Kamis, 20 November 2014

Kisah Para Naga - 05


Eps.05


“Saatnya sudah tiba dan nampaknya waktuku tidak sangat panjang. Heran, kenapa si tua itu sangat tidak sabaran” Kakek Cun Le sedikit menggerutu.
Karena disaat dia memutuskan melakukan apa yang diniatkan dan direncanakan sejak lama, justru seorang “kawan lamanya” nampaknya sedang datang untuk menemui dan mengganggunya. Tapi perhitungannya sudah matang, tidak mungkin ditundanya lagi.
“Baiklah, Liong Ji, ….., Liong Ji” Kakek Cun Le memanggil
“Liong Jie sedang berlatih kek, di luar” sahut suara anak kecil dari luar.
“Sudahi latihanmu dan masuklah kedalam” panggil Kakek Cun Le
“Baik kek ….. hait” dan tidak lama, Kiang Ceng Liong memasuki kamar khusus kakeknya.
“Liong Ji, waktu kita sangat terbatas dan tidak boleh gagal” papar Kakek Cun Le dan membuat Ceng Liong menjadi heran, terutama karena kakeknya nampak sangat serius. Meskipun usianya belum mencapai 10 tahun, tetapi Kiang Ceng Liong menunjukkan bakat yang luar biasa baiknya dalam Ilmu Silat.
Bahkan sejak berusia 5 tahun Ceng Liong sudah dibiasakan berbaring di pembaringan rahasia Pualam Hijau. Bakatnya yang luar biasa, keteguhan dan kekerasan hatinya membuatnya sanggup mulai menjalankan semedi dan berlatih di atas pembaringan sejak berusia 6 tahun. Bahkan dasar-dasar ilmu Pualam Hijau sudah sanggup dimainkannya dengan sempurna.
Daya ingat anak ini, baik untuk pelajaran sastra maupun ilmu silat sungguh luar biasa. Kakeknya, Kiang Cun Le, kadang-kadang sering tertegun melihat bakat, kemauan dan potensi yang dimiliki cucunya, tentu juga dengan kekaguman.
“Pertama, jangan menolak dan jangan melawan terhadap apapun yang kulakukan atasmu. Seperti biasa, kosongkan pikiran dan mengalir bersama nafasmu. Sesakit apapun. Paham”?
“Paham kek” sahut Ceng Liong serius.
“Kedua, ingat, bahwa sakit yang kamu alami demi menegakkan wibawa Kakek, Ayah dan lembah kita. Camkan itu dan tanamkan dalam hatimu”
“Jelas kek”
“Ketiga, kita akan menghadapi bencana yang sangat besar. Mengancam kakek, mengancam ayahmu dan mengancam umat manusia dan lembah kita. Sesakit apapun harus bisa kamu tahan. Sanggup”?
“Sanggup kek” makin kokoh suara si bocah
“Keempat, saat kakek melontarkanmu ke sungai itu, jangan memecah perhatianmu. Belajar menyerah dan pasrah pada alam dan biarkan nasib memutuskan apa yang akan terjadi. Sanggup”?
“Maksud kakek”? Tanya si bocah
“Demi keselamatan kakekmu, ayahmu dan umat manusia juga lembah kita, sanggupkah kamu” tegas Kakek Cun Le
“Liong Ji sanggup, tapi apa mati hidup Liong Ji harus mandah saja?” si bocah penasaran.
“Ya” tegas sang Kakek
“Tapi kek” si Bocah bertahan
“Sebab itu adalah salah satu syarat kamu akan berhasil atau tidak. Jika kamu melawan, maka semua akan sia-sia. Bagaimana”?
Setelah lama berpikir, akhirnya si bocah mengangguk perlahan.
“Kamu harus yakin atas dirimu sendiri dan jangan dengan keterpaksaan. Jawab sanggup atau tidak”?
“Sanggup kek” jawaban tegas setelah berpikir lama.
“Kamu berjanji di hadapan kakekmu, dihadapan kehormatan keluargamu dan lembahmu”? desak sang Kakek
“Liong Ji berjanji. Liong Ji yakin Kakek dan Ayah tidak akan mencelakakan Liong Ji’ tegas sekali jawaban si Bocah.
