Eps.05
“Saatnya sudah tiba dan nampaknya waktuku tidak sangat panjang.
Heran, kenapa si tua itu sangat tidak sabaran” Kakek Cun Le sedikit menggerutu.
Karena disaat dia memutuskan melakukan apa yang diniatkan dan
direncanakan sejak lama, justru seorang “kawan lamanya” nampaknya sedang datang
untuk menemui dan mengganggunya. Tapi perhitungannya sudah matang, tidak
mungkin ditundanya lagi.
“Baiklah, Liong Ji, ….., Liong Ji” Kakek Cun Le memanggil
“Liong Jie sedang berlatih kek, di luar” sahut suara anak kecil
dari luar.
“Sudahi latihanmu dan masuklah kedalam” panggil Kakek Cun Le
“Baik kek ….. hait” dan tidak lama, Kiang Ceng Liong memasuki
kamar khusus kakeknya.
“Liong Ji, waktu kita sangat terbatas dan tidak boleh gagal”
papar Kakek Cun Le dan membuat Ceng Liong menjadi heran, terutama karena
kakeknya nampak sangat serius. Meskipun usianya belum mencapai 10 tahun, tetapi
Kiang Ceng Liong menunjukkan bakat yang luar biasa baiknya dalam Ilmu Silat.
Bahkan sejak berusia 5 tahun Ceng Liong sudah dibiasakan
berbaring di pembaringan rahasia Pualam Hijau. Bakatnya yang luar biasa,
keteguhan dan kekerasan hatinya membuatnya sanggup mulai menjalankan semedi dan
berlatih di atas pembaringan sejak berusia 6 tahun. Bahkan dasar-dasar ilmu
Pualam Hijau sudah sanggup dimainkannya dengan sempurna.
Daya ingat anak ini, baik untuk pelajaran sastra maupun ilmu
silat sungguh luar biasa. Kakeknya, Kiang Cun Le, kadang-kadang sering tertegun
melihat bakat, kemauan dan potensi yang dimiliki cucunya, tentu juga dengan
kekaguman.
“Pertama, jangan menolak dan jangan melawan terhadap apapun yang
kulakukan atasmu. Seperti biasa, kosongkan pikiran dan mengalir bersama
nafasmu. Sesakit apapun. Paham”?
“Paham kek” sahut Ceng Liong serius.
“Kedua, ingat, bahwa sakit yang kamu alami demi menegakkan
wibawa Kakek, Ayah dan lembah kita. Camkan itu dan tanamkan dalam hatimu”
“Jelas kek”
“Ketiga, kita akan menghadapi bencana yang sangat besar.
Mengancam kakek, mengancam ayahmu dan mengancam umat manusia dan lembah kita.
Sesakit apapun harus bisa kamu tahan. Sanggup”?
“Sanggup kek” makin kokoh suara si bocah
“Keempat, saat kakek melontarkanmu ke sungai itu, jangan memecah
perhatianmu. Belajar menyerah dan pasrah pada alam dan biarkan nasib memutuskan
apa yang akan terjadi. Sanggup”?
“Maksud kakek”? Tanya si bocah
“Demi keselamatan kakekmu, ayahmu dan umat manusia juga lembah
kita, sanggupkah kamu” tegas Kakek Cun Le
“Liong Ji sanggup, tapi apa mati hidup Liong Ji harus mandah
saja?” si bocah penasaran.
“Ya” tegas sang Kakek
“Tapi kek” si Bocah bertahan
“Sebab itu adalah salah satu syarat kamu akan berhasil atau
tidak. Jika kamu melawan, maka semua akan sia-sia. Bagaimana”?
Setelah lama berpikir, akhirnya si bocah mengangguk perlahan.
“Kamu harus yakin atas dirimu sendiri dan jangan dengan
keterpaksaan. Jawab sanggup atau tidak”?
“Sanggup kek” jawaban tegas setelah berpikir lama.
“Kamu berjanji di hadapan kakekmu, dihadapan kehormatan
keluargamu dan lembahmu”? desak sang Kakek
“Liong Ji berjanji. Liong Ji yakin Kakek dan Ayah tidak akan
mencelakakan Liong Ji’ tegas sekali jawaban si Bocah.
