh-sungguh menemani aku berburu, tetapi hanya ingin keluar untuk minum
arak. Kalau sekarang tidak kutraktir minum, tentu besok kalian akan malas jika
kuajak keluar lagi.” Usai berkata demikian pemuda itu mendahului ke depan.
Begitu tiba di depan kedai arak, ia langsung melompat turun dari kudanya dan
memasuki kedai tersebut.
Biasanya, si pemilik kedai yang bernama si tua Cai segera muncul
keluar untuk menambatkan kuda pemuda itu sambil mengucapkan kata-kata sanjung
puji, misalnya, “Wah, wah, coba lihat! Tuan Muda baru saja berburu. Hasil
buruannya begitu banyak. Di dunia ini mana ada yang bisa menandingi kepandaian
Tuan Muda?”
Namun hari ini sungguh berbeda. Si tua Cai tidak terlihat
muncul, suasana kedai juga tampak sunyi senyap. Yang terlihat hanya seorang
gadis muda berbaju hijau dengan dua konde di atas kepala sedang duduk di
samping anglo. Sepertinya ia sibuk memasak arak sampai-sampai tidak menoleh
sedikit pun untuk memandang ke arah Lin Pingzhi dan rombongan.
“Kau di mana, Cai Tua?” seru Pengawal Zheng. “Lekaslah keluar
menuntun kuda Tuan Muda!”
Bai Er dan Chen Qi segera menarik bangku panjang di samping
salah satu meja, kemudian membersihkan debu di atasnya menggunakan lengan baju
masing-masing. Setelah itu keduanya pun mempersilakan Lin Pingzhi duduk.
Pengawal Shi dan Pengawal Zheng mendampingi sang tuan muda, sementara kedua
pengiring mengambil tempat duduk pada meja yang lain.
Dari dalam terdengar suara orang terbatuk-batuk, disusul
kemudian muncul seorang laki-laki berambut putih memberi sambutan, “Selamat
datang, Tuan-Tuan. Apakah Anda sekalian mau minum arak?” Dilihat dari logatnya
sepertinya ia berasal dari daerah utara.
“Memangnya kami kemari mau minum teh? Tentu saja kami mau minum
arak. Lekas bawakan kami tiga poci Arak Bambu Hijau,” sahut Pengawal Zheng.
“Hei, ke mana perginya si tua Cai? Apa kedai ini sudah berganti pemilik?”
“Baik, baik, Tuan! Wan’er, lekas bawakan tiga poci arak Bambu
Hijau,” sahut orang tua itu sekaligus memerintah si gadis baju hijau. “Sekadar
perkenalan, saya bermarga Sa. Sebenarnya saya lahir di kota ini namun sejak
kecil sudah ikut berkelana ke daerah lain untuk berdagang. Anak dan menantu
sudah meninggal semua. Ibarat pepatah mengatakan, setinggi-tingginya pohon
menjulang tetap saja daunnya jatuh di dekat akar. Akhirnya, saya pun memutuskan
pulang ke kampung halaman sini bersama cucu perempuan saya tadi. Tidak disangka
setelah empat puluh tahun lebih meninggalkan kampung halaman, seluruh sanak
keluarga sudah tak tersisa seorang pun. Ada yang meninggal, ada pula yang
pindah ke daerah lain. Untunglah saya bertemu Cai Tua yang merasa jenuh
meneruskan usahanya. Ia menjual kedai arak ini kepada kami seharga tiga puluh
tahil perak. Senang rasanya bisa pulang ke tanah kelahiran dan mendengar logat
daerah ini. Namun, malu juga rasanya sudah lupa bahasa kampung sendiri.”
Sementara itu, si gadis berbaju hijau yang dipanggil Wan’er tadi
telah datang membawa sebuah nampan kayu dengan kepala menunduk. Dipindahkannya
cawan, sumpit, dan tiga poci arak pada nampan itu ke atas meja Lin Pingzhi.
Setelah menjalankan tugasnya, dengan kepala tetap menunduk ia menyingkir pergi.
Sedikit pun tidak memandang wajah para tamunya.
Lin Pingzhi tertegun melihat perawakan Wan’er yang langsing
tetapi berkulit gelap dan kasap. Muka gadis itu sangat jelek, penuh dengan
burik bekas penyakit cacar. Mungkin karena baru saja melakukan pekerjaan
sebagai penjual arak, gerak-geriknya terlihat masih kaku. Demikian pikir Lin
Pingzhi sehingga ia tidak lagi memedulikan tingkah laku gadis tersebut.
Sementara itu, Pengawal Shi telah menyerahkan seekor ayam hutan
dan seekor kelinci kepada Kakek Sa, dan berkata, “Tolong kau bersihkan dan
masaklah menjadi dua piring!”
