Eps.08
Hingga saat ini, ke-4 tokoh ini sudah dianggap tokoh gaib dan
cenderung didewakan meski tidak diketahui lagi oleh siapapun apakah mereka
masih hidup ataukah sudah meninggal. Sedikit orang yang tahu kalau keempatnya
memiliki tradisi bertanding ilmu silat setiap 10 tahunan, dan hal ini mereka
lakukan bahkan puluhan tahun silam, ketika mereka masih sama-sama berusia muda.
Sementara untuk pertemuan tradisi kali ini adalah yang pertemuan
ke 7 kalinya, dimana mereka berkumpul melakukan pertandingan dan pembahasan
Ilmu Silat. Bukan satu atau dua Ilmu Silat belaka, tetapi bahkan semua Ilmu
andalan mereka masing-masing dibuka dan dibahas untuk dikembangkan dan
disempurnakan.
Tempat pertemuan, sejak awal memang ditetapkan di jorokan sungai
tersebut dan sampai kali ke-7 ini masih tetap menjadi tempat mereka bertanding.
Dan berunding. Tanpa ada seorang tokoh dunia persilatanpun yang tahu akan
rahasia pertemuan tersebut.
Mereka menetapkan tempat pertandingan ini ketika masih berusia
muda, masih berusia di sekitar 25 tahunan, dan tetap melanjutkan ketika mereka
ber-4 sudah menjadi Ketua di masing-masing perkumpulannya dan bahkan terus
berlanjut dan terus mereka pelihara tradisi itu ketika tiada orang tahu apakah
mereka masih hidup ataukah tidak lagi. Dan rahasia pertemuan mereka itupun,
hingga pertemuan ketujuh, tidak diketahui orang.
Pertemuan kali ini adalah yang ke-7, dan cara bertempur mereka
tidak sama lagi dengan cara yang mereka tetapkan dan lakukan pada waktu waktu
awal pertemuan. Pada awalnya, mereka mengadu Ilmu dengan cara normal,
masing-masing menggunakan semua ilmu silat, Sinkang dan ilmu Ginkang, dengan
saling bertukar lawan sampai semua sempat saling berhadapan.
Kali ini, berdasarkan pengalaman, mereka mampu mengukur dengan
kekuatan batin masing-masing sampai dimana tingkat dan kemampuan kawannya.
Karena bukan lagi soal kalah dan menang yang penting, tapi bagaimana mencari
celah dan aspek pengembangan Ilmu masing-masing. Karena kebutuhan tersebut,
sejak pertemuan ke-5, cara bertanding mereka menjadi berubah secara drastis.
Diskusi atau bertanding secara lisan justru lebih lama mereka
lakukan dan bisa seharian penuh waktu mereka manfaatkan untuk diskusi dan tukar
pikiran tersebut. Dari pertemuan-pertemuan inilah kemudian masing-masing
memahami bagaimana cara dan jalan menuju puncak kematangan ilmunya
masing-masing. Baik Siauw Lim Sie yang mengutamakan kedalaman, Bu Tong Pay yang
mengutamakan kehalusan, Lembah Pualam Hijau yang mementingkan im berhawa dingin
dan halus serta Kay Pang yang mengutamakan tenaga murni lelaki jejaka dan
pukulan petir yang beraliran keras.
Kian Ti Hosiang dan Pek Sim Siansu yang tulus dan polos mengerti
belaka bahwa mencapai kesempurnaan adalah dengan penyatuan “im” dan “yang” atau
“luar” dan “dalam”. Sehingga sebetulnya pematangan mereka dimungkinkan melalui
system saling memberi dan saling menerima. Setelah mencapai usia tua dan
kebijaksanaan mereka meningkat tajam, serta nafsu menang juga sudah padam, maka
sejak pertemuan ke-6 mereka kemudian meningkatkan kemampuan mereka secara
sempurna dengan saling memberi dan menerima, disertai peningkatan kemampuan
batin dan membuat mereka semua mampu melihat jauh kedepan.
Juga demikian dengan Kay Pang dan Lembah Pualam Hijau, mereka
menemukan kenyataan bahwa kehalusan dan kekuatan mereka bisa saling menyempurnakan
dengan cara yang sama. Hasilnya, mereka semua mengalami proses pematangan yang
sama 10 tahun terakhir, kekuatan batin mereka menjadi demikian matang dan
sempurna dan tidak mungkin lagi mereka saling berdusta satu dengan yang lain.
