JILID 32
MENGAPA sebelum angin badai dan hujan deras akan menjelang tiba,
suasana selalu diliputi oleh keheningan yang mencekam?
Udara amat bersih, suasana amat
cerah.
Tiada badai, tiada hujan deras.
Hujan badai hanya ada didalam hati
manusia.
Hanya bencana yang timbul akibat
hujan badai semacam inilah baru merupakan keadaan yang benar‑benar menakutkan.
Sedemikian heningnya suasana di
serambi itu hingga suara dengusan napas Ong Tiong yang berada dalam kamarpun
dapat terdengar jelas.
Dengan napasnya amat berat,
agaknya ia sudah tertidur pulas. Orang yang bisa tidur dalam suasana semacam
ini memang benar‑benar merupakan seorang manusia yang punya kepandaian.
Kwik Tay‑lok dan Yan Jit entah
telah pergi kemana, gerak gerik pengantin baru memang selalu tampak agak
misterius dan penuh diliputi kerahasiaan di hadapan orang lain.
Hanya Ang Nio‑cu yang menemani
Giok Ling‑long, dua orang yang kesepian dengan dua hati yang hancur lebur.
Dengan termangu‑mangu Giok Ling‑liong,
memandang ke tempat kejauhansana, dikejauhan situ tak ada apa‑apa, matanya juga
tidak berhasil menyaksikan apa‑apa.
Seluruh tubuhnya seakan‑akan telah
berubah menjadi kosong melompong.
Tiba‑tiba Ang Nio‑cu menghela
napas panjang, kemudian katanya:
"Aku tahu, tadi kau telah
berbohong."
"Berbohong?" Giok Ling‑long
agak keheranan.
"Kali ini kau datang lagi
mencarinya bukan lantaran hendak membalas dendam, kaupun bukan berbuat demikian
demi memaksanya untuk berlutut dan memohon kepadamu."
"Aku bukan ?"
"Dulu, mungkin saja kau
enggan menjadi menantunya keluarga Lim, tapi sekarang kau bersedia menjadi
istrinya Lim Tay‑peng, aku dapat menyaksikan kesemuanya itu."
Setelah menghela napas panjang,
lanjutnya:
"Tapi aku benar‑benar merasa
tidak habis mengerti, mengapa kau tidak bersedia memberitahukan
kepadanya?"
Giok Ling‑long menggigit bibirnya
kencang‑kencang, kemudian sahutnya cepat:
"Kalau toh kau saja dapat
melihatnya, dia pasti dapat melihatnya pula . . . . ."
"Aaai . . . . . kau masih
belum dapat memahami perasaan orang lelaki," kata Ang Nio cu sambil
menghela napas. "terutama sekali lelaki macam dia, walaupun ia nampaknya
lemah‑lembut, sesungguhnya berhati keras melebihi siapapun."
"Ooh . . . . ."
"Tapi orang yang berhati
keras, seringkali merupakan pula orang yang paling lemah, asal orang lain
melukai dirinya sedikit saja, maka hatinya akan hancur luluh."
"Kau menganggap aku telah
melukai hatinya .. ?"
"Kau tidak seharusnya berkata
demikian kepadanya, sepantasnya jika kau katakan apa adanya, utarakan pula rasa
cintamu kepadanya, agar dia tahu kalau kau bersungguh‑sungguh, dengan begitu
dia baru akan bersungguh‑sungguh pula menghadapi dirimu."
Giok Ling‑long tertawa rawan.
"Aku cukup memahami ucapanmu
itu, sebenarnya akupun ingin berbuat demikian, tapi . . . ."
Ia menundukkan kepalanya rendah‑
rendah, rendah sekali, kemudian menyambung dengan suara lirih:
"Sekarang, entah apapun yang
harus kulakukan, kesemuanya sudah terlalu lambat.."
Ang Nio‑cu menatap ke arahnya,
dari balik sorot matanya terpancar perasaan kasihan, simpatik dan iba, seakan
dari tubuh si nona yang keras kepala ini, dia menyaksikan pula bayangan tubuh
dari dirinya sendiri.
Benar, sekarang segala sesuatunya
memang sudah terlampau lambat.
Kesempatan baik hanya tersedia
dalam waktu singkat, bila kesempatan tersebut telah disia‑siakan maka selamanya
tak akan datang kembali.
Ang Nio‑cu tertawa paksa, lalu
katanya:
"Mungkin sekarang masih belum
terlambat, mungkin juga kau harus menggunakan sedikit tindakan untuk
menghadapinya. Menghadapi seorang lelaki, ada kalanya memang perlu menggunakan
suatu tindakan yang tegas, asal ia bersedia mengawinimu, maka kau adalah menantunya
keluarga Lim, dan aku rasa Lok‑sang‑liong‑ong juga tak akan. . . . . ."
Tiba‑tiba Giok Ling‑long
mengangkat kepalanya dan menukas kata‑katanya yang belum selesai itu:
"Kau tak usah banyak
berbicara lagi, aku sudah mempunyai perhitunganku sendiri, entah bagaimanapun
juga, Lok‑sang‑liong‑ ong toh tetap seorang manusia, mengapa aku harus merasa
takut kepadanya?"
Walaupun wajahnya masih diliputi
rasa sedih dan pilu, akan tetapi sorot matanya telah memancarkan kekerasan hati
serta keangkuhannya menghadapi kenyataan.
Dia sesungguhnya adalah seorang
perempuan keras hati yang enggan tunduk kepada siapapun.
Ang Nio‑cu menundukkan kepalanya
rendah-rendah, dia tahu dirinya memang tak perlu untuk berkata lebih jauh, dia
pun tak dapat berkata lebih lanjut.
Tiba-tiba Giok Ling Long
menggenggam tangannya erat‑erat, lalu ujarnya dengan suara lembut:
"Entah apapun yang kau
katakan, aku masih tetap merasa berterima kasih sekali atas maksud baikmu
itu."'
"Akupun tahu."
"Tapi ada satu hal yang tidak
akan kau pahami."
"Katakanlah."
Giok Ling Long memandang sekejap
ke arah jendela kamar Ong Tiong, kemudian pelan‑pelan bertanya:
"Kau memang seorang yang
pandai sekali menyelami perasaan orang lain, tapi mengapa justru seperti tak
dapat menyelami perasaannya."
Ang Nio‑cu tertawa, diapun tertawa
rawan, lewat lama kemudian baru menghela napas sedih:
"Mungkin hal ini disebabkan
dia memang bukan manusia, kalau tidak, mengapa dalam keadaan beginipun dia
dapat tertidur?"
"Benarkah Ong Tiong sudah
tertidur ?"
Mengapa secara tiba‑tiba tidak
terdengar lagi suara dengusan napas yang muncul dari dalam kamarnya?
Lok‑sang‑liong‑ong bersandar di
atas pembaringan berlapiskan kulit harimau, dia sedang menatap Ong Tiong
lekat-lekat, seakan-akan ingin membuat dua buah lubang besar di atas wajahnya.
Bahkan Ong Tiong sendiripun merasa
wajahnya seakan-akan telah muncul dua buah lubang besar.
Belum pernah ia saksikan sepasang
mata manusia yang begitu tajam, ia pun belum pernah menjumpai seorang manusia
seperti ini.