“Baik, baik!” sahut Kakek Sa penuh hormat. “Sebagai teman minum
arak, silakan Tuan-Tuan menikmati dulu sedikit daging rebus dan kacang goreng
kedai kami.”
Tanpa menunggu perintah, si gadis burik bernama Wan’er segera
membawakan potongan daging rebus dan kacang goreng tersebut untuk dihidangkan
ke meja tamu-tamunya.
Pengawal Zheng berkata, “Tuan Muda Lin ini adalah putra majikan
Biro Ekspedisi Fuwei. Beliau seorang kesatria muda yang budiman dan murah hati.
Bagi tuan muda kami uang bukanlah masalah. Asalkan masakanmu nanti cocok dengan
seleranya, maka semua modal yang telah kau keluarkan untuk membuka kedai ini
pasti akan segera kembali.”
“Baik, baik! Terima kasih banyak, terima kasih banyak!” jawab
Kakek Sa penuh hormat, kemudian pergi ke dapur membawa ayam hutan dan kelinci
tadi.
Pengawal Zheng lantas menuangkan arak untuk Lin Pingzhi dan
Pengawal Shi, serta untuk dirinya sendiri. Sekali teguk ia sudah menghabiskan
isi cawannya. Sambil berkecap-kecap ia berkata, “Kedai ini sudah berganti pemilik,
tapi rasa araknya tidak berubah.”
Usai berkata ia kembali mengisi cawannya dengan arak yang
berwarna hijau seperti daun bambu itu. Baru saja hendak minum untuk yang kedua
kalinya, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda di luar kedai. Tampak dua orang
penunggang muncul dari arah utara. Mereka memacu kuda masing-masing dengan
cepat dan dalam sekejap saja sudah sampai di depan kedai.
Terdengar salah seorang dari mereka berseru, “Hei, di sini ada
kedai arak! Mari kita minum dulu barang secawan!”
Pengawal Shi dapat mengenali logat bicara orang-orang itu
sepertinya berasal dari Provinsi Sichuan. Begitu menoleh keluar ia melihat dua
orang laki-laki memakai topi berpinggiran lebar –seperti caping– dengan baju
berwarna ungu. Setelah menambatkan kuda masing-masing mereka lantas masuk ke
dalam kedai. Sekilas kedua orang itu memandang ke arah Lin Pingzhi dan yang
lain, kemudian duduk dengan lagak seperti tuan besar.
Begitu caping dibuka, tampak kedua orang itu memakai ikat kepala
berupa kain warna putih. Yang tampak aneh lagi adalah kaki mereka memakai
sandal rami bertali, bukan sepatu seperti masyarakat pada umumnya. Pengawal Shi
paham tradisi orang Sichuan kebanyakan memang berdandan seperti itu. Sejak
kematian Perdana Menteri Zhuge Liang pada zaman Tiga Negara, orang-orang
Sichuan merasa sangat kehilangan. Dengan memakai ikat kepala warna putih,
mereka senantiasa menunjukkan sikap berkabung meskipun peristiwa itu sudah
berlalu lebih dari seribu tahun.
Sementara itu, Lin Pingzhi yang tidak tahu menahu diam-diam merasa
heran. Ia berpikir, “Dandanan kedua orang ini halus tidak, kasar juga tidak.
Pakaian mereka rapi, tapi alas kaki seperti kaum rendahan. Benar-benar aneh.”
“Arak! Bawakan kami arak!” seru salah seorang yang lebih muda.
“Sialan! Pegunungan di wilayah Fujian ini benar-benar banyak. Sampai-sampai
kuda pun kepayahan.”
Dengan muka menunduk, Wan’er si gadis burik mendekati kedua
tamunya yang baru datang itu. Ia pun bertanya dengan suara lirih, “Minta arak
apa?”
Walaupun suaranya sangat pelan tapi terdengar merdu. Lelaki muda
tadi melongok. Tiba-tiba ia tertawa sambil menjulurkan tangan kanan menyentuh
dagu Wan’er sehingga muka gadis itu mendongak ke atas. Tak lama kemudian
terdengar suaranya berseru sambil tertawa, “Wah, sayang! Sungguh sayang!”
Wan’er terkejut dan segera melangkah mundur. Laki-laki yang
satunya menyahut sambil tertawa, “Adik Yu, tubuh nona belang ini boleh juga.
Sayang sekali mukanya kasap seperti kertas amplas.”
Kedua orang Sichuan itu lantas tertawa lebih keras dan
terbahak-bahak.
