EPS-2
“Hiyaaaa, hiyaaaa,” Sang kusir mengemudikan keretanya dengan
tenang dan mengatur kuda-kuda penarik agar tidak rewel. Keretapun berjalan
teratur, getaran-getarannya memang tidak mungkin tidak terasa, tapi bagi banyak
orang, terlebih pejabat Negeri, naik kereta tentu lebih bergengsi ketimbang
jalan kaki. Selain tentu, memang tepat untuk memanjakan kemalasan berjalan
kaki. Bahkan lebih dari itu, berkereta adalah lambang status.
Isi kereta itu, dengan mudah bisa ditebak, tentulah bukanlah
orang biasa. Bukan orang kebanyakan. Tentu tidak. Isinya adalah salah seorang
adik Kaisar, yang dikenal dengan nama Pangeran Liang Tek Hong. Seorang adik
tiri.
Pangeran ini sungguh sangat terkenal dengan reputasi berbeda di
kalangan berbeda. Pangeran Liang bertingkah sebaliknya dengan Kaisar yang
adalah Kakak tirinya, berlainan ibu sebagai turunan Kaisar sebelumnya. Kaisar
yang sekarang, Kaisar Liang Tai Po, adalah kaisar yang lemah, hobynya
bersenang-senang dan jatuh di bawah pengaruh para kaum kebiri (thaikam) yang
pandai menyediakan wanita dan pandai bermulut manis.
Kekuasaan tertinggi memang masih di tangan Kaisar, tetapi
kemudinya sudah benar-benar di tangan Perdana Menteri Kerajaan yang dengan
mulut manisnya mampu mengatur kebijakan Kerajaan. Bahkan Pangeran Liang Tek
Hongpun sampai tidak mampu menyainginya.
Dan di mata Perdana Menteri ini, Pangeran Liang sungguh sangat
menyebalkan, dianggap sebagai ancaman, dan hanya karena Pangeran Liang adalah
adik Kaisar maka Sang Perdana Menteri masih menaruh segan.
Pangeran ini, berbeda dengan bangsawan pada umumnya, tidak
menarik garis yang jauh dengan masyarakatnya. Dia disenangi dan disegani baik
oleh para patriot yang mulai berani menentang Raja yang malas, dan korupsi para
thaikam. Juga dia disegani banyak pejabat karena tegas dan selalu berpegang
pada prinsip pemerintahan yang baik. Tentunya para pejabat yang masih
mempergunakan nurani dan liangsimnya.
Karena itu, jika Pangeran Liang dianggap berbahaya oleh para
Thaikam dan oleh Perdana Menteri Kerajaan, disisi lain ia sangat disegani para
patriot dan terlebih rakyat yang mengenalnya. Bahkan, pergaulannya dengan kaum
kelana dan kaum dunia persilatan sungguhlah akrab.
Tidak jarang di waktu malam dia bercakap-cakap dengan salah
seorang atau beberapa tokoh kang-ow sekaligus yang senang datang
mengunjunginya. Dia juga tidak segan menyapa rakyatnya dan bahkan menolong
mereka yang ditemuinya dalam kesulitan. Karena kedekatannya dengan rakyat serta
hubungannya dengan kaisar itulah yang membuat para thaikam takut mengganggunya.
Pangeran Liang mempunyai empat orang anak, anak pertama seorang
anak laki-laki berusia hampir 11 tahun bernama Liang Tek Hu. Anak yang kedua
juga anak laki-laki bernama Liang Tek Hoat berusia hamper 8 tahun, sementara
anak ketiga dan keempat adalah wanita, masing-masing berusia 7 dan 2 tahun
bernama Liang Mei Lan dan Liang Mei Lin.
Jika Tek Hu mirip ibunya yang halus dan pendiam serta berwibawa,
sebaliknya Tek Hoat seperti ayahnya, ramah, mudah bergaul, mudah beradaptasi
dan supel. Pembawaannya selalu riang dan memberi pengaruh kepada orang-orang
yang berada disekitarnya.
Sementara anak perempuan sang Pangeran, Mei Lan cenderung galak,
tetapi sangat mudah tersentuh dan mengasihi orang yang menderita. Mei Lan sejak
kecil, meski berbeda usia hanya setahun dengtan kakak keduanya Tek Hoat, sangat
erat dan lebih dekat dengan kakak keduanya itu dibandingkan kakak sulungnya.
