Kamis, 20 November 2014

Kisah Para Naga - 03



Eps-03

“Losuhu, kira-kira apa yang terjadi? Kenapa Pengemis Tawa Gila belum datang juga?” tanya Pangeran Liang yang mulai khawatir. Sama khawatirnya dengan istrinya yang masih belum berhenti menangis menunggu kedatangan kedua anaknya yang diselamatkan Pengemis Tawa Gila. Tapi Pengemis Tawa Gila yang kemunculannya ditunggu sejak sore hari masih belum kelihatan juga batang hidungnya.
“Tenanglah, pinto mengenal betul Pengemis Gila itu. Kita menunggunya biar semua jelas,” Kong Hian menyabarkan Pangeran Liang, meski juga makin lama makin khawatir. Makan malam sudah lama lewat dan malam semakin larut, tetapi Pengemis Gila belum nampak juga.
“Ya mudah-mudahan memang tidak terjadi hal yang tidak diinginkan” desis Pangeran Liang menyabarkan dan menenangkan hatinya.
Kong Hian Hwesio memandangi Pangeran Liang sesaat dan kemudian terdengar diapun berkata:
“Mari kita mendoakannya Pangeran. Selebihnya, kelihatannya keselamatan Pangeran sendiri juga nampaknya semakin tidak lagi terjamin” kata Kong Hian. “Kelihatannya keamanan perlu ditingkatkan, dan perjalanan keluar pangeran sebaiknya dibatasi dan dirahasiakan waktunya”
“Ya losuhu, kelihatannya gerakan para menteri korup menjadi semakin kasar dan berani” keluh Pangeran.
Percakapan diiringi rasa khawatir kedua tokoh itu berlanjut sampai tengah malam, sampai kemudian Pendeta Kong Hian termenung dan nampak berpikir sejenak untuk kemudian membuka suara:
“Pengemis gila, masuklah. Menjadi aneh buatku sekarang karena dihadapanku baru kali ini kamu menjadi agak canggung” seru Kong Hian
“Hahahaha, telinga Pendeta miskin ternyata belum rusak juga” seru Pengemis Gila sambil berkelabat masuk melalui pintu jendela yang terbuka di sisi sebelah kanan ruangan tersebut.
“Ginkangmu makin mengagumkan pengemis gila, rupanya tidak sedikit kemajuanmu dalam ilmu melarikan diri dan mengejar orang itu” puji Pendeta Kong Hian lagi.
“Ya tapi belum di atas ginkang dan sinkangmu. Kita masih belum mampu mengungguli satu dengan yang lain, padahal sudah reot tulang dan ototku berlatih terus dan terus” omel Pengemis Gila.
“Sudahlah, duduklah dulu, dan hei, kemana kedua anak itu”?
Wajah Pengemis Gila Tawa nampak menjadi murung dan sedih. Bahkan rona kesal, penasaran dan khawatir juga jelas sekali terbayang di wajahnya dan tidak sanggup disembunyikannya.
“Aku benar-benar kehilangan calon muridku yang luar biasa itu. Entah bagaimana keduanya menghilang, padahal sudah kubawa ke sebuah gua yang tersimpan rapih dan sangat aman. Tetapi yang sudah pasti bukan pekerjaan Pesolek Rombeng Sakti, karena mereka juga sedang mencari-cari ketika mereka kutemukan dan kuintip. Anehnya, tidak ada jejak sama sekali, tidak ada jejak paksaan, tidak ada jejak lari. Pokoknya, seperti menghilang begitu saja di Gua itu…” papar Pengemis Tawa Gila dengan murung dan sedih sambil menatap tuan rumah Pangeran Liang yang jadi tambah gelisah.
“Padahal lagi, aku sudah kepengen betul menjadikan anak laki-laki itu muridku” tambah Pengemis Gila
“Tanpa jejak maksudmu?” cecar Kong Hian. “Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa dan mampu main gila dengan Pengemis Gila” Kong Hian benar-benar merasa aneh, heran dan sulit percaya dengan pendengarannya. Tapi dia tahu, dalam urusan begini, Pengemis Gila ini tidaklah suka bermain-main.