Melihat ulah mereka Lin Pingzhi naik darah. Ia menggebrak meja
sambil berteriak, “Makhluk macam apa kalian ini? Dua bajingan buta berani
kurang ajar di Kota Fuzhou kita!”
“Hei, Kakak Jia, ada orang sedang mencaci-maki. Menurutmu, anak
kelinci itu sedang memaki siapa?” ujar pemuda bermarga Yu sambil mencibir.
Muka Lin Pingzhi memang putih dan cantik seperti ibunya.
Biasanya kalau ada yang berani mengolok-olok, pasti orang itu akan langsung
ditampar olehnya. Sekarang mendengar ada orang asing berani menyebutnya sebagai
anak kelinci –yang maksudnya berkulit putih halus– sudah tentu ia sangat
tersinggung. Tanpa pikir lagi, ia pun menyambar poci arak di atas meja dan
melemparkannya ke arah orang Sichuan itu. Namun demikian, si marga Yu sempat
berkelit sehingga poci yang terbuat dari timah itu terus saja melayang ke luar
kedai. Arak pun berceceran di lantai. Serentak Pengawal Shi dan Pengawal Zheng
bangkit dan melompat maju ke sisi kedua orang dari Sichuan tersebut.
Si marga Yu masih saja tertawa dan mengejek, “Bocah ini lebih
baik naik panggung opera dan berperan sebagai pelacur kecil, mungkin lebih
menarik. Kalau berkelahi jelas dia tidak pantas.”
“Apa kalian tidak tahu kalau Beliau ini adalah Tuan Muda Lin
dari Biro Ekspedisi Fuwei? Sungguh besar nyalimu berani menepuk lalat di atas
kepala harimau!” bentak Pengawal Zheng. Seketika tangan kirinya pun melayangkan
pukulan ke wajah si marga Yu.
Namun, hanya dalam sekali gerak tahu-tahu tangan Pengawal Zheng
sudah terpegang oleh lawan, dan dalam sekali tarik pula, tubuhnya langsung
terhuyung ke depan menabrak meja. Sekejap kemudian siku si marga Yu juga
bekerja dengan cepat mengenai tengkuk Pengawal Zheng, sehingga pria itu jatuh
ke tanah bersama meja kayu yang hancur berantakan.
Meskipun Pengawal Zheng bukan jago pilihan di antara para
pegawai Biro Fuwei, namun ia juga bukan golongan lemah. Kini hanya dalam sekali
gebrak saja ia sudah roboh, jelas menunjukkan pihak lawan bukan orang
sembarangan. Demikian pikir Pengawal Shi yang kemudian bertanya, “Siapa
sebenarnya sobat berdua ini? Sebagai sesama kaum persilatan, apakah kalian
benar-benar tidak memandang kepada Biro Ekspedisi Fuwei?”
“Biro Ekspedisi Fuwei? Hehe, baru kali ini aku mendengarnya.
Perusahaan macam apa pula itu?” sahut si marga Yu mengejek.
“Perusahaan khusus menghajar anjing macam kalian!” bentak Lin
Pingzhi sambil melompat maju lalu tangan kirinya menghantam ke depan. Sampai di
tengah jalan tangan kanannya memukul pula dari bawah. Gerakan ini dinamakan
jurus Sinar Menerobos Mega, yang merupakan bagian dari ilmu Tapak Semesta milik
keluarganya.
“Hei, anak manis ini boleh juga,” ejek si marga Yu sambil
menangkis serangan itu, kemudian tangan kanannya maju pula untuk mencengkeram
pundak lawan.
Dengan cepat Lin Pingzhi menuduk ke bawah, bersamaan tangan
kirinya memukul ke depan. Si marga Yu mengelak dengan memiringkan sedikit
kepala. Akan tetapi, gerakan tangan Lin Pingzhi cepat pula berubah dan kini
memainkan jurus Bunga di Balik Kabut. Tanpa ampun, si marga Yu pun terkena
tamparan pemuda itu satu kali.
Si marga Yu sangat gusar dibuatnya. Kakinya lantas menendang ke
depan, namun Lin Pingzhi sempat mengelak ke samping sambil membalas dengan
tendangan pula.
Sementara itu, Pengawal Shi juga sudah terlibat pertarungan
melawan orang bermarga Jia. Tampak Bai Er membangunkan Pengawal Zheng yang
masih meringis kesakitan. Sambil mencaci-maki, Pengawal Zheng bangkit menerjang
dengan maksud membantu Lin Pingzhi mengeroyok si marga Yu.
“Kau bantu Pengawal Shi saja!” seru Lin Pingzhi mencegah. “Aku
sendiri bisa membereskan bajingan ini.”
