Kamis, 20 November 2014

Kisah Para Naga - 07


Eps.07

Tapi tiba-tiba, telinganya yang tajam seperti mendengarkan suara gemuruh dari kejauhan. Tapi dia tidak tahu apa artinya. Meskipun tidak mengingat sesuatu, tetapi dalam kondisi dan keadaan refleks, biasanya tenaga dan hawa kakeknya secara otomatis bekerja.
Kali inipun, tiba2 baik Tek Hoat maupun Mei Lan melihat mata Thian Jie mencorong tajam, terutama ketika menyebutkan adanya suara gemuruh yang mereka berdua sama sekali tidak dengar. Bagaimana mungkin mereka mendengarnya? Karena bahkan Thian Jie yang terlatihpun tidak akan mampu mendengar suara itu bila belum terisi hawa kakeknya. Begitupun dia tidak tahu apa arti dari suara gemuruh yang sempat didengarnya, dan bila dia tahu, dia mungkin akan merasa terkejut dan takut bukan main.
“Kami tidak mendengar apa-apa koko” ujar Mei Lan, dan dia benar karena memang normalnya tidak terdengar suara apapun, apalagi suara bergemuruh seperti ucapan Thian Jie.
“Ya, akupun tidak mendengar sesuatu, apalagi yang gemuruh” tegas Tek Hoat
Thian Jie mengendur, dan sinar mencorong matanya kemudian juga menormal kembali. Dan bersamaan dengan itu, suara gemuruh yang didengarnya juga menghilang. Tetapi, firasat dan bahasa tubuhnya menjadi gelisah. Sinar mata mencorong Thian Jie itu yang sering membuat Tek Hoat dan Mei Lan menjadi sangat bergidik memandang Thain Jie dan secara tidak sengaja membuat mereka sangat kagum dan hormat terhadap anak yang mereka tolong itu. Padahal mereka tidak mengenal anak itu sedikitpun.
“Sudahlah, habiskan makanan kalian. Sebentar lagi kita harus berjalan agar tidak kemalaman di jalan” ujar Thian Jie.
Tetapi ketika mereka baru saja menyelesaikan makan mereka, tiba-tiba bukan hanya Thian Jie, tetapi Tek Hoat dan Mei Lan mendengar suara jeritan anak-anak yang sepertinya datang dari arah sungai:
“Tolong, ada anak hanyut …. tolong” beberapa anak nampak seperti sedang berteriak meminta tolong.
“Dari arah sungai, juga tiba-tiba terdengar teriakan “tolong …. tolong”, teriakan minta tolong anak yang sedang hanyut. Tapi bersamaan dengan itu, gemuruh yang tadi didengar secara refleks dan tidak sengaja oleh Thian Jie, terdengar lagi.
Tapi kali ini, baik Mei Lan maupun Tek Hoat juga sudah mendengarnya. Celakanya, ketiganya tidak mengerti dan tidak sadar apa yang sedang terjadi. Sebaliknya, Mei Lan yang ringan tangan, justru menongolkan
kepalanya kearah sungai ketika mendengar teriakan minta tolong anak yang hanyut.
Tampaknya anak dari kampung yang tadinya berenang, secara tidak sengaja terseret arus sungai yang secara tiba-tiba meluap dan menghasilkan arus yang luar biasa derasnya. Tapi, suara gemuruh itu, semakin mendekat dan semakin mengerikan nampaknya, tapi ketiga anak itu, tiada seorangpun yang berpengalaman untuk menyimpulkan apa gerangan suara gemuruh yang kedengaran mengerikan itu.
“Thian Koko, Hoat Koko, ada 2 anak hanyut berpegang di sebatang pohon” jerit Mei Lan menyaksikan sebatang pohon dengan 2 orang anak berpegangan hanyut dengan arus yang semakin deras.
“Celaka, kita harus menolong mereka” desis Thian Jie khawatir. Sementara pada saat bersamaan suara gemuruh terasa semakin dekat dengan mereka, dan air sungai nampak mengalir tambah deras, bahkan dengan tiba-tiba mulai meluber ke tepiannya.