“Tidak ada jejak, menghilang begitu saja” jawab Pengemis Gila
“Maksud hiante, anak-anakku hilang begitu saja dan tidak ada tanda kemana dan dibawa siapa?” tanya Pangeran Liang
“Tepat seperti itu Pangeran, dan aku nampaknya terpaksa harus menggunakan semua dayaku dan bahkan kekuatan Kay Pang untuk membantu mencari. Mereka anak-anak luar biasa, jangan khawatir. Meskipun untuk itu dibutuhkan waktu” hibur Pengemis Gila.
Pengemis Gila Tawa memang adalah seorang tokoh kawakan dan bahkan salah satu yang terkemuka dari Kay Pang. Pengemis Gila Tawa, dinamai demikian karena suka tertawa seperti orang gila, atau tawa ngikiknya persis seperti orang gila yang tertawa, padahal orangnya sangat waras. Tapi, itulah uniknya, orangnya malah senang dinamakan dan dipanggil demikian, bahkan nama sendiri sudah dilupakan orang.
Saat ini dia menjabat sebagai Hu Kawcu atau wakil kepala urusan luar karena kegemarannya berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Kepandaiannya sejak masih muda tidak pernah lebih hebat ataupun lebih lemah dari Kong Hian Hwesio, dan mereka terlibat lomba meningkatkan Ilmu. Karena itu, kemajuan Ilmu Silat keduanya termasuk pesat dan luar biasa.
Kedua tokoh dunia persialatan ini secara kebetulan berjanji untuk bertemu di rumah Pangeran Liang untuk kemudian mengadu ilmu di hutan sebelah barat Hang Chouw. Tidak disangka mereka terlibat dalam masalah yang dihadapi Pangeran Liang yang memang dikasihi para tokoh patriot dan tokoh dunia persilatan itu. Dan mau tidak mau kedua tokoh itu harus berupaya untuk membantu menemukan kedua anak pangeran Liang, yang sekarang entah berada di mana.
Mereka berjalan meninggalkan rumah Pangeran Liang besoknya dengan diiringi air mata istri Pangeran Liang dan tatapan sedih Pangeran sendiri, meski merasa berterima kasih atas perhatian dan usaha kedua tokoh ini yang berjanji mencari anak-anaknya sejak hari itu.
 “Bulan lalu Pek Liong Pay bersama tiga partai lainnya, kemudian Perguruan Macan Terbang bersama dua Partai lain, dan sekarang Hong Lui Pang bersama tiga partai lainnya. Tentu bukan sebuah kebetulan…” renung orang tua ini.
“Anehnya, ketika dikunjungi, tiada satupun jejak menunjuk kemana, selain berita bahwa mereka diserbu Barisan Warna-Warni, yakni bila bukan Barisan Merah, pastilah Barisan Kuning atau Barisan Hijau. Tiada yang tahu mereka darimana, dan, taraf kepandaian yang berlipat lipat dari perguruan perguruan menengah tersebut” lanjutnya merenung.
“Tanda-tanda itu sudah semakin jelas, dan sudah harus segera kulakukan. Ya harus mulai kulakukan, itu keputusanku” Orang tua itu kemudian menarik nafas panjang.
“Semakin jelas, bukan hanya ambisi sebuah perguruan, tapi nampaknya juga dendam dan kepandaian ilmu silat. Dan nampaknya juga benda ini” desis si Orang Tua sambil mengelus sebuah gelang gemuk yang nampaknya berongga di tengah. Gelang biasa dari perak murahan, tidak ada yang istimewa, nampak aneh kalau akan menyebabkan banyak persoalan. Tapi, siapa tahu? Akhirnya orang tua itu berketetapan, matanya menunjukkan sebuah tekad dan tidak mungkin ditunda lagi. Sebelum terlambat harus segera dimulai, harus hari ini dimulai.
Di hadapan orang tua itu bersimpuh sepasang suami istri. Sang laki-laki adalah Pendekar Golongan Lurus terkemuka dewasa ini, Kiang Hong, berwajah gagah, kokoh dan tampan, setidaknya berumur 33 tahunan. Dari wajahnya sudah terpancar kewibawaan serta kekokohan hati atas keyakinan yang dipegang, sangat pantas mewarisi nama besar perguruan keluarga yang dihormati dan menjadi pegangan dunia persilatan dewasa ini.
