Kamis, 20 November 2014

Kisah Para Naga - 04


Eps.04


Duta Agung, Duta Dalam dan Duta Luar biasanya merupakan Keturunan Keluarga Kiang (bermarga Kiang), atau istri dari Keluarga Kiang yang terutama, sementara 3 Duta Hukum adalah juga lingkungan keluarga Kiang, atau murid dari seorang tokoh keluarga Kiang, bisa juga karena ibunya bermarga Kiang atau garis keturunan keluarga Kiang sebelah Ibu.
Sementara 6 Duta Perdamaian adalah murid-murid dari Duta Agung, Duta Dalam dan Duta Luar yang sudah dinyatakan lulus untuk melaksanakan tugas. Tidak semua murid mendapatkan kehormatan ini, hanya 6 dari sekian banyak murid yang bisa melakukan tugas Duta Perdamaian dan tidak menetap di Lembah. Di Lembah sendiri yang berdiam hanyalah Duta Agung, Duta Dalam, Duta Luar dan Duta Hukum bersama keluarganya. Yang dimaksud Keluarga adalah Anak dan Istri, selebihnya tinggal di luar lembah meski masih dalam wilayah dan teritori Lembah Pualam Hijau.
Pesan dan perintah biasanya diberikan kepada Duta Perdamaian oleh Duta Hukum dari Duta Agung atau Duta Luar dan Duta Dalam. Kemanapun Duta Agung pergi, setidaknya didampingi oleh Duta Luar atau Duta Dalam dengan seorang Duta Hukum.
Di samping Kiang Hong, duduk istrinya yang bernama Tan Bi Hiong. Seorang murid anak murid preman Ketua Bu Tong Pay yang menikah dengan Kiang Hong sekitar 10 tahun sebelumnya, saat Kiang Hong belum menjadi ketua Lembah. Wanita ini merupakan “bunga” dunia persilatan ketika berkelana di dunia Kang ouw dan merupakan murid kesayangan Ketua Bu Tong Pay dewasa ini. Berhati lembut dan sangat jelita, sangat mandiri dan juga sangat cerdas, sehingga sering banyak membantu suaminya memecahkan persoalan persoalan yang dihadapi lembah.
Dari Bu Tong Pay dia menguasai ilmu-ilmu utama Bu Tong Pay seperti Bu Tong Kiam Hoat bahkan juga Ilmu Thai Kek Sin Kun, ilmu andalan sang Ketua. Ilmunya meningkat pesat ketika menikah dengan Kiang Hong dan menerima banyak petunjuk langsung dari mertuanya Kiang Cun Le yang kini duduk dihadapannya. Karena itu, Bi Hiong kemudian menjadi Duta Dalam Lembah Pualam Hijau mendampingi suaminya, sementara duta Luar dipegang oleh Kiang Sian Cu, kakak Kiang Hong.
Hubungan kekeluargaan akan berubah 180% ketika pertemuan terjadi dalam bentuk struktur hubungan Lembah Pualam Hijau sebagai Perguruan Perdamaian dalam dunia persilatan. Ukuran adalah dalam kedudukan, bukan anak, cucu atau ipar. Tetapi, hubungan kekeluargaan akan berstruktur normal, ketika pertemuan yang terjadi dalam konteks kekeluargaan.
Dalam hal hubungan keluarga, Kiang Hong akan memanggil Sian Cu dengan sebutan Suci, tetapi dalam tugas sebagai Duta Agung dia akan memanggil Sian Cu dan Istrinya Bi Hiong dengan sebutan Duta Dalam dan Duta Luar dengan menanggalkan kekerabatan pribadi.
“Hong Ji dan Hiong Ji, anak-anakku, bagaimanakah perkembangan terakhir keadaan dunia persilatan”? Kiang Cun Le membuka percakapan dengan anak-anaknya. Karena dia sudah mengundurkan diri dan cuci tangan mensucikan diri dan meninggalkan dunia persilatan, dia tidak terikat peraturan struktur hubungan Lembah Pualam Hijau dengan Kiang Hong sebagai pucuk pimpinannya.