Pengawal Zheng paham watak si tuan muda yang selalu ingin tampil
sempurna dan enggan dibantu orang lain. Maka itu, ia pun mengambil sebatang
kaki meja yang patah tadi untuk dipukulkan pada kepala si marga Jia.
Pada saat itu Chen Qi dan Bai Er berlari keluar menuju kuda-kuda
mereka. Yang satu mengambil pedang Lin Pingzhi, sedangkan yang lain mengambil
tombak pemburu. Keduanya lantas masuk kembali dengan mulut mencaci-maki. Kedua
pegawai biro ini memang bukan petarung yang hebat. Akan tetapi dalam hal
kekuatan mulut, mereka sudah biasa berteriak-teriak di sepanjang jalan saat
mengawal barang dan rombongan. Maka itu, sudah sewajarnya kalau makian mereka
terdengar sangat lantang. Apalagi yang mereka lontarkan adalah caci maki berlogat
Fujian, sudah tentu kedua orang Sichuan itu sama sekali tidak mengerti
maksudnya. Keduanya hanya yakin kalau yang mereka ucapkan pasti bukan kata-kata
yang baik.
Lin Pingzhi semakin bersemangat dan memusatkan perhatiannya
untuk melancarkan jurus-jurus Tapak Semesta terhadap si marga Yu. Biasanya ia
berlatih melawan para pegawai biro, dan tidak seorang pun dari mereka yang
mampu menandinginya. Hal ini tentu saja dapat dimaklumi. Pertama, karena ilmu
pukulan ini memang hebat; dan kedua, para pegawai dengan sendirinya lebih suka
mengalah daripada benar-benar bertarung melawan sang majikan muda. Oleh karena
itu, meskipun pemahamannya terhadap jurus-jurus terdebut sangat mendalam, namun
pertarungan yang sesungguhnya jarang sekali ia alami.
Sebelum ini Lin Pingzhi pernah bertarung melawan para penjahat
jalanan di Kota Fuzhou. Tentu saja mereka bukan tandingan kehebatan Tapak
Semesta milik Keluarga Lin. Dalam tiga jurus saja para berandalan itu sudah
berlarian dengan wajah pucat dan babak belur.
Akan tetapi, kali ini yang menjadi lawannya adalah pemuda jago
silat dari Sichuan. Setelah belasan jurus berlalu rasa congkak Lin Pingzhi
mulai lenyap. Bahkan, orang bermarga Yu itu sambil bertempur masih sempat
membuka mulut untuk mengolok-olok pula. “Nak, jangan-jangan kau ini seorang
nona manis yang menyamar sebagai laki-laki? Mukamu putih dan cantik. Bagaimana
kalau kita sudahi saja pertarungan ini dan beri aku satu ciuman? Setelah itu
kita berteman dan bertamasya bersama!”
Lin Pingzhi semakin gusar. Ia lantas melirik ke arah Pengawal
Shi dan Pengawal Zheng. Ternyata kedua pegawai ayahnya itu juga tidak lebih
unggul dari lawan meskipun mereka bertarung bersama-sama. Bahkan hidung
Pengawal Zheng sudah berwarna biru matang serta mengeluarkan darah sampai
membasahi baju akibat terkena pukulan si marga Jia. Tanpa pikir lagi, Lin
Pingzhi mempercepat gerakannya dan berhasil menampar wajah lawan lebih keras
dari sebelumnya.
“Dasar anak bulus!” bentak si marga Yu murka. “Sebenarnya aku
hanya ingin bermain-main denganmu. Melihat wajahmu yang cantik, aku ingin
memelukmu. Sebaliknya, kau malah menghajar kekasihmu ini. Baiklah, jangan
salahkan aku jika terlalu kasar!” Usai berkata demikian, tiba-tiba pukulan si
marga Yu berubah lebih gencar. Kepalan tangannya bekerja naik-turun dan menghantam
Lin Pingzhi seperti angin badai.
Pertarungan kedua pemuda itu akhirnya berpindah ke luar kedai
arak. Ketika si marga Yu memukul ke depan, tiba-tiba Lin Pingzhi teringat
ajaran ayahnya mengenai teknik menangkis dan mendorong serangan lawan. Maka, ia
pun memainkan teknik itu menggunakan tangan kiri. Akan tetapi, tenaga si marga
Yu ternyata sungguh kuat, sehingga dorongan tersebut tidak mampu menghentikan
serangannya. Sebaliknya, justru dada Lin Pingzhi yang terkena pukulan musuh.
Dalam keadaan sempoyongan, tahu-tahu leher pemuda itu terkena cengkeraman
tangan kiri lawan pula.