Kakek Cun Le terharu dan hatinya seperti diremas-remas membayangkan perjalanan hidup cucunya ini, tetapi tidak ada cara lain. Dan perasaan haru dan sayang tidak dia tunjukkan, sebaliknya malah.
“Kamu sudah berjanji. Ingat kehormatanmu dan kehormatan kakek, ayahmu dan lembah ini dipertaruhkan diatas janjimu itu. Ingat dan camkan itu” tegasnya
“Liong Ji yakin mampu” tegas sang Bocah.
“Baik dan yang terakhir, terimalah gelang perak ini (sambil menyerahkan dan mengenakan sebuah gelang perak yang sedikit gemuk karena berongga didalamnya). Ingat dan camkan, jangan pernah mencoba membuka gelang ini dan membaca isinya sebelum waktunya. Kamu sanggup?
“Sanggup kek. Tapi kapan bisa kubuka dan lihat isinya?” jawab Ceng Liong
“Pada saat kamu merasa sepertinya akan mati karena penuh hawa, daya dan tenaga yang berontak. Pada saat kamu merasa tiada daya lagi, kamu ingat ayahmu dan kakekmu, maka saat itulah kamu boleh membukanya. Ingat dan camkan waktunya”
“Baik kek” jawab si bocah sambil manggut-manggut.
“Justru syarat tadi kamu harus pasrah meski menghadapi kematian mulai besok secara sendirian akan menentukan apakah kamu akan sukses nantinya atau malah gagal total. Ingatlah baik-baik pesan kakekmu ini” Ujar Kakek Cun Le sambil mengulang-ulangi kalimatnya itu.
Meskipun bingung, Ceng Liong mencatatnya dalam sanubarinya. Dan secara kebetulan, anak ini memang memiliki daya ingat dan daya melekatkan sesuatu yang penting dalam sanubarinya hingga susah lenyap.
“Baiklah, sekarang kita akan memulai. Lupakan orang tuamu, mereka sedang mengantarkan adikmu Nio ke paman nenekmu di Timur, suatu saat kamu akan ketemu mereka. Sekarang kamu lepaskan pakaianmu, semuanya. Harus telanjang bulat dan kemudian mulailah lakukan semedi, satukan nafas, pikiran, hasrat dan kemauan dan kemudian hilangkan semuanya itu. Mulailah” perintah si Kakek dengan terharu, karena bocah kecil yang dikasihinya ini akan mulai mengembara sendirian luntang lantung karena bencana yang diantisipasikan olehnya sebagai kakek si bocah cilik.
Tidak berapa lama si bocah sudah diam terpaku dalam semedi, nafasnya bergerak teratur dan wajahnya nampak damai dan sentosa. Kakek Cun Le sejenak menjadi tidak tega, tetapi keselamatan lembah dan umat persilatan mendorongnya untuk melakukan sesuatu.
Dan tentu sekarang sudah saatnya, karena sudah dimulainya. Perlahan Kakek Cun Le memusatkan perhatiannya, mengatur nafas dan kemudian membelai, menotok, memijit jalan darah di tubuh Ceng Liong. Meski di wajah bocah itu tidak nampak reaksi, tetapi otot, jalan darah dan urat-urat di sekujur tubuhnya mengalami perubahan-perubahan yang luar biasa. Tetapi pijatan dan totokan yang dilakukan ahli sekelas Kiang Cun Le, pendekar legendaries dari Lembah Pualam Hijau, membuat perubahan tersebut hanya dirasakan sesaat.
Semua dilakukan untuk membuat persiapan dan adaptasi tubuh cucunya untuk menerima penyaluran tenaganya. Dan selang beberapa waktu, justru wajah Cun Le yang menjadi muram, di atas kepalanya mengepul uap putih, dan pada saat itulah dia mulai menyalurkan tenaga murni yang diyakini selama lebih dari 50 tahunan.
Proses itu berlangsung cukup lama, sejak menjelang malam dan bahkan sudah melampaui tengah malam. Wajah Cun Le sudah pucat pias, kabut di kepalanya sudah sangat pekat, sementara sang bocah, nampak oleng kiri dan oleng kanan, wajahnya terkadang mengernyit, tetapi kekerasan hatinya sungguh luar biasa.
