Senin, 17 November 2014

PENDEKAR BODOH - Eps.01

EPS.01 
TONGKAT DEWA BADAI

1

TANGGAL lima belas, bulan Sapar, penanggalan Jawa.

Sang candra bundar bak kuning telur melekat

di layar hitam langit kelam. Kerlip berjuta bintang

ber-canda dalam permainan cahaya gemerlap. Putaran

waktu berlalu, membawa hari ke tengah malam buta.

Sepi menggeluti bumi, berkuasa di atas mayapada.

Angin berhembus dingin, mengusik tatanan si-

rap yang menjadi atap rumah joglo di lereng Gunung

Lawu. Rumah yang menjadi tempat tinggal para murid

Perguruan Tapak Sakti itu tergeluti sepi pula. Semua

penghuninya telah terlelap dalam buaian mimpi. Di an-

tara suara dengkur orang tidur, terdengar tekur bu-

rung hantu yang ditimpali suara jangkrik mengerik.

Malam semakin larut.

Namun, di tengah sepi yang merajai suasana

malam di Perguruan Tapak Sakti itu, seorang bocah le-

laki terbaring gundah di dalam empok, bangunan kecil

di sisi kiri-belakang rumah joglo.

Tubuh kurus si bocah menggeletak miring di

atas tumpukan jerami. Berkali-kali dia mendesah pan-

jang. Ada beban berat yang membebani batinnya, se-

hingga dia kelihatan begitu resah.

Saat si bocah menggerakkan tubuhnya, terbar-

ing telentang, dapatlah dilihat wajahnya yang tampan

namun tampak sangat lugu. Bola matanya yang bun-

dar bening menatap kosong tatanan bambu yang me-

nopang sirap. Alisnya tebal, kedua ujungnya meleng-

kung ke atas, memberi kesan gagah laksana sayap

elang menukik. Hidungnya mancung dengan sebentuk

bibir kemerahan.

Sayang, ketampanan bocah berumur dua belas

tahun itu agak tersamar oleh noda lumpur yang mele-

kat di kedua pipinya. Tubuhnya pun hanya terbung-

kus pakaian kumal penuh tambalan. Di beberapa ba-

gian malah terlihat robek-robek karena tak sempat di-

tambal. "Ibu...," desis si bocah bernama Seno Prasetyo.

"Maafkan aku, Bu.... Mungkin aku telah mengecewakan mu. Aku telah datang ke Perguruan Tapak Sakti,

menuruti pesanmu, tapi aku tak dapat belajar ilmu si-

lat di sini...."

Seno mengerjap-ngerjapkan matanya untuk

menahan air bening yang hendak tumpah. Dia tak

mau menangis. Kalau dia sampai menangis, berarti dia

tak tabah. Kalau dia tak tabah, berarti dia tak kuasai menjalani hidup yang penuh tantangan ini. Begitulah

pengertian yang selalu melekat di benak Seno.

Namun, tak dapat bocah amat lugu itu mengu-

sir rasa sedih di hatinya. Sebagai manusia biasa, dia pun tak mampu menipu diri sendiri. Bayangan Ibunya

tiba-tiba berkelebat di benaknya....


* * *

Ketika itu sang baskara baru beranjak naik. Si-

narnya lemah, hingga hembusan angin leluasa mem-

beri kesejukan di kemarau panjang yang sedang me-

landa tanah Jawa.

Dengan pandangan nanar, Seno menatap pe-

tak-petak sawah yang gundul tanpa tanaman. Di anta-

ra pematang, terlihat permukaan tanah kering retak-

retak. Sedih hati Seno. Dia tak bisa menanam apa-apa di

tanah kering seperti itu. Namun kemudian, tercetus

sebuah gagasan. Dia akan mengambil air sungai yang

membelah bukit di tempat ia tinggal. Dia akan memin-

ta izin Ibunya terlebih dulu. Kalau ada

apa-apa, biar nanti dia tidak disalahkan.

Terkadang Seno merasa heran dan tak habis

mengerti, kenapa Ibunya mau tinggal seorang diri di

balik bukit sebelah selatan. Padahal, di punggung bu-

kit sebelah utara terdapat aliran sungai yang bisa di-manfaatkan untuk bercocok tanam di musim kemarau.

Kini, saat musim kemarau telah tiba, petak-petak sa-

wah yang telah dibuat oleh Seno bersama ibunya me-

mang tak dapat ditanami lagi.

"Ah Bagaimanapun, aku harus menanam padi.

Aku harus membuat sawah kering ini menjadi basah.

Walau aku harus berjalan jauh melingkari bukit sam-

bil memikul gentong-gentong berisi air, aku akan tetap melakukannya," tekat Seno.

Karena merasa mendapat gagasan cemerlang,

sedih di hati Seno jadi hilang. Dengan mata berbinar-

binar, dia bawa kakinya melangkah setengah berlari,

untuk dapat segera pulang dan mengutarakan gaga-

sannya kepada sang ibunda tercinta.

Namun mendadak, Seno terhenyak kaget. Kon-

tan langkahnya terhenti. Dari jarak sepuluh tombak,

dengan kaki gemetaran, Seno menatap tak berkedip

sebuah gubuk bambu yang nyaris terbakar musnah

oleh si jago merah.

Lidah-lidah api begitu cepat melalap gubuk

yang menjadi tempat tinggal Seno bersama Ibunya itu.

Mulut Seno pun ternganga, penuh rasa tidak percaya.

Ibu Seno bukanlah orang yang ceroboh, sehingga ke-

bakaran itu mustahil terjadi karena keteledoran.
Pasti ada orang yang telah berbuat jahat Tapi, siapa?

Bukankah Seno dan ibunya tinggal di bukit terpencil yang

hampir tak mungkin dijamah orang lain?

Trang Trang

Terdengar suara benturan senjata tajam. Seno

terhantam keterkejutan lagi. Karena yakin ada orang

yang sedang bertempur di halaman belakang rumah-

nya, cepat Seno berlari menuju ke sana. Lupa sudah

dia pada keadaan rumahnya yang tengah terbakar.

Tak dipedulikannya si jago merah yang terus melalap

ganas. Seno berlari sekuat tenaga agar dapat segera

sampai di halaman belakang.

Dan ketika Seno tengah berlari, terdengar oleh-

nya suara seorang lelaki yang disambung kata-kata

kasar. Ucapan orang itu begitu keras dan penuh pen-

garuhi sehingga tanpa sadar Seno menghentikan lang-

kahnya lagi.

"Ha ha ha... Susah payah aku mencarimu, ki-

ranya kau berada di sini. Setelah ku bakar rumahmu,

masihkah kau berkeras hati untuk tetap tak mau

mengatakan di mana suamimu berada? Hayo, cepat

katakan, di mana Darma Pasulangit berada? Atau, ke-

tajaman pedangku ini akan segera mencincang tu-

buhmu"

Begitu kalimat yang penuh ancaman itu terhen-

ti, Seno mendengar suara seorang wanita yang telah

dikenalnya. yaitu suara ibunya.

"Banyak Langkir keparat Jahanam kau kaki-

tangan raja licik Parameswara Siapa takut menghada-

pi ketajaman pedangmu? Kalau memang mampu, se-

gera kau buktikan kata-katamu itu"

Lalu, Seno mendengar rentetan kata-kata kotor

si lelaki. Disusul kemudian dengan terdengarnya suara berdesing babatan pedang.

Suara benturan senjata tajam ditimpali pekik kemarahan terdengar pula.

Seno baru menyadari keadaan saat mendengar

jerit kesakitan ibunya. Namun ketika hendak berlari,

kaki kanan Seno tersandung batu. Karena tak dapat

menjaga keseimbangan tubuhnya, dia pun menggelo-

sor jatuh ke tanah berdebu.

Trang Wukh

"Argh..."

Sekali lagi, terdengar jerit kesakitan sang ibu.

Pandangan si bocah lugu Seno Prasetyo jadi semakin

nyalang dan penuh rasa khawatir. Bergegas dia melon-

cat bangkit. Tapi karena tergesa-gesa dan tidak hati-

hati, dia terpeleset. Dia pun jatuh menggelosor kemba-li. Malang,

kali ini kepala si bocah membentur sebongkah batu

yang menonjol di permukaan tanah. Karena

benturannya cukup keras, bocah berpakaian itu jatuh

pingsan

Sementara itu, di dekat gubuk bambu yang

masih dilahap keganasan api, seorang wanita cantik

bersenjata pedang tampak berdiri terhuyung-huyung.

Kain bajunya yang berwarna putih telah ternoda cairan darah.

Ada luka di bahu kiri dan pinggang kanannya.

Luka itu tidak seberapa dalam, tapi cukup banyak

mengeluarkan darah.

Dia Ibu Seno Prasetyo, Dewi Ambarsari yang

bergelar Putri Bunga Putih

Sekitar dua tombak di hadapan pendekar wani-

ta itu, berdiri seorang lelaki setengah baya berpakaian kuning-hijau.

Rambutnya panjang, diikat dengan sehe-lai kain merah.

Tangan kanannya mencekal sebatang

pedang yang ternoda beberapa titik cairan darah.

"Aku telah membuat tubuhmu terluka. Masih-

kah kau tak mau mengatakan di mana Darma Pasu-

langit berada?" ujar lelaki bernama Banyak Langkir itu,

menatap bengis sosok Dewi Ambarsari.

"Huh Walau telah terluka, jangan harap kau

dapat mengancamku dengan gertak sambal mu itu Li-

hat..." Mendadak, Dewi Ambarsari menyambitkan pedangnya.

Sambitan pedang itu dilakukan dengan se-

kuat tenaga, mengarah tepat ke jantung Banyak Lang-

kir

Wuttt...

Trang...

Dengan satu tangkisan yang disertai pengera-

han tenaga dalam tingkat tinggi, mudah sekali Banyak

Langkir membuat terpental pedang Dewi Ambarsari.

Tapi..., alangkah terkejutnya lelaki berperawakan ke-

kar itu. Tiba-tiba, luncuran pedang Dewi Ambarsari

berbalik arah. Melesat lebih cepat dan hendak menu-

suk Jantung Banyak Langkir lagi

"Haram jadah" maki Banyak Langkir seraya

berkelit.

Wuttt...

Tusukan pedang Dewi Ambarsari hanya men-

genai tempat kosong. Anehnya, pedang itu kembali

berbalik arah. Terus mengejar ke mana pun Banyak

Langkir berkelit

Sementara lelaki itu meloncat ke sana-sini un-

tuk menghindari bahaya maut, Dewi Ambarsari tam-

pak menggerak-gerakkan kedua telapak tangan. Agak-

nya, dia tengah mengendalikan gerak pedangnya den-

gan menggunakan kekuatan tenaga dalam yang bersi-

fat menarik dan mendorong.

Dewi Ambarsari menamakan ilmu itu 'Pedang

Terbang Memburu Jiwa'. Dan berkat ilmu itulah gelar

Putri Bunga Putih jadi cepat terkenal di rimba persilatan.

Akan tetapi, tak mudah untuk melumpuhkan

Banyak Langkir. Sebagai orang kepercayaan Prabu Wi-

ra Parameswara, tentu saja dia memiliki ilmu kesak-

tian tinggi. Dan... salah satu ilmu kesaktian lelaki itu terlihat manakala...,

Blus...

Pedang Dewi Ambarsari tepat menembus perut

Banyak Langkir. Namun Banyak Langkir malah terta-

wa bergelak. Tak ada cairan darah yang menetes. Lela-

ki itu tak merasa kesakitan sama sekali

"Ha ha ha... Dengan Ilmu 'Lubangi Tubuh Me-

nahan Senjata', tak akan ada orang yang dapat mem-

bunuhku Kau tahu itu, Ambarsari? Buka matamu le-

bar-lebar"

Dewi Ambarsari yang tengah berusaha menca-

but pedangnya dengan pengerahan tenaga dalam jarak

jauh tampak terkesiap. Matanya terbeliak lebar saat

melihat Banyak Langkir menepuk-nepuk dadanya sen-

diri. Seirama dengan tepukan itu, pedang Dewi Ambar-

sari semakin dalam menembus perutnya

Lalu, cepat sekali Banyak Langkir membalikkan

badan seraya menepuk dadanya lebih keras

Buk... Wuttt...

Mendadak, pedang Dewi Ambarsari melesat ke-

luar dan hendak menusuk dada sang empunya sendiri

"Ilmu setan Ilmu setan" seru Dewi Ambarsari dalam keterkejutannya.

Bergegas wanita cantik itu menggeser kedudu-

kan tubuh. Tangan kanannya turut berkelebat. Walau

telah terluka, dia masih dapat bergerak cepat. Bilah

pedang yang hendak menusuk dadanya berhasil di-

tangkap.

Akan tetapi, Dewi Ambarsari tidak tahu bila

Banyak Langkir telah menerjang. Jerit kesakitan sege-

ra terdengar saat ketajaman pedang Banyak Langkir

kembali melukai tubuh Dewi Ambarsari

"Sengaja aku tak langsung membunuhmu, Am-

barsari," ujar Banyak Langkir dengan senyum keme-nangan menghias di bibir.

"Sekali lagi, katakan di ma-na Darma Pasulangit berada"

Dalam keadaan jatuh terduduk, Dewi Ambarsa-

ri menatap tajam sosok Banyak Langkir. Tak terdapat

sinar ketakutan di matanya walau dia berada di am-

bang maut.

"Keparat kau, Banyak Langkir" geram wanita itu, menahan rasa sakit.
"Kalaupun aku tahu di mana Darma Pasulangit berada, tak akan kukatakan Kau

hanya kaki-tangan raja licik, Parameswara"

Berkerut kening Banyak Langkir mendengar

kata-kata Dewi Ambarsari. "Hmmm.... Jadi, wanita ini tak tahu tempat persembunyian Darma Pasulangit.

Sayang... sayang sekali...," ucapnya dalam hati.

"Bunuhlah aku kalau memang itu yang menjadi

keinginanmu" tantang Dewi Ambarsari, mengacung-

kan pedang.

"Tak perlu Aku tak perlu repot-repot mengelua-

rkan tenaga lagi," sahut Banyak Langkir. "Walau luka-lukamu tidak seberapa dalam, tapi kalau banyak da-

rah yang keluar, bukankah kau tetap akan mati?"

Di ujung kalimatnya, Banyak Langkir tertawa

bergelak. Perlahan kakinya melangkah. Namun, di be-

naknya terkandung satu maksud.... "Dewi Ambarsari dan Darma Pasulangit memiliki seorang anak laki-laki.

Anak itu harus kubunuh pula"

Kaki Banyak Langkir terus melangkah... ke uta-

ra Dan karena salah arah itulah bahaya tak jadi men-

gancam Seno Prasetyo yang masih tergolek pingsan.

Karena putaran waktu terus berlalu, Seno pun

siuman. Begitu ingatannya kembali, si bocah langsung

meraba-raba kepalanya yang benjol.

"Ibuuu..." teriak bocah itu ketika melihat gubuk bambunya yang telah hangus terbakar.

Bergegas Seno bangkit. Siku kanannya tampak

memar, sementara lutut kirinya pun lecet dan menge-

luarkan darah. Tapi, Seno tak menghiraukan rasa sa-

kit. Dia berlari, berlari, dan berlari sekencang mungkin.

Sesampai di halaman belakang, Seno tak meli-

hat siapa-siapa kecuali seorang wanita cantik berpa-

kaian serba putih, yang tengah tergolek lemah di ta-

nah. Wanita yang tak lain ibu Seno Prasetyo itu tam-

pak bermandikan darah.

"Ibuuu..." pekik khawatir Seno, melompat ke hadapan

sang ibu seraya menopang kepala wanita itu.

"Seno anakku...," desis sang Ibu bernama Dewi Ambarsari.

"Maafkan Ibu, Nak.... Ibu harus pergi...."

"Tidakkk... Ibu tidak boleh pergi Seno tak mau hidup sendiri" pekik Seno lagi,

semakin khawatir. Apalagi luka di dada sang ibu terus mengucurkan darah

segar. Sementara, Dewi Ambarsari yang direjam rasa

sakit mencoba tersenyum. Dengan tangan gemetaran,

dielusnya rambut Seno penuh kasih. Kontan rasa haru

merebak di hati si bocah. Bibirnya bergetar dan ma-

tanya pun berkaca-kaca. Seno hendak menangis.

"Anakku, Seno Prasetyo...," sebut sang ibu dengan suara berat berwibawa.

"Sampai di mana pun kau merasakan kesengsaraan dan kedukaan,

kau tidak boleh menangis Apa kau lupa pada nasihat Ibu?"

"Ya. Ya, Ibu. Seno tidak lupa, tapi...," menggantung kalimat Seno,

Ditekannya perasaan sedih yang

menggeluti batinnya. Air mata yang hendak jatuh me-

nitik diusapnya pula.

"Seno,.., kalau kau masih ingat nasihat Ibu itu,

coba kau ulangi. Ibu ingin mendengarnya...," perintah sang ibu, sungguh-sungguh.

Seno mengusap lagi matanya untuk menghalau

air bening yang hendak tumpah. Sambil memandang

wajah pucat sang Ibu, Seno berkata,

"Mana dapat Seno lupa pada nasihat yang seringkali Ibu berikan...?

Dalam keadaan apa pun, Seno tidak boleh menangis. Ka-

lau Seno menangis, berarti Seno tidak tabah. Kalau

Seno tidak tabah, berarti Seno tak kuasa menjalani hidup yang

kata Ibu memang penuh tantangan dan co-

baan...."

"Bagus" puji sang ibu Dewi Ambarsari. "Kalau nanti Ibu pergi,

Seno tidak boleh menangis pula. Kuburkan mayat Ibu sedalam kau mampu menggali ta-

nah di Bukit Takeran ini..."

"Ibuuu...," desis Seno. "Ibu tidak boleh pergi.

Siapa nanti yang menemani Seno...?"

"Hus" sentak sang ibu, menekap luka di da-

danya. "Kau harus tahu, Seno. Semua manusia menjalani tiga tahap kehidupan yang telah ditentukan oleh

Sang Pencipta. Pertama, hidup di alam kandungan se-

bagai janin. Kedua, hidup di alam nyata atau dunia fa-na seperti yang Seno lihat dan rasakan ini.

Ketiga atau yang terakhir, setiap manusia akan hidup di alam bar-zah atau alam kekal. Di sana, setiap manusia akan

menerima pembalasan dari segala perbuatannya di

dunia fana. Yang baik akan menerima budi kebaikan-

nya dan yang jahat akan menerima balasan siksa dari

kejahatannya...."

"Ibu...," sebut Seno semakin khawatir karena melihat sang ibu begitu memaksakan diri untuk dapat

berbicara banyak.

"Seno Kau tidak boleh menangis" sentak sang ibu lagi. "Ibu akan segera pergi untuk 
menjalani kehi-
dupan Ibu yang ketiga. Relakan kepergian Ibu. 

Setelah kau mengubur mayat Ibu nanti, pergilah ke Perguruan

Tapak Sakti. Belajarlah ilmu olah kanuragan di pergu-

ruan silat yang terletak di lereng Gunung Lawu itu.

Kau di sana akan mendapat banyak teman. Jadi, tak

perlu kau sesali kepergian Ibu nanti...."

"Ya. Ya, Bu. Tapi...."

"Hus Tak ada kata 'tapi' lagi" potong sang ibu.

"Ingat satu lagi pesan ibu. Seumur hidup kau harus jujur. Sekali kau tidak jujur,

maka akan ada ketidakjujuran yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kalau sudah begitu, kau akan terbiasa berbohong. Dan kalau sudah

terbiasa berbohong, suatu saat kau pasti akan meme-

tik buah kebohongan mu itu...."

"Ya. Ya, Bu. Seno berjanji akan selalu jujur...,"

sambut Seno penuh kesungguhan.

"Bagus Kau memang anak yang baik," puji

sang ibu. "Kenapa Ibu berkata bahwa kau harus selalu jujur, Seno? Kau harus tahu bahwa apa yang terjadi

pada Ibu ini tak lain karena akibat ketidakjujuran

ayahmu.... Ayahmu telah berbohong. Dan, Ibu yang

sebenarnya tidak bersalah apa-apa turut menanggung

akibatnya pula...."

"Ayah?" kesiap si bocah lugu Seno Prasetyo.

"Siapa sebenarnya ayah Seno, Bu? Kenapa Seno tidak pernah bertemu dengannya? Apakah dia masih hidup,

Bu? Di mana dia sekarang? Dan, kenapa dia membo-

hongi Ibu?"

Dewi Ambarsari menarik napas panjang men-

dengar si bocah yang mencecarnya dengan rentetan

pertanyaan. Dewi Ambarsari teringat masa lalunya.

Rasa sedih tiba-tiba datang merejam kalbunya. Air ma-

tanya hendak menitik, tapi cepat dia tekan rasa sedih itu.

Kemudian dengan suara yang mulai terbata-

bata, Dewi Ambarsari berkata, "Ayahmu bernama

Darma Pasulangit. Dia seorang putra mahkota raja

Mahespati yang bernama Darma Sagotra. Sayangnya,

ayahmu tak dapat diangkat menjadi raja karena seo-

rang punggawa kerajaan berpangkat senopati berhasil

menyulut api pemberontakan. Kakekmu, Eyang Darma

Sagotra, meninggal di ujung keris Senopati Raksa Ja-

linti. Lalu, ayahmu menjadi seorang buronan....

Bertahun-tahun dia mengasingkan diri dan terus berlatih

ilmu bela diri. Hingga lima tahun kemudian,

dia keluar dari tempat persembunyiannya dengan memakai gelar

Ksatria Seribu Syair, karena ayahmu memang pandai

membuat syair dan sajak.... Kemudian, dia berkenalan

dengan Ibu. Waktu itu Ibu sudah cukup punya nama

di rimba persilatan. Orang-orang menjuluki Ibu seba-

gai Putri Bunga Putin.... Huk Huk”

Terbelalak mata Seno melihat sang ibu batuk-

batuk dan dari sudut bibirnya melelehkan darah segar.

"Ibuuu..." pekik khawatir si bocah. "Katakan 

bagaimana aku harus menolong Ibu? Katakan Ibu

Apakah aku harus menggendong Ibu menuruni bukit

untuk pergi ke seorang tabib? Katakan Ibu Jangan

buat Seno jadi ketakutan seperti ini"

"Hus Kau tidak bersalah, kenapa harus ta-

kut?" sentak sang ibu untuk kesekian kalinya.

Tak ada seorang pun tabib yang dapat menolong Ibu.

Luka-luka Ibu terlalu parah.... Oleh karena itu, yang dapat

Seno lakukan hanyalah mendengarkan kata-kata Ibu

ini...." "Ya. Ya, Seno mengerti. Tapi...."

"Sudah Ibu bilang, tidak ada kata 'tapi' Buka

telingamu lebar-lebar. Dengarkan kata-kata ibumu

ini...."