Terdengar Kiang Cun Le melanjutkan:
“Seperti kalian berdua ketahui, setelah menutup diri, saat ini ayah tinggal mengandalkan ilmu batin dan perkembangan perbintangan, dan tentu informasi dari kalian. Dan rasanya kemelut dunia persilatan menjadi semakin terbuka kemungkinannya. Setelah kurang lebih 10 partai menengah menjadi korban tanpa kita tahu jejak pelakunya yang misterius, maka gerakan yang lebih besar pasti akan terjadi. Bagaimana pengamatan kalian atas kejadian ini”?
Kiang Hong memandang istrinya sejenak sebelum bicara, dalam banyak urusan memang menjadi kebiasaannya seperti itu.
“Ayah, keadaannya memang agak mencekam. Tetapi, nampaknya selain Barisan warna-warni, masih belum ketahuan tokoh utama dibalik kejadian tersebut. Apabila kita menuduh Lam Hay sebagai pelakunya, fakta menunjukkan banyak penyimpangan. Pertama, dalam sejarah mereka tidak banyak melakukan pembunuhan. Kedua, mereka hanya meninggalkan sebagian murid yang relatif tidak berbahaya, ketiga mereka terikat perjanjian dengan kita untuk tidak mengganggu wilayah Tionggoan. Hong Ji melihat bahwa insiden tersebut tidak bisa secara lancang ditanggungkan kepada Lam Hay Bun” Demikian laporan dan penjelasan Kiang Hong.
“Kau benar Hong Ji, bukan seperti itu gaya dan cara Lam Hay Bun. Betapa ambisiusnya mereka, kita tahu. Tapi betapa mereka sangat mengagungkan kegagahan, juga kita mengerti. Hanya kekuatan Ilmu Silat yang sanggup menundukkan hasrat dan kegagahan mereka. Baik Kauwcu maupun Hu Kauwcu mereka yang kakak beradik seperguruan, sangatlah gagah dan sakti. Kecuali ada perubahan yang sangat besar dan dahsyat di Lam Hay Bun, sesuatu yang rasanya tidak akan diijinkan oleh sahabat Lam Kek Sin Kun, Pak Tian Ong selama dia masih hidup. Meskipun dia sangat berambisi, tetapi kegagahannya sangatlah kukagumi dan dia tidak akan sebodoh itu menyerahkan Lam Hay Bun ke tangan orang-orang yang akan mengaburkan dan mengikis kegagahannya” Jelas Kakek Cun Le.
“Nampaknya, bukan tidak mungkin ada pihak-pihak yang mengail diatas air keruh kali ini” Tan Bi Hiong ikutan nimbrung.
“Apabila bukan karena terjadi perubahan drastis dalam Lam Hay, maka sudah pasti ada kekuatan tertentu yang memanaskan situasi dan memanfaatkan reputasi masa lalu Lam Hay. Beng Kauw, bisa dikategorikan disini, tetapi dengan syarat, juga terjadi perubahan besar dalam kebijakan kelompok agama ini. Mereka juga biasanya hanya melibatkan diri dalam pertarungan Ilmu Silat dengan mengandalkan Ilmu mereka, dan paling banter yang turun adalah Ketua Agama mereka bersama Hu Pangcu dan 3 pelindung agama mereka. Dan jika Beng Kauw harus dihapus dari daftar ini, maka menjadi sangat sulit mencari kekuatan mana lagi yang mampu membuat dunia persilatan kisruh. Kemungkinan, kita malah akan memasuki sebuah badai persilatan dengan jangka yang cukup panjang. Mengapa? Karena badai kali ini mengandalkan strategi dan kelicikan, dan bukannya penguasaan wilayah melalui Ilmu Silat sebagaimana para kakek buyut menghadapinya dahulu berhadapan dengan Thian Tok, Bengkauw dan Lam Hay” Papar Bi Hiong.