Lok sang liong ong yang berada
dalam bayangannya, bukanlah seorang manusia seperti ini.
Lantas, Lok sang liong ong
seharusnya manusia macam apa?
Tentu saja tinggi besar, amat
berwibawa, amat gagah, keren, bermuka merah berjenggot panjang, berhidung
besar dan bermulut lebar, mungkin rambutnya sudah berubah semua, tapi
pinggangnya sudah pasti masih tegap dan lurus, seakan‑akan malaikat yang berada
dalam lukisan.
Suara pembicaraannya pasti amat
keras seperti genta yang dibunyikan bertalu‑talu, bisa menggetarkan hati dan
memekikkan telinga, bila dia sedang gusar maka lebih baik berusahalah untuk
menyingkir dari hadapannya sejauh mungkin.
Bahkan Ong Tiong telah bersiap
untuk mendengarkan suara pekikannya yang penuh dengan nada amarah itu.
Tapi apa yang diduga olehnya ternyata
sama sekali keliru besar.
Begitu berjumpa dengan Lok‑sang‑liong-ong,
dia segera tahu, entah siapa saja yang ingin membangkitkan amarahnya, jelas hal
itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah,
Hanya manusia yang jarang marah
baru terhitung benar‑benar menakutkan.
Paras mukanya pucat pias seperti
mayat, rambutnya amat jarang, jenggotnya juga tidak panjang, rambut serta
jenggotnya di sisir dan diatur amat rapi, sepasang tangannya juga di rawat
amat baik, membuat orang sukar percaya kalau sepasang tangan itu pernah
digunakan untuk membunuh manusia.
Pakaian yang dikenakan amat
sederhana, karena dia tahu sudah tak perlu untuk mempergunakan pakaian yang
mewah lagi, diapun tak perlu mengenakan barang-barang berharga untuk memamerkan
kedudukan serta kekayaannya.
Sewaktu Ong Tiong datang, ia tidak
berdiri untuk menyambut. Entah siapapun yang datang, dia tak mungkin akan
bangkit berdiri.
Sekalipun demikian, siapapun tak
akan menyalahkan ketidak hormatannya itu.
Sebab dia hanya mempunyai sebelah
kaki.
Tokoh silat yangmalangmelintang
dalam kolong langit dan tiada tandingannya di dunia ini ternyata hanya memiliki
sebuah kaki yang cacad, kenyataan ini sungguh berada di luar dugaan siapapun.
Dalam tenda yang sangat besar,
suasana sepi dan hening, kecuali mereka berdua, tidak dijumpai orang ketiga.
Ong Tiong sudah masuk cukup lama,
tapi dia hanya mengucapkan empat patah kata saja:
"Aku adalah Ong Tiong !"
Tapi Lok‑sang‑liong-ong justru tak
mengucapkan sepatah katapun, bila berganti orang lain, dia pasti akan mengira
orang itu tidak mendengar apa yang diucapkan.
Tapi Ong Tiong tidak berpendapat
demi-kian.
Ong Tiong tahu, dia pasti sedang
menyusun suatu rencana sebelum berbicara.
Adasemacam orang yang selamanya
enggan mengucapkan perkataan yang salah, walau hanya sepatah katapun, jelas dia
adalah manusia macam itu.
Anehnya, manusia semacam ini
justru seringkali mengucapkan selaksa kata keliru...
Ong Tiong masih menunggu, menunggu
sambil berdiri.
Akhirnya Lok‑sang‑liong ong
menggerak kain tangannya menunjuk ke sebuah bangku berkulit serigala di
hadapannya seraya berkata:
"Duduk !"
Ong Tiong segera duduk.
Kembali Lok‑sang‑liong‑ong
menuding sebuah cawan emas yang terletak di atas meja, llu katanya lagi:
"Arak!"
Ong Tiong menggeleng.
"Kau hanya minum arak dengan
teman?" mencorong sinar tajam dari balik mata Lok-sang‑liong ong.
"Adakalanya juga
terkecuali."
"Kapan ?"
"Bila aku bermaksud untuk
menyelesaikan suatu persoalan dengan orang lain. Tapi aku tidak bermaksud
berbuat demikian kepadamu."
"Mengapa ?"
"Sebab aku pernah berbuat
demikian terhadap orang yang pantas kuhormati."
Lok‑sang‑liong‑ong menatapnya
lekat‑lekat, lewat lama kemudian ia baru berseru sambil tertawa:
"Kedatanganmu terlampau awal."
"Aku memang bukan datang
untuk minum arak."
Lok‑sang‑liong‑ong pelan‑pelan meng-angguk,
katanya:
"Tentu saja kau bukan.."
Dia mengambil cawan kembali yang
berada di hadapannya dan pelan‑pelan minum seteguk, kemudian dengan sorot mata
setajam sembilu ia menatap wajah Ong Tiong lekat‑lekat.
"Kau sedang memperhatikan
kakiku?" serunya.
"Yaa, benar."
"Kau tentu merasa heran
bukan, siapa yang telah membacok kakiku ?"
"Benar."
"Inginkah kau untuk
mengetahuinya ?'
"Tidak ingin."
"Mengapa ?"
"Sebab entah siapakah
orangnya, sudah pasti saat ini orangnya sudah mati . . . . ."
Tiba‑tiba Lok‑sang‑liong‑ong
tertawa.
"Tampaknya kau bukan seorang
manusia yang suka banyak bicara."
"Ya, aku memang bukan."
"Aku suka dengan orang yang
jarang berbicara, sebab orang yang jarang berbicara biasanya apa yang
dikatakan lebih dapat dipercaya . . ."
"Biasanya memang
demikian."
"Bagus, sekarang kau boleh
mengutarakan secara berterus terang, apa maksud kedatanganmu saat ini
?"
Tidak menunggu Ong Tiong buka
suara, dengan dingin dia melanjutkan kembali:
"Paling baik kalau diutarakan
hanya dengan sepatah kata saja."
"Kau tak boleh membunuh Giok
Ling-long!"
"Mengapa tidak boleh?"
Lok‑sang‑liong ong menarik muka.
"Jika kau masih menginginkan
Lim Tay-peng hidup, maka kau tak boleh membunuh Giok Ling‑long."
"Maksudmu bila kubunuh Giok
Ling‑long, maka Lam Tay‑peng akan mati lantaran dia?"
"Kau tidak percaya ?"
"Kau percaya ?"
"Bila aku tidak percaya, aku
tak datang kemari."
"Kau percaya di dunia ini
terdapat orang lain yang bersedia mati demi orang lain ?"
"Bukan saja ada, lagi pula
banyak sekali."
"Katakan dua orang
diantaranya."
"Lim Tay‑peng, aku !"
Tiba‑tiba Lok‑sang‑liong‑ong
tertawa lebar.
"Kau tidak percaya ?"
seru Ong Tiong.
"Dan kau percaya ?"
"Kalau memang begitu,
bagaimana kalau kita bertaruh ?" .
"Bertaruh apa ?"
"Menggunakan selembar nyawaku
untuk dipertaruhkan dengan selembar nyawa Giok Ling‑long."
"Bagaimana caranya bertaruh
?"
"Andaikata Lim Tay‑peng tidak
bersedia mati demi Giok Ling‑long, setiap saat kau boleh membunuh aku."