Sementara Mei Lin masih belum ketahuan tabiatnya. Ketiga anak Pangeran
ini, sudah sejak kecil diajari sastra dan baca tulis, dan di bidang ini Tek Hu
sangat menonjol melebihi kedua adiknya, tetapi untuk dasar dan gerak silat yang
dipercayakan kepada seorang guru silat sewaan di kota raja Hang Chouw, justru
Tek Hoat dan Mei Lan yang nampak sangat antusias dan sudah jelas jauh lebih
berbakat. Bahkan beberapa tokoh silat pernah mengutarakan hal ini kepada sang
Pangeran.
Hari itu, Pangeran Liang sedang mengadakan perjalanan dengan
hanya diiringi 5 orang prajurit disekitar kota raja Hang Chouw. Bersama sang
pangeran adalah anak kedua Liang Tek Hoat serta anak ketiga Liang Mei Lan,
karena kedua anak inilah yang paling dekat dengannya. Sementara anak sulungnya,
Tek Hu lebih dekat kepada ibunya ketimbang ayahnya. Keduanya, nampak mewarisi
kegagahan ayahnya meskipun usia mereka masih teramat sangat belia.
Sepanjang perjalanan, kegembiraan kedua bocah ini, justru
menggembirakan ayahnya dan merupakan hiburan tersendiri bagi sang Pangeran yang
memang mengajak kedua anaknya ini untuk hanya sekedar berjalan-jalan di luar
kota raja sambil melepas kepenatan.
Sayangnya sang Pangeran tidak menyadari jika perjalanannya kali
ini sudah dan sedang diintai maut. Ketika situasi politik dan hubungan Kerajaan
Sung Selatan memasuki masa kritis dengan kerajaan tetangganya, maka kondisi
politik seputar istana juga memanas.
Maka, beberapa pejabat termasuk patih atau perdana menteri
Kerajaan melakukan upaya memperkuat diri dengan menyewa beberapa tokoh dunia
hitam untuk membantunya. Tentunya dengan iming-iming uang dan kemewahan. Ada
lagikah motif lain bagi orang dengan pekerjaan membunuh selain uang banyak,
kemewahan dan ganjaran-ganjaran lain yang serba menyenangkan? Karena, dimanakah
uang akan ditolak orang? Penjahat manakah yang tidak tergoda dengan uang
melimpah dan hidup nyaman? Para politisi kerajaan pasti paham dengan rumus ini.
Ketika memasuki pinggiran hutan sebelah barat yang agak sepi dan
berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Hang Chouw, seorang
Laki-laki pesolek nampak seperti berjalan santai dan normal saja dari arah
berlawanan dengan kereta sang Pangeran. Orang tersebut nampak sangat aneh dan
bernyanyi-nyanyi dengan nada aneh:
“Aduhai dinda, dimanakah engkau?” nyanyian dengan tetap maju
seakan tidak takut tabrakan dengan kereta. Ataukah memang dia sengaja ingin
menabrakkan dirinya dengan kereta?
“Duhai dinda, lihat betapa kejamnya kuda-kuda itu…” lanjutnya
sambil tetap terus bernyanyi.
“Duhai dinda, betapa kerasnya para prajurit bodoh itu…” Dia
tetap bernyanyi dan makin dekat dengan kereta, semakin dekat dan dekat dengan
tiada tanda-tanda si pendatang menghentikan langkahnya agar tidak tabrakan.
“Hei, pria pesolek, minggir, mau ditabrak ya?” gertak prajurit
dari jauh yang khawatir juga bila benar terjadi tabrakan dengan si pria pesolek
yang tidak mau menyingkir dari jalanan.
“Duhai dinda, dengar gertak sambal prajurit bodoh…” justru si
pria pesolek tetap bernyanyi dan sekarang malah bernyanyi sambil mengejek dan
mencela para prajurit yang mendampingi Pangeran.
Sementara itu sang kusir mulai memperlambat kereta, betapapun
dia juga khawatir jangan sampai terjadi tabrakan.
“Duhai dinda, sang kusir lumayan baik. Tapi isi keretanya tetap
penting…” si pesolek terus bernyanyi, dan terus melangkah maju, bahkan nampak
akan terus maju seandainya kereta tak berhenti sekalipun.
“Ada apa?” Pangeran Liang bertanya kepada Kusir ketika merasa
kereta melambat dan kemudian malah berhenti.