“Ah, kamu selalu berpandangan terang ke depan Hiong Ji. Justru kemungkinan itulah setengahnya yang kulihat dalam awan kelam yang akan melingkupi persilatan Tionggoan ke depan. Awan itu, bahkan tragisnya akan sampai kesini, akan menyentuh kita sampai kemudian sinar yang sudah terlalu kelam tapi dekat dengan kita akan mengirimkan sinar terang yang lain bagi kita. Meskipun tidak hancur, tetapi kalian harus menata Lembah kembali dalam waktu lama untuk memulihkan nama baiknya. Hong Ji dan Hiong Ji, kepada kalian kutitipkan bagaimana menata kembali lembah ini sampai sinar terang itu kembali. Badai ini jauh lebih dahsyat dari yang dihadapi kakek buyut Sim Hoat dan kakek Sin Liong dan yang juga kuhadapi dahulu".
Kiang Cun Le nampak berhenti sebentar, dengan wajah serius dia kemudian melanjutkan:
"Benar Hiong Ji, aku melihat Beng Kauw akan kembali menuntut, Lam Hay juga, bahkan sebuah benda yang jadi taruhanku dengan kedua orang tua dari India juga akan menimbulkan masalah. Pekatnya badai itu, karena harus ditambah dengan mencari tahu, siapa yang mencoba menajamkan pertarungan dengan darah, dan bukan cuma adu ilmu silat sebagaimana biasanya”.
Kembali Kiang Cun Le berhenti sebentar, menimbang-nimbang banyak hal, kemudian melanjutkan:
“Samar-samar, Ilmu Silat dan Ilmu Batin kalian akan sangat menentukan dalam menangani masalah ini. Aku sudah letih dan punya persiapan khusus untuk ikut menangani persoalan ini, sudah ada yang akan dan sedang siap untuk melakukannya. Tetapi, kalian jangan alpa, dan jika mungkin juga membangun komunikasi dengan Kay Pang, Siauw Lim Sie, BuTong Pay dan juga Liong I Sinni (Pendeta wanita Sakti berjubah hijau). Nampaknya, misteri dan badai ini akan sangat dahsyat karena akan melibatkan generasi lama, cuma aku belum yakin benar soal ini. Awas-awaslah dengan peningkatan Ilmu kalian dan cermati persoalan di luaran. Liong Ji sejak hari ini akan bersamaku, dan jangan tanyakan sampai kapan, sementara Nio Ji kalian antarkan kepada Liong I Sin Ni. Kepada Sinni tidak perlu kalian bicara apa-apa, hanya kalian berikan mata kalung pualam hijau ini kepadanya (sambil menyerahkan mata kalung bertuliskan “Kiang” kepada Kiang Hong) dan dia tahu apa yang akan dia kerjakan. Kalian terpaksa harus berpisah dari anak-anak kalian untuk meredakan badai ini”
“Bagaimana dengan lembah ini Ayah”? Tanya Kiang Hong
“Meski aku menyucikan diri dan tidak terlibat urusan Kang Ouw, bukan berarti aku haram mempertahankan rumahku. Lakukan tugasmu dan kerahkan semua kekuatan kita dalam melacak berita. Tetapi, diatas semuanya, jangan lupakan terus menempa diri kalian. Hiong Ji, jika bertemu Sinni mintalah dia menyempurnakan pengerahan tenaga lemas dan keras ketika menghentak ginkang dan sinkang pada tataran tertinggi perguruan kita, dan sampaikan salam rindu saudaranya kepadanya. Sementara kakakmu Kiang Liong, biarlah aku dan nasib yang akan mengurusnya, jangan kalian pikirkan dulu masalahnya saat ini. Dan kamu Hong Ji, aku punya waktu semalaman ini untuk membicarakan sesuatu denganmu sebelum besok aku menutup diri dengan Liong Ji. Besok sore sebaiknya kalian berangkat kearah timur, tinggalkan Sian Cu bersama 2 Duta Hukum disini, sementara kamu boleh menugaskan 6 duta perdamaian membangun kontak dan mencari informasi, setelah itu kalian upayakan menyelidiki kejadian-kejadian yang paling akhir. Akan ada banyak kejutan, tapi jangan panik. Hiong Ji, dalam hal ini kamu malah lebih piawai dari Hong Ji, ingat jangan mudah dipecah belah dalam urusan apapun. Baiklah, kita tetapkan demikian untuk hari ini” Kakek Cun Le mengakhiri percakapan.