Mengangguk si bocah lugu Seno Prasetyo. Ang-

gukannya perlahan dan penuh getaran karena mena-

han air mata yang mendesak hendak tumpah.

"Perkenalan Ibu dengan Ksatria Seribu Syair

berlanjut menjadi akrab...," Dewi Ambarsari mene-ruskan ceritanya.

"Kami sama-sama jatuh cinta dan menikah, lalu lahirlah kau, Seno. Namun, kau harus

tahu. Ibu mau menikah dengan Ksatria Seribu Syair

karena Ibu tidak tahu kalau dia sebenarnya adalah

seorang bekas putra mahkota bernama Darma Pasu-

langit. Ayahmu itu telah membohongi Ibu. Semula, dia

mengaku bernama Wisnu Sidharta.... Hingga sampai

akhirnya, terjadilah rentetan peristiwa yang amat men-gerikan itu.

Saat kau masih berumur enam bulan, ke

mana pun ibu dan ayahmu pergi, kami selalu dikejar-

kejar orang yang punya satu niat, yakni membunuh

kami. Karena Ibu curiga, Ibu melakukan penyelidikan.

Dan kemudian, Ibu dapat membuktikan bahwa ayah-

mu memang telah membohongi Ibu. Dengan memakai

nama Wisnu Sidharta dan bergelar Ksatria Seribu

Syair, ayahmu bermaksud menyusun kekuatan untuk

merebut kembali takhta Kerajaan Mahespati yang telah

direbut Senopati Raksa Jalinti. Namun, maksud

ayahmu itu tercium, dan Senopati Raksa Jalinti pun

mengirim kaki-tangannya untuk membunuh ayahmu

dan tentu saja Ibumu ini.... Karena tak tahan hidup

selalu jadi buronan orang, Ibu memisahkan diri den-

gan ayahmu. Ibu terus hidup berpindah-pindah men-

cari tempat yang aman sambil merawat dirimu hingga

kau sebesar ini...."

"Lalu, ke mana perginya Ayah, Bu?" tanya Se-no,

tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

Kepala sang ibu menggeleng lemah. "Ibu tak ta-

hu. Namun, yang harus kau tahu, sekarang Ibu telah

menjadi korban kebohongan ayahmu. Dan secara tak

langsung, kau pun turut menanggung akibatnya. Kau

akan menjadi anak piatu, Seno...."

"Tidak, Bu Ibu tidak boleh pergi" pekik Seno, kalut. "Hus Sudah Ibu bilang

bahwa setiap manusia akan menjalani tiga tahap kehidupan.

Ibu pun demikian. Ibu harus pergi untuk menjalani tahap kehidu-

pan Ibu yang ketiga...," tutur Dewi Ambarsari, mencoba tersenyum

untuk menguatkan hati putranya. "Dan sebelum Ibu pergi, Ibu Ingatkan sekali lagi.

Kau harus tabah menjalani kehidupan ini. Selain tabah,

kau harus jujur pula. Kau tidak boleh berbohong. Apa yang

terjadi pada Ibu ini, bisa kau jadikan sebagai pelajaran.... Huk Huk"

Dewi Ambarsari menutup kalimatnya dengan

batuk-batuk. Darah segar meleleh lagi dari sudut bi-

birnya. Dia pun menekap erat luka di dadanya dengan

tangan kanan. Sementara, tangan kirinya membelai

rambut si bocah lugu Seno Prasetyo.

"Ibu...," desis Seno dengan kesedihan yang semakin merebak.

"Seno anakku...," sahut Dewi Ambarsari.

Kepala Seno ditekannya lalu diciumnya kedua pipi si bocah.

Seno pun terhanyut haru dalam ciuman itu.

Namun, segera dia memekik parau saat mengetahui

pelukan sang ibu melemah dan hembusan nafasnya

terhenti karena terlalu banyak darah yang keluar

Dewi Ambarsari meninggal dalam pelukan buah kasihnya....

"Ibuuu... Ibuuu..."

Seno memekik berulang kali. Dia panggil seraya

menggoyang-goyangkan tubuh ibunya. Tapi, Dewi Am-

barsari tetap diam. Kelopak matanya terpejam rapat.

Bibirnya menyungging senyum. Dewi Ambarsari tam-

pak begitu ikhlas melepas nyawanya dalam pelukan si

bocah lugu Seno Prasetyo.

Walau kesedihan telah membuat remuk redam

hati Seno, tapi bocah lelaki itu tak mau menangis.

Tekadnya sudah bulat untuk menuruti semua nasihat

dan pesan ibunya. Saat sang baskara tegak lurus di

atas kepala; Seno mulai menggali tanah dengan meng-

gunakan pedang peninggalan ibunya yang baru saja

digunakan untuk bertempur.

Menuruti pesan sang ibu, Seno menggali tanah

sekuat tenaga. Dia ingin mengubur jenazah ibunya se-

dalam dia mampu. Dan karena menggali dengan sege-

nap tekad membaja, dia mampu membuat lubang se-

dalam dua tombak. Ketika itu hari sudah menjelang

malam. Susah payah Seno membopong jenazah ibunya

untuk disemayamkan. Pedang peninggalan sang ibu

turut dikuburkan pula. Begitu lubang makam sudah

ten timbun rapi, Seno tergolek pingsan karena kelela-

han. Saat cahaya fajar menyiramkan warna keema-

san, Seno siuman. Sampai sang baskara beranjak naik

membawa hari menjadi pagi, Seno terus duduk ber-

simpuh, mengucap doa-doa bagi sang ibu.

"Ibu...," desis si bocah lugu kemudian.

"Aku ta-hu orang yang membunuh Ibu adalah seorang lelaki

bernama Banyak Langkir atas suruhan Raksa Jalinti.

Aku bersumpah untuk membalas kebiadaban ini"

Seno tahu nama orang yang telah membunuh

ibunya karena dia sempat mendengar sang ibu menye-

but nama lelaki yang membakar rumah dan kemudian

membunuh wanita yang paling dicintainya itu.

"Aku akan pergi ke Perguruan Tapak Sakti," tekad si bocah lugu lagi.

"Setelah cukup menimba ilmu,

akan kucari pula ayahku yang bernama Darma Pasu-

langit atau Wisnu Sidharta yang bergelar Ksatria Seri-bu Syair.

Walau dia ayahku, aku tetap akan meminta

pertanggung jawabannya karena dia telah membohongi

mu dan kemudian membuatmu begitu menderita,

Bu...." Usai mengutarakan tekad hatinya,

Seno mencium pusara ibunya. Lalu, dia bangkit seraya meman-

dang sisa gubuk bambunya yang telah terbakar habis

menjadi arang dan setumpuk abu.

Seno lalu mendorong-dorong sebongkah batu

sebesar kambing untuk dijadikan tanda di makam

ibunya. Karena batu itu cukup berat dan letaknya cu-

kup jauh, Seno pun mendapat kesulitan. Tapi, Seno

punya tekad baja. Dia tak mau menyerah. Hingga keti-

ka sang baskara telah bergeser di atas kepala, akhir-

nya dapatlah Seno meletakkan nisan bongkah batu di

makam ibunya.

Dengan keringat membanjir dan perut lapar

melilit-lilit, Seno menatap makam ibunya beberapa la-

ma. Diciumnya nisan bongkah batu seraya berkata,

"Seno pergi ke Gunung Lawu sekarang, Bu. Semoga

Ibu dapat tenang dan bahagia dalam menjalani kehi-

dupan Ibu yang ketiga...."

Seno menguatkan hatinya agar tak menangis.

Dia bungkukkan badannya tiga kali, lalu membalikkan

badan, berjalan tertatih-tatih menuruni lereng Bukit

Takeran....


***

2


GUNUNG Lawu terletak di sebelah barat Bukit

Takeran. Namun karena tidak seberapa paham akan

daerah-daerah di sekitarnya, langkah kaki si bocah lu-gu

Seno Prasetyo melenceng arah ke utara. Dia berja-

lan dengan semangat dan tekad yang panas bergelora.

Tapi, semangat dan tekad besar itu justru membuat

Seno melangkah tanpa perhitungan matang.

Setelah menempuh perjalanan selama dua hari,

sampailah dia di tepi Alas Roban. Karena bingung me-

lihat hutan yang begitu luas dan lebat, Seno bermak-

sud mencari dusun atau desa sebagai tempat untuk

beristirahat, sekaligus mencari keterangan di mana letak

Perguruan Tapak Sakti yang berada di lereng Gu-

nung Lawu.

Sebenarnya, sejak dari turun dari Bukit Take-

ran, Seno telah melihat puncak sebuah gunung yang

tinggi menjulang. Namun karena tidak yakin apakah

gunung yang dilihatnya itu adalah puncak Gunung

Lawu atau bukan, Seno berjalan ke utara. Lagi pula,

puncak gunung yang dilihatnya itu tak sebegitu jauh

dari Bukit Takeran, sehingga Seno berpikiran bahwa

tak mungkin ibunya memberikan wasiat yang begitu

mudah dicapai. Bukankah kalau orang punya tujuan

dan cita-cita tinggi akan banyak mendapat kesulitan

dan tantangan? Kalau Perguruan Tapak Sakti di lereng

Gunung Lawu dapat dicapai dengan mudah, lalu di

mana letak kesulitan dan tantangan itu? Begitulah pi-

kiran yang ada di benak Seno. Sehingga, dia tak mau

mengambil arah ke puncak gunung yang sejak semula

telah terlihat olehnya.

Tapi setelah langkah kakinya sampai di tepi

Alas Roban, barulah Seno sadar bila telah tersesat jalan.

Dia lalu memutuskan untuk berjalan ke timur. Di

sepanjang perjalanan, dia makan seadanya. Asal dapat

menghilangkan rasa laparnya, apa pun makanan yang

dia jumpai akan disantapnya.

Pada perjalanan di hari ketiga, langkah kaki si

bocah lugu Seno Prasetyo sampai di sebuah desa ter-

pencil bernama Karangmojo. Di desa itu, Seno berma-

lam sehari di rumah seorang petani miskin. Dari petani itu,

Seno mendapat keterangan bahwa puncak gunung

yang sejak semula dilihatnya ternyata memang puncak

Gunung Lawu. Maka, tiada henti Seno merutuk dan

mengutuk kebodohannya sendiri.

Dan dari mulut si petani miskin pula, Seno

mendapat keterangan lain yang tak kalah berharga.

Menurut cerita petani itu, tujuh belas tahun yang lalu di

kotapraja Mahespati memang terjadi pertempuran

besar-besaran. Pasukan pemberontak yang dipimpin

oleh Senopati Raksa Jalinti bermaksud menggulingkan

takhta Prabu Darma Sagotra, yang kemudian berhasil

dibunuhnya.

Pasukan kerajaan lalu tercerai-berai. Banyak

yang mati, banyak pula yang melarikan diri. Sang pu-

tra mahkota Darma Pasulangit pun turut mencari se-

lamat, dan tak terdengar lagi kabar beritanya.

Kemudian, Senopati Raksa Jalinti mengangkat

dirinya sendiri sebagai raja Mahespati. Setahun setelah memegang tampuk kekuasaan,

Raksa Jalinti mengganti namanya menjadi Wira Parameswara.

"Lalu, sampai sekarang ini apakah Prabu Wira

Parameswara dapat menjalankan pemerintahan den-

gan baik, Kek?" tanya Seno di pagi hari itu.

Si petani miskin yang tak lebih dari seorang

kakek kurus tak segera menjawab pertanyaan si bo-

cah. Diambilnya sepotong ubi yang disuguhkan is-

trinya. Setelah menyantap habis ubi itu, barulah dia

membuka suara lagi.

"Walau mendapat kekuasaan dengan cara yang

tidak benar, boleh dikata Prabu Wira Parameswara da-

pat menjalankan pemerintahan dengan baik. Dia dapat

berbuat adil dan bijaksana, sehingga hati para pung-

gawa istana menjadi senang. Dan tampaknya, rakyat

pun puas pula melihat kepemimpinan sang Prabu.

Hanya saja...."

"Hanya saja apa, Kek?" kejar Seno karena mendengar kalimat si petani yang menggantung.

"Hmmm.... Tampaknya, kau begitu tertarik

mendengar cerita ku. Memangnya kau ini siapa?" si petani malah menyelidik.

Mendengar pertanyaan itu, ingin rasanya Seno

berdusta. Karena kalau dia berterus terang, bukan

mustahil dirinya berada dalam bahaya. Bukankah di-

rinya adalah putra bekas putra mahkota Mahespati,

Darma Pasulangit yang mencoba menyusun kekuatan

untuk dapat merebut kembali takhta kerajaan? Bu-

kankah ayahnya itu terus menjadi buronan, yang bu-

kan mustahil dirinya turut menjadi buronan pula?

"Hei Kenapa kau diam saja, Seno? Kau tak

mendengar pertanyaanku?" sentak si petani miskin.

Sejenak, Seno nyengir kuda. Teringat akan pe-

san ibunya yang melarangnya untuk berbohong, ak-

hirnya Seno menjawab.

"Aku adalah putra Ksatria Seribu Syair."

"Ksatria Seribu Syair?" kening si petani berkerut rapat. Sebagai seorang petani yang tak mau men-

campuri urusan rimba persilatan, orang tua ini tak ta-hu siapa itu Ksatria Seribu Syair.

"Kakek tidak pernah mendengar nama Ksatria

Seribu Syair?" tanya Seno, kebodoh-bodohan.

"Aku seorang petani miskin yang tak tahu uru-

san rimba persilatan. Mana aku mengenal orang yang

kau sebutkan itu?" ujar si petani. "Tapi, cobalah kau terangkan siapa Ksatria Seribu Syair itu?"

Seno nyengir kuda lagi. Karena melihat kebai-

kan si petani dan karena tak mau berbohong pula, ter-

paksa Seno bercerita.

"Sebenarnya, Ksatria Seribu Syair itu adalah

sebuah gelar, Kek. Dia sendiri bernama Darma Pasu-

langit. Tapi dulu ketika berjumpa dengan ibuku, dia

mengaku bernama Wisnu Sidharta. Kemudian...."

"Sebentar” potong si petani. "Kau tadi berkata bahwa Ksatria Seribu Syair adalah Darma Pasulangit.

Berarti, kau ini putra bekas calon pewaris takhta Ma-

hespati.... Benarkah itu?"

"Benar, Kek," angguk Seno. "Kemudian, setelah ibuku tahu kalau ayahku sebenarnya adalah seorang

buronan, ibuku lari dengan membawa diriku. Hingga

beberapa candra yang lalu, aku dan ibuku tinggal di

Bukit Takeran. Tapi, kini Ibuku telah meninggal dibu-

nuh orang, Kek...."

Si petani tak seberapa mendengarkan cerita

Buyung lagi. Begitu tahu bila Seno adalah putra Dar-

ma Pasulangit, hatinya langsung diliputi perasaan tak enak.

Rasa takut dan khawatir bergelut pula dalam dirinya. "Seno...," sebut si petani kemudian,

Tarikan nafasnya tiba-tiba memburu. "Bukan aku tak membolehkan

kau tinggal di tempat ini. Tapi, kau harus tahu,

kalau kau berada di sini, sama saja aku memelihara

anak harimau...."

"Kakek mengusirku?" tanya Seno, kebodoh-

bodohan lagi.


"Tidak Aku tidak mengusirmu” tukas si petani,

cepat. "Sampai hari ini, kudengar orang-orang

Prabu Wira Parameswara terus mencari ayahmu itu. Aku tak

mau terkena getahnya...."

Usai berkata, si petani membungkus suguhan

ubi yang masih tersisa dengan daun pisang. Lalu, dia

sodorkan bungkusan ubi itu kepada Seno seraya ber-

kata, "Aku tidak mengusirmu. Tapi, kau harus pergi jauh-jauh dari desa ini.

Bawalah ubi ini sebagai be-kalmu...."

Si petani bangkit berdiri dari tikar pandan. Wa-

lau dia berkata tidak mengusir, namun dipaksanya

Seno untuk berdiri. Lalu, si bocah yang masih terlon-

gong bengong diseretnya keluar rumah.

"Hei Kenapa dengan bocah itu, Aki?” tegur istri si

petani yang tiba-tiba muncul dari serambi belakang.

"Walau kita tak punya anak, tapi bocah lelaki

ini harus cepat angkat kaki dari rumah kita, Ni” seru si petani.

"Kenapa?" sentak si istri, agak marah. "Dia putra Darma Pasulangit"

"Apa?"

"Dia putra Darma Pasulangit"

"Bekas putra mahkota yang menjadi buronan

itu?" "Ya"

Mendengar keterangan suaminya, mendadak

amarah si nenek ditujukan kepada Seno yang sebe-

narnya tak berdosa apa-apa. Seno yang masih tampak

terlongong bengong didorong-dorongnya sampai keluar

dari halaman rumah. Akhirnya, Seno pun menyadari

keadaan. Demi keselamatan si petani dan istrinya dia

memang harus segera pergi.

Seno melangkah cepat. Tapi....

"Tunggu dulu" cegah si petani.

Langkah Seno terhenti seraya menoleh. Tampak

olehnya si kakek miskin yang menyorongkan bungku-

san ubi sambil berkata, "Bawalah ubi ini, Seno"

Karena Seno masih harus berjalan jauh yang

tentu saja butuh makanan, segera dia melangkah un-

tuk menerima ubi pemberian si petani. Tapi, istri lelaki tua itu

tiba-tiba merampas bungkusan ubi yang hendak diberikan kepada Seno.

"Jangan, Aki" sergah si nenek. "Jangan beri apa-apa

kepada bocah itu. Kalau orang-orang sang

Prabu tahu kita memberi makan pada anak Darma Pa-

sulangit, kita nanti bisa celaka"

"Ya. Ya" sambut si kakek.


Seno menarik napas panjang. Setelah nyengir

kuda sejenak karena kecewa, dia melangkah cepat un-

tuk segera dapat pergi dari desa Karangmojo. Dia pun

melangkah semakin cepat, agar dapat sampai pula di

lereng Gunung Lawu yang kini telah dia ketahui letak-

nya.



* * *



Enam hari kemudian....

Setelah melalui aral rintangan berupa tebing

terjal dan rimbunan semak belukar, sampailah Seno di

sebuah rumah joglo besar beratap sirap. Rumah yang

terletak di lereng Gunung Lawu itu adalah padepokan

Perguruan Tapak Sakti.

Namun sayang, beberapa murid perguruan silat

itu mengusir dan menghardik Seno. Tampang si bocah

memang kelihatan begitu kotor dan dekil. Selembar

pakaian yang melekat di tubuhnya pun sudah robek di

sana-sini. Selain itu, kedatangan Seno pun bertepatan

dengan meninggalnya ketua padepokan yang bernama

Ki Tunggul Jaladara yang telah digerogoti usia tua.
Sehingga, dalam suasana berkabung, anak murid Pergu-

ruan Tapak Sakti tak mau menerima tamu. Apalagi,

tamu itu hanya seorang bocah macam Seno Prasetyo

yang miskin-papa.

Namun karena tekad di hati Seno sudah sede-

mikian besar dan kuat, dia tak mau pergi jauh dari

padepokan. Dengan tidur di atas pohon, dia menunggu

selama tujuh hari sampai suasana berkabung habis.

Dan pada pagi itu, dengan tubuh lelah lunglai

karena kurang makan dan kepayahan, Seno menda-

tangi lagi Perguruan Tapak Sakti.

Kebetulan kedatangan Seno disambut langsung

oleh Gagak Ireng, seorang murid tertua yang telah

menggantikan Ki Tunggul Jaladara. Tapi, nasib apes

agaknya masih suka mengiringi perjalanan hidup si

bocah lugu Seno Prasetyo. Gagak Ireng ternyata punya

sifat berangasan dan tinggi hati. Sifat buruk itu
ter-cermin dari kata-katanya manakala dia menyambut

Seno di halaman padepokan.

"Hei Tujuh hari yang lalu, menurut laporan

anak buahku, ada seorang bocah gembel datang kema-

ri. Apakah gembel itu kau?"

Gagak Ireng yang bertubuh tinggi besar dan

brewokan menatap tajam wajah dekil Seno, seakan in-

gin menelan tubuh si bocah. Sementara, Seno yang

mendengar ucapan kasar Gagak Ireng tampak ragu-

ragu. Dia tak segera menjawab karena tak tahu yang

disebut bocah gembel itu dirinya atau bukan. Seno

merasa, walau tubuhnya kurus kotor dan berpakaian

compang-camping, tapi dirinya bukan gembel. Bukan-

kah dirinya putra sepasang pendekar? Menurut piki-

ran Seno, putra seorang tokoh terkenal tidak bisa dis-

ebut gembel, bagaimanapun keadaannya.

"Hei Kau dengar pertanyaanku atau tidak?"

sentak Gagak Ireng yang melihat Seno diam terpekur.

"Pertanyaan apa, Tuan Pendekar?" si bocah balik
bertanya dengan raut wajah kebodoh-bodohan.

Semakin melotot bola mata Gagak Ireng. "Dasar

tuli" umpatnya. "Tujuh hari yang lalu ada seorang bocah gembel
datang kemari. Apakah bocah gembel itu

kau?" Seno tak segera menjawab lagi. Setelah berpikir-pikir, akhirnya dia berkata,
"Tujuh hari yang lalu saya memang datang ke padepokan ini, Tuan Pendekar. Tapi..., saya bukan gembel...."

"Ha ha ha..." tertawa bergelak Gagak Ireng melihat keluguan si bocah.
"Kalau bukan gembel, lalu kau ini apa? Pengemis? Atau gelandangan?"

"Saya bukan pengemis, Tuan Pendekar. Seu-

mur hidup, saya memang tidak pernah mengemis. Ta-

pi, kalau diberi makanan orang, saya sangat senang

dan pasti menerimanya. Tapi, saya tidak mengemis,

Tuan Pendekar. Saya diberi bukan karena saya me-

minta...," tutur Seno. "Tapi, Tuan Pendekar, kalau saya disebut gelandangan,
mungkin ada benarnya. Beberapa hari ini saya memang hidup menggelandang karena

melakukan perjalanan jauh. Ibu saya baru saja me-

ninggal, Tuan Pendekar...."

Mendengar kata-kata si bocah yang tampak be-

gitu jujur dan terkesan sangat lugu, Gagak Ireng ter-

tawa bergelak lagi. Suara tawa ketua Perguruan Tapak

Sakti yang baru itu begitu kerasnya, sampai belasan

murid yang tengah berlatih di halaman belakang

menghentikan latihannya karena terkejut. Tapi setelah mengenali
suara tawa itu berasal dari mulut sang ketua, mereka segera melanjutkan latihan lagi.

"Ha ha ha... Kau ini lucu, Bocah Kau tidak

mau disebut gembel, tapi mau disebut sebagai gelan-

dangan. Lalu, apa bedanya gembel dengan gelandan-

gan?" kejar Gagak Ireng. Pemuda berumur tiga
puluh tahunan ini mulai suka pada Seno karena melihat keluguan si bocah.

