Eps-03
“Losuhu, kira-kira apa yang terjadi? Kenapa Pengemis Tawa Gila
belum datang juga?” tanya Pangeran Liang yang mulai khawatir. Sama khawatirnya
dengan istrinya yang masih belum berhenti menangis menunggu kedatangan kedua
anaknya yang diselamatkan Pengemis Tawa Gila. Tapi Pengemis Tawa Gila yang
kemunculannya ditunggu sejak sore hari masih belum kelihatan juga batang
hidungnya.
“Tenanglah, pinto mengenal betul Pengemis Gila itu. Kita
menunggunya biar semua jelas,” Kong Hian menyabarkan Pangeran Liang, meski juga
makin lama makin khawatir. Makan malam sudah lama lewat dan malam semakin
larut, tetapi Pengemis Gila belum nampak juga.
“Ya mudah-mudahan memang tidak terjadi hal yang tidak
diinginkan” desis Pangeran Liang menyabarkan dan menenangkan hatinya.
Kong Hian Hwesio memandangi Pangeran Liang sesaat dan kemudian terdengar diapun berkata:
Kong Hian Hwesio memandangi Pangeran Liang sesaat dan kemudian terdengar diapun berkata:
“Mari kita mendoakannya Pangeran. Selebihnya, kelihatannya
keselamatan Pangeran sendiri juga nampaknya semakin tidak lagi terjamin” kata
Kong Hian. “Kelihatannya keamanan perlu ditingkatkan, dan perjalanan keluar
pangeran sebaiknya dibatasi dan dirahasiakan waktunya”
“Ya losuhu, kelihatannya gerakan para menteri korup menjadi
semakin kasar dan berani” keluh Pangeran.
Percakapan diiringi rasa khawatir kedua tokoh itu berlanjut
sampai tengah malam, sampai kemudian Pendeta Kong Hian termenung dan nampak
berpikir sejenak untuk kemudian membuka suara:
“Pengemis gila, masuklah. Menjadi aneh buatku sekarang karena
dihadapanku baru kali ini kamu menjadi agak canggung” seru Kong Hian
“Hahahaha, telinga Pendeta miskin ternyata belum rusak juga”
seru Pengemis Gila sambil berkelabat masuk melalui pintu jendela yang terbuka
di sisi sebelah kanan ruangan tersebut.
“Ginkangmu makin mengagumkan pengemis gila, rupanya tidak
sedikit kemajuanmu dalam ilmu melarikan diri dan mengejar orang itu” puji
Pendeta Kong Hian lagi.
“Ya tapi belum di atas ginkang dan sinkangmu. Kita masih belum
mampu mengungguli satu dengan yang lain, padahal sudah reot tulang dan ototku
berlatih terus dan terus” omel Pengemis Gila.
“Sudahlah, duduklah dulu, dan hei, kemana kedua anak itu”?
Wajah Pengemis Gila Tawa nampak menjadi murung dan sedih. Bahkan
rona kesal, penasaran dan khawatir juga jelas sekali terbayang di wajahnya dan
tidak sanggup disembunyikannya.
“Aku benar-benar kehilangan calon muridku yang luar biasa itu.
Entah bagaimana keduanya menghilang, padahal sudah kubawa ke sebuah gua yang
tersimpan rapih dan sangat aman. Tetapi yang sudah pasti bukan pekerjaan
Pesolek Rombeng Sakti, karena mereka juga sedang mencari-cari ketika mereka
kutemukan dan kuintip. Anehnya, tidak ada jejak sama sekali, tidak ada jejak
paksaan, tidak ada jejak lari. Pokoknya, seperti menghilang begitu saja di Gua
itu…” papar Pengemis Tawa Gila dengan murung dan sedih sambil menatap tuan
rumah Pangeran Liang yang jadi tambah gelisah.
“Padahal lagi, aku sudah kepengen betul menjadikan anak
laki-laki itu muridku” tambah Pengemis Gila
“Tanpa jejak maksudmu?” cecar Kong Hian. “Bagaimana mungkin ada
seseorang yang bisa dan mampu main gila dengan Pengemis Gila” Kong Hian
benar-benar merasa aneh, heran dan sulit percaya dengan pendengarannya. Tapi
dia tahu, dalam urusan begini, Pengemis Gila ini tidaklah suka bermain-main.
