Kisah Para Naga
Eps-01
Udara sungguh bersih, sangat cerah malah. Sinar matahari
menerobos melalui celah dedaunan dari pohon-pohon berdaun jarang, sementara
kicau burung bertingkah menghadirkan suasana gemilang.
Keadaan ini, seharusnya membuat siapapun gembira. Betapa tidak,
berada di tengah keadaan yang begitu damai, pastilah akan menularkan kedamaian
dan ketenangan serupa. Tapi tidak bagi orang tua yang satu ini. Pakaiannya
sangat sederhana, layaknya orang pertengahan umur yang sedang menyepi dan mengais
ketenangan hidup.
Orang tua dengan rambut dan alis yang sebagian mulai memutih ini
terlihat berkali-kali menarik nafas panjang, seperti ada sesuatu yang sedang
dipikirkan dengan keras. Sungguh kontras dengan alam yang sedang cerah
gemilang.
“Kek, berhasil kek. aku berhasil, huraaa,” seorang anak kecil
yang sedang melakukan gerakan-gerakan silat tak jauh dari si orang tua
memecahkan keheningan. Usia anak itu paling banyak 9 tahun dan dia nampak
gembira karena berhasil melakukan beberapa gerakan yang baru dipelajarinya.
“Bagus Liong ji. Kamu mengalami kemajuan pesat,” puji si orang
tua menanggapi keriangan cucunya.
“Tapi masih banyak yang perlu kamu benahi untuk menjadi seperti
Ayahmu,” ujar si orang tua sambil mengelus-elus janggutnya.
“Tapi gerakan-gerakan ‘walet berkelit mengepakkan sayap’ yang
kakek ajarkan sudah bisa kulakukan,” kejar si bocah.
“Benar, tapi itu baru dasar dari gerakan-gerakan melatih
kelincahan tubuh kita. Besok Kakek akan mengajarkan dasar gerakan tubuh yang
lain buatmu. Tapi sekarang, kamu harus menyempurnakan gerakan itu,” Sahut si
orang tua menahan senyum.
Ketika si Bocah kembali sibuk dengan gerakan-gerakan dasarnya,
si orang tua kemudian bergumam. “Harus segera diputuskan, nampaknya waktu tidak
lama lagi,” gumam si orang tua sambil mengamati dan nampaknya dengan sangat
serius, keadaan alam, bahkan sambil memandang ke atas seakan sedang menghitung
awan.
“Ya, nampaknya, akan segera terjadi dan akan segera dimulai. Mudah-mudahan badai ini bisa reda tanpa korban yang terlalu berat. Dan mudah-mudahan benar, Liong ji mampu melewati badai yang teramat kelam ini”.
“Ya, nampaknya, akan segera terjadi dan akan segera dimulai. Mudah-mudahan badai ini bisa reda tanpa korban yang terlalu berat. Dan mudah-mudahan benar, Liong ji mampu melewati badai yang teramat kelam ini”.
Sang kakek kembali terbenam dalam lamunan dan
pertimbangan-pertimbangan rumitnya, sang cucu kembali dalam kesibukan mengolah
dan menempa gerakannya, sementara alam tetap ceria. Tapi, intuisi sang kakek
nampaknya membuatnya harus memutuskan sesuatu.
“Ya, memang aku harus segera memutuskannya, harus dimulai,”
gumamnya.
“Kita tidak oleh gagal.
Yang gagal lebih baik mengakhiri hidupnya daripada gerakan kita tercium sebelum
dimulai benar-benar.” Seorang berperawakan besar nampak sedang mengatur siasat
dengan belasan pengikutnya.
“Sasaran awal kita sebanyak empat Perguruan Silat menengah, harus tuntas hanya dalam waktu satu hari. Ingat, barisan ombak merah tidak boleh kalah dari barisan lain. Segera setelah tugas selesai, kembali berkumpul di bukit sebelah barat sana, bersama dengan barisan ombak lainnya, Kemudian kita akan menghilang untuk merencanakan gerakan selanjutnya. Semua siap?” Tanya sang pemimpin.
