Eps.06
“Koko, aku lapar” seorang anak perempuan merengek-rengek kepada
kakaknya. Tampang keduanya sungguh kotor, dan badan mereka juga menunjukkan
rasa lelah dan jelas kelaparan yang sungguh.
Pakaian merekapun sudah compang camping dan dekil meskipun dari
bahannya nampak agak mewah dibandingkan tubuh dan wajah mereka yang kuyuh. Tapi
itupun tidak menyembunyikan wajah cantik molek sang anak perempuan, juga cahaya
ketampanan yang membayang di wajah kakak laki-lakinya.
“Sebentar Lan Moi, koko coba mencari buah-buahan” si kakak
lelaki mencoba menghibur. Meskipun dia sendiri juga takut di hutan itu, tapi
rasa sayang dan tanggungjawab atas adiknya membuatnya menjadi sedikit lebih
berani.
Apa boleh buat, karena tidak mencari makanan di hutan, juga toch
mereka akan mati. Seseorang, bila didesak dan dipaksa keadaan akan melupakan
rasa takutnya, takut mati sekalipun.
“Tapi, jangan tinggalkan aku sendirian koko” si gadis agak
khawatir ditinggalkan
“Kalo begitu mari kita berjalan perlahan mencari buah-buahan”
ajak sang kakak
Kedua kakak beradik malang yang sekarang hidup luntang-lantung
ini adalah anak seorang Pangeran bernama Liang Tek Ong, keduanya bernama Liang
Tek Hoat yang lelaki dan Liang Mei Lan adiknya yang perempuan. Keduanya
terpisah dari ayahnya yang diserang penjahat dan kemudian ditolong Pengemis
Tawa Gila.
Tapi karena omongan dan tawa sang Pengemis yang rada
menyeramkan, membuat kedua anak kecil ini merasa kurang nyaman dan minggat
darinya. Pengemis Tawa Gila tidak menyangka apabila lubang menjorok yang
dijadikannya tempat menyimpan kedua anak ini menyimpan sebuah lubang kecil yang
hanya sanggup menerima tubuh anak kecil.
Ruang disebelahnya berhubung dengan lorong yang tembus ke tebing
sebelah dan tidak heran Pengemis Tawa Gila tidak sanggup menemukan mereka. Dan
dari sana, sudah nyaris 2 bulanan kedua anak Bangsawan ini luntang lantung
sekedar cari makan.
Di desa atau kota lain, mereka malah ikut-ikutan mengemis untuk
menyambung hidup mereka. Sebagai anak cerdik, Tek Hoat mengerti bahwa mereka
harus agak hati hati membuka statusnya, apalagi dia tahu ayahnya banyak
dimusuhi pejabat negeri yang korup.
Siang hari itu setelah makan buah-buahan dan terus mencari jalan
ke Kota Hang Chouw, kedua kakak beradik ini tiba di jorokan sebuah sungai.
Kedua anak yang letih dan kehausan ini sangat gembira melihat sungai yang
pinggirannya bisa mereka jangkau dengan mudah. Terlebih nampak tidaklah
berbahaya karena arus sungai juga nampak tidaklah sedang deras.
Tapi belum sempat Mei Lan menjangkau pinggiran sungai, dia
terkejut ketika melihat sesosok tubuh teronggok lemah di pinggir sungai, hanya
terhalang tetumbuhan kecil yang kurang lebat, dan dia menjerit “ih”, karena
melihat tubuh itu telanjang bulat.
“Koko, a..a… ada orang disana” Jerit Mei Lan kaget sambil
menunjuk tubuh yang terbaring di tepian sungai. Tubuh seorang anak kecil
lainnya yang nyaris sebaya dengan Tek Hoat.
“Mana … mana orangnya?” Tek Hoat kaget dan dengan mengikuti
telunjuk Mei Lan dia menemukan sosok tubuh kecil yang terbaring. Diam
terbanring, cuma dia tidak tahu apakah tubuh yang terbaring diam dan nampaknya
anak kecil itu masih hidup atau sudah mati.
“Ayo, kita lihat, siapakah orang itu” Tek Hoat memberanikan diri
mendekati sosok tubuh kecil tersebut.