Kakek Cun Le terharu dan hatinya seperti diremas-remas membayangkan perjalanan hidup cucunya ini, tetapi tidak ada cara lain. Dan perasaan haru dan sayang tidak dia tunjukkan, sebaliknya malah.
Kakek Cun Le terharu dan hatinya seperti diremas-remas membayangkan perjalanan hidup cucunya ini, tetapi tidak ada cara lain. Dan perasaan haru dan sayang tidak dia tunjukkan, sebaliknya malah.
“Kamu sudah berjanji. Ingat kehormatanmu dan kehormatan kakek,
ayahmu dan lembah ini dipertaruhkan diatas janjimu itu. Ingat dan camkan itu”
tegasnya
“Liong Ji yakin mampu” tegas sang Bocah.
“Baik dan yang terakhir, terimalah gelang perak ini (sambil
menyerahkan dan mengenakan sebuah gelang perak yang sedikit gemuk karena
berongga didalamnya). Ingat dan camkan, jangan pernah mencoba membuka gelang
ini dan membaca isinya sebelum waktunya. Kamu sanggup?
“Sanggup kek. Tapi kapan bisa kubuka dan lihat isinya?” jawab
Ceng Liong
“Pada saat kamu merasa sepertinya akan mati karena penuh hawa,
daya dan tenaga yang berontak. Pada saat kamu merasa tiada daya lagi, kamu
ingat ayahmu dan kakekmu, maka saat itulah kamu boleh membukanya. Ingat dan
camkan waktunya”
“Baik kek” jawab si bocah sambil manggut-manggut.
“Justru syarat tadi kamu harus pasrah meski menghadapi kematian
mulai besok secara sendirian akan menentukan apakah kamu akan sukses nantinya
atau malah gagal total. Ingatlah baik-baik pesan kakekmu ini” Ujar Kakek Cun Le
sambil mengulang-ulangi kalimatnya itu.
Meskipun bingung, Ceng Liong mencatatnya dalam sanubarinya. Dan
secara kebetulan, anak ini memang memiliki daya ingat dan daya melekatkan
sesuatu yang penting dalam sanubarinya hingga susah lenyap.
“Baiklah, sekarang kita akan memulai. Lupakan orang tuamu,
mereka sedang mengantarkan adikmu Nio ke paman nenekmu di Timur, suatu saat
kamu akan ketemu mereka. Sekarang kamu lepaskan pakaianmu, semuanya. Harus
telanjang bulat dan kemudian mulailah lakukan semedi, satukan nafas, pikiran,
hasrat dan kemauan dan kemudian hilangkan semuanya itu. Mulailah” perintah si
Kakek dengan terharu, karena bocah kecil yang dikasihinya ini akan mulai
mengembara sendirian luntang lantung karena bencana yang diantisipasikan
olehnya sebagai kakek si bocah cilik.
Tidak berapa lama si bocah sudah diam terpaku dalam semedi,
nafasnya bergerak teratur dan wajahnya nampak damai dan sentosa. Kakek Cun Le
sejenak menjadi tidak tega, tetapi keselamatan lembah dan umat persilatan
mendorongnya untuk melakukan sesuatu.
Dan tentu sekarang sudah saatnya, karena sudah dimulainya.
Perlahan Kakek Cun Le memusatkan perhatiannya, mengatur nafas dan kemudian
membelai, menotok, memijit jalan darah di tubuh Ceng Liong. Meski di wajah
bocah itu tidak nampak reaksi, tetapi otot, jalan darah dan urat-urat di
sekujur tubuhnya mengalami perubahan-perubahan yang luar biasa. Tetapi pijatan
dan totokan yang dilakukan ahli sekelas Kiang Cun Le, pendekar legendaries dari
Lembah Pualam Hijau, membuat perubahan tersebut hanya dirasakan sesaat.
Semua dilakukan untuk membuat persiapan dan adaptasi tubuh
cucunya untuk menerima penyaluran tenaganya. Dan selang beberapa waktu, justru
wajah Cun Le yang menjadi muram, di atas kepalanya mengepul uap putih, dan pada
saat itulah dia mulai menyalurkan tenaga murni yang diyakini selama lebih dari
50 tahunan.
Proses itu berlangsung cukup lama, sejak menjelang malam dan
bahkan sudah melampaui tengah malam. Wajah Cun Le sudah pucat pias, kabut di
kepalanya sudah sangat pekat, sementara sang bocah, nampak oleng kiri dan oleng
kanan, wajahnya terkadang mengernyit, tetapi kekerasan hatinya sungguh luar
biasa.