Mendengar pertanyaan Gagak Ireng, Seno

nyengir kuda sejenak. Matanya mengerjap-ngerjap, se-

hingga wajahnya tampak jenaka. Namun, dia bingung

juga. Apa bedanya gembel dan gelandangan? Dia tak

bisa menjawab. Tapi karena dia tadi sudah telanjur

berkata tak mau disebut gembel dan membolehkan

orang menyebut dirinya sebagai gelandangan, maka

diputarnya otak untuk mencari perbedaan dua sebu-

tan itu. "Begini, Tuan Pendekar...," ujar Seno kemudian.
"Gembel itu orang jelek dan sangat miskin.
Kalau gelandangan, dia juga sangat miskin, tapi belum tentu kalau dia jelek...."

"Ha ha ha...” tertawa lagi Gagak Ireng.
"Kau ini aneh, Bocah. Aku tahu kau sangat lugu dan jujur. Apa

yang ada di hatimu, maka itulah yang kau katakan.

Aku pun tahu kedatanganmu ini tentu punya maksud

agar aku bersedia mengangkatmu sebagai murid. Kau

sudah memenuhi salah satu syarat. Karena kejuju-

ranmu itu. Tapi, ada banyak syarat lain yang harus

kau penuhi agar bisa menjadi murid Perguruan Tapak

Sakti..." "Apa saja itu, Tuan Pendekar?" buru Seno.
"Apa pun akan saya lakukan agar saya dapat belajar ilmu

silat. Saya harus membalas kematian ibu saya. Ibu

saya dibunuh orang, Tuan Pendekar...."

"Hmmm.... Itu alasan basi, Bocah. Hampir se-

mua murid di padepokan ini berkata punya dendam

karena orangtua atau orang yang sangat dicintainya

mati dibunuh orang, lalu datang ke padepokan ini un-

tuk belajar ilmu silat, agar kelak dapat menuntut ba-

las. Dulu, ketika pertama kali datang ke hadapan Ki

Tunggul Jaladara, aku pun punya alasan seperti itu.

Tapi, aku tidak berbohong. Kedua orang tuaku me-

mang mati dibunuh orang. Kemudian, aku diterima.

Namun sebelum diberi pelajaran ilmu silat,
Ki Tunggul Jaladara memberi wejangan.
Suatu saat nanti, aku boleh menuntut
balas pada si pembunuh kedua orang

tuaku. Tapi, aku tidak boleh menuntut balas karena

alasan dendam. Apa yang kulakukan hanyalah karena

dorongan jiwa pendekar bahwa yang jahat mesti dibe-

rantas, kebenaran mesti dijunjung, dan keadilan mesti ditegakkan....
Kau mengerti apa yang kukatakan, Bocah?" Nyengir kuda Seno.
Karena umurnya belum genap dua belas tahun, yang tentu saja akal pikirannya

tidak seberapa pintar, maka hanya beberapa bagian

kalimat Gagak Ireng yang dapat dimengertinya.

Sementara, Gagak Ireng yang melihat Seno te-

rus nyengir kuda, tertawa bergelak lagi. "Ha ha ha...

Kau tak mengerti pun tak jadi apa, Bocah. Pada saat-

nya nanti, kau pasti akan mengerti. Yang penting,
agar bisa diterima menjadi murid Perguruan Tapak Sakti,

kau harus jujur. Lain itu, kau harus punya jiwa ksa-

tria. Membela yang lemah, dan menindas yang kuat

namun jahat.... Sekarang, aku ingin tahu, siapa na-

mamu, kenapa ibumu sampai meninggal dibunuh

orang, dan apakah ayahmu sudah meninggal pula?"

Senang sekali hati Seno mendengar kata-kata

Gagak Ireng yang kini terdengar ramah dan bersaha-

bat. Karena desakan rasa senangnya itu, dia bangkit

dari duduk bersimpuhnya, lalu mencium kedua kaki

Gagak Ireng.

"Eh Eh Kau ini kenapa?" sentak Gagak Ireng karena
kaget melihat perilaku si bocah.

Seno duduk bersimpuh lagi. "Saya senang,

Tuan Pendekar. Sungguh saya senang sekali...."

"Kenapa?"

"Karena saya akan diterima jadi murid...."

"Siapa bilang? Aku baru mau bertanya, Bodoh”

Mengelam paras Seno mendengar ucapan Ga-

gak Ireng yang kembali keras dan ketus. Setelah nyen-

gir kuda sejenak, si bocah berkata, "Saya kira Tuan
Pendekar mau mengangkat saya sebagai murid...."

"Untuk menjadi murid Perguruan Tapak Sakti

tidak mudah, Bocah. Ada banyak syarat dan ujian

yang harus kau penuhi. Namun kesemuanya itu, yang

terpenting adalah sifat. Hanya orang bersifat jujur dan
ksatria yang dapat menjadi murid padepokan ini...."

"Saya pasti jujur, Tuan Pendekar," sambut Se-no.
"Seumur hidup, saya tak akan berbohong. Sebelum
meninggal, ibu saya berpesan bahwa saya tidak boleh

berbohong. Kalau berbohong, suatu saat saya pasti

akan celaka."

"Bagus Tapi kuharap kesanggupan untuk me-

menuhi pesan Ibumu itu bukan hanya untuk bermanis

mulut saja. Kau harus benar-benar menjalankannya.

Sekarang, katakan siapa namamu dan ceritakan asal-

usulmu...."

"Nama saya Seno Prasetyo, Tuan Pendekar,"

ujar Seno dengan mata berbinar-binar karena men-

dengar nada ucapan Gagak ireng melembut lagi.
"Sejak kecil, saya hidup berpindah-pindah dengan ibu saya.

Ibu saya bernama Dewi Ambarsari. Beberapa candra

yang lalu, bersama Ibu, saya tinggal di lereng Bukit

Takeran. Namun, sekitar dua puluh hari yang lalu, se-

belum saya datang ke padepokan ini, rumah saya di

Bukit Takeran dibakar orang. Dan..., ibu saya dibu-

nuh...." Wajah Seno berubah muram durja saat mengatakan bila
Ibunya dibunuh orang. Setelah menarik na-

pas panjang untuk menguatkan hatinya, dia menyam-

bung ucapannya.

"Sebelum meninggal, ibu saya bercerita bahwa

sebenarnya ibu saya bergelar Putri Bunga Putih. Dan,

ayah saya adalah Darma Pasulangit atau Ksatria Seri-

bu Syair...."

"Apa?" kejut Gagak Ireng. Tanpa sadar pemuda brewokan ini tersurut mundur.
"Kau bohong Kau dusta Darma Pasulangit adalah buronan kerajaan. Mana

mungkin dia membiarkan putranya hidup berkeliaran

seperti dirimu?"

"Sungguh, Tuan Pendekar Saya tidak berbo-

hong Kalau berbohong, saya akan celaka," tegas Seno.

"Ayah saya memang Darma Pasulangit atau Ksatria Seribu Syair.
Ibu saya Dewi Ambarsari atau Putri Bunga

Putih...."

Begitu Seno berhenti berkata, Gagak Ireng maju

selangkah. Mendadak tangan kanannya berkelebat

Plakkk...

"Aduhhh..."

Gagak Ireng menampar wajah Seno. Walau

hanya menggunakan tenaga luar, tapi tamparan itu

sudah cukup mampu untuk membuat tubuh Seno ter-

pelanting dan jatuh berguling-guling.

Terkejut bukan main si bocah lugu Seno Pra-

setyo. Setelah bangkit dia menatap tak mengerti. Ke-

napa Gagak Ireng menamparnya? Apa salahnya? Bu-

kankah dia telah berkata jujur?

Seno duduk bersimpuh lagi. Pakaiannya yang

kotor terlihat makin kotor. Pipi kirinya yang bengkak lebam terasa panas luar biasa.
Tapi, Seno mampu menahan rasa sakit itu. Dia pun tak menangis. Dan me-

mang, dia tak boleh menangis. Kalau menangis, berarti dia tidak tabah.
Kalau tidak tabah, berarti dia tak kuasa menjalani hidup yang penuh cobaan dan tantangan

ini. Dengan pengertian itu, Seno pun menganggap

tamparan Gagak Ireng sebagai cobaan hidupnya. Un-

tuk mencapai tujuan dan cita-cita tinggi, sudah wajar apabila menemui banyak aral dan rintangan.

Sementara Seno terlihat duduk bersimpuh lagi

dan diam terpekur, Gagak Ireng melototkan bola mata.

Dengan kata-kata keras menggelegar, dia berujar.

"Kalau kau keturunan Putri Bunga Putih dan

Ksatria Seribu Syair, tak mungkin kau dengan mudah

dapat kutampar Walau umurmu belum seberapa, an-

dai kau memang benar putra kedua pendekar itu, kau

pasti bisa berkelit Atau..., kau memang sengaja tak

berkelit?"

"Saya... saya tidak bohong, Tuan Pendekar...,"

sahut Seno, tergagap. "Saya memang anaknya Putri Bunga Putih dan
Ksatria Seribu Syair. Tapi..., saya tak mengerti ilmu silat karena kedua orangtua saya tak

pernah mengajari.... Saya tidak pernah berjumpa den-

gan ayah saya. Sementara, saya pun hidup berpindah-

pindah dengan ibu saya, sehingga Ibu saya tak punya

waktu untuk mengajari ilmu silat kepada saya. Dan,

saya pun tak pernah minta diajari karena saya tidak

tahu kalau sebenarnya ibu saya adalah seorang pen-

dekar wanita bergelar Putri Bunga Putih...."

"Bohong" sentak Gagak Ireng dengan mata

mendelik. "Pergi kau Perguruan Tapak Sakti tak

mungkin menerima pendusta macam kau Masih kecil

sudah pandai berbohong, apalagi nanti kalau sudah

besar Ayo, cepat pergi kau"

Kasar sekali Gagak Ireng mencekal lengan

Buyung. Lalu, tubuh si bocah dilemparkannya keluar

halaman. Namun, bergegas Seno bangkit. Tak dia ra-

sakan rasa sakit yang merejam tubuhnya. Dia berlari.

Sesampai di hadapan Gagak Ireng lagi, dia bentur-

benturkan dahinya ke tanah, sampai benjol dan berda-

rah. "Terimalah saya sebagai murid, Tuan Pende-

kar...," iba Seno. "Apa pun akan kulakukan asal
Tuan Pendekar meluluskan permohonan saya...."

Melihat kenekatan si bocah, Gagak Ireng mere-

dam amarahnya. Dan setelah berpikir-pikir, dia berka-

ta, "Andai kau benar anak Ksatria Seribu Syair,
kau malah akan kulempar jauh-jauh dari padepokan ini.

Aku tak mau Perguruan Tapak Sakti punya urusan

dengan pihak kerajaan. Tapi karena aku tak percaya

kalau kau anak buronan itu, bolehlah kau tinggal di

sini...." "Terima kasih... terima kasih, Tuan Pendekar...,
" sambut Seno, membentur-benturkan lagi dahinya ke tanah.

"Aku belum selesai bicara Kau boleh tinggal di

sini, tapi bukan sebagai murid Tiap pagi kau harus

menggembalakan kambing dan mencari rumput untuk

makanan kuda. Dan sore harinya, kau harus mencari

air untuk keperluan ku”

Berkerut kening Seno mendengar ucapan Ga-

gak Ireng. Tanpa sadar, dia menatap Gagak Ireng sam-

bil nyengir kuda. Dan dalam hati, dia berkata,
"Tampaknya aku sedang diuji. Aku harus menerima ujian

itu. Aku tak boleh mengecewakan Ibu...."

Lalu, Seno menganggukkan kepalanya seraya

berkata, "Saya terima apa pun tugas dari Tuan Pendekar...."

3


MANAKALA terdengar kokok ayam alas, si bo-

cah lugu Seno Prasetyo tersadar dari lamunannya. Dia

menatap nanar tatanan bambu yang menopang atap

sirap. Dia masih punya waktu beberapa saat untuk ti-

dur. Namun, kelopak matanya tak juga mau terpejam.

Apalagi, ketika dari halaman belakang terdengar hiruk pikuk
para murid Perguruan Tapak Sakti yang hendak

memulai latihan.

"Maafkan aku, Bu...," desah Seno. "Aku tak dapat
berlatih ilmu silat seperti mereka. Walau telah

enam candra di sini, tapi tiap hari yang kulakukan
hanyalah menggembalakan kambing, mencari rumput

untuk makanan kuda, dan mencari air untuk keper-

luan Tuan Gagak Ireng...."

Si bocah nyengir kuda, lalu memiringkan tu-

buhnya untuk dapat tidur walau cuma sebentar. Tapi

karena hatinya terserang gelisah dan perasaan tak

enak hatinya, kelopak matanya tetap tak mau dipejamkan.

"Maafkan Seno, Bu...," desah si bocah lagi.
"Aku telah menuruti pesan Ibu untuk datang ke Perguruan

Tapak Sakti. Tapi, aku tak memperoleh apa-apa di sini.

Tak ada yang mau mengajari ku ilmu silat. Tak Juga

Tuan Gagak Ireng...."

Seno menelentangkan tubuhnya lagi. Saat ter-

dengar teriakan para pemuda yang tengah berlatih il-

mu silat, dia bangkit dari tempat tidurnya yang berupa tumpukan jerami.
Perlahan dibukanya jendela. Gerakannya hati-hati sekali, seperti tak mau ada orang

yang melihat apa yang akan diperbuatnya.

"Kalau di padepokan ini aku tak dapat mempe-

roleh pelajaran ilmu silat, aku akan menyesal seumur

hidup. Aku harus belajar ilmu silat Harus Agar aku

dapat membalas kematian ibuku...," tekad Seno dalam hati.
Begitu mendapat gagasan bagus, Seno merayap

keluar tembok tempat tinggalnya lewat jendela.
Dia terus merayap, hingga sampai di sisi kiri kandang kamb-

ing. Lalu dari balik anyaman bambu yang dibuat reng-

gang, dia mengintip belasan pemuda yang tengah ber-

latih ilmu silat di halaman belakang.

Senang sekali hati Seno saat melihat Gagak

Ireng memberikan petunjuk-petunjuk kepada anggota

baru Perguruan Tapak Sakti. Walau samar-samar ka-

rena hari masih agak gelap, Seno dapat mencatat se-

mua petunjuk Gagak Ireng ke dalam otaknya. Dan saat

para murid mempraktekkan petunjuk Gagak Ireng,

Seno pun mengikuti.

Seno menggerakkan tangan dan kakinya mem-

bentuk kuda-kuda. Lalu, dia angkat kedua tangannya

ke atas seraya dirangkapkan di depan dada. Setelah

itu, kedua tangan dan kakinya bergerak melakukan

serangan ataupun tangkisan.

Sungguh tak bisa digambarkan betapa senang-

nya hati Seno. Usai memperagakan jurus curiannya,

dia mengintip lagi. Lalu, memperagakannya lagi. Men-

gintip lagi, memperagakannya lagi. Demikian seterus-

nya. Tentu saja semua gerakan si bocah lugu Seno

Prasetyo terlihat kaku dan sedikit asal-asalan.
Tapi, itu pun sudah membuat hati si bocah teramat senang.

Sehingga, tak bosan dia mengulang-ulang jurus hasil

curiannya.

Saking senangnya, Seno sampai lupa pada tu-

gasnya menggembalakan kambing dan mencari rum-

put yang harus dilakukannya begitu matahari terbit
di ufuk timur. Suara kambing mengembik karena lapar

pun tak terdengar lagi oleh Seno, padahal dia berada
di dekat kandang binatang piaraan itu.

"Seno...”

Tiba-tiba terdengar panggilan keras menggele-

gar. Seno pun melonjak kaget. Waktu menoleh, tahu-

lah dia bila Gagak Ireng telah berdiri tak seberapa jauh
darinya dengan pandangan tajam berkilat. Sementara,

matahari telah menampakkan seluruh wajahnya, ber-

sinar membawa terang.

"Tuan Pendekar..., saya... ya, ya... saya harus

menggembalakan kambing...," ujar Seno tergagap dan
merasa bersalah karena hampir melalaikan tugasnya.

Usai berkata, Seno melangkah masuk ke kan-

dang untuk mengeluarkan kambing-kambing yang

hendak digembalakannya. Tapi, lima jari tangan yang

amat kuat tiba-tiba mencengkeram kain bajunya. Tu-

buh kurus Seno diangkat, lalu dibawa keluar lagi dari kandang.

Bruk...

"Uh..."

Tubuh Seno dijatuhkan di tanah. Dia menga-

duh kesakitan karena tulang belikatnya membentur

batu. Sambil meringis-ringis, Seno mengiba pada Ga-

gak Ireng yang telah membanting tubuhnya.

"Maafkan saya, Tuan.... Saya memang bersalah.

Tapi, kambing-kambing tak akan mati hanya karena

saya terlambat menggembalakan mereka...."

"Bukan karena itu" bentak Gagak Ireng.

Melihat bola mata Gagak ireng yang melotot be-

sar, nyali Seno langsung menciut. Dia pun merasa ma-

lu ketika melihat para murid yang menontonnya dari

kejauhan. Walau mereka tidak mengeluarkan suara,

tapi Seno merasa seperti diejek dan diolok-olok.

"Apa yang kau lakukan tadi, Seno?" Gagak

Ireng membentak lagi.

Seno cengar-cengir. Wajahnya terlihat amat bo-

doh. Dengan suara bergetar dia berkata,
"Saya... saya memperagakan beberapa jurus ilmu silat, Tuan Pendekar...."
"Hmmm.... Begitu, yah Siapa yang mengajari-mu?" "Saya belajar sendiri, Tuan Pendekar...."

"Belajar sendiri?"

"Ya, Tuan Pendekar. Saya tadi melihat Tuan

Pendekar memberikan petunjuk pada para murid baru.

Lalu, saya mencobanya...."

"Hmmm.... Kalau begitu, kau tadi mengintip

alias mencuri lihat" ujar Gagak Ireng, tatapannya tetap tajam menusuk. "Ayo, berdiri kau, Seno”

Mendapat perintah itu, perlahan Seno bangkit

berdiri sambil mendekap tulang belikatnya yang masih

terasa sakit.

"Kau bukan murid Perguruan Tapak Sakti Kau

tidak boleh memperagakan jurus ilmu silat ciptaan

mendiang Ki Tunggul Jaladara"

Di ujung kalimatnya, Gagak Ireng mengayun-

kan telapak tangan kanannya

Plakkk...

"Aduhhh..."

Begitu telapak tangan Gagak Ireng mendarat di

pipi kiri Seno, tubuh kurus si bocah mencelat Lalu,

membentur dinding kandang yang terbuat dari any-

aman bambu. Tak ayal lagi, anyaman bambu itu ber-

patahan. Menimbulkan suara berderak gaduh yang

disusul dengan mengembik-embiknya belasan ekor kambing

Untunglah, walau kurus tapi tubuh Seno cu-

kup kuat. Dia tak mendapat luka yang berarti.
Saat dia bangkit, hanya luka memar dan lecet yang terlihat.

Hebatnya, begitu dapat berdiri, Seno langsung

berjalan menghampiri Gagak Ireng lagi seraya duduk

bersimpuh di hadapan ketua Perguruan Tapak Sakti

itu. Dia pun tidak menangis. Andai tamparan Gagak

Ireng mendarat di pipi bocah lain seusia Seno,
pastilah bocah itu akan menangis menggerung-gerung karena

kesakitan.

Namun, Gagak Ireng yang kurang pengalaman

tak dapat melihat kelebihan Seno itu. Keteguhan hati

si bocah tak menjadikan Gagak Ireng senang, tapi ma-

lah membuat memuncaknya amarah. Kalau saja Ki

Tunggul Jaladara masih hidup, pendiri Perguruan Ta-

pak Sakti itu pasti menerima Seno sebagai murid den-

gan senang hati. Sebagai tokoh tua yang sudah ke-

nyang makan asam-garam rimba persilatan, Ki Tung-

gul Jaladara pasti dapat melihat kelebihan Seno bila dibanding dengan bocah lain seusianya.

"Hayo Pergi kau sekarang" usir Gagak Ireng kemudian.

Terkejut bukan main Seno mendengar ucapan

keras itu. Dia pun memberanikan diri untuk menatap

wajah garang pemuda brewokan yang berdiri di hada-

pannya.

"Kenapa Tuan Pendekar mengusir saya...?" ujar Seno. "Saya mengaku bersalah,
Tuan Pendekar telah menghukum saya, tapi kenapa Tuan Pendekar mengusir saya...?"

"Padepokan ini haram didiami oleh seorang

pencuri busuk macam kau"

"Tapi, Tuan Pendekar..., saya hanya mencuri lihat..."
"Hanya mencuri lihat, katamu?" sentak Gagak Ireng.
"Kau bukan hanya mencuri lihat Kau telah memainkan jurus-jurus 'Tapak Sakti' Yang bukan murid,

dilarang memainkan jurus itu Kau tahu, para pemuda

menjadi murid baru di sini itu telah membayar banyak

kepadaku. Mereka para putra lurah atau demang,

bahkan ada yang putra seorang adipati Tapi, kau?

Kau cuma gembel yang mengaku-aku sebagai anak

Ksatria Seribu Syair Hmmm.... Tempat ini sudah tak

boleh kau jamah lagi, Seno Enyahlah kau sekarang

juga" "Tapi, Tuan Pendekar...."

Seno hendak mengucap beberapa patah kata

untuk berkilah, tapi jemari tangan Gagak Ireng
keburu mencengkeram kain bajunya. Sekali lagi, tubuh kurus

Seno dilemparkan begitu saja, seperti melemparkan

seonggok sampah.

Seno jatuh bergulingan, hingga mencapai tepi

halaman belakang. Belasan pemuda murid baru Per-

guruan Tapak Sakti tampak menatap haru pada sosok

Seno yang merangkak bangkit. Mereka tak habis men-

gerti, kenapa Gagak Ireng bisa sampai berbuat kasar

seperti itu? Mereka ingin berbuat sesuatu untuk meno-

long Seno, tapi mereka takut akan mendapat hukuman

juga dari Gagak Ireng. Maka, yang dapat mereka laku-

kan hanyalah menatap dan terus menatap tatkala Se-

no melangkah tertatih-tatih menghampiri Gagak Ireng

lagi. "Hei Kau rupanya keras kepala, Seno" bentak Gagak Ireng.
"Tidakkah kau takut bila kupecahkan batok kepalamu?"

"Tuan Pendekar...," desis Seno, menahan rasa sakit yang merejam sekujur tubuhnya.
"Sebelum meninggal, ibu saya berpesan agar saya belajar ilmu silat di Perguruan
Tapak Sakti ini. Kalau saya pergi, berarti saya telah melawan wasiat terakhir ibu saya. Harap

Tuan Pendekar mau mengerti...."