“Sasaran awal kita sebanyak empat Perguruan Silat menengah, harus tuntas hanya dalam waktu satu hari. Ingat, barisan ombak merah tidak boleh kalah dari barisan lain. Segera setelah tugas selesai, kembali berkumpul di bukit sebelah barat sana, bersama dengan barisan ombak lainnya, Kemudian kita akan menghilang untuk merencanakan gerakan selanjutnya. Semua siap?” Tanya sang pemimpin.
“Siap!!” serempak jawaban sekitar 12 orang anggota barisan merah
menyahut di hadapan sang pemimpin.
“Barisan merah 1 bersama regunya masuk melalui sisi kanan,”
seruan ini dengan segera ditanggapi secara tertib dan serius oleh barisan
kelompok pertama. Jumlah kelompok pertama ini ada sekitar 3 orang.
“Barisan merah 2 bersama regunya memasuki sisi kiri,” seruan dan
perintah ini diarahkan kepada barisan kedua yang juga berjumlah hamper sama
dengan barisan pertama, yakni sebanyak 3 orang.
“Sisanya memasuki pintu utama segera setelah mendengar dan
melihat tanda siulanku. Kita tetapkan dimulai sebagaimana kesepakatan dengan
Barisan warna biru, hijau dan kuning menjelang malam ini dan selesai secepatnya
untuk bergabung di bukit sebelah barat,” ujar si Pemimpin. Semua nampak
mengangguk-angguk paham dan tetap dalam barisan dengan sangat tertib dan
teratur.
PEK LIONG PAI, Perguruan Naga Putih. Papan nama megah itu nampak
menyuram, seiring dengan mentari yang semakin condong ke barat. Bersamaan
dengan itu, beberapa anak murid yang bertugas, mulai melakukan ronda menjelang
malam. Menyalakan obor di beberapa sudut dan menempati pos penerima tamu yang
sekaligus menjadi gerbang perguruan yang berada di sisi sebelah depan.
Bagian belakang Perguruan ini jarang didatangi orang, karena
langsung berbatasan dengan tebing yang sangat tinggi sehingga selalu diabaikan
untuk dijaga. Lagipula, di dekat tebing itu justru ketua Perguruan Naga Putih,
Can Thie San tinggal. Jikapun ada penyusup, masakan tidak diketahui dan
konangan oleh sang Ketua?
Dua orang murid yang bertugas jaga baru mau mulai bertugas
meronda ketika sebuah piauw berbentuk bintang laut berwarna merah berdesing dan
jatuh di halaman dalam. Keduanya terperanjat, akan tetapi dengan segera menjadi
lebih terperanjat lagi ketika tanpa mereka sadari, dalam hitungan sepersekian
detik seseorang dengan tutup wajah merah dan jubah merah lebar telah berdiri di
belakang mereka. Tanpa mereka sadari dan ketahui. Bahkan berdiri dengan
seramnya dibelakang mereka. Terlebih karena cahaya bulan berada dibelakang
manusia berjubah itu, membuat tampilannya menjadi semakin menyeramkan bagi
kedua penjaga itu.
“Bawa, Piauw bintang laut merah itu kepada ketuamu. Sampaikan
bahwa duta barisan ombak merah menunggu di halaman depan.” Terdengar ucapan
dengan nada yang sangat dingin dan menusuk dari Ketua Kelompok Barisan Merah
yang nampak menyeramkan itu.
Tapi, para penjaga itu segera menyadari keadaan, dan ketika
mulai menemukan kembali keberanian mereka, dengan segera seorang dari peronda
malam itu menggerutu dan memaki:
“Setan, siapa kamu gerangan hingga berani lancang tangan
memerintah kami anggota perguruan … ngek….” Belum selesai bicara, sang murid
yang lancang mulut itu telah terkulai. Lehernya tertembus sebuah piauw bintang
laut merah yang berukuran jauh lebih kecil dari tanda pengenal yang dilemparkan
sebagai tanda pengenal di halaman perguruan Naga Putih tadi.