"Kalau sebaliknya ?"
"Kau boleh segera angkat kaki
dari sini, maka menang atau kalah, kau tak akan menderita kerugian apa‑apa."
"Tidak menderita kerugian apa‑apa?"
seru Lok‑sang‑liong‑ong sambil tertawa dingin. "Orang yang bisa berpikir
demikian, sudah pasti mempunyai dua buah kaki."
"Sekalipun ada orang
memenggal sebuah kakiku, aku hanya akan pergi mencari orangnya, tak akan pergi
mencari puterinya."
Sorot mata Lok‑sang‑liong‑ong
berubah semakin tajam lagi, lama sekali ia menatap wajahnya tanpa berkedip,
kemudian pelan-pelan baru berkata:
"Dapatkah kau buktikan kalau
Lim Tay-peng bersedia mati baginya ?”
"Aku tak dapat, tapi kau
dapat."
Pelan‑pelan dia melanjutkan:
"Tapi aku percaya, dengan
cepat dia pasti akan datang pula ke tempat ini"
Benar juga, ada orang yang datang
ke situ, tapi yang datang bukan Lim Tay‑peng, melainkan Ang Nio‑cu, Kwik Tay‑lok
dan Yan Jit.
Sewaktu mereka masuk ke dalam, Ong
Tiong sudah tidak berada didalam tenda lagi.
Melihat mimik wajahnya itu, jelas
mereka pun terkejut seperti apa yang dialami Ong Tiong tadi . . . .
Siapapun tidak menduga kalau Lok‑sang‑
liong‑ong adalah manusia semacam ini.
Tujuan dari kedatangan mereka
kesana seperti juga Ong Tiong, karena terhadap teman merekapun menaruh suatu
perasaan yang erat dan rasa percaya yang kuat.
Kepercayaan memang suatu hal yang
sangat aneh, seakan‑akan tak pernah akan membuat orang kecewa . . . . .
demikian pula persahabatan.
Lim Tay‑peng memang tidak membuat
mereka merasa kecewa.
Sambil bersandar di atas
pembaringannya yang berlapiskan kulit harimau, Lok‑sang-liong long mengawasi
Lim Tay‑peng.
Dia adalah putra kandungnya, putra
tunggalnya, sudah hampirlimabelas tahun dia tak pernah berjumpa dengannya.
Tapi ketika ia memandang ke
arahnya, tidak jauh berbeda sikapnya seperti ketika berjumpa dengan Ong Tiong.
Setelah lewat lama kemudian, dia
baru mengulurkan tangannya sambil menuding ke arah bangku berlapiskan kulit
serigala yang barusan ditempati Ong Tiong itu.
"Duduk !"
Tapi Lim Tay‑peng tidak duduk.
Tubuhnya sudah menjadi kaku,
wajahnya turut menjadi kaku, hanya sepasang matanya saja yang berkaca‑kaca.
Sekarang dia telah berhadapan
dengan ayah kandungnya, ayah kandung yang belum pernah dijumpai
selamalimabelas tahun lamanya.
Airmatanya tidak dibiarkan
meleleh. Keluarpun sudah terhitung suatu yang tidak mudah.
Paras muka Lok‑sang‑liong‑ong
masih tetap kaku tanpa emosi, namun di bawah kelopak matanya tiba‑tiba muncul
beberapa buah kerutan, akhirnya dia menghela napas panjang.
"Aai . . . . . kau sudah
menginjak menjadi dewasa, tampaknya kau sudah mempunyai pendapatmu
sendiri."
Bibir Lim Tay‑peng masih tertutup
rapat-rapat tanpa mengucapkan sepatah katapun jua.
"Bila kau enggan berbicara,
mengapa harus datang kemari ?" kembali Lok‑sang‑ liong-ong menegur.
Lim Tay‑peng termenung lagi
beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan baru berkata:
"Aku tahu, selamanya kau
enggan mendengarkan kata-kata yang tak ada gunanya."
"Benar."
"Apakah kau bertekad hendak
membunuh habis semua anggauta keluarga Giok yang ada di dunia ini ?"
"Benar."
"Sekarang keluarga Giok
tinggal seorang"
"Benar."
Lim Tay peng menggenggam tangannya
kencang‑kencang, kemudian sepatah demi sepatah katanya:
"Bila kau membunuhnya, akupun
pasti akan membunuh seorang anggauta keluarga Lim."
"Kau hendak membunuh siapa
?" seru Lok sang liong ong sambil menarik muka.
"Diriku sendiri !"
Lok sang liong ong menatapnya
tajam-tajam, kerutan pada ujung matanya nampak semakin dalam.
Dia adalah putra kandungnya, darah
dagingnya, darah yang mengalir didalam tubuh pemuda itu sama seperti darah
yang mengalir dalam tubuhnya, ia sama keras kepalanya, sama angkuhnya.
Siapapun tak dapat merubah
kenyataan ini, termasuk dirinya sendiri.
Lok‑sang‑liong‑ong menghela napas
panjang, kemudian katanya:
"Kau harus tahu apa yang
telah diucapkan keluarga Lim, selamanya tak akan berubah lagi."
"Aku tahu, itulah sebabnya
aku baru berkata demikian."
Tiba‑tiba dia melanjutkan:
"Aku juga tahu kalau antara
dia dengan kau sama sekali tiada ikatan dendam, bahkan berjumpapun tak
pernah."
"Apa hubungan perempuan itu
denganmu? Mengapa kau menginginkan dia tetap hidup ?"
"Karena selama dia masih
hidup, aku baru dapat hidup."
"Sudah sedemikian dalamkah
cinta kasih kalian?"
Lim Tay‑peng menggigit bibirnya
kencang-kencang.
"Sebenarnya akupun tidak tahu
. . . . ."
"Sejak kapan kau baru tahu
?" tukas Lok sang‑liong‑ong cepat.
"Sejak kau hendak
membunuhnya.... benarkah kau akan merasa gembira bila ia telah kau bunuh
?"
Lok‑sang‑liong‑ong tidak bicara
apa‑apa lagi, dia membungkam dalam seribu bahasa.
"Kau sendiripun tak dapat
memutuskannya bukan ?" jengek Lim Tay‑peng. "Tapi aku berani
menjamin, bila kau telah membunuhnya, maka penderitaan yang bakal kau alami
justru akan jauh lebih berat daripada sewaktu kau belum membunuhnya."
"Kau benar‑benar bersedia
untuk mati baginya?" seru Lok‑sang‑liong‑ong sambil menarik muka.
"Mati bukan sesuatu yang
gampang, tapi juga bukan sesuatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan."
"Bagaimana dengan dia ?
Apakah diapun bersedia melakukan hal yang sama ?"
Lim Tay‑peng tak sanggup menjawab,
dia segera terbungkam dalam seribu bahasa.
"Kaupun tak dapat memastikan
bukan ?" seru Lok‑sang‑liong‑ong kemudian.
"Mungkin hal ini dikarenakan
keluarga mereka tiada bermaksud untuk membunuhku, tidak membawa dendam kesumat
dari dua generasi yang lalu ke dalam generasi kami berikutnya." kata Lim
Tay‑peng pelan.
Mencorong sinar tajam dari balik
mata Lok‑sang‑liong‑ong, tiba‑tiba katanya:
"Baik kululuskan permintaanmu
itu, tapi akupun mempunyai syarat."