Sekuat tenaga si marga Yu mendesak Lin Pingzhi sampai membungkuk
ke bawah. Menyusul kemudian tangan yang satunya ikut menekan tengkuk pemuda itu
dengan cara melintang di atas tangan yang pertama tadi. Gerakan ini dinamakan
jurus Palang Pintu Besi.
“Anak bulus, sekarang kau bisa menyembah dan memanggil paman
kepadaku sebanyak tiga kali. Setelah itu, barulah kulepaskan dirimu,” ujarnya
dengan tertawa.
Melihat itu, Pengawal Shi dan Pengawal Zheng berniat
meninggalkan lawan yang sedang mereka hadapi untuk segera membantu Lin Pingzhi.
Akan tetapi, orang bermarga Jia berusaha keras menghalangi dengan melancarkan
berbagai serangan sehingga kedua pegawai biro itu sulit menyingkir.
Di sisi lain, Bai Er lekas-lekas mengangkat tombaknya dan
menusuk ke arah punggung si marga Yu sambil berteriak, “Kau lepas tanganmu atau
tidak? Apa kau ingin mampus…”
Belum selesai ia berkata, tiba-tiba si marga Yu menyepak ke
belakang – tanpa menoleh – menggunakan kaki kiri sehingga tombak yang ia pegang
terlempar sejauh beberapa meter. Tidak hanya itu, kaki kanan pemuda itu juga
ikut mendepak sehingga Bai Er jatuh terguling beberapa kali.
“Bangsat keparat! Terkutuklah nenek moyangmu tujuh belas
keturunan!” sahut Chen Qi ikut mencaci-maki. Hanya saja ia tidak menerjang
maju, melainkan mundur karena ketakutan.
“Anak manis, kau mau menyembah kepadaku atau tidak?” tanya si
marga Yu sambil tertawa. Ia menambah tenaga pada kedua tangannya sehingga
kepala Lin Pingzhi semakin tertunduk ke bawah. Makin lama wajah pemuda itu
semakin rendah dan nyaris menyentuh tanah.
Lin Pingzhi yang terdesak mencoba mengayunkan kepalan untuk
menghantam perut lawan, tetapi selalu kurang beberapa senti dan gagal mencapai
sasaran. Sebaliknya, tengkuknya terasa sangat sakit seakan-akan hendak patah
pula. Matanya berkunang-kunang dan telinga pun terasa mendenging.
Dalam keadaan terdesak, kedua tangan Lin Pingzhi menghantam dan
mencakar sembarangan. Tiba-tiba tangannya menyentuh suatu benda keras yang
terselip di dalam sepatu. Tanpa pikir lagi, benda itu pun disambar dan
ditusukkannya ke depan sehingga menancap di perut orang bermarga Yu.
“Aaahh!” jerit si marga Yu kesakitan. Kedua tangannya melemah
dan ia berjalan mundur dua-tiga langkah. Raut mukanya menampilkan perasaan
takut dan ngeri. Ternyata sebilah pisau belati telah menancap di perutnya.
Gagang belati itu berwarna keemasan dan tampak berkilauan terkena cahaya
matahari senja di ufuk barat. Pemuda dari Sichuan itu membuka mulut lebar-lebar
namun tidak mampu bersuara. Tangannya mencoba untuk mencabut belati itu, namun
tidak berani menyentuh gagangnya.
Lin Pingzhi sendiri juga berdebar-debar ketakutan dan berjalan
mundur beberapa langkah. Sementara itu, si marga Jia dan kedua pengawal biro
juga menghentikan pertarungan. Mereka terperanjat melihat keadaan si marga Yu.
Pemuda itu tampak mulai terhuyung-huyung. Akhirnya ia nekad memegang gagang
belati dengan tangan kanan dan mencabutnya sekuat tenaga. Seketika darah segar
pun menyembur keluar sampai dua-tiga meter jauhnya. Semua yang menyaksikan
sampai menjerit kaget seolah tidak percaya dengan mata sendiri.
“Kakak Jia… Kakak Jia… ka… katakan ke… kepada Ayah supaya
membalaskan sakit hatiku,” serunya dengan suara terputus-putus sambil
melemparkan pisau belati itu ke depan. Sekejap kemudian ia pun roboh di tanah.
Tubuhnya menggelepar beberapa kali, kemudian berhenti untuk selamanya.
“Adik Yu, Adik Yu!” seru si marga Jia sambil berlari mendekati
kawannya itu.
“Ambil senjata!” ujar Pengawal Shi dengan suara lirih kepada
rekan-rekannya. Ia lantas mendahului berlari ke samping kudanya dan mengambil
sebilah golok panjang. Sebagai seorang pengawal berpengalaman, ia yakin si
marga Jia akan melabrak pihaknya habis-habisan.
