Sabtu, 06 Desember 2014

Pendekar Riang - Jilid 32

JILID 32

MENGAPA sebelum angin badai dan hujan deras akan menjelang tiba, suasana selalu diliputi oleh keheningan yang mencekam?
Udara amat bersih, suasana amat cerah.
Tiada badai, tiada hujan deras.
Hujan badai hanya ada didalam hati ma­nusia.
Hanya bencana yang timbul akibat hujan badai semacam inilah baru merupakan keadaan yang benar‑benar menakutkan.
Sedemikian heningnya suasana di serambi itu hingga suara dengusan napas Ong Tiong yang berada dalam kamarpun dapat terde­ngar jelas.
Dengan napasnya amat berat, agaknya ia sudah tertidur pulas. Orang yang bisa tidur dalam suasana semacam ini memang benar‑benar merupakan seorang manusia yang punya ke­pandaian.
Kwik Tay‑lok dan Yan Jit entah telah pergi kemana, gerak gerik pengantin baru me­mang selalu tampak agak misterius dan pe­nuh diliputi kerahasiaan di hadapan orang lain.
Hanya Ang Nio‑cu yang menemani Giok Ling‑long, dua orang yang kesepian dengan dua hati yang hancur lebur.
Dengan termangu‑mangu Giok Ling‑liong, memandang ke tempat kejauhansana, dikejauhan situ tak ada apa‑apa, matanya juga tidak berhasil menyaksikan apa‑apa.
Seluruh tubuhnya seakan‑akan telah be­rubah menjadi kosong melompong.
Tiba‑tiba Ang Nio‑cu menghela napas panjang, kemudian katanya:
"Aku tahu, tadi kau telah berbohong."
"Berbohong?" Giok Ling‑long agak kehe­ranan.
"Kali ini kau datang lagi mencarinya bukan lantaran hendak membalas dendam, kaupun bukan berbuat demikian demi memaksanya untuk berlutut dan memohon kepadamu."
"Aku bukan ?"
"Dulu, mungkin saja kau enggan menjadi menantunya keluarga Lim, tapi sekarang kau bersedia menjadi istrinya Lim Tay‑peng, aku dapat menyaksikan kesemuanya itu."
Setelah menghela napas panjang, lanjut­nya:
"Tapi aku benar‑benar merasa tidak ha­bis mengerti, mengapa kau tidak bersedia memberitahukan kepadanya?"
Giok Ling‑long menggigit bibirnya ken­cang‑kencang, kemudian sahutnya cepat:
"Kalau toh kau saja dapat melihatnya, dia pasti dapat melihatnya pula . . . . ."
"Aaai . . . . . kau masih belum dapat me­mahami perasaan orang lelaki," kata Ang Nio cu sambil menghela napas. "terutama sekali lelaki macam dia, walaupun ia nam­paknya le­mah‑lembut, sesungguhnya ber­hati keras melebihi siapapun."
"Ooh . . . . ."
"Tapi orang yang berhati keras, sering­kali merupakan pula orang yang paling lemah, asal orang lain melukai dirinya sedikit saja, maka hatinya akan hancur luluh."
"Kau menganggap aku telah melukai hati­nya .. ?"
"Kau tidak seharusnya berkata demikian kepadanya, sepantasnya jika kau katakan apa adanya, utarakan pula rasa cintamu kepadanya, agar dia tahu kalau kau ber­sungguh‑sungguh, dengan begitu dia baru akan bersungguh‑sungguh pula menghadapi dirimu."
Giok Ling‑long tertawa rawan.
"Aku cukup memahami ucapanmu itu, se­benarnya akupun ingin berbuat demikian, tapi . . . ."
Ia menundukkan kepalanya rendah‑ ren­dah, rendah sekali, kemudian menyambung dengan suara lirih:
"Sekarang, entah apapun yang harus ku­lakukan, kesemuanya sudah terlalu lam­bat.."
Ang Nio‑cu menatap ke arahnya, dari balik sorot matanya terpancar perasaan kasihan, sim­patik dan iba, seakan dari tubuh si nona yang keras kepala ini, dia menyaksikan pula baya­ngan tubuh dari diri­nya sendiri.
Benar, sekarang segala sesuatunya me­mang sudah terlampau lambat.
Kesempatan baik hanya tersedia dalam waktu singkat, bila kesempatan tersebut telah disia‑siakan maka selamanya tak akan datang kembali.
Ang Nio‑cu tertawa paksa, lalu katanya:
"Mungkin sekarang masih belum terlam­bat, mungkin juga kau harus menggunakan sedikit tindakan untuk menghadapinya. Mengha­dapi seorang lelaki, ada kalanya memang perlu menggunakan suatu tindakan yang tegas, asal ia bersedia mengawinimu, maka kau adalah me­nantunya keluarga Lim, dan aku rasa Lok‑sang‑liong‑ong juga tak akan. . . . . ."
Tiba‑tiba Giok Ling‑long mengangkat kepalanya dan menukas kata‑katanya yang belum selesai itu:
"Kau tak usah banyak berbicara lagi, aku sudah mempunyai perhitunganku sendiri, entah bagaimanapun juga, Lok‑sang‑liong‑ ong toh tetap seorang manusia, mengapa aku harus merasa takut kepadanya?"
Walaupun wajahnya masih diliputi rasa sedih dan pilu, akan tetapi sorot matanya telah memancarkan kekerasan hati serta keangkuhannya menghadapi kenyataan.
Dia sesungguhnya adalah seorang perem­puan keras hati yang enggan tunduk kepada siapapun.
Ang Nio‑cu menundukkan kepalanya ren­dah-rendah, dia tahu dirinya memang tak perlu untuk berkata lebih jauh, dia pun tak dapat berkata lebih lanjut.
Tiba-tiba Giok Ling Long menggenggam tangannya erat‑erat, lalu ujarnya dengan suara lembut:
"Entah apapun yang kau katakan, aku masih tetap merasa berterima kasih sekali atas maksud baikmu itu."'
"Akupun tahu."
"Tapi ada satu hal yang tidak akan kau pahami."
"Katakanlah."
Giok Ling Long memandang sekejap ke arah jendela kamar Ong Tiong, kemudian pelan‑pelan bertanya:
"Kau memang seorang yang pandai sekali menyelami perasaan orang lain, tapi me­ngapa justru seperti tak dapat menyelami perasaan­nya."
Ang Nio‑cu tertawa, diapun tertawa ra­wan, lewat lama kemudian baru menghela napas sedih:
"Mungkin hal ini disebabkan dia memang bukan manusia, kalau tidak, mengapa dalam keadaan beginipun dia dapat terti­dur?"
"Benarkah Ong Tiong sudah tertidur ?"
Mengapa secara tiba‑tiba tidak terdengar lagi suara dengusan napas yang muncul dari dalam kamarnya?
Lok‑sang‑liong‑ong bersandar di atas pembaringan berlapiskan kulit harimau, dia sedang menatap Ong Tiong lekat-lekat, seakan-akan ingin membuat dua buah lubang besar di atas wajahnya.
Bahkan Ong Tiong sendiripun merasa wajahnya seakan-akan telah muncul dua buah lubang besar.