Murid atau penjaga malam yang satunya lagi terbelalak kaget dan
menjadi sangat ketakutan. Betapa tidak, dia tidak melihat dan tidak sanggup
mengikuti kibasan tangan duta ombak merah, tahu-tahu kawannya sudah terkulai
tewas dengan leher tertembus piauw bintang laut merah yang kecil. Sebentar
kemudian, suara dingin dan menusuk itu kembali terdengar:
“Mau sok hebat seperti kawanmu, atau segera masuk dan memanggil
ketuamu?” Kalimat ini diiringi dengan dengusan sang ketua barisan yang menjadi
agak marah karena terusik oleh penjaga yang dibunuhnya barusan dengan sebuah
kibasan piauw bintang laut merah.
“Ba … ba …. Baik tuan, silahkan tunggu di sini….” murid yang
satu lagi dengan gemetar, kecut dan ketakutan segera memutar balikkan tubuhnya
untuk memasuki ruangan dalam guna memberitahu kawan-kawan dan ketuanya.
Tetapi tiba-tiba, “siiiiinnnng”, terdengar desingan yang lain
yang kemudian menghadirkan rasa dingin di lehernya dan entah bagaimana
tiba-tiba dia merasa kesakitan pada bagian telinganya, dan terasa sakit dan
darah, sebuah telinganya tiba-tiba terlepas.
“Aduh” jeritnya kesakitan, tapi ketakutan membuatnya tidak
berhenti dan malah berlari masuk sambil membekap bekas telinga kirinya yang
kini buntung oleh si jubah merah yang sangat ganas dan telengas, bukan saja
membunuh kawannya tetapi juga memapas telinganya hingga buntung dan membuatnya
sangat ketakutan.
Tidak beberapa lama kemudian, sekitar 20-an murid Pek Liong Pai
berduyun-duyun keluar dan dengan marah, dan maju bergerombol di depan Sang
ketua Barisan Merah. Sang ketua barisan tetap berdiri menyeramkan dan nampak
angkuh menghadapi demikian banyak anak murid Pek Liong Pai yang datang
mengerubutinya.
Nampak jelas bila si ketua barisan merah sama sekali tidak
menganggap para murid ini sebagai orang-orang yang membahayakan dan bahkan
tidak mengindahkan para murid yang murka melihat tubuh salah seorang teman
mereka terbujur dihalaman dengan leher tertembus piauw kecil.
“Setan, siapa kamu yang begitu berani menyatroni perguruan
kami?” Seorang yang cukup berwibawa bertanya dengan muka masam kepada si duta.
Menjadi makin masam begitu melihat mayat salah seorang muridnya yang terkulai
dengan leher tertembus piauw di depannya.
“Apakah kamu yang membunuhnya?” Tanya orang itu yang ternyata
adalah Murid Kepala Can Thie San bernama Li Bu San, yang nampak menjadi semakin
marah memandang si Pemimpin Barisan Merah
“Benar, dan siapa pula kamu?” Dengus sang pemimpin barisan merah
dengan nada menghina dan tidak memandang sebelah mata.
“Li Bu San, Murid kepala Pek Liong Pay…” Jawab Li Bu San lantang
dibarengi kemarahan akibat seorang murid terluka dan seorang lagi tewas.
Sungguh sombong dan telengas orang ini, pikirnya.
“Kau belum cukup berhak untuk berhadapan denganku. Panggil
ketuamu atau korban akan menjadi semakin besar….” dengus si pemimpin yang
membuat Li Bu San tambah naik pitam. Betapapun dia adalah murid kepala sang
Ketua dan memiliki wewenang besar di perguruannya.
Sementara itu, lebih 20-an lagi murid Pek Liong Pay keluar dan
mereka serentak mulai mengambil sikap untuk mengurung pemimpin barisan Merah
yang sombong dan memuakkan itu.