“Aaaa, anu, anu Pangeran, ada orang gila sedang menghadang di
jalanan” sang kusir menjawab
“Ah, yang benar. Mana mungkin hari begini ada yang menghadang
jalannya kereta...” Pangeran Liang kemudian mencoba turun dari kereta sambil
sebelumnya menenangkan anak-anaknya dan meminta mereka untuk tetap di dalam
kereta.
“Paman kusir, siapa yang menghadang?” suara anak laki-laki yang
nyaring gembira terdengar.
“Barangkali bukan menghadang, mungkin ada yang perlu dibantu…”
sambut suara anak perempuan
Sementara Pangeran Liang dengan sabar setelah turun dari kereta
dan melihatn keberadaan si pesolek yang berhadapan dengan keretanya kemudian
menyapanya.
“Saudara, ada keperluan apa gerangan menghentikan kereta kami?”
bertanya sang Pangeran dengan ramah seperti biasanya.
“Duhai dinda, orang ini memang sopan. Sayang tetap harus
dihabisi…” si Pesolek tetap berceloteh.
“Apa maksud saudara?” Tanya pangeran Liang tercekat. Mulai khawatir juga karena orang yang disapanya nampak menunjukkan gejala yang aneh, jangan jangan orang ini utusan para pejabat yang sentiment terhadapnya dan yang ingin menghilangkan nyawanya.
“Apa maksud saudara?” Tanya pangeran Liang tercekat. Mulai khawatir juga karena orang yang disapanya nampak menunjukkan gejala yang aneh, jangan jangan orang ini utusan para pejabat yang sentiment terhadapnya dan yang ingin menghilangkan nyawanya.
Sementara itu, salah seorang pengawal Pangeran yang melihat
lagak tengil dan tidak hormat kepada junjungannya menjadi sangat marah dan
dengan keras menegur si penghadang:
“Kurang ajar, berani kau menghina Pangeran?” seruannya tersebut
bahkan sudah diikuti dengan tindakannya yang nekat dengan menyerang si Pesolek
yang dianggapnya tidak tahu aturan.
“Ah, lalat bodoh, mengganggu saja…..” dengan santai si Pesolek
mengibaskan lengan kanan, dan akibatnya si prajurit melayang jauh dan jatuh
setelah menabrak sebatang pohon di pinggir jalan.
Kejadian mencengangkan ini membuat kuncup nyali para prajurit,
tetapi sebaliknya membangkitkan rasa kagum di hati Tek Hoat dan Mei Lan.
Bukannya takut, anak-anak itu malahan kagum melihat si pesolek mampu menerjang
dan menerbangkan seorang pengawal.
“Wuah, ayah, paman pesolek ini hebat juga. Kelihatannya lebih
hebat dari Guru Liu..” kata Tek Hoat yang sudah turun dari kereta bersama
adiknya sambil mendekati ayahnya yang juga nampak tertegun dan sadar sedang
berhadapan dengan orang pandai. Pergaulannya dengan para tokoh dunia persilatan
telah membuatnya awas terhadap tanda-tanda seorang yang berkepandaian tinggi
seperti yang dilihatnya dalam diri penghadangnya.
“Saudara hebat sekali, tetapi apa salahnya seorang prajurit
seperti itu sampai dicederai dengan begitu beratnya?” Pangeran Liang menegur si
pesolek meskipun sadar resikonya. Tetapi kegagahannya membuatnya tetap berkeras
menegur si pesolek itu.
“Duhai dinda, Pangeran ini memang ramah dan sopan. Sayang
perintahnya jelas, habisi dia….” kicau si Pesolek dengan mata memandang kagum
terhadap Tek Hoat yang gagah dan juga Mei Lan yang menyusul tiba dengan tidak
menunjukkan rasa takut, malah rasa kagum.
“Duhai dinda, anak-anaknya juga sangat mengagumkan, sungguh
anak-anak yang menggemaskan…”
Sementara para prajurit meskipun dengan rasa gentar, tetapi
tetap menunjukkan kehormatan dan kegagahan mereka, terutama kesetiaan mereka
terhadap junjungan mereka, pangeran Liang. Pangeran ini, bagi mereka sungguh
sangat dihormati, karena memperlakukan mereka sangat baik dan sangat bersahaja.
Karena itu, mereka mengeraskan hati untuk membela Pangeran yang mereka hormati
dan junjung itu.