Bahkan dari pendalaman dan saling menyempurnakan inilah kemudian
masing-masing menciptakan Ilmu Pamungkas dengan dasar utama ciri khas
masing-masing perguruan. Ilmu-ilmu khas inilah yang kemudian akan bermunculan
di dunia persilatan, bukan oleh para guru besar ini, tetapi oleh murid mereka
masing-masing.
“Nampaknya kita kedatangan tamu” Ujar Kian Ti Hosiang sambil
menundukkan kepala, dan kemudian si pendeta saleh ini menggerakan tangannya ke
air sungai yang arusnya sedang menggila. Entah apa maksud kakek sakti ini,
tetapi tentu bukan masin-main, dan terbukti tiba-tiba dia berseru:
“Kena” Ujarnya sambil berseru dan tidak lama kemudian dihadapan
mereka terkapar 2 bocah yang memeluk erat-erat batang pohon tempat mereka
berharap tetap hidup. Keduanya pingsan. Pingsan dengan cara yang menunjukkan
kecerdikan mereka, tetap memeluk erat-erat pohon yang menjadi sandaran dan
kesempatan mereka untuk tetap hidup. Tetapi, belum lagi semua sadar dengan
kehadiran kedua bocah yang beruntung selamat dari banjir banding sungai yang
menggila itu, tiba-tiba:
“Masih ada lagi” Sin Kay berseru dan nampak menggerakkan
tangannya dan mengerahkan tenaga ke sungai, dan ajaib diapun mampu mengangkat
seorang bocah yang kemudian ternyata adalah Liang Tek Hoat. Seperti kedua anak
yang pertama, kali inipun anak yang terangkat oleh Kiong Siang Han juga pingsan
dengan memeluk batang pohon yang lain.
Dan, seperti tidak mau kalah, nampak tiba-tiba Pek Sim Siansu
juga mengerahkan tenaga ke tangan dan mengarahkan tangannya ke sungai:
“Satu lagi” Pek Sim Siansu ikut berseru dan dilakukannya hal tersebut bersamaan juga dengan Kiang Sin Liong yang juga berseru “Kena”. Dan dihadapan mereka bertambah 2 tubuh bocah kecil lainnya, yang semuanya pingsan seperti anak-anak yang lain.
“Satu lagi” Pek Sim Siansu ikut berseru dan dilakukannya hal tersebut bersamaan juga dengan Kiang Sin Liong yang juga berseru “Kena”. Dan dihadapan mereka bertambah 2 tubuh bocah kecil lainnya, yang semuanya pingsan seperti anak-anak yang lain.
Kecuali seorang anak yang terus menerus berdesis dalam sikap
kosong jangan
melawan, ikuti arus air, biarkan pikiran kosong, pasrah terhadap alam. Dialah anak terakhir yang
diangkat dari sungai yang sednag membahana arusnya itu.
“Begitu banyak “tamu” kita hari ini” keluh Pek Sim Siansu sambil
memandangi kelima anak yang sedang pingsan dan keadaan mereka sungguh sangat
mengharukan.
“Siancai-siancai. Siansu, ini tanda keterikatan kita kembali
dengan dunia. Kita masih ditolak nirwana, dan mungkin kita melihat semua bahwa
mereka ini akan menjadi sinar bagi dunia yang sebentar lagi menjadi pekat” Ujar
Kian Ti Hosiang.
“Nampaknya kita masing-masing telah memilih sesuai jodoh” Sin
Kay menarik nafas setelah memandang dan mengerti melihat keganjilan di mata
Kiang Sin Liong.
“Benar, kita telah secara tidak sengaja memilih pewaris kita
masing-masing” Ujar Kiang Sin Liong. Hawa yang beredar di tubuh Thian Jie
membuat Sin liong berkerut dan manggut-manggut. Terkejut dan heran melihat
keadaan anak yang ditolongnya dari sungai itu.
“Baiklah, kita tetapkan demikian. Kian Ti Hosiang dengan
demikian akan memiliki 2 orang anak yang bila tidak salah nampaknya keduanya
kakak beradik kembar. Pek Sim mempunyai pewaris wanita, tulangnya sangat tepat
bagi Liang Gie Sim Hwat, Sin Liong memiliki jika tidak salah keluarganya sendiri
dan aku mempunyai anak ini. Kita sama telah melihat mendung bagi dunia
persilatan, padahal kita tidak mungkin lagi menanganinya. Lembah Pualam Hijau
sedang mengurus rumah tangganya, penerus di partai dan perkumpulan kita sedang
merosot, maka tugas terakhir kita sebelum menyelesakan kehidupan di dunia.
Liong Te, bagaimana menurutmu”? Sin Kay, memang sangat menghormati Sin Liong,
karena dia paham betul meski yang termuda tetapi perkembangan Ilmu Sin Liong
seperti tidak pernah habis.