Akan tetapi, orang bermarga Jia itu hanya menatap tajam ke arah
Lin Pingzhi beberapa detik. Dengan cepat ia memungut pisau belati di atas tanah
tadi, kemudian melompat mendekati kudanya. Sekali hentak, tahu-tahu ia sudah
berada di atas pelana. Tanpa membuang banyak waktu, ia memotong tali kendali
yang tertambat di pohon dan memacu kudanya secepat angin menuju utara.
Chen Qi mendekati mayat si marga Yu dan menendangnya satu kali
sehingga terbalik ke atas. Darah segar tampak masih mengucur keluar. “Dasar
bajingan! Kau memang sudah bosan hidup sehingga berani mengusik tuan muda
kami.”
Akan tetapi, Lin Pingzhi sendiri belum pernah membunuh orang
sebelumnya. Dengan nada gemetar pemuda itu berkata, “Pengawal Shi… Pengawal
Shi… bagai… bagaimana ini? Aku tidak pernah… aku tidak bermaksud membunuhnya.”
Pengawal Shi tampak sedang merenung. Ia berpikir, “Biro
Ekspedisi Fuwei sudah berdiri selama tiga generasi. Pertempuran yang berakhir
dengan kematian sudah sering kami hadapi. Namun biasanya yang kami bunuh adalah
para penjahat atau kaum persilatan golongan hitam, dan itu pun terjadi di
pegunungan sepi atau hutan yang sunyi. Selanjutnya, mayat-mayat mereka kami
kubur begitu saja, habis perkara. Namun kali ini yang menjadi korban bukan
seorang penjahat, juga terjadi di dekat permukiman penduduk. Pembunuhan bukan
masalah remeh. Bahkan putra seorang pejabat atau walikota sekalipun tidak bisa
dengan mudah lolos dari jerat hukum, apalagi hanya putra seorang pengusaha biro
ekspedisi.”
Berpikir demikian, Pengawal Shi mengerutkan dahi lalu berkata,
“Pindahkan mayat itu ke dalam kedai. Di sini dekat jalan raya. Kita tidak ingin
kalau sampai ada orang yang melihatnya.”
Untungnya waktu itu matahari sudah terbenam, serta jalanan juga
sunyi sepi. Dengan cepat Bai Er dan Chen Qi menggotong mayat si marga Yu masuk
ke dalam kedai.
“Apakah Tuan Muda membawa uang?” bisik Pengawal Shi kepada Lin
Pingzhi.
“Ada. Aku punya,” jawab Lin Pingzhi dengan cepat sambil
mengeluarkan seluruh isi kantongnya yang berjumlah dua puluh tahil perak.
Pengawal Shi menerima uang itu lantas masuk ke dalam kedai.
Diletakkannya semua uang itu di atas meja lalu berkata kepada si pemilik,
“Kakek Sa, orang asing ini telah menggoda cucu perempuanmu. Demi membela
kebenaran, Tuan Muda kami terpaksa membunuhnya. Kita semua menjadi saksi.
Urusan ini muncul karena kalian. Kalau sampai beritanya meluas, tentu kalian
pun tidak akan lepas dari masalah. Ambil semua uang ini dan lupakan yang telah
terjadi. Marilah kita kubur mayat ini dan anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.”
“Ya, ya, ya!” sahut Kakek Sa sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Pengawal Zheng ikut berbicara, “Membunuh beberapa penjahat bagi
kami hanyalah urusan kecil. Kedua tikus Sichuan ini bermata jelalatan dan
sangat mencurigakan. Kalau bukan kaum perampok, tentu mereka adalah penjahat
yang biasa menodai perempuan. Kedatangan mereka ke Kota Fuzhou ini sudah pasti
untuk melakukan kejahatan. Tuan muda kami mengetahui penyamaran mereka dan
segera bertindak tegas. Jasa tuan muda kami sebenarnya cukup besar, namun
Beliau tidak suka menonjolkan diri. Lebih baik persoalan ini dianggap selesai
saja. Oleh karena itu, hendaknya kalian tutup mulut rapat-rapat. Kalau urusan
ini sampai bocor, tentu kalian akan celaka sendiri. Sudah pasti masyarakat akan
menganggap kalian sebagai komplotan mereka, mengingat logat bicara kalian
terdengar asing. Kalian akan dituduh membuka kedai arak hanya sebagai
penyamaran, padahal sebenarnya kalian adalah mata-mata mereka. Bagaimana tidak?
Kalian baru saja membuka kedai arak, tiba-tiba saja muncul dua penjahat dari
luar daerah. Bukankah ini sangat kebetulan?”