Sambil memandang sekilas kepada para prajurit, dan dengan tidak
memandang sebelah mata, si pesolek mengalihkan perhatiannya kepada kedua anak
yang mengundang kekagumannya, dan terakhir memandang Pangeran Liang.
“Pangeran, anda membuat saya kagum, tapi sayang tugasku harus
membunuhmu. Sungguh sayang, tapi jangan takut, aku dan temanku pastilah tidak
akan merusak tubuhmu, karena kami nampaknya tertarik dengan anak2mu yang gagah
ini…” bekata si Pesolek.
“Ah, paman yang baik, mengapa siang-siang mau pakai bunuh
segala” Tek Hoat menyela, berani dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan
ataupun jeri terhadap si pesolek.
“Bukankah membunuh manusia sangat dilarang”? tambahnya mencerca
si pesolek.
“Hoat ji, mundur” Pangeran Liang menarik mundur anaknya, dan
meskipun bangga dengan keberaniannya tetapi menjadi khawatir dicelakai atau
malah disulik si Pesolek yang tadi mengakui kagum terhadap anak-anaknya.
“Jangan ayah, dia mau membunuh ayah” Tek Hoat berkeras.
“Tidak, mundur ke belakang, biar ayah yang berhadapan
dengannya…” Pangeran berkeras dan mendesak anaknya ke belakang. Tetapi Tek Hoat
nampaknya tetap berkeras untuk tidak bersembunyi.
“Hahahaha, mengharukan. Duhai dinda, lihat betapa hebat anak
itu, tetapi juga betapa gagah korban kita kali ini” si Pesolek kembali berkicau
“Baik, majulah bila kalian ingin membunuhku. Tapi, tolong jangan
mencelakai anak-anakku” Pangeran Liang maju di depan anak-anaknya dan menjadi
sadar sedang berhadapan dengan siapa.
Dia teringat sepasang manusia aneh dari Selatan, si pria senang
bersolek dan gampang dikenali dengan kalimat yang hampir selalu ada kata-kata
“duhai dinda”, dan si wanita pasangannya yang justru berpakaian awut-awutan
meskipun sangat cantik. Dua pasangan aneh ini dikenal sangat sakti dan terkenal
sulit menemukan tandingan di Selatan. Tapi nampaknya kali ini mereka sedang
mengerjakan tugas orang lain yang sengaja membayar mereka.
“Heran, siapakah yang berhasil menyewa mereka untuk membunuhku?”
pangeran Liang bertanya keheranan dalam hati sekaligus dengan penuh
kekhawatiran.
“Jangan takut pangeran, aku sudah berjanji tidak akan merusak
tubuhmu…” Sang pesolek bersiap-siap. Dan Pangeran Liang maklum belaka bahwa
orang aneh ini pasti sanggup mengerjakannya. Apalagi dari kawan-kawan Kang Ouw
dia tahu kedua orang ini memiliki sejenis Ilmu Beracun yang sangat ampuh, bukan
melalui senjata tetapi hawa pukulan.
Meskipun mereka berdua memiliki hawa beracun yang sangat lihai
dan kuat, tetapi mereka tidak dilengkapi dengan senjata-senjata beracun, saking
percayanya dengan kekuatan hawa beracun pada pukulan mereka yang mereka namakan
Hwe Tok Sin Ciang (Tangan Api Sakti Beracun).
Dengan pukulan inilah mereka sering malang melintang di dunia
kang ouw khususnya di daerah selatan dan jarang sekali menemukan lawan sepadan
bertahun-tahun terakhir ini. Itu juga sebabnya si pesolek merasa sanggup
mengerjakan tugas yang diembankan baginya melalui pembayaran sejumlah uang.
Tapi sebelum si Pesolek bergerak, keempat prajurit yang selalu
melindungi Pangeran Liang serentak meloncat ke depan Pangeran dan langsung
menyerangnya. Tetapi, si pesolek dengan bersiul-siul melangkah ke-kiri dan
ke-kanan, menyampok pedang dan pada gerakan cepat yang kesekian melepaskan
pukulan empat arah.
Dan, seperti prajurit pertama, empat prajurit sisanyapun
melayang jauh dan tiga diantaranya tidak sanggup bangkit kembali, terluka
parah. Dengan cepat, si pesolek meloncat memburu Pangeran Liang yang
mengundurkan diri ke kereta mendorong Tek Hoat dan Mei Lan masuk kedalamnya dan
kemudian memerintahkan kusir untuk melarikan kereta ke dusun terdekat.