Belum pernah ia saksikan sepasang mata manusia yang begitu tajam, ia pun belum pernah menjumpai seorang manusia seperti ini.
Lok sang liong ong yang berada dalam bayangannya, bukanlah seorang manusia seperti ini.
Lantas, Lok sang liong ong seharusnya manusia macam apa?
Tentu saja tinggi besar, amat berwibawa, amat gagah, keren, bermuka merah ber­jenggot panjang, berhidung besar dan ber­mulut lebar, mungkin rambutnya sudah berubah semua, tapi pinggangnya sudah pasti masih tegap dan lurus, seakan‑akan malaikat yang berada dalam lukisan.
Suara pembicaraannya pasti amat keras seperti genta yang dibunyikan bertalu‑talu, bisa menggetarkan hati dan memekikkan telinga, bila dia sedang gusar maka lebih baik berusa­halah untuk menyingkir dari ha­dapannya sejauh mungkin.
Bahkan Ong Tiong telah bersiap untuk mendengarkan suara pekikannya yang pe­nuh dengan nada amarah itu.
Tapi apa yang diduga olehnya ternyata sama sekali keliru besar.
Begitu berjumpa dengan Lok‑sang‑liong­-ong, dia segera tahu, entah siapa saja yang ingin membangkitkan amarahnya, jelas hal itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah,
Hanya manusia yang jarang marah baru terhitung benar‑benar menakutkan.
Paras mukanya pucat pias seperti mayat, rambutnya amat jarang, jenggotnya juga tidak panjang, rambut serta jenggotnya di sisir dan diatur amat rapi, sepasang tangan­nya juga di rawat amat baik, membuat orang sukar percaya kalau sepasang tangan itu pernah digunakan untuk membunuh manusia.
Pakaian yang dikenakan amat sederhana, karena dia tahu sudah tak perlu untuk mempergunakan pakaian yang mewah lagi, diapun tak perlu mengenakan barang-barang berharga untuk memamerkan kedudukan serta kekayaannya.
Sewaktu Ong Tiong datang, ia tidak ber­diri untuk menyambut. Entah siapapun yang datang, dia tak mungkin akan bangkit ber­diri.
Sekalipun demikian, siapapun tak akan menyalahkan ketidak hormatannya itu.
Sebab dia hanya mempunyai sebelah kaki.
Tokoh silat yangmalangmelintang dalam kolong langit dan tiada tandingannya di dunia ini ternyata hanya memiliki sebuah kaki yang cacad, kenyataan ini sungguh berada di luar dugaan siapapun.
Dalam tenda yang sangat besar, suasana sepi dan hening, kecuali mereka berdua, ti­dak dijumpai orang ketiga.
Ong Tiong sudah masuk cukup lama, tapi dia hanya mengucapkan empat patah kata saja:
"Aku adalah Ong Tiong !"
Tapi Lok‑sang‑liong-ong justru tak me­ngucapkan sepatah katapun, bila berganti orang lain, dia pasti akan mengira orang itu tidak mendengar apa yang diucapkan.
Tapi Ong Tiong tidak berpendapat demi-kian.
Ong Tiong tahu, dia pasti sedang menyu­sun suatu rencana sebelum berbicara.
Adasemacam orang yang selamanya enggan mengucapkan perkataan yang salah, walau hanya sepatah katapun, jelas dia adalah manusia macam itu.
Anehnya, manusia semacam ini justru seringkali mengucapkan selaksa kata ke­liru...
Ong Tiong masih menunggu, menunggu sambil berdiri.
Akhirnya Lok‑sang‑liong ong menggerak kain tangannya menunjuk ke sebuah bangku berkulit serigala di hadapannya seraya berkata:
"Duduk !"
Ong Tiong segera duduk.
Kembali Lok‑sang‑liong‑ong menuding se­buah cawan emas yang terletak di atas meja, llu katanya lagi:
"Arak!"
Ong Tiong menggeleng.
"Kau hanya minum arak dengan teman?" mencorong sinar tajam dari balik mata Lok­-sang‑liong ong.
"Adakalanya juga terkecuali."
"Kapan ?"
"Bila aku bermaksud untuk menyelesai­kan suatu persoalan dengan orang lain. Tapi aku tidak bermaksud berbuat demikian kepadamu."
"Mengapa ?"
"Sebab aku pernah berbuat demikian ter­hadap orang yang pantas kuhormati."
Lok‑sang‑liong‑ong menatapnya lekat‑le­kat, lewat lama kemudian ia baru berseru sam­bil tertawa:
"Kedatanganmu terlampau awal."
"Aku memang bukan datang untuk mi­num arak."
Lok‑sang‑liong‑ong pelan‑pelan me­ng-angguk, katanya:
"Tentu saja kau bukan.."
Dia mengambil cawan kembali yang berada di hadapannya dan pelan‑pelan mi­num seteguk, kemudian dengan sorot mata setajam sembilu ia menatap wajah Ong Tiong lekat‑lekat.
"Kau sedang memperhatikan kakiku?" serunya.
"Yaa, benar."
"Kau tentu merasa heran bukan, siapa yang telah membacok kakiku ?"
"Benar."
"Inginkah kau untuk mengetahuinya ?'
"Tidak ingin."
"Mengapa ?"
"Sebab entah siapakah orangnya, sudah pasti saat ini orangnya sudah mati . . . . ."
Tiba‑tiba Lok‑sang‑liong‑ong tertawa.
"Tampaknya kau bukan seorang manusia yang suka banyak bicara."
"Ya, aku memang bukan."
"Aku suka dengan orang yang jarang ber­bicara, sebab orang yang jarang berbicara bi­asanya apa yang dikatakan lebih dapat dipercaya . . ."
"Biasanya memang demikian."
"Bagus, sekarang kau boleh mengutara­kan secara berterus terang, apa maksud ke­da­tanganmu saat ini ?"
Tidak menunggu Ong Tiong buka suara, dengan dingin dia melanjutkan kembali:
"Paling baik kalau diutarakan hanya de­ngan sepatah kata saja."
"Kau tak boleh membunuh Giok Ling­-long!"
"Mengapa tidak boleh?" Lok‑sang‑liong ong menarik muka.
"Jika kau masih menginginkan Lim Tay-peng hidup, maka kau tak boleh membunuh Giok Ling‑long."
"Maksudmu bila kubunuh Giok Ling‑long, maka Lam Tay‑peng akan mati lantaran dia?"
"Kau tidak percaya ?"
"Kau percaya ?"
"Bila aku tidak percaya, aku tak datang kemari."
"Kau percaya di dunia ini terdapat orang lain yang bersedia mati demi orang lain ?"
"Bukan saja ada, lagi pula banyak sekali."
"Katakan dua orang diantaranya."
"Lim Tay‑peng, aku !"
Tiba‑tiba Lok‑sang‑liong‑ong tertawa le­bar.
"Kau tidak percaya ?" seru Ong Tiong.
"Dan kau percaya ?"
"Kalau memang begitu, bagaimana kalau kita bertaruh ?" .
"Bertaruh apa ?"
"Menggunakan selembar nyawaku untuk dipertaruhkan dengan selembar nyawa Giok Ling‑long."
"Bagaimana caranya bertaruh ?"