“Kami tidak akan bicara apa-apa. Kami tidak mengetahui apa-apa,”
ujar Kakek Sa terburu-buru.
Pengawal Shi telah memimpin Bai Er dan Chen Qi mengubur jenazah
si marga Yu di kebun sayur belakang kedai arak. Kemudian mereka juga
membersihkan ceceran darah di depan kedai tadi.
Pengawal Zheng kembali berkata kepada Kakek Sa, “Jika dalam
sepuluh hari tidak terjadi apa-apa, maka kami akan mengirim lima puluh tahil
perak lagi kepadamu. Tapi awas kalau kalian sembarangan mengoceh di sana-sini…
Huh, Biro Fuwei kami sudah banyak membinasakan kawanan penjahat. Kalau ditambah
dengan kalian berdua, paling-paling hanya kebun sayurmu itu saja yang bertambah
isinya dengan dua mayat.”
“Kami tidak berani! Kami tidak berani! Terima kasih banyak!
Terima kasih banyak!” sahut Kakek Sa gugup.
Hari telah gelap ketika semua urusan di kedai itu dirasa beres.
Perasaan Lin Pingzhi sudah agak tenang meskipun jantungnya masih
berdebar-debar. Sepanjang perjalanan pulang ia terus-menerus berpikir, apakah
peristiwa pembunuhan tersebut harus dilaporkan kepada ayahnya atau tidak.
Sesampainya di rumah, Lin Pingzhi langsung berjalan memasuki
ruang depan. Dilihatnya sang ayah sedang duduk di kursi malas sambil memejamkan
mata. Sepertinya majikan Biro Ekspedisi Fuwei yang bernama Lin Zhennan itu
sedang memikirkan sesuatu.
“Ayah,” dengan sikap agak kaku Lin Pingzhi menyapa.
Lin Zhennan membuka mata dan menjawab sambil tersenyum ramah,
“Baru pulang dari berburu? Mendapat babi hutan atau tidak?”
“Tidak,” jawab Lin Pingzhi gugup.
Tiba-tiba Lin Zhennan mengangkat sebatang pipa cangklong dan
memukulkannya ke pundak Lin Pingzhi sambil membentak, “Terima ini!”
Lin Pingzhi hafal kebiasaan ayahnya yang suka menyerang
tiba-tiba untuk mengetahui sampai di mana perkembangan ilmu silatnya. Biasanya,
apabila sang ayah menyerang dengan jurus kedua puluh enam dari Ilmu Pedang
Penakluk Iblis yang bernama Bintang Jatuh Melayang, tentu secara spontan Lin
Pingzhi langsung menangkisnya dengan jurus keempat puluh enam yang bernama
Bunga Mekar Menghadap Buddha. Namun hari ini perasaannya sedang gelisah. Ia
mengira peristiwa di kedai arak tadi telah terbongkar sehingga sang ayah
berniat menghukumnya. Maka itu, ia tidak berani berkelit dan hanya berseru, “Ayah!”
“Hei, ada apa ini?” tegur Lin Zhennan sambil menahan pipa
cangklongnya yang sudah berjarak beberapa senti di atas pundak Lin Pingzhi.
“Kalau bertemu musuh tangguh tentu sebelah bahumu ini sudah terpenggal begitu
saja.” Meskipun ucapannya bernada membentak, namun bibirnya tetap tersenyum.
“Baik,” jawab Lin Pingzhi sambil kemudian menunduk ke bawah.
Dengan cepat ia memutar ke belakang Lin Zhennan dan menyambar kemoceng yang
terletak di atas meja teh untuk ditusukkan ke punggung ayahnya itu. Gerakan
inilah yang disebut jurus Bunga Mekar Menghadap Buddha.
“Harusnya tadi seperti ini!” seru Lin Zhennan sambil mengangguk.
Pipa cangklongnya lantas menangkis, dan kemudian balas menyerang menggunakan
jurus Meniup Seruling di Tengah Sungai. Dengan penuh semangat Lin Pingzhi
mematahkan serangan ayahnya menggunakan jurus Pelangi Melintas dari Timur.
Ayah dan anak itu bertarung hingga lebih dari lima puluh jurus,
sampai akhirnya pipa cangklong Lin Zhennan dengan cepat menotok dada kiri Lin
Pingzhi satu kali. Karena tidak sempat menangkis, seketika Lin Pingzhi merasa
lengan kanannya kaku kesemutan sehingga kemoceng yang dipegangnya pun jatuh di
atas lantai.
