Kamis, 20 November 2014

Kisah Para Naga - 06


Eps.06

“Koko, aku lapar” seorang anak perempuan merengek-rengek kepada kakaknya. Tampang keduanya sungguh kotor, dan badan mereka juga menunjukkan rasa lelah dan jelas kelaparan yang sungguh.
Pakaian merekapun sudah compang camping dan dekil meskipun dari bahannya nampak agak mewah dibandingkan tubuh dan wajah mereka yang kuyuh. Tapi itupun tidak menyembunyikan wajah cantik molek sang anak perempuan, juga cahaya ketampanan yang membayang di wajah kakak laki-lakinya.
“Sebentar Lan Moi, koko coba mencari buah-buahan” si kakak lelaki mencoba menghibur. Meskipun dia sendiri juga takut di hutan itu, tapi rasa sayang dan tanggungjawab atas adiknya membuatnya menjadi sedikit lebih berani.
Apa boleh buat, karena tidak mencari makanan di hutan, juga toch mereka akan mati. Seseorang, bila didesak dan dipaksa keadaan akan melupakan rasa takutnya, takut mati sekalipun.
“Tapi, jangan tinggalkan aku sendirian koko” si gadis agak khawatir ditinggalkan
“Kalo begitu mari kita berjalan perlahan mencari buah-buahan” ajak sang kakak
Kedua kakak beradik malang yang sekarang hidup luntang-lantung ini adalah anak seorang Pangeran bernama Liang Tek Ong, keduanya bernama Liang Tek Hoat yang lelaki dan Liang Mei Lan adiknya yang perempuan. Keduanya terpisah dari ayahnya yang diserang penjahat dan kemudian ditolong Pengemis Tawa Gila.
Tapi karena omongan dan tawa sang Pengemis yang rada menyeramkan, membuat kedua anak kecil ini merasa kurang nyaman dan minggat darinya. Pengemis Tawa Gila tidak menyangka apabila lubang menjorok yang dijadikannya tempat menyimpan kedua anak ini menyimpan sebuah lubang kecil yang hanya sanggup menerima tubuh anak kecil.
Ruang disebelahnya berhubung dengan lorong yang tembus ke tebing sebelah dan tidak heran Pengemis Tawa Gila tidak sanggup menemukan mereka. Dan dari sana, sudah nyaris 2 bulanan kedua anak Bangsawan ini luntang lantung sekedar cari makan.
Di desa atau kota lain, mereka malah ikut-ikutan mengemis untuk menyambung hidup mereka. Sebagai anak cerdik, Tek Hoat mengerti bahwa mereka harus agak hati hati membuka statusnya, apalagi dia tahu ayahnya banyak dimusuhi pejabat negeri yang korup.
Siang hari itu setelah makan buah-buahan dan terus mencari jalan ke Kota Hang Chouw, kedua kakak beradik ini tiba di jorokan sebuah sungai. Kedua anak yang letih dan kehausan ini sangat gembira melihat sungai yang pinggirannya bisa mereka jangkau dengan mudah. Terlebih nampak tidaklah berbahaya karena arus sungai juga nampak tidaklah sedang deras.
Tapi belum sempat Mei Lan menjangkau pinggiran sungai, dia terkejut ketika melihat sesosok tubuh teronggok lemah di pinggir sungai, hanya terhalang tetumbuhan kecil yang kurang lebat, dan dia menjerit “ih”, karena melihat tubuh itu telanjang bulat.
“Koko, a..a… ada orang disana” Jerit Mei Lan kaget sambil menunjuk tubuh yang terbaring di tepian sungai. Tubuh seorang anak kecil lainnya yang nyaris sebaya dengan Tek Hoat.
“Mana … mana orangnya?” Tek Hoat kaget dan dengan mengikuti telunjuk Mei Lan dia menemukan sosok tubuh kecil yang terbaring. Diam terbanring, cuma dia tidak tahu apakah tubuh yang terbaring diam dan nampaknya anak kecil itu masih hidup atau sudah mati.