Sementara sang Pangeran dengan kepandaian seadanya menanti di belakang kereta
menghadapi si Pesolek.
“Lari, cepat, selamatkan anak-anakku” Pangeran Liang berseru
kepada kusir kereta sambil menghunus pedangnya. Meskipun dia sadar tidak akan
sanggup melawan si pesolek, tetapi dia harus tetap berusaha, setidaknya
melindungi anak-anaknya. Panbgeran ini memang gagah.
“Hahaha, duhai dinda, lihat bodohnya sang pangeran…” Si Pesolek
meloncat keatas dan mendorongkan satu tangannya kearah kusir kereta, sementara
satu arah pukulannya mengarah ke Pangeran Liang, ingin sekali pukul selesai dan
terkesan sangat memandang enteng Pangeran Liang.
“Dessss, aaaaaaaaaaah, braak….”, pukulan jarak jauh dengan
tangan kanan si Pesolek dengan telak menghantam kusir kereta yang segera
berkelojotan tewas terkena pukulan jarak jauh. Tapi, hentakannya itu
menyebabkan kuda-kuda penarik kereta terkejut, dan dengan segera mereka berlari
meninggalkan tempat tersebut.
“Omitohud, sungguh kejam…” Suara pujian kepada Budha terdengar
bersamaan dengan kesiuran angin menangkis pukulan yang satu lagi yang terarah
kepada Pangeran Liang.
“Bluk ….. haiiiiit” benturan pukulan menyebabkan pelepas
masing-masing pukulan terdorong ke belakang.
“Pangeran, maafkan, pinto terlambat datang” Si pendatang baru
menjura ke Pangeran Liang.
“Terima kasih, betapapun Lo Suhu telah menyelamatkan jiwaku”
Pangeran Liang membalas penghormatan si pendatang yang ternyata adalah seorang
pendeta Budha berjubah hwesio.
“Duhai dinda, bantuan besar datang menggagalkan pekerjaanku….”
Pesolek berkicau murung, karena gagal menyarangkan pukulannya kepada Pangeran
Liang yang tertolong orang lain.
“Pesolek Rombeng Sakti Dari Selatan, serendah itukah kalian
sampai rela dibayar untuk membunuh?” tegur Kong Hian Hwesio, seorang Pendeta
Sakti pengembara dari Siauw Lim Sie. Pendeta Sakti ini adalah Kakak seperguruan
Ketua Siauw Lim Sie sekarang ini, Kong Bian Hwesio. Pendeta yang lebih senang
mengembara dan membaktikan kepandaiannya daripada bertekun dalam ritual
keagamaan di kuil Siauw Lim Sie.
Sebagai Kakak seperguruan, Pendeta ini memiliki Ilmu Kepandaian
yang tidak berada di bawah Kong Bian sang Ketua Kuil di Siong San. Bahkan
variasi dan ginkangnya masih lebih kaya dan di atas Ketuanya, meskipun
kekokohannya masih lebih sang Ketua Siauw Lim Sie.
Pesolek Sakti dan Rombeng Sakti dari Selatan kenal betul dengan
tokoh pengembara dari Siauw Lim Sie ini. Berhadap-hadapan satu lawan satu akan
menempatkannya dalam kesulitan, sementara bila bergabung, Pesolek-Rombeng Sakti
hanya mampu melawan sama kuat. Karena itu, sambil tertawa ngakak dengan nada
tinggi yang sekaligus isyarat memanggil Rombeng Sakti dari Selatan, Pesolek
Sakti berujar:
“
Angin apa yang membawa Pendeta Kong Hian sampai ke Hang Chouw”? Tanya Pesolek dengan maksud memperpanjang waktu. Tetapi, pada saat itu, tiba-tiba Pangeran Liang sadar bahwa kereta yang dalamnya berisi kedua anaknya sudah lenyap dibawa lari kereta yang kusirnya telah terbunuh. Bahkan mayat sang kusir tergeletak tidak jauh dari tempat mereka berbincang. Pangeran Liang segera berbisik kearah si Pendeta penuh kekhawatiran:
“
Angin apa yang membawa Pendeta Kong Hian sampai ke Hang Chouw”? Tanya Pesolek dengan maksud memperpanjang waktu. Tetapi, pada saat itu, tiba-tiba Pangeran Liang sadar bahwa kereta yang dalamnya berisi kedua anaknya sudah lenyap dibawa lari kereta yang kusirnya telah terbunuh. Bahkan mayat sang kusir tergeletak tidak jauh dari tempat mereka berbincang. Pangeran Liang segera berbisik kearah si Pendeta penuh kekhawatiran:
“Lo suhu, anak-anakku”
“Astaga, pinto sampai lupa. Bagaimana ini…” Kong Hian Hwesio
nampak kebingungan, karena tidak tega meninggalkan Pangeran Liang yang tentu
masih terancam oleh si Pesolek Sakti.