"Hmmm... Apa pun pesan ibumu, aku tak pe-

duli Segeralah enyah dari tempat ini"

Melihat Gagak Ireng hendak menampar Seno

lagi, salah seorang pemuda murid baru memberanikan

diri untuk maju. Setengah memaksa, dibawanya Seno

menjauhi Gagak Ireng.

"Tidak Aku tidak mau pergi" berontak Seno.

"Hus Kalau kau keras kepala, kau bisa mati"

bisik si pemuda. "Di tanah Jawa ini, banyak perguruan silat.
Kau bisa mencari padepokan lain.... kalaupun

kau diperbolehkan tinggal di tempat ini lagi, kau tetap tak akan mendapat pelajaran ilmu silat.
Di sini, untuk belajar, para murid harus membayar. Ini adalah aturan baru yang dibuat oleh ketua baru itu...."

"Hei, Gati Kau berkata apa pada bocah itu?"

tegur Gagak Ireng yang melihat si pemuda membisik-

kan sesuatu di telinga Seno.

"Ah Saya hanya menyarankan agar Seno sege-

ra pergi, Guru," jawab si pemuda yang dipanggil Gati.

Sementara, Seno tampak mengusap darah ker-

ing yang meleleh dari sudut bibirnya. Pipi kirinya terlihat
bengkak memerah. Namun, tak ada rasa sakit

yang membayang di matanya. Dia tatap wajah Gati pe-

nuh keluguan. Seno pun merasakan kebenaran uca-

pan pemuda bertubuh kekar itu. Maka, melangkahlah

Seno mendekati Gagak Ireng. Bukan untuk merengek-

rengek lagi, melainkan untuk berpamitan.

"Saya pikir, saya memang tidak pantas untuk

tinggal di padepokan ini. Saya minta pamit, Tuan Pen-

dekar. Maafkan segala kesalahan saya...."

Seno membungkuk tiga kali, lalu membalikkan

badan seraya melangkah. Dia berjalan tertatih-tatih

melewati samping kiri rumah joglo untuk kemudian

keluar dari Perguruan Tapak Sakti.

Begitu sosok Seno hilang dari pandangan, Ga-

gak Ireng memerintahkan para murid barunya untuk

membentuk barisan lagi. Sebentar saja, suasana pagi

di Perguruan Tapak Sakti telah diramaikan oleh teria-

kan para pemuda yang sedang berlatih ilmu silat.

Seperti tak ada kejadian apa-apa, Gagak Ireng

pun tampak bersemangat memberi petunjuk-petunjuk.

Namun, andai Ki Tunggul Jaladara masih hidup, dia

pasti akan menyesali perbuatan Gagak Ireng di pagi itu.

Sebelum meninggal, hanya karena terpaksalah

Ki Tunggul Jaladara mengangkat Gagak Ireng sebagai

ketua Perguruan Tapak Sakti untuk menggantikannya.

Karena, para murid Ki Tunggul Jaladara yang telah

tamat mendapat pelajaran sedang merantau semua.

Yang ada di padepokan hanya Gagak Ireng. Maka, tak

ada pilihan lain bagi Ki Tunggul Jaladara untuk tidak mengangkat
Gagak Ireng sebagai penggantinya.

4


DENGAN wajah kusut-masai dan hati gundah-

gulana, si bocah lugu Seno Prasetyo duduk terpekur di tengah padang rumput.
Di situlah Seno selama enam

candra ini menggembalakan kambing-kambingnya.

Namun, kambing-kambing itu tak dapat dia gembala-

kan lagi karena dia telah diusir dari Perguruan Tapak Sakti.

Lama sekali Seno duduk terpekur di tengah pa-

dang rumput yang masih berada di lereng Gunung La-

wu itu. Dia tak tahu ke mana harus melangkahkan

kaki lagi. Dia ingin mencari perguruan silat lainnya, tapi ke mana?

"Maafkan Seno, Bu...," desis si bocah, teringat peristiwa sedih yang baru dialaminya.
"Seno baru tahu dan sadar kini. Seno telah berbuat tidak jujur. Seno telah mencuri lihat orang berlatih silat.
Seno telah memainkan jurus-jurus silat yang sebenarnya tidak boleh Seno lakukan. Seno berdosa, Bu.... Kini, Seno harus

memetik buah dari ketidakjujuran Seno itu, Bu. Seno

diusir, Bu.... Seno tak tahu lagi ke mana harus pergi, Bu...." Seno mendongak.
Ditatapnya jajaran pohon hijau subur. Dia arahkan pandangannya lebih ke atas.

Dia berharap dapat melihat sosok ibunya di atas sana.

Tentu saja harapannya itu hanya mendatangkan rasa

kecewa belaka. Dia tak melihat bayangan siapa-siapa d sana. Namun,
dia masih ingin menyampaikan isi hatinya kepada ibunya yang telah tiada.

"Sungguh Seno telah sadar, Bu.... Semoga Ibu

dapat memaafkan Seno...," desis si bocah lagi.
"Seno telah dapat memetik pelajaran yang sangat berharga.

Seno bersumpah untuk jujur selamanya...."

Begitu Seno menghentikan ucapannya, menda-

dak langit yang semula cerah berubah remang-remang.

Gumpalan awan bergerak berarak-arak dari selatan

menutupi wajah sang baskara. Hembusan angin terasa

mengencang....

Terkejut Seno melihat perubahan cuaca yang

begitu tiba-tiba itu. Lebih terkejut lagi dia saat melihat iring-iringan kambing yang berjalan dari arah
Perguruan Tapak Sakti. Seno mengenali belasan kambing itu

sebagai milik Gagak Ireng karena Seno biasa meng-

gembalakannya setiap hari.

Melihat belasan kambing yang terus berjalan

mendekatinya, Seno bangkit berdiri. Seno tak melihat

orang lain yang datang bersama kambing-kambing itu.

Agaknya, mereka dilepas begitu saja agar dapat men-

cari makan sendiri.

Namun, begitu menginjakkan kaki di padang

rumput, kambing-kambing itu tidak langsung merum-

put. Mereka mendekati Seno seraya mengembik-embik.

"Aku tahu... aku tahu...," ujar Seno. "Kalian tentu lapar. Kalian tidak bisa mencari rumput sendiri
karena rumput-rumput di padang ini telah kering. Bolehlah aku carikan rumput yang masih hijau segar.

Tapi setelah itu, kalian harus pulang sendiri. Aku tak bisa mengantarkan karena aku tak boleh menjamah

lagi Perguruan Tapak Sakti,..."

Usai berkata, Seno berjalan naik, melewati ba-

tu-batu besar di lereng gunung itu. Tapi, baru saja Se-no melangkah, tiupan angin mendadak jadi kencang.

Debu bersama daun-daun kering beterbangan. Saat ti-

upan angin bertambah kencang lagi, semakin bingun-

glah Seno.

"Celaka" seru si bocah. "Angin puyuh akan datang" Seno hendak menggiring
kambing-kambingnya untuk berlindung ke sebuah gua. Tapi, melihat tiupan

angin yang begitu kencang, kambing-kambing itu jadi

panik. Mereka tak mau digiring Seno. Mereka lari ber-

pencaran. Lari mereka yang berlainan arah tak me-

mungkinan Seno untuk mengumpulkan mereka Lagi.

Sementara, angin berhembus semakin kencang.

Semakin banyak debu dan daun-daun kering yang be-

terbangan. Belasan kambing kini sudah tak terlihat lagi.
Walau Seno sangat mengkhawatirkan keselamatan

mereka, tapi Seno pun harus memikirkan keselama-

tannya sendiri. Tentu saja Seno tak mau tubuhnya di-

hempaskan tiupan angin yang bisa membuatnya jatuh

berguling-guling ke bawah gunung.

Seno pun berlari sekuat tenaga. Beberapa kali

dia hampir terpeleset jatuh. Tapi untunglah, sebelum

tiupan angin benar-benar mengganas, Seno telah sam-

pai di gua yang dia tuju.

* * *

Setelah angin puyuh berlalu, cuaca kembali ce-

rah Sang baskara dapat memancarkan sinarnya den-

gan leluasa. Seno keluar dari gua dengan hati lega.

Namun, begitu ingat pada kambing-kambingnya, ha-

tinya jadi kalut. Bergegas dia berlari untuk mencari.

Dan..., tersenyum senanglah Seno. Dari kejauhan, dia

melihat belasan kambing yang tengah berkumpul se-

perti sedang menantikan kehadirannya.

Seno berlari menuju ke padang rumput tempat

kambing-kambing berkumpul. Namun sebelum sampai

di sana, langkahnya terhenyak. Sambil nyengir kuda,

Seno menatap sebuah tempat bekas longsoran. Long-

soran itu terjadi karena tiupan angin puyuh yang

mengganas tadi.

Di sebidang tanah longsoran itu terdapat nisan

kubur yang diseraki benda-benda yang sangat menarik

perhatian Seno. Benda-benda itu berupa patung batu

yang dipahat sangat halus dan indah. Bentuk patung

ada yang menyerupai manusia ataupun hewan.

Namun, Seno tak seberapa memperhatikan pa-

tung-patung kuno itu lagi saat dia menemukan sebuah

tongkat pendek berwarna putih mengkilat. Panjang

tongkat itu cuma dua jengkal. Satu ujungnya bulat-

tumpul, dan ujung yang satunya lagi tampak runcing.

Saat memegang tongkat pendek itu, Seno terke-

jut. Tubuhnya mendadak terasa amat ringan dan se-

gar. Batang tongkat mengalirkan hawa sejuk.

"Tongkat ajaib Tongkat ajaib" desis Seno.

Kontan keterkejutan Seno berubah menjadi ke-

gembiraan yang meluap-luap. Saking senangnya, dia

melonjak dan menari-nari. Batang tongkat diputar-

putarnya di atas kepala.

Wusss... Wusss...

Seno melonjak kaget. Dia mendengar suara ge-

muruh angin yang bertiup di atas kepalanya. Dia pun

menghentikan putaran tongkatnya. Mendadak, gemu-

ruh angin itu pun lenyap.

"Tongkat ajaib Tongkat ajaib" seru Seno lagi.

Seno tahu kalau suara gemuruh angin di atas

kepalanya tadi berasal dari putaran tongkat di tangan kanannya.
Terdorong rasa senang, Seno mengibas-ngibaskan tongkat pendek temuannya itu

Wusss Wusss

B1ammm... Blammm...

Luar biasa Kibasan tongkat di tangan Seno

menimbulkan serangkum angin pukulan. Dua bong-

kah batu besar terpental, dan menggelinding ke kaki

gunung.

Dengan kegembiraan yang semakin meluap,

Seno menghampiri bongkah batu sebesar anak kamb-

ing. Lalu, dia menggoreskan bagian ujung tongkat yang runcing ke permukaan batu itu.

Set...

Prukkk...

"Astaga..."

Melonjak kaget lagi si bocah lugu Seno Prasetyo.
Batu yang terkena goresan tongkat tiba-tiba terbelah jadi dua.
Bekas belahannya halus rata seperti di-tebas sebilah pedang yang amat tajam

Karena masih ingin mencoba kehebatan tong-

kat mustika di tangannya, Seno mencari sebongkah

batu lain yang lebih keras. Lalu dengan mengerahkan

seluruh tenaganya, dia tusuk batu itu

Brummm...

Bergegas Seno meloncat ke belakang. Bongkah

batu keras yang ditusuknya hancur berkeping keping.

Pecahannya menyebar ke berbagai penjuru. Untung,

Seno dapat meloncat cepat ke belakang, sehingga tu-

buhnya tak sempat tertimpa pecahan-pecahan batu

itu.

Dalam luapan kegembiraannya, tiba-tiba Seno

teringat ibunya yang telah meninggal. Dengan mata

berbinar-binar, dia mendongak menatap langit. Seno

seakan dapat melihat sosok Ibunya di atas sana.

"Ibu...," desis si bocah. "Kini, Seno tak lagi sedih, Bu. Seno telah menemukan tongkat ajaib. Seno

akan menghajar semua orang jahat, Bu. Seno akan se-

gera menuntut balas pada Banyak Langkir"

Usai berkata, mendadak wajah Seno terlihat

muram. Setelah nyengir kuda sejenak, dia menggu-

mam, "Kalau cuma berbekal tongkat ajaib ini, mungkinkah aku bisa menuntut balas pada Banyak Lang-

kir? Ibuku yang seorang pendekar saja bisa dikalah-

kannya, apalagi diriku...."

Seno menimang tongkat mustika sambil cen-

gar-cengir. Mendadak, air mukanya cerah lagi.

"Aku harus belajar silat Aku harus belajar si-

lat" seru Seno kepada dirinya sendiri.

Saat pandangan Seno bertumbuk pada nisan

batu yang diseraki patung-patung kuno, dia melang-

kah menghampiri. Dia bersihkan gumpalan tanah yang

menempel di nisan itu. Hingga, Seno dapat melihat ba-

risan huruf yang dipahat rapi. Sebenarnya, Seno su-

dah cukup pandai membaca. Namun, tulisan yang ter-

tera di batu nisan itu terdiri dari huruf-huruf kuno, sehingga Seno tak dapat membacanya.

Seno jadi kecewa. Tapi, rasa kecewa justru

membuatnya bersemangat untuk menggali tanah di

sekitar batu nisan. Dia berharap akan mendapat se-

buah benda pusaka lagi.

Sepeminum teh lamanya Seno menggali. Kini,

terlihat olehnya sebuah makam batu berukuran besar.

Panjangnya tiga depa, dengan lebar dua depa.

Di tiap bagian pinggir makam batu, dilekati ba-

tok kura-kura yang berjumlah puluhan. Seno bersorak

girang dalam hati saat melihat puluhan batok kura-

kura itu terdapat ukiran indah yang melukiskan orang

sedang memperagakan jurus silat. Dan, di bagian ba-

wah batok terdapat tulisan yang menerangkan gam-

bar-gambar di atasnya. Tapi karena tulisan itu terdiri dari huruf-huruf kuno, Seno tak dapat membacanya

pula. Saat memperhatikan gambar yang terukir di pu-

luhan batok kura-kura, Seno teringat pada mendiang

ibunya. Ibunya pernah dan bahkan sering menyuruh

Seno duduk bersila dan mengatur pernapasan setiap

pagi. Waktu itu, Seno tidak tahu apa maksud ibunya

itu. Dia hanya menurut tanpa bertanya apa-apa. Dan

kini, Seno melihat ada beberapa gambar di batok kura-

kura yang sama persis dengan apa yang pernah dila-

kukannya semasa ibunya masih hidup.

Seno mengurutkan gambar-gambar yang dili-

hatnya seraya menirunya. Pertama, dia duduk bersila

dengan mata terpejam seraya mengatur pernapasan

seperti yang pernah diajarkan oleh ibunya. Kedua tan-

gannya bersedekap. Sementara, tongkat mustika te-

muannya terus tercekal erat di jemari tangan kanan-

nya. Saat Seno mengosongkan pikiran, dia merasa-

kan hawa aneh yang mengalir dari tongkat mustika.

Hawa aneh itu masuk ke tubuhnya, lalu berputar-

putar di sekitar pusar.

Namun karena merasa pening, Seno menghen-

tikan semadinya. Dia tatap tongkat mustikanya dengan

kening berkerut. Dia tak mau bersemadi lagi. Dia takut kepalanya akan bertambah pening.

Seno bangkit berdiri. Dia perhatikan gambar di

batok kura-kura lainnya. Dia meniru gambar itu. Ke-

dua tangan dan kakinya bergerak, dan terus bergerak.

Tanpa disadari oleh Seno, dia telah memainkan jurus-

jurus silat yang amat hebat.

Seperti tak punya lelah, Seno terus mempera-

gakan semua gambar yang terukir di batok kura-kura.

Kedua tangan dan kakinya terus bergerak. Semakin

lama semakin cepat. Tongkat mustika pun berkeleba-

tan.... Tanpa disadari juga oleh si bocah lugu Seno

Prasetyo, kelebatan tongkat mustika di tangannya te-

lah menimbulkan serangkaian angin pukulan dahsyat.

Hingga....

Blarrr...

Blarrr...

Dua ledakan keras menggelegar di angkasa.

Makam batu besar hancur berkeping-keping. Dan, ten-

tu saja puluhan batok kura-kura turut meledak han-

cur

"Astaga..." kejut Seno.

Melihat batok kura-kura yang kini telah hancur

menjadi kepingan-kepingan kecil, Seno berdiri terpaku.

Namun, dia tak menjadi menyesal ataupun kecewa ka-

rena semua gambar yang terdapat di batok kura-kura

telah pindah ke otaknya. Gambar-gambar orang mem-

peragakan jurus silat itu telah dapat dia hafal dan tak mungkin terlupakan lagi.

Saat berdiri terpaku, tanpa sengaja Seno men-

gosongkan pikiran. Mendadak dia melonjak kaget. Dia

mendengar suara kambing mengembik-embik yang be-

gitu dekat dengan telinganya.

Seno menoleh, tapi dia tak melihat seekor

kambing pun yang ada di dekatnya. Waktu melihat ke

kejauhan, barulah Seno melihat belasan kambing yang

tengah memakan rumput kering.

"Aneh..." desis Seno. "Aku tadi mendengar dengan jelas suara kambing mengembik, tapi tak ada

kambing yang berada di dekatku. Apakah kambing-

kambing di padang rumput itu yang mengembik tadi?

Tapi, kambing-kambing itu begitu jauh dari sini, ba-

gaimana aku bisa mendengar suaranya?"

Berkerut kening Seno memikirkan keanehan

yang baru dia alami. Dia pun cengar-cengir sampai be-

berapa lama....

Sebenarnya, tanpa disadari oleh Seno, dalam

tubuhnya telah bersemayam hawa sakti yang dapat

membuat pendengarannya jadi sangat peka. Hawa sak-

ti itu mengalir dari tongkat mustika waktu dia berse-

madi beberapa saat tadi.

Saat menatap kambing-kambing yang tengah

merumput, tanpa sadar Seno mengosongkan pikiran

lagi. Kali ini, telinganya menangkap suara langkah ka-ki berderap-derap. Langkah kaki itu diberangi dengus

napas memburu dan lolongan serigala

Karena terkejut, Seno meloncat ke belakang.

Dia putar pandangan, tapi tak ada seekor pun serigala yang terlihat. Seno pun menarik napas panjang. Dia

tak mengerti keanehan apa yang telah terjadi pada di-

rinya. Sambil mengelus-elus tongkat mustikanya, Se-

no cengar-cengir. Dan, Seno pun benar-benar terpe-

ranjat kaget saat melihat ke kejauhan. Di padang rum-

put, puluhan ekor serigala tampak datang menyerbu

belasan kambing.

Belasan kambing yang biasa digembalakan Se-

no itu lari berserabutan. Namun, jumlah serigala yang datang terlalu banyak, sehingga mereka terkepung

"Celaka Celaka" seru Seno.

Walau mempunyai keteguhan hati dan ketaba-

han tinggi, tubuh Seno bergetar karena khawatir dan

takut. Dia mengkhawatirkan keselamatan kambing-

kambing milik Gagak Ireng itu. Tapi, dia juga takut

apabila puluhan serigala yang datang akan menge-

pungnya pula.

Waktu melihat tubuh belasan kambing dicabik-

cabik serigala, Seno lupa pada rasa takutnya. Dia pandangi tongkat mustika di tangannya.
Dia benci melihat keganasan serigala. Dia ingin menghentikan keganasan itu Maka tanpa memikirkan keselamatan dirinya

lagi, Seno berlari sekuat tenaga. Seno pun terperangah heran saat merasakan tubuhnya dapat melesat cepat.

Jarak puluhan tombak dicapainya hanya dalam bebe-

rapa kejap mata. Tapi sampai di mana pun cepatnya

dia berlari, belasan kambing telah tergeletak tanpa

nyawa. Tubuh mereka tercerai-berai, menjadi rebutan

puluhan serigala. Cairan darah membanjiri tanah pa-

dang rumput kering. Bau anyir pun tercium di mana-

mana....

Sementara, puluhan serigala yang melihat ke-

datangan Seno langsung meninggalkan santapan me-

reka. Serigala-serigala itu merasa terganggu oleh kedatangan Seno. Maka, bergegas mereka mengepung

Tampak kemudian, seekor serigala yang tu-

buhnya hampir sama dengan tubuh Seno, melolong

panjang seraya menerkam

Sebagai seorang bocah yang belum pernah ber-

tempur melawan serigala, tentu saja wajah Seno men-

jadi pucat. Bola matanya melotot karena kaget. Namun

demikian, kesadarannya tidak hilang. Tangan kanan-

nya yang memegang tongkat mustika mengibas

Wusss...

"Hauuung..."

Serangkum angin pukulan melesat dari batang

tongkat. Tubuh serigala yang hendak menerkam Seno

tampak terlontar, jatuh berdebam di tanah, lalu bergulingan, dan diam tak berkutik lagi. Mati

Namun, Seno tak dapat menarik napas lega.

Serigala-serigala lainnya datang menerkam bergantian.

Karena tak mau mati konyol, Seno mengibas-

ngibaskan tongkat mustikanya. Dia mainkan jurus si-

lat yang baru dipelajarinya dari batok kura-kura.

Padang rumput itu segera diramaikan pekik ke-

sakitan serigala. Tubuh mereka berpentalan. Ada yang

batok kepalanya pecah, ada yang isi perutnya ambrol,

bahkan ada yang tubuhnya terbelah jadi dua. Mereka

mati terkena sabetan dan tusukan tongkat mustika di

tangan Seno

Namun..., karena jumlah serigala yang menyer-

bu puluhan ekor dan Seno pun tak punya pengalaman

bertempur, maka lama-lama pertahanan Seno jadi

kendor. Sambil memutar-mutar tongkat mustikanya,

Seno terus melangkah mundur. Perlahan tapi pasti,

langkah kaki Seno mulai mendekati bibir tebing yang

amat curam

Saat dua ekor serigala menerkam bersamaan,

Seno mengibaskan tongkat mustikanya. Terdengar ge-

muruh angin menderu yang disusul dengan lolongan

panjang. Tubuh dua ekor serigala yang hendak meng-

habisi riwayat Seno tampak terlontar tinggi. Cairan darah muncrat dari luka-luka di tubuh mereka. Tapi..,

waktu mengibaskan tongkat mustikanya tadi, Seno tak

mampu menjaga keseimbangan tubuh. Dalam keadaan

terhuyung-huyung, tiga ekor serigala menerkam lagi

secara bersamaan

"Mati aku..." keluh si bocah.

Tongkat mustika yang dikibaskan Seno hanya

mampu membunuh seekor serigala yang sedang me-

nerkam. Sementara, dua ekor lainnya lolos. Tubuh me-

reka melesat dengan cakar terjulur lurus ke depan

Brukkk...

"Argh...