“Ayo, kita lihat, siapakah orang itu” Tek Hoat memberanikan diri mendekati sosok tubuh kecil tersebut.
“Anak kecil, seperti kita” desis Tek Hoat sambil membalikkan tubuh yang masih basah dengan air sungai itu.
“Sudah mati Koko”? Tanya Mei Lan takut-takut.
“Belum, masih bernafas” Jawab Tek Hoat sambil meraba dada dan hidung anak malang yang dia temukan itu.
“Tapi nampaknya tidak ada luka dan tidak ada bekas kemasukan banyak air. Seperti tidak terjadi apa-apa atasnya” jelas Tek Hoat menjadi agak heran juga dengan keadaan tubuh kecil itu.
“Tapi, buat apa dia terbaring disini dan, iiih, telanjang lagi” desis Mei Lan lirih dan agak malu, karena seusianya sudah mulai memiliki rasa malu melihat tubuh telanjang lawan jenisnya, meski belum dengan tatapan dan nafsu berahi.
“Kita tidak tahu, ayo bantu kita angkat ketepian” Ajak Tek Hoat untuk kemudian berusaha mengangkat dan memayang tubuh kecil itu dan kemudian menyeretnya ketempat yang lebih aman.
Akhirnya kedua anak Bangsawan yang tidak tahu caranya pulang kerumah mereka, membantu mengangkat tubuh kecil itu dan kemudian membawanya ke bawah pohon rindang dekat tepian sungai. Tapi karena tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana terhadap tubuh kecil yang pingsan tak sadarkan diri itu, akhirnya mereka duduk-duduk saja menunggui tubuh itu.
Baru beberapa jam kemudian tubuh anak yang tadinya terbaring di tepian sungai itu perlahan-lahan mulai bergerak. Perlahan dan perlahan, dan tak lama terdengar desisannya “jangan melawan, ikuti arus air, biarkan pikiran kosong, pasrah terhadap alam”.
Berulang-ulang desisan itu, dan perlahan-lahan dia mulai membuka matanya. Heran, dua wajah anak-anak yang asing terpampang dihadapannya. Dan …. Secara refleks dia bergerak, loncatan dan lonjakannya sangat tinggi untuk ukuran anak-anak, dan jelas mengagetkan Tek Hoat dan Mei Lan dan membuat kedua anak bangsawan itu ternganga-nganga melihat loncatan tinggi anak yang baru sadar itu.
“Hei, apa-apaan kamu, apa yang terjadi padamu” Tanya Tek Hoat setengah berteriak, dan tentu masih dalam keadaan kaget melihat lonjakan anak yang baru bangun dari pingsannya.
“Kamu siapa?” bertanya anak itu setelah berdiri tegak
“Kami menolongmu, lihat bahkan kamu belum berpakaian” tegur Mei Lan melengos.
Si anak kecil itu menjadi kaget dan malu serta rikuh, tidak tahu mau berbuat apa karena tidak melihat adanya bahan yang mungkin dikenakan atas dirinya yang telanjang itu.
“Ah, ada apa, siapa pula diriku”? Si anak ikut menjerit dan bingung tidak menemukan sesuatu kainpun untuk
dikenakan.
“Tenang …. tenang kita ada ditepi sungai, tidak jauh disana ada Kampung. Tapi, ceritakan dulu siapa kamu” Tek Hoat yang periang dan mudah bergaul menghadirkan rasa nyaman dan terima kasih di hati anak itu. Membuatnya tidak merasa malu dan bingung lagi.
“Ya … siapa namaku, dan darimana aku, mengapa pula aku ada disini”? Si anak kebingungan dan tentu juga membuat Tek Hoat dan Mei Lan bingung karena si anak tidak lagi mengenal dirinya sendiri.
“Kamu sendiri tidak tahu siapa kamu? Masakan? Mei Lan jadi bingung, juga Tek Hoat
“Kalian Bantu aku, aku tidak tahu apa-apa dan juga tidak ingat apa-apa lagi” jawab si Anak masygul.
