Kamis, 20 November 2014

Kisah Para Naga - 08


Eps.08

Hingga saat ini, ke-4 tokoh ini sudah dianggap tokoh gaib dan cenderung didewakan meski tidak diketahui lagi oleh siapapun apakah mereka masih hidup ataukah sudah meninggal. Sedikit orang yang tahu kalau keempatnya memiliki tradisi bertanding ilmu silat setiap 10 tahunan, dan hal ini mereka lakukan bahkan puluhan tahun silam, ketika mereka masih sama-sama berusia muda.
Sementara untuk pertemuan tradisi kali ini adalah yang pertemuan ke 7 kalinya, dimana mereka berkumpul melakukan pertandingan dan pembahasan Ilmu Silat. Bukan satu atau dua Ilmu Silat belaka, tetapi bahkan semua Ilmu andalan mereka masing-masing dibuka dan dibahas untuk dikembangkan dan disempurnakan.
Tempat pertemuan, sejak awal memang ditetapkan di jorokan sungai tersebut dan sampai kali ke-7 ini masih tetap menjadi tempat mereka bertanding. Dan berunding. Tanpa ada seorang tokoh dunia persilatanpun yang tahu akan rahasia pertemuan tersebut.
Mereka menetapkan tempat pertandingan ini ketika masih berusia muda, masih berusia di sekitar 25 tahunan, dan tetap melanjutkan ketika mereka ber-4 sudah menjadi Ketua di masing-masing perkumpulannya dan bahkan terus berlanjut dan terus mereka pelihara tradisi itu ketika tiada orang tahu apakah mereka masih hidup ataukah tidak lagi. Dan rahasia pertemuan mereka itupun, hingga pertemuan ketujuh, tidak diketahui orang.
Pertemuan kali ini adalah yang ke-7, dan cara bertempur mereka tidak sama lagi dengan cara yang mereka tetapkan dan lakukan pada waktu waktu awal pertemuan. Pada awalnya, mereka mengadu Ilmu dengan cara normal, masing-masing menggunakan semua ilmu silat, Sinkang dan ilmu Ginkang, dengan saling bertukar lawan sampai semua sempat saling berhadapan.
Kali ini, berdasarkan pengalaman, mereka mampu mengukur dengan kekuatan batin masing-masing sampai dimana tingkat dan kemampuan kawannya. Karena bukan lagi soal kalah dan menang yang penting, tapi bagaimana mencari celah dan aspek pengembangan Ilmu masing-masing. Karena kebutuhan tersebut, sejak pertemuan ke-5, cara bertanding mereka menjadi berubah secara drastis.
Diskusi atau bertanding secara lisan justru lebih lama mereka lakukan dan bisa seharian penuh waktu mereka manfaatkan untuk diskusi dan tukar pikiran tersebut. Dari pertemuan-pertemuan inilah kemudian masing-masing memahami bagaimana cara dan jalan menuju puncak kematangan ilmunya masing-masing. Baik Siauw Lim Sie yang mengutamakan kedalaman, Bu Tong Pay yang mengutamakan kehalusan, Lembah Pualam Hijau yang mementingkan im berhawa dingin dan halus serta Kay Pang yang mengutamakan tenaga murni lelaki jejaka dan pukulan petir yang beraliran keras.
Kian Ti Hosiang dan Pek Sim Siansu yang tulus dan polos mengerti belaka bahwa mencapai kesempurnaan adalah dengan penyatuan “im” dan “yang” atau “luar” dan “dalam”. Sehingga sebetulnya pematangan mereka dimungkinkan melalui system saling memberi dan saling menerima. Setelah mencapai usia tua dan kebijaksanaan mereka meningkat tajam, serta nafsu menang juga sudah padam, maka sejak pertemuan ke-6 mereka kemudian meningkatkan kemampuan mereka secara sempurna dengan saling memberi dan menerima, disertai peningkatan kemampuan batin dan membuat mereka semua mampu melihat jauh kedepan.
Juga demikian dengan Kay Pang dan Lembah Pualam Hijau, mereka menemukan kenyataan bahwa kehalusan dan kekuatan mereka bisa saling menyempurnakan dengan cara yang sama. Hasilnya, mereka semua mengalami proses pematangan yang sama 10 tahun terakhir, kekuatan batin mereka menjadi demikian matang dan sempurna dan tidak mungkin lagi mereka saling berdusta satu dengan yang lain.