Soal kepandaian, Kiang Hong tidak berbeda jauh dengan Kakak kembarnya Kiang Liong, yang sekarang sedang mengobati luka batin dan pikirannya. Kakak beradik kembar ini dikenal bintang dunia persilatan sejak usia 20-an, dan tampil menggemparkan dengan menyelesaikan banyak persoalan rumit di dalam dunia persilatan. Keduanya sudah secara sempurna mewarisi Ilmu Silat Keluarga Pualam Hijau dan sekarang malah sudah masuk pada tahapan matang di usia 30an.
Perguruan Keluarga Kiang, atau Lembah Pualam Hijau, demikian disebutkan orang, sejak didirikan Kakek Buyut Kiang 100 tahunan silam, mendapatkan nama yang lebih harum daripada Perguruan Silat utama lainnya. Terutama ketika memimpin tiga Ksatria utama Tionggoan berhadapan dengan serbuan Perguruan Lam Hay Bun, Tokoh dari India dan Beng Kauw. Kakek Buyut Kiang bernama Kiang Sim Hoat, mampu mematahkan perlawanan tokoh utama India, Bengkauw dan Lam Hay meski hanya setengah jurus.
Serbuan yang berbentuk tantangan tokoh utama dari ketiga kalangan tersebut, dihadapinya bersama tokoh utama Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay dan Kay Pang. Bahkan dengan pertarungan Ilmu Dalam (Batin) melawan jagoan India, Kiang Sim Hoat juga mampu memenangkannya. Badai dunia pesilatan waktu itu, bisa diredam dan Kiang Sim Hoat menjadi Dewa Penyelamat Dunia Persilatan bersama tiga tokoh lain dari Kay Pang, Siauw Lim Sie dan Bu Tong Pay.
Atas jasanya yang menonjol, Kiang Sim Hoat dan perguruan keluarganya kelak kemudian diberi tanda kepercayaan berupa sebuah Pedang Pualam Hijau yang diciptakan oleh Kakek Dewa Pedang di penghujung usianya dengan bahan pusaka Pualam Hijau dari Lembah kediaman Kiang Sim Hoat.
Pedang itu kemudian bersama Lencana Pualam Hijau yang diciptakan bersamaan waktunya, diakui oleh Dunia Persilatan mewakili Bengcu atau Pimpinan Dunia Persilatan secara formal, meski Kiang Sim Hoat sebetulnya tidak menginginkannya. Dan untuk seterusnya, belum pernah sekalipun dalam 100 tahun kemudian ada yang menolak mentaati kehadiran dan perintah yang datang baik melalui Pedang Pualam Hijau ataupun dari Lencana Pualam Hijau asalnyai Lembah Pualam Hijau tempat berdiam Kiang Sim Hoat dan keluarganya.
Sejak turun temurun, Perguruan ini bersifat sangat tertutup dan hanya mewariskan Ilmu Keluarga pada anggota keluarga semata. Belum pernah ada murid yang bukan keluarga Kiang yang mewarisi Ilmu Pusaka keluarga Kiang, hingga generasi Kiang Hong.
Selain Kiang Sim Hoat, tokoh lain yang menonjol adalah Kiang Sin Liong, yang jika masih hidup saat ini, mungkin sudah berusia mendekati 100 tahun. Tokoh ini sangat rendah hati, tetapi memiliki kesaktian yang bahkan lebih dahsyat dari Kakeknya, Kiang Sim Hoat. Pada masa hidupnya, kembali terjadi pertarungan, kali ini tidak massal, tetapi diketahui dunia persilatan, karena mempertaruhkan gengsi antara tokoh Tionggoan yang diwakili Kiang Sin liong dari Lembah Pualam Hijau, Pangcu Kay Pang Kiong Siang Han Kiu Ci Sin Kay, Ciangbunjin Siauw Lim Sie Kian Ti Hosiang dan Tokoh utama dari Bu Tong Pay Wie Tiong Lan yang kemudian belakangan menjadi Pek Sim Siansu ketika menjadi Ciangbunjin Bu Tong Pay.
Kiang Sin Liong dengan menggunakan pengaruh Pedang Pualam Hijau menetapkan pertarungan tidak diikuti orang banyak, tetapi perang tanding antara tokoh-tokoh utama Tionggoan dengan Bengkauw, Lam Hay Bun dan Thian Tok. Dengan demikian menekan korban sia-sia diantara kedua pihak, dan taruhannya adalah mundurnya Perguruan Lam Hay dari Tionggoan atau bebasnya mereka mengembangkan pengaruh di Tionggoan. Pertarungan yang sangat legendaris dan bersejarah itu banyak dipercakapkan orang hingga puluhan tahun berikutnya.