"Andaikata Lim Tay‑peng tidak bersedia mati demi Giok Ling‑long, setiap saat kau boleh membunuh aku."
"Kalau sebaliknya ?"
"Kau boleh segera angkat kaki dari sini, maka menang atau kalah, kau tak akan men­derita kerugian apa‑apa."
"Tidak menderita kerugian apa‑apa?" seru Lok‑sang‑liong‑ong sambil tertawa dingin. "Orang yang bisa berpikir demikian, sudah pasti mempunyai dua buah kaki."
"Sekalipun ada orang memenggal sebuah kakiku, aku hanya akan pergi mencari orang­nya, tak akan pergi mencari puteri­nya."
Sorot mata Lok‑sang‑liong‑ong berubah semakin tajam lagi, lama sekali ia menatap wajahnya tanpa berkedip, kemudian pelan-pelan baru berkata:
"Dapatkah kau buktikan kalau Lim Tay-peng bersedia mati baginya ?”
"Aku tak dapat, tapi kau dapat."
Pelan‑pelan dia melanjutkan:
"Tapi aku percaya, dengan cepat dia pasti akan datang pula ke tempat ini"
Benar juga, ada orang yang datang ke situ, tapi yang datang bukan Lim Tay‑peng, melainkan Ang Nio‑cu, Kwik Tay‑lok dan Yan Jit.
Sewaktu mereka masuk ke dalam, Ong Tiong sudah tidak berada didalam tenda lagi.
Melihat mimik wajahnya itu, jelas mereka pun terkejut seperti apa yang dialami Ong Tiong tadi . . . .
Siapapun tidak menduga ka­lau Lok‑sang‑ liong‑ong adalah manusia sema­cam ini.
Tujuan dari kedatangan mereka kesana seperti juga Ong Tiong, karena terhadap teman merekapun menaruh suatu perasaan yang erat dan rasa percaya yang kuat.
Kepercayaan memang suatu hal yang sa­ngat aneh, seakan‑akan tak pernah akan membuat orang kecewa . . . . . demikian pula persahabatan.
Lim Tay‑peng memang tidak membuat mereka merasa kecewa.
Sambil bersandar di atas pembaringannya yang berlapiskan kulit harimau, Lok‑sang-liong long mengawasi Lim Tay‑peng.
Dia adalah putra kandungnya, putra tung­galnya, sudah hampirlimabelas tahun dia tak pernah berjumpa dengannya.
Tapi ketika ia memandang ke arahnya, ti­dak jauh berbeda sikapnya seperti ketika berjumpa dengan Ong Tiong.
Setelah lewat lama kemudian, dia baru mengulurkan tangannya sambil menuding ke­ arah bangku berlapiskan kulit serigala yang ba­rusan ditempati Ong Tiong itu.
"Duduk !"
Tapi Lim Tay‑peng tidak duduk.
Tubuhnya sudah menjadi kaku, wajahnya turut menjadi kaku, hanya sepasang mata­nya saja yang berkaca‑kaca.
Sekarang dia telah berhadapan dengan ayah kandungnya, ayah kandung yang be­lum pernah dijumpai selamalimabelas ta­hun lama­nya.
Airmatanya tidak dibiarkan meleleh. Ke­luarpun sudah terhitung suatu yang tidak mudah.
Paras muka Lok‑sang‑liong‑ong masih tetap kaku tanpa emosi, namun di bawah kelopak matanya tiba‑tiba muncul beberapa buah ke­rutan, akhirnya dia menghela napas panjang.
"Aai . . . . . kau sudah menginjak menjadi dewasa, tampaknya kau sudah mempunyai pen­dapatmu sendiri."
Bibir Lim Tay‑peng masih tertutup rapat-rapat tanpa mengucapkan sepatah katapun jua.
"Bila kau enggan berbicara, mengapa ha­rus datang kemari ?" kembali Lok‑sang‑ liong­-ong menegur.
Lim Tay‑peng termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan baru ber­kata:
"Aku tahu, selamanya kau enggan mendengarkan kata-kata yang tak ada gunanya."
"Benar."
"Apakah kau bertekad hendak membunuh habis semua anggauta keluarga Giok yang ada di dunia ini ?"
"Benar."
"Sekarang keluarga Giok tinggal seorang"
"Benar."
Lim Tay peng menggenggam tangannya kencang‑kencang, kemudian sepatah demi sepatah katanya:
"Bila kau membunuhnya, akupun pasti akan membunuh seorang anggauta keluarga Lim."
"Kau hendak membunuh siapa ?" seru Lok sang liong ong sambil menarik muka.
"Diriku sendiri !"
Lok sang liong ong menatapnya tajam-tajam, kerutan pada ujung matanya nampak semakin dalam.
Dia adalah putra kandungnya, darah da­gingnya, darah yang mengalir didalam tubuh pemuda itu sama seperti darah yang mengalir dalam tubuhnya, ia sama keras kepalanya, sama angkuhnya.
Siapapun tak dapat merubah kenyataan ini, termasuk dirinya sendiri.
Lok‑sang‑liong‑ong menghela napas pan­jang, kemudian katanya:
"Kau harus tahu apa yang telah diucap­kan keluarga Lim, selamanya tak akan berubah lagi."
"Aku tahu, itulah sebabnya aku baru ber­kata demikian."
Tiba‑tiba dia melanjutkan:
"Aku juga tahu kalau antara dia dengan kau sama sekali tiada ikatan dendam, bahkan berjumpapun tak pernah."
"Apa hubungan perempuan itu dengan­mu? Mengapa kau menginginkan dia tetap hidup ?"
"Karena selama dia masih hidup, aku baru dapat hidup."
"Sudah sedemikian dalamkah cinta kasih kalian?"
Lim Tay‑peng menggigit bibirnya ken­cang-kencang.
"Sebenarnya akupun tidak tahu . . . . ."
"Sejak kapan kau baru tahu ?" tukas Lok sang‑liong‑ong cepat.
"Sejak kau hendak membunuhnya.... benarkah kau akan merasa gembira bila ia te­lah kau bunuh ?"
Lok‑sang‑liong‑ong tidak bicara apa‑apa lagi, dia membungkam dalam seribu baha­sa.
"Kau sendiripun tak dapat memutuskan­nya bukan ?" jengek Lim Tay‑peng. "Tapi aku berani menjamin, bila kau telah mem­bunuhnya, maka penderitaan yang bakal kau alami justru akan jauh lebih berat dari­pada sewaktu kau belum membunuhnya."
"Kau benar‑benar bersedia untuk mati baginya?" seru Lok‑sang‑liong‑ong sambil menarik muka.
"Mati bukan sesuatu yang gampang, tapi juga bukan sesuatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan."
"Bagaimana dengan dia ? Apakah diapun bersedia melakukan hal yang sama ?"
Lim Tay‑peng tak sanggup menjawab, dia segera terbungkam dalam seribu bahasa.
"Kaupun tak dapat memastikan bukan ?" seru Lok‑sang‑liong‑ong kemudian.
"Mungkin hal ini dikarenakan keluarga mereka tiada bermaksud untuk membunuh­ku, tidak membawa dendam kesumat dari dua generasi yang lalu ke dalam generasi kami berikut­nya." kata Lim Tay‑peng pelan.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Lok‑sang‑liong‑ong, tiba‑tiba katanya:
"Baik kululuskan permintaanmu itu, tapi akupun mempunyai syarat."