Penderitaannya pada waktu itu dirasakannya sebagai cara untuk menjaga kehormatan keluarga dan lembahnya, dan perasaan inilah yang melahirkan kekuatan yang luar biasa dalam dirinya. Bisikan kakeknya menyadarkannya, biarkan hanyut, biarkan menyatu dan jangan melawan. Cara itu sungguh membantu, dengan segera dia menjadi semakin oleng kiri dan kanan, dan makin keraslah kerja Kakek Cun Le menahan tubuh cucunya untuk tidak miring kekiri dan kekanan.
Saat-saat menegangkan dan pada proses puncak penyaluran tenaga untuk berdiam di pusar Ceng Liong sedang terjadi. Sementara itu sebuah bayangan seperti setan dan luar biasa pesatnya nampaknya mondar-mandir mencari jalan.
Untunglah Duta Agung, Majikan Lembah dan Para Duta sedang berada di Luar lembah, jika tidak maka bayangan tersebut pasti sudah bisa teridentifikasi sejak lama. Tapi mungkin juga tidak, karena tokoh yang bergentayangan ini bukan tokoh biasa. Karena bayangan yang datang adalah seorang tokoh gaib yang lain pada jaman itu, seangkatan dengan Kiang Cun Le sendiri.
Dialah Siangkoan Tek, pentolan Bengkauw, Ketua Beng Kauw saat ini, yang sebetulnya sudah malas mencampuri dunia ramai. Tetapi pengecualian kalau yang berurusan adalah dengan kawan seangkatannya di dunia persilatan, salah satunya adalah Kiang Cun Le dan Kiang In Hong.
Ketika merasa bahwa Beng Kauw juga dicurigai dalam kasus pembantaian dan pencaplokan sejumlah Perguruan Silat kecil, Siangkoan Tek merasa tersinggung dan ingin bertanya langsung kepada Cun Le dan bukannya kepada Kiang Hong.
Maklum, gengsi angkatan tua memainkan peranan penting disini. Masakan harus bertanya kepada anak-anak”? pikirnya, dank arena itu dia hendak bertanya langsung kepada Cun Le. Tapi, celakanya, sudah sejak menjelang malam dia mengirimkan isyarat batin untuk bertemu, tetapi sama sekali tiada balasan dari Cun Le. Akhirnya dia memutuskan untuk menerobos masuk.
“Kenapa daya hidup Cun Le begitu lemah? Bahkan tandanya malah sangat redup dan semakin redup saja”?
“Apa yang sedang dia alami”? atau apakah dia tahu aku yang datang dalam keadaannya yang lemah ini”?
“Cun Le, ada apa denganmu”? desis Siangkoan Tek
Maklum, rekan seangkatannya, meski rekan bertarung tetapi bertemu tetap merupakan kerinduan tersendiri. Lagipula, jika kawan bertempur yang sepadan tiada lagi, apa gunanya tetap hidup dan memiliki ilmu tinggi lagi, bukankah malah jadi membosankan?
Hal yang wajar, sebab biarpun Siangkoan Tek berwatak berangasan dan begitu ketemu langsung menyerang Cun Le ataupun Ketua Siauw Lim Pay, tetapi rasa kagum dan hormatnya tidak hilang. Kegagahan masih tetap dimilikinya, masih melekat dalam sanubarinya.
Setelah bolak-balik mencari jalan masuk yang terbatas ke lembah, akhirnya Siangkoan Tek berhasil menyusup dan terus menuju tempat terlarang, yakni tempat meditasi Cun Le. Dan ketika menemukan Cun Le persis dari sisi belakang, dengan tidak tanggung-tanggung melalui suara bathin dia menegur tanpa menyelidiki dulu apakah gerangan yang sedang dilakukan Cun Le dan mengapa dia tidak menjawab panggilan batinnya:
“Rupanya kamu sedang berlatih … baiklah, terimalah tanda pertemuan kita” ujarnya sambil mendorongkan tangannya kedepan dengan menggunakan tenaga saktinya.