Pertarungan antar para raksasa dunia persilatan tersebut berlangsung sangat ketat dan seimbang, pada posisi sama, karena baik Ketua Kay Pang, Ketua Siauw Lim Sie maupun Wie Tiong Lan, hanya berakhir draw dalam pertarungan mati hidup dengan tokoh dari Beng Kauw, Pertapa dari India dan Hu Kauw Cu Lam Hay Bun yang adalah adik Ketua Lam Hay Bun dan memiliki kesaktian yang setara dengan kakaknya.
Pertarungan puncak antara Ketua Lam Hay Bun melawan Kiang Sin liong berakhir dramatis dengan kemenangan yang kelihatan secara kebetulan, hanya setengah jurus kemenangan Sin liong atas Ketua Lam Hay Bun. Sama seperti kakeknya, ketika dicoba bertanding dengan Ilmu Batin oleh Tokoh India, Mahendra yang lihay Ilmu Sihirnya, Sin Liong juga masih sanggup mengimbanginya dan bahkan kemudian memenangkannya.
Ke-4 tokoh ini kemudian menjadi legenda, dan mereka selalu bertemu setiap 10 tahun sekali. Dewasa ini, mereka bahkan cenderung menjadi tokoh setengah dewa yang tiada seorangpun tahu apakah mereka masih hidup ataukah tidak lagi. Desas desus rimba persilatan yang memang ramai berseliweran dan sudah dibumbu-bumbui malah memastikan mereka sudah menjadi manusia gaib yang luar biasa saktinya, alias manusia setengah dewa. Yang pasti, Kiang Sin Liong, bahkan keturunannya sendiripun tidak tahu lagi dimana keberadaannya sejak 30 tahun berselang ketika mewariskan kedudukan Ketua Lembah Pualam Hijau kepada anaknya.
Kepahlawanan keluarga Kiang, kembali ditunjukkan oleh cucu-cucu Kiang Sin Liong yang mewarisi bakat dan kemampuan kakeknya. Kiang In Hong, seorang wanita muda cerdik dan sangat berbakat dan kakaknya Kiang Cun Le. Sayangnya ayah mereka mati muda, dan karenanya mereka dididik langsung oleh Kiang Sin Liong. Bahkan ketika Kiang Sin Liong menghilang dari depan umum yang waktunya berbeda beberapa tahun dengan menghilangnya 3 tokoh lain, masih beberapa kali kakek ini mampir mendidik kakak beradik ini dalam Ilmu Silat.
Kedua Kakak beradik ini, juga berhasil memaksa Lam Hay Bun untuk mentaati syarat ketika mereka takluk dikalahkan Kakek mereka puluhan tahun sebelumnya melalui cara yang sama, perang tanding antara keduanya melawan Ketua dan Wakil Ketua Lam Hay Bun. Dan bahkan merekapun bertarung melawan Suami Istri pesilat asal India yang mahir Ilmu Silat dan Ilmu Sihir. Kedua Kakek Nenek ini dikalahkan di Siauw Lim Sie di depan banyak tokoh Kang Ouw dan semakin meneguhkan kejayaan Lembah Pualam Hijau sebagai andalan dan pegangan Persilatan Tionggoan selain Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay dan Kay Pang.
Kehadiran Kiang Cun Le dan Kiang In Hong, sayangnya tidak dibarengi oleh tampilnya tunas utama yang sama di kalangan Kay Pang, Siauw Lim Sie dan Bu Tong Pay. Meskipun perguruan-perguruan itu tetap melahirkan banyak tokoh sakti, tetapi masih kalah gemilang dengan kakak beradik Cun Le dan In Hong.
Sebenarnya Kiang Cun Le memiliki 2 orang Kakak laki-laki, Kiang Siong Tek yang sulung dan Kiang Tek Hong kakak kedua. Tetapi Siong Tek lebih mahir menekuni ilmu dalam dan keagamaan, dan karena itu memilih meninggalkan Lembah Pualam Hijau untuk merantau dan kemudian masuk menyucikan diri di biara Siauw Lim Sie di Siong San.