"Apa syaratmu ?"
"Bila diapun bersedia mengorbankan diri bagimu, hal ini membuktikan kalau hubu­ngan cinta kasih kalian memang benar‑benar sudah mendalam, maka aku­pun akan melepaskan dirinya."
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak kaupun harus mengerti, pada hakekatnya dia tak pantas untuk kau bela dengan mempertaruhkan selembar jiwamu!"
Lim Tay‑peng menggenggam tangannya kencang-kencang, kemudian katanya:
"Apakah kau mengajak aku bertaruh? Menggunakan selembar jiwanya sebagai barang taruhan ?"
"Paling tidak taruhan ini cukup adil, karena entah menang atau kalah dia sendirilah yang menentukan hal ini."
"Dari mana kau bisa tahu kalau hal ini adil?"
"Kujamin kau pasti dapat melihatnya, tapi kaupun harus mengabulkan sebuah per­mintaanku pula."
Lim Tay‑peng tidak berkata apa‑apa, dia hanya mendengarkan belaka.
"Sebelum menang kalah ditentukan, kau tak boleh mencampuri urusan ini . . . . siapa pun tak boleh mencampuri hal ini."
Dengan sorot mata setajam sembilu, se­patah demi sepatah kata dia melanjutkan:
"Kalau tidak, maka kalianlah yang akan dianggap sebagai pihak yang kalah dalam pertaruhan ini !"
Dibalik tenda tampak sebuah tirai yang amat tebal, suasana amat gelap sehingga dari luar orang tak dapat melihat keadaan yang berlangsung di dalam.
Tapi orang yang berada di balik tirai tersebut justru dapat melihat semua keja­dian yang berlangsung di depan mata.
Ong Tiong, Ang Nio‑cu, Kwik Tay‑lok dan Yan Jit berada di sana semua, juga men­dengar setiap patah kata dan setiap ucapan yang diutarakan Lim Tay‑peng.
Mereka merasa amat terhibur, karena Lim Tay‑peng tidak membuat mereka merasa kecewa.
Tapi bagaimana dengan Giok Ling‑long ?
Sekarang, bukan hanya selembar nyawa sendiri saja yang berada di tangannya, bahkan selembar nyawa Lim Tay‑peng pun berada pula di tangannya . . . . . .
Tapi hal inipun merupakan keputusan yang diambil sendiri oleh Lim Tay‑peng, je­las dia sudah menaruh perasaan percaya terhadap gadis itu.
Mungkinkah gadis itu akan membuatnya kecewa ?
Mereka dengar Lok‑sang‑liong‑ong se­dang, bertanya lagi:
"Tahukah kau, dulu dia adalah seorang perempuan macam apa ?"
Jawaban dari Lim Tay‑peng ternyata se­derhana sekali:
"Itu mah sudah kejadian lampau, sekali­pun aku mengetahuinya, sekarang juga te­lah lupa. "
"Ia menggunakan cara apa sih hingga membuat kau begitu percaya kepadanya?"
"Dia telah mempergunakan banyak cara, tapi yang paling manjur hanya satu."
"Cara apa ?"
"la telah berbicara sejujurnya."
Kemudian sepatah demi sepatah dia melanjutkan:
"Sebenarnya dia tak perlu menyatakan kepadaku, juga tak ada orang yang memak-sa­nya, tapi dia telah berbicara seju­jurnya."
Entah mengapa, setelah mendengar per­kataan itu, tiba‑tiba Ang Nio‑cu menunduk­kan kepalanya rendah‑rendah.
Kemudian Lim Tay‑peng juga berjalan masuk ke dalam, memandang ke arah mereka, sorot matanya segera memancar­kan perasaan berterima-kasih.
Teman‑temannya juga tidak membuatnya menjadi kecewa.
Delapan orang berdiri tenang di depan tenda, sedemikian tenangnya ibarat delapan buah patung.
Mereka adalah Thian‑liong‑pat‑ciang di bawah pimpinan Lok‑sang‑liong‑ong, salah seorang saja diantara mereka sudah cukup untuk menggetarkan suatu daerah.
Tapi sorot mata Giok Ling‑long justru seakan akan tidak melihat kehadiran mereka.
Pakaian yang dikenakan masih tetap baju berwarna hijau yang dipakainya sebagai se­orang penjual bunga, sambil mengangkat kepala, dia berjalan melalui orang‑orang itu dan masuk ke dalam tenda.
Wajahnya masih amat tenang, tapi sorot matanya memancarkan kebulatan tekadnya.
Kemudian diapun melihat Lok‑sang‑liong ong.
Lok‑sang‑liong‑ong tidak mempersilakan dia duduk, tapi sewaktu memandang ke arah­nya, sorot mata itu justru tajam bagai­kan pi­sau.
Giok Ling‑long juga tidak menunggu dia buka suara, dengan suara lantang segera serunya:
"Kau tahu siapakah aku ?"
Lok sang liong ong mengangguk.
"Aku adalah keturunan terakhir dari ke­luarga Giok." ujar gadis itu. "Asal kau dapat membunuhku, maka apa yang kau cita-cita­kan akan terpenuhi pula."
Lok sang liong ong termenung lama sekali kemudian pelan-pelan baru berkata:
"Hal itu bukan merupakan cita-citaku"
"Bukan ?"
"Yaa, apa yang kau katakan, tak lebih hanya merupakan sepatah kata yang pernah kuucapkan saja." kata Lok sang liong ong dengan suara hambar.
"Setiap patah kata yang kau ucapkan te­lah terpenuhi semua ?"
"Hanya satu hal yang belum sempat aku lakukan"
"Mungkin saat ini kau akan berhasil de­ngan cepat."
"Mungkin ?"
"Mungkin artinya belum tentu !"
"Masa kau berani bertarung melawan diriku ?"
Giok Ling‑long segera tertawa dingin.
"Mengapa tidak berani ? Apakah kau ang­gap dirimu sudah paling luar biasa sendiri"
Tidak memberi kesempatan kepada Lok­-sang‑liong‑ong buka suara, dengan cepat dia menyambung lebih jauh
"Bila hidup sebagai seorang manusia, dan tak mengurusi anak istri saja tak sanggup, sekalipun luar biasa juga ada ba­tas‑batasnya."
Ternyata Lok‑sang‑liong‑ong tidak men­jadi gusar oleh perkataan itu, katanya de­ngan hambar:
"Mereka toh bisa merawat diri sendiri."
"Itu urusan mereka, bagaimana dengan kau ?" Giok ling‑long tertawa dingin. "Apa­kah kau telah melaksanakan tugasmu de­ngan sebaik‑baiknya?. Bila setiap orang yang menjadi ayah dan suami menirukan cara seperti kau, mungkin semua perem­puan dan kanak‑kanak sudah mati gemas."
Akhirnya wajah Lok‑sang‑liong‑ong beru-bah menjadi berat juga, sambil menarik muka katanya:
"Apakah kau datang kemari hanya untuk mengucapkan perkataan seperti itu ?"