Tapi tiba-tiba sang pemimpin barisan merag mengibaskan tangannya
sambil kemudian sebuah siulan panjang terdengar dari bibirnya. Dan dalam waktu
yang tidak lama, kepungan para murid Pek Liong Pay buyar, sebagian besar
terlempar kebelakang meski tidak terluka, hanya terdorong oleh hempasan
membadai dari tangan Sang pemimpin barisan merah yang ternyata sangat lihay bagi
para murid Pek Liong Pay.
Sementara di belakang sang pemimpin barisan merah, sejurus
kemudian dalam waktu yang tidak lama telah bertambah dengan 6 orang lain dengan
tubuh bersaputkan kain merah dan wajah juga tertutup kain merah. Bedanya dengan
Pemimpin Barisan Merah adalah, adalah warna jubahnya yang lebih pekat
dibandingkan dengan anak buahnya.
“Jangan memaksa kami menurunkan tangan lebih kejam. Kami ingin
bekerjasama dengan kalian, tetapi bila kalian mengambil jalan kekerasan, kami
tidak segan-segan menurunkan tangan kejam…” Si pemimpin barisan merah
mengancam. Bahkan ancamannya sudah dibuktikan dengan tak segan-segannya dia
membunuh dan melukai orang, meski dihadapan banyak anak murid perguruan itu.
“Apa kehendak kalian sebenarnya” Bertanya Li Bu San mewakili
gurunya dan tentu kawan-kawan perguruan dan murid-muridnya.
“Kau tidak berhak bertanya jawab denganku. Jika Ketua Kalian
berkeras tidak mau menghadapi kami, maka jangan salahkan bila kami melepas
tangan kejam untuk murid-muridnya. Cukup kamu tahu, bahwa kami tidak berpantang
melakukan pembunuhan, termasuk membunuh seluruh anak murid Pek Liong Pay
apabila memang dibutuhkan…” Hebat bukan main ucapan pemimpin barisan merah ini,
sampai-sampai wajah Li Bu San menjadi pucat menahan kemendongkolan dan kemarahan
yang memenuhi relung dadanya.
“Tahan, ada apa malam-malam orang mencariku?” Sebuah suara
diikuti tindakan lebar dibarengi pengerahan tenaga mendatangi ke halaman depan.
Dan tidak berapa lama kemudian nampak berdiri gagah seorang berumur pertengahan
dan yang dengan cepat semua murid termasuk Li Bu San menghormat sambil berkata:
“hormat Pangcu”. Tapi orang itu hanya memandang sekilas untuk kemudian matanya
beralih kepada si pendatang, pemimpin barisan merah bersama anak buah yang
menyertainya. Wajahnya berkernit sekejap melihat sudah ada anak muridnya yang
menjadi korban dan ada yang terluka.
“Apakah kau, Ketua Pek Liong Pay?” Tanya pemimpin barisan merah
ketika orang yang baru datang memandang kearah kelompok barisan merah dan
dirinya seakan bertanya-tanya siapa mereka gerangan.
“Benar, Can Thie San, Ketua Pek Liong Pay” Jawab sang Ketua yang
kemudian dari belakangnya keluar pula anak laki-lakinya, Can Liong dan
selanjutnya berdiri di sebelah kiri dan istrinya berdiri di sebelah kanan
seakan mengapit Can Thie San ditengah mereka berdua..
Tapi ketika melihat piauw Bintang Laut Merah di tengah halaman,
wajah Can Thie San nampak berubah hebat. Apalagi ketika melihat bahwa Barisan
Merah telah hampir lengkap, sudah ada 6 orang, dan berarti masih ada 2 sayap lainnya
yang menunggu untuk bergabung. Sebagai seorang tokoh dan ketua perguruan, Can
Thie San sudah maklum apa yang akan terjadi. Sesuatu yang membahayakan dirinya,
perguruannya, semua anak muridnya dan tentu juga keluarganya.