“Tidak ada jejak, menghilang begitu saja” jawab Pengemis Gila
“Maksud hiante, anak-anakku hilang begitu saja dan tidak ada
tanda kemana dan dibawa siapa?” tanya Pangeran Liang
“Tepat seperti itu Pangeran, dan aku nampaknya terpaksa harus
menggunakan semua dayaku dan bahkan kekuatan Kay Pang untuk membantu mencari.
Mereka anak-anak luar biasa, jangan khawatir. Meskipun untuk itu dibutuhkan
waktu” hibur Pengemis Gila.
Pengemis Gila Tawa memang adalah seorang tokoh kawakan dan
bahkan salah satu yang terkemuka dari Kay Pang. Pengemis Gila Tawa, dinamai
demikian karena suka tertawa seperti orang gila, atau tawa ngikiknya persis
seperti orang gila yang tertawa, padahal orangnya sangat waras. Tapi, itulah
uniknya, orangnya malah senang dinamakan dan dipanggil demikian, bahkan nama
sendiri sudah dilupakan orang.
Saat ini dia menjabat sebagai Hu Kawcu atau wakil kepala urusan
luar karena kegemarannya berkelana dari satu tempat ke tempat lain.
Kepandaiannya sejak masih muda tidak pernah lebih hebat ataupun lebih lemah
dari Kong Hian Hwesio, dan mereka terlibat lomba meningkatkan Ilmu. Karena itu,
kemajuan Ilmu Silat keduanya termasuk pesat dan luar biasa.
Kedua tokoh dunia persialatan ini secara kebetulan berjanji
untuk bertemu di rumah Pangeran Liang untuk kemudian mengadu ilmu di hutan
sebelah barat Hang Chouw. Tidak disangka mereka terlibat dalam masalah yang
dihadapi Pangeran Liang yang memang dikasihi para tokoh patriot dan tokoh dunia
persilatan itu. Dan mau tidak mau kedua tokoh itu harus berupaya untuk membantu
menemukan kedua anak pangeran Liang, yang sekarang entah berada di mana.
Mereka berjalan meninggalkan rumah Pangeran Liang besoknya
dengan diiringi air mata istri Pangeran Liang dan tatapan sedih Pangeran
sendiri, meski merasa berterima kasih atas perhatian dan usaha kedua tokoh ini
yang berjanji mencari anak-anaknya sejak hari itu.
“Bulan lalu Pek Liong Pay
bersama tiga partai lainnya, kemudian Perguruan Macan Terbang bersama dua
Partai lain, dan sekarang Hong Lui Pang bersama tiga partai lainnya. Tentu
bukan sebuah kebetulan…” renung orang tua ini.
“Anehnya, ketika dikunjungi, tiada satupun jejak menunjuk
kemana, selain berita bahwa mereka diserbu Barisan Warna-Warni, yakni bila
bukan Barisan Merah, pastilah Barisan Kuning atau Barisan Hijau. Tiada yang
tahu mereka darimana, dan, taraf kepandaian yang berlipat lipat dari perguruan
perguruan menengah tersebut” lanjutnya merenung.
“Tanda-tanda itu sudah semakin jelas, dan sudah harus segera
kulakukan. Ya harus mulai kulakukan, itu keputusanku” Orang tua itu kemudian
menarik nafas panjang.
“Semakin jelas, bukan hanya ambisi sebuah perguruan, tapi
nampaknya juga dendam dan kepandaian ilmu silat. Dan nampaknya juga benda ini”
desis si Orang Tua sambil mengelus sebuah gelang gemuk yang nampaknya berongga
di tengah. Gelang biasa dari perak murahan, tidak ada yang istimewa, nampak
aneh kalau akan menyebabkan banyak persoalan. Tapi, siapa tahu? Akhirnya orang
tua itu berketetapan, matanya menunjukkan sebuah tekad dan tidak mungkin
ditunda lagi. Sebelum terlambat harus segera dimulai, harus hari ini dimulai.
Di hadapan orang tua itu bersimpuh sepasang suami istri. Sang
laki-laki adalah Pendekar Golongan Lurus terkemuka dewasa ini, Kiang Hong,
berwajah gagah, kokoh dan tampan, setidaknya berumur 33 tahunan. Dari wajahnya
sudah terpancar kewibawaan serta kekokohan hati atas keyakinan yang dipegang,
sangat pantas mewarisi nama besar perguruan keluarga yang dihormati dan menjadi
pegangan dunia persilatan dewasa ini.