Serangkum angin dahsyat menerjang kearah Cun Le, dan dengan telak mengenai bagian belakang Cun Le yang pada saat itu justru berada di puncak penentuan kegagalan atau keberhasilan. Tambahan tenaga dari Siangkoan Tek, justru mempercepat usahanya dan menyisakan tenaga terakhir untuk melontarkan Ceng Liong kearah sungai yang langsung mengalir ke air terjun dibelakang ruang meditasinya.
Tapi sebelum melontarkan Ceng Liong, Cun Le masih sempat berbisik, ingat, jangan melawan sampai kamu sadar sendirinya pagi nanti, dan setelah itu Ceng Liong terlontar oleh tenaga penuh dan meluncur kearah sungai.
Sebentar saja tubuhnya hilang di sungai tesebut, bahkan hilang di telan sungai menjelang air terjun ……selebihnya, dia tidak ingat lagi.
Tetapi, segera setelah dia melakukan pelontaran cucunya, dia sadar sebelum kehilangan kesadarannya bahwa dalam ruangan sudah bertambah bukan cuma 1 orang, tetapi malah 2 orang, tapi dia tidak sempat tahu lagi. Entah siapa orang kedua yang hadir di tempat samadinya.
Dunia Persilatan gempar. Lembah Pualam Hijau, salah satu tempat keramat Rimba Persilatan kebobolan. Hebatnya lagi,salah seorang Duta Hukum menjadi korban dan ditemukan tewas dengan tubuh yang jelas-jelas keracunan hebat.
Sementara, bisa dilacak, satu-satunya tokoh tingkat sepuh dan gaib yang muncul disana adalah bekas Ketua Bengkaw Siangkoan Tek. Tapi, dunia persilatan juga tahu belaka bahwa Bengkauw apalagi Siangkoan Tek, tidak pernah menggunakan racun.
Jadi, ada apa di Lembah Pualam Hijau? Kemana tokoh-tokohnya yang mumpuni? Kemana Kiang Hong Duta Agung yang masih muda nan sakti dengan istrinya yang tidak kurang saktinya? Kemana pula Cun Le yang legendaris itu? Apa kerjaan para Duta Hukum atau apalagi Duta Luar Sian Cu yang masih kakak Kiang Hong?
Jika Lembah Pualam Hijau yang begitu sakti dan diagungkan bahkan terkadang melebihi Siauw Lim Sie sekalipun bisa dibobol, apalagi Perguruan lain? Untungnya, selain terbunuhnya tokoh duta hukum, dan belakangan ketahuan Kiang Cun Le yang bersemadi ikutan lenyap bersama anaknya Kiang Liong, tidak ada lagi kerugian yang lain.
Tidak ada pusaka yang hilang, tetapi nama kesohor dari Lembah Pualam Hijau menjadi tercoreng. Tidak ada yang tahu bahwa justru kedatangan Siangkoan Tek telah menyelamatkan Cun Le, tapi tak sanggup menyelamatkan seorang Duta Hukum yang adalah murid Cun Le. Selain seorang Duta Hukum, yang lainnya dalam keadaan normal, karena Siangkoan Tek berhasil menggagalkan serangan bokongan si pembunuh bertopeng.
Dan yang pasti lagi, nampaknya penyerang itu bahkan kepandaiannya tidaklah berada di sebelah bawah Siangkoan Tek. Malah mungkin melebihinya, cuma karena selain Siangkoan Tek tiba-tiba muncul tokoh besar lembah yang lain, yakni Kiang In Hong Liong-i-Sinni, maka si penyerang beranjak pergi merat entah kemana.
Maka tinggal nama Lembah Pualam Hijau yang tercoreng, dan akan butuh waktu lama untuk mencari perusuh yang nyelonong memasuki lembah. Musibah yang dialami Lembah Pualam Hijau mulai menghadirkan kepanikan yang lebih besar di kalangan Dunia Persilatan, karena serangan kini mulai merambah Perguruan Silat yang lebih besar.

Tidak tanggung-tanggung, symbol keperkasaan Dunia Persilatan Tionggoan, disentuh dan diobrak-abrik. Untung perselisihan dengan Bengkauw masih bisa diatasi dengan kedatangan Liong-i-Sinni yang sangat yakin akan kebersihan Siangkoan Tek

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...