“Tapi bagaimana caranya Koko”? desis Tek Hoat
“jangan melawan, ikuti arus air, biarkan pikiran kosong, pasrah terhadap alam”, tiba-tiba Thian Jie mengingat kembali kalimat yang masih terngiang dikepalanya. “Aku akan menolong mereka” Thian Jie kemudian bersiap-siap untuk meloncat ke sungai.
Tetapi pada saat bersamaan tangannya di pegang Tek Hoat yang berusaha untuk mencegahnya, justru pada saat itulah secara tidak sengaja Thian Jie mengibaskannya secara refleks, dan akibatnya Tek Hoat justru terpental kearah Mei Lan, persis dipinggir atau tepian sungai, dan tanpa ampun lagi Mei Lan justru jatuh ke sungai yang alirannya makin deras. “Byuuuurrrr” tubuh gadis cilik itupun terpental kesungai terkena tenaga dorongan dari tabrakan dengan tubuh kakaknya.
“Koko, toloooooong” hanya jeritan itu yang sempat didengar Tek Hoat dan Thian Jie. Kejadian itu berselang hanya beberapa detik, yakni ketika batang pohon yang dipegangi 2 anak dari kampung sebelah melewati tempat mereka bertiga.
Dan, tanpa ba bi bu lagi, baik Tek Hoat maupun Thian Jie kemudian melompat ke sungai berniat untuk menolong Mei Lan, meskipun mereka tidak tahu lagi berada dimana Mei Lan pada saat itu. Syukur, baik Thian Jie maupun Tek Hoat biarpun sedikit, tetapi cukup mengerti dengan ilmu dalam air dan bisa berenang.
Sayangnya pada saat bersamaan, hanya beberapa detik setelah Mei Lan terpental ke Sungai dan dikejar Tek Hoat dan Thian Jie, gemuruh yang ternyata adalah sebuah banjir banding segera menimpa tempat mereka dan menggoyahkan tanah dan bahkan meruntuhkan pohon-pohon yang ada dan kemudian bahkan terus menyeret pohon-pohon besar kecil untuk mengalir bersama arus sungai dan menghempaskan batang pohon lain yang terhampar disepanjang tepian sungai yang dilalui arus besar dari banjir banding itu.
Dan tempat itupun masih terus bergemuruh dengan suara yang mengerikan dan terus bergulung gulung, …….……….. entah seperti apakah nasib anak-anak malang yang hanyut terbawa banjir banding yang mengerikan itu, baik kedua anak yang hanyut duluan, maupun ketiga anak yang menyusul kemudian karena ingin menolong kedua anak terdahulu. Entahlah.
 “Omitohud, sungguh hebat Soan Hong Sin Liong (Naga Sakti Angin Badai), masih seperti yang dulu. Benar-benar Giok Ceng Sinkang dan Giok Ceng Cap Sha Sin Kun masih tak habis dikupas” Seorang kakek tua renta bersuara memuji setelah melepaskan pukulan tidak bersuara.
“Hahaha, Kian Ti Hosiang, Tay Lo Kim Kong Ciang bukan nama kosong” Seorang tua renta lainnya berseru menyahut.
Kedua orang itu sepertinya sedang melakukan perang tanding, tetapi tidak dengan cara biasa. Cukup dengan lontaran-lontaran serangan sambil duduk bersila, keduanya sudah bisa saling mengukur kekuatan.
Keduanyapun segera terlibat dalam diskusi panjang mengulas aspek-aspek dan sisi lain dari pertemuan tenaga dan jurus pamungkas yang mereka lepaskan barusan.
Dan tidak lama kemudian keduanya kembali berhadapan dan saling melontarkan 1-2 kali pukulan, kesiuran angin dan bahkan mencicit tajam menyebar. Dan …. “plak”, suara benturan keras kembali terjadi, dan kedua orang tua renta yang menyebabkan benturan kembali saling memuji.
“Soan Hong Sin Ciang semakin kental dengan perbawa kebatinan” Ucap Kian Ti Hosiang si kakek tua berjubah pendeta Budha.
“Tapi Selaksa Tapak Budah dan tenaga Ih Kin Keng tetap digdaya, malah bertambah matang” Bergumam orang tua yang satu lagi.