“Bagus, bagus sekali! Selama sebulan ini kau sudah mendapat
banyak kemajuan. Hari ini kau dapat bertahan empat jurus lebih banyak daripada
kemarin!” kata Lin Zhennan dengan tersenyum sambil duduk kembali. Setelah
mengisi tembakau ke dalam pipa, ia menyambung, “Ping’er, coba tebak! Hari ini
kita baru saja mendapatkan berita bagus.”
Tanpa disuruh, Lin Pingzhi langsung mengambil pemantik api untuk
menyalakan tembakau di pipa ayahnya sambil bertanya, “Apakah Ayah telah
menerima order barang kawalan dalam jumlah besar?”
Lin Zhennan menggeleng dan berkata, “Selama pelayanan kita
bagus, order kawalan pasti akan datang dengan sendirinya. Kau tidak perlu
khawatir perusahaan kita sepi rejeki. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana
menambah kekuatan agar dapat melaksanakan tugas pengawalan dengan lebih baik.
Jangan sampai banyak order datang, tetapi kita tidak mampu memenuhinya.”
Setelah menghembuskan asap tembakaunya, Lin Zhennan kembali
berkata, “Berita bagus yang ini disampaikan oleh Pengawal Zhang dari cabang
Hunan, bahwa Pendeta Yu pemimpin Kuil Cemara Angin telah menerima barang-barang
hadiah dari kita. Beliau adalah ketua Perguruan Qingcheng yang terletak di
Sichuan Barat.”
Mendengar nama “Pendeta Yu di Sichuan Barat”, jantung Lin
Pingzhi langsung berdebar kencang. Spontan ia menegas, “Barang-barang hadiah
dari kita telah diterima Pendeta Yu?”
“Benar!” sahut Lin Zhennan. “Beberapa urusan perusahaan memang
ada yang tidak Ayah bicarakan denganmu sehingga wajar kalau kau pun kurang
begitu mengetahuinya. Namun, Ayah merasa kau ini sudah mulai dewasa, sehingga
cepat atau lambat beban yang Ayah pikul selama ini harus dipindahkan ke atas
bahumu. Maka, mulai sekarang kau harus lebih banyak memperhatikan dan
mempelajari pekerjaan-pekerjaan dalam perusahaan kita.”
Setelah diam sejenak, ia melanjutkan, “Nak, keluarga kita sudah
tiga generasi melakukan pekerjaan mengawal barang. Biro kita telah menjadi
perusahaan pengawalan terbesar dan terkuat di sepanjang daerah selatan Sungai
Yangtze. Dari mana datangnya kemajuan-kemajuan yang kita peroleh selama ini?
Pertama, karena nama besar kakek buyutmu; kedua, karena ilmu silat yang
diturunkan leluhur kita juga cukup disegani pihak kawan maupun lawan, misalnya
Ilmu Pedang Penakluk Iblis ataupun Tapak Semesta. Akan tetapi, dunia usaha
tidaklah sederhana itu. Nama besar hanya berperan dua puluh persen saja, sedangkan
kepandaian ilmu silat berperan dua puluh persen pula. Sisanya yang enam puluh
persen ditentukan oleh kemampuan kita menjalin hubungan baik dengan berbagai
pihak, baik itu dari golongan putih maupun golongan hitam.”
Lin Zhennan menghisap pipa cangklongnya dan menghembuskan banyak
asap, kemudian melanjutkan, “Coba pikir, kereta perusahaan kita sudah
menjelajahi sepuluh provinsi. Jika dalam setiap perjalanan harus bertempur
melawan orang lain, dari mana kita mendapatkan cadangan nyawa untuk bertahan hidup?
Padahal, meskipun bisa menang tetap saja jatuh korban di pihak kita. Untuk
mengganti kerugian serta uang pensiun para pegawai kita yang gugur diperlukan
biaya tidak sedikit. Tidak jarang kita harus menambal dengan menggunakan kas
perusahaan karena upah pengawalan yang kita terima tidak mencukupi. Maka itu,
kita yang hidup dari usaha pengawalan ini harus mengutamakan persahabatan.
Tangan juga harus selalu terbuka. Menjalin hubungan baik jauh lebih penting
daripada main senjata dan mengandalkan kepandaian belaka.”
“Ya, Ayah,” jawab Lin Pingzhi. Biasanya, ia selalu mendengarkan
penuturan sang ayah dengan penuh semangat, mengingat Biro Ekspedisi Fuwei
lambat laun akan diwarisi olehnya. Namun kali ini hatinya sedang gelisah
memikirkan “pendeta bermarga Yu dari Sichuan Barat” sehingga ucapan ayahnya itu
sama sekali tidak menimbulkan hasrat untuk balik bertanya.
(Bersambung...)

0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...