“Anak kecil, seperti kita” desis Tek Hoat sambil membalikkan
tubuh yang masih basah dengan air sungai itu.
“Sudah mati Koko”? Tanya Mei Lan takut-takut.
“Belum, masih bernafas” Jawab Tek Hoat sambil meraba dada dan
hidung anak malang yang dia temukan itu.
“Tapi nampaknya tidak ada luka dan tidak ada bekas kemasukan
banyak air. Seperti tidak terjadi apa-apa atasnya” jelas Tek Hoat menjadi agak
heran juga dengan keadaan tubuh kecil itu.
“Tapi, buat apa dia terbaring disini dan, iiih, telanjang lagi”
desis Mei Lan lirih dan agak malu, karena seusianya sudah mulai memiliki rasa malu
melihat tubuh telanjang lawan jenisnya, meski belum dengan tatapan dan nafsu
berahi.
“Kita tidak tahu, ayo bantu kita angkat ketepian” Ajak Tek Hoat
untuk kemudian berusaha mengangkat dan memayang tubuh kecil itu dan kemudian
menyeretnya ketempat yang lebih aman.
Akhirnya kedua anak Bangsawan yang tidak tahu caranya pulang
kerumah mereka, membantu mengangkat tubuh kecil itu dan kemudian membawanya ke
bawah pohon rindang dekat tepian sungai. Tapi karena tidak tahu harus melakukan
apa dan bagaimana terhadap tubuh kecil yang pingsan tak sadarkan diri itu,
akhirnya mereka duduk-duduk saja menunggui tubuh itu.
Baru beberapa jam kemudian tubuh anak yang tadinya terbaring di
tepian sungai itu perlahan-lahan mulai bergerak. Perlahan dan perlahan, dan tak
lama terdengar desisannya “jangan
melawan, ikuti arus air, biarkan pikiran kosong, pasrah terhadap alam”.
Berulang-ulang desisan itu, dan perlahan-lahan dia mulai membuka
matanya. Heran, dua wajah anak-anak yang asing terpampang dihadapannya. Dan ….
Secara refleks dia bergerak, loncatan dan lonjakannya sangat tinggi untuk
ukuran anak-anak, dan jelas mengagetkan Tek Hoat dan Mei Lan dan membuat kedua
anak bangsawan itu ternganga-nganga melihat loncatan tinggi anak yang baru
sadar itu.
“Hei, apa-apaan kamu, apa yang terjadi padamu” Tanya Tek Hoat
setengah berteriak, dan tentu masih dalam keadaan kaget melihat lonjakan anak
yang baru bangun dari pingsannya.
“Kamu siapa?” bertanya anak itu setelah berdiri tegak
“Kami menolongmu, lihat bahkan kamu belum berpakaian” tegur Mei
Lan melengos.
Si anak kecil itu menjadi kaget dan malu serta rikuh, tidak tahu
mau berbuat apa karena tidak melihat adanya bahan yang mungkin dikenakan atas
dirinya yang telanjang itu.
“Ah, ada apa, siapa pula diriku”? Si anak ikut menjerit dan bingung
tidak menemukan sesuatu kainpun untuk
dikenakan.
dikenakan.
“Tenang …. tenang kita ada ditepi sungai, tidak jauh disana ada
Kampung. Tapi, ceritakan dulu siapa kamu” Tek Hoat yang periang dan mudah
bergaul menghadirkan rasa nyaman dan terima kasih di hati anak itu. Membuatnya
tidak merasa malu dan bingung lagi.
“Ya … siapa namaku, dan darimana aku, mengapa pula aku ada
disini”? Si anak kebingungan dan tentu juga membuat Tek Hoat dan Mei Lan
bingung karena si anak tidak lagi mengenal dirinya sendiri.
“Kamu sendiri tidak tahu siapa kamu? Masakan? Mei Lan jadi
bingung, juga Tek Hoat
“Kalian Bantu aku, aku tidak tahu apa-apa dan juga tidak ingat
apa-apa lagi” jawab si Anak masygul.
“Kamu tidak ingat apapun mengenai dirimu”? Tanya Tek Hoat yang
juga tak kalah bingungnya.