“Apa yang kalian kehendaki?” Tanya Can Thie San
“Meminta Pek Liong Pay tunduk kepada kami, dan kemudian bekerjasama untuk menguasai dunia persilatan. Jika ditolak, maka berarti bermusuhan, dan Barisan Merah tidak segan melakukan pembunuhan dan pembasmian….” Sahut pemimpin barisan merah dingin dan tajam menusuk.
“Meminta Pek Liong Pay tunduk kepada kami, dan kemudian bekerjasama untuk menguasai dunia persilatan. Jika ditolak, maka berarti bermusuhan, dan Barisan Merah tidak segan melakukan pembunuhan dan pembasmian….” Sahut pemimpin barisan merah dingin dan tajam menusuk.
Wajah Can Thie San nampak makin kelam. Dia tahu dan sadar belaka
dengan siapa dia kini berhadapan. Di Lautan sebelah selatan, Can Thie San tahu
bahwa ada sebuah Perkumpulan Misterius yang sangat ambisius dan memiliki 4
barisan utama, yakni barisan merah, barisan biru, barisan hijau dan kuning.
Jangankan dengan barisan itu, dengan duta yang menjadi kepala
dari barisan itu, dia sadar betul masih belum nempil menjadi lawannya. Apalagi
menghadapi barisan yang dia dengar, bila bergerak tidak akan menyisakan orang
yang berada di tengah barisan itu.
Can Thie San juga sadar, meski masih belum pernah tampil di
Tionggoan, Ketua Perkumpulan misterius ini, dikabarkan tanpa tanding. Atau
sulit dicarikan tandingannya, karena kesaktiannya yang luar biasa, sehingga
bahkan barisannya saja sudah demikian sakti. Anehnya, mau apa mereka memasuki
Tionggoan setelah puluhan tahun berdiam di lautan selatan? Apakah ada sesuatu
yang berubah ataukah tiba-tiba muncul ambisi mereka untuk berkuasa juga di Tionggoan?
Banyak pertanyaan di benak Can Thie San, tetapi sayangnya tidak
semua bisa ditanyakannya kepada pemimpin barisan merah yang dia tahu juga
sangat lihay dan ganas, dan mengahdirkan ancaman baginya, keluarganya dan
perguruannya.
Tetapi, sebagai seorang Ketua sebuah Perguruan, meski bukan
perguruan terbesar dalam dunia persilatan Tionggoan, dalam waktu sekejap, Can
Thie San sudah mengambil keputusan. Setidaknya, dia berharap anaknya Can Liong
dan istrinya boleh luput dari sergapan dan pembantaian oleh barisan merah yang
menakutkan ini.
Meskipun nampaknya berat, tetapi demi kegagahan dia harus
mempertahankan kehormatannya. Betapapun kecilnya Pek Liong Pay, tetapi
kehormatan sebagai kaum persilatan harus dijaganya, dan justru karena
berpikiran demikian maka Can Thie San menjadi pasrah, dan karena itu, dengan
tegas dia berkata:
“Baik, bagaimana jika diputuskan bahwa siapa yang menang dia
berhak menentukan nasib yang kalah?”
“Suhu” murid-muridnya menjerit kaget, sungguh luar biasa apa
yang diucapkan guru mereka. Dari semua murid, hanya Li Bu San yang bisa
memahami makna dari ucapan yang keluar dari mulut suhunya, karena sedikit
banyak dia sudah mendengar kehebatan dan keganasan Barisan merah ini.
“Sudah kutetapkan demikian, entah bagaimana pemikiran pemimpin
Barisan Merah?” Tanya Can Thie San
“Kami perlu dukungan dan kerjasama banyak perguruan. Karena itu,
pikirkan sekali lagi Can Thie San, menakluk dan bekerjasama dengan kami atau
terpaksa kami membuka jalan darah….” sahut pemimpin barisan Merah.
“Beri aku waktu untuk mencoba merundingkan beberapa hal dengan
murid kepalaku…” Can Thie San berkata kepada pemimpin Barisan Merah, sebuah
upaya lain untuk mengulur waktu buat meloloskan putranya dan istrinya dari
marabahaya yang mengancam.
“Silahkan” Jawab Sang pemimpin.