Sementara di tempat yang terpisah tidak jauh, sepasang kakek tua lainnya juga sedang melakukan hal yang sama. Kibasan lengan mereka mendatangkan angin tajam yang bahkan meledak memekakkan gendang telinga ketika benturan hebat terjadi:
“Pek Lek Sin Jiu …. Tidak berkurang kehebatannya, kagum sungguh kagum” Pendeta yang bernama Pek Sim Siansu bergumam.
“Benar, tetapi kehalusan dan ketajaman Thai Kek Sin Kun juga tambah matang” Kakek tinggi besar bernama Kiong Siang Han Kiu Ci Sin Kay (Pengemis Sakti Berjari Sembilan) menjawab.
“Tapi apakah Liang Gie Sim Hwat masih juga ampuh? Tanya Sin Kay sambil kembali mengibaskan lengannya kali ini dengan gerak Hang Liong Sip Pat Ciang.
Desingan suaranya seperti Naga meraung-raung dan langsung menusuk telinga yang diserang. Tetapi, Pek Sim Siansu, bukan percuma menjadi tokoh wahid Bu Tong Pay, segera menimbrungi dengan jotosan tak bersuara, sangat lemas tetapi menutup perbawa lawannya.
Kembali terdengar benturan keras, dan keduanya sambil saling tersenyum membagi puji-pujian untuk kemudian mendiskusikan kemajuan dan kemungkinan pengembangan ilmu masing-masing. Ilmu-ilmu langka yang dimiliki dan diyakinkan oleh para ahlinya, mungkin yang paling ahli dan mahir pada zaman mereka. Dan para ahli itu sedang membandingkan, merundingkan dan kemudian mendiskusikan kemungkinan kemungkinan pengembangan dan penyempurnaan ilmu masing-masing dan ilmu lawannya.
Dan itulah yang terjadi dan dilakukan 4 manusia sakti yang sudah renta itu selama berjam-jam, sesekali mereka berganti lawan, bukan sekedar perang tanding dan adu ilmu, tetapi terutama mendiskusikan kemajuan dan pengembangan ilmu masing-masing.
Tapi siapakah gerangan ke-4 kakek tua renta yang sedang melakukan adu ilmu dan adu diskusi dan adu runding mengenai ilmu silat ini? Mau apa pula mereka duduk-duduk sambil mengibaskan lengan yang mengakibatkan benturan dahsyat dan mengguncang tebing tempat mereka duduk duduk tersebut? Tidakkah mereka khawatir jorokan tempat mereka duduk bisa dengan sangat mudah runtuh dan jatuh ke bawah aliran sungai berarus deras di bawah mereka?
Padahal jika ada tokoh persilatan yang melihat pertandingan mereka, sudah pasti mereka akan ngiler sekaligus terbelalak. Betapa tidak, Ilmu-ilmu silat dibenturkan adalah ilmu-ilmu pilihan, ilmu-ilmu yang dianggap menjagoi dan tidak tertandingi bila muncul di dunia persilatan.
Dan perbawa ilmu-ilmu tersebut terlihat dari hasilnya yang membawa pengaruh luas biasa, tetapi meskipun demikian nampaknya tidak sanggup melukai ke-4 orang tua aneh yang sedang memainkan ilmu-ilmu mujijat tersebut.
Dan sekiranya ada yang mempergoki mereka, maka kejadian itu akan menjadi sangat luar biasa dan langka. Kemujuran dan keuntungan bagi yang sempat melakukannya. Karena ke-empat tokoh tua ini, boleh dibilang adalah tokoh termahir dan sudah dianggap menjadi manusia setengah dewa dalam tradisi Dunia Persilatan dewasa ini.
Mereka berempat memang tampil dalam waktu yang hampir bersamaan di dunia Kang ouw, angkat nama bersama dan kemudian menyepi nyaris bersamaan juga. Begitupun, siapakah sebenarnya ke-empat tokoh aneh luar biasa yang sudah dianggap menjadi manusia setengah dewa di rimba persilatan tersbeut?
Orang pertama dan yang tertua adalah Kiong Siang Han Kiu Ci Sin Kay (Pengemis Sakti Berjari Sembilan). Kiu Ci Sin Kay Kiong Siang Han adalah sesepuh tertua Kay Pang saat ini, yang bahkan oleh Ketua Kaypang saat ini, tidak tahu lagi apakah sesepuh ini masih hidup atau tidak lagi.