Dada dan perut Seno terbentur cakar dua ekor

serigala. Karena terkaman mereka mengandung tenaga

yang amat kuat, tubuh Seno terpental. Setelah bergu-

lingan, tubuh bocah lugu itu jatuh ke dalam jurang

5


DARI kejauhan, kakek berpakaian merah-hitam

ini menatap Perguruan Tapak Sakti dengan senyum

sinis tersungging di bibir. Ujung-ujung ikat kepalanya yang bercorak batik tampak berkibar,
dimainkan hembusan angin gunung. Walau batang usianya sudah la-

puk, tubuh si kakek masih terlihat sehat gagah. Kedua kakinya
berdiri kokoh tegak di atas lempengan batu

besar. "Hmmm.... Andai orang-orang di perguruan itu
tak mau menurut pada titah sang Prabu, aku punya

kuasa untuk melumatkan tubuh mereka. Termasuk

ketua perguruan mereka...," gumam si kakek.

Teringat tugas yang harus segera dilaksana-

kannya, kakek bersorot mata tajam menusuk ini ber-

gegas menjejak lempengan batu. Seperti anak panah

lepas dari busur, tubuh si kakek melesat cepat,
hingga berubah menjadi bayangan yang hampir kasat mata

Ringan sekali bayangan si kakek melenting dan

menukik di antara tonjolan batu-batu gunung. Rimbu-

nan semak belukar dan jajaran pohon diloncatinya

dengan mudah. Bayangan si kakek seakan dapat me-

nyatu dengan hembusan angin.

Tak sampai sepuluh tarikan napas, kaki si ka-

kek telah menginjak pelataran Perguruan Tapak Sakti.

Dalam waktu sesingkat itu, dia telah melewati jarak

hampir tiga ratus tombak. Itu pun harus melalui rin-

tangan alam, pegunungan yang tak begitu bersahabat.

Jadi, bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu peringan

tubuh si kakek.

Dengan suara serak parau, si kakek berteriak

lantang, "Hei Aku datang membawa titah sang Prabu

Harap Ki Tunggul Jaladara sendiri yang menyambut

ku" Teriakan si kakek terdengar keras menggelegar di angkasa.
Karena dialiri tenaga dalam, getaran suaranya mampu menerbangkan debu dan dedaunan

yang berserakan di tanah. Sementara, ranting-ranting

pohon pun tampak bergoyang bagai dihempas angin

kencang.

Tampak kemudian, lima orang pemuda berlari-

lari dari halaman belakang. Mereka adalah adik seper-

guruan Gagak Ireng, ketua Perguruan Tapak Sakti

yang baru diangkat enam candra yang lalu.

Kelima pemuda itu langsung menghampiri ka-

kek berpakaian merah hitam yang berdiri berkacak

pinggang di pelataran. Sementara, si kakek yang meli-

hat kedatangan mereka, langsung menggerendeng ma-

rah. "Hmmm.... Apakah KI Tunggul Jaladara sudah begitu uzur,
sehingga dia tidak bisa berjalan sendiri untuk menyambut kedatanganku?"

Mendengar ucapan yang tak bersahabat itu, ke-

lima murid Ki Tunggul Jaladara langsung menge-

rutkan kening. Belum pernah mereka melihat ada

orang yang begitu memandang remeh pada pendiri

perguruan mereka.

"Maaf, Pak Tua...," ujar salah seorang pemuda yang berpakaian serba putih.
"Pak Tua ini siapa? Dan, untuk apa mencari Ki Tunggul Jaladara?"

"Kau tidak berhak menanyakan itu, Anak Mu-

da" sentak si kakek berikat kepala batik. "Cepat suruh si tua bangka
Tunggul Jaladara untuk datang ke hadapanku"

Mendengus gusar pemuda berbaju putih men-

dengar kata-kata si kakek yang semakin meremehkan

gurunya. Dia melangkah dua tindak. Ditatapnya wajah

si kakek tajam-tajam.

"Kau ini siapa, Pak Tua?" geramnya. "Kau datang tanpa diundang, kenapa main perintah seenak

perutmu sendiri? Kau pikir, kami anak murid Pergu-

ruan Tapak Sakti tak dapat melemparkan tubuhmu ke

kaki gunung sana?"

"Hmmm.... Kata-katamu membuat panas telin-

gaku, Anak Muda...," sahut kakek berikat kepala batik.

"Kalau kau memang mampu melemparkan tubuhku ke

kaki gunung, kenapa tidak kau laksanakan sekarang

juga?" Sebenarnya, pemuda berbaju putih bukanlah orang yang mudah berbuat kekerasan. Tapi demi

membela nama perguruannya yang diremehkan dan

untuk mengajar adat pula pada si kakek, pemuda ber-

tubuh kekar ini maju beberapa tindak lagi. Lalu, den-

gan kecepatan yang sulit diikuti pandangan mata, ke-

dua tangan si pemuda berkelebat. Hendak disambar-

nya tubuh kakek berikat kepala batik. Namun....

Krakkk...

"Wuahhh..."

Kedua tangan kakek berikat kepala batik ter-

nyata dapat berkelebat lebih cepat. Sepuluh jari tangan
si kakek mencengkeram pergelangan tangan pemuda

berbaju putih. Lalu, terdengar suara gemeretak tulang patah yang disusul pekik kesakitan

Brukkk...

Kakek berikat kepala batik melemparkan tubuh

pemuda berbaju putih. Karena dilemparkan dengan

tenaga yang amat kuat, tubuh si pemuda jatuh berde-

bam ke tanah, hingga menerbangkan batu-batu kerikil

Dalam keadaan telentang, bola mata pemuda

berbaju putih tampak melotot besar dengan mulut

ternganga lebar. Kedua tulang lengannya patah. Dan,

tulang kepala bagian belakangnya pun telah retak ka-

rena membentur tanah keras. Setelah berkelojotan se-

jenak, si pemuda menghembuskan nafasnya yang te-

rakhir Terkejut bukan main empat pemuda lainnya.

Sebenarnya, saudara seperguruan mereka yang telah

mati itu memiliki kepandaian yang tak bisa dibilang

ringan. Dia telah berguru pada Ki Tunggul Jaladara selama
tiga tahun, tapi kenapa dia bisa begitu mudah

dibunuh oleh kakek berikat kepala batik?

Melihat kehebatan si kakek, tanpa terasa empat

pemuda adik seperguruan Gagak Ireng melangkah

mundur. Nyali mereka langsung menciut. Tapi, sebagai

seorang murid perguruan yang sering mendapat we-

jangan dari Ki Tunggul Jaladara, cepat mereka meng-

halau rasa takut dan giris. Mati dalam memberantas

kejahatan dan kekejaman adalah cita-cita seorang

pendekar sejati. Begitulah pengertian yang selalu dita-namkan Ki Tunggul Jaladara kepada anak muridnya.

"Tua bangka keparat" maki salah seorang pemuda berbaju kuning. "Rupanya, kau iblis kejam yang tersesat jalan Enyahlah kau ke neraka"

Usai berkata, pemuda bertubuh tinggi tegap itu

menerjang. Tangan kanannya terjulur lurus ke depan

untuk menghantam dada si kakek, Sementara, tangan

kirinya ditekuk tapi siap mengirim serangan pula.

"Ciattt..."

"Hiahhh.."

Ternyata, tiga pemuda lainnya turut menerjang.

Jadilah kakek berikat kepala batik diserang dari empat penjuru angin.
Tapi tampaknya, si kakek seperti tak

ambil peduli walau tahu bahaya tengah mengancam

jiwanya. Namun, saat serangan keempat pemuda

hampir mengenai sasaran, dia memekik tinggi seraya

memutar tubuh

Terdengar deru angin bergemuruh, disusul jerit

kematian empat pemuda murid Ki Tunggul Jaladara.

Putaran tubuh kakek berikat kepala batik telah mem-

buat tubuh mereka berpentalan. Saat jatuh berdebam

di tanah, dapat dilihat bila tubuh mereka telah berlu-muran darah segar. Jiwa mereka melayang tanpa da-

pat ditahan lagi

Kini, sepi menyelimuti Perguruan Tapak Sakti.

Perlahan, sang baskara bergeser ke barat. Sinarnya

melemah, membawa kesejukan. Semilir angin segera

melenakan....

Namun, suasana sepi dan kesejukan udara gu-

nung malah membuat hati kakek berikat kepala batik

memanas. Dengan berdiri berkacak pinggang, dia me-

nanti beberapa saat. Tapi, orang yang dicarinya tetap tak mau muncul

"Hei Tunggul Jaladara keparat" teriak si kakek. "Apakah telingamu sudah tertutup
usia bangkotan mu, sehingga kau tak dapat mendengar jerit kema-

tian anak buahmu? Hayo, cepat keluar Ada titah sang Prabu yang harus kusampaikan kepadamu”

Kakek berikat kepala batik menunggu lagi. Ta-

pi, hanya desau angin gunung yang menyahuti teria-

kannya. Tak ada sosok manusia yang muncul dari da-

lam padepokan.

"Hmmm.... Tua bangka bernyali kadal Kalau

ku bakar gubuk reot mu itu, mungkin kau baru mau

menampakkan batang hidungmu"

Di ujung teriakannya, kakek berikat kepala ba-

tik mengeluarkan dua butir batu api dari saku cela-

nanya. Dia benar-benar hendak membakar Perguruan

Tapak Sakti

Sambil mendengus gusar, si kakek mengalirkan

kekuatan tenaga dalam ke jari-jari tangannya. Dan,

apabila nanti kedua permukaan batu api dibenturkan,

akan melesat bunga-bunga api ke bangunan rumah

joglo beratap sirap. Tapi sebelum si kakek mewujud-

kan niatnya, terdengar teriakan keras menggelegar....

"Jahanam Menyatroni Perguruan Tapak Sakti,

sama halnya dengan mencari mati"

Kakek berikat kepala batik mengurungkan

niatnya. Saat menoleh ke belakang, tahulah dia bila di belakangnya telah berdiri seorang pemuda brewokan

mengenakan pakaian putih-kuning. Pemuda bertubuh

tegap itu adalah Gagak Ireng. Sementara, di belakang

Gagak Ireng tampak berbaris sekitar tiga puluh pemu-

da. Mereka adalah murid pertengahan dan murid baru

Gagak Ireng. Bersama Gagak Ireng, mereka baru kem-

bali dari latihan yang mengambil tempat di kaki gu-

nung sebelah utara.

"Hmmm.... Cecurut-cecurut dungu pula yang

datang ke hadapanku...," dengus kakek berikat kepala batik. "Kenapa bukan
Tunggul Jaladara sendiri yang menampakkan batang hidung?"

Mendengar ucapan si kakek yang sangat mere-

mehkan, terbelalak mata Gagak Ireng. Lebih terkejut

lagi dia setelah melihat kelima mayat adik sepergu-

ruannya yang tergolek kaku di pelataran.

"Jahanam Orang tua bau busuk Kaukah yang

telah membunuh saudara-saudara seperguruanku

ini?" geram Gagak Ireng.

"Mereka mati untuk menebus kesalahan sendi-

ri" tukas kakek berikat kepala batik. "Aku mencari Tunggul Jaladara, tapi kenapa mereka yang datang

menemuiku? Karena mereka menggangguku, terpaksa

aku turun tangan"

"Iblis laknat Kejam benar kau, Pak Tua" geram Gagak Ireng lagi. "Kau datang mencari
Ki Tunggul Jaladara, tidak tahukah kau bila guruku itu telah me-

ninggal enam candra yang lalu?"

"Meninggal? Tunggul Jaladara meninggal? Ha

ha ha..." kakek berikat kepala batik tertawa bergelak.

"Pantas Pantas sekali bila teriakan ku tadi tak pernah dia dengar Rupanya, tua bangkotan itu telah mati Ha ha ha..."

"Hmmm.... Kau tertawa tampak begitu gembira.

Aku tahu, di balik suara tawamu itu, kau hanya me-

mandang sebelah mata pada kami-kami anak murid

Perguruan Tapak Sakti," ujar Gagak Ireng, menyimpan geram kemarahan di hati.
"Sudah kubilang tadi, me-nyatroni Perguruan Tapak Sakti, berarti mencari mati.

Apalagi, kau telah membunuh lima adik sepergurua-

nku, Pak Tua Kau layak dilemparkan ke neraka seka-

rang juga"

Di ujung kalimatnya, Gagak Ireng memasang

kuda-kuda. Kedua pergelangan kakinya dibuka seraya

menggerakkan telapak tangan di depan dada. Semen-

tara, para pemuda di belakangnya tampak tersurut

mundur. Mereka sadar bila Gagak Ireng akan segera

terlibat dalam pertempuran sengit. Ilmu kepandaian

mereka yang masih dangkal tentu saja tak bisa digu-

nakan untuk membantu Gagak Ireng. Yang dapat me-

reka lakukan hanyalah menyingkir jauh-jauh.

"Tunggu dulu" sergah kakek berikat kepala batik

Tapi, Gagak Ireng tak mau mendengarkan te-

riakan si kakek. Dia terus menggerakkan kedua tan-

gannya di depan dada. Sesaat kemudian, kedua perge-

langan tangan Gagak Ireng memancarkan sinar putih

berkeredepan. Itulah ciri Ilmu pukulan 'Tapak Sakti

Pelebur Jagat', yang menjadi Ilmu andalan Perguruan

Tapak Sakti. Agaknya, Gagak Ireng benar-benar akan

membalas kematian lima adik seperguruannya.

Namun sebelum Gagak Ireng menerjang, kakek

berikat kepala batik mengeluarkan lempengan logam

kuning dari balik bajunya. Di salah satu permukaan

logam berwarna kuning itu terdapat ukiran Dewa Wis-

nu yang tengah duduk di punggung burung Jatayu.

"Aku membawa titah sang Prabu. Harap kau

bersabar dulu" seru si kakek, mengacungkan lempengan logam ke depan.

"Lencana Dewa Wisnu...," kesiap Gagak Ireng.

Tanpa sadar, pemuda ini menarik lagi ilmu pukulan

yang telah disiapkannya.

Lencana Dewa Wisnu adalah tanda pelimpah

wewenang dari Prabu Wira Parameswara. Siapa pun

yang memegang lencana yang terbuat dari emas cam-

puran itu dapat melakukan tindakan apa saja untuk

kepentingan Kerajaan Mahespati. Dan, dia juga memi-

liki wewenang tak terbatas, termasuk membunuh

orang yang dianggap membahayakan atau tak mema-

tuhi undang-undang kerajaan.

"Sebenarnya, kedatanganku ini adalah untuk

menyampaikan titah sang Prabu kepada Tunggul Jala-

dara...," ujar kakek berikat kepala batik. "Tapi karena dia telah meninggal, maka titah sang Prabu itu wajib

dilaksanakan oleh penggantinya”

"Siapa kau sebenarnya, Pak Tua...?" tanya Gagak Ireng dengan suara bergetar. Pemuda ini berusaha

meredam kemarahannya. Untuk berurusan dengan

utusan sang Prabu yang mempunyai kekuasaan besar,

dia harus pikir-pikir dulu.

"Kau dapat mengenali lencana yang kubawa ini,

berarti kau telah tahu kalau aku adalah orang keper-

cayaan Prabu Wira Parameswara," sahut kakek berikat kepala batik. "Tapi kalau kau ingin tahu nama dan gelarku,
kau harus mengatakan dulu siapa yang meng-

gantikan kedudukan Tunggul Jaladara di padepokan

ini...." Dengan hati yang masih mendongkol, Gagak Ireng berkata, "Akulah sekarang
yang menjadi ketua Perguruan Tapak Sakti...."

"Kau?"

"Ya. Aku bernama Gagak Ireng."

"Hmmm.... Sebuah nama yang cukup gagah,"

puji si kakek, tapi dalam hati dia mengejek. Lalu dengan suara lantang, utusan Prabu Wira Parameswara

ini berkata, "Agar kau nanti tak ragu-ragu dalam me-laksanakan titah sang Prabu, baiklah kukatakan siapa

diriku sebenarnya. Aku bernama Mahesa Lodra, na-

mun orang-orang biasa menyebutku sebagai Setan Se-

laksa Wajah"

Usai berkata, kakek yang mengaku bernama

Mahesa Lodra atau Setan Selaksa Wajah mengusap

mukanya tiga kali. Dan..., terbelalaklah mata Gagak

Ireng dan para pemuda yang berdiri jauh di belakang-

nya. Ternyata, muka tua Mahisa Lodra telah beru-

bah menjadi muka seorang pemuda tiga puluh tahu-

nan. Muka baru Mahisa Lodra itu begitu halus dan

tampan, dihiasi sepasang alls yang tampak gagah ber-

wibawa. Hanya saja, sorot matanya tetap tajam menu-

suk, menyiratkan kebengisan.

Gagak Ireng kaget bukan main. Sebelum ini,

dia memang belum pernah bertemu langsung dengan

Mahisa Lodra atau Setan Selaksa Wajah. Tapi, sering

kali dia mendengar kehebatan dan sepak terjang tokoh

beraliran sesat itu.

Sebenarnya, begitu mengetahui bila tokoh yang

berdiri di hadapannya adalah Mahisa Lodra, Gagak

Ireng ingin segera menghabisi riwayat tokoh sesat itu.

Sebagai anak murid Ki Tunggul Jaladara, Gagak Ireng

wajib menyingkirkan semua tokoh jahat. Tapi karena

Mahisa Lodra membawa Lencana Dewa Wisnu, Gagak

Ireng berusaha meredam hasrat hatinya. Dia ingin

mendengar terlebih dulu apa yang dititahkan sang Prabu kepadanya.

"Ketahuilah kau, Gagak Ireng...," ujar Mahisa Lodra kemudian. "Sang Prabu menitahkan agar
semua anak murid Perguruan Tapak Sakti ikut membantu tokoh-tokoh istana dalam mencari dan memburu Darma

Pasulangit atau Ksatria Seribu Syair yang telah meng-

ganti namanya menjadi Wisnu Sidharta Titah sang

Prabu ini terutama dibebankan kepadamu, Gagak

Ireng Karena kau telah menggantikan kedudukan

Tunggul Jaladara sebagai ketua perguruan.... Berang-

katlah sekarang juga. Kalau sudah bertemu, bunuh

bekas putra mahkota itu Bawa kepalanya ke hadapan

sang Prabu"

Berkerut kening Gagak Ireng mendengar uca-

pan Mahisa Lodra. Gagak Ireng tak pernah menyangka

akan mendapat tugas dari Prabu Wira Parameswara.

Sejak Perguruan Tapak Sakti didirikan oleh Ki Tunggul Jaladara sekitar dua puluh tahun yang lalu,
tokoh-tokoh istana ataupun sang Prabu sendiri tak pernah

mengusik keberadaan perguruan silat yang terletak di

lereng Gunung Lawu itu, baik semasa pemerintahan

Prabu Darma Sagotra maupun Prabu Wira Parameswa-

ra. Kalau sekarang Prabu Paremeswara memberikan

tugas yang amat berat kepada semua anak murid Per-

guruan Tapak Sakti, tentu saja hal itu mengherankan

Gagak Ireng.

Menurut desas-desus yang terdengar Gagak

Ireng tahu kalau Ksatria Seribu Syair adalah putra

Prabu Darma Sagotra yang telah digulingkan oleh Se-

nopati Raksa Jalinti. Setahun setelah menjadi raja,

Senopati Raksa Jalinti mengganti namanya menjadi

Wira Parameswara. Sementara, Ksatria Seribu Syair te-

rus menyusun kekuatan untuk dapat merebut kembali

takhta Kerajaan Mahespati. Jadi, bisa dibayangkan betapa berat tugas Gagak Ireng bersama anak murid Per-

guruan Tapak Sakti lainnya bila harus membunuh

Ksatria Seribu Syair yang tentunya telah berhasil mengumpulkan puluhan tokoh sakti sebagai andalannya.

"Hei Kenapa kau diam saja, Gagak Ireng?"

bentak Mahisa Lodra. "Apakah kau tak mendengar ka-ta-kataku tadi?"

Gagak Ireng menggeragap kaget. Sadarlah dia

bila telah terdiam beberapa lama. Ditatapnya wajah

tampan Mahisa Lodra yang masih memegang Lencana

Dewa Wisnu. Dengan suara berat, dia berkata, "Ketahuilah kau, Mahisa Lodra.... Perguruan Tapak Sakti

tak pernah mau mencampuri urusan kerajaan..., seka-

rang ataupun esok hari Dan, sudah menjadi pendi-

rianku, seumur hidup aku tak mau berhubungan den-

gan kaki-tangan raja Aku tak mau menuruti perintah

siapa pun"

"Hmmm.... Ucapanmu itu menyiratkan bahwa

kau menolak titah sang Prabu. Mayat lima adik seper-

guruanmu itu apakah belum bisa kau jadikan sebagai

pelajaran?"

"Justru karena kekejamanmu itu, aku menolak

perintah seorang utusan macam kau"

"Bedebah" maki Mahisa Lodra dengan raut

muka merah-padam. "Menolak perintahku, sama hal-

nya dengan menolak perintah sang Prabu. Menolak pe-

rintah sang Prabu, berarti mati"

"Sama dengan aturan yang telah kubuat" sa-

hut Gagak Ireng. "Menyatroni Perguruan Tapak Sakti, berarti kematian pula"

Mendengus gusar Mahisa Lodra melihat kebe-

ranian Gagak Ireng. Walau tadi Mahisa Lodra dapat

membunuh lima murid langsung Ki Tunggul Jaladara

dengan mudah, tapi kali ini dia tak mau bertindak ge-

gabah. Gagak Ireng diangkat menjadi ketua perguruan

tentu karena memiliki kesaktian yang dapat diandal-

kan. Selagi Mahisa Lodra atau Setan Selaksa Wajah

memasang kuda-kuda, Gagak Ireng tampak memutar-

mutar kedua tangannya di depan dada. Sesaat kemu-

dian, kedua pergelangan tangan Gagak Ireng meman-

carkan cahaya putih berkeredepan. Itu tandanya Ga-

gak Ireng telah mengetrapkan ilmu pukulan 'Tapak

Sakti Pelebur Jagat'

"Hiahhh..."

Gagak Ireng menggembor keras seraya meng-

hentakkan telapak tangan dan kirinya bergantian. La-

lu, melesat dua bayangan tangan berwarna putih se-

perti perak. Andai salah satu bayangan tangan itu

membentur sebongkah batu, maka batu itu akan han-

cur-lebur menjadi debu Sementara, yang menjadi sa-

sarannya adalah tubuh Mahisa Lodra yang terdiri dari

rangkaian tulang dan gumpalan daging. Apakah tubuh

Mahisa Lodra akan hancur-lebur menjadi debu pula?

Tampaknya, Mahisa Lodra dapat menyadari

bahaya yang tengah mengancam jiwanya. Sambil

menghembuskan napas panjang, dia sorongkan kedua

telapak tangannya ke depan. Dua larik sinar biru me-

lesat, memapaki dua bayangan tangan wujud dari pu-

kulan 'Tapak Sakti Pelebur Jagat'

Wusss...