"Apa syaratmu ?"
"Bila diapun bersedia
mengorbankan diri bagimu, hal ini membuktikan kalau hubungan cinta kasih
kalian memang benar‑benar sudah mendalam, maka akupun akan melepaskan
dirinya."
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak kaupun harus
mengerti, pada hakekatnya dia tak pantas untuk kau bela dengan mempertaruhkan
selembar jiwamu!"
Lim Tay‑peng menggenggam tangannya
kencang-kencang, kemudian katanya:
"Apakah kau mengajak aku bertaruh?
Menggunakan selembar jiwanya sebagai barang taruhan ?"
"Paling tidak taruhan ini
cukup adil, karena entah menang atau kalah dia sendirilah yang menentukan hal
ini."
"Dari mana kau bisa tahu
kalau hal ini adil?"
"Kujamin kau pasti dapat
melihatnya, tapi kaupun harus mengabulkan sebuah permintaanku pula."
Lim Tay‑peng tidak berkata apa‑apa,
dia hanya mendengarkan belaka.
"Sebelum menang kalah
ditentukan, kau tak boleh mencampuri urusan ini . . . . siapa pun tak boleh
mencampuri hal ini."
Dengan sorot mata setajam sembilu,
sepatah demi sepatah kata dia melanjutkan:
"Kalau tidak, maka kalianlah
yang akan dianggap sebagai pihak yang kalah dalam pertaruhan ini !"
Dibalik tenda tampak sebuah tirai
yang amat tebal, suasana amat gelap sehingga dari luar orang tak dapat melihat
keadaan yang berlangsung di dalam.
Tapi orang yang berada di balik
tirai tersebut justru dapat melihat semua kejadian yang berlangsung di depan
mata.
Ong Tiong, Ang Nio‑cu, Kwik Tay‑lok
dan Yan Jit berada di sana semua, juga mendengar setiap patah kata dan setiap
ucapan yang diutarakan Lim Tay‑peng.
Mereka merasa amat terhibur,
karena Lim Tay‑peng tidak membuat mereka merasa kecewa.
Tapi bagaimana dengan Giok Ling‑long
?
Sekarang, bukan hanya selembar
nyawa sendiri saja yang berada di tangannya, bahkan selembar nyawa Lim Tay‑peng
pun berada pula di tangannya . . . . . .
Tapi hal inipun merupakan
keputusan yang diambil sendiri oleh Lim Tay‑peng, jelas dia sudah menaruh
perasaan percaya terhadap gadis itu.
Mungkinkah gadis itu akan membuatnya
kecewa ?
Mereka dengar Lok‑sang‑liong‑ong
sedang, bertanya lagi:
"Tahukah kau, dulu dia adalah
seorang perempuan macam apa ?"
Jawaban dari Lim Tay‑peng ternyata
sederhana sekali:
"Itu mah sudah kejadian
lampau, sekalipun aku mengetahuinya, sekarang juga telah lupa. "
"Ia menggunakan cara apa sih
hingga membuat kau begitu percaya kepadanya?"
"Dia telah mempergunakan
banyak cara, tapi yang paling manjur hanya satu."
"Cara apa ?"
"la telah berbicara
sejujurnya."
Kemudian sepatah demi sepatah dia
melanjutkan:
"Sebenarnya dia tak perlu
menyatakan kepadaku, juga tak ada orang yang memak-sanya, tapi dia telah
berbicara sejujurnya."
Entah mengapa, setelah mendengar
perkataan itu, tiba‑tiba Ang Nio‑cu menundukkan kepalanya rendah‑rendah.
Kemudian Lim Tay‑peng juga
berjalan masuk ke dalam, memandang ke arah mereka, sorot matanya segera
memancarkan perasaan berterima-kasih.
Teman‑temannya juga tidak
membuatnya menjadi kecewa.
Delapan orang berdiri tenang di
depan tenda, sedemikian tenangnya ibarat delapan buah patung.
Mereka adalah Thian‑liong‑pat‑ciang
di bawah pimpinan Lok‑sang‑liong‑ong, salah seorang saja diantara mereka sudah
cukup untuk menggetarkan suatu daerah.
Tapi sorot mata Giok Ling‑long
justru seakan akan tidak melihat kehadiran mereka.
Pakaian yang dikenakan masih tetap
baju berwarna hijau yang dipakainya sebagai seorang penjual bunga, sambil
mengangkat kepala, dia berjalan melalui orang‑orang itu dan masuk ke dalam
tenda.
Wajahnya masih amat tenang, tapi
sorot matanya memancarkan kebulatan tekadnya.
Kemudian diapun melihat Lok‑sang‑liong
ong.
Lok‑sang‑liong‑ong tidak
mempersilakan dia duduk, tapi sewaktu memandang ke arahnya, sorot mata itu
justru tajam bagaikan pisau.
Giok Ling‑long juga tidak menunggu
dia buka suara, dengan suara lantang segera serunya:
"Kau tahu siapakah aku
?"
Lok sang liong ong mengangguk.
"Aku adalah keturunan
terakhir dari keluarga Giok." ujar gadis itu. "Asal kau dapat
membunuhku, maka apa yang kau cita-citakan akan terpenuhi pula."
Lok sang liong ong termenung lama
sekali kemudian pelan-pelan baru berkata:
"Hal itu bukan merupakan
cita-citaku"
"Bukan ?"
"Yaa, apa yang kau katakan,
tak lebih hanya merupakan sepatah kata yang pernah kuucapkan saja." kata
Lok sang liong ong dengan suara hambar.
"Setiap patah kata yang kau
ucapkan telah terpenuhi semua ?"
"Hanya satu hal yang belum
sempat aku lakukan"
"Mungkin saat ini kau akan
berhasil dengan cepat."
"Mungkin ?"
"Mungkin artinya belum tentu
!"
"Masa kau berani bertarung
melawan diriku ?"
Giok Ling‑long segera tertawa
dingin.
"Mengapa tidak berani ?
Apakah kau anggap dirimu sudah paling luar biasa sendiri"
Tidak memberi kesempatan kepada
Lok-sang‑liong‑ong buka suara, dengan cepat dia menyambung lebih jauh
"Bila hidup sebagai seorang
manusia, dan tak mengurusi anak istri saja tak sanggup, sekalipun luar biasa
juga ada batas‑batasnya."
Ternyata Lok‑sang‑liong‑ong tidak
menjadi gusar oleh perkataan itu, katanya dengan hambar:
"Mereka toh bisa merawat diri
sendiri."
"Itu urusan mereka, bagaimana
dengan kau ?" Giok ling‑long tertawa dingin. "Apakah kau telah
melaksanakan tugasmu dengan sebaik‑baiknya?. Bila setiap orang yang menjadi
ayah dan suami menirukan cara seperti kau, mungkin semua perempuan dan kanak‑kanak
sudah mati gemas."
Akhirnya wajah Lok‑sang‑liong‑ong
beru-bah menjadi berat juga, sambil menarik muka katanya:
"Apakah kau datang kemari
hanya untuk mengucapkan perkataan seperti itu ?"
"Aku hanya memperingatkan
kepadamu saja, bahwa kau masih mempunyai seorang isteri dan seorang anak, lebih
baik kau jangan sampai melupakan mereka, karena merekapun tidak pernah
melupakan dirimu."