Sin Kay adalah salah seorang Ketua Kay Pang yang dengan matang dan mahirnya menguasai ilmu-ilmu rahasia Kay Pang. Dalam 100 tahun terakhir, dialah yang menguasai secara sempurna 18 Jurus Penakluk Naga atau yang dikenal dengan nama Hang Liong Sip Pat Ciang dan Tah Kauw Pang atau Ilmu Tongkat Penghajar Anjing. Hal ini dikarenakan ketua ini tidak pernah menikah dan tidak pernah berhubungan seks, yang membuatnya mampu mematangkan dan menyempurnakan hawa murni 18 jurus rahasia tersebut.
Setiap Ketua Kay Pang memang pasti menguasai jurus ini, tetapi Sin Kay mampu mendalami dan menemukan inti rahasia dari 18 jurus tersebut, bahkan mampu menjalankan gabungan 18 jurus tersebut sebagai jurus pamungkas.
Selain itu, diapun memiliki ilmu keras lainnya yang perbawanya sungguh menakutkan, PUKULAN HALILINTAR atau Pek Lek Sin Jiu. Pukulan ini terdiri dari 7 tingkatan dan merupakan gubahan Sin Kay berdasarkan kitab catatan Pek Lek Sin Jiu yang ditemukannya di sebuah Gua Rahasia di bukit Heng San. Jarinya hilang 1 ketika menembus jalan rahasia menuju Kitab Rahasia tersebut dan sejak itu dia berjuluk Pengemis Sakti Berjari Sembilan.
Sin Kay sudah menuntaskan tingkatan tertinggi ilmu halilintar ini, hingga mampu meledakkan halilintar di tangannya yang mampu merusak telinga orang biasa dan bahkan menghanguskan batu ataupun besi. Setelah mencapai usia hampir 60 tahun, atau sekitar 30 tahun memegang jabatan Pangcu Kay Pang, Kiu Ci Sin Kay mengundurkan diri karena sudah merasa bosan dan terlalu lama menjabat Pangcu.
Dia kemudian berkelana dan belakangan menyepi atau bertapa tanpa diketahui lagi oleh generasi penerus Kay Pang dimana bekas Pangcu yang hebat itu menyepi dan bertapa. Ditaksir usia Kiu Ci Sin Kay sudah mendekati 100 tahunan.
Orang kedua yang juga berusia sudah mendekati 100-an, sedikit lebih muda dari Kiu Ci Sin Kay adalah Kian Ti Hosiang. Kian Ti Hosiang sejak kecil sudah menjadi Pendeta di Biara Siauw Lim Sie dan menjadi salah satu bintang terang Kuil Siauw Lim Sie di Gunung Siong San dalam dunia persilatan.
Kian Ti Hosiang sungguh bertekun dalam mengembangkan Ilmu Silat dan Ilmu Budha. Dalam hal Ilmu Silat dia adalah salah satu yang sulit ditemukan dalam 100 tahun terakhir dengan menekuni ilmu-ilmu terdalam dari Siauw Lim Sie. Dia mampu memahami secara sempurna dan dalam Ih Kin Keng yang menghasilkan Sinkang tak terukur baginya, diapun dengan sempurna melatih baik Tay Lo Kim Kong Ciang dan Tay Lo Kim Kong Sin Kiam serta mampu memainkan Ilmu Jari Kim Kong Ci.
Terakhir bahkan mampu melatih dan menyempurnakan ilmu Selaksa Tapak Budha (Ban Hud Ciang) yang sungguh lama tidak mampu diyakinkan generasi penerus Siauw Lim Sie. Pendeta ini memiliki kedalaman Ilmu Silat yang sungguh luar biasa, sekaligus memiliki kesabaran yang tidak lumrah. Karena itu, Pendeta ini jarang mau melibatkan diri jika bukan sebuah urusan yang sangat menentukan dan teramat sangat penting, baik bagi Kuil Siauw Lim Sie maupun bagi umat persilatan.