“Tidak ingat apa-apa, dari mana aku, namaku, dan apa yang
terjadi” si anak bingung sambil berusaha keras mengingat sesuatu, tapi tidak
ada yang bisa diingatnya. Kecuali desisan-desisan tadi yang nampaknya tertanam
dalam sanubarinya.
Mei Lan dan Tek Hoat memandang anak itu terharu, sementara anak
itu masih bungung dan bertanya-tanya siapa dirinya, darimana asalnya dan apa
yang telah terjadi. Kecuali kalimat yang didesisikannya tadi, yakni “jangan
melawan, ikuti arus air, biarkan pikiran kosong, pasrah terhadap alam” tiada
lagi yang lain yang didengarkan Mei Lan dan Tek Hoat.
“Sudahlah, biarlah kami memanggilmu Thian Jie untuk sementara,
Anak Langit karena nampaknya kamu seperti jatuh dari langit dan jatuhnya tepat
ditepi sungai itu” gurau Tek Hoat.
“Lagi pula, matamu bersorot tajam seperti bintang yang sangat
terang” lanjutnya.
“Anak Langit, Thian Jie, Anak Langit Thian Jie” gumam si anak
yang kemudian dipanggil Thian Ko oleh Mei Lan dan
Tek Hoat karena nampaknya anak itu lebih tua usianya dari mereka.
Tek Hoat karena nampaknya anak itu lebih tua usianya dari mereka.
“Iya, dan aku akan memanggilmu Thian Ko” jerit Mei Lan gembira
“Iya, aku juga. Tapi Thian Ko harus cari pakaian dulu” desis Tek Hoat sambil nyengir memandang Thian Jie yang masih berdiri bingung dan masih telanjang belum berpakaian.
“Iya, aku juga. Tapi Thian Ko harus cari pakaian dulu” desis Tek Hoat sambil nyengir memandang Thian Jie yang masih berdiri bingung dan masih telanjang belum berpakaian.
Demikianlah ketiga anak malang itu berjalan bersama. Anak yang
bernama Thian Jie, mudah ditebak adalah anak yang dilontarkan Cun Le dari
samadinya dan nampaknya meskipun selamat ditemukan 2 anak bangsawan yang
terlunta-lunta, tapi kepala Ceng Liong seperti mengalami benturan yang meskipun
tidak menewaskannya tetapi menghilangkan ingatannya.
Tubuhnya penuh hawa dan tenaga dari kakeknya, dan karena itu
benturan lain tidak melukainya, bahkan tidak ketika jatuh dari ketinggian di
air terjun belakang lembah pualam hijau. Ketaatannya untuk “menyatu dengan alam
dan pasrah” ternyata membuatnya selamat, hanya kehilangan ingatannya saja. Dan
selanjutnya dia akan dikenal dan dipanggil Thian Jie.
Ketiganya segera menjadi sangat dekat. Thian Jie, menghadirkan
rasa hormat karena wibawa yang terkandung dari kharismanya. Matanya bercahaya
sangat tajam dan cemerlang, jarang kalimat dan perintahnya dibantah Tek Hoat
dan Mei Lan yang mengakuinya sebagai Kakak tertua. Diapun sangat menyayang dan
melindungi Tek Hoat dan Mei Lan, dan bersama Tek Hoat dia mencarikan makanan
buat mereka semua. Baik ketika bertemu anak-anak di kota maupun ketika berada
di jalanan.
Bahkan saking percayanya, Tek Hoat sudah menceritakan kepada
Thian Jie mengenai latar belakang mereka. Dan ketika suatu saat Thian Jie
bertanya kepada petugas kerajaan, justru caci maki yang tidak sedap dialamatkan
kepadanya dan pangeran Liang yang dia terima. Pada akhirnya mereka berusaha
sendiri mencari jalan dan arah ke Hang Chouw, menuju rumah pangeran Liang.
Tapi, kedua anak bangsawan yang tidak mengenal jalan karena
jarang sekali keluar istananya dan Thian Jie yang baru sekali ini di jalanan
seorang diri, takut bertanya kepada petugas, bukannya membawa mereka mendekat
ke Hang Chouw, tapi justru seringkali menjauhinya.