Blarrr...

Blarrr...

Dua ledakan keras menggelegar di angkasa. Ge-

taran suara itu mampu menerbangkan atap sirap yang

menopang rumah joglo Perguruan Tapak Sakti. Rant-

ing dan dahan pohon berpatahan. Sementara, sekitar

tiga puluh pemuda yang berdiri jauh di belakang Gagak Ireng tampak terlontar, dan jatuh bergulingan ke

kaki gunung

Terbentur dua larik sinar biru yang melesat da-

ri telapak tangan Mahisa Lodra, dua bayangan tangan

wujud dari ilmu pukulan 'Tapak Sakti Pelebur Jagat'

langsung musnah tiada berbekas. Sementara, lesatan

dua larik sinar biru berbelok arah, melesat tegak lurus ke atas, lalu musnah pula tiada berbekas.

Namun, di pusat ledakan yang terjadi karena

benturan dua ilmu pukulan tingkat tinggi itu telah

membuat kubangan besar di tanah. Kubangan yang

terbentuk di tengah pelataran itu cukup besar untuk

menguburkan dua ekor gajah sekaligus

"Lumayan juga kau punya kesaktian, Gagak

Ireng," ujar Mahisa Lodra.

"Aku tidak butuh pujian mu" sahut Gagak

Ireng. "Yang kubutuhkan adalah nyawamu untuk me-

nebus kematian lima adik seperguruanku"

Usai berkata, Gagak Ireng menerjang ganas.

Kedua tangannya yang memancarkan sinar putih ber-

kelebatan ke sana-sini, mencari jalan kematian di tu-

buh Mahisa Lodra. Gagak Ireng terus mencecar dengan

jurus-jurus mematikan yang didapatkannya dari Ki

Tunggul Jaladara. Setiap tangannya bergerak, terden-

gar deru angin bergemuruh yang mendatangkan hawa

panas luar biasa. Karena Gagak Ireng menyerang se-

perti kesetanan, tak ayal lagi rumah joglo padepokan-

nya terbakar hangus

Namun, sampai di mana pun Gagak Ireng men-

geluarkan kepandaiannya, Mahisa Lodra dapat mela-

deni tanpa mendapat kesulitan. Tubuh Mahisa Lodra

dapat bergerak sedemikian cepat, hingga berubah

menjadi bayangan yang berlesatan ke sana-sini. Dia

pun mengirim serangan balasan yang tak kalah berba-

hayanya. Hingga tiga puluh jurus kemudian....

Desss...

"Arghhh..."

Gagak Ireng memekik kesakitan. Tubuhnya ter-

lontar ke atas, lalu jatuh berdebam di tanah. Setelah berkelojotan, tubuh pemuda berewokan itu mengejang

kaku. Segera nyawanya melayang dengan tulang iga

remuk berpatahan

Rupanya, Gagak Ireng terkena pukulan 'Jari

Pematah Tulang' milik Mahisa Lodra

"Ha ha ha...” si Setan Selaksa Wajah Mahisa

Lodra tertawa bergelak, tak berkedip menatap tubuh

kaku Gagak Ireng. "Begitulah akibatnya kalau mem-bangkang pada perintah Setan Seribu Wajah"

Sejenak, Mahisa Lodra mengedarkan pandan-

gan. Tapi, anak murid Perguruan Tapak Sakti lainnya

sudah tak terlihat lagi. Saat terjadi bentrokan ilmu pukulan jarak jauh tadi, tubuh mereka terlontar, dan jatuh bergulingan ke kaki gunung. Dengan luka memar

dan lecet, kemudian mereka menyingkir sejauh mung-

kin. Pikir mereka, membela Gagak Ireng berarti memu-

suhi pihak kerajaan, yang sama artinya dengan tinda-

kan bunuh diri. Sementara, kalau menuruti kehendak

Mahisa Lodra, sama halnya dengan menyeberangi lau-

tan api. Ksatria Seribu Syair dan para andalannya

yang harus mereka bunuh adalah tokoh-tokoh berilmu

tinggi. Karena itulah mereka memilih pergi dari pade-

pokan untuk kemudian pulang ke rumah masing-

masing mencari selamat.

Gagak Ireng memang belum pernah mengajar-

kan kepada mereka tentang perlunya memupuk rasa

memiliki pada perguruan silat yang susah payah didi-

rikan oleh Ki Tunggul Jaladara. Sehingga, rasa cinta dan kesetiaan mereka pada perguruan teramat tipis.

Maka, tak heran apabila mereka bisa dibilang berjiwa

pengecut.

Sementara itu, wajah sang baskara telah teng-

gelam separo di garis cakrawala barat. Petang akan segera tiba untuk mengantarkan datangnya sang Dewi

Malam. Melihat hari yang akan segera menjadi gelap,

Mahisa Lodra mengusap wajahnya tiga kali. Di lain ke-

jap, wajah tokoh yang tak jelas berapa umurnya ini berubah menjadi wajah seorang kakek lagi. Lalu, dia

menjejak tanah seraya berkelebat menuruni lereng gunung....

6

SEWAKTU membuka kelopak mata, si bocah

lugu Seno Prasetyo hanya dapat melihat bayang-

bayang hitam. Maka, dia kerjapkan matanya beberapa

lama. Hingga, dapatlah dia lihat dinding-dinding gua

yang dipenuhi tonjolan batu.

"Oh.... Di mana aku...?" keluh si bocah. Rasa sakit menyiksa Seno. Kepalanya pening. Tulang-belulang tubuhnya terasa seperti telah patah beranta-

kan. Angin yang semilir dingin membuat bulu kuduk

Seno berdiri.

Seno mencoba bangkit dari lantai gua tempat-

nya terbaring. Tapi, cepat dia urungkan niat itu karena dadanya terasa amat sesak. Kedua tangan dan kakinya

pun amat sulit digerakkan, lemas tanpa tenaga.

Dengan tetap terbaring telentang, Seno mena-

tap langit-langit gua. Pikirannya menerawang pada ke-

jadian yang baru dialaminya.

"Di sebuah makam batu besar, aku menemu-

kan tongkat ajaib...," gumam si bocah. "Lalu, aku bertempur dengan puluhan serigala yang telah memangsa

belasan kambing milik Tuan Gagak Ireng.... Sebagian

dari serigala-serigala itu dapat kubunuh, tapi... aku terlontar jatuh ke jurang.,.. Aku masih hidup. Pasti

ada orang yang telah menolongku...."

Selagi Seno berpikir-pikir, dari balik dinding

gua sebelah dalam terdengar suara seorang lelaki

tua.... "Bocah bagus, kau menderita luka dalam yang cukup berat. Jangan mencoba berdiri. Akan ku usaha-kan untuk...."

Suara itu menggantung. Si empunya suara

mengucapkannya dengan
perlahan-lahan dan seperti

sedang berpikir berat.

Dengan menggerakkan kepala ke kanan-kiri,

Seno berusaha mencari asal suara yang didengarnya.

Tapi dia tak melihat siapa-siapa di dekatnya. Dan, selagi Seno terpana heran, suara seorang lelaki tua itu terdengar lagi....

"Tiga puluh tahun bukanlah jangka waktu yang

pendek. Begitu panjang aku menanti dalam penderi-

taan. Tak mungkin aku membuang kesempatan ini be-

gitu saja...."

Suara itu berhenti sejenak, lalu disambung lagi.

"Ah Aku yang sudah tua ini sudah tak membu-

tuhkan apa-apa lagi. Lebih baik barang itu kuberikan

kepadanya...."

Terdengar kemudian, suara helaan napas pan-

jang beberapa kali. Tentu saja Seno tidak tahu siapa

empunya suara itu, tapi dia sudah yakin bila pemilik

suara itulah yang telah menolongnya. Maka, tak dapat

Seno menahan hasrat hatinya untuk bertanya.

"Kakek yang baik..., di manakah kau? Cobalah

tampakkan dirimu. Aku ingin mengucapkan terima ka-

sih...." Seno menggeragap kaget ketika merasakan hembusan angin dingin yang bertiup di sisi kanan tubuhnya. Dan, terbelalaklah mata si bocah saat melihat seorang kakek yang tiba-tiba telah duduk bersila di

dekatnya. Raut wajah kakek itu mencerminkan sifat

welas asih dan kehalusan budi. Hanya saja, tatapan

matanya tampak kosong seperti orang berotak bebal.

Rambutnya yang putih panjang digelung ke atas dan

dilingkari sebuah gelang perak. Sementara, pakaian-

nya amat kumal berwarna kelabu. Anehnya, pakaian si

kakek menyiarkan aroma harum bunga kenanga.

Seno diam saja saat si kakek mengelus-elus

dahinya. Dia dengarkan penuh perhatian kata-kata si

kakek yang diucapkan dengan suara lemah lembut.

"Bocah bagus..., kau tentu telah mempelajari

ilmu silat. Atau paling tidak, kau pernah berlatih dasar-dasar ilmu silat. Jika tidak, mana mungkin kau

dapat selamat? Kau telah jatuh dari tempat yang se-

demikian tingginya...."

Senang sekali hati Seno merasakan elusan

lembut jemari tangan si kakek. Seno dapat merasakan

ada pancaran kasih sayang di balik elusan itu. Kecuali dari ibunya, belum pernah Seno mendapatkan kasih

sayang yang begitu tulus sebelum ini. Maka, tak bosan Seno menatap wajah si kakek penuh kasih pula. Hingga, dia pun lupa pada rasa sakitnya sampai beberapa

lama. Sementara, kakek berbaju kumal yang melihat

Seno terus menatapnya lantas tersenyum. Dia tarik

tangan kanannya seraya bertanya, "Kau pernah mempelajari ilmu pukulan?"

Seno hendak menggeleng, tapi pening di kepa-

lanya terasa lagi. Maka, dia menjawab dengan suara

desis. "Aku tak pernah belajar ilmu silat. Ibu hanya mengajarkan cara mengatur pernapasan dengan duduk bersila."

Mendengar jawaban si bocah, kakek berjubah

kumal terdiam. Lalu, bibirnya menyungging senyum

senang. "Jika nanti kau telah menelan 'Capung Kumala'

kau harus mengatur jalan nafasmu. Agar, inti kekua-

tan 'Capung Kumala' dapat menyatu dengan hawa

murni di tubuhmu. Luka dalammu akan sembuh. Ba-

rulah nanti aku membantumu mengatur jalan darah."

Kening si bocah lugu Seno Prasetyo berkerut

rapat. Dia tak tahu makna ucapan kakek berbaju

kumal. Namun, Seno tak dapat berpikir lama karena

keterkejutan segera menghantam dirinya. Tubuh si

kakek tiba-tiba lenyap, meninggalkan tiupan angin

dingin. Begitu sosok kakek berbaju kumal lenyap, Seno ingin bangkit. Tapi, teringat pada pesan si kakek yang melarangnya berdiri, dia pun mengurungkan niatnya.

Hanya pikirannya yang melayang ke mana-mana.

Sesaat kemudian, Seno merasakan tiupan an-

gin dingin lagi. Sosok kakek berbaju kumal tiba-tiba

telah berada di sisi kanannya kembali. Namun, kali ini wajah si kakek terlihat tegang. Kedua tangannya bergetar menyangga gumpalan cahaya kuning keemasan se-

besar buah kedondong. Di dalam gumpalan cahaya itu

terdapat seekor capung berwarna putih berkilat, meng-

gerak-gerakkan sayapnya seperti hendak terbang lepas

dari kurungan cahaya.

Seno hendak bertanya, tapi kakek berbaju

kumal keburu berkata, "Lekas buka mulutmu...."

Perkataan si kakek mengandung kekuatan

aneh yang memaksa Seno menuruti perintah itu. Dan,

begitu mulut Seno terbuka, si kakek menjejalkan gum-

palan cahaya yang dibawanya

"Huk Uh...”

Tersedak Seno karena harus menelan benda

yang cukup besar. Anehnya, setelah dapat menelan

gumpalan cahaya, Seno merasakan sebuah hawa han-

gat yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Hawa hangat

itu berasal dari pusar.

"Kau telah menelan 'Capung Kumala'. Seka-

rang, duduklah bersila. Atur jalan pernafasanmu...."

Mendengar perintah kakek berbaju kumal, ber-

gegas Seno bangkit. Dia pun bersorak girang dalam ha-

ti. Dia dapat menggerakkan tubuhnya dengan leluasa.

Pening dan rasa sakit yang merejam tubuhnya telah

lenyap pula.

Namun, saat duduk bersila dengan mata terpe-

jam, Seno merasakan hawa hangat yang mengalir dari

pusarnya berubah jadi panas membakar. Tubuh Seno

kontan bergetar. Dia merasa kepanasan seperti dima-

sukkan ke tungku pembakaran

"Cepat atur jalan nafasmu" seru kakek berbaju kumal, menyiratkan rasa khawatir.

Tanpa pikir panjang lagi, Seno menjalankan pe-

rintah si kakek. Dia atur jalan nafasnya seperti yang pernah diajari oleh mendiang ibunya.

Sementara, kakek berbaju kumal terus mena-

tap tak berkedip. Diam-diam timbul rasa heran di hati kakek berwajah teduh ini. Dia tahu Seno telah jatuh

dari tebing yang sangat tinggi. Seorang pesilat kelas menengah pun akan mati bila terjatuh dari tebing se-tinggi lebih dari lima ratus tombak itu. Tapi, bagaima-na Seno dapat selamat? Memang benar Seno pernah

berlatih menghimpun tenaga dalam walau tanpa dis-

adarinya, tapi itu saja belum menjamin keselamatan

Dalam keheranannya, si kakek mengeluarkan

sebatang tongkat pendek dari balik baju kumalnya. Sa-

lah satu ujung tongkat putih sepanjang dua jengkal itu tampak runcing.

"Tongkat Dewa Badai ini kutemukan di dekat

tubuh bocah itu. Mungkinkah benda mustika ini telah

mengalirkan hawa sakti, sehingga tubuhnya tak han-

cur berantakan waktu jatuh ke tanah?"

Sambil terus menatap wajah lugu Seno Pra-

setyo, si kakek mengelus-elus tongkat mustika di tan-

gannya. Dia tersenyum senang waktu melihat getaran

tubuh Seno melemah dan napas si bocah pun berhem-

bus sangat teratur.

Siapakah sebenarnya kakek berbaju kumal itu?

Di rimba persilatan, dia masuk dalam golongan

tokoh jajaran atas yang sudah sangat sulit dicari tan-dingannya. Sekitar tiga puluh tahun silam, orang-

orang biasa menyebutnya sebagai Dewa Dungu walau

sebenarnya otak si kakek tidak dungu ataupun bebal.

Kaum rimba persilatan memberi julukan Dewa Dungu

karena tatapan mata si kakek yang senantiasa kosong

seperti orang berotak bebal. Lagi pula, si kakek juga punya sifat pelupa, sehingga kadang-kadang perbuatannya terkesan amat bodoh.

Dewa Dungu pernah mengambil seorang murid

yang punya bakat luar biasa untuk mendalami ilmu si-

lat. Namun sayang, Dewa Dungu telah keliru dalam

menilai sifat dan pribadi muridnya. Hingga pada ak-

hirnya, kekeliruan itu membuat Dewa Dungu terus di-

rundung rasa sesal.

Sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu, Dewa

Dungu menemukan setumpuk buku pelajaran ilmu silat. Buku-buku ilmu silat itu terdiri dari lima bagian.

Namun, karena tidak terdapat gambar-gambar yang

memberikan petunjuk, Dewa Dungu agak kesulitan da-

lam mempelajarinya. Maka, Dewa Dungu mengajak

muridnya menyingkir dari keramaian agar dapat mem-

pelajari isi buku-buku temuannya tanpa ada gang-

guan. Selama beberapa tahun tinggal bersama di se-

buah lembah sepi, Dewa Dungu dapat mencium peri-

laku muridnya yang tak baik. Oleh karena itu, Dewa

Dungu tak mau menurunkan semua ilmu kesaktian-

nya. Tindakan Dewa Dungu itu justru membuat si

murid membenci dan menyusun sebuah siasat licik.

Saat Dewa Dungu duduk bersemadi, beberapa aliran

darahnya ditotok. Aliran darah Dewa Dungu jadi ka-

cau, kemudian menyebabkan 'salah api'. Akibatnya,

sepasang kaki Dewa Dungu lumpuh

Tapi sebelum kejadian itu, Dewa Dungu telah

menyembunyikan lima buku temuannya secara terpi-

sah-pisah. Namun demikian, si murid yang jahat ber-

hasil mendapatkannya walau cuma dua buku. Dan, la-

rilah murid murtad itu dengan membawa dua kitab

curiannya. Dewa Dungu yang telah lumpuh ditinggal-

kannya tanpa belas kasihan sedikit pun.

Beruntung bagi Dewa Dungu. Walau lumpuh,

dia dapat bertahan hidup sampai sekarang ini. Dia

tinggal di sebuah gua yang terletak di salah satu lembah Gunung Lawu. Dalam kesendiriannya itu, Dewa

Dungu telah mendapatkan 'Capung Kumala' yang

mempunyai khasiat luar biasa, yang kemudian diberi-

kannya kepada si bocah lugu Seno Prasetyo.

Demikianlah riwayat kakek berbaju kumal yang

tak lain dari Dewa Dungu itu. Sekarang, tokoh tua

yang telah berumur hampir delapan puluh tahun itu

tampak menempelkan kedua telapak tangannya ke

punggung Seno.

Hingga, dalam semadinya, Seno merasakan se-

buah aliran hawa hangat lain yang masuk ke tubuh-

nya. Hawa hangat yang berasal dari telapak tangan

Dewa Dungu itu mengalir ke seluruh urat darah di tu-

buh Seno. Sebentar kemudian, raut wajah si bocah ter-

lihat merah sehat.

Setelah membantu Seno mengatur aliran da-

rahnya, Dewa Dungu menggeser duduknya dengan

menggunakan telapak tangan sebagai pijakan. Tahulah

Seno, bila sang dewa penolongnya ternyata seorang

kakek lumpuh.

"Bertahun-tahun aku tinggal di gua ini. Berta-

hun-tahun aku melatih daya batin ku...," ujar Dewa Dungu, menatap wajah Seno lekat-lekat. "Tak mungkin aku salah menentukan pilihan lagi. Bocah bagus...,

aku dapat membaca sifat dan pribadimu dari raut wa-

jah dan sorot matamu. Kau seorang bocah yang amat

lugu dan jujur.... Sekarang, ikutlah aku...."

Usai berkata, kedua tangan Dewa Dungu me-

nekan lantai gua. Dan, terbelalaklah mata Seno. Si bocah terkejut melihat tubuh Dewa Dungu yang tiba-tiba

berpindah tempat, sekitar lima tombak dari hadapan-

nya. "Ayo Ikutlah aku..." ajak Dewa Dungu, me-lambaikan tangannya.

Seno nyengir kuda sejenak, lalu berlari-lari

mengikuti lesatan tubuh Dewa Dungu yang memasuki

bagian gua sebelah dalam. Sambil berlari, Seno berpi-

kir-pikir. Dia merasa langkah kakinya dapat berkelebat cepat, namun dia tak tahu apa penyebabnya. Tapi, karena tak mau tertinggal, cepat dia mengusir segala

tanda tanya yang berkecamuk di benaknya.

Kini, Seno telah menginjakkan kaki di sebuah

ruangan berhawa sejuk. Dia memandang kagum pada

tatanan meja dan kursi yang terbuat dari batu. Di de-

kat meja dan kursi itu terdapat sebuah rak buku yang

juga terbuat dari batu.

"Duduklah...," perintah Dewa Dungu.

Walau Seno tak tahu apa yang akan diperbuat

si kakek pada dirinya, namun dia menurut juga. Dia

duduk di salah satu kursi batu yang dingin. Sewaktu

Dewa Dungu menggeser tubuh mendekati rak buku,

Seno menyentuh bahunya.

"Kakek yang baik..., yang baru ku telan tadi

apa? Kenapa tubuhku jadi bertambah ringan seperti

ini?" "'Capung Kumala'. Yang kau telan tadi adalah

'Capung Kumala'. Jika seorang ahli silat menelannya,

sama artinya dengan dia tekun berlatih selama dua

puluh tahun," jawab Dewa Dungu, penuh kesunggu-

han. "Tiga puluh tahun lamanya aku menunggu ke-

munculan barang ajaib itu. Hmmm.... Kau memang

punya peruntungan yang bagus,..."

Mendengar itu, Seno jadi tak enak hati. Dia te-

lah menelan barang ajaib milik Dewa Dungu yang telah

menunggu kemunculannya selama tiga puluh tahun.

Lalu, dengan suara bergetar mengandung penyesalan,

Seno berkata, "Tidak seharusnya Kakek memberikan barang yang sangat berharga itu kepada ku. Kalau di

dunia ada lagi barang macam itu, aku akan berjuang

sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Aku harus

mengganti kebaikan Kakek...."

Tersenyum lebar Dewa Dungu. Bola matanya

membesar dan tampak lucu. "Sudahlah, tak perlu kau pikirkan soal ganti-mengganti kebaikan," sahutnya.

"Untuk mendapatkan 'Capung Kumala* sangat tergantung pada peruntungan. Menunggu sampai seratus ta-

hun pun, belum tentu 'Capung Kumala' akan muncul

lagi." "Kakek baik sekali...," ujar Seno. Turun dari kursi seraya berlutut di hadapan Dewa Dungu.

"Hmmm.... Walau batang usiamu belum sebe-

rapa, kau telah memiliki peradatan bagus. Tapi, aku

tak butuh penghormatan yang berlebihan. Bangkitlah.

Ceritakan siapa dirimu sebenarnya...."

Dengan isyarat tangan, Dewa Dungu menyuruh

Seno untuk duduk lagi di kursi. Tapi kali ini, Seno

menggeleng. Seno tak mau duduk di atas, sementara

ada orang tua yang duduk di bawah. Begitulah perada-

tan Jawa yang diketahui Seno dari mendiang ibunya.

Dan, Dewa Dungu pun tak mau memaksa. Dia biarkan

Seno duduk bersila di hadapannya.

"Nama lengkap ku adalah Seno Prasetyo,

Kek...," ujar si bocah. "Ibuku yang bernama Dewi Ambarsari atau Putri Bunga Putih baru saja dibunuh

orang, Kek...," lalu, bocah berpakaian compang-

camping ini menceritakan peristiwa di Bukit Takeran,

termasuk kedatangannya di Perguruan Tapak Sakti,

hingga dia jatuh ke dalam jurang.

Sewaktu Seno bercerita bahwa dia telah mene-

mukan sebuah makam batu besar yang terdapat pulu-

han batok kura-kura, Dewa Dungu membelalakkan

mata. "Luar biasa Penemuan yang bagus" serunya.