Sementara Kiang Tek Hong yang tidak kurang berbakat dibandingkan dengan Cun Le menghilang di saat yang sama dengan keputusan toakonya Siong Tek untuk menyucikan diri. Akhirnya Kiang Cun Le yang memegang pimpinan Lembah Pualam Hijau selama 30 tahun lebih, dan kemudian mewariskan kedudukannya kepada anaknya Kiang Hong.
Cun Le memiliki sepasang anak kembar laki-laki disamping anak sulungnya yang perempuan bernama Kiang Sian Cu yang pernah dididik langsung oleh bibinya Kiau In Hong. Anak lelaki kembar yang sulung bernama Kiang Liong dan yang bungsu bernama Kiang Hong. Sepatutnya, Kiang Liong yang memegang tampuk pimpinan tertinggi, tetapi karena mengalami tekanan batin dan sedikit terganggu kesehatan batin dan pikirannya, akhirnya dengan rela dia menyerahkan kepemimpinan kepada adik kembarnya Kiang Hong, dan dia sendiri kemudian menekuni ilmu sambil mengobati luka batin dan pikirannya.
Sebelum menjadi Orang Utama di Lembah Pualam Hijau, Kiang Hong bersama Kiang Liong sudah banyak membantu dunia persilatan baik menyelesaikan masalah rumit ataupun menumpas para penjahat rimba hijau. Karenanya, bersama Kiang Liong, mereka menjadi sepasang pendekar muda yang sangat dihormati. Sayangnya, Kiang Liong mengalami gangguan mental dan pikiran karena bencana tertentu, dan karenanya Kiang Hong yang kemudian terpilih untuk menjabat sebagai Ketua Lembah atau dinamakan Duta Agung.
Kiang In Hong adik wanita salah satu legenda Lembah Pualam Hijau Kiang Cun Le, juga mendadak menghilang beberapa tahun setelah memenangkan pertarungan bersejarah di Siauw Lim Sie. Tetapi, tidak lama setelah dia menghilang, muncul seorang Pendeta Wanita Sakti dari Timur. Rahib wanita itu kemudian terkenal dengan sebutan Liong-i-Sinni (Pendeta Wanita Sakti Berbaju Hijau).
Hampir tidak ada yang bisa menggambarkan kesaktian Pendeta Wanita tersebut yang bila tampil pasti selalu dengan pakaian hijau dan dengan hiasan putih di tangan, kaki dan senjata hudtimnya. Spekulasi merebak menyebutkan Pendeta Wanita tersebut adalah jelmaan Kiang In Hong yang mengalami patah hati dan kemudian menyucikan diri. Hingga sekarang, Pendeta Wanita ini masih menjadi misteri lain dunia persilatan. Tapi yang pasti dia selalu berpihak kepada kebenaran dalam setiap kesempatannya untuk unjuk diri, juga murid-muridnya.
Kekuatan Lembah Pualam Hijau sejak dahulu bertumpu pada 12 Duta Utama. Duta Agung adalah Ketua Lembah sekaligus Bengcu Persilatan sejak 100 tahun sebelumnya, diapit oleh Duta Luar dan Duta Dalam sebagai wakil dari Duta Agung. Disamping itu, terdapat 3 orang Duta Hukum yang selalu bertugas memberi pertimbangan dalam sebuah pertemuan dengan Duta Agung dan Duta Luar dan Duta Dalam.

Baru kemudian terdapat 6 Duta Perdamaian yang bertugas membantu penyelesaian masalah yang dihadapi dunia persilatan. Duta Perdamaian ini, biasanya sekaligus sanggup membentuk Barisan 6 Pedang Pualam Hijau yang terkenal kesaktiannya dalam rimba persilatan. Rapat biasanya diadakan untuk mendengarkan laporan dari 6 duta atau laporan khusus yang disampaikan ke Lembah Pualam Hijau. Sistem dan mekanisme lembah ini sudah mulai dilaksanakan dan dibentuk oleh Kiang Sin Liong, dalam menjawab begitu banyak permintaan tolong dari banyak perguruan silat yang bermasalah waktu itu. Dengan wibawa Pedang dan Medali Pualam Hijau banyak persoalan tersebut terselesaikan. 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...