“Jangan hiraukan aku, tolonglah anak-anakku. Bila aku celaka,
tolong mendidik Hoat Ji dan Lan Ji” mohon Pangeran Liang kepada si Pendeta yang
menjadi semakin kebingungan.
Tengah si pendeta dalam kebingungan dan belum sempat dia membuat
keputusan apakah mengejar kereta dan menyelamatkan anak-anak si pangeran atau
tidak, sesosok bayangan berkelebat terengah-engah. Bayangan itu nampaknya juga
bukan tokoh lemah dan mendarat persis di samping si Pesolek Sakti.
Keadaan mereka sungguh kontras dan aneh, berbeda seratus delapan
puluh derajat dengan si pesolek, pendatang baru ini seorang wanita yang sangat
jelita. Sayangnya, pakaian dan dandanannya justru sangat awut-awutan. Baju yang
dikenakan seadanya meski tidak terkesan mesum. Tetapi, sejujurnya dia memang
layak digelari rombeng, karena pakaiannya seperti dikenakan begitu saja tanpa
meresapi makna estetika.
Untungnya, wajah dan potongan tubuhnya memang indah, sehingga
keindahan dan kerombengan adalah fakta kontras yang agak unik. Berbeda dengan
Pesolek Sakti yang berwajah pas-pasan, tetapi dengan pakaian dan dandanan yang
luar biasa apik, necis dan benar-benar menunjukkan cirri khas orang gemar
berdandan, meski dia seorang lelaki.
“Huh, kenapa banyak amat tokoh hebat yang membantu Pangeran
gagah ini”? omel si pendatang, Rombeng Sakti Dari Selatan.
“Duhai dinda, apa maksudmu? Apakah anak-anak itu mampu kabur
dari tanganmu?” Tanya Pesolek Sakti.
“Dikaburkan orang, jelasnya” Jawab Rombeng Sakti singkat dan
menggambarkan kemangkelannya akibat kegagalannya menahan kedua anak dalam
kereta. Tapi dalam kekesalannya dia memandang Pangeran Liang.
“Karena itu, kita tidak boleh gagal dengan pangeran ini”
lanjutnya dingin.
“Rombeng Sakti, kamu apakan anak-anak tidak berdosa itu” Tanya
Kong Hian dengan suara yang sangat serius.
“Mau kuambil murid, tapi dibawa lari Pengemis Tawa Gila.
Memalukan, menjemukan dan menggemaskan. Awas Pengemis itu, suatu saat akan
kubalas dia…” Dengus Rombeng Sakti
Mendengar berita tersebut, Pangeran Liang menarik nafas lega.
Dia pernah mendengar nama Pengemis Tawa Gila, bahkan Pengemis itu pernah sekali
berkunjung ke rumahnya. Selain itu, dia tahu pengemis ini adalah seorang tokoh
besar dalam Kay Pang.
“Anak-anakmu selamat Pangeran, tenang sajalah” Hibur Pendeta
Kong Hian atas kekhawatiran Pangeran Liang.
“Tapi apakah perempuan rombeng itu bisa dipercaya”? Pangeran
Liang masih dengan ragu, meskipun dia berharap cerita itu benar dan dengan
dmeikian anak-anaknya berada di tangan Pengemis Tawa Gila.
“Perempuan itu mungkin kita ragukan, tapi Pengemis Tawa Gila
jelas bisa dipercaya” Jawab Kong Hian.
“Maksud Suhu?” Tanya Pangeran
“Tawa gilanya sudah dikirimkannya sesaat sebelum perempuan ini
datang, dan menyerahkan urusanmu ke tanganku. Pengemis Gila itu memang mau
enaknya saja” Kong Hian menggerutu, tapi senang karena anak-anak Pangeran Liang
sudah selamat.