Dewa Dungu lalu menggeser tubuhnya mende-

kati rak buku. Diambilnya tiga buku tua yang ter-

bungkus rapi. Setelah membuka halaman buku-buku

itu beberapa lembar, dia berkata, "Sekarang, kau tun-jukkan padaku gerakan-gerakan yang telah kau hafal

itu...." Seno menurut saja. Ditariknya napas panjang, lalu menggerakkan anggota-anggota tubuhnya, persis

seperti gambar yang terukir di puluhan batok kura-

kura. Semakin lama, gerakan Seno semakin cepat.

Dewa Dungu menatap tak berkedip. Kepalanya meng-

geleng-geleng karena kagum.

Sepeminum teh kemudian, dengan tubuh ber-

mandi keringat Seno duduk bersila lagi di hadapan

Dewa Dungu. Sementara, Dewa Dungu tampak mem-

buka-buka halaman tiga buku di pangkuannya.

"Sama persis. Sama persis...," gumam Dewa

Dungu. Kakek lumpuh itu lalu berkata sambil menatap

wajah Seno lekat-lekat, "Semua gerakan yang kau peragakan tadi sama persis dengan isi ketiga buku ini.

Ketahuilah, ketiga buku ini berisikan pelajaran tentang ilmu tenaga dalam, ilmu pukulan, dan ilmu menggunakan senjata berupa tongkat pendek.... Telah pulu-

han tahun aku mempelajarinya, namun tak dapat aku

mendalami secara menyeluruh. Ketiga kitab ini ditulis oleh seorang tetua pendiri aliran Angin Selatan. Ke-mungkinan besar, makam yang kau temui itu adalah

makam si tetua yang bernama Sanggalangit."

Dewa Dungu mengambil napas panjang. Ke-

ningnya berkerut rapat, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba membebani pikirannya. Namun tak lama kemu-

dian, dia melanjutkan perkataannya.

"Sebenarnya, buku ciptaan Sanggalangit atau

Kitab Sanggalangit terdiri dari lima buku. Sayangnya, dua buku lainnya telah dilarikan oleh si binatang itu"

Mendelik mata Dewa Dungu saat mengucapkan

'si binatang'. Seno tak tahu siapa yang dimaksud da-

lam kata itu karena Dewa Dungu tak mau menje-

laskan. Sementara, Dewa Dungu mengeluarkan tongkat

pendek yang telah tersimpan di balik bajunya. Lalu katanya, "Tongkat mustika ini kutemukan tak seberapa jauh dari tempat tubuhmu tergeletak pingsan...."

"Ya. Ya, tongkat ajaib itu milikku, Kek," tukas Seno. Gembira sekali hati bocah lugu itu. Tongkat

mustika, hasil temuannya yang dia sangka hilang ter-

nyata disimpan oleh Dewa Dungu.

"Tahukah kau, Seno, apa nama tongkat ini?"

tanya Dewa Dungu kemudian.

Seno nyengir kuda seraya menggeleng.

"Menurut bagian pertama dari Kitab Sangga-

langit, tongkat pendek ini bernama Tongkat Dewa Ba-

dai. Tongkat Dewa Badai adalah sebuah senjata mus-

tika. Hanya orang yang mempunyai keberuntungan

besar yang dapat memilikinya...."

Seno mengangguk-angguk.

"Tongkat Dewa Badai memiliki daya kekuatan

luar biasa," lanjut Dewa Dungu. "Bila dikibas-kibaskan akan menimbulkan tiupan angin kencang laksana badai. Bila dipukulkan atau ditusukkan ke bongkah ba-

tu, maka bongkah batu itu akan hancur berkeping-

keping...."

Seno mengangguk-angguk lagi. Dalam hati dia

membenarkan ucapan si kakek karena pernah mem-

buktikannya.

"Dan, di balik kedahsyatan Tongkat Dewa Badai

ini terdapat satu khasiat yang tak kalah hebat. Tong-

kat Dewa Badai dapat memusnahkan pengaruh segala

jenis racun, baik yang berasal dari hewan maupun

yang berasal dari tumbuhan. Maka, kau harus dapat

menyimpannya sebaik mungkin...."

Usai berkata, Dewa Dungu menyodorkan Tong-

kat Dewa Badai. Seno menerima tongkat mustika itu

dengan kedua tangan. Namun, segera dia meletakkan-

nya ke lantai. Dia lalu berlutut seraya berkata, "Kakek baik sekali.... Dapatkah Kakek menerimaku sebagai

murid? Aku berjanji akan menggunakan ilmu kesak-

tian yang kudapatkan dari Kakek di jalan kebena-

ran...." Dewa Dungu tak menjawab. Namun, setelah Seno membentur-benturkan dahinya ke lantai, dia

berkata, "Sudah kubilang, aku tak butuh peradatan yang berlebihan. Duduklah lagi," tangan Dewa Dungu mengangkat bahu Seno. Begitu Seno duduk bersila la-gi, dia menyambung kalimatnya. "Tak usah kau me-

minta, aku memang akan mengangkatmu sebagai mu-

rid. Tapi, harap kau katakan asal-usulmu lebih jelas.

Kau mengaku anak dari Dewi Ambarsari atau Putri

Bunga Putih. Aku tak mengenal ibumu yang kau kata-

kan baru meninggal itu. Karena, tiga puluh tahun le-

bih aku tak berkecimpung di rimba persilatan. Kini,

harap kau ceritakan siapa ayahmu, masih hidupkah

dia atau telah meninggal seperti ibumu?"

Tanpa pikir panjang lagi, Seno berkata, "Ayah

Seno bernama Darma Pasulangit yang bergelar Ksatria

Seribu Syair...."

"Sebentar," tukas Dewa Dungu, mengerutkan

kening. "Darma Pasulangit adalah putra mahkota Kerajaan Mahespati. Ketika aku masih berkecimpung di

rimba persilatan, dia masih kanak-kanak. Sekarang

ini, dia pasti telah menggantikan Darma Sagotra ayah-

nya sebagai raja...."

"Tidak, Kek," ganti Seno yang menukas. "Sebelum meninggal, ibuku bercerita bahwa Senopati Raksa

Jalinti berhasil menggulingkan takhta Prabu Darma

Sagotra. Sementara, Darma Pasulangit ayahku terus

menjadi buronan sampai sekarang...."

Semakin rapat kerut di kening Dewa Dungu.

Bola matanya berputar-putar. Walau sedang berpikir

keras, tapi wajahnya terlihat lucu.

"Tak jadi apa. Tak jadi apa...," ujar Dewa Dungu kemudian, ditujukan kepada dirinya sendiri. "Gua tempat tinggalku ini berada di lembah yang tersem-bunyi dan jarang dijamah manusia. Tak akan ada yang

tahu kalau anak Darma Pasulangit berada di sini."

"Kakek jadi mengangkat ku sebagai murid?"

tanya Seno yang sempat mendengar perkataan Dewa

Dungu. "Tentu saja," jawab si kakek, cepat. "Siapa pun kau, bagaimanapun asal-usulmu, aku tetap akan

mengangkatmu sebagai murid. Aku tahu kau punya

jiwa bersih. Kau amat lugu dan jujur. Namun, ada satu syarat yang harus kau penuhi...."

"Asal bukan perbuatan jahat, apa pun syarat

Kakek akan kulaksanakan," sahut Seno penuh keyakinan. Dewa Dungu mengangguk-angguk sambil men-

gelus jenggotnya yang tak seberapa lebat. Lalu ka-

tanya, "Baiklah, kau belajar ilmu olah kanuragan dulu.

Pada saatnya nanti, kau akan tahu apa yang harus

kau kerjakan untukku."

Maka, hari itu juga si bocah lugu Seno Prasetyo

dan Dewa Dungu melakukan upacara pengangkatan

guru dan murid di depan meja sembahyang. Dan, kee-

sokan harinya Dewa Dungu mulai mencurahkan selu-

ruh ilmu kesaktiannya kepada Seno. Sementara, Seno

pun menerima dan menjalankan semua petunjuk gu-

runya dengan penuh kesungguhan.

Selain mengajarkan ilmu kesaktiannya sendiri,

Dewa Dungu juga mengajarkan isi Kitab Sanggalangit

yang terdiri dari tiga buku. Seno pun dapat menerima

semua pelajaran dan petunjuk dengan baik karena dia

punya tekad dan semangat besar. Selain itu, khasiat

'Capung Kumala' yang telah ditelannya turut memban-

tu banyak dalam menerima gemblengan Dewa Dungu.

Dapat dipastikan, bila kelak di kemudian hari di rimba persilatan akan muncul seorang pendekar muda yang

belum tentu dapat dicari dalam jangka waktu seratus

tahun.

7

PUTARAN waktu berlalu sedemikian cepat. Ke-

cuali kekuatan Sang Pencipta, tak ada kekuatan lain

yang mampu menahannya. Tak juga kekuatan manu-

sia yang punya banyak kekurangan. Tanpa terasa, li-

ma tahun telah berlalu. Tentu saja banyak perubahan

yang telah terjadi.

Seno Prasetyo yang dulunya hanya seorang bo-

cah kurus dekil, kini telah berubah menjadi seorang

pemuda remaja berumur tujuh belas tahun. Ketampa-

nan wajahnya tak lagi tersamar oleh debu dan kotoran.

Sebagai seorang anak manusia yang telah menginjak

dewasa, Seno tahu arti kebersihan.

Karena tiap hari berlatih ilmu silat, tubuh Seno

menjadi tinggi tegap, berdada bidang, dengan sepasang tangan dan kaki yang kokoh kuat. Rambutnya hitam

panjang, dibiarkan tergerai bebas di punggung. Sepa-

sang alisnya yang menyerupai sayap elang menukik te-

lah menebal, hingga mirip sepasang golok yang diben-

tangkan. Hidungnya mancung, bertengger di atas bibir

kemerahan. Namun, keluguan Seno masih tetap terpancar di balik ketampanan wajahnya.

Sebenarnya, lima tahun adalah ukuran waktu

terpendek untuk mendalami ilmu kesaktian. Tapi, ka-

rena Seno telah menelan 'Capung Kumala' dan digem-

bleng oleh seorang tokoh sakti yang sangat matang

pengalaman, dia mendapat kemajuan yang amat pesat.

Seluruh ilmu kesaktian Dewa Dungu telah dapat dis-

erap. Dan, isi Kitab Sanggalangit dapat pula dipahami inti-sarinya.

Pagi itu, dengan mengenakan pakaian yang ter-

buat dari besetan kulit harimau, Seno tampak me-

mainkan salah satu jurus yang terdapat dalam Kitab

Sanggalangit. Sementara, Dewa Dungu yang lumpuh

mengawasi dari jarak sekitar lima belas tombak.

"Bagus Bagus" puji Dewa Dungu, keras menggelegar. "Sekarang, mainkan jurus 'Dewa Badai Menghajar Lautan'"

Mendengar perintah gurunya, Seno menghenti-

kan gerakannya, lalu dia berkelebat lagi, memainkan

jurus lain yang terdapat dalam Kitab Sanggalangit.

Hebat sekali jurus yang sedang dimainkan Se-

no. Tubuh pemuda tampan itu dapat berkelebat amat

cepat, hingga berubah menjadi bayangan coklat yang

menyerupai asap. Sementara, Tongkat Dewa Badai te-

rus berkelebat pula. Dan, setiap Tongkat Dewa Badai

mengibas, timbul tiupan angin kencang laksana badai

topan. "Jangan ragu-ragu Tambah tenaga Anggap kau sedang melawan seorang musuh tangguh"

Sekali lagi, Dewa Dungu berteriak. Segera Seno

mengempos tenaga. Dia alirkan beberapa bagian tena-

ga dalamnya ke Tongkat Dewa Badai. Maka tak ayal

lagi, kibasan tongkat mustika itu menimbulkan leda-

kan-ledakan keras yang membarengi tiupan angin kencang

Karena Seno terus menambah kekuatan tenaga

dalamnya, tiupan angin yang ditimbulkan oleh kibasan

Tongkat Dewa Badai semakin kuat bergemuruh. Gum-

palan tanah dan bongkahan batu mulai beterbangan

Ranting dan dahan pohon berpatahan. Sementara, be-

berapa batang pohon kecil tampak tercabut dari akar-

nya, lalu terlontar jauh dan menghilang dari pandan-

gan. Dewa Dungu tersenyum puas melihat kema-

juan yang telah dicapai muridnya. Namun, di balik se-

nyum itu Dewa Dungu menahan napas. Dia mengelua-

rkan ilmu memperberat tubuh agar tubuhnya tak tu-

rut dilontarkan oleh badai topan ciptaan yang timbul

akibat kibasan Tongkat Dewa Badai.

"Cukup Cukup" seru Dewa Dungu kemudian.

Bergegas Seno menghentikan kelebatan tubuh-

nya. Dia pun sedikit heran melihat keadaan di sekitarnya. Permukaan tanah telah dipenuhi kubangan.

Bongkah-bongkah batu yang semula berada di dekat-

nya, kini sudah tak terlihat lagi. Sementara, pohon-

pohon di sekitarnya telah menjadi gundul. Ranting dan dahannya banyak yang sempal patah. Beberapa pohon

kecil tak berada di tempatnya lagi.

"Arahkan pandanganmu ke tebing batu itu, Se-

no" perintah Dewa Dungu. "Dari tempatmu berdiri, cobalah kau hancurkan tebing batu itu dengan pukulan 'Dewa Badai Rontokkan Langit'”

Tanpa berkata apa-apa, Seno membungkukkan

badannya, menghadap ke Dewa Dungu. Setelah itu,

dia membalikkan badan. Ditatapnya tebing batu yang

dimaksud oleh sang Guru. Lalu, dia alirkan beberapa

bagian tenaga dalamnya ke tangan kanan. Dipasang-

nya kuda-kuda seraya....

"Hiahhh..."

Seno memekik tinggi. Pergelangan tangan ka-

nannya yang telah berubah warna menjadi putih berki-

lat, dia hentakkan ke depan. Saat itu juga, melesat se-larik sinar putih berkeredepan dari telapak tangan kanan Seno

Wusss...

Blarrr...

Terdengar ledakan keras menggelegar di angka-

sa. Bumi berguncang bagai terjadi gempa. Debu men-

gepul tebal. Pecahan batu berhamburan ke berbagai

penjuru

Manakala pandangan telah menjadi terang lagi,

tebing batu yang menjadi sasaran pukulan jarak jauh

Seno telah hancur luluh. Rata dengan permukaan ta-

nah "Hebat Hebat" puji Dewa Dungu. "Aku tahu kau tidak menggunakan seluruh kekuatan tenaga dalammu. Itu lebih baik. Aku tak mau melihat seluruh

tempat di lembah Gunung Lawu ini menjadi porak-

poranda.... Sekarang, kita kembali ke gua, Seno. Ada

sesuatu yang harus kusampaikan kepadamu."

"Baik, Kek," sambut Seno, membungkukkan

badan. Bergegas Dewa Dungu membalikkan tubuhnya.

Kedua tangannya menekan tanah. Tiba-tiba, tubuh

kakek lumpuh itu melesat cepat, dan menghilang dari

pandangan

Seno yang sudah tahu ke mana perginya Dewa

Dungu, bergegas menjejak tanah. Dia kerahkan ilmu

peringan tubuh untuk dapat mengimbangi lesatan

sang Guru.

* * * *

"Seluruh kepandaian yang kumiliki telah kuwa-

riskan kepadamu. Isi Kitab Sanggalangit telah dapat

kau serap pula," ujar Dewa Dungu setelah berada di dalam gua. "Kini, sudah saatnya kau keluar dari lembah Gunung Lawu yang sepi ini. Carilah pengalaman

sendiri. Ingat Di pundakmu terpikul beban kewajiban.

Membela yang lemah. Memberantas yang kuat namun

jahat, Menjunjung tinggi kebenaran. Dan, selalu beru-

saha untuk dapat menegakkan keadilan. Nah Pagi ini

juga, kau boleh pergi...."

Berkerut kening Seno mendengar perkataan

Dewa Dungu. Untuk beberapa lama, dia nyengir kuda.

Rupanya, kebiasaan buruk semasa kecil itu terus ter-

bawa sampai dia tumbuh menjadi pemuda remaja.

"Tidak, Kek...," tolak Seno kemudian. "Aku akan tinggal di sini sampai beberapa tahun lagi. Kaki Kakek belum sembuh. Kalau aku pergi, siapa lagi yang akan

melayani Kakek?"

Mendengar ucapan Seno yang masih terkesan

lugu itu, Dewa Dungu tersenyum lebar. "Kau pikir, siapa yang melayaniku sebelum kau tinggal di tempat

ini bersamaku? Sejak puluhan tahun yang lalu, dalam

keadaan lumpuh, aku terbiasa melayani diriku sendiri.

Tapi..., aku pun bisa merasakan isi hatimu. Kau tidak tega meninggalkan diriku yang sudah semakin tua renta digerogoti usia ini."

Seno diam. Dalam hati, dia membenarkan uca-

pan Dewa Dungu. Memang, berat rasanya meninggal-

kan sang Guru yang sangat menyayanginya itu. Apala-

gi, sang Guru dalam keadaan lumpuh.

"Di dunia ini, tidak ada satu pun kejadian yang

tidak berubah...," lanjut Dewa Dungu. "Kau tak perlu mengkhawatirkan keadaanku, Seno. Selama lebih dari

tiga puluh lima tahun aku tinggal di tempat ini, aku

dapat menyerap saripati Kitab Sanggalangit. Aku dapat menghimpun kembali inti kekuatan tubuhku. Tak lebih dari setahun lagi, sepasang kakiku akan sembuh

seperti sediakala. Oleh karena itu, kau tak perlu khawatir, Seno. Pergilah. Carilah pengalaman di dunia

luar...." Usai berkata, Dewa Dungu menepuk-nepuk bahu Seno yang belum juga mau angkat kaki. Mendadak, kakek berbaju kumal itu menggaplok kepalanya

sendiri. Plok...

"Uh Bodoh sekali aku ini Penyakit lupa ku be-

lum juga mau hilang"

Setelah merutuk dirinya sendiri, Dewa Dungu

berkata kepada Seno. "Untung kau belum pergi, Seno.

Ada satu hal penting yang harus kau kerjakan untuk-

ku." "Apa itu, Kek?" tanya Seno.

"Masih ingatkah kau pada satu syarat ku sebe-

lum kau kuterima sebagai murid?"

Seno nyengir kuda sejenak, lalu menjawab, "Ya.

Aku harus mengerjakan satu tugas untuk Kakek."

Dewa Dungu menatap wajah Seno lekat-lekat.

Dia seakan ingin melongok isi hati muridnya itu.

"Sebenarnya, kau mempunyai kakak sepergu-

ruan. Dia bernama Mahisa Lodra," tutur Dewa Dungu kemudian. "Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu bersama muridku itu, aku mempelajari isi Kitab Sangga-

langit di tempat ini. Namun sayang, Mahisa Lodra

mempunyai sifat-sifat yang tak terpuji. Aku telah keliru memilihnya sebagai murid...."

Bergetar suara Dewa Dungu saat bercerita. Te-

ringat masa lalunya, hati Dewa Dungu tergeluti rasa

sedih. Sementara, Seno mendengarkan cerita gurunya

dengan penuh perhatian.

"Karena aku tak mau menurunkan seluruh il-

mu kesaktianku, Mahisa Lodra menyusun siasat licik.

Saat aku bersemadi, beberapa jalan darahku ditotok-

nya. Jalan darahku jadi 'salah api' yang menyebabkan

sepasang kakimu lumpuh," lanjut Dewa Dungu. "Dan, Kitab Sanggalangit yang ku sembunyikan secara terpisah, dapat dicurinya dua bagian. Masing-masing buku

yang dilarikan oleh Mahisa Lodra itu berisi tentang il-mu peringan tubuh bernama 'Angin Pergi Tiada Berbe-

kas' dan sebuah pelajaran ilmu sihir atau ilmu sema-

camnya yang bernama 'Selaksa Wajah Berganti-ganti'."

Dewa Dungu menghentikan ceritanya untuk

mengambil napas panjang. Lalu, dengan suara tetap

bergetar, dia melanjutkan lagi.

"Kalau Mahisa Lodra dapat mendalami kedua

bagian dari Kitab Sanggalangit itu, maka dia akan da-

pat berlari secepat angin. Dan, dia pun dapat merubah wajahnya sesuka hatinya. Dia bisa merubah wajahnya

menjadi seorang pemuda tampan atau seorang kakek

tua renta, bahkan dia pun dapat merubah wajahnya

menjadi seorang wanita. Dan..., sekarang kau harus

tahu tugasmu, Seno. Carilah murid murtad itu sampai

ketemu. Kalau dia kau temui sebagai seorang penja-

hat, kau boleh menamatkan riwayatnya. Dan, kalau

kau temui dia sebagai seorang pendekar, ampuni jiwa

murid murtad itu. Namun, mintalah kedua buku ba-

gian dari Kitab Sanggalangit untuk kau pelajari."

"Baik, Kek," sambut Seno. "Aku akan melaksa-nakan tugas dari kakek ini dengan sekuat tenaga."

"Bagus Percayalah, Yang di Atas selalu menyer-

tai orang-orang yang berjalan di jalan kebenaran. An-

dai nanti kau temui Mahisa Lodra sebagai seorang

penjahat, kau tak perlu takut atau gentar. Kau akan

dapat mengimbangi ilmu peringan tubuhnya dengan

'Lesatan Angin Meniup Dingin' yang telah kuajarkan

kepadamu. Kau tak perlu takut melihat kesulitan pula.

Sepandai-pandainya Mahisa Lodra merubah wajahnya,

kau tetap akan dapat mengenalinya. Mahisa Lodra

mempunyai bekas luka di batok kepala bagian bela-

kang. Luka itu sebesar telur ayam dan tak ditumbuhi

rambut.... Bila kau masih sulit untuk dapat mengena-

linya. Ada ciri lain yang pasti dapat kau kenali. Kalau tertawa, kelopak mata Mahisa Lodra yang sebelah kiri

akan selalu terpejam. Nah Kau boleh berangkat seka-

rang, Seno...."

Dengan penuh haru, Seno berlutut seraya men-

cium kaki Dewa Dungu. Namun, saat dia bangkit un-

tuk segera meninggalkan tempat, mendadak Dewa

Dungu berseru.

"Tunggu dulu"

Seno duduk bersila lagi. Sementara, Dewa

Dungu tampak menggaplok kepalanya untuk yang ke-

dua kali.

Plok...

"Duh Pelupa benar aku ini"

Usai merutuk dirinya sendiri, Dewa Dungu

menggeser tubuh seraya mengambil sebuah bungku-

san yang tersimpan di antara sela-sela rak buku yang

terbuat dari batu.