“Benar twako. Kian Ti dan Pek Sim, jika tidak salah kemelut kali
ini bukan hanya melawan kekuatan dari luar, tetapi juga dari dalam. Lohu
menyedihkan kondisi Lembah kami, tetapi rasanya anak ini (menunjuk Thian Jie)
akan bisa mencuci kekotoran lembah kami. Biarlah kita semua mempersiapkan
mereka yang bertugas menggantikan kita seperti pada lebih 50 tahun berselang”
Ujar Sin Liong.
Dan nampaknya orang tua yang lain manggut-manggut setuju dengan
ucapan Kiong Siang Han dan Kiang Sin Liong. Bahkan terdengar Kian Ti Hosiang
berkata:
“Baiklah, kita tetapkan demiian. Jika pinto tidak salah,
pertemuan kita 10 tahun kedepan merupakan pertemuan 10 tahunan yang terakhir.
Tanpa perlu berlomba kita sudah tahu akhir dan capaian murid kita
masing-masing. Semoga Thian melindungi anak-anak ini, mereka akan terlibat
dalam derasnya pergolakan Kang Ouw dan karena itu tugas kita menyiapkan mereka
seperlunya”
“Tidak salah. Biarlah kita mendidik mereka masing-masing, meski
belitan rindu dan dendam diantara mereka akan rumit, tetapi kegagahan mereka
masih lebih berharga daripada kerumitan perasaan mereka” Sambung Pek Sim.
“Kian Ti, karena 10 tahun depan adalah pertemuan perpisahan
kita, biarlah 10 tahun ini kita bekerja keras. Nampaknya mendung dunia
persilatan akan bergantung kepada anak-anak ini. Liong Te, nampaknya buyutmu
itu mengalami keanehan dan kegaiban, cuma lohu tidak yakin akan akhirnya.
Biarlah Thian dan nasib mengantarnya kearah terang. Dan Pek Sim, anak gadismu
itu juga memiliki bintang terang sebagaimana muridku. Sungguh ramai, sungguh ramai
mereka nantinya” Sin Kay yang tertua akhirnya menyimpulkan semua percakapan dan
diskusi mereka mengenai anak-anak yang secara aneh ditolong oleh orang yang
kemudian menjadi guru mereka masing-masing.
Jika memang sudah jodoh, teramat sulit untuk mengelakkannya.
Bila tidak jodoh, dikejarpun akan sangat sulit mencapainya. Jodoh, membuat
kelima anak ini seperti mendapat durian runtuh, menjadi murid tokoh gaib.
Padahal, ada jutaan anak yang dengan rela meminta, memohon atau bahkan rela
membayar salah seorang diantara ke-4 kakek sakti ini untuk bersedia menjadi
guru mereka.
Yang mencari dan memaksa, tidak mendapatkan. Yang tidak mencari,
justru mendapatkan, itulah jodoh.
“Dan, biarlah kita berjumpa kembali 10 tahun kedepan” Sin Kay
menutup kalimatnya dan kemudian berkelabat setelah memberi salam. Sekejap dan
tubuhnya sudah hilang bersama Tek Hoat disusul dengan berkelabatnya Kian Ti
Hosiang memanggul dua anak kembar dan Pek Sim yang membawa Mei Lan pergi.
Kakek renta Kiang Sin Liong mondar-mandir sambil bergumam “ajaib,
ajaib, bagaimana mungkin tubuhnya penuh hawa Giok Ceng”?. Apakah Cun Le yang
mengirimnya? Dan siapa pula nama anak ini? Tanda Giok Ceng di lengan kanan
menandakan anak ini bermarga Kiang, pastilah buyutnya.
Tapi, kenapa pula tubuhnya penuh hawa Giok Ceng? Dan kenapa pula
kepalanya nampak bersinar cerah dan aneh di mata batin Sin Liong? Dan banyak
pertanyaan lainnya yang sulit dijawab, bahkan tidak terjawab sampai Kakek Sin
Liong berkelabat lenyap membawa tubuh cucu buyutnya.
Tebing itu kembali hening. Hening seperti tahun-tahun
sebelumnya, tetapi bahana bergemuruh masih terdengar meski tidak seheboh sejam
sebelumnya. Nampak banjir banding itu masih belum surut, masih sanggup
memporak-porandakan bahkan desa ataupun kota yang dilalui dan diterjangnya. Tetapi
yang pasti, pada saatnya, mungkin malamnya, suasana akan kembali normal,
seperti biasanya.
--0OO00—
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...