Bahkan dari pendalaman dan saling menyempurnakan inilah kemudian masing-masing menciptakan Ilmu Pamungkas dengan dasar utama ciri khas masing-masing perguruan. Ilmu-ilmu khas inilah yang kemudian akan bermunculan di dunia persilatan, bukan oleh para guru besar ini, tetapi oleh murid mereka masing-masing.
“Nampaknya kita kedatangan tamu” Ujar Kian Ti Hosiang sambil menundukkan kepala, dan kemudian si pendeta saleh ini menggerakan tangannya ke air sungai yang arusnya sedang menggila. Entah apa maksud kakek sakti ini, tetapi tentu bukan masin-main, dan terbukti tiba-tiba dia berseru:
“Kena” Ujarnya sambil berseru dan tidak lama kemudian dihadapan mereka terkapar 2 bocah yang memeluk erat-erat batang pohon tempat mereka berharap tetap hidup. Keduanya pingsan. Pingsan dengan cara yang menunjukkan kecerdikan mereka, tetap memeluk erat-erat pohon yang menjadi sandaran dan kesempatan mereka untuk tetap hidup. Tetapi, belum lagi semua sadar dengan kehadiran kedua bocah yang beruntung selamat dari banjir banding sungai yang menggila itu, tiba-tiba:
“Masih ada lagi” Sin Kay berseru dan nampak menggerakkan tangannya dan mengerahkan tenaga ke sungai, dan ajaib diapun mampu mengangkat seorang bocah yang kemudian ternyata adalah Liang Tek Hoat. Seperti kedua anak yang pertama, kali inipun anak yang terangkat oleh Kiong Siang Han juga pingsan dengan memeluk batang pohon yang lain.
Dan, seperti tidak mau kalah, nampak tiba-tiba Pek Sim Siansu juga mengerahkan tenaga ke tangan dan mengarahkan tangannya ke sungai:
“Satu lagi” Pek Sim Siansu ikut berseru dan dilakukannya hal tersebut bersamaan juga dengan Kiang Sin Liong yang juga berseru “Kena”. Dan dihadapan mereka bertambah 2 tubuh bocah kecil lainnya, yang semuanya pingsan seperti anak-anak yang lain.
Kecuali seorang anak yang terus menerus berdesis dalam sikap kosong jangan melawan, ikuti arus air, biarkan pikiran kosong, pasrah terhadap alam. Dialah anak terakhir yang diangkat dari sungai yang sednag membahana arusnya itu.
“Begitu banyak “tamu” kita hari ini” keluh Pek Sim Siansu sambil memandangi kelima anak yang sedang pingsan dan keadaan mereka sungguh sangat mengharukan.
“Siancai-siancai. Siansu, ini tanda keterikatan kita kembali dengan dunia. Kita masih ditolak nirwana, dan mungkin kita melihat semua bahwa mereka ini akan menjadi sinar bagi dunia yang sebentar lagi menjadi pekat” Ujar Kian Ti Hosiang.
“Nampaknya kita masing-masing telah memilih sesuai jodoh” Sin Kay menarik nafas setelah memandang dan mengerti melihat keganjilan di mata Kiang Sin Liong.
“Benar, kita telah secara tidak sengaja memilih pewaris kita masing-masing” Ujar Kiang Sin Liong. Hawa yang beredar di tubuh Thian Jie membuat Sin liong berkerut dan manggut-manggut. Terkejut dan heran melihat keadaan anak yang ditolongnya dari sungai itu.
“Baiklah, kita tetapkan demikian. Kian Ti Hosiang dengan demikian akan memiliki 2 orang anak yang bila tidak salah nampaknya keduanya kakak beradik kembar. Pek Sim mempunyai pewaris wanita, tulangnya sangat tepat bagi Liang Gie Sim Hwat, Sin Liong memiliki jika tidak salah keluarganya sendiri dan aku mempunyai anak ini. Kita sama telah melihat mendung bagi dunia persilatan, padahal kita tidak mungkin lagi menanganinya. Lembah Pualam Hijau sedang mengurus rumah tangganya, penerus di partai dan perkumpulan kita sedang merosot, maka tugas terakhir kita sebelum menyelesakan kehidupan di dunia. Liong Te, bagaimana menurutmu”? Sin Kay, memang sangat menghormati Sin Liong, karena dia paham betul meski yang termuda tetapi perkembangan Ilmu Sin Liong seperti tidak pernah habis.