Tapi tiba-tiba Kong Hian menangkap sesuatu yang kurang beres.
Intuisinya cepat bekerja dan tiba-tiba sebuah teriakan dengan Ilmu Saicu Ho
Kang menggema. Tapi tidak untuk menyerang lawan, melainkan di arahkan jauh ke
suatu tempat dan seperti sebuah isyarat.
Dan intuisi Pendeta tua ini ternyata tepat, karena tidak
beberapa lama kemudian, gerombolan Pesolek-Rombeng Sakti bermunculan di
sekitarnya dan mengepungnya bersama Pangeran Liang di tengah jalan.
“Hahahaha, ternyata Pesolek-Rombeng Sakti benar-benar sudah
menjadi anjing peliharaan orang” Kong Hian tertawa sambil menegur Pesolek-Rombeng
Sakti yang sebelumnya memang berada di garis tengah antara Kelompok Putih
(Lurus) dan Kelompok Hitam (Jahat).
“Kadang-kadang daya tarik uang menjadi besar, terlebih disaat
sangat dibutuhkan. Nah, Pendeta, karena sekarang bukan saat berkhotbah, lebih
baik bersiaplah” desis Pesolek Sakti.
“Kalian semua, kami akan menghadapi Pendeta Kong Hian, tugas
kalian menyelesaikan Pangeran itu” Teriak Rombeng Sakti.
Belum selesai teriakannya, hawa pukulan andalannya Hwe Tok Sin
Ciang sudah diarahkan ke dada Kong Hian, dan langsung diikuti dengan kerjasama
yang baik dari Pesolek Sakti.
“Omitohud, sungguh ganas. Tetapi memang benar-benar bertambah
hebat setelah 10 tahun tidak bersua”, desis Kong Hian, sambil berharap dia
mampu mengatasi meski hanya seurat seperti 10 tahun sebelumnya. Sebab kedua
manusia aneh ini pastilah terus mengasah diri dan bukannya ongkang-ongkang kaki
belaka. “Tapi betapapun aku telah pula mengasah diri dan terus menerus
menyempurnakan semua Ilmuku sehingga sudah juga jauh maju dibandingkan dulu, “
yakinnya.
Benturan pertama terjadi ketika Siauw Lim Kun Hoat yang
dilambari tenaga Kim Kong Ciang andalannya bertemu dengan lengan penuh hawa
beracun dari Rombeng Sakti. Masing-masing menjadi sangat terkejut dan mengagumi
kemajuan lawannya, tetapi hanya sesaat karena mereka kemudian melanjutkan
bergebrak. Terlebih karena Pesolek Sakti sudah mengejar pinggang Kong Hian
dengan tendangannya.
Dan gebrakan-gebrakan selanjutnya menunjukkan, dengan berdua –
Pesolek Rombeng Sakti mampu untuk mengimbangi Kong Hian si Pendeta Sakti dan
memaksanya menguras himpunan tenaga Kim Kong Ciang serta ginkangnya. Hanya,
keseimbangan tersebut menjadi bergeser ketika teriakan kesakitan Pangeran Liang
yang lengannya tergores pedang lawan-lawannya.
Tapi Kong Hian segera dilibat ketat oleh Pesolek Rombeng Sakti
dan tentu tidak ingin memberinya kesempatan untuk turun tangan membantu
Pangeran Liang. Pesolek Rombeng Sakti bergantian mencecar Kong Hian dengan
jurus-jurus andalan mereka, dan memaksa Pendeta itu terlibat dalam pertarungan
yang ketat dan menguras semua kekuatan dan kesaktiannya untuk mengimbangi
serangan lawan. Dengan demikian, Kong Hian Hwesio kehilangan ketika untuk
membantu Pangeran Liang.
Tiba-tiba, “Pendeta Miskin, konsentrasilah menghadapi pasangan
unik itu, biarlah anak-anak ini kutulari kudisku….” sebuah suara muncul
diiringi tawa ngikik seperti orang gila. Tapi bersamaan dengan itu, kepungan
terhadap Pangeran Liang yang sudah terluka membuyar dengan segera, bahkan
beberapa orang terlempar ke pinggir jalan tanpa mengerti apa yang sedang
terjadi.