"Aku hanya memperingatkan kepadamu saja, bahwa kau masih mempunyai seorang isteri dan seorang anak, lebih baik kau ja­ngan sampai melupakan mereka, karena merekapun tidak pernah melupakan dirimu."
"Sekarang kau telah memperingatkan diriku." kata Lok‑sang‑liong‑ong dingin.
Giok Ling‑long menghembuskan napas panjang, katanya:
"Benar, apa yang harus kukatakan me­mang sudah habis kusampaikan semua....."
Tiba‑tiba ia membusungkan dada dan me­rangkap tangannya menjura, serunya ke­mudian:
"Silakan !"
Walaupun dengan jelas dia tahu kalau se­dang berhadapan muka dengan Lok‑sang‑ liong-ong yang tiada tandingannya di kolong langit, walaupun tahu kalau di luar tenda masih ada Thian‑liong‑pat‑ciang yang menggetarkan du­nia persilatan, tapi ia sama sekali tidak me­nunjukkan perasaan takut barang sedikitpun.
Walaupun tubuhnya ramping dan le­mah‑lembut, namun kebulatan tekad serta keberaniannya benar‑benar mengagumkan, apalagi sewaktu menjura sambil membu­sungkan dada sekarang, lamat‑lamat ia memperlihatkan tekad­nya untuk melawan kekuatan Lok‑sang‑liong ong.
Tiba-tiba Lok sang liong ong tertawa, ke­mudian tanyanya:
"Tahun ini kau sudah berumur berapa ?"
Walaupun Giok Ling long tidak memahami apa sebabnya dia bertanya demikian, toh ia menjawab juga:
"Tujuh belas."
"Sejak berusia berapa tahun kau belajar silat ?”
"Empat tahun."
Sambil tertawa dingin Lok sang liong segera berseru:
"Kau tidak lebih baru melatih diri selama tiga belas tahun, masih berani bertarung melawan diriku ?"
Giok Ling‑long juga tertawa dingin.
"Sekalipun aku baru berlatih silat selama satu hari, aku akan tetap datang kemari untuk beradu kepandaian denganmu, seka­lipun berbi­cara soal ilmu silat keluarga Giok masih belum dapat menandingi dirimu, kami bukan manusia berjiwatempe!"
Tiba‑tiba Lok-sang liong‑ong mendongak­kan kepalanya dan tertawa bergelak.
"Haaah. . . . . haaaah . . . . . haaaah . . . . bagus sekali, kau memang bersemangat, kau memang bernyali !"
Ditengah gelak tertawanya yang amat nyaring, tiba‑tiba tubuhnya melambung dari atas pembaringan, seakan‑akan dari bawah tubuh­nya terdapat sepasang tangan tak berwujud yang menyungging .
Tanpa terasa Giok Ling Long mundur se­tengah ke belakang.
Ia kenal jurus serangan ini mirip sekali dengan jurus Kian liong‑sang‑thian (naga sakti mengapung ke angkasa) dari ilmu Thian‑liong-­pat‑si yang pernah didengarnya.
Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau di dunia ini benar‑benar terdapat manu­sia yang memiliki ilmu meringankan tubuh se­sempurna ini.
Siapa tahu meski berada ditengah udara ternyata Lok‑sang‑liong‑ong masih sanggup untuk bersuara, katanya dengan suara dalam:
"Hati-hati dengan jalan darah Cing‑tong-hiat di sebelah kiri dan kanan tubuhmu."
Jalan darah Cing‑tong‑hiat terletak di bawah iga bagian bawah, bilamana kena tertotok maka sepasang lengannya akan lumpuh dan tak bisa digunakan lagi.
Tapi bila kau tidak mengangkat kedua belah tanganmu maka sulit buat orang lain untuk menotok kedua buah jalan darah itu.
Sambil tertawa dingin Giok Ling long se­gera berpikir:
"Sekalipun aku bukan tandinganmu, tapi bila kau ingin menotok kedua buah jalan da­rah Cing leng hiat ku, hal ini masih bukan suatu pekerjaan yang terlalu gampang.”
Dia bertekad, walau berada dalam keadaan apapun, dia tak akan mengangkat kedua belah tangannya.
Dengan kedudukan Lok sang liong ong setelah dia mengatakan hendak menotok jalan darah Cing leng hiat nya, tentu saja bukan tempat lain yang akan diserangnya lagi.
Pada saat itulah tubuh Lok sang liong ong secara tiba-tiba menyambar ke hadapannya, segulung angin pukulan yang amat keras menggetarkan ujung bajunya..
Dia membalikkan badannya, baru saja hendak menggunakan kesempatan itu untuk memunahkan tenaga yang menggulung tiba itu, mendadak........
"Plookk, Plookk !" kedua buah jalan da­rah Cing‑keng‑hiat di atas bahunya tahu‑tahu sudah kena terhajar telak sehingga kedua belah tangannya tak sanggup diangkat lagi.
Ketika memandang lagi ke arah Lok sang liong ong, tampak orang itu sudah berbaring kembali di atas pembaringannya dengan si­kap yang amat santai, siapapun tak akan melihat kalau dia baru saja melancarkan serangan dahsyat.
Saking gelisahnya paras muka Giok Ling long sampai berubah menjadi merah padam, teriaknya keras-keras:
"Jalan darah yang kau totok adalah jalan darah ceng keng hiat, bukan jalan darah cing leng hiat!"
"Tak usah kau peringatkan, jalan darah cian‑keng hiat dan jalan darah cing‑leng‑hiat masih bisa kubedakan dengan jelas."
"Hmmm, tak kusangka ucapan seorang dewasa ternyata tak bisa dipercaya dengan begitu saja."
"Kapan aku bilang kalau jalan darah cing leng hiat mu akan kutotok ?"
"Tadi kau jelas berkata demikian."
"Aku toh hanya suruh kau memperhati­kannya saja, bila sedang bertarung melawan orang, setiap jalan darah yang terdapat di atas tubuhmu harus diperhatikan semua."
Setelah berhenti sejenak, dengan suara hambar dia melanjutkan:
"Apalagi dalam soal ilmu silat, yang men­jadi pangkal utama adalah caranya menghadapi lawan, kecerdasan maupun ke­sigapannya merupakan pokok utama yang harus diperhatikan, karena susah menotok jalan darah cing leng hiat di tubuhmu tentu saja aku harus menotok jalan darah cian keng‑hiat mu, toh kedua-duanya sama saja kegunaannya yakni membuat le­nganmu menjadi lumpuh, buat apa aku mesti ber­susah payah mengancam jalan darah yang susah dicapai ? Bila teori semacam inipun tidak kau pahami, sekalipun harus berlatih seratus tiga puluh tahun lagipun kau tak akan pernah berhasil menjadi seorang jago yang tangguh."
Caranya berbicara, bagaikan seorang guru sedang mengajari muridnya, seperti juga seorang ayah sedang memberi pelajaran kepada anaknya.
Saking gusarnya paras muka Giok Ling­-long yang memerah kini berubah menjadi pucat pias, sambil menggigit bibir serunya:
"Baik, bunuhlah aku"
"Kau merasa tidak puas ?"
"Sampai matipun tidak puas."
"Baik !"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, "Sreet!" entah benda apa yang disambit ke arahnya, tahu-tahu jalan darah sin‑bong‑ hiat di tubuhnya su­dah kena diha­jar.