“Kamu tidak ingat apapun mengenai dirimu”? Tanya Tek Hoat yang juga tak kalah bingungnya.
“Tidak ingat apa-apa, dari mana aku, namaku, dan apa yang terjadi” si anak bingung sambil berusaha keras mengingat sesuatu, tapi tidak ada yang bisa diingatnya. Kecuali desisan-desisan tadi yang nampaknya tertanam dalam sanubarinya.
Mei Lan dan Tek Hoat memandang anak itu terharu, sementara anak itu masih bungung dan bertanya-tanya siapa dirinya, darimana asalnya dan apa yang telah terjadi. Kecuali kalimat yang didesisikannya tadi, yakni “jangan melawan, ikuti arus air, biarkan pikiran kosong, pasrah terhadap alam” tiada lagi yang lain yang didengarkan Mei Lan dan Tek Hoat.
“Sudahlah, biarlah kami memanggilmu Thian Jie untuk sementara, Anak Langit karena nampaknya kamu seperti jatuh dari langit dan jatuhnya tepat ditepi sungai itu” gurau Tek Hoat.
“Lagi pula, matamu bersorot tajam seperti bintang yang sangat terang” lanjutnya.
“Anak Langit, Thian Jie, Anak Langit Thian Jie” gumam si anak yang kemudian dipanggil Thian Ko oleh Mei Lan dan
Tek Hoat karena nampaknya anak itu lebih tua usianya dari mereka.
“Iya, dan aku akan memanggilmu Thian Ko” jerit Mei Lan gembira
“Iya, aku juga. Tapi Thian Ko harus cari pakaian dulu” desis Tek Hoat sambil nyengir memandang Thian Jie yang masih berdiri bingung dan masih telanjang belum berpakaian.
Demikianlah ketiga anak malang itu berjalan bersama. Anak yang bernama Thian Jie, mudah ditebak adalah anak yang dilontarkan Cun Le dari samadinya dan nampaknya meskipun selamat ditemukan 2 anak bangsawan yang terlunta-lunta, tapi kepala Ceng Liong seperti mengalami benturan yang meskipun tidak menewaskannya tetapi menghilangkan ingatannya.
Tubuhnya penuh hawa dan tenaga dari kakeknya, dan karena itu benturan lain tidak melukainya, bahkan tidak ketika jatuh dari ketinggian di air terjun belakang lembah pualam hijau. Ketaatannya untuk “menyatu dengan alam dan pasrah” ternyata membuatnya selamat, hanya kehilangan ingatannya saja. Dan selanjutnya dia akan dikenal dan dipanggil Thian Jie.
Ketiganya segera menjadi sangat dekat. Thian Jie, menghadirkan rasa hormat karena wibawa yang terkandung dari kharismanya. Matanya bercahaya sangat tajam dan cemerlang, jarang kalimat dan perintahnya dibantah Tek Hoat dan Mei Lan yang mengakuinya sebagai Kakak tertua. Diapun sangat menyayang dan melindungi Tek Hoat dan Mei Lan, dan bersama Tek Hoat dia mencarikan makanan buat mereka semua. Baik ketika bertemu anak-anak di kota maupun ketika berada di jalanan.
Bahkan saking percayanya, Tek Hoat sudah menceritakan kepada Thian Jie mengenai latar belakang mereka. Dan ketika suatu saat Thian Jie bertanya kepada petugas kerajaan, justru caci maki yang tidak sedap dialamatkan kepadanya dan pangeran Liang yang dia terima. Pada akhirnya mereka berusaha sendiri mencari jalan dan arah ke Hang Chouw, menuju rumah pangeran Liang.
Tapi, kedua anak bangsawan yang tidak mengenal jalan karena jarang sekali keluar istananya dan Thian Jie yang baru sekali ini di jalanan seorang diri, takut bertanya kepada petugas, bukannya membawa mereka mendekat ke Hang Chouw, tapi justru seringkali menjauhinya.