Tawa yang unik dan khas bagaikan orang gila itu, bukannya
membuat si Pendeta Sakti Kong Hian kaget atau marah, sebaliknya dia merasa
senang, karena itu adalah tawa khas kawan akrabnya dari Kay Pang. Tidak salah
lagi, bantuan sudah datang, dan bantuan itu tepat waktu.
“Pengemis Gila, kembali dia mengacau” desis Rombeng Sakti kesal atas kedatangan si Pengemis.
“Pengemis Gila, kembali dia mengacau” desis Rombeng Sakti kesal atas kedatangan si Pengemis.
“Kerja orang kemaruk biasanya memang rusak dengan sendirinya”
sindir Kong Hian yang tadi memanggil Pengemis Gila dengan Ilmu Teriakan atau
Auman Singanya.
Akibat kedatangan Pengemis Tawa Gila, pergeseran kembali
terjadi. Kepanikan justru menimpa Pesolek Rombeng Sakti dan permainan silat
mereka menjadi serampangan. Sebagai akibatnya keduanya jatuh dalam libatan
serangan Kong Hian Hwesio, yang untungnya seorang yang welas asih dan tidak
sembarangan menjatuhkan tangan berat dan keras.
Dan lebih untung lagi Pendeta yang memiliki hati yang welas asih
ini, juga memang tidak berniat untuk menurunkan tangan jahat meski saat itu
posisinya sudah sangat menguntungkan. Menyadari keadaan itu, Pesolek Sakti
tiba-tiba bersiul memberi isyarat, dan kemudian nampaknya sesuatu mereka
persiapkan secara berpasangan.
Mereka mempersiapkan “Badai Api Beracun”, sebuah serangan
pamungkas yang mereka latih berpasangan sekian waktu lamanya. Keduanya
mengambil jarak tertentu dari Kong Hian yang sedikit lena dan secara bersamaan
menempelkan tangan kiri dan kanan mereka dan kemudian mengayunkan tangan kanan
dan kiri masing-masing yang bebas kearah Kong Hian Hwesio. Melihat kondisi ini,
Kong Hian tidak mau ayal, dengan segera dia meningkatkan kekuatan Kim Kong
Ciangnya ke tingkat tertinggi dan kemudian menyambut dorongan tangan Pesolek
Rombeng Sakti
“Blaaaar”, benturan dahsyat terjadi. Asap mengepul ke atas, Kong
Hian terdorong sampai 5 langkah ke belakang. Tetapi ketika keadaan menjadi
lebih tenang, Kong Hian tidak lagi menemukan pasangan aneh yang menjadi
lawannya. Tapi dia geleng-geleng kepala karena kedahsyatan pasangan tersebut
sudah jauh meningkat dibandingkan 10 tahun sebelumnya ketika mereka
ditaklukkannya. Bila di lalai, kali ini dia pasti sudah jadi mayat.
Benturan tenaga dan kekuatan tadi memang membuatnya terluka
dalam, meski ringan, dan dia yakin pasangan tersebut terluka lebih parah dibanding
dirinya. Sungguh kekuatan pukulan beracun kedua manusia unik dan aneh itu sudah
maju sangat jauh. Dan akan menjadi bahaya bagi umat persilatan kalau kedua
manusia aneh itu melanjutkan cara hidup sebagai pembunuh bayaran dan bergerak
di sisi kaum sesat. Tengah Kong Hian Hwesio, si Pendeta Sakti termenung dengan
hasil pertempurannya, terdengar suara si Pengemis:
“Pendeta Miskin, kamu urus sisanya ini. Harus kuperhitungkan
keselamatan anak-anak itu, jangan sampai kecolongan pasangan antik itu”
Pengemis Gila itu sudah melompat jauh dan kemudian segera menghilang dari arah
tempat munculnya tadi.
“Terima kasih pengemis gila, jangan lupa ketemu di rumah
pangeran malam nanti”
Perkelahian tidak lagi dilanjutkan, karena gerombolan yang telah
ditinggalkan pemimpinnya itu, jadi tidak bersemangat lagi dan lari serabutan
masuk hutan untuk menyelamatkan diri masing-masing. Sementara itu, Pendeta Kong
Hian juga tidak berminat untuk mengejar, demikian juga dengan Pangeran Liang.
Mereka berdua kemudian lebih memilih untuk mengurus korban-korban yang terluka
daripada mengejar mereka yang kabur dan melanjutkan urusan dan permusuhan
dengan perkelahian yang selain tidak ada gunanya juga tidak ada untungnya.

0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...