"Sekarang kau telah
memperingatkan diriku." kata Lok‑sang‑liong‑ong dingin.
Giok Ling‑long menghembuskan napas
panjang, katanya:
"Benar, apa yang harus
kukatakan memang sudah habis kusampaikan semua....."
Tiba‑tiba ia membusungkan dada dan
merangkap tangannya menjura, serunya kemudian:
"Silakan !"
Walaupun dengan jelas dia tahu
kalau sedang berhadapan muka dengan Lok‑sang‑ liong-ong yang tiada
tandingannya di kolong langit, walaupun tahu kalau di luar tenda masih ada
Thian‑liong‑pat‑ciang yang menggetarkan dunia persilatan, tapi ia sama sekali
tidak menunjukkan perasaan takut barang sedikitpun.
Walaupun tubuhnya ramping dan lemah‑lembut,
namun kebulatan tekad serta keberaniannya benar‑benar mengagumkan, apalagi
sewaktu menjura sambil membusungkan dada sekarang, lamat‑lamat ia
memperlihatkan tekadnya untuk melawan kekuatan Lok‑sang‑liong ong.
Tiba-tiba Lok sang liong ong
tertawa, kemudian tanyanya:
"Tahun ini kau sudah berumur
berapa ?"
Walaupun Giok Ling long tidak
memahami apa sebabnya dia bertanya demikian, toh ia menjawab juga:
"Tujuh belas."
"Sejak berusia berapa tahun
kau belajar silat ?”
"Empat tahun."
Sambil tertawa dingin Lok sang
liong segera berseru:
"Kau tidak lebih baru melatih
diri selama tiga belas tahun, masih berani bertarung melawan diriku ?"
Giok Ling‑long juga tertawa
dingin.
"Sekalipun aku baru berlatih
silat selama satu hari, aku akan tetap datang kemari untuk beradu kepandaian
denganmu, sekalipun berbicara soal ilmu silat keluarga Giok masih belum dapat
menandingi dirimu, kami bukan manusia berjiwatempe!"
Tiba‑tiba Lok-sang liong‑ong
mendongakkan kepalanya dan tertawa bergelak.
"Haaah. . . . . haaaah . . .
. . haaaah . . . . bagus sekali, kau memang bersemangat, kau memang bernyali
!"
Ditengah gelak tertawanya yang
amat nyaring, tiba‑tiba tubuhnya melambung dari atas pembaringan, seakan‑akan
dari bawah tubuhnya terdapat sepasang tangan tak berwujud yang menyungging .
Tanpa terasa Giok Ling Long mundur
setengah ke belakang.
Ia kenal jurus serangan ini mirip
sekali dengan jurus Kian liong‑sang‑thian (naga sakti mengapung ke angkasa)
dari ilmu Thian‑liong-pat‑si yang pernah didengarnya.
Tapi dia sama sekali tidak
menyangka kalau di dunia ini benar‑benar terdapat manusia yang memiliki ilmu
meringankan tubuh sesempurna ini.
Siapa tahu meski berada ditengah
udara ternyata Lok‑sang‑liong‑ong masih sanggup untuk bersuara, katanya dengan
suara dalam:
"Hati-hati dengan jalan darah
Cing‑tong-hiat di sebelah kiri dan kanan tubuhmu."
Jalan darah Cing‑tong‑hiat
terletak di bawah iga bagian bawah, bilamana kena tertotok maka sepasang lengannya
akan lumpuh dan tak bisa digunakan lagi.
Tapi bila kau tidak mengangkat
kedua belah tanganmu maka sulit buat orang lain untuk menotok kedua buah jalan
darah itu.
Sambil tertawa dingin Giok Ling
long segera berpikir:
"Sekalipun aku bukan
tandinganmu, tapi bila kau ingin menotok kedua buah jalan darah Cing leng hiat
ku, hal ini masih bukan suatu pekerjaan yang terlalu gampang.”
Dia bertekad, walau berada dalam
keadaan apapun, dia tak akan mengangkat kedua belah tangannya.
Dengan kedudukan Lok sang liong
ong setelah dia mengatakan hendak menotok jalan darah Cing leng hiat nya, tentu
saja bukan tempat lain yang akan diserangnya lagi.
Pada saat itulah tubuh Lok sang
liong ong secara tiba-tiba menyambar ke hadapannya, segulung angin pukulan yang
amat keras menggetarkan ujung bajunya..
Dia membalikkan badannya, baru
saja hendak menggunakan kesempatan itu untuk memunahkan tenaga yang menggulung
tiba itu, mendadak........
"Plookk, Plookk !" kedua
buah jalan darah Cing‑keng‑hiat di atas bahunya tahu‑tahu sudah kena terhajar
telak sehingga kedua belah tangannya tak sanggup diangkat lagi.
Ketika memandang lagi ke arah Lok
sang liong ong, tampak orang itu sudah berbaring kembali di atas pembaringannya
dengan sikap yang amat santai, siapapun tak akan melihat kalau dia baru saja
melancarkan serangan dahsyat.
Saking gelisahnya paras muka Giok
Ling long sampai berubah menjadi merah padam, teriaknya keras-keras:
"Jalan darah yang kau totok
adalah jalan darah ceng keng hiat, bukan jalan darah cing leng hiat!"
"Tak usah kau peringatkan,
jalan darah cian‑keng hiat dan jalan darah cing‑leng‑hiat masih bisa kubedakan
dengan jelas."
"Hmmm, tak kusangka ucapan
seorang dewasa ternyata tak bisa dipercaya dengan begitu saja."
"Kapan aku bilang kalau jalan
darah cing leng hiat mu akan kutotok ?"
"Tadi kau jelas berkata
demikian."
"Aku toh hanya suruh kau
memperhatikannya saja, bila sedang bertarung melawan orang, setiap jalan darah
yang terdapat di atas tubuhmu harus diperhatikan semua."
Setelah berhenti sejenak, dengan
suara hambar dia melanjutkan:
"Apalagi dalam soal ilmu
silat, yang menjadi pangkal utama adalah caranya menghadapi lawan, kecerdasan
maupun kesigapannya merupakan pokok utama yang harus diperhatikan, karena
susah menotok jalan darah cing leng hiat di tubuhmu tentu saja aku harus
menotok jalan darah cian keng‑hiat mu, toh kedua-duanya sama saja kegunaannya
yakni membuat lenganmu menjadi lumpuh, buat apa aku mesti bersusah payah
mengancam jalan darah yang susah dicapai ? Bila teori semacam inipun tidak kau
pahami, sekalipun harus berlatih seratus tiga puluh tahun lagipun kau tak akan
pernah berhasil menjadi seorang jago yang tangguh."
Caranya berbicara, bagaikan
seorang guru sedang mengajari muridnya, seperti juga seorang ayah sedang
memberi pelajaran kepada anaknya.
Saking gusarnya paras muka Giok
Ling-long yang memerah kini berubah menjadi pucat pias, sambil menggigit bibir
serunya:
"Baik, bunuhlah aku"
"Kau merasa tidak puas
?"
"Sampai matipun tidak
puas."
"Baik !"