Setelah lebih 5 tahun menyepi dan hanya sesekali keluar mendidik cucunya, Cun Le sebenarnya banyak mengembangkan ilmu dalam atau ilmu kebatinan. Dalam hal ini, dia malah lebih dahsyat pada usianya dibandingkan Sin Liong, karena pada usianya yang mendekati 55an sudah sanggup membaca gejala alam, mampu memprediksi kejadian dengan tingkat keakuratan yang tinggi.
Selain memperdalam Ilmu Kebatinan, diapun melakukan penelahan lebih jauh atas Ilmu-Ilmu peninggalan keluarganya. Ilmu keluarganya sudah lama digolongkan tingkat atas bersama dengan Ih Kin Keng, Selaksa Tapak Budha dan Tay Lo Kim Kong Ciang dari Siauw Lim Sie; Hang Liong Sip Pat Ciang, Pek Lek Sin Jiu (Pukulan Halilintar) dan Tah Kaw Pang dari Kay Pang, serta Bu Tong Kiam Hoat, Thai Kek Sin Kun, Ling Gie Sim Hwat dari Bu Tong Pay.
Kiang Sim Hoat menciptakan sebuah Ilmu Khas Lembah Pualam Hijau berdasarkan sebuah Kitab Pusaka yang sudah sangat lapuk ketika ditemukannya di Lembah Pualam Hijau. Bahkan nama kitab disampulnyapun sudah tidak bisa dieja dan dibaca lagi, tetapi kitab itu nampaknya sangat menekankan unsur kehalusan dan kedalaman.
Penekanan pada unsur “im” yang halus dan dingin dipertegas dengan hawa dingin yang dilatih oleh Sinkang khusus dalam kitab tersebut. Sayangnya, pencipta dan pengantar kitab itu sebagai informasi mengenai kitab, sudah tidak bisa terbaca, justru bagian inti dari ilmu yang termuat dalam kitab tersebut masih bisa utuh. Tapi itupun tidak mengurangi kedahsyatan Ilmu yang kemudian terkenal menjadi ciri pengenal dan pamungkas dari Lembah Pualam Hijau.
Kitab Silat kuno itu ternyata berisikan 13 jurus sakti yang kemudian digubah Sim Hoat menjadi Giok Ceng Cap Sha Sin Kun (Tiga Belas Jurus Sakti Pualam Hijau). Dinamakannya demikian karena dalam sebuah Gua Rahasia yang hanya diketahui rahasianya oleh para Ketua Lembah setelah Sim Hoat, ditemukan sebuah pembaringan sempit yang hanya sanggup menampung 1 orang dan terbuat dari PUALAM HIJAU.
Pembaringan itu juga ditemukan khasiatnya oleh Sim Hoat dalam kitab kuno sebagai alat untuk membantu memperkuat Sinkang guna melatih Ilmu dalam kitab. Khasiat pembaringan Giok Hijau itu adalah memperdalam dan mempercepat meningkatkan hawa Sinkang jenis dingin, karena pembaringan itu dinginnya bukan main. Untungnya, pelajaran jenis sinkang bagi 13 jurus sakti kuno ini dan bagaimana memanfaatkan pembaringan Giok diajarkan dalam kitab dan kemudian diturunkan bagi pewaris lembah kemudian secara lisan. Pembaringan itupun hanya diketahui paling banyak 2 orang, Ketua Lembah dan Istrinya.
Selain Giok Ceng Cap Sha Sin Kun ini menjadi ilmu khas Lembah Pualam Hijau, Sim Hoat kemudian menggubah Ilmu Pedang Giok Ceng Kiam Hoat yang mencampurkan beberapa rahasia Ilmu Pedang Kakek Dewa Pedang berdasarkan gerak Pat Sian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa) yang menjadi andalan Kakek Dewa Pedang tersebut.
Ilmu pedang ini sebenarnya gubahan bersama, sebagai hadiah kakek Dewa Pedang yang membuatkan Pedang Giok Hijau bagi Kiang Sim Hoat. Perbendaharaan Ilmu Sakti Lembah Pualam Hijau bertambah dengan diciptakannya kemudian oleh Kiang Sin liong ilmu Soan-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Angin Badai) dan Toa-hong Kiam-sut (Ilmu Pedang Angin Badai).