Begitu serangan tersebut menghajar di atas jalan darah tersebut, Giok Ling long segera merasakan tenaganya pulih kembali dan sepa­sang lengannya dapat bergerak bebas.
Menotok jalan darah lewat udara kosong merupakan suatu kepandaian silat yang su­dah langka dalam dunia persilatan, sungguh tak di­sangka Lok‑sang‑liong ong pandai pula mem­pergunakan kepandaian tersebut.
Giok Ling‑long menggertak giginya ken­cang‑kencang, sekalipun dia tahu kalau kepan­daian silatnya masih bukan tandingan lawan, tapi dia telah bersiap sedia untuk melakukan perlawanan mati-matian.
Siapa tahu belum lagi tubuhnya melam­bung ke udara dan jurus serangan dilancar­kan, mendadak terasa ada segulung tenaga serangan berkelebat lewat, tahu-tahu jalan darah cing‑leng hiat di kiri kanan tubuhnya menjadi kaku, kembali tubuhnya melayang jatuh ke tanah dan sepasang lengannya tak sanggup diangkat kembali.
Sedangkan Lok-sang liong ong masih tetap berbaring di atas pembaringannya dengan sikap yang amat santai, seakan dia tak pernah bergeser dari posisinya.
Paras muka Giok Ling long berubah men­jadi pucat keabu-abuan.
Sekalipun di tinggi hati, sekarang juga su­dah tahu jika Lok sang liong ong ingin me­renggut selembar jiwanya, maka hal ini bisa di lakukan dengan suatu cara yang gam­pang sekali.
Kepandaian silat yang dimiliki dan pernah menggetarkan hati orang banyak itu berada di hadapan Lok sang liong ong ibaratnya telur bertemu dengan batu, kesempatan untuk melancarkan serangan pun tidak di­miliki lagi ....
Lok‑sang liong‑ong memandang sekejap ke arahnya, kemudian tegurnya dengan suara hambar:
"Sekarang, kau sudah takluk belum ?"
"Sudah !" jawab Giok Ling‑long sambil menarik napas panjang-panjang, kemudian setelah tertawa dingin, dengan cepat sam­bungnya lebih jauh:
"Tapi aku hanya takluk kepada ilmu silat­mu, bukan kepada orangnya...."
"Ooooh......"
"Sekalipun ilmu silatmu sudah tiada tandingannya di dunia ini, tapi kau justru berjiwa sempit dan berpikiran picik, sekali­pun kau berhasil memusnahkan semua ang­gota keluarga Giok, tak akan ada orang lain yang bisa tunduk kepadamu."
"Nona cilik, tajam benar selembar mulut­mu ?" seru Lok sang liong ong sambil menarik muka. "Begitu berani kau bersikap kurang ajar di hadapanku."
Giok Ling long, tertawa dingin.
"Mengapa aku tidak berani? Untuk mati saja aku tidak takut, apa lagi yang musti aku takuti ?"
Berkilat sepasang mata Lok‑sang liong­-ong setelah mendengar perkataan itu gumam­nya:
"Benar, bila seseorang sudah tahu kalau dirinya pasti akan mati, perbuatan apa lagi yang tak berani dilakukan ? Perkataan apa lagi yang tak berani diucapkan ?"
Tiba-tiba sekulum senyuman aneh ter­sungging kembali di ujung bibirnya, dia melanjutkan:
"Tapi bagaimana bila aku bersedia tidak membunuh kau ?"
"Apa .....apa kau bilang ?" Giok Ling‑long tertegun.
"Bukan saja aku tak akan membunuh dirimu, lagi pula tak akan mengganggu seujung rambutmu, budi dendam antara kita dua ke­luarga pun akan kuhapuskan mulai detik ini."
"Sung . . . . sungguh ?"
"Tak pernah perkataan yang telah aku ucapkan kupungkiri kembali."
Tiba-tiba Giok Ling long merasakan selu­ruh badannya menjadi lemas, hampir saja berdiripun tak sanggup lagi.
Tadi, ketika harus berhadapan dengan musuh tangguh yang belum pernah dijum­pai selama ini, meski tahu bakal mati, na­mun hatinya sama sekali tidak merasa gen­tar.
Tapi sekarang, setelah orang lain me­nyanggupi untuk tidak membunuhnya, sepasang kakinya malah terasa lemas, hingga sekarang dia baru menyadari, kalau dia sebenarnya belum ingin mati.
Bila seseorang sudah tahu kalau dirinya masih sanggup untuk hidup lebih lanjut, siapa pula yang masih ingin mati?
Sorot mata Lok sang long ong yang tajam seakan-akan telah berhasil menembusi hati­nya, pelan-pelan dia melanjutkan:
"Asal kaupun bersedia meluluskan sebuah permintaanku, sekarang juga aku akan mele­paskan dirimu dan tak akan mencari dirimu lagi."
"Apa permintaanmu itu ?" tak tahan Giok Ling‑long bertanya.
"Asal mulai sekarang kau jangan me­nyinggung kembali soal perkawinanmu de­ngan pu­traku dan mulai sekarang tak akan berjumpa lagi dengan dirinya . .”
Paras muka Giok Ling‑long segera ber­ubah hebat, serunya dengan suara gemetar:
"Kau . . . . . kau menyuruh aku mulai se­karang tak akan berjumpa lagi dengannya?"
"Ya, mulai sekarang kau harus mengang­gap di dunia ini tak pernah ada seorang manu­sia seperti itu, anggap saja kau belum pernah berjumpa dengannya, maka kau tetap bisa hi­dup terus dengan amat tente­ram.."
Setelah tertawa, kembali lanjutnya:
"Lelaki yang ada di dunia ini banyak sekali jumlahnya, siapa tahu dengan cepat kau akan bisa melupakan dirinya."
Paras muka Giok Ling long pucat pias, tubuhnya kembali gemetar keras, serunya:
"Bila aku tidak mengabulkan permintaan­mu ?"
"Mengapa tidak? Setelah mati, bukankah kau tetap tak akan bisa berjumpa dengan dirinya ?"
Pelan‑pelan Giok Ling‑long menggeleng­kan kepalanya berulang kali, gumamnya:
"Tidak sama . . . . . jelas tidak sama."
"Bagaimana tidak samanya ?"
"Kau tak akan mengerti!" kata Giok Ling‑long sambil tertawa sedih.
"Manusia macam kau tak akan pernah pa­ham untuk selamanya.."
Walaupun tertawanya sangat rawan, na­mun sorot matanya memancarkan sinar ke­baha­giaan yang amat misterius.
Sebab dia telah jatuh cinta.
Perasaan semacam ini tak mungkin bisa digantikan dengan keadaan macam apapun, juga tak akan bisa dilarikan oleh siapapun.
Entah cintanya itu manis atau getir, paling tidak ia jauh lebih berbahagia daripada orang yang belum pernah merasakan cinta.
Lok sang‑liong‑ong memandang mimik wajahnya, agak berubah juga paras muka sendiri, mendadak dari dalam sebuah poci kemala dia menuang secawan arak berwar­na hijau, lalu katanya dengan suara ham­bar:
"Bila kau benar‑benar tidak bersedia mi­numlah arak itu, mulai sekarang kau tak akan merasakan kesulitan apa‑apa."