“Tek Hoat dan Lian Moi, sebaiknya kita mulai mencari jalan dan
arah menuju Hang Chouw, coba biar kita mulai dengan bertanya-tanya kepada
orang-orang” usul Thian Jie kepada kedua teman seperjalanannya
“Terserah Thian Ko sajalah” sahut Tek Hoat
“Asal arahnya yang enak-enak saja, kalo bisa dapat kuda buat
jalan” gurau Tek Hoat yang memang selalu riang.
Kedukaannya akibat hilang dari rumah sudah seperti tak berbekas.
Malah dia seperti menikmati kebebasannya berjalan di luar rumah, hanya lapar
saja yang membuatnya selalu rindu pulang kerumahnya yang nikmat ditinggali itu.
“Uh enak saja, memangnya Thian Ko punya uang beli kuda”? omel
Mei Lan
“Sudah, ayo kita coba bertanya-tanya” tegas Thian Jie.
Melalui bertanya-tanya, Thian Jie mengatur arah dan jalan mereka
menuju Hang Chouw. Sayang, karena mereka memang tidak begitu mengenal arah,
ketiga anak ini setelah sebulan berjalan bersama tidak mengalami kemajuan
berarti, malahan sering meleset meski tidak terlalu menjauh dari arah tujuan
mereka.
Sampai hari itu mereka kembali beristirahat di luar sebuah kota,
agak dekat dengan sebuah sungai besar, tetapi yang nampaknya airnya belum
terlalu banyak karena berada di penghujung musim panas. Udara di atas mereka
nampaknya cerah, tetapi di pegunungan sudah sejak pagi mendung agak tebal,
sangat tebal malahh, bahkan nampaknya sudah lama turun hujan di daerah
pegunungan.
Air sungaipun nampaknya mengalami percepatan arus dan
permukaannya agak meninggi. Untuk di ketahui, musim saat itu adalah akhir musim
kemarau, tetapi di daerah pegunungan yang lebih tinggi, curah hujan sudah
mengalami peningkatan dan mulai sangat lebat. Karena itu, sungaipun
permukaannya mulai naik, dan yang tadinya sudah sedikit surut akhirnya mulai
mengalir dengan arusnya yang semakin lama semakin deras dan semakin memekakkan
telinga apabila berada tepat ditepiannya.
Ketiga anak yang sedang beristirahat dalam perjalanan mencari
atau menuju Hang Chouw, kebetulan beristirahat di tepi sungai tersebut. Tempat
peristirahatan mereka sebetunya tidak jauh dari sebuah Kampung dibelakang
mereka, dan juga tidak jauh dari tempat dimana anak-anak kampung bernama Sam Ci
Tan bermain-main di sungai itu, berenang atau bahkan mencari ikan. Sambil
menikmati buah-buahan dan makanan yang tersedia, ketiga anak itu menikmati
istirahat mereka, dengan sesekali Tek Hoat berugurau akan menjamu Thian Jie
jika sudah di Hang Chouw.
Bukan Cuma makanan, juga akan disediakan pakaian yang layak dan
baik agar tidak kelaparan dan telanjang lagi. Tek Hoat mengucapkannya dengan
nada dan gaya kelakar yang membuat ketiganya tertawa bersama.
“Paling tidak bajumu bukan baju curian” Tek Hoat sambil
terkekeh-kekeh, sementara Thian Jie hanya tersenyum kecut karena teringat harus
mengambil baju orang di jemuran untuk dikenakannya.
“Iya, khan koleksi thia banyak untuk buat baju yang baru, ganti
baju curian itu” Mei Lan ikut-ikutan menggoda Thian Jie yang hanya mesem-mesem
aja dikerjai kakak beradik itu.
“Ya, tapi pakaian sebagus apapun tidak ada gunanya. Aku tidak
mengenal diriku sendiripun” Ucap Thian Jie sekenanya.
“Setidaknya kan ada kami” Tek Hoat bersuara
“Ya, setidaknya memiliki adik seperti kalian, tidak rugi” Thian
Jie menarik nafas seperti orang tua.
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...