Can Thie San menghampiri istri dan anaknya dan nampaknya
berusaha memberikan beberapa pengertian serta juga beberapa pesan yang mesti
dilakukan menghadapi bahaya ini. Nampak anaknya seperti tidak setuju, tetapi
ayahnya tetap berkeras karena sadar betul kekuatan yang sedang mereka hadapi,
sebuah kekuatan yang tak tertahankan bagi mereka.
Pada akhirnya, Can Liong nampaknya mengangguk berat, sangat
berat hatinya harus meninggalkan ayahnya bertarung tanpa keyakinan menang,
sementara dia merat bersama ibunya. Semuanya tidak lepas dari pengamatan
Pemimpin Barisan Merah, bahkan dengan jelas dia mendengar percakapan mereka
melalui telinganya yang tajam.
Pemimpin Barisan Merah hanya memandang diam, dia tahu sayap kiri
kanan akan menyelesaikan yang tersisa ataupun siapa saja yang akan tersisa dan
lolos dari halaman depan. Sementara itu, Can Thie San setelah menerima anggukan
persetujuan istri dan anaknya, kemudian menghampiri murid-muridnya dan
mengeluarkan pesan-pesannya yang dimintanya untuk ditaati oleh murid-muridnya:
“Seandainya Gurumu kalah, ingatlah selalu untuk menegakkan
kebenaran. Bukan masalah hidup atau mati yang penting, tapi bagaimana
kehormatan dan kegagahan ditegakkan. Jika aku beruntung menang, tidak akan ada
masalah. Jika tidak, Li Bu San, tolong kau perhatikan nantinya….”
Li Bu San mengangguk-angguk sambil menyatakan “Iya suhu,
hati-hatilah”.
Can Thie San kemudian menghampiri Sang Duta dan menyatakan,
“silahkan, kita mulai, kami memutuskan untuk melawan dengan kehormatan dan
kegagahan kami”.
Tapi Sang pemimpin barisan merah dengan dingin dan tenang malah
menyatakan, “jika dalam 5 jurus kamu mampu bertahan, kami akan berlalu. Tapi
bila kami menang, maka Perguruan ini akan segera kami musnahkan karena berani
menentang perintah menakluki…”
Perkataan ini disambut dengan gerengan marah murid-murid Pek
Liong Pay yang merasa sangat terhina oleh ucapan pemimpin barisan merah yang
bukan hanya menghina, tetapi bahkan mengancam akan membunuh mereka semua.
Begitupun, ucapan 5 jurus ini, membuat semangat Can Thie San
bangkit lagi. “Masakan bertahan 5 juruspun aku tak sanggup?” pikirnya, dan
membuatnya seperti mendapatkan dorongan moral dan semangat baru untuk
mempertahankan hidupnya dan perguruannya.
Dengan segera dia mengempos tenaga dan dengan sengaja dia
kemudian menetapkan memilih dan mengeluarkan serta mengerahkan jurus-jurus
terampuh dari perguruan yang diciptakan ayahnya berdasarkan Jurus Kibasan Naga
Putih.
Pada saat menyerang, tangan dan kakinya bergerak kuat dan dengan
segera menerpa menyerang kearah pinggang dan kaki pemimpin barisan Merah. Tapi
sayang, baik kegesitan maupun tenaga, nampaknya Can Thie San masih terpaut
cukup jauh dari pemimpin barisan Merah yang digdaya itu. Hanya dengan menggeser
1 langkah kekiri, menyentil pergelangan tangan dan kemudian mengegos perlahan
dan santai, 3 jurus ampuh Naga Putih sudah bisa dipunahkannya.
Dan ketika Can Thie San melancarkan Serangan “Naga Putih
Berontak”, dengan kedua tangan mendorong ke depan kemudian cepat melingkar
dengan serangan kaki kanan, disertai tenaga yang hebat, pemimpin barisan Merah
dengan gesit menghindar.