Begitu ucapan tersebut diutarakan,
"Sreet!" entah benda apa yang disambit ke arahnya, tahu-tahu jalan
darah sin‑bong‑ hiat di tubuhnya sudah kena dihajar.
Begitu serangan tersebut menghajar
di atas jalan darah tersebut, Giok Ling long segera merasakan tenaganya pulih
kembali dan sepasang lengannya dapat bergerak bebas.
Menotok jalan darah lewat udara
kosong merupakan suatu kepandaian silat yang sudah langka dalam dunia
persilatan, sungguh tak disangka Lok‑sang‑liong ong pandai pula mempergunakan
kepandaian tersebut.
Giok Ling‑long menggertak giginya
kencang‑kencang, sekalipun dia tahu kalau kepandaian silatnya masih bukan
tandingan lawan, tapi dia telah bersiap sedia untuk melakukan perlawanan
mati-matian.
Siapa tahu belum lagi tubuhnya
melambung ke udara dan jurus serangan dilancarkan, mendadak terasa ada
segulung tenaga serangan berkelebat lewat, tahu-tahu jalan darah cing‑leng hiat
di kiri kanan tubuhnya menjadi kaku, kembali tubuhnya melayang jatuh ke tanah
dan sepasang lengannya tak sanggup diangkat kembali.
Sedangkan Lok-sang liong ong masih
tetap berbaring di atas pembaringannya dengan sikap yang amat santai, seakan
dia tak pernah bergeser dari posisinya.
Paras muka Giok Ling long berubah
menjadi pucat keabu-abuan.
Sekalipun di tinggi hati, sekarang
juga sudah tahu jika Lok sang liong ong ingin merenggut selembar jiwanya,
maka hal ini bisa di lakukan dengan suatu cara yang gampang sekali.
Kepandaian silat yang dimiliki dan
pernah menggetarkan hati orang banyak itu berada di hadapan Lok sang liong ong
ibaratnya telur bertemu dengan batu, kesempatan untuk melancarkan serangan pun
tidak dimiliki lagi ....
Lok‑sang liong‑ong memandang
sekejap ke arahnya, kemudian tegurnya dengan suara hambar:
"Sekarang, kau sudah takluk
belum ?"
"Sudah !" jawab Giok
Ling‑long sambil menarik napas panjang-panjang, kemudian setelah tertawa
dingin, dengan cepat sambungnya lebih jauh:
"Tapi aku hanya takluk kepada
ilmu silatmu, bukan kepada orangnya...."
"Ooooh......"
"Sekalipun ilmu silatmu sudah
tiada tandingannya di dunia ini, tapi kau justru berjiwa sempit dan berpikiran
picik, sekalipun kau berhasil memusnahkan semua anggota keluarga Giok, tak
akan ada orang lain yang bisa tunduk kepadamu."
"Nona cilik, tajam benar
selembar mulutmu ?" seru Lok sang liong ong sambil menarik muka.
"Begitu berani kau bersikap kurang ajar di hadapanku."
Giok Ling long, tertawa dingin.
"Mengapa aku tidak berani?
Untuk mati saja aku tidak takut, apa lagi yang musti aku takuti ?"
Berkilat sepasang mata Lok‑sang
liong-ong setelah mendengar perkataan itu gumamnya:
"Benar, bila seseorang sudah
tahu kalau dirinya pasti akan mati, perbuatan apa lagi yang tak berani
dilakukan ? Perkataan apa lagi yang tak berani diucapkan ?"
Tiba-tiba sekulum senyuman aneh
tersungging kembali di ujung bibirnya, dia melanjutkan:
"Tapi bagaimana bila aku
bersedia tidak membunuh kau ?"
"Apa .....apa kau bilang
?" Giok Ling‑long tertegun.
"Bukan saja aku tak akan
membunuh dirimu, lagi pula tak akan mengganggu seujung rambutmu, budi dendam
antara kita dua keluarga pun akan kuhapuskan mulai detik ini."
"Sung . . . . sungguh ?"
"Tak pernah perkataan yang
telah aku ucapkan kupungkiri kembali."
Tiba-tiba Giok Ling long merasakan
seluruh badannya menjadi lemas, hampir saja berdiripun tak sanggup lagi.
Tadi, ketika harus berhadapan
dengan musuh tangguh yang belum pernah dijumpai selama ini, meski tahu bakal
mati, namun hatinya sama sekali tidak merasa gentar.
Tapi sekarang, setelah orang lain
menyanggupi untuk tidak membunuhnya, sepasang kakinya malah terasa lemas,
hingga sekarang dia baru menyadari, kalau dia sebenarnya belum ingin mati.
Bila seseorang sudah tahu kalau
dirinya masih sanggup untuk hidup lebih lanjut, siapa pula yang masih ingin
mati?
Sorot mata Lok sang long ong yang
tajam seakan-akan telah berhasil menembusi hatinya, pelan-pelan dia
melanjutkan:
"Asal kaupun bersedia
meluluskan sebuah permintaanku, sekarang juga aku akan melepaskan dirimu dan
tak akan mencari dirimu lagi."
"Apa permintaanmu itu ?"
tak tahan Giok Ling‑long bertanya.
"Asal mulai sekarang kau
jangan menyinggung kembali soal perkawinanmu dengan putraku dan mulai
sekarang tak akan berjumpa lagi dengan dirinya . .”
Paras muka Giok Ling‑long segera
berubah hebat, serunya dengan suara gemetar:
"Kau . . . . . kau menyuruh
aku mulai sekarang tak akan berjumpa lagi dengannya?"
"Ya, mulai sekarang kau harus
menganggap di dunia ini tak pernah ada seorang manusia seperti itu, anggap
saja kau belum pernah berjumpa dengannya, maka kau tetap bisa hidup terus
dengan amat tenteram.."
Setelah tertawa, kembali
lanjutnya:
"Lelaki yang ada di dunia ini
banyak sekali jumlahnya, siapa tahu dengan cepat kau akan bisa melupakan
dirinya."
Paras muka Giok Ling long pucat
pias, tubuhnya kembali gemetar keras, serunya:
"Bila aku tidak mengabulkan
permintaanmu ?"
"Mengapa tidak? Setelah mati,
bukankah kau tetap tak akan bisa berjumpa dengan dirinya ?"
Pelan‑pelan Giok Ling‑long
menggelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya:
"Tidak sama . . . . . jelas
tidak sama."
"Bagaimana tidak samanya
?"
"Kau tak akan mengerti!"
kata Giok Ling‑long sambil tertawa sedih.
"Manusia macam kau tak akan
pernah paham untuk selamanya.."
Walaupun tertawanya sangat rawan,
namun sorot matanya memancarkan sinar kebahagiaan yang amat misterius.
Sebab dia telah jatuh cinta.
Perasaan semacam ini tak mungkin
bisa digantikan dengan keadaan macam apapun, juga tak akan bisa dilarikan oleh
siapapun.
Entah cintanya itu manis atau
getir, paling tidak ia jauh lebih berbahagia daripada orang yang belum pernah
merasakan cinta.
Lok sang‑liong‑ong memandang mimik
wajahnya, agak berubah juga paras muka sendiri, mendadak dari dalam sebuah poci
kemala dia menuang secawan arak berwarna hijau, lalu katanya dengan suara hambar:
"Bila kau benar‑benar tidak
bersedia minumlah arak itu, mulai sekarang kau tak akan merasakan kesulitan
apa‑apa."