“Benar twako. Kian Ti dan Pek Sim, jika tidak salah kemelut kali ini bukan hanya melawan kekuatan dari luar, tetapi juga dari dalam. Lohu menyedihkan kondisi Lembah kami, tetapi rasanya anak ini (menunjuk Thian Jie) akan bisa mencuci kekotoran lembah kami. Biarlah kita semua mempersiapkan mereka yang bertugas menggantikan kita seperti pada lebih 50 tahun berselang” Ujar Sin Liong.
Dan nampaknya orang tua yang lain manggut-manggut setuju dengan ucapan Kiong Siang Han dan Kiang Sin Liong. Bahkan terdengar Kian Ti Hosiang berkata:
“Baiklah, kita tetapkan demiian. Jika pinto tidak salah, pertemuan kita 10 tahun kedepan merupakan pertemuan 10 tahunan yang terakhir. Tanpa perlu berlomba kita sudah tahu akhir dan capaian murid kita masing-masing. Semoga Thian melindungi anak-anak ini, mereka akan terlibat dalam derasnya pergolakan Kang Ouw dan karena itu tugas kita menyiapkan mereka seperlunya”
“Tidak salah. Biarlah kita mendidik mereka masing-masing, meski belitan rindu dan dendam diantara mereka akan rumit, tetapi kegagahan mereka masih lebih berharga daripada kerumitan perasaan mereka” Sambung Pek Sim.
“Kian Ti, karena 10 tahun depan adalah pertemuan perpisahan kita, biarlah 10 tahun ini kita bekerja keras. Nampaknya mendung dunia persilatan akan bergantung kepada anak-anak ini. Liong Te, nampaknya buyutmu itu mengalami keanehan dan kegaiban, cuma lohu tidak yakin akan akhirnya. Biarlah Thian dan nasib mengantarnya kearah terang. Dan Pek Sim, anak gadismu itu juga memiliki bintang terang sebagaimana muridku. Sungguh ramai, sungguh ramai mereka nantinya” Sin Kay yang tertua akhirnya menyimpulkan semua percakapan dan diskusi mereka mengenai anak-anak yang secara aneh ditolong oleh orang yang kemudian menjadi guru mereka masing-masing.
Jika memang sudah jodoh, teramat sulit untuk mengelakkannya. Bila tidak jodoh, dikejarpun akan sangat sulit mencapainya. Jodoh, membuat kelima anak ini seperti mendapat durian runtuh, menjadi murid tokoh gaib. Padahal, ada jutaan anak yang dengan rela meminta, memohon atau bahkan rela membayar salah seorang diantara ke-4 kakek sakti ini untuk bersedia menjadi guru mereka.
Yang mencari dan memaksa, tidak mendapatkan. Yang tidak mencari, justru mendapatkan, itulah jodoh.
“Dan, biarlah kita berjumpa kembali 10 tahun kedepan” Sin Kay menutup kalimatnya dan kemudian berkelabat setelah memberi salam. Sekejap dan tubuhnya sudah hilang bersama Tek Hoat disusul dengan berkelabatnya Kian Ti Hosiang memanggul dua anak kembar dan Pek Sim yang membawa Mei Lan pergi.
Kakek renta Kiang Sin Liong mondar-mandir sambil bergumam “ajaib, ajaib, bagaimana mungkin tubuhnya penuh hawa Giok Ceng”?. Apakah Cun Le yang mengirimnya? Dan siapa pula nama anak ini? Tanda Giok Ceng di lengan kanan menandakan anak ini bermarga Kiang, pastilah buyutnya.
Tapi, kenapa pula tubuhnya penuh hawa Giok Ceng? Dan kenapa pula kepalanya nampak bersinar cerah dan aneh di mata batin Sin Liong? Dan banyak pertanyaan lainnya yang sulit dijawab, bahkan tidak terjawab sampai Kakek Sin Liong berkelabat lenyap membawa tubuh cucu buyutnya.
Tebing itu kembali hening. Hening seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi bahana bergemuruh masih terdengar meski tidak seheboh sejam sebelumnya. Nampak banjir banding itu masih belum surut, masih sanggup memporak-porandakan bahkan desa ataupun kota yang dilalui dan diterjangnya. Tetapi yang pasti, pada saatnya, mungkin malamnya, suasana akan kembali normal, seperti biasanya.



--0OO00—

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...