Bahkan kemudian bukan hanya menghindar sebuah sodokan yang
nampaknya perlahan saja, secara aneh dan telak telah nyelonong ke dada Can Thie
San yang segera terlontar ke belakang dan dan kemudian dari mulutnya
menyeburlah darah segar.
“Can Thie San, kau sudah kalah. Aku hanya memainkan 4 jurus, 3
jurus mengelak dan sebuah jurus menyerang, dan itu sudah cukup mejatuhkanmu.
Maafkan, bila barisan merah terpaksa memaksa Pek Liong Pay untuk terbasmi…” Berkata
pemimpin Barisan Merah kepada Can Thie San yang jatuh terduduk dengan darah
berceceran disampingnya dan mengotori juga jubahnya.
Tiba-tiba, suara siulan pemimpin barisan merah kembali
terdengar, sebuah perintah untuk turun tangan kepada barisan merah, baik yang
bersamanya maupun yang masuk melalui pintu kiri dan pintu kanan perguruan Pek
Liong Pay sebagaimana yang mereka rencanakan.
Dan bersamaan dengan itu, nampak murid-murid Pek Liong Pay juga
bergerak, malah nampaknya Li Bu San mendahului mendekati pemimpin Barisan Merah
dan dengan garang menantang untuk bertempur dengan si pemimpin:
“Aku akan minta pengajaranmu…” Li Bu San nekat maju menyerang
pemimpin barisan merah, dan langkahnya diikuti oleh beberapa murid lain yang
merasa muak dan marah dengan kesombongan pemimpin barisan merah. Tetapi hanya
dengan menggeser kaki kekanan, diikuti sebuah sodokan pemimpin barisan merah
telah melontarkan Li Bu San kembali ke tempatnya.
Li Bu San yang keras kepala kemudian malah menghunus pedangnya
dan dengan lantang berseru, “Kita lawan”, dan seruannya diiringi dengan
sambutan murid-murid lain yang dengan segera ikut menggempur Barisan Merah yang
juga sudah menerima perintah melalui siulan untuk membasmi Pek Liong Pay.
Maka dimulailah proses perkelahian dan pertempuran yang lebih
mirip pembantaian anak murid Pek Liong Pay. Pertempuran yang berat sebelah itu
berlangsung timpang, meskipun Pek Liong Pay menang jumlah, malah sangat banyak,
tetapi kemampuan mereka bertempur masih sangat jauh dibandingkan dengan kekuatan
Barisan Merah.
Barisan ini seakan-akan bermain-main dengan mencabut nyawa
kekiri dan kekanan, dan tidak lama kemudian anak murid Pek Liong Pay sudah pada
bergelimpangan menjadi korban, tak satupun tersisa. Bahkan Can Thie San dan
juga Lu Bu San menjadi korban diantara mayat bergelimpangan dihalaman perguruan
mereka.
Bahkan Can Liong bersama ibunya yang mengambil jalan belakang
sesuai pesan ayahnya, juga ikutan menjadi korban. Pek Liong Pay akhirnya jatuh
dan terbasmi habis oleh di tangan Perguruan Misterius dari Lautan Selatan yang
menyerang dan menyerbu dengan barisan merahnya.
Hari itu, 4 perguruan kelas menengah menjadi korban. Dari
keempat perguruan itu, hanya 1 perguruan yang menakluk dan dikuasai. Sementara
sisanya, 3 perguruan lain dibasmi habis sampai keakar-akarnya. Setidaknya hampr
200 orang tewas dalam pembasmian, dimana hampir tiada seorangpun anggota
perguruan 3 perguruan yang melawan yang tertinggal, semua mati terbantai secara
mengerikan.
Bahkan juga anggota keluarga pemimpin perguruan itu, ditemukan
tewas dengan cara yang hampir sama. Perguruan yang menakluk itu dan selamat,
kini dikuasai oleh Perguruan Misterius yang nampaknya berkeinginan melebarkan
sayap ke Tionggoan. Perlawanan pek Liong Pay bersama 2 perguruan lainnya
terlampau lemah dan sangat mudah di kuasai
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...