Giok Ling‑long menatap arak
beracun itu lekat‑lekat, kemudian sepatah demi sepatah katanya:
"Aku hanya dapat meluluskan
sebuah permintaanmu."
"Permintaan apa ?"
Sorot mata Giok Liong long
ditujukan ke tempat kejauhan, lalu sepatah demi sepatah katanya:
"Aku tak akan melupakan dia,
juga tak mungkin melupakan dia, entah aku dalam keadaan hidup atau mati, dalam
hatiku selalu hanya ada dia seorang, entah bagaimanapun lihaynya kau, jangan
harap bisa merampas dia dari dalam hatiku."
Tiba-tiba ia menerjang maju ke
depan dan meneguk habis arak beracun dalam cawan itu.
Kemudian diapun segera roboh
terjengkang ke atas tanah.
Tapi sekulum senyuman bahagia,
senyuman yang misterius tersungging di ujung bibirnya.
Karena dia tahu, mulai sekarang
entah ada di langit atau di bumi, tak ada orang yang bisa memaksanya untuk
melupakan dirinya lagi ....
Agaknya Lok‑sang‑liong‑ong
tertegun.
Ternyata di dunia ini terdapat
juga manusia semacam ini, perasaan semacam ini memang selamanya tak akan bisa
dipahami olehnya.
Lim Tay‑peng telah menyerbu maju
ke muka, menubruk di atas badan Giok Ling-long.
Lok sang liong ong tak tega untuk
memandang lagi ke arahnya, dia tak berani memandang lagi ke arahnya.
Entah berapa saat kemudian, Lim
Tay-peng baru bangkit berdiri, wajahnya pucat tanpa darah, sepasang matanya
merah membara, sambil melotot ke arahnya dia berseru:
"Kau telah meluluskan
permintaanku, kau berjanji kepadaku . . . . ."
Lok sang liong ong hanya menghela
napas panjang, agaknya diapun tak tahu apa yang harus diucapkan.
"Kau telah meluluskan
permintaanku." seru Lim Tay peng. "Semuanya akan kau lakukan dengan
adil, tapi sekarang . . . . ."
"Ah tahu hal ini bukan
sesuatu yang adil." tukas Lok sang liong ‑ong. "Tapi di dunia ini
banyak terdapat persoalan-persoalan yang tidak adil, jika seseorang ingin hidup
lebih lanjut, dia sudah seharusnya belajar untuk menahan diri terhadap kejadian
semacam ini."
"Aku tak akan bisa
mempelajarinya, selamanya tak akan bisa mempelajarinya secara baik ... .
."
Mimik wajahnya mendadak berubah
pula menjadi misterius dan sangat aneh, sekulum senyuman seperti apa yang telah
diperlihatkan Giok Ling‑long tadi tersungging pula di ujung bibirnya,
pelan-pelan dia berkata:
"Aku tahu di dunia ini tak
pernah ada orang yang bisa menyuruh dia melupakan aku, juga tak akan ada orang
yang bisa menyuruh aku melupakan dirinya . . . .."
Berbicara sampai di sini, mimik
wajahnya berubah aneh sekali.
Kwik Tay lok yang menyaksikan
kejadian tersebut, merasakan air matanya jatuh bercucuran tanpa terasa.
Ia dapat memahami manusia seperti
ini, diapun dapat memahami perasaan seperti ini.
Dia tahu Lim Tay‑peng juga tak
ingin hidup, tak tahan dia ingin melompat keluar dari tempat persembunyiannya
dan menerjang ke muka.
Tapi entah apa sebabnya, ternyata
Ong Tiong mencegah perbuatannya itu seraya berseru dengan suara dalam:
"Tunggu sebentar !"
"Sekarang, apalagi yang harus
kita tunggu?"
"Asal kau tunggu sebentar
lagi, segala sesuatunya akan menjadi jelas . . . . . . ." jawab Ong Tiong
sambil mencorong sinar terang dari balik sinar matanya.
Tapi pada saat itulah Lim Tay‑peng
telah menyambar arak beracun ini di meja dan meneguknya sampai habis.
"Akupun telah meluluskan
permintaanmu, bila kau membunuhnya, maka akupun akan membunuh seorang anggauta
keluarga Lim."
Dia telah menghabisi nyawa
sendiri.
Ketika badannya roboh ke tanah, ia
roboh disamping tubuh Giok Ling‑long.
Ujung bibir mereka berdua sama‑sama
tersungging sekulum senyuman, senyuman yang aneh dan penuh kebahagiaan.
Sepasang mata Kwik Tay‑lok telah
berubah menjadi merah, dia ingin mencengkeram tubuh Ong Tiong sambil bertanya
mengapa ia disuruh menunggu.
Tapi pada saat itulah tiba‑tiba ia
mendengar suara seseorang yang amat menawan bergema memecahkan keheningan:
"Kau kalah !"
Tiba‑tiba seseorang munculkan diri
dari balik tenda, tubuhnya tinggi semampai dan cantik jelita, ternyata dia adalah
Wi hujin ibu kandung Lim Tay‑peng.
Sekulum senyuman malah tersungging
di ujung bibirnya.
Kwik Tay‑lok lagi‑lagi dibikin
tertegun.
Menyaksikan putranya tewas di
hadapan matanya, mengapa dia malah masih bisa tertawa ?
Mimik wajah Lok‑sang‑liong‑ong juga
istimewa sekali, entah gembira atau menderita bangga atau kecewa ?
Lewat lama kemudian pelan‑pelan ia
baru mengangguk, sahutnya setelah menghela napas panjang:
"Benar, aku kalah !"
"Sekarang, tentunya kau sudah
mengerti bukan ? Bukan seperti manusia macam kau hanya hidup untuk kepentingan
diri sendiri, sekarang kau juga harus tahu, banyak persoalan di dunia ini
yang sesungguhnya jauh lebih penting daripada nyawa sendiri."
Lok‑sang liong‑ong menundukkan
kepala-nya lalu tertawa:
"Untung saja aku mengetahui
hal ini belum terlalu lambat."
"Belum terlalu lambat?"
Wi hujin menatapnya lekat‑lekat, suaranya jauh lebih lembut.
Lok‑sang liong ong mengangkat
kepala-nya dan memandangnya pula, kemudian menyahut:
"Yaa, belum terlambat !"
Dibalik sorot mata mereka berdua
sama-sama terpancar keluar semacam perasaan yang sangat aneh, tiba‑tiba saja
mereka saling berpandangan sekejap..
Kesalah pahaman dan perselisihan
yang berlangsung banyak tahun diantara mereka berdua, seakan‑akan telah punah
tak berbekas dalam sekulum senyuman mereka itu.
Sesungguhnya mereka adalah orang
yang sudah membekas dihati dan tak akan terlupakan, persoalan apakah yang tak
dapat dimaafkan olehnya, dan persoalan apa pula yang tak bisa dipahami olehnya
?
Tapi putranya . . . . . . ?
Lok‑sang‑liong‑ong masih
menatapnya lekat‑lekat, kemudian sambil tersenyum katanya:
"Mereka telah meneguk secawan
arak paling getir dalam sepanjang hidup mereka, sekarang berilah arak yang
manis untuk mereka berdua."