Soal kepandaian, Kiang Hong tidak berbeda jauh dengan Kakak
kembarnya Kiang Liong, yang sekarang sedang mengobati luka batin dan
pikirannya. Kakak beradik kembar ini dikenal bintang dunia persilatan sejak
usia 20-an, dan tampil menggemparkan dengan menyelesaikan banyak persoalan
rumit di dalam dunia persilatan. Keduanya sudah secara sempurna mewarisi Ilmu
Silat Keluarga Pualam Hijau dan sekarang malah sudah masuk pada tahapan matang
di usia 30an.
Perguruan Keluarga Kiang, atau Lembah Pualam Hijau, demikian
disebutkan orang, sejak didirikan Kakek Buyut Kiang 100 tahunan silam,
mendapatkan nama yang lebih harum daripada Perguruan Silat utama lainnya.
Terutama ketika memimpin tiga Ksatria utama Tionggoan berhadapan dengan serbuan
Perguruan Lam Hay Bun, Tokoh dari India dan Beng Kauw. Kakek Buyut Kiang
bernama Kiang Sim Hoat, mampu mematahkan perlawanan tokoh utama India, Bengkauw
dan Lam Hay meski hanya setengah jurus.
Serbuan yang berbentuk tantangan tokoh utama dari ketiga
kalangan tersebut, dihadapinya bersama tokoh utama Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay
dan Kay Pang. Bahkan dengan pertarungan Ilmu Dalam (Batin) melawan jagoan
India, Kiang Sim Hoat juga mampu memenangkannya. Badai dunia pesilatan waktu
itu, bisa diredam dan Kiang Sim Hoat menjadi Dewa Penyelamat Dunia Persilatan
bersama tiga tokoh lain dari Kay Pang, Siauw Lim Sie dan Bu Tong Pay.
Atas jasanya yang menonjol, Kiang Sim Hoat dan perguruan keluarganya
kelak kemudian diberi tanda kepercayaan berupa sebuah Pedang Pualam Hijau yang
diciptakan oleh Kakek Dewa Pedang di penghujung usianya dengan bahan pusaka
Pualam Hijau dari Lembah kediaman Kiang Sim Hoat.
Pedang itu kemudian bersama Lencana Pualam Hijau yang diciptakan
bersamaan waktunya, diakui oleh Dunia Persilatan mewakili Bengcu atau Pimpinan
Dunia Persilatan secara formal, meski Kiang Sim Hoat sebetulnya tidak
menginginkannya. Dan untuk seterusnya, belum pernah sekalipun dalam 100 tahun
kemudian ada yang menolak mentaati kehadiran dan perintah yang datang baik
melalui Pedang Pualam Hijau ataupun dari Lencana Pualam Hijau asalnyai Lembah
Pualam Hijau tempat berdiam Kiang Sim Hoat dan keluarganya.
Sejak turun temurun, Perguruan ini bersifat sangat tertutup dan
hanya mewariskan Ilmu Keluarga pada anggota keluarga semata. Belum pernah ada
murid yang bukan keluarga Kiang yang mewarisi Ilmu Pusaka keluarga Kiang,
hingga generasi Kiang Hong.
Selain Kiang Sim Hoat, tokoh lain yang menonjol adalah Kiang Sin
Liong, yang jika masih hidup saat ini, mungkin sudah berusia mendekati 100
tahun. Tokoh ini sangat rendah hati, tetapi memiliki kesaktian yang bahkan
lebih dahsyat dari Kakeknya, Kiang Sim Hoat. Pada masa hidupnya, kembali
terjadi pertarungan, kali ini tidak massal, tetapi diketahui dunia persilatan,
karena mempertaruhkan gengsi antara tokoh Tionggoan yang diwakili Kiang Sin
liong dari Lembah Pualam Hijau, Pangcu Kay Pang Kiong Siang Han Kiu Ci Sin Kay,
Ciangbunjin Siauw Lim Sie Kian Ti Hosiang dan Tokoh utama dari Bu Tong Pay Wie
Tiong Lan yang kemudian belakangan menjadi Pek Sim Siansu ketika menjadi
Ciangbunjin Bu Tong Pay.