“Tek Hoat dan Lian Moi, sebaiknya kita mulai mencari jalan dan arah menuju Hang Chouw, coba biar kita mulai dengan bertanya-tanya kepada orang-orang” usul Thian Jie kepada kedua teman seperjalanannya
“Terserah Thian Ko sajalah” sahut Tek Hoat
“Asal arahnya yang enak-enak saja, kalo bisa dapat kuda buat jalan” gurau Tek Hoat yang memang selalu riang.
Kedukaannya akibat hilang dari rumah sudah seperti tak berbekas. Malah dia seperti menikmati kebebasannya berjalan di luar rumah, hanya lapar saja yang membuatnya selalu rindu pulang kerumahnya yang nikmat ditinggali itu.
“Uh enak saja, memangnya Thian Ko punya uang beli kuda”? omel Mei Lan
“Sudah, ayo kita coba bertanya-tanya” tegas Thian Jie.
Melalui bertanya-tanya, Thian Jie mengatur arah dan jalan mereka menuju Hang Chouw. Sayang, karena mereka memang tidak begitu mengenal arah, ketiga anak ini setelah sebulan berjalan bersama tidak mengalami kemajuan berarti, malahan sering meleset meski tidak terlalu menjauh dari arah tujuan mereka.
Sampai hari itu mereka kembali beristirahat di luar sebuah kota, agak dekat dengan sebuah sungai besar, tetapi yang nampaknya airnya belum terlalu banyak karena berada di penghujung musim panas. Udara di atas mereka nampaknya cerah, tetapi di pegunungan sudah sejak pagi mendung agak tebal, sangat tebal malahh, bahkan nampaknya sudah lama turun hujan di daerah pegunungan.
Air sungaipun nampaknya mengalami percepatan arus dan permukaannya agak meninggi. Untuk di ketahui, musim saat itu adalah akhir musim kemarau, tetapi di daerah pegunungan yang lebih tinggi, curah hujan sudah mengalami peningkatan dan mulai sangat lebat. Karena itu, sungaipun permukaannya mulai naik, dan yang tadinya sudah sedikit surut akhirnya mulai mengalir dengan arusnya yang semakin lama semakin deras dan semakin memekakkan telinga apabila berada tepat ditepiannya.
Ketiga anak yang sedang beristirahat dalam perjalanan mencari atau menuju Hang Chouw, kebetulan beristirahat di tepi sungai tersebut. Tempat peristirahatan mereka sebetunya tidak jauh dari sebuah Kampung dibelakang mereka, dan juga tidak jauh dari tempat dimana anak-anak kampung bernama Sam Ci Tan bermain-main di sungai itu, berenang atau bahkan mencari ikan. Sambil menikmati buah-buahan dan makanan yang tersedia, ketiga anak itu menikmati istirahat mereka, dengan sesekali Tek Hoat berugurau akan menjamu Thian Jie jika sudah di Hang Chouw.
Bukan Cuma makanan, juga akan disediakan pakaian yang layak dan baik agar tidak kelaparan dan telanjang lagi. Tek Hoat mengucapkannya dengan nada dan gaya kelakar yang membuat ketiganya tertawa bersama.
“Paling tidak bajumu bukan baju curian” Tek Hoat sambil terkekeh-kekeh, sementara Thian Jie hanya tersenyum kecut karena teringat harus mengambil baju orang di jemuran untuk dikenakannya.
“Iya, khan koleksi thia banyak untuk buat baju yang baru, ganti baju curian itu” Mei Lan ikut-ikutan menggoda Thian Jie yang hanya mesem-mesem aja dikerjai kakak beradik itu.
“Ya, tapi pakaian sebagus apapun tidak ada gunanya. Aku tidak mengenal diriku sendiripun” Ucap Thian Jie sekenanya.
“Setidaknya kan ada kami” Tek Hoat bersuara

“Ya, setidaknya memiliki adik seperti kalian, tidak rugi” Thian Jie menarik nafas seperti orang tua.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...