Setelah menjadi Ketua Siauw Lim Sie selama lebih 30 tahun, Kian Ti Hosiang kemudian menghilang dan mensucikan dirinya dan bertapa di sebuah Gua Rahasia yang terlarang di Kuil Siauw Lim Sie. Tidak ada lagi yang pernah bersua dan menyaksikan Pendeta tua ini hadir di dunia pesilatan setelah itu, bahkan tidak juga Ketua Siauw Lim Sie sesudahnya.
Tempatnya mensucikan diri adalah ruang rahasia di Siauw Lim Sie dan hanya keluar 10 tahun sekali mengikuti pertemuan di tebing ini, itupun tanpa ada orang lain yang tahu, tidak juga ada yang sanggup melihatnya. Lagipula, siapa pula yang sanggup melihatnya bila sang Guru Besar ini tidak menginginkan untuk terlihat?
Orang ketiga, berusia sekitar 95 tahun bernama Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan. Di usia 35 tahun sudah menjadi Ketua Bu Tong Pay setelah mewarisi ilmu-ilmu rahasia Bu Tong Pay dan secara tidak sengaja menemukan Liang Gie Sim Hwat, Ilmu rahasia peninggalan Thio Sam Hong yang mengangkat ilmunya menjadi demikian sempurna dalam usia muda.
Tetapi sayangnya, teramat sulit mencari pewaris Liang Gie Sim Hwat bersama Thai Kek Sin Kun yang hanya mungkin disempurnakan melalui penguasaan Liang Gie Sim Hwat yang matang. Hampir semua rahasia Ilmu Bu Tong Pay hanya bisa mencapai puncaknya melalui pemahaman yang dalam akan Liang Gie Sim Hwat sebagai pengaturan hawa dalam tubuh manusia dengan meningkatkan juga kekuatan batin.
Wie Tiong Lan muda menemukan Liang Gie karena kesukaannya akan buku-buku kuno, yang kemudian ternyata secara cerdik selipan Liang Gie dia temukan dalam sebuah buku kesukaan Thio Sam Hong. Hampir 30 tahun Pek Sim Siansu mengetuai Bu Tong Pay untuk kemudian menyucikan diri di belakang gunung Bu Tong dan tidak pernah kedengaran lagi berkelana.
Tetapi sebagaimana Kian Ti Hosiang, Pek Sim Siansu juga setiap 10 tahun sekali keluar dari tempat penyuciannya tanpa seorangpun tahu bagaimana caranya manusia gaib ini keluar. Yang jelas, sebagaimana 10 tahun sebelumnya, kali inipun Wie Tiong Lan hadir dan duduk bersama 3 tokoh sakti lainnya tanpa kepergok tokoh-tokoh Bu Tong Pay.
Orang keempat yang paling muda adalah Kiang Sin Liong, Soan Hong Sin Liong, cucu pendiri Lembah Pualam Hijau. Sebagai pengemban Perdamaian Dunia Persilatan, Kiang Sin Liong mewarisi ilmu-ilmu rahasia keluarganya. Yakni Ceng Giok Cap Sha Sin Kun, Giok Ceng Sin Kang dan juga Giok Ceng Kiam Sut, dan bahkan ketika menjadi Ketua Lembah atau Duta Agung, setelah pertempuran menentukan dengan Pendekar India, dia menciptakan Ilmu Dahsyat lainnya bernama Soan Hong Sin Ciang dan Toa Hong Kiam Sut. Ilmu yang mendasarkan pada kekuatan batin dan kekuatan Sinkang yang dilatih di atas Batu Pembaringan Giok Hijau.
Kiang Sin Liong juga kemudian menjadi ketua atau duta agung untuk waktu yang lama sebelum mengundurkan diri dan menyerahkan tugas kepada anaknya dan kemudian menghilang dan menyepi di sebuah gua pertapaan yang masih berada di belakang Lembah Pualam Hijau. Tetapi, diapun menjadi sangat jarang berkeliaran di dunia persilatan, bahkan juga di Lembah Pualam Hijau. Dia hanya beberapa kali muncul, itupun untuk mendidik penerus-penerusnya di Lembah Pualam Hijau, terutama ketika mendidik cucu-cucunya.


--0OO00-

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggal kan Komentar Anda disini...