Penderitaannya pada waktu itu dirasakannya sebagai cara untuk
menjaga kehormatan keluarga dan lembahnya, dan perasaan inilah yang melahirkan
kekuatan yang luar biasa dalam dirinya. Bisikan kakeknya menyadarkannya,
biarkan hanyut, biarkan menyatu dan jangan melawan. Cara itu sungguh membantu,
dengan segera dia menjadi semakin oleng kiri dan kanan, dan makin keraslah
kerja Kakek Cun Le menahan tubuh cucunya untuk tidak miring kekiri dan kekanan.
Saat-saat menegangkan dan pada proses puncak penyaluran tenaga
untuk berdiam di pusar Ceng Liong sedang terjadi. Sementara itu sebuah bayangan
seperti setan dan luar biasa pesatnya nampaknya mondar-mandir mencari jalan.
Untunglah Duta Agung, Majikan Lembah dan Para Duta sedang berada
di Luar lembah, jika tidak maka bayangan tersebut pasti sudah bisa
teridentifikasi sejak lama. Tapi mungkin juga tidak, karena tokoh yang
bergentayangan ini bukan tokoh biasa. Karena bayangan yang datang adalah
seorang tokoh gaib yang lain pada jaman itu, seangkatan dengan Kiang Cun Le
sendiri.
Dialah Siangkoan Tek, pentolan Bengkauw, Ketua Beng Kauw saat
ini, yang sebetulnya sudah malas mencampuri dunia ramai. Tetapi pengecualian
kalau yang berurusan adalah dengan kawan seangkatannya di dunia persilatan,
salah satunya adalah Kiang Cun Le dan Kiang In Hong.
Ketika merasa bahwa Beng Kauw juga dicurigai dalam kasus
pembantaian dan pencaplokan sejumlah Perguruan Silat kecil, Siangkoan Tek
merasa tersinggung dan ingin bertanya langsung kepada Cun Le dan bukannya
kepada Kiang Hong.
Maklum, gengsi angkatan tua memainkan peranan penting disini.
Masakan harus bertanya kepada anak-anak”? pikirnya, dank arena itu dia hendak
bertanya langsung kepada Cun Le. Tapi, celakanya, sudah sejak menjelang malam
dia mengirimkan isyarat batin untuk bertemu, tetapi sama sekali tiada balasan
dari Cun Le. Akhirnya dia memutuskan untuk menerobos masuk.
“Kenapa daya hidup Cun Le begitu lemah? Bahkan tandanya malah
sangat redup dan semakin redup saja”?
“Apa yang sedang dia alami”? atau apakah dia tahu aku yang
datang dalam keadaannya yang lemah ini”?
“Cun Le, ada apa denganmu”? desis Siangkoan Tek
Maklum, rekan seangkatannya, meski rekan bertarung tetapi
bertemu tetap merupakan kerinduan tersendiri. Lagipula, jika kawan bertempur
yang sepadan tiada lagi, apa gunanya tetap hidup dan memiliki ilmu tinggi lagi,
bukankah malah jadi membosankan?
Hal yang wajar, sebab biarpun Siangkoan Tek berwatak berangasan
dan begitu ketemu langsung menyerang Cun Le ataupun Ketua Siauw Lim Pay, tetapi
rasa kagum dan hormatnya tidak hilang. Kegagahan masih tetap dimilikinya, masih
melekat dalam sanubarinya.
Setelah bolak-balik mencari jalan masuk yang terbatas ke lembah,
akhirnya Siangkoan Tek berhasil menyusup dan terus menuju tempat terlarang,
yakni tempat meditasi Cun Le. Dan ketika menemukan Cun Le persis dari sisi
belakang, dengan tidak tanggung-tanggung melalui suara bathin dia menegur tanpa
menyelidiki dulu apakah gerangan yang sedang dilakukan Cun Le dan mengapa dia
tidak menjawab panggilan batinnya:
“Rupanya kamu sedang berlatih … baiklah, terimalah tanda
pertemuan kita” ujarnya sambil mendorongkan tangannya kedepan dengan
menggunakan tenaga saktinya.