Kiang Sin Liong dengan menggunakan pengaruh Pedang Pualam Hijau
menetapkan pertarungan tidak diikuti orang banyak, tetapi perang tanding antara
tokoh-tokoh utama Tionggoan dengan Bengkauw, Lam Hay Bun dan Thian Tok. Dengan
demikian menekan korban sia-sia diantara kedua pihak, dan taruhannya adalah
mundurnya Perguruan Lam Hay dari Tionggoan atau bebasnya mereka mengembangkan
pengaruh di Tionggoan. Pertarungan yang sangat legendaris dan bersejarah itu
banyak dipercakapkan orang hingga puluhan tahun berikutnya.
Pertarungan antar para raksasa dunia persilatan tersebut
berlangsung sangat ketat dan seimbang, pada posisi sama, karena baik Ketua Kay
Pang, Ketua Siauw Lim Sie maupun Wie Tiong Lan, hanya berakhir draw dalam
pertarungan mati hidup dengan tokoh dari Beng Kauw, Pertapa dari India dan Hu
Kauw Cu Lam Hay Bun yang adalah adik Ketua Lam Hay Bun dan memiliki kesaktian
yang setara dengan kakaknya.
Pertarungan puncak antara Ketua Lam Hay Bun melawan Kiang Sin
liong berakhir dramatis dengan kemenangan yang kelihatan secara kebetulan,
hanya setengah jurus kemenangan Sin liong atas Ketua Lam Hay Bun. Sama seperti
kakeknya, ketika dicoba bertanding dengan Ilmu Batin oleh Tokoh India, Mahendra
yang lihay Ilmu Sihirnya, Sin Liong juga masih sanggup mengimbanginya dan
bahkan kemudian memenangkannya.
Ke-4 tokoh ini kemudian menjadi legenda, dan mereka selalu
bertemu setiap 10 tahun sekali. Dewasa ini, mereka bahkan cenderung menjadi
tokoh setengah dewa yang tiada seorangpun tahu apakah mereka masih hidup
ataukah tidak lagi. Desas desus rimba persilatan yang memang ramai berseliweran
dan sudah dibumbu-bumbui malah memastikan mereka sudah menjadi manusia gaib
yang luar biasa saktinya, alias manusia setengah dewa. Yang pasti, Kiang Sin
Liong, bahkan keturunannya sendiripun tidak tahu lagi dimana keberadaannya
sejak 30 tahun berselang ketika mewariskan kedudukan Ketua Lembah Pualam Hijau
kepada anaknya.
Kepahlawanan keluarga Kiang, kembali ditunjukkan oleh cucu-cucu
Kiang Sin Liong yang mewarisi bakat dan kemampuan kakeknya. Kiang In Hong,
seorang wanita muda cerdik dan sangat berbakat dan kakaknya Kiang Cun Le.
Sayangnya ayah mereka mati muda, dan karenanya mereka dididik langsung oleh
Kiang Sin Liong. Bahkan ketika Kiang Sin Liong menghilang dari depan umum yang
waktunya berbeda beberapa tahun dengan menghilangnya 3 tokoh lain, masih
beberapa kali kakek ini mampir mendidik kakak beradik ini dalam Ilmu Silat.
Kedua Kakak beradik ini, juga berhasil memaksa Lam Hay Bun untuk
mentaati syarat ketika mereka takluk dikalahkan Kakek mereka puluhan tahun
sebelumnya melalui cara yang sama, perang tanding antara keduanya melawan Ketua
dan Wakil Ketua Lam Hay Bun. Dan bahkan merekapun bertarung melawan Suami Istri
pesilat asal India yang mahir Ilmu Silat dan Ilmu Sihir. Kedua Kakek Nenek ini
dikalahkan di Siauw Lim Sie di depan banyak tokoh Kang Ouw dan semakin
meneguhkan kejayaan Lembah Pualam Hijau sebagai andalan dan pegangan Persilatan
Tionggoan selain Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay dan Kay Pang.
Kehadiran Kiang Cun Le dan Kiang In Hong, sayangnya tidak
dibarengi oleh tampilnya tunas utama yang sama di kalangan Kay Pang, Siauw Lim
Sie dan Bu Tong Pay. Meskipun perguruan-perguruan itu tetap melahirkan banyak
tokoh sakti, tetapi masih kalah gemilang dengan kakak beradik Cun Le dan In
Hong.
Sebenarnya Kiang Cun Le memiliki 2 orang Kakak laki-laki, Kiang
Siong Tek yang sulung dan Kiang Tek Hong kakak kedua. Tetapi Siong Tek lebih
mahir menekuni ilmu dalam dan keagamaan, dan karena itu memilih meninggalkan
Lembah Pualam Hijau untuk merantau dan kemudian masuk menyucikan diri di biara
Siauw Lim Sie di Siong San.
Sementara Kiang Tek Hong yang tidak kurang berbakat dibandingkan
dengan Cun Le menghilang di saat yang sama dengan keputusan toakonya Siong Tek
untuk menyucikan diri. Akhirnya Kiang Cun Le yang memegang pimpinan Lembah
Pualam Hijau selama 30 tahun lebih, dan kemudian mewariskan kedudukannya kepada
anaknya Kiang Hong.
Cun Le memiliki sepasang anak kembar laki-laki disamping anak
sulungnya yang perempuan bernama Kiang Sian Cu yang pernah dididik langsung
oleh bibinya Kiau In Hong. Anak lelaki kembar yang sulung bernama Kiang Liong
dan yang bungsu bernama Kiang Hong. Sepatutnya, Kiang Liong yang memegang
tampuk pimpinan tertinggi, tetapi karena mengalami tekanan batin dan sedikit
terganggu kesehatan batin dan pikirannya, akhirnya dengan rela dia menyerahkan
kepemimpinan kepada adik kembarnya Kiang Hong, dan dia sendiri kemudian
menekuni ilmu sambil mengobati luka batin dan pikirannya.
Sebelum menjadi Orang Utama di Lembah Pualam Hijau, Kiang Hong
bersama Kiang Liong sudah banyak membantu dunia persilatan baik menyelesaikan
masalah rumit ataupun menumpas para penjahat rimba hijau. Karenanya, bersama
Kiang Liong, mereka menjadi sepasang pendekar muda yang sangat dihormati.
Sayangnya, Kiang Liong mengalami gangguan mental dan pikiran karena bencana
tertentu, dan karenanya Kiang Hong yang kemudian terpilih untuk menjabat sebagai
Ketua Lembah atau dinamakan Duta Agung.
Kiang In Hong adik wanita salah satu legenda Lembah Pualam Hijau
Kiang Cun Le, juga mendadak menghilang beberapa tahun setelah memenangkan
pertarungan bersejarah di Siauw Lim Sie. Tetapi, tidak lama setelah dia menghilang,
muncul seorang Pendeta Wanita Sakti dari Timur. Rahib wanita itu kemudian
terkenal dengan sebutan Liong-i-Sinni (Pendeta Wanita Sakti Berbaju Hijau).
Hampir tidak ada yang bisa menggambarkan kesaktian Pendeta
Wanita tersebut yang bila tampil pasti selalu dengan pakaian hijau dan dengan
hiasan putih di tangan, kaki dan senjata hudtimnya. Spekulasi merebak
menyebutkan Pendeta Wanita tersebut adalah jelmaan Kiang In Hong yang mengalami
patah hati dan kemudian menyucikan diri. Hingga sekarang, Pendeta Wanita ini
masih menjadi misteri lain dunia persilatan. Tapi yang pasti dia selalu
berpihak kepada kebenaran dalam setiap kesempatannya untuk unjuk diri, juga
murid-muridnya.
Kekuatan Lembah Pualam Hijau sejak dahulu bertumpu pada 12 Duta
Utama. Duta Agung adalah Ketua Lembah sekaligus Bengcu Persilatan sejak 100
tahun sebelumnya, diapit oleh Duta Luar dan Duta Dalam sebagai wakil dari Duta
Agung. Disamping itu, terdapat 3 orang Duta Hukum yang selalu bertugas memberi
pertimbangan dalam sebuah pertemuan dengan Duta Agung dan Duta Luar dan Duta
Dalam.
Baru kemudian terdapat 6 Duta Perdamaian yang bertugas membantu
penyelesaian masalah yang dihadapi dunia persilatan. Duta Perdamaian ini,
biasanya sekaligus sanggup membentuk Barisan 6 Pedang Pualam Hijau yang terkenal
kesaktiannya dalam rimba persilatan. Rapat biasanya diadakan untuk mendengarkan
laporan dari 6 duta atau laporan khusus yang disampaikan ke Lembah Pualam
Hijau. Sistem dan mekanisme lembah ini sudah mulai dilaksanakan dan dibentuk
oleh Kiang Sin Liong, dalam menjawab begitu banyak permintaan tolong dari
banyak perguruan silat yang bermasalah waktu itu. Dengan wibawa Pedang dan
Medali Pualam Hijau banyak persoalan tersebut terselesaikan.
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...