Sewaktu Dewa Dungu membuka bungkusan

itu, Seno mencium aroma kayu cendana yang semer-

bak mewangi. Isi bungkusan ternyata selembar baju

lengan panjang berwarna biru dan selembar celana

berwarna biru pula. Pakaian itu terlipat rapi, dan di atasnya terdapat ikat pinggang kain berwarna merah.

"Bertahun-tahun aku menjalin seuntai demi

seuntal benang untuk kubuat menjadi sebentuk pa-

kaian lengkap," tutur Dewa Dungu. "Setelah jadi, aku merendamnya ke dalam ramuan obat pengawet yang

telah ku campur dengan sari kayu cendana. Inilah ha-

silnya...."

Dewa Dungu menunjuk pakaian di tangannya

seraya menyodorkan kepada Seno.

"Pakaian ini untukmu. Pakailah...."

"Terima kasih, Kek. Aku akan selalu mema-

kainya agar senantiasa ingat pada budi baik Kakek,"

terima Seno.

"Sekarang, kau boleh pergi. Eh Tunggu dulu"

Seno nyengir kuda melihat Dewa Dungu meng-

garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Agaknya, Dewa

Dungu lupa lagi pada sesuatu yang harus dia sampai-

kan pula kepada Seno.

"Yah Yah, aku ingat," ujar Dewa Dungu, menatap wajah Seno lekat-lekat. "Sebelum kau mencari Mahisa Lodra, ada baiknya bila kau pergi ke Telaga Pe-

tuah Dewa yang terletak di ujung utara pulau Jawa. Di sana, setiap tanggal satu Suro akan muncul seekor

ikan mas besar. Di dalam perut ikan itu terdapat

'Kodok Wasiat Dewa'. Dapatkan kodok itu, lalu makan-

lah. Kau akan tahu sendiri khasiatnya nanti. Nah Ku-

kira tak ada lagi yang terlupakan. Kau boleh berang-

kat." Seno berlutut lagi. Kembali dia cium kaki Dewa Dungu. "Aku mohon pamit, Kek...," katanya dengan suara lirih karena desakan rasa haru.

***

8
SEORANG pemuda bertubuh tinggi tegap tam-

pak berdiri termangu di atas tonjolan batu. Pakaiannya yang berwarna serba biru berkibaran tertiup angin gunung. Kedua ujung ikat pinggangnya yang terbuat dari

kain berwarna merah terlihat mengibas-ngibas. Ber-

sama hembusan angin, pakaian si pemuda menyiarkan

aroma harum kayu cendana.

Mata si pemuda yang bersinar terang menatap

jurus ke rimbunan pohon dan semak-belukar yang ada

di hadapannya. Setelah cengar-cengir, dia menge-

rutkan kening, seperti ada sesuatu yang mengganggu

pikirannya.

"Hmmm.... Tak mungkin aku salah lihat. Tanah

datar itu adalah letak Perguruan Tapak Sakti. Aku ya-

kin benar. Selama enam candra aku pernah tinggal di

tempat itu lima tahun yang lalu. Tapi..., kenapa rumah joglo beratap sirap itu tak lagi tampak? Hanya rimbunan pohon dan semak-belukar yang kulihat. Apakah

Perguruan Tapak Sakti telah bubar? Atau, ada satu

musibah, sehingga Perguruan Tapak Sakti roboh rata

dengan tanah? Atau barangkali, Perguruan Tapak Sak-

ti telah berpindah tempat?"

Pemuda remaja berumur tujuh belas tahun itu

menggumam panjang dengan kening berkerut rapat.

Sepasang matanya terus menatap rimbunan pohon

dan semak belukar di hadapannya. Dia Seno Prasetyo

Setelah menerima pesan dan tugas dari gu-

runya, Seno pergi meninggalkan gua tempat tinggal-

nya. Dia hendak pergi ke Telaga Petuah Dewa yang ter-

letak di ujung utara pulau Jawa. Namun dia pikir, ada

baiknya bila melihat-lihat dulu keadaan Perguruan Ta-

pak Sakti yang pernah ditinggalnya semasa kecil. Tapi ternyata, Perguruan Tapak Sakti telah tiada. Tentu sa-ja Seno tidak tahu bila rumah perguruan itu telah

musnah lima tahun yang lalu akibat kedatangan Mahi-

sa Lodra atau Setan Selaksa Wajah, yang tak lain dari kakak seperguruannya sendiri.

"Hmmm.... Untuk apa aku memikirkan padepo-

kan yang mungkin memang telah berpindah tempat

itu? Lebih baik aku ke Telaga Petuah Dewa sekarang

juga." Mengikuti pikiran di benaknya, Seno melangkah menuruni lereng gunung. Sang baskara sedikit

naik dari bentangan garis cakrawala timur. Angin se-

milir lembut membawa sejuk. Burung-burung bercan-

da dalam kicau riang. Melihat satwa bersayap aneka

warna itu, hati Seno jadi gembira. Dia melangkah rin-

gan seperti tanpa beban apa-apa.

Namun setelah melewati kaki gunung, langkah

Seno terhenti mendadak. Hatinya menjadi galau. Dia

teringat pada Dewa Dungu yang lumpuh. Dia amat

sayang dan kasihan pada kakek bertubuh kurus yang

telah cukup jauh ditinggalkannya itu. Tapi, ketika ingat pada tingkah polah sang Guru yang sering meng-

gaplok-gaplok kepalanya sendiri, Seno tersenyum seo-

rang diri. Dewa Dungu memang punya kebiasaan

aneh. Kalau lupa pada sesuatu, dia akan menggaplok-

gaplok kepalanya sendiri sampai sesuatu yang dilupa-

kannya itu teringat lagi.

"Semoga kakimu cepat sembuh, Kek...," doa

Seno, menghadap ke punggung gunung. "Mudah-

mudahan di kelak hari nanti Yang di Atas memperte-

mukan kita lagi...."

Sejenak, Seno memejamkan matanya, berusaha

mengusir rasa haru di hatinya. Dia tak ingin rasa haru terus bergelut di hatinya yang hanya akan memberati

langkah kakinya.

Namun, begitu bayangan Dewa Dungu hilang

dari benaknya, Seno teringat pada ibunya yang telah

meninggal. Seno tengadah, menatap langit biru. Kalau

ingat pada mendiang ibunya, begitulah kebiasaan yang

dilakukan Seno sejak kecil. Dengan tengadah menatap

langit, dia seakan melihat sosok ibunya di atas sana.

"Ibu...," desis Seno. "Kata Kakek Dewa Dungu yang menjadi guru Seno, Seno telah selesai mendalami

ilmu kesaktian. Seno diperintah pergi untuk mencari

pengalaman di dunia luar. Seno mohon restu, Bu. Se-

no akan selalu mengingat semua pesan Ibu...."

Kalimat Seno terhenti. Dia menekan perasaan

agar tak menangis. Dia harus tabah. Tak ada yang per-

lu ditangisi. Dewi Ambarsari ibunya telah berbahagia

menjalani tahap kehidupannya yang ketiga.

Dengan kepala tetap tengadah, Seno teringat

pada sumpah yang pernah dia ucapkan di depan ma-

kam ibunya.

"Setelah mendapatkan 'Kodok Wasiat Dewa',

sambil mencari Mahisa Lodra yang telah melarikan

dua bagian Kitab Sanggalangit, akan kucari pula Ba-

nyak Langkir yang telah membunuh ibuku. Aku harus

membalas kebiadaban lelaki suruhan Prabu Wira Pa-

rameswara itu. Akan kucari pula ayahku yang berna-

ma Darma Pasulangit atau Wisnu Sidharta yang berge-

lar Ksatria Seribu Syair. Walau dia ayahku, aku tetap akan meminta pertanggungjawabannya karena dia telah membohongi dan membuat ibuku menderita."

Usai mengucap tekadnya, Seno memutar pan-

dangan sejenak. Dia tentukan arah mata angin. Lalu,

dia melangkah ke utara. Telaga Petuah Dewa yang

menjadi tujuannya memang terletak di ujung utara pu-

lau Jawa.

Tapi..., belum genap seratus langkah Seno ber-

jalan, telinganya menangkap suara benturan senjata

tajam yang disahuti pekik kemarahan orang yang ten-

gah bertempur. Selama lima tahun hidup di tempat

sunyi yang terpisah dari peradaban dunia luar, Seno

belum pernah melihat orang bertempur. Maka, suara

pertempuran yang didengarnya itu begitu menarik

perhatiannya. Tanpa pikir panjang lagi, dia mengelua-

rkan ilmu 'Lesatan Angin Meniup Dingin'. Di lain ke-

jap, tubuh Seno berkelebat lenyap, meninggalkan ti-

upan angin dingin yang menebarkan aroma wangi

kayu cendana.

* * *

"Hiahhh..."

Trang...

Sebilah pedang berwarna kuning dan sebilah

golok besar berwarna putih berkilat tampak berbentu-

ran di udara. Bunga api berpijar dan meletik ke mana-

mana. Pedang kuning terpental. Untung, pemiliknya

mencekal erat, sehingga pedang itu tidak lepas dari pe-gangan. "Ha ha ha..." pemilik golok tertawa bergelak.

"Kau kalah tenaga, Kemuning. Sadarkah kau bila wa-jahmu tampak begitu pucat? Aku tahu hatimu panas,

tapi sebaiknya kau segera angkat kaki. Kalau tidak

mengingat nama besar gurumu, sudah dari tadi-tadi

kupenggal kepalamu"

Yang berkata itu seorang lelaki setengah baya

bertubuh kekar. Wajahnya kasar bercambang bauk le-

bat. Mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat ke-

pala kain berwarna hitam pula. Tatapannya tajam me-

nusuk menyiratkan sifatnya yang biasa berbuat kejam.

"Sokalanang keparat" umpat gadis bersenjata pedang yang dipanggil Kemuning. "Mengingat begitu banyak kejahatan yang telah kau perbuat, enak betul

kalau kau menyuruhku pergi. Kau seorang perampok

hina Justru kepalamulah yang harus kupenggal"

Kemuning menunjuk hidung Sokalanang den-

gan ujung pedangnya. Pakaiannya yang serba kuning

tampak berkibaran tertiup angin, hingga tekuk-liku

tubuhnya yang sintal membayang jelas di mata Soka-

lanang. "Hmmm... Tubuhmu sungguh menggiurkan,

Kemuning...," desis Sokalanang. "Andai kau bukan murid Dewi Pedang Halilintar, ingin rasanya aku ber-main cinta denganmu. Ha ha ha..."

"Jahanam Bercintalah kau dengan malaikat

kematian"

Sambil menggembor keras, Kemuning mener-

jang. Melihat tusukan pedang yang mengarah ke jan-

tung, cepat Sokalanang menyabetkan goloknya ke de-

pan Trang...

Benturan senjata tajam terdengar lagi. Bunga

api memercik. Kemuning mendengus gusar merasakan

jemari tangan kanannya yang kesemutan. Jelas bila

dia kalah tenaga. Untung, pedang kuningnya terbuat

dari logam pilihan, sehingga tidak sampai terbabat ku-tung. Kemuning tidak menjadi gentar mengetahui di-

rinya kalah tenaga. Dia empos tubuhnya seraya mengi-

rim serangan beruntun dengan jurus-jurus andalan.

Dia tutupi kekalahannya dengan ilmu peringan tubuh.

Hingga, tubuh Kemuning dapat meletik ke sana-sini

dengan cepat, menghindari benturan senjata.

Menggeram marah Sokalanang mengetahui di-

rinya terkurung oleh babatan pedang Kemuning. Tak

mau mati konyol, cepat dia mainkan jurus andalan pu-

la. Pertempuran jadi seimbang.

Namun, lewat tiga jurus kemudian, golok Soka-

lanang tampak melesat sebat hendak membabat ping-

gang kiri Kemuning. Sementara, kedudukan Kemuning

tak memungkinkan untuk berkelit. Terpaksa Kemun-

ing menyabetkan pedangnya untuk menangkis

Trang...

"Ih..."

Tangan kanan Kemuning yang memegang pe-

dang bergetar kencang. Aliran darahnya mengalir den-

gan cepat ke otak, hingga Kemuning jadi linglung sejenak. Pedang Kemuning masih tercekal erat, tapi si ga-

dis tidak tahu kalau golok Sokalanang berkelebat lagi.

Mengarah pinggang kanan

Wuk...

Kemuning tak dapat berkelit atau menangkis

lagi. Kalau tidak terbabat jadi dua, tubuh Kemuning

pasti menderita luka yang amat parah

Namun sebelum ketajaman golok Sokalanang

benar-benar mengenai sasaran, mendadak berkelebat

sesosok bayangan biru yang menyabetkan tongkat

pendek berwarna putih

Trang...

"Heh?"

Betapa terkejutnya Sokalanang. Goloknya

membentur sebuah benda yang amat keras. Dengan

mata mendelik, dia menatap bilah goloknya yang telah

rompal di beberapa bagian

"Paman tidak boleh gegabah...," ujar si penolong Kemuning.

Dia seorang pemuda remaja berpakaian serba

biru dengan ikat pinggang merah. Wajahnya tampan,

namun terkesan amat lugu. Dia tak lain dari Seno Pra-

setyo Di tangan kanannya tercekal sebatang tongkat

pendek yang salah satu ujungnya runcing. Tongkat

yang panjangnya cuma dua jengkal dan berwarna pu-

tih itu adalah Tongkat Dewa Badai

"Siapa kau? Kenapa mencampuri urusan

orang?" bentak Sokalanang, menyimpan rasa giris.

"Namaku Seno Prasetyo, Paman. Aku tidak bisa

membiarkan perbuatan kejam berlangsung di hada-

panku," sahut Seno, lugu.

Melihat wajah si pemuda yang tampak kebo-

doh-bodohan, lenyap rasa giris di hati Sokalanang.

Nafsu membunuhnya timbul. Ketajaman goloknya

yang telah cacat dia sabetkan sepenuh tenaga

Tahu ada bahaya mengancam jiwanya, Seno

yang sudah bisa mengukur tenaga Sokalanang cuma

mengalirkan sebagian kecil kekuatan tenaga dalamnya

ke Tongkat Dewa Badai. Lalu, tongkat mustika itu dia

kibaskan

Wusss...

"Wuahhh..."

Kibasan Tongkat Dewa Badai menimbulkan ti-

upan angin kencang bergemuruh. Sabetan golok tidak

sampai mengenai sasaran karena tubuh pemiliknya

keburu terlontar, lalu jatuh bergulingan sejauh sepu-

luh tombak.

Namun, hawa amarah membuat Sokalanang

lupa diri. Sebagai seorang tokoh yang sudah cukup

lama malang-melintang di rimba persilatan, Sokala-

nang merasa malu bila dipencundangi oleh seorang

pemuda remaja macam Seno Prasetyo. Maka, bergegas

Sokalanang bangkit. Dipungutnya golok putih yang

tergeletak di tanah. Lalu, dia menerjang kalap

"Maafkan aku, Paman...," ujar Seno, masih

terkesan lugu.

Sambil mengucapkan kata itu, Seno menya-

betkan Tongkat Dewa Badai. Sekali lagi, timbul tiupan angin kencang, bergemuruh keras laksana badai topan. Tubuh Sokalanang yang tengah melesat di udara

tampak terpental jauh, lalu jatuh berdebam di tanah

keras. Sementara, goloknya lepas lagi dari cekalan, dan melayang hilang dari pandangan

Susah payah Sokalanang bangkit. Tulang belu-

lang tubuhnya terasa telah hancur berantakan. Kali

ini, Sokalanang dapat menyadari bila ilmu kepan-

daiannya terpaut amat jauh bila dibanding dengan il-

mu kepandaian Seno. Maka, tanpa menghiraukan har-

ga dirinya lagi, Sokalanang lari terbirit-birit bagai melihat setan gentayangan

Seno menatap kepergian Sokalanang sambil

cengar-cengir. Dia menggumam, "Maafkan aku, Pa-

man. Tidak sepantasnya aku berlaku demikian terha-

dap orang tua. Aku berbuat hanya karena terpaksa,

supaya Paman tahu diri..."

"Hei Kenapa kau cengar-cengir?"

Menggeragap kaget Seno mendengar perkataan

yang ditujukan pada dirinya. Saat menoleh, aliran da-

rah Seno berdesir aneh. Matanya tak berkedip mena-

tap wajah cantik Kemuning. Sungguh Seno tak me-

nyangka bila orang yang ditolongnya adalah seorang

gadis yang bertampang sedemikian menawan.

"Kau... kau...."

Seno tergagap. Dia kagum melihat kecantikan

Kemuning. Wajar, karena usia Seno sedang tumbuh

menginjak dewasa. Apalagi, dia belum pernah melihat

seorang pun wanita sejak tinggal bersama Dewa Dungu.

Sementara, Kemuning yang melihat keterpa-

naan Seno tampak tersenyum. Namun, senyuman itu

justru membuat Seno tersipu. Kepalanya tertunduk.

Pikirannya jadi linglung.

"Hei, kenapa kau?" tegur Kemuning.

Sebenarnya, Kemuning ingin tertawa melihat

perilaku Seno yang tampak lucu. Tapi, Kemuning me-

nahan keinginannya itu karena tak mau membuat ter-

singgung dewa penolongnya.

"Eh, aku tak apa-apa...," sahut Seno, memberanikan diri menatap wajah Kemuning.

Melihat seraut wajah tampan namun tampak

kebodoh-bodohan milik Seno, Kemuning tersenyum la-

gi. Sementara, Seno tak kuasa membalas tatapan Ke-

muning. Dia alihkan pandangannya ke gagang pedang

Kemuning yang telah disarungkan di punggung.

"Terima kasih...," ucap Kemuning kemudian.

"Terima kasih? Untuk apa?" tanya Seno sambil nyengir kuda.

Kemuning tersenyum kembali. "Kau telah me-

nolongku. Aku harus mengucap terima kasih."

"Eh, ya, ya..."

"Kalau tidak ada kau, mungkin aku telah terbu-

jur menjadi mayat. Tahukah kau siapa lelaki brewokan

bersenjata golok tadi?"

Seno menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku tidak

mengenal siapa-siapa. Aku baru keluar dari sebuah

lembah sunyi di lereng Gunung.... Lawu."

"Hmmm.... Begitu?" sahut Kemuning. "Pantas kau begitu canggung. Rupanya, kau baru melihat dunia luar. Di lembah sunyi itu, kau pasti tinggal cuma berdua dengan gurumu. Dan karena telah menamatkan pelajaran, kau diperintah untuk pergi mencari

pengalaman. Benar, bukan?"

Ucapan Kemuning begitu lancar dan tegas.

Agaknya, si gadis berotak encer dan cukup matang

pengalaman walau umurnya sebaya dengan Seno.

"Ya. Ya, begitulah," sahut Seno, membenarkan tebakan Kemuning.

"Aku tadi sempat mendengar kau menyebutkan

nama. Benarkah namamu Seno Prasetyo?"

"Ya. Kau?"

"Aku Kemuning. Orang-orang biasa menye-

butku sebagai Dewi Pedang Kuning. Tapi, kau jangan

meremehkan kemampuanku. Aku memang kalah me-

lawan perampok hina tadi. Kau harus tahu, aku me-

mang belum menamatkan pelajaran dari guruku. Ka-

lau mau tahu, guruku bergelar Dewi Pedang Halilintar.

Guruku jauh berbeda dengan gurumu. Guruku tak

mau mengajari ku ilmu silat di tempat sunyi. Guruku

memberi pelajaran sambil mengembara. Katanya, agar

aku cepat mendapat pengalaman."

Mendengar ucapan Kemuning yang nyerocos

panjang, Seno cuma menjawab singkat, "Ya. Ya."

"Eh, aku ingin tahu, siapa gurumu?"

"Dewa Dungu."

"Dewa Dungu?"

Kemuning tampak terkejut. Keningnya berkerut

seperti mengingat-ingat sesuatu. Lalu katanya, "Menurut cerita guruku, Dewa Dungu pernah menggempar-

kan rimba persilatan sekitar empat puluh tahun silam.

Semua penjahat akan lari terbirit-birit bila melihat wajah gurumu itu. Mereka takut dan giris mendengar se-

pak terjang Dewa Dungu yang selalu memusuhi orang

jahat. Tapi..., dia lalu pergi mengasingkan diri dengan muridnya yang bernama Mahisa Lodra. Di mana kakak

seperguruanmu itu sekarang?"

"Aku tak tahu."

Seno menjawab sambil nyengir kuda. Kemuning

tersenyum. Tapi agaknya, Kemuning tak mau mengo-

rek lebih jauh tentang Mahisa Lodra. Kemuning tak

bertanya pula tentang keberadaan Dewa Dungu seka-

rang ini.

"Eh, bagaimana kau bisa bertempur dengan

Paman Brewokan tadi?" tanya Seno kemudian.

"Dia orang jahat. Namanya Sokalanang. Aku

menguntitnya dari Kademangan Lemah Pitu," jawab

Kemuning. "Eh, Seno, sebenarnya aku ingin bercakap-cakap lebih lama denganmu. Tapi, aku takut guruku

marah. Aku meninggalkannya di Kademangan Lemah

Pitu tanpa minta izin lebih dulu...."

"Ya. Ya, kau harus segera kembali menemui gu-

rumu...."

Kemuning hendak berkelebat pergi, tapi urung.

Dia menatap lekat wajah Seno seraya berkata, "Kau sudah tahu nama dan gelarku. Aku sudah tahu namamu, tapi belum tahu gelarmu...."

Seno cengar-cengir. "Aku tak punya gelar. Aku

belum bertemu dengan orang banyak, tak ada yang

memberi ku gelar. Guruku juga tak pernah memberi

gelar...," katanya.

Tersenyum Kemuning mendengar ucapan Seno

yang terkesan amat lugu dan jujur. "Maukah kau kuberi gelar?" tawarnya.

Seno nyengir lagi. "Boleh," sambutnya Kemuning menatap lekat wajah Seno yang tampak kebodoh-

bodohan. Lalu sambil tersenyum, dia berkata, "Kau pantas memakai gelar Pendekar Bodoh."

"Pendekar Bodoh?" Seno menggaruk kepalanya

yang tak gatal.

"Ya Pendekar Bodoh" seru Kemuning seraya

menjejak tanah, berkelebat pergi.

"Hei Tunggu..."

Seno berteriak lantang untuk mencegah keper-

gian Kemuning, tapi tubuh si gadis terus berkelebat,

hingga hilang dari pandangan.

Tinggallah Seno cengar-cengir seorang diri.

Sambil berjalan perlahan, dia menggumam.

"Pendekar Bodoh.... Aku Pendekar Bodoh...? Ya.

Ya, aku Pendekar Bodoh...."





1 komentar:

elainenabb mengatakan...

Black Titanium Ring (Tinted)
The Ring design is titanium straightener inspired by titanium watch band the actual Ring from the The titanium alloy Ring is a unique metal titanium pots and pans band from the band titanium exhaust tips Yggdrasil.

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...