Giok Ling‑long menatap arak beracun itu lekat‑lekat, kemudian sepatah demi sepatah katanya:
"Aku hanya dapat meluluskan sebuah permintaanmu."
"Permintaan apa ?"
Sorot mata Giok Liong long ditujukan ke tempat kejauhan, lalu sepatah demi sepatah katanya:
"Aku tak akan melupakan dia, juga tak mungkin melupakan dia, entah aku dalam keadaan hidup atau mati, dalam hatiku se­lalu hanya ada dia seorang, entah bagaima­napun lihaynya kau, jangan harap bisa merampas dia dari dalam hatiku."
Tiba-tiba ia menerjang maju ke depan dan meneguk habis arak beracun dalam cawan itu.
Kemudian diapun segera roboh terjeng­kang ke atas tanah.
Tapi sekulum senyuman bahagia, senyu­m­an yang misterius tersungging di ujung bibirnya.
Karena dia tahu, mulai sekarang entah ada di langit atau di bumi, tak ada orang yang bisa memaksanya untuk melupakan dirinya lagi ....
Agaknya Lok‑sang‑liong‑ong tertegun.
Ternyata di dunia ini terdapat juga manu­sia semacam ini, perasaan semacam ini memang selamanya tak akan bisa dipahami olehnya.
Lim Tay‑peng telah menyerbu maju ke muka, menubruk di atas badan Giok Ling-long.
Lok sang liong ong tak tega untuk me­mandang lagi ke arahnya, dia tak berani memandang lagi ke arahnya.
Entah berapa saat kemudian, Lim Tay-peng baru bangkit berdiri, wajahnya pucat tanpa darah, sepasang matanya merah membara, sambil melotot ke arahnya dia berseru:
"Kau telah meluluskan permintaanku, kau berjanji kepadaku . . . . ."
Lok sang liong ong hanya menghela napas panjang, agaknya diapun tak tahu apa yang harus diucapkan.
"Kau telah meluluskan permintaanku." seru Lim Tay peng. "Semuanya akan kau lakukan dengan adil, tapi sekarang . . . . ."
"Ah tahu hal ini bukan sesuatu yang adil." tukas Lok sang liong ‑ong. "Tapi di dunia ini banyak terdapat persoalan-persoalan yang tidak adil, jika seseorang ingin hidup lebih lanjut, dia sudah seharusnya belajar untuk menahan diri terhadap kejadian semacam ini."
"Aku tak akan bisa mempelajarinya, sela­manya tak akan bisa mempelajarinya secara baik ... . ."
Mimik wajahnya mendadak berubah pula menjadi misterius dan sangat aneh, seku­lum senyuman seperti apa yang telah diper­lihatkan Giok Ling‑long tadi tersungging pula di ujung bibirnya, pelan-pelan dia ber­kata:
"Aku tahu di dunia ini tak pernah ada orang yang bisa menyuruh dia melupakan aku, juga tak akan ada orang yang bisa menyuruh aku melupakan dirinya . . . .."
Berbicara sampai di sini, mimik wajahnya berubah aneh sekali.
Kwik Tay lok yang menyaksikan kejadian tersebut, merasakan air matanya jatuh ber­cucuran tanpa terasa.
Ia dapat memahami manusia seperti ini, diapun dapat memahami perasaan seperti ini.
Dia tahu Lim Tay‑peng juga tak ingin hidup, tak tahan dia ingin melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan mener­jang ke muka.
Tapi entah apa sebabnya, ternyata Ong Tiong mencegah perbuatannya itu seraya ber­seru dengan suara dalam:
"Tunggu sebentar !"
"Sekarang, apalagi yang harus kita tunggu?"
"Asal kau tunggu sebentar lagi, segala se­suatunya akan menjadi jelas . . . . . . ." jawab Ong Tiong sambil mencorong sinar terang dari balik sinar matanya.
Tapi pada saat itulah Lim Tay‑peng telah menyambar arak beracun ini di meja dan meneguknya sampai habis.
"Akupun telah meluluskan permintaanmu, bila kau membunuhnya, maka akupun akan membunuh seorang anggauta keluarga Lim."
Dia telah menghabisi nyawa sendiri.
Ketika badannya roboh ke tanah, ia roboh disamping tubuh Giok Ling‑long.
Ujung bibir mereka berdua sama‑sama tersungging sekulum senyuman, senyuman yang aneh dan penuh kebahagiaan.
Sepasang mata Kwik Tay‑lok telah ber­ubah menjadi merah, dia ingin menceng­keram tubuh Ong Tiong sambil bertanya mengapa ia disuruh menunggu.
Tapi pada saat itulah tiba‑tiba ia mende­ngar suara seseorang yang amat menawan ber­gema memecahkan keheningan:
"Kau kalah !"
Tiba‑tiba seseorang munculkan diri dari balik tenda, tubuhnya tinggi semampai dan cantik jelita, ternyata dia adalah Wi hujin ibu kandung Lim Tay‑peng.
Sekulum senyuman malah tersungging di ujung bibirnya.
Kwik Tay‑lok lagi‑lagi dibikin tertegun.
Menyaksikan putranya tewas di hadapan matanya, mengapa dia malah masih bisa ter­tawa ?
Mimik wajah Lok‑sang‑liong‑ong juga is­timewa sekali, entah gembira atau mende­rita bangga atau kecewa ?
Lewat lama kemudian pelan‑pelan ia baru mengangguk, sahutnya setelah menghela napas panjang:
"Benar, aku kalah !"
"Sekarang, tentunya kau sudah mengerti bukan ? Bukan seperti manusia macam kau hanya hidup untuk kepentingan diri sendiri, se­karang kau juga harus tahu, banyak per­soalan di dunia ini yang sesungguhnya jauh lebih penting daripada nyawa sendiri."
Lok‑sang liong‑ong menundukkan kepala-nya lalu tertawa:
"Untung saja aku mengetahui hal ini be­lum terlalu lambat."
"Belum terlalu lambat?" Wi hujin mena­tapnya lekat‑lekat, suaranya jauh lebih lem­but.
Lok‑sang liong ong mengangkat kepala-nya dan memandangnya pula, kemu­dian menyahut:
"Yaa, belum terlambat !"
Dibalik sorot mata mereka berdua sama-sama terpancar keluar semacam perasaan yang sangat aneh, tiba‑tiba saja mereka saling berpandangan sekejap..
Kesalah pahaman dan perselisihan yang berlangsung banyak tahun diantara mereka berdua, seakan‑akan telah punah tak ber­bekas dalam sekulum senyuman mereka itu.
Sesungguhnya mereka adalah orang yang sudah membekas dihati dan tak akan terlu­pakan, persoalan apakah yang tak dapat dimaaf­kan olehnya, dan persoalan apa pula yang tak bisa dipahami olehnya ?
Tapi putranya . . . . . . ?
Lok‑sang‑liong‑ong masih menatapnya lekat‑lekat, kemudian sambil tersenyum katanya:
"Mereka telah meneguk secawan arak paling getir dalam sepanjang hidup mereka, sekarang berilah arak yang manis untuk mereka berdua."