"Yaa, semua orang sudah
sepantasnya ikut mencicipi pula arak yang manis itu. . ." ujar Wi hujin
lembut.
Tiba‑tiba ia berpaling kearah Kwik
Tay-lok sekalian yang berada dibalik tirai, kemudian sambil tertawa katanya
"Sekarang, tentunya kalian
sudah mengetahui bukan, apa yang sebenarnya telah terjadi, mengapa tidak
segera munculkan diri untuk meneguk pula secawan arak manis ?"
Kwik Tay‑lok masih tidak mengerti,
tapi Yan Jit telah memahaminya.
"Orang pertama yang bertaruh
dengan Lok‑sang‑liong‑ong bukan Ong lotoa, melainkan Wi hujin." Yan Jit
menerangkan.
"Demi kebahagiaan hidup
putranya, dia memang seharusnya pergi mencari Lok‑sang-liong‑ong untuk
menantangnya bertaruh." sambung Ong Tiong.
"Tampak caranya bertaruh
seperti juga cara kita semua, dia tahu di dunia ini terdapat banyak orang yang
dapat mengorbankan diri demi orang lain, oleh karena itu dia menang"
Dia memandang ke arah Kwik Tay‑lok,
sorot matanya memancarkan kelembutan yang amat sangat.
Kwik Tay‑lok menggenggam tangannya
pelan, lalu berkata lembut:
"Benar, orang yang bisa
memahami teori ini, selamanya dia tak akan pernah menderita kekalahan."
"Arakyang diberikan Lok‑sang‑liong‑ong
kepada mereka, sudah pasti bukan arak beracun." kata Ong Tiong pula.
Tentu saja bukan.
Karena Lim Tay‑peng dan Giok Ling-long
telah bangkit berdiri sekarang, mereka sedang berpelukan dengan mesra.
Sekarang, tiada orang di dunia ini
yang sanggup memisahkan mereka lagi, karena mereka mempunyai keberanian untuk
meneguk arak yang paling getir dalam hidup mereka itu.
Arakgetir, bukan arak beracun.
Tahukah kau di dunia ini terdapat
semacam arak yang misterius, yang bisa membuat kau menghindarkan diri
sebentar dari dunia ini, kemudian bangkit dan hidup kembali?
Tahukah kau di dunia ini
sebenarnya terdapat banyak kejadian yang aneh yang khusus ditujukan untuk
mereka yang saling mencintai dengan hati yang tulus ?
Kwik Tay-lok membalikkan badannya
berpaling ke arah Ong Tiong, kemudian ujarnya:
"Tadi kau menahan aku untuk
keluar dari tempat persembunyiannya, apakah kau sudah tahu kalau arak itu
bukan arak beracun?"
"Aku tidak tahu. . . . . . .
tapi aku tahu, tiada seorang ayah yang tega untuk meracuni putra sendiri, aku
percaya asal dia adalah manusia, sudah pasti dia memiliki sifat manusia"
"Kau mempercayainya ?"
"Benar !"
Kwik Tay lok segera menghela napas
panjang.
"Aaaai . . . . tak heran
kalau kaupun tak pernah menderita kalah."
Dibalik tirai tinggal Ang Nio‑cu
dan Ong Tiong.
Sambil menundukkan kepalanya Ang
Nio‑cu berkata:
"Mereka sedang menantimu di
luar, mengapa kau tidak keluar ?"
"Dan kau ?"
"Aku . . . . . aku merasa
tidak pantas untuk berada bersama mereka."
"Mengapa ?"
Sepasang mata Ang Nio cu berkaca‑kaca,
katanya dengan kepala tertunduk rendah-rendah:
"Karena akupun seperti Lok
sang liong ong, tak pernah kuketahui kalau cinta yang sejati bukan bisa didapat
dengan suatu tindakan, bila kau ingin memperoleh cinta suci orang lain, hanya
dengan cinta murnimu saja yang bisa mendapatkannya, tak mungkin ada cara yang
kedua lagi."
"Tapi sekarang kau sudah tahu
bukan?"
Ang Nio cu manggut-manggut.
"Sekarang bisa tahu pun belum
terhitung terlambat" kata Ong Tiong kemudian.
Tiba-tiba Ang Nio cu mengangkat
kepala-nya memandang wajahnya, dengan sorot mata memancarkan pengharapan katanya:
"Apakah sekarang belum
terlalu lambat?"
Ong Tiong juga memandang ke
arahnya, tapi suaranya telah berubah menjadi halus dan lembut:
"Belum terlambat, asal kau
benar-benar memahami teori ini, selamanya tak pernah akan terlambat."
Digenggamnya tangan perempuan,
itu, lalu ujarnya lagi dengan lembut:
"Oleh karena itu kitapun
harus ikut bersama mereka untuk meneguk secawan arak manis, arak getir yang
kita minum pun sudah terlalu banyak."
Arakitu manis, selain manis juga
harum. Hanya orang yang tahan menghadapi percobaan, tahan menghadapi pelbagai rintangan
saja yang pantas merasakan arak ini.
Dan hanya mereka pula yang berhak
mencicipinya.
Sambil memegang cawan emasnya,
Lok-sang‑liong-ong memandang sekejap ke arah putranya dan menantunya, lalu
berkata:
"Aku telah menyiksa kalian,
maka aku harus membayar kerugian, apa saja yang kalian kehendaki pasti akan
kuberi."
"Kami tidak menghendaki
apa-apa." jawab Lim Tay‑peng.
"Mengapa tidak mau ?"
"Sebab yang kami inginkan tak
mungkin bisa diberi oleh orang lain, termasuk juga dirimu sendiri."
"Akupun tak dapat memberikan
kepada kalian? Lantas siapa yang dapat ?"
Mencorong sinar terang dari balik
mata Lim Tay‑peng, sahutnya pelan.
"Hanya kami sendiri yang
dapat memberikan apa yang kami inginkan."
"Sebenarnya apa yang kalian
inginkan ?"
"Apa yang kami inginkan,
sekarang telah kami dapatkan."
Dia menggenggam tangan istrinya
dengan penuh kebahagiaan dan kepuasan.
Karena yang mereka inginkan adalah
kebebasan, kasih sayang dan kegembiraan.
Dan kini semua telah mereka
dapatkan.
Kesemuanya itu tak mungkin bisa
diperoleh dari orang lain, juga tiada orang yang dapat memberikan kepada
mereka. .
Bila kaupun ingin kebebasan, cinta
kasih dan kegembiraan, maka carilah dengan ketekadanmu, kepercayaan pada diri
sendiri serta rasa cinta, sebab kecuali itu tak mungkin ada cara lain yang bisa
mendapatkannya.
Ya, tak mungkin ada.
Justru karena mereka memahami
teori ini maka mereka baru memperolehnya.
Maka mereka baru mendapatkan
kebahagiaan untuk selamanya.
Siapa bilang seorang enghiong itu
kesepian?
Bukankah enghiong‑enghiong kita
selalu riang gembira dan berbahagia dalam kehidupannya ?.
Dengan begitu, berakhir pula
cerita "PENDEKAR RIANG" ini sampai di sini, semoga pembaca sekalian
dapat menarik banyak pelajaran dari pengalaman Kwik Tay lok sekalian dalam
kehidupannya.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...