Serangkum angin dahsyat menerjang kearah Cun Le, dan dengan
telak mengenai bagian belakang Cun Le yang pada saat itu justru berada di
puncak penentuan kegagalan atau keberhasilan. Tambahan tenaga dari Siangkoan
Tek, justru mempercepat usahanya dan menyisakan tenaga terakhir untuk
melontarkan Ceng Liong kearah sungai yang langsung mengalir ke air terjun
dibelakang ruang meditasinya.
Tapi sebelum melontarkan Ceng Liong, Cun Le masih sempat
berbisik, ingat, jangan melawan sampai kamu sadar sendirinya pagi nanti, dan
setelah itu Ceng Liong terlontar oleh tenaga penuh dan meluncur kearah sungai.
Sebentar saja tubuhnya hilang di sungai tesebut, bahkan hilang
di telan sungai menjelang air terjun ……selebihnya, dia tidak ingat lagi.
Tetapi, segera setelah dia melakukan pelontaran cucunya, dia
sadar sebelum kehilangan kesadarannya bahwa dalam ruangan sudah bertambah bukan
cuma 1 orang, tetapi malah 2 orang, tapi dia tidak sempat tahu lagi. Entah
siapa orang kedua yang hadir di tempat samadinya.
Dunia Persilatan gempar. Lembah Pualam Hijau, salah satu tempat
keramat Rimba Persilatan kebobolan. Hebatnya lagi,salah seorang Duta Hukum
menjadi korban dan ditemukan tewas dengan tubuh yang jelas-jelas keracunan
hebat.
Sementara, bisa dilacak, satu-satunya tokoh tingkat sepuh dan
gaib yang muncul disana adalah bekas Ketua Bengkaw Siangkoan Tek. Tapi, dunia
persilatan juga tahu belaka bahwa Bengkauw apalagi Siangkoan Tek, tidak pernah
menggunakan racun.
Jadi, ada apa di Lembah Pualam Hijau? Kemana tokoh-tokohnya yang
mumpuni? Kemana Kiang Hong Duta Agung yang masih muda nan sakti dengan istrinya
yang tidak kurang saktinya? Kemana pula Cun Le yang legendaris itu? Apa kerjaan
para Duta Hukum atau apalagi Duta Luar Sian Cu yang masih kakak Kiang Hong?
Jika Lembah Pualam Hijau yang begitu sakti dan diagungkan bahkan
terkadang melebihi Siauw Lim Sie sekalipun bisa dibobol, apalagi Perguruan
lain? Untungnya, selain terbunuhnya tokoh duta hukum, dan belakangan ketahuan
Kiang Cun Le yang bersemadi ikutan lenyap bersama anaknya Kiang Liong, tidak
ada lagi kerugian yang lain.
Tidak ada pusaka yang hilang, tetapi nama kesohor dari Lembah
Pualam Hijau menjadi tercoreng. Tidak ada yang tahu bahwa justru kedatangan
Siangkoan Tek telah menyelamatkan Cun Le, tapi tak sanggup menyelamatkan
seorang Duta Hukum yang adalah murid Cun Le. Selain seorang Duta Hukum, yang
lainnya dalam keadaan normal, karena Siangkoan Tek berhasil menggagalkan
serangan bokongan si pembunuh bertopeng.
Dan yang pasti lagi, nampaknya penyerang itu bahkan
kepandaiannya tidaklah berada di sebelah bawah Siangkoan Tek. Malah mungkin
melebihinya, cuma karena selain Siangkoan Tek tiba-tiba muncul tokoh besar
lembah yang lain, yakni Kiang In Hong Liong-i-Sinni, maka si penyerang beranjak
pergi merat entah kemana.
Maka tinggal nama Lembah Pualam Hijau yang tercoreng, dan akan
butuh waktu lama untuk mencari perusuh yang nyelonong memasuki lembah. Musibah
yang dialami Lembah Pualam Hijau mulai menghadirkan kepanikan yang lebih besar
di kalangan Dunia Persilatan, karena serangan kini mulai merambah Perguruan
Silat yang lebih besar.
Tidak tanggung-tanggung, symbol keperkasaan Dunia Persilatan
Tionggoan, disentuh dan diobrak-abrik. Untung perselisihan dengan Bengkauw
masih bisa diatasi dengan kedatangan Liong-i-Sinni yang sangat yakin akan
kebersihan Siangkoan Tek
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...