"Yaa, semua orang sudah sepantasnya ikut mencicipi pula arak yang manis itu. . ." ujar Wi hujin lembut.
Tiba‑tiba ia berpaling kearah Kwik Tay­-lok sekalian yang berada dibalik tirai, kemudian sambil tertawa katanya
"Sekarang, tentunya kalian sudah me­ngetahui bukan, apa yang sebenarnya telah ter­jadi, mengapa tidak segera munculkan diri untuk meneguk pula secawan arak ma­nis ?"
Kwik Tay‑lok masih tidak mengerti, tapi Yan Jit telah memahaminya.
"Orang pertama yang bertaruh dengan Lok‑sang‑liong‑ong bukan Ong lotoa, melain­kan Wi hujin." Yan Jit menerangkan.
"Demi kebahagiaan hidup putranya, dia memang seharusnya pergi mencari Lok‑sang-­liong‑ong untuk menantangnya bertaruh." sambung Ong Tiong.
"Tampak caranya bertaruh seperti juga cara kita semua, dia tahu di dunia ini terda­pat banyak orang yang dapat mengorban­kan diri demi orang lain, oleh karena itu dia menang"
Dia memandang ke arah Kwik Tay‑lok, sorot matanya memancarkan kelembutan yang amat sangat.
Kwik Tay‑lok menggenggam tangannya pelan, lalu berkata lembut:
"Benar, orang yang bisa memahami teori ini, selamanya dia tak akan pernah mende­rita kekalahan."
"Arakyang diberikan Lok‑sang‑liong‑ong kepada mereka, sudah pasti bukan arak bera­cun." kata Ong Tiong pula.
Tentu saja bukan.
Karena Lim Tay‑peng dan Giok Ling-­long telah bangkit berdiri sekarang, mereka se­dang berpelukan dengan mesra.
Sekarang, tiada orang di dunia ini yang sanggup memisahkan mereka lagi, karena mereka mempunyai keberanian untuk me­neguk arak yang paling getir dalam hidup mereka itu.
Arakgetir, bukan arak beracun.
Tahukah kau di dunia ini terdapat sema­cam arak yang misterius, yang bisa mem­buat kau menghindarkan diri sebentar dari dunia ini, kemudian bangkit dan hidup kem­bali?
Tahukah kau di dunia ini sebenarnya ter­dapat banyak kejadian yang aneh yang khusus ditujukan untuk mereka yang saling mencintai dengan hati yang tulus ?
Kwik Tay-lok membalikkan badannya ber­paling ke arah Ong Tiong, kemudian ujarnya:
"Tadi kau menahan aku untuk keluar dari tempat persembunyiannya, apakah kau su­dah tahu kalau arak itu bukan arak beracun?"
"Aku tidak tahu. . . . . . . tapi aku tahu, tiada seorang ayah yang tega untuk meracuni putra sendiri, aku percaya asal dia adalah manusia, sudah pasti dia memiliki sifat manusia"
"Kau mempercayainya ?"
"Benar !"
Kwik Tay lok segera menghela napas panjang.
"Aaaai . . . . tak heran kalau kaupun tak pernah menderita kalah."
Dibalik tirai tinggal Ang Nio‑cu dan Ong Tiong.
Sambil menundukkan kepalanya Ang Nio‑cu berkata:
"Mereka sedang menantimu di luar, me­ngapa kau tidak keluar ?"
"Dan kau ?"
"Aku . . . . . aku merasa tidak pantas un­tuk berada bersama mereka."
"Mengapa ?"
Sepasang mata Ang Nio cu berkaca‑kaca, katanya dengan kepala tertunduk rendah-rendah:
"Karena akupun seperti Lok sang liong ong, tak pernah kuketahui kalau cinta yang sejati bukan bisa didapat dengan suatu tin­dakan, bila kau ingin memperoleh cinta suci orang lain, hanya dengan cinta murnimu saja yang bisa mendapatkannya, tak mung­kin ada cara yang kedua lagi."
"Tapi sekarang kau sudah tahu bukan?"
Ang Nio cu manggut-manggut.
"Sekarang bisa tahu pun belum terhitung terlambat" kata Ong Tiong kemudian.
Tiba-tiba Ang Nio cu mengangkat kepala-nya memandang wajahnya, dengan sorot mata memancarkan pengharapan ka­tanya:
"Apakah sekarang belum terlalu lambat?"
Ong Tiong juga memandang ke arahnya, tapi suaranya telah berubah menjadi halus dan lembut:
"Belum terlambat, asal kau benar-benar memahami teori ini, selamanya tak pernah akan terlambat."
Digenggamnya tangan perempuan, itu, lalu ujarnya lagi dengan lembut:
"Oleh karena itu kitapun harus ikut ber­sama mereka untuk meneguk secawan arak manis, arak getir yang kita minum pun su­dah terlalu banyak."
Arakitu manis, selain manis juga harum. Hanya orang yang tahan menghadapi per­cobaan, tahan menghadapi pelbagai rinta­ngan saja yang pantas merasakan arak ini.
Dan hanya mereka pula yang berhak mencicipinya.
Sambil memegang cawan emasnya, Lok-sang‑liong-ong memandang sekejap ke arah putranya dan menantunya, lalu berkata:
"Aku telah menyiksa kalian, maka aku harus membayar kerugian, apa saja yang kalian kehendaki pasti akan kuberi."
"Kami tidak menghendaki apa-apa." jawab Lim Tay‑peng.
"Mengapa tidak mau ?"
"Sebab yang kami inginkan tak mungkin bisa diberi oleh orang lain, termasuk juga dirimu sendiri."
"Akupun tak dapat memberikan kepada kalian? Lantas siapa yang dapat ?"
Mencorong sinar terang dari balik mata Lim Tay‑peng, sahutnya pelan.
"Hanya kami sendiri yang dapat memberi­kan apa yang kami inginkan."
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan ?"
"Apa yang kami inginkan, sekarang telah kami dapatkan."
Dia menggenggam tangan istrinya dengan penuh kebahagiaan dan kepuasan.
Karena yang mereka inginkan adalah ke­bebasan, kasih sayang dan kegembiraan.
Dan kini semua telah mereka dapatkan.
Kesemuanya itu tak mungkin bisa diper­oleh dari orang lain, juga tiada orang yang dapat memberikan kepada mereka. .
Bila kaupun ingin kebebasan, cinta kasih dan kegembiraan, maka carilah dengan ketekadanmu, kepercayaan pada diri sendiri serta rasa cinta, sebab kecuali itu tak mungkin ada cara lain yang bisa mendapat­kannya.
Ya, tak mungkin ada.
Justru karena mereka memahami teori ini maka mereka baru memperolehnya.
Maka mereka baru mendapatkan kebaha­giaan untuk selamanya.
Siapa bilang seorang enghiong itu kese­pian?
Bukankah enghiong‑enghiong kita selalu riang gembira dan berbahagia dalam kehi­dupannya ?.
Dengan begitu, berakhir pula cerita "PENDEKAR RIANG" ini sampai di sini, se­moga pembaca sekalian dapat menarik ba­nyak pelajaran dari pengalaman Kwik Tay lok sekalian dalam kehidupannya.


TAMAT



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...