Semua Ilmu itu bertumpu pada Giok Ceng Sinkang yang ditumbuhkan, diperdalam dan dikuatkan oleh Pembaringan Giok Ceng yang rahasianya dimiliki oleh pewaris Lembah. Baik Soan Hong Sin Ciang maupun Toa Hong Kiam Sut merupakan ilmu khas yang mampu menciptakan prahara angin dan badai dan banyak dilambari oleh kekuatan batin.
Ilmu ini diciptakan Sin Liong setelah bertarung dengan jagoan India yang sangat kuat Ilmu Silat dan Ilmu sihirnya. Terlebih karena khasiat lain pembaringan Giok Hijau adalah memperkuat batin seseorang dan karena itu, baik Sim Hoat maupun Sin Liong, mampu menghadapi serangan sihir yang luar biasa kuat melalui penguasaan batin yang luar biasa.
Memang, selain bantuan pembaringan Giok hijau, bakat dan ketekunan juga sangat menentukan. Setiap pewaris lembah, rata-rata memiliki kekuatan batin yang sangat luar biasa, sehingga mampu menolak kekuatan sihir lawan yang bagaimanapun kuatnya.
Sementara Cun Le sendiri pada beberapa tahun terakhir sedang menggubah sebuah ilmu yang dinamakannya Khong-in-loh-Thian (Awan Kosong Menggugurkan Langit) dan sejenis ilmu langkah ajaib yang diberinya nama Sian-jin-ci-lou (Dewa Menunjukkan Jalan).
Sama seperti Ilmu Ciptaan Sin Liong yang bernama Toa Hong Kiam Sut dan Soan Hong Sin Ciang, penggunaan Khong in loh Thian juga sangat sarat kekuatan batin dan memang khusus digunakan untuk melawan kekuatan sihir lawan. Hanya, berbeda dengan Soan Hong Sin Ciang yang membawa perbawa badai dalam serangannya, maka Khong in loh Thian justru mementalkan dan bahkan membalikkan serangan-serangan Ilmu Hitam dan Ilmu Sihir kepada pemiliknya.
Dan ketika membalik, seseorang dengan kepandaian tanggung tidak akan sanggup mengantisipasi karena tenaga serangannya diserap dan dikembalikan tanpa tanda-tanda desiran sedikitpun. Karena itu dinamakan awan kosong.
Tetapi, Ilmu Sian Jin Ci Lou, termasuk Ilmu langkah kaki ajaib yang agak bersifat gaib. Sesuai namanya, pemilik Ilmu yang memainkan Ilmu ini seakan akan mendapatkan petunjuk dewa tentang bagaimana menghindarkan serangan sehebat apapun. Sayangnya, sampai saat ini Cun Le sendiri seperti masih merasakan adanya kekurangan dalam Ilmu Langkah yang dia gubah atas pengenalannya terhadap Ilmu dari India dan warisan puisi kuno dalam sebuah Gelang yang maknanya sangat dalam.
Pada malam terakhir yang disebutkan Kiang Cun Le kepada anaknya, dipaparkannya kembali seluruh rahasia Ilmu keluarga dan secara bersama mendalami beberapa unsur baru yang digubah Cun Le beberapa waktu belakangan. Ilmunya Khong In Loh Thian diturunkan secara sempurna kepada Kiang Hong, termasuk membuka wawasan Kiang Hong mengenai kemungkinan yang sangat luas terhadap langkah ajaib Sian Jin Ci Lou.
Percakapan antara 2 ahli tidak butuh lama untuk mengerti, memahami dan melakukannya. Semalam, berarti bisa 30 tahun bagi orang yang baru memulai berlatih Ilmu Silat untuk memahami apa yang dikemukakan Cun Le kepada anaknya Kiang Hong.

Bagian paling rumit adalah memperkuat Tenaga Batin anaknya agar sanggup memainkan baik Soan Hong Sin Ciang dan Khong in loh Thian sebelum meninggalkan lembah, sesuatu yang dirasa masih diperlukan bagi Kiang Hong. Dan selepas pertemuan itu, Kiang Hong merasa seperti menjadi lebih